PARADIGMA PENATALAKSANAAN HUKUM DAN PEMBANGUNAN HAM DI INDONESIA DALAM ERA GLOBALISASI

OLEH Saharuddin Daming

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Negara-negara yang sekarang ini disebut negara-negara maju telah menempuh pembangunannya melalui tiga tingkat: unifikasi, industrialisasi dan negara kesejahteraan. Pada tingkat pertama yang menjadi masalah berat adalah bagaimana mencapai integrasi politik untuk menciptakan persatuan dan kesatuan nasional. Tingkat kedua, perjuangan untuk pembangunan ekonomi dan modernisasi politik. Akhirnya dalam tingkat ketiga, tugas negara yang terutama adalah melindungi rakyat dari sisi negatif industrilaisasi, membetulkan kesalahan-kesalahan pada tahap-tahap sebelumnya, dengan menekankan kesejahteraan masyarakat. Tingkatan-tingkatan tersebut dilalui secara berurutan (consecutive) dan memakan waktu yang relatif lama. Persatuan nasional adalah prasayarat untuk memasuki tahap industrialisasi. Industrialisasi merupakan jalan untuk mencapai negara kesejahteraan. Kesatuan nasional Amerika dicapai dengan lahirnya Konstitusi Amerika. Namun, sebagian besar orang masih menolak konstitusi pada tahun 1789, berkenaan dengan state rights (Wallace Mendelson, 1970: 224) Amerika Serikat baru benar-benar memasuki tahapan industrialisasi setelah berakhirnya perang saudara pada tahun 1840-an. Periode ini ditandai dengan berkembangnya produk logam, peningkatan modal dan terjadinya urbanisasi. Dibidang

pidana dan dagang impor dari Eropa. Berman. berkembangnya peraturan-peraturan bisnis yang mendorong terjadinya akumulasi modal dan terbentuknya elite manajer. (Dan Fenno Henderson. Perkembangan teknologi yang lambat mungkin menunda industrialisasi inggris sampai abad 18. memiliki sistem pendidikan nasional. Meiji mengirimkan sumber daya manusianya ke Inggris untuk belajar angkatan laut dan perdagangan maritim. Pada tahun 1895 Jepang menjadi negara moderen. Berlainan dengan Inggris yang menunggu berkembangnya teknologi. Pada waktu perang dunia I. Jepang mulai berhubungan dengan Barat. menetapkan hukum nasional mengganti hukum feodal (Harold J. menganut sistem hukum modern walaupun hukum perdata. Kebijaksanaan tersebut menghasilkan modernisasi Jepang yang cepat. 1983 : 451. 1965 : 233). (Lawrence M Friedman. Hukum memberikan keleluasaan berkembangnya bisnis tetapi tak ada suara mengenai nasib buruh. 1970:233). Di bawah Tokugawa. ke Jerman untuk Angkatan Darat dan Kedokteran ke Prancis belajar hukum dan ke Amerika untuk masalah bisnis. 1970:52). konsumen dan petani tak bertanah (landlessness) (Harold E Voekner. Hal itu adalah permulan dari lahirnya kesatuan Jepang. (Frank K Upman. (Wallace Mendelson. Jepang memasuki tahap unifikasi. 1986 : 64-65). Baru setelah Perang Dunia berakhir. Raja Henry II (1154-1189) melakukan pembaruan pajak. 1973: 384404) Inggris menjalani tahap pertama pada pertengahan abad ke 12. baru pada tahu 1900an Inggris masuk pada era kesejahteraan dengan lahirnya undang-undang yang melindungi buruh dalam kecelakaan kerja dengan penetapan upah minimum (Daniel Chirot. antara lain dengan berkembangnya peranan hakim dalam menciptakan hukum yang secara nasional mendorong integrasi sosial. Jepang masuk pada tahapan negara kesejahteraan.2 hukum. Sejarah bangsa-bangsa menunjukan bahwa legislator. sentralisasi birokrasi pemerintahan. Jepang menjadi negara Industri kelas satu dan militerisme membawa Jepang kepada kekalahannya pada Perang Dunia II. hakim dan institusi hukum menjalankan peranan penting dalam mengubah norma dan nilai-nilai untuk menetapkan . 1987:124-127). Dengan Restorasi Meiji 1968.453).

adalah pra sayarat untuk membangun prasarana industri dan pertumbuhan industri adalah pra sayarat untuk berhasilnya usaha mengatasi kemiskinan.F. institusi hukum dan profesi hukum. Frank. 1996:82). institusi hukum dan profesi hukum.3 prioritas-prioritas sosial bar dari tingkat pembangunan yang satu ke tingkat pembangunan berikutnya. Industrialisasi tanpa memikirkan kesejahteraan sosial semata-mata akan menunda kemarahan generasi baru yang dapat mengancam kesatuan bangsa. Persatuan nasional. Dalam mencapai tujuan tersebut. Pembangunan yang komprehensif harus memperhatikan hak-hak asasi manusia. Kenaikan GNP tidak dengan sendirinya menghasilkan kesatuan sosial. Bila diinginkan tiga tingkat pembangunan itu dijalani secara serentak. kesejahteraan manusia. artinya harus bersaing dengan bangsa-bangsa lain . Hal ini menjadi bertambah penting karena bangsa Indonesia berada dalam era globalisasi. sehingga bangsabangsa dapat saling berhubungan dan saling melihat dalam hitungan detik. diperlukan pembaharuan hukum. pembagian yang adil atas hak dan keistimewaan. yang mampu menjaga integrasi dan persatuan nasional. budaya hukum harus dapat diakomodasikan tujuan-tujuan yang demikian itu. keduanya tidak dalam posisi yang berlawanan. tugas dan beban. stabilitas dengan kebahagiaan. dengan demikian pembangunan akan mampu menarik partisipasi masyarakat. Pemikiran yang konvensional mengatakan bahwa persatuan nasional.K. Untuk bangsa Indonesia harus memiliki hukum. kebodohan dan berbagai macam penyakit.(A. (Thomas M. Masyarakat negara berkembang sadar benar bahwa tiga tingkatan pembangunan di atas harus dicapai secara serentak (concurrent). pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan ekonomi dan kesejahteraan sosial mesti dapat tercermin dalam setiap pengambilan keputusan. Organski. Khususnya di Indonsia diyakini bahwa pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pendapatan itu dapat dilaksanakan dalam waktu yang bersamaan. 1972: 772). 1965:7-221). Hal ini juga disebabkan perkembangan yang amat cepat di bidang komunikasi dan teknologi. terciptanya stabilitas disertai dinamika masyarakat dan pasar. dapat mendorong pertumbuhan perdagangan dan industri serta berfungsi memajukan keadilan sosial.(Ginanjar Kartasasmita. Negara-negara berkembang telah menolak asumsi tersebut.

Sejauh manakah kekuatan ekonomi global berimplikasi pada sistem penatalaksanaan hukum dan pembangunan di Indonesia? 3. maka persoalan pokok yang menjadi materi kajian makalah ini.4 B. Bagaimanakah paradigma pendidikan hukum yang dapat dibangun untuk menunjang profesi hukum dalam era globalisasi hukum dan pembangunan di . Rumusan Masalah Berdasarkan uraian tersebut di atas. Bagaimanakah konsep hak asasi manusia sebagai salah satu pranata globalisasi mempengaruhi paradigma penatalaksanaan Indonesia? 2. terfokus pada 3 masalah yaitu : 1.

Sebaliknya pembangunan tidak saja diartikan pertumbuhan ekonomi tetapi juga pembangunan sosial. sosial dan kebudayaan harus dilaksanakan dan didorong dengan integritas yang sama. kedua konsep tersebut tidak pernah akan bertemu bahkan saling berlawanan. Keduanya kebutuhan yang mendasar dan absolut. Bila pembangunan diartikan tidak lebih dari pertumbuhan ekonomi dan hak-hak asasi manusia hanya terbatas pada hak-hak asasi politik. Covenant 1966 manambah hak-hak asasi manusia dengan “economic. makanan perlu untuk dapat tetap hidup. kebebasan mengeluarkan pendapat dibutuhkan agar jiwa tetap dapat berkembang. Namun U. (John O’Monique.N. Hak-hak Asasi Manusia tidak saja hak untuk berkumpul.5 BAB II PEMBAHASAN A Pengaruh HAM Dalam Pembangunan Hukum Konsep Barat mengenai hak-hak asasi manusia terbatas pada hak-hak sipil dan politik. 1992:78-79). sesorang memerlukan baik makanan maupun kebebasan berpendapat. berserikat dan berbicara (civil and political rights) tetapi juga hak-hak ekonomi. sosial dan kebudayaan. yang isi dan jiwanya menurut hemat penulis mencakup hak-hak asasi di bidang politik. Dalam perkembangannya sekarang ini baik konsep HAM maupun konsep pembangunan sudah diperluas. Untuk pembangunan manusia. sosial harus mengusahakan . Dengan menerima bahwa semua hak-hak manusia dapat saling terkait dan tidak dapat dipisahkan. ekonomi. sosial dan kebudayaan. social and cultural rights”. Antara Hak-Hak Asasi Manusia dan Pembangunan tidak ada pertentangan lagi bahkan menjadi terintegrasi secara total. Begitu juga sebaliknya. Hak-hak sipil dan politik tidak lebih prioritas dari hak-hak ekonomi. Indonesia memiliki UUD 1945 dan Pancasila. Pembangunan Indonesia bertujuan pula membangun manusia Indonesia seutuhnya. politik dan kebudayaan. maka penegakan hak-hak sipil dan politik. ekonomi.

(leonard J. terutama dalam masalah pertanahan. satu dan lain hal karena investasi asing telah menjadi bagian pembangunan ekonomi Indonesia. Theberge.6 terus tegaknya hak-hak tersebut. dan ekonomi Indonesia telah terkait dengan ekonomi dunia. Sebaliknya impor tekstil dan . bukan karena bangsa ini tunduk pada tekanan luar. fairness. Persaingan perdagangan Internasional dapat membawa implikasi negatif bagi hak-hak buruh. Pompe. Dalam jangka panjang ketiadaan standar tersebut menjadi sebab utama hilangnya legitimasi pemerintah. 1995:155). perlindungan lingkungan hidup. Aspek keadilan (fairness) seperti persamaan di depan hukum. predictability. standar sikap pmerintah. perburuhan. Stabilitas dan kemampuan meramalkan adalah prasyarat untuk berfungsi sistem ekonomi. tapi sejak semula hak-hak tersebut sudah menjadi milik bangsa sendiri. Tidak adanya standar tentang apa yang adil dan apa yang tidak adil merupakan masalah besar yang dihadapi oleh negara-negara berkembang. hak-hak atas tanah dan perlindungan konsumen. 1994 :7 LJIL) Perburuhan. pertanahan. 1980:232) B. Stabilitas juga berarti hukum berpotensi untuk menjaga keseimbangan dan mengakomodasi kepentingan-kepentingan yang saling bersaing. adalah perlu untuk memelihara mekanisme pasar dan mencegah birokrasi yang berlebihan. education dan kemampuan profesi hukum yang meningkat. masa perdagangan rempah-rempah. Hukum yang kondusif bagi pembangunan sedikitnya mengandung lima kualitas: stability. Kritik-kritik terhadap pelaksanaannya harus mendorong kita untuk lebih peka. lingkungan hidup dan perlindungan konsumen harus mendapat perhatian yang lebih. Pengaruh Kekuatan Ekonomi Terhadap Hukum dan Pembangunan Globalisasi ekonomi sebenarnya sudah terjadi sejak lama. masa tanaman paksa (cultuur stelsel) dan masa dimana modal swasta Belanda zaman kolonial dengan buruh paksa. (Mario Gomez. Pada ketiga periode tersebut hasil bumi Indonesia sudah sampai sampai ke Eropa dan Amerika. lingkungan hidup dan perlindungan konsumen.(S. Perlunya predictability sangat besar dinegara-negara dimana masyarakatnya untuk pertama kali memasuki hubungan-hubungan ekonomi melampaui lingkungan sosial tradisionil mereka.

Tiga puluh tahun terakhirnya. imbal beli. Manajemen di berbagai benua. untuk mengatasi krisis. harmonisasi hukum mengikuitnya. turnkey project. Fasseur. . Seperti pada waktu yang lalu. penugasan personil tidak lagi terikat pada bahasa. (Carl J. investasi asing memusatkan kegiatan penggalian sumber alam dan bahan mentah untuk pabrik-pabriknya. aktivitas. 1995:729). investasi melewati batas-batas negara. Globalisasi menyebabkan perkembangannya saling ketergantungan pelaku-pelaku ekonomi dunia. (Paul Demaret. Terbentuknya WTO (World Trade Organization) telah didahului atau diikuti oleh terbentuknya blok-blok ekonomi regional seperti masyarakat Eropa.7 barang-barang manufaktur. Breeden. Sebaliknya integrasi ekonomi global mengharuskan terciptanya blok-blok perdagangan baru. perusahaan manufaktur menyebar ke seluruh dunia. dan APEC. Non Discrimination menjadi dasar WTO dan blok ekonomi regional. aliansi strategis internasional. Pada tahun 1950-an. memperbaharui mekanisme pasar dan memfungsikan sistem hukum. perusahaan-perusahaan tidak lagi memproduksi seluruh produk disatu negara saja. 1986:137).(Richard C. telah berlangsung lama. finansial dan lain-lain. 1993: 514). Prinsipprinsip Most Favoured nation. (Jagnes Delors. NAFTA. batas negara dan kewarganegaraan. National Treatment.(C. Manufaktur. Tidak ada kontradiksi antara regionalisasi dan globalisasi perdagangan. Pada masa lalu bisnis internasional hanya dalam bentuk ekspor impor dan penanaman modal. perusahaan multinasional mencari pasar baru dan memaksimalkan keuntungan dengan mengekspor modal dan reorganisasi struktur produksi. 1995:723) Manakala ekonomi menjadi terintegrasi. Green. Tranparency. Bergabung dengan WTO dan kerjasama ekonomi regional berarti mengembangkan institusi yang demokratis. meningkatkan intensitas persaingan.(Bary Hufbauer. Kini transaksi menjadi beraneka ragam dan rumit. 1995:108). Globalisasi ekonomi sekarang ini adalah manifestasi yang baru dari pembangunan kapitalisme sebagai sistem ekonomi internasional. alih teknologi. 1995:123-171). Dengan pembagian daerah operasi melampui batas-batas negara. waralaba. AFTA. betapapun sederhananya. seperti kontrak pembuatan barang. perdagangan. Gejala ini dipercepat oleh kemajuan komunikasi dan transportasi teknologi.

Oleh karena itu tidak mengherankan. dapat juga karena posisi tawar yang lemah. . hampir sama di semua negara. Globalisasi hukum terjadi melalui usaha-usaha standardisasi hukum. globalisasi ekonomi menimbulkan akibat yang besar sekali pada bidang hukum. antara lain melalui perjanjian-perjanjan internasional.8 Bagaimanapun juga karakteristik dan hambatannya. dimana saja tidak banyak berbeda. maka partner mereka dari negara-negara menerima model-model kontrak bisnis internasional tersebut.(Stephen Zamora. misalnya mencantumkan beberapa ketentuan yang harus dipenuhi oleh negara-negara anggota berkaitan dengan penanaman modal. (Whitmore Gray. Undang-undang Perseroan terbatas berbagai negara. Tuntutan keterbukaan (transparency) yang semakin besar. perjanjian waralaba (franchise). “National treatment. perjanjian keagenan. satu dan lain hal karena dana yang mengalir ke pasar-pasar tersebut tidak lagi terikat benar dengan waktu dan batas-batas negara. Globalisasi hukum tersebut tidak hanya didasarkan kesepakatan internasinal antara bangsa. General Agreement on tariff and Trade (GATT). Begitu juga dengan peraturan pasar modal. Prinsip-prinsip “Non Discrimination. perjanjian lisensi. “Most favoured Nation.1995:514). “Transparency” kemudian menjadi substansi peraturan-peraturan nasional negaranegara anggota. tetapi juga pemahaman tradisi hukum dan budaya antara Barat dan Timur. perjanjian patungan (Joint Venture).K Rider.(Barry A.(Michael A. Globalisasi di bidang kontrak-kontrak bisnis internasional sudah lama terjadi. Konsultan hukum suatu negara dengan mudah mengerjakan perjanjian-perjanjian semacam itu di negara-negara lain. 1996:52) Persamaan ketentuan-ketentuan hukum berbagai negara bisa juga terjadi karena suatu negara mengikuti model negara maju berkaitan dengan institusi-institusi hukum untuk mendapatkan akumulasi modal. Geist. dari civil law maupun common law berisi substansi yang serupa. hak milik intelektual dan jasa.(David Goddard. 1995:714-716). 1996:197-204). Karena negara-negara maju membawa transaksi-transaksi baru ke negara-negara berkembang. 1993:406-433). bisa karena sebelumnya tidak mengenal model tersebut. berkembangnya kejahatan internasional dalam pencucian uang (money laundering) dan insider trading mendorong kerjasama internasional. Usaha-usaha untuk menyamakan peraturan di bidang perburuhan dan lingkungan hidup masih akan terus berjalan.

Hukum itu tidak sama dengan kuda. serta peraturan perlindungan hukum hidup yang longgar menurut negara maju adalah social dumping yang merugikan daya saing mereka. Dalam menghadapi hal demikian itu perlu check and balance dalam bernegara. Apa yang disebut hukum itu tergantung kepada persepsi masyarakatnya. (Robert Houwse and Michael J. 1984: 218-230). bahkan kepentingan-kepentingan. (Alberto-Bernabe- . posisi atau kedudukan. Trebilcock. Kuda adalah kuda. Hukum sebagai sistem dari ketertiban sosial juga terpengaruh oleh perubahan ini. Menggagas Sistem Pendidikan Hukum Dalam Perspektif Global Globalisasi ekonomi membawa pengaruh pada globalisasi hukum dan globalisasi praktik hukum. budaya. tetapi juga mencakup paradigma baru hubungan ekonomi dan politik antar bangsa. jasa-jasa dan bidang-bidang ekonomi lainnya mendekati negara-negara maju (convergency). dan partisipasi masyarakat melalui lembaga-lembaganya.9 Negara-negara maju meminta aar negara-negara berkembang memperbaiki kondisi perburuhan dan perlindungan lingkungan hidup. tidak saja didasari oleh hak-hak asasi manusia tetapi juga persaingan perdagangan. Hukum tidak demikian. 1996:61-79). Bukan saja tertuju pada lahirnya negara-negara baru di atas peta bumi. lingkungan. perdagangan. walau bentuknya hampir sama. Mereka yang baru tamat dari fakultas hukum hari ini menghadapi dunia baru. ekonomi. Pengadilan yang mandiri. budaya. Hal mana dikarenakan perbedaan sistem politik. Check and balance hanya bisa dicapai dengan parlemen yang kuat. Namun tidak ada jaminan peraturan – peraturan tersebut memberikan hasil yang sama di semua tempat. dan pendidikan hukum sebagai langkah pertama untuk terjun dalam praktik hukum baru kembali dirancang menghadapi tantangan akibat perubahan yang terjadi. Globalisasi belum akan menyebabkan peraturan-peraturan negara berkembang mengenai investasi.(Lawrence M Friedman. mengatakan bahwa tegaknya peraturan-peraturan hukum tergantung kepada budaya hukum mayarakatnya. Friedman. Budaya hukum masyarakat tergantung kepada budaya hukum anggota-anggotanya yang dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan. Upah dan jaminan buruh yang rendah. C. Orang tidak akan menamakan keledai atau zebra adalah kuda.

dan lingkungan hidup merupakan fenomena hukum dan pembangunan yang terjadi di negara-negara yang kalah dalam perdagangan bebas. Hal tersebut sesungguhnya merupakan skenario dari globalisasi gerakan perluasan pasar. Di Amerika Serikat sendiri terdapat kekhawatiran bahwa apa yang diberikan dalam kuliah berbeda antara law in books dengan Law in action. selalu ada yang menang dan ada yang kalah. Ini adalah kecenderungan yang terjadi sejak berakhirnya Perang Dunia II. Perdagangan bebas bisa juga menambah kesenjangan antara negara-negara maju dan negara-negara dipinggiran (periphery). yang akan membawa akibat pada komposisi masyarakat dan kondisi kehidupan mereka. Dengan adanya globalisasi.(Craig Allen Nard.. maka pendidikan hukum harus semakin dikembangkan secara multidimensional sebagai wujud tanggung jawabnya kepada masyarakat. Oleh karena itu pendidikan harus bisa mengusahakan mahasiswanya mengerti hukum dan profesi hukum dalam konteks sosial dan keterikatan (commitment) kepada kedilan dan tanggung jawab sosial. globalisasi bisa mendatangkan kerugian bagi golongan masyarakat tertentu. Berkenaan dengan hubungan praktek hukum dan pendidikan hukum. Sebagian besar ilmu hukum mengajarkan teori atau hal-hal yang normatif sifatnya maupun doctrinal dan deskriptif. pendidikan hukum harus menekankan lagi bahwa hukum merupakan alat perubahan sosial untuk membawa perbaikan bagi masyarakat dan sistem hukum. . Perdagangan bebas bukan saja dapat membawa keuntungan ekonomi bagi kelompok tertentu. Berdasarkan prospek profesi hukum dalam masa yang tidak terlalu lama ini. Di negara maju disadari juga. Free trade akan meningkatkan economic growth yang selanjutnya akan membawa perbaikan standar kehidupan. namun ia juga dapat mengurangi kesenjangan antar negara. (Alberto– bernabe-Reifkohl. buruknya kondisi kehidupan buruh. tidak seimbangnya perdagangan antar negara. Sehingga tidak salah jika timbul keinginan untuk mempersyaratkan setiap staf pengajar ilmu hukum harus melakukan empirical research. Bertambahnya utang negara-negara dunia ketiga. 1995:158-159) Fakultas hukum hendaknya melahirkan sarjana hukum yang berpengetahuan luas dan memiliki keterampilan hukum. Seperti kita maklumi bahwa disemua pasar yang berdasarkan persaingan. Hal tersebut ditandai dengan kenaikan GNP. 1995:137).10 reifkohl.

Karena perkara hukum dalam paradigma masyarakat tradisional sekalipun. Namun dalam era globalisasi. Timothy Philipps. 1994: 1160) Sungguh hal yang sangat keliru jika praktisi hukum hanya dimaksudkan pada profesi hukum semata-mata proses advokad. kantor pemerintahan dan pengadilan. 1995:24-27) Pendidikan hukum dalam kurikulum nasional di Indonesia sudah menjurus kepada penguasaan hukum yang berdimensi sosial. polisi. keahlian negosiasi dan perencanaan hukum merupakan jenis-jenis keterampilan yang harus dimiliki oleh sebagian besar sarjana hukum. Kedua. budaya dan tradisi. Handmaker. (Stuart A. perlunya pendidikan hukum diarahkan ke Asia. hanya sebagian kecil diselesaikan melalui pengadilan.11 1995:375). perlu mengetahui berbagai peraturan hukum negara lain dan bagaimana ia beroperasi dalam konteks perbedaan sistem hukum. (John O. 1996: 746). (Martin Tsamenyi and Eugene Clark. . perbandingan hukum dan bahasa asing. (J. Itulah sebabnya maka Legal drafting. maka kebijaksanaan dan syarat-syarat penerimaan mahasiswa baru perlu diperketat. baik karena kebutuhan praktek maupun kesamaan model institusi-institusi hukum dan peraturan-peraturannya. disamping penguasaan keterampilan hukum. diusulkan agar staf pengajar dalam masa liburannya perlu bekerja di kantor Pengacara atau Konsultan Hukum. Untuk mewujudkan hal ini. Oleh karena itu perlu banyak mata kuliah mengenai hukum internasional. kurikulum nasional dan lokal tersebut perlu diisi dengan materi kuliah yang sifatnya perbandingan mengenai materi yang berhubungan dengan kenyataan sosial politik ekonomi antar bangsa . Sarjana Hukum masa kini dalam era globalisasi. maupun hakim. Australia menyadari pula. sehingga dapat ditentukan tujuan dari kurikulum dan memutuskan strategi perkuliahan yang bagaimana untuk mencapai tujuan tersebut. Pertama. 1995 :286-292) Di Australia ada usul agar fakultas hukum setempat menentukan misinya di dunia untuk menyambut abad 21. karena hubungan ekonomi dan politik Australia bergeser dari Eropa ke Asia dan kawasan lain. Haley. termasuk Indonesia. jaksa. Untuk melahirkan sarjana hukum yang kompeten dan profesional. makin banyak kantor konsultan hukum Australia membuka praktik di segala penjuru.

maka kini tibalah penulis pada kesimpulan yaitu: 1. Paradigma pendidikan hukum yang dapat dibangun untuk menunjang profesi hukum dalam era globalisasi di Indonesia adalah paradigma pendidikan hukum yang harus bisa mengusahakan alumninya memahami hukum secara komprehensif. Hampir segala elemen penyelenggaraan negara senantiasa dilekati tanggung jawab untuk mengejawantahkan penataan hukum dan pembangunan dalam perspektif HAM. Kesimpulan Dengan memperhatikan uraian yang telah dikemukakan di muka. kini menjadi faktor determinan dalam penatalaksanaan hukum dan pembangunan di Indonesia . 2. bukan saja sangat terasa tetapi nyaris merupakan klausul penatalaksanaan hukum dan pembangunan yang standar. cukup dominan. Pengaruh konsep hak asasi manusia sebagai salah satu pranata globalisasi terhadap paradigma penatalaksanaan hukum dan pembangunan di Indonesia. Sebagian besar produk hukum dan mekanisme pelaksanaannya tidak terkecuali penatalaksanaan pembangunan pada bidang lain. Fakultas hukum hendaknya melahirkan sarjana hukum yang berpengetahuan luas dan memiliki keterampilan hukum. Saran . 3. Selain itu ia juga harus mendalami kajian hukum dan profesi hukum dalam konteks sosial maupun keterikatan (commitment) kepada keadilan dan tanggung jawab sosial. B. Implikasi kekuatan ekonomi global terhadap sistem penatalaksanaan hukum dan pembangunan di Indonesia.12 BAB III PENUTUP A. sangat diwarnai oleh kekuatan ekonomi global bahkan ada kecenderungan kekuatan ekonomi global baik yang diperankan oleh IMF dan bank dunia maupun lalu lintas perdagangan internasional. Berkenaan dengan hubungan praktik hukum dan pendidikan hukum.

maka penatalaksanan hukum dan pembangunan tidak akan terdikte dan terintervensi oleh kekuatan ekonomi global yang bersifat destruktif. Ini penting karena bagaimanapun konsep HAM sebagai pranata universal. Disatu pihak pendidikan hukum menghasilkan sarjana hukum yang mempunyai keterampilan dalam praktik hukum yang mengandung unsur internasional. DAFTARA PUSTAKA . Dengan pola seperti ini. maka fakultas hukum harus mempersiapkan mahasisiwanya dengan pendidikan yang cukup. Di pihak lain membekali mereka dengan kemampuan menghadapi berbagai masalah yang dihadapi masyarakat. termasuk memberikan jalan bantuan hukum bagi mereka yang paling terkena proses globalisasi. ia juga harus menghormati nilai-nilai tradisi dan kebudayaan lokal dan nasional. Agar paradigma pendidikan hukum dapat menunjang profesi hukum dalam era globalisasi di Indonesia.13 1. harus mampu meletakkan fondasi tatalaksana hukum dan pembangunan yang bersfat mandiri orisinal dan lokal kontens. 2. Agar kekuatan ekonomi global dapat memberikan implikasi secara positif terhadap sistem penatalaksanaan hukum dan pembangunan di Indonesia. maka konsep HAM dimaksud perlu diberikan pemaknaan dalam konteks kekhususan Indonesia. 3. maka segala perangkat hukum dan pembangunan harus disusun dengan unsur-unsur yang dapat menahan kekuatan ekonomi global yang bersifat eksploitatif atau merusak. Agar konsep hak asasi manusia sebagai salah satu pranata globalisasi dapat memberikan pengaruh yang konstruktif terhadap paradigma penatalaksanaan hukum dan pembangunan di Indonesia. Baik konsep HAM maupun nilai-nilai kearifan lokal dan nasional di tanah air harus dapat diramu dan disesuaikan dalam melahirkan paradigma penatalaksanaan hukum dan pembangunan. Selain itu Indonesia sendiri secara bertahap namun pasti.

Elizabeth. Inc Crandall. Bahan Penataran P4 GBHN.’ Wake Forest Law Review. “Empirical legal Scholarship: Reestablshing a Dialogue Between The Academy and Profession. Jakarta: BP7 Pusat. 32. “ The transnational Lawyer .” Wake Forest Law Review. 1986. R. 1993. 1986. Kolf. “ Two Colonila Empire. London: Oxford Universsty Press.H. Harold. Dordrecht: Martinus Nijhoff Publishers. “ Will NAFTAs’ North American Agreement Labor Cooperation Improve Enforcemen of maxican Labor Laws.14 Alberto – Bernabe – Reifkohl. No.” Global Legal Studies Journal. 1983. Social Change in The Modern Era.A. Barenberg. Fasseur.”Law and Labor in The New Global Economy: Through The Lens Of United States Federalism. Daniel. Vol. 3 Cavusgil. Vol. Jagnes. Law and Revolution: The Formation of The Western Legal tradition. Vol 33 Berman. . C. 1995. Breeden. Vol. The Cultivation System and its Impact on The Dutch Colonial Economy and The Indigenous Society in Nineteenth Century Java. “ Globalization of Markets and Its Impact on Domestic Institutions. Vol. Craig Allen Nard. San Diego – New York: Harcout Brace Jovanovich. 1993. “the Globalisazition of Law and Business in the 1990s. J. Cambridge: Harvard University Press. Richard. 18 Demaret.” Fordham International Law Journal. Vol. Tamer S . 34 Elson. C. 1995. Vol.E 1984. 1994. 1995. “The Feture of Free Trade ib Europe and The World. Mark . “the metamorphoses of The GATT: from The Havana Charter to The World Trade Orgnization. C. “ Columbia Journal of Transnational Law.” Columbia Journal of transnational Law. Delapan Jalur pemerataan Dalam GBHN 1993. 28. 1995. 30 Chirot. Vol. “Tom-morrow’s Law Schools: Globalization and Legal Education.A Bayly and D. 1. Ed C. 1995. 7 Delors. Javanese Peasents and The Colonial Sugar Industri.” San Diego Law Review.

Vol 26 Graaft. 1995. Hufbauer. Labor and The Environment. . “Social Economic Rights and Hman Rights Cmmision. J. Sayuti. . “ International Review of law and Economic. “ Towards a more Global Government Procurement Market : The Expansion og The GATT GOvernment Procurement Agreement in The Context of The Uruguay Round. “ Washington & Lee Law Review. 1984. International Trade Organizations and economies in Transition: A Glimpse of The Twenty-Fist Century. 1996.” The International Lawyer. No.W Norton & Company. Carl. “ The New Development: Can American Law and Legal Institution Help Developing Countries. m. 1994. New York: Simon and Schuster. “ “The Fair Trade-Free Trade Debate: Trade. 1995. A History of American Law. 1995. Ekonomi Sumber Daya Manusia. 2 Green. “Globalizaton of Contract Law: Rules for Commercial Contract in The 21 st Century. A Michael. 29. No. Tokyo: Universty of Washington Press Howse. No.” Wisconsin Law Review.Trebilcock. And Michael J. Bary. 2 Geist. 1995. 1972. M Lawrence. Vol. M Lawrence. “ New Zealand Law Journl.” Law & Policy International Business. “ Human Rights Quaterly. “The Internatoional Law yer. “ Convergence in Corporations law – Towards A Facilitative Model. 51. No. New York-London: W.3 Friedman. Vil. 1973. 1965.” Law & Policy in International Business. Friedman. 1995. 16. Footer. Fenno Dan. “ Building A Better Law School. Conciliation and Japanese Law: Tkugawa and Modern. Vol. 26. Henderson. Timothy Philips. “Toward A General Agreement on The Regulation of Foreign Direct Investment. 1996. “ VUWLR> Vol. Vol. “ The International Regulation of Trade in Services following Completion of The Uruguay Round. Vol. David. de Gerard and Matthew King. Hasibuan. American law.15 Frank. Whitmore. 1996. Thomas. 26 J. E Mary. 29. Gray. 17 Goddard. Robert. Jakarta. LP3Es. 1996.

“ Law Teacher . 1994. “ Educating Lawyers for The Global Economy. Vol.16 John O. Neil.K. Mendelson. Michael Feindel and Olivier Fuldauer. 1995. 3 Rider. No. 1996. “ The Function of Land Rent Under The Cultivation System in Java. Robert R. Haley. “ The Journal of Politics.K. “ Wake Forest Law Review. 30. 17. Umar. “ An Overview of The Present Status and Future Prospects of Australian Legal Education. Vol. Martin Tsamenyi and Eugene Clark. “ Human Rights Quaterly. 1964. Pembangunan Untuk Rakyat. Osinbajo. 32. . A. Vil. 1995. John. “The Gap Between Rich and Poor in Indonesia is Widening. Wallace. Ginanjar. “ Manifest Revolution: Access and Specialization in Legal Education and Practice. 1970. Van Robert. Danine and Cabral. Vol. The Stages of Political Development. 1992. 1965. “ Human Rights in Indonesia : Between Universal and National. Organski. Manning. A.” The International Lawyer. Between Universal and National. No. “ 7 LJIL. O’manique. 1996. yemi and Olukonnyisola Ajayi. Kartasasmita. 14. 1995. Pompe. Juoro. “ Law and The Development of Nations. 1995. F. Vol. Memadukan Prtumbuhan dan Pemerataan. 28. 1990. “ Dilhouse Journal of Legal Studies. 29. 1995. Merhige JR. “ The Eminent Death of Calvo Clause and The Rebirth of The Calvo Principle: Equality of Foreign and National Investors. Between State and Society. “ Global Trends in Securities Regulation: The Changing Legal Climate. “ Human Rights and Economic Development in Developing Countries. “Human Rights and Devlopment. “ Journal of Asian Studies 23. Vol. “ Michigan Journal of International Law. Jakarta : CIDES. Barry. “ Dickinson Journal of International Law 13. S. 26. Legal Education: Observation and Perception from The Bench. 1994. “ Far Eastern Economic Review. “ Law & Policy in International Business. New York: Knoff.

Stutzman. 1993. Stephen. “ HUman Rights Quaterly. Wet. Theberge. Washington : Agency for International Development. east-Indian Economic Problems of The Age of Cornwallis & raffles. Labor Laws Compared Nations in Lights of The Global Economy. London : Inzac and Company. The New Lex Mercatoria: Reality or Academic Fantasy?. Patricia. K Frank. 24 . K.S. “The Use of Trade Sanctions as An Enforcement Mechanism for Basic Human Rights : A Proposal for Addition to The World Trade Organization.17 Stuart A. Handmaker. 1961. “ American Journal of International Law & Policy. 1993. Andrew. Vol. “ Dickenson Journal of International Law.R. 12. 17. 1996. 1995. “ Journal of International Arbitration. Vannesa. Zamora. Vol. No. 1995. “ The Law School Product From The Buyer’s Point of View. E Harold. Vol. 1995. 1970. Stirling. Vol. Wilkinson. L>D. “ Labor Standards in The Golbalized Economy: The Inclusion of a Social Clause in The General Agreement on Tariff and Trade/World Trade Organization. No.Trade Issues in The North American free Trade Agreement. 12. H. Voekner. “ Law & Policy in International Business. 1087. “The Americanization of The Mexican Law: Non. Ltd. Law Reform in Japan. “ Valparaiso University Law Review. 2 Wright. “ Our Eroding Industrial Base: U. Cambridge: Harvard University Press. 29.C. De Erika. Vol. Law and Sociel Change in Postwar Japan. 11.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful