P. 1
Pengertian CAPD

Pengertian CAPD

|Views: 1,203|Likes:
Published by Gek Ayaz

More info:

Published by: Gek Ayaz on Nov 19, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/31/2014

pdf

text

original

1.

Pengertian CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis) CAPD adalah suatu proses dialysis di dalam rongga perut yang bekerja sebagai

penampung cairan dialysis, dan peritoneum sebagai membrane semi permeable yang berfungsi sebagai tempat yang dilewati cairan tubuh yang berlebihan & solute yang berisi racun yang akan dibuang.Di dalam rongga perut ini terdapat banyak sel-sel darah kecil (kapiler) yang berada pada satu sisi dari membran peritoneum dan cairan dialysis pada sisi yang lain.Rongga peritoneum berisi + 100ml cairan yang berfungsi untuk lubrikasi / pelicin dari membran peritoneum. Pada orang dewasa normal, rongga peritoneum dapan mentoleransi cairan > 2 liter tanpa menimbulkan rasa tidak nyaman. CAPD adalah metode pencucian darah dengan mengunakan peritoneum (selaput yang melapisi perut dan pembungkus organ perut). Selaput ini memiliki area permukaan yang luas dan kaya akan pembuluh darah. Zat-zat dari darah dapat dengan mudah tersaring melalui peritoneum ke dalam rongga perut. Cairan dimasukkan melalui sebuah selang kecil yang menembus dinding perut ke dalam rongga perut. Cairan harus dibiarkan selama waktu tertentu sehingga limbah metabolic dari aliran darah secara perlahan masuk ke dalam cairan tersebut, kemudian cairan dikeluarkan, dibuang, dan diganti dengan cairan yang baru.

2. Epidemiologi CAPD Dengan CAPD dikatakan dapat menciptakan kualitas hidup yang lebih baik bagi penderita. Sebab, mereka dapat menjalani hidupnya dengan normal, tanpa banyak batasan untuk mengkonsumsi makanan.

3. Tujuan CAPD Sebagai terapi pengganti, kegiatan CAPD mempunyai tujuan :      Membuang produk metabolisme protein seperti urea, kreatinin dan asam urat Membuang kelebihan air. Mempertahankan atau mengembalikan system buffer tubuh. Mempertahankan atau mengembalikan kadar elektrolit tubuh Memperbaiki status kesehatan penderita.

Penyakit ginjal stadium terminal yang terjadi akibat diabetes sering dipertimbangkan sebagai indikasi untuk dilakukan CAPD karena hipertensi. rasa haus yang berlebihan. sakit kepala pasca dialisisdan anemia berat yang memerlukan transfusi. bebas dari keharusan pemasangan jarum infuse (venipuncture) dan merasa sehat secara umum meskipun CAPD memberikesan pasien tampak bebas. Selain kemampuan pasien dukungan dari keluarga untuk melasanakan CAPD harus dipertimbangkan ketika memilih terapi ini. terapinya berlangsung secara kontinyu sehingga pasien harus menjalani dialisis selama 24 jam /hari setiap hari.1 5. Pasien memilih CAPD agar bebas dari ketergantungannya pada mesin. mengontrol sendiri aktifitasnya sehari-hari menghindari pembatasan makanan meningkatkan asupan cairan. Pasien lansia dapat memanfaatkan teknik CAPD dengan baik jika keluarga atau masyarakat memberikan dukungan. menginginkan lebih banyak kebebasan dan memiliki motivasi serta keinginan untuk melaksanakan penanganan yang diperlukan sangat sesuai dengan terapi CAPD.4. memperbaiki kontrol tekananan darah. Indikasi tindakan CAPD CAPD merupakan terapi pilihan bagi pasien yang ingin melaksanakan dialysis sendiri di rumah. menaikkan nilai hematokrit serum. Sebagian pasien menganggap cara ini membatasi kebebasanya dan memilih HD yang lebih bersifat intermiten Indikasi biokimiawi:     Ureum darah >200 mg% Kalium < 6 mEq/L HCO3 < 10 – 15 mEq/L pH < 7. indikasi CAPD adalah pasien-pasien yang menjalani HD rumatan (maintenence) atau HD kronis yang mempunyai masalah dengan caraterapi yang sekarang. hipertensi berat. seperti gangguan fungsi atau kegagalan alat untuk aksesvaskuler.uremia dan hiperglikemia lebih mudah diatasi dengan cara ini dari pada HD. Kontraindikasi dilakukan CAPD . Pasien yang aktif dalam penanganan penyakitnya.

Perlekatan akan mengurangi klirens solut. ileostomi. tercabutnya kateter dari panggul. kontaminasi bakteri/jamur serta masuknya udara pada selang kateter.pembuluh darah peritoneum sehingga meningkatkan klirens ureum. pembentukan bekuan fibrin. Masalah-masalah tersebut dapat menyebabkan terganggunya penetesan serta pengaliran keluar cairan dialisat. infeksi pada lokasi keluarnya kateter. Diverkulitis mengingat CAPD pernah disertai adanya ruptur divertikulum. Masalah yang dapat terjadi pada kateter mencakup obstruksi satu arah.  Suhu larutan dialisat yang hangat dapat mencegah gangguan rasa nyaman serta nyeri pada abdomen dan menyebabkan dilatasi pembuluh . nefrostomi atau ileal conduit dapat meningkatkan resiko peritonitis walaupun tindakan operasi tersebut bukan kontraindikasi absolut untuk CAPD    Pasien dengan pengobatan imunosupresif akan mengalami komplikasi akibat kesembuhan luka yang buruk pada lokasi pemasangan kateter. Untuk itu kateter harus dilindungi terhadap tindakan manipulasi dan lokasi masuknya kateter ke dalam abdomen memerlukan perawatan yang cermat sesuai protokol dasar. Faktor yang mempengaruhi CAPD  Pemeliharaan kateter peritoneal permanen sangat mempengaruhi keberhasilan CAPD. . perembesan cairan dialisat. Sedangkan suhu larutan dialisat yang terlalu dingin dapat menimbulkan nyeri serta vasokontriksi dan menurunnya klirens natrium.   Perlekatan akibat pembedahan atau penyakit inflamasi sistemik sebelumnya. larutan ini dihangatkan hingga mencapai suhu tubuh sehingga dapat memperoleh hasil yang optimal. terbelitnya kateter dengan omentum. Pasien dengan artritis atau kekuatan tangan menurun karena akan memerlukan bantuan dalam melaksanakan pertukaran cairan 6. Maka sebelum dilakukan penambahan obat-obatan pada larutan dialisat. Nyeri punggung kronis yang rekuren di sertai riwayat kelainan pada diskusinter vertebralis dapat diperburuk oleh tekanan cairan dialisat dalam abdomen yang kontinyu Adanya riwayat kolostomi.

Dialisis Peritoneal diawali dengan memasukkan cairan dialisat (cairan khusus untuk dialisis) ke dalam rongga perutmelalui selang kateter. yaitu difusi dan osmosis. protein. klirens molekul yang berukuran sedang semakin baik. Kadar elektrolit biasanya tetap berada dalam kisaran normal. molekul ini merupakan toksin uremik yang signifikan. Nilainya bergantung pada: Fungsi ginjal yang masih tersisa Volume dialisat setiap hari Kecepatan produk limbah tersebut diproduksi Fluktuasi hasil-hasil laboratorium ini pada CAPD tidak begitu ekstrim dibandingkan dengan dialisis peritoneal intermiten. seperti ureum. Keberhasilan terapi dialisis peritoneal pada dasarnya tergantung pada gizi yang cukup. Zat-zat racun yang terlarut di dalam darah akan pindah ke dalam cairan dialisat melalui selaput rongga perut (membran peritoneum) yang berfungsi sebagai alat penyaring. kehilangan asam amino. karena proses dialisis berlangsung secara konstan. proses perpindahan ini disebut difusi. Ketika dialisat berada didalam rongga perut. zat-zat racun dari dalam darah akan dibersihkan dan kelebihan cairan tubuh akan ditarik ke dalam cairan dialisat. suplai protein tidak cukup. vitamin dan elektrolit akibat dialisis. Dengan CAPD. Untuk sukses jangka panjang terapi dialisis kronis. Malnutrisi merupakan salah satu faktor utama dalam morbiditas dan mortalitas pasien dialisis. akan berdifusi lebih cepat dalam proses dialisis dari pada . lalu dibiarkan selama 4-6 jam. Substansi dengan berat molekul rendah. sangat penting bahwa pasien berada dalam keadaan gizi yang baik ketika memasuki program dialisis. gangguan endokrinologis dan lain-lain. Semakin lama waktu retensi. 7. Tetapi karena CAPD merupakan terapi dialysis yang kontinyu. Penyebab utama gizi buruk adalah asupan energi tidak cukup. kadar produk limbah nitrogen dalam serum berada dalam keadaan yang stabil. kliren molekul ini meningkat. Konsep fisiologi tindakan CAPD CAPD bekerja berdasarkan prinsip-prinsip yang sama seperti pada bentuk dialysis lainnya.

meskipun pengeluarannya selama CAPD lebih lambat daripada selama hemodialisis. . obat hiperglikemia. serta vitamin dan mineral.25% harus tersedia dengan beberapa ukuran volume. Pengeluaran cairan yang berlebihan pada saat dialisis peritoneal dicapai dengan menggunakan larutan dialisat hipertonik yang memiliki konsentrasi glukosa yang tinggi sehingga tercipta gradien osmotik. ukuran tubuh dan kebutuhan fisiologik pasien. cairan dibiarkan dalam rongga perut untuk selama periode waktu tertentu (4-6 jam) Ketiga. Membutuhkan waktu yang singkat.5%. masukkan dialisat berlangsung selama 10 menit Kedua.molekul berukuran sedang.semakin besar gradien osmotik dan semakin banyak air yang dikeluarkan. terdiri dari 3 langkah. 2. BP medicine. mulai dari 500 ml ± 3000 ml. Setelah itu proses dialisis pun dapat dilakukan dengan cairan dextrose. 1. 2. Prosedur tindakan CAPD pemasangan CAPD dilakukan dengan pembedahan untuk pemasangan peritoneum dan kateter untuk memasukan cairan dialisat. Larutan glukosa 1. pengeluaran cairan yang berlangsung selama 20 menit Ketiga proses diatas dilakukan beberapa kali tergantung kebutuhan dan bisa dilakukan oleh pasien sendiri secara mandiri setelah dilatih dan tidak perlu ke rumah sakit.5% dan 4. Proses pertukaran CAPD dilakukan biasanya 4 kali sehari setiap minggu rata-rata diulangi 4 jam sekali. Proses dialysis peritoneal ini tidak menimbulkan rasa sakit. Sebelum pemasangan CAPD obat-obat yang biasanya diberikan seperti antibiotik. Perpindahan ini disebut osmosis. 8. sehingga memungkinkan pemilihan dialisat yang sesuai dengan toleransi. Cairan dialisat dimasukkan sebanyak 2 liter setiap pergantian. Semakin tinggi konsentrasi glukosa.    Pertama.

diindikasikan untuk pasien dengan gangguan jantung Kerugian : a. dapat dilakukan sendiri di rumah b. Medical masker g. mencuci tangan. Alat yang digunakan untuk CAPD Untuk perawatan harian : a. Keuntungan dan kelemahan CAPD Keuntungan : a. sabun b. lebih mudah terkena peritonitis b. waktu lebih fleksibel dan tidak harus ke rumah sakit e. mudah dipelajari prosedur dan tindakannya oleh pasien d. Clam kateter dan lap bersih yang halus h. masker. Kateter bentuk X e. 9. Kantong dialisat dan kantong produk sisa c. gangguan citra tubuh akibat terpasangnya selaput peritonium pada bagian abdomen. Standar infuse d. Sarung tangan bersih disposable f. diet dan intake cairan lebih bebas g. resiko infeksi dari jalan masuk kateter c. Disposable syiremge . lebih mudah dilakukan dan lebih simple c. tidak terasa nyeri saat melakukan exchange fluid f. dan dilakukan di tempat yang bersih. memakai sarung tangan. 10. Air bersih.Untuk pergantian cairan harus memenuhi persyaratan kebersihan seperti clean water.

khususnya pada pasien wanita yang sedang haid.  Perdarahan Cairan drainase (effluent) dialisat yang mengandung darah kadang-kadang dapat terlihat. Komplikasi CAPD bukan teknik dialisis tanpa komlikasi. memiliki prognosis yang lebih serius dan berjalan lebih lama. Kebocoran melalui tempat pemasangan kateter atau kedalam dinding abdomen dapat terjadi sepontan beberapa bulan atau beberapa tahun setelah pemasangan kateter tersebut. Sebagia besar kejadian perotinitis disebabkan kontaminasi Staphylococcus epidermidis yang bersifat aksidental.11. meskipun demikia. Biasanya kebocoran tersebut berhenti sepontan jika terapi dialisis ditunda selama beberapa hari untuk menyembuhkan luka insisi dan tempat keluarnya kateter. Kebocoran sering dapat dihindari dengan melalui infus cairan dialisat dengan volume kecil (100-200 ml) dan kemudian secara bertahap meningkatkan volime tersebuthingga mencapi 200 ml.  Peritonitis Peritonitis merupakan komplikasi yang paling sering dijumpai dan yang paling serius komplikasi ini terjadi pada 60% hingga 80% pasien yang menjalani dialisis pritoneal. Kebanyakan komplikasinya bersifat ringan.  Kebocoran Kebocoran dialisat melalui luka insisi atau luka pada pemasangan kateter dapat segera diketahui setelah kateter dipasang. Komlikasi lain mencakup hernia abdomen yang mungkin terjadi akibat peningkatan tekanan intra abdomen yang terus. ( Cairan hipertonik menarik darah ke uterus lewat orifisium tuba falopii yang bermuara dalam kavum peritoneal )  Komplikasi lain 1. Tipe hernia yang pernah terjadi adalah . peritonitis akibat Staphylococcus aureus mengasilkan angka morbiditas yang lebih tinggi. Kejadian ini mengakibatkan gejala ringan dan prognosisnya baik.menerus. Selama periode ini. meskipun beberapa diantaranya jika tidak diatasi dapt membawa akibat yang serius pada pasien. faktor-faktor yang memperlambat proses kesembuhan seperti aktivitas abdomen yang tidak semestinya atau mengejan pada saat buang air besar harus dikurangi.

namun bentuk terapi ini bukan tanpa masalah. Tekanan intra abdomen yang secara persisten meningkat juga akan memperburuk gejala hernia peatus dan hemoroid. diagfragmatik dan umbilical. 4. 2. inguinal. c) Kaji fistula tersumbat bekuan. b) Kaji ketidakpatuhan terhadap rencana tindakan sebelumnya. Penyakit kardiovaskular tetap merupakan menyebab utama kematian pada populasi pasien ini. Pasien sering mengalami perubahan citra tubuh dengan adanya kateter abdomen dan kantong penampung serta selang di badannya. Keberadaan dua liter cairan dialisa. Seksualitas dan fungsi seksual dapat berubah : pasien beserta pasangannya mungkin enggan untuk melakukan aktifitas social dan keengganan ini sebagian timbul karena secara psikologis. Adapun pengkajian yang dilakukan pada klien dengan tindakan CAPD secara umum antara lain:  Sebelum dialisa : a) Tinjau kembali catatan medis untuk menentukan alas an perawatan dirumah sakit.type insisional. Pengkajian Pengkajian merupakan tahap awal yang dilakukan sebelum perumusandiagnose keperawatan serta intervensi keperawatan pada klien. kateter peritoneal dan kantong drainase dapat menggangu fungsi seksual serta cairan tubuh pada pasien-pasien ini. Asuhan keperawatan pasien CAPD A. . kateter menjadi “penghalang” aktifitas tersebut.  Gangguan citra tubuh dan seksualitas Meskipun CAPD telah memberikan kebebasan yang lebih besar dan hak untuk mengontrol sendiri terapinya kepada pasien penyakit renal stadium terminal. Hipertrigliseridemia sering dijumpai pada pasien-pasien yang menjalani CAPD sehingga timbul kesan bahwa terapi ini dapat mempermudah aterogenesis. 12. Nyeri punggung bawah dan anoreksia akibat adanya cairan dalam rongga abdomen disamping rasa manis yang selalu terasa pada indra pengecap serta berkaitan dengan absobsi glukosa dapat pula terjadi pada terapi CAPD. 3. Kesalahan letak kateter 5. Sumbatan pada masuk dan keluarnya cairan dialisa.

mendadak. g) Kaji terhadap manifestasi klinis dan laboratorium tentang kebutuhan tentang dialisa : Peningkatan berat badan 3 pon / lebih diatas berat badan pada tindakan dialisa terakhir h) Kaji adanya pernafasan cepat pada saat istirahat. Riwayat kesehatan sekarang. meliputi. i) Kaji adanya kelelahan dan kelemahan menetap. nyeri abdomen. k) Kaji hasil laboratorium adanya peningkatan kreatinin. peningkatan sesak nafas dengan kerja fisik maksimal. e) Tanyakan tipe diet yang digunakan dirumah. meliputi gangguan / penyakit yang lalu. Pengkajian Riwayat Penyakit 1. getaran ( pulsasi ) akan terasa desiran yang terdengar dengan stetoskop di atas sisinya. edema. jumlah haluaran urin. Bila paten.Pinggang. Seperti. Tidak adanya pulsasi dan bunyi desiran menandakan fistula tersumbat. BUN. Kemungkinan perubahan EKG pada adanya hiperkalemia. kelelahan estrem. dan elektrolit khususnya kalium. jumlah cairan yang diijinkan. gangguan pola tidur . keluhan / gangguan yang berhubungan dengan penyakit saat ini. jadwal hemodialisa. Pengkajian Pemeriksaan Fisik 1. obat obatan yang saat ini digunakan.d) Adanya pembuatan fistula. f) Kaji kepatenan fistula bila ada. Volume besar dari pembuangan cairan selama dialisa dapat mengakibatkan hipotensi ortostatik dengan nmenggunakan anti koagulan selama tindakan menempatkan pasien pada resiko perdarahan dari sisi akses dan terhadap perdarahan internal. Aktivitas/istirahat\ Gejala : Kelemahan/malaise.  Sesudah dialisa : Kaji terhadap hipotensi dan perdarahan. j) Kaji adanya hipertensi berat. Contoh: ISPA 2. berhubungan dengan penyakit sekarang. Riwayat kesehatan umum.

pucat. anuria Tanda : Perubahan warna urine (kuning pekat. kehilangan tonus otot. Pernafasan Gejala : Nafas pendek. mual. Penurunan haluaran urine 5. merah) 4. penurunan rentang gerak 2. gatal Tanda : perilaku berhati-hati/distraksi. albumin. Pada laboratorium didapatkan:     Hb menurun Ureum dan serum kreatinin meningkat Elektrolit serum (natrium meningkat) urinalisis (BJ Urine meningkat. dispnea noktural paroksismal Tanda : Takipnea. muntah Tanda : Distensi abdomen/asites. anemia Tanda : Hipertensi. perubahan pola berkemih (oliguri). keram otot/nyeri kaki.Tanda : Kelemahan otot. anoreksia. dispnea. Makanan/cairan Gejala : Peningkatan BB (edema). Diagnosa Diagnosa keperawatan berdasarkan prioritas: Pre-CAPD: . Sirkulasi Gejala : Riwayat hipertensi lama/berat. Eliminasi Gejala : Penurunan frekuensi urine. gelisah Pemeriksaan Penunjang 1. peningkatan frekwensi. Pada rontgen : IVP abnormalitas pada sistem penampungan (Ductus koligentes) B. sakit kepala. Eritrosit . leukosit) 2. Nyeri/kenyamanan Gejala : nyeri pinggang. edema 3. kedalaman (pernafasan kusmaul) 6.

Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang pajanan terhadap informasi ditandai dengan pasien mengatakan belum tahu mengenai tindakan CAPD. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik (CAPD meliputi instrument dan cairan dialysat yang memberi beban pada rongga abdomen) ditandai dengan klien mengeluh nyeri punggung. Ansietas berhubungan dengan status kesehatan ditandai dengan pasien tampak gelisah. 6. 4. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gatal (tidak adekuatnya dialysis yang menyebabkan akumulasi produk sisa metabolisme seperti urea di darah . 3. 5. 3.1. Kelebihan volume cairan berhubungan terapi penyakit (prosedur CAPD pemasangan kateter secara permanen dan frekwensi terapi berulang 4-5 kai sehari. peningkatan hormot paratirooid). 2. 7. 2. Risiko infeksi berhubungan dengan peningkatan pemajanan lingkungan terhadap patogen. pasien menanyakan cara melakukan CAPD. manajemen medikasi Diagnosa prioritas . Risiko ketidakseimbangan elektrolit berhubungan dengan disfungsi ginjal. peningkatan lingkar pinggang)ditandai dengan adanya udema. Kesiapan meningkatkan manajemen kesehatan diri ditandai dengan pasien mau belajar dalam melakukan proses dialisis. pasien tampak menyembunyikan bagian perut. Post-CAPD: 1. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan terapi penyakit (pasien dengan CAPD) ditandai dengan pasien mengatakan malu dengan keadaan perutnya yang membesar. pasien tampak antusias dengan pengobatan yang diberikan. Risiko ketidakseimbangan gula darah berhubungan dengan (pemasukan cairan dialisat yang mengandung dekstrosa ). pasien tampak bertanya – tanya.

Gangguan citra tubuh berhubungan terapi penyakit (prosedur CAPD pemasangan kateter secara permanen dan frekwensi terapi berulang 4-5 kai sehari.  Program latihan Selama periode latihan pasien diajarkan tentang materi anatomi dan fisiologi dasar ginjal. komplikasi yang mungkin terjadi secara respons yang tepat terhadap komplikasi tersebut. proses penyakitnya. Karena protein akan hilang pada dialisis peritoneal kontinu. pemeriksaan tanda-tanda vital. peningkatan lingkar pinggang)ditandai dengan verbalisasi perubahan gaya hidup 2. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang pajanan terhadap informasi ditandai dengan pasien mengatakan belum tahu mengenai tindakan CAPD. teknik membasuh tangan yang baik. Pendidikan kesehatan pada pasien CAPD Pendidikan pasien CAPD Pasien diberi pengajaran untuk melaksanakan sendiri CAPD setelah kondisinya secara medis dianggap stabil.  Terapi Diet Perawat. perawatan kateter. ada beberapa rekomendasi yang perlu disampaikan. maka pasien dianjurkan untuk mengkonsumsi makanaan yang tinggi protein dengan gizi yang baik dan seimbang. ahli gizi dan pekerja social harus menemui pasien beserta keluarganya selama periode latihan pada saat-saat tertentu sesudahnya. dan yang paling penting siapa yang harus dihubungi jika timbul suatu masalah.1. 4. Pelajaran dapat diberikan secara rawat jalan atau rawat inap. prosedur terapi pertukaran. Informasi dan instruksi tentang diet harus diberikan meskipun diet pada pasien dengan terapi CAPD merupakan diet yang bebas. pasien menanyakan cara melakukan CAPD. 3. Risiko ketidakseimbangan elektrolit berhubungan dengan disfungsi ginjal. Mereka juga dianjurkan untuk meningkatkan asupan serat . 13. Biasanya latihan CAPD memerlukan 5 hari hingga 2 minggu. Risiko infeksi berhubungan dengan peningkatan pemajanan lingkungan terhadap patogen. serta kapan menghubunginya.

Perawatan tindak lanjut melalui telpon. kunjungan pasien ke klinik rawat jalan. banyaknya materi yang diberikan harus dapat dipahami pasien tanpa rasa terganggu atau terlalu dijejalkan informasi yang berlebihan.  Asupan Cairan Paisen biasanya kehilangan 2L cairan lebih atau diatas 8L cairan dialisat yang di infuskan ke dalam rongga abdomen selama periode 24 jam.setiap hari untuk membantu mencegah konstipasi yang dapat menghambat aliran cairan dialisat ke dalam atau keluar cavum peritoneal.  Perawatan tindak lanjut Pasien diajari menurut kemampuannya sendiri dan tingkat pengetahuannya untuk belajar. serta perawatan di rumah yang kontinyu akan membantu pasien untuk beralih kepada perawatan dirumah dan berperawn aktif dalam perawatan kesehatannya sendiri. Keadaan ini memungkinkan asupan cairan yang normal bahkan pada psien yang anefrik( pasien tanpa ginjal). .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->