P. 1
Tugas Mekanika Tanah I1

Tugas Mekanika Tanah I1

|Views: 16|Likes:
Published by Ia Mandesa

More info:

Published by: Ia Mandesa on Nov 24, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/04/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1. MENENTUKAN GARIS FREATIK (PHREATIC LINE)
  • 2. KESTABILAN LERENG (SLOPE STABILIITY)
  • 3. Untuk Keseimbangan Balok ABC
  • 4. METODE GETAR
  • 5. PENGADUKAN ENCER PONDASI
  • 6. MENGUBAH KONDISI AIR TANAH
  • 7. PENGGUNAAN GEOTEKSIL

Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084


1. MENENTUKAN GARIS FREATIK (PHREATIC LINE)
A. Teori
Didalam merencanakan sebuah bendungan, perlu diperhitungkan stabilitasnya
terhadap bahaya longsoran, erosi lereng dan kehlangan air akibat rembesan
yang melalui tubuh bendungan. Beberapa cara diberikan untuk menentukan
besarnya rembesan yang melewati bendungan yang dibangun dari tanah
homogen. Cara yang dipakai adalah analitis dan grafis.
B. Perhitungan Panjang Permukaan Basah Secara Analitis
Asumsi Scaffernack – Itterson bahwa i = tanβ =
dx
dy
adalah sama dengan
kemiringan garis freatik dan merupakan gradien konstan sepanjang garis
freatik.


A = |
2 2 2 2 2
cot H d d H Se ÷ ÷ + =

Besarnya Se menentukan titik keluarnya G. Permukaan basah digambar
membentuk garis parabola yang menyinggung terhadap garis horisontal di titik A
yang menyinggung kemiringan bagian hilir dititik G.

H





d
A sin β
A cos β
A
Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084


C. Perhitungan Panjang Permukaan Basah Secara Grafis
Langkah – langkah:
1. Tentukan titik awal garis yaitu titik A yang panjangnya 0.3 L dari embung
pada lapis 1. Buat perpanjangan garis yang sesuai dengan kemiringan
embung bagia n luar.
2. Tarik garis menggunkan jangka darik titik A dengan pusat R pada muka air
h2 atau pada titik F, hingga berpotongan dengan perpanjangan garis yang
sesuai dengan kekiringan embung, yang dinamakan titik A
1.

3. Gambar setengah lingkaran pada FA
1
dengan titik pusat pada A
2,
sehingga
A
1
A
2
= A
2
F.
4. Tarik garis menggunkan jangka dari titik A
2
dengan titk pusat di titik F,
sampai berpotongan dengan garis setengah lingkaran A
1
F, yang dinamakan
titik A
3.

5. Tarik Garis menggunakan jangka dengan titik pusat A
1
ke titik A
3
hingga
berpotongan dengan sisi miring embung yang dinamakan titik G.
6. Dengan demikian FG = Se. Perhatikan Gambar berikut:











Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084


D. Menentukan Lintasan Garis Freatik

Ditugas kemiringan bendung β ≥ 30˚. Step – step perhitunganya yaitu:
1. Gambar embung sesuai dengan skala
2. Hitung Se dengan persamaan : |
2 2 2 2 2
cot H d d H Se ÷ ÷ + =


3. Tentukan lokasi titik awal asal parabola, yaitu titik F sampai 0.3L
4. Garis freatik adalah berbentuk parabola, gunakan persamaan
parabola sederhana.
Y = k * X
2
, Pada X
0
= Y
0

X = Yo
Xo
2
Sehingga di gunakan peramaan :
2
0 0 2 y y x y + · · =
dimana
d d H y ÷ + =
2 2
0

5. Tentukan nillai X mulai dengan X = 0 sampai dengan X = 0.3 L
sehingga didapat nilai Y. Setelah di dapat nilai X dan Y, maka plot
digambar dengan menggunakan sistem diagram Cartesius. Garis
yang didapat disebut Garis Freatik.
6. Perhatikan bahwa parabola menyinggung menyinggung bendungan
pada bagian hilir, pada bagian atas dari bagian basah dan berangsur
– angsur tegak lurus terhadap muka bendungan bagian hilir pada
garis air
7. Muka bendungan bagian hulu adalah garis ekipotensial dan garis
freatik merupakan garis aliaran
8. Garis Freatik membagi embung menjadi dua bagian yaitu, Bagian
yang kering yang berda di atas garis freatik dan yang jenuh air yaitu
dibawah garis freatik.




Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084


E. Garis Freatik (Phreatic Line) Secara Analitis


Langkah-langkah perhitungan freatik line (cara analitis), data diambil dari gambar
yang menggunakan skala pada Gambar lampiran Garis Freatik
Embung 1
Hitung panjang permukaan basah (Se) dengan menggunakan persamaan :
|
2 2 2 2 2
cot H d d H Se ÷ ÷ + =
Dimana : H = h2 – h1 = 4.2 – 2.6 = 1.6
d = 9.9 m (termasuk 0,3L)
m Se
Se
o
154 . 0
66 cot 6 . 1 9 . 9 9 . 9 6 . 1
2 2 2 2 2
=
÷ ÷ + =

Hitung jarak parameter (y0)
d d H y ÷ + =
2 2
0

m y
y
128 . 0 0
9 . 9 9 . 9 6 . 1 0
2 2
=
÷ + =

Titik pada kaki bendungan bagian hilir adalah titik asal
Hitung Y dengan persamaan :
H=8m
h1=2.6
m
h2=4.2
m
L1 = 5m
66° 66°
69° 69°
L2 =5m
Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084


2
0 0 2 y y x y + · · =

2
128 . 0 128 . 0 2 + · · = x y

0164 . 0 256 . 0 + = x y


Maka diperoleh hasil :
x (m) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
9.9
y (m) 0.128 0.521 0.726 0.885 1.020 1.138 1.246 1.345 1.437 1.523
1.6

Pada titik keluar parabola dasar akan memotong suatu titik maka
diperlukan koreksi ∆Se sehingga parabola dasar akan berubah arah ke
bawah. Koreksi ASe menurut Cassagrande diperoleh melalui nilai :
Se Se
Se
A +
A

Untuk variasi nilai | pada permukaan bendungan
| 60 90 120 135 150
180
Se Se
Se
A +
A

0,32 0,26 0,18 0,14 0,1
0
Secara analitis dapat di hitung :
| cos 1
0
÷
= A + =
y
Se Se FH
m FH
Se Se FH
216 . 0
66 cos 1
128 , 0
=
÷
= A + =

m Se
Se FH Se
062 , 0
154 , 0 216 . 0
= A
÷ = ÷ = A
¬ 287 , 0
216 . 0
062 , 0
= =
A +
A
Se Se
Se





Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084


Embung 2
Untuk embung 2 perhitungan sama dengan embung 1. Dengan β = 69˚
Hitung panjang permukaan basah (Se) dengan menggunakan persamaan :
|
2 2 2 2 2
cot H d d H Se ÷ ÷ + =
Dimana : H = h2 – h1 = 4.2 – 2.6 = 1.6 m
d = 9.4 m (termasuk 0,3L)
m Se
Se
o
1553 . 0
69 cot 6 . 1 4 . 9 4 . 9 6 . 1
2 2 2 2 2
=
÷ ÷ + =

Hitung jarak parameter (y0)
d d H y ÷ + =
2 2
0

m y
y
135 . 0 0
4 . 9 4 . 9 6 . 1 0
2 2
=
÷ + =

Titik pada kaki bendungan bagian hilir adalah titik asal
Hitung Y dengan persamaan :
2
0 0 2 y y x y + · · =

2
135 . 0 135 . 0 2 + · · = x y

01823 . 0 27 . 0 + = x y


Maka diperoleh hasil :
x (m) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
9.9
y
(m)
0.135 0.537 0.747 0.910 1.048 1.170 1.280 1.381 1.476 1.564
1.6

Pada titik keluar parabola dasar akan memotong suatu titik maka
diperlukan koreksi ∆Se sehingga parabola dasar akan berubah arah ke
bawah. Koreksi ASe menurut Cassagrande diperoleh melalui nilai :
Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084


Se Se
Se
A +
A

Untuk variasi nilai | pada permukaan bendungan
| 60 90 120 135 150
180
Se Se
Se
A +
A

0,32 0,26 0,18 0,14 0,1
0
Secara analitis dapat di hitung :
| cos 1
0
÷
= A + =
y
Se Se FH
m FH
Se Se FH
210 . 0
69 cos 1
135 , 0
=
÷
= A + =

m Se
Se FH Se
0547 , 0
1553 , 0 210 . 0
= A
÷ = ÷ = A
¬ 260 , 0
210 . 0
0547 , 0
= =
A +
A
Se Se
Se














Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084


2. KESTABILAN LERENG (SLOPE STABILIITY)
Dinyatakan dengan Fs = FAKTOR KEAMANAN ;
Fs = τf / τd =
peruntuh
penahan

Untuk prosedur kestabilan lereng analisanya terbagi atas 2 jenis, yaitu :
1. MASS PROCEDURE, asumsi yang digunakan adalah slope yang
bersifat homogen. Metode – metode yang digunakan adalah:
- Chart Taylor
- Chart Coussins
- Chart Yang
2. METHOD OF SLICES, asumsi yang digunakan: tanah di atas bidang
gelincir dibagi atas slice vertikal dan dihitung. Metode ini
memperhitungkan ketidakhomogen tanah dan tekanan air pori (μ),
juga variasi tegangan normal sepanjang bidang keruntuhan dapat
dihitung. Metode – metode yang digunakan adalah :
- Asumsi Culmann finith slope
- Sweddish sollution (Fellenius Method)
- Bishop’s simplified Method

Cara analisis kestabilan lereng banyak dikenal, tetapi secara garis besar
dapat dibagi menjadi tiga kelompok yaitu: cara pengamatan visual, cara komputasi
dan cara grafik (Pangular, 1985) sebagai berikut :
1) Cara pengamatan visual adalah cara dengan mengamati langsung di lapangan
dengan membandingkan kondisi lereng yang bergerak atau diperkirakan bergerak
dan yang yang tidak, cara ini memperkirakan lereng labil maupun stabil dengan
memanfaatkan pengalaman di lapangan (Pangular, 1985). Cara ini kurang teliti,
tergantung dari pengalaman seseorang. Cara ini dipakai bila tidak ada resiko
Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084


longsor terjadi saat pengamatan. Cara ini mirip dengan memetakan indikasi
gerakan tanah dalam suatu peta lereng.
2) Cara komputasi adalah dengan melakukan hitungan berdasarkan rumus
(Fellenius, Bishop, Janbu, Sarma, Bishop modified dan lain-lain). Cara Fellenius
dan Bishop menghitung Faktor Keamanan lereng dan dianalisis kekuatannya.
Menurut Bowles (1989), pada dasarnya kunci utama gerakan tanah adalah kuat
geser tanah yang dapat terjadi : (a) tak terdrainase, (b) efektif untuk beberapa
kasus pembebanan, (c) meningkat sejalan peningkatan konsolidasi (sejalan dengan
waktu) atau dengan kedalaman, (d) berkurang dengan meningkatnya kejenuhan air
(sejalan dengan waktu) atau terbentuknya tekanan pori yang berlebih atau
terjadi peningkatan air tanah.
Dalam menghitung besar faktor keamanan lereng dalam analisis lereng tanah
melalui metoda sayatan, hanya longsoran yang mempunyai bidang gelincir saya
yang dapat dihitung.
3) Cara grafik adalah dengan menggunakan grafik yang sudah standar (Taylor,
Hoek & Bray, Janbu, Cousins dan Morganstren). Cara ini dilakukan untuk material
homogen dengan struktur sederhana. Material yang heterogen (terdiri atas
berbagai lapisan) dapat didekati dengan penggunaan rumus (cara komputasi).
Stereonet, misalnya diagram jaring Schmidt (Schmidt Net Diagram) dapat
menjelaskan arah longsoran atau runtuhan batuan dengan cara
mengukur strike/dip kekar-kekar (joints) dan strike/dip lapisan batuan. asrulmile
blogspot.com







Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084


A. METODE FELLENIUS

Ada beberapa metode untuk menganalisis kestabilan lereng, yang paling
umum digunakan ialah metode irisan dengan jumlah minimal 8 irisan yang
dicetuskan oleh Fellenius (1939). Metode ini banyak digunakan untuk menganalisis
kestabilan lereng yang tersusun oleh tanah, dan bidang gelincirnya berbentuk
busur (arc-failure).
Menurut Sowers (1975), tipe longsorang terbagi kedalam 3 bagian
berdasarkan kepada posisi bidang gelincirnya, yaitu longsorang kaki lereng (toe
failure), longsorang muka lereng (face failure), dan longsoran dasar lereng (base
failure). Longsoran kaki lereng umumnya terjadi pada lereng yang relatif agak
curam (>450) dan tanah penyusunnya relatif mempunyai nilai sudut geser dalam
yang besar (>300). Longsoran muka lereng biasa terjadi pada lereng yang
mempunyai lapisan keras (hard layer), dimana ketinggian lapisan keras ini melebihi
ketinggian kaki lerengnya, sehingga lapisan lunak yang berada diatas lapisan keras
berbahaya untuk longsor. Longsoran dasar lereng biasa terjadi pada lereng yang
tersusun oleh tanah lempung, atau bisa juga terjadi pada lereng yang tersusun
oleh beberapa lapisan lunak (soft seams).
Perhitungan lereng dengan metode Fellenius dilakukan dengan membagi
massa longsoran menjadi segmen-segmen untuk bidang longsor circular.
Metode Fellenius dapat digunakan pada lereng-lereng dengan kondisi
isotropis, non isotropis dan berlapis-lapis. Massa tanah yang bergerak diandaikan
terdiri dari atas beberapa elemen vertikal. Lebar elemen dapat diambil tidak
sama dan sedemikian sehingga lengkung busur di dasar elemen dapat dianggap
garis lurus.
Berat total tanah/batuan pada suatu elemen (W,) termasuk beban Iuar
yang bekerja pada permukaan lereng Wt, diuraikan dalam komponen tegak lurus
dan tangensial pada dasar elemen. Dengan cara ini, pengaruh gaya T dan E yang
bekerja disamping elemen diabaikan. Faktor keamanan adalah perbandingan
momen penahan longsor dengan penyebab Iongsor. asrulmile blogspot.com


Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084


Analisa stabilitas lereng dengan cara fellenius menganggap gaya-gaya
yang bekerja pada sisi kanan-kiri dan sembarangan irisan mempunyai
resultan = 0 pada tegak lurus bidang longsornya.










Notasi yang digunakan yaitu:
a) bn yaitu lebar slice ( irisan)
b) Ln yaitu lebar atau panjang sisi miring maupun atas embung untuk tiap
slice, yang pada saat slice datar Ln = bn
c) n yaitu sudut yang yang dibentuk dari perpotongan garis lebar slice
dengan perpanjangan garis dari titik pusat R
d) u

yaitu
tekanan air pori

e)
Wn yaitu berat volume slice


f) Hw atau z yaitu tinggi slice dari lingkaran yang dibentuk oleh jari – jari R
sampai ke garis freatik (dibawah garis freatik)
R
Phreatic Line
¸
sat
R
αn

αn

¸
d
Phreatic Line
H
z
Ln
bn
O
Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084


g) Hn yaitu tinggi total slice, H1 : tinggi lapisan 1 sampai garis freatik
(kering), H2 : tinngi lapisan 2 yaitu di bawah garis freatik sampai ke
permukaan tanah, H3 yaitu tinngi lapisan yang dibawah permukaan tanah
Perhitungan
Hitungan menggunakan tabel dengan langkah-langkah rumus sebagai berikut :
a. Hn Ln Wn · · = ¸
untuk irisan yang terdapat satu jenis tanah(¸ d atau ¸ sat)
( ) ) ( ( ) sat Ln z d Ln z Hn Wn ¸ ¸ · · + · ÷ = *
Untuk irisan yang terdapat dua jenis tanah(¸ d dan ¸ sat)
) ( ( ) ) . . 3 ( 2 . 1 eq Ln H eq Ln H d Ln H Wn ¸ ¸ ¸ + · · + · =

Dimana
) ( ( ) ) 3 2 1 /( )) 3 . 3 ( 2 2 1 1 ( H H H H H H eq + + + · + · = ¸ ¸ ¸ ¸

) ( ( ) ) 3 2 1 /( )) 3 . 3 ( 2 2 1 1 ( H H H c H c H c H ceq + + + · + · =

) ( ( ) ) 3 2 1 /( )) 3 . 3 ( 2 2 1 1 ( H H H H H H eq + + + · + · = m m m m



b.
n
bn
o cos
ln = A
c. Hw w u · = ¸
Untuk irisan yang hanya terdapat kondisi tanah dibawah garis freatik (kondisi
basah)
z w u · =¸
Untuk irisan yang yang terdapat dua kondisi tanah (kondisi kering dan basah)
d. Ln u U A · =
e. m o tan ln) . cos ( ln . ' A ÷ · + A = U n Wn c N
f.
Kalikan Berat volume slice (Wn) dengan sudut yang dibentuk oleh titik pusat jari
– jari. Permaannya menjadi:
n Wn o sin .
g. Menghitung faktor keamanan (Fs) yaitu dengan menjumlahkan setiap slice-slice
sesuai dengan persamaan berikut:
Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084



( ) | |
| |
¯
¯
=
=
·
A · ÷ · A ·
=
P
n
P
n
n Wn
U n Wn c
Fs
1
1
sin
tan ln cos ln
o
m o



Contoh Perhitungan: Pada Embung 1
Untuk irisan 5 (n=1) kondisi 1 slope Circle *
Dik:
R = 8.5 m Hn = 5.1m
bn = 1 m ¸ dry = 0.7 t/m³
on = 36° ¸ w = 1 t/m³
Ln = 1m Hw = 0.6m
H1 = 4.5m H2 = 0.6m H3 = 0 m
¸ 1 = 1.7 t/m³ ¸ 2 = 1.7 t/m³ ¸ 3 = 1.5 t/m³
c1 = 2.1 c2 = 2.2 c3 = 2.5
φ1 = 35˚ φ2 = 45˚ φ3 = 35˚

- Langkah 1: menentukan c
eq
, φ
eq
, dan¸
eq


) ( ( ) ) 3 2 1 /( )) 3 . 3 ( 2 2 1 1 ( H H H c H c H c H ceq + + + · + · =


) ( ( ) ) 0 6 , 0 5 , 4 /( )) 5 , 2 . 0 ( 2 , 2 6 , 0 1 , 2 5 , 4 ( + + + · + · = ceq

= 2.112
) ( ( ) ) 3 2 1 /( )) 3 . 3 ( 2 2 1 1 ( H H H H H H eq + + + · + · = ¸ ¸ ¸ ¸


) ( ( ) ) 0 6 , 0 5 , 4 /( )) 5 , 1 . 0 ( 7 , 1 6 , 0 7 , 1 5 , 4 ( + + + · + · = eq ¸

= 1.7
) ( ( ) ) 3 2 1 /( )) 3 . 3 ( 2 2 1 1 ( H H H H H H eq + + + · + · = m m m m

) ( ( ) ) 0 6 , 0 5 , 4 /( )) 35 . 0 ( 45 6 , 0 35 5 , 4 ( + + + · + · = eq m

= 36
- Langkah 2: Menghitung berat volume slice
Hn Ln Wn · · = ¸ = Hn Ln sat · · ¸

) ( ( ) ) . . 3 ( 2 . 1 eq Ln H eq Ln H d Ln H Wn ¸ ¸ ¸ + · · + · =

) ( ( ) ) 7 , 1 . 1 . 0 ( 7 , 1 1 6 , 0 7 , 0 1 . 5 , 4 + · · + · = Wn
( ) | |
¯
¯
=
n W col
N col
Fs
o sin .
' .
Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084


= 4.17 t/m
- Langkah 3: Menghitung tekanan air pori
Hw w u · = ¸ = 1 t/m³ * 0.6 m
= 0.6 t/m²

- Langkah 4: Menghitung Δln

m
n
bn
236067977 . 1
36 cos
1
cos
ln = = = A
o

- Langkah 5:
Ln u U A · = = 0.6t/m² * 1.236067977m
= 0.741640786 m
- Langkah 6:
m o tan ln) . cos ( ln . ' A ÷ · + A = U n Wn c N

36 tan ) 236067977 , 1 . 741640786 , 0 36 cos 17 . 4 ( 236067977 , 1 . 112 , 2 ' ÷ · + = N
= 4.534928981
- Langkah 7:
Mengalikan berat volume kering dengan sudut dengan
n Wn o sin .
=
36 sin . 17 , 4

= 2.4511

- Langkah 8: Menghitung Fs dengan cara – cara menjumlahkan langkah 6 dan 7
untuk keseluruhan slice. Hasil perhitungan selanjutnya lihat di tabel
Ditanya Fs =………?
( ) | |
| |
¯
¯
=
=
·
A · ÷ · A ·
=
P
n
P
n
n Wn
U n Wn c
Fs
1
1
sin
tan ln cos ln
o
m o


*Nilai lihat di tabel.

( ) | |
4358 , 2
17,6724
6 43,0469216
=
=
Fs
Fs
( ) | |
¯
¯
=
n W col
N col
Fs
o sin .
' .
Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084



B. METODE BISHOP

Cara analisa yang dibuat oleh A.W. Bishop (1955) menggunakan cara elemen
dimana gaya yang bekerja pada tiap elemen. Persyaratan keseimbangan
diterapkan pada elemen yang membentuk lereng tersebut.
Faktor keamanan terhadap longsoran didefinisikan sebagai perbandingan
kekuatan geser maksimum yang dimiliki tanah di bidang longsor (S
tersedia
) dengan
tahanan geser yang diperlukan untuk keseimbangan (S
perlu
).

a. Metode ini pada dasarnya sama dengan metode Felenius, tetapi dengan
memperhitungkan gaya-gaya antar irisan yang ada. Metode Bishop
mengasumsikan bidang longsor berbentuk busur lingkaran
b. Pertama yang harus diketahui adalah geometri dari lereng dan juga titik
pusat busur lingkaran bidang luncur, serta letak rekahan
c. Untuk menentukan titik pusat busur lingkaran bidang luncur dan letak
rekahan pada longsoran busur dipergunakan grafik
Metode Bishop yang disederhanakan merupakan metode sangat populer
dalam analisis kestabilan lereng dikarenakan perhitungannya yang sederhana,
cepat dan memberikan hasil perhitungan faktor keamanan yang cukup teliti.
Kesalahan metode ini apabila dibandingkan dengan metode lainnya yang
memenuhi semua kondisi kesetimbangan seperti Metode Spencer atau Metode
Kesetimbangan Batas Umum, jarang lebih besar dari 5%. Metode ini sangat
cocok digunakan untuk pencarian secara otomatis bidang runtuh kritis yang
berbentuk busur lingkaran untuk mencari faktor keamanan minimum.
Metode Bishop sendiri memperhitungkan komponen gaya-gaya (horizontal
dan vertikal) dengan memperhatikan keseimbangan momen dari masing-masing
potongan. Metode ini dapat digunakan untuk menganalisa tegangan efektif.

Metode ini menganggap bahwa gaya-gaya yang bekerja pada sisi-sisi irisan
mempunyai resultan = 0 pada arah vertikal.



Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084


1. Rumus Dan Penurunannya
( ) m
m t
tan ln
1
tan ln ln
ln) (
· + A · · =
·
+
A ·
=
A ·
· A · =
Nr c
Fs
Tr
Fs
Nr
Fs
c
Fs
f
c Tr

2. Untuk Keseimbangan Gaya Vertikal
¯V=0
( ) 0 sin
ln tan
cos = ·

A ·
+
·
+ · · A + n
Fs
c
Fs
Nr
n Nr t Wn o
m
o
0
sin ln sin tan
cos =
· A ·
+
· ·
+ · · A +
Fs
n c
Fs
n Nr
n Nr t Wn
o o m
o
( )
Fs
n
n
Fs
n c
t Wn
Nr
m o
o
o
tan sin
cos
sin ln
·
+
· A ·
÷ A +
=
3. Untuk Keseimbangan Balok ABC
| | | | ( ) m ¸ o ¸ tan ln
1
sin
1 1 1
· + A · = · = · ·
¯ ¯ ¯
= = =
Nr c
Fs
Tr n Wn
P
n
P
n
P
n

| |
( )
|
|
|
|
.
|

\
|
·
+
·
· A ·
÷ · A +
+ A · = · ·
¯ ¯
= =
Fs
n
n
Fs
n c
t Wn
c
Fs
n Wn
P
n
P
n
m o
o
m
o
m
o ¸
tan sin
cos
tan
sin ln
tan
ln
1
sin
1 1

| | ( ) ( )
Fs
n
n
t Wn n c
Fs
n Wn
P
n
P
n
o
o
m o o
sin
cos
1
tan cos ln
1
sin
1 1
+
· A + + · A · = ·
¯ ¯
= =

| |
( )
n M
n Wn
t Wn bn c
Fs
P
n
P
n
o
o
m m
1
sin
tan tan
1
1
·
·
· A + · + ·
=
¯
¯
=
=


Dimana :
Fs
n
n M
m o
o o
tan sin
cos
·
+ =




Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084


4. Penurunan Rumus
| |
( )
n M
n Wn
t Wn bn c
Fs
P
n
P
n
o
o
m m
1
sin
tan tan
1
1
·
·
· A + · + ·
=
¯
¯
=
=

Untuk Fs dengan pengaruh tekanan air pori (dengan rembesan U) ∆T=T
( ) | |
( )
n M
n Wn
t bn Un Wn bn c
Fs
P
n
P
n
o
o
m m
1
sin
tan tan
1
1
·
·
· A + · · + ·
=
¯
¯
=
=

Untuk T=1 maka dimisalkan ln 1 ln = + jadi
0 1 ln ln 1 = + ÷ = A
( ) | |
( )
n M
n Wn
bn Un Wn bn c
Fs
P
n
P
n
o
o
m
1
sin
tan
1
1
·
·
· · + ·
=
¯
¯
=
=

Keterangan :
Fs = besar faktor keamanan
Ma = besar gaya normal
Wn = berat potongan ke-n
c = kohesi
bn = lebar potongan ke-n
∆ln = lebar penampang bidang runtuh ke-n











Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084


5. Contoh Perhitungan

Contoh Perhitungan: Pada Embung 2
Untuk irisan 9 (n=9) kondisi III Base fuilure *
Dik:
R = 10.6 m Hn = 3.2m
bn = 1 m ¸ dry = 0.7 t/m³
on = 23° ¸ w = 1 t/m³
Ln = 2.7m Hw = 3.1m Fs = 1.5
H1 = 0.1m H2 = 2.8m H3 = 0.3 m
¸ 1 = 1.7 t/m³ ¸ 2 = 1.7 t/m³ ¸ 3 = 1.5 t/m³
c1 = 2.1 c2 = 2.2 c3 = 2.5
φ1 = 35˚ φ2 = 45˚ φ3 = 35˚

- Langkah 1: menentukan c
eq
, φ
eq
, dan¸
eq


) ( ( ) ) 3 2 1 /( )) 3 . 3 ( 2 2 1 1 ( H H H c H c H c H ceq + + + · + · =


) ( ( ) ) 3 , 0 8 , 2 1 , 0 /( )) 5 , 2 . 3 , 0 ( 2 , 2 8 , 2 1 , 2 1 , 0 ( + + + · + · = ceq

= 2.225
) ( ( ) ) 3 2 1 /( )) 3 . 3 ( 2 2 1 1 ( H H H H H H eq + + + · + · = ¸ ¸ ¸ ¸


) ( ( ) ) 3 , 0 8 , 2 1 , 0 /( )) 5 , 1 . 3 , 0 ( 7 , 1 8 , 2 7 , 1 1 , 0 ( + + + · + · = eq ¸

= 1.68
) ( ( ) ) 3 2 1 /( )) 3 . 3 ( 2 2 1 1 ( H H H H H H eq + + + · + · = m m m m

) ( ( ) ) 3 , 0 8 , 2 1 , 0 /( )) 35 . 3 , 0 ( 45 8 , 2 35 1 , 0 ( + + + · + · = eq m

= 44
- Langkah 2: Menghitung berat volume slice
Hn Ln Wn · · = ¸ = Hn Ln sat · · ¸

) ( ( ) ) . . 3 ( 2 . 1 eq Ln H eq Ln H d Ln H Wn ¸ ¸ ¸ + · · + · =

) ( ( ) ) 68 , 1 . 7 , 2 . 3 , 0 ( 68 , 1 7 , 2 8 , 2 7 , 0 7 , 2 . 1 , 0 + · · + · = Wn
= 14.2611 t/m
- Langkah 3: Menghitung tekanan air pori
Hw w u · = ¸ = 1 t/m³ * 3.1 m
= 3.1 t/m²
Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084



- Langkah 4: Menghitung m n

17205463 . 1
5 . 1
44 tan 23 sin
23 cos
tan sin
cos = + =
·
+ =
Fs
n
n n M
m o
o o

- Langkah 5:
) / 1 ( * )) tan ) . (( ) . (( ' n m bn u Wn bn c N o m ÷ + =

) 17205463 . 1 / 1 ( * )) 44 tan ) 1 . 1 , 3 2611 , 14 (( ) 1 . 225 , 2 (( ' ÷ + = N
= 11,0349
- Langkah 6:
Mengalikan berat volume kering dengan sudut dengan
n Wn o sin .
=
23 sin . 2611 , 14

= 5.5722
Perhitungan dilakukan sampai n=15÷dapat dilihat pada tabel.
Setelah itu trial dengan rembesan

- Langkah 8: Menghitung Fs deng


*Nilai lihat di tabel.


FS = 2.2366




( ) | |
2366 , 2
35,0051
78,2917
=
=
Fs
Fs
( ) | |
¯
¯
=
n W col
N col
Fs
o sin .
' .
( ) | |
| |
¯
¯
=
=
·
÷ +
=
P
n
P
n
n Wn
n m
bn Un Wn bn c
Fs
1
1
sin
1
. tan ) . ( .
o
o
m
Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084


C. METODE TAYLOR

Metode kestabilan Taylor ( 1937, 1948) diterbitkan melalui analisis
tegasan keseluruhan dan menggunakan kaedah bulatan geseran. Melalui kaedah
ini, bulatan gelinciran genting bagi sesuatu cerun ditentukan olah dua faktor yaitu
kedalaman lapisan kukuh dan jarak daripada kaki cerun yang mungkin berlaku
gelinciran. Bila terdapat lapisan kukuh di bawah cerun, satah gelincirannya
dihadkan disini dan faktor keselamtannya juga meningkat. Penggunaan metode
Taylor lebih sesuai bagi masalah–masalah yang melibatkan tanah lempung tepu tak
bersalir (yaitu bagi φ =0) atau bagi kes-kes yang kurang biasa dimana tekanan air
liang adalah sifar.

Konsep tegasan keseluruhan digunakan dalam analisis Taylor dan
menganggap koefisien kohesif, C sebagai malar dengan kedalaman. Bagi sesuatu
nilai φ yang tertentu, tinggi genting cerun berkadar terus kepada koefisien
kohesif dan berkadar songsang kepada berat unit tanah menurut persamaan:

H
C
= Ns . c
γ
atau

H
S
=

Dimana
Hc = Tinggi genting
C = koefisien kohesif tanah
γ = berat unit tanah
N
S
= faktor kestabilan

Sementara faktor keselamatan, Fs pula di berikan sebagai:

Fs = tan φ c
tan φ
= Hc
H

Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084


Penyelesaian umum yang dibuat oleh Taylor (1948) dalam menganalisis
kestabilan cerun adalah juga berdasarkan kepada kaedah bulatan geseran dan
huraian matematik.

Taylor (1937, 1948) menerbitkan metode kestabilan cerun menggunakan
konsep tegasan keseluruhan dan berdasarkan kepada bulatan geseran.
Penggunaannya lebih sesuai bagi masalah-masalah yang melibatkan tanah lempung
tepu tak bersalir (iaitu bagi φ=0) atau bagi kes-kes yang kurang biasa di mana
tekanan air liang adalah sifar. Selain daripada itu, metode Taylor (1948)
memberikan pertimbangan khusus kepada beberapa keadaan cerun seperti kes
khusus kepada beberapa keadaan cerun seperti kes penenggelaman dan
penyusutan, resipan tetap dan kesan rekahan tegangan.














Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084


D. COUSSINS METHOD
- Mempertimbangkan luas lereng normal
- Efek tekanan air pori di perhitungkan
- Memberikan Fs & pusat lingkaran kritis
Langkah – langkah perhitungan :
1. Tentukan parameter λcφ λcφ = (□ * H * tg φ) / c
2. Cek emungkinan keruntuhan dasar (Gunakan chart 11.6(d) – 11.6 (f))
3. Cek terhadap kemungkinan keruntuhan kaki lereng (Gunakan chart 11.6(a) –
11.6 (b))
4. Hitung Fs dengan memasukan nilai Ns terkecil yang diperolah dari step 2
&3
5. Menentukan koordinat titik pusat lingkaran kritis
Jika D = 1 Guunakan Chart 11.6 (...)
Jika D > 1 Guunakan Chart 11.6 (...)
) 1 2 ( *
) 1 2 (
) 1 (
1 Y Y
X X
X Xn
Y Yn ÷
÷
÷
+ =

H .
.
¸
c Ns
Fs =
Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084


PENYEBAB TERJADINYA KELONGSORAN
Kelongsoran hanya bisa terjadi jika kekuatan geser dilampaui yaitu
perkiraan geser pada bidang gelincir tak cukup besar untuk menahan gaya-gaya
ynag bekerja pada bidang tersebut. Dengan kata lain kelongsoran terjadi jika
gaya-gaya geser pada bidang tersebut ada.
Makin besar gaya yang bekerja pada bidang gelincir, maka makin besar
gaya yang bekerja pada lereng. Berrtambahnya gaya-gaya yang bekerja tersebut
disebabkan oleh:
1. pengaruh alam
2. a) adanya gempa bumi
b) runtuhnya gua-gua
c) erosi
d) naiknya muka air tanah / naiknya aliran
e) pelemahan lereng karena terjadinya retakan, sehingga air
dapat merembes
3. perbuatan manusia
a) penambahan beban pada lereng / tepi lereng
b) penggalian tanah di bawah kaki leren











Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084


Cara pencegahan longsor
1. lereng dibuat lebih datar / bertangga

a)




b)





c)







Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084


2. menimbun tanah di kaki lereng


Tanah timbunan




3. perlindungan pada kaki lereng terhadap erosi



Daerah lonsor kritis


Daerah yang kemingkinan tererosi





Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084


4. mengurangi ketinggian muka air untuk mereduksi tekanan air pori
pada lereng




selokan




Pipa drainase


Penurunan muka air tanah

5. pemakaian tiang pancang (paku bumi)







Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084


6. dengan tembok penahan tanah turap
Letak tiang pancang




















Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084


CARA MENGURANGI PENURUNAN

Penurunan boleh direduksi(dikurangi) dengan menambahkan kecepatan
dengan pengurangan yang dihasilkan didalam nilai banding rongga dari pemadatan
partikel.
Pemadatan partikel juga menambah regangan tegangan didalam kebnyakan
kasus sehingga penurunan segera direduksi. Metode/modifikasi perbaikan tanah
dalam mengurangi penurunan diantaranya sebagai berikut :
1. PEMAMPATAN
Ini merupakan metode yang paling murah untuk memperbaiki tanah lokasi.
Pemampatan tersebut dapat dirampungkan dengan menggali suatu kedalaman ,
kemudian mengurangnya kembali secara hati-hati didalam ketebalan jenjang yang
dikontrol dan memampatkan tanah dengan peralatan pemampatan yang sesuai.
Pemampatan tanah-tanah kohesif dapat dirampungkan dengan menggunakan mesin
gilas tumbuk atau penggilas yang mempunyai ban karet. Pemampatan tanah tak
berkohesi dapat dirampungkan dengan menggunakan mesin penggilas yang
mempunyai roda licin,biasanya sebuah alat bergetar didalamnya. Jadi,
pemampatan adalah suatu kombinasi batasan,tekanan,dan getaran. Kedalaman
jenjang sampai kira-kira 1,5 M-2 M dapat dimampatkan dengan peralatan
tersebut.
2. PRA KOMPETI (PRA PEMBEBANAN)
Metode ini memperbaiki tanah yang jelek sebelum konstruksi fasilitas
permanen adalah pra pembebanan. Pra beban tersebut dapat terdiri dari tanah
atau kadang-kadang batuan.
Tujuan utama pra pembebanan adalah :
a. beban-beban tambahan digunakan untuk menghilangkan penurunan yang
jika tidak akan terjadi setelah konstruksi diselesaikan.
Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084


b. Memperbaiki kekuatan geser tanah dan tanah lapisan bawah dengan
merubah kerapatanmereduksi nilai banding rongga dan mengurangi
kandungan air.
Pra pembebanan paling efektif yaitu pada saat lumpur normal sampai lumpur
yang sedikit melebihi melebihi konsolidasi, lempung, dan deposit organik.
Jika deposit tebal dan tidak mempunyai sambungan lipat pasir yang
berganti-ganti, maka pra pembebanan mungkim membuat penggunaan saluran
buangan pasir.
3. DRAINASE(SELIMUT PASIR DAN SALURAN BUANG)
Metode ini bertujuan mempercepat penurunan dibawah pra pembebana
tetapi dapat juga menamba kekutan geser tanah. Bila sebuah urugan maupun
sebuah pra beban tambahan ditempatkan diatas deposit kohesif jenuh, maka
panjang lintasan drainase boleh ditambah dampai ke puncak urugan. Karena
panjang drainase menentukan waktu untuk konsolidasi, maka lintasan drainase ini
harus dibuat sependek mungkin. Bila dinding atas air jenjuh sangat dekat ke
permukaan tanah, maka lapisan pasir(selimut pasir dapat ditempatkan pada
puncak dari tempat sebelum menempatkan urugan. Kita dapat memperluas konsep
ini lebih jauh dan memasang kolom pasir vertikal pad interval-interval yang dipilih
cidalam tanah yang ada.
4. METODE GETAR
Metode ini bertujuan memperbesar kepadatan tanah. Daya dukung yang
dibolehkan dari pasir sangat bergantung dari kondisi tanah. Hal ini digambarkan
dalam bilangan penembusan atau nilai tahanan kerucut seperti halnya dalam sudut
gesekan dalam. Metode tersebut paling lazim digunakan untuk pemadatan deposit
pasir dan kerikil yang tak berkohesi dengan tidak melebihi 20% lumpur atau 10%
lempung adalah pemampatan getar apung atua sisipan dengan menggunakan
penembus silinder yang berdiameter ± 432 mm, panjang 183 mm, berat ± 17,8 KN
dan daya dukung 250-400 Mpa.


Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084


5. PENGADUKAN ENCER PONDASI
Pengadukan encer adalah suatu cara untuk menyisipkan sejenis bahan
menstabil kedalam massa tanah dibawah tekanan. Tekanan memaksakan bahan
masuk kedalam ruangan yang terbatas disekitar tabung suntukan. Bahan tereaksi
dengan tanah atau dirniya sendiri untuk membentuk sebuah massa stabil. Metode
ini mempunyai sejumlah besar pemakaian seperti :
1. pengontrolan massa air dengan mengerek retakan dan pori.
2. pencegahan pemadatan pasir dibawah konstruksi yang berdekatan
karena pendorongan tiang pancang.
3. penguatan dukung pondasi dengan menggunakan pengadukan enter
mampat.
4. pengurangan getaran dengan menggeserkan tanah.
5. pengurangan dengan mengurung rongga, yang dilakukan dengan
menyemen konstruksi tanah yang lebih kuat.


6. MENGUBAH KONDISI AIR TANAH
Dari konsep satuan yang terbenam jelaslah bahwa tekanan antar butiran
dapat ditambahkandengan menghilangkan efek apung dari air. Hal ini dapat
ditambah dengan merendahkan bidang batas air jenuh. Didalam banyak kasus
mungkin hal ini dapat ditambahkandan tidak terlihat karena mungkin hanya
sebagai keadaan sementara. Dengan penambahan tekanan tekanan efektif, makam
penurunan tak diizinkan mungkin dihasilkan dan tidak mungkin merendahkan
bidang batas air jenuh tepat didalam batas.

7. PENGGUNAAN GEOTEKSIL
Tujuannya untuk memperbaiki sebuah tanah geoteksil(geotulang).
Didefenisikan sebagai anyaman simetris yang cukup tahan untuk waktu yang lama
didalam lingkungan tanah yang banyak rintangan. Sejumlah anyaman dari bahan
Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084


sintetis, biasanya poliester,nilon,polifrofilen digunakan sebagai geoteksil untuk
memperbaiki tanah dengan berbagai cara.
Anyaman tersebut dapat ditenun/dirajut dan dipakai dalam lajur untuk
penulangan massa tanah atau mungkin didalam lembaran plastik yang tidak
permeabel atau permeabel yang digunakan untuk membuat bagian tanah menjadi
tahan terhadap air,mengontrol erosi,atau memisahkan bahan-bahan yang
berlainan, geoteksil dapat digunakan didalam janur penulangan sebuah massa
tanah.
















Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084


KONSOLIDASI
Konsolidasi adalah perpindahan tanah secara vertikal ke arah bawah akibat beban
yang bekerja yang menyebabkan terjadinya perubahan volume pada tanah.
Ada 2 settlement :
 Pada tanah non-kohesif (C=0)
 Pada tanah kohesif (C>0)
E. Pada tanah non-kohesif

F. Pada tanah kohesif

t
S
t
S
Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084


Secara umum settlement dibagi atas :
 Immediate Settlement , Disebabkan oleh deformasi elastis pada
tanah kering jenuh air tanpa terjadi perubahan kadar air.
 Primary Consolidation
 Secondary Consolidation Settlement


WAKTU PENURUAN
Variasi nilai faktor waktu (Tv) dan derajat konsolodai (U)
2 Way Drainase
U (%) TV
0 0
10 0,008
20 0,031
30 0,071
40 0,126
50 0,197
60 0,287
70 0,403
80 0,567
90 0,848
100 ∞






Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084


1 Way Drainase

U (%)
TV
Case I( ) Case II( )
0 0 0
10 0,003 0,047
20 0,009 0,100
30 0,024 0,158
40 0,048 0,221
50 0,092 0,294
60 0,160 0,383
70 0,271 0,500
80 0,440 0,665
90 0,720 0,940
100 ∞ ∞
Atau menggunakan rumus
Untuk U = 0-60%


Untuk U>60%


Rumus waktu penurunan (t)
t = T . Hdr
2

Cv
Perhitungan lihat table.
2
100 4
|
.
|

\
|
=
U
TV
t
) 100 log( 933 , 0 781 , 1 U TV ÷ ÷ =
Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084



GRAFIK HUBUNGAN e DAN P
Grafik ini menjelaskan tentang perubahan angka pori e terhadap penambahan
tegangan. Langkah-langkah membuat grfik e dan P; antara lain :
1. Hitung H
s
yakni tinggi benda uji setelah pengujian.
w G A
W
Hs
s
¸ · ·
=
W= Berat kering benda uji
A = Luas penampang benda uji
G
s
= Berat spesifik
γ
w
= Berat volume air
2. Hitung tinggi air pori H
v
,
H
v
= H - H
s

3. Hitung angka pori awal benda uji e
0

Hs
Hv
e =
0

4. Pada setiap penambahan beban sebesar P
1
pada benda uji
menyebabkan ∆ H
1
, hitung ∆ e
1

Hs
H
e
1
1
A
= A ∆
5. Hitung angka pori e
1
setelah konsolidasi akibat pembebanan P
1

e
1
= e
0
- ∆ e
1

untuk pembebanan sebesar P
2
,
|
.
|

\
| A
÷ =
Hs
H
e e
2
1 2

Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084


Lempung Terkonsolidasi Normal (Over Consolidated And Normally
Consolidated)
Menurut riwayat tegangan yang dialami oleh lempung;
 Lempung NC ; Teganganefektif overburden yang dialami saat ini
adalah nilai tegangan over burden maksimum yang pernah dialami
sebelumnya.
 Lempung OC ; Tegangan efektif yang dialami saat ini lebih kecil dari
nilai tegangan over burden yang pernah dialami sebelumnya.
Tegangan efektif overburden yang pernah dialami sebelumnya disebut tekanan
prakonsolidasi. Casagrande (1936) menyarankan suatu cara untuk menentukan
besarnya tekanan pra konsolidasi berdasarkan kurva e dan Log P.prosedu
menentukan nilai tekanan pra konsolidasi berdasarkan kurva e dan Log P antara
lain ;
1. Melalui pengamatan visual tentukan titik a pada kurva yang memiliki
kelengkungan maksimum.
2. Tarik garis lurus horisontal ab yang melalui titik a.
3. Tarik garis singgung ac yang melalui titik a.
4. Tarik garis ad yang membagi sudut adc sama besar.
5. Perpanjang bagian bawah kurva menjadi garis lurus yang memotong
titik f pada garis ad.
6. Plot titik f terhadap sumbu p,nilai tersebut adalah nilai ∆∆Pc(
tekanan prakonsolidasi ).
OCR ( Over Consolidated Ratio)
OCR =
P
Pc

P
c
= Tekanan prakonsolidasi
P = Tekanan overburden yang dialami saat ini
OCR = 1 , merupakan lempung NC
OCR > 1 , merupakan lempung OC
Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084


Simplified Void Ratio(Pressure Equation)
Dari hubungan hidro void ratio preassure dapat dihitung modulus pemampatan
(Mv), coefisien pemampatan (a),dan settlement( H ).
a
ei
Mv + =1
P
e
a
A
A
=
Mv
P
H S
A
· = , dimana H adalah tinggi awal benda uji

Perhitungan Index Pemampatan (Cc),Index Pemuaian (Cs),Dan Settlement
Konsolidasi Primer
Index pemampatan (Cc)
1. menurut TERZAGHI
- lempung tak terganggu, Cc = 0,009(LL-10)
- lempung terganggu, Cc = 0,007(LL-10)
2. menurut RENDON HERRERO
1.
3 , 2
0 2 , 1
1 141 , 0 |
.
|

\
|
+ · · =
Gs
e
Gs Cc
G. menurut NASARAJ S. MURTY
- Gs
a
LL Cc · |
.
|

\
|
· · =
100
2343 , 0
Index pemuaian (Cs)
1. menurut NASARAJ S.MURTY
- Gs
a
LL Cs · |
.
|

\
|
· · =
100
0463 , 0


Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084


Settlement Primer(S)
- Lempung terkonsolidasi normal
|
.
|

\
| A +
·
+
· =
Po
P Po
e
H
Cc S log
1
0
, untuk lempung NC
- Lempung terkonsolidasi lebih jika
1. P
0
+ ∆P ≤ P
c
, maka
|
.
|

\
| A +
·
+
· =
Po
P Po
e
H
Cs S log
1
0
, untuk lempung OC
2. P
0
+ ∆P ≤ P
c
, maka
|
.
|

\
|
A
A +
·
+
· + ·
+
· =
P
P Po
eo
H
Cc
Po
Pc
eo
H
Cs S log
1
log
1

P
0
= Tegangan efektif overbuerden awal pada lapisan setebal
H
∆P = Penambahan tegangan vertikal

Settlement Sekunder (S)
|
|
.
|

\
|
A
=
1
2
log
t
t
e
Co , dinamakan index pemampatan sekunder
p
e
C
C
+
=
1
'
o
o
Maka ;
1
2
cos '
t
t
H C Ss · = o


Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084


Perhitungan Koefisien Konsolidasi (Cv)
Cv dapat ditentukan melalui hasil dilabpratorium,dengan menggunakan metode :
- Metode logaritma waktu
- Metode akar waktu
Hubungan Cv,t,dan Tv dinyatakan dengan persamaan ;
t
Hdr Tv
Cv
2
·
= atau
2
Hdr
t Cv
Tv
·
=
Hubungan Cv, k, dan Mv dinyatakan dengan persamaan ;
w Mv
k
Cv
¸ ·
= atau
( )
ave
P
e
e
Mv
+
=
A
A
1

Untuk 1 way drainage,
2
H
Hdr = →
Cv
Tv
Cv
Hdr Tv
t
H
2
2
2
·
=
·
=
Untuk 2 way drainage, H Hdr = →
Cv
H Tv
Cv
Hdr Tv
t
2 2
·
=
·
=










Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084


KESIMPULAN
A . EMBUNG 1
R (meter)
Faktor Keamanan
Bishop Coussin
19,6 4,900938 1,628

A . EMBUNG 2
R (meter)
Faktor Keamanan
Bishop Coussin
12 3,928281 1,280

Jika Fs < 1 = lereng dalam keadaan tidak stabil
Fs = 1 = lereng dalam keadaan seimbang (kritis)
Fs > 1 = lereng dalam keadaan stabil

Dari hasil analisis embung untuk data-data yang ada, maka embung
berada dalam keadaan tidak stabil dimana Fs < 1.
Suatu permukaan tanah yang miring dengan sudut ditertentu terhadap
bidang horisontal dan tidak dilindungi kita namakan sebagai talud tak tertahan(
unresrained slope ). Talud ini dapat terjadi secara alamiah atau buatan, bila
permukaan tanah tidak datar, maka komponen berat tanah yang sejajar dengan
kemiringan talud akan menyebabkan tanah bergerak ke arah bawah. Bila
komponen berat tanah cukup besar , kelongsoran talud dapat terjadi, yaitu
tanah dapat bergelincir ke bawah. Dengan kata lain, gaya dorong(driving farce)
melampaui gaya perlawanan yang berasal dari kekuatan geser tanah sepanjang
bidang longsor.
Analisa stabilitas talud bukanlah merupakan suatu pekerjaan yang
ringan. Bahkan untuk mengevaluasi variabel-variabel seperti lapisan-lapisan
tanah dan parameter-parameter kekuatan geser tanah merupakan pekerjaan
Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084


yang cukup rumit. Rembesan dalam talud dan kemungkinan bidang longsor atau
gelincir menambah kerumitan masalah yang akan ditangani.
Faktor yang perlu dilakukan dalam pemeriksaan tersebut adalah
menghitung dan membandingkan tegangan geser yang terbentuk sepanjang
permukaan retak yang paling mungkin dengan kekuatan geser tanah yang
bersangkutan. Perhitungan analitis stabilitas talud ditentukan dengan faktor
keamanan. Pada umumnya angka keamanan terhadap kekuatan geser tanah yang
diterima pada umumnya adalah > 1.
















Tugas Mekanika Tanah II

Universitas Sam Ratulangi Sudarman
Fakultas Teknik 090211084


SETTLMENT
Settlement dihitung pada kedalaman dibawah ½ lebar embung











H
h1
h2
β° β2°
1m
5m
7m
2m
9m
1/2L 1/2L

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->