ANALISIS PENAWARAN EKSPOR KARET ALAM INDONESIA KE NEGARA CINA Tanti Novianti *), Ella Hapsari Hendratno

**)
*) **)

Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, IPB Program Studi Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya, Faperta, IPB

ABSTRACT
The purposes of this research are to identified export supply growth of China’s natural rubber, analyzed factors of influenced export supply of Indonesian natural rubber to China, and also analyze the export growth strategic of Indonesian natural rubber. The description method is used to identified market growth in Indonesian natural rubber. The second purposes answered by multiple linier regression with Ordinary Least Square (OLS). Export growth stategic have been analyzed by SWOT analysis (Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats). Based on The OLS result, variabel which make infuence for export supply of Indonesian natural rubber in China export price of Indonesian natural rubber to China in previous years, The world rice of synthetic rubber, GDP of China, lag export volume of Indonesian natural rubber to China. The growth strategic for increase Indonesian market in China are increase Indonesian natural rubber productivity. Increased productivity will come true by renew the planting of rubber and to aplicating relationship between farmers and government plantage. Key words : China’s Natural Rubber Economics, OLS, Export growth strategy

PENDAHULUAN Latar Belakang
Ekspor merupakan sektor yang dapat memacu pertumbuhan ekonomi seiring dengan berubahnya strategi industrialisasi dari industri substitusi impor ke industri promosi ekspor. Ekspor semakin penting peranannya sejak adanya perundingan WTO menuju perdagangan dunia tanpa hambatan (free market). Peranan ekspor untuk Indonesia juga terasa semakin penting dan secara dominan mengalami pergeseran dari ekspor sektor migas ke ekspor sektor non migas seperti terlihat pada Tabel 1 dimana sektor non migas dari tahun 2002 sampai tahun 2006 terus mengalami peningkatan. Meskipun pada tahun 2007, ekspor sektor non migas mengalami penurunan, total ekspor sektor non migas masih dominan dibandingkan ekspor di sektor migas. Secara total perkembangan ekspor Indonesia 2002-2007 mengalami peningkatan. Sejak tahun 2003, total nilai ekspor Indonesia mengalami peningkatan hingga tahun 2005. Penurunan total ekspor terjadi pada tahun 2006 menjadi 80,091.7 juta US$. Akan tetapi, total ekspor kembali meningkat pada tahun 2007. Peningkatan ekspor non migas salah satunya adalah berasal dari sektor pertanian. Komoditi pertanian yang diekspor antara lain karet, udang, kopi, teh, tembakau dan yang lain. Karet merupakan salah satu komoditi utama yang jumlah volume ekspornya untuk saat ini menduduki peringkat paling besar.

Tabel 4.3. Ekspor Indonesia Berdasarkan Sektor, Tahun 2001-2007 (US$ Juta) Uraian Migas Non Migas Pertanian Industri Pertambangan Lainnya Total Ekspor 2002 12,112.7 45,046.1 2,568.3 2,568.3 3,743.6 4.5 57,158.8 2003 13,651.4 47,406.8 2,526.2 2,526.2 3,395.7 5.2 61,058.2 2004 15,587.5 55,939.3 2,496.2 2,496.2 4,761.4 4.4 71,584.6 2005 19,231.6 66,428.4 2,880.3 2,880.3 7,946.9 7.8 85,660.0 2006 21,209.5 79,589.1 3,398.5 64,990.3 11,191,5 8.9 80,091.7 2007 13,401.4 59,836.7 2,293.4 49,249.8 8,287.5 6.2 92,598

Sumber : Statistik Indonesia, BPS (2007) Indikator Ekonomi, BPS (2007) Indonesia merupakan salah satu negara produsen karet alam terbesar di dunia disamping Malaysia dan Thailand. Keunggulan Indonesia dalam peningkatan produksi karet untuk yang masa yang akan datang adalah masih tersedianya lahan tropis yang cukup besar yang sesuai untuk penanaman pohon karet. Di sisi lain negara produsen karet lainnya yaitu Malaysia dan Thailand, produksinya terus mengalami penurunan karena kebijakan pemerintah yang kurang mendukung. Karet merupakan salah satu komoditi perkebunan yang sangat penting perananannya bagi Indonesia. Selain sebagai sumber lapangan kerja bagi sekitar 1.4 juta tenaga kerja, juga memberikan kontribusi yang signifikan sebagai salah satu sumber devisa non migas, pemasok bahan baku karet dan berperan penting mendorong pertumbuhan sentra-sentra ekonomi baru di wilyah-wilayah pengembangan karet (www. litbang.deptan.go.id/spesial/komoditas/files/0105-karet.pdf). Sampai dengan tahun 1998 komoditi karet masih merupakan penghasil devisa terbesar dari sub sektor perkebunan dengan nilai US$ 1.106 juta, namun kemudian mengalami penurunan menjadi nomor dua setelah kelapa sawit pada tahun 2003, dengan nilai US$ 1.494 juta (nilai eskpor minyak sawit mencapai US$ 2.417 juta). Selain itu perkebunan karet di Indonesia telah diakui menjadi sumber keragaman hayati yang bermanfaat dalam pelestarian lingkungan, sumber penyerapan CO2 dan penghasil O2, serta kedepannya merupakan sumber kayu potensial yang dapat mensubstitusi kebutuhan kayu yang selama ini mengandalkan hutan alam (www.litbang.deptan.go.id/spesial/komoditas/files/0105-karet.pdf). Sebagai bahan baku baku, karet merupakan komoditi yang dapat digunakan sebagai bahan dasar ban sebesar 73 persennya, sedangkan sisanya dalam bentuk alat kesehatan, mainan anak-anak, peralatan otomotif, sol sepatu sandal dan sebagainya. Karet terdiri dari dua jenis yaitu karet sintesis dan karet alami. Karet sintesis adalah karet yang memerlukan minyak mentah dalam proses pembuatannya, sedangkan karet alami diperoleh langsung dari tanaman karet. Menurut data International Rubber Study Groups (IRSG) tahun 2007, produksi karet alam dunia cenderung meningkat sebesar 11,7 persen dalam periode tahun 2001-2007. Pada sisi lain, konsumsi karet alam dunia meningkat sebesar 24,93 persen selama periode

Produksi dan Konsumsi Karet Alam Negara Cina Data IRSG tahun 2007 menunjukkan bahwa konsumsi karet alam Cina sebesar 2. Jumlah 3000000 2500000 2000000 1500000 1000000 500000 0 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Tahun Produksi Sumber : IRSG (2008) Konsumsi Gambar 1. Ekspor karet alam Indonesia ke Cina selama 2006 mencapai sekitar 337. Konsumsi karet alam yang tinggi di Cina memberi peluang bagi perluasan pasar karet alam dunia.9 persen dari konsumsi total karet alam dunia. Pada tahun 2007 pertumbuhan ekspor karet ke Cina meningkat 35 persen dan diperkirakan pada tahun ini akan meningkat lagi menjadi sekitar 40 persen. Penawaran yang relatif tinggi atas bahan dasar karet alam terjadi di negara konsumen utama karet alam dunia salah satunya adalah Negara Cina. Peluang pasar karet alam di Negara Cina menjadi sasaran baru bagi negara produsen utama karet alam untuk melakukan upaya peningkatan ekspor. Indonesia yang merupakan salah satu negara produsen utama dan negara pengekspor karet alam dunia mampu melakukan ekpor karet alam dalam jumlah yang besar yaitu 33 persen dari total ekspor karet alam dunia. Peningkatan konsumsi karet alam yang terjadi di Cina dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi di negara tersebut.2001-2007.57 juta ton atau 31. Hal ini mendorong Cina untuk melakukan impor dalam jumlah yang besar. Kecenderungan peningkatan ekspor karet alam Indonesia terjadi karena insentif produksi akibat peningkatan harga karet alam dunia.000 ton. Salah satu negara tujuan ekspor potensial karet alam Indonesia adalah Negara Cina. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi karet alam dunia lebih besar dibandingkan peningkatan produksi karet alam dunia sehingga terjadi peningkatan penawaran karet alam dunia. Total ekspor karet alam Indonesia meningkat sebesar 39 persen pada periode 2001-2007. Peningkatan . Peningkatan ekonomi mendorong pembangunan infrastruktur dan industri otomotif di Negara Cina. Konsumsi karet alam di Negara Cina jauh lebih besar dibandingkan dengan produksi karet alam Cina seperti yang terlihat pada Gambar 1.

.. harga karet sintesis dunia... Trend peningkatan volume ekspor karet alam Indonesia ke Cina ini mengindikasikan potensi Cina sebagai pasar ekspor baru karet alam Indonesia... Negara tujuan ekspor karet alam Indonesia terbesar lainnya adalah Amerika Serikat dan Jepang. Pada akhirnya.. nilai tukar yuan terhadap dollar US. Metode kuantitatif yang digunakan ialah model regresi berganda. 5. Metode deskriptif digunakan untuk mengidentifikasi perkembangan pasar karet alam di Cina... 3. seperti China itu didorong oleh meningkatnya kepemilikan mobil dan adanya penyelenggaraan kontes olah raga dunia (Olimpiade) pada 2008.. sementara posisi enam besar importir lainnya diduduki Singapura (5. 4..(1) dimana : Xct = volume ekspor karet Indonesia ke Cina pada tahun t (ton) PCt = harga ekspor karet alam Indonesia ke Negara Cina tahun t (US $/ton) PSt = harga karet sintetis dunia (US $) Gct = GDP per kapita Cina pada tahun t (US $) ERct = nilai tukar mata uang Cina terhadap dollar US pada tahun t (Yuan/US$) α = intersep βi = parameter yang menunjukkan respon volume terhadap perubahan variabel independent (i = 1. harga ekspor karet alam Indonesia ke Cina tahun sebelumnya....konsumsi karet di negara Asia Timur..... yakni sekitar 590... 6) . METODOLOGI PENELITIAN Data dan informasi yang diperoleh akan dianalisis secara kuantitatif melalui metode deskriptif dan model kuantitatif.. menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran ekspor karet alam Indonesia ke Cina serta strategi pengembangan ekspor karet alam Indonesia..... AS menyerap 25 persen dari total ekspor karet Indonesia.... Spesifikasi model penawaran ekspor karet alam diduga dipengaruhi harga ekspor karet alam Indonesia ke Cina... Jepang mengimpor 15 persen sekitar 357........000 ton-dari volume ekspor karet alam Indonesia pada 2006. Model regresi untuk penawaran ekspor karet alam Indonesia di Cina adalah : Xct = α + β1PCt + β3PSt + β4GCct + β5ERct + єt .. dan lag ekspor karet alam Indonesia ke Negara Cina tahun sebelumnya. Peningkatan ekspor karet alam ke Cina adalah sasaran penting dalam usaha perluasan pasar karet Indonesia.946 ton pada 2006..9%)..9%). Strategi pengembangan ekspor karet alam Indonesia dilakukan berdasarkan kondisi fakta dan kesesuaian dengan kebijakan yang berlaku di Indonesia serta analisis SWOT Strengths Weaknesses Threats Opportunities... 2.... Analisis regresi berganda digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran ekspor karet alam Indonesia ke negara tujuan ekspor Cina... peningkatan karet alam Indonesia di Cina akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia. GDP per kapita Cina.. Tujuan Penelitian Tulisan ini bertujuan untuk mengidentifikasi perkembangan pasar karet alam Indonesia di Cina. Korea Selatan (4%) dan Jerman (2..

... Model matriks SWOT dapat dilihat pada Tabel 2........ ST....... Matriks SWOT digunakan untuk menghasilkan alternatif strategi yang terdiri dari empat strategi yaitu strategi SO....ε = Error term Model double..... Strategi ST adalah strategi yang menggunakan kekuatan yang dimiliki oleh produsen untuk mengatasi ancaman.. 3. maka akan diperoleh model sebagai berikut : Xct* = α* + β1* PCt*+ β3* PSt* + β4* Gct* + β5* ERct* + єt* ...... Strategi WO diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada dan strategi WT didasarkan pada usaha yang meminimalkan kelemahan serta menghindari ancaman.......6. untuk i = 1. .. 4.(3) dimana : Xct* = ln Xct PCt* = ln PCt PSt* = ln PSt Gct* = lnGct ERct* = ln ERct єt* = єt β i* = βi .. 5..... Strategi SO dibuat untuk memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya...(2) Jika variabel-variabel dalam model hasil transformasi didefinisikan kembali... 2..... WO dan WT.....log penawaran ekspor karet alam Indonesia di Cina adalah : ln Xct = ln α + β1 ln PCt + β3 ln PSt + β4 lnGct + β5 ln ERc + єt .....

Cina memenuhi penawaran karet alam negaranya dengan cara melakukan impor dari negara lain. Kecenderungan peningkatan konsumsi karet alam Cina lebih besar dibandingkan dengan peningkatan produksi karet alam Cina. produksi karet Cina mencapai jumlah 445 ribu ton atau sekitar 6. Oleh karena itu.44 persen selama periode 2001-2007. Perkembangan industri ban di Negara Cina menyebabkan pola konsumsi karet alam Negara Cina meningkat. Selama periode 2001-2007. Perkembangan ekonomi Cina sangat berkembang terutama karena perkembangan industri ban dan industri otomotif yang pesat. Konsumsi karet alam yang tinggi di Negara Cina tidak diimbangi oleh kemampuan produksinya. . Jumlah ini menempatkan Cina sebagai produsen terbesar kelima di dunia setelah Thailand. 1999 Weaknesses (W) Faktor-faktor kelemahan internal Strategi WO Strategi yang meminimalkan kelemahan untuk memanfaatkan peluang Strategi WT Strategi yang meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman PERKEMBANGAN KARET ALAM INDONESIA DI CINA Selama 2 dekade. Indonesia. Impor karet alam Cina mengalami peningkatan sebesar 40. Program peningkatan produksi dilakukan dengan cara perluasan areal perkebunan dan peningkatan teknologi produksi untuk meningkatkan produktivitas. Data IRSG pada Oktober 2008 menginformasikan kemampuan produksi karet alam di Negara Cina mencapai 480. Peningkatan konsumsi terbesar terjadi pada tahun 2004 yaitu meningkat sebesar 23. Kebutuhan karet alam yang tinggi di Cina mengindikasikan bahwa Cina akan terus meningkatkan kemampuan produksi karet alamnya.Tabel 2.75 persen dalam satu tahun. Peningkatan produksi Cina dalam periode tersebut adalah 19. Cina menempatkan diri sebagai konsumen karet alam terbesar di dunia (IRSG. kemajuan produksi karet alam Cina ditujukan untuk memenuhi kebutuhan karet alam yang tinggi di negara tersebut.14 persen. Malaysia. 2008).6 persen dari total produksi karet alam dunia.000 ton atau 6.23 persen dari total produksi karet alam dunia. produksi karet alam Cina terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2000. Setelah Cina menjadi anggota WTO (World Trade Organization). produksi karet alam Negara Cina cenderung meningkat dengan tingkat pertumbuhan produksi yang fluktuatif. dan India. Pertumbuhan konsumsi karet alam di Cina menunjukkan nilai yang sangat signifikan. Setelah Cina bergabung dalam WTO pada tahun 2001. Matriks SWOT Strengths (S) Faktor-faktor kekuatan internal Opportunities (O) Strategi SO Faktor peluang Strategi yang menggunakan eksternal kekuatan untuk memanfaatan peluang Treaths (T) Strategi ST Faktor ancaman Strategi yang menggunakan eksternal kekuatan untuk mengatasi ancaman Sumber : Rangkuti.

96 persen selama periode 2000-2007.988.000 623.920.522. Volume dan Nilai Ekspor Karet Alam Indonesia ke Negara Cina.500 68.510 649.598.910 322.960 337.540. penerimaan dari ekspor karet alam Indonesia ke Negara Cina mencapai 11. Pada tahun 2002 terjadi penurunan volume ekspor karet alam Indonesia di Negara Cina.600 94.000 226. Peningkatan harga karet alam Indonesia di Negara Cina terjadi karena peningkatan penawaran Cina atas karet alam untuk memenuhi kebutuhan industri.550 107.55 persen tiap tahunnya selama periode 2001-2007.502. Pada tahun 2007.450 249.8 milyar rupiah.790.459.000 197.424.021.117. Penurunan ekspor tersebut terjadi karena melemahnya industri barang jadi karet di Cina sehingga bahan baku produksi atas bahan dasar karet alam menurun. harga karet alam Indonesia di Negara Cinasemakin meningkat sebesar 65.Hal ini mengindikasikan bahwa Negara Cina masih tergantung pada impor karet alam negara lain untuk memenuhi konsumsi karet alamnya.300 349. Tabel 3.222. Selama periode 2000-2007.000 Nilai (US$) 21. Ekspor karet alam Indonesia ke Negara Cina mempunyai nilai yang sangattinggi dan menguntungkan dalam pembentukan devisa negara .740 136. Nilai ekspor karet alam Indonesia ke Negara Cina pun semakin meningkat 96.084.000 Harga karet alam Indonesia di Negara Cina meningkat sebesar 102.780. Namun mulai tahun 2003. Perkembangan ekspor karet alam Indonesia ke Negara Cina menunjukkan kecenderungan yang semakin meningkat sebesar 89. Konsumsi karet alam Cina yang tinggi menjadikan Cina sebagai peluang pasar baru bagi produsen karet alam dunia termasuk Indonesia.763. ekspor karet alam Indonesia ke Cina cenderung semakin meningkat.49 persen. Pada Tabel 3 terlihat volume dan nilai ekspor karet alam Indonesia di Cina.594.710 46.680 29. Tahun 2000-2007 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Sumber : IRSG (2008) Volume (Kg) 35.54 persen selama periode 2000-2007.

secara ekonomi karet sintetik adalah penawaran turunan dari penawaran ban. Seperti karet alam. Hal ini terjadi karena adanya kuota untuk ekspor karet dari Indonesia. Malaysia dan Thailand. Selain itu. Dengan perkembangan ekonomi yang pesat dan peningkatan standar kehidupan dari negara-negara yang padat penduduknya. maka permintaan semua jenis ban akan meningkat di masa yang akan datang.PENAWARAN EKSPOR KARET ALAM INDONESIA DI NEGARA CINA Analisis regresi berganda mempengaruhi penawaran. . Harga karet sintetis berpengaruh nyata terhadap penawaran ekspor karet Indonesia ke Cina dimana peningkatan 1 persen harga karet sintetis dunia akan menyebabkan penawaran ekspor karet alam Indonesia ke Negara Cina meningkat sebesar 8.97lnGC + 3.79lnER……………….18lnPS -5. Peningkatan permintaan ini akan meningkatkan penawaran karet alam Indonesia ke Cina.………………(4) Harga yang dianalisis dalam penelitian ini terdiri dari harga ekspor karet alam Indonesia ke Cina dan harga karet sintesis. Oleh karena itu harga ekspor karet alam tidak berpengaruh terhadap ekspor. Kesinambungan yang tetap harus dipenuhi Cina mengenai ekspor dan impor karet alam melalui contract future-nya menyebabkan harga ekspor karet alam Indonesia ke Cina tidak berpengaruh. Hasil dari regresi OLS tersebut juga menunjukkan bahwa nilai tukar yuan terhadap dollar Amerika berpengaruh positif dan signifikan terhadap volume ekspor karet Indonesia. Menurut Budiman (2004). Karet sintetik yang dominan digunakan oleh industri ban di Cina adalah SBR (styrena butadiene rubber) dan BR (butadiene rubber). karet sintetis belum dapat menggantikan keunggulan karet alam dan industri yang menggunakan bahan baku karet sintetis juga masih sedikit yang mungkin disebabkan mahalnya harga karet sintetis itu sendiri. Selain itu. Adanya kuota tersebut merupakan hasil musyawarah dari tiga produsen karet alam terbesar di dunia yaitu Indonesia. Dugaan persamaan regresi untuk model penawaran ekspor karet alam Indonesia ke Negara Cina yang dihasilkan berdasarkan output Eviews adalah sebagai berikut : lnXt=-12. Permintaan karet alam dan sintetik ditentukan oleh kondisi sekarang dan perkembangan ke depan dari industri otomotif. Ketika terjadi peningkatan harga karet sintetis maka akan menurunkan permintaan terhadap karet sintetis dan akan meningkatkan permintaan terhadap karet alam sebagai komoditi substitusinya.18 persen. permintaan karet sintetik akan terus tumbuh yang didorong oleh perkembangan industri automotif dan ban di China. harga karet alam tidak signifikan mempengaruhi karena adanya contract future yang dilakukan oleh Cina untuk pemenuhan kebutuhan karet baik dari sisi impor bahan baku karet alam maupun ekspor barang jadi karet. digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang Metode yang digunakan adalah metode Ordinary Least Square (OLS). Berdasarkan hasil regresi dapat dilihat bahwa penawaran ekspor karet alam Indonesia ke Cina tidak secara nyata dipengaruhi oleh harga karet alam (PC). Harga ekspor karet alam Indonesia ke Cina diperoleh dari hasil pembagian nilai ekspor karet alam Indonesia ke Negara Cina dan volume ekspor karet alam Indonesia ke Cina. Karet sintesis merupakan komoditi substitusi atas karet alam.32 + 8.

seperti telah diketahui sebelumnya bahwa adanya pembatasan kuota ekspor untuk masing-masing negara produsen juga menyebabkan Indonesia tidak dapat mengekspor dalam jumlah yang besar (terbatas dengan jumlah kuota yang telah ditentukan). dan Eropa akan meningkatkan ekspor karet dari negara produsen lainnya selain Indonesia. Hubungan negatif ini dapat dijelaskan dengan melihat kondisi bahwa pasar produksi karet dunia yang didominasi oleh 6 negara yaitu Thailand. GDP Cina akan menurunkan penawaran ekspor karet alam Indonesia ke Cina.79 persen. Malaysia. Hal ini terjadi karena apabila Dollar makin kuat maka harga karet alam tersebut seakan-akan menjadi lebih murah. China. . dan sebesar 14 persen akan dijelaskan oleh variabel lain diluar model seperti teknologi. GDP per kapita Cina. perkembangan ekonomi makro dunia. Nilai Adjusted R2 dari hasil regresi ini adalah sebesar 0.86 yang berarti bahwa keragaman dari penawaran ekspor karet alam Indonesia ke Cina dapat dijelaskan 86 persen oleh variabel harga karet sintesis dunia. Sehingga Cina sebagai konsumen terbesar di dunia selain Amerika Serikat. nilai tukar yuan per dollar US. India. sehingga keputusannya dipengaruhi oleh kepentingannya sebagai konsumen terbesar. dan Vietnam. Hal ini karena dalam konsortium 3 negara terbesar tersebut tidak termasuk China yang juga merupakan konsumen terbesar di dunia. Selain menjadi anggota IRCO bersama dengan Malaysia dan Thailand. Indonesia. Dengan keanggotaan ini maka posisi Indonesia dalam pengendalian harga karet dunia menjadi semakin kuat. dimana Indonesia termasuk anggota di dalamnya. Ini menguntungkan bagi pengembangan karet di Indonesia karena harga karet relatif dapat dikendalikan. Dengan demikian dalam pasar karet dunia terjadi oligopoly. Indonesia juga menjadi anggota konsortium negara terbesar produsen karet dunia. Keenam produsen terbesar di dunia tersebut menjadi anggota IRCO (International Rubber Consortium Organization) yang merupakan organiasasi konsumen karet terbesar di dunia yang turut berperan sebagai pengendali harga karet alam dunia.Artinya apabila nilai tukar yuan terhadap dollar Amerika mengalami peningkatan sebesar 1 persen maka volume ekspor karet alam Indonesia juga akan mengalami peningkatan sebesar 3. Pembentukan IRCO yang kemudian menjadi organisasi terbesar pasar karet dunia. Dengan adanya IRCO maka terjadi keseimbangan baru pada struktur pasar karet dunia yang lebih adil. yang membuat pasar karet menjadi pasar olygopoly konsumen. GDP Cina signifikan mempengaruhi penawaran ekspor karet alam Indonesia ke Cina dimana peningkatan sebesar 1 persen. tidak lepas dari struktur pasar karet sebelumnya yang dikuasai oleh beberapa konsumen karet dunia terutama di Eropa.

Tabel 4.790363 -12.184068 0.1555 0. maka model mengalami masalah serial korelasi atau autokorelasi.897557 -5.333979 3. multikolinier. Harga ekspor karet alam Indonesia ke Cina akan berhubungan secara positif terhadap penawaran ekspor karet alam Indonesia di Negara Cina. sedangkan kemampuan produksi karet alam Cina sebesar 480 ribu ton (IRSG. Konsumsi karet alam di Negara Cina tercatat mencapai 2.866134 0.0002* 0.846303 43.000000 .461300 -4. maka langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi masalah asumsi BLUE. Satu dari asumsi penting dari model regresi adalah bahwa kesalahan atau gangguan ui yang masuk kendala fungsi regresi populasi adalah random atau tak berkorelasi.977012 3. Jika harga karet alam dunia meningkat maka harga ekspor dan harga impor negara-negara di dunia akan ikut meningkat. (Gujarati. Jadi tingginya harga ekspor karet alam Indonesia ke Cina tahun tidak akan mengurangi penawaran ekspor karet alam Indonesia di Negara Cina. Setelah menganalisis R2 dan menganalisis kesesuaian tanda koefisien serta nilai probability pada masing-masing variabel.1 juta ton. Jika asumsi ini dilanggar.0098* 0. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penawaran Ekspor Karet Alam Indonesia ke Negara Cina Variabel LNPS LNPC LNGC LNER C R-squared Adjusted R-squared F-statistic Probability (F-stat) Keterangan : *) Taraf nyata 1 persen Sumber: Lampiran 1 Fenomena produksi dan konsumsi karet alam dunia serta adanya contract future dapat menjelaskan tidak adanya pengaruh secara nyata harga ekspor karet alam Indonesia ke Cina tahun dan penawaran ekspor karet alam Indonesia di negara tersebut. Konsumsi yang tinggi ini mendorong Cina untuk mengimpor karet alam dari negara lain termasuk Indonesia untuk memenuhi kebutuhannya.32155 t-Statistik 7.67373 0. dan heteroskedastisitas dalam hal estimasi karena apabila terjadi penyimpangan terhadap asumsi klasik tersebut secara statistik kesimpulan yang dilakukan menjadi salah (rancu).910105 -2. 0. Kondisi defisit produksi karet alam dunia menyebabkan harga karet alam dunia meningkat tajam. Identifikasi asumsi BLUE ini merupakan uji asumsi klasik dimaksudkan untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi.1978). 2008).0006* 0. Koefisien 8.011128 1.0000* 0.779003 Prob.

56 yaitu lebih besar dari α = 0. Hasil pengujian yang mempunyai autokorelasi akan menyebabkan perngujian arti t dan F tidak dapat diterapkan secara sah. Berdasarkan hasil analisis bahwa variabel-variabel dalam model penawaran ekspor karet alam Indonesia di Negara Cina tidak berkorelasi sempurna. Untuk mendeteksi ada tidaknya multikolinearitas dapat dilakukan pengujian dengan cara uji koefisien korelasi.01. diantara beberapa atau semua variabel yang menjelaskan dari model regresi (Gujarati:1984). dan H1 : Ada Autokorelasi. Heteroskedastisitas Heteroskedastisitas merupakan salah satu asumsi OLS jika varian residualnya tidak sama. maka terima Ho dan simpulkan bahwa model bersifat homoskedastisitas atau terbebas dari masalah heteroskedastisitas.01. Salah satu cara untuk mendeteksi adanya masalah heteroskedastisitas adalah melalui White Heteroskedasticity Test. Masalah heteroskedastisitas biasa terjadi dalam data cross section dibandingkan dengan data deret waktu atau time series (Gujarati. Secara sederhana dapat dikatakan model klasik mengasumsikan bahwa unsur gangguan yang berhubungan dengan observasi tidak dipengaruhi oleh unsur gangguan yang berhubungan dengan pengamatan lain yang manapun (Gujarati:1984). maka terima Ho dan simpulkan bahwa model tidak ada autokorelasi (Sumber: Lampiran 2). Pada data deret waktu. Multikolinearitas Multikolinearitas mula-mula ditemukan aleh Ragnar Frisch yang berarti adanya hubungan yang linear yang sempurna atau pasti. probability R2 adalah 0. Untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dilakukan dengan white test yaitu dengan cara regresi logaritma residual kuadrat terhadap semua variabel penjelas. 1978). Berdasarkan hasil pengujian dapat dilihat bahwa probabilitas Obs*R-squared adalah sebesar 0. Pengujian ini bertujuan untuk mengukur derajat asosiasi antar variabel penjelas sehingga dapat diketahui ada tidaknya gejala multikolinearitas diantara variabel penjelas.48 yang lebih besar dari 0.01 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat masalah heteroskedastisitas (Sumber: Lampiran 3).12 yaitu lebih besar dari α = 0. Pada uji White. Jika hasil probabilitas Obs*R-squared lebih besar dari 0. Untuk mengetahui ada tidaknya autokorelasi digunakan uji Breusch-Godfrey atau disebut uji Lagrange Multiplier. Hal ini berarti bahwa model penawaran ekspor bebas dari masalah multikolinearitas (Sumber: Lampiran 4). Autokorelasi Autokorelasi dapat didefinisikan sebagai korelasi antara anggota serangkaian observasi yang diurutkan menurut waktu (seperti dalam data deretan waktu) atau ruang (seperti dalam data cross-sectional). 2. Hasil uji LM Test menunjukkan bahwa probabilitas Obs*R-squared adalah sebesar R2 = 0. variabelnya cenderung mempunyai derajat yang sama dalam besarnya. Hubungan antar variabel tidak menunjukkan nilai 1. 3.1.05. . Ada tidaknya autokorelasi didasarkan pada nilai probabilitas Obs*R-squared dimana Hipotesis awal adalah Ho : Tidak ada Autokorelasi.

Analisis komponen SWOT tediri dari analisis kekuatan. 2. Pembangunan sistem informasi Pemasaran Informasi pasar berguna untuk membuka peluang pasar dan menghindari distorsi pasar. b. Peluang karet alam Indonesia juga memiliki tantangan dalam perkembangannya. Strategi Weaknesses Oppotunities (WO) Strategi WO ialah strategi yang dapat diterapkan untuk memanfaatkan kekuatan karet alam Indonesia sekaligus untuk meminimalkan ancaman karet alam Indonesia. kualitas. Apabila kekuatan. Perluasan dan peremajaan perkebunan karet. maka ekspor karet alam Indonesia dapat terus ditingkatkan. peluang dan tantangan. Strategi ini dilakukan dengan cara negosiasi dan kesepakatan dalam forum internasional baik regional. akan tetapi juga harus memperhatikan . kelemahan. 3. Strategi peningkatan akses pasar dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekspor karet alam Indonesia. kelemahan.STRATEGI PENGEMBANGAN EKSPOR KARET ALAM INDONESIA Analisis Komponen SWOT Kondisi karet alam Indonesia mempunyai kekuatan dan kelemahan baik dari segi kuantitas. lembaga. kemampuan promosi dan advokasi terhadap karet alam Indonesia ke negara potensial. Indonesia memiliki areal yang luas yang dapat dimanfaatkan untuk penanaman tanaman karet. bilateral maupun multilateral. Pada sisi lain. Perluasan ekspor ke pasar potensial baru Tujuan Indonesia melakukan perluasan ekspor ke pasar potensial adalah untuk memperoleh devisa negara atas nilai ekspor. karet alam Indonesia mempunyai peluang untuk dikembangkan karena pengaruh kondisi karet internasional. Strategi Strengths Opportunities (SO) Strategi SO adalah strategi yang dibuat untuk memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya. Peningkatan produktivitas karet alam Indonesia dapat dilakukan tidak hanya dengan perluasan areal tanam. pendanaan dan sebagainya. Peningkatan devisa negara dapat menyebabkan peningkatan PDB. Strategi perluasan pasar dapat dilakukan dengan cara menciptakan skala internasional dalam kemampuan trading. Brazil dan India. Peningkatan akses pasar Strategi peningkatan akses pasar dilakukan untuk meningkatkan daya tawar karet alam Indonesia di dunia terutama di negara tujuan ekspor. Strategi peningkatan akses pasar dilakukan untuk mendistribusikan produk karet alam Indonesia ke negaranegara tujuan ekspor secara berkelanjutan. Penguatan kerjasama dengan penjaringan pemasaran baik yang berada di pusat-pusat perdagangan komoditi maupun di negara tujuan. Strategi perluasan pasar dapat dilakukan dengan memanfaatkan peluang tingginya penawaran karet alam di negara-negara tersebut. Strategi peningkatan produktivitas karet alam Indonesia dilakukan melalui penanaman dan peremajaan perkebunan karet. Beberapa strategi ST untuk pengembangan ekspor karet alam Indonesia ialah sebagai berikut : 1. peluang dan tantangan karet alam Indonesia dapat diantisipasi. Pasar potensial baru untuk komoditas karet alam ialah negara Cina. Adapun strategi yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut : 1. Perumusan Strategi Pengembangan Ekspor Karet Alam Indonesia a.

c. Pengurangan ekspor dilakukan sebesar 10 persen untuk tahun 2002. 2. Pendanaan adalah masalah klasik dan masih dialami pada pengembangan karet alam Indonesia. Kemitraan pengelolaan usaha perkebunan rakyat dengan Perusahaan Perkebunan Besar Negara atau Swasta . Strategi ini dilakukan dengan cara membentuk kerjasama pemasaran karet internasional. Lembaga keuangan baik bank maupun nonbank tidak dapat berfungsi sebagai pemberi modal. tuntutan konsumen dan perubahan regulasi internasional sehingga mengurangi tarif dan non tarif yang dihadapi dan dapat meningkatkan kemampuan berkompetisi di pasar global. Strategi market intelligence dapat diterapkan untuk mengatasi ancaman negara pesaing ekpor karet alam Indonesia. Perusahaan besar yang memiliki dana dapat berfungsi sebagai pemberi modal bagi perkebunan rakyat. Strategi Strengths Treaths (ST) 1. Perbaikan teknologi yang tepat guna merupakan kunci untuk meningkatkan produktivitas karet alam Indonesia. Bantuan pembinaan pada aspek produksi dan pemasaran. Usaha perkebunan karet yang dilaksanakan dengan menggunakan pola kemitraan mempunyai makna bahwa usaha perkebunan karet dilakukan dengan cara kerjasama antara perkebunan besar dan perkebuan rakyat. Strategi pola kemitraan dapat dilakukan secara swadaya antar petani rakyat. regional dan spesifik. Mekanisme yang digunakan dalam ITRO ini adalah melakukan pengurangan produksi karet (Supply Management Scheme/SMS) dan melakukan pengurangan ekspor (Agreed Export Tonnage Scheme/ATS). Kerjasama pemasaran karet ialah kerjasama Indonesia dengan produsen karet alam yakni Thailand dan Malaysia (International Tripartite Rubber Organization/ITRC). Rendahnya produktivitas dan kurang majunya teknologi disebabkan oleh masalah pendanaan yang kurang menunjang. Mekanisme ini dilakukan melalui kegiatan peremajaan tanaman karet. Strategi ini dilakukan dengan cara mengaktifkan lembaga riset perkebunan dan integrasi antar stakeholder yang terkait untuk menerapkan teknologi yang sesuai. d. Melakukan market intelligence Melakukan evaluasi dan analisis terhadap perubahan persaingan. 3.penggunaan teknologi. Pengurangan produksi karet dilakukan di masing-masing negara sebesar 4 persen pada tahun 2002 dan 2003. Usaha perkebunan karet dilaksanakan dengan menggunakan Pola Kemitraan mencakup adanya pola pembiayaan/pendanaan. Strategi Weaknesses Treaths (WT) Strategi defensif yang harus dilakukan Indonesia dalam meminimalisasi kelemahan dan menghadapi ancaman pengembangan ekspor karet alam Indonesia yaitu melalui strategi WT. trend pasar. 2. Beberapa strategi WT yang dapat dilakukan ialah : 1. Membentuk lembaga dan dan perjanjian kerjasama pemasaran karet internasional . Pemanfaatan teknologi maju Karet alam Indonesia memiliki kelemahan yaitu kurang mempunyai nilai tambah produk. 2. Pihak yang memiliki teknologi juga dapat mengalihkan teknologi yang dapat diterapkan bagi perusahaan rakyat. Oleh karena itu diperlukan strategi pemanfaatan teknologi maju untuk mencapai orientasi nilai tambah produk karet alam Indonesia.

Matriks Strategi Pengembangan Ekspor Karet Alam Indonesia Strengths (S) Weaknesses (W) 1. O2. S3. (W2.) Brazil. Sumber pendapatan 4. Harga karet alam dunia tinggi 4. Besar Negara atau Swasta (W1. Internal Eksternal Opportunities (O) 1. Membentuk lembaga dan dan 2. Perluasan ekspor ke pasar menerapkan teknologi maju (W1. Penawaran karet alam dunia terus meningkat 2. O1. S2. T2) 2. Pola kemitraan Pola kemitraan antar petani perkebunan karet rakyat dan perkebunan karet besar baik perkebunan negara maupun swasta telah dilakukan di Indonesia. T1. O4) peremajaan perkebunan karet dengan 2. S4. S3. Indonesia memiliki pasar karet 2. 2. hanya beberapa strategi yang diterapkan di Indonesia. O2. Selain itu. Pengembangan perluasan dan S3. 1. Pada kenyataannya. Teknologi industri barang jadi karet di negara . Strategi SO Strategi WO 1. Peningkatan produktivitas dapat dilakukan dengan perluasan areal perkebunan karet alam.Implikasi Kebijakan Strategi-strategi pengembangan ekspor karet alam Indonesia terdiri dari empat tujuan yaitu strategi agresif. T1. penanaman dan peremajaan kembali perkebunan karet Indonesia dengan menggunakan klon unggul dan teknologi yang tepat guna. Sistem kemitraan yang dilakukan Indonesia dalam rangka peningkatan produksi karet alam Indonesia adalah seperti Perusahaan Inti Rakyat (PIR) dan program revitalisasi perkebunan karet. Munculnya negara-negara konsumen industri karet baru 3. T1. Tabel 5. Bantuan pembinaan pada aspek intelligence (S1. O2. S2. dan India (S1. W4. Pemanfaatan teknologi maju dan O1. S2. Melakukan market 1. Kurang tenaga ahli dan fasilitas dan plasma nutfah/klon. T3). W4. potensial baru. S3. O4. seperti Cina. T1. S2. Perluasan perkebunan karet dan peremajaan. S4. strategi turn-around dan strategi defensif. Sistem pola kemitraan ini adalah perkebunan besar memberi bantuan modal dan teknologi ke perkebunan karet rakyat. Dana pengembangan karet terbatas. O3. W2. W4. O2. S2. O2. pemasaran (S1. Produktivitas karet Indonesia masih PDB Indonesia relatif rendah 2. 3. produksi dan pemasaran. O5). 3. W2. O5) Strategi ST Strategi WT 1. untuk pengembangan industri karet 4. Peningkatan akses pasar (S1. 2. O1. Berkembangnya green tyre yang ramah lingkungan Treaths (T) 1. Harga minyak sebagai bahan baku karet sintetis terus meningkat 5. Produksi karet alam negara produsen pesaing juga berkembang 2. Implikasi kebijakan pengembangan ekspor karet alam Indonesia diterapkan dengan cara: 1. Ketersediaan sumberdaya alam hilir. Berkembangnya teknologi karet sintetis yang hampir menyamai sifat karet alam 3. S3. Kontribusi karet alam terhadap 1. O3). Kemitraan pengelolaan usaha perjanjian kerjasama perkebunan rakyat dengan pemasaran karet internasional Perusahaan Perkebunan (S1. S4. W3. W3. (lahan dan iklim yang sesuai). T2) W3. strategi diversifikasi. S4. tepat guna dari Litbang dan 3. Pembangunan sistem informasi stakeholders terkait (W1. Usaha perkebunan karet dilaksanakan dengan menggunakan Pola Kemitraan mencakup adanya pola pembiayaan/pendanaan (W3.O4. O1. rumahtangga petani dan tenaga kerja perkebunan. Strategi pengembangan ekspor karet alam Indonesia dapat dilakukan dengan pendekatan peningkatan produktivitas karet alam Indonesia. T3). S4. O5). O1. Teknologi pengolahan karet kurang alam tradisional mendukung pengembangan industri 3.

Faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran ekspor karet alam Indonesia ke Negara Cina adalah harga ekspor karet sintesis secara positif.96 persen selama periode 2000-2007. sol sandal/sepatu. Strategi pengembangan ekspor karet alam Indonesia dapat dilakukan melalui upaya peningkatan produktivitas karet alam Indonesia. Strategi peningkatan produktivitas karet alam Indonesia dilakukan dengan cara perluasan perkebunan dan peremajaan kembali tanaman karet serta mengaplikasikan pola kemitraan antara petani perkebunan rakyat dan perkebunan besar negara/swasta. meningkatkan komposisi produk dan pertumbuhan ekspor karet alam yang tinggi ke Negara Cina. 2. GPD Cina secara negatif. Pengaktifan kembali pendanaan untuk perkebunan karet baik dari bank dan non bank. Langkah perluasan ekspor ke Cina dilakukan dengan meningkatkan distribusi produk. Peluang pasar karet alam di Negara Cina dapat dimanfaatkan untuk perluasan pasar ekspor karet alam Indonesia. Penawaran ekspor karet alam Indonesia ke Negara Cina cenderung semakin meningkat sebesar 89. 3. Upaya peningkatan produktivitas dilakukan melalui penanaman kembali dan peremajaan perkebunan karet. alat kesehatan dan sebagainya. dan nilai tukar yuan per dolar AS secara positif. Perbaikan teknologi produksi dan pengolahan industri karet alam melalui lembaga penunjang seperti litbang dan dinas perkebunan. Menekankan pada pengembangan industri hilir untuk menghasilkan barang jadi seperti sarung tangan. kabel dan pipa karet. . SARAN Indonesia seharusnya memanfaatkan momentum peningkatan penawaran karet alam dunia dengan upaya perbaikan produktivitas.konsumen menggunakan jenis karet yang spesifik KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN 1. Perbaikan teknologi akan dapat mengurangi biaya pengolahan sehingga petani dapat memperoleh keuntungan yang lebih besar. Pengembangan industri hilir ini diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah produk olahan karet alam. Indonesia lebih menetapkan Cina sebagai negara tujuan ekspor karet alam Indonesia.

2000.DAFTAR PUSTAKA Anwar.F. Jakarta. 13-15 December 2004. 1975-2007. International Financial Statistics. Rubber Statistical Bulletin. A. Deliarnov. Jakarta. Badan Pusat Statistik Indonesia. Perkembangan Industri Karet China : Setelah China Menjadi Anggota WTO. Pusat Penelitian Karet. C. 35 No. 2005. 2004. The Association of Natural Rubber Producing Countries : Kuala Lumpur Malaysia. International Monetary Fund (IMF): Washington D. N. Warta Perkaretan Vol. Lembaga Riset Perkebunan Indonesia. 2000. London. Pengantar Ekonomi Makro. 2007. Vol. Erlangga : Jakarta. 2004. Elwamendri. Ekspor Statistik Perdagangan Luar Negeri Indonesia. Tinjauan Komoditas Perkebunan Vol 2 No. International Rubber Study Group (IRSG) : Wembley. Hamdy. Hady. Direktorat Jenderal Perkebunan. 1980. Nachrowi.C. Natural Rubber Statistical Bulletin (Quarterly). Mankiw. Jaka Wisana dkk. Perdagangan Karet Alam Antara Negara Produsen Utama dan Amerika Serikat. Statistik Perkebunan Indonesia. 1987. Departemen Pertanian. Kartel Internasional Karet dan Pengurangan Pasokan Dunia : Program Berat Bagi Indonesia. Nachrowi Djalal dan Hardius Usman. Karet 1991-1993. 2. 1983-1996. Direktorat Jenderal Perkebunan. Departemen Pertanian : Jakarta. Budiman.S. 2. Program Pascasarjana : IPB. 1995. Teori Makroekonomi Edisi Keempat. Penggunaan Teknik Ekonometri. UI-Press: Jakarta. 1986-2001. Ditjen. 1993. 2001. Lipsey. Asosiasi Perkebunan Perkebunan Indonesia dan Direktorat Jenderal Perkebunan. Binarupa Aksara : Jakarta. Bambang. Tesis. Keynote Speech at The International Rubber Conference and Products Exhibition. Richard G. Statistik Perkebunan Indonesia 2006-2008: Karet. Dradjat. 2 Hal. Gregory. Ghalia Indonesia: Jakarta. Pengantar Mikroekonomi terjemahan Economics 7th Edition. 2004 Ekonomi Internasional Buku Kesatu Teori dan Kebijakan Perdagangan Internasional. PT Raja Grafindi Persada : Jakarta. 23 No. The Global NR Industry: Current Development and Future Prospects. . 1-6. BP Perkebunan.

642915 Probability Obs*R-squared 8.116993 1.614218 1.032840 1.074729 LNER -0.20395 Durbin-Watson stat 1.32155 R-squared 0.457407 0. Penebar Swadaya : Bogor. Pusat Penelitian Karet.350288 4.092264 LNPC -0. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic) Prob. Karet Strategi Pemasaran Budidaya dan Pengolahan.029922 C 0.E.D.466975 0. Lembaga Riset Perkebuanan Perkebunan Indonesia : Medan. Tim Penulis PS. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia : Jakarta.190459 0.000000 Lampiran 2.1555 0.759416 3. 0.790363 C -12.0241 .137747 3. Error t-Statistic LNPS -0.011128 0.268023 -0.9411 0.516670 0. Variable Coefficient Std.213356 2.333979 0. 2003.366768 43. 1999.379105 -4.699987 Probability Test Equation: Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 07/02/08 Time: 21:23 Presample missing value lagged residuals set to zero.461300 1.0000 0.779003 Mean dependent var S.969376 3.67373 0.090381 Std. Lampiran Lampiran 1. Uji Autokorelasi Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic 1. Prosiding Konferensi Agribisnis Karet Menunjang Industri Lateks dan Kayu 2003. Pengantar Teori Makroekonomi.076702 LNGC 0.910105 4.643342 -0.421630 0. Error t-Statistic 1. 0.9381 0.433803 -2. Sadono.59837 Log likelihood -45.0098 9.Sumarmadji.0006 0.533490 2.846303 S. 1993.0002 0.866134 Adjusted R-squared 0.9764 0. dkk.9273 0. of regression 1.121646 Prob.167297 7.9396 0.977012 LNER 3.049345 0.078586 RESID(-1) 0. Sukirno.081809 Sum squared resid 31.184068 LNPC 0. Hasil Regresi Dependent Variable: LNX Method: Least Squares Date: 07/02/08 Time: 13:37 Sample: 1976 2007 Included observations: 32 Variable Coefficient LNPS 8.109625 1.897557 LNGC -5.097513 -0.

41071 0.055226 3.663338 LNGC -13.134248 0.879182 0.00273 -0.5137 0.6997 0.293113 RESID(-4) 0.219455 Akaike info criterion Sum squared resid 34.236180 Prob(F-statistic) 0.524727 2.818257 R-squared 0.591007 0.9454 0.030798 S.D.992473 Prob(F-statistic) Dependent Variable: Method: Least Squares Date: 07/02/08 Time: 21:27 Sample: 1976 2007 Included observations: 32 Variable Coefficient Std.6582 0.022643 Akaike info criterion Sum squared resid 23.205453 RESID(-3) -0.564946 LNPS^2 -1.544030 LNPC -21.47109 F-statistic Durbin-Watson stat 2.912731 0.712578 LNPS 20. dependent var 0.277381 -0.2408 0.987449 1.019823 LNER^2 -1.5917 0.480994 3.3184 0. of regression 1.201100 3.30412 -0. Error t-Statistic C 58.045226 1.37037 81. of regression 7.241555 0.532009 Prob.448179 LNGC^2 0.976402 1.544386 .89478 31.884225 Probability Obs*R-squared S. dependent var S.243156 -1.441554 White Heteroskedasticity0.544386 1.880382 RESID(-5) -0.025995 S.016722 0.132965 3.625022 2.069227 Lampiran 3.802651 -0.6631 2.E.245207 -0.390644 LNER 4.235215 Mean dependent var Adjusted R-squared -0.833731 2.00514 35.215842 0.12744 F-statistic Test Equation: Durbin-Watson stat RESID^2 1.05E-15 0.245169 0.4216 0.271875 Mean dependent var Test: R-squared F-statistic Adjusted R-squared -0.466943 3.00758 Schwarz criterion Log likelihood -40.5290 0.009605 0.884225 0.D.3882 0.639245 LNPC^2 1.28948 33.108272 0.E.91432 0. 0.526871 Probability 1.5776 0.20262 Schwarz criterion Log likelihood -46.RESID(-2) 0.449764 0.4833 0. Uji Heteroskedastisitas 0.

000000 0.000000 0.315231 0.878253 1.941800 0.149376 0.000000 .878253 0.929507 LNER 0.742611 LNPS 0.315231 1.317802 0.000000 0.742611 0.821628 0.821628 LNPC 0.353938 1.780797 0.353938 0.317802 0.941800 0.780797 0.Lampiran 4.149376 LNGC 0.000000 0. Uji Multikolinearitas LNX LNPS LNPC LNGC LNER LNX 1.929507 1.