SECTIO CAESAREA

BAB II TINJAUAN TEORI A. PENGERTIAN Section caesarea adalah lahirnya janin melalui insisi didinding abdomen (laparotomi) dan dinding uterus (histerektomi). (cuningham, F garry, 2005 ; 592) Operasi Caesar atau sectio caesarea adalah proses persalinan yang dilakukan dengan cara mengiris perut hingga rahim seorang ibu untuk mengeluarkan bayi. (www.mikoraharja.wordpress.com) Ketuban Pecah Dini adalah pecahnya selaput ketuban sebelum ada tanda-tanda persalinan (Mansjoer, Arif, 1999: 310). Ketuban Pecah Dini didefinisikan sebagai amnioreksis sebelum permulaan pesalinan pada setiap tahapan kehamilan. (Hecker, 2001: 304). Ketuban Pecah Dini yaitu apabila ketuban pecah spontan dan tidak diikuti tanda-tanda persalinan, beberapa jam sebelum inpartu, misalnya 1 jam atau 6 jam sebelum inpartu. Ada juga yang menyatakan dalam ukuran pembukaan servik pada kala I, misalnya ketuban pecah sebelum pembukaan servik pada primigravida 3 cm dan pada multigravida kurang dari 5 cm. (www.medlinux.blogspot.com) Masa nifas adalah periode setelah kelahiran bayi dan plasenta sampai sekitar 6 minggu setelah post partum (Hecker, 2001: 145). Sectio caesarea merupakan tindakan operatif yang bertujuan menyelamatkan janin dan ibu. B. ETIOLOGI 1. Etiologi ketuban pecah dini Penyebab dari ketuban pecah dini (KPD) masih belum jelas ada berbagai faktor ikut serta dalam kejadiannya. (Hecker, 2001 ; 304) a. Infeksi vagina dan servik b. Fisiologi selaput ketuban yang abnormal c. Inkompetensi serviks d. Defisiensi gizi dari tembaga atau asam askorbat (vtaimn C). Menurut Mansjoer Arif, faktor presdisposisi KPD yaitu infeksi genitalia, servik inkompeten, gamelia, hidramnion kehamilan pre term, dan disproporsi sepalo pelvik. 2. Indikasi section caesarea Indikasi sectio caesarea (Cuningham, F Garry, 2005: 595) a. Riwayat sectio caesarea Uterus yang memiliki jaringan parut dianggap sebagai kontraindikasi untuk melahirkan karena dikhawatirkan akan terjadi rupture uteri. Resiko ruptur uteri meningkat seiring dengan jumlah insisi sebelumnya, klien dengan jaringan perut melintang yang terbatas disegmen uterus bawah , kemungknan mengalami robekan jaringan parut simtomatik pada kehamilan berikutnya. Wanita yang mengalami ruptur uteri beresiko mengalami kekambuhan , sehingga tidak menutup kemungkinan untuk dilakukan persalinan pervaginam tetapi dengan beresiko ruptur uteri dengan akibat buruk bagi ibu dan janin, american collage of obstetrician and ginecologistc (1999) b. Distosia persalinan

Atau disebut juga sawar mekanik terhadap infeksi. kelainan neurologis seperti cerebral palsy dapat dihindari dengan waktu yang tepat untuk sectio caesarea. infeksi menyeluruh). kelainan persalinan terdiri dari : 1) Ekspulsi (kelainan gaya dorong) Oleh karena gaya uterus yang kurang kuat. .Distosia berarti persalinan yang sulit dan ditandai oleh terlalu lambatnya kemajuan persalinan. persalinan abnormal sering terjadi terdapat disproporsi antara bagian presentasi janin dan jalan lahir. maka persalinan per vagina dianjurkan. dilatasi servik (disfungsi uterus) dan kurangnya upaya utot volunter selama persalinan kala dua. tetapi apabila terjadi gagal induksi cerviks atau induksi cerviks tidak baik. jika penentuan waktu sectio caesarea terlambat. maka tindakan sectio caesarea tepat dilakukan secepat mungkin untuk menghindari kecacatan atau terinfeksinya janin lebih parah. PATOFISIOLOGI Amnion terdapat pada plasenta dan berisi cairan yang didalamnya adalah sifat dari kantung amnion adalah bakteriostatik yaitu untuk mencegah karioamnionistis dan infeksi pada janin. Letak sungsang Janin dengan presetasi bokong mengalami peningkatan resiko prolaps tali pusat dan terperangkapnya kepala apabila dilahirka pervaginam dibandingkan dengan janin presentasi kepala. posisi janin 4) Kelainna jaringan lemak saluran reproduksi yang menghalangi turunnya janin c. Gawat janin Keadaan gawat janin bisa mempengaruhi keadaan keadaan janin. Setelah amnion terinfeksi oleh bakteri dan disebut kolonisasi bakteri maka janin akan berpotensi untuk terinfeksi juga pada 25% klien cukup bulan yang terkena infeksi amnion. d. C. Keadaan cerviks yang baik pada kontraksi uterus yang baik. persalinan kurang bulan terkena indikasi ketuban pecah dini daripada 10% klien persalinan cukup bulan indikasi ketuban pecah dini akan menjadi tahap karioamnionitis (sepsis. 2) Panggul sepit 3) Kelainan presentasi.

diantaranya : a) Lebih mudah diperbaiki b) Kemungkinan ruptur disrtai keluarnya janin kerongga abdomen pada kehamilan berikutnya c) Tidak mengakibatkan perlekatan usus Insisi uterus harus dibuat cukup lebar agar kepala dan badan janin dapat lahir tanpa merobek atau harus memotong arteri dan vena uterina yang bejalan sepanjang batas lateral uterus. panjang insisi harus sesuai dengan taksiran ukuran janin 2) Insisi transversal atau lintang Kulit dan jaringan subkutan disayat dengan menggunakan insisi transversal rendah sedikit melengkung. kuning. air ketuban sudah kering 5. Insisi Abdomen 1) Insisi vertikal Insisi vertikal garis tengan intra umbilikus. MANIFESTASI KLINIK Adapun tanda-tanda KPD yaitu (Mansjoer. Insisi dibuat setinggi garis rambut pubis dan diperluar sedikit melebihi batas lateral otot rektus. E. Pada pemeriksaan dalam selaput ketuban tidak ada. jernih. 1999: 310) : 1. Arif. insisi ini harus cukup pajang agar janin dapat lahir tanpa kesulitan.D. Dapat disertai demam apabila disertai infeksi 3. atau apabila teardapat karsinoma invasik diservik b) Janin berukuran besar. Keluar air ketuban warna keruh. GAMBARAN KLINIS 1. segman bawah uterus tidak menipis e) Obesitas berat 2) Insisi caesarea transversal Insisi tranversal melalui segman bawah uterus merupakan tindakan untuk presentasi kepala. presentasi bokong. Indikasi untuk dilakukan insisi klasik untuk melahirkan janin : a) Apabila segman bawah uterus tidak bisa dipajankan atau dimasuki dengan aman karena kandung kemih melekat dengan erat akibat pembedahan sebelumnya. Janin mudah diraba 4. Tahapan dan Teknik Sectio Caesarea a. Oleh karena itu. b. terletak melintang. selaput ketuban sudah pecah dan bahu terjepit jalan lahir c) Plasenta previra dengan implantasi anterior d) Janian kecil. Sebagian besar insisi dibuat di segmen bawah uterus secara melintang. hijau atau kecoklatan sedikit atau sekaligus banyak 2. Pelahiran janin : . insisi melintang disegman bawah memiliki keunggulan yaitu hanya memerlukan sedikit pemisahan kandung kemih dari miometrium dibawahnya. Insisi Uterus 1) Insisi caesarea klasik Insisi caesarea klasik adalah suatu insisi vertikal ke dalam korpus uterus diatas segmen bawa uterus dan mencapai fundus uterus. Inspekula tampak air ketuban mengalir atau selaput ketuban sudah kering dan tidak ada.

a. Anestesia Sectio Caesarea Analgesia dan anestesia harus diberikan pada ibu yang akan melahirkan dengan cara tidak mengurangi aktifitas rahim. Bahu dilahirkan dengan tanpa ringan disertai penekanan pada fundus d. dan keempat (S 2 sampai S 4). 3) Anestesia Umum Di indikasikan bila dibutuhkan section caesarea yang mendesak pada perdarahan ibu. yang dapat mengubah kemajuan persalinan. b. h. Jenis anestesia untuk sectio caesarea 1) Anestesia Regional Memungkinkan ibu hamil dalam keadaan tetap sadar dan mengurangi kehilangan darah. nyeri kepala tidak akan terjadi pasca operasi karena dura tidak ditusuk. tujuan operasi adalah untuk membuka uterus secara ektra peritoneum. Macam-macam sectio caesarea yang lain 2. kesebelas. Section Caesarea Post Mortum Terkadang section caesarea dilakukan pada seorang wanita yang baru saja meninggal. a. resiko aspirasi paru-paru oleh isi lambung atau hipoksia yang kecil dan mengurangi efek obat pada neonatus. dilakukan sebelum thorak dilahirkan. Indikasi Dilakukan Section Caesarea yang Lain Diantaranya : a. Penjahitan uterus dan dinding abdoment. ibu atau pasien diberi oksitosin 20 unit/liter dengan kecepatan 10 lml/menit sampai uterus berkontraksi dengan baik. satu tangan diselipkan kedalam rongga uterus diantara simpisis dan kepala janin kepala diangkat secara hati-hati denga jari da telapak tangan melalui lubanginsisi melalui lubang insisi dibantu oleh penekanan sedang transabdomen pada fundus. bayi dipegang setinggi dinding abdoment. 3. g. Serat syaraf aferen viseral yang membawa impuls sensorik dari rahim memasuki medula spinalis pada segman torakal kesepuluh. . atau yang diperkirakan tidak lama lagi akan meninggal. adapun nyeri dari perineum melalui segman sakral kedua. f. b. Section Caesarea Ektra Peritoneum Diindikasikan bila terjadi kehamilandengan infeksi isi uterus. Tali pusat diklem. yang akan dapatmengakibatkan gawat darurat janin atau depresi neonatal. Bagian tubuh lainnya segera menyusul. setelahbahu dilarirkan. Plasenta dikelurkan dari uterus. 2) Anestesia Epidural Anesthesia ini lebih dapat dikendalikan oleh kateter epidural. Dengan melakukan insisi melalui ruang retziuz dan kemudian disepanjang salah satu sisi dan dibelakang kandung kemih untuk mencapai segman bawah uterus. c. Pada presentasi kepala. e. Hidung dan mulut diaspirasi dengan bola penghisap (bulb syringe) untuk mencegah teraspirasinya cairan amnion dan isis nya oleh janin. Jalur nyeri pada proses persalinan Nyeri adalah rasa tak enak akibat perangsangan ujung-ujung syaraf khusus. b. ketiga. dan keduabelas serta segman lumbal yang pertama (T 10 sampai L 1). maupun tidak mengurangi aliran darah rahim.

4. terutama cenderung terjadi cedera. yang dikarakteristikkan dengan lima tanda utama: bengkak (swelling). Fase Inflamasi Fase inflamasi adalah adanya respon vaskuler dan seluler yang terjadi akibat perlukaan yang terjadi pada jaringan lunak. Secara klinis fase inflamasi ini ditandai dengan : eritema. Antibiotik profilaksis selama 24 jam diberikan untuk mengurangi sepsis. Hematuria yang singkat dapat terjadi akibatterlalu antusias dalam menggunakan retraktor didaerah dinding kandung kemih. Prola tali pusat c. Proses Penyembuhan Luka Tubuh secara normal akan berespon terhadap cedera dengan dilkukan proses sectio cesrea “proses peradangan”. oedema dan rasa sakit yang berlangsung sampai hari ke-3 atau hari ke-4. c. kemerahan (redness). Sesudah terjadi luka. 1999). b. Perdarahan Perdarahan primer kemungkinan terjadi akibat kegagalan mencapai hemostasis ditempat insisi rahim atau akibat atonia uteri. Persalinan per vaginam tidak diindikasikan 5. Kompikasi sectio caesarea (Hecker. . yang dapat terjadi setelah pemanjangan masa persalinan. Cedera pada sekeliling stuktur Beberapa organ didalam abdomen seperti usus besar. Proses penyembuhannya mencakup beberapa fase: a. kandung kemih. 341) a. Nyeri (pain) dan kerusakan fungsi (impaired function). (Sarwono. Komplikasi Komplikasi sectio caesarea mencakup periode masa nifas yang normal dan komplikasi setiap prosedur pembedahan utama. Peran fibroblas sangat besar pada proses perbaikan yaitu bertanggung jawab pada persiapan menghasilkan produk struktur protein yang akan digunakan selama proses reonstruksi jaringan. nasib anak yang dilahirkan dengan sectio caesarea banyak tergantung dari keadaan yang menjadi alasan untuk melakukan sectio caesaria. kematian perinatal pasca sectio caesaria berkisar antara 4 dan 7 %. hangat pada kulit. Komplikasi dari Ketuban Pecah Dini diantaranya : a. sel-sel mati dan bakteri untuk mempersiapkan dimulainya proses penyembuhan. Menurut statistik di negara – negara dengan pengawasan antenatal dan intra natal yang baik. Komplikasi Pada anak Seperti halnya dengan ibunya. Pada jaringan lunak yang normal (tanpa perlukaan). pembuluh didalam ligamen yang lebar. Infeksi intra uteri b. dan ureter. pemaparan sel fibroblas sangat jarang dan biasanya bersembunyi di matriks jaringan penunjang. Fase Proliferatif Proses kegiatan seluler yang penting pada fase ini adalah memperbaiki dan menyembuhkan luka sectio caesare dan ditandai dengan proliferasi sel. panas (heat). 2001 . Kelainan presentasi janin d. Sepsis sesudah pembedahan Frekuensi dan komplikasi ini jauh lebih besar bila sectio caesarea dilakukan selama persalinan atau bila terdapat infeksi dalam rahim. b. Tujuan yang hendak dicapai adalah menghentikan perdarahan dan membersihkan area luka dari benda asing.

diserta penyakit sistemik (diabetes mellitus) F. bila terjadi nyeri 2. USG. diantaranya (Manjoer. dan dilakukan pemeriksaan pewarnaan gram dan biakan) 4. lokasi serta luasnya luka. Perdarahan dari vagina harus dipantau dengan cermat 2. Kekuatan dari jaringan parut akan mencapai puncaknya pada minggu ke-10 setelah perlukaan sectio caesarea. Penderita muda dan sehat akan mencapai proses yang cepat dibandingkan dengan kurang gizi. Fase Maturasi Fase ini dimulai pada minggu ke-3 setelah perlukaan dan berakhir sampai kurang lebih 12 bulan. Fungsi kolagen yang lebih spesifik adalah membentuk cikal bakal jaringan baru (connective tissue matrix) dan dengan dikeluarkannya substrat oleh fibroblas. Fase proliferasi akan berakhir jika epitel dermis dan lapisan kolagen telah terbentuk. trombosit. Tes lakmus merah mejadi biru 3. Hematokrit. Tujuan dari fase maturasi adalah menyempurnakan terbentuknya jaringan baru menjadi jaringan penyembuhan yang kuat dan bermutu. kemudian akan berkembang (proliferasi) serta mengeluarkan beberapa substansi (kolagen. Amnias sintetis (dengan cara amnion yang cukup diperoleh dari vagina untuk pemeriksaan pematangna paru-paru jain. Arif. indeks caira amnion berkurang 5. leukosit. Fibroblas sudah mulai meninggalkan jaringan granulasi. (haemoglobin. 1999 : 271) 1. memberikan pertanda bahwa makrofag. pembuluh darah baru dan juga fibroblas sebagai kesatuan unit dapat memasuki kawasan luka. hyaluronic acid. elastin. Meskipun proses penyembuhan luka sama bagi setiap penderita. Sejumlah sel dan pembuluh darah baru yang tertanam didalam jaringan baru tersebut disebut sebagai jaringan “granulasi”. c.fibroblas akan aktif bergerak dari jaringan sekitar luka ke dalam daerah luka. PEMERIKSAAN PENUNJANG Untuk mengetahui ketuban pecah dini dapat dilakukan pemeriksaan. namun outcome atau hasil yang dicapai sangat tergantung pada kondisi biologis masing-masing individu. Leukosit darah kurang dari 1500 permikro darah liter. terlihat proses kontraksi dan akan dipercepat oleh berbagai growth faktor yang dibentuk oleh makrofag dan platelet. Darah lengkap. dll) G. Luka dikatakan sembuh jika terjadi kontinuitas lapisan kulit dan kekuatan jaringan parut mampu atau tidak mengganggu untuk melakukan aktifitas normal. Fundus uteri harus sering dipalpasi untuk memastikan bahwa uterus tetap berkontraksi dengan kuat 3. fibronectin dan proteoglycans) yang berperan dalam membangun (rekontruksi) jaringan baru. TATALAKSANA MEDIS Penatalaksanaan medis dan perawatan setelah dilakukan sectio caesarea (Cuningham. warna kemerahan dari jaringa mulai berkurang karena pembuluh mulai regresi dan serat fibrin dari kolagen bertambah banyak untuk memperkuat jaringan parut. pemberian narkotik . F Garry. Analgesia meperidin 75-100 mg atau morfin 10-15 mg diberikan. 2005 : 614) 1.

Nyeri yang berhubungan dengan kondisi pasca operasi. c. wajah meringis terhadap nyeri. Resiko terhadap perubahan pola eliminasi perkemihan dan/atau konstipasi yang berhubungan dengan manipulasi dan/atau trauma sekunder terhadap sectio caesaria. Mencegah infeksi pasca operasi. Eriksa aliran darah uterus palingsedikit 30 ml/jam 5. malposisi janin. (Tucker. Kurang volume cairan berhubungna dengan perdarahan (Doenges. prolaps tali pust. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang informasi tentang perawatan melahirkan caesar. Pemberian cairan intra vaskuler. 2000) g. 2. Kurang pengetahuan perawatan diri dan bayi berhubungan dengan kurang informasi (Doenges. data yang dapat ditemukan meliputi distress janin. 1998). 2000) 3. 3) Berikan obat nyeri sesuai pesanan dan evaluasi efektivitasnya. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada klien dengan post operasi sectio caesaria diantaranya : a. satu hari setelahpembedahan klien dapat turun sebertar dari tempat tidur dengan bantuan orang lain 7. atau penisilin spekrum luas setelahjanin lahir H.biasanya disertai anti emetik. b. Fokus Intervensi a. ampisilin 29 dosis tunggal. insisi diperiksa setiap hari. sefalosporin. Resiko terhadap infeksi atau cedera yang berhubungan dengan prosedur pembedahan. abdomen. e. seperti perubahan posisi . DIAGNOSA KEPERAWATAN Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Pelaksanaan asuhan keperawatan masa nifas pada post operasi sectio caesaria melalui pendekatan proses keperawatan dengan melaksanakan : 1. Kriteria Hasil : Klien mengungkapkan bahwa klien nyaman Intervensi : 1) Antisipasi kebutuhan terhadap obat nyeri dan atau metode tambahan penghilang nyeri. 4) Berikan tindakan kenyamanan lain yang dapat membantu. dan identifikasi keluhan nyeri pada sisi insisi. d. Susan Martin. abrupsio plasenta dan plasenta previa. Tujuan : Nyeri diminimalkan / dikontrol dan pasien mengungkapkan bahwa ia nyaman. Perawatan luka. perilaku distraksi/penghilang. penurunan mobilitas. jahitan kulit (klip) diangkat pada hari keempat setelah pembedahan 8. 2000) f. Kurang pengetahuan perawatan diri dan bayi berhubungan dengan kurang informasi (Doenges. hematokrit diukur pagi hari setelah pembedahan untuk memastikan perdarahan pasca operasi atau mengisyaratkan hipovolemia 9. misalnya prometazin 25 mg 4. 3 liter cairan biasanya memadai untuk 24 jam pertama setelah pembedahan 6. Nyeri yang berhubungan dengan kondisi pasca operasi. 2) Perhatikan dokumentasikan. Ambulasi. Pemeriksaan laboratorium. Pengkajian Pada pengkajian klien dengan sectio caesaria. kegagalan untuk melanjutkan persalinan.

5) Jelaskan tentang perawatan payudara dan ekspresi manual bila menyusui. c. Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang informasi tentang perawatan melahirkan caesar.atau menyokong dengan bantal. tidak mulai latiha keras sampai diizinkan oleh dokter. Intervensi : 1) Diskusikan tentang perawatan insisi. klien mengerti tentang lochea. Tujuan : Klien mengungkapkan pemahaman tentang perawatan melahirkan sesar. gejala infeksi dan pentingnya diet nutrisi. 5) Massage fundus uteri bila menggembung dan tidak tetap keras d. 2000) Tujuan : memenuhi kebutuhan cairan sesuai kebutuhan tubuh Kriteria Hasil : intake dan out put seimbang Intervensi : 1) Observasi perdarahan dan kontraksi uterus 2) Monitor intake dan out put cairan 3) Monitor tanda-tanda vital 4) Observasi pengeluaran lochea. berubah dari merah ke coklat sampai putih. bau. Kriteria Hasil : Klien tidk ad permasalahn dengan pola eliminss Intervensi : 1) Anjurkan berkemih setiap 4 jam sampai 6 jam bila mungkin. Kurang volume cairan berhubungna dengan perdarahan (Doenges. 3) Jelaskan bahwa lochia dapat berlanjut selama 3 – 4 minggu. 4) Palpasi abdomen bawah bila pasien melaporkan distensi kandung kemih dan ketidakmampuan untuk berkemih. Tujuan : Berkemih secara spontan tanpa ketidaknyamanan Mengalami defeksi dalam 3 sampai 4 hari setelah pembedahan. e. Kriteria Hsil : Klien mengerti kebutuhan nutrisinya. Resiko terhadap perubahan pola eliminasi perkemihan dan/atau konstipasi yang berhubungan dengan manipulasi dan/atau trauma sekunder terhadap sectio caesaria. 2) Jelaskan tentang pentingnya periode istirahat terencana. tanpa tanda atau gejala infeksi. Tujuan : Insisi bedah dan kering. warna. b. dan kandung kemih dengan tanda vital sesuai pesanan. 3) Penggantian pembalut atau sesuai pesanan 4) Kaji fundus. Resiko terhadap infeksi atau cedera yang berhubungan dengan prosedur pembedahan. 2) Observasi insisi terhadap infeksi.37º C Intervensi : 1) Pantau terhadap peningkatan suhu atau takikardia sebagai tanda infeksi. lochia. tidak ada eksudat. 5) Anjurkan ibu untuk ambulasi sesuai toleransi. 2) Berikan tekhnik untuk mendorong berkemih sesuai kebutuhan. dan suhu normal 36º C . Involusi uterus berlanjut secara normal Kriteria Hasil : tidak ada tanda-tanda nfeksi. karakteristik dan jumlah 5) Kolaborasi pemberian cairan elektrolit sesuai program . dan klien dapat istiraht dengan cukup. 3) Jelaskan prosedur perawatan perineal per kebijakan rumah sakit. 4) Jelaskan pentingnya latihan.

Kurang pengetahuan perawatan diri dan bayi berhubungan dengan kurang informasi (Doenges. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik (Doenges. 2000) Tujuan : aktivitas kembali sesuai kemampuan klien Kriteria hasil : klien bisa beraktivitas seperti biasa Intervensi : 1) Bantu klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari seminimal mungkin 2) Berikan posisi yang nyaman 3) Bantu klien dalam ambulasi dini 4) Anjurkan menghemat energi. 2000) Tujuan : Pengetahuan klien meningkat Kriteria hasil : klien mampu mengungkapkan pemahaman tentag perawatan setelahoperasi sectio caesarea Intervensi : 1) Kaji tingkat pengetahuan klien 2) Berikan tentang perawatan diri 3) Perlunya perawatan payudara dan ekpresi manual bila menyusui 4) Jelaskan pentingnya ASI bagi bayi di 22:15 Diposkan oleh aroeL_ .f. hindarikegiatan yang melelahkan 5) Jelaskan pentingnya mobilisasi dini g.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful