This post was written by loami 10.

Sep, 2010 3 Comments

MAKNA FIGURATIF (METAFORA DAN METONIMI)
10

DEFINISI : Metafora adalah : penggunaan bahasa atau pun kata-kata frase maupun kalimat yang di gunakan untuk mengungkapkan kepada personal ataupun kelompok secara langsung dan bukan dengan arti yang sebenarnya. Makna : Hal ini biasa di jelaskan untuk mengungkapkan sebuah makna yang berlebih-lebihan, namun makna kiasan tersebut sungguh tidak telalu sulit untuk menjelaskan dan mengartikan apa arti dari kata-kata yang dimaksudkan. Metafora dapat digunakan atau difungsikan dalam arti yang luas. Dengan kata lain metafora dapat berdiri sendiri sebagai kata tunggal, akan tetapi metafora dapat dibatasi oleh sebuah konteks. Metafora juga menjadi bagian yang sangat penting dalam wawasan berbahasa. Hampir semua kata bisa dipakai secara luas, makna kata yang sesuai metafora adalah sebagai kata yang bernilai. Hampir semua kata yang memiliki makna bernilai, dan makna tersebut bisa dipakai sesuai dengan metaforis (fungsinya). Bahkan dalam perkembangan waktu, metaforis mampu mengambil alih makna sebenarnya sehingga ia lebih dikenal dengan makna metaforisnya ketimbang makna sebenarnya, sehingga makna yang mulanya metaforis menjadi makna yang bernilai baru.

Sri Pamungkas[1] Iqbal Nurul Azhar2 A. Makna dan Sistem Bahasa Bahasa adalah sebuah sistem lambang bunyi arbitrer yang digunakan oleh masyarakat untuk tujuan komunikasi. Sebagai sebuah sistem, bahasa bersifat sistematis dan sistemis. Dikatakan sistematis karena bahasa memiliki kaidah atau aturan tertentu. Dikatakan Sistemis karena bahasa memiliki subsistem, yaitu subsistem fonologi, subsistem gramatikal, dan subsistem leksikal. Ketiga sistem tersebut menurut Sudaryat (2009:2) bertemu dalam dunia bunyi dan dunia makna. Bunyi secara detail dikaji dalam ilmu yang disebut fonologi, sedang makna secara mendalam dikaji dalam ilmu yang disebut semantik. Untuk memahami Semantik lebih dalam, seseorang yang akan belajar Semantik haruslah dapat memahami beberapa sifat bahasa yang salah satunya adalah bahasa bersifat arbitrer. Sifat arbitrer dalam bahasa ini menurut Chaer (1989:32) diartikan bahwa tidak ada hubungan spesifik antara deretan fonem pembentuk kata dengan maknanya. Dengan demikian, tidak ada hubungan langsung antara yang diartikan (signifie) dengan yang mengartikan (signifiant). Dikatakan oleh Chaer (1989:29) bahwa setiap tanda linguistik terdiri atas unsur bunyi dan unsur makna. Kedua unsur tersebut merupakan unsur dalam bahasa (intralingual) yang biasanya merujuk kepada sesuatu referen yang merupakan unsur luar bahasa (ekstralingual).

alangkah baiknya bagi kita untuk lebih memahami apa sebenarnya semantik itu. serta perubahannya. dan penyimpangan susunan (rangkaian) kata-kata supaya memperoleh efek tertentu atau makna khusus (Abrams.” Tanda ini terdiri dari unsur makna atau diartikan ‟kursi‟ (inggris: chair) dan unsur bunyi yang mengartikan dalam wujud runtutan fonem [k. Sebelum masuk lebih jauh mendiskusikan apa makna figuratif itu. penyimpangan makna. hubungan makna yang satu dengan makna yang lain dan pengaruhnya terhadap manusia dan masyarakat. Abrams (1981:63) mengelompokkan gaya bahasa kiasan dan sarana retoris ke dalam bahasa figuratif. kita dapat menyimpukan bahwa Semantik adalah ilmu yang menelaah lambang-lambang atau tanda-tanda yang menyatakan makna. u. Altenbernd yang dikutip oleh Pradopo (1994:93) membedakan bahasa kiasan dan sarana retoris (rethorical device). Makna figuratif muncul dari bahasa figuratif (figurative language) atau bahasa kiasan. Makna Figuratif (Makna Kiasan) Makna kiasan (figurative meaning. Dan untuk membuat makalah ini menjadi lebih terarah pembahasanya. Sejalan dengan pendapat Altenbernd. Tanda kursi ini mengacu kepada suatu referen yang berada di luar bahasa. Sebagai contoh frasa ‟mahkota wanita’ tidak dimaknai sebagai sebuah benda yang dipakai seorang wanita di atas kepalanya yang merupakan lambang kekuasaan seorang pemimpin dan berhiaskan emas atau permata. Dengan demikian. maka Semanti adalah bagian dari Linguistik.Umpamanya tanda linguistik yang dieja ”kursi. tranfered meaning) adalah pemakaian leksem dengan makna yang tidak sebenarnya. i]. significance or sequence of words. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Abrams (1981:63). Menurut Palmer (1981:1). makna kiasan terdapat pula pada peribahasa atau perumpamaan. kata kursi adalah hal yang menandai (tanda linguistik) dan sebuah kursi sebagai perabot (konsep) adalah hal yang ditandai. or standard. r. bahasa figuratif sebenarnya merupakan bahasa penyimpangan dari bahasa sehari-hari atau dari bahasa standar untuk memperoleh efek tertentu.1981:63) Bahasa figuratif sebenarnya adalah gaya bahasa kiasan. B. Menurutnya. Bahasa figuratif atau kiasan merupakan penyimpangan dari bahasa yang digunakan sehari-hari. semantics is a part of linguistics” yang berarti bahwa Semantik adalah terminology teknis yang mengacu pada studi tentang makna dan karena makna adalah bagian dari bahasa. Bahasa kiasan atau figure of speech atau oleh Kridalaksana disebut sebagai figure of rhetoric atau rhetorical figure yaitu alat untuk memperluas makna kata atau kelompok kata untuk memperoleh efek tertentu dengan membandingkan atau membagi serta mengasosiasikan dua hal. Dengan demikian. Ruang lingkup kajian tentang makna sangatlah luas. perkembangan. Figurative language is a deviation from what speakers of a language apprehends as the ordinary. Semantik dinyatakan sebagai: “the technical term used to refer to the study of meaning and since meaning is a part of language. sekali merengkuh dayung. namun frasa ini dimaknai sebagai „rambut wanita‟ Selain itu. . yaitu kursi sebagai salah satu perabot rumah tangga yang biasanya digunakan untuk duduk. dua tiga pulau terlampaui. menelaah makna-makna kata. Lyon (1971:1) menyebutkan bahwa: ”semantics is generally defined as the studi of meaning” yang bermakna bahwa semantik pada umumnya diartikan sebagai suatu studi tentang makna. maka tema yang diangkat sebagai bahan kajian utama makalah ini adalah tentang makna yang ada dalam ranah Semantik yaitu makna Figuratif. s. in order to achieve some special meaning or effect. penyimpangan dari bahasa baku atau standar. Misalnya.

1. Adakalanya. sinekdoke. memiliki sejumlah komponen makna dan biasanya hanya satu dari komponen makna tersebut yang relevan dan juga dimiliki oleh unsur kedua. Keraf menyebut metafora termasuk dalam gaya bahasa kiasan. dan alegori. Sementara itu Pradopo (1994:62) membagi bahasa kias ke dalam tujuh jenis. metonimi. Membandingkan sesuatu dengan sesuatu hal yang lain. mengandung unsur-unsur yang kadang-kadang tidak disebutkan secara eksplisit. sehingga pokok pertama langsung dihubungkan dengan pokok kedua. tetapi dalam bentuk yang singkat. dalam http/unsedukasisbi. Definisi metafora menurut Beekman dan Callow (1974. atau titik kemiripannya implisit. . Akan tetapi. yaitu benda atau hal yang dibicarakan. yaitu bagian metaforis dari majas tersebut yang digunakan untuk mendeskripsikan topik dalam rangka perbandingan.pdf) adalah suatu perbandingan yang implisit. Salah satu unsur yang dibandingkan. metafora. Beekman dan Callow menjelaskan bahwa metafora terdiri atas tiga bagian. (c) titik kemiripan. Lebih lanjut. penyimpangan dari bahasa standar. sedangkan citranya adalah eagle „elang‟. suatu penyimpangan rangkaian kata supaya memperoleh beberapa arti khusus.” Sedangkan bentuk yang satu lagi adalah perbandingan yang termasuk dalam gaya bahasa kiasan. Artikel ini hanya membahas dua dari tujuh bahasa kias di atas yaitu metafora dan metonimi. sebagian dari citra. Gaya ini pertama-tama dibentuk berdasarkan perbandingan atau persamaan.bloksport. atau penyimpangan makna kata. perumpamaan. epos. dan personifikasi. seperti “Matanya seperti bintang timur”. Keraf (1994:136) mengatakan bahwa perbandingan biasa atau langsung mencakup dua anggota yang termasuk dalam kelas kata yang sama. yaitu (a) topic. berarti mencoba menemukan ciri-ciri yang menunjukkan kesamaan antara kedua hal tersebut. yaitu citra. salah satu dari ketiga bagian itu. metonimi. yaitu topik. seperti yang terlihat dalam contoh. personifikasi. yaitu bagian yang memperlihatkan persamaan antara topik dan citra. Untuk mengetahui titik kemiripan ini diperlukan pengetahuan tentang konteks tempat metafora tersebut terdapat. Berdasarkan contoh tersebut dapat dilihat perbedaan antara gaya bahasa langsung dan gaya bahasa kiasan. yaitu topik. Metafora Metafora. titik kemiripan yang menunjukkan dalam hal apa he „dia‟ dan eagle „elang‟ tidak disebutkan secara eksplisit. Ketiga bagian yang menyusun metafora tersebut tidak selalu disebutkan secara eksplisit. sedangkan perbandingan berupa gaya bahasa kiasan mencakup dua hal yang termasuk dalam kelas kata yang berlainan. Perbandingan sebenarnya mengandung dua pengertian yaitu perbandingan yang termasuk dalam gaya bahasa polos atau langsung seperti “Dia sama pintar dengan kakaknya. B. Bahasa kias atau figuratif menurut Abrams (1981:63-65) terdiri atas simile (perbandingan).orglmain/pdf/pdf-269. pemahaman terhadap makna simbol „elang‟ dalam masyarakat dan unsur implisit lainnya. (b) citra. Metafora disebutkan oleh Pradopo (1994:66) merupakan bentuk perbandingan dua hal secara langsung. Gaya metafora itu melihat sesuatu dengan perantaraan benda yang lain.Menurut Abrams (1981:63) bahasa figuratif (figuratif language) adalah penyimpangan penggunaan bahasa oleh penutur dari pemahaman bahasa yang dipakai sehari-hari (ordinary). metafora. yaitu perbandingan. He is also Baldwin’s legal eagle „ Dia juga elang dalam urusan hukum Baldwin‟ Topik metafora pada contoh di atas adalah he „dia‟. Metafora sebagai pembanding langsung tidak menggunakan kata-kata seperti dan lain-lain.e-li.com dan http://www.

” ”Pemuda-pemudi adalah bunga bangsa. Berdasarkan pilihan citra yang dipakai oleh pemakai bahasa dan para penulis di pelbagai bahasa. Dalam arti yang lebih luas ini. analogi diartikan sebagai kemiripan atau relasi idenstitas antara dua pasangan istilah berdasarkan sejumlah besar ciri yang sama. (3) metafora bercitra abstrak ke konkret. Dalam pengertian kuantitatif. Jika tak ada kesamaan maka perbandingan itu adalah bahasa kiasan. bunga dan bangsa masih hidup dengan arti aslinya.Keraf (1994:137) mengatakan bahwa untuk menetapkan apakah suatu perbandingan itu merupakan bahasa kiasan atau tidak. metafora tidak mempergunkan kata: seperti. Senada dengan Beekman dan Callow. Metafora disebutkan oleh Keraf (1992:139) merupakan semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung. dalam pengertian kualitatif. penyimpangan makna seperti terdapat dalam kalimat-kalimat di atas merupakan metafora hidup. (3) titik kemiripan atau kesamaan. (4) metafora bercitra sinestesia atau pertukaran tanggapan/persepsi indra. Namun. Menurut Keraf kebanyakan perubahan makna kata mula-mula karena metafora. Sebagai bentuk perbandingan langsung. kita masih dapat menentukan makna dasar dari konotasinya sekarang. Oleh sebab itu. Misalnya kapal laut berlayar di laut maka kapal terbang berlayar di udara. bagaikan. Tetapi kalau kita tidak dapat menentukan konotasinya lagi. Parera (2004:119) mengatakan salah satu unsur metafora adalah kemiripan dan kesamaan tanggapan pancaindra. maka metafora itu masih hidup. bagai. Sedangkan. . Hubungan antara topik atau citra dapat bersifat objektif dan emotif. batuk-batuk. (2) metafora bercitra hewan. dan sebagainya. analogi menyatakan kemiripan hubungan sifat antara dua perangkat istilah. Ungkapan ibu pertiwi mengandung pula analogi yang berarti: hubungan antara tanah air dengan rakyatnya sama seperti hubungan seorang ibu dengan anak-anaknya. hendaknya diperhatikan tiga hal berikut: 1) tetapkanlah terlebih dahulu kelas kedua hal yang diperbandingkan 2) perhatikan tingkat kesamaan atau perbedaan antara kedua hal tersebut 3) perhatikan konteks di mana ciri-ciri kedua hal itu ditemukan.” Kata-kata menggergaji. pilihan citra oleh Ulmann (1977) dan Parera (2004:119) dibedakan atas empat kelompok. Analogi kualitatif ini juga dipakai untuk menciptakan istilah baru dengan mempergunakan organ-organ manusia atau organ binatang. Kata manis dalam frasa ”lagu yang manis” adalah suatu ringkasan dari analogi yang berbunyi:”Lagu ini merangsang telinga” dengan cara yang sama menyenangkan seperti manisan merangsang alat perasa. maka metafora itu sudah mati. cindera mata. tetapi dalam bentuk singkat: bunga bangsa. buaya darat. Bila dalam sebuah metafora. analogi lalu berkembang menjadi bahasa kiasan. Struktur metafora utama yang utama ialah (1) topik yang dibicarakan. sehingga pokok pertama langsung dihubungkan dengan pokok kedua.” ”Mobilnya batuk-batuk sejak pagi tadi. proses penyimpangan semacam itu pada saat dapat membawa pengaruh lebih lanjut dalam perubahan makna kata. yakni (1) metafora bercitra antropomorfik. Metafora menurut Keraf (1992:137) merupakan analogi kualitatif. dan sebagainya. Aristotees mempergunakan kata analogi dengan pengertian kuantitatif maupun kualitatif. buah hati. bak. (2) citra atau topik kedua. Contoh : ”Perahu itu menggergaji ombak.

sebab untuk akibat. Para pemakai bahasa ingin membandingkan kemiripan pengalaman dengan apa yang terdapat pada dirinya atau tubuh mereka sendiri. Dalam ungkapan sehari-hari orang sering mendengar ungkapan “enak didengar” untuk musik walaupun makna enak selalu dikatkan dengan indra rasa. Berbeda halnya dengan metafora. Metafora bercitra sinestesia. Seringkali pengalihan ungkapan itu masih bersifat transparan tetapi dalam beberapa kasus penelusuran etimologi perlu dipertimbangkan untuk memenuhi metafora tertentu. dan seterusnya. misalnya. lidah buaya. Dengan demikian. misalnya kumis kucing. dan totum pro parte: Pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian. Hubungan itu dapat berupa penemu untuk hasil penemuan. dan sebagainya. Metafora bercitra hewan. ia dua gelas.” Parera (2004:121) menyebut metonimia sebagai hubungan kemaknaan. atau citra konotasi yang luar biasa. Sinekdoke dibagi menjadi dua yaitu pars pro toto: pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek. fable dalam Fabel MMM yang dikutip oleh Parera terdapat nama-nama seperti Mr. Metafora bercitra abstrak ke konkret. pemilik untuk barang yang dimiliki. Profesor Keledai. Metafora dengan unsur binatang juga dikenakan pada manusia dengan citra humor. kerbau. buaya. babi. karena mempunyai pertalian yang sangat dekat. metonimia adalah suatu gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal lain. Metonimia Kata metonimia diturunkan dari kata Yunani meta yang berarti menunjukkan perubahan dan onoma yang berarti nama. metonimia muncul dengan kata-kata yang telah diketahui dan saling berhubungan. biasanya digunakan oleh pemakai bahasa untuk menggambarkan satu kondisi atau kenyataan di alam sesuai pengalaman pemakai bahasa. Dicontohkan oleh Parera. secepat kilat „satu kecepatan yang luar biasa‟. dan ungkapan makian ”anjing. singa. jantung kota. Badak bin Badak. adalah mengalihkan ungkapanungkapan yang abstrak ke ungkapan yang lebih konkret. isi untuk menyatakan kulitnya. dan lain-lain. moncong senjata „ujung senjata‟. Metonimia merupakan sebuta pengganti untuk sebuah objek atau perbuatan dengan atribut yang . dan lain-lain. Contoh : “Ia membeli sebuah chevrolete. lu”. dan lain-lain.” “Pena lebih berbahaya dari pedang. ironi. Metafora antropomorfik dalam banyak bahasa dapat dicontohkan dengan mulut botol. “sedap dipandang mata” merupakan pengalihan dari indra rasa ke indra lihat. Metonimia disebut oleh Keraf (1992:142) sebagai bagian dari sinekdoke. Metafora dengan unsur binatang cenderung dikenakan pada tanaman. 2. bahu jalan. ungkapan “buaya darat”.” “Ia telah memeras keringat habis-habisan. kuping gajah.” “Saya minum satu gelas. dst sehingga dalam bahasa Indonesia kita mengenal peribahasa “Seperti kerbau dicocok hidung”.Metafora bercitra antropomorfik merupakan satu gejala semesta. Dalam metafora bercitra hewan diungkapkan oleh Parera (2004:120) bahwa manusia disamakan dengan sejumlah takterbatas binatang misalnya dengan anjing. merupakan salah satu tipe metafora berdasarkan pengalihan indra. pengalihan dari satu indra ke indra yang lain. akibat untuk sebab. dan terdapat pula Majelis Pemerintah Rimba (MPR). peyoratif.

Metonimia menurut Parera (2004:121-122) dapat dikelompokkan bedasarkan atribut yang mendasarinya. Bahasa figuratif atau kiasan merupakan penyimpangan dari bahasa yang digunakan seharihari. Waktu Shalat bagi umat Islam seperti Magrib dan Subuh atau Misa bagi orang kristiani biasanya dipakai sebagai ukuran dan pembagian waktu di Indonesia. Kata metonimia diturunkan dari kata Yunani meta yang berarti menunjukkan perubahan dan onoma yang berarti nama. penyimpangan dari bahasa baku atau standar. karena mempunyai pertalian yang sangat dekat. dan penyimpangan susunan (rangkaian) kata-kata supaya memperoleh efek tertentu atau makna khusus Metafora adalah kemiripan dan kesamaan tanggapan pancaindra. Misalnya. (3) titik kemiripan atau kesamaan. sekali merengkuh dayung. dua tiga pulau terlampaui. figurative meaning) adalah pemakaian leksem dengan makna yang tidak sebenarnya. jika seorang ahli fisika mengatakan “satu ampere adalah aliran listrik yang satu volt dapat mengirim melali satu ohm”. Contohnya. sebab untuk akibat. yakni “bioskop Majestik”. (2) citra atau topic kedua. Hubungan antara topik atau citra dapat bersifat objektif dan emotif. Makna figuratif muncul dari bahasa figuratif (figurative language) atau bahasa kiasan. mahkota wanita „rambut wanita‟. Metonimi berdasarkan penemu dan pencipta. (4) metafora bercitra sinestesia atau pertukaran tanggapan/persepsi indra. “Subuh nanti kita berangkat”. pilihan citra dapat dibedakan atas empat kelompok. Count Alssandro Volta (orang Italia). Metonimia berdasarkan atribut tempat. Dengan demikian. Metonimi berdasarkan unsur bagian untuk seluruhnya atau disebut tipe pars pro toto. metonimia adalah suatu gaya bahasa yang mempergunakan sebuah kata untuk menyatakan suatu hal lain. akibat untuk sebab. (2) metafora bercitra hewan. metonimia muncul dengan kata-kata yang telah diketahui dan saling berhubungan. contohnya “Datanglah setelah magrib”. C. (3) metafora bercitra abstrak ke konkret. pemilik untuk barang yang dimiliki. kelompok pasukan tentara Angkatan Darat yang khusus disebut dengan “Baret Merah”. dicontohkan oleh Parera sebagai bentuk penyebutan penemu sesuatu. Militer atau tentara Nasional Indonesia (TNI) dikenal dengan sebutan “baju hijau”. Selain itu. metonimia berelasi penemu atau pencipta. yakni (1) metafora bercitra antropomorfik. Di tahun 60-an di Jakarta Pusat terdapat gedung bioskop megah dengan nama “Metropole” dan tahun 80-an diganti dengan nama “Megaria”. Misalnya. “rokok kretek” dikatakan “belikan saya kretek”. dan George Simon Ohm (orang Jerman). relasi waktu. Berdasarkan pilihan citra yang dipakai oleh pemakai bahasa dan para penulis di pelbagai bahasa. maka ia telah menyebut tiga tokoh utama dalam bidang ilmunya.melekat pada objek atau perbuatan yang bersangkutan. Masing-masing daerah dikenal dengan ciri atribut yang menonjol dan pada umumnya penduduk akan menyebutkan daerah tersebut berdasarkan ciri atribut yang terkenal. Kesimpulan Makna kiasan (tranfered meaning. Hubungan itu dapat berupa penemu untuk hasil penemuan. Misalnya. penyimpangan makna. Metonimia merupakan sebutan pengganti untuk sebuah objek atau perbuatan dengan atribut . relasi atribut (pars prototo). makna kiasan terdapat pula pada peribahasa atau perumpamaan. Contohnya. Berbeda halnya dengan metafora. isi untuk menyatakan kulitnya. Metonimi berdasarkan atribut waktu. dan metonimi berdasarkan perbuatan. yakni Andre Ampere (orang Prancis). Struktur metafora utama yang utama ialah (1) topic yang dibicarakan. dicontohkan oleh Parera seperti “Pasar Blok M” disingkat “Blok M”sebagai singkatan nama bioskop yang terkenal di tempat tersebut pada masa tertentu. misalnya metonimia dengan relasi tempat. dan sebagainya.

An Introduction to the Science of Meaning.2009.H. 2004. Parera. Sudaryat. Jakarta: Rineka Cipta. Lyons. Djos Daniel. relasi atribut (pars prototo). Abdul. Semantics. Daftar Rujukan Abrams.bloksport. Pradopo. relasi waktu.http/unsedukasisbi. 2 Mahasiswa Pascasarjana UNS Program Studi Lingistik Deskriptif Angkatan 2009 . Sydney:Cambridge University Press. Metonimia dapat dikelompokkan bedasarkan atribut yang mendasarinya.1981. Semantics. Misalnya. Semantik Bahasa Indonesia. Stephen. Rahmat Djoko.com/2010/02/majas figurativelanguage-gaya bahasa.1 tahun 1994. misalnya metonimia dengan relasi tempat. Teori Semantik.Volume I. metonimia berelasi penemu atau pencipta.00 Majas/Figuratif Language/Gaya Bahasa.e-li. Stilistika dalam Buletin Humaniora No. Diksi dan Gaya Bahasa.pdf. 1994. Gorys. dan metonimi berdasarkan perbuatan. diunduh tanggal 23 Maret 2010 jam 11. Chaer. New York: Holt Rinehart and Winston. 1989.Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.orglmain/pdf/pdf-269. John. A Glossary of Literary Terms. 1981. Jakarta: Erlangga.Yogyakarta: Fakultas Sastra UGM. M. Melbourne: Cambridge University Press. Ullmann.2007. Keraf. Yogyakarta: Pustaka Pelajar [1]. Bandung: CV Yrama Widya. Yayat. Diadaptasi oleh Sumarsono menjadi Pengantar Semantik.1977. “rokok kretek” dikatakan “belikan saya kretek”. http://www.html.Makna dalam Wacana. Semantics.yang melekat pada objek atau perbuatan yang bersangkutan. 1977.1994. Palmer.

pada bahagian lain dalam karya yang sama. Dipercayai bahawa orang yang pertama cuba mentakrifkan makna „metafora‟ atau „isti‘ārah’ (bahasa Arab) ialah Aristotle iaitu lebih kurang 2. Metafora biasanya dilihat sebagai karakteristik bahasa sahaja iaitu sebagai suatu perkataan dan bukannya sebagai alat pemikiran atau perbuatan. Dalam karyanya Poetika. Ketiga metafora dibentuk daripada persamaan antara dua benda.300 tahun dahulu. pada asasnya. penggunaan metafora didasari oleh skema imej. Pertama. Oleh itu. Kedua. . umumnya metafora dilihat sebagai satu alat yang menggambarkan imaginasi puitis. melalui metafora manusia cuba melihat sesuatu berdasarkan sesuatu yang lain. Perkembangan Metafora. metafora berlaku di peringkat perkataan dan tidak di peringkat ayat. METAFORA Perkataan Metafora dikatakan berasal daripada perkataan Greek. objek yang kedua dituturkan atau diaplikasikan seolah-olah ia berada pada kedudukan objek yang pertama. pemikiran dan tindakan manusia. Oleh itu metafora merujuk kepada satu set proses linguistik di mana sesetengah karakteristik sesuatu subjek „diangkat ke atas‟ atau dipindahkan kepada objek yang lain. Oleh yang demikian. Aristotle menganggap metafora sebagai „penyelewengan‟ atau „deviant‟ daripada bahasa harfiah. pemindahan (makna). atau daripada jenis kepada genusnya. atau daripada jenis kepada jenis. Ini berlaku sama ada dari peringkat genus kepada jenisnya. atau berdasarkan analogi‟. Kaya dengan aspek retorikal dan biasanya juga dianggap sebagai suatu bentuk bahasa yang luar biasa. Menurut John Lakoff dan Mark Johnson ( 1987 ).METAFORA DALAM TEKS UMUM – BERDASARKAN TEORI LAKOFF DISEDIAKAN OLEH :MUHAMMAD ARIF B MAJID – 804933 EZUDDIN B DAUD – 804920 ARZIMI B MOHD ARSHAD – 804918 MOHD NOR AIZAN B PADZIL . manakala pherein bermakna „diangkat‟. Terdapat tiga ciri metafora dalam takrif Aristotle iaitu. Aristotle berkata bahawa „metafora‟ terbentuk apabila sesuatu benda diberi nama (yakni makna) yang dimiliki oleh benda lain. Jelas mereka.804929 PENGENALAN. Lakoff dan Johnson (1980) menegaskan bahawa metafora wujud dalam kehidupan seharian manusia melalui bahasa. iaitu meta bermaksud „atas‟. Kajian Lakoff dan Johnson (1980) memberikan impak yang besar terhadap kajian semantik kognitif khususnya metafora.

“ metafora ialah pemakaian kata-kata yang menyatakan sesuatu makna atau maksud yang lain daripada makna biasa atau makna sebenar perkataan yang berkenaan. Penjenisan metafora Lakoff & Jonhson membahagikan metafora mengikut aspek semantik kognitif seperti berikut :         Kesistematisan konsep metafora. „lembu’ ialah perumpamaan kerana terdapat perkataan „seperti’ sebelum „lembu’. Asas pengalaman dalam metafora. „lembu‟ ialah metafora. pula berpendapat bahawa metafora ialah kiasan yang tidak menggunakan perkataan-perkataan seperti seolah-olah. Keadaan ini secara tidak langsung akan menyembunyikan aspekaspek lain yang terdapat dalam konsep metafora sekaligus menyebabkan seseorang tidak memfokuskan kepada aspek-aspek yang lebih konsisten dalam metafora. Kuala Lumpur.PTS Publisher. Metonomi dan personifikasi Kesistematisan konsep metafora. konsep peribahasa difahami secara berasingan dengan maksud yang diberikan kepadanya oleh masyarakat Melayu mahupun masyarakat bukan Melayu. Menurut Hawkes ( 1986 ). Ekspresi-ekspresi metafora dalam kehidupan seharian adalah bergantung kepada konsep metafora secara sistematik . Kesistematisan metafora dalam menonjolkan atau menyembunyikan sesuatu aspek. bagai dan umpama.[1] [1] Abdullah Hassan & Ainon Mohd. Misalnya. Metafora dan koherensi kebudayaan. macam. Dalam ayat “ Budak itu bodoh seperti lembu ”. seperti. bak. “ Metafora ialah suatu cara untuk mendeskripsikan sesuatu dengan mengatakan bahawa terdapat suatu perkara lain yang mempunyai kualiti terhadap sesuatu yang hendak dijelaskan. . Ini bermakna sesuatu perkataan itu mempunyai makna lain untuk tujuan tertentu. Dalam ayat “ Budak itu lembu ”. Metafora ontologikal. Melaluinya kita boleh mengkaji salasilah dan perkaitan metafora dalam aktiviti kehidupan kita sehari-hari Kesistematisan metafora dalam menonjolkan atau menyembunyikan sesuatu aspek. Menurut Kamus Dewan.DEFINISI Menurut Lakoff & Johnson. metafora melambangkan maksud yang berlainan daripada ekspresi yang diujarkan. Kesistematisan merupakan pemahaman satu aspek dalam sesuatu konsep daripada sudut pemahaman yang berbeza. ibarat. definisi metafora tidak hanya terbatas sekadar bunga-bunga bahasa atau bahasa yang indah tetapi lebih dalam daripada pengertian itu di mana metafora juga menggambarkan sistem konseptual sesuatu bahasa dan kepercayaan terhadap kebudayaan para penutur asli bahasa tersebut. Menurut Lakoff & Johnson. Menurut Asmah Haji Omar (1996).” Abdullah Hassan dan Ainon Mohd. laksana. Metafora berorientasi. seakan-akan. metafora melambangkan maksud yang berlainan daripada ekspresi yang diujarkan. Kamus Peribahasa Kontemporari.

Konsep tersebut secara keseluruhan yang mempunyai kaitan antara satu dengan yang lain.Ekspresi linguistik adalah bekasnya ( container ). William Nagy (1974) telah mengkaji beberapa aspek metafora secara khusus menerusi orientasi ruang iaitu: ATAS – BAWAH.Komunikasi akan menghantarnya. Selain itu. TENGAH – SISI dan lain-lain. personal dan pengalaman serta kebudayaan kita. kita dapat mempertimbangkan beberapa nilai budaya dalam masyarakat. Nilai yang paling penting dalam budaya akan menjadi koheren dengan struktur metafora yang paling utama dalam kebudayaan.Idea atau makna adalah objek. „kesedihan‟ adalah „bawah‟ untuk merepresentasikan setiap satu unsur dapat digantikan dalam bentuk yang lebih mudah difaham Metafora dan koherensi kebudayaan. . Keadaan ini adalah kerana metafora berorientasi mempunyai asas yang kukuh dalam aspek fizikal. Menurut Lakoff & Johnson. . Representasi sedemikian akan menonjolkan bahawa kedua-dua bahagian daripada setiap satu metafora adalah bertalian antara satu sama lain hanya melalui asas pengalaman. Sebagai contoh. Pemerhatian Reddy terhadap bahasa manusia memperlihatkan bahasa dapat distrukturkan kepada tiga aspek metafora yang kompleks iaitu: . Metafora berorientasi Terdapat satu lagi keadaan di mana konsep metafora tersebut tidak hanya menstrukturkan satu konsep sahaja tetapi membentukkan sistem. Peranan yang dimainkan oleh asas pengalaman adalah penting dalam proses untuk memahami metafora yang tidak dapat disatukan kerana setiap satunya mempunyai pengalaman yang berbeza-beza. . penggunaan perkataan „adalah‟ seperti „kebahagiaan‟ adalah „atas‟ . Pengalaman kita dengan objek-objek fizikal telah memberikan suatu input bagi metafora ontologikal. DALAM – LUAR. Metafora berorientasi adalah bersifat tidak arbitrari. DEPAN – BELAKANG. Asas pengalaman dalam metafora Salah satu cara untuk menonjolkan pengasingan metafora daripada asas pengalamannya adalah dengan membina suatu diagram yang menunjukkan hubungan yang kompleks di antara kedua-duanya. Konsep ini disebut sebagai metafora berorientasi memandangkan ianya berkaitan dengan orientasi ruang seperti: ATAS – BAWAH. (biasanya ditandakan sebagai BAIK dan TIDAK BAIK) yang koheren dengan ruang orientasi metafora ATAS–BAWAH dengan bahagian berlawanan mana yang tidak sesuai mengikut sesuatu kebudayaan.Lakoff & Johnson menerangkan bagaimana metafora dapat menonjolkan atau menyembunyikan sesuatu pengalaman hidup kita dengan menggunakan metafora saluran ( conduit metaphor ) yang diperkenalkan oleh Michael Reddy. Metafora ontologikal. BUKA – TUTUP.

Lakoff 1987.Ia meliputi cara untuk memerhatikan sesuatu aspek atau perkara. „Adat‟ merupakan suatu amalan yang dilakukan oleh manusia dalam sesuatu komuniti. „Pagar‟ merupakan suatu objek tidak bernyawa yang diberikan sifat perorangan di mana pagar di sini dikatakan berupaya untuk melakukan aktiviti yang dilakukan oleh manusia untuk meneruskan hidup seperti „makan‟ sewaktu perut berasa lapar. tingkahlaku dan aktiviti-aktiviti manusia. . emosi dan idea yang berkaitan dengan entiti dan bahan-bahan. „adat‟ di sini diberikan sifat perorangan di mana adat dikatakan boleh mengalami proses „mati‟ sepertimana objek bernyawa yang lain. metonimi pula memegang fungsi rujukan di mana ia membolehkan kita menggunakan satu entiti untuk „berdiri di atas‟ satu entiti yang lain. Adat bukanlah merupakan suatu objek namun ia merupakan suatu kegiatan manusia yang bersifat subjektif. aktiviti. Personifikasi Metafora ontologikal yang paling ketara dapat dilihat pada objek fizikal yang diberikan sifat perorangan. Keadaan ini menyebabkan kita memahami sesuatu pengalaman dengan entiti bukan manusia dari sudut motivasi. pagar makan padi. Merupakan kesinambungan daripada kajian-kajian yang dijalankan oleh ahli-ahli falsafah dan linguistik tradisional mengenai teori kognitif dalam metafora. Metafora ontologikal terdiri daripada pelbagai tujuan dan pelbagai jenis metafora yang menggambarkan tujuan-tujuan tersebut Metonomi Metonimi adalah suatu aspek yang menggunakan satu entiti untuk merujuk kepada entiti lain yang berkaitan dengannya. agama Islam dilambangkan dengan bulan sabit. 1993) . metafora dan metonimi merupakan dua aspek yang sistematik dan mempunyai tujuan yang sama tetapi metonimi memerlukan pemfokusan yang lebih spesifik kepada aspek yang dirujuk. Oleh itu. Oleh itu. Manakala. bila mana kita melihat bulan sabit maka kita akan merujuknya sebagai simbol Islamik. Selain itu kemunculan teori kognitif dalam bidang linguistik juga merupakan suatu pendekatan ke arah pengkajian metafora dari aspek pemikiran dan konseptual. Metafora dan metonimi mengalami dua proses yang berbeza di mana metafora adalah suatu cara untuk memikirkan sesuatu perkara dari sudut suatu perkara yang lain dan fungsi utamanya adalah untuk memahami. Sumbangan terhadap teori metafora oleh Lakoff & Jonhson (Lakoff & Jonhson 1980. Walau bagaimanapun. Contoh ini dapat kita lihat melalui beberapa data peribahasa yang telah dipilih: Harapkan pagar. Misalnya. Biar mati anak. jangan mati adat.

Lakoff telah mencari jawapan yang lebih jitu bagi beberapa persoalan yang biasa dikemukakan oleh para pengkaji semantik kognitif . Proses pemikiran atau penaakulan metaforikal ini didorong oleh mekanisme kognitif yang dinamakan metafora konsepsi. Metafora konsepsi ini memetakan secara skematik dan umum sesuatu yang abstrak (seperti negara bangsa) kepada satu domain yang konkrit. Sains kognitif adalah bidang baru yang menyatukan apa yang difahami oleh minda. kesistematisan metafora dalam menonjolkan atau menyembunyikan sesuatu aspek. metafora ontologikal. Lakoff cuba menghuraikan pemerhatian beliau dengan mengkaji bahasa yang digunakan seharian untuk berbincang tentang pelbagai perkara. asas sistem pengkonsepsian manusia adalah bercorak metaforikal. metonimi dan personifikasi. linguistik. 3. asas pengalaman dalam metafora. Beliau membuat kesimpulan bahawa bahasa metaforikal adalah lebih kerap dan lazim dalam penggunaan seharian dan manusia memahami yang abstrak hanya melalui yang konkrit. Semantik kognitif mencungkil jawapan yang terperinci. Sebagai tindakan susulan. Lakoff & Jonhson telah cuba untuk membuktikan bahawa metafora bukanlah bersifat arbitrari atau sewenang-wenangnya . bagaimanakah kita merealisasikan pengalaman. bagaimanakah sistem ini diatur dan lain – lain. kesistematisan konsep metafora 2. falsafah dan sains perkomputeran. 6. Pemikiran secara bukan-metaforikal hanyalah berlaku apabila kita bercakap tentang alam fizikal semata-mata. Menurut Lakoff. and Dangerous Things’.Mekanisme kognitif ini terkandung dalam kajian Lakoff & Jonhson melalui „Methapors We Live By‟ Meliputi aspek semantik kognitif seperti 1. apakah yang dimaksudkan dengan sistem konseptual. . metafora beroreantasi. Pembinaan makna dan representasi semantik dalam bahasa harian adalah berasaskan kepada sistem pemetaan in yang membentuk satu sistem metafora konsepsi. Menurut Lakoff & Johnson dalam kajian beliau yang bertajuk Women. metafora dan koherensi kebudayaan. Metafora melibatkan suatu fenomena yang berlaku secara alamiah di mana melibatkan sistem kognisi atau minda manusia. Fire. Daripada pelbagai disiplin akademik yang terdiri daripada psikologi. 5. 4. . Di antara persoalan-persoalan seperti –     apakah yang dimaksudkan dengan sebab atau alasan. Bagi mengukuhkan lagi hujah beliau bahawa metafora sememangnya menjelajahi aspek kognitif seseorang. antropologi.

Metafora adalah cara yang berkesan untuk menyampaikan sesuatu.Lakoff (1987)Dalam linguistik kognitif. TERATAI Kepada Ki Hajar Dewantara Dalam kebun tanah airku Tumbuh sekuntum bunga teratai. Daya bayang dapat penulis ciptakan dengan menempuh beberapa cara yang di antaranya (1) penggunaan kata-kata kias. Medium pengucapan maksud yang hendak disampaikan penyair adalah bahasa. Pemilihan kata dilakukan untuk mendapatkan kata yang tepat berdasarkan seleksi bentuk.  Struktur Fisik Puisi Struktur fisik puisi atau struktur kebahasaan puisi disebut juga metode puisi. puisi tidak hanya digunakan sebagai sarana memberitahukan apa yang dialami atau dirasakan penulis saja. dan mendengar segala sesuatu yang didengar oleh penulis. metafora konsepsi membolehkan kita memahami satu domain konsepsi dalam satu domain konsepsi yang lain. sikap dan nilai masyarakat. seperti metafora. dan rangkaian kata. Penerimaan berkait dengan pengalaman bahasa dan ia bersifat realtif Unsur Puisi Puisi merupakan hasil kepaduan beberapa unsur penyusun yang membuat karya tersebut disebut puisi. Kekuatan sebuah puisi terletak pada kata-kata yang digunakan. sinonim. Dengan daya bayang. • Diksi Diksi atau pilihan kata adalah pemilihan kata oleh penulis untuk menyatakan maksud (Keraf dalam Wahyudi 1989: 242). Kata kias yang digunakan memiliki pengaruh yang amat kuat karena di balik kata-kata itu terkandung makna yang jelas yang gampang ditangkap oleh pancaindra. Tersembunyi kembang indah permai. dan (3) penggunaan pigura-pigura bahasa. (2) penggunaan lambang-lambang. Tak terlihat orang yang lalu. Maka dari itu pilihan kata dalam puisi harus benar-benar kata yang mewakili apa yang dirasakan oleh penulisnya agar pembaca dapat merasakan apa yang dirasakan oleh penulis puisi tersebut. Menurut Waluyo (1991:4) puisi dibangun oleh dua unsur pokok yaitu: struktur fisik yang berupa bahasa. Penggunaanya berkait rapat dengan kepercayaan . personifikasi. dan struktur batin atau struktur makna. Satu domain konsepsi merupakan satu struktur pengalaman dan pengetahuan yang koheren. Kesimpulan. Chairil Anwar Penggunaan kata-kata kias dalam puisi”Aku” terlihat pada “Aku ini binatang jalang” yang bermaksud “pemberontak” dan “Dari kumpulanya terbuang” untuk mengiaskan “tidak mau mengikuti aturan umum”. . Keberhasilan sebuah puisi pun terletak pada pilihan kata yang digunakan. • Pengimajian Pengimajian atau daya bayang adalah kemampuan menciptakan citra atau bayangan dalam benak pembaca. melihat apa yang dilihat. AKU Aku ini binatang jalang Dari kumpulanya terbuang ……………………………. Contoh daya bayang dalam puisi. Kata-kata dalam puisi memiliki peranan yang sangat besar. metonimia. melainkan juga sebagai alat merasakan apa yang dirasakan. dan sebagainya..

seumpama. yakni (1) pars pro toto. (6) citraan pikiran/intelektual. membuat hidup (lebih hidup) gambaran dalam pikiran dan pengindraan. ialah penggunaan sebuah atribut dari suatu objek atau penggunaan sesuatu yang sangat dekat berhubungan dengannya untuk menggantikan objek tersebut. serupa. (7) citraan gerak. Metonimi juga sering disebut dengan bahasa kiasan pengganti nama. atau cepat dan lambatnya kata atau baris-baris suatu puisi bila puisi tersebut dibaca. 5. yaitu simile. dihasilkan dengan cara menghidupkan dan memvisualkan sesuatu hal yang tidak bergerak menjadi bergerak (Jabrohim dkk 2003:39). laksana. Epik-simile Epik simile atau perumpamaan epos ialah pembandingan yang dilanjutkan atau diperpanjang. Pencapaian arti atau efek tertentu tergantung jenis kiasan yang digunakan. sebagai. ialah perumpamaan yang dilanjutkan atau diperpanjang. (2) citraan pendengaran yang dihasilkan dengan menyebutkan atau menguraikan bunyi suara atau berupa onomatope dan persajakan yang berturut-turut. panjang pendek. yakni pengertian turun naik. Contoh: “awan pun terdiam”. • Versifikasi atau Rima dan Irama Bunyi dalam puisi menghasilkan versifikasi atau ritma dan rima. 4. Personifikasi Menurut Baribin (1990:50) personifikasi ialah mempersamakan benda dengan manusia.. metonimi. 3. menimbulkan suasana khusus. Simile Simile adalah jenis bahasa figuratif yang menyamakan satu hal dengan hal lain yang sesungguhnya tidak sama (Jabrohim dkk 2003:44). (3) citraan penciuman. yaitu sebagian untuk keseluruhan. Untuk melukiskan kedukaannya. • Bahasa Figuratif atau Kiasan Bahasa figuratif pada dasarnya adalah bentuk penyimpangan dari bahasa normatif. dan sebagainya. (4) citraan pencecapan. 6. epiksimile. yaitu (1) citraan penglihatan. Secara umum ritma dikenal sebagai irama atau wirama. untuk melukiskan dunia pengemis yang penuh kemayan. sepantun. penyair menulis: Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan/gembira dari kemayaan ruang. yang dihasilkan dengan memberi rangsangan indra penglihatan sehingga hal-hal yang tidak terlihat seolah-olah kelihatan. Menurut Baribin (1990:50) sinekdoki ada dua macam. • Kata Konkret Menurut Jabrohim dkk (2003:41) kata konkret adalah kata-kata yang digunakan oleh penyair untuk menggambarkan suatu lukisan keadaan atau suasana batin dengan maksud untuk membangkitkan imaji pembaca. Pradopo (dalam Jabrohim dkk 2003:44) mengelompokkan bahasa figuratif menjadi enam jenis. Sanusi Pane Puisi “ Teratai” tersebut adalah contoh penggunaan lambang dalam penulisan puisi. yakni citraan yang berupa rangsangan-rangsangan kepada perasaan atau sentuhan. Sebagai contoh yang diungkapkan oleh Jabrohim. Metonimi Metonimi adalah pemindahan istilah atau nama suatu hal atau benda ke suatu hal atau benda lainnya yang mempunyai kaitan rapat (Jabrohim dkk 2003:51). penyair menulis: bulan di atas itu tak ada yang punya/kotaku hidupnya tak punya tanda. untuk memberikan kesan mental. seperti. menerima kutukan . Contoh pars pro toto: “Tidakkah siapapun lahir kembali di detik begini” dan “hatimu yang mendengar semesta dunia”. dan memberikan bayangan angan yang konkret. berperan menjadi lebih jelas. metefora. Contoh totum pro parte: “Sampai engkau bangkit dan seluruh pulau mendengarkan”. yang dihasilkan dengan memberi rangsangan indra penglihatan. 1. Misalnya: “senja kian berlalu”. yakni citraan yang dihasilkan oleh asosiasi pikiran. Rima adalah istilah lain dari persajakan atau persamaan bunyi. di mana Sabai dilahirkan Di mana Malin.Akarnya tumbuh di hati dunia. sedangkan irama sering juga disebut dengan ritme atau tinggi rendah. (2) totum pro parte: keseluruhan untuk sebagian. personifikasi. Metafora Metafora adalah bentuk bahasa figuratif yang memperbandingkan sesuatu hal dengan hal lainnya yang pada dasarnya tidak serupa (Jabrohim dkk 2003:45). Contoh: “Tidurlah bocah di atas bumi yang tak tidur. baik dari segi makna maupun rangkaian katanya. untuk menarik perhatian. sinekdoks. Bunga teratai yang menjadi ibarat dari Ki Hajar Dewantara (Suharianto: 2005). panjang pendek. keras lembut. dan allegori. (5) citraan rabaan. Sinekdoki Sinekdoki adalah bahasa figuratif yang menyebutkan suatu bagian penting dari suatu benda atau hal untuk benda atau hal itu sendiri (Jabrohim dkk 2003: 52). 2. keras lembut ucapan bunyi bahasa dengan teratur (Jabrohim dkk 2003: 53). Menurut Baribin (1990:49) simile epik. Pengimajian digunakan untuk memberi gambaran yang jelas. Menurut Alternbornd (dalam Baribin 1990:50) metonimia. Pencitraan atau pengimajian dapat dikelompokkan menjadi tujuh macam. Rima dan irama ini memiliki peran yang sangat penting karena keduanya sangat berkaitan dengan nada dan suasana puisi (Suharianto 2005: 45-49). ……………………………………………. Menurut Jabrohim dkk (2003:36) hal-hal yang berkaitan dengan citra ataupun citraan disebut pencitraan atau pengimajian. hal ini menyebabkan lukisan menjadi hidup. Senja artinya maut atau kesusahan. Contoh penggunaan rima dan irama dalam puisi: MINANG Inilah tanah. dan bertujuan untuk mencapai arti dan efek tertentu (Jabrohim dkk 2003:42). yaitu dibentuk dengan cara melanjutkan sifat-sifat perbandingan lebih lanjut dalam kalimat-kalimat atau frase-frase yang berturut-turut (Jabrohim dkk 2003:49). si Durhaka. bak. atau bayangan visual penyair menggunakan gambarangambaran angan. Sebagai sarana dalam upaya menyamakan hal yang berlainan tersebut simile menggunakan kata-kata pembanding seperti: bagai.

rima horisontal (terdapat pada baris yang sama). • Nada dan Suasana Sikap penyair kepada pembaca disebut nada puisi. dan suasana puisi. perasaan. dan sebagainya (Waluyo 2009:37). Amanat dapat ditemukan setelah mengetahui tema. filosofis. Berdasarkan letak dalam kata. (Hartoyo Andang jaya) Dari contoh puisi tersebut terlihat bagaimana rima dan irama merupakan unsur yang sangat berperan dalam menghidupkan suatu puisi. Menurut Waluyo (2003:17) tema adalah gagasan pokok (subject-matter) yang dikemukakan penyair melalui puisinya. antipati.  Struktur Batin Puisi Menurut Waluyo dalam Jabrohim dkk (2003:65) struktur batin mencakup tema. sedangkan amanat berkaitan dengan makna karya sastra (Jabrohim dkk 2003:67). Berdasarkan jenisnya. senang. Amanat berbeda dengan tema. rima sempurna (salah satu suku katanya sama). terbagi atas asonansi (rima karena persamaan vokal) dan aliterasi (rima karena persamaan konsonan). objektif. dan umum. perasaan penyair. • Perasaan (Feeling) Feeling adalah sikap penyair terhadap pokok pikiran yang ditampilkannya (Aminuddin 2002:150). Peranan tipografi dalam puisi adalah untuk menampilkan aspek artistik visual dan untuk menciptakan nuansa makna tertentu. • Tipografi Tipografi adalah cara penulisan suatu puisi sehingga menampilkan bentuk-bentuk tertentu yang dapat diamati secara visual (Aminuddin 2002: 146). rima terbagi atas rima awal (terdapat pada awal baris). dan sebagainya. • Amanat Amanat atau tujuan adalah hal yang mendorong penyair untuk menciptakan puisinya. kharismatik. patriotik.ItemReviewed: Unsur-Unsur Puisi . rima tengah. Berdasarkan letaknya dalam baris. Dengan rima dan irama yang terdapat dalam puisi tersebut. mencemooh. Dalam puisi. serius (sungguh-sungguh). tidak senang. Ada puisi yang bernada sinis. dan rima tak sempurna (bila dalam salah satu suku kata hanya vokal atau konsonan saja yang sama). tipografi juga berperan untuk menunjukan adanya loncatan gagasan serta memperjelas adanya satuan-satuan makna tertentu yang ingin dikemukakan penyair. Nada mengungkapkan sikap penyair. rindu. 2. nada dan suasana yang hendak digambarkan penyair menjadi lebih nyata dan lebih mudah dibayangkan oleh pembacanya. memberontak. rima dibedakan atas tiga macam: 1. khusyuk. nada. rima terbagi atas rima mutlak (seluruh vokal dan konsonan sama). protes. Cara pembaca menyimpulkan amanat puisi sangat berkaitan dengan pandangan pembaca terhadap suatu hal. mainmain. 3. dari sikap itu terciptalah suasana puisi. nada atau sikap penyair terhadap pembaca. menggurui. objektif dan khusus. Sedangkan menurut Waluyo (2003:40) amanat. misalnya sikap simpati. sedangkan makna puisi bersifat kias. Selain itu. dan rima vertikal (terdapat pada baris yang berlainan). Amanat yang hendak disampaikan oleh penyair mungkin secara sadar berada dalam pikiran penyair. dan amanat. namun lebih banyak penyair tidak sadar akan amanat yang diberikan (Jabrohim dkk 2003:67).di mana kaba ialah sebagian dari kehidupan dan beragam pantun mengalun dalam kesunyian Sepi di sini sepi batu dan sepi gunung Sepi hutan-hutan hijau melingkung padang-padang lalang sejauh mata merenung di atasnya mengambang rawan suara lesung ……………………………………………. • Tema Tema adalah sesuatu yang menjadi pikiran pengarang (Jabrohim dkk 2003:65). Berdasarkan bunyinya. pesan atau nasehat merupakan kesan yang ditangkap pembaca setelah membaca puisi. tema berkaitan dengan arti. Semua karya terkhusus karya sastra pasti memiliki tema yang merupakan pokok permasalahan yang diangkat dalam menulis karya sastra itu. Description: Unsur-Unsur PuisiRating: 5Reviewer: Saefu Zaman . Sikap tersebut adalah sikap yang ditampilkan dari perasaan penyair. Tipografi merupakan bentuk fisik atau penyusunan baris-baris dalam puisi. Arti dalam puisi bersifat lugas. belas kasih (memelas). sedangkan keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi atau akibat yang ditimbulkan puisi terhadap perasaan pembaca disebut suasana. rasa benci.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful