Makalah Fisiologi Tumbuhan

PERKECAMBAHAN DAN DORMANSI

Disusun Oleh: Kusfebriani Novia Ari Saputri Noor Andryan Ilsan Veny Wuryaningrum Rani Rachmadini (3415081962) (3415081971) (3415081977) (3415081982) (3415083253)

Pendidikan Biologi Reguler 2008

Jurusan Biologi FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA 2010

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Dalam penerapan bidang pertanian dan kehutanan, fisiologi tubuhan sangat penting untuk dipelajari terutama dalam teknik penanaman benih. Hal ini tidak terlepas dari kondisi fisiologis benih yang ditanam. Seringkali proses perkecambahan tersebut belum dipahami dengan baik sehingga penanaman pohon yang berasal dari benih seringkali gagal karena benih (biji) tidak tumbuh. Bahkan pada beberapa biji misalnya pada padi mengalami kondisi dormansi sehingga tidak dapat tumbuh meskipun kondisi lingkungan yang sudah mendukung. Berbagai tipe perkecambahan dan tipe dormansi yang dialami biji penting diketahui dan dipahami agar dapat menumbuhkan benih pada kondisi optimum dengan baik. Oleh karena itu, perlu adanya pembelajaran mengenai “Perkecambahan dan Dormansi” yang menerangkan proses perkecambahan biji dan dormansi yang dialami pada beberapa biji.

B. TUJUAN PENULISAN 1. Mengetahui pengertian dari dormansi 2. Mengetahui faktor – faktor yang menyebabkan terjadinya dormansi pada biji 3. Mengetahui usaha – usaha dalam pematahan dormansi biji

1

Perkecambahan tipe ini misalnya terjadi pada kacang hijau. kacang tanah dan jagung. Dalam tahap ini. 2. PERKECAMBAHAN 1. 2 . Hipogeal adalah pertumbuhan memanjang dari epikotil yang meyebabkan plumula (daun lembaga) tertarik ke atas keluar menembus kulit biji dan muncul di atas tanah tetapi kotiledon relatif tetap posisinya di dalam tanah. Tumbuhan muda ini dikenal sebagai kecambah. biji buncis. Hasil perkecambahan ini adalah munculnya tumbuhan kecil dari dalam biji. dimana tahap awal perkembangan suatu tumbuhan. khususnya tumbuhan berbiji. Perkecambahan epigeal adalah apabila terjadi pembentangan ruas batang di bawah daun lembaga atau hipokotil sehingga mengakibatkan daun lembaga (plumula) dan kotiledon terangkat ke atas tanah.BAB II ISI A. Definisi Perkecambahan merupakan proses pertumbuhan dan perkembangan embrio. Macam Perkecambahan Berdasarkan posisi kotiledon dalam proses perkecambahan dikenal perkecambahan hipogeal dan epigeal. embrio di dalam biji yang semula berada pada kondisi dorman mengalami sejumlah perubahan fisiologis yang menyebabkan ia berkembang menjadi tumbuhan muda. Contoh tipe ini terjadi pada kacang kapri. dan biji jarak.

Faktor Dalam (Faktor Internal) Faktor dalam yang mempengaruhi perkecambahan benih antara lain : Tingkat kemasakan benih Benih yang dipanen sebelum tingkat kemasakan fisiologisnya tercapai tidak mempunyai viabilitas yang tinggi karena belum memiliki cadangan makanan yang cukup serta pembentukan embrio belum sempurna (Sutopo.3. 2002). Pada umumnya sewaktu kadar air biji menurun dengan cepat sekitar 20 persen. 2002). Dormansi Benih dikatakan dormansi apabila benih tersebut sebenarnya hidup tetapi tidak berkecambah walaupun diletakkan pada keadaan yang secara umum dianggap telah memenuhi persyaratan bagi suatu perkecambahan atau juga dapat dikatakan dormansi benih menunjukkan suatu keadaan dimana benih-benih sehat (viabel) namun gagal berkecambah ketika berada dalam kondisi yang secara 3 . dalam Sutopo. maka benih tersebut juga telah mencapai masak fisiologos atau masak fungsional dan pada saat itu benih mencapat berat kering maksimum. 1979). 2002). daya tumbuh maksimum (vigor) dan daya kecambah maksimum (viabilitas) atau dengan kata lain benih mempunyai mutu tertinggi (Kamil. Ukuran benih Benih yang berukuran besar dan berat mengandung cadangan makanan yang lebih banyak dibandingkan dengan yang kecil pada jenis yang sama. Berat benih berpengaruh terhadap kecepatan pertumbuhan dan produksi karena berat benih menentukan besarnya kecambah pada saat permulaan dan berat tanaman pada saat dipanen (Blackman. Cadangan makanan yang terkandung dalam jaringan penyimpan digunakan sebagai sumber energi bagi embrio pada saat perkecambahan (Sutopo. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkecambahan a.

Selain itu. Ada beberapa fitohormon yang menghambat proses Fitohormon yang berfungsi yang merangsang perkecambahan: Auksin Mematahkan dormansi biji dan akan merangsang proses perkecambahan biji. 4 . suhu dan cahaya yang sesuai (Lambers 1992. Fitohormon yang berfungsi sebagai penghambat perkecambahan antara lain: Etilen Berperan menghambat transportasi auksin secara basipetal dan lateral. Schmidt 2002). Memacu proses terbentuknya akar Giberelin Berperan dalam mobilisasi bahan makanan selama proses perkecambahan.normal baik untuk berkecambah. Hormon Tidak semua hormon tumbuhan (fitohormon) bersifat mendukung proses perkecambahan. Adanya etilen dapat menyebabkan rendahnya konsentrasi auksin dalam jaringan. perkecambahan. Untuk keperluan kelangsungan hidup embrio maka terjadilah penguraian secara enzimatik yaitu terjadi perubahan pati menjadi gula yang selanjutnya ditranslokasikan ke embrio sebagai sumber energy sebagai pertumbuhannya. seperti kelembaban yang cukup. Sitokinin Berinteraksi dengan giberelin dan auksin untuk mematahkan dormansi biji. sitokinin juga mampu memicu pembelahan sel dan pembentukan organ. Pertumbuhan embrio selama perkecambahan bergantung pada persiapan bahan makanan yang berada di dalam endosperma. Peran giberelin diketahui mampu meningkatkan aktivitas enzim amylase.

Asam Absisat Bersifat menghambat perkecambahan dengan menstimulasi dormansi biji. Pada kondisi media yang terlalu basah akan dapat menghambat aerasi dan merangsang timbulnya penyakit serta busuknya benih karena cendawan atau bakteri (Sutopo. dan tingkat pengambilan air turut dipengaruhi oleh suhu (Sutopo. Selain itu.1972) dan umumnya dibutuhkan kadar air benih sekitar 30 sampai 55 persen (Kamil. 1979). penghambat perkecambahan benih dapat berupa kehadiran inhibitor baik dalam benih maupun di permukaan benih. Faktor Luar Faktor luar utama yang mempengaruhi perkecambahan diantaranya: Air Penyerapan air oleh benih dipengaruhi oleh sifat benih itu sendiri terutama kulit pelindungnya dan jumlah air yang tersedia pada media di sekitarnya. asam absisat akan menghambat proses pertumbuhan tunas. 2002). kira-kira 70 persen berat protoplasma sel hidup terdiri dari air dan fungsi air antara lain: 1. adanya larutan dengan nilai osmotik yang tinggi serta bahan yang menghambat lintasan metabolik atau menghambat laju respirasi. Perkembangan benih tidak akan dimulai bila air belum terserap masuk ke dalam benih hingga 80 sampai 90 persen (Darjadi. 5 . Penghambat perkecambahan Menurut Kuswanto (1996). Menurut Kamil (1979). Untuk melembabkan atau melunakkan kulit biji sehingga menjadi pecah atau robek agar terjadi pengembangan embrio dan endosperm. b. Benih mempunyai kemampuan kecambah pada kisaran air tersedia. 2002). sedangkan jumlah air yang diperlukan bervariasi tergantung kepada jenis benihnya.

Dalam proses perkecambahan dikenal adanya tiga titik suhu kritis yang berbeda yang akan dialami oleh benih. Untuk mengencerkan protoplasma sehingga dapat mengaktifkan sejumlah proses fisiologis dalam embrio seperti pencernaan. Untuk memberikan fasilitas masuknya oksigen kedalam biji melalui dinding sel yang diimbibisi oleh air sehingga gas dapat masuk ke dalam sel secara difusi. maka kemungkinan besar biji akan gagal berkecambah atau tetap tumbuh namun dalam keadaan yang abnormal. Jika biji berada di tempat yang bersuhu rendah seperti itu. Suhu ini merupakan suhu yang menguntungkan bagi berlangsungnya perkecambahan biji. Sebagai alat transport larutan makanan dari endosperm atau kotiledon ke titik tumbuh. Ketiga titik suhu kritis tersebut dikenal dengan istilah suhu cardinal yang terdiri atas: Suhu minimum Suhu terkecil dimana proses perkecambahan biji tidak akan terjadi selama periode waktu perkecambahan. Tetapi ini tidak bersifat mutlak sama seperti kebutuhan terhadap air untuk perkecambahan. dimana akan terbentuk protoplasma baru. Suhu maksimum 6 . pernapasan. Suhu Suhu merupakan syarat penting kedua bagi perkecambahan biji. Proses-proses tersebut tidak akan berjalan secara normal.2. Suhu optimum berkisar antara 26. apabila protoplasma tidak mengandung air yang cukup. dimana biji membutuhkan suatu level “hydration minimum” yang bersifat khusus untuk perkecambahan. 4. asimilasi dan pertumbuhan. Suhu optimum Suhu dimana kecepatan dan persentase biji yang berkecambah berada pada posisi tertinggi selama proses perkecambahan berlangsung. kisaran suhu minimumnya antara 0-50C. Bagi kebanyakan biji tanaman. 3.5-350C.

Suhu tertinggi dimana perkecambahan masih mungkin untuk berlangsung secara normal. Suhu optimal adalah yang paling menguntungkan berlangsungnya perkecambahan benih dimana presentase perkembangan tertinggi dapat dicapai yaitu pada kisaran suhu antara 26. 7 .5 sd 35°C (Sutopo. yang tersusun dari chromophore dan protein. Namun untuk benih yang dorman. Chromophore adalah bagian yang peka terhadap cahaya. 2002). Terbatasnya oksigen yang dapat dipakai akan menghambat proses perkecambahan benih (Sutopo. air dan energi panas. Oksigen Faktor oksigen berkaitan dengan proses respirasi.03% CO2. perkecambahannya akan terjadi jika oksigen yang masuk ke dalam benih ditingkatkan sampai 80%. Hubungan antara pengaruh cahaya dan perkecambahan biji dikontrol suatu system pigmen yang dikenal sebagai fitokrom. proses respirasi akan meningkat disertai dengan meningkatnya pengambilan oksigen dan pelepasan CO2. mikro-organisme yang terdapat dalam benih (Kuswanto. karena biasanya oksigen yang masuk ke embrio kurang dari 3%. Saat berlangsungnya perkecambahan. Suhu juga mempengaruhi kecepatan proses permulaan perkecambahan dan ditentukan oleh berbagai sifat lain yaitu sifat dormansi benih. Kebutuhan oksigen sebanding dengan laju respirasi dan dipengaruhi oleh suhu. Suhu maksimum umumnya berkisar antara 30-400C. 1996). 2002). Fitokrom memiliki dua bentuk yang sifatnya reversible (bolak-balik) yaitu fitokrom merah yang mengabsorbsi sinar merah dan fitokrom infra merah yang mengabsorbsi sinar infra merah. Suhu di atas maksimum biasanya mematikan biji karena keadaan tersebut menyebabkan mesin metabolism biji menjadi nonaktif sehingga biji menjadi busuk dan mati. cahaya dan zat tumbuh giberellin. Menurut Kamil (1979) umumnya benih akan berkecambah dalam udara yang mengandung 29% oksigen dan 0. Cahaya Pengaruh cahaya akan berkaitan langsung dengan lama penyinaran harian matahari (fotoperiodisitas).

Biotik . nitrit 2.Inhibitor tanah karena adanya aktivitas mikroorganisme. jerami padi) . Sebaliknya bila diberikan cahaya infra merah. golongan yang memerlukan cahaya untuk mempercepat perkecambahan. kualitas cahaya. 1979). proses perubahan itu akan berlangsung lambat. 2002).Sifat fisik tanah : aerasi. Abiotik . Medium Medium yang baik untuk perkecambahan haruslah memiliki sifat fisik yang baik. mempunyai kemampuan menyerap air dan bebas dari organisme penyebab penyakit terutama cendawan (Sutopo. fitokrom infra merah akan berubah menjadi fitokrom merah yang kemudian menimbulkan reaksi yang menghambat perkecambahan. yang mana menimbulkan reaksi yang merangsang perkecambahan. Kebutuhan benih akan cahaya untuk perkecambahannya bervariasi tergantung pada jenis tanaman (Sutopo.Bila pada biji yang sedang berimbibisi diberikan cahaya merah. golongan dimana cahaya dapat menghambat perkecambahan. Pengaruh kondisi tanah sebagai medium perkecambahan disebabkan oleh faktor : 1.eksudat yang dikeluarkan akar kecambah Caumarona 8 . lamanya penyinaran (Kamil. bahan organik (dekomposisi daun Eucalyptus. maka fitokrom merah akan berubah menjadi fitokrom infra merah. 2002). Adapun besar pengaruh cahanya terhadap perkecambahan tergantung pada intensitas cahaya. pasir dan tanah. Menurut Adriance and Brison dalam Sutopo (2002) pengaruh cahaya terhadap perkecambahan benih dapat dibagi atas 4 golongan yaitu golongan yang memerlukan cahaya mutlak. tekanan omosis . cahaya merah mendominasi cahaya infra merah sehingga pigmen fitokrom diubah ke bentuk fitokrom infra merah yang aktif. kapasitas memegang air. Pada keadaan di alam. dengan adanya oksigen dan suhu yang rendah. gembur. serta golongan dimana benih dapat berkecambah baik pada tempat gelap maupun ada cahaya. Pengujian viabilitas benih dapat digunakan media antara lain substrat kertas.Kimia tanah :salin (kadar garam tinggi) adanya nitrat. Dalam keadaan tanpa cahaya.

lapisan itu mencegah bocornya senyawa penghambat dari embrio atau mengandung senyawa penghambat itu sendiri (Salisbury dan Ross. 1995). etilen pada tanaman padi mampu menstimulasi perpanjangan batang. Lapisan itu bertindak sebagai penghalang mekanis agar radikula tidak muncul. sementara giberelin meningkat. Daya hidup akan hilang jika kelembaban lingkungan meningkat. Biji dapat berkecambah jika biji sudah matang dan siap untuk berkecambah. 1995). Proses Perkecambahan Lapisan yang membungkus embrio. 1984 dalam Salisbury dan Ross. 2010). Fitohormon ABA menurun kadarnya. 1995). yaitu endosperma. bahkan jika diambil langsung dari buah dan dibiarkan mengambang dipermukaan air. kulit biji dan kulit buah dapat mengganggu masuknya air dan oksigen. biji dapat berkecambah.oderata (caumarin) 4. Di dalam buah. Pecahnya sel akan melukai embrio dan melepaskan hara yang merupakan bahan yang baik bagi pertumbuhan patogen (Salisbury dan Ross. seperti biji kapri dan biji kedelai mampu lebih lama bertahan jika kandungan airnya diturunkan dan biji disimpan pada suhu rendah. Fitohormon yang berfungsi merangsang perkecambahan adalah auksin dan giberelin. koleoptil dan mesokotil. Sedangkan fitohormon yang berfungsi sebagai penghambat perkecambahan adalah etilen dan ABA. Pada biji lain. Berbagai biji lokal. beberapa biji dapat hidup lama bila terendam air (misalnya Juncus sp. dapat terbenam selama 7 tahun atau lebih). Kondisi penyimpanan selalu memengaruhi daya hidup biji. Etilen berperan menghambat transportasi auksin secara basipetal dan lateral sehingga menyebabkan rendahnya konsentrasi auksin dalam jaringan. ABA menghambat perkecambahan dengan menstimulasi dormansi benih dan juga menghambat proses pertumbuhan tunas (Akbar. Berdasarkan kajian ekspresi gen pada tumbuhan model Arabidopsis thaliana 9 . Meskipun begitu. Akan tetapi. potensial osmotik air buah terlalu negatif untuk perkecambahan (Bewley dan Black. Penyimpanan dalam botol atau di udara terbuka pada suhu sedang sampai tinggi dapat menyebabkan biji kehilangan air dan sel akan pecah jika biji diberi air.

kurang permeabel terhadap air maupun udara dan dapat disimpan dalam jangka waktu yang relatif lama meski di bawah kondisi simpanan yang kurang baik sekalipun. zat-zat 10 . Tanah akan cukup basah bagi kecambah baru untuk bertahan hidup. ARFs) diredam oleh mRNA. dan Leafy Cotyledon 1 (LEC1) menurun perannya (downregulated) dan sebaliknya lokus-lokus yang mendorong perkecambahan meningkat perannya (upregulated). Jika kadar ABA tidak mencapai titik tertentu. Secara umum skarifikasi dapat dikerjakan dalam keadaan basah (menggunakan air panas. Meskipun biji-biji tersebut berkulit keras. PKL. GA3. maka untuk mematahkan dormansi perlu dilakukan skarifikasi (meningkatkan permeabilitas kulit biji). komposisi kimiawi. 1999). Nitrat adalah pemacu perkecambahan yang lazim digunakan di lab fisiologi benih. Hujan atau air dapat mencuci penghambat dari biji. Jadi terjadi “vivipar”. GA2. Embrio biji tidak tumbuh karena salah satunya dihambat oleh produksi ABA dalam jaringan embrio biji. SPY. Diketahui pula bahwa dalam proses perkecambahan yang normal sekelompok faktor transkripsi yang mengatur auksin (Auxin Response Factors. Senyawa penghambat harus dikeluarkan agar biji dapat berkecambah. serta ketebalan kulit biji) sehingga respon terhadap perlakuan skarifikasi juga berbeda (Langkamp. Sifat permeabilitas kulit biji ini menghambat proses perkecambahan biji (Bewley dan Black. Bagi biji bertesta seperti ini. Apabila kadar giberelin melebihi nilai tertentu. Apabila kadar ABA masih berada di sekitar ambang. Zat asam absisat (ABA) dalam endosperma yang sedang berkembang dari biji alfalfa yang berfungsi sebagai penghambat perkecambahan embrio. maka giberelin dihasilkan. 1994 dalam Sutrisno dan Abdul Hanan. 1999). seperti Abscisic Acid Insensitive 3 (ABI3). Fusca 3 (FUS3). GAI. ERA1. masing-masing jenis biji memiliki karakter yang berbeda (dalam hal struktur morfologi dan anatomi. maka konsentrasi sitokinin menjadi penentu perkecambahan. Beberapa biji memiliki testa (kulit biji) yang keras. Senyawa ini berasal dari pembusukan sisa tumbuhan atau hewan. dan SLY.diketahui bahwa pada perkecambahan lokus-lokus yang mengatur pemasakan embrio. Ada juga biji yang berkecambah di dalam buah jeruk. 1987 dalam Sutrisno dan Abdul Hanan. maka perkecambahan gagal. maka terjadi perkecambahan. Pada saat biji berada pada kondisi yang sesuai bagi proses perkecambahan. seperti Gibberelic Acid 1 (GA1). Buah lain menyaring panjang gelombang yang diperlukan untuk perkecambahan.

konsentrasi air. baik dari tanah. Sifat permeabilitas benih (contohnya benih aren) ditentukan oleh faktor umur.asam. seperti pencernaan.. pernapasan. akibatnya kotiledon membengkak. dilanjutkan oleh pengaktifan enzim. Air juga memberikan fasilitas untuk masuknya oksigen ke dalam biji. Pembengkakan tersebut menyebabkan testa (kulit biji) menjadi pecah atau robek. Air yang masuk ke dalam biji dapat berasal dari lingkungan di sekitar biji. penggunaan energi microwave dan pelukaan secara manual maupun mesin) (Copeland dan McDonald. suhu. Proses penyerapan air tersebut terjadi melalui mikropil pada kotiledon. butir pati. dan komposisi kimia (Akbar. asimilasi dan pertumbuhan. Imbibisi terjadi karena permukaan-permukaan struktur mikroskopik dalam sel tumbuhan. 2010).. Tahapan perkecambahan dimulai dengan hidrasi atau imbibisi. protein. Air yang masuk ke dalam kotiledon menyebabkan volumenya bertambah. seperti selulosa. maka kadar lignin dan tanin meningkat sehingga semakin rendah pula imbibisinya. inisiasi pertumbuhan embrio dan pertumbuhan kecambah berikutnya. Berikut ini rincian tahapan perkecambahan (Salisbury dan Ross. Semakin tua benih. et al. 1995 dalam Sutrisno dan Abdul Hanan. Beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan penyerapan air oleh biji adalah permeabilitas kulit biji. alkali maupun pelarut organik dan alkohol) atau dalam keadaan kering (dengan cara pemanasan. tetapi jika dinding sel di-imbibisi oleh air. luas permukaan biji yang kontak dengan air. Peningkatan kadar lignin dan tanin sangat berperan dalam menurunkan permeabilitas benih terhadap air sehingga ketika dikecambahkan proses imbibisi benih berlangsung sangat lambat (Widyawati et al. udara (dalam bentuk embun atau uap air). maupun media lainnya. 1995): a) Hidrasi atau imbibisi Hidrasi atau imbibisi adalah masuknya air ke dalam embrio dan membasahi protein dan koloid cair. Air berguna untuk mengencerkan protoplasma sehingga dapat meningkatkan sejumlah proses fisiologis dalam embrio. 2010). 1999). dan bahan lainnya yang dapat menarik dan memegang molekul-molekul air dengan gaya tarik antarmolekul. Dinding sel yang kering hampir tidak permeabel untuk gas. 2009 dalam Fahmi. daya intermolekuler. tekanan hidrostatik. maka gas akan masuk ke 11 .

endo-β-glukanase (merombak senyawa glukan). Gambar 1. dan akan melewati sitoplasma. Katabolisme karbohidrat 12 . lipase (merombak senyawa lipid). Untuk dapat melewati sitoplasma. Kehadiran air di dalam sel mengaktifkan sejumlah enzim perkecambahan awal. Asam-asam lemak biasanya digunakan untuk bahan membentuk struktur membran sel. Katabolisme karbohidrat pada kecambah adalah dengan mengubah amilum menjadi glukosa oleh enzim amilase.dalam sel secara difusi. Sedangkan lemak dihidrolisis oleh lipase menjadi asam lemak dan gliserol. lemak dirubah menjadi sukrosa yang lebih mudah larut dan ditranslokasikan ke titik tumbuh. yaitu katabolisme karbohidrat dan metabolisme lemak (Akbar. asam lemak harus memasuki jalur glioksilat terlebih dahulu. b) Pembentukan atau pengaktifan enzim Pembentukan atau pengaktifan enzim menyebabkan peningkatan aktivitas metabolik. 2010). fosfatase (merombak senyawa yang mengandung P). Suplai oksigen meningkat kepada sel-sel hidup sehingga memungkinkan lebih aktifnya pernapasan. Enzim-enzim yang teraktivasi pada proses perkecambahan ini adalah enzim hidrolitik. 2010). et al. Karbondioksida yang dihasilkan oleh pernapasan tersebut lebih mudah berdifusi keluar (Akbar. peptidase (merombak senyawa protein). Giberelin diketahui mampu meningkatkan aktivitas enzim amilase. Setelah diproses dalam jalur glioksilat. karena sifat lemak yang sulit larut dalam air dan inmobil. Asam lemak akan ditranslokasikan dari kotiledon (dikotil) atau endosperm (monokotil) ke embrio. Pengaktivan enzim dapat memicu perombakan cadangan makanan.. ribonuklease (merombak ribonukleotida). seperti α-amilase (merombak amilase menjadi glukosa).

Asam lemak Gambar 2. Akibatnya ukuran radikula makin besar dan kulit atau cangkang biji terdesak dari dalam. Untuk keperluan kelangsungan hidup embrio. Giberelin berperan dalam mobilitas bahan makanan selama fase perkecambahan. Sistem akar primer biasanya hanya berfungsi sementara dan kemudian mati. et al. Setelah itu. Katabolisme Lemak Oksidasi α Oksidasi β Pertumbuhan embrio selama perkecambahan bergantung pada persiapan bahan makanan yang berada di dalam endosperma. seperti di bagian ujung radikula. Fungsi akar primer digantikan oleh akar-akar adventif yang keluar dari nodus batang yang pertama dan beberapa nodus di atasnya. Perubahan pengendalian enzim ini merangsang pembelahan sel di bagian yang aktif melakukan mitosis. maka proses inisiasi pertumbuhan embrio dapat terjadi. terjadi pemanjangan sel radikel dan diikuti munculnya radikula dari kulit biji (perkecambahan sebenarnya). c) Inisiasi pertumbuhan embrio Setelah semua proses imbibisi. yang pada akhirnya pecah. Auksin berperan untuk mematahkan dormansi biji dan merangsang proses perkecambahan biji serta memacu proses terbentuknya akar. yaitu terjadi perubahan pati menjadi gula yang selanjutnya ditranslokasikan ke embrio sebagai sumber energi untuk pertumbuhannya. aktivitas enzim dan katabolisme cadangan makanan berlangsung. Proses ini ditandai dengan meningkatnya bobot kering embryonic axis dan menurunnya bobot kering endosperma. maka terjadilah penguraian secara enzimatik. Munculnya radikula 13 . 2010). Pada tahap ini diperlukan prasyarat bahwa cangkang biji cukup lunak bagi embrio untuk dipecah.. Sistem akar adventif (akar serabut) yang menjamin kehidupan tanaman tersebut dalam penyerapan air dan bahan makanan dari tanah dan sebagai alat penambat pada tanah (Akbar. Selanjutnya pada radikel ini keluar akar-akar cabang (lateral roots). bersama-sama dengan akar primer membentuk sistem akar primer.

Proses perkecambahan Akar Kuning Keterangan Gambar 2: a b c : benih mulai membuka : benih mulai terangkat dari permukaan tanah : batang kecambah mulai memanjang dan membentuk loop di atas permukaan media d e : tunas mulai tumbuh tetapi kotiledon masih terbungkus testa : pertumbuhan tunas dan pelepasan kulit biji beserta bagian yag melekat di dalamnya 14 . Proses ini akan diikuti oleh pemanjangan dan pembelahan sel. Proses pemanjangan sel ada dua fase. maka proses perkecambahan telah sempurna (makna agronomis) (Akbar. yaitu fase 1 dan fase 2. Berikut ini gambar tahapan perkecambahan: Gambar 2.adalah tanda bahwa proses perkecambahan telah sempurna. Selanjutnya muncul plumula (calon batang) dan diikuti pertumbuhan berikutnya. Sedangkan fase 2 (fase cepat) yang diikuti oleh penambahan bobot segar dan bobot kering. ada masa transisi antara masih disuplai oleh cadangan makanan sampai mampu autotrof. Fase 1 (fase lambat) terjadi pemanjangan sel tidak diikuti dengan penambahan bobot kering. 2010). d) Pertumbuhan kecambah selanjutnya (pemantapan perkecambahan) Kecambah mulai mantap setelah menyerap air dan berfotosintesis (autotrof). Semula. Saat autotrof dicapai.

Jadi organ ini akan tumbuh kembali setelah masa dormannya habis.i : perkembangan kecambah B. Menurut Lakitan (1996). atau kekeringan di musim panas yang merupakan bagian penting dalam perjalanan hidup tumbuhan tersebut. pada organ yang secara visual disebut dorman. dormansi yaitu fase istirahat dari suatu organ tanaman yang mempunyai potensi untuk tumbuh aktif. Dormansi merupakan suatu mekanisme pertahanan diri terhadap lingkungan yang tidak mendukung. Pengertian Dormansi Dormansi adalah suatu keadaan pertumbuhan dan metabolisme terpendam pada tumbuhan yang dapat disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak baik atau oleh faktor dari dalam tumbuhan itu sendiri (Sasmitamihardja. Organ yang dalam keadaan dorman. sesungguhnya masih berlangsung perubahan-perubahan biokimia dan struktur mikroskopiknya. karena mempunyai jaringan meristem. 1996). Dormansi dapat terjadi pada organ tertentu pada tumbuhan tertentu. DORMANSI 1. Jadi dormansi adalah keadaan terhenti atau tertundanya pertumbuhan dan metabolisme suatu jaringan tumbuhan yang memiliki potensi aktif membelah yang disebabkan oleh faktor eksternal (kondisi lingkungan) ataupun faktor internal (fisiologis tumbuhan tersebut). Pada kenyataannya. karena organ-organ tersebut memang tidak lagi memiliki potensi untuk tumbuh. Misalnya pada biji dan pada batang. Jadi suatu organ dikatakan dalam keadaan dorman jika organ tersebut terhenti pertumbuhannya padahal organ tersebut mempunyai potensi untuk tumbuh. seperti suhu yang sangat rendah (pada musim dingin). Tumbuhan yang mengalami dormansi masih tetap hidup meskipun yang terlihat organ yang mengalami dorman tersebut seperti mati. pertumbuhannya hanya terhenti seacara sementara. Pertumbuhan yang terhenti pada organ-organ yang tidak memiliki jaringan meristem tidak disebut dalam keadaan dorman. Dormansi dapat terjadi pada organ vegetatif maupun generatif 15 .f g : anakan yang telah berkecambah : bagian dalam biji yang telah ditanggalkan dalam proses perkecambahan h.

Aktivitas meristematis cambium terhenti begitu pun jaringan batang dan akarnya. Secara umum dormansi pada benih dapat dibedakan menjadi tiga yaitu: a) Dormansi primer (innate dormancy) 16 . Kuisen adalah kondisi saat biji tidak mampu berkecambah akibat kondisi luar biji tersebut (misalnya biji terlalu kering atau terlalu dingin). Fenomena dormansi beberapa organ vegetatif tumbuhan tersebut akibat respon terhadap suhu atau respon terhadap panjang hari. Contoh: kasus dominansi apikal yang menyebabkan tunas lateral menjadi dorman. atau dormansi tunas yang dikendalikan oleh daun di dekatnya. 3) Ekodormansi Ekodormansi adalah dormansi yang disebabkan oleh satu atau lebih faktor lingkungan yang tidak sesuai untuk metabolisme yang mengakibatkan terhentinya pertumbuhan. Macam-macam Dormansi Dormansi menurut Lakitan (1996) dapat dibedakan menjadi : 1) Endodormansi Endodormansi adalah dormansi di mana reaksi awal yang menyebabkan pengendalian pertumbuhan berasal dari sinyal endogen atau lingkungan yang langsung diterima oleh organ itu sendiri.tumbuhan. Dormansi yang terjadi pada organ vegetatif misalnya dialami oleh tumbuhan kayu tahunan (perennial). 2) Paradormansi Paradormansi adalah dormansi di mana reaksi awal yang mengendalikan pertumbuhan berasal dari sinyal spesifik yang berasal dari (atau pertama diterima oleh) organ diluar dari organ yang mengalami dormansi. Seluruh tubuh tumbuhan dapat mengalami dorman tidak hanya bagian tunasnya saja pada musim dingin. kormus dan semacamnya juga berada dalam keadaan dorman. Para ahli fisiologi benih biasa menggunakan istilah kuisen (quiescence) untuk endodormansi. Organ cadangan makanan seperti bulbus. umbi. Paradormansi sebelumnya juga dikenal sebagai ektodormansi. 2.

tetapi apabila dikenakan pada suatu keadaan yang tidak menguntungkan selama beberapa waktu dapat menjadi kehilangan kemampuannya untuk berkecambah. terutama dipermukaan paling luar dan bagian dalamnya mempunyai lapisan lilin. b) Dormansi sekunder (induced dormancy) Dormansi sekunder disini adalah benih-benih yang pada keadaan normal maupun berkecambah. 17 .Dormansi ini disebabkan oleh faktor fisik dan fisiologis. Jangka waktu penyimpanan ini berbeda-beda dari kurun waktu beberapa hari sampai beberapa tahun tergantung jenis benih. Pengambilan air terhalang kulit biji yang mempunyai struktur terdiri dari lapisan sel-sel berupa palisade yang berdinding tebal. Faktor fisik yang menyebabkan pembatas struktural terhadap perkecambahan adalah sel palisade di kulit biji yang keras dan kedap (impermeabel) sehingga menjadi penghalang mekanis terhadap masuknya air atau gas pada berbagai jenis tanaman. Benihbenih yang menunjukkan tipe dormansi ini disebut benih keras contohnya seperti pada famili Leguminoceae. Penyebab secara fisiolgis adalah embrio yang belum sempurna pertumbuhannya atau belum matang. Pada tipe dormansi ini. beberapa jenis benih tetap berada dalam keadaan dorman disebabkan kulit biji yang cukup kuat untuk menghalangi pertumbuhan embrio. Resistensi mekanis kulit biji terhadap pertumbuhan embrio juga merupakan penyebab lainnya. Misalnya kegagalan memberikan cahaya pada benih yang membutuhkan cahaya. dll. Hal ini dialami pada beberapa tumbuhan genera tropis seperti Pterocarpus. Benih-benih demikian memerlukan jangka waktu tertentu agar dapat berkecambah (penyimpanan). Jika kulit ini dihilangkan maka embrio akan tumbuh dengan segera. Eucalyptus. Terminalia. 2007). Benih-benih ini biasanya ditempatkan pada kondisi temperatur dan kelembaban tertentu agar viabilitasnya tetap terjaga sampai embrio terbentuk sempurna dan dapat berkecambah (Schmidt dalam Sahupala. Mekanisme dormansi sekunder diduga karena terkena hambatan pada titik-titik krusial dalam sekuens metabolik menuju perkecambahan dan ketidak-seimbangan zat pemacu pertumbuhan versus zat penghambat pertumbuhan.

Baskin (2000). Contohnya Apium graveolens (Apiaceae). PD intermediate adalah benih yang memproduksi bibit normal dengan waktu skarifikasi 2-3 bulan. Sedangkan PD non-deep terjadi pada sebagian besar biji. mengklasifikasikan dormansi biji menjadi: a) Dormansi fisiologi (Physiological Dormancy/PD) Dibagi menjadi tiga klasifikasi. Contohnya Acer plantanoides (aceraceae). PD deep adalah benih yang tidak dapat tumbuh dan menghasilkan bibit abnormal. Oleh karena itu benih ini memerlukan cara pematahan dormansi khusus. c) Dormansi morfofisiologi (Morphophysiological dormancy/MPD) MPD juga terlihat dalam biji yang terbelakang (dalam hal ukuran). Contohnya Arabidopsis thaliana. intermediet (intermediate). Tidak aktif secara fisiologis namun perlu waktu untuk tumbuh dan berkecambah. yaitu dalam (deep). Contohnya Acer pseudoplantus. Cara mematahkannya dengan perlakuan pendinginan atau pemanasan 3-4 bulan. misalnya kombinasi stratifikasi hangat dan atau dingin. Dormansi PY 18 . b) Dormansi morfologi (Morphologycal Dormancy/MD) Kelompok biji yang cadangan makanannya terbelakang (dalam hal ukuran yang kecil). tetapi mereka memiliki komponen fisiologis untuk dormansi mereka. dan tidak dalam (non-deep). benih dapat berkecambah lebih dari berbagai kondisi kamar. d) Dormansi fisik (Physical dormancy/PY) Dormansi pada biji yang disebabkan lapisan jaringan palisade pada biji atau kulit buah yang impermeabel terhadap air. Setelah kulit pada benih atau mantel buah menjadi permeabel terhadap air. PD non-deep memproduksi bibit normal dengan pematahan dormansi melalui skarifikasi biasa. e) Dormansi kombinasi (Combinational dormncy (PY+PD) Dormansi kombinasi PY + PD adalah biji dengan mantel impermeabel (PY) dikombinasikan dengan dormansi embrio fisiologis (PD non-deep). Tidak seperti biji PD. Helianthus annuus. Dalam pertumbuhan embrio. biji MPD atau berkecambahnya membutuhkan waktu jauh lebih lama daripada di biji MD. dan Aster ptarmacoides. yang mungkin mengalami dormansi lagi (sekunder).

Imbibisi air menyebabkan berlangsungnya katabolisme karbohidrat pada biji. Mekanisme utama dormansi benih (Bradbeer dalam Ilyas. biji akan memulai proses dormansi. ditandai dengan terjadinya penurunan jumlah hormon pertumbuhan. 2007) yaitu. Ketika kadar ABA meningkat. Dormansi yang disebabkan penutup embrio (perikarp. 3. genus Rhus dengan (misalnya aromatica Rhus). Perkecambahan (germination). perisperma dan endosperma): 1. Penghambatan mekanis 4. Pertukaran gas terhambat 2. Dormansi embrio: 19 . Tidak ada hormon pertumbuhan yang menginduksi. biji tidak dapat merombak cadangan makanan pada endosperm. Fase bertahannya embrio untuk berkecambah karena faktor lingkungan yang tidak menguntungkan. 4. giberelin yang tidak aktif tidak dapat menginduksi sintesis amilum. 2. Namun ketika kondisi lingkungan yang tidak mendukung. misalnya kekurangan air. Inhibitor (water-soluble) di dalam penutup embrio 5. ABA. Fase tertundanya metabolisme (a period of partial metabolic arrest). Kegagalan dalam memobilisasi cadangan makanan dari endosperma (perisperma). Akibat menurunnya kadar hormon pertumbuhan. Proses perkecambahan biji umumnya dipengaruhi oleh tiga hormon yaitu. maka. ABA akan menekan hormon pertumbuhan lainnya. Penyerapan air terhambat 3. Mekanisme Dormansi Fase yang terjadi dalam dormansi yang harus dilalui menurut Abidin (1987): 1. ditandai dengan meningkatnya hormon dan aktivitas enzim. sitokinin dan giberelin. Fase induksi. 3. testa.+-PD meliputi spesies dari Ancardiaceae. metabolisme lemak tidak akan terjadi.

Kegagalan dalam memobilisasi cadangan makanan dari embrio 4. Adanya inhibitor 2. Dormansi pada biji  a.. contoh yang telah diterapkan pada Melilotus alba (semanggi manis). sumpal itu lepas sehingga dapat berlangsung perkecambahan. Embrio belum berkembang dan berdiferensiasi 2. Teori ini tercetus ketika Albizzia lophantha yang merupakan tumbuhan kacang-kacangan berukuran kecil di Australia Barat sebagian besar biji berkecambah di lapisan tebal abu setelah terjadi kebakaran ladang. Pematahan Dormansi Dormansi pada beberapa bagian tumbuhan dapat hilang di bagi menjadi 3 macam secara umum yaitu secara mekanik dan kimia yang dijabarkan sebagai berikut : 1. ketika biji melewati alat pencernaan pada burung atau hewan lain. Defisiensi zat pengatur tumbuh 5.1.  Diberi perlakuan panas. atau terbawa air melintasi pasir 20 . air dan oksigen tidak dapat menembus biji tertentu karena jalan masuk dihalangi oleh sumpal strofiolar pada lubang kecil (celah strofiolar) di kulit biji. Kebakaran memang lazim terjadi disana. kulit biji yang keras menghalangi penyerapan oksigen dan air. Secara mekanik Dengan goncangan. biasanya menggunakan pisau. Pemblokiran sintesa asam nukleat dan protein 3. Kulit biji yang keras itu biasanya terdapat pada anggota family Fabaceae (Leguminosae) pengecualian untuk buncis dan kapri. Pada beberapa spesies. dan Crotallaria egyptica. sumpal strofiolar yang terdapat pada biji dapat lepas jika diberi panas. Hasilnya terjadi suksesi yang cepat di wilayah tersebut setelah terjadi kebakaran. kikir atau kertas amplas.  Skarifikasi atau penggoresan. Di alam goresan tersebut mungkin terjadi akibat kerja mikroba. Bila biji digoncang-goncangkan. biji terpajan pada suhu yang berubah-ubah. Trigonella Arabica.

merekahkan kulit itu sehingga perkecambahan dapat berlangsung. b. 21 . Sebagai cotntoh .  Tumbuhnya fungi di kulit biji. bertujuan untuk menghilangkan bahan berlilin yang menghalangi masuknya air. Biji yang terbawa aliran air di gurun sering berakhir pada tempat yang mengandung banyak air. Skarifikasi dalam alat pencernaan burung atau hewan lain menyebabkan perkecambahan biji setelah biji terbawa jauh. Secara kimia  Merendam dengan alcohol.atau cadas. Kandungan protein meningkat dan pati kemudian menghilang. nitrat dan nitrit sebagai pemacu perkecambahan terutama biji spesies rerumputan. atau asam pekat. Dean Vest (1972) memperlihatkan hubungan simbiosis mutualisme antara fungi dengan biji Atriplex centrofertifolia yang tumbuh di Great Basin. selama pendinginan awal. pelarut lemak lainnya. Skarifikasi secara ekologis sangat penting. Gula terbentuk dan hal ini diperlukan sebagai sumber energy dan untuk menarik air secara osmosis yang selanjutnya menyebabkan perkecambahan. Secara fisika  Pendinginan awal (Prechilling). Bahkan pada biji yeng perlu suhu rendah seperti Fraxinus excelsior yang embrionya sudah matang terjadi perombakan lemak secara besar-besaran dalam embrio itu sendiri selama suhu rendah. Pertumbuhan fungi terjadi bila kondisi suhu dan kelembapan sesuai baginya selama awal musim semi yaitu waktu yang paling tepat bagi kecambah untuk dapat bertahan hidup.  Tiourea. c. embrio beberapa spesies tumbuh sangat cepat dengan memindahkan seyawa karbon dan nitrogen dari sel penyimpan makanan. Mungkin zat penghambat hilang selama pendinginan awal dan pemacu pertumbuhan seperti giberelin dan sitokinin terhimpun (Khan. perkecambahan biji kapas dan kacang-kacangan dapat dipicu dengan merendam biji terlebih dahulu dalam asam sulfat selama beberapa menit sampai satu jam dan selanjutnya dibilas untuk menghilangkan asam itu.

ABA yang mula-mula sangat tinggi akan menurun dengan cepat. 2. Secara fisika  Lamanya hari tertentu. Pada saat perkecambahan. membutuhkan cahaya untuk berkecambah. Bagi biji yang perkecambahannya terhambat oleh cahaya. namun hal ini belum jelas.  Cahaya. Secara kimia Pemberian 2-kloroetanol (etilen klorohidrin) Pemberian giberelin 22 . jumlah klorofil yang terdapat pada embrio saat biji masak sangat penting untuk menentukan apakah biji spesies tertentu akan bersifat fotodorman (membutuhkan cahaya untuk perkecambahannya) atau tidak. 1996).     Suhu rendah Perendaman bagian tumbuhan dalam air hangat (40-50 C) selama 15 detik b. Dormansi pada kuncup a. Sedangkan embrio yang sedikit mengandung klorofil tidak membutuhkan cahaya. Perlakuan pendinginan sebelum perkecambahan yang diperlukan oleh biji-bijian untuk mnghilangkan dormansinya disebut stratifikasi.1977). Mungkin karena cukup banyak cahaya masuk yang dapat menimbulkan respons dalam jaringan daun primordial di bagian dalam kuncup. perkecambahannya itu tak akan terjadi sampai biji tertutup seluruhnya oleh sampah. yaitu saat mendapatkan air yang cukup untuk tumbuh. Selama stratifikasi. yellow poplar. Umumnya embrio yang masak mengandung sejumlah besar klorofil. semua hormon turun pada kadar yang rendah (Sasmitamihardja. larch. Bila biji yang perkecambahannya terpacu oleh cahaya terkena cahaya maka akan berkecambah dan mampu berfotosintesis. dormansi kuncup berakhir bila hari panjang dialami pohon tanpa-daun misalnya : beech. sweetgum dan red oak. beberapa perubahan terjadi terhadap hormon-hormon. sedangkan sitokinin akan meningkat dan kemudian menurun kembali apabila giberelin meningkat.

biji yang bersifat negatively photoblastic menjadi photodormant jika dikenai cahaya. Intensitas akan berpengaruh terhadap biji yang sedang berkecambah. Efek dari kedua daerah di spektrum ini adalah mutually antagonistic (sama sekali bertentangan). Dalam hal ini. 650 nm). Jika dari segi kuantitas cahaya. Sebaliknya. Dari segi kualitas cahaya dormansi disebabkan oleh panjang gelombang tertentu. Faktor-faktor Penyebab Dormansi 1. jika biji yang bersifat positively photoblastic disimpan dalam kondisi gelap atau tidak terkena cahaya untuk jangka waktu lama biji akan berubah menjadi tidak responsif terhadap cahaya. yaitu: a. 650 nm). dan hal ini disebut skotodormant.3. 730 nm) menghambat perkecambahan. Faktor eksternal a. ada biji yang akan mengalami dormansi apabila disinari dengan intensitas yang tinggi atau dikenal dengan negatively photoblastic. P730 inilah yang menghasilkan sederetan aksi-aksi yang menyebabkan terjadinya perkecambahan. ada biji yang lebih cepat berkecambah apabila disinari dengan inetnsitas yang tinggi atau dikenal dengan positively photoblastic. dormansi ini terjadi karena pengaruh dari intensitas cahaya yang diberikan kepada biji. yaitu dengan intensitas (kuantitas) cahaya. 730 nm). maka pigmen P650 diubah menjadi P730. Sebaliknya. § P730 : mengabsorbir di daerah infra merah Jika biji dikenai sinar merah (red. Yang menyebabkan terjadinya perkecambahan adalah daerah merah dari spektrum (red. biji mempunyai 2 pigmen yang photoreversible (dapat berada dalam 2 kondisi alternatif). maka pigmen berubah kembali menjadi P650 dan terhambatlah proses perkecambahan dan terjadi dormansi. § P650 : mengabsorbir di daerah merah b. Kedua dormansi ini dapat dipatahkan dengan temperatur rendah. maka efek yang terjadi kemudian dipengaruhi oleh spektrum yang terakhir kali diberikan. 23 . Jadi. Jika diberikan bergantian. Cahaya Cahaya mempengaruhi dormansi dengan tiga cara. sedangkan sinar infra merah (far red. Sebaliknya jika P730 dikenai sinar infra merah (far-red. kualitas cahaya (panjang gelombang) dan fotoperiodisitas (panjang hari).

misalnya pada tanaman aprikot (Prunus armeniaca). c.b. sehingga biji tersebut digolongkan sebagai biji tersebut digolongkan sebagai biji yang berada dalam keadaan dorman. Suhu Perlakuan suhu rendah pada waktu sebelum memasuki musim dingin pada daerah beriklim sedang dapat menyebabkan peningkatan dormansi. Perlakuan suhu rendah untuk memecahkan dormansi pada tunas akan lebih efektif jika setelah dormansi dipecahkan segera diikuti dengan perlakuan suhu yang optimal untuk memacu pertumbuhan. Kurangnya air penting dalam memulai dormansi pada beberapa tumbuhan. Akan tetapi. tetapi tidak menghentikan terjadinya dormansi tunas pada tanaman buah-buahan di daerah beriklim sedang. ketersediaan air diyakini menjadi pemicu untuk induksi atau pemecahan dormansi. Kondisi udara yang lebih hangat pada musim gugur dapat menunda dormansi. Hal ini berlangsung secara periodik. Kulit Biji Kulit biji dapat berperan sebagai penghambat untuk terjadinya perkecambahan. Faktor internal Merupakan faktor yang berasal dari dalam tubuh benih itu sendiri seperti: 1. dimana bagian apikal batang akan berada dalam kondisi dorman dan tumbuh aktif secara bergantian. Pergantian dari dorman ke tumbuh aktif atau sebaliknya ini akan tetap terjadi walaupun kondisi lingkungannya relatif tidak berubah. Hambatan kulit biji tersebut mungkin disebabkan karena :   Kulit biji mengandung senyawa penghambat tumbuh Kulit menghambat difusi oksigen dan/atau air masuk ke dalam biji 24 . tanaman mangga (Mangifera indica) dan beberapa tanaman lainnya menunjukkan keunikan dalam pertumbuhan batangnya. Kurangnya air Sebagai contoh. terutama pada dormansi untuk mempertahankan hidup pada keadaan panas dan kering b.

 Kulit biji memiliki resistensi mekanis yang besar radikel tidak mampu untuk tumbuh menembusnya. Dalam hal ini. Adanya Inhibitor (penghambat) Perkecambahan biji adalah kulminasi dari serangkaian kompleks proses-proses metabolik. Beberapa zat penghambat dalam biji yang telah berhasil diisolir adalah soumarin dan lacton tidak jenuh. sehingga biji membutuhkan waktu yang lebih lama untuk berkecambah karena mempersiapkan kebutuhannya. Kematangan embrio Terjadinya dormansi disebabkan oleh belum matangnya atau belum sempurnanya pembentukan embrio. Rendahnya zat perangsang tumbuh Walaupun terdapat banyak jenis senyawa yang dapat berperan menghambat 25 . Zat penghambat dapat berada dalam embrio. biji belum menyelesaikan perkembangannya. kulit biji maupun daging buah. Sehingga biji terdiferensiasi sempurna. 4. endosperm. 2. yang masing-masing harus berlangsung tanpa gangguan. 3. berarti biji melakukan penundaan untuk tidak berkecambah dan melakukan dorman. namun lokasi penghambatannya sukar ditentukan karena daerah kerjanya berbeda dengan tempat di mana zat tersebut diisolir. Pada saat terjadi absisi atau gugurnya buah dari daun. Tiap substansi yang menghambat salah satu proses akan berakibat pada terhambatnya seluruh rangkaian proses perkecambahan.

Pemantapan kecambah 9. Terdapat empat fase dormansi yaitu fase induksi. dan penghambat perkecambahan. Aktivasi Enzim 4. oksigen. Dormansi pada biji adalah dormansi primer dan dormansi sekunder. paradormansi dan endodormansi. meliputi: 1. fase bertahannya embrio untuk berkecambah karena faktor lingkungan yang tidak menguntungkan. serta faktor eksternal yang meliputi air. Secara fisiologi. 1985). (Salisbury. ditandai dengan terjadinya penurunan jumlah hormon (hormon level). temperatur. Dormansi dapat dibedakan menjadi ekodormansi. perkecambahan (germination). proses perkecambahan berlangsung dalam beberapa tahapan penting. dormansi. Imbibisi 2. Faktor-faktor penyebab dormansi adalah faktor eksternal dan internal.BAB III PENUTUP KESIMPULAN Perkecambahan merupakan suatu proses dimana radikula (akar embrionik) memanjang ke luar menembus kulit biji. Mobilisasi Nutrisi 6. fase tertundanya metabolisme (a period of partial metabolic arrest). ditandai dengan meningkatnya hormon dan aktivitas enzim. Inisiasi pertumbuhan embrio 7. dan cahaya (Sutopo. Perombakan cadangan makanan 5. fisika dan kimia. Teknik pematahan dormansi dapat terjadi secara mekanik. 1993) Dormansi adalah keadaan terhenti atau tertundanya pertumbuhan dan metabolisme suatu jaringan tumbuhan yang memiliki potensi aktif membelah yang disebabkan oleh faktor eksternal (kondisi lingkungan) ataupun faktor internal (fisiologis) tumbuhan tersebut. ukuran benih. Perkecambahan benih dapat dipengaruhi oleh faktor internal antara lain meliputi tingkat kemasakan benih. Pemunculan radikula 8. 26 .

com pada 2 Juni 2011). Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Stuart Chapin III. Bogor: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. 1996. Teknologi benih. H.) Merr. WANA BENIH. Bandung. Raja Grafindo Persada. Kamil. Darjadi. Angkasa. Jakarta : PT. B. Skarifikasi untuk Memacu Perkecambahan Biji Empat Jenis Cassia sp.. 2010. 1972. Plant Physiologycal – Ecology.. Fakultas Pertanian Universitas Lampung Sahupala. Salisbury. 2007. Kuswanto.deptan. Surabaya: Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Surabaya. 27 .T.. Padang: Angkasa Raya.. Diunduh dari http://ditjenbun.Z.id/bbp2tpsur/images/aren. 1993. Jakarta: Dirjen Kekutanan Fahmi. Sendi-Sendi Silvikultur.scribd.). 1992. Pons. 1996. 1999. (9): 2. Diarni. Dardjat dan Arbayah Siregar. Zaki Ismail. Pramono. Bandung : ITB. Proses Perkecambahan Benih Akar Kuning (Coscinium fenestratum (Gaertn. J. 2010. Dasar-dasar Teknologi Produksi dan Sertifikasi Benih.DAFTAR PUSTAKA Abidin. L. Persistensi dan pematahan dormansi benih pada beberapa varietas padi gogo. Fisiologi Tumbuhan Jilid 3. Fisiologi Pertumbuhan dan Perkembangan. Dasar-dasar Pengetahuan Tentang Zat Pengatur Tumbuh. L. L. Yogyakarta: Penerbit Andi Lakitan. Ross. S. Thijs. 1987. Studi Teknik Pematahan Dormansi dan Media Perkecambahan Terhadap Viabilitas Benih Aren (Arenga pinnata ( Wurmb. Fisiologi Tumbuhan. Proses Perkecambahan Pada Tanaman Padi (Pertumbuhan Vegetatif Tahap O). Sastamidharja. (Diunduh dari www. dan Hardjono. Lambers. F. 2007. Teknologi Benih.go. Agus Akhmadi dan Priyono. dan W. 1979. Padang: Universitas Andalas. H. Ilyas. Joni et al. Jakarta: Rajawali Sutrisno dan Abdul Hanan. 1998. Ambon : Panitia Implementasi Program NFP-FAO. 2008. Sutopo. F dan Cleon W. Bahan Kuliah Dasar-dasar Teknologi Benih. Eko. Teknologi Benih 1.pdf (6 juni 2011 pukul 16:18 WIB).) Colebr.). New York: Springer Noorhidayah. Akbar. 1996. Jurnal Agrista 11 (2): 92-101.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful