Bahan Kimia Mudah Meledak (Explosive) Adalah suatu zat padat atau cair atau campuran keduanya yang

karena suatu reaksi kimia dapat menghasilkan gas dalam jumlah dan tekanan yang besar serta suhu yang tinggi, sehingga menimbulkan kerusakan disekelilingnya. Zat eksplosif amat peka terhadap panas dan pengaruh mekanis (gesekan atau tumbukan), ada yang dibuat sengaja untuk tujuan peledakan atau bahan peledak seperti trinitrotoluene (TNT), nitrogliserin dan ammonium nitrat (NH4NO3). Terhadap bahan tersebut ketentuan penyimpananya sangat ketat, letak tempat penyimpanan harus berjarak minimum 60[meter] dari sumber tenaga, terowongan, lubang tambang, bendungan, jalan raya dan bangunan, agar pengaruh ledakan sekecil mungkin. Ruang penyimpanan harus merupakan bangunan yang kokoh dan tahan api, lantainya terbuat dari bahan yang tidak menimbulkan loncatan api, memiliki sirkulasi udara yang baik dan bebas dari kelembaban, dan tetap terkunci sekalipun tidak digunakan. Untuk penerangan harus dipakai penerangan alam atau lampu listrik yang dapat dibawa atau penerangan yang bersumber dari luar tempat penyimpanan. Penyimpanan tidak boleh dilakukan di dekat bangunan yang didalamnya terdapat oli, gemuk, bensin, bahan sisa yang dapat terbakar, api terbuka atau nyala api. Daerah tempat penyimpanan harus bebas dari rumput kering, sampah, atau material yang mudah terbakar, ada baiknya memanfaatkan perlindungan alam seperti bukit, tanah cekung belukar atau hutan lebat. http://ibnususanto.wordpress.com/2009/02/13/bahan-kimia-berbahaya-dan-keselamatankesehatan-kerja-bidang-kimia/ BAHAN KIMIA MUDAH MELEDAK / EKSPLOSIF (EKSPLOSIVESUBSTANCES) Bahan-bahan kimia reaktif atau tidak stabil dapat mudah meledak atau eksplosif. Peledakan terjadi karena terjadi reaksi amat cepat yang menghasilkan panas dan gas dalam jumlah besar. Reaksi eksplosif demikian selain banyak menimbulkan kerusakan karena tenaga amat besar, tetapi juga disertai kebakaran. Dalam laboratorium maupun industry kimia, peledakan adalah kecelakaan yang sering terjadi dan menimbulkan banyak korban dan kerugian harta. Kemungkinan adanya reaksi eksplosif dapat diperkirakan dari dua aspek yakni: 1.Reaksi Kesetimbangan dengan oksigen Adalah selisih antara jumlah oksigen dalam system (senyawa atau campuran) dengan jumlah oksigen yang diperlukan untuk mengoksidasi secara sempurna menjadi gas CO2 dan H2O.Ada tiga kemungkinan sifat tersebut,yakni : a. Kesetimbangan negatif,yakni suatu reaksi eksplosif yang terjadi karena adanya oksigen seperti contoh : C2H4O3 + 3 O → 2 CO2 + 2 H2O ( P – asam asetat ) Ini berarti bahwa zat p-asam asetat akan meledak bila ada oksidator, senyawa seperti etanol, asetildehida, aseton, dan asam asetat juga akan meledak bila dicampur dengan H2O2.

c. Bahan kimia oksidator dapat dibedakan dua jenis yakni: 1) Oksidator anorganik. Kesetimbangan nol. Oksidator “Tersembunyi” Dalam laboratorium kimia. 2) Peroksida organik -benzil peroksida -asetil peroksida -eter oksida b. seperti reaksi : CH2O3 (asam performiat) → CO2 + H2O 23(NH4)2Cr207 → Cr2O3 + H2O + N2 Ini berarti bahwa reaksi eksplosif dapat terjadi dengan sendirinya tanpa ada bantuan oksigen dari luar. Dengan sendirinya tempat penyimpanan harus bebas dari atap yang bocor di waktu hujan. Kebakaran akibat bahan oksidator sukar dipadamkan karena mampu menghasilkan oksigen sendiri.seperti: -permanganat -perklorat -dikromat -hidrogen peroksida -periodat -persulfat Bahan-bahan tersebut banyak dipakai dalam analisis kimia sebagai reagen. Kelembaban: kelembaban yang tinggi dalam penyimpanan akan menyebabkan adsorpsi air yang memudahkan reaksi kimia terjadi. Bahan tersebut juga bersifat reaktif dan eksplosif serta sering menimbulkan kebakaran. Faktor – faktor penyebab eksplosif Penanganan bahan–bahan tidak stabil di atas harus berhatihati.Hal ini dapat terjadi pada saat proses pencampuran. Bahan kimia reduuktor akan berbahaya bila dicampur atau berdekatan dengan bahan oksidator yang tidak stabil. Bahan Kimia Oksidator ( Oxidising Agents ) Bahan kimia oksidator adalah bahan kimia yang dapat menghasilkan oksigen dalam penguraian atau reaksinya dengan senyawa lain.Suhu penyimpanan: semakin tinggi suhu semakin mudah terjadi reaksi eksplosif.gesekan mekanik: dapat menimbulkan pemanasan local yang eksplosif. Pengaruh bahan kimia lain dalam penyimpanan. mungkin kita sering menghadapi bahan oksidator yang jelas seperti asam perklorat yang masih tetap kita pakai dalam analisis kimia. penggerusan. artinya bahwa jumlah oksigen pereaksi dan hasil reaksi sama adalah sama. yakni: Asam perasetat Zat – zat tersebut banyak dipakai dalam sintesis organik.Listrik: yang mungkin dapat memberikan pemanasan dan atau loncatan api. Kesetimbangan positif. dan pengangkutan. karena ada beberapa factor yang amat berpengaruh pada proses terjadinya ledakan. Benturan. yakni suatu reaksi yang cenderung melepaskan oksigen. dimana kita harus selalu . seperti: NH4NO3 → 2H2O + N2 + O Senyawa ammonium nitrat atau gliseralnitrat menjadi eksplosif bila ada reduktor yang dapat menyerap oksigen.

Tes dilakukan dengan menambah 1 ml larutan KI 10 % ditambah larutan kanji kedalam 10 ml contoh eter. dan eter alifatik lain. c) Sebaiknya tidak memakai pelarut yang lama.com/doc/72894472/20/BAHAN-KIMIA-MUDAH-MELEDAK-EKSPLOSIFEKSPLOSIVE-SUBSTANCES . Karena seringnya peledakan oleh peroksida tersembunyi di atas. isopropyl eter. Warna biru menunjukkan adanya peroksida yang perlu diambil. e) Menyimpan pelarut dalam botol cokelat untuk mengurangi proses oksidasi. Tetapi kadang kala kita menghadapi zat oksidator yang „tersembunyi”. tetrahidrofuran. b) Didistilasi dilakukan tanpa pengaduk udara.scribd. f) Karena proses eksplosif selalu disertai dengan kebakaran. seperti: etil eter. Pelarut-pelarut di atas yang telah mengandung peroksida akan meledak hebat apabila pelarut tersebut didistilasi atau diuapkan. dioksan.Hal ini disebabkan oleh peroksida hasil auto oksidasi adalah tidak mudah menguap. maka percobaanpercobaan dengan senyawa-senyawa eksplosif sebaiknya dilakukan dalam almari asam. Memakai pelindung muka pada saat distilasi pelarut organik. d) Tidak menyimpan sisa-sisa pelarut yang lama. Dan tes kembali sampai tak ada pengaduk udara. sehingga dalam residu didistilasi menjadi lebih pekat atau terkonsentrasi yang oleh factor panas akan meledak. memakai alat pelindung dan siap dengan pemadam kebakaran. Pengambilan peroksida dilakukan dengan mengocok eter dengan larutan FeSO4 (60 gr FeSO4 dalam 110 ml air + 6 ml H2SO4). http://www.waspada.beberapa cara penanganan yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut: a) Tes KI sebelum didistilasi pelarut di atas.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful