TUGAS AKHIR

KAPASITAS TEKAN DAN TARIK BETON DENGAN BAHAN TAMBAH FILLER ABU AMPAS TEBU DAN ABU ARANG BRIKET DENGAN FAS 0,4

Disusun guna memenuhi persyaratan untuk memperoleh Gelar Sarjana Teknik pada Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta

oleh :

Aditya Galih Wijaya NIM : D 100 000 145 NIRM : 00.6.106.03010.5.0145

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2006

LEMBAR PENGESAHAN

KAPASITAS TEKAN DAN TARIK BETON DENGAN BAHAN TAMBAH FILLER ABU AMPAS TEBU DAN ABU ARANG BRIKET DENGAN FAS 0,4
Tugas Akhir Diajukan dan dipertahankan pada Ujian Pendadaran Tugas Akhir di hadapan Dewan Penguji Pada tanggal : …. Juni 2006

Aditya Galih Wijaya
NIM : D 100 000 145 NIRM : 00.6.106.03010.5.0145 Susunan Dewan Penguji Pembimbing utama Pembimbing pendamping

Ir. Suhendro Trinugroho, M.T NIP. 732 Anggota

Ir. H. Aliem Sudjatmiko, M.T NIK. 131 683 033

Much. Sholichin, S.T, M.T NIK : 792 Tugas Akhir ini diterima sebagai salah satu persyaratan Untuk mencapai derajat sarjana S-1 Teknik Sipil Surakarta,…..Juni 2006 Mengetahui Dekan Fakultas Teknik Ketua Jurusan Teknik Sipil

Ir. Sri Widodo, M.T NIK. 542 iii

M. Ujianto, ST, M.T NIK. 564

MOTTO

“Katakanlah : sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah”.
(Q.S Al-An’aam:162-163)

“Tenang setenang langit dan cepat secepat kilat”.
( Penulis )

“Barang siapa berjalan di suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan mempermudah jalan ke surga”.
( H. R. Muslim )
“Janganlah berfikir untuk menjadi orang yang sukses, tapi berpikirlah untuk menjadi orang yang berguna”.

( Penulis )

“Terima kasih Ya Allah untuk kehidupan dan kesehatan saya. Terima kasih atas kesempatan-kesempatan saya, atas persoalan-persoalan saya, dan terima kasih atas bimbingan dalam mengatasi persoalan-persoalan tersebut”.
( Penulis )

iv

v . Stream K4658KB. Winning Eleven. Adikku Adhimas Pamungkas Terima kasih atas semua do’anya. Ummi dan Abbah Demi Allah tidak dapat aku balas pengorbanan.HALAMAN PERSEMBAHAN Ucapan Terima Kasih Penulis Persembahkan Kepada : My Lord Atas izin-Mu untuk menyelesaikan Tugas Akhir ini. BlueMax K6723DE. Istriku Anita Fitriana dan Calon Anakku Naja Keyshika Semangat serta perjuanganmu adalah nafas kehidupanku. cucuran keringat dan kasih sayangmu selama aku hidup di dunia. Almamaterku.

nasehat dan kesabaranya. selaku Dosen Pembimbing Pendamping. Bapak Ir. S. keberadaanmu tunjukkan aku bahagia. 5).. terima kasih untuk semua bimbingan. Ibu Qunik Wiqoyah.KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. H.T. ilmu.4”. Bapak Ir. selaku Dosen Pembimbing Akademik 7). keramahanmu teduhkan jiwaku. Suhendro Trinugroho. 2). H.. Bapak Ir.T. 8).. terima kasih untuk semua bimbingan. Bapak M. terima kasih atas semua do’anya. Ummi dan Abbah. selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta.. Aliem Sudjatmiko. M. Suhendro Trinugroho.Wb Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Karunia. 3). vi . Ujianto.. 6).T.T. kehadiranmu ajarkan aku bijaksana. M. yang telah memberikan dorongan dan semangat baik moril maupun materiil dalam menyelesaikan laporan ini. Saudara sekandungku Adhimas Pamungkas. S. M. nasehat dan kesabaranya. selaku Ketua Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta. kehangatanmu memberikan cermin hati tuk melihat seluruh putihnya kasihmu. M. penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung membantu membimbing serta meluangkan waktu sehingga laporan ini dapat terselesaikan. Sri Widodo. M. Dengan selesainya penyusunan laporan ini. selaku Dosen Koordinator Tugas Akhir. ilmu. Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir dengan judul ”Kapasitas Tekan Dan Tarik Beton Dengan Bahan Tambah Filler Abu Ampas Tebu Dan Abu Arang Briket Dengan Fas 0. M. Anita Fitriana.T. selaku Dosen Pembimbing Utama Tugas Akhir.. 4).T.. Penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1). Bapak Ir. 9).T.T.

?!). Persero Tbk Cabang II Riau yang telah memberikan segala fasilitas dan jaminan hidup sampai sekarang. 11).. Yanuar+Dinda (hidup tak selamanya indah). Mr. Ari. Parman. Orang-orang yang dekat denganku dan merubah hidupku jadi lebih berarti.Wb Surakarta. PT.45 terima kasih atas semua masukkan dan kerjasamanya yang baik slama ini. Sayoko. Asih. 15). Penulis menyadari keterbatasan dalam penyusunan Tugas Akhir ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Toni+Ikha (Keluarga Ceria). Anita.10). Semoga laporan ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca. Pardi terima kasih atas semua bantuannya. 12). terima kasih atas persahabatannya. Guruh+Trek (Laskar Industri Indonesia). 13). Edwin Reagen Sedunia (kapan modal chek. Wassalamu’alaikum Wr. Rubianto Nugroho selaku Partner Dewan Beton Nasional 0. Save My Soul… 16). Juni 2006 Penulis vii . terima kasih atas dukungan dan bantuannya. untuk itu kritik dan saran yang sifatnya membangun penulis harapkan demi kesempurnaan penyusunan laporan selanjutnya. Amin. Danang. Asrie (A4). Adhi Karya. Punggawa Yandu : Kholiq+Sahid (tetep kompak dan rukun slalu yo). Jesus. Fajri. 14). 17). Radjimin. Hatur Nuhun Sanget Ya Allah. Barudak Sipil 2000. Bala Tentara Lab Teknik Sipil UNS : Bos Kusno Adi S. Sahabatku Kenci.

DAFTAR NOTASI K = Kadar lumpur (gram) G 0 = Berat pasir mula – mula (gram) G 1 = Berat pasir setelah dicuci (gram) B = Berat picnometer + air (gram) BT = Berat picnometer + air + pasir (gram) BJ = Berat batu pecah dalam keadaan jenuh (gram) BA = Berat batu pecah dalam air (gram) Wо = Berat pasir mula – mula (gram) W 1 = Berat agregat halus yang tertahan saringan ukuran 2 mm (gram) M = nilai margin Sd = standart deviasi f’c = Kuat tekan beton (MPa) f’cr = Kuat tarik beton (MPa) W = Berat benda uji (gram) V = Volume silinder beton (cm³) P = Beban maksimal (N) d = Diameter silinder (mm) h = Tinggi silinder (mm) π = 3.14 viii .

..................................................................... C.............................. LEMBAR PENGESAHAN ................... Tujuan penelitian........................................................... 2... MOTTO ............................................................................................................................................................................. Umum ..................................................................................................... ix 1 1 3 3 3 3 3 4 5 5 6 6 6 7 8 8 8 .... xiii DAFTAR TABEL............................................................. xvii DAFTAR NOTASI .......................... 1............................. Sifat umum beton ................................. BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..................................................... xix BAB I PENDAHULUAN........................... C.. A..................... Beberapa Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Beton ........................................................................... Batasan Masalah .......................................... D...................................................... B.. Tujuan dan Manfaat Penelitian ................. i iii iv v vi ix KATA PENGANTAR ................................................................................................... HALAMAN SOAL............ B............................................... Latar Belakang.................................................... 2............................. Jumlah semen .... A............................... Sifat khusus beton ........................................................................................................................................ xv DAFTAR LAMPIRAN.............................................................................................................................. DAFTAR ISI........ Pengertian Beton....................................................................................... vii DAFTAR GAMBAR ............................................................... E................ Rumusan Masalah............ 1.................................... HALAMAN PERSEMBAHAN ................... Sifat – sifat Beton . 1................................................................................................................................................................................................................................... 2..................... Manfaat penelitian............ Faktor air semen..................................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ....... xviii ABSTRAKSI ..................................................... Keaslian Penelitian .................... D....................................................................................................................................................................................

.............. 14 BAB III LANDASAN TEORI.. Umur beton................... 15 B...................................... 17 2a)... 18 4......... 34 2d)..................... Sifat agregat ........... 15 A............. 33 2c)............ 35 2e). 20 D............ Penggetar ayakan (Siever) ...... 18 3............................................................................................................................. 15 1...................................... 32 1....................... Jenis semen................................... 20 C................................................... Abu ampas tebu.......................... Bahan Pengisi (Filler) ...... 32 2a)...................................................... 12 1... 16 2......................................................... 35 x ......................................................... Bahan tambah kimia................................................ Bahan Penelitian dan Peralatan Penelitian...... Pozolan.............................................................. Agregat .................... Bahan Tambah Beton..... Agregat kasar ................................................................................................. Umum ..................... 32 B........ Gelas ukur................ 29 E......................... 32 A......................................... 18 2b)...... Perencanaan Campuran Beton ................................................................................................................................... Ayakan standar ............................................................................................................................. 12 2....................................................................... Semen portland ............................ Agregat halus ................................ Kuat Tekan Beton ............................................................ Serat................................................................................................ Peralatan Penelitian.... 19 5............................... 30 BAB IV METODE PENELITIAN .............3.......................... Abu arang briket............ Umum ............. 33 2b)................................................................... 9 4.................................... 19 6.................................... 13 3............................... Air .............................. 32 2.............................................................................. Bahan penelitian................... 11 E........ Bahan Penyusun beton ............................................................................................................................... 10 5........................................ Kuat Tarik Beton............................................... Kerucut Conus ........ Timbangan .................................

............ 37 2k)........... Tahap V : Analisis data dan kesimpulan. 38 2m)................................ Pemeriksaan zat organik pasir ......................... Pemeriksaan Specific Gravity dan Absorbtion pasir........................ 38 2l)..................... Tahap II : Pemeriksaan bahan dasar................ Tahap III : Penyediaan benda uji ... 45 1c).......... Bak tempat perendaman benda uji .... Pemeriksaan Saturated Surface Dry (SSD) pasir.......................... 41 5......... Pemeriksaan kadar lumpur pasir . 51 1i)...... 36 2h).. Molen .......... Tahap IV : Pengambilan data......... 44 1a)................ 36 2g).................................. 39 2n).... 49 1g) Pemeriksaan Specific Gravity dan Absorbtion kerikil ......................................... Pemeriksaan berat satuan volume batu pecah .......................................... Pemeriksaan gradasi batu pecah .......................... 50 1h).............. Volumetric Flash ............................. 52 2...... Pelaksanaan Penelitian.......... 40 C................. 41 3......... Tahap I : Persiapan alat dan penyediaan bahan .......................... Pemeriksaan keausan agregat kasar..................................................... 37 2j)........................ Oven.. 46 1d).2f)................. Peralatan penunjang lain ......................................... Tongkat baja ................................. Cetakan silinder......................................................... 47 1e)....... 37 2i)............ Desicator .................... 42 D................................................................................. 54 4... 41 2................................................... 48 1f)........................... Pengujian Slump............. 55 xi ................... Mesin uji tekan..... Pembuatan benda uji ......................................................................... 44 1................................................ Pemeriksaan bahan................................................................ 41 4..................... Mesin uji Los Angeles.......................................... 39 2p).............. Kerucut Abram’s....................... 53 3................................... Pemeriksaan gradasi agregat pasir................................................................................................... 40 1............................................... Perencanaan campuran beton ..... 44 1b).................. 39 2o)..... Tahap Penelitian ..........................

............................................................................................................................................................................................................ Saran ......... Pengujian Berat Jenis Beton .......................... 66 C... 73 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN xii .... 61 A....... 63 B....... 72 A................................ Pemeriksaan berat jenis beton............... 61 2............ Pengujian Slump ............. Kesimpulan .......... 55 6....... Pengujian kuat tekan dan tarik beton ................................................................................... 67 D.................... Pengujian Agregat.................................... 56 7...................... 69 E............................................. 72 B...................... Pengujian Kuat Tekan Dan Kuat Tarik Beton ...........................................................5............. Pembahasan Hasil Penelitian ... 56 BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............. Perawatan benda uji (Curing) . 61 1.. Hasil pengujian agregat kasar . Hasil pengujian agregat halus ............. 70 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................................................................

.................................... Pengaruh umur beton terhadap laju kenaikan kuat tekan beton pada beberapa fas ............................................................. Peralatan penunjang lainnya ....................12........................ Hasil pengujian kuat tekan beton...................................... 2...................... 35 Gambar IV........................ 36 Gambar IV.... 43 Gambar IV...... Kerucut Abram’s dan tongkat baja .... 37 Gambar IV...........................7........ 10 Gambar II...................... 11 Gambar II............................... 5.......14.......... 3......................................................... Bak tempat perendaman benda uji.........18..... Gelas ukur ......... Timbangan digital .............. Cetakan beton silinder................................................................1....... Hubungan antara kuat tekan beton dan jumlah semen ... Benda uji setelah dicat ......................... Pengaruh suhu pada laju kuat tekan beton ..........................10.......... Benda uji sebelum dicat ................ 57 Gambar IV...... Perawatan benda uji beton ............................................21................ 38 Gambar IV. Kerucut Conus .13.........................19........................... 8.9............................... 4...... 33 Gambat IV.... 6............ 3.................. 37 Gambar IV....................................17.. Timbangan besar. Satu set ayakan dan Siever...............6........ Mesin Los Angeles ..........20...................... 13 Gambar IV......... 34 Gambar IV................................ 40 Gambar IV....................................................... 56 Gambar IV................................ Pengaruh jenis agregat terhadap kuat tekan beton ..... 38 Gambar IV.... 58 Gambar IV............... 39 Gambar IV.................. Bagan alir tahapan penelitian.................................................... 5................................ 4...... 40 Gambar IV......... Mesin uji kuat tekan dan kuat tarik merk Milano Italy.................... Pengujian kuat tekan beton ..............................................DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar II........15................... Oven . Molen ....................... 36 Gambar IV........ 1................ 57 Gambar IV........... Desicator................. 34 Gambar IV......16............... 11 Gambar II......... 2.................................... 39 Gambar IV.. Grafik kuat tekan beton untuk berbagai jenis semen.............. 12 Gambar II.........11........................................... Hubungan antara faktor air semen dan kuat tekan silinder beton 9 Gambar II...................... 58 xiii . Volumetric flash .. 35 Gambar IV......

..... Batas gradasi kerikil . Grafik gabungan hubungan kuat tekan rata-rata dengan variasi tebu bahan tambah filler abu ampas dan abu arang briket........................ Batas gradasi pasir dalam daerah gradasi No.... II ..................... 72 xiv . 59 Gambar V................ 71 Gambar V........... 63 Gambar V.... 65 Gambar V.22.......................... 1... Hasil pengujian kuat tarik beton ........ 59 Gambar IV............... 3............... Pengujian kuat tarik beton ......22... 4................ 2....Gambar IV........... Grafik gabungan hubungan kuat tarik rata-rata dengan variasi tebu bahan tambah filler abu ampas dan abu arang briket...............

........ 3.................................... 26 Tabel III........... Rincian jumlah benda uji kuat tekan dan uji kuat tarik ....... 1. 6.....4 ......... Faktor pengali deviasi standar ...... Proporsi kebutuhan material tiap 3 sampel untuk uji kuat tekan dan 3 sampel untuk uji kuat tarik dengan fas 0...... 28 Tabel IV................. Perkiraan kuat tekan beton dengan faktor air semen 0.............. 4............ 1 Jenis-jenis semen Portland .. 7.... 17 Tabel III....... Perkiraan kadar air bebas yang dibutuhkan untuk beberapa tingkat kemudahan pengerjaan adukan beton ...... Hasil penurunan SSD pasir ..................................... 2............. 53 Tabel IV.... Hasil pengujian agregat halus .......... 3................................... Hasil pengujian agregat kasar .......... 23 Tabel III............... 3. Pengujian agregat kasar .......... Hasil pemeriksaan berat jenis rata-rata kuat tekan beton dengan Fas 0... 26 Tabel III...................... 63 Tabel V.................................... 61 Tabel V.. 4............ 1........................................................DAFTAR TABEL Halaman Tabel I.... Ketentuan untuk beton yang berhubungan dengan air tanah yang mengandung sulfat ........... 9........... Rincian jumlah benda uji untuk kuat tekan beton ......... Nilai deviasi standar untuk tingkat pengendalian mutu pekerjaan 22 Tabel III............... 5..................... 22 Tabel III................................. Penetapan nilai Slump ......................... 25 Tabel III...........5 dan jenis semen dan agregat kasar yang biasa dipakai di Indonesia ............................................................................................................. 2........................ 10.............. Ketentuan minimum untuk beton bertulang kedap air. Hasil pengujian Slump beton umur 14 hari................ 6........... 65 Tabel V..... 66 Tabel V.....................4.Batas gradasi pasir ........................ 65 Tabel V.................. 2...................... 1............ 46 Tabel IV... Persyaratan jumlah semen minimum dan faktor air semen maksimum untuk berbagai macam pemberonan dalam lingkungan khusus ........................ 4 Tabel III......... 54 Tabel V................. 4..................... 68 xv .................... Rincian jumlah benda uji untuk kuat tarik beton........................ 54 Tabel IV................... 24 Tabel III............... 5....... 24 Tabel III...... 8... Pengujian agregat halus .........................

4 ... 70 xvi ....4... Kuat tarik rata-rata beton dengan variasi penambahan filler abu abu arang briket dan abu ampas tebu dengan Fas 0............ 7................... 68 Tabel V..4......................................... 69 Tabel V....... Hasil pemeriksaan berat jenis rata-rata kuat tarik beton dengan Fas 0............ 8........... Kuat tekan rata-rata beton dengan variasi penambahan filler abu abu arang briket dan abu ampas tebu dengan Fas 0. 9.......Tabel V..............

..... L-9 Lampiran IV............ Hasil pengujian kuat tarik beton .... 2.... L-13 Lampiran IV.................... Periksaan kandungan zat organik pada pasir... 4...... 5............DAFTAR LAMPIRAN Lampiran IV....... Pemeriksaan gradasi batu pecah......... Pemeriksaan keausan agregat kasar .....11.... 7.12.......................... 3...... L-10 Lampiran IV....................10.. L-5 Lampiran IV.... Hasil pengujian kuat tekan beton ...... Pemeriksaan Spesific Gravity dan Absorbtion batu pecah ..... Pengujian Saturated Surface Dry (SSD) pasir ............... L-8 Lampiran IV...14......................................................... 1.............. L-15 Lampiran IV.................... L-6 Lampiran IV.............. 6..................... L-14 Lampiran IV..................... Pemeriksaan berat satuan volume agregat kasar ...13............ L-3 Lampiran IV................ 8..... Pemeriksaan kadar lumpur pada pasir......... Pemeriksaan berat satuan volume batu pecah .... L-2 Lampiran IV............................. L-7 Lampiran IV............................ 9........................ L-19 xvii .... Pemeriksaan gradasi pasir .. L-4 Lampiran IV..... Proporsi campuran. Perencanaan campuran adukan beton metode SK SNI ........ Pemeriksaan berat satuan volume pasir .... L-12 Lampiran IV.............. L-1 Lampiran IV. L-11 Lampiran IV..........16.... Pemeriksaan Spesific Gravity dan Absorbtion pasir .15...... Pemeriksaan Slump adukan beton ..................

5% .5% . variasi bahan tambah abu ampas tebu sebesar 7. Skatex yang ada di Karanganyar. Beton yang dibuat berbentuk silinder dengan tinggi 30 cm dan diameter 15 cm. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Bahan dan Struktur.5% dari berat semen. 10% . Universitas Sebelas Maret.5%. Dari hasil pengujian kuat tekan rata-rata optimum diperoleh pada variasi abu ampas tebu 12. 10% . Pada penelitian ini menggunakan fas sebesar 0.4 Beton merupakan bahan bangunan yang telah banyak dikenal masyarakat Indonesia karena bahan penyusun beton mudah didapat dan relatif murah.5% dan abu arang briket 10%. Fakultas Teknik. adapun penelitian ini mencoba memanfaatkan abu ampas tebu dari Pabrik Gula Tasik Madu yang ada di Karanganyar dan abu arang briket dari PT. Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penambahan filler abu ampas tebu dan abu arang briket terhadap kuat tekan dan kuat tarik beton.T-15-1990-03.5% dari berat semen dan abu arang briket sebesar 7.70 % dari kuat tarik beton normal. Kata kunci : abu ampas tebu. Perancangan adukan beton menggunakan rancangan SK. 12. sebesar 14. Jurusan Teknik Sipil. 12.4 dengan umur beton 14 hari.78 % dari kuat tekan beton normal dan dari pengujian kuat tarik rata-rata optimum diperoleh pada variasi abu ampas tebu 7. Penelitian tentang beton telah banyak dilakukan. kuat tarik xviii .5% dan abu arang briket 12. kuat tekan. dengan hasil peningkatan sebesar 27. abu arang briket.SNI.ABSTRAKSI KAPASITAS TEKAN DAN TARIK BETON DENGAN BAHAN TAMBAH FILLER ABU AMPAS TEBU DAN ABU ARANG BRIKET DENGAN FAS 0.

Beban tarik pada plat atau balok beton dipikul oleh tulangan baja pada beton. pemadatan dan perawatan). Teknologi dibidang konstruksi bangunan juga mengalami perkembangan pesat. bendungan dan sebagainya. Beton merupakan bahan bangunan yang awet dan tidak mudah berkarat. lapangan terbang. Struktur dari beton mempunyai tegangan tarik yang rendah. mudah dalam pembentukan. umur beton. Beton banyak digunakan karena keunggulan-keunggulannya antara lain kuat tekan beton tinggi. termasuk teknologi beton yang hampir pada setiap aspek kehidupan manusia selalu terkait dengan beton baik secara langsung maupun tidak langsung. Jadi perkembangan beton sangat perlu dalam kehidupan sehari-hari yang mempengaruhi konstruksi struktur. mudah dalam perawatan. Besarnya kuat beton dipengaruhi beberapa hal antara lain : fas. Peningkatan kualitas campuran beton akan menghasilkan beton yang lebih berkualitas. Latar Belakang Perkembangan teknologi sekarang ini sangat pesat seiring dengan perkembangan zaman. Beton merupakan salah satu faktor penting dalam bidang konstruksi mengingat fungsinya sebagai salah satu pembentuk struktur. Kualitas yang baik pada campuran beton ditambah dengan bahan tambah (admixture).BAB I PENDAHULUAN A. Semen merupakan salah satu bahan penyusun beton yang bersifat sebagai pengikat agregat pada campuran beton. hal ini sangat berbeda dengan elemen struktur baja yang memerlukan perawatan untuk mencegah terjadinya karat. serta bahan kimia tambahan (admixture). bertujuan 1 . sifat agregat. jenis semen. serta mudah dalam mendapatkan bahan penyusunnya. dan pengerjaan (pencampuran. Pemakaian beton diharapkan dapat menghasilkan bangunan-bangunan berkualitas yang tidak mungkin diperoleh dari beton normal. gradasi agregat. Kualitas beton bergantung pada bahan-bahan penyusunnya. Struktur yang terbuat dari beton antara lain : jalan dan jembatan yang strukturnya terbuat dari beton.

1998). seperti bahan tambah filler arang briket. Penambahan filler abu arang briket pada campuran beton yang bersifat pozolan. Sedangkan pohon tebu tumbuh subur di daerah tropis seperti di Indonesia ini. . beberapa ahli memberikan tetes tebu sebagai bahan campuran. Hubungannya dengan pembuatan beton dikatakan banyak orang bahwa dalam pelaksanaan pembuatan beton. Pemilihan abu ampas tebu sebagai bahan tambah merupakan salah satu alternatif yang cukup mengena. Berdasarkan hasil penelitian diatas. saat ini ada beberapa praktisi ilmu pengetahuan yang memiliki pendapat lain dari pendapat masyarakat terdahulu.2 untuk mengubah satu atau lebih sifat-sifat bahan penyusun beton baik dalam keadaan segar atau setelah keras. selain itu abu ampas tebu mudah didapat dan bisa dibedakan atau diketahui cukup dengan indra manusia. mengingat abu ampas tebu berasal dari sisa penggilingan tebu. Hal ini mengisyaratkan bahwa tetes tebu berpengaruh terhadap kekuatan beton.4. Hal tersebut membuat masyarakat beranggapan. Namun seiring perkembangan zaman. Pendapat tersebut adalah kadar gula dengan kadar tertentu akan dapat mengurangi kekuatan beton (Budiyana. dicoba untuk mengembangkan penelitian kapasitas tekan dan tarik beton dengan bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket dengan fas 0. yang tidak mempunyai sifat seperti semen. bahwa kadar gula dalam hal ini tetes tebu mampu memberikan pengaruh terhadap beton. Bangunan yang dibuat sampai sekarang rata-rata masih berdiri kokoh. Penambahan abu ampas tebu sebagai bahan tambah dalam campuran beton telah dilakukan dalam beberapa pengujian dengan beberapa variasi takaran penambahan abu ampas tebu terhadap adukan tersebut. Penelitian ini ingin mengetahui berapa besar kuat tekan dan tarik beton tersebut setelah diberi bahan tambah dibandingkan dengan beton normal. sehingga bisa menjadi addictive mineral yang baik untuk beton. Pozolan adalah bahan yang mempunyai kandungan utama senyawa Silicon Dioksida alami atau buatan.

5 % dari berat semen. D. 10 %. Filler abu arang briket didapat dari PT. berasal dari Boyolali. C. Rumusan Masalah Rumusan masalah yang diambil dalam penelitian ini adalah seberapa besar pengaruh penambahan filler abu ampas tebu dan abu arang briket terhadap kuat tekan dan kuat tarik beton. 12.T-15-1990-03. 9. Tasik Madu di Karanganyar. Agregat kasar (batu pecah) dan agregat halus (pasir). Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. 2. 7. 8. 3. Abu ampas tebu berasal dari PG. . Manfaat teoritis.5 %.4. 5.3 B. 6. 4. b). Persentase variasi campuran abu ampas tebu dan abu arang briket adalah 0 %. Manfaat penelitian Manfaat penelitian ini antara lain : a). Metode mix design menggunakan Metode SK. 7. Skatex di Karanganyar. untuk mengembangkan pengetahuan tentang teknologi beton terutama pemanfaatan filler abu arang briket sebagai bahan tambah. Faktor air semen yang digunakan 0. Semen yang digunakan adalah semen Portland. Tujuan penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kuat tekan dan kuat tarik beton yang dihasilkan dengan menggunakan bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket 2. Pengujian kuat tekan dan tarik beton tidak menggunakan tulangan.SNI. Batasan Masalah Agar tidak terjadi perluasan dalam pembahasan tugas akhir ini. bahwa pemakaian bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket mampu menambah kuat tekan dan tarik beton yang lebih baik. maka penulis memberikan batasan-batasan masalah pada penelitian sebagai berikut : 1. Benda uji berupa silinder berdiameter 15 cm dan tinggi 30 cm. Penelitian ini diharapkan dapat membuktikan. jenis I merk Holcim.

5 .1.12.45.1.5 .4.5 . 10 . di Laboratorium Bahan Konstruksi Teknik. .SNI. 12.T-15-1990-03. 10 .12. Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta. Umur pengujian (hari) Fas Abu Ampas Tebu (%) Abu Arang Briket (%) Jumah total benda uji Ukuran benda uji (cm) 0 14 hari 0. Penelitian yang dilakukan oleh Murgiyanto (2003) adalah tinjauan pemakaian abu batubara terhadap karakteristik beton dengan menggunakan faktor air semen 0. 10 . 10 . Penelitian tersebut untuk mengetahui pengaruh bahan tambah larutan gula dan abu arang briket batubara terhadap kuat tekan beton mutu tinggi. 13.5 . Keaslian Penelitian Penelitian beton dengan bahan tambah abu batu bara telah dilakukan oleh Murgiyanto (2003). Dalam penulisan tugas akhir ini dikaji tentang pengaruh penambahan bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket terhadap kuat tekan dan kuat tarik beton dengan menggunakan fas 0. Tinjauan analisis pada kuat tekan dan kuat tarik beton. Penelitian lain tentang analisis kuat tekan beton dengan penambahan larutan gula dan abu arang briket batubara pernah diteliti oleh Muctar Rifai (2005).h=30 E. Rincian jumlah benda uji untuk kuat tekan dan tarik beton. Tabel I.5 Jumlah benda uji 0 7.5 7.4 10. Umur pengujian kuat tekan dan kuat tarik beton benda uji silinder beton dilaksanakan pada umur 14 hari. Jumlah benda uji 3 buah tiap variasi abu ampas tebu dan abu arang briket. 11. 14.5 3 9 27 9 48 x 2 = 96 d=15.5 7.12. Jumlah seluruh benda uji yaitu (3 x 4 x 4) x 2 = 96 benda uji.12. Untuk perencanaan campuran menggunakan metode SK. Variasi campuran bahan tambah yang digunakan untuk adukan beton dan variasi perendaman seperti pada Tabel I.4 7.

maka peranan teknologi tentang beton akan sangat dominan dan sangat berpengaruh pada proses pembangunan yang menggunakan teknologi beton. dan gedung yang sering ditempati. yang diakibatkan oleh reaksi kimia antara air dan semen. Kekuatan. Pengertian Beton Beton merupakan campuran antara semen. 1996). baik secara langsung maupun tidak langsung. maka akan didapat suatu fungsi beton maksimum. 5 . Hampir pada setiap aspek kegiatan pembangunan sehari-hari tergantung pada beton. 1996). serat sampai bahan bangunan non kimia pada prosentase tertentu. keawetan dan sifat beton bergantung pada sifat bahan dasar penyusunnya. 1995) Kemajuan pengetahuan tentang beton telah dapat memenuhi berbagai tuntutan pembangunan. Dengan perencanaan yang tepat dan sesuai rencana serta pengontrolan pada pemilihan material yang baik. Sebagai contoh jalan. misalnya dengan pemanfaatan bahan-bahan lokal yang didapat di daerah tertentu dengan mengubah perbandingan bahan dasarnya. air dan kadang-kadang memakai bahan tambah yang sangat bervariasi. (Subakti. agregat. mulai dari bahan kimia tambah. maka akan menghasilkan suatu mutu beton yang dapat memenuhi persyaratan. (Tjokrodimuljo. (Tjokrodimuljo. B. Jadi dapat diambil kesimpulan. Semakin modern suatu bangsa.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. bahwa kegiatan sehari-hari sering dipengaruhi oleh dampak perkembangan teknologi beton. nilai perbandingan bahan-bahannya. jembatan. Beton yang bermutu sangat baik merupakan material yang sangat awet dan bebas dari pemeliharaan untuk beberapa tahun. cara pengadukannya maupun cara pengerjaannya selama penuangan adukan beton dan cara perawatan selama proses pengerasan. Umum Beton merupakan suatu material yang sangat sering dijumpai. Campuran tersebut bila dituangkan dalam cetakan kemudian dibiarkan maka akan mengeras seperti batuan.

Kekurangan beton antara lain : 1) Beton mempunyai kuat tarik rendah sehingga mudah retak oleh karena itu perlu diberi tulangan.1996). 1. . 3) Beton keras mengembang dan menyusut bila terjadi perubahan suhu sehingga perlu kelonggaran untuk mencegah retak-retak akibat perubahan suhu. Sifat-sifat beton pada umumnya digolongkan menjadi dua. 2) Beton segar mengalami proses pengerutan saat terjadi proses pengeringan dan beton mengeras mengalami pengembangan jika basah. Kelebihan beton antara lain : 1) Beton termasuk bahan yang berkekuatan tekan tinggi. Sifat – Sifat Beton Sifat beton merupakan hal yang erat kaitannya dengan kualitas beton yang dituntut untuk suatu tujuan konstruksi. 5) Beton segar dapat disemprotkan dipermukaan beton lama yang retak maupun diisikan kedalam retakan beton dalam proses perbaikan.6 C. 7) Beton termasuk tahan aus dan tahan kebakaran sehingga biaya perawatan termasuk rendah. Sifat umum beton Secara umum beton mempunyai sifat kebaikan dan kekurangan tertentu jika dibandingkan dengan bahan-bahan lain (Tjokrodimuljo. Diharapkan dari suatu konstruksi adalah hasil yang didapat sesuai harapan secara maksimal tetapi secara ekonomis tidak terjadi pemborosan. 2) Harga relatif murah. 3) Beton segar dapat dengan mudah diangkut maupun dicetak 4) Akibat kuat tekannya tinggi maka jika dikombinasikan dengan baja tulangan (yang kuat tariknya tinggi) maka dapat dikatakan mampu dibuat untuk struktur berat. yaitu sifat yang berhubungan langsung dengan kelebihan beton dan sifat yang berhubungan dengan kekurangan beton ( Tjokrodimuljo. 1996 ). 6) Beton segar dapat dipompakan sehingga memungkinkan untuk dituang pada tempat-tempat yang sulit.

. sebagaimana baja dan bahan-bahan lain. dan air yang mengandung garam dapat merusak beton.M. Beton berubah bentuk sebagian mengikuti regangan elastis dan sebagian mengalami regangan plastis. perubahaan bentuk terjadi dan bertambah sesuai dengan pertambahan beban. Modulus elastisitas Yang menjadi tolok ukur yang umum dari sifat elastis bahan adalah modulus elastisitas yang merupakan perbandingan dari tekanan yang diberikan dan perubahan bentuk persatuan panjang sebagai akibat dari tekanan yang diberikan. Biasanya ini tidak diperhitungkan dalam perencanaan struktur beton. e). Kuat Tekan Kuat tekan beton lebih besar daripada kuat tariknya. 1991) d). kuat geser beton selalu diikuti oleh kuat tekan. Brook. Besarnya kuat geser. bahkan di dalam pengujian tidak mungkin menghilangkan elemen lentur (Murdock & K. Dalam praktek. 5) Beton bersifat getas (tidak daktail) sehingga harus dilindungi dan didetail secara seksama agar diperoleh struktur yang komposit. Perubahaan bentuk akibat pembebanan Bilamana beton dibebani. Sifat khusus beton Sifat secara khusus bagi beton adalah sifat-sifat yang ditinjau atau berhubungan dengan : a). b). 2. Besarnya kuat tarik dan lentur Kuat tarik beton berkisar seperdelapan belas kuat tekan pada umur yang masih muda dan berkisar sepersepuluh sesudahnya.7 4) Beton sulit untuk kedap air secara sempurna sehingga selalu dapat dimasuki air. c). Kuat tekan ini selalu bertambah bersamaan dengan bertambahnya umur beton. tarik dan lentur.

Hubungan antara faktor air semen dan kuat tekan silinder beton (Tjokrodimuljo. Semakin besar faktor air semen. sehingga kuat beton rendah. sehingga beton menjadi kurang padat (Tjokrodimuljo.semen Gambar II. karena penggunaa beton yang diharapkan yaitu dengan kualitas yang baik dan mempunyai kuat tekan tinggi. Walaupun semakin rendah faktor air semen. Jumlah semen Beton dengan jumlah kandungan semen tertentu mempunyai kuat tekan tinggi. Hal ini terjadi karena kesulitan dalam pemadatan adukan beton. Faktor air semen Faktor air semen adalah angka yang menyatakan perbandingan antara berat air dengan berat semen. Pada jumlah semen yang terlalu sedikit. kuat tekan beton akan rendah. Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Beton Kesempurnaan semua sifat dasar beton dicapai dengan tidak meninggalkan segi ekonomis. serta murah dari segi ekonomisnya. 1996). dan adukan beton sulit didapatkan. berarti jumlah air juga sedikit. kekuatan beton semakin tinggi. Pencapaian nilai kuat tekan beton yang maksimal harus dipertimbangkan hal-hal yang mempengaruhi kualitas beton tersebut.1. makin rendah kuat tekan betonnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas beton antara lain : 1. Namun jika jumlah . 1996) 2.8 D. Ideal Dipadatkan dengan alat getar Kuat tekan beton Dipadatkan dengan tangan Padat penuh tidak padat Faktor air . akan tetapi dibawah faktor air semen tertentu.

1996). Sifat agregat Sifat agregat yang berpengaruh terhadap kekuatan beton adalah kekuatan agregat. Pengaruh kekuatan agregat terhadap kekuatan beton. 1996) 3. sedangkan gradasi butiran juga sangat mempengaruhi kekuatan beton. Gambar II. . Hubungan antara kuat tekan beton dan jumlah semen ( Tjokrodimuljo. sehingga penambahan semen berarti pengurangan nilai faktor air semen.9 semen terlalu berlebihan berarti jumlah air juga berlebihan sehingga beton mengandung banyak pori dan akibatnya kuat tekan beton rendah. gradasi agregat dengan ukuran butiran yang bervariasi berarti sedikit pula pori-pori betonnya sehingga memerlukan jumlah pasta yang sedikit untuk mengisi rongga-rongga antar butirnya dan secara teoritis kekuatannya lebih tinggi (Tjokrodimuljo.2. Namun apabila dikehendaki kekuatan beton yang lebih tinggi. Beton dengan kandungan semen lebih banyak mempunyai kuat tekan lebih tinggi.1996). diperlukan agregat yang lebih kuat. Kekasran permukaan agregat mempengaruhi daya lekat dan besarnya tegangan saat retak-retak beton mulai terbentuk. kekasaran permukaan agregat dan gradasi butir agregatnya. sebenarnya tidak begitu besar karena pada umumnya kekuatan agregat lebih tinggi daripada pastanya. yang berakibat penambahan kuat tekan (Tjokrodimuljo.

Gambar II. 1996) 4.10 Gambar II.1996) . Umur beton Kuat tekan beton bertambah sesuai dengan bertambahnya umur beton. hal inilah yang menyebabkan semakin sulitnya proses hidrasi seiring dengan bertambahnya umur beton. butir-butir semen akan menghasilkan endapan. Selama proses ini. Pengaruh jenis agregat terhadap kuat tekan beton (Tjokrodimuljo. 4. 3. terutama antara semen dan air yang mengalami proses hidrasi. Hal ini disebabkan oleh reaksi kimia yang terjadi antara bahan-bahan penyusun beton. Kenaikan kekuatan beton tersebut mula-mula cepat kemudian semakin melambat selaras dengan umur betonnya. dan pada permukaan endapan butiran semen ini akan membuat difusu air ke bagian dalam. Pengaruh suhu pada laju kuat tekan beton (Tjokrodimuljo. Yang dimaksud umur beton adalah dihitung sejak umur beton dibuat.

5. 1996) . (Sumber : Tjokrodimuljo. Semen portland yang dalam penggunaannya memerlukan ketahanan terhadap sulfat dan panas hidrasi. Semen portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan kekuatan awal yang tinggi setelah pengikatan terjadi. Pengaruh umur beton terhadap laju kenaikan kuat tekan beton pada beberapa fas (Tjokrodimuljo. Semen portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan panas hidrasi yang rendah.1996) 5. Departemen Pekerjaan Umum (1982) membagi semen portland dalam lima jenis yaitu : Jenis semen Jenis I Jenis II Jenis III Jenis IV Jenis V Karakteristik Umum Semen portland untuk penggunaan umum yang tidak memerlukan persyaratan khusus seperti yang disyaratkan pada jenis-jenis lain. Jenis semen Menurut PUBI. Semen portland yang dalam penggunaannya persyaratan sangat tahan terhadap sulfat.11 Gambar II.

mengurangi retak-retak pengerasan dan menambah kuat tekan beton. 6. Bahan tambah kimia Bahan tambah kimia adalah suatu bahan kimia yang dapat membantu mempermudah dalam proses pembuatan beton. pozolan dan serat (Tjokrodimuljo. Bahan Tambah Beton Dalam pembuatan konstruksi beton. Bahan tambah beton ini dapat berupa bahan tambah kimia. segera atau selama pengadukan beton (Tjokrodimuljo. 1996). 1982). terutama untuk pembuatan beton di daerah yang beriklim tropis seperti Indonesia. 1996) E. menghemat harga beton menambah daktalitas (mengurangi sifat getas). 1996). Grafik Kuat tekan beton untuk berbagai jenis semen (Tjokrodimuljo. . bahan tambah merupakan bahan yang dianggap penting. Penggunaan bahan tambah tersebut dimaksudkan untuk memperbaiki dan menambah sifat beton sesuai dengan yang diinginkan. penampilan beton bila mengeras. untuk mengubah beberapa sifat beton dan memperoleh sifat-sifat khusus yang diinginkan (Departemen Pekerjaan Umum. sebelum. Penggunaan bahan tambah (admixture) harus didasarkan pada alasanalasan yang tepat misalnya memperbaiki kelecakan beton. 1.12 Gambar II. Bahan kimia (berupa bubuk atau cairan) ini dicampurkan ke dalam adukan beton dengan jumlah tertentu selama pengadukan. Bahan tambah ialah bahan selain unsur pokok beton (air. semen dan agregat) yang ditambahkan pada adukan beton.

Jenis C : Bahan tambah kimia untuk mempercepat proses ikatan dan pengerasan beton. 2. untuk menghasilkan adukan beton dengan kekentalan sama (air dikurangi sampai 12% lebih namun adukan beton tidak bertambah kental). Selain lima jenis di atas. 2) Bahan kimia tambahan dengan fungsi ganda. Dengan pemakaian bahan ini diperoleh adukan dengan faktor air semen lebih rendah pada nilai slump yang sama. 1996). Jenis D : Bahan kimia tambahan yang berfungsi ganda yaitu mengurangi air dan memperlambat proses ikatan dan pengerasan beton. akan tetapi dalam bentuknya yang halus dengan adanya air. maka senyawa tersebut akan bereaksi dengan Calsium Hidroksida Ca(OH)2 pada suhu biasa membentuk kalsium hidrat yang bersifat hidrolis. silika fume dan lain-lain. . Pozzolan Pozolan merupakan bahan tambah mineral yang mengandung silika (SiO2) dan alumina (Al2O3). Bahan pozolan tidak mempunyai sifat mengikat seperti semen. yaitu : 1) Bahan kimia tambahan yang digunakan untuk mengurangi jumlah air campuran sampai sebesar 12% atau bahkan lebih.13 Menurut Persyaratan Umum Bahan Bangunan Indonesia (PUBI). Jenis E : Bahan tambah kimia berfungsi ganda yaitu untuk mengurangi air dan mempercepat proses ikatan dan pengerasan beton. (Tjokrodimuljo. b. yang merupakan sisa pembakaran dari tungku ataupun hasil pemanfaatan limbah yang diolah menjadi abu yang mengandung silika reaktif dengan melalui proses pembakaran. Menurut pembentukannya pozolan dibedakan menjadi dua jenis. yaitu : 1) Pozolan buatan. yaitu mengurangi air sampai 12% atau lebih. seperti abu terbang (fly ash). d. c. 1982 bahan kimia tambahan dibedakan menjadi lima jenis antara lain : a. e. Jenis A : Bahan kimia tambahan untuk mengurangi jumlah air yang dipakai. abu sekam padi (rice husk ash). ada dua jenis lain yang lebih khusus. memperlambat pengikatan awal. Jenis B : Bahan tambah kimia untuk memperlambat proses ikatan dan pengerasan beton.

1996) .14 2) Pozolan alam. yang merupakan sedimentasi dari abu atau lava gunung berapi yang mengandung silika aktif yang bila dicampur dengan kapur padam akan mengadakan proses sedimentasi. dan mengandung pozolan. Pemakaian serat pada beton lebih tahan retak dan tahan terhadap benturan. (Tjokrodimuljo. dan mengurangi keawetan beton. Abu arang briket batubara termasuk bahan kimia jenis E. namun hanya menambah daktalitas. Serat Tujuan utama penambahan serat ke dalam beton adalah untuk menambah kuat tarik beton yang sangat rendah berakibat beton mudah retak. 3. pemberian serat pada beton tidak banyak menambah kuat tekan beton.

cara pengadukan maupun pengerjaan selama penuangan adukan beton. material-material tersebut harus melalui tahap penelitian dan berkualitas baik. Bahan Penyusun Beton Dasar penyusun material beton normal terdiri dari semen. Perencanaan campuran beton dimaksudkan untuk mendapatkan beton yang sebaik-baiknya. murah. yaitu yang kuat tekannya tinggi. Tahap-tahap penelitian harus diselesaikan sesuai standar penelitian yang baku untuk mendapatkan material yang berkualitas baik. penambahan bahan dari sifat-sifat bahan dasar yang dipakai. mudah dikerjakan. agregat halus. air dan bahan tambah (admixture) bila diperlukan. agregat kasar. banyaknya pemakaian beton disebabkan terbuat dari bahan-bahan yang umumnya mudah didapat serta mudah diolah sesuai dengan bentuk yang diinginkan. beton merupakan bahan bangunan yang banyak dipakai secara luas. tahan lama dan tahan aus. perbandingan bahan-bahan yang dipakai. Umum Pada saat ini. Untuk pembuatan beton. Kesulitan timbul karena di dalamnya banyak parameter yang harus diperhitungkan.BAB III LANDASAN TEORI A. Produksi beton yang efektif dapat dicapai dengan pemilihan. 15 . Bahan-bahan dasar penyusun beton harus diketahui oleh perencana. B. sehingga dapat mengembangkan dan memilih bahan penyusun yang baik serta dapat menentukan komposisi yang tepat. cara pemadatan dan cara perawatan selama proses pengerasan. misalnya: ukuran maksimum agregat. pengontrolan dan perbandingan yang tepat untuk semua bahan serta untuk perancangan campuran beton mutu tinggi lebih kompleks bila dibandingkan dengan perancangan campuran beton normal.

Jenis-jenis semen Portland. Semen portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan kekuatan awal yang tinggi setelah pengikatan terjadi.1. Perubahan komposisi kimia semen dengan mengubah 4 komponen utama semen. menghasilkan bahan yang tahan terhadap air (water resistance) dan stabil tahan air. Semen portland yang dalam penggunaannya memerlukan ketahanan terhadap sulfat dan panas hidrasi. Semen Portland Semen merupakan bahan yang mempunyai sifat adhesif dan kohesif. juga telah dibuat semen dengan tujuan khusus (Subakti. Sesuai dengan tujuan pemakaiannya PUBI (1982) membagi semen portland dalam lima jenis seperti yang dapat dilihat pada Tabel III. dengan gips sebagai bahan tambahnya. menghasilkan beberapa jenis semen sesuai dengan tujuan pemakaiannya. terutama terdiri dari silikat calsium yang bersifat hidrolis. Semen portland adalah semen hidrolis yang dihasilkan dengan penghaluskan clinker. Jenis-jenis semen Portland. Semen hidrolis adalah semen yang akan mengeras apabila bereaksi dengan air. Jenis semen Jenis I Jenis II Jenis III Jenis IV Jenis V Karakteristik Umum Semen portland untuk penggunaan umum yang tidak memerlukan persyaratan khusus seperti yang disyaratkan pada jenis-jenis lain. yaitu : Trikalsium Silikat (C3S). Adukan dari semen halus ini tahan sampai tekanan 1000 atmosfir. sebagai berikut : Tabel III. Semen-semen itu adalah : 1) Oil well cement. sebagai hasil dari pembakaran pada suhu tinggi terhadap bahan-bahan mentah pembentuk semen. Dikalsium Silikat (C2S). semen ini digunakan untuk penyemenan sumur minyak yang dalam. Clinker adalah bahan baku yang dibutuhkan dalam pembuatan semen. kedua sifat fisis ini memiliki fungsi sebagai bahan perekat.1. 1995). Semen ini sangat cepat proses hidrasinya karena itu digunakan serbuk khusus untuk menghambat proses hidrasi semen ini. .16 1. Trikalsium Aluminat (C3A) dan Tetrakalsium Alumina Ferit (C4AF). 1996) Selain semen-semen yang disebut di atas. (Sumber : Tjokrodimuljo. Semen portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan panas hidrasi yang rendah. Semen portland yang dalam penggunaannya persyaratan sangat tahan terhadap sulfat.

3) Semen putih. serta ketahanan terhadap penyusutan (Murdock dan K. kuat dan bersudut. oleh karena itu penggilingan serbuk mahal.3-3. Agregat merupakan bahan utama pembentuk beton disamping pasta semen. Agregat halus. 4 standar ASTM) dan lebih besar dari 0. Jenis semen ini tidak mengandung alkali dalam komposisinya. Agregat halus beton dapat berupa pasir alami sebagai disintegrasi alami atau berupa pasir buatan (artifical sand) yang dihasilkan dari alat-alat pemecah batu. buatan (batu pecah) maupun bahan sisa produk tertentu.075 mm. agregat halus harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : 1) Butir-butirannya tajam. Agregat beton dapat berasal dari bahan alami. kerikil. Selain persyaratan teknis yang harus dipenuhi. pasir dan lain-lain) ialah kekuatan hancur dan ketahanan terhadap benturan. Agregat halus bersama dengan semen dan air membentuk mortar yang akan mengikat agregat kasar menjadi satu kesatuan yang kuat dan kompak. 2) Tidak mengandung tanah dan kotoran lain yang lolos ayakan 0. oleh karena itu kualitas agregat berpengaruh terhadap kualitas beton (Nugroho. Kadar agregat dalam campuran berkisar antara 70-75% dari volume total beton.17 2) Semen dengan kadar alkali rendah. 2a). Menurut Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia. 1999).1-2. yang dapat mempengaruhi ikatannya dengan pasta semen. Bab 3 Pasal 3. jenis semen ini dibuat dari batu kapur yang bebas besi. Agregat. agregat halus mempunyai butiran yang lolos ayakan 4. 1983). Brook. 2. porositas dan karakteristik penyerapan air yang mempengaruhi daya tahan terhadap proses pembekuan waktu musim dingin dan agresi kimia. quarsa pasir dan kaolin.M.075 mm. Sifat yang paling penting dari suatu agregat (batu-batuan. . semen ini digunakan di negara-negara penghasil agregat yang reaktif terhadap iklim. hal lain yang perlu diperhatikan dalam pemilihan jenis agregat beton mengacu pada Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI) tahun 1971 N.5 dan standar ASTM C 33-97.75 mm (No.

bila kadar lumpur lebih dari 1% agregat harus dicuci. Agregat kasar. maka jumlah butir pipih tidak boleh lebih 20% dari agregat seluruhnya. 5) Harus mempunyai variasi besar butir atau gradasi yang baik. Menurut persyaratan umum bahan bangunan di Indonesia. Untuk . 5) Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir yang beraneka ragam besarnya. 3) Tidak mengandung zat-zat yang merusak beton. 6) Besar butir agregat maksimum tidak boleh lebih dari 1/5 jarak terkecil antar bidang samping cetakan.18 3) Tidak mengandung garam yang menghisap air udara. serta untuk menjadi bahan pelumas antara butir-butir agregat agar lebih mudah dikerjakan dan dipadatkan. Air Air merupakan bahan pembuat beton yang sangat penting. Agregat kasar bersifat kekal. Agregat kasar yang akan dicampurkan sebagai adukan beton harus mempunyai syarat mutu yang ditetapkan. tidak hancur. 3. 7) Agregat harus mempunyai sifat reaktif terhadap alkali. 1/3 tebal plat atau ¾ jarak bersih minimum antara batang tulangan. 6) Bersifat kekal. seperti zat-zat yang reaktif alkali. 2) Agregat tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1% (ditententukan terhadap berat kering). maka agregat harus memenuhi syarat sebagai berikut : 1) Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir keras dan tidak berpori apabila agregat kasar mengandung butir pipih. 4) Kekerasan dari butir-butir agregat kasar diperiksa dengan bejana penguji Los Angeles. Air diperlukan untuk bereaksi dengan semen. tahun 1982. 4) Tidak mengandung zat organik karena dapat mengurangi mutu beton. yaitu tidak hancur oleh pengaruh cuaca. Agregat kasar adalah kerikil sebagai disintegrasi alami batuan atau berupa batu pecah yang diperoleh dari industri pemecah batu dan mempunyai ukuran antara 5 sampai 40 mm. 2b).

(Sukandarrumidi. Didalam peranannya sebagai pengisi. Persyaratan air yang digunakan dalam campuran beton adalah sebagai berikut : a) Air tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 2 gram/liter. bentonite. 4. Selain itu air juga digunakan untuk perawatan beton dengan cara pembasahan setelah pengecoran. Kandungan abu akan tebawa barsama gas pembakaran melalui ruang bakar dan daerah konversi dalam bentuk abu terbang. air hanya diperlukan 25% dari berat semen saja. kaolin dan tepung batu menguntungka untuk beton tumbuk yang kasar/kaku. yang kekurangan partikel halus. kelebihan air juga dapat memberikan penyusutan yang besar pada beton. Pemakaian bahan pengisi berpengaruh pada kekuatan. kelenturan plastis. 1996). bahan-bahan seperti kapur padam. Portland Cement atau bahan lain (Totomiharjo. Abu terbang memiliki ukuran yang blebih halus dan warna lebih terang dari abu dasar. 30 US Standar Sieve dan 65% lewat ayakan No.5 gram/liter. 1995) . 5. Bahan pengisi (Filler) Bahan pengisi adalah suatu bahan berbutir halus yang lewat ayakan No. kapur.19 bereaksi dengan semen. Sekitarc 20% dalam bentuk abu dasar dan 80% dalam bentuk abu terbang. Dapat ditambahkan bahwa flyash dan slag (sisa benda tambang) yang berasal dari dapur etus dapat digolongkan sebagai pengisi pori-pori meskipun bahan ini digunakan karena sifat pozolannya. 1994). 200. Abu arang briket adalah abu terbang limbah pembakaran batubara yang keluar dari tabung pembakaran. Abu arang briket. Selain itu dapat menurunkan kekuatan beton. tanah diatomaceous. c) Air tidak boleh mengandung Chlorida (Cl) lebih dari 0. Pemakaian air yang terlalu banyak akan menimbulkan gelembung air sehingga beton menjadi porous. permeabilitas dan ketahanan terhadap gaya luar serta pengaruh cuaca. jumlah rongga udara. b) Air tidak boleh mengandung garam-garaman lebih dari 15 gram/liter. Bahan filler dapat berupa abu batu. (Tjokrodimuljo.

dari sifat bahan tersebut hanya perhitungan awal yang berguna untuk membuat campuran percobaan.20%. Abu ampas tebu adalah hasil sisa penggilingan tebu yang ada di pabrik gula kemudian dibakar.T-15-1990-03 (Tjokrodimuljo. MgO.SNI. Filler abu arang briket yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari PT. Kuat tekan beton yang disyaratkan ditetapkan sesuai dengan persyaratan perencaaan strukturnya dan kondisi setempat. Perencanaan campuran menggunakan metode SK. Abu yang terjadi pada pembakaran batubara akan membentuk oksida-oksida.SNI. C. Abu ampas tebu. Kadar abu batubara di Indonesia biasanya hanya berkisar antara 5%. Abu arang briket yang bersifat pozolan merupakan additive mineral yang baik untuk beton. Skatex yang berada di Karanganyar. 6.20 Abu arang briket didefinisikan sebagai sisa pembakaran dari tungku pemanas yang dikeluarkan dari ruang perapian suatu ketel uap gas buang yang lolos saringan No. Fe2O3. Al2O3. Penetapan kuat tekan beton yang disyaratkan (f’c) pada umur tertentu. Abu ampas tebu yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari Pabrik Gula Tasik Madu di Karanganyar Jawa Tengah. Hal ini karena bahan-bahan dasar beton sangat variabel dan banyak. 2. Adapun langkah-langkah pokok perencanaan campuran dengan metode SK. agar hasil yang diperoleh dari campuran percobaan tidak menyimpang terlalu jauh.K2O. Perencanaan Campuran Beton Perencanaan adukan beton pada setiap hasil hitungan harus dikontrol dengan uji coba berupa campuran pekerjaan (trial mixes) untuk memastikan hasilnya. 200. 1996) adalah sebagai berikut : 1. Na2O. Di Indonesia yang dimaksudkan dengan kuat tekan beton yang disyaratkan ialah kuat tekan beton dengan kemungkinan lebih rendah dari nilai itu hanya sebesar 5% saja.T-15-1990-03 yang dalam perencanaan ini digunakan tabel-tabel dan grafik. antara lain : SiO2. Penetapan nilai deviasi standar (s) . CaO. Abu ampas tebu bersifat sebagai pengikat dalam campuran beton.

Penetapan nilai standar deviasi standar ini berdasar pada pengalaman praktek pelaksanaan pada waktu yang lalu.4 Tanpa kendali (Tjokrodimuljo.6 Cukup 7.III. Tingkat pengendalian mutu pekerjaan Sd (Mpa) 2. lihat Tabel. 1996) 3. Jika pelaksana mempunyai catatan data hasil pembuatan beton serupa pada masa yang lalu. Satu data hasil uji kuat tekan adalah hasil rata-rata dari uji tekan dua silinder yang dibuat dari contoh beton yang sama dan diuji pada umur 28 hari atau umur pengujian lain yang ditetapkan. SNI.5 Sangat baik 4. Makin baik mutu pelaksanaan makin kecil nilai standar deviasi standarnya. Tabel.21 Deviasi standar ditetapkan berdasarkan tingkat mutu pengendalian pelaksanaa pencampuran betonnya. Jika jumlah hasil uji kurang dari 30 buah maka dilakukan koreksi terhadap nilai deviasi standar dengan suatu faktor pengali. .03 20 1.08 15 1.0 Jelek 8.2. Faktor pengali deviasi standar Jumlah data Faktor pengali 30 1. T-15-1990-03) b. Nilai deviasi standar untuk berbagai tingkat pengendalian mutu pekerjaan. untuk pembuatan beton mutu sama dan menggunakan bahan dasar yang sama pula. maka nilai margin langsung diambil sebesar 12 MPa. (f’c+12). Penghitungan nilai tambah (margin) (M) Jika nilai tambah ini sudah ditetapkan sebesar 12 Mpa maka langsung ke langkah (4). Tabel. III.0 25 1.2 Baik 5. Jika pelaksana tidak mempunyai catatan/pengalaman hasil pengujian beton pada masa lalu yang memenuhi persyaratan (termasuk data hasil uji kurang dari 15 buah).III.16 <15 Lihat butir b (SK. maka persyaratannya (selain yang disebut diatas) jumlah data hasil uji minimum 30 buah.8 Memuaskan 3. 2.3. a.

IV dan V. Pada langkah ini ditetapkan apakah dipakai semen biasa atau semen yang cepat mengeras. III. Mpa f’c M = kuat tekan yang disyaratkan. II. MPa 5. 6. Sd dengan : M = nilai tambah ( Mpa ) k = tetapan statistic yang nilainya tergantung pada prosentase hasil uji yang lebih rendah dari f’c. yaitu jenis I. .22 Jika nilai tambah dihitung berdasarkan nilai deviasi standar Sd maka dilakukan dengan rumus berikut : M = k .64 Sd = deviasi standart ( Mpa ) 4. atau dengan kata lain sering disebut semen cepat mengeras. adapun jenis III merupakan jenis semen yang dipakai untuk struktur yang menuntut persyaratan kekuatan awal yang tinggi. MPa = nilai tambah. Berdasarkan jenis semen yang dipakai dan kuat tekan rata-rata silinder beton yang direncanakan pada umur tertentu ditetapkan nilai faktor air semen. Jenis I merupakan jenis semen biasa. Tetapkan faktor air semen dengan salah satu dari dua cara berikut : a. 7. Penetapan jenis semen Portland Menurut PUBI 1982 di Indonesia semen Portland dibedakan menjadi 5 jenis. dalam hal ini diambil 5 % dari nilai k = 1. Penetapan jenis agregat Jenis kerikil dan pasir ditetapkan apakah berupa agregat alami (tak dipecahkan) ataukah agregat jenis batu pecah (crushed aggregate). Menetapkan kuat tekan rata-rata yang direncanakan Kuat tekan beton rata-rata yang direncanakan diperoleh dengan rumus : f’cr = f’c+ M dengan : f’cr = kuat tekan rata-rata.

keadaan keliling korosif b. III. SNI. Berdasar jenis semen yang dipakai. 5.52 lihat tabel. T-15-1990-03) 8. Persyaratan jumlah semen minimum dan faktor air semen maksimum untuk lingkungan khusus Jenis pembetonan berbagai macam pembetonan dalam Jumlah semen minimum per m3 beton (kg) 275 325 325 275 325 - Nilai faktor semen maksimum 0. III. 4.60 0. III. T-15-1990-03) . Perkiraan kuat tekan beton dengan faktor air semen 0. Penetapan faktor air maksimum Agar beton yang diperoleh tidak cepat rusak misalnya. SNI. ditetapkan nilai faktor air semen. lihat Tabel. maka perlu ditetapkan nilai faktor air semen maksimum.23 b.60 0. III. IV Semen Portland tipe III Jenis agregat kasar Batu tak dipecahkan Batu pecah Batu tak dipecahkan Batu pecah Batu tak dipecahkan Batu pecah Batu tak dipecahkan Batu pecah Kekuatan tekan (Mpa) Bentuk Pada umur (hari) benda uji 3 7 28 91 17 23 33 40 Silinder 19 27 37 45 Kubus 20 28 40 48 Silinder 23 32 45 54 Kubus 21 28 38 44 Silinder 25 33 44 48 Kubus 25 31 46 53 Silinder 30 40 53 60 Kubus (SK. tidak terlindung dari hujan dan terik matahari langsung b.52 0. mengalami keadaan basah dan kering berganti-ganti b. dapat terpengaruh sulfat dan alkali dari tanah Beton yang kontinue berhubungan : air tawar dan air laut (SK. 7 Beton didalam ruang bangunan : a. terlindung dari hujan dan terik matahari langsung Beton yang masuk ke dalam tanah : a. 5. Penetapan faktor air semen maksimum dapat dilihat pada Tabel. III.5 dan jenis semen dan agregat kasar yang biasa dipakai di Indonesia Jenis semen Semen portland tipe I atau semen tahan sulfat tipe II. jenis agregat kasar dan kuat tekan rata-rata yang direncanakan pada umur tertentu. III. keadaan keliling korosif disebabkan oleh kondensasi atau uap korosif Beton diluar ruangan bangunan : a.60 0. Tabel. Jika nilai faktor air semen maksimum ini lebih rendah dari langkah (7) maka nilai faktor air semen maksimum ini yang dipakai untuk perhitungan selanjutnya. 6 lihat tabel. Tabel. 4.

SNI.55 .5 2. 7.45 Tipe semen Kandungan semen minimum (kg/m3) Ukuran nominal maksimum agregat 40 mm 20 mm 300 280 340 290 330 380 330 370 Tipe I-V Tipe I + pozzolan (15-40%) atau Semen Portland Tipe II atau tipe V (SK.45 0. III.50 Air laut 0. 6.2 270 310 360 0. 0.3-1. Ketentuan untuk beton yang berhubungan dengan air tanah yang mengandung sulfat Konsentrasi sulfat dalam bentuk SO3 Sulfat (SO3) Dalam tanah dlm air tanah (gr/ltr) Total SO3 SO3 (%) dlm camp air : tnh =2:1 (gr/lt) < 0.2-0. T-15-1990-03) Tabel.5 1.9 0.5 290 330 380 0. 280 300 350 0.2 < 1. Ketentuan minimum untuk beton bertulang kedap air Jenis beton Kondisi lingkungan berhubunga n dengan Air tawar Beton bertulang atau prategang Air payau Faktor air semen maksimum 0.50 0.0-1.55 250 290 340 0.0 < 0.24 Tabel. III.3 Kandungan semen minimal (kg/m3) Ukuran nominal agrgegat maksimum 40 mm Tipe I dengan atau tanpa pozzolan (1540%) Tipe I dengan atau tanpa pozzolan (1540%) Tipe I pozzolan (1540%) atau Semen Portland Pozzolan Tipe II atau tipe V 20 mm 10 mm Kadar gangguan sulfat Tipe semen fas 1.

5. Nilai slam yang diinginkan dapat dilihat pada Tabel III. 7. dan struktur di bawah tanah Plat. 9.0 > 5.25 Tabel. 0.5 (Tjokrodimuljo. dan slam yang diinginkan. di lihat pada dibawah ini yaitu table III. .0 7. plat pondasi dan pondasi Pondasi telapak tidak bertulang. pengangkutan.0 2.0-2. 1996) 10.9-3. Tetapkan jumlah air Jumlah air yang diperlukan permeter kubik beton.0 1. Tabel. pemadatan maupun jenis strukturnya.5 7.1 1.5 atau atau atau 290 330 330 330 370 370 380 420 420 0.2-2. Cara pengangkutan adukan beton dengan aliran dalam pipa yang dipompa dengan tekanan membutuhkan nilai slam yang besar.50 0. 8. Penetapan nilai slump (cm) Pemakaian beton Dinding.45 3. jenis agregat.5 Maksimal 12. balok.1-5. III. 8. 1. T-15-1990-03) 9. III. berdasarkan ukuran maksimum agregat.0 > 5. kolom dan dinding Pengerasan jalan Pembetonan massal 15.45 0. Lanjutan Tipe pozzolan 40%) Semen Portland Pozzolan Tipe II tipe V Tipe II tipe V Tipe II tipe V *lapisan pelindung I (15atau 340 380 430 0.0 > 2. penuangan.0 3. Penetapan nilai slump Penetapan nilai slam dilakukan dengan memperhatikan pelaksanaan pembuatan. SNI.0 Minimum 5.5-5.0 2.0 2.5 9. kaison.45 4. adapun pemadatan adukan dengan alat getar (triller) dapat dilakukan dengan nilai slam yang agak kecil.5 7.5-1.5 5.0 (SK.

b.10 150 180 135 170 115 155 Slam (mm) 10 . . Hitung berat semen yang diperlukan Berat semen per meter kubik beton dihitung dengan membagi jumlah air dari langkah (10) dengan faktor air semen yang didapat dari langkah (7) dan (8).30 180 205 160 190 140 175 30 . Penyesuaian kebutuhan semen Apabila kebutuhan air semen yang didapat dari langkah (12) ternyata lebih sedikit daripada kebutuhan semen minimum (13) maka kebutuhan semen harus dipakai yang minimum (yang nilainya lebih besar)..26 Tabel. Seperlima jarak terkecil antara bidang samping cetakan 12. SNI.180 225 250 195 225 175 205 (SK. air payau dan air laut. Penetapan besar butir agregat maksimum Penetapan besar butir agregat maksimum dilakukan berdasarkan nilai terkecil dari ketentuan –ketentuan berikut : a. Kebutuhan semen minimum ini ditetapkan untuk menghindari beton dari kerusakan akibat lingkungan khusus. Perkiraan kadar air bebas (kg/m3) yang dibutuhkan untuk beberapa tingkat kemudahan pengerjaan adukan beton Besar ukuran maksimal kerikil (mm) 10 Batu tak dipecahkan Batu pecah 20 Batu tak dipecahkan Batu pecah 40 Batu tak dipecahkan Batu pecah Jenis agregat 0 . misalnya lingkungan korosif. III. 13.60 205 230 180 210 160 190 60 . Kebutuhan semen minimum Kebutuhan semen minimum ditetapkan dengan tabel. 9. Tiga per empat kali jarak bersih minimum antar baja tulangan atau berkas baja tulangan atau tendon prategang atau selongsong. Sepertiga kali tebal plat c. T-15-1990-03) 11. 14.

Jumlah air disesuaikan dengan mengalikan jumlah semen dengan faktor air semen. T-15-1990-03) 17.100 85 . Perbandingan agregat halus dan agregat kasar Nilai perbandingan antara berat agregat halus dan agregat kasar diperlukan untuk memperoleh gradasi agregat campuran yang baik.50 0 . .100 80 . dan daerah gradasi agregat halus. Pada langkah ini dicari nilai banding antara berat agregat halus dengan berat agregat campuran. 10.3 0.100 95 .10 2 100 90 . Catatan : cara pertama akan menurunkan faktor air semen sedangkan cara kedua menaikan jumlah air yang diperlukan.4 1.2 0. SNI. Penentuan daerah gradasi agregat halus Berdasarkan gradasinya (hasil analisis ayakan) agregat halus yang akan dipakai dapat diklasifikasikan menjadi 4 daerah.90 35 . 16. faktor air semen dihitung kembali dengan cara membagi jumlah air dengan jumlah air minimum.34 5 .20 0 .30 0 .59 8 . Penentuan daerah itu didasarkan atas grafik gradasi yang diberikan dalam Tabel.27 15.95 30 . nilai slam.100 15 . Batas gradasi pasir Lubang ayakan (mm) 10 4.8 2.15 (SK.100 60 . Penyesuaian jumlah air atau faktor air semen Jika jumlah semen ada perubahan akibat langkah (14) maka faktor air semennya berubah.100 60 .40 0 – 10 4 100 90 .70 15 . 10. faktor air semen. Tabel.79 12 .10 3 100 90 .100 55 . III. Dalam hal ini dapat dilakukan dengan cara berikut : a.100 90 . III. Penetapan dilakukan dengan memperhatikan besar butir maksimumagregat kasar.100 75 .15 Persen berat butir yang lewat ayakan 1 100 90 . b.6 0.100 75 .

28 Berdasarkan data tersebut dan grafik persentase agregat dapat diperoleh persentase agregat halus terhadap berat agregat campuran. Berat jenis agregat campuran Berat jenis agregat campuran dihitung dengan rumus : Bj camp = Dengan : Bj campuran Bj agregat hls Bj agregat ksr P K = = = = = Berat jenis agregat campuran Berat jenis agregat halus Berat jenis agregat kasar Persentase agregat halus terhadap agregat campuran Persentase agregat kasar terhadap agregat campuran P K x Bj agregat halus + x Bj agregat kasar 100 100 Berat jenis agregat halus dan agregat kasar didapat dari hasil pemeriksaan laboratorium. namun jika tidak ada dapat diambil sebesar 2. 21. . Hitung berat agregta halus yang diperlukan. 20. berdasarkan hasil langkah (17) dan (20) Kebutuhan agregat halus dihitung dengan cara mengalikan kebutuhan agregat campuran dengan persentase berat agregat halusnya. Penentuan berat jenis beton Dengan data berat jenis agregat campuran dari langkah (18) dan kebutuhan air tiap meter kubik betonnya maka dengan grafik hubungan kandungan air. berdasarkan hasil langkah (20) dan (21) Kebutuhan agregat kasar dihitung dengan cara mengurangi kebutuhan agregat campuran dengan kebutuhan agregat halus.60 gr/cm3untuk agregat tak pecah/alami dan 2. 18. 19. 22. Kebutuhan agregat campuran Kebutuhan agregat campuran dihitung dengan cara mengurangi berat beton permeter kubik dikurangi kebutuhan air dan semen.70 gr/cm3 untuk agregat pecahan. Hitung berat agregat kasar yang diperlukan. berat jenis agregat campuran dan berat beton dapat diperkirakan berat jenis betonnya.

Pembebanan dilakukan secara perlahan-lahan secara continue dengan mesin hidrolik sampai benda uji mengalami kehancuran (jarum petunjuk berhenti kemudian salah satunya bergerak turun). Benda uji diletakkan pada mesin penekan dan posisinya diatur agar supaya tepat berada ditengah-tengah plat penekan. gradasi batuan. 1. d. dilakukan pengujian kuat tekan beton.Da ) x D/100 D. Kuat Tekan Beton Untuk mengetahui kuat tekan beton yang telah mengeras yang disyaratkan. cara pengerjaan (campuran.29 Dalam perhitungan diatas agregat halus dan agregat kasar dianggap dalam keadaan jenuh kering muka. pengangkutan. Beban maksimum yang ditunjukkan oleh jarum petunjuk dicatat. Dimana : B C D Ca Da Ck Dk = jumlah air (kg/m3) = jumlah agregat halus (kg/m3) = jumlah kerikil (kg/m3) = absorpsi air pada agregat halus (%) = absorpsi agregat kasar (%) = kandungan air dalam agregat halus (%) = kandungan air dalam agregat kasar (%) Air Agregat halus Agregat kasar = B – ( Ck .Da ) x D/100 = C + ( Ck – Ca ) x C/100 = D + ( Dk .( Dk . Kuat tekan beton antara lain tergantung pada : faktor air semen. bentuk batuan. b. . Koreksi harus selalu dilakukakan minimum satu kali per hari. c. Prosedur pengujian kuat tekan beton menggunakan Standart Test Methode For Commpressive of Cylindrical Concrete. sehingga dilapangan yang pada umumnya keadaan agregatnya tidak jenuh kering muka maka harus dilakukan koreksi terhadap kebutuhan bahannya.Ca ) x C/100 . pemadatan dan perawatan) dan umur beton (Tjokrodimuljo. 1996). 2. ukuran maksimum batuan. Benda uji ditimbang dan dicatat beratnya. 3. Adapun langkah-langkah pengujian sebagai berikut : a.

30

Menurut Murdock dan K.M. Brook (1991), beton dapat mencapai kuat tekan 80 MPa atau lebih, bergantung pada perbandingan air dan semen dan tingkat pemadatannya. Di samping dipengaruhi oleh perbandingan air dan semen kuat beton juga dipengaruhi oleh faktor lainnya, yaitu : jenis semen, kualitas agregat, efisiensi perawatan, umur beton dan jenis bahan admixture. Kuat tekan beton f’c =

dengan : d

Pmaks P ………………………………………..(III.1) = 1 A 2 .π.d 4

Pmaks = beban maksimum (N) = diameter silinder beton (mm2)
E. Kuat Tarik Beton

Kuat tarik beton adalah kemampuan beton yang diletakkan pada dua perletakan untuk menahan gaya dengan arah tegak lurus sumbu benda uji, yang diberikan padanya, sampai benda patah dan dinyatakan dalam Mega Pascal (MPa) gaya tiap satuan. Peralatan yang dipakai adalah mesin tekan beton yang dapat menguji kuat tarik yang dilengkapi dengan 2 jarum pembacaan beban, 2 buah perletakan benda uji berbentuk titik, dan 2 buah titik pembebanan, ketelitian pembacaan sebesar 12,5 kg. Alat bantu lain berupa timbangan kapasitas 50 kg dengan ketelitian 0,01 %, pengukuran panjang dan jangka sorong. Adapun langkah pengujian sebagai berikut : a. Ukur dimensi penampang benda uji. b. Timbang berat benda. c. Buat garis melintang sebagai penunjuk untuk perletakan dan titik pembebanan. d. Pasang 2 perletakan serta alat pembebanan. e. Letakkan benda uji diatas tumpuan. f. Hidupkan mesin uji tekan. g. Atur pembebanan dengan kecepatan 8-10 kg/cm2 per menit. h. Hentikan pembebanan setelah beban maksimum tercapai.

31

Kuat tarik beton antara lain tergantung pada : faktor air semen, gradasi batuan, bentuk batuan, ukuran maksimum batuan, cara pengerjaan (campuran, pengangkutan, pemadatan dan perawatan) dan umur beton (Tjokrodimuljo, 1996). Kuat tarik beton f’cr =

2.P ………………………………………………. (III.2) π.d.h

dengan:
P = beban maksimum (N) d = diameter silinder (mm) h = tinggi silinder (mm)

BAB IV METODE PENELITIAN A. Umum Pelaksanaan penelitian dilakukan secara eksperimental, yang dilakukan di Laboratorium Bahan dan Struktur, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. Obyek dalam penelitian ini adalah beton yang menggunakan bahan tambah filler abu ampas tebu dengan abu arang briket. Pengujian kuat tekan dan tarik dilakukan setelah beton berumur 14 hari di Laboratorium Bahan dan Struktur, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. B. Bahan Penelitian dan Peralatan Penelitian 1. Bahan penelitian Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : a) Semen yang digunakan adalah semen Portland jenis I, merk Holcim b) Agregat halus berupa pasir, berasal dari Boyolali. c) Agregat kasar berupa batu pecah, berasal dari Boyolali. d) Air yang digunakan diambil dari Laboratorium Bahan dan Struktur, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. e) Bahan tambah filler abu arang briket berasal dari PT. Skatex di Karanganyar dan abu ampas tebu berasal dari PG. Tasik Madu di Karanganyar. 2. Peralatan penelitian Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini tersedia di Laboratorium Bahan dan Struktur, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. Peralatan-peralatan yang digunakan terdiri atas : a) Ayakan standart, untuk memisahkan agregat sesuai ukuran yang diinginkan. b) Penggetar ayakan (Siever), untuk menggetarkan ayakan agregat dapat terpisahkan sesuai lubang ayakan yang diinginkan. c) Timbangan, untuk mengukur benda uji sesuai yang diinginkan. d) Gelas ukur, untuk pemeriksaan kadar Lumpur dan pemeriksaan bahan organik.

32

untuk mengeringkan agregat. f) Desicator. Ayakan standart. Gambar IV. Satu set ayakan dan Siever . untuk mengaduk campuran beton.1. l) Mesin uji tekan. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. k) Bak tempat perendaman benda uji. i) Molen.36 mm. 4. siku. untuk menjaga suhu kamar agregat setelah dioven. j) Kerucut Abram’s.5 mm.1.15 mm dan pan.75 mm. h) Mesin uji Los Angeles. Ayakan digunakan pada uji gradasi yang terdiri dari saringan dengan ukuran : 19 mm. 12. 0. untuk pengujian agregat kasar. g) Volumetric Flash. ember. 0.6 mm. Alat ini digunakan untuk menggetarkan ayakan yang berisi agregat agar terdistribusi sesuai dengan ukuran butirnya. m) Peralatan penunjang lain seperti tongkat baja. 0. dan bak perendam sample. Alat ini digetar dengan tenaga listrik selama 15 menit. Penggunaan dan gambar alat-alat tersebut di atas adalah sebagai berikut : 2a).3 mm. untuk mengukur benda jenis pasir yang digunakan sebagai bahan penyusun beton.18 mm. 2. 9. untuk pengujian Slump. penggaris. Satu set ayakan dapat dilihat pada Gambar IV. untuk pengujian tekan dan tarik.33 e) Oven. cetok.1. Saringan dipasang dari ukuran terbesar hingga lubang terkecil dan paling bawah adalah pan. 1.5 mm. 2b). Penggetar ayakan (siever).

Gambar IV. Timbangan kecil digunakan untuk menimbang briket.34 2c).2. Sedangkan timbangan besar digunakan untuk menimbang semen. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV.3. Timbangan besar . dan Gambar IV. dan abu ampas tebu.2. Timbangan yang digunakan adalah timbangan kecil dengan digital yang mempunyai kapasitas 3 kg dan timbangan besar dengan kapasitas 100 kg. Timbangan. pasir dan batu pecah sebagai bahan beton sebelum dicampur dan juga untuk penimbangan berat benda uji sebelum dilakukan uji tekan dan tarik beton. Timbangan digital Gambar IV.3.

Gelas ukur yang digunakan berkapasitas 1000 cc dan 500 cc. tinggi 7. Gelas ukur.5.9 cm.5. Kerucut Conus.35 2d). Alat dapat dilihat pada Gambar IV. Alat ini digunakan pada saat pemeriksaaan kadar lumpur dan pemeriksaan bahan organik.6 cm dan digunakan untuk pengujian SSD (Saturated Surface Dry). Gambar IV. Gambar IV. Gelas ukur 2e).4. Alat ini berbentuk corong dengan ukuran diameter atas 3.4. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV.8 cm dan diameter bawah 8. Kerucut Conus .

Gambar IV. Alat ini digunakan untuk menjaga suhu kamar agregat setelah dioven pada pemeriksaan kadar lumpur.7. dan pemeriksaan kandungan bahan organik.36 2f). penyerapan dan berat jenis agregat. Desicator. Gambar IV. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV.6.6. pemeriksaan berat jenis dan penyerapan pada agregat. Desicator . Manfaat lain alat ini adalah untuk menjaga berat bahan setelah dioven supaya tidak berubah karena pengaruh udara luar.7. Alat ini digunakan untuk mengeringkan agregat kasar pada waktu pemeriksaaan kadar lumpur pasir. Oven 2g). Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Oven.

Alat ini digunakan untuk pengujian keausan agregat kasar.37 2h).9. Mesin Los Angeles 2j). Volumetric Flash.9. Gambar IV.8. dengan merk SINGLE . Alat yang berkapasitas 500 cc ini digunakan untuk pemeriksaan berat jenis serta penyerapan agregat halus. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV.8. Mesin uji Los Angeles. Volumetric flash 2i). Dengan alat ini dimaksudkan agar campuran yang terjadi lebih homogen dan dapat mempersingkat waktu pelaksanaan dibanding dengan pengadukan manual. Gambar IV. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Alat ini digunakan untuk pembuatan adukan beton. Mesin pengaduk campuran beton mempunyai kapasitas 1 m3. Molen.

11. Kerucut Abram’s dan tongkat baja. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Tongkat baja. Kerucut Abram’s. Alat ini mempunyai diameter atas 10 cm. Molen 2k). Gambar IV. alat ini dapat dilihat pada Gambar IV.38 PHASE MOTOR Type JY1B-2. buatan Cina pada tahun 1987.10. 2l). Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. . Tongkat baja mempunyai ukuran panjang 60 cm dan diameter 16 mm. digunakan untuk pengujian slump dan pemadatan beton segar yang dicetak pada cetakan silinder.11. Alat ini digunakan untuk pengujian slump pembuatan benda uji. Gambar IV.10.11. diameter bawah 20 cm dan tinggi 30 cm.

Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret memiliki kapasitas 1500 kN dan 2000 kN dengan merk Mylano Italy.39 2m). Bak yang berisi air untuk merawat benda uji silinder sampai umur yang direncanakan. . Untuk alat yang ada di Laboratorium Bahan dan Struktur. Gambar IV.12. Alat ini berukuran diameter 15 cm dan tinggi 30 cm.13. digunakan untuk mencetak beton mutu tinggi.14. Cetakan silinder. pemeriksaan rasio pasir – agregat total dan pembuatan benda uji. Alat ini digunakan untuk menguji kuat tekan beton. Mesin uji tekan. Alat tersebut dapat dilihat pada Gambar IV. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Alat ini digunakan untuk pemeriksaan berat satuan.13. Bak tempat perendaman benda uji 2o). Cetakan silinder 2n). Gambar IV.12. Bak tempat perendaman benda uji. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV.

15.15. ember. Peralatan penunjang lain C. Adapun tahap penelitian tersebut dijelaskan seperti uraian berikut ini : . Tahapan Penelitian Penelitian dilaksanakan terbagi atas lima tahap. Peralatan penunjang lain. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. seperti tercantum dalam bentuk bagan alir pada Gambar IV. Gambar IV.40 Gambar IV. sekop. Peralatan penunjang lain yang digunakan antara lain cetok. cangkul dan kawat bendrat untuk membantu pembuatan benda uji.1.14. Mesin uji tekan dan tarik merk Mylano Italy 2p).

Tahap II : Pemeriksaan bahan dasar Sebelum digunakan dalam pembuatan campuran.41 1.T-15-1990-03. Fakultas Teknik. 2. Tahap III : Penyediaan benda uji Tahap ini merupakan tahap perencanaan campuran beton. pemeriksaan berat satuan volume. batu pecah. bahan tambah filler arang briket dan abu ampas tebu) di Laboratorium Bahan dan Struktur. pemeriksaan kadar lumpur pada pasir dan batu pecah. 3. pasir. Perbandingan jumlah proporsi bahan campuran beton ditentukan/dihitung dengan menggunakan Metode SK.agregat total. benda uji silinder tersebut direndam dalam bak perendaman yang berisi air selama 14 hari. dan dilakukan pengujian slump sampai berhasil baik. dilakukan uji visual. Setelah bahanbahan dasar beton memenuhi persyaratan yang sudah ditentukan. pembuatan benda uji dan perawatan beton. dan pemeriksaan kadar keausan batu pecah. maka dilakukan pemeriksaan terhadap rasio pasir .SNI. Jurusan Teknik Sipil. 4. pengujian gradasi batu pecah. Setelah dilepas dari cetakan. Tahap IV : Pengambilan data Pada tahap ini dilakukan pemeriksaan berat jenis beton dan pengujian kuat tekan beton benda uji silinder pada umur 14 hari. Selanjutnya dibuat adukan beton sesuai dengan proporsi masing-masing bahan. pemeriksaan SSD pasir. pemeriksaan specific gravity dan absorption pasir dan batu pecah. Benda uji dibuat dengan cetakan silinder beton. Sedangkan untuk semen dan air yang dipakai. Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan zat organik dalam pasir. Prosedur pengujian kuat tekan . maka pada tahap ini dilakukan pengujian terhadap bahan dasar beton berupa pasir dan batu pecah. Tahap I : Persiapan alat dan penyediaan bahan Tahap ini merupakan tahap persiapan penelitian di laboratorium yang meliputi persiapan alat diantaranya yaitu menyiapkan cetakan silinder ukuran diameter 15 cm tinggi 30 cm yang terbuat besi dan penyediaan bahan susun beton (semen. Universitas Sebelas Maret.

. e). dengan langkah-langkah sebagai berikut : a). Mencatat beban maksimum yang ditunjukkan jarum penunjuk. yang kemudian dapat ditarik beberapa kesimpulan penelitian. Menimbang dan mencatat berat benda uji silinder sebelum dilakukan pembebanan. kemudian dilakukan analisis data.42 dan kuat tarik mengacu pada standard ASTM C 39 – 86. Pembebanan dilakukan secara perlahan-lahan dengan mesin hidrolik sampai benda uji mengalami keretakan atau kehancuran (jarum penunjuk bergerak kembali ke arah semula).. b). Analisis tersebut merupakan pembahasan dari hasil penelitian. c).(IV.2) A 1 / 4πd dengan : f c' Pmaks A d = kuat tekan beton (MPa) = beban maksimum (N) = luas permukaan benda uji yang ditekan (mm2) = diameter silinder beton (mm) 5. d). Berat jenis beton dihitung dengan rumus sebagai berikut : γc = dengan : W ……………………………………………………………(IV. Meletakkan benda uji silinder pada alat penekan dan diatur posisinya agar tepat berada di tengah-tengah pelat penahan.1) V γc W V = berat jenis beton (gr/cm3) = berat beton (gr) = volume silinder beton (cm3) Kuat tekan beton dihitung dengan rumus sebagai berikut : f c' = Pmaks P = maks 2 ………………………………………………. Mengukur dan mencatat dimensi benda uji silinder beton. Tahap V : Analisis data dan kesimpulan Dari hasil pengujian yang dilakukan pada Tahap IV.

200 Air diganti kadar lumpur kandungan organik gradasi pasir specific gravity dan absorption Uji visual Tidak baik Memenuhi syarat gradasi agregat kasar berat satuan volume specific gravity dan absorption keausan Uji visual Uji visual Perbaikan kualitas/diganti diganti Tidak baik Tidak baik baik baik baik baik Tahap II Rencana campuran (mix design) Pembuatan adukan beton Tidak memenuhi syarat Slump test Memenuhi syarat Pembuatan benda uji Perbaikan komposisi campuran Perawatan (curing) Tahap III Pengujian kuat tekan dan tarik beton Tahap IV Pengolahan data Analisis data Kesimpulan dan saran Tahap V Selesai Gambar IV.43 Mulai Persiapan alat dan bahan Tahap I Semen Agregat halus Agregat kasar Ampas tebu dan filler arang briket lolos ayakan no.16. Bagan Alir Tahapan Penelitian .

Menyediakan pasir yang akan diuji seberat 500 gram (H0). Kadar lumpur dihitung dengan rumus sebagai berikut : K= H 0 − H1 x100% ………………………………………………. Menimbang pasir yang berada dalam cawan tersebut. batu pecah. pasir beserta cawan ditimbang dengan berat 893 gram. gelas ukur. (5).C. (2). 1. dan agregat campuran.063 mm. kemudian didapat berat 393 gram. (6). diperoleh 474 gram (H1) (8). cawan dan timbangan digital. Pemeriksaan bahan Pemeriksaan bahan digunakan sebagai pedoman dalam perancangan adukan beton dan kelayakan bahan untuk campuran beton. Adapun langkah-langkah pemeriksaan kadar lumpur pada pasir adalah sebagai berikut : (1). (3). Memasukkan pasir ke dalam cawan kemudian di oven lagi selama 24 jam pada suhu 105° C. Pemeriksaan kadar lumpur pada pasir. Menyediakan cawan dan menimbangnya. Adapun pelaksanaan penelitian tersebut diuraikan seperti berikut ini. kemudian diberi air dan dikocokkocok. Jenisjenis pemeriksaan bahan sebelum digunakan adalah sebagai berikut: 1a).44 D.(IV. Setelah pasir kering. Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini dilaksanakan sesuai dengan tahap-tahap yang telah dijelaskan pada Bab IV.3) H0 . Memasukkan pasir ke cawan dan memasukkan ke dalam oven selama 24 jam pada suhu 105° C. (4). (7). Yang dimaksud lumpur adalah bagian yang lolos ayakan 0. Hal ini dilakukan berulang-ulang dengan mengganti air yang sudah keruh dengan yang air yang baru sampai benar-benar jernih. Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui kandungan lumpur pada pasir sehingga diperoleh kualitas beton yang bermutu. Alat-alat yang digunakan antara lain : oven. Memasukkan pasir ke dalam gelas ukur. Adapun bahan-bahan yang akan diperiksa antara lain pasir.

Adapun langkah-langkah pemeriksaan zat organik pada pasir adalah sebagai berikut : (1). Alat-alat yang digunakan antara lain : oven. Memasukkan pasir kedalam gelas ukur sebanyak 130 cc. gelas ukur. (3).1. (2). Pemeriksaan zat organik dalam pasir bertujuan untuk mengetahui sifat kandungan bahan organik yang terdapat pada pasir sehingga dapat diketahui kelayakannya sebagai campuran beton.5 x100% 100 K H0 H1 = kandungan lumpur = berat pasir mula-mula (gr) = berat pasir setelah dicuci (gr) K= 5 % dengan : Perhitungan pada pemeriksaan kadar lumpur pasir ini dapat dilihat pada Lampiran IV. (5). Setelah 24 jam warna diamati dan dibandingkan dengan standard warna yang berlaku. Gelas ukur dikocok-kocok sehingga larutan NaOH 3% dapat tercampur secara merata. cawan dan larutan NaOH 3%. . Mendinginkan pasir ke dalam desicator selama 15 menit sehingga mencapai suhu ruang. (7). desicator. (8). kemudian dimasukkan ke dalam dua buah cawan. (4). Pasir dikeringkan dengan dimasukkan ke dalam oven selama 24 jam pada suhu 105° C. kemudian didiamkan selama 24 jam.45 K= 100 − 95. Pemeriksaan zat organik pada pasir. (6). Hasil pengamatan diperoleh warna kuning kecoklatan jadi pasir yang akan digunakan tidak banyak mengandung zat organik. Memasukkan pasir ke dalam gelas ukur yang berkapasitas 500 cc. Menuangkan larutan NaOH 3% ke dalam gelas ukur sampai volume tetap 200 cc. 1b).

5 II 20 4. (5). Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kekeringan pasir yang sebenarnya (kekeringan permukaan) yang dapat digunakan dalam campuran beton. 1c).65 Hasilnya lebih kecil dari setengah tinggi pasir mula-mula sehingga pasir tersebut sudah dalam keadaan SSD. 20 kali dan 25 kali.65 Diperoleh hasil SSD pasir = 3 = 4.55 4.46 Hasil pemeriksaan kandungan bahan organik pasir dapat dilihat pada Lampiran IV.6 3. Setiap percobaan dilakukan sebanyak dua kali pengujian. Dilakukan variasi tumbukan pada percobaan. Pemeriksaan Saturated Surface Dry (SSD) pasir.22 cm Rata-rata Penurunan(cm) 3. tongkat penumbuk.3. Tabel hasil penurunan SSD pasir. Meletakkan kerucut conus di tempat yang datar dan mengisikan pasir ke dalam kerucut conus hingga penuh. .1 sebagai berikut: Tabel IV. Menghitung penurunan rata-rata dari masing-masing percobaan sehingga diperoleh hasil pada Tabel IV. Kerucut conus diangkat perlahan-lahan ke arah vertikal kemudian dicatat penurunan pasir yang terjadi. (4).7 Jumlah penurunan rata-rata 12. Pasir yang akan diuji diangin-anginkan terlebih dahulu. Penurunan tinggi pasir(cm) Percobaan Jumlah Sample A Sample B I 15 3. yaitu dengan 15 kali. Menumbuk permukaan pasir dalam kerucut dengan tongkat penumbuk secara gravitasi ± 5 cm dari atas permukaan pasir. Alat-alat yang digunakan antara lain : kerucut conus.2 4.3 4. (3). Langkah-langkah pengujian SSD pasir adalah sebagai berikut : (1). Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV. sendok datar dan penggaris. (2).4 III 30 4.8 12.2.9 4.1.

.... panci dan timbangan digital... Berat jenis dan penyerapan agregat dihitung dengan rumus sebagai berikut: Berat jenis kering (bulk specific gravity) : = = D .......... diperoleh 964 gram (C) dan didiamkan selama 24 jam... Menyediakan pasir pada kondisi SSD sebanyak 500 gram (A) dan dimasukkan ke dalam volumetric flash.42 + 500 − 1006....................... Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui berat jenis dan daya penyerapan air oleh pasir.. D (IV..................... didapat 652 gram (B)...................27 (IV....27 (IV. lalu dikocok-kocok sampai hilang gelembung-gelembung udara dalam pasir..................... selanjutnya ditimbang....... Alat-alat yang digunakan adalah : volumetric flash....... Pemeriksaan specific gravity dan absorption pasir.........47 gram/cm3 Berat jenis kering permukaan jenuh air (bulk specific gravity SSD) : = = A ...................4) = 2...4) .. Menimbang sample setelah dioven selama 24 jam.. Membuang airnya kemudian pasir diambil kemudian dioven selama 24 jam............... Menimbang volumetric flash dan air sesuai garis batas... (3). (5).....44 gram (D).. B+A−C 500 699.....42 + 500 − 1006.. B+A−C 477 699..59 gram/cm3 Penyerapan (absorption) : p= A− D x 100% . Langkah-langkah Pemeriksaan specific gravity dan absorption pasir adalah sebagai berikut : (1).........47 1d).............................. didapat sebesar 494............ kemudian ditambah dengan air sampai garis batas.............. oven.....4) = 2............ (4).... (2)........

(2). siever dan cetok. Modulus halus butir Jumlah persentase kumulatif tertahan 100 293. Menimbang pasir pada tiap-tiap ayakan dan kemudian dihitung modulus halus butirnya.15 mm. 1e). 0. 4. Alat-alat yang digunakan antara lain : satu set ayakan dengan ukuran 9.46 100 = = = 2. Menyusun ayakan secara urut dari ukuran terbesar sampai ukuran terkecil dan paling bawah adalah pan.18 mm.82 % 477 A B C D = berat pasir SSD (gr) = berat volumetricflash + air (gr) = berat volumetricflash + air + pasir (gr) = berat pasir tungku kering (gr) = penyerapan (%) hasil penelitian secara lengkap bisa dilihat pada dengan : p Perhitungan Lampiran IV.4. Menyediakan pasir uji kering oven sebanyak 500 gram. timbangan digital. (4). pan. Langkah-langkah pemeriksaan gradasi pasir adalah sebagai berikut : (1).93 Untuk hasil perhitungan pemeriksaan gradasi pasir dapat dilihat pada Lampiran IV.5 mm. 0. 0.6. Pemeriksaan gradasi pasir bertujuan untuk mengetahui distribusi ukuran butiran pasir modulus halus butirnya.75 mm. 1. Menyiapkan ayakan dan menimbang masing-masing ayakan. Pemeriksaan gradasi pasir. (3). 2. Memasukkan pasir uji ke dalam ayakan dan digetarkan dengan siever selama 15 menit. (5).6 mm.48 p= 500 − 477 x 100 % = 4.36 mm.3 mm. .

Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui keausan agregat kasar dan mengetahui daya tahan agregat terhadap degradasi atau perpecahan.5 mm sebanyak 2500 gr.0 mm dan tertahan 12. Menyediakan batu pecah lolos ayakan 12. Memasukkan semua batu pecah yang sudah disediakan yaitu 2500 + 2500 = 5000 gram (A) beserta bola-bola baja sebanyak 11 buah ke dalam mesin Los Angeles.5 gram (B) kemudian dihitung nilai keausannya.5 mm sebanyak 2500 gr.5 mm dan tertahan 9.3 % . Alat-alat yang digunakan antara lain : mesin Los Angeles. Mengeluarkan batu pecah dari mesin Los Angeles kemudian diayak dengan ayakan ukuran 2 mm. ayakan ukuran 2 mm atau yang mendekati. (4). Pemeriksaan keausan agregat kasar. (3).4985 x100% 5000 = 0. didapat 3653.49 1f).(IV. kemudian diputar dengan kecepatan 30 – 35 rpm sebanyak 500 putaran. 9. timbangan. Menyediakan batu pecah lolos ayakan 19. Batu pecah yang tertahan ayakan ukuran 2 mm tersebut kemudian dicuci dan selanjutnya dikeringkan dengan dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 105° selama 24 jam.5 mm dan oven. (2). Langkah-langkah pemeriksaan keausan agregat kasar adalah sebagai berikut : (1). (7). Semakin kecil nilai abrasi maka semakin baik agregat tersebut untuk digunakan sebagai campuran beton. ayakan ukuran 19. (6).………………. Keausan agregat dihitung dengan rumus sebagai berikut : Prosentase keausan = = A-B x100% ……………….7) A 5000 . (5). Menimbang batu pecah.0 mm. 12.5 mm..

............. oven..........5 gram/cm3 Berat jenis kering permukaan jenuh air (bulk specific gravity SSD) : = A .... 1g)................50 dengan : A B = berat agregat mula-mula (gr) = berat agregat yang tertahan saringan 2 mm setelah dicuci dan dioven (gr) Untuk perhitungan keausan agregat selengkapnya bisa dilihat pada Lampiran IV. kemudian kerikil ditimbang dalam air dan diperoleh berat 649....... Pemeriksaan oleh agregat kasar........ Menyediakan kerikil sebanyak 1000 gram.......................... Berat jenis kering (bulk specific gravity) : = = C ..... Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui berat jenis dan daya penyerapan air Alat-alat yang digunakan antara lain : panci......8) ........ Kerikil dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 105° selama 24 jam.. Adalah sebagai berikut : (1).. (4)....... Kerikil diambil dan dibuat dalam keadaan SSD dengan cara dilap menggunakan lap kering.. Mendinginkan batu pecah dengan cara dimasukkan ke dalam desicator selama 15 menit.... lap kering..5 gram (C)...7...5 gram (B).. (6)....5 − 1832...... Langkah-langkah Pemeriksaan specific gravity dan absorption batu pecah. (3)....... Menimbang kerikil dalam keadaan SSD..........8) = 2......... (5).. Berat benda uji kering oven 998......... ember perendam dan desicator... (2)........ Merendam kerikil dalam air selama 24 jam......... specific gravity dan absorption batu pecah... A−B (IV.. timbangan digital.........5 (IV.. A−B 3000 3032. diperoleh berat 1014 gram (A).....

.........5 − 3000 x 100% p= 3000 p= p = 1.... Langkah-langkah pemeriksaan berat satuan volume batu pecah adalah sebagai berikut : (1). (3)... Hal ini diulang sampai lima kali percobaan..5 3032.8.. (4)..........5 = 2. Menghitung volume silinder : Volume silinder = 0...8) p Hasil dari pemeriksaan specific gravity dan absorption batu pecah dapat dilihat pada Lampiran IV. Pemeriksaan berat satuan volume batu pecah ini bertujuan untuk mengetahui berat agregat tiap satuan volume...... Pemeriksaan berat satuan volume batu pecah.... Menimbang silinder baja yang diisi batu pecah tersebut diperoleh 20250 gram (B)... C 3032.08 % dengan : A B C D = berat pasir SSD (gr) = berat volumetricflash + air (gr) = berat volumetricflash + air + pasir (gr) = berat pasir tungku kering (gr) = penyerapan (%) (IV.....5 − 1832.53 gram/cm3 Penyerapan (absorption) : A−C x 100% ..51 = 3032.......... Memasukan batu pecah ke dalam silinder baja secara bertahap sebanyak tiga lapis (masing-masing lapis diisi batu pecah kemudian ditumbuk dengan tongkat baja sebanyak 25 kali dan diratakan permukaannya)...........25 x π x d 2 x t .. Alat-alat yang digunakan antara lain : cetakan silinder baja (diameter 15 cm dan tinggi 30 cm) dan tongkat baja (diameter 16 mm dan panjang 60cm).... (2). 1h).. Menimbang berat silinder baja didapat 13200 gram (A)............

. 1. 4... (IV.. Pemeriksaan gradasi batu pecah..25 x π x 15 2 x 30 = 5301.. cetok...438 cm 3 (5).. Modulus halus butir = = Jumlah persentase kumulatif tertahan 100 706...3 mm. Menyediakan batu pecah kering oven sebanyak 1000 gram. 2....75 mm.. Memasukkan batu pecah uji ke dalam ayakan dan digetarkan dengan siever selama 15 menit.... 0.... (5)..6 mm.15 mm.. pan)...9) 3 = 1. siever.. Melakukan penimbangan batu pecah pada tiap-tiap ayakan kemudian dihitung modulus halus butirnya.0 mm..18 mm...25 100 = 7... (2). 0.....771 ... ember.9 1i). 9..... 0. Rata-rata berat satuan volume batu pecah : = 4... (3).... Menyiapkan ayakan dan menimbang masing-masing ayakan tersebut.... Alat-alat yang digunakan antara lain : satu set ayakan dengan ukuran (19.. (4)..06 .....36 mm..59 gr/cm3 dengan : A B C = berat silinder baja (gr) = berat silinder baja setelah diisi batu pecah (gr) = volume silinder (cm3) Untuk hasil pemeriksaan dan perhitungan berat satuan volume batu pecah secara lengkap bisa dilihat pada Lampiran IV. timbangan digital....5 mm.. Langkah-langkah pemeriksaan gradasi batu pecah adalah sebagai berikut : (1). Pemeriksaan gradasi batu pecah ini bertujuan untuk mengetahui distribusi ukuran batu pecah dan modulus halus butirnya.. Menyusun ayakan secara urut dari yang berukuran besar sampai yang kecil dan paling bawah adalah pan....52 = 0...

4.679 15. 9.679 15.679 15.271 42.568 1.679 15.568 1.271 42.679 15.761 22.761 22. 5. 15.056 7.761 22.06 Langkah-langkah perhitungan rencana campuran beton dapat dilihat pada Lampiran IV.761 22.761 22. Perencanaan campuran beton Dalam perencanaan proporsi campuran digunakan perencanaan menurut SK.271 42.271 42.761 22.056 7.761 Kerikil (kg) 42.568 1.45 = 2.SNI.960 1.5 gr/cm3 = 2. Berat jenis batu pecah 4).679 15.056 Semen (kg) 15.T-15-1990-30. Nilai slump rencana = 0.679 15. 3.761 22.45 No 1.761 22.5 % 10 % 12.679 15. 13.5 % 1.960 .176 1.679 15.960 1.056 7. 8.761 22.568 1.056 7.47 gr/cm3 = 2.679 15.176 1.271 42.271 42.271 42.2.5 % 1. Data-data untuk perencanaan campuran adukan beton adalah sebagai berikut : 1). Modulus halus butir batu pecah = 7.679 Pasir (kg) 22.761 22. Air (kg) 7. 6.679 15.761 22. 10. Proporsi kebutuhan material tiap 3 sampel untuk uji tekan dan tiap 3 sampel untuk uji tarik dengan fas 0.568 1. Modulus halus butir pasir 6). Ukuran maksimum batu pecah 7). Berat jenis pasir 3).056 7.056 7.176 1.960 1.568 1.056 7.056 7.271 42.960 1. 14.056 7.679 15.271 Abu ampas tebu (kg) 7.53 Untuk hasil penelitian dan perhitungan pemeriksaan gradasi batu pecah secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV. 2.150 ton/m3 = 60 – 100 mm 5).960 Abu arang briket (kg) 7.761 22.176 1. 12.056 7. 11.271 42.761 22.10.176 1. 2.5 % 10 % 12.568 1. 7.960 1.568 1.271 42.176 1.679 15.960 1.176 1.IV.271 42.679 15.10. 16. Kebutuhan pembuatan benda uji untuk tiap 3 benda uji adalah sebagai berikut: Tabel.761 22.271 42.679 15.93 = 40 mm = 3.271 42.271 42.056 7.271 42.761 22. Berat jenis semen 8).056 7.056 7.176 1. Faktor air semen 2).056 7.056 7.

. Meletakkan kerucut Abram’s ditempat yang rata dan tidak mudah goyah.5 3 3 3 3 12 0.5 10 12. d). adukan beton diisikan 1/3 dari volume kerucut. Setelah pengisian adukan selesai. Kerucut Abram’s dibersihkan terlebih dahulu sebelum digunakan.3. h=30 d=15. Abu ampas tebu (%) Jumlah Abu arang Briket Fas (%) total 0 7. kemudian ditumbuk sebanyak 25 kali dengan menggunakan tongkat diameter 16 mm dan panjang 60 cm. Rincian jumlah benda uji untuk kuat tarik beton.5 3 3 3 3 12 0. Dengan menginjak kaki kerucut Abram’s kuat-kuat.45 10 3 3 3 3 12 12. yaitu berbentuk kerucut dengan diameter atas 10 cm. bagian atas cetakan diratakan dengan cetok. h=30 d=15.5 3 3 3 3 12 Jumlah total benda uji 48 Tabel IV. Pengisian adukan beton dilakukan sampai 2 lapis berikutnya dan masingmasing lapis ditusuk sebanyak 25 kali. Setelah terisi penuh oleh adukan beton.5 0 3 3 3 3 12 7. e).5 3 3 3 3 12 Jumlah total benda uji 48 3. Abu ampas tebu (%) Jumlah Abu arang Briket Fas (%) total 0 7. h=30 Ukuran benda uji (cm) d=15. Langkah-langkah pengujian slump sebagai berikut : a). h=30 d=15.4. h=30 d=15. diameter bagian bawah 20 cm dan tinggi 30 cm dengan bagian atas maupun bawah berlubang. Pengujian nilai slump Ukuran benda uji (cm) d=15. Pengujian dilakukan dengan menggunakan kerucut Abram’s. h=30 d=15. Rincian jumlah benda uji untuk kuat tekan beton.45 10 3 3 3 3 12 12. c). b). h=30 d=15. ditunggu ± 1 menit dan cetakan diangkat secara perlahan-lahan.5 0 3 3 3 3 12 7.5 10 12. h=30 Pengujian nilai slump ini dimaksudkan untuk mendapatkan kekentalan beton segar.54 Tabel IV. dan bagian dalam dibasahi dengan air.

14. . dan telah diuji nilai slump-nya. b). Suhu air saat perendaman berkisar antara 26° – 25° C. dapat dilihat pada Gambar IV. Adukan beton dimasukkan ke dalam cetakan silinder dengan cetok setinggi sepertiga bagian dan memampatkan adukan beton tersebut dengan menusukkan tongkat baja tumpul sebanyak 25 kali. Perawatan beton yang dilakukan pada penelitian ini adalah dengan cara merendam silinder beton di dalam bak yang berisi air sampai beton berumur 14 hari. 4. Setelah 24 jam membuka cetakan. sampai cetakan silinder penuh. Masing-masing variasi dibuat 3 buah benda uji sehingga jumlah total benda uji adalah 100 buah (lihat Tabel IV. masing-masing benda uji diberi kode. Cara pembuatan benda uji silinder beton adalah sebagai berikut: a).1).17. dan diukur selisih antara kerucut dan adukan beton tersebut Hasil pengujian slump test selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran IV.55 f). c). Mengisikan adukan beton sepertiga bagian berikutnya dan diperlakukan sama. silinder benda uji disimpan di udara lembab (direndam di dalam bak yang berisi air) untuk perawatan beton. Perawatan Perawatan beton dimaksudkan untuk menjaga permukaan beton segar selalu lembab. Pembuatan benda uji Pembuatan benda uji sesuai dengan perhitungan proporsi campuran beton yang telah direncanakan. Agar benda uji satu dan yang lainnya tidak tertukar. sejak adukan beton dipadatkan sampai beton dianggap cukup keras. e). Meratakan bagian atasnya serta membiarkannya sampai 24 jam d). Meletakkan kerucut Abram’s di samping adukan. 5.

Pada saat beban maksimum yang mampu ditahan benda uji terlampaui (benda uji hancur). Kemudian mesin uji dihidupkan dan penambahan beban dapat terlihat pada jarum penunjuk manometer.12. terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan terhadap berat jenis. Pemeriksaan berat jenis Sebelum pengujian benda uji. Pengujian kuat tekan dan kuat tarik benda uji Untuk mengetahui keretakan yang terjadi pada saat pengujian. Berat jenis dapat diketahui dengan cara menimbang dan mengukur tinggi serta diameter benda uji.20.17.21. maka permukaan benda uji diberi cat putih Gambar IV. sedangkan jarum hitam akan bergerak turun kembali pada posisi semula (nol). Gambar IV. maka salah satu jarum yaitu jarum merah akan tetap pada posisi nilai beban maksimum yang mampu ditahan. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran IV. .18. Benda uji diletakkan pada mesin uji tekan dengan posisi vertikal dan posisi jarum penunjuk kuat tekan harus pada angka nol. Angka yang ditunjuk oleh jarum merah inilah yang dicatat sebagai beban maksimum yang mampu ditahan oleh benda uji. Gambar IV.19. 7. Perawatan benda uji beton 6. Hasil pengujian benda uji dapat dilihat pada Gambar IV.56 Gambar IV. sehingga dapat diketahui berat dan volume benda uji tersebut.

18. Benda uji setelah dicat .19. Benda uji sebelum dicat Gambar IV.57 Gambar IV.

21. Pengujian kuat tekan beton .20.58 Gambar IV. Hasil pengujian kuat tekan beton Gambar IV.

23.59 Gambar IV. Hasil pengujian kuat tarik beton . Pengujian kuat tarik beton Gambar IV.22.

Pada pengujian ini diperoleh penurunan pasir rata. sedangkan tinggi pasir mula-mula 7.rata sebesar 3. Hasil pengujian zat organik di dalam pasir dengan cara menambah larutan NaOH 3 % dan didiamkan selama 24 jam. Warna ini menunjukkan bahwa pasir tidak banyak mengandung zat organik dan layak digunakan sebagai bahan campuran beton.BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil pemeriksaan agregat halus secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.5 cm.8 (Sumber: Hasil penelitian) Hasil pengujian agregat halus Tabel V.5 – 3. Hasil pengujian agregat halus Jenis pengujian Hasil pengujian 5% Kadar lumpur Kuning Kandungan bahan kecoklatan organik 2. maka penurunan puncak kerucut pasir harus kurang lebih setengah tinggi kerucut.1. 61 .96 Syarat SK SNI 5% > 2. Tabel V. Hasil uji kadar lumpur menunjukkan 5 % sehingga memenuhi persyaratan agregat halus sebagai campuran adukan beton karena batas persyaratan campuran beton yaitu 5 %.1 sampai dengan Lampiran IV. diperoleh larutan berwarna kuning kecoklatan.75 cm.75 cm Nilai Saturated Surface Dry (SSD) 2.59 gram/cm3 Bulk specific gravity Absorption 4.5. 2). Karena adanya bahan organik dalam pasir akan mempengaruhi mutu beton. 3).7 gram/cm3 Memenuhi syarat <5% Memenuhi syarat 1.5 gram/cm3 ½ dari tinggi kerucut Keterangan Memenuhi syarat Memenuhi syarat Memenuhi syarat Memenuhi syarat Memenuhi syarat 2. Hasil pengujian agregat halus Pemeriksaan agregat halus dilakukan melalui beberapa tahap pengujian yang sudah diuraikan pada Bab IV.82 % Modulus halus butir 2. atau dituliskan pada Tabel V.8 gram/cm3 Apparent spesific gravity 3.1.2.1. Pengujian Agregat 1. Untuk mencapai SSD pasir. tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1).5 .

maka pasir ini memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan susun beton. 4). dan dilukiskan pada Gambar V. Oleh karena modulus halus butir pasir yang digunakan berada dalam batasan modulus halus butir pada umumnya. agregat dibagi menjadi 3 macam yaitu agregat ringan (mempunyai berat jenis kurang dari 2. Semakin besar absorbsi maka jumlah air yang digunakan dalam campuran akan semakin berkurang. 5).7 gram/cm3). Berdasarkan berat jenisnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pasir ini termasuk agregat normal. Persyaratan absorbsi agregat yang digunakan dalam campuran beton 5 %. Dari pengujian agregat halus diperoleh berat jenis pasir 2. agregat normal (mempunyai berat jenis antara 2. oleh karena itu pasir perlu diangin-anginkan sebelum digunakan.1. dan agregat berat (mempunyai berat jenis lebih dari 2.62 Keadaan ini membuktikan bahwa pasir masih agak basah.82 %.5 gram/cm3 – 2.59 gram/cm3. Absorbsi agregat akan mempengaruhi jumlah air dalam campuran yang direncanakan.96 Pada umumnya pasir mempunyai nilai modulus halus butir antara 1. . Dari hasil pengujian yang dilakukan diperoleh nilai absorbsi pasir 4. 6). Hasil pemeriksaan gradasi pasir secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV. Hal ini menunjukan bahwa absorbsi pasir masih dalam batasan yang diisyaratkan.6. 7).8 gram/cm3).0 gram/cm3).5 – 3.8. Hasil pengujian gradasi pasir diperoleh modulus halus butir 2.

Tabel V.7 gram/cm3 Memenuhi syarat Memenuhi syarat <5% 1. Batas gradasi pasir dalam daerah gradasi No.2 – 1.6 sampai Lampiran IV.85 1.1.89 gram/cm3 Syarat SK SNI 20 % > 2.5 gram/cm3 Keterangan Memenuhi syarat Memenuhi syarat 2. di atas. Hasil pengujian agregat kasar Pemeriksaan agregat kasar dilakukan melalui beberapa tahap pengujian yang diuraikan pada Bab IV. Hasil pemeriksaan agregat kasar secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.59 gram/cm3 Modulus halus butir 7.18 2.3 0.2. tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: . gradasi pasir memenuhi persyaratan campuran beton dan termasuk ke dalam kelompok daerah II (pasir agak kasar).35 4. 2.63 GRADASI PASIR 120 PERSEN LOLOS (%) 100 80 60 40 20 0 0 0. II (Departemen Pekerjaan Umum.75 9.3 % Keausan agregat batu pecah 2.53 gram/cm3 Bulk specific gravity 1.5 LUBANG AYAKAN (mm) HASIL HITUNGAN BATAS ATAS SK SNI BATAS BAWAH SK SNI Gambar V.1990) Menurut Gambar V.6 gram/cm3 Memenuhi syarat Memenuhi syarat 5-8 (Sumber: Hasil penelitian) Hasil pengujian agregat kasar pada Tabel V.57 gram/cm3 Apparent spesific gravity 2.1. hasil pemeriksaan tersebut tercantum pada Tabel V.15 0.2.9.5 – 2. Hasil pengujian agregat kasar Jenis pengujian Hasil pengujian 0.08 % Absorption Berat satuan volume 1.2.D.

sehingga batu pecah tersebut dapat digunakan sebagai campuran beton.6 gram/cm3. Hasil pengujian berat jenis batu pecah yang digunakan dalam penelitian dapat disimpulkan bahwa agregat batu pecah tersebut termasuk agregat normal (berat jenis 2. Hasil pengujian berat satuan batu pecah 1.08%. Pengujian tersebut membuktikan batu pecah mempunyai berat satuan sesuai yang diisyaratkan untuk berat satuan normal.7 gram/cm3) dan agregat berat (berat jenis 2. Hasil pengujian keausan batu pecah dari Boyolali 0. Hal ini menunjukan bahwa batu pecah tersebut mempunyai daya serap yang kecil. Hasil pemeriksaan gradasi batu pecah dapat dilukiskan seperti pada Gambar V.53 gram/cm3.5 gram/cm3 – 2. Dari hasil pengujian gradasi batu pecah diperoleh modulus halus butir 7. Hasil pemeriksaan gradasi pasir secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV. dan dilukiskan pada Gambar V.9.2. 4).89 Modulus halus butir untuk agregat kasar yang digunakan sebagai campuran beton yaitu 5 sampai dengan 8.8 gram/cm3).64 1). Hasil pemeriksaan gradasi batu pecah secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV. 2).59 gram/cm3. Batu pecah yang digunakan dalam penelitian ini mempunyai absorbsi 1. Hal ini menunjukkan batu pecah tersebut dapat digunakan sebagai bahan campuran beton. . Dari pengujian agregat batu pecah diperoleh berat jenis batu pecah 2. 6). 7). Kekerasan butir-butir batu pecah yang diperiksa dengan mesin Los Angeles harus memenuhi syarat yaitu tidak terjadi kehilangan berat lebih dari 20 % untuk kekuatan beton diatas 20 MPa. maka batu pecah tersebut dapat digunakan sebagai bahan campuran beton.2.3 %. 3).2 gram/cm3 – 1. 5).9. Dengan melihat grafik batu pecah dapat diketahui bahwa gradasi batu pecah ini masih masuk dalam batasan SK SNI. Berat satuan agregat kasar normal yaitu 1. karena memiliki kekerasan butiran yang masih ada dalam batasan yang disyaratkan.

2. 11. akan dianalisis pengaruhnya terhadap workabilitas beton.5 1.65 GRADASI KERIKIL 120 PERSEN LOLOS (%) 100 80 60 40 20 0 2.75 9. Pengujian slump dilakukan untuk mengetahui workabilitas adukan beton dari setiap percobaan.11 dapat dilihat bahwa slump yang dicapai pada adukan beton dengan penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket tidak memenuhi persyaratan yang direncanakan yaitu antara 2 – 4 in atau 5. Hasil pengujian slump dapat dilihat pada Tabel V.5 19 38.5 dan Lampiran IV. Slump (cm) 7. Hasil pengujian slump beton umur 14 hari Abu arang Briket Abu ampas tebu (%) No Beton Normal (%) 7. √ √ 4.16 cm.5.5 1. √ 2.5 7. √ √ √ √ 5.1990) B. √ √ 3.36 4.5 dan Lampiran IV.08 – 10.1 LUBANG AYAKAN (mm) HASIL HITUNGAN BATAS BAWAH SK SNI BATAS ATAS SK SNI Gambar V. Pengujian Slump Pengujian nilai slump dilaksanakan sebelum campuran beton dituang dalam cetakan.5 2 2. Pemberian bahan tambah dengan proporsi penambahan yang berbeda.5 10 12. Dari hasil pengujian slump pada Tabel V. Batas gradasi kerikil (Departemen Pekerjaan Umum. Tabel V.5 10 12.5 .5 1.

1) V V = 0. sedangkan berat jenis rata-rata dapat dilihat pada Tabel V.2) dengan : γ = berat jenis beton (gram/cm3) B = berat beton setelah direndam (gram) . √ 11.5 √ 2. √ 16.5. Hasil pemeriksaan berat jenis beton secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV. √ 9. √ 14. Besarnya berat jenis dapat dihitung dengan rumus : Berat jenis beton (γ) = B ……………………………………………. Lanjutan 6.25 x π x d 2 x t …………………………………………………(V.16.5 1.5 (Sumber: Hasil penelitian) Dari hasil pengujian nilai slump menunjukkan bahwa nilai slump menurun dengan penambahan persentase abu arang briket dan abu ampas tebu dalam campuran beton.12 sampai dengan Lampiran IV.5 √ 2.5 √ 2. √ 15. Berat jenis beton dapat diketahui dengan cara menimbang dan mengukur tinggi serta diameter benda uji.5 √ 3.11. Data dan hasil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran IV. √ 10. Pengujian Berat Jenis Beton Pengujian berat jenis beton dilakukan sebelum diadakannya pembebanan terhadap benda uji silinder. √ 13. √ √ √ √ - √ √ √ - √ √ √ √ √ √ - √ 2 √ 2.(V.66 Tabel V.6. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah bahan tambah yang digunakan maka air akan terserap oleh bahan tambah sehingga nilai fas akan berkurang. sehingga didapatkan berat dan volume benda uji tersebut. maka nilai slump yang dihasilkan kecil. √ 12.5 2 √ 3. C. √ 7. √ 8.5 2 √ 3.

282 Kadar abu ampas tebu 7.185 2.172 2.7.248 2.5% 10 % 12.194 Kadar abu 7.25 x π x 15 2 x 30 = 5301.185 2.292 2.188 2.238 2. Hasil pemeriksaan berat jenis rata-rata pada kuat tarik beton dengan fas 0. Hasil pengujian kuat tekan beton . Berat jenis briket adalah 2.147 (Sumber: Hasil penelitian) Tabel V.241 2.289 2. Berat jenis akan menurun seiring dengan penambahan abu arang briket.176 12.5% 10 % 12.216 (Sumber: Hasil penelitian) D.438 cm 3 Dari hasil pemeriksaan berat jenis beton Tabel V.213 2.5 % 2. Hal ini disebabkan karena berat jenis briket lebih kecil dari pada berat jenis semen.188 2.5 % 0% 2. Kadar abu ampas tebu Berat Jenis rata2 (gr/cm3) 0% 7.5% 2.5 % 2.263 2.64 gram/cm3 sedangkan berat jenis semen adalah 3. Tabel V.5% 10 % 2.213 2.204 2.147 12. Pengujian kuat tekan beton dilakukan untuk memperoleh nilai kuat tekan beton dengan adanya perbedaan kadar penambahan bahan tambah abu arang briket serta penambahan abu ampas tebu. Pengujian Kuat Tekan Dan Tarik Beton Pengujian kuat tekan beton dilaksanakan setelah benda uji silinder telah berumur 14 hari.160 2.213 2.4.210 2.5 % 0% 2. diperoleh berat jenis tertinggi 2.4.179 arang briket 10 % 2.282 2.6.207 2.67 V = Volume beton (cm3) d = diameter cetakan beton t = tinggi cetakan beton Volume silinder = 0. Hasil pemeriksaan berat jenis rata-rata pada kuat tekan beton dengan fas 0.200 2.301 gram/cm3.273 2.226 2.25 x π x d 2 x t = 0. Berat Jenis rata2 (gr/cm3) Kadar abu arang briket 0% 7.210 2.118 2.6.15 gram/cm3.147 2.

632 22.141 24.d2 = ¼ x π x 152 = 176.523 2.5 % 0% 3.π.863 12. Kadar abu ampas tebu Kuat Tarik rata2 (gr/cm3) 0% 7.425 23.5 % 34.830 2.7.(V.d2……………………………………………………………(V.318 2.665 2.5% 10 % 12.9.5 % 2.443 (Sumber: Hasil penelitian) Tabel V.165 2. Kadar abu ampas tebu Kuat Tekan rata2 (gr/cm3) 0% 7.68 secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.714 cm2 dengan : f’ A d = kuat tekan beton salah satu benda uji (kg/cm2) = luas permukaan benda uji yang tertekan (cm2) = diameter cetakan Pmaks = beban tekan maksimum (kg) Tabel V.201 22.557 29.484 22.933 1. Kuat tarik rata-rata beton dengan variasi penambahan abu arang briket dan ampas tebu pada fas 0.521 23.5 % 0% 30. Besarnya kuat tekan dari benda uji dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus sebagai berikut : f’c = Pmaks …………………………………………………………….029 23.4.627 (Sumber: Hasil penelitian) .4.334 Kadar abu 7.3) A A = ¼ .594 2.284 37.046 12.5% 10 % 12.263 2.17.981 arang briket 10 % 2.4) A = ¼ .390 39.159 arang briket 10 % 32.434 37.163 23. Kuat tekan rata-rata beton dengan variasi penambahan filler abu arang briket dan abu ampas tebu pada fas 0.523 1.5% 31.069 Kadar abu 7.5% 2.π.476 1.8.476 2. Sedangkan estimasi kuat tekan beton rata-rata dapat dilihat pada Tabel V.075 1.

.5% dan abu arang briket 10% sebesar 27. Dari Gambar V.69 Hasil pengujian kuat tekan rata-rata silinder beton dengan bahan tambah abu briket dan abu ampas tebu dapat dilihat pada Gambar V.5% Gambar V.3.5 Kadar Briket (%) Ampas tebu 0% ampas tebu 10% ampas tebu 7.78 %. 45 40 Kuat Tekan (Mpa) 35 30 25 20 15 10 5 0 0 7.5 10 12.5% ampas tebu 12. Sedangkan pada penambahan arang briket kuat tekan mengalami peningkatan.3 dapat disimpulkan bahwa penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket mampu meningkatkan kuat tekan beton. Dari hasil pengujian kuat tekan beton di atas. dapat diketahui bahwa beton normal dengan penambahan bahan tambah abu ampas tebu mengalami penurunan pada kuat tekan. Grafik gabungan hubungan kuat tekan rata-rata dengan variasi bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket.3. Kuat tekan optimum diperoleh dari penambahan abu ampas tebu 12.

Pembahasan Hasil Penelitian Dari hasil penelitian ini dengan topik kapasitas tekan dan tarik beton dengan bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket dengan fas 0.830 MPa.4. Grafik gabungan hubungan kuat tarik rata-rata dengan variasi bahan tambah abu ampas tebu dan abu arang briket.5% dan abu arang briket 12.70 Hasil pengujian kuat tarik rata-rata silinder beton dengan bahan tambah abu arang briket dan abu ampas tebu dapat dilihat pada Gambar V. .4 bisa disimpulkan bahwa penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket pada umumnya mengalami penurunan untuk setiap variasi penambahannya.5 0 0 7.5 1 0. Dari hasil pengujian kuat tarik beton di atas.5 10 12.5 Kadar Briket (%) ampas tebu 0% ampas tebu 10% ampas tebu 7.5 3 Kuat Tarik (Mpa) 2.4.5% dan abu arang briket 10%.5% ampas tebu 12.70 %. dapat diketahui bahwa beton normal dengan penambahan bahan tambah abu ampas tebu dan abu arang briket dapat mengakibatkan penurunan pada kuat tarik beton.4. diperoleh kuat tekan beton tertinggi adalah 39. Dari Gambar V.5% sebesar 14.5% Gambar V.5%. 3.5% dan abu arang briket 12.5 2 1. Kuat tekan tertinggi tersebut diperoleh dari kadar abu ampas tebu 12. E. sedangkan kuat tarik tertinggi diperoleh dari kadar abu ampas tebu 7.046 MPa dan kuat tarik tertinggi adalah 2. Kuat tarik optimum diperoleh dari penambahan kadar abu ampas tebu 7.

5 % dan abu arang briket 10 % mengalami peningkatan sebesar 27.71 Kelebihan dan kekurangan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. 2. b) Kuat tekan beton yang dihasilkan lebih tinggi pada penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket.70 % dari beton normal atau pada kadar abu arang briket 0 % dan abu ampas tebu 0 %. c) Kuat tarik beton yang dihasilkan lebih tinggi pada penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket. . Kuat tekan beton pada penambahan kadar abu ampas tebu 12. benda uji langsung dapat dibuka dari cetakannya kemudian dilakukan perawatan benda uji.5 % mengalami penurunan sebesar 14. Kekurangan a) Kemudahan pengerjaan lebih rendah karena abu ampas tebu dan abu arang briket mempunyai sifat menyerap air.5 % dan abu arang briket 12. Kuat tarik beton pada penambahan kadar abu ampas tebu 7.78 % dari beton normal atau pada kadar abu arang briket 0 % dan abu ampas tebu 0 %. b) Karena sifatnya yang menyerap air mengakibatkan nilai slump rendah. Kelebihan a) Dalam penelitian ini tidak terjadi penundaan ikatan semen karena dalam waktu 24 jam dari pengecoran.

Kesimpulan Setelah diadakan tahap pembuatan benda uji. 6). serta analisis yang telah dilakukan.141 MPa terjadi pada kadar 12.45 sebesar 25. Berat jenis akan menurun seiring dengan penambahan abu arang briket dan abu ampas tebu.5 %.5 %.45 sebesar 24. pengujian kuat tekan dan kuat tarik untuk silinder beton. Hasil pemeriksaan agregat kasar (batu pecah) memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan campuran beton. pada fas 0. 7). perendaman benda uji. Kuat tarik optimum abu arang briket pada fas 0. 30 %. Semakin besar persentase abu arang briket dan abu ampas tebu pada adukan beton maka nilai slump makin kecil.572 MPa terjadi pada kadar 20 %. akhirnya penelitian ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1).4 sebesar 2.465 MPa terjadi pada kadar 12.5 % sedangkan kuat tekan optimum pada fas 0. Hasil pemeriksaan agregat halus (pasir) memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan campuran beton. 72 .425 MPa terjadi pada kadar 7.4 sebesar 34. 8).735 MPa terjadi pada kadar 12. 5). 2).899 MPa terjadi pada kadar 10 %.405 MPa terjadi pada kadar 12.4 sebesar 2. 40 % didapat kuat tekan optimum sebesar 46.594 MPa terjadi pada kadar 7.45 sebesar 2.4 sebesar 29. 3).45 sebesar 2.5 % sedangkan kuat tarik optimum pada fas 0. Kuat tarik optimum abu ampas tebu pada fas 0.5 % sedangkan kuat tarik optimum pada fas 0. Kuat tekan optimum abu ampas tebu pada fas 0. 4). Kuat tekan optimum abu arang briket pada fas 0.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A.3 dengan variasi pencampuran 10 %.5 % sedangkan kuat tekan optimum pada fas 0.20 %. Untuk hasil penelitian Rifai.665 MPa terjadi pada kadar 7.5 %.

5 % dan abu ampas tebu 7. 12. Penggunaan abu ampas tebu akan mengurangi keenceran adukan campuran beton sehingga kuat tekan dan tarik beton tinggi.78 % dari beton normal atau pada kadar abu arang briket 0 %. abu ampas tebu 0 %. abu ampas tebu 0 %. 10). B. permukaan air harus menutup semua benda uji yang direndam.70 % dari beton normal atau pada kadar abu arang briket 0 %. sehingga sulit dipadatkan. kesulitankesulitan yang dialami pada saat penelitian dan pembahasan hasil penelitian. 5). 3). Kuat tekan optimum terjadi pada penambahan kadar abu arang briket 10 % dan abu ampas tebu 12.5 %.5 % sehingga dapat dilakukan penelitian selanjutnya tentang besarnya prosentase abu ampas tebu yang dapat menambah kuat tekan dan tarik beton sampai optimum. Saran Berdasarkan pengamatan selama pelaksanaan penelitian. diharapakan dilakukan penelitian selanjutnya pada variasi fas.5 % mengalami penurunan sebesar 14. Dalam pembuatan benda uji. Hal ini dimaksudkan pada waktu pengujian seluruh permukaan benda uji mendapat tekanan yang sama. Pada saat perendaman benda uji. setelah dilakukan pencampuran material harus segera dimasukkan ke dalam cetakan karena adukan beton akan segera lengket dan mengental. Bagian atas dan bawah benda uji diusahakan benar-benar rata. Kuat tarik beton terjadi pada penambahan kadar abu arang briket 12. 10 %. 2). maka peneliti memberikan saran sebagai berikut : 1).5 % mengalami peningkatan sebesar 27. 4). Dalam penelitian ini menggunakan abu ampas tebu dengan prosentase tertentu yaitu 7.73 9). .

Subakti. Yogyakarta. Murdock. Terjemahan Stephany Hindarko.J. M. Tjokrodimuljo. Departemen Pekerjaan Umum. Pemakaian Variasi Bahan Tambah Larutan Gula dan Abu Arang Briket Pada Kuat Tekan Beton Mutu Tinggi. Tinjauan Pemakaian Abu Batu Bara Terhadap Karakteristik Beton dengan Menggunakan Faktor Air Semen 0. 1996. 1982. 1995. Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Direktorat Penyelidikan Masalah Bangunan. Teknologi Beton Dalam Praktek. Surakarta. Direktorat Penyelidikan Masalah Bangunan. Standar Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung. 1991. Bahan dan Praktek Beton. Bandung. K. Murgiyanto. 1971. Surakarta. Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia. . 1991. A. 2005. 2003. Yayasan LPMB Puslitbang Pemukiman Balitbang PU. LPMB. PT Naviri. L.45. Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta. Brook K. Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta.M. 1990. SK SNI T-15-1991-03. Jakarta. Rifa’I. Standar Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung.1-2 1971. Erlangga. Peraturan Beton Bertulang Indonesia. Bandung. Surabaya. Teknologi Beton. Bandung. Departemen Pekerjaan Umum. Badan Pengembangan Pekerjaan Umum. N. SK SNI T-15-1990-03.DAFTAR PUSTAKA Departemen Pekerjaan Umum.

Sutami No. 1. Ir. Ph. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. Surakarta. Pemeriksaan Kadar Lumpur Pada Pasir Tabel : Pemeriksaan pasir sebelum dicuci (Sumber : Hasil penelitian) Berat cawan (gram) Berat pasir kering tungku+cawan (gram) Berat pasir kering tungku setelah dicuci (gram) Berat pasir kering tungku sebelum dicuci (gram) Kandungan lumpur (%) A B C D=B-A D −C x100% D 158 258 95. Mei 2006 Ka.D NIP. sehingga pasir tidak perlu dicuci karena sudah memenuhi batas persyaratan campuran beton yaitu 5%. 132 129 524 .DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. (0271) 632363 Lampiran IV.5 100 5% L-1 Kandungan lumpur pada pasir untuk campuran beton adalah 5 %. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Lab. Telp. ST.

36 A Kentingan Surakarta 57126. Ir. 132 129 524 .DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. Telp. sehingga pasir dapat langsung digunakan untuk campuran beton. Sutami No.2. Pemeriksaan Kandungan Zat Organik Pada Pasir Tabel : Pengujian zat organik dalam pasir (Sumber : Hasil penelitian) No 1 2 Jenis bahan Pasir Larutan NaOH 3% Volume (cc) 130 cc Secukupnya Volume total 200 cc Warna larutan L-2 Kuning Kecoklatan Setelah pasir dicampur NaOH 3 % dan didiamkan selama 24 jam.D NIP. Lab. Ini menunjukkan bahwa pasir tersebut tidak banyak mengandung bahan organik. (0271) 632363 Lampiran IV. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. Mei 2006 Ka. terlihat larutan berwarna kuning kecoklatan. ST. Surakarta. Ph.

Pengujian Saturated Surface Dry (SSD) Pasir Tabel : Pemeriksaan penurunan pasir rata-rata (Sumber : Hasil penelitian) Percobaan I II III Jumlah 15 20 25 Jumlah penurunan : 3 Nilai SSD Penurunan tinggi pasir(cm) Sample A Sample B 3.5 cm = 8.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. Mei 2006 Ka. Telp. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. sedangkan tinggi pasir mula-mula 7.7 12.7 : 3 = 4. Lab.6 : 3 = 4. (0271) 632363 Lampiran IV.43 2 =4. 36 A Kentingan Surakarta 57126.23 + 4.215>0.2 4. Keadaan ini membuktikan bahwa pasir masih agak basah.2 (4. Ir.75 Pada pengujian ini diperoleh penurunan pasir rata.3.D NIP.2) / 2 = 4. Ph. ST.23 12.rata sebesar 3.5 × 7. Sutami No.6 3.5 =3.75 cm.5 4. oleh karena itu pasir perlu diangin-anginkan sebelum digunakan. Surakarta. 132 129 524 .5 cm.215 L-3 Tinggi pasir mula-mula Nilai SSD = 7.9 4.4 4.

Lab. Sutami No.27 477 2. (0271) 632363 Lampiran IV. 132 129 524 .80 4.5 – 2.D NIP. ST. Ir.42 1006.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.59 2. Mei 2006 Ka.4. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.82 Syarat berat jenis agregat normal antara 2. Telp. Ph.47 2.7 (berat jenis agregat halus yang diperoleh memenuhi syarat). Pemeriksaan Spesific Gravity dan Absorption Pasir Tabel : Perhitungan Spesific Gravity dan Absorbtion Pasir (Sumber : Hasil penelitian) Berat pasir kondisi SSD(gram) Berat volumetric flash+air (gram) Berat volumetric flash+air +pasir(gram) Berat pasir kering tungku (gram) Bulk Specific grafity (gram/cm 3 ) Specific grafity SSD (gram/cm 3 ) L-4 Apparent Specific grafity (gram/cm 3 ) Absorption (%) A B C D D ( A + B − C) A (B + A − C) D (B + D − C) A− D x100% D 500 699. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Surakarta.

Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.246 3 1. Lab.736 1. 132 129 524 .5.25 x π x d 2 x t = 0. Mei 2006 Ka. Telp.438 cm 3 = 10150 gram Tabel : Pemeriksaan berat satuan volume (Sumber : Hasil penelitian) No 1 2 3 Berat silinder (gram) 10150 10150 10150 Berat pasir+silinder (gram) Berat pasir (gram) Berat sat.D NIP.246 Rata-rata berat satuan volume pasir = 1. volume (gram/cm 3 ) 19400 19355 19505 Jumlah = 9250 9205 9355 5. Ir. Pemeriksaan Berat Satuan Volume Pasir L-5 Volume silinder Berat silinder = 0. 36 A Kentingan Surakarta 57126.745 1. Sutami No. ST.749 gr/cm 3 Surakarta. Ph.765 5.25 x π x 15 2 x 30 = 5301.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. (0271) 632363 Lampiran IV.

36 A Kentingan Surakarta 57126.03 0.76 22.8 Surakarta.04 0.51 60.50 9.15 Pan Berat Cawan + Pasir (gr) 136 338. Lab.74 8.50 39.6 gr Berat pasir mula-mula Berat pasir setelah diayak Berat kesalahan penimbangan = 3000 – 2999. 8.70 383 579.74 17. ST.26 10.03 0.93 3000 % Pasir Tertinggal 2.04 322.96 100 Modulus halus butir 2.00 Syarat SK SNI 100 90-100 75-100 55-90 35-59 10-30 0-10 0 Gol II Keterangan : * tidak ikut dijumlahkan = 3000 gr = 2999.04 518.30 6. 6. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. 132 129 524 . 2. (0271) 632363 Lampiran IV.97 100.20 81.90 2999.80 18.04 0.75 2.03 Berat Pasir Terkoreksi 75.9 383.20 240.4 gr Koreksi = berat pasir tertahan × kesalahan berat pasir setelah diayak Dari hasil analisa pengujian diatas didapatkan modulus halus butir pasir sebagai berikut : Modulus halus butir = = Jumlah persentase kumulatif tertahan 100 295.97 192. Ukuran Ayakan (mm) 9.23 91.85 0. Sutami No.03 100.00 Persen Kumulatif Tertinggal 2.96 = 2.01 0.5 88.9 Jumlah Berat Cawan (gr) 61 61 61 61 61 61 61 61 Berat Pasir (gr) 75.D NIP.40 35.90 192.20 53.00 518. Pemeriksaan Gradasi Pasir L-6 Tabel : Perhitungan pengujian gradasi pasir Boyolali (Sumber : Hasil penelitian) No . 3.77 8.18 0.2 301. Mei 2006 Ka. 5.00 1050.24 240.04 0.6. 4.07 0.00 295. 1. Ir.5 – 3. 7.03 10.01 277.00 277.36 1.14 0.50 11.982 memenuhi syarat yaitu antara 1. Ph.96 Lolos 97.50 4.90 322.70 322.30 0.6 = 0.24 77. Telp.60 Koreksi 0.9 253 1111.74 211.80 46.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.03 1051.

Hal ini menunjukkan batu pecah tersebut dapat digunakan sebagai bahan campuran beton. Ir. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. 12.D NIP. Pemeriksaan Keausan Agregat Kasar L-7 Tabel : Hasil pengujian keausan agregat kasar (Sumber : Hasil penelitian) Lolos No.3 %.3 % Hasil pengujian keausan batu pecah dari Karanganyar 0.5 Berat benda uji mula-mula (gram) Lolos No. Lab.5 Berat benda uji setelah diuji (gram) Keausan agregat (%) A B A−B x100% A 2500 2500 4985 0.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. Mei 2006 Ka. (0271) 632363 Lampiran IV. 19 dan tertahan 12. karena memiliki kekerasan butiran yang masih ada dalam batasan yang disyaratkan yaitu tidak boleh lebih dari 20 %.5 dan tertahan 9. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Telp..7. Sutami No. Surakarta. Ph. ST. 132 129 524 .

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. Lab. Pemeriksaan Spesific Gravity dan Absorbtion Batu Pecah L-8 Tabel : Perhitungan Spesific Gravity dan Absorbtion Batu Pecah (Sumber : Hasil penelitian) Berat batu pecah kondisi SSD(gram) Berat benda uji dalam air (gram) Berat benda uji kering oven (gram) Bulk Specific grafity (gram/cm 3 ) Specific grafity SSD (gram/cm 3 ) Apparent Specific grafity (gram/cm 3 ) Absorbtion (%) A B C C A− B A A− B C C−B A−C x100% C 3032. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.5 3000 2. (0271) 632363 Lampiran IV. Ir. Ph.5 2.53 2.08 % Surakarta.5 1832. ST. 132 129 524 .57 1. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Sutami No. Mei 2006 Ka.D NIP.8. Telp.

6 gram/cm3. Sutami No. (0271) 632363 Lampiran IV.771 Rata-rata berat satuan volume batu pecah Berat satuan agregat kasar normal yaitu 1. 771 = 1. volume (gram/cm 3 ) 19000 19055 19040 Jumlah 3 8400 8455 8440 = 4 .2 gram/cm3 – 1.25 x π x d 2 x t = 0.584 1. Pengujian tersebut membuktikan batu pecah mempunyai berat satuan sesuai yang disyaratkan untuk berat satuan normal.D NIP.590 gram/cm3. Lab.438 cm 3 = 10600 gram Tabel : Pemeriksaan berat satuan volume (Sumber : Hasil penelitian) No 1 2 3 Berat silinder (gram) 10600 10600 10600 Berat batu pecah+silinder (gram) Berat batu pecah (gram) Berat sat. Surakarta. Ph. ST. Mei 2006 Ka.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. Telp.590 gr/cm 3 1.595 1. Pemeriksaan Berat Satuan Volume Batu Pecah L-9 Volume silinder Berat silinder = 0. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.25 x π x 15 2 x 30 = 5301. 132 129 524 . Ir.592 4.9. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Hasil pengujian berat satuan batu pecah 1.

8 Koreksi 0.00 0.00 0.00 100.00 0.00 0.00 % Komulatif Tertinggal 0.04 152.90 60. Ph. Pemeriksaan Gradasi Batu Pecah L-10 Tabel : Perhitungan pengujian gradasi batu pecah dari Boyolali (Sumber : Hasil penelitian) no 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Ukuran Ayakan (mm) 25 19 12.00 100.8 518 152 0 0 0 0 0 2999.00 100.50 9.49 = 7.00 0.85 0.00 0.03 1822.00 16. ST.00 0.00 0.00 0.15 Pan Berat ayakan+ Kerikil (gr) 488 961 2253.00 100.10 22. Ka.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. 36 A Kentingan Surakarta 57126.66 94.34 5.93 100.00 Keterangan : * tidak ikut dihitung = 3000 gr Berat batu pecah mula-mula Berat batu pecah setelah diayak = 2998 gr Berat kesalahan penimbangan = 3000 – 2999.03 0. Sutami No.00 0.01 0.10.2 gr Koreksi = berat pasir tertahan × kesalahan berat pasir setelah diayak Dari hasil analisa pengujian diatas didapatkan modulus halus butir batu Jumlah persentase kumulatif tertahan 100 789. Mei 2006 pecah/kerikil sebagai berikut : Modulus halus butir = = Modulus halus butir 7.00 100.36 1. Ir.00 507.01 0.18 0.00 0.00 16.00 0.00 0.92 518.50 4.75 2.04 0.8 = 0.00 3000 % Kerikil tertinggal 0.93 0.00 0.07 0.00 Berat Kerikil terkoreksi 0. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.90 77.00 100.00 0. Lab.89 100 Surakarta.76 17.00 0.00* 789.D NIP. (0271) 632363 Lampiran IV.07 1.108 memenuhi syarat yaitu antara 5 – 8.49 Lolos 100 83.12 0.00 0.8 930 573 322 320 315 242 269 Jumlah Berat Ayakan (gr) 488 454 431 412 421 322 320 315 242 269 Berat Kerikil (gr) 0 507 1822. 132 129 524 . Telp.27 5.

606 gr/cm 3 Surakarta. Telp. Mei 2006 Ka.584 1. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. 36 A Kentingan Surakarta 57126.438 cm 3 = 10600 gram Tabel : Pemeriksaan berat satuan volume (Sumber : Hasil penelitian) No 1 2 3 Berat silinder (gram) 10600 10600 10600 Berat Agregat Kasar + silinder (gram) Berat Agregat Kasar (gram) Berat sat. 132 129 524 .817 Rata-rata berat satuan volume agregat kasar = = 1. Ph.25 x π x 15 2 x 30 = 5301.D NIP. Ir. Sutami No.817 3 1.604 1. volume (gram/cm 3 ) 19000 19105 19235 Jumlah 8400 8505 8635 4. Lab.25 x π x d 2 x t = 0. (0271) 632363 Lampiran IV.629 4.11. Pemeriksaan Berat Satuan Volume Agregat Kasar L-11 Volume silinder Berat silinder = 0. ST.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.

12. Telp.18 Mpa pada 14 hari 7 Mpa 11.4 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Uraian Kuat tekan umur 14 Deviasi standar Nilai tambah Kuat tekan rata2 Jenis semen Jenis kerikil Fas Slam Ukuran maks butir kerikil Kadar air Kebutuhan semen Kebutuhan semen minimum Dipakai kebutuhan semen Penyesuaian jumlah air atau fas Golongan pasir Persen pasir terhadap camp Berat jenis campuran Berat beton Kebutuhan camp pasir dan kerikil Kebutuhan pasir Kebutuhan kerikil Tabel/Grafik/Perhitungan grafik M=k * ds Nilai 36.45 2 34 % 2.884 kg/m3 1090.716 kg/m3 tabel 10 : 7 grafik grafik grafik 18-(11+10) 16 * 19 19-20 Proporsi campuran Tiap m 3 Air 184.9 ltr 462.9 ltr dan fas 0. Perencanaan Campuran Adukan Beton Metode SK-SNI T-15-199003 L-12 Perancangan Adukan Beton Normal Fas 0.25 kg 184. 36 A Kentingan Surakarta 57126.884 kg Kerikil 1090.48 Mpa 47.716 kg Proporsi bahan tiap 1 silinder = 1. (0271) 632363 Lampiran IV.66 Mpa biasa batu pecah 0.9 ltr Semen 462.25 kg 275 kg 462. Ir.25 kg Pasir 561.4 60-100 mm 40 mm 184.6 kg/m3 561.50 2300 kg/m3 1652. Sutami No.2 * vol cetakan silinder * vol material tiap m3 .DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.

12.5 % 2.639 17.205 2.622 41. 8.622 41.639 17.056 7.639 17.764 1.622 41.622 41.323 1.205 2. Sutami No.205 2.639 17.056 Semen (kg) 17.205 .056 7. 3.323 1.442 21. Air (kg) 7.442 21.622 41.764 1.056 7.205 2. 2.764 1.442 21. 16.323 1.442 21.764 2. Proporsi kebutuhan material tiap 3 sampel untuk uji tekan dan tiap 3 sampel untuk uji tarik dengan fas 0.764 1. 11.5 % 1.323 1.205 7. 13.622 41.622 41. 36 A Kentingan Surakarta 57126.5 % 1. 5.622 41.442 21.056 7. 10.442 21.056 7.323 Filler (kg) 10 % 1.323 Ampas (kg) 10 % 12.622 41. 4.056 7.639 Pasir (kg) 21.442 21.622 41.056 7.764 12.442 21.622 41.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.442 21.205 2.639 17. Proporsi kebutuhan material L-13 Tabel. 6.056 7.056 7.056 7. Ir.323 1. 15.639 17.442 21.639 17.442 21.622 41.442 Kerikil (kg) 41.639 17.622 41.323 1.639 17.639 17.442 21. (0271) 632363 Lampiran IV. 14.639 17.056 7. 7.056 7.764 1.205 2.056 7.764 1.639 17.13. 9.4 No 1.622 7.442 21. Telp.442 21.442 21.639 17.639 17.639 17.622 41.056 7.056 7.5 % 1.622 41.

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR
JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Jl. Ir. Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Telp. (0271) 632363

Lampiran IV.14. Pemeriksaan Slump Adukan Beton

L-14

Tabel: Hasil pengujian slump beton umur 14 hari (Sumber : Hasil penelitian) No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. Beton Normal √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Ampas (%) 7,5 10 12,5 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Filler Briket (%) 7,5 10 12,5 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Slump (cm) 7,5 2 2,5 1,5 1,5 2 2,5 2 3,5 2,5 2 3,5 2,5 1,5 2,5 3,5

Surakarta,

Mei 2006

Ka. Lab. Bahan Konstruksi Teknik

Kusno Adi Sambowo, ST, Ph.D NIP. 132 129 524

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR
JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Jl. Ir. Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Telp. (0271) 632363

Lampiran IV.15. Hasil Pengujian Kuat Tekan Silinder Beton
HASIL PENGUJIAN KUAT TEKAN SILINDER BETON FAS 0.4

L-15

No 1

Tanda / Kode BN-40

Tgl. dibuat 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 2119 April 2006

Volume silinder (cm3) 5301,438

Berat (gr) 11950 11900 11750 12080 11900 12000 11950 11300 11500 11400 11500 11500 12250 12100 12150

b.j (gr/cm3) 2,254 2,245 2,216 2,279 2,245 2,264 2,254 2,131 2,169 2,150 2,169 2,169 2,301 2,282 2,292

b.j rata-rata (gr/cm3) 2,238

Tgl. diuji 3 Mei 2006

Umur 14

Beban Maks. (kN) 495 600 525 510 570 480 430 415 400 420 330 420 535 560 550

Kuat tekan (MPa) 28,011 33,953 29,709 28,860 32,255 27,162 24,333 23,484 22,635 23,767 18,674 23,767 30,275 31,689 31,124

2

BNA-1-40

5301,438

2,263

3 Mei 2006

14

3

BNA-2-40

5301,438

2,185

3 Mei 2006

14

4

BNA-3-40

5301,438

2,163

3 Mei 2006

14

5

BNF-1-40

5301,438

2,292

3 Mei 2006

14

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR
JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Jl. Ir. Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Telp. (0271) 632363

Lampiran IV.15. Lanjutan
HASIL PENGUJIAN KUAT TEKAN SILINDER BETON FAS 0.4

L-16.

No 1

Tanda / Kode BNF-2-40

Tgl. dibuat 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006

Volume silinder (cm3) 5301,438

Berat (gr) 12100 12200 12000 12100 12100 12100 11550 11650 11850 11900 11700 11600 11600 11600 11600

b.j (gr/cm3) 2,282 2,301 2,264 2,282 2,282 2,282 2,179 2,197 2,235 2,245 2,207 2,188 2,188 2,188 2,188

b.j rata-rata (gr/cm3) 2,282

Tgl. diuji 3 Mei 2006

Umur 14

Beban Maks. (kN) 600 530 600 580 630 600 440 390 400 330 420 425 420 420 460

Kuat tekan (MPa) 33,953 29,992 33,953 32,821 35,651 33,953 24,899 22,069 22,635 18,674 23,767 24,050 23,767 23,767 26,031

2

BNF-3-40

5301,438

2,282

3 Mei 2006

14

3

BNAF-11-40

5301,438

2,204

3 Mei 2006

14

4

BNAF-12-40

5301,438

2,213

3 Mei 2006

14

5

BNAF-13-40

5301,438

2,188

3 Mei 2006

14

782 37.147 5 Mei 2006 14 5 BNAF-32-40 5301. 36 A Kentingan Surakarta 57126.150 b.438 Berat (gr) 11600 11750 11800 12000 11600 11600 11350 11400 11400 11050 11500 11600 11700 11500 11400 b.175 5 Mei 2006 14 .899 21.438 2.150 2.210 Tgl.465 36. (kN) 370 420 420 420 440 380 380 430 450 650 670 650 640 770 660 Kuat tekan (MPa) 20.767 23.767 23.573 37.147 5 Mei 2006 14 4 BNAF-31-40 5301.j (gr/cm3) 2.217 43.169 2.348 2 BNAF-22-40 5301.141 2.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.438 2.333 25.438 2.084 2.213 5 Mei 2006 14 3 BNAF-23-40 5301. Lanjutan HASIL PENGUJIAN KUAT TEKAN SILINDER BETON FAS 0.767 24. Ir.150 2. Telp.15.188 2.782 36.438 2.216 2.207 2.264 2.504 21.4 L-17 No 1 Tanda / Kode BNAF-21-40 Tgl. Sutami No.188 2.504 24.226 2.j rata-rata (gr/cm3) 2.188 2. diuji 5 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks.914 36.188 2.938 23. dibuat 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301.169 2. (0271) 632363 Lampiran IV.

Ph. Telp.4 L-18. 36 A Kentingan Surakarta 57126.480 35.15.153 Tgl. diuji 4 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks. No 1 Tanda / Kode BNAF-33-40 Tgl. Lab. dibuat 20 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. Ir.D NIP.438 Berat (gr) 11250 11250 11750 b. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.j (gr/cm3) 2.j rata-rata (gr/cm3) 2. Lanjutan HASIL PENGUJIAN KUAT TEKAN SILINDER BETON FAS 0. (0271) 632363 Lampiran IV.368 Surakarta.216 b. Mei 2006 Ka.480 38.122 2. Sutami No. ST.122 2. (kN) 680 680 625 Kuat tekan (MPa) 38. 132 129 524 .

248 3 Mei 2006 14 .395 3.4 L-19 No 1 Tanda / Kode BN-40 Tgl.235 2.688.254 2. 36 A Kentingan Surakarta 57126.476 1.829 2 BNA-1-40 5301.141 2.169 2. Ir.112 3.438 Berat (gr) 12200 11950 12000 11500 11350 11500 11500 11750 11850 11850 11550 11500 11900 11950 11900 b.207 3 Mei 2006 14 4 BNA-3-40 5301.254 2.j rata-rata (gr/cm3) 2.438 2. (kN) 220 240 245 230 160 175 100 180 180 125 190 180 190 160 200 Kuat tarik (MPa) 3.j (gr/cm3) 2.438 2.415 2. dibuat 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301. (0271) 632363 Lampiran IV.245 b.446 3.169 2.169 2. Telp.546 1.438 2. diuji 3 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks.16.264 2. 2. HASIL PENGUJIAN KUAT TARIK SILINDER BETON FAS 0.273 Tgl.688 2. Sutami No.235 2.264 2.169 2.245 2.438 2.264 2.546 2.216 2.254 2.194 3 Mei 2006 14 5 BNF-1-40 5301.768 2.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.301 2.160 3 Mei 2006 14 3 BNA-2-40 5301.179 2.546 2. Hasil Pengujian Kuat Tarik Silinder Beton .

(0271) 632363 Lampiran IV.627 2.245 2.971 3. Ir.j rata-rata (gr/cm3) 2.263 2.438 Berat (gr) 12200 12200 12000 11650 11900 12100 11500 11650 11650 11700 11650 11650 11750 11900 11750 b.829 2.042 2.188 3 Mei 2006 14 4 BNAF-12-40 5301.282 2.289 Tgl.216 2.334 2.197 2.334 2. (kN) 125 235 165 165 115 200 165 205 165 160 175 200 210 215 175 Kuat tarik (MPa) 1.900 2.j (gr/cm3) 2.241 3 Mei 2006 14 3 BNAF-11-40 5301.197 2.301 2.245 2.334 1.476 2.200 3 Mei 2006 14 5 BNAF-13-40 5301.438 2.768 3.438 2.226 3 Mei 2006 14 .476 2 BNF-3-40 5301.197 2.438 2.4 L-20 No 1 Tanda / Kode BNF-2-40 Tgl.264 2.207 2.169 2. Lanjutan HASIL PENGUJIAN KUAT TARIK SILINDER BETON FAS 0.334 2. Sutami No. diuji 3 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks.216 b. dibuat 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301.197 2. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Telp.438 2.301 2.16.829 2.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.325 2.197 2.

150 2.16.438 2.438 Berat (gr) 11700 11600 11500 11600 11600 11350 11400 11500 11250 11500 11550 11600 11500 11550 11550 b.264 1.617 2.617 2. HASIL PENGUJIAN KUAT TARIK SILINDER BETON FAS 0.169 2.768 1.169 2.485 2.188 Tgl.438 2.169 2. 36 A Kentingan Surakarta 57126.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. Lanjutan . Sutami No.179 2. Ir.176 4 Mei 2006 14 .910 2.179 4 Mei 2006 14 5 BNAF-32-40 5301.147 4 Mei 2006 14 4 BNAF-31-40 5301.438 2. diuji 4 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks.j rata-rata (gr/cm3) 2. Telp.698 1.188 2.179 b.122 2.122 1.172 4 Mei 2006 14 3 BNAF-23-40 5301. dibuat 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301.768 2 BNAF-22-40 5301.141 2.169 2.188 2.188 2.j (gr/cm3) 2.4 L-21 No 1 Tanda / Kode BNAF-21-40 Tgl. (0271) 632363 Lampiran IV.188 2.264 1. (kN) 180 185 160 125 135 150 150 105 185 160 130 130 150 120 125 Kuat tarik (MPa) 2.179 2.207 2.546 2.122 2.122 1.839 1.438 2.839 2.

Ir. Lanjutan HASIL PENGUJIAN KUAT TARIK SILINDER BETON FAS 0.j (gr/cm3) 2.4 L-22.216 2.254 2. No 1 Tanda / Kode BNAF-33-40 Tgl. (0271) 632363 Lampiran IV.179 b. (kN) 115 115 115 Kuat tarik (MPa) 1.D NIP.16. 36 A Kentingan Surakarta 57126. 132 129 524 . Sutami No. Ph.627 1.627 Surakarta.438 Berat (gr) 11750 11950 11550 b.627 1. Mei 2006 Ka. diuji 4 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks.216 Tgl. ST. Telp. dibuat 20 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301.j rata-rata (gr/cm3) 2. Lab. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful