BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Sejak diberlakukannya penerapan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah yang disempurnakan dengan UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004, telah terjadi pergeseran model pemerintahan dari yang semula menganut efesiensi struktural ke arah model demokrasi. Penerapan model demokrasi mengandung arti bahwa penyelenggaraan desentralisasi dan otonomi daerah menuntut adanya partisipasi dan kemadirian masyarakat daerah (lokal) tanpa mengabaikan prinsip persatuan negara dan bangsa. Desentralisasi (devolusi) dan dekonsentrasi merupakan keniscayaan dalam organisasi negara bangsa yang hubungannya bersifat kontinum, artinya desentralisasi tidak meninggalkan sentralisasi. Patisipasi dan kemandirian disini adalah berkaitan dengan

kemampuan penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan atas prakarsa sendiri yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sebagaimana dikemukakan Hoessein (2001:5) Otonomi daerah merupakan wewenang untuk mengatur urusan pemerintahan yang bersifat lokalitas menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat. Dengan demikian desentralisasi sebenarnya mejelaskan otonomi masyarakat setempat untuk memecahkan berbagai masalah dan pemberian layanan yang bersifat lokalitas demi kesejahteraan masyarakat yang bersangkutan. Desentralisasi dapat pula

2 disebut otonomisasi, otonomi daerah diberikan kepada masyarakat dan bukan kepada daerah atau pemerintah daerah. Mengacu pada pengertian dasar tersebut, tulisan ini akan memaparkan tentang peran pemerintah (sebagai penjelmaan otonomi masyarakat) dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik. Paparan ini menjadi penting karena pelayanan publik yang berkualitas adalah salah satu pilar untuk menunjukan berubahnya penyelenggaraan pemerintah yang berpihak pada peningkatan kesejahteraan masyarakatnya. Pemerintah Kabupaten Barito Kuala telah memiliki kewenangan untuk melaksanakan otonomi daerah membutuhkan suatu sistem

pemerintahan yang baik (good Govermance). Sistem ini sangat diperlukan setidaknya oleh dua hal, yaitu 1) sebagai alat untuk melaksanakan berbagai pelayanan publik dan 2) sebagai alat bagi masyarakat setempat untuk dan cara mengembangkan taraf

berperan aktif dalam menentukan arah

hidupnya sendiri selaras dengan peluang dan tantangan yang dihadapi dalam koridor-koridor kepentingan nasional. Mengacu pada pengertian dasar tersebut, tulisan ini akan memafarkan tentang peran pemerintah (sebagai penjelmaan otonomi masyarakat) dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik. Paparan ini menjadi penting karena pelayanan publik yang berkualitas adalah salah satu pilar untuk menunjukan berubahnya penyelenggaraan pemerintah yang berpihak pada peningkatan kesejahteraan masyarakatnya. Penerapan model efesiensi struktural selama ini telah berdampak pada berbagai pelayanan disektor publik yang tidak berkualitas. Terdapat

3 kecenderungan keengganan pemerintah pusat untuk menyerahkan

kewenangan yang lebih besar kepada daerah otonom, sehingga pelayanan publik menjadi tidak efektif, efesien dan ekonomis. Bahkan lebih dari pada itu, pelayanan cenderung tidak memiliki responsibilitas, responsivitas, dan tidak representatif sesuai dengan tuntutan masyarakat. Banyak contoh yang dapat diidentifikasikan, pelayanan bidang pendidikan, kesehatan, transportasi, fasilitas, sosial dan berbagai pelayanan dibidang jasa yang dikelola pemerintah tidak memuaskan kebutuhan masyarakat, bahkan kalah bersaing dengan pelayanan yang dikelola oleh pihak swasta. Pergeseran peranan pemerintahan daerah ke arah model demokrasi tentunya menuntut pelayanan publik yang lebih berkualitas, karena keterlibatan masyarakat yang bersifat lokalitas atas prakarsa sendiri sangat strategis dan menentukan berkaitan dengan kualitas pelayanan yang mereka terima. Hal yang perlu dipahami adalah dimungkinkan adanya kualitas pelayanan yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi masyarakat, mengingat masyarakat Indonesia adalah bersifat majemuk baik secara agama, ras, bahasa, geografis, kultural dan kemajemukkan lainnya. Sebagaimana dikemukakan Hoessein (2001:5) : Mengingat kondisi masyarakat lokal beraneka ragam, maka lokal government dan lokal autonomy akan beraneka ragam pula. Dengan demikian fungsi desentralisasi (devolusi) untuk mengakomodasikan kemajemukakan aspirasi masyarakat local. Desentralisasi (devolusi) melahirkan political variety dan structural variety untuk menyalurkan local voice dan local choice.

Berdasarkan pemikiran tersebut di atas tujuan desentralisasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik dalam kerangka model demokrasi ini

misi. kesehatan. Padahal pelayanan yang diberikan seharusnya mencerminkan nilai-nilai demokrasi. Kemampuan aparatur pemerintah untuk merencanakan. . Masyarakat melalui representasi wakilwakilnya dapat menentukan kriteria kualitas pelayanan yang diharapkan di berbagai bidang . sebagai pencerminan demokrasi dan kemandirian. bagaimana cara menentukan prioritas. ekonomi. oleh siapa dan dimana pelayanan itu diberikan. Wilayah Kabupaten yang tidak mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang ada akan tertinggal dan tidak akan mampu memenuhi harapan serta kebutuhan rakyat yang berdomisili diwilayahnya. pendidikan. Yang jelas penetapan semua kriteria tersebut dalam model demokrasi adalah sangat ditentukan oleh masyarakat itu sendiri. sosial budaya.4 harus benar-benar menjunjung nilai-nilai demokrasi dan kemandirian yang berakar dari masyarakat setempat. bagaimana agar pelayanan dapat efektif dan efesien merepresentasikan kebutuhan dan kepentingan masyarakat dan masih banyak kriteria lain yang perlu dijelaskan. strategi dan operasional pemerintahan daerah dalam menyelenggarakannya. melaksanakan. Bidang-bidang pelayanan apa yang perlu mendapatkan prioritas. bukan ditentukan secara bersama-sama antara yang memberikan pelayanan dengan citizen sebagai komunitas masyarakat pengguna jasa pelayanan. transportasi. sangat tergantung pada perubahan visi. dan lain-lain. Selama ini terdapat kecenderungan bahwa penentuan kualitas pelayanan publik adalah sangat ditentukan oleh pemerintah atau lembaga yang memberikan pelayanan. Kenyataan yang demikian tentunya tidak mudah.

Pelayanan publik yang efektif sebaiknya dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sehingga harapan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dapat lebih mungkin diwujudkan. Untuk itu perlu ditingkatkan mutu. yakni berkurangnya daerah terhadap pemerintah pusat. Pelaksanaan otonomi daerah berdasarkan UU Nomor 32 tahun 2004 yang penyelenggaraannya dititikberatkan di Kabupaten/Kota. dan kesejahteraan sumber daya manusianya. Dinas Perhubungan dan Komunikasi Kabupaten Barito Kuala dalam rangka pertanggunggawaban publik sebalknya melakukan optimalisasi efektivitas pelayanan terhadap publik. Berdasarkan aspek masyarakat dengan adanya peningkatan efektivitas pelayanan publik oleh Dinas Perhubungan dan Tenaga Kerja Kabupaten Barito Kuala maka diharapkan dapat berpengaruh pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.5 mengawasi dan mengendalikan pembangunan perlu ditingkatkan. Pelayanan publik dapat dikatakan efektif apabila kegiatan Dinas dapat melayani kebutuhan dan skala prioritas masyarakat. menyebabkan setiap daerah dituntut untuk mempersiapkan diri. Pelayanan publik yang baik oleh Dinas pada tahap berikutnya dapat memberikan manfaat yaitu terpenuhinya tuntutan masyarakat akan pemerintahan yang baik (good govermance) dilingkungan . organisasi. dan tata kerja termasuk koordinasi serta penyediaan sarana dan prasarana. Otonomi yang memberikan keleluasaan dalam mengatur diri dan rumah tangga daerah juga membawa konsekwensi terhadap pembiayaan semua pengeluaran pembangunan. Otonomi daerah sangat membutuhkan sumber daya aparatur pemerintah daerah yang berkualitas dan dapat diandalkan. kemampuan.

dan pencemaran udara. Kompleksitas sub sistem sarana perhubungan darat sangat terasa di daerah Kota maupun Kabupaten diwilayah Provinsi Kalimantan Selatan adalah bagaimana membuat angkutan umum semakin menarik dalam rangka meningkatkan minat masyarakat menggunakan kendaraan pribadi dan merangsang peran serta pihak swasta dalam penyediaan jasa angkutan. khususnya dilingkungan dinas Perhubungan dan Telekomunikasi. tetapi juga keterkaitan dengan masalah lain seperti tata ruang. Semua fenomena ketidak-beresan penataan sarana prasarana perhubungan di Kabupaten Barito kuala Selatan-pedesaan tersebut tentunya tidak terlepas dari kinerja pegawai yang memberikan pelayanan.6 Pemerintah Kabupaten Barito Kuala. Terwujudnya good Govermance melalui pelayanan publik yang efektif menjadi tantangan bagi Dinas Perhubungan dan Komunikasi Kabupaten Barito Kuala dalam menyediakan layanan prima bagi seluruh masyarakatnya. Namun sampai saat ini. kecelakaan lalu lintas. Oleh sebab . mobilitas penduduk. masalah yang dihadapi oleh hampir semua adalah kemacetan. terutama setelah semakin banyaknya angkutan Kota maupun Kabupaten diwilayah Provinsi Kalimantan Selatan dengan rute pelayanan yang makin kompleks. Masalah pembangunan dibidang perhubungan ini bukan menyangkut sarana dan prasarana saja. pemukiman. Problem itu muncul. Hasil observasi awal menunjukkan adanya beberapa titik rawan kemacetan dan kesemrawutan terutama diwilayah perkotaan. kesemrawutan. dan pembangunan wilayah.

berdisplin dan mampu melaksanakan tugas perjuangan serta pengabdiannya dalam mengisi kemerdekaan. Dan untuk kelancaran penyelenggaraan pemerintah dan pelaksanaan Pembangunan Nasional tersebut akan diperlukan adanya kesempurnaaan aparatur negara tersebut pada pokoknya tergantung dari pada kesempurnaan Pegawai Negeri. Untuk mencapai sasaran yang tepat guna melahirkan sosok aparatur negara yang baik bagaimana cara pimpinan tersebut menjalankan fungsi dan peran kepemimpinannya. hal ini berkaitan pula dengan bawahan atau orang-orang yang dipimpinannya. sebagai alat yang ampuh untuk menyelenggarakan tugas pemerintahan umum serta memberikan pelayanan kepada masyarakat. dipandang urgen untuk dalam penataan prasarana dan sarana angkutan di Kabupaten Barito Kuala.7 itu. pelatihan dan pengalaman serta keahlian dan kemampuan dibidang tersebut bersedia dan siap untuk . hal ini sebagai akibat terjadinya mutasi dari dinas-dinas lain yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan. Pada saat ini kinerja pegawai Dinas Perhubungan dan Komunikasi Kabupaten Barito Kuala masih kurang efektif. apakah para bawahan dibimbing. jujur. Kesadaran akan tanggung jawab dan kewajiban sebagai aparatur pemerintah tergambar pada pegawai yang mampu melaksanakan bersatu padu. Namun demikian tidak semua tanggung jawab dalam hal yang menyangkut pegawai secara keseluruhan menjadi beban dari pimpinan. dan dari kepemimpinannnya akan terlihat pula bagaimana pemimpin itu dalam menjalankan tugas pengembangan SDM terhadap bawahan.

Pokok Permasalahan Kegiatan pelayanan Publik oleh Dinas Perhubungan dan Komunikasi Kabupaten Barito Kuala ditinjau dari aspek waktu sering mengalami keterlambatan sebagai akibat ada cukup banyak pegawai yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan. pelatihan dan pengalaman yang berdampak pada efektivitas kinerja pegawai. dimana orang-orang yang terlibat dalam pelaksanaan tugas ini adalah pegawai yang mempunyai pengetahuan. Fenomena yang terjadi lambatnya pelayanan yang diberikan terkait dengan belum ditingkatkannya kualitas dan kapabilitas kinerja SDM yang dapat diandalkan secsra profesional. Akan tetapi tidak demikian dengan Dinas Perhubungan dan Komunikasi. sehingga dalam pelaksanaan tugas sering terjadi keterlambatan. sertifikat kesempurnaan kapal. pas kapal dan registrasi kapal. sedangkan yang lainnya tidak mempunyai pengalaman sama sekali.8 perhubungan dan komunikasi. Berdasarkan uraian tersebut di atas maka peneliti tertarik untuk mengangkat masalah “Efektivitas Kinerja Dalam Upaya Pelayanan Publik pada Dinas Perhubungan Kabupaten Barito Kuala”. pengalaman dan keterampilan dibidang perkapalan. karena secara administratif maupun secara teknis penyelenggaraan pelayanan belum sepenuhnya didukung oleh SDM yang memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai bidang kerja. . dimana pegawai-pegawai yang terlibat hanya sebagian saja yang mempunyai keahlian dibidang perkapalan. B. Seperti salah satu dari kegiatan pelayanan adalah pembuatan surat ukur kapal.

.9 Melihat kecenderungan yang berlaku dalam perkembangan arus perhubungan diwilayah Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Selatan dewasa ini. Hal ini berarti kurang mendukung proses pencapaian tujuan organisasi. pas kapal dan registrasi kapal mestinya dapat diselesaikan hanya 1 hari saja akan tetapi dalam praktiknya penyelesaian bisa sampai 3 hari. Untuk sektor perhubungan pemerintah harus pembangunan memperhatikan faktor-faktor yang terdapat di antara para Pegawai Negeri Sipil yang pada umumnya satu sama lain memiliki banyak perbedaan. akan tetapi dalam praktiknya penyelesaian sampai 2 minggu lebih. demikian pula dengan Pembuatan Izin Penumpukan Kayu (LOGPOND) di perairan yang semestinya dapat diselesaikan pengerjaannya selama maksimal 1 minggu. mentalitas dan sebagainya. Masyarakat dalam hal ini pengguna jasa Dinas Perhubungan dan Komunikasi sering mengalami keterlambatan didalam penyelesaian jasa yang diberikan pembuatan Retribusi sertifikat kesempurnaan kapal. Kenyataan ini tentunya berdampak negatif terhadap penilaian masyarakat terhadap pelayanan publik yang diberikan oleh Dinas Perhubungan dan Komunikasi Kabupaten Barito Kuala. Disamping itu ditinjau dari aspek biaya sering ditemukan biaya-biaya tambahan diluar biaya yang telah ditetapkan oleh Dinas Perhubungan dan Komunikasi Kabupaten Barito Kuala. seperti tingkat pendidikan. Tidak efektifnya pelayanan publik yang diberikan oleh Kantor Dinas Perhubungan dan Komunikasi Kabupaten Barito Kuala merupakan kenyataan bahwa kinerja pegawai masih belum efektif. salah satu penyebabnya adalah upaya meningkatkan prestasi kerja Pegawai Negeri Sipil mensukseskan masih rendah untuk melakukan pelayanan.

Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi efektivitas kinerja dalam meningkatkan pelayanan publik pada Dinas Perhubungan dan Komunikasi Kabupaten Barito Kuala? C. Tujuan Penelitian Tujuan Penelitian adalah : 1. Ingin mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas kinerja dalam meningkatkan pelayanan publik pada Dinas Perhubungan dan Komunikasi Kabupaten Barito Kuala. Manfaat Penelitian Sedangkan manfaat penelitian adalah : 1. Ingin mengetahui efektivitas kinerja dalam meningkatkan pelayanan publik pada Dinas Perhubungan dan Komunikasi Kabupaten Barito Kuala.10 Berdasarkan uraian di atas maka permasalahan di atas dapat dirumuskan sebagai berikut : 1. Bagaimanakah efektivitas kinerja dalam peningkatan pelayanan publik pada Dinas Perhubungan dan Komunikasi Kabupaten Barito Kuala ? 2. . Aspek Teoritis Sebagai pengaplikasian teori yang berkaitan dengan pengembangan kinerja dan pelayanan publik dalam manajemen sumber daya manusia. D.2. Aspek Praktis Sebagai sumbangan pemikiran terhadap upaya meningkatkan etektivitas kinerja dalam upaya pelayanan pada Dinas Perhubungan dan Komunikasi Kabupaten Barito Kuala . 2.

11 BAB II LANDASAN TEORI A. Peneliti Terdahulu Tonny Ronny Rorong. 2009. (2) Adapun Kendala yang ditemukan didalam pelayanan Rumah Sakit disebabkan oleh kurangnya pendidikan dan pelatihan. Analisis Kinerja Pegawai Pada Rumah Sakit Pertamina Tanjung (RSPT) Kabupaten Tabalong Hasil penelitian menunjukan (1) Kinerja pegawai pada Rumah Sakit Pertamina Tanjung (RSPT) Kabupaten Tabalong yang melayani publik telah dilaksanakan secara optimal. (3) Sedangkan upaya atau solusi untuk mengatasi kendala dalam meningkatkan kinerja pelayanan pegawai yang dilakukan menyangkut (1) Meningkatan pendidikan dan pelatihan (2) pelaksanaan pengawasan serta (3) peningkatan kesejahateran kepada bawahan. 11 . namun demikian bila dilihat dari hasil penelitian tidak sepenuhnya dikatakan bahwa hasil kinerja dapat meningkatkan Sumber Daya Manusianya secara profesional karenanya masih terdapat kekurangankekurangan yang perlu dibenahi terutama menyangkut unsur-unsur kualitas sumber daya manusia yang dimiliki oleh Rumah Sakit Pertamina Tanjung (RSPT) Kabupaten Tabalong. jumlah sarana pendukung kerja yang dimiliki masih untuk keperluan secara operasional serta sasaran kerja pelayanan yang harus diberikan kepada masyarakat wilayah setempat melalui efektivitas kerjasama sesuai dengan manajemen dalam rumah sakit. pengawasan melekat yang kurang serta pemenuhan kebutuhan akan kesejahteraan belum sepenuhnya diberikan dengan baik.

Kinerja Penyuluh Peternakan Dalam Pelayanan Publik Di Kecamatan Mantangai Kabupaten Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah. B. (2) Faktor-faktor menghambat kinerja pelayanan publik dalam pembinaan petani ternak di Kecamatan Mantangai disebabkan kurangnya pendidikan dan pelatihan yang diperoleh selama menjadi Penyuluh.12 Heny Agustina. Hasil penelitian menunjukan (1) kinerja pelayanan publik dalam pembinaan petani ternak di Kecamatan Mantangai oleh Dinas Peternakan Kabupaten Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah belum berjalan optimal karena dari hasil produktivitas pembinaan terhadap petani ternak sapi potong masih terdapat kendala yang menghambat kinerja. Untuk itu peneliti hanya meneruskan dari kedua peneliti terdahulu tetapi dapam kapsitas yang berbeda objek dan sa mpel penelitian sehingga diharapkan adanya peningkatan terhadap Sumber Daya Manusia yang diberdayakan untuk melakukan pembinaan melalui pendidikan dan pelatihan sehingga dapat berjalan secara profesional. 2009. kuantitas petugas yang belum seimbang dengan besarnya volume kerja yang harus diselesaikan serta sasaran kerja harus diterapkan sesuai dengan mutu pelayanan. Konsep Teori 1. Efektivitas Banyak keanekaragaman mengenai sifat dan komposisi efektivitas organisasi. maka pertentangan tidak mengherankan sehubungan terdapat sekian banyak pendapat dengan cara-cara peningkatan efektivitas bekerja dalam organisasi yang sedang berjalan akan tetapi .

Sedangkan efektivitas menurut pendapat Kusriyanto (1985 . Namun demikian tujuan dinyatakan efektif sebab mempunyai efek atau pengaruh yang besar terhadap kepentingan masyarakat banyak. sosial dan sebagainya. Dihubungkan dengan pekerjaan pemerintah selalu diusahakan efektif. Keadaan ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap usaha menciptakan kelangsungan Pembangunan Nasional. Lebih lanjut Irmansyah (2006 : 23) mengemukakan bahwa suatu tujuan atau sasaran yang telah tercapai sesuai dengan apa yang direncanakan adalah efektif.13 sulit sekali memperinci mengenai yang dimaksud dengan konsep efektivitas kerja. Kemampuan menguntungkan organisasi .Secara harfiah bahwa efektivitas adalah berasal dari kata efektif yang bertitik tolak pada istilah yang disamakan dengan berhasil guna. baik politik. Dengan memperhatikan efektivitas maka pencapaian produktivitas sebagaimana yang terlihat hal-hal berikut : a. Produktivitas dan kepuasan kerja c. Kemampuan menyesuaikan diri atau keluwesan b. 90) bahwa efektivitas yang tinjau dalam suatu organisasi hendaknya dilihat variabel yang telah di identifikasikan dengan tujuan serta segi-segi efektivitas sebagai pengukur seberapa jauh efektivitas yang ada didalam organisasi. tetapi belum dapat dikatakan efisien. ekonomi. dalam masyarakat yang adil dan makmur didalam wadah negara Indonesia yang merdeka. bersatu dan berdaulat.

tujuan atau akibat yang dikehendaki telah tercapai secara maksimal tercapai bahkan secara maksimal.14 d. tidak ada persetujuan yang universal mengenai apa yang dimaksud dengan “efektivitas”.mempan. karena dilihat dari segi hasil. kesannya) seperti : manjur. uang dan benda. mujarab. 2) Penggunaanmetode/cara. setiap pekerjaan yang efesien tentunya efektif. Bagaimanapun definisi efektivitas berkaitan dengan pendekatan umum. maka semakin rendah pula tingkat efektivitasnya. sebaliknya jika dilihat dari segi usaha yang diharapkan juga telah tercapai dengan menggunakan lima unsur secara maksimal seperti pikiran. maka tingkat efektivitas akan semakin tinggi pula dan sebaliknya jika prosentase rendah. bila ditelusiri efektivitasnya berasal dari kata efektif yang artinya : 1) Ada efeknya (pengaruh. Pemanfaatan sumber daya Lebih jauh Manullang (2001 : 21) mengemukakan bahwa efektivitas mempunyai suatu pengertian dapat yang dapat memberikan gambaran seberapa jauh target dicapai. baik secara kualitas maupun waktu. Dalam pengertian teoritis atau pratis. tenaga. kalau prosentasi target yang dapat dicapai semakin tinggi. Menurut Gie (2003 : 23) efektivitas adalah efektif berarti terjadi suatu efek atau akibat yang dikehendaki dalam suatu perbuatan. akibatnya. sarana/alat dalam melaksanakan aktivitas sehingga berhasil guna (mencapai hasil yang optimal). .

kuantitas. dan waktu) telah dicapai dalam bentuk persamaan. Etzioni (1992:61). kelompok dan organisasi. Sedangkan Munir A. mengartikan efektivitas adalah melakukan suatu kegiatan atau fungsinya agar tujuan yuang ditetapkan dapat tercapai dan dinyatakan dengan efektif. sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud RI:1988) efektivitas berasal dari kata “efektif” yang berarti dapat membawa hasil. sedangkan efektivitas berarti “:keberhasilan”. Makin dekat prestasi mereka terhadap prestasi yang diharapkan (standar) maka semakin lebih .15 Menurut Sjabdhyni.S. hasil guna. Efesien berkaitan dengan output. efektivitas berasal dari kata efektiveness yang mengandung arti keberhasilan atau suatu keadaan yang berpengaruh. sedangkan pengertian efektivitas secara langsung hubungannya dengan pencapaian tujuan Sedangkan menurut Gibson et. sedangkan menurut Komaruddin (1994:269) efektivitas adalah suatu keadaan yang menunjukan tingkat keberhasilan (atau kegagalan) kegiatan manajemen dalam pencapaian tujuan yang telah ditetapkan lebih dahulu. efektivitas adalah sama dengan hasil nyata dibagi dengan standar dikaitkan dengan seratus persen. (1997) berpendapat efektivitas adalah ukuran yang menyatakan sejauh mana sasaran atau tujuan (kualitas. Bertina. Menurut Miller (1997) dalam Ambar Teguh Sulistiyani & Rosidah (2003:247) efektivitas harus dibedakan dari efesien.Al (1997:28) pengertian efektivitas adalah penilaian yang dibuat sehubungan dengan prestasi individu. dkk (1997:56).

2) kelompok 3) organisasi.Arti organisasi disini dilihat berada dalam keadaan yang selalu berubah. Sudut pandang yang bertentangan dengan konsep mengenai persoalan ini di atas mengemukaka bahwa efektivitas paling baik dipahami jika orang melihat keseluruhan sistem organisasi. Suatu organisasi adalah suatu unit terkoordinirterdiri setidaknya dua orang berfungsi mencapai suatu sasaran. yang biasa disebut dengan efek-tivitas organisasi. Dilihat dari keadaan organisasi. efesiensi. terus menerus berusaha mencapai mempertahankan stabilitas terhadap lingkungan intern dan eksternnya. Di dalam pengukuran efektivitas kerja / organisasi menurut Gie (2003 : 32) dapat dilihar dari dua segi yakni: a.16 efektif dalam menilai mereka. kelompok dan organisasi. Fleksibelitas kepuasan. sifat keunggulan dan pengembangan.kualitas. Lebih lanjut Gibson at.Al. Ketiga analisis tersebut sejalan dengan tiga tingkatan tanggung jawab manajerial yaitu bahwa para manajer bertanggung jawab atau efektivitas individu. 1997:6). (Gibson.Al. Dari pengertian tersebut di atas dari sudut pandang perilaku keorganisasian maka dapat di maka dapat diidentikkan tiga tingkatan analisis yaitu 1) individu.mengemukakan efektivitas dalamkonteks perilakuorganisasi merupakan hubungan optimal antara produksi. Efektivitas kriteria sebagai berikut : 1) Kejelasan tujuan yang hendak dicapai organisasi dapat dilihat melalui kreteria- . At.

17 2). Kejelasan strategi pencapaian tujuan 3) Proses analisa dan perumusan kebijaksanaan 4) Perencanaan yang matang 5) Penyusunan program yang tepat 6) Tersedianya sarana dan prasarana 7) Pelaksanaan efektif dan efisien b.. Dilihat dari hasil yang dicapai disebut dengan efektifitas kerja. Efektifitas dapat dilihat dari hasilnya, yaitu seberapa besar targetnya yang dicapai, baik secara kualitas maupun kuantitas,

prosentase target yang dapat dicapai itu semakin besar maka tingkat efektivitasnya akan semakin tinggi, dan juga sebaliknya semakin kecil prosentase target dapat dicapai maka akan semakin rendah tingkat efektivitasnya.

Dengan demikian dapat disimpulkan efektivitas sebagai keadaan yang oleh organisasi diperjuangkan untuk dicapai.Berdasarkan konsep ini, sekali organisasi mencapai karakteristik yang menentukan (misalnya produktivitas yang tinggi, kepuasan dan kebetahan kerja yang tinggi dan seterusnya) jelas dianggap menjadi efektif.

2. Kinerja a. Pengertian Kinerja Kinerja SDM merupakan istilah yang berasal dari kata Job Performance atau Actual Performance (prestasi kerja atau prestasi

18 sesungguhnya yang dicapai seseorang). Definisi kinerja karyawan yang dikemukakan oleh Bambang Kusriyanto adalah perbandingan hasil yang dicapai dengan peran serta tenaga kerja persatuan waktu (lajimnya per jam) (A.A. Anwar Prabu Mangkunegara, 2005:9). Faustino Cardosa Gomes (2005:195) dalam A.A. Anwar

Prabu Mangkunegara, (2005:9) mengemukakan definisi kinerja karyawan sebagai “Ungkapan seperti Output, efesiensi serta efektivitas sering dihubungkan dengan produktivitas. Selanjutnya definisi kinerja karyawan menurut A.A. Anwar Prabu Mangkunegara, (2005:9) bahwa “Kinerja karyawan (prestasi Kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya”. Menurut Armstrong dan Baron (1998:15) dalam Wibowo (2009:7) kinerja merupakan hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan kuat dengan tujuan strategis organisasi, Kepuasan konsumen dan memberikan konstribusi pada ekonomi. Kemudian menurut Wibowo (2009:7) Kinerja adalah tentang melakukan pekerjaan dan hasil yang dicapai dari pekerjaan tersebut. Kinerja adalah tentang apa yang dikerjakan dan bagaimana cara mengerjakannya. Berdasarkan pendapat beberapa ahli tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kinerja adalah prestasi kerja atau hasil kerja (Output) baik secara kualitas maupun kuantitas yang telah dicapai oleh

19 SDM dalam persatuan periode waktu dalam melaksanakan tugas

kerjanya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. b. Indikator Kinerja Indikator kinerja atau performance indikators kadang-kadang dipergunakan secara bergantian dengan ukuran kinerja, tetapi banyak pula yang membedakannya. Pengukuran kinerja berkaitan dengan hasil yang dapat di kuantitatifkan dan mengusahakan data setelah kejadian. Indikator kinerja dipakai untuk aktivitas yang hanya dapat ditetapkan secara lebih kualitatif atas dasar prilaku yang dapat diamati. Indikator kinerja juga menganjurkan sudut pandang prosfektif (harapan ke

depan) dari pada retrospektif (melihat kebelakang). Hal ini menunjukan jalan pada aspek kinerja yang perlu diobservasi. (Wibowo. 2009:101). Wibowo (2009:101) mengemukakan ada 7 (tujuh) indicator kinerja. Dua diantaranya mempunyai peran sangat penting yaitu tujuan dan motif. Kinerja ditentukan oleh tujuan yang hendak dicapai dan untuk melakukannya diperlukan adanya motif. Tanpa dorongan motif untuk mencapai tujuan, kinerja tidak akan berjalan. Dengan demikian tujuan dan motif manjadi indicator utama dari kinerja.Namun kinerja memerlukan adanya dukungan sarana, kompetisi, peluang, standard an umpan balik. Kaitan di antara ketujuh indicator tersebut digambarkan oleh Hersey Blanchard dan Johnson dalam Wibowo (2009-102-104) dengan penjelasan sebagai berikut :

Tanpa sadar. Standar menjawab pertanyaan tentang kapan kita tahu bahwa kita sukses atau gagal. diperlukan kinerja individu. kelompok dan organisasi. Umpan balik melaporkan kemajuan baik kualitas maupun .20 1) Tujuan Tujuan merupakan keadaan yang berbeda yang secara aktif dicari oleh seorang individu atau organisasi untuk dicapai.Kinerja seseorang dikatakan berhasil apabila mampu mencapai standar yang ditentukan atau disepakati bersama antara atasan dan bawahan. standard an umpan balik bersifat saling terkait. Tujuan merupakan suatu keadaan yang lebih baik yang ingin dicapai di masa yang akan datang. 3) Umpan Balik Antara tujua. Atas dasar tersebut. juga bukan merupakan sebuah keinginan. Standar merupakan suatu ukuran apakah tujuan yang diinginkan dapat dicapai. 2) Standar Standart mempunyai arti penting karena memberitahukan kapan tujuan dapat diselesaikan. Dengan demikian tujuan menunjukan kearah mana kinerja harus dilakukan. tidak dapat diketahui kapan suatu tujuan tercapai. Untuk mencapai tujuan. Pengertian tersebut mengandung makna bahwa tujuan bukanlah merupakan persyaratan. dilakukan kinerja untuk mencapai tujuan.Kinerja individu maupun organisasi berhasil apabila dapat mencapai tujuan yang diinginkan.

Orang harus melakukan lebih dari sekedar belajar tentang sesuatu. Umpan balik merupakan masukan yang dipergunakan untuk mengukur kemajuan kinerja dan sebagai hasilnya dapat dilakukan perbaikan kinerja. Umpan balik terutama penting ketika kita mempertimbangkan ”real goals” atau tujuan sebenarnya. Tujuan yang dapat diterima oleh pekerja adalah tujuan yang bermakna dan berharga. Alat atau sarana merupakan faktor penunjang untuk pencapaian tujuan . dalam mencapai tujuan yang didefinisikan oleh standar. . tugas untuk mencapai tujuan tidak dapat diselesaikan sebagaimana seharusnya. Tanpa alat tidakmungkin dapat melakukan pekerjaan.21 kuantitas. 5) Kompetisi Kompetisi merupakan persyaratan utama dalam kinerja. orang harus dapat melakukan pekerjaannya dengan baik.Kompetisi memungkinkan seseorang mewujudkan tugas yang berkaitan dengan pekerjaan yang diperlukan untuk mencapai tujuan.Kompetisi merupakan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk menjalankan pekerjaan yang diberikan kepadanya dengan baik. 4) Alat atau Sarana Alat atau sarana merupakan sumber daya yang dapat dipergunakan untuk membantu menyelesaikan tujuan dengan sukses. Tanpa alat atau sarana.

Pengertian pengukuran Kinerja Pengukuran terhadap kinerja perlu dilakukan untuk mengetahui apakah selama pelaksanaan kinerja terdapat deviasi dari rencana yang telah ditentukan. atau apakah kinerja dapat dilakukan .22 6) Motif Motif merupakan alas an atau pendorong bagi seseorang untuk melakukan sesuatu. 7) Peluang Pekerjaan perlu mendapat kesempatan untuk menunjukan prestasi kerjanya. 2. Pengukuran Kinerja a. yaitu ketersediaan waktu dan kemampuan untuk memenuhi syarat. Manajermemfasilitasi motivasi kepada karyawan dengan insentif berupa uang. mendapatkan perhatian lebih banyak dan mengambil waktu yang tersedia. Terdapat dua factor yang menyumbangkan pada adanya kekurangan kesempatan untuk berprestasi . memberikan kebebasan melakukan pekerjaan termasuk waktu melakukan pekerjaan. Tugas mendapatkan prioritas lebih tinggi. meminta umpan balik. Jika pekerjaan dihindari karena supervisor tidak percaya terhadap kualitas atau kepuasan konsumen. mereka secara efektif akan dihambat dari kemampuan memenuhi syarat untuk berprestasi. memberikan pengakuan. menetapkan standar terjangkau. menyediakan sumber daya yang diperlukan dan menghapuskan tindakan yang mengakibatkan disintensif. menetapkan tujuan menantang.

termasuk informasi atau efesiensi pengguna sumber . 2) Mengusahakan standar kinerja untuk menciptakan perbandingan. b. 5) Menghindari konsekuensi dari rendahnya kualitas. orang yang melakukan pengukuran kinerja perlu memenuhi persyaratan diantaranya (Kreitner dan Kinicki (2001) dalam Wibowo (2009:344) (1) dalam posisi mengamati perilaku dan kinerja yang menjadi kepentingan individu (2) mampu memahami tentang dimensi atau gambaran kinerja (3) mempunyai pemahaman tentang format skala dan instrumennya dan (4) harus termotivasi untuk melakukan pkerjaan ranting secara sadar. 2009:343). Alat Ukur dalam pengukuran Kinerja Pengukuran kinerja merupakan suatu proses penilaian kemajuan pekerjaan terhadap pencapaian tujuan dan sasaran yang telah ditentukan. 7) Mengusahakan umpan balik untuk mendorong usaha perbaikan. 4) Menetapkan arti penting masalah kualitas dan menentukan apa yang perlu prioritas perhatian. Oleh karena itu. Menurut Wibowo (2009:344) Pengukuran kinerja yang tepat dapat dilakukan dengan cara : 1) Memastikan bahwa persyaratan yang diinginkan pelanggan telah terpenuhi. 3) Mengusahakan jarak bagi orang untuk memonitor tingkat kinerja. 6) Mempertimbangkan penggunaan sumber daya.23 sesuai jadwal waktu yang ditentukan atau apakah hasil kinerja telah tercapai sesuai dengan yang di harapkan (Wibowo.

dan cacat perunit. signifikan dan komprehensif. 3) Ketepatan waktu Ketepatan waktu menyangkut persentase pengiriman tepat waktu atau persentase pesanan di kapalkan sesuai dijajikan.Pada .kualitas barang dan jasa perbandingan hasil kegiatan dengan target dan efektivitas tindakan dalam mencapai tujuan (Robertson (2002) dalam mahmudi. 2) Kualitas Pada kualitas biasanya termasuk baik ukuran internal seperti susut. jumlah ditolak. 2008:6) Menurut Wibowo (2009:349) Sebenarnya banyak factor yang dapat dijadikan ukuran kinerja. namun ukuran kinerja harus relevan.Ukuran produktivitas misalnya adalah output sebanyak 55 unit produksi oleh kelompok yang terdiri dari empat orang pekerja dalam waktu seminggu.24 daya dalam menghasilkan barang atau jasa. Keluarga ukuran berkaitan dengan tipe ukuran yang dapat dikalasifikasikan sebagai berikut : 1) Produktivitas Produktivitas biasanya dinyatakan sebagai hubungan antara input dan output fisik suatu proses.Oleh karena itu produktivitas merupakan hubungan antara jumlah output dinadingkan dengan sumber daya yang dikonsumsi dalam memproduksi output.maupunb ukuran eksternal rating seperti kepuasan pelanggan atau penilaian frekwensi pemesanan ulang pelanggan.

5) Penempatan sumber daya Pemanfaatan sumber daya merupakan pengukuran sumber daya yang dipergunakan lawan sumber daya tersedia untuk dipergunakan. computer. Pemanfaatan sumber daya dapat diterapkan untuk mesin. banyak perusahaan hanya mempunyai sedikit informasi tentang biaya perunit. Kemudian menurut Mahmudi (2008:6-7) Pengukuran kinerja paling tidak harus mencakup tiga variabel penting yang hjarus dipertimbangkan yaitu Perilaku (Proses). Pada umumnya dilakukan kalkulasi biaya secarea menyeluruh.25 dasarnbya ukuran ketepatan waktu mengukur apakah orang melakukan apa yang dikatakan akan dilakukan. hasil dan nilai tambah berupakan bariabel .Perilaku. dan bahkan orang. 4) Cycle Time Cycle time menunjukan jumlah waktu yang diperlukan untuk maju dari satu titik lain dalam proses. Namun. 6) Biaya Ukuran biaya terutama berguna apabila dilakukan kalkulasi dalam dasar perunit.Misalnya ada berapa lama waktu rata-rata diperlukan dari pelanggan menyampaikan pesanan sampai pelanggan benar-benar menerima pesanan. Output (produk langsung suatu aktivitas/program) dan Outcome (velue added atau dampak aktivitas/program). Pengukuran cycle time mengukur berapa lama sesuatu dilakukan.

5) Memotivasi pegawai. sehingga mereka termotivasi untuk berbuat yang lebih baik atau sekurangkerangnya berprestasi sama dengan prestasi yang terdahulu. 2) Menyediakan sarana pembelajaran pegawai. 3) Memperbaiki kinerja periode berikutnya. 6) Menciptakan akuntabilitas publik.Ketiga hal tersebut sangat penting dalam manajemen kinerja.Namun karena sifat dan karakteristik organisasi sektor publik berbeda dengan sektor swasta. . . 4) Memberikan pertimbangan yang sistematik dalam pembuatan keputusan pemberian reward dan punishment. Tujuan Pengukuran/ Penilaian Kinerja Pengukuran kinerja merupakan bagian penting dari proses pengendalian manajemen.26 yang tidak dapat dipisahkan dan saling tergantung satu sama lainnya. (Mahmudi. penekanan dan orientasi pengukuran kinerjanya pun terdapat perbedaan. 2) Mencatat dan mengakui hasil kerja seseorang karyawan. baik organisasi publik maupun swasta. 2008:14) Menurut Agus Sunyoto (1999) Dalam Sampara Lukman (2004:43) tujuan penilaian adalah : 1) Meningkatkan saling pengertian antara keryawan tentang persyaratan kinerja. c. Tujuan dilakukan penilaian kinerja sektor publik adalah : 1) Mengetahui tingkat ketercapaian tujuan organisasi.

. 4) Mendefinisikan atau merumuskan kembali sasaran masa depan. perencanaan dan pengembangan pegawai). dan kemudian menyetujui rencana itu jika tidak ada hal yang perlu diubah. pemberian bonus dan pemberian insentif). kenaikan tunjangan. dapat dikelompokkan menjadi : 1) Perbaikan prestasi kerja 2) Keputusan staffing atau manajemen karier (kenaikan pangkat.27 3) Memberikan peluang kepada karyawan untuk mendiskusikan keinginan dan aspirasinya dan meningkatkan keperdulian terhadap karier atau terhadap pekerjaan yang diembannya sekarang. 4) Feedback atau umpan balik 5) Penelitian kepegawaian secara keseluruhan 6) Analisis kebutuhan pendidikan dan pelatihan Tujuan-tujuan tersebut harus jelas dan tegas sehingga memanfaatkan penilaian menjadi lebih dapat dirasakan oleh para pegawai yang bersangkutan. 6) Sebagai dasar dalam pengambilan keputusan yang digunakan untuk prestasi. sehingga termotivasi untuk berprestasi sesuai dengan potensinya. pemberhentian dan besarnya balas jasa. Dari beberapa tujuan penilaian kinerja di atas. pensiun. 5) Memeriksa rencana pelaksanaan dan pengembangan yang sesuai dengan kebutuhan pelatihan. pemberhentian/PHK. khusus rencana diklat. 3) Penyelesaian konpensasi (kenaikan gaji. mutasi. promosi.

American Marketing Assosiasion (1960) mengartikan pelayanan sebagai kegiatan memberikan keuntungan/kepuasan kerja atas barang maupun jasa yang dijual.28 3. Pelayanan adalah suatu kegiatan atau urutan kegiatan yang terjadi dalam interaksi langsung antara seseorang dengan orang lain atau mesin. bahkan secara ekstrim dapat dikatakan bahwa pelayanan tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia. Sedangkan menurut Kotler dan Bloom (1984) berpendapat bahwa pelayanan adalah setiap kegiatan yang menguntungkan dalam suatu kumpulan atau kesatuan. Definisi Pelayanan Pelayanan erat hubungannya dengan kehidupan manusia.Ia tidak terkait pada penjualan suatu produk atau pelayanan lain. (Sampara Lukman. Secara fisik dan menyediakan kepuasan pelanggan. . Pelayanan Publik a. 2004:6). dan menawarkan kepuasan meskipun hasilnya tidak terikat pada suatu produk secara fisik (Sampara Lukman (2004:6)). Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pelayanan adalah suatu kegiatan atau suatu urutan kegiatan yang terjadi dalam interaksi langsung dengan orang-orang dan menyediakan kepuasan bagi pengguna. Kemudian menurut Stanton (1974) mengemukakan bahwa pelayanan adalah kegiatan-kegiatan yang tidak jelas namun menyediakan kepuasan konsumen atau pemakai industri .

Manajemen Pelayanan Manajemen mencakupkegiatan untuk mencapai tujuan . Dalam Sampara Lukman. c. 2004:149). utamanya yang melaksanakan pelayanan kepada anggota masyarakat pengguna. prinsip tersebut adalah sebagai berikut : a) Program pelayanan harus merupakan program yang berlangsung terus dengan tujuan untuk melayani seluruh anggota masyarakat. d) Program pelayanan harus merupakan usaha bersama semua anggota organisasi.29 b. Prinsip-Prinsip Pelayanan Pada suatu organisasi dalam pemberian pelayanan harus berdasarkan pada prinsip-prinsip yang telah ditentukan. . Menelaah tentang prinsip tersebut maka dapat disimpulkan bahwa prinsip itu dapat bermanfaat bagi semua jenjang (hirarki) yang ada pada suatu organisasi. e) Program pelayanan harus merupakan bagian yang vitas dari pada program-program keseluruhan organisasi (Djumhur dan Surya. dilakukan oleh individu-individu yang menyumbang upayanya yang terbaik melalui tindakan-tindakan yang telah ditetapkan sebelumnya. b) Program pelayanan harus mudah dalam pengaturan dan tata laksananya c) Program pelayanan harus dipersiapkan untuk menemukan dan memecahkan masalah yang dihadapi baik oleh organisasi maupun oleh masyarakat.

manusiawi dan konseptual. psikologis.memahami bagaimana mereka harus melakukannya dan mengukur efektivitas dari usaha-usaha mereka. memahami bagaimana mereka harus melakukan.Manajemen sebagai suatu ilmu menekankan perhatian pada keterampilan dan kemampuan manajerial yang diklasifikasikan menjadi kemampuan/keterampilan teknikal. Terry. 2) Manajemen sebagai proses yaitu dengan menentukan langkah yang distematis dan terpadu sebagai aktivitas manajemen 3) Manajemen sebagai seni tercermin dari perbedaan gaya (style) seseorang dalam menggunakan atau memberdayakan orang lain untuk mencapai tujuan. . sosialm politis dan sumbangan-sumbangan teknis serta pengendalian (GR. 2008). Kemudian menurut Engkoswara dan Aan Komariayah (2010:85). menetapkan cara bagaimana melakukannya. mengartikan manajemen kedalam tiga fokus yaitu : 1) Manajemen sebagai suatu kemampuan atau keahlian yang selanjutnya menjadi cikal bakal manajemen sebagai suatu profesi. Menurut Fayol dalam Sampara Lukman (2004:4) manajemen adalah fungsi universal yang dapat ditentukan menurut berbagai proses yang dilaksanakan manajer. Selanjutnya perlu menerapkan dan memelihara pula suatu kondisi lingkungan yang memberikan responsi ekonomis.menetapkan cara bagaimana melakukan.30 Hal tersebut meliputi pengetahuan tentang apa yang harus meteka lakukan.

Standar pelayanan merupakan ukuran yang dibakukan dalam penyelenggaraan pelayanan publik yang wajib ditaati oleh pemberi dan atau penerima pelayanan. mengurus. menyiapkan. efektif dan efesien. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan manajemen adalah suatu proses yang kontiniu yang bermuatan kemampuan dan keterampilan khusus yang dimiliki oleh seseorang untuk melakukan suatu kegiatan baik secara perorangan ataupun bersama-sama orang lain atau melalui orang lain dalam mngkoordinasikan dan menggunakan segala sumber untuk mencapai tujuan organisasi secara produktif. menyelesaikan keperluan. membantu. kebutuhan seseorang atau sekelompok orang d. Standar dan Pola Penyelenggaraan Pelayanan Publik Setiap penyelenggaraan pelayanan publik harus memiliki standar pelayanan dan dipublikasikan sebagaiu jaminan adanya kepastian bagi penerima pelayanan.31 Kemudian menurut Gibson dalam Engkoswara dan Aan Komariayah (2010:87) manajemen sebagai suatu proses dimana usaha individu dan kelompok dikoordinasikan untuk mencapai tujuan bersama. . Dari uraian mengenai pengertian manajemen maupun pengertian pelayanan maka dapat penulis kemukakan bahwa yang dimaksud dengan manajemen pelayanan adalah suatu proses yang kontiniu yang bermuatan kemampuan dan keterampilan khusus yang dimiliki oleh seseorang untuk melayani.

keterampilan. keahlian. 2) Waktu penyelesaian Waktu penyelesaian yang ditetapkan sejak saat pengajuan permohonan sampai dengan penyelesaian pelayanan termasuk pengaduan. 4) Produk pelayanan Hasil pelayanan yang akan diterima sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. 6) Kompetensi petugas pemberi pelayanan Kompetensi petugas memberi pelayanan harus ditetapkan dengan tepat berdasarkan pengetahuan. 3) Biaya pelayanan Biaya/tarif pelayanan termasuk rinciannya yang ditetapkan dalam proses pemberian pelayanan. 5) sarana dan prasarana Penyediaan sarana dan prasarana pelayanan yang memadai oleh penyelenggaraan pelayanan publik. sikap dan perilaku yang dibutuhkan.32 Standar pelayanan sekurang-kurangnya meliputi : 1) Prosedur pelayanan Prosedur pelayanan yang dibakukan bagi pemberi dan penerima pelayanan termasuk pangaduan. Sedangkan pola penyelenggaraan dari pelayanan publik adalah : .

3) Terpadu a) Terpadu satu atap Pola pelayanan terpadu satu atap diselenggarakan dalam satu tempat yang meliputi berbagai jenis pelayanan yang tidak mempunyai keterkaitan proses dan dilayani melalui bebera pintu. instansi yang melakukan pelayanan publik dapat mengembangkan pola .33 1) Fungsional Pola pelayanan publik diberikan oleh penyelenggara pelayanan. b) Terpadu satu pintu Pola pelayanan terpadu satu pintu diselenggarakan pada satu tempat yang meliputi berbagai jenis pelayanan yang memiliki keterkaitan proses dan dilayani melalui satu pintu. Terhadap jenis pelayanan yang sudah dekat dengan masyartakat tidak perlu disatu atapkan. Selain pola pelayanan sebagaimana tersebut. fungsi dan kewenangnya. 2) Terpusat Pola pelayanan publik diberikan secara tunggal oleh penyelenggara pelayanan berdasarkan pelimpahan wewenang dan penyelenggaraan pelayanan terkait lainnya yang bersangkutan. c) Gugus Tugas Petugas pelayanan publik secara perorangan atau dalam bentuk gugus tugas ditempatkan pada instansi pemberi pelayanan dan lokasi pemberian pelayanan tertentu. sesuai dengan tugas.

34 penyelenggaraan pelayanannya sendiri dalam rangka upaya menemukan dan menciptakan inovasi peningkatan pelayanan publik. sehingga pihak-pihak yang terlibat juga sangat luas (GanieRohman. e. tetapi juga peran berbagai actor di luar pemerintah dan Negara. (Widodo. Good dalam Ggor Govermance menurut LAN (2000) mengandung dua pengertian . dan kedua nilai-nilai yang dapat meningkatkan kemampuan rakyat dalam pencapaian tujuan (nasional) kemamdirian. tetapi untuk melayani masyarakat serta menciptakan kondisi yang memungkinkan setiap anggota masyarakatnya mengembangkan kemampuan dan kreativitasnya demi mencapai tujuan bersama (Rasyid. Pengembangan pola penyelenggaraan pelayanan publik dimaksud mengikuti prinsip-prinsip sebagaimana yang telah ditetapkan. Konsep Govermance melibatkan tidak sekedar pemerintah dan Negara. 2001:295). Hakekatnya pemerintahan adalah pelayanan pada masyarakat sehingga birokrasi publik berkewajiban dan bertanggung jawab untuk memberikan layanan publik yang professional. Good Govermance dan Pelayanan Publik Pemerintahan tidak diadakan untuk melayani dirinya sendiri. 2001:269). pertama nilai-nilai yang menjunjung tinggi keinginan atau kehendsak rakyat. Lebih jauh LAN . pembangunan berkelanjutan. 2000 dalam Widodo. 1998:139). dan keadilan social.

35 mengemukakan bahwa Good Governance berorientasi ideal Negara untuk pencapaian tujuan nasional dan berorientasi pada pemerihan yang berfungsi secara ideal. 2001:269). Pelayanan publik dapat diartikan sebagai pemberian layanan (melayani) keperluan orang atau masyarakat yang mempunyai kepentingan pada organisasi itu sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah ditetapkan (Widodo. serta efektif dan efesien. interaksi yang kondusif antara domain-domain Negara. sector swasta dan masyarakat. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pelayanan publik adalahpemberian layanan (melayani) keperluan orang atau . Berdasarkan uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa goord govermance adalah penyelenggaraan pemerintah Negara yang solid dan bertanggung jawab. Pelayanan Publik (Publik service) oleh birokrasi publik adalah merupakan salah satu perwujudan dari fungsi aparatur Negara sebagai abdi masyarakat disamping sebagai abdi Negara. yaitu efektif dan efesien dalam upaya pencapaian tujuan nasional. Dalam UU Nomor 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik pada Pasal 1 huruf 1 dikemukakan bahwa Pelayanan Publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundangundangan bagi setiap warga Negara dan penduduk barang dan jasa dan atau pelayanan administratif yang disediakan leh penyelenggaraan pelayan publik. dengan menjaga kesinergian.

fungsi dan kewenangannya. 4) Pola pelayanan secara terpuisat. dengan melakukan revitabilitas birokrasi publik (aparatur pemerintah daerah). LAN (1998) dalam Widodo (2001) menguraikan berbagai macam pola dalam penyelenggaraan pelayanan umum antara lain sebagai berikut : 1) Pola pelayanan fungsional.36 masyarakat yang mempunyai kepentingan pada organisasi itu sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah ditetapkan. yaitu pola pelayanan umum yang diberikan secara tunggal oleh suatu instansi pemerintah berdasarkan pelimpahan wewenang dari instansi pemerintah terkait lainnya yang bersangkutan. yaitu pola pelayanan umum yang diberikan oleh suatu instansi pemerintah sesuai dengan tugas. yaitu pola pelayanan umum yang dilakukan oleh suatu instansi pemerintah yang bertindak selaku . pelayanan publik dapat dapat dikatakan dengan baik mudah (profesionalisme) manakala masyarakat mendapatkan pelayanan dengan prosedur yang tidak panjang. 2) Pola pelayanan satu pintu. Dengan kata lain. 3) Pola pelayanan satu atap yaitu pola pelayanan umum yang dilakukan secara terpadu pada suatu tempat/tinggal oleh beberapa instansi pemerintah yang bersangkutan sesuai kewenangannya masing-masing. biaya murah. waktu cepat dan masyarakat sedikit atau hamper tidak ada keluhan.

dalam UU Nomor 25 tahun 2009 dalam pasal 21 menyebutkan bahwa komponen standar kurangnya meliputi : 1) Dasar hukum 2) Persyaratan. mekanime dan prosedur. 4) Jangka waktu penyelesaian. 6) Produk pelayanan. 2000:121) Disamping memerlukan suatu pola dalam upaya peningkatan profesionalime pelayanan puiblik diperlukan pula adanya standar pelayanan. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penyelenggara pelayanan publik dapat dilakukan dengan berbagai macam pola. pelayanan sekurang- . 3) Sistem. 5) Biaya/tarif. yang dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan profesionalitas dalam pelayanan publik. pelayanan publik yang menjadi semakin relevan dalam situasi untuk bangkit dari krisis ekonomi maupun politik. Sebagai instrument utama untuk pemberdayaan publik. Langkah-langkah untuk meningkatkan kinerja aparat pemerintah tidak dapat ditunda lagi dalam rangka mewujudkan aparat yang bersih dan mampu memberikan pelayanan prima kepada masyarakat (Sudjatmo.37 koordinator terhadap pelayanan instansi pemerintah lainnya yang terkait dengan bidang pelayanan umum yang bersangkutan.

13) Jamunan keamanan dan keselamatan pelayanan dalam bentuk kometmen untuk memberikan rasa aman. 10) Penanganan pengaduan. 14) Evaluasi kinerja pelaksana. saran dan masukan. Masyarakat sangat sulit . bebas dari bahaya dan resiko keragu-raguan dan. 9) Pengawasan internal. prasarana dan atau fasilitas. Untuk itu perlu ditingkatkan kualitas pelayanan sesuai dengan keinginan masyarakat pengguna jasa layanan. Masyarakat pengguna jasa sering dihadapkan pada begitu banyak kepastian ketika mereka berhadapan dengan birokrasi. 11) Jumlah pelaksana. Pelayanan publik pada hakekatnya sangat sulit dikenal dengan baik oleh masyarakat.38 7) Sarana. Berdasarkan uraian di atas maka Dinas Perhubungan dan Komunikasi Kabupaten Barito Kuala sebagai organisasi publik yang memberikan pelayanan publik harus dapat memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakatnya sebagai pengguna jasa pelayanan yang baik kepada masyarakatnya sebagai pengguna jasa pelayanan. 12) Jaminan pelayanan yang memberikan kepastian pelayanan dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan. Masyarakat sulit untuk memahami pelayanan yang diselenggarakan oleh birokrasi publik. 8) Kopetensi pelaksana.

dan semakin berani untuk melakukan control terhadap apa yang dilakukan oleh pemerintahnya (Widodo. Kondisi masyarakat saat ini telah berkembang sangat dinamis. semakin kritis. 2000). Pelayanan publik yang efektif menurut (Widodo. dan begitu pula dengan harga pelayanan (Agus Dwiyanto. Masyarakat semakin berani untuk mengajukan tuntutan. dengan tingkat kehidupan yang semakin baik sebagai indikasi “empowering” yang dialami masyarakat (Thoha. Kondisi masyarakat di atas dapat disikapi dengan birokrasi publik yang dapat memberikan layanan publik yang lebih professional. sederhana.1996:213).39 memperkirakan kapan pelayanan itu bias diperoleh. f. tepat waktu. terbuka. Keadaan Aparatur Pelayanan Publik Aparatur pelayanan publik pada penelitian ini dapat didefinisikan sebagai orang-orang yang bekerja pada suatu birokrasi pemerintah yang memiliki wewenang dan atau tanggung jawab tertentu dalam penyelenggaraan kegiatan pelayanan yang bertujuan . keinginan dan aspirasinya kepada pemerintah. 2001:271) adalah pelayanan publik yang lebih mengutamakan pada pencapaian terhadap tujuan dan sasaran. efektif. trasparan. efesien. 1998:119). responsive dan adaptif serta sekaligus dapat membangun “kualitas manusia” dalam arti meningkatkan kapasitas individu dan masyarakat untuk secara aktif menentukan masa depannya sendiri (Effendi. 2001:270).

3) netralitas Pegawai Negeri. 4) Penerapan multi partai dalam sistem politik. Reformasi administrasi publik mengagendakan terwujudnya good salah satunya adalah yaitu sistem bebas. Dalam hubungan ini setiap aparat birokrasi pemerintah perlu senantiasa mengembangkan rasa kepekan (responsiveness) terhadap kepentingan masyarakat (publik interest) maupun masalah-masalah masyarakat (publik affairs) yang harus dipecahkan. bertanggung jawab (responsibility) dalam pelaksanaan tygas pekerjaan apapun pada livel manapun dan resresentatif .40 memenuhi kebutuhan tertentu masyarakat luas yang bagi publik pengguna yang terdiri atas jasa dan atau merupakan berkepentingan terhadap pelayanan tersebut. 5) Perdagangan implikasinya. 1998:29). tantangan yang harus dihadapi aparatur menurut Suriadi (2004:68) adalah 1) penerapan otonomi daerah 2) globalisasi informasi. dan Semangat reformasi dengan segala govermance penyelenggaraan pemerintah yang bersih. terutama yang terjadi di Indonesia saat ini tantangan yang perlu mendapatkan perhatian dan penyesuaian-penyesuaian dalam penerapan strategi pelayanan publik. Pelaksanaan pelayanan publik tidak terlepas dari perubahan dan perkembangan kondisi ekologi administrasi publik. bertanggung jawab dan professional yang ditandai adanya aparat birokrasi pemerintah yang senantiasa mengedepankan terpenuhinya Publik Accountability and responsibility ( Islamy. Berkaitan dengan strategi pembangunan.

senantiasa berupaya menghasilkan sesuatu yang tepat (effectiveness) dan melakukan tindakan dengan cara yang tepat (efficiency) sebagai perwujudan tanggung jawab yang bersifat obyektif (obyektive responsibility). Kebijakan publik merupakan “whatever govermance choose to do or not to do (segala sesuatu dipilih oleh pemerintah yang dikerjakan ataupunyang tidak dikerjakan)” (Widodo. Disamping adanya tanggung jawab yang bersifat subyektif (subjective responsibility) yaitu sikap tidak membedakan (equality) kelompok sasaran (target group) pembangunan dan senantiasa berupaya mewujudkan keadilan (equity) serta adanya keterbukaan/kejujuran (fairmess) (Islamy. Kebijakan Pelayanan Publik dan Kepemimpinan Kebijakan pelayanan publik sebagaisebuah hasil keputusan untuk penyelenggaraan pelayanan publik dapat memberikan pengaruh pada efektivitas pelayanan publik. 2001:271 ). Lebih lanjut perlu ditekankan bahwa good govermance dapat terwujud apabila setiap aparat birokrasi pemerintah dalam pelaksanaan tugas senantiasa dilandasi pertimbangan-pertimbangan ekonomi (economy). . 1998:31). g.41 (representativeness) dakam pelam pelaksana tugas yang berarti tidak menyalahgunakan wewenang (power abose) ataupun melampaui wewenang (excessive power) yang dimiliki baik ditinjau dari berbagai peraturan yang berlaku maupun nilai-nilai etika pemerintahan.

dkk. dkk (dalam Widodo.Berdasarkan pengertian kebijakan publik dan pelayanan publik di atas. maka dapat disimpulkan bahwa kebijakan pelayanan publik adalah segala sesuatu yang dipilih untuk dikerjakan ataupun tidak dikerjakan oleh pemerintah atau organisasi pemerintah (dalam konteks penelitian ini adalah Dinas Perhubungan dan Komunikasi Kabupaten Barito Kuala). sebagai pemberian (melayani) keperluan orang atau masyarakat yang mempunyai kepentingan kepada organisasi itu sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah ditetapkan. Pelayanan Publik dapat diartikan sebagai pemberian (melayani) keperluan orang atau masyarakat yang mempunyai kepentingan kepadaorganisasi itu sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah ditetapkan (Widodo. 2001:271).42 Selanjutnya Dye menyatakan apabila pemerintah memilih untuk melakukan kebijakan publik maka harusmengutamakan goal (objektifnya) dan merupakan tindakan keseluruhan bukan hanya perwujudan keinginan pemerintah atau pejabat pemerintah saja. . menurut “ensiklopedia administrasi “susunan The Liang Gie. Kesimpulan tersebut memberikan makna bahwa kepemimpinan dan pengambilan keputusan dalam rangka pencapaian tujuan organisasi pelayanan publik merupakan substansi utama kebijakan pelayanan publik Kepemimpinan atau ledership. 2001) diartikan .

Kepemimpinan menurut Terry (dalam Thoha 2001:227) diartikan sebagai aktivitas diarahkan untuk mempengaruhi orang agardapat mencapai tujuan organisasi. maupun kelompok dalam mencapai tujuan organisasi. Pendapat serupa dikemukakan oleh Kartno (Widodo. melalui aktivitas komunikasi yang terarah untuk mencapai suatu tujuan-tujuan tertentu. Kepemimpinan dalam organisasi memiliki peranan penting untuk mencapai tujuan organisasi.Pemimpin dengan otoritas yang dimikinya diharapkan mampu untukmemimpin bawahan serta mengorganisir bawahan dan meminimalisir perbedaan kepentingan (Conflict interst) antara ambisi individu.43 Proses pengaruh mempengaruh mempengaruhi antar pribadi atau antar organisasi dalam suatu situasi tertentu. 2001:71) yang memaparkan bahwa kepemimpinan adalah : . Pengaruh dan kemampuan pemimpin dalam pendapat tersebut sangat dominan bagi tercapainya tujuan organisasi.Melalui kepemimpinan organisasi dapat mengarahkan segala sumber daya untuk mencapai tujuan.Kepemimpinan menciptakan yang responsive sangat diperkukan untuk kondisi yang kondusif bagi kinerja organisasi dan menggerakan bawahan. Dalam kepemimpinan selalu terdapat unsure pimpinan yaitu yang mempengaruhi tingkah laku pengikutnya atau para pengikutnya dalam suatu situasi.

kepemimpinan terletak pada.44 Kemampuan mendorong dan mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu guna mencapai tujuan bersama dimana kepemimpinan tersebut harus memenuhi kopetensi tertentu agar proses pencapaian tujuan organisasi menjadi lebih mudah.Perbedaan mendasar antara kedua gaya.Kompetensi tersebut meliputi :akseptensi/penerimaan dari kelompok dan pemilikan keahlian khususnya pada satu situasi khusus. Dalam kepemimpinan terdapat berbagai bentuk kepemimpinan antara lain Kepemimpinan Demokratis. atau seni mempengaruhi orang lain baik perorangan mapun kelompok. yang dikaitkan dengan kekuatan personil dan terdapat partisipasi bawahan dalam permasalahan organisasi.Lebih lanjut Thoha (1998:229) memaparkan bahwa kepemimpinan adalah kegiatan untuk mempengaruhi perilaku orang lain. Kepemimpinan Otokratis. didasarkan kepada kekuatan posisi dan pengguna otoritas. kedisiplinan tertanamdengan kesukarelaan. Berdasarkan berbagai pendapat tersebut maka dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan seseorang pemimpin untuk menempatkandirinya sebagai agen perubahan bagi organisasi yang dapat mempengaruhi perilaku dan berdampak terhadap peningkatan kinerja organisasi. kepemimpinannya dihormati dan disegani. tanggung jawab . kepemimpinan demokratis terdapat kerjasama dalam bekerja.

2001:73). keperibadian dan karakter fisik. 2001:72). hal lain persyaratan yang harus dipenuhi oleh seorang pemimpin adalah vitalitas fisik dan stamina. kemampuan. pengawasan. mengarahkan dan memotivasi bawahan untuk menjalankan tugas dan fungsi masing-masing guna mencapai tujuan organisasi. semangat tinggi dalam meraih kesuksesan. berkompetensi dalam bidangnya. dkk (1997:11) bahwa kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin setidak-tidaknya memenuhi 3 (tiga) unsure berikut : Intelegensial. kemampuan beradaftasi dan fleksibel. Sedangkan menurut pendapat Utomo dan Abidin dalam (Widodo. C. intelegens dan kearifan. rasa tanggung jawab yang besar. Terbentuknya kepemimpinan yang ideal dan demokratis tersebut tentunya tidak terlepas dari kompetensi tertentu.menurut Gibson. aspiratif. Model Berpikir Secara sederhana model berpikir dalam Efektivitas kinerja dalam meningkatkan pelayanan publik pada Dinas Perhubungan dan Komunikasi Kabupaten Barito Kuala adalah sebagai berikut : .45 ada di tangan seluruh anggota dan komunikasi bersifat dua arah serta semangat kooperatif yang tinggi (Widodo. Berdasarkan berbagai pendapat tersebut di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan seorang pemimpin dalam mempengaruhi.

Kerangka Berpikir Berdasarkan gambar di atas efektivitas kinerja merupakan keberhasilan Pegawai Dinas Perhubungan dan Komunikasi Kabupaten Barito Kuala dalam melakukan tugas pokoknya yaitu : dibidang perhubungan dan komunikasi didasarkan atas pengetahuan. berperilaku serta keramah tamahan yang diperlihatkan saat memberikan pelayanan. cepat. Berdasarkan keseluruhan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa efektivitas kinerja adalah kemampuan organisasi untuk mencapai tujuan yang disesuaikan pada model yang .46 Efektivitas Kinerja Pelayanan Publik Pengetahuan Ketepatan Sikap Kecepatan Kemampuan Perilaku Keramahtamahan Gambar 1. sikap dan kemampuan sehingga dapat meningkatkan pelayanan kepada masyarakat yang mnenginginkan adanya pelayanan yang tepat.

47 ditetapkan. .dalam pelayanan Publik Dinas Perhubungan dan Komunikasi Kabupaten Barito Kuala pada konteks penelitian ini di ukur dari indikator-indikator yang diterapkan pada Dinas Perhubungan dan Komunikasi Kabupaten Barito Kuala. Dinas Perhubungan dan Komunikasi Kabupaten Barito Kuala sehingga semua pihak yang terlibat.

Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada Dinas Perhubungan dan KomunikasiKabupaten Barito Kualadengan objek penelitian Efektivitas Pelayanan Publik. Bagian Sekretaris. Struktur Organisasi Dinas Perhubungan dan Komunikasi Kabupaten Barito Kuala merupakan salah satu Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Barito Kuala dimana secara structural Kepala Dinas bertanggung jawab langsung kepada Bupati Kabuaten Barito Kuala.48 BAB III DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN A. B. membawahi 48 . Bidang LLAJ. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Perhubungan Kabupaten Barito Kuala adalah sebagai berikut : a. Kepala Dinas Perhubungan dan Komunikasi b. Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Barito Kuala Nomor 15 tahun 2008. tentang Pembentukan. Ciri Karakteristik 1. membawahi 1) 2) Sub Bag Umum dan Kepegawaian Sub Bag Program dan Keuangan c.Waktu penelitian dilaksanakan selama 4 (empat) bulan terhitung sejak dikeluarkannya SK Bimbingan sampai Proses pengajuan sidang.

Tugas Pokok. 2) Dalam melaksanakan tugasnya Dinas Perhubungan dan Komunikasi. . susunan organisasi dan tata kerja Dinas Perhubungan Kabuopaten Barito Kuala. b. Bidang Opsdal. integrasi dan singkronisasi baik dalam lingkungan masing-masing maupun antar satuan organisasi sesuai dengan tugas masing-masing. Bidang LLASL. Tata Kerja 1) Dinas Perhubungan dan Komunikasi berdasarkan Peraturan Daerah nomor 15 tahun 2008 tentang Pembentukan. Kedudukan. Wajib menerapkan prinsip koordinasi. dan Fungsi a. Tata Kerja. Kedudukan Dinas Perhubungan dan Komunikasi Kabupaten Barito Kuala adalah unsur pelaksana Pemerintah Daerah dalam menyelenggarakan kewenangan Pemerintah Daerah kewenangan pemerintah daerah.49 1) Seksi LL dan Angkutan 2) Seksi Teknik Sarana d. membawahi 1) Seksi LL dan Angkutan 2) Seksi Keselamatan dan Sarana e. membawahi 1) Seksi APSLAP 2) Seksi Pengendalian dan Pengamanan 2. Bidang Komunikasi membawahi 1) Seksi Komunikasi 2) Seksi Teknik Sarana f.

2) Melaksanakan segala tugas yang diberikan Kapala Daerah berkaitan dengan kewenangan yang dimiliki daerah ini dibidang Perhubungan dan komunikasi sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Barito Kuala. d.50 dalam tugasnya berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah. dengan keadaan geografis yang dikelilingi oleh sungai yang .284 km² jumlah penduduk sebanyak 262. pemantauan dan evaluasi sarana dan prasarana perhubungan. yang luas wilayahnya hanya 8% atau sebesar 3. 4) Pengelolaan urusan tata usaha dan rumah angga Dinas. Tugas Pokok 1) Menyelanggarakan segala urusan dan kegiatan dalam rangka penyelenggaraan kegiatan Perhubungan.947 jiwa. Keadaan Wilayah Kabupaten Barito Kuala merupakan salah satu Kabupaten yang berada di wilayah Pemerintahan Daerah Kalimantan Selatan. Kondisi Objektif 1. Fungsi 1) Penentuan kebijaksanaan yang mencakup penetapan tujuan dan strategis urusan pemerintahan dalam bidang perhubungan. C. c. 3) Pemeliharaan. 2) Penentuan persyaratan teknis sarana dan prasarana perhubungan.

dimana Kabupaten Barito Kuala Di Wilayah Kabupaten Barito Kuala peranan sungai sangat strategis sekali.217. baik untuk kegiatan ekonomi. 5 Kecamatan.10 km² atau sebesar 25% dengan pusatnya di Tamban. Sub Wilayah Pembangunan II dengan luas 441. daerah Propinsi maupun daerah Kabupaten/Kota.51 memutar mengelilingi Kabupaten. Kabupaten Barito Kuala terbagi mejadi 3 Sub wilayah Pembangunan yakni : a. yang pengangkatannya telah diatur dalam undangundang yang berlaku. karena dari 17 Kecamatan yang ada.72 km² dengan pusat di Berangas meliputi 3 kecamatan. Sub Wilayah Pembangunan ini ditujukan untuk mempermudah pelaksanaan pembangunan dan koordinasi dengan berbagai instansi terkait.73 km² atau sebesar 51.25% dengan pusatnya Marabahan yang meliputi 8 kecamatan. sekolah maupun untuk kegiatan sehari-hari. Keadaan Pegawai Pegawai Negeri Sipil adalah seseorang yang bekerja pada instansiinstansi pemerintah baik pemerintah pusat. Sub Wilayah Pembangunan III dengan luas 594. b. . 10 kecamatan diantaranya menggunakan transportasi sungai sebagai trasportasi pokok. Panjang sungai yang mengelilingi Kabupaten Barito Kuala sepanjang 132 Km. disamping itu pembagian Sub Wilayah ini diakibatkan oleh factor geografis. Sub Wilayah Pembangunan I dengan luas wilayah 1. c. 2.

52 Kualitas dan kuantitas pegawai dalam suatu instansi pemerintah merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap kelangsungan pelaksanaan kerja. Untuk memberikan gambaran mengenai keadaan secara keseluruhan personil/pegawai negeri sipil Dinas Perhubungan dan Komunikasi Kabupaten Barito Kuala dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini : Tabel 1.24 2. sedangkan untuk golongan/kepangkatan IV ada sebanyak 3 orang atau sebesar 5.08 37.29 100 Sumber : Dinas Perhubungan dan Komunikasi Kabupaten Barito Kuala. 2010 Dari tabel tersebut di atas maka dapat dilihat bahwa pada Dinas Perhubungan dan Komunikasi Kabupaten Barito Kuala jumlah pegawai seluruhnya berjumlah 59 orang yang terbagi dalam 4 kepangkatan.29 54. sehingga ketersediaan baik kualitas maupun kuantitas yang memadai sangat diperlukan sekali.08%. Kepangkatan yang paling dominan atau paling banyak adalah kepangkatan/Golongan II yang berjumlah 32 orang atau sebesar 54. Keadaan Pegawai Dinas Perhubungan dan Komunikasi Kabupaten Barito Kuala No 1 2 3 4 Kepangkatan/Golongan IV III II I Jumlah Jumlah (Orang) 3 22 32 2 59 Persen (%) 5. Pegawai yang mempunyai kepangkatan III ada sebanyak .28%.

29%. maka akan jelas terlihat bahwa tingkat kualitas yang dimiliki oleh pegawai masih harus lebih ditingkatkan.64 11.69 52. Pegawai yang memiliki pendidikan S2 . Kemudian jumlah pegawai kalau di lihat dari aspek pendidikan.54 11.69 18. Tabel 2 Keadaan Pegawai Dinas Perhubungan dan Komunikasi Kabupaten Barito Kuala No 1 2 3 4 5 6 7 S2 S1 Pendidikan Formal Jumlah (Orang) 1 11 7 1 31 6 1 59 Persen (%) 1.29% dan yang mempunyai golongan kepangkatan I ada sebanyak 2 orang atau sebesar 2.53 22 orang atau sebesar 37.69 100 DIII DII SLTA Sederajat SLTP Sederajat SD Sederajat Jumlah Sumber : Dinas Perhubungan dan Komunikasi Kabupaten Barito Kuala.86 1. hal ini dikarenakan kualitas pendidikan yang dimiliki masih relative rendah.86 1. 2010 Dari tabel tersebut di atas maka dapat dilihat bahwa pada Dinas Perhubungan dan Komunikasi Kabupaten Barito Kuala sampai dengan bulan Agustus 2010 jumlah pegawai seluruhnya berjumlah 59 orang yang terbagi dalam 7 jenis pendidikan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table 2.

Pegawai yang memiliki pendidikan S1 ada sebanyak 11 orang atau sebesar 18. Berdasarkan kenyataan tersebut di atas dapat dikemukakan bahwa keadaan objektif Kualitas SDM pegawai Dinas Perhubungan dan Komunikasi Kabupaten Barito Kuala masih belum memadai karena dari 59 orang pegawai 38 orang atau sebesar 66.54 hanya sebanyak 1orang atau sebesar 1.86 dan yang memiliki pendidikan SLD ada sebanyak 1 orang atau sebesar 1. yang mempunyai pendidikan DIII ada sebanyak 7 orang atau sebesar 11.67% atau sebanyak 38 orang memiliki pendidikan SLTA ke bawah.64%.54% atau sebanyak 31 orang. Sedangkan yang memiliki pendidikan DII ada sebanyak 1 orang atau sebesar 1.69%.69. .69%. Dan yang memiliki pendidikan SLTA sederajat cukup banyak yaitu mencapai 52. sedangkan yang memiliki pendidkan SLTP sederajat ada sebanyak 6 orang atau sebesar 11.86%.

menggunakan pendekatan kualitatif. KepalaSatker/Kepala Terminal/Kepala Kantor PKB. Pimpinan yaitu 1 Orang Kepala Dinas. tetapi dengan metode non statistic. analisis data sekunder dan wawancara mendalam secara langsung (indepth interview) Pengujian pendekatan deskriptif kualitatif pada penelitian ini tidak dilakukan secara statistic. masyarakat dan lain sebagainya) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak sebagaimana adanya. 9 orang Kepala Seksi/Kepala Sub Bagian. Metode Penelitian Jenis penelitian yang diterapkan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian studi kasus dengan penyajian bersifat deskriptif. indtitusi. B. yaitu dengan penjelasan argumentative yang memuat proses penalaran dan penafsiran logis. Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan/melukiskan keadaan subjek atau objek penelitian (individu. Informasi yang dibutuhkan dalam upaya menjawab pertanyaan penelitian digali dari data primer dengan menggunakan metode deskriptif . 1 Orang Sekretaris. 6 Orang . Unit Analisa Unit analisa dalam penelitian adalah seluruh pegawai Dinas Perhubungan dan Komunikasi yang seluruhnya terbagi dalam 2 katagori 1. 4 orang Kepala Bidang.55 BAB IV METODOLOGI PENELITIAN A.

Jabatan Pegawai di Dinas Perhubungan dan Komunikasi Kabupaten Barito Kuala No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kepala Dinas Sekretaris Kepala Bidang Kepala Seksi Kepala Sub Bag Kepala Satker LLASL Kepala Kantor PKB Handil Bakti Kepala Terminal Handil Bakti Staf Total Jabatan Jumlah (Orang) 1 1 4 7 2 4 1 1 38 59 Sumber : Dinas Perhubungan dan Komunikasi Kabupaten Barito Kuala. Kepala Bidang LLAJ sebanyak 1 orang 2. Staf Untuk lebih jelasnya unit analisa dalam penelitian ini dilihat tabel berikut : Tabel 3. Dalam penelitian ini penulis melakukan dengan cara porpusive sampling yakni ditentukan terlebih dahulu yang memiliki relevansinya dengan pelayanan publik yakni sebanyak 12 orang terdiri atas : 1. Data Dan sumber Data Data dalam penelitian ini berasal dari data primer berupa hasil wawancara dengan unit-unit analisa yang dapat memberikan fakta yang ada di lapangan.56 2. Kepala Satker LLASL sebanyak 1 orang . 2010 C.

data kepegawaian. Sedangkan Kepala dan Sekretaris Dinas Perhubungan dan Komunikasi Kabupaten Barito Kuala adalah sebagai key informance dalam penelitian ini.Percakapan dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai. kegiatan pelayanan publik. Observasi yaitu informasi serta gambaran empiric tentang data-data yang diperlukan penelitian. data statistic dari laporan kegiatan pelayanan publik. 3.57 3. Data yang dikumpulkan antara lain tentang pegawai. Dokumentasi yaitu metode pengumpulan data primer dan sekunder dengan cara menganalisis dokumen-dokumen dalam bentuk tulisan. Staf Pembantu Operasional sebanya 10 orang Data-data sekunder penulis peroleh dari dokumen-dokumen yang ada di objek penelitian.Untuk itu instrument yang digunakan adalah pedoman . 1. Tehnik wawancara yang dipergunakan adalah wawancara terbuka (Open interview) dengan maksud agar informan tehu bahwa mereka sedang diwawancarai dan mengetahui pula maksud wawancara tersebut. D. dan dokumen lain yang berkaitan dengan tujuan penelitian. 2. Wawancara adalah percakapan langsung dengan maksud untuk dengan mengadakan pengamatan langsung padaobjek memperkuat data skunder yang diperlukan dalam penelitian. Rancangan Pengumpulan Data Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan dengan adalah sebagai berikut.

Penelitian ini lebih diarahkan pada jenis studi kasus. Rancangan Analisa Data Penelitian ini dilakukan berdasarkan wawancara langsung dengan sampel/responden yang mengetahui permasalahan Dinas Perhubungan dan Komunikasi Kabupaten Barito Kuala. F. tapi meliputi analisis dan interprestasi data yang dikumpulkan.Penelitian ini pada dasarnya tidakhanya terbatas pada pengumpulan dan penyusunan data. Jadwal Rencana Penelitian Jadual rencana penelitian ini akan dilaksanakan selama 4 bulan. sehingga hasil analisis ditentukan berdasarkan uraian-uraian fakta di lapangan untuk memperkuat argumentasi yang dapat dijadikan sebagai dasar penarikan kesimpulan. Tehnik analisis data dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik analisis kualitatif.Peranan kunci ini terutama tampak pada saat pengambilan keputusan dalam kegiatan pelayanan publik di Dinas Perhubungan dan Komunikasi. Dengan rencana jadual sebagai berikut : . Dasar pertimbangan adalah pejabat dalamposisi struktural tersebut memegang peranan kunci (key person).58 wawancara (interview quide) yang merupakan penunutun bagi peneliti dalam mengembangkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat terbuka sehingga memberikan kebebasan yang seluas-luasnya bagi informan untuk menyampaikan pendapatnya E.

Pengolahan Bahan 3. Jadual Penelitian Bulan Tahun 2010/2011 Kegiatan Sept Penelitian Pendahuluan 1. Penulisan Tesis 2.59 Tabel 4. Penggandaan Tesis 5. Pengumpulan Bahan 2. Konsultasi Tesis 3. Analisis Bahan Penyusunan Tesis 1. Perbaikan Tesis 4. Ujian Tesis 3. Pengerahan Tesis Okt Nop Des Jan Pebr . Seminar Proposal 3. Penyusunan Proposal 2. Perbaikan Proposal Pengumpulan dan Pengolahan Data 1.

60 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful