BAB I PENDAHULUAN

Penelitian yang berjudul PERDA-PERDA BERBASIS HUKUM ADAT: Studi Formalisasi Hukum Adat Menjadi Peraturan Daerah, menjadi sangat menarik dan penting untuk dilakukan. Akhir-akhir ini, istilah hukum adat, masyarakat hukum adat, hukum lokal (local law)1 dan kearifan lokal (local wisdom)2 telah kerap kali muncul. Ketiga istilah tersebut secara konseptual sungguh berbeda, tetapi para

penulis dalam berbagai kajian hukum, khususnya hukum adat dan pendekatan sosiolegal tampak menjadi campur aduk. Dalam beberapa literatur asing, seperti di Amerika, Australia, Kanada dan Inggris penggunaan istilah hukum lokal merupakan peraturan daerah yang disyahkan oleh pemerintahan negara-negara bagian bersifat umum. Secara tegas di Negara-negara tersebut memisahkan hukum lokal dari hukum kebiasaan (customary law) dan hukum kanonik (canonic law). Ciri utama hukum lokal adalah peraturan daerah yang disyahkan oleh lembaga legislatif dan pemerintah daerah sebagai akibat adanya aspirasi dari berbagai suku dan nilai-nilai budaya dan keagamaan tertentu.3 Kekeliruan penggunaan istilah hukum adat dengan hukum lokal dijumpai dalam beberapa tulisan ilmiah. Naskah desertasi tentang Sumber Daya Air, dan kearifan lokal. Dalam desertasi itu, dikemukakan bahwa hukum adat adalah hukum lokal, sementara kearifan lokal adalah bagian dari hukum adat. Padahal sudah amat jelas,
1

Konsep Hukum Lokal semula dipergunakan oleh para ahli antropologi hukum yang memaparkan tentang realita politik lokal berusaha mengakomodir kehendak sebagian masyarakat untuk membuat Perda-perda yang berjiwakan hukum adat melalui mekanisme lembaga legislatif di berbagai daerah. Noubert Roland, 1994, Legal Anthropology, London, The Athlone Press, Hlm : 313-315 2 Lihat Sulistriyono, dalam karyanya “Sumber Daya Air: Tinjauan Terhadap Regulasi Pengaturan Sumber Daya Air “, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, UGM 2011. 3 Lihat beberapa contoh hukum lokal di berbagai Negara dengan sistem hukum common law.

1

bahwa hukum lokal adalah peraturan-peraturan daerah yang proses dan mekanisme pembuatannya menggunakan institusi lembaga legislatif daerah, (DPRD bersama Kepala Daerah, Gubernur untuk tingkat provinsi, Bupati dan Wali Kota untuk tingkat kabupaten). Penggunaan istilah yang rancu ini perlu dihindari dengan harapan pemahaman penelitian berguna dalam menjelaskan suatu pengetahuan komprehensif, baik terkait dengan perkembangan ilmu pengetahuan adat secara khusus maupun perkembangan ilmu hukum pada umumnya. Realitas sosial menujukan bukti bahwa perda-perda berbasis hukum adat telah tumbuh dan berkembang tidak dapat dicegah meskipun pro-kontra di kalangan akademisi masih berlangsung. Para pengajar hukum adat belum sepakat untuk menindakan lanjuti gagasan tentang pentingnya pembentukan peraturan perundang-undangan yang melindungi keberadaan hukum adat dan keberadaan masyarakat hukum adat secara tertulis bersifat unifikatif. Mereka tidak setuju berdasarkan pada argumentasi bahwa formalisasi hukum adat, dapat menghilangkan jati diri hukum adat itu sendiri.4 Hukum adat terdiri dari kaidah-kaidah, dan pedoman yang menuntun anggota

masyarakat untuk berpikir, bertingkah laku antara sesamanya dengan mengedepankan pola interaksi sosial harmonis. Jika kemudian, masyarakat hukum adat di berbagai daerah berkewajiban untuk mematuhinya peraturan hukum adat yang tertulis dan unifikatif, ada kekhawatiran bahwa fungsi hukum adat ke depan menjadi lebih sempit dan tidak fleksibel. Pandangan pertama terdapat berbagai kelamahan, usulan memformalisasikan hukum adat ke dalam suatu peraturan hukum tertulis terus berlangsung suatu perdebatan. Meskipun proses formalisasi hukum adat dipandang telah bertentangan
4

Lihat beberapa pandangan para pengajar hukum adat, dalam suatu seminar Nasional “Urgensi Peraturan Perundang-Undangan Hukum Adat”. Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, 2007.

2

dengan keempat asas dalam hukum adat, seperti magis religious, kongkrit, kontan dan fleksibel (mulur mungkret)5. Penggunaan istilah formalisasi atau positivisasi sebagai wujud mengakomodir nilai-nilai dan kaidah-kadiah yang berlaku dalam masyarakat ke dalam suatu sistem peraturan hukum moderen menuntut terpenuhi syarat-syarat juridis formal. Praktek pembentukan Perda-perda Adat, selama ini tidak jauh berbeda dengan pembuatan perda-perda lainnya. Usul inisiatif diajukan oleh Pemerintah daerah atau Dewan Perwakilan Daerah (Provinsi atau Kabupaten/Kota), dan diproses dengan mekanisme dan proedur beradasarkan UU No 12/2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. Dengan adanya unifikasi terhadap hukum adat, maka kecenderungan hukum adat yang berbhineka tersebut akan mengalami pergeseran atau bahkan hilang dari kehidupan masyarakat. Mereka percaya jika kedudukan hukum adat harus dipahami sebagai nilai-nilai luhur dan norma-norma yang seharusnya menjiwai peraturan-peraturan tertulis tersebut. Sebagaimana halnya UU No 5 Tahun 1960, tentang Pokok-Pokok Hukum Agraria yang hingga kini tetap aktual dan berlaku. Karena itu, tidak mengherankan jika banyak pihak yang menolak usulan perubahan atas UUPA tersebut. Padahal, bukan tanpa argumen yang memadai ketika DPD RI mencoba mengusulkan perubahan muatan materi UUPA tersebut. Upaya untuk menciptakan masyarakat yang agraris sebagai tujuan UUPA tersebut tidak terwujud. Banyaknya petani yang semakin kehilangan tanah garapannya karena berpindah kepada petani berdasi, dan hilangnya status tanah-tanah adat, seperti tanah ulayat di Minangkabau dan tanah tembawang di Kalimantan Barat adalah persoalan kelemahan internal UUPA menyandarkan pembentukan pada hukum adat.
5

Beberapa pandangan tentang-tentang asas-asas dalam hukum adat yang dijadikan ciri utama yang membedakan dari sistem hukum lainnya. Lihat pandangan Djojodiguno, Iman Sudiyat, Moh Koesnoe dan Hilman, Pengantar Hukum Adat, Bandung.

3

Salah satu sebab terpinggirkannya hukum adat dan masyarakat hukum, di zaman pemerintahan Orde Baru adalah disebabkan karena sistem pemerintahan pusat yang sentralistik. Keberadaan UU No 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa, dipandang oleh banyak pihak sebagai instrumen hukum yang menimbulkan ketidakpuasan masyarakat. Disatu pihak, UU tersebut berupaya membuat penyeragaman pemerintahan desa. Dipihak lain, justru UU tersebut telah menimbulkan pemusnahan atas lembaga-lembaga adat. Karena itu, tidak

mengherankan jika Pemerintah Orde Baru telah memperlakukan masyarakat hukum adat di berbagai daerah secara tidak adil6. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, judul penelitian ini bukan saja menarik untuk diteliti dalam pendekatan antropologi hukum (alasan subyektif), melainkan secara obyektif diperlukan dalam upaya menjelaskan kedudukan perdaperda hukum adat dalam sistem hukum nasional, utamanya reformasi politik dan hukum tahun 1998. Alasan obyektif, bahwa penelitian terkait dengan perda-perda berbasis hukum adat perlu dilakukan berdasarkan alasan-alasan sebagai berikut. Pertama, secara nasional kebutuhan untuk merumuskan hukum adat ke dalam bentuk formalisasi hukum telah merupakan fakta sosial dan hukum yang tidak dapat dihindari. Asosiasi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI terus memperjuangkan lahirnya RUU Perlindungan Masyarakat Hukum Adat. Tidak mungkin membiarkan hukum adat termarjinalkan, sebagai akibat dominasi sistem pemerintahan yang sentralistik dan sistem hukum nasional yang abai terhadap sejak terjadinya

6

Konsep Keadilan tidak saja dimaksudkan sebagai putusan kebijakan dari badan-badan negara tingkat pusat ke Pemerintah Daerah yang berkesesuian dengan hak-haknya, serta kewajibannya sesuai peraturan hukum. Dalam implementasinya, keadilan menuntut prasyarat kesetaraan, kebenaran, keseimbangan dan kepuasan, baik secara individual, sosial atau komunal dan bahwa juga kepuasan secara spiritual.

4

keberadaan hukum adat. Secara teoritis, kajian hukum adat cenderung mulai bergeser dari sifatnya hukum adat sebagai hukum yang hidup dalam masyarakat (living law), ke arah hukum positif yang sifatnya tertulis. Di beberapa tempat, tahun 1994, tercatat bahwa Marbo Law, keputusan Mahkamah Agung di New South Wales Australia memutuskan untuk mengakui kedudukan tanah-tanah adat masyarakat Aborigin.7 Fakta tersebut telah mendapatkan perhatian khusus di berbagai Universitas terkenal di Eropa seperti Oxford University dan Manchester University, Amerika Serikat, Harvard University, dan Monash University di Melbourne, Australia. Formalisasi tersebut lebih menegaskan adanya kepastian hukum oleh karena dukungan dari

Konvensi Hukum Internasional, terkait dengan hak-hak masyarakat pribumi (indigenous people rights) 1996 yang mewajibkan semua Negara untuk memberikan perlindungan dan perlakukan yang seksama dan berkeadilan8. Kedua, penelitian ini menjadi relevan oleh karena secara konstitusional formulasi hukum adat ke dalam suatu peraturan daerah telah dijamin oleh Pasal 18B ayat (2) UUD 1945, bahwa hukum adat diakui dan dihormati sepanjang masih berlaku, tidak bertentangan dengan NKRI dan diatur dengan peraturan perundangundangan.9 Sejalan dengan itu, pemerintah Indoesia secara konsisten telah

mengejowantahkan amanah konstitusionalitas tersebut tidak kurang dua belas (12) UU sektoral seperti UU Kehutanan, UU Sumber daya Alam, UU Pertambangan, UU Mineral dan Batubara, dan UU Sumber Daya Air. Adapun juridis yang relevan adalah Pasal 18 ayat 5 yang memberikan Hak Konstitusional bagi daerah-daerah untuk melakukan pembangunan seluas-luasnya.

7 8

Lihat Introduction toward Australian Legal Systems. Sydney, Butterwoths. 1986. Lihat Convention on International Labour Organization 1984. 9 Lihat Draft “Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang Perlindungan Masyarakat Hukum Adat”. Jakarta. DPD RI. 2009.

5

Namun, dalam implementasinya belum dapat memenuhi kebutuhan masyarakat hukum adat sebagaimana mestinya. Inkonsistensi antara perintah UUD 1945 dan UU Sektoral umumnya terjadi realisasi kebijakan pemerintahan pusat dalam bidang pertambangan di daerah-daerah. Selain itu, inkonsistensi juga dapat terjadi sebagai akibat tumpang tindih pengaturan dan kewenangan dan konflik kepentingan antara kementerian yang satu dengan yang lain. Ketiga, secara sosiologis dan antropologis di Indonesia, bentuk formalisasi hukum yang hidup (living law) dalam masyarakat bukan hanya sekedar diperdebatkan oleh para ahli dan pengajar hukum adat, tetapi telah menjadi fakta hukum atau norma hukum empirik dalam bentuk perda-perda hukum adat. Kegagalan untuk memperjuangkan UU Perlindungan Masyarakat Hukum Adat di tingkat nasional, justru banyak Peraturan-Peraturan Daerah berbasis hukum adat lahir di berbagai daerah, baik Perda Adat yang disyahkan di tingkat Pemerintahan Provinsi maupun Pemerintahan Kabupaten /atau Kota. Terjadinya kebangkitan dan berbagai

persekutuan masyarakat hukum adat, maupun kebangkitan hukum keagamaan di daerah-daerah, menunjukkan geliat pembangunan hukum lokal (Peraturan-Peraturan Daerah yang dijiwai semangat hukum yang hidup dalam masyarakat) di berbagai daerah10. Sejak tahun 1999 sd 2009, tidak kurang dari 106 Perda-perda adat telah disahkan hampir 27 provinsi di seluruh Indonesia. Persoalan menarik dalam studi ini bukan sekedar persoalan apakah lahirnya perda-perda berbasis adat ini didasarkan kepada perintah dari suatu undang-undangan tertentu. Ataukah perda-perda adat tersebut lahir disebabkan karena adanya kekosongan hukum sebagai akibat undang-undang
10

Konsep Hukum Lokal semula dipergunakan oleh para ahli antropologi hukum yang memaparkan tentang realita politik lokal berusaha mengakomodir kehendak sebagian masyarakat untuk membuat Perda-perda yang berjiwakan hukum adat lokal. Noubert Roland, 1994, Legal Anthropology, London, The Athlone Press, hlm 313-315.

6

sektoral tidak mengatur dengan tegas bagaimana pengakuan dan penghormatan secara kongkrit melainkan karena kebijakan-kebijakan pemerintah pusat dan daerah tidak berfungsi memberikan perlindungan terhadap hak-hak konstitusional masyarakat hukum adat. Apakah dengan lahirnya perda-perda adat tersebut telah berfungsi efektif dalam memberikan kepastian hukum dan kamanfaatan bagi masyarakat ataukah justru lebih dari itu telah menimbulkan dampak negatif terhadap aspek pembangunan nasional, di berbagai daerah. Ketiga, dari segi kemanfaatan, penelitian ini penting karena terbatasnya informasi akademik terkait dengan bagaimana pertumbuhan hukum adat yang telah berkembang. Dari pengkajian awal, sejak tahun 1999 sampai dengan 2011, tidak kurang dari 106 Perda-perda adat yang telah dibuat disekitar 27 Provinsi dan puluhan Kabupaten. Beberapa Provinsi yang banyak menerbitkan Perda adat antara lain Sumatera Barat, Papua, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Lampung, dan Sulawesi Selatan. Maksud dan alasan lain yang mendorong lahirnya perda-perda adat yaitu, masyarakat di daerah merasa khawatir akan kehilangan nilai-nilai adat yang selama ini dipandang sebagai norma-norma yang paling dipatuhi, juga akibat transformasi sosial dan politik. Gregory Acciaioli mengakui bahwa gelombang Perda Adat terkait dengan dorongan otonomi daerah mendorong timbulnya legislasi daerah untuk wilayah hukum adat. 11 Berbagai perda adat yang diklaim sebagai hukum lokal antara lain ada empat (4) kelompok Perda adat, (1) Perda adat yang terkait dengan hak-hak adat, (2) Perda Perlindungan Hak atas Tanah Ulayat, (3) Perda tentang Lembaga Adat, dan (4) Perda tentang Pelestarian Lembaga Adat dan Peradilan Adat. Bahwa di beberapa daerah di Papua, keberadaan hukum pidana tidak berlaku kecuali pencurian.
11

“Land claims by The Customary Society Movement”. Greg Acciaioli. Ground of Conflict, Idioms of Harmony : Custom, Religion and Nationalism in Violence Avoidance at The Lindu Plain, Central Sulawesi. Indonesia 27 October 2010.

7

Sebab, kasus-kasus pembunuhan umumnya diselesaikan secara adat12. Selain itu, yang tidak menggembirakan menurut Endang S, pembuatan Perda Adat tidak sesuai dengan yang diharapkan. Perda yang ada, sepertinya menuliskan kembali apa yang selama ini telah berlaku. Padahal yang diperlukan dari Perda tersebut adalah melindungi dan memperkuat pemberlakuannya, tanpa ada duplikasi UU lainnya13.

1.1.

Rumusan Masalah Dari landasan pemikiran tersebut di atas, maka penelitian ini dimaksudkan untuk

menjawab rumusan masalah sebagai berikut. 1) Mengapa jaminan perlindungan juridis konstitusional terkait dengan

pengakuan dan penghormatan masyarakat hukum adat sebagaimana tercantum dalam Pasal 18B ayat (2) dan Undang-undangn sektoral lainnya belum berhasil diimplementasikan dalam masyarakat hukum adat? 2) Apakah pertumbuhnya hukum lokal yang mengemuka dalam peraturanperaturan daerah berbasis hukum adat di berbagai daerah di Indonesia merupakan bentuk formalisasi dan sekaligus kompensasi atas kekosongan hukum akibat pengakuan dan penghormatan sebagaimana diatur dalam UU sektoral belum inkonsisten dengan implementasi kebijakan pembangunan nasional yang direalisasikan di berbagai daerah ? 3) Bagaimana bentuk formalisasi hukum yang hidup (living law) dalam masyarakat yang dijowantahan dalam perda-perda berbasis hukum adat telah berkesesuaian dengan mekanisme dean prosedur yang diatur dalam Undang-

12 13

Hasil diskusi dari Prof. DR. Endang Sumiarni. SH., MH. Hasil diskusi informal dan kajian awal pengusul dengan mahasiswa dan CLDS FH UII.

8

undang Nomor 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan di Indonesia??

1.2.

Maksud dan Tujuan Program penelitian pustaka ini dilakukan dengan maksud dan tujuan sebagai

berikut : 1) Memperoleh pengetahuan komprehensif tentang formalisasi hukum yang hidup (living law) dalam masyarakat menjadi peraturan-peraturan daerah, sebagai bentuk kompensasi atas kekosongan peraturan hukum yang

inkonsisten dengan kebutuhan masyarakat hukum adat. 2) Untuk mengidentifikasi berbagai faktor pengaruh belum efektifnya

perlindungan hak-hak konstitusional terhadap pengakuan dan penghormatan masyarakat hukum adat sebagaimana diatur dalam Pasal 18B ayat (2) dan UU sektoral lainnya. 3) Melakukan penilaian terhadap mekanisme dan prosedur lahirnya hukum lokal yang terdiri dari Perda-Perda berbasis hukum adat (perlindungan atas hukum adat, lembaga hukum adat, pelestarian hukum adat dan masyarakat hukum adat) yang berkesesuaian dengan UU No 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.

1.3.

Kerangka Teori dan Konsep Untuk mencapai maksud dan tujuan di atas, penelitian ini menggunakan

kerangka teori dan konsep yang dipandang memiliki keterkaitan dengan persoalan yang akan dijelaskan dalam penelitian ini.

9

Pertama, konsep hukum adat dan masyarakat hukum adat. Hukum adat dalam penelitian ini dimaksudkan sebagai kaidah-kaidah, atau hukum hukum kebiasan (cutomary rules), terdiri dari putusan-putusan kepala adat, yang tumbuh dan

berkembang dari kesadaran masyarakat, yang sebagian besar tidak tertulis, dipatuhi dan mengikat masyarakat dibarengi dengan sanksi-sanksi sosial. Dalam

pertumbuhannya hukum adat sebagai hukum kebiasaan

yang didukung oleh

semangat zaman suatu masyarakat (volkgeist) dan ditempatkan dalam sistem hukum suatu negara, atau lebih dikenal sebagai hukum non-negara (non-state law). Sifat atau karakter dari hukum adat sebagai living law tersebut, selain norma-norma tersebut tumbuh dan dari proses internalisasi masyarakar lokal, seperti hukum kebiasaan (customary law) atau hukum adat (Indonesia), dan juga suatu norma hukum keagamaan tertentu, yang mengikat masyarakat dan tidak dibentuk oleh lembaga formal dan tidak wujudkan secara tertulis (unwritten law) hal ini juga tidak terlepas dari ketidak pedulian hakim-hakim di pengadilan atas hukum yang hidup dalam masyarakat14. Kedua, masyarakat hukum adat adalah sekumpulan masyarakat yang hidup di suatu tempat didasarkan kepada adanya kesamaan garis ketuturunan (geneologis) dan kesamaan wilayah (geografis), diatur oleh suatu hukum kebiasaan yang mengikat, dipimpin oleh suatu kepala adat yang kharismatik, dan mampu menyelesaikan sengketa adat yang dihadapi masyarakatnya. Karena itu, Van Vollen Hoven, Ter Haar dan Joyodiguno menegaskan bahwa hukum adat merupakan cabang hukum mandiri (an independent branch of law) yang ditandai oleh adanya kehidupan bersama, atas dasar kesamaan leluhur (genekologis), memiliki tujuan bersama yang

14

Justice Louis D. Brandels, The Living Law, www. cardozolawreview.com/index.php?option=com_content

10

diatur oleh hukum tidak tertulis. Karena itu, setidaknya keberadaan masyarakat hukum adat di Indonesia terdiri dari 19 persekutuan hukum adat seperti Gayo, Karo dan lainnya15. Ketiga, hukum lokal (Local Law) adalah peraturan-peraturan yang dibuat berdasarkan prosedur dan mekanisme birokrasi pemerintahan di tingkat daerah dimana lembaga-lembaga legislatif, eksekutif dan masyarakat mengusulkan dan menyepakati adanya kebijakan politik dan hukum yang diwujudkan dalam bentuk Perda, tetapi muatan materinya dipengaruhi oleh adanya hukum yang hidup dalam masyarakat, baik berupa hukum kebiasaan setempat atau hukum adat maupun hukum suatu agama tertentu. Karena itu, Perda-perda tidak akan dapat disebut sebagai hukum lokal manakala isunya tidak mengandung unsur-unsur, baik nilai maupun norma hukum adat yang ada disuatu daerah. Adapun cakupannya bisa aspek perdata atau pidana adat yang ada disuatu daerah. Adapun cakupannya bisa aspek perdata atau pidana adat. disebagian daerah di Indonesia, pengadilan mencoba menjadikan hukum adat sebagai sumber hukum material bagi kasus-kasus yang bersifat keperdataan. Tentu saja hal tersebut sangat tergantung kesadaran hukumnya. Sebagaimana halnya hukum adat yang berlaku di Afrika Selatan. Diakui bahwa terdapat bukti konkrit apakah adat dapat diadopsi pengadilan mendasarkan pada keahlian hukum adat Xhosa. Pengadilan mengakui bahwa hukum adat tumbuh dan berkembang selama dua dekade membolehkan hukum adat dijadikan sumber hukum bagi putusan di pengadilan, khususnya dalam hukum keluarga16 Keempat, formalisasi hukum adalah cara memformulasikan kaidah-kaidah hukum kebiasaan ke dalam peraturan hukum tertulis, yang berlaku di suatu daerah
15 16

Ter Haar, The Adat Law, Netherland, The Hauge, 1974. Lihat Joan Church, The Place of Indegenous Law in a Mixed Legal System and a Society in Tranfsormation : A South Africa Experience. ANZLH – Journal, 2005, 103.

11

tertentu, dibuat dan disyahkan pemerintah daerah bersama DPRD guna menciptakan kepastian hukum, kemanfaatan dan keadilaan berdasarkan UU No 12 tahun 2011 untuk menjawab persoan-persoalan hukum yang dihadapi masyarakat setempat di era otonomi daerah. Kepastian hukum dalam arti adanya suatu peraturan hukum dalam bentuk Perda Hukum Adat yang dapat dijadikan pedoman untuk mengatur tingkah laku masyarakat dan sekaligus pedoman bagi penegak hukum ketika terdapat

sengketa. Adapun unsur keadilan dalam perda berbasis hukum mencakup adanya kebebasan (liberty) keberimbangan (fairness), adanya kesamaan peluang dan kesempatan (equal opportunity), peraturan yang mengandung kebenaran (what is the right to do)17. Adapun kemanfaatan hukum adalah bahwa peraturan daerah tersebut mengandung parameternya terpenuhinya kepuasan atau kebahagiaan untuk sebagian besar sebagian besar warga (the greatest happiness for the greatest number). Dengan demikian, maka penelitian ini akan menjelaskan fenoena perda-perda berbasis hukum adat sesuai kerangka teori, konsep dan definisi operasional tersebut di atas, untuk mengukur kesesuaian antara hukum yang hidup (living law) dalam masyarakat, sebagai hukum lokal yang diformalisasikan ke dalam Perda-Perda Adat sesuai asas-asas pembentukan peraturan hukum sebagaimana diatur leh UU no 12 tahun 2011.

1.4.

Metode Penelitian Jenis penelitian ini kualitaif dengan cara mengumpulkan bahan-bahan dan

metode penelitian sebagai berikut :

17

John Rawlls. Theory of Justice, Cambridge, Harvard University Press. 1972. Lihat juga, Michael Sandel, Justice: What’s The right Thing To do, New York, United States of America, Farrar, Straus and Girox, 2009.

12

1) Metode Pengumpulan bahan-bahan hukum Primer dan Sekunder Penelitian ini dilakukan dengan melakukan menelusuran informasi dan keterangan dari bahan-bahan hukum di Perpustakaan (Library Research). Adapun obyek yang ditelusuri adalah berbagai pengumpulan informasi dan dan keterangan tentang hukum adat dan masyarakat hukum adat berdasarkan pada dokumen hukum antara lain UUD 1945, HAM dan Peraturan Perundang-undangan, dan peraturan relevan sejenis lainnya. Melakukan pelacakan seluas mungkin terhadap berbagai Perda Adat melalui internet, khususnya website di Tingkat Provinsi, Kabupaten dan Kota. 2) Pendekatan Socio-Legal (Sosiologi Hukum dan Antropologi Hukum) Pencarian informasi dan keterangan melalui berbagai karya tulis dari para ahli hukum yang tersedia di perpustakaan dan memberikan tambahan kekayaan keterangan atas hubungan antara hukum adat sebagai living law menuju pada penjelasan adanya perubahan pemikiran ke mahzab hukum yang berorientasi pada ajaran hukum positivisme. Suatu fenomena baru yang menujukan mulai adanya kesadaran baru akan pentingnya Negara mengakui adanya hukum di luar hukum masyarakat yang diakomodir menjadi system hukum yang positivistik. 3) Analisis Data. Adapun keterangan atau data akan dianalisis berdasarkan kepada ketiga rumusan masalah tersebut dengan melakukan analisis terhadap norma-norma hukum dan teori yang memayunginya Perda-Perda yang muatan materinya perlindungan terhadap hukum adat, institusi masyarakat hukum adat, dan pelestarian hukum adat dan pranata sosial lainnya. Selain itu, analisis dilakukan terhadap peran institusi-institusi hukum di tingkat daerah

13

dan seberapa jauh masyarakat daerah memberikan respon positif terhadap produk hukum lokal yang telah disepakati tersebut. Terakhir, analisis akan ditujukan kepada fenomena bagaimana sikap respon Pemerintah Pusat baik bentuk positif (memberikan dukungan) atau negatif (membatalkan) terhadap perkembangan dan pertumbuhan hukum lokal.

14

BAB II PERLINDUNGAN DAN PENGAKUAN MASYARAKAT HUKUM ADAT DALAM HUKUM INTERNASIONAL DAN HUKUM NASIONAL
Dalam bab ini akan dijelaskan tentang prinsip-prinsip hukum umum yang relevan dipergunakan sebagai pedoman utama dalam mengarahkan proses pembentukan RUUPHMA. Dalam hal ini, prinsip-prinsip hukum atau asas-asas hukum bukanlah normanorma kongkrit, melain kan merupakan pikiran-pikiran dasar bersifat umum dan merupakan latar belakang dari peraturan hukum yang kongkrit yang terdapat dalam setiap sistem hukum yang terjelma dalam peraturan perundang-undangan dan putusan hakim yang merupakan hukum positif dan dapat ditemukan dengan mencari sifat-sifat umum dalam peraturan kongkrit tersebut18. Sedangkan kerangka teori dimaksudkan sebagai preposisi-preposisi tentang kebenaran akademik yang merupakan hasil pengujian antara hipotesis dengan fakta-fakta yang medukung atau menolak, yang dapat dipergunakan sebagai kaca mata, atau instrumen untuk memberikan pengukuran atas adanya fakta-fakta yang terjadi di

lapangan. Apakah teori yang dipergunakan tersebut berkesesuaian dan konsisten, misalnya terkait dengan hubungan sebab akibat, atau keajegan-keajegan sosial yang dijadikan pegangan atau pedoman dalam pembangunan suatu masyarakat19. Beberapa prinsip hukum yang relevan dikemukakan dan menjadi landasan utama dalam merumuskan norma-norma hukum kongkrit dalam pengaturan perlindungan hakhak masyarakat adat antara lain adalah sebagai berikut.
18 19

Lihat Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum: Suatu Pengantar. Yogyakarta, Liberty. 1986:33. Jawahir Thontowi, Hukum Internasional Kontemporer, Bandung.PT. 2007:33

15

2.1. MHA Dalam Hukum Internasional Istilah masyarakat adat mulai mendunia, setelah pada tahun 1950-an ILO, sebuah badan dunia di PBB mempopulerkan isu “indigenous peoples”. Setelah dihembuskan oleh ILO sebagai isu global di lembaga PBB, World Bank (Bank Dunia) juga mengadopsi isu tersebut untuk proyek pedanaan pembangunan di sejumlah negara, melalui kebijakan OMP (1982) dan OD (1991), terutama di negara-negara ketiga, seperti di Amerika Latin, Afrika, dan Asia Pasifik. Mencuatnya isu masyarakat adat berawal dari berbagai gerakan protes masyarakat asli “native peoples” di Amerika Utara yang meminta keadilan pembangunan, setelah kehadiran sejumlah perusahaan trans-nasional di bidang pertambangan beroperasi di wilayah kelola mereka, dan pengembangan sejumlah wilayah konservasi oleh pemerintah AS dan Kanada20. Sementara itu, di Indonesia sendiri, pengertian dan istilah masyarakat adat sudah sejak lama dikenal dalam realitas kehidupan sosial-budaya. Bahkan sejak Van Vollenhoven membagi Indonesia dalam 19 (sembilan belas) lingkungan hukum adat, kendati pembagian ini diragukan keabsahannya, namun tetap saja memperlihatkan bahwa di lingkungan masyarakat Indonesia tradisionil telah dikenal adanya komunitas kehidupan kemasyarakatan yang disebut sebagai masyarakat adat. Sesanti Bhinneka Tunggal Ika yang pernah di gagas oleh seorang pujangga Kerajaan Majapahit, Empu Tantular dan kemudian diimplementasikan oleh Patih Gadjah Mada dalam mempersatukan wilayah Nusantara, menunjukkan bahwa identitas dan keberadaan Masyarakat Adat memang telah mewarnai pola kehidupan masyarakat Indonesia tradisionil. Dengan demikian, jauh hari sebelum ILO mempopulerkan isu

20

Azmi Siradjudin AR, Pengakuan Masyarakat http://www.ymp.or.id/content/view/107/35/

Adat

Dalam

Instrumen

Hukum

Nasional

dalam

16

“indigenous peoples” di Indonesia sudah dijumpai masyarakat adat dengan berbagai ragam corak kehidupan sosial budayanya. Jika ditinjau dari aspek kemunculannya, maka sumber keberadaan masyarakat adat ini dapat dirunut berdasarkan pandangan Aristoteles yang mengemukakan bahwa manusia adalah zoon politicon. Manusia akan selalu mencari manusia yang lain untuk hidup bersama dan berorganisasi. Bagi manusia hidup bersama itu merupakan gejala yang biasa. Disamping keinginan kodrati untuk hidup bersama tersebut, manusia juga mempunyai kebutuhan-kebutuhan pokok seperti mahluk hidup yang lain. Menurut Maslow sebagaimana dikutip oleh Bimo Walgito, kebutuhan manusia itu sifatnya hirarkhis. Artinya suatu kebutuhan akan timbul bila kebutuhan yang lebih rendah telah terpenuhi. Kebutuhan-kebutuhan yang ada pada manusia itu adalah :
a. The physiological needs, yaitu kebutuhan-kebutuhan yang bersifat fisiologis, dan kebutuhan-kebutuhan ini merupakan kebutuhan yang paling kuat di antara kebutuhan-kebutuhan lain. b. The safety needs, yaitu kebutuhan yang berkaitan dengan hubungan rasa aman. c. The belongingness and love needs, yaitu kebutuhan yang berkaitan dengan hubungan dengan orang lain. Merupakan kebutuhan sosial. d. The esteem needs, yaitu kebutuhan yang berkaitan dengan penghargaan, termasuk rasa harga diri, rasa dihargai. e. The needs for self-actualization, yaitu kebutuhan untu mengaktualisasikan diri, kebutuhan untuk ikut berperan21.

Dari pandangan tersebut di atas, dapat dipahami bahwa kebutuhan-kebutuhan manusia pada dasarnya dapat digolongkan menjadi :

21

Bimo Walgito, 2002, Bimbingan dan Konseling Perkawinan. Ed. 1. Cet.1. Yogyakarta: Andi Offset, hlm. 2.

17

a. Kebutuhan yang bersifat fisologis, yaitu kebutuhan-kebutuhan yang berkaitan

dengan jasmaniah, kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan untuk mempertahankan eksistensinya sebagai makhluk hidup misalnya kebutuhan akan makan, minum, seksual, dan udara segar.
b. Kebutuhan yang bersifat psikologik, yaitu kebutuhan yang berkaitan dengan segi

psikologis, misalnya kebutuhan rasa aman, rasa pasti, kasih sayang, harga diri dan aktualisasi diri.
c. Kebutuhan yang bersifat sosial, yaitu kebutuhan yang berkaitan dengan interaksi

sosial, kebutuhan akan berhubungan dengan orang lain, misalnya kebutuhan berteman dan kebutuhan bersaing.
d. Kebutuhan yang bersifat religi, yaitu kebutuhan-kebutuhan untuk berhubungan

dengan kekuatan-kekuatan yang ada di luar diri manusia. Kebutuan untuk berhubungan dengan sang Pencipta. Kebutuhan-kebutuhan tersebut di atas tidaklah berdiri sendiri-sendiri, melainkan saling berkait antara satu dengan yang lain. Setiap kebutuhan-kebutuhan tersebut tentu memerlukan pemenuhan. Berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan manusia tersebut di atas, maka keberadaan masyarakat adat berkaitan dengan kebutuhan fisologis (kebutuhan yang bersifat jasmaniah yakni kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan untuk

mempertahankan eksistensinya sebagai mahluk hidup), kebutuhan psikologis (kebutuhan rasa aman, rasa pasti, harga diri, dan aktualisasi diri), kebutuhan sosial (berteman dan bermasyarakat), kebutuhan religi (didasari oleh kepercayaan sesuai dengan ajaran agama atau religiusitas yang dianut oleh indvidu yang bersangkutan). Dari kebutuhan-kebutuhan inilah manusia sebagai individu juga membutuhkan individu lain untuk saling menguatkan dan saling memenuhi. Agar tidak terjebak dalam

18

konsep Homo homini lupus sebagaimana pernah diungkapkan oleh Thomas Hobbes maka masyarakat harus terikat dengan kesepakatan sosial ”social contract”. peraturan hukum, Dalam tingkat sederhana kontrak sosial ini merupakan basis lahirnya peraturan hukum yang bilamana dikaitkan dengan fungsi kenegaraan disebut konstitusi. Peraturan hukum dasar yang menajdi acuan warga negara dan negara dalam menentukan lahirnya suatu negara, pendirian lembaga-lembaga pemerintahan, hak dan keajiban warga negara dan pemerintahan Dalam konstitusi juga secara umum diatur tentang hak-hak dasar dan kebebasan dasar masyarakat. Oleh karena konstitusi, sebagai The Supreme Law of The Land, memuat ketentuan bersifat umum dan tidak rinci, maka setiap pasal memerlukan penjabaran lebih rinci dalam peraturan lebih rendah yaitu undang-undang. Dalam konteks inilah UU Perlindungan Hak-Hak Masyarakat Adat diperlukan terkait dengan amanah yang ada dalam pasal 18/b UUD 1945. Harus diakui dan tidak dapat diragukan lagi bahwa mayoritas penduduk di Negara Republik Indonesia terdiri dari masyarakat adat, yang tersebar di seluruh penjuru nusantara. Mereka sudah ada ribuan tahun jauh sebelum Negara RI lahir dan terdiri dari beraneka ragam suku, sub suku, bahasa, adat istiadat, serta hukum adat, yang berbeda satu sama lain disetiap komunitasnya. Mereka juga telah mempunyai dan menguasai wilayah-wilayah adat dengan nama yang berbeda-beda, misal: Mukim di Aceh, Nagari di Sumatera Barat, Wanua di Katu, Lembang di Toraja, dan lain sebagainya. Untuk mengatur hubungan timbal balik antar sesama warganya mereka telah mempunyai aturan berikut sanksi yang harus dipatuhi oleh segenap warganya. Secara struktural, masyarakat adat ini juga telah memiliki kelembagaan adat yang relatif mapan dan mampu mengontrol seluruh aspek kehidupan warga di dalam komunitasnya masing-masing, dengan nama dan gelar yang sangat beragam, misalnya: Mangku, Patih, Rangkai,

19

Patinggi, Demung, Kecik, Sei Batin, Singa, Timanggong, dan lain sebagainya. Dengan demikian, setiap komunitas masyarakat adat telah “berdaulat” atas wilayah adatnya masing-masing22. Dari pendekatan historis dan budaya Von Savigny dan Eugene Ehrlich, mengelompokkan fenomena hukum seperti itu sebagai Living Law (hukum yang hidup dalam masyarakat) yang merupakan fenomena dunia23. Sehingga bilamana kajian naskah akademik ini hanya mengacu pada kerangka teoritik paham positivisme, maka yang terjadi bukan harmonisasi, tetapi kontradiksi. Sebab, upaya untuk membuat kebijakan terhadap kajian hukum adat sesungguhnya tidak sejalan dengan karakter hukum adat yang tidak tertulis (unwritten law) bukankah upaya tersebut diandang sebagai pelecehan terhadap hukum adat24. Dalam konstruksi yang demikian itu, pemerintah kolonial, baik Belanda, Inggris dan Jepang yang pernah memerintah/menjajah negeri-negeri nusantara ini tidak pernah berani mengusik kedaulatan masyarakat adat di wilayah adatnya masing-masing. Bahkan pemerintah kolonial juga telah memberi otonomi seluas-luasnya kepada Masyarakat Adat25. Sehubungan dengan hal ini, Amrah Muslimin mengungkapkan bahwa sungguhpun Pemerintah Belanda terutama menjalankan dekonsentrasi akan tetapi dalam daerah kesatuan-kesatuan yang berdasarkan hukum adat, telah berjalan otonomi asli, yaitu : 1. Daerah-daerah Swapraja, yaitu daerah-daerah yang diperintah oleh raja-raja yang telah mengakui kedaulatan Pemerintah Belanda atas daerah-daerah mereka, baik
22

H. Nazarius, Bentuk dan Keberadaan Institusi Adat, Makalah disampaikan dalam Seminar yang diselenggarakan oleh ICRAF dalam rangka Konggres II AMAN II di Lombok, tanggal 21 September 2003. hlm. 1. Kajian Intensif tentang The Living Law Theory dapat dibaca dalam karya Roger Cotterrell, Introduction to Sociology of Law, Sydney Butterworth, 1973:115 24 Abdurrahman, Kertas Kerja Beberapa Pemikiran tentang Rancangan UU Hukum Adat. Seminar Sehari tentang Relevankah Hukum Adat Dituangkan dalam UU. Diselenggarakan oleh Bagian Hukum Adat, Magister Kenotariatan FH UGM, Selasa 19 Desember 2006 25 Ibid.
23

20

atas dasar kontrak panjang (Kasunanan Solo, Kasultanan Yogyakarta dan Deli), maupun atas dasar pernyataan pendek (Kasultanan Goa, Bone, dsb); 2. Desa, Marga, Huta, Kuria, Nagari dan sebagainya, yakni suatu kesatuan hukum adat yang mengurus rumah tangga sendiri berdasarkan hukum adat26. Persoalan otonomi komunitas masyarakat adat bukanlah persoalan baru. Kajian Parsudi Suparlan tentang Orang Sakai pada masa Kerajaan Siak Indrapura dan studi Selo Soemardjan tentang masyarakat desa di dalam Kesultanan Yogyakarta menunjukkan bahwa dalam era kesultanan dan kerajaan-kerajaan masa lampau persoalan otonomi komunitas masyarakat adat ini telah disadari oleh pemerintahan sultan dan raja-raja pada masa itu. Hal ini tentu berkaitan erat dengan soal keutuhan wilayah dan masyarakat dalam kesultanan dan kerajaan bersangkutan27. Menurut ajaran catur praja Van Vollenhoven, otonomi mencakup aktivitas membentuk perundangan sendiri (zelfwetgeving), melaksanakan sendiri (zelffuitvoering), melakukan peradilan sendiri (zelfrechtspraak), dan melakukan tugas kepolisian sendiri (zelf-politie)28. Dalam pemahaman catur praja inilah eksistensi teori otonomi bagi masyarakat adat dapat dilihat dari nilai-nilai yang terdapat dalam komunitas hidup mereka. Contohnya nilai yang masih tetap dianut oleh seluruh anggota komunitas Ngata Toro. Dalam komunitas Ngata Toro dikenal adanya lembaga Dan Hintuvi Ngata di Batak Sumatera Utara, yaitu kelembagaan tertinggi yang merepresentasikan seluruh kelompok kepentingan dalam Ngata dan oleh karena itu harus menaungi seluruh Ngata secara adil. Ukurannya adalah seluruh keputusan Hintuvu Libu Ngata menyangkut hajat hidup seluruh Ngata harus dilakukan dalam sebuah musyawarah bersama seluruh masyarakat
26

Amrah Muslimin, dalam B. Hestu Cipto Handoyo, Otonomi Daerah, Titik Berat Otonomi dan Urusan Rumah Tangga Daerah, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Yogyakarta, 1998, hlm. 45. Jopi Peranginangin, Mengukur Kekuatan Untuk Merebut Kedaulatan Masyarakat Adat, dalam http://www.ymp.or.id/content/view/221/1/. 28 Amrah Muslimin, Aspek-Aspek Hukum Otonomi Daerah, Alumni, Bandung, 1986, hlm. 6.
27

21

Ngata Toro. Karena itu pula dalam penggambaran oleh masyarakat Toro, Hintuvu Libu Ngata dilukiskan sebagai atap rumah dan seluruh isi rumah adalah struktur pelaksana keputusan yang telah diambil oleh Hintuvu Libu Ngata29. Jika pendapat ini kita letakkan dalam kontek masyarakat adat, maka prinsip otonomi bagi komunitas masyarakat ini dapat diterangkan. Pertama; membentuk perundangan sendiri. Komunitas Masyarakat adat ini dalam kenyataannya telah ribuan tahun mampu membentuk perundangan sendiri (hukum) atau aturan hidup bersama, walau pada umumnya bersifat tidak tertulis, yakni hukum adat. Ini pula menunjukkan kecenderungan bahwa norma-norma adat yang dapat dibuat dan disepakati tidak ada larangan untuk ditulis dan tampaknya sangat tergantung pada kemampuan masyarakat untuk mengaktualisasikan norma tersebut pada tahap lebih kongkrit. Terbentuknya hukum adat yang berlaku bagi suatu komunitas masyarakat adat tentunya melalui proses panjang, yakni dari kebiasaan yang berlaku di masyarakat adat dan dilakukan secara terus menerus. Kemudian dalam kondisi tertentu kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang ini meningkat menjadi tradisi, dan pada akhirnya tradisi tersebut mendapatkan muatan religious magis sehingga mengikat dan jika tidak dipatuhi akan terkena sanksi adat. Disinilah hukum adat bagi komunitas masyarakat adat menampakkan eksistensinya. Lebih tegas, ketika tidak ada pembedaan antara dimensi rasional, sekuler dengan dimensi rasa, rohaniah dan spiritual.30 Kedua; melaksanakan sendiri. Dalam pemahaman seperti ini, masyarakat adat melaksanakan seluruh aturan-aturan hidup bersama yang tidak tertulis dan dipatuhi sebagai sesuatu yang mengikat dalam rangka kehidupan bersama untuk mencapai ketertiban. Oleh karena kehidupan masyarakat adat itu masih lintas wilayah dan daerah
29 30

Jopi Peranginangin, Op.Cit. Retno Lukito, Hukum Sekuler dan Hukum Sakral, 2008

22

yang berdekatan maka kepatuhan dan kesadaran masyarakat akan peraturan-peraturan tersebut sangat tinggi. Proses internalisasi nilai-nilai dan norma dalam ranah waktu, tempat, dan anggota masyarakat berada dalam satu ikatan yang utuh. Ketiga; melakukan peradilan sendiri, nampak dari adanya peradilan adat yang pada umumnya mengejawantah dalam bentuk musyawarah (di Jawa sering disebut rembug desa) di dalam masyarakat adat jikalau terjadi pelanggaran-pelanggaran hukum adat, dan musyawarah ini dipimpin oleh pemuka-pemuka masyarakat adat yang bersangkutan. Selain di Jawa ada rembug desa, juga adat badamai di Kalimantan Selatan, rungun di Karo Batak, abadji atau madeceng di Bugis Makasar adalah bentuk-bentuk institusi adat yang masih berlaku. Keempat, melakukan tugas kepolisian sendiri. Di dalam pemahaman seperti ini, arti kepolisian tidak harus disamakan dengan Kepolisian yang dikenal selama ini. Kepolisian disini mengandung makna sebagai aparat adat yang memiliki tugas menjaga ketertiban dan keamanan komunitas masyarakat adat, salah satu contoh yang dapat dilihat sampai saat ini adalah keberadaan Pecalang di Bali atau Jogoboyo di Jawa. Dari deskripsi tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa masyarakat adat memang sejak semula sudah menerapkan teori otonomi. Dan penerapan teori otonom ini semakin nyata ketika komunitas masyarakat adat mempergunakan hak-hak komunitas dalam pengelolaan berbagai sumber daya alam seperti hak ulayat. Dengan demikian, jika otonomi daerah kemudian diterjemahkan dalam pengertian kemandirian, maka bagi masyarakat adat kemandirian ini telah tertanam dalam kearifan-kearifan lokal yang telah mereka miliki selama bertahun-tahun. Kendatipun demikian, Sebuah studi kolaboratif antara Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), ICRAF dan Forest Peoples Programme pada 2002 – 2003

23

menemukan juga beberapa persoalan penting dalam hal hubungan antara masyarakat adat dan Negara, khususnya dalam hal tanah dan sumber daya alam. Temuan-temuan dalam studi ini dapat dikelompokkan menjadi beberapa bagian, yaitu: (a) dalam soal pengakuan oleh Negara terhadap keberadaan masyarakat adat ditekankan perlunya pengakuan atas wilayah adat; (b) adanya self-governance bagi komunitas-komunitas masyarakat adat, dalam konteks perluasan Otonomi Daerah menjadi Otonomi Komunitas khususnya berkaitan dengan sistem pemerintahan dan peradilan; (c) Otonomi komunitas ini tetap berada dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia; (d) perlunya perluasan otonomi dalam beberapa sektor seperti pendidikan yang perlu memberi ruang yang lebih luas bagi penerapan sistem pendidikan lokal dengan segala muatan kearifan lokalnya31. Memperhatikan temuan-temuan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa konsep teori otonomi dalam prinsip hukum perlindungan hak-hak masyarakat adat, pada hakikatnya juga dapat merujuk pada pandangan Leopold Pospisil yang mengatakan bahwa hukum positif yang baik (dan karenanya efektif) adalah hukum yang sesuai dengan living law yang sebagai inner order dari masyarakat mencerminkan nilai-nilai yang hidup di dalamnya32. Eigen Eirlich mengawali tinjauannya tentang “The Living Law” hukum dari aspek sejarah dan kebudayaan masyarakat masa lalu mematuhi, aturanaturan, yang kebiasaan, tradisi dan daya ikat tanpa tertulis tetapi ia hidup dalam masyarakat.Penegasan ini menunjukkan bahwa pembentuk hukum (termasuk di dalamnya adalah UU) diwajibkan untuk senantiasa memandang hukum yang hidup di dalam masyarakat sebagai referensi utama. Hukum yang hidup dalam masyarakat tersebut, bersumber pada apa yang dikemukakan oleh Von Savigny filsuf aliran hukum historis dengan sebutan volksgeist (jiwa bangsa) yang dimanifestasikan dalam nilai-nilai yang berlaku dan dianut oleh

31 32

Jopi Peranginangin, ibid. Mochtar Kusumaatmadja, 2006, Konsep-konsep Hukum Dalam Pembangunan Hukum Nasional, Alumni, Bandung, hlm. 79.

24

masyarakat bangsa itu sendiri. Jika pandangan seperti ini diterapkan dalam konteks otonomi masyarakat adat di Indonesia, maka volksgeist itu jelas berbeda antara kelompok masyarakat adat yang satu dengan lainnya. Pencerminan volksgeist ini, nampak jelas dalam hukum adat sebagai perwujudan kristalisasi nilai-nilai kebudayaan (asli) penduduk Indonesia. Dengan demikian, seharusnya pembentukan sistem hukum Indonesia tentu bersumber dari “roh” otonomi masyarakat adat tersebut. Seiring dengan itu, pandangan Von Scholten menjadi relevan untuk dijadikan tolok ukur pemikiran hukum di Indonesia. Sebab, hukum bukan sekedar hasil karya logika manusia semata, tetapi juga ada unsurunsur ruhaniyah yang menentukan kepatuhan masyarakat terhadap hukum33. Dalam Keputusan Konggres Masyarakat Adat No. 2/KMAN/1999 tentang Deklarasi Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), antara lain menyatakan : 1. Adat adalah sesuatu yang bersifat luhur dan menjadi landasan kehidupan Masyarakat Adat yang utama; 2. Adat Nusantara ini sangat majemuk, karena itu tidak ada tempat bagi kebijakan negara yang berlaku seragam sifatnya; 3. Jauh sebelum negara berdiri, Masayarakat Adat di Nusantara telah terlebih dahulu mampu mengembangkan suatu sistem kehidupan sebagaimana yang diinginkan dan dipahami sendiri. Oleh sebab itu negara harus menghormati kadaulatan Masyarakat Adat ini. 4. Masyarakat Adat pada dasarnya terdiri dari mahluk manusia, oleh sebab itu warga Masyarakat Adat juga berhak atas kehidupan yang layak dan pantas menurut nilai-nilai sosial yang berlaku. Untuk itu seluruh tindakan negara yang keluar dari kepatutan kemanusiaan universal dan tidak sesuai dengan rasa keadilan yang dipahami oleh Masyarakat Adat harus segera diakhiri. 5. Atas dasar rasa kebersamaan senasib sepenanggungan, Masyarakat Adat Nusantara wajib untuk saling bahu membahu demi terwujudnya kehidupan Masyarakat Adat yang layak dan berdaulat.34 Keputusan Konggres tersebut di atas, menunjukkan bahwa teori otonomi yang dimaksud dalam konteks kehidupan Masyarakat Adat tidak lain adalah kedaulatan atau

33 34

Lihat Van Scholten dalam Ilmu Hukum, Karya Terjemahan Arief Sirdharta, Bandung Alumni, 1987. Rosnidar Sembiring, Kedudukan Hukum Adat Dalam Era Reformasi, dalam http://library.usu. ac.id/download/ fh/perdatarosnidar.pdf

25

kemandirian dalam mengelola suatu sistem kehidupan sebagaimana yang diinginkan dan dipahami sendiri oleh suatu komunitas Masyarakat Adat. Menurut penelusuran Azmi Siradjudin35, jika ditinjau dari realitas sosial-budaya yang ada di Indonesia, secara garis besar entitas masyarakat adat dapat dikelompokkan ke dalam 4 (empat) tipologi; Pertama, adalah kelompok masyarakat lokal yang masih kukuh berpegang pada prinsip “pertapa bumi” dengan sama sekali tidak mengubah cara hidup seperti adat bertani, berpakaian, pola konsumsi, dan lain-lainnya. Bahkan mereka tetap eksis dengan tidak berhubungan dengan pihak luar, dan mereka memilih menjaga kelestarian sumber daya alam dan lingkungannya dengan kearifan tradisonal mereka. Entitas kelompok pertama ini, bisa dijumpai seperti komunitas To Kajang (Kajang Dalam) di Bulukumba, dan Kanekes di Banten. Kedua, adalah kelompok masyarakat lokal yang masih ketat dalam memelihara dan menerapkan adat istiadat, tapi masih membuka ruang yang cukup bagi adanya hubungan “komersil” dengan pihak luar, kelompok seperti ini bisa dijumpai, umpamanya pada komunitas Kasepuhan Banten Kidul dan Suku Naga, kedua-duanya berada di Jawa Barat. Ketiga, entitas masyarakat adat yang hidup tergantung dari alam (hutan, sungai, gunung, laut, dan lain-lain), dan mengembangkan sistem pengelolaan sumberdaya alam yang unik, tetapi tidak mengembangkan adat yang ketat untuk perumahan maupun pemilihan jenis tanaman jika dibandingkan dengan masyarakat pada kelompok pertama dan kedua tadi. Komunitas masyarakat adat yang tergolong dalam tipologi ini, antara lain Dayak Penan di Kalimantan, Pakava dan Lindu di Sulawesi Tengah, Dani dan Deponsoro di Papua Barat, Krui di Lampung, dan Haruku di Maluku.

35

Azmi Siradjudin, Op.Cit.

26

Keempat, entitas masyarakat adat yang sudah tercerabut dari tatanan pengelolaan sumberdaya alam yang “asli” sebagai akibat dari penjajahan yang telah berkembang ratusan tahun. Masuk dalam kategori ini adalah Melayu Deli di Sumatra Utara. Dalam konteks ini masyarakat Dayak di dataran pulau Kalimantan khususnya Kalimantan Barat merupakan contoh yang relevan tentang tatanan kehidupan masyarakt suku Dayak yang harmonis antara lain karena mereka mengandalkan pola hidup mereka pada hutan, air dan sungai. Sehingga pemikiran mereka masih menggunakan pola peladang yang sebagian masih berpindah-pindah. Berdasarkan 4 (tipologi) entitas masyarakat adat tersebut di atas, maka substansi (isi) otonomi bagi masing-masing entitas masyarakat adat tersebut meliputi otonomi dalam bidang pengelolaan dan pelestarian lingkungannya dengan kearifan lokal, memelihara dan menerapkan adat istiadat secara ketat, dan pengembangan sistem pengelolaan sumber daya alam. Dengan demikian, walaupun ditinjau dari tipologi Masyarakat Adat tersebut dijumpai adanya perbedaan antara satu dengan yang lain, namun tetap saja dapat ditarik kesimpulan bahwa otonomi masyarakat adat ini tidak lain adalah kemandirian komunitas masyarakat adat dalam mengatur dan mengurus berbagai aspek kehidupan sosial kemasyarakatan yang sudah sejak lama melekat dan membeku yang keberadaannya tidak atas dasar pemberian (toekennen) tetapi sesuatu yang dibiarkan tumbuh (toelaten) atau diberi pengakuan (erkennen)36. Sementara itu Masyarakat Adat Indonesia yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) memberikan definisi Masyarakat Adat sebagai komunitas yang memiliki asal-usul leluhur secara turun temurun yang hidup di wilayah geografis tertentu, serta memiliki sistem nilai, ideologi ekonomi, politik, budaya dan
36

Bandingkan dengan Bagir Manan, Suatu Kaji Ulang Atas Undang-Undang No. 5 Tahun 1974, Majalah Pro Justitia No. 2 Tahun IX April 1991, hlm. 18.

27

sosial yang khas37. Sedangkan menurut ahli hukum adat Ter Haar, masyarakat hukum adat merupakan masyarakat yang memiliki kesamaan wilayah (territorial), keturunan (geneologis), serta wilayah dan keturunan (territorial-geneologis), sehingga terdapat keragaman bentuk masyarakat adat dari suatu tempat ke tempat lain38. Berdasarkan pengertian tersebut, maka dapat ditarik pemahaman bahwa karakteristik otonomi yang berada dalam lingkup Masyarakat Adat tidak lain menyangkut kesamaan sistem nilai yang di dasarkan pada aspek kewilayahan maupun keturunan, sehingga mengakibatkan substansi dari otonomi masyarakat adat tersebut berbeda-beda antara satu dengan lainnya. Lahirnya UU PHMA, selain beruapaya untuk memberikan kepatuhan hukum atas perlindungan kelangsungannya juga berupaya untuk memelihara kebhinekaannya di tingkat lokal.

Akhir-akhir ini kata adat dan masyarakat adat sering dikaitkan dengan isu konflik sosial baik yang terjadi antar sesama warga (horizontal conflict) atau dengan pengusaha dan penguasa daerah (vertical conflict). Konflik cenderung semakin menguat ketika Masyarakat Hukum Adat (MHA) tergusur dari tanah-tanah ulayat, sebagai hak milik kolektif mereka. Situasi konflik yang derita MHA ini menjadi menarik oleh karena hukum yang sejajar dengan hukum agama (Islam), sebagai sumber hukum nasional. Tetapi perlakuan yang disediakan pemerintah pusat tidak sama sebagaimana cabang hukum agama. Hukum adat yang sejajar dengan hukum Islam dan hukum warisan Belanda yang berlaku di Indonesia, terakomodir dalam hukum nasional. Menurut pandangan Karl Von Verbach, hukum adat merupakan jiwa bangsa atau volkgeist, dan merupakan bagian dari perkembangan sejarah dan karakter budaya suatu masyarakat.
37 38

http://www.aphi-net.com/konflik_lisman_v115/pdf/_300masy-FINALE.pdf Ibid.

28

Seminar nasional yang diselenggarakan BPHN dan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada pada tahun 1997, menyimpulkan bahwa hukum adat adalah hukum Indonesia asli Indonesia yang yang tidak tertulis dalam bentuk perundang-undangan Republik disana-sini mengandung unsur agama39. Iman Sudiyat,

mendefinisikan keberadaan hukum adat yang bersifat kongkrit tersebut dibuktikan dengan peraturan-peraturan desa, surat-surat perintah Raja, adalah keseluruhan

peraturan yang menjelma dalam keputusan-keputusan para Fungsionaris Hukum (dalam arti luas) yang mempunyai wibawa (macht and authority) serta pengaruh yang dalam pelaksanaanya berlaku serta merta (spontan) dan dipatuhi sepenuh hati.40 Namun perkembangan hukum adat tidak seiring dengan nasib cabang hukum lainnya. Di berbagai tempat, nasib masyarakat adat terbukti telah terpinggirkan (marginalized). Hal ini bukan karena tidak adanya pengakuan formal dari segi UUD 1945 dan UU Sektoral lainnya, melainkan justru karena tidak adanya pedoman utama terkait prosedur dan mekanisme penghormatan dan pengakuan MHA secara lebih operasional di lapangan. Pada saat ini, konflik sosial timbul dimana masyarakat adat yang memiliki tanah-tanah ulayat telah terampas. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah, telah mengeluarkan Izin Usaha Pertambangan (IUP) kepada investor, namun kebijakan tersebut telah menjadi pemicu timbulnya konflik tersebut. Investor yang telah memilik izin usaha pertambangan (IUP), terkadang umumnya akomodatif dengan nilai-nilai masyarakat setempat. Dalam situasi tersebut, masyarakat adat seringkali tersinggung ketika pembukaan lahan tanpa memberitahu masyarakat adat, sikap investor kurang perduli dengan nilai-nilai masyarakat adat atau kearifan lokal, karena investor telah memiliki IUP dan bukti-bukti formal
39 40

Hilman Hadikusumah, 2003, Pengantar Hukum Adat Sudiyat Iman 2000, Asas-Asas Hukum Adat Bekal Pengantar, Yogyakarta, Liberty, hlm : 34.

29

lainnya tetapi juga tidak adanya koordinasi antara investor, pemerintah daerah dengan masyarakat adat di lapangan. Tidak sedikit, tanah-tanah adat yang tumpang tindih dengan tanah perkebunan dan kehutanan yang berakhir dengan konflik.. Mulai dari kasus Freeport di Papua, kasus konflik tanah di Mesuji termasuk protes masyarakat di Pelabuhan Sape di Bima Nusa Tenggara Barat sekitar Januari 2012, ada kaitannya dengan penguasaan tanah adat dan lembaga adat. Sebagai suatu hasil penelitian kepustakaan (library research) tulisan ini memfokuskan pada status MHA dan model pengakuan serta penghormatannya sebagaimana dilakukan di Australia dan New Zealand Untuk menjawab persoalan tersebut, perlu dirumuskan persoalan sebagai

berikut. Apakah keberadaan MHA mendapatkan perlindungan dalam hukum internasional,HAM, dan UUD 1945 di Indonesia? Kedua, mengapa perlindungan terhadap MHA dan hak-hak tradisionalnya tidak efektif? Ketiga, bagaimana pengalaman praktis perlindungan MHA di New Zealand dan Australia dapat dijadikan model bagi pemerintah Indonesia? Tulisan ini diasumsikan bahwa MHA tidak pernah akan dapat berfungsi efektif sebagai subyek hukum pemegang hak dan kewajiban, jika jaminan konstitusional dan yuridis formal tidak di dukung oleh mekanisme dan prosedur dilakukan oleh institusi yang berwenang dan legitimit dalam mengeluarkan putusan tentang status hukum MHA.

2. 2. MHA Dalam Hukum Nasional Keberadaan MHA sangat bergantung pada pemenuhan unsur-unsur dalam hukum adat mencakup adanya wilayah adat, penduduk yang memiliki hubungan

30

kekerabatan (geologis), adanya pemimpin, kepala adat, atau aturan tidak tertulis yang di patuhi, dan tersedia forum penyelesaian sengketa adat. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah hak-hak Masyarakat Hukum Adat adalah (1) kewenangan atas wilayah

masyarakat hukum adat, dan hak milik atas tanah yang berasal dari hak adat dibuktikan melalui (a) secara tertulis, surat tanah, surat waris, peta, laporan sejarah, dokumen serah terima, (b) alat pembuktian lisan (pengakuan masyarakat secara lisan tentang kewenangan atas wilayah adat tertentu/kepala adat, (c) alat pembuktian secara fisik (kuburan nenek moyang, teras sering bekas usaha tani, bekas perumahan, kebun buah-buahan, tumbuhan exotic hasil budidaya, peninggalan sejarah dunia, gerabah dan prasasti. Sedangkan Kewenangan Kelembagaan Adat dilakukan dengan beberapa kemungkinan (a) pengakuan masyarakat adat oleh masyarakat adat itu sendiri (b) pengakuan keberadaan masyarakat hukum adat oleh lembaga yudikatif berdasarkan berdasarkan keputusan pengadilan (c) pengakuan keberadaan masyarakat adat oleh suatu Dewan Masyarakat Adat yang dipilih oleh Masyarakat Adat. (3) Kewenangan atas pola pengelolaan sumber daya hutan didasarkan pada pengetahuan asli yang ada dan tumbuh di masyarakat dengan segala norma-norma yang mengatur batasanbatasan dan sanksi. Keberadaan MHA tidak luput dari perlindungan hukum yang selalu berkembang sesuai dengan konstitusi yang hidup (living constitution) dalam masyarakat. Suatu konstitusi atau hukum dasar yang benar-benar hidup dalam masyarakat tidak hanya terdiri dari naskah yang tertulis saja, akan tetapi juga meliputi

31

konvensi-konvensi. Undang-undang Dasar 1945 menganut paham ini41 dan selalu dapat mengikuti perkembangan zaman. Karena UUD tersebut selain dapat dilakukan perubahan, revisi juga penyempurnaan sebagaimana kedudukan dan fungsi hukum adat dengan jelas diakui keberadaan dalam Hukum Dasar di Indonesia sebagai hukum dasar tidak tertulis. Sadar atau tidak, Indonesia mengakui adanya sistem hukum adat, sistem hukum Islam dan sistem hukum warisan Belanda, menjadi sumber hukum nasional. Keanekaragaman hukum (legal pluralism), secara substantif pluralisme hukum secara umum didefinisikan sebagai suatu situasi dimana dua atau lebih sistem hukum bekerja secara berdampingan dalam suatu bidang kehidupan sosial yang sama. Keberadaan dua atau lebih sistem pengendalian sosial dalam satu bidang kehidupan sosial, menjadikan adanya sistem hukum berinteraksi dalam satu kehidupan sosial. Sejak tahun 1998, semangat era reformasi telah berdampak positif terhadap posisi tawar Masyarakat adat. Karena itu, Konggres Asosiasi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) tidak setuju untuk menyamakan masyarakat Hukum Adat sebagai masyarakat terasing atau penebang liar. Menurut mereka masyarakat adat adalah kelompok masyarakat yang memiliki asal usul leluhur (secara turun temurun) di wilayah geografis tertentu, serta memiliki sistem nilai, ideologi, ekonomi, politik, budaya, sosial, dan wilayah sendiri (AMAN 1999)42. Kecenderungan masyarakat adat sebagaimana tertuang dalam resolusi KMN, lahir sebagai adanya perubahanperubahan besar dalam sistem kekuasaan pemerintahan daerah yang desentralistik.

41

42

Living constitution dalam UUD 1945, dapat dilihat dalam tulisan Amir Siregar, diakses dari http://amisiregar.multiply.com/journal/item/29/Politik_Hukum Acciaioli Gregory, 2001, Memberdayakan kembali Kesenian Totua, Revitalisasi Adat Masyarakat To Lindu di Sulawesi Tengah. Antroplogi Indonesia, hlm : 61.

32

Tuntutan gerakan masyarakat adat, status dan kewenangan telah jelas tertuang dalam Pasal 18 B ayat (2) dan 28 I ayat (3). Pasal 18 B ayat (2) UUD 1945 menyatakan secara jelas “Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionilnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam Undang-undang”. Dan di pihak lain, untuk kepentingan ke depan, pengakuan dan penghormatan terhadap otonomi komunitas (desa) dimaksudkan untuk menjawab masa depan terutama merespon proses globalisasi, yang ditandai oleh proses liberalisasi (informasi, ekonomi, teknologi, budaya, dan lain-lain) dan munculnya pemainpemain ekonomi dalam skala global. Definisi Pasal 18 B ayat (2) secara lebih lengkap dikemukakan bahwa masyarakat hukum adat adalah (1) sekumpulan warga memiliki kesamaan leluhur (geneologis), (2) tinggal di suatu tempat (geografis), (3) memiliki kesamaan tujuan hidup untuk memelihara dan melestarikan nilai-nilai dan norma-norma, (4) diberlakukan sistem hukum adat yang dipatuhi dan mengikat (5) dimpimpin oleh kepala-kepala adat (6) tersedianya tempat dimana administrasi kekuasaan dapat

dikoordinasikan (7) tersedia lembaga-lembaga penyelesaian sengketa baik antara masyarakat hukum adat sesama suku maupun sesama suku berbeda

kewarganegaraan.43 Adapun Pasal 28 I ayat (3) menegaskan bahwa Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban.

43

Jawahir Thontowi, Hukum Adat sebagai Living Law dalam Masyarakat Indonesia, Makalah disampaikan dalam Seminar Sehari, Bagian Hukum Adat dan Program Notariat FH UGM, Yogyakarta, 19 Desember 2006.

33

Lebih dari sepuluh (10) UU nasional bersifat sektoral telah memberikan jaminan akan pengakuan terhadap masyarakat adat dan hak-hak tradisionalnya,

termasuk di dalamnya hak ulayat tanah, hak ulayat air, hak ulayat hutan, hak ulayat atas temat mengembala, dan hak-hak tradisional lainnya. Adapun UU tersebut adalah (1). UU Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria, (2). UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, (3). UU No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, (4). UU No 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, (5). UU No 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, (6). UU No 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, dan (7). UU No 24 Tahun 2003 tentang MK, (8). UU No 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman, (9). UU No 14 Tahun 1985 tentang MA RI, dan (10). UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Hampir kesemua UU Sektoral memberikan perlindungan bersifat “copy paste” dari Pasal 18B ayat (2) UUD 1945. Tampak berbeda, jaminan tersebut adalah yang termaktub dalam Pasal 63 ayat (1), UU No.32. tahun 2009 tentang Perlindungan Lingkungan Hidup. “Pemerintah bertugas dan berwenang menetapkan kebijakan mengenai tata cara pengakuan keberadaan masyarakat hukum adat, kearifan lokal, dan hak masyarakat hukum adat yang terkait dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, dan diikuti Pasal 63 ayat (2), untuk tingkat proinsi, ayat (3) untuk tingkat pemerintah kabupaten/kota44.

2. 3. Kelemahan MHA di Tingkat Nasional Sepanjang perundang-undangan yang mengatur tentang masyarakat hukum adat belum ada ataupun belum jelas diatur dalam UU, maka perlu disiapkan peraturan
44

Purba Bantu. 2011:3, Pengakuan dan Perlindungan Hak-hak Konstitusional Masyarakat Hukum Adat Suku Sakai, Desertasi Doktor Pasca Sarjana, FH UII.

34

daerah yang dapat menyelesaikan permasalahan hak-hak Masyarakat Adat di wilayahnya secara sementara. Adapun peraturan daerah yang harus dipersiapkan bersifat pengakuan, pembenaran atau penerimaan sehingga peran yang selama ini dijalankan oleh Departemen Kehutanan harus dikosongkan dari wilayah masyarakat adat. Begitu pula peraturan provinsi dan kabupaten tersebut harus dapat memberikan hak pemajuan kepada msayarakat adat sehingga masyarakat tidak ”dikonservasikan” tetapi tetap diterima sebagai masyarakat adat yang mempunyai hak untuk menentukan arah pemajuan hidupnya secara dinamis. Asep Yunan Firdaus, justru pesimis untuk melihat keberadayaan masyarakat hukum adat. Disatu pihak, dia mengakui bahwa pemerintah telah mengeluarkan berbagai peraturan perundang-undangan yang mengakui keberadaan masyarakat hukum adat dan hutan adat, tapi tidak merumuskan syarat dan tata cara yang singkat dan sederhana untuk keperluan pengakuan keberadaan hak masyarakat lokal. UU tersebut hanyalah mempertahankan ketentuan-ketentuan yang berlaku sebelumnya. Apabila diminta untuk mengakui keberdaan hutan adat, Departemen Kehutanan selalu berdalih bahwa proses harus didahului oleh pengakuan keberadaan masyarakat hukum adat oleh Pemda. Melihat model pengaturan dalam perundang-undangan dalam dampak-dampak penerapan peraturan pada sektor kehutanan, nampak jelas bahwa sebenarnya keberadaan masyarakat (hukum) adat serta hak ulayat yang dimiliknya sudah dikebiri45. Pelemahan status dan fungsi MHA tersebut tidak lepas dari persyaratan yang diamanahkan oleh Pasal 18 B (1) UUD 1945, bahwa pengakuan dan penghormatan terhadap MHA dapat dilakukan jika masih berlaku, tidak bertentangan dengan nilai-

45

Firdaus Asep Yunan. ’Hak-Hak Masyarakat Adat’ (Indegeneous People’s Rights) 2007

35

nilai NKRI. Hingga kini, upaya pemerintah pusat untuk mengatur perlindungan MHA melalui UU tidak pernah ada. Sekiranya UU sektoral memberikan jaminan, itupun sebatas peraturan hukum dalam teks semata. Rikardo Simarmata justru melihat berbagai faktor penghambat pengimplementasian dari adanya pengakuan

perlindungan hak-hak dasar masyarakat adat. (1), menonjolnya simbolisasi terutama dalam kancah politik, lembaga adat, upacara, pakaian, dan gelar adat mendominasi simbol masyarakat adat. (2) penyelesaian konflik atas tuntutan pengembalian tanahtanah adat, tidak bisa dilakukan karena kelompok yang menuntut belum dapat

ditetapkan sebagai masyarakat hukum adat, (3). Pemda tidak melakukan pengukuhan tanah ulayat dan masyarakat hukum adat karena tidak mengalokasikan anggaran tersendiri. Peniadaan anggaran ini memang disengaja karena takut resiko dikritik, dipersoalkan bahkan digugat oleh kelompok masyarakat, (4) bagi sebagian pemerintah, pengakuan dan perlindungan masyarakat adat dikonotasikan sebagai gerakan pemisahan diri46. Namun, sayang kesemua UU tersebut belum secara operasional memberikan jaminan bagi kelangsungan dan pelestarian MHA di berbagai daerah. Menurut Greg Acciaioli pengaturan dan penghormatan MHA dalam berbagai UU tidak pernah terealisasi secara konkret. Selain tidak ada peraturan pelaksana seperti peraturan pemerintah, juga pedoman dan mekanisme pengakuan MHA tidak pernah dibuat. Kecenderungan tersebut membiarkan MHA tanpa prosedur dan mekanisme yang jelas adalah upaya membiarkan MHA tidak memiliki kedaulatan yang semestinya.47

46

Ricardo Simarmata. Perlindungan Hak-Hak Dasar Masyarakat Adat Dalam Per-UU Nasional: Catatan Kritis. Dosen Pengajar HAM di Indonesia. PUSHAM UII, kerjasama dengan Norsk Senter for Menneskerettigehetr Norwegian Centre for Human Rights. Yogyakarta, 21-24 Agustus 2007 47 Acciaioli Gregory L. Loc.Cit, hlm : 61.

36

Nasib masyarakat hukum adat sampai saat ini belum mengalami perubahan signifikan. Pertama, pengakuan dan penghormatan terhadap masyarakat hukum adat sebagaimana diatur dalam Pasal 18B ayat (2) dan 28I ayat (3) UUD 1945 belum dapat diimplementasikan, dan karena itu MHA belum memperoleh manfaat nyata. Kedudukan MHA subyek hukum (legal standing) bukan saja tidak memiliki kewenangan untuk menguasai sesuatu hak milik, tetapi juga mereka tidak dapat berperkara di pengadilan. Padahal, UU No 24 tahun 2002 tentang Mahkamah Konstitusi memberikan peluang pada MHA untuk dapat berperkara di Mahkamah Konstitusi RI. Dalam beberapa kasus, MHA mengajukan pengujian materiel (judicial review) UU terhadap UUD 1945 pada MK RI. Namun tidak satupun ada yang diterima usulan uji materiel mereka). Bukan saja unsur-unsur hukum adat antara yang satu dengan yang lain tidak mudah dipersatukan, juga belum ditemukan metode penentuan MHA apakah secara komulatif seluruh syarat wajib dipenuhi atau wajib alternatif, hanya sebagian syarat yang terpenuhi. Mahfud MD, Ketua Mahkamah Konstitusi RI mengatakan bahwa sukarnya menentukan MHA sebagai legal standing karena tidak adanya satu kesatuan pemahaman karena sifat hukum adat, disebabkan tiap daerah berbeda-beda. Jika dalam suatu kasus, misalnya, unsur-unsur MHA dipandang telah memliki syarat yang ditentukan, belum tentu syarat-syarat yang telah dibuat tersebut memiliki kecocokan dengan kasus yang ada di tempat lain. Sampai saat ini, menentukan syarat-syarat MHA, sebagai subyek hukum masih mengalami kesulitan. Peluang lahirnya 109 Perda-Perda Adat di berbagai daerah di Indonesia memang terkesan menggembirakan mengingat semangat otonomi daerah tidak sekedar berkaitan dengan peningkatan peran pemerintahan daerah dalam aspek politik

37

dan ekonomi atau keuangan daerah. Tetapi juga berimbas pada lahirnya PeraturanPeraturan Daerah, baik secara umum maupun secara khusus yang berbasis hukum adat. Dalam beberapa kasus Perda Adat tentang Kedudukan Masyarakat Baduy di Kecamatan Cikeusik, kabupaten Pandeglang Provinsi Banten, dan Perda tentang Tanah Toa, di Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan juga terlindungi secara efektif. (Terdapat Perda-Perda Adat yang dapat berlaku efektif di berbagai daerah masingmasing, namun kondisi demikian ini hanya berlaku terbatas pada wilayah-wilayah yang luas tanah dan jumlah pendudukanya tidak begiktu banyak. Namun, Perda-Perda Adat yang tumbuh berkembang di sekitar 27 Provinsi bukan sekedar tidak dapat berfungsi efektif memberikan kepuasan bagi upaya mensejahterakan masyarakat daerah, tetapi justru Perda-Perda Adat kontra-produktif. Tidak sedikit dari sebagian masyarakat adat menolak penggunaan tanah-tanah yang telah diberikan izin Kuasa Pertambangan (KP) dari Menteri Kehutanan. Konflik antara masyarakat adat dengan pemerintah daerah di Provinsi Lampung, akibat para investor yang telah memiliki KP tidak dapat menggunakan karena mendapatkan hadangan dari sebagian oknum masyarakat. Dalam suatu diskusi di bulan Ramadhan 6 Jumat, Agustus 2011 di Universitas Negeri Lampung, Bandar Lampung, Bapak Gubernur menyampaikan persoalan pelik agar para akademisi dapat membantu memecahkan persoalan atas klaim beberapa kepala adat yang menghambat penggunaan dan pemanfaatan lahan untuk kepentingan usaha pertambangan batubara dan lainnya. Adapun beberapa faktor yang menghambat aktualisasi MHA antara lain sebagai berikut. Pertama, Aktualisasi bukan sekedar membangkitkan sesuatu nilai atau norma adat yang sudah usang dan kuno, tapi lebih pada upaya untuk

38

mengembalikan menyegarkan kembali peran dan fungsi masyarakat hukum adat ke dalam jati dirinya, dengan mencegah kepunahan nilai-nilai adat melalui upaya formalisasi nilai-nilai dan norma-norma adat ke dalam peraturan hukum tertulis sebatas persoalan pengakuan dan penghormatan.48 Kedua, reaktualisasi dalam bentuk pengakuan diberikan oleh pemerintah pusat secara konkrit. Dengan konsistensi dan komitmen untuk menindak lanjuti teks yuridis ke dalam upaya mengakomodir adanya mutual simbiosis antara kepentingan atau manfaat negara terhadap masyarakat hukum adat, sebagai basis lahirnya negarabangsa Indonesia. Sedangkan bentuk penghormatan terhadap masyarakat hukum adat wajib dianugrahkan sebagaimana jaminan negara untuk tidak memperlakukan

masyarakat hukum adat diskriminatif, melainkan patuh pada asas equality before the law, meskipun masyarakat hukum adat tergolong minoritas. Untuk memberdayakan MHA, tidak lain harus dilakukan identifikasi terhadap berbagai faktor filosofis, sosiologis, historis, politis, dan juga yuridis yang dapat menetapkan MHA sebagai subyek hukum (legal standing) yang dapat menguasai dan melakukan tindakan hukum di pengadilan dan beracara di MK RI. Upaya untuk mereaktulisasikan MHA telah mendapatkan dukungan dari masyarakat internasional melalui kebijakan meratifikasi Konvensi internasional ke dalam sistem hukum nasionalnya dari tingkat Hukum Dasar. Sehingga negara melalui UU diwajibkan mengakomodir perlindungan hak-hak masyarakat adat. Sebagaimana halnya, tanah Hak Ulayat Nagari di Minangkabau49, dan sejenisnya di tempat lain.

48

Acciaioli Gregory Minako Sakai, Regional Responses To Resrgence of Adat Movements in Indonesia. In Beyond Jakarta: Regional Autonomy and Local Societies in Indonesia. Minako Sakai (ed), Crawford House Publishing. Adelaide. 2002 Akmal, 2007, Eksistensi, Hak dan Dasar Hukum Masyarakat Hukum Adat Provinsi Sumatra Barat., dalam Mengurai Kompleksitas Hak Asasi Manusia (Kajian Multi-Perspektif). Kata Pengantar Artidjo Alkostar, Yogyakarta, Penerbit Pusham UII, hlm: 446.

49

39

Namun, dorongan tersebut belum cukup memadai untuk mengaktualisasikan MHA jika prosedur dan mekanisme pengakuan dan penghormatan tidak legitimit. Pertumbuhan Perda-Perda Adat kontroversial sebagai terobosan hukumdan sejenisnya tidak dapat dicegah. Adanya kekosongan peraturan perundang-undangan di tingkat pusat, berakibat pengakuan dan penghormatan terhadap MHA dalam tingkat implementasi sangat lemah. Sehingga mendorong hadirnya nilai-nilai demokrasi (partisipasi membuat perda adat) di tingkat daerah. Namun, karena kurangnya koordinasi dan sinkronisasi, perda-perda yang lahir menimbulkan masalah baru. Perda-Perda Bermasalah, baik karena kaburnya muatan materinya Perda atau karena persoalan prosedur dan mekanisme yang tidak dipatuhi secara tepat dan benar50. Keberadaan masyarakat hukum adat ini dapat dinilai sangat strategis. Untuk meningkatkan pemberdayaannya, perlu kiranya diadakan inventarisasi secara nasional. Meskipun UU Pemerintah daerah telah mengakui penentuan masyarakat hukum adat tidak terlalu tepat memberikan kewenangan itu kepada pemerintah daerah tanpa pedoman substantif yang dapat dijadikan pegangan menyeluruh. Jika mati hidup suatu masyarakat hukum adat sepenuhnya diserahkan kepada regulasi setingkat kabupaten dan kota tanpa rambu-rambu yang jelas, tentulah cukup besar resikonya. Tanpa adanya pedoman substantif yang menyeluruh dapat terjadi diskriminasi terhadap masyarakat adat hanya karena pembedaan penafsrian yang dilakukan pemda51.

50

Zuhroh Siti dan Eko Prasojo, 2010, Kisruh Peraturan Daerah: Mengurai Masalah dan Solusinya . Ombak, Jogyakarta dan The Habibie Center. 51 Asshiddiqie Jimly, Op.Cit, hlm : 821.

40

BAB III PROSEDUR DAN MEKANISME FORMALISASI PERDA ADAT

Dalam bab ini akan dikemukakan tentang prosedur mekanisme formalisasi peraturan daerah berdasarkan hukum adat. Adapun maksud dan tujuan dari bab ini adalah memberikan jawaban atas perumusan masalah ketiga, yaitu bagaimana formalisasi hukum adat menjadi suatu peraturan daerah yang memiliki status sederajat dengan sistem hukum nasional, hukum Islam dan hukum warisan Belanda. Dari 109 Perda Adat tersebut, maka pembahasannya dikelompokan menjadi (1) Hak inisiatif perda adat; (2) Jenis-jenis perda adat; (3) Perda adat tanah ulayat dan hak-hak adat; (4) Perda lembaga adat; (5) Perda pemberdayaan adat, dan (7) Perda adat penanganan sengketa.

3. 1. Prosedur, Mekanisme dan Pengesahan Perda Adat Sejak era reformasi bergulir pada tahun 1998, banyak peraturan perundangundangan yang lahir untuk mengakui keberadaan dan hak-hak Masyarakat Hukum Adat (MHA) dan pengaturan terhadap hak-hak tradisional adat. Pengaturan dan pengakuan terhadap hukum adat tersebut, tertuang dalam UU Kehutanan, UU Pertambangan, UU SDA dan UU Perkebunan. Namun, prosedur dan mekanisme pengakuan sehingga masyarakat adat dapat berfungsi dan memainkan peranan atas hak-hak tradisionalnya, tampaknya belum ada. Sebagaimana halnya UU tentang Perlindungan Masyarakat Adat barulah sekedar wacana. Namun, diberbagai daerah terbukti telah berkembang pengaturan tentang Peraturan daerah tentang adat.

41

Sejak tahun 1999 sampai dengan 2011, terdapat sekitar 109 perda adat. Keterlibatan penuh dari masyarakat dari saat proses perumusan/perancangan hingga tahap pengesahan dan implementasi suatu peraturan daerah terkait pengakuan hukum atas hak-hak tradisional masyarakat adat menjadi sangat menarik. Dalam pembentukan perda adat, komunitas MHA diberi kesempatan dan terlibat langsung serta memberikan pengawasan, tidak sekedar dalam bentuk sosialisasi maupun public hearing, tetapi juga secara aktif dilibatkan dalam menentukan muatan materinya. Untuk sampai pada tujuan pembuatan perda adat, dibutuhkan kebersamaan dan kekuatan masyarakat yang kuat nan solid untuk senantiasa mengawal kebijakankebijakan. termasuk implementasi pengakuan hukum hak-hak MHA yang dimaksudkan sebagai upaya meredam dinamika negatif persekutuan antara Negara dengan Pengusaha. Pengakuan dan penghormatan terhadap keberadaan Masyarakat Hukum Adat, tidak dapat dilepaskan dari pengaturan hukumnya. Polemik mengenai keberadaan MHA ditenggarai bersumber karena tidak adanya produk hukum atau peraturan perundangan yang mengatur mengenai keberadaan MHA tersebut. Produk hukum perundang-undangan yang mengatur mengenai adat ini, hanya tampak sebagai minoritas dari sistem hukum yang tamak dan tidak berpihak kepada MHA. Atau dalam kata lain, keberadaan masyarakat adat sebagai masyarakat asli suatu daerah menjadi terpinggirkan dan semakin tergerus keberadaannya. Pengaturan tentang MHA telah tertuang dalam Pasal 18B ayat (2), pengakuan bahwa negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya dan juga dalam BAB XA tentang Hak Azasi Manusia pada pasal 28I ayat (3) tentang pengakuan identitas budaya dan hak masyarakat

42

tradisional. Pasal-pasal tersebut tampak adanya pengakuan atas keberadaan Masyarakat Adat dan tatanan adatnya dan memberikan peluang bahwa sangat dimungkinkan pengaturannya melalui undang-undang. Namun, dalam tingkat implementasinya belum tampak adanya kemauan politik dari Pemerintah Pusat untuk memperjuangkan eksistensinya, MHA memerlukan perangkat hukum atau produk perundangan untuk menjadi bukti nyata pengakuan hak-hak tradisionalnya. Sebagai pengesahannya, perwujudan dari pengakuan dan penghormatan terhadap keberadaan MHA di Indonesia, dibentuklah Peraturan Daerah Adat, yang secara khusus mengatur mengenai kebiasaan, tradisi, hak-hak adat, serta kebudayaan adat secara lokal dari setiap MHA di Indonesia. Di tingkat lapangan, proses pembuatan Peraturan Daerah Adat tersebut, hampir kebanyakan menemukan kendala. Ketidakpedulian wakil rakyat untuk menyuarakan hak dan kepentingan masyarakat adat adalah seperti dalam proses pembuatan Peraturan Daerah tentang Hak Ulayat Kabupaten Sintang. DPRD setempat berargumentasi bahwa ketiadaan dana menjadi alasan, sebagaimana halnya keraguan akan kepastian hukum setelah adanya perda. Hak-hak masyarakat atas tanah yang didasarkan atas hak ulayat belum ada jaminan kepastian hukum dan jaminan keadilan. Hal ini menjadi berbahaya, mengingat Perda tersebut adalah kebutuhan kekinian52. Diakui bahwa perkembangan masyarakat desa hutan dewasa ini sebagai dampak interaksi sosial, ekonomi dan budaya dengan berbagai pihak; juga berakibat pada perubahan tata nilai dan perilaku, dimana sebagian diantaranya dirasa tidak lagi mencerminkan tata nilai dan perilaku masyarakat hukum adat. Akibat perubahan
52

Victor Emanuel. Akademisi : Pemerintah Tidak Serius Garap Perda Ulayat, diakses dari http://www.kalimantannews.com/berita.php?idb=11149

43

status masyarakat adat juga dapat menimbulkan berbagai persoalan yang bermuara pada terjadinya konflik-konflik sosial, baik konflik horisontal maupun konflik vertikal. Karena itu, Forum diskusi sepakat untuk mendesak pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah agar segera mengeluarkan peraturan pelaksana yang mengatur tentang kepastian dan kejelasan keberadaan masyarakat hukum adat beserta hak ulayatnya. Misalnya, kepastian status dan fungsi suatu kawasan hutan serta peran dan kedudukan setiap stakeholder dalam kegiatan pengelolaan hutan perlu diatur secara tegas. Terdapat beberapa contoh proses pembentukan Perda Adat dengan hak inisiatif DPRD yang antara lain : a) Inisiatif pengajuan perda oleh Kesatuan Adat Banten Kidul dibantu Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sukabumi mengenai Konflik Taman Nasional Gunung Halimun dan Salak (TNGHS) dan masyarakat adat di Kabupaten Sukabumi53. Dalam kasus ini, organisasi MHA di Banten Kidul telah memainkan peranan dalam menginisiasi Perda Adat. Tentu saja, peran DPRD dan Pemerintah tidak dapat diabaikan. b) 10 Rancangan Peraturan Adat (Perdat) Kabupaten Kampar, diusulkan oleh Lembaga Adat Kabupaten Kampar. Rancangan Perda Adat tersebut, (1) Ranperda tentang musik acara pesta pernikahan, (2) tempat makan acara pernikahan, (3) wajib berpakaian muslim dalam acara pesta pernikahan, (4) harus pulang mamak bagi orang luar yang akan menikah, (5) wajib berjilbab dan haram bercelana ketat bagi kaum perempuan, (6) minuman keras, (7) wirid persukuan disetiap kenegeraian, (8) surat hak ulayat sebelum terbit SKT desa,
53

Warga Adat Terus Perjuangkan Hak Ulayat, http://www.dishut.jabarprov.go.id/?mod=detilBerita&idMenuKiri=&idBerita=1286

diakses

dari

44

(9) bangunan Pemda atau swasta harus melambangkan ciri khas adat Kampar, serta (10) memfungsikan kembali hukum adat dan denda adat di masyarakat54. Dari sepuluh Perda Adat di Kabupaten Kampar, peran lembaga adat tidak saja terbatas pada kepentingan MHA dan budaya lokal seperti kesenian, tetapi juga tampak jelas terkait dengan upaya mengartikulasikan kebutuhan perlindungan terhadap hukum Islam. Menariknya, baik DPRD maupun Bupati tidak menolak, justru memberikan persetujuan atas lahirnya Perda-perda adat tersebut. c) Di Kutai Barat, inisiasi pembuatan Perda No. 18 Tahun 2002 Tentang Kehutanan Kabupaten Kutai Barat datang dari masyarakat bersama pemda. Pemda dalam hal ini betul-betul melibatkan publik dengan membentuk tim penyusun yang tergabung dalam Kelompok Kerja Pembangunan Kehutanan Daerah (KK-PKD) yang terdiri atas anggota perwakilan dinas-dinas pemda, ornop, akademisi, tokoh masyarakat, dan tokoh adat.55 Sedangkan dalam proses pembentukan atas lahirnya Perda adat di Kabupaten Kutai Barat, berpangku pada empat pilar. Selain peran masyarakat adat, akademisi dan Ornop, juga DPR dan jajaran aparat Pemerintah daerah. Mengacu pada kenyataan penyusunan Raperda yang dilakukan selama ini, keterlibatan publik atau masyarakat jelas merupakan suatu keharusan, meski bukan merupakan kewajiban hukum. Jika pun ada pelibatan publik, hal tersebut cenderung hasil dari pendekatan dan terkadang ‘tekanan’ dari publik – baik itu ornop maupun masyarakat yang berkepentingan langsung terhadap peraturan tersebut. Namun demikian, dalam pelibatan publik ini masih belum ada jaminan apa yang menjadi aspirasi masyarakat akan tertulis dalam produk final Perda dapat diimplementasikan.
54 55

Lembaga Adat Rancang 10 Perda, diakses dari http://pekanbaru.tribunnews.com/2010/11/02/lembaga-adat-rancang-10-perda Proses Penyusunan Peraturan Daerah Dalam Teori dan Praktek. Manual PHR oleh Q-Bar, LBBT, RMI, PPSHK Kalbar, Komite HAM Kaltim, LP2S, YBJ Bantaya, ptPPMA, HuMa. Dikutip dari http://www.huma.or.id

45

Penyusunan peraturan daerah yang lebih menekankan pada proses teknisnya, dan bukan pada substansi sehingga kepentingan yang dibawa oleh Perda tersebut belum tentu bermanfaat. Pihak-pihak yang seharusnya dilibatkan malah tidak diikutkan sebagai indikator timbulnya pertentangan. Hal ini pada akhirnya tidak jarang melahirkan konflik yang berkepanjangan dan berakibat menjadi penghambat dalam pengimplementasiannya. Ketidakpaduan pandangan terkait dengan rancangan Perda adat antara lembaga adat dan pihak terkait lainnya, timbul bukan saja disebabkan karena ketidakpahaman masyarakat (meskipun partisipasi masyarakat telah diatur dalam UU No 10 Tahun 2009). Tetapi juga disebabkan oleh kemampuan yang minim dan elitisme pembuat peraturan di tingkat daerah turut menyumbang sempitnya ruang partisipasi bagi publik. Penyelenggaraan dengan birokrasi model lama masih mendominasi, sehingga proses penyusunan peraturan yang seharusnya dimungkinkan melibatkan publik lebih terbuka, tetapi justru tidak terjadi. Karena itu, tidak jarang jika isi raperda tidak sesuai dengan harapan masyarakat. Konsekuensi dari lemahnya pemahaman masyarakat adat dan pemerintah daerah dalam memahami UU No 10 tahun 2009, berakibat dalam setiap pembuatan perda tidak memiliki Naskah Akademik, perumusan teknis ke dalam Pasal, serta prosedur uji publik dan proses pengesahannya tidak mengikuti prosedur yang seharusnya. Dengan demikian, hak inisiatif pembuatan Perda Adat pada dasarnya bervariasi. Akan tetapi peran MHA atau lembaga-lembaga adat tampak dominan. Keberhasilan pembentukan perda tidak luput selain dari DPRD, Bupati, juga organisasi LSM. Hadirnya dukungan tersebut juga ditentukan oleh motif-motif terkait kepentingan (hutan, ajaran agama, dan lainnya).

46

3. 2. Jenis Perda-perda Adat Dari 109 Perda berkaitan dengan pengaturan adat, (1) Peraturan Daerah Adat yang dibuat Pemerintah tingkat Provinsi sebanyak 20 Perda (18.34%); (2) Perda Adat oleh Pemerintah tingkat Kabupaten sebanyak 85 Perda (77.98%); dan 4 Perda (3.66%) dibuat oleh Pemerintah tingkat Kota. Tabel 1. Pembuatan Perda Adat Provinsi, Kabupaten dan Kota. No 1 2 3 Regio Pemerintahan Perda Provinsi Kabupaten Kota Total Jumlah Perda 20 85 4 109 Persentase 18.34% 77.98% 3.66%

Adapun Pemerintah daerah provinsi sebagai penyumbang Perda adat terbanyak (1) Sumatera Barat sebanyak 19 Perda (17.59%); (2) Provinsi Kalimantan Tengah dengan jumlah 9 Perda (8.33%); (3) Provinsi Lampung dengan jumlah 8 Perda (7.41%); (4) Provinsi Kalimantan Timur dan Provinsi Sulawesi Selatan dengan jumlah masing-masing 7 Perda Adat (6.48%); (5) Provinsi Jambi, Provinsi Maluku dan Provinsi Papua dengan jumlah masing-masing 6 Perda Adat (5.56%), Provinsi Sumatera Selatan dengan menerbitkan 5 Perda Adat (4.63%); dan (6) Provinsi NAD dan Kepulauan Bangka Belitung dengan 4 Perda Adat (3.70%). Provinsi Jawa Barat dan Nusa Tenggara Timur dengan 3 Perda Adat (2.78%). Provinsi Riau, Bengkulu, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Provinsi Maluku Utara dengan diterbitkannya masing-masing sebanyak 2 Perda Adat (1.85%). (7) Sedang Provinsi yang paling minim memberlakukan Perda Adat adalah

47

Provinsi Jawa Timur, Banten, Bali, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, dan Provinsi Papua Barat dengan besaran pemberlakuan Perda Adat masingmasing 1 Perda (0.93%). Tabel 2. Perda Adat berdasarkan Regio Provinsi diundangkan. Interval Regional Perda Jumlah Perda Persentase I Sumatera Barat Kalimantan Tengah II Lampung Kalimantan Timur Sulawesi Selatan III Jambi Maluku Papua Sumatera Selatan NAD IV Kep. Bangka Belitung Jawa Barat Nusa Tenggara Timur Riau Bengkulu V Jawa Tengah Nusa Tenggara Barat Kalimantan Barat 19 9 8 7 7 6 6 6 5 4 4 3 3 2 2 2 2 2 17.59% 8.33% 7.41% 6.48% 6.48% 5.56% 5.56% 5.56% 4.63% 3.70% 3.70% 2.78% 2.78% 1.85% 1.85% 1.85% 1.85% 1.85%

48

Kalimantan Selatan Maluku Utara Jawa Timur Banten Bali Sulawesi Tengah Sulawesi Tenggara Sulawesi Barat Papua Barat VI Sumatera Utara Kepulauan Riau DKI Jakarta D. I. Yogyakarta Sulawesi Utara Gorontalo TOTAL

2 2 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 109 Perda

1.85% 1.85% 0.93% 0.93% 0.93% 0.93% 0.93% 0.93% 0.93% 0% 0% 0% 0% 0% 0%

Hasil Penelitian Februari 2012 Berdasarkan pada 6 (enam) interval kelompok Provinsi yang mengeluarkan Perda adat, telah mengindikasikan pada lahirnya karakter masyarakat yang masih memiliki komitmen tinggi dan bahkan terendah terhadap kesadaran hukum adat. Pertama, Provinsi Sumatera Barat tergolong daerah yang memiliki kesadaran hukum adat tertinggi menunjukan bahwa pemahaman masyarakat terhadap kaidah adat Basandi Sara dan Syara bersandi Kitabullah masih tetap relevan. Tentu saja meskipun penelitian ini belum sampai pada melihat terjadinya perubahan, atau pengaruh budaya modern. Keterlibatan masyarakat, pemerintah daerah, DPRD dalam 49

pembuatan perda adat merupakan bukti pengejawantahan dari kesadaran adat tersebut. Fakta bahwa hilangnya peran Nagari, tergesernya kepemilikan hak tanah ulayat, dan lainnya menunjukan hubungan korelasi dengan kemungkinan Masyarakat Minangkabau untuk mengembalikan peran adat dalam konteks masyarakat dan pemerintahan modern. Tuntutan agar aparat Nagari menjadi Pegawai Negeri Sipil membuktikan kecenderungan MHA di Sumatera Barat untuk di modernisasikan. Kedua, kelompok interval kedua provinsi yang banyak mengeluarkan Perda Adat yaitu Kalimantan Tengah dan Lampung. Di kedua provinsi ini, perda ada yang disahkan bukan saja timbul merupakan hasil dari kesadaran masyarakat adat, pemerintah daerah, Gubernur dan DPRD, tetapi juga masyarakat dan kelompok LSM lainnya. Muatan materi yang terkait dengan obyek hukum adat, lembaga adat dan kewenangannya, juga terkait dengan pengelolaan hutan (hutan adat), tanah ulayat atau tanah tembawang, juga dengan tradisi seni budaya merupakan ciri-ciri utama yang berfungsi mencegah terjadinya pemusnahan atas obyek-obyek adat yang cenderung tergeser oleh proses modernisasi. Krisis penebangan hutan di Kalimantan Tengah dan di Lampung akibat tanah-tanah digunakan kelapa sawit merupakan fakta yang dapat menggusur hilangnya hak-hak adat atas tanah. Ketiga, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Jambi, Papua dan Maluku tergolong daerah-daerah yang memiliki komitmen menengah (moderate) terhadap hukum adat. Komitmen tersebut ditandai oleh adanya kesepahaman masyarakat, pemerintah daerah dan LSM terhadap hukum adat, juga karena mereka merasa bahwa sebagian nilai-nilai adat masih perlu dipertahankan dalam upaya mencegah modernisasi dan demobilisasi. Tentu saja selain obyek yang dilindungi oleh Perda

50

Adat terkait dengan nilai-nilai budaya lokal, tanah dan hutan, juga masalah moralitas menjadi kepedulian masyarakat di Sulawesi dengan tradisi Siri’nya (budaya malu), peran perda adat dapat melindungi terlestarikannya nilai-nilai adat. Sebagaimana halnya di Jambi dan Kalimantan Timur, hak ulayat tanah dan hutan menjadi ciri dari perda adat. Keempat dan kelima, tergolong daerah-daerah yang menempatkan perda adat tetap penting untuk diadakan dalam upaya mencegah timbulnya pengikisan adat, tradisi dan budaya lokal, yang obyek-obyeknya tersebut berkesesuaian dengan kategori pertama, kedua dan ketiga. Namun, moderniasasi yang terjadi di daerahdaerah tersebut tampaknya telah menjadi faktor penting dalam memudahkan masyarakat terhadap nilai-nilai adat. Tiadanya klaim tanah adat, hukum adat, termasuk lembaga-lembaga adat adalah memberikan pembenaran teoritis, akan pentingnya perangkat nilai modern dipergunakan dalam kehidupan masyarakat. Misalnya, masyarakat Bali, Jawa Timur dan Banten tergolong provinsi yang mengesahkan Perda-perda adat. Hal ini sama dengan Sulawesi Tengah, Papua Barat, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat. Namun, dapat dipahami mengapa keempat provinsi ini rendah komitmennya terhadap persoalan hukum adat, mengingat sistem pemerintahan belum berlangsung lama, sehingga tidak dapat dipandang nilai-nilai modern di keempat provinsi tersebut telah menggeser nilai-nilai adat atau boleh jadi nilai-nilai adat masih terasa kuat peranannya, sehingga pengaruh nilai modern belum dirasakan dampaknya terhadap masyarakat adat dan hukum adat lainnya. Pada interval terakhir, dimana tidak ada pembentukan Perda adat yaitu Provinsi Sumatera Utara, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, D.I.Yogyakarta, Sulawesi Utara, dan Gorontalo. Kekosongan terkait persoalan hukum adat tidak berarti

51

Provinsi-provinsi tersebut mengacuhkan keberadaan masyarakat adatnya. Sebagai contoh, di Provinsi D.I.Yogyakarta kebaradaan masyarakat hukum adat ada dan masih hidup didalam kehidupan bermasyarakat. Namun, hukum adat yang berlaku adalah sebatas hukum adat tidak tertulis. Selain itu, tidak terlepas pula dari tergerusnya keberadaan masyarakat adat seperti yang terjadi pada masyarakat adat Betawi, sebagai masyarakat asli di DKI Jakarta.

Tabel 3. Perda Adat berdasarkan Tahun diundangkan Interval I II III IV V VI Tahun Perda 2000 dan 2001 2008 2007 2003 dan 2006 2009 1998-1999, 2002, 2004, dan 2005 2010 dan 2011 Total Jumlah Perda 28 19 14 6 4 2 1 109 Perda Persentase 24.35% 16.52% 12.17% 5.22% 3.48% 1.74% 0.87%

Berdasarkan produktivitas diundangkannya Peraturan Daerah di 27 Provinsi di Indonesia, dengan merujuk pada interval tertinggi pemberlakuan Perda Adat adalah Tahun 2000 sebanyak 28 Perda Adat (24.35%) dengan regio tingkat pembentukan adalah 25 Perda tingkat Kabupaten, 1 Perda tingkat Provinsi, dan 1 Perda tingkat Kota. Trend tertinggi adalah pemberlakuan Perda Adat mengenai Pelestarian Adat Istiadat dan Lembaga Adat. Kecenderungan meningkatnya pemberlakuan Perda Adat tersebut tidak lain karena timbulnya sengketa adat yang timpang tindih. Melalui

52

pemberdayaan, pelestarian dan pengembangan adat istiadat yang hidup dan berkembang demi mewujudkan masyarakat hukum adat yang berbudaya dan sejahtera. Selain itu, agar kultur kebudayaan dan sejarah yang sudah ada seperti negara-negara yang sudah maju tetap terjaga dan terlestarikan dengan baik.56 Pemberlakuan dengan interval tertinggi juga dapat dilihat di tahun 2001 sebanyak 28 Perda Adat (24.35%) mengacu pada pembuatan 27 Perda tingkat Kabupaten dan 1 Perda tingkat Provinsi. Kecenderungan tingginya produktivitas pemberlakuan Perda Adat di tahun 2001 ini adalah masih mengenai Pelestarian Adat Istiadat dan Lembaga Adat, pengaturan mengenai Pemerintahan Nagari, Lembaga Adat Kebudayaan Aceh, dan Kademangan di Kabupaten Kapuas. Serta tidak kalah pentingnya diberlakukan pada tahun tersebut mengenai pemberlakuan Perda Kabupaten Lebak Banten mengenai Hak Ulayat Masyarakat Adat Baduy, dan Perda Provinsi Kalimantan Tengah tentang Penanganan Dampak Konflik Etnik yang terjadi akibat terjadinya konflik sosial antar suku di Kalimantan. Di tingkat interval menengah pemberlakuan Perda Adat di Indonesia, adalah tren meningkatnya kembali jumlah pemberlakuan Perda Adat di tahun 2008 dengan jumlah total sebanyak 19 Perda Adat (16.52%). Sebanyak 5 Perda Adat tingkat Kabupaten, 12 Perda Adat tingkat Provinsi, dan 2 Perda Adat tingkat Kota. Tren meningkatnya pemberlakuan Perda Adat di tahun tersebut adalah diterbitkannya beberapa Perda Adat di Provinsi Papua, sebagai imbas dari adanya Otonomi Khusus Provinsi Papua dengan diberlakukannya Perda tentang Hak Ulayat, Perda tentang peradilan adat di papua, tentang pelaksanaan tugas dan wewenang Majelis Rakyat Papua (MRP), dan Perda mengenai pelaksanaan hak dan kewajiban MRP. Di pihak

56

Lihat http://buanasumsel.com/dewan-pemangku-adat-dan-pembina-dilantik/

53

lain, pemberlakuan mengenai pemanfaatan tanah ulayat di Provinsi Sumatera Barat, pemberlakuan beberapa Perda Adat mengenai Pemerintahan Nagari di Kabupaten Provinsi Sumatera Barat dan Kota Ambon. Namun, pada tahun tersebut pemberlakuan Perda Adat juga masih didominasi Perda Adat mengenai

pemberdayaan, pelestarian, dan perlindungan adat istiadat dan lembaga adat. Peningkatan tren pemberlakuan Perda Adat pada tahun 2008 tersebut, tidak terlepas dari banyaknya pemberlakuan Perda Adat pada tahun 2007 dengan sebanyak 14 Perda Adat (12.17%). Pada tahun 2007, sebanyak 13 Perda tingkat Kabupaten dan 1 Perda tingkat Provinsi diberlakukan. Tren pemberlakuan Perda Adat didominasi tentang Pemerintahan Nagari, Kelembagaan Adat Marga, Kademangan, dan Lembaga Adat Melayu Jambi. Timbulnya berbagai permasalahan adat dalam pengelolaan sumber daya alam dan eksistensi masyarakat adat di Sumatera Barat, menjadi dasar yang kuat atas tumbuhnya Perda-perda Nagari tersebut. Perkembangan Perda Adat yang cenderung mengalami kenaikan dan penurunan selama masa reformasi ini, ditunjukan dengan minimnya dan jaraknya interval antara produktivitas pemberlakuan Perda Adat disetiap tahunnya. Sejak meningginya tren pemberlakuan Perda Adat pada tahun 2000-2001, berikutnya tidak diikuti dengan perkembangan positif dalam perkembangan Perda Adat di Indonesia. Tahun 2002 hingga 2006, perkembangan Perda Adat di Indonesia cenderung menurun drastis dibanding tahun sebelumnya. Hal ini dapat dilihat dari grafik yang statis antara tahun tersebut, dengan maksimal pemberlakuan Perda Adat sebanyak 2 Perda (1.74%) dan 6 Perda (5.22%). Penurunan angka tersebut juga terjadi sejak tahun 2009 hingga 2011. Meskipun tidak banyak diberlakukan, sebanyak 4 Perda Adat (3.48%) diundangkan

54

pada tahun 2009. Namun, tren tersebut tidak dapat dilanjutkan dengan baik pada tahun berikutnya dengan maksimal diundangkan Perda Adat sebanyak 1 Perda (0.87%) antara tahun 2010-2011. Sebuah kemunduran yang sangat drastis bagi perlindungan dan pengakuan Masyarakat Hukum Adat di Indonesia, suatu telaah hukum dan kemanusiaan yang sudah seharusnya menjadi ciri ke-bhinekaan bangsa Indonesia mengingat keragaman budaya dan juga masyarakat lokal yang tidak terlindungi oleh produk perundang-undangan.

Tabel 4. Perda Adat berdasarkan Jenisnya. No 3 Pelestarian, Kategori Perda Pengembangan, dan Jumlah Perda 52 Persentase 47.71%

Pemberdayaan Adat Istiadat. 2 5 Lembaga Adat. Pengaturan Perangkat dan Tata 35 10 32.11% 9.17%

Lembaga Adat. 1 4 Hak-hak Adat dan Tanah Ulayat. Prosesi Perkawinan, Pernikahan dan Rumah Adat. 6 Penyelesaian Sengketa Adat Total 1 109 0.92% 9 2 8.26% 1.83%

Kajian mengenai Peraturan Daerah (Perda) mengenai Adat di Indonesia dikategorikan menjadi 6 bagian. Pertama, Peraturan Daerah yang mengatur mengenai Pelestarian, Pengembangan dan Pemberdayaan Adat Istiadat menjadi Perda yang bernuansa Adat terbanyak dengan jumlah 52 Perda (47.71%). Kedua, Perda tentang

55

pengaturan Lembaga Adat sebanyak 35 Perda (32.11%). Ketiga, Perda tentang pengaturan Tata Pemerintahan Adat sebanyak 10 Perda (9.17%). Keempat, Perda tentang pengaturan Hak-hak Adat dan Tanah Ulayat sebanyak 9 Perda (8.26%). Kelima, Perda mengenai Prosesi Perkawinan dan Rumah Adat dengan 2 Perda (1.83%), dan Perda mengenai penyelesaian sengketa adat sebanyak. Hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh sebanyak 9 Perda (8.26%) dari 109 Perda adat yang berkaitan dengan pengaturan tanah ulayat dan hak-hak adat selama masa Reformasi (1998 – sekarang) di Indonesia. Tanah ulayat adalah bidang tanah yang di atasnya terdapat hak ulayat dari suatu masyarakat hukum adat tertentu. Hak ulayat adalah kewenangan, yang menurut hukum adat, dimiliki oleh masyarakat hukum adat atas wilayah tertentu yang merupakan lingkungan warganya, dimana kewenangan ini memperbolehkan masyarakat untuk mengambil manfaat dari sumber daya alam, termasuk tanah, dalam wilayah tersebut bagi kelangsungan hidupnya. Masyarakat dan sumber daya yang dimaksud memiliki hubungan secara lahiriah dan batiniah turun temurun dan tidak terputus antara masyarakat hukum adat tersebut dengan wilayah yang bersangkutan57.

3. 3. Perda Adat di Tingkat Provinsi. 3. 3. 1. Hak Ulayat dan Hak Perorangan MHA di Papua. Di Papua selain mengatur tentang hak ulayat bersama, juga diatur hak atas tanah untuk perorangan. Hak tersebut diatur dengan Perda Khusus Papua No 23 Tahun 2008, bahwa hak ulayat masyarakat hukum adat dan atau hak perorangan warga masyarakat hukum adat atas tanah memiliki keterbatasan. Selama ini,

57

Lihat http://id.wikipedia.org/wiki/Tanah_ulayat

56

pemanfaatannya telah menimbulkan penurunan kualitas lingkungan, ketimpangan struktur penguasa, pemilikan dan penggunaan, kurangnya daya dukung lingkungan, peningkatan konflik dan kurang diperhatikannya kepentingan masyarakat adat/lokal dan kelompok masyarakat rentan lainnya. Adapun Pengakuan, penghormatan, perlindungan, pemberdayaan dan pengembangan hak ulayat masyarakat hukum adat dan atau hak perorangan warga masyarakat hukum adat atas tanah merupakan suatu keniscayaan. Namun, implementasi dari penghormatan dan pengakuan tersebut kurang jelas. Karena itu, pengakuan dan penghormatannya perlu dituangkan dalam Peraturan Daerah khusus tentang hak ulayat masyarakat hukum adat dan hak perorangan warga masyarakat hukum adat atas tanah. Dalam pengaturannya, Hak Ulayat dan Hak Perorangan warga masyarakat hukum adat dijelaskan secara terpisah dalam Perda Khusus ini. Hak ulayat atas kepemilikan tanah lebih khusus adalah sebagai hak persekutuan yang dipunyai masyarakat hukum adat tertentu atas suatu wilayah tertentu yang merupakan lingkungan hidup para warganya yang meliputi hak untuk memanfaatkan tanah beserta segala isinya.58 Sedangkan pengertian Hak Perorangan warga masyarakat hukum adat dalam kepemilikan atas tanah adalah hak yang dipunyai oleh warga masyarakat hukum adat tertentu atas suatu wilayah tertentu yang merupakan lingkungan hidupnya yang meliputi hak untuk memanfaatkan tanah beserta segala isinya. Untuk mendapatkan pengakuan terhadap hak ulayat masyarakat hukum adat dan atau hak perorangan di Provinsi Papua, dilakukan yaitu oleh Panitia Peneliti terdiri dari Para pakar hukum adat, Lembaga adat/tetua adat atau penguasa adat yang
58

Pasal 1 ayat (6) Peraturan Daerah Khusus Papua No 23 Tahun 2008 tentang Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat dan Hak Perorangan Warga Masyarakat Hukum Adat Atas Tanah.

57

berwenang atas hak ulayat dan atau hak perorangan warga dari masyarakat hukum adat yang bersangkutan, Lembaga Swadaya Masyarakat, Pejabat dari Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia, Pejabat dari Bagian Hukum Kantor Bupati/Walikota dan Pejabat dari instansi terkait lainnya. Panitia tersebut ditetapkan berdasarkan oleh Keputusan Bupati/Walikota atau oleh Keputusan Gubernur untuk sebuah penelitian hak ulayat yang meliputi lintas kabupaten/kota59. Penelitian mengenai keberadaan tanah hak ulayat atau hak perorangan warga masyarakat adat tersebut meliputi: a. Tatanan hukum adat yang berlaku dalam masyarakat hukum adat yang bersangkutan serta stuktur penguasa adat yang masih ditaati oleh warganya; b. Tata cara pengaturan, penguasaan dan penggunaan hak ulayat masyarakat hukum adat atau hak perorangan warga masyarakat hukum adat atas tanah berdasarkan hukum adat asli masyarakat hukum adat yang bersangkutan; c. Penguasa adat yang berwenang mengatur peruntukan dan penggunaan serta penguasaan hak ulayat masyarakat hukum adat atau hak perorangan warga masyarakat hukum adat atas tanah; d. Batas-batas wilayah yang diakui sebagai hak ulayat masyarakat hukum adat atau hak perorangan warga masyarakat hukum adat atas tanah ditentukan oleh masyarakat hukum adat yang bersangkutan60. Kemudian berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan tersebut, bupati/walikota atau gubernur menetapkan ada atau tidaknya hak ulayat masyarakat hukum adat atau hak perorangan warga masyarakat hukum adat atas tanah melalui keputusan bupati/walikota atau gubernur. Pengakuan terhadap hak ulayat belum didasarkan pada penetapan bidang tanah, lebih didasarkan pada pengakuan hak ulayat oleh masing-masing suku sehingga berpotensi timbulnya dualisme pengakuan hak tanah ulayat pada bidang tanah yang sama. Sebagai konsekuensi dari pemberian

59

60

Lihat Victor Mambor, Mengakui atau Menihilkan Masyarakat Adat?, diakses dari http://tabloidjubi.com/arsip-edisicetak/jubi-utama/3730-mengakui-atau-menihilkan-masyarakat-adat Lihat Sulasi Rongiyati, 2007, Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Investasi di Provinsi Papua, Jakarta, Pusat Pengkajian Pengolahan Data dan Informasi (P3DI) Sekretariat Jenderal DPR RI, hlm : 11.

58

otonomi khusus Papua yang menempatkan penghargaan pada masyarakat adatnya, maka peraturan dan mekanisme pengakuan terhadap hak tanah ulayat rakyat Papua harus dilakukan secara tegas dan jelas. Terkait dengan kepastian hukum, pemerintah juga perlu mengedepankan upaya sertifikasi hak tanah ulayat di Papua. Dalam Perda Khusus Provinsi Papua tersebut, diatur mengenai penyelesaian sengketa hak ulayat. Penyelesaian yang dipergunakan atas sengketa tanah adalah dengan menggunakan penyelesaian secara adat, penyelesaian sengketa melalui forum penyelesaian sengketa masyarakat adat, dan terakhir melalui pengadilan atau diluar pengadilan (arbitrase, negosiasi, maupun mediasi).61 Mengenai penyelesaian sengketa adat melalui hukum adat, maka diselesaikan berdasar pada hukum adat setempat. Jika para pihak yang bersengketa tunduk pada hukum adat berlainan dan memilih penyelesaian secara hukum adat, maka penyelesaian tersebut dilakukan oleh forum penyelesaian sengketa antar masyarakat hukum adat dan atau melibatkan para ahli mengenai hukum-hukum adat kedua belah pihak62. Secara umum, penyelesaian sengketa melalui peradilan adat dilaksanakan secara musyawarah melibatkan tokohtokoh adat setempat dengan harapan dicapai penyelesaian terbaik dan adil. Mengingat dalam prakteknya upaya penyelesaian melalui pengadilan jarang memenangkan tuntutan masyarakat (ulayat) karena dasar hukum dan alat bukti yang dimiliki oleh mereka lemah.63

61

Peraturan Daerah Khusus Papua No 23 Tahun 2008 tentang Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat dan Hak Perorangan Warga Masyarakat Hukum Adat Atas Tanah. Op.Cit, Pasal 14. Peraturan Daerah Khusus Papua No 23 Tahun 2008 tentang Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat dan Hak Perorangan Warga Masyarakat Hukum Adat Atas Tanah. Op.Cit, Pasal 14. 63 Sulasi Rongiyati, Op.Cit, hlm : 14.
62

59

3. 3. 2. Perlindungan dan Pembinaan Kebudayaan Asli Papua. Peraturan Daerah Provinsi Papua No 16 Tahun 2008 tentang Perlindungan dan Pembinaan Kebudayaan Asli Papua, diundangkan sebagai akibat dari timbulnya pergeseran dan perubahan nilai akibat transformasi budaya luar yang masuk dan tidak selaras dengan nilai-nilai adat budaya asli Masyarakat Hukum Adat Papua. Beragam karya seni budaya asli masyarakat Papua belakangan ini mulai terancam punah. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan pada suatu saat nanti seni budaya masyarakat Papua itu hilang begitu saja karena tidak adanya regenerasi. Dalam perkembangan masyarakat, sebagian sub kebudayaan tersebut telah mengalami akulturasi dan inkulturasi. Ada beberapa budaya asli Papua yang mengalami pergeseran. Contohnya, di Genyem Kabupaten Jayapura, warga asli Papua telah mengubah pola makan papeda dengan tahu. Bahkan, ketika digelar Festival Danau Sentani di Jayapura, kelihatan pelaku kesenian dan gelar budaya warga Papua adalah orang-orang tua yang sudah uzur usianya 64. Oleh karena kebudayaan asli Papua merupakan kekayaan bangsa Indonesia, maka harus ada upaya sistimatis dan terencana untuk melakukan perlindungan, pembinaan dan pengembangan terhadap

kebudayaan tersebut. Propinsi Papua memiliki keaneka ragaman budaya yang merupakan suatu potensi yang besar selain potensi alamnya, untuk itu perlu perhatian baik dari segi pembinaan maupun segi pelestariannya. Dengan memahami hakekat kebudayaan orang asli Papua serta menyadari perkembangan kehidupan masyarakat yang semakin pesat maka untuk melindungi dan membina kebudayaan asli Papua diundangkan Peraturan

64

Lihat Ami Herman, Karya Seni Budaya Papua Terancam Punah. Diakses dari http://taadeers.blogspot.com/2011/03/karyaseni-budaya-papua.html

60

Daerah Provinsi Papua No 16 Tahun 2008 Tentang Perlindungan dan Pembinaan Kebudayaan Asli Papua. Penjelasan secara khusus yang terdapat dalam muatan Perda Provinsi Papua tersebut diantaranya adalah : 1. Orang asli Papua adalah orang yang berasal dari rumpun ras Melanesia yang terdiri dari suku-suku asli di Provinsi Papua dan atau orang yang diterima dan diakui sebagai orang asli Papua oleh masyarakat adat Papua. 2. Kebudayaan asli Papua adalah hasil cipta, karsa dan karya orang asli Papua yang hidup dan berkembang secara turun temurun dalam lingkungan masyarakat adat. 3. Perlindungan kebudayaan adalah upaya untuk menjaga, memelihara dan menegakkan kebudayaan asli Papua. 4. Pembinaan kebudayaan adalah upaya untuk mempertahankan dan melestarikan kebudayaan orang asli Papua. 5. Pengembangan kebudayaan adalah upaya untuk menumbuhkembangkan dan menyebarluaskan kebudayaan orang asli Papua sesuai dengan perkembangan masyarakat65. Didalam ketentuan Perda Provinsi Papua dipaparkan bahwa upaya perlindungan atas kebudayaan asli papua diberikan oleh Pemerintah Daerah. Kebudayaan asli Papua merupakan hasil cipta, karsa dan karya orang asli Papua, perlindungan atas kebudayaan asli Papua dilakukan terhadap : a. Bahasa dan sastra. b. Sistem peralatan hidup dan teknologi. c. Sistem mata pencaharian hidup. d. Organisasi sosial dan sistem kekerabatan. e. Sistem pengetahuan. f. Kesenian. g. Kepercayaan66. Aspek-aspek kebudayaan tersebut di atas melambangkan jati diri orang asli Papua dan tersebar mengikuti wilayah geografis Tanah Papua meliputi : zona ekologi pesisir pantai, hutan bakau dan rawa, zona ekologi dataran rendah, zona ekologi
65

66

Lihat Ketentuan Umum Peraturan Daerah Provinsi Papua No 16 Tahun 2008 Tentang Perlindungan dan Pembinaan Kebudayaan Asli Papua. Ibid, Pasal 2 ayat (2)

61

kaki gunung dan zona ekologi pegunungan. Atas dasar zona-zona tersebut, kebudayaan asli Papua dikelompokan dalam 7 (tujuh) wilayah sub kebudayaan yaitu: 1. Kebudayaan Saireri. 2. Kebudayaan Tabi. 3. Kebudayaan La Pago. 4. Kebudayaan Me Pago. 5. Kebudayaan Bomberai. 6. Kebudayaan Anim Ha. 7. Kebudayaan Doberai67. Upaya perlindungan, pembinaan dan pengembangan dimaksud menjadi kewajiban dari pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, masyarakat adat, dan orang-perorangan serta penduduk di Provinsi Papua. Upaya perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat dilakukan melalui : a. inventarisasi dan dokumentasi; b. Pengakuan c. Pendaftaran d. Legalisasi e. Pengumuman f. litigasi68. Upaya pembinaan kebudayaan asli Papua, seperti yang dipaparkan di dalam Perda Provinsi Papua antara lain dilakukan dengan cara : a. Pesta budaya. b. Festival seni. c. Lomba-lomba. d. Karnaval. e. Pameran dan pergelaran budaya. f. Penyuluhan kebudayaan. g. Pelatihan kebudayaan. h. Temukarya kebudayaan. i. Penampilan nuansa budaya Papua pada fasilitas umum milik pemerintah, swasta dan masyarakat. j. Pemuatan materi kebudayaan asli Papua dalam kurikulum muatan lokal pada semua jenjang pendidikan, dan
67

68

Lihat Peta Suku Bangsa di Tanah Papua, Kerjasama Dinas Kebudayaan Provinsi Papua, Jurusan Antropologi Universitas Cendrawasih, Summer Institute of Linguistic (SIL), Dewan Adat Papua (DAP), dan Badan Pusat Statistik (BPS), Jayapura, Desember 2008, hlm : 12. Op.Cit, Pasal 2 ayat (2)

62

k.

Kegiatan upaya pembinaan lainnya 69.

Sedangkan kegiatan dan upaya dalam melakukan pengembangan kebudayaan asli Papua dilakukan melalui : a. Pusat-pusat kebudayaan. b. Sanggar-sanggar kebudayaan. c. Sanggar-sanggar seni. d. Penetapan dalam muatan kurikulum lokal pada semua jenjang pendidikan. e. Pelatihan, seminar dan lokakarya. f. Latihan-latihan dan kursus-kursus kebudayaan. g. Media massa. h. Misi kebudayaan. i. Perfilman. j. Pasar seni, dan k. Kegiatan upaya pengembangan lainnya 70. Upaya perlindungan, pembinaan dan pengembangan kebudayaan asli Papua tersebut, tidak dapat dilepaskan dari peran serta masyarakat. Masyarakat yang meliputi orang-perorangan, masyarakat adat, seniman, budayawan, pihak swasta dan lembaga masyarakat lainnya turut berperan serta baik secara mandiri maupun difasilitasi oleh Pemerintah Daerah. Peranan masyarakat dalam upaya-upaya tersebut sesuai pengaturannya dalam Perda Provinsi Papua ini mencakup : a. b. c. d. e. Pemeliharaan benda-benda budaya. Penguatan kebudayaan asli. Seleksi transformasi kebudayaan luar. Penyediaan informasi dan data, dan Bentuk lainnya 71. timbal balik atas upaya perlindungan, pembinaan dan

Sebagai

pengembangan kebudayaan asli Papua, apresiasi positif yang dilakukan Pemerintah
69 70 71

Op.Cit, Pasal 4 ayat (3). Op.Cit, Pasal 5 ayat (2). Op.Cit, Pasal 9 ayat (2).

63

Daerah dilakukan dengan memberikan penghargaan kepada setiap orang, kelompok atau lembaga yang berjasa dalam upaya-upaya berkaitan kebudayaan asli Papua. Orang, kelompok atau lembaga yang berjasa antara lain adalah : a. Pencipta lagu-lagu daerah. b. Penata tari daerah. c. Pemerhati serta pelaku seni dan budaya yang berjasa terhadap pengembangan kebudayaan asli Papua. d. Orang yang berjasa dalam upaya perlindungan, pembinaan dan pengembangan kebudayaan asli Papua 72. Dalam pengaturannya, Pemerintah Daerah dan masyarakat melakukan pengawasan dan pengendalian terhadap perlindungan, pembinaan dan

pengembangan kebudayaan asli Papua. Selain itu, diatur pula mengenai larangan dan sanksi pidana. Larangan-larangan yang termuat dalam Perda Provinsi Papua tersebut mencakup : a. Melakukan pembiaran, menghilangkan dan merusak benda cagar budaya dan benda budaya lainnya. b. c. Menghilangkan dan atau merusak nilai-nilai budaya asli, dan Menyediakan informasi dan data palsu terkait dengan perlindungan, pembinaan dan pengembangan kebudayaan. Ketentuan sanksi pidana atas pelanggaran yang terjadi terkait upaya perlindungan, pembinaan, dan pengembangan kebudayaan asli Papua seperti yang termuat dalam Perda Provinsi Papua tersebut antara lain : a. Barang siapa melanggar ketentuan Pasal 19 huruf a diancam pidana kurungan paling lama 5 (lima) bulan atau denda paling banyak Rp 20.000,000,- (dua puluh juta rupiah). b. Barangsiapa melanggar ketentuan Pasal 19 huruf b diancam pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak Rp. 15.000.000,- (lima belas juta rupiah). c. Barang siapa melanggar ketentuan Pasal 19 huruf c diancam pidana
72

Lihat Penjelasan Pasal 12 ayat (1) Perda Provinsi Papua No 16 Tahun 2008.

64

kurungan paling lama 2 (dua) bulan dan denda paling banyak Rp 10.000,000,- (sepuluh juta rupiah)73.

3. 3. 3. Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya di Sumatera Barat. Perda No 6 Tahun 2008 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya disahkan pada tanggal 1Juli 2008. Adapun intinya tanah-tanah dalam lingkungan masyarakat hukum adat yang pengurusan, penguasaan dan pemanfaatannya berdasarkan pada ketentuan hukum adat setempat yang berlaku di Provinsi Sumatera Barat. Pengertian mengenai hak ulayat yang diatur dalam Perda Adat tersebut adalah sebagai hak penguasaan dan hak milik atas bidang tanah beserta kekayaan alam yang ada diatas dan didalamnya dikuasai secara kolektif oleh masyarakat hukum adat di Propinsi Sumatra barat. Sedangkan mengenai pengertian tanah ulayat adalah tanah pusaka beserta sumber daya alam yang terdapat diatasnya yang diperoleh secara turun temurun merupakan hak masyarakat hukum adat di Provinsi Sumatera Barat.74 Hakhak tanah ulayat di Provinsi Sumatera Barat tidak hanya mencakup pada tanah, hutan, dan sungai, termasuk pertambangan. Di Minangkabau (Sumatera Barat) terdapat aturan tentang pengelolaan ulayat termasuk pertambangan yang harus dipatuhi oleh orang-orang yang ingin memanfaatkan ulayat sumberdaya tambang. Aturan adat dalam pengelolaan sumberdaya alam (SDA) tersebut berbunyi : Karimbo Babungo Kayu, Ka Sungai Babungo Pasia, Kaladang Babungo Ampiang, Katanah Babungo Ameh. Pepatah adat ini menggariskan bahwa setiap pemanfaatan SDA dalam teritorial Minangkabau harus memberikan kontribusi kepada masyarakat adat setempat75.

73 74 75

Op.Cit, Pasal 20, 21, dan 22. Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat No 6 Tahun 2008 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya. Pasal 6 dan 7. Refles, 2012, Kegiatan Pertambangan Emas Rakyat dan Implikasinya Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Kenagarian Mundam Sakti Kecamatan IV Nagari, Kabupaten Sijunjung, Artikel Pasca Sarjana Universitas Andalas, hlm : 7-8.

65

Jenis-jenis dan pembagian tanah ulayat sesuai yang diatur didalam Perda tersebut terbagi menjadi (1) Tanah Ulayat Nagari, (2) Tanah Ulayat Suku, (3) Tanah Ulayat Rajo, dan (4) Tanah Ulayat Kaum.76 Sedangkan beberapa istilah adat yang penting lainnya adalah Penghulu, Mamak Kepala Waris, dan Kerapatan Adat Nagari sebagai unsur terpenting dalam budaya adat di Sumatera Barat sebagai tokoh-tokoh adat yang memiliki kewenangan dalam urusan-urusan adat. Adapun proses penyerahan hak ulayat sebagai proses pemindahan atau pengalihan hak penguasaan atas sebidang tanah adat, melalui musyawarah dan mufakat yang dilakukan oleh Ninik Mamak, Penghulu-penghulu Suku, Mamak Kepala Waris, dan anak kemenakan. Kesepakatan tersebut mengikat pihak-pihak bila sesuai dengan ketentuan hukum adat yang dituangkan dalam perjanjian yang dibuat oleh Pejabat Negara Pembuat Akta Tanah. Manfaat pengaturan tanah ulayat di Provinsi Sumatera Barat adalah dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat adat, dengan kaidah saling menguntungkan dan berbagi resiko yang disebut adat diisi limbago dituang. Sedangkan tujuan dari pengaturan tanah ulayat tersebut adalah untuk melindungi keberadaan tanah ulayat menurut hukum adat Minangkabau serta mengambil manfaat untuk kelangsungan hidup masyarakat adat secara berkesinambungan turun temurun dan tidak terputus77. Menyangkut penyelesaian sengketa yang terjadi atas tanah ulayat di Provinsi Sumatera Barat tersebut, diselesaikan oleh KAN berdasarkan ketentuan adat bajanjang naiak batanggo turun dan dengan jalan perdamaian melalui musyawarah mufakat. Dalam hal penyelesaian melalui keputusan KAN tidak dapat diterima oleh
76 77

Op.Cit, Pasal 8, 9, 10, dan 11. Ibid, Pasal 3.

66

pihak yang bersengketa, dapat diteruskan perkaranya ke Pengadilan Negeri. Dalam putusannya di tingkat Pengadilan Negeri, keputusan KAN dapat dijadikan pertimbangan atau pedoman bagi hakim78. Mamak Waris adalah nama jabatan dalam suatu kaum yang bertugas memimpin seluruh anggota kaum dan mengurus, mengatur, mengawasi serta bertanggung jawab atas hal-hal pusaka kaum. Kedudukan Mamak Kepala Waris dapat dirumuskan sebagai berikut : a. Mamak kepala waris mempunyai kewenangan untuk mengurus, mengatur, mengawasi dan bertanggungjawab atas harta pusaka tinggi kaum. Dalam konteks ini seorang mamak dalam kedudukannya selaku Mamak Kepala Waris yang akan mengelola atau mengatur pengelolaan harta pusaka kaumnya, misalnya saja jika ada tanah pusaka yang tidak terpelihara, maka kepala waris menganjurkan supaya tanah-tanah itu dapat dimanfaatkan, begitu juga jika keadaan masih memungkinkan mamak kepala waris mengajak anak kemenakannya untuk menaruko guna mendapatkan tanah baru sebagai penambah tanah-tanah yang telah ada. Selain itu seorang Mamak Kepala Waris juga mengatur hasil dari harta pusaka dan menjaga kelestariannya dan berdaya upaya untuk memanfatkannya bagi anggota kaum. b. Seorang mamak kepala waris dapat mewakili kaum urusan keluar dan bertindak kedalam untuk dan atas nama kaum, demikian juga pengertian segala sesuatu adalah ditangan mamak kepala waris. c. Sebagai pemimpin kaum yang bertanggung jawab sepenuhnya atas keselamatan dan kesejahteraan anggota kaum dengan pemanfaatan harta pusaka tinggi tersebut. d. Sebagai penengah dan orang yang akan menyelesaikan suatu pertikaian yang terjadi di antara anggota kaum baik masalah pribadi dalam pergaulan sehari-hari maupun masalah harta pusaka. e. Wakil kaum dalam peradilan, umpama sebagai tergugat atau sebagai penggugat. f. Wakil kaum dalam melakukan transaksi atas tanah pusaka kaum setelah dapat persetujuan dari semua anggota kaum umpama menjual dan menggadaikan tanah pusaka. g. Wakil kaum dalam hal pendaftaran tanah pusaka, karena tanah pusaka itu harus didaftarkan atas nama mamak kepala waris. h. Wakil kaum dalam kerapatan suku.
78

Ibid, Pasal 12 ayat (1,2, dan 3).

67

i. j.

Penanggung jawab keluar dalam upacara adat dalam kaum. Penganggung jawab atas pembayaran pajak bumi dan bangunan (PBB) atas tanah pusaka kaum79.

3. 3. 4. Penyelenggaraan Kehidupan Adat di Aceh. Ketentuan tentang Penyelenggaraan Kehidupan Adat diundangkan dalam rangka mengisi keistimewaan Aceh, dan melakukan pembinaan, pengembangan dan pelestarian terhadap penyelenggaraan kehidupan adat diatur dalam Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Aceh No 7 Tahun 2000. Perda tersebut wajib dijadikan pegangan dan pedoman dalam penyelenggaraan Hukum Adat dan Adat Istiadat di Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Dalam Perda tersebut selain ditegaskan mengenai obyek adat, hak dan kewajiban, juga diatur tentang tujuan, fungsi dan implementasinya. Fungsi umum Adat Istiadat adalah mewujudkan hubungan yang harmonis dalam kehidupan masyarakat berlandaskan kepada Adat Bak Po teu Meurehom, Hukom bak Syiah Kuala, Kanun bak Putro Phang, Resam bak Laksamanan, Hukum ngon Adat lagee Zat ngon Sifeut. Arti dari istilah tersebut adalah adat dipegang Raja, hukum yang berkaitan dengan keagamaan mengikuti fatwa yang diputuskan ulama Syiah Kuala, kanun dipegang oleh Putro Phang (maksudnya adalah perempuan, istilah tersebut merujuk pada istri Sultan Iskandar Muda yang berasal dari Pahang), reusam dari Laksamana, adat dengan syariat atau adat dengan hukum, diibaratkan bagai zat dengan sifat80.

79

80

Lihat Harmita Shah, 2006, Kedudukan Mamak Kepala Waris dalam Harta Pusaka Tinggi: Studi di Nagari Matur Mudiak Kecamatan Matur Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat, Tesis Magister Kenotariatan Universitas Diponegoro, hlm : 110-111. Diartikan dari beberapa sumber online.

68

Beberapa istilah yang terdapat dalam Peraturan Daerah Aceh tersebut antara lain. (1) Mukim adalah Kesatuan Masyarakat Hukum Adat dalam Propinsi Daerah Istimewa Aceh yang terdiri dari beberapa Gampong yang mempunyai batas-batas wilayah tertentu dan harta kekayaan sendiri, (2) Imum Mukim adalah Kepala Mukim dan Pemangku Adat di Kemukiman, (3) Tuha Lapan adalah suatu Badan Kelengkapan Gampong dan Mukim yang terdiri dari unsur Pemerintah, unsur Agama, unsur Pimpinan Adat, Pemuka Masyarakat, unsur cerdik pandai, unsur

pemuda/wanita dan unsur Kolompok Organisasi Masyarakat, (4) Gampong adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat yang terendah dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri, (5) Keuchik adalah orang yang dipilih dan dipercaya oleh masyarakat serta diangkat oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota untuk memimpin Pemerintahan Gampong, (6) Tuha Peut adalah suatu badan kelengkapan Gampong dan Mukim yang terdiri dari unsur Pemerintah, unsur Agama, unsur Pimpinan Adat, unsur Cerdik Pandai yang berada di Gampong dan Mukim yang berfungsi memberi nasehat kepada Keuchik dan Imum Mukim dalam bidang Pemerintahan, Hukum Adat, Adat Istiadat dan kebiasaan-kebiasan masyarakat serta menyelesaikan segala sengketa di Gampong dan Mukim, (7) Imum Meunasah adalah orang yang memimpin kegiatankegiatan, masyarakat di Gampong yang berkaitan dengan bidang agama Islam dan pelaksanaan Syariat Islam, (8) Keujruen Blang adalah orang yang membantu Keuchik di bidang pengaturan dan penggunaan irigasi untuk persawahan, (9) Panglima Laot adalah orang yang memimpin Adat Istiadat kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di bidang penangkapan ikan di lain termasuk mengatur tempat/areal penangkapan ikan, dan Penyelesaian sengketa, (10) Peutua Seuneubok adalah orang yang memimpin dan

69

mengatur ketentuan-ketentuan tentang pembukaan dan Penggunaan lahan untuk perladangan/perkebunan, (11) Haria Peukan adalah orang yang mengatur ketertiban, keamanan dan kebersihan pasar serta mengutip retribusi pasar gampong, dan (12) Syahbanda adalah orang yang memimpin dan mengatur tambatan kapal/perahu, lalu lintas keluar dan masuk kapal perahu di bidang angkutan laut, danau dan sungai. Tujuan diundangkannya Perda ini adalah untuk membakukan, mendorong, menunjang dan meningkatkan partisipasi masyarakat guna kelancaran

penyelenggaraan adat istiadat dan hukum adat di daerah. Selain itu, tujuan adat pemberlakuan Perda Adat ini adalah untuk membentuk manusia berakhlak mulia, bermartabat dan berbudaya.81 Fungsi kehidupan Adat guna melaksanakan dan mengefektifitaskan adat istiadat dan hukum adat untuk membina kemasyarakat82. Didalam perkembangannya hukum adat di Aceh, tidak dapat terlepaskan dari ajaran Agama Islam. Hal ini dapat ditinjau pada pengertian falsafah Adat bersendi syara’, syara’ bersendi adat, yang menunjukkan bahwa perilaku kehidupan masyarakat mengacu pada tatanan hukum adat dan ajaran agama Islam. Keduanya tidak boleh dipisahkan karena begitu melekat dalam jiwa nasionalis masyarakat Aceh. Pada umumnya penyelenggaraan Peradilan adat dilakukan oleh Lembaga Gampong dan Mukim. Penyelenggara peradilan adat tersebut pelaksanaannya diserahkan kepada Keuchik, Imeum Meunasah, Tuha Peuet, dan Ulee Jurong. Peradilan pada tingkat Mukim merupakan upaya terakhir untuk mendapatkan keadilan dalam Jurisdiksi adat di Aceh. Perkara-perkara pidana berat atau sengketa-sengketa yang tidak dapat diselesaikan pada tingkat Mukim, akan diselesaikan oleh lembaga Peradilan Negara sesuai dengan ketentuan undang-undang dan peraturan yang
81 82

Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Aceh No 7 Tahun 2000. Pasal 7. Ibid, Pasal 8.

70

berlaku.Jenis penyelesaian sengketa dan sanksi : Nasehat, Teguran, Pernyataan maaf di hadapan orang banyak di Meunasah atau Masjid diikuti dengan acara Peusijuk, Denda, Ganti kerugian, Dikucilkan oleh masyarakat Gampong, Dikeluarkan dari masyarakat Gampong, Pencabutan Gelar Adat, dan lain-lain bentuk sanksi sesuai adat setempat83.

Selain mengatur mengenai penyelesaian sengketa dalam kehidupan adat, dalam Perda Adat Aceh tersebut juga mengatur mengenai metode pemberdayaan adat
83

Ibid. Pasal 19.

71

istiadat dengan kegiatan-kegiatan sebagai berikut :Penataran Adat bagi Pemerintahan Gampong dan Mukim, Memasukkan kehidupan adat dalam Kurikulum Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, Mempelajari dan menghormati dasar-dasar adat Aceh dan nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat bagi Aparat Pemerintah yang berasal dari luar daerah dan bertugas di Aceh84. Implementasi pelaksanaan kehidupan adat yang berkembang di Aceh selalu berbarengan dengan ajaran Islam. Adat Aceh ada disebabkan adanya hukum Islam yang mulai diterapkan di Aceh. Hukum Islam di sini cenderung bersifat fiqhiyyah, yaitu sebuah syara’ yang diterjemahkan sehingga aplikasinya benar-benar nyata. Dan ini menjadi sebuah hukum positif yang berfungsi untuk menjaga dan mengatur tatanan kehidupan individual dengan Tuhan dan sesama masyarakat. Hukum positif ini tetap bernuansa religi, sehingga ketundukan terhadap hukum ini juga ketundukan terhadap Allah. Kemudian adat yang notabene dikuasai oleh Sultan juga mengatur perilaku individu dengan Tuhan dan bersosialisasi ke dalam strata sosial lain. Posisinya tetap berada dalam ruang lingkup hukum positif di mana pelakunya selain harus tunduk kepada Tuhan juga harus tunduk kepada hukum itu sendiri (Sultan). Selama hukum adat tidak menyimpang dari hukum Islam, hukum adat itu tetap dipergunakan oleh masyarakat Aceh. Dengan diberlakukannya Perda Adat tentang Kehidupan Adat Aceh tersebut, diharapkan bahwa penyelenggaraan kehidupan adat di Aceh dapat terus terselenggara dengan baik. Selain diharapkan pula bahwa keberagaman adat istiadat dalam kehidupan adat masyarakat Aceh dapat terus eksis dan berkembang.

84

Ibid, Pasal 22, 23, dan 24.

72

3. 3. 5. Perda Prosesi Perkawinan Adat dan Pakaian Penganten Adat Belitong. Kebudayaan yang istimewa dari Masyarakat Adat Belitung untuk

melestarikan dan menjaga tradisi adat istiadat diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Belitung No 3 Tahun 2003 tentang Prosesi Perkawinan dan Pakaian Penganten Adat Belitong. Upacara adat biasanya di dasari oleh sebuah kepercayaan, upacara yang dilakukan oleh masyarakat adat di Indonesia dimaksudkan untuk mendapatkan sebuah kebaikan atau menghindarkan diri dari malapetaka dalam kehidupan masyarakat yang melakukannya. Dalam kajian berikut ini, dibahas mengenai Peraturan Daerah yang mengatur mengenai Prosesi Perkawinan secara Adat. Sebagai bahan kepustakaan, Kajian penelitian ini bersumber dari Peraturan Daerah Kabupaten Belitung No 3 Tahun 2003 Tentang Prosesi Perkawinan dan Pakaian Penganten Adat Belitong. Kata Perkawinan Adat Belitong terdiri dari 3 (tiga) kata, yaitu : Perkawinan, Adat, dan Belitong. Kata Perkawinan menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) mempunyai pengertian Pernikahan. Sedangkan kata Adat mempunyai pengertian aturan, perbuatan, dan sebagainya yang lazim diturut atau dilakukan sejak dahulu kala dan kata Belitong berasal dari Belitung yang merupakan sebuah Kabupaten. Jadi perkawinan adat Belitong dapat diartikan sebagai pernikahan yang lazim diturut atau dilakukan sejak zaman dahulu di Belitung. Selain itu, yang menjadi kajian menarik dari keistimewaan prosesi pernikahan adat bukan hanya karena hanya Perda Kabupaten Belitung saja yang diakui dalam hukum tertulis, tetapi juga karena pada pelaksanaannya dikenal sistem kekerabatan Parental dimana kebiasaan umum

73

pada pernikahan secara adat ditempat lainnya (lelaki meminang perempuan) dapat dilakukan sebaliknya menurut adat Belitong. Isi dan muatan dari perda tersebut menerangkan secara rinci mengenai mekanisme pelaksanaan upacara perkawinan adat. Tata urutan pelaksanaan pernikahan adat Belitong antara lain sebagai berikut : 1. Meminang. Berdasarkan sistem kekeluargaan, masyarakat Belitung menganut sistem kekeluargaan bilateral atau Parental, artinya keluarga tersebut siapa saja orangnya yang memiliki keturunan dan kelahiran dengan ibu atau dengan ayah, termasuk keluarga besar ibu dan ayah. Sehingga meminang dalam adat Belitung dapat dilakukan oleh pihak lakilaki ataupun pihak perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa adanya keluwesan dalam menentukan peminangan pada masyarakat adat Belitung. 2. Panitia Gawai, adalah panitia yang secara adat menyelenggarakan upacara perkawinan. Terdiri dari : Tukang ngundang (pengundang), Tukang nerimak tamu (orang yang menerima tamu), Tukang tanak nasik (orang yang memasak nasi), Tukang masak aik (orang yang memasak air), Tukang ngambik aik (orang yang mengambil air), Tukang perikse sajian (orang yang memeriksa hidangan), Tukang ngelepaskan sajian (orang yang meletakan hidangan), Tukang nyuci piring (orang yang mencuci piring), Tukang berebut lawang (orang yang berebut lawang/pintu), Tukang jage jajak (orang yang menjaga kue), Tukang ngantar makanan penganten (orang yang mengantar makanan pengantin), Tukang bearak (orang yang mengantar pengantin), Tukang ngambelek

74

penganten/umak bapak penganten (orang yang menjemput pengantin/ibu bapak pengantin), Panggong (kepala juru masak pada waktu hajatan perkawinan), dan Mak Inang (perias pengantin). 3. Selamatan Gawai, tata cara adat ini diadakan pada hari kamis sebelum hari pelaksanaan, dilakukan oleh Dukun kampong dengan maksud agar pelaksanaan berjalan lancar. 4. Akad Nikah. Menurut adat Belitong, prosesi ini dilakukan pada malam Jum’at di rumah pihak perempuan. Calon mempelai laki-laki dibawa oleh keluarganya ke pihak mempelai perempuan dengan diarak. 5. Khatam Al-Qur’an, upacara ini dimulai oleh Dukun kampong yang pelaksanaannya dilakukan sebelum upacara pernikahan dilakukan. 6. Berebut Lawang, adalah prosesi yang harus dilalui pihak laki-laki sebelum menemui mempelai perempuan. Prosesi ini berlaku tiga tahap (diantara tiga pintu/lawang), pertama kepada Tukang tanak nasik dengan maksud filosofis bahwa seorang lelaki yang hendak berumah tangga harus sudah siap memberi makan istrinya. Kedua, kepada Pengulu gawai, yang bermakna seorang lelaki yang hendak berumah tangga, selain siap memberi nafkah istri juga harus siap mengatur rumah tangganya. Ketiga, kepada Mak inang memiliki makna bahwa selain memberi nafkah istri, mengatur rumah tangga, juga harus sudah siap untuk memberi pakaian istrinya. Dari prosesi ini, dapat dimaknai bahwa seorang lelaki yang sudah siap berumah tangga harus sudah siap untuk memberi sandang, pangan dan papan bagi istrinya.

75

7.

Bejamu, maksud dari prosesi ini adalah menjamu, atau jamuan yang dilakukan kepada rombongan dari mempelai laki-laki yang terdiri dari kedua orang tua dan sanak saudara berserta handai taulan. Acara bejamu ini seringkali disertai dengan kesenian tradisional Belitung seperti beregong, beripat, betiong, berinai, begambus, dan lainnya.

8.

Mandik Besimbor. Prosesi mandik besimbor adalah prosesi siraman terhadap kedua mempelai, yang diikuti dengan prosesi melangkahi tujuh lembar benang sebanyak tiga kali, dan prosesi menginjak telur.

9.

Beranjuk dan Mulangan Runut. Kedua prosesi tersebut adalah bagian dari upacara adat dimana acara penganten beranjuk dimaksudkan dengan menyelenggarakan pesta pernikahan di kediaman pihak laki-laki. Sedangkan prosesi mulangan runut adalah prosesi yang dilakukan selepas tiga hari setelah pelaksanaan prosesi beranjuk, kedua orang tua penganten lelaki mengantarkan kedua penganten ke rumah orang tua penganten perempuan.

10. Nyembah atau Silaturahmi Keluarga. Secara garis besar, prosesi ini dimaksudkan sebagai perkenalan silaturahmi kepada keluarga besar masing-masing. Tujuan dari prosesi ini agar kedua pengantin saling mengenal seluruh anggota keluarga yang sebelumnya kurang dikenal, mempererat persaudaraan, dan rasa menghormati kepada keluarga yang lebih tua. Selain mengatur mengenai mekanisme pelaksanaan upacara perkawinan secara adat, dalam perda tersebut juga berisikan pemaparan mengenai pakaian adat yang digunakan dalam upacara perkawinan adat Belitung. Menurut Masyarakat

76

Hukum Adat Belitong, kata Pakaian diartikan sebagai barang apa saja yang dipakai (baju, celana, dan sebagainya). Kata Penganten diartikan sebagai orang yang melangsungkan perkawinannya. Dengan demikian Pakaian Penganten Adat Belitong dapat diartikan sebagai barang yang dipakai pada saat mempelai melangsungkan prosesi perkawinan yang lazim diturut atau dilakukan sejak zaman dahulu di Belitung. Pakaian penganten adat Belitong yang dijabarkan dalam Perda Adat tersebut antara lain : 1. Pakaian Upacara Akad Nikah, 2. Pakaian Mandik Berias, 3. Pakaian Betangas atau Mandik Uap, 4. Pakaian Bepacar Inai, 5. Pakaian Khatam Al-Qur’an, 6. Pakaian Penganten Besanding, 7. Pakaian Bejamu, 8. Pakaian Mandik Besimbor, 9. Pakaian Beranjuk85. Prosesi Perkawinan Adat Belitong yang diatur menjadi Perda Adat mencakup seluruh rangkaian kegiatan perkawinan secara berurutan berdasarkan Adat Belitong. Kebiasaan adat yang dituangkan dalam Peraturan Daerah No 3 Tahun 2003 tersebut, dijadikan pedoman dan landasan hukum bagi setiap pelaksanaan Prosesi Perkawinan dan Pakaian Penganten masyarakat Adat Belitong.

3. 3. 6. Perda Lembaga Adat Melayu Jambi di Provinsi Jambi Perda Provinsi Jambi No 5 Tahun 2007 menjadi dasar eksistensi Masyarakat Adat Melayu yang selama ini telah ada dan berkembang didalam kehidupan masyarakat mendapatkan jaminan kepastian hukum dari Pemerintah daerah.
85

Lihat Lampiran Peraturan Daerah Kabupaten Belitung No 3 Tahun 2003 tentang Prosesi Perkawinan dan Pakaian Penganten Adat Belitong.

77

Berdasarkan hasil kajian dari Perda Provinsi Jambi tersebut, muatan perda tersebut mendefiniskan sebagai berikut : 1. Adat istiadat Melayu Jambi adalah seperangkat nilai, kaidah dan kebiasaan yang tumbuh dan berkembang sejak lama bersamaan dengan pertumbuhan masyarakat dalam Provinsi Jambi yang merupakan bagian dari Rumpun Melayu. 2. Lembaga Adat Melayu Jambi adalah suatu organisasi kemasyarakatan yang dibentuk oleh masyarakat hukum adat yang bersangkutan, mempunyai wilayah tertentu, dan harta kekayaan sendiri serta berhak dan berwenang untuk mengatur dan mengurus serta menyelesaikan hal-hal yang berkaitan dengan adat istiadat Melayu Jambi86. Dalam pelaksanaannya, Lembaga Adat Melayu Jambi diselenggarakan berdasarkan pada asas Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 dan nilai-nilai agama yaitu adat bersendikan syara’, syara’ bersendikan Kitabullah yang dijunjung tinggi dalam masyarakat. Selain itu, Lembaga Adat Melayu Jambi bertujuan : a. membina kerukunan dan rasa aman dalam hidup dan kehidupan masyarakat di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah. b. menghimpun dan mendayagunakan potensi adat istiadat untuk membantu penyelenggaraan pemerintahan daerah dalam pelaksanaan pembangunan. c. mengembangkan dan meneruskan nilai-nilai luhur adat istiadat kepada generasi penerus melalui ketahanan keluarga. d. mengkaji sejarah dan hukum adat dalam rangka memperkaya khazanah budaya daerah serta membantu penyusunan sejarah dan pembinaan hukum nasional87. Susunan organisasi lembaga adat, terbagi dalam tingkat Provinsi,

Kabupaten/Kota, Kecamatan, dan di tingkat Desa/kelurahan. Dalam memberikan putusan, Lembaga Adat Melayu Jambi yang lebih tinggi tingkatannya menjadi pedoman bagi lembaga yang lebih rendah beserta perangkat bawahannya dengan mendasarkan pada adat istiadat setempat.

86 87

Peraturan Daerah Provinsi Jambi No 5 Tahun 2007 tentang Lembaga Adat Melayu Jambi, Pasal 1 butir i dan k. Ibid, Pasal 3

78

Dalam pelaksanaannya, Lembaga Adat Melayu Jambi sesuai tingkatannya memiliki tugas dan fungsi sebagai berikut : a. menggali dan mengembangkan adat istiadat Melayu Jambi dalam upaya melestarikan kebudayaan daerah Jambi guna memperkaya khasanah kebudayaan bangsa. b. mengurus dan mengelola hal-hal yang berkaitan dan berhubungan dengan adat istiadat Melayu Jambi. c. menyelesaikan perselisihan dan perkara adat sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. d. menginventarisir, mengamankan, memelihara dan mengurus serta memanfaatkan sumber kekayaan yang dimiliki oleh Lembaga Adat Melayu Jambi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. e. membantu pemerintah dalam melaksanakan dan memelihara hasil pembangunan pada segala bidang, terutama pada bidang sosial kemasyarakatan dan sosial budaya. f. memberi kedudukan hukum menurut hukum adat terhadap hal-hal yang menyangkut harta kekayaan masyarakat hukum adat pada setiap tingkat Lembaga Adat Melayu Jambi berkenaan dengan perselisihan dan perkara adat; g. melaksanakan pembinaan dan pengembangan nilai-nilai adat isdiadat Melayu Jambi dalam rangka memperkaya, melestarikan dan mengembangkan kebudayaan daerah pada khususnya dan kebudayaan nasional pada umumnya; h. menjaga, memelihara dan memanfaatkan ketentuan-ketentuan adat istiadat Melayu Jambi yang hidup dan berkembang dalam masyarakat untuk kesejahteraan masyarakat88. Berbeda dengan pengaturan dalam Perda regional dibawahnya (merujuk pada Perda Kabupaten Bungo tentang masyarakat adat Datuk Sinaro Putih), dalam Perda Provinsi Jambi ini tidak dijelaskan secara rinci mengenai bentuk kelembagaan adat. Sehingga dapat ditarik suatu simpulan bahwa kelembagaan adat melalui tingkat provinsi di Jambi, tidak diatur dengan pasti bentuk kelembagaannya.

88

Ibid, Pasal 5 dan 6.

79

3. 3. 7. Perda Kedamangan di Kalimantan Tengah Masyarakat suku Dayak di Kalimantan Tengah memiliki kesadaran yang tinggi terkait erat dengan tanggung jawab untuk tetap memelihara, melestarikan, mengembangkan, memberdayakan dan menjunjung tinggi Hukum Adat, adat-istiadat dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang mengandung nilai-nilai positif sebagai budaya warisan leluhur. Kesadaran tersebut dimaksud sebagai upaya memperkuat karakter, identitas, jati diri, harkat dan martabat dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kesadaran tersebut tidak lain merupakan jawaban tepat atas fenomena, bahwa kesetiaan terhadap hukum adat, adat-istiadat dan kebiasaan dalam masyarakat, kenyataannya cenderung memudar sebagai akibat kuatnya terpaan arus modernisasi dan globalisasi. Apabila fenomena ini dibiarkan, maka dikuatirkan dapat melemahnya karakter, goyahnya jati diri, kaburnya identitas, turunnya harkat dan martabat dan tercabutnya akar budaya. Lembaga Kedamangan sebagai lembaga adat Dayak yang ada sejak lama, kini tetap sebagai lembaga sentral atau lembaga utama yang ada di garis depan dalam mengayomi masyarakat. Dalam Perda tersebut dijabarkan pengertian Kedamangan sebagai suatu Lembaga Adat Dayak yang memiliki wilayah adat, kesatuan masyarakat adat dan hukum adat dalam wilayah Provinsi Kalimantan Tengah yang terdiri dari himpunan beberapa desa / kelurahan / kecamatan / Kabupaten dan tidak dapat dipisah-pisahkan89. Maksud dan Tujuan Kedamangan antara lain : 1. untuk mendorong upaya pemberdayaan Lembaga Adat Dayak agar mampu membangun karakter Masyarakat Adat Dayak melalui upaya
89

Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah No 16 Tahun 2008 Tentang Kelembagaan Adat Dayak di Kalimantan Tengah, Pasal 1 ayat (25).

80

2.

pelestarian, pengembangan dan pemberdayaan adat istiadat, kebiasaankebiasaan dan menegakkan hukum adat dalam masyarakat demi mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat, menunjang kelancaran penyelenggaraan Pemerintahan dan kelangsungan pembangunan serta meningkatkan Ketahanan Nasional dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. upaya pemberdayaan Lembaga Adat Dayak mampu mendorong, menunjang dan meningkatkan partisipasi Masyarakat Adat Dayak guna kelancaran penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, dan pembinaan masyarakat di daerah, terutama di desa/kelurahan sehingga Masyarakat Adat Dayak setempat merasa dihargai secara utuh sehingga terpanggil untuk turut serta bertanggung jawab atas rasa keadilan, kesejahteraan dan kedamaian hidup masyarakat dan lingkungannya90.

Secara berjenjang, Kelembagaan Kedamangan Adat Dayak di Kalimantan Tengah diselenggarakan dengan tugas dan fungsi sebagai berikut : a. Lembaga adat dayak tingkat nasional adalah Majelis Adat Dayak Nasional yang merupakan Lembaga Adat Dayak tertinggi, yang mengemban tugas sebagai lembaga koordinasi, sinkronisasi, komunikasi, pelayanan, pengkajian dan wadah menampung dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat dan semua tingkat Lembaga Adat Dayak; b. Lembaga adat dayak tingkat provinsi adalah Dewan Adat Dayak Provinsi dengan tugas pokok melaksanakan program kerja sebagai tindak lanjut program kerja Majelis Adat Dayak Nasional, menjalankan fungsi koordinasi dan supervisi terhadap seluruh Dewan Adat Dayak Kabupaten/ Kota di wilayah Kalimantan Tengah; c. Lembaga adat dayak tingkat kabupaten/kota adalah Dewan Adat Dayak Kabupaten/ Kota dengan tugas pokok melaksanakan program kerja sebagai tindak lanjut program kerja Dewan Adat Dayak Provinsi, menjalankan fungsi koordinasi dan supervisi terhadap seluruh Dewan Adat Dayak Kecamatan dan lembaga Kedamangan di wilayahnya; d. Lembaga-lembaga adat dayak tingkat kecamatan adalah : 1. Dewan Adat Dayak Kecamatan dengan tugas pokok melaksanakan program kerja sebagai tindak lanjut program kerja dewan Adat Dayak Kabupaten/Kota serta menjalankan fungsi koordinasi dan supervisi terhadap seluruh Dewan Adat Dayak tingkat Desa/Kelurahan. 2. Kedamangan yang dipimpin oleh Damang Kepala Adat sekaligus sebagai Ketua Kerapatan Mantir/Let Perdamaian Adat tingkat kecamatan
90

Ibid, Pasal 2 (ayat 1 dan 2).

81

e. Lembaga-lembaga adat dayak tingkat desa/kelurahan adalah : 1. Dewan Adat Dayak Desa/Kelurahan dengan tugas pokok dan fungsi melaksanakan program kerja Dewan Adat Dayak Kecamatan. 2. Kerapatan Mantir/Let Perdamaian Adat Desa/Kelurahan91. Adat Dayak bersama seluruh kearifan lokalnya. Bahkan dalam mengemban tugas berat namun mulia tersebut didukung penuh oleh Masyarakat Adat Dayak melalui Dewan Adat Dayak provinsi, kabupaten/ kota, kecamatan, desa/kelurahan. Dipaparkan pula mengenai tugas dan fungsi Dewan Adat Dayak, antara lain sebagai berikut : 1. Menegakkan hukum adat dan menjaga wibawa lembaga adat Kedamangan. 2. Membantu kelancaran pelaksanaan eksekusi dalam perkara perdata yang mempunyai kekuatan hukum tetap, apabila diminta oleh pejabat yang berwenang. 3. Menyelesaikan perselisihan dan atau pelanggaran adat, dimungkinkan juga masalah-masalah yang termasuk dalam perkara pidana, baik dalam pemeriksaan pertama maupun dalam sidang penyelesaian terakhir sebagaimana lazimnya menurut adat yang berlaku. 4. Berusaha untuk menyelesaikan dengan cara damai jika terdapat perselisihan intern suku dan antara satu suku dengan suku lain yang berada di wilayahnya. 5. Memberikan pertimbangan baik diminta maupun tidak diminta kepada pemerintah daerah tentang masalah yang berhubungan dengan tugasnya. 6. Memelihara, mengembangkan dan menggali kesenian dan kebudayaan asli daerah serta memelihara benda-benda dan tempat-tempat bersejarah warisan nenek moyang. 7. Membantu pemerintah daerah dalam mengusahakan kelancaran pelaksanaan pembangunan di segala bidang, terutama bidang adat istiadat, kebiasaan-kebiasaan dan hukum adat. 8. Mengukuhkan secara adat apabila diminta oleh masyarakat adat setempat para pejabat publik dan pejabat lainnya yang telah dilantik sebagai penghormatan adat. 9. Dapat memberikan kedudukan hukum menurut hukum adat terhadap halhal yang menyangkut adanya persengketaan atau perkara perdata adat jika diminta oleh pihak yang berkepentingan. 10. Menyelenggarakan pembinaan dan pengembangan nilai-nilai adat Dayak, dalam rangka memperkaya, melestarikan dan mengembangkan
91

Ibid, Pasal 4 ayat (1 dan 2)

82

11. 12.

13. 14. 15.

kebudayaan nasional pada umumnya dan kebudayaan Dayak pada khususnya. Mengelola hak-hak adat, harta kekayaan adat atau harta kekayaan Kedamangan untuk mempertahankan bahkan meningkatkan kemajuan dan taraf hidup masyarakat ke rah yang lebih baik. Menetapkan besarnya uang sidang, uang meja, uang komisi, uang jalan, dan lap tunggal dalam rangka pelayanan /penyelesaian kasus dan atau sengketa oleh Kerapatan Mantir Perdamaian Adat, baik tingkat kecamatan maupun tingkat desa/kelurahan. Mengurus, melestarikan, memberdayakan dan mengembangkan adat istiadat, kebiasaan-kebiasaan, hukum adat dan lembaga kedamangan yang dipimpinnya. Menegakkan hukum adat dengan menangani kasus dan atau sengketa berdasarkan hukum adat dan merupakan peradilan adat tingkat terakhir. Sebagai penengah dan pendamai atas sengketa yang timbul dalam masyarakat berdasarkan hukum adat92.

Selain mengatur tentang mekanisme pemilihan, penetapan, dan masa kerja Kedamangan di Kalimantan Tengah tersebut, dalam Perda Adat ini juga dijelaskan pengaturan mengenai pengertian : 1. Tanah adat adalah tanah beserta isinya yang berada di wilayah Kedamangan dan atau di wilayah desa/kelurahan yang dikuasai berdasarkan hukum adat, baik berupa hutan maupun bukan hutan dengan luas dan batas-batas yang jelas, baik milik perorangan maupun milik bersama yang keberadaannya diakui oleh Damang Kepala Adat. 2. Tanah Adat milik bersama adalah tanah warisan leluhur turun temurun yang dikelola dan dimanfaatkan bersama-sama oleh para ahli waris sebagai sebuah komunitas, dalam hal ini dapat disejajarkan maknanya dengan Hak Ulayat. 3. Tanah adat milik perorangan adalah tanah milik pribadi yang diperoleh dari membuka hutan atau berladang, jual beli, hibah, warisan, dapat berupa kebun atau tanah yang ada tanam tumbuhnya maupun tanah kosong belaka. 4. Hak-hak adat di atas tanah adalah hak bersama maupun hak perorangan untuk mengelola, memungut dan memanfaatkan sumber daya alam dan atau hasil-hasilnya, di dalam maupun di atas tanah yang berada di dalam hutan di luar tanah adatmenjadi tanah adat bersama, dan tanah adat perorangan93.

92 93

Ibid, Pasal 8 dan Pasal 9. Lihat penjelasan tersebut dalam Pasal 1 ayat (19, 20, 21, dan 22)

83

Organisasi adat seperti Kerapatan Mantir/Let94 yang bermakna sebagai perangkat adat pembantu Damang, Organisasi Barisan Pertahanan Masyarakat Adat Dayak95 sebagai organisasi masyarakat adat Dayak mempertahankan eksistensinya, serta membantu Damang dalam menegakkan hukum adat. Dibahas pula dalam Perda Adat Kedamangan tersebut mengenai

pemberdayaan, pelestarian, dan pengembangan adat istiadat, kebiasaan adat, hukum adat, dan lembaga adat. Beserta penyelesaian sengketa dan pemberlakuan sanksi adat bagi pelanggar hukum adat Dayak96. Dalam penyelesaian sengketa adat yang telah diputuskan oleh Damang Kepala Adat melalui Kerapatan Mantir Perdamaian Adat tingkat kecamatan adalah bersifat final dan mengikat para pihak, namun apabila para pihak sepakat berkehendak untuk mencari keadilan melalui peradilan umum atau hukum nasional (undang-undang), maka itu menjadi hak para pihak, tetapi Keputusan Peradilan Adat yang telah diambil dapat menjadi bahan pertimbangan hakim. Adapun, beberapa jenis-jenis sanksi yang dapat dijatuhkan oleh Kerapatan Mantir/Let Perdamaian Adat baik di tingkat Desa/Kelurahan maupun di tingkat Kecamatan adalah sebagai berikut : 1. Nasehat/teguran secara lisan dan/atau tertulis. 2. Pernyataan permohonan maaf secara lisan dan /atau tertulis. 3. Singer (nama lain) untuk denda maupun ganti rugi.
94

Kerapatan Mantir Adat atau Kerapatan Let Adat adalah perangkat adat pembantu Damang atau gelar bagi anggota Kerapatan Mantir Perdamaian Adat di tingkat kecamatan dan anggota Kerapatan Mantir Perdamaian Adat tingkat desa/kelurahan, berfungsi sebagai peradilan adat yang berwenang membantu Damang Kepala Adat dalam menegakkan hukum adat Dayak di wilayahnya. Lihat Pasal 1 ayat 26. 95 Barisan Pertahanan Masyarakat Adat Dayak adalah sub-organisasi Majelis Adat Dayak Nasional, Dewan Adat Dayak Provinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan dan Desa/Kelurahan yang mempunyai tugas khusus untuk mengawal perjuangan Masyarakat Adat Dayak mempertahankan keberadaannya, membantu tugas Damang dalam menegakkan hukum adat dan mengantisipasi gangguan terhadap kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia di daerah perbatasan. Lihat Pasal 1 ayat 33. 96 Dalam perda tersebut, yang dimaksud dengan Hukum Adat adalah hukum yang benar-benar hidup dalam kesadaran hati nurani masyarakat dan tercermin dalam pola-pola tindakan mereka sesuai dengan adat istiadatnya dan pola-pola sosial budayanya yang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional. Lihat penjelasan arti Hukum Adat Dayak dalam Pasal 1 ayat 17.

84

4. Dikucilkan dari masyarakat adat desa/kelurahan, yaitu pihak pelanggar adat tidak diperbolehkan ikut dalam seluruh kegiatan adat untuk jangka waktu tertentu. 5. Dikeluarkan dari masyarakat Desa, yaitu memutuskan semua hubungan sosial dan adat antara masyarakat adat dengan pihak pelanggar dalam jangka waktu tidak terbatas. 6. Pencabutan gelar adat. 7. Dan lain-lain bentuk sanksi sesuai dengan hukum adat setempat97. Tata cara penyelesaian sengketa dan tata cara menjatuhkan sanksi adat oleh Damang Kepala Adat melalui Kerapatan Mantir/Let Perdamaian Adat, dilakukan sesuai dengan hukum adat Dayak yang berlaku di wilayah kedamangan masingmasing.

3. 3. 8. Perda Pakraman Bali Desa Pakraman yang telah tumbuh dan berkembang selama berabad-abad di Provinsi Bali, sebagai kesatuan masyarakat hukum adat yang dijiwai oleh ajaran agama Hindu dan nilai-nilai budaya yang hidup di Bali. Keberadaan Desa Pakraman, diatur dalam Peraturan Daerah Provinsi Bali No 3 Tahun 2001 Tentang Desa Pakraman. Keberadaan Desa Pakraman98 telah memberikan kontribusi berharga terhadap kelangsungan kehidupan masyarakat adat dan pembangunan di segala bidang terutama di bidang keagamaan, kebudayaan, dan kemasyarakatan. Sehingga keberadaannya perlu untuk dilesetarikan dan diberdayakan. Pembahasan mengenai kelembagaan adat yang hidup berkembang didalam masyarakat adat Bali, didasarkan pada pola kehidupan bermasyarakat yang menganut

97 98

Ibid, Pasal 32. Pengertian DesaPakraman adalah kesatuan masyarakat hokum adat di Propinsi Bali yang mempunyai satu kesatuan tradisi dan tata krama pergaulan hidup masyarakat umat Hindu secara turun temurun dalam ikatan kahyangan tiga atau kahyangan desa yang mempunyai wilayah tertentu dan harta kekayaan sendiri serta berhak mengurus rumah tangganya sendiri. Lihat Ketentuan Umum Perda No 3 Tahun 2001 Tentang Desa Pakraman, Pasal 1 ayat 4.

85

ajaran agama Hindu. Beberapa pengertian dan istilah adat dalam budaya masyarakat Bali seperti : 1. Awig-awig, adalah aturan yang dibuat oleh krama desa pakraman dan atau krama banjar pakraman yang dipakai sebagai pedoman dalam pelaksanaan Tri Hita Karana sesuai dengan desa mawacara dan dharma agama di desa pakraman dan banjar pakraman masing-masing. 2. Prajuru Desa Pakraman, adalah pengurus desa pakraman dan banjar pakraman di Provinsi Bali. 3. Banjar Pakraman, adalah kelompok masyarakat yang merupakan bagian desa pakraman. 4. Krama desa/Krama Banjar, adalah mereka yang menempati karang desa pakraman/karang banjar pakraman dan atau bertempat tinggal diwilayah desa/banjar pakraman atau ditempat lain yang menjadi warga desa pakraman/banjar pakraman. 5. Krama pengempon/pengemong adalah krama desa pakraman/karma banjar pakraman yang mempunyai ikatan lahir dan batin terhadap kahyangan yang berada di wilayahnya serta bertanggung jawab terhadap pemeliharaan, perawatan, dan pelaksanaan kegiatankegiatan upacara di kahyangan tersebut. 6. Krama penyungsung adalah krama desa pakraman/krama banjar pakraman yang mempunyai ikatan batin terhadap suatu kahyangan dan atau ikut berpartisipasi dalam pemeliharaan, perawatan, dan pelaksanaan kegiatankegiatan upacara berupa dana punia. 7. Palemahan desa pakraman adalah wilayah yang dimiliki oleh desa pakraman yang terdiri atas satu atau lebih palemahan banjar pakraman yang tidak dapat dipisah-pisahkan. 8. Tanah ayahan desa pakraman adalah tanah milik desa pakraman yang berada baik di dalam maupun di luar desa pakraman. 9. Paruman desa/banjar pakraman adalah paruman permusyawaratan atau permufakatan krama desa pakraman/banjar pakraman yang mempunyai kekuasaan tertinggi di dalam desa pakraman/banjar pakraman. 10. Paruman alit adalah sidang utusan prajuru desa pakraman sekecamatan yang mempunyai kekuasaan tertinggi di kecamatan. 11. Paruman madya adalah sidang utusan paruman prajuru desa pakraman se kabupaten/kota yang mempunyai kekuasaan tertinggi di kabupaten/kota. 12. Paruman agung adalah sidang utusan prajuru desa pakraman se-Bali yang mempunyai kekuasaan tertinggi di Propinsi. 13. Pacalang adalah satgas (satuan tugas) keamanan tradisional masyarakat Bali yang mempunyai wewenang untuk menjaga keamanan dan ketertiban wilayah, baik ditingkat banjar pakraman dan atau di wilayah desa

86

pakraman99. Desa Pakraman mempunyai tugas : a. Membuat Awig-awig. b. Mengatur krama desa. c. Mengatur pengelolaan harta kekayaan desa. d. Bersama-sama pemerintah melaksanakan pembangunan di segala bidang terutama di bidang keagamaan, kebudayaan, dan kemasyarakatan. e. Membina dan mengembangkan nilai-nilai budaya Bali dalam rangka memperkaya, melestarikan, dan mengembangkan mengembangkan kebudayaan nasional pada umumnya dan kebudayaan daerah pada khususnya, berdasarkan "paras-paros, sagilik-saguluk, salunglungsabayantaka" (musyawarah-mufakat); f. mengayomi krama desa100. Selain memiliki fungsi tugas tersebut diatas, Desa Pakraman memiliki kewenangan antara lain : a. Menyelesaikan sengketa adat dan agama dalam lingkungan wilayahnya dengan tetap membina kerukunan dan toleransi antar krama desa sesuai dengan awig-awig dan adat kebiasaan setempat. b. Turut serta menentukan setiap keputusan dalam pelaksanaan pembangunan yang ada di wilayahnya terutama yang berkaitan dengan Tri Hita Karana. c. Melakukan perbuatan hukum di dalam dan di luar desa pakraman101. Dalam menjalankan keberadaan desa pakraman, pelaksanaannya dilakukan oleh pemimpin adat yang disebut prajuru. Seorang prajuru dipilih dan ditetapkan oleh krama desa pakraman menurut aturan yang ditetapkan dalam awig-awig desa pakraman masing-masing. Tugas-tugas prajuru antara lain : a. Melaksanakan awig-awig. b. mengatur penyelenggaraan upacara keagamaan di desa pakraman, sesuai dengan sastra agama dan tradisi masing-masing. c. mengusahakan perdamaian dan penyelesaian sengketa-sengketa adat;
99

Ibid, Ketentuan Umum Pasal 1 Ibid, Pasal 5. 101 Ibid, Pasal 6.
100

87

d. mewakili desa pakraman dalam bertindak untuk melakukan perbuatan hukum baik di dalam maupun di luar peradilan atas persetujuan paruman desa; e. mengurus dan mengatur pengelolaan harta kekayaan desa pakraman; f. membina kerukunan umat beragama dalam wilayah desa pakraman. Selain mengatur mengenai fungsi dan wewenang Desa Pakraman, dalam produk perundangan tersebut juga menjelaskan dan merincikan mengenai : 1. Harta kekayaan desa pakraman adalah kekayaan yang telah ada maupun yang akan ada yang berupa harta bergerak dan tidak bergerak, material dan inmaterial serta benda-benda yang bersifat religious magis yang menjadi milik desa pakraman. 2. Pengelolaan harta kekayaan desa pakraman dilakukan oleh prajuru desa sesuai dengan awig-awig desa pakraman masing-masing. 3. Setiap pengalihan/perubahan status harta kekayaan desa pakraman harus mendapat persetujuan paruman. 4. Pengawasan harta kekayaan desa pakraman dilakukan oleh krama desa pakraman. 5. Tanah desa pakraman dan atau tanah milik desa pakraman tidak dapat disertifikatkan atas nama pribadi. 6. Tanah desa pakraman dan tanah milik desa pakraman bebas dari pajak bumi dan bangunan102. Kelembagaan adat lain adalah Majelis Desa Pakraman, yang merupakan sarana perkumpulan antar Desa Pakraman di tingkat kecamatan, kabupaten/kota, dan provinsi. Majelis Desa Pakraman mempunyai tugas dan wewenang sebagai berikut : a. Mengayomi adat istiadat. b. Memberikan saran, usul dan pendapat kepada berbagai pihak baik perorangan, kelompok/lembaga termasuk pemerintah tentang masalahmasalah adat. c. Melaksanakan setiap keputusan-keputusan paruman sesuai dengan aturanaturan yang ditetapkan. d. Membantu penyuratan awig-awig. e. Melaksanakan penyuluhan adat istiadat secara menyeluruh.

102

Ibid, Pasal 9.

88

f. Memusyawarahkan berbagai hal yang menyangkut masalah-masalah adat dan agama untuk kepentingan desa pakraman. g. Sebagai penengah dalam kasus-kasus adat yang tidak dapat diselesaikan pada tingkat desa. h. Membantu penyelenggaraan upacara keagamaan di kecamatan, kabupaten/kota dan provinsi103. Dalam pembahasan ini, tidak dapat dilupakan pula keberadaan dan fungsi Pacalang atau Langlang menjalankan tugas-tugas keamanan di wilayah kehidupan desa pakraman dalam hubungan pelaksanaan tugas adat dan agama. Keberadaan Pacalang diangkat dan diberhentikan oleh Desa Pakraman berdasarkan Paruman desa. Penyelesaian sengketa adat dan agama Hindu didalam masyarakat adat Bali diselesaikan melalui suatu lembaga peradilan desa pakraman yang disebut Sabha Kertha. Sengketa-sengketa adat meliputi sengketa perkawinan, perceraian, waris, pengangkatan anak. Lembaga peradilan adat (Sabha Kertha) tersebut diadakan secara berjenjang yaitu : a. Penyelesaian sengketa pada tingkat pertama dilakukan oleh Kertha Desa (pelaksanaan pada tingkat desa/kelurahan/kecamatan), terdiri dari 3 sampai 5 orang hakim perdamaian desa yang dipilih melalui paruman. b. Penyelesaian sengketa pada tingkat kedua dilakukan oleh Kertha Madya (pelaksanaan pada tingkat kabupaten/kota), terdiri dari 7 sampai 9 orang hakim perdamaian Madya yang dipilih melalui paruman. c. Penyelesaian sengketa pada tingkat terakhir dilakukan oleh Kertha Agung (pelaksanaan pada tingkat provinsi dan keputusannya bersifat mengikat dan harus dijalankan), terdiri dari 9 sampai 11 orang hakim perdamaian Agung yang dipilih melalui paruman.

103

Ibid, Pasal 16.

89

Hakim perdamaian pada masing-masing tingkatan dipilih dari para prajuru, tokoh adat/agama dan tokoh masyarakat lainnya yang memahami hukum adat dan hukum agama. Pemahaman Desa Pakraman sebagai pengemban fungsi keagamaan disamping pengemban fungsi adat dan kebudayaan adalah sangat penting, selalu mengingatkan kita semua agar ajaran Agama Hindu di Bali senantiasa dijadikan nilai yang utama dalam kehidupan dan pelaksanaan sistem adat. Upaya perlindungan terhadap tanah adat pada masyarakat desa pakraman di Bali, telah dijabarkan sebelumnya dalam Pasal 9 ayat (5) bahwa tanah desa pakraman dan atau tanah milik desa pakraman tidak dapat disertifikasikan atas nama pribadi. Hal ini menunjukkan bahwa pengambilalihan atas pemanfaatan tanah adat di Bali tidak dapat dilakukan oleh pihak asing. Penguatan hubungan antara desa adat dengan tanahnya itu, kemudian dibuatkan aturan yang kemudian disuratkan dalam awig-awig yang melarang adanya pengalihan hak atau jual beli tanah druwe (milik) desa kepada orang yang bukan sebagai krama desa setempat, juga dilarang untuk menggunakan tanah dimaksud, kecuali dipergunakan sesuai dengan tujuan (petisi) seperti yang tercantum dalam awig-awig dan memperoleh persetujuan melalui paruman desa104. Tanah dalam kebudayaan Bali merupakan pelaba pura. Artinya, tanah merupakan dana abadi untuk membiayai keberlanjutan tempat suci pura. Dengan menjual tanah, orang Bali pada akhirnya kehilangan tanah. Juga kehilangan tradisi adat, kebudayaan, bahkan upacara keagamaan.

104

I Made Suwitra, 2010, Dampak Konversi dalam UUPA Terhadap Status Tanah Adat di Bali, Jurnal Hukum UII No 1 Vol 17, hlm : 103-118.

90

Kenyataannya saat ini, semakin banyak terdapat tanah-tanah adat yang telah berpindah kepemilikan kepada orang asing. Kecenderungan yang terjadi ketika pengalih fungsian penguasaan atas tanah adat, lebih dikarenakan krama tamiu (warga pendatang) tidak melakukan upaya komunikasi (rembug) dan tanpa sepengetahuan desa adat, namun perizinannya telah diterbitkan oleh Pemda setempat. Perda No 3 Tahun 2001 ini memberi celah bagi krama tamiu (warga pendatang) mendapat hak atas pawongan dan palemahan, tanpa kewajiban parahyangan. Padahal, logika hukum adat Bali justru mempersyaratkan kewajiban memikul tanggung jawab parahyangan-lah yang menyebabkan seseorang sebagai warga adat berhak atas pawongan dan palemahan, bukan sebaliknya sebagaimana logika dari Perda No 3 Tahun 2001 Tentang Desa Pakraman105. Selain itu ketidak jelasan status hukum tanah komunal mendorong terjadinya pengalihan kepemilikan tanah, sehingga memicu terjadinya konflik. Beberapa contoh konflik pertanahan di Bali antara lain : 1. Kasus konflik pertanahan di Desa Sumber Klampok Kecamatan Gerokgah Kabupaten Buleleng. 2. Kasus konflik tanah Desa Selasih Kabupaten Tingkat II Gianyar. 3. Kasus konflik tanah di Desa Pecatu Kabupaten Badung. 4. Kasus konflik tanah pembangunan Garuda Wisnu Kencana. 5. Kasus konflik tanah Bali Nirwana Resort. 6. Kasus konflik tanah pembangunan Pulau Serangan. 7. Kasus pembangunan Kawasan Nusa Penida. 8. Kasus tanah Setra di Bandara Ngurah Rai. 9. Kasus konflik Tanah Sawangan106. Pemberlakuan Perda Adat Bali tersebut, lebih dimaksudkan sebagai upaya pembangunan budaya Bali, mewujudkan pelestarian kebudayaan, sehingga

terciptanya kebudayaan yang mampu menyaring secara selektif nilai-nilai budaya asing. Sekiranya akan sangat penting mengingat dilain sisi Provinsi Bali tidak lagi

105 106

Gde Widyatmika, Direktur LBH Denpasar, Majalah Gumi Bali SARAD. Lihat Sukri Abdurrachman, Konflik Pertanahan Vertikal Pada Kawasan Pariwisata di Bali,

91

menjadi Provinsi dengan homogenitas suku tertentu, melainkan saat ini sudah terdiri dari bermacam-macam suku yang datang. Dilain itu pengaruh kebudayaan asing dari luar yang tidak selalu sejalan dengan kebudayaan bangsa timur, akan menjadi salah satu faktor mengikis dan menyurutnya kebiasaan-kebiasaan adat yang telah lama hidup dalam masyarakat.

3. 3. 9. Perda Pemberdayaan, Pelestarian, dan Pengembangan Adat Istiadat. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh sebanyak 52 Perda (47.71%) dari 109 Perda adat yang berkaitan dengan pelestarian, pengembangan, dan pemberdayaan adat istiadat selama masa Reformasi (1998 – sekarang) di Indonesia. Adat istiadat atau hukum adat sebenarnya masih sangat kental mewarnai kehidupan masyarakat desa. Bahkan masyarakat atau komunitas tertentu di kotakotapun banyak yang masih membawa kebiasaan dan menerapkan adat istiadat dari desa atau kampung halaman mereka masing-masing. Sampai di kota atau daerah perantauan ikatan kekerabatan dalam budaya yang dimiliki masih dipertahankan107. Namun, kecenderungan terkikisnya keberadaan adat istiadat dan kelembagaan adat menjadi pemicu diterbitkannya payung hukum untuk melestarikan, melindungan dan mengembangkan keberadaan adat istiadat dan lembaga adat di seluruh Indonesia.

107

Lihat Abraham Raubun, Menggelitik Adat Istiadat dan Nilai Budaya Sosial dalam Pembangunan Masyarakat dan Desa, TERPADU, Media Komunikasi Pembangunan Desa Terpadu, Vol 1, 2011.

92

3. 3. 10. Pelestarian, Pengembangan, dan Pemberdayaan Adat Istiadat di Provinsi Jawa Barat Munculnya penerapan Perda Pelestarian, Pengembangan dan Pemberdayaan Adat Istiadat di Region Jawa Barat diawali dari diundangkannya Peraturan Daeah Kabupaten Cianjur No 15 Tahun 2000 Tentang Pemberdayaan dan Pelestarian serta Pengembangan Adat Istiadat Kebiasaan-kebiasaan Masyarakat dan Lembaga Adat. Perda tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan peranan nilai-nilai adat istiadat, kebiasaan-kebiasaan masyarakat dan lembaga adat dalam menunjang kelancaran penyelenggaraan pemerintahan, kelangsungan pembangunan dan

peningkatan ketahanan nasional serta turut serta dalam upaya mendorong kesejahteraan warga masyarakat. Selain daripada itu, penerapan Perda Kabupaten Cianjur tersebut adalah untuk meningkatkan sumber daya manusia dan membentuk suatu organisasi kemasyarakatan yang mengarah kepada tatanan kehidupan suatu masyarakat yang tidak merubah nilai, kaidah dan kepercayaan untuk menunjang pemerintahan, pembangunan dan pembinaan masyarakat. Beberapa istilah dan pengertian yang termuat dalam Perda Kabupaten Cianjur, antara lain : 1. Adat istiadat adalah seperangkat nilai atau norma, kaidah dan keyakinan sosial yang tumbuh dan berkembang bersamaan dengan pertumbuhan dan perkembangan masyarakat desa dan atau kesatuan masyarakat lainnya serta nilai atau norma lain yang masih dihayati dan dipelihara masyarakat sebagaimana terwujud dalam berbagai pola kelakuan yang merupakan kebiasaan-kebiasaan dalam kehidupan masyarakat setempat. 2. Kebiasaan-kebiasaan masyarakat adalah pola-pola kegiatan atau perbuatan yang dilakukan oleh para warga masyarakat yang merupakan sebuah kesatuan hukum tertentu yang pada dasarnya dapat bersumber pada hukum adat atau adat istiadat sebagaimana diakui keabsahannya oleh warga masyarakat tersebut dan oleh warga masyarakat lainnya. 3. Lembaga adat adalah sebuah organisasi kemasyarakatan baik yang sengaja dibentuk maupun yang secara wajar telah tumbuh dan berkembang di dalam 93

sejarah masyarakat yang bersangkutan atau dalam suatu masyarakat hukum adat tertentu dengan wilayah hukum dan hak atas harta kekayaan di dalam hukum adat tersebut, serta berhak dan berwenang untuk mengatur, mengurus dan menyelesaikan berbagai permasalahan kehidupan yang berkaitan dengan mengacu kepada adat istiadat dan hukum adat yang berlaku. 4. Wilayah adat adalah wilayah satuan budaya tempat adat istiadat itu tumbuh, hidup dan berkembang sehingga menjadi penyangga keberadaan adat istiadat yang bersangkutan. 5. Hak adat adalah hak untuk hidup di dalam memanfaatkan sumber daya yang ada dalam lingkungan warga masyarakat yang berdasarkan hukum adat yang berlaku dalam masyarakat atau persekutuan hukum adat tertentu108. Tidak dijelaskan secara spesifik bentuk kelembagaan adat dalam Perda Kabupaten Cianjur tersebut. Lembaga adat berkedudukan sebagai wadah organisasi permusyawaratan/permufakatan kepala adat/pemangku adat/tetua adat dan pemukapemuka adat lainnya yang berada di luar susunan organisasi pemerintah. Dalam pelaksanaannya, lembaga adat yang dimaksud dalam Perda Kabupaten Cianjur mempunyai tugas antara lain : a. Menampung dan menyalurkan pendapat masyarakat kepada Pemerintah serta menyelesaikan perselisihan yang menyangkut hukum adat, adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat. b. Memberdayakan, melestarikan dan mengembangkan adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat dalam rangka memperkaya budaya daerah serta memberdayakan masyarakat dalam menunjang penyelenggaraan Pemerintah, pelaksanaan pembangunan dan pembinaan masyarakat. c. Menciptakan hubungan yang demokratis dan harmonis serta obyektif antara kepala adat/pemangku adat dan pimpinan atau pemuka adat dengan aparat Pemerintah di daerah109. Kedudukan organisasi kelembagaan adat berdasarkan Perda Kabupaten Cianjur tersebut, ditetapkan oleh Kepala Desa dengan persetujuan Badan Perwakilan Desa. Lembaga adat di Kabupaten Cianjur adalah sebagai mitra Pemerintahan Desa.

108

109

Lihat Ketentuan Umum Peraturan Daerah Kabupaten Cianjur No 15 Tahun 2000 Tentang Pemberdayaan dan Pelestarian serta Pengembangan Adat Istiadat Kebiasaan-kebiasaan Masyarakat dan Lembaga Adat. Ibid, Pasal 5 ayat (2).

94

Pada region yang sama (Provinsi Jawa Barat), sejak diundangkannya Perda Kabupaten Cianjur tersebut, diikuti pula oleh penerapan Peraturan Daerah Kabupaten Garut No 22 Tahun 2000 Tentang Pemberdayaan dan Pelestarian serta Pengembangan Adat Istiadat, Kebiasaan-kebiasaan Masyarakat dan Lembaga Adat. Namun, muatan perda tersebut identik dengan muatan dalam Perda Kabupaten Cianjur. Kecenderungan lahirnya perda-perda identik di Indonesia ini, dapat dijumpai dalam pembahasan mengenai Perda Pelestarian, Pemberdayaan dan Pengembangan Adat Istiadat berdasarkan hasil dari penelitian ini.

3. 3. 11. Pelestarian, Pengembangan, dan Pemberdayaan Adat Istiadat Provinsi Lampung Pemberdayaan, pelestarian dan pengembangan adat istiadat dapat ditemui Peraturan Daerah Provinsi Lampung No 2 Tahun 2008 Tentang Pemeliharaan Kebudayaan Lampung. Masyarakat adat Lampung yang terdiri dari Ruwa Jurai yaitu Jurai Adat Pepadun dan Jurai Adat Saibatin. Prinsip-prinsip dalam kehidupan seharihari menunjukkan suatu corak keaslian yang khas dalam hubungan sosial antarmasyarakat Lampung yang disimpulkan dalam 5 prinsip yakni : 1. Piil Pesenggiri, berasal dari bahasa Arab fiil yang berarti perilaku, dan pesenggiri maksudnya keharusan bermoral tinggi, berjiwa besar, tahu diri, serta tahu kewajiban. Pada filsafat piil tampak nilai-nilai yang tersirat begitu luhur seperti tercantum dalam kitab hukum adat Kuntara Abung dan Kuntara Raja Niti, kedua kitab tersebut banyak berisi aturan perikelakuan seseorang, cara berpakaian, aturan perkawinan, serta hukum pidana adat dan hukum perdata adat. 2. Sakai Sambayan, mengandung makna dan pengertian yang luas, termasuk diantaranya tolong menolong, bahu membahu, dan saling memberikan sesuatu kepada pihak lain yang memerlukan dalam hal ini tidak terbatas pada sesuatu yang sifatnya materi saja, tetapi juga dalam arti moral termasuk sumbangan tenaga, pemikiran, dan lain sebagainya.

95

3. Nemui Nyimah, berarti bermurah hati dan ramah tamah terhadap semua pihak baik terhadap orang dalam satu klan maupun di luar klan dan juga terhadap siapa saja yang berhubungan dengan mereka. Jadi selain bermurah hati dengan memberikan sesuatu yang ada padanya kepada pihak lain, juga sopan santun dalam bertutur kata terhadap tamu mereka. 4. Nengah Nyappur, adalah tata cara pergaulan masyarakat Lampung dengan sikap membuka diri dalam pergaulan masyarakat umum, agar berpengetahuan luas dan ikut berpartisipasi terhadap segala sesuatu yang sifatnya baik dalam pergaulan dan kegiatan masyarakat yang dapat membawa kemajuan dan selalu bisa menyesuaikan diri terhadap perkembangan zaman. 5. Bejuluk Beadek, adalah didasarkan kepada titei gemattei yang diwarisi secara turun temurun secara adat dari zaman nenek moyang dahulu, tata cara ketentuan pokok yang selalu dipakai diikuti (titei gemattei) diantaranya adalah ketentuan seseorang selain mempunyai nama juga diberi gelar sebagai panggilan terhadapnya dan bagi seseorang baik pria maupun wanita jika sudah menikah diberi adek (beadek) yang biasanya pemberian adek ini dilakukan atau dilaksanakan didalam rangkaian upacara atau waktu pelaksanaan perkawinan/pernikahan110. Pengembangan dan perlindungan adat yang dimaksud dalam Perda Adat Lampung tersebut lebih menekankan pada budaya yang meliputi : 1. Bahasa daerah adalah bahasa Lampung yang disesuaikan dengan wilayah keadatannya yang digunakan sehari-hari sebagai sarana komunikasi dan intcraksi antar anggota masyarakat dari suku-suku atau kelompok-kelompok etnis di daerah-daerah dalam wilayah Provinsi Lampung. 2. Sastra daerah adalah sastra yang diungkapkan dalam bahasa daerah baik lisan maupun tulisan. 3. Aksara daerah adalah aksara Lampung Khaganga yaitu sistim ortografi hasil masyarakat daerah yang meliputi aksara dan sistim pengaksaraan untuk menuliskan bahasa daerah. 4. Kesenian adalah kesenian tradisional masyarakat adat Lampung yaitu nilai estetika hasil perwujudan kreatifitas daya cipta, rasa, karsa dan karya yang hidup secara turun-temurun dalam mayarakat Lampung. 5. Kepurbakalaan adalah semua tinggalan budaya masyarakat masa lalu yang bercorak pra sejarah, Hindu-Budha, Islam maupun kolonial. 6. Tinggalan budaya adalah semua benda bergerak dan tidak bergerak yang menjadi warisan budaya. 7. Kesejarahan adalah dinamika peristiwa yang terjadi di masa lalu dalam berbagai aspek kehidupan dan hasil rekonstruksi peristiwa-peristiwa tersebut,

110

http://t-indonesia.com/kolom/wforum.cgi?no=3306&reno=3290&oya=3290&mode=msgview&list=new

96

serta peninggalan-peninggalan masa lalu dalam bentuk pemikiran ataupun teks tertulis dan tradisi lisan. 8. Nilai tradisional adalah konsep abstrak mengenai masalah dasar yang amat penting dan berguna dalam hidup dan kehidupan manusia yang tercermin dalam sikap dan perilaku yang selalu berpegang teguh pada adat istiadat. 9. Museum adalah lembaga yang menyelenggarakan pengumpulan, penyimpanan benda-benda bukti materiil hasil budaya manusia, alam dan lingkungannya. 10. Lembaga Adat adalah Lembaga Adat Lampung yaitu organisasi kemasyarakatan yang karena kesejarahan atau asal usulnya memuliakan hukum adat dan mendorong anggota-anggotanya untuk melakukan kegiatan pelestarian serta pengembangan adat budaya Lampung. 11. Pakaian Daerah adalah pakaian Adat Lampung yaitu perangkat Pakaian Adat serta baju telukbelanga dan pakaian yang memberikan corak nilai-nilai kebesaran budaya Lampung. 12. Budaya Daerah adalah budaya masyarakat Lampung yaitu sistem nilai yang dianut oleh komunitas/kelompok masyarakat Daerah, yang diyakini akan dapat memenuhi harapan-harapan warga- masyarakatnya dan di dalamnya terdapat nilai-nilai, sikap serta tata cara masyarakat yang diyakini dapat memenuhi kehidupan warga masyarakatnya111. Perda Adat Provinsi Lampung dibuat bertujuan untuk mendayagunakan secara optimal nilai-nilai budaya Lampung, dan bertujuan melindungi, melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai dan keberadaan kebudayaan daerah. Selain itu, pemeliharaan kebudayaan dimaksudkan untuk meningkatkan kepedulian dalam melindungi, melestarikan, menghargai budaya, dan meningkatkan ketahanan sosial dan budaya masyarakat adat Lampung. Peran serta masyarakat dalam usaha pemeliharaan, pembinaan dan pengembangan seluruh aspek kebudayaan Lampung juga menjadi muatan perundangan tersebut. Selain kelembagaan adat yang bersumber dari organisasi kemasyarakatan, baik yang sengaja dibentuk maupun yang telah tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat.

111

Lihat Ketentuan Umum Peraturan Daerah Provinsi Lampung No 2 Tahun 2008 Tentang Pemeliharaan Kebudayaan Lampung.

97

Lembaga adat dalam Perda Provinsi Lampung adalah sebagai wadah organisasi permusyawaratan/permufakatan kepala adat/pemangku adat/petua-petua adat/pemuka-pemuka adat lainnya baik yang ada maupun yang berkedudukan diluar organisasi Pemerintah Daerah Provinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan dan

Kelurahan/Desa atau Tiuh, Pekon112 dan Kampung. Lembaga adat tersebut memiliki tugas antara lain sebagai berikut : a. Menampung dan menyalurkan aspifasi/pendapat masyarakat kepada Pemerintah. b. Menyelesaikan berbagai permasalahan yang timbul dalam masyarakat yang berkenaan dengan hukum adat dan adat istiadat. c. Melestarikan, mengembangkan dan memberdayakan Kebudayaan Lampung pada umumnya dan khususnya hal-hal yang berkenaan dengan adat istiadat Lampung. d. Memberdayakan masyarakat dalam rangka menunjang peningkatan penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan kesejahteraan masyarakat di daerah. e. Menciptakan hubungan yang demokratis dan harmonis serta objektif antara kepala adat/pemangku adat/petua-petua adat/pemuka-pemuka adat lainnya dengan aparatur pemerintahan di daerah113. Selain itu, kelembagaan adat dalam pengaturannya di Perda Provinsi Lampung memiliki kewenangan dan kewajiban yaitu : a. Mewakili masyarakat adat keluar apabila menyangkut hal-hal yang berkenaan dengan kepentingan masyarakat adat; b. Mengelola hak-hak adat dan atau harta kekayaan adat untuk meningkatkan kemajuan dan kesejahteraan masyarakat yang bersangkutan; c. Menyelesaikan berbagai perselisihan yang menyangkut perkara-perkara adat istiadat sepanjang penyelesaian dimaksud tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. d. Menunjang pemerintah daerah dalam peningkatan penyelenggaraan pemerintahan daerah. pembangunan dan kesejahteraan masyarakat serta pemeliharaan kebudayaan Lampung;
112

113

Pekon adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dengan Sistem Pemerintahan Nasional dan beberapa di Daerah Kabupaten. Lihat penjelasannya dalam ketentuan umum Peraturan Daerah Kabupaten Lampung Barat No 14 Tahun 2000 Tentang Pemberdayaan, Pelestarian dan Pengembangan Adat Istiadat dan Lembaga Adat. Op.Cit, Pasal 19.

98

e. Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya adat istiadat dan kemajemukan adat istiadat serta kebudayaan daerah; f. Menegaskan makna dan hakekat adat dan budaya sebagai kekuatan lokal yang hidup seeara dinamis dasn menciptakan kondisi yang dapat inenjamin tetap terpeliharanya kebhinekaan masyarakat adat dalam memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa114. Dalam Perda Provinsi Lampung ini juga diatur mengenai penjatuhan sanksi administratif dan ketentuan pidana sebagai upaya penegakan hukum atas perlindungan, pemeliharaan dan pengembangan kebudayaan di Provinsi Lampung. Penjatuhan sanksi administratif diberikan apabila suatu bangunan publik, gedung yang sudah ada maupun yang akan dibangun tidak menggunakan ornamen khas lampung berupa siger115, jung kain kapal, dan tugu. Sanksi administratif dapat berupa: a. Teguran lisan. b. Peringatan tertulis. c. Penundaan pemberian layanan publik116. Sedangkan penjatuhan sanksi pidana diberikan apabila terjadi pelanggaran oleh masyarakat yang tidak mendaftarkan, dalam hal ini menyimpan atas temuan kepurbakalaan dan benda tinggalan budaya. Penjatuhan pidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) bulan dan atau denda paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah,-)117. Mengenai produk juridis terkait pelestarian, pengembangan dan

pemberdayaan adat istiadat di Provinsi Lampung. Sejak tahun 2000, telah diundangkan beberapa Perda di tingkat Kabupaten. Hasil yang didapat selama
114 115

116 117

Ibid, Pasal 21. Siger adalah topi adat pengantin wanita Lampung. Menara Siger berupa bangunan berbentuk mahkota terdiri dari sembilan rangkaian yang melambangkan sembilan macam bahasa di Lampung. Menara Siger berwarna kuning dan merah, mewakili warna emas dari topi adat pengantin wanita. Bangunan ini juga berhiaskan ukiran corak kain tapis khas Lampung. Op.Cit, Pasal 27 ayat (2). Op.Cit, Pasal 28 ayat (2).

99

penelitian menunjukan beberapa Perda tingkat kabupaten telah diundangkan jauh sebelum diundangkannya Perda Provinsi, beberapa Perda terkait yang diperoleh selama penelitian ini antara lain : 1. Peraturan Daerah Kabupaten Lampung Barat No 14 Tahun 2000 Tentang Pemberdayaan, Pelestarian dan Pengembangan Adat Istiadat dan Lembaga Adat. 2. Peraturan Daerah Kabupaten Lampung Tengah No 11 Tahun 2000 Tentang Pemberdayaan, Pelestarian dan Pengembangan Adat Istiadat dan Lembaga Adat. 3. Peraturan Daerah Kabupaten Lampung Timur No 32 Tahun 2000 Tentang Pemberdayaan, Pelestarian dan Pengembangan Adat Istiadat dan Lembaga Adat Kabupaten Lampung Timur. 4. Peraturan Daerah Kabupaten Lampung Utara No 13 Tahun 2000 Tentang Pelestarian, Pengembangan dan Pemberdayaan Adat Istiadat dan Lembaga Adat. 5. Peraturan Daerah Kabupaten Tanggamus No 28 Tahun 2000 Tentang Pemberdayaan, Pelestarian dan Pengembangan Adat Istiadat dan Lembaga Adat. 6. Peraturan Daerah Kabupaten Way Kanan No 35 Tahun 2000 Tentang Pemberdayaan, Pelestarian dan Pengembangan Adat serta Lembaga Adat. 7. Peraturan Daerah Kabupaten Tulang Bawang No 16 Tahun 2001 Tentang Pemberdayaan, Pelestarian dan Pengembangan Adat Istiadat dan Lembaga Adat. 8. Peraturan Daerah Provinsi Lampung No 2 Tahun 2008 Tentang Pemeliharaan Kebudayaan Lampung118. Namun, seperti halnya produk hukum Kabupaten Cianjur yang telah dipaparkan sebelumnya. Kecenderungan produk hukum bermuatan identik antara satu dengan lainnya tetap terjadi di Regional Lampung. Hal tersebut adalah sebagai upaya penyeragaman dan sebagai penguatan keberadaan adat istiadat di Provinsi Lampung.

118

Hasil penelitian dan pengkajian data peneltian CLDS FH UII 2012.

100

3. 3. 12. Pelestarian, Pengembangan, dan Pemberdayaan Adat Istiadat di Provinsi Jambi. Pemberdayaan, pelestarian dan pengembangan adat istiadat dan lembaga adat dimotori dengan terbitnya Perda Kabupaten Jabung Barat No 7 Tahun 2001. Dalam Perda Adat tersebut dipaparkan bahwa ditujukan untuk pengembangan sumber daya manusia, pelestarian kebudayaan, dan menciptakan kebudayaan daerah yang menunjang kebudayaan nasional, serta peningkatan peran lembaga adat dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam Perda Kabupaten Jabung Barat No 7 Tahun 2001 tersebut, mengatur mengenai mekanisme pemberdayaan, pelestarian dan pengembangan adat istiadat dan lembaga adat, yang dilakukan bersama-sama dengan Organisasi atau Lembaga Adat oleh : a. Bupati Tanjung Jabung Barat. b. Camat di wilayah Kecamatan Kabupaten Tanjung Jabung Barat. c. Kepala Desa/Kepala Kelurahan di wilayah Desa/Kelurahan Kabupaten Tanjung Jabung Barat. d. Kepala Adat/Pemangku Adat/Tetua Adat atau Pemimpin/Pemuka-pemuka Adat di wilayah adat Kabupaten Tanjung Jabung Barat119. Implementasi atas upaya pemberdayaan, pelestarian dan pengembangan adat istiadat yang dilakukan diatas, dituangkan dalam kebijakan dan atau langkah-langkah berbentuk Keputusan Bupati Tanjung Jabung Barat dan Peraturan perundangundangan lain yang berdaya guna dan berhasil guna dengan berpedoman kepada Peraturan Daerah ini setelah dimusyawarahkan dengan Pemimpin atau pemuka adat.

119

Peraturan Daerah Kabupaten Tanjung Jabung Barat No 7 Tahun 2001 Tentang Pemberdayaan, Pelestarian dan Pengembangan Adat Istiadat dan Lembaga Adat di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Pasal 2.

101

Upaya pemberdayaan dan pelestarian serta pengembangan terhadap adatistiadat, kebiasaan-kebiasaan masyarakat dan Lembaga Adat dalam Perda Kabupaten Tanjung Jabung Barat ini, diarahkan menuju terciptanya : a. Pembangunan manusia Indonesia seutuhnya melalui penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan dan pembinaan Kemasyarakatan yang tidak bertentangan dengan ketentuan Undang-undang yang berlaku. b. Terwujudnya pelestarian Kebudayaan Daerah, baik dalam upaya memperkaya Kebudayaan Daerah maupun dalam rangka memperkaya khasanah Kebudayaan Nasional. c. Terciptanya Kebudayaan Daerah yang menunjang Kebudayaan Nasional yang mengandung nilai-nilai luhur dan beradab sehingga mampu menyaring secara selektif terhadap nilai-nilai budaya asing yakni menerima yang positif dan menolak yang negatif. d. Terkondisinya suasana yang dapat mendorong peningkatan peranan dan fungsi adat-istiadat, kebiasaan-kebiasaan masyarakat dan Lembaga Adat dalam upaya: 1) Meningkatkan harkat dan martabat manusia Indonesia dalam memperkuat jati diri dan kepribadian bangsa. 2) Meningkatkan sikap kerja keras, disiplin dan tanggung jawab sosial, menghargai prestasi, berani bersaing, maupun bekerja sama dan menyesuaikan diri serta kreatif, untuk memajukan diri pribadi secara sosial dan memajukan masyarakat. 3) Mendukung dan berpartisipasi aktif dalam menunjang kelancaran penyelenggaraan pemerintah, pelaksanaan pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan pada semua tingkatan Pemerintah di Daerah terutama di Desa/Kelurahan120. Pengertian yang terkandung didalam Perda Kabupaten Tanjung Jabung Barat terkait Lembaga Adat adalah, sebuah organisasi Kemasyarakatan, baik yang sengaja dibentuk maupun yang secara wajar telah tumbuh dan berkembang didalam sejarah masyarakat yang bersangkutan atau dalam suatu masyarakat hukum adat tertentu dalam wilayah hukum dan hak atau harta kekayaan didalam wilayah hukum tersebut, serta berhak dan berwenang untuk mengatur mengurus dan menyelenggarakan

120

Ibid, Pasal 5.

102

berbagai permasalahan kehidupan yang berkaitan dengan mengaju pada adat istiadat dan hukum adat yang berlaku. Dengan tugas sebagai berikut : a. Menampung dan menyalurkan pendapat masyarakat kepada pemerintah serta menyelesaikan perselisihan yang menyangkut hukum adat, adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat; b. Memberdayakan, melestarikan dan mengembangkan adat-istiadat dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat dalam rangka memperkaya budaya daerah serta memberdayakan masyarakat dalam menunjang penyelenggaraan Pemerintahan, pelaksanaan pembangunan dan pembinaan Kemasyarakatan; c. Menciptakan hubungan yang demokratis dan harmonis serta objektif antara Kepala Adat/Pemangku Adat/Tetua Adat dan Pimpinan atau Pemuka Adat dengan Aparat Pemerintah di daerah. Terkait dengan susunan organisasi kelembagaan adat, terdiri dari : 1. Pembina 2. Penasehat. 3. Pengurus, yang terdiri dari : a. Ketua dan wakil ketua. b. Sekretaris umum dan wakil sekretaris. c. Bendahara dan wakil bendahara. d. Seksi-seksi, yaitu : - Seksi Organisasi dan kaderisasi - Seksi Sejarah dan Kepurbakalaan - Seksi Hukum Adat - Seksi Pembangunan - Seksi Pengerahan Sarana - Seksi Lingkungan hidup, Pelestarian Sumber Daya Alam dan Keluarga Berencana - Seksi Kesenian dan Kebudayaan - Seksi Peranan Wanita - Seksi Kesejahteraan Rakyat dan Pembinaan Agama121.
121

Ibid, Pasal 9. Jumlah seksi yang terdapat dalam struktur organisasi kelembagaan adat tersebut, dapat ditambah atau dikurangi sesuai kebutuhan.

103

Ketua Lembaga Adat berdasar pada Perda Tanjung Jabung Barat, dipilih setiap 5 (lima) tahun sekali dan dapat dipilih kembali untuk masa jabatan lima tahun berikutnya. Pemilihan Ketua Lembaga Adat dilakukan oleh Musyawarah Adat Desa dengan Pengesahan Bupati melalui rekomendasi Lembaga Adat Kecamatan. Ketua Lembaga Adat memiliki kewajiban untuk memberikan laporan kerja setiap tahun kepada Pemerintah Kabupaten, dan memberikan laporan pertanggung jawaban sekali dalam lima tahun kepada Bupati. Bila dalam pelaksanaan kerja Ketua Lembaga Adat tidak dapat melakukan tugasnya dengan baik maka atas usulan para anggota adat dengan persetujuan Bupati, dapat diberhentikan. Hal-hal lain yang menjadi alasan pemberhentian Ketua Lembaga Adat : a. Meninggal dunia; b. Sakit keras berkepanjangan; c. Melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku dan atau norma yang hidup dan berkembang dalam masyarakat adat122. Sejalan dengan diterapkannya Perda Kabupaten Tanjung Jabung Barat terkait pembinaan dan pengembangan adat istiadat, di Kabupaten Batang Hari diterbitkan Peraturan Daerah Kabupaten Batang Hari No 6 Tahun 2008 Tentang Pembinaan dan Pengembangan Adat dan Lembaga Adat Bumi Serentak Bak Regam. Dengan berfalsafah pada Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (Adat yang bersendikan pada Syara’, dan Syara’ yang bersendikan pada Kitabullah), penerapan Perda Kabupaten Batang Hari ini dimaksudkan untuk membina dan mengembangkan adat dan lembaga adat Bumi Serentak Bak Ragam dalam menunjang kelancaran

122

Ibid, Pasal 12.

104

kegiatan pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan serta memperkuat ketahanan nasional. Adat Bumi Serentak Bak Regam adalah seperangkat nilai-nilai, kaidah-kaidah dan kebiasaan yang tumbuh dan berkembang sejak lama bersamaan dengan pertumbuhan masyarakat dalam Kabupaten Batang Hari123. Adat Bumi Serentak Bak Regam yang tumbuh dan berkembang sepanjang masa tersebut telah memberikan ciri khas bagi suatu daerah yang dalam skala lebih besar telah memberikan identitas pula bagi Bangsa Indonesia. Dalam muatan Perda Kabupaten Batang Hari tersebut, pengertian Lembaga Adat Serentak Bak Regam adalah suatu organisasi kemasyarakatan yang dibentuk oleh masyarakat hukum adat yang bersangkutan, mempunyai wilayah tertentu dan harta kekayaan sendiri serta berhak dan berwenang untuk mengatur dan mengurus serta menyelesaikan hal-hal yang berkaitan dengan Adat Bumi Serentak Bak Regam Kabupaten Batang Hari124. Seperti halnya beberapa Perda-perda terkait pada pembahasan sebelumnya, perda mengenai pemberdayaan, pelestarian dan

pengembangan Adat Bumi Serentak Bak Regam ini tidak menjabarkan lembaga adat dan bentuk penyelesaian konflik/perkara adat. Melainkan secara identik memiliki muatan sama dengan Perda-perda pelestarian, perlindungan dan pengembangan adat istiadat lainnya. Pembinaan dan Pengembangan Adat dan Lembaga adat Bumi Serentak Bak Regam bertujuan : a. Membina kerukunan dan rasa aman dalam hidup dan kehidupan masyarakat di Bumi Serentak Bak Regam;

123

Lihat Ketentuan Umum Peraturan Daerah Kabupaten Batang Hari No 6 Tahun 2008 Tentang Pembinaan dan Pengembangan Adat dan Lembaga Adat Bumi Serentak Bak Regam. 124 Ibid, Ketentuan Umum Pasal 1 ayat (9).

105

b. Menghimpun dan menghidupkan potensi adat untuk membantu pemerintah dalam penyelenggaraan pemerintah dan pelaksanaan pembangunan; c. Mengembangkan dan meneruskan nilai-nilai luhur adat kepada generasi penerus melalui ketahanan keluarga; d. Menggali sejarah dan hukum adat dalam rangka memperluas khazanah budaya daerah serta membantu penyusunan sejarah dan pembinaan hukum125. Kedudukan dan wilayah Lembaga Adat Bumi Serentak Bak Regam : a. Lembaga Adat Serentak Bak Regam tingkat berkedudukan di ibukota Kabupaten Batang Hari dan merupakan Lembaga Adat tertinggi dalam Kabupaten Batang Hari. b. Lembaga Adat Serentak Bak Regam tingkat Kecamatan/Kelurahan berkedudukan di Kecamatan/Kelurahan dan merupakan Lembaga Adat tertinggi di Kecamatan/Kelurahan yang bersangkutan. c. Lembaga Adat Bumi Serentak Bak Regam tingkat Desa berkedudukan di Desa dan merupakan Lembaga Adat Tertinggi di Desa yang bersangkutan126.

a. b. c. d.

Lembaga Adat Bumi Serentak Bak Regam mempunyai tugas : Menggali dan mengembangan adat bumi serentak bak regam dalam upaya melestarikan kebudayaan daerah Kabupaten Batang Hari guna memperkaya khasanah kebudayaan bangsa; Mengurus dan mengelola hal-hal yang berkaitan dan berhubungan dengan adat serentak bak regam; Menyelesaikan perkara-perkara perdata adat di daerah Kabupaten Batang Hari sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang belaku; dan Mengiventarisir, mengamankan, memelihara dan mengurus serta memanfaatkan sumber-sumber kekayaan yang dimiliki oleh lembaga adat bumi serentak bak regam untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat127.

Lembaga Adat Bumi Serentak Bak Regam mempunyai fungsi : a. Membantu pemerintah dalam mengusahakan kelancaran pembangunan di segala bidang, terutama dibidang sosial kemasyarakatan dan sosial budaya. b. Memberi kedudukan hukum menurut adapt terhadap hal-hal yang menyangkut harga kekayaan masyarakat hukum adat di tiap-tiap tingkat lembaga adat bumi serentak bak regam guna kepentingan hubungan keperdataan adat, juga dalam hal adanya persengketaan atau perkara perdata adat dan pidana adat.
125 126 127

Ibid, Pasal 3. Ibid, Pasal 4. Ibid, Pasal 5.

106

c. Melaksanakan pembinaan dan pengembangan nilai-nilai adat istiadat bumi serentak bak regam di daerah Kabupaten Batang Hari, dalam rangka memperkaya, melestarikan dan mengembangkan kebudayaan daerah pada khususnya dan kebudayaan nasional pada umumnya. d. Menjaga, memelihara dan memanfaatkan ketentuan-ketentuan adat Kabupaten Batang Hari yang hidup dan berkembang dalam masyarakat untuk kesejahteraan masyarakat128. Mengacu pada kenyataan bahwa Adat Bumi Serentak Bak Regam yang telah tumbuh dan berkembang sepanjang zaman tersebut ternyata dapat memberikan andil yang cukup besar terhadap kelangsungan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, baik dalam masa perjuangan mencapai kemerdekaan maupun dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan. Bagi Daerah Kabupaten Batang Hari hal ini antara lain tercermin dari fungsi dan peranan yang telah dilaksanakan oleh Lembaga-Lembaga Adat Bumi Serentak Bak Regam di Marga, Mendapo dan Kampung. Walaupun Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah tidak mengatur adanya Marga, Mendapo dan Kampung, akan tetapi mengakui adanya kesatuan masyarakat hukum adat, Adat yang masih hidup dalam masyarakat sepanjang dapat bermanfaat bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Adat Bumi Serentak Bak Regam telah memberikan ciri bagi suatu daerah dan dapat menjadi salah satu soko guru dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tersebut perlu dibina, dipelihara dan dilestarikan sebagai upaya memperkaya khasanah budaya bangsa, memperkuat ketahanan nasional dan untuk mendukung kelangsungan pembangunan nasional, khususnya pembangunan di Kabupaten Batang Hari. Untuk itu dipandang penerapan Peraturan Daerah Kabupaten Batang Hari tentang Pembinaan dan Pengembangan Adat Bumi Serentak Bak Regam, diharapkan dapat

128

Ibid, Pasal 6

107

diperoleh dasar hukum yang kuat bagi Pemerintah Daerah dalam melakukan pembinaan dan pengembangan adat istiadat Bumi Serentak Bak Regam.

3. 3. 13. Qanun Aceh No 9 Tahun 2008 Tentang Pembinaan Kehidupan Adat dan Adat Istiadat Kehidupan adat pada masyarakat Aceh telah berlangsung sejak lama, dan berkembang dalam kehidupan masyarakatnya hingga sekarang dengan nilai-nilai budaya, norma adat, dan Syariat Islam. Pembinaan dan pengembangan kehidupan adat tersebut, perlu dilaksanakan secara berkesinambungan dari generasi ke generasi berikutnya sehingga dapat memahami nilai-nilai adat dan budaya yang berkembang dan hidup dalam masyarakat adat Aceh. Sebagai implementasi dari pembinaan kehidupan adat istiadat tersebut, maka diundangkanlah Qanun Aceh No 9 Tahun 2008 Tentang Pembinaan Kehidupan Adat dan Adat Istiadat. 1. Beberapa istilah dalam pemaparan Qanun Aceh tersebut antara lain adalah : Wali Nanggroe adalah pemimpin lembaga adat Nanggroe yang independen sebagai pemersatu masyarakat, berwibawa dan berwenang membina dan mengawasi penyelenggaraan kehidupan lembaga-lembaga adat dan adat istiadat, pemberian gelar/derajat dan pembina upacara-upacara adat di Aceh serta sebagai penasehat Pemerintah Aceh. Adat adalah aturan perbuatan dan kebiasaan yang telah berlaku dalam masyarakat yang dijadikan pedoman dalam pergaulan hidup di Aceh. Hukum Adat adalah seperangkat ketentuan tidak tertulis yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Aceh, yang memiliki sanksi apabila dilanggar. Adat-istiadat adalah tata kelakuan yang kekal dan turun-temurun dari generasi pendahulu yang dihormati dan dimuliakan sebagai warisan yang sesuai dengan Syariat Islam. Kebiasaan adalah sikap dan perbuatan yang dilakukan secara berulang kali untuk hal yang sama, yang hidup dan berkembang serta dilaksanakan oleh masyarakat. Pemangku Adat adalah orang yang menduduki jabatan pada lembaga-lembaga adat.

2. 3. 4. 5. 6.

108

7. Reusam atau nama lain adalah petunjuk-petunjuk adat istiadat yang berlaku di dalam masyarakat. 8. Upacara adat adalah rangkaian kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan norma adat, nilai dan kebiasaan masyarakat adat setempat129. Berbeda dengan mayoritas corak kehidupan adat di Indonesia, masyarakat adat Aceh memiliki corak kehidupan adat yang berpedoman pada nilai-nilai Islami. Hal tersebut didasarkan pada asas : a. Keislaman, b. Keadilan, c. Kebenaran, d. Kemanusiaan, e. Keharmonisan, f. Ketertiban dan keamanan, g. Ketentraman, h. Kekeluargaan, i. Kemanfaatan, j. Kegotong-royongan, k. Kedamaian, l. Permusyawaratan, dan m. Kemaslahatan umat.130 Pembinaan dan pengembangan kehidupan adat dan adat istiadat, dimaksudkan untuk membangun kehidupan harmonis dan seimbang yang diridhoi oleh Allah SWT, dalam hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan, dan rakyat dengan pemimpinnya. Selain itu, pembinaan dan pengembangan kehidupan adat bertujuan untuk : a. Menciptakan tatanan kehidupan masyarakat yang harmonis. b. Tersedianya pedoman dalam menata kehidupan bermasyarakat. c. Membina tatanan masyarakat adat yang kuat dan bermanfaat. d. Memelihara, melestarikan dan melindungi khasanah-khasanah adat, budaya, bahasa-bahasa daerah dan pusaka adat. e. Merevitalisasi adat, seni budaya dan bahasa yang hidup dan berkembang di Aceh, dan f. Menciptakan kreativitas yang dapat memberi manfaat ekonomis bagi kesejahteraan masyarakat131.
129 130 131

Ketentuan Umum Qanun Aceh No 9 Tahun 2008 Tentang Pembinaan Kehidupan Adat dan Adat Istiadat. Ibid, Pasal 3. Ibid, Pasal 5.

109

Didalam

pelaksanaannya,

tanggung

jawab

untuk

memelihara,

mengembangkan, melindungi, dan melestarikan kehidupan adat tersebut dilakukan oleh Wali Nanggroe. Majelis Adat dan lembaga-lembaga adat lainnya melakukan pembinaan dan pengembangan kehidupan adat dan adat istiadat sesuai dengan Syariat Islam.132 Hal tersebut untuk menjamin agar pelaksanaan adat dan adat istiadat tidak bertentangan dengan nilai-nilai Syariat Islam. Pelaksanaan pembinaan dan pengembangan kehidupan adat dan adat istiadat, dilaksanakan melalui : a. Lingkungan keluarga. b. Jalur pendidikan. c. Lingkungan masyarakat. d. Lingkungan kerja, dan e. Organisasi sosial kemasyarakatan133. Kegiatan-kegiatan adat yang termasuk dalam lingkup pembinaan,

pengembangan dan pelestarian adat antara lain dalam hal : a. Tatanan adat dan adat istiadat. b. Arsitektur Aceh. c. Ukiran-ukiran bermotif Aceh. d. Cagar budaya. e. Alat persenjataan tradisional. f. Karya tulis ulama, cendikiawan dan seniman. g. Bahasa-bahasa yang ada di Aceh. h. Kesenian tradisional Aceh. i. Adat perkawinan. j. Adat pergaulan. k. Adat bertamu dan menerima tamu. l. Adat peutamat dareuh (Khatam Al-Quran). m. Adat mita raseuki (berusaha). n. Pakaian adat. o. Makanan/pangan tradisional Aceh. p. Perhiasan-perhiasan bermotif Aceh.
132 133

Ibid, Pasal 8. Ibid, Pasal 9 ayat (2)

110

q. Kerajinan bermotif Aceh. r. Piasan tradisional Aceh, dan s. Upacara-upacara Adat lainnya134. Terkait dengan sengketa adat, penyelesaian dilaksanakan dan diselesaikan terlebih dahulu secara adat di Gampong. Gampong dilaksanakan oleh tokoh-tokoh adat yang terdiri atas Keuchik, Imeum Meunasah, Tuha Peut, Sekretaris Gampong, dan Ulama, Cendekiawan dan tokoh adat lainnya di Gampong. Sengketa/perselisihan adat dan adat istiadat meliputi: a. Perselisihan dalam rumah tangga; b. Sengketa antara keluarga yang berkaitan dengan faraidh; c. Perselisihan antar warga; d. Khalwat meusum; e. Perselisihan tentang hak milik; f. Pencurian dalam keluarga (pencurian ringan); g. Perselisihan harta sehareukat; h. Pencurian ringan; i. Pencurian ternak peliharaan; j. Pelanggaran adat tentang ternak, pertanian, dan hutan; k. Persengketaan di laut; l. Persengketaan di pasar; m. Penganiayaan ringan; n. Pembakaran hutan (dalam skala kecil yang merugikan komunitas adat); o. Pelecehan, fitnah, hasut, dan pencemaran nama baik; p. Pencemaran lingkungan (skala ringan); q. Ancam mengancam (tergantung dari jenis ancaman); dan r. Perselisihan-perselisihan lain yang melanggar adat dan adat istiadat135. Sanksi adat yang dapat dijatuhkan dalam penyelesaian sengketa adat antara lain : a. b. c. d. e. f.
134 135

Nasehat. Teguran. Pernyataan maaf. Sayam136. Diyat. Denda.

Ibid, Pasal 12 ayat (1). Ibid, Pasal 13 ayat (1). 136 Sayam adalah perdamaian persengketaan/perselisihan yang mengakibatkan keluar darah (roe darah) yang diformulasikan dalam wujud ganti rugi berupa penyembelihan hewan ternak dalam sebuah acara adat. Lihat Penjelasan Qanun Aceh.

111

g. h. i. j. k.

Ganti kerugian. Dikucilkan oleh masyarakat gampong. Dikeluarkan dari masyarakat gampong. Pencabutan gelar adat, dan Sanksi lain sesuai dengan adat setempat137. Aturan khusus lainnya dalam pelaksanaan sanksi adat adalah bahwa keluarga

pelanggar adat ikut bertanggung jawab atas terlaksananya sanksi adat yang dijatuhkan kepada anggota keluarganya. Dan pemberlakuan Qanun Aceh ini tidak mengubah ketentuan-ketentuan juridis terdahulu sepanjang tidak bertentangan, sesuai dengan ketentuan peralihan yang terkandung didalam Qanun Aceh No 9 Tahun 2008.

3. 3. 14. Perda Penanganan Sengketa Adat (Konflik Etnik) Dilatar belakangi konflik di tahun 2001, sejarah konflik yang terjadi antara warga Dayak dan Madura hingga menimbulkan kerusuhan dan tragedi besar di bumi Kalimantan. Pertikaian tersebut timbul karena disatu sisi timbulnya kesenjangan sosial antara warga pendatang (Madura) dengan warga adat asli (Dayak). Konflik yang timbul bermuara pada ‘pembangunan’ yang dipromosikan rejim Suharto selama tiga puluh tahun lebih. Sumber-sumber daya alam, termasuk hutan dan tambang Kalimantan diberikan kepada elite bisnis yang berkuasa sebagai konsesi. Pemilik adat - masyarakat adat Dayak - secara sistematis ditolak hak-haknya atas tanah dan sumber daya alam. Mereka tidak punya jalan untuk menempuh langkah hukum dalam mempertahankan hak-hak mereka karena, berdasarkan undang-undang Indonesia, hutan merupakan milik negara138. Akibat dari konflik yang terjadi itu mengakibatkan lebih dari 500 korban jiwa, dengan lebih dari 100.000 warga pendatang (Madura) kehilangan tempat
137 138

Ibid, Pasal 16 ayat (1). Down To Earth (DTE) Nr 49, Mei 2001.

112

tinggalnya.139 Tidak diragukan lagi bahwa imbas dari konflik yang terjadi akan semakin meluas jika tidak segera ditindak lanjuti dan diselesaikan, walaupun benturan budaya antara warga pendatang dan warga asli. Adanya rasa aman dan nyaman merupakan kebutuhan dasar bagi umat manusia. Kebutuhan ini mendorong semua unsur masyarakat untuk

memperjuangkannya dengan cara dan peran masing-masing. Maka menciptakan rasa aman adalah tugas semua unsur masyarakat. Tetapi bila terjadi ”perebutan peran” dan sering memakai kekerasan dengan akibat warga masyarakatlah yang menjadi korban di tengah perseteruan dan inilah cikal bakal terjadi atau terulangnya konflik140. Pembahasan mengenai pengaturan dampak konflik dari Perda ini, terdiri dari mekanisme penanganan penduduk akibat dampak konflik etnik, rekonsiliasi sebagai pemulihan keadaan dampak konflik, rehabilitasi bagi penduduk dampak konflik, serta pengertian istilah adat dan kelembagaannya. Berdasar pada falsafah adat Belum Bahdat141 dan falsafah dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung, sebagai dampak dari adanya konflik antar etnis yang terjadi. Maka diperlukan dasar hukum kuat untuk mengembalikan dan menstabilkan kehidupan secara berdampingan antara masyarakat secara damai. Dalam

pelaksanaannya, mekanisme rehabilitasi dan rekonsiliasi dampak konflik etnik di Kalimantan Tengah dilakukan oleh pemerintah setempat dengan pertimbangan Damang (Kepala Adat) dilakukan secara bertahap.

139 140

Lihat id.wikipedia.org/wiki/Konflik_Sampit Ahmad Ridwan, Refleksi Sepuluh Tahun Konflik Sambas. Lihat : http://achmadridwan.blogspot.com/2009/01/tiga-waktu-tiga-peristiwa.html 141 Falsafah hidup masyarakat Kalimantan Tengah yang bermakna bahwa manusia itu hidup berada pada suatu tempat menjunjung tinggi etika dan estetika antara adat istiadat masyarakat setempat. Lihat Profile Provinsi Kalimantan Tengah, diakses dari http://www.depdagri.go.id/pages/profil-daerah/provinsi/detail/62/kalimantan-tengah

113

Pemberlakuan Perda Penanganan Dampak Konflik Etnik ini, ditujukan untuk menciptakan kembali kehidupan antara masyarakat adat Dayak dengan Suku Madura secara damai. Selain mencegah timbulnya kembali konflik etnik di Kalimantan Tengah, maka pemberlakuan Perda ini juga menjadi payung hukum yang kuat atas keberlangsungan kehidupan secara damai. Beberapa pengaturan istilah yang terkandung didalam Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah No 9 Tahun 2001 Tentang Penanganan Penduduk Dampak Konflik Etnik, antara lain sebagai berikut : a. Penanganan Penduduk Dampak Konflik Etnik adalah Upaya normalisasi kehidupan penduduk daerah, yang terkena dampak konflik etnik baik secara langsung maupun tidak langsung untuk menciptakan kehidupan secara harmonis dan sejahtera. b. Rekonsiliasi adalah kesepakatan kedua pihak berkonflik untuk memulihkan keadaan agar kembali dapat hidup rukun dan damai, saling menghargai dalam suasana kebersamaan. c. Rehabilitasi adalah pemulihan keadaan semula dalam bentuk pelayanan sosial, pembinaan mental dan bantuan penyediaan pemukiman kembali (Relokasi) dan transmigrasi bagi penduduk dampak konflik. d. Damang Kepala Adat adalah Pimpinan Adat dari satu Kedamangan yang diangkat/pilih berdasarkan hasil pemilihan, oleh beberapa Desa/Kelurahan/Kecamatan yang termasuk wilayah Kedamangan. e. Kedamangan adalah kesatuan masyarakat adat dalam Propinsi Kalimantan Tengah yang terdiri dari himpunan beberapa Desa/Kelurahan/Kecamatan yang mempunyai wilayah tertentu, yang tidak dapat dipisah-pisahkan. f. Adat Istiadat adalah seperangkat nilai atau norma, kaidah dan keyakinan sosial yang tumbuh dan berkembang bersamaan dengan pertumbahan dan perkembangan masyarakat Desa dan satuan masyarakat lainnya serta nilai atau norma lain yang masih dihayati dan dipelihara masyarakat sebagaimana terwujud dalam berbagai pola nilai kelaluan yang mempertahankan kebiasaan - kebiasaan dalam kehidupan masyarakat setempat. g. Majelis Adat adalah Dewan Adata yang mengemban tugas tertentu dibidang pemberdayaan dan pelestarian serta pengembangan adat istiadat, kebiasaankebiasaan masyarakat, Lembaga Adat dan Hukum Adat di daerah. h. Masyarakat Adat adalah masyarakat Kalimantan Tengah yang menggunakan norma adat sebagai acuan dalam kehidupan bermasyarakat. i. Hukum Adat adalah Hukum Adat Dayak di Kalimantan Tengah. j. Penduduk adalah penduduk Kalimantan Tengah. 114

k. Etnik adalah etnik Dayak, etnik Madura dan etnik lainnya sebagai penduduk Kalimantan Tengah142. Dalam Perda Provinsi Kalimantan Tengah tersebut diatur mengenai mekanisme pengembalian penduduk akibat konflik etnik, diantaranya melalui pendataan dan pendaftaran penduduk. Proses pengembalian penduduk dilakukan berdasarkan pada syarat-syarat yang tercantum dalam Perda tersebut sebagai berikut : a. Sanggup hidup rukun, berdampingan secara damai. b. Diakui dan diterima keberadaannya oleh masyarakat lingkungannya dan Masyarakat Adat. c. Wajib dan sanggup mentaati nilai-nilai budaya serta adat istiadat setempat dan meninggalkan budaya kekerasan143. Terkait pengawasan dan pengendalian dalam pelaksanaan pengembalian penduduk akibat dampak konflik etnik, kegiatan tersebut diatur melalui Keputusan Gubernur dan bertujuan untuk menjaga kelancaran mobilisasi penduduk di daerah. Penjatuhan sanksi terhadap pelanggaran ketentuan Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah ini, dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pengecualian terhadap pelanggaran falsafah Belum Bahadati dan falsafah dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung dikenakan sanksi sesuai hukum adat144. Dengan diundangkannya Perda Provinsi Kalimantan Tengah ini, diharapkan mampu menciptakan kembali suasana aman kedua belah pihak yang terlibat dalam konflik etnik. Serta, penerapan payung hukum ini merupakan manifestasi dalam

142

143 144

Lihat Ketentuan Umum Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah No 9 Tahun 2001 Tentang Penanganan Penduduk Dampak Konflik Etnik. Ibid, Pasal 8 ayat (2) Ibid, Pasal 13 ayat (1 dan 2).

115

kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.

3. 3. 15. Perda Nagari di Sumatera Barat Sejak diberlakukan pertama kali di Kabupaten Solok pada tahun 2001 dengan lahirnya Perda Kabupaten Solok No 4 Tahun 2001 Tentang Pemerintahan Nagari, kehidupan masyarakat di Sumatera Barat kembali kepada sistem pemerintahan terendah yang bernama Pemerintahan Nagari. Perubahan nagari ke desa, dan sekarang kembali lagi ke nagari, adalah sebuah perubahan yang memperlihatkan dinamika dari perkembangan sejarah pemerintah di tingkat bawah yang terjadi di Ranah Minang, Sumatera Barat. Perubahan nagari ke desa dan kemudian kembali ke nagari bukan hanya sekadar perubahan nama, tetapi juga sistem, orientasi, dan filosofinya145. Dalam perkembangan selanjutnya, pemerintahan desa sebagai pengganti pemerintahan nagari ternyata tidak dapat melaksanakan fungsi-fungsinya dengan baik. Kinerja pemerintahan desa dinilai kurang memuaskan dan jauh dari harapan. Masyarakat misalnya mengalami kesulitan berurusan dengan aparat pemerintahan desa karena jam kantor dan kehadiran aparatnya tidak teratur, administrasi pemerintahan sering terbengkalai, dan pemerintahan desa dinilai kurang mampu menggerakan potensi yang ada di Nagari146. Adanya otonomi daerah memunculkan ide untuk mengembalikan sistem pemerintahan di Sumatera Barat kepada sistem pemerintahan nagari. Sehingga di daerah Sumatera Barat timbul suatu istilah yang dikenal dengan konsep “kembali ke

145

146

Pemikiran Mochtar Naim, anggota DPD RI Sumatera Barat, dalam Kembali ke Sistem Pemerintahan Nagari, diakses dari http://www.cimbuak.net/content/view/346/7/ Online Library, Institut Pertanian Bogor, hlm : 62. Diakses dari http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/40612/Bab%203%202006asm.pdf?sequence=4

116

nagari”. Disebut dengan “kembali” karena memang di Sumatera Barat pernah menggunakan suatu sistem pemerintahan nagari yang pernah jaya dan memiliki kesatuan dengan nilai sistem yang demokrasi dengan musyawarah dan mufakat “bulek aia dek pambuluah, bulek kato dek mufakat” serta didasari oleh falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, Syarak Mangato Adat Mamakai, Alam Takambang Jadi Guru”147. Dalam penelitian ini, didapat hasil yang menunjukan sebagai pioneer lahirnya Perda-perda Pemerintahan Nagari di beberapa kabupaten dan termasuk Perda Provinsi di Sumatera Barat selama era Reformasi (1999-2011), yaitu : 1. Peraturan Daerah Kabupaten Solok No 4 Tahun 2001 Tentang Pemerintahan Nagari. 2. Peraturan Daerah Kabupaten Pasaman No 16 Tahun 2001 Tentang Pemerintahan Nagari. 3. Peraturan Daerah Kabupaten Tanah Datar No 17 Tahun 2001 Tentang Pemerintahan Nagari. 4. Peraturan Daerah Kabupaten Solok Selatan No 4 Tahun 2005 Tentang Pemerintahan Nagari. 5. Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat No 2 Tahun 2007 Tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Nagari. 6. Peraturan Daerah Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung No 5 Tahun 2007 Tentang Pemerintahan Nagari. 7. Peraturan Daerah Kabupaten Pasaman No 8 Tahun 2007 Tentang Pemerintahan Nagari 8. Peraturan Daerah Kabupaten Pesisir Selatan No 8 Tahun 2007 Tentang Pemerintahan Nagari. 9. Peraturan Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota No 10 Tahun 2007 Tentang Pemerintahan Nagari. 10. Peraturan Daerah Kabupaten Agam No 12 Tahun 2007 Tentang Pemerintahan Nagari. 11. Peraturan Daerah Kabupaten Dharmasraya No 2 Tahun 2008 Tentang Pemerintahan Nagari. 12. Peraturan Daerah Kabupaten Tanah Datar No 4 Tahun 2008 Tentang Nagari.
147

Online Library Universitas Sumatera Utara, hlm http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17737/4/Chapter%20I.pdf

:

1-2.

Diakses

dari

117

13. Peraturan Daerah Kabupaten Dharmasraya No 4 Tahun 2009 Tentang Pembentukan dan Penataan Nagari. 14. Peraturan Daerah Kabupaten Padang Pariaman No 5 Tahun 2009 Tentang Pemerintahan Nagari148. Berdasarkan kajian kepustakaan, beberapa istilah yang menjadi unsur-unsur Pemerintahan Nagari adalah : 1. Nagari adalah kesatuan masyarakat hukum adat yang memiliki batasbatas wilayah tertentu, dan berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan filosofi adat Minangkabau (Adat Basandi Syarak, syarak Basandi Kitabullah) dan atau berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat dalam wilayah Provinsi Sumatera Barat. 2. Pemerintahan Nagari adalah penyelenggaraan urusan Pemerintahan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Nagari dan Badan Permusyawaratan Nagari berdasarkan asal usul Nagari di wilayah Propinsi Sumatera Barat yang berada dalam sistim Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 3. Wali nagari adalah pimpinan Pemerintahan Nagari. 4. Jorong atau dengan nama lain yang setingkat dan terdapat dalam Nagari adalah bagian dari wilayah Nagari. 5. Badan Permusyawaratan Nagari yang selanjutnya disebut BAMUS NAGARI adalah lembaga yang merupakan perwujudan demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintah nagari sebagai unsur penyelenggaraan Pemerintahan Nagari. 6. Lembaga Kemasyarakatan adalah lembaga yang dibentuk oleh masyarakat sesuai dengan kebutuhan dan merupakan mitra Pemerintahan Nagari dalam memberdayakan masyarakat. 7. Kerapatan Adat Nagari yang selanjutnya disebut KAN adalah Lembaga Kerapatan dari Ninik Mamak yang telah ada dan diwarisi secara turun temurun sepanjang adat dan berfungsi memelihara kelestarian adat serta menyelesaian perselisihan sako dan pusako. 8. Anak Nagari adalah warga masyarakat yang ada di nagari dan di rantau. Inilah anak-nagari nan dari rantau. 9. Harta Kekayaan Nagari adalah harta benda yang telah ada atau yang kemudian menjadi milik dan kekayaan nagari baik bergerak maupun tidak bergerak. 10. Ulayat Nagari adalah harta benda dan kekayaan nagari diluar ulayat kaum dan suku yang dimanfaatkan untuk kepentingan anak nagari.

148

Hasil penelitian dan pengolahan data peneliti CLDS FH UII, 2012.

118

11. Wilayah Nagari, meliputi wilayah hukum adat dengan batas-batas tertentu yang sudah berlaku secara turun temurun dan dan diakui sepanjang adat. 12. Badan Perwakilan Nagari yang selanjutnya disebut dengan BPN adalah : Badan Perwakilan yang terdiri atas pemuka-pemuka masyarakat yaitu Ninik Mamak, Alim Ulama, Cadiak Pandai dan Bundo Kanduang serta Pemuda yang ada di Nagari yang berfungsi sebagai Badan Legislatif Nagari. 13. Majelis Tungku Tiga Sajarangan adalah Lembaga permusyawaratan permufakatan Adat dan syarak yang berfungsi memberikari pertimbangan kepada Pemerintahan Nagari supaya tetap kansisten menjaga dan memelihara penerapari “Adat Basamdi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” di Nagari149. Nagari merupakan kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia150. Saat ini terdapat 648 Nagari yang tersebar di Sumatera Barat, antara lain : 1. Kabupaten Agam terdiri dari 16 kecamatan dan 82 nagari. 2. Kabupaten Dharmasraya terdiri dari 11 kecamatan dan 52 nagari. 3. Kabupaten Lima Puluh Koto terdiri dari 13 kecamatan dan 79 nagari. 4. Kabupaten Padang Pariaman terdiri dari 17 kecamatan dan 60 nagari. 5. Kabupaten Pasaman terdiri dari 12 kecamatan dan 32 nagari. 6. Kabupaten Pasaman Barat terdiri dari 11 kecamatan dan 19 nagari. 7. Kabupaten Pesisir Selatan terdiri dari 12 kecamatan dan 76 nagari. 8. Kabupaten Sijunjung terdiri dari 8 kecamatan dan 60 nagari dan 1 desa. 9. Kabupaten Solok terdiri dari 14 kecamatan dan 74 nagari. 10. Kabupaten Solok Selatan terdiri dari 7 kecamatan dan 39 nagari. 11. Kabupaten Tanah Datar terdiri dari 14 kecamatan dan 75 nagari151. Setiap Nagari di Provinsi Sumatera Barat sesuai pengaturannya diharuskan memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

149

Istilah-istlah terkait Pemerintahan Nagari tersebut, dapat dilihat pada Ketentuan Umum Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat No 2 Tahun 2007 Tentang Pokok-pokok Pemerintahan Nagari, dan Peraturan Daerah Kabupaten Solok No 4 Tahun 2001 Tentang Pemerintahan Nagari. Lihat http://id.wikipedia.org/wiki/Nagari Armen Zulkarnain, Daftar Nagari di Sumatera Barat, hasil http://armenzulkarnain.wordpress.com/2010/08/17/daftar-nagari-di-sumatera-barat-2, rangkuman diakses dari

150 151

119

a. b. c. d.

Merupakan kesatuan masyarakat Hukum Adat. Mempunyai beberapa suku. Mempunyai batas-batas wilayah yang jelas. Mempunyai harta kekayaan sendiri152.

Syarat-syarat tersebut diatas juga dijadikan bahan acuan suatu Nagari dihapus atau digabungkan dengan Nagari lainnya. Hal ini dilakukan berdasarkan Keputusan Bupati setelah mendapatkan persetujuan DPRD, dengan mempertimbangkan usulan dari Wali-wali Nagari yang merupakan aspirasi masyarakat. Mengenai pemekaran Nagari, hal tersebut dapat dilakukan dengan berdasarkan pada syarat-syarat sebagai berikut: a. b. c. d. e. Penduduk berjumlah paling sedikit 3500 (tiga ribu lima ratus) jiwa atau mempunyai 700 (tujuh ratus) Kepala Keluarga. Mempunyai batas-batas wilayah yang jelas. Luas wilayah yang terjangkau secara berdaya guna untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat yang memungkinkan untuk dilakukan komunikasi antar Jorong yang ada. Tersedianya sarana dan prasarana untuk sebuah Nagari. Tersedianya sumber-sumber ekonomi untuk mata pencaharian masyarakat153.

Disamping memenuhi syarat-syarat diatas untuk mencapai kehidupan bernagari berdasarkan falsafah adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah, pembentukan harus memenuhi faktor-faktor sebagai berikut: a. b. c. d. e.
152 153

babalai-bamusajik; balabuah-batapian; basawah-baladang; babanda-babatuan; batanaman nan bapucuak;

Peraturan Daerah Kabupaten Solok No 4 Tahun 2001 Tentang Pemerintahan Nagari, Pasal 2. Ibid, Pasal 5.

120

f. g. h. i. j. k. l.

mamaliaro nan banyao; basuku-basako; niniak mamak nan ampek suku; baadat-balimbago; bapandam pakuburan; bapamedanan; kantua nagari.

Kewenangan Nagari mencakup : a. Urusan Pemerintahan yang sudah ada berdasarkan hak asal usul Nagari. b. Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Kabupaten/Kota yang diserahkan pengaturannya kepada Nagari. c. Tugas pembantuan dari Pemerintah, Pemerintah Propinsi dan atau Pemerintah Kabupaten/Kota. d. Urusan Pemerintahan lainnya yang oleh Peraturan Perundang-undangan diserahkan kepada Nagari154 Sesuai pengaturannya dalam Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat No 2 Tahun 2007 Tentang Pokok-pokok Pemerintahan Nagari, struktur Pemerintah Nagari terdiri dari Wali Nagari dan Perangkat Nagari yang mencakup Sekretaris Nagari dan perangkat lainnya155. Sedangkan pengaturan di dalam Peraturan Daerah Kabupaten Solok No 4 Tahun 2001 Tentang Pemerintahan Nagari, ditambahkan bahwa yang dimaksud sebagai perangkat lainnya adalah unsur staf (unsur pelayanan) disebut Sekretariat Nagari, unsur pelaksana teknis lapangan, dan unsur wilayah disebut Kepala Jorong. Dalam menjalankan Pemerintahan Nagari, seorang Wali Nagari memiliki tugas dan kewajiban antara lain : a. Memimpin penyelenggaraan Pemerintah Nagari. b. Membina kehidupan masyarakat Nagari.
154 155

Ibid, Pasal 8. Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat No 2 Tahun 2007 Tentang Pokok-pokok Pemerintahan Nagari, Pasal 6.

121

c. d. e. f. g. h. i.

Membina perekenoinian Nagari. Memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat Nagari. Mendamaikan perselisihan masyarakat di Nagari. Mewakili Nagarinya di dalam dan di luar pengadilan dan dapat menunjuk kuasa hukumnya. Mengajukan Rancangan Peraturan Nagari dan bersama Badan Perwakilan Nagari. Menetapkannya sebagai Peraturan Nagari. Mendukung kelestarian adat istiadat yang hidup dan berkembang di Nagari yang bersangkutan156.

Wali Nagari dipilih langsung oleh dan dari Anak Nagari warga Negara Republik Indonesia yang memenuhi pesyaratan dengan masa jabatan 6 (enam) tahun dan dapat dipilih kembali hanya untuk 1 (satu) kali masa jabatan berikutnya. Wali Nagari pada dasarnya bertanggung jawab pada rakyat Nagari yang prosedur pertanggungjawabannya disampaikan kepada Bupati melalui Camat. Kepada BPRN, Wali Nagari wajib memberikan laporan keterangan pertanggungjawaban dan kepada rakyat menyampaikan informasi pokok-pokok pertanggungjawabanya, namun tetap memberikan peluang kepada masyarakat melalui BPRN untuk menanyakan dan/atau meminta keterangan lebih lanjut hal-hal yang berkaitan dengan pertanggungjawaban dimaksud. Badan Permusyawaratan Rakyat Nagari (BPRN)/Badan Perwakilan Nagari atau dengan nama lain BAMUS Nagari berfungsi menetapkan Peraturan Nagari bersama Wali Nagari, menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat. Disamping itu BPRN mempunyai fungsi : a. Mendukung kelestarian adat istiadat yang hidup dan berkembang di Nagari yang bersangkutan sepanjang menunjang kelancaran pembangunan. b. Legislasi yaitu, merumuskan dan menetapkan Peraturan Nagari.

156

Op.Cit, Pasal 37.

122

c. d.

Pengawasan yaitu meliputi pengawasan terhadap pelaksanaan Peraturan Nagari, anggaran pendapatan dan belanja Nagari serta Keputusan Wali Nagari. Menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat, yaitu menangani dan menyalurkan aspirasi yang diterima dari masyarakat kepada pejabat atau instansi yang berwenang157. Adat Nagari berkedudukan sebagai lembaga perwakilan

Kerapatan

permusyawaratan masyarakat adat tertinggi yang telah ada dan diwarisi secara turun temurun sepanjang adat. Dalam pelaksanaannya, KAN mempunyai tugas antara lain : a. memberikan pertimbangan dan masukan kepada Pemerintah Nagari dan BPRN dalam melestarikan nilai-nilai adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah di Nagari. b. memberikan pertimbangan dan masukan kepada Pemerintah Nagari dan BPRN dalam penyusunan dan pembahasan Peraturan Nagari. c. membentuk lembaga-lembaga unsur masyarakat adat yaitu Unsur Alim Ulama, Cadiak Pandai, Bundo Kanduang dan Pemuda. d. mengurus, membina dan menyelesaikan hal-hal yang berkaitan dengan adat sehubungan dengan sako, pusako dan syara’. e. mengusahakan perdamaian dan memberikan nasehat-nasehat hukum terhadap anggota masyarakat yang bersengketa terhadap sesuatu yang dipersengketakan dan pembuktian lainnya menurut sepanjang adat dan atau silsilah keturunan/ranji. f. mengusahakan perdamaian dan memberikan nasehat-nasehat hukum dan keputusan yang sifatnya final terhadap anggota masyarakat yang bersengketa terhadap sako dengan pembuktian menurut sepanjang adat dan atau silsilah keturunan/ranji. g. membentuk majelis penyelesaian sengketa sako, pusako dan syara’ yang bersifat ad hock. h. membuat kode etik, yang berisikan pantangan, larangan, hak dan kewajiban Niniak Mamak sesuai dengan adat salingka nagari. i. mengembangkan kebudayaan anak Nagari dalam upaya melestarikan kebudayaan Daerah dalam rangka memperkaya khasanah kebudayaan nasional. j. membina masyarakat hukum adat Nagari menurut adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah. k. melaksanakan pembinaan dan mengembangkan nilai-nilai adat minangkabau dalam rangka mempertahankan kelestarian adat Nagari. l. bersama Pemerintahan Nagari menjaga, memelihara dan memanfaatkan kekayaan Nagari untuk kesejahteraan masyarakat Nagari158.
157

Op.Cit, Pasal 79.

123

Selain itu, KAN juga mempunyai fungsi yang antara lain: a. Sebagai lembaga penyelenggara urusan adat di Nagari. b. Sebagai lembaga yang mengurus dan mengelola adat salingka Nagari. c. Sebagai lembaga pendidikan dan pengembangan adat di Nagari. d. Sebagai lembaga pembinaan, pengembangan, perlindungan terhadap unsur Alim Ulama, Cadiak Pandai, Bundo Kanduang, Pemuda Nagari dan unsur lainnya di salingka Nagari. e. Memberikan kedudukan hukum menurut adat terhadap hal-hal yang menyangkut harta kekayaan masyarakat guna kepentingan hubungan keperdataan adat, juga dalam hal adanya persengketaan sako, pusako dan syara’ di Nagari. f. Bersama Pemerintahan Nagari meningkatkan kualitas hubungan perantau dengan Nagari159. Anggota Majelis Tungku Tigo Sajarangan adalah terdiri Niniak Mamak, unsur KAN Alim ulama dan cadiak pandai. Keanggota Majelis Tungku Tigo Sajarangan ditentukan atau dipilih oleh Wali Nagari dan Badan Perwakilan Nagari serta Kerapatan Adat Nagari (KAN). Keanggotaan Majelis Tungku Tigo Sajarangan disahkan secara administratif dengan Keputusan Bupati atas usul Wali Nagari dan Hasil kesepakatan Wali Nagari dengan Badan Perwakilan Nagari serta KAN. Selain mengatur mengenai kelembagaan/organisasi pada Pemerintahan Nagari, dipaparkan pula mengenai Harta Kekayaan Nagari yang meliputi : a. Pasar nagari. b. Tanah lapang atau tempat rekreasi nagari. c. Balai, Mesjid dan/atau Surau nagari. d. Tanah, hutan, sungai, kolam dan /atau laut yang menjadi ulayat nagari. e. Bangunan yang dibuat oleh Pemerintah Nagari dan atau anak nagari untuk kepentingan umum. f. Harta benda dan kekayaan lainnya160. Harta kekayaan Nagari yang dikelola oleh pihak lain, setelah masa

pengelolaannya berakhir dikembalikan kepada Nagari. Sedangkan Harta Kekayaan Nagari yang dikelola oleh Pemerintah, Pemerintah Propinsi dan/atau Pemerintah
158 159 160

Op.Cit, Perda Kabupaten Solok No 4 Tahun 2001, Pasal 87. Op.Cit, Pasal 88. Op.Cit, Perda Provinsi Sumatera Barat No 2 Tahun 2007, Pasal 16.

124

Kabupaten/Kota dapat diatur kembali pemanfaatannya dengan memperhatikan kepentingan nagari. Dengan diberlakukannya kembali pemerintahan nagari di Sumatera Barat, dan ditegaskan pula didalam Perda Provinsi Sumatera Barat No 2 Tahun 2007 Tentang Pokok-pokok Pemerintahan Nagari. Maka dengan itu keberadaan Pemerintahan Desa dan Kelurahan yang berada di Kabupaten, harus segera menyesuaikan menjadi sistim Pemerintahan Nagari selambat-lambatnya adalah rentang waktu 2 (dua) tahun setelah Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat ini diundangkan.

3. 4. Perda Adat di Tingkat Kabupaten dan Kota 3. 4. 1. Tanah Ulayat di Kabupaten Kampar. Hak dan tanah ulayat di Kabupaten Kampar diatur melalui Perda Kabupaten Kampar No 12 Tahun 1999 tentang Tanah Ulayat di Kabupaten Kampar. Pengertian Masyarakat Adat sebagai kesatuan masyarakat hukum adat yang memiliki harta ulayat secara turun temurun di Daerah, berbentuk persekutuan, nagari, perbatinan, desa, kepenghuluan dan kampung. Sedangkan Hak Tanah Ulayat, yaitu merupakan salah satu harta milik bersama suatu masyarakat adat, yang mencakup suatu kesatuan wilayah berupa lahan pertanahan, tumbuhan yang hidup secara liar dan binatang yang hidup liar diatasnya161. Beberapa istilah adat yang penting dijelaskan dalam Perda Adat Kampar. (1) Kerapatan Adat, yaitu suatu wadah atau organisasi persidangan para ninik mamak atau warga yang dituahkan dan ditauladani secara turun temurun dalam suatu masyarakat adat.162 (2) Pemangku Adat (Ninik Mamak, Batin), yaitu orang yang
161 162

Pasal 1 butir (g dan h) Perda Kabupaten Kampar No 12 Tahun 1999 Tentang Hak Tanah Ulayat. Ibid, Pasal 1 butir (i).

125

dinobatkan atau diangkat oleh persukuannya dan atau kaumnya untuk memimipin persukuan atau kaumnya sendiri, yang telah dikukuhkan atau dinobatkan secara sah oleh persekutuannya sesuai dengan hukum adat setempat.163 (3) Penghulu suku atau Pemangku Adat yang menguasai Tanah Ulayat adalah para Penghulu Suku yang memegang Hak Tanah Ulayat masing-masing164. Perda Adat juga mengatur tentang Hak dan Fungsi Tanah Ulayat sebagai berikut : - Hak Tanah Ulayat dan Hak-hak serupa dari Masyarakat-masyarakat Hukum Adat sepanjang Hak tersebut menurut kenyataannya masih ada, harus sedemikian rupa menurut ketentuan Hukum Adat yang berlaku di setiap tempat. - Fungsi Hak Tanah Ulayat adalah untuk meningkatkan kesejahteraan anggota persekutuan dan masyarakat yang bersifat sosial dan ekonomis165. Dalam pengaturan hak ulayat tersebut, dijelaskan mengenai tata cara penggunaan, kepemilikan dan larangan dalam mengelola tanah ulayat. Bahwa tanah ulayat dalam penggunaan dan pemanfaatannya, diatur oleh Kerapatan Adat melalui suatu keputusan pengelolaan tanah ulayat. Ketetapan Kerapatan Adat dibuat merupakan hasil kesepakatan musyawarah bersama seluruh anggota Kerapatan Adat, yang berlaku mengikat kepada semua masyarakat adat166. Hak penguasaan atas tanah ulayat, dibuat atas nama Gelar Pemangku Adat yang berhak untuk itu dan sesuai dengan ketentuan hukum adat setempat. Sedangkan sertifikasi hak kepemilikan tanah ulayat diproses sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku167.

163 164 165

Ibid, Pasal 1 butir (j). Ibid, Pasal 1 butir (k). Ibid, Pasal 2 ayat (1 dan 2). 166 Ibid, Pasal 5 ayat (1,2, dan 3). 167 Ibid, Pasal 6 ayat (1 dan 2).

126

Selain mengatur mengenai tata cara pengelolaan dan penguasaan atas tanah ulayat di Kabupaten Kampar, juga diatur mengenai larangan dalam kepemilikannya. Misalnya, tanah ulayat adat dilarang untuk dipindah hak kepemilikannya kecuali untuk kepentingan pembangunan di daerah. Perpindahan hak tersebut adalah kehendak dari seluruh warga masyarakat adat berdasarkan ketentuan hukum adat yang berlaku. Pengecualian terhadap larangan perpindahan kepemilikan tanah ulayat tersebut, hanya berlaku berdasarkan ketetapan Kerapatan Adat. 168 Kewajiban pengawasan terhadap penggunaan dan kepemilikan tanah ulayat, dilakukan oleh setiap Pemangku Adat dan warga masyarakat adat169. Dalam Peraturan Daerah Kabupaten Kampar No 12 Tahun 1999 Tentang Hak Tanah Ulayat menjelaskan pula pengertian kelembagaan dan pemangku adat. Penghulu Suku dalam hal tugas, fungsi dan wewenangnya dalam pengelolaan hak tanah ulayat di Kabupaten Kampar. Penghulu Suku, memiliki tugas pokok untuk menyelenggarakan pemerintahan, kesejahteraan dan keamanan di dalam masingmasing persekutuan di bidang hukum adat. Selain berfungsi membantu pemerintah dalam bidang kemasyarakatan, Penghulu Suku juga berfungsi mengurus dan mengatur urusan dalam hukum adat, mengatur ketentuan hukum adat menyangkut tanah ulayat dalam persekutuan guna kepentingan keperdataan adat, juga Penghulu Suku bertugas menjaga, memelihara, dan memanfaatkan tanah ulayat untuk kesejahteraan anggota persekutuan170. Tanah adat yang disebut Tanah Soko mempunyai kedudukan penting dalam masyarakat adat Kampar. Tanah adat tersebut tidak boleh diperjualbelikan atau digadaikan secara mudah, mengingat Tanah Soko digunakan sebagai tempat mengadu
168 169 170

Ibid, Pasal 7 ayat (1 dan 2). Ibid, Pasal 8. Ibid, Bab III Pasal 9, 10, dan 11.

127

keluarga yang satu perut, baik itu laki-laki maupun perempuan. Selain itu, tanah soko adalah tanah yang ditinggalkan oleh nenek untuk cucu, terutamanya cucu perempuan (mengacu sistem kekerabatan matrilinial). Berdasarkan hukum adat Kampar, tanah soko baru dapat diperjual belikan atau digadaikan dengan mengacu pada empat pasal. Pertama, mayat artinya orang sakit keras yang lama dan tidak ada dana untuk mengobatinya. Kedua, mendanai anak perempuan yang lambat menikah. Ketiga dandang pamboli nyangou, paghampe pamboli joghio yang artinya membayar denda anak kemenakan yang melakukan kejahatan. Dan keempat rumah besar yang ketirisan, maksudnya adalah memperbaiki atau membuat rumah tempat berkumpul semua keluarga. Ketentuan adat tersebut wajib berdasar musyawarah dan mufakat antara Mamak Soko dan semua keluarga dalam garis keturunan ibu, dan diketahui Penghulu Suku serta empat Penghulu Suku171. Ketentuan menyangkut hak tanah ulayat di Kabupaten Kampar yang sedang dalam proses pengalihan kepemilikannya diterbitkan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan dan hukum adat yang berlaku. Dalam hal ini meliputi inventarisasi tanah ulayat masing-masing masyarakat adat, dan sertifikasi atau pemutihan kepemilikan tanah ulayat172. Mengenai penyelesaian sengketa dalam kasus kepemilikan tanah ulayat di Kabupaten Kampar ini, dibentuk Badan Penyelesaian Permasalahan dan Pemutihan Tanah Ulayat Daerah. Lembaga tersebut beranggotakan Pihak Pemerintah Daerah, dan Pemangku Adat dan Tokoh Masyarakat Adat173. Peraturan Daerah Kabupaten

171

Lihat Kedudukan Tanah Soko dalam Adat Kampar, akses dari http://bidikonline.com/index.php?option=com_content&task=view&id=644&Itemid=42 172 Op.Cit, Pasal 14 ayat (1 dan 2). 173 Op.Cit, Pasal 15 ayat (1 dan 2).

128

Kampar No 12 Tahun 1999 tentang Hak Tanah Ulayat ini mulai berlaku diundangkan sejak tanggal 28 Februari 2002.

3. 4. 2. Perda Tanah Ulayat di Masyarakat Hukum Adat Baduy. Peraturan Daerah Kabupaten Lebak No 32 Tahun 2001 Tentang Perlindungan Atas Hak Ulayat Masyarakat Baduy merupakan ketentuan hukum adat yang khusus. Kekhususan perda tersebut utamanya ditentukan oleh dua ciri utama. Pertama, Perda Adat Baduy mengatur tanah adat Baduy yang mencakup satu desa Baduy Dalam. Sedangkan ciri kedua, perda tersebut mengatur hubungan antara penduduk satu desa Baduy Dalam dengan berbagi pemilikan masyarakat atas tanah, lingkungan, tata nilai dan adat istiadatnya. Karena itu, Perda Adat Baduy berbeda sekali dengan Perda adat yang berlaku dibeberapa tempat lain, seperti Sumatera Barat dan Aceh. Pembahasan mengenai Perda ini dijadikan pembahasan tersendiri mengingat keberadaan Masyarakat Adat Baduy yang memang memiliki corak spesial dalam bingkai kesatuan Negara Republik Indonesia. Masyarakat Adat Baduy terikat oleh tatanan hukum, suatu persekutuan hukum yang mengakui dan menerapkan ketentuan hukum dalam kehidupan. Memiliki sifat ulayat serta memiliki hubungan dengan wilayahnya tersebut. Hak Ulayat dalam Perda Adat Kabupaten Lebak adalah kewenangan yang menurut hukum adat dipunyai oleh masyarakat hukum adat, atas wilayah tertentu, merupakan lingkungan hidup para warganya, untuk mengambil manfaat dari sumber daya alam, termasuk tanah dalam wilayah tersebut, bagi kelangsungan hidup dan kehidupannya, yang timbul akibat hubungan, secara lahiriah dan batiniah, turun temurun dan tidak terputus antara masyarakat hukum adat tersebut

129

dengan wilayah yang bersangkutan.174 Sedangkan Tanah Ulayat adalah bidang tanah yang di atasnya terdapat hak ulayat dari suatu masyarakat hukum adat tertentu. Hutan adat dalam masyarakat Baduy dibedakan menjadi empat jenis meliputi : leuweung kolot (hutan tua), leuweung ngora (hutan muda), leuweung reuma (semak belukar lebat bekas huma), dan jami (semak belukar).175 Tanah adat ulayat Suku Baduy mencakup wilayah yang terbagi untuk pemukiman, lahan pertanian dan hutan lindung. Wilayah yang dipergunakan sebagai pemukiman seluas 24.5 ha, lahan pertanian seluas 2.585 ha terbagi menjadi lahan produktif dan lahan tidur (bera). Sedangkan wilayah hutan lindung seluas 2.492 ha176. Ladang pertanian masyarakat Baduy dibedakan menjadi enam jenis yakni : 1. Huma Serang merupakan ladang yang dianggap suci yang ada di wilayah Baduy Dalam. Hasil pertanian pada huma ini hanya dipergunakan untuk kepentingan upacara adat. 2. Huma Puun merupakan ladang yang diperuntukan khusus milik puun Baduy Dalam. 3. Huma Tangtu adalah ladang yang dikelola oleh warga masyarakat Baduy Dalam. 4. Huma Tuladan adalah ladang komunal di Baduy Luar yang hasilnya untuk keperluan desa. 5. Huma Panamping adalah ladang yang dikelola oleh warga masyarakat Baduy Luar. 6. Huma Urang Baduy yaitu ladang di luar wilayah Baduy yang dikerjakan orang Baduy Luar dan hasilnya diambil untuk kepentingan keluarga masing-masing177. Masyarakat Baduy adalah masyarakat yang bertempat tinggal di Desa Kanekes Kedamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak yang mempunyai ciri kebudayaan dan adat istiadat yang berbeda dengan masyarakat umum. Keberadaan

174

Peraturan Daerah Kabupaten Lebak No 32 Tahun 2001 tentang Perlindungan Atas Hak Ulayat Masyarakat Baduy. Pasal 1 ayat (4). 175 Garna, J, Tangtu Telo Jaro Tujuh : Kajian Struktural Masyarakat Baduy di Banten Selatan Jawa Barat Indonesia, Ph.D Thesis, Bangi : University Kebangsaan Malaysia, 1987. 176 Lihat Suripto, Mengatasi Bahaya Global Warming. Studi Kasus : Kearifan Lokal Suku Badui – Banten – Indonesia, hlm : 6. 177 Ibid, hlm : 7-8.

130

mereka sebagai masyarakat hukum adat telah berlangsung lama secara turun temurun, dengan melestarikan kehidupan masyarakatnya secara adat. Penduduk masyarakat Baduy berjumlah 10.879 jiwa, laki-laki 5.465 jiwa dan perempuan 5.414, berdasarkan Data Sensus Penduduk Desa Kanekes tanggal 28 Pebruari 2008. Dilihat dari tahuntahun sebelumnya, pertumbuhan penduduk sangat pesat sebesar 1.79 % per tahun. Seiring pertumbuhan warga yang pesat, perubahan lahan tempat tinggal (teritorial) pun terus menerus berkembang meluas. Dalam Peraturan Daerah No. 23 Tahun 2001 berdasarkan posisi, dalam dan luar, tempat tinggal warga, secara administratif masyarakat Baduy dibagi menjadi dua: Baduy Dalam dan Baduy Luar. Masyarakat Baduy Dalam yang berjumlah 1.053 jiwa menempati tanah yang didiami tiga kampung: Cikeusik, Cikertawa dan Cibeo. Masyarakat Baduy Luar yang berjumlah 9.826 jiwa menempati tanah yang didiami 57 kampung dan 5 babakan (pemekaran kampung)178. Penetapan mengenai Wilayah Hak Ulayat Masyarakat Baduy dibatasi terhadap tanah-tanah di wilayah Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak. Wilayah Hak Ulayat Masyarakat Baduy tersebut dituangkan dalam peta dasar pendaftaran tanah dengan mencantumkan suatu tanda kartografi yang sesuai. Dalam fungsi peruntukannya, lahan terhadap hak ulayat Masyarakat Baduy diserahkan sepenuhnya kepada Masyarakat Baduy.179Adapun pemimpin tertinggi pada masyarakat Baduy disebut Puun, yakni Puun Sahadi, Puun Kiteu dan Puun Kiasih, setelah Puun pemimpin berikutnya adalah Jaro, Jaro terbagi atas dua yakni Jaro Adat dan Jaro Pamarentah, Jaro Adat ada 7 yang disebut dengan Jaro Tujuh, secara

178

179

Lihat Maskur Wahid, 2010, Sunda Wiwitan Baduy : Agama Penjaga Alam Lindung di Desa Kanekes Banten, Banjarmasin, Annual Conference on Islamic Studies (ACIS) ke – 10, hlm : 3. Peraturan Daerah Kabupaten Lebak No 32 Tahun 2001 tentang Perlindungan Atas Hak Ulayat Masyarakat Baduy, Op.Cit, Pasal 2, 3, dan 4.

131

hierarki Jaro Adat Baduy dalam lebih tinggi kedudukannya dari pada Jaro Pamarentah dalam kepemimpinan adat. Sedangkan Jaro Pamarentah adalah Jaro yang dipilih oleh Puun dan para pemuka adat, baik Baduy dalam maupun Baduy Luar, adalah sebagai penghubung antara masyarakat Baduy dengan Pemerintah Daerah yang manyangkut masalah-masalah kependudukan, pemerintahan, adat istiadat dan kelestariannya, maupun hal lain yang menyangkut kepentingan pemerintah maupun kepentingan masyarakat Baduy180. Terdapat beberapa pengecualian terhadap Hak Ulayat Masyarakat Baduy Dalam dan Baduy Luar, yaitu meliputi bidang-bidang tanah yang sudah dipunyai oleh perseorangan atau badan hukum dengan sesuatu hak atas tanah menurut UUPA; dan merupakan bidang-bidang tanah yang sudah diperoleh atau dibebaskan oleh instansi Pemerintah, badan hukum atau perseorangan sesuai ketentuan yang berlaku. Sanksi hukum untuk pelanggaran atas tindakan atau kegiatan yang menggangu, merusak dan menggunakan lahan ulayat Masyarakat Baduy diancam dengan pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda maksimal Rp. 5.000.000,-(lima juta rupiah). Selain itu, kewenangan dalam penyidikan atas pelanggaran terhadap tanah ulayat Masyarakat Baduy dilaksanakan oleh Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di Pemerintah Daerah. Sebagai wujud dari pengakuan atas hak Masyarakat Hukum Adat Baduy dan untuk menghindari perselisihan hak ulayat tersebut, maka tanah ulayat tersebut tidak diperkenankan upaya pensertifikasian atas kepentingan perorangan. Hal ini dimaksudkan karena tanah ulayat tidak dapat dimiliki oleh perorangan, melainkan

180

Lihat Drs. Abdullah, Sepintas Tentang Masyarakat Baduy : Perjalanan ke Tanah Leluhur – Badui. Diakses dari http://hlasrinkosgorobogor.wordpress.com/tag/budaya-baduy/

132

untuk kepentingan seluruh masyarakat adat Baduy, dalam hal ini sebagai lahan beraktivitas (bertani).

3. 4. 3. Perda Masyarakat Adat Datuk Sinaro Putih di Kabupaten Bungo. Pengakuan Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten se-Provinsi Jambi, yaitu adanya pengakuan terhadap Lembaga Adat Melayu Jambi dan Masyarakat Hukum Adat Datuk Sinaro Putih Kecamatan Pelepat Kabupaten Bungo diatur dalam Peraturan Daerah No 3 Tahun 2006. Peraturan Daerah ini dibentuk, guna memgukuhkan keberadaan masyarakat hukum adat dimaksud. Peraturan Daerah ini mencakup tentang bentuk dan kedudukan masayarakat hukum adat, kelembagaan masyarakat adat, wilayah adat, pola kekerabatan, sistim pewarisan, prinsip-prinsip dalam pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan, serta kewenangan masyarakat hukum adat. Keberadaan masyarakat hukum adat ini tidak hanya dilaksanakan dalam hal pelaksanaan upacara-upacara perkawinan atau keagaamaan saja, namun juga dalam kehidupan kehari-hari yang meliputi pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam desa. Pemberlakuan lembaga adat di Provinsi Jambi tersebut, berdasarkan pada adanya nilai-nilai dan kearifan tradisional yang melekat kuat dalam aktivitas kehidupan sehari-hari sebagai sebuah komunitas masyarakat hukum adat, yang pemberlakuannya didasarkan pada Perda Kabupaten Bungo No 3 Tahun 2006. Keberadaan masyarakat hukum adat Datuk Sinato Putih, adalah sebuah ikatan kesatuan masyarakat hukum adat secara turun temurun. Ikatan kemasyarakatan tersebut, sesuai dengan falsafah adat seinduk bak ayam seumpun bak serei (Satu

133

induk laksana ayam, satu rumpun bagaikan serai). Clifford Geerz mendefinisikan ikatan primordial tersebut sebagai “perasaan yang lahir dari yang dianggap ada dalam kehidupan sosial, sebagian besar dari hubungan langsung dan hubungan keluarga, tetapi juga meliputi keanggotaan dalam lingkungan keagamaan tertentu, bahasa atau dialek tertentu, serta kebiasaan-kebiasaan sosial tertentu181. Kelembagaan masyarakat hukum adat Datuk Sinaro Putih terdiri dari : 1. Pimpinan adat dan perangkatnya, 2. Tuo Negeri, adalah perangkat kelembagaan masyarakat hukum adat yang bertugas menyelesaikan masalah-masalah ditingkat masyarakat. 3. Pegawai Syara’, adalah perangkat kelembagaan adat yang bertugas melaksanakan syari’at Islam dalam Kesatuan Adat Datuk Sinaro Putih. 4. Tuo Tengganai, adalah perangkat kelembagaan adat yang secara turun temurun bertugas di bidang kesehatan dan bencana dalam wilayah Masyarakat Hukum Adat Datuk Sinaro Putih. 5. Dubalang, adalah perangkat kelembagaan adat yang mengurusi halhal yang berkaitan dengan masalah keamanan masyarakat hukum adat. 6. Monti rajo, adalah perangkat kelembagaan adat yang bertugas membantu melakukan komunikasi dan menyampaikan informasi kepada masyarakat. 7. Manggung/jonang, adalah perangkat kelembagaan adat yang bertugas untuk melakukan pelayanan dalam acara-acara adat 8. Rumah godang tigo taipah182. Struktur kelembagaan tersebut, dipimpin oleh seorang pemimpin adat tertinggi dengan istilah adat setempat Datuk Sinaro Putih, dibawahi oleh : 1. Datuk Rangkayo Mulio, adalah Nenek Moyang Masyarakat Desa Baru Pelepat dan Dusun Lubuk Telau yang diberikan kewenangan untuk menjadi pimpinan Masyarakat Hukum Adat Datuk Sinaro Putih dalam wilayah Desa Baru Pelepat dan Dusun Lubuk Telau, Datuk Rangkayo Mulio berkedudukan di Desa Baru Pelepat, kekuasaanya diwariskan secara turun temurun sampai generasi saat ini. 2. Tiang Panjang, adalah nenek moyang masyarakat Desa Batu Kerbau yang diberi kewenangan oleh Datuk Sinaro putih untuk memegang kekuasaan sebagai pimpinan adat di bagian wilayah desa batu kerbau,
181

182

Lihat Musri Nauli, Makna Pemberian Gelar Adat Melayu Kepada SBY, diakses dari http://www.jambiekspres.co.id/opini/20838-makna-pemberian-gelar-adat-melayu-kepada-sby.html Peraturan Daerah Kabupaten Bungo No 3 Tahun 2006 tentang Masyarakat Hukum Adat Datuk Sinaro Putih Kecamatan Pelepat Kabupaten Bungo. Pasal 1 dan Pasal 5.

134

kedudukan sebagai Datuk tiang panjang diwariskan secara turun temurun sampai generasi saat ini183. Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, pimpinan adat dan perangkatnya mempunyai wewenang sesuai hukum adat yang berlaku dalam masyarakat hukum adat Datuk Sinaro Putih. Kewenangan tersebut mencakup kewenangan dalam mengatur keseluruhan wilayah hukum adat, meliputi ilir lubuk tekalak, mudik muara sikapeh kecil184. Pola kekerabatan yang terdapat dalam kelembagaan adat Datuk Sinaro Putih, terbagi dalam kelompok kecil yang disebut suku. Suku-suku yang terdapat dalam masyarakat adat tersebut antara lain : 1. 2. 3. 4. Suku Tanjung. Suku Jambak. Suku Sikumbang. Suku Melayu.185

Keberadaan suku-suku yang diakui tersebut dapat berubah sesuai waktu dan perkembangan masyarakat adat dimasa mendatang.186 Suku-suku yang terdapat dalam masyarakat hukum adat Datuk Sinaro Putih, ditarik berdasarkan garis keturunan pihak perempuan. Representasi kaum perempuan tersebut terwujud dari kelembagaan Bundo Kanduang, dimana kaum perempuan dalam masyarakat adat Datuk Sinaro Putih wajib dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan adat. 187 Mengenai pola pewarisan secara adat di Datuk Sinaro Putih, terdiri dari : 1. Harta Pusaka Tinggi, adalah harta yang dimiliki secara komunal oleh kaum, suku atau semua masyarakat hukum adat dan diwariskan secara kolektif oleh dan kepada masyarakat hukum adat.
183 184 185

Ibid, Pasal 1 dan Pasal 5. Ibid, Pasal 15. Ibid, Pasal 24 ayat (2). 186 Ibid. Pasal 24. 187 Ibid. Pasal 25.

135

2.

Harta Pusaka Rendah, adalah harta yang dimiliki oleh perseorangan atau individu dalam masyarakat hukum adat dan diwariskan dengan menggunakan sistem pewarisan dalam ketentuan Syari’at Hukum Islam188.

Dalam masyarakat hukum adat Datuk Sinaro Putih, tidak hanya para pemimpin adat yang memiliki kewenangan. Tetapi juga, bagi masyarakat adatnya itu sendiri antara hak dan kewajibannya sebagai bagian dari masyarakat hukum adat, meliputi : 1. 2. Hak melakukan pemanfaatan sumberdaya alam yang ada di wilayah adat sesuai hukum adat yang berlaku. Hak melakukan pemungutan atas pemanfaatan sumberdaya alam yang ada di wilayah desanya sesuai hukum adat yang berlaku untuk keperluan pembangunan desa (ka ayik babungo pasir, ka daerk babungo kayu). Hak mendapatkan perlindungan terhadap adat dan hukum adat yang berlaku. Kewajiban kampung ba tuo, antau badatuk, alam barajo (kehidupan desa diatur sesuai dengan tingkat pemerintahan adat yang berlaku di desa). Kewajiban menyelesaikan perselisihan (kusuik diselesaikan, keruh diperjernih). Kewajiban memelihara dan melestarikan adat istiadat dan hukum adat (dak lapuk dek hujan, dak lekang dek paneh)189.

3. 4. 5. 6.

Selain pengaturan mengenai kelembagaan adat dan tata adatnya, dalam masyarakat adat Datuk Sinaro Putih juga menerima asimilasi masyarakat luar untuk menjadi masyarakat adat sepenuhnya dengan cara adat Malokok. Proses malokok dilakukan dengan prosesi yang disebut “nasi putih kuah kuning” yang dihadiri oleh ninik mamak nan salapan. Hal ini memungkinkan semua orang yang berasal dari luar masyarakat adat untuk mendapatkan hak dan kewajiban yang sama seperti halnya masyarakat keturunan Datuk Sinaro Putih.

188 189

Ibid, Pasal 27 dan 28. Ibid, Pasal 29 dan 30.

136

Dalam masyarakat adat Datuk Sinaro Putih, dikenal adanya Peradilan Adat. Prinsip dari pemberlakuan peradilan adat tersebut adalah kusuik diselesaikan, keruh dijernihkan, mangapiang sampai katampulu, berenang sampai katapian, boruok dirimbo disusukan, anak dipangku dilepaskan, nan bona indak diasak, layu dibubuik mati, induk posoko bona, bapak posoko koreh. Arti dari prinsip peradilan adat tersebut adalah semua permasalahan harus diselesaikan seadil-adilnya melalui musyawarah mufakat190. Lembaga adat dalam masyarakat Datuk Sinaro Putih, dikenal dengan Musyawarah Adat Dusun (MAD) atau Kerapatan Adat Dusun (KAD) atau Lembaga Adat Dusun (LAD). Lembaga ini dibentuk berdasarkan kebutuhan masyarakat untuk menghidupkan nilai-nilai adat dalam masyarakat. Lembaga ini berfungsi sebagai Peradilan Adat Dusun191. Hukum adat yang berlaku terdiri dari 4 (empat) tingkatan, yaitu : - Tingkat Nan Duo Boleh - Tingkat Pucuk Nan Duo Boleh Tapak Nan Duo Lapan - Nan Duo Lapan Ditengah, dan - Pucuk Nan Duo Lapan.192 Dalam penyelesaian sengketa adat, sidang adat dilakukan sebagai upaya penyelesaiannya. Sidang adat tersebut dipimpin oleh Tuo Negeri, dengan mengumpulkan Ninik Mamak, Cerdik Pandai, Alim Ulama, Tuo Tengganai, dan Pemimpin untuk menyelesaikan permasalahan adat yang terjadi.193 Peradilan adat

190 191

Ibid, Pasal 31 ayat (1 dan 2). Pembentukan lembaga ini sesuai dengan ketentuan Pasal 211 UU No 32 Tahun 2004. Lihat Hasantoha Adnan, et al., 2008, Belajar dari Bungo Mengelola Sumberdaya Alam di Era Desentralisasi (ed), Center for International Forestry Research (CIFOR), hlm : 148. 192 Ibid, Pasal 32 ayat (1). 193 Ibid, Pasal 33 ayat (3 dan 4).

137

Datuk Sinaro Putih mengenal pembedaan kasus Pidana, didasarkan atas kasus pertengkaran, menghina didepan umum, pencemaran nama baik, pembunuhan, hamil diluar nikah, dan berzina. Keputusan penyelesaian tersebut menghasilkan musyawarah yang diputuskan oleh majelis adat. Pelaksanaan dan implementasi putusan atas sengketa adat tersebut, dilaksanakan selambatnya 7 (tujuh) hari sejak diputuskan, dengan masa pertimbangan tertentu selama 14 hari. Dan jika dalam masa selama tersebut tidak dapat dilaksanakan, maka penyelesaiannya diserahkan kepada hukum formal yang berlaku194. Dengan berlakunya perda adat tersebut, secara juridis masyarakat hukum adat Datuk Sinaro Putih mendapatkan pengakuan atas eksistensinya. Hal ini tentunya sangat baik, mengingat kearifan lokal dan budaya asli masyarakat adat sudah selayaknya mendapatkan jaminan atas eksistensinya dalam bingkai kenegaraan Indonesia.

3. 4. 4. Pemberdayaan, Pelestarian, Pengembangan Adat Istiadat dan Lembaga Adat di Kabupaten Banggai Pemberdayaan, pelestarian, pengembangan adat istiadat di Banggai

didasarkan pada pelaksanaan UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Adat istiadat dan lembaga adat diakui keberadaannya dan mempunyai peranan dalam kehidupan masyarakat luas dan tumbuh berkembang di daerah. Peraturan Daerah Kabupaten Banggai No 1 Tahun 2008 Tentang Pemberdayaan, Pelestarian, Pengembangan Adat Istiadat dan Lembaga Adat Banggai menjadi sumber hukum

194

Ibid, Pasal 34 dan Pasal 35.

138

daerah. Muatan dan penjelasan yang terkait adat istiadat dan lembaga adat Banggai yaitu : 1. 2. Adat Banggai adalah adat banggai yang meliputi adat banggai, adat balantak dan adat saluan serta adat lainnya yang telah ada dan diakui oleh masyarakat adat. Kebiasaan – kebiasaan masyarakat adalah pola kegiatan atau perbuatan yang dilakukan oleh masyarakat, merupakan sebuah kesatuan hukum tertentu yang pada dasarnya dapat bersumber pada hukum adat atau adat istiadat sebagaimana diakui keabsahannya oleh warga masyarakat tersebut dan oleh masyarakat lainnya. Lembaga Adat adalah sebuah organisasi kemasyarakatan baik yang sengaja dibentuk maupun yang secara wajar telah tumbuh dan berkembang didalam sejarah masyarakat yang bersangkutan atau dalam suatu masyarakat hukum adat tertentu dengan wilayah hukum dan hak atas harta kekayaan di dalam wilayah hukum adat tersebut, serta berhak dan berwenang untuk mengatur, mengurus dan enyelesaikan berbagai permasalahan kehidupan yang berkaitan dengan dan mengacu pada adat istiadat dan hukum adat yang berlaku195. upaya

3.

Pengundangan Perda Kabupaten Banggai ini dimaksudkan dalam

pemberdayaan, pelestarian dan pengembangan adat istiadat yang adalah untuk meningkatkan peran nilai-nilai adat istiadat dalam menunjang kelancaran penyelenggaraan pemerintahan, kelangsunagn pembangunan dan peningkatan ketahanan nasional serta mendorong kesejahteraan masyarakat setempat. Selain itu, dipaparkan pula tujuan pemberdayaan, pelestarian dan pengembangan adat istiadat dalam Perda Kabupaten Banggai yang antara lain : a. Pemberdayaan adat istiadat bertujuan untuk meningkatkan sumber daya manusia dengan membentuk suatu wadah lembaga yang mengarah pada peningkatan tatanan kehidupan suatu masyarakat dengan tidak merubah nilai, kaidah atau norma dan kegiatan sosial. b. Pelestarian adat istiadat bertujuan untuk mempertahankan nilai-nilai, kaidah atau norma-norma dan kegiatan sosial yang telah mengakar dalam suatu masyarakat dan dapat menunjang kelangsungan Pembangunan dan Ketahanan Nasional.
195

Lihat Ketentuan Umum Peraturan Daerah Kabupaten Banggai No 1 Tahun 2008 Tentang Pemberdayaan, Pelestarian, Pengembangan Adat Istiadat dan Lembaga Adat.

139

c. Pengembangan adat istiadat bertujuan untuk meningkatkan peran dan fungsi Lembaga adat serta dapat melestarikan adat istiadat di desa guna menunjang kelancaran pembangunan dan ketahanan nasional196. Pengaturan lembaga adat dalam Perda Kabupaten Banggai ini, juga tidak jauh berbeda keidentikannya dengan beberapa pembahasan Perda terkait pelestarian adat istiadat yang telah dipaparkan dibagian awal. Kelembagaan adat Banggai adalah sebagai wadah atau organisasi permusyawaratan / permufakatan Adat yang berada diluar organisasi Pemerintahan serta mempunyai tugas : a. Menampung dan Menyalurkan aspirasi masyarakat adat kepada Pemerintah. b. Menyelesaikan permasalahan adat istiadat dan kebiasaan – kebiasaan masyarakat di wilayahnya. c. Memberdayakan, melestarikan dan mengembangkan adat istiadat serta kebiasaan-kebiasaan masyarkat. d. Menciptakan hubungan yang demokratis, harmonis dan ojektif antara masyarakat, perangkat adat dengan aparat Pemerintah Daerah197. Adapun perangkat adat sebagaimana tersebut diatas dipimpin oleh seorang ketua adat dengan sebutan Tomundo dan dibantu perangkat adat kecamatan yang dipimpin oleh Bosanyo/Bosano atau sebutan lain serta perangkat adat desa/kelurahan di Pimpin oleh Kapitan/Tonggol atau sebutan lain. Dalam menjalankan tugas-tugasnya, lembaga adat mempunyai fungsi melaksanakan kegiatan-kegiatan pendataan dalam rangka membantu pemerintah menyusun kebijaksanaan dan strategi untuk mendukung kelancaran penyelenggaraan pemerintahan dan pembinaan kemasyarakatan. Selain itu, diatur pula mengenai hak dan wewenang lembaga adat di Kabupaten Banggai, antara lain : a. Mewakili masyarakat adat keluar, yakni dalam hal-hal yang menyangkut kepentingan dan mempengaruhi adat. b. Mengelola hak-hak adat dan/atau harta kekayaan adat198 untuk meningkatkan kemajuan dan taraf hidup masyarakat adat kearah yang

196 197

Ibid, Pasal 6. Ibid, Pasal 8.

140

c.

lebih layak dan lebih baik sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Menyelesaikan perselisihan yang menyangkut masalah adat istiadat dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat sepanjang penyelesaian itu tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku199.

Kelembagaan adat sesuai pengaturannya dalam Perda Kabupaten Banggai berkewajiban untuk melakukan hal-hal sebagai berikut : a. Membantu kelancaran penyelenggaraan pemerintahan terutama dalam pemanfaatan hak-hak adat dan harta kekayaan lembaga adat dengan memperhatikan kepentingan adat setempat. b. Memelihara Stabilitas Nasional yang sehat dan dinamis serta dapat membantu aparat pemerintah, terutama pemeritah Desa / Kelurahan dalam rangka melaksanakan tugas-tugas pembinaan kemasyarakatan. c. Menciptakan Suasana yang dapat menjamin terpeliharanya kebhinekaan masyarakat adat dalam rangka persatuan dan kesatuan bangsa200. Dalam usaha melestarikan adat istiadat serta memperkaya khasanah budaya masyarakat, Aparatur Pemerintah pada semua tingkatan mempunyai kewajiban untuk membina dan mengembangkan adat istiadat yang hidup dan bermanfaat dalam Pembangunan dan Ketahanan Nasional.

3. 4. 5. Lembaga Adat dan Kebudayaan Aceh (LAKA) Kabupaten Aceh Tengah dan Qanun Aceh No 10 Tahun 2008 Tentang Lembaga Adat. Perda Lembaga Adat Kebudayaan (LAKA) di Aceh diatur dengan Perda Kabupaten Aceh Tengah No 33 Tahun 2001. Perda tersebut menjelaskan bahwa Lembaga Kebudayaan dan Adat adalah suatu organisasi kemasyarakatan adat yang dibentuk oleh suatu masyarakat hukum adat tertentu, mempunyai wilayah tertentu

198

199 200

Harta kekayaan adat adalah termasuk didalamnya benda-benda cagar budaya berupa benda-benda bergerak atau tidak bergerak, merupakan peninggalan yang mewakili masa gaya / kekhasan dari adat banggai misalnya peninggalan bidang kesenian dan situs budaya yang mempunyai nilai sejarah serta perlu dijaga kelestarianya. Lihat penjelasan Perda Kabupaten Banggai No 1 Tahun 2008. Ibid, Pasal 10. Ibid, Pasal 11.

141

dan harta kekayaan sendiri serta berhak dan berwenang untuk mengatur dan mengurus yang berkaitan dengan Adat Gayo.201 LAKA adalah suatu badan independent yang melaksanakan tugas kebudayaan, dan sebagai mitra Pemerintah Daerah dan DPRD. LAKA di Kabupaten Aceh Tengah mempunyai tugas untuk memberi masukan, pertimbangan dan nasehat dalam setiap pembentukan kebijakan daerah sesuai Syariat Islam dan Adat. Sesungguhnya, LAKA, sebagai lembaga adat tidak sekedar menjadi lembaga adat, tetapi juga berkaitan dengan upaya untuk melindungi ajaran Islam di Kabupaten Aceh Tengah. Seperti halnya LAKA di Kabupaten Aceh Tengah, pada tahun 2008 secara keseluruhan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam menerbitkan Qanun Aceh No 10 Tahun 2008 tentang Lembaga Adat. Dengan maksud membina nilai-nilai budaya, norma adat, dan aturan sesuai dengan nilai Islami. Pemberlakuan Qanun Aceh tersebut juga sebagai wujud dari pelaksanaan kekhususan dan keistimewaan Aceh di bidang adat istiadat yang didasarkan pada UU No 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Pengertian Qanun di Aceh, sama pengertiannya dengan Perda LAKA Kabupaten Aceh Tengah. Dengan kata lain, LAKA merupakan pengejawantahan dari Perda Provinsi Aceh disebut Qanun. Qanun Aceh yang memaparkan beberapa istilahistilah kelembagaan adat seperti : 1. Majelis Adat Aceh, adalah sebuah majelis penyelenggara kehidupan adat di Aceh yang struktur kelembagaannya sampai tingkat gampong. 2. Lembaga Wali Nanggroe, adalah lembaga kepemimpinan adat sebagai pemersatu masyarakat dan pelestarian kehidupan adat dan budaya. 3. Mukim, adalah kesatuan masyarakat hukum di bawah kecamatan yang terdiri atas gabungan beberapa gampong yang mempunyai batas

201

Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah No 33 Tahun 2001 tentang Lembaga Adat Kebudayaan (LAKA) Kabupaten Aceh Tengah. Pasal 1 butir b

142

4. 5. 6. 7.

8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16.

17.

wilayah tertentu yang dipimpin oleh Imeum mukim atau nama lain dan berkedudukan langsung di bawah camat. Gampong atau nama lain adalah kesatuan masyarakat hukum yang berada di bawah mukim dan dipimpin oleh keuchik atau nama lain yang berhak menyelenggarakan urusan rumah tangga sendiri. Imeum Mukim, adalah kepala Pemerintahan Mukim. Imeum Chik, adalah imeum masjid pada tingkat mukim orang yang memimpin kegiatan-kegiatan masyarakat di mukim yang berkaitan dengan bidang agama Islam dan pelaksanaan syari’at Islam Keuchik atau nama lain merupakan kepala persekutuan masyarakat adat gampong yang bertugas menyelenggarakan pemerintahan gampong, melestarikan adat istiadat dan hukum adat, serta menjaga keamanan, kerukunan, ketentraman dan ketertiban masyarakat. Tuha Peut Gampong atau nama lain adalah unsur pemerintahan gampong yang berfungsi sebagai badan permusyawaratan gampong. Tuha Peut Mukim atau nama lain adalah alat kelengkapan mukim yang berfungsi memberi pertimbangan kepada imeum mukim. Tuha Lapan atau nama lain adalah lembaga adat pada tingkat mukim dan gampong yang berfungsi membantu imeum mukim dan keuchik atau nama lain. Imam Meunasah atau nama lain adalah orang yang memimpin kegiatan-kegiatan masyarakat di gampong yang berkenaan dengan bidang agama Islam, pelaksanaan dan penegakan syari’at Islam Keujruen Blang atau nama lain adalah orang yang memimpin dan mengatur kegiatan di bidang usaha persawahan. Panglima Laot atau nama lain adalah orang yang memimpin dan mengatur adat istiadat di bidang pesisir dan kelautan. Peutua Seuneubok atau nama lain adalah orang yang memimpin dan mengatur ketentuan adat tentang pembukaan dan penggunaan lahan untuk perladangan/perkebunan. Haria Peukan atau nama lain adalah orang yang mengatur ketentuan adat tentang tata pasar, ketertiban, keamanan, dan kebersihan pasar serta melaksanakan tugas-tugas perbantuan. Syahbanda atau nama lain adalah orang yang memimpin dan mengatur ketentuan adat tentang tambatan kapal/perahu, lalu lintas keluar dan masuk kapal/perahu di laut, danau dan sungai yang tidak dikelola oleh Pemerintah. Pawang Glee atau Pawang Uteun atau nama lain adalah orang yang memimpin dan mengatur adat-istiadat yang berkenaan dengan pengelolaan dan pelestarian lingkungan hutan202.

202

Qanun Aceh No 10 Tahun 2008 Tentang Lembaga Adat. Bab I, Pasal 1 ayat (10 – 27).

143

Sedikit perbedaan muatan LAKA berdasar Perda Kabupaten Aceh Tengah dengan Qanun Aceh adalah terdapatnya unsur Dewan Paripurna Adat yang bertugas memonitor, merumuskan usulan pertimbangan, bimbingan, nasehat serta saran kepada Pemerintah Daerah dan DPRD melalui ketua LAKA, serta menetapkan Fatwa dibidang Hukum Adat Istiadat dan Kebudayaan.203 Dewan Paripurna LAKA terdiri dari Cendikiawan Muslim dan Ahli Adat Gayo dengan beranggotakan sebanyakbanyaknya 9 (sembilan) orang.204 Selain itu, LAKA juga terdiri dari beberapa Komisi antara lain : 1. 2. 3. Komisi Fatwa Hukum Adat, Adat Istiadat dan Kebiasaan. Komisi Penelitian, Pengembangan, Pendidikan dan Pengajaran. Komisi Pemberdayaan Perempuan, Keluarga dan Pengembangan Generasi Muda, Lingkungan Hidup. 4. Komisi Sosial dan Publikasi.205

Lembaga Adat, sesuai dalam Qanun Aceh No 10 Tahun 2008 antara lain memiliki kewenangan sebagai berikut : 1. Menjaga keamanan, ketentraman, kerukunan, dan ketertiban masyarakat. 2. Membantu Pemerintah dalam pelaksanaan pembangunan. 3. Mengembangkan dan mendorong partisipasi masyarakat. 4. Menjaga eksistensi nilai-nilai adat dan adat istiadat yang tidak bertentangan dengan syari’at Islam. 5. Menerapkan ketentuan adat. 6. Menyelesaikan masalah sosial kemasyarakatan. 7. Mendamaikan sengketa yang timbul dalam masyarakat. dan 8. Menegakkan hukum adat206.

203

204 205 206

Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah No 33 Tahun 2001 Tentang Lembaga Adat Kebudayaan (LAKA) Aceh Tengah. Pasal 14. Ibid, Pasal 15 ayat (1 dan 2). Ibid, Pasal 18. Qanun Aceh No 10 Tahun 2008 Tentang Lembaga Adat. Op.Cit, Pasal 4.

144

Lembaga adat Aceh berfungsi sebagai wahana partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, pembinaan masyarakat, dan

penyelesaian masalah atau perkara sosial kemasyarakatan.207 Seperti halnya LAKA di Kabupaten Aceh Tengah, Lembaga Adat yang diatur dalam Qanun Aceh tersebut juga bersifat otonom dan independen sebagai mitra pemerintah sesuai tingkatannya. Selain itu, lembaga-lembaga adat di Aceh dapat berperan serta dalam proses perumusan kebijakan pemerintah setempat yang sesuai dengan wewenang masingmasing lembaga adat.

3. 4. 6. Perda Perlindungan Hak-hak Adat dan Budaya Masyarakat Adat Kesultanan Ternate. Nilai-nilai adat istiadat Kesultanan Ternate sebagai kepribadian bangsa dan daerah yang perlu diberikan pengakuan, perlindungan dan pelestarian sekaligus diberdayakan diatur dalam Peraturan Daerah Kota Ternate No 13 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Hak-hak Adat dan Budaya Masyarakat Adat Kesultanan Ternate. Kedudukan masyarakat adat Kesultanan Ternate sebagai masyarakat adat terikat oleh tatanan sebagai warga perlu menerapkan ketentuan persekutuan hukumnya. Adapun isi dan muatan tercantum dalam Peraturan Daerah Kota Ternate No 13 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Hak-hak Adat dan Budaya Masyarakat Adat Kesultanan Ternate. Dalam Perda tersebut obyek yang diatur tidak sekedar mengenai hak-hak ulayat semata, tetapi juga peran Sultan Ternate dalam proses dan mekanisme pembabatan dan pembukaan hutan. Obyek materi yang diatur adalah sebagai berikut :

207

Qanun Aceh No 10 Tahun 2008 Tentang Lembaga Adat. Op.Cit, Pasal 2 ayat (1).

145

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Pengaturan Hak Ulayat adat sebagai hak adat dimana disepakati oleh masyarakat setempat dan diakui oleh sultan. Cucatu adalah pemberian oleh sultan atas sebidang tanah mengingat pengabdian masyarakat /soa atau orang yang mengabdi pada sultan. Jurami adalah bekas tanah olahan oleh masyarakat atau perorangan yang diakui hak pemiliknya. Rubah Banga adalah proses pembukaan lahan baru yang dilakukan oleh masyarakat atau perorangan yang diakui hak pemiliknya. Benda-benda bersejarah / benda pusaka adalah benda peninggalan yang masih dipelihara yang memiliki nilai historis. Tolagumi adalah proses pembukaan lahan baru yang diberikan dengan tanda ikatan tali pada pohon dimana diakui keberadaan oleh masyarakat setempat sebagai hak milik masyarakat atau perorangan yang membuka lahan tersebut208.

Berdasarkan pemberlakuan Perda keberadaan hak-hak adat masyarakat adat Ternate diakui dan dilindungi Pemerintah Daerah ditingkat Kota Ternate. Pengakuan dan perlindungan sebagaimana dimaksud, berdasarkan adat istiadat yang hidup berkembang di Kesultanan Ternate. Gencarnya pembangunan dan membanjirnya investasi lokal dan nasional, keberadaan hak-hak ulayat terutama kepemilikan tanah-tanah adat tersebut tersingkirikan secara sistematis. Masyarakat adat bahkan tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan penting berkaitan dengan esksitensi hak-hak ulayat tersebut. Dalam konteks seperti ini, pelanggaran dan pemenuhan hak-hak dasar sebagai warga negara adalah salah satu titik yang paling bermasalah dalam pelaksanaan pembangunan. Hingga saat ini hak-hak ulayat berupa tanah-tanah adat yang ada di wilayah kesultanan Ternate tidak mendapat pengakuan secara legal formalisitik oleh pemerintah daerah. Salah satu indikatornya ialah, hingga saat ini belum ada peraturan daerah (Perda) yang mengatur secara jelas kesatuan hukum masyarakat adat di

208

Peraturan Daerah Kota Ternate No 13 Tahun 2009 tentang Perlindungan Hak-hak Adat dan Budaya Masyarakat Adat Kesultanan Ternate. Pasal 1.

146

wilayah kesultanana Ternate. Akibatnya masyarakat adat selalu berada dalam posisi dilematis dan lemah dalam memperjuangkan hak-hak mereka209. Adat istiadat yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat hukum adat Kesultanan Ternate, antara lain adalah : 1. Adat se Atorang merupakan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku secara turun temurun yang membentuk tata nilai yang dilaksanakan oleh masyarakat; 2. Istiadat se Kabasaran merupakan kebiasaan-kebiasaan masyarakat dihormati dan dijunjung tinggi nilai-nilai kebesarannya; 3. Ghalib se Lukudi merupakan pengakuan eksistensi manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa dan ia tidak bisa hidup seorang diri namun sebagai makhluk sosial yang saling berhubungan satu sama lain; 4. Cing se Cingari merupakan sikap dan perbuatan itu harus ditaati dan dipelihara untuk kepentingan bersama; 5. Bobaso se Rasai merupakan tenggang rasa dan saling menghormati satu sama lain dan menyadari sebagai makhluk ciptaan Tuhan; 6. Ngale se Cara merupakan sikap dan perbuatan yang memberikan manfaat baik pada diri sendiri maupun kepada sesama manusia; 7. Sere se Duniru merupakan kebiasaan-kebiasaan masyarakat dalam bentuk kesenian tradisional yang dipelihara secara turun temurun210. Selain mengenai adat istiadat, diatur pula mengenai kedudukan Pemangku Adat tertinggi yaitu Kolano atau Sultan. Segala keputusan (Idin Sultan) ditaati dan dituruti secara turun temurun oleh masyarakat adat. Kedudukan Sultan Ternate dalam struktur kekuasaan pemerintahan adalah sebagai raja atau penguasa. Puncak hirarki ditempati oleh Sultan yang memiliki hak otoritas tradisional yang telah diterimanya sebagai hak turun temurun. Pribadi raja adalah sebagai pemilik kekuasaan di seluruh

209

210

Lihat King Faisal Marsaoly, Adat Se-Atorang; Bukan Pepesan Kosong. Diakses dari http://hukumodanpemerintahan.blogspot.com/2009/04/adat-se-atorang-bukan-pepesankosong_30.html?zx=dbb4ca54010423be Peraturan Daerah Kota Ternate No 13 Tahun 2009 tentang Perlindungan Hak-hak Adat dan Budaya Masyarakat Adat Kesultanan Ternate . Op.Cit, Pasal 3.

147

kesultanan,

tercermin

dalam

struktur

administrasi

dengan

sistem

politik

patrimonial211. Tanah-tanah yang dikuasai oleh perorangan memberikan kewenangan perdata kepada yang menguasainya. Oleh karena itu proses pendaftaran hak-hak atas tanah tersebut ditempuh melalui konversi hak (penegasan hak) jika memiliki cucatu, dan tanah-tanah yang dikuasai tanpa memiliki cucatu diproses melalui pengakuan hak. Selain itu, perorangan, baik secara individu maupun bersama-sama, dimungkinkan sebagai subyek hak atas tanah, sehingga tidak menimbulkan persoalan dalam pengaturan penguasaan hak atas tanah oleh perorangan. Pada kenyataannya, telah banyak tanah-tanah Kesultanan Ternate yang diberikan kepada Pemerintah Daerah Maluku Utara dan Pemerintah Kota Ternate, oleh karena itu penyelesaian hak atas tanah tersebut perlu dilakukan sesuai ketentuan Hukum Tanah Nasional yang berlaku. Demikian pula terhadap tanah-tanah yang diberikan oleh Kedaton Ternate kepada perorangan212. Dalam Perda Adat Kota Ternate, juga mengatur mengenai tanah adat sebagai tanah masyarakat adat Kesultanan Ternate yang diakui dan dilindungi dan diakui sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku. Hak-hak atas tanah tersebut, terdiri dari : 1. Raki Kolano adalah sebidang tanah yang umumnya ditanami sagu dan bambu. Pemanfaatannya atas izin Sultan, tidak dapat dimiliki secara pribadi dimaksudkan untuk kepentingan bersama warga213 2. Raki Jo Ou adalah hak penguasaan tanah yang diberikan/dikuasai khusus oleh keluarga/keturunan Sultan.214
211

Lihat Sejarah Sosial Kesultanan Ternate, 2010, Kementerian Agama RI, Badan Litbang dan Diklat, Puslitbang Lektur Keagamaan, Jakarta, hlm : 238. Lihat Masyhud Asyhari, Status Tanah-tanah Kesultanan Ternate dalam Perspektif Tanah Nasional. Mimbar Hukum Vol 20 No 2. Juni 2008. hlm : 193-410. 213 Ibid. hlm : 356. 214 Lihat Rinto Taib, Endriatmo Soetarto, dan Fredian Tonny, 2010, Transformasi Identitas Gerakan dari “Petani” menjadi “Masyarakat Adat” : Upaya Memahami Konflik Pembangunan Bandara Sultan Babullah di Ternate Maluku Utara, Solidaty : Jurnal Transdisiplin Sosiologi, Komunikasi, dan Ekologi Manusia, hlm : 6.
212

148

3. Aha Kolano adalah hak kepemilikan atas tanah Kolano (Sultan), penguasaannya hanya bersifat publik, oleh karenanya Sultan tidak mempunyai tanah secara pribadi215. 4. Aha Jo Ou. 5. Kaha Soa (hak marga) adalah hak bersama (ulayat) yang diberikan kepada suatu komunitas yang secara hukum tata negara adat diakui wilayah hukum dan teritorial Soa (kelompok kekerabatan). 6. Kaha Cocato adalah bidang tanah yang diperoleh karena pemberian langsung Kolano (Sultan). Hak penguasaan tanah ini diberikan kepada orang-orang yang telah berjasa dalam menjalankan tugas-tugas kerajaan. 7. Kaha Jorame adalah hak seseorang atau sebidang tanah yang pernah diusahakan dan telah ditanam dengan tanaman musiman seperti kacang, jagung, ubi, pisang, dll. Hak penguasaan tanah ini terjadi karena orang yang membuka lahan telah meninggalkan atau tidak melakukan penanaman dan menyebabkan tumbuhnya pohon-pohon diatas tanah/lahan.216 Penting juga dicatat bahwa selain mengatur mengenai tanah adat, diatur pula mengenai perlindungan terhadap bangunan dan benda-benda bersejarah Kesultanan Ternate. Pemeliharaan, perlindungan dan pengakuan keberadaannya oleh Pemerintah Daerah dilindungi dalam Perda Adat ini sebagai aset bersejarah Kesultanan Ternate. Dalam Perda adat Ternate tersebut, mekanisme dan pengaturan mengenai perselisihan sengketa atas pengelolaan sumber daya alam, termasuk tanah adat, bangunan dan benda-benda bersejarah tidak dirujuk dalam sebuah forum penyelesaian. Konflik atau persengketean yang timbul sesuai aturan dalam perda tersebut diselesaikan berdasarkan peraturan perundang-undangan dengan

memperhatikan hukum adat yang berlaku217. Ringkasnya bahwa segala bentuk kebudayaan, adat istiadat, dan

keanekaragaman budaya dalam Masyarakat Hukum Adat Kesultanan Ternate, Perda Adat ini diakui dan dilindungi Pemerintah Kota Ternate. Serta dilestarikan dan
215 216

Masyhud Asyhari, Op.Cit, hlm : 355-356. Rinto Taib, Endriatmo Soetarto, dan Fredian Tonny, Op.Cit, hlm : 6-7. 217 Peraturan Daerah Kota Ternate No 13 Tahun 2009 tentang Perlindungan Hak-hak Adat dan Budaya Masyarakat Adat Kesultanan Ternate . Op.Cit, Pasal 6.

149

dikembangkan dalam setiap bentuk kegiatan kebudayaan yang berlaku pada masyarakat adat Kesultanan Ternate.

150

BAB IV PENUTUP

4. 1. Kesimpulan Sebagaimana telah dibahas di depan dalam menjawab permasalahan, maka penelitian ini menghasilkan kesimpulan sebagai berikut: a. Masyarakat hukum adat yaitu sekelompok/sekumpulan masyarakat yang memiliki kesamaan asal usul keluarga (genealogis) dan kesamaan wilayah (geologis) yang tinggal di suatu tempat dengan tujuan yang sama didukung oleh adanya hukum adat, lembaga adat, pemimpin dan forum penyelesaian sengketa adat.Pengakuan dan penghormatan terhadap masyarakat hukum adat (MHA) telah dijamin dalam UUD NRI 1945 Pasal 18 B ayat (2) dan Pasal 28 I ayat (3). Eksistensi MHA tersebut diperkuat ketika UU Sektoral seperti UU No. 5 tahun 1960 tentang UUPA, UU pertambangan, UU sumber daya alam. Namun sebagaimana dirumuskan Snouck Hurgronje dan Ter Haar, MHA yang terdiri dari sembilan belas (19) komunitas terbukti mengalami perkembangan mengingat beberapa hasil penelitian terbukti MHA begitu banyak jumlahnya sebagaimana ditemukan di daerah provinsi Lampung, juga dalam penjelasan UUD 1945 sebelum di amandemen. b. Formalisasi hukum adat sebagai hukum yang hidup (living law) dalam masyarakat Indonesia telah menjadi realitas sosial yang telah berlangsung lama. Disatu pihak, ada pandangan yang melihat bahwa hukum adat sebagai suatu sistem hukum tidak perlu menjadi hukum resmi, atau diformulasikan. Sebab, jika hukum adat diformulasikan secara tertulis akan berakibat kontra

151

produktif akan berakibat mengurangi kesadaran masyarakat terhadap hukum adat. Di pihak lain, ada pandangan yang melihat pentingnya hukum adat diformulasikan secara tertulis, melalui mekanisme dan prosedur lembaga legislatif daerah (DPRD), baik tingkat pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten dan kota mengingat kondisi hukum adat yang saat ini cenderung termarjinalkan oleh hadirnya peraturan hukum, baik yang berbentuk undang-undang maupun perda yang berbenturan dengan hak-hak tradisional masyarakat hukum adat. Formulasi hukum adat ke dalam peraturan tertulis terjadi seiring dengan tuntutan otonomi daerah melalui prosedur dan mekanisme sebagaimana diatur dalam UU No. 10 tahun 2004 juncto UU No. 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Ada sekitar 109 Perda Adat di tingkat provinsi dan kabupaten serta kota merupakan bukti formalisasi hukum adat secara tertulis yang obyek normanya terdiri dari perlindungan, pelestarian hukum adat sebagai wujud dan penghormatan serta pengakuan terhadap obyek-obyek dan lembaga-lembaga adat. Hal ini ditandai dengan mekanisme hak inisiatif DPRD dan/atau pemerintah provinsi atau kabupaten/kota, dan juga masyarakat hukum adat dan LSM yang peduli pada persoalan MHA dan Hak-hak konstitusionalnya. c. Efektivitas Perda baik di tingkat provinsi maupun di tingkat kabupaten/kota telah memiliki daya ikat yang dipatuhi dan telah menjadi dasar hukum yang digunakan penegak hukum di tingkat daerah. Ada perbedaan antara perda tingkat provinsi dan tingkat kabupaten/kota, adalah bahwa Perda- perda di tingkat provinsi, obyek pengaturannya tidak terbatas pada aspek-aspek hukum perdata dan juga hukum publik. Perda atau Qanun di Aceh terkait norma adat

152

dan kesusilaan, serta perda adat di Kalimantan Barat terkait dengan penyelesaian konflik suku membuktikan adanya perbedaan dengan prinsip dasar NKRI. Namun, hal ini dipandang sebagai upaya untuk mengakomodir keanekaragaman hukum termasuk adanya kekhususan dan perbedaan di beberapa komunitas masyarakat hukum adat. Sementara itu, perda-perda adat di tingkat kabupaten/kota, umumnya lebih berkaitan dengan obyek hukum adat bersifat kebendaan, tanah, pakaian adat, upacara adat, dan lembaga adat. Posisi perda adat di tingkat kabupaten dan kota tampak lebih kuat mengingat obyek pengaturannya telah berkesesuaian dengan prinsip-prinsip NKRI. Hanya saja perda-perda tersebut tampak tumpang tindih mengingat formulasi norma tersebut seharusnya lebih menguatkan pada upaya-upaya memberikan perlindungan atas keberadaan hukum adat yang begitu banyak jumlahnya di berbagai daerah di Indonesia. 4. 2. Rekomendasi Berdasarkan kesimpulan diatas, maka penelitian ini merekomendasikan sebagai berikut. Pertama, penting untuk ditindak lanjuti adanya penelitian yang lebih mengarahkan dan tajam pada upaya menjawab status MHA sebagai legal standing yang lejitimit, diakui dan dihormati sebagai subyek hak. Selama ini kedudukan mengapa MHA belum dikategorikan sebagai badan hukum (legal standing ) yang legitimit karena tidak adanya kepastian hukum tentang syaratsyarat yang wajib dipenuhi, termasuk tidak adanya lembaga atau badan negara yang secara authority mengeluarkan putusan hukum yang legitimit terhadap MHA. Kedua, tidak kalah pentingnya adalah merekomendasikan agar adanya kepastian hukum dalam membuat pedoman stnadar pembentukan Perda berbasis

153

adat yang nantinya berfungsi tidak saja dapat mensingkronkan antara produk perda adat dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, tetapi juga berupaya agar Perda-perda adat ke depan berfungsi menguatkan tegaknya prinsip-prinsip NKRI. Ketiga, penting untuk ditindaklanjuti penelitian terkait Perda-perda adat yang lahir dan dibentuk melalui prosedur dan mekanisme legislatif daerah merupakapan hukum pengganti yang memenuhi kepastian hukum minimum masyarakat lokal mengingat sampai hari ini amanah Pasal 18 ayat (2) UUD 1945 belum terwujud, yakni MHA wajib diatur dengan undang-undang.

154

Daftar Pustaka
Abdurrachman, Sukri, Konflik Pertanahan Vertikal Pada Kawasan Pariwisata di Bali. Abdurrahman, Kertas Kerja Beberapa Pemikiran tentang Rancangan UU Hukum Adat. Seminar Sehari tentang Relevankah Hukum Adat dituangkan dalam UU. Diselenggarakan oleh Bagian Hukum Adat, Magister Kenotariatan FH UGM, Selasa 19 Desember 2006. Acciaioli, Greg, Ground of Conflict, Idioms of Harmony : Custom, Religion and Nationalism in Violence Avoidance at The Lindu Plain, Central Sulawesi. Jurnal Internasional, Indonesia 27 October 2010. Acciaioli Gregory L. Memberdayakan kembali Kesenian Totua, Revitalisasi Adat Masyarakat To Lindu di Sulawesi Tengah. Antroplogi Indonesia. Tahun XXV. No 65. Mei Agustus 2001. hal 61) Acciaioli Gregory Minako Sakai, Regional Responses To Resrgence of Adat Movements in Indonesia. In Beyond Jakarta: Regional Autonomy and Local Societies in Indonesia. Minako Sakai (ed), Crawford House Publishing. Adelaide. 2002 Acciaiolli Gregory. ”From Acknowledgment to Oprationalization of Indegeneous Sovereignty: Reconceptualizaing The Scope and Significance of

Masyarakat Adat in Contemporary Indonesia) Adnan, Hasantoha, et al., Belajar dari Bungo Mengelola Sumberdaya Alam di Era Desentralisasi (ed), Center for International Forestry Research (CIFOR), 2008.

155

Asshiddiqie Jimly. Menuju Negara Hukum yang Demokratis. Op-cit 2008. Hal: 821 Asyhari, Masyhud, Status Tanah-tanah Kesultanan Ternate dalam Perspektif Tanah Nasional. Mimbar Hukum Vol 20 No 2. Juni 2008. Bosko, Rafael Edy, Hak-hak Masyarakat Adat dalam Konteks Pengelolaan Sumber Daya Alam, ELSAM, Jakarta, 2006. Caportorti, B, Study on The Rights of Persons Belonging to Ethnic, Religious and Linguistic Minorities of 1977, UNP Sales No. E. 91. XIV. 2, 1977. Church, Joan, The Place of Indegenous Law in a Mixed Legal System and a Society in Tranfsormation : A South Africa Experience. ANZLH – Journal, 2005, 103. Down To Earth (DTE) Nr 49, Mei 2001. Draft Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang Perlindungan Hukum Masyarakat Adat, Jakarta, Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), 2009. Firdaus Asep Yunan. ’Hak-Hak Masyarakat Adat’ (Indegeneous People’s Rights) 2007 Friedman, Lawrence, Sistem Hukum, Budaya Hukum dalam Major Legal System, 1982. Garna, J, Tangtu Telo Jaro Tujuh : Kajian Struktural Masyarakat Baduy di Banten Selatan Jawa Barat Indonesia, Ph.D Thesis, Bangi : University Kebangsaan Malaysia, 1987. Hadikusuma Hilman. Pokok-Pokok Pengertian Hukum Adat, Alumni,. Bandung, 1980 Haar, Ter, The Adat Law, Netherland, The Hauge, 1997.

156

Handoyo, B Hestu Cipto, Hukum Tata Negara, Kewarganegaraan dan Hak Asasi Manusia, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Yogyakarta, 1998. Kolig Erich. Romancing Culture: Policies of Recongnition and Indigeneous People in Australia and New Zealand. December 2006. hal: 17 Martua Sirait, Chip Fay, dan A Kusworo. “Bagaimana Hak-Hak Masyarakat Hukum Adat Dalam Mengelola Sumber Daya Alam Diatur?”. Makalah disampaikan dalam Acara Seminar Perencanaan Tata Ruang Secara Patisipatif oleh WATALA dan BAPPEDA, 11 Oktober di Bandar Lampung. Nazarius, H, Bentuk dan Keberadaan Institusi Adat, Makalah disampaikan dalam Seminar yang diselenggarakan oleh ICRAF dalam rangka Konggres II AMAN II di Lombok, 21 September 2003. Penelitian Akmal. Eksistensi, Hak dan Dasar Hukum Masyarakat Hukum Adat Provinsi Sumatra Barat., dalam Mengurai Kompleksitas Hak Asasi 50th Anniversary Symposium, Perth,

Manusia (Kajian Multi-Perspektif). Kata Pengantar Artidjo Alkostar. Penerbit Pusham UII. Yogyakarta. 2007. hal: 446 ), Peta Suku Bangsa di Tanah Papua, Kerjasama Dinas Kebudayaan Provinsi Papua, Jurusan Antropologi Universitas Cendrawasih, Summer Institute of Linguistic (SIL), Dewan Adat Papua (DAP), dan Badan Pusat Statistik (BPS), Jayapura, Desember 2008. Purba Bantu. 2011:3, Pengakuan dan Perlindungan Hak-hak Konstitusional Masyarakat Hukum Adat Suku Sakai, Desertasi Doktor Pasca Sarjana, FH UII.

157

Raubun, Menggelitik Adat Istiadat dan Nilai Budaya Sosial dalam Pembangunan Masyarakat dan Desa, TERPADU, Media Komunikasi Pembangunan Desa Terpadu, Vol 1, 2011. Rawlls, John, Theory of Justice, Cambridge, Harvard University Press, 1972. Refles, Kegiatan Pertambangan Emas Rakyat dan Implikasinya Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Kenagarian Mundam Sakti Kecamatan IV Nagari, Kabupaten Sijunjung, Artikel Pasca Sarjana Universitas Andalas, 2012. Rongiyati, Sulasi, Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Investasi di Provinsi Papua, Pusat Pengkajian Pengolahan Data dan Informasi (P3DI) Sekretariat Jenderal DPR RI, 2007. Rouland, Norbert, Legal Anthropology, London, The Athlone Press, 1994. Sandel, Michael, Justice: What’s The right Thing To do. United States of America, New York, Farrar, Straus and Girox, 2009. Sejarah Sosial Kesultanan Ternate, Kementerian Agama RI, Badan Litbang dan Diklat, Puslitbang Lektur Keagamaan, Jakarta 2010. Shah, Harmita, Kedudukan Mamak Kepala Waris dalam Harta Pusaka Tinggi: Studi di Nagari Matur Mudiak Kecamatan Matur Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat, Tesis Magister Kenotariatan Universitas Diponegoro, 2006. Simarmata Ricardo. Perlindungan Hak-Hak Dasar Masyarakat Adat Dalam Per-UU Nasional: Catatan Kritis. Dosen Pengajar HAM di Indonesia. PUSHAM UII, kerjasama dengan Norsk Senter for Menneskerettigehetr Norwegian Centre for Human Rights. Yogyakarta, 21-24 Agustus 2007

158

Suripto, Mengatasi Bahaya Global Warming. Studi Kasus : Kearifan Lokal Suku Badui – Banten – Indonesia. Sudiyat Iman Asas-Asas Hukum Adat Bekal Pengantar Liberty, Yogyakarta. 2000. hal 34.) Usop, H.K.M.A. M, Perubahan UUD 1945 tentang Kebudayaan dan Adat sebagai Dasar bagi RUU Adat, Jakarta, 20 Januari 2007. Wahid, Maskur, Sunda Wiwitan Baduy : Agama Penjaga Alam Lindung di Desa Kanekes Banten. Annual Conference on Islamic Studies (ACIS) ke – 10. Banjarmasin 2010. Watson, Alan, Society and Legal Change, Edinburgh, Scotish Academic Press. Widyatmika, Gde, Direktur LBH Denpasar, Majalah Gumi Bali SARAD. Zuhroh Siti dan Eko Prasojo. Kisruh Peraturan Daerah: Mengurai Masalah dan Solusinya . Ombak, Jogyakarta dan The Habibie Center 2010

Makalah Thontowi, Jawahir, Hukum Adat sebagai Living Law dalam Masyarakat Indonesia, Makalah disampaikan dalam Seminar Sehari, Bagian Hukum Adat dan Program Notariat FH UGM, Yogyakarta, 19 Desember 2006. _______,Urgensi Undang-Undang Masyarakat Adat, Yogyakarta, 2007.

Disampaikan dalam Rapat Pandangan Rancangan Undang-Undang Perlindungan Hukum Masyarakat Adat, DPD RI, Jakarta, 2007.

159

Jurnal Ilmiah Suwitra, I Made, Dampak Konversi dalam UUPA Terhadap Status Tanah Adat di Bali, Jurnal Hukum UII No 1 Vol 17, 2010. Taib, Rinto, Endriatmo Soetarto, dan Fredian Tonny, Transformasi Identitas Gerakan dari “Petani” menjadi “Masyarakat Adat” : Upaya Memahami Konflik Pembangunan Bandara Sultan Babullah di Ternate Maluku Utara, Solidaty : Jurnal Transdisiplin Sosiologi, Komunikasi, dan Ekologi Manusia, Agustus 2010. Thonowi, Jawahir, Komunitas Hukum Lokal Perspektif HAM dan Hukum Nasional, UNISIA No. 57/XX/VIII/III/2005:237-253.

Penelitian Thontowi, Jawahir, Penelitian Antropologi Budaya Tentang Pengembangan Sumber Daya Manusia di Pusat Pengembangan Perbatasan di Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas. Kalimantan Barat, diselenggarakan berkat kerjasama CLDS FH UII dengan Bappeda Kabupaten Sambas. 2008.)

Naskah Akademik Naskah Akademik, Rancangan Undang-undang Perlindungan Hukum Masyarakat Adat

160

Website :
Ahmad Ridwan, Refleksi Sepuluh Tahun Konflik Sambas. Diakses dari
http://achmadridwan.blogspot.com/2009/01/tiga-waktu-tiga-peristiwa.html

Ami Herman, Karya Seni Budaya Papua Terancam Punah. Diakses dari
http://taadeers.blogspot.com/2011/03/karya-seni-budaya-papua.html

Armen

Zulkarnain,

Daftar

Nagari

di

Sumatera

Barat.

Diakses

dari

http://armenzulkarnain.wordpress.com/2010/08/17/daftar-nagari-di-sumatera-barat-2,

Brandels,

Justice

Louis

D,

The

Living

Law.

Dalam

http://www.cardozolawreview.com/index.php?option=com_content

Drs. Abdullah, Sepintas Tentang Masyarakat Baduy : Perjalanan ke Tanah Leluhur – Badui. Diakses dari http://hlasrinkosgorobogor.wordpress.com/tag/budaya-baduy/
http://buanasumsel.com/dewan-pemangku-adat-dan-pembina-dilantik/ http://id.wikipedia.org/wiki/Konflik_Sampit http://id.wikipedia.org/wiki/Nagari http://id.wikipedia.org/wiki/Tanah_ulayat http://tindonesia.com/kolom/wforum.cgi?no=3306&reno=3290&oya=3290&mode=msgview&list=ne w

Kedudukan

Tanah

Soko

dalam

Adat

Kampar.

Diakses

dari

http://bidikonline.com/index.php?option=com_content&task=view&id=644&Itemid=42

King Faisal Marsaoly, Adat Se-Atorang; Bukan Pepesan Kosong. Diakses dari
http://hukumodanpemerintahan.blogspot.com/2009/04/adat-se-atorang-bukan-pepesankosong_30.html?zx=dbb4ca54010423be

Lembaga

Adat

Rancang

10

Perda.

Diakses

dari

http://pekanbaru.tribunnews.com/2010/11/02/lembaga-adat-rancang-10-perda

161

Mochtar Naim, anggota DPD RI Sumatera Barat, dalam Kembali ke Sistem Pemerintahan Nagari. Diakses dari http://www.cimbuak.net/content/view/346/7/ Musri Nauli, Makna Pemberian Gelar Adat Melayu Kepada SBY. Diakses dari
http://www.jambiekspres.co.id/opini/20838-makna-pemberian-gelar-adat-melayu-kepadasby.html

Online

Library

Universitas

Sumatera

Utara.

Diakses

dari

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/17737/4/Chapter%20I.pdf

Online

Library,

Institut

Pertanian

Bogor.

Diakses

dari

http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/40612/Bab%203%202006asm.pdf? sequence=4

Peranginan, Jopi, Mengukur Kekuatan Untuk Merebut Kedaulatan Masyarakat Adat, Dalam http://www.ymp.or.id/content/view/221/1. Profile Provinsi Kalimantan Tengah. Diakses dari http://www.depdagri.go.id/pages/profildaerah/provinsi/detail/62/kalimantan-tengah

Proses Penyusunan Peraturan Daerah Dalam Teori dan Praktek. Manual PHR oleh QBar, LBBT, RMI, PPSHK Kalbar, Komite HAM Kaltim, LP2S, YBJ Bantaya, ptPPMA, HuMa. Diakses dari http://www.huma.or.id Sembiring, Rosnidar, Kedudukan Hukum Adat dalam Era Reformasi, Dalam
http://library.usu.ac.id/download/fh/perdata-rosnidar.pdf

Siradjudin AR, Azmi, Pengakuan Masyarakat Adat dalam Instrumen Hukum Nasional. Dalam http://www.ymp.or.id/content/view/107/35/ Victor Emanuel. Akademisi : Pemerintah Tidak Serius Garap Perda Ulayat. Diakses dari http://www.kalimantan-news.com/berita.php?idb=11149

162

Victor Mambor, Mengakui atau Menihilkan Masyarakat Adat?. Diakses dari
http://tabloidjubi.com/arsip-edisi-cetak/jubi-utama/3730-mengakui-atau-menihilkanmasyarakat-adat

Warga

Adat

Terus

Perjuangkan

Hak

Ulayat.

Diakses

dari

http://www.dishut.jabarprov.go.id/?mod=detilBerita&idMenuKiri=&idBerita=1286

http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_adat http://amisiregar.multiply.com/journal/item/29/Politik_Hukum F.von Benda-Beckmann, 1999:6 (http://www.gudangmateri.com/2011/06/pluralismehukum-dalam-pandangan.html) IWGIA, 2008, “Indigenous Issues”, diakses pada tanggal 27 November 2008 dari http://www.iwgia.org/sw153.asp

Peraturan Perundang-undangan :
Peraturan Daerah Kabupaten Aceh Tengah No 33 Tahun 2001 tentang Lembaga Adat Kebudayaan (LAKA) Kabupaten Aceh Tengah. Peraturan Daerah Kabupaten Banggai No 1 Tahun 2008 Tentang Pemberdayaan, Pelestarian, Pengembangan Adat Istiadat dan Lembaga Adat. Peraturan Daerah Kabupaten Batang Hari No 6 Tahun 2008 Tentang Pembinaan dan Pengembangan Adat dan Lembaga Adat Bumi Serentak Bak Regam. Peraturan Daerah Kabupaten Belitung No 3 Tahun 2003 tentang Prosesi Perkawinan dan Pakaian Penganten Adat Belitong. Peraturan Daerah Kabupaten Bungo No 3 Tahun 2006 tentang Masyarakat Hukum Adat Datuk Sinaro Putih Kecamatan Pelepat Kabupaten Bungo.

163

Peraturan Daerah Kabupaten Cianjur No 15 Tahun 2000 Tentang Pemberdayaan dan Pelestarian serta Pengembangan Adat Istiadat Kebiasaan-kebiasaan Masyarakat dan Lembaga Adat. Peraturan Daerah Kabupaten Kampar No 12 Tahun 1999 Tentang Hak Tanah Ulayat. Peraturan Daerah Kabupaten Lampung Barat No 14 Tahun 2000 Tentang Pemberdayaan, Pelestarian dan Pengembangan Adat Istiadat dan Lembaga Adat. Peraturan Daerah Kabupaten Lebak No 32 Tahun 2001 tentang Perlindungan Atas Hak Ulayat Masyarakat Baduy. Peraturan Daerah Kabupaten Solok No 4 Tahun 2001 Tentang Pemerintahan Nagari. Peraturan Daerah Kabupaten Solok No 4 Tahun 2001 Tentang Pemerintahan Nagari. Peraturan Daerah Kabupaten Tanjung Jabung Barat No 7 Tahun 2001 Tentang Pemberdayaan, Pelestarian dan Pengembangan Adat Istiadat dan Lembaga Adat di Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Peraturan Daerah Khusus Papua No 23 Tahun 2008 tentang Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat dan Hak Perorangan Warga Masyarakat Hukum Adat Atas Tanah. Peraturan Daerah Kota Ternate No 13 Tahun 2009 tentang Perlindungan Hak-hak Adat dan Budaya Masyarakat Adat Kesultanan Ternate. Peraturan Daerah Provinsi Bali No 3 Tahun 2001 Tentang Desa Pakraman. Peraturan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Aceh No 7 Tahun 2000. Peraturan Daerah Provinsi Jambi No 5 Tahun 2007 tentang Lembaga Adat Melayu Jambi.

164

Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah No 16 Tahun 2008 Tentang Kelembagaan Adat Dayak di Kalimantan Tengah. Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah No 9 Tahun 2001 Tentang Penanganan Penduduk Dampak Konflik Etnik. Peraturan Daerah Provinsi Lampung No 2 Tahun 2008 Tentang Pemeliharaan Kebudayaan Lampung. Peraturan Daerah Provinsi Papua No 16 Tahun 2008 Tentang Perlindungan dan Pembinaan Kebudayaan Asli Papua. Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat No 2 Tahun 2007 Tentang Pokok-pokok Pemerintahan Nagari. Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat No 2 Tahun 2007 Tentang Pokok-pokok Pemerintahan Nagari. Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat No 6 Tahun 2008 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya. Qanun Aceh No 10 Tahun 2008 Tentang Lembaga Adat. Qanun Aceh No 9 Tahun 2008 Tentang Pembinaan Kehidupan Adat dan Adat Istiadat.

165

DAFTAR TABEL
Tabel 1. Pembuatan Perda Adat Provinsi, Kabupaten dan Kota Tabel 2. Perda Adat Berdasarkan Regio Provinsi diundangkan Tabel 3. Perda Adat Berdasarkan Tahun diundangkan Tabel 4. Perda Adat Berdasarkan Jenisnya

166

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful