askep fraktur humerus post orif

BAB I KONSEP DASAR A. PENGERTIAN Fraktur adalah patah tulang yang biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik (Brunner & Suddart, 2000) Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa (Mansjoer, 2000: 75) Fraktur Tulang Humerus Adalah diskontinuitas atau hilangnya struktur dari tulang humerus yang terbagi atas Fraktur Suprakondilar Humerus, Fraktur Interkondiler Humerus, Fraktur Batang Humerus, Fraktur Kolum Humerus. Berdasarkan mekanisme terjadinya fraktur : 1) Tipe Ekstensi Trauma terjadi ketika siku dalam posisi hiperekstensi, lengan bawah dalam posisi supinasi. 2) Tipe Fleksi Trauma terjadi ketika siku dalam posisi fleksi, sedang lengan dalam posisi pronasi. (Mansjoer, Arif, et al, 2000) Untuk memperbaiki posisi fragmen tulang pada frakturterbuka yang tidak dapat di reposisi tapi sulit dipertahankan dan untuk memberikan hasil yang lebih baik maka perlu dilakukan tindakan operasierasi ORIF (Operasien Reduction With Internal Fixation). ORIF adalah suatu tindakan untuk melihat fraktur langsung dengan tehnik pembedahan yang mencakup di dalamnya pemasangan pen, skrup, logam atau protesa untuk memobilisasifraktur selama penyembuhan (Depkes, 1995: 95). B. PENYEBAB Fraktur dapat terjadi oleh beberapa faktor yaitu trauma kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian

eritema. pembengkakan disertai fraktur akan menyertai proses peradangan.trabekulae ini terlihat seperti spon tapi kuat sehingga disebut tulang spon yang didalam nya terdapat bone marrow yang membentuk sel-sel darah merah. 1995: 513). patologis dari metastase dari tumor. bone marrow ini terdiri atas dua macam yaitu bone marrow merah yang memproduksi sel darah merah melalui proses hematopoiesis dan bone marrow kuning . deformitas (perubahan bentuk). 2000: 299). yang masuk ke tulang disebut korteks. nyeri. yang didalamnya terdapat trabekulae (batang) dari tulang. degenerasi karena proses kemunduran fisiologis dari jaringan tulang itu sendiri. tiap sistem kelihatan seperti lingkaran yang menyatu. S. menurunnya pergerakan. ruangan sempit antara lamellae disebut lakunae (didalamnya terdapat osteosit) dan kanalikuli. menolak bergerak. Tanda dan gejala pada pasien post ORIF yaitu edema. otot tegang dan bengkak. D. mungkin tampak jelas posisi tulang atau ekstremitas yang dialami. korteks tersusun solid dan sangat kuat yang disusun dalam unit struktural yang disebut sistem haversian.dengan posisi berdiri atau duduk sehingga terjadi fraktur tulang belakang.krepitus (suara gemertak). frakturyang berdasarkan pengalaman memberi hasil yang lebih baik dengan operasi (Reksoperasirodjo. 1995: 266). dapat terdengar sewaktu tulang digerakan akibat pergeseran ujung-ujung patahan tulang satu sama lain (Crowin. lapisan melingkar dari matriks tulang disebut lamellae. kanal haversian terdapat sepanjang tulang panjang dan di dalamnya terdapat pembuluh darah dan saraf yang masuk ke tulang melalui kanal volkman. tapi mereka masih punya struktur yang sama. E. yang mengisaratkan kerusakan syaraf. lapisan dibawah periosteum mengikat tulang dengan benang kolagen disebut benang sharpey. Indikasi dilakukannya operasierasi ORIF yaitu fraktur yang tidak bisa sembuh. dapat terjadi gangguan sensasi atau rasa kesemutan. lapisan yang paling luar disebut periosteum dimana terdapat pembuluh darah dan saraf. karena itu korteks sifatnya keras dan tebal sehingga disebut tulang kompak. ANATOMI PATOLOGI a. spontan karena tarikan otot yang sangat kuat (Corwin. pembuluh darah inilah yang mengangkut nutrisi untuk tulang dan membuang sisa metabolisme keluar tulang. C.J. 2000: 298). lapisan tengah tulang merupakan akhir dari sistem haversian.fraktur yang dapat direposisi tapi sulit dipertahankan. Struktur Tulang Tulang sangat bermacam-macam baik dalam bentuk ataupun ukuran. tiap sistem terdiri atas kanal utama yang disebut kanal haversian. pucat. TANDA DAN GEJALA Gambaran yang sering muncul pada pasien dengan frakturadalah patah tulang traumatik dan cedera jaringan lunak biasanya disertai nyeri. fraktur yang tidak bisa direposisi tertutup. parestesia atau kesemutan (Apley.

1995).1993 dan Ignatavicius. Metafisis ini merupakan daerah pertumbuhan tulang selama masa pertumbuhan. dan medula tulang. yang membuat sendi dengan rongga glenoid dari skapla dan merupakan bagian dari banguan sendi bahu. diafisis. Tulang Panjang Adalah tulang yang panjang berbentuk silinder dimana ujungnya bundar dan sering menahan beban berat (Ignatavicius. Matriks ini dibentuk oleh benang kolagen. korpus.et al. tulang rawan. periosteum.sedangkan aliran darah dalam tulang antara 200 – 400 ml/ menit melalui proses vaskularisasi tulang (Black. mineral. 1995). Dibawah tuberositas terdapat leher chirurgis yang mudah terjadi fraktur. D. D. osteosit. dan substansi dasar (gelatin) yang berfungsi sebagai media dalam difusi nutrisi. yaitu Tuberositas Mayor dan disebelah depan terdapat sebuah benjolan lebih kecil yaitu Tuberositas Minor. Osteoblast merupakan sel pembentuk tulang yang berada di bawah tulang baru. et al. Selain itu. karbohidrat. Osteosit adalah osteoblast yang ada pada matriks. dan osteoklast. Epifisis (ujung tulang) merupakan tempat menempelnya tendon dan mempengaruhi kestabilan sendi. oksigen. Donna. Metafisis merupakan bagian yang melebar dari tulang panjang antara epifisis dan diafisis.M.M. Sel tulang ini diikat oleh elemen-elemen ekstra seluler yang disebut matriks. Diafisis adalah bagian utama dari tulang panjang yang memberikan struktural tulang. karena tulang rawan sisinya halus dan licin. Diantara tuberositas terdapat celah bisipital (sulkus intertuberkularis) yang membuat tendon dari otot bisep. . 1993) Tulang Humerus Tulang humerus terbagi menjadi tiga bagian yaitu kaput (ujung atas). Disebelah luar ujung atas dibawah leher anatomik terdapat sebuah benjolan. didalamnya terkandung garam kalsium organik (kalsium dan fosfat) yang menyebabkan tulang keras. dan ujung bawah. Sedangkan osteoklast adalah sel penghancur tulang dengan menyerap kembali sel tulang yang rusak maupun yang tua. 1) Kaput Sepertiga dari ujung atas humerus terdiri atas sebuah kepala.yang terdiri atas sel-sel lemak dimana jika dalam proses fraktur bisa menyebabkan fat embolism syndrom (fes). Periosteum merupakan penutup tulang sedang rongga medula (marrow) adalah pusat dari diafisis (Black. J. dan sampah metabolisme antara tulang daengan pembuluh darah. Donna. Tulang terdiri dari tiga sel yaitu osteoblast.J. Dibawahnya terdapat bagian yang lebih ramping disebut leher anatomik. Tulang rawan menutupi seluruh sisi dari ujung tulang dan mempermudah pergerakan. Tulang panjang terdiriatas epifisis. protein.

tempat mlekatnya otot. Pada kedua sisi persendian ujung bawah humerus terdapat epikondil yaitu epikondil lateral dan medial. perdarahan ke otot dan sendi. Donna D. batang. melindungi organ penting. Penyembuhan Fraktur Fraktur dapat terjadi pada tulang dan jaringan disekitarnya. (Pearce. gaya meremuk. Terbentuklah hematomadi kanal medulla. jaringan ini merangsang kecenderungan untuk terjadi peradangan yang ditandai dengan vasodilatasi. 3) Ujung Bawah Berbentuk lebar dan agak pipih dimana permukaan bawah sendi dibentuk bersama tulang lengan bawah. dari sebelah medial ke sebelah lateral dan memberi jalan kepada saraf radialis atau saraf muskulo-spiralis sehingga disebut celah spiralis atau radialis. tempat penyimpanan garam mineral (Ignatavicius. PATOFISIOLOGI 1. Fraktur dapat disebabkan oleh pukulan langsung. Trokhlea yang terlatidak di sisi sebelah dalam berbentuk gelendong-benang tempat persendian dengan ulna dan disebelah luar etrdapat kapitulum yang bersendi dengan radius. pengeluaran plasma dan leukosit dan infiltrasi dari sel-sel darah putih yang lain (Corwin.2) Korpus Sebelah atas berbentuk silinder tapi semakin kebawah semakin pipih. Fraktur sering terjadi pada tulang rawan. mengakibatkan edema jaringan lunak. gerakan puntir mendadak dan bahkan kontraksi otot esktrem. terjadi perdarahan dan kerusakan jaringan di ujung tulang. 2000: 299). tempat pembuatan sel darah. E. maka periosteum darah dari korteks marrow dan jaringan sekitarnya rusak. 2001: 2357). kerusakan saraf dan kerusakan pembuluh darah (Brunner dan Suddarth. Jika satu tulang patah. tepat diatas pertengahan disebut tuberositas deltoideus (karena menerima insersi otot deltoid). Meskipun tulang patah dan jaringan sekitarnya juga akan terpengaruh. ruptur tendo. 2. maka . jika tulang mengalami fraktur. 1993). Disebelah lateral batang. Proses Terjadinya Fraktur Fraktur terjadi bila tulang dikenai stres yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya. Sebuah celah benjolan oblik melintasi sebelah belakang. dislokasi sendi. 1997) Fungsi Tulang Fungsi tulang antara lain memberi kekuatan pada kerangka tubuh. Evelyn C.

S. jenis kekuatan yang berperan dan deskripsi tentang peristiwa yang terjadi oleh penderita dilakukan pemeriksaan spesifikasi untuk mencari adanya fraktur. Krepitus menyatakan perasaan sekan-akan seperti ada dua amplas yang digesekan. Fragmen tulang yang patah sedapat mungkin untuk kembali seperti letak asalnya untuk mengurangi nyeri selama tindakan. Bekuan darah terbentuk pada daerah tersebut. Lapisan ini terus menebal dan meluas. lokasi fraktur. Kerusakan jaringan lunak yang nyata dapat juga dijadikan petunjuk kemungkinan adanya fraktur. dan dibutuhkan pemasangan bidai segera dan pemeriksaan lebih lanjut. Kalus tulang akan menjalani transformasi metaplastik untuk menjadi lebih kuat dan lebih terorganisasi. periosteum juga terpisah dari tulang dan terjadi perdarahan yang cukup berat. Riwayat kecelakaan. Fungsi dari kedua fragmen (penyembuhan fraktur) yang melekat pada terus tulang dan berlanjut meluas dengan menyebrangi terbentuknyatrabekula oleh osteoblas. Rekognisi Rekognisi menyangkut diagnosis fraktur pada tempat kejadian kecelakaan dan kemudian di rumah sakit.A. Kalus tulang akan mengalamiremodelling dimana osteoblas akan membentuk tulang baru sementara osteoblas akan menyingkirkan bagian yang rusak sehingga akan terbentuk tulang yang menyerupai tulang aslinya (Price. b. nyeri pada tulang panjang sangat khas. c. bertemu dengan lapisan kalus dari fragmen satunya dan menyatu. maka gips yang dipasang untuk mempertahankan reduksi harus melewati sendi di atas raktur. Gips sebaiknya tetap mulus dilaminasi dan sesuai . penderita dapat diberi narkotika intervena. derajat keparahannya. Karena segala anestesia baru mencapai efek maksimum sesudah berapa menit. Reduksi Reduksi adalah usaha dan tindakan manipulasi fragmen. Persatuan tulangprovisional ini akan terorganisasi. sedatif atau blok syaraf lokal. maka cukup ada waktu untuk re-evaluasi sifatsifat cedera. Retensi dari Reduksi Sebagai aturan umum. 1996: 1187). akan membentuk jaringan ganulasi dimana sel-sel pembentuk tulang primitif(osteogenik) berdiferensiasi menjadi kondroblas danosteoblas kemudian kondroblas akan mensekresi fosfat yang merangsang reabsorpsi kalsium sehingga terbentuklah lapisan tebal (kalus) di sekitar lokasi fraktur. a.jaringan lunak sekitarnya juga rusak.

pola spesifik peredaran darah dimana tulang yang patah tersebut dapat merusak suplai darah ke satu atau lebih fragmen tulang (Price. imobilisasi yang kurang tepat. Delayed union adalah proses penyembuhan terus berjalan tetapi dengan kecepatan yang lebih lambat dari keadaan normal. adanya interposisi jaringan yang sangat berat.dengan geometri ekstremitas yang patah tersebut. Banyak keadaan yang merupakan aktor predisposisidari non union diantaranya adalah reduksi yang tidak benar akan menyebabkan bagian-bagian tulang yang patah tetapi tidak menyatu. terutama pada masa awal penyembuhan. infeksi. d. 2) Delayed union dan non union adalah sambungan tulang yang terlambat dan tulang patah yang tidak menyambung kembali.Non union dari tulang yang patah dapat menjadi komplikasi yang membahayakan bagi penderita. baik dengan cara terbuka maupun tertutup. Rehabilitasi dan Komplikasi Fraktur Sebagian besar penderita patah tulang akan mengalami proses penyembuhan segera apabila menggunakan teknik penatalaksanaan yang standar. . Komplikasinya yaitu: 1) Malunion adalah suatu keadaan dimana tulang yang patah telah sembuh dalam posisi yang tidak seharusnya. 1996: 1187). A. membentuk sudut atau miring.S. Komplikasi dapat dicegah dengan melakukan analisa yang cermat sewaktu melakukan reduksi dan mempertahankan reduksi dengan baik dan benar. tetapi ada sejumlah penderita yang mengalami komplikasi.

spasme otot. pengisian kapiler. agitasi(mungkin berhubungan dengan nyeri atau ansietas/trauma lain). pathway 0100090000038500000002001c00000000000400000003010800050000000b02 . tidak ada nyeri akibat kerusakan saraf. bederit) spasme otot. hipovolemia) penurunan/tak ada nadi pada bagian distal yang cedera. fraktur itu sendiri. fokus pengkajian fokus pengkajian pada fraktur meliputi: aktivitas/istirahat dengan tanda keterbatasan/kehilangan fungsi pada bagian yang terkena (mungkin segera. donna d.rotasi terlihat kelemahan fungsi. atau terjadi secara sekunder. pemendekan. dari pembengkakan jaringan nyeri). takikardia (respon stress. avulsi jaringan perdarahan. keamanan dengan taanda laserasi. 1999) g.pucat pada bagian yang terkena pembengkakan jaringan hilang atau masahematoma pada sisi cedera.f. sirkulasi dengan tanda hipertensi (kadangkadang terlihat sebagai respon nyeri (ansiefas) atau hipotensi (kehilangan darah). dengan tanda deformitas krepitasi (bunyi atau hilang (parestesis) lokal angurasi abnormal. perubahan warna pembengkakan lokal (dapat meningkat secara bertahap/tiba-tiba) (ignatavicius.spasme atau kram otot (setelah imobilisasi). neurosensori gejala kebas/kesemutan gerakan/sensori. nyeri/kenyamanan dengan gejala nyeri berat tiba-tiba pada saat cedera (mungkin terlokalisasi pada area jaringan (kerusakan tulang: dapat berkurang pada imobilisasi).

E. M. hematoma. Hal yang harus dibaca pada x-ray adalah bayangan jaringan lunak. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit. terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat fraktur. (2000:298). tipis tebalnya korteks sebagai akibat reaksi periosteum atau biomekanik atau juga rotasi. Krepitasi akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya. E. Perlu disadari bahwa permintaan x-ray harus atas dasar indikasi kegunaan pemeriksaan penunjang dan hasilnya dibaca sesuai dengan permintaan. MANIFESTASI KLINIS Manifestasi klinisnya antara lain nyeri terus menerus dan bertambah beratnya samapi fragmen tulang diimobilisasi. Untuk mendapatkan gambaran 3 dimensi keadaan dan kedudukan tulang yang sulit. (2000: 764) H. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan Radiologi Sebagai penunjang.J. Doenges. Dalam keadaan tertentu diperlukan proyeksi tambahan (khusus) ada indikasi untuk memperlihatkan pathologi yang dicari karena adanya superposisi. Selain foto polos x-ray (plane x-ray) mungkin perlu tehnik khususnya seperti tomografi yang menggambarkan tidak satu struktur saja tapi struktur yang lain tertutup yang sulit divisualisasi. deformitas karena adanya pergeseran fragmen tulang yang patah. dan edema. sela sendi serta bentuknya arsitektur sendi. Pada kasus ini ditemukan kerusakan struktur yang kompleks dimana tidak pada satu struktur saja tapi pada . I. trobukulasi ada tidaknya rare fraction. pemeriksaan yang penting adalah “pencitraan” menggunakan sinar rontgen (x-ray).00000000050000000c0200125b0d040000002e0118001c000000fb02a4ff000000 0000009001000000000440002243616c69627269000000000000000000000000 00000000000000000000000000040000002d010000040000002d010000040000 002d0100000400000002010100050000000902000000020d000000320a570000 0001000400000000005b0df81120003600050000000902000000021c000000fb0 21000070000000000bc02000000000102022253797374656d0076c8e81f0b689a 1200cc038276409185762835b90c749a1200040000002d010100040000002d01 0100030000000000 Sumber : Corwin. maka diperlukan 2 proyeksi yaitu AP atau PA dan lateral.

Surveilans Kulit yaitu Kumpulkan dan analisa data pasien untuk mempertahankan integritas kulit serta membran mukosa. Donna D. atau terus menerus ). sering. Imobilisasi fraktur. . mempertahankan dan mengembalikan fungsi. mematau lingkungan dan faktor resiko prilaku pribadi. berpartisipasi dalam penampisan untuk mengidentifikasi resiko. 1995). jarang. reduksi dan imobilisasi harus dipertahankan sesuai kebutuhan. tidak pernah. Enzim otot seperti Kreatinin Kinase. Aldolase yang meningkat pada tahap penyembuhan tulang (Ignatavicius. dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna. Resiko Tinggi Terhadap Trauma Berhubungan dengan Kehilangan Integritas Tulang Tujuan atau Kriteria evaluasi NOC yang diharapkan penulis adalah menunjukkan Pengendalian Resiko ditandai dengan indikator 1 – 5 . pemberian analgetik untuk mengurangi nyeri K. Arthrografi: menggambarkan jaringan-jaringan ikat yang rusak karena ruda paksa.struktur lain juga mengalaminya. Dengan kriteria hasil. menggunakan sistem dukungan pribadi dan sumber – sumber komunitas untuk mengendalikan resiko. mengikuti strategi pengendalian resiko yang terpilih. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan laborat yang dipwrluakan amtar lain pemeikssaan Kalsium Serum dan Fosfor Serum meningkat pada tahap penyembuhan tulang. Intervensi menurut NIC adalah Pengelolaan Lingkungan Keamanan yaitu Pantau dan manipulasi lingkungan fisikuntuk mendukung keamanan. memodifikasi gaya hidup untuk menurunkan resiko. Computed Tomografi-Scanning: menggambarkan potongan secara transversal dari tulang dimana didapatkan suatu struktur tulang yang rusak. FOKUS INTERVENSI Fokus intervensi berdasarkan diagnosa keperawatan pada fraktur menurut NANDA ( 2007 ) 1. Myelografi: menggambarkan cabang-cabang saraf spinal dan pembuluh darah di ruang tulang vertebrae yang mengalami kerusakan akibat trauma. Laktat Dehidrogenase (LDH-5). PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan fraktur adalah Reduksi fraktur terbuka atau tertutup : tindakan manipulasi fragmen-fragmen tulang yang patah sedapat mungkin untuk kembali seperti letak semula. kadang – kadang. Aspartat Amino Transferase (AST). Alkalin Fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan menunjukkan kegiatan osteoblastik dalam membentuk tulang. J.

denyut jantung. identifikasi resiko keamanan di lingkungan ( fisik. Kerusakan Mobilitas Fisik Berhubungan dengan Kerusakan Rangka Neusomuskuler . Ambulasi Intervensi Prioritas NICnya adalah terapi aktifitas. biologi. dengan kriteria penurunan penampilan peran atau hubungan interpersonal. jendela. Aktifitas Kolaborasi menurut NIC adalah Modifikasi lingkungan untuk meminimalkan bahaya dan resiko. Menunjukkan Tingkat Moblitas. Berikan informasi tentang bahaya lingkungan dan ciri – cirinya ( misal tangga. penurunan konsentrasi. kepuasan hidup atau kemampuan untuk mengendalikan. terganggunya tidur. ringan atau tidak ada. penatalaksanaan Nyeri meringankan atau mengurangi nyeri sampai pada tingkat kenyamanan yang dapat diterima oleh pasien. Ajarkan kepada pasien/keluarga tindakan keamanan pada area yang spesifik. jalan atau gerbang ). Sedasi Sadar Pemberian sedatif. Alat Traksi / Imobilisasi. dengan kriteria. Melakukan perpindahan. Ambulasi Meningkatkan dan membantu . membutuhkan bantuan orang lain dan alat. kognitif dan riwayat perilaku sebelumnya. sedang. atau mandiri penuh penampilan yang seimbang. Intervensi Prioritas NICnya adalah pemberian analgetik berupa penggunaan agen – agen farmakologi untuk mengurangi nyeri. Pergerakan sendi dan otot. Gunakan alat pelindung ( misal restrain ). posisi tubuh melindungi. ringan atau tidak ada. atau tekanan darah. Nyeri (Akut) Berhubungan dengan Spasme Otot. berat. berat.Aktifitas Keperawatannya adalah pengkajian yaitu mengkaji Pengelolaan Lingkungan Keamanan sesuai NIC berupa identifikasi kebutuhan keamanan pasien berdasarkan tingkat fungsi fisik. kunci pintu. Tujuan atau kriteria evaluasi menurut NOC adalah. mandiri dengan pertolongan alat bantu. sedang. kolam renang. 3. Intervensi Pendidikan Kesehatan Untuk Pasien atau Keluarga. perubahan dalam kecepatan pernafasan. memantau respons pasien dan pemberian dukungan fisiologis yang dibutuhkan selama prosedur diagnostik dan terapeutik. Gerakan Fragmen Tulang Edema dan Cedera pada Jaringan Lunak. kegelisahan atau ketegangan otot. Menunjukkan Tingkat Nyeri. berikan alat – alat adaptif. ekspresi nyeri lisan atau wajah. Stress ansietas Tujuan atau kriteria evaluasi menurut NOC adalah menunjukkan Nyeri berupa Efek Merusak. dibuktikan dengan indikator 1 – 5 ekstrem. penurunan nafsu makan atau kesulitan menelan. 2. Berikan materi pendidikan yang berhubungan dengan strategi untuk mencegah trauma. dibuktikan dengan indikator 1 – 5 ekstrem. dan kimia ). Penampilan posisi tubuh. membutuhkan bantuan orang lain. ditandai dengan indikator 1 – 5 ketergantungan. gangguan kerja.

perawatan luka pencegahan dan komplikasi luka dan peningkatan proses penyembuhan luka. Kerusakan Integritas Kulit Atau Jaringan Berhubungan dengan Fraktur Terbuka. Sekrup Tujuan atau kriteria evaluasi menurut NOC adalah menunjukan Integritas Kulit dan Membran Mokosa ditandai dengan indikator 1 – 5. Kawat. Resiko Tinggi Terhadap Infeksi Berhubungan dengan Prosedur Invasif dan Adanya Luka Terbuka Tujuan atau kriteria evaluasi menurut NOC adalah faktor resiko infeksi akan hilang dengan dibuktikan dengan keadekuatan status imun pasien. menghindari pajanan terhadap ancaman kesehatan. ringan. pemantaun. keutuhan kulit. Bedah Perbaikan Pemasangan Pen. resolusi dari bau luka. menunjukkan Penyembuhan Luka. resolusi drainase dari luka dan atau drain. Mobilitas Sendi penggunaan pergerakan tubuh aktif untuk mempertahankan atau memperbaiki fleksibilitas sendi. sedikit. ekstrem. menurunkan resiko kerusakan kulit mendukung integritas kulit dan meningkatkan penyembuhan. 4. perubahan posisi memindahkan pasienatau bagian tubuh untuk memberikan kenyamanan. sering. pigmentasi dan jaringan dalam rentang yang diharakan. memantau faktor resiko lingkungan dan perilaku seseorang. pengendalian infeksi : meminimalkan penularan agens infeksius. atau tidak ada gangguan dengan kriteria suhu elastis. berat. hidrasi. pengawasan kulit pengumpulan dan analisis data pasien untuk mempertahankan integritas membran mukosa dan kulit. Intervensi Prioritas menurut NIC adalah Perawatan Tempat Insisi pembersihan. menunjukkan higiene yang adekuat Intervensi Prioritas menurut NIC adalah pemberian imunisasi/vaksinasi : pemberian imunisasi untuk mencegah penyakit menular. terbebas dari adanya lesi jaringan. mengubah gaya hidup untuk mengurangi resiko.berjalan untuk mempertahankan atau memperbaiki fungsi tubuh. kadang – kadang. pengetahuan yang penting. Pasien Menunjukkan Pengendalian Resiko. Tujuan Utama di tandai dengan indikator 1 – 5 : tidak ada. terbebas dari tanda gejala infeksi. BAB II . Terapi Aktifitas. sedang. banyak dan lengkap dengan kriteria penyatuan kulit. dan peningkatan proses penyembuhan pada luka yang ditutup dengan jahitan. dibuktikan oleh indikator 1 – 5 tidak pernah. 5. konsisten menunjukkan Dengan kriteria mendapat imunisasi yang tepat. jarang. sedang. pengendalian infeksi dan secara konsisten menunjukkan perilaku deteksi resiko dan pengendalian resiko.

Pasien tidak mempunyai penyakit menular ataupun keturunan seperti Hipertensi. 1.15 WIB dengan post jatuh lengan atas tangan kiri patah. Riwayat Keperawatan Pasien datang ke IGD RSU Kebumen tanggal 16 mei 2009 pukul 15. nyeri timbul terus menerus. Pasien sebelumnya belum pernah dirawat di RS.60C. Dari hasil pemeriksaan vital sign didapatkan TD: 120/70 mmHg.RESUME KEPERAWATAN a. pada . umur 17 tahun. skala nyeri 7. cefotaxim 2x1000mg/IV. 2. N: 88 x/menit. S: 39. 3. Rr: 23 x/menit. nilai Glasgow Coma Scale E 4 M 6 V 5. S. Identitas Pasien Sdr. status belum kawin. terdapat luka di lengan kiri sebelah atas. kesadaran composmentis. Pasien juga mengeluhkan badan terasa lemah. lengan atas tangan kiri terpasang perban.6 derajat selsius. tanggal masuk rumah sakit 16 mei 2009 jam 15. Pada ekstremitas kanan atas terpasang infus RL 20 tpm. TD: 120/70 mmHg. diagnosa medis Post Orif hari ke 1. Pada kebutuhan personal hygiene pasien mengatakan di seka dua kali sehari oleh keluarganya serta pola eliminasi BAB dan BAK dibantukeluarga. suku Jawa. Diabetes Melitus maupun Tuberculosis. Jenis kelamin laki-laki. S: 39. Saat di kaji pasien menyatakan keluhan utamanya nyeri pada tangan. pasien bertempat tinggal di Tlogopragoto Mirit. pegal pada punggung. nyeri datang saat bergerak nyeri berkurang saat posisi rileks.15 WIB. Pemeriksaan fisik yang dilakukan selama interaksi dengan pasien didapat data keadaan umum pasien baik. ketorolak 2x30mg/IV. Rr: 23 x/menit. agama Islam. Operasi di lakukan pada taggal 18 mei 2009. nyeri seperti tertusuk. Pasien di rawat inap di Bangsal Teratai C4 pada tanggal 18 mei 2009 mendapat therapy asam mefenamat 3x500 mg/oral. pengkajian Pengkajian dilakukan oleh Ragil Pambudi pada hari selasa tanggal 19 mei tahun 2009 jam 20. N: 88 x/menit. pekerjaan pelajar di MTS mirit. Dalam gerak dan keseimbangan pasien mengatakan tidak leluasa dan tidak nyaman karena jika digerakkan tangan kirinya terasa sakit ditandai dengan skala nyeri 7. bangsa Indonesia.15 di ruang Teratai C4 rumah sakit umum kebumen. Nomor Register: 168517. Fokus Pengkajian Pada fokus pengkajian digambarkan yaitu dalam berpakaian pasien dibantu keluarga.

nyeri setiap saat. tekanan darah 120/80 mm Hg.8 oC. kesadaran komposmentis.30 WIB mengkaji keadaan umum pasien baik. pasien dapat mendemonstrasikan metode relaksasi distraksi untuk mengurangi nyeri. Dari pemeriksaan rongent di dapatkan gambaran multiple fraktur komplit pada tulang humerus sinistra. Blooding time 2 detik yang normalnya 1 – 3 detik. lokasi.45 WIB mengajarkan tehnik relaksasi dan distraksi. Pukul 9.7gr/dl yang normalnya 14-18 gr%. Berikan posisi yang nyaman. Rencana tindakan yang telah dibuat adalah pertahankan immobilisai bagian yang sakit. pasien tampak tegang menahan nyeri. intensitas. tekanan darah 120/80 mmhg. didapat nilaiHemoglobin 12. suhu badan 39. . Rr 23x/menit. mengatakan nyeri berkurang atau hilang dengan skala nyeri 2. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik Tujuan yang telah dibuat adalah setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan nyeri dapat berkurang dengan kriteria hasil pasien tampak lebih rileks. suhu 36. nyeri setiap saat. akral teraba panas. Cloting time 3 detikyang normalnya 1 – 7 detik. balutan terlihat bersih dan kulit di sekitar luka tampak kemerahan C. Pernafasan 28 x/menit.6oC. implementasi dan evaluasi 1. Nadi 88 x/menit. kolaborasi pemberian analgetik. pada ekstremitas bawah kaki kanan dan kiri dapat digerakkan dengan normal. Suhu 37. Ajarkan tehnik relaksasi dandistraksi. Pemeriksaan laboratorium pada tanggal 18 mei 2009 didapatkan hasil pemeriksaan Hematologi. Memantau tanda-tanda vital. pada keduanya teraba akral hangat.15 WIB didapat diagnosa keperawatan adalah pertama. Tindakan yang telah dilakukan pada tanggal 20 mei 2009 jam 9. terdapat fraktur pada humerus sinistraa. memonitor tanda-tanda vital.Kedua hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi luka ditandai dengan pasien mengatakan panas.3oC. B. Tindakan yang dilakukan pada tanggal 21 mei 2009 memonitor keadaan umum pasien. Intervensi. nadi 88 x/mnt. nyeri seperti tertusuk. skala nyeri 7. ditandai dengan skala nyeri 7. Analisa Data Hasil analisa data dan prioritas masalah pada tanggal 19 mei 2009 pukul 20. mengajarkan tekhnik distraksi relaksasi. nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik. mengkaji nyeri skala nyeri. durasi dan karakteristik nyeri pada tangan kiri.tangan kanan atas terdapat balutan. respirasi 28x/mnt.

kesadaran compos mentis. anjurkan istirahat cukup. suhu badan 37oC. Tindakan yang telah dilakukan pada tanggal 20 mei 2009 pukul 9. kolaborasi pemberian antipiretik bila suhu lebih dari 38oC. anjurkan pasien memakai pakaian yang tipis tapi menyerap keringat. intensitas. S: 36. Hipertermi berhubungan proses inflamasi luka. Ajarkan tehnik relaksasi distraksi.. Lanjutkan intervensi anjurkan banyak minum air putih.6oC. mengkompres air hangat. wajah pasien tampak lebih rileks Dari data evaluasi tersebut dapat disimpulkan bahwa masalah nyeri akut pada pasien belum teratasi. mengatur posisi yang nyaman. lanjutkan intervensi kaji nyeri skala nyeri. lokasi. keadaan umum baik. skala nyeri 3. Rr: 22 x/menit. Tujuan yang telah dibuat adalah setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan hipertermi teratasi dengan kriteria hasil suhu badan dalam rentang normal yaitu antara 36 oC sampai 37oC. Mengkaji keadaan umum pasien. durasi dan karakteristik. 2. nyeri timbul terus menerus. Dari data-data tersebut dapat disimpulkan bahwa masalah hipertermi teratasi. Data obyektif TD: 120/80 mm Hg. Tindakan yang dilakukan pada tanggal 21 mei 2009 menganjurkan memakai pakain tipis tapi menyerap keringat. data obyektif akral hangat. Evaluasi tanggal 20 mei 2009 didapatkan hasil. kolaborasi pemberian antipiretik.Evaluasi pada tanggal 20 mei 2009 pukul 9. . Rencana tindakan yang telah dibuat adalah berikan kompres air hangat.35 WIB. N: 84 x/menit. kolaborasi pemberian analgetik.30 WIB adalah data subyektifnya pasien mengatakan masih nyeri.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful