P. 1
Etika&Filsafat Kom.ut

Etika&Filsafat Kom.ut

4.7

|Views: 15,797|Likes:
Published by ang9a
ringkasan buku Etika dan Filsafat Komunikasi, Universitas Terbuka
ringkasan buku Etika dan Filsafat Komunikasi, Universitas Terbuka

More info:

Published by: ang9a on Jan 27, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/10/2014

pdf

text

original

Secara ontologis, manusia dengan ilmu pengetahuan yang ada pada dirinya berupaya
memanfaatkan fasilitas yang disediakan alam (geo nature) melalui proses interaksi
sosial
yang diarahkan untuk kepentingan bersama.
Simbol-simbol komunikasi mengemas berbagai ragam kepentingan (polymorphic)
yang memicu kepada peningkatan kualitas hidup.
Wujud konkret negara adalah pemerintahan (dalam arti luas) yang dibebani tugas
untuk mengaktualisasikan program-program yang mengakomodasikan seluruh
kepentingan warga negara untuk meningkatkan kualitas hidup seluruh isi negara. Produk
berpikir mengarah ke cita-cita dan kebijaksanaan (policy) sebagai das wollen negara,
yang mendekatkan pada fungsi primer negara yang ideal termasuk di dalamnya ideal
komunikasi negara.

Program –program berdimensi dua, yaitu bersifat rutin (pelayanan dari pemerintah
sebagai komunikator kepada rakyat sebagai komunikan) dan bersifat pembaharuan
(pembangunan). Pada program pembangunan, melekat tugas-tugas meningkatkan
kualitas hidup warga masyarakat. Transaksi (komplementer) bersifat ultra duplex, di
mana terdapat partisipasi aktif masyarakat dalam melibatkan diri untuk mempercepat
proses tercapainya tujuan pembangunan bagi masyarakat. Karena topik-topik yang
menjadi sumber transaksi mencakup seluruh aspek kehidupan (bersifat polymorphic),
yang menandai peningkatan kualitas individu-individu manusia dalam tingkat rujukan
maupun kualitas hidupnya.

IDEAL KOMUNIKASI : HAK-HAK BERKOMUNIKASI,
KEKUASAAN DAN HAKIKAT DEMOKRATISASI KOMUNIKASI,
HAKIKAT KEHADIRAN MEDIA KOMUNIKASI BAGI UMAT
MANUSIA

RANGKUMAN

Tugas Etika dan Filsafat Komunikasi Semester V

Tahun Akademik 2007/2008

Disusun Oleh:

Nama

:

Donna A.

No. Absen

:

52

NIM

:

2006-41-537

Kelas

:

D (pagi)

Judul Buku:

Filsafat Komunikasi, Universitas Terbuka (UT)

Modul

:

9

FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS PROF. DR. MOESTOPO (BERAGAMA)

Jakarta Pusat

Ideal Komunikasi : Hak-hak Berkomunikasi, Kekuasaan
dan Hakikat Demokratisasi Komunikasi, Hakikat
Kehadiran Media Komunikasi bagi Umat Manusia

Hak-hak berkomunikasi merupakan bagian dari hak-hak asasi manusia yang
melekat pada hakikat hidup manusia. Dalam kapasitas sebagai manusia muncul sifat-sifat
saling ketergantungan, sehingga tidak ada satu manusia pun yang dapat mengisolasi diri
dari manusia lain.
Penggunaan hak secara bebas atau pengekangan terhadap hak pada dasarnya ingkar dari
ideal komunikasi. Karena itu sumber-sumber komunikasi yang berkaitan dengan
kepentingan manusia perlu ditata secara bijak tanpa keluar dari ketentuan normatif
tersebut.

Hak-hak Berkomunikasi sebagai Bagian dari Hak-hak Asasi Manusia

A.Hak-hak Berkomunikasi

Fungsi komunikasi lebih terarah kepada terpeliharanya norma-norma yang
mempedomani sikap perilaku dalam mengadakan transaksi-transaksi komunikasi.
Norma-norma memberi arah agar transaksi komunikasi yang berlangsung tidak
memberi dampak negatif. Hal ini berarti bahwa hak-hak berkomunikasi tidak
dapat dinikmati secara mutlak sepanjang hak-hak tersebut dapat merugikan pihak
lain. Penggunaan hak harus berorientasi kepada manfaat yang dapat dinikmati
bersama (=oleh komunikator dan komunikan) dan mencerminkan sifat-sifat
keadilan serta kebenaran.

Didalam kenyataan empiris, sistem nilai yang sedang berlangsung (sistem in on
going) dapat dikualidikasikan ke dalam dua sifat, yaitu :Totaliter dan demokrasi.

Kualifikasi pertama, yaitu totaliter menampakkan karakter-karakter, sebagai

berikut:
1.sumber-sumber komunikasi berada dalam satu tangan elit berkuasa sebagai
pengelola utama,
2.alur komunikasi mengalir secara vertikal menurut struktur formal,
3.isi komunikasi didesain menurut pola kebijaksanaan elit kuasa,
4.komunikan(masyarakat) lebih bersifat sebagai sasaran (objek), daripada
sebagai subjek,
5.transaksi komunikasi lebih bersifat “etatisme” (segalanya oleh negara) untuk
memperoleh legitimasi atas keberadaan penguasa,
6.karakter-karakter tersebut seluruhnya bermuara pada sifat sentralistis dalam
semua aspek kehidupan.
Kualifikasi kedua, yaitu sifat-sifat yang berada pada penganut paham demokrasi.
Menurut paham ini komunikasi berkembang berdasar perklembangan tingkat rujukan
yang dimiliki masyarakat (baik dalam posisi sebagai komunikator maupun sebagai
komunikan). Sean Mc. Bride dalam bukunya Many Voices One World Communication
and society today abd Tomorow mengangkat karakter komunikasi yang berada dalam
lingkup penganut fahm demokrasi sebagai berikut:
1.individu-individu (komunikan) dijadikan partner aktif,
2.meningkatkannya pesan yang dipertukarkan,
3.mendorong perkembangan kualitas komunikasi yang diwakili masyarakat
(ed.Infrasktruktur komunikasi).
Karakteristik yang paling prinsip yang muncul dalam paham demokrasi yaitu
meningkat dan berkembangnya :proses diskusi dan dialog”, sehingga setiap individu daat
memasarkan ide,gagasan atau pendapat secara efektif. Dalam konteks “das sein” atau
dalam kaitan komunikasi yang berlangsung dalam “wilayah sistem kekuasaan”, maka
konsep demokrasi mempedomani bahwa sumber-sumber komunikasi tidak bersifat
sentralistis yang berada pada satu tangan elit berkuasa (elit otoritarif), namun sumber-
sumber komunikasi dipilah (separation) datau dibagi (division) sesuai fungsi dan lingkup
wewenang. Setiap fungsi bersifat dominan (dominant function)yang dapat diganti atau
digeser oleh dominan lainnya. Kebijkasanaan komunikasi sebagai produk elit berkuasa

adalah produk jalinan fungsi yang mengayomi seluruh kepentingan baik kepentingan
komunikator (elit berkuasa) maupun kepentingan komunikan (masyarakat). Dari dua
sistem nilai yang berbeda memberi isyarat bahwa pengaturan hak-hak asasi tidak dapat
digeneralisasikan ke dalam satu pola atau satu tatanan tertentu.

B.Kebebasan dan Tanggung Jawab
Apa yang diangkat Mery memberi suatu isyarat bahwa kebebasan yang
diperoleh seseorang tidak dapat dinikmati secara mutlak, senantisa kebebasan
tersebut dapat merugikan orang lain. Karena itu kebebasan harus selalu
berdampingan dengan tanggung jawab, dalam artian bahwa setiap kebebasan
mempunyai dasra moral. Hal ini mengandung makna bahwa kebebasan yang
digunakan tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku. Selain itu
bahwa kebebasan yang digunkan harus memberikan manfaat bagi kemajuan
masyarkat. Menurut Barker penyalagunaan kebebasan itu ada dua macam yaitu
“legal liberty” dan “social liberty”. Legal linerty yaitu penyalahgunaan kekuasaan
untuk kepentingan elit berkuasa dengan menggunakan sanksi-sanksi hukum. Hal
ini terjadi apabila nilai-nilai interest atau sifat-sifat subjektif dikaitkan kepada
struktur kekuasaan, sehingga produk-produk hukum yang dibentuk dapat
menimbulkan diskriminasi perlakuan hukum, atau penguasa memaksakan nilai-
nilai paham-paham tertentu terhadap masyarkat. Selain pengusaan yang dapat
menyalahgunakan kebebasan maka masyarakat pun dapat pula menyalahgunakan
kebebasan dengan mkasud untuk menjatuhkan wibawa penguasa dan
mengoyangkan keberadaan penguasa di pandangan rakyatnya. Kondisi semacam
ini Barker menyebutkannya dengan istilah “Social liberty”. Penyalahgunaan ini
dilakukan dengan cara memproduksi dan memobilisasi “pendapat umum” (public
opinion) yang diarahkan kepada maksud-maksud tersebut di atas. Barker
mencatat tiga macam tuntutan masyarakat yang diangkat secara bertahap, yaitu
1.civil liberty; kebebasan sebagai warga negara,
2.political liberty; kebebasan warga negara dalam turut menentukan corak
dan arah pemerintah,
3.economic liberty; kebebasan warga negara dalam mengejar kebebasan
kesejahteraan hidup.

C.Ruang gerak pendapat umum (public opinion) dalam ikatan normatif

Karakter yang muncul dalam kutub totaliter, bahwa pendapat umum berada
dalam ikatan normatif (penekanan) dapat diperhatikan sebagai berikut:
1.gagasan monoisme (lawan pluralisme) yang menolak adanya golongan yang
berlainan pikiran karena dianggap sebagai perpecahan.
2.persatuan dipaksa melalui kekuatan undang-undang.
3.oposisi ditindas.
4.negara merupakan alat untuk mencapai tujuan komunisme besarnya
dukungan terhadap pemerintah.
Berbeda dengan kutub demokrasi. Pada negara-negara penganut paham
ddmokrasi menempatkan pendapat umum pada tangga terhormat. Hal ini
berdasarkan pola pemikiran bahwa pendapat umum sebagai bgaian dari hak-hak
asasi manusia yaitu bagian dari hak berkomunikasi. Para penganut paham
demokrasi mempunyai pandangan posotif terhadap keberadaan pendapat umum,
yaitu sebagai kekuatan dahsyat yang dapat memperkokoh kehidupan kenegaraan.

Kekuasaan dan Hakikat Demokratisasi Komunikasi

Problema yang dihadapi dalam abstraksi sejarah dan kenyataan empiris yaitu
bagaimana mengubah nilai-nilai kekuasaan absolut untuk dapat digunakan secara
demokratis. Pergeseran pemikiran tentang otonomi absolut ke demokrasi setelah
munculnya konsep pemikiran John Locke tentang factum Subjectionist dan factum
Unionist. Di abad kedua puluhan muncul konsep “persemakmuran manusia bebas” yang
dibangun secara imajinatif untuk mengimbangi konsep “negara militer”. Konsep ini
untuk mewujudkan masyarakat yang mampu menempatkan martabat manusia dalam
teori dan kenyataan. Sistem politik merupakan akumulasi sejumlah besar unsur
meknisme yang digunakan untuk bekerja sama dengan lingkungan, mengatur perilaku
dan mengubah struktur internal yang berproses untuk membentuk kembali tujuan-tujuan
fundamental. Sistem merupakan kegiatan siklus yang rumit dan dinamika yang
dimilikinya dan berorientasi kepada tercapainya tujuan sistem. Tanggung jawab untuk
pengaturan kekuasaan hakikatnya berada pada lembaga legislatif sebagai jelmaan
aspirasi publik melalui sistem pemilihan. Secara berurutan renunagn manusia terwujud
dalam prodk di bidang teknologi komunikasi yang disebut media massa. Melalui media
massa inilah manusia mentransformasikan produk-produk berpikir sekaligus perasaan
yang dapat menembus ruang dan waktu. Produk berpikir tersebut diilhami oleh aliran

“Filasafat Modern” dan “Aliran Prgamatisme”. Setiap penghuni sistem nilai selalu
berupaya untuk melestarikannya, hal ini dilakukan dengan cara: sosialisasi, pendidikan
dan upaya-upaya hukum. Isi komunikasi dan feedback hakikatnya mareupakan produk
berpikir manusia semakin meningkat kualitas berpikir manusia semakin ringgi tingkat
frekuensi isi komunikasi dan feedback yang disampaikan. Feedback dapat dijadikan
tolok ukur untuk mengetahui sistem nilai yang melandasi berlangsunganya proses
komunikasi.

Hakikat Kehadiran Media Komunikasi bagi Umat Manusia

Munculnya silang pendapat antara aliran Frankfurt dengan aliran Chicago, pada
prinsipnya melihat kemampuan media massa dalam mentransformasikan produk-produk
berpikir, ide, pandangan manusia baik secara individual maupun sebagai anggota
masyarakat. Demikian perkasanya produk teknologi komunikasi yang telah
menghamparkan jasanya bagi kepentingan umat manusia tanpa memperhatiakn ras, etnis
kultur, norma, jenis kelamin dan usia. Karena itu media komunikasi menjadi ajang
rebutan antara penguasa dan masyarakat penyandang modal untuk difungsikan sesuai
tingkat kepentingannya. Hilangnya kesempatan masyarakat dalam kesertaan mengelola
media massa, merupakan replika dari hapusnya hak-hak individual dalam masalah
keperdataan. Hakikat kesertaan masyarakat dalam mengelola bidang media massa
sebagai hakikat manusia untuk mengejar cita-cita hidup yang lebih berkualitas.
Kehadiran media mssa membantu menusia dalam memprluas cakrawala pandang yang
melintas batas kemampuan indriatif. Dalam wacana politik, maka media massa dapat
dijadikan bursa ideologi untuk lebih memperluas pengaruh. Pemanfaatan kehadiran
media massa oleh individu tidak terlepas dari karakteristik yang dimiliki individu
bersangkutan. Hal ini sesuai dengan teori tentang pemahaman manusia yang melahirkan
tiga paham, yaitu materialistis, idealisme, dan eksistensisme.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->