P. 1
Makalah Kasus Sgd 1 Fraktur Tulang

Makalah Kasus Sgd 1 Fraktur Tulang

|Views: 405|Likes:
Published by Tri Nur Jayanti

More info:

Published by: Tri Nur Jayanti on Nov 19, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/15/2013

pdf

text

original

Sections

MAKALAH KASUS SGD 1 FRAKTUR TULANG (Untuk memenuhi tugas mata kuliah Musculoskeletal System

)

Disusun oleh: Kelompok 5

Tsaalits Muharroroh Novi Lisnawati Rini Meilani Dea Arista Sisca Damayanti Yufi Luthfia Rahmy Kamila Aziza Rabiula Efa Fatmawati Tri Nur Jayanti Afriyani Elizabeth S. Nabilah

(220110100016) (220110100018) (220110100019) (220110100047) (220110100064) (220110100070) (220110100088) (220110100129) (220110100131) (220110100132) (220110100138)

FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2011

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan pembuatan makalah ini sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Makalah ini membahas tentang fraktur tulang yang terjadi pada usia dewasa karena trauma kecelakaan lalu lintas. Dalam penulisan makalah ini, penulis menemui beberapa kendala, tetapi dapat teratasi berkat bantuan berbagai pihak. Penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Bapak Urip Rahayu selaku dosen koordinator mata kuliah Musculoskeletal System. 2. Ibu Mira dan Ibu Endang selaku dosen tutorial Kelompok 5. 3. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak yang sifatnya membangun demi penyempurnaan makalah ini di waktu yang akan datang. Akhirnya, penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat, khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada kita. Amin.

Jatinangor, November 2011

Penulis

KASUS Tn.A umur 31 tahun dirawat di ruang bedah ortopedi karena mengalami kecelakaan tabrakan motor. Saat pengkajian, Tn.A mengalami nyeri pada paha yang terpasang skeletal traksi (3kg) dan nyeri pada bagian kulitnya. Pada saat diukur, ekstremitas bawah kanan lebih panjang 10 cm dibandingkan ekstremitas bagian kiri. Pada tulang tibia telah dipasang pen 3 hari POD. Nyeri dirasakan seperti disayat-sayat benda tajam. Nyeri bertambah bila sedang dilakukan perawatan luka. Skala nyeri 6 pada rentang 1-10. Nyeri berkurang bila diistirahatkan. Berdasarkan pengkajian fisik RR= 18x/menit, nadi78x/menit, TD=110/70, CRT=3 detik. Data Lab Hb=10,6, hematokrit=37%, leukosit=21.200 ,trombosit=171.000, MCV=87,9, MCH=29,8, MCHC=33,9, kreatinin= 0,76, Na=138, Kalium=4,0 dan ALT =15. Pasien mendapatkan terapi cevazolin 2x1, ketorolac 2x1, tramadol 2x1, Gentamicin 2x1 , Ranitidine 2x1.

STEP 1 1. Skeletal traksi ? 2. POD ? 3. ALT ? 4. MCV, MCH, MCHC ? 5. Pen ? 6. Cevazolin ? 7. Cetorolac, Tramadol, Gentamisin, Ranitidine ?

STEP 2 1. Apa penyebab ekstremitas kanan lebih panjang daripada yang kiri ? 2. Apa tujuan dipasang skeletal traksi ? 3. Nyeri dirasakan saat perawatan luka.Intervensi untuk mengurangi nyerinya ? 4. Diagnosa medisnya ? 5. Kenapa saat beristirahat nyerinya berkurang ? 6. Indikasi, cara kerja pemasangan skeletal traksi ? 7. Pengaruh penyakit ke sistem lain ? 8. Jenis-jenis skeletal traksi (berdasarkan berat beban) dan untuk digunakan pada fraktur yang seperti apa saja ? 9. MCH, MCHC, MCV menunjukkan apa? Normalnya berapa? 10. Indikasi, cara kerja, efek samping obat-obat yang diberikan ?

11. Pemeriksaan penunjang lainnya ? 12. Komplikasi jika tidak dilakukan intervensi secepat mungkin ? 13. Penatalaksanaan farmako dan non farmako ? 14. Intervensi keperawatan untuk mencegah kekakuan pada otot ? 15. Pemasangan skeletal traksi berapa lama ? 16. Data Lab dan data penunjang masih normal apa gak ? kalau gak normal kenapa ? normalnya berapa? 17. Prognosis dari diagnosa ? 18. Jenis-jenis pen, manfaatnya dan efek sampingnya ? 19. Pen nya dicabut apa tidak, berapa lama dipasang pennya ? 20. Perawatan lukanya seperti biasa atau tidak ? 21. Proses penyembuhan membutuhkan waktu berapa lama ? 22. Nutrisi yang dibutuhkan klien ? 23. Apakah dalam masa penyembuhan berpengaruh terhadap umur dan jenis kelamin ? 24. Penkes ? 25. Bio-Psiko-Sosio ? 26. Jenis-jenis fraktur ?

STEP 3 23.Faktor usia mempengaruhi, semakin tua maka proses penyembuhan luka semakin lama. 1. Ekstremitas kanan lebih panjang karena bagian kaki kiri mengalami fraktur,jadi terlihat lebih pendek. 11.Pemeriksaan penunjang ada yang invasive dan non vasif. Invasif = bone scan, non vasif = rontgen, MRI, X-Ray 22.Nutrisi yang dibutuhkan adalah kalsium untuk membentuk mineral tulang dan vitamin D untuk membantu dan mempercepat penyerapan kalsium. 3. Menghilangkan nyeri yaitu: distraksi, relaksasi, imageri guide. Kalau nyeri sangat sakit sekali, dapat berkolaborasi untuk memberikan analgetik. 5. Fraktur apabila digerakkan akan memberikan gesekan pada area jaringan lunak disekitar fraktur sehingga timbulah rasa nyeri. Selain itu nyeri juga dapat dikarenakan respon dari inflamasi yang dialami oleh tulang fraktur. 12.Komplikasinya adalah nyeri yang bertambah, tulangnya berubah (idak normal lagi), dan lebih parah lagi dapat diamputasi.

25.Bio: kaki nyeri akibatnya terganggu aktivitas Psiko: karena nyeri sehingga pasien mudah marah dan emosi labil Sosial: saat berinteraksi dengan orang lain terlihat beda Spiritual: aktivitas ibadah terganggu 26.Fraktur terbuka = tulangnya menonjol keluar Fraktur tertutup = kulit tidak robek tapi tulang didalamnya telah mengalami fraktur 14. Jika luka masih sakit tidak boleh dilakukan ROM dan menghindari gerakan di area fraktur

STEP 4 Mind Map Anatomi Fisiologi Otot dan Tulang Fraktur Tulang Asuhan Keperawatan Konsep Klinis        Definisi Etiologi Klasifikasi Manifestasi Klinis Komplikasi Tambahan Proses penyembuhan faktur Faktor yang mempengaruhi Penanganan sesuai klasifikasi fraktur Pemeriksaan Fisik Komplikasi fraktur

Pemeriksaan Penunjang Penatalaksanaan

STEP 5 Learning Objective Step 1 1. Skeletal traksi ? 2. ALT ? 3. MCV, MCH, MCHC ? 4. Pen ? 5. Cevazolin ?

6. Cetorolac, Tramadol, Gentamisin, Ranitidine ?

Step 2 2, 3, 6, 7, 8, 9, 10, 13, 15, 16, 17, 18, 19

Tambahan 1. Bagaimana proses penyembuhan pada sistem musculoskeletal + faktor yang mempengaruhi ? 2. Penanganan sesuai klasifikasi fraktur ? 3. Pemeriksaan Fisik ? 4. komplikasi fraktur ?

A. ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM MUSCULOSKELETAL Muskuloskeletal terdiri atas : 1. Musu ler/Otot : Otot, tendon, dan ligament

2. Sk eletal/Rangka: Tulang dan sendi MUSKULER/OTOT 1. Otot Sel-sel otot mempunyai kekhususan yaitu untuk berkontraksi.Terdapat lebih dari 600 buah otot pada tubuh manusia. Sebagian besar otot-otottersebut dilekatkan pada tulangtulang kerangka tubuh oleh tendon, dan sebagiankecil ada yang melekat di bawah permukaan kulit. Fungsi sistem muskuler/otot: 1. Pergerakan. Otot menghasilkan gerakan pada tulang tempat otot tersebut melekat dan bergerak dalam bagian organ internal tubuh. 2. Penopang tubuh dan mempertahankan postur. Otot menopang rangka dan mempertahankan tubuh saat berada dalam posisi berdiri atau saat duduk terhadap gaya gravitasi. 3. Produksi panas. Kontraksi otot-otot secara metabolis menghasilkan panas untuk mepertahankan suhu tubuh normal. Ciri-ciri sistem muskuler/otot: 1. Kontrakstilitas. Serabut otot berkontraksi dan menegang, yang dapat atau tidak melibatkan pemendekan otot.

2.

Eksitabilitas. Serabut otot akan merespons dengan kuat jika distimulasi oleh impuls saraf.

3.

Ekstensibilitas. Serabut otot memiliki kemampuan untuk menegang melebihi panjang otot saat rileks.

4.

Elastisitas. Serabut otot dapat kembali ke ukuran semula setelah berkontraksi atau meregang.

Jenis-jenis otot a. Otot rangka, merupakan otot lurik, volunter, dan melekat pada rangka.       Serabut otot sangat panjang, sampai 30 cm, berbentuk silindris dengan lebar berkisar antara 10 mikron sampai 100 mikron. Setiap serabut memiliki banyak inti yang tersusun di bagian perifer. Kontraksinya sangat cepat dan kuat.

Struktur Mikroskopis Otot Skelet/Rangka Otot skelet disusun oleh bundel-bundel paralel yang terdiri dari serabut-serabut berbentuk silinder yang panjang, disebut myofiber /serabut otot. Setiap serabut otot sesungguhnya adalah sebuah sel yang mempunyai banyak nukleus ditepinya. Cytoplasma dari sel otot disebut sarcoplasma yang penuh dengan bermacammacam organella, kebanyakan berbentuk silinder yang panjang disebut dengan myofibril.  Myofibril ukurannya : yang kasar terdiri dari protein myosin. yanghalus terdiri dari protein aktin/actin. b. Otot Polos merupakan otot tidak berlurik dan involunter. Jenis otot ini dapat ditemukan pada dinding berongga seperti kandung kemih dan uterus, sertapada dinding tuba, seperti pada sistem respiratorik, pencernaan, reproduksi,urinarius, dan sistem sirkulasi darah.  Serabut otot berbentuk spindel dengan nukleus sentra. Serabut ini berukuran kecil, berkisar antara 20 mikron (melapisi pembuluh darah) sampai 0,5 mm pada uterus wanita hamil.   Kontraksinya kuat dan lamban. Struktur Mikroskopis Otot Polos disusun oleh myofilament-myofilament yang berbeda-beda

Sarcoplasmanya terdiri dari myofibril yang disusun oleh myofilamenmyofilamen. Jenis otot polos Ada dua kategori otot polos berdasarkan cara serabut otot distimulasi untuk berkontraksi: 1. Otot polos unit ganda ditemukan pada dinding pembuluh darah besar, pada jalan udara besar traktus respiratorik, pada otot mata

yangmemfokuskan lensa dan menyesuaikan ukuran pupil dan pada otot erektorpili rambut. 2. Otot polos unit tunggal (viseral) ditemukan tersusun dalam lapisan dinding organ berongga atau visera. Semua serabut dalam lapisan mampuberkontraksi sebagai satu unit tunggal. Otot ini dapat bereksitasi sendiriatau miogenik dan tidak memerlukan stimulasi saraf eksternal untuk hasildari aktivitas listrik spontan. c. Otot Jantung     Merupakan otot lurik.Disebut juga otot seran lintang involunter Otot ini hanya terdapat pada jantung Bekerja terus-menerus setiap saat tanpa henti, tapi otot jantung juga mempunyai masa istirahat, yaitu setiap kali berdenyut. Struktur Mikroskopis Otot Jantung : Mirip dengan otot skelet

Otot Rangka Kerja Otot      

Otot Polos

Otot Jantung

Fleksor (bengkok) >< Ekstentor (meluruskan) Supinasi(menengadah) >< Pronasi (tertelungkup) Defresor(menurunkan) >< Lepator (menaikkan) Sinergis (searah) >< Antagonis (berlawanan) Dilatator(melebarkan) >< Konstriktor (menyempitkan) Adduktor(dekat) >< Abduktor (jauh)

2. Tendon Tendon adalah tali atau urat daging yang kuat yang bersifat fleksibel, yangterbuat dari fibrous protein (kolagen). Tendon berfungsi melekatkan tulang denganotot atau otot dengan otot. 3. Ligamen Ligamen adalah pembalut/selubung yang sangat kuat, yang merupakanjaringan elastis penghubung yang terdiri atas kolagen. Ligamen membungkustulang dengan tulang yang diikat oleh sendi. Beberapa tipe ligamen : 1. Ligamen Tipis Ligamen pembungkus tulang dan kartilago. Merupakan ligament kolateral yang ada di siku dan lutut. Ligamen ini memungkinkan terjadinya pergerakan 2. Ligamen jaringan elastik kuning. Merupakan ligamen yang dipererat oleh jaringan yang membungkus dan memperkuat sendi, seperti pada tulang bahu dengan tulang lengan atas.

SKELETAL 1. Tulang/ Rangka Skeletal disebut juga sistem rangka, yang tersusun atas tulang-tulang. Tubuh kita memiliki 206 tulang yang membentuk rangka. Bagian terpenting adalah tulangbelakang.

Fungsi Sistem Skeletal : 1. Memproteksi organ-organ internal dari trauma mekanis 2. Membentuk kerangka yang yang berfungsi untuk menyangga tubuh dan otot-otot tubuh yang melekat pada tulang 3. Melindungi sum-sum tulang merah yang merupakan salah satu jaringan pembentuk darah. 4. Merupakan tempat penyimpanan bagimineral seperti calcium daridalam darah. Pertumbuhan Tulang Tulang mencapai kematangannya setelah pubertas dan pertumbuhan seimbang hanya sampai usia 35 tahun. Berikutnya mengalami percepatan reabsorpsi sehingga terjadi penurunan massa tulang sehingga pada usila menjadi rentan terhadap injury. Pertumbuhan dipengaruhi hormon & mineral. Penyusun Tulang Tulang disusun oleh sel-sel tulang yang terdiri dari osteosit, osteoblast dan osteoklast serta matriks tulang. Matriks tulang mengandung unsur organik terutama kalsium dan fosfor. Struktur Tulang Secara makroskopis tulang terdiri dari dua bagian yaitu pars spongiosa (jaringan berongga) dan pars kompakta (bagian yang berupa jaringan padat). Permukaan luar tulang dilapisi selubung fibrosa (periosteum); lapis tipis jaringan ikat (endosteum) melapisi rongga sumsum & meluas ke dalam kanalikuli tulang kompak. Membran periosteum berasal dari perikondrium tulang rawan yang merupakan pusat osifikasi. Periosteum merupakan selaput luar tulang yang tipis. Periosteum mengandung osteoblas (sel pembentuk jaringan tulang), jaringan ikat dan pembuluh darah. Periosteum merupakan tempat melekatnya otot-otot rangka (skelet) ke tulang dan berperan dalam memberikan nutrisi, pertumbuhan dan reparasi tulang rusak. Pars kompakta teksturnya halus dan sangat kuat. Tulang kompak memiliki sedikit rongga dan lebih banyak mengandung kapur (Calsium Phosfat dan Calsium Carbonat) sehingga tulang menjadi padat dan kuat. Kandungan tulang manusia dewasa lebih banyak mengandung kapur dibandingkan dengan anak-anak maupun bayi. Bayi dan anak-anak memiliki tulang yang lebih banyak mengandung serat-serat sehingga lebih lentur. Tulang kompak paling banyak ditemukan pada tulang kaki dan tulang tangan.

Pars spongiosa merupakan jaringan tulang yang berongga seperti spon (busa). Rongga tersebut diisi oleh sumsum merah yang dapat memproduksi sel-sel darah. Tulang spongiosa terdiri dari kisi-kisi tipis tulang yang disebut trabekula. Secara Mikroskopis tulang terdiri dari: 1. Sistem Havers (saluran yang berisi serabut saraf, pembuluh darah, aliran limfe). 2. Lamella (lempeng tulang yang tersusun konsentris). 3. Lacuna (ruangan kecil yang terdapat di antara lempengan–lempengan yang mengandung sel tulang). 4. Kanalikuli (memancar di antara lacuna dan tempat difusi makanan sampai ke osteon).

Bagian – bagian tulang pipa : 1. Epifise : bagian ujung tulang yang terdiri dari tulang rawan 2.Diafise : bagian tengah yang memanjang dan di pusatnya terdapat rongga berisi sumsum tulang 3. Cakraepifise : bagian sempit diantara epifise dan diafise

Bentuk Tulang Skelet disusun oleh tulang-tulang yang berjumlah 206 buah. Berdasarkan bentuknya, tulang-tulang tesebut dikelompokkan menjadi : 1. Ossa longa (tulang panjang): tulang yang ukuran panjangnya terbesar, contohnya os humerus dan os femur.

2. Ossa brevia (tulang pendek): tulang yang ukurannya pendek, contoh: ossa carpi.

3. Ossa plana (tulang gepeng/pipih): tulang yg ukurannya lebar, contoh: os scapula

4. Ossa irregular (tulang tak beraturan), contoh: os vertebrae.

5. Ossa pneumatica (tulang berongga udara), contoh: os maxilla.

Tulang Rawan (Kartilago) Tulang rawan berkembang dari mesenkim membentuk sel yg disebut kondrosit. Kondrosit menempati rongga kecil (lakuna) di dalam matriks dgn substansi dasar seperti gel (berupa proteoglikans) yg basofilik. Kalsifikasi menyebabkan tulang rawan tumbuh menjadi tulang (keras). Jenis Tulang Rawan 1. Hialin Cartilago : matriks mengandung seran kolagen; jenis yg paling banyak dijumpai. 2. .Elastic Cartilago : serupa dg tl rawan hialin tetapi lebih banyak serat elastin yang mengumpul pada dinding lacuna yang mengelilingi kondrosit 3. Fibrokartilago: tidak pernah berdiri sendiri tetapi secara berangsur menyatu dengan tulang rawan hialin atau jaringan ikat fibrosa yang berdekatan. Klasifikasi Tulang berdasarkan penyusunnya 1. Tulang Kompak a. Padat, halus dan homogeny b. Pada bagian tengah terdapat medullary cavity yang mengandung ’yellow bone marrow”. c.Tersusun atas unit : Osteon Haversian System

d. Pada pusat osteon mengandung saluran (Haversian Kanal) tempatpembuluh darah dan saraf yang dikelilingi oleh lapisan konsentrik e. Tulang kompak dan spongiosa dikelilingi oleh membran tipis yang disebut eriosteur, membran ini mengandung:   Bagian luar percabangan pembuluh darah yang masuk ke dalam tulang Osteoblas

2. Tulang Spongiosa a. Tersusun atas ”honeycomb” network yang disebut trabekula. b. Struktur tersebut menyebabkan tulang dapat menahan tekanan.

c. Rongga antara trebakula terisi ”red bone marrow” yang mengandung pembuluh darah yang memberi nutrisi pada tulang. d. Contoh, tulang pelvis, rusuk,tulang belakang, tengkorak dan pada ujung tulang lengan dan paha. Pembagian Sistem Skeletal 1.Axial / rangka aksial, terdiri dari : tengkorak kepala / cranium dan tulang-tulang muka columna vertebralis / batang tulang belakang costae / tulang-tulang rusuk ternum / tulang dada

2.Appendicular / rangka tambahan, terdiri dari : tulang extremitas superior a. korset pectoralis, terdiri dari scapula (tulang berbentuk segitiga) dan clavicula (tulang berbentuk lengkung). b. lengan atas, mulai dari bahu sampai ke siku. c. lengan bawah, mulai dari siku sampai pergelangan tangan. d. tangan extremitas inferior: korset pelvis, paha, tungkai bawah, kaki.

A. TULANG TENGKORAK a. Tulang tempurung kepala (os cranium)             Tulang dahi (os frontale) Tulang kepala belakang (os occipitale) tulang ubun-ubun (os parietale) Tulang tapis (os ethmoidale) Tulang baji (os sphenoidale) Tulang pelipis (os temporale)

b. tulang muka (os splanchocranium) Tulang hidung (os nasale) Tulang langit-langit (os pallatum) Tulang air mata (os lacrimale) tulang rahang atas (os maxilla) Tulang rahang bawah (os mandibula) Tulang pipi (os zygomaticum)

 

Tulang lidah (os hyoideum) Tulang pisau luku (os vomer)

tulang wajah B. LOW BACK REGION 1. Struktur Ruas tulang punggung dikelompokkan menjadi: 1. Cervical/leher 7 ruas 2. Thoracalis/punggung 12 ruas 3. Lumbalis/pinggang 5 ruas 4. Sakralis/kelangkang 5 ruas 5. Koksigeus/ekor 4 ruas 2. Fungsi Low back region berfungsi untuk menegakkan/menopang postur strukturtulang belakang manusia. Postur tegak juga meningkatkan gaya mekanik strukturtulang belakang lumbrosakral.

Antar tulang belakang diikat oleh intervertebal, serta oleh ligamen dan otot.Ikatan antar tulang yang lunak membuat tulang punggung menjadi fleksibel. Sebuahunit fungsi dari dua bentuk tulang yang berdekatan diperlihatkan dari gambar diatas ini. 3. Komponen punggung  Otot punggung Ditunjang oleh punggung, perut, pinggang dan tungkai yang kuat danfleksibel. Semua otot ini berfungsi untuk menahan agar tulang belakang dandiskus tetap dalam posisi normal.  Disk us Merupakan bantalan tulan rawan yang berfungsi sebagai penahan goncangan.Terdapat diantara vertebrae sehingga memungkinkan sendi-sendi untukbergerak secara halus. Tiap diskus mengandung cairan yang mengalir kedalam dan keluar diskus. Cairan ini berfungsi sebagai pelumas sehinggamemungkinkan punggung bergerak bebas. Diskus bersifat elastis, mudahkembali ke bentuk semula jika tertekan diantara kedua vertebra. a. Otot-otot punggung - Spinaerektor terdiri dari massa serat otot, berasal dari belakang sakrum dan bagian perbatasan dari tulang inominate dan melekat ke belakang kolumnavertebra atas, dengan serat yang selanjutnya timbul dari vertebra dan sampaike tulang oksipital dari tengkorak. Otot tersebut mempertahankan posisitegak tubuh dan memudahkan tubuh untuk mencapai posisinya kembaliketika dalam keadaan fleksi. - Lastimus dorsi adalah otot datar yang meluas pada belakang punggung. Aksi utama dari otot tersebut adalah menarik lengan ke bawah terhadapposisi bertahan, gerakan rotasi lengan ke arah dalam, dan menarik tubuhmenjauhi lengan pada saat mendaki. Pada pernapasan yang kuat menekanbagian posterior dari abdomen. b. Otot-otot tungkai Gluteus maksimus, gluteus medius, dan gluteus minimus adalah otot-ototdari bokong. Otot-otot tersebut semua timbul dari permukaan sebelah luar ilium,sebagian gluteus maksimus timbul dari sebelah belakang sacrum. Aksi utamaotot-otot tersebut adalah mempertahankan posisi gerak tubuh, memperpanjangpersendian panggul pada saat berlari, mendaki, dan saat menaiki tangga, dalammengangkat tubuh dari posisi duduk atau membungkuk, gerakan abduksi danrotasi lateral dari paha. C. INTERVERTEBRAL DISC

Pada makhluk hidup vertebrata (memiliki ruas tulang belakang) terdapat sebuah struktur yang dibentuk oleh sejumlah tulang yang disebut vertebra (vertebral body). Pada setiap dua ruas vertebra terdapat sebuah bantalan tulang rawan berbentuk cakram yang disebut dengan Intervertebral Disc. Pada tubuh manusiaterdapat 24 buah Intervertebral disc. Tulang rawan ini berfungsi sebagai penyangga agar vertebra tetap berada pada posisinya dan juga memberi fleksibilitas pada ruastulang belakang ketika terjadi pergerakan atau perubahan posisi pada tubuh.

Susunan tulang rawan ini terbagi menjadi 3 bagian: 1. Nucleus pulposus, memiliki kandungan yang terdiri dari 14%P rote ogly c an, 77% Air, dan 4%Col l agen. 2. Annulus fibrosus, mengandung 5%Proteoglycan, 70% Air, dan 15%Col l agen. 3. Cartilage endplate, terdiri dari 8%P rot eogl y c an, 55% Air, dan 25%Col l agen D. NECK Tulang leher terdiri dari tujuh ruas, mempunyai badan ruas kecil dan lubang ruasnya besar. Pada taju sayapnya terdapat lubang tempat lajunya saraf yang disebutforamen tranvertalis. Ruas pertama vertebra serfikalis disebut atlas

yangmemungkinkan kepala mengangguk. Ruas kedua disebut prosesus odontois (aksis)yang memungkinkan kepala berputar ke kiri dan ke kanan. Ruas ketujuh mempunyaitaju yang disebut prosesus prominan. Taju ruasnya agak panjang. Tulang-tulang yang terdapat pada leher: a.Os. Hyoideum adalah sebuah tulang uang berbentuk U dan terletak di atas cartylago thyroidea setinggi vertebra cervicalis III. b. Cartygo thyroidea c.Prominentia laryngea, dibentuk oleh lembaran-lembaran cartylago thyroidea yang bertemu di bidang median. Prominentia laryngea dapat diraba danseringkali terlihat.

d.Cornu superius, merupakan tulang rawan yang dapat diraba bilamana tanduk disis yang lain difiksasi. e.Cartilagocricoidea, sebuah tulang rawan larynx yang lain, dapat diraba di bawah prominentia laryngea f.Cartilagines tracheales, teraba dibagian inferior leher. g.Cincin-cincin tulang rawan kedua sampai keempat tidak teraba karena tertutupoleh isthmus yang menghubungkan lobus dexter dan lobus sinister glandulaethyroideae. h.Cartilage trachealis I, terletak tepat superior terhadap isthmu Otot Leher

Otot bagian leher dibagi menjadi tiga bagian: a.Muskulus platisma yang terdapat di bawah kulit dan wajah. Otot ini menuju ketulang selangka dan iga kedua. Fungsinya menarik sudut-sudut mulut ke bawahdan melebarkan mulut seperti sewaktu mengekspresikan perasaan sedih dantakut, juga untuk menarik kulit leher ke atas. b. Muskulus sternokleidomastoideus terdapat pada permukaan lateralproc.mastoidebus ossis temporalis dan setengah lateral linea nuchalis superior.Fungsinya memiringkan kepala ke satu sisi, misalnya ke lateral (samping), fleksidan rotasi leher, sehingga wajah menghadap ke atas pada sisi yang lain; kontraksikedua sisi menyebabkan fleksi leher. Otot ini bekerja saat kepala akan ditarik kesamping. Akan tetapi, jika otot muskulus platisma dan sternokleidomastoideussama-sama bekerja maka reaksinya adalah wajah akan menengadah. c.Muskulus longisimus kapitis, terdiri dari splenius dan semispinalis kapitis.Fungsinya adalah laterofleksi dan eksorositas kepala dan leher ke sisi yang sama.Ketiga otot tersebut terdapat di belakang leher yang terbentang dari belakangkepala ke prosesus spinalis korakoid. Fungsinya untuk menarik kepala belakangdan menggelengkan kepala.

E. ELBOW Siku adalah suatu titik yang sangat komplek di mana terdapat tiga tulang yaituhumerus, radius dan ulna. Ketiga tulang tersebut bekerja secara bersama-sama dalamsuatu gerakan flexi, extensi dan rotasi.

F. SHOULDER (BAHU) 1. Tulang Bahu Tulang-tulang pada bahu terdiri dari: Clavicula (tulang selangka), merupakan tulang berbentuk lengkung yang

menghubungkan lengan atas dengan batang tubuh. Ujung medial (ke arahtengah) clavicula berartikulasi dengan tulang dada yang dihubungkan olehsendisternoclavicular, sedangkan ujung lateral-nya (ke arah samping)berartikulasi dengan scapula yang dihubungkan oleh sendiac romi oc l av ic ul ar.Sendiste rnoc lav ic ular merupakan satusatunya penghubung antara tulangextremitas bagian atas dengan tubuh. Sca pula (tulang belikat), merupakan tulang yang berbentuk segitiga. Tulang ini berartikulasi dengan clavicula dan tulang lengan atas. Ke arah lateralscapula melanjutkan diri sebagaiac romioc lav ic ular yang menghubungkanscapula dengan clavicula. Sendi glenohumeral, merupakan penghubung antara tulang lengan atas dengan scapula

2. Otot Bahu

Otot bahu hanya meliputi sebuah sendi saja dan membungkus tulang pangkal lengan dan scapula. 1. Muskulus deltoid (otot segi tiga), otot ini membentuk lengkung bahu dan berpangkal di bagian lateral clavicula (ujung bahu), scapula, dan tulang pangkal lengan. Fungsi dari otot ini adalah mengangkat lengan sampai mendatar. 2. Muskulus subkapularis (otot depan scapula). Otot ini dimulai dari bagian depan scapula, menuju tulang pangkal lengan. Fungsi dari otot ini adalah menengahkan dan memutar humerus (tulang lengan atas) ke dalam. 3. Muskulus supraspinatus (otot atas scapula). Otot ini berpangkal di lekuk sebelah atas menuju ke tulang pangkal lengan. Fungsi otot ini adalah untuk mengangkat lengan. 4. Muskulus infraspinatus (otot bawahscapula). Otot ini berpangkal di lekuk sebelah bawah scapula dan menuju ke tulang pangkal lengan. Fungsinya memutar lengan keluar. 5. Muskulus teres mayor (otot lengan bulat besar). Otot ini berpangkal di siku bawah scapula dan menuju tulang pangkal lengan. Fungsinya bisa memutar lengan ke dalam. 6. Muskulus teres minor (otot lengan bulat kecil). Otot ini berpangkal di siku sebelah luar scapula dan menuju tulang pangkal lengan. Fungsinya memutarlengan ke luar 2.2 Sendi Persendian adalah hubungan antar dua tulang sedemikian rupa, sehingga dimaksudkan untuk memudahkan terjadinya gerakan. Jenis Sendi Berdasarkan pergerakannya sendi dibagi menjadi : 1. Synarthroses Sendi ini mempunyai pergerakan yang terbatas atau bahkan tidak dapat bergeak sama sekali. Sendi ini dijumpai pada tulang tengkorak dimana lempeng-lempeng tulang tengkorak disambungkan oleh elemen fibrosa.

2. AmphiarthrosesSendi ini mempunyai pergerakan yang terbatas. Jaringan berupa diskus fibrocartilage yang lebar dan pipih menghubungkan antara dua tulang. Umumnya bagian tulang yang berada pada sisi persendian dilapisi oleh tulang rawan hialin dan struktur keseluruhan berada dalam kapsul. Beberapa contoh sendi ini adalah: sendi vertebra, dan simfisis pubis. 3. DiarthrosesSendi ini memiliki pergerakan yang luas. Umumnya dijumpai pada sendi-sendi ekstremitas. Dijumpai adanya celah sendi, rawan sendi yang licin dan membran sinovium serta kapsul sendi. Sedangkan berdasarkan strukturnya sendi dibagi menjadi : 1. Sendi Fibrosa Sendi fibrosa dihubungkan oleh jaringan fibrosa. Terdapat dua tipe sendi fibrosa; (1) Sutura diantara tulang tulang tengkorak dan (2) sindesmosis yang terdiri dari suatu membran interoseus atau suatu ligamen di antara tulang. Sendi ini mempunyai pergerakan yang terbatas. 2. Sendi Kartilago/tulang rawan Ruang antar sendinya diisi oleh tulang rawan dan disokong oleh ligamen dan hanya dapat sedikit bergerak. Ada dua tipe sendi kartilaginosa yaitu sinkondrosis adalah sendi sendi yang seluruh persendiannya diliputi oleh rawan hialin. Sendi sendi kostokondral adalah contoh dari sinkondrosis. Simfisis adalah sendi yang tulang tulangnya memiliki suatu hubungan fibrokartilago antara tulang dan selapis tipis rawan hialin yang menyelimuti permukaan sendi. Contoh sendi kartilago adalah simfisis pubis dan sendi sendi pada tulang punggung. 3. Sendi Sinovial/sinovial joint Sendi ini dilengkapi oleh kartilago yang melicinkan permukaan sendi, kapsul sendi (kantung sendi), membran sinovial (bagian dalam kapsul), cairan sinovial yang berfungsi sebagai pelumas dan ligamen yang berfungsi memperkuat kapsul sendi. Cairan sinovial normalnya bening, tidak membeku, dan tidak berwarna atau berwarna kekuningan. Jumlah yang ditemukan pada tiap tiap sendi normal relatif kecil (1 sampai 3 ml).

B. DEFINISI F r a k t u r a d a l a h p e m i s a h a n a t a u r o b e k a n p a d a k o n t i n u i t a s tulang ya ng terjadi karena adanya tekanan yang berlebihan pada tulang dan tulang tidak mampu untuk menahannya. Fraktur adalah putusnya hubungan normal suatu tulang atautulang rawan yang disebabkan oleh kekerasan. (E. Oerswari, 1989 :144)

C. ETIOLOGI Etiologi fraktur yang dimaksud adalah peristiwa yang dapat menyebabkan terjadinya fraktur diantaranya peristiwa trauma(kekerasan) dan peristiwa patologis. 1. Peristiwa Trauma (kekerasan) a) Kekerasan langsung Kekerasan langsung dapat menyebabkan tulang patah pada titik terjadinya kekerasan itu, misalnya tulang kaki terbentur bumper mobil, maka tulang akan patah tepat di tempat terjadinya benturan. Patah tulang demikian sering bersifat terbuka, dengan garis patah melintang atau miring. b) Kekerasan tidak langsung Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang di tempat yang jauh dari tempat terjadinya kekerasan. Yang patah biasanya adalah bagian yang paling lemah dalam hantaran vektor kekerasan. Contoh patah tulang karena kekerasan tidak langsung adalah bila seorang jatuh dari ketinggian dengan tumit kaki terlebih dahulu. Yang patah selain tulang tumit, terjadi pula patah tulang pada tibia dan kemungkinan pula patah tulang paha dan

tulang belakang. Demikian pula bila jatuh dengan telapak tangan sebagai penyangga, dapat menyebabkan patah pada pergelangan tangan dan

tulang lengan bawah. c) Kekerasan akibat tarikan otot Kekerasan tarikan otot dapat menyebabkan dislokasi dan patah tulang. Patah tulang akibat tarikan otot biasanya jarang terjadi. Contohnya patah tulang akibat tarikan otot adalah patah tulang patella dan olekranom, karena otot triseps dan biseps mendadak berkontraksi. 2. Peristiwa Patologis a) Kelelahan atau stres fraktur Fraktur ini terjadi pada orang yang yang melakukan aktivitas berulang – ulang pada suatu daerah tulang atau menambah tingkat aktivitas yang lebih berat dari biasanya. Tulang akan mengalami perubahan struktural akibat pengulangan tekanan pada tempat yang sama, atau peningkatan beban secara tiba – tiba pada suatu daerah tulang maka akan terjadi retak tulang. b) Kelemahan Tulang Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal karena lemahnya suatu tulang akibat penyakit infeksi, penyakit metabolisme tulang misalnya osteoporosis, dan tumor pada tulang. Sedikit saja tekanan pada daerah tulang yang rapuh maka akan terjadi fraktur. a. Tumor Tulang ( Jinak atau Ganas ) : pertumbuhan jaringan baru yang tidak terkendali dan progresif. b. Infeksi seperti osteomielitis : dapat terjadi sebagai akibat infeksi akut atau dapat timbul sebagai salah satu proses yang progresif, lambat dan sakit nyeri. c. Rakhitis : suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh defisiensi Vitamin D yang mempengaruhi semua jaringan skelet lain, biasanya disebabkan kegagalan absorbsi Vitamin D atau oleh karena asupan kalsium atau fosfat yang rendah.

D. KLASIFIKASI Berikut ini terdapat beberapa klasifikasi Fraktur sebagaimana yang dikemukakan oleh para ahli: A. Menurut Depkes RI (1995), berdasarkan luas dan garis traktur meliputi: 1) Fraktur komplit adalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang yang luas sehingga tulang terbagi menjadi dua bagian dan garis patahnya menyeberang dari satu sisi ke sisi lain serta mengenai seluruh korteks. 2) Fraktur inkomplit adalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang dengan garis patah tidak menyeberang, sehingga tidak mengenai seluruh korteks (masih ada korteks yang utuh). B. Menurut Black dan Matassarin (1993) yaitu fraktur berdasarkan hubungan dengan dunia luar, meliputi: 1) Fraktur tertutup yaitu fraktur tanpa adanya komplikasi, kulit masih utuh, tulang tidak keluar melewati kulit. 2) Fraktur terbuka yaitu fraktur yang merusak jaringan kulit, karena adanya hubungan dengan lingkungan luar, maka fraktur terbuka potensial terjadi infeksi. Fraktur terbuka dibagi menjadi 3 grade yaitu: a) Grade I : Robekan kulit dengan kerusakan kulit dan otot. b) Grade II : Seperti grade I dengan memar kulit dan otot. c) Grade III : Luka sebesar 6-8 cm dengan kerusakan pembuluh darah, syaraf, otot dan kulit. C. Long (1996) membagi fraktur berdasarkan garis patah tulang, yaitu: 1) Green Stick yaitu pada sebelah sisi dari tulang ( retak dibawah lapisan periosteum) / tidak mengenai seluruh kortek, sering terjadi pada anak-anak dengan tulang lembek. 2) Transverse yaitu patah melintang ( yang sering terjadi ). 3) Longitudinal yaitu patah memanjang. 4) Oblique yaitu garis patah miring. 5) Spiral yaitu patah melingkar. 6) Communited yaitu patah menjadi beberapa fragmen kecil D. Black dan Matassarin (1993) mengklasifikasi lagi fraktur berdasarkan kedudukan fragmen yaitu: 1) Tidak ada dislokasi. 2) Adanya dislokasi, yang dibedakan menjadi: a. Disklokasi at axim yaitu membentuk sudut.

b. Dislokasi at lotus yaitu fragmen tulang menjauh. c. Dislokasi at longitudinal yaitu berjauhan memanjang. d. Dislokasi at lotuscum controltinicum yaitu fragmen tulang menjauh dan over lapp ( memendek ).

E. Bergeser dapat terjadi dalam 6 cara: a. Bersampingan b. Angulasi c. Rotasi d. Distraksi e. Over-riding f. Impaksi

F. MANIFESTASI KLINIS 1. Deformitas Daya terik kekuatan otot menyebabkan fragmen tulang berpindah dari tempatnya perubahan keseimbangan dan contur terjadi seperti : a. Rotasi pemendekan tulang b. Penekanan tulang 2. Bengkak : edema muncul secara cepat dari lokasi dan ekstravaksasi darah dalam jaringan yang berdekatan dengan fraktur 3. Echumosis dari Perdarahan Subculaneous 4. Spasme otot spasme involunters dekat fraktur 5. Tenderness/keempukan

6. Nyeri mungkin disebabkan oleh spasme otot berpindah tulang dari tempatnya dan kerusakan struktur di daerah yang berdekatan. 7. Kehilangan sensasi (mati rasa, mungkin terjadi dari rusaknya saraf/perdarahan) 8. Pergerakan abnormal 9. Shock hipovolemik hasil dari hilangnya darah 10. Krepitasi (Black, 1993 : 199).

G. KOMPLIKASI 1. Syok Hipovolemik Syok hipovolemik terjadi akibat perdarahan baik kehilangan dari eksterna maupun interna dan kehilangan cairan ekstrasel ke jaringan yang rusak. 2. Fat Embolism Syndrom Pada saat terjadi fraktur, globula lemak dapat masuk ke dalam darah karena tekanan sumsung tulang lebih tinggi dari tekanan kapiler atau karena katekolamin yang dilepaskan oleh reaksi stress pasienyang akan memobilitasi asam lemak dan memudahkan terjadinya globula lemak dalam aliran darah. Globula lemak akan bergabung dengan trombosit membentuk emboli, yang kemudian menyumbat pembuluh darah kecil yang memasok otak, paru, ginjal, dan organ lain. Gambaran klinisnya berupa hipoksia, takipnea, takikardia, dan pireksia. 3. Compartmen Syndrom Sindrom Kompartemen akibat fraktur dapat terjadi karena peningkatan tekanan intrakompartemen yang berlebihan ddidalam kompartemen dan tidak diikuti oleh pertambahan luas atau volume kompartemen itu sendiri. Peningkatan tekanan ini disebabkan oleh cairan, dapat berupa darah atau edema. Dengan meningkatnya tekanan intrakompartemen yang melampaui tekanan perfusi kapiler, akan menyebabkan aliran darah yang seharusnya mensuplai oksigen dan nutrisi ke jaringan menjadi tidak adekuat. Hal ini memicu terjadinya iskemia hjaringa, yang menyebabkan edema sehingga tekanan intrakompartemen tersebut akan semakin meningkat. Bila hal ini tidak diatasi, maka iskemia yang terjadi akan

menimbulakan kematian jaringan dan nekrosis, yang pada akhirnya dapat mengancam nyawa. 4. Infeksi Pada fraktur, infeksi dapat terjadi melalui 3 jalur: a. Fraktur terbuka yang disertai luka yang terpajan dengan lingkungan luar.

b. c.

Fraktur yang disertai hematoma, dimana bakteri dibawa oleh aliran darah. Infeksi pasca operasi.

5. Cedera Vaskuler Cedera vaskuler dapat terjadi baik secara langsung oleh trauma bersamaan dengan terjadinya fraktur, atau pun secara tidak langsung karena tertusuk fragmen tulang atau tertekan edema sekitar fraktur. Pada robekan arteri inkomplit akan terjadi perdarahan terus-menerus, sedangkan pada robekan yang komplit ujung pembuluh darah mengalami retraksi dan perdarahan berhenti spontan. 6. Cedera Saraf Perifer Cedera Saraf Perifer merupakan komplikasi dari fraktur. Saraf yang rentan mengalami cedera adalah saraf yang letaknya di dekat tulang (fascia). Berdasarkan struktur, fungsi, dan regenerasinya, cedera saraf dapat dibagi menjadi beberapa golongan, yaitu: a. Neuropaxia, yaitu kehilangan fungsi dari sel saraf namun tidak disertai oleh kelainan struktur. b. Axonotmesis, yaitu kehilangan fungsi dari sel saraf dan disertai oleh cedera akson, namun struktur ini beserta selubung dan sel Schawann masih utuh. Pada cedera ini, regenerasi aksonal dapat mengembalikan funsi yang hilang. c. Neurotmesis, yaitu cedera saraf yang lebih berat dari neuropraxia dan axonometsis. Pada neurotmesis, terjadi kehilangan fungsi disertai cedera aksonal, selubung myelin dan jaringan konektif sehingga penyembuhan menghasilkan jaringan parut yang menghambat regenerasi akson. Fraktur dapat menyebabkan cedera saraf perifer melalui beberapa mekanisme. Yang pertama adalah trauma mekanik secara langsung, misalnya dengan terpotongnya atau melalui penggunaan torniket. Mekanisme berikutnya adalah melalui kompresi/ tekanan, yang pada fraktur dapat disebabkan oleh tulang atau sindrom kompartemen. 7. Luka Akibat Tekanan (Dekubitus) Luka ini dapat timbul pada fase imobilisasi yang menyebabkan pasien tidur dengan posisi menetap dalam jangka waktu yang lama. Luka ini dapat juga terjadi karena penekanan jaringna lunak tulang oleh gips. 8. Kekakuan Sendi

Dapat terjadi apabila sendi-sendi disekitar fraktur tidak atau kurang digerakkan sehingga terjadi perubahan sinovial sendi, penyusutan kapsul, mextensibility otot, pengendapan kalus dipermukaan sendi dan timbulnya jaringan fibrous pada ligamen. 9. Malunion Malunion adalah suatu keadaan dimana tulang yang patah telah sembuh dalam posisi yang tidak pada seharusnya, membentuk sudut atau miring. Biasanya disebabkan oleh penangan yang kurang adekuat. 10. Delayed Union Proses penyembuhan yang berjalan terus tetapi dengan kecepatan yang lebih lambat dari keadaan normal. Tidak ada batasan waktu yang jelas kapan suatu penyembuhan fraktur dikatakan delayed union. 11. Non-union Non-union adalah suatu kondisi dimana tidak terjadi penyatuan tulang yang mengalami fraktur setelah beberapa waktu. Non-union dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti usia, nutrisi yang kurang adekuat, efek penggunaan steroid, terapi radiasi, infeksi, suplai darah yang tidak adekuat, atau imobilisasi yang kurang benar. Non-union dapat dibagi menjadi beberapa tipe, yaitu: a. Hypertropic non-union, dimana terbentuk kalus tulang namun tidak terbentuk penulangan antara tulang yang fraktur. b. Oligotropic non-union, dimana tidak terbentuk kalus tulang untuk penyatuan namun keadaan lain seperti vaskular membaik. c. Atropic non-union, dimana tidak terbentuk kalus tulang dan keadaan lain seperti vaskular tidak membaik. d. Gap non-union, dimana penyatuan tidak terjadi akibat terpotongnya pusat penulangan (diafisis) pada saat fraktur.

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Foto Rontgen  Untuk mengetahui lokasi fraktur dan garis fraktur secara langsung  Mengetahui tempat dan type fraktur Biasanya diambil sebelum dan sesudah dilakukan operasi dan selama proses penyembuhan secara periodik

2. Skor tulang tomography, skor C1, MRI Dapat digunakan mengidentifikasi kerusakan jaringan lunak. 3. Artelogram Bila dicurigai ada kerusakan vaskuler 4. Pemeriksaan darah lengkap HT Mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau menrurun (perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma multiple) 5. Profil koagulasi Perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah transfusi multiple atau cedera hati (Doenges, 1999 : 76 ).

I. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan fraktur mengacu kepada empat tujuan utama, yaitu: 1. Mengurangi rasa nyeri. Trauma pada jaringan disekitar fraktur menimbulkan rasa nyeri yang hebat bahkan sampai menimbulkan syok. Untuk mengurangi rasa nyeri dapat diberi obat penghilang rasa nyeri serta dengan teknik imobilisasi, yaitu pemasangan bidai/spalk, maupun memasang gips. 2. Mempertahankan posisi yang ideal dari fraktur. Seperti pemasangan traksi kontinyu, fiksasi eksternal fiksasi internal, sedang bidai maupun gips hanya dapat digunakan untuk fiksasi yang bersifat sementara saja. 3. Membuat tulang kembali menyatu. Tulang yang fraktur akan mulai menyatu dengan sempurna dalam waktu 6 bulan. 4. Mengembalikan fungsi seperti semula. Imobilisasi dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan atrofi otot dan kekakuan pada sendi. Maka untuk mencegah hai ini diperlukan upaya mobilisasi. Enam prinsip umum pengobatan fraktur:       Jangan membuat keadaan lebih jelas. Pengobatan berdasarkan atas diagnosis dan prognosis yang akurat. Seleksi pengobatan dengan tujuan khusus. Mengingat hukum-hukum penyembuhan secara alami. Bersifat realistis dan praktis dalam memilih jenis pengobatan. Seleksi pengobatan sesuai dengan penderita secara individual.

Untuk frakturnya sendiri, prinsipnya adalah mengembalikan posisi patahan tulang ke posisi semula (reposisi) dan mempertahankan posisi itu selama masa penyembuhan fraktur (imobilisasi). Reposisi yang dilakukan tidak harus mencapai keadaan sepenuhnya seperti semula karena tulang mempunyai kemampuan untuk

menyesuaikan bentuknya kembali seperti bentuk semula (remodeling/proses swapugar). Kelayakan reposisi suatu dislokasi fragmen ditentukan oleh adanya dan besarnya dislokasi ad aksim, ad peripheriam, dan kum kontraktione, yang berupa rotasi, atau perpendekan. Secara umum, angulasi dalam bidang gerak sendi sampai kurang lebih 20-30 derajat akan dapat mengalami swapugar, sedangkan angulasi yang tidak dalam bidang gerak sendi tidak akan mengalaminya. Akan tetapi, rotasi antara 2 fragmen tidak pernah terkoreksi sendiri oleh proses swapugar. Ada tidaknya rotasi fragmen tidak dapat diketahui dari foto Rontgen, melainkan harus diketahui dari pemeriksaan klinis. Cara yang termudah untuk memeriksa rotasi ini adalah dengan membandingkan rotasi anggota yang patah dengan rotasi anggota yang sehat. Pemendekan anggota yang patah disebabkan oleh tarikan tonus otot sehingga fragmen patahan tulang berada sebelah menyebelah. Pemendekan anggota atas pada orang dewasa dan pemendekan pada anggota atas maupun bawah pada anak, umumnya tidak menimbulkan masalah. Macam-macam cara untuk penanganan fraktur : 1. Proteksi tanpa reposisi dan imobilisasi Digunakan pada penanganan fraktur dengan dislokasi fragmen patahan yang minimal atau dengan dislokasi yang tidak akan menyebabkan kecacatan di kemudian hari. Contoh cara ini adalah fraktur costa, fraktur clavicula pada anak, dan fraktur vertebra dengan kompresi minimal. 2. Imobilisasi dengan fiksasi Dapat pula dilakukan imobilisasi luar tanpa reposisi, tetapi tetap memerlukan imobilisasi agar tidak terjadi dislokasi fragmen. Contoh cara ini adalah pengelolaan fraktur tungkai bawah tanpa dislokasi yang penting. 3. Reposisi dengan cara manipulasi diikuti dengan imobilisasi Ini dilakukan pada fraktur dengan dislokasi fragmen yang berarti seperti pada fraktur radius distal. 4. Reposisi dengan traksi Dilakukan secara terus menerus selama masa tertentu, misalnya beberapa minggu, dan kemudian diikuti dengan imobilisasi. Ini dilakukan pada fraktur

yang bila direposisi secara manipulasi akan terdislokasi kembali di dalam gips. Cara ini dilakukan pada fraktur dengan otot yang kuat, misalnya fraktur femur. 5. Reposisi diikuti dengan imobilisasi dengan fiksasi luar Untuk fiksasi fragmen patahan tulang, digunakan pin baja yang ditusukkan pada fragmen tulang, kemudian pin baja tadi disatukan secara kokoh dengan batangan logam di luar kulit. Alat ini dinamakan fiksator ekstern. 6. Reposisi secara non operatif diikuti dengan pemasangan fiksasi dalam pada tulang secara operatif. Misalnya reposisi fraktur collum femur. Fragmen direposisi secara nonoperatif dengan meja traksi, setelah tereposisi, dilakukan pemasangan pen ke dalam collum femur secara operatif. 7. Reposisi secara operatif diikuti dengan fiksasi patahan tulang dengan pemasangan fiksasi interna Ini dilakukan misalnya, pada fraktur femur, tibia, humerus, atau lengan bawah. Fiksasi interna yang dipakai bisa berupa pen di dalam sumsum tulang panjang, bisa juga berupa plat dengan sekrup di permukaan tulang. Keuntungan reposisi secara operatif adalah bisa dicapai reposisi sempurna dan bila dipasang fiksasi interna yang kokoh, sesudah operasi tidak perlu lagi dipasang gips dan segera bisa dilakukan mobilisasi. Kerugiannya adalah reposisi secara operatif ini mengundang resiko infeksi tulang. 8. Eksisi fragmen fraktur dan menggantinya dengan prosthesis Dilakukan pada fraktur collum femur. Caput femur dibuang secara operatif dan diganti dengan prostesis. Ini dilakukan pada orang tua yang patahan pada collum femur tidak dapat menyambung kembali. Pengelolaan fraktur terbuka perlu memperhatikan bahaya terjadinya infeksi, baik infeksi umum (bakteremia) maupun infeksi terbatas pada tulang yang bersangkutan (osteomyelitis). Untuk menghindarinya perlu ditekankan disini pentingnya pencegahan infeksi sejak awal pasien masuk rumah sakit, yaitu perlu dilakukannya debridement yang adekuat sampai ke jaringan yang vital dan bersih. Diberikan pula antibiotik profilaksis selain imunisasi tetanus. Selain itu, lakukan fiksasi yang kokoh pada fragmen fraktur. Dalam hal ini, fiksasi dengan fiksator eksterna lebih baik daripada fiksasi interna.

Patah   

tulang

lainnya

harus

benar-benar

tidak

boleh

digerakkan

(imobilisasi).

Imobilisasi bisa dilakukan melalui: Pembidaian : benda keras yang ditempatkan di daerah sekeliling tulang. Pemasangan gips : merupakan bahan kuat yang dibungkuskan di sekitar tulang yang patah Penarikan (traksi) : menggunakan beban untuk menahan sebuah anggota gerak pada tempatnya. Sekarang sudah jarang digunakan, tetapi dulu pernah menjadi pengobatan utama untuk patah tulang pinggul.  Fiksasi internal : dilakukan pembedahan untuk menempatkan piringan atau batang logam pada pecahan-pecahan tulang. Merupakan pengobatan terbaik untuk patah tulang pinggul dan patah tulang disertai komplikasi. Imobilisasi lengan atau tungkai menyebabkan otot menjadi lemah dan menciut. Karena itu sebagian besar penderita perlu menjalani terapi fisik. Terapi dimulai pada saat imobilisasi dilakukan dan dilanjutkan sampai pembidaian, gips atau traksi telah dilepaskan.

Pada patah tulang tertentu (terutama patah tulang pinggul), untuk mencapai penyembuhan total, penderita perlu menjalani terapi fisik selama 6-8 minggu atau kadang lebih lama lagi. Traksi

Traksi adalah tahanan yang dipakai den gan berat atau alat lain untuk menangani kerusakan atau gangguan pada tulang dan otot. Traksi adalah pemasangan gaya tarikan ke bagian tubuh. Traksi digunakan untuk meminimalkan spame otot, untuk mereduksi, mensjajarkan, dan mengimubilisasi fraktur; untuk mengurangi deformitas, dan untuk menambah ruangan di antara kedua permukaan patahan tulang. Traksi harus diberikan dengan arah dan besaran yang diinginkan untuk mendapatkan efek

terapeutik. Faktor-faktor yang mengganggu keefektifan tarikan traksi harus dihilangkan. Kadang, traksi harus dipasang dengan arah yang lebih dari satu untuk mendapatkan garis tarikan yang diinginkan. Dengan cara ini, bagian garis tarikan yang pertama berkontraksi terhadap garis tarikan lainnya. Garis-garis tarikan tersebut dikenal sebagai vektor gaya. Resultanta gaya tarikan yang sebenarnya terletak di tempat di antar kedua garis tarikan tersebut. Efek traksi yang dipasang harus dievaluasi dengan sinar-X, dan mungkin diperlukan penyesuaian. Bila otot dan jaringan lunak sudah rileks, berat yang digunakan harus diganti untuk memperoleh gaya tarikan yang diinginkan.  Jenis-jenis Traksi Traksi lurus atau langsung memberikan gaya tarikan dalam satu garis luru dengan bagian tubuh berbaring di tempat tidur. Traksi ekstensi Buck dan traksi pelvis merupakan contoh traksi lurus. Traksi suspensi seimbang memberi dukungan pada ekstremitas yang sakit di atas tempat tidur sehingga memungkinkan mobilisasi pasien sampai batas tertentu tanpa terputusnya garis tarikan. Traksi dapat dilakukan pada kulit (traksi kulit) atau langsung ke skelet tubuh (traksi skelet). Cara pemasangan ditentukan oleh tujuan traksi. Traksi dapat dipasang dengan tangan (traksi manual). Ini merupakan traksi yang sangat sementara yang bisa digunakan pada saat pemasnagan gips, memberikan perawatan kulit dibawa boot busa ekstensi Buck, atau saat menyesuaikan mengatur alat traksi. a. Traksi kulit Traksi kulit menggunakan plaster lebar yang direkatkan pada kulit dan diperkuat dengan perban elastis. Berat maksimum yang dapat diberikan adalah 5 kg yang merupakan batas toleransi kulit. Jenis-jenis traksi kulit. Beberapa jenis traksi kulit, yaitu : 1) Traksi ekstensi dari Buck adalah traksi kulit dimana plaster melekat secara sederhana dengan memakai katrol 2) Traksi dari Dunlop, dipergunakan pada fraktur suprakondiler humeri anak-anak 3) Traksi dari Gallow atau traksi dari Brayant, dipergunakan pada fraktur femur anak-anak dan

usia di bawah 2 tahun 4) Traksi dari Hamilton Russel, digunakan pada anak-anak usia lebih dari 2 tahun  Indikasi : Indikasi penggunaan traksi kulit adalah : Traksi kulit merupakan terapi pilihan pada fraktur femur dan beberapa fraktur suprakondiler humeri anak-anak. Pada reduksi tertutup dimana manipulasi dan imobilisasi tidak dapat dilakukan. Merupakan pengobatan sementara pada fraktur sambil menunggu terapi definitif. Fraktur-fraktur yang sangat bengkak dan tidak stabil misalnya fraktur suprakondiler humeri pada anak-anak. Untuk traksi pada spasme otot atau pada kontraktur sendi misalnya sendi lutut dari panggul. Untuk traksi pada kelainan-kelainan tulang belakang seperti hernia nukleus pulposus (HNP) atau spasme otot-otot tulang belakang.  Komplikasi : Komplikasi yang dapat terjadi pada traksi kulit. Penyakit trombo emboli. Abersi, infeksi serta alergi pada kulit. b) Traksi pada tulang Traksi pada tulang biasanya menggunakan kawat Krischner dari Steinmann lokasi-lokasi tertentu, yaitu : Proksimal tibia. Kondilus femur. Olekranon. Kalkaneus (jarang dilakukan karena komplikasinya). Traksi pada tengkorak. Trokanter mayor. Bagian distal metakarpal.  Jenis-jenis traksi tulang Traksi tulang dengan menggunakan kerangka dari Bohler Braun pada fraktur orang dewasa Thomas splint dengan pegangan lutut atau alat traksi dari Pearson Traksi tulang pada olekranon, pada fraktur humerus (K-wire) atau batang

Traksi yang digunakan pada tulang tengkorak misalnya Gradner Well Skull Calipers, Crutchfield cranial tong  Indikasi penggunaan traksi tulang : Apabila diperlukan traksi yang lebih berat dari 5 kg. Traksi pada anak-anak yang lebih besar. Pada fraktur yang bersifat tidak stabil, oblik atau komunitif. Fraktur-faktur tertentu pada daerah sendi. Fraktur terbuka dengan luka yang sangat jelek dimana fiksasi eksterna tidak dapat dilakukan. Dipergunakan sebagai traksi langsung pada traksi yang sangat berat misalnya dislokasi panggul yang lama sebagai persiapan terapi definitif.  Komplikasi traksi tulang : Infeksi, misalnya infekis melalui kawat/pin yang digunakan. Kegagalan penyambungan tulang (nonunion) akibat traksi yang berlebihan. Luka akibat tekanan misalnya Thomas splint pada tuberositas tibia. Parese saraf akibat traksi yang berlebihan (overtraksi) atau bila pin mengenai saraf. Prinsip Traksi Efektif Pada setiap pemasangan traksi, harus dipikirakan adanya kontratraksi. Kontratraksi adalah gaya yang bekerja dengan arah yang berlawanan. (Hukum Newton yang ketiga mengenai gerak, menyebutkan bahwa bila ada aksi maka akan terjadi reaksi dengan besar yang sama namun arahnya berlawanan). Umumnya berat badan pasien dan pengaturan posisi tempat tidur mampu memberikan kontratraksi. Kontratraksi harus dipertahankan agar traksi tetap efektif. Traksi harus berkesinambungan agar reduksi dan imobilisasi fraktu efektif. Traksi kulit pelvis dan serviks sering digunakan untuk mengurangi spasme otot dan biasanya diberikan sebagai traksi intermiten. Traksi skelet tidak boleh terputus. Pemberat tidak boleh diambil kecuali bila traksi dimaksudkan intermiten. Setiap faktor yang dapat mengurangi tarikan atau mengubah garis resultanta tarikan harus dihilangkan. Tubuh pasien harus dalam keadaan sejajar dengan pusat tempat tidur ketika traksi dipasang.

Tali tidak boleh macet. Pemberat harus tergantung bebas dan tidak boleh terletak pada tempat tidur atau lantai. Simpul pada tali atau telapak kaki tidak boleh menyentuh katrol atau kaki tempat tidur. Mekanisme Traksi Mekanisme traksi meliputi tidak hanya dorongan traksi sebenarnya tetapi juga tahanan yang dikenal sebagai kontratraksi, dorongan pada arah yang berlawanan, diperlukan untuk keefektifan traksi, kontratraksi mencegah pasien dari jatuh dalam arah dorongan traksi. Tanpa hal itu, spasme otot tidak dapat menjadi lebih baik dan semua keuntungan traksi hanya menjadi lewat saja ada dua tipe dari mekanik untuk traksi, dimana menggunakan kontratraksi dalam dua cara yang berbeda. Yang pertama dikenal dengan traksi keseimbangan, juga dikenal sebagai traksi luncur atau berlari. Di sini traksi diaplikasikan melalui kulit pasien atau dengan metode skeletal. Berat dan katrol digunakan untuk mengaplikasikan tahanan langsung sementara berat tubuh pasien dalam kombinasi dengan elevasi dari dorongan tempat tidur traksi untuk menyediakan kontratraksi (Taylor, 1987 Styrcula, 1994a; Dave, 1995 and Osmond, 1999). Traksi Buck akan menjadi contoh dari hal ini. Yang kedua dinamakan traksi fixed dan kontratraksi dimasukkan di antara 2 point cocok yang tidak membutuhkan berat atau elevasi tempat tidur untuk mencapai traksi dan kontratraksi. Splint Thomas merupakan contoh dari sistem traksi ini (Taylor, 1987, Styrcula 1994a; Dave, 1995 and Osmond, 199). Komponen mekanis dari sistem traksi, katrol (pulley), tahanan vector dan friksi, terkait dengan beberapa faktor : cara dimana kontratraksi diaplikasikan dan sudut, arah, serta jumlah tahanan traksi yang diaplikasikan (Taylor, 1987 : 3). Sudut dan arah dorongan traksi bergantung pada posisi katrol dan jumlah efek katrol sama dengan jumlah dorongan yang diaplikasikan. Etika dua katrol segaris pada berat traksi yang sama maka disebut dengan ”Block and tackle effect” hampir menggandakan jumlah dari tahanan dorongan. Tahanan vector diciptakan dengan mengaplikasikan tahanan traksi pada dua yang berbeda tetapi tidak berlawanan terhadap sisi tubuh yang sama. Hasil ini menghasilkan tahanan ganda untuk dorongan traksi yang actual (Taylor, 1987 and Styrcula, 1994a). Friksi selalu ada dalam setiap sistem traksi. Friksi memberikan resistansi

terhadap dorongan traksi malah mengurangi tahanan traksi. Hal ini diperlukan untuk meminimalisir kapanpun dan bagaimanapun kemungkinan nantinya (Taylor, 1987 and Styrcula, 1994a). Kita dapat menggunakan traksi : (1) untuk mendorong tulang fraktur ke dalam tempat memulai, atau (2) untuk menjaga mereka immobile sedang hingga mereka bersatu, atau (3) untuk melakukan kedua hal tersebut, satunya diikuti dengan yang lain. Untuk mengaplikasikan traksi dengan sempurna, kita harus menemukan jalan untuk mendapatkan tulang pasien yang fraktur dengan anam, untuk beberapa minggu jika diperlukan. Ada dua cara untuk melakukan hal tersebut : (1) memberi pengikat ke kulit (traksi kulit; (2) dapat menggunakan Steinmann pin, a Denham pin, atau Kirschner wire melalui tulangnya (traksi tulang). Tali kemudian digunakan untuk mengikat pengikatnya, pin atau wire ditaruh melalui katrol, dan dicocokkan dengan berat. Berat tersebut dapat mendorong pasien keluar dari tempat tidurnya, sehingga kita biasanya membutuhkan traksi yang berlawanan dengan meninggikan kaki dari tempat tidurnya. Salah satu dari tujuan utama dari traksi adalah memperbolehkan pasien untuk melatih ototnya dan menggerakkan sendinya, jadi pastikan bahwa pasien melakukan hal ini. Traksi membutuhkan waktu untuk diaplikasikan dan diatur, tetapi hal ini dapat dengan mudah diatur dengan asisten.

GIPS  Pemasangan GIPS (plaster of Paris) Gips merupakan suatu bahan kimia yang pada saat ini tersedia dalam lembaran dengan komposisi kimia (CaSO4)2 H2O + 3 H2O = 2 (SaSO42H2O) dan bersifat anhidrasi yang dapat mengikat air sehingga membuat kalsium sulfat hidrat menjadi solid/keras. Pada saat ini sudah tersedia gips yang sangat ringan. Pemasangan gips merupakan salah satu pengobatan konservatif pilihan (terutama pada fraktur) dan dapat dipergunakan di daerah terpencil dengan hasil yang cukup baik bila cara pemasangan, indikasi, kontraindikasi serta perawatan setelah pemasangan diketahui dengan baik.  Bentuk-bentuk Pemasangan GIPS Beberapa bentuk pemasangan gips yang dapat dilakukan adalah : 1. Bentuk lembaran sehingga gips menutup separuh atau dua pertiga lingkaran permukaan anggota gerak. 2. Gips lembaran yang dipasang pada kedua sisi antero-posterior anggota

gerak sehingga merupakan gips yang hampir melingkar. 3. Gip sirkuler yang dipasang lengkap meliputi seluruh anggota gerak. 4. Gips yang ditopang dengan besi atau karet dan dapat dipakai untuk menumpu atauberjalan pada patahtulang anggota gerak bawah  Indikasi Indikasi pemasangan gips adalah : 1. Untuk pertolongan pertama pada faktur (berfungsi sebagai bidal). 2. Imobilisasi sementara untuk mengistirahatkan dan mengurangi nyeri misalnya gips korset pada tuberkulosis tulang belakang atau pasca operasi seperti operasi pada skoliosis tulang belakang. 3. Sebagai pengobatan definitif untuk imobilisasi fraktur terutama pada anakanak dan fraktur tertentu pada orang dewasa. 4. Mengoreksi deformitas pada kelainan bawaan misalnya pada talipes ekuinovarus kongenital atau pada deformitas sendi lutut oleh karena berbagai sebab. 5. Imobilisasi untuk mencegah fraktur patologis. 6. Imobilisasi untuk memberikan kesempatan bagi tulang untuk menyatu setelah suatu operasi misalnya pada artrodesis. 7. Imobilisas setelah operasi pada tendo-tendo tertentu misalnya setelah operasi tendo Achilles. 8. Dapat dimanfaatkan sebagai cetakan untuk pembuatan bidai atau protesa.  Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemasangan gips adalah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Gips yang pas tidak akan menimbulkan perlukaan. Gips patah tidak bisa digunakan. Gips yang terlalu kecil atau terlalu longgar sangat membahayakan klien. Jangan merusak atau menekan gips. Jangan pernah memasukkan benda asing ke dalam gips/ menggaruk. Jangan meletakkan gips lebih rendah dari tubuh terlalu lama.

 Kelebihan Kelebihan pemakaian gips adalah : 1. 2. 3. Mudah didapatkan. Murah dan mudah dipergunakan oleh setiap dokter. Dapat diganti setiap saat.

4. 5.

Dapat dipasang dan dibuat cetakan sesuai bentuk anggota gerak. Dapat dibuat jendela/lubang pada gips untuk membuka jahitan atau perawatan luka selama imobiliasi.

6.

Koreksi secara bertahap jaringan lunak dapat dilakukan membuat sudut tertentu.

7.

Gips bersifat rediolusen sehingga pemeriksaan foto rontgen tetap dapat dilakukan walaupun gips terpasang.

8.

Merupakan terapi konservatif pilihan untuk menghindari operasi.

 Kekurangan Di samping kelebihannya, terdapat pula beberapa kekurangan pemakaian gips yang perlu diperhatikan yaitu : 1. Pemasangan gips yang ketat akan memberikan gangguan atau tekanan pada pembuluh darah, saraf atau tulang itu sendiri. 2. Pemasangan yang lama dapat menyebabkan kekakuan pada sendi dan mungkin dapat terjadi. 3. 4. 5. Disus osteoporosis dan atrofi. Alergi dan gatal-gatal akibat gips. Berat dan tidak nyaman dipakai oleh penderita.

 Perawatan Gips Hal-hal yang perlu diperhatikan setelah pemasangan gips adalah : 1. Gips tidak boleh basah oleh air atau bahan lain yang mengakibatkan kerusakan gips. 2. Setelah pemasangan gips harus dilakukan follow u yang teratur, tergantung dari lokalisasi pemasangan. 3. Gips yang mengalami kerusakan atau lembek pada beberapa tempat, harus diperbaiki.

Farmakologi 1. Cepazolin  Indikasi: infeksi yang disebabkan oleh bakteri gram positif dan gram negatif. Infeksi saluran pernafasan, saluran kemih dan kelamin, kulit dan jaringan lunak, tulang dan sendi, septikemia (keracunan darah oleh bakteri patogenik dan atau zatzat yang dihasilkan oleh bakteri tersebut), endokarditis (radang endokardium jantung) dan infeksi lain. Pencegahan infeksi perioperasi.     Kontraindikasi: hipersensitivitas. Perhatian: hipersensitivitas terhadap Penisilin, gangguan fungsi ginjal. Efek samping: reaksi hipersensitivitas, diare, eosinofilia, kandidasis pada rongga mulut dan alat kelamin. Dosis Pencegahan infeksi sebelum operasi: 1 gr secara intravena/intramuskular 0.5-1 jam sebelum pembedahan dimulai Untuk prosedur yang panjang /lama: 0.5 gr secara intravena/intramuskular selama pembedahan. Setelah operasi: 0.5-1 gr setiap 6-8 jam selama 24 jam Infeksi: Dewasa 1 gr sehari, dapat ditingkatkan menjadi 3-5 gram. Anak-anak 2040 mg/kg BB/hari dalam 2-4 dosis terbagi, dapat ditingkatkan sampai 100 mg/kg BB. 2. Tramadol  Komposisi: Tiap tablet mengandung: Tramadol HCl 50 mg  Indikasi: Efektif untuk pengobatan nyeri akut dan kronik yang berat, nyeri pasca pembedahan.  Dosis umum: Dosis tunggal 50 mg. Dosis tersebut biasanya cukup untuk meredakan nyeri, apabila masih terasa nyeri dapat ditambahkan 50 mg setelah selang waktu 30-60 menit.  Dosis maksimum: 400 mg sehari. Dosis sangat tergantung pada intensitas rasa nyeri yang diderita. Penderita gangguan hati dan ginjal dengan creatinine clearances <30 ml/menit: 50-100 mg setiap 12 jam, maksimum 200 mg sehari.

 Peringatan dan perhatian:

Pada penggunaan jangka panjang dapat terjadi ketergantungan, sehingga dokter harus menentukan lama pengobatan.

 

Tramadol tidak boleh diberikan pada penderita ketergantungan obat. Hati-hati penggunaan pada penderita trauma kepala, meningkatnya tekanan intrakranial, gangguan fungsi ginjal dan hati yang berat atau hipersekresi bronkus, karena dapat mengakibatkan meningkatnya resiko kejang atau syok.

Penggunaan bersama dengan obat-obat penekanan SSP lain atau penggunaan dengan dosis berlebihan dapat menyebabkan menurunnya fungsi paru.

Penggunaan selama kehamilan harus mempertimbangkan manfaat dan resikonya baik terhadap janin maupun ibu.

Hati-hati penggunaan pada ibu menyusui, karena tramadol diekskresikan melalui ASI.

Tramadol dapat mengurangi kecepatan reaksi penderita, seperti kemampuan mengemudikan kendaraan ataupun mengoperasikan mesin.

Depresi pernapasan akibat dosis yang berlebihan dapat dinetralisir dengan nalokson, sedangkan kejang dapat diatasi dengan pemberian benzodiazepin.

Meskipun termasuk antagonis opiat, tramadol tidak dapat menekan gejala withdrawal akibat pemberian morfin.

 Efek samping: Efek samping yang umum terjadi seperti pusing, sedasi, lelah, sakit kepala, pruritus, berkeringat, kulit kemerahan, mulut kering, mual, muntah. Dispepsia dan obstipasi. Efek samping yang berupa ketergantungan sangat jarang terjadi.  Kontraindikasi Penderita yang hipersensitif terhadap Tramadol atau Opiat dan penderita yang mendapatkan pengobatan dengan penghambat MAO, intoksikasi akut dengan alkohol, hipnotika, analgetik atau obat-obat yang mempengaruhi SSP lainnya. 3. Gentanycin Indikasi: Untuk pengobatan infeksi kulit primer maupun sekunder seperti impetigo kontagiosa, ektima, furunkulosis. pioderma, psoriasis dan macam-macam dermatitis lainnya. Kontra Indikasi:

Alergi terhadap gentamisina. Komposisi: Tiap gram salep mengandung gentamisina sulfatsetara dengan gentamisina 1 mg. Peringatan dan Perhatian: Penggunaan antibiotika topikal kadang-kadang menyebabkan suburnya pertumbuhan mikroorganisme yang tidak sensitif terhadap antibiotika, seperti jamur.

Bila hal ini terjadi atau terdapat iritasi, sesitisasi atau superinfeksi, pengobatan dengan Gentamisina harus dihentikan dan harus diberi terapi pengganti yang tepat.
 

Gentamisina tidak untuk pengobatan mata. Obat-obat bakterisid tidak efektif terhadap infeksi kulit yang disebabkan virus dan jamur.

Karena keamanan pemakaian Gentamisina pada wanita hamil secara absolut belum dipastikan, tidak boleh digunakan pada wanita hamil dalam jumlah yang banyak atau periode waktu yang lama.

Efek Samping: Iritasi ringan, eritema dan pruritus. 4. Ketorolak  Indikasi Ketorolac diindikasikan untuk penatalaksanaan jangka pendek terhadap nyeri akut sedang sampai berat setelah prosedur bedah. Durasi total Ketorolac tidak boleh lebih dari lima hari. Ketorolac secara parenteral dianjurkan diberikan segera setelah operasi. Harus diganti ke analgesik alternatif sesegera mungkin, asalkan terapi Ketorolac tidak melebihi 5 hari. Ketorolac tidak dianjurkan untuk digunakan sebagai obat prabedah obstetri atau untuk analgesia obstetri karena belum diadakan penelitian yang adekuat mengenai hal ini dan karena diketahui mempunyai efek menghambat biosintesis prostaglandin atau kontraksi rahim dan sirkulasi fetus.  Kontraindikasi

Pasien yang sebelumnya pernah mengalami alergi dengan obat ini, karena ada kemungkinan sensitivitas silang.

Pasien yang menunjukkan manifestasi alergi serius akibat pemberian Asetosal atau obat anti-inflamasi nonsteroid lain.

 

Pasien yang menderita ulkus peptikum aktif. Penyakit serebrovaskular yang dicurigai maupun yang sudah pasti.

      

Diatesis hemoragik termasuk gangguan koagulasi. Sindrom polip nasal lengkap atau parsial, angioedema atau bronkospasme. Terapi bersamaan dengan ASA dan NSAID lain. Hipovolemia akibat dehidrasi atau sebab lain. Gangguan ginjal derajat sedang sampai berat (kreatinin serum >160 mmol/L). Riwayat asma. Pasien pasca operasi dengan risiko tinggi terjadi perdarahan atau hemostasis inkomplit, pasien dengan antikoagulan termasuk Heparin dosis rendah (2.500– 5.000 unit setiap 12 jam).

   

Terapi bersamaan dengan Ospentyfilline, Probenecid atau garam lithium. Selama kehamilan, persalinan, melahirkan atau laktasi. Anak < 16 tahun. Pasien yang mempunyai riwayat sindrom Steven-Johnson atau ruam

vesikulobulosa.
 

Pemberian neuraksial (epidural atau intratekal). Pemberian profilaksis sebelum bedah mayor atau intra-operatif jika hemostasis benar-benar dibutuhkan karena tingginya risiko perdarahan.

 Dosis Dewasa Ampul : Dosis awal Ketorolac yang dianjurkan adalah 10 mg diikuti dengan 10–30 mg tiap 4 sampai 6 jam bila diperlukan. Harus diberikan dosis efektif terendah. Dosis harian total tidak boleh lebih dari 90 mg untuk orang dewasa dan 60 mg untuk orang lanjut usia, pasien gangguan ginjal dan pasien yang berat badannya kurang dari 50 kg. Lamanya terapi tidak boleh lebih dari 2 hari. Pada seluruh populasi, gunakan dosis efektif terendah dan sesingkat mungkin. Untuk pasien yang diberi Ketorolac ampul, dosis harian total kombinasi tidak boleh lebih dari 90 mg (60 mg untuk pasien lanjut usia, gangguan ginjal dan pasien yang berat badannya kurang dari 50 kg).  Efek samping Tukak GI, pendarahan dan perfosami GI, pendahan paska operasi, gagal ginjal akut, reaksi anafilaktoid, gagal hati. 5. Ranitidin  Indikasi

Pengobatan jangka pendek tukak duodenum aktif, tukak lambung aktif, mengurangi gejala refluks eksofagitis. Terapi pemeliharaan setelah penyembuhan tukak duodenum dan lambung, sindrom Zollinger-Ellison.  Dosis Intramuskular 50 mg tiap 6-8 jam (tanpa pengenceran), intravena bolus intermiten 50 mg (2 ml) tiap 6-8 jam (larut dalam larutan infus).

J. PROSES PENYEMBUHAN DAN REHABILITASI FRAKTUR Rehabilitasi adalah tindakan dengan maksud agar bagian yang menderita fraktur tersebut dapat kembali normal. Menurut kumar (1997), prinsip dasar penanganan fraktur adalah aposisi dan immobilisasi serta perawatan setelah operasi yang baik. Pertimbangan-pertimbangan awal saat menangani kasus fraktur adalah

menyelamatkan jiwa penderita yang kemungkinan disebabkan oleh banyaknya cairan tubuh yang keluar dan kejadian shock, kemudian baru menormalkan kembali fungsi jaringan yang mengalami kerusakan. Penyembuhan fraktur merupakan suatu proses biologis yang menakjubkan. Tidak seperti jaringan lainnya, tulang yang mengalami fraktur dapat sembuh tanpa jaringan parut. Proses penyembuhan pada fraktur mulai terjadi segera setelah tulang mengalami kerusakan apabila lingkungan untuk penyembuhan memadai sampai terjadi konsolidasi. Faktor mekanis yang penting seperti imobilisasi fragmen tulang secara fisik sangat penting dalam penyembuhan, selain faktor biologis yang juga merupakan suatu faktor yang sangat esensial dalam penyembuhan fraktur. Secara rinci proses penyembuhan fraktur dibagi dalam beberapa tahap sebagai berikut : 1. Fase hematoma Tiap fraktur biasanya disertai putusnya pembuluh darah sehingga terdapat penimbunan darah di sekitar fraktur. Pembuluh darah robek dan membentuk hematoma disekitar daerah fraktur. Hematoma ini disertai dengan pembengkakan jaringan lunak. Tempat cedera tersebut akan diinvasi oleh makrofag yang bertugas membersihkan daerah tersebut. Sel-sel darah membentuk fibrin guna melindungi tulang yang rusak dan sebagai tempat tumbuhnya kapiler baru dan fibroblast.Pada ujung tulang yang patah terjadi iskemia sampai beberapa milimeter dari garis

patahan yang mengakibatkan matinya osteosit pada daerah fraktur tersebut. Jika suplai darah ke pembuluh darah tidak adekuat tahap pertama dari pemulihan tulang ini gagal dan proses penyembuhan tulang akan terhambat. Stadium ini berlangsung 24 – 48 jam. 2. Fase proliferative Pada stadium ini terjadi proliferasi dan differensiasi sel-sel periosteal dan endoosteal menjadi fibro kartilago yang berasal dari periosteum,`endosteum,dan bone marrow yang telah mengalami trauma. Kemudian, hematoma akan terdesak oleh proliferasi ini dan diabsorbsi oleh tubuh. Sel-sel yang mengalami proliferasi ini terus masuk ke dalam lapisan yang lebih dalam dan di sanalah osteoblast beregenerasi dan terjadi proses osteogenesis. Bersamaan dengan aktivitas sel-sel sub periosteal maka terjadi aktifitas sel-sel dari kanalis medularis dari lapisan endosteum dan dari bone marrow masing-masing fragmen. Proses dari periosteum dan kanalis medularis dari masing-masing fragmen bertemu dalam satu preses yang sama, proses terus berlangsung kedalam dan keluar dari tulang tersebut sehingga menjembatani permukaan fraktur satu sama lain. Pada saat ini mungkin tampak di beberapa tempat pulau-pulau kartilago, yang mungkin banyak sekali,walaupun adanya kartilago ini tidak mutlak dalam penyembuhan tulang. Dalam beberapa hari terbentuklah tulang baru yang menggabungkan kedua fragmen tulang yang patah. Pada fase ini sudah terjadi pengendapan kalsium. Fase ini berlangsung selama 8 jam setelah fraktur sampai selesai, tergantung frakturnya. 3. Fase pembentukan callus Pada fase ini terbentuk fibrous callus dan disini tulang menjadi osteoporotik akibat resorbsi kalsium untuk penyembuhan. Sel–sel yang berkembang memiliki potensi yang kondrogenik dan osteogenik mulai membentuk tulang dan juga kartilago. Populasi sel ini dipengaruhi oleh kegiatan osteoblast dan osteoklast yang mulai berfungsi dengan mengabsorbsi sel-sel tulang yang mati. Sel-sel osteoblas mengeluarkan matriks intra selluler yang terdiri dari kolagen dan polisakarida, yang segera bersatu dengan garam-garam kalsium, membentuk tulang immature atau young callus. Massa sel yang tebal dengan tulang yang imatur dan kartilago, membentuk kallus atau bebat pada permukaan endosteal dan periosteal makapada akhir stadium akan terdapat dua macam callus yaitu didalam disebut internal callus dan diluar disebut external callus. Sementara tulang yang imatur (anyaman tulang )

menjadi lebih padat sehingga gerakan pada tempat fraktur berkurang pada 4 minggu setelah fraktur menyatu. 4. Fase konsolidasi Pada fase ini callus yang terbentuk mengalami maturisasi lebih lanjut oleh aktivitas osteoblas, callus menjadi tulang yang lebih dewasa (mature) dengan pembentukan lamela-lamela. Pada setadium ini sebenarnya proses penyembuhan sudah lengkap. Pada fase ini terjadi pergantian fibrous callus menjadi primary callus. Fase ini terjadi sesudah empat minggu, namun pada umur-umur lebih mudah lebih cepat. Secara berangsur-angsur primary bone callus diresorbsi dan diganti dengan second bone callus yang sudah mirip dengan jaringan tulang yang normal. Ini adalah proses yang lambat dan mungkin perlu beberapa bulan sebelum tulang kuat untuk membawa beban yang normal. 5. Fase remodeling Pada fase ini secondary bone callus sudah ditimbuni dengan kalsium yang banyak dan tulang sudah terbentuk dengan baik, serta terjadi pembentukan kembali dari medula tulang. Apabila union sudah lengkap, tulang baru yang terbentuk pada umumnya berlebihan, mengelilingi daerah fraktur di luar maupun di dalam kanal, sehingga dapat membentuk kanal medularis. Dengan mengikuti stress/tekanan dan tarik mekanis, misalnya gerakan, kontraksi otot dan sebagainya, maka callus yang sudah mature secara pelan-pelan terhisap kembali dengan kecepatan yang konstan sehingga terbentuk tulang yang sesuai dengan aslinya. Proses penyembuhan tulang

Bone Remodelling Gangguan Penyembuhan Tulang Berbagai faktor dapat menghambat, atau bahkan menghentikan penyembuhan tulang, yaitu : 1. Pergerakan Pergerakan antara kedua ujung tulang, selain menimbulkan nyeri, juga berakibat terjadinya kalus yang berlebihan dan menghalangi atau memperlambat proses penyatuan jaringan. Apabila berlanjut, pergerakan ini akan menghalangi pembentukan tulang dan diganti dengan jaringan ikat kolagen, sehingga akan terbentuk sendi palsu pada tempat fraktur. Pergerakan yang lebih ringan akan menyebabkan pembentukan

kalus yang berlebihan sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk diresorpsi dan menekan bangunan-bangunan disekitarnya. 2. Jaringan lunak yang ada di antara kedua ujung tulang Jaringan lunak yang terselip di antara kedua ujung-ujung tulang yang patah, selama belum dapat disingkirkan akan menghambat penyembuhan dan menimbulkan risiko tidak terjadi penyatuan. 3. Ketidaklurusan letak tulang Kedudukan kedua ujung tulang yang tidak tepat akan menghambat kecepatan penyembuhan dan mengganggu fungsi tulang, sehingga meningkatkan risiko timbulnya penyakit degenerative pada sendi didekatnya (osteoarthrosis). 4. Infeksi Infeksi yang terjadi di tempat fraktur akan menghambat kecepatan penyembuhan dan memudahkan timbulnya osteomielitis kronis. Infeksi ini mudah terjadi apabila kulit penutup tempat fraktur itu ikut sobek. Kondisi ini disebut compound fracture. 5. Penyakit tulang yang sudah ada sebelumnya Apabila tulang yang patah itu tidak normal, patah tulang itu disebut fraktur patologis. Tulang seperti ini dapat mengalami fraktur oleh daya tekan ringan yang tidak cukup untuk menimbulkan fraktur pada tulang normal, atau patah secara spontan. Patah tulang patologis ini dapat terjadi akibat kelainan primer tulang, atau kelainan sekunder tulang akibat penyakit lain, misalnya metastasis karsinoma. Pada umumnya fraktur patologis ini akan sembuh secara memuaskan, tetapi kadang-kadang diperlukan dulu pengobatan terhadap kelainan yang melatarbelakanginya. Faktor Yang Mempengaruhi Penyembuhan 1. Umur Penyembuhan luka berlangsung cepat pada anak-anak sehat dan fraktur akan menyambung lebih cepat dibandingkan dengan orang dewasa. Fisiologik usia lanjut belum dimengerti dengan jelas, tetapi setidak-tidaknya diketahui terdapatnya satu sifat yaitu berkurangnya kemampuan untuk memperbaiki jaringan yang rusak. Dalam hal tulang, maka tulang gagal mempertahankan kekuatannya. 2. Gangguan nutrisi Penyembuhan luka sangat dipengaruhi oleh kemampuan untuk mensintesis protein dan kolagen. Hal yang kedua tergantung pada vitamin C untuk hidroksilasi proline sebagai suatu tahap dalam sintesis kolagen. Skorbut (defisiensi vitamin C) menyebabkan

kemampuan penyembuhan luka sangat berkurang, kapiler juga menjadi rapuh sehingga mudah timbul peradangan. 3. Gangguan neoplasia Fraktur patologis akibat deposit hasil metastasis tumor sulit sembuhnya, kecuali tumornya diobati lebih dahulu. Dalam prakteknya, pengelolaan sering berupa radiasi pada tumornya serta fiksasi interna dari tulang panjangnya. 4. Pengobatan steroid Steroid mengganggu penyembuhan dengan cara mempengaruhi pembentukan jaringan granulasi dan karenanya terjadi pengerutan luka. 5. Diabetes mellitus dan imunosupresi Baik diabetes mellitus maupun imunosupresi meningkatkan kemampuan terhadap infeksi oleh organisme yang virulensinya rendah, dan menyebabkan penderita mendapatkan risiko lebih untuk menderita kerusakan jaringan. Diabetes mellitus juga dapat mempengaruhi fungsi polimorf, dan dapat pula terjadi penutupan pembuluh darah kecil dan menyebabkan neuropati. 6. Gangguan vaskuler Berkurangnya pasokan vaskuler berakibat pada hambatan penyembuhan. Ini terjadi karena adanya hipoksia dan berkurangnya makanan local yang berakibat penyambuhan dan pertumbuhan kembali jaringan yang lebih buruk. 7. Denervasi Pasokan saraf yang baik akan mendukung integritas struktural dan fungsional suatu jaringan. Disamping itu saraf berperan dalam memperantarai respons radang, yang merupakan sebagian mekanisme tubuh untuk membatasi pengaruh cedera. Jaringan yang mengalami denervasi akan menjadi rusak berat, mungkin akibat dari gabungan abtara kekurangan respons terhadap trauma ringan yang berulang, dan

kekurangwaspadaan terhadap infeksi yang berulang atau peradangan.

K. Asuhan Keperawatan A. Pengkajian 1. Biodata Nama Umur Jenis Kelamin Agama Pendidikan Pekerjaan Suku/Bangsa Tanggal masuk RS Tanggal pengkajian Diagnosa Medis B. Anamnesa  Keluhan utama Tn. A mengeluh nyeri pada paha yang terpasang skeletal traksi (3 kg) dan nyeri pada bagian tumit.  Riwayat Kesehatan Sekarang Pada saat diukur ekstremitas bawah kanan lebih panjang 10 cm dibandingkan ekstremitas kiri. Pada tulang tibia telah dipasang pen 3 hari POD. Nyeri dirasakan seperti disayat-sayat benda tajam. Nyeri bertambah saat dilakukan perawatan luka. Skala nyeri 6 pada rentang 0-10. Nyeri berkurang bila diistirahatkan.    Riwayat Kesehatan Dahulu Pada kasus tidak teridentifikasi Riwayat Penyakit Keluarga Pada kasus tidak teridentifikasi Aktivitas Sehari-hari Aktivitas klien Tn. A terganggu, karena nyeri dan gerak yang terbatas (imobilisasi) akibat pemasangan skeletal traksi pada paha dan terpasang pen pada semua bentuk aktivitas klien jadi berkurang dan klien lebih butuh banyak bantuan dari orang lain. : Tn. A : 31 tahun : Laki-laki ::::::: Fraktur Tertutup

Pola Nutrisi dan Metaboilsme Klien fraktur harus mengonsumsi nutrisi yang melebihi kebutuhan sehariharinya seperti kalsium, zat besi, vitamin C, dan lainnya untuk membantu proses pembentukan tulang. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien dapt membantu menentukan penyebab masalah muskuloskeletal dan

mengantisipasi komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat, terutama kalsium dan protein. Kurangnya sinar matahari yang diperoleh tubuh meruapakan faktor predisposisi masalah muskuloskeletal erutama pada lansia. Selain itu, obesitas juga menghambat degenerasi dan mobilitas klien.  Pola Tidur dan Istirahat Pada kasus klien Tn. A tidak teridentifikasi pola tidur dan istirahat, namun dari data subjektif dapat disimpulkan bahwa klien merasakan nyeri pada paha yang terpasang skeletal traksi dan tumitnya, yang mana nyeri tersebut menyebabkan ketidaknyamanan sehingga pola tidur dan istirahatnya terganggu. Dan biasanya semua klien fraktur biasanya merasa geraknya terbatas sehingga hal ini dapat mengganggu pola dan tidur kebutuhan klien. Selain itu pengkajian dilaksanakan pada lamanya tidur, suasana lingkungan, kebiasaan tidur, kesulitan tidur, dan penggunaan obat tidur.  Pola Eliminasi Untuk fraktur femur dan tibia, ada gangguan pada pola eliminasi dikarenakan imobilisasi dan nyeri untuk bergerak, sehingga perlu dikaji frekuensi, konsistensi, warna serta bau feses pada pola eliminasi. Pada pola eliminasi urin dikaji frekuensi, kepekatan, warna, bau, dan jumlahnya. Pada klien Tn. A pola eliminasi urin terdapat data laboratorium kreatinin = 0,76 (normal, karena nilai normalnya antara 0,6-1,2 mg/dl). Sementara pola eliminasi bowel tidak teridentifikasi.  Pola Persepsi dan Konsep Diri Pada klien Tn. A tidak teridentifikasi mengenai pola persepsi dan pola konsep dirinya. Namun biasanya dampak yang timbul pada klien fraktur adalah timbul ketakutan akn kecacatan akibat fraktur, rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal dan gangguan citra diri.  Pola Penanggulangan Stres

Pada klien fraktur muncul cemas akan dirinya yaitu timbul kecacatan pada diri dan fungsi tubuhnya. Mekanisme koping yang ditempuh klien dapat tidak efektif. Pada klien Tn. A beliau memiliki kecemasan karena ditandai dengan nyeri yang seperti disayat-sayat seperti benda tajam.  Pola Tata Nilai dan Keyakinan Pola tata nilai dan keyakinan pada kasus Tn. A tidak teridentifikasi. Klien dengan fraktur tidak bisa melaksanakan ibadah dengan baik, terutama frekuensi dan konsentrasi dalam beribadah. Hal ini disebabkan rasa nyeri dan keterbatasan gerak klien.  Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat Pada klien fraktur biasanya merasa takut akan mengalami kecacatan pada dirinya. Oleh karena itu, klien harus menjalani penatalaksanaan kesehatan untuk membantu penyembuhan tulangnya. Selain itu, pengkajian dilakukan pada kebiasaan hidup klien seperti penggunaan obat-obat steroid yang mengganggu metabolisme kalsium, pengonsumsian alkohol yang dapat mengganggu keseimbangan klien, dan apakah klien melakukan olahraga atau tidak. C. Pemeriksaan Fisik Hal yang perlu diketahui dalam pemeriksaan fisik klien fraktur yaitu: a. Gambaran Umum  Keadaan umum, keadaan baik buruknya klien. Hal-hal yang perlu dicatat adalah: Kesadaran klien: kompos mentis, karena klien masih bisa dilakukan pengkajian dan mengungkapkan keluhannya. Kesakitan, keadaan penyakit: fraktur tertutup golongan akut karena klien dilakukan pemasangan skeletal traksi. Tanda-tanda vital: 1. RR = 18x/menit (normal, rentang = 16 24x/menit) 2. Nadi = 78x/menit (normal, rentang = 3. TD = 110/70mmHg (normal, 4. CRT = 3 detik (normal, N = kurang dari 3 Detik).

- Data laboratorium: 1. Hb = 10,6 gr/dl (abnormal, rentangnya = 16-18gr/dl) 2. Ht = 37% 3. leukosit = 21.200/mm3 (abnormal, N = 5.000-10.000/mm3) 4. Trombosit = 171.000 mm3/grdl ( normal, N = 150.000 350.000mm3grdl 5. MCV = 87,9 (normal, rentang = 80-96) 6. MCH = 29,8 (normal, rentang = 27-33) 7. MCHC = 33,9 (normal, rentang = 33-36) 8. Creatinin = 0,76 (normal, rentang = 0,6 1,2 mg/dl) 9. Na = 138 (normal, rentang = 135-145) 10. Kalium = 4,0 (normal, rentang = 3,5-5) 11. ALT = 15 (normal, N = <25).  Secara sistemik dari kepala sampai kelamin Perawat harus memperhitungkan keadaan proksimal serta bagian distal klien terutama mengenai status neurovaskuler. b. Keadaan Lokal  Inspeksi Sikatriks (jaringan parut, baik yang alami maupun buatan seperti bekas operasi).  Fistula Warna kemerahan atau kebiruan (lipid)/ hiperpigmentasi. Benjolan, pembengkakan, atau cekungan dengan hal-hal abnormal. Posisi dan bentuk ekstremitas (deformitas). Posisi jalan.

Palpasi Pada waktu akan palpasi posisi klien diperbaiki mulai dari posisi netral atau posisi anatomi. Perubahan suhu disekitar trauma (hangat) dan kelembaban kulit. Apabila ada pembengkakan, apakah terdapat fluktuasi atau edema terutama disekitar persendian.

-

Nyeri tekan (tenderness), krepitasi, letak kelainan (1/3 proksimal, tengah atau distal).

-

Tonus otot pada relaksasi atau kontraksi, benjolan yang terdapat di permukaan atau melekat pada tulang. Selain itu, periksa status neurovaskuler. Apabila ada benjolan perawat perlu mendeskripsikan permukaannya, konsistensinya, pergerakan terhadap dasar atau

permukaan nyeri atau tidak dan ukurannya. Pergerakan terutama rentang gerak, perawat memeriksa dengan

menggerakan ekstremitas ada keluhan nyeri atau tidak. D. Analisa Data No. DATA ETIOLOGI MASALAH KEPERAWATAN 1. DO :  Nyeri pada skala 6 pada rentang 0-10, terpasang traksi DS : Klien mengeluh nyeri pada paha dan tumit, nyeri dirasakan seperti disayat-sayat benda Inflamasi Vasodilatasi plasma skeletal Hematom pada kanal medula antara tepi tulang dibawah dengan jaringan tulang mengatasi fraktur Perdarahan kerusakan tulang dan jaringan sekitar Nyeri b.d peningkatan permeabilitas kapiler,

trauma, ditandai dengan pemasangan traksi skeletal

tajam, nyeri bertambah bila sedang dilakukan perawatan luka

Mediator kimia

Masuk ke dorsal cord

Substansi glatinosa

Fraktus spintalamikus

Talamus

Korteks serebri

nyeri 2. DO:  Nyeri pada skala 6 pada rentang 0-10  terpasang skeletal Trauma Benturan pada tulang Kecelakaan Gangguan mobilitas fisik b.d fraktur, pergerakan fragmen tulang ditandai dengan pemasangan

traksi pada paha DS :  Klien mengeluh nyeri pada paha dan tumit, nyeri dirasakan seperti disayatsayat tajam, bertambah sedang dilakukan perawatan luka. benda nyeri bila

skeletal traksi pada paha

Diskontinuitas

Pergeseran tulang

Ekstremitas tidak berfungsi dengan baik

Gangguan mobilisasi

3.

DO:  pemasangan skeletal traksi DS: -

Trauma

Gangguan integritas kulit b.d pemasangan skeletal

Pemasangan traksi

traksi

Keterbatasan fisik, terbaring lama

Tekanan

Sirkulasi terhambat

Iritasi

Gangguan integritas kulit 4. DO:   DS: CRT 3 detik Hb = 10,6 gr/dl Volume darah menurun Perdarahan, kerusakan tulang dan jaringan sekitar Gangguan perfusi

jaringan b.d hematoma ditandai dengan CRT 3 detik, Hb = 10,6 gr/dl

Hb menurun

Ht menurun

Oksigen ke jaringan menurun

Gangguan perfusi jaringan

CRT = 3 detik 5. DO :   Leukosit= 21.200/mm3 Terpasang skeletal pada paha. DS : Patah tulang traksi Trauma Benturan Kecelakaan Infeksi traumatik, dengan 21.200/mm3 b.d jaringan ditandai leukosit

Luka pada kaki kanan

Pemasangan fiksasi

Kemungkinan perawatan tidak steril

infeksi 6. DO: Terpasang skeletal Benturan pada tulang Kecelakaan Ansietas b.d pemasangan traksi, kondisi fisik .

traksi pada paha. DS: Nyeri pada paha dan tumit, nyeri seperti benda

Trauma

disayat-sayat tajam.

Pemasangan traksi

keterbatasan gerak, terbaring lama

perubahan peran hidup

banyak pikiran

ansietas

No.

Diagnosa Keperawatan

Tujuan

Asuhan Keperawatan Intervensi Rasional dan  Nyeri

1.

Nyeri peningkatan permeabilitas kapiler, pemasangan skeletal

b.d Tupan : Nyeri berkurang Tupen :  Klien mengatakan nyerinya berkurang pada  Klien mampu klien

Mandiri  Kaji jenis dan nyeri

lokasi nyeri serta ketidaknyamanan pasien.  Kaji ketidaknyamana n pasien.  Gunakan uapaya mengontrol nyeri: a. Meninggika n ekstremitas

tekan kemungkinan akan dirasakan pada pasien fraktur; dan kerusakan jaringan

traksi

ditandai dengan: DO :  Nyeri

lunak; spasme otot terjadi respon cedera imobilisasi.  Pengkajian merupakan nyeri dasar sebagai terhadap dan

skala 6 pada rentang 0-10, terpasang skeletal traksi

mendemonstras ikan kembali

teknik relaksasi atau distraksi

DS :  Klien mengeluh nyeri paha tumit, pada dan nyeri

 Ekspresi wajah klien tenang  Klien dapat

yang cedera setinggi jantung. b. Memantau pembengkak an dan status neurovaskul er.  Ajarkan teknik relaksasi : Teknik-teknik mengurangi ketegangan otot dapat mengurangi intensitas nyeri dan rangka

bagi

perencanaan

intervensi keperawatan. a. Mengontrol edema dengan memperbaiki drainase. b. Edema perdarahan dan ke

melakukan perubahan posisi tidak nyeri. dengan merasa

dirasakan seperti disayat-sayat benda tajam, nyeri bertambah bila sedang

dalam jaringan yang mengalami trauma mengakibatkan tidak nyaman

dilakukan perawatan luka

nyeri yang tak tertahankan.  Teknik melancarkan peredaran darah sehingga kebutuhan oksigen jaringan pada ini

meningkatkan relaksasi masase.  Ajarkan metode distraksi selama akut.  Berikan kesempatan waktu istirahat bila nyeri terasa dan   nyeri

terpenuhi nyeri berkurang.

dan

Mengalihkan perhatian klien terhadap nyeri ke hal-hal yang menyenangkan. Isyirahat

berikan posisi nyaman,

misalnya waktu belakang tubuh dipasang bantal kecil.  Tingkatkan pengetahuan tentang sebabsebab dan hubungkan dengan beraa lama akan berlangsung.  Berikan tramadol 2x1 (drift)  dan  nyeri nyeri  tidur

merelaksasi jaringan sehingga meningkatkan kenyamanan. Pengetahuan tentang sebabsebab membantu mengurangi nyeri dan nyeri

meningkatkan kepatuhan klien terhadap program perawatan. Megobati nyeri akut dan kronik yang nyeri operasi, penanganan jangka pendek untuk berat.  Setelah melaksanakan pengkajian yang perawat optimal akan nyeri berat, paska dan

ketorolac 2x1. Observasi tingkat dan nyeri respon

motorik klien 30 setelah pemberian obat mengkaji efektifitas dan 1-2 setelah tindakan jam untuk menit

memperoleh data objektif yang untuk

perawatan selama hari. 1-2

mencegah kemungkinan komplikasi dan melakukan intervensi yang tepat.

2.

Gangguan mobilitas b.d

Tupan: fisik mampu

klien Mandiri  Kaji mobilitas yang ada dan observasi adanya Klien dapat ikut dalam program latihan serta  peningkatan kerusakan. Kaji secara   Mengetahui tingkat kemampuan klien dalam

fraktur, melaksanakan aktivitas fisik 

pergerakan fragmen

tulang Tupen:

ditandai dengan pemasangan skeletal pada paha DO:  Nyeri pada traksi

melakukan aktivitas. Imobilisasi yang dapat adekuat

teratur fungsi motorik.  Atur posisi

Menunjuka n tindakan untuk meningkat kan mobilitas

mengurangi pergerakan fragmen tulang yang unsur  menjadi utama

skala 6 pada rentang 0-10  terpasang skeletal traksi pada paha DS :  Klien mengelu h nyeri

imobilisasi pada bawah.  Ajarkan klien untuk melakukan gerak pada ekstremitas yang sehat.  Bantu klien aktif tungkai

penyebab nyeri. Gerakan aktif

memberikan massa, dan otot, tonus, kekuatan serta

pada paha dan tumit, nyeri dirasakan seperti disayat-

memperbaiki fungsi jantung

melakukan ROM dan 

dan pernapasan. Untuk mempertahanka n fleksibilitas

perawatan diri sesuai toleransi.

sayat benda tajam, nyeri bertamba h bila

Kolaborasi  Kolaborasi dengan fisioterapi untuk melatih fisik klien ahli 

sendi

sesuai

kemampuan. Kemampuan mobilisasi ekstremitas dapat ditingkatkan dengan latihan fisik dari tim fisioterapi.

sedang dilakuka n perawata n luka. 3. Gangguan integritas Tupan: integritas Mandiri  Pertahankan tempat tidur yang nyaman dan aman (kering, bantalan tonjolan tulang).  Masase kulit bersih, di  

kulit kulit normal  ketidaknyamana
n hilang

Menurunkan risiko kerusakan/aberasi kulit luas. Meningkatkan sirkulasi perifer yang lebih

b.d pemasangan Tupen: skeletal traksi DO:  pemasangan skeletal traksi DS:

menunjukan perilaku mencegah kerusakan kulit

dan meningkatkan kelemasan kulit

terutama di daerah penonjolan tulang dan area distal

dan otot terhadap tekanan relatif yang konstan

bebat/gips.  Lindungi kulit dan gips pada daerah  perianal.  Observasi keadaan penekanan gips/bebat terhadap kulit, kulit,

pada imobilisasi. Mencegah gangguan integritas kulit dan jaringan  Menilai perkembangan masalah klien. akibat

kontaminasi fekal.

insersi pen atau traksi

4.

Gangguan perfusi jaringan b.d hematoma  Indikator umum

status sirkulasi dan keadekuatan Mandiri  Awasi tanda vital. perfusi.  Pembebatan yang

ditandai dengan CRT 3 detik DO:  CRT detik DS: 3

Palpasi

nadi

terlalu kuat dapat mengganggu sirkulasi mengakibatkan nekrosis jaringan.  Peningkatan insiden pembentukan trombus pasien penyakit pada dengan vaskuler atau dan

perifer, perhatikan kekuatan kesamaan.  Lakukan pengkajian neurovaskuler periodik, sensasi, contoh gerakan, dan

nadi, warna kulit, dan suhu.  Evaluasi tungkai

sebelumnya

perubahan diabetik.  Mempertahankan volume untuk memaksimalkan perfusi jaringan.  Indikator hipovolemia dehidrasi atau yang sirkulasi

bawah yang tidak mengalami cedera. Kolaborasi :  Berikan cairan IV atau produk darah sesuai indikasi.  Awasi pemeriksaan laboratorium, contoh Hb 5. Infeksi jaringan traumatik, ditandai dengan leukosit b.d Tupan :  Mampu mengembangka n mekanisme untuk Mandiri  Lakukan perawatan pen steril perawatan dan

dapat mengganggu perfusi jaringan. 

Mencegah perluasan infeksi.

koping

Meminimalkan

21.200/mm3 DO :  Leukosit= 21.200/mm3 DS :

menghadapi masalah secara efektif Tupen :  Mengungkapka n pemahaman tentang perubahan tubuh , dan   

luka

sesuai

kontaminasi penyebab infeksi.  Peningkatan leukosit menandakan respon terhadap infeksi.  Mengevaluasi masalah perkembangan klien. a. Untuk infeksi disebabkan bakteri mengatasi yang oleh gram tubuh

protokol. Ajarkan klien untuk mempertahank an sterilitas

insersi pen. Analisa hasil

pemeriksaan laboratorium. Observasi tanda-tanda vital dan

penerimaan diri situasi dalam

tanda-tanda peradangan lokal luka. Kolaborasi a. Berikan cefazolin 2x1 b. Berikan gentamisin 2x1 pada

negatif dan gram positif. Infeksi

jaringan lunak dan kulit, tulang dan sendi. b. Infeksi saluran kulit dan

jaringan lunak. 6. Ansietas pemasangan traksi, fisik . DO:  Terpasan b.d Tupan: hilang ansietas Mandiri atau  Kaji tanda verbal dan nonverbal  reaksi verbal/nonverbal dapat menunjukan rasa agitasi, marah, dan gelisah.  Konfrontasi dapat meningkatkan rasa

kondisi berkurang. Tupen:  Klien mengenal perasaannya dapat g skeletal  Klien traksi

ansietas, dampingi klien, dan lakukan tindakan bila klien menunjukan perilaku merusak.

mengidentifikas

i penyebab atau  faktor yang

Hindari konfrontasi.  Tingkatkan kontrol klien.  Beri kesempatan klien untuk  sensasi

marah, menurunkan kera

memengaruhin ya  Dan menyatakan merasa tenang

sama, dan mungkin memperlambat penyembuhan. Kontrol klien mengurangi ketakutan) dengan cara memberikan tentang klien, sensasi (dalam

mengungkapk an ansietasnya.  Berikan privasi dan klien orang

informasi keadaan

menekankan penghargaan terhadap sumber (pertahanan yang sumberkoping diri) positif,

terdekatnya

membantu latihan relaksasi teknik-teknik pengalihan, memberikan umpan balik yang positif.  Dapat menghilangkan ketegangan terhadap kekhawatiran  Memberi untuk mengekspresikan yang serta dan

tidak diekspresikan waktu

perasaan menghilangkan

serta

ansietas da perilaku adaptasi. Adanya

keluarga dan temanteman yang dipilih klien untuk

melakukan aktivitas dan perhatian mengurangi perasaan isolasi. pengalihan akan

Daftar Pustaka

Brunner dan Suddarth. 2002. Keperawatn Medikal bedah. Edisi 3. Jakarta: EGC. Carpenito, Lynda Juall. 2009. Diagnosa Keperawatan: Aplikasi pada Praktik Klinis. Edisi 9. Jakarta. EGC. C.Pearce, Evelyn. 1992. Anatomi dan Fisiologi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Djoko Simbardjo. Fraktur Batang Femur. Dalam: Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Bagian Bedah FKUI. Doenges, Marilyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta: EGC. Gibson, John. 2003. Anatomi dan Fisiologi Modern untuk Perawat. Jakarta: EGC. Hardaya, Yuda. 2011. Tentang Fraktur Tulang. (online). (http://dokterbedahmalang.com/tentang-fraktur-tulang/). Diakses 18 November 2011. Mutaqin, Arif. 2008. Klien Gangguan Sistem Muskuloskeletal: Seri Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC. Rasjad, C. 2007. Buku pengantar Ilmu Bedah Ortopedi ed. III. Yarsif Watampone. Makassar: pp. 352-489 Rina, Amelia. 2011. Traksi dan Gips. (online). (http://ameliarina.blogspot.com/2011/03/traksi-dan-gips.html). Diakses 19 November 2011. Sjamsuhidajat, R. dan de Jong, Wim (Editor). 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta: EGC. Sloane, Ethel. 2003. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: EGC. Smeltzer, Suzane C. 2001. Buku Ajar Keperawtan Medikal Bedah. Edisi 8. Jakarta: EGC. Supardi, Edy. dkk. 2009. Fraktur dan Dislokasi. (online). (http:www.scribd.com/doc/23128712/Asuhan-Keperawatn-Klien-dengan-Fraktur). Diakses 17 November 2011

.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->