P. 1
BAB I

BAB I

|Views: 17|Likes:
Published by Made Putra

More info:

Published by: Made Putra on Nov 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/17/2013

pdf

text

original

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI …………………………………………..................... ………………………………………………............................ …………………………………….......................

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang …………………………………………….................... B. Rumusan Masalah …………………………………………...................

C. Tujuan ..................................................................................................... D. Identifikasi 5W 1H ................................................................................. BAB II ISI PENDAFTARAN TANAH
A. Persamaan dan perbedaan substansi PP 24/1997 dengan PP 10/1961 B. Pengertian pendaftaran tanah

.....................

.......................................................................... ................................................................

C. Landasan HukumPendaftaran Tanah D. Obyek pendaftaran tanah

............................................................................... ........................................................................... ........................................................

E. Asas-asas pendaftaran tanah

F. Tujuan diselenggarakan pendaftaran tanah G. Sistem pendaftaran tanah

............................................................................... ..................................................................

H. Sistem publikasi pendaftaran tanah

BAB III PROSES PELAKSANAAN PENDAFTARAN TANAH
A. Penyelenggara dan Pelaksana Pendaftaran Tanah

...............................................

BAB IV JAWABAN IDENTIFIKASI BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ……………………………………………........................ B. Saran ……………………………………………………....................

DAFTAR PUSTAKA

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas pemberian rahmat dan hidayahnya kami dapat menyelesaikan makalah tentang makalah tentang PENDAFTARAN TANAH, makalah ini di buat dalam rangka nilai dan sebagai bahan informasi untuk para pembaca. Dalam penyusunan makalah ini saya menyadari bahwa dalam pembahasan masih banyak terdapat kekurangan baik dalam bidang ilmu pengetahuan maupun dalam penulisan kalimat. Walaupun demikian saya telah berusaha semaksimal mungkin supaya dapat mencapai sasaran penulisan makalah. Kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi saya khususnya dan para pembaca umumnya.

Palangkaraya, 22 Oktober 2012

Penulis

BAB I PENDAHULUAN A. PP ini berlaku tiga bulan sejak tanggal diundangkannya (Pasal 66) yang berarti secara resmi mulai berlaku diseluruh wilayah Indonesia sejak tanggal 8 Oktober 1997 dengan Peraturan Pelaksananya adalah Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN Nomor 3 Tahun 1997 (selanjutnya akan disebut sebagai PerMen 3/1997). LATAR BELAKANG Perkembangan pesat yang terjadi dalam pembangunan di Indonesia tidak bisa dilepaskan begitu saja dengan hubungannya akan kepastian pendaftaran tanah. PP 24/1997 yang menggantikan PP 10/1961 ini merupakan peraturan pelaksana dari amanat yang ditetapkan dalam Pasal 19 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (yang selanjutnya akan disebut UUPA) yang mengatur:”Untuk menjamin kepastian hukum oleh Pemerintah diadakan pendaftaran tanah diseluruh wilayah Republik Indonesia menurut ketentuan-ketentuan yang diatur dengan Peraturan Pemerintah”. Oleh karenanya pada tanggal 8 Juli 1997 pemerintah menetapkan dan mengundangkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah (selanjutnya akan disebut sebagai PP 24/1997) untuk menggantikan PP 10/1961 tersebut. RUMUSAN MASALAH Bertolak dari kerangka dasar berfikir sebagaimana diuraikan pada bagian latar belakang. Karena tanah jelas menjadi aspek utama dan penting dalam pembangunan. Tujuan Pendaftaran Tanah . Untuk tercapainya kepastian pendaftaran tanah tersebut maka Penyelenggaraan Pendaftaran Tanah berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961 (selanjutnya akan disebut sebagai PP 10/1961) yang telah berlaku sejak tahun 1961 dipandang memiliki substansi yang sudah tidak dapat lagi memenuhi tuntutan zaman untuk memberikan kepastian atas pendaftaran tanah tersebut.maka permasalahan yang akan diangkat dalam makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Proses dan Prosedur Pendaftaran Tanah 2. dimana seluruh kegiatan pembangunan yang dilakukan oleh masyarakat memerlukan tanah untuk melakukan kegiatan tersebut. B. Proses dan prosedur Pendaftaran tanah menurut PP 24/1997 inilah yang akan menjadi pembahasan dalam makalah ini. Sementara semua peraturan perundang-undangan sebagai pelaksana dari PP 10/1961 yang telah ada masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan atau diubah atau diganti berdasarkan PP 24/1997 ini ( Pasal 64 ayat (1) ).

D. IDENTIFIKASI 5W 1H       Whats yaitu apa itu pendaftaran tanah dan apa obyek yang harus didaftarkan ? Where yaitu dimana pendaftaran tanah dapat dilakukan ? When yaitu kapan pendaftaran tanah harus dilakukan ? Why yaitu mengapa pendaftaran tanah harus dilakukan ? Who yaitu siapa yang harus mendaftarkan hak atas tanahnya dan siapa yang berwenang dalam menangani pendaftaran tanah ? How yaitu bagaimana proses pendaftran tanah ? . 3. Untuk memenuhi tugas makalah Hukum Agraria 1. TUJUAN Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah : 1. Agar mahasiswa mempunyai tanggung jawab dalam memenuhi segala tugas-tugasnya. Agar mahasiswa dapat mengimplementasikan teori konsep Hukum Agraria dalam kehidupan bermasyarakat. 2. Melatih mahasiswa agar terbiasa menyusun makalah dalam memenuhi tugas.C.

yang akan membuat sertifikat tersebut mengalami perubahan. tujuan serta sistem penyelenggaraan pendaftaran tanah 3. perubahan. termasuk pemberian surat tanda bukti haknya bagi bidang-bidang tanah yang sudah ada haknya dan hak milik atas satuan rumah susun serta hak-hak tertentu yang membebaninya. batas-batasnya. kegiatan pendaftaran tersebut memberikan suatu kejelasan status terhadap tanah. serta penyingkatan tata cara pendaftaran tanah 4. Berikutnya adalah data yuridis mengenai haknya yakni haknya apa. Penggunaan teknologi modern dalam pengukuran dan pemetaan 5. ada atau tidak adanya hak pihak lain. Persamaan dan perbedaan substansi antara PP 24/1997 dengan PP 10/1961. pengolahan. Pengertian pendaftaran tanah Pendaftaran tanah adalah suatu kegiatan administrasi yang dilakukan pemilik terhadap hak atas tanah. Penegasan. Dalam pasal 1 angka 1 PP No. luas bangunan atau benda lain yang ada diatasnya. mengenai bidang-bidang tanah dan satuan-satuan rumah susun. Yang dimaksud rangkaian kegiatan pendaftaran tanah adalah pendaftaran dalam bidang data fisik yakni mengenai tanahnya itu sendiri seperti lokasinya. atau penambahan maka harus dilakukan pendaftaran ulang. penyederhanaan. PP 24/1997 masih mempertahankan sejumlah substansi yang diatur dalam PP 10/1961 yaitu sebagai berikut : 1. Adanya kekuatan pembuktian lewat sertifikat 7. Pembukuan bidang tanah yang data fisik atau data yuridisnya masih disengketakan 6. Sementara terus-menerus artinya Setiap ada pengurangan. Asas-asas.24 tahun 1997 disebutkan bahwa pendaftaran tanah adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh Pemerintah secara terus-menerus. berkesinambungan dan teratur. Tujuan dan sistem Pendaftaran tanah 2. meliputi pengumpulan. pembukuan. .BAB II PENDAFTARAN TANAH A. dan penyajian serta pemeliharaan data fisik dan data yuridis. misalnya perubahan tipe rumah. siapa pemegang haknya. Peran dan tanggung jawab Pejabat Pembuat akta Tanah (PPAT) B. Cara pendaftaran tanah Peyempurnaan yang dilakukan pada dasarnya adalah mengenai penegasan tentang halhal berikut yang terdapat pada PP 24/1997 : 1. Pengertian Pendaftaran Tanah 2. baik dalam pemindahan hak ataupun pemberian dan pengakuan hak baru. dalam bentuk peta dan daftar.

(4). Landasan HukumPendaftaran Tanah Dengan keluarnya Undang-Undang Pokok Agraria. (2). hapusnya dan pembebanannya dengan hak-hak lain harus didaftarkan menurut ketentuan-ketentuan yang dimaksud dalam Pasal 19 UUPA. Pendaftaran tanah diselenggarakan dengan mengingat keadaan negara dan masyarakat. Dalam Peraturan Pemerintah diatas biaya-biaya yang bersangkutan dengan pendaftaran termasuk dalam ayat 1 diatas. agar menjadikan kepastian hukum bagi mereka dalam arti untuk kepentingan hukum bagi mereka sendiri. maka dualisme hak-hak atas tanah dihapuskan. harus didaftarkan menurut ketentuan-ketentuan yang dimaksud dalam : . demikian pula setiap peralihan. untuk menuju kearah pemberian kepastian hak atas tanah telah diatur di dalam Pasal 19 UUPA yang menyebutkan : (1). Pemberian surat-surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat. Pendaftaran hak-hak atas tanah dan peralihan hak-hak tersebut. Pendaftaran tersebut dalam ayat 1 pasal ini meliputi : a. termasuk syarat-syarat pemberiannya. demikian juga setiap peralihan dan penghapusan hak tersebut. Ayat 2 : Pendaftaran termasuk dalam ayat 2 merupakan alat pembuktian yang kuat mengenai hapusnya hak milik serta sahnya peralihan dan pembebanan hak tersebut. dengan ketentuan bahwa rakyat yang tidak mampu dibebaskan dari pembayaran biaya-biaya tersebut.C. (3). dalam memori penjelasan dari UUPA dinyatakan bahwa untuk pendaftaran tanah sebagaimana dimaksud Pasal 19 UUPA. sebaliknya pendaftaran yang dimaksud Pasal 23. b. di dalam Pasal tersebut dijelaskan : Pasal 23 UUPA : Ayat 1 : Hak milik. Pasal 32 dan Pasal 38 UUPA ditujukan kepada para pemegang hak. Pengukuran. keperluan lalu lintas sosial ekonomi serta kemungkinan penyelenggaraannya menurut pertimbangan Menteri Agraria. Untuk menjamin kepastian hukum oleh pemerintah diadakan pendaftaran tanah diseluruh wilayah Republik Indonesia menurut ketentuan-ketentuan yang diatur dengan Peraturan Pemerintah. Kalau di atas ditujukan kepada pemerintah. Pasal 32 UUPA : Ayat 1 : Hak guna usaha. perpetaan dan pembukuan tanah. yang ditujukan kepada pemerintah agar melaksanakan pendaftaran tanah di seluruh wilayah Indonesia yang bertujuan untuk menjamin kepastian hukum yang bersifat Recht Kadaster. c.

Hak tanggungan f. Obyek pendaftaran tanah Obyek pendaftaran tanah diatur dalam ketentuan Pasal 9 ayat (1) PP 24/1997 sebagai berikut: a. hak guna bangunan adalah merupakan alat pembuktian yang kuat serta untuk sahnya setiap peralihan. hak guna usaha. kecuali dalam hal hak itu hapus karena jangka waktunya berakhirnya. kecuali dalam hak-hak itu hapus karena jangka waktunya berakhir. Dari ketentuan pasal-pasal di atas dapatlah disimpulkan bahwa pendaftaran yang dilakukan oleh pemegang hak milik. demikian juga setiap peralihan dan hapusnya hak tersebut harus didaftarkan menurut ketentuan-ketentuan yang dimaksud dalam Pasal 19 UUPA. hak guna bangunan dan hak pakai b. Tanah negara E. Sederhana Maksudnya adalah substansinya mudah dibaca atau dipahami oleh semua lapisan warga negara Indonesia dan juga prosedurnya tidak perlu melewati birokrasi yang berbelit-belit hanya perlu melewati seksi pendaftaran tanah saja. . Asas-asas pendaftaran tanah Asas yang dianut untuk Pendaftaran tanah diatur berdasarkan Pasal 2 PP 24/1997 yakni sebagai berikut: 1.Aman Keamanan disini berarti akan memberikan rasa aman bagi pemegang sertifikat apabila mereka telah melakukan prosedur pendaftaran tanah dengan teliti dan cermat. hak guna usaha. Tanah hak pengelolaan c. Pasal 38 UUPA : Ayat 1 : Hak guna bangunan.Hak milik atas satuan rumah susun e. 2. pembebanan dan hapusnya hakhak tersebut. D. Bidang-bidang tanah yang dipunyai dengan hak milik. Ayat 2 : Pendaftaran termaksud dalam ayat 1 merupakan alat pembuktian yang kuat mengenai hapusnya hak guna bangunan serta sahnya peralihan tersebut. termasuk syarat-syarat pemberiannya.Pasal 19 UUPA Ayat 2 : Pendaftaran termasuk dalam ayat 1 merupakan alat pembuktian yang kuat mengenai peralihan serta hapusnya hak guna usaha. Tanah wakaf d.

a. disamping untuk pengelakkan suatu sengketa perbatasan dan juga untuk penetapan suatu perpajakan. Penetapan suatu perpajakan Dengan diketahuinya berapa luas sebidang tanah. (A.hak lainnya. letak. Pengelakkan suatu sengketa perbatasan Apabila sebidang tanah yang dipunyai oleh seseorang sudah didaftar. hak guna bangunan atau hak. dengan di selenggarakannya pendaftaran tanah. Parlindungan. Asas ini bertujuan agar bila ada hal-hal yang menyimpang atau disembunyikan dapat diketahui. maka berdasarkan hal tersebut dapat ditetapkan besar pajak yang harus dibayar oleh seseorang. Menurut para ahli disebutkan tujuan pendaftaran ialah untuk kepastian hak seseorang. siapa yang empunya dan beban-beban apa yang melekat di atas tanah tersebut. karena dengan didaftarnya tanah tersebut. 4. UUPA mengharuskan pemerintah untuk mengadakan pendaftaran tanah diseluruh wilayah Republik Indonesia yang bersifat ‘Rech Kadaster” artinya yang bertujuan menjamin kepastian hukum. Tujuan diselenggarakan pendaftaran tanah Usaha yang menuju kearah kepastian hukum atas tanah tercantum dalam ketentuanketentuan dari pasal-pasal yang mengatur tentang pendaftaran tanah. maupun informasi mengenai untuk apa tanah itu sebaiknya . Setiap ada perubahan fisik atau bendabenda diatasnya atau hal yuridis atas tanah harus ada datanya (selalu ada pembaharuan data).P.Terjangkau Berkaitan dengan kemampuan finansial seseorang untuk membayar biaya. Intinya agar jangan sampai pihak ekonomi lemah tidak melakukan pendaftaran tanah hanya karena masalah tidak mampu membayar. Dalam lingkup yang lebih luas dapat dikatakan pendaftaran itu selain memberi informasi mengenai suatu bidang tanah. khususnya harus memperhatikan agar tidak memberatkan pihak-pihak yang ekonominya lemah. maka hak seseorang itu menjadi jelas misalnya apakah hak milik. c.3. dalam pasal 19 UUPA disebutkan untuk menjamin kepastian hukum dari hak-hak atas tanah. maka telah diketaui berapa luasnya serta batas – batasnya. pemanfaatannya. 5. Kepastian hak seseorang Maksudnya dengan suatu pendaftaran. hak guna usaha. luas dan batas-batasnya. 1990 : 6). maka dapat dihindari terjadinya sengketa tentang perbatasannya. b. Terbuka Dokumen-dokumen atau data-data baik fisik atau yuridis bersifat terbuka dan boleh diketahui oleh masyarakat. Mutakhir Setiap data yang berkaitan dengan pendaftaran tanah haruslah data yang terbaru. F. maka pihak-pihak yang bersangkutan dengan mudah dapat mengetahui status hukum daripada tanah tertentu yang dihadapinya. yang menunjukan keadaan riil pada saat yang sekarang. baik penggunaannya.

Dalam Peraturan Pemerintah diatur biaya-biaya yang bersangkutan dengan pendaftaran termaksud dalam ayat 1 di atas. menurut pertimbangan Menteri Agraria. Untuk memenuhi berbagai kebutuhan seperti tersebut di atas. dan pajak yang ditetapkan. Keperluan lalu lintas sosial ekonomi serta kemungkinan panyelenggaraannya. Memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum kepada pemegang hak atas suatu bidang tanah. Dari peta-peta tersebut akan dapat juga diketahui nomor pendaftaran. maka untuk itu UUPA melalui pasal-pasal pendaftaran tanah menyatakan bahwa pendaftaran itu diwajibkan bagi pemegang hak yang bersangkutan Dalam ketentuan Pasal 3 PP 24/1997 dinyatakan dengan tegas bahwa pendaftaran tanah mempunyai tiga tujuan. Hal ini khususnya berguna bagi calon pembeli yang perlu mengetahui data yang tersimpan mengenai obyek yang akan mereka beli sehingga terjadi transparansi. b. Menyediakan informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan termasuk pemerintah agar dengan mudah dapat memperoleh data yang diperlukan dalam mengadakan perbuatan hukum mengenai bidang-bdang tanah dan satuan-satuan rumah susun yang sudah terdaftar. 3. 2. Kepastian hukum ini diberikan dalam bentuk sertifikat kepada pemegang hak tersebut. 1. perpetaan dan pembukuan tanah. Hal ini merupakan pengejawantahan langsung dan tujuan utama dari ketentuan Pasal 19 UUPA. Hak Guna Usaha. 2. nomor buku tanah. Hak Pakai. c. nomor surat ukur. o pemberian surat-surat tanda bukti hak. satuan rumah susun. Pendaftaran tanah di selenggarakan dengan mengingat keadaan negara dan masyarakat. Hak Pengelolaan maupun tanah-tanah yang masih dikuasai oleh negara. Untuk menjamin kepastian hukum oleh pemerintah diadakan pendaftaran tanah di seluruh wilayah Republik Indonesia menurut ketentuan-ketentuan yang diatur dengan peraturan pemerintah. melainkan merupakan hak bagi pemegang hak atas tanah yang dijamin oleh undang-undang.dipergunakan. o pendaftaran hak-hak atas tanah dan peralihan hak-hak atas tanah tersebut. 4. Untuk terselenggaranya tertib administrasi pertanahan. yaitu: 1. dengan ketentuan bahwa rakyat yang tidak mampu dibebaskan dari pembayaran biaya-biaya tersebut. Pengukuran Desa demi Desa sebagai suatu himpunan yang terkecil. Didalam kenyataannya tingkatan-tingkatan dari pendaftaran tanah tersebut terdiri dari : a. . Hak Guna Bangunan. harga bangunan dan tanahnya. Dari peta Desa demi Desa itu akan memperlihatkan bermacam-macam hak atas tanah baik Hak Milik. 3. Pendaftaran tersebut dalam ayat 1 pasal ini meliputi : o pengukuran. dan hak-hak lain yang terdaftar agar dengan mudah dapat membuktikan dirinya sebagai pemegang hak yang bersangkutan. tanda batas dan juga bangunan yang ada di dalamnya. dimana sertifikat ini bukan sekedar fasilitas. demikian pula informasi mengenai kemampuan apa yang terkandung di dalamnya dan demikian pula informasi mengenai bangunannya sendiri. yang berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat. nomor pajak.

Alat bukti kepemilikan tanah pada saat itu berupa akte (akte eigendom dll). Pendaftaran hak-hak atas tanah dan peralihan hak-hak tersebut c. Pemberian surat-surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat pembuktian yg kuat. tetapi sahnya perbuatan hukum yang dilakukan yang menentukan berpindahnya hak kepada pembeli. bukan akta tersebut yang didaftar melainkan haknya tersebutlah yang didaftarkan. . Melihat bentuk kegiatan pendaftaran tanah seperti diuraikan di atas dapat dikatakan bahwa sistem pendaftran tanah pada saat itu adalah sistem pendaftaran akte (regristration of deeds) dimana Jawatan Pendaftaran Tanah pada saat itu hanya bertugas dan berkewenangan membukukan hak-hak tanah dan mencatat akte peralihan / pemindahan hak. Sistem publikasi negatif bukan pendaftarannya yang diperhatikan. H. Sistem publikasi positif selalu menggunakan sistem pendaftaran hak. Sistem publikasi pendaftaran tanah Pada garis besarnya dikenal dua sistem publikasi yaitu sistem publikasi positif dan sistem publikasi negatif. Selain itu juga terdapat buku tanah sebagai dokumen yang memuat data fisik dan data yuridis yang dihimpun dan disajikan serta diterbitkannya sertifikat sebagai surat tanda bukti hak yang didaftar. Pengukuran. Sistem pendaftaran tanah Kegiatan Pendaftaran Tanah di Indonesia sejak penjajahan Belanda telah ada khususnya untuk mengelola hak-hak barat dan pada zaman awal kemerdekaan pendaftaran tanah di Indonesia berada di Departemen Kehakiman yang bertujuan untuk menyempurnakan kedudukan dan kepastian hak atas tanah yang meliputi : 1.G. Dalam sistem ini setiap penciptaan hak baru dan perbuatan-perbuatan hukum yang menimbulkan perubahan kemudian juga harus dibuktikan dengan suatu akta (pendaftaran terus-menerus). pemetaan dan pembukuan tanah b. Pengukuran. sementara akta hanya merupakan bukti dan sumber datanya. selain itu juga ada sertififkat hak sebagai surat tanda bukti hak. tidak menerbitkan surat tanda bukti hak yang berupa sertifikat tanah. Perbedaan kewenangan dalam sistem pendaftaran tanah seperti diuraikan di atas jelas tertuang dalam ketentuan angka 2 b dan c dimana pendaftaran tanah melakukan pendaftaran hak termasuk peralihan dan pembebanannya serta pemberian surat-surat tanda bukti termasuk sertifikat tanah sebagai alat pembuktian yang kuat. 2) Pendaftaran tanah meliputi: a. perpetaan dan pembukuan semua tanah dalam wilayah Republik Indonesia 2. Pembukuan hak atas tanah serta pencatatan pemindahan hak atas tanah tersebut. Tetapi dalam penyelenggaraan pendaftarannya. maka harus ada buku tanah sebagai bentuk penyimpanan dan penyajian data yuridis. Dengan lahirnya UUPA pada tanggal 24 september 1960 maka sistem pendaftaran tanah berubah menjadi sistem pendaftaran hak (registration of title) dimana hal tersebut ditetapkan dalam Pasal 19 UUPA yang antara lain berbunyi: 1) Untuk menjamin kepastian hukum oleh pemerintah diadakan pendaftaran tanah di seluruh wilayah Republik Indonesia menurut ketentuan-ketentuan yang diatur dengan Peraturan Pemerintah.

bila dapat dibuktikan bahwa sertifikat tersebut didapatkan dengan melakukan perbuatan hukum yang tidak sah dalam jangka waktu 5 tahun. Hal ini dapat dilihat dari ketentuan PP 24/ 1997 Pasal 32 ayat (1) dan Penjelasannya. Sementara dalam Penjelasan Pasal 32 disebutkan sertifikat tersebut sebagai tanda bukti yang kuat dalam arti bila tidak dapat dibuktikan sebaliknya. Dalam Pasal 32 ayat (1) disebutkan mengenai sertifikat sebagai alat pembuktian yang kuat yang berarti merupakan sistem publikasi positif karena melihat pada pendaftaran sebagai bukti hak.dimana pendaftaran tidak membuat orang yang memperoleh tanah dari pihak yang tidak berhak menjadi pemegang haknya yang baru. . Sistem publikasi yang digunakan dalam PP 24/1997 adalah sistem publikasi negatif yang mengandung unsur positif. sehingga hak dari sertifikat tersebut menjadi tidak mutlak. Disinilah unsur sistem publikasi negatif tersebut ada.

(3) Dalam suatu desa/kelurahan belum ditetapkan sebagai wilayah pendaftaran tanah secara sistematik sebagaimana dimaksudkan pada ayat (2). . Panitia Ajudikasi Tugas dari Panitia Ajudikasi adalah melaksanakan pendaftaran tanah secara sistematik untuk membantu tugas Kepala Kantor Pertanahan seperti diatur dalam Pasal 8 PP 24/1997.BAB III PROSES PELAKSANAAN PENDAFTARAN TANAH A. Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) Pengertian PPAT diatur dalam ketentuan Pasal 1 Angka 24 PP 24/1997. pendaftaranya dilaksanakan melalui pendaftaran tanah secara sporadic. Pengertian dari Ajudikasi ini sendiri diatur dalam Pasal 1 Angka 8 PP 24/1997.  Pelaksanaan Pendaftaran Tanah Pelaksanaan pendaftaran tanah meliputi kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali dan pemeliharaan data pendaftaran tanah. 1. Kepala Kantor Pertanahan Sesuai ketentuan Pasal 6 PP 24/1997 Dalam hal ini bertindak sebagai pelaksana Pendaftaran Tanah kecuali mengenai kegiatan-kegiatan tertentu yang ditugaskan kepada pejabat lain. (2) Pendaftaran tanah secara sistematik didasarkan pada suatu rencana kerja dan dilaksanakan di wilayah-wilayah yang ditetapkan oleh Menteri Agraria. 3. yaitu kegiatan-kegiatan yang pemanfaatannya bersifat nasional atau melebihi wilayah kerja Kepala Kantor Pertanahan. Badan Pertanahan Nasional Sesuai ketentuan Pasal 19 UUPA dan Pasal 5 PP 24/1997 yakni bertindak sebagai penyelenggara pelaksanaan pendaftaran tanah tersebut 2. Kegiatan Pendaftaran Tanah Untuk Pertama Kali Dalam pasal 13 PP 24/1997 ditentukan : (1) Pendafataran tanah untuk pertama kali dilaksanakan melalui pendaftaran tanah secara sistematik dan pendaftaran tanah secara sporadic. khususnya dalam kegiatan pemeliharaan data pendaftaran 4. Penyelenggara dan Pelaksana Pendaftaran Tanah Ada 4 organ yang berperan dalam urusan sebagai penyelenggara dan pelaksana pendaftaran tanah ini yakni sebagai berikut: 1. Kegiatan PPAT adalah membantu Kepala Kantor Pertanahan dalam melaksanakan kegiatan dibidang pendaftaran tanah.

hibah. Dalam penjelasan UUPA angka IV dikatakan bahwa usaha yang menuju ke arah kepastian hak atas tanah ternyata dari ketentuan pasal-pasal yang mengatur pendaftaran tanah yaitu: Pasal 23. . Pendaftaran perubahan data pendaftaran tanah lainnya Dalam penjelasan UUPA dikatakan bahwa pendaftaran tanah akan diselenggarakan secara sederhana dan mudah dimengerti serta dijalankan oleh rakyat yang bersangkutan. pembuktian hak lama. c. tukar menukar. Kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali adalah : a. pembukuan hak. pembuatan peta dasar pendaftaran. Pendaftaran peralihan dan pembebanan hak b. pengukuran dan pemetaan bidang-bidang tanah dan pembuatan peta pendaftaran.(4) Pendaftaran tanah secara sporadic dilaksanakan atas permintaaan pihak yang berkepentingan. yang meliputi pembuktian hak baru. penetapan batas bidang-bidang tanah. pembuatan daftar tanah. dan pembuatan surat ukur. b. penyajian data fisik dan yuridis e. 32 dan 38 yang ditujukan kepada para pemegang hak yang bersangkutan dengan maksud agar mereka memperoleh kepatian tentang haknya. kecuali pemindahan hak melalui lelang yang hanya dapat didaftarkan jika dibuktikan dengan akta yang dibuat oleh PPAT. pengumpulan dan pengolahan data fisik. Pendaftaran ini harus dilakukan ketika pihak yang memiliki tanah tesebut ingin memindahkan haknya melalui jual beli. penerbitan sertifikat d. Pendaftaran tanah untuk pertama kali adalah kegiatan pendaftaran tanah yang dilakukan terhadap objek pendaftaran tanah yang belum didaftar. Kegiatan Pemeliharaan Data Pendaftaran Tanah Dalam pasal 36 PP 24/2007 ditentukan bahwa: (1) Pemeliharaan data pendaftaran tanah dilakukan apabila terjadi perubahan pada data fisik atau data yuridis obyek pendaftaran tanah yang telah terdaftar (2) Pemegang hak yang bersangkutan wajib mendaftarkan perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada Kantor Pertanahan Kegiatan pemeliharaan data pendaftaran tanah ini dilakukan terhadap tanah-tanah yang sebelumnya sudah terdaftar. yang meliputi pengukuran dan pemetaaan. penyimpanan daftar umum dan dokumen 2. Kegiatan pemeliharaan data pendafataran tanah meliputi : a. dan perbuatan hukum pemindahan hak lainnya. pembuktian hak dan pembukuannya. Ketentuan ini perlu mendapat perhatian Pemerintah untuk melaksanakan pembenahan dan perbaikan di bidang pendaftaran tanah terutama hal-hal yang berkaitan dengan pelayanan tanah-tanah adat dimana pendaftaran tanah masih menggunakan alat bukti pembayaran pajak masa lalu seperti girik dan petuk sebagai alas hak sedangkan administrasi girik dan petuk tersebut secara prinsip sudah tidak ada.

7. Surat Keputusan Pemberian Hak Diserahkan kepada pemohon. Pemohon memenuhi semua persyaratan yang dicantumkan dalam Surat Keputusan Pemberian Hak. Formulir surat permohonan telah disediakan oleh Kantor Sub Direktorat Agraria. 2. Direktur Jenderal Agraria atas nama Menteri Dalam Negeri kemudian mengeluarkan Surat Keputusan Pemberian Hak. gambar situasi/surat ukur c. melalui Kantor Sub Direktorat Agraria setempat. 5. artinya yang bertujuan menjamin kepastian hukum. surat keterangan pendaftaran tanah b. maka berkas permohonan yang lengkap disertai pertimbangan setuju atau tidak oleh Kepala Direktorat Agraria dikirimkan kepada Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Agraria. Berkas permohonan yang lengkap oleh Kantor Sub Direktorat Agraria dikirim kepada Gubernur/Kepala Daerah setempat melalui Kantor Agraria Provinsi setempat. Pendafataran dimaksud merupakan alat pembuktian yang kuat mengenai hapusnya hak milik serta syahnya peralihan dan pembebanan hak tersebut. Kantor Sub Direktorat Agraria memeriksa dan minta dipersiapkan surat-surat yang diperlukan. 4. hapusnya dan pembebanannya dengan Hak lain harus didaftarkan sesuai pasal 19 UUPA 2. fatwa tata-guna tanah d.)  Tahap Proses Permohonan Tata cara permohonan dan pemberian hak atas tanah berlangsung dalam tahap sebagai berikut: 1. Pasal 19 UUPA ditujukan kepada Pemerintah agar di seluruh wilayah Indonesia diadakan Pendaftaran Tanah yang bersifat rechts kadaster. maka Kepala Direktorat Agraria atas nama Gubenur mengeluarkan Surat Keputusan Pemberian Hak (SKPH). risalah pemeriksaan tanah oleh panitia ”A” 3. Kalau wewenang pemberian hak yang dimohon ada di tangan Gubernur/Kepala Daerah. . antara lain: a. Jika wewenang dimaksud ada di tangan Menteri Dalam Negeri. Pemohon mengajukan permohonan tertulis kepada pejabat yang berwenang memberikan hak yang dimohon memberikan hak yang dimohon. Di dalam penjelasan UUPA disebutkan pula bahwa pendaftaran tanah didahulukan penyelenggaraannya di kota-kota untuk lambat laun meningkat pada kadaster yang meliputi seluruh wilayah Negara (Indonesia) tentunya yang dimaksud dalam Undang-Undang ini termasuk daerah hutan maupun laut (marine kadaster. 6.Pasal 23 (32 HGU dan 38 HGB ) berbunyi : 1. Hak milik demikian pula setiap peralihannya. Hak atas tanah itu didaftarkan oleh pemohon di Kantor Sub Direktorat Agraria setempat. (kantor agraria tingkat Kabupaten/Kotamadya).

Dinas Tata Kota. Kegiatan pengukuran kadastral adalah pengukuran yang berkaitan dengan hak atas tanah khususnya untuk kegiatan pengukuran bidang tanah yang kemudian dipetakan pada peta pendaftaran dan dibukukan pada daftar tanah. Bidang-bidang tanah di dalam daftar tanah disusun berdasarkan nomor urut yaitu nomor identitas bidang atau NIB yang merupakan nomor identitas tunggal dari suatu bidang tanah (single identity number). PLN. Pengukuran dan Pemetaan. Deputi Bidang Survei.8. Peta dasar dan peta bidang-bidang tanah yang dibuat oleh BPN seharusnya nilai pembuatannya akan lebih murah karena peta-peta tersebut dapat pula dimanfaatkan oleh instansi lain seperti Kantor PBB. Pengukuran dan Pemetaan pada prinsipnya tidak melakukan pengukuran kadastral karena kewenangan tersebut merupakan kewenangan Deputi yang membidangi Pendafataran Tanah. Penerbitan Peta Digital tersebut sangat diperlukan dalam rangka mengembangkan sistem geografis dan sistem informasi di bidang pertanahan untuk terciptanya Sistem Pertanahan Nasional (Simtanas) yang berbasis bidang tanah. Saat ini peta dasar dengan skala besar dan peta-peta bidang tanah digital sangat diperlukan dalam rangka kegiatan pengemudi untuk mencari alamat yang dituju dengan menggunakan GPS. Perusahaan Gas. Bidang-bidang tanah yang telah diukur mengenai letak dan batasbatasnya dipetakan / dimasukkan ke dalam peta pendaftaran / kegiatan perpetaan dan bidangbidang tanah tersebut dibukukan dalam suatu daftar yang disebut daftar tanah. Dari uraian di atas untuk percepatan penyusunan data penguasaan tanah dalam rangka menunjang percepatan pensertifikatan tanah seharusnya pemerintah memprioritaskan kegiatan Deputi Survei. Ketentuan dalam Perpres mengenai organisasi BPN merupakan suatu kemajuan dengan dibentuknya suatu Deputi baru mengenai Survei. Pengukuran dan Pemetaan untuk membuat peta dasar skala besar dan peta bidang-bidang tanah maupun peta tematik lainnya secara digital. Air Minum. Kegiatan Perpetaan dan pembukuan tanah yang merupakan kegiatan lanjutan dari pengukuran bidang tanah sangat diperlukan dalam rangka terciptanya kepastian hak dan tertib administrasi pertanahan. Dalam daftar tanah dicantumkan pula mengenai siapa yang menguasai atau pemilik tanahnya serta asal / status tanah tersebut seperti tanah adat. tanah negara atau tanah yang telah memiliki sesuatu hak atas tanah termasuk data mengenai P4T (Penguasaan Pemilikan . Kantor Sub Direktorat Agraria mengeluarkan sertifikat hak atas tanah dan menyerahkannya kepada pemegang hak  Permasalahan Pendaftaran Tanah Sesuai ketentuan pasal 19 UUPA untuk kepastian hak dan menjamin kepastian hukum hak atas tanah pelayanan pendaftaran tanah di lapangan tidak dapat dipisahkan atau digabung dengan kegiatan lain pengukuran kadastral yaitu kegiatan pengukuran perpetaan dan pembukuan tanah dengan kegiatan pendaftaran hak serta pemberian surat-surat tanda bukti hak merupakan paket kegiatan yang ditentukan oleh Undang-Undang yaitu pasal 19 UUPA. Pengukuran perpetaan dan pembukuan tanah. Kependudukan dan Kantor Pos untuk menunjang kode pos. Kegiatan kedeputian ini khususnya untuk menunjang kegiatan BPN terutama kegiatan untuk penyediaan peta dasar maupun peta-peta tematik serta jaringan titik dasar teknik dalam rangka pelayanan pertanahan di BPN atau instansi lain yang memerlukan. 1.

Sebagai tuntutan sistem pendaftaran hak sesuai UUPA dimana buku tanah tempat mendaftarakan hak yang dialihkan atau dibebankan berdasarkan akte PPAT. Buku tanah adalah tempat dilakukannya pendaftaran hak atas tanah. petuk dan lain-lain yang sebenanrnya adalah bukti pembayaran pajak yang saat ini kegiatan pengadministrasian girik dan petuk secara prinsip sudah tidak dilakukan. Sistem pendaftaran tanah setelah UUPA mewajibkan Departemen Agraria waktu itu untuk menerbitkan buku tanah sesuai dengan sistem Torens (Australia) yang dianut sistem pendafataran tanah Indonesia. peralihan hak dan pembebanan hak maupun lahirnya hak atau hapusnya hak atas tanah yang sebelumnya kegiatan pendaftaran tanah tidak pernah melakukan hal tersebut.Pengunaan dan Pemanfaatan Tanah). Pendaftaran Hak dan Penerbitan Surat Tanda Bukti Hak Dengan terbitnya ketentuan pasal 19 UUPA maka sistem pendafataran tanah di Indonesia berubah dari sitem pendafataran akte menjadi sistem pendafataran hak untuk itu diterbitkanlah peraturan pemerintah Nomor 10 Tahun 1961 tentang Pendaftaran Tanah yang kemudian diperbarui dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997. Apabila data peta pendaftaran dan daftar tanah ini telah lengkap maka diharapkan pelayanan pertanahan dapat dilakukan lebih cepat dan lebih terjamin kepastian haknya serta tidak dibutuhkan lagi surat keterangan lurah atau kepala desa mengenai girik. 2. Kegiatan pengukuran perpetaan dan pembukuan tanah yang disebut pula dengan kegiatan fisik kadaster merupakan kegiatan untuk mendapatkan data awal yang sangat diperlukan untuk pelayanan di bidang pertanahan seperti yang telah diuraikan di atas. . maka akte yang dibuat para PPAT haruslah dipastikan kebenaran formalnya sehingga Departemen Agraria/BPN perlu untuk menerbitkan blangko akte yang dapat dikontrol kebenarannya dengan kode dan nomor tertentu untuk menjamin kebenaran formal akte tersebut.

tanah wakaf. How yaitu bagaimana proses pendaftran tanah ? Proses pendaftaran tanah yaitu pengukuran. dan pembukuan tanah. HGB dan Hak pakai.   Where yaitu dimana pendaftaran tanah dapat dilakukan ? Pendaftaran tanah dapat dilakukan di hadapan pejabat yang berwenang. tanah hak pengelolaan. HGU. pemetaan. baik dalam pemindahan hak ataupun pemberian dan pengakuan hak baru.BAB IV JAWABAN IDENTIFIKASI  Whats yaitu apa itu pendaftaran tanah dan apa obyek yang harus didaftarkan ? Pendaftaran tanah adalah suatu kegiatan administrasi yang dilakukan pemilik terhadap hak atas tanah.    . kegiatan pendaftaran tersebut memberikan suatu kejelasan status terhadap tanah. menghindari persengketaan serta untuk terselenggaranya tertib hukum. PPAT. pendaftaran hak-hak atas tanah dan peralihan hak-hak tersebut serta pemberian surat-surat tanda bukti hak. Why yaitu mengapa pendaftaran tanah harus dilakukan ? Pendaftaran tanah harus dilakukan agar memberikan kepastian dan perlindungan hukum bagi pemegang hak atas tanah. Kepala Kantor Pertanahan. Obyek pendaftaran tanah yaitu Hak milik. Who yaitu siapa yang harus mendaftarkan hak atas tanahnya dan siapa yang berwenang dalam menangani pendaftaran tanah ? Setiap subyek hukum yang mempunyai obyek pendaftaran tanah harus mendaftarkan hak atas tanahnya dan yang berwenang dalam menangani pendaftaran tanah yaitu pejabat yang berwenang diantaranya BPN. hak milik atas satuan rumah susun. hak tanggungan dan tanah negara. Panitia Ajudikas. When yaitu kapan pendaftaran tanah harus dilakukan ? Pendaftaran tanah harus dilakukan pada saat subyek hukum mempunyai obyek pendaftaran tanah.

kegiatan BPN khususnya pendaftaran tanah perlu mendapat prioritas dalam pembuatan peta dasar atau peta tematik terutama peta bidang tanah secara digital. Dimana pendaftaran tanah untuk pertama kali dilaksanakan melalui pendaftaran tanah secara sistematik dan pendaftaran tanah secara sporadic. Pendaftaran tanah secara sistematik adalah kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali yang dilakukan secara serentak yang meliputi semua objek pendaftaran tanah yang belum didaftar dalam wilayah atau bagian wilayah suatu desa atau kelurahan. tanpa adanya suatu penetapan terlebih dahulu dari menteri atas tanah tersebut dan dihadapan pejabat yang berwenang. Pendaftaran tanah secara sporadic ini tentunya dilakukuan atas permintaan pihak yang berkepentingan.BAB V PENUTUP A. maka pendaftarannya dilaksanakan melalui pendaftaran tanah secara sporadic. Pendaftaran secara sporadic adalah kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali mengenai satu atau beberapa objek pendafataran tanah dalam suatu wilayah secara individual atau masal. Kesimpulan Setiap obyek pendaftaran tanah harus didaftarkan kepada pejabat yang berwenang melalui proses yang telah di tetapkan dengan merujuk pada asas-asas pendaftaran tanah. Dalam hal suatu wilayah belum ditetapkan sebagai wilayah pendaftaran tanah secara sistematik. Sistem informasi pertanahan yang ditunjang dengan kegiatan komputerisasi pertanahan (LOC/Land Office Computeritation) perlu diteruskan dan dikembangkan sehingga dapat tercipta suatu sistem pertanahan yang berbasis bidang tanah dengan memiliki nomor identitas tunggal atau nomor identitas bidang. Sehingga memberikan suatu kejelasan status terhadap tanah dan memberikan kepastian hukum bagi pemegang hak atas tanah. Suatu hal yang paling penting dilakukan adalah kegiatan fisik kadaster yaitu suatu kegiatan pembuatan peta pendaftaran yang dilengkapi data penguasaan dan pemilikan tanah dalam bentuk daftar tanah yang kegiatannya dimulai dari perkotaan hingga pedesaan untuk mendapatkan data-data spasial yang dilengkapi dengan data P4T. Pendaftaran tanah secara sistematik ini didasarkan pada suatu rencana kerja dan dilaksanakan di wilayah-wilayah yang ditetapkan mentri. .

Antara lain : 1) Perlu penyuluhan hukum yang sifatnya terpadu yang dilakukan pihak Badan Pertanahan Nasional secara mandiri sehingga masyarakat akan mengerti pentingnya sertifikat tanah hak milik.24 Tahun 1997 hendaknya pendaftaran tanah di Indonesia bukan diutamakan didaerah perkotaan tetapi pendaftaran hendaknya dilakukan di desa terutama desa tingkat ekonomi lemah. . Saran Seyogyanya strategi pembangunan hukum agraria nasional dapat menampung aspirasi masyarakat hukum adat. sehingga perlu dilakukan pendaftaran tanah. apalagi masyarakat di pedesaan kurang begitu mengerti bagaimana pendaftaran tanah dan pentingnya pendaftaran tanah.B. 2) Dengan berlakunya PP No. Demikian tulisan ini dibuat untuk memberikan gambaran mengenai pendaftaran tanah dan prinsip-prinsip kegiatannya.

google. 1990.24 Tahun 1997 Undang-Undang Pokok Agraria search engine: www.P. Bandung.Parlindungan. Pendaftaran Tanah Di Indonesia.com . Mandar Maju.DAFTAR PUSTAKA A. Peraturan Pemerintah No.

I MADE DHARMA SETIA PUTRA 2.MAKALAH PENDAFTARAN TANAH Disusun Oleh : 1. KRISTIAN KAHARAP PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ILMU HUKUM UNIVERSITAS PALANGKARAYA TAHUN AJARAN 2012/2013 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->