P. 1
PERDA-PERDA BERBASIS HUKUM ADAT - Studi Formalisasi Hukum Adat Menjadi Peraturan Daerah

PERDA-PERDA BERBASIS HUKUM ADAT - Studi Formalisasi Hukum Adat Menjadi Peraturan Daerah

5.0

|Views: 2,066|Likes:
Published by Agung Kurniawan

More info:

Published by: Agung Kurniawan on Nov 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/24/2014

pdf

text

original

Di Papua selain mengatur tentang hak ulayat bersama, juga diatur hak atas

tanah untuk perorangan. Hak tersebut diatur dengan Perda Khusus Papua No 23

Tahun 2008, bahwa hak ulayat masyarakat hukum adat dan atau hak perorangan

warga masyarakat hukum adat atas tanah memiliki keterbatasan. Selama ini,

57

Lihat http://id.wikipedia.org/wiki/Tanah_ulayat

57

pemanfaatannya telah menimbulkan penurunan kualitas lingkungan, ketimpangan

struktur penguasa, pemilikan dan penggunaan, kurangnya daya dukung lingkungan,

peningkatan konflik dan kurang diperhatikannya kepentingan masyarakat adat/lokal

dan kelompok masyarakat rentan lainnya. Adapun Pengakuan, penghormatan,

perlindungan, pemberdayaan dan pengembangan hak ulayat masyarakat hukum adat

dan atau hak perorangan warga masyarakat hukum adat atas tanah merupakan suatu

keniscayaan. Namun, implementasi dari penghormatan dan pengakuan tersebut

kurang jelas. Karena itu, pengakuan dan penghormatannya perlu dituangkan dalam

Peraturan Daerah khusus tentang hak ulayat masyarakat hukum adat dan hak

perorangan warga masyarakat hukum adat atas tanah.

Dalam pengaturannya, Hak Ulayat dan Hak Perorangan warga masyarakat

hukum adat dijelaskan secara terpisah dalam Perda Khusus ini. Hak ulayat atas

kepemilikan tanah lebih khusus adalah sebagai hak persekutuan yang dipunyai

masyarakat hukum adat tertentu atas suatu wilayah tertentu yang merupakan

lingkungan hidup para warganya yang meliputi hak untuk memanfaatkan tanah

beserta segala isinya.58

Sedangkan pengertian Hak Perorangan warga masyarakat

hukum adat dalam kepemilikan atas tanah adalah hak yang dipunyai oleh warga

masyarakat hukum adat tertentu atas suatu wilayah tertentu yang merupakan

lingkungan hidupnya yang meliputi hak untuk memanfaatkan tanah beserta segala

isinya.

Untuk mendapatkan pengakuan terhadap hak ulayat masyarakat hukum adat

dan atau hak perorangan di Provinsi Papua, dilakukan yaitu oleh Panitia Peneliti

terdiri dari Para pakar hukum adat, Lembaga adat/tetua adat atau penguasa adat yang

58

Pasal 1 ayat (6) Peraturan Daerah Khusus Papua No 23 Tahun 2008 tentang Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat dan Hak
Perorangan Warga Masyarakat Hukum Adat Atas Tanah.

58

berwenang atas hak ulayat dan atau hak perorangan warga dari masyarakat hukum

adat yang bersangkutan, Lembaga Swadaya Masyarakat, Pejabat dari Badan

Pertanahan Nasional Republik Indonesia, Pejabat dari Bagian Hukum Kantor

Bupati/Walikota dan Pejabat dari instansi terkait lainnya. Panitia tersebut ditetapkan

berdasarkan oleh Keputusan Bupati/Walikota atau oleh Keputusan Gubernur untuk

sebuah penelitian hak ulayat yang meliputi lintas kabupaten/kota59
.

Penelitian mengenai keberadaan tanah hak ulayat atau hak perorangan warga

masyarakat adat tersebut meliputi:
a. Tatanan hukum adat yang berlaku dalam masyarakat hukum adat yang
bersangkutan serta stuktur penguasa adat yang masih ditaati oleh
warganya;
b. Tata cara pengaturan, penguasaan dan penggunaan hak ulayat masyarakat
hukum adat atau hak perorangan warga masyarakat hukum adat atas tanah
berdasarkan hukum adat asli masyarakat hukum adat yang bersangkutan;
c. Penguasa adat yang berwenang mengatur peruntukan dan penggunaan
serta penguasaan hak ulayat masyarakat hukum adat atau hak perorangan
warga masyarakat hukum adat atas tanah;
d. Batas-batas wilayah yang diakui sebagai hak ulayat masyarakat hukum
adat atau hak perorangan warga masyarakat hukum adat atas tanah
ditentukan oleh masyarakat hukum adat yang bersangkutan60
.
Kemudian berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan tersebut,

bupati/walikota atau gubernur menetapkan ada atau tidaknya hak ulayat masyarakat

hukum adat atau hak perorangan warga masyarakat hukum adat atas tanah melalui

keputusan bupati/walikota atau gubernur. Pengakuan terhadap hak ulayat belum

didasarkan pada penetapan bidang tanah, lebih didasarkan pada pengakuan hak ulayat

oleh masing-masing suku sehingga berpotensi timbulnya dualisme pengakuan hak

tanah ulayat pada bidang tanah yang sama. Sebagai konsekuensi dari pemberian

59

Lihat Victor Mambor, Mengakui atau Menihilkan Masyarakat Adat?, diakses dari http://tabloidjubi.com/arsip-edisi-
cetak/jubi-utama/3730-mengakui-atau-menihilkan-masyarakat-adat

60

Lihat Sulasi Rongiyati, 2007, Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Investasi di Provinsi Papua, Jakarta, Pusat Pengkajian
Pengolahan Data dan Informasi (P3DI) Sekretariat Jenderal DPR RI, hlm : 11.

59

otonomi khusus Papua yang menempatkan penghargaan pada masyarakat adatnya,

maka peraturan dan mekanisme pengakuan terhadap hak tanah ulayat rakyat Papua

harus dilakukan secara tegas dan jelas. Terkait dengan kepastian hukum, pemerintah

juga perlu mengedepankan upaya sertifikasi hak tanah ulayat di Papua.

Dalam Perda Khusus Provinsi Papua tersebut, diatur mengenai penyelesaian

sengketa hak ulayat. Penyelesaian yang dipergunakan atas sengketa tanah adalah

dengan menggunakan penyelesaian secara adat, penyelesaian sengketa melalui forum

penyelesaian sengketa masyarakat adat, dan terakhir melalui pengadilan atau diluar

pengadilan (arbitrase, negosiasi, maupun mediasi).61

Mengenai penyelesaian sengketa

adat melalui hukum adat, maka diselesaikan berdasar pada hukum adat setempat. Jika

para pihak yang bersengketa tunduk pada hukum adat berlainan dan memilih

penyelesaian secara hukum adat, maka penyelesaian tersebut dilakukan oleh forum

penyelesaian sengketa antar masyarakat hukum adat dan atau melibatkan para ahli

mengenai hukum-hukum adat kedua belah pihak62

. Secara umum, penyelesaian

sengketa melalui peradilan adat dilaksanakan secara musyawarah melibatkan tokoh-

tokoh adat setempat dengan harapan dicapai penyelesaian terbaik dan adil. Mengingat

dalam prakteknya upaya penyelesaian melalui pengadilan jarang memenangkan

tuntutan masyarakat (ulayat) karena dasar hukum dan alat bukti yang dimiliki oleh

mereka lemah.63

61

Peraturan Daerah Khusus Papua No 23 Tahun 2008 tentang Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat dan Hak Perorangan Warga
Masyarakat Hukum Adat Atas Tanah. Op.Cit, Pasal 14.

62

Peraturan Daerah Khusus Papua No 23 Tahun 2008 tentang Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat dan Hak Perorangan Warga
Masyarakat Hukum Adat Atas Tanah. Op.Cit, Pasal 14.

63

Sulasi Rongiyati, Op.Cit, hlm : 14.

60

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->