PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN DAN EFEKTIVITAS KOMUNIKASI TERHADAP KINERJA PEGAWAI BADAN PROMOSI DAN PERIZINAN PENANAMAN MODAL

DAERAH ( BP3MD ) PROVINSI SUMATERA SELATAN

THE INFLUENCE OF LEADERSHIP STYLE AND COMMUNICATION EFFECTIVITY TO THE EMPLOYEE PERFORMANCE OF BADAN PROMOSI DAN PERIZINAN PENANAMAN MODAL DAERAH ( BP3MD ) PROVINCE OF SOUTH SUMATERA

Artikel Publikasi Ilmiah OLEH Frecilia Nanda Melvani 51081001004 frecilia_melvani@yahoo.com Dosen Pembimbing : Dr. Hj. Zunaidah, S.E, M.Si Drs. H. Supardi A. Bakrie, M.P.A

UNIVERSITAS SRIWIJAYA FAKULTAS EKONOMI 2012

1

Pengaruh Gaya Kepemimpinan Dan Efektivitas Komunikasi Terhadap Kinerja Pegawai Badan Promosi Dan Perizinan Penanaman Modal Daerah (BP3MD) Provinsi Sumatera Selatan ABSTRAKSI Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh gaya kepemimpinan dan efektivitas komunikasi terhadap kinerja pegawai Badan Promosi dan Perizinan Penanaman Modal Daerah (BP3MD) Provinsi Sumatera Selatan. Jumlah anggota populasi adalah 60 orang. Oleh karena itu penelitian ini menggunakan metode sensus atau complete enumeration. Data yang diambil dalam penelitian ini yaitu, menggunakan jenis data kualitatif dan kuantitatif. Instrumen penelitian dalam penelitian ini adalah kuesioner yang dibagikan kepada responden untuk mencari data yang berhubungan dengan penelitian ini. Metode analisis data yang digunakan adalah sebagai berikut : Analisis Kuantitatif dan Analisis Kualitatif. Analisis Kuantitatif menggunakan metode analisis "Regresi Berganda" untuk mengukur pengaruh dari variabel bebas terhadap variabel terikat yaitu kinerja pegawai sebagai variabel dependent (Y) dan gaya kepemimpinan dan efektivitas komunikasi sebagai variabel independent (X). Hipotesis pertama penelitian ini yang menyatakan bahwa Gaya kepemimpinan berpengaruh signifikan dan positif secara parsial terhadap kinerja BP3MD Provinsi Sumatera Selatan dapat diterima. Berdasarkan hasil pengujian empiris variabel gaya kepemimpinan memiliki nilai koefisien sebesar 0.658 dengan nilai t hitung 2.206 serta nilai signifikansi 0.031. Hipotesis kedua penelitian ini yang menyatakan bahwa efektivitas komunikasi tidak berpengaruh signifikan dan positif secara parsial terhadap kinerja BP3MD tidak dapat diterima. Berdasarkan hasil pengujian empiris variabel efektivitas komunikasi memiliki nilai koefisien sebesar 0.048 dengan nilai t hitung 0.286 serta nilai signifikansi 0.776. Sedangkan variabel yang dominan mempengaruhi kinerja BP3MD adalah variabel gaya kepemimpinan dengan nilai signifikansi tertinggi dari nilai koefisien regresi lainnya. Kata Kunci: Gaya Kepemimpinan, Efektivitas Komunikasi, Kinerja Pegawai

2

206 and 0. this study uses census or complete enumeration method. Data taken in this study is. Research instrument in this study is a questionnaire which was distributed to the respondents to search the data related to this research. so sampling is not required. The number of members of the population is 60 people. Based on the results of empirical testing the communication effectivity variables have a coefficient value of 0048 to the value t count 0286 and 0776 the value of significance.658 with the value t count 2. or the study did not use samples. Data analysis methods used are as follows: Analysis of Quantitative and Qualitative Analysis. using qualitative and quantitative data types. the highest of the other regression coefficients.031 the value of significance. Keywords: Leadership Style.658). Employee Performance 3 . The second hypothesis of this study which states that the communication effectivity is significant and positive effect on the performance of partially BP3MD can not be accepted.031 and b = 0. While the dominant variables affecting the performance of BP3MD is the leadership style variables with a significance value (p = 0. Quantitative analysis using the method of analysis "Multiple Regression" to measure the effect of independent variables on the dependent variable the performance of an employee as a dependent variable (Y) and the leadership style and communication effectivity as the independent variable (X). Communication Effectivity.The Influence of Leadership Style and Communication Effectivity To The Employee Performance Of Badan Promosi dan Perizinan Penanaman Modal Daerah (BP3MD) Province Of South Sumatera ABSTRACT The purpose of this study was to determine how much the influence of leadership style and communication effectivity to the employee performance of Badan Promosi dan Perizinan Penanaman Modal Daerah (BP3MD) Province Of South Sumatera. Therefore. Based on the results of an empirical test of leadership style variable has a value of coefficient of 0. The first hypothesis of this study which states that the style of leadership and a positive significant effect on the performance of partially BP3MD Province of South Sumatra can be accepted.

efisien serta menimbulkan kepuasan kerja bagi kerja pegawai. Kinerja pegawai tidak hanya ditentukan dengan menggunakan sistem teknologi canggih. efektif. 4 . Menurut Werther (2002:5) yang menyatakan bahwa “kunci memenangkan persaingan global terletak pada kinerja organisasi termasuk didalamnya peran swasta”. Pertumbuhan dan perkembangan konsep-konsep manajemen dari masa kemasa selalu berupaya untuk dapat memaksimalkan keluaran dan mengoptimasikan hasil.I. Hal ini menunjukkan bahwa manajemen sumber daya manusia merupakan kunci pokok yang harus diperhatikan dengan segala kebutuhannya. Sumber daya manusia mempunyai peran utama dalam setiap kegiatan organisasi atau perusahaan. Bahkan pada saat ini perkembangan manajemen semakin canggih dan serba otomatis serta serba komputerisasi. sumber daya manusia menjadi perhatian utama yang memerlukan pengelolaan yang serius dan didukung dengan sistem manajemen yang baik Sumber daya manusia mempengaruhi kinerja dalam organisasi pemerintahan dimana peran sumber daya manusia yang berkualitas dalam rangka kinerja pegawai merupakan faktor yang sangat penting. Begitu juga kinerja pegawai dapat dilihat bagaimana kuantitas dan kualitas output. PENDAHULUAN Masalah sumber daya manusia saat ini masih tetap menjadi pusat Latar Belakang perhatian dan tumpuhan bagi suatu organisasi atau perusahaan untuk dapat bertahan di era globalisasi yang diiringi dengan tingkat persaingan yang semakin ketat. tetapi pendekatan pada perilaku dan sikap mental seorang pegawai adalah sangat menentukan dan sangat mendukung untuk mencapai suatu prestasi. Guna mengantisipasi hal tersebut.

akan membutuhkan pimpinan yang akan membawa organisasi mencapai tujuannya. dalam organisasi pemerintahan peran komunikasi sangat penting. Sebaliknya tanpa adanya komunikasi yang baik maka suatu organisasi akan kacau dan semrawut. gaya kepemimpinan dipandang sebagai salah satu prediktor penting. baik pemerintah maupun swasta. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa dengan komunikasi yang baik. sebab kepemimpinan adalah kemampuan seseorang (pemimpin atau leader) untuk mempengaruhi orang yang dipimpinnya atau pengikutnya sehingga orang tersebut bertingkah laku sebagaimana dikehendaki oleh pemimpin tersebut. Kesuksesan organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran tergantung pada manajer dan gaya kepemimpinannya.Badan Promosi dan Perizinan Penanaman Modal Daerah Provinsi Sumatera Selatan sebagai salah satu instansi pemerintah yang selanjutnya disingkat BP3MD bertugas membantu Gubernur dalam menyelenggarakan pemerintahan di bidang promosi dan perizinan penanaman modal daerah. Komunikasi sangat penting bagi semua organisasi sehingga para pimpinannya harus memahami dan mampu berkomunikasi dengan baik. Diantara indikator-indikator penentu kepuasan kerja dan prestasi kerja. dan sukses. dengan demikian kepemimpinan seorang pemimpin di dalam suatu organisasi harus terwujud. Gaya Kepemimpinan merupakan suatu model 5 . lancar. maka suatu organisasi dapat dikatakan berjalan dengan baik. Suatu organisasi apapun bentuknya. Pimpinan suatu organisasi sangat dibutuhkan. Menurut Ayu dan Agus S. Oleh karena itu manajemen yang efisien sangat tergantung pada komunikasi dan memfokuskannya melalui interaksi antara atasan dan bawahan. (2008) Kepemimpinan adalah suatu proses dimana seseorang dapat menjadi pemimpin (leader) melalui aktivitas yang terus menerus sehingga dapat mempengaruhi yang dipimpinnya dalam rangka untuk mencapai tujuan organisasi atau perusahaan. Begitu juga dengan komunikasi.

kebutuhan. Pengarahan dari pimpinan mengenai mekanisme kerja yang masih kurang efektif sehingga pegawai cenderung melaksanakan pekerjaan sesuai dengan persepsinya sendiri. Selain itu. Faktor kepemimpinan dari atasan dapat memberikan pengayoman dan bimbingan kepada pegawai dalam menghadapi tugas dan lingkungan kerja yang baru. Di bidang komunikasi. Pemimpin tidak memberlakukan punishment secara tegas dan efektif terhadap bawahan yang melakukan kesalahan dalam melaksanakan tugas. pemimpin kurang aktif dan proaktif dalam mencari solusi dari setiap permasalahan ataupun tantangan yang dihadapi. penulis menjumpai masalah sebagai berikut: 1. 6 . 2. pegawai tidak lepas dari komunikasi dengan sesama rekan kerja. Pemimpin tidak responsif. dengan atasan dan dengan bawahan. 3. Pemimpin lebih menekankan kepada pelaksanaan tugas daripada pembinaan dan pengembangan bawahan. maupun harapan dari bawahnnya. Komunikasi yang baik dapat menjadi sarana yang tepat dalam meningkatkan kinerja pegawai. Melalui komunikasi. pegawai dapat meminta petunjuk kepada atasan mengenai pelaksanaan kerja melalui komunikasi juga pegawai dapat saling bekerja sama satu sama lain. Artinya pemimpin tersebut kurang tanggap terhadap setiap persoalan.kepemimpinan dimana pemimpin memiliki kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok demi pencapaian tujuan. Pemimpin yang baik akan mampu menularkan optimisme dan pengetahuan yang dimilikinya agar pegawai yang menjadi bawahannya dapat melaksanakan pekerjaan dengan baik. Dalam melaksanakan pekerjaan. Dari survey awal di bidang gaya kepemimpinan pada lingkungan BP3MD dijumpai masalah sebagai berikut: 1.

Seberapa besar pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kinerja pegawai Badan Promosi dan Perizinan Penanaman Modal Daerah (BP3MD) Provinsi Sumatera Selatan. maka dirumuskan beberapa permasalahan yang ditemukan dalam penelitian ini sebagai berikut : 1. ada beberapa kegiatan yang dilaksanakan tidak mencapai target. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut. hal ini dikarenakan terlambatnya penetapan APBD dan terlambatnya pelaksanaan kegiatan pada BP3MD Provinsi Sumatera Selatan. Seberapa besar pengaruh efektivitas komunikasi terhadap kinerja pegawai Badan Promosi dan Perizinan Penanaman Modal Daerah (BP3MD) Provinsi Sumatera Selatan. 2. nampak betapa pentingnya gaya kepemimpinan dan efektivitas komunikasi dalam meningkatkan kinerja pegawai. 7 . Bagi pegawai dengan adanya gaya kepemimpinan dan efektivitas komunikasi yang baik akan mendorong mereka bekerja dengan baik. Selain itu. Hal ini membuat penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Gaya Kepemimpinan Dan Efektivitas Komunikasi Terhadap Kinerja Pegawai Badan Promosi Dan Perizinan Penanaman Modal Daerah (BP3MD) Provinsi Sumatera Selatan”. Pembagian tugas dan pelimpahan wewenang masih belum dapat dikomunikasikan dengan baik oleh pimpinan kepada bawahan. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas. Dampak dari komunikasi dan kinerja yang baik serta penuh dengan rasa kepuasan berarti pegawai tersebut dengan sendirinya akan melaksanakan semua peraturan-peraturan yang ada pada organisasi tersebut yaitu kesadaran disiplin.2. maka kinerja mereka cenderung akan baik juga.

Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh gaya kepemimpinan dan efektivitas komunikasi terhadap kinerja pegawai Badan Promosi dan Perizinan Penanaman Modal Daerah (BP3MD) Provinsi Sumatera Selatan. Manfaat Penelitian Adapun manfaat yang bisa diperoleh antara lain : 1. Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian yang ingin dicapai oleh peneliti adalah : 1. 3. 2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh efektivitas komunikasi terhadap kinerja pegawai Badan Promosi dan Perizinan Penanaman Modal Daerah (BP3MD) Provinsi Sumatera Selatan. hasil penelitian ini diharapkan akan dapat mengembangkan khasanah keilmuan di bidang manajemen sumber daya manusia terutama yang menyangkut Gaya Kepemimpinan dan Efektivitas Komunikasi terhadap Kinerja Pegawai. 8 . Secara teoritis. hasil penelitian diharapkan dapat memberikan masukan bagi pihak Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan khususnya Badan Promosi dan Perizinan Penanaman Modal (BP3MD) Provinsi Sumatera Selatan terutama yang menyangkut Gaya Kepemimpinan dan Efektivitas Komunikasi terhadap Kinerja Pegawai. 2.3. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kinerja pegawai Badan Promosi dan Perizinan Penanaman Modal Daerah (BP3MD) Provinsi Sumatera Selatan. Secara praktis. Seberapa besar pengaruh gaya kepemimpinan dan efektivitas komunikasi terhadap kinerja pegawai Badan Promosi dan Perizinan Penanaman Modal (BP3MD) Daerah Provinsi Sumatera Selatan.

Ada yang mengatakan bahwa pemimpin itu terjadi karena adanya kelompok-kelompok orang. Teori Sifat Dalam teori sifat (Trait Theory). Orientasi prilaku mencoba mengetengahkan pendekatan yang bersifat Social Learning pada kepemimpinan. bukan dibuat. Teori lain mengemukakan bahwa pemimpin timbul karena situasi yang memungkinkan ia ada.II. menurut Malayu Hasibuan (2007:203) analisis ilmiah tentang kepemimpinan dimulai dengan 9 . Teori yang paling mutakhir melihat kepemimpinan lewat perilaku organisasi. lebih dari kemampuan mereka (orang lain itu) mempengaruhi dirinya”. Teori ini menekankan bahwa terdapat faktor penentu yang timbal balik dalam kepemimpinan ini. Teori dan Pendekatan Kepemimpinan Pada dasarnya untuk mengetahui teori-teori kepemimpinan dapat dilihat dari berbagai literatur yang menyatakan pemimpin itu dilahirkan. Selanjutnya Thoha (1996:250-264) mengemukakan teori dan pendekatan kepemimpinan sebagai berikut : 1. Lebih lanjut “Kepemimpinan” menurut Rasyid (1997:75) adalah “sebuah konsep yang merangkum berbagai segi interaksi pengaruh antara pemimpin dengan pengikut dalam mengejar tujuan bersama”. Landasan Teori Secara sederhana “pemimpin” menurut Rasyid (1997:75) bisa Pengertian Kepemimpinan didefinisikan “sebagai seseorang yang terus menerus membuktikan bahwa seseorang tersebut mampu mempengaruhi sikap dan tingkah laku orang lain.

Namun demikian tingkat kecerdasan yang jauh lebih tinggi dari bawahannya juga tidak efektif. (Thoha. Seorang pemimpin menurut teori sifat ditandai dengan dipunyainya tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan bawahannya. Teori Kelompok “Dalam teori kelompok beranggapan bahwa. 4.memusatkan perhatiannya pada pemimpin itu sendiri. dan kedua memperkirakan gaya atau prilaku kepemimpinan yang paling efektif di dalam situasi tersebut. supaya kelompok bisa mencapai tujuan-tujuannya. idealnya seorang pemimpin sebaiknya memiliki kecerdasan yang tidak terlalu tinggi dari bawahannya. 2. 1996:252). Teori Situasional dan Model Kontijensi Kepemimpinan model Fiedler (Fiedler’s Centigency Model). Hal ini merupakan pengembangan yang sehat karena kepemimpinan di satu pihak sangat dekat. terutama dimensi pemberian perhatian kepada para pengikut. sebab para bawahan menjadi tidak dapat memahami apa yang diinginkan pemimpin atau tidak memahami gagasan dan kebijakan yang telah digariskan. berhubungan dengan motivasi kerja dan pihak lain berhubungan dengan kekuasaan”. dapat dikatakan pemberian perhatian kepada para pengikut dikatakan memberikan dukungan yang positif terhadap perspektif teori kelompok ini” (Thoha. maka harus terdapat suatu pertukaran yang positif di antara pemimpin dan pengikut-pengikutnya. Teori Jalan Kecil – Tujuan (Path – Goal Theory) “Dalam pendekatan teori path-goal mempergunakan kerangka teori motivasi. Oleh karena itu. menyatakan ada dua hal yang dijadikan sasaran yaitu mengadakan identifikasi faktor-faktor yang sangat penting di dalam situasi. 3.1996:252) 10 .

sebagaimana sudah dipaparkan sebelumnya kegiatan semacam itu telah melibatkan seseorang kedalam aktivitas kepemimpinan. Studi kepemimpinan Universitas Michigan yang dipelopori oleh Gibson dan Ivancevich (2004:413) mengidentifikasikan dua bentuk perilaku pemimpin yaitu : 1. seorang manajer akan mengarahkan dan mengawasi bawahannya agar sesuai dengan yang 11 . maka ia perlu memikirkan gaya kepemimpinan. gaya kepemimpinan banyak mempengaruhi keberhasilan seorang pemimpin dalam mempengaruhi prilaku pengikut-pengikutnya. interaksi timbal balik antar pemimpin. Pendekatan Social Learning ini antara pemimpin dan bawahan mempunyai kesempatan untuk bisa memusyawarahkan semua perkara yang timbul. Keduanya. Gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tugas (The Job Centered). Istilah gaya secara kasar adalah sama dengan cara yang dipergunakan pemimpin di dalam mepengaruhi para pengikutnya. Pendekatan Social Learning dalam Kepemimpinan Pendekatan Social Learning merupakan suatu teori yang dapat memberikan suatu model yang menjamin kelangsungan. pimpinan dan bawahan mempunyai hubungan interaksi yang hidup dan mempunyai kesadaran untuk menemukan bagaiman caranya menyempurnakan prilaku masing-masing dengan memberikan penghargaan-penghargaan yang diinginkan. Dalam gaya kepemimpinan ini. Jika kepemimpinan tersebut terjadi dalam suatu organisasi tertentu. lingkungan dan perilakunya sendiri. Gaya Kepemimpinan Menurut Thoha (1996:265).5. dan ia merasa perlu mengembangkan staf dan membangun iklim motivasi yang mampu meningkatkan produktivitasnya. Pada saat bagaimanapun jika seorang berusaha untuk mempengaruhi prilaku orang lain.

diharapkan manajer. Pada kepemimpinandemokrasi. Setiap ada permasalahan selalu mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim yang utuh. Manajer yang mempunyai gaya kepemimpinan ini lebih mengutamakan keberhasilan dari pekerjaan yang hendak dicapai daripada perkembangan kemampuan bawahannya. Anggota cukup melaksanakan apa yang diputuskan pemimpin.Kepemimpinan otokrasi cocok untuk anggota yang memiliki kompetensi rendah tapi komitmennya tinggi. Gaya Kepemimpinan Demokratis Gaya kepemimpinan demokratis adalah gaya pemimpin yang memberikan wewenang secara luas kepada para bawahan. Manajer yang mempunyai gaya kepemimpinan ini berusaha mendorong dan memotivasi pekerjaannya untuk bekerja dengan baik. Jenis – jenis Gaya Kepemimpinan 1. baik itu sasaran utama maupun sasaran minornya. Pada gaya kepemimpinan otokrasi ini. pemimpin mengendalikan semua aspek kegiatan. anggota memiliki peranan yang lebih 12 . Gaya Kepemimpinan Otoriter Adalah gaya pemimpin yang memusatkan segala keputusan dan kebijakan yang diambil dari dirinya sendiri secara penuh. Dalam gaya kepemimpinan demokratis pemimpin memberikan banyak informasi tentang tugas serta tanggung jawab para bawahannya. Pemimpin memberitahukan sasaran apa saja yang ingin dicapai dan cara untuk mencapai sasaran tersebut. Dengan kata lain. 2. Gaya kepemimpinan yang berorientasi pada bawahan (The Employee Centered). 2. Pemimpin juga berperan sebagai pengawas terhadap semua aktivitas anggotanya dan pemberi jalan keluar bila anggota mengalami masalah. Mereka mengikutsertakan pekerjaannya dalam mengambil suatu keputusan. anggota tidak perlu pusing memikirkan apappun.

Gaya kepemimpinan demokratis kendali bebas merupakan model kepemimpinan yang paling dinamis. Namun dewasa ini. tentang cara untuk mencapai sasaran tersebut. dimulai dari yang paling klasik yaitu teori sifat sampai kepada teori situasional. Dengan demikian. Gaya Kepemimpinan Laissez Faire ( Kendali Bebas ) Pemimpin jenis ini hanya terlibat delam kuantitas yang kecil di mana para bawahannya yang secara aktif menentukan tujuan dan penyelesaian masalah yang dihadapi. cara untuk mencapai sasaran. tetapi juga ekspresi wajah. Perpindahan pengertian tersebut melibatkan lebih dari sekedar kata-kata yang digunakan dalam percakapan. anggota juga diberi keleluasaan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya.Kepemimpinan demokrasi cocok untuk anggota yang memiliki kompetensi tinggi dengan komitmen yang bervariasi 3.besar. Sementara itu. Selain itu. Tiap divisi atau seksi diberi kepercayaan penuh untuk menentukan sasaran minor. 13 . Pada kepemimpinan ini seorang pemimpin hanya menunjukkan sasaran yang ingin dicapai saja. dan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya sendiri-sendiri. pemimpin hanya berperan sebagai pemantau saja. banyak para ahli yang menawarkan gaya kepemimpinan yang dapat meningkatkan produktivitas kerja karyawan. Pengertian Komunikasi Menurut Handoko (1984 : 272) komunikasi adalah proses pemindahan pengertian dalam bentuk gagasan atau informasi dari seseorang ke orang lain. kepemimpinan kendali bebas cocok untuk angggota yang memiliki kompetensi dan komitmen tinggi. anggota yang menentukan. Pada gaya kepemimpinan ini seorang pemimpin hanya menunjukkan sasaran utama yang ingin dicapai saja.

Tetapi proses komunikasi tidak hanya menyampaikan informasi atau hanya agar orang lain juga bersedia menerima dan melakukan perbuatan atau kegiatan yang dikehendaki sehingga akan terjalin suasana yang harmonis kepada para bawahan mengetahui secara pasti keinginan atasan. titik putus vokal dan sebagainya. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan Robbin (2002 : 148) yang 14 .intonasi. tetapi bahwa tergantung menulis. sebagai berikut: komunikasi memelihara motivasi dengan memberi penjelasan kepada bawahan apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan kinerja. komunikasi berbicara. dan lain-lain) untuk membuat sukses pertukaran informasi. organisasi/perusahaan maka aka nada proses penyampaian informasi baik dari atasan kepada bawahan. berupa perintah atau penjelasan umum dari atasan kepada bawahannya. yang seseorang pada mendengar. Jadi komunikasi vertikal terdiri dari dua arus yaitu arus ke bawah dan arus ke atas. dikemukakan oleh Robbin (2004 : 146). Selanjutnya karena penelitian ini hanya membahas masalah hubungan antara atasan dan bawahan. dan apa yang harus dikerjakan kaitannya dengan usaha yang kerjasama telah untuk mencapai Seperti yang tujuan telah organisasi/perusahaan ditetapkan. Komunikasi ke Bawah Komunikasi ke bawah yaitu suatu penyampaian informasi baik lisan maupun tulisan. Dan perpindahan yang efektif memerlukan mengirimkan tidak berita hanya dan transmisi tertentu proses data. maka hanya dibatasi pada komunikasi administrasi. secara langsung maupun tak langsung. baik dalam menerimanya sangat keterampilan-keterampilan Dengan adanya (membaca. Tentang masalah ini Effendy (1990 : 32) berpendapat: “Komunikasi vertical dari atas ke bawah (down word communication) dan komunikasi dari pimpinan kepada bawahannya dan dari bawahan kepada atasannya secara timbal balik”. 1.

Menurut Effendy (2001 : 148) pelaksanaan komunikasi ke bawah. tetapi kondisi karyawan tidak nyaman. Komunikasi ke Atas Komunikasi ke atas yaitu suatu penyampaian informasi yang mengalir atau berasal dari staf/bawahan kepada pimpinan/atasan. Komunikasi horizontal sering diperlukan untuk menghemat waktu dan memudahkan koordinasi.Pemberian pujian 2. Hal inilah yang perlu diatasi seorang pemimpin melalui komunikasi dari bawah ke atas. 3. Komunikasi Lateral/Horizon Komunikasi lateral terjadi di antara kelompok kerja yang sama secara horizontal. Komunikasi ini sangat penting bagi pimpinan/atasan untuk mengetahui bagaimana keadaan perusahaan dari sudut pandang bawahan.Mengadakan rapat .Memasang pengumuman .menjelaskan sebagai berikut: Komunikasi yang berlangsung dari tingkat tertentu dalam satu kelompok atau organisasi ke tingkat yang lebih rendah. Weisbord (2003:100) membuat beberapa pernyataan sebagai pedoman untuk melihat komunikasi/tata hubungan yang mencakup : Penilaian terhadap kualitas komunikasi dan konflik. informasi ini dapat berupa: . dan Penilaian terhadap kualitas kerja sama dan saling ketergantungan yang diimplementasikan ke dalam : 15 . Suatu hal yang bukan mustahil walaupun kinerja organisasi/perusahaan baik.Menerbitkan majalah intern . Penilaian terhadap komunikasi antar individu dan unit organisasi.

Komunikasi yang terjadi antar individu dapat terjadi dalam bentuk komunikasi formal maupun informal yang dapat memudahkan individu dalam pelaksanaan pekerjaan dan tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Seberapa jauh pegawai dapat bekerja sama. Komunikasi antar individu dalam organisasi. Dalam melaksanakan sebuah pekerjaan. kerja yang kondusif untuk pencapaian target 2. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Hasibuan (2001:94) 16 . Manajemen SDM dan pengelolaan konflik akan memudahkan efektivitas kerja karyawan. Sedangkan menurut Rao (1992:1) mengemukakan bahwa yang dimaksud kinerja adalah hasil sebuah mekanisme untuk memastikan bahwa orang-orang pada tiap tingkatan mengerjakan tugas-tugas menurut cara yang diinginkan oleh atasannya. Seberapa jauh saling ketergantungan. Ketergantungan. sedangkan yang dimaksud dengan kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggungjawab yang diberikan kepadanya. Pengertian Kinerja Secara sederhana disebutkan bahwa istilah kinerja berasal dari kata job perfomance atau actual performance (prestasi kerja atau prestasi sungguhnya yang dicapai oleh seseorang). kualitas komunikasi dan banyak sedikitnya konflik yang timbul.1. seorang pegawai akan berusaha untuk melaksanakan pekerjaannya tersebut dengan sungguhsungguh agar dapat memberikan hasil yang baik sesuai dengan kemampuan. kualitas komunikasi dan arus konflik yang ada dalam organisasi. kesungguhan serta waktu pengerjaan tugas yang dibebankan kepadanya. pengalaman. kualitas komunikasi dan arus konflik yang dapat ditekan akan memberikan lingkungan perusahaan. 3.

maka dapat disimpulkan bahwa kinerja pegawai adalah hasil kerja yang dicapai karyawan dalam melakukan tugas maupu peranannya dalam suatu organisasi. Berdasarkan beberapa pendapat ahli mengenai pengertian kinerja pegawai. perbedaan ini disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor kemampuan (ability). maka akan mudah mencapai kinerja yang diharapkan. Sedang sikap mental 17 . Faktor motivasi.yang menyatakan bahwa kinerja merupakan suatu hasil kerja yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan waktu. antara karyawan yang satu dengan karyawan yang lainnya mempunyai kinerja yang berbeda. Faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai Dalam suatu organisasi. yang terarah untuk mencapai tujuan organisasi (tujuan kerja). Selanjutnya Lester (1994:219) menjelaskan bahwa kinerja pegawai adalah hasil yang dicapai oleh seseorang dalam melakukan tugasnya dan perannya dalam organisasi. dijelaskan bahwa kinerja yang dihasilkan antara karyawan tersebut berbeda karena adanya faktor-faktor individu yang berbeda seperti faktor kemampuan dan faktor motivasi yang ada pada diri karyawan. Artinya. Motivasi merupakan kondisi yang menggerakan diri karyawan. Menurut Devis (1964 : 484). tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan. jika karyawan yang memiliki IQ di atas rata-rata (IQ 110-120) dengan pendidikan yang memadai untuk jabatannya dan terampil dalam mengerjakan pekerjaan sehari-hari. dan kemampuan reality (knowledge + skill). motivasi ini terbentuk dari sikap (attitude) seorang pegawai dalam menghadapi situasi (situation) kerja. 2. Faktor kemampuan. pengalaman. dan faktor motivasi (motivation). diterangkan bahwa kemampuan (ability) pegawai/karyawan terdiri dari kemampuan potensi (IQ). kesungguhan serta 1.

menurut Dwidjowijoto (2004 : 26) komunikasi adalah perekat dalam organisasi. 2. 3. ada tiga kualifikasi penting bagi pengembangan kriteria kinerja yang dapat diukur secara obyektif yaitu: 1. Dua syarat yang harus dipenuhi agar pengukuran kinerja berjalan efektif yaitu. 18 . Disamping itu kinerja individu juga berhubungan dengan kemampuan yang harus dimiliki oleh individu agar ia berperan dalam lingkungan organisasi. dapat menuntut pihak yang menilai sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Dari perbedaan yang disampaikan diatas dapat disimpulkan bahwa kinerja seseorang dipengaruhi oleh kondisi fisiknya. Apabila seorang pegawai merasa dirugikan dalam penilaian kerja. Relevancy. Seseorang yang memiliki kondisi yang baik. Pengukuran Kinerja Adanya beberapa pendapat yang membahas tentang pengukuran kinerja akan dijadikan dasar untuk menentukan indikator dari variabel kinerja yang telah dipaparkan di atas.merupakan kondisi mental yang mendorong diri pegawai untuk berusaha mencapai kinerja secara maksimal. adanya kriteria kinerja yang dapat diukur secara objektif dan adanya objektivitas dalam pengukuran. Faktor komunikasi. menjadi penghubung mempererat rantai-rantai manajemen untuk pergerakkan organisasi dalam mencapai tujuannya serta meningkatkan kinerja. Reliability. yang pada gilirannya tercermin pada kegairahan bekerja dengan tingkat kinerja yang tinggi dan sebaliknya. mempunyai daya tahan tubuh yang tinggi. menunjukkan tingkat kesesuaian antara criteria dengan tujuan-tujuan kinerja. Menurut Gomes (2001 : 136). menunjukkan tingkat mana kriteria menghasilkan hasil yang konsisten.

Discrimination. jumlah unit. tipe kriteria prestasi ini mengukur sarana pencapaian sasaran. kepemimpinan (personel qualities). mengajukan enam kriteria primer yang digunakan untuk mengukur kinerja : 1. Sedangkan dilihat dari titik acuan penilaiannya. Timeliness. 2. 3.3. merupakan tingkat sejauh mana proses atau hasil pelaksanaan kegiatan mendekati kesempurnaan atau mendekati tujuan yang diharapkan. 2. misalkan jumlah rupiah. Pengukuran kinerja berdasarkan hasil. kepribadian. atau pengukuran hasil akhir (end result). tipe kriteria prestasi ini merumuskan pekerjaaan berdasarkan pencapaian tujuan organisasi. merupakan jumlah yang dihasilkan. Quantity. kesediaan (cooperation). luasnya pengetahuan tentang pekerjaan (job knowledge). Quality. 19 . 3. Bernadin dan Russel (2000 : 213). Pengukuran kinerja berdasarkan “judgement”. kegiatan yang diselesaikan. jumlah siklus. Jenis kriteria ini biasanya dikenal dengan BARS (Behaviorally Anchored Rating Scales). Merupakan tipe kriteria kinerja yang mengukur prestasi berdasarkan deskripsi prilaku tertentu (spesific) yaitu jumlah yang dilakukan (quantity of work). dan bukannya hasil akhir. terdapat tiga tipe kriteria pengukuran prestasi yang saling berbeda yakni : 1. dibuat dari “critical incidents” yang terkait dengan berbagai dimensi kinerja. mengukur tingkat dimana suatu kriteria kinerja dapat memperlihatkan perbedaan-perbedaan dalam tingkat kinerja. adalah tingkat sejauh mana suatu kegiatan diselesaikan pada waktu yang dikehendaki dengan memperhatikan kordinasi output lain serta waktu yang tersedia untuk kegiatan lain. Pengukuran kinerja berdasarkan prilaku.

material) dimaksimalkan utnuk mencapai hasil tertinggi atau pengurangan kerugian dari setiap unit penggunaan sumberdaya. 6. adalah tingkat sejauh mana penggunaan daya organisasi (manusia.4. keuangan. Need for supervisor. merupakan tingkat sejauh mana seorang pejabat dapat melaksanakan suatu fungsi pekerjaan tanpa memerlukan pengawasan seorang supervisor untuk mencegah tindakan yang kurang diinginkan. Cost effectiviness. Dimensi ini mencakup berbagai kriteria yang sesuai untuk digunakan dalam mengukur hasil yang telah diselesaikan. nama baik dan kerjasama di antara rekan kerja dan bawahan. Interpersonal impact. teknologi. 5. Dari berbagai kriteria di atas. merupakan tingkat sejauh mana karyawan/pekerja memelihara harga diri. dapat dipahami bahwa dimensi kerja mencakup semua unsur yang akan dievaluasi dalam pekerjaan masingmasing pegawai/karyawan dalam suatu organisasi. 20 .

dan kinerja pegawai saja. Pemilihan daerah peneliti artinya pemilihan wilayah peneliti dilakukan di Badan Promosi dan Perizinan Penanaman Modal Daerah (BP3MD) Provinsi Sumatera Selatan. Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan. karena populasi penelitian adalah terbatas (finit) 21 . Penelitian ini mengambil lokasi di wilayah kerja Badan Promosi dan Perizinan Penanaman Modal Daerah (BP3MD) Provinsi Sumatera Selatan dalam membahas penelitian Pengaruh Gaya Kepemimpinan dan Efektivitas Komunikasi Terhadap Kinerja Badan Promosi dan Perizinan Penanaman Modal Daerah (BP3MD) dalam penyelenggaraan Pemerintahan di Provinsi Sumatera Selatan. Populasi dalam penelitian ini yaitu para pegawai Badan Promosi dan Perizinan Penanaman Modal Daerah (BP3MD) Provinsi Sumatera Selatan sebagai unit analisis. Dalam hal ini organisasi yang dijadikan objek penelitian adalah Badan Promosi dan Perizinan Penanaman Modal Daerah Provinsi Sumatera Selatan. Dalam penelitian ini seluruh populasi akan diobeservasi. Populasi. maka penulis membatasi ruang lingkup penelitian ini hanya pada gaya kepemimpinan. METODOLOGI PENELITIAN Ruang Lingkup Penelitian dan Lokasi Penelitian Untuk lebih mengarah kepada permasalahan yang akan dibahas. Jumlah anggota populasi adalah 60 orang.III. efektivitas komunikasi.

Sensus adalah cara pengumpulan data bila seluruh elemen populasi diselidiki satu per satu sehingga sensus sering disebut pencatatan/perhitungan yang lengkap dari seluruh elemen populasi dan sensus memberikan hasil data dengan nilai sebenarnya (true value / parameter). berhasil guna. unit organisasi maupun organisasi secara menyeluruh secara berhasil guna. Komunikasi organisasi adalah hubungan yang terjadi dalam organisasi baik antar individu dalam organisasi. daya. Efektivitas berarti mampu memanfaatkan dana. Variabel Bebas (Independent Variables) yaitu Gaya Kepemimpinan (X1) Gaya kepemimpinan adalah norma prilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi prilaku orang lain yang ia lihat. bahkan jika mungkin maksimal dalam batas waktu tertentu yang telah ditetapkan pula. Oleh karena itu penelitian ini menggunakan metode sensus atau complete enumeration. Komunikasi adalah suatu proses penyampaian dan penerimaan berita atau informasi seseorang ke orang lain. baik antar individu. kemanjuran. dan sumber daya manusia yang telah ditentukan atau dialokasikan dengan hasil yang optimal. Definisi Operasional Variabel Penelitian 1. atau penelitian ini tidak menggunakan sampel sehingga teknik pengambilan sampel tidak diperlukan.dan cenderung heterogen. 2. sarana. Variabel Bebas (Independent Variables) yaitu Efektivitas Komunikasi (X2) Efektivitas berarti keefektifan. Efektivitas komunikasi adalah hubungan yang terjadi pada organisasi. 22 . maupun antara unit-unit organisasi yang berbeda tugas kegiatannya.

Jenis dan Sumber Data 1. Kualitas komunikasi. a. 23 .Selanjutnya secara sederhana dimensi efektivitas komunikasi beserta indikatornya dapat dilihat dibawah ini : a. saling ketergantungan. yang meliputi : 1) Visi dan Misi serta Sejarah Badan Promosi dan Perizinan Penanaman Modal Daerah Provinsi Sumatera Selatan. unit organisasi. konflik. Variabel Terikat (Dependent Variables) yaitu Kinerja Badan Promosi dan Perizinan Penanaman Modal Daerah (Y) Kinerja adalah hasil kerja yang dicapai seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi. 3. Komunikasi antar individu. dan kerja sama yang terdapat pada organisasi Badan Promosi dan Perizinan Penanaman Modal Daerah. menggunakan jenis data kualitatif dan kuantitatif. dalam rangka upaya pencapaian tujuan organisasi bersangkutan secara legal. 2) Struktur organisasi dan uraian tugas dan tanggung jawab Badan Promosi dan Perizinan Penanaman Modal Provinsi Sumatera Selatan. Data Kualitatif Data Kualitatif adalah data yang dapat diukur secara tidak langsung. Jenis Data Data yang diambil dalam penelitian ini yaitu. orang – orang dan organisasi secara keseluruhan. b. sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing.

Dalam hal ini data yang dihimpun adalah susunan struktur organisasi. Berdasarkan sumbernya jenis data dapat digolongkan menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder. 2. yakni : jumlah pegawai dan klasifikasi pegawai berdasarkan latar belakang pendidikan. Sumber Data Yang dimaksud dengan sumber data dalam penelitian ini adalah subjek dari mana data dapat diperoleh.3) Pelaksanaan rencana kerja dan program menyangkut bidang tugas berdasarkan mekanisme kerja yang telah ditetapkan. a. b. Data Primer Data primer adalah suatu data yang diperoleh atau dikumpulkan dari penelitian itu sendiri. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian dalam penelitian ini adalah kuesioner yang dibagikan kepada responden untuk mencari data yang berhubungan dengan penelitian ini. Data Kuantitatif Data Kuantitatif adalah data yang dapat diukur secara langsung atau lebih tepatnya dapat dihitung. Data Sekunder Data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan dari dokumen-dokumen. b. Uji Validitas Dalam suatu instrumen pengukuran mempunyai validitas yang tinggi apabila instrumen tersebut dapat menjalankan fungsi ukurannya dan 24 . 1. Data tersebut diperoleh dari pihak yang diminta keterangan (informan) yang berupa jawaban – jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh peneliti dalam wawancara secara langsung.

Metode Analisis Data Metode analisis data yang digunakan adalah sebagai berikut : a. konsistensi dan stabilitas alat ukur/pertanyaan yang digunakan konsisten atau tidak. 2. dengan 60 responden. Menurut Masrun dalam Sugiyono (2004:143) pengujian seluruh butir instrument dalam setiap variabel dapat dilakukan dengan mencari daya pembeda skor tiap item dari kelompok yang memberi jawaban tinggi dan jawaban rendah. artinya apabila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subjek yang sama diperoleh hasil yang relatif sama. Analisis Kuantitatif Dalam analisis ini penulis menggunakan metode analisis "Regresi Berganda" untuk mengukur pengaruh dari variabel bebas (independent) terhadap variabel terikat (dependent) yaitu kinerja pegawai sebagai variabel dependent (Y) dan gaya kepemimpinan dan efektivitas komunikasi sebagai variabel independent (X). selama aspek dalam diri subjek yang diukur belum berubah (Azwar:1992). Uji Reliabilitas Uji reliabilitas adalah sejauh mana suatu pengukuran dapat dipercaya. Analisi indikator dilakukan dengan cara mengkorelasi jumlah skor indikator (faktor) dengan skor total. Bila korelasi tiap faktor tersebut positif dan besarnya 0. Persamaan regresi adalah: Y = a + b1X1 + b2X2 Keterangan : 25 . Uji reliabilitas ini menggunakan Teknik Alpha Cronbach. Uji reliabilitas dilakukan pada butir butir pertanyaan yang telah memiliki validitas.memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut.3 ke atas maka instrument tersebut memiliki validitas konstruksi yang baik. Reliabilitas menyangkut akurasi.

maka Ho ditolak dan ha diterima yang berarti variabel bebas secara parsial mempunyai pengaruh yang sangat signifikan pada variabel tidak bebas. Uji t Uji t digunakan untuk mengukur signifikan pengaruh masing-masing variabel bebas secara parsial terhadap variabel tidak bebas dengan memperhatikan variabel-variabel tidak bebas lainnya. Caranya dengan membandingkan antara nilai t hitung dengan t tabel. Atau dengan kata lain analisis kualitatif merupakan kelanjutan dari analisis kuantitatif yang dilakukan. Jika nilai hitung tlebih besar dari nilai t tabel dengan signifikan 5%. b2 X1 X2 b. b. = Kinerja = Konstanta = Koefisien Regresi variabel = Gaya Kepemimpinan = Efektivitas Komunikasi Analisis Kualitatif Yaitu metode analisis yang tidak berbentuk angka dan berfungsi memberikan gambaran secara umum dan sistematis mengenai objek masalah penelitian yang berkaitan dengan Gaya Kepemimpinan dan Efektivitas Komunikasi Terhadap Kinerja Pegawai Badan Promosi dan Perizinan Penanaman Modal Daerah (BP3MD) Provinsi Sumatera Selatan. Uji F 26 .Y a b1. Uji Hipotesa a.

1995:257).048 X2 + e menunjukkan bahwa dari dua variabel bebas yakni gaya kepemimpinan dan efektivitas komunikasi berperan signifikan terhadap kinerja Badan Promosi dan Perizinan Penanaman Modal Daerah Provinsi Sumatera Selatan dapat diterima.048 dengan nilai t hitung 0. maka dapat disimpulkan menjadi beberapa hal sebagai berikut.159 dengan nilai R square sebesar 0. berarti Ho ditolak dan Ha diterima.206 serta nilai signifikansi 0. Gaya kepemimpinan memiliki nilai koefisien sebesar 0. Efektivitas komunikasi memiliki nilai koefisien sebesar 0. 2.05) berdasarkan hasil pengujian empiris. Didalam pendugaan secara simultan dipergunakan uji F yang didalam analisanya mempergunakan tabel Analysis of Variance. 3.286 serta nilai signifikansi 0. Tingkat signifikan yang digunakan adalah 5% bila dari hasil pemrosesan nilai F hitung lebih besar dari nilai F tabel. Analisis regresi Y = 116.Uji F digunakan untuk mengukur signifikan pengaruh dari keseluruhan variabel bebas secara bersama-sama terhadap variabel tidak bebas. Pengaruh signifikan dibuktikan dari nilai F rasio sebesar 29. Hipotesis kedua penelitian ini yang menyatakan bahwa efektivitas komunikasi tidak berpengaruh signifikan dan positif secara parsial terhadap kinerja Badan Promosi dan Perizinan Penanaman Modal Daerah Provinsi Sumatera Selatan tidak dapat diterima.685 X1 + 0.344 (34.031 (p < 0.658 dengan nilai t hitung 2.776 (p > 0. VI.6% 27 . Hipotesis pertama penelitian ini yang menyatakan bahwa Gaya kepemimpinan berpengaruh signifikan dan positif secara parsial terhadap kinerja Badan Promosi dan Perizinan Penanaman Modal Daerah Provinsi Sumatera Selatan dapat diterima.856 + 0. ini berarti bahwa keseluruhan variabel bebas secara signifikan mempengaruhi variabel tidak bebas (Gujarati.05) berdasarkan hasil pengujian empiris. 1.4%) sedangkan sisanya 65. Kesimpulan dan Saran Berdasarkan hasil penelitian dan kajian yang telah diuraikan sebelumnya.

4. disiplin kerja. dan gaya kepemimpinan situasional. Sedangkan variabel yang dominan mempengaruhi kinerja Badan Promosi dan Perizinan Penanaman Modal Daerah Provinsi Sumatera Selatan adalah variabel gaya kepemimpinan dengan nilai signifikansi (p=0. 28 . Task Specific Knowledge. komunikasi interpersonal. budaya organisasi. 3. komitmen organisasi. Misalnya pengklasifikasian dalam gaya kepemimpinan yang terdiri dari gaya kepemimpinan transaksional. beban kerja. persepsi atas karakteristik tugas. dan lain sebagainya. maka dapat diberikan saransaran sebagai berikut: 1. nilai dan minat. kecerdasan emosional. pendidikan dan pelatihan. budaya organisasi. etos kerja. keterlibatan kerja/partisipasi. dan lain sebagainya yang diduga berpengaruh terhadap kinerja pegawai. kompetensi kerja. 2. pengalaman. Penelitian selanjutnya mengembangkan indikator-indikator atau dimensi dalam gaya kepemimpinan dan efektivitas komunikasi berdasarkan teori lainnya. Saran Dari kesimpulan yang telah diperoleh. gaya kepemimpinan transformasional.031 dan b= 0. Penelitian selanjutnya perlu mempertimbangkan gangguan atau hambatan dalam efektivitas komunikasi. kondisi fisik dari lingkungan kerja. kualitas pengawasan.658) tertinggi dari nilai koefisien regresi lainnya. Pengembangan selanjutnya adalah memasukkan variabel lain sebagai variabel kontrol atau variabel moderating seperti motivasi. kecemasan. supervisi.dipengaruhi oleh variabel lainnya di luar model misalnya motivasi. Penelitian selanjutnya memasukkan jumlah sampel yang lebih besar dan rentang waktu penelitian yang lebih lama.

dan lain sebagainya. dan penyediaan media komunikasi.5. kegiatan-kegiatan informal. 29 . Dalam rangka menemukan pola gaya kepemimpinan yang tepat pada Badan Promosi dan Perizinan Penanaman Modal Daerah Provinsi Sumatera Selatan maka diperlukan pengetahuan dan pemahaman lebih lanjut mengenai bidang psikologi dan atau perilaku organisasi. Badan Promosi dan Perizinan Penanaman Modal Daerah Provinsi Sumatera Selatan sebaiknya mengadakan kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan efektivitas komunikasi seperti melalui rapat-rapat yang melibatkan juga pegawai di level bawah. 6.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful