P. 1
Laporan Keuangan Perusahaan Dagang

Laporan Keuangan Perusahaan Dagang

|Views: 4,042|Likes:

More info:

Published by: Christovel Pangemanan on Nov 15, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/27/2013

pdf

text

original

LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN DAGANG

under AKUNTANSI, AKUNTANSI KELAS XII Versi materi oleh Ismawanto Setelah kertas kerja atau neraca lajur disusun, maka langkah berikutnya dalam siklus akuntansi perusahaan dagang adalah penyusunan laporan keuangan. Laporan keuangan (financial statement) adalah hasil akhir dari akuntansi yang merupakan suatu ringkasan transaksi keuangan. Laporan keuangan disajikan dengan maksud memberikan informasi mengenai posisi harta, utang, dan modal serta perolehan laba atau rugi yang menunjukkan hasil aktivitas yang terjadi dalam rumah tangga perusahaan dan membantu pimpinan dalam pengambilan keputusan. Seperti dalam perusahaan jasa, pada umumnya laporan keuangan yang disusun dalam perusahaan dagang meliputi: 1. 2. 3. 4. laporan laba/rugi, laporan perubahan modal, neraca, laporan arus kas.

Sekarang, simaklah pembahasannya masing-masing.

1. Laporan Laba/Rugi (Income Statement)
Laporan laba/rugi menggambarkan sumber-sumber penghasilan yang diperoleh perusahaan dalam menjalankan usahanya, dan jenis-jenis beban yang harus ditanggung perusahaan. Jadi, laporan laba/rugi adalah laporan yang menunjukkan pendapatan dan beban pada akhir periode akuntansi. Laporan laba rugi atau perhitungan laba rugi dapat disajikan dalam dua bentuk, yaitu sebagai berikut. a. Bentuk Langsung (Single Step) Penyajian laporan laba/rugi dengan bentuk single step dilakukan dengan menjumlahkan semua pendapatan menjadi satu, demikian pula bebannya. Setelah itu dicari selisihnya untuk mengetahui laba dan rugi. Contoh:

Berdasarkan kertas kerja PD Asih Jaya, Semarang per 31 Desember 2005 (Tabel 2.4) dapat dibuat laporan laba/rugi sebagai berikut.

b. Bentuk Bertahap (Multiple Step) Penyajian laporan laba/rugi dengan bentuk multiple step dilakukan dengan memisahkan antara pendapatan usaha dan pendapatan di luar usaha, serta memisahkan pula antara beban usaha dan beban di luar usaha. Setelah itu mencari selisihnya sehingga akan diperoleh laba atau rugi bersih usaha. Contoh: Berdasarkan kertas kerja PD Asih Jaya, Semarang per 31 Desember 2005 (Tabel 2.4), dapat dibuat laporan laba/rugi sebagai berikut.

2. Laporan Perubahan Modal (Capital Statement)
Laporan perubahan modal merupakan laporan yang menunjukkan adanya perubahan modal yaitu dari modal awal menjadi modal akhir. Hal-hal yang perlu diperhitungkan atau yang memengaruhi dalam penyusunan laporan perubahan modal antara lain: a. besarnya modal awal periode, b. adanya laba atau rugi usaha, c. adanya pengambilan pribadi pemilik atau prive, d. adanya investasi tambahan dari pemilik, e. besarnya modal akhir periode. Laporan perubahan modal hanya lazim berlaku dibuat pada perusahaan perseorangan, persekutuan atau firma, dan CV. Sementara itu, untuk perusahaan berbentuk perseroan terbatas (PT) istilah untuk laporan perubahan modal adalah laporan laba ditahan (returned earning statement). Contoh: Berdasarkan kertas kerja PD Asih Jaya, Semarang per 31 Desember 2005 (Tabel 2.4), dapat dibuat laporan perubahan modal sebagai berikut.

3. Neraca (Balance Sheet)
Neraca adalah laporan yang menunjukkan posisi keuangan perusahaan pada akhir periode, mengenai besarnya harta, utang, dan modal perusahaan. Data-data dalam menyusun laporan necara pada perusahaan dagang bersumber dari kolom neraca pada kertas kerja dan modal akhir dalam laporan perubahan modal. Contoh: Berdasarkan kertas kerja PD Asih Jaya, Semarang per 31 Desember 2005 (Tabel 2.4), dapat disusun neraca sebagaimana tampak pada Tabel 2.8 berikut ini.

Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook

Contoh Laporan Keuangan perusahaan
Posted on November 2, 2011 by wahyu410 LAPORAN KEUANGAN (FINANCIAL STATEMENT) Sebelum pembahasan mengenai laporan keuangan, ada hal penting yang harus dipahami terlebih dahulu, yaitu Jenis-jenis perusahaan. Karena perbedaan jenis perusahaan berpengaruh kepada format dan perkiraan-perkiraan yang digunakan dalam laporan. JENIS-JENIS PERUSAHAAN Jenis-jenis perusahaan berdasarkan pemilikan dan status hukum dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu : 1. Perusahaan Perseorangan adalah perusahaan yang dimiliki oleh perseorangan dan biasanya status hukum perusahaan berbentuk UD (usaha dagang), CV (commanditaire verschop), PD (perusahaan dagang) dan sebagainya. 2. Perseroan Terbatas (PT) adalah perusahaan yang modalnya terbagi atas saham-saham yang dimiliki oleh banyak orang, yang disebut pemegang saham. Status hukum PT harus mendapat pengesahan Menteri Kehakiman RI. selanjutnya perlu dipahami adalah jenis perusahaan dilihat dari bidang usaha, yang mana terbagi atas 3 macam, yaitu : 1. Perusahaan Jasa (Service Company), yaitu perusahaan yang bergerak dalam bidang penjualan jasa keahlian. Contoh seperti kantor akuntan publik, usaha salon, usaha bengkel, bank, asuransi, lembaga pendidikan, sekolah, universitas, klinik dokter, kantor notaris, perusahaan leasing, rumah sakit, usaha rental mobil, jasa pengurusan surat-surat, usaha jasa pengiriman,dan sebagainya. 2. Perusahaan Dagang (Trading Company), yaitu perusahaan yang bergerak dalam bidang membeli dan menjual barang dagangan. Contoh seperti showroom atau dealer motor, apotik, toko elektronika, toko grosir, supermarket, minimarket, toko sparepart, toko pakaian, distributor, dan sebagainya. 3. Perusahaan Industri (Manufacture), yaitu perusahaan yang mengolah bahan baku menjadi barang jadi dan kemudian menjual hasil produksi. Contoh seperti restaurant, usaha catering, kerajinan mebel, usaha furniture, pabrik semen, pabrik pasta gigi, pabrik permen/coklat, pabrik lampu pijar, dan usaha home industri lainnya. PENGERTIAN LAPORAN KEUANGAN Laporan keuangan adalah sekumpulan informasi keuangan perusahaan dalam suatu periode tertentu yang disajikan dalam bentuk laporan sistematis yang mudah dibaca dan dipahami oleh semua pihak yang membutuhkan. UNSUR LAPORAN KEUANGAN Unsur utama Laporan Keuangan terdiri dari : 1. Laporan Laba Rugi ( Income Statement ) 2. Laporan Perubahan Ekuitas (untuk perusahaan perseorangan) (Capital Statement) atau

Laporan Saldo Laba (untuk perseroan terbatas) (Retained Earning Statement) 3. Neraca ( Balance Sheet ) 4. Laporan Arus Kas ( Cash Flow Statement ) 5. Catatan Atas Laporan Keuangan Untuk lebih jelasnya, berikut ini diuraikan gambaran singkat dan bentuk umum masing- masing unsur laporan keuangan diatas. LAPORAN LABA RUGI ( Income Statement ) Laporan laba rugi adalah suatu laporan sistematis yang menggambarkan hasil operasi perusahaan dalam suatu periode waktu tertentu. Hasil operasi perusahaan diperoleh dengan cara membandingkan antara penghasilan yang diperoleh dengan beban- beban yang telah dikeluarkan untuk memperoleh penghasilan tersebut. Mempertemukan penghasilan dengan beban yang dikeluarkan untuk memperoleh penghasilan tersebut dalam akuntansi disebut dengan prinsip ‘Matching’. BENTUK LAPORAN LABA RUGI Ada 2 (dua) macam bentuk Laporan Laba Rugi, yaitu Bentuk Single Step dan Multi Step. Dalam praktik pembukuan perusahaan di Indonesia, bentuk Multi Step yang lebih sering digunakan. Contoh : Laporan Laba Rugi (Bentuk Multi Step) - Perusahaan Jasa ‘NAMA PERUSAHAAN JASA’ LAPORAN LABA RUGI Untuk periode berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 Pendapatan Usaha 50.000.000,Beban Usaha : oo Beban gaji karyawanBeban sewa kantor Rp. 8.000.000,- Rp. 4.000.000,o o Beban listrik, telepon dan air Beban penyusutan Beban lain-lain Jumlah beban usaha Rp. 2.000.000,Rp. 2.000.000,- Rp. 1.000.000,Rp.

Rp. 19.000.000,Laba Usaha Rp.31.000.000,-

Pendapatan Luar Usaha : o Pendapatan bunga o Pendapatan jasa giro Jumlah pendapatan luar usaha Beban Luar Usaha : o Beban bunga pinjaman o Denda keterlambatan o Jumlah biaya luar usaha Pendapatan / Biaya luar usaha 500.000,Laba bersih sebelum pajak Rp.31.500.000,- Pajak penghasilan badan (PPh ps 29) – lampiran Rp. 4.500.000,Laba bersih setelah pajak Rp.27.000.000,Contoh : Laporan Laba Rugi ( Bentuk Multi Step ) – Perusahaan Dagang ‘NAMA PERUSAHAAN DAGANG’ LAPORAN LABA RUGI Untuk periode berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 Rp. 2.000.000,Rp. 800.000,Rp. 1.000.000,Rp. Rp. 200.000,Rp. 1.000.000,Rp. 500.000,Rp. 1.500.000,-

Penjualan kotor (bruto)Retur penjualan

Penjualan bersih (neto) Harga pokok penjualan :Persediaan barang dagangan (awal) Pembelian barang daganganOngkos angkut pembelian

Rp. 25.000.000,-Rp Rp. 1.500.000,-

Potongan penjualan Retur pembelian Potongan pembelian Rp. 2.000.000,-

Rp. 1.000.000,Rp. 1.000.000,-

Rp. 38.500.000,Pembelian bersih Barang siap dijual Persediaan barang dagangan (akhir) Harga pokok penjualan Laba kotor Rp. 63.500.000,Rp. 33.500.000,-

(Rp. 3.000.000,-) Laba kotor (pindah dari halaman Rp. 3.000.000,-Rp. Rp. 47.000.000,sebelumnya)Beban Usaha :Beban penjualan 2.500.000,Beban gaji karyawan penjualan o Beban promosiBeban penjualan lainlainBeban administrasi & umum: o Beban gaji karyawan kantoroBeban sewa kantor o Beban listrik, telepon dan airoBeban penyusutanBeban lain-laino Jumlah beban usaha Laba Usaha Pendapatan Luar Usaha : o Pendapatan bungao Pendapatan jasa giro Jumlah pendapatan luar usaha Beban Luar Usaha : o Beban bunga pinjaman o Denda keterlambatan Jumlah biaya luar usaha Pendapatan / Biaya luar usaha 500.000,Laba bersih sebelum pajak Rp.28.500.000,- Pajak penghasilan badan (PPh ps 29) – lampiran Rp. 4.500.000,Laba bersih setelah pajak Rp.24.000.000,Laporan Perubahan Ekuitas ( Capital Statements ) Rp. 800.000,Rp. 1.000.000,Rp. Rp. 200.000,Rp. 500.000,Rp. 2.000.000,-Rp. 4.000.000,Rp. 2.000.000,-Rp. Rp. 19.000.000,2.000.000,-Rp. 1.000.000,Rp. 28.000.000,Rp. 1.000.000,Rp. 500.000,Rp. 1.500.000,-

Contoh : Laporan Perubahan Ekuitas untuk Perusahaan Perseorangan “NAMA PERUSAHAAN” LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS Untuk periode berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 Ekuitas (awal) 200.000.000,Laba bersih setelah pajak Prive ( Drawing ) Penambahan modal Ekuitas (akhir) 214.000.000,Laporan Saldo Laba ( Retained Earning Statements ) Contoh : Laporan Saldo Laba untuk Perseroan Terbatas (PT) “NAMA PERSEROAN TERBATAS” LAPORAN SALDO LABA Untuk periode berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 Saldo Laba (awal) 200.000.000,Laba bersih setelah pajak Deviden Penambahan Laba Ditahan Periode Berjalan Saldo Laba (akhir) 214.000.000,NERACA ( Balance Sheet ) Neraca adalah laporan yang menggambarkan posisi keuangan perusahaan, terdiri dari Aktiva (harta kekayaaan), Kewajiban dan Modal pada suatu tanggal tertentu. Neraca merupakan bentuk resmi dari persamaan akuntansi. Judul neraca ditulis secara urut baris, dimulai dari : Nama Perusahaan; Neraca; Tanggal Neraca ( “Per tanggal 31 Januari “) Contoh : NERACA ( bentuk skontro )– Perusahaan Perseorangan Usaha Jasa “NAMA PERUSAHAAN PERSEORANGAN” N E R A C A Per tanggal 31 Desember 2004 Aktiva Lancar: Hutang Lancar: Rp. 24.000.000,Rp. 10.000.000,Rp. 14.000.000,Rp. Rp. Rp. 24.000.000,Rp. 10.000.000,Rp. 14.000.000,Rp. Rp.

Kas ditangan 15.000.000 Bank 45.000.000 Deposito 100.000.000 Piutang usaha 60.000.000 Piutang wesel 10.000.000 Perlengkapan 3.000.000 Biaya dibayar dimuka 5.000.000 Pajak dibayar dimuka 3.000.0000 Jumlah aktiva lancar 241.000.000 Investasi Jangka Panjang: Saham 30.000.000 Obligasi 50.000.000 Jumlah Investasi Jk Panjang Aktiva Tetap : Tanah 200.000.000 Bangunan 300.000.000 Kendaraan 50.000.000 Peralatan Kantor 20.000.000 Furniture 10.000.000 Jumlah Aktiva Tetap 580.000.000 JUMLAH AKTIVA 901.000.000

Hutang usaha 81.000.000 Hutang biaya 8.000.000 Hutang pajak 2.000.000 Hutang bank 50.000.000 Uang muka penjualan 10.000.000 Jumlah hutang lancar 151.000.000 Hutang Jangka Panjang: Hutang bank 100.000.000 Hutang hipotik 100.000.000 Jumlah hutang jangka panjang 200.000.000 80.000.000 Ekuitas: Modal Pemilik 550.000.000 Jumlah modal 550.000.000

JUMLAH KEWAJIBAN & MODAL 901.000.000 “NAMA PERSEROAN TERBATAS” N E R A C A Per tanggal 31 Desember 2004

Contoh : NERACA ( bentuk skontro )– Perseroan Terbatas Usaha Dagang

Aktiva Lancar: Kas ditangan 15.000.000 Bank 45.000.000 Deposito 50.000.000 Piutang dagang 60.000.000 Piutang wesel 10.000.000 Persediaan barang dagangan Biaya dibayar dimuka 5.000.000 Pajak dibayar dimuka 3.000.000 Jumlah aktiva lancar 241.000.000 Aktiva Tetap : Tanah 200.000.000 Bangunan 300.000.000 Kendaraan 50.000.000 Peralatan Kantor 20.000.000 Furniture 10.000.000 Jumlah Aktiva Tetap 580.000.000 JUMLAH AKTIVA 821.000.000

Hutang Lancar: Hutang dagang 81.000.000 Hutang biaya 8.000.000 Hutang pajak 2.000.000 Hutang bank 50.000.000 Uang muka penjualan 10.000.000 53.000.000 Jumlah hutang lancar 151.000.000 Hutang Jangka Panjang: Hutang bank 30.000.000 Hutang hipotik 40.000.000 Hutang obligasi 50.000.000 Jumlah hutang jangka panjang 120.000.000 Ekuitas: Modal saham 400.000.000 Laba ditahan 150.000.000 Jumlah modal 550.000.000 JUMLAH KEWAJIBAN & MODAL 821.000.000

LAPORAN ARUS KAS ( STATEMENT OF CASH FLOW ) Menurut PSAK No 2, Laporan arus kas adalah laporan yang memberikan informasi arus kas perusahaan sebagai dasar menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan dan menggunakan kas. Komponen laporan: - Kas, terdiri dari saldo kas (cash on hand) dan rekening giro bank - Setara Kas, adalah investasi yang sifatnya sangat likuid yang segera dapat dijadikan kas. - Arus Kas, adalah arus kas masuk dan arus kas keluar atau setara kas

- Aktivitas Operasi, adalah aktivitas penghasil utama pendapatan dan aktivitas lain yang bukan investasi dan pendanaan. Contoh: penjualan barang dan jasa, penerimaan royalty, fee, komisi atau lainnya; pembayaran kepada pemasok/supplier atau karyawan. - Aktivitas Investasi, adalah aktivitas perolehan dan pelepasan aktiva jangka panjang serta investasi lain. Contoh: pembelian aktiva tetap; penjualan tanah, bangunan, peralatan, dan sebagainya; uang muka dan pinjaman kepada pihak lain. - Aktivitas Pendanaan, adalah aktivitas yang mengakibatkan perubahan dalam jumlah serta komposisi modal dan pinjaman perusahaan. Contoh: penerimaan emisi saham, obligasi, pinjaman, wesel, hipotik atau lainnya; pembayaran kepada pemegang saham, pelunasan pinjaman, dan sebagainya. Metode yang digunakan untuk menyusun Laporan Arus Kas adalah Metode Langsung (Direct Methods). Contoh: “NAMA PERSEROAN TERBATAS” LAPORAN ARUS KAS Untuk periode berakhir pada tanggal 31 Desember 2004 Arus kas dari aktivitas operasi: xx Penerimaan uang dari pelanggan

Pembayaran kas kepada pemasok dan karyawan Kas yang dihasilkan operasi Pembayaran bunga Pembayaran pajak penghasilan Arus kas sebelum pos luar biasa Penerimaan kas lain-lain (misal premi) Arus kas bersih dari aktivitas operasi

xx xx (xx) (xx) xx xx xx

Sales Mix Break-even Point Calculation Sales mix is the proportion in which two or more products are sold. For the calculation of break-even point for sales mix, following assumptions are made in addition to those already made for CVP analysis: 1. The proportion of sales mix must be predetermined. 2. The sales mix must not change within the relevant time period. The calculation method for the break-even point of sales mix is based on the contribution approach method. Since we have multiple products in sales mix therefore it is most likely that we will be dealing with products with different contribution margin per unit and contribution margin ratios. This problem is overcome by calculating weighted average contribution margin per unit and contribution margin ratio. These are then used to calculate the break-even point for sales mix. The calculation procedure and the formulas are discussed via following example:

Example: Formulas and Calculation Procedure
Following information is related to sales mix of product A, B and C. Product Sales Price per Unit A B C

$1 $2 $36 5 1

Variable Cost per $1 $9 $19 Unit 4 Sales Mix Percentage Total Fixed Cost 20 20 60 % % % $40,000

Calculate the break-even point in units and in dollars.

Calculation Step 1: Calculate the contribution margin per unit for each product: Product Sales Price per Unit − Variable Cost per Unit A B C

$1 $2 $3 5 1 6 $9 $1 $1 4 9

Contribution Margin per $1 $6 $7 Unit 7 Step 2: Calculate the weighted-average contribution margin per unit for the sales mix using the following formula: Product A CM per Unit × Product A Sales Mix Percentage + Product B CM per Unit × Product B Sales Mix Percentage + Product C CM per Unit × Product C Sales Mix Percentage = Weighted Average Unit Contribution Margin Product Sales Price per Unit − Variable Cost per Unit Contribution Margin per Unit × Sales Mix Percentage A B C

$15 $21 $36 $9 $14 $19 $6 $7 $17 20 20 60% % % $1. $1. $10. 2 4 2

Sum: Weighted Average CM per Unit

$12.80

Step 3: Calculate total units of sales mix required to break-even using the formula: Break-even Point in Units of Sales Mix = Total Fixed Cost ÷ Weighted Average CM per Unit Total Fixed Cost ÷ Weighted Average CM per $40,0 00 $12.80

Unit Break-even Point in Units of Sales Mix 3,125

Step 4: Calculate number units of product A, B and C at break-even point: Product Sales Mix Ratio × Total Break-even Units Product Units at Breakeven Point A B C

20% 20% 60% 3,12 3,12 3,12 5 5 5 625 625 1,87 5

Step 5: Calculate Break-even Point in dollars as follows: Product Product Units at Breakeven Point × Price per Unit Product Sales in Dollars Sum: Break-even Point in Dollars A 625 $15 B 625 $21 C 1,875 $36

$9,37 $13,1 $67,5 5 25 00 $90,000

Menurut Djarwanto Ps (1997 :221), bagi suatu perusahaan yang memproduksi dan menjual 2 jenis barang atau lebih, dalam menghitung titik impasnya, perusahaan tersebut harus dipandang seolah-olah hanya memproduksi dan menjual satu jenis barang saja . Untuk tujuan ini jenis-jenis yang diproduksi dan dijual , perbandingan produk dalam unit (produk mix) antara produk harus selalu tetap. Titik impas bagi lebih dari satu jenis produk tercapai ada nilai penjualan total, dimana laba rugi dari jenis-jenis barang yang disatukan tersebut sama dengan nol ( secara keseluruhan tidak laba dan rugi). Metode yang digunakan untuk menghitung titik impas bagi lebih dari satu jenis produk, yaitu : FC Total BEP Total = VC Total 1 - ____________ S Total

Dimana : BEP Total = Hasil Penjualan Pada Titik Impas Total (Dalam Rupiah) FC Total = Biaya Tetap Total VC Total = Biaya Variabel Total S Total = Hasil Penjualan Total. Kemudian mencari besarnya penjualan untuk masing-masing produk dengan menggunakan produk mix dan sales mix yang konstan. - Sales mix adalah perbandingan total penjualan anatara masing-masing produk. - Produk mix adalah perbandingan kuantitas barang yang dijual. Contoh Suatu perusahaan memproduksi dan menjual tiga macam produk yakni, A, B, dan C data ketiga produk tersebut adalah : Produk A Penjualan : 10.000 unit @ Rp. 100.,00 Rp. 1.000.000,00 Biaya : Biaya Tetap Rp. 200.000,00 Biaya variabel 60 % 600.000,00 800.000,00 Laba Rp. 200.000,00 Produk B Penjualan : 8.000 unit @ Rp. 125,00 Rp. 1.000.000,00 Biaya : Biaya Tetap Rp. 400.000,00 Biaya variabel 40 % 400.000,00 800.000,00 Laba Rp. 200.000,00 Produk C Penjualan :4.000 unit @ Rp. 250,00 Rp. 1.000.000,00 Biaya : Biaya Tetap Rp. 300.000,00 Biaya variabel 60 % 500.000,00 800.000,00 Laba Rp. 200.000,00 Dari data tersebut BEP Total dan BEP untuk masing-masing produk adalah sebagai berikut : Rp. 900.000,00 BEP Total = Rp. 1.500.000,00 IRp. 3.000.000,00

= Rp. 1.800.000,00 Rp. 200.000,00 BEP Produk A = = Rp. 500.000,00 40 % Rp. 400.000,00 BEP Produk A = = Rp. 666.667,00 60 % Rp. 300.000,00 BEP Produk A = = Rp. 600.000,00 50 % Pembuktian BEP Total : Sales mix A:B:C = Rp. 1.000.000,00 : Rp. 1.000.000,00 : Rp. 1.000.000,00 = 1:1:1 Product mix A:B:C = 10,00 : 8,00 : 4,00 =5:4:2 Penjualan Produk A = 1/3 X Rp. 1.800.000,00 = Rp. 600.000,00 Penjualan Produk B = 1/3 X Rp. 1.800.000,00 = Rp. 600.000,00 Penjualan Produk C = 1/3 X Rp. 1.800.000,00 = Rp. 600.000,00 Dalam unit (A) = Rp. 600.000,00 : Rp. 100,00 = 6.000 unit Dalam unit (B) = Rp. 600.000,00 : Rp. 125,00 = 4.800 unit Dalam unit (C) = Rp. 600.000,00 : Rp. 254,00 = 2.400 unit Sumber: http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/2101402-perhitungan-bep-menggunakanpendekatan-matematis/#ixzz0PKP5GGo5

Contoh kasus Linear Programming metode simplex Seorang pedagang menjual buah mangga, pisang, dan jeruk dengan menggunakan gerobak. Pedagang tersebut membeli mangga dengan harga Rp8.000/kg, pisang Rp6.000/kg dan jeruk Rp10.000/kg. Modal yang tersedia Rp1.200.000 dan gerobaknya hanya dapat memuat mangga, pisang, dan jeruk sebanyak 180kg. Jika harga jual mangga Rp9.200/kg, pisang Rp7.000/kg, dan jeruk Rp.1.1500/kg, maka berapa laba maksimum yang diperoleh? Penyelesaian Formulasi Linier Programming : Variabel : A=Mangga, B=Pisang, C=Jeruk Fungsi Tujuan :

Laba penjualan buah mangga = Rp9.200-Rp8.000 = Rp1.200 Laba penjualan buah pisang = Rp7.000-Rp6.000 = Rp1.000 Laba penjualan buah jeruk = Rp11.500-Rp10.000 = Rp1.500

Zmax=

1200A +1000B +1500C

Fungsi Batasan : 8000A + 6000B + 10000C ≤ 1200000 A + B + C ≤ 180 -Penyelesaian dengan Pom For Windows-

1. Buka POM for Windows, pilih menu Module Ü Linear programming Selanjutnya pilih menu FileÜNew Kasus ini fungsi batasannya ada 2 dan variabelnya ada 3.

2. Isi sesuai dengan fungsi batasan, fungsi tujuan, dan kapasitas maksimum batasan .

3. Kemudian di Solve, pilih WindowÜIterations

Pada tabel Iterasi tampak bahwa iterasi terjadi 3 kali guna mendapatkan hasil yang sesuai. Pada Iterasi ke 3 atau terakhir diketahui bahwa untuk mencapai laba optimum(maksimal) maka pedagang buah harus menjual : Buah Mangga (A) Buah Pisang (B) Jeruk (C) = 0 (tidak perlu menjual buah mangga) = 150 kg = 30 kg

Dengan total labanya sebesar Rp 195.000

^Semoga Bermanfaat^

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->