P. 1
Isi Laporan

Isi Laporan

|Views: 204|Likes:
Published by gangsta_rasta19

More info:

Published by: gangsta_rasta19 on Nov 15, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/15/2012

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A. DASAR PEMIKIRAN Undang-undang Perbankan No. 7 Tahun 1992 membawa era baru dalam sejarah perkembangan hukum ekonomi di Indonesia. Undang-undang tersebut memperkenalkan “sistem bagi hasil” yang tidak dikenal dalam Undang-undang tentang Pokok Perbankan No. 14 Tahun 1967. Dengan adanya sistem bagi hasil itu maka Perbankan dapat melepaskan diri dari usaha-usaha yang mempergunakan sistem “bunga”. Pada tahun 1998 eksistensi Bank Islam lebih dikukuhkan dengan dikeluarkannya Undangundang No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan. Dalam Undang-undang tersebut, sebagaimana ditetapkan dalam angka 3 jo. angka 13 Pasal 1 Undang-undang No. 10 Tahun 1998, penyebutan terhadap entitas perbankan Islam secara tegas diberikan dengan istilah Bank Syari’ah atau Bank Berdasarkan Prinsip Syari’ah. Dengan ditunjang oleh kondisi mayoritas penduduk yang beragama Islam, memberikan sebuah indikasi ladang yang subur bagi perbankan syari’ah untuk berkembang dan menerapkan prinsip-prinsip syari’ahnya dalam dunia perbankan. Sektor usaha perbankan Islam sekarang telah mengalami perkembangan sedimikian rupa, hal tersebut dapat terlihat dengan adanya sektor usaha Bank Muamalat dan juga masih ada beberapa bank-bank lain yang menggunakan prinsip syari’ah. Sebagai sebuah bentuk respon yang positif terhadap pertumbuhan perbankan syari’ah, maka Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Ampel membuka program studi Perbankan Syari’ah pada Jurusan Muamalah dan Ekonomi Islam. Sebagai konsekuensi kurikulernya maka harus ada sebuah bentuk realisasi antara ilmu teoritis dengan ilmu praktis tentang Perbankan Syari’ah.

1

Dalam kerangka itulah maka program kuliah praktikum di bank-bank Syari’ah diselenggarakan. B. TUJUAN DAN KEGUNAAN Selaras dengan dasar pemikiran di atas, maka tujuan diadakannya praktikum perbankan syari’ah adalah: 1. Menyediakan fasilitas bagi mahasiswa-mahasiswa untuk mengenal dan mendalami sepenuhnya bagian operasional perbankan Syari’ah secara praktisi. 2. Mengasah kemampuan, bakat, dan minat mahasiswa-mahasiswi dibidang perbankan syari’ah. 3. Memberikan kesempatan kepada mahasiswa-mahasiswi untuk melakukan studi komparatif antara bank konvensional dengan bank syari’ah, sehingga para mahasiswa-mahasiswi mampu menggunakan pisau analisis hukum Islam. 4. Mendorong mahasiswa-mahasiswi melakukan analisis dalam persepektif hokum islam terhadap aplikasi produk-produk perbankan syariah serta berupaya menemukan kendala-kendala yang dihadapinya. Praktikum perbankan syariah memiliki kegunaan baik bagi mahasiswamahasiswi, bagi fakultas, maupun bagi bank syariah sendiri, diantaranya adalah: 1. Bagi mahasiswa-mahasiswi, praktikum perbankan Syariah ini berguna untuk memperkaya wawasan keilmuan dalam kerangka pembentukan keahlian akademik dibidang hukum islam. 2. Bagi fakultas berguna sebagai salah satu media penyerapan informasi yang bermanfaat untuk penyelarasan kurikulum dengan perkembangan kebutuhan di lapangan. 3. Bagi bank Syariah berguna sebagai media sosialisasi karena perguruan

tinggi memiliki akses yang memadai untuk menyebarluaskan informasi kepada masyarakat. C. WAKTU DAN TEMPAT PRAKTIK Praktikum perbankan syariah ini di laksanakan mulai tanggal 10 -21 September 2012. Adapun waktu yang diberikan kepada kami untuk melaksanakan praktek perbankan syariah selama 10 hari mulai pada pukul 08.00 sampai 17.00 WIB. Praktek ini dilaksanakan di Bank Muamalat yang berlokasi di Jl. Mayjen Sungkono No. 70 D Surabaya. D. NAMA-NAMA PESERTA 1. DONA RUDIANTO 2. ENDAH MASRUROH 3. USWATUN HASANAH 4. ATIK KUSTIANINGSIH 5. FEDRIK AINAN NI’AM C02209043 C02209044 C02209090 C02209122 C02209128

BAB II

3

PROFIL SINGKAT BANK SYARIAH
A. GAMBARAN UMUM DAN SEJARAH BANK MUAMALAT Bank Muamalat berada di Jl. Mayjend Sungkono No.107, Surabaya telp. (031) 5681826, 5666983 Fax. (031) 5624904 . Adapun batas-batas Bank Muamalat adalah sebagai berikut: Sebelah Utara: Kedutaan RRC Sebelah Timur: Perumahan Dukuh Pakis Sebelah Selatan: Bii Maybank Sebelah Barat: Televisi RI Jatim Jaringan Bank Muamalat Wilayah Jawa Timur a. Surabaya (Kantor Cabang) Mas Mansyur (Kantor Cabang Pembantu) Jombang (Kantor Cabang Pembantu) Mojokerto (Kantor Cabang Pembantu) Bojonegoro (Kantor Cabang Pembantu) Dharmahusada (Kantor Kas) Rungkut (Kantor Kas) Gresik (Kantor Kas) Sidoarjo (Kantor Kas) Krian (Kantor Kas) Madiun (Kantor Cabang Pembantu) Ponorogo (Kantor Cabang Pembantu) Nganjuk (Kantor Cabang Pembantu) Tulungagung (Kantor Cabang Pembantu) Blitar (Kantor Cabang Pembantu)

b. Kediri (Kantor Cabang)

-

Ngawi (Kantor Cabang Pembantu)

Wilayah Relokasi a. Kediri a. Surabaya Sungkono(Kantor Cabang) b. Lamongan (Kantor Cabang Pembantu) c. Wiyung (Kantor Kas) d. Kupang (Kantor Cabang) e. Mataram Praja (Kantor Kas) Masbagik (Kantor Kas) Langko (Kantor Cabang Pembantu) Taliwang (Kantor Cabang Pembantu) KCP Denpasar (Kantor Cabang Pembantu) Mataram (Kantor Cabang) Pare (Kantor Kas) Pasuruan (Kantor Cabang Pembantu) Probolinggo (Kantor Cabang Pembantu) Lumajang (Kantor Cabang Pembantu) Kepanjen (Kantor Kas) Singosari (Kantor Kas) Batu (Kantor Kas) b. Malang (Kantor Cabang)

Wilayah Cabang Devisa

f. Denpasar (Kantor Cabang)

B. LANDASAN HUKUM

5

1. Peraturan Bank Indonesia No. 4/1/PBI/2002 Tentang Perubahan Kegiatan Usaha Bank Umum Konvensional Menjadi Bank Umum Berdasarkan Prinsip Syariah dan Pembukaan Kantor Bank Berdasarkan Prinsip Syariah Oleh Bank Umum Konvensional. 2. UU. No. 10 tahun 1998 tanggal 10 November 1998 yang merupakan perubahan dari Undang-undang No 7 tahun 1992 tentang Perbankan. C. STRUKTUR TUGAS 1. Struktur Organisasi DEWAN KOMISARIS Susunan Dewan Komisaris 1. Widigdo Sukarman : Presiden Komisaris 2. Irfan Ahmaed Akhtar : Komisaris 3. Abdulla Saud Abdul Azis Al-Mulaifi : Komisaris 4. Sultan Mohammaed Hasan Abdulrauf : Komisaris 5. Emirsyah Satar : Komisaris Independent 6. Andre Mirza Hartawan : Komisaris Independent Profil dewan komisaris Board of commisioner’s profiles a. Widigdo sukarman menjabat sebagai komisaris utama sejak 13 November 2009. Lahir di Banjarnegara, 31 Desember 1941. Memperoleh gelar sarjana ekonomi dari universitas Gadjah mada (1964). Menamatkan pendidikan di hevard university bidang ilmu pemerintahan dengan gelar master of bussines master of business administration (1985), serta memperoleh gelar doctor bidang ilmu social politik gadjah mada (2003). b. Emirsyah satar menjabat sebagai komisaris independen sejak 15 ORGANISASI PERSONALIA DAN DISKRIPSI

juni 2009. Lahir di Jakarta, 28 juni 1959. Lulus fakultas Ekonomi universitas Indonesia (1985), diploma progam, Sorbonne university, paris. Saat ini menjabat sebagai Direktur Utama PT Garuda Indonesia (2005-sekarang). Sebelumnya pernah menjabat direktur keuangan (CVO) pada perusahaan tersebut tahun 1998-2003. Memiliki pengalaman bidang perbankan dan perusahaan jasa keuangan diantaranya menjadi wakil direktur utama PT Danamon Indonesia Tbk. (2003-2005), managing direktur (CEO) Niaga Finance Co, Ltd hongkong (1997), assistant Vice President of Corporate Banking Group Jakarta (1990), general manager Corporate Finance Division, Jan darrmagi group, Jakarta (1990), Manager Citibank (1988), Assistant manager corporate of Banking group Control Division Jakarta (1986) dan Auditor pricewaterhouse di Jakarta (1983). c. Andre Mirza Hartawan menjabat sebagai komisaris Independen sejak 15 juni 2009. lahir di Jakarta, 9 April 1969. Memperoleh gelar sarjana teknik industry di institute tekhnologi bandung (1993) dan gelar master of business Administration dari Graduate school of bussines, curtin university perth Australia. Sejak tahun 2005 hingga saat ini menjabat sebagai direktur keuangan PT Panca Amara Utama, dan sejak 2006-2009 menjabat sebagai President Direktor PT Amara Capital, selain itu menjabat sebagai komisaris Utama di PT Auto Daya Amara (2006-2009), PT Pupuk Sriwijaya pada director pengembangan Korporasi (1998-2005), dan pricewaterhouse Indonesia. d. Mohammad Al-midani menjabat sebagai komisaris sejak 21 Desember 2011. Lahir di Beirut, Lebanon, 20 Februari 1965, dan saat ini bertempat tinggal di Jeddah, Arab Saudi. Memperoleh gelar sarjana di bidang bisnis (Akuntansi dan Ekonomi) dari Beirut
7

University, Lebanon tahun 1988, dan Diploma Pasca Sarjana di bidang Akuntansi dari Concordia University tahun 1994. Sejak tahun 2010 sampai sekarang menjabat sebagai Officer in charge, Equity investment Division, di Islamic Development bank. Sebelumnya berkarir sebagai lead Internal Auditor di Islamic Development Bank (2001-2010). Jabatan lain yang pernah dipegang antara lain sebagai Finance Manager di shareek Co. (2000-2001) dan sebagai senior auditor di Ernst dan Young (1998-2000). e. Sultan Muhammad Abdul Rauf menjabat sebagai komisaris sejak 21 April. Lahir di Jeddah, 7 April 1968, bertempat tinngal di Jeddah, Saudi Arabia. Menamatkan pendidikan dasar dan menengah di Jeddah, serta memperoleh gelar sarjana bidang akuntansi dari King Abdul Aziz University, Arab Saudi (1987-1991), kemudian menyelesaikan progam Pasca Sarjana di Cleveland State University bidang akutansi dan system keuangan (1992-1994). Sejak tahun 2004 sampai sekarang menduduki jabatan Vice President Financial investment SEDCO. Sebelum bekerja di SEDCO pernah menjabat sebagai assistant General Manager Corporate banking di Samba (2002-2004), serta National Corporate banker di national Commercial bank (1995-2002). f. Saleh Ahmad Al-Ateeqi menjabat sebagai Komisaris Sejak 21 Desember 2011. Lahir di Damascus, Syiria, tanggal 1 Januari 1975, dan saat ini bertempat tinggal di kwait. Memperoleh gelar sarjana di bidang akuntansi dari Georgetwon University AS 1997 dan gelar MBA di bidang Srategic Management and Finance dari the Wharton school of business, University of Pennsylvania AS, tahun 2004. Sejak Januari 2010 sampai sekarang menjabat sebagai AGM Corporate Strategy dan Tranformation / Acting CEO di Boubyan bank, Kuwait. Sebelumnya pernah menjabat sebagai senior

Advisior sector keuangan bagi pemerintah kwait (2008-2009), sebagai Engagement Manager di Mckinsey dan Co.(2004-2008), dan sebagai senior Finacial Analyst di National Bank of kwait (1998-2002). Tugas dan Tanggung Jawab Adapun tugas dan tanggung jawab Dewan Komisaris sesuai dengan Undang-undang No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah yang berlaku, serta Anggaran Dasar Perseroan antara lain: a. Dewan Komisaris wajib melaksanakan tugas dan tanggung jawab sesuai dengan prinsip-prinsip GCG; b. Dewan Komisaris wajib melakukan pengawasan atas penyelenggaraanya pelaksanaan GCG dalam setiap kegiatan usaha BUS pada seluruh tingkatan dan jenjang organisasi; c. Dewan Komisaris wajib melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Direksi serta memberikan nasihat kepada Direksi; d. Dalam melakukan pengawasan, Dewan Komisaris wajib memantau dan mengevaluasi pelaksanaan kebiajakan strategis e. Dewan Komisaris wajib memastikan bahwa Direksi telah menindaklanjuti temuan audit atau rekomendasi serta komitmen dari hasil pengawasan Bank Indonesia, Auditor interneal, Dewan Pengawas Syariah atau auditor eksternal. Wewenang Dewan Komisaris Dalam melaksanakan tugasnya, Dewan Komisaris berwenang untuk melakukan hal sebagai berikut: 1. Setiap anggota Dewan Komisaris setiap waktu dalam jangka waktu jam kerja kantor berhak memasuki bangunan, halaman dan tempat lain yang dipergunakan atau yang
9

dikuasai oleh Perseroan, berhak memeriksa semua pembukuan, surat dan alat bukti lainnya. 2. Dewan Komisaris dapat melakukan tindakan pengurusan Perseroan dan tindakan mewakili Perseroan, apabila: a. Dalam keadaan tertentu untuk jangka waktu tertentu, yaitu dalam hal seluruh anggota Dewan Direksi diberhentikan untuk sementara maka untuk sementara Dewan Komisaris diwajibkan menjalankan tindakan pengurusan Perseroan dan mewakili perseroan terhadap pihak lain. b. Dalam hal demikian berdasarkan keputusan rapat Dewan Komisaris dapat memberikan kekuasaan sementra untuk menjallankan tindakan kepengurusan Perseroan dan mewakili terhadap pihak lain kepada seseorang atas tanggungan dewan komisaris. c. Dewan komisaris yang dalam keadaan tertentu untuk jangka waktu tertentu melakukan tindakan pengurusan Perseroan dan tindakan mewakili Perseroan terhadap pihak lain berlaku semua ketentuan mengenai hak, dan wewenang dan kewajiban Direksi terhadap Perseroan dan pihak lain. 3. Dalam melaksanakan tugas pengawasan, dewan Komisaris dapat membentuk komite yang anggotanya seorang dengan memperhatikan ketentuan Peraturan Bank Indonesia dan peraturan undang-undang si bidang pasar modal, yaitu: a. Komite Pemantau Risiko; b. Komite Nominasi dan Remunasi; c. Komite Audit. 4. Anggota Dewan Komisaris dapat memberi kuasa tertulis

kepada Anggota Dewan Komisaris lainnya atas nama Dewan Komisaris melakukan dengan perbuatan hukum tertentu yang berhubungan pengawasan dan pemberian

nasihatdireksi sehubungan dengan pengurusan perseroan. DEWAN PENGAWAS SYARIAH Susunan Dewan Pengawas Syariah • • • Ketua: KH Ma’ruf Amin. Anggota: Prof. DR. KH Muardi Chatib, MA. Anggota: Prof. DR. Umar Shihab MA.

Profil Dewan Pengawas Syariah Sharia Supervisory board’s Profile a. K.H. Ma’ruf amin warga Negara Indonesia, lahir tahun 1943. Sebelum manjabat sebagai ketua Dewan pengawas syriah (DPS) PT Bank Muamalat Indonesia Tbk, pernah menjabat sebagai ketua DPS bank syaria mega Indonesia (2003), ketua DPS asuransi Bringin Life (2002), ketua DPS Bank BNI (1999) dan ketua DPS Asuransi BNI Life (1999). Lulus Fakultas Ushuluddin, Universitas ibnu choldun, tahun 1967. b. Prof. Dr. H. Muardi chatib warga Negara Indonesia, lahir tahun 1933. Selain sebagai anggota Dewan pengawas saria (DPS) PT bank Muamalat Indonesia Tbk, saat ini juga adalah guru besar Emeritus di UIN Jakarta dan Guru besar Mtkliyah ushul fiqh. Dari tahun 1967 sampai 2003 menjadi Dosen tetap di Fakultas Tarbiyah IAIN Jakarta. Menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Tarbiyah, IAIN Jakarta, tahun 1967, dan pendidikan Pasca Sarjana (S2) tahun 1984dan S3 tahun 198, di institute yang sama. c. Hendiarto menjabat sebagai Direktur keuangan dan Operasional

11

sejak 21 September 2011. Lahir di Jakarta, 3 April 1962. Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) bidang studi pembangunan ini menempuh pendidikan dasar hingga lulus perguruan tinggi di Jakarta. Saar ini menjabat sebagai Finance and Operations Director di Bank Muamalat sejak 28 juni 2010, yang di dukung oleh pengalaman kerja di perbankan selama lebih dari 20 tahun di berbagai bidang, antara lain bidang finance, Trasury dan Wholesaleb Banking. d. Prof. Dr. H. Umar Shihab Warga Negara Indonesia, lahir tahun 1939. Sebelum menjabat sebagai anggota Dewan Pengawas Syaria (DPS) PT bank Muamalat Indonesia Tbk sejak tahun 2004, pernah menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat / Majlis Permusyawaratan Rakyat periode 1992-1999, Guru besar di IAIN Alaudin, Makasar selatan (1992), anggota Dewan Perwakilan Rakyat daerah Sulawesi Selatan (1987-1992) dan Dekan Fakultas Syaria, Universitas Muslim Indonesia, Makassar (1978). Menyelesaikan pendidikan S1 di IAIN Alaudin, Makassar (1966), S2 di Universitas Al-Azhar Cairo (1968) dan S3 di Universitas Hasanuddin , Makassar (1988). Tugas dan Tanggung Jawab Dewan Pengawas Syariah Dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya, Dewan Pengawas Syariah telah melakukan hal-hal sebagai berikut: a. Sebagai mediator antara Bank Muamalat dengan DSN dalam mengkomunikasi usul dan saran pengembangan produk dan jasa dari bank yang memerlukan kajian dan fatwa dari DSN; b. Sebagai perwakilan DSN yang ditempatkan di Bank Muamalat, DPS wajib melaporkan atas hasil pengawasannya kepada DSN dan Bank Indonesia setiap 6 (enam) bulan sekali; c. Pemberian opini dari aspek syariah terhadap pelaksanaan

operasional Bank Muamalat secara keseluruhan dalam laporan publikasi Bank Muamalat; d. Melalui Sharia Compliance Departement, melakukan review secara berkelanjutan atas pemenuhan prinsip syariah terhadap mekanisme penghimpunan dana atau penyaluran dana serta pelayanan jasa bank; DIREKSI Susunan Direksi • • • • • Arviyan Arifin: Direktur Utama Andi Buchari: Direktur Luluk Mahfudah: Direktur Adrian Asharyanto: Direktur Hendrianto: Direktur

Profil direksi Board of Director’s profile a. Arviyan Arifin menjabat sebagai Direktur Utama sejak 28 September 2009.lahir di padang, 27 April 1964, alumnus Tekhnik Industry Institut Tekhnologi Bandung. Sebelumnya bekerja bekerja PT United Tractors Engeneering tahun 1988, kemudian mengikuti Training Officer Development progam di Bank Duta tahun 1988, dan seterusnya bekerja di Bank Duta dengan Jabatan terakhir Kepala Departement Korporasi Bank Duta cabang Utama Surabaya tahun 1991. Dan bergabung sejak pendirian Bank Muamalat tahun 1991 Akhir sebagai Kepala bagian Pembiayaan, tahun 1994 di angkat sebagai kepala Divisi Pembiayaan, memperoleh penghargaan sebagai karyawan terbaik Bank Muamalat tahun 1995 serta menjabat tim Restruktur Asset bank Muamalat pada masa krisis tahun 1998.

13

Diangkat sebagai Direktur bisnis selama dua periode (1999-2004 dan 2004-2009). Pernah menjadi Direktur Copliance tahun 2001 selama 6 bulan. Sejak 2009 sampai saat ini menjabat sebagai Direktur Utama Bank Muamalat. b. Andi buchari menjabat sebagai Direktur Kepatuhan dan menejemn Resiko sejak 15 juni 2009. Lahir di Jakarta, 31 Agutus 1966. Memperoleh gelar Sarjana Tekhnik dari Intitut Pertanian Bogor (1988)dengan predikat Mahasiswa Teladan, Gelar Master di bidang keuangan dari Universitas katolik Atmajaya (1996) dengan Cum Laude dengan predikat lulusan terbaik. Mengikuti risk Management Certification di Amsterdam (2004) dan Islamic Banking and Finance summer school Davos, Swiss (2005). Masuk ke jajaran direksi Bank Muamalat pada tahun 2004 dan menjabat sebagai Direktur Compliance, Risk management dan Corporate Support (2004-2007), Direktur Finance dan Administration (2007-2009) sekaligus sebagai Direktur Proyek untuk internasional business Development (2008-2009), bertanggung jawab atas tugastugas seperti pembukaan cabang Kuala lumpur dan pengembangan bisnis di Malaysia. Pada tahun 2009 bertugas sebagai Firs Direktor di first Islamic Invesmen Bank Ltd, (Labuan-malaysia). Tahun 2009 kembali menjabar Direktor (periode ke dua) di Bank Muamalat yaitu sebagai Direktor Compliance dan risk Management (2010-sekarang). c. Luluk mahfuda menjabat sebagai Direktur bisnis korporasi sejak 28 September 2009. Lahiir di Jombang, 22 oktober 1967. Menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Jombang, lulus dari Fakultas pertanian Brawijaya (1991). Mengawali karir sebagai Trainee Muamalat Officer Development progam (MODP) II (1993-1994), lalu menjabat sebagai Account Manager bank Muamalat cabang Fatmawati (1994-1995). Pernah menjabat sebagai Deputy GM bidang

pembiayaan kantor pusat operasional (1999-2001), sebagai csub branch manager Slipi (2001-2002), sebagai branch manager kalimalang (2002-2003)dan fatmawati (2004-2007), serta sebagai business manager kantor pusat line 1dan2 (2008-2009) hingga akhirnya diangkat menjadi Corporate banking Director sampai saat ini. d. Andrian Asharharyanto Gunardi menjabaat sebagai Direktur Bisnis Ritel sejak 15 juni 2009. Lahir di Jakarta, 3 Januari 1976, memperoleh gelar master Bussiness of Administration dalam bidang Finance dari Rotterdam Scholl of Business, Netherland (2003) setelah memperoleh gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Indonesia (1999). Mengawali karir perbankan di Citigroup sebagai Management Associate, Corporate Banking, Local corporate Group (1999-2001) dan Associate Direktor, Financial institution standart Chartared Bank, Jakarta (2004-2006). Pada tahun 2006 memperoleh International Assignment sebagai Associate Direktor, islamc Prodaucts, Standart Chartered Bank Saadiq, Dubai, UAE. Pernah menjabat sebagai Heat of Sharia Banking, PT permaata Bank Tbk pada juli 2009 dan sekarang bergabung di Bank Muamalat sebagai Retail Banking Director. e. Handiarto menjabat sebagai Director keuangan dan Operasional sejak 21 September 2011. Lahir di Jakarta, 3 April 1962. Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) bidang studi Pembangunan ini menempuh pendidikan dasar hingga lulus perguruan tinggi di Jakarta. Saat ini menjabat sebagai Finance and Operations Director di Bank Muamalat sejak 28 juni 2010 yang di dukung oleh pengalaman kerja di perbankan selama lebih dari 20 tahun di berbagai bidang, antara lain bidang Finance,Treasury dan wholesale Banking. Tugas dan Tanggung Jawab Direksi
15

a. Melakukan pengelolaan bank dengan menerpkan GCG; b. Melakukan pengawasan intern secara efektif dan efisien; c. Memantau risiko dan mengelolannya, menjaga agar iklim kerja tetap kondusif sehingga produktivitas dan profesionalisme menjadi lebih baik; d. Mengelola pejabat, staf dan karyawan Bank Muamalat; e. Melaporkan kinerja Bank Muamalat secara keseluruhan kepada pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPTS). KOMITE AUDIT Susunan Komite Audit • • Ketua: Andre Mirza Hartawan (Komisaris Independent) Anggota: - Widigdo Sukarman (Komisaris Independent) -Teuku Radja Sjahnan (Pihak Independent) Profil Anggota Komite Members of Commitess Profile a. Teuku Radja Sjahnan lahir di Sabang, 1 Februari 1968. Menjabat sebagai Anggota Komite Audit Bank Muamalat sejak 2 Maret 2010. Memperoleh gelar Diploma Akuntansi dari sekolah tinggi Akuntansi Negara, Jakarta (1989), Sarjana Ekonomi dari Universitas Indonesia, Jakarta (1994), Master in finace dari London Business school, LondonInggris (2001). Pemegang Certified Information system Auditor (CISA) ini memiliki pengalaman yang luas, Anggota united Nation (UN) Board of External Audit yang bertugas melakukan audit atas UN Integrated Management information system (UN-IMIS) di new York tahun 1992-1993, sebagai audit MIS Manager pada Dewan Audit Indonesia untuk bidang IT Project tahun 1997-1999, sebagai Auditor BPK-RI dengan berbagai tugas khusus pada tahun 1999-2007, sebagai

konsultan pada World Bank untuk kantor di Jakarta tahun 2007, sebagai anggota Komite Audit Bank Negara Indonesia tahun 2001-2009 b. Subardiah lahir di Pekanbaru, 14 September 1953. Menjabat sebagai anggota Komite Pemantau Risiko Bank Muamalat sejak 2 Maret 2010. Jabatan sebelumnya adalah Deputy General Management Division PT Bank Negara Indonesia Tbk. (1979-2009), Anggota Risk Manegement Working group Indonesia (2004-2009). Meraih sarjana Ekonomi dari Universitas Riau, Pekanbaru (1978), dan magister manajement dari universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (1996). Beliau memiliki pengalaman kerja sebagai pegawai PT bank Negara Indonesia 1946 dengan berbagai jabatan dan terakhir sebagai Deputy General Manager Risk Management Division (1979-2009) dan sebagai anggota Risk Management Working Group Bank Indonesia (2004-2009). c. Pri Notowidigdo lahier di klaten, Jawa Tengah, 14 mei 1947. Menjabat sebagai Anggota Komite Nominasi dan Remunasi sejak 22 Desember 2009. Saat ini juga menjabat sebagai jabatan di Amrop Group antara lain senior partner Amrop Indonesia, Member of Amrop’s Global board. Selain di Bank Muamalat, dia juga manjabat sebagai anggota Komite Nominasi dan Remunerasi Bachelor of Arts di Carleton University , Canada. d. Maulana Ibrahim lahir di Bandung, 20 Oktober 1948. Menjabat sebagai anggota Komite Nominasi dan Remunerasi sejak 22 Desember 2009. Jabatan sebelumnya sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia bidang system pembayaran dan Operasional. Meraih gelar sarjana Ekonomi di Universitas Padjadjaran, Bandung (1977) dan meraih Master of Art di bidang Ekonomi dari central Missouri State University (1984). e. Gatot Basuki Soeseno Sarosa Warga Negara Indonesia, lahir tahun
17

1946 dari

1957. Menjabat sebagai Division head, Human Capital, PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. Sejak tahun 2011. Sebelum bergabung dengan Bank Muamalat, bekerja sebagai senior partner dan Consultant di PT Multi Talenta Indonesia, perusahaan konsultan manajemen SDM (2006-2011), serta di PT Bank Bumiputera Indonesia Tbk. (20002005) di berbagai posisi Manajerial di bidang Compliance, Quality Assurance dan sumber daya Manusia. Memperoleh gelar Sarjana Kehutanan dari Institut Pertanian Bogor (1980), serta Master of Bussiness Administration dari University of New orleans, AS (1991). Tugas dan Tanggung Jawab Komite Audit Tugas Komite Audit adalah membantu Dewan Komisaris dalam hal: 1. Menindaklanjuti hasil temuan Internal Audit Divion (IAD) sesuai dengan kebijakan atau pengarahan yang diberikan oleh Dewan komisaris; 2. Ketua Komite Audit, bersama Direktur Utama menandatangani laporan hasil audit kepada Bank Indonesia atas setiap temuan audit kepada Bank Indonesia atas setiap temuan audit yang diperkirakan dapat menggangu kelangsungan usaha Bank Muamalat; 3. Mengevaluasi hasil temuan pemeriksaan oleh IAD; 4. Meminta Direksi untuk Menindaklanjuti hasil temuan pemeriksaan IAD; 5. Memberikan persetujuan tentang pengangkatan dan pemberhentian Kepada IAD oleh Direksi dan dilaporkan kepada Bank Indonesia; 6. Mengambil langkah-langkah yang diperlukan dalam hal audite tidak Menindaklanjuti laporan IAD; 7. Memastikan bahwa laporan-laporan yang disampaikan kepada Bank Indonesia, Bapepam-LK serta instansi lain yang berkepentingan dilakukan dengan benar dan tepat waktu, serta memastikan bahwa Bank Muamalat mematuhi semua ketentuan perundang-undangan

yang berlaku; 8. Memastikan bahwa Manajement menjamin baik Eksternal Auditor maupun Internal Auditor dapat bekerja Standart Auditor yang berlaku. KOMITE PEMANTAU RESIKO (KPR) Susunan Komite Pemantau Resiko • • Ketua: Widigdo Sukarman (Komisaris Independent) Anggota: 1. Emirsyah Satar (Komisaris Independent) 2. Abdulla Saud Abdul Azis Al Mulaifi (Komisaris) 3. Sultan Mohammed Hasan Hasan Abdulrauf (Komisaris) 4. Subardiah (Pihak Independen) Tugas dan Tanggung Jawab Komite Pemantau Resiko Adapun tugas KPR sesuai dengan ketentuan yang berlaku, antara lain: 1. Melakukan evaluasi atas kebijakan dan strategi Manajemen secara tahunan; 2. Melakuakn evalusi terhadap laporan pertanggungjawaban Direksi atas pelaksanaan kebijakan manajemen resiko; 3. Mengevaluasi langkah-langkah yang diambil oleh Direksi dalam rangka menenuhi peraturan-peraturan Bank Indonesia dan peraturan perundang-undangan yang lain yag berlaku dalam rangka pelaksanaan prinsip kehati-hatian, khususnya yang berkaitan dengan manajemen resiko; 4. Melakukan evaluasi terhadap permohonan atas usulan Direksi yang berkaitan dengan transaksi atau kegiatan uasaha yang melampui kewenangan Direksi untuk dapat digunakan oleh Dewan Komisaris sebagai dasar pengambilan keputusan. KOMITE NOMINASI DAN REMUNERASI (KNR) Susunan anggota Komite Nominasi dan Remunasi sebagai berikut:

19

• •

Ketua : Emirsyah Satar (Komisaris Independen) Anggota : 1. Widigdo Sukarman (Komisaris Independent) 2. Abdulla Saud Abdul Azis Al Mulaifi (Komisaris) 3. Sultan Mohammed Hasan Hasan Abdulrauf (Komisaris) 4. Pri Notowidigdo (Pihak Independen)

Tugas dan Tanggung Jawab Komite Nominasi dan Remunasi Tugas dan Tanggung Jawab Komite Nominasi dan Remunasi antara lain: 1. Menentukan kriteria seleksi dan prosedur nominasi bagi Anggota Dewan Komisaris, Direksi dan Karyawan Senior; 2. Mengajukan nominasi Anggota Dewan Komisaris dan Direksi untuk diajukan kepada Bank Indonesia (untuk dilakukan penilaian kemampuan dan kepatuhan) dan Pemegang Saham sebelum pelaksanaan RUPS dengan mempertimbangkan secara seksama usulan-usulan dari Pemegang Saham; 3. Mengevaluasi jumlah Anggota dan komposisi Dewan Komisaris dan Direksi; 4. Mempersiapkan proposal penunjukan atau penunjukan ulang Anggota Dewan Komisaris dan Direktur kepada Pemegang Saham. Sekertaris perusahaan Corporate Scretary Profile Meitra N Sari warga Negara Indonesia, lahir tahun 1975. Menjabat sebagai sekretaris Perusahaan PT Bank Muamalat Indonesia Tbk sejak bulan April 2011, setelah sebelumnya menjabat sebagai Head of Corporate Communication di Bank Muamalat sejak Oktober 2010. Antara tahun 2007-2010 bekerja untuk Organisasi Central Asia Development Group dan di tempatkan di Jakarta dan Kandahar, Afganistan. Senior manager di standart Chartered Bank, Jakarta (2005-2007). Menamatkan studi di bidang jurnalisme di Griffith University, Queensland, Australia,

tahun 2005. 2. Diskripsi Tugas a. Legal 1. Mengkoordinir mengawasi aktifitas berhubungan pembiayaan. 2. Mengikuti perkembangan permohonnan pembiayaan nasabah dalam pemeriksaan kelengkapan pembiayaan. 3. Mengurus kelengkapan dokumen berhubungan atau telah yang dengan diberikan perjanjian dokumen setiap hal proses dan semua yag dengan

pembiayaan yang akan kepada nasabah seperti surat-surat pembiayaan, surat-surat jaminan dan sebagainya sampai pembiayaan cair. 4. Mengawasi mengatur
21

dengan dan perngarsipan

terhadap dokumen berhubungan pembiayaan

semua yang dengan menurut

sistem dan tata laksana yang telah ditetapkan. 5. Mengatur pegawai berwenang atau kehilangan peminjaman yang dan atas arsip dokumen kepada

menghindari kerusakan dokumen-dokumen tersebut. 6. Menyiapkan membuat pengikatan disetujui. 7. Menyimpan perubahannya. 8. Melakukan kelapangan bersama marketing/ data pembiayaan peninjauan baik manager kordinator permohonan dengan akte pendirian BANK dan dan surat-surat untuk

pembiayaan yang telah

wilayah mengenai data-

kondisi sebenarnya. 9. Menilai seacara hukum jaminan yang nasabah. 10. Mengatur 11. Mengajukan pelaksanaan dan eksekusi jaminan. menjawab perkara bila sampai kepengadilan. 12. Membantu direksi dalam pembuatan yang dengan umum. b. Teler
1. Memberikan pelayanan

pembiayaan diajukan oleh

surat-surat berhubungan administrasi

yang berkesan ramah, mudah dan akurat proses kepada para nasabah.
2. Melaksanakan

transaksi teller.
3. Menerima setoran dan

penarikan rekening nasabah c. Marketing • Funding a. Melakukan survey terhadap nasabah.

untuk

23

b. Melakukan penarikan terhadap nasabah yang mempunyai angsuran atau tanggungan. c. Melakukan prospek terhadap nasabah yang melakukan pembiayaan • Lending
a. Melakukan survey dan prospek terhadap nasabah yang

mengajukan pembiayaan.
b. Malakukan analisa setelah melaksanakan survey/prospek

terhadap

data-data

yang

dipakai

dalam

pengajuan

pembiayaan.
c. Melakukan pantauan dan pembinaan terhadap aktifitas

nasabah.
d. Memberikan surat peringatan kepada nasabah yang lalai

atau wanprestasi terhadap akad. D. PRODUK DAN APLIKASI AKAD 1. Pendanaan a. Tabungan Muamalat Reguler Tabungan syariah dalam mata uang rupiah dengan menggunakan akad mudharabah mutlaqah yang ditujukan untuk meringankan transakasi keuangan nasabah, memberikan akses yang mudah, serta manfaat yang luas. Tabungan Muamalat hadir dengan dua pilihan kartu ATM/Debit yaitu Shar-E Reguler dan Shar-e Gold. b. Tabungan Muamalat (Shar-E Gold) Tabungan syariah dalam mata uang rupiah dengan menggunakan akad mudharabah mutlaqah tang ditujukan bagi nasabah dengan kebutuhan transaksi yang beragam serta jaringan

transaksi secara international. Tabungan Muamalat (Shar-E Gold) ini merupakan hasil konversi dari tabungan Ummat. c. Tabungan Muamalat Pos Tabungan syariah dalam mata uang rupiah dengan akad mudharabah mutlaqah yang dikhususkan bagi nasabah yang rutin bertransaksi di kantor pos d. Tabungan Muamalat Sahabat Tabungan syariah dalam mata uang rupiah dengan akad mudharabah mutlaqah yang dikhususkan bagi kebutuhan transaksi nasabah selaku anggota lembaga/organisasi/sekolah/perkumpulan. e. TabunganKu Tabungan syariah dalam mata uang rupiah dengan akad Wadiah yang sangat terjankau bagi anda dan semua kalangan masyarakat serta bebas biaya administrasi. f. Tabungan Haji Arafah Dan Haji Arafah Plus Merupakan tabungan yang bagi nasabah yang berencana untuk menunaikan ibadah haji. Produk ini akan membantu nasabah. g. Tabungan Muamalat Umroh Tabungan rencana yang disediakan bagi Nasabah yag memiliki impian untuk dapat menunaikan ibadah Umrah secara terencana. Memiliki fitur setoran rutin yang dapat disesuaikan dengan kemampuan nasabah menjadikan rencana perjalan Umrah menjadi lebih pasti, menenangkan dan sesuai jadwal. h. Deposito Regular Merupakan jenis investasi syariah bagi nasabah perorangan dan badan hukum yang memberikan bagi hasil yang optimal. Dana nasabah yang disimpan pada Deposito Mudharabah akan dikelola melalui pembiayaan kepada berbagai jenis usaha sektor riil yang
25

halal dan baik saja, sehingga memberikan bagi hasil yang halal. Tersedia dalam jagka waktu 1, 3, 6, dan 12 bulan dan pilihan mata uang dalam Rupiah dan USD. Deposito mudharabah dapat diperpanjang secara otomatis (automatic roll over) dan juga dapat dijadikan jaminan pembiayaan di Bank Muamalat. i. Deposito Fulinves Merupakan jenis investasi yang dikhususkan bagi nasabah perorangan, dengan jangka waktu 6 dan 12 bulan. Deposito Fulinves memiliki keunggulan perlindungan asuransi jiwa secara Cuma-Cuma dan bagi hasil yang sangat menarik. Deposito Fulinves dapat diperpanjang secara otomatis (automatic roll over) dan dapat dipergunakan sebagai jaminan pembiayaan di Bank Muamalat. j. Giro Perorangan Merupakan titipan dana pihak ketiga berupa simpanan giro dalam mata uang rupiah dan dollar yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro dan aplikasi pemindahbukuan. Diperuntukkan bagi nasabah pribadi untuk mendukung aktivitas nasabah. Giro Perorangan dapat dilengkapi dengan fasilitas kartu ATM dan Debit, tarik tunai bebas biaya di seluruh jaringan ATM BCA/ PRIMA dan ATM Bersama, serta akses di seluruh merchant Debit BCA/ PRIMA. k. Giro Badan Merupakan titipan dana pihak ketiga berupa simpanan giro dalam mata uang rupiah dan dollar yang penarikannya dapat dilakukan cek, bilyet giro dan aplikasi pemindahbukuan. Diperuntukkan bagi nasabah institusi dalam rangka mendukung aktivitas perusahaan. l. Dana Pensiun Muamalat

Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) Muamalat dapat diikuti oleh mereka yang berusia minimal 18 tahun, atau sudah menikah, dan pilihan usia pensiun 45-65 tahun dengan iuran sangat terjangkau, yaitu minimal Rp. 20.000,- per bulan dan pembayarannya dapat didebet secara otomatis dari rekening Bank Muamalat atau dapat ditransfer dari bank lain. Peserta juga dapat mengikuti program WASIAT UMMAT, dimana selama masa kepesertaan akan dilindungi oleh asuransi jiwa sesuai ketentuan berlaku. Dengan asuransi ini, keluarga peserta akan memperoleh dana pensiun sebesar yang diproyeksikan sejak awal jika peserta meninggal dunia sebelum memasuki masa pensiun. 2. Pembiayaan a. Pembiayaan Hunian Syariah Pembiayaan Hunian Syariah adalah produk pembiayaan dengan skema Murabahah dan Musyarakah Mutanaqisah yang diperuntukan untuk tujuan kepemilikan rumah (ready stock/ bekas), apartemen, ruko, rukan, kios maupun pengalihan take-over KPR dari bank lain. Janka waktu pembiayaan sampai dengan 15 tahun. b. Automuamalat Automuamalat adalah produk pembiayaan yang diperuntukan untuk tujuan kepemilikan kendaraan bermotor. Produk ini adalah kerjasama Bank Muamalat dengan Al-Ijarah Indonesia Finance (ALIF). Janka waktu pembiayaan sampai dengan 5 tahun. c. Dana Talanagan Haji Dana Talangan Porsi Haji adalah pinjaman dengan skema al-qardhul hasan yang ditujukan untuk membantu nasabah mendapatkan porsi keberangkatan haji lebih awal, meskipun saldo
27

tabungan Haji nasabah belum mencapai syarat pendaftaran porsi haji. Jangka waktu pembiayaan sampai dengan 12 bulan. d. Pembiayaan Umroh Muamalat Pembiayaan Umroh Muamalat adalah produk pembiayaan yang dapat membantu mewujudkan impian nasabah untuk beribadah Umroh dalam waktu yang segera. Jangka waktu pembiayaan sampai dengan 36 bulan. e. Pembiayaan Anggota Koperasi Karyawan Pembiayaan Anggota Koerasi Karyawan adalah pembiayaan konsutif yang diperuntukkan bagi beragam jenis pembelian konsumtif kepada karyawan/ guru/ PNS (selaku end user) yang penyalurannya dilakukan melalui koperasi. f. Pembiayaan Modal Kerja Pembiayaan Modal Kerja (KMK) adalah fasilitas pembiayaan modal kerja yang diberikan dalam rupiah maupun valuta asing untuk memenuhi kebutuhan modal kerja. Pembiayaan Modal Kerja diharapkan dapat menjamin kelancaran kegiatan operasional dan renaca pengembangan usaha nasabah. g. Pembiayaan Rekening Koran Syariah Pembiayaan Rekening Koran Syariah adalah pembiayaan modal kerja sesuai syariah yag bersifat revolving jangka pendek dimana penarikannya dapat dilakukan setiap saat tapa pemberitahuan terlebih dahulu kepada pihak bank dengan mempergunakan Cek/ Bilyet Giro. h. Pembiayaan Hunian Syariah Bisnis Pembiayaan pembiayaa yang pembangunan Hunian Syariah Bisnis adalah serta produk diperuntukkan renovasi dalam properti rangka pembelian, pengalihan

maupun

pembiayaan (take-over) properti dari bank lain untuk kebutuhan

bisnis nasabah. i. Pembiayaan Investasi Pembiayaan Investasi adalah pembiayaan jangka menengah/ panjang yang diberikan kepada nasabah untuk membiayai pembelian barang-barang modal dalam rangka rehabilitasi, modernisasi, perluasan ataupun pendirian proyek baru, misalnya untuk pembelian mesin-mesin, bangunan dan tanah untuk pabrik, dan sebagainya. PERSYARATAN 1. Tabungan a. Tabungan Reguler i.WNI : KTP/ SIM/ paspor yang masih berlaku ii.WNA : Paspor yang masih berlaku iii.Setoran minimum b. Tabungan Syar-E Gold i.WNI : KTP/ SIM/ paspor yang masih berlaku ii.WNA : Paspor yang masih berlaku iii.Setoran pembukaan minimum yang 2. TabunganKu a. Tabungan perorangan dengan prinsip titipan (wadiah) b. Memiliki bukti identitas sebagai warga Negara Indonesia
29

pembukaan yang terjangkau

yaitu Rp. 100.000,-

terjangkau

yaitu

Rp.

250.000,-

c. Tidak diperkenankan untuk rekening bersama dengan status “dan atau” d. Satu orang hanya memiliki 1 (satu) rekening di Bank Muamalat untuk produk yang sama, kecuali bagi orang tua yang membuka rekening untuk anak yang masih di bawah perwalian e. Melengkapi dokumen sebagai berikut: 1. Aplikasi pengkinian Nasabah 2. Aplikasi Pembukaan Rekening Tabungan 3. Kartu yang (untuk ke atas) f. Penabung di bawah perwalian, harus menggunakan nama orang tua atau wali siswa 3. Deposito a. Perorangan i.WNI : KTP/ SIM/ Paspor yang masih berlaku ii.WNA : KIMS/ Identitas berlaku : nasabah baru) Data (untuk

KTP/ SIM/ Paspor paspor berusia 17 tahun

KITAS b. Perusahaan/ Institusi i.NPWP ii.Dokumen Legalisasi iii.Dokumen izin-izin usaha c. Setoran pembukaan minimal 1.000.000,00 untuk Rp. untuk Fulinves d. Biaya materai 4. Pensiun Terproteksi Muamalat a. WNI/ WNA b. Usia minimal 18 tahun atau sudah menikah c. Fotokopi kartu identitas (KTP/ SIM/ Paspor/ KIMS/ KITAS) dan Kartu Keluarga d. Mengisi formulir pembukaan e. Biaya pendaftaran Rp. 10.000,5. Pembiayaan Umroh Muamalat a. WNI yang berdomisili di Indonesia b. Usia minimum 21 tahun c. Memiliki pekerjaan dengan status sebagai karyawan tetap 6. Pembiayaan KPR Syariah a. Pegawai
31

Rp. deposito

Mudharabah dan 5.000.000,deposito

i.Aplikasi Pemohon ii.KTP Pemohon dan Suami/ Penjamin iii.Kartu Keluarga iv.Surat Keterangan Ganti Nama (bagi WNI Keturunan) v.Akte Nikah/ Cerai (bagi yang sudah menikah/ cerai) vi.NPWP Perusahaan vii.Surat Suami/ Penjamin viii.Slip terakhir/ keterangan penghasilan ix.Surat lamanya dari copy Pengangkatan Pegawai x.Rekening koran/ Tabungan 3 bulan keterangan bekerja perusahaan/ SK asli gaji surat Persetujuan Istri + Pribadi/ Istri +

dan jabatan terakhir

terakhir xi.Sertifikat SHM xii.IMB xiii.PBB terakhir) xiv.Covernote notaris b. Wiraswasta i.Aplikasi Pemohon ii.KTP Pemohon dan Suami/ Penjamin iii.Kartu Keluarga iv.Surat Keterangan Ganti Nama (bagi WNI Keturunan) v.Akte Nikah/ Cerai (bagi yang sudah menikah/ cerai) vi.NPWP Perusahaan vii.Surat Suami/ Penjamin viii.SPT Pajak 1 tahun terakhir ix.Rekening terakhir
33

HGB/

(tahun

Istri

+

Pribadi/ Persetujuan Istri +

koran/

Tabungan 3 bulan

x.Akte pendirian dan perubahannya xi.Neraca rugi/ dan laba informasi

keuangan terakhir xii.Izin-izin usaha yaitu TDP dan SIUP xiii.Sertifikat SHM xiv.IMB xv.PBB terakhir) xvi.Covernote notaris c. Profesional i.Aplikasi Pemohon ii.KTP Pemohon dan Suami/ Istri + Penjamin iii.Kartu Keluarga iv.Surat Keterangan Ganti Nama (bagi WNI Keturunan) v.Akte Nikah/ Cerai (bagi yang sudah menikah/ cerai) vi.NPWP Pribadi/ Perusahaan vii.Surat Persetujuan Suami/ Istri + Penjamin viii.SPT Pajak 1 tahun terakhir ix.Rekening koran/ Tabungan 3 bulan terakhir x.Akte pendirian dan perubahannya xi.Neraca dan laba rugi/ informasi keuangan terakhir xii.Izin-izin usaha yaitu TDP dan SIUP xiii.Sertifikat HGB/ SHM xiv.IMB (tahun HGB/

xv.PBB (tahun terakhir) xvi.Covernote notaris E. MEKANISME PERHITUNGAN BAGI HASIL DAN MARJIN 1. Bagi Hasil Prinsip utama bank Syariah adalah pada tata cara/ ketentuan pemberian imbalan yang dilakukan dengan system bagi hasil. Dengan demikian, realisasi imbalan yang diterima nasabah akan berbeda-beda setiap bulannya, hal ini karena tergantung dari pendapatan hasil investasi yang dilakuakn bank pada bulan yang bersangkutan. (“…… dan tiada seorang pun yang dapat memastikan apa yang dapat ia hasilkan esok hari…”) [Q.S. Luqman (31): 4]. HI-1000 Nisbah (ratio) adalah porsi/ bagian yang menjadi hak masingmasing pihak pada proses distribusi bagi hasil antara nasabah dan Bank. Misalnya 50:50 (angka didepan merupakan porsi Nasabah) Penetapan bagi hasil di Bank Syariah dilakukan denga cara terlebih dahulu menghitung HI-1000 (baca: Ha-i-seribu), yakni angka yang menunjukkan hasil investasi yang diperoleh dari penyaluran setiap seribu rupiah dana yang diinvestasikan oleh bank. Sebagai contoh: HI1000 bulan Agustus 2012 adalah 9,73. Hal tersebut berarti bahwa dari setiap Rp 1000,- dana yang diinvestasikan oleh bank akan menghasilkan Rp 9,73. Apabila nisbah 88:12, maka porsi nasabah adalah 12% dari Rp 9,73, sehingga untuk setiap Rp 1000.,- dana Nasabah akan memperoleh hasil sebesar Rp. 9,73, sehingga untuk setiap Rp 1000.,- dana Nasabah akan memperoleh hasil sebesar Rp 5,48. Yang secara umum hal tersebut dirumuskan sebagai berikut: Sebagai contoh, seorang
35

nasabah

menyimpan

deposito

Mudharabah di Bank Syariah pada bulan Agustus senilai Rp 10.000.000,- dengan jangka waktu 1 bulan. Diketahui nisbah deposito 1 bulan 50:50, HI-1000 untuk bulan Agustus 9,73. Maka untuk mengetahui nilai bagi hasil yang akan didapatkan oleh nasabah tersebut adalah: 2. Marjin Tabungan Tabungan wadiah yang sifatnya hanya titipan, nasabah tidak memperoleh marjin, melainkan hanya memperoleh bonus. Sedangkan untuk tabungan Mudharabah dengan menggunakan pola bagi hasil, maka nasabah akan memperoleh nisbah dengan perbandingan 12:88 (12 untuk nasabah, dan 88 untuk Bank). Sedangkan untuk deposito dengan jangka waktu: a. 1 bulan, maka marjinnya 50:50 (50% untuk nasabah dan 50% untuk pihak bank). b. 3 bulan, maka marjinnya 51:49 (51% untuk nasabah, dan 49% untuk bank). c. 6 bulan, maka marjinnya 53:47 (53% untuk nasabah, 47% untuk pihak bank). d. 12 bulan, maka marjinnya 54:46 (54% untuk nasabah, dan 46% untuk pihak bank). 3. Marjin Pembiayaan Adalah perhitungan margin untuk pembiayaan ada 2 macam, yaitu: a. Flat Rate (adanya keseimbangan antara pokok dan margin) b. Effective (nilai pokok semakin

tinggi dan margin semakin rendah). Contoh perhitungan margin pembiayaan ada di lampiran F. KENDALA, TANTANGAN DAN TANGGAPAN MASYARAKAT Secara umum tidak banyak kendala yang dihadapi oleh PT. Bank Muamalat dalam internal operasional Bank Muamalat, karena mayoritas pegawai yang ada di Bank Muamalat telah berpengalaman di bidangnya masing-masing. Dintara beberapa kendala yang berasal dari external operaionalnya : a. Masih rendahnya kesadaran para pengusaha untuk berbisnis secara Syari’ah, hal tersebut bisa terlihat dari adanya beberapa pembiayaan yang belum digunakan sesuai akad. b. Masih rendahnya pemahaman masyarakat tentang prinsip Syari’ah dan manfaatnya dalam perbankan c. Dengan beroperasionalnya Bank Muamalat selama ini, diperlukan sosialisasi secara optimal dari kedua belah pihak khususnya dan masyarakat pada umumnya baik secara interen maupun eksteren. Diantara tantangan yang dihadapi oleh Bank Muamalat diantaranya adalah : a. Bersama praktisi, ulama dan akademisi memberikan sosialisasi pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya prinsip-prinsip dan bagaimana berbisnis secara Syari’ah. b. Bank Muamalat harus mampu memberikan keuntungan dan manfaat, baik kepada masyarakat maupun kepada pihak yang terkait. c. Memenuhi kebutuhan jasa perbankan bagi masyarakat yang tidak dapat menerima konsep bunga. d. Melahirkan kompetisi yang sehat diantara pesaing yang ada dan perilaku bisnis yang berdasarkan nilai-nilai moral Syari’ah, yang pada gilirannya akan menciptakan kesejahteraan, meningkatkan
37

market disciplines dan pelayanan bagi masyarakat. Tanggapan masyarakat terhadap berdirinya Bank, mayoritas sangat merespon positif. Hal tersebut bisa terlihat dengan adanya beberapa nasabah yang mengajukan pembiayaan lebih dari sekali, dikarenakan prinsip operasional sistem jual beli dan sistem bagi hasil yang digunakan sangat menguntungkan baik bagi Bank Muamalat sendiri maupun masyarakat atau nasabah yang mengajukan pembiayaan.

BAB III KEGIATAN PRAKTIK
a. Tabel Kegiatan Pelaksanaan PPL Hari/tanggal Senin, 10 2012 09.00-10.00 10.00-12.00 Opening Ceremonial Menempatkan peserta dibagian: 1. Teller 2. Operasional 3. 12.00-13.00 Sholat berjamaah dzuhur Seluruh dan BMI dan karyawan peserta legal pratikum 1. Atik kustianingsih 2. Fedrik Ni’am 3. Uswatun hasanah 4. Dona rudianto 5. Endah…… Ainan Bpk. Luki Hendra H. September Waktu 07.45-08.00 Kegiatan Do’a bersama Keterangan Yang di pimpin oleh Mas Dian

makan (istirahat) 13.00-15.00

siang pratikum

Kembali ke bagian masing-masing

15.00-16.00

1. Sholat ashar Seluruh berjamaah 2. Materi yang di oleh luki, H., BMI dan pratikum

karyawan peserta

pimpin Peserta pratikum Bpk peserta pratikum

16.00-16.00 Selasa, 11 08.00-08.00 pulang Briefing

Seluruh karyawan dan peserta praktikum

September 2012 08.00-12.00 Pergantian tempat 1. Teller

Mbak Maya 1. Uswatun hasanah 2. Atik kustianingsih Mas pras dan Bpk.

2. Operasional back

Luki hariadi 1. Fedrik niam…. 2. Endah ………

3. Legal

3. Dona rudianto

12.00-14.00

Istirahat,

sholat

39

dzuhur dan makan

Seluruh karyawan/karyawati BMI dan peserta pratikum Seluruh karyawan dan peserta praktikum 1. Dona rudianto

Rabu,

16.00-16.00 12 07.45-08.00

Doa dan pulang Briefing

September 2012 08.00-12.00 Pemberian tentang akad pembiayaan sungkonno

materi 2. Fedrik… dan 3. Endah…. yang 4. Atik kustianingsih Bpk. Luki hariadi

ada di BMI mayjen 5. Uswtun hasanah

12.00-13.00 Kamis, 13 07.45-08.00

Ishoma Briefing

Peserta pratikum Seluruh karyawan dan peserta praktikum

September 2012 08.00-12.00 Pergantian penempatan 1. Teller 2. Back operasional

1. Uswatun hasanah 2. Enda….. 3. Atik kustianingsih 4. Fedrik……. 5. Dona rudianto

Jumat, Senin,

14 07.45-08.00 17 07.45-08.00

3. Legal Briefing Briefing

September 2012

Seluruh karyawan dan peserta praktikum Seluruh Karyawan

Septtember 2012 Selasa, 18 07.45-08.00 Briefing

dan peserta Praktikum

Seluruh karyawan dan Peserta praktikum

September 2012

16.00-16.10 Rabu, 19 07.00-08.00

Penutup Pengajian rutin Seluruh karyawan dan peserta praktikum

September 2012 09.00-11.00 15.55-16.00 20 07.45-08.00 07.45-08.00 Diskusi laporan Doa penutup Briefing Briefing

Semua peserta praktikum Seluruh karyawan dan Peserta Praktikum Seluruh karyawan dan peserta praktikum

Kamis,

september 2012 Jum’at, 21 2012 September

b. Uraian Kegiatan PPL Kegiatan mahasiswa PPL perbankan di BMI di jalan mayjen sungkono dimulai pada tanggal 10 September 2012 sampai tanggal 21 September 2012. Dalam keseharian operasional BMI di jalan mayjen sungkono, selalu di awali dan diakhiri dengan do’a bersama. Yang merupakan salah satu rangkaian jadwal kegiatan rutin yang wajib diikuti oleh seluruh karyawan/karyawati BMI di jalan mayjen sungkono Do’a pagi dimulai jam 07.45 dan selesai pada jam 08.00, dan do’a penutup dimulai pada jam

41

15.50 sampai dengan 16.00 Doa bersama ini bertujuan untuk meningkatkan Iman dan Takwa, semangat kerja serta kepercayaan diri karyawan/karyawati dan tentunya tak lupa juga untuk memohon pertolongan kepada Allah SWT. agar senantiasa dilindungi dan terhindar dari segala hal yang dapat menghambat kinerja para pegawai bank. Adapun uraian dari kegiatan praktikum tersebut adalah sebagai berikut: Tanggal 10 September 2012 8.0.9.0 WIB Tanggal 10 September 2012, mahasiswa PPL bersama dosen pembimbing dan dosen pamong mengadakan acara pembukaan Praktikum Pengetahuan Lapangan (PPL) di BMI jalan mayjen sungkono. acara pembukaan dihadiri mahasiswa PPL, dosen pembimbing yakni ibu fatma dan dosen pamong yakni, Bapak luki hariadi,H., Setelah upacara pembukaan, acara selanjutnya adalah pengarahan dari dosen pemong terkait tentang kesepakatan kegiatan dan materimateri apa saja yang akan dipelajari selama mahasiswa ada di BMI jalan mayjen sungkono. 10.0.12.0 selama WIB perkuliahan berlangsung. Kemudian para mahasiswi Diskusi tentang materi-materi yang belum diketahui mahasiswi menginventarisasikan pertanyaan-pertanyaan sebagai bahan Tanya jawab kepada dosen pamong (Bpk. Luki hariadi,H.,). Dan penempatan bagian teller, Back operasional dan legal 12.0.13.0 14.0.15.0 WIB WIB Istirahat, sholat dzuhur berjamaah dan makan Menempati bagian masing-masing Tanggal 11 September 2012

7.45.8.0

WIB

Para mahasiswi mengikuti briefing bersama seluruh karyawan BMI jalan mayjen sungkono 9.0.11.0 WIB

Menempati bagian masing-masing, teller (uswatun hasanah dan atik kustia ningsih), back operasional (endah masrurohdan fedrik ainan ni’am), legal (dona rudianto) 12.0.13.0 WIB Istirahat, sholat dzuhur berjamaah dan makan Tanggl 12 September 2012 7.45.8.0 WIB Para mahasiswi mengikuti briefing bersama seluruh karyawan BMI jalan mayjen sungkono 8.0.12.0 WIB penempatan , teller (uswatun hasanah), back (dona Pergantian

operasional (endah masrurohdan fedrik ainan ni’am), legal rudianto dan atik kustianingsih) 12.0.13.0 WIB Ishoma Tanggal 13 Septembar 2012 07.45-08.00 WIB

Para mahasiswi mengikuti briefing bersama seluruh karyawan BMI jalan mayjen sungkono 8.0.12.0 WIB Para mahasiswa dan mahasiswi menata berkas yang ada di BMI jalan mayjen sungkono
43

12.00-13.00 WIB Ishoma 13.00-16.00 WIB Kembali ke bagian masing-masing Teller (uswatun hasanah dan endah masruroh), back operasional (fedrik dan atik kustianingsih), legal (dona rudianto) Tanggal 14 September 2012 07.45-08.00 WIB Para mahasiswi mengikuti briefing bersama seluruh karyawan BMI jalan mayjen sungkono 08.00-11.30 WIB Menempati bagian masing-masing 11.30-13.00 WIB Ishoma Tanggal 17 September 2012 07.45-08.00 WIB Para mahasiswi mengikuti briefing bersama seluruh karyawan BMI jalan mayjen sungkono 8.0.11.30 WIB Menempati bagian masing-masing 12.00-13.00 WIB Ishoma Tanggal 18 September 2012 07.45-08.00 WIB Para mahasiswi mengikuti briefing bersama seluruh karyawan BMI jalan mayjen sungkono

08.00-11.30 WIB Menempati bagian masing-masing 12.0.13.0 WIB Ishoma Tanggal 19 September 2012 7.45-08.00 WIB Para mahasiswi mengikuti briefing bersama seluruh karyawan BMI jalan mayjen sungkono 08.00-11.30 WIB Menempati bagian masing-masing 12.0.13.0 Ishoma Tanggal 20 September 2012 7.45-08.00 WIB Para mahasiswi mengikuti briefing bersama seluruh karyawan BMI jalan mayjen sungkono 08.00-11.30 WIB Menempati bagian masing-masing 12.00-13.00 WIB Isoma Tanggal 21 September 2012 7.45-08.00 WIB Para mahasiswi mengikuti briefing bersama seluruh karyawan BMI jalan mayjen sungkono 8.0.11.30 WIB Menempati bagian masing-masing 12.00-13.00 WIB
45

WIB

Penutupan

BAB IV ANALISIS
1. Pengertian Akad Musyarakah dan Ijarah a. Akad musyarakah Kata syirkah dalam bahasa Arab berasal dari kata syarika (fi’il mâdhi), yasyraku (fi’il mudhâri’), syarikan/syirkatan/syarikatan (mashdar/kata dasar); artinya menjadi sekutu atau serikat (Kamus Al-Munawwir, hlm. 765). Kata dasarnya boleh dibaca syirkah, boleh juga dibaca syarikah. Akan tetapi, menurut Al-Jaziri dalam Al-Fiqh ‘alâ al-Madzâhib alArba’ah, 3/58, dibaca syirkah lebih fasih (afshah). Secara etimologi, alsyirkah berarti ikhtilath (percampuran), yaitu percampuran antara sesuatu dengan yang lainnya, sehingga sulit dibedakan.1 Syirkah menurut Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES) Pasal 20 (3) adalah kerja sama antara dua orang atau lebih dalam hal permodalan, keterampilan, atau kepercayaan dalam usaha tertentu dengan pembagian keuntungan berdasarkan nisbah yang disepakati oleh pihak-pihak yang berserikat. Ahmed Ali Abdalla menguraikan beberapa aplikasi pembiayaan musyarakah bagi perbankan syariah. Pertama, musyarakah permanen (continous musyarakah), di mana pihak bank merupakan partner usaha tetap dalam suatu proyek/usaha. Model ini jarang dipraktikan, namun investasi modal permanen ini merupakan alternatif menarik bagi investasi
1 Ahmad Mujahidin, Kewenangan dan Prosedur Penyelesaian Sengketa Ekonomi Syariah di Indonesia, Cet. 1, Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia, 2010, hal. 209.

surat-surat berharga atau saham, yang dapat dijadikan salah satu portofolio investasi bank. Dalam musyarakah ini, bank dituntut untuk terlibat langsung dalam usaha yang menguntungkan selama masing-masing partner musyarakah menginginkannya. Namun demikian, sistem ini memiliki kekurangan, di mana pihak bank bisa kehilangan konsentrasi terhadap bisnis utamanya. Kedua, musyarakah digunakan untuk skim pembiayaan modal kerja (working capital). Bank merupakan partner pada tahap awal dari sebuah usaha atau proses produksi. Dalam skim ini, pihak bank akan menyediakan dana untuk membeli aset atau alat-alat produksi, begitu juga dengan partner musyarakah lainnya. Setelah usaha berjalan dan dapat mendatangkan profit, porsi kepemilikan bank atas aset dan alat-alat produksi, begitu juga dengan partner musyarakah lainnya. Setelah usaha berjalan dan dapat mendatangkan profit, porsi kepemilikan bank atas aset dan alat produksi akan berkurang karena dibeli oleh para partner lainnya, dan pada akhirnya akan menjadi nol, model pembiayaan ini lebih dikenal dengan istilah deminishing musyarakah, dan ini yang banyak diaplikasikan dalam perbankan syariah. Ketiga, musyarakah digunakan untuk pembiayaan jangka pendek. Musyarakah jenis ini bisa diaplikasikan dalam bentuk pembiayaan perdagangan, seperti ekspor, impor, penyediaan bahan mentah atau keperluan-keperluan khusus nasabah lainnya.2 Dasar hukum  Al-Quran Artinya:...Daud berkata: "Sesungguhnya Dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu
2 Dimyauddin Djuwaini, Pengantar Fiqih Muamalah, Cet.1, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2008, hal. 208-209.

47

untuk

ditambahkan

kepada dari

kambingnya. orang-orang

dan yang

Sesungguhnya

kebanyakan

berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan Amat sedikitlah mereka ini". dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; Maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat. Ayat ini merujuk pada dibolehkannya praktik akad musyarakah. Lafadz “al-khulatha” dalam ayat ini bisa diartikan saling bersekutu/partnership, bersekutu dalam konteks ini adalah kerjasama dua atau lebih pihak untuk melakukan sebuah usaha perniagaan. Berdasarkan pemahaman ini, jelas sekali bahwa pembiayaan musyarakah mendapatkan legalitas dari syariah.3  Hadis Hadis riwayat Abu Daud dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW berkata: ‫إن ال تعالى يقلو: أنا ثالث الشريكين مالم يخن أحدهما صححاحبه، ف حإذا خححان أح حدهما‬ َ ُ ُ َ َ َ َ َ ِ َ ُ َ ِ َ َ ُ ُ َ َ ْ ُ َ ْ َ َ ِ ْ َ ْ ِ ّ ُ ِ َ َ َ ْ ُُ َ َ َ َ َ ّ َ .‫صاحبه خرجت من بينهما‬ َ ِ ِْ َ ْ ِ ُ ْ َ َ ُ َِ َ “Allah swt. berfirman: Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang bersyarikat selama salah satu pihak tidak mengkhianati pihak yang lain. Jika salah satu pihak telah berkhianat, Aku keluar dari mereka.” (HR. Abu Daud, yang disahihkan oleh al-Hakim, dari Abu Hurairah). Bentuk-bentuk syirkah atau dalam bidang harta
3 Dimyauddin Djuwaini, Pengantar Fiqih Muamalah, Cet.1, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2008, hal. 209.

(mencari keuntungan) ada 4, yaitu:4 1. Syirkah Al-Inan; 2. Syirkah Al-Wujuh; 3. Syirkah Al-Abdan; 4. Syirkah Al-Muwafadhah. Rukun dan Syarat Sahnya Syirkah:5 a. Sighat (lafadz akad); b. Orang (pihak-pihak yang mengadakan serikat); c. Pokok pekerjaan (bidang usaha yang di jalankan); b. Akad ijarah Kata Al-ijarah sendiri berasal dari kata Al ajru yang diartikan sebagai Al 'Iwadhu yang mempunyai arti ”ganti”, alkira`, yang mempunyai arti ”bersamaan” dan al-ujrah yang memiliki arti ”upah” Pengertian al-ijarah menurut istilah syariat Islam terdapat beberapa pendapat Imam Mazhab Fiqh Islam sebagai berikut: 1. Para ulama dari golongan Hanafiyah berpendapat, bahwa al-ijarah adalah suatu transaksi yang memberi faedah pemilikan suatu manfaat yang dapat diketahui kadarnya untuk suatu maksud tertentu dari barang yang disewakan dengan adanya imbalan. 2. Ulama Mazhab Malikiyah mengatakan, selain al-ijarah dalam masalah ini ada yang diistilahkan dengan kata
4 Syekh Hasan Ayyub, Fiqh Al-Muamalat Al-Maliyah Fi Al-Islam, Kairo: Darussalam, 2006, hal. 218. 5 Abdul Ghofur Anshori, Hukum Perjanjian Islam di Indonesia: Konsep, Regulasi, dan Implementasi, Yogjakarta: Gadjah Mada University Prees, 2010, hal. 118-119.

49

al-kira`, yang mempunyai arti bersamaan, akan tetapi untuk istilah al-ijarah mereka berpendapat adalah suatu `aqad atau perjanjian terhadap manfaat dari al-Adamy (manusia) dan benda-benda bergerak lainnya, selain kapal laut dan binatang, sedangkan untuk al-kira` menurut istilah mereka, digunakan untuk `aqad sewamenyewa pada benda-benda tetap, namun demikian dalam hal tertentu, penggunaan istilah tersebut kadangkadang juga digunakan. 3. Ulama Syafi`iyah berpendapat, al-ijarah adalah suatu aqad atas suatu manfaat yang dibolehkan oleh Syara` dan merupakan tujuan dari transaksi tersebut, dapat diberikan dan dibolehkan menurut Syara` disertai sejumlah imbalan yang diketahui. 4. Hanabilah berpendapat, al-ijarah adalah `aqad atas suatu manfaat yang dibolehkan menurut Syara` dan diketahui besarnya manfaat tersebut yang diambilkan sedikit demi sedikit dala waktu tertentu dengan adanya `iwadah. Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka dapatlah dikatakan bahwa dalam hal `aqad ijarah dimaksud terdapat tiga unsur pokok, yaitu pertama, unsur pihak-pihak yang membuat transaksi, yaitu majikan dan pekerja. Kedua, unsur perjanjian yaitu ijab dan qabul, dan yang ketiga, unsur materi yang diperjanjikan, berupa kerja dan ujrah atau upah. Definisi Al-Ijarah Sedangkan pengertian ijarah menurut Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah (KHES) Pasal 20 (9) adalah sewa barang dalam jangka waktu tertentu dengan pembayaran, dan

pengertian Ijarah menurut mazhab Syafi’i adalah transaksi terhadap manfaat yang dituju, tertentu bersifat bisa dimanfaatkan dengan suatu imbalan tertentu.6 Adapun landasan hukum ijarah dari Al-Qur’an dapat ditemukan antara lain pada Surah Az-Zuhruf ayat 32, Surah Al-Baqarah ayat 233, dan Surah Al-Qashash ayat 26 dan 27. Sedangkan landasan hukum yang berasal dari Hadits Nabi SAW antara lain Hadits Al-Bukhari yang meriwayatkan bahwa Nabi SAW pernah menyewa seseorang dari Bani Ad-Diil bernama Abdullah bin Al Uraiqith sebagai petunjuk jalan yang professional. Menurut Sayyid Sabiq, Ijarah adalah suatu jenis akad yang mengambil manfaat dengan jalan penggantian.7 Dengan demikian pada hakikatnya ijarah adalah penjualan manfaat yaitu pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang dan jasa dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa/upah tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang itu sendiri. Akad ijarah tidak ada perubahan kepemilikan tetapi hanya perpindahan hak guna saja dari yang menyewakan kepada penyewa. Al-Bai’ wal Ijarah Mumtahia Bittamlik (IMBT) merupakan rangkaian dua buah akad, yakni akad al-bai’ dan akad Ijarah Mumtahia Bittamlik (IMBT). Al-Bai’ merupakan akad jual beli, sedangkan IMBT merupakan kombinasi antara sewa-menyewa (ijarah) dan jual beli atau hibah di akhir masa sewa. Dalam Ijarah Mumtahia Bittamlik, pemindahan hak milik barang terjadi dengan salah satu dari dua cara berikut ini:
6 Ahmad Mujahidin, Kewenangan dan Prosedur Penyelesaian Sengketa Ekonomi Syariah di Indonesia, Cet. 1, Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia, 2010, hal. 185. 7 Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Jilid III, Beirut: Dar kitab al-Arabi, 1971 , hal. 177.

51

1. Pihak yang menyewakan berjanji akan menjual barang yang disewakan tersebut pada akhir masa sewa;
2. Pihak yang menyewakan

berjanji menghibahkan

akan barang

yang disewakan tersebut pada akhir masa sewa.8 Rukun dan syarat-syarat al-ijarah: Menurut Hanafiyah rukun al-ijarah hanya satu yaitu ijab dan qabul dari dua belah pihak yang bertransaksi. Adapun menurut jumhur ulama’ rukun ijarah ada empat, yaitu:  Dua orang yang berakad;  Sighat (ijab dan kabul);  Sewa atau imbalan;  Manfaat. Adapun syarat-syarat al-ijarah sebagaimana yang ditulis Nasrun Haroen sebagai berikut: a. Yang terkait dengan dua b. Kedua yang menyatakan kerelaanya melakukan
8 Adiwarman Karim, Bank Islam: Analisis Fiqih dan Keuangan, Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2010, hal. 149

orang belah

yang pihak berakad

berakad.

akad ijarah. c. Manfaat yang menjadi objek al-ijarah harus diketahui, tidak perselisihan dikemudian hari. d. Objek al-ijarah itu boleh diserahkan dan digunakan langsung e. Objek sesuatu dan ada cacatnya. al-ijarah yang itu di secara tidak sehingga muncul

halalkan oleh syara’. f. Yang disewakan itu bukan kewajiban penyewa. g. Objek al-ijarah itu merupakan sesuatu suatu bagi

yang biasa disewakan.
h. Upah atau sewa dalam

al-ijarah harus jelas, tertentu, dan sesuatu yang memiliki nilai ekonomi.9
9 Abdul Rahman Ghazaly, Ghufron Ihsan, Sapiudin Shidiq, FIQIH MUAMALAT, Jakarta: Kencana, 2010, hal. 278-280.

53

Kebolehan transaksi ijarah didasarkan Al Qur’an dan hadits: QS. Az-Zukhruf : 32

Artinya : Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. Tafsir Ayat ke 32 surat Az Zukhruf ini didahului dengan kisah Nabi Ibrahim a.s, bahwa ia berlepas diri dari apa yang dilakukan ayahnya dan kaumnya yang mempraktikan kemusyrikan dengan menyembah berhala meskipun Nabi tetap memberikan nikmat

Ibrahim a.s telah memberikan kabar peringatan kepada mereka. Namun demikian Allah tidak kehidupan hingga kepada keturunan mereka, hingga datang rasul terakhir yang membawa Al Qur’an yaitu Rasulullah

Muhammad saw. Dan ketika kebenaran itu datang mereka tetap mengingkarinya dan berkata bahwa apa yang dibawa oleh Rasulullah saw tidak lain adalah sihir, dan dengan menantang mereka berkata mengapa pula Al-Quran diturunkan pada Muhammad saw yang mereka anggap biasa saja, alih-alih pembesar penting yang memiliki banyak materi dari negeri Mekah atau Thaif. Atas perkataan mereka Allah menyanggah siapakah hakekat mereka hingga dengan lancangnya mereka mengatakan amanah dan tanggung jawab ini dan itu lebih pantas diserahkan kepada si fulan ini atau si fulan itu. Kemudian Allah menerangkan bahwa Allah telah membedakan hambaNya berkenaan dengan harta kekayaan, rezeki, akal, pemahaman, dan sebaginya yang merupakan kekuatan lahir dan batin,agar satu sama lain saling menggunakan potensinya dalam beramal, karena yang ini membutuhkan yang itu dan yang itu membutuhkan yang ini. Kemudian Allah menutup ayat dengan menegaskan bahwa apa-apa yang dirahmatkan Allah kepada para Hamba-Nya adalah lebih baik bagi mereka dari pada apa-apa yang tergenggam dalam tangan mereka berupa pekerjaan-pekerjaan dan kesenangan hidup duniawi. Ayat ini pun dijadikan dasar bahwa pemanfaatan jasa atau skill orang lain adalah suatu keniscayaan kerena Allah menciptakan makhlukNya dengan potensi yang beraneka ragam agar mereka saling bermuamalah. QS. Al-Qashash ayat 26 - 27 :

55

Artinya : Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya. (28-26) Berkatalah dia (Syu’aib) : ”Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu insya Allah akan mendapatiku termasuk orangorang yang baik. (28-27)

Tafsir

Setelah Musa keluar dari Mesir Musa menuju negeri Madyan, di situ Musa bertemu dua wanita kakak beradik yang kesulitan memberi minum dombanya dari sumur, karena dihalangi orang-orang. Orang-orang itu setelah memberi minum pada domba mereka kemudian menutup sumur dengan batu-batu yang hanya bisa diangkat oleh sepuluh orang lakilaki. Musa kemudian menolong mereka dengan mengangkat batu-batu itu agar wanita itu bisa memberi minum domba mereka. Musa sangat kelaparan dan keletihan dalam perjalanannya itu. Wanita kakak beradik itu kemudian memberitahu mengenai Musa kepada ayah mereka yang telah tua renta, dan ayah mereka menyuruh keduanya untuk memanggil Musa untuk menemuinya. Orang tua itu meminta Musa untuk bekerja kepadanya menggembalakan ternak domab selama 8 tahun dan sebagai upahnya adalah menikahi salah satu dari kedua anaknya. Setelah delapan tahun Musa diberi kebebasan untuk tidak bekerja lagi padanya, namun apabila Musa mneggenapkannya menjadi 10 tahun maka itu merupakan kenaikan dari Musa. Menurut mahzab Hambali ayat ini menjadi dalil bagi sahnya pembayaran upah dengan makanan atau pakaian. Hadist Rasulullah SAW:  Hadis riwayat Ibnu Majah dari Ibnu Umar, bahwa Nabi Muhammadsaw. Bersabda : Artinya : Berikanlah upah pekerja sebelum keringatnya kering.  Hadis riwayat Abd.Razaq dari Abu Hurairah, bahwa

57

Nabi Muhammad saw. Bersabada : Artinya : Barangsiapa yang mempekerjakan pekerja, beritahukanlah upahnya.  Hadis riwayat Abu Dawud dari Saad bin Abi Waqqash, bahwa Nabi Muhammad saw. Bersabada: Artinya : Kami pernah menyewakan tanah dengan (bayaran) hasil pertaniannya, maka Rasulullah melarang kami melakukan hal tersebut dan memerintahkan agar kami menyewakannya dengan emas atau perak.  Hadis riwayat Tirmizi dari Amr bin Auf, bahwa Nabi Muhammad saw. Bersabada : Artinya : Perdamaian dapat dilakukan diantara kaum muslimin, kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram, dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Ijma ulama tentang kebolehan melakukan akad sewa menyewa / Ijarah.  Kaidah fiqh Artinya : Pada dasarnya semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.  Kaidah fiqh Artinya : Menghindarkan mafsadat (kerusakan/bahaya) harus didahulukan atas mendatangkan kemaslahatan. 2. Aplikasi Akad Musyarakah dan Ijarah di Bank Muamalat Cabang Sungkono Diantara produk pembiayaan di Bank Muamalat (selanjutnya

disingkat BMI) Cabang Sungkono adalah KPRS Al-musyarakah, dengan proses bank memberikan dana kepada untuk membeli dan membangunkan rumah untuk nasabah melalui perantara developer. Syirkah antara nasabah dan Bank Mualamat berupa nasabah memberikan uang muka 10% dari harga rumah, sisanya pembiayaan di tanggung oleh bank muamalat. Setelah nasabah dan BMI menyepakati akad musyarakah, di lanjutkan akad yang kedua akad ijarah mumtahiya bit-tamlik karena rumah yang dibeli itu akhirnya akan menjadi milik nasabah, jadi kalau hanya yang digunakan akad musyarakah tidak mungkin rumah yang dibeli itu menjadi hak milik nasabah oleh karena itu nasabah di wajibkan membayar ujrah sebagai sewa yang akhir dari sewa itu akan terjadi akad jual beli antara nasabah dengan bank dengan menggunakan akad ijarah mumtahiya bit-tamlik (IMBT), ujrah itu di serahkan kepada BMI selama jangka waktu yang ditentukan. Cara pengangsuran nasabah di lakukan sesuai kesepakatan akad tetapi standarnya tiap bulan jadwal angsuranya. Nasabah yang mengajukan pembiayaan di haruskan memberikan jaminan kepada bank, bisa berupa sertifikat tanah dan bangunan, pabrik, yang jika di jual senilai dari jumlah plafond yang di cairkan oleh bank. KPRS AlMusyarakah ini tiap 2 tahun dilakukan review akad untuk menentukan nisbahnya sehingga ada kemungkinan naik atau turun, dan jangka waktu pembiayaan ini selama 15 tahun. Contoh perhitungan KPRS Musyarakah: Harga rumah (hasil taksasi) : Rp. 150.200.000 Porsi share BMI Porsi share nasabah : Rp. 122.500.000 (18.56%) : Rp. 32. 500.000 (18,44%)

Nisbah bagi hasil; BMI : NASABAH= 87,6% : 12,4%
59

Jangka waktu Objek bagi hasil Sewa Biaya Administrasi

: 180 bulan :Ujrah (biaya sewa) : 1.631.380 : 1.837.500.

3. Tinjauan Fatwa DSN-MUI Terhadap Aplikasi Akad Musyarakah dan Ijarah di Bank Muamalat Cabang Sungkono FATWA DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO. 08/DSN-MUI/IV/2000 Tentang PEMBIAYAAN MUSYARAKAH Mengingat 1. Firman Allah QS. Shad [38]: 24: “..... Dan Sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan Amat sedikitlah mereka ini........" 2. Firman Allah QS. al-Ma’idah [5]: 1: “ Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu.......” 1. Hadis riwayat Abu Daud dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW berkata: ُ ْ َ َ ُ َ ِ َ َ ُ ُ ‫َ ّ َ َ َ َ َ ُُ ْ َ َ َ ِ ُ ّ ِ ْ َ ْ ِ َ َ ْ َ ُ ْ َ َ ُ ُ َ َ ِ َ ُ َ ِ َ َ َ َح‬ ‫إن ال تعالى يقلو: أنا ثالث الشريكين مالم يخن أحدهما صاحبه، فإذا خان أ َدهما صاحبه خرجححت‬ .‫من بينهما‬ َ ِ ِْ َ ْ ِ “ Allah swt. berfirman: Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang bersyarikat selama salah satu pihak tidak mengkhianati pihak yang lain. Jika salah satu pihak telah berkhianat, Aku keluar

dari mereka.” (HR. Abu Daud, yang disahihkan oleh al-Hakim, dari Abu Hurairah). 2. Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari ‘Amr bin ‘Auf: ّ ِ ْ ِ ِ ْ ُ ُ ََ ‫َ ّ ْ ُ َ ِ ٌ َ ْ َ ْ ُ ِْ ِ ْ َ ِ ّ ُ ْ ً َ ّ َ َ َ ً َ ْ َ َ ّ َ َ ً َ ْ ُ ْ ِ ُ ْن‬ ‫الصلح جائز بين المسلمين إل صلحا حرم حلل أو أحل حرامححا والمس حلمو َ علححى شحروطهم إل‬ .‫شرطا حرم حلل أو أحل حراما‬ ً َ َ ّ َ َ ْ َ ً َ َ َّ َ ً ْ َ “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram, dan kaum muslimin terikat dengan syaratsyarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.” a. Taqrir Nabi terhadap kegiatan musyarakah yang dilakukan oleh masyarakat pada saat itu. b. Ijma’ Ulama atas kebolehan musyarakah. 3. Kaidah fiqh: .‫الصل في المعاملت الباحة إل أن يدل دليل على تحريمها‬ َ ِ ْ ِ ْ َ ََ ٌ ْ َِ ّ ُ َ ْ َ ّ ِ ُ َ َ ِ ْ ِ َ َ َ ُ ْ ِ ُ ْ َ َ “ Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.” MEMUTUSKAN Menetapkan : FATWA TENTANG PEMBIAYAAN MUSYARAKAH Beberapa Ketentuan: 1. Pernyataan ijab dan qabul harus dinyatakan oleh para pihak untuk menunjukkan kehendak (akad), memperhatikan berikut:
61

mereka

dalam kontrak dengan hal-hal

mengadakan

a. Penawaran dan penerimaan harus secara eksplisit menunjukkan tujuan kontrak (akad). b. Penerimaan dari penawaran dilakukan pada saat kontrak. c. Akad dituangkan secara tertulis, melalui korespondensi, atau dengan menggunakan cara-cara komunikasi modern. 2. Pihak-pihak berkontrak harus yang cakap

hukum, dan memperhatikan hal-hal berikut: a. Kompeten dalam memberikan atau diberikan kekuasaa perwakilan. b. Setiap mitra harus menyediakan dana dan pekerjaan, dan setiap mitra melaksanakan kerja sebagai wakil. c. Setiap mitra memiliki hak untuk mengatur aset musyarakah dalam proses bisnis normal. d. Setiap mitra memberi wewenang kepada mitra yang lain untuk mengelola aset dan masing-masing dianggap telah diberi wewenang untuk melakukan aktifitas musyarakah dengan memperhatikan kepentingan mitranya, tanpa melakukan kelalaian dan kesalahan yang disengaja. e. Seorang mitra tidak diizinkan untuk mencairkan atau menginvestasikan dana untuk kepentingannya sendiri. 3. Obyek akad (modal, kerja, keuntungan dan kerugian) a. Modal 1) Modal yang diberikan harus uang tunai, emas,

perak atau yang nilainya sama. Modal dapat terdiri dari aset perdagangan, seperti barang-barang, properti, dan sebagainya. Jika modal berbentuk aset, harus terlebih dahulu dinilai dengan tunai dan disepakati oleh para mitra. 2) Para pihak tidak boleh meminjam, meminjamkan, menyumbagkan kesepakatan. 3) Pada prinsipnya, dalam pembiayaan musyarakah tidak ada jaminan, namun untuk menghandiri terjadinya penyimpangan, LKS dapat meminta jaminan. b. Kerja 1) Partisipasi para mitra dalam pekerjaan merupakan dasar pelaksanaan musyarakah; akan tetapi, kesamaan porsi kerja bukanlah merupakan syarat. Seorang mitra boleh melaksanakan kerja lebih banyak dari yang lainnya, dan dalam hal ini ia boleh menuntut bagian keuntungan tambahan bagi dirinya. 2) Setiap mitranya. c. Keuntungan 1) Keuntungan harus dikuantifikasi dengan jelas untuk menghindarkan perbedaan dan sengketa
63

atau

menghadiahkan

modal

musyarakah kepada pihak lain, kecuali atas dasar

mitra

melaksanakan

kerja

dalam dalam

musyarakah atas nama pribadi dan wakil dari Kedudukan masing-masing organisasi kerja harus dijelaskan dalam kontrak.

pada waktu alokasi keuntungan atau penghentian musyarakah. 2) Setiap keuntungan mitra harus dibagikan secara proporsional atas dasar seluruh keuntungan dan tidak ada jumlah yang ditentukan di awal yang ditetapkan bagi seorang mitra. 3) Seorang mitra boleh mengusulkan bahwa jika keuntungan melebihi jumlah tertentu, kelebihan atau prosentase itu diberikan kepadanya. 4) Sistem pembagian keuntungan harus tertuang dengan jelas dalam akad. d. Kerugian Kerugian harus dibagi di antara para mitra secara proporsional menurut saham masing-masing dalam modal. 4. Biaya Operasional dan Persengketaan a. Biaya operasional dibebankan pada modal bersama. b. Jika salah satu pihak tidak menunaian kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak, maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrasi Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.

FATWA DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO. 27/DSN-MUI/III/2002 Tentang

AL-IJARAH AL-MUNTAHIYAH BI AL-TAMLIK Mengingat : 1. Firman Allah, QS. al-Zukhruf [43]: 32: “Apaka h mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” 2. Hadis Nabi riwayat ‘Abd ar-Razzaq dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudri, Nabi s.a.w. bersabda: .‫من استأجر أجيرا فليعلمه أجره‬ ُ َ ْ َ ُ ْ ِْ ُ ْ َ ً ْ ِ َ َ َ ْ َ ْ ِ َ “Barang siapa mempekerjakan pekerja, beritahukanlah upahnya.” 3. Hadis Nabi riwayat Ahmad, Abu Daud, dan Nasa’i dari Sa’d Ibn Abi Waqqash, dengan teks Abu Daud, ia berkata: ‫كنا نكري الرض بما على السواقي من الزرع وما سعد بالماء منها، فنهانا رس حول ال ح صحلى‬ ّ َ ِ ُ ْ ُ َ َ َ ََ َ ْ ِ ِ َ ْ ِ َ ِ َ َ َ ِ ْ ّ َ ِ ْ ِ َ ّ ََ َ ِ َ ْ َ ْ ِ ْ ُ ّ ُ .‫ال َليه وآله وسلم عن ذلك وأمرنا أن نكريها بذهب أو فضة‬ ٍ ّ ِ ْ َ ٍ َ َ ِ َ َ ِ ْ ُ ْ َ َ َ َ ََ َ َِ ْ َ َ َّ َ ِ ِ َ ِ ْ َ‫ُ ع‬ “Kami pernah menyewakan tanah dengan (bayaran) hasil tanaman yang tumbuh pada parit dan tempat yang teraliri air; maka Rasulullah melarang kami melakukan hak tersebut dan memerintahkan agar kami menyewakan tanah itu dengan emas atau perak (uang).” 4. Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari ‘Amr bin ‘Auf al-Muzani, Nabi s.a.w. bersabda: ّ ِ ْ ِ ِ ْ ُ ُ ََ َ ْ ُ ِْ ُ ْ َ ً َ َ ّ َ َ ْ َ ً َ َ َ ّ َ ً ْ ُ ّ ِ َ ْ ِ ِْ ُ ْ َ ْ َ ٌ ِ َ ُ ْ ّ َ ‫الصلح جائز بين المسلمين إل صلحا حرم حلل أو أحل حراما والمسلمون على شححروطهم إل‬ .‫شرطا حرم حلل أو أحل حراما‬ ً َ َ ّ َ َ ْ َ ً َ َ َّ َ ً ْ َ
65

“Perjanjian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram, dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.” 5. Hadis Nabi riwayat Ahmad dari Ibnu Mas’ud: .‫نهى رسول ال صلى ال عليه وسلم عن صفقتين في صفقة واحدة‬ ٍ َ ِ َ ٍ َ ْ َ ْ ِ ِ ْ َ َ ْ َ ْ َ َ َّ َ ِ ْ ََ ُ َّ ِ ُ ْ ُ َ َ َ “ Rasulullah melarang dua bentuk akad sekaligus dalam satu obyek.” 6. Kaidah fiqh: .‫الصل في المعاملت الباحة إل أن يدل دليل على تحريمها‬ َ ِ ْ ِ ْ َ ََ ٌ ْ َِ ّ ُ َ ْ َ ّ ِ ُ َ َ ِ ْ ِ َ َ َ ُ ْ ِ ُ ْ َ َ “ Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.” .‫أينما وجدت المصلحة فثم حكم ال‬ ِ ُ ْ ُ ّ َ َ ُ َ َْ َ ْ ِ َ ِ ُ َ َ ْ َ “ Di mana terdapat kemaslahatan, di sana terdapat hukum Allah.” MEMUTUSKAN Menetapkan Pertama :FATWA TENTANG AL-IJARAH AL-MUNTAHIYAH BI ALTAMLIK : Ketentuan Umum: Akad al-Ijarah al-Muntahiyah bi al-Tamlik boleh dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut: 1. Semua rukun dan syarat yang berlaku dalam akad Ijarah (Fatwa DSN nomor: 09/DSN-MUI/IV/2000) berlaku pula dalam akad al-Ijarah al-Muntahiyah bi al-Tamlik. 2. Perjanjian untuk melakukan akad al-Ijarah al-Muntahiyah bi al-

Tamlik harus disepakati ketika akad Ijarah ditandatangani. 3. Hak dan kewajiban setiap pihak harus dijelaskan dalam akad. Kedua : Ketentuan tentang al-Ijarah al-Muntahiyah bi al-Tamlik 1. Pihak yang melakukan al-Ijarah alMuntahiyah bi al-Tamlik harus melaksanakan Ijarah terlebih dahulu. Akad pemindahan kepemilikan , baik dengan jual beli atau pemberian, hanya dapat dilakukan setelah masa Ijarah selesai. 2. Janji pemindahan kepemilikan yang disepakati di awal akad Ijarah adalah wa’d ( ‫ ,)الوعححححد‬yang hukumnya tidak mengikat. Apabila janji itu ingin dilaksanakan, maka harus ada akad pemindahan kepemilikan yang dilakukan setelah masa Ijarah selesai. Ketiga : 1. Jika alah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau terjadi perselisihan di antar kedua belah pihak, maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrasi Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. 2. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika dikemudian hari ternyata terdapat kekeliruan, akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. Hukum Multiakad Terdapat khilafiyah (perbeda pendapat) di kalangan ulama mengenai boleh tidaknya multiakad. Pertama, pendapat yang membolehkan. Ini adalah pendapat Imam Asy-hab dari mazhab Maliki (Hithab, Tahrirul Kalam fi Masa`il Al Iltizam, hlm. 353), juga pendapat Imam Ibnu Taimiyah dari mazhab
67

Hambali (Ibnu Taimiyah, Majmu’ul Fatawa, 29/132), dan pendapat Imam At Tasuli, dalam kitabnya Al Bahjah, 2/14. Dalil pendapat pertama ini antara lain kaidah fiqih yang berbunyi : ‫الصل في المعاملت الباحة إل أن يدل دليل على تحريمها‬ “Hukum asal muamalah adalah boleh, kecuali ada dalil yang menunjukkan keharamannya.” Berdasarkan kaidah ini, penggabungan dua akad atau lebih dibolehkan karena tidak dalil yang melarangnya. Adapun nashnash yang secara zhahir melarang penggabungan dua akad, tidak dipahami sebagai larangan mutlak, melainkan larangan karena disertai unsur keharaman (mahzhurat), seperti gharar (ketidakpastian), riba, dan sebagainya. (Ismail Syandi, AlMusyarakah Al-Mutanaqishah, hlm. 18). Kedua, pendapat yang mengharamkannya. Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Ini adalah pendapat ulama mazhab Hanafi (Al-Marghinani, Al-Hidayah, 3/53), dan pendapat ulama mazhab Syafi’i (As-Syarbaini, Mughni Al-Muhtaj, 2/42). Pendapat ini juga merupakan satu versi pendapat (riwayat) ulama mazhab Maliki (Hithab, Tahrirul Kalam fi Masa`il Al Iltizam, hlm. 353), dan satu versi pendapat (riwayat) dari dua pendapat dalam mazhab Hambali (Ibnu Muflih, AlMubdi’, 5/54). (Lihat Ismail Syandi, Al-Musyarakah AlMutanaqishah, hlm. 18). Dalil pendapat kedua ini adalah hadis-hadis yang melarang dua syarat atau dua akad. Antara lain adalah hadis Hakim bin Hizam RA, dia berkata : ‫نهاني رسول ال -صلى ال عليه وسلم – عن أربع خصال فسي السبيع : عسن سسلف‬ ‫وبيع، وشرطين في بيع، وبيع ما ليس عندك، وربح ما لم تضمن‬

”Nabi SAW telah melarangku dari empat macam jual beli, yaitu (1) menggabungkan salaf (jual beli salam/pesan) dan jual beli, (2) dua syarat dalam satu jual beli, (3) menjual apa yang tidak ada di sisimu, (4) mengambil laba dari apa yang kamu tak menjamin [kerugiannya]” (HR Thabrani). Dalil lainnya adalah hadis bahwa : ‫نهى عن بيعتين في بيعة‬ “Nabi SAW telah melarang adanya dua jual beli dalam satu jual beli.” (HR Tirmidzi, hadis sahih) Juga hadis bahwa Nabi SAW bersabda : ‫ل يحل سلف وبيع، ول شرطان في بيع‬ “Tidak halal menggabungkan salaf (jual beli salam/pesan) dan jual beli, juga tak halal adanya dua syarat dalam satu jual beli.” (HR Abu Dawud, hadis hasan sahih) Juga hadis Ibnu Mas’ud RA bahwa : ‫نهى عن صفقتين في صفقة واحدة‬ “Nabi SAW telah melarang dua kesepakatan [akad] dalam satu kesepakatan [akad].” (HR Ahmad, hadis sahih) Hadis-hadis di atas telah menunjukkan adanya larangan penggabungan (ijtima’) lebih dari satu akad ke dalam satu akad. (Lihat Ismail Syandi, Al-Musyarakah Al-Mutanaqishah, hlm. 19; Taqiyuddin Nabhani, As-Syakhshiyah Al-Islamiyah, 2/308). Tarjih Dari dua pendapat di atas, pendapat yang kuat (rajih) menurut kami adalah pendapat kedua, yaitu pendapat yang mengharamkan multiakad. Alasan pentarjihannya adalah sebagai berikut : Pertama, telah terdapat dalil-dalil hadis yang dengan jelas melarang penggabungan dua akad atau lebih ke
69

dalam satu akad. Di antaranya adalah hadis Ibnu Mas’ud RA bahwa : ‫نهى عن صفقتين في صفقة واحدة‬ ”Nabi SAW telah melarang dua kesepakatan [akad] dalam satu kesepakatan [akad].” (HR Ahmad, hadis sahih) Imam Taqiyuddin An Nabhani, menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dua kesepakatan dua akad dalam dalam satu satu kesepakatan akad. Misal (shafqataini fi shafqah wahidah) dalam hadis itu, artinya adanya menggabungkan dua akad jual beli menjadi satu akad, atau akad jual beli digabung dengan akad ijarah. (al-Syakhshiyah al-Islamiyah, 2/308). Kedua, kaidah fiqih yang dipakai pendapat yang membolehkan, yaitu al-ashlu fi al-muamalat al-ibahah tidak tepat. Karena ditinjau dari asal usul kaidah itu, kaidah fiqih tersebut sebenarnya cabang dari (atau lahir dari) kaidah fiqih lain yaitu : ‫الصل في الشياء الباحة ما لم يرد دليل التحريم‬ “Hukum asal segala sesuatu adalah boleh selama tak ada dalil yang mengharamkan.” Padahal kaidah fiqih tersebut (al-ashlu fi al-asy-ya` al-ibahah), hanya berlaku untuk benda (materi), tidak dapat diberlakukan pada muamalah. Sebab muamalah bukan benda, melainkan serangkaian aktivitas manusia. Mengapa dikatakan bahwa kaidah tersebut hanya berlaku untuk benda? Sebab nash-nash yang mendasari kaidah al-ashlu fi al-asy-ya` al-ibahah (misal QS Al-Baqarah : 29) berbicara tentang hukum benda (materi), misalnya hewan atau tumbuhan, bukan berbicara tentang mu’amalah seperti jual beli.

Ketiga, kaidah fiqih al-ashlu fil muamalat al-ibahah juga bertentangan dengan nash syara’ sehingga tidak boleh diamalkan. Nash syara’ yang dimaksud adalah hadits-hadis Nabi SAW yang menunjukkan bahwa para sahabat selalu bertanya lebih dahulu kepada Rasulullah SAW dalam muamalah mereka. Kalau benar hukum asal muamalah itu boleh, tentu para shahabat akan langsung beramal dan tak perlu bertanya kepada Rasulullah SAW. Sebagai contoh, perhatikan hadits yang menunjukkan sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW dalam masalah muamalah sebagai berikut : ‫عن حكيم بن حزام رضي ال عنه أنه قال قلت يا رسول ال إني أشتري بيوعا فما‬ ً ‫يحل لي منها وما يحرم علي قال : فإذا اشتريت بيعا فل تبعه حتى تقبضه‬ ً َ Dari Hakim bin Hizam RA, dia berkata,”Aku bertanya,’Wahai Rasulullah SAW, sesungguhnya aku banyak melakukan jual beli, apa yang halal bagiku dan yang haram bagiku?’ Rasulullah SAW menjawab,’Jika kamu membeli suatu barang, jangan kamu menjualnya lagi hingga kamu menerima barang itu.” (HR Ahmad). Dalam hadis di atas jelas sekali bahwa sahabat Nabi SAW bertanya kepada Rasulullah SAW dalam masalah muamalah sebelum berbuat. Andaikata benar hukum asal muamalah itu boleh, tentunya sahabat tersebut langsung saja melakukan muamalah dan tidak usah repot-repot bertanya kepada Rasulullah SAW. Dengan demikian hadis Hakim bin Hizam RA ini dengan jelas menunjukkan bahwa kaidah al-ashlu fi al muamalat al-ibahah adalah kaidah yang batil. Keempat, pendapat yang menyatakan bahwa penggabungan akad (multiakad) hanya haram jika disertai unsur keharaman,
71

tidak dapat diterima. Sebab dalil-dalil yang melarang penggabungan akad bersifat mutlak. Artinya, baik disertai unsur keharaman maupun tidak, penggabungan akad itu tetap haram. Perhatikan misalnya hadis Ibnu Mas’ud RA : ‫نهى عن صفقتين في صفقة واحد ة‬ ”Nabi SAW telah melarang dua kesepakatan [akad] dalam satu kesepakatan [akad].” (HR Ahmad, hadis sahih). Nash di atas mengungkapkan lafal shafqataini fi shaqah wahidah (dua kesepakatan dalam satu kesepakatan) secara mutlak, yakni tanpa disertai batasan atau sifat tertentu, misalnya kesepakatan yang disertai hal-hal yang haram. Jadi yang dilarang adalah penggabungan akad, secara mutlak. Tanpa melihat lagi apakah penggabungan akad ini disertai keharaman atau tidak. Pemahaman nash yang demikian itu didasarkan pada kaidah ushul fiqih yang menyebutkan : al-muthlaqu yajri ‘ala ithlaqihi maa lam yarid dalil at-taqyid (lafal mutlak tetap dalam 1/208). Dalam hal ini tidak terdapat nash yang memberikan taqyid (batasan) pada kemutlakan nash-nash tersebut, sehingga dengan demikian penggabungan akad secara mutlak adalah haram baik disertai unsur keharaman atau tidak.10 Penggabungan dua akad menjadi satu akad sendiri hukumnya tidak boleh. Memang sebagian ulama membolehkan, seperti Imam Ibnu Taimiyah (ulama Hanabilah) dan Imam Asyhab
10 Farid Ma’ruf, Hukum Multi akad, dalam blog: http://konsultasi.wordpress.com, diunduh pada tanggal 17 Oktober 2012.

kemutlakannya

selama

tidak

ada

dalil

yang

membatasinya). (Wahbah Az-Zuhaili, Ushul Al-Fiqh Al-Islami,

(ulama Malikiyah). Namun yang rajih adalah pendapat yang tidak membolehkan, yakni pendapat jumhur ulama empat mazhab, yakni ulama Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah.11 (Imam Sarakhsi, Al-Mabsuth, 13/16; Hasyiah al-Dasuqi ‘Ala Al-Syarh al-Kabir, 3/66; Imam Nawawi, AlMajmu’, 9/230; Al-Syarh al-Kabir, 11/230; M. Abdul Aziz Hasan Zaid, Al-Ijarah Baina Al-Fiqh al-Islami wa alTathbiq al-Mu’ashir, hal. 45). Karena penggabungan 2 akad atau lebih dalam 1 transaksi terkait dengan kaidah umum dalam masalah akad, maka kaidah umum dari penggabungan 2 akad dalam 1 transaksi adalah: ‫أن الصل في العقود المركبسة الجسواز والصسحة ول يحسرم منهسا ويبطسل إل مسا دل‬ ‫الشرع على تحريمه وبطلنه‬ Artinya: “Hukum asal multi akad adalah boleh dan absah, tidak diharamkan dan dibatalkan kecuali terdapat dalil syara’ yang mengharamkan dan membatalkannya”. Terkait dengan isu multi akad (hybrid contract), dalam prakteknya seringkali terjadi penggabungan dan kombinasi dari beberapa akad. Terkait dengan isu penggabungan akad (‫جمع بين‬ ‫ ,)االعقود‬maka para ulama berbeda pendapat tentang statusnya. Ada kelompok ulama yang melarang, dan ada kelompok ulama yang membolehkan penggabungan akad dalam 1 transaksi. Adapun kelompok yang memperbolehkan penggabungan akad memiliki argumentasi, sebagai berikut: 1) Ulama Madzhab Maliki: ‫» المالكية: فسروا الصفقتين بالتفسير السابق الذي ذكرناه ورجحناه، وهسسو العقسسد‬ ّ
11 Arie Syantoso, blog: Pro Kontra Dana Talangan Haji, diunduh di http://ariesyantoso.wordpress.com, pada hari rabu 17 Oktober 2012.

73

‫السسذي يكسسون مسسترددا بيسسن شسسيئين كثمنيسسن، أو سسسلعتين فسسي السسبيع، أو أجرتيسسن، أو‬ ً :‫كدارين في الجازة، وذلك بشرط اللزام. فالعلة على ضوء ما ذكره المالكيسسة هسسي‬ ِ ِ ‫الغرر والجهالة الناشئة من التردد، أما اجتماع العقود فسسي عقسسد واحسسد دون وجسسود‬ ّ ‫هذا التردد فجائز من حيث المبدأ، فقد جاء في المدونة: »قلت: أرأيت إن اشسستريت‬ ّ :‫عبدا من رجل بعشرة دنانير على أن أبيعه عبدي بعشرة دنسسانير؟ قسسال: قسسال مالسسك‬ ً ‫ذلك جائز.. ولن هذا مقاصة، وإل ل يصلح إذا اشترطا إعطساء السدنانير كسل للخسر‬ ّ ّ .« Artinya: “Para Ulama madzhab Maliki menafsirkan 2 shafqah dalam 1 shafqah dengan penafsiran sebelumnya yang telah kami sebutkan dan kami pilih, yaitu: akad yang terdapat keraguan/ketidakjelasan (taradud) antara 2 hal, seperti antara 2 harga, atau 2 barang dalam jual beli, atau 2 upah, atau 2 rumah dalam akad ijarah, dan disertai dengan akad yang mengikat ( ‫.”)بشرط اللزام‬ ِ Sebab (illat) larangan ini menurut Ulama madzhab Maliki adalah gharar (ketidakjelasan), jahalah (ketidaktahuan) yang terjadi karena keraguan antara 2 perkara atau lebih (taradud). Jika berkumpul beberapa akad dalam 1 akad tanpa ada keraguan/ketidakjelasan (taradud) maka pada dasarnya diperbolehkan (‫.)فجائز من حيث المبدأ‬ Dalam Kitab Al-Mudawanah: “Saya berkata: Apa pendapat anda ketika anda membeli seorang budak dari seorang senilai 10 dinar, dimana (pent- dengan syarat) saya menjual budakku kepadanya senilai 10 dinar ? Ia berkata: Malik berkata: hal ini diperbolehkan (‫ .)ذلسسك جسسائز‬Karena ini yang dimaksud dengan muqasah (‫( )مقاصة‬pent- muqasah: seperti set off dalam istilah akuntansi, yaitu mempertemukan antara hutang dan piutang sehingga hasilnya impas), dan dimana tidak layak kecuali para pihak saling memberi syarat untuk memberi uang dinar kepada

pihak lainnya”. :‫قلت: فلو بعته عبدي بعشرة دنانير علسى أن يسبيعني عبسده بعشسرين دينسارا، قسال‬ ً .«‫قال مالك: ل بأس بذلك، وإنما هو عبد بعبد، وزيادة عشرة دنانير‬ Artinya: “Saya berkata: Jika saya menjual budakku kepadanya senilai 10 dinar dengan syarat ia menjual kepadaku budaknya senilai 20 dinar ?, ia berkata: Malik berkata : hal itu diperbolehkan (‫ ,)ل بأس بذلك‬karena budak ditukar dengan budak, dan disertai tambahan senilai 10 dinar.” (Vide: Al-Mudawanah (9/126-128)) ‫وقال ابن القاسم: »وكذلك لو قال: أبيعك ثوبسي هذا بعشرة دنانير على أن تعطيني‬ ‫حمارا إلى أجل صفقة كذا وكذا فل بأس بسه، إنمسا وقسسع الثسوب بالحمسار، والسدنانير‬ ً ‫لغوا فيما بينهما، كما قال أيضا: إن مالكا يجيز اجتماع السسبيع والجسسارة فسسي صسسفقة‬ ِ ً ّ ً ً .«‫واحدة‬ Artinya: “Berkata Ibn Al-Qasim: demikian ketika seorang berkata: Saya jual kepada anda bajuku senilai 10 dinar dengan syarat anda memberi (pent- menjual) kepada saya keledai secara tangguh/kredit senilai sekian, maka hal seperti ini diperbolehkan, karena baju ditukar dengan keledai. Uang dinar yang menjadi ‘perantara’ (‫ )لغوا‬antar keduanya, seperti seorang ً yang berkata: Sesungguhnya Imam Malik memperbolehkan berkumpulnya jual beli (‫ )السسبيع‬dan sewa menyewa (‫)الجسسارة‬ ِ dalam satu transaksi (‫( .)صسسسفقة واحسسسدة‬Vide: Al-Mudawanah (11/44)) 2) Imam Asyhab: ،‫» وأجسساز أشسسهب اجتمسساع السسبيع مسسع الشسسركة، والصسسرف، والجعسسل، والنكسساح‬ ُ .« ‫والمساقاة، والقراض، والجارة، والكراء‬ ِ Artinya: “Imam Asyhab memperbolehkan berkumpulnya akad jual beli dengan syirkah, sharf, jualah, nikah, musaqah, qiradh, ijarah dan kira’ (pent- sewa menyewa lahan pertanian)”. (Vide:
75

Al-Buhjah Syarh At-Tuhfah Li Ibn Abidin (2/9), dan Makalah Dr. Asy-Syadzili dalam ‫ ,اجتماع العقود في عقد في الفقه السلمي‬hal. ِ 50, makalah ini disampaikan pada ‫نسسدوة بيسست التمويسسل الثالثسسة عسسام‬ ‫))3991م‬ 3) Imam Al-Khatib Asy-Syarbini Asy-Syafi’i: ً ‫» ولو جمع في صفقة مختلفي الحكم كإجارة وبيع كأن يقول: أجرتسسك داري شسسهرا‬ َ ‫وبعتك ثوبي هذا بدينار، إو إجسسارة وسسلم كسسأن يقسسول: أجرتسسك داري شسسهرا وبعتسسك‬ ً ََ ‫صاع قمح في ذمتي سلما بكذا صحا في الظهر، ويوزع المسمى على قيمتهمسسا أي‬ ّ ً ََ « ‫قيمة المؤجر من حيث الجرة، وقيمة المبيع أو المسلم فيه‬ َ “seandainya terkumpul beberapa akad dalam 1 transaksi seperti sewa-menyewa (ijarah) dan jual beli (bai’) seperti seorang yang berkata: Saya sewakan kepada anda rumahku selama 1 bulan, dan saya jual pakaianku kepada anda senilai 1 dinar. Atau sewa-menyewa (ijarah) dan salam, seperti seorang yang berkata: saya sewakan rumahku kepada anda selama 1 bulan dan saya jual kepada anda 1 sha’ biji gandum dalam tanggunganku (‫ )في ذمتي‬secara salam (pent- barang diserahkan kemudian sesuai kesepatan), maka hal ini abash menurut pendapat yang paling kuat ( ‫( .)بكذا صحا في ألظهر‬vide: Mughni Muhtaj jilid 2/hal. 41) 4) Penulis Kitab Syarh Al-Khursyii: ‫» خلف اجتماع الجارة مع البيع في صفقة واحدة، فيجوز سسسواء كسسانت الجسسارة‬ ‫في نفس المبيع كما لو باع له جلسودا علسى أن يخرزهسا البسائع للمشستري نعسال، أو‬ ً ً ‫كانت الجارة في غير المبيع كما لو بساع ثوبسا بسدراهم معلومسة علسى أن ينسسج لسه‬ ً « ‫ثوبا آخر، وما أشبه ذلك على المشهور‬ ً “Berbeda dengan berkumpulnya sewa – menyewa dengan jual beli dalam 1 transaksi, maka hal ini diperbolehkan walau akad sewa – menyewa (ijarah) atas barang yang dijual (al-mabi’), seperti seorang menjual kulit hewan dengan syarat penjual

membuatkan sandal (an-na’al) dari kulit tersebut untuk pembeli, atau sewa-menyewa atas selain barang yang dijual (al-mabi’) seperti seorang yang menjual baju dengan nilai beberapa dirham dengan syarat ia dan yang seperti itu menurut pendapat yang masyhur”. (Vide: Kitab Syarh Al-Khursyii Ala Mukhtashar Khalil jilid 7/hal. 4, Adz-Dzakirah jilid 5/hal. 415, dan Mawahib Al-Jalil jilid 7/hal. 503) 5) Imam Ibn Qudamah: ‫» وإذا جمع بين عقدين مختلفي القيمسسة بعسسوض واحسسد كالصسسرف وبيسسع مسسا يجسسوز‬ ‫التفرق فيه قيل القبسسض، والسسبيع، والنكسساح، أو الجسسارة نحسسو أن يقسسول: بعتسسك هسسذه‬ ‫الدار وأجرتك الخرى بألف.. صح العقد فيهما، لنهما عينسسان يجسسوز أخسسذ العسسوض‬ « ”… ‫عن كل واحدة منهما منفردة، فجاز أخذ العوض عنهما مجتمعين‬ “Jika terkumpul dalam 2 akad beberapa harga dengan 1 kompensasi (iwadh) seperti sharf (jual beli mata uang) dan jual beli dan sesuatu yang dapat dipisahkan padanya (‫ ,)التفرق فيه‬ada yang berpendapat termasuk akad jual beli, nikah, ijarah, seperti seorang yang berkata: saya menjual rumah ini kepada anda dan menyewakan kepada anda barang lain senilai (pent- untuk harga jual rumah dan sewa barang) seribu .. maka absah akad pada keduanya, karena kedua akad tersebut diperbolehkan mengambil kompensasi/fee (iwadh) atas setiap akad secara terpisah, sehingga diperbolehkan mengambil kompensasi/fee (iwadh) sekaligus atas kedua akad tersebut”. (Vide: Ibn Qudamah dalam Al-Mughnii Jilid 4/hal. 260 dan Muntahiya Al-Iradat jilid 2/hal. 21) Walhasil, menurut para Ulama sebab (illat) larangan penggabungan akad adalah gharar (ketidakjelasan), jahalah (ketidaktahuan) yang terjadi karena keraguan antara 2 perkara atau lebih (taradud). Jika berkumpul
77

beberapa

akad

dalam

1

akad

tanpa

ada

keraguan/ketidakjelasan (taradud) maka pada dasarnya penggabungan beberapa akad diperbolehkan (‫فجائز من حيث‬ ‫.)المبدأ‬ 6) Syeikh Muhyidin Ali Al-Qarahdaghi: ‫» إن جمهور الفقهاء )المالكية والشافعية فسسي القسسول الراجسسح، والحنابلسسة( أجسسازوا‬ « ‫الجمع بين الجارة والبيع‬ Syeikh Muhyidin Ali Al-Qarahdaghi menambahkan bahwa: “mayoritas ahli fiqh dari madzhab Maliki, Syafi’i menurut pendapat yang terpilih (‫ ,)القول الراجح‬dan madzhab Hambali memperbolehkan untuk mengumpulkan jual beli dan sewamenyewa (‫( .”)أجسسسازوا الجمسسسع بيسسسن الجسسسارة و السسسبيع‬Vide: Syeikh Muhyidin Ali Al-Qarahdaghi dalam makalah dengan judul: ‫21.)التكييف الفقهي‬

12 Lazuardi Irawan, Ta’aluq dan Multi Akad tidak Haram, dalam blog: http://lazuardiirawan.wordpress.com, diunduh pada tanggal 17 Oktober 2012.

79

BAB V PENUTUP
A. KESIMPULAN

Musyarakah adalah kerja sama antara dua orang atau lebih dalam hal permodalan, keterampilan, atau kepercayaan dalam usaha tertentu dengan pembagian keuntungan berdasarkan nisbah yang disepakati oleh pihakpihak yang berserikat. Ijarah adalah sewa barang dalam jangka waktu tertentu dengan pembayaran, dan pengertian Ijarah menurut mazhab Syafi’i adalah transaksi terhadap manfaat yang dituju, tertentu bersifat bisa dimanfaatkan dengan suatu imbalan tertentu. Al-Bai’ wal Ijarah Mumtahia Bittamlik (IMBT) merupakan rangkaian dua buah akad, yakni akad al-bai’ dan akad Ijarah Mumtahia Bittamlik (IMBT). Al-Bai’ merupakan akad jual beli, sedangkan IMBT merupakan kombinasi antara sewa-menyewa (ijarah) dan jual beli atau hibah di akhir masa sewa. Diantara bank yang menggunakan akad musyarakah dan ijarah mumtahia bit-tamlik adalah Bank Muamalat cabang sungkono. Produk ini di aplikasikan untuk pembiayaan kredit rumah syariah yang menggunakan akad musyarakah dan di lanjutkan dengan akad ijarah mumtahia bit-tamlik (IMBT) supaya nasabah setelah akhir akad dapat memiliki rumah yang di sewa. Setelah membandingkan Fatwa DSN-MUI NO.08/DSN-MUI/IV/2000 DAN DSN NO.27/DSN-MUI/III/2002 dengan beberapa komentar para ulama’ fiqih berkaitan dengan perjanjian multiakad perlu difahami ada ulama’ yang membolehkan dan ada ulama’ yang mengharamkanya. Tetap disini penulis berpendapat bahwa setiap aktivitas di bidang muamalat itu semuanya boleh di lakukan selama tidak ada dalil yang mengharamkanya,

dan ketiga aktivitas dalam bidang muamalat itu di pandang lebih banyak manfaatnya dari pada madharatnya sehingga dengan melakukan kegiatan itu bisa mempermudah kehidupan umat manusia boleh di lakukan selama tidak ada pihak-pihak yang merasa dirugikan. B. SARAN 1. Lembaga Fatwa DSN-MUI sebagai lembaga yang di berikan kewenangan untuk mengeluarkan fatwa dan sebagai lembaga kontrol sosial harus lebih mengutamakan kemaslahatan umat dari pada kepentingan yang mencari profit. 2. Fatwa-fatwa DSN-MUI seharusnya bisa menganulir beberapa pendapat para ulama’ fikih yang berbeda sehingga perbedaan istinbat hukum para ulama’ dapat di minimalisir oleh fatwa DSN-MUI. 3. Lembaga-lembaga perbankan harus lebih berhati-hati dalam menerapkan akad-akad bisnis supaya tidak terjebak oleh riba, gharar, dan taflis.

81

DAFTAR PUSTAKA
Sumber Buku: Anshori,Abdul Ghofur, Hukum Perjanjian Islam di Indonesia: Konsep, Regulasi, dan Implementasi, Yogjakarta: Gadjah Mada University Prees, 2010. Djuwaini, Dimyauddin, Pengantar Fiqih Muamalah, Cet.1, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2008. Ghazaly,Abdul Rahman, Ghufron Ihsan, Sapiudin Shidiq, FIQIH MUAMALAT, Jakarta: Kencana, 2010. Karim, Adiwarman , Bank Islam: Analisis Fiqih dan Keuangan, Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2010. Mujahidin, Ahmad , Kewenangan dan Prosedur Penyelesaian Sengketa Ekonomi Syariah di Indonesia, Cet. 1, Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia, 2010, Sutedi, Andrian, Perbankan Syariah: Tinjauan dan Beberapa Segi Hukum, Bogor: Ghalia Indonesia,2009. Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Jilid III, Beirut: Dar kitab al-Arabi, 1971. Syekh Hasan Ayyub, Fiqh Al-Muamalat Al-Maliyah Fi Al-Islam, Kairo: Darussalam, 2006. Undang-undang: Fatwa DSN NO.08/DSN-MUI/IV/2000 TENTANG MUSYARAKAH Fatwa DSN NO.27/DSN-MUI/III/2002 TENTANG IJARAH MUMTAHIA BITTAMLIK Sumber Website: Arie Syantoso, blog: Pro Kontra Dana Talangan Haji, diunduh di http://ariesyantoso.wordpress.com, pada hari rabu 17 Oktober 2012.

83

Di unduh di blog bank muamalat: http://www.muamalatbank.com, pada hari selasa 16 oktober 2012. Farid Ma’ruf, Hukum Multi akad, dalam blog: http://konsultasi.wordpress.com, diunduh pada tanggal 17 Oktober 2012. Lazuardi Irawan, Ta’aluq dan Multi Akad tidak Haram, dalam blog: http://lazuardiirawan.wordpress.com, diunduh pada tanggal 17 Oktober 2012.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->