P. 1
DAERAH KLATEN

DAERAH KLATEN

|Views: 22|Likes:

More info:

Published by: Hidayat 'yayat' HaRaa on Nov 15, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/17/2014

pdf

text

original

DESA KLATEN

A. Kondisi Tanah
Daerah Klaten termasuk di dalam wilayah Karesidenan Surakarta. Batas kabupaten Klaten di sebelah utara adalah Kabupaten Boyolali ( Jateng), sebelah barat adalah Kabupaten Sleman (D.I. Yogyakarta), sedangkan di sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Gunung Kidul (D.I. Yogyakarta). Kabupaten Klaten di kenal sebagai gudang beras di Jawa Tengah . Kesuburan daerah ini di tunjukkan oleh keadaan tanah di bagian tengah sepanjang jalan poros Yogya-Solo. Di tanah yang subur ini dapat di tanami dengan berbagai tanaman bahan makanan pokok dan juga tanaman bahan ekspor, misalnya Tebu dan Tembakau. Sebagian besar tanah di daerah Klaten di pergunakan untuk pertanian. Kecamatan Wonosari merupakan Kecamatan yang paling subur sedangkan Kecamatan yang paling kering sekaligus tercatat sebagai pemilik tanah tegalan yang paling luas adalah kecamatan Kemalang.

B. Pemilikan Tanah (Landasan/Dasar Pemilikan, Pengalihan Pemilikan, Penggarapan Tanah dan Sistem Pengolahannya)
Pada masa pemerintahan tradisional, Tanah di wilayah Kasunanan di kuasai oleh Sunan, Perusahaan Pertanian dan Petani. Perusahaan perkebunan menguasai tanah milik Sunan atau pun yang di miliki petani dengan jalan menyewa. Persewaan tanah petani oleh perusahaan perkebunan pada dasarnya adalah penebasan hak Sunan atau sebagian dari tanah kekuasaan Sunan beserta rakyatnya. Petani di Kasunanan Surakarta mempunyai kewajiban antara lain membayar pajak kepada Sunan, bekerja untuk kepentingan perkebunan, bekerja untuk kepentingan Punggawa desa serta memenuhi kewajiban-kewajiban yang lain terhadap desa. Kewajibankewajiban yang harus di penuhi pada masa pemerintahan tradisional di rasakan sangat berat oleh petani. Petani yang menerima Tanah Sanggan atau kuli kenceng (Seseorang yang hanya memiliki tanah) sudah barang tentu terikat pada kewajiban-kewajiban baik terhadap Sunan, Perusahaan Perkebunan, Para punggawa desa serta terhadap desa. Karena tidak tahan memenuhi kewajiban yang di rasakan sangat berat itu, beberapa petani kemudian mengalihkan hak atas tanah Sanggannya kepada orang yang mau menerima pengalihan atas tanah Sanggan tersebut, Dan orang yang mau menerima tanah tersebut biasanya adalah Punggawa Desa. Tetapi ada juga petani yang menolak untuk menerima pembagian tanah serta petani yang mengalihkan hak atas tanahnya, kemudian mencari pekerjaan di luar sektor pertanian, misalnya sebagai Pedagang. Sebagian dari mereka ada yang bekerja sebagai buruh di perusahaan perkebunan, sebagian ada lagi yang bekerja sebagai penggarap dengan sistem bagi hasil sawah milik petani Kuli Kenceng yang tidak sempat dikerjakan. Maka mulai timbullah lembaga bagi hasil di Kasunanan Surakarta.

Karena terbatasnya tanah yang boleh digarap serta kurangnya keterampilan di luar bertani. tanah mempunyai arti yang penting. Bagi petani bukan saja penting dari segi ekonomis. sawah adalah satu-satunya harta yang paling berharga. Setelah meninggal dunia. Seorang penyewa tanah. Sehingga status pemilik tanah bagi petani semacam ini. Seorang petani yang berstatus Kuli Kenceng akan merasa lebih tinggi derajatnya dari pada petani yang berstatus Kuli setengah Kenceng (seseorang yang memiliki tanah pekarangan). Begitu pula seorang Kuli setengah Kenceng akan berusaha keras untuk memilik sawah dengan begitu ia akan naik statusnya sebagai Kuli kenceng. Anak-anaknya sebagai ahli waris dari harta orang tuanya. Kalau sawah sudah di sewakan lebih dari lima tahun. Seringkali terjadi bahwa seorang punggawa desa menyewa tanah sawah milik petani. seringkali menyewa tanah kepunyaan beberapa orang petani. Di daerah Klaten tidak di perkenankan memecah tanah pertanian. Begitu pula tanah sawah yang oleh pemiliknya di pindahkan haknya. Kalau di satu pihak ada yang berkurang luas tanah yang di kuasainya. Dengan begitu di dalam masyarakat pedesaan tampak adanya dinamika sosial. Petani pemilik tanah di daerah Klaten pada umumnya hanya memiliki sawah yang terdiri dari dua atau tiga patok. Startifikasi sosial di dalam masyarakat pedesaan erat hubungannya dengan Pemilikan tanah. maka petani tak bertanah ini terpaksa bekerja sebagai buruh tani. Bagi seorang petani. tetapi lebih dari itu adalah bahwa tanah dapat pula di pakai sebagai kriteria terhadap posisi sosial pemiliknya. masih pula ia melakukan penyewaan sawah petani yang lain sebagai pamong desa. tetapi di dalam masyarakat pemecahan tanah pertanian masih sering terjadi. Untuk dapat menyewa tanah sawah milik orang lain seorang petani harus mempunyai uang. adalah petani pemilik tanah semu. petani tersebut akan mewariskan semua harta termasuk tanahnya kepada anakanaknya. Sawah itu pula yang sering di pergunakan untuk mencukupi segala kebutuhan hidupnya. Punggawa desa ini selain telah memiliki tanah sawah. baik itu berwujud hubungan sewa menyewa atau gadai. Demikian pula lapisan masyarakat yang ada di bawahnhya. Sebagian dari mereka dapat memperoleh garapan dengan jalan menyewa sawah milik orang lain dengan sistem bagi hasil. akan membagi adil seluruh harta warisannya. beralih pula hak untuk memungut hasil selama jangka waktu tertentu.Di dalam masyarakat pedesaan. Indung (seseorang yang bertempat tinggal di pekarangan milik orang lain) maupun Indung templek ( seseorang yang bertempat tinggal pada suatu bangunan. Walaupun secara formal pemecahan tanah pertanian di larang oleh pemerintah. serta petani pemegang hak atas tanah warisannya yang akhirnya di bagi-bagi dengan saudaranya yang lain. yaitu Kuli gundul (seseorang yang hanya memiliki tanah sawah). dimana bangunan tersebut menempel pada bangunan orang lain ). maka di pihak lain ada yang bertambah. . Tidak jarang ditemui sebagian dari sawah milik petani itu di sewakan kepada orang lain untuk jangka waktu yang lama. biasanya sawah tersebut justru akan makin dalam terseret ke dalam tangan penyewa.

Selain ada hubungan sewa menyewa di antara petani di daerah Klaten.seorang petani harus seringkali harus mengeluarkan uang terlebih dahulu. sifat bantu membantu diantara anggotanya masih cukup kuat hal ini terlihat. penggarap memperoleh separuh dari hasil bersih . petani penggarap dan buruh tani. seringkali tidak ada kesepadanan dengan nilai hasil apabila tanah tersebut digarap sendiri oleh pemiliknya.  Lembaga gadai. Kiranya dapat di sebutkan bahwa di dalam lembaga bagi hasil selain penggarap harus menanggung segala ongkos penggarapan dengan imbangan hasil yang kurang adil. ialah seorang pemegang hak milik atas tanah. dan ongkos tanam. Didalam masyarakat pedesaan. pupuk. penggarap harus mengeluarkan nongkos untuk bibit. Setelah panen seperempat bagian dari hasil bersih menjadi hak penggarap. Semua ongkos-ongkos produksi menjadi tanggungan penggarap. Pemilik sawah adalah yang pertama –tama harus di bebani kerugian. misalnya didalam pekerjaan menuai padi. Variasi lain di dalam sistem sromo adalah mertelu (salah satu bentuk bagi hasil tradisional dimana angka imbangan hasil antara penggarap dan pemilik adalah satu di banding dua)dengan sromo. Penguasaan Tanah Sebutan petani di berikan kepada setiap orang yang mempunyai mata pencaharian didalam sektor pertanian. Petani pemilik tanah suatu sebutan yang jelas telah menunjukkan status seseorang. . Adapun petani penggarap dan buruh tani walaupun masing-masing dapat dibedakan berdasarkan hubungannya dengan tanah. penggarap masih pula di bayangi kekhawatiran akan kehilangan garapan setiap panen kedua selesai. Dengan pengertian dasar semacam itu di dalam menentukan besarnya uang sewa tanah milik petani. Pengertian pokok yang mendasari hubungan persewaan antara petani Klaten dengan Perusahaan Perkebunan Negara yang di singkat dengan PPN adalah bahwa PPN tidak boleh rugi.  Lembaga bagi hasil atas tanah pertanian. Setelah panen. Didalam hubungannya dengan tanah serta kegiatannya didalam sektor pertanian petani di bedakan atas petani pemilik tanah. Di dalam sistem mrapat (salah satu bentuk perjanjian bagi hasil tradisional dimana angkan imbangan hasil antara penggarap dan pemilik adalah satu banding tiga). Ketiga golongan itu mempunyai derajat yang bebeda-beda didalam hubungannya dengan tanah. Dengan kata lain dapat di sebutkan bahwa seandainya terjadi kerugian. antara lain :  Lembaga persewaan. Jangka waktu penggarapan di dalam lembaga bagi hasil biasanya sangat tergantung kepada pemilik tanah. ternak. Bentuk-bentuk penguasaan tanah. C.Di dalam sistem bagi hasilpun. petani di daerah ini mempunyai kewajiban untuk menyerahkan sebagian dari sawahnya untuk untuk kepentingan negara. yaitu di sewa oleh Perusahaan Perkebunan Negara untuk di tanami tanaman perkebunan. Di dalam sistem sromo (salah satu bentuk perjanjian bagi hasil tradisional dimana penggarap sebelum memperoleh hak menggarap harus membayar sejumlah uang kepada pemilik tanah)seorang calon penggarap harus membayar sejumlah uang kepada pemilik tanah. tetapi pada dasarnya kedua golongan itu adalah sama yaitu petani tak bertanah.

Dengan demikian tidak ada jaminan bagi penggarap untuk memperoleh tanah garapan untuk jangka waktu yang layak. Pada masa sebelum Reorganisasi Kompleks hak tertinggi atas di daerah berada di tangan Sunan atau Sultan Pribadi. Sedang hak yang dimilki itu masih di tentukan pula oleh kebijaksanaan atau belas kasihan para . Apabila sebelum jangka waktu perjanjian yang telah disetujui bersama berakhir. Perjanjian bagi hasil adalah suatu perjanjian antara seorang yang berhak atas suatu bidang tanah pertanian dengan orang lain yang disebut penggarap. Petani hanya berhak atas tanah terbatas sebagai Penggarap. Pada umumnya perjanjian bagi hasil tradisional dilakukan secara lisan. Tetapi perpanjangan jangka waktu penggarapan itu lebih banyak ditentukan oleh pemilik dari pada penggarap. Didalam lembaga bagi hasil tradisional. Secara umum tanah pada waktu dapat di bagi menjadi :  Tanah yang langsung di kuasai oleh Raja disebut dengan Tanah ampilan dalem. Hubungan antara para petani dengan para bekel adalah hibungan kerja antara buruh tani dengan patuh.D. dimana penggarap diperkenankan mengusahakan tanah pertanian itu dengan pembagian hasil menurut imbangan yang disetujui sebelumnya. Pada masa Apanage stelsel atau biasa di sebut Jaman rekoso (masa yang penuh dengan kesulitan). angka imbangan hasilnya ternyata kurang menguntungkan pihak penggarap.  Tanah yang tidak langsung di kuasai oleh Raja disebut dengan Tanah Kejawen. Sudah barang tentu Raja. Daripada jumlah petani yang membutuhkan tanah garapan. Hak Atas Tanah Kabupaten Klaten termasuk wilayah karesidenan Surakarta. Keadaan ini selain akan berpengaruh kepada pemeliharaan kesuburan tanah menjadi sebab pula mengapa penggarap bersedia menerima syarat yang berat dan kurang adil. Dasar dari perjanjian itu adalah kepercayaan kedua belah pihak. Hak atas tanah yang dimiliki petani adalah sangat lemah bahkan bisa di katakan tidak berarti. Atau persetujuan kedua belah pihak jangka waktu penggarapan dapat diperpanjang lagi atau diperbaharui. penggarap tidak dapat berbuat apa-apa selain merelakan tanah yang digarap diambil oleh pemiliknya. para patuh(kerabat atau pegawai raja) dan penguasa perkebunan yang menyewa tanah yang dikuasai Raja ataupun patuh tidak dapat secara langsung berhubungan dengan rakyat. Di dalam perjanjian bagi hasil menurut Adat Tata Cara Desa jangka waktu penggarapan adalah satu tahun. adalah diwujudkan dalam bentuk bagi hasil. pihak pemilik tanah menarik kembali tanah yang dibagi hasilkan. yang untuk selanjutnya di sebut dengan Raja. Untuk itu mereka dibantu atau diwakili kepentingannya oleh para bekel yang bertugas menghimpun rakyat atau petani untuk mengerjakan tanah apanage atau tanah ampilan dalem (tanah yang langsung dikuasai oleh Raja pada masa sebelum Reorganisasi Kompleks). Keadaan ini terjadi karena keadaan tanah garapan yang tersedia untuk dibagi hasilkan jauh lebih sedikit.

sudah barang tentu tidak sesuai dengan alam kemerdekaan. Undang-Undang ini mencabut ketentuan-ketentuan VGR yang mengatur hak konversi. Dengan dilaksanakannya reorganisasi. perundang-undangan Agraria yang telah ada misalnya Kekancingan (keputusan yang dikeluarkan oleh raja) dan sebagainya selama belum diadakan peraturan yang baru atau tidak bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 tetap berlaku.bekel. hilang pula dasar bagi pengusaha perkebunan untuk minta sebagian tanah dan tenaga kerja secara cuma-cuma dari petani. memang ada kemajuan di dalam penguasaan tanah oleh rakyat. Namun untuk menyesuaikan dengan alam kemerdekaan. Petani diharuskan menyerahkan sebagian dari sawahnya untuk kepentingan tanaman perkebunan yang telah dikuasai oleh pemerintah Balatentara Jepang. Tanah milik Raja ada pula yang disewa oleh para pengusaha perkebunan. maka akan membahayakan kestabilan pemerintahan. Sebagian sawah yang lain oleh petani di tanami padi. Hak menggarap dengan diperbolehkan menikmati sebagian hasil tanahnya itu. Begitu pula dengan hilangnya kewajiban untuk menyerahkan sebagian hasil tanah itu. maka setelah Reorganisasi dilaksanakan rakyat mempunyai hak anganggo run-tumurun (hak pakai yang dapat di wariskan) atas tanah yang di garapnya. Alasan lain juga antara lain adalah untuk menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman. harus dibayar oleh petani dengan melakukan wajib kerja yang sangat berat. maka peraturan.13 tahun 1948. dirasakan sangat berat. Apabila penderitaan rakyat yang sudah sangat berat itu dibiarkan saja. demi kemenangan Perang Suci Asia Timur Raya. kalau pada masa sebelumnya hak rakyat atas tanah yang di garapnya hanyalah menggarap saja.13 tahun 1948. Dengan masih berlakunya cara pengusahaan tanah yang bersifat feodal. Pemerintah RI mengeluarkan Undang-Undang No. khususnya petani. Hasil padi yang ditanam di blok yang tidak di pergunakan untuk kepentingan perkebunan itu sebagian harus diserahkan pula kepada Pemerintah Balatentara Jepang.5 tahun 1950 yang memuat ketentuan tambahan dan pelaksanaan dari Undang-Undang No. Setelah Indonesia merdeka. maka hilanglah kewajiban rakyat untuk menyerahkan sebagian dari hasil tanah yang digarapnya. . sesuai dengan isi Undang-Undang Dasar 1945 pasal ll Aturan Peralihan. diperlukan adanya struktur pemerintahan yang baik. Pada dasarnya persewaan tanah tersebut adalah penebasan hak Raja atas tanah hasil tanaman petani. yang berisi tentang perubahan vorsenlandsch Grondhurredlement. Hal yang mendorong dilaksanakannya Reorganisasi kompleks yang untuk selanjutnya akan disebut dengan Reorganisasi antara lain adalah karena beban penderitaan rakyat sudah sangat berat. Pada tahun 1948. Dengan dilaksanakannya Reorganisasi Kompleks serta diselenggarakannya peraturan pajak bumi.sedang dengan dikeluarkannya Undang-Undang No. dengan secara tegas menghapuskan hak konversi. yang lebih dikenal oleh rakyat sebagai Undang-Undang Penghapusan Konversi. Pada zaman Jepang kehidupan rakyat. oleh Pemerintah Republik Indonesia di keluarkan penetapan Pemerintah tertanggal 15 Juli 1946.

Pengusaha hanya dapat memperoleh tanah yang diperlukan dengan cara menyewa dari Desa atau petani yang menguasainya. Tanah glebagan yang dipergunakan untuk tanaman dataran. . dikembalikan kepada Desa. Desa tidak lagi diharuskan menyerahkan sebagian dari tanahnya setiap tahun kepada pengusaha perkebunan. pegawai raja) yang kemudian masuk kedalam formasi kantor Karesidenan. pedagang dan sebagainya. pengertian istilah kawulo dalem (warga kasunan/kasultanan. desa akan mengembalikan kepada pemegang hak sanggannya (patok houder) semula. pegawai swasta. yang tidak bekerja pada pemerintah Hindia Belanda) mencakup golongan petani. Untuk selanjutnya. juga bekas abdi dalem(pesuruh. pegawai negeri termasuk bekas pegawai gubernemen. Pada zaman kemerdekaan. Juga secara formal.Sebagai akibat dihapuskannya hak konversi.

2000. Landerform dan Gerakan Protes Petani Klaten 1959-1965. . Yogyakarta : Media Pressindo. Soegijanto.DAFTAR PUSTAKA Padmo.

TUGAS : KAJIAN SEJARAH PEDESAAN DESA KLATEN OLEH : NAMA NIM :MULIATI :F81109274 Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin Makassar 2011 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->