P. 1
Pengaruh Intensitas menonton Film Upin dan Ipin

Pengaruh Intensitas menonton Film Upin dan Ipin

|Views: 1,898|Likes:
Published by Ratnanap
Pengaruh
Pengaruh

More info:

Published by: Ratnanap on Nov 25, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/06/2015

pdf

text

original

Hubungan Intensitas Menonton Film Animasi Upin dan Ipin Terhadap Gaya Bahasa Anak di Taman Kanak-kanak

Pertiwi 20 Gendeng Bangunjiwo Kasihan Bantul

Disusun oleh : Arlina Rosadha 20090530028

JURUSAN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA 2012

A. Latar Belakang Masalah

Film animasi Upin dan Ipin menjadi film animasi yang paling digemari oleh anak-anak pada saat ini. Gaya bahasa yang digunakannyapun menjadi

populer dikalangan anak-anak bahkan orang dewasa sekalipun. Dengan humorhumor yang natural Film animasi ini bisa membius jutaan orang, baik anak-anak maupun orang dewasa. Seringnya menonton film animasi ini menjadikan anakanak hafal dengan bahasa yang sering digunakannya seperti; selamat pagi cikgu, betul-betul-betul, hemm ayam goring, tak ape, dua tiga dan lain sebagainya. Anak-anak menjadi sering menirukan bahasa-bahasa tersebut. Mereka begitu mengemari film animasi Upin dan Ipin, sehingga mereka juga memahami akan karakter-karakter bahasa yang digunakan pada setiap pemainnya. Dari berbagai gaya bahasa yang digunakan oleh para tokoh pemain di film animasi Upin dan Ipin semua bisa dikuasai oleh anak-anak yang sering menonton film animasi ini. Film animasi Upin dan Ipin ini adalah sebuah film animasi anak-anak yang dirilis pada tanggal 14 September 2007 di Malaysia di siarkan di TV9 dan diproduksi oleh Les’ Copaque. Awalnya film ini bertujuan untuk mendidik anakanak agar menghayati bulan Ramadhan. Tetapi sekarang film animasi ini sudah berkembang menjari beberapa episode. Upin dan Ipin ini diceritakan sebagai dua orang saudara kembar asal Melayu yang tinggal bersama kakak dan opah mereka dalam sebuah rumah di Kampung Durian Runtuh. Mereka berdua kehilangan orang tuanya sewaktu mereka masih bayi. Kuburan orangtua mereka ditunjukkan dalam sebuah episode berjudul “Hari Raya” dan “Istimewa Hari Ibu.” Upin lahir lima menit lebih awal dari Ipin dan oleh karena itu memandang serius peranannya sebagai kakaknya Ipin. Upin lebih pandai bersuara dan menjadi tokoh utama di balik perbuatan nakal yang dilakukan oleh mereka berdua. Ipin lebih periang dan pandai dalam pembelajaran dibandingkan dengan kakaknya dan gemar makan

ayam goreng. Ipin juga cenderung sering mengulang satu kata menjadi tiga kali dalam satu kalimat, khususnya “Betul betul betul”. Kata itu yang sering di contoh oleh anak-anak sekarang. Untuk membedakan saudara kembar yang berkepala botak ini, Upin memiliki sehelai rambut di kepalanya dan selalu memakai baju kuning yang tertulis huruf U. Sementara Ipin tidak memiliki rambut, memakai baju biru yang tertulis huruf I, dan selalu memakai kain merah pada lehernya. Selanjutnya kak Ros, kak Ros ini merupakan kakak sulungnya Upin dan Ipin. Dari luar dia nampak galak tetapi sebenarnya ia adalah seorang kakak yang penuh kasih sayang. Dia suka mengambil kesempatan untuk mempermainkan adik-adiknya. Opah atau Mak Uda merupakan neneknya Upin, Ipin dan Ros. Beliau berhati murni dan sering memanjakan Upin dan Ipin. Ia mengetahui

banyak hal duniawi dan keagamaan. Ia lebih sering dipanggil Opah. Upin dan Ipin ini diceritakan bersekolah di Tadika Mesra. Dimana di dalam sekolah itu Upin dan Ipin beserta kawan-kawannya memiliki guru yang sering mereka panggil Cikgu. Upin dan Ipin mempunyai sahabat seperti Jarjit, Jarjit adalah seorang anak-anak laki-laki berketurunan India Punjabi. Meskpiun sebaya

usianya dengan teman-teman sekelasnya yang lain tetapi suaranya besar seolaholah sudah dewasa. Jarjit juga dikenali karena kepandaian berjenaka dan berpantunnya, khususnya pantun dua baris yang bermula dengan kata “Dua tiga”. Fizi, Fizi adalah salah satu temannya Upin dan Ipin. Dia bersifat penuh

keyakinan dan amat dimanjakan oleh orangtuanya. Kadang-kadang dia lebih kelihatan suka menyombongkan diri dan mengejek, terutamanya memanggil Ehsan dengan julukan “Intan Payung” (anak manja). Ehsan, Ehsan adalah

sepupunya Fizi yang tinggal disebelah rumahnya. Dia juga menyandang jabatan sebagai ketua kelas dalam ruang kelas Upin dan Ipin di Tadika. Mei Mei, Mei adalah seorang keturunan Cina yang sopan, rajin, dan waras sekali pemikirannya di kalangan kawan-kawan Upin dan Ipin. Mei-Mei adalah anak terpintar di

kelasnya. Meskipun berketurunan Cina dan bukan beragama Islam, melainkan agama Konghucu. Mei Mei sempat mengingatkan Upin dan Ipin agar tidak

membangkitkan kemurkaan Tuhan mereka dengan tidak berpuasa. Mail, Mail adalah yang paling rajin di kalangan kawan-kawan Upin dan Ipin, bukan saja di sekolah, bahkan juga gigih mencari rezeki dengan membantu ibunya menjual ayam goreng. Kadangkala dia juga melibatkan diri dalam perbuatan nakal

saudara kembar ini tetapi gegabah dan sulit memberi tumpuan. Susanti, Susanti adalah anak perempuan yang berasal dari sebuah keluarga yang berasal dari Jakarta, Indonesia. Baru tinggal di Malaysia dan belum terbiasa dengan obrolan anak-anak lainnya. Dzul dan Ijat, Dzul dan Ijat adalah dua orang teman sekelas Upin dan Ipin yang sering dilihat berdampingan. Ijat tidak pandai berbicara sehingga memerlukan bantuan Dzul untuk menterjemahkan kata-katanya. Walaupun Dzul dan Ijat jarang keluar mereka tetap teman baik Upin Ipin. Devi, Devi adalah anak perempuan berbangsa India yang bersekolah di Tadika yang sama dengan Upin dan Ipin. Walaupun tidak akrab dengan mereka berdua, namun Devi bersahabat dengan Mei Mei. Kakek Dalang lebih dikenali sebagai Tok Dalang ini adalah ketua penghulu Kampung Durian Runtuh dan dalang wayang kulit yang berkali-kali menjuarai pertandingan wayang kulit. Seperti Nenek,

Kakek Dalang banyak diminta pertolongannya oleh Upin, Ipin dan kawan-kawan, di samping memberi nasihat kepada mereka. Kakek Dalang mempunyai beberapa batang pokok rambutan untuk dijual buahnya, dan seekor ayam jantan peliharaan bernama Rembo. Ahli waris Tok Dalang yang dapat dikenali adalah Tajol yang berumah tangga di kota, dan dari Tajol ini lahirlah cucu Tok Dalang yakni Badrol. Muthu, Muthu disapa sebagai Uncle Muthu oleh para pemuda di kampung, merupakan satu-satunya penjual makanan di Kampung Durian Runtuh dan bapaknya Rajoo. Antara makanan dan minuman yang dihidangkan di warungnya ialah nasi dagang, nasi goreng, nasi ayam, teh tarik, Milo dan sebagainya. Rajoo, Rajoo adalah anak laki-laki dari Muthu seorang kawan karib Upin dan Ipin yang

lima tahun lebih tua berbanding saudara kembar itu dan oleh karena itu seolaholah menjadi kakak mereka. Rajoo mempunyai seekor lembu bernama Sapy yang juga dijadikan alat pengangkut pribadinya. Dan yang terakhir adaah Salleh, Salleh terkenal sebagai laki-laki feminim yang galak dan sirik. Anak-anak yang sering menonton film animasi Upin dan Ipin pasti mengenal karakter-karakter tokoh tersebut. Tetapi lain halnya dengan anak-anak yang tidak mengemari atau tidak pernah menonton film Upin dan Ipin. Mereka yang jarang menonton tayangan Upin dan Ipin tidak begitu mengenal tokoh-tokoh yang ada dalam film ini atau memahami gaya bahasanya bahkan untuk menirukannya sekalipun. Bahasa yang dikemasnya adalah bahasa Melayu.

Walau pertama kali tidak tahu arti bahasa Upin Ipin karena disajikan dengan bahasa yang berbeda dengan bahasa sehari-hari ini, lama-lama kita sedikit tahu arti dalam bahasa Indonesianya juga. Film animasi Upin dan Ipin ini memiliki nilai keunikan yang tinggi, dengan kemasan yang unik. tertentu menjadi tiruan yang mudah oleh anak-anak. Film animasi Upin dan Ipin ini ditayangkan di Indonesia sendiri setiap harinya pukul 19.00 WIB di TPI dan hari Minggu pukul 07.00 WIB. Dimana setiap tayangan ada episodenya tersendiri, tak kadang mengulang tayangantayangan yang sebelumya. Tetapi walaupun adanya pengulangan disetiap Akhirnya kata-kata

episodenya tidak membuat anak-anak jenuh dan bosan akan menonton film ini. Mereka tidak ingin ketinggalan oleh acara ini, mereka tetap mengikuti dan menonton acara tersebut.

B. Rumusan Masalah Dari latar belakang di atas, maka dapat di rumuskan masalah sebagai berikut : Bagaimana Hubungan Intensitas menonton film animasi Upin dan Ipin terhadap gaya bahasa anak di Taman Kanak-kanak Pertiwi 20 Gendeng Bangunjiwo Kasihan Bantul?

C. Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Hubungan Intensitas menonton film animasi Upin dan Ipin terhadap gaya bahasa anak di Taman Kanak-kanak Pertiwi 20 Bangunjiwo Kasihan Bantul.

D. Manfaat Penelitian Sebagai pedoman bagi pengembangan penelitian Ilmu Komunikasi terutama berkaitan dengan masalah komunikasi media.

E. Kerangka Teori 1. Teori Efek Media Pesan-pesan yang di sampaikan oleh film Upin dan Ipin di tangkap oleh anak-anak sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan si anak tersebut. Efek

komunikasi pada anak-anak akan beragam walaupun mereka menerima sebuah isi pesan yang sama. Masing-masing anak mempunyai perhatian, minat dan

keinginan berbeda yang dipengaruhi faktor psikologis yang ada pada diri anak tersebut. Film animasi Upin dan Ipin ini menceritakan tentang kehidupan seharihari anak-anak sehingga, tidak hanya menonjolkan segi hiburan tetapi mengandung unsur yang tinggi bagi anak-anak. Sehingga anak-anakpun bisa belajar banyak dari kisah Upin dan Ipin ini. Menonton setiap haripun orang tua tidak perlu mengkhawatirkan lagi akan dampak dari film animasi ini. Karena film

animasi ini menonjolkan segi pendidikan di kalangan anak-anak dan memang sesuai dengan kharakter anak. Film animasi Upin Ipin ini mempunyai ke unikan yang tinggi. Dengan kemasan yang unik ini menjadikan anak-anak selalu

menirukan gaya bahasa dan kata-kata yang ada di dalam film animasi Upin dan Ipin.

2. Kerangka Pemikiran Berdasarkan uraian dari kerangka teori maka penulis akan menuangkan konsep dalam bentuk variable yang terkandung dalam penelitian di atas.

X Intensitas Menonton

Y Gaya Bahasa Anak

Keterangan : 1. Variable X menjelaskan tentang hubungan intensitas menonton film animasi Upin dan Ipin 2. Variable Y menjelaskan tentang gaya bahasa anak di Taman Kanak-kanak Pertiwi 20 Gendeng Bangunjiwo Kasihan Bantul.

F. Metodelogi Penelitian 1. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah metode statistik. Metode statistik sebagai bagian dari metode penelitian, antara lain mengenai deskriptif dan analisa dari data kuantitatif atau data yang nilai-nilai ukurannya dapat dinyatakan dengan angka.

2. Jenis Penelitian Penelitian ini di rancang sebagai sebuah penelitian survey yang bersifat eksplanatif dengan menggunakan metode korelasional. Penggunaan metode

tersebut didasarkan pada tujuan penelitian, yakni ingin menemukan hubungan intensitas menonton film animasi Upin dan Ipin terhadap gaya bahasa anak di Taman Kanak-kanak Pertiwi 20 Gendeng Bangunjiwo Kasihan Bantul.

3. Teknik Pengumpulan Data a. Kuesioner Kuesioner adalah cara untuk mengumpulkan data dalam penelitian masyarakat, dengan langsung menyampaikan pertanyaan secara lisan kepada yang diteliti. Pertanyaan-pertanyaan yang disusun secara tertulis biasanya merupakan suatu daftar pertanyaan yang disebut kuesioner. b. Wawancara Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang

memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Wawancara ini merupakan proses interaksi sosial dan komunikasi untuk mendapatkan informasi yang jelas dan mendalam tentang berbagai aspek yang berhubungan dengan permasalahan penelitian. Dalam pengumpulan data, pihak

pencari informasi melakukan wawancara langsung berupa serangkaian tanya jawab kepada informan (narasumber). Wawancara dilakukan secara bebas terpimpin, yakni tanya jawab yang dilakukan secara bebas, namun berkaitan erat dengan masalah yang akan diangkat, yaitu hubungan intensitas menonton film animasi Upin

dan Ipin terhadap gaya bahasa anak di Taman Kanak-kanak Pertiwi 20 gendeng Bangunjiwo Kasihan Bantul.

4. Populasi Dalam suatu penelitian selalu berhadapan dengan masalah sumber data yang disebut populasi atau secara lebih jelas populasi itu merupakan keseluruhan obyek penelitian yang dapat terdiri dari manusia, benda, hewan, tumbuhan, gejala atau peristiwa, sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu dalam suatu penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa-siswi Taman Kanakkanak Pertiwi 20 Gendeng Bangunjiwo Kasihan Bantul.

5. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian di Taman Kanak-kanak Pertiwi 20 Gendeng Bangunjiwo Kasihan Bantul. Alasan penulis memilih daerah ini untuk melakukan survey karena banyak anak-anak di Taman Kanak-kanak ini yang selalu mengikuti acara Upin dan Ipin. Mereka yang selalu mengikuti film ini begitu memahami setiap karakter tokoh dan selalu menirukan gaya bahasa dan kata-kata yang terdapat di film tersebut.

6. Sampel Sampel adalah sebagian yang di ambil dari obyek penelitian yang karakteristiknya hendak diselidiki dengan menggunakan cara-cara tertentu. Sedangkan teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah stratified sampling. Teknik sampling ini digunakan karena obyek penelitian terdiri dari golongan-golongan yang mempunyai susunan bertingkat.

7. Uji validitas dan Realibilitas a. Uji validitas Adalah pemeriksaan keabsahan instrument penelitian. Caranya data yang sudah dikumpulkan, dianalisa dan dibuat laporan jika kurang sesuai diadakan perbaikan ataupun responden dapat memberikan penjelasan baru. Tujuannya adalah untuk mengembangkan derajat kepercayaan kepada informasi yang telah diperoleh. Validitas dilakukan dengan cara menghitung korelasi antar skor masing-masing butir pertanyaan dengan skor total. Sehingga koefisien korelasi ini sering juga disebut sebagai koefisien korelasi person yang dapat dirumuskan sebagai berikut: ∑ xy n–1 r xy ∑ x² n–1 ∑ y² n–1

Keterangan : r x y ∑ xy ∑ x² ∑ y² n : koefisien korelasi antara x dan y : variabel indipenden : nilai variabel : jumlah nilai x dan y : jumlah kuadrat pada variabel x : jumlah kuadrat pada variabel y : jumlah sampel

b. Uji realibilitas Relabilitas alat ukur berhubungan dengan sejauh mana suatu hasil pengukuran dapat dipercaya jika dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok subyek yang sama diperoleh hasil yang relatife sama, selama aspek yang diukur dalam subjek memang belum berubah. Kriteria yang digunakan untuk mengetahui tingkat realibilitas adalah besarnya nilai croanbach alpha dengan menggunakan rule sebagai berikut: α= n n–1 1– ∑ v1
vt

keterangan : n v1 vt : jumlah butir : varians butir, tanda sigma berarti jumlah : varians nilai total

8. Teknik Analisa Data Dalam penelitian ini penelitian menganalisis dengan menggunakan analisis kuantitatif, yaitu analisa yang didasarkan pada angka-angka dan perhitungan, dimana dari hasil perhitungan tersebut diperoleh suatu kesimpulan. Untuk mengetahui hubungan antara dua variabel pokok karena data yang diperoleh adalah data ordinal, sedangkan salah satu syarat penggunaan koefisien korelasi ini, jenis datanya adalah interval atau rasio. Untuk itu perlu adanya pengukuran jarak interval yaitu dengan rumus :

i=r k

keterangan : i r k : jarak interval : skor teringgi dikurangi skor terendah : kelas interval

9. Teknik Korelasi product moment Teknik ini untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antar variabel. Dimana yang akan dicari korelasinya adalah korelasi antara variabel bebas dengan variabel bertingkat, variabel bebas dengan variabel kontrol, variabel terikat dengan variabel kontrol dan sesama variabel kontrol. Dengan rumus sebagai berikut: N ∑xy (∑x)(∑y) N ∑x² - (∑y)² N ∑ y² - (∑y)²

r xy =

Keterangan : r xy N ∑xy ∑x² ∑y² : korelasi variabel x dan y : Populasi : jumlah variabel x dan y : jumlah variabel x setelah dikuadratkan : jumlah variabe ly setelah dikuadratkan

DAFTAR PUSTAKA
Djaali, H. Dr. Prof, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2007 Irawati Singarimbun, Tekhnik Wawancara, Masri Singarimbun dan Sofian Efendi, Metode Penelitian Survei, Jakarta: Pustaka LP3ES, 1989 Koentjaraningrat, Metode-metode Penelitian Masyarakat Edisi Ketiga, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1997 Nazir, Ph. D, Moh, Metode Penelitian, Jakarta: Ghalia Indonesia, 2003 Rahmat, Jalaludin, Psikologi Komunikasi, Bandung: Remaja Rosda Karya, 2001 S. Susanto, Phil Astrid, Komunikasi Dalam Teori dan Praktek, Bandung: Alumni, 1996 Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi, Jakarta: Rineka Cipta, 1991 Suryabrata, Sumadi, Metodelogi Penelitian, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995 Winataputra, Udin S, Teori Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Universitas Terbuka, 2007

Situs internet : http// pengaruh-televisi-terhadap-anak.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->