P. 1
PERDA-PERDA BERBASIS HUKUM ADAT - Studi Formalisasi Hukum Adat Menjadi Peraturan Daerah

PERDA-PERDA BERBASIS HUKUM ADAT - Studi Formalisasi Hukum Adat Menjadi Peraturan Daerah

5.0

|Views: 2,057|Likes:
Published by Agung Kurniawan

More info:

Published by: Agung Kurniawan on Nov 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/24/2014

pdf

text

original

Peraturan Daerah Kabupaten Lebak No 32 Tahun 2001 Tentang Perlindungan

Atas Hak Ulayat Masyarakat Baduy merupakan ketentuan hukum adat yang khusus.

Kekhususan perda tersebut utamanya ditentukan oleh dua ciri utama. Pertama, Perda

Adat Baduy mengatur tanah adat Baduy yang mencakup satu desa Baduy Dalam.

Sedangkan ciri kedua, perda tersebut mengatur hubungan antara penduduk satu desa

Baduy Dalam dengan berbagi pemilikan masyarakat atas tanah, lingkungan, tata nilai

dan adat istiadatnya. Karena itu, Perda Adat Baduy berbeda sekali dengan Perda adat

yang berlaku dibeberapa tempat lain, seperti Sumatera Barat dan Aceh.

Pembahasan mengenai Perda ini dijadikan pembahasan tersendiri mengingat

keberadaan Masyarakat Adat Baduy yang memang memiliki corak spesial dalam

bingkai kesatuan Negara Republik Indonesia. Masyarakat Adat Baduy terikat oleh

tatanan hukum, suatu persekutuan hukum yang mengakui dan menerapkan ketentuan

hukum dalam kehidupan. Memiliki sifat ulayat serta memiliki hubungan dengan

wilayahnya tersebut. Hak Ulayat dalam Perda Adat Kabupaten Lebak adalah

kewenangan yang menurut hukum adat dipunyai oleh masyarakat hukum adat, atas

wilayah tertentu, merupakan lingkungan hidup para warganya, untuk mengambil

manfaat dari sumber daya alam, termasuk tanah dalam wilayah tersebut, bagi

kelangsungan hidup dan kehidupannya, yang timbul akibat hubungan, secara lahiriah

dan batiniah, turun temurun dan tidak terputus antara masyarakat hukum adat tersebut

130

dengan wilayah yang bersangkutan.174

Sedangkan Tanah Ulayat adalah bidang tanah

yang di atasnya terdapat hak ulayat dari suatu masyarakat hukum adat tertentu.

Hutan adat dalam masyarakat Baduy dibedakan menjadi empat jenis meliputi :

leuweung kolot (hutan tua), leuweung ngora (hutan muda), leuweung reuma (semak

belukar lebat bekas huma), dan jami (semak belukar).175

Tanah adat ulayat Suku

Baduy mencakup wilayah yang terbagi untuk pemukiman, lahan pertanian dan hutan

lindung. Wilayah yang dipergunakan sebagai pemukiman seluas 24.5 ha, lahan

pertanian seluas 2.585 ha terbagi menjadi lahan produktif dan lahan tidur (bera).

Sedangkan wilayah hutan lindung seluas 2.492 ha176
.

Ladang pertanian masyarakat Baduy dibedakan menjadi enam jenis yakni :
1. Huma Serang merupakan ladang yang dianggap suci yang ada di wilayah
Baduy Dalam. Hasil pertanian pada huma ini hanya dipergunakan untuk
kepentingan upacara adat.
2. Huma Puun merupakan ladang yang diperuntukan khusus milik puun
Baduy Dalam.
3. Huma Tangtu adalah ladang yang dikelola oleh warga masyarakat Baduy
Dalam.
4. Huma Tuladan adalah ladang komunal di Baduy Luar yang hasilnya untuk
keperluan desa.
5. Huma Panamping adalah ladang yang dikelola oleh warga masyarakat
Baduy Luar.
6. Huma Urang Baduy yaitu ladang di luar wilayah Baduy yang dikerjakan
orang Baduy Luar dan hasilnya diambil untuk kepentingan keluarga
masing-masing177
.
Masyarakat Baduy adalah masyarakat yang bertempat tinggal di Desa

Kanekes Kedamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak yang mempunyai ciri

kebudayaan dan adat istiadat yang berbeda dengan masyarakat umum. Keberadaan

174

Peraturan Daerah Kabupaten Lebak No 32 Tahun 2001 tentang Perlindungan Atas Hak Ulayat Masyarakat Baduy. Pasal 1

ayat (4).

175

Garna, J, Tangtu Telo Jaro Tujuh : Kajian Struktural Masyarakat Baduy di Banten Selatan Jawa Barat Indonesia, Ph.D
Thesis, Bangi : University Kebangsaan Malaysia, 1987.

176

Lihat Suripto, Mengatasi Bahaya Global Warming. Studi Kasus : Kearifan Lokal Suku Badui – Banten – Indonesia, hlm : 6.

177

Ibid, hlm : 7-8.

131

mereka sebagai masyarakat hukum adat telah berlangsung lama secara turun temurun,

dengan melestarikan kehidupan masyarakatnya secara adat. Penduduk masyarakat

Baduy berjumlah 10.879 jiwa, laki-laki 5.465 jiwa dan perempuan 5.414, berdasarkan

Data Sensus Penduduk Desa Kanekes tanggal 28 Pebruari 2008. Dilihat dari tahun-

tahun sebelumnya, pertumbuhan penduduk sangat pesat sebesar 1.79 % per tahun.

Seiring pertumbuhan warga yang pesat, perubahan lahan tempat tinggal (teritorial)

pun terus menerus berkembang meluas. Dalam Peraturan Daerah No. 23 Tahun 2001

berdasarkan posisi, dalam dan luar, tempat tinggal warga, secara administratif

masyarakat Baduy dibagi menjadi dua: Baduy Dalam dan Baduy Luar. Masyarakat

Baduy Dalam yang berjumlah 1.053 jiwa menempati tanah yang didiami tiga

kampung: Cikeusik, Cikertawa dan Cibeo. Masyarakat Baduy Luar yang berjumlah

9.826 jiwa menempati tanah yang didiami 57 kampung dan 5 babakan (pemekaran

kampung)178
.

Penetapan mengenai Wilayah Hak Ulayat Masyarakat Baduy dibatasi

terhadap tanah-tanah di wilayah Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten

Lebak. Wilayah Hak Ulayat Masyarakat Baduy tersebut dituangkan dalam peta dasar

pendaftaran tanah dengan mencantumkan suatu tanda kartografi yang sesuai. Dalam

fungsi peruntukannya, lahan terhadap hak ulayat Masyarakat Baduy diserahkan

sepenuhnya kepada Masyarakat Baduy.179

Adapun pemimpin tertinggi pada

masyarakat Baduy disebut Puun, yakni Puun Sahadi, Puun Kiteu dan Puun Kiasih,

setelah Puun pemimpin berikutnya adalah Jaro, Jaro terbagi atas dua yakni Jaro Adat

dan Jaro Pamarentah, Jaro Adat ada 7 yang disebut dengan Jaro Tujuh, secara

178

Lihat Maskur Wahid, 2010, Sunda Wiwitan Baduy : Agama Penjaga Alam Lindung di Desa Kanekes Banten, Banjarmasin,
Annual Conference on Islamic Studies (ACIS) ke – 10, hlm : 3.

179

Peraturan Daerah Kabupaten Lebak No 32 Tahun 2001 tentang Perlindungan Atas Hak Ulayat Masyarakat Baduy, Op.Cit,
Pasal 2, 3, dan 4.

132

hierarki Jaro Adat Baduy dalam lebih tinggi kedudukannya dari pada Jaro

Pamarentah dalam kepemimpinan adat. Sedangkan Jaro Pamarentah adalah Jaro

yang dipilih oleh Puun dan para pemuka adat, baik Baduy dalam maupun Baduy

Luar, adalah sebagai penghubung antara masyarakat Baduy dengan Pemerintah

Daerah yang manyangkut masalah-masalah kependudukan, pemerintahan, adat

istiadat dan kelestariannya, maupun hal lain yang menyangkut kepentingan

pemerintah maupun kepentingan masyarakat Baduy180
.

Terdapat beberapa pengecualian terhadap Hak Ulayat Masyarakat Baduy

Dalam dan Baduy Luar, yaitu meliputi bidang-bidang tanah yang sudah dipunyai oleh

perseorangan atau badan hukum dengan sesuatu hak atas tanah menurut UUPA; dan

merupakan bidang-bidang tanah yang sudah diperoleh atau dibebaskan oleh instansi

Pemerintah, badan hukum atau perseorangan sesuai ketentuan yang berlaku.

Sanksi hukum untuk pelanggaran atas tindakan atau kegiatan yang

menggangu, merusak dan menggunakan lahan ulayat Masyarakat Baduy diancam

dengan pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda maksimal Rp.

5.000.000,-(lima juta rupiah). Selain itu, kewenangan dalam penyidikan atas

pelanggaran terhadap tanah ulayat Masyarakat Baduy dilaksanakan oleh Pejabat

Pegawai Negeri Sipil tertentu di Pemerintah Daerah.

Sebagai wujud dari pengakuan atas hak Masyarakat Hukum Adat Baduy dan

untuk menghindari perselisihan hak ulayat tersebut, maka tanah ulayat tersebut tidak

diperkenankan upaya pensertifikasian atas kepentingan perorangan. Hal ini

dimaksudkan karena tanah ulayat tidak dapat dimiliki oleh perorangan, melainkan

180

Lihat Drs. Abdullah, Sepintas Tentang Masyarakat Baduy : Perjalanan ke Tanah Leluhur – Badui. Diakses dari
http://hlasrinkosgorobogor.wordpress.com/tag/budaya-baduy/

133

untuk kepentingan seluruh masyarakat adat Baduy, dalam hal ini sebagai lahan

beraktivitas (bertani).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->