P. 1
2.Makalah Konseling Lintas Budaya Word 2003 - Copy

2.Makalah Konseling Lintas Budaya Word 2003 - Copy

|Views: 385|Likes:

More info:

Published by: Dwi Haryanto Suroto Putro on Nov 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/19/2014

pdf

text

original

Budaya yang Dipengaruhi Gender

Disusun dan Diajukan Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Konseling Lintas Budaya Dosen Pengampu Drs.Hadi WS, M.Si.,Kons

Nama Kelompok : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Elly Rohayati Fajar Prasetyaning U Ika Nopita Sari Nanang Atriyanto Norma Prerika Rudi Pratopo Hanafi 1051400064/ VB 1051400058/ VB 1051400078/ VB 1051400067/ VB 1051400052/ VB 1051400030/ VA 1051400073/VB

PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS VETERAN BANGUN NUSANTARA SUKOHARJO TAHUN 2012
1

KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb. Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karuniaNya sehingga kami dapat menyelesaiakan makalah untuk memenuhi tugas mata kuliah “ Konseling Lintas Budaya” di Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo. Dalam penulisan ini, tidak sedikit kesulitan yang penulis hadapi dikarenakan terbatasnya kemampuaan kami.Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini jauh dari sempurna.Untuk itu kami mengharapkan saran serta kritik yang bersifat membangun demi sempurnanya makalah ini. Akhirnya kami berharap makalah ini bermanfaat bagi penulis dan bagi pembaca pada umumya. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Sukoharjo,November 2012 Penulis

2

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ..........................................................................................1 KATA PENGANTAR.........................................................................................2 DAFTAR ISI........................................................................................................3 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah............................................................4 1.2. Rumusan Masalah......................................................................4 1.3. Tujuan Masalah..........................................................................4 1.4. Manfaat......................................................................................4 BAB II 1. 2. 3. 4. BAB III ISI ......................................................................................................5 Pengertian Gender…………………………………………..............5 Budaya Yang Dipengaruhi Gender…………………………............5 Pengertian Diskriminasi Gender……………………………............7 Bentuk Bentuk Ketidakadilan Gender………………………...........7 PENUTUP ........................................................................................10 3.1 Kesimpulan..................................................................................10

3

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah 1.1.1.Gender pada awalnya diambil dari kata dalam bahasa arab JINSIYYUN yang kemudian di adopsi dalam bahasa perancis dan inggris menjadi Gender. 1.1.2.Gender adalah perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam peran, fungsi, hak, tanggung jawab dan perilaku yang dibentuk oleh tata nilai social, budaya dan adat istiadat (Badan Pemberdayaan Masyarakat, 2003). 1.1.3.Gender adalah peran dan tanggung jawab perempuan dan laki-laki yang ditentukan secara sosial.Gender berhubungan dengan persepsi dan permikiran serta tindakan yang diharapkan sebagai perempuan dan laki-laki yang dibentuk masyarakat,bukan karena perbedaan biologis (WHO,1998). 1.2. Rumusan Masalah Rumusan masalah yang kami angkat yaitu Budaya yang Dipengaruhi Gender. 1.3. Tujuan Masalah Mengetahui pengertian dari Budaya yang Dipengaruhi Gender. 1.4.Manfaat 1.4.1.Bagi Mahasiswa Makalah ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan mahasiswa, sehingga dapat mengaplikasikannya dalam memberikan konseling kepada klien. 1.4.2. Bagi Calon Konselor Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam menghadapi klien yang berbeda dalam kesataraan gendernya.

4

BAB II ISI Budaya yang Dipengaruhi Gender
I. Pengertian Gender 1.1. Pengertian Gender 1.1.1.Gender pada awalnya diambil dari kata dalam bahasa arab JINSIYYUN yang kemudian di adopsi dalam bahasa perancis dan inggris menjadi Gender. 1.1.2.Gender adalah perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam peran, fungsi, hak, tanggung jawab dan perilaku yang dibentuk oleh tata nilai social, budaya dan adat istiadat (Badan Pemberdayaan Masyarakat, 2003). 1.1.3.Gender adalah pera dan tanggung jawab perempuan dan laki-laki yang ditentukan secara social. Gender berhubungan dengan persepsi dan pemikiran serta tindakan yang diharapkan sebagai perempuan dan laki-laki yang dibentuk masyarakat, bukan karena perbedaan biologis (WHO, 1998). 1. No 2 3 4 5 Perbedaan Gender dan Seksualitas Karakteristik Visi,Misi Sifat Dampak Kebiasaan Harkat, martabat dapat dipertukarkan Gender Tuhan Kesetaraan Biologis (alat reproduksi) Kodrat, tertentu tidak dapat dipertukarkan Terciptanya norma-norma/ketentuan tentang Terciptanya nilai-nilai: “pantas” atau “tidak pantas” laki-laki pantas kesempurnaan, menjadi pemimpin, perempuan “pantas’ kenikmatan, kedamaian menguntungkan kedua belah pihak. 6 Keberlakuan Dapat berubah,musiman dan berbeda antaraSepanjang masa dimana kelas. saja, tidak mengenal pembedaan kelas. 5 dipimpin dll. Sering merugikan salah satu dll.Sehingga pihak, kebetulan adalah perempuan Seks

1 Sumber pembeda Manusia (Masyarakat) Unsur Pembeda Kebudayaaan (tingkah laku)

Menurut Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perbedaan antara Gender dan Jenis Kelamin Jenis Kelamin alat kelamin laki-laki Gender dan hari, seperti banyak perempuan menjadi juru masak jika dirumah, tetapi jika di restoran juru masak lebih banyak laki-laki. Tidak dapat dipertukarkan, contohnya jakun pada laki-laki dan payudara pada perempuan Berlaku sepanjang masa, Tergantung budaya dan kebiasaan, contohnya di jawa pada penjajahan hak belanda kaum perempuan Indo tidak memperoleh pendidikan.Setelah merdeka contohnya status sebagai laki- jaman laki atau perempuan Dapat dipertukarkan

Tidak dapat berubah, contohnya Dapat berubah, contohnya peran dalam kegiatan sehariperempuan

perempuan mempunyai kebebasan mengikuti pendidikan Berlaku dimana saja, contohnya Tergantung budaya setempat, contohnya pembatasan di rumah, dikantor dan laki/perempuan tetap laki-laki dan perempuan. Merupakan kodrat Tuhan, Bukan merupakan budaya setempat, contohnya pengaturan contohnya laki-laki mempunyai jumlah a nak dalam satu keluarga. cirri-ciri utama yang berbeda dengan cirri-ciri utama Buatan manusia, contohnya laki-laki dan perempuan berhak menjadi calon ketua RT, RW, dan kepala desa bahkan presiden. perempuan yaitu jakun. Ciptaan Tuhan, contohnya perempuan bisa haid, hamil, melahirkan dan menyusui sedang laki-laki tidak. kesempatan di bidang pekerjaan terhadap perempuan menjadi perawat, guru TK, pengasuh anak. dimanapun berada, seorang laki- dikarenakan budaya setempat antara lain diutamakan untuk

6

2.

Budaya yang Dipengaruhi Gender menjadi seorang wanita, dengan akibat yang berbahaya bagi kesehatan wanita.

2.1. Sebagian besar masyarakat banyak dianut kepercayaan yang salah tentang apa arti 2.2. Setiap masyarakat mengharapkan wanita dan pria untuk berpikir, berperasaan dan bertindak dengan pola-pola tertentu dengan alas an hanya karena mereka dilahirkan sebagai wanita/pria. Contohnya wanita diharapkan untuk menyiapkan masakan, membawa air dan kayu bakar, merawat anak-anak dan suami. Sedangkan pria bertugas memberikan kesejahteraan bagi keluarga di masa tua serta melindungi keluarga dari ancaman. 2.3. Gender dan kegiatan yang dihubungkan dengan jenis kelamin tersebut, semuanya adalah hasil rekayasa masyarakat. Beberapa kegiatan seperti menyiapkan makanan dan merawat anak adalah dianggap sebagai “kegiatan wanita”. 2.4.Kegiatan lain tidak sama dari satu daerah ke daerah lain diseluruh dunia, tergantung pada kebiasaan, hukum dan agama yang dianut oleh masyarakat tersebut. 2.5. Peran jenis kelamin bahkan bisa tidak sama didalam suatu masyarakat, tergantung pada tingkat pendidikan, suku dan umurnya, contohnya : di dalam suatu masyarakat, wanita dari suku tertentu biasanya bekerja menjadi pembantu rumah tangga, sedang wanita lain mempunyai pilihan yang lebih luas tentang pekerjaan yang bisa mereka pegang. 2.6. Peran gender diajarkan secara turun temurun dari orang tua ke anaknya. Sejak anak berusia muda, orang tua telah memberlakukan anak perempuan dan laki-laki berbeda, meskipun kadang tanpa mereka sadari.

3. Pengertian Diskriminasi Gender
Diskriminasi gender adalah adanya perbedaan, pengecualian/pembatasan yang dibuat berdasarkan peran dan norma gender yang dikonstruksi secara social yang mencegah seseorang untuk menikmati HAM secara penuh. 4. Bentuk-Bentuk Ketidakadilan Gender 4.1.Gender dan Marginalisasi Perempuan Bentuk manifestasi ketidakadilan gender adalah proses marginalisasi/pemiskinan terhadap kaum perempuan. Ada beberapa mekanisme proses marginalisasi kaum perempuan karena perbedaan gender. Dari segi sumbernya bisa berasal dari kebijakan pemerintah, keyakinan, tafsiran agama, keyakinan tradisi dan kebiasaan bahkan asumsi ilmu pengetahuan, 7

misalnya marginalisasi dibidang pertanian, contohnya revolusi hijau yang memfokuskan pada laki-laki mengakibatkan banyak perempuan tergeser dan menjadi miskin. Contoh lain adanya pekerjaan khusus perempuan seperti : guru anak-anak, pekerja pabrik yang berakibat pada penggajian yang rendah. Contoh lain : upah wanita lebih kecil, izin usaha wanita harus diketahui ayah (jika masih lajang) dan suami jika udah menikah, permohonan kredit harus seijin suami, pembatasan kesempatan dibidang pekerjaan terhadap wanita, kemajuan tehnologi industry meminggirkan peran serta wanita. 4.2.Gender dan Subordinasi Pekerjaan Perempuan Subordinasi adalah anggapan tidak penting dalam keputusan politik. Perempuan tersubordinasi oleh factor yang dikonstruksikan secara sosial. Hal ini disebabkan karena belum terkoordinasi konsep gender dalam masyarakat yang mengakibatkan adanya diskriminasi kerja bagi perempuan.Contoh :wanita sebagai konco wingking, hak kawin wanita dinomor duakan, bagian warisan wanita lebih sedikit, wanita dinomor duakan dalam peluang bidang politik, jabatan, karir dan pendidikan. 4.3.Gender dan Sterotip atas Pekerjaan Perempuan Stereotip adalah pelabelan terhadap suatu kelompok / jenis pekerjaan tertentu. Stereotip adalah bentuk ketidakadilan. Secara umum stereotip merupakan pelabelan/penandaan terhadap kelompok tertentu dan biasanya pelabelan ini selalu berakibat pada ketidakadilan, sehingga dinamakan pelabelan negative.Hal ini disebabkan pelabelan yang sudah melekat pada laki-laki misalnya manusia yang kuat, rasional, jantan, perkasa. Sedangkan perempuan adalah mahkluk yang lembut, cantik dan keibuan.Contoh : Wanita-sumur-dapur-kasur, Wanita macak-masak-manak, laki-laki tulang punggung keluarga, kehebatan pada kemampuan seksualnya, Laki-laki mata keranjang, janda mudah dirayu. 4.4.Gender dan Kekerasan Terhadap Perempuan Kekerasan adalah suatu serangan terhadap fisik maupun integritas mental psikologi seseorang. Kekerasan terhadap manusia sumbernya macam-macam namun ada satu jenis kekerasan yang bersumber anggapan gender. Kekerasan terhadap perempuan merupakan kekerasan yang disebabkan adanya keyakinan gender. Bentuk kekerasan ini tidak selalu terjadi antara laki-laki terhadap perempuan akan tetapi antara perempuan dengan perempuan atau erempuan dengan laki-laki. Meskipun demikian perempuan menjadi lebih rentan karena posisinya yang pincang dimata masyarakat baik secara ekonomi, social atau politik. Posisi perempuan dianggap lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki. Kekerasan fisik : perkosaan, pemukulan, dan penyiksaan.Non fisik :pelecehan seksual, ancaman, dan 8

paksaan. Contoh : Eksploitsi terhadap wanita, pelecehan terhadap wanita, perkosaan, wanita jadi obyek iklan, laki-laki sebagai pencari nafkah,suami membatasi uang belanja dan memonitor pengeluarannya, istri menghina/mencela kemampuan seksual. 4.5.Gender dan Beban kerja Lebih Berat Dengan berkembangnya wawasan kemitrasejajaran berdasarkan pendekatan gender dalam berbagai aspek kehidupan, maka peran perempuan mengalami perkembangan yang cukup cepat. Namun perlu dicermati bahwa perkembangan perempuan tidaklah “mengubah” peranannya yang “lama” yaitu peranan dalam lingkup rumah tangga (peran reproduktif). Maka dari itu perkembangan peranan perempuan ini sifatnya menambah, dan umumnya perempuan mengerjakan peranan sekaligus untuk memenuhi tuntutan pembangunan, untuk itulah maka beban kerja perempuan terkesan berlebihan. Contoh :wanita bekerja diluar rumah atau dirumah, wanita sebagai perawat, pendidik anak sekaligus pendamping suami pencari nafkah kehidupan, laki-laki mencari nafkah utama sekaligus sopir keluarga. Wrightdmn (1981) stereotip merupakan konsep yang kaku dan luas dimana setiap individu didalam suatu kelompok dicap dengan karakter dari kelompok tersebut. Stereotip peran gender menurut Jenkins dan Mc Dandd(1971) merupakan generalisasi pengharapan mengenai aktivitas kemanpuan,atribut dan pilihan apa yang sesuai dengan jenis kelamin seseorang. Menurut Hoyenga dan Hoyenga (1992) Stereotip peran gender,dihasikan dari pengkatagorisasian perempuan dan laki laki yang merupakan suatu representasi sosial yang ada dalam struktur kognisi kita.Stereotip gender digunakan untuk menggambarkan aspek aspek sosiologis/antropologis/kultural dari ciri atau sifat maskulin dan feminim.

BAB III PENUTUP

9

3.1. KESIMPULAN Gender pada awalnya diambil dari kata dalam bahasa arab JINSIYYUN yang kemudian di adopsi dalam bahasa perancis dan inggris menjadi Gender Gender adalah perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam peran, fungsi, hak, tanggung jawab dan perilaku yang dibentuk oleh tata nilai social, budaya dan adat istiadat (Badan Pemberdayaan Masyarakat, 2003) Gender adalah peran dan tanggung jawab perempuan dan laki-laki yang ditentukan secara sosial. Gender berhubungan dengan persepsi dan pemikiran serta tindakan yang diharapkan sebagai perempuan dan laki-laki yang dibentuk masyarakat, bukan karena perbedaan biologis (WHO,1998).

DAFTAR PUSTAKA 10

Ali, Mohammad dan Muhammad Asrori. Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: P.T. Bumi Aksara, 2006. Asrori, Muhammad. Psikologi Pembelajaran. Bandung: C.V. Wacana Prima, 2009. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Dirjen Dikti HEDS-JICA.Per kem bangan Peserta Didik. Jakarta: Tim Pembina Mata Kuliah Perkembangan Peserta Didik, 2007. Sunarto dan Hartono, B. Agung. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta, 2006.

11

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->