P. 1
Sifat Sifat Tercela Dan Dosa

Sifat Sifat Tercela Dan Dosa

|Views: 285|Likes:
Published by Fadhila El Husna

More info:

Published by: Fadhila El Husna on Nov 24, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/15/2015

pdf

text

original

SIFAT SIFAT TERCELA DAN DOSA-DOSA BESAR

Posted by Bustamam Ismail on November 27, 2007 Islam sangat menutamakan dan menghargai eksistensi manusia. Oleh karena itu, Allah sangat murka apabila manusia bersikap menghancurkan manusia lain tanpa dasar aturan Nya. Perilaku tercela seperti merampok, membunuh, asusila, dan pelanggaran hak asasi manusia merupakan tindakan yang melecehkan eksistensi manusia yang sesungguhnya telah dimuliakan oleh Allah. Nah, untuk mengenali hal tersebut sehingga kita mampu membentengi diri, marilah kita bersama-sama menganalisisnya dalam pembahasan kali ini. A. Merampok Merampas atau merampok harta orang lain yang kadang disertai dengan kekerasan, ancaman dan bahkan pembunuhan emrupakan perilaku yang sangat menggelisahkan dan mengerikan. Itu termasuk perbuatan haram dam merupakan dosa besar yang wajib dijauhi oleh setiap individu. Apabila dalam suatu masyarakat banyak terjadi perampasan dan perampokan, warga masyarakat yang ada di lingkungan tersebut akan mengalami keresahan. Oleh karena itu, tetap sekali penegasan Allah SWT dan rasulnya. Mereka dianggap perang terhadap Allah dan rasulnya karena yang mereka lakukan merupakan perbuatan melawan hukum Allah SWT dan mengganggu masyarakat yang dilindungi oleh hukum. Orang-orang yang memerangi Allah dan rasul Nya disebutkan dalam firman Allah SWT sebagai berikut. Artinya : “sesungguhyna pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan rasulnya dan membuat kerusakan di bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib atau dipotong tangan dan mereka dengan bertimbal balik atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya) dengan demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia dan diakhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” (QS Al Maidah : 33) lihat al-Qur’an online di Goole, Firman Allah yang lain perihal pencurian yang dapat dihukum dengan potong tangan adalah sebagai berikut. Artinya : “Laki-laki dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya, (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah dan Allah maha perkasa dan maha bijaksana.” (QS Al Maidah : 38) lihat al-Qur’an online di Goole, Pengertian hukum potong tangan dapat beraneka macam pendapat. Selain pengertian tangannya yang dipotong, dipenjarakan kemudian dibimbing sehingga sifat tercela tersebut dapat hilang. Perbuatan mencuri, merampok dan merampas jelas sangat

berbahaya, baik terhadap diri sendiri maupun terhadapa orang lain atau masyarakat. Terhadap dirinya sendiri dapat berakibat antara lain kehidupan si pelaku pasti tidak akan merasa tenang. Jiwanya akan merasa dikejar-kejar oleh bayangan dosa, bahkan sedikit demi sedikit keimanan dan keislamannya akan terlepas dari dirinya. Rasulullah SAW pernah bersabda.yamg artinya : “Tidaklah seorang pencuri ketika mencuri itu ia beriman.” (HR Bukhari) B. Membunuh Hak-hak yang paling utama bagi setiap manusia yang dijamin pula oleh Islam adalah hak hidup, hak pemilikan, hak pemeliharaan kehormatan, hak kemerdekaan, hak persamaan, dan hak menuntut ilmu pengetahuan. Diantara hak-hak tersebut, hak yang paling penting dan mendapat perhatian adalah hak hidup. Firman Allah SWT. Artinya : “Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu alasan yang benar.” (QS Al Isra : 33) lihat al-Qur’an online di Goole, Islam memberikan perhatian terhadap perlindungan jiwa dan Allah mengancam orang yang merampas hal tersebut dengan hukuman berat. Allah SWT berfirman. Artinya :“Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah jahanam. Ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya dan mengutuknyaserta menyediakan azab yang pedih baginya.” (QS An Nisa : 93) lihat al-Qur’an online di Goole, Hadis nabi Muhammad SAW.artinya :“Barang siapa membunuh dirinya dengan sesuatu maka kelak ia akan disiksa di hari kiamat nanti dengan barang tersebut.” (HR Muslim) Pembunuhan dapat terjadi akibat berselisih pendapat, dengki, dendam, iri hati atau cemburu. Hal ini merupakan akibat tipu daya setan agar manusia senantiasa bertikai dan saling membunuh. Jenis-jenis pembunuhan dan hukumannya berdasarkan Al Qur’an dan hadis dijelaskan sebagai berikut. 1. pembunuhan yang dilakukan dengan sengaja yaitu merencanakan pembunuhan dalam keadaan jiwa sehat dan penuh kesadaran. Pembunuhan semacam ini dapat dihukum qisas artinya dihukum mati, kecuali dimaafkan oleh pihak keluarga korban dan kepadanya dituntut denda. 2. Pembunuhan yang terjadi tanpa disengaja dengan alat yang tidak mematikan. Hukumannya adalah penjara atau denda yang cukup berat

3. pembunuhan karena kesalahan atau kekhilafan semata-mata tanpa direncanakan dan tidak ada maksud sama sekali, misalnya kecelakaan. Hukuman tersangka penjara atau denda ringan Untuk memperkecil peluang terjadinya ha-hal buruk tersebut, kita selalu memupuk perilaku terpuji, baik terhadap diri pribadi maupun terhadap lingkuang atau masyarakat. Hal-hal di bawah ini dapat melatih diri kita untuk membentengi diri dari perilaku tercela, khusunya perbuatan membunuh. 1. Membiasakan bersilaturahmi 2. Mampu menahan amarah 3. Mampu memaafkan kesalahan 4. Berbuat adil 5. Memperbanyak berbuat kebajikan 6. Suka menolong 7. Bersikap lemah lembut 8. Meninggalkan hal-hal yang menyangkut riba 9. Meneguhkan hati untuk mengikuti jalan yang lurus 10. Memakan makanan yang halal dan thayyib 11. Senantiasa berdoa kepada Allah SWT 12. Berlaku lurus terhadap manusia 13. Tidak pelit atau kikir C. Asusila Asusila adalah perbuatan atau tingkah laku yang menyimpang dari norma-norma atau kaidah kesopanan yangsaat ini cenderung banyak terjadi di kalangan masyarakat, terutama remaja. Islam dengan Al Qur’an dan sunah telah memasang bingkai bagi kehidupan manusia agar menjadi kehidupan yang indah an bersih dari kerusakan moral. Menurut pandangan Islam, tinggi dan rendahnya spiritualitas (rohani) pada sebuah masyarakat berkaitan erat dengan segala perilakunya, bukan saja tata perilaku yang bersifat ibadah mahdah (khusus) seperti salat dan puasa, namun juga yang bersifat perilaku ibadah ghairu mahadah (umum) seperti hal-hal yang berkaitan dengan sosial kemasyarakatan. Didalam Al Qur’an terdapat bebeapa ayat yang memuat informasi dan pengetahuan tentang hubungan antara laki-laki dan perempuan. Firman Allah SWT Artinya : “katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhyna Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS An Nur : 30) lihat al-Qur’an online di Goole, Hadis Nabi Muhammad SAW menyatakan sebagai berikut.yang artinya : “Maka bertakwalah kepada Allah dalam hal wanita. Sebab kalian telah mengambil mereka

dengan dasar amanah Allah dan telah kalian halalkan kemaluan mereka dengan kalimah Allah.” (HR Muslim) Ada beberapa hal yang menjadi faktor pemicu munculnya perilaku asusila di dalam suatu masyarakat tersebut. 1. Faktor lingkungan atau masyarakat yang cukup besar memberikan pengaruh terhadap tingkah laku sesorang, khususnya remaja yang kondisinya berada pada masa puberitas dan pencarian jati diri sehingga mereka rentan terhadap pengaruh tersebut. 2. Kurangnya keteladanan yang diberikan oleh pihak yang seharusnya memberi atau menjadi teladan. Keteladanan ini mutlak diperlukan, khusunya oleh remaja karena contoh atau teladan memberikan kemudahan untuk proses pembiasaan perilaku pada kehidupan sehari-hari mereka. 3. Kurangnya sikap konsisten dari pihak yang seharusnya memiliki tugas tersebut. Sikap tidak konsisten terkadang membuat seseorang tidak memiliki patokan yang jelas mengenai hal-hal mana yang boleh dan mana yang tidak. D. Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) Masalah hak asasi manusia menjadi salah satu pusat perhatian manusia sedunia sejak pertengahan abad lalu. Kaum muslim di seluruh dunia juga mempunyai perhatian yang sungguh-sungguh terhadap isu global ini. Islam selalu mendorong umatnya untuk mendorong umatnya untuk menemukan hal-hal yang baru dan mencari pemecahanpemecahan baru demi kemajuan umat Islam, bahkan umat manusia di seluruh di dunia. Ada beberapa pengertian dari hak asasi manusia antara lain : 1. hak-hak dasar atau pokok bagi manusia sejak dilahirkan yang merupakan anugerah dari Allah yang Mahakuasa 2. hak yang melekat pada martabat manusia sebagai insan ciptaan Allah yang tidak bisa dilanggar oleh siapapun juga, atau 3. hak dan kewajiban dasar manusia. Darah manusia tidak boleh ditumpahkan tanpa alasan yang benar. Hukum Islam pun telah memberikan penjelasan mengenai hal tersebut, diantaranya larangan menindas wanita, anak-anak, orang tua, orang-orang sakit atau orang cidera, kehormatan dan kesucian, baik laki-laki maupun perempuan harus dihormati dalam segala keadaan, orang lapar harus diberi makan, orang telanjang diberi pakaian dan orang-orang sakit atau terluka di tolong tanpa memperdulikan apakah ia seorang muslim atau bukan, bahkan musuh sekalipun (lihat QS Al Maidah) Islam pada dasarnya adalah ajaran yang komprehensif karena Al Qur’an adalah kitab yang berfungsi memberi petunjuk, penjelasanatas petunjuk, serta pembeda antara kebenaran dan kesalahan (lihat QS Al Baqarah : 185)

Berikut ini adalah isi yang terkandung dalam hak asasi manusia yang disepakati hampir di seluruh dunia a. Kebebasan berpendapat, beragama, dan bergerak (Personal Right) b. Hak memiliki, memberi, menjual dan memanfaatkan sesuatu (Properti Right) c. Perlakuan sama dalam hukum dan pemerintahan (Right of legal Equality) d. Ikut serta dalam pemerintahan, hak pilih dan dipilih (Political Right) e. Hak untuk memilih pendidikan dan pengembangan kebudayaan (Social Culture Right) f. Perlakuan tata cara peradilan dan perlindungan (Prosedur Right) Bangsa Indonesia, khususnya kaum muslimmempunyai tugas dan kewajiban untuk membuktikan bahwa Islam cinta damai dan menghormati hak asasi manusia. Ajaran Islam membimbing pemeluknya menjadi umat yang mampu meberikan kedamaian dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia di dunia Ada beberapa contoh perilaku yang merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Perilaku yang harus di jauhi tersebut adalah sebagai berikut. 1. Membunuh manusia 2. Membunuh anak-anak meskipun karena takut miskin 3. Mencuri 4. Berzina 5. Menipu atau berlaku curang 6. Melakukan riba 7. Melakukan judi atau maasyir. 8. mengambil sesuatu yang bukan hak milik tidak halal 9. Memakan harta anak yatim yang bukan hak 10. menyuruh atau mendukung kemungkaran dan melarang atau mencegah kebaikan. 11. Menganiaya 12. Mengkhianati amanah dan menipu 13. Menipu dan merusak hakim 14. Membela pengkhianat 15. Berkata-kata palsu dan memberi kesaksian palsu. 16. Menyembunyikan kebenaran 17. Berkata buruk 18. Mengumpat 19. Mengejek atau mengolok-olok 20. Mematai-matai orang atau mencari kesalahan orang lain. 21. Memperlakukan anak yatim dan orang miskin dengan buruk 22. Menganggap rendah orang lain atau sombong

23. Bermaksud jahat atau menuduh wanita yang baik berzina. 24. Kikir atau bakhil 25. Merugikan atau mengambil hak orang lain 26. Membenci 27. Merusak 28. Menghina 29. Memaksakan kehendak. Iblis atau setan senantiasa berusaha menggoda manusia untuk melakukan perbuatan tercela. Mereka telah bersumpah untuk menyesatkan manusia sepanjang masa. Oleh karena itu, kita harus berusaha semaksimal mungkin agar tidak terjebak atau tergoda rayuan iblis atau setan. Beberapa sikap yang menjadi perwujudan kita membenci sifat-sifat tercela tersebut antara lain sebagai berikut. 1. Kita meyakini bahwa Allah SWT adalah tuhan semesta alam yang Mahakuasa serta maha berkehendak, sedangkan semua makhluk Nya derada didalm kekuasaan Nya. Oleh karena itu, kita harus mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara memohon perlindungan hanya kepada Allah SWT dari segala godaan setan yang terkutuk, mengingat Allah dan sifat-sifatnya setiap saat, selalu mengembalikan sesuatu baik ide atau niat apapun juga didalam hati kepada Allah sebelum berbuat atau melakukan niat tersebut, melaksanakan segala perintah Allah, terutama yang berkaitan dengan ibadah rukun Islam secara konsisten, dan gemar melakukan amal saleh seperti aksi bakti sosial. 2. Menyisihkan harta atau rezeki yang digunakan untuk membantu orang-orang yang memerlukan bantuan atau terkena musibah 3. Selalu mendukung, turut serta membantu, atau aktif mengikuti kegiatan yanng bersifat syiar atau dakwah 4. Menggembirakan kaum dhuafa seperti anak yatim piatu, orang yang sedang sakit, fakir miskin dan lain sebagainya agar mereka turut merasakan kegembiraan dan perhatian dari saudaranya sesama muslim. IMTIHAN A. Berilah tanda silang (x) pada huruf a, b, c, d atau e sesuai jawaban yang paling tepat! 1. Perilaku yang sangat menggelisahkan dan mengerikan bagi masyarakat adalah … a. merampok b. judi c. pekerjaan liar d. minum khamar

e. mencuri 1. Dalil Al Qur’an yang menetapkan hukum bunuh atau salib terhadap orang yang memerangi Allah dan rasul Nya serta orang yang membuat kerusakan di bumi di sebutkan dalam surah …. a. Al maidah ayat 33 b. Al maidah ayat 5 c. Al maidah ayat 38 d. Al baqarah ayat 219 e. Al maidah ayat 90 1. Hukum bagi orang yang merampok dan membunuh menurut Islam adalah … a. dipenjara b. diasingkan c. didenda d. dihukum mati dan disalib e. dicambuk seratus kali 1. Mengambil harta orang lain dengan paksa dan disertai ancaman pembunuhan terhadap pemiliknya disebut … a. pencurian b. perampasan dan perampokan c. penganiayan d. pembunuh e. penculik 1. Meminjam barang milik orang lain tanpa izin disebut… a. gasab b. mencuri

c. merampok d. merampas e. menculik 1. KUHP adalah buku pedoman mengenai … a. warisan b. hukum c. agama d. fisika e. biologi 7. Segala minuman yang memabukkan di dalam Al Qur’an disebut … a. maisir b. barkotika c. khamar d. azlamu e. tabarru’ 8. Yang bukan termasuk bahaya akibat perbuatan penyelewengan seksual (zina) ialah … a. penularan penyakit kelamin dan terjangkitnya AIDS b. kehancuran moral dan kerusakan akhlak c. menumbuhkan sifat permusuhan dan kebencian d. pencemaran kelamin dan pencampuradukan keturunan e. melahirkan anak yang tidak jelas orang tuanya 1. Seorang perempuan atau laki-laki tidak berpergian atau mendatangi lawan jenis, kecuali didampingi muhrimnya adalah untuk menghindari terjadinya ..

a. pencurian b. perampokan c. pembunuhan d. perzinahan e. penganiayaan 1. Sanksi hukuman bagi pembunuhan yang dilakukan dengan tidak sengaja adalah … a. dipancung b. dipenjara 10 tahun c. dipotong kedua kakinya d. dirajam 100 kali e. diat 100 ekor unta 1. Pelaku pencurian yang memenuhi persyaratan hukum dikenakan sanksi atau hukuman menurut surah Al Maidah : 38 adalah … a. dipotong tangannya b. dipotong kedua kakinya c. dipotong kedua tangan dan kakinya d. dipotong tangan dan kakinya dengan cara silang e. dihukum penjara atau denda 1. Berikut ini adalah ayat-ayat Al Qur’an tentang perselisihan, permusuhan, perusakan atau perbuatan-perbuatan tercela kecuali… a. QS Al Isra : 53 b. QS Al Maidah : 91 c. QS Al Baqarah : 3 d. QS An Nahl : 90

e. QS Al A’raf : 56, 85 1. Seorang yang melakukan pencurian atau korupsi atau korupsi di dalam hukum Islam diancam hukuman … a. diusir dari negeri tersebut b. dihukum gantung c. dihukum mati d. dihukum salib e. potong tangan dan kaki 1. Perbuatan yang termasuk tindak pidana khusus adalah… a. minuman keras b. narkotika c. pembunuhan d. perjudian e. pelacuran 1. Perzinahan yang dapat dituntut berdasarkan KUHP adalah apabila dilakukan oleh … a. orang yang pernah menikah b. pelajar c. mahasiwa d. karyawan e. duda dan janda 1. Seseorang melakukan pencurian atau korupsi dalam hukum Islam sanksinya…. 1. di usir dari negeri tersebut 2. dihukum gantung 3. dihukum mati 4. dihukum salib 5. potong tangan

2. Perbuatan yang termasuk tindak pidana khusus adalah…. 1. minuman keras 2. penyalahgunaan narkotika 3. pembunuhan 4. perjudian 5. pelacuran 3. Perbuatan yang termasuk liwath adalah…. 1. Perzinahan 2. bermesra-mesraan 3. lesbian 4. onani 5. maturbasi 4. Perzinahan yang dapat dituntut berdasarkan KUHP adalah apabila dilakukan oleh…. 1. orang yang pernah menikah 2. karyawan 3. pelajar/mahasiswa 4. janda dan duda 5. jawaban semuanya benar 5. “kullu musykirin haramun” artinya adalah… a. zina itu haram b. tiap sesuatu yang memabukkan haram c. setiap bentuk perjudian itu haram d. liwath itu haran e. lokalisasi prostitusi B. Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar ! 1. Jelaskanlah yang dimaksud dengan merampok, membunuh dan asusila! 2. Apakah yang dimaksud dengan pelanggaran hak asasi manusia? 3. Tuliskanlah Al Qur’an surah Al Isra ayat 53 berikut terjemahannya ! 4. Sebutkanlah 5 (lima) penyebab orang bertikai karena berselisih pendapat! 5. Apakah yang dimaksud fanatik yang berlebihan? 6. Sebutkanlah jenis-jenis pembuinuhan berikut penjelasannya! 7. Jelaskanlah pandangan Al Qur’an tentang pembunuhan!

8. Sebutkanlah tiga penyebab yang mendorong timbulnya penyimpangan perilaku seperti seks di luar nikah! 9. Tulislah hadis tentang hukum haramnya khamar! 10. Apa yang dimaksud dengan hal-hal berikut ini? a. Berwawasan sempit b. Menutup diri atau sulit menerima pendapat orang lain c. Memaksakan kehendak

NAMIMAH (FITNAH/ADU DOMBA)
Abul Laits Assamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Hudzaifah r.a. berkata: Saya telah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Tidak akan masuk syurga tukang fitnah." Diriwayatkan juga dari Abu Hurairah r.a. berkata Rasulullah s.a.w. bersabda: "Apakah kamu tahu siapakah sejahat-jahat kamu?" Jawab sahabat: "Allah s.w.t. dan Rasulullah s.a.w. yang lebih tahu." Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sejahat-jahat kamu ialah orang yang bermuka dua, yang menghadap kepada ini dengan wajah dan datang kesana dengan wajah yang lain." Abul Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibn Abbas r.a. berkata: "Rasulullah s.a.w. berjalan melalui dua kubur yang baru ditanam, lalu Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sesungguhnya kedua kubur ini sedang disiksa dan tidak disiksa kerana dosa besar, adapun yang satu maka tidak bersih jika cebok dari kencingnya dan yang kedua biasa berjalan membangkitkan fitnah. Kemudian Rasulullah s.a.w. mengambil dahan pohon yang hijau lalu dibelah dan menancapkan diatas kubur masing-masing. Sahabat bertanya: "Ya Rasulullah, mengapakah engkau berbuat itu?" Jawab Rasulullah s.a.w.: "Semoga Allah s.w.t. meringankan keduanya selama dahan ini belum kering." Maksud bukan dosa besar itu dalam pandangan kita padahal akibatnya besar sebab bila cepat dalm memcebok (mencuci) sesudah buang air kecil lalu masih menitis bererti tidak sah memakai pakaian yang najis, kerana itu tidak memperhatikan bersuci itu besar akibatnya disisi Allah s.w.t. kerana diakhirat itu tidak ada tempat selain syurga atau neraka, maka bila dinyatakan tidak masuk syurga maka bererti masuk neraka. Maka wajib atas orang yang adu dumba atau pemfitnah supaya segera bertaubat sebab adu domba itu suatu kehinaan didunia dan siksa didalam kubur dan

neraka dihari kiamat tetapi bila ia bertaubat sebelum mati maka insyaallah akan diterima taubatnya oleh Allah s.w.t. Alhasan berkata Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sejahat-jahat manusia ialah yang bermuka dua, mendatangi dengan satu wajah dan yang satu wajah dan siapa yang mempunyai dua lidah didunia maka Allah s.w.t. akan memberikannya dua lidah api dari api neraka." Qatadah berkata: "Sejahat-jahat hamba Allah ialah tiap tukang menghina, tukang maki dan tukang mengadu (adu domba/fitnah). Siksa kubur kerana tiga perkara iaitu:
• • •

Sepertiga kerana ghibah Sepertiga kerana tidak membersihkan selepas buang air kecil Sepertiga kerana adu domba/fitnah

Hammad bin Salamah berkata: "Seorang menjual budak, lalu berkata kepada pembelinya: "Budak ini tidak ada cirinya kecuali suka adu domba." Maka dianggap ringan oleh pembeli dan tetap dibeli, dan setelah beberapa hari ditempat majikannya, tiba-tiba budak itu berkata kepada isteri majikannya: "Suamimu tidak cinta kepadamu dan ia akan berkahwin lagi, apakah kau ingin supaya ia tetap kasih kepadamu?" Jawab isteri itu: "Ya." "Lalu kalau begitu kau ambil pisau cukur dan mencukur janggut suamimu yang bahagian dalam (dileher) jika suamimu sedang tidur." kata budak itu. Kemudian ia pergi kepada majikannya (suami) dan berkata kepadanya: "Isterimu bermain dengan lelaki lain dan ia merencanakan untuk membunuhmu, jika engkau ingin mengetahui buktinya maka cuba engkau berpura-pura tidur." Maka suami itu berpura-pura tidur dan tiba-tiba datang isterinya membawa pisau cukur untuk mencukur janngut suaminya, maka oleh suaminya disangka benar-benar akan membunuhnya sehingga ia bangun merebut pisau itu dari tangan isterinya lalu membunuh isterinya. Oleh kerana kejadian itu maka datang para wali (keluarga) dari pihak isterinya dan langsung membunuh suami itu sehingga terjadi perang antara keluarga dan suku suami dengan keluarga dan suku dari isteri." Yahya bin Aktsam berkata: "Tukang fitnah itu lebih jahat dari tukang sihir sebab tukang fitnah dapat berbuat dalam sesaat apa yang tidak dilakukan oleh tukang sihir dalam satu bulan dan perbuatan tukang fitnah lebih bahaya dari perbuatan syaitan naknatullah sebab syaitan laknatullah hanya berbisik dan khayal bayangan tetapi tukang fitnah langsung berhadapan dan berbuat. Dan Allah s.w.t. telah berfirman (Yang berbunyi): "Hammalatal hathab. Ahli-ahli tafsir banyak yang mengertikan hathab itu fitnah/adu domba. Sebab fitnah itu bagaikan kayu untuk menyalakan api permusuhan dan peperangan. Aktsam bin Shaifi berkata: "Oranag yang rendah hina itu ada empat iaitu:

Tukang fitnah

• • •

Pendusta Orang yang berhutang Anak yatim

Utbah bin Abi Lubabah dari Abu Ubaidillah Alqurasyi berkata: "Seorang berjalan tujuh ratus kilometer kerana akan belajar tujuh kalimat dan ketika ia sampai ketujuannya ia berkata: "Saya datang kepadamu untuk mendapatkan ilmu yang diberikan oleh Allah s.w.t. kepadamu,
• • • • • • •

Beritakan kepadaku apa yang lebih berat dari langit?" Dan apakah yang lebih luas dari bumi? Dan apakah yang lebih keras dari batu? Dan apakah yang lebih panas dari api? Dan apakah yang lebih dalam dari laut? Dan apakah yang lebih rendah (lemah) dari anak yatim? Dan apakah yang yang lebih jahat dari racun?

Jawabnya ialah:
• • • • • • • •

Membuat tuduhan palsu terhadap orang yang tidak berbuat, maka itu lebih berat dari langit Hak kebenaran itu lebih luas dari bumi Hati yang qana'ah (beriman) lebih dalam dari laut Rakus itu lebih panas dari api Hajat kepada keluarga yang dekat jika tidak tercapai lebih sejuk dari zamharir Hati orang kafir lebih keras dari batu Fitnah dan adu domba jika kedapatan (diketahui) pada yang difitnah lebih hina dari anak yatim Dan fitnah itu lebih jahat dari racun yang membinasakan

Nafi' dari Ibn Umar r.a. berkata Rasulullah s.a.w. bersabda: "Setelah Allah s.w.t. menjadikan syurga lalu diperintah: "Bicaralah." Maka berkata syurga: "Sungguh bahagia siapa yang masuk kedalamku." Maka firman Allah s.w.t.: "Demi kemuliaan dan kebesaranKu tidak boleh tinggal padamu lapan jenis orang iaitu:
• • • • • • • •

Orang yang selalu minum khamar (arak) Orang yang tetap menjadi pelacur Tukang fitnah/ adu domba Germo (orang lelaki yang membiarkan isterinya berzina) Polisi (siapa yang tahu maknanya diharap email kepada webmaster) Wadam (wanita Adam, lelaki yang berlagak wanita) Pemutus hubungan kekeluargaan Orang yang bersumpah dengan nama Allah akan berbuat kemudian tidak menepati sumpahnya

Alhasan Albashri berkata: "Siapa yang menyampaikan khabar berita orang lain kepdamu, maka ketahuilah bahawa orang itu akan menyampaikan khabarmu kepada orang lain." Umar bin Abdil Azizi didatangi seseorang lalu menceritakan hal orang lain, maka ditanya oleh Umar: "Jika kau suka maka kami akan menyelidiki kebenaran keteranganmu itu, jika kau dusta akan kau termasuk didalam ayat (Yang berbunyi): "In jaa akum faasiqun binaba'in fatabayyanu." (Yang bermaksud): "Jika datang kepadamu seorang fasiq membawa berita maka selidikilah." Dan jika kamu benar kau termasuk ayat (Yang berbunyi): "Hammaazin masysyaa'in binamin." (Yang bermaksud): "Tukang ejek dan suka berjalan mengadu (memfitnah)." Dan jika kau suka kami maafkan kepadamu." Maka jawab orang itu: "Maafkan saya ya Amirul Mukminin dan saya tidak akan mengulangi lagi." Abdullah bin Almubarak berkata: "Anak zina tidak dapat menyimpan amanat pembicaraan dan orang bangsawan ialah yang tidak mengganggu tetangganya." Yakni siapa yang suka memfitnah dan adu domba maka tabiat anak zina sebab Allah s.w.t. berfirman (Yang berbunyi): "Hammaazin masysyaa'in binamin, mannaa'in lil khairi mu'tadin atsiim utullin ba'da dzalika zaniem." (Yang bermaksud): "Tukang mengejek dan berjalan memfitnah, bakhil tidak berbudi melampaui batas pendurhaka, sombong selain dari semua itu ia anak zina." Seorang hakiem (cendiakawan) didatangi oleh kawannya, tiba-tiba kawan itu menceritakan hal kawan yang lain, maka ditegur oleh cendiakawan itu: "Kamu telah lama tidak datang dan kini datang membawa tiga dosa iaitu:
• • •

Pertama membencikan kepadaku kawanku Kau telah merisaukan fikiranku Saya menuduh engkau berdusta

Ka'bul-ahbaar berkata: "Terjadi kemarau pada Bani Israil maka keluar Nabi Musa a.s. membawa Bani Israil untuk berdoa minta hujan sebanyak tiga kali tetapi tidak juga hujan sehingga Nabi Musa a.s. berdoa: "Tuhanku, hambaMu telah keluar sampai tiga kali tetapi belum juga Engkau terima." Maka Allah s.w.t. menurunkan wahyu: "Aku tidak menerima doamu bersama kaummu kerana diantara kamu ada seorang tukang fitnah." Nabi Musa a.a. bertanya: "Siapakah itu, supaya kami dapat mengeluarkan dari anatara kami?" Jawab Allah s.w.t.: "Hai Musa, Aku melarang kamu dari namimah (adu-domba), apakah Aku akan mengadu-adu, taubatlah kamu semuanya." Maka bertaubatlah mereka lalu turunlah hujan. Sulaiman bin Abdil-Malik ketika ia duduk bersama Azzuhri tiba-tiba ada orang datang maka Sulaiman berkata kepadanya: "Saya mendapat khabar bahawa engkau telah membicarakan dan membusukkan saya." Jawab orang itu: "Tidak, saya tidak berkata itu dan tidak berbuat sedemikian." Sulaiman berkata: "Orang yang menyampaikan berita kepadaku itu benar dan jujur." Azzuhri berkata: :"Tukang adu domba (fitnah) tidak benar dan tidak jujur." Sulaiman berkata kepada Azzuhri: "Benar engkau." Lalu berkata kepada tamunya itu: "selamat jalan."

Seorang cendiakawan berkata: "Jika ada orang menyampaikan kepadamu makian kawanmu, maka dialah yang memaki engkau bukan orang yang disampaikan beritanya kepadamu." Wahb bin Munabbih berkata: "Siapa orang yang memujimu dengan sesuatu yang tidak ada padamu, maka tidak aman daripadanya akan memaki engkau dengan apa-apa yang tidak ada padamu." Abul Laits berkata: "Jika ada orang memberitahu kepadamu bahawa Fulan menjelekkan kau, maka harus menghadapi dengan enam macam iaitu:

• • •

• •

Jangan percaya kerana tukang fitnah atau tukang adu domba itu tidak dapat diterima persaksiannya Sebagaimana firman Allah s.w.t. (Yang berbunyi): "Ya ayyuhalladzina aamanu in jaa'akum faa siqun binaba'in fatabayyanuu an tushibu qauman bijahaalatin fatush bihuu ala maa fa'altum naa dimiin." (Yang bermaksua): "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasiq (satu kaum) membawa berita, maka hendaklah kamu selidiki, jangan sampai kamu membalas kepada suatu kaum dengan kebodohan, maka kamu kelak akan merasa menyesal. (Surah Alhujuraat ayat 6) Engkau harus mencegahnya dari fitnah itu sebab nahi unkar itu wajib Engaku harus membenci kepadanya sebb telah berbuat maksiat Engkau jangan bersangka jahat terhadap saudaramu yang difitnah itu sebab jahat sangka terhadap seseorang muslim itu haram. Firman Allah s.w.t. (Yang berbunyi): "Inna ba'dhadh dhanni itsmun." (Yang bermaksud): "Sebahagian dari sangka-sangka itu dosa." Jangan kamu selidiki keadaan orang yang difitnah itu sebab Allah s.w.t. melarang menyelidiki kesalahan orang Apa yang tidak kau suka dari perbuatan orang yang mengadu-adu itu maka jangan sampai berbuat seperti itu, yakni engkau jangan memberitahu kepada sesiapapun apa yang dikatakan oleh tukang fitnah itu

Ainuamri’s Weblog
RSS Entri | Comments RSS

Blog Stats
o

1,981,421 hits Maret 2009 Februari 2009 Januari 2009 Desember 2008 Nopember 2008 Oktober 2008 September 2008 Agustus 2008 Juli 2008 Juni 2008 Mei 2008 April 2008 Maret 2008 Februari 2008 Januari 2008 Desember 2007 Nopember 2007 Oktober 2007 September 2007 sms-romantic.blogspot.com smshumor.filmpendek.org/i… ainuamri.blogsome.com/200… pacaranislamikenapa.wordp… ketawa.com smsplus.blogspot.com mirrorksunnah.diinoweb.co… pengikut-setia.blogspot.c… sahihalbukhari.com diansastro.20m.com KAFIR TANPA SADAR (barangsiapa rela dengan sekulerisme dan membenci penegakan syariat/hukum islam di negara ini maka dia kafir) Majalah Fatawa MAJALAH HIDAYAH (HARGA MAJALAH-MAJALAH ISLAM EDISI LAMA/BEKAS DI PASAR SHOPING JOGJA) Everyday is Ashura, everyland is Karbala (Setiap hari adalah hari asyura, setiap jengkal tanah adalah tanah karbala)

Arsip
o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o

Klik tertinggi

Tulisan Terakhir

o o o

Kumpulan hadis tentang Zakat dan Sodaqoh SMS LUCU - SMS JAYUS - SMS- ANEH - SMS HUMOR - SMS CINTA - SMS GAUL - SMS RAMUTU sms ultah - sms birthday - sms ulang tahun - sms ucapan selamat ultah sms ucapan selamat ulang tahun - sms selamat pagi - sms selamat malam sms natal - sms tahun baru - sms selamat tidur - sms bangun tidur - sms pacar - sms gebetan - sms kekasih OTOMATIS ROMANTIS (KUMPULAN SMS GOMBAL - SMS MESRA - SMS RAYUAN CINTA VERSI INDONESIA) Puisi cinta - puisi romantis - puisi patah hati - puisi mesra - puisi jatuh cinta kata romantis - kata kata bijaksana - kata cinta - kata mesra - kata bijak sms cinta - kumpulan sms cinta - sms romantis - sms jayus - sms aneh sms love - sms gombal - sms mesra - sms unik - sms indah - sms humor kumpulan sms cantik - sms indah - sms gokil - sms manis - sms cool - sms rayuan maut - sms cabul - sms gaul - sms norak - sms seru - sms beautiful - sms untuk wanita - sms romantic - sweet sms - sms smile - sms senyum sms canda kumpulan koleksi puisi cinta - puisi romantis - puisi mesra - puisi jatuh hati - puisi jatuh cinta - sms puisi cinta - sms puisi romantis - sms puisi mesra - puisi patah hati - puisi putus cinta - puisi buat pacar - puisi untuk kekasih - puisi indah - puisi patah hati - sms patah hati - sms putus cinta sms buat nembak cewek - sms buat nembak cowok - puisi ungkapan cinta Puisi Patah Hati - Puisi Putus Cinta - Puisi Sakit Hati - Puisi Jatuh Hati Puisi Cinta - Puisi Romantis - Puisi Jayus - Puisi Aneh Puisi cinta romantis

Tulisan Teratas

o o o o o

o

o o

a Komentar Terakhir
vedrix yulianto di sms lucu - sms humor - sms jay… Nik nak di Mana foto asli wajah Yesus dan… MT-8(achok) di sms lucu - sms humor - sms jay… Deny di kumpulan koleksi terbaru sms g… chokie di sms lucu - sms humor - sms jay…

Halaman
o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o

ARSIP buku tamu DAFTAR ISI indeks artikel KATEGORI ARTIKEL KONTAK SAYA MUQADDIMAH Partai Keadilan Sejahtera 081328010656 (Abu Ja’far) emansipasi wanita adalah ajaran sesat anti fotografi foto makhluk hidup adalah haram NO JIL al islah mualaf Pengikut setia yesus zaman akhir Hukum Nyanyian musik itu haram pacaran islami anti syiah hakekat syiah Abu Zubair Al Atsary desa salaf jadwal kajian salafy Muhammad Fakhrurrazi salafy UNPAD

Ada Apa Dengan PKS aku........... Anti emansipasi wanita anti fotografi anti islam-liberal anti kristen

anti musik anti pacaran anti-syiah blog salafy

Blogroll

o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o

abu ja’far Abu Ja’far Al Atsary abu salma Abu Zubair Ainu Amri Tanjung Akh Abdurrahman akh mukhtar al islah alislamu.com almanhaj.or.id alsofwah An Nashihah anti fotografi anti syiah assunnah.or.id Asy Syariah bantahan teori evolusi buku dakwah darus salaf desa salaf Dewi Pramudi Ismi download buku-buku islam drg Evy drg vera emansipasi wanita adalah ajaran sesat eramuslim fatwa islam foto makhluk hidup adalah haram friendster friendster 2 hakekat syiah hidayatullah Hizbut Tahrir Hukum Nyanyian ikhwanul muslimin islam download jadwal kajian salafy jilbab.or.id kampungsunnah Koleksi Abu Salma 1 koleksi Abu Salma 2 majalah Ar Risalah Majalah as Sunnah majalah elfata majalah Fatawa

o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o

Majalah Nikah majalah swaraquran majalah-majalah islam media-islam mualaf Muhammad Fakhrurrazi Muhammadiyah muqaddimah musik itu haram muslim.or.id muslimah.or.id myquran.org NO JIL pakdenono Partai Keadilan Sejahtera Pengikut setia yesus perpustakaan islam perpustakaan muslim Priandoyo salafi cast salafi publications salafy ITB salafy UNPAD salafy.or.id Sarana Hidayah sms jayus ?! sms romantic sobat-muda.com suara islam swaramuslim WordPress.com WordPress.org zaman akhir drg Evy drg vera buku dakwah desa salaf download buku-buku islam islam download kampung sunnah koleksi Abah Zacky Koleksi Abu Salma 1

dokter gigi Download buku islam

o o o o o

koleksi Abu Salma 2 koleksi kristologi majalah Fatawa media-islam perpustakaan muslim Al Quran As Salafi fatwa islam fatwa online harunyahya islam for kids salaf salafi cast salafi publications salafi talk Shahih Bukhari Shahih Muslim troid www.albaseerah.com www.therighteouspath.com www.almanhaj.or.id www.alsofwah.or.id www.muslim.or.id www.salafy.or.id abu ja’far friendster friendster 2 Priandoyo An Nashihah Asy Syariah majalah Ar Risalah Majalah as Sunnah majalah elfata Majalah Nikah majalah qiblati majalah swaraquran majalah-majalah islam sms romantic

English
o o o o o o o o o o o o o o o o o o o

ensiklopedi ajaran islam

lain-lain
o o o o o o o o o o o o o o

majalah islam

my friend

o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o

sofa nurdiyanti 081328010656 (amri) Abu Ja’far Al Atsary Ainu Amri Tanjung muqaddimah alislamu.com anti fotografi bantahan teori evolusi emansipasi wanita adalah ajaran sesat eramuslim foto makhluk hidup adalah haram hidayatullah Hizbut Tahrir ikhwanul muslimin Muhammadiyah myquran.org pakdenono Partai Keadilan Sejahtera suara islam swaramuslim sms jayus ?! sobat-muda.com abu salma Akh Abdurrahman akh mukhtar almanhaj.or.id alsofwah assunnah.or.id darus salaf desa salaf islam download jilbab.or.id kampungsunnah muslim.or.id muslimah.or.id perpustakaan islam salafy ITB salafy.or.id

my phone number: My Profile situs islam

situs menarik situs salafy

o o o

sobat-muda.com Dewi Pramudi Ismi Sarana Hidayah

Teman Alumni SD Muhammadiyah Turgenen Toko buku islam

Nopember 2007 S S R K J S M « Okt Des » 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

NAMIMAH (MENGADU DOMBA)
Ditulis pada Nopember 15, 2007 oleh Abu Ja'far Amri A. Fillah Al Atsary MENCURI Allah Subhanahu wata’ala berfirman : “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) balasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha perkasa dan bijaksana. (Al Maidah: 38 ). Di antara kejahatan pencurian yang paling besar adalah mencuri barang-barang milik hujjaj dan mereka yang sedang umrah di Baitullah Makkah. Pencuri semacam ini tidak lagi memperhitungkan ketentuan- ketentuan Allah bahwa ia sedang berada di Bumi yang paling mulia di sekeliling Ka’bah. Dalam kisah tentang shalat kusuf Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Dan sungguh telah diperlihatkan api neraka, yaitu saat kalian melihatku terlambat karena aku takut hangus (oleh jilatannya) dan sehingga aku melihat di dalamnya pemilik mihjan (tongkat berkeluk kepalanya) menyeret ususnya di dalam nereka. Dahulunya ia mencuri (barang milik) orang yang haji. Jika ketahuan, ia berkilah, Barang itu terpaut di mihjanku” tetapi jika orang itu lengah dari barangnya, maka si pencuri membawanya (pergi) “ (HR Muslim : 904). Termasuk mencuri terbesar adalah mencuri harta milik umum. Sebagian orang yang melakukannya berdalih, kami mencuri sebagaimana yang dilakukan orang lain. Mereka tidak memahami bahwa pencurian itu berarti mencuri dari harta segenap umat Islam. Sebab harta milik umum berarti milik segenap umat Islam. Sedangkan apa yang dilakukan oleh orang lain yang tidak takut kepada Allah, bukanlah alasan sehingga mereka dibiarkan mencuri. Sebagian orang mencuri harta milik orang-orang kafir dengan menjadikan kekafiran

mereka sebagai dalih. Ini tidak benar. Orang kafir yang hartanya boleh diambil adalah mereka yang memerangi umat Islam. Padahal, tidak semua perusahaan milik orang-orang kafir atau individu dari mereka masuk dalam kategori tersebut. Modus pencurian amat beragam. Di antaranya mencopet, mengulurkan tangan ke saku orang lain secara cepat dan mengambil isinya. Sebagian masuk rumah orang lain dengan kedok sebagai tamu, lalu menjarah barang-barang di dalam rumah. Sebagian lain mencuri dari koper atau tas tamunya. Ada pula yang masuk ke toko atau supermarket lalu mengutil barang yang kemudian ia selipkan di balik baju, seperti yang dilakukan sebagian wanita. Sebagian orang meremehkan pencurian sesuatu yang jumlahnya sedikit atau tak berharga, padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Allah melaknat pencuri yang mencuri sebutir telor sehingga dipotong tangannya, dan (pencuri) yang mencuri seutas tali sehingga ia dipotong tangannya” (HR Al Bukhari, lihat Fathul Bari : 12/81). Setiap orang yang mencuri sesuatu , betapapun kecil nilainya, harus mengembalikan kepada pemiliknya, setelah sebelumnya ia bertaubat kepada Allah Tabaroka wata’ala. Pengembalian itu baik secara tarang-terangan atau rahasia, secara pribadi atau perantara. Adapun jika tak mampu setelah usaha maksimal untuk mengembalikan kepada pemiliknya atau ahli warisnya, maka hendaknya ia menyedekahkan barang tersebut dengan niat pahalanya untuk pemilik barang tersebut. ———————— MEMBERI ATAU MENERIMA SUAP Memberi uang suap kepada qadhi atau hakim agar ia membungkam kebenaran atau melakukan kebatilan merupakan suatu kejahatan. Sebab perbuatan itu mengakibatkan ketidakadilan dalam hukum, penindasan orang yang berada dalam kebenaran serta menyebarkan kerusakan di bumi. Allah Subhanahu wata’ala berfirman : “Dan janganlah sebagaian kamu memakan harta kalian di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu memberikannya kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda sebagian orang, dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui” (Al Baqarah : 188). Dalam sebuah hadits marfu’ riwayat Abu Hurairah disebutkan : “Allah melaknat penyuap dan penerima suap dalam (urusan) hukum” (HR Ahmad, 2/387; shahihul jami’ : 5069). Adapun jika tak ada jalan lain lagi selain suap untuk mendapatkan kebenaran atau menolak kezhaliman maka hal itu tidak termasuk dalam ancaman tersebut. Saat ini, suap menyuap sudah menjadi kebiasaan umum, bagi sebagian pegawai, suap menjadi income / pemasukan yang hasilnya lebih banyak dari gaji yang mereka peroleh. Untuk urusan suap menyuap banyak perusahaan dan kantor yang mengalokasikan dana khusus. Berbagai urusan bisnis atau mua’malah lainnya, hampir semua dimulai dan di akhiri dengan tindak suap. Ini tentu sangat tidak menguntungkan bagi orang-orang miskin. Karena adanya suap, undang-undang dan peraturan menjadi tak berguna lagi. Soal suap pula yang menjadikan orang yang berhak diterima sebagai karyawan digantikan mereka yang tidak berhak. Dalam urusan administrasi misalnya, pelayanan yang baik hanya diberikan kepada mereka yang mau membayar, adapun yang tidak membayar, ia akan dilayani asal-asalan,

diperlambat, atau diahirkan. Pada saat yang sama, para penyuap yang datang belakangan, urusannya telah selesai sejak lama. Karena soal suap menyuap, uang yang semestinya milik mereka yang bekerja, bertukar masuk kedalam kantong orang lain, disebabkan oleh hal ini, juga hal yang lain maka tak heran jika Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memohon agar orang-orang yang memiliki andil dalam urusan suap menyuap semuanya dijauhkan dari rahmat Allah. Dari Abdullah bin Amr Radhiallahu’anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Semoga laknat Allah atas penyuap dan orang yang disuap” (HR Ibnu Majah, 2313; shahihul jam’ : 5114). ———————— MERAMPAS TANAH MILIK ORANG LAIN Jika telah hilang rasa takut kepada Allah Subhanahu wata’ala, maka kekuatan dan kelihaian menjadi bencana bagi pemiliknya. Ia akan menggunakan anugrah itu untuk berbuat zhalim, misalnya dengan menguasai harta orang lain. Termasuk di dalamnya merampas tanah milik orang lain. Ancaman untuk orang yang melakukan hal tersebut sungguh amat keras sekali. Dalam hadits marfu’ dari Abdullah bin Umar Radhiallahu’anhu disebutkan : “Barang siapa mengambil tanah (orang lain) meski sedikit dengan tanpa hak niscaya dia akan ditenggelamkan dengannya pada hari kiamat sampai ke (dasar) tujuh lapis bumi” (HR Al Bukhari, lihat fathul Bari : 5/103). Ya’la bin Murrah Radhiallahu’anhu berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Siapa yang menzhalimi (dengan mengambil) sejengkal dari tanah (orang lain) niscaya Allah membebaninya dengan menggali tanah tersebut (dalam riwayat Ath Thabrani : menghadirkannya) hingga akhir dari tujuh lapis bumi, lalu Allah mengkalungkannya (di lehernya) pada hari kiamat sehingga seluruh manusia diadili” (HR Ath Thabrani dalam Al Kabir, 22/270; shahihul jam’: 2719). Termasuk di dalamnya, mengubah batas dan patok-patok tanah, sehingga tanahnya menjadi luas dengan mengurangi tanah milik tetangganya. Mereka itulah yang dimaksud oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dalam sabdanya : “Allah melaknat orang yang mengubah tanda-tanda (batasan) tanah” (HR Muslim, syarah Nawawi, 13/141). ———————— MENERIMA HADIAH SETELAH MENOLONG Pangkat dan kedudukan di tengah manusia -jika disyukuri- merupakan salah satu nikmat Allah Subhanahu wata’ala atas hambaNya. Di antara cara bersyukur atas nikamat ini adalah dengan menggunakan pangkat dan kedudukan tersebut buat mashlahat dan kepentingan umat. Ini merupakan realisasi dari sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : “Barangsiapa di antara kalian bisa memberi manfaat kepada saudaranya, hendaknya ia lakukan” (HR Muslim :4/1726). Orang yang dengan pangkatnya bisa memberikan manfaat kepada saudaranya sesama muslim, baik dalam mencegah kezhaliman daripadanya atau mendatangkan manfaat

untuknya –jika niatnya Ikhlas- tanpa diikuti perbuatan haram atau merugikan orang lain ia akan mendapat pahala di sisi Allah Tabaroka wata’ala. Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : “Berilah pertolongan, niscaya kalian diberi pahala” (HR Abu Dawud, 5132, Hadits ini terdapat dalam shahihain, Fathul Bari, 10/450, bab Ta’awanul mukminin Ba’dhuhum Ba’dha). Tetapi ia tidak boleh mengambil upah dari pertolongan dan perantaraan yang ia berikan. Ini berdasarkan hadits marfu’ dari Abu Umamah: “barangsiapa memberi pertolongan kepada seseorang, lalu ia diberi hadiah (atas pertolongan itu) kemudian (mau) menerimanya, sungguh ia telah mendatangi pintu yang besar di antara pintu-pintu riba” (HR Imam Ahmad, 5/261, shahihul jami’ : 6292). Sebagian orang menggunakan pangkat dan jabatannya untuk mengeruk keuntungan materi. Misalnya dengan mensyaratkan imbalan dalam pangangkatan kepegawaian seseorang, atau dalam memindahtugaskan pegawai dari satu daerah ke daerah lain, atau juga dalam mengobati pasien yang sakit, dan hal lain yang semacamnya. Berkata Syaikh Abdul Aziz bin Baz, menurut pendapat yang kuat, imbalan yang diterimanya itu hukumnya haram. Berdasarkan hadits Abu Umamah sebagaimana telah disebut di muka. Bahkan secara umum hadits itu mencakup pula penerimaan imbalan yang tidak disyaratkan di muka. cukuplah orang yang berbuat baik itu mengharap imbalannya dari Allah kelak pada hari kiamat. Suatu hari seorang laki-laki datang kepada Al Hasan bin Sahal meminta pertolongan dalam suatu keperluan, sehingga ditolongnya. Laki-laki itu berterima kasih kepada Al Hasan. Tetapi Al Hasan bin Sahal berkata :” Atas dasar apa engkau berterima kasih kepada kami ? Kami memandang bahwasanya pangkat wajib dizakati, sebagaimana harta wajib dizakati.” [Al Adab Asy Syar’iyah oleh Ibnu Muflih : 2/176] Perlu dicatat, ada perbedaan antara mengupah dan menyewa seseorang untuk melakukan tugas, mengawasi atau menyempurnakannya dengan menggunakan pangkat dan kedudukannya untuk tujuan materi. Yang pertama, jika memenuhi persyaratan syari’at diperbolehkan karena termasuk dalam bab sewa menyewa, sedang yang kedua hukumnya haram. ———————— TIDAK MEMENUHI HAK-HAK PEKERJA Dalam hubungan antara pemilik usaha dengan pekerja, Nabi Shallallahu’alaihi wasallam menganjurkan disegerakannya pemberian hak pekerja, beliau bersabda : “berikanlah upah pekerja sebelum kering keringatnya” [HR Ibnu Majah, 2/817; Shahihul Jami’ 1493] Lebih bijaksana jika dikomentari tentang derajat hadits, sebab ia termasuk Hadits dhaif – ket : Syaikh bin Baz. Salah satu bentuk kezhaliman di tengah masyarakat muslim adalah tidak memberikan hak-hak pegawai, pekerja, karyawan atau buruh sesuai dengan yang semestinya. Bentuk kezhaliman itu beragam di antaranya : 1. sama sekali tidak memberikan hak-hak pekerja, sedang si pekerja tidak memiliki bukti. Dalam hal ini, meskipun si pekerja kehilangan haknya di dunia, tetapi di sisi Allah pada hari kiamat kelak, hak tersebut tidak hilang. Orang zhalim itu karena telah memakan harta orang yang dizhaliminya, diambil daripadanya kebaikan yang pernah ia lakukan

untuk diberikan kepada orang yang dizhalimi. Jika kebaikannya telah habis, maka dosa yang ia zhalimi itu diberikan kepadanya, lalu ia dicampakkan di neraka. 2. mengurangi hak pekerja dengan cara yang tidak dibenarkan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman : “kecelakaan besarlah bagi mereka yang curang” (Al Muthaffifin :1) Hal itu sebagaimana banyak dilakukan pemilik usaha terhadap para pekerja yang datang dari daerah. Di awal perjanjian, mereka sepakat terhadap jumlah upah tertentu. tetapi jika si pekerja telah terikat dengan kontrak dan memulai pekerjaannya, pemilik usaha mengubah secara sepihak isi perjanjian lalu mengurangi dan memotong upah pekerjaannya dengan berbagai dalih. Si pekerja tentu tidak bisa berkutik dengan posisinya yang serba sulit; antara kehilangan pekerjaan dan upah di bawah batas minimum. Bahkan terkadang si pekerja tak mampu membuktikan hak yang mesti ia terima, akhirnya si pekerja hanya bisa mengadukan halnya kepada Allah Subhanahu wata’ala. Jika pemilik usaha yang zhalim itu seorang muslim sedang pekerjanya seorang kafir, maka kezhaliman yang dilakukannya termasuk bentuk menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, sehingga dialah yang menanggung dosa orang tersebut. 3. memberi pekerjaan atau menambah waktu kerja (lembur), tetap hanya memberikan gaji pokok dan tidak memperhitungkan pekerjaan tambahan dan waktu lembur. 4. mengulur-ulur pembayaran gaji, sehingga tidak memberikan gaji kecuali setelah melalui usaha keras pekerja, baik berupa pengaduan, tagihan, hingga usaha lewat pengadilan. Mungkin maksud pengusaha menunda-nunda pemberian gaji agar si pekerja bosan, lalu meninggalkan haknya dan tidak lagi menuntut. Atau selama tenggang waktu tertentu, ia ingin menggunakan uang pekerja untuk suatu usaha. Dan tidak mustahil ada yang membungakan uang tersebut, sedang pada saat yang sama, para pekerja merana tidak mendapatkan apa yang dimakan sehari-hari, juga tak bisa mengirim nafkah kepada keluarga dan anak-anaknya yang sangat membutuhkan, padahal demi merekalah para pekerja itu membating tulang jauh di negeri orang. Sungguh celakalah orang yang zhalim itu, kelak pada hari kiamat mereka akan mendapat siksa yang sangat pedih dari Allah Subhanahu wata’ala. Dalam riwayat dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu disebutkan, bersabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : Allah Subhanahu wata’ala berfirman : “Tiga jenis (manusia) yang aku menjadi musuhnya kelak pada hari kiamat, laki-laki yang memberi dengan namaKu lalu berkhianat, laki-laki yang menjual orang merdeka (bukan budak) lalu memakan harga uang hasil penjualannya dan laki-laki yang mempekerjakan, sedang ia memenuhi pekerjaannya, tetapi ia tidak memberikan upahnya” (HR Al Bukhari, Fathul Bari :5/211). ———————— TIDAK ADIL DI ANTARA ANAK Di antara orang tua ada yang sengaja memberikan perlakuan khusus dan istimewa kepada sebagian anaknya, anak-anak itu diberikan berbagai macam pemberian, sedangkan yang lain tidak demikian. Menurut pendapat yang kuat, tindakan semacam itu hukumnya haram, jika tidak ada alasan yang membolehkannya. Misalnya anak tersebut memang dalam kondisi yang

berbeda dengan anak-anak yang lain. Seperti sedang sakit atau dililit banyak utang sehingga tak mampu membayar atau tidak mendapat pekerjaan atau memiliki keluarga besar atau sedang menuntut ilmu atau karena ia hafal Al Qur’an sehingga ia diberi hadiah khusus oleh sang ayah Secara umum, hal ini dibolehkan manakala masih dalam hal memberi nafkah kepada anak yang lemah, sedang sang ayah mampu – ket : Syaikh Bin Baz. Jika sang ayah memberi anaknya sesuatu dengan sebab yang dibenarkan syara’, hendaknya ia berniat jika anaknya yang lain dalam kondisi yang sama, ia akan memberinya pula. Dalilnya secara umum adalah firman Allah Subhanahu wata’ala: “Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa, dan bertakwalah kepada Allah” (Al Maidah : Adapun dalilnya secara khusus adalah hadits riwayat Nu’man bin Basyir Radhiallahu’anhu: Suatu hari sang ayah mengajaknya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, sang ayah berkata: ”sesungguhnya aku telah memberikan kepada putraku ini seorang budak”. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bertanya : apakah setiap anakmu juga engkau beri hal yang sama? ia menjawab :” tidak!” Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :” kembalikanlah (budak itu)” (HR Al Bukhari, fathul Bari : 5/211). Dalam riwayat lain Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah di antara anakmu” ia berkata: “kemudian ia pulang lalu mengembalikan pemberiannya” (HR Al Bukhari, lihat Fathul Bari : 5/211). Dalam suatu riwayat disebutkan : “Jika begitu janganlah engkau menjadikanku saksi, karena aku tidak memberi kesaksian atas suatu kezhaliman “ (Shahih Muslim : 3/2/1243) Menurut Imam Ahmad, anak laki-laki mendapat pemberian dua kali lipat bagian anak perempuan, yakni seperti dalam pembagian warisan [Masa’ilul Imam Ahmad, oleh Abu Dawud, hal. 204. Imam Ibnu Qayyim telah mentahqiq masalah ini dalam Hasyiah Ala Abi Dawud dengan keterangan yang sangat jelas] Bila kita perhatikan kondisi sebagian keluarga, kita akan mendapatkan beberapa orang tua yang tidak takut kepada Allah dalam soal pengistimewaan sebagian anaknya atas anaknya yang lain dengan berbagai pemberian. Tindakan yang kemudian membuat anak saling cemburu, menumbuhkan permusuhan dan kebencian di antara sesama mereka. Sebagian ayah mengistimewakan salah seorang anaknya hanya karena wajah anak tersebut mirip dengan keluarga dari pihak ayah, sedang yang lain dianak tirikan karena lebih menyerupai dengan wajah keluarga pihak ibu. Atau ia mengistimewakan anak-anak dari salah seorang istrinya, sedang anak-anak dari istri yang lain kurang ia pedulikan. Hal itu misalnya dengan memasukkan anak-anak dari istri yang paling disayanginya ke sekolah-sekolah favorit, sedang anak-anaknya dari istri yang lain tidak demikian. Padahal akibat tindakan tersebut kelak akan kembali kepada dirinya sendiri. Sebab pada umumnya, mereka yang dianak tirikan tidak mau membalas budi kepada orang tuanya. Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Bukankah akan menyenangkanmu jika mereka sama-sama berbuat baik kepadamu“ (HR Ahmad, 4/269: Shahih Muslim : 1623) ————————

MEMINTA-MINTA DI SAAT BERKECUKUPAN Sahl bin Hanzhaliyah Radhiallahu’anhu meriwayatkan, bersabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam “Barangsiapa meminta-minta sedang ia dalam keadaan berkecukupan, sungguh orang itu telah memperbanyak (untuk dirinya) bara api jahannam” mereka bertanya, “apakah (batasan) cukup sehingga (seseorang) tidak boleh meminta-minta?” Beliau Shallallahu’alaihi wasallam menjawab, “yaitu sebatas (cukup untuk) makan pada siang dan malam hari” (HR Abu Dawud:2/281, shahihul Jami’ :6280) Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu meriwayatkan, bersabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : “barangsiapa meminta-minta sedang ia dalam kecukupan, maka pada hari kiamat ia akan datang dengan wajah penuh bekas cakaran dan garukan” [HR Ahmad 1/388, Shahihul Jami’ 6255] Di antara pengemis ada yang berderet di depan pintu masjid, mereka menghentikan dzikir para hamba Allah yang menuju atau pulang dari masjid dengan ratapan yang dibuat sesedih mungkin. Sebagian lain memakai modus agak berbeda, membawa dokumen dan berbagai surat palsu disertai blangko isian sumbangan. Ketika ia menghadapi mangsanya, ia mengada-ngada cerita sehingga berhasil mengelabuhi dan memperoleh uang. Bagi keluarga tertentu, mengemis bahkan telah menjadi satu profesi. Mereka membagibagi tugas di antara keluarganya pada beberapa masjid yang ditunjuk. Pada saatnya, mereka berkumpul untuk menghitung penghasilan. Dan demikianlah, setiap masjid mereka jalajah. Padahal tak jarang mereka itu dalam kondisi cukup mampu dan sungguh Allah Maha Mengetahui kondisi mereka, dan bila mereka mati barulah terlihat warisannya. Padahal sebetulnya masih banyak orang yang lebih membutuhkan, tetapi orang yang tidak tahu mengira mereka orang-orang mampu. Sebab mereka menahan diri dari meminta-minta, meskipun godaan kebutuhan sangat menjerat. ———————— —NB : Berikut adalah Hadits Nabi Shallallahu’alaihi wasallam yang berkenaan dengan meminta minta, dinukil dari kitab Bulughul Maram oleh Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani, diterjemahkan oleh A. Hasan, pada Bab Zakat mulai hadits ke 38 sd 48 —Hadits ke-38 Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Orang yang selalu meminta-minta pada orang-orang, akan datang pada hari kiamat dengan tidak ada segumpal daging pun di wajahnya.” Muttafaq Alaihi. Hadits ke-39 Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa meminta-minta harta orang untuk memperkaya diri, sebenarnya ia hanyalah meminta bara api. Oleh karenanya, silahkan meminta sedikit atau banyak.” Riwayat Muslim. Hadits ke-40 Dari Zubair Ibnu al-’Awwam Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Seorang di antara kamu yang mengambil talinya, lalu datang dengan

seonggok kayu di atas punggungnya, kemudian menjualnya dan dengan hasil itu ia menjaga kehormatannya adalah lebih baik daripada ia meminta-minta orang yang terkadang mereka memberinya atau menolaknya.” Riwayat Bukhari Hadits ke-41 Dari Samurah Ibnu Jundab Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Meminta-minta adalah cakaran seseorang terhadap mukanya sendiri, kecuali meminta kepada penguasa atau karena suatu hal yang amat perlu.” Hadits shahih riwayat Tirmidzi. Hadits ke-42 Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Zakat itu tidak halal diberikan kepada orang kaya kecuali lima macam, yaitu: Panitia zakat, atau orang yang membelinya dengan hartanya, atau orang yang berhutang, atau orang yang berperang di jalan Allah, atau orang miskin yang menerima zakat kemudian memberikannya pada orang kaya.” Riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah. Hadits shahih menurut Hakim, namun ia juga menilainya cacat karena mursal. Hadits ke-43 Dari Ubaidillah Ibnu Adiy Ibnu al-Khiyar Radliyallaahu ‘anhu bahwa dua orang menceritakan kepadanya bahwa mereka telah menghadap Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam untuk meminta zakat pada beliau. Lalu beliau memandangi mereka, maka beliau mengerti bahwa mereka masih kuat. Lalu beliau bersabda: “Jika kalian mau, aku beri kalian zakat, namun tidak ada bagian zakat bagi orang kaya dan kuat bekerja.” Riwayat Ahmad dan dikuatkan oleh Abu Dawud dan Nasa’i. Hadits ke-44 Dari Abdul Muttholib Ibnu Rabi’ah Ibnu Harits bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya zakat itu tidak patut bagi keluarga Muhammad, karena ia sebenarnya adalah kotoran manusia.” Dan menurut suatu riwayat: “Sesungguhnya ia tidak halal bagi Muhammad dan keluarga Muhammad.” Riwayat Muslim. Hadits ke-45 Jubair Ibnu Muth’im Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku dan Utsman Ibnu Affan pernah menghadap Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, lalu kami bertanya: Wahai Rasulullah, baginda telah memberi seperlima dari hasil perang Khaibar kepada Banu alMutthalib dan baginda meninggalkan kami, padahal kami dan mereka adalah sederajat. Lalu Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Banu alMutthalib dan Banu Hasyim adalah satu keluarga.” Riwayat Bukhari. Hadits ke-46 Dari Abu Rafi’ Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah mengutus seseorang dari Banu Makhzum untuk mengambil zakat. Orang itu berkata kepada Abu Rafi’: Temanilah aku, engkau akan mendapatkan bagian darinya. Ia menjawab: Tidak, sampai aku menghadap Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam untuk menanyakannya. Lalu keduanya menghadap beliau dan menanyakannya. Beliau bersabda: “Hamba sahaya suatu kaum itu termasuk kaum tersebut, dan sesungguhnya tidak halal zakat bagi kami.” Riwayat Ahmad, Imam Tiga, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban. Hadits ke-47 Dari Salim Ibnu Abdullah Ibnu Umar, dari ayahnya Radliyallaahu ‘anhu bahwa

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah memberikan sesuatu kepada Umar Ibnu Khattab. Lalu ia berkata: Berikanlah pada orang yang lebih membutuhkan daripada diriku.” Beliau bersabda: “Ambillah, lalu simpanlah atau bersedekahlah dengannya. Dan apa yang datang kepadamu dari harta semacam ini, padahal engkau tidak membutuhkannya dan tidak meminta, maka ambillah. Jika tidak demikian, maka jangan turuti nafsumu.” Riwayat Muslim. Hadits ke-48 Dari Qobishoh Ibnu Mukhoriq al-Hilaly Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya meminta-minta tidak dihalalkan kecuali bagi salah seorang di antara tiga macam, yakni orang yang menanggung hutang orang lain, ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya, kemudian ia berhenti; orang yang tertimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup; dan orang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga tiga orang dari kaumnya yang mengetahuinya menyatakan: “Si fulan ditimpa kesengsaraan hidup.” ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup. Meminta-minta selain tiga hal itu, wahai Qobishoh, adalah haram dan orang yang memakannya adalah memakan yang haram.” Riwayat Muslim, Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban. ———————— BERHUTANG DENGAN NIAT TIDAK MEMBAYAR Dalam pandangan Allah, hak-hak hamba adalah sangat besar nilainya. Seseorang bisa saja bebas dari hak Allah hanya dengan taubat, tetapi tidak demikian halnya dengan hak yang berkaitan dengan hamba. Hak-hak yang berkaitan antara sesama manusia –yang belum terselesaikan– kelak akan diadili pada hari yang utang piutang tidak dibayar dengan dinar atau dirham tetapi dibayar dengan pahala atau dosa. Dalam kaitan hak antar sesama manusia Allah Subhanahu wata’ala berfirman : “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak” (An Nisa : 58). Di antara masalah yang banyak terjadi di tengah-tengah masyarakat adalah gampang berhutang. Ironisnya, sebagian orang berhutang tidak karena kebutuhan mendesak, tetapi untuk memenuhi kebutuhan mewah atau berlomba dengan tetangga-tetangga. Misalnya dalam membeli mobil model baru, perkakas rumah tangga atau berbagai kesenangan lainnya yang bersifat duniawi dan fana. Sebagian orang tak segan-segan membeli barangbarang secara kridit yang sebagiannya tak lepas dari syubhat atau sesuatu yang haram. Mudah dalam berhutang akan menyeret seseorang pada kebiasaan menunda-nunda pembayaran, atau malah mengakibatkan hilangnya barang orang lain. Memperingatkan akibat perbuatan ini, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa mengambil atau (menghutang) dan ia ingin melunasinya, niscaya Allah akan melunaskan hutangnya. Dan barangsiapa mengambil (menghutang) dengan keinginan untuk merugikannya (tidak membayar) niscaya Allah akan benar-benar membinasakannya (HR Al Bukhari,Fathul Bari : 5/54). Banyak orang yang meremehkan soal hutang piutang, mereka menganggapnya masalah sepele, padahal di sisi Allah hutang-piutang merupakan masalah yang besar. Bahkan hingga seorang syahid yang memiliki beberapa keistimewaan yang agung, pahala yang besar dan derajat yang tinggi, tidak bisa lepas dari hutang piutang.

Dalil yang menegaskan hal tersebut adalah sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : “Mahasuci Allah, betapa kerasnya apa yang diturunkan Allah dalam urusan utangpiutang, demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya, seandainya seorang laki-laki dibunuh di jalan Allah kemudian ia dihidupkan lalu dibunuh (lagi) kemudian di hidupkan, lalu dibunuh (lagi) sedang ia memiliki hutang, sungguh ia tak akan masuk surga sehingga dibayarkan untuknya hutang tersebut” (HR An Nasai, Al Mujtaba,7/413, Shahihul Jami’ : 3594) setelah mengetahui hal ini, masih tak di pedulikah orang-orang yang menggampangkan urusan utang-piutang? ———————— MEMAKAN HARTA HARAM Orang yang tidak takut kepada Allah, tentu tak peduli dari mana harta dan bagaimana ia menggunakannya. Yang menjadi pikirannya siang dan malam hanyalah bagaimana menambah simpanannya meski berupa harta haram, baik dari hasil pencurian, suap, ghasap (merampas), pemalsuan, penjualan sesuatu yang haram, kegiatan ribawi, memakan harta anak yatim, atau gaji dari pekerjaan haram seperti perdukunan, pelacuran, menyanyi, korupsi dari baitul mal umat Islam atau harta milik umum, mengambil harta orang lain secara paksa, atau meminta disaat berkecukupan dan sebagainya. Lalu dengan harta haram itu ia makan, berpakaian, berkendaraan, membangun rumah, atau menyewanya, melengkapi perabotannya, serta membuncitkan perutnya dengan halhal yang haram tersebut. Padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Setiap daging yang tumbuh dari yang haram maka neraka lebih pantas baginya” (HR Ath Thabrani dalam Al Kabir, 19/136, Shahihul Jami’ : 4495). Pada hari kiamat ia akan ditanya tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan bagaimana ia menggunakannya. Di sana tentu ia akan mengalami kerugian dan kehancuran besar. Karena itu, orang yang memiliki harta haram hendaknya segera berlepas diri daripadanya. Jika merupakan hak antar manusia maka ia harus segera mengembalikannya kepada yang berhak, dengan memohon maaf dan kerelaan, sebelum datang suatu hari yang hutang piutang tidak lagi dibayar dengan uang, tetapi dengan pahala atau dosa. ———————— MINUM ARAK MESKI HANYA SETETES Allah Subhanahu wata’ala berfirman : “Sesungguhnya (minuman) arak, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbutan keji termasuk perbuatan syaitan, maka jauhilah perbuatanperbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (Al Maidah :90). Perintah untuk menjauhi adalah salah satu dalil paling kuat tentang haramnya sesuatu. Di samping itu, pengharaman arak sebagaimana disebutkan ayat di atas disejajarkan dengan pengharaman berhala-berhala, yakni tuhan orang-orang kafir dan patung-patung mereka. Karena itu tak ada lagi alasan bagi orang yang mengatakan, ayat Alqur’an tidak mengatakan minuman arak itu haram tetapi hanya mengatakan jauhilah!! Dalam sunnahnya Nabi Shallallahu’alaihi wasallam mengabarkan tentang ancaman bagi peminum arak, sebagaimana yang diriwayatkan Jabir Radhiallahu’anhu dalam sebuah hadits marfu’:

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala memiliki janji untuk orang-orang yang meminum minuman keras, akan memberinya minum dari Thinatul khabal” mereka bertanya : “ wahai Rasulullah, apakah Thinatil khabal itu ? beliau menjawab : keringat ahli neraka atau cairan kotor (yang keluar dari tubuh) penghuni neraka (HR Muslim : 3/1587). Dalam hadits marfu’ Ibnu Abbas meriwayatkan : “Barang siapa meninggal sebagai peminum arak, maka ia akan bertemu dengan Allah dalam keadaan seperti penyembah berhala” (HR Ath Thabrani, 12/45, Shahihul Jami’ : 6525) Saat ini jenis minuman keras dan arak sangat beragam. Nama-namanya juga sangat banyak baik dengan nama lokal maupun asing. Di antaranya, bir, wiski, alkohol, vodka, sampanye, arak, dan sebagainya. Di zaman ini pula, telah muncul golongan manusia sebagaimana disebutkan Nabi Shallallahu’alaihi wasallam dalam sabdanya : “Sungguh akan ada dari umatku yang meminum arak, (tetapi) mereka menamakannya dengan nama yang lain” (HR Ahmad, 5/342, Shahihul Jami’ : 5453). Mereka tidak menamakannya arak, tetapi menamakannya dengan nama lain, untuk menipu dan memperdaya orang. “Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri, sedang mereka tidak sadar” (Al Baqarah : 9). Syariat Islam telah memberikan definisi agung tentang khamar (minuman keras), sehingga membuat jelas masalah dan memotong tipu daya, fitnah dan permainan orangorang yang tidak takut kepada Allah. Definisi itu adalah sebagaimana di sabdakan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : “Setiap yang memabukkan adalah khamar, dan setiap yang memabukkan adalah haram” (HR Muslim : 3/ 1587). Jadi, setiap yang merusak akal dan memabukkan adalah hukumnya haram, sedikit atau banyak, juga meskipun namanya berbeda-beda, sebab pada hakekatnya jenis minumannya tetap satu dan hukumnya telah diketahui oleh kalangan umum. Hadits yang mengatakan, “semua yang banyak jika memabukkan, maka sedikitpun diharamkan” [diriwayatkan Abu Dawud dengan No : 3681, tertera dalam Shahih beliau dengan no : 3128) Yang terakhir dan ini merupakan wejangan dari Nabi Shallallahu’alaihi wasallam kepada para peminum Khamar, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa minum khamar dan mabuk, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh pagi, dan jika meninggal ia masuk neraka. (tetapi) manakala ia bertaubat, Allah akan menerima taubatnya. Dan jika kembali lagi minum dan mabuk, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh pagi, jika meninggal ia masuk neraka, (tetapi) manakala ia bertaubat, Allah menerima taubatnya. Dan jika kembali lagi minum dan mabuk, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh pagi, jika meninggal ia masuk neraka, (tetapi) manakala ia bertaubat, Allah menerima taubatnya. Dan jika (masih) kembali lagi (minum khamar) maka adalah hak Allah memberinya minum dari radghatul khabal pada hari kiamat” mereka bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah radghatul khabal itu? beliau menjawab : “cairan kotor (yang keluar dari tubuh) penghuni neraka” (HR Ibnu Majah, 3377, shahihul Jami’ 6313) Jika gambaran keadaan peminum minuman keras adalah sebagaimana yang kita ketahui

di muka, maka bagaimana pula dengan gambaran keadaan orang-orang yang melakukan sesuatu yang lebih keras dan berbahaya dari itu, yakni sebagai pecandu narkotika dan sebagainya? -----------------------MENGGUNAKAN BEJANA DARI EMAS DAN PERAK saat ini hampir setiap toko-toko ada alat-alat perabotan rumah tangga menjual aneka ragam bejana yang terbuat dari emas dan perak atau bejana yang disepuh dengan keduanya. Demikian juga rumah orang-orang kaya dan hotel-hotel mewah, bahkan saat ini bejana emas dan perak memberi kelas dan gengsi tersendiri jika dihadiahkan sebagai cindera mata kepada kawan karib atau kolega pada kesempatan-kesempatan tertentu. Sebagian orang, ada yang tidak memajang barang-barang itu di etalase rumahnya, tetapi mereka pergunakan dalam kesempatan-kesempatan pesta, atau dipinjamkan kepada kawankawannya yang membutuhkan. Semua hal yang disebutkan di atas, dalam syariat Islam hukumnya haram. Dalam hadits yang di riwayatkan Ummu salamah, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memberikan ancaman kepada mereka, beliau bersabda : “Orang yang makan atau minum di bejana perak atau emas, sesungguhnya ia menggemuruhkan api jahannam di perutnya” (HR Muslim : 3/1634) ketentuan hukum di atas berlaku untuk semua perabotan dan perlengkapan makan. Seperti piring, garpu, sendok, pisau, nampan untuk menyuguhkan makanan kepada tamu, kaleng kue yang disuguhkan saat pesta dan bejana lainnya yang terbikin dari bahan emas dan perak. Sebagian orang berkata, kami tidak menggunakan bejana-bejana tersebut, tetapi hanya menyimpannya di almari sebagai perhiasan, semacam ini juga tidak diperbolehkan, demi mencegah kemungkinan dipakainya perabotan tersebut [Diambil dari keterangan Syaikh Abdul Aziz bin Baz secara lisan] ———————— KESAKSIAN PALSU Allah Subhanahu wata’ala berfirman : “Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta, dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia” (Al Hajj: 30-31). Diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Abi Bakrah Radhiallahu’anhu dari ayahnya, ia berkata, “Kami sedang berada di sisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam lalu beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Maukah, aku kabarkan kepada kalian tentang tiga dosa besar ? (tiga kali) yaitu menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua,” (ketika beliau bersender, kemudian beliau duduk dan berkata) : ketahuilah, dan perkataan dosa.” Ia berkata : “dan Rasulullah masih terus mengulang-ngulangnya sehingga kami berkata : “sekiranya beliau diam” (HR Al Bukhari, Fathul Bari : 5/261). Berulang-ulangnya peringatan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam tentang kesaksian palsu tersebut karena banyak orang yang meremehkannya. Di samping banyak faktor yang mengakibatkan kesaksian palsu, misalnya karena permusuhan, dengki, dan sebagainya. Juga karena kesaksian palsu mengakibatkan berbagai bentuk kerusakan di

muka bumi. Berapa banyak orang yang kehilangan hak-haknya karena kesaksian palsu, berapa banyak pula penganiayaan menimpa orang-orang yang tidak berdosa di sebabkan kesaksian palsu, atau seseorang mendapatkan sesuatu yang bukan haknya, atau dinisbatkan kepada nasab yang bukan nasabnya. Semua itu disebabkan karena kesaksian palsu. Termasuk menganggap enteng masalah ini adalah apa yang dilakukan oleh sebagian orang di pengadilan dengan mengatakan kepada seseorang yang ia temui: “jadilah saksi untukku, nanti aku akan menjadi saksi untukmu.” Maka laki-laki itupun memberikan kesaksian atas perkara yang tidak ia ketahui. Misalnya memberi kesaksian tentang pemilikan tanah, rumah, atau keterangan bersih diri. Padahal dia tidak pernah bertemu dengan orang tersebut kecuali di pintu pengadilan atau di koridor / lobi. Ini adalah satu kedustaan. Seharusnya, semua bentuk kesaksian itu adalah sebagaimana disebutkan dalam firman Allah : “Dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui” ( Yusuf : 81). ———————— MENDENGARKAN DAN MENIKMATI MUSIK Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu bersumpah dengan nama Allah bahwa yang dimaksud dengan firman Allah: “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan, mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan” (Luqman : 6) adalah nyanyian [Tafsir Ibnu Katsir : 6/333] Abi Amir dan Abi Malik Al Asy’ari Radhiallahu’anhu meriwayatkan, bersabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam: “Kelak akan ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamar, dan alat-alat musik” (HR Al Bukhari, Fathul Bari : 10/51) Dan dalam hadits Anas bin Malik Radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Kelak akan terjadi pada umat ini (tiga hal) : (mereka) ditenggelamkan (kedalam bumi), dihujani batu, dan diubah bentuk mereka, yaitu jika mereka minum arak, mengundang biduanita-biduanita (untuk menyanyi) dan menabuh (membunyikan) musik” [As Silsilah Ash Shahihah, 2203, diriwayatkan Ibnu Abi Dunya dalam kitab Dzammul Malahi dan At Tirmidzi no : 2212]. Nabi Shallallahu’alaihi wasallam melarang gendang, lalu menyatakan, seruling adalah suara orang bodoh dan tukang maksiat. Para ulama terdahulu seperti Imam Ahmad Ibnu Hanbal Rahimahullah berdasarkan hadits–hadits shahih yang melarang alat-alat musik secara mutlak telah menetapkan haramnya alat-alat musik seperti kecapi, seruling, rebab, simbab, dan yang lainnya. Tidak diragukan lagi, alat-alat musik modern yang kita kenal saat ini masuk dalam kategori alat-alat musik yang dilarang oleh Nabi Shallallahu’alaihi wasallam. seperti piano, biola, harpa, gitar, dan sebagainya. Bahkan alat modern tersebut lebih cepat mempengaruhi mabuknya jiwa dari pada alat-alat musik zaman dulu yang telah diharamkan dalam beberapa hadits. Menurut penuturan para ulama, di antaranya Ibnu Qayyim, keterlenaan dan mabuknya jiwa akibat pengaruh nyanyian lebih besar bahayanya dari pada akibat minum arak.

Kemudian tak diragukan lagi, pelanggarannya akan lebih keras dan dosanya akan lebih besar jika alat-alat musik tersebut diiringi dengan nyanyian, baik oleh biduan atau biduan wanita. Lalu, bahayanya akan lebih bertumpuk jika untaian kata-kata syairnya berkisah tentang cinta, asmara, kecantikan wanita atau kegagahan pria Karena itu tidak mengherankan jika para ulama menyebutkan, nyanyian adalah sarana yang menghantarkan pada perbuatan zina, menumbuhkan perasaan nifak di dalam hati. Dan secara umum, nyanyian dan musik adalah tema besar zaman ini yang melahirkan banyak fitnah. Musibah itu semakin menjadi-jadi, setelah pada saat ini kita saksikan musik menyelusup setiap barang dan ruang. Seperti jam dinding, bel, mainan anak-anak, komputer, pesawat telpon, dan sebagainya. Saat ini bahkan kita kenal istilah dakwah lewat musik. Adakah pencampuradukan antara kebenaran dan kebatilan yang lebih nyata dari ini ? Untuk menghindari barbagai hal di atas sungguh memerlukan kekuatan hati yang tangguh. Mudah-mudahan Allah menjadi penolong kita semua. Amin ….. ———————— GHIBAH (MENGGUNJING) Dalam banyak pertemuan di majlis, sering kali yang dijadikan hidangannya adalah menggunjing (membicarakan orang lain). Padahal Allah Subhanahu wata’ala melarang hal tersebut, dan menyeru agar segenap hamba menjahuinya. Allah menggambarkan dan mengidentikkan ghibah dengan sesuatu yang amat kotor dan menjijikkan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman : “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain, sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati ? maka tentulah kamu merasa jijik dengannya” (Al Hujurat : 12) Nabi Shallallahu’alaihi wasallam menerangkan makna ghibah (menggunjig) dengan sabdanya : “Tahukah kalian apakah ghibah itu? Mereka menjawab : Allah dan RasulNya yang mengetahui. Beliau bersabda : Yaitu engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang dibencinya, ditanyakan : “Bagaimana halnya jika apa yang aku katakan itu (memang) terdapat pada saudaraku ? beliau menjawab : jika apa yang kamu katakan terdapat pada saudaramu maka engkau talah menggunjingnya (melakukan ghibah) dan jika ia tidak terdapat padanya maka engkau telah berdusta padanya” (HR Muslim : 4/2001) jika ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seorang muslim, sedang ia tidak suka (jika hal itu disebutkan), baik dalam soal keadaan jasmaninya, agamanya, kekayaannya, hatinya, Akhlaknya, bentuk lahiriyahnya dan sebagainya. Caranyapun bermacam-macam. Di antaranya dengan membeberkan aib, menirukan tingkah laku atau gerak tertentu dari orang yang dipergunjingkan dengan maksud mengolok-olok. Banyak orang meremehkan masalah ghibah, padahal dalam pandangan Allah ia adalah sesuatu yang keji dan kotor. Hal itu dijelaskan dalam sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : “Riba itu ada tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan daripadanya sama dengan seorang laki-laki yang menyetubuhi ibunya (sendiri) dan yang paling berat adalah pergunjingan seorang laki-laki atas kehormayan saudaranya” (As Silsilah Ash Shahihah : 1871).

Wajib bagi orang yang hadir dalam majlis yang sedang menggunjingkan orang lain, untuk mencegah kemungkaran dan membela saudaranya yang dipergunjingkan. Nabi Shallallahu’alaihi wasallam amat menganjurkan hal demikian, sebagaimana dalam sabdanya : “barangsiapa menolak (ghibah atas) kehormatan saudaranya, niscaya pada hari kiamat Allah akan menolak api Neraka dari wajahnya” (HR Ahmad : 6/450, Shahihul Jami’ : 6238). ———————— NAMIMAH (MENGADU DOMBA) Namimah adalah mengadukan ucapan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak salah satu faktor yang menyebabkan terputusnya ikatan, serta yang menyulut api kebencian dan permusuhan antar sesama manusia. Allah Subhanahu wata’ala mencela pelaku perbuatan tersebut dalam firmanNya : “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina yang banyak mencela, yang kian kemari menghambar fitnah: (Al Qalam : 10-11). Dalam sebuah hadits marfu’ yang diriwayatkan Hudzaifah Radhiallahu’anhu disebutkan : “Tidak akan masuk surga bagi Al Qattat (tukang adu domba] [HR Al Bukhari, lihat Fathul Bari :10/472]. Dalam An Nihayah karya Ibnu Katsir 4/11 disebutkan : “ Al qattat adalah orang yang menguping (mencuri dengar pembicaraan) tanpa sepengetahuan mereka, lalu ia membawa pembicaraan tersebut kepada orang lain dengan tujuan mengadu domba”. Ibnu Abbas meriwayatkan : “(suatu hari) Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melewati sebuah kebun di antara kebun-kebun Madinah, tiba-tiba beliau mendengar dua orang yang disiksa dalam kuburnya, lalu Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : ”Keduanya disiksa, padahal tidak karena masalah yang besar (dalam anggapan keduanya) –lalu bersabda– benar (dalam sebuah riwayat disebutkan: padahal sesungguhnya ia adalah persoalan besar) seorang diantaranya tidak meletakkan sesuatu untuk melindungi diri dari percikan kencingnya dan seorang lagi (karena) suka mengadu domba” (HR Al Bukhari, Fathul Bari :1/317). Di antara bentuk Namimah yang paling buruk adalah hasutan yang dilakukan terhadap seorang lelaki tentang istrinya atau sebaliknya, dengan maksud untuk merusak hubungan suami istri tersebut. Demikian juga adu domba yang dilakukan sebagian karyawan kepada teman karyawannya yang lain. Misalnya dengan mengadukan ucapan-ucapan kawan tersebut kepada direktur atau atasan dengan maksud untuk menfitnah dan merugikan karyawan tersebut. Semua hal ini hukumnya haram. ———————— MELONGOK RUMAH ORANG TANPA IZIN Allah Tabaroka wata’ala berfirman : “Hai orang-orang yang briman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya” (An Nur:27) Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menegaskan, alasan diharuskannya meminta izin adalah karena dikawatirkan orang yang masuk akan melihat aurat rumah. Beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“Sesungguhnya diberlakukannya meminta izin (ketika masuk rumah orang lain) adalah untuk (menjaga) penglihatan” (HR Al Bukhari, fathul Bari : 11/24) Pada saat ini, dengan berdesakannya bangunan dan saling berdempetnya gedung-gedung serta saling berhadap-hadapannya antara pintu dengan pintu dan jendela dengan jendela, menjadikan kemungkinan saling mengetahui isi rumah tetangga kian besar. Ironisnya, banyak yang tak mau menundukkan pandangannya, malah yang terjadi terkadang dengan sengaja, mereka yang tinggal di gedung yang lebih tinggi, dengan leluasa memandangi lewat jendela mereka ke rumah-rumah tetangganya yang lebih rendah. Ini adalah salah satu pengkhianatan dan pemerkosaan terhadap hak-hak tetangga, sekaligus sarana menuju yang diharamkan, karena perbuatan tersebut, banyak kemudian menjadi bencana dan fitnah. Dan disebabkan oleh bahayanya akibat tindakan ini, sehingga syariat Islam membolehkan mencongkel mata orang yang suka melongok dan melihat isi rumah orang lain. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa melongok rumah suatu kaum dengan tanpa izin mereka, maka halal bagi mereka mencongkel mata orang tersebut (HR Muslim: 3/699). Dalam riwayat lain dikatakan : “ … kemudian mereka mencongkel matanya, maka tidak ada diat (ganti rugi) untuknya juga tidak ada qishash baginya” (HR Ahmad,2/385, Shahihul Jami’ : 6022). ———————— BERBISIK EMPAT MATA DAN MEMBIARKAN KAWAN KETIGA Dalam sebuah majlis dan pergaulan, sikap dan tindakan ini sungguh amat tidak terpuji, bahkan sikap dan tindakan seperti ini sebenarnya merupakan langkah syaitan untuk memecah belah umat Islam dan menebarkan kecemburuan, kecurigaan dan kebencian di antara mereka. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menerangkan hukum dan akibat perbuatan ini dalam sabdanya: “Jika kalian sedang bertiga, maka janganlah dua orang berbisik tanpa seorang yang lain, sehingga kalian membaur dalam pergaulan dengan manusia, sebab yang demikian itu akan membuatnya sedih” (HR Al Bukhari, Fathul Bari : 11/83). Termasuk di dalamnya berbisik dengan tiga orang dan meninggalkan orang keempat dan demikian seterusnya. Demikian pula, jika kedua orang tersebut berbicara dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh orang ketiga. Tidak diragukan lagi, berbisik hanya berdua dengan tidak menghiraukan orang ketiga adalah salah satu bentuk penghinaan kepadanya. Atau memberikan asumsi bahwa keduanya menginginkan suatu kejahatan terhadap dirinya. Atau mungkin menimbulkan asumsi-asumsi lain yang tidak menguntungkan bagi kehidupan pergaulan mereka di kemudian hari. ———————— ISBAL (MENURUNKAN ATAU MEMANJANGKAN PAKAIAN HINGGA DI BAWAH MATA KAKI) Di antara yang dianggap sepele oleh manusia, sedang di dalam pandangan Allah merupakan masalah besar adalah soal isbal, yaitu menurunkan atau memanjangkan

pakaian hingga di bawah mata kaki, sebagian ada yang pakaiannya hingga menyentuh tanah, sebagian menyapu debu yang ada di belakangnya. Abu Dzar Radhiallahu’anhu meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Tiga (golongan manusia) yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak pula dilihat dan disucikan serta bagi mereka siksa yang pedih ; Musbil (orang yang memanjangkan pakaiannya sehingga di bawah mata kaki) dalam sebuah riwayat dikatakan: “Musbil kainnya. Lalu (kedua) mannan. Dalam riwayat lain di katakan: Yaitu orang-orang yang tidak memberi sesuatu kecuali ia mengungkit-ungkitnya. Dan (ketiga) orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu. (HR Muslim : 1/102) Orang yang berdalih, saya melakukan isbal tidak dengan niat takabbur (sombong) hanyalah ingin membela diri yang tidak pada tempatnya. Ancaman untuk musbil adalah mutlak dan umum, baik dengan maksud takabbur atau tidak sebagaimana ditegaskan dalam sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : “Kain (yang memanjang) di bawah mata kaki tempatnya di neraka” (HR Imam Ahmad 6/254, Shahihul Jami’ :5571). Jika seseorang melakukan isbal dengan niat takabbur, maka siksanya akan lebih dan berat, yaitu termasuk dalam sabda Nabi Shallallahu’alaihi wasallam : “Barangsiapa menyeret celananya dengan takabbur, niscaya Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat” (HR Al Bukhari: 3/465). Sebab dengan begitu ia melakukan dua hal yang diharamkan sekaligus, yakni isbal dan takabbur. Isbal diharamkan dalam semua pakaian, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam yang diriwayatkan Ibnu Umar Radhiallahu’anhu : “Isbal itu dalam kain celana atau sarung, gamis (baju panjang) dan sorban. Barangsiapa yang menyeret daripadanya dengan sombong maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat” (HR Abu Dawud :4/353, Shahihul Jami’ : 2660). Adapun wanita mereka diperbolehkan menurunkan pakainnya sebatas satu jengkal atau sehasta untuk menutupi kedua telapak kakinya, sebab ditakutkan akan tersingkap oleh angin atau lainnya. Tetapi tidak dibolehkan melebihi yang wajar seperti umumnya busana pengantin (ala barat) yang panjangnya di tanah hingga beberapa meter, bahkan mungkin kainnya harus ada yang membawakan dari belakangnya. ———————– LAKI-LAKI MEMAKAI PERHIASAN EMAS Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Dihalalkan atas kaum wanita dari umatku sutera dan emas, (tetapi keduanya) diharamkan atas kaum lelaki mereka” (Hadits Marfu’ dari Abu Musa Al Asy’ari, riwayat Imam Ahmad : 4 / 393 ; Shahihul Jami’ : 207). Saat ini, di pasar atau toko-toko banyak kita jumpai barang-barang konsumsi laki-laki yang terbuat dari emas. Seperti jam tangan, kaca mata, kancing baju, pena, rantai, medali, dan sebagainya dengan kadar emas yang berbeda-beda. Ada pula yang sepuhan. Termasuk jenis kemungkaran dalam masalah ini adalah; hadiah yang diberikan pada sayembara-sayembara dan pertandingan-pertandingan, misalnya sepatu emas, jam tangan emas pria, dan sebagainya.

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melihat cincin emas di tangan seseorang, serta merta beliau mencopot lalu membuangnya, kemudian beliau bersabda : “Salah seorang dari kamu sengaja (pergi) ke bara api, kemudian memakainya (mengenakannya) di tangannya! Setelah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam pergi, kepada laki-laki itu dikatakan : Ambillah cincinmu itu dan manfaatkanlah! Lalu ia menjawab : “demi Allah, selamanya aku tak akan mengambilnya, karena Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam telah membuangnya” (HR Muslim : 3/ 1655). ———————— MENGENAKAN PAKAIAN PENDEK, TIPIS DAN KETAT Di antara perang yang dilancarkan musuh-musuh Islam pada zaman ini adalah soal mode pakaian. Musuh-musuh Islam itu menciptakan bermacam-macam mode pakaian lalu dipasarkan di tengah-tengah kaum muslimin. Ironinya, pakaian-pakaian tersebut tidak menutup aurat karena amat pendek, tipis dan ketat. Bahkan sebagian besar tidak dibenarkan dipakai oleh wanita, meski di antara sesama mereka atau di depan mahramnya sendiri. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengabarkan bakal munculnya pakaian seperti ini di akhir zaman, beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Dua (jenis manusia) dari ahli neraka yang aku belum melihatnya sekarang yaitu ; kaum yang membawa cemeti-cemeti seperti ekor sapi, mereka memukul manusia dengannya, dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi talanjang, berjalan dengan menggoyanggoyang pundaknya dan berlenggak lenggok, kepala mereka seperti punuk onta yang condong. Mereka tidak akan masuk surga bahkan tidak akan mendapat wanginya, dan sungguh wangi surga telah tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian” (HR Muslim : 3/1680). Termasuk dalam kategori ini adalah pakaian sebagian wanita yang memiliki sobekan panjang dari bawah, atau yang ada lubang di beberapa bagiannya, sehingga ketika duduk tampak auaratnya. Di samping itu, yang mereka lakukan juga termasuk yang menyerupai orang-orang kafir, mengikuti mode serta busana bejat yang mereka buat. Kepada Allah kita memohan keselamatan. Di antara yang juga berbahaya adalah adanya berbagai gambar buruk di pakaian; seperti gambar penyanyi, kelompok-kelompok musik, botol dan cawan arak, juga gambargambar makhluk yang bernyawa, salib, atau lambang-lambang club-club dan organisasiorganisasi non Islam, juga slogan-slogan kotor yang tidak lagi memperhitungkan kehormatan dan kebersihan diri, yang biasanya banyak ditulis dalam bahasa asing. ———————— LAKI-LAKI ATAU WANITA YANG MENYAMBUNG RAMBUTNYA Asma’ binti abu bakar berkata : seorang wanita datang kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam. wanita itu berkata : Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai anakanak perempuan yang pernah terserang campak sehingga rambutnya rontok, kini ia mau menikah, bolehkah aku menyambung (rambut) nya? Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menjawab :

“Allah melaknat perempuan yang menyambung (rambut) dan yang meminta disambungkan rambutnya” (HR Muslim: 3/1676) Dan dari jabir bin Abdillah Radhiallahu’anhu ia berkata : “Nabi Shallallahu’alaihi wasallam melarang wanita menyambung (rambut) kepalanya dengan sesuatu apapun” (HR Muslim :3/1679). Termasuk dalam hal ini adalah mengenakan sanggul dan wig palsu yang biasanya dipasangkan oleh perias-perias yang salon-salon mereka penuh dihiasi dengan berbagai kemungkaran. Termasuk perbuatan haram ini adalah memakai rambut palsu sebagaimana banyak dilakukan orang-orang yang tidak memiliki moral baik dari kalangan artis, bintang film, pemain drama teater dan sebagainya. ———————— LAKI-LAKI MENYERUPAI WANITA ATAU SEBALIKNYA Di antara fitrah yang disyariatkan Allah kepada hambanya yaitu agar laki-laki menjaga sifat kelakiannya seperti yang diciptakan Allah Subhanahu wata’ala. Dan wanita agar menjaga sifat kewanitaannya seperti yang diciptakan Allah Subhanahu wata’ala. Hal ini merupakan salah satu sifat penting yang dimana dengannya kehidupan manusia berjalan normal. Laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki adalah yang menyalahi fitrah, membuka pintu kerusakan serta menyebarkan kepincangan dalam tatanan hidup masyarakat. Hukum semua perbuatan itu adalah haram. Jika suatu nash syari’ menyebutkan laknat terhadap suatu kaum karena melakukan perbuatan tertentu, maka itu menunjukkan keharaman perbuatan tersebut, maka ia termasuk dosa besar. Dalam hadits marfu’ riwayat Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu di sebutkan: “Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki” (HR Al Bukhari Fathul Bari : 10/332). Dalam hadits lain juga Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu meriwayatkan : “Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melaknat laki-laki yang bertingkah laku seperti wanita dan wanita yang bertingkah laku seperti laki-laki” (HR Al Bukhari, fathul Bari, 10/333) penyerupaan yang dimaksud bersifat umum. Misalnya didalam melakukan gerakan tubuh dalam berbicara dalam berjalan dan di dalam seluruh gerak diam. Termasuk di dalamnya cara berpakaian dan berdandan. Laki-laki tidak dibolehkan memakai kalung, gelang, anting, gelang kaki, dan sebagainya. Ironisnya, ini yang banyak kita saksikan, sebab semua itu merupakan perhiasan wanita. Demikian juga sebaliknya, wanita tidak diperbolehkan memakai pakaian yang khusus digunakan laki-laki. Misalnya kemeja, baju atau pakaian khusus untuk pria lainnya. Masing-masing hendaknya menjaga perbedaan jenisnya, dengan memakai pakaian sesuatu dengan fitrahnya. Dalil yang mewajibkan hal tersebut adalah hadits marfu’ riwayat Abu Hurairah : “Allah melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakian laki-laki” ( HR Abu Dawud: 4/355; Shahihul Jami’ : 5071). ————————

MENYEMIR RAMBUT DENGAN WARNA HITAM Hukum menyemir rambut dengan warna hitam adalah haram. Inilah pendapat yang kuat berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : “Kelak pada akhir zaman akan ada kaum yang menyemir (rambutnya) dengan (bahan) hitam seperti tembulon burung merpati, mereka tidak (akan) mendapatkan wanginya surga” (HR Abu Dawud,4/419; Shahihul Jami’ :8153) Hadits ini juga diriwayatkan oleh An Nasai dengan sanad shahih. Ket : Syaikh Bin Baz Perbuatan ini banyak dilakukan orang-orang yang sudah tumbuh uban. Mereka menyemir rambutnya yang sudah putih itu dengan bahan penghitam rambut, sehingga orang tidak mengerti kalau dia telah ubanan. Itu berarti penampilan dengan sesuatu yang palsu. Dengan demikian ia telah menipu segenap hamba Allah. Tak diragukan lagi, perbuatan tersebut mengakibatkan banyak dampak buruk. Misalnya dengan tingkah laku, bahkan mungkin ia akan merasa sombong dan bangga diri karena merasa lebih muda dari usia yang sebenarnya. Berbeda halnya dengan menyemir rambut dengan warna selain warna hitam. Dalam suatu riwayat disebutkan, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menyemir ubannya dengan daun pacar atau semacamnya dengan warna kekuning-kuningan atau kemerah-merahan atau agak dekat ke warna coklat. Pada hari pembukaan kota Mekkah, Abu Quhafah dibawa menghadap Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam sedang kepala dan jenggotnya semua telah memutih, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam lalu bersabda : “Ubahlah ini (uban ini) dengan sesuatu, hindarkanlah (dari warna) hitam “ (HR Muslim : 3/1663) Hukum untuk wanita juga sama. Mereka tidak boleh menyemir rambutnya yang telah memutih dengan warna hitam. ———————— MENGGAMBAR MAKHLUK YANG BERNYAWA Dari Abdullah Bin Mas’ud Radhiallahu’anhu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda “Sesungguhnya orang yang paling keras siksanya kelak pada hari kiamat adalah para perupa” (HR Al Bukhari, Fathul Bari : 10/382) Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam Bersabda: “Allah Tabaroka wata’ala berfirman : “siapakah yang lebih zhalim dari pada orang yang menciptakan (sesuatu) seperti ciptaanKu. Maka hendaknya mereka menciptakan sebutir biji atau menciptakan seekor semut kecil” (HR Al Bukhari, Fathul Bari : 10/385) Dalam hadits marfu’ yang diriwayatkan Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Setiap tukang gambar ada di nereka, diciptakan untuknya (dari) setiap gambar yang ia bikin sebuah nyawa, sehingga disiksa di Jahannam.” Ibnu Abbas berkata : “Jika tidak ada jalan lain kecuali engkau harus menggambar maka gambarlah pepohonan dan sesuatu yang tidak bernyawa” (HR Muslim : 3/1671) Hadits-hadits di muka adalah dalil diharamkannya menggambar sesuatu yang memiliki ruh, baik manusia atau hewan, memiliki bayangan atau tidak. Gambar yang dimaksud bersifat umum, baik berupa cetakan, dengan tangan biasa, relief, ukiran, pahatan, atau

patung yang di buat dengan cetakan, semua hukumnya haram. Seoarang muslim adalah orang yang patuh terhadap ketentuan nash syariat. Ia tidak membantah dengan mengatakan: “saya tidak menyembah dan bersujud kepada gambargambar itu !!” Seandainya orang yang berakal mau sedikit berfikir dan merenungkan satu saja dari bahaya beredarnya gambar-gambar pada saat ini, niscaya ia mengetahui hikmah mengapa gambar-gambar itu diharamkan dalam Islam. Yaitu, betapa saat ini kita saksikan gambargambar telah banyak membuat kerusakan tatanan masyarakat. Gambar-gambar porno merebak di mana-mana. Gambar-gambar tersebut merangsang dan membangkitkan syahwat dan nafsu birahi sehingga tak jarang gara-gara pengaruh melihat gambar tersebut orang kemudian nekat melakukan perbuatan zina. Seharusnya setiap muslim tidak menyimpan di rumahnya gambar-gambar dari makhluk yang bernyawa, karena hal itu akan menjadi sebab enggannya malaikat masuk rumah. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Malaikat tidak masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada anjing atau gambargambar” (HR Al Bukhari, Fathul Bari : 10/380) Di sebagian rumah umat Islam, kita menyaksikan patung-patung, bahkan sebagiannya merupakan sesembahan orang-orang kafir, patung-patung itu dijajar yang menurut dalih mereka sebagai koleksi (Barang antik) atau hiasan. Hukum haramnya patung-patung tersebut tentu lebih keras dari pada yang lainnya, juga gambar yang digantung (di dinding) lebih keras dari yang tidak di gantung. Berapa banyak gambar-gambar yang menyebabkan pengkultusan. Berapa gambargambar yang justru mengungkap kembali luka sejarah yang menyedihkan. Berapa banyak gambar-gambar yang kemudian mengakibatkan saling menyombongkan diri. Ada yang mengatakan, gambar itu sebagai kenangan, ini tidak benar, sebab tempat mengenang, misalnya pada keluarga atau saudara sesama muslim adalah di hati, dengan mendoakan agar mereka diampuni oleh Allah dan mendapatkan rahmat Nya. Karena itu, setiap gambar harus di keluarkan dari rumah atau dihancurkan. Kecuali gambar-gambar yang memang sulit sekali dihilangkan dan sungguh ini adalah bencana umum umat Islam seperti gambar-gambar yang ada di dalam kaleng-kaleng makanan, gambar-gambar dalam kamus, buku-buku referensi dan buku-buku yang ada manfaat di dalamnya. Tetapi dengan tetap berusaha menghilangkannya, jika memungkinkan, terutama gambar-gambar yang kotor dan jauh dari akhlak islam. Dan dibolehkan menyimpan gambar-gambar yang amat dibutuhkan. Misalnya photo diri dalam KTP. Sebagian ulama juga ada yang membolehkan gambar pada perabot-perabot rumah, seperti pada karpet atau alas lantai (yang diinjak kaki). “Maka bertakwalah kamu kepada Allah semampumu” (At Taghabun : 16). ————————

Namimah (Adu Domba)
15May2008 Kategori: Nasihat Untuk Muslimah

Penulis: Ummu Rummaan

Berbicara mengenai bahaya lisan memang tidak ada habisnya. Lisan, hanya ada satu di tubuh, tapi betapa besar bahaya yang ditimbulkan olehnya jika sang pemilik tak bisa menjaganya dengan baik. Ada pepatah yang mengatakan “mulutmu adalah harimaumu”, ini menunjukkan betapa bahayanya lisan ketika kita tidak menjaganya, sedangkan pepatah jawa mengatakan ajining diri ono ing lati, yang maknanya bahwa nilai seseorang ada pada lisannya, nilainya akan baik jika lisannya baik, atau sebaliknya. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi jaminan surga pada seorang muslim yang dapat menjamin lisannya. Dari Sahal bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menjamin untukku apa yang ada di antara kedua dagunya (lisan) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan/farji), maka aku akan menjamin untuknya surga.” (HR. Al-Bukhari) Salah satu bentuk kejahatan lisan adalah namimah (adu domba). Kata adu domba identik dengan kebencian dan permusuhan. Sebagian dari kita yang mengetahui bahaya namimah mungkin akan mengatakan, “Ah, saya tidak mungkin berbuat demikian…” Tapi jika kita tak benar-benar menjaganya ia bisa mudah tergelincir. Apalagi ketika rasa benci dan hasad (dengki) telah memenuhi hati. Atau meski bisa menjaga lisan dari namimah, akan tetapi tidak kita sadari bahwa terkadang kita terpengaruh oleh namimah yang dilakukan seseorang. Oleh karena itu kita benar-benar harus mengenal apakah itu namimah. Definisi Namimah Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan bahwa namimah adalah mengutip suatu perkataan dengan tujuan untuk mengadu domba antara seseorang dengan si pembicara. Adapun Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalaani rahimahullah mengatakan bahwa namimah tidak khusus itu saja. Namun intinya adalah membeberkan sesuatu yang tidak suka untuk dibeberkan. Baik yang tidak suka adalah pihak yang dibicarakan atau pihak yang menerima berita, maupun pihak lainnya. Baik yang disebarkan itu berupa perkataan maupun perbuatan. Baik berupa aib ataupun bukan. Hukum dan Ancaman Syariat Terhadap Pelaku Namimah Namimah hukumnya haram berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Banyak sekali dalil-dalil yang menerangkan haramnya namimah dari Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma’. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, yang artinya, “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah.” (QS. Al Qalam: 10-11) Dalam sebuah hadits marfu’ yang diriwayatkan Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu disebutkan, “Tidak akan masuk surga bagi Al Qattat (tukang adu domba).” (HR. Al Bukhari) Ibnu Katsir menjelaskan, “Al qattat adalah orang yang menguping (mencuri dengar pembicaraan) tanpa sepengetahuan mereka, lalu ia membawa pembicaraan tersebut kepada orang lain dengan tujuan mengadu domba.”

Perkataan “Tidak akan masuk surga…” sebagaimana disebutkan dalam hadist di atas bukan berarti bahwa pelaku namimah itu kekal di neraka. Maksudnya adalah ia tidak bisa langsung masuk surga. Inilah madzhab Ahlu Sunnah wal Jama’ah untuk tidak mengkafirkan seorang muslim karena dosa besar yang dilakukannya selama ia tidak menghalalkannya (kecuali jika dosa tersebut berstatus kufur akbar semisal mempraktekkan sihir -ed). Pelaku namimah juga diancam dengan adzab di alam kubur. Ibnu Abbas meriwayatkan, “(suatu hari) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati dua kuburan lalu berkata, lalu bersabda, “Sesungguhnya penghuni kedua kubur ini sedang diadzab. Dan keduanya bukanlah diadzab karena perkara yang berat untuk ditinggalkan. Yang pertama, tidak membersihkan diri dari air kencingnya. Sedang yang kedua, berjalan kesana kemari menyebarkan namimah.” (HR. Al-Bukhari) Sikap Terhadap Pelaku Namimah Imam An-Nawawi berkata, “Dan setiap orang yang disampaikan kepadanya perkataan namimah, dikatakan kepadanya: “Fulan telah berkata tentangmu begini begini. Atau melakukan ini dan ini terhadapmu,” maka hendaklah ia melakukan enam perkara berikut: 1. Tidak membenarkan perkataannya. Karena tukang namimah adalah orang fasik. 2. Mencegahnya dari perbuatan tersebut, menasehatinya dan mencela perbuatannya. 3. Membencinya karena Allah, karena ia adalah orang yang dibenci di sisi Allah. Maka wajib membenci orang yang dibenci oleh Allah. 4. Tidak berprasangka buruk kepada saudaranya yang dikomentari negatif oleh pelaku namimah. 5. Tidak memata-matai atau mencari-cari aib saudaranya dikarenakan namimah yang didengarnya. 6. Tidak membiarkan dirinya ikut melakukan namimah tersebut, sedangkan dirinya sendiri melarangnya. Janganlah ia menyebarkan perkataan namimah itu dengan mengatakan, “Fulan telah menyampaikan padaku begini dan begini.” Dengan begitu ia telah menjadi tukang namimah karena ia telah melakukan perkara yang dilarang tersebut.”. Bukan Termasuk Namimah Apakah semua bentuk berita tentang perkataan/perbuatan orang dikatakan namimah? Jawabannya, tidak. Bukan termasuk namimah seseorang yang mengabari orang lain tentang apa yang dikatakan tentang dirinya apabila ada unsur maslahat di dalamnya. Hukumnya bisa sunnat atau bahkan wajib bergantung pada situasi dan kondisi. Misalnya, melaporkan pada pemerintah tentang orang yang mau berbuat kerusakan, orang yang mau berbuat aniaya terhadap orang lain, dan lain-lain. An-Nawawi rahimahullah berkata, “Jika ada kepentingan menyampaikan namimah, maka tidak ada halangan menyampaikannya. Misalnya jika ia menyampaikan kepada seseorang bahwa ada orang yang ingin mencelakakannya, atau keluarga atau hartanya.”

Pada kondisi seperti apa menyebarkan berita menjadi tercela? Yaitu ketika ia bertujuan untuk merusak. Adapun bila tujuannya adalah untuk memberi nasehat, mencari kebenaran dan menjauhi/mencegah gangguan maka tidak mengapa. Akan tetapi terkadang sangat sulit untuk membedakan keduanya. Bahkan, meskipun sudah berhatihati, ada kala niat dalam hati berubah ketika kita melakukannya. Sehingga, bagi yang khawatir adalah lebih baik untuk menahan diri dari menyebarkan berita. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Seseorang selayaknya memikirkan apa yang hendak diucapkannya. Dan hendaklah dia membayangkan akibatnya. Jika tampak baginya bahwa ucapannya akan benar-benar mendatangkan kebaikan tanpa menimbulkan unsur kerusakan serta tidak menjerumuskan ke dalam larangan, maka dia boleh mengucapkannya. Jika sebaliknya, maka lebih baik dia diam.” Bagaimana Melepaskan Diri dari Perbuatan Namimah Ya ukhty, janganlah rasa tidak suka atau hasad kita pada seseorang menjadikan kita berlaku jahat dan tidak adil kepadanya, termasuk dalam hal ini adalah namimah. Karena betapa banyak perbuatan namimah yang terjadi karena timbulnya hasad di hati. Lebih dari itu, hendaknya kita tidak memendam hasad (kedengkian) kepada saudara kita sesama muslim. Hasad serta namimah adalah akhlaq tercela yang dibenci Allah karena dapat menimbulkan permusuhan, sedangkan Islam memerintahkan agar kaum muslimin bersaudara dan bersatu bagaikan bangunan yang kokoh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian saling mendengki, saling membenci, saling bermusuhan, dan janganlah kamu menjual barang serupa yang sedang ditawarkan saudaramu kepada orang lain, dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim) Berusaha dan bersungguh-sungguhlah untuk menjaga lisan dan menahannya dari perkataan yang tidak berguna, apalagi dari perkataan yang karenanya saudara kita tersakiti dan terdzalimi. Bukankah mulut seorang mukmin tidak akan berkata kecuali yang baik. Semoga Allah Ta’ala selalu melindungi kita dari kejahatan lisan kita dan tidak memasukkan kita ke dalam golongan manusia yang merugi di akhirat dikarenakan lisan yang tidak terjaga, “Allahumma inni a’uudzubika min syarri sam’ii wa min syarri bashori wa min syarri lisaanii wa min syarri maniyyii.” (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari kejahatan pendengaranku, penglihatanku, lisanku, hatiku dan kejahatan maniku.) Mengumpat dan mengadu Bomba(Namimah) Aug 2, '07 4:58 PM for everyone

Category: Other Mengumpat dan mengadu domba, keduanya adalah seburuk kejahatan dan yang paling banyak berlaku di kalangan masyarakat. Oleh kerana itu hanya sedikit sekali orang yang selamat daripada keduanya. Dalam permasaalahan lidah perkara yang paling penting

yang perlu diingatkan adalah bahawa maksiat ini terdiri dari dua jenis, pertama mengumpat dan kedua mengadu domba(Namimah). Mengumpat atau ghibah ialah menyebut seseorang dengan sesuatu yang tidak di sukainya.Baik yang di sebut itu ada pada badannya, agamanya, dunianya, dirinya, isterinya atau suaminya, pembantu rumahnya, hamba abdinya, serbannya, kesenangannya, cemburunya, air mukanya, dan cuba cari sendiri apa yang nya...nya lagi tu......... Mengumpat dengan menyebut bahagian badan umpamanya, buta, pincang, kabur, botak, pendek, tinggi, hitam, kuning , berkarat, badut, bangan, gemuk, kurus,atau apa lagi yang anda rasa, memang banyak lagi tak tertulis banyaknya.Pada agamanya, misalnya, fasik, khianat, zalim, meremehkan solat, meringan-ringankan masaalah najis, derhaka kepada orang tua, tidak berzakat menurut semestinya atau suka mengumpat. Dan pada zahirnya...misalnya, menyebut orang tidak beradab, tidak peduli orang, tidak mengakui hak orang lain, banyak bicara,omong kosong, banyak makan dan minum, minum tidak pada waktunya, atau duduk bukan padsa tempatnya. Yang berhubung dengan orang tua,misalnya, bapanya fasik, bapanya orang india, Nabthi, orang zanji(afrika), tukang besi, tukang kebun, tukang tenun, tukang bancuh kopi, tukang simen, tukang paip, tukang urut dan sebagainya. Yang mengenai akhlak pula, miksalnya, buruk perangai, sombong, perbualan, suka tergesa-gesa, keras, lemah pendirian, lemah pendapat, lemah batin, lemah lembut, lembut, banyak bersangka buruk, suka merungut dan lain-lain. Yang berhubung dengan pakaian misalnya, menyebut dengan perkataan _luas saku bajunya, jeleber, panjang ekor serbannya, tak padan dengan tubuhnya, tak sesuai dengan tubuhnya, tak ukur badan sendiri, comot, kotor dan sebagainya. Pokoknya menyebut orang lain dengan sesuatu yang menyinggung hati atau terasa di hati mereka, tergores hati mereka dan memalukan muka mereka. Sebagaimana disebutkan bahawa mengumpat(ghibah) ialah menyebut seseorang dengan sesuatu yang tidak di senangi baik orang itu menyebut dengan lisan atau tulisan atau rumusan atau isyarat mata, tangan atau kepala. Kesimpulannya tiap-tiap ungkapan bagi sesuatu yang dapat di ertikan sebagai kekurangan pada diri seseorang lain yang beragama Islam adalah ghibah(umpat) yang di haramkan. Sebagai contoh lainnya; meniru-niru pincangnya jalan seseorang, atau jalan yang selalu menunduk atau lainnya dari bermacam-macam gerak-geri orang yang dianggapnya sebagai sesuatu kekurangan. Ghibah yang seperti ini haram hukumnya tanpa khilafiah. Demikian pula misalnya seorang pengarang buku yang dengan jelas menyebut seseorang di dalam tulisannya umpamanya: "Si anu mengatakan begitu..begini...." Dengan maksud menyebut kekurangan dan menghinanya, maka haram hukumnya. Jika tulisan itu bermaksud untuk menerangkan kesalahannya agar tidak diikuti oleh orang lain atau dengan maksud menerangkan daifnya pendapat itu agar jangan terpedaya orang lain kepadanya, maka cara seperti ini adalah nasihat yang memang wajib di laksanakan.

Demikian pula apabila sewseorang pengarang menulis, "Ada satu kaum atau jemaah mengatakan ini....itu....." Sesungguhnya pendapat mereka itu salah, atau pendapat itu adalah mencerminkan kejahilan mereka atau kelalaian dan seumpamanya." Maka tulisan ini tidak ghibah. Sebab yang di namakan ghibah itu orang yang disebutkan peribadinya dan kalau orang ramai peribadi mereka tidak disebutkan. Dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah bersabda: " Apakah kamu tahu apa itu ghibah?" Para sahabat menjawab: Allah dan RasulNya lebih mengetahui." Rasulullah bersabda: " Ghibah ialah engkau sebut sesuatu yang tidak di sukai oleh temanmu tentangnya." Rasulullah s.a.w. di tanya: "Bagaimana jika ku ucapkan itu memang betul ada pada temanku itu?" Rasulullah s.a.w. menjawab: "Jika apa yang engkau ucapkan itu memang benar ada pada dirinya bererti kamu telah mengumpatnya." Jika apa yang kamu katakan itu tidak benar apa ada padanya bererti kamu mengadaadakan (memfitnah)." (riwayat Muslim, Abu Daud, Tirmizi, dan An Nasal) Tirmizi menyebut hadith ini Hasan sahih. Diantara ghibah yang dilarang(diharamkan) misalnya dikatakan "Yang melakukan begini adalah orang-orang itu." atau "Sebahagian fukaha itu." atau " SAebahagian orang yang mengaku alim itu" atau Sebahagian mufti itu" atau sebahagian orang yang mengaku baik itu" atau "Sebahagian orang yang mengaku zuhud itu" atau sebahagian orang yang bersama kita hari itu" atau sebahagianm orang yang kita lihat dulu itu" atau lainnya, apabila menerima pembicaraan itu dapat memahami siapakah orang yang dimaksudkan itu. Termasuk ghibah yang diharamkan juga cara ghibah para fukaha atau para abid, kerana mereka mengumpat orangsering hanya dengan sindiran saja. Misalnya ketika seseorang dari mereka ditanya: " Bagaimana keadaan si anu?" Ia menjawab, "Semoga Allah menjadikan kita baik." atau Semoga Allah mengampunu kita." atau "Semoga Allah menjadikannya baik."atau " kita mohon saja keselamatan kepada Allah" atau Kita puji Allah yang tidak menguji kita masuk ke dalam kedzaliman" atau "kita berlindung kepada Allah dari kejahatan," atau "Semoga Allah memaafkan kita kerana kurang malu," atau "Semoga Allah memberi keampunan kepada ikta." Dan lain-lain yang mengandungi sindiran bahawa yang ditanyakan itu mempunyai kekurangan sesuatu. Demikian pula apabila seseorang berkata," Si anu itu adakah seperti begitu, ketika tertimpa musibah, padahal kita semua juga kena seperti itu." atau masakan ia tidak berusaha," atau "kita saja berusaha." Inilah contoh-contoh ghibah tidak langsung, tetapi jelas si pendengar atau lawan bewrbicara ini mengerti bahawa maksuidnya ialah menyebut kekurangan seseorang. Sebenarnya semua persoalan ghibah ini sudah jelas berdasarkan Al Quran:

Firman Allah: "Tiada suatu kata pun yang diucapkan melainkan ada didekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (Surah Qaf ayat 18) Firman Allah : "Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi." (surah Al Fajr ayat 14). man Abu Hamid Al-Ghazali mengutip Ijmak umat Islam bahawa ghibah itu ialah kita menyebut sesuatu yang tidak disenangi oleh seseorang ada pada dirinya. Hadis menjelaskan persoalan ini . Hadith: Dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah bersabda: " Sesiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat maka hendaklah(bila berkata) berkata yang baik atau diam saja." (Riwayat Bukhari dan Muslim) Dari Abu Musa Al Asy'ari r.a ia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah s.a.w.: "Wahai Rasulullah, siapakah diantara kaum muslimin yang paling afdhal?" Ia bersabda: ": Orang yang dapat memelihara telinga dan lidahnya." (Riwayat Bukhari dan Muslim) Dari Sahl bin Saad r. a dari Rasulullah s.a.w. sabdanya: "Sesiapa dapat memelihara sesuatu yang antara dua tulang rahangnya(yakni mulut) dan sesuatu yang ada antara dua kakinya(yakni kehormatan) kerana (syaria'at yang ku bawa) nescaya baginya ku jamin masuk syurga." (riwayat Bukhari) Dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah bersabda: " Sesungguhnya seorang hamba yang berbicara dengan kalimat yang mendapat redho dari Allah SWT walaupun dengan tidak dianggapnya bererti apa yang diutarakannya itu, Allah SWT akan mengangkatnya beberapa darjat disebabkannya itu.' Dan sesungguhnya seorang hamba yang berbicara dengan kalimat yang di murkai Allah SWT walaupun tidak diutarakan dengan maksudnya yang bererti Allah SWT akan memasukkannya kedalam jahanam disebabkan ucapannya itu." (riwayat Bukhari) Dari Bilal bin Al Harits Al Muzanni r.a bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda bermaksud: "Sesungguhnya seseorang yang berbicara dengan kalimat yang diredhoi Allah SWT(walaupun) ia tidak mengira bahawa kalimat(yang diucapkan) bererti Allah SWT menetapkan baginya dengan sebab kalimat itu keredha'anNYa sampai hari perjumpaannya dengan Allah.(diAkhirat). "Dan sesungguhnya seseorang yang berbicara dengan kalimat yang dimurkjai Allah SWT(walaupun) ia tidak mengira bahawa kalimat(yang diucapkannya) itu sudah memadai ertinya(bagi kemurkaan Allah) Allah SWT menetapkan kemurkaanNYa dengan sebab kalimat itu sampai hari pewrjumpaannya dengan Allah (diakhirat)." Dari Sufyan bin Abdullah r. a. Berkata "Aku berkata kepada rasulullah s. a.w. "Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku suatu perkara harus ku pegang selalu." Beliau berkata: " Ucapkanlah Tuhanku Allah,"

Kemudian istiqamah(pertahankanlah) pendirian itu." Aku berkata lagi: " Wahai Rasulullah apa kah sangat di takutkan bagi ku?" Maka Rasulullah s.a.w. mengambil lidahnya sendiri dan kemudian ia bersabda: "Inilah dia." (Riwayat tarmizi, An Nasai danIbnu Majah, Tirmizi mengatakan bahawa hadis ini hasan sahih) Apa dia mengadu Domba? Adapun yang disebut mengadu Domba(Namimah) ialah memindahkan ucapan dari seseornag atau orang ramaikepada yang lainnya(bawa mulut) dengan maksuk merosakkan mereka. Hukum keduasnya adalah haram menurut Ijmak seluruh umat Islam. Dalilnya jelas disebut di dalam Al-Quran: Sunnah Rasulullah s.a.w. dan Ijmak para Ulama. Allah berfirman: "" Dan janganlah sebahagian kamu mengumpat sebahagian yang lain." ( Surah Alk Hujarat ayat 12). Firman Allah: "Celaka bagi setiap pengumpat lagi penderhaka." (surah Al Humazah ayat 1) Firman Allah laqi: "(Janganlah pula diikuti) orang yang pengumpat yang demikian kemari mengadu domba." (surah Al Qalam ayat 11) Hadith: Dari Hudzaifah r.a Rasulullah bersabda: "Tidak masuk syurga orwang yang suka mengadu Domba." (Riwayat Bukhari dan Muslim) Dari Ibnu Abbas r.a. "Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. melewati dua buah kubur maka ia bersabda: " sesungguhnya kedua-duanya ini sedang menerima seksa, keduanya tidak diseksa kerana dosa besar(menurut anggapan mereka). Menurut riwayat lain: " Bahkan itu adalah dosa besar. Adapun salah sartunya ialah orang yang suka kesana kemari mengadu Domba dan sartu yang lainnya ialah orang yang tidak bersuci dari kencingnya." (riwayat Bukhari dan Muslim) Abu Hurairah r.a meriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: "Barangsiapa selama dalam umurnya menghibahGhibah) sekali sahaja maka Allah akan menyeksanya dewngan sepuluh macam seksaan." 1. Dia menjadi jauh dari rahmat Allah 2. Mallaikat memutuskan pwersahabatan dengan dia(tidak mahu menghampiri) 3. Di cabut Rohnya dengan kesakitan yang amat sangat. 4. Dia menjadi dekat dengan neraka

5. Dia menjadi jauh dari Syurga 6. Sangat dahsyat seksaan kubur terhadapnya 7. Amal baiknya di hapuskan 8. Roh Nabi Muhammad s.a.w. berasa sakit kerana dia. 9. Allah murka terhadapnya. 10. Dia akan menjadi seorang yang muflis ditimbang amal kebajikkannya pada hari kiamat. Seterusnya Rasulullah s.a.w. memberi amaran keras kepad si pengumpat bahawa mereka akan di seksa di akhirat sebagaimana di riwayatkan oleh Anas bin Malik r.a.katanya: "Barangsiapa mengumpat saudaranya sesama Islam maka esok pada hari Kiamat Allah memindahkan laluan qubulnya ke duburnya." Ali Ibn Abi Talub r.a meriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: "Jauhilah olehmu sekelian dari ghibah kerana sesungguhnya di dalam ghibah itu ada tiga bencana iaitu, 1. Doanya tidak di makbulkan 2. Kebaikannya tidak di terima 3. Keaiban akan nampak bertambah-tambah." Dengan ini Anda perlu berhati-hati dalam soal mengumpat dan mengadu Domba ini. Kerana disebabkan akan kekeliruan dan kesilapan dalam memahaminya Anda akan terjerumus kelembah yang tidak diingini. Marilah kita memohon kepada Allah kasih sayangNya dan keselamatan dari setiap yang tidak diingini. Wabillah hit-taufiq.

Perbedaan antara nasehat dan gibah

Home Product Al muslim Link Dengar Kajian Mengenal Ulama Artikel Umum Referensi About Me Aqidah Firqah baru Fiqih Hadits

PERBEDAAN ANTARA NASEHAT DAN GHIBAH Syaikh Husein Al-Awaisyah dalam sebuah bukunya menuliskan sebuah bab yang artinya, "Perkara-perkara yang disangka bukan ghibah, tetapi sebenarnya termasuk ghibah", di antaranya beliau menyebutkan dalam point yang kedelapan: "Dan barangkali Allah memberi keutamaan kepada seseorang dalam hal amar ma'ruf nahi munkar, di mana tidak sembarang orang dapat menasehati orang lain lebih-lebih kalau orang yang dinasehati tersebut sulit untuk menerima nasehat, kemudian orang tersebut menerima nasehatnya dengan jujur dan ikhlas, dan nampak dari dia keinginan yang kuat untuk beertaubat, akan tetapi si penasehat tersebut nampaknya lemah

Sejarah Sholat Kita Informasi

dalam menghadapi syetan, tiba-tiba ia menceritakan aib orang tersebut di hadapan manusia, "Si fulan melakukan ini dan itu, si fulan berbuat demikian, kemudian saya menasehatinya." Faktor apalagi kalau bukan mengikuti hawa nafsu dan cinta berbuat ghibah yang mendorong orang tersebut menyampaikan cerita tadi di hadapan manusia?! Bukankah tujuan amar ma'ruf nahi munkar agar yang ma'ruf tersebar di antara manusia, dan yang mungkar menjadi mati tak berkutik ?! Kalau begitu mengapa disertai dengan pembicaraan dan komentar, padahal tujuan telah tercapai?! Ataukah sudah berbalik, sehingga orang yang mengajak kepada yang ma'ruf telah diperintah oleh syetan, dan orang yang melarang kemungkaran, ia sendiri terjerumus kedalam kemungkaran."8) Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata,"Dan perbedaan antara nasehat dan ghibah adalah bahwa nasehat itu bermaksud dalam rangka memberi peringatan kepada seorang muslim dari bahayanya ahli bid'ah, penyebar fitnah, penipu, atau perusak..." Sampai beliau berkata, "Maka apabila menceritakan kejelekan orang lain dalam rangka nasehat yang diwajibkan oleh Allah dan RasulNya kepada hamba-hambanya kaum muslimin maka hal yang demikian adalah taqarub kepada Allah, termasuk amal kebaikan , tetapi apabila menceritakan kejelekan orang lain bermaksud mencela saudaramu dan menodai kehormatan dan memakan dagingnya agar engkau menyia-nyiakan kedudukan dia di hati-hati manusia maka maksiat tersebut merupakan penyakit yang kronis dan api yang melalap kebaikan sebagaimana api yang membakar kayu bakar."9) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata : "Menyebutkan kejelekan manusia dengan apa-apa yang tidak disukai oleh mereka pada asalnya ada dua macam: Pertama: Menyebutkan perbuatannya. Kedua: Menyebutkan orangnya yang tertentu, baik ia masih hidup ataupun telah meninggal dunia. Yang pertama, setiap macam perbuatan yang dicela oleh Allah dan RasulNya, maka seorang muslim wajib mencelanya pula, dan hal yang demikian bukanlah termasuk perbuatan ghibah, sebagaimana setiap macam perbuatan yang dipuji oleh Allah dan RasulNya, maka wajib ia memujinya pula ..."10) Sampai beliau berkata, "Apabila tujuannya adalah mengajak kepada kebaikan dan menganjurkannya, serta melarang keburukan dan memperingatkan darinya, maka harus menyebutkan keburukan perbuatan tersebut. Oleh karena itu, Nabi shalallahu 'alaihi wasallam. Apabila mendengar seseorang melakukan pelanggaran, beliau shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Mengapakah orang-orang memberikan syarat-syarat yang

tidak ada pada kitab Allah ? Barangsiapa memberikan syarat yang tidak ada pada kitab Allah, maka dia itu batil, meskipun seratus syarat."11) "Mengapakah orang-orang meninggalkan hal-hal yang aku perbolehkan? Demi Allah, sesungguhnya aku orang yang paling bertaqwa kepada Allah dan yang paling tahu akan batasan-batasannya di antara kalian."12) "Mengapakah orang-orang ada satu di antaranya mengatakan, "Adapun saya akan selalu berpuasa tidak akan berbuka," dan ada lainnya mengatakan, "Adapun saya akan selalu bangun malam tidak akan tidur," dan orang lainnya berkata, "Saya tidak akan menikahi wanita," dan yang lainnya mengatakan, "Saya tidak akan makan daging." Tetapi saya sendiri berpuasa dan berbuka, bangun malam dan tidur, menikahi wanita, makan daging, maka barangsiapa yang benci terhadap sunnahku, maka bukanlah ia termasuk golonganku."13) Sampai beliau berkata, "(Yang kedua), sedangkan menyebutkan keburukan orang lain, sekaligus menyebutkan orangnya dapat dilakukan dalam beberapa kejadian tertentu. Di antaranya orang yang dizalimi, maka ia berhak menyebutkan orang yang menzaliminya, baik dalam rangka menolak kezalimannya ataupun untuk mendapatkan haknya, sebagaimana Hindun berkata, "Wahai Rasulullah! Sesungguhnya Abu Sufyan seorang yang pelit, ia tidak memberikan kecukupan nafkah kepadaku dan anakku, (kecuali saya mengambil harta darinya tanpa sepengetahuan dia, maka baru mencukupi kami)," maka beliau menjawab, "Ambillah apa-apa yang mencukupimu dan anakmu secukupnya."14) (Muttafaq alaih). Sampai beliau berkata, "Dan di antaranya dalam rangka memberi nasehat kepada kaum Muslimin dalam urusan dien dan dunia mereka sebagaimana dalam Hadits yang shahih dari Fatimah binti Qais ketika dia bermusyawarah dengan Nabi shalallahu 'alaihi wasallam tentang siapa yang akan dinikahinya ia berkata, "Abu Jahm dan Muawiyah telah meminang saya." Maka beliau memberikan nasehat, "Adapun Muawiyah dia orang yang faqir tidak memiliki harta, sedangkan Abu Jahm ia seorang yang suka memukuli wanita" dan diriwayatkan "ia tidak pernah meletakkan tongkat dari bahunya", maka beliau menjelaskan kepadanya bahwa yang satu fakir, mungkin tidak mampu memenuhi hakmu, dan yang satu lagi menyakitimu dengan pukulan. Dan yang seperti ini adalah nasehat kepadanya - meskipun mencakup penyebutan aib si peminang .Dan termasuk juga di dalamnya, nasehat kepada seseorang mengenai orang yang akan diajak kerjasama, yang akan ia beri wasiat kepadanya, dan yang akan menjadi saksi bagi dia, bahkan orang yang akan menjadi penengah urusan dia, dan yang semisalnya. Apabila hal ini berkenaan dengan maslahat khusus, maka bagaimana dengan nasehat yang berhubungan dengan

hak-hak kaum muslimin pada umumnya, berupa para penguasa, para saksi, para karyawan, pegawai dan selain dari mereka ? maka tidak ragu lagi bahwa nasehat dalam hal tersebut lebih agung lagi, sebagaimana Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda : "Dien itu nasehat, dien itu nasehat." Mereka berkata, "Kepada siapa wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Kepada Allah, kepada Kitab-Nya, kepada Rasul-Nya, dan kepada para penguasa kaum muslimin serta kepada kaum muslimin pada umumnya."15) Dan mereka berkata kepada Umar Ibnu Khaththab mengenai ahli syura, "Jadikanlah si fulan dan si fulan sebagai amir," lalu Umar menyebutkan kekurangan mereka berenam satu persatu, padahal mereka seutama-utama umat, beliau menjadikan kekurangan yang ada pada mereka sebagai penghalang bagi dia untuk memilih mereka. Apabila demikian, maka nasehat yang berkenaan dengan maslahat-maslahat dien, baik khusus maupun umum hukumnya wajib, seperti perawi hadits yang salah atau yang berdusta sebagaimana Yahya bin Said berkata, "Saya bertanya kepada Malik dan Ats-Tsaury dan Al-Laits bin Sa'ad, saya kira dia, dan Al-Auzai mengenai seseorang yang tertuduh dalam hadits atau tidak hafal. Mereka semuanya berkata, 'Jelaskan keadaannya'." Dan sebagian orang berkata kepada Imam Ahmad bin Hambal, "Sesungguhnya berat bagi saya untuk mengatakan si fulan begini dan si fulan begitu." Maka beliau berkata, "Apabila engkau diam dan saya diam, maka kapan orang yang jahil mengetahui dan dapat membedakan yang shahih dan bercacat?!" Begitu pula misalnya, dalam rangka menjelaskan para imam ahli bid'ah, baik tokoh mereka dalam hal aqidah ataupun tokoh mereka dalam hal ibadah yang bertentangan dengan Al-Qur'an dan As Sunnah, maka penjelasan keadaan mereka dan peringatan umat dari bahaya mereka hukumnya wajib berdasarkan kesepakatan kaum muslimin sampai-sampai dikatakan kepada Ahmad bin Hambal, "Mana yang lebih engkau cintai, seseorang yang puasa dan shalat serta ber'itikaf ataukah orang yang membantah ahli bid'ah?" Maka beliau menjawab, "Apabila dia shalat, puasa dan i'tikaf maka hanya untuk dirinya sendiri, dan apabila ia membantah ahli bid,ah maka hal itu untuk kepentingan kaum muslimin dan ini yang lebih utama." Maka ia menjelaskan bahwa manfaat hal ini untuk kepentingan kaum muslimin pada umumnya dalam dien mereka. Maka membantah ahli bid'ah termasuk jihad di jalan Allah, di mana memurnikan dien Allah, jalan, manhaj, dan syari'atNya serta menolak kejahatan dan permusuhan mereka merupakan wajib kifayah berdasarkan kesepakatan kaum muslimin, kalau tidak ada orang yang Allah tampilkan untuk menolak bahaya mereka tentu dien ini akan rusak, dan rusaknya itu lebih parah dari sekedar musuh yang menjajah kaum muslimin, karena apabila mereka menguasai, mereka hanya

menguasai fisik pada mulanya dan belum menguasai hati dan dien meskipun nantinya mereka pun berusaha menjajahnya pula, sedangkan ahli bid'ah mereka sejak awal sudah merusak hati-hati manusia. Dan Nabi shalallahu 'alaihi wasallam telah bersabda, "Sesunggguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa kalian dan harta kalian tetapi Ia melihat kepada hati-hati kalian dan amal-amal kalian"16) Dan Allah berfirman dalam kitabNya : "Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-Rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuataan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan Rasul-RasulNya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa." (Surat Al-Hadid 25) Maka Allah memberitahukan bahwa Dia telah menurunkan Al-Kitab dan neraca (keadilan) agar manusia melaksanakan keadilan, dan Dia telah menurunkan besi, sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas. Maka tonggak bagi dien itu adalah Al-Kitab yang memberi petunjuk dan pedang yang memberi pertolongan. "Dan cukuplah Rabbmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong." (Surat Al-Furqan 31) Dan Al-Kitab dialah sebagai pokok, oleh karena itu pertama kali Allah mengutus RasulNya, Ia menurunkan kepada beliau Al-Kitab, selama beliau tinggal di Makkah,Allah belum memerintahkan beliau mengangkat pedang sampai beliau hijrah dan mempunyai pendukung-pendukung yang siap untuk berjihad. Dan musuh-musuh dien itu ada dua macam: Orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Dan Allah telah memerintahkan NabiNya untuk berjihad melawan dua kelompok tersebut sebagaimana dalam firmanNya, "Berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah kepada mereka." (Surat At-Taubah 73) Apabila orang-orang munafik berbuat bid'ah yang bertentangan dengan Al-Kitab,dan menipu manusia, lalu tidak dijelaskan kebid'ahan ini kepada manusia, maka rusaklah Al-Kitab, dan berubahlah dien ini, sebagaimana dien ahli kitab sebelum kita telah rusak pula disebabkan terjadinya perubahan dalam dien tersebut, sedangkan pelakunya tidak diingkari. Dan apabila mereka itu bukan orang-orang munafik, akan tetapi mereka itu pendengar setia terhadap ucapan orang-orang munafik, tanpa mereka sadar bahwa bid'ah-bid'ah orang-orang munafik tersebut telah meracuni mereka sehingga mereka menyangka bahwa ucapan-ahli bid'ah tersebut benar, padahal sesungguhnya menyalahi Al-Kitab maka jadilah mereka

itu juru da'wah yang mengajak kepada bid'ah-bid'ah orang munafik dan menjadi corong mereka. Sebagaimana Allah Subhana wa Ta'ala berfirman, "Jika mereka berangkat bersama-sama kalian niscaya mereka tidak menambah kalian, kecuali kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka dicelah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antaramu, sedang di antara kalian ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka." (Surat At Taubah 47) Maka menjelaskan keadaan mereka harus dilakukan juga, bahkan fitnah dari apa yang mereka lakukan itu lebih besar, karena pada diri mereka ada keimanan yang mewajibkan kita untuk loyal kepada mereka, dan mereka telah terperosok kepada bid'ah-bid'ahnya orang-orang munafik yang merusak dien ini, maka harus adanya peringatan dari bid'ah-bid'ah tersebut, meskipun harus dengan meyebutkan mereka dan menunjukkan orang-orangnya, bahkan meskipun bid'ah yang mereka sebarkan bukan didapat dari orang-orang munafik, tetapi mereka mengucapkannya dengan persangkaan bahwasanya bid'ah tersebut adalah petunjuk dan kebaikan serta dari ajaran dien, padahal sesungguhnya bukan demikian, maka wajib pula menjelaskan keadaan mereka. Oleh karena itu, wajib hukumnya menjelaskan keadaan orang yang salah dalam hadits dan riwayat, dan orang yang salah dalam pendapat dan fatwa, dan orang yang salah dalam hal zuhud dan ibadah, meskipun orang yang salah itu seorang mujtahid 17) yang telah diampuni kesalahannya, bahkan mendapat pahala atas ijtihadnya yang salah tersebut, maka penjelasan perkataan dan perbuatan yang sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah hukumnya adalah wajib, meskipun harus bertentangan dengan ucapan dan perbuatannya seorang mujtahid. Apabila diketahui bahwa kesalahan mujtahid tersebut berupa ijtihad yang memenuhi kriteria dan persyaratan sebagai ijtihad, yaitu berdasarkan kaidah-kaidah syariah yang benar maka tidak boleh mencela dalam menyebutkan kesalahannya dan tidak boleh mengatakannya sebagai perbuatan dosa, karena sesungguhnya Allah telah mengampuni kesalahannya, bahkan wajib loyal dan cinta kepadanya dikarenakan padanya terdapat iman dan taqwa, dan wajib menunaikan hak-haknya, berupa pujian dan doa serta yang lainnya. Dan apabila diketahui darinya bahwa ia itu sebagai orang-orang munafik sebagaimana diketahui di masa Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam seperti Abdullah bin Ubai dan konco-konconya, sebagaimana kaum muslimin mengetahui akan kemunafikan orang-orang Syiah Rafidhah, seperti Abdullah bin Saba dan yang sebangsanya, seperti Abdul Qudus Ibnul Hajjaj, dan Muhammad bin Sa`id Al-Mashlub, maka tipe seperti ini disebutkan pula kemunafikannya. Dan apabila seseorang menyebarkan kebid`ahan dan belum

diketahui apakah dia itu termasuk orang munafik atau seorang mu'min yang berbuat kesalahan disebutkan sesuai dengan apa-apa yang diketahui darinya, maka tidaklah halal bagi seseorang untuk berbicara tanpa ilmu, dan tidak halal baginya untuk berbicara dalam bab ini, kecuali dengan ikhlas semata-mata mencari ridha Allah Subhana wa Ta'ala, dan agar kalimat Allah menjulang tinggi dan agar dien itu semuanya milik Allah. Maka barangsiapa yang berbicara dalam hal yang demikian tanpa ilmu atau terbukti bertentangan dengan fakta, maka ia berdosa. Dan begitu pula halnya seorang hakim, saksi, dan mufti, sebagaimana Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Macam-macam hakim itu ada tiga: dua di antaranya di neraka dan satu di surga. Seorang yang mengetahui kebenaran dan memutuskan perkara berdasarkan kebenaran, maka ia di surga, dan seorang yang yang memutuskan perkara kepada manusia atas kebodohan, maka dia di neraka, dan seorang mengetahui kebenaran, maka dia memutuskan perkara dengan menyalahi kebenaran yang ia ketahui, maka dia di Neraka." 18) Dan Allah Subhana wa Ta'ala berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, jadilah orang-orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu, jika ia kaya atau miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kalian mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kalian memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kalian kerjakan." (Surat An-Nisaa 135) sebagaimana terdapat dalam Shahihain (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim) dari Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda: "Penjual dan pembeli itu sebelum keduanya berpisah diperbolehkan untuk memilih (apakah melangsungkan jual belinya atau membatalkannya), apabila keduanya jujur dan menjelaskan (keadaan yang sebenarnya) maka keduanya mendapatkan barakah dalam jual belinya, tetapi apabila keduanya dusta dan menyembunyikan (keadaan yang sebenarnya), maka barakah jual beli keduanya terhapus." Kemudian orang yang berbicara dengan ilmu dalam hal tersebut harus mempunyai niat yang baik, maka apabila ia berbicara dengan benar akan tetapi bermaksud berbuat kesombongan di muka bumi atau kerusakan maka kedudukannya seperti orang yang berperang dengan jahiliyah dan berbuat riya. Adapun jika dia berbicara dengan ikhlas karena Allah Ta'ala semata, maka ia termasuk mujahidin di jalan Allah, termasuk pewaris para nabi, penerus para Rasul. Dan hal ini sama sekali tidak menyalahi sabda beliau, "Ghibah itu menyebutkan

kejelekan saudaramu yang membuat ia tidak suka (apabila mendengarnya)," karena "Al-Akh" tersebut sebagai mu'min, dan "Al-Akh" yang mu'min apabila ia benar imannya tidak akan benci atas apa yang telah engkau katakan berupa kebenaran, di mana Allah dan RasulNya mencintai kebenaran tersebut, meskipun dalam pelaksanaan kebenaran tersebut merugikan dirinya atau teman-temannya, tetap harus berbuat adil, dan menjadi saksi karena Allah, meskipun terhadap diri sendiri, atau kedua orang tua, atau karib kerabatnya, apabila ia benci kepada kebenaran, maka imannya berkurang, kalau begitu akan berkurang persaudaraan dia sebanding dengan berkurangnya keimanan dia." (Wallahul Musta'an.)19) Footnote: 8 "Al-Ghibah wa Atsaruha As-Sayyi fil Mujtama'Al-Islami" hal.58 9 Ar-Ruuh, hal 357-358 10 Majmu'Fatawa juz 28 hal.225 11 Pentakhrij Majmu'atul Fatawa berkata, "H.R. Bukhari dalam Al Mukatab (2563) dari Aisyah." 12 Pentakhrij Majmu'atul Fatawa berkata, "H.R. Bukhari dalam kitab Al-I'tisham (7301) dari Aisyah dengan lafadz yang mendekati." 13 Pentakhrij Majmu'atul Fatawa berkata, "H.R. Bukhari dalam kitab An-Nikah (5062) dan H.R.Muslim dalam kitab An-Nikah (1401/5)." 14 Majmu Fatawa, juz 28, hal 229 15 H.R.Muslim 16 Pentakhrij Majmu'atul Fatawa berkata, "H.R. Muslim dalam kitab Al-Birru was Shilah (2564/33-34) dan H.R.Ibnu Majah dalam kitab Az-Zuhd (4143)." 17 Dari ucapan Syaikhul Islam di atas agar menjadi cambuk bagi kita semua selaku penuntut ilmu untuk serius mempelajari ushul fiqh dan dan kaidah-kaidah yang sesuai dengan manhaj salaf agar kita dapat menimbang dan menilai ijtihad-ijtihad para ulama dalam masalah tertentu yang seringkali mereka berbeda pendapat didalamnya, lalu kita berusaha mentarjihnya berdasarkan ilmu yang benar bukan berdasarkan hawa nafsu. Di antara buku-buku yang dinasehatkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah kepada para penuntut ilmu untuk mempelajarinya berkenaan dengan masalah ushul fiqh dan kaidah-kaidah bagi dien yang mulia ini adalah : 1. I'lamul Muwaqi'in oleh Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah 2. Irsyadul fuhul oleh Imam As-Syaukani rahimahullah 3. Tahshilul ma'mul oleh Syaikh Siddiq Hasan Khan rahimahullah (Nasehat mengenai masalah ini dapat didengar dari kaset beliau yang berjudul Tidak Berta'ashub) 18 H.R. Abu Daud pada Al Aqdhiyah (3573) dan Ibnu Majah pada AlAhkam (2315), kedua-duanya dari Buraidah.

(Majmu'atul Fatawa, juz 14 hal. 399)

4.4.2.6 Ghibah (Mengumpat)
Keenam: Kita dilarang ghibah (mengumpat). Seperti firman Allah: "Dan jangan sebagian kamu mengumpat sebagiannya." (al-Hujurat: 12) Rasulullah s.a.w. berkehendak akan mempertajam pengertian ayat tersebut kepada sahabat-sahabatnya yang dimulai dengan cara tanya-jawab, sebagaimana tersebut di bawah ini: "Bertanyalah Nabi kepada mereka: Tahukah kamu apakah yang disebut ghibah itu? Mereka menjawab: Allah dan RasulNya yang lebih tahu. Maka jawab Nabi, yaitu: Kamu membicarakan saudaramu tentang sesuatu yang ia tidak menyukainya. Kemudian Nabi ditanya: Bagaimana jika pada saudaraku itu terdapat apa yang saya katakan tadi? Rasulullah s.a.w. menjawab: Jika padanya terdapat apa yang kamu bicarakan itu, maka berarti kamu mengumpat dia, dan jika tidak seperti apa yang kamu bicarakan itu, maka berarti kamu telah menuduh dia." (Riwayat Muslim, Abu Daud, Tarmizi dan Nasa'i) Manusia tidak suka kalau bentuknya, perangainya, nasabnya dan ciri-cirinya itu dibicarakan. Seperti tersebut dalam hadis berikut ini: "Dari Aisyah ia berkata: saya pernah berkata kepada Nabi: kiranya engkau cukup (puas) dengan Shafiyah begini dan begini, yakni dia itu pendek, maka jawab Nabi: Sungguh engkau telah berkata suatu perkataan yang andaikata engkau campur dengan air laut niscaya akan bercampur." (Riwayat Abu Daud, Tarmizi dan Baihaqi) Ghibah adalah keinginan untuk menghancurkan orang, suatu keinginan untuk menodai harga diri, kemuliaan dan kehormatan orang lain, sedang mereka itu tidak ada di hadapannya. Ini menunjukkan kelicikannya, sebab sama dengan menusuk dari belakang. Sikap semacam ini salah satu bentuk daripada penghancuran. Sebab pengumpatan ini berarti melawan orang yang tidak berdaya. Ghibah disebut juga suatu ajakan merusak, sebab sedikit sekali orang yang lidahnya dapat selamat dari cela dan cerca. Oleh karena itu tidak mengherankan, apabila al-Quran melukiskannya dalam bentuk tersendiri yang cukup dapat menggetarkan hati dan menumbuhkan perasaan. Firman Allah:

"Dan jangan sebagian kamu mengumpat sebagiannya; apakah salah seorang di antara kamu suka makan daging bangkai saudaranya padahal mereka tidak menyukainya?!" (alHujurat: 12) Setiap manusia pasti tidak suka makan daging manusia. Maka bagaimana lagi kalau daging saudaranya? Dan bagaimana lagi kalau daging itu telah menjadi bangkai? Nabi memperoleh pelukisan al-Quran ini ke dalam fikiran dan mendasar di dalam hati setiap ada kesempatan untuk itu. Ibnu Mas'ud pernah berkata: "Kami pernah berada di tempat Nabi s.a.w., tiba-tiba ada seorang laki-laki berdiri meninggalkan majlis, kemudian ada seorang laki-laki lain mengumpatnya sesudah dia tidak ada, maka kata Nabi kepada laki-laki ini: Berselilitlah kamu! Orang tersebut bertanya: Mengapa saya harus berselilit sedangkan saya tidak makan daging? Maka kata Nabi: Sesungguhnya engkau telah makan daging saudaramu." (Riwayat Thabarani dan rawi-rawinya rawi-rawi Bukhari) Dan diriwayatkan pule oleh Jabir, ia berkata: "Kami pernah di tempat Nabi s.a.w. kemudian menghembuslah angin berbau busuk. Lalu bertanyalah Nabi: Tahukah kamu angin apa ini? Ini adalah angin (bau) nya orang-orang yang mengumpat arang-orang mu'min." (Riwayat Ahmad dan rawi-rawinya kepercayaan)

4.4.2.6.1 Batas Perkenan Ghibah
Seluruh nas ini menunjukkan kesucian kehormatan pribadi manusia dalam Islam. Akan tetapi ada beberapa hal yang oleh ulama-ulama Islam dikecualikan, tidak termasuk ghibah yang diharamkan. Tetapi hanya berlaku di saat darurat. Diantara yang dikecualikan, yaitu seorang yang dianiaya melaporkan halnya orang yang menganiaya, kemudian dia menyebutkan kejahatan yang dilakukannya. Dalam hal ini Islam memberikan rukhshah untuk mengadukannya. Firman Allah: "Allah tidak suka kepada perkataan jelek yang diperdengarkan, kecuali (dari) orang yang teraniaya, dan adalah Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui." (an-Nisa': 148) Kadang-kadang ada seseorang bertanya tentang pribadi orang lain karena ada maksud mengadakan hubungan dagang, atau akan mengawinkan anak gadisnya atau untuk menyerahkan suatu urusan yang sangat penting kepadanya.

Di sini ada suatu kontradiksi antara suatu keharusan untuk mengikhlaskan diri kepada agama, dan kewajiban melindungi kehormatan orang yang tidak di hadapannya. Akan tetapi kewajiban pertama justru lebih penting dan suci. Untuk itu kewajiban pertama harus didahulukan daripada kewajiban kedua. Dalam sebuah kisah dituturkan, bahwa Fatimah binti Qais pernah menyampaikan kepada Nabi tentang maksud dua orang yang akan meminangnya. Maka jawab Nabi kepadanya: "Sesungguhnya dia (yang pertama) sangat miskin tidak mempunyai uang, dan Nabi menerangkan tentang yang kedua, bahwa dia itu tidak mau meletakkan tongkatnya dari pundaknya, yakni: dia sering memukul perempuan." Dan termasuk yang dikecualikan juga yaitu: karena bertanya, minta tolong untuk mengubah suatu kemungkaran terhadap seseorang yang mempunyai nama, gelar atau sifat yang tidak baik tetapi dia hanya dikenal dengan nama-nama tersebut. Misalnya: A'raj (pincang), A'masy (rabun) dan anak si Anu. Termasuk yang dikecualikan juga, yaitu menerangkan cacatnya saksi dan rawi-rawi hadis.32 Definisi umum tentang bentuk-bentuk pengecualian ini ada dua: 1. Karena ada suatu kepentingan. 2. Karena suatu niat.

4.4.2.6.1.1 Karena suatu kepentingan
Jadi kalau tidak ada kepentingan yang mengharuskan membicarakan seorang yang tidak hadir dengan sesuatu yang tidak disukainya, maka tidak boleh memasuki daerah larangan ini. Dan jika kepentingan itu dapat ditempuh dengan sindiran, maka tidak boleh berterang-terangan atau menyampaikan secara terbuka. Dalam hal ini tidak boleh memakai takhshish (pengecualian) tersebut. Misalnya seorang yang sedang minta pendapat apabila memungkinkan untuk mengatakan: "bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang berbuat begini dan begini," maka dia tidak boleh mengatakan: "bagaimana pendapatmu tentang si Anu bin si Anu." Semua ini dengan syarat tidak akan membicarakan sesuatu di luar apa yang ada. Kalau tidak, berarti suatu dosa dan haram.

4.4.2.6.1.2 Karena suatu niat
Adanya suatu niat di balik ini semua, merupakan suatu pemisahan. Sebab pribadi manusia itu sendiri yang lebih mengetahui dorongan hatinya daripada orang lain. Maka niatlah yang dapat membedakan antara perbuatan zalim dan mengobati, antara minta pendapat dengan menyiar-nyiarkan, antara ghibah dengan mengoreksi dan antara nasehat dengan memasyhurkan. Sedang seorang mu'min, seperti dikatakan oleh suatu pendapat,

adalah yang lebih berhak untuk melindungi dirinya daripada raja yang kejam dan kawan yang bakhil. Hukum Islam menetapkan, bahwa seorang pendengar adalah rekan pengumpat. Oleh karena itu dia harus menolong saudaranya yang di umpat itu dan berkewajiban menjauhkannya. Seperti yang diungkapkan oleh hadis Rasulullah sa,w.: "Barangsiapa menjauhkan seseorang dari mengumpat diri saudaranya, maka adalah suatu kepastian dari Allah, bahwa Allah akan membebaskan dia dari Neraka." (Riwayat Ahmad dengan sanad hasan) "Barangsiapa menghalang-halangi seseorang dari mengumpat harga diri saudaranya, maka Allah akan menghalang-halangi dirinya dari api neraka, kelak di hari kiamat." (Riwayat Tarmizi dengan sanad hasan) Barangsiapa tidak mempunyai keinginan ini dan tidak mampu menghalang-halangi mulut-mulut yang suka menyerang kehormatan saudaranya itu, maka kewajiban yang paling minim, yaitu dia harus meninggalkan tempat tersebut dan membelokkan kaum tersebut, sehingga mereka masuk ke dalam pembicaraan lain. Kalau tidak, maka yang tepat dia dapat dikategorikan dengan firman Allah: "Sesungguhnya kamu, kalau demikian adalah sama dengan mereka" (an-Nisa': 140)

4.4.2.7 Mengadu Domba
Ketujuh: Kalau ghibah dalam Islam disebut sebagai suatu dosa, maka ada suatu perbuatan yang lebih berat lagi, yaitu mengadu domba (namimah). Yaitu memindahkan omongan seseorang kepada orang yang dibicarakan itu dengan suatu tujuan untuk menimbulkan permusuhan antara sesama manusia, mengotori kejernihan pergaulan dan atau menambah keruhnya pergaulan. Al-Quran menurunkan ayat yang mencela perbuatan hina ini sejak permulaan perioda Makkah. Firman Allah: "Dan jangan kamu tunduk kepada orang yang suka sumpah yang hina, yang suka mencela orang, yang berjalan ke sana ke mari dengan mengadu domba." (al-Qalam: 1011) Dan sabda Rasulullah s.a.w.: "Tidak masuk sorga orang-orang yang suka mengadu domba." (Riwayat Bukhari dan Muslim) Qattat, kadang-kadang disebut juga nammam, yaitu seorang berkumpul bersama orang banyak yang sedang membicarakan suatu pembicaraan, kemudian dia menghasut mereka.

Dan qattat itu sendiri, yaitu seseorang yang memperdengarkan sesuatu kepada orang banyak padahal mereka tidak mengetahuinya, kemudian dia menghasut mereka itu. Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: "Sejelek-jelek hamba Allah yaitu orang-orang berjalan ke sana ke mari dengan mengadu domba, yang memecah-belah antara kekasih, yang suka mencari-cari cacat orang-orang yang baik." (Riwayat Ahmad) Islam, dalam rangka memadamkan pertengkaran dan mendamaikan pertentangan, membolehkan kepada juru pendamai itu untuk merahasiakan omongan tidak baik yang dia ketahui dari omongan seseorang tentang diri orang lain. Dan boleh juga dia menambah omongan baik yang tidak didengarnya. Seperti yang dikatakan Nabi dalam hadisnya: "Tidak termasuk dusta orang yang mendamaikan antara dua orang, kemudian dia berkata baik atau menambah suatu omongan baik." Islam sangat membenci orang-orang yang suka mendengarkan omongan jelek, kemudian cepat-cepat memindahkan omongan itu dengan menambah-nambah untuk memperdaya atau karena senang adanya kehancuran dan kerusakan. Manusia semacam ini tidak mau membatasi diri sampai kepada apa yang didengar itu saja, sebab keinginan untuk menghancurkan itulah yang mendorongnya menambah omongan yang mereka dengar. Dan jika mereka tidak mendengar, mereka berdusta. Kata seorang penyair: Kalau mereka mendengar kebaikan, disembunyikan Dan kalau mendengarkan kejelekan, disiarkan tetapi jika tidak mendengar apa-apa, ia berdusta. Ada seorang laki-laki masuk ke tempat Umar bin Abdul Aziz, kemudian membicarakan tentang hal seseorang yang tidak disukainya. Maka berkatalah Umar kepada si laki-laki tersebut; kalau boleh kami akan menyelidiki permasalahanmu itu. Tetapi jika kamu berdusta, maka kamu tergolong orang yang disebutkan dalam ayat ini: "Jika datang kepadamu seorang fasik dengan membawa suatu berita, maka selidikilah." (al-Hujurat: 6) Dan jika kamu benar, maka kamu tergolong orang yang disebutkan dalam ayat: "Orang yang suka mencela, yang berjalan ke sana ke mari dengan mengadu domba." (alQalam: 11)

Tetapi kalau kamu suka, saya akan memberi pengampunan. Maka jawab orang laki-laki tersebut: pengampunan saja ya amirul mu'minin, saya berjanji tidak akan mengulangi lagi.

4.4.2.8 Melindungi Harga Diri
Kedelapan: Kita semua telah memaklumi, bagaimana Islam dengan melalui ajaranajarannya telah melindungi kehormatan dan harga diri manusia, bahkan sampai kepada bentuk mensucikannya. Pada satu hari Ibnu Mas'ud pernah melihat Ka'bah, kemudian dia mengatakan: "Betapa agungnya engkau dan betapa pula agungnya kehormatanmu. Tetapi orang mu'min lebih agung kehormatannya daripada engkau." (Riwayat Tarmizi) Dalam haji wada', Rasulullah s.a.w, pernah berkhutbah di hadapan khalayak kaum muslimin, di antara isi khutbahnya itu berbunyi sebagai berikut: "Sesungguhnya harta benda kamu, kehormatanmu, darah kamu haram atas kamu (dilindungi), sebagaimana haramnya harimu ini di bulanmu ini dan di negerimu ini." (Riwayat Tarmizi) Islam melindungi kehormatan pribadi dari suatu omongan yang tidak disukainya untuk disebut-sebut dalam ghibah, padahal omongan itu cukup benar. Maka bagaimana lagi kalau omongan itu justru dibuat-buat dan tidak berpangkal? Jelas merupakan dosa besar. Seperti dituturkan dalam hadis Nabi: "Barangsiapa membicarakan seseorang dengan sesuatu yang tidak ada padanya karena hendak mencela dia, maka Allah akan tahan dia di neraka jahanam, sehingga dia datang untuk membebaskan apa yang dia omongkan itu." (Riwayat Thabarani) Aisyah juga pernah meriwayatkan: "Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. pernah bertanya kepada para sahabatnya: Tahukah kamu riba apakah yang teramat berat di sisi Allah? Mereka menjawab: Allah dan RasulNya yang maha tahu. Kemudian bersabdalah Rasulullah: Sesungguhnya riba yang teramat berat di sisi Allah, ialah: menghalalkan kehormatan pribadi seorang muslim." Kemudian Rasulullah s.a.w. membacakan ayat: "Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu'min laki-laki dan perempuan dengan sesuatu yang pada hakikatnya mereka tidak berbuat, maka sungguh mereka telah memikul dusta dan dosa yang terang-terangan." (al-Ahzab: 58)33 Bentuk penodaan kehormatan yang paling berat ialah menuduh orang-orang mu'min perempuan yang terpelihara, melakukan suatu kemesuman. Karena tuduhan tersebut akan membawa bahaya yang besar kalau mereka mendengarnya dan didengar pula oleh

keluarga-keluarganya, serta akan berbahaya untuk masa depan mereka. Lebih-lebih kalau hal itu didengar oleh orang-orang yang suka menyebar luaskan kejahatan di tengahtengah masyarakat Islam. Justru itu Rasulullah menganggapnya sebagai salah satu daripada dosa-dosa besar yang akan meruntuhkan. Dan al-Quran pun mengancamnya dengan hukuman yang amat berat. Firman Allah: "Sesungguhnya orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan yang bersih jujur dan beriman, mereka itu dilaknat di dunia dan di akhirat, dan bagi mereka siksaan yang besar, yaitu pada hari di mana lidah, tangan dan kaki mereka akan menyaksikan atas mereka tentang apa-apa yang pernah mereka lakukan. Pada hari itu Allah akan menyempurnakan balasan mereka dengan benar, dan mereka tahu sesungguhnya Allah, Dialah yang benar yang nyata." (an-Nur: 23-25) Dan firmanNya pula: "Sesungguhnya orang-orang yang senang untuk tersiarnya kejelekan di kalangan orangorang mu'min, kelak akan mendapat siksaan yang pedih di dunia dan akhirat, dan Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui." (an-Nur: 19)

4.4.2.9 Kehormatan Darah
Kesembilan: Islam membersihkan kehidupan ummat manusia dan melindungi kehormatan setiap orang serta menetapkan, bahwa menodainya berarti suatu dosa besar di hadapan Allah, sesudah dosa kufur. Al-Quran mengatakan sebagai berikut: "Bahwasanya, barangsiapa membunuh suatu jiwa, padahal dia tidak membunuh jiwa atau tidak membuat kerusuhan di permukaan bumi, maka seolah-olah dia telah membunuh manusia seluruhnya." (al-Maidah: 32) Hal ini disebabkan jenis manusia itu seluruhnya pada dasarnya satu usrah (satu keluarga). Jadi kalau ada permusuhan oleh seseorang kepada orang lain, sama halnya dengan memusuhi jenis manusia itu sendiri. Lebih hebat lagi haramnya, apabila pihak yang terbunuh justru orang Islam. Firman Allah: "Barangsiapa membunuh seorang mu'min dengan sengaja, maka balasannya neraka jahanam dengan kekal abadi di dalamnya, dan Allah akan murka dan melaknatnya serta mempersiapkan untuknya siksaan yang besar." (an-Nisa': 93) Dan Rasulullah s.a.w. juga bersabda:

"Sungguh lenyapnya dunia akan lebih mudah bagi Allah ada (hilangnya dosa) seseorang yang membunuh orang Islam." (Riwayat Muslim, Nasa'i dan Tarmizi) Dan sabdanya juga: "Senantiasa seorang mu'min dalam kelapangan dari agamanya selama dia tidak mengenai darah haram." (Riwayat Bukhari) Dan ia bersabda pula: "Setiap dosa ada harapan Allah akan mengampuninya, kecuali seorang laki-laki yang mati dalam keadaan syirik atau seorang laki-laki membunuh seorang mu'min dengan sengaja." (Riwayat Abu Daud, Ibnu Hibban dan Hakim) Terhadap ayat dan hadis-hadis tersebut, Ibnu Abbas berpendapat, bahwa taubatnya seorang pembunuh tidak bakal diterima. Jadi seolah-olah dia berpendapat, bahwa di antara syarat taubat tidak akan diterima kecuali dengan mengembalikan hak-hak tersebut kepada keluarga terbunuh atau minta kerelaannya. Sekarang bagaimana mungkin dia dapat mengembalikan hak orang yang terbunuh itu kepadanya atau minta direlakannya? Yang lain berpendapat: bahwa taubat yang ikhlas itu dapat diterima dan menghapuskan syirik, apalagi dosa di bawah syirik? Firman Allah: "Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan lain bersama Allah, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali karena hak dan tidak berzina. Barangsiapa berbuat demikian, maka dia akan menjumpai dosanya yang dilipat-gandakan baginya siksaan kelak di hari kiamat dan akan kekal dalam siksaan itu dengan keadaan hina, kecuali orang yang taubat dan beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan diganti oleh Allah kejelekan-kejelekannya dengan kebaikan-kebaikan, dan adalah Allah Maha Pengam pun lagi Maha Belas-kasih." (al-Furqan: 68-70)

4.4.2.9.1 Pembunuh dan yang Terbunuh, Kedua-duanya di Neraka
Rasulullah s.a.w. menilai, bahwa membunuh seorang muslim sebagai satu bagian daripada kufur dan salah satu perbuatan jahiliah yang suka melancarkan peperangan dan mengalirkan darah kendati hanya karena seekor unta atau kuda. Maka kata Rasulullah s.a.w.: "Memaki seorang muslim adalah fasik, dan memeranginya adalah kufur." (Riwayat Bukhari dan Muslim) Dan sabdanya pula:

"Jangan kamu kembali kafir sesudah aku meninggal, yaitu sebagian kamu memukul leher sebagiannya." (Riwayat Bukhari dan Muslim) Dan pernah juga ia bersabda: "Apabila ada dua orang Islam, salah satunya membawa senjata untuk membunuh saudaranya, maka kedua-duanya berada di tepi jahanam; dan apabila salah satunya membunuh kawannya, maka kedua-duanya masuk jahanam. Kemudian Rasulullah s.a.w. ditanya: Ya Rasulullahl Ini yang membunuh memang mungkin, tetapi mengapa yang terbunuh sampai begitu? Jawab Nabi: Karena dia bermaksud akan membunuh saudaranya juga." (Riwayat Bukhari) Oleh karena itulah Rasulullah s.a.w. melarang setiap perbuatan yang dapat membawa kepada pembunuhan atau peperangan, kendati hanya sekedar berisyarat dengan senjata. Sepertisabdanya: "Janganlah salah seorang di antara kamu berisyarat kepada saudaranya dengan pedang, sebab dia tidak tahu barangkali syaitan akan melepaskan dari tangannya, maka dia akan jatuh ke jurang neraka." (Riwayat Bukhari) Dan sabdanya pula: "Barangsiapa mengisyaratkan besi kepada kawannya, maka Malaikat akan melaknatnya sehingga ia berhenti, sekalipun dia itu saudara sekandung." (Riwayat Muslim) Bahkan ia bersabda: "Tidak halal seorang muslim menakut-nakuti orang lain." (Riwayat Abu Daud dan Thabarani dan rawi-rawinya kepercayaan) Dosa ini tidak terbatas kepada si pembunuhnya saja, bahkan semua orang yang terlibat dalam pembunuhan itu, baik dengan perkataan ataupun perbuatan akan mendapat murka dari Allah sebesar dosa keterlibatannya itu. Sampai pun orang yang menyaksikan pembunuhan itu akan mendapat bagian dosa juga. Seperti disebutkan dalam hadis Nabi yang mengatakan: "Jangan sampai salah seorang dari antara kamu berdiri di suatu tempat yang dilakukan pembunuhan terhadap seseorang dengan penganiayaan. Sebab laknat akan turun kepada orang yang menyaksikan sedangkan dia tidak mau membelanya." (Riwayat Thabarani dan Baihaqi dengan sanad hasan)

4.4.2.9.2 Dilindunginya Darah Kafir 'Ahdi dan Dzimmi
Nas-nas yang berkenaan dengan larangan membunuh dan peperangan ditujukan untuk ummat Islam, karana nas-nas itu datang sebagai suatu ketetapan dan bimbingan untuk kaum muslimin dalam masyarakat Islam.

Tetapi ini tidak berarti, bahwa selain orang Islam darahnya halal. Sebab pada dasarnya jiwa manusia dilindungi Allah dan dijaganya dengan hukum kemanusiaannya itu sendiri, selama mereka itu bukan kafir harbi (kafir yang memerangi Islam), karena kafir harbi darahnya halal. Adapun kafir 'ahdi atau kafir dzimmi (kafir yang berada di bawah naungan pemerintah Islam), darahnya tetap dilindungi, tidak seorang muslim pun diperkenankan memusuhinya. Untuk itu Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: "Barangsiapa membunuh seorang kafir ahdi, maka dia tidak akan mencium bau sorga, sedang bau sorga itu tercium sejauh perjalanan 40 tahun." (Riwayat Bukhari dan lainlain) Dan dalam satu riwavat dikatakan: "Barangsiapa membunuh seorang laki-laki dari ahli dzimmah, maka dia tidak akan mencium bau sorga." (Riwayat Nasa'i)

4.4.2.9.3 Bilakah Kehormatan Darah Itu Gugur?
Firman Allah: "Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan (dilindungi) Allah, kecuali dengan benar." (al-An'am: 151) Apa yang dikatakan benar ini, adalah sebagai suatu hukuman terhadap tindakan kriminal, yang dilakukan karena salah satu dari tiga sebab: 1. Karena suatu pembunuhan secara zalim. Untuk orang ini harus dilakukan hukum qishash, yaitu satu jiwa dengan satu jiwa, tindak kejahatan dengan kejahatan. Tetapi yang memulai dinilai lebih kejam. Firman Allah: "Dan bagi kamu dalam hukum qishash itu ada suatu keselamatan nyawa." (al-Baqarah: 179) 2. Terang-terangan berbuat kemesuman (zina) yang diketahui oleh empat orang saksi dengan mata-kepala sendiri, sedang dia tahu cara-cara perkawinan halal. Termasuk juga, karena dia mengaku di hadapan hakim sebanyak empat kali.

3. Keluar dari Agama Islam dengan terang-terangan sebagai suatu sikap menantang jamaah Islam. Sedang Islam tidak memaksa seorang pun masuk Islam. Tetapi dia keluar dengan mempermainkan agama seperti perbuatan Yahudi, yang mengatakan: "Berimanlah kamu kepada kitab yang diturunkan kepada orang-orang mu'min di ujung siang, dan kufurlah kamu di akhirnya supaya mereka (orang-orang Islam) kembali." (AliImran: 72) Rasulullah menyimpulkan halalnya darah yang semula haram, dalam tiga hal ini, dengan sabdanya: "Tidak halal darah seseorang muslim kecuali sebab tiga hal: karena membunuh jiwa, seorang janda/duda berzina dan orang yang meninggalkan agamanya yang memisahkan diri dari jamaah." (Riwayat Bukhari dan Muslim) Akan tetapi hak melaksanakan hukuman terhadap salah satu dari ketiga hal ini, sematamata berada di tangan waliyul amri, bukan di tangan perorangan. Sehingga dengan demikian keamanan tidak terganggu, suasana krisis dapat dibendung dan tidak sampai setiap orang bartindak sebagai hakim sendiri. Kecuali tentang pembunuhan yang disengaja dan bersifat permusuhan yang mengharuskan dilakukannya hukum qishash, maka Islam memberi kesempatan kepada keluarga terbunuh untuk melakukan qishash itu di hadapan waliyul amri, sebagai obat penenang hati dan guna meredakan setiap keinginan menuntut darah. Ini sesuai dengan firman Allah: "Barangsiapa dibunuh secara aniaya, maka kami berikan kepada keluarganya kekuasaan; tetapi janganlah melewati batas dalam pembunuhan itu, sebab sesungguhnya dia diberi kemenangan." (al-Isra': 33)

4.4.2.9.4 Bunuh Diri
Semua keterangan yang menerangkan tentang tindak kriminal pembunuhan itu, meliputi masalah bunuh diri. Jadi barangsiapa bunuh diri dengan cara apapun, berarti dia telah melakukan suatu pembunuhan yang diharamkan Allah. Kehidupan manusia bukan menjadi hak milik pribadi, sebab dia tidak dapat membuat dirinya, anggotanya ataupun sel-selnya. Diri manusia pada hakekatnya hanyalah sebagai barang titipan yang diberikan Allah. Oleh karena itu tidak boleh titipan ini diabaikannya. Bagaimana lagi memusuhinya? Dan apalagi melepaskannya dari hidup? Karena itu, berfirmanlah Allah: "Dan jangan kamu membunuh diri-diri kamu, karena sesungguhnya Allah maha belaskasih kepadamu." (an-Nisa': 29) Islam menghendaki kepada setiap muslim hendaknya selalu optimis dalam menghadapi setiap musibah. Oleh karena itu Islam tidak membenarkan dalam situasi apapun untuk

melepaskan dari hidup dan menanggalkan pakaian karena ada suatu bala' yang menimpanya atau karena gagal dalam cita-cita yang diimpi-impikan. Sebab seorang mu'min dicipta justru untuk berjuang, bukan untuk tinggal diam, dan untuk berperang bukan untuk lari. Iman dan budinya tidak mengizinkan dia lari dari arena kehidupan. Sebab setiap mu'min mempunyai senjata yang tidak bisa sumbing dan mempunyai kekayaan yang tidak bisa habis, yaitu senjata iman dan kekayaan budi. Rasulullah s.a.w. memberikan ancaman kepada orang yang berbuat tindak kriminal yang kejam ini dengan terhalangnya dari rahmat Allah dan mendapat murka Allah kelak di akhirat. Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sebelum kamu, pernah ada seorang laki-laki luka, kemudian marah sambil mengambil sebilah pisau dan di potongnya tangannya, darahnya terus mengalir sehingga dia mati. Maka berkatalah Allah: hambaku ini mau mendahulukan dirinya dari (takdir) Ku. Oleh karena itu Kuharamkan sorga atasnya." (Riwayat Bukhari, dan Muslim) Kalau orang tersebut terhalang masuk sorga lantaran luka yang tidak seberapa sakitnya kemudian bunuh diri, maka bagaimana lagi orang yang bunuh diri lantaran mendapat kerugian sedikit atau banyak, atau lantaran tidak lulus ujian atau lantaran ditolak seorang gadis?! Kiranya orang-orang yang kurang bergairah itu suka mendengarkan ancaman yang dibawa Rasulullah s.a.w. yang berkilat dan mengguruh. Rasulullah s.a.w. bersabda sebagai berikut: "Barangsiapa menjatuhkan diri dari atas gunung kemudian bunuh diri, maka dia berada di neraka, dia akan menjatuhkan diri ke dalam neraka untuk selama-lamanya. Dan barangsiapa minum racun kemudian bunuh diri, maka racunnya itu berada di tangannya kemudian minum di neraka jahanam untuk selama-lamanya. Dan barangsiapa bunuh diri dengan alat tajam, maka alat tajamnya itu di tangannya akan menusuk dia di neraka jahanam untuk selama-lamanya." (Riwayat Bukhari dan Muslim)

4.4.2.10 Melindungi Harta Benda
Kesepuluh: Tidak ada salahnya seorang muslim mengumpulkan kekayaan dengan sepuas-puasnya, asal dengan jalan halal dan disalurkan menurut cara-cara yang dibenarkan oleh hukum syara'. Kalau di sementara agama ada yang beranggapan, bahwa: sesungguhnya orang kaya itu tidak dapat masuk ke kerajaan langit, kecuali kalau unta dapat masuk ke lubang jarum, maka sesungguhnya Islam mengatakan: "Bahwa sebaik-baik harta yang baik adalah milik seorang saleh." (Riwayat Ahmad.)

Dan selama Islam membenarkan hak milik pribadi, maka praktis Islam akan melindungi hak milik tersebut dengan suatu undang-undang. Dan akan memberikan suatu pengarahan budi agar harta tersebut tidak menjadi sasaran tangan-tangan jahat, baik karena dirampas, dicuri ataupun ditipu. Rasulullah s.a.w. menyebutkan secara global antara kehormatan harta benda, darah dan harga diri dalam suatu susunan. Bahkan ia menilai pencurian itu sebagai hal yang dapat menghilangkan iman. Sabda Nabi: "Tidak akan mencuri seorang pencuri ketika ia mencuri, padahal dia menyatakan beriman." (Riwayat Bukhari dan Muslim) Dan firman Allah: "Pencuri laki-laki dan pencuri perempuan, hendaklah kamu potong tangannya, sebagai satu pembalasan terhadap apa yang mereka lakukan dan sebagai contoh yang menakutkan dari Allah; dan Allah Maha Gagah dan Bijaksana." (al-Maidah: 38) Dan sabda Rasulullah s.a.w.: "Tidak halal seorang muslim mengambil sebilah tongkat, tanpa niat baik." (Riwayat Ibnu Hibban) Rasulullah katakan demikian, karena kerasnya perlindungan Allah terhadap harta seorang muslim. Dan berfirmanlah Allah Ta'ala: "Hai orang-orang yang beriman! Jangan kamu makan harta-harta kamu di antara kamu dengan cara batil, kecuali melalui perdagangan dengan saling merelakan dari antara kamu." (an-Nisa': 29)

4.4.2.10.1 Menyuap, Hukumnya Haram
Termasuk makan harta orang lain dengan cara batil ialah menerima suap. Yaitu uang yang diberikan kepada penguasa atau pegawai, supaya penguasa atau pegawai tersebut menjatuhkan hukum yang menguntungkannya, atau hukum yang merugikan lawannya menurut kemauannya, atau supaya didahulukannya urusannya atau ditunda karena ada suatu kepentingan dan seterusnya. Islam mengharamkan seorang Islam menyuap penguasa dan pembantu-pembantunya. Begitu juga penguasa dan pembantu-pembantunya ini diharamkan menerima uang suap tersebut. Dan kepada pihak ketiga diperingatkan jangan sampai mau menjadi perantara antara pihak penerima dan pemberi.

Firman Allah: "Dan jangan kamu makan harta benda kamu di antara kamu dengan batil dan kamu ajukan perkara itu kepada penguasa (hakim) dengan maksud supaya kamu makan sebagian dari harta orang lain dengan dosa, padahal kamu mengetahui." (al-Baqarah: 188) Sabda Rasulullah s.a.w.: "Allah melaknat penyuap dan yang menerima suap dalam hukum." (Riwayat Ahmad, Tarmizi dan Ibnu Hibban) Tsauban mengatakan: "Rasulullah s.a.w. melaknat orang yang menyuap, yang menerima suap dan yang menjadi perantara." (Riwayat Ahmad dan Hakim) Rasulullah s.a.w, pernah mengutus Abdullah bin Rawahah ke tempat orang Yahudi untuk menetapkan jumlah pajak yang harus dibayarnya, kemudian mereka menyodorkan sejumlah uang. Maka kata Abdullah kepada orang Yahudi itu: "Suap yang kamu sodorkan kepadaku itu adalah haram. Oleh karena itu kami tidak akan menerimanya." (Riwayat Malik). Apabila penerima suap itu menerimanya justru untuk suatu tindakan kezaliman, maka berat sekali dosanya! Dan kalau bertujuan untuk mencari keadilan, maka sudah seharusnya uang imbalan itu tidak diterimanya. Tidak heran kalau Islam mengharamkan suap dan memperkerasnya terhadap siapa saja yang bersekutu dalam penyuapan ini. Sebab meluasnya penyuapan di masyarakat, akan menyebabkan meluasnya kerusakan dan kezaliman, misalnya: menetapkan hukum dengan jalan tidak benar, kebenaran tidak mendapat jaminan hukum, mendahulukan orang yang seharusnya diakhirkan dan mengakhirkan orang yang seharusnya didahulukan serta akan meluasnya jiwa vested interest di dalam masyarakat yang tidak berjiwa demi melaksanakan kewajiban.

4.4.2.10.2 Hadiah dari Rakyat Kepada Penguasa
Islam mengharamkan suap dalam bentuk dan nama apapun. Oleh karena itu dengan dalih hadiah tidak akan dapat mengeluarkannya dari haram menjadi halal. Dalam hadis Nabi dikatakan: "Barangsiapa yang kami pekerjakan pada suatu pekerjaan, kemudian kami beri gaji, maka apa yang diambilnya selebih dari itu berarti suatu penipuan." (Riwayat Abu Daud)

Umar bin Abdul Aziz pernah diberi hadiah waktu beliau menjabat sebagai khalifah, tetapi ditolaknya. Kemudian dikatakanlah kepadanya: "Rasulullah mau menerima hadiah." Maka Umar menjawab: "Apa yang diterima Nabi itu memang hadiah, tetapi ini buat saya sebagai suapan." Pernah juga Rasulullah s.a.w. mengirimkan seorang utusan untuk mengumpulkan zakat dari kabilah Azdi. Tetapi setelah utusan tersebut menghadap Nabi, sebagian barang yang dibawanya itu ditahan dan ia mengatakan kepada Nabi: Ini untukmu dan ini untuk saya, sebagai hadiah. Mendengar ucapan itu Nabi marsh sambil berkata: Mengapa tidak saja kamu tinggal di rumah bersama ayah dan ibumu sehingga hadiahmu itu sampai kepadamu, kalau kamu orang yang jujur?! Kemudian Nabi bersabda pula: "Mengapa saya memperkerjakan seorang laki-laki dari antara kamu kemudian ia mengatakan: ini untukmu dan ini hadiah untukku? Mengapa tidak saja ia tinggal di rumah ibunya supaya diberi hadiah?! Demi Zat yang diriku dalam kekuasaannya! Salah seorang di antara kamu tidak akan mengambil sesuatu dengan cara yang tidak benar, melainkan dia akan menghadap Allah --kelak di hari kiamat-- sambil membawa benda tersebut. Sungguh salah seorang di antara kamu tidak akan datang nanti di hari kiamat dengan membawa unta yang melenguh atau sapi yang menguak dan atau kambing yang mengembik. Kemudian Nabi mengangkat dua tangannya sampai putihnya kedua ketiaknya nampak, seraya mengatakan: Ya Tuhan, sudahkah saya sampaikan ini?!" (Riwayat Bukhari dan Muslim) Imam Ghazali berkata: "Kalau sudah demikian kerasnya larangan ini, maka sepatutnya seorang hakim atau penguasa --dan orang-orang yang tergolong hakim atau penguasa-mengira-ngirakan dirinya sewaktu tinggal bersama ayah dan ibunya. Kalau dia diberi hadiah sesudah memisahkan diri tetapi waktu itu masih tinggal bersama ayah dan ibunya, maka boleh diterimanya ketika dia sedang memangku jabatan. Tetapi kalau dia tahu, bahwa pemberian itu justru karena jabatannya, maka haram dia menerimanya. Dan hadiah-hadiah kawannya yang masih disangsikan apakah kalau dia keluar dari jabatan, bahwa mereka itu akan memberinya? Maka hal ini dipandang sebagai barang syubhat; oleh karena itu jauhilah."34

4.4.2.10.3 Menyuap Untuk Menghilangkan Kezaliman
Barangsiapa mempunyai hak yang diabaikan, sedang jalan untuk mendapatkan hak tersebut tidak dapat, kecuali dengan jalan menyuap; atau ada suatu kezaliman yang tidak dapat diatasi kecuali dengan menyuap, maka sebaiknya bersabar diri, sehingga Allah memberikan jalan untuk mengatasi kezaliman atau untuk mendapat hak tersebut. Kalau dia melalui jalan menyuap untuk maksud di atas, maka dosanya bagi yang menerima suap, bukan bagi yang menyuap, selama dia telah mencoba berbagai jalan

untuk mengatasi problema tersebut tetapi tidak juga berhasil; dan selama usaha mengatasi kezaliman dan mendapatkan hak itu tidak merugikan orang lain. Sementara ulama mendasarkan pendiriannya itu dengan beberapa hadis tentang orangorang yang minta sadaqah kepada Nabi padahal mereka tidak berhak, tetapi diberinya. Antara lain hadis yang diriwayatkan Umar Ibnul-Khattab: "Sesungguhn.ya Rasulullah s.a.w bersabda: sungguhnya ada salah seorang di antara kamu keluar dari rumahku dengan membawa sadaqah yang disembunyikan di ketiaknya, padahal sadaqah itu hanya umpan neraka. Kemudian Umar bertanya: Ya Rasulullah! Mengapa engkau beri padahal engkau tahu, bahwa sadaqah itu merupakan bara neraka baginya? Maka jawab Nabi: Apa yang harus saya perbuat sedangkan mereka terusmenerus minta kepadaku dan saya sendiri dilarang Allah berlaku bakhil." (Riwayat Abu Ya'la, dan yang seperti itu diriwayatkan juga oleh Ahmad) Apabila keadaan yang mendesak menyebabkan Nabi mau memberi sesuatu kepada peminta padahal telah diketahui, bahwa barang yang diberikannya itu bara api neraka, maka bagaimana lagi kalau suatu keperluan yang sangat mendesak demi mengatasi kezaliman dan mengambil hak yang diabaikan?!

4.4.2.10.4 Berlebih-Lebihan Menggunakan Harta, Hukumnya Haram
Apabila harta benda orang lain dilindungi dari setiap gangguan yang datangnya dari luar, baik dengan sembunyi-sembunyi ataupun dengan terang-terangan, maka di samping itu harta pribadi pun dilindungi dari penggunaan yang sia-sia, dipergunakan dengan boros atau karena dibangkitkan oleh kanan-kirinya. Ini justru disebabkan ummat mempunyai hak terhadap harta milik perseorangan, bahkan mempunyai hak milik di belakang setiap pemilik. Oleh karena itu Islam menetapkan, bahwa ummat berhak menahan hak milik orang yang belum mampu mengurus hartanya yang dimungkinkan akan menghambur-hamburkan hak miliknya itu. Sebab dalam hal ini ummatlah yang berhak. Dalam hal ini al-Quran mengatakan: "Dan jangan kamu serahkan kepada orang-orang bodoh harta benda kamu yang telah Allah jadikan sebagai standard untuk kamu, tetapi berilah mereka makan dengan harta itu dan berilah mereka pakaian, dan katakanlah kepada mereka dengan omongan yang baik." (an-Nisa': 5) Di sini Allah menyampaikan perkataanNya: Jangan kamu serahkan kepada orang-orang bodoh harta benda kamu itu kepada ummat, padahal harta benda tersebut pada hakikatnya milik orang-orang bodoh itu sendiri. Akan tetapi harta milik pribadi, pada hakikatnya milik seluruh ummat. Sebab Islam adalah agama tengah-tengah dan adil. Sedang ummat Islam adalah ummat penengah dan

adil dalam segala hal. Justru itu Allah melarang ummat Islam berlebih-lebihan dan boros, sebagaimana halnya mereka dilarang kikir dan pelit. Firman Allah: "Hai anak Adam! Pakailah perhiasanmu di tiap-tiap masjid; dan makanlah dan minumlah tetapi jangan boros, sebab Allah tidak suka kepada orang-orang yang boros." (al-A'raf: 31) Yang dimaksud dengan pemborosan di sini hanyalah dalam hal yang sifatnya memang diharamkan Allah, seperti untuk membeli arak, narkotik, bejana emas, bejana perak dan sebagainya. Sedikit ataupun banyak uang yang dikeluarkan itu. Atau uang itu disia-siakan untuk urusan pribadi maupun orang lain. Sebab Rasulullah s.a.w. melarang mensia-siakan harta. (Riwayat Bukhari). Atau dengan memperbesar jumlah pengeluaran untuk keperluan yang tidak dibutuhkan, sehingga tidak lagi ada sisa untuk mencukupi dirinya. Imam ar-Razi berkata dalam menafsirkan firman Allah: "Mereka bertanya kepadamu apakah yang harus mereka belanjakan? Maka jawablah: Yaitu harta yang lebih." (al-Baqarah: 219) sebagai berikut: Sesungguhnya Allah mendidik manusia dalam hal menggunakan uang, kemudian ia berkata kepada Nabinya sebagai berikut: "Dan berikanlah kepada keluargamu haknya, kepada orang-orang miskin, dan kepada orang yang berkeputusan belanja dalam perjalanan (ibnus sabil), dan jangan boros, karena sesungguhnya orang-orang yang boros adalah kawan syaitan." (al-Isra': 26) "Dan jangan kamu letakkan tanganmu terbelenggu di lehermu, tetapi jangan pula kamu ulurkan sepanjang-panjangnya. (al-isra': 29) "Dan orang-orang yang apabila membelanjakan uangnya tidak boros dan tidak juga kikir." (al-Furqan: 67) Dan Rasulullah s.a.w. sendiri juga bersabda: "Kalau salah seorang di antara kamu mempunyai sesuatu, maka utamakanlah untuk dirinya sendiri kemudian orang yang menjadi tanggungannya. Begitulah seterusnya!" (Riwayat Muslim) Dan sabdanya pula. "Sebaik-baik sadaqah ialah masih meninggalkan sisa." (Riwayat l-habarani siengan sanad hasan) Dan yang semakna dengan ini terdapat dalam Bukhari.

"Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: Ketika kami bersama Rasulullah s.a.w., tiba-tiba ada seorang laki-laki datang membawa emas sebesar telur. Kemudian ia berkata kepada Nabi: Ya Rasulullah! Ambillah ini sebagai sedekah, tetapi demi Allah saya tidak memiliki kecuali ini. Kemudian Rasulullah s.a.w. berpaling, tetapi ia berikan dari hadapan Nabi. Kemudian Nabi berkata: bawalah kemari, sambil ia marah dan kemudian diambilnya, kemudian dilemparkan yang sekiranya kena niscaya akan melukainya. Kemudian ia berkata: salah seorang di antara kamu datang kepadaku dengan membawa uangnya padahal dia tidak mempunyai kecuali itu, kemudian ia duduk menanti pemberian orang. Ketahuilah, bahwa sadaqah itu dari harta kelebihan. Ambillah ini, saya tidak membutuhkannya." (Riwayat Abu Daud dan Hakim) "Dan dari Nabi s.a.w., bahwa ia pernah menyimpan untuk keluarganya makanan setahun." (Riwayat Bukhari) Dan berkatalah ahli-ahli hikmah: "Yang baik ialah berada diantara berlebih-lebihan dan kikir." Infaq kelewat banyak berarti boros, dan kelewat sedikit berarti kikir. Sedang tengah-tengah itulah yang baik. Dan inilah yang dimaksud firman Allah: qulil 'afwa. Tujuan pokok syariat Muhammad adalah demi memenuhi panggilan yang lembut ini. Berbeda dengan syariat Yahudi yang dasarnya pembinaan sangat keras, dan syariat Nashara yang sangat mempermudah. Tetapi syariat Muhammad sederhana dalam semua hal. Justru itu syariat Muhammad lebih sempurna dari semuanya.35

4.5 Hubungan antara Ummat Islam dengan Ghairul Islam
KALAU kita hendak menyimpulkan ajaran-ajaran Islam dalam masalah hubungan dengan golongan ghairul Islam --tentang soal halal dan haram-- cukup kiranya kita berpangkal kepada dua ayat al-Quran yang tepat untuk dijadikan konstitusi (dustur) yang menyeluruh dalam permasalahan ini. Kedua ayat itu ialah: "Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu dalam agama dan tidak mengusir kamu dari kampung-kampungmu sebab Allah senang kepada orang-orang yang adil. Allah hanya melarang kamu bersahabat dengan orang-orang yang memerangi kamu dalam agama dan mengusir kamu dari kampung-kampungmu dan saling bantu-membantu untuk mengusir kamu; barangsiapa bersahabat dengan mereka, maka mereka itu adalah orang-orang zalim." (alMumtahinah: 8-9) Ayat pertama tidak sekedar senang keadilan dan kejujuran terhadap golongan ghairul Islam yang tidak memerangi ummat Islam dan tidak mengusir mereka, yakni orang-orang yang tidak menaruh peperangan dan permusuhan terhadap Islam, bahkan ayat tersebut senang ummat Islam berbuat baik kepada mereka. Kata-kata birr (berbuat baik) suatu kata yang mempunyai: pengertian sangat luas, meliputi semua nilai kebaikan dan pergaulan secara luas, melebihi arti adil biasa.

Kata ini juga yang dipakai oleh kaum muslimin dalam hubungannya dengan masalah kewajiban hak-hak kemanusiaan, misalnya birr ul walidain. Kami katakan demikian, karena ayat tersebut mengatakan "sesungguhnya Allah suka kepada orang-orang yang berlaku adil," sedang orang mu'min senantiasa berusaha untuk merealisasi apa yang dicintai Allah. Perkataan: "Allah tidak melarang kamu," ini dimaksudkan untuk menghilangkan perasaan, bahwa orang yang berlainan agama tidak berhak mendapat penghargaan, keadilan, kasih-sayang dan pergaulan yang baik. Justru itu Allah menjelaskan kepada orang-orang mu'min, bahwa ia tidak melarang untuk mengadakan hubungan yang baik dengan orang-orang yang berlainan agama, bahkan dengan orang-orang yang memerangi dan mengganggunya sekalipun. Ungkapan ini mirip dengan firman Allah yang berkenaan dengan masalah Shafa dan Marwah, ketika sementara orang berkeberatan melakukan sa'i antara kedua gunung tersebut, karena ada suatu penyerupaan dengan orang-orang jahiliah yang juga melakukan demikian. Untuk itu maka Allah mengatakan: "Barangsiapa haji ke Baitullah atau umrah, maka tidak berdosa atasnya melakukan tawaf pada keduanya." (al-Baqarah: 158) Dengan dihapusnya dosa, berarti hilanglah perasaan-perasaan yang tidak baik itu, kendati pada hakikatnya tawaf pada keduanya itu sendiri hukumnya wajib karena termasuk manasik haji.

4.5.1 Tinjauan Khusus untuk Ahli Kitab
Kalau Islam tidak melarang mengadakan hubungan baik dan keadilan dengan golongan ghairul Islam dari agama manapun, kendati dengan penyembah berhala (watsaniyyin), seperti musyrikin Makkah yang secara khusus Allah telah menurunkan dua ayat perihal status mereka, maka Islam mempunyai pandangan khusus terhadap ahli kitab, yaitu: Yahudi dan Nasrani, baik mereka itu berada di bawah kekuasaan Islam atau di luar kekuasaan Islam. Al-Quran tidak memanggil mereka melainkan dengan menggunakan panggilan hai ahli kitab dan hai orang-orang yang telah diberi kitab. Ini memberi gambaran, bahwa mereka itu pada mulanya adalah pemeluk agama samawi. Oleh karena itu di antara mereka dengan kaum muslimin terdapat saling berhubungan dan berkerabat, sebagai satu manifestasi dari satu agama yang dibawa oleh seluruh Nabi. Firman Allah: "Allah telah menerangkan kepadamu dari (urusan) agama apa yang telah diwajibkan kepada Nuh, dan yang telah kami wahyukan kepadamu, dan apa yang telah kami

wajibkan kepada lbrahim, Musa dan Isa, yaitu hendaknya kamu menegakkan agama dan jangan bercerai-berai tentang urusan agama." (as-Syura: 13) Kaum muslimin dituntut untuk mempercayai semua kitab Allah dan segenap RasulNya. Sedang iman mereka hanya dapat dibuktikan dengan kepercayaan ini. Maka berfirmanlah Allah: "Katakanlah! Kami beriman kepada Allah, dan apa-apa yang diturunkan kepada kami, dan apa-apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya'qub dan anak-cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa, dan apa yang diberikan kepada para Nabi dari Tuhan mereka; kami tidak akan membeda-bedakan di antara seorang pun dari mereka dan kami tetap menyerah kepadaNya." (al-Baqarah: 136) Ahli kitab kalau mau membaca al-Quran, mereka akan menjumpai beberapa pujian terhadap kitab mereka, rasul mereka dan nabi-nabi mereka. Oleh karena itu, kalau ummat Islam mengadakan perdebatan dengan ahli kitab, hendaknya selalu dihindari sikap berlebihan yang kadang-kadang dapat memanaskan hati dan membangkitkan permusuhan. Firman Allah: "Dan jangan kamu mengadakan perdebatan dengan ahli kitab melainkan dengan perdebatan yang kiranya lebih baik, kecuali terhadap orang-orang yang berbuat zalim dari antara mereka, (Namun begitu) katakanlah: kami beriman kepada kitab yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhan kamu adalah Esa, dan kepadaNya kami menyerah." (al-Ankabut: 46) Kita semua sudah tahu, betapa Islam membenarkan makan makanan dan sembelihan ahli kitab. Dan begitu juga dibolehkan kita mengadakan hubungan perkawinan denyan perempuan-perempuan mereka, padahal perkawinan itu sendiri intinya demi ketenteraman (sakinah), cinta (mawaddah) dan kasih-sayang (rahmah), Firman Allah: "Makanan orang-orang yang diberi kitab (ahli kitab), halal buat kamu dan makananmu halal buat mereka, dan begitu juga perempuan mu'min yang terpelihara dan perempuanperempuan yang terpelihara dari orang-orang yang telah diberi kitab sebelum kamu." (alMaidah: 5) Ini, dalam hubungannya dengan ahli kitab secara umum. Adapun khusus terhadap orangorang Nasrani, al-Quran telah meletakkan mereka pada suatu tempat yang berdekatan sekali dengan orang-orang Islam. Yaitu seperti diterangkan Allah: "Sungguh kamu akan menjumpai orang yang paling dekat cintanya kepada orang-orang mu'min, ialah orang-orang yang mengatakan: kami ini adalah nashara; yang demikian itu

disebabkan di antara mereka ada pendeta-pendeta dan pastor-pastor, dan sesungguhnya mereka itu tidak sombong." (al-Maidah: 82)

4.5.2 Ahludz Dzimmah (Orang Kafir yang Berada di Wilayah Pemerintahan Islam)
Ketentuan-ketentuan tersebut di atas meliputi seluruh ahli kitab di mana saja mereka berada. Tetapi untuk mereka yang berada di bawah naungan pemerintahan Islam ada satu tempat khusus. Mereka ini dalam istilah yang dipakai ummat Islam dinamakan Ahludz Dzimmah. Dzimmah itu sendiri artinya: perjanjian. Kata-kata ini memberikan suatu isyarat, bahwa mereka itu mendapat perjanjian Allah, Nabi dan jama'atul muslimin untuk hidup di bawah naungan Islam dengan aman dan tenteram. Mereka ini dalam istilah sekarang disebut Warga Negara dalam suatu negara Islam. Seluruh ummat Islam dari dahulu sampai sekarang sudah sepakat, bahwa apa yang bermanfaat buat mereka bermanfaat juga bagi ummat Islam dan apa yang membahayakan mereka, berbahaya juga bagi ummat Islam. Kecuali masalah keyakinan dan urusan agama, maka Islam berlepas diri dari mereka berikut cara-cara persembahannya. Rasulullah s.a.w. memperkeras wasiatnya tentang masalah ahli kitab ini, dengan suatu ancaman siapa yang menentangnya akan mendapat murka dan siksaan Allah. Seperti tersebut dalam salah satu hadisnya yang berbunyi sebagai berikut: "Barangsiapa mengganggu seorang kafir dzimmi, maka sungguh ia mengganggu saya, dan barangsiapa mengganggu saya, maka sungguh ia mengganggu Allah." (Riwayat Thabarani) "Barangsiapa mengganggu seorang kafir dzimmi, maka saya adalah musuhnya, dan barangsiapa memusuhi saya, maka akan saya musuhinya nanti di hari kiamat." (Riwayat al-Khatib) "Barangsiapa berlaku zalim kepada seorang kafir 'ahdi, atau mengurangi haknya, atau memberi beban melebihi kemampuannya, atau mengambil sesuatu daripadanya dengan niat yang tidak baik, maka saya adalah pembelanya nanti di hari kiamat." (Riwayat Abu Daud) Para khalifah Nabi telah melaksanakan perlindungan hak dan kehormatan ini terhadap warga negara yang bukan beragama Islam. Dan diperkuat pula oleh para ahli fiqih dalam berbagai madzhab.

Seorang ahli fiqih Maliki Syihabuddin al-Qarafi mengatakan: "Perjanjian perlindungan adalah menentukan hak yang harus kita patuhinya karena sesungguhnya mereka itu berada di samping kita, dalam perlindungan kita, dalam perjanjian kita, dalam perjanjian Allah, dalam perjanjian Rasulullah dan dalam perjanjian Islam. Oleh karena itu barangsiapa mengganggu mereka kendati dengan sepatah kata yang tidak baik, atau dengan mengumpat yang menodai kehormatan mereka, atau macam gangguan apapun atau membantu perbuatan tersebut, maka sungguh ia telah mengenyampingkan perjanjian Allah, perjanjian Rasulullah dan perjanjian Agama Islam."36 Ibnu Hazm, salah seorang ahli fiqih Dhahiri mengatakan: "Kalau ada kafir harbi datang ke negeri kita untuk mengganggu ahludz-dzimmi, maka kita wajib keluar untuk melawannya dengan memanggul senjata dan bersedia mati demi melindungi orang yang berada dalam lindungan Allah dan RasulNya. Sebab menyerahkan mereka ini berarti mengabaikan perjanjian perlindungan."37

. : AboutMiracle’s Weblog : .
It’s All About The Miracle of Taqwa

Hasad Dengki : Penyakit Hati Yang Menghanguskan Segala Kebaikan. Bagaimana Mengobatinya?
with 13 comments

HASAD DENGKI, kita tentu sudah sangat familiar dengan kata-kata tersebut. Bahkan dulu mungkin sewaktu pelajaran agama SD , kita sering memilih sifat tercela yang satu ini ketika diminta menuliskan contoh sifat tercela. Hasad dengki sering disebut juga dengki atau iri dan hasad. Untuk mendiagnosis gejala penyakit hasad dengki ini sebenarnya cukup simpel, yaitu dengan cukup bertanya kepada diri kita, apakah kita termasuk orang yang senang lihat orang susah dan susah lihat orang senang? Nah, apabila di dalam hati kita terdapat tanda-tanda atau sifat diatas itu maka boleh jadi kita termasuk orang yang sedang terjangkit penyakit Hasad Dengki, sebuah penyakit diantara sekian banyak penyakit ruhani yang amat berbahaya. Kita mesti segera mencari obatnya, sebab kalau kita kekalkan penyakit ini di dalam hati, maka kita takut tidak selamat di dunia terlebih di akhirat. Tetapi sayang hingga saat ini belum ada Rumah Sakit Spesialis Penyakit Hasad Dengki. Berarti ya kita mesti cari dokter ruhani alias Mursyid yang dapat mengobati penyakit hati hati kita.. Hampir setiap orang menderita penyakit hasad dengki ini, cuma bedanya banyak atau sedikit, bertindak atau tidak. Dalam sebuah hadis disebutkan tentang enam golongan manusia yang dicampakkan ke dalam neraka, satu diantaranya adalah orang atau ulama yang di dalam hatinya terdapat hasad dengki. Rasulullah SAW bersabda, yang artinya : “sesungguhnya hasad dengki itu memakan kebaikan sepertimana api memakan kayu bakar” Orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit hasad dengki ini, hidupnya tidak akan pernah bahagia, jiwanya senantiasa menderita dan tersiksa. Hatinya selalu tersiksa jika melihat orang lain lebih dari dirinya atau mendapat nikmat serta kejayaan. Dan sebaliknya dia akan bergembira bila orang lain susah dan gagal. Maka dari itu, hasad dengki inilah penyakit kronis yang merusak perpaduan dan ukhuwah. Akan timbul di dalam masyarakat fitnah memfitnah, dendam mendendam, buruk sangka,mengumpat, mengadu domba, dan dosa-dosa lain yang akan menghapuskan segala kebaikan. Seseorang yang melayani sifat hasad dengkinya, maka pada hakikatnya dia adalah orang yang paling biadab dengan Allah, sebab secara tidak langsung dia benci kepada Allah, dia tidak redha pada apa yang Allah telah berikan kepada orang lain serta kepada dirinya.Sekalipun ibadahnya banyak, tahajudnya banyak dan shalatnya banyak. Dalam sebuah kisah para Sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, terjemahannya : “ wahai Rasulullah, sesungguhnya ada seorang wanita yang berpuasa siang hari dan shalat tahajud di malam harinya, tetapi selalu menyakiti tetangganya dengan lidahnya”. Jawab baginda Rasulullah SAW : “ Tidak ada kebaikan lagi baginya, ia adalah ahli neraka”.

Kemudian dalam sebuah kisah yang lain menyebutkan, ketika Rasulullah berkumpul bersama para Sahabatnya, tiba-tia baginda berkata, “ wahai para sahabatku, sesaat lagi dalam majelis ini akan datang seorang pemuda ahli syurga”. Para Sahabat pun penasaran, siapa yang akan datang ke dalam majelis tersebut, yang Rasulullah sendiri menyebutnya sebagai pemuda ahli Syurga. Maka tak lama setelah itu datanglah Sa’ad bin Abi Waqash ke dalam majelis itu. Rupanya beliaulah yang disebut Rasulullah sebagai Ahli Syurga tersebut. Lantas para sahabatpun sangat “cemburu”, bereka ingin tahu kenapa si pemuda ini disebut sebagai ahli syurga, apa yang menjadi amal ibadahnya sehingga ia layak untuk disebut ahli Syurga oleh Rasulullah? Maka selepas majelis itu, ada sahabat yang berinisiatif untuk melihat secara dekat si pemuda tadi, akhirnya sahabat ini mengikuti si pemuda sampai rumah. Kemudian sahabat ini meminta izin kepada si pemuda untuk menginap di rumahnya. Maka di izinkanlah sahabat ini menginap. Tetapi ajaib, sepanjang hari dan sepanjang malam si sahabat ini mengamati si pemuda, ternyata tidak ada ibadah yang istimewa pada diri si pemuda. Dia hanya beribadah yang wajib-wajib saja, malam hari pun si pemuda ini tidak bangun untuk shalat malam. Maka bertambah penasaranlah si sahabat, lantas bertanya, “ wahai saudaraku, engkau disebut oleh baginda Rasulullah sebagai pemuda ahli Syurga, tetapi aku lihat tidak ada yang istimewa pada amal ibadahmu, bolehkah aku tahu rahasia engkau?” Si Pemuda terkejut mendengar pertanyaan dari si sahabat, lantas merenung dan menjawab, “mungkin yang menjadikan aku disebut ahli Syurga oleh Rasulullah adalah bahwa hatiku tidak pernah sedikitpun hasad dengki dengan orang lain, bahkan niat untuk hasad dengki pun aku tidak punya” Orang yang ibadahnya banyak pun masuk neraka karena hasad dengki, apalagi yang tidak pernah tahajud, tidak pernah puasa sunat dan masih bergelimang dengan hasad dengki. Kalau bentul kita beriman kepada Allah, marilah kita insyaf akan penyakit-penyakit hati kita dan memperbaiki dengan cara MUJAHADATUNNAFSI atau bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu yang jahat. Diantara tips yang mesti kita lakukan sebagai mujahadah terhadap hasad dengki ialah : 1. Setiap kali orang yang kita dengki mendapat kejayaan, maka kita ucapkan selamat kepadanya. Dan sebaliknya apabila dia tertimpa kesusahan maka kita menumpang sedih juga atas apa yang menimpanya serta menghiburnya. 2. Sanjung, sebut dan pujilah kebaikan serta keistimewaan orang yang kita dengki di belakang dia, dan kalau ada keburukannya kita rahasiakan. Doakan kebaikan untuknya. 3. Sering-sering bersilaturahmi serta memberi hadiah kepada orang yang kita dengki tersebut.

4. Kalau ada orang yang berusaha menjatuhkan orang yang kita dengki itu, berusahalah untuk membelanya. Jangan melayani syeitan yang hendak merusakkan mujahadah kita dengan mendorong kita untuk ikut mengumpatnya. 5. Berdoa kepada Allah agar dimudahkan membuang penyakit hasad dengki yang ada dalam diri kita. Memang berat dan terasa pahit tetapi itulah obat, sebab selama ini Ego kita sudah mendarah daging. Tapi obat ini mesti kita makan dan dilakukan dengan sungguh-sungguh dan ingat selalu firman Allah dalam QS Al Ankabut :69 yang artinya : “ dan mereka yang bermujahadah pada jalan Kami, niscaya Kami tunjuki jalan-jalan Kami itu “.

Timbulnya hasad dengki pada orang lain adalah karena orang lain mempunyai keistimewaan dan kelebihan lebih dari yang kita miliki. Atau bila seseorang mendapat nikmat lebih dari kita atau bila kita terasa seseorang telah mengalahkan kita dalam perjuangan, persaingan atau kompetisi maka datanglah hasad dengki itu. Sepatutnya tidak begitu.Kalau kita beriman dengan Allah, yakin akan keadilanNya mengatur pemberian kepada hamba-hambaNya maka kita tidak akan hasad dengki dengan orang lain. Firman Allah dalam QS An Nisa: 32, yang artinya : “ janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain”. Allah yang melebihkan dan mengurangkan pemberianNya kepada seseorang. Dan Allah adalah adil atas pemberian lebih dan kurang itu. Dia bermaksud menguji kita. Siapa yang sadar dirinya sebagai hambaNya, lalu akan sentiasa bersyukur pada nikmat yang diperolehi, redha dengan taqdir dan sabar menunggu ujian. Dalam hadis Qudsi, Allah berfirman yang artinya : “ barangsiapa tidak redha terhadap takdir yang telah berlaku dan tidak sabar terhadap cobaan dariKu, maka carilah Tuhan selain Aku “ Kalau Allah melebihkan seseorang itu dari kita, artinya Allah mau menguji kita apakah sabar dan redhakah kita dengan kekurangan yang Allah takdirkan. Dan kalau Allah

lebihkan kita dari seseorang, artinya Allah mau menguji kita, bersyukurkah kita terhadap nikmat itu atau sebaliknya sombong, congkak, dan lupa diri sebagai hamba Allah. Kalau begitu kenapa mesti hasad dengki? Kalau masih hasad dengki juga, artinya kita tidak redha dengan Allah. Kita tidak senang dengan peraturan-Nya dan kita tidak menerima kehendak-Nya. Sebab itu orang yang hasad bukan saja bermusuhan dengan orang yang didengki itu tetapi juga bermusuhan dengan Allah. Biadab dengan manusia dan biadab dengan Allah, maka layaklah menjadi ahli Neraka. Hasad, Penyakit Umat Terdahulu yang Menjangkiti Kaum Muslimin [Print View] [kirim ke Teman] Hasad, bisa jadi adalah penyakit jiwa yang paling sering menjangkiti atau setidaknya pernah mendera kita tanpa disadari. Penyakit ini sesungguhnya adalah penyakit “tertua” yang menjadikan iblis membangkang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yang memilukan, penyakit ini kemudian banyak diwarisi kaum muslimin hingga sekarang. Maha Suci Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah membagi-bagi perangai para hambaNya sebagaimana Ia telah membagi-bagi rizki di antara mereka. Di antara manusia ada yang dianugerahi perangai yang baik, jiwa yang bersih dan cinta terhadap saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya berupa kebaikan. Ada pula jenis manusia yang jelek perangainya, kotor jiwanya serta tidak suka terhadap kebaikan yang diperoleh saudaranya. Pengertian Hasad Ulama berbeda-beda dalam mendefinisikan hasad. Namun inti ungkapan mereka, hasad adalah sikap benci dan tidak senang terhadap apa yang dilihatnya berupa baiknya keadaan orang yang tidak disukainya. (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyyah rahimahullahu, 10/111) An-Nawawi rahimahullahu berkata: “Hasad adalah menginginkan hilangnya nikmat dari yang memperolehnya, baik itu nikmat dalam agama ataupun dalam perkara dunia.” (Riyadhush Shalihin, Bab Tahrimil Hasad, no. 270) Sebab-sebab Terjadinya Hasad Pada dasarnya, jiwa manusia memiliki tabiat menyukai kedudukan yang terpandang, dan tidak ingin ada yang menyaingi atau lebih tinggi darinya. Jika ada yang lebih tinggi darinya, ia pun sempit dada dan tidak menyukainya, serta ingin agar nikmat itu hilang dari saudaranya. Dari sini jelaslah bahwa hasad merupakan penyakit kejiwaan. Hasad merupakan penyakit kebanyakan orang. Tidak terbebas darinya kecuali segelintir manusia. Oleh karena itu dahulu dikatakan: “Tiada jasad yang bebas dari sifat hasad. Akan tetapi orang yang jelek akan menampakkan hasadnya, sedangkan orang yang baik akan menyembunyikannya.” Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu pernah ditanya: “Apakah seorang mukmin itu (memiliki sifat) hasad?” Beliau rahimahullahu menjawab: “Begitu cepatnya engkau lupa (tentang kisah hasad) saudara-saudara Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Namun sembunyikanlah hasad itu di dalam dadamu. Hal itu tidak akan membahayakanmu selagi tidak

ditampakkan dengan tangan dan lisan.” (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyyah rahimahullahu, 10/125) Sebab-sebab terjadinya hasad banyak sekali. Di antaranya permusuhan, takabur (sombong), bangga diri, ambisi kepemimpinan, jeleknya jiwa serta kebakhilannya. Hasad yang paling dahsyat adalah yang ditimbulkan oleh permusuhan dan kebencian. Karena orang yang disakiti orang lain dengan sebab apapun, akan menumbuhkan kebencian dalam hatinya, serta tertanamnya api kedengkian dalam dirinya. Kedengkian itu menuntut adanya pembalasan, sehingga ketika musuhnya tertimpa bala` ia pun senang dan menyangka bahwa itu adalah pembalasan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuknya. Sebaliknya, jika yang dimusuhinya memperoleh nikmat, ia tidak senang. Maka, hasad senantiasa diiringi dengan kebencian dan permusuhan. Adapun hasad yang ditimbulkan oleh kesombongan, seperti bila orang yang setingkat dengannya memperoleh harta atau kedudukan maka ia khawatir orang tadi akan lebih tinggi darinya. Ini mirip hasad orang-orang kafir terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang dikisahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala: ‫ما أنتم إ ّ بشر مثلنا‬ َ ُْ ِ ٌ َ َ ‫َ َ ْ ُ ْ ِل‬ “Kalian tidak lain kecuali manusia seperti kami.” (Yasin: 15) Yakni mereka heran dan benci bila ada orang yang seperti mereka memperoleh derajat kerasulan, sehingga mereka pun membencinya. Demikian pula hasad yang ditimbulkan oleh ambisi kepemimpinan dan kedudukan. Misalnya ada orang yang tak ingin tertandingi dalam bidang tertentu. Ia ingin dikatakan sebagai satu-satunya orang yang mumpuni di bidang tersebut. Jika mendengar di pojok dunia ada yang menyamainya, ia tidak senang. Ia justru mengharapkan kematian orang itu serta hilangnya nikmat itu darinya. Begitu pula halnya dengan orang yang terkenal karena ahli ibadah, keberanian, kekayaan, atau yang lainnya, tidak ingin tersaingi oleh orang lain. Hal itu karena semata-mata ingin menyendiri dalam kepemimpinan dan kedudukan. Dahulu, ulama Yahudi mengingkari apa yang mereka ketahui tentang Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta tidak mau beriman kepadanya, karena khawatir tergesernya kedudukan mereka. Adapun hasad yang ditimbulkan oleh jeleknya jiwa serta bakhilnya hati terhadap hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala, bisa jadi orang semacam ini tidak punya ambisi kepemimpinan ataupun takabur (kesombongan). Namun jika disebutkan di sisinya tentang orang yang diberi nikmat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, sempitlah hatinya. Jika disebutkan keadaan manusia yang goncang serta susah hidupnya, ia bersenang hati. Orang yang seperti ini selalu menginginkan kemunduran orang lain, bakhil dengan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas para hamba-Nya. Seolah-olah manusia mengambil nikmat itu dari kekuasaan dan perbendaharaannya. Demikianlah, kebanyakan hasad yang terjadi di tengah-tengah manusia disebabkan faktor-faktor tadi. Dan seringnya terjadi antara orang-orang yang hidup sejaman, selevel, atau antar saudara. Oleh karena itu, anda dapati ada orang alim yang hasad terhadap alim lainnya, dan tidak hasad terhadap ahli ibadah. Pedagang hasad terhadap pedagang yang lain. Sumber semua itu adalah ambisi duniawi, karena dunia ini terasa sempit bagi orang yang bersaing. (Lihat Mukhtashar Minhajul Qashidin, hal. 240-243) Buah dari Sifat Hasad Setiap orang yang lurus dan bijak akan mencela hasad dan berlindung diri kepada Allah

Subhanahu wa Ta’ala darinya. Lihatlah bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjauhkan Nabi-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sikap jelek ini, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela ahlul kitab yang hasad terhadap manusia dalam hal keutamaan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mencerca kaum munafik yang Allah Subhanahu wa Ta’ala katakan tentang mereka: َ ْ ُ ِ َ ْ ‫ِ ْ ُ ِ ْ َ َ َ َ ٌ َ ُ ْ ُ ْ َِ ْ ُ ِ ْ َ ُ ِ ْ َ ٌ َ ُ ُْ َ ْ َ َ ْ َ َ ْ َ َ ِ ْ َ ْ ُ َ َ َ َّ ْ َه‬ ‫إن تصبك حسنة تسؤهم وإن تصبك مصيبة يقولوا قد أخذنا أمرنا من قبل ويتولوا و ُم فرحون‬ “Jika kamu mendapat suatu kebaikan, mereka menjadi tidak senang karenanya. Dan jika kamu ditimpa oleh suatu bencana, mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami sebelumnya telah memerhatikan urusan-urusan kami (tidak pergi berperang),’ dan mereka berpaling dengan rasa gembira.” (At-Taubah: 50) Tidaklah setan dimurkai dan dikutuk oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala melainkan karena hasad dan sikap sombongnya terhadap Adam ‘alaihissalam. Hasad adalah awal kemaksiatan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala dimaksiati dengannya di langit –oleh Iblis– dan di bumi –oleh salah seorang anak Adam, ketika kurbannya tidak diterima. Ia lalu membunuh saudaranya yang diterima kurbannya. Orang yang hasad selalu dirundung kegalauan melihat nikmat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada orang lain, seolah-olah adzab yang menimpa dirinya. Rabbnya murka kepadanya, manusia pun menjauh darinya. Tidaklah anda melihatnya kecuali selalu bersedih hati menentang keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan takdir-Nya. Seandainya ia mampu melakukan kebaikan niscaya ia tidak akan banyak beramal dan berpikir untuk menyusul orang yang dihasadi. Dan seandainya mampu melakukan kejelekan, pasti ia akan merampas nikmat saudaranya lalu menjadikan saudaranya itu fakir setelah tadinya kaya, bodoh setelah tadinya pintar, dan hina setelah tadinya mulia. (Lihat Ishlahul Mujtama’, hal. 103-104) Hasad, Sifat Yahudi yang Menonjol Orang yang banyak memerhatikan sejarah dan mencermati kondisi umat-umat yang ada, akhlak dan muamalah mereka, benar-benar akan ia dapati bahwa umat yang paling jelek akhlaknya dan paling jahat pergaulannya adalah bangsa Yahudi. Mereka adalah umat yang dikutuk, umat (yang suka) berdusta, melampaui batas, berbuat kefasikan, kemaksiatan, kekufuran dan penyimpangan. Suatu umat yang dibenci oleh manusia karena kerasnya hati mereka, dan dahsyatnya kedengkian serta hasad mereka. (Lihat AlFawa`id Al-Mantsurah, hal. 172, karya Asy-Syaikh Dr. Abdurrazzaq Al-Badr) Asy-Syaikh Muhammad bin Salim Al-Baihani rahimahullahu berkata: “Tidaklah AlQur`an menyifati seseorang dengan sifat hasad, dari dahulu hingga sekarang, lebih dari bangsa Yahudi. Merekalah yang menyatakan tentang Thalut: ِ َ ْ َ ِ ‫َ ّ َ ُ ْ ُ َ ُ ْ ُ ْ ُ ََ ْ َ َ َ ْ ُ َ َ ّ ِ ْ ُ ْ ِ ِ ْ ُ ََ ْ ُ ْ َ َ َة‬ ‫أنى يكون له الملك علينا ونحن أحق بالملك منه ولم يؤت سع ً من المال‬ “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripada dia, sedangkan dia pun tidak diberi kekayaan yang banyak?” (AlBaqarah: 247) Mereka menyatakan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah menurunkan sesuatu pun kepada manusia. Mereka juga mengetahui kebenaran, namun kemudian mengingkarinya. Mereka berusaha menghalangi manusia dari kebenaran karena keangkuhan mereka di muka bumi dan karena mereka lebih menyukai kebutaan daripada petunjuk, serta membenci apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala mengandaskan harapan mereka dan meruntuhkan usaha mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ّ َ ْ ُ ُ َ َ َّ َ َ ِ ْ َ ْ ِ ْ ِ ِ ُ ْ َ ِ ْ ِ ْ ِ ً َ ‫َ ّ َ ِ ْ ٌ ِ ْ َ ْ ِ ْ ِ َ ِ َ ْ َ ُ ّ ْ َ ُ ْ ِ ْ َ ْ ِ ِ ْ َ ِ ُ ْ ُ ّ ً ح‬ ‫ود كثير من أهل الكتاب لو يردونكم من بعد إيمانكم كفارا َسدا من عند أنفسهم من بعد ما تبين لهم الحق‬ “Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.” (Al-Baqarah: 109) [Lihat Ishlahul Mujtama’, hal. 103-104) Antara Hasad dan Ghibthah Dari uraian yang telah disebutkan, jelaslah bahwa hasad adalah suatu sifat yang tercela karena pelakunya mengharapkan hilangnya nikmat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada orang lain, serta kebenciannya memperoleh nikmat tersebut. Adapun ghibthah adalah seseorang menginginkan untuk mendapatkan sesuatu yang diperoleh orang lain, tanpa menginginkan hilangnya nikmat tersebut dari orang itu. Yang seperti ini tidak mengapa dan tidak dicela pelakunya. Jika irinya dalam hal ketaatan maka pelakunya terpuji. Bahkan ini merupakan bentuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Jika irinya dalam perkara maksiat maka ini tercela, sedangkan bila dalam perkara-perkara yang mubah maka hukumnya juga mubah. (Lihat At-Tafsirul Qayyim, 1/167 dan Fathul Bari, 1/167) Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ِ ْ ّ َ َ ُ ُ ِ ْ ُ َ ُ َ ً َ ُ ‫َ َ َ َ ِ ّ ِ ََْ ْ ِ َ ُ ٍ ََ ُ ُ ْ ُ ْ َ َ ُ َ َ ُ ْ ُ ِ ِ َ َ ّ ْ ِ َ َ َ ّ َ ِ َ َ ُ ٌ َ ه‬ ‫ل حسد إل في اثنتين، رجل آتاه ال القرآن فهو يقوم به آناء الليل وآناء النهار ورجل آتا ُ ال مال فهو ينفقه آناء الليل‬ ِ َّ ََ َ ‫وآناء النهار‬ “Tidak ada hasad atau iri –yang disukai– kecuali pada dua perkara; (yaitu) seorang yang diberikan pemahaman Al-Qur`an lalu mengamalkannya di waktu-waktu malam dan siang; dan seorang yang Allah beri harta lalu menginfakkannya di waktu-waktu malam dan siang.” (HR. Muslim, Kitab Shalatil Musafirin wa Qashriha, no. 815, dari sahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu 'anhuma) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Jika ada yang mengatakan, mengapa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menamakannya dengan hasad, padahal orang tadi hanyalah menginginkan untuk diberi nikmat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala? Maka dijawab bahwa sumber keinginan ini adalah karena ia melihat orang lain diberi nikmat, serta ketidaksukaannya ada orang lain yang lebih unggul darinya. Jika tidak ada orang lain (yang memperoleh nikmat itu) niscaya dia juga tidak menginginkannya. Karena sumbernya adalah ketidaksukaannya untuk disaingi oleh orang lain (dalam kebaikan) maka dinamakanlah hasad. Jiwa manusia tidaklah hasad kepada orang yang beramal pada sesuatu yang besar keletihannya, seperti jihad. Oleh karena itu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyebutkannya meskipun jihad fi sabilillah lebih utama dari orang yang menginfakkan hartanya. Demikian pula, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyebutkan (dalam hadits ini) orang yang shalat, puasa, dan haji. Karena pada amalan-amalan ini biasanya manusia tidak mendapatkan manfaat (dari pelakunya), yang dengannya mereka mengagungkan orang tersebut dan menjadikannya sebagai pemimpin, sebagaimana manfaat yang diperoleh dari taklim dan infak. Hasad asalnya hanyalah terjadi karena sesuatu yang diperoleh orang lain mendatangkan

kepemimpinan. Oleh karena itu, orang yang beramal biasanya tidaklah dihasadi meskipun dia bernikmat-nikmat dengan makan, minum, dan nikah lebih banyak dari yang lain. Ini sangat berbeda dengan dua jenis orang tersebut (orang yang berlimu dan orang yang berinfak), keduanya sering dihasadi. Oleh karena itu, di tengah-tengah orang yang berilmu yang memiliki pengikut didapati sifat hasad yang tidak didapatkan pada orang yang tidak seperti itu. Demikian pula orang yang memiliki pengikut disebabkan infaknya. Orang yang berilmu akan memberi manfaat kepada manusia dengan santapan rohaninya, dan orang yang kaya akan memberikan manfaat kepada manusia dengan kebutuhan jasmani. Dan semua manusia membutuhkan apa yang menjadikan ruh (hati) dan badannya baik. Inilah sahabat ‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu 'anhu berkata: ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk bersedekah, bersamaan dengan saat di mana aku punya harta. Aku menyatakan: Hari ini aku akan saingi Abu Bakr jika aku bisa menyainginya pada suatu hari.’ ‘Umar berkata: ‘Aku datang membawa setengah hartaku.’ ‘Umar berkata lagi: ‘Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepadaku, ‘Apa yang kau sisakan untuk keluargamu?’ Aku berkata, ‘Harta yang semisalnya.’ Lalu datanglah Abu Bakr membawa semua yang dimilikinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Abu Bakr, ‘Apa yang kau sisakan untuk keluargamu?’ Dia menjawab, ‘Aku sisakan bagi mereka Allah dan Rasul-Nya.’ Maka aku (‘Umar) berkata: ‘Aku tidak akan menyaingimu dalam sesuatu pun selama-lamanya.’ Apa yang dilakukan ‘Umar adalah bentuk berlomba-lomba (dalam kebaikan) dan hasad yang diperbolehkan. Namun keadaan Abu Bakr lebih utama darinya, karena ia terbebas dari menyaingi orang lain secara mutlak. Ia tidak melihat kepada orang lain (ketika berinfak). Demikian pula Nabi Musa ‘alaihissalam (seperti) dalam hadits Isra` Mi’raj. Muncul dalam dirinya keinginan menyaingi dan iri kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati Nabi Musa ‘alaihissalam, Nabi Musa ‘alaihissalam menangis. Ia ditanya: ‘Apa yang menyebabkanmu menangis?’ Musa berkata: ‘Aku menangis karena ada seorang pemuda –yakni Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam– yang diutus sepeninggalku, umatnya yang akan masuk surga lebih banyak daripada umatku’.” (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyyah rahimahullahu, 10/113-117) Faedah Bersihnya Hati dari Sifat Hasad Sesungguhnya, di antara tuntunan keimanan adalah seseorang mencintai kebaikan bagi saudaranya sebagaimana yang ia cintai untuk dirinya. Keimanan yang benar akan mendorong pemiliknya untuk menghiasi diri dengan akhlak yang terpuji dan mencegahnya dari terjerumus ke dalam lembah kehinaan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‫ل تباغضوا ول تحاسدوا ول تدابروا وكونوا عباد ال إخوانا‬ ً َ ْ ِ ِ َ َِ ُْ ُ َ ُ َ َ َ َ َ ُ َ َ َ َ َ ُ َ ََ َ “Janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling hasad, dan janganlah kalian saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim, Kitabul Birri wash Shilah, bab no. 7, hadits no. 2559, dari jalan Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu) Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, dia berkata: “Dahulu kami dudukduduk di sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam

bersabda: ِ ّ َ ْ ِ ْ َ ْ ِ ٌ ُ َ ّ َ ْ َ َ ْ ِ َ ْ ُ ُ ْ ََ ُ ُْ َ ‫يطلع عليكم الن من هذا الفج رجل من أهل الجنة‬ “Sekarang akan muncul kepada kalian dari jalan ini, seorang lelaki dari penghuni surga.” Anas radhiyallahu 'anhu berkata: “Lalu muncullah seorang lelaki dari kalangan Anshar, jenggotnya meneteskan air karena wudhu. Orang tersebut mengikatkan kedua sandalnya di tangan kirinya. Orang itu pun mengucapkan salam. Keesokan harinya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan yang seperti itu. Muncul lagi lelaki itu seperti pada kali yang pertama. Hari ketiga, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan hal yang sama, dan muncul lagi lelaki itu seperti keadaannya yang pertama. Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berdiri, lelaki itu diikuti oleh Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash radhiyallahu 'anhuma. Kemudian Abdullah berkata: “Sesungguhnya aku bertengkar dengan ayahku, lalu aku bersumpah untuk tidak masuk kepadanya selama tiga (hari). Jika engkau mempersilakan aku tinggal di rumahmu hingga lewat tiga hari, maka akan aku lakukan. Lelaki itu berkata: “Ya.” Anas berkata: “Adalah Abdullah –yakni bin ‘Amr– bercerita bahwa ia menginap bersamanya tiga malam.” Anas berkata lagi: “Ia tidak melihat lelaki itu shalat malam sedikitpun. Hanya saja bila ia terbangun dari tidurnya di malam hari dan menggerakkan (tubuhnya) di atas kasurnya, ia berdzikir kepada Allah dan bertakbir, sampai ia bangun untuk shalat fajar. Hanya saja, jika ia terbangun di malam hari, ia tidak berucap kecuali kebaikan. Abdullah berkata: ‘Tatkala tiga malam itu lewat, dan aku hampir-hampir menganggap remeh amalannya, aku berkata: ‘Wahai hamba Allah, (sebenarnya) tidak ada ketegangan dan pemboikotan antara aku dengan ayahku. Namun aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berucap (tiga kali): ‘Sekarang akan muncul kepada kalian salah seorang penduduk surga.’ Lalu engkau muncul, tiga kali. Saya ingin tinggal menginap di tempatmu sehingga aku tahu apa amalanmu. Namun aku tidak melihat engkau banyak beramal. Apa gerangan yang menyebabkan kedudukanmu sampai seperti yang disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ Dia menjawab: ‘Tidak ada, kecuali yang kamu lihat.’ Abdullah berkata: ‘Aku pun meninggalkannya.’ Tatkala aku berpaling, ia memanggilku. Ia berkata: ‘Aku tidak punya amalan (yang menonjol) kecuali apa yang engkau lihat. Hanya saja aku tidak dapatkan dalam diriku kedengkian terhadap seorang pun dari kaum muslimin. Dan aku tidak hasad kepadanya atas kebaikan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya.’ Abdullah berkata: ‘Inilah hal yang menyampaikan engkau kepada kedudukan itu. Dan inilah yang tidak dimampui (susah dilaksanakan)’.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 12/8-9, no. 6181, dan Ahmad dalam Al-Musnad, dan dishahihkan oleh Al-‘Iraqi rahimahullahu dalam Al-Mughni ‘an Hamlil Asfar, 2/862, no. 3168) Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu 'anhuma berkata: “Kami mengatakan: ‘Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, siapakah orang yang terbaik?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab (yang artinya): ‘Orang yang memiliki hati yang makhmum dan lisan yang jujur.’ Kami berkata: ‘Kami telah tahu lisan yang jujur. Lalu apakah hati yang makhmum?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Hati yang bertakwa lagi bersih, tiada dosa dan hasad padanya…’.” (HR. Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab no. 6180, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 948) Sepuluh Sebab Terhindar dari Kejahatan Orang yang Hasad 1. Berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari kejahatan orang yang hasad, dan

membentengi diri dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. 2. Bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjamin penjagaan bagi orang yang bertakwa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‫وإن تصبروا وتتقوا ل يضركم كيدهم شيئا‬ ً ْ َ ْ ُ ُ ْ َ ْ ُ ّ ُ َ َ ُ ّ َ َ ُ ِ ْ َ ْ َِ “Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu.” (Ali ‘Imran: 120) 3. Bersabar atas musuh, karena tidaklah seorang ditolong dari orang yang hasad dan musuhnya, sebagaimana orang yang bersabar atasnya dan bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. 4. Tawakal. Karena orang yang bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Ia akan mencukupinya. Tawakal termasuk faktor terkuat yang dengannya seorang hamba menangkal apa yang tidak dia mampu berupa gangguan makhluk dan kedzalimannya. 5. Mengosongkan hati dari sibuk dan memikirkan orang yang hasad kepada dirinya. Setiap kali terbetik di benak, ia menepisnya dan memikirkan sesuatu yang lebih bermanfaat. Ia melihat bahwa di antara siksaan batin yang besar adalah sibuk memikirkan musuhnya. 6. Mengarahkan hatinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ikhlas kepada-Nya, serta menjadikan kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan keridhaan-Nya di tempat terbetiknya pikiran. Sehingga benaknya penuh dengan segala yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dzikir kepada-Nya. Orang yang seperti ini tidak akan ridha bila pikiran dan hatinya dipenuhi dengan memikirkan orang yang hasad dan dzalim kepadanya, serta memikirkan untuk membalasnya. 7. Bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari segala dosa. Seseorang dikuasai musuh karena dosanya. Dan tidaklah seorang hamba disakiti kecuali karena dosa, baik yang ia ketahui maupun tidak. Dan dosa yang tidak dia ketahui jauh lebih berlipat daripada yang ia ketahui. Dosa yang ia lupakan lebih besar daripada yang ia ingat. Sungguh tiada sesuatupun yang lebih bermanfaat bagi hamba bila dia didzalimi dan disakiti lawannya daripada taubat yang tulus. Tanda kebahagiaannya adalah mengalihkan pikirannya untuk melihat dirinya, dosa dan cacatnya, sehingga ia pun sibuk untuk memperbaiki diri dan bertaubat. 8. Bersedekah dan berbuat baik semampunya. Karena hal itu memiliki pengaruh yang hebat dalam menangkal bencana, mata yang jahat, dan kejelekan orang yang hasad. Orang yang berbuat baik dan bersedekah kepada orang lain, hampir-hampir tidak pernah terkuasai oleh jahatnya hipnotis, hasad, dan yang menyakitkan. Jika ia terkena suatu kejahatan, ia akan diperlakukan lembut oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan akan memperoleh dukungan. 9. Yang paling berat adalah memadamkan api orang yang hasad dan dzalim serta menyakitinya, dengan berbuat baik kepadanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: َ ِ ّ ّ ِ َ ّ َُ َ َ ٌ ْ ِ َ ّ َِ ُ ّ َ َ ٌ َ َ َ ُ َ ْ َ َ َ َ ْ َ ِ ّ َ َِ ُ َ ْ َ َ ِ ِ ّ ِ ْ َ ْ ُ َ ّ ّ َ َ ُ َ َ َ ْ ِ َ ْ َ َ َ ‫ول تستوي الحسنة ول السيئة ادفع بالتي هي أحسن فإذا الذي بينك وبينه عداوة كأنه ولي حميم. وما يلقاها إل الذين‬ ٍ ْ ِ َ ّ َ ْ ُ ّ ِ َ ّ َُ َ َ ُ َ َ ‫صبروا وما يلقاها إل ذو حظ عظيم‬ “Dan tidaklah sama antara kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidaklah dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidaklah dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (Fushshilat:

34-35) Perhatikanlah keadaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika dipukul oleh kaumnya sampai berdarah. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap darah itu seraya mengucapkan: َ ْ ُ َْ َ َ ْ ُ ّ ِ َ ِ ْ َ ِ ْ ِ ْ ّ ُ ّ ‫اللهم اغفر لقومي فإنهم ل يعلمون‬ “Ya Allah, ampunilah kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” Orang yang memaafkan orang lain dan berbuat baik kepada orang yang berbuat jelek kepadanya akan mendapatkan pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seorang sahabat yang mengadu kepada beliau tentang karib kerabatnya, di mana ia berbuat baik kepada mereka tetapi mereka berbuat jelek terhadapnya: َ َِ َ َ َ ْ ُ َ ٌ ْ ِ َ ِ َ ِ َ َ َ ُ َ َ َ ‫ل يزال معك من ال ظهير ما دمت على ذلك‬ “Senantiasa ada penolong dari Allah selagi kamu di atas keadaan yang seperti itu.” Di samping itu pula, manusia akan memujinya dan bergabung bersamanya menghadapi musuhnya. 10. Memurnikan tauhid. Makhluk-makhluk ini ada yang menggerakkannya. Tidaklah makhluk mendapatkan manfaat dan mudarat kecuali seijin Penciptanya. Jika seseorang memurnikan tauhid maka hilanglah ketakutan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dari hatinya. Musuhnya menjadi lebih ringan di matanya daripada ditakuti bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akan keluar dari hatinya kesibukan memerhatikan musuhnya, lalu hatinya akan dipenuhi dengan cinta, takut, kembali, dan tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia memandang bahwa menggunakan pikirannya untuk memikirkan musuhnya adalah bentuk lemahnya tauhid. Karena, jika ia telah memurnikan tauhid, niscaya dalam hatinya ada kesibukan tersendiri. (Dinukil secara ringkas dari At-Tafsirul Qayyim lil Imam Ibnul Qayyim, hal. 585-594) Wallahu a’lam.

Taubat dari Hasad dan Dengki
1 Mei 08 oleh Abu Umar Oleh: Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baz Soal: Saya ingin bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari sifat hasad1, iri/dengki, dan saya telah berupaya sekuat tenaga untuk lepas dari sifat tersebut. Namun di banyak kesempatan, setan menghias-hiasi sifat tersebut kepada saya dengan jalan rasa cemburu. Jika saya cemburu kepada teman-teman saya sesama wanita atau cemburu melihat keberadaan wanita lain, tumbuhlah hasad saya. Saya pernah mendengar ucapan seorang teman: “Simpanlah rasa cemburu dan hasadmu di dalam hati, jangan engkau ucapkan dengan lisanmu. Jika demikian, engkau tidak akan berdosa.” Apakah benar ucapannya ini? Jawab: Samahatus Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah menjawab:

“Iya, bila anda merasa ada hasad yang timbul maka paksa jiwa anda untuk melawannya. Sembunyikan hasad tersebut, jangan melakukan suatu perbuatan yang menyelisihi syariat. Jangan anda sakiti orang yang anda hasadi, baik dengan ucapan ataupun perbuatan. Mohonlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, agar menghilangkan perasaan itu dari hati anda niscaya hal itu tidaklah memudaratkan anda. Karena jika (dalam hati) seseorang tumbuh hasad namun ia tidak melakukan apapun sebagai pelampiasan hasadnya itu maka hasad itu tidaklah memudaratkannya. Selama ia tidak melakukan tindakan, tidak menyakiti orang yang didengkinya, tidak berupaya menghilangkan nikmat dari orang yang didengkinya, dan tidak mengucapkan kata-kata yang menjatuhkan kehormatannya. Hasad/rasa dengki itu hanya disimpan dalam dadanya. Namun tentu saja orang seperti ini harus berhati-hati, jangan sampai ia mengucapkan kata-kata atau melakukan perbuatan/tindakan yang memudaratkan orang yang didengkinya. Berkaitan dengan hasad ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: َ َ َ ْ ُ ّ ُ ُ ْ َ َ َ ِ َ َ َ ْ ُ ُ ْ َ َ َ َ ْ ‫ِ ّ ُ ْ َ ْ َ َ َ َ ِن‬ ‫إياكم والحسد، فإ ّ الحسد يأكل الحسنات كما تأكل النار الحطب‬ “Hati-hati kalian dari sifat hasad, karena hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api melalap kayu bakar.”2 Sifat hasad itu adalah sifat yang jelek dan sebenarnya menyakiti dan menyiksa pemiliknya sebelum ia menyakiti orang lain. Maka sepantasnya seorang mukmin dan mukminah berhati-hati dari hasad, dengan memohon pertolongan dan pemaafan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seorang mukmin harus tunduk berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala -demikian pula seorang mukminah- dengan memohon dan berharap kepada-Nya agar menghilangkan hasad tersebut dari dalam hatinya, sehingga tidak tersisa dan tidak tertinggal sedikitpun. Karena itu, kapanpun anda merasa ada hasad menjalar di hati anda, hendaklah anda paksa jiwa anda untuk menyembunyikannya dalam hati tanpa menyakiti orang yang didengki, baik dengan ucapan ataupun perbuatan. Wallahul musta’an.” (Kitab Fatawa Nur ‘Alad Darb, hal. 131-132) 1 Hasad adalah mengangan-angankan hilangnya nikmat yang diperoleh orang lain, baik berupa nikmat agama ataupun dunia.

Menjawab Tuduhan Salafy-Wahabi
RSS Entri | Comments RSS

Jama'ah Takfiriyah

Halaman
o o

Download dan Membaca E-Book Tentang Blog Ini

Arsip Tulisan Terakhir
o o o o o o o o o

o

Wahhabi Menggugat Syi’ah (22) Hanya Imam Ali ibn Abi Thalib as. Yang Bergelar Ash Shiddîq! Wahhabi Menggugat Syi’ah (20) Wahhabi Menggugat Syi’ah (21) Imam Ali as. Tidak Menamakan Putranya Dengan Nama Umar! Wahhabi Menggugat Syi’ah (19) Ketika Pendengki Ahlulbait Suci Nabi saw. Sok Berlagak Membela Ahlulbait (1) Wahhabi Menggugat Syi’ah (18) Hadis: “SEMOGA ALLAH TIDAK AKAN MENGENYANGKAN PERUTNYA, YAKNI PERUT MU’AWIYAH”. Adalah Doa Keburukan Nabi saw. Atas Mu’awiyah Lima Belas Bukti Palsu Khilafah Abu Bakar (4)

o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o •

Lima Belas Bukti Palsu Khilafah Abu Bakar (3) Hadis Palsu Keutamaan Abu BaKar: Allah Memilih Ruh Abu Bakar Hadis Palsu Keutamaan Abu BaKar: Allah Tampil Kepada Abu Bakar di Hari Kiamat Wahhabi Menggugat Syi’ah (17) Lima Belas Bukti Palsu Khilafah Abu Bakar (2) GHADIR KHUM: SEBUAH PERISTIWA SEJARAH YANG MUSTAHIL UNTUK DIINGKARI Benarkah Kita Bangsa yang Bodoh ? Hizbullah Lebanon vs Nasionalisme Arab Merajut Kembali Toleransi Kebangsaan Kedudukan Akal dalam Perspektif Agama Doa Santo Fransiskus Asisi… Catatan Tempo: Mencari Habib Sejati Republished: Islam Dan Hari Valentine Sang Khamenei Dari Khorasan! PEMILU Iran Tahun Ini Layak Mendapat Perhatian! Buka Puasa Ahmadinejad dan Evo Morales Bersama Anak-Anak Yatim Perbandingan Antara Holocoust dan Pembantaian Gaza Foto-Foto Kenangan Masa Kecil Sayyid Hasan Nasrullah Strategi Baru AS dan Israel, Perkenalkan Hizbullah Sebagai Mafia! Selayang Pandang Kondisi Pengikut Syiah di Oman Bandar bin Sultan, Amr Ash 2008! Sayyid Ali Khamenei (Rahbar): Hanya Ada Satu Solusi Bagi Palestina, Resistensi dan Moqawamah Kesempatan dan Tantangan di Awal Dekade Ke-4 Revolusi Islam Iran Islam dan Konsep Sahlah Imam Khomaini: Revolusi Islam ini Akan Kami Eksport ke Segenap Penjuru Dunia Pertemuan Khalid Mashal dengan Rahbar (Sy Ali Khamene’i) Pesan Ismail Haniyah kepada Sayid Ali Khamenei

Islam Alternatif

Gencar Ahlulbait Nusantara

Info Syiah

ISLAM SYIAH

Al Ghadhab
Ditulis pada Mei 21, 2008 oleh Ibnu Jakfari

Kulian 4:

Al Ghadhab Janganlah engkau marah sebisa mungkin, hiasi dirimu dengan ke Al Hilm. Ketahuilah bahwa marah adalah pintu segala kejelekan. Mungkin puncak darinya dapat membawa kematian mendadak. Diriwayatkan dari Rasulullah saw.: .‫ال َضب يفسد اليمان كما يفسد الخل العسل‬ ََ َ َّ َ ِْ ُِ ْ ُ ُ َ ‫غ‬ “Marah merusak imam seperti cuka merusak madu.” Dan cukup sebagai kecemanan atas marah ialah dengan engkau merenungkan tindakan seorang yang sedang marah.
Al Ghadhab adalah kosidi responsif yang penting eksisitensinya. Ia akan muncul dari seorang sebagai reaksi dengan tujuan membela diri atau kehormatan. Sikap itu akan memperkuat potesi fisik dan memepersiapkannya untuk melakukan pembelaan dan atau menghilangkan rintangan yang menrintanginya. Adalah hal wajar apabila seorang marah. Dan sifat/potesi fitri itu sengaja dirakitkan bersama keberadaan manusia karena memang dibutuhkan untuk kelangsungannya. Hanya saja sasaran amarah itulah yang perlu diterhatikan sehingga tidak salah sasaran. Adalah hal terpuji seorang marah ketika norma-norma agama diinjak-injak, harga diri dan kehormatan sejatinya dihina dll. Tetapi tercelahlah amarah yang ditampakkan kepada orang-orang yang tidak berhak; para kekasih Allah SWT, dan atau karena hal-hal yang tidak sepatutunya dijadikan sasaran amarah… Rasulullah saw. bersabda: ِ ‫الغضب جمرة الشيطان‬ َُ ْ َ ُ َ َ

“Marah adalah bara api setan.” (Bihar Al Nawar,73/265) Imam Ja’far as. bersabda: . ‫الغضب مفتاح كل شر‬ ّ َ ّ ُ ُ ِْ ُ َ َ “Marah adalah kunci segala kejehatan.” (Bihar Al Nawar,73/266) Imam Ali as. bersabda: . ‫إياك و الغضب، فأوله جنون و آخره ندامة‬ ٌ َ َ ُُ ِ ٌ ُ ُ ُّ َ َ َ َ َ َ ِ “Hati-hatilah engkau dari marah, sebab permulaannya dalah kegilaan dan kesudahannya adalah penyesalan.” (Ghurar Al Hikam) . ‫الغضب يفسد اللباب و يبعد من الصواب‬ َ َ ِ ُِ ُْ َ ْ ُِ ْ ُ ُ “Amarah akan merusak pikiran dan menjaukan dari kebenaran.” (Ghurar Al Hikam) . ‫الغضب يردي صاحبه و يبدي معايبه‬ ُ َِ ْ ِ ْ ُ َ ُ َِ ْ ِْ ُ ُ “Amarah akan menjerumuskan penyandangnya dan menampakkan iab-aibnya.” (Ghurar Al Hikam) . ‫بئس القرين الغضب يبدي المعايب ، و يدني الشر، و يباعد الخير‬ َ َِ ُ ّ ّ ْ ِْ ُ َ ِ َ ْ ْ ِ ُْ ُ ُ َ ِْ “Sejelek-jelek teman/pendamping adalah amarah ialah menampakkan aib-aib, mendekatkan kejahatan dan menjauhkan kebaikan.” (Ghurar Al Hikam) Kisah: Ada seorang berkata kepada Harun (khalifah Abbasi): Ada seorang arab badui menceraikan lima wanita. Harun berkata, “Bagaimana itu bias terjadi, bukankah seorang pria hanya boleh menihaki empat wanita?” dijawab, “Orang itu memiliki empat istri. Pada suatu hari ia masuk menemui mereka, iamendapatkan mereka sedang bertengkar, ia marah dan berkata kepada mereka, “Sampai kapan ini terus terjadi?! Ini pasti gara-gara kamu (sambil menunjuk salah satu dari istrinya), pergilah engkau kucerai! Seorang dari isrtinya yang lain memprotes, “Engkau tergesah-gesah dengan menceraikannya.” Andai engkau beri didikan terlebih dahulu, pastilah lebih tepat.” Mendengar ucapan itu, ia mengatakan, Dan engkau juga kuceraikan!” istri ketiga

berkata sambil marah, Jelek sikapmu! Demi Allah kedua istrimu itu sangat baik kepadamu, merteka sangat mengutamakanmu!” ia pun marah atasteguran itu dan berkata, ” Hai engkau yang menyebutnyebut kebaikan mereka, pergilah, engkau kucerai!” Yang keempat (ia dari suku Hilaliyah), dan penyabar berkata kepadanya, “Apakah telah sempit dadamu dari mendidik mereka selain dengan menceraikan! Hai engkau, engkau juga kucerai! Sahutnya. Peristiwa secara kebetulan didengar oleh seorang wanita tetangga mereka, ia memantau kejadian itu dan mendengar ucapan suami tersebut, kemudian ia masuk dan berkata kepadanya,” Demi Allah bangsa Arab tidak pernah menyaksikan kecuali kelemahanmu dan kelemahan kaummu…engkau enggan kecuali mencerai empat istrimu dalam satu saa’t.” mendengar teguran itu,ia marah dan berkata kepada,”Dan engkau, hai wanita sok ngurus, engkau kuceraikan juga. Kalau suamimu membelohkan!” Sementara suami wanita itu dari dalam rumahnya mendengar, ia sepontan menjerit, “Ya, aku bolehkan! Ya, aku bolehkan!” demikaianlah lima wanita diceraikan sekaligus.

2. Penyakit Ananiah (Egoisme)
Kemungkinan kedua bagi mereka yang belum stabil sikap pribadinya, selain sikap ria tadi, ialah manusia menempuh jalan pintas. Rasa tidak pasti tadi diatasinya dengan mementingkan diri. Sikap mementingkan diri ini memang sudah ada benihnya pada setiap pribadi. Sikap ini tumbuh di dalam perjuangan "to be or not to be", atau perebutan hidup atau mati ketika manusia masih berbentuk spermatozoa yang memperebutkan satusatunya ovum yang tersedia di dalam rahim ibu tadi. Memang tidak bisa disangkal, bahwa manusia tidak akan mungkin lahir ke muka bumi ini jika ia tidak mendahulukan dirinya dari yang lain. Demi mendapatkan wujudnya, spermatozoa tadi telah terpaksa mendahulukan dirinya ketimbang sperma lain, yang seyogianya akan menjadi saudara kembarnya sedarah sedaging seandainya di rahim ibu ketika itu tersedia lebih dari satu ovum. Namun situasi telah memaksanya mendahulukan dirinya, jika tidak maka ia akan hilang tanpa dikenang (lam yakun syaian mazkuuran Q. 76:1), sebagaimana telah diterangkan di atas (lihat E.1). Memanglah manusia ini dilahirkan sebagai individu yang bebas dan unique. Perangai mendahulukan diri terhadap orang lain ini kenyataannya memang perlu, jika manusia ingin terus wujud di dunia ini. Hak mendahulukan diri ini pun diakui dan dibenarkan oleh Allah SWT, namun ada tempat dan batasnya. Hak ini, yang biasa disebut hak-hak pribadi (privacy), jelas diakui sepenuhnya oleh Allah SWT. Hak mementingkan atau mendahulukan kepentingan diri ini dianjurkan Allah agar disalurkan kepada usaha lebih mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub ila Allah) dengan 'ibadah yang lebih banyak dan lebih ikhlash. Usaha meningkatkan kualitas iman

sedemikian sehingga mencapai tingkat taqwa yang istiqamah sangatlah digalakkan oleh RasuluLlah SAW, dan diulang-ulang di dalam al-Qur'an. Di samping itu kita pun diwajibkan pula menghormati hak individu orang lain. Misalnya di dalam al-Qur'an diterangkan, bahwa jika akan berkunjung ke rumah orang lain, maka kita diharamkan memasuki rumah orang itu sebelum mendapat izin terlebih dahulu dari penghuni rumah. Caranya minta izin itu ialah dengan memberi salam, dan menunggu jawaban. Jika sesudah tiga kali memberi salam tidak juga mendapat jawaban, maka itu tanda bahwa kita tidak diterima oleh yang punya rumah, maka kita wajib membatalkan niat akan berkunjung itu. Ini salah satu hukum yang menjamin kemerdekaan dan hak individu. "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu masuki rumah yang bukan rumahmu, kecuali sesudah mendapat izin dari, dan sesudah mengucapkan salaam kepada penghuninya. Hal ini terbaik bagi kamu jika kamu mengerti. Sekiranya tidak Kamu dapati seorang pria pun di dalamnya, maka jangan kamu masuki sampai kamu mendapat izin, dan jika dikatakan kepadamu 'pergilah' maka hendaklah kamu pergi; yang demikian itu lebih bersih buat kamu, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tindak tandukmu." (Q. 24 : 27,28). Kenyataan lain yang harus pula diakui oleh manusia ialah, bahwa ia tak mungkin hidup sendiri di muka bumi ini. Setiap orang membutuhkan yang lainnya. Oleh karena itu Allah telah rnenciptakan hukum yang menentukan batas-batas antara pemenuhan kepentingan diri terhadap kepentingan bersama (masyarakat) secara seimbang dan serasi (harmonis). Kita lahir sebagai individu, dan akan mati sebagai individu. Di dalam masa hidup yang kita tempuh di antara lahir dan mati itu kita akan terikat oleh ketentuan-ketentuan bermasyarakat, yang tak mungkin pula kita abaikan demi kelestarian hidup bersama itu. Batas-batas antara kedua kepentingan ini akan sangat sukar jika harus ditentukan oleh manusia sendiri, karena setiap diri akan cenderung lebih mendahulukan kepentingan dirinya terhadap kepentingan orang lain. Setiap orang cenderung akan berpikir subjective apabila menyangkut kepentingan dirinya. Oleh karena itulah, maka peranan hukum Allah, Yang Maha Mengetahui akan lekak-liku jiwa manusia, dalam hal ini muthlak perlu. Orang yang belum stabil sikap pribadinya cenderung mengabaikan ketentuan Allah ini, karena kurang yakinnya ia akan keperluannya. Maka ia menempuh jalan pintas, yang berupa ananiah tadi, demi memenuhi kebutuhannya akan kestabilan pribadi. Namun di sini pulalah terletak kegagalannya. Sikap ananiah ini akan mendorongnya ke arah ekstreem, sehingga mempertuhankan dirinya sendiri, maka hancur-leburlah tawhidnya oleh karenanya. Ia lantas membesarkan, bahkan mengagungkan dirinya terhadap orang lain sekitarnya. Maka terkenallah ia sebagai orang yang sombong dan angkuh, sehingga dibenci oleh masyarakatnya.

Oleh karena itu, sikap ananiah ini dikutuk Allah dengan tajam sekali. Tokoh sejarah yang pernah besar dan kemudian dihancurkan Allah, karena sikap ini, banyak diceritakan di dalam al-Qur'an. Antara lain Fir'aun, Namrud, Samiri, Abu Lahab dan lain-lain. Obatnya ialah 'ibadah yang ihsan dan khusyu', sehingga kita betul-betul bisa merasa ridha menerima ketentuan Allah terhadap diri kita masing-masing. 'Ibadah yang ihsan ini berfungsi membersihkan pribadi ini dari sikap ananiah ini. 'Ibadah yang ihsan telah diterangkan oleh RasuluLlah sebagai merasakan bahwa kita melihat Allah dalam 'Ibadah itu, karena walaupun tak mungkin melihat-Nya, tapi kita dapat merasakan, bahwa Allah senantiasa melihat dan memperhatikan perangai kita. 'Ibadah yang ihsan ini akan menumbuhkan rasa dekat dan mesra dengan Allah, sehingga menimbulkan rasa cinta kepada-Nya. Rasa cinta ini akan menumbuhkan percaya diri yang sangat tinggi di dalam pribadi kita, sehingga rasa ketidak-stabilan oleh karena ketidak-pastian tadi menjadi sirna sama sekali, maka bersihlah diri dari sikap was-was atau ragu akan kasih sayang Allah, sebagaimana difirmankan Allah di dalam al-Qur'an: "Demi pribadi dan penyempurnaannya; yang berpotensi sesat dan bertaqwa. Sungguh menanglah mereka yang mensucikannya; Sungguh rugilah mereka yang mengotorinya." (Q.91 : 7-10) Dengan demikian ananiah atau jalan pintas untuk mengatasi rasa ketidak-pastian tadi tidak akan tumbuh di dalam pribadi yang mau ber'ibadah ihsan dan khusyu'. Berdasarkan ayat-ayat ini, jelaslah bagi mereka yang sadar, bahwa pensucian pribadi melalui 'ibadah yang ihsan dan khusyu' bukanlah sekadar kewajiban pribadi, tapi lebih merupakan suatu kebutuhan muthlak, yang tak mungkin diabaikan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->