P. 1
Artikel Semantik

Artikel Semantik

|Views: 447|Likes:
Published by Sance Lamusu

More info:

Published by: Sance Lamusu on Nov 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/22/2015

pdf

text

original

BAB I HAKEKAT SEMANTIK

PENDAHULUAN

Deskripsi Singkat Pada pembelajaran semantik pasti muncul pertanyaan apa hakekat semantik? Apa perbedaan antara istilah semntik dengan istilah makna? dan bagaimana hakekat semantik filsafat? Relevansi

Materi ini, ada hubungannya dengan pemaknaan tentang bunyi bahasa, kata dan kalimat serta wacana dalam bahasa Indonesia.

Kompetensi Dasar Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan:

1.

Hakekat semantk;

2. Perbedaan istilah semantik dan istilah makna ; dan 3. Bagaimana yang dimaksud dengan semantik dan filsafat?

URAIAN MATERI

Pengertian Semantik Kata semantik di dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Inggris „semantics‟ dari bahasa Yunani sema (nomina: tanda); atau dari verba samaino (menandai, berarti). Semantik ada pada ketiga tataran bahasa (fonologi, morfologi,

1

sintaksis, dan leksikon. Morfologi dan sintaksis termasuk ke dalam gramatika atau tata bahasa. Menurut Alfred Korzybski (filsuf Amerika), semantik terdiri atas dua yaitu semantik general dan semantik ukir (dalam Parera, 1990: 13). Pembahasan ruang lingkup semantik cukup luas, namun ada beberapa topik yang harus mendapatkan perhatian dan menjadi pokok bahasan dalam pembelajaran semantik. Berikut ini akan diuraikan topik-topik tentang semantik.

Makna, Arti, dan Erti

Semantik adalah ilmu tentang makna, tetapi kata makna tidak persis sama dengan kata arti dan erti dalam penggunaannya. Misalnya, dalam kalimat berikut: 1. Apa arti kata “canggih”? 2. Saya belum menangkap arti kedipan mata ibu tadi. 3. Kata-kata orang itu mempunyai arti tertentu bagi pendengarnya. 4. Itu berarti Anda harus datang pada hari pernikahannya. 5. Usahanya belum berarti apa-apa di masa sekarang ini. Kata erti hanya didervasikan dalam bentuk “mengerti” dan “pengertian‟. Kata arti dalam kalimat nomor (1), (2), (3), dan (5) di atas masih dapat disubstitusi dengan kata makna dan bentuk ”berarti” dalam kalimat (4) tidak dapat digantikan oleh bentuk “bermakna”. Pemahaman makna (bahasa Inggris: sense) dibedakan dari arti (bahasa Inggris: meaning) di dalam semantik. Kata makna adalah pertautan yang ada di antara unsur-unsur bahasa itu sendiri (terutama kata-kata). Menurut Palmer (1976:30) kata makna hanya menyangkut intra bahasa. Sejalan dengan kata

Lyons (1977: 204) menyebutkan bahwa mengkaji atau memberikan makna suatu kata ialah memahami kajian kata tersebut yang berkenaan dengan hubunganhubungan makna yang membuat kata tersebut berbeda dengan kata-kata yang lain. Kata arti dalam hal ini menyangkut makna leksikal yang cenderung terdapat di dalam kamus sebagai leksikon.

2

Makna sebagai penghubung bahasa dengan dunia luar sesuai dengan kesepakatan para pemakainya agar dapat saling mengerti. Kata makna mempunyai tiga tingkat keberadaan, yakni: Pertama : makna menjadi isi dari suatu bentuk kebahasaan. Kedua : makna menjadi isi dari suatu kebahasaan. Ketiga : makna menjadi isi komunikasi yang mampu membuahkan informasi tertentu. Pada tingkat pertama dan kedua makna dilihat dari segi hubungannya dengan penutur, dan pada tingkat ketiga makna lebih ditekankan pada makna dalam komunikasi. Sehubungan dengan tiga tingkat keberadaan makna itu, Samsuri (1985) mengungkapkan adanya garis hubungan antara: maknaungkapan-makana. Wallace dan Chafe (1973) mengungkapkan pula bahwa berpikir tentang bahasa, sekaligus melibatkan makna. Mempelajari makna pada hakikatnya berarti mempelajari bagaimana setiap pemakai bahasa dalam suatu masyarakat bahasa saling mengerti. Menyusun kalimat yang dapat dimengerti pemakai bahasa dituntut untuk menaati kaidah gramatikal, atau tunduk kepada kaidah pilihan kata menurut sistem leksikal yang berlaku di dalam suatu bahasa. Di dalam bahasa Indonesia selain kata arti, ada pula kata bentuk erti, di samping kata makna. Di dalam studi semantik bahasa Indonesia bentuk dasar erti pemakaiannya terbatas, dan secara pragmatik ditemukan kata MENGERTI (verba aktif), DIMENGERTI (sinonim dengan dipahami-verba pasif?), PENGERTIAN (nominal < mengerti + -an), dan ketiga bentukan mempunyai hubungan makna generik PAHAM. Makna sebuah kalimat tidak hanya bergantung pada sistem gramatikal dan leksikal saja, tetapi bergantung pula kepada kaidah wacana. Makna sebuah kalimat yang baik pilihan kata (diksi) dan susunan gramatikalnya, sering tidak dapat dipahami tanpa memperhatikan hubungannya dengan kalimat lain dalam sebuah wacana. Contoh pemahaman ekspresi “terima kasih” (bahasa Belanda: DANK) bermakna “tidak mau” (dalam situasi jamuan makan dan minum, bila kita ditawari sesuatu dalam jamuan tersebut). dalam bahasa serumpun sering pula situasi dan acuannya berbeda. Bagi masyarakat bahasa yang mengenal tingkat

3

sosial (hubungan penyapa/pembicara-pesapa/lawan bicara), bukan hanya ikatan wacana saja yang menentukan makna kalimat, tetapi faktor ekstralinguistik dapat menentukan makna kalimat. Faktor penyapa-pesapa menuntut pilihan kata yang tepat. Masalah tersebut masuk ke dalam bidang sosiolinguistik dilihat dari segi hubungan masyarakat bahasa yang diatur bahasanya berdasarkan tingkat sosial para pemakainya, dari segi pemakaian bahasanya termasuk ke dalam bidang pragmatik (dengan pemahaman pragmatik „language in use‟). Dalam hal diksi pilihan laksem berdasarkan makna yang tepat dari segi latar komunikasi. Semantik menjangkau wawasan yang luas, termasuk di luar j,ngkauan bahasa bila menyangkut dunia referensi dan inferensi sebagai makna yang dimaksud. Filosof dan linguis mencoba menjelaskan tiga hal yang berhubungan dengan makna, yakni: 1. Makna kata secara alamiah (inheren < inherent) 2. Mendeskripsikan makna kalimat secara alamiah termasuk makna kategorial. 3. Menjelaskan proses komunikasi. (lihat pula Kempson, 1977:1) Kempson (1977) dalam hal ini melihat kemungkinan untuk menjelaskan makna dari segi kata, kaliamat, dan apa yang diperlukan penyapa untuk berkomunikasi. Makna kata dari kamus adalah makna leksikal atau keterangan dari laksem tersebut. dalam kehidupan sehari-hari makana suatu kata tidak hanya makna leksikal yang dimilikinya, melainkan menjangkau yang lebih luas. Menurut Lyons (1977) dan Palmer (1974) mengatakan makna kata tidak lepas dari makna lain , merupakan makna gramatikal sesuai dengan hubungan antar unsur, misalnya makna idiom, peribahasa, majas, metafora, dan ungkapan. Kenyataan menunjukkan bahwa banyak kata dengan bermacam ragam makna bila dihubungkan dengan kata lainnya, mengakibatkan suatu kata A dihubungkan dengan kata B menghasilkan C. Misalnya: 1. Tolong saya belikan amplop 2. Beri saja dia amplop, urusannya akan beres. Kata amplop pada kaliamat (1) dan (2) sebagai kata A, dan unsur yang bergantung dapat ditafsirkan B, dan C sebagai keseluruhan ekspresi yang dihasilkan. Pada kaliamt (1) amplop bermakna “pembungkus surat” , dan pada

4

kalimat (2) bermakna “uang suap”. Pada hakikatnya makna muncul karena hubungan antarunsur. Misalnya, kata PEREMPUAN (per-empu-an < empu: gelar kehormatan (tuan): orang ahli, terutama membuat keris) yang secara leksikal memilki makna sama dengan WANITA (wanic- Sansekerta). Kata PEREMPUAN mempunyai makna yang berbeda bila dipertimbangkan dalam hubungannya dengan unsur lain secara gramatkal: (1) Perempuan itu ibu saya. (2) Ih, dasar perempuan. (3) Kalian ini perempuan jalanan. Makna emotif yang mucul sebagai ekspresi pada kalimat (1) adalah halus budi bahasanya, dan keibuan. Ekspresi yang muncul pada kalimat (2), dan (3) adalah makna sebaliknya: makna rakus, tamak, kupu-kupu malam dan lain-lain.

Semantik dan Filsafat

Filsafat sebagai studi tentang kearifan, pengetahuan, hakikat realitas maupun prinsip, memiliki hubungan sangat erat dengan semantik. Hal itu terjadi karena dunia fakta yang menjadi objek perenungan adalah dunia simbolik yang terwakili dalam bahasa. Sementara pada sisi lain, aktifitas berpikir itu sendiri tidak berlangsung tanpa adanya bahasa sebagai medianya. Pada situasi yang demikian bahasa pada dasarnya juga bukan hanya sekedar media proses berpikir maupun penyampai hasil pikiran. W.D Whitney (dalam Aminuddin, 1988:18), mengungkapkan bahwa „language is not only neceassry for the formulation of thought but is part of the thinking process itself. Lebih lanjut juga dikatakan... we cannot get outside language to reach thought, nor outside thought to reach language. Selain itu filsoof Bertrand Russel mengatakan bahwa ketepatan menyusun simbol kebahasaan secara logis merupakan dasar dalam memahami struktur realitas secara benar. Oleh sebab itu kompleksitas simbol juga harus memiliki kesesuaian dengan kompleksitas realitas itu sendiri agar antara keduanya dapat berhungan secara tepat dan benar (Alston dalam Aminuddin, 1988:19). Sehubungan dengan hal tersebut, bahasa memang masih memiliki sejumlah

5

kekurangan. Bahasa sehari-hari yang biasa digunakan misalnya, bila dikaitkan dengan filsafat mengandung kelemahan vagueness (makna samar-samar), inexplicitness (makna yang tak dimengerti), ambiuguity (makna lebih dari satu), context-depedence (makna tergantung konteks), end misleadingness (makna menyesatkan). Vagueness adalah sifat bahasa yang mengandung makna dalam sustu bentuk kebahasaan pada dasarnya hanya mewakili realitas yang diacunya. Misalnya, penjelasan secara verbal tentang aneka warna bunga mawar, tidak akan setepat dan sejelas dibandingkan dengan bersama-sama mengamati secara langsung aneka warna bunga mawar. Ambiuguity berkaitan dengan ketaksaan makna dari suatu bentuk kebahasaan. Misalnya, kata bunga dapat berkaitan dengan bunga mawar, bunga melati, bunga anggrek, atau gadis. Demikian pula menentukan makna tinggi, bisa, mampu, seorang harus mengetahui di mana konteks kata itu berada. Dalam dunia kepenyairan ketaksaan makna ini dmanfaatkan oleh para penyair untuk memperkaya gagasan yang disampaikannya. Pernyataan Gunawan Mohammad melalui puisinya. Akupun tahu: sepi kita semula Bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata Pohon-pohon pun berbagi dingin di luar jendela Mengekalkan yang esok mungkin tak ada. Pada sisi lain bukan hanya menggambarkan suasana sepi, dingin yang dibagi pohon-pohon atau esok yang mungkin tidak ada, melainkan juga mampu membawa pembaca kepada pemikiran filosofis tentang hakikat keberadaan manusia serta kehidupan itu sendiri. Berasarkan contoh ini dapat disimpulkan bahwa kesamaran dan ketaksaan makna suatu bahasa adalah akibat kelebihan bahasa itu sendiri yang memiliki multifungsi, selain simbolik bahasa itu pula memiliki fungsi emotif dan afektif. Selain itu adanya sinonimi, hiponimi, dan polisemi menjadi salah faktor penyebab kesamaran dan ketaksaan makna. Inexplicitness adalah terjadinya kekaburan dan ketaksaan makna, karena bahasa sering kali tidak mampu secara eksak, tepat dan menyeluruh mewujudkan gagasan yang direpresentasikannya. Pemakaian suatu bentuk sering kali

6

berpindah-pindah sesuai dengan kontek gramatik, sosial, serta konteks situasional, dalam pemakaian dan mengalami pula context-dependent. Adanya sejumlah

kekurangan bahasa tersebut, tidak mengherankan apabila paparan melalui bahasa sering mengandung misleadingness sehubungan keberadaan bahasa itu dalam komunikasi. Misalnya, pernyataan seperti „wah, Ali sudah parah‟ dapat saja dimaknai „sakitnya Ali sudah parah‟ , sementara yang dimaksud penutur „nilai Ali sangat jelek‟, „Ali sangat nakal dan sulit dinasihati‟ atau „hubungan Ali dengan Ani sudah demikian jauhnya‟, serta sejumlah maksud isi pesan lainnya. Dalam konteks ini pemilihan kata, pengolahan dan penataan unsur gramatikal atau konteks harus dilakukan secara tepat dan cermat. Keberadaan bahasa sebagai sesuatu yang khas milik manusia menjadi media, pengembang pikiran manusia bagi para filsuf Yunani juga digunakan untuk merumuskan ciri-ciri manusia. Istilah animal rationale, mislanya, dalam bahasa Yunani berpangkal dari logon ekhoon yang mengandung makna “dilengkapi dengan tutur kata dan akal budi” (Peursen, 1980: 4). Lebih lanjut Peursen menjelaskan bahwa istilah logos dalam bahasa Yunani mengandung makna “isyarat”, “perbuatan” , “inti sesuatu”, “cerita”, “kata tau susunan kata”. Dari sejumlah fitur semantik itu para filsuf Yunani merumuskan pengertian logos sebagai kegiatan menyatakan sesuatu yang didukung oleh sejumlah komponen yang setiap komponen tersebut antara yang satu dengan yang lain memiliki hubungan dengan menggunakan kata-kata. Berdasarkan kenyataan ini, baik semantik maupun bahasa pada umumnya memiliki hubungan dengan cabang-cabang filsafat, seperti antologi, epistimologi dan metafisika, semantik pada akhirnya memiliki hubunganpaling erat dengan logika. Sehubungan dengan cabang filsafat yang mengkaji masalah berpikir secara benar, peranan semantik tampak sekali dalam rangka menentukan pernyataan yang benar dan yang tidak benar, yang bertolak dari adanya premis serta kesimpulan yang diberikan. Selain itu, istilah seperti predikat dan preposisi adalah istilah yang lazim yang digunakan di dala logika. Bentuk negasi seperti tidak, konjungsi, digunakan di dalam logika. Bentuk seperti atau, implikasi seperti jika…maka, adalah bentuk-bentuk yang lazim digunakan dalam logika.

7

RANGKUMAN Semantik adalah ilmu tentang makna, tetapi kata makna tidak persis sama dengan kata arti dan erti dalam penggunaannya. Makna sebuah kalimat tidak hanya bergantung pada sistem gramatikal dan leksikal saja, tetapi bergantung pula kepada kaidah wacana. Makna sebuah kalimat yang baik pilihan kata (diksi) dan susunan gramatikalnya, sering tidak dapat dipahami tanpa memperhatikan hubungannya dengan kalimat lain dalam sebuah wacana. Sehubungan dengan cabang filsafat yang mengkaji masalah berpikir secara benar, peranan semantik tampak sekali dalam rangka menentukan pernyataan yang benar dan yang tidak benar, yang bertolak dari adanya premis serta kesimpulan yang diberikan.

LATIHAN:

1. Jelaskan yang dimaksud dengan kakekat semantk!; 2. Jelaskan perbedaan istilah semantik dan istilah makna! ; dan 3. Jelaskan bagaimana yang dimaksud dengan semantik dan filsafat?

8

BAB II

UNSUR-UNSUR SEMANTIK PENDAHULUAN

Deskripsi Singkat Pada bab ini akan dibahas tentang: tanda (sign) dan lambang (symbol), makna leksikal dan hubungan referensial, penamaan (naming), dan pola struktur leksikal.

Relevansi

Materi ini, ada hubungannya dengan penafsiran makna tentang bunyi bahasa, kata dan kalimat serta wacana dalam bahasa Indonesia.

Kompetensi Dasar

Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan: 1. Tanda (sign) dan lambang (symbol);

2. Makna leksikal dan hubungan referensial ; 3. Penamaan (naming); dan 4. Pola struktur leksikal.

URAIAN MATERI

A. Tanda (Sign) dan Lambang (Symbol) Teori tanda dikembangkan oleh Pierce, Saussure, Umberto Eco, dan Barthes, Ogden & Richards yang dikenal dengan istilah semiotik dibagi dalam tiga cabang ilmu yaitu: a) ilmu semantik; b) ilmu sintaktik; dan c) ilmu pragmatik.
9

Semntik berhubungan dengan tanda-tanda; sintaktik berhubungan dengan gabungan tanda-tanda (susunan tanda-tanda ); dan pragmatik berhubungan dengan asal-usul, pemakaian, dan akibat pemakaian tanda-tanda di dalam tingkah laku berbahasa. Penggolongan tanda dapat dilakukan dengan cara: (1) tanda yang ditimbulkan oleh alam, diketahui manusia karena ada pengalaman, misalnya: hari mendung tanda akan hujan, hujan terus-menerus dapat menimbulkan banjir, banjir dapat menimbulkan wabah penyakit dan kelaparan, dan seterusnya.; (2) tanda dapat ditimbulkan oleh bnatang yang diketahui oleh manusia dari suarasuara binatang tersebut, misalnya: anjing menggonggong tanda ada orang masuk halaman, kucing bertengkar (mengeong) dengan ramai suaranya tanda ada wabah penyakit atau keributan atau pertengkaran, dan lain-lain sebagainya; dan (3) tanda yang ditimbulkan oleh manusia yang dibedakan atas yang bersifat verbal yaitu tanda yang dihasilkan manusia melalui alat-alat bicara (organ of speech) dan yang bersifat nonverbal yang digunakan manusia untuk

berkomunikasi, sama halnya dengan tanda verbal. Tanda nonverbal yang dihasilkan oleh anggota badan (body gesture) yang disebut dengan bahasa isyarat, misalnya: acungan jempol yang bermakna hebat, atau bagus; mengangguk bermakna ya, menghormati, atau juga bisa bermakna sebaliknya dalam budaya tertentu; menggelengkan kepala bermakna tidak atau bukan; membelalakkan mata bermakna heran, marah; mengacungkan telunjuk bermakna tidak mengerti atau setuju; menunjuk bermakna itu, atau satu orang dan lain sebagainya. Tanda nonverbal yang dihasilkan oleh bunyi (suara) misalnya, bersiul bermakna gembira, memaanggil, ingin kenal; menjerit bermakna sakit, minta tolong, ada bahaya. Berdehem (batuk-batuk kecil) bermakna ada orang, ingin kenal, dan lain sebagainya. Lambang atau simbol memiliki hubungan tidak langsung dengan kenyataan. Tanda dalam bentuk huruf-huruf disebut lambang atau simbol; apa yang kita dengar dari seseorang yang berfungsi sebagai alat komunikasi disebut lambang atau simbol. Perbedaan tanda dan simbol terletak pada hubungannya dengan kenyataan, tanda menyatakan hubungan langsung dengan kenyataan, sementara simbol tidak. Bandingkanlah tanda dan lambang berikut ini.

10

Dilarang Masuk

Tanda

Lambang (Simbol)

Lambang menurut Plato adalah kata di dalam suatu bahasa, sementara makna adalah objek yang dihayati di dunia, berupa rujukan yang ditunjuk oleh lambang tersebut. Hubungan lambang dengan bahasa dapat dikatakan bahwa bahasa merupakan alat komunikasi yang terdiri atas tanda & lambang. Lambanglambang (simbol-simbol) ini memiliki expressions and contents atau signifier dan signified. Perhatikan bagan tanda (sign) yang dikemukakan oleh Ferdinand de Saussure (1916) (dalam Djajasudarma, 2009: 36). (Signifier) “yang menandai” (citra bunyi), misalnya pohon – [p o h o n] Sign (Signified) “yang ditandai” (pengertian atau kesan makna yang ada dalam pikiran)

Signifiant

Signifie

Perhatikan gambar berikut ini

Pohon

bungo

tangkal

11

Perlu diperhatikan bahwa: 1) Hubungan antara signufia dan signifie bersifat arbitrer atau sembarang saja, dengan kata lain tanda bahasa (signe lingustique atau signe) bersifat arbitrer. Pengertian pohon tidak ada hubungannya dengan urutan bunyi b-u-n-g-o dalam bahasa Gorontalo atau bunyi t-a-n-g-k-a-l di dalam

bahasa Sunda atau w-i-t di dalam bahasa Jawa. 2) Significant bersifat linear unsure-unsurnya membentuk satu rangkaian (unsure yang satu mengikuti unsure lainnya)

B. Makna Leksikal dan Hubungan Referensial Makna leksikal secara umum dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok yakni kelompok makna dasar dan makna perluasan atau makna denotative (kognitif, deskriptif ) atau makna konotatif atau emotif. Hubungan antara kata, makna kata dan dunia kenyataan disebut hubungan referensial. Hubungan yang terdapat antara: 1) kata sebagai suatu fonologis, yang membawa makna; 2) makna atau konsep yang dibentuk oleh kata; 3) dunia kenyataan yang ditunjuk atau diacu oleh kata merupakan hubungan referensial. Hubugan referensial adalah hubungan yang terdapat antara sebuah kata dan dunia luar bahasa yang diacu oleh pembicara, misalnya: Kamus mengacu kepada sejenis buku tertentu Tebal mengacu kepada suatu kualitas benda tertentu Pergi mengacu kepada suatu aktivitas tertentu

Hubungan antara kata (lambang), makna (konsep atau reference dan sesuatu yang diacu (referent) adalah hubungan tidak langsung. Hubungan tersebut digambarkan melalui apa yang disebut dengan semiotika (semiotic triangle). Perhatikan gambar sebagai berikut:

12

Meaning (concept)

thought of Reference

word

______________ Word „kata‟ Referent

______________ symbol stands for referent

Symbol atau lambang adalah unsur linguistik berupa kata atau kalimat. Referent adalah objek atau hal yang ditunjuk (peristiwa, fakta di dalam dunia pengalaman manusia); konsep (reference) adalah apa yang ada pada pikiran tentang objek yang diwujudkan melalui lambang (symbol). Berdasarkan teori ini, hubungan symbol dan referent (acuan) melalui konsep yang bersemayam di dalam otak, hubungan tersebut adalah hubungan tidak langsung. Jika ada yang mengatakan [r u m a h ], terbayang pada setiap otak manusia rumah dengan berbagai ukuran dan jenis atau tipe. Desakan untuk mengatakan bahwa bayangan itu adalah rumah sudah tersedia di dalam otak. Desakan jiwa untuk menyebut rumah bekerja sama dengan pusat syaraf di dalam otak, di dalam otak setiap otak manusia bersemayam konsep rumah dan membutuhkan realisasinya dan makna konsep rumah siap untuk diujarkan.

C. Penamaan (Naming) Studi bahasa pada dasarnya merupakan peristiwa budaya, melalui bahasa manusia menunjuk dunianya. Dunia ini penuh dengan nama-nama yang diberikan oleh manusia. Manusia tidak hanya memberi nama, tetapi memberi makna pula. Bahkan dirinya pun diberi nama dan juga bermakna. Nama merupakan kata-kata yang menjadi label setiap makhluk benda, aktivitas, dan peristiwa di dunia ini. Anak-anak mendapat kata-kata dengan cara belajar, dan menirukan bunyi-bunyi yang mereka dengar untuk pertama kalinya. Nama-nama ini muncul akibat dari kehidupan manusia yang kompleks dan beragam yang kadang-kadang manusia sulit memberikan label satu per satu, oleh

13

karena itu muncul nama-nama kelompok, misalnya binatang, burung, ikan, dan lain sebagainya serta jenis tumbuhan yang tak terhitung jumlahnya. Di dalam kehidupan sehari-hari ada kata yang mudah dihubungakan dengan bendanya, ada pula yang sulit dan tidak mengacu kepada benda nyata (konkret) tetapi lebih mengacu kepada pengertiannya. Misalnya, kata-kata

demokrasi, korupsi, partisipasi, deskripsi, argumentasi, dan lain sebagainya. Kata-kata ini dapat dipahami tetapi tidak dapat dihayati secara nyata. Sebaliknya, terdapat kata kursi, meja, gunung, papan, rumah, beras, dan lain sebagainya yang dapat dilihat wujudnya secara nyata. Nama tertentu yang bersifat khusus untuk setiap bidang ilmu disebut istilah. Setiap Negara memiliki nama sendiri untuk setiap benda. Tiap Negara berbeda dengan Negara lain. Tiap daerah memiliki nama-nama yang berbeda untk benda yang sama, atau kadang-kadang nama dan benda yang ada di suatu daerah tidak ditemukan di daerah lain. Ekspresi tertentu dapat di dalam bahasa tertentu, tetapi dalam bahasa Indonesia tidak ditemukan misalnya, bila seseorang bersin, orang yang mendengarnya selalu mengatakan: hurip waras! (bahasa Sunda); God bless you! (bahasa Inggris), Gezondheid (bahasa Belanda); Gesundheit! (bahasa Jerman) Nama berupa kata atau kata-kata merupakan label dan makhluk benda, aktivitas, dan peristiwa. Istilah adalah nama tertentu yang bersifat khusus atau suatu nama yang berisi kata atau gabungan kata yang cermat, mengungkapkan makna, konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas di bidang tertentu. suatu nama dapat berfungsi sebagai istilah; istilah-istilah akan menjadi jelas bila diberi definisi, keduanya berisi pembatasan tentang suatu fakta, peristiwa atau kejadian, dan proses. Sebagai gejala budaya, bahasa bersifat dinamis, bahasa tumbuh dan berkembang sejalan dengan meningkatnya kemajemukan persepsi manusia terhadap makrokosmos (dunia sekitarnya) dan mikrokosmos (dunia pribadinya). Apabila diperhatikan nama-nama benda atau peristiwa sekitarnya ada yang berubah, nama baru, kosa kata baru pun muncul dari zaman ke zaman. Unsure nama-nama (kosakata) adalah unsure bahasa yang paling labil. Misalnya, dengan pergeseran, pertahanan, dan perkembangan maknanya antara lain karena: a) akibat

14

peristiwa dunia (negosiasi, Malvinas, perang bintang, dsb.); b) akibat kemajuan teknologi (televisi, computer, satelit, dsb.). kenyataan ini akan menimbulkan pertanyaan; apakah kita harus bertahan? Atau bergeser dan berkembang dari khasanah lingkungan sendiri? Apakah kita setelah mendapat sesuatu yang baru akan melupakan yang lama?. Menurut Marah Rusli “memang kurang baik membuang yang lama karena mendapat yang baru”. Tetapi, ada di antara adat dan aturan lama itu yang sesungguhnya baik pada zaman dahulu, tetapi kurang baik atau tak berguna lagi di zaman sekarang ini. Adalah halnya seperti pakaian tatkala mula-mula dibeli boleh dan baik dipakai, tetapi semakin lama semakin tua dan semakin lapuk, yang akhirnya koyak-koyak dan tak dapat digunakan lagi. Demikian juga adat tersebut bertukar-tukar menurut zaman. Walaupun tiada disengaja menukarnya, ia akan berganti juga sebab tidak ada yang tetap. “Sekali air pasang sekali tepian beralih…” (Siti Nurbaya). Pendapat ini, menyatakan bahwa tidak hanya adat, kata-kata (nama-nama) pun bias berubah, sesuai dengan alam.

POLA STRUKTUR LEKSIKAL Makna kata –kata membentuk pola tautan semantik yang terdiri atas polisemi, sinonim, antonimi, homonim, dan idiom (Alwasilah, 1993: 164). a) Polisemi „polysemi‟ Polisemi menunjukkan bahwa suatu kata memiliki lebih dari satu makna. Misalnya, kata „dila‟ (bhs. Gorontalo) dapat berarti lidah dan tidak. Polisemi lebih tepat dikatakan satu leksem mempunyai banyak makna atau arti. Di samping itu terdapat bermacam-macam cara untuk klasifikasi hubungan antara makna yang bersifat polisemi, ada yang disebut perbedaan makna hubungan linear dari non-linear (Cruse dalam Djadjasudarma, 2009: 77). Hubungan Polisemi Linear Hubungan polisemi linear terjadi antara kata yang polisemi dan merupakan hubungan linear antara makna linear yang satu dengan yang lain secara khusus atau dibedakan antara makna spesifik dan generik, bila diketahui salah satu makna kata itu lebih mendasar dari yang lain. Bila A lebih mendasar

15

dari B, dan B lebih spesifik dari A, maka B merupakan makna khusus (spesifik) daripada A (mutatis mutandis untuk generalisasi). Berikut diuraikan hubungan linear polisemi dala autohiponimi, automeronimi, autosuperordinat, dan autoholonimi. Autohiponimi terjadi jika sebuah kata tidak memiliki makna generik, dan memiliki makna tekstual terbatas yang lebih spesifik dan menunjukkan subvarietas dari makna generik. Automeronimi terjadi dengan cara yang paralel dengan autohiponimi, kecuali yang lebih spesifik menunjukkan bagian daripada subtype, meskipun menentukan apakah akan membicarakan autonomi atau autohiponimi, artinya tidak mudah melihat mana yang lebih mendasar digunakan. Misalnya, kata „pintu‟ (door) yang mengacu pada perangkat pintu secara keseluruhan „tang pintu‟ (jamb); „kepingan kayu‟ yang melintang „di atas pintu‟ (lintel), „ambang pintu‟ (threshold), „engsel‟ (pintu) (hinge), dan „daun pintu‟ (the leaf panel). Autosuperordinat, misalnya penggunaan kata laki-laki yang mengacu pada ras manusia dan penggunaan maskulin yang menginklusifkan feinim seperti kata „pemuda‟ pada „sumpah pemuda‟ (inklusif pemudi). Hal ini tidk dapat diraukan yang mengacu pada pembatasan kontekstual. Fakta tersebut mungkin akan menguatkan argument feminis, bahwa dalam beberapa penggunaan akan dihilangkan, jika kata betina (gender atau “laki-laki” dapat berkembang kea rah jenis ketidakmampuan mengungkap gender. Di dalam bahasa Indonesia kata „jantan‟ untuk laki-laki dan ada ekspresi berhati jantan (pemberani) tidak berantonim dengan *berhati betina. Kata jantan dan betina yang mengacu gender hanya digunakan untuk binatang, misalanya ayam jantan dan ayam betina. Tidak ada ekspresi “ manusia betina itu melahirkan”, tetapi secara inklusif keduanya (jantan dan betina) dikatakan, seperti dalam ekspresi “kelakuan anak aitu seperti binatang (jantan dan atau betina)”. Kata „binatang‟ adalah superordinat dari ayam jantan dan ayam betina, termasuk jenis lainnya yang disebut unggas. Autoholonimi merupakan hal yang secara tentatif dapat dipertimbangkan bahwa dalam mengatakan „tangan‟ secara inklusif diperlukan di dalam hal pragmatig dalam semua konteks, seperti pada “Ia kehilangan tangannya pada kecelakaan itu” (tangan dibedakan dari lengan anggota badan dari siku sampai ke

16

ujung jari dari pergelangan sampai ke ujung jari; sedangkan lengan anggota badan dari pergelangan tangan sampai ke bahu. Hal ini sulit dibedakan dari automeronimi, karena sering muncul dalam konteks yang berbeda dan tidak menekankan bagian-bagian dan menyebabkan perbedaan makna. Misalnya kata „badan‟ atau „tubuh‟ seperti pada “Ia senang memamerkan badan” mungkin memamerkan seluruh tubuhnya [telanjang] atau hanya bagian-bagian vitalnya. Demikian juga dengan ekspresi “sudah makan nasi” (inklusif lauk-pauknya) b) Sinonim (synonimi) Kata-kata (leksim) yang berbeda mempunyai arti yang sama atau dengan kata lain beberapa leksim mengacu pada satu unit semantik yang sama. Relasi ini dinamai sinonim. Sinonim sendiri diajukan pada kata-kata yang bersamaan arti, seperti big dan large. Kamus yang lengkap biasanya memuat sinonim-sinonim tapi tidak berarti bahwa sinonim-sinonim itu bias dipakai bergantian dengan makna yang persis sama. Kata habitation misalnya bersinonim dengan dwelling, residence, domicile, home. Kita tidak akan pernah menemui kalimat seperti The young heiress took up habitation at the mansion. Dalam bahasa Indonesia terdapat kata mati, mampus, wafat, meninggal, berpulang ke rahmatullah. Dalam bahasa Inggris kata-kata di atas tersebut akan mendapat padanan yang berbeda. Perhatian contoh berikut ini. (1) My old man has kicked the bucket. (2) My father has died. (3) My dear father has passed away, (4) My beloved parent has joined the heavenly choir Kalimat-kalimat di atas, mengkomunikasikan gagasan-gagasan yang sama yaitu kematian. Gagasan sama ungkapan berbeda. Kalmat (1) bernada slang, (2) biasa, perasaan sipembicara tidak tampak, (3) sederhana, tapi agak emosional, dan (4) padat arti, muluk, dan puitis. Oleh sebab perbedaan nilai semantic, warna dan cita rasa makna ini dapatlah disimpulkan bahwa tidak ada sinonim mutlak, yang ada hanyalah sinonim sebagian. Pemilihan kata-kata ini tentunya. Pemilihan kata-kata ini tentunya dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti siapa penutur, siapa penanggap tutur, kapan, di mana mengapa tutur itu terjadi. Perbedaan nilai konotatif dari sinonim juga menimbulkan kesulitan dalam menerjemahkan.

17

Selain itu, sinonimi dalam bahasa Indonesia terdapat pronomina persona I. Saya bersinonim dengan aku, hamba, patik, beta, kami, gua (sinonim bergantung pada situasi). Kata-kata dengan nilai rasa yang berbeda. Bandingkan: pemberian bersinonim dengan sedekah, anugerah,karunia, persembahan, derma, amal, hadiah, suap dana bantuan, sokongan, iuran (maknanya mirip). Kondisi sesuatu, yang memliki kemiripan makna. Bandingkan: rumah, gubuk, gedong, istana. Hubungan. Bandingkan: anak dan putera; kaki tangan dan pembantu, buruh dan karyawan, penyair dan pujangga. c) Antonimi (Antonymy) Istilah antonimi berasal dari kata Yunani Kuno , onoma atau nama dan anti atau melawan. Secara harfiah adalah nama lain untuk benda yang lain, atau antonimi adalah oposisi makna dalam pasangan leksikal yang dapat dijenjangkan (Kridalaksana, dalam Djadjasudarma, 2009: 73). Hubungan makna yang terdapat di antara sinonimi, homonimi, hiponimi, dan polisemi adalah hubungan kesamaan-kesamaan.dan antonimi sebaliknya dipakai untuk menyebut makna berlawanan. Antonimi merupakan hubungan di antara kata-kata yang dianggap memiliki pertentangan makna. Antonimi adalah pasangan kata yang mempunyai arti berlawanan. Relasi kata juga disebut antonimi serta kata-kata yang berlawanan pula disebut antonimi. Di dalam bahasa Indonesia ada pasangan rendah-tinggi, kecil-besar, dan mahalmurah. Dalam hal ini harus cermat memilih perbedaan relasi semantik tiap

pasangan. Dalam pasangan besar-kecil, tinggi-pendek. Kata kedua kebalikan yang pertama --- besar itu tidak kecil. Sebaliknya dalam pasangan dating-pergi, tidak dating tidak berarti pergi – di sini titik perbedaan adalah dalam arah gerakan (mendekat / menjauh). Hal yang sama juga berlaku bagi pasangan membawamengmbil. Lebih jelasnya menurut Lyons (1978: 279-280) pertentangan makna atau relasi yang ada di dalam bahasa Indonesia sebagai berikut: (1) Kontras, segala jenis pertentangan makna, dan tidak membatasi jumlah kata dalam pasangan yang dipertentangkan (merupakan pengertian yang paling umum). (2) Oposisi, pertentangan yang terbatas pada dua unsur saja. (3) Antonimi, pertentangan yang dapat diukur dan dibandingkan.

18

(4) Kejangkapan (complimentary), pertentangan yang tidak dapat diukur atau dibandingkan. (5) Kebalikan (converseness), pertentangan yang terdapat dalam hubungan kata yang berlaku timbal-balik dengan: a) Antonym besar tinggi gemuk tenteram terang : kecil

: pendek : kurus (langsing) : gelisah : kabur (mata) gelap (lampu) redup (cuaca) muram (muka) teram-temaran (cahaya)

asli b) Kejangkapan pria laki-laki bujang teruna perjaka pemuda kawin jantan

: palsu

:

wanita

: perempuan : gadis : dara : perawan : pemudi : lajang : betina

c) Kebalikan masuk tinggal : keluar : pergi Meninggalkan datang : berangkat pergi bertanya : menjawab

19

meminta menaruh

: memberi : mengambil

mengizinkan : melarang menyerang guru dosen dokter : menangkis : murid : mahasiswa : pasien

d) Homonim (Homonymy) Kata-kata yang diucapkan persis sama tetapi artinya bebeda. Relasi ini disebut homonym, seperti pasangan some-sum dan knew-new. Homonimi dan polisemi tumbuh oleh faktor kesejarahan dan faktor perluasan makna. Kata bisa masih jelas sejarahnya. Kata bisa berasal dari bahasa Melayu dengan makna “racun” tetapi kata bisa yang bermakna “dapat” muncul karena orang Sunda atau Jawa (bisa-Sunda, dan biso-Jawa) yang berbahasa Indonesia menerjemahkan kata bisa tersebut menjadi “dapat”, dengan demikian kata bisa menjadi polisemi

(memiliki dua makna). Perhatikan contoh berikut tentang kata aman: (1) Mereka hidup aman di sebuah kota. (aman= tenteram, damai, tidak ada kerusuhan) (2) Oknum itu telah diamankan (diamankan = ditahan) Bila diperhatikan perkembangan kata tersebut, bermula dari yang (2) diamankan dari amukan, dendam, atau proses orang banyak. Kemudian baru berkembang dengan makna (1) tenteram, damai, tidak ada kerusuhan; tetapi beberapa tahun kemudian perkembangan makna tersebut akan sulit diingat oleh pemakai bahasa. Perkembangan makna terasa cukup lama bila diketahui perkembangan makna baru tersebut. Menurut Nida (dalam Djadjasudarma, 2009: 66) yang dikembangkannya dalam rangka identifikasi morfem homofon dapat membantu memisahkan homofon dari polisemi. Makna-makna yang saling berhubungan dari bentuk yang sama dapat dianggap satu morfem dengan makna banyak, bila perbedaan makna di antaranya sejajar dengan perbedaan distribusi”. Perhatikan ekspresi berikut ini:

20

(1) Jangan berdiri di jalan masuk! (2) Jalan dulu, saya menyusul. Kata jalan pada keduanya berbeda maknanya (dua makna dari satu bentuk). Makna pertama adalah “tempat berjalan” , dan yang kedua “kegiatan berjalan”; sejajar dengan distribusinya: yang pertama nama bendanya, dan yang kedua kegiatannya. Keduanya saling melengkapi dan saling mengecualikan. Hal tersebut berbeda dengan kata kursi yang bermakna “tempat duduk ” dengan kata kursi yang bermakna “kedudukan”, “jabatan”; perbedaan maknanya tidak

ssejajar dengan distribusi, sama-sama nama benda (antara keduanya bisa saling bertuka tempat). Bila kata tersebut terdapat dalam suatu kalimat yang bebas konteks, tidak dapat dijelaskan maknanya, apakah “tempat duduk” ataukah “kedudukan”, seperti pada kalimat di bawah ini. (1) Adik saya telah mendapat kursi. (2) Mereka sedang berebut kursi. (3) Kursi mana yang kau inginkan? (4) Masing-masing mendapat satu kursi. (5) Kursi tersebut diberikan kepada saudaranya. e) Idiom Grup kata yang mempunyai makna tersendiri yang berbeda dari makna tiap kata dalam grup kata itu disebut idiom. Dalam bahasa Indonesia mempunyai idiom panjang tangan, jantung hati, makan hati, dan sebagainya. Orang asing yang sudah mengerti kata jantung dan hati. Dalam bahasa Inggris mengenal idiomidiom by all means, it without saying, in the air dan to kick the bucket dan sebagainaya.

21

RANGKUMAN: Penggolongan tanda dapat dilakukan dengan cara: (1) tanda yang ditimbulkan oleh alam, diketahui manusia karena ada pengalaman; (2) tanda dapat ditimbulkan oleh bnatang yang diketahui oleh manusia dari suara-suara binatang; dan (3) tanda yang ditimbulkan oleh manusia yang dibedakan atas yang bersifat verbal yaitu tanda yang dihasilkan manusia melalui alat-alat bicara (organ of speech) dan yang bersifat nonverbal yang digunakan manusia untuk berkomunikasi, sama halnya dengan tanda verbal.

Lambang atau simbol memiliki hubungan tidak langsung dengan kenyataan. Tanda dalam bentuk huruf-huruf disebut lambang atau simbol; apa yang kita dengar dari seseorang yang berfungsi sebagai alat komunikasi disebut lambang atau simbol. Perbedaan tanda dan simbol terletak pada hubungannya dengan kenyataan, tanda menyatakan hubungan langsung dengan kenyataan, sementara simbol tidak. Lambang menurut Plato adalah kata di dalam suatu bahasa, sementara makna adalah objek yang dihayati di dunia, berupa rujukan yang ditunjuk oleh lambang tersebut. Hubungan lambang dengan bahasa dapat dikatakan bahwa bahasa merupakan alat komunikasi yang terdiri atas tanda & lambang. Lambang-lambang (simbol-simbol) ini memiliki expressions and contents atau signifier dan signified.

Makna leksikal secara umum dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok yakni kelompok makna dasar dan makna perluasan atau makna denotative (kognitif, deskriptif ) atau makna konotatif atau emotif. Hubungan antara kata, makna kata dan dunia kenyataan disebut hubungan referensial

22

Studi bahasa pada dasarnya merupakan peristiwa budaya, melalui bahasa manusia menunjuk dunianya. Dunia ini penuh dengan namanama yang diberikan oleh manusia. Manusia tidak hanya memberi nama, tetapi memberi makna pula. Bahkan dirinya pun diberi nama dan juga bermakna. Pola struktur leksikal terdiri atas makna kata –kata yang membentuk pola tautan semantik yang terdiri atas polisemi, sinonim, antonimi, homonim, dan idiom.

LATIHAN: 1. Jelaskan perbedaan tanda (sign) dan lambang (symbol)!; 2. Jelaskan makna leksikal dan hubungannya dengan referensial! ; 3. Jelaskan penamaan (naming) hubungannya dengan semantik; dan 4. Sebutkan dan jelaskan pola struktur leksikal!

23

BAB III

SEMANTIK KOGNITIF DAN GRAMATIKA KATA (WORD GRAMMAR)

PENDAHULUAN

Deskripsi Singkat Pada bab ini akan dibahas tentang: jenis-jenis makna yang terdiri atas makna sempit, makna luas, makna kognitif, makna konotatif/emotif, makna gramatikal, makna leksikal, makna konstruksi, makna referensial, makna majas (kiasan), makna inti, makna idesional, makna proposisi, makna piktorial.

Relevansi

Materi ini, ada hubungannya dengan penentuan makna tentang makna bunyi bahasa, kata dan kalimat serta wacana dalam bahasa Indonesia.

Kompetensi Dasar

Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan: 1. 2. Makna sempit; Makna luas;

3. Makna kognitif; 4. Makna konotatif/emotif; 5. Makna gramatikal; 6. Makna leksikal; 7. makna konstruksi; 8. Makna referensial ; 9. Makna majas (kiasan); 10. Makna inti;
24

11. Makna idesional; 12. Makna proposisi; dan 13. Makna piktorial.

URAIAN MATERI

Semantik leksikal merupakan makna leksikal kata atau leksem. Dekomposisi leksikal di dalam leksikon ke dalam bagian-bagian adalah masalah dalam semantik. Leksem merupakan kesatuan (monomorfemis) yang tidak dapat dianalisis secara menarik. Contoh menurut Hudson, (2001) kata “bunuh” atau dalam bahasa Inggris „kill‟ bermakna “cause to become not alive” atau “just kill”, di dalam bahasa Indonesia (BI) makna “bunuh” secara semantik kognitif leksikal “menyebabkan seseorang tidak hidup” atau “hanya membunuh”

(hasilnya bisa mati atau hidup). Di dalam Kamus Umum BI tahun 1996 (1668) korpus) dapat diperhatikan makna kognitif leksikal “membunuh”: (1) mematikan, menghilangkan nyawa (orang, binatang) dengan sengaja; (2) memadamkan . secara semantic kognitif konteks sebagai contoh sebagai berikut ini. (1) Sukar membunuh api yang besar itu (memadamkan). (2) Membunuh tulisan/membunuh kesan yang buruk (menghapus). (3) Membunuh hawa nafsu/ membunuh keinginan (melawan/menahan). (4) Membunuh semangat/membunuh kemauan (membuat jadi lemah). (5) Membunuh simpul (tali/benang/ikatan) = membuat simpul mati (supaya lebih kuat). (6) Membunuh bocor perahu/membunuh pancuran air (menyumbat/menutupi) Bila dipertimbangkan dari semantik konteks, makna peka konteks makna “membunuh” tidak lepas dari unsur yang bergabung, dan secara akurat makna konteks akan menjadi: memadamkan, menghapus, melawan/menahan, membuat jadi lemah, membuat supaya kuat (pertimbangkan pula strukturalime Saussurian dan fungsional modern kea rah linguistik kognitif yang mementingkan prinsip converging evidence (berpusat pada data).

25

Gramatika kata (GK) atau word grammar (WG) adalah pengetahuan tentang jaringan konsep yang saling membatasi satu sama lain dan mempertimbangkan hubungan makna acuan. Di dalam leksikon BI misalnya, kata “bunuh” dengan paradigm “membunuh” seperti contoh kalimat di atas secara semantic kognitif konteks maknanya bermacam-macam. Dalam GK tidak ada batas antara semantik leksikal dengan pengetahuan umum (dengan acuan secara umum). Oleh karena dalam makna leksikal (kata) juga baik makna (sense) maupun konteks secara kognitif dan semantik kognitif yang merupakan jarinagn makana kata tersebut dalam leksikon suatu bahasa. GK tidak membedakan gramatika dalam leksikon, perbedaan hanya dalam derajat fakta di dalam gramatika secara relative umum , dan semua leksikon secara relative menyatakan makna spesifik. Kata mempunyai karakter struktur internal, ada kata yang hanya memiliki satu akar leksikal seperti “bunuh” yang disebut “prototypical”, yang dapat membentuk paradigma, antara lain “pembunuh” (nomina) “yang membunuh”, membunuh (verba aktif); dibunuh (verba pasif netral); dan terbunuh (verba pasif tak disengaja). Ada pula yang dsebut “atypical” yakni kata-kata di dalam leksikon yang seolah-olah mempunyai lebih dari satu akar leksikal, seperti pada “matahari, panjang tangan, buta ayam, buta hukum. Akar yang jelas tersebut tidak mempunyai makna yang otonom secara semantik, tetapi menjadi akar fusi (makna peka konteks dari semantik kognitif konteks). Kata yang lain tidak mempunyai akar sama sekali disebut kata “functional” (seperti pada konjungsi dan preposisi).

JENIS MAKNA

Jenis makna yang dikemukakan dalam tulisan ini antara lain adalah makna sempit, makna luas, makna kognitif, makna konotatif/emotif, makna gramatikal, makna leksikal, makna konstruksi, makna referensial, makna majas (kiasan), makna inti, makna idesional, makna proposisi, makna piktorial. Berikut akan diuraikan jenis-jenis makna.

26

1. Makna Sempit

Makna sempit (narrowed meaning) adalah makna yang lebih sempit dari keseluruhan ujaran. Makna yang asalnya lebih luas dapat menyempit, karena dibatasi. Bloomfield (dalam Djadjasudarm, 2009: 8) mengemukakan adanya makna sempit (narrowed meaning; specialized meaning) dan makna luas (wdned meaning; extended meaning) di dalam perubahan makna ujaran. Perubahan makna suatu bentuk ujaran secara semantik berhubungan, tetapi ada juga yang menduga bahwa perubahan terjadi dan seolah-olah bentuk ujaran hanya menjadi objek yang relative permanen dan makna hanya menempel seperti satelit yang berubah-ubah. Sesuatu yang menjadi harapan mereka adalah menemukan alas an mengapa terjadi perubahan, melalui studi makna dengan segala perubahannya yang terjadi terusmenerus. Misalnya, perubahan kata dalam bahasa Inggris, meat semula bermakna food (makanan) berubah menjadi flesh food (daging). Hal ini mengakibatkan adanya klasifikasi perubahan semantic berdasarkan logika, yang berhubungan dengan makna berturut: narrowing, widening, metonymy, synecdoche, hyperbole, litotes, regeneration, dan elevation. Makna luas dapat menyempit, atau suatu kata yang asalnya emiliki makna luas (generik) dapat menjadi memiliki makna sempit (spesifik) karena dibatasi, antara lain di dalam bahasa Inggris lama mete bermakna food (makanan) menyempit menjadi meat bermakna edible flesh (daging yang dimakan); atau di dalam bahasa Inggris deor bermakna beast (binatang buas) berubah bentuknya menjadi deer dengan makna wild ruminant of a particular species (rusa); bahasa Inggris Kuno hund dengan makna dog (anjing), berubah menjadi hound dengan makna hunting dog of a particular breed (anjing untuk berburu atau serigala). Kata-kata bermakna luas di dalam bahasa Indonesia disebut juga makna umum (generik) digunakan untuk mengungkapkan gagasan atau ide yang umum. Gagasan atau ide yang umum bila dibubuhi rincian gagasan atau ide, maka maknanya akan menyempit (memiliki makna sempit). (1) pakaian dengan pakaian wanita

(2) saudara dengan saudara kandung saudara tiri

27

saudara sepupu (3) garis dengan garis bapak garis miring

2. Makna Luas

Makna luas (widened meaning atau extended meaning di dalam bahasa Inggris) adalah makna yang terkandung pada sebuah kata lebih luas dari yang diperkirakan. Kata-kata yang berkonsep memiliki makna luas dapat muncul dari makna yang sempit. Contoh: (1) Bahasa Inggris Pertengahan Bride maknanya young birdling meluas menjadi bird (burung). Dongge maknanya dogg of a particular (ancient) breed meluas menjadi dog (anjing) (2) Bahasa Latin: Vitus maknanya quality of man (vir) atau manliness, di dalam bahasa Prancis vertu, di dalam bahasa Inggris virtue maknanya meluas menjadi good quality (kualitas yang baik). (3) Bahasa Indonesia: pakaian dalam kursi roda menghidangkan memberi warisan mencicipi dengan dengan dengan dengan dengan dengan pakaian kursi menyiapkan menyumbang harta makan

Kata-kata yang memiliki makna luas digunakan untuk mengungkapkan gagasan atau ide yang umum, dan makna sempit adalah kata-kata yang bermakna khusus atau kata-kata bermakna sempit digunakan untuk menyatakan seluk-beluk atau rincian gagasan (ide) yang bersifat umum.

28

3. Makna Kognitif

Makna kognitif disebut juga makna deskriptif atau denotative adalah makna yang menunjukkan adanya hubungan antara konsep dengan dunia kenyataan. Makna kognitif adalah makna lugas, makna apa adanya. Makna kognitif tidak hanya dimiliki kata-kata yang menunjuk benda-benda nyata, tetapi mengacu pula pada bentuk-bentuk yang makna kognitifnya khusus, antara lain itu, ini, ke sana, ke sini; numeralia antara lain satu, dua, tiga, empat, lima, dan seterusnya; dan termasuk pula partikel yang memiliki makna relasional, antara lain dan (aditif), atau (alternative), tetapi (konstratstif), dan lain sebagainaya. Makna kognitif sering digunakan di dalam istilah teknik. Makna kognitif dengan sebutan bermacam-macam, antara lain deskriptif, denotative, dan kognitif konsepsional. Makna ini tidak pernah dihubungkan dengan hal-hal lain secara asosiatif , makna tanpa tafsiran hubungan dengan benda lain atau peristiwa lain. Makna kognitif adalah makna sebenarnya, bukan makna kiasan atau perumpamaan. Contoh: (1) Hei, mana matamu? (2) Orang itu mata duitan. (3) Laki-laki mata keranjang tidak disukai perempuan. (4) Nilai mata uang dolar naik terus-menerus. (5) Siapa yang ingin telur mata sapi?

4. Makna Konotatif dan Emotif

Makna konotatif yang dibedakan dari makna emotif karena yang disebut pertama bersifat negative dan yang disebut kemudian bersifat positif. Makna konotatif muncul sebagai akibat asosiasi perasaan terhadap apa yang diucapkan atau apa yang didengar. Makna konotatif adalah makna yang muncul dari makna kognitif (lewat makna kognitif), ke dalam makna kognitif tersebut ditambahkan komponen makna lain. Contoh: (1) Perempuan itu ibu saya. (2) Ah, dasar perempuan.

29

Makna kognitif tentu didapatkan pada contoh: (1) pada ekspresi (2) kata perempuan selain bermakna kognitif, dan yang ditambahkan memiliki makna konotatif, antara lain secara psikologis perempuan mengandung makna suka

bersolek, suka pamer, egoistis. Pada nomor (1) makna perempuan mengandung sifat keibuan, kasih sayang, lemah lembut, barhati manis. Makna konotatif atau emotif sangat luas dan tidak dapat diberikan secara tepat. Sebagaimana contoh yang dikemukakan di atas kata perempuan dapat pula dihubungkan dengan kedudukannya yang khusus dalam masyarakat. Unsur-unsur tersebut dapat menumbuhkan makna konotatif atau emotif. Makna kognitif diedakan dari makna konotatif dan emotif berdasarkan hubungannya, yakni hubungan antara kata dengan acuannya (referent) atau hubungan kata dengan denotasinya (hubungan antara kata, ungkapan dengan orang , tempat, sifat, proses, dan kegiatan luar bahasa atau denotata katal); dan hubungan antara kata atau ungkapan dengan cirri-ciri tertentu disebut konotasi kata atau ungkapan atau sifat emotif kata dan ungkapan. Makna konotatif dan makna emotif dapat dibedakan berdasarkan masyarakat yang menciptakannya atau menurut individu yang menciptakannya atau menghasilkannya, dan dapat dibedakan berdasarkan media yang digunakan (lisan atau tulisan), serta menurut bidang yang menjadi isinya. Makna konotatif berubah dari zaman ke zaman. Makna konotatif dan emotif dapat bersifat incidental. Banyak makna konotatif dan emotif yang tumbuh di dalam bahasa Indonesia, misalnya diamankan, diciduk, atau dirumahkan, di-PHK. Makna emotif (emotive meaning) adalah makna yang melibatkan perasaan (pembicara dan pendengar; penulis dan pembaca) ke arah yang positif. Makna ini berbeda dengan makna kognitif (denotative) yang menunjukkan adanya hubungan antara dunia konsep (reference) dengan kenyataan, makna emotif menunjuk sesuatu yang lain yang tidak sepenuhnya sama dengan yang terdapat dalam dunia kenyataan. Suatu kata dapat memiliki makna emotif dan bebas dari makna kognitif, atau dua kata dapat memiliki makna kognitif yang sama, tetapi kedua kata dapat memiliki makna emotif yang berbeda. Makna emotif dalam bahasa Indonesia cenderung berbeda dengan makna konotatif; makna emotif cenderung mengacu

30

pada hal-hal (makna) yang positif, makna konotatif cenderung mengacu kepada hal-hal (makna) yang negative. Beberapa makna kootatif atau emotif dapat muncul sebagai akibat perubahan tata nilai masyarakat bahasa. Perhatikan contoh berikut ini. (1) Sudahkah Anda petik bunga di kebun itu? (2) Ini adalah bunga di kampong itu. (3) Bicaranya berbunga-bunga sampai tidak tahu lagi apa maksudnya. (4) Mereka yang kelak akan menjadi bunga bangsa Negara kita. (5) Katakanlah dengan bahasa bunga!

5. Makna Gramatikal danMakna Leksikal

Makna leksikal atau leksikal meaning, semantic meaning, external meaning adalah makna unsur-unsur bahasa secara tersendiri, lepas dari konteks. Misalnya, kata budaya atau culture disebutkan sebagai nomina (kb) dan artinya: kesopanan, kebudayaan,(1); pemeliharaan biakan (biologi) (2). Di dalam Kamus Bahasa Indonesia I (p.38), budaya adalah nomina, dan maknanya: 1. Pikiran; akal budi; 2. Kebudayaan; 3. Yang mengenai kebudayaan; yang sudah berkembang (beradab, maju). Semua makna baik bentuk dasar maupun bentuk turunan yang ada dalam kamus disebut makna leksikal. Makna gramatikal atau grammatical meaning; functional meaning; stuructural meaning; internal meaning adalah makna yang menyangkut hubungan intra bahasa, atau makna yang muncul sebagai akibat berfungsinya sebuah kata di dalam kalimat. Di dalam semantik makna gramatikal dibedakan dari makna leksikal. Sejalan dengan pemahaman makna atau sense (pengertian); makna dibedakan dari arti. Makna merupakan pertautan yang ada antara satuan bahasa, dapat dihubungkan dengan makna gramatikal, dan arti adalah pengertian satuan kata sebagai unsur yang dihubungkan. Makna leksikal dapat berubah ke dalam makna gramatikal secara operasional. Sebagai contoh dapat dipahami makna leksikal kata belenggu adalah (1) alat pengikat kaki atau tangan; borgol; atau (2) sesuatu yang mengikat (tidak bebas). Perhatikan ekspresi berikut ini.

31

(1) Polisi memasang belenggu pada kaki dan tangan pencuri yang baru tertangkap itu. (2) Mereka terlepas dari belenggu penjajahan. Perubahan makna leksikal ke arah makna gramatikal dapat diperhatikan ekspresi berikut: (1) Hei, mana matamu! mata – alat; cara melihat. mencari; mengerjakan.

Mata (makna leksikal) adalah alat pada tubuh manusia, berfungsi untuk melihat, contoh: (2) Anak itu ingin telur mata sapi. Makna pada (1) mata sebagai makna gramatikal yang masih berhubungan erat dengan makna leksikal “berfungsi untuk melihat”, makna pada (2) mata benar-benar sebagai makna gramatikal, yakni “goring telur” (mungkin rupanya mirip mata sapi – mata milik sapi?). perhatikan contoh di bawah ini makna yang sejalan (berasosiasi) dengan makna leksikal mata. (1) Mata pisau (2) Mata uang (3) Mata keranjang (4) Mata duitan (5) Mata air.

6. Makna Konstruksi

Makna konstruksi atau construction meaning adalah makna yang terdapat di dalam konstruksi, misalnya makna milik yang diungkapkan dengan urutan kata di dalam bahasa Indonesia. Di samping itu, makna milik dapat diungkapkan melalui enklitik sebagai akhiran yang menunjukkan kepunyaan. Contoh: (1) Itu buku saya. (2) Saya baca buku saya. (3) Perempuan itu ibu saya. (4) Rumahnya jauh dari sini.

32

(5) Di mana rumahmu?

7. Makna Referensial

Makna referensial adalah makna yang berhubungan langsung dengan kenyataan atau referent (acuan), makna referensial disebut juga makna kognitif, karena memiliki acuan. Makna ini memiliki hubungan dengan konsep tentang sesuatu yang telah disepakati bersama oleh masyarakat bahasa seperti terlihat di dalam hubungan antara konsep (reference) dengan acuan (referent) pada segitiga di bawah ini.

(b) Konsep

------------------------------------(a) Kata (b) Acuan

Hubungan yang terjalin antara sebuah bentuk kata dengan barang, hal, atau kegiatan (peristiwa) di luar bahasa tidak bersifat langsung, ada media yang terletak di antaranya. Kata merupakan lambing (symbol) yang menghubungkan konsep dengan acuan. Contoh:

(1) Orang itu menampar orang 1 2

(2) Orang itu menampar dirinya.

Pada (1) orang 1 dibedakan maknanya dari orang2 karena orang1 sebagai pelaku (agentif) dan orang2 sebagai pengalam yang mengalami makna kategori yang berbeda, tetapi makna referensial mengacu kepada konsep yang sama (orang = manusia). Pada (2) orang memiliki makna referensial yang sama

33

dengan orang1 dan orang2 pada (1) dan pada (2) orang dengan makna kategori yang sama dengan orang1 (agentif). Bagaimana halnya bila orang ini sinonim dengan manusia, sinonim mana yang berlaku. Contoh: (1) Manusia itu menampar manusia. (2) Manusia itu menampar dirinya. Tentukanlah di mana terjadi ketaksaan makna, dan apa makna ganda yang terdapat pada ekspresi (1), serta apa makna ekspresi (2).

8. Makna Idesional

Makna idesional atau ideational meaning adalah makna yang muncul sebagai akibat penggunaan kata yang berkonsep. Kata yang dapat dicari konsepnya atau ide yang terkandung di dalam satuan kata-kata, baik bentuk dasar maupun turunan. Ide yang terkandung di dalam kata demokrasi, yakni istilah politik: (1) bentuk atau system pemerintahan, segenap rakyat turut serta memerintah dengan perantaraan wakil-wakilnya; pemerintahan rakyat; (2) gagasan atau pandangan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan ayang sama bagi semua warga negara.

9. Makna Proposisi

Makna proposisi atau propositional meaning adalah makna yang muncul apabila dibatasi pengertian tentang sesuatu. Kata-kata dengan makna proposisi ditemukan di bidang matematika, atau bidang eksakta. Makna proposisi mengandung pula saran, hal, rencana, yang dapat dipahami melalui konteks. Di bidang eksakta dikenal apa yang disebut sudut siku-siku makna

proposisinya adalah Sembilan puluh derajat. Makna proposisi dapat diterapkn pula ke dalam sesuatu yang pasti, tidak mungkin dapat diubah lagi, misalnya di dalam bahasa yang dikenai proposisi: (1) Satu tahun sama dengan dua belas bulan. (2) Matahari terbit di ufuk timur. (3) Satu hari sama dengan dua belas jam.

34

(4) Makhluk hidup akan mati. (5) Surga adalah tempat yang baik. Makna proposisi ini sejalan dengan apa yang disebut tautology di dalam bahasa Inggris yang merupakan aksioma bahasa.

10. Makna Pusat

Makna pusat atau central meaning adalah makna yang dimiliki setiap kata yang terjadi inti ujaran. Setiap ujaran (klausa, kalimat, wacana) memiliki makna yang menjadi pusat atau inti pembicaraan. Makna pusat disebut juga makna tak berciri. Makna pusat dapat hadir pada konteksnya atau tidak hadir pada konteks. Seorang yang berdialog dapat komunikatif tentang inti suatu

pembicaraan, dan pembicara dan kawan bicara akan memahami makna pusat suatu dialog karena penalaran yang kuat.

11. Makna Piktorial

Makna piktorial adalah makna suatu kata yang berhubungan dengan perasaan pendengar atau pembaca. Misalanya, pada situasi makan berbicara

tentang sesuatu yang menjijikkan dan menimbulkan perasaan jijik bagi sipendengar, dan kemudian ia menghentikan kegiatan (aktivitas) makan. Perasaan muncul segera setelah mendengar atau membaca suatu ekspresi yang menjijikan , atau perasaan benci. Perasaan dapat pula berupa perasaan gembira di samping perasaan yang disebutkan di atas, perhatikan contoh di bawah ini. (1) Kenapa kau sebut nama dia. (2) Kakus itu kotor sekali. (3) Ah, konyol dia. (4) Ia tinggal di gang yang becek itu. (5) Mobil itu hamper masuk jurang.

35

12. Makna Idiomatik

Makna idiomatik adalah makna leksikal terbentuk beberapa kata. Katakata yang disusun dengan kombinasi kata lain dapat pula menghasilkan makna yang berlainan. Sebagian idiom merupakan bentuk beku tidak berubah, artinya kombinasi kata-kata dalam idiom dalam bentuk tetap. Bentuk tersebut tidak dapat diubah berdasarkan kaidah sintaksis yang berlaku bagi suatu bahasa. Makna idiomatik didapatkan di dalam ungkapan dan peribahasa. Contoh: (1) Ia bekerja membanting tulang bertahun-tahun. (2) Aku tidak akan bertekuk lutut di hadapan dia. (3) Kasihan, sudah jatuh dihimpit tangga pula. (4) Seperti ayam mati kelaparan, di atas tumpukan padi. (5) Tidak baik menjadi orang cempala mulut (lancang).

RANGKUMAN: Makna sempit (narrowed meaning) adalah makna yang lebih sempit dari keseluruhan ujaran. Makna yang asalnya lebih luas dapat menyempit, karena dibatasi. Makna luas (widened meaning atau extended meaning di dalam bahasa Inggris) adalah makna yang terkandung pada sebuah kata lebih luas dari yang diperkirakan. Makna kognitif disebut juga makna deskriptif atau denotative adalah makna yang menunjukkan adanya hubungan antara konsep dengan dunia kenyataan. Makna kognitif adalah makna lugas, makna apa adanya. Makna konotatif yang dibedakan dari makna emotif karena yang disebut pertama bersifat negative dan yang disebut kemudian bersifat positif. Makna leksikal atau leksikal meaning, semantic meaning, external meaning adalah makna unsur-unsur bahasa secara tersendiri, lepas dari konteks.

36

Makna konstruksi atau construction meaning adalah makna yang terdapat di dalam konstruksi, misalnya makna milik yang diungkapkan dengan urutan kata di dalam bahasa Indonesia. Makna referensial adalah makna yang berhubungan langsung dengan kenyataan atau referent (acuan), makna referensial disebut juga makna kognitif, karena memiliki acuan. Makna idesional atau ideational meaning adalah makna yang muncul sebagai akibat penggunaan kata yang berkonsep. Makna proposisi atau propositional meaning adalah makna yang muncul apabila dibatasi pengertian tentang sesuatu. Makna pusat atau central meaning adalah makna yang dimiliki setiap kata yang terjadi inti ujaran. Makna piktorial adalah makna suatu kata yang berhubungan dengan perasaan pendengar atau pembaca. Makna idiomatik adalah makna leksikal terbentuk beberapa kata. Kata-kata yang disusun dengan kombinasi kata lain dapat pula menghasilkan makna yang berlainan.

LATIHAN: 1. Jelaskan makna sempit dan berikan contoh!; 2. Jelaskan makna luas dan berikan contoh! ;

3. Jelaskan makna kognitif dan berikan contoh!; 4. Jelaskan makna konotatif/emotif dan berikan contoh!; 5. Jelaskan makna gramatikal dan berikan contoh!; 6. Jelaskan makna leksikal dan berikan contoh!; 7. Jelaskan makna konstruksi dan berikan contoh!; 8. Jelaskan makna referensial dan berikan contoh! ; 9. Jelaskan makna majas (kiasan) dan berikan contoh!; 10. Jelaskan makna inti dan berikan contoh!; 11. Jelaskan makna idesional dan berikan contoh!;

37

12. Jelaskan makna proposisi dan berikan contoh!; dan 13. Jelaskan makna piktorial .

38

DAFTAR PUSTAKA

Alston, P. William.1974. Philosophy of Language. London. Prentice. Hall.

Alwasilah, A Chaedar. 1993. Linguistik Suatu Pengantar. Angkasa. Bandung Aminuddin. 1988. Semantik. Pengantar Studi Tentang Makna. Sinar Baru. Bandung

Djajasudarma, Fatimah. 2009. Semantik 1. Makna Leksikal dan Gramatikal. PT Refika Aditama. Bandung __________________. 2009. Semantic 2. Pemahaman Ilmu Makna. PT Refika Aditama. Bandung Fishman, Joshua A. 1972. Sociolinguistik. Newbury House Publishers. Massachusets Samsuri. 1981. Analisis Bahasa. Erlangga. Jakarta

39

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->