P. 1
PERDA-PERDA BERBASIS HUKUM ADAT - Studi Formalisasi Hukum Adat Menjadi Peraturan Daerah

PERDA-PERDA BERBASIS HUKUM ADAT - Studi Formalisasi Hukum Adat Menjadi Peraturan Daerah

5.0

|Views: 2,063|Likes:
Published by Agung Kurniawan

More info:

Published by: Agung Kurniawan on Nov 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/24/2014

pdf

text

original

Sejak era reformasi bergulir pada tahun 1998, banyak peraturan perundang-

undangan yang lahir untuk mengakui keberadaan dan hak-hak Masyarakat Hukum

Adat (MHA) dan pengaturan terhadap hak-hak tradisional adat. Pengaturan dan

pengakuan terhadap hukum adat tersebut, tertuang dalam UU Kehutanan, UU

Pertambangan, UU SDA dan UU Perkebunan. Namun, prosedur dan mekanisme

pengakuan sehingga masyarakat adat dapat berfungsi dan memainkan peranan atas

hak-hak tradisionalnya, tampaknya belum ada. Sebagaimana halnya UU tentang

Perlindungan Masyarakat Adat barulah sekedar wacana. Namun, diberbagai daerah

terbukti telah berkembang pengaturan tentang Peraturan daerah tentang adat.

42

Sejak tahun 1999 sampai dengan 2011, terdapat sekitar 109 perda adat.

Keterlibatan penuh dari masyarakat dari saat proses perumusan/perancangan hingga

tahap pengesahan dan implementasi suatu peraturan daerah terkait pengakuan hukum

atas hak-hak tradisional masyarakat adat menjadi sangat menarik. Dalam

pembentukan perda adat, komunitas MHA diberi kesempatan dan terlibat langsung

serta memberikan pengawasan, tidak sekedar dalam bentuk sosialisasi maupun public

hearing, tetapi juga secara aktif dilibatkan dalam menentukan muatan materinya.

Untuk sampai pada tujuan pembuatan perda adat, dibutuhkan kebersamaan dan

kekuatan masyarakat yang kuat nan solid untuk senantiasa mengawal kebijakan-

kebijakan. termasuk implementasi pengakuan hukum hak-hak MHA yang

dimaksudkan sebagai upaya meredam dinamika negatif persekutuan antara Negara

dengan Pengusaha.

Pengakuan dan penghormatan terhadap keberadaan Masyarakat Hukum Adat,

tidak dapat dilepaskan dari pengaturan hukumnya. Polemik mengenai keberadaan

MHA ditenggarai bersumber karena tidak adanya produk hukum atau peraturan

perundangan yang mengatur mengenai keberadaan MHA tersebut. Produk hukum

perundang-undangan yang mengatur mengenai adat ini, hanya tampak sebagai

minoritas dari sistem hukum yang tamak dan tidak berpihak kepada MHA. Atau

dalam kata lain, keberadaan masyarakat adat sebagai masyarakat asli suatu daerah

menjadi terpinggirkan dan semakin tergerus keberadaannya.

Pengaturan tentang MHA telah tertuang dalam Pasal 18B ayat (2), pengakuan

bahwa negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat

beserta hak-hak tradisionalnya dan juga dalam BAB XA tentang Hak Azasi Manusia

pada pasal 28I ayat (3) tentang pengakuan identitas budaya dan hak masyarakat

43

tradisional. Pasal-pasal tersebut tampak adanya pengakuan atas keberadaan

Masyarakat Adat dan tatanan adatnya dan memberikan peluang bahwa sangat

dimungkinkan pengaturannya melalui undang-undang. Namun, dalam tingkat

implementasinya belum tampak adanya kemauan politik dari Pemerintah Pusat untuk

memperjuangkan eksistensinya, MHA memerlukan perangkat hukum atau produk

perundangan untuk menjadi bukti nyata pengakuan hak-hak tradisionalnya. Sebagai

pengesahannya, perwujudan dari pengakuan dan penghormatan terhadap keberadaan

MHA di Indonesia, dibentuklah Peraturan Daerah Adat, yang secara khusus mengatur

mengenai kebiasaan, tradisi, hak-hak adat, serta kebudayaan adat secara lokal dari

setiap MHA di Indonesia.

Di tingkat lapangan, proses pembuatan Peraturan Daerah Adat tersebut,

hampir kebanyakan menemukan kendala. Ketidakpedulian wakil rakyat untuk

menyuarakan hak dan kepentingan masyarakat adat adalah seperti dalam proses

pembuatan Peraturan Daerah tentang Hak Ulayat Kabupaten Sintang. DPRD

setempat berargumentasi bahwa ketiadaan dana menjadi alasan, sebagaimana halnya

keraguan akan kepastian hukum setelah adanya perda. Hak-hak masyarakat atas tanah

yang didasarkan atas hak ulayat belum ada jaminan kepastian hukum dan jaminan

keadilan. Hal ini menjadi berbahaya, mengingat Perda tersebut adalah kebutuhan

kekinian52
.

Diakui bahwa perkembangan masyarakat desa hutan dewasa ini sebagai

dampak interaksi sosial, ekonomi dan budaya dengan berbagai pihak; juga berakibat

pada perubahan tata nilai dan perilaku, dimana sebagian diantaranya dirasa tidak lagi

mencerminkan tata nilai dan perilaku masyarakat hukum adat. Akibat perubahan

52

Victor Emanuel. Akademisi : Pemerintah Tidak Serius Garap Perda Ulayat, diakses dari http://www.kalimantan-
news.com/berita.php?idb=11149

44

status masyarakat adat juga dapat menimbulkan berbagai persoalan yang bermuara

pada terjadinya konflik-konflik sosial, baik konflik horisontal maupun konflik

vertikal. Karena itu, Forum diskusi sepakat untuk mendesak pemerintah, baik

pemerintah pusat maupun pemerintah daerah agar segera mengeluarkan peraturan

pelaksana yang mengatur tentang kepastian dan kejelasan keberadaan masyarakat

hukum adat beserta hak ulayatnya. Misalnya, kepastian status dan fungsi suatu

kawasan hutan serta peran dan kedudukan setiap stakeholder dalam kegiatan

pengelolaan hutan perlu diatur secara tegas.

Terdapat beberapa contoh proses pembentukan Perda Adat dengan hak

inisiatif DPRD yang antara lain :

a) Inisiatif pengajuan perda oleh Kesatuan Adat Banten Kidul dibantu Dewan

Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sukabumi mengenai Konflik

Taman Nasional Gunung Halimun dan Salak (TNGHS) dan masyarakat adat di

Kabupaten Sukabumi53

. Dalam kasus ini, organisasi MHA di Banten Kidul

telah memainkan peranan dalam menginisiasi Perda Adat. Tentu saja, peran

DPRD dan Pemerintah tidak dapat diabaikan.

b) 10 Rancangan Peraturan Adat (Perdat) Kabupaten Kampar, diusulkan oleh

Lembaga Adat Kabupaten Kampar. Rancangan Perda Adat tersebut, (1)

Ranperda tentang musik acara pesta pernikahan, (2) tempat makan acara

pernikahan, (3) wajib berpakaian muslim dalam acara pesta pernikahan, (4)

harus pulang mamak bagi orang luar yang akan menikah, (5) wajib berjilbab

dan haram bercelana ketat bagi kaum perempuan, (6) minuman keras, (7) wirid

persukuan disetiap kenegeraian, (8) surat hak ulayat sebelum terbit SKT desa,

53

Warga

Adat

Terus

Perjuangkan

Hak

Ulayat,

diakses

dari

http://www.dishut.jabarprov.go.id/?mod=detilBerita&idMenuKiri=&idBerita=1286

45

(9) bangunan Pemda atau swasta harus melambangkan ciri khas adat Kampar,

serta (10) memfungsikan kembali hukum adat dan denda adat di masyarakat54
.

Dari sepuluh Perda Adat di Kabupaten Kampar, peran lembaga adat tidak saja

terbatas pada kepentingan MHA dan budaya lokal seperti kesenian, tetapi juga

tampak jelas terkait dengan upaya mengartikulasikan kebutuhan perlindungan

terhadap hukum Islam. Menariknya, baik DPRD maupun Bupati tidak menolak,

justru memberikan persetujuan atas lahirnya Perda-perda adat tersebut.

c) Di Kutai Barat, inisiasi pembuatan Perda No. 18 Tahun 2002 Tentang

Kehutanan Kabupaten Kutai Barat datang dari masyarakat bersama pemda.

Pemda dalam hal ini betul-betul melibatkan publik dengan membentuk tim

penyusun yang tergabung dalam Kelompok Kerja Pembangunan Kehutanan

Daerah (KK-PKD) yang terdiri atas anggota perwakilan dinas-dinas pemda,

ornop, akademisi, tokoh masyarakat, dan tokoh adat.55

Sedangkan dalam proses

pembentukan atas lahirnya Perda adat di Kabupaten Kutai Barat, berpangku

pada empat pilar. Selain peran masyarakat adat, akademisi dan Ornop, juga

DPR dan jajaran aparat Pemerintah daerah.

Mengacu pada kenyataan penyusunan Raperda yang dilakukan selama ini,

keterlibatan publik atau masyarakat jelas merupakan suatu keharusan, meski bukan

merupakan kewajiban hukum. Jika pun ada pelibatan publik, hal tersebut cenderung

hasil dari pendekatan dan terkadang ‘tekanan’ dari publik – baik itu ornop maupun

masyarakat yang berkepentingan langsung terhadap peraturan tersebut. Namun

demikian, dalam pelibatan publik ini masih belum ada jaminan apa yang menjadi

aspirasi masyarakat akan tertulis dalam produk final Perda dapat diimplementasikan.

54

Lembaga Adat Rancang 10 Perda, diakses dari http://pekanbaru.tribunnews.com/2010/11/02/lembaga-adat-rancang-10-perda

55

Proses Penyusunan Peraturan Daerah Dalam Teori dan Praktek. Manual PHR oleh Q-Bar, LBBT, RMI, PPSHK Kalbar,
Komite HAM Kaltim, LP2S, YBJ Bantaya, ptPPMA, HuMa. Dikutip dari http://www.huma.or.id

46

Penyusunan peraturan daerah yang lebih menekankan pada proses teknisnya, dan

bukan pada substansi sehingga kepentingan yang dibawa oleh Perda tersebut belum

tentu bermanfaat. Pihak-pihak yang seharusnya dilibatkan malah tidak diikutkan

sebagai indikator timbulnya pertentangan. Hal ini pada akhirnya tidak jarang

melahirkan konflik yang berkepanjangan dan berakibat menjadi penghambat dalam

pengimplementasiannya.

Ketidakpaduan pandangan terkait dengan rancangan Perda adat antara

lembaga adat dan pihak terkait lainnya, timbul bukan saja disebabkan karena

ketidakpahaman masyarakat (meskipun partisipasi masyarakat telah diatur dalam UU

No 10 Tahun 2009). Tetapi juga disebabkan oleh kemampuan yang minim dan

elitisme pembuat peraturan di tingkat daerah turut menyumbang sempitnya ruang

partisipasi bagi publik. Penyelenggaraan dengan birokrasi model lama masih

mendominasi, sehingga proses penyusunan peraturan yang seharusnya dimungkinkan

melibatkan publik lebih terbuka, tetapi justru tidak terjadi. Karena itu, tidak jarang

jika isi raperda tidak sesuai dengan harapan masyarakat.

Konsekuensi dari lemahnya pemahaman masyarakat adat dan pemerintah

daerah dalam memahami UU No 10 tahun 2009, berakibat dalam setiap pembuatan

perda tidak memiliki Naskah Akademik, perumusan teknis ke dalam Pasal, serta

prosedur uji publik dan proses pengesahannya tidak mengikuti prosedur yang

seharusnya. Dengan demikian, hak inisiatif pembuatan Perda Adat pada dasarnya

bervariasi. Akan tetapi peran MHA atau lembaga-lembaga adat tampak dominan.

Keberhasilan pembentukan perda tidak luput selain dari DPRD, Bupati, juga

organisasi LSM. Hadirnya dukungan tersebut juga ditentukan oleh motif-motif terkait

kepentingan (hutan, ajaran agama, dan lainnya).

47

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->