P. 1
Hambatan-hambatan Dalam Pengelolaan Kelas

Hambatan-hambatan Dalam Pengelolaan Kelas

|Views: 1,192|Likes:
Published by jamdafrizal

More info:

Published by: jamdafrizal on Nov 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/08/2014

pdf

text

original

HAMBATAN-HAMBATAN DALAM PENGELOLAAN KELAS Berbagai konsep dan upaya untuk melakukan aktivitas pengelolaan kelas yang

kondusif bagi anak untuk melakukan aktivitas belajar sudah dibahas pada uraian bab-bab terdahulu. Implementasi dari konsep dan realisasi usaha tersebut bukan merupakan suatu hal yang dapat terwujud begitu saja tanpa ada rintangan yang akan dijumpai oleh para guru di sekolah. Ini berarti bahwa terdapat sejumlah faktor yang dapat berpengaruh dalam merealisasikan konsep pengelolaan kelas. Bagian terakhir dari pembahasan buku ini menguraikan berbagai hambatan yang mungkin dihadapi para guru dalam usaha melakukan aktivitas pengelolaan kelas di TK. Faktor penghambat pengelolaan kelas dapat muncul dari komponen-komponen yang terlibat dalam proses pembelajaran baik langsung maupun tidak langsung. Secara umum dapat dikemukakan faktor^faktor yang dapat menjadi penghambat dalam pengelolaan kelas adalah faktor yang bersumber dari: (i) guru, (2) anak, (3) fasilitas, (4) kurikulum, (5) dinamika kelas dan (6) keluarga. Uraian berikut ini akan menjelaskan secara rinci beberapa faktor yang dapat mempengaruhi atau mengambat upaya manajemen kelas. A. Faktor yang Bersumber dari Guru Guru mempunyai peran kunci dan dominan dalam kegiatan pengelolaan kelas di TK. Dikatakan demikian karena perwujudan kelas yang menyenangkan dan kondusif untuk aktivitas belajar anak merupakan hasil dari kegiatan yang dilakukan guru berdasarkan pemahaman profesional yang dimilikinya. Guru mempunyai kewajiban mulai dari menyusun program pembelajaran, melaksananakan, sampai dengan mengevaluasinya. Semua hal ini ditujukan untuk membantu perkembangan anak secara optimal. Guru, sebagai orang dewasa yang diharapkan mampu membantu perkembangan anak, harus memiliki pengetahuan, kemampuan, dan pemahaman yang tepat tentang tugas dan kewajibannya. Ketiga aspek ini akan menjadi landasan berpijak bagi guru dalam berbuat dan bertindak sebagai orang dewasa profesional yang mempunyai tugas pokok membantu mengembangkan potensi yang dimiliki anak secara maksimal. Berkaitan dengan tugas mengelola kelas ini menurut Nawawi (1989), guru harus: (a) memiliki kemampuan untuk menata ruang kelas sebagai tempat berlangsungnya aktivitas pembelajaran, dan (b) mampu menciptakan iklim pembelajaran berdasarkan hubungan manusiawi yang harmonis dan sehat. Selanjutnya, menurut Usman (2000) salah satu peran guru yang amat penting dalam proses pembelajaran adalah sebagai pengelola kelas. Dalam perannya sebagai pengelola kelas guru hendaknya mampu mengelola kelas dapat menjadi lingkungan yang baik untuk melakukan kegiatan pembelajaran. Lingkungan kelas sebagai lingkungan yang baik untuk belajar ialah yang bersifat menantang dan merangsang anak untuk belajar, serta memberikan rasa aman dan kepuasan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Pernyataan tersebut dapat pula berarti bahwa tanggung jawab guru sebagai manajer di kelas adalah memelihara lingkungan fisik

kelasnya agar senantiasa menyenangkan bagi anak untuk belajar dan mengarahkan atau membimbing anak untuk melakukan berbagai aktivitas yang erat kaitannya dengan kegiatan pembelajaran. Kemampuan guru menata ruang kelas sangat diperlukan, sehingga kelas diatur sesuai dengan karakteristik anak usia TK. Penataan ruang kelas ini bukan merupakan hal yang berdiri sendiri, melainkan aktivitasnya terkait dengan kegiatan lain seperti penyusunan rencana pembelajaran yang didalamnya terdapat aspek pengaturan aktivitas bermain dan belajar serta pengaturan waktu yang disusun berdasarkan pemahaman yang tepat tentang anak. Kemampuan guru menciptakan iklim pembelajaran yang harmonis berkaitan dengan bagaimana guru menampilkan peran sebagai orang dewasa profesional sehingga penampilannya menyenangkan bagi anak. Hal ini dapat dilakukan guru dengan cara sebagai berikut, antara lain; (i) berpakaian yang sopan dan rapi, (2) menunjukkan perilaku disiplin dengan baik, baik pada saat berada di dalam atau di luar kelas, (3) bersikap ramah terhadap anak, (4) bersedia membantu dan melayani anak, (5) menjalin suasana keakraban dalam melakukan aktivitas pembelajaran bersama anak, (6) menghargai anak, dan (7) mudah senyum dan suka humor. Di samping itu, guru memiliki pemahaman yang tepat tentang anak secara individual, dengan demikian ia dapat menempatkan diri dan mencari solusi dalam situasi di mana terjadinya perilaku anak yang kurang mendukung atau mengganggu aktivitas pembelajaran. Penampijan guru sebagai orang dewasa yang mempunyai peran strategis dalam pembelajaran hendaklar disukai oleh para peserta didik. Berdasarkan hal tersebut, Nasution (1995) mengemukakan secara umum karakteristik guru yang paling disukai dan tidak disukai oleh anak-anak. Walaupun ciri yang dikemukakan ini sangat umum, namun sebagian besar hal ini juga berlaku bagi guru TK. Guru yang paling disukai oleh anakanak adalah guru yang berperilaku berikut; (i) suka membantu dalam aktivitas pembelajaran, (2) riang, gembira, dan mempunyai perasaan humor, (3) bersikap akrab seperti sahabat, merasa seorang anggota dalam kelompok kelas, (4) menunjukkan perhatian pada murid dan memahami mereka, (5) berusaha agar aktivitas yang diberikan kepada anak menarik, membangkitkan keinginan belajar, (6) tegas, sanggup menguasai kelas dan membangkitkan rasa hormat pada murid, (7) tidak pilih kasih atau tidak mempunyai anak kesayangan, (8) tidak suka mengomel, mencela, mengejek dan menyindir, (9) mengajarkan sesuatuyangbermaknakepada murid, dan (10) mempunyai pribadi yang menyenangkan. Selanjutnya, guru yang tidak disukai oleh anak-anak adalah guru yang berperilaku berikut; (i) sering marah, tak pernah senyum, sering mencela dan mengecam, (2) tidak suka membantu murid melakukan aktivitas pembelajaran, (3) pilihkasih, menekan muridmurid tertentu, (4) tinggi hati, sombong dan tidak mengenal murid, (5) kejam, tidak toleran, kasar, terlampau keras dan menyuramkan kehidupan murid, (6) tidak memberikan perlakuan yang adil kepada murid, (7) tidak menjaga perasaan anak, membentak-bentak murid sehingga mereka takut dan merasa tidak aman, (8) tidak

menaruh perhatian kepada murid dan tidak memahami murid, (9) menyuruh anak melakukan aktivitas yang tidak sesuai dengan perkembangannya, (10) tidak sanggup menjaga disiplin dalam kelas, tidak dapat mengontrol kelas, dan tidak menghormati diri sendiri sebagai guru. Karakteristik guru yang disukai oleh anak akan mendukung aktivitas pengelolaan kelas yang baik, sebaliknya karakteristik guru yang tidak disukai oleh murid dapat menjadi faktor pengahambat dalam kegiatan mengelola kelas yang kondusif untuk kegiatan belajar anak TK. Keadaan ini dipengaruhi antara lain oleh bekal pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki guru. Kenyataan di lapangan menunjukkan masih ada sebagian besar guru TKbelum memiliki pengetahuan dan kemampuan yang relevan dengan bidang tugasnya. Sebagian mereka yang bertugas, belum menempuh pendidikan khusus yang relevan dengan profesinya sebagai guru TK. Sementara itu, mereka mempunyai tugas yang tidak ringan, karena akan berhadapan dengan anak-anak yang memiliki keunikan invidual sehingga diperlukan pemahaman yang tepat tentang anak. Atas dasar pemahaman yang tepat dan pengetahuan yang komprehensif tentang anak usia TK, guru merancang dan melaksanakan aktivitas pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan anak. Berkaitan dengan pengelolaan kelas, guru mesti melihat bahwa kelas di TK bukan sebagai suatu tempat yang "permanen". Sebab, konsep kelas yang permanen cenderung mengacu pada suatu tempat pembelajaran yang disusun dengan sifat statis atau cenderung tidak dapat diubah-ubah, pola pembelajaran yang kaku, monoton dan kurang bervariasi sehingga menyebabkan timbulnya kebosanan bagi anak untuk melakukan aktivitas belajar. Hal ini sangat bertentangan dengan pola atau sistem pembelajaran di TK yang bersifat dinamis dan fleksibel dalam pengaturan waktu, tata ruang yang dapat dengan mudah diubah-ubah, keaktifan anak lebih tinggi dan aktivitas pembelajaran yang lebih bervriasi tinggi. Selain memperhatikan relevansi aspek pengetahuan dan kemampuan, aspek kepribadian guru mestinya menjadi perhatian dominan pada saat seleksi calon guru TK. Hal ini ditekankan karena kepribadian guru akan memberikan dampak yang lebih besar terhadap perkembangan anak. Secara lebih tegas dapat diungkapkan bahwa kepribadian guru yang kurang baik akan berdampak negatlf terhadap perkembangan anak TK.

B. Faktor yang Bersumber dari Anak Sebagai salah satu komponen yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran, ana\k merupakan salah satu aspek yang dapat menjadi faktor penghambat dalam pengelolaan kelas. Keadaan ini terjadi apabila aktivitas dan perilaku yang ditampilkan anak tidak mendukung aktivitas pembelajaran yang diinginkan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Dengan kata lain, kegiatan pengelolaan kelas yang kondusif untuk aktivitas pembelajaran tidak akan terwujud jika anak menampilkan perilaku yang mengganggu kelancaran proses pembelajaran. Perilaku tidak mendukung

proses pembelajaran yang ditampilkan anak akan memberikan dampak negatif atau gangguan baik terhadap teman lain maupun terhadap aktivitas yang akan dilakukan guru di kelas untuk kepentingan pencapaian tujuan pembelajaran. Perilaku mengganggu aktivitas pembelajaran yang dimunculkan anak perlu dipahami oleh guru sebagai orang dewasa profesional. Berkaitan dengan hal ini, guru perlu mempunyai pemahaman yang baik dan tepat tentang karakteristik anak usia TK sebagaimana telah diuraikan pada bab terdahulu dan konsep pembelajaran bagi anak usia TK. Tanpa pemahaman yang tepat terhadap kedua hal pokok tersebut, aktivitas pengelolaan kelas yang dilakukan guru akan cenderung untuk berupaya mengendalikan perilaku anak secara otoriter. Dengan demikian, perilaku yang ditampilkan anak di kelas hanya akan sesuai dengan keinginan guru dan bisa bertolak belakang dengan karakteristik, keinginan, perkembangan dan pertumbuhan anak usia TK. Jika ini terjadi, maka kegiatan pengelolaan kelas hanya berhasil menurut keinginan dan konsep guru. Sementara dilihat dari sisi anak, anak tidak merasa senang, gembira, bebas melakukan aktivititas yang secara positif akan mendukung perkembangan anak secara efektif. Kelas yang dikontrol secara ketat menurut keinginan guru bukan iklim kelas yang diharapkan dalam proses pembelajaran di TK. Di samping itu, guru perlu menyadari bahwa keunikan anak sebagai seorang individu yang berbeda dengan individu lainnya memang akan memunculkan perilaku yang tidak sama. Artinya, guru akan menemui terjadinya aneka ragam perilaku yang ditampilkan anak dalam aktivitas pembelajaran. Untuk mengatasi hal ini, Bab IX dalam buku ini telah membahas tentang permasalahan anak dalam pengelolaan kelas dan upaya penanggulangannya. Bahasan ini juga mencakup bagaimana guru berupaya memahami dan mengenal anak secara komprehensif sehingga hasil pemahaman tersebut dapat diaplikasikan untuk kepentingan proses pembelajaran di kelas. Dengan demikian, apapuri upaya yang dilakukan guru untuk meminimalkan atau mengatasi terjadinya perilaku anak yang menyimpang selalu berpijak pada karakteristik anak usia TK. Ini berarti bahwa usaha guru mengatasi perilaku anak yang menyimpang dalam kelas akan berdampak negatif bagi perkembangan anak apabila hal itu dilakukan tanpa pemahaman terhadap anak sebagai individu yang unik. Oleh karena itu, guru perlu sangat hati-hati dalam menangani perilaku anak yang mengganggu aktivitas pembelajaran. Terjadinya perilaku menyimpang yang dimunculkan anak belum tentu disebabkan oleh faktor anak itu sendiri. Hal ini amat penting untuk diingat oleh para guru bahwa banyak hal yang dapat menyebabkan anak berperilaku yang kurang mendukung aktivitas pembelajaran di kelas. Terjadinya gangguan pengelolaan kelas yang bersumber dari anak harus dianalisis oleh guru secara komprehensif dengan mengajukan pertanyaan mengapa mereka atau dia berperilaku kurang mendukung? Jawaban atas pertanyaan tersebut akan membantu guru untuk mengidentifikasi faktor penyebabnya. Berdasarkan hal ini guru dapat melakukan koreksi dan perbaikan terhadap berbagai aspek yang menyebabkan munculnya perilaku anak yang tidak mendukung aktivitas pembelajaran. Berkaitan dengan hal ini, Levin dan Nolan (1996) dalam tulisannya mengenai "Understanding Why Children Misbehave?" menyatakan bahwa perilaku anak yang menyimpang dapat disebabkan oleh faktor; kesadaran guru, kebutuhan dasar manusia, kebutuhan anak,

perubahan sosial lingkungan sekolah, perkembangan moral dan pengetahuan, dan komptensi pengajaran. Secara lebih rinci Levin dan Nolan mengungkapkan faktor-faktor yang berbpengaruh terhadap perilaku anak, yaitu; (i) kesiapan guru un-tuk melaksanakan kegiatan pembelajaran, (2) terpenuhi atau tidaknya kebutuhan dasar anak, seperti makan, adalah faktor yang mempengaruhi perilaku anak di kelas, (3) kebutuhan anak untuk memiliki sesuatu yang berarti, (4) perubahan sosial di lingkungan sekolah, (5) perketnbangan pengetahuan dan moral, (6) kelemahan yang bersumber dari kegiatan pembelajaran. Selanjutnya Cole dan Chan (1994, dalam Hadiyanto, 2000) mengemukakan pula tiga kelompok faktor yang dapat menyebabkan terjadinya perilaku peserta didikyang menyimpang, yaitu: (i) faktor negatif dari program pembelajaran/ sekolah, (2) faktor negatif dari rumah, pergaulan teman sebaya dan masyarakat, dan (3) faktor negatif dari kepribadian dan kepekaan dalam penyesuaian diri. Faktor negatif yang berkaitan dengan sekolah/ program pebelajaran adalah: (a) kelemahan pengajaran, (b) kurangnya komunikasi kelas, (c) hukuman yang diberikan oleh guru, (d) kurang harmonisnya hubungan guru murid, (e) harapan guru yang gagal, (f) sikap guru yang negatif, (g) penggunaan label yang menyimpang oleh guru, (h) kurangnya bimbingan guru, dan (i) kurikulum yang tidak mendukung. Faktor-faktor negatif dari rumah, teman sebaya dan masyarakat yang menjadi penyebab terhadap perilaku anak yang menyimpang adalah: (a) latar belakang keluarga yang tidak mendukung, (b) kurangnya dukungan sosial dari keluarga, (c) pengaruh teman sebaya yang negatif, (d) anak yang tersiksa, (e) harapan orang tua yang gagal, (f) sikap negatif orang tua, (g) penggunaan label yang negatif oleh orang tua, (h) kurangnya dukungan emosional di riumah, (i) sikap dari kelompok teman sebaya yang tidak kooperatif. Terakhir, faktor-faktor negatif yang berhubungan dengan kepribadian dan penyesuaian diri yang dapat mempengaruhi perilaku anak yang menyimpang adalah: (a) ketidakstabilan emosional, (b) sikap negatif terhadap guru, (c) belum matang, (d) ketidakmampuan menyesuaikan diri, (e) kurang percaya diri, (f) kurang keunggulan diri, (g) sikap negatif terhadap sekolah, dan (h) kurang kesadaran terhadap usaha-usaha penting. C. Faktor yang Bersumber dari Kurikulum

Kurikulum merupakan semua pengalaman belajar yang akan diperoleh anak guna mencapai tujuan perkembangan secara optimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Oleh karena itu kurikulum dirancang sesuai dengan karakteristik anak, di samping memenuhi harapan masyarakat pada umumnya. Kurikulum yang telah dirancang akan diimplementasikan di kelas. Ini berarti bahwa kelas bukan hanya tempat berkumpulnya anak dan guru, melainkan lebih dari itu yaitu suatu tempat berlangsungnya aktivitas pembelajaran yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Dengan demikian

dapat dikatakan bahwa rangkaian aktivitas pembelajaran yang terjadi di kelas dipengaruhi oleh ku-rikulum yang telah disusun. Kurikulum TK disusun secara sentralistik pada tingkat nasional, sehingga memungkinkan terdapatnya kekurangcocokan dengan perkembangan anak dan situasi pada saat kurikulum tersebut diimplementasikan. Namun guru sebagai seorang profesional mempunyai kewenangan untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan situasi dan kondisi yang di-hadapinya. Kewenangan untuk mengembangkan kurikulum ini diatur da-lam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Hal penting yang perlu disadari dan diingat oleh guru adalah bahwa TK merupakan sebuah taman yang berfungsi untuk merangsang dan membantu pertumbuhan dan perkembangan anak melalui bimbingan guru sebagai orang dewasa profesional. Sebagai sebuah taman, TK bukanlah merupakan sekolah yang harus mengajarkan sejumlah mata pelajaran seperti praktik pendidikan pada jenjang sekolah dasar dan sebagainya. Praktik seperti ini dipengaruhi oleh bagaimana pemahaman guru terhadap kurikulum yang ada dan bagaimana guru menjabarkan program kegiatan belajar tersebut ke dalam bentuk-bentuk kegiatan yang cocok dengan perkembangan anak dan tujuan pembelajaran di TK. Kekakuan guru terhadap kurikulum yang ada akan mempengaruhi kegiatan pengelolaan kelas yang dilakukannya. Terdapat kecenderungan bahwa praktitik pendidikan di TK ada yang langsung memberikan berbagai mata pelajatan kepada anak. Bukan tidak mungkin kurikulumnya dirancang untuk tujuan tersebut. Jika ini yang terjadi, maka kurikulum TK tidak sesuai lagi dengan tuntutan perkembangan anak pada usia itu. Hal ini dapat mempengaruhi anak untuk ber-perilaku menyimpang sehingga mengganggu pengelolaan kelas yang dilakukan guru. Atas dasar inilah, Hicks, Houston, Cheney dan Marquard (1970) menyatakan bahwa pada hakekatnya kurikulum TK dirancang guna memberikan kesempatan kepada anak untuk: (i) belajar mema-hami dan mengikuti arahan, (2) menjadikan anak agar memiliki perasaan yang lebih sensitif, (3) mendengarkan, (4) mengobservasi, (5) meningkatkan perhatian untuk peduli terhadap diri sendiri, (6) mempraktikkan dalam prosedur yang aman, (7) berkreativitas, (8) merespon irama, (9) memulai untuk mengenal peraturan-peraturan sekolah, (10) belajar tentang perilaku kelompok yang dapat diterima, (11) memahami secara baik makna dari keadilan, (12) meningkatkan perhatian bekerja sama dengan penuh tanggung jawab terhadap teman dalam kelompok, dan (13) memahami percakapan dan perilaku yang lebih sopan. D. Faktor yang Bersumber dari Fasilitas Upaya mewujudkan pengelolaan kelas yang efektif di TK juga akan dipengaruhi oleh ketersediaan dan keadaan sarana prasarana sekolah serta segala fasilitas yang dimiliki oleh sebuah Taman Kanak-Kanak. Faktor ini berkaitan dengan fisik sekolah dan ruang kelas dengan segala perlengkapan atau perabot pendukungnya. Ini mempunyai arti bahwa pengelolaan kelas yang kondusif dapat diwujudkan apabila tersedia sarana dan prasarana yang repsentatif dan memadai sebagai tempat yang nyaman untuk melaksanakan proses pembelajaran. Konsep, teori dan strategi yang digunakan oleh guru

dalam mengelola kelas tidak akan mempunyai arti apa-apa jika aktivitas ini tidak ditunjang oleh ketersediaan sarana prasarana yang memadai. Uraian dalam bab IV terdahulu sudah membahas tentang pengaturan ruang kelas, sehingga kelas menjadi kondusif untuk melaksanakan aktivitas pembelajaran. Faktor sarana dan prasarana yang dapat menjadi pengahambat dalam usaha menciptakan suasana kelas yang kondusif di TK adalah sebagai berikut; 1. keadaan bangunan fisik sekolah yang tidak layak dijadikan tempat penyelenggaraan pendidikan TK, misalnya dinding sekolah/kelas yang kotor, lantai dalam ruang kelas yang tidak datar atau atap bangunan yang bocor. Perlu diingat, tempat penyelenggaraan pendidikan bagi anak TK merupakan tempat yanf berfungsi sebagai 'Taman' sehingga memberikan kesan menyenangkan bagi anak untuk melakukan aktivitas bermain dan belajar; tidak tersedianya ruang penJukung kelancaran aktivitas pembelajaran seperti; kamar kecil, ruang musik, ruang istirahat, ruang perpustakaan dan lain sebagainya; ukuran ruang kelas yang teralu kecil sehingga membatasi pergerakan dan aktivitas anak; ruang kelas yang tidak memiliki ventilasi yang cukup sehingga pertukaran udara tidak baik; suasana kelas yang gelap sebagai akibat dari kekurangan cahaya masuk atau sistem penerangan yang tidak mencukupi; kurang tersedia perabot dan peralatan bermain yang sesuai dengan perkembangan anak yang dapat dimanfaatkan anak untuk bermain baik di dalam maupun di luar kelas; alat permainan yang tidak disimpan secara teratur pada tempatnya sehingga tampak berserakan dalam ruang kelas.

2. 3. 4. 5. 6.

7.

Agar sarana dan prasarana sekolah dapat mendukung kegiatan pengelolaan kelas yang kondusif, pada dasarnya sejak awal sangat diperlukan perencanaan bangunan fisik sekolah dengan segala fasilitas pendukungnya. Berkenaan dengan hal ini, Nawawi (1989) menyatakan: Perencanaan dalam membangun sebuah gedung untuk sebuah sekolah berkenaan dengan jumlah dan luas setiap ruangan, letak dan dekorasinya yang harus disesuaikan dengan kurikulum yang dipergunakan. Akan tetapi karena kurikulum selalu dapat berubah sedang ruangan/gedung bersifat permanen, maka diperlukan kreativitas dalam mengatur pendayagunaan ruang/gedung yang tersedia berdasarkan kurikulum yang dipergunakan. Hal yang dikemukakan di atas akan tampak berbeda apabila dibandingkan dengan kenyataan yang ada. Maksudnya, banyak ditemui kenyataan bahwa bangunan gedung yang dijadikan sebagai tempat untuk menyelenggaran pendidikan TK tidak dirancang atau direncanakan secara khusus sebagaimana layaknya sebuah TK. Dengan perkataan lain dapat diungkapkan, banyak ditemukan gedung yang dipakai untuk penyelenggaraan

pendidikan TK adalah gedung atau bangunan rumah dimana disainnya sudah barang tentu jauh berbeda dengan bangunan gedung untuk sebuah TK. Untuk mengatasi hambatan yang besumber fisik kelas selain menuntut kreatifitas guru, maka kerjasama untuk semua pihak baik kepala sekolah, teman, maupun orang tua anak perlu dilakukan. Berkenaan dengan hal ini, Gordon mengemukakan bahwa usahausaha yang dapat dilakukan guru dalam rangka mencegah timbulnya perilaku anak yang tidak diharapkan karena merasa tertekan, bosan dengan suasana monoton di kelas dan sekaligus memperkaya penginderaan anak adalah; (a) menggunakan warna-warna muda, (b) mengadakan pusat-pusat kegiatan belajar, (c) menyediakan ruang perpustakaan, (d) mengadakan pusat kegiatan untuk prakarya tanah liat, kayu, logam, air, dan lain-lain, (e) menyediakan alat permainan yang lengkap, (f) mendekorasi ruangan dengan warna cerah, (g) membuat panggung boneka untuk permainan sandiwara boneka, (h) menyediakan sudut penulisan kreatif. Pengelolaan kondisi fisik kelas melalui tindakan guru yang demikian, diharapkan dapat merangsang anak melakukan aktivitas-aktivias pembelajaran, terutama mewujudkan aktivitas belajar sambil bermain. Dengan demikian anak akan merasa senang dan nyaman sehingga dapat menampilkan perilaku yang positif dalam belajar. E. Faktor yang Bersumber dari Dinamika Kelas Kelas berisi individu-individu yang berbeda satu lain. Dalam kelas akan terjadi interaksi baik antara guru dengan anak maupun antara anak dengan anak lainnya. Interaksi ini akan menggambarkan terjadinya suatu dinamika kelas dari sebuah kelompok sosial yang juga cenderung memiliki sifat dinamis. Dinamika kelas pada hakikatnya merupakan interaksi aktif yang dibangun atas dorongan yang dimiliki oleh individu yang memiliki perbedaan (baik guru maupun anak) guna mencapai tujuan pembelajaran. Dalam hal seperti ini, guru dituntut untuk mampu berperan membantu perkembangan anak secara optimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya dengan jalan membimbing, mengarahkan, dan memberikan respons positif terhadap aktivitas belajar anak. Dinamika kelas di TK akan tampak lebih hidup sesuai dengan karakteristik yang dimiliki anak. Hal ini terjadi apabila guru dapat menjalankan perannya sebagai motivator dan fasilitator dalam proses pembelajaran. Di samping itu, dinamika kelas juga akan dapat dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan yang diterapkan guru di kelas. Guru sebagai orang dewasa yang profesional hendaknya dapat menjalankan perannya sebagai pemimpin di kelas secara efektif, di mana guru memimpin aktivitas belajar anak-anak berdasarkan pemahaman yang komprehensif terhadap anak. Jika guru mampu menerapkan pola memimpin anak-anak seperti itu, maka diharapkan suasana yang terjadi kelas akan kondusif dan anak merasa bergairah untuk melakukan aktivitas belajar tanpa ada nya perasaan tertekan dari guru. Sebaliknya, guru yang memimpin anak-anak di kelas dengan otoriter akan menimbulkan dinamika kelas yang menghambat pembelajaran yang efektif. Dinamika kelas seperti ini dapat dilihat dari hal-hal berikut; (i) anak merasa tertekan dalam kelas, (2) suasana kelas tampak tegang, (3) anak takut kepada guru, (4) anak tidak mau atau enggan melakukan aktivitas belajar yang dianjurkan guru, (5) banyak anak berperilaku

menyimpang, (6) kemarahan guru memuncak seiring dengan meningkatnya jumlah anak yang berperilaku menyimpang. Dinamika kelas yang tidak kondusif yang terwujud dalam proses pebelajaran akan menjadi penghambat kegiatan pengelolaan kelas yang efektif yang pada gilirannya dapat mengganggu pencapaian tujuan pem-belajaran yang dinginkan F. Faktor yang Bersumber dari Lingkungan Sekitar dan Keluarga

Kelas merupakan suatu tempat berkumpulnya anak-anak sebagai individu dari anggota masyarakat. Kehadiran anak di kelas sudah membawa beberapa karakteristik lingkungan sekitar dan masyarakat di mana anak berada. Dikaitkan dengan pengelolaan kelas, faktor lingkungan sekitar dan keluarga merupakan aspek yang berpengaruh secara tidak langsung terhadap kegiatan pengelolaan kelas. Lingkungan sekitar dan keluarga berpengaruh terhadap pembentukan moral, perilaku dan kepribadian anak. Ini berarti bahwa anak yang hadir di kelas sudah mempunyai karakter yang terbentuk akibat pengaruh lingkungan sekitar dan keluarga. Apabila lingkungan sekitar dan keluarga memberikan stimulus yang positif terhadap pembentukan moral dan keperibadian anak, maka perilaku yang ditampilkan anak cenderung positif pula. Sebaliknya stimulus yang negatif yang diterima anak dari lingkungan sekitar dan keluarga akan menghasilkan pembentukan perilaku yang negatif pula. Jika hal ini yang dimunculkan anak di kelas, jelas akan mengganggu suasana kelas. Keluarga merupakan lingkungan pertama yang mempunyai peranan penting dan berfungssi meletakkan dasar-dasar bagi perkembangan anak. Hubungan dan interaksi dengan anggota keluarga akan dijadikan landasan bersikap oleh anak dalam bentindak baik terhadap orang, benda dan kehidupan secara umum. Di samping itu, pola penyesuaian diri dan belajar juga diperoleh pertama oleh anak dari lingkungan keluarga. Oleh karena landasan awal diperoleh anak dari kelaurga, maka Hurlock (1978) berpendapat bahwa: Dengan meluasnya lingkup sosial dan adanya kontak dengan teman sebaya dan orang dewasa di luar rumah, landasan awal ini, mungkin berubah dan dimodifikasi, namun tidak pernah akan hilang sama sekali. Sebaliknya landasan ini mempengaruhi pola sikap dan perilaku di kemudian hari. Konsep di atas menunjukkan perlakuan yang diterima anak dari keluarga rnemberikan pengaruh besar terhadap perkembangan anak secara keseluruhan. Secara lebih khusus, menurut Hurlock ada sejumlah sikap orang tua yang khas yang berpengaruh terhadap anak, yaitu: 1. Melindungi anak secara berlebihan Sikap melindungi anak secara berlebihan menyebabkan anak mempunyai ketergantungan kepada orang lain, kurang rasa percaya diri dan frustrasi. 2. Bersikap permisivitas

Sikap permisivitas orang tua terhadap anak berarti orang tua membiarkan anak berbuat sesuka hati, dengan sedikit kekangan. Sikap permisif yang tidak berlebihan dapat mendorong anak menjadi kreatif, cerdik, percaya diri dan matang. 3. Memanjakan anak Memanjakan anak secara berlebihan mengakibatkan anak egois dan penuntut banyak perhatian dan pelayanan dari orang lain, sehingga penyesuaian sosial kurang baik. 4. Penolakan Sikap penolakan cenderung mengabaikan kesejahteraan anak. Hal ini dapat menimbulkan rasa dendam, perasaan tak berdaya dan perilaku gugup. 5. Penerimaan Sikap menerima ditndai dengan memberikan perhatian yang besar dan kasih sayang kepada anak. dengan memperhatikan kemampuan dan minat anak. Sikap ini menyebabkan anak dapat bersosialisasi dengan baik, kooperatif, ramah, loyal, emosional stabil dan gembira. 6. Dominasi Jika anak didominasi oleh orang tua, anak dapat bersifat jujur, sopan dan berhatihati. Tetapi anak yang selalu didominasi cenderung pemalu, patuh dan mudah dipengaruhi oleh orang lain, mengalah, rendah diri dan sangat sensitif. 7. Tunduk pada anak Sikap tunduk pada anak mengakibatkan anak memerintah orang tua dan sedikit tenggang rasa. Anak belajar menentang semua yang berwenang dan mencoba mendominasi orang di luar lingkungan rumah. 8. Favoritisme Kebanyakan orang tua tidak bersikap sama terhadap anak, artinya ada anak yang favorit sehingga orang tua lebih menuruti keinginan dan mencintai anak favorit. Dampak dari sikap ini anak akan selalu berupaya untuk mendominasi dalam pergaulan. 9. Ambisi orang tua Orang tua mempunyai ambisi tertentu bagi anaknya, namun kadangkala tidak realistis. Hal ini disebabkan oleh ambisi dan hasrat orang tua yang tidak tercapai dan diharapkan anak dapat merealisasikannya. Jika anak tidak dapat memenuhinya, anak cnderung bersikap bermusuhan, tidak bertanggung jawab dan prestasi di bawah kemampuan. Untuk menghadapi kenyataan tersebut guru perlu melakukan analisis terhadap kebiasaan atau perilaku kurang baik yang ditampilkan anak dan menyadari bahwa keadaan ini terjadi karena pengaruh dari lingkungan sekitar dan keluarga. Implikasinya, guru dituntut untuk menjalin komunikasi dan hubungan yang harmonis dengan lingkungan sekitar dan keluarga anak sendiri. Komunikasi timbal balik yang dijalin secara harmonis diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap penyelesaian secara

bersama berbagai masalah perilaku kurang baik yang dimunculkan anak di kelas atau sekolah. Hambatan-hambatan dalam kegiatan pengelolaan kelas di atas memerlukan upaya guru untuk mengantisipasi atau mengatasi agar suasana kelas yang menyenangkan dan kondusif bagi anak untuk melakukan aktivitas belajar tetap dapat diwujudkan. Namun demikian, kelihatannya tidak semua faktor penghambat tersebut dapat diatasi oleh guru sendirian. Misalnya, faktor sarana prasarana fisik sekolah yang terbatas. Hal ini mesti dipecahkan bersama dengan pihak sekolah, ataupun pemerintah dan yayasan/ masyarakat yang berperan sebagai penyelenggara pendidikan. Hal ini tampaknya tidak mudah untuk diwujudkan karena me-libatkan berbagai pihak dan memerlukan konsekuensi material yang tidak sedikit pula. Faktor-faktor penghambat pengelolaan kelas yang telah diuraikan di atas, pada dasarnya saling berkaitan dan berpengaruh terhadap kegiatan pengelolaan kelas. Maksudnya, tidak ada satufaktor yang berdiri sendiri berpengaruh terhadap pengelolaan kelas, melainkan saling terkait antara satu faktor dengan faktor lainnya. Sebagai contoh, misalnya, munculnya perilaku anak yang menyimpang dalam kelas bukan saja disebabkan oleh faktor anak itu sendiri, melainkan juga dapat dipengaruhi oleh faktor guru atau lingkungan sekitar dan keluarga.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu dkk. (1991). Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta Arikunto, Suharsimi. (1992). Pengelolaan Kelas dan Siawa (Sebuah Pendekatan Evaluatif). Jakarta: CV. Rajawali Bauer M, Anne. Sapona H, Regina. (1985). Managing Classroom to Facilitate Learning. Boston: Allyn Bacon Bernard, Harold W. (1970). Mental Health in the Classroom. New York: Me Graw-Hill Book Company Bolla, Jhon I. (1985). Keterampilan Mengelola Kelas, ed. T. Raka Joni dan G.A.K. Wardani. Jakarta: Depdiknas Bredekamp, Sue. (1987). Developmentally Appropriate Practice in Early Childhood Program Serving Children from Birth Through Age 8. Washington : NAEYC Depdikbud. (1998). Metodik Khusus Program Pembentukan Perilaku di Taman KanakKanak, Jakarta Dunne, Ricard dan Ted Wragg. (1996). Pembelajaran Efektif. Terjemahan Anwar Yasin. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia Gary. D, Borich. (1996). Effective Teaching Methods, New Jersey: Prentice-hall. Inc

Gordon, Thomas. (1984).Guru yang Efektif : Cora Mengatasi Kesulitan dalam Kelas : Alih Bahasa Mudjito. Jakarta: Rajawali Hadiyanto (2000). ManajemenPeserta Didik. Padang: UNP Press

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->