BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah. Peran pendidikan, sungguh penting untuk kemajuan suatu bangsa. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mencapai bangsa yang berkualitas adalah dengan melaksanakan wajib belajar. Untuk mencapai hal ini mantan Presiden Soeharto telah mencanangkan wajib belajar enam tahun tepat pada hari Hardiknas tanggal 2 Mei 1984. Kemudian untuk percepatan mencapai sumber daya manusia yang berkualitas, maka sepuluh tahun kemudian, Mei 1994. mantan Presiden mencanangkan lagi wajib belajar sembilan tahun. Untuk mensukseskan wajib belajar sembilan tahun itu sangat dituntut tenaga pendidik yang betul-betul ahli dalam bidangnya (profesional) agar dapat mengelola pendidikan di lapangan secara baik. Mengingat betapa pentingnya sektor pendidikan dalam pelaksanaan pembangunan nasional jangka panjang tahap dua, khusus pembangunan sumber daya manusia, kita tidak dapat menutup mata dan telinga terhadap sektor pendidikan kita yang mutunya masih tertinggal . Berbagai usaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan telah sama-sama kita rasakan dan kita lihat. Begitu pula banyak pembaharuan demi peningkatan mutu yang sudah dilakukan. Mengganti kurikulum yang diikuti oleh perubahan struktur buku-buku pelajaran yang membanjir di pasaran. Membentuk proyek peningkatan kwalitas guru-guru yang dilaksanakan dalam bentuk penataran, seminar-seminar dan latihan kerja. Begitu juga penyediaan sarana dan prasarana bidang pendidikan. Namun usaha-usaha ini belum lagi menampakkan harapan dan pencapaian target. Kita dapat mengetahuinya lewat hasil UASBN yang tetap rendah tiap tahun. Dan kita langsung mem¬perhatikan betapa bertambahnya jumlah murid yang mengalami malas. Dari membaca media massa atau langsung melihat fakta yang menunjukkan adanya keruwetan dalam sekolah dan meningkatnya angka kenakalan pelajar. Data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan, bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999). Menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Data yang dilaporkan The World Economic Forum Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di

efisiensi dan standardisasi pengajaran.21 gelombang globalisasi dirasakan kuat dan terbuka. (2).052 SD di Indonesia ternyata hanya delapan sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Program (PYP). Dan hasil itu diperoleh setelah kita membandingkannya dengan negara lain. Baik pendidikan formal maupun informal. Telah banyak perbincangan. Rendahnya kesejahteraan guru. nampak jelas bahwa masalah yang serius dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan di berbagai jenjang pendidikan. Yang kita rasakan sekarang adalah adanya ketertinggalan didalam mutu pendidikan. (6). pengkajian dan pembahasan tentang permasalahan pendidikan ini. Indonesia berada di tengah-tengah dunia yang baru. (5). Memasuki abad ke. Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia antara lain adalah masalah efektifitas. (7). Dan masih menurut survai dari lembaga yang sama Indonesia hanya berpredikat sebagai follower bukan sebagai pemimpin teknologi dari 53 negara di dunia. Kualitas pendidikan Indonesia yang rendah itu juga ditunjukkan data Balitbang (2003) bahwa dari 146.dunia. Rendahnya sarana fisik. (4). Adapun permasalahan khusus dalam dunia pendidikan yaitu: (1). Pendidikan memang telah menjadi penopang dalam meningkatkan sumber daya manusia Indonesia untuk pembangunan bangsa. (3). Rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan. kita seharusnya dapat meningkatkan sumber daya manusia Indonesia yang tidak kalah bersaing dengan sumber daya manusia di negara-negara lain. Rendahnya kualitas guru. Batasan Permasalahan Begitu Banyak dan komplek masalah yang dihadapi dunia pendidikan di Negara kita. Dari 20. Dan hal itulah yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan yang menghambat penyediaan sumber daya menusia yang mempunyai keahlian dan keterampilan untuk memenuhi pembangunan bangsa di berbagai bidang. Hal tersebut masih menjadi masalah pendidikan di Indonesia pada umumnya. dunia terbuka sehingga orang bebas membandingkan kehidupan dengan negara lain. Rendahnya prestasi siswa. Setelah kita amati. Mahalnya biaya pendidikan.036 SMA ternyata hanya tujuh sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Diploma Program (DP). Oleh karena itu. Rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan. Dan . B. Kemajaun teknologi dan perubahan yang terjadi memberikan kesadaran baru bahwa Indonesia tidak lagi berdiri sendiri.918 SMP di Indonesia ternyata juga hanya delapan sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Middle Years Program (MYP) dan dari 8. baik pendidikan formal maupun informal.

Mendeskripsikan ciri-ciri pendidikan di Indonesia. 2. yang kami susun dalam bentuk makalah yang bertemakan “Problematika Guru di Indonesia”. . Bagaimana ciri-ciri pendidikan di Indonesia ? 2.hal itu menjadi sebuah perjalanan yang panjang seiring panjangnya sejarah pendidikan di Indonesia. Mendeskripsikan kualitas pendidikan di Indonesia saat ini. Bagaimana peran dan problematika Guru bagi pendidikan di Indonesia ? 4. Bagaimana kualitas pendidikan di Indonesia ? 3. Sebagai batasan. Solusi yang bisa di berikan bagi permasalahan Guru di Indonesia ? C. kami mencoba untuk sedikit membahas salah satu permasalahan tersebut. maka pembahasan akan diskonsentrasikan pada : 1. Mendeskripsikan solusi yang dapat diberikan dari permasalahan-permasalahan guru di Indonesia. 4. Dalam kesempatan ini berkenaan dengan adanya tugas mandiri yang di berikan oleh dosen mata kuliah kapita selekta pendidikan di Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Mas’udiyah (STAIMAS) Sukabumi. 3. Tujuan Penulisan 1. Mendeskripsikan peran guru dalam pendidikan dan hal-hal yang menjadi penyebab rendahnya mutu pendidik di Indonesia.

Realitanya bahwa masih banyak orang yang menjadi guru karena tidak diterima di jurusan lain atau kekurangan dana (Pertimbangan financial). pemecahan berbagai masalah.BAB II PEMBAHASAN A. sarana belajar. dapat terlihat bahwa kualitas pendidikan di Indonesia masih sangat tertinggal jauh di banding dengan Negara maju yang lain. bagi penduduk di daerah terbelakang tersebut. menganalisis sesuatu serta menyimpulkannya. Guru-guru tentunya punya harapan terpendam yang tidak dapat mereka sampaikan kepada siswanya. B. melalui ceramah-ceramah agama di masyarakat. lewat mimbar-mimbar agama dan ketuhanan di televisi. melalui radio. Ciri-ciri Pendidikan di Indonesia Cara melaksanakan pendidikan di Indonesia sudah tentu tidak terlepas dari tujuan pendidikan di Indonesia. Sarana pembelajaran juga turut menjadi faktor semakin terpuruknya pendidikan di Indonesia. tidak lama lagi pendidikan di Indonesia akan hancur mengingat banyak guru-guru berpengalaman yang pensiun. surat kabar dan sebagainya. Ada banyak masalah yang menyebabkan mereka tidak belajar secara normal seperti kebanyakan siswa pada umumnya. terutama bagi penduduk di daerah terbelakang.. Namun. Aspek ketuhanan sudah dikembangkan dengan banyak cara seperti melalui pendidikanpendidikan agama di sekolah maupun di perguruan tinggi. Hal ini terbukti dari kualitas guru. sebab pendidikan Indonesia yang dimaksud di sini ialah pendidikan yang dilakukan di bumi Indonesia untuk kepentingan bangsa Indonesia. antara lain guru dan sekolah. Selain berpengalaman mengajar murid. Kualitas Pendidikan di Indonesia Seperti yang telah di uraikan pada bagian pendahuluan di atas. bahkan dari Negara Malaysia sekalipun kita masih kalah dalam hal pendidikan. Jika fenomena ini dibiarkan berlanjut. Pengembangan pikiran sebagian besar dilakukan di sekolah-sekolah atau perguruanperguruan tinggi melalui bidang studi-bidang studi yang mereka pelajari. dan murid-muridnya. mereka memiliki pengalaman yang dalam mengenai pelajaran yang mereka ajarkan. melalui kehidupan beragama di asrama-asrama. yang terpenting adalah ilmu terapan yang benar-benar dipakai buat hidup dan kerja. Pikiran para siswa/mahasiswa diasah melalui pemecahan soal-soal. Bahan-bahan yang diserap melalui media itu akan berintegrasi dalam rohani para siswa/mahasiswa. Kecuali guru-guru lama yang sudah lama mendedikasikan dirinya menjadi guru. Guru-guru saat ini masing dianggap kurang kompeten. . Belum lagi masalah gaji guru.

pemerintah akan menambah jumlah jenis pendidikan di bidang kompetensi atau profesi sekolah kejuruan. Pemerintah memberikan prioritas yang tinggi pada perkembangan sektor pendidikan didasarkan pada asumsi bahwa dengan pendidikanlah pembangunan ekonomi Indonesia akan berhasil dengan baik. dan c) ketidakmerataan kesempatan pendidikan. Sedang ketidakmerataan pendidikan berujud adanya perbedaan memperoleh kesempatan pendidikan antara laki-laki dan wanita. dibalik itu semua. antara lain yaitu: 1. adalah penggunaan teknologi informasi dalam aplikasi pendidikan. menghilangkan ketidakmerataan dalam akses pendidikan. 5. b) external in-efficiency. maka perkembangan sarana fisik. 4. 2. khususnya gedung sekolah dasar dapat dilaksanakan pada tingkat yang luar biasa. Langkah kedua. Langkah ketujuh. pemerintah berencana membangun infrastruktur seperti menambah jumlah komputer dan perpustakaan di sekolah-sekolah. pembiayaan bagi masyarakat miskin untuk bisa menikmati fasilitas penddikan. 6. Langkah keenam. Senin (12/3/2007). Langkah terakhir. Tolak ukurnya dari angka partisipasi. Presiden memaparkan beberapa langkah yang akan dilakukan oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Langkah pertama yang akan dilakukan pemerintah. antara penduduk kota dan . yakni meningkatkan akses terhadap masyarakat untuk bisa menikmati pendidikan di Indonesia. yang dapat dikategorikan menjadi: a) internal in-efficiency. Puluhan ribu guru diangkat. dunia pendidikan di Indonesia ternyata menghadapi problema yang berat. pemerintah juga meningkatkan anggaran pendidikan. 7. khususnya mulai PELITA I. seperti ketidakmerataan di desa dan kota. Jakarta. Untuk menyiapkan tenaga siap pakai yang dibutuhkan. Didukung dengan hasil minyak bumi. Langkah keempat. 8. 3. Namun. perkembangan sektor pendidikan di Indonesia berkembang dengan pesat. Sedangkan external in-efficiency berujud lulusan pendidikan tidak dapat diserap oleh pasar tenaga kerja ataupun dapat dipakai tetapi antara pekerjaan yang dilakukan berbeda dengan pendidikan yang diperoleh. serta jender. internal in-efficiency dalam sektor pendidikan berujud dalam bentuk tingginya angka drop-outs dan angka repeaters (ulang kelas yang sama). ratusan judul buku paket dicetak.” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono usai rapat kabinet terbatas di Gedung Depdiknas. Dan hasilnya secara statistik perkembangan pendidikan di Indonesia sangat menggembirakan. meningkatkan mutu pendidikan dengan meningkatkan kualifikasi guru dan dosen. Langkah kelima. training dan bentuk latihan peningkatan kualitas guru diselenggarakan. Jl Jenderal Sudirman.“Pendidikan ini menjadi tanggung jawab pemerintah sepenuhnya. Langkah ketiga. Memang semenjak Orde Baru. serta meningkatkan nilai rata-rata kelulusan dalam ujian nasional.

tidak demikian dengan ketidakmerataan pendidikan di antara penduduk miskin dan kaya. sudah mulai dapat diperkecil dengan berbagai kebijakan pendidikan yang telah dilaksanakan. dan terutama menurut status sosial ekonomi. Kualitas sekolah dan juga jenis atau jurusan akan menentukan status di masa depan. Teori-teori Dependency. Teori klasik menyatakan bahwa pendidikan akan menjembatani jurang antara kelompok kaya dan kelompok miskin di masyarakat sudah banyak mendapatkan kritikan dan tantangan. dan ketidakmerataan pendapatan. Perubahan-perubahan bidang ekonomi dan teknologi sedemikian cepat. Sedangkan sebagian besar anak didik yang bisa memperoleh sekolah "favorit" datang dari kalangan keluarga mampu. . Hal ini erat kaitannya dengan kualitas sekolah. di lain pihak perubahan dunia pendidikan berjalan lambat. Akibat dari ketidakmampuan pendidikan memperhitungkan apa yang akan terjadi di masa mendatang. Perubahan-perubahan pada sistem dan kurikulum pendidikan tidak bisa dilakukan dengan cepat. Problema ketiga adalah ketidakmerataan kesempatan mendapatkan pendidikan. Kalau ketidakmerataan memperoleh pendidikan menurut sex dan desa/kota. perubahan-perubahan di sektor pendidikan: misalnya. sedang keluarga yang relatif miskin akan memperoleh sekolah yang juga relatif rendah kualitasnya. Art dan peranan manpower planning semakin merosot karena tidak bisa merencanakan demand dan supply tenaga kerja dengan tepat Maka rentetan berikutnya adalah naiknya tingkat pengangguran terdidik tidak dapat terelakkan lagi. external in-efficiency. karena adanya suatu perubahan di sektor pendidikan akan membawa dampak yang sangat luas dan besar pada kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Perbedaan pendidikan menurut status ekonomi antara kaya dan miskin masih sulit untuk dipecahkan. Namun pada era teknologi dewasa ini sangat sulit atau dapat dikatakan hampir tidak mungkin bisa meramalkan keadaan masa mendatang dengan tepat. Hal ini tidak mengherankan. yang memang secara riil lebih pandai Para ahli dan pengambil keputusan di bidang pendidikan terus menerus mengadakan pembaharuan. pendidikan juga tidak mampu untuk menyediakan tenaga kerja yang dibutuhkan oleh sektor ekonomi dan industri. sistem dan kurikulum pendidikan dikembangkan dan didasarkan pada keadaan masyarakat saat itu dan proyeksi keadaan masyarakat di masa mendatang. khususnya sektor ekonomi dan politik. karena anak didik yang dapat memenuhi kualifikasi untuk masuk sekolah favorit sebagian besar adalah anak dari keluarga yang relatif mampu. dengan bukti bukti empiris dari dunia ketiga. Pembaharuan pendidikan secara langsung dimaksudkan untuk memecahkan ketiga problema di atas: internal in-efficiency. Karabel dan Halsey. Sebab pada diri pendidikan itu sendiri terdapat stratifikasi sosial (lihat.penduduk desa dan antara kaya dan miskin External in-efficiency pada sektor pendidikan tidaklah bisa dipisahkan dengan sektor yang lain. Pengalaman pembangunan di negara-negara Barat. Ketidakmerataan ini bisa dilihat menurut jenis kelamin. tempat tinggal. 1977). Secara tidak langsung. menunjukkan bahwa justru pendidikan memperbesar jurang kaya dan miskin.

merupakan upaya agar pendidikan menjadi agent of development yang canggih. Sebab pada hakekatnya pembaharuan pendidikan harus berdasarkan pada What is. Di samping itu pendidikan di negara sedang berkembang cenderung mengambil alih apa yang telah berhasil dilaksanakan di dunia Barat. Kritik Havelock dan Huberman (1977) dan World Bank (1980) yang ditujukan pada pembaharuan pendidikan di negara-negara berkembang. pelaksanaan metoda CBSA memerlukan kondisi dan iklim kelas yang tidak terlalu formal dan fleksibel. Kelebihan lain dari metoda ini adalah meningkatkan critical thinking. Sebagai contoh bisa disebut pembaharuan sistem dan kurikulum sekolah pembangunan. Sebagai ilustrasi kritik ini dapat diambil sebagai contoh pembaharuan pada metoda pengajaran. Lebih mendasar lagi. tidak jarang suatu pembaharuan pendidikan akan mengakibatkan perbedaan semakin tajam antara pendidikan di urban dan di rural. di banyak hal pembaharuan pendidikan yang dilaksanakan di Indonesia tidak mempunyai strategi monitoring dan prosedure evaluasi yang mantap. Misalnya. Namun perlu diingat bahwa metoda ini memerlukan persyaratan tertentu untuk bisa diimplementasikan. Dengan mempertanyakan hakekat ide yang akan dilaksanakan itu akan dapat diperhitungkan kemungkinan implementasinya. tidak jarang pembaharuan yang kita laksanakan merupakan pengambilalihan dari Barat. tidak pada What ought to be. Namun pembaharuan-pembaharuan yang teiah dilaksanakan tidak jarang mengandung kelemahan dan perlu untuk dikritik. Metoda ini telah berhasil menaikkan "gengsi" pendidikan di Amerika pada tahuntahun 1960-an. termasuk sangat tepat untuk ditujukan pada pembaharuan pendidikan di Indonesia. Karena bersifat "metropolitan sentris" . Pada diri murid . tanpa mengadakan modifikasi yang berarti dan mempertanyakan secara mendalam hakekat dan aspek-aspek yang pokok yang ada pada ide yang akan diambil tersebut. pembaharuan harus cocok dengan realitas ruang-ruang kelas. Guru harus mempunyai pengetahuan yang relatif luas. hampir pada semua pokok bahasan dicantumkan metoda cara belajar siswa aktif (CBSA) sebagai metoda yang harus digunakan. 1961).perubahan struktur pendidikan dan kurikulum. Perubahan-perubahan kurikulum hanya menciptakan konfigurasi baru dengan isi yang lama. Mereka menyatakan bahwa pembaharuan pendidikan yang dilakukan tidak dapat dipraktekkan karena keterbatasan pengetahuan pada tingkat pelaksana. artinya pembaharuan cenderung menekankan pada adopsi dari suatu perubahan daripada implementasi pada level klas (Verspoar&Reno. sebab guru-guru di kota lebih siap untuk menerima pembaharuan yang dilaksanakan. Metoda CBSA mementingkan proses berpikir dan melatih inquiry skid. Sehingga inovasi yang dilaksanakan bersifat "metropolitan sentris". 1986). Di samping itu. Hal ini bisa dimaklumi. Salah satu kritik pernah dilontarkan oleh Winarno Surachmad (1986) yang menilai bahwa pembaharuan pendidikan di Indonesia bersifat tambal sulam dan kurang mendasar. merangsang intrinsic motivation dan memberikan kemungkinan daya ingat yang lama pada diri siswa (Bruner. Pembaharuan pendidikan yang dilaksanakan cenderung bersifat "technocratic perspective". baik dalam arti content dan instructional delivery system. Dalam kurikulum 1984.

menerima dan mencatat apa yang diterangkan oleh guru. pada dasarnya terujud juga dalam sekolah. rasa keterlibatan. murid cenderung untuk mendengarkan. Di sekolah terdapat aturan-aturan yang mengikat para anggotanya. terdapat konflik-konflik interes baik nampak maupun tersembunyi. sikap ingin tahu. Kelas-kelas masih sangat kaku dan formal. namun perlu dicatat bahwa pelaksanaan pembaharuan pendidikan sangat tergantung pada semangat. sekolah merupakan cermin dari masyarakat dimana sekolah itu berada. Oleh karena itu setiap upaya pembaharuan pendidikan seharusnya menjadikan guru . baik anak didik maupun guru. sekolah merupakan "a mini society". Perencanaan dan kebijaksanaan nasional memang perlu. Sehingga setiap kebijaksanaan sebagai ujud pembaharuan pendidikan lebih banyak bersifat instruksi yang harus dipatuhi dan dilaksanakan dan tidak ada ruang bagi guru untuk berimprovisiasi. Di fihak lain.sudah terpatri kecintaan dan kesadaran pada hakekat ilmu. Namun. C. Guru akan memberikan respon yang positif pada setiap usaha pembaharuan yang akan dapat meningkatkan kemampuan profesional mereka dan memberikan ruang bagi mereka untuk berimprovisasi secara aktif dalam proses pembaharuan tersebut. termasuk di Indonesia. pembaharuan pendidikan di negara-negara sedang berkembang. Hak-hak dan kewajiban guru dan murid diakui. Sebagai suatu masyarakat kecil. Peran dan Problematika Guru Dalam setiap pembaharuan pendidikan. Ada norma-norma dalam pergaulan yang harus dipatuhi. oleh karena itu tidak perlu dipertanyakan dan diuji lagi. dan kesadaran para guru. Apa yang terdapat dan terjadi di masyarakat. guru memegang peran yang strategis. sebab merekalah yang merupakan pelaksana pembaharuan pada level kelas. Apa yang diterangkan oleh guru sudah dianggap merupakan kebenaran. yaitu aspek sosiologis. terdapat interaksi antara sesamanya baik secara individual maupun kelompok. Patut kita pertanyakan sudahkah syarat-syarat tersebut ada pada kelas-kelas dan siswasiswa di tanah air kita? Apa yang diketemukan di kelas-kelas di Indonesia jauh dari yang diperlukan. jarang mengevaluasi dan mengembangkan aspek lain dari pendidikan formal di luar kurikulum dan kemampuan guru. tidak mengherankan kalau metoda CBSA hampir dapat dikatakan tidak pernah dilaksanakan dalam ruang-ruang kelas. Di samping apa yang dikemukakan di atas. Maka. sekolah mempunyai aspek lain. Di samping aspek kurikulum dan kemampuan guru. oleh karena itu mereka tidak berani membicarakan apa yang di luar silabi. menghargai pikiran-pikiran dan bukti-bukti kebenaran. pengalaman di Indonesia menunjukkan guru lebih banyak dilihat sebagai objek dalam pembaharuan pendidikan. objektif dan bersifat toleransi. Pengetahuan para guru relatif terbatas. Sangsi-sangsi akan dijatuhkan kepada siapa saja yang melanggar tatanan yang ada. Selama kondisi tersebut belum terpenuhi metoda CBSA tidak akan pernah hadir di kelas secara riil. Karena membicarakan di luar silabi memang di luar kemampuannya.

Fase pertama ditunjukkan dengan kurikulum pendidikan guru (IKIP. dan untuk mata pelajaran matematika dan IPA lebih rendah lagi. Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas guru. Mahasiswa pendidikan guru harus lebih menekankan pada metode mengajar dibandingkan dengan penguasaan materi bidang . 2. kemampuan metode dalam pengajaran kalau diwujudkan dalam simbol bagaikan angka "0". terletak pada titik sekitar 7. dengan materi bidang studi tidak saja guru akan mentransformasikan ilmu pengetahuan kepada siswa. Pembaharuan pendidikan yang cenderung menjadikan guru sebagai objek dan sekedar penerima pembaharuan.sebagai partisipan yang aktif. mengembangkan critical thinking. Suatu studi menunjukkan bahwa penguasaan bidang studi para guru kalau diwujudkan dalam skor yang terentang antara 0-10. antara lain: a) penguasaan guru atas bidang studi. Pada waktu diberlakukannya kurikulum pendidikan guru 1984. 3 dan seterusnya sampai 9 yang merupakan wujud dari kemampuan penguasaan bidang studi. Sebab. FKIP. dan yang tidak kalah pentingnya adalah menanamkan nilai-nilai yang terkandung dalam ilmu pengetahuan itu sendiri pada diri siswa. tetapi lebih daripada itu. Tetapi perlu dicatat bahwa. mendorong kemampuan untuk belajar lebih lanjut. Rendahnya penguasaan guru pada bidang studi tidak lepas dari kualitas pendidikan guru dan rekrutmen colon guru. Permasalahan pendidikan dapat diamati dengan pendekatan macrocosmics dan microcosmics. terjadi perubahan yang mendasar. d) rekrutmen guru. apalagi hanya lewat instruksi. betatapun banyak dan tingginya kemampuan metodologi pengajaran tidak memiliki nilai apa-apa. Perbedaannya adalah pada mahasiswa pendidikan guru di samping memiliki bekal bidang studi yang memadai. juga ditambah dengan beberapa mata kuliah yang berkaitan dengan didaktik khusus. Penguasaan kemampuan guru di bidang metodologi pengajaran juga penting. Dalam masalah penguasaan materi bidang studi inilah kelemahan guru sangat menonjol. Penguasaan guru atas bidang studi yang akan diajarkan kepada para siswa merupakan sesuatu yang mutlak sifatnya. Artinya. i) dukungan pemerintah. tidak hanya sebagai penerima pembaharuan. f) status guru di masyarakat. Hasil pendekatan ini adalah bahwa rendahnya kualitas guru dewasa ini di samping muncul dari keadaan guru sendiri juga sangat terkait dengan faktorfaktor luar guru. e) kompensasi guru. Pada kurun waktu tersebut kurikulum pendidikan guru tidak jauh berbeda dengan kurikulum jurusan yang sama di universitas. h) dukungan masyarakat. cenderung untuk gagal. dengan materi bidang studi itu guru akan menanamkan disiplin. apabila tidak digabungkan dengan angka lain 1. Pendekatan macrocosmics berarti permasalahan guru dikaji dalam kaitannya dengan faktor-faktor lain di luar guru. g) manajemen sekolah. Dalam kaitan ini perlu untuk didengar pendapat Fullan (1985) bahwa keberhasilan pembaharuan pendidikan tergantung pada apa yang difikir dan dilakukan guru. Dapat dicatat bahwa selama ini terdapat tiga bentuk kurikulum yang mencerminkan fase pemikiran di lingkungan lembaga pendidikan guru. b) penguasaan guru atas metode pengajaran. c) kualitas pendidikan guru. dan. dan STKIP) sebelum kurikulum IKIP 1984.

kurikulum baru juga menunjukkan ambivalensi antara penekanan pada bidang studi dan pada metode mengajar. Pertama. Apakah guru diketagorikan sebagai hard profession atau soft profession. Artinya. Namun. Dengan demikian. Apakah ke dalam universitas yang sudah ada atau baru bukan hal yang prinsip. sebaliknya IKIP harus dilebur dalam universitas. Sebab. kategori soft profession adalah diperlukannya kadar seni dalam melaksanakan pekerjaan tersebut. kalau beban SKS di lingkungan pendidikan guru didominasi oleh mata kuliah pendidikan. masing-masing kategori memiliki implikasi yang berbeda terhadap lembaga dan program pendidikan guru. sistem pendidikan guru ini memiliki kelebihan dari yang sekarang ini. advokat. pada kurikulum 1984 ini cara memegang kapurpun diajarkan di IKIP/FKIP/STKIR Hasilnya. lbaratnya. pendidikan guru akan memperoleh input yang berkualitas . mata kuliah bidang studi jauh berkurang. Implikasi kategori soft profession tidak menuntut pendidikan dapat menghasilkan lulusan dengan standar tertentu melainkan menuntut lulusan dibekali dengan kemampuan minimal. dan guru merupakan contoh dari kategori profesi ini. Suatu pekerjaan dapat dikategorikan sebagai hard profession apabila pekerjaan tersebut dapat didetailkan dalam perilaku dan langkah-langkah yang jelas dan relatif pasti. sangat ditentukan oleh kondisi dan situasi tertentu. Sesungguhnya perubahan kurikulum pendidikan guru yang terjadi tidak bisa dilepaskan begitu saja pada pemahaman akan hakekat profesi guru. Barangkali. maka diperlukan perubahan yang mendasar pada proses pendidikan guru kita. Pada akhir tahun 1980-an kembali terdapat perubahan kurikulum di lingkungan pendidikan guru. Oleh karena itu tidak mengherankan. IKIP tidak perlu diperluas menjadi universitas. Oleh karena itu. Kemampuan ini dari waktu ke waldu harus ditingkatkan agar dapat melaksanakan tugas pekerjaannya sesuai dengan perkembangan masyarakat. Dengan kualifikasi ini seseorang sudah mampu dan akan terus mampu melaksanakan tugas profesinya secara mandiri meskipun tanpa pendidikan lagi. Ciri pekerjaan tersebut tidak dapat dijabarkan secara detail dan pasti. Sebab. Ketiga. khususnya di bidang penguasaan bidang studi. Pendidikan yang diperlukan bagi profesi ini adalah menghasilkan output pendidikan yang dapat distandarisasikan. lulusan pendidikan guru dengan kurikulum 1984 tidak mampu mengajar sebagaimana seharusnya. Kedua. lembaga in-service training bagi soft-profession amat penting. Sebaliknya. Sebaliknya. pendidikan guru adalah S1 PLUS bidang pendidikan. pendidikan guru tidak inferior dibandingkan dengan pendidikan ilmu murni. kualifikasi lulusan jelas dan seragam di manapun pendidikan itu berlangsung. langkah-langkah dan tindakan yang harus diambil.studi. Berdasarkan pemahaman bahwa tugas guru merupakan soft profession. Prinsip yang mendasar adalah bahwa semua fakultas atau bidang studi di universitas memberikan kesempatan kepada para mahasiswa yang sudah menyelesaikan mata kuliah bidang studi untuk memiliki sertifikat mengajar dengan mengambil mata kuliah pendidikan dan praktek mengajar di sekolah. Oleh karena itu hasil pendidikan guru masih juga diragukan. Pekerjaan dokter merupakan contoh yang tepat untuk mewakili kategori hard profession. wartawan.

partisipasi orang tua dan dukungan masyarakat mutlak diperlukan untuk meningkatkan kualitas guru. tetapi juga para guru akan ber-Kijang atau ber-Escudo. kelak tidak hanya muballigh yang ber BMW atau Mercy. dan hadirin terbuai dengan kesyahduan. Dalam setiap kesempatan wisuda sering lagu tersebut diperdengarkan. Namun. Kualitas guru tidak bisa dilepaskan dari kompensasi yang mereka terima dan status guru di masyarakat. justru guru yang paling tahu apa yang harus dilakukan. Rasa tanggung jawab ini mutlak diperlukan dalam meningkatkan kualitas guru. keadaan ini hanya bersifat sementara. Gaji guru di Malaysia lebih besar dibandingkan dengan gaji guru di Indonesia. pelaksanaan proses belajar mengajar di kelas sangat tergantung pada kondisi dan situasi yang dipengaruhi oleh berbagai variabel. Barangkali. Misalnya. mengapa tidak bagi prestasi guru? Di sinilah letaknya. Artinya. menempatkan guru pada posisi yang tidak menyenangkan. dengan adanya ketentuan dari pusat beban guru lebih ringan. Dengan demikian. sudah masanya untuk dipikirkan mobilisasi dana pendidikan atau dana kesejahteraan guru yang berasal dari masyarakat. Oleh karena itu keputusan tentang bagaimana proses belajar mengajar harus dilaksanakan yang ditentukan dari atas sulit untuk dapat diterima akal sehat. Namun. Kualitas guru yang ditunjukkan oleh kualitas kerja tidak dapat dilepaskan dari manajemen pendidikan. Manajemen pendidikan yang sentralistis. dengan menempatkan pengambilan keputusan di tangan-tangan yang jauh dari guru tidak menguntungkan bagi usaha meningkatkan kualitas kerja guru. Karena kegagalan dalam rnengajar bukan hanya dikarenakan olehnya tetapi juga oleh instruksi dari atas yang tidak jalan karena tidak cocok dengan keadaan di lapangan.dengan mengundang mahasiswa yang berotak cemerlang. Lagu “Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” sangat mulia dan terhormat. barangkali bagi guru sendiri akan lebih senang kalau lagu diubah menjadi "Guru Pahlawan Penuh Tanda Jasa”. bukan hanya gaji yang penting melainkan bagaimana dukungan masyarakat dan pemerintah bagi kesejahteraan dan status guru. Dengan pendekatan microcosmics dapat dideskripsikan bahwa keberhasilan guru sangat . paling tidak untuk jangka pendek. Namun. Sebab. simbol kemakmuran masyarakat dewasa ini. barangkali merupakan suatu kemustahilan. Namun. Namun. Oleh karena itu. keharusan guru untuk mengajar dengan CBSA. Sebab. karena kekurangan tenaga guru akan meningkatkan daya saing guru. Oleh karena itu. Di fihak lain. pemberian otoriomi yang lebih besar kepada guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar akan memberikan rasa tanggung jawab lebih besar kepada guru. kompensasi atau gaji guru tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi suatu negara. secara absolut. perbandingan gaji guru antar negara akan tidak pas kalau tidak ditimbang dengan kemakmuran bangsa tersebut. untuk merealisir kompensasi guru yang memadai kalau hanya bersandarkan kepada anggaran pemerintah. perbandingan akan berbeda manakala kedua gaji tersebut diperbandingkan dengan pendapatan perkapita negara masing-masing. Kalau untuk keperluan lain dana mudah diperoleh misalnya untuk prestasi olah raga. Memang terdapat kemungkinan sangat sedikit mahasiswa yang mengambil sertifikasi mengajar.

kurang mampu. mampu. dan aspek kesejahteraan. tidak mampu dan tidak memiliki dedikasi. kebijakan dan program peningkatan kualitas guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar tidak mungkin secara spesifik mendasarkan pada kategorisasi tersebut. Karakteristik kerja guru ini menyebabkan guru merupakan pekerjaan yang tidak pernah mendapatkan umpan balik. waktu guru untuk berdialog akademik dengan sesama guru sangat terbatas. tetapi memiliki dedikasi tinggi. Kebijakan dan program peningkatan kualitas guru daiam melaksanakan proses belajar mengajar harus menyentuh tiga aspek sebagaimana dikemukakan di atas: aspek kemampuan. tidak mampu tetapi memiliki dedikasi tinggi. mampu dan dedikasi tinggi.tergantung pada kemampuan dan dedikasi guru di satu fihak dan motivasi dan usaha keras dari siswa di fihak lain. Tugas tersebut tidak ringan mengingat karakteristik yang melekat pada pekerjaan guru. Dengan demikian terdapat delapan kelompok guru: 1) ekonomi cukup. Oleh karena itu. guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar juga harus mampu membangkitkan semangat untuk berprestasi di kalangan siswa. 6) ekonomi tidak mampu. Kebijakan yang tidak lengkap. Untuk itu. upaya peningkatan kualitas guru dengan penataran untuk meningkatkan kemampuan tidak cukup. dan. 3) ekonomi cukup. Analisis dengan gabungan pendekatan macrocosmics dan microcosmics. menunjukkan bahwa persoalan guru dapat dikategorikan ke dalam berbagai kelompok. Tanpa adanya umpan balik sulit bagi guru untuk dapat meningkatkan kualitas profesinya. 4) ekonomi cukup. Karakteristik pertama adalah pekerjaan guru bersifat individual dan cenderung non-collaborative. dan variable dedikasi dengan predikat penuh dedikasi dan kurang dedikasi. untuk mengevaluasi apa yang telah dilaksanakan dan bagaimana hasilnya. pekerjaan guru dilakukan di ruang-ruang kelas yang terisolir dalam jangka waktu yang lama. Umpan balik merupakan sesuatu yang diperlukan oleh guru. 5) ekonomi kurang. Sudah barang tentu. Kedua. Sebab. Ketiga. Dengan kata lain guru sebagai subjek bukannya . Kebijakan untuk meningkatkan kualitas guru harus banyak bertumpu pada inisiatif dan kemauan yang datang dari fihak guru sendiri. persoalan guru dapat dikategorikan berdasarkan tiga variabel: ekonomi dengan predikat cukup dan kurang. guru perlu dilengkapi dengan kemampuan untuk melakukan self-reflection. Mengikuti model analisis yang dikembangkan Boediono mengelompokan sasaran wajib belajar menjadi 8 kelompok berdasarkan kemampuan ekonomi dan aspirasi pendidikan orang tua. yakni semangat-dedikasi guru dan kesejahteraannya. aspek semangat dan dedikasi. 2) ekonomi cukup. tidak mampu dan tidak memiliki dedikasi. yang tidak mencakup ketiga aspek tersebut cenderung akan mengalami kegagalan. tidak memiliki dedikasi tetapi mampu. masih ada faktor lain yang perlu sentuhan. 8) ekonomi kurang. tetapi mampu dan penuh dedikasi. Paling tidak. 7) ekonomi kurang. Betapapun juga. ini merupakan akibat pertama dan kedua. tetapi tidak memiliki dedikasi. kemampuan dengan predikat mampu dan tidak mampu. gambaran kategori tersebut perlu untuk direnungkan dalam membenahi dan menata guru dewasa ini.

Oleh karena itu. kalau tidak dapat dihilangkan sama sekali. sekolah di bawah pimpinan kepala sekolah harus dapat bekerja secara mandiri. Hasil kerja sekolah atas pencapaian target harus dapat dievaluasi dengan jelas oleh orang tua dan masyarakat. Semakin besar otoritas dan tanggung jawab ini pada gilirannya akan meningkatkan kesadaran pada diri guru untuk memberikan yang terbaik bagi siswanya. Sekolah harus meletakkan orang tua dan masyarakat sebagai konsumen. Sekolah harus dijiwai watak ekonomi.objek. termasuk guru harus menyusun program dan target kegiatan yang jelas dan dikomunikasikan kepada orang tua siswa dan masyarakat. kerja efektifdan efisien. Untuk itu instruksi. Salah satu yang mungkin dilaksanakan adalah membekali guru dengan kemampuan untuk melakukan self reflection. lewat action research. dan. sebagai akibat adanya perbedaan kualitas sekolah. Perluasan otoritas guru ini harus pula diiringi dengan kebijakan untuk mengembangkan sistem accountabilitas sekolah yang jelas dan transparan. Terdapat kecenderungan bahwa semakin berkualitas suatu sekolah maka akan semakin besar kemampuan sekolah untuk memobilisasi dana pendidikan dari kalangan orang tua siswa dan masyarakat Sudah barang tentu hal ini tidak perlu untuk dicegah. termasuk tanggung jawab memajukan sekolah. Untuk pengembangan kemampuan guru untuk belajar (bukan mengajar) sangat penting. Kepuasan konsumen harus ditempatkan pada prioritas paling tinggi. Prinsip school site based management menuntut partisipasi dari fihak orang tua siswa dan masyarakat lebih besar. school site based management merupakan suatu tuntutan dasar dalam. Untuk itu. sistem kerjasama orang tua dan sekolah perlu dikembang-suburkan. jukiak dan juknis yang berkaitan dengan pengajaran harus diminimalkan. Dalam mobilisasi dana pendidikan akan terjadi ketimpangan antara satu sekolah dengan sekolah lain. Kemampuan untuk belajar ini akan dapat terus hidup dan tumbuh subur manakala guru memiliki cukup ruang untuk berinisiatif dan berimprovisasi. Partisipasi yang pertama berkaitan dengan upaya mobilisasi dana pendidikan. Anggaran pemerintah seyogyanya diarahkan ke sekolah-sekolah yang tidak mampu memobilisasi dana disebabkan kemampuan orang tua siswa yang rendah. Dalam kaitan inilah. kemampuan untuk mencari sumber pengetahuan. Usaha yang tiada pernah mengenal akhir bagi suatu negara adalah usaha untuk . Yang penting adalah alokasi anggaran pendidikan pemerintah perlu disesuaikan dengan kondisi sekolah masing-masing. dan partisipasi kedua adalah aktivitas mereka dalam ikut memikirkan kemajuan sekolah. Sekolah. kemampuan untuk menentukan bahan yang relevan dan perlu untuk dikaji. Dengan sistem manajemen ini otoritas sekolah semakin besar. Upaya peningkatan kualitas sekolah. Kemampuan belajar mencakup kemampuan untuk membaca dan mengkaji fenomena masyarakat secara efisien. Dalam kaitan ini suatu mekanisme atau prosedur untuk munculnya umpan balik bagi guru sangat penting artinya. Upaya peningkatan kualitas guru untuk meningkatkan kualitas lulusan harus disertai dengan peningkatan kesejahteraan guru.

mengharapkan sejumlah kecil maten dan begitu pula jangan hanya bersikap pasif atau sekedar hura-hura. a).sepenuhnya menyadari dua kebenaran yang fundamental . Andai kata mereka mengikuti penataran atau sanggar. motivator dan fasilitator agar proses pembelajaran anak didik tidak asal-asalan saja. motivator dan fasilitator bagi murid-murid. Untuk itu kita mengharapkan agar guru-guru bersikap tulus dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan diri sendiri. janganlah hanya sekedar mengharapkan sertifikat untuk kredit poin. dan b). suatu bangsa harus. yakni. seperti Jepang. Untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas agaknya sederhana saja rumusnya. berfungsi sebagai konselor. Jerman dan Amerika Serikat. yakni guru jangan mengajar asal-asalan. Suatu keuntungan bagi negara. Khususnya negara-negara sedang berkembang. Sangat mustahil kalau guru-guru yang demikian dapat bertindak atas nama peningkatan kualitas. dan agaknya tidak ada alasan lagi bagi guru untuk selalu berlindung di balik alasan untuk tidak belajar. Mustahil pula seorang guru akan ikut berpartisipasi sempurna dalam pendidikan kalau ia sendiri belum menampakkan.meningkatkan kemakmuran bangsanya. Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar peran guru tidak hanya sekedar membantu proses pembelajaran atau sebagai seorang pengambil keputusan instruksional. Negara yang sudah sedemikian maju pun. D. Hal itu dikarenakan padahakekatnya apa yang dinamakan kemakmuran tidak ada batasnya. Solusi yang bisa di berikan Untuk memperoleh sumber daya manusia yang berkualitas adalah lewat sumber daya manusia yang berkualitas pula. kualitas diri. Dalam kaitan ini. berkualitas. Tetapi lebih dari itu yaitu guru harus dapat berperan sebagai konselor. kiranya negara-negara sedang berkembang patut menyimak peringatan Task Force on Teaching as a Profession on the Carnegie Forum on Education and the Economy bahwa "Dalam usaha kemajuan. keberhasilan usaha mencapai kemajuan tergantung pada keberhasitan menciptakan kualitas pendidikan yang lebih baik daripada sebelumnya. dalam upaya meningkatkan kemakmuran bangsanya. masih juga berjuang keras untuk mencapai tingkat kemakmuran yang lebih tinggi. misalnya. nampaknya harus berusaha lebih keras dalam upaya meningkatkan kemakmuran masrarakatnya. Maksudnya untuk memperoleh murid yang berkualitas tentu dibutuhkan pula guru yang. otodidaktif. Agar dapat memainkan peranan dengan baik dalam dunia pendidikan maka guru harus senantiasa membelajarkan diri. misalnya. Sediakanlah waktu setiap hari untuk menyentuh buku-buku yang bermanfaat dan dapat menambah wawasan berfikir dengan . adalah bisa mengambil pelajaran dari apa yang dialami oleh negara-negara yang sudah terdahulu mengalami kemajuan. kunci keberhasilan peningkatan kualitas pendidikan tergantung pada keberhasilan mempersiapkan dan menciptakan guru-guru yang profesional yang memiliki kekuatan dan tanggung jawab yang baru untuk merencanakan sekolah masa depan.negara sedang berkembang termasuk Indonesia.

harapan kita semua dapat menjadi guru yang berkualitas agar kita dapat mendidik murid-murid menjadi sumberdaya manusia yang berkualitas .

h) dukungan masyarakat. Internal in-efficiency. 2. dan 3. B. a). solidaritas dan kebaikan untuk semuanya. Yaitu : 1. Yaitu pengkajian kualitas dan keberhasilan guru dilihat dari pengaruh kemampuan dan dedikasi guru di satu fihak dan motivasi dan usaha keras dari siswa di fihak lain Kemajuan sebuah bangsa tergantung dari kualitas sumber daya manusia di dalamnya. Dan kualitas sumber daya manusia akan sangat tergantung dari kualitas pendidikan bangsa tersebut. Guru sebagai ujung tombak pendidikan di Indonesia memiliki peran yang sangat penting bagi upaya memajukan bangsa dan Negara Indonesia. b) penguasaan guru atas metode pengajaran.BAB III PENUTUP A. yaitu permasalahan guru dikaji dalam kaitannya dengan faktor-faktor lain di luar guru. i) dukungan pemerintah. Hal ini terlihat dari aspek-aspek pendidikan itu sendiri yang realitanya masih belum baik. Ketidakmerataan kesempatan pendidikan. tetapi meliputi pula keharmonisan dengan lingkungan. Pandangan yang menafsirkan bahwa pendidikan akan menekankan pada pendekatan yang menyeluruh dan bersifat global. Permasalahan Guru dapat diamati melalui dua pendekatan. pembaharuan makna efisiensi. dan. yakni tidak semata-mata bermakna ekonomis. Pendekatan microcosmics. g) manajemen sekolah. External in-efficiency. Bahwa pendidikan akan menekankan pada anak didik "berfikir secara global dan bertindak bersifat lokal". Antara lain: a) penguasaan guru atas bidang studi. Kesimpulan Kualitas mutu pendidikan di Indonesia masih jauh bila dibandingkan dengan Negara lain. Dengan adanya paradigma baru di atas maka tuntutan kualifikasi hasil pendidikan juga akan berubah. d) rekrutmen guru. f) status guru di masyarakat. Pandangan holistis ini akan menimbulkan dua pembaharuan di dunia pendidikan. Pendidikan dituntut untuk menekankan pengembangan kemampuan tertentu . 2. Permasalahan pendidikan di Indonesia bisa di generalisasikan menjadi tiga kategori yaitu : 1. e) kompensasi guru. Hal tersebut dipengaruhi dengan berbagai factor yang berkaitan dengan situasi dan kondisi bangsa Indonesia yang memang belum se maju Negara-negara maju yang lain. dan b). c) kualitas pendidikan guru. Saran Trend perkembangan dunia sebagaimana ditunjukkan dengan adanya perubahan sosial yang cepat menuntut adanya paradigma baru dunia pendidikan. Pendekatan macrocosmics.

e) menekankan pengajaran lebih pada learning how to learn.com/2009/03/08/makalah-masalah-pendidikan-di-indonesia/ . DAFTAR PUSTAKA : http://pakguruonline. d) meningkatkan kemandirian anak karena tingkat otonomi kehidupan pribadi dan keluarga semakin tinggi.pada diri anak didik. Sebagai konsekuensi lebih lanjut berarti pembaharuan pendidikan menuntut pembaharuan bagi pendidikan guru.pendidikan. Sebagai konsekuensi paradigma baru pendidikan. Pembaharuan pada pendidikan guru pada dasarnya di arahkan agar pendidikan guru mampu menghasilkan guru-lulusan sesuai dengan tuntutan kualifikasi masa depan di mana masyarakat senantiasa berubah dengan cepat.html http://meilanikasim. dari pada learning something.wordpress. dan tuntutan pembaharuan pendidikannya maka dunia pendidikan memerlukan guru-guru dengan kualifikasi dan kemampuan baru.net/pradigma_pdd_ms_depan_33. Antara lain : a) kemampuan untuk mendekati permasalahan secara global dengan pendekatan multidisipliner. b) kemampuan untuk menyeleksi arus informasi yang sedemikian deras. untuk kemudian dapat dipergunakan untuk kehidupan sehari-hari. c) kemampuan untuk menghubungkan peristiwa satu dengan yang lain secara kreatif.

MAKALAH KAPITA SELEKTA PENDIDIKAN PROBLEMATIKA GURU DI INDONESIA Disusun Oleh : Asep Rijwan Suhendi PAI / VII Disusun dan Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mandiri Dosen Mata Kuliah Kapita Selekta Pendidikan di Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Mas’udiyah (STAIMAS) Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Mas’Udiyah (STAIMAS) SUKABUMI 2011 / 2012 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful