P. 1
Struktur Pemerintahan RI, Isi Pokok Batang Tubuh Hubungan antara lembaga negara dan HAM

Struktur Pemerintahan RI, Isi Pokok Batang Tubuh Hubungan antara lembaga negara dan HAM

|Views: 786|Likes:
Published by Indra Hadi Utomo

More info:

Published by: Indra Hadi Utomo on Nov 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/07/2013

pdf

text

original

BAB I.

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
UUD 1945 sebagai hukum dasar Negara Republik Indonesia mengatur seluruh penyelenggaraan Negara Republik Indonesia termasuk didalamnya struktur negara, lembaga-lembaga negara dan seluruh hukum-hukum yang berlaku di Negara Republik Indonesia. Namun, saat ini dapat kita lihat adanya perselisihan antar lembaga negara yang semestinya tidak terjadi. Sebab, UUD 1945 telah mengatur tugas tiap-tiap lembaga negara. Untuk itu kelompok VIII mengangkat pokok bahasan tentang struktur negara, isi pokok batang tubuh, lembaga-lembaga negara, dan hak asasi manusia. Diharapkan dengan makalah ini kita dapat mengetahui tentang pokok bahasan diatas.

2. Permasalahan 1) Bagaimanakah struktur Pemerintahan Indonesia berdasarkan UUD 1945? 2) Apakah isi pokok Batang Tubuh UUD 1945? 3) Bagaimana hubungan antara lembaga-lembaga negara indonesia berdasarkan UUD 1945? 4) Bagaimanakah hak asasi manusia menurut UUD 1945?

BAB II. PEMBAHASAN A. Struktur Pemerintahan Indonesia Berdasarkan UUD 1945
1. Demokrasi Indonesia Sebagaimana Dijabarkan dalam Undang – Undang Dasar 1945 Hasil Amandemen 2002
Demokrasi adalah sistem pemerintahan dari rakyat. Secara filosofis, demokrasi Indonesia mendasarkan pada rakyat adalah sebagai asal mula kekuasaan negara dan sekaligus menjadi tujuan kekuasaan negara. Secara umum didalam sistem pemerintahan yang demokratis senantiasa mengandung unsur – unsur yang paling penting dan mendasar, yaitu: 1) Keterlibatan warganegara dalam pembuatan keputusan politik. 2) Tingkat persamaan tertentu di antara warganegara. 3) Tingkat kebebasan atau kemerdekaan tertentu yang diakui dan dipakai oleh warganegara. 4) Suatu sistem perwakilan. 5) Suatu sistem pemilihan kekuasaan mayoritas. Oleh karena itu didalam kehidupan kenegaraan yang menganut sistem demokrasi, kita akan selalu menemukan adanya Supra Struktur Politik dan Infra Struktur Politik sebagai komponen pendukung tegaknya demokrasi. Dengan menggunakan konsep Montequieu maka Supra Struktur Politik meliputi Lembaga Legislatif, Lembaga Eksekutif dan Lembaga Yudikatif.untuk negara-negara

tertentu masih ditemukan lembaga-lembaga yang lain, misalnnya negara Indonesia dibawah sistem Undang-Undang Dasar 1945, lembaga-lembaga Negara atau alat-alat perlengkapan negara adalah: Majelis Permusyawaratan Rakyat Dewan Perwakilan Rakyat Presiden Mahkamah Agung Badan pemeriksa Keuangan Adapun Infra struktur Politik suatu negara terdiri atas lima komponen sebagai berikut: Partai Politik Golongan (yang tidak berdasarkan pemilu) Golongan Penekan Alat Komunikasi Politik Tokoh-tokoh Politik Interaksi antara Supra Struktur Politik dan Infra Struktur Politik dapat dilihat di dalam proses penentuan kebijaksanaan umum atau penetapan keputusan politik, maka kebijaksanaan atau keputusan politik itu merupakan masukan (input) dari Infra Struktur, kemudian dijabarkan sedemikian rupa oleh Supra Struktur Politik.

Penjabaran Demokrasi menurut UUD 1945 dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia Pasca Amandemen 2002
Penjabaran demokrasi dalam ketatanegaraan Indonesia dapat ditemukan dalam konsep demokrasi sebagaimana terdapat dalam Pembukaan UUD 1945 sebagai “staats fundamentalnorm” yaitu: “....suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan Rakyat.....”, dan kemudian dilanjutkan dalam pasal 1 ayat 1 dan 2. Rumusan kedaulatan ditangan rakyat menunjukkan bahwa kedudukan rakyatlah yang tertinggi dan paling sentral. Adapun rincian struktural ketentuan-ketentuan yang berkaitan demokrasi menurut UUD 1945 adalah Sebagai berikut: a) Konsep Kekuasaan Konsep kekuasaan menurut demokrasi sebagai terdapat dalam UUD 1945 sebagai berikut: 1) Kekuasaan di Tangan Rakyat a. Pembukaan UUD 1945 alinea IV “.....Maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang dasar Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat....” b. Pokok Pikiran dalam Pembukaaan UUD 1945

“Negara yang berkedaulatan rakyat, berdasarkan atas kerakyatan dan permusyawaratan perwakilan” (pokok pikiran III). c. Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 1 (1) “Negara indonesia ialah Negara Kesatuan yang Berbentuk Republik”. Kemudian penjelasan terhadap pasal ini UUD 1945 menyebutkan “Menetapkan bentuk kesatuan dan Republik mengandung isi Pokok Pikiran kedaulatan rakyat”. d. Undang-Undang Dasar 1945 pasal 1 ayat (2) “Kedaulatan adalah ditangan rakyat dan dilakukan menurut Undang-Undang Dasar”. Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam negara Republik Indonesia pemegang kekuasaan tertinggi atau kedaulatan tertinggi adalah di tangan rakyat. Sebelum dilakuakan amandemen kekuasaan tertinggi dilakukan oleh Majelis permusyawaratan rakyat. 2) Pembagian Kekuasaan Pembagian kekuasaan menurut demokrasi tercantum dalam UUD 1945 adalah sebagai beikut: a. Kekuasaan Eksekutif, didelegasikan kepada Presiden (pasal 4 ayat (1) UUD 1945). b. Kekuasaan Legislatif, didelegasikan kepada Presiden dan DPR dan DPD (Pasal 5) ayat 1, pasal 19 dan pasal 22C UUD 1945) c. Kekuasaan Yudikatif, didelegasikan kepada Mahkamah Agung (Pasal 24 ayat 1 UUD 1945) d. Kekuasaan Inspektif, atau pengawasan didelegasikan kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Hal ini termuat dalam UUD 1945 pasal 20A ayat 1 yang artinya DPR melakukan pengawasan terhadap Presiden selaku penguasa eksekutif. e. Dalam UUD 1945 hasil amandemen tidak ada Kekuasaan Konsultatif, yang dalam UUD lama didelegasikan kepada Dewan Pertimbangan Agung (DPA). (Pasal 16 UUD 1945). Dengan lain perkataan UUD 1945 hasi amandemen telah telah menghapus Dewan Pertimbangan Agung, karena hal ini berdasarkan penyataan pelaksanaan kekuasaan negara fungsinya tidak jelas. Kekuasaan yang demikian ini dalam Khasanah ilmu hukum ketatanegaraan dan ilmu politik dikenal dengan istilah ‘distribution of power’ yang merupakan unsur mutlak dari negara demokrasi. 3) Pembatasan Kekuasaan Pembatasan kekuasaan dapat dilihat melalui proses atau mekanisme lima tahunan kekuasaan dalam UUD 1945 sebagai berikut: a. Pasal 1 ayat 2 UUD 1945. kedaulatan politik rakyat dilaksanakan lewat pemilu untuk membentuk MPR dan DPR setiap lima tahun sekali. b. “Majelis Permusyawaratan Rakyat memiliki kekuasaan melakukan perubahan terhadap UUD, melantik Presiden dan Wakil Presiden, serta melakukan impeachment terhadap Presiden jikalau melanggar konstitusi c. Pasal 20A ayat 1 memuat “Dewan Perwakilan Rakyat memiliki fungsi pengawasan, yang berarti melakuakan pengawasan terhadap jalannya pemerintahan yang dijalankan oleh Presiden dalam jangka waktu lima tahun”. d. Rakyat kembali mengadakan pemilu setelah membentuk MPR dan DPR (rangkaian kegiatan lima tahunan sebagai realisasi periodesasi kekuasaan).

Dalam pembatasan kekuasaan menurut konsep mekanisme lima tahunan kekuasaan sebagaimana tersebut diatas, menurut UUD 1945 mencakup antara lain: periade kekuasaan, pengawasan kekuasaan dan pertanggungjawaban kekuasaan. b) Konsep Pengambilan Keputusan Pengambialan keputusan menurut UUD 1945 dirinci sebagai berikut: a. Penjelasan UUD 1945 tentang Pokok Pikiran ke III yaitu”....oleh karena itu sistem negara yang terbentuk dalam UUD 1945, harus berdasar atas kedaulatan rakyat dan berdasar atas permusyawaratan perwakilan. Memang aliran ini sesuai dengan sifat masyarakat Indonesia”. b. Putusan Majelis Permusyawaratan Rakyat ditetapkan dengan suara terbanyak, misalnya pasal 7B ayat 7 Berdasarkan ketentuan diatas pokok pikiran bahwa konsep pengambilan keputusan yang dianut dalam hukum tata negara Indonesia adalah berdasarkan: a. Keputusan didasarkan pada suatu musyawarah sebagai asasnya, artinya segala keputusan yang diambil sejauh mungkin diusahakan dengan musyawarah untuk mencapai mufakat. b. Namun demikian jikalau mufakat itu tidak tercapai, maka dimungkinkan pengambialn keputusan itu melalui suara terbanyak. c) Konsep Pengawasan Konsep pengawasan menurut UUD 1945 ditentukan sebagai berikut: a. Pasal 1 ayat 2. Dalam penjelasan terhadap pasal 1 ayat 2 UUD 1945 disebutkan bahwa rakyat memiliki kekuasaan tertinggi namun dilaksanakan dan didistribusikan berdasarkan UUD. Berbeda dengan UUD lama sebelum dilakukan amandemen, MPR yang memiliki kekuasaan tertinggi sebagai penjelmaan kekuasaan rakyat. b. Pasal 2 ayat 1,: Majelis Permusyawaratan Rakyat terdiri atas anggota Dewan perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah. Berdasarkan ketentuan tersebut maka menurut UUD 1945 hasil amandemen MPR hanya dipilih melalui Pemilu. c. Penjelasan UUD 1945 tentang kedudukan Dewan Perwakilan Rakyat. Disebut: “......kecuali itu anggota-anggota DPR semuanya merangkap menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat. Oleh karana itu DPR dapat senantiasa mengawasi tindakan-tindakan presiden......”. Jadi konsep pengawasan menurut demokrasi Indonesia sebagai tercantum dalam dalam UUD 1945 pada dasarnya adalah sebagai berikut: a. Dilakukan oleh seluruh warga negara, karena kekuasaan didalam sistem ketatanegaraan Indonesia adalah ditangan rakyat. b. Secara formal ketatanegaraan pengawasan berada pada DPR. d) Konsep Partisipasi Konsep partisipasi menurut UUD 1945 adalh sebagai berikut a. Pasal 27 ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945

b. Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945 c. Pasal 30 ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945 Berdasarkan ketentuan tersebut diatas, maka konsep partisipasi menyangkut seluruh aspek kehidupan kenegaraan dan kemasyarakatan dan partisipasi itu terbuka untuk seluruh warganegara Indonesia (Thalib, 1994:100-112) 2. Sistem Pemerintahan Negara Menurut UUD 1945 Hasil Amandemen 2002 Sistem pemerintahan negara menurut UUD 1945 setelah amandemen, dijelaskan sebagai berikut. a. Indonesia ialah Negara yang Berdasarkan Atas Hukum (rechtstaat) Negara Indonesia berdasarkan atas hukum (rechtstaat), tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka (Machtstaat). Hal ini mengandung arti bahwa negara, termasuk didalamnya pemerintahan dan lembaga-lembaga negara lainnya dalam melaksanakan tindakan-tindakan apapun, harus dilandasi oleh peraturan hukum b. Sistem konstitusional Pemerintahan berdasarkan atas sistem konstitusi (hukum dasar), tidak bersifat absolut (kekuasaan yang tidak terbatas). Sistem ini memberikan penegasan bahwa cara pengendalian pemerintahan dibatasi oleh ketentuan-ketentuan konstitusi. Dengan dilandasi sistem negara hukum dan sistem konstitusional diciptakan sistem mekanisme hubungan dan hukum antar lembaga negara, yang sekiranya dapat menjamin terlaksananya sistem itu sendiri dan dengan sendirinya juga dapat memperlancar pelaksanaan pencapaian cita-cita nasional. c. Kekuasaan Negara yang Tertinggi di Tangan Rakyat. Sistem kekuasaan tertinggi sebelum amandemen dinyatakan dalam penjelasan Undang-Undang Dasar sebagai berikut. Sebelum amandemen kedaulatan rakyat di pegang oleh suatu badan, bernama MPR. Majelis inilah yang memegang kekuasaan negara yang tertinggi, sedangkan presiden harus menjalankan haluan negara menurut garis-garis besar yang telah ditetapkan oleh majelis. Presiden yang diangkat oleh majelis tunduk dan bertanggungjawab kepada majelis (Mandataris) dari majelis. Presiden wajib menjalankan keputusan-keputusan majelis dan “tidak neben”, akan tetapi “untergeordnet” kepada majelis. Namun menurut UUD 1945 hasi amandemen 2002 kekuasaan tertinggi ditangan rakyat, dan dilaksanakan menurut UUD (Pasal 1 ayat 2). MPR menurut UUD 1945 hasil amandemen 2002, hanya memiliki kekuasaan melakukan perubahan UUD, malantik Presiden dan Wakil Presiden, serta memberhentikan Presiden/Wakil Presiden sesuai masa jabatan atau jikalau melanggar konstitusi. Oleh karena itu sekarang bersifat ‘neben’ bukan ‘untergeordnet’, karena Presiden dipilih langsung oleh rakyat, UUD 1945 hasil amandemen 2002, pasal 6A ayat 1.

d. Presiden ialah Penyelenggara Pemerintahan Negara yang Tertinggi di Samping MPR dan DPR. Kekuasaan presiden menurut UUD 1945 sebelum amandemen dinyatakan dalam Penjelasan Undang-Undang Dasar 1945, sebagai berikut: “Dibawah Majelis Permusyawaratan Rakyat, Presiden ialah penyelenggara pemerintahan negara yang tertinggi. Dalam menjalankan pemerintahan negara, kekuasaan dan tanggungjawab adalah ditangan presiden (concentration of power responsibility upon the President).” Berdasarkan UUD 1945 hasil amandemen 2002, Presiden merupakan penyelenggara pemerintahan tertinggi disamping MPR dan DPR, karena Presiden dipilih langsung oleh rakyat UUD 1945 pasal 6A ayat 1. e. Presiden Tidak Bertanggungjawab Kepada DPR Sistem ini menurut UUD 1945 sebelum amandemen dijelaskan dalam penjelasan UUD 1945, namun dalam UUD 1945 hasil amandemen 2002 juga memiliki isi yang sama sebagai berikut: “Disamping Presiden adalah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Presiden harus mendapat persetujuan DPR untuk menbentuk Undang-Undang (Gezetzgebung) pasal 5 ayat 1 dan untuk menetapkan anggaran pendapatan dan belanja negara (staatsbergrooting) sesuai dengan pasal 23. Oleh karena itu Presiden harus bekerjasama dengan Dewan, akan tetapi presiden tidak bertanggungjawab kepada Dewan, artinya kedudukan presiden tidak tergantung pada Dewan. f. Menteri Negara ialah Pembantu Presiden, Menteri Negara tidak Bertanggungjawab Kepada Dewan Perwakilan rakyat

Sistem ini dijelaskan dalam UUD 1945 hasil amandemen 2002 maupun dalam Penjelasan UUD 1945, sebagai berikut: “Presiden dalam melaksanakan tugas pemerintahannya dibantu oleh menteri-menteri negara (pasal 17 ayat 1 UUD 1945 hasil amandemen), Presiden mengangkat dan memberhentikan MenteriMenteri Negara (Pasal 17 ayat 2 UUD 1945 hasil amandmen). Menteri-menteri Negara itu tidak bertanggungjawab kepada Dewan perwakilan rakyat. Kedudukannya tidak tergantung pada Dewan Perwakilan Rakyat”. g. Kekuasaan Negara Tidak Tak-Terbatas Sistem ini dinyatakan secara tidak eksplisit dalam UUD 1945 hasil amandemen 2002 dan masih sesuai dengan Penjelasan UUD 1945 dijelaskan sebagai berikut. Menurut UUD 1945 hasil amandemen 2002, Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh rakyat secara langsung (UUD 1945 hasil amandemen 2002 pasal 6A ayat 1). Dengan demikian dalam sistem kekuasaan kelembagaan negara Presiden tidak lagi merupakan mandataris MPR bahkan sejajar dengan DPR dan MPR. Hanya jikalau presiden melanggar Undang-Undang maupun Undang-Undang Dasar, maka MPR dapat melakuakan impeachment.

“Meski kepala negara tidak bertanggungjawab kepada DPR, ia bukan “diktator”. Artinya kekuasaan tidak tak terbatas. Presiden tidak dapat membubarkan MPR maupun DPR. Kecuali itu ia harus memperhatikan suara Dewan Perwakilan Rakyat.

3. Negara Indonesia adalah Negara Hukum
Menurut penjelasan UUD 1945, Negara Indonesia adalah negara Hukum yang berdasarkan Pancasila. Ciri-ciri suatu Negara Hukum adalah: a. Pengakuan dan perlindungan hak-hak asasi yang mengandung persamaan dalam bidang politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan. b. Peradilan yang bebas dari suatu pengaruh kekuasaan atau kekuatan lain dan tidak memihak. c. Jaminan kepastian hukum, yaitu jaminan bahwa ketentuan hukumnya dapat dipahami, dapat dilaksanakan dan aman dalam melaksanaannya Pancasila sebagai dasar negara harus menjiwai semua peraturan hukum dan pelaksanaannnya, ketentuan ini menunjukkan bahwa dinegara Indonesia dijamin adanya perlindungan hak-hak asasi manusia berdasarkan ketentuan-ketentuan hukum. Untuk menegakkan hukum, perlu adanya badan-badan kehakiman yang kuat yang tidak mudah dipengaruhi oleh lembaga-lembaga lainnya. Pemimpin eksekutif (presiden) wajib bekerja sama dengan badan-badan kehakiman untuk menjamin penyelenggaraan pemerintahan yang sehat.

B. Isi Pokok Batang Tubuh UUD 1945
Isi pokok Batang tubuh hasil amandemen 2002:

1. Bentuk dan Kedaulatan (Bab I)
Terkandung dalam pasal 1 UUD 1945, yaitu: a. Bentuk negara Indonesia adalah negara kesatuan dan bentuk pemerintahaan adalah republik (ayat 1) b. Kedaulatan berada ditangan rakyat (ayat 2) c. Negara Indonesia adalah negara hukum (ayat 3)

2. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) BAB II
Terkandung dalam pasal 2 dan pasal 3 yang berisi tentang a. Anggota MPR terdiri atas anggota DPR dan anggota DPD b. MPR mengubah dan menetapkan undang-undang dasar c. Melantik dan memberhentikan Presiden dan /atau Wakil Presiden dari jabatannya menurut undang-undang dasar.

3. Kekuasaan Pemerintahan Negara (BAB III)
Terkandung dalam pasal 4, 5, dan 7 B yng berisi tentang a. Presiden dalam melaksanakan kewajibannya dibantu oleh Wakil Presiden b. Presiden dapat mengajukan Rancangan Undang-Undang kepada DPR

c. Presiden berhak menetapkan Peraturan Pemerintah d. Jikalau Presiden melanggar konstitusi maka MPR memberhentikan(impeacement) Presiden dari jabatannya e. Impeacement diselesaikan melalui Mahkamah Konstitusi f. Jika Mahkamah Konstitusi telah memutuskan telah terjadi pelanggaran konstitusi oleh Presiden maka MPR harus melaksanakan sidang dan keputusan harus didukung sekurang-kurangnya 3/4 dari jumlah anggota dan didukung 2/3 dari jumlah anggota yang hadir g. Presiden dapat meminta pertimbangan kepada Dewan Pertimbangan Agung

4. Kementrian Negara (BAB V)
Terkandung dalam pasal 17 yang berisi tentang a. Presiden dibantu Menteri b. Menteri diangkat dan diberhentikan Presiden c. Menteri membidangi urusan tertentu dalam Pemerintahan d. Pembentukan, Pengubahan dan Pembubaran Kementerian negara diatur undangundang

5. Pemerintahan Daerah (BAB VI)
Terkandung dalam pasal 18 UUD 1945 yang berisi tentang a. Pembagian Wilayah negara b. Asas Otonomi c. Pengkuan Keistimewaan Pemerintahan Daerah

6. Dewan Perwakilan Rakyat (BAB VII)
Terkandung dalam pasal 19 – 22 UUD 1945 a. Susunan anggota DPR ditetapkan dalam undang-undang dan DPR besidang sedikitnya sekali dalam setahun b. DPR memiliki kekuasaan membentuk undang-undang c. Jikalau Rancangan Undang-Undang yang diajukan pemerintah tidak disetujui DPR maka rancangan ini tidak dapat diajukan lagi dimasa itu d. Jikalau Rancangan Undang-Undang yang dikeluarkan DPR tidak disahkan Presiden juga tidak boleh diajuakn lagi di masa itu e. Presiden mengesahkan Rancangan Undang-Undang yang disetujui bersama menjadi Undang-Undang. Bila Rancangan Undang-Undang yang disetujui bersama tidak disahkan Presiden dalam waktu 30 hari semenjak Rancangan Undang-Undang itu disetujui maka Rancangan Undang-Undang tersebut sah menjadi undnag-undang f. DPR mempunyai fungsi legislasi, fungsi anggaran dan fungsi pengwasan g. DPR mempunyai hak interpelasi, angket, menyatakan pendapat, mengajukan pertanyaan, menyampaikan usul, pendapat serta hak imunitas h. Presiden berhak menetapkan Peraturan Pemeerintah sebagai pengganti UndangUndang. Namun, jiak peraturan ini tidak mendapat persetujuan DPR maka harus dicabut i. Anggota DPR dapat diberhentikan dari jabatannya yang syarat-syaratnya diatur dalam undang-undang

7. Dewan Perwakilan Daerah (BAB VII A)
Terkandung dalam pasal 22, 22 C, dan 22 D UUD 1945 yang berisi tentang a. Jumlah anggota DPD dari semua Provinsi adalah sama dan jumlah seluruh anggota DPD tak boleh lebih dari 1/3 jumlah anggota DPR. b. DPD dapat mengajukan kepada DPR Rancangan Undang-Undang yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan sumberdaya alam dan sumberdaya ekonomi lainnya,serta berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah. c. DPD ikut membahas Rancangan Undang-Undang yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan sumberdaya alam dan sumberdaya ekonomi lainnya.serta memberikan pertimbangan kepaada DPR tentang RUU-APBN, RUU tentang pajak, pendidikan dan agama. d. DPD melakukan pengawasan atas pelaksanaan UU mengenai otonomi daerah, pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, hubungan pusat dan daerah,pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, pelaksanaan APBN, pajak, pendidikan dan agama serta menyampaikan hasil pengawasannya kepada DPR sebagai pertimbangan untuk ditindaklanjuti e. Anggota DPD diberhentikan dari jabatannya dengan syarat dan tata cara yang diatur undang-undang

8. Pemilihan Umum (BAB VII B)
Terkandung dalam pasal 22 E yang berisi tentang a. Pemiludiselenggarakan untuk memilih anggota DPR, DPD, Presiden dan Wakil Presiden, dan DPRD b. Peserta pemilu untuk anggota DPR dan anggota DPRD adalah partai politik c. Peserta pemilu untuk memilih DPD adalah perseorangan d. Pemilu dilaksanakan oleh Komisi Pemilihan Umum

9. Hal Keuangan ( BAB VIII)
Terkandung dalam pasal 23-23 D yang berisi tentang a. APBN ditetapkan tiap tahun b. Apabila R-APBN tidak disetujui DPR, maka pemerintah menjalankan anggaran tahun lalu c. Segala pemungutan pajak harus ditetapkan dengan undang-undang d. Negara memiliki satu bank sentral yang susunan, kedudukan, tanggungjawab dan independensinya diatur dengan undnag-undang

10. Badan Pemeriksa Keuangan (BAB VIII A)
Terkandung dalam pasal 23 E yang berisi tentang a. Hasil pemeriksaan keuangan negara diserahkan kepada DPR, DPRD, dan DPD sesuai dengan kewenangannya. b. Hasil pemeriksakaan lembaga perwakilan dan/atau badan sesuai dengan undnag-undang

11. Kekuasaan Kehakiaman (BAB IX)

Terkandung dalam pasal 24, 24 A, 24 B dan 24 C yang berisi tentang a. Kekuasaan kehakiman untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan b. Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada dibawahnya dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi c. Mahkamah Agung berwenang mengadili di tingkat kasasi, menguji peraturan perundangundangan dibawah undang-undang, dan mempunayi wewenang lainnay yang diberikan oleh undang-undang d. Hakim Agung harus memiliki integritas dan kepribadian yang baik, adil, profesional, serta berpengalaman dibidang hukum dan calon hakim agung diusulkan oleh Komisi Yudisial kepada DPR e. Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final, menguji undang-undang terhadap UUD, memutuskan sengketa kewenangan lembaga negara, memutus pembubaran partai politik, dan memutuskkan perselisihan hasil pemilihan umum

12. Wilayah Negara (BAB IX )
Pasal 25 A, memuat bahwa NKRI adalah sebuah negara kepulauan yang berciri nusantara dengan wilayah yang batas dan haknya ditetapkan dengan undang-undang

13. Warga Negara dan penduduk
Terkandung dalam pasal 26, 27 dan 28 UUD 1945 yang berisi tentang a. Warganegara adalah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan Undang-undang sebagai warganegara b. Penduduk adalah warganegara Indonesia dan warganegara asing yang tinggal di Indonesia c. Segala warganegara bersamaan kedudukannya dibidang hukum dan pemerintahan tanpa ada pengecualian d. Tiap warganegara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak serta adanya kemerdekaan berserikat, berkumpul, mengeluarkan pendapat dan sebagainya

14. Agama ( BAB XI )
Dalam pasal 29 UUD 1945 diatur perihal keyakian warganegara dalam kehidupan keagamaan adalah sebagai berikut: a. Negara berdasarkan atas Ketuhanan yang Maha Esa b. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masingmasing dan untuk beribadat menurut agamanya masing-masing dan kepercayaan itu

15. Pertahanan dan Keamanan Negara (BAB XII )
Terkandung dalam pasal 30 UUD 1945 yang berisi tentang a. Tiap warganegara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara b. Usaha pertahanan dan keamanan negara dilaksanakan melalui SISHANKAMRATA oleh TNI dan POLRI sebagai kekuatan utama dan rakyat sebagai kekuatan pendukungnya

c. TNI terdiri atas Angkatan darat, Laut dan Udara bertugas melindungi keutuhan dan kedaulatan negara d. POLRI bertugas melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat serta menegakkan hukum dan sebagainya

16. Pendidikan dan Kebudayaan (BAB XIII)
Terkandung dalam pasal 31 dan 32 UUD 1945 yang berisi tentang a. Tiap warganegara berhak mendapat pendidikan dan wajib mengikuti pendidikan dasar serta pemerintah wajib membiayainya b. Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sitem pendidikan nasional c. Negara memprioritaskan anggaran pendidikan minimal 20% dari APBN d. Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi e. Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia f. Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kebudayaan nasional

17. Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial (BAB XIV)
Dalam pasal 33 UUD 1945 dinyatakan sebagai berikut: 1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan 2) Cabang-cabang produksi penting bagi negara dan yang menguasai hajad hidup orang banyak dikuasai negara 3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnyadikuasai negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat 4) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasarkan atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan,berwawasan lingkungan, kemandirian serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional 5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang Kemudian dalam pasal 34 UUD 1945 menegaskan tentang nasib warga bangsa miskin. 1) Fakir miskin dan anak yang terlantar dipelihara oleh negara 2) Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memperdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan 3) Negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak 4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang

18. Bendera, Bahasa, Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan (BAB XV)
a. Berdasarkan pasal 35 UUD 1945 Bendera Bangsa Indonesia ialah Sang Merah Putih b. Berdasarkan pasal 36 UUD 1945 Bahasa negara ialah Bahasa Indonesia c. Berdasarkan pasal 36 A UUD 1945 Lambang Negara Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika d. Berdasarkan pasal 36 B UUD 1945 Lagu Kebangsaan Indonesia ialah Indonesia Raya e. Berdasarkan pasal 36 C ketentuan lebih lanjut tentang Bendera, Bahasa, Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan diatur dengan undang-undang

19. Perubahan Undang –Undang Dasar 1945 (BAB XVI)
Diatur dalam pasal 37 sebagai berikut: a. Usul perubahan pasal-pasal Undang-Undang Dasar dapat diagendakan dalam sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat, apabial diajukan oleh sekurang-kurangnya 1/3 dari jumlah anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat b. Setiap usul perubahan pasal-pasal Undang-undang Dasar diajukan secara tertulis dan ditunjukkan dengan jelas bagian yang diusulkan untuk diubah beserta alasannya c. Untuk mengubah pasal-pasal Undang-Undang Dasar, sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat d. Putusan untuk mengubah pasal-pasal Undang-Undang Dasar dilakuakan dengan persetujuan sekurang-kurangnya liam puluh persen ditambah satu dariseluruh anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat e. Khusus tentang bentuk Negara Kesatuan Republik Indinesia tidak dapat dilakukan perubahan

20. Aturan Peralihan
Pasal I: Segala peraturan perundang-undangan yang ada masih tetap berlaku selama belum diadakan yang beru menurut Undang-Undang Dasar ini Pasal II: Semua lembaga negara yang masih tetap berfungsi spanjang untuk melaksanakan ketentuan Undang-Undang Dasar dan belum diadakan yang baru menurut UndangUndang Dasar ini Pasal III: Mahkamah Konstitusi dibentuk selambat-lambatnya pada 17 Agustus 2003 dan sebelum dibentuk segala kewenangan nya dilakuakan oleh Mahkamah Agung

21. Aturan Tambahan
Pasal I : Majelis Permusyawaratan Rakyat ditugasi untuk melakukan peninjauan terhadap menteri dan status hukum Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara dan Ketetapan Majelis permusyawaratan Rakyat untuk diambil putusan pada Sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat 2003 Pasal II : dengan ditetapkannya perubahan Undang-Undang Dasar ini, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, terdiri atas pembukaan dan pasalpasal

C. Hubungan antara Lembaga-Lembaga Negara Berdasarkan UUD 1945
1. Hubungan antara Presiden dengan MPR
Majelis Permusyawaratan Rakyat sebagai pemegang kekuasaan tinggi sebagai wakil rakyat sesuai dengan UUD 1945 ( Pasal 1 ayat 2 ), disamping DPR dan Presiden. Hal ini berdasarkan ketentuan dalam UUD 1945 bahwa baik Presiden maupun MPR dipilih langsung oleh rakyat, Pasal 2 ayat (1) dan pasal 6A ayat (1). Berbeda dengan kekuasaan MPR memurut UUD 1945 sebelum

amandemen 2002 yang memiliki kekuasaan tertinggi dan mengangkat serta memberhentikan Presiden dan/wakil presiden. Sesuai dengan ketentuan UUD 1945 hasil amandemen 2002, maka Presiden dapat diberhentikan sebelum habis masa jabatannya baik karena permintaan sendiri atau karena tidak dapat melakukan kewajibannya maupun diberhentikan oleh MPR. Pemberhentian Presiden oleh MPR sebelum masa jabatan berakhir, hanya mungkin dilakukan jikalau Presiden sungguh-sungguh telah melanggar hukum berupa (Pasal 7A) : 1) 2) 3) 4) 5) 6) Penghianatan terhadap negara Korupsi Penyuapan Tindak pidana berat lainnya Perbuatan tercela Terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden atau walpres

2. Hubungan antara Presiden dengan DPR Hubungan antara Presiden dan DPR antara lain : 1) Membuat UU ( Pasal 5 ayat 1, 20 dan 21 ) dan Menetapkan UU tentang APBN ( Pasal 23 ayat 1 ). DPR bersama Presiden menetapkan UU dan RAPBN. Presiden harus mendapatkan persetujuan DPR. Di dalam pelaksanaannya DPR berfungsi sebagai pengawas terhadap pemerintah (Presiden). Pengawasan DPR terhadap Presiden mengandung arti bahwa Presiden bertanggungjawab kepada DPR dalam arti partnership. Selain itu Presiden harus memperhatikan, mendengarkan, berkonsultasi dan dalam banyak hal, memberikan keterangan-keterangan serta laporan-laporan kepada DPR dan meminta pendapatnya 2) Presiden dengan persetujuan DPR menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain. 3) Kedudukan DPR adalah kuat. Dewan ini tidak dapat dibubarkan oleh Presiden, karena anggota-anggota DPR dipilih langsung oleh rakyat 4) Presiden tidak dapat dijatuhkan oleh DPR, kecuali jika dalam pengawasannya DPR menemukan menganggap bahwa Presiden sungguh-sungguh melanggar Pidana atau konstitusi maka Majelis itu dapat melakukan sidang istimewa untuk melakukan impechment.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->