P. 1
PERDA-PERDA BERBASIS HUKUM ADAT - Studi Formalisasi Hukum Adat Menjadi Peraturan Daerah

PERDA-PERDA BERBASIS HUKUM ADAT - Studi Formalisasi Hukum Adat Menjadi Peraturan Daerah

5.0

|Views: 2,057|Likes:
Published by Agung Kurniawan

More info:

Published by: Agung Kurniawan on Nov 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/24/2014

pdf

text

original

dan Adat Istiadat

Kehidupan adat pada masyarakat Aceh telah berlangsung sejak lama, dan

berkembang dalam kehidupan masyarakatnya hingga sekarang dengan nilai-nilai

budaya, norma adat, dan Syariat Islam. Pembinaan dan pengembangan kehidupan

adat tersebut, perlu dilaksanakan secara berkesinambungan dari generasi ke generasi

berikutnya sehingga dapat memahami nilai-nilai adat dan budaya yang berkembang

dan hidup dalam masyarakat adat Aceh. Sebagai implementasi dari pembinaan

kehidupan adat istiadat tersebut, maka diundangkanlah Qanun Aceh No 9 Tahun

2008 Tentang Pembinaan Kehidupan Adat dan Adat Istiadat.

Beberapa istilah dalam pemaparan Qanun Aceh tersebut antara lain adalah :
1. Wali Nanggroe adalah pemimpin lembaga adat Nanggroe yang independen
sebagai pemersatu masyarakat, berwibawa dan berwenang membina dan
mengawasi penyelenggaraan kehidupan lembaga-lembaga adat dan adat
istiadat, pemberian gelar/derajat dan pembina upacara-upacara adat di Aceh
serta sebagai penasehat Pemerintah Aceh.
2. Adat adalah aturan perbuatan dan kebiasaan yang telah berlaku dalam
masyarakat yang dijadikan pedoman dalam pergaulan hidup di Aceh.
3. Hukum Adat adalah seperangkat ketentuan tidak tertulis yang hidup dan
berkembang dalam masyarakat Aceh, yang memiliki sanksi apabila dilanggar.
4. Adat-istiadat adalah tata kelakuan yang kekal dan turun-temurun dari generasi
pendahulu yang dihormati dan dimuliakan sebagai warisan yang sesuai
dengan Syariat Islam.
5. Kebiasaan adalah sikap dan perbuatan yang dilakukan secara berulang kali
untuk hal yang sama, yang hidup dan berkembang serta dilaksanakan oleh
masyarakat.
6. Pemangku Adat adalah orang yang menduduki jabatan pada lembaga-lembaga

adat.

109

7. Reusam atau nama lain adalah petunjuk-petunjuk adat istiadat yang berlaku di
dalam masyarakat.
8. Upacara adat adalah rangkaian kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan
norma adat, nilai dan kebiasaan masyarakat adat setempat129
.
Berbeda dengan mayoritas corak kehidupan adat di Indonesia, masyarakat

adat Aceh memiliki corak kehidupan adat yang berpedoman pada nilai-nilai Islami.

Hal tersebut didasarkan pada asas :
a. Keislaman,
b. Keadilan,
c. Kebenaran,
d. Kemanusiaan,
e. Keharmonisan,
f. Ketertiban dan keamanan,
g. Ketentraman,
h. Kekeluargaan,
i. Kemanfaatan,
j. Kegotong-royongan,
k. Kedamaian,
l. Permusyawaratan, dan
m. Kemaslahatan umat.130
Pembinaan dan pengembangan kehidupan adat dan adat istiadat, dimaksudkan

untuk membangun kehidupan harmonis dan seimbang yang diridhoi oleh Allah SWT,

dalam hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan, dan rakyat

dengan pemimpinnya. Selain itu, pembinaan dan pengembangan kehidupan adat

bertujuan untuk :

a. Menciptakan tatanan kehidupan masyarakat yang harmonis.
b. Tersedianya pedoman dalam menata kehidupan bermasyarakat.
c. Membina tatanan masyarakat adat yang kuat dan bermanfaat.
d. Memelihara, melestarikan dan melindungi khasanah-khasanah adat, budaya,
bahasa-bahasa daerah dan pusaka adat.
e. Merevitalisasi adat, seni budaya dan bahasa yang hidup dan berkembang di
Aceh, dan
f. Menciptakan kreativitas yang dapat memberi manfaat ekonomis bagi
kesejahteraan masyarakat131
.

129

Ketentuan Umum Qanun Aceh No 9 Tahun 2008 Tentang Pembinaan Kehidupan Adat dan Adat Istiadat.

130

Ibid, Pasal 3.

131

Ibid, Pasal 5.

110

Didalam pelaksanaannya, tanggung jawab untuk memelihara,

mengembangkan, melindungi, dan melestarikan kehidupan adat tersebut dilakukan

oleh Wali Nanggroe. Majelis Adat dan lembaga-lembaga adat lainnya melakukan

pembinaan dan pengembangan kehidupan adat dan adat istiadat sesuai dengan Syariat

Islam.132

Hal tersebut untuk menjamin agar pelaksanaan adat dan adat istiadat tidak

bertentangan dengan nilai-nilai Syariat Islam. Pelaksanaan pembinaan dan

pengembangan kehidupan adat dan adat istiadat, dilaksanakan melalui :

a. Lingkungan keluarga.

b. Jalur pendidikan.

c. Lingkungan masyarakat.

d. Lingkungan kerja, dan

e. Organisasi sosial kemasyarakatan133
.

Kegiatan-kegiatan adat yang termasuk dalam lingkup pembinaan,

pengembangan dan pelestarian adat antara lain dalam hal :
a. Tatanan adat dan adat istiadat.
b. Arsitektur Aceh.
c. Ukiran-ukiran bermotif Aceh.
d. Cagar budaya.
e. Alat persenjataan tradisional.
f. Karya tulis ulama, cendikiawan dan seniman.
g. Bahasa-bahasa yang ada di Aceh.
h. Kesenian tradisional Aceh.
i. Adat perkawinan.
j. Adat pergaulan.
k. Adat bertamu dan menerima tamu.
l. Adat peutamat dareuh (Khatam Al-Quran).
m. Adat mita raseuki (berusaha).
n. Pakaian adat.
o. Makanan/pangan tradisional Aceh.
p. Perhiasan-perhiasan bermotif Aceh.

132

Ibid, Pasal 8.

133

Ibid, Pasal 9 ayat (2)

111

q. Kerajinan bermotif Aceh.
r. Piasan tradisional Aceh, dan
s. Upacara-upacara Adat lainnya134
.
Terkait dengan sengketa adat, penyelesaian dilaksanakan dan diselesaikan

terlebih dahulu secara adat di Gampong. Gampong dilaksanakan oleh tokoh-tokoh

adat yang terdiri atas Keuchik, Imeum Meunasah, Tuha Peut, Sekretaris Gampong,

dan Ulama, Cendekiawan dan tokoh adat lainnya di Gampong. Sengketa/perselisihan

adat dan adat istiadat meliputi:
a. Perselisihan dalam rumah tangga;
b. Sengketa antara keluarga yang berkaitan dengan faraidh;
c. Perselisihan antar warga;
d. Khalwat meusum;
e. Perselisihan tentang hak milik;
f. Pencurian dalam keluarga (pencurian ringan);
g. Perselisihan harta sehareukat;
h. Pencurian ringan;
i. Pencurian ternak peliharaan;
j. Pelanggaran adat tentang ternak, pertanian, dan hutan;
k. Persengketaan di laut;
l. Persengketaan di pasar;
m. Penganiayaan ringan;
n. Pembakaran hutan (dalam skala kecil yang merugikan komunitas adat);
o. Pelecehan, fitnah, hasut, dan pencemaran nama baik;
p. Pencemaran lingkungan (skala ringan);
q. Ancam mengancam (tergantung dari jenis ancaman); dan
r. Perselisihan-perselisihan lain yang melanggar adat dan adat istiadat135
.
Sanksi adat yang dapat dijatuhkan dalam penyelesaian sengketa adat antara

lain :

a. Nasehat.
b. Teguran.
c. Pernyataan maaf.
d. Sayam136
.

e. Diyat.
f. Denda.

134

Ibid, Pasal 12 ayat (1).

135

Ibid, Pasal 13 ayat (1).

136

Sayam adalah perdamaian persengketaan/perselisihan yang mengakibatkan keluar darah (roe darah) yang diformulasikan
dalam wujud ganti rugi berupa penyembelihan hewan ternak dalam sebuah acara adat. Lihat Penjelasan Qanun Aceh.

112

g. Ganti kerugian.
h. Dikucilkan oleh masyarakat gampong.
i. Dikeluarkan dari masyarakat gampong.
j. Pencabutan gelar adat, dan
k. Sanksi lain sesuai dengan adat setempat137
.
Aturan khusus lainnya dalam pelaksanaan sanksi adat adalah bahwa keluarga

pelanggar adat ikut bertanggung jawab atas terlaksananya sanksi adat yang dijatuhkan

kepada anggota keluarganya. Dan pemberlakuan Qanun Aceh ini tidak mengubah

ketentuan-ketentuan juridis terdahulu sepanjang tidak bertentangan, sesuai dengan

ketentuan peralihan yang terkandung didalam Qanun Aceh No 9 Tahun 2008.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->