MEMAHAMI PERBEDAAN BUDAYA MELALUI KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA Oleh: Arkanudin Budaya seseorang akan tercermin dalam berkomunikasi

dengan orang lain. Karena itu, komunikasi akan berlangsung damai apabila masing-masing komunikan memiliki pengertian yang mendalam tentang latar budaya masing-masing. Ada banyak hal yang dapat dipelajari diantaranya persepsi, serta bentuk-bentuk komunikasi baik verbal maupun nonverval. Kata Kunci: Perbedaan budaya, komunikasi, antarbudaya PENDAHULUAN Setiap hari dimanapun kita berada tidak bisa terlepas dari komunkasi. Namun dalam melakukan komunikasi tidak setiap orang terampil melakukannya dengan efektif. Hal ini terlebih lagi bila orang yang terlibat dalam komunikasi itu berbeda budaya, kesalahan dalam memahami pesan, perilaku atau peristiwa komunikasi tidak bisa dihindari. (Khotimah, 2000:47). Kesalahan ini dapat smenyebabkan terjadinya suasana yang tidak diharapkan bahkan dapat menimbul pertikaian yang menjurus munculnya konflik sosial. Budaya yang dimiliki seseorang sangat menentukan bagaimana cara kita berkomunikasi, artinya cara seseorang dalam berkomunikasi dengan orang lain apakah dengan orang yang sama budaya maupun dengan orang yang berbeda budaya, karakter budaya yang sudah tertanam sejak kecil sulit untuk dihilangkan, karena budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi (Tubbs-Sylvia Moss, 1996:237). Dengan demikian konstruksi budaya yang dimiliki oleh seseorang itu, diperoleh sejak masih bayi sampai ke liang lahat, dan ini sangat mempengaruhi cara berpikir, berperilaku orang yang bersangkutan dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang yang berbeda budaya. Bahkan benturan persepsi antar budaya sering kita alami sehari-hari, dan bilamana akibatnya fatal kita cenderung menganggap orang yang berbeda budaya tersebut salah, aneh tidak mengerti maksud kita. Hal ini terjadi karena, kita cenderung memandang perilaku orang lain dalam konteks latar belakang kita sendiri dan karena bersifat subyektif. Untuk menghindari kesalahpahaman sehingga tidak menimbulkan benturan persepsi antarbudaya diantara orang yang berbeda budaya, maka kita dituntut secara obyektif untuk mengenali perbedaan dan keunikan budaya sendiri dan orang lain dengan mempelajari berbagai karakteristik budaya, diantaranya yaitu: (1) komunikasi dan budaya; (2) penampilan dan pakaian; (3) makanan dan kebiasaan makan; (4) waktu dan kesadaran waktu (5) penghargaan dan pengakuan; (6) nilai, dan norma; (7) rasa diri dan ruang; (8) proses mental dan belajar, dan; (9) kepercayaan dan sikap (Khotimah, 2000:52). Sementara itu menurut Mulyana (2003:34) bahwa untuk menghindari kesalahpahaman dalam melakukan komunikasi dengan orang yang berbeda budaya, kita harus menjadi komunikator yang efektif, karena hubungan dalam konteks apapun harus dilakukan lewat komunikasi. Lebih lanjut dijelaskan oleh Mulyana (2003) untuk menjadi komunikator yang efektif, seseorang harus memahami proses komunikasi dan prinsip-prinsip dasar komunikasi yang efektif. Menurut Mulyana (2002:36) bahwa untuk mencapai komunikasi yang efektif, khususnya dengan orang yang berbeda budaya yang harus kita lakukan adalah: (1) kita harus selalu menunda penilaian kita atas pandangan dan perilaku orang lain, karena penilaian kita tersebut seringkali bersifat subyektif, dalam spengertian berdasarkan persepsi kita sendiri yang dipengaruhi oleh budaya kita atau dengan kata lain, jangan biarkan stereotif menjebak dan menyesatkan kita ketika kita berkomunikasi dengan orang lain; (2) kita harus berempati

misalnya derajat pengetahuan. Sementara itu menurut Dodd (1991:5) bahwa komunikasi antarbudaya meliputi komunikasi yang melibatkan peserta komunikasi yang mewakili pribadi. perilaku. antarpribadi. perilaku. Pesan itu sama dengan simbol budaya masyarakat yang melingkupi suatu pribadi tertentu ketika ia berkomunikasi antarbudaya. tingkat pendidikan. sebagaimana yang diungkapkan oleh Somavar dan Porter (1991:10). 2000:48) dengan tegas menyatakan bahwa “culture is communication and is cultur”. Hal ini disebabkan ketika kita berkomunikasi dengan seseorang dari kebudayaan yang berbeda. tindakan pribadi melainkan simbol dari masyarakatnya. Godykunts dan Yun Kim (1992:3) menyebut bahwa “ more than one hundred defenition of the term have been sugeested”. 2001:45) juga mengemukakan bahwa selain memandang kedudukan komunikator dan komunikan maka terhadap faktor lain yaitu pesan. berusaha menempatkan diri kita pada posisinya. derajat kesulitan dalam peramalan. Sedangkan menurut Liliweri (2003:9) komunikasi antarbudaya adalah proses pengalihan pesan yang dilakukan seseorang melalui saluran tertentu kepada orang lain yang keduanya berasal dari latar belakang budaya yang berbeda dan menghasilkan efek tertentu. Pesan dalam komunikasi antar budaya merupakan simbol-simbol yang di dalamnya terkandung karakteristik komunikator yang terdengar atau terlihat dalam pengalaman proses komunikasi antar pribadi di antara mereka yang berbeda etniknya. Bahkan Edward T Hall (dalam Khotimah. status sosial. suku. (4) kita harus menguasai setidaknya bahasa verbal dan nonverbal dan sistem nilai yang mereka anut. Tapi yang jelas menurut William B. Komunikasi antar budaya adalah komunikasi antara orang-orang yang berbeda budaya (baik dalam arti ras. Berdasar pendapat yang dikemukakan oleh Mulyana dan Liliweri tersebut memberi pemahaman bahwa komunikasi antar budaya terjadi antara orang-orang yang berbeda budaya. 2001:v). derajat ambiguitas. etnik. (3) kita dituntut untuk selalu tertarik kepada orang lain sebagai individu yang unik. . ras. KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA Berbicara masalah komunikasi antar budaya tidak dapat pisahkan dari pengertian kebudayaan (budaya). bahasa. atau perbedaan-perbedaan sosioekonomi)(Mulyana. agama. dan kelompok. Pesan ditujukan dalam perilaku komunikasi antar budaya bukan sekedar pesan karena pengaruh folkways pribadi tetapi pengaruh folkways masyarakatnya. kebingungan. Dengan demikian sikap. Bahkan untuk merumuskan budaya saja. dengan tekanan pada perbedaan latar belakang kebudayaan yang mempengaruhi perilaku komunikasi para peserta. yang menyatakan bahwa “ to understands intercultural interaction one must first understand human communication” Dalam hal komunikasi antar budaya Fisher (dalam Mulyana dan Rakhmad. atau dengan kata lain di antara para ahli komunikasi belum ada keseragaman. jadi harus ada jaminan terhadap akurasi interpretasi pesan-pesan verbal maupun nonverbal. suasana misterius yang tak dapat dijelaskan. atau bahkan jenis kelamin. 2003:8) menyatakan bahwa studi komunikasi antar budaya dapat diartikan sebagai studi yang menekankan pada efek kebudayaan terhadap komunikasi. Dalam konunikasi antarbudaya menurut Liliweri (2003:12) semakin besar derajat perbedaan antarbudaya maka semakin besar pula kehilangan peluang untuk merumuskan suatu tingkat kepastian sebuah komunikasi yang efektif. Sementara komunikasi itu sendiri begitu beragam dan kontroversi dalam pendefenisiannya. maka kita memiliki pula perbedaan dalam sejumlah hal. Komunikasi dan kebudayaan tidak hanya sekedar dua kata tetapi dua konsep yang tidak bisa dipisahkan. agama atau sosial tertentu. tindakan seseorang dalam komunikasi antar budaya bukan merupakan sikap. bukan sebagai anggota dari suatu kategori rasial. serta berkaitan erat dengan komunikasi insani (human communication). Gunakan sapaan yang layak sesuai dengan budayanya. Hart II (dalam Liliweri.dengan mitra komunikasi kita.

menggunakan istilah komunikasi antarbudaya secara luas untuk mencakup semua bentuk komunikasi di antara orang-orang yang berasal dari kelompok yang berbeda selain juga secara sempit yang mencakup bidang komunikasi antar kultur yang berbeda. . Ketiga elemen ini merupakan bangunan dasar yang menyebabkan kegagalan. (b) persepsi bersifat selektif. Ilustrasi berikut ini memperjelas prinsip ini. komunikasi verbal. dan komunikasi nonverbal. Persepsi sosial tidaklah sesederhana persepsi terhadap lingkungan fisik. Setiap orang akan memiliki gambaran yang berbeda mengenai realitas di sekelilingnya. yaitu: (a) persepsi berdasar pengalaman. (2) Komunikasi antarras yang berbeda (kadang-kadang dinamaka komunikasi antarras). (4) Komunikasi antar kelompok agama yang berbeda – misalnya. objek. atau kejadian dan reaksi mereka terhadap hal-hal itu berdasarkan pengalaman/pembelajaran masa lalu mereka berkaitan dengan orang. suami ideal. yaitu persepsi. dan (4) komunikator lintas budaya yang kompeten harus belajar menyenangi hidup bersama orang dari budaya lain. Karena itulah menurut Schraman (dalam Mulyana dan Rakhmat.tidak bermanfaat bahkan tidak bersahabat. Selanjutnya DeVito (1997:480-481). . Ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan dalam memahami kominikasi antarbudaya.misalnya. (2) menghormati budaya lain sebagaimana apa adanya dan bukan sebagaimana yang dikehendaki. Persepsi sosial. Dari berbagai uraian itu. (3) Komunikasi antar kelompok etnis yang berbeda )kadangkadang dinamakan komunikasi antar etnis) – misalnya. sebagai berikut: (1) Komunikasi antarbudaya – misalnya. antara Amerika Serikat dan Meksiko. sekaligus keberhasilan komunikasi antar budaya. antara orang kulit putih dangan orang kulit hitam. pekerjaan. sekolah. garpu dan pisau akan menganggap orang Timur yang makan dengan tangan sebagai hal jorok. antara kaum homeseks dan kaum heteroseks. yaitu: (1) menghormati anggota budaya lain sebagai manusia. atau antara Perancis dan Italia. antara orang katolik Roma dengan Epsikop. dapat memberi pemahaman bahwa orang-orang yang dipengaruhi kultur dan subkultur yang berbeda akan berkomunikasi secara berbeda. antar orang Cina dan Portugis. (3) menghormati hak anggota budaya lain untuk bertindak berbeda dari cara bertindak. Perbedaan kultur dan subkultur menjadi sumber untuk memperkaya pengalaman komunikasi dan bukan sebagai penghambat dalam interaksi. yang muncul dalam komunikasi mengandung beberapa prinsip penting (Mulyana. antara orang Amerika keturunan Italia dengan orang Amerika keturunan Jerman. cara berpakaian yang lazim dan lain sebagainya sangat tergantung pada apa yang telah di ajarkan oleh budaya dimana orang tersebut berada. Cara seseorang menilai wanita ideal. dan (e) persepsi bersifat kontekstual. (6) Komunikasi antara subkultur yang berbeda dan kultur yang dominanmisalnya. untuk mencapai komunikasi antarbudaya yang benar-benar efektif ada beberapa hal yang harus kita perhatikan.misalnya. 1. (d) persepsi bersifat evaluatif. (5) Komunikasi antara bangsa yang berbeda (kadang-kadang dinamakan komunikasi internasional). Untuk itu perlu memahami dan menghargai perbedeanperbedaan tersebut. (7) Komunikasi antara jenis kelamin yang berbeda – antara pria dan wanita. (c) persepsi bersifat dugaan. perilaku yang pantas. atau antara kaum manula dan kaum muda. a. atau antara orang Perancis dan Norwegia. objek atau kejadian serupa. atau antara orang Islam dan orang Yahudi. Persepsi berdasarkan pengalaman Persepsi manusia terhadap seseorang. 2003:176). Orang Barat yang terbiasa makan dengan sendok. Persepsi Persepsi adalah proses mengungkap arti objek-objek sosial dan kejadian-kejadian yang kita alami dalam lingkungan kita. 2001:6-7). meskipun alat-alat makan yang mereka gunakan sudah sering digunakan orang lain.

mobil baru yang dibawanya. kurus. Cina. Namun kita telah berulangkali melihat pesawat terbang di angkasa yang menunjukkan bahwa setidaknya . faktor fisiologis (tinggi. bagi orang Jawa dinilai kurang begitu sopan. Pun kita cenderung memperhatikan sesuatu yang baru misalnya baju baru yang dipakainya. lelah. intensitas. Faktor internal antara lain dipengaruhi oleh faktor biologis (lapar. wanita berbikini di antara wanita-wanita lain yang berpakaian lebih sopan di pantai. b. Dalam pada itu. sakit. yakni atribut-atribut objek yang dipersepsi seperti gerakan. Persepsi Bersifat Dugaan Data yang diperoleh mengenai objek lewat penginderaan tidak pernah lengkap. Proses ini menyebabkan orang menafsirkan suatu objek lebih lengkap. penghasilan. semakin besar perbedaan persepsi mereka mengenai realitas. orang berkulit hitam di antara orang-orang yang berkulit putih. kebiasaan dan bahkan faktorfaktor psikologis seperti kemauan.semantara orang Timur yang makan yang selalu menggunakan tangannya sendiri yang belum pernah digunakan orang lain. Sumatera. Demikian juga dengan hal kebaruan merupakan suatu unsur objek yang menimbulkan perhatian. akan lebih mendorong untuk membeli barang yang di iklankan. c. Untunglah ada atensi pada manusia. yang tubuhnya paling gemuk. penglihatan atau pendengaran kurang sempurna. Persepsi Bersifat Selektif Setiap saat seseorang akan diberondongi oleh jutawan rangsangan inderawi. haus dan sebagainya). namun beberapa kultur seperti orang Sulawesi. dan Fiji. Misalnya kita lebih menyenangi televisi sebagai gambar bergerak dari pada komik sebagai gambar diam. motivasi. pendek. Kalimantan adalah sebuah kewajaran. pengharapan dan sebagainya. juga di Aceh dan Sumatera Barat. dan (2) faktor eksternal. pemuda yang sebelah telinganya beranting di antara teman-temannya yang tidak berpenampilan demikian. Demikian juga dalam berbicara dengan intonasi yang tinggi. bersendawa ketika atau setelah makan adalah perilaku yang tidak sopan. seringkali menyebabkan persepsi merupakan loncatan langsung pada kesimpulan. peranan. Misalnya kita melihat sebuah pesawat terbang di angkasa. Ada dua faktor yang mempengaruhi atensi ini. sehat. Suatu obyek yang bergerak lebih menarik perhatian dari pada objek yang diam. kontras. sehingga orang hanya akan menangkap rangsangan-rangsangan yang menarik perhatiannya saja. tampak jelas ketika kita melihat seorang mahsiswa baru yang lebih menarik perhatian dari pada mahasiswa lama yang sudah dikenal. juga sebagian besar wilayah Indonesia. terhadap orang atau objek yang penampilannya lain dari pada yang lain (kontras). sementara di Arab. seorang wanita yang berjilbab. cacat tubuh dan sebagainya). bahkan di Swedia seorang tamu yang bersendawa seusai makan dapat membuat nyonya rumah pingsan. gemuk. Faktor eksternal yang mempengaruhi orang dalam melakukan persepsi terhadap suatu obyek. bersendawa malah di anjurkan karena hal itu menanamkan penerimaan makanan dan kepuasan makan. pengalaman masa lalu. kita tidak melihat awak pesawat dan penumpangnya. keinginan. Demikian juga dengan suatu rangsangan yang intensitasnya menonjol juga akan menarik perhatian. Jepang. kebaruan. tingkat pendidikan. juga akan menarik perhatian. yang kulitnya hitam. atau yang wajahnya paling cntik akan menarik perhatian kita. dan perulangan objek yang dipersepsi. Semakin besar perbedaan aspek-aspek tersebut secara antar individu. Suatu peristiwa yang selalu berulang-ulang jelas lebih potensial untuk diperhatikan. agama. seseorang yang bersuara paling keras. sehingga memungkinkan untuk mudah mengingat terhadap objek yang menjadi perhatian. yaitu (1) faktor internal. seperti seorang bule. Seperti iklan-iklan sebuah produk yang ditayangkan secara berulang-ulang di televisi. dan faktor-faktor sosial budaya seperti gender. Di Barat umumnya. pekerjaan. status sosial.

kita langsung membayangkan ada sejumlah orang di dalamnya. nilai (values). Sehingga derajat tertentu anggapan itu benar. kita cenderung menilai orang yang periang sebagai orang yang supel dan mudah bergaul. akan tetapi kadang-kadang alat-alat indra dan persepsi kita menipu kita sehingga kita juga ragu seberapa dekat persepsi dengan realitas yang sebenarnya. Dari semua pengaruh yang ada dalam persepsi kita. dan isu-isu filosofis lainnya yang berkaitan dengan kehidupan (Somavar dan Porter. Adam adalah manusia pertama di muka bumi. ada sejumlah mobil dan peralatan kapal seperti skoci dan sebagainya. kehidupan. Nilai biasanya bersumber dari isu filosofis yang lebih besar yang merupakan bagian dari lingkungan budaya. (3) organisasi sosial (social organization). Atau dengan kata lain bahwa dalam mempersepsi suatu objek tidak akan pernah terjadi secara objektif. atau kejadian berdasarkan prinsip kemiripan atau kedekatan dan kelengkapan. yaitu: (1) kepercayaan (beliefs). Persepsi bersifat pribadi dan subyektif. kebaikan. atau kejadian misalnya ketika kita mengisi teka-teki silang (TTS). Jadi nilai bersifat normatif. berdasarkan pandangan mereka yang individualis. estetika. misalnya Tuhan itu Esa. orang Barat lebih mengagung-agungkan privasi dari pada orang-orang Timur. Menurut Andrea I. Pandangan dunia adalah orientasi budaya terhadap Tuhan. Persepsi Bersifat Kontekstual Sutau rangsangan dari luar harus di organisasikan. Konteks yang melingkupi kita ketika dalam melihat suatu kejadian atau objek sangat mempengaruhi struktur kognitif. Rich (dalam Mulyana. dan sebaliknya. dengan atau tanpa bukti. Pandangan dunia mencakup agama dan ideologi. Persepsi Bersifat Evaluatif Kebanyakan orang menjalani hari-hari mereka dengan perasaan bahwa apa yang mereka persepsi adalah nyata. kematian. dan sebagainya. 1991:84). d. (5) orientasi kegiatan (activity orientation). Kepercayaan sifatnya tidak terbatas. Kepercayaan adalah anggapan subjektif bahwa suatu objek atau peristiwa punya ciri atau nilai tertentu. e. kita cenderung mempersepsi suatu rangsangan. dan sikap (attitudes). memberitahu suatu anggota budaya mengenai apa yang baik dan buruk. prinsip ini jelas berlaku. apa yang mesti kita takuti. Demikian juga ketika kita melihat bila ada sebuah kapal laut dari kejauhan. Misalnya bila kita pendiam. Mereka beranggapan bahwa menerima pesan dan menafsirkannya sebagai suatu proses yang alamiah.terdapat awak pesawat yang menerbangkan pesawat itu. (2) pandangan dunia (worldview). (6) persepsi tentang diri dan orang lain (perception of self and others). AID adalah penyakit berbahaya atau kemampuan berbahasa Inggris itu penting untuk meniti karier. siapa yang harus dibela. benar dan salah. Misalnya. konteks merupakan salah satu pengaruh paling kuat. alam semesta. hal ini karena dalam mempersepsi sangat dipengaruhi pengalaman masa lalu dan kepentingan pribadi. dan kepuasan. apa yang harus diperjuangkan. Menurut Somavar dan Porter (1991:106). pengharapan dan oleh karenanya juga persepsi kita. . Nilai adalah komponen evaluatif dari kepercayaan yang mencakup kegunaan. (2) kontekstual dalam arti. kebenaran. materi (kekayaan). karena itu nilai bersifat stabil dan sulit berubah. Persepsi besifat kontekstual ini menggunakan prinsip-prinsip: (1) kontekstual dalam pengertian struktuir objek. (4) tabiat manusia ( human nature). 2003:189) persepsi pada dasarnya mewakili keadaan fisik dan psikologis undividu alih-alih menunjukkan karakteristik dan kualitas mutlak objek yang dipersepsi. Mulyana (2003:197) bahwa ada enam unsur budaya yang secara langsung mempengaruhi persepsi kita ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain.

Orientasi manusia mengenai bagaimana hubungan manusia dengan alam juga mempengaruhi persepsi dalam memperlakukan alam.Berbagai agama dunia punya konsep ketuhanan dan kenabian yang berbeda. atau pada dasarnya jahat. hewan dan tumbuh-tumbuhan. sementara golongan Kristen berpendapat bahwa manusia itu mewarisi dosa Adam dan Hawa. termasuk komunikasi massa. Sebagian kelompok lagi punya pendapat yang berebeda-beda tentang manusia. Kaum muslim misalnya. Dan ada juga yang punyai teori yang berbedabeda mengenai apa yang membuat manusia memiliki watak tertentu. misalnya dalam budaya-budaya tertentu pandangan terhadap siapa seseorang itu (raja. Muhammadiyah. sedangkan lembaga formal adalah pemerintah. bahkan penulisan sejarahpun harus disetujui oleh pemerintah yang sah. berpandangan bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya seperti malaikat. sebaliknya bilamana dalam kegiatannya selalu menurut hawa nafsu. Negara-negara otoriter media massa masih dikendalikan pemerintah. juga mempengaruhi kita dalam mempersepsi dunia dan kehidupan ini yang pada gilirannya mempengaruhi perilaku kita. Pandangan manusia mengenai hal ini akan mempengaruhi persepsi. komunitas agama (dalam islam terdapat Sunni. 2003:202). dari pandangan yang primitif-irasional. jin. Aspek lain yang juga mempengaruhi persepsi kita adalah pandangan kita tentang aktivitas. Sebaliknya ada . Namun kemuliaan itu menurut Mulyana (2003:206) hanya dapat diperoleh bilamana manusia beriman dan beramal saleh (mempergunakan akalnya dengan cara benar). akan berusaha bertindak selaras dengan alam. bahwa kaum muslim berpendapat bahwa manusia lahir dalam keadaan suci bersih. namun berupaya memeliharanya agar tidak rusak atau punah. Pemerintah melalui aturan-aturannya. Di samping kedua lembaga tersebut menurut Mulyana (2003:205) yang juga dapat mempengaruhi persepsi kita adalah lembaga pendidikan (sekolah. maka mereka adalah makhluk yang paling rendah derajatnya. komunitas atnik (Jawa. Pandangan kita tentang siapa kita. Organisasi sosial apakah yang sifatnya formal ataupun informal. universitas). Mereka yang memandang manusia sebagai penguasa alam dan penakluk alam akan memanfaatkan alam demi kesejahteraan. Nahdatul Ulama. sedangkan mereka yang percaya bahwa manusia adalah bagian dari alam atau bersatu dengan alam. Ideologiideologi berbeda juga punya konsep berbeda mengenai bagaimana hubungan antara manusia yang satu dengan manusia lainnya. orang tidak bebas menyiarkan informasi kepada masyarakat luas. Menurut Mulyana (2003:204) lembaga informal yang mempengaruhi persepsi dan perilaku kita adalah keluarga. bagaimana sifat atau watak juga mempengaruhi cara kita mempersepsi lingkungan fisik dan sosial kita. ilmiah hingga yang religius. pejabat. karena manusia diberkahi oleh akal. Demikian juga dalam memandang manusia. kelas sosial dan partai politik. bergelar) lebih penting dari pada apa yang dilakukannya. Setiap negara biasanya memiliki suatu sistem komunikasi tertentu. di negara Barat umumnya menganut sistem komunikasi lebertarian yaitu orang-orang berkomunikasi lebih bebas. khususnya yang berbeda budaya (Mulyana. Pantekosta. anak presiden. himgga derajat tertentu menetapkn norma komunikasi warganya baik komunikasi langsung maupun komunikasi bermedia. Demikian juga perangkat aturan yang di keluarkan oleh pemerintah baik tertulis maupun tidak juga memiliki pengaruh yang sama dalam persepsi dan perilaku kita. Saksi Yohava). Protestan. Perangkat aturan meskipun tidak tertulis yang di tetapkan keluarga sangat mempengaruhi kita dalam berkomunikasi. Advent. Maka pandangan dunia merupakan unsur penting yang mempengaruhi persepsi seseorang ketika berkomunikasi dengan orang lain. Melayu). Persis dan dalam Kristen terdapat Katolik. memanfaatkan alam. batak Minangkabau. Sunda. misalnya ada golongan yang berpendapat bahwa manusia pada dasarnya baik. Syiah.

usia.budaya yang memandang prestasinya lebih penting ketimbang siapa dia. kapan. dengan aturan untuk mengkombinasikan simbol-simbol tersebut. sekaligus di lingkungan domestik dan di ruang publik. melainkan lebur dalam kelompok (keluarga. . pada umumnya adalah masyarakat kolektivitas. terbentuk atas seperangkat simbol. melihat lingkungan. yang digunakan dan dipahami suatu komunitas. Akan tetapi suatu budaya sebenarnya dapat saja memiliki kecenderungan individualis dan kolektivis. melainkan terikat oleh budaya. 3. pengalaman bathin. yang melukiskan realitas pikiran. (5) gaya kaku dan puitis. dan kepada siapa kita menunjukkan emosi ini dipelajari. dan karenanya berperilaku secara berbeda. 2. Mereka lebih membanggakan prestasi dari pada askripsi. menyebabkan kesalahanpahaman. Walaupun demikian kita sering melihat bahwa bahasa nonverbal cenderung selaras dengan bahasa verbal. Komunikasi Nonverbal Secara sederhana. 1988 : 269). Sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Andrea L Rich tersebut. namun dimana. Konsekwensinya perilaku individu sangat dipengaruhi kelompoknya. juga kalkulatif. nama keluarga dan sebagainya (Landis & Brislin. Hubungan akan bertahan lama sejauh menguntungkan mereka secara material (Mulyana. dan kebutuhan pemakainya. jadi dipelajari. bukan bawaan. Selain itu hubungan antarindividu dalam kelompok bersifat total. Rich (dalam Mulyana. dan keretakan hubungan antarmanusia. dan alam semesta di sekitarnya dengan cara yang berbeda. menurut Ohoiwutun (1997:99-107) dalam komunikasi antarbudaya yang harus diperhatikan yaitu: (1) kapan orang berbicara.2003:308). Lebih lanjut dikatakan oleh Mulyana (2003) bahwa dalam masyarakat kolektivis. seperti kita menyatakan setuju selalu disertai dengan anggukan kepala. Sebagai kata-kata kebanyakan isyarat nonverbal juga tidak universal. kelompok kerja. Simbol-simbol nonverbal sangat sulit untuk ditafsirkan bila dibandingkan dengan simbolsimbol verbal. individu terikat oleh lebih sedikit kelompok. Sedikit saja isyarat nonverbal yang merupakan bawaan. (4) intonasi. Karenanya. Hubungan diantara sesama mereka sendiri tampak lebih dangkal dibandingkan dengan hubungan antara orang-orang kolektivitas. Masyarakat Timur. Andrea L. dan karenanya dipengaruhi konteks dan budaya. seperti jenis kelamin. Dalam budaya kolektivitas. Banyak kejadian sehari-hari karena kurang memperhatikan perebedaan tersebut misalnya akibat mengucapkan kata-kata tertentu. menurut hipotesis SapirWhorf. klan. Individu tidak dianjurkan untuk menonjol sendiri. termasuk keluarga luasnya. yang dimaknai berbeda oleh orang yang berbeda budaya. 2003:251) mengatakan bahwa bahasa sendiri terikat oleh budaya. (3) hal memperhatikan. misalnya setiap gerakan sinkron dengan ucapan. kebencian. namun keterikatan pada kelompok lebih kuat dan lebih lama. seperti orientasi kegiatan salah satu biasanya lebih menonjol (Mulyana. suku bangsa dan sebagainya). orang individualis kurang terikat pada kelompoknya. Manusia individualis lebih terlibat dalam hubungan horisontal dari pada hubungan vertikal. Berbeda dengan manusia individualis. diri (self) tidak bersifat unik atau otonom. Keberhasilan individu adalah keberhasilan kelompok. misalnya di Barat. Kita semua lahir dan mengetahui bagaimana tersenyum. pesan nonverbal adalah semua isyarat yang bukan kata-kata (Mulyana. sering juga disebut Teori Relativitas Linguistik. Jadi bahasa yang berbeda sebenarnya mempengaruhi pemakainya untuk berpikir. Komunikasi Verbal Mulyana (2003:237-238) mengatakan bahwa bahasa sebagai sistem kode verbal. Sedangkan dalam budaya individualis (Barat) bersifat otonom. sebenarnya setiap bahasa menunjukkan suatu dunia simbolik yang khas. 2003:210). 2003:208). (2) apa yang dikatakan. dan (6) bahasa tidak langsung.

dan waktu berkomunikasi. dan menghidupkan budaya kita. adalah tampilan tubuh waktu sedang berdiri dan duduk. menentukan. PENUTUP Setiap orang dari kita adalah unik. mengembangkan atau mewariskan budaya (Mulyana. Hall (dalam Mulyana. 8. seperti kasih sayang. gambaran tubuh. perhatikan. Posture. Tampilan. bagaimana kita membicarakan. 3. 4. apa yang kita lihat. artinya sekalipun dibesarkan dalam lingkungan budaya yang sama. adalah tentang konsep waktu. Tampilan biologis misalnya warna kulit. Model pakaian juga mempengaruhi evaluasi kita terhadap orang lain. Kronemik. Budaya menjadi bagian dari perilaku komunikasi. serta struktur tubuh. apa yang kita lihat turut membentuk. Paralinguistik juga berperan besar dalam komunikasi antarbudaya. Termasuk di dalamnya tampilan biologis dan tampilan yang dicari atau di bentuk. Cara bagaimana orang itu duduk dan berdiri dapat diinterpretasi bersama dalam konteks antarbudaya. Apa yang kita bicarakan. malas bertanggungjawab. tekstur dan warna rambut. Pesan-pesan paralinguistik antarpribadi adalah pesan komunikasi yang merupakan gabungan antara perilaku verbal dan non verbal. dan pada gilirannya komunikasi pun turut menentukan. adalah tentang perabaan atau memperkenankan sejauhmana seseorang memegang dan merangkul orang lain. atau gerakan yang menampilkan maksud tertentu dengan makna tertentu. Ukuran tentang waktu atau ketaatan pada waktu kemudian yang menghasilkan pengertian tentang oramg malas. misalnya makin dekat artinya makin akrab. Ada perbedaan makna yang ditampilkan alis mata diantara manusia. adalah tentang hubungan antar ruang. warna dan pandangan mata.Menurut Liliweri (2003:98-101) ketika berhubungan dengan menggunakan pesan nonverbal ada beberapa faktor yang mempengaruhi komunikasi antarbudaya yaitu: 1. . Okulesik. Tampaknya ada perbedaan antara arti dan makna dari gerakan-gerakan tubuh atau anggota tubuh yang ditampilkan 2. memelihara. adalah gerakan mata dan posisi mata. seperti dua sisi dari satu mata uang. Bahkan Porter dan Samovar (dalam Mulyana dan Rakhmat. tampilan wajah. Haptik. sama seperti pesan non verbal yang lain maka konsep tentang waktu yang menganggap kalau suatu kebudayaan taat pada waktu maka kebudayaan itu tinggi atau peradabannya maju. bagaimana kita membicarakannya. Misalnya kalau orang Jawa merasa tidak bebas jika berdiri tegak di depan orang yang lebih tua sehingga harus merunduk hormat. 2001:34) menyatakan bahwa budaya tak hidup tanpa komunikasi dan komunikasi pun tak hidup tanpa budaya. 6. atau abaikan. 7. Sehingga Edward T. Proksemik. orang yang tidak pernah patuh pada waktu. Appearance yaitu bagaimana cara seorang menampilkan diri telah cukup menunjukkan atu berkorelasi sangat tinggi dengan evaluasi tentang pribadi. 5. adalah yang berkaitan dengan bahasa tubuh. sebaliknya duduk bersila di depan orang yang lebih tua merupakan sikap yang sopan. Setiap variasi gerakan mata atau posisi mata menggambarkan suatu makna tertentu. makin jauh artinya makin kurang akrab. karena akan ada sub-sub kultur yang lebih spesifik yang sangat berpengaruh terhadap perilakunya dalam berkomunikasi. 9. belum tentu setiap orang dalam kelompok tersebut itu akan persis sama dalam berpikir dan berperilaku. marah dan sebagainya. Paralinguistik terdiri dari satu unit suara. apa yang kita bicarakan. orientasi tubuh. antar jarak. Pada gilirannya. 2003:4-5) menyatakan bahwa budaya adalah komunikasi dan komunikasi adalah budaya. beberapa diantaranya adalah simbolisme warna dan nomor. yang terdiri dari posisi tubuh. 2003:4). Kinestik. Budaya dan komunikasi itu mempunyai hubungan timbal balik. bagaimana kita berpikir. Ada stereotip yang berlebihan terhadap perilaku seorang dengan tampilan biologis. dan apa yang kita pikirkan dipengaruhi oleh budaya. Simbolisme dan komunikasi non verbal yang pasif.

Bandung: Remaja Rosdakarya. Dynamics of intercultural Communication. Bandung: Remaja Rosdakarya. Komunikasi Antar Manusia. Bandung: Remaja Rosdakarya. (Ed). Bandung: Remaja Rosdakarya. Inc Khotimah. Komunikasi Jenaka. Alo. Perihal Membangun Jembatan. 2001. Somavar. 2002. Editor: Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat. Vol. Kim 1992. H. 1991. Ohoiwutun. Ilmu Komunikasi. Jakarta: Profesional Books. Panduan Berkomunikasi Dengan Orang-Oang Berbeda Budaya. New York: Pergamon Press. Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya. 1993. Bandung: Remaja Rosdakarya. -------------------------------. W. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1991. 1997. Panduan Berkomunikasi Dengan Orang-Orang Berbeda Budaya. . Parade Anekdot. Dodd. Belmont: C. New York: McGraw Hill. Josep A. Jakarta: Visipro. dan Pengalaman Konyol. Editor: Deddy Mulyana dan Jalalluddin Rakhmat. 1997. Landis.DAFTAR PUSTAKA De Vito. Bandung: Remaja Rosdakarya. Mengapa Kita Mempelajari Komunikasi: Sebuah Pengantar. Handbook of intercultural training. Deddy. Buku Pertama. Humor. Bandung: Unisba. Communicating with strangers: An approach to intercultural communication (Ed). Bandung: Remaja Rosdakarya. & Yun Yun. Liliweri. Memahami Komunikasi Antarbudaya. R. 2001. C. 1. 203. & Brislin. Wm.B. Suatu Pengantar. Wadsworth. Schramm. ---------------------. 1 No.Brown Publishers. Emma.A. ----------------------. Charley. Dalam: Human Communication: Konteks-Konteks Komunikasi. Mulyana. IA/USA. Teori dan Praktek. Richard E. cetakan kelima. D. ----------------------. Effendi. Mengapa dan Untuk Apa Kita Mempelajari Komunikasi Antar Budaya. Onong Uchjana. Vols 1-3. Sosiolinguistik. Dubuque. Dinamika Komunikasi. Communication Between Cultures. Cetakan kedua. 1995. Larry and Porter. Dalam: Komunikasi Antar Budaya. 1988. Dalam: Komunikasi Antar Budaya. Dalam: Jurnal Editor. Memahami Bahasa Dalam Konteks Masyarakat dan Kebudayaan. 2003. Wilbur. 2000. Ilmu Komunikasi. 1996. Gudykunst. Terjemahan Agus Maulana.

ketubuhan dan hubungan sosial tertentu.PROGRAM INSTITUT SUMATERA 2009 AGAMA ISLAM PASCASARJANA NEGERI UTARA PENDAHULUAN Masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai budaya secara logis akan mengalami berbagai permasalahan. Masyarakat indonesia dan kompleks kebudayaannya masing-masing plural (jamak) . persentuhan antar budaya akan selalu terjadi karena permasalahan silang budaya selalu terkait erat dengan curtural materialisme yang mencermati budaya dari pola pikir dan tindakan dari kelompok sosial tertentu dimana pola temperamen ini banyak ditentukan oleh faktor keturunan (genetic).

Masyarakat Indonesia yang majemuk terdiri dari berbagai budaya. mengembangkan atau mewariskan budaya seperti yang dikatakan Edward T. moral. Budaya menjadi bagian dari perilaku komunikasi dan pada gilirannya komunikasi pun turut menentukan memelihara. Kata “budaya” berasal dari bahasa Sansekerta buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari kata buddhi. berasal dari kata “colere” yang artinya adalah “mengolah atau mengerjakan”. Istilah culture. yaitu dijumpainya berbagai sub kelompok masyarakat yang tidak bisa di satu kelompokkan satu dengan yang lainnya. Taylor (1871). hukum. apalagi diwarnai kepentingan politik. Pluralitas sebagai kontradiksi dari singularitas mengindikasikan adanya suatu situasi yang terdiri dari kejamakan.dan heterogen (aneka ragam). nilai atau normanorma masyarakat dan lain sebagainya. Hall bahwa komunikasi adalah budaya dan budaya adalah komunikasi. Kata colere yang kemudian berubah menjadi culture diartikan sebagai “segala daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan mengubah alam”. kepercayaan. Seorang Antropolog yang bernama E. agama dan suku bangsa. yaitu “kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan. memberikan defenisi mengenai kebudayaan. Padahal syarat untuk terjalinya hubungan itu tentu saja harus ada saling pengertian dan pertukaran informasi atau makna antara satu dengan lainnya. sekalipun hal itu memang debatable”. telah ada sejak nenek moyang. Berangkat dari pemaparan di atas. Misalnya saja dalam penggunaan bahasa. sementara heterogenitas merupakan kontraposisi dari homogenitas mengindikasi suatu kualitas dari keadaan yang menyimpan ketidak samaan dalam unsur-unsurnya. bila identitas budaya dapat bermakna dan dihormati. ada baiknya dikemukakan bahwa dalam makalah ini ada kalanya bahkan terlalu sering dipersamakan antara “komunikasi lintas budaya” dan “komunikasi antar budaya”. Komunikasi Lintas Budaya Sebelum terlalu jauh membahas topik ini. seperti dua sisi mata uang. lain kemampuankemampuan dan kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai . Yang kesemuanya dapat diarahkan untuk mewujudkan terciptanya integrasi nasional atau pembangunan nasional. Pembangunan Nasional tidak lepas dari aspek sosial budaya. Pluralisme masyarakat. Adapun dalam berkomunikasi dengan konteks keberagaman kebudayaan kerap kali menemui masalah atau hambatan-hambatan yang tidak diharapkan sebelumnya. bukan untuk kebanggaan dan sifat egoisme kelompok. kebhinekaan budaya yang dapat hidup berdampingan. Komunikasi dan budaya mempunyai hubungan timbal balik. dalam tatanan sosial. kesenian. maka saya akan mencoba menelusuri tentang: “Bagaimana peran komunikasi lintas budaya dalam pembangunan?” A. Perbedaan ini justru berfungsi mempertahankan dasar identitas diri dan integrasi sosial masyarakat tersebut. yang merupakan istilah bahasa asing yang sama artinya dengan kebudayaan. yang berarti “budi” atau “akal”. yaitu dimaksudkan kepada keahlian mengolah dan mengerjakan tanah atau bertani. lambang-lambang. Saya tidak ingin mempertentangkan keduanya. demikian pula dengan kebudayaan mereka. merupakan kekayaan dalam khasanah budaya Nasional. Pernyataan ini perlu agar tidak terjebak terhadap munculnya pertanyaan: “apakah kedua istilah tersebut sama atau tidak?”.B. hanya untuk tujuan agar tidak terjadi kekeliruan pembahasan dalam makalah ini. adat istiadat. karena adanya kegiatan dan pranata khusus. Kebudayaan itu sendiri diartikan sebagai “hal-hal yang berkaitan dengan budi atau akal”.

Hall. seperti yang dikatakan Edward T. jika bukan karena kemampuan manusia untuk menciptakan bahasa simbolik. ataupun secara vertikal dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Pada sisi lain budaya menetapkan norma-norma (komunikasi) yang dianggap sesuai untuk kelompok tertentu. merasakan dan bertindak. memelihara. Sementara Smith (1966). Demikian pula. Komunikasi antar budaya juga mengakui dan mengurusi permasalahan mengenai persamaan dan perbedaan dalam karakteristik kebudayaan antar pelaku-pelaku komunikasi. yang memberi batasan dan bentuk pada hubungan-hubungan. Budaya menjadi bagian dari perilaku komunikasi. Tepat kiranya jika dikatakan bahwa kebudayaan dirumuskan. mengembangkan atau mewariskan budaya. aturan-aturan dan tata. menerangkan hubungan yang tidak terpisahkan antara komunikasi dan kebudayaan yang kurang lebih sebagai berikut: “Kebudayaan merupakan suatu kode atau kumpulan peraturan yang dipelajari dan dimiliki bersama. dan pada gilirannya komunikasi pun turut menentukan. Unsur pokok yang mendasari proses komunikasi antar budaya ialah konsep-konsep tentang “Kebudayaan” dan “Komunikasi”. Hal ini pun digarisbawahi bahwa pengertian tentang komunikasi antar budaya memerlukan suatu pemahaman tentang konsep-konsep komunikaasi dan kebudayaan serta saling ketergantungan antara keduanya. tidak dapat dikembangkan pengetahuan. dibentuk. Antropolog ini menyatakan pula bahwa kebudayaan mencakup semua yang didapatkan dan dipelajari dari pola-pola perilaku normatif. Saling ketergantungan ini terbukti. makna. organisasiorganisasi dan masyarakat yang terus berlangsung. Komunikasi juga merupakan sarana yang dapat menjadikan individu sadar dan menyesuaikan diri dengan subbudaya-subbudaya dan kebudayaan-kebudayaan asing yang dihadapinya. . baik secara horizontal. Maka jelas bahwa antara komunikasi dan kebudayaan terjadi hubungan yang sangat erat: Di satu pihak. sedangkan komunikasi memerlukan kode-kode dan lambang-lambang yang harus dipelajari dan dimiliki bersama. Komunikasi antar budaya pada dasarnya jelas menerangkan bahwa ada penekanan pada perbedaan kebudayaan sebagai faktor yang menentukan dalam berlangsungnya proses komunikasi antar budaya. tetapi titik perhatian utamanya tetap terhadap proses komunikasi individu-individu atau kelompokkelompok yang berbeda kebudayaan dan mencoba untuk melakukan interaksi. seperti yang ditulis oleh Lusiana. Kebudayaan diciptakan dan dipertahankan melalui aktifitas komunikasi para individu anggotanya. komunikasi merupakan suatu mekanisme untuk mensosialisasikan norma-norma budaya masyarakat. tanpa komunikasi tidak mungkin untuk mewariskan unsur-unsur kebudayaan dari satu generasi kegenerasi berikutnya.” Hubungan antara individu dan kebudayaan saling mempengaruhi dan saling menentukan. apabila disadari bahwa polapola komunikasi yang khas dapat berkembang atau berubah dalam suatu kelompok kebudayaan khusus tertentu. bahwa ‘komunikasi adalah budaya’ dan ‘budaya adalah komunikasi’. untuk mempelajari dan memiliki bersama diperlukan komunikasi.anggota masyarakat”. ditransmisikan daan dipelajari melalui komunikasi. Pada satu sisi. seperti dua sisi mata uang. nilai-nilai. serta dari satu tempat ke tempat lainnya. artinya mencakup segala cara atau pola berpikir. Secara kolektif perilaku mereka secara bersama-sama menciptakan realita (kebudayaan) yang mengikat dan harus dipatuhi oleh individu agar dapat menjadi bagian dari unit. dari suatu masyarakat kepada masyarakat lainnya. Komunikasi dan budaya yang mempunyai hubungan timbal balik. Kesamaan tingkah laku antara satu generasi dengan generasi berikutnya hanya dimungkinkan berkat digunakannya sarana-sarana komunikasi. simbol-simbol.

Sebaliknya. seseorang harus memperhatikan beberapa kepercayaan dan asumsi dasar yang dianut suatu masyarakat tentang asal usul manusia. Perilaku tersebut merupakan perilaku terpola karena tampilannya berulangulang sehingga diterima sebagai pola-pola budaya.1967). mulai dari baca-tulis ke pertanian. Hedebro sebagaimana dikutip Zulkarimen Nasution mendaftar 12 peran yang dapat dilakukan komunikasi dalam pembangunan. Karena itulah. and communication as a set of variables instrumental in bringing about development “. Kebudayaan tidak saja menentukan siapa dapat berbicara dengan siapa. Peranan komunikasi pembangunan telah banyak dibicarakan oleh para ahli. maka makna komunikasi pembangunan pun bergantung pada modal atau paradigma pembangunan yang dipilih oleh suatu negara. berperilaku. hingga ke keberhasilan lingkungan. Media massa dapat bertindak sebagai pengganda sumber-sumber daya pengetahuan. dan bentuk perilaku yang menunjang modernisasi. kerangka acuan dari individu-individu sebahagian terbesar merupakan hasil penyesuaian diri dengan cara-cara khusus yang diatur dan dituntut oleh sistem sosial dimana mereka berada. kebudayaan merupakan pondasi atau landasan bagi komunikasi. sikap mental. menurut Alo Liliweri. Kedudukan komunikasi dalam konteks pembangunan sebagaimana disebutkan Roy dalam Jayaweera dan Anumagama (1987) adalah “as an integral part of development. Rogers (1985) menyatakan bahwa. Pada bagian lain Rogers menyatakan bahwa komunikasi merupakan dasar dari perubahan sosial. Artinya kegiatan komunikasi harus mampu mengantisipasi gerak pembangunan. pola-pola berpikir. Siebert. dan perilaku itu merupakan hasil persepsi manusia terhadap dunia. bahwa kebudayaan dibentuk oleh perilaku manusia. 3. Komunikasi dapat menciptakan iklim bagi perubahan dengan membujukkan nilai-nilai. Strategi pembangunan menentukan strategi komunikasi. secara sederhana pembangunan adalah perubahan yang berguna menuju suatu sistem sosial dan ekonomi yang diputuskan sebagai kehendak dari suatu bangsa. yakni: 1. 2. Komunikasi dapat mengajarkan keterampilan-keterampilan baru. Perubahan yang dikehendaki dalam pembangunan tentunya perubahan ke arah yang lebih baik atau lebih maju keadaan sebelumnya. Kebudayaan yang berbeda akan menghasilkan praktek-praktek komunikasi yang berbeda pula. Media massa dapat mengantarkan pengalaman-pengalaman yang seolah-olah dialami sendiri. mengenai apa dan bagaimana komunikasi sebagainya berlangsung. Everett M. Singkatnya. Peterson dan Schramm (1956) menyatakan bahwa dalam mempelajari sistem komunikasi manusia. sehingga mengurangi biaya psikis dan ekonomis untuk . Dari sekian banyak ulasan para ahli mengenai peran komunikasi pembangunan. tetapi juga menentukan cara mengkode atau menyandi pesan atau makna yang dilekatkan pada pesan dan dalam kondisi bagaimana macam-macam pesan dapat dikirimkan dan ditafsirkan. 4. Komunikasi Dalam Pembangunan Komunikasi dan pembangunan merupakan dua hal yang saling berhubungan sangat erat. Dengan demikian. keseluruhan prilaku komunikasi individu terutama tergantung pada kebudayaanya. hingga reparasi mobil (Schram. B. Oleh karena itu peranan komunikasi dalam pembangunan harus dikaitkan dengan arah perubahan tersebut. masyarakat dan negara. pada umumnya mereka sepakat bahwa komunikasi mempunyai andil penting dalam pembangunan.

Rendahnya tingkat pengetahuan. pembentukan sikap moral. Meningkatnya gejala “Societal crisis on caring” (krisis pengasuhan dan kepedulian dalam masyarakat) karena tingginya mobilitas sosial dan transformasi kultural yang ditangkap dan diadopsi secara terbatas. sosial.menciptakan kepribadian yang mobile. Bahkan pada kedua point tersebut tidak boleh meninggalkan peranserta komunikasi lintas budaya dalam pembangunan nasional. yaitu: 1. Sejalan dengan berbagai kendala yang ada. dengan membawa pengetahuan kepada massa. dan keterbatasan dalam menyerap serta mengembangkan nilai-nilai baru yang positif. dan para pemimpin tradisional akan tertantang oleh kenyataan bahwa ada orang-orang lain yang juga mempunyai kelebihan dalam hal memiliki informasi. Peran Komunikasi Antar Budaya dalam Pembangunan Dengan mencermati berbagai permasalahan pluralitas dan kondisi masyarakat Indonesia yang rawan disentegrasi nasional. 8. sehingga seringkali sangsi formal lebih ditakuti daripada sangsi moral. 7. Komunikasi dapat meningkatkan aspirasi yang merupakan perangsang untuk bertindak nyata. 5. Komunikasi memudahkan perencanaan dan implementasi program-program pembangunan yang berkaitan dengan kebutuhan penduduk Komunikasi dapat membuat pembangunan ekonomi. maka upaya penyelesaian permasalahan pluralitas budaya sekaligus menunjukkan peran komunikasi antar budaya dalam terwujudnya pembangunan nasional. dan politik menjadi suatu proses yang berlangsung sendiri (self-perpetuating). Paradigma pendidikan yang lebih menekankan pengembangan intelektual dengan mengabaikan pengembangan kecerdasan emosional. Adapun di antaranya. yang memberikan manfaat materiil yang lebih mudah teramati dan terukur. Manusia terbuai kegiatan dan pembangunan yang pragmatis. Yang dapat diawali dengan . Komunikasi dapat membantu masyarakat menemukan norma-norma baru dan keharmonisan dari masa transisi (Rao. dan jangkauan komunikasi sebagian masyarakat yang dapat mengakibatkan rendahnya daya tangkal terhadap budaya asing yang negatif. Membangun kehidupan multi kultural yang sehat. Berdasarkan hal di atas dapat dipertegas bahwa point 8 dan 9 terkait langsung dengan peranan komunikasi lintas budaya. Mereka yang beroleh informasi akan menjadi orang yang berarti. Komunikasi dapat menciptakan rasa kebangsaan sebagai sesuatu yang mengatasi kesetiaan-kesetiaan lokal.1966). pengalaman. sekaligus mudah sekali terprofokasi dengan isu-isu yang dianggap mengancam eksistensinya. Komunikasi dapat membuat orang lebih condong untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan di tengah kehidupan masyarakat. 10. dilakukan dengan meningkatkan toleransi dan apresiasi antar budaya. 1966) 11. dan penanaman nilai budaya. C. Komunikasi dapat membantu mayoritas populasi menyadari pentingnya arti mereka sebagai warga negara. 3. sehingga dapat membantu meningkatkan aktivitas politik (Rao. 9. 4. di lapangan dapat kita temui adanya berbagai masalah yang ditengarai sebagai kendala penyelesaian masalah. Komunikasi dapat mengubah struktur kekuasaan pada masyarakat yang bercirikan tradisional. 2. yakni dapat dilakukan dengan: 1. Kurang maksimalnya media komunikasi dalam memerankan fungsinya sebagai mediator dan korektor informasi. 6.

PENUTUP Perbedaan kebudayaan dan gaya-gaya komunikasi berpotensi untuk menimbulkan masalah-masalah dalam komunikasi antar budaya. menghargai kemajemukan. Nilai-nilai budaya tradisional dapat terinternalisasi dalam proses pendidikan baik di lingkungan keluarga. melainkan juga lebih penting lagi.peningkatan tingkat pengetahuan masyarakat tentang kebhinnekaan budaya. Di mana mereka memerlukan terasahnya kemampuan intelektual untuk menghadapi tantangan globalisasi dengan pendidikan sebagai proses humanisasi yang lebih menekankan manusia sebagai makhluk sosial yang mempunyai otonomi moral dan sensitivitas kedaulatan budaya. Pengungkapan skandal atau perbuatan yang merugikan kepentingan umum dan melecehkan nilainilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. harus disiarkan dengan fungsi sebagai pemeliharaan kestabilan. serta dapat tegar menghadapi arus perubahan. Caranya tidak lain. berfungsi memelihara keseimbangan sistem melalui diseminasi selektif dan berbagai ragam teknik-teknik penyebaran maupun penyaringan informasi. kemajemukan masyarakat Indonesia dengan ciri keragaman budayanya tidak bisa secara otomatis terintegrasi menjadi kebudayaan nasional. Pun transformasi budaya harus dipandu secara pelan-pelan. yang sama mantapnya dengan setiap sistem adat yang ada. 2. menampakkan bahwa kongruensi antara aspek kebhinekaan yang manunggal dalam keekaan harus menjadi kunci penyelesaian masalah. terutama untuk melakukan sensor secara substantif yang berperan sebagai korektor terhadap penyimpangan norma sosial yang dominan. yakni dengan mempertajam sense of belonging. Salah satu caranya dengan melancarkan tekanan korektif terhadap subsistem yang mungkin keluar dari keseimbangan fungsional. dengan berbagai model pengenalan ciri khas budaya tertentu. Strategi pendidikan yang berbasis budaya dapat menjadi pilihan karena pendidikan berbasis adat tidak akan melepaskan diri dari prinsip bahwa manusia adalah faktor utama. sense of participation dan sense of responcibility sebagai benteng terhadap pengaruh faktor eksternal tersebut. Nilai budaya yang berkembang dalam suatu masyarakat. Peningkatan peran media komunikasi. justru media komunikasi dituntut untuk dapat menampilkan berbagai informasi yang bersifat apresiatif terhadap budaya masyarakat lain. karena kebudayaan . kesulitan untuk mengakui perbedaan yang menyebabkan masalah serius dan mengancam kelancaran komunikasi antar budaya yang dapat menjurus ke disentegrasi nasional. Khususnya pendidikan di sekolah diperlukan adanya paradigma baru yang dapat menyajikan model dan strategi pembelajaran yang dapat menseimbangkan proses homonisasi. Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan. terutama psikologi masyarakat seperti pemahaman pola perilaku khusus masyarakatnya. Harapannya dapat terbentuk manusia yang bisa mengelola konflik. Tetapi tidak saja perbedaan. Tujuannya adalah agar pembelajar dapat melihat manusia sebagai makhluk hidup dalam konteks lingkungan ekologinya. Maka kesadaran akan variasi kebudayaan. Sedang kontrol secara distributif. akan selalu berakar dari kearifan tradisional yang muncul dan berkembang sejalan dengan perkembangan masyarakat itu sendiri. sehingga manusia harus selalu merupakan sobyek sekaligus tujuan dalam setiap langkah dan upaya perubahan. yang mungkin dapat mengundang kemelut dalam masyarakat atau menimbulkan perpecahan. ditambah dengan kemauan untuk menghargai variasi tersebut akan sangat mendorong hubungan antar kebudayaan. jadi hal ini bukanlah merupakan revolusi yang dipaksakan. 3. pendidikan formal maupun non formal. self of integrity.

Budiono. Jakarta Liliweri.com/2012/05/makalah-tentang-komunikasilintas.nasional tersebut baru pada taraf pembentukan.pdf Nasution. 2000. 2007. Alo. Rajawali Press. Lusiana Andriani. LkiS.usu. Maka. 2002. Jurusan Ilmu Komunikasi. Kebhinekaan Masyarakat Indonesia. Mukti. Konsep – Konsep Komunikasi Pembangunan. dan pelaksanaan ketertiban peraturan perundang-undangan yang adil dan demokratis. Fakultas Ilmu Sosial Dan Politik Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara dalam http://library. Soerjono. 2004. pendidikan. Zulkarimen. Makna Budaya Dalam Komunikasi Antarbudaya. Universitas Sumatera Utara. Sitompul. PT RajaGrafindo Persada. Jakarta Lubis. Soekanto.id/download/fisip/komunikasi-mukti. peran komunikasi antar budaya dalam mewujudkan integrasi nasional harus ditingkatkan. DAFTAR BACAAN Kusumohamodjojo.html#ixzz28uYjzg40 . 1996. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Komunikasi Antar Budaya.pakbendot. Grasindo.ac. Jakarta sumber Artikel: http://www. Antara lain melalui sikap saling menghargai antar manusianya. Komunikasi Pembangunan. Sosiologi Suatu Pengantar. Yogyakarta.

Jandt mengartikan komunikasi antarbudaya sebagai interaksi tatapmuka di antara orang-orang yang berbeda budayanya. atau perbedaan-perbedaan sosialekonomi).BAB IIPEMBAHASAN A. Misalnya. dalam keterlibatan suatu konfrensi internasional dimana bangsa-bangsa dari berbagai negara berkumpul dan berkomunikasi satu sama lain.komunikasi antarbudaya adalahkomunikasiantara orangorang yang berbeda budaya(baik dalam artiras. Kebudayaan adalah cara hidup yang berkembang dan dianut oleh sekelompok orangserta berlangsung dari generasi ke generasi. [2] Sedangkan Fred E. etnik . Tubbs. Sartosa mengatakan bahwa komunikasi antarbudayaadalah proses negosiasi atau pertukaran sistem simbolik yang membimbing perilaku . [3] Guo-Ming Chen dan William J.DEFINISI KOMUNIKASI ANTAR BUDAYA Menurut Stewart L. [1] Hamid Mowlana menyebutkan komunikasi antarbudaya sebagai human flow acrossnational boundaries .

manusiad a n m e m b a t a s i m e r e k a d a l a m m e n j a l a n k a n f u n g s i n ya s e b a g a i k e l o mpok. Kuliah Dasar. Sage Publication. Komunikasi Antarmanusia .36-42 5. Alo Liliweri. RemajaRosdakarya. Hal. Hal. Yogyakarta. 1996. Hal. Surakarta. Jakarta. 123 3. 36 4. Hal. 236-238 2. Universitas Muhammadiyah Surakarta. 2003. 1998. Professional Books. Human Communication :Konteks-konteks Komunikasi. Fred E. Tubbs dan Sylvia Moss. 479-488 .Simbol tidak sendirinya mempunyai makna tetapi dia dapat berarti ke dalam satukonteks dan makna-makna itu dinegosiasikan atau diperjuangkan. London. Hal. Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya . Devito. Jandt. Komunikasi Multikultural . Stewart L.Dengan negosiasi untuk melibatkan manusia di dalam pertemuan antarbudaya yangmembahas satu tema (penyampaian tema melalui simbol) yang sedang dipertentangkan. [4] Selanjutnyakomunikasi antarbudaya itu dilakukan:1. 11-12. Joseph A. Intercultural Communication . Bandung. Pustaka Pelajar. [4] 1. An Introduction. 2003. Andrik Purwasito.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful