Aditya Galih Wijaya

TUGAS AKHIR

KAPASITAS TEKAN DAN TARIK BETON DENGAN BAHAN TAMBAH FILLER ABU AMPAS TEBU DAN ABU ARANG BRIKET DENGAN FAS 0,4

Disusun guna memenuhi persyaratan untuk memperoleh Gelar Sarjana Teknik pada Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta

oleh :

Aditya Galih Wijaya NIM : D 100 000 145 NIRM : 00.6.106.03010.5.0145

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2006

LEMBAR PENGESAHAN

KAPASITAS TEKAN DAN TARIK BETON DENGAN BAHAN TAMBAH FILLER ABU AMPAS TEBU DAN ABU ARANG BRIKET DENGAN FAS 0,4
Tugas Akhir Diajukan dan dipertahankan pada Ujian Pendadaran Tugas Akhir di hadapan Dewan Penguji Pada tanggal : …. Juni 2006

Aditya Galih Wijaya
NIM : D 100 000 145 NIRM : 00.6.106.03010.5.0145 Susunan Dewan Penguji Pembimbing utama Pembimbing pendamping

Ir. Suhendro Trinugroho, M.T NIP. 732 Anggota

Ir. H. Aliem Sudjatmiko, M.T NIK. 131 683 033

Much. Sholichin, S.T, M.T NIK : 792 Tugas Akhir ini diterima sebagai salah satu persyaratan Untuk mencapai derajat sarjana S-1 Teknik Sipil Surakarta,…..Juni 2006 Mengetahui Dekan Fakultas Teknik Ketua Jurusan Teknik Sipil

Ir. Sri Widodo, M.T NIK. 542 iii

M. Ujianto, ST, M.T NIK. 564

MOTTO

“Katakanlah : sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah”.
(Q.S Al-An’aam:162-163)

“Tenang setenang langit dan cepat secepat kilat”.
( Penulis )

“Barang siapa berjalan di suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan mempermudah jalan ke surga”.
( H. R. Muslim )
“Janganlah berfikir untuk menjadi orang yang sukses, tapi berpikirlah untuk menjadi orang yang berguna”.

( Penulis )

“Terima kasih Ya Allah untuk kehidupan dan kesehatan saya. Terima kasih atas kesempatan-kesempatan saya, atas persoalan-persoalan saya, dan terima kasih atas bimbingan dalam mengatasi persoalan-persoalan tersebut”.
( Penulis )

iv

BlueMax K6723DE. Ummi dan Abbah Demi Allah tidak dapat aku balas pengorbanan. Winning Eleven. Istriku Anita Fitriana dan Calon Anakku Naja Keyshika Semangat serta perjuanganmu adalah nafas kehidupanku. Almamaterku. Stream K4658KB.HALAMAN PERSEMBAHAN Ucapan Terima Kasih Penulis Persembahkan Kepada : My Lord Atas izin-Mu untuk menyelesaikan Tugas Akhir ini. Adikku Adhimas Pamungkas Terima kasih atas semua do’anya. cucuran keringat dan kasih sayangmu selama aku hidup di dunia. v .

T. selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta. M. Saudara sekandungku Adhimas Pamungkas. terima kasih untuk semua bimbingan. nasehat dan kesabaranya. selaku Dosen Koordinator Tugas Akhir..T. Ummi dan Abbah. selaku Dosen Pembimbing Utama Tugas Akhir.T. selaku Dosen Pembimbing Akademik 7).KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr.T. Anita Fitriana. Penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1). 9).. ilmu. keramahanmu teduhkan jiwaku. yang telah memberikan dorongan dan semangat baik moril maupun materiil dalam menyelesaikan laporan ini. kehadiranmu ajarkan aku bijaksana. vi . 3). 8).T.T. M. ilmu. 6). S. Ujianto. Suhendro Trinugroho. keberadaanmu tunjukkan aku bahagia. Sri Widodo. Dengan selesainya penyusunan laporan ini. M. Ibu Qunik Wiqoyah. S. selaku Dosen Pembimbing Pendamping.T.Wb Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Karunia. terima kasih atas semua do’anya. Bapak M. nasehat dan kesabaranya.. Bapak Ir. Bapak Ir. H. terima kasih untuk semua bimbingan. selaku Ketua Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta. penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung membantu membimbing serta meluangkan waktu sehingga laporan ini dapat terselesaikan... kehangatanmu memberikan cermin hati tuk melihat seluruh putihnya kasihmu. 5). Bapak Ir.. M. M. Suhendro Trinugroho. Bapak Ir. 4).4”. H. 2). Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir dengan judul ”Kapasitas Tekan Dan Tarik Beton Dengan Bahan Tambah Filler Abu Ampas Tebu Dan Abu Arang Briket Dengan Fas 0. Aliem Sudjatmiko.T.. M.

terima kasih atas dukungan dan bantuannya. Punggawa Yandu : Kholiq+Sahid (tetep kompak dan rukun slalu yo). Wassalamu’alaikum Wr. Barudak Sipil 2000. Pardi terima kasih atas semua bantuannya. Save My Soul… 16). Asih. 15). Jesus.10). Toni+Ikha (Keluarga Ceria). Rubianto Nugroho selaku Partner Dewan Beton Nasional 0. Guruh+Trek (Laskar Industri Indonesia). Orang-orang yang dekat denganku dan merubah hidupku jadi lebih berarti. Asrie (A4). 17). untuk itu kritik dan saran yang sifatnya membangun penulis harapkan demi kesempurnaan penyusunan laporan selanjutnya. Persero Tbk Cabang II Riau yang telah memberikan segala fasilitas dan jaminan hidup sampai sekarang. 13). Mr. PT. Juni 2006 Penulis vii . Bala Tentara Lab Teknik Sipil UNS : Bos Kusno Adi S. Amin. Fajri. 11). Radjimin. 12).Wb Surakarta. 14). Hatur Nuhun Sanget Ya Allah. Ari. Sahabatku Kenci. Sayoko.45 terima kasih atas semua masukkan dan kerjasamanya yang baik slama ini.. Semoga laporan ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca. Edwin Reagen Sedunia (kapan modal chek. Anita. Penulis menyadari keterbatasan dalam penyusunan Tugas Akhir ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. terima kasih atas persahabatannya. Adhi Karya. Yanuar+Dinda (hidup tak selamanya indah). Parman.?!). Danang.

DAFTAR NOTASI K = Kadar lumpur (gram) G 0 = Berat pasir mula – mula (gram) G 1 = Berat pasir setelah dicuci (gram) B = Berat picnometer + air (gram) BT = Berat picnometer + air + pasir (gram) BJ = Berat batu pecah dalam keadaan jenuh (gram) BA = Berat batu pecah dalam air (gram) Wо = Berat pasir mula – mula (gram) W 1 = Berat agregat halus yang tertahan saringan ukuran 2 mm (gram) M = nilai margin Sd = standart deviasi f’c = Kuat tekan beton (MPa) f’cr = Kuat tarik beton (MPa) W = Berat benda uji (gram) V = Volume silinder beton (cm³) P = Beban maksimal (N) d = Diameter silinder (mm) h = Tinggi silinder (mm) π = 3.14 viii .

............. 2.................................................................................................................................... xv DAFTAR LAMPIRAN........................................................................ i iii iv v vi ix KATA PENGANTAR ................................................................................... xvii DAFTAR NOTASI ................ MOTTO ............................................................. HALAMAN PERSEMBAHAN ......... Beberapa Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Beton ..... 2..................................................................... Latar Belakang......................................... Keaslian Penelitian ........................... LEMBAR PENGESAHAN ......................................................................... B.................... 1............ B...... BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................... Sifat – sifat Beton ........................................................................................................................................................................................................................................................................................................ Tujuan penelitian....................................................................................... D................................... D............................................. Faktor air semen............................................................................................... Sifat umum beton ... 1............................................................................................ Tujuan dan Manfaat Penelitian ...... vii DAFTAR GAMBAR ......................................................................................................... 2.. Sifat khusus beton ................. xviii ABSTRAKSI .................. ix 1 1 3 3 3 3 3 4 5 5 6 6 6 7 8 8 8 ................................................................................ HALAMAN SOAL...................... Manfaat penelitian........................ xiii DAFTAR TABEL......................................... 1................ xix BAB I PENDAHULUAN................. Batasan Masalah ..........................................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ............................ Jumlah semen ....... Umum .................................... C............................................. E................................................................................................................................................................................................. Rumusan Masalah.................................................. Pengertian Beton................... DAFTAR ISI................................... A..................................................... C............................. A...................................

..................... Timbangan ........... Gelas ukur.......... Umur beton....................................................... 17 2a)........ 13 3. Agregat halus ............................................................................. Ayakan standar .. 15 B...... Penggetar ayakan (Siever) .... Pozolan............................ 12 1... 16 2........................................................ 30 BAB IV METODE PENELITIAN ......... Kerucut Conus ................................................................... Peralatan Penelitian................. 33 2c)........................................................................................ 15 A............... 15 1.............. Jenis semen................................................ 10 5......................................................................... Kuat Tarik Beton............................................... 11 E............................................................. Bahan tambah kimia................................................................................... 29 E............................. 19 5................................ 20 D...... 14 BAB III LANDASAN TEORI........................................................................................ 18 4......................................... Serat............................................................................................................... Kuat Tekan Beton ........................................ Agregat .................................................. Air ............... 34 2d)............................... 32 2....................................... 32 B.................................................................................................................................................... Bahan Pengisi (Filler) .......................................................... Sifat agregat ... Bahan Penyusun beton .....................................3............ 32 2a)...................................................... 35 2e)......... Agregat kasar .... 12 2.... Abu arang briket................... Bahan Penelitian dan Peralatan Penelitian..... 18 2b)....... 19 6........................................................ 32 1..... Bahan Tambah Beton.................................................................... Umum ........................................... Umum ........... Abu ampas tebu................. Perencanaan Campuran Beton ........................................................ Semen portland ........... 33 2b).......................... 32 A....................... 35 x .......... Bahan penelitian....... 20 C....................................... 9 4...................... 18 3.........................................................................................................................................................

........................ Perencanaan campuran beton ...................................... 39 2p)................... Bak tempat perendaman benda uji ... 41 3........... 40 C................................................. Pemeriksaan gradasi agregat pasir...... Pemeriksaan Saturated Surface Dry (SSD) pasir........................................................ 51 1i)....... Tahap II : Pemeriksaan bahan dasar....... 37 2i).. Tahap IV : Pengambilan data........................... Pembuatan benda uji ......................... 44 1............. Pengujian Slump...... Oven......... Tahap Penelitian .. 41 2................................................ 37 2j)........ 45 1c)................. 53 3...... 46 1d).......................................................... 49 1g) Pemeriksaan Specific Gravity dan Absorbtion kerikil .. Cetakan silinder...... Pemeriksaan keausan agregat kasar.............. 40 1................................................................................................. Tahap I : Persiapan alat dan penyediaan bahan .................................................. Volumetric Flash ............ Molen .......... Pemeriksaan bahan........................................... Tongkat baja .......... 44 1b)...................... Mesin uji tekan.............................. Mesin uji Los Angeles....................................................................................... Desicator ................ Kerucut Abram’s......................... 37 2k)... 36 2g)............................................................... Pemeriksaan berat satuan volume batu pecah ....2f).... 41 5........................... Peralatan penunjang lain .............................................................................. Pelaksanaan Penelitian............................ Tahap V : Analisis data dan kesimpulan. 38 2m)... 42 D.......... 41 4........ 39 2o)................................................................................. 38 2l)....... 54 4........ 39 2n)........... 36 2h).......................................................................... 55 xi .. 44 1a)....... Pemeriksaan gradasi batu pecah ...... Pemeriksaan Specific Gravity dan Absorbtion pasir.................................................................................. 52 2......... Tahap III : Penyediaan benda uji ............................................ 47 1e).................... 50 1h).......... Pemeriksaan kadar lumpur pasir ....... 48 1f)... Pemeriksaan zat organik pasir .................

................................. 61 2.......................... Hasil pengujian agregat kasar ............... Pengujian Slump ............................... Pengujian Kuat Tekan Dan Kuat Tarik Beton .............................................................. 56 BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .... 56 7... Saran ......... 61 1................................................................................................................. Pengujian Agregat............ 72 B........... Pengujian kuat tekan dan tarik beton ......................................................................... Hasil pengujian agregat halus ......... Pemeriksaan berat jenis beton........................................................................................................ 72 A................... Perawatan benda uji (Curing) ... 69 E.................................... 73 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN xii ......................................................... Pembahasan Hasil Penelitian ......................................5................ 70 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ...................... 66 C........ 61 A......... Kesimpulan ...................................... 55 6.. Pengujian Berat Jenis Beton ....... 67 D.............................. 63 B.

.... 38 Gambar IV...................13......... Gelas ukur ...................18............... Oven ...................... Hubungan antara faktor air semen dan kuat tekan silinder beton 9 Gambar II... Satu set ayakan dan Siever..........................7... 33 Gambat IV..... Bak tempat perendaman benda uji.. Hasil pengujian kuat tekan beton.. Pengaruh suhu pada laju kuat tekan beton .. 12 Gambar II................................................................... 6..14...................... 40 Gambar IV..................... Pengujian kuat tekan beton ....... 38 Gambar IV..............................................10......................... 10 Gambar II................................................... Desicator.............. 56 Gambar IV..... 58 Gambar IV........ Kerucut Abram’s dan tongkat baja .................... 37 Gambar IV.... Kerucut Conus .......................... 39 Gambar IV............. 57 Gambar IV......... 1..20.. 39 Gambar IV... 43 Gambar IV........................................... 4............... Perawatan benda uji beton ... Bagan alir tahapan penelitian........ 11 Gambar II......... Benda uji setelah dicat ......................................9......11.......................DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar II...................................................................6................ Timbangan digital ................................... Pengaruh jenis agregat terhadap kuat tekan beton ....... 2........ 4................................1........... Timbangan besar............. 13 Gambar IV...... 5.............. Mesin uji kuat tekan dan kuat tarik merk Milano Italy......................... Cetakan beton silinder.......................................... 34 Gambar IV.... Volumetric flash ....... Hubungan antara kuat tekan beton dan jumlah semen .................. 3...........................................12.....21... 34 Gambar IV..................... 8........................... Molen ................. 35 Gambar IV.................. 58 xiii .... 3........... 40 Gambar IV........... Pengaruh umur beton terhadap laju kenaikan kuat tekan beton pada beberapa fas ............... 57 Gambar IV................ 36 Gambar IV........ 11 Gambar II........ Grafik kuat tekan beton untuk berbagai jenis semen.................................. 35 Gambar IV.............. 37 Gambar IV............... Benda uji sebelum dicat ............................................................................. Mesin Los Angeles ............. Peralatan penunjang lainnya .16........... 2.............. 5....................................................19............................................ 36 Gambar IV.............................15..............................17.........

......... 1.................22........... 59 Gambar V.. Batas gradasi pasir dalam daerah gradasi No.... 63 Gambar V... Pengujian kuat tarik beton .... 71 Gambar V... Hasil pengujian kuat tarik beton ....22.....Gambar IV...... Grafik gabungan hubungan kuat tekan rata-rata dengan variasi tebu bahan tambah filler abu ampas dan abu arang briket......... 59 Gambar IV.............................. 72 xiv ................. II ..................... 3.................... 65 Gambar V.. 4... Batas gradasi kerikil .. 2............ Grafik gabungan hubungan kuat tarik rata-rata dengan variasi tebu bahan tambah filler abu ampas dan abu arang briket..........................

............................... 66 Tabel V... 1............. 1.... 28 Tabel IV........................................................... Penetapan nilai Slump .................... Ketentuan untuk beton yang berhubungan dengan air tanah yang mengandung sulfat .... 68 xv ............. 24 Tabel III............................ 2. 1 Jenis-jenis semen Portland ..4 . Pengujian agregat halus .............. Persyaratan jumlah semen minimum dan faktor air semen maksimum untuk berbagai macam pemberonan dalam lingkungan khusus .............. 65 Tabel V.......................... 9. Nilai deviasi standar untuk tingkat pengendalian mutu pekerjaan 22 Tabel III............ 26 Tabel III. 3.....4.......... Proporsi kebutuhan material tiap 3 sampel untuk uji kuat tekan dan 3 sampel untuk uji kuat tarik dengan fas 0.................................. 2............... 4..............Batas gradasi pasir ... 23 Tabel III................................. 8. 5.............. Hasil pemeriksaan berat jenis rata-rata kuat tekan beton dengan Fas 0......... Ketentuan minimum untuk beton bertulang kedap air............... 5................ 3.. 54 Tabel V...............DAFTAR TABEL Halaman Tabel I..... 53 Tabel IV........................... 25 Tabel III... 6.................. Perkiraan kuat tekan beton dengan faktor air semen 0.............. 24 Tabel III................................ Rincian jumlah benda uji untuk kuat tekan beton ...... Rincian jumlah benda uji untuk kuat tarik beton............................. 65 Tabel V......................... 7.......... 61 Tabel V............. 1............................ Rincian jumlah benda uji kuat tekan dan uji kuat tarik ........................... 4 Tabel III..... Hasil penurunan SSD pasir ......................................... 63 Tabel V.. 6....................................... Pengujian agregat kasar .............. 17 Tabel III..... Faktor pengali deviasi standar ............................................ Hasil pengujian agregat kasar ....... 4........... 4..... 54 Tabel IV............... Hasil pengujian Slump beton umur 14 hari............. 46 Tabel IV.... 22 Tabel III............................. Perkiraan kadar air bebas yang dibutuhkan untuk beberapa tingkat kemudahan pengerjaan adukan beton ............5 dan jenis semen dan agregat kasar yang biasa dipakai di Indonesia ............................................. 3............................... 26 Tabel III....... 2... Hasil pengujian agregat halus ........................ 10..

........................ 70 xvi ..4........ 7....4 .Tabel V. Kuat tekan rata-rata beton dengan variasi penambahan filler abu abu arang briket dan abu ampas tebu dengan Fas 0................ 68 Tabel V... 69 Tabel V....................................... 9...... Hasil pemeriksaan berat jenis rata-rata kuat tarik beton dengan Fas 0........4.. Kuat tarik rata-rata beton dengan variasi penambahan filler abu abu arang briket dan abu ampas tebu dengan Fas 0............. 8.........

........... L-15 Lampiran IV. L-8 Lampiran IV. Hasil pengujian kuat tarik beton ............. Pemeriksaan Spesific Gravity dan Absorbtion pasir ..................... 1..... L-5 Lampiran IV..............................16.... 6.........................DAFTAR LAMPIRAN Lampiran IV.....12...... L-12 Lampiran IV........... L-6 Lampiran IV... 4. Pemeriksaan berat satuan volume agregat kasar ....... Hasil pengujian kuat tekan beton . Pemeriksaan berat satuan volume pasir ..... Pemeriksaan Slump adukan beton ........ 7.... L-2 Lampiran IV. L-1 Lampiran IV....................... Pemeriksaan kadar lumpur pada pasir. Pengujian Saturated Surface Dry (SSD) pasir ...........14...........................13.... 3...... Pemeriksaan berat satuan volume batu pecah ............15... 9........ Pemeriksaan keausan agregat kasar ..................... Pemeriksaan Spesific Gravity dan Absorbtion batu pecah ..11............................................................. L-9 Lampiran IV......... L-10 Lampiran IV...... L-3 Lampiran IV.... Proporsi campuran.......... Pemeriksaan gradasi pasir ............... L-13 Lampiran IV.............................. L-19 xvii .. 8..... 5..... Periksaan kandungan zat organik pada pasir.... Perencanaan campuran adukan beton metode SK SNI ... 2............................................. L-11 Lampiran IV...........10.......... L-14 Lampiran IV.. L-7 Lampiran IV.... Pemeriksaan gradasi batu pecah.......... L-4 Lampiran IV.................

Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penambahan filler abu ampas tebu dan abu arang briket terhadap kuat tekan dan kuat tarik beton. adapun penelitian ini mencoba memanfaatkan abu ampas tebu dari Pabrik Gula Tasik Madu yang ada di Karanganyar dan abu arang briket dari PT. 10% . dengan hasil peningkatan sebesar 27.5% dan abu arang briket 10%. Universitas Sebelas Maret. variasi bahan tambah abu ampas tebu sebesar 7. 12.ABSTRAKSI KAPASITAS TEKAN DAN TARIK BETON DENGAN BAHAN TAMBAH FILLER ABU AMPAS TEBU DAN ABU ARANG BRIKET DENGAN FAS 0.T-15-1990-03. 12. Skatex yang ada di Karanganyar. Penelitian tentang beton telah banyak dilakukan.SNI. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Bahan dan Struktur. Kata kunci : abu ampas tebu. sebesar 14.5% . kuat tarik xviii .4 dengan umur beton 14 hari. 10% . abu arang briket.78 % dari kuat tekan beton normal dan dari pengujian kuat tarik rata-rata optimum diperoleh pada variasi abu ampas tebu 7.5%.5% . Beton yang dibuat berbentuk silinder dengan tinggi 30 cm dan diameter 15 cm. kuat tekan.5% dari berat semen.70 % dari kuat tarik beton normal.5% dan abu arang briket 12. Jurusan Teknik Sipil.5% dari berat semen dan abu arang briket sebesar 7. Perancangan adukan beton menggunakan rancangan SK. Fakultas Teknik.4 Beton merupakan bahan bangunan yang telah banyak dikenal masyarakat Indonesia karena bahan penyusun beton mudah didapat dan relatif murah. Dari hasil pengujian kuat tekan rata-rata optimum diperoleh pada variasi abu ampas tebu 12. Pada penelitian ini menggunakan fas sebesar 0.

Peningkatan kualitas campuran beton akan menghasilkan beton yang lebih berkualitas. serta mudah dalam mendapatkan bahan penyusunnya. umur beton. Latar Belakang Perkembangan teknologi sekarang ini sangat pesat seiring dengan perkembangan zaman. serta bahan kimia tambahan (admixture). Beton merupakan salah satu faktor penting dalam bidang konstruksi mengingat fungsinya sebagai salah satu pembentuk struktur. Beban tarik pada plat atau balok beton dipikul oleh tulangan baja pada beton. Struktur yang terbuat dari beton antara lain : jalan dan jembatan yang strukturnya terbuat dari beton. pemadatan dan perawatan). mudah dalam perawatan. Pemakaian beton diharapkan dapat menghasilkan bangunan-bangunan berkualitas yang tidak mungkin diperoleh dari beton normal. termasuk teknologi beton yang hampir pada setiap aspek kehidupan manusia selalu terkait dengan beton baik secara langsung maupun tidak langsung. hal ini sangat berbeda dengan elemen struktur baja yang memerlukan perawatan untuk mencegah terjadinya karat. gradasi agregat. Jadi perkembangan beton sangat perlu dalam kehidupan sehari-hari yang mempengaruhi konstruksi struktur. bendungan dan sebagainya. Besarnya kuat beton dipengaruhi beberapa hal antara lain : fas. Beton banyak digunakan karena keunggulan-keunggulannya antara lain kuat tekan beton tinggi. Teknologi dibidang konstruksi bangunan juga mengalami perkembangan pesat. jenis semen. Beton merupakan bahan bangunan yang awet dan tidak mudah berkarat. lapangan terbang. dan pengerjaan (pencampuran. Semen merupakan salah satu bahan penyusun beton yang bersifat sebagai pengikat agregat pada campuran beton. Kualitas yang baik pada campuran beton ditambah dengan bahan tambah (admixture). mudah dalam pembentukan.BAB I PENDAHULUAN A. bertujuan 1 . sifat agregat. Struktur dari beton mempunyai tegangan tarik yang rendah. Kualitas beton bergantung pada bahan-bahan penyusunnya.

Bangunan yang dibuat sampai sekarang rata-rata masih berdiri kokoh. 1998). Hubungannya dengan pembuatan beton dikatakan banyak orang bahwa dalam pelaksanaan pembuatan beton. selain itu abu ampas tebu mudah didapat dan bisa dibedakan atau diketahui cukup dengan indra manusia. saat ini ada beberapa praktisi ilmu pengetahuan yang memiliki pendapat lain dari pendapat masyarakat terdahulu. beberapa ahli memberikan tetes tebu sebagai bahan campuran.4. Berdasarkan hasil penelitian diatas. Namun seiring perkembangan zaman. Pozolan adalah bahan yang mempunyai kandungan utama senyawa Silicon Dioksida alami atau buatan. bahwa kadar gula dalam hal ini tetes tebu mampu memberikan pengaruh terhadap beton.2 untuk mengubah satu atau lebih sifat-sifat bahan penyusun beton baik dalam keadaan segar atau setelah keras. yang tidak mempunyai sifat seperti semen. seperti bahan tambah filler arang briket. Penambahan filler abu arang briket pada campuran beton yang bersifat pozolan. Hal ini mengisyaratkan bahwa tetes tebu berpengaruh terhadap kekuatan beton. Pemilihan abu ampas tebu sebagai bahan tambah merupakan salah satu alternatif yang cukup mengena. Hal tersebut membuat masyarakat beranggapan. Penambahan abu ampas tebu sebagai bahan tambah dalam campuran beton telah dilakukan dalam beberapa pengujian dengan beberapa variasi takaran penambahan abu ampas tebu terhadap adukan tersebut. sehingga bisa menjadi addictive mineral yang baik untuk beton. . dicoba untuk mengembangkan penelitian kapasitas tekan dan tarik beton dengan bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket dengan fas 0. Sedangkan pohon tebu tumbuh subur di daerah tropis seperti di Indonesia ini. Penelitian ini ingin mengetahui berapa besar kuat tekan dan tarik beton tersebut setelah diberi bahan tambah dibandingkan dengan beton normal. mengingat abu ampas tebu berasal dari sisa penggilingan tebu. Pendapat tersebut adalah kadar gula dengan kadar tertentu akan dapat mengurangi kekuatan beton (Budiyana.

. Skatex di Karanganyar. Tujuan penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kuat tekan dan kuat tarik beton yang dihasilkan dengan menggunakan bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket 2. Semen yang digunakan adalah semen Portland. Metode mix design menggunakan Metode SK. Penelitian ini diharapkan dapat membuktikan. Persentase variasi campuran abu ampas tebu dan abu arang briket adalah 0 %. Pengujian kuat tekan dan tarik beton tidak menggunakan tulangan. untuk mengembangkan pengetahuan tentang teknologi beton terutama pemanfaatan filler abu arang briket sebagai bahan tambah.SNI. Rumusan Masalah Rumusan masalah yang diambil dalam penelitian ini adalah seberapa besar pengaruh penambahan filler abu ampas tebu dan abu arang briket terhadap kuat tekan dan kuat tarik beton.T-15-1990-03. 7.4. 10 %. Abu ampas tebu berasal dari PG. bahwa pemakaian bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket mampu menambah kuat tekan dan tarik beton yang lebih baik. berasal dari Boyolali. Manfaat teoritis. Batasan Masalah Agar tidak terjadi perluasan dalam pembahasan tugas akhir ini. 5. D. C. b). Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. 12. Benda uji berupa silinder berdiameter 15 cm dan tinggi 30 cm.5 %. jenis I merk Holcim. 6. 2. Tasik Madu di Karanganyar. 7. 4. Filler abu arang briket didapat dari PT. 3. Manfaat penelitian Manfaat penelitian ini antara lain : a). Faktor air semen yang digunakan 0.5 % dari berat semen. Agregat kasar (batu pecah) dan agregat halus (pasir).3 B. 9. maka penulis memberikan batasan-batasan masalah pada penelitian sebagai berikut : 1. 8.

12. Umur pengujian kuat tekan dan kuat tarik beton benda uji silinder beton dilaksanakan pada umur 14 hari.5 7. Rincian jumlah benda uji untuk kuat tekan dan tarik beton.h=30 E. Keaslian Penelitian Penelitian beton dengan bahan tambah abu batu bara telah dilakukan oleh Murgiyanto (2003).5 3 9 27 9 48 x 2 = 96 d=15. 10 . Penelitian lain tentang analisis kuat tekan beton dengan penambahan larutan gula dan abu arang briket batubara pernah diteliti oleh Muctar Rifai (2005). 10 . Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta.12. Jumlah benda uji 3 buah tiap variasi abu ampas tebu dan abu arang briket.4 10.1. 11. di Laboratorium Bahan Konstruksi Teknik. Variasi campuran bahan tambah yang digunakan untuk adukan beton dan variasi perendaman seperti pada Tabel I. Untuk perencanaan campuran menggunakan metode SK. 10 . 10 .5 .5 .SNI.4 7.5 .12. 14. Penelitian tersebut untuk mengetahui pengaruh bahan tambah larutan gula dan abu arang briket batubara terhadap kuat tekan beton mutu tinggi. Tinjauan analisis pada kuat tekan dan kuat tarik beton. Penelitian yang dilakukan oleh Murgiyanto (2003) adalah tinjauan pemakaian abu batubara terhadap karakteristik beton dengan menggunakan faktor air semen 0.T-15-1990-03. 12. Tabel I. 13.5 . Umur pengujian (hari) Fas Abu Ampas Tebu (%) Abu Arang Briket (%) Jumah total benda uji Ukuran benda uji (cm) 0 14 hari 0.5 Jumlah benda uji 0 7.1.5 7.12.4. .45. Jumlah seluruh benda uji yaitu (3 x 4 x 4) x 2 = 96 benda uji. Dalam penulisan tugas akhir ini dikaji tentang pengaruh penambahan bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket terhadap kuat tekan dan kuat tarik beton dengan menggunakan fas 0.

1995) Kemajuan pengetahuan tentang beton telah dapat memenuhi berbagai tuntutan pembangunan. misalnya dengan pemanfaatan bahan-bahan lokal yang didapat di daerah tertentu dengan mengubah perbandingan bahan dasarnya. Campuran tersebut bila dituangkan dalam cetakan kemudian dibiarkan maka akan mengeras seperti batuan. Umum Beton merupakan suatu material yang sangat sering dijumpai. bahwa kegiatan sehari-hari sering dipengaruhi oleh dampak perkembangan teknologi beton. maka akan menghasilkan suatu mutu beton yang dapat memenuhi persyaratan. dan gedung yang sering ditempati. maka akan didapat suatu fungsi beton maksimum. Sebagai contoh jalan. (Tjokrodimuljo. baik secara langsung maupun tidak langsung. air dan kadang-kadang memakai bahan tambah yang sangat bervariasi. 1996). 1996). agregat. nilai perbandingan bahan-bahannya. (Tjokrodimuljo. Jadi dapat diambil kesimpulan. Kekuatan. Hampir pada setiap aspek kegiatan pembangunan sehari-hari tergantung pada beton. 5 . Beton yang bermutu sangat baik merupakan material yang sangat awet dan bebas dari pemeliharaan untuk beberapa tahun. serat sampai bahan bangunan non kimia pada prosentase tertentu. mulai dari bahan kimia tambah. Semakin modern suatu bangsa. cara pengadukannya maupun cara pengerjaannya selama penuangan adukan beton dan cara perawatan selama proses pengerasan. Pengertian Beton Beton merupakan campuran antara semen. Dengan perencanaan yang tepat dan sesuai rencana serta pengontrolan pada pemilihan material yang baik. yang diakibatkan oleh reaksi kimia antara air dan semen. jembatan. keawetan dan sifat beton bergantung pada sifat bahan dasar penyusunnya.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. B. maka peranan teknologi tentang beton akan sangat dominan dan sangat berpengaruh pada proses pembangunan yang menggunakan teknologi beton. (Subakti.

Sifat umum beton Secara umum beton mempunyai sifat kebaikan dan kekurangan tertentu jika dibandingkan dengan bahan-bahan lain (Tjokrodimuljo. 3) Beton segar dapat dengan mudah diangkut maupun dicetak 4) Akibat kuat tekannya tinggi maka jika dikombinasikan dengan baja tulangan (yang kuat tariknya tinggi) maka dapat dikatakan mampu dibuat untuk struktur berat. 6) Beton segar dapat dipompakan sehingga memungkinkan untuk dituang pada tempat-tempat yang sulit. 1996 ). Kekurangan beton antara lain : 1) Beton mempunyai kuat tarik rendah sehingga mudah retak oleh karena itu perlu diberi tulangan. 7) Beton termasuk tahan aus dan tahan kebakaran sehingga biaya perawatan termasuk rendah. Diharapkan dari suatu konstruksi adalah hasil yang didapat sesuai harapan secara maksimal tetapi secara ekonomis tidak terjadi pemborosan. 5) Beton segar dapat disemprotkan dipermukaan beton lama yang retak maupun diisikan kedalam retakan beton dalam proses perbaikan.1996). Sifat-sifat beton pada umumnya digolongkan menjadi dua. yaitu sifat yang berhubungan langsung dengan kelebihan beton dan sifat yang berhubungan dengan kekurangan beton ( Tjokrodimuljo. 2) Harga relatif murah. 2) Beton segar mengalami proses pengerutan saat terjadi proses pengeringan dan beton mengeras mengalami pengembangan jika basah. . Sifat – Sifat Beton Sifat beton merupakan hal yang erat kaitannya dengan kualitas beton yang dituntut untuk suatu tujuan konstruksi. 3) Beton keras mengembang dan menyusut bila terjadi perubahan suhu sehingga perlu kelonggaran untuk mencegah retak-retak akibat perubahan suhu. 1.6 C. Kelebihan beton antara lain : 1) Beton termasuk bahan yang berkekuatan tekan tinggi.

bahkan di dalam pengujian tidak mungkin menghilangkan elemen lentur (Murdock & K. dan air yang mengandung garam dapat merusak beton. 5) Beton bersifat getas (tidak daktail) sehingga harus dilindungi dan didetail secara seksama agar diperoleh struktur yang komposit.M. b). tarik dan lentur. . Perubahaan bentuk akibat pembebanan Bilamana beton dibebani. Besarnya kuat tarik dan lentur Kuat tarik beton berkisar seperdelapan belas kuat tekan pada umur yang masih muda dan berkisar sepersepuluh sesudahnya. e). perubahaan bentuk terjadi dan bertambah sesuai dengan pertambahan beban.7 4) Beton sulit untuk kedap air secara sempurna sehingga selalu dapat dimasuki air. 1991) d). sebagaimana baja dan bahan-bahan lain. Sifat khusus beton Sifat secara khusus bagi beton adalah sifat-sifat yang ditinjau atau berhubungan dengan : a). c). Biasanya ini tidak diperhitungkan dalam perencanaan struktur beton. Kuat tekan ini selalu bertambah bersamaan dengan bertambahnya umur beton. 2. Besarnya kuat geser. kuat geser beton selalu diikuti oleh kuat tekan. Brook. Kuat Tekan Kuat tekan beton lebih besar daripada kuat tariknya. Beton berubah bentuk sebagian mengikuti regangan elastis dan sebagian mengalami regangan plastis. Dalam praktek. Modulus elastisitas Yang menjadi tolok ukur yang umum dari sifat elastis bahan adalah modulus elastisitas yang merupakan perbandingan dari tekanan yang diberikan dan perubahan bentuk persatuan panjang sebagai akibat dari tekanan yang diberikan.

sehingga kuat beton rendah. Faktor air semen Faktor air semen adalah angka yang menyatakan perbandingan antara berat air dengan berat semen. Walaupun semakin rendah faktor air semen. Pencapaian nilai kuat tekan beton yang maksimal harus dipertimbangkan hal-hal yang mempengaruhi kualitas beton tersebut. Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas beton antara lain : 1.1.8 D. 1996) 2. sehingga beton menjadi kurang padat (Tjokrodimuljo. Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Beton Kesempurnaan semua sifat dasar beton dicapai dengan tidak meninggalkan segi ekonomis. Jumlah semen Beton dengan jumlah kandungan semen tertentu mempunyai kuat tekan tinggi. Ideal Dipadatkan dengan alat getar Kuat tekan beton Dipadatkan dengan tangan Padat penuh tidak padat Faktor air . karena penggunaa beton yang diharapkan yaitu dengan kualitas yang baik dan mempunyai kuat tekan tinggi. makin rendah kuat tekan betonnya. berarti jumlah air juga sedikit. Hubungan antara faktor air semen dan kuat tekan silinder beton (Tjokrodimuljo. 1996). Semakin besar faktor air semen. Hal ini terjadi karena kesulitan dalam pemadatan adukan beton. kekuatan beton semakin tinggi. kuat tekan beton akan rendah. serta murah dari segi ekonomisnya. akan tetapi dibawah faktor air semen tertentu.semen Gambar II. Namun jika jumlah . Pada jumlah semen yang terlalu sedikit. dan adukan beton sulit didapatkan.

1996). gradasi agregat dengan ukuran butiran yang bervariasi berarti sedikit pula pori-pori betonnya sehingga memerlukan jumlah pasta yang sedikit untuk mengisi rongga-rongga antar butirnya dan secara teoritis kekuatannya lebih tinggi (Tjokrodimuljo. Beton dengan kandungan semen lebih banyak mempunyai kuat tekan lebih tinggi. sehingga penambahan semen berarti pengurangan nilai faktor air semen.2. diperlukan agregat yang lebih kuat. kekasaran permukaan agregat dan gradasi butir agregatnya.9 semen terlalu berlebihan berarti jumlah air juga berlebihan sehingga beton mengandung banyak pori dan akibatnya kuat tekan beton rendah. 1996). . Namun apabila dikehendaki kekuatan beton yang lebih tinggi. Pengaruh kekuatan agregat terhadap kekuatan beton. sebenarnya tidak begitu besar karena pada umumnya kekuatan agregat lebih tinggi daripada pastanya. Hubungan antara kuat tekan beton dan jumlah semen ( Tjokrodimuljo. Kekasran permukaan agregat mempengaruhi daya lekat dan besarnya tegangan saat retak-retak beton mulai terbentuk. yang berakibat penambahan kuat tekan (Tjokrodimuljo. Sifat agregat Sifat agregat yang berpengaruh terhadap kekuatan beton adalah kekuatan agregat. sedangkan gradasi butiran juga sangat mempengaruhi kekuatan beton. 1996) 3. Gambar II.

terutama antara semen dan air yang mengalami proses hidrasi. Pengaruh suhu pada laju kuat tekan beton (Tjokrodimuljo. butir-butir semen akan menghasilkan endapan. Selama proses ini. Pengaruh jenis agregat terhadap kuat tekan beton (Tjokrodimuljo. Gambar II. 1996) 4. Kenaikan kekuatan beton tersebut mula-mula cepat kemudian semakin melambat selaras dengan umur betonnya. dan pada permukaan endapan butiran semen ini akan membuat difusu air ke bagian dalam.1996) .10 Gambar II. 3. Hal ini disebabkan oleh reaksi kimia yang terjadi antara bahan-bahan penyusun beton. Umur beton Kuat tekan beton bertambah sesuai dengan bertambahnya umur beton. Yang dimaksud umur beton adalah dihitung sejak umur beton dibuat. hal inilah yang menyebabkan semakin sulitnya proses hidrasi seiring dengan bertambahnya umur beton. 4.

Jenis semen Menurut PUBI. 1996) . 5. Semen portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan kekuatan awal yang tinggi setelah pengikatan terjadi. Pengaruh umur beton terhadap laju kenaikan kuat tekan beton pada beberapa fas (Tjokrodimuljo. Semen portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan panas hidrasi yang rendah. Semen portland yang dalam penggunaannya persyaratan sangat tahan terhadap sulfat.11 Gambar II. Semen portland yang dalam penggunaannya memerlukan ketahanan terhadap sulfat dan panas hidrasi. Departemen Pekerjaan Umum (1982) membagi semen portland dalam lima jenis yaitu : Jenis semen Jenis I Jenis II Jenis III Jenis IV Jenis V Karakteristik Umum Semen portland untuk penggunaan umum yang tidak memerlukan persyaratan khusus seperti yang disyaratkan pada jenis-jenis lain. (Sumber : Tjokrodimuljo.1996) 5.

terutama untuk pembuatan beton di daerah yang beriklim tropis seperti Indonesia. Penggunaan bahan tambah tersebut dimaksudkan untuk memperbaiki dan menambah sifat beton sesuai dengan yang diinginkan. 1982). 1996). Grafik Kuat tekan beton untuk berbagai jenis semen (Tjokrodimuljo.12 Gambar II. 1996). segera atau selama pengadukan beton (Tjokrodimuljo. Bahan Tambah Beton Dalam pembuatan konstruksi beton. untuk mengubah beberapa sifat beton dan memperoleh sifat-sifat khusus yang diinginkan (Departemen Pekerjaan Umum. bahan tambah merupakan bahan yang dianggap penting. penampilan beton bila mengeras. Bahan kimia (berupa bubuk atau cairan) ini dicampurkan ke dalam adukan beton dengan jumlah tertentu selama pengadukan. . 1. Bahan tambah ialah bahan selain unsur pokok beton (air. 6. menghemat harga beton menambah daktalitas (mengurangi sifat getas). Bahan tambah kimia Bahan tambah kimia adalah suatu bahan kimia yang dapat membantu mempermudah dalam proses pembuatan beton. semen dan agregat) yang ditambahkan pada adukan beton. sebelum. pozolan dan serat (Tjokrodimuljo. mengurangi retak-retak pengerasan dan menambah kuat tekan beton. Penggunaan bahan tambah (admixture) harus didasarkan pada alasanalasan yang tepat misalnya memperbaiki kelecakan beton. 1996) E. Bahan tambah beton ini dapat berupa bahan tambah kimia.

Jenis C : Bahan tambah kimia untuk mempercepat proses ikatan dan pengerasan beton. Menurut pembentukannya pozolan dibedakan menjadi dua jenis. Jenis E : Bahan tambah kimia berfungsi ganda yaitu untuk mengurangi air dan mempercepat proses ikatan dan pengerasan beton. 2. akan tetapi dalam bentuknya yang halus dengan adanya air. 1996). abu sekam padi (rice husk ash). c. Jenis A : Bahan kimia tambahan untuk mengurangi jumlah air yang dipakai. Bahan pozolan tidak mempunyai sifat mengikat seperti semen. Jenis D : Bahan kimia tambahan yang berfungsi ganda yaitu mengurangi air dan memperlambat proses ikatan dan pengerasan beton. 2) Bahan kimia tambahan dengan fungsi ganda. Jenis B : Bahan tambah kimia untuk memperlambat proses ikatan dan pengerasan beton. . Pozzolan Pozolan merupakan bahan tambah mineral yang mengandung silika (SiO2) dan alumina (Al2O3). e. d. maka senyawa tersebut akan bereaksi dengan Calsium Hidroksida Ca(OH)2 pada suhu biasa membentuk kalsium hidrat yang bersifat hidrolis. untuk menghasilkan adukan beton dengan kekentalan sama (air dikurangi sampai 12% lebih namun adukan beton tidak bertambah kental). Dengan pemakaian bahan ini diperoleh adukan dengan faktor air semen lebih rendah pada nilai slump yang sama. b. Selain lima jenis di atas.13 Menurut Persyaratan Umum Bahan Bangunan Indonesia (PUBI). yaitu : 1) Bahan kimia tambahan yang digunakan untuk mengurangi jumlah air campuran sampai sebesar 12% atau bahkan lebih. 1982 bahan kimia tambahan dibedakan menjadi lima jenis antara lain : a. yaitu : 1) Pozolan buatan. ada dua jenis lain yang lebih khusus. memperlambat pengikatan awal. seperti abu terbang (fly ash). silika fume dan lain-lain. yaitu mengurangi air sampai 12% atau lebih. yang merupakan sisa pembakaran dari tungku ataupun hasil pemanfaatan limbah yang diolah menjadi abu yang mengandung silika reaktif dengan melalui proses pembakaran. (Tjokrodimuljo.

dan mengurangi keawetan beton. 1996) . namun hanya menambah daktalitas. (Tjokrodimuljo. dan mengandung pozolan. Abu arang briket batubara termasuk bahan kimia jenis E. Pemakaian serat pada beton lebih tahan retak dan tahan terhadap benturan. Serat Tujuan utama penambahan serat ke dalam beton adalah untuk menambah kuat tarik beton yang sangat rendah berakibat beton mudah retak.14 2) Pozolan alam. yang merupakan sedimentasi dari abu atau lava gunung berapi yang mengandung silika aktif yang bila dicampur dengan kapur padam akan mengadakan proses sedimentasi. pemberian serat pada beton tidak banyak menambah kuat tekan beton. 3.

Tahap-tahap penelitian harus diselesaikan sesuai standar penelitian yang baku untuk mendapatkan material yang berkualitas baik. air dan bahan tambah (admixture) bila diperlukan. agregat halus. material-material tersebut harus melalui tahap penelitian dan berkualitas baik. Untuk pembuatan beton. yaitu yang kuat tekannya tinggi. agregat kasar. mudah dikerjakan. 15 . tahan lama dan tahan aus. Perencanaan campuran beton dimaksudkan untuk mendapatkan beton yang sebaik-baiknya. misalnya: ukuran maksimum agregat. Produksi beton yang efektif dapat dicapai dengan pemilihan. beton merupakan bahan bangunan yang banyak dipakai secara luas. pengontrolan dan perbandingan yang tepat untuk semua bahan serta untuk perancangan campuran beton mutu tinggi lebih kompleks bila dibandingkan dengan perancangan campuran beton normal. Bahan-bahan dasar penyusun beton harus diketahui oleh perencana. perbandingan bahan-bahan yang dipakai.BAB III LANDASAN TEORI A. B. murah. penambahan bahan dari sifat-sifat bahan dasar yang dipakai. sehingga dapat mengembangkan dan memilih bahan penyusun yang baik serta dapat menentukan komposisi yang tepat. Umum Pada saat ini. cara pemadatan dan cara perawatan selama proses pengerasan. Bahan Penyusun Beton Dasar penyusun material beton normal terdiri dari semen. Kesulitan timbul karena di dalamnya banyak parameter yang harus diperhitungkan. banyaknya pemakaian beton disebabkan terbuat dari bahan-bahan yang umumnya mudah didapat serta mudah diolah sesuai dengan bentuk yang diinginkan. cara pengadukan maupun pengerjaan selama penuangan adukan beton.

Semen-semen itu adalah : 1) Oil well cement. Semen Portland Semen merupakan bahan yang mempunyai sifat adhesif dan kohesif. semen ini digunakan untuk penyemenan sumur minyak yang dalam. menghasilkan beberapa jenis semen sesuai dengan tujuan pemakaiannya. Jenis-jenis semen Portland. kedua sifat fisis ini memiliki fungsi sebagai bahan perekat. dengan gips sebagai bahan tambahnya. Semen portland adalah semen hidrolis yang dihasilkan dengan penghaluskan clinker. Semen portland yang dalam penggunaannya memerlukan ketahanan terhadap sulfat dan panas hidrasi.1. Perubahan komposisi kimia semen dengan mengubah 4 komponen utama semen. 1995). Jenis-jenis semen Portland. Sesuai dengan tujuan pemakaiannya PUBI (1982) membagi semen portland dalam lima jenis seperti yang dapat dilihat pada Tabel III. Dikalsium Silikat (C2S). Semen portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan panas hidrasi yang rendah. Semen portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan kekuatan awal yang tinggi setelah pengikatan terjadi. Adukan dari semen halus ini tahan sampai tekanan 1000 atmosfir. terutama terdiri dari silikat calsium yang bersifat hidrolis. . Semen ini sangat cepat proses hidrasinya karena itu digunakan serbuk khusus untuk menghambat proses hidrasi semen ini. Trikalsium Aluminat (C3A) dan Tetrakalsium Alumina Ferit (C4AF). Clinker adalah bahan baku yang dibutuhkan dalam pembuatan semen.16 1. 1996) Selain semen-semen yang disebut di atas. Semen hidrolis adalah semen yang akan mengeras apabila bereaksi dengan air. juga telah dibuat semen dengan tujuan khusus (Subakti. yaitu : Trikalsium Silikat (C3S). sebagai hasil dari pembakaran pada suhu tinggi terhadap bahan-bahan mentah pembentuk semen.1. sebagai berikut : Tabel III. (Sumber : Tjokrodimuljo. menghasilkan bahan yang tahan terhadap air (water resistance) dan stabil tahan air. Semen portland yang dalam penggunaannya persyaratan sangat tahan terhadap sulfat. Jenis semen Jenis I Jenis II Jenis III Jenis IV Jenis V Karakteristik Umum Semen portland untuk penggunaan umum yang tidak memerlukan persyaratan khusus seperti yang disyaratkan pada jenis-jenis lain.

semen ini digunakan di negara-negara penghasil agregat yang reaktif terhadap iklim. Brook.5 dan standar ASTM C 33-97. Agregat halus beton dapat berupa pasir alami sebagai disintegrasi alami atau berupa pasir buatan (artifical sand) yang dihasilkan dari alat-alat pemecah batu.075 mm. porositas dan karakteristik penyerapan air yang mempengaruhi daya tahan terhadap proses pembekuan waktu musim dingin dan agresi kimia. 3) Semen putih.17 2) Semen dengan kadar alkali rendah. oleh karena itu penggilingan serbuk mahal. Agregat beton dapat berasal dari bahan alami. Agregat halus. agregat halus mempunyai butiran yang lolos ayakan 4. yang dapat mempengaruhi ikatannya dengan pasta semen.M. Kadar agregat dalam campuran berkisar antara 70-75% dari volume total beton.075 mm. Sifat yang paling penting dari suatu agregat (batu-batuan. 1999). kerikil.1-2. Agregat. 1983). buatan (batu pecah) maupun bahan sisa produk tertentu. 2a). pasir dan lain-lain) ialah kekuatan hancur dan ketahanan terhadap benturan. Agregat halus bersama dengan semen dan air membentuk mortar yang akan mengikat agregat kasar menjadi satu kesatuan yang kuat dan kompak. 2. oleh karena itu kualitas agregat berpengaruh terhadap kualitas beton (Nugroho. Menurut Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia. quarsa pasir dan kaolin. Bab 3 Pasal 3. 4 standar ASTM) dan lebih besar dari 0. Selain persyaratan teknis yang harus dipenuhi. . kuat dan bersudut. hal lain yang perlu diperhatikan dalam pemilihan jenis agregat beton mengacu pada Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI) tahun 1971 N. Agregat merupakan bahan utama pembentuk beton disamping pasta semen. Jenis semen ini tidak mengandung alkali dalam komposisinya. jenis semen ini dibuat dari batu kapur yang bebas besi. agregat halus harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : 1) Butir-butirannya tajam.75 mm (No.3-3. 2) Tidak mengandung tanah dan kotoran lain yang lolos ayakan 0. serta ketahanan terhadap penyusutan (Murdock dan K.

4) Kekerasan dari butir-butir agregat kasar diperiksa dengan bejana penguji Los Angeles. 2) Agregat tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1% (ditententukan terhadap berat kering). 2b). 3) Tidak mengandung zat-zat yang merusak beton. Air Air merupakan bahan pembuat beton yang sangat penting. 5) Harus mempunyai variasi besar butir atau gradasi yang baik. 6) Besar butir agregat maksimum tidak boleh lebih dari 1/5 jarak terkecil antar bidang samping cetakan. Agregat kasar bersifat kekal.18 3) Tidak mengandung garam yang menghisap air udara. 5) Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir yang beraneka ragam besarnya. Agregat kasar. maka agregat harus memenuhi syarat sebagai berikut : 1) Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir keras dan tidak berpori apabila agregat kasar mengandung butir pipih. Air diperlukan untuk bereaksi dengan semen. 1/3 tebal plat atau ¾ jarak bersih minimum antara batang tulangan. seperti zat-zat yang reaktif alkali. serta untuk menjadi bahan pelumas antara butir-butir agregat agar lebih mudah dikerjakan dan dipadatkan. bila kadar lumpur lebih dari 1% agregat harus dicuci. Untuk . tidak hancur. 6) Bersifat kekal. 3. Menurut persyaratan umum bahan bangunan di Indonesia. Agregat kasar yang akan dicampurkan sebagai adukan beton harus mempunyai syarat mutu yang ditetapkan. 4) Tidak mengandung zat organik karena dapat mengurangi mutu beton. 7) Agregat harus mempunyai sifat reaktif terhadap alkali. yaitu tidak hancur oleh pengaruh cuaca. tahun 1982. maka jumlah butir pipih tidak boleh lebih 20% dari agregat seluruhnya. Agregat kasar adalah kerikil sebagai disintegrasi alami batuan atau berupa batu pecah yang diperoleh dari industri pemecah batu dan mempunyai ukuran antara 5 sampai 40 mm.

c) Air tidak boleh mengandung Chlorida (Cl) lebih dari 0.5 gram/liter. Sekitarc 20% dalam bentuk abu dasar dan 80% dalam bentuk abu terbang.(Sukandarrumidi. Kandungan abu akan tebawa barsama gas pembakaran melalui ruang bakar dan daerah konversi dalam bentuk abu terbang. 1994). 4. Pemakaian air yang terlalu banyak akan menimbulkan gelembung air sehingga beton menjadi porous. Pemakaian bahan pengisi berpengaruh pada kekuatan. bahan-bahan seperti kapur padam. kelenturan plastis. kaolin dan tepung batu menguntungka untuk beton tumbuk yang kasar/kaku. 1995) . Abu terbang memiliki ukuran yang blebih halus dan warna lebih terang dari abu dasar. kelebihan air juga dapat memberikan penyusutan yang besar pada beton. Abu arang briket. yang kekurangan partikel halus. 1996). permeabilitas dan ketahanan terhadap gaya luar serta pengaruh cuaca. Bahan pengisi (Filler) Bahan pengisi adalah suatu bahan berbutir halus yang lewat ayakan No. Didalam peranannya sebagai pengisi. bentonite. Abu arang briket adalah abu terbang limbah pembakaran batubara yang keluar dari tabung pembakaran. Persyaratan air yang digunakan dalam campuran beton adalah sebagai berikut : a) Air tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 2 gram/liter. Portland Cement atau bahan lain (Totomiharjo. tanah diatomaceous. b) Air tidak boleh mengandung garam-garaman lebih dari 15 gram/liter. jumlah rongga udara. 30 US Standar Sieve dan 65% lewat ayakan No. Selain itu air juga digunakan untuk perawatan beton dengan cara pembasahan setelah pengecoran. Bahan filler dapat berupa abu batu. kapur. 5. Selain itu dapat menurunkan kekuatan beton. 200.19 bereaksi dengan semen. (Tjokrodimuljo. air hanya diperlukan 25% dari berat semen saja. Dapat ditambahkan bahwa flyash dan slag (sisa benda tambang) yang berasal dari dapur etus dapat digolongkan sebagai pengisi pori-pori meskipun bahan ini digunakan karena sifat pozolannya.

SNI.K2O. Abu ampas tebu adalah hasil sisa penggilingan tebu yang ada di pabrik gula kemudian dibakar. Kuat tekan beton yang disyaratkan ditetapkan sesuai dengan persyaratan perencaaan strukturnya dan kondisi setempat.T-15-1990-03 (Tjokrodimuljo. Abu arang briket yang bersifat pozolan merupakan additive mineral yang baik untuk beton. Adapun langkah-langkah pokok perencanaan campuran dengan metode SK. Hal ini karena bahan-bahan dasar beton sangat variabel dan banyak. C.T-15-1990-03 yang dalam perencanaan ini digunakan tabel-tabel dan grafik. Penetapan nilai deviasi standar (s) . 6. agar hasil yang diperoleh dari campuran percobaan tidak menyimpang terlalu jauh. Di Indonesia yang dimaksudkan dengan kuat tekan beton yang disyaratkan ialah kuat tekan beton dengan kemungkinan lebih rendah dari nilai itu hanya sebesar 5% saja. Filler abu arang briket yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari PT. Abu ampas tebu. Penetapan kuat tekan beton yang disyaratkan (f’c) pada umur tertentu. Perencanaan Campuran Beton Perencanaan adukan beton pada setiap hasil hitungan harus dikontrol dengan uji coba berupa campuran pekerjaan (trial mixes) untuk memastikan hasilnya.20 Abu arang briket didefinisikan sebagai sisa pembakaran dari tungku pemanas yang dikeluarkan dari ruang perapian suatu ketel uap gas buang yang lolos saringan No. 1996) adalah sebagai berikut : 1. Perencanaan campuran menggunakan metode SK. Skatex yang berada di Karanganyar. Fe2O3. antara lain : SiO2. dari sifat bahan tersebut hanya perhitungan awal yang berguna untuk membuat campuran percobaan. Abu yang terjadi pada pembakaran batubara akan membentuk oksida-oksida. MgO. CaO. 200. Abu ampas tebu bersifat sebagai pengikat dalam campuran beton. 2. Kadar abu batubara di Indonesia biasanya hanya berkisar antara 5%.SNI. Al2O3.20%. Abu ampas tebu yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari Pabrik Gula Tasik Madu di Karanganyar Jawa Tengah. Na2O.

SNI. Penghitungan nilai tambah (margin) (M) Jika nilai tambah ini sudah ditetapkan sebesar 12 Mpa maka langsung ke langkah (4).3.6 Cukup 7. Tabel. untuk pembuatan beton mutu sama dan menggunakan bahan dasar yang sama pula. maka persyaratannya (selain yang disebut diatas) jumlah data hasil uji minimum 30 buah. Faktor pengali deviasi standar Jumlah data Faktor pengali 30 1.03 20 1. Satu data hasil uji kuat tekan adalah hasil rata-rata dari uji tekan dua silinder yang dibuat dari contoh beton yang sama dan diuji pada umur 28 hari atau umur pengujian lain yang ditetapkan.08 15 1. a.4 Tanpa kendali (Tjokrodimuljo.5 Sangat baik 4. Tingkat pengendalian mutu pekerjaan Sd (Mpa) 2. Jika pelaksana tidak mempunyai catatan/pengalaman hasil pengujian beton pada masa lalu yang memenuhi persyaratan (termasuk data hasil uji kurang dari 15 buah). Tabel. (f’c+12).21 Deviasi standar ditetapkan berdasarkan tingkat mutu pengendalian pelaksanaa pencampuran betonnya. 1996) 3.2. Jika jumlah hasil uji kurang dari 30 buah maka dilakukan koreksi terhadap nilai deviasi standar dengan suatu faktor pengali. . lihat Tabel. III.0 25 1. maka nilai margin langsung diambil sebesar 12 MPa. Nilai deviasi standar untuk berbagai tingkat pengendalian mutu pekerjaan. T-15-1990-03) b.2 Baik 5. 2.III. Penetapan nilai standar deviasi standar ini berdasar pada pengalaman praktek pelaksanaan pada waktu yang lalu.8 Memuaskan 3.0 Jelek 8. Jika pelaksana mempunyai catatan data hasil pembuatan beton serupa pada masa yang lalu.III.16 <15 Lihat butir b (SK. Makin baik mutu pelaksanaan makin kecil nilai standar deviasi standarnya.

6. MPa = nilai tambah. . Penetapan jenis agregat Jenis kerikil dan pasir ditetapkan apakah berupa agregat alami (tak dipecahkan) ataukah agregat jenis batu pecah (crushed aggregate). adapun jenis III merupakan jenis semen yang dipakai untuk struktur yang menuntut persyaratan kekuatan awal yang tinggi. II. Mpa f’c M = kuat tekan yang disyaratkan. Penetapan jenis semen Portland Menurut PUBI 1982 di Indonesia semen Portland dibedakan menjadi 5 jenis. Jenis I merupakan jenis semen biasa. dalam hal ini diambil 5 % dari nilai k = 1. Berdasarkan jenis semen yang dipakai dan kuat tekan rata-rata silinder beton yang direncanakan pada umur tertentu ditetapkan nilai faktor air semen. Tetapkan faktor air semen dengan salah satu dari dua cara berikut : a. MPa 5.64 Sd = deviasi standart ( Mpa ) 4. Pada langkah ini ditetapkan apakah dipakai semen biasa atau semen yang cepat mengeras. Sd dengan : M = nilai tambah ( Mpa ) k = tetapan statistic yang nilainya tergantung pada prosentase hasil uji yang lebih rendah dari f’c. yaitu jenis I. III. Menetapkan kuat tekan rata-rata yang direncanakan Kuat tekan beton rata-rata yang direncanakan diperoleh dengan rumus : f’cr = f’c+ M dengan : f’cr = kuat tekan rata-rata. IV dan V. atau dengan kata lain sering disebut semen cepat mengeras.22 Jika nilai tambah dihitung berdasarkan nilai deviasi standar Sd maka dilakukan dengan rumus berikut : M = k . 7.

III. jenis agregat kasar dan kuat tekan rata-rata yang direncanakan pada umur tertentu. lihat Tabel. maka perlu ditetapkan nilai faktor air semen maksimum. tidak terlindung dari hujan dan terik matahari langsung b. SNI. SNI.60 0.52 0. dapat terpengaruh sulfat dan alkali dari tanah Beton yang kontinue berhubungan : air tawar dan air laut (SK. ditetapkan nilai faktor air semen. Persyaratan jumlah semen minimum dan faktor air semen maksimum untuk lingkungan khusus Jenis pembetonan berbagai macam pembetonan dalam Jumlah semen minimum per m3 beton (kg) 275 325 325 275 325 - Nilai faktor semen maksimum 0.60 0. 5. III. III.5 dan jenis semen dan agregat kasar yang biasa dipakai di Indonesia Jenis semen Semen portland tipe I atau semen tahan sulfat tipe II. Penetapan faktor air maksimum Agar beton yang diperoleh tidak cepat rusak misalnya. Penetapan faktor air semen maksimum dapat dilihat pada Tabel. 4. Tabel. keadaan keliling korosif b.52 lihat tabel. Tabel. Jika nilai faktor air semen maksimum ini lebih rendah dari langkah (7) maka nilai faktor air semen maksimum ini yang dipakai untuk perhitungan selanjutnya. terlindung dari hujan dan terik matahari langsung Beton yang masuk ke dalam tanah : a. III. 5. III. 6 lihat tabel. Berdasar jenis semen yang dipakai.60 0. mengalami keadaan basah dan kering berganti-ganti b. 4. III. 7 Beton didalam ruang bangunan : a. Perkiraan kuat tekan beton dengan faktor air semen 0. T-15-1990-03) . IV Semen Portland tipe III Jenis agregat kasar Batu tak dipecahkan Batu pecah Batu tak dipecahkan Batu pecah Batu tak dipecahkan Batu pecah Batu tak dipecahkan Batu pecah Kekuatan tekan (Mpa) Bentuk Pada umur (hari) benda uji 3 7 28 91 17 23 33 40 Silinder 19 27 37 45 Kubus 20 28 40 48 Silinder 23 32 45 54 Kubus 21 28 38 44 Silinder 25 33 44 48 Kubus 25 31 46 53 Silinder 30 40 53 60 Kubus (SK. T-15-1990-03) 8.23 b. keadaan keliling korosif disebabkan oleh kondensasi atau uap korosif Beton diluar ruangan bangunan : a.

0-1. 6.2 < 1. III.9 0. T-15-1990-03) Tabel.50 Air laut 0.5 2. 7. 280 300 350 0. Ketentuan untuk beton yang berhubungan dengan air tanah yang mengandung sulfat Konsentrasi sulfat dalam bentuk SO3 Sulfat (SO3) Dalam tanah dlm air tanah (gr/ltr) Total SO3 SO3 (%) dlm camp air : tnh =2:1 (gr/lt) < 0.55 . III.45 Tipe semen Kandungan semen minimum (kg/m3) Ukuran nominal maksimum agregat 40 mm 20 mm 300 280 340 290 330 380 330 370 Tipe I-V Tipe I + pozzolan (15-40%) atau Semen Portland Tipe II atau tipe V (SK. Ketentuan minimum untuk beton bertulang kedap air Jenis beton Kondisi lingkungan berhubunga n dengan Air tawar Beton bertulang atau prategang Air payau Faktor air semen maksimum 0.24 Tabel. 0.5 290 330 380 0.3-1. SNI.2 270 310 360 0.0 < 0.2-0.3 Kandungan semen minimal (kg/m3) Ukuran nominal agrgegat maksimum 40 mm Tipe I dengan atau tanpa pozzolan (1540%) Tipe I dengan atau tanpa pozzolan (1540%) Tipe I pozzolan (1540%) atau Semen Portland Pozzolan Tipe II atau tipe V 20 mm 10 mm Kadar gangguan sulfat Tipe semen fas 1.50 0.5 1.45 0.55 250 290 340 0.

Lanjutan Tipe pozzolan 40%) Semen Portland Pozzolan Tipe II tipe V Tipe II tipe V Tipe II tipe V *lapisan pelindung I (15atau 340 380 430 0. III. 7.5 Maksimal 12. Tabel. di lihat pada dibawah ini yaitu table III. 5. SNI. .0 2. Tetapkan jumlah air Jumlah air yang diperlukan permeter kubik beton.0 (SK.5-1.0 3.45 0.0-2.5 9. III.5 7.0 2.5 (Tjokrodimuljo.5-5. Cara pengangkutan adukan beton dengan aliran dalam pipa yang dipompa dengan tekanan membutuhkan nilai slam yang besar.1-5. Penetapan nilai slump Penetapan nilai slam dilakukan dengan memperhatikan pelaksanaan pembuatan.0 2.1 1.2-2. 1996) 10. T-15-1990-03) 9. kaison.5 7.45 3.25 Tabel. kolom dan dinding Pengerasan jalan Pembetonan massal 15. berdasarkan ukuran maksimum agregat.0 > 5. adapun pemadatan adukan dengan alat getar (triller) dapat dilakukan dengan nilai slam yang agak kecil. Penetapan nilai slump (cm) Pemakaian beton Dinding. Nilai slam yang diinginkan dapat dilihat pada Tabel III. 8. dan struktur di bawah tanah Plat. 8. jenis agregat. pengangkutan.0 > 5. plat pondasi dan pondasi Pondasi telapak tidak bertulang. pemadatan maupun jenis strukturnya. 0. balok.0 Minimum 5.45 4. 9.5 atau atau atau 290 330 330 330 370 370 380 420 420 0. penuangan. dan slam yang diinginkan.9-3.0 7.0 > 2.0 1.5 5. 1.50 0.

SNI. b. III. 13. Penetapan besar butir agregat maksimum Penetapan besar butir agregat maksimum dilakukan berdasarkan nilai terkecil dari ketentuan –ketentuan berikut : a. Perkiraan kadar air bebas (kg/m3) yang dibutuhkan untuk beberapa tingkat kemudahan pengerjaan adukan beton Besar ukuran maksimal kerikil (mm) 10 Batu tak dipecahkan Batu pecah 20 Batu tak dipecahkan Batu pecah 40 Batu tak dipecahkan Batu pecah Jenis agregat 0 . Seperlima jarak terkecil antara bidang samping cetakan 12. Kebutuhan semen minimum Kebutuhan semen minimum ditetapkan dengan tabel. .60 205 230 180 210 160 190 60 . 14.26 Tabel. misalnya lingkungan korosif. Kebutuhan semen minimum ini ditetapkan untuk menghindari beton dari kerusakan akibat lingkungan khusus. T-15-1990-03) 11. Tiga per empat kali jarak bersih minimum antar baja tulangan atau berkas baja tulangan atau tendon prategang atau selongsong. air payau dan air laut. Penyesuaian kebutuhan semen Apabila kebutuhan air semen yang didapat dari langkah (12) ternyata lebih sedikit daripada kebutuhan semen minimum (13) maka kebutuhan semen harus dipakai yang minimum (yang nilainya lebih besar).30 180 205 160 190 140 175 30 .. Hitung berat semen yang diperlukan Berat semen per meter kubik beton dihitung dengan membagi jumlah air dari langkah (10) dengan faktor air semen yang didapat dari langkah (7) dan (8).10 150 180 135 170 115 155 Slam (mm) 10 .180 225 250 195 225 175 205 (SK. 9. Sepertiga kali tebal plat c.

100 85 . Tabel.30 0 . Batas gradasi pasir Lubang ayakan (mm) 10 4.100 95 .15 Persen berat butir yang lewat ayakan 1 100 90 .6 0. Penentuan daerah itu didasarkan atas grafik gradasi yang diberikan dalam Tabel.3 0.59 8 . 10. nilai slam.100 60 . Dalam hal ini dapat dilakukan dengan cara berikut : a.100 15 . Penyesuaian jumlah air atau faktor air semen Jika jumlah semen ada perubahan akibat langkah (14) maka faktor air semennya berubah. Penentuan daerah gradasi agregat halus Berdasarkan gradasinya (hasil analisis ayakan) agregat halus yang akan dipakai dapat diklasifikasikan menjadi 4 daerah. III.100 75 .2 0.50 0 . Pada langkah ini dicari nilai banding antara berat agregat halus dengan berat agregat campuran. b.40 0 – 10 4 100 90 . Perbandingan agregat halus dan agregat kasar Nilai perbandingan antara berat agregat halus dan agregat kasar diperlukan untuk memperoleh gradasi agregat campuran yang baik. .100 80 . Catatan : cara pertama akan menurunkan faktor air semen sedangkan cara kedua menaikan jumlah air yang diperlukan.79 12 . 10.70 15 . dan daerah gradasi agregat halus.4 1.95 30 .10 3 100 90 . T-15-1990-03) 17. SNI. 16.100 55 .90 35 .100 75 .34 5 . Penetapan dilakukan dengan memperhatikan besar butir maksimumagregat kasar.27 15.100 90 .15 (SK.10 2 100 90 . faktor air semen dihitung kembali dengan cara membagi jumlah air dengan jumlah air minimum.20 0 . faktor air semen. Jumlah air disesuaikan dengan mengalikan jumlah semen dengan faktor air semen.8 2. III.100 60 .

Penentuan berat jenis beton Dengan data berat jenis agregat campuran dari langkah (18) dan kebutuhan air tiap meter kubik betonnya maka dengan grafik hubungan kandungan air. 19. berdasarkan hasil langkah (20) dan (21) Kebutuhan agregat kasar dihitung dengan cara mengurangi kebutuhan agregat campuran dengan kebutuhan agregat halus. Hitung berat agregat kasar yang diperlukan. . 21.60 gr/cm3untuk agregat tak pecah/alami dan 2. Kebutuhan agregat campuran Kebutuhan agregat campuran dihitung dengan cara mengurangi berat beton permeter kubik dikurangi kebutuhan air dan semen. 18.28 Berdasarkan data tersebut dan grafik persentase agregat dapat diperoleh persentase agregat halus terhadap berat agregat campuran.70 gr/cm3 untuk agregat pecahan. Berat jenis agregat campuran Berat jenis agregat campuran dihitung dengan rumus : Bj camp = Dengan : Bj campuran Bj agregat hls Bj agregat ksr P K = = = = = Berat jenis agregat campuran Berat jenis agregat halus Berat jenis agregat kasar Persentase agregat halus terhadap agregat campuran Persentase agregat kasar terhadap agregat campuran P K x Bj agregat halus + x Bj agregat kasar 100 100 Berat jenis agregat halus dan agregat kasar didapat dari hasil pemeriksaan laboratorium. Hitung berat agregta halus yang diperlukan. namun jika tidak ada dapat diambil sebesar 2. 22. 20. berat jenis agregat campuran dan berat beton dapat diperkirakan berat jenis betonnya. berdasarkan hasil langkah (17) dan (20) Kebutuhan agregat halus dihitung dengan cara mengalikan kebutuhan agregat campuran dengan persentase berat agregat halusnya.

( Dk . sehingga dilapangan yang pada umumnya keadaan agregatnya tidak jenuh kering muka maka harus dilakukan koreksi terhadap kebutuhan bahannya. Pembebanan dilakukan secara perlahan-lahan secara continue dengan mesin hidrolik sampai benda uji mengalami kehancuran (jarum petunjuk berhenti kemudian salah satunya bergerak turun). Beban maksimum yang ditunjukkan oleh jarum petunjuk dicatat. cara pengerjaan (campuran. d. Dimana : B C D Ca Da Ck Dk = jumlah air (kg/m3) = jumlah agregat halus (kg/m3) = jumlah kerikil (kg/m3) = absorpsi air pada agregat halus (%) = absorpsi agregat kasar (%) = kandungan air dalam agregat halus (%) = kandungan air dalam agregat kasar (%) Air Agregat halus Agregat kasar = B – ( Ck . 1996). 1. 3. pengangkutan. Benda uji diletakkan pada mesin penekan dan posisinya diatur agar supaya tepat berada ditengah-tengah plat penekan.Da ) x D/100 = C + ( Ck – Ca ) x C/100 = D + ( Dk .Ca ) x C/100 . Prosedur pengujian kuat tekan beton menggunakan Standart Test Methode For Commpressive of Cylindrical Concrete. c. Adapun langkah-langkah pengujian sebagai berikut : a. 2.29 Dalam perhitungan diatas agregat halus dan agregat kasar dianggap dalam keadaan jenuh kering muka. b. gradasi batuan. pemadatan dan perawatan) dan umur beton (Tjokrodimuljo. Kuat tekan beton antara lain tergantung pada : faktor air semen. Koreksi harus selalu dilakukakan minimum satu kali per hari. Benda uji ditimbang dan dicatat beratnya. ukuran maksimum batuan. . dilakukan pengujian kuat tekan beton. bentuk batuan.Da ) x D/100 D. Kuat Tekan Beton Untuk mengetahui kuat tekan beton yang telah mengeras yang disyaratkan.

30

Menurut Murdock dan K.M. Brook (1991), beton dapat mencapai kuat tekan 80 MPa atau lebih, bergantung pada perbandingan air dan semen dan tingkat pemadatannya. Di samping dipengaruhi oleh perbandingan air dan semen kuat beton juga dipengaruhi oleh faktor lainnya, yaitu : jenis semen, kualitas agregat, efisiensi perawatan, umur beton dan jenis bahan admixture. Kuat tekan beton f’c =

dengan : d

Pmaks P ………………………………………..(III.1) = 1 A 2 .π.d 4

Pmaks = beban maksimum (N) = diameter silinder beton (mm2)
E. Kuat Tarik Beton

Kuat tarik beton adalah kemampuan beton yang diletakkan pada dua perletakan untuk menahan gaya dengan arah tegak lurus sumbu benda uji, yang diberikan padanya, sampai benda patah dan dinyatakan dalam Mega Pascal (MPa) gaya tiap satuan. Peralatan yang dipakai adalah mesin tekan beton yang dapat menguji kuat tarik yang dilengkapi dengan 2 jarum pembacaan beban, 2 buah perletakan benda uji berbentuk titik, dan 2 buah titik pembebanan, ketelitian pembacaan sebesar 12,5 kg. Alat bantu lain berupa timbangan kapasitas 50 kg dengan ketelitian 0,01 %, pengukuran panjang dan jangka sorong. Adapun langkah pengujian sebagai berikut : a. Ukur dimensi penampang benda uji. b. Timbang berat benda. c. Buat garis melintang sebagai penunjuk untuk perletakan dan titik pembebanan. d. Pasang 2 perletakan serta alat pembebanan. e. Letakkan benda uji diatas tumpuan. f. Hidupkan mesin uji tekan. g. Atur pembebanan dengan kecepatan 8-10 kg/cm2 per menit. h. Hentikan pembebanan setelah beban maksimum tercapai.

31

Kuat tarik beton antara lain tergantung pada : faktor air semen, gradasi batuan, bentuk batuan, ukuran maksimum batuan, cara pengerjaan (campuran, pengangkutan, pemadatan dan perawatan) dan umur beton (Tjokrodimuljo, 1996). Kuat tarik beton f’cr =

2.P ………………………………………………. (III.2) π.d.h

dengan:
P = beban maksimum (N) d = diameter silinder (mm) h = tinggi silinder (mm)

BAB IV METODE PENELITIAN A. Umum Pelaksanaan penelitian dilakukan secara eksperimental, yang dilakukan di Laboratorium Bahan dan Struktur, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. Obyek dalam penelitian ini adalah beton yang menggunakan bahan tambah filler abu ampas tebu dengan abu arang briket. Pengujian kuat tekan dan tarik dilakukan setelah beton berumur 14 hari di Laboratorium Bahan dan Struktur, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. B. Bahan Penelitian dan Peralatan Penelitian 1. Bahan penelitian Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : a) Semen yang digunakan adalah semen Portland jenis I, merk Holcim b) Agregat halus berupa pasir, berasal dari Boyolali. c) Agregat kasar berupa batu pecah, berasal dari Boyolali. d) Air yang digunakan diambil dari Laboratorium Bahan dan Struktur, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. e) Bahan tambah filler abu arang briket berasal dari PT. Skatex di Karanganyar dan abu ampas tebu berasal dari PG. Tasik Madu di Karanganyar. 2. Peralatan penelitian Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini tersedia di Laboratorium Bahan dan Struktur, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. Peralatan-peralatan yang digunakan terdiri atas : a) Ayakan standart, untuk memisahkan agregat sesuai ukuran yang diinginkan. b) Penggetar ayakan (Siever), untuk menggetarkan ayakan agregat dapat terpisahkan sesuai lubang ayakan yang diinginkan. c) Timbangan, untuk mengukur benda uji sesuai yang diinginkan. d) Gelas ukur, untuk pemeriksaan kadar Lumpur dan pemeriksaan bahan organik.

32

untuk mengeringkan agregat. m) Peralatan penunjang lain seperti tongkat baja. i) Molen.6 mm. 0. 2. Gambar IV. 0. 0.3 mm. dan bak perendam sample. untuk mengaduk campuran beton. Satu set ayakan dan Siever . 4.15 mm dan pan.5 mm.33 e) Oven. j) Kerucut Abram’s. cetok. h) Mesin uji Los Angeles. k) Bak tempat perendaman benda uji. Satu set ayakan dapat dilihat pada Gambar IV. 2b). untuk pengujian tekan dan tarik. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. untuk pengujian Slump. siku.18 mm.1.5 mm.75 mm. untuk menjaga suhu kamar agregat setelah dioven. 12. penggaris. Saringan dipasang dari ukuran terbesar hingga lubang terkecil dan paling bawah adalah pan.36 mm. f) Desicator. Alat ini digetar dengan tenaga listrik selama 15 menit. g) Volumetric Flash. Ayakan digunakan pada uji gradasi yang terdiri dari saringan dengan ukuran : 19 mm. Penggunaan dan gambar alat-alat tersebut di atas adalah sebagai berikut : 2a). untuk mengukur benda jenis pasir yang digunakan sebagai bahan penyusun beton. untuk pengujian agregat kasar.1. 1. Ayakan standart.1. Alat ini digunakan untuk menggetarkan ayakan yang berisi agregat agar terdistribusi sesuai dengan ukuran butirnya. l) Mesin uji tekan. Penggetar ayakan (siever). 9. ember.

Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV.34 2c). pasir dan batu pecah sebagai bahan beton sebelum dicampur dan juga untuk penimbangan berat benda uji sebelum dilakukan uji tekan dan tarik beton. Timbangan kecil digunakan untuk menimbang briket. Timbangan. Timbangan yang digunakan adalah timbangan kecil dengan digital yang mempunyai kapasitas 3 kg dan timbangan besar dengan kapasitas 100 kg. Timbangan besar .2.3.2. Timbangan digital Gambar IV. dan abu ampas tebu.3. Gambar IV. dan Gambar IV. Sedangkan timbangan besar digunakan untuk menimbang semen.

Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV.8 cm dan diameter bawah 8. Alat ini digunakan pada saat pemeriksaaan kadar lumpur dan pemeriksaan bahan organik. Kerucut Conus . Gelas ukur. Gelas ukur 2e). Alat dapat dilihat pada Gambar IV. Gambar IV. Alat ini berbentuk corong dengan ukuran diameter atas 3.4. tinggi 7. Kerucut Conus.35 2d).6 cm dan digunakan untuk pengujian SSD (Saturated Surface Dry). Gambar IV.9 cm.5. Gelas ukur yang digunakan berkapasitas 1000 cc dan 500 cc.4.5.

Alat ini digunakan untuk menjaga suhu kamar agregat setelah dioven pada pemeriksaan kadar lumpur. penyerapan dan berat jenis agregat. Gambar IV. dan pemeriksaan kandungan bahan organik. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV.6.6. Desicator.7. Alat ini digunakan untuk mengeringkan agregat kasar pada waktu pemeriksaaan kadar lumpur pasir. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Oven 2g). pemeriksaan berat jenis dan penyerapan pada agregat. Desicator .36 2f).7. Gambar IV. Manfaat lain alat ini adalah untuk menjaga berat bahan setelah dioven supaya tidak berubah karena pengaruh udara luar. Oven.

Mesin pengaduk campuran beton mempunyai kapasitas 1 m3. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV.9. Volumetric flash 2i). Molen. dengan merk SINGLE . Gambar IV. Gambar IV.8. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Dengan alat ini dimaksudkan agar campuran yang terjadi lebih homogen dan dapat mempersingkat waktu pelaksanaan dibanding dengan pengadukan manual.37 2h). Volumetric Flash. Alat ini digunakan untuk pembuatan adukan beton. Alat ini digunakan untuk pengujian keausan agregat kasar.9. Alat yang berkapasitas 500 cc ini digunakan untuk pemeriksaan berat jenis serta penyerapan agregat halus.8. Mesin Los Angeles 2j). Mesin uji Los Angeles.

Molen 2k).38 PHASE MOTOR Type JY1B-2. Tongkat baja mempunyai ukuran panjang 60 cm dan diameter 16 mm. Tongkat baja. digunakan untuk pengujian slump dan pemadatan beton segar yang dicetak pada cetakan silinder. Gambar IV. 2l). Alat ini digunakan untuk pengujian slump pembuatan benda uji. diameter bawah 20 cm dan tinggi 30 cm.11. buatan Cina pada tahun 1987. Gambar IV.10. Kerucut Abram’s. .11.10. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV.11. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Alat ini mempunyai diameter atas 10 cm. Kerucut Abram’s dan tongkat baja. alat ini dapat dilihat pada Gambar IV.

Gambar IV. Bak yang berisi air untuk merawat benda uji silinder sampai umur yang direncanakan. Bak tempat perendaman benda uji. Alat tersebut dapat dilihat pada Gambar IV.39 2m).13. pemeriksaan rasio pasir – agregat total dan pembuatan benda uji. Alat ini digunakan untuk menguji kuat tekan beton.14.13. Mesin uji tekan. . Untuk alat yang ada di Laboratorium Bahan dan Struktur. digunakan untuk mencetak beton mutu tinggi. Cetakan silinder. Alat ini berukuran diameter 15 cm dan tinggi 30 cm. Gambar IV.12.12. Alat ini digunakan untuk pemeriksaan berat satuan. Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret memiliki kapasitas 1500 kN dan 2000 kN dengan merk Mylano Italy. Bak tempat perendaman benda uji 2o). Cetakan silinder 2n). Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV.

Gambar IV. Peralatan penunjang lain yang digunakan antara lain cetok. ember.14. Adapun tahap penelitian tersebut dijelaskan seperti uraian berikut ini : .1. Tahapan Penelitian Penelitian dilaksanakan terbagi atas lima tahap.40 Gambar IV.15.15. Peralatan penunjang lain C. Mesin uji tekan dan tarik merk Mylano Italy 2p). Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Peralatan penunjang lain. cangkul dan kawat bendrat untuk membantu pembuatan benda uji. seperti tercantum dalam bentuk bagan alir pada Gambar IV. sekop.

pemeriksaan kadar lumpur pada pasir dan batu pecah. Tahap III : Penyediaan benda uji Tahap ini merupakan tahap perencanaan campuran beton. 4. pembuatan benda uji dan perawatan beton. Prosedur pengujian kuat tekan .SNI.41 1. pasir. bahan tambah filler arang briket dan abu ampas tebu) di Laboratorium Bahan dan Struktur. 2. Fakultas Teknik. maka pada tahap ini dilakukan pengujian terhadap bahan dasar beton berupa pasir dan batu pecah. Setelah dilepas dari cetakan.agregat total. maka dilakukan pemeriksaan terhadap rasio pasir . benda uji silinder tersebut direndam dalam bak perendaman yang berisi air selama 14 hari. dan pemeriksaan kadar keausan batu pecah. Tahap II : Pemeriksaan bahan dasar Sebelum digunakan dalam pembuatan campuran. Universitas Sebelas Maret. pemeriksaan specific gravity dan absorption pasir dan batu pecah. pengujian gradasi batu pecah. Tahap IV : Pengambilan data Pada tahap ini dilakukan pemeriksaan berat jenis beton dan pengujian kuat tekan beton benda uji silinder pada umur 14 hari. Jurusan Teknik Sipil. Sedangkan untuk semen dan air yang dipakai. batu pecah. Setelah bahanbahan dasar beton memenuhi persyaratan yang sudah ditentukan. Perbandingan jumlah proporsi bahan campuran beton ditentukan/dihitung dengan menggunakan Metode SK. Selanjutnya dibuat adukan beton sesuai dengan proporsi masing-masing bahan. Benda uji dibuat dengan cetakan silinder beton. Tahap I : Persiapan alat dan penyediaan bahan Tahap ini merupakan tahap persiapan penelitian di laboratorium yang meliputi persiapan alat diantaranya yaitu menyiapkan cetakan silinder ukuran diameter 15 cm tinggi 30 cm yang terbuat besi dan penyediaan bahan susun beton (semen. dilakukan uji visual.T-15-1990-03. dan dilakukan pengujian slump sampai berhasil baik. pemeriksaan SSD pasir. Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan zat organik dalam pasir. 3. pemeriksaan berat satuan volume.

yang kemudian dapat ditarik beberapa kesimpulan penelitian. c). d). b). Analisis tersebut merupakan pembahasan dari hasil penelitian.42 dan kuat tarik mengacu pada standard ASTM C 39 – 86.(IV. Meletakkan benda uji silinder pada alat penekan dan diatur posisinya agar tepat berada di tengah-tengah pelat penahan. kemudian dilakukan analisis data. .2) A 1 / 4πd dengan : f c' Pmaks A d = kuat tekan beton (MPa) = beban maksimum (N) = luas permukaan benda uji yang ditekan (mm2) = diameter silinder beton (mm) 5.. Mengukur dan mencatat dimensi benda uji silinder beton. e). Mencatat beban maksimum yang ditunjukkan jarum penunjuk. dengan langkah-langkah sebagai berikut : a). Berat jenis beton dihitung dengan rumus sebagai berikut : γc = dengan : W ……………………………………………………………(IV. Menimbang dan mencatat berat benda uji silinder sebelum dilakukan pembebanan. Pembebanan dilakukan secara perlahan-lahan dengan mesin hidrolik sampai benda uji mengalami keretakan atau kehancuran (jarum penunjuk bergerak kembali ke arah semula). Tahap V : Analisis data dan kesimpulan Dari hasil pengujian yang dilakukan pada Tahap IV.1) V γc W V = berat jenis beton (gr/cm3) = berat beton (gr) = volume silinder beton (cm3) Kuat tekan beton dihitung dengan rumus sebagai berikut : f c' = Pmaks P = maks 2 ……………………………………………….

16.43 Mulai Persiapan alat dan bahan Tahap I Semen Agregat halus Agregat kasar Ampas tebu dan filler arang briket lolos ayakan no. Bagan Alir Tahapan Penelitian .200 Air diganti kadar lumpur kandungan organik gradasi pasir specific gravity dan absorption Uji visual Tidak baik Memenuhi syarat gradasi agregat kasar berat satuan volume specific gravity dan absorption keausan Uji visual Uji visual Perbaikan kualitas/diganti diganti Tidak baik Tidak baik baik baik baik baik Tahap II Rencana campuran (mix design) Pembuatan adukan beton Tidak memenuhi syarat Slump test Memenuhi syarat Pembuatan benda uji Perbaikan komposisi campuran Perawatan (curing) Tahap III Pengujian kuat tekan dan tarik beton Tahap IV Pengolahan data Analisis data Kesimpulan dan saran Tahap V Selesai Gambar IV.

Menimbang pasir yang berada dalam cawan tersebut. (5). Yang dimaksud lumpur adalah bagian yang lolos ayakan 0. Memasukkan pasir ke dalam cawan kemudian di oven lagi selama 24 jam pada suhu 105° C. Pemeriksaan bahan Pemeriksaan bahan digunakan sebagai pedoman dalam perancangan adukan beton dan kelayakan bahan untuk campuran beton. Setelah pasir kering. Alat-alat yang digunakan antara lain : oven. Hal ini dilakukan berulang-ulang dengan mengganti air yang sudah keruh dengan yang air yang baru sampai benar-benar jernih. Memasukkan pasir ke dalam gelas ukur. pasir beserta cawan ditimbang dengan berat 893 gram. Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui kandungan lumpur pada pasir sehingga diperoleh kualitas beton yang bermutu. (2). Menyediakan pasir yang akan diuji seberat 500 gram (H0). 1. Memasukkan pasir ke cawan dan memasukkan ke dalam oven selama 24 jam pada suhu 105° C. Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini dilaksanakan sesuai dengan tahap-tahap yang telah dijelaskan pada Bab IV. kemudian didapat berat 393 gram. diperoleh 474 gram (H1) (8). Adapun pelaksanaan penelitian tersebut diuraikan seperti berikut ini. (3). gelas ukur. (6). batu pecah.3) H0 .C. (7).063 mm. (4). kemudian diberi air dan dikocokkocok.44 D. Pemeriksaan kadar lumpur pada pasir. Adapun bahan-bahan yang akan diperiksa antara lain pasir. cawan dan timbangan digital. Adapun langkah-langkah pemeriksaan kadar lumpur pada pasir adalah sebagai berikut : (1). Jenisjenis pemeriksaan bahan sebelum digunakan adalah sebagai berikut: 1a). dan agregat campuran. Kadar lumpur dihitung dengan rumus sebagai berikut : K= H 0 − H1 x100% ………………………………………………. Menyediakan cawan dan menimbangnya.(IV.

Adapun langkah-langkah pemeriksaan zat organik pada pasir adalah sebagai berikut : (1). (3). Alat-alat yang digunakan antara lain : oven. Mendinginkan pasir ke dalam desicator selama 15 menit sehingga mencapai suhu ruang.45 K= 100 − 95. Memasukkan pasir kedalam gelas ukur sebanyak 130 cc. (7). Memasukkan pasir ke dalam gelas ukur yang berkapasitas 500 cc. kemudian didiamkan selama 24 jam. (5). Hasil pengamatan diperoleh warna kuning kecoklatan jadi pasir yang akan digunakan tidak banyak mengandung zat organik. kemudian dimasukkan ke dalam dua buah cawan. Menuangkan larutan NaOH 3% ke dalam gelas ukur sampai volume tetap 200 cc. Pemeriksaan zat organik dalam pasir bertujuan untuk mengetahui sifat kandungan bahan organik yang terdapat pada pasir sehingga dapat diketahui kelayakannya sebagai campuran beton. cawan dan larutan NaOH 3%. Setelah 24 jam warna diamati dan dibandingkan dengan standard warna yang berlaku. Pasir dikeringkan dengan dimasukkan ke dalam oven selama 24 jam pada suhu 105° C. desicator. (4).5 x100% 100 K H0 H1 = kandungan lumpur = berat pasir mula-mula (gr) = berat pasir setelah dicuci (gr) K= 5 % dengan : Perhitungan pada pemeriksaan kadar lumpur pasir ini dapat dilihat pada Lampiran IV. (2). (6).1. gelas ukur. Gelas ukur dikocok-kocok sehingga larutan NaOH 3% dapat tercampur secara merata. (8). . 1b). Pemeriksaan zat organik pada pasir.

3. Alat-alat yang digunakan antara lain : kerucut conus.1 sebagai berikut: Tabel IV. Kerucut conus diangkat perlahan-lahan ke arah vertikal kemudian dicatat penurunan pasir yang terjadi. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kekeringan pasir yang sebenarnya (kekeringan permukaan) yang dapat digunakan dalam campuran beton. (5). Meletakkan kerucut conus di tempat yang datar dan mengisikan pasir ke dalam kerucut conus hingga penuh.22 cm Rata-rata Penurunan(cm) 3.2 4. (3). Penurunan tinggi pasir(cm) Percobaan Jumlah Sample A Sample B I 15 3. Pemeriksaan Saturated Surface Dry (SSD) pasir.6 3. Langkah-langkah pengujian SSD pasir adalah sebagai berikut : (1).8 12. Tabel hasil penurunan SSD pasir.65 Diperoleh hasil SSD pasir = 3 = 4.7 Jumlah penurunan rata-rata 12. .1. sendok datar dan penggaris. Pasir yang akan diuji diangin-anginkan terlebih dahulu. 1c).9 4.4 III 30 4.46 Hasil pemeriksaan kandungan bahan organik pasir dapat dilihat pada Lampiran IV. Dilakukan variasi tumbukan pada percobaan. tongkat penumbuk.55 4. 20 kali dan 25 kali. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV. (4).65 Hasilnya lebih kecil dari setengah tinggi pasir mula-mula sehingga pasir tersebut sudah dalam keadaan SSD. Menghitung penurunan rata-rata dari masing-masing percobaan sehingga diperoleh hasil pada Tabel IV. (2).3 4. Menumbuk permukaan pasir dalam kerucut dengan tongkat penumbuk secara gravitasi ± 5 cm dari atas permukaan pasir. yaitu dengan 15 kali. Setiap percobaan dilakukan sebanyak dua kali pengujian.5 II 20 4.2.

...................... (5).. kemudian ditambah dengan air sampai garis batas... B+A−C 477 699...47 gram/cm3 Berat jenis kering permukaan jenuh air (bulk specific gravity SSD) : = = A ... Menimbang sample setelah dioven selama 24 jam..... (4)......... didapat sebesar 494........................................ (3)..................................... (2)... B+A−C 500 699...... diperoleh 964 gram (C) dan didiamkan selama 24 jam.. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui berat jenis dan daya penyerapan air oleh pasir...........27 (IV.......... lalu dikocok-kocok sampai hilang gelembung-gelembung udara dalam pasir.....27 (IV......... Menimbang volumetric flash dan air sesuai garis batas...... D (IV................. selanjutnya ditimbang... didapat 652 gram (B).......42 + 500 − 1006.......... panci dan timbangan digital................ Menyediakan pasir pada kondisi SSD sebanyak 500 gram (A) dan dimasukkan ke dalam volumetric flash... oven...44 gram (D).........42 + 500 − 1006.........4) .59 gram/cm3 Penyerapan (absorption) : p= A− D x 100% ..47 1d)..... Berat jenis dan penyerapan agregat dihitung dengan rumus sebagai berikut: Berat jenis kering (bulk specific gravity) : = = D ... Alat-alat yang digunakan adalah : volumetric flash... Membuang airnya kemudian pasir diambil kemudian dioven selama 24 jam. Pemeriksaan specific gravity dan absorption pasir..........4) = 2.4) = 2.... Langkah-langkah Pemeriksaan specific gravity dan absorption pasir adalah sebagai berikut : (1)........

48 p= 500 − 477 x 100 % = 4.15 mm.36 mm.18 mm. 2.3 mm. Menyediakan pasir uji kering oven sebanyak 500 gram. 1e).6. Pemeriksaan gradasi pasir. Modulus halus butir Jumlah persentase kumulatif tertahan 100 293. Menimbang pasir pada tiap-tiap ayakan dan kemudian dihitung modulus halus butirnya.6 mm. siever dan cetok. . (3). 4. Menyiapkan ayakan dan menimbang masing-masing ayakan.75 mm.93 Untuk hasil perhitungan pemeriksaan gradasi pasir dapat dilihat pada Lampiran IV. 0. pan. Langkah-langkah pemeriksaan gradasi pasir adalah sebagai berikut : (1).46 100 = = = 2. Alat-alat yang digunakan antara lain : satu set ayakan dengan ukuran 9. (5). Menyusun ayakan secara urut dari ukuran terbesar sampai ukuran terkecil dan paling bawah adalah pan. (2). 0. (4).82 % 477 A B C D = berat pasir SSD (gr) = berat volumetricflash + air (gr) = berat volumetricflash + air + pasir (gr) = berat pasir tungku kering (gr) = penyerapan (%) hasil penelitian secara lengkap bisa dilihat pada dengan : p Perhitungan Lampiran IV.5 mm. 0. Pemeriksaan gradasi pasir bertujuan untuk mengetahui distribusi ukuran butiran pasir modulus halus butirnya. Memasukkan pasir uji ke dalam ayakan dan digetarkan dengan siever selama 15 menit. 1. timbangan digital.4.

(IV.5 mm dan tertahan 9.………………. ayakan ukuran 2 mm atau yang mendekati.. (3). Pemeriksaan keausan agregat kasar. ayakan ukuran 19. Batu pecah yang tertahan ayakan ukuran 2 mm tersebut kemudian dicuci dan selanjutnya dikeringkan dengan dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 105° selama 24 jam. Keausan agregat dihitung dengan rumus sebagai berikut : Prosentase keausan = = A-B x100% ………………. didapat 3653.3 % . Menimbang batu pecah. Langkah-langkah pemeriksaan keausan agregat kasar adalah sebagai berikut : (1). 9.5 mm dan oven. Menyediakan batu pecah lolos ayakan 12. Mengeluarkan batu pecah dari mesin Los Angeles kemudian diayak dengan ayakan ukuran 2 mm.0 mm. (5). kemudian diputar dengan kecepatan 30 – 35 rpm sebanyak 500 putaran. Semakin kecil nilai abrasi maka semakin baik agregat tersebut untuk digunakan sebagai campuran beton.7) A 5000 . Memasukkan semua batu pecah yang sudah disediakan yaitu 2500 + 2500 = 5000 gram (A) beserta bola-bola baja sebanyak 11 buah ke dalam mesin Los Angeles. (4). timbangan. (6).5 mm sebanyak 2500 gr. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui keausan agregat kasar dan mengetahui daya tahan agregat terhadap degradasi atau perpecahan.0 mm dan tertahan 12.5 mm. (7).5 mm sebanyak 2500 gr. 12.49 1f).4985 x100% 5000 = 0. (2).5 gram (B) kemudian dihitung nilai keausannya. Menyediakan batu pecah lolos ayakan 19. Alat-alat yang digunakan antara lain : mesin Los Angeles.

..................... (2).... Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui berat jenis dan daya penyerapan air Alat-alat yang digunakan antara lain : panci...................... Menimbang kerikil dalam keadaan SSD........... Kerikil diambil dan dibuat dalam keadaan SSD dengan cara dilap menggunakan lap kering....... lap kering..50 dengan : A B = berat agregat mula-mula (gr) = berat agregat yang tertahan saringan 2 mm setelah dicuci dan dioven (gr) Untuk perhitungan keausan agregat selengkapnya bisa dilihat pada Lampiran IV.. diperoleh berat 1014 gram (A)...... oven. A−B (IV.......5 gram/cm3 Berat jenis kering permukaan jenuh air (bulk specific gravity SSD) : = A . Menyediakan kerikil sebanyak 1000 gram...8) . ember perendam dan desicator.... timbangan digital.. Langkah-langkah Pemeriksaan specific gravity dan absorption batu pecah.... kemudian kerikil ditimbang dalam air dan diperoleh berat 649.. Berat benda uji kering oven 998.. (6).8) = 2.... (3).............. Merendam kerikil dalam air selama 24 jam.... Adalah sebagai berikut : (1)... Pemeriksaan oleh agregat kasar... Berat jenis kering (bulk specific gravity) : = = C ... Mendinginkan batu pecah dengan cara dimasukkan ke dalam desicator selama 15 menit.......... Kerikil dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 105° selama 24 jam.....5 gram (C)...5 gram (B).........7............ (5)...5 (IV...... A−B 3000 3032.. specific gravity dan absorption batu pecah...................... (4)....5 − 1832....... 1g)....

53 gram/cm3 Penyerapan (absorption) : A−C x 100% ..... Pemeriksaan berat satuan volume batu pecah...... Menimbang silinder baja yang diisi batu pecah tersebut diperoleh 20250 gram (B).......5 − 3000 x 100% p= 3000 p= p = 1.......5 3032... Pemeriksaan berat satuan volume batu pecah ini bertujuan untuk mengetahui berat agregat tiap satuan volume..... (2).......8..8) p Hasil dari pemeriksaan specific gravity dan absorption batu pecah dapat dilihat pada Lampiran IV.51 = 3032.. Menimbang berat silinder baja didapat 13200 gram (A)...... (4).. Alat-alat yang digunakan antara lain : cetakan silinder baja (diameter 15 cm dan tinggi 30 cm) dan tongkat baja (diameter 16 mm dan panjang 60cm). C 3032....5 = 2.. Memasukan batu pecah ke dalam silinder baja secara bertahap sebanyak tiga lapis (masing-masing lapis diisi batu pecah kemudian ditumbuk dengan tongkat baja sebanyak 25 kali dan diratakan permukaannya)...... Hal ini diulang sampai lima kali percobaan.......5 − 1832...... 1h)... Menghitung volume silinder : Volume silinder = 0..25 x π x d 2 x t ...... (3)..08 % dengan : A B C D = berat pasir SSD (gr) = berat volumetricflash + air (gr) = berat volumetricflash + air + pasir (gr) = berat pasir tungku kering (gr) = penyerapan (%) (IV.... Langkah-langkah pemeriksaan berat satuan volume batu pecah adalah sebagai berikut : (1).....

.18 mm..... (2). ember. 0. (4)...25 100 = 7. (3). Menyediakan batu pecah kering oven sebanyak 1000 gram.15 mm.5 mm. Memasukkan batu pecah uji ke dalam ayakan dan digetarkan dengan siever selama 15 menit... Pemeriksaan gradasi batu pecah ini bertujuan untuk mengetahui distribusi ukuran batu pecah dan modulus halus butirnya.. 2. siever.. Menyiapkan ayakan dan menimbang masing-masing ayakan tersebut. Melakukan penimbangan batu pecah pada tiap-tiap ayakan kemudian dihitung modulus halus butirnya.....75 mm.. Menyusun ayakan secara urut dari yang berukuran besar sampai yang kecil dan paling bawah adalah pan.. pan)..0 mm. Rata-rata berat satuan volume batu pecah : = 4... timbangan digital...3 mm.438 cm 3 (5)...9) 3 = 1...25 x π x 15 2 x 30 = 5301.. (IV...771 ... Modulus halus butir = = Jumlah persentase kumulatif tertahan 100 706.. cetok....... 4..52 = 0.. Pemeriksaan gradasi batu pecah..........9 1i).... 1.6 mm....... Alat-alat yang digunakan antara lain : satu set ayakan dengan ukuran (19... 9...59 gr/cm3 dengan : A B C = berat silinder baja (gr) = berat silinder baja setelah diisi batu pecah (gr) = volume silinder (cm3) Untuk hasil pemeriksaan dan perhitungan berat satuan volume batu pecah secara lengkap bisa dilihat pada Lampiran IV. 0...36 mm. 0. Langkah-langkah pemeriksaan gradasi batu pecah adalah sebagai berikut : (1). (5)...06 .

176 1.271 42.761 22.10.SNI.056 7.056 7.176 1.679 Pasir (kg) 22. 13.5 % 1.271 42.679 15.568 1. Kebutuhan pembuatan benda uji untuk tiap 3 benda uji adalah sebagai berikut: Tabel. 15. 5.056 7. 12. 2.45 No 1. 9.761 22. Proporsi kebutuhan material tiap 3 sampel untuk uji tekan dan tiap 3 sampel untuk uji tarik dengan fas 0.568 1.176 1.679 15.176 1. 7.960 .568 1.679 15.761 22.93 = 40 mm = 3.679 15.176 1. Modulus halus butir batu pecah = 7.568 1.056 7.056 7. 11. Nilai slump rencana = 0.2.056 7.271 42.271 42.10.5 % 10 % 12.960 1. 8. 16.761 22.761 22.568 1.056 7.679 15.06 Langkah-langkah perhitungan rencana campuran beton dapat dilihat pada Lampiran IV.5 % 1.761 22.5 gr/cm3 = 2. Faktor air semen 2).176 1.960 1.056 7.056 7. 14. Ukuran maksimum batu pecah 7).056 7.761 22.679 15. Berat jenis batu pecah 4).271 42. Berat jenis pasir 3).056 7.679 15. Data-data untuk perencanaan campuran adukan beton adalah sebagai berikut : 1). 3.568 1.271 42.056 7. Perencanaan campuran beton Dalam perencanaan proporsi campuran digunakan perencanaan menurut SK. 6.960 Abu arang briket (kg) 7.679 15.761 22.056 7. Air (kg) 7. Modulus halus butir pasir 6).761 22.960 1.761 22. 4.761 22.271 42.176 1. 2.679 15.056 7.271 42. Berat jenis semen 8).761 22.T-15-1990-30.271 42.150 ton/m3 = 60 – 100 mm 5).271 42.568 1.679 15.761 22.679 15.271 Abu ampas tebu (kg) 7.960 1.056 7.761 Kerikil (kg) 42.47 gr/cm3 = 2.056 Semen (kg) 15.271 42.271 42.271 42.960 1.5 % 10 % 12.271 42.761 22.271 42.176 1.53 Untuk hasil penelitian dan perhitungan pemeriksaan gradasi batu pecah secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.679 15.679 15.960 1.568 1.679 15.679 15.761 22.45 = 2. 10.IV.

diameter bagian bawah 20 cm dan tinggi 30 cm dengan bagian atas maupun bawah berlubang.5 3 3 3 3 12 0. c). h=30 Pengujian nilai slump ini dimaksudkan untuk mendapatkan kekentalan beton segar. Rincian jumlah benda uji untuk kuat tekan beton.5 0 3 3 3 3 12 7. Pengujian dilakukan dengan menggunakan kerucut Abram’s. Pengisian adukan beton dilakukan sampai 2 lapis berikutnya dan masingmasing lapis ditusuk sebanyak 25 kali. kemudian ditumbuk sebanyak 25 kali dengan menggunakan tongkat diameter 16 mm dan panjang 60 cm. h=30 d=15. bagian atas cetakan diratakan dengan cetok. d). h=30 Ukuran benda uji (cm) d=15.5 10 12.3.5 3 3 3 3 12 Jumlah total benda uji 48 3.5 3 3 3 3 12 0.54 Tabel IV.45 10 3 3 3 3 12 12.5 3 3 3 3 12 Jumlah total benda uji 48 Tabel IV. . h=30 d=15.5 0 3 3 3 3 12 7.45 10 3 3 3 3 12 12.5 10 12. adukan beton diisikan 1/3 dari volume kerucut. h=30 d=15. h=30 d=15. h=30 d=15. Setelah pengisian adukan selesai. Meletakkan kerucut Abram’s ditempat yang rata dan tidak mudah goyah. Setelah terisi penuh oleh adukan beton. Abu ampas tebu (%) Jumlah Abu arang Briket Fas (%) total 0 7. b). Abu ampas tebu (%) Jumlah Abu arang Briket Fas (%) total 0 7. Pengujian nilai slump Ukuran benda uji (cm) d=15. Rincian jumlah benda uji untuk kuat tarik beton. Dengan menginjak kaki kerucut Abram’s kuat-kuat. Kerucut Abram’s dibersihkan terlebih dahulu sebelum digunakan.4. e). h=30 d=15. yaitu berbentuk kerucut dengan diameter atas 10 cm. dan bagian dalam dibasahi dengan air. Langkah-langkah pengujian slump sebagai berikut : a). ditunggu ± 1 menit dan cetakan diangkat secara perlahan-lahan.

c). 4. 5. Perawatan beton yang dilakukan pada penelitian ini adalah dengan cara merendam silinder beton di dalam bak yang berisi air sampai beton berumur 14 hari. dan diukur selisih antara kerucut dan adukan beton tersebut Hasil pengujian slump test selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran IV. Meratakan bagian atasnya serta membiarkannya sampai 24 jam d). Adukan beton dimasukkan ke dalam cetakan silinder dengan cetok setinggi sepertiga bagian dan memampatkan adukan beton tersebut dengan menusukkan tongkat baja tumpul sebanyak 25 kali.17. dan telah diuji nilai slump-nya.55 f). Suhu air saat perendaman berkisar antara 26° – 25° C. sampai cetakan silinder penuh.14. Agar benda uji satu dan yang lainnya tidak tertukar. . silinder benda uji disimpan di udara lembab (direndam di dalam bak yang berisi air) untuk perawatan beton. Cara pembuatan benda uji silinder beton adalah sebagai berikut: a). Masing-masing variasi dibuat 3 buah benda uji sehingga jumlah total benda uji adalah 100 buah (lihat Tabel IV. b).1). e). Meletakkan kerucut Abram’s di samping adukan. dapat dilihat pada Gambar IV. masing-masing benda uji diberi kode. Perawatan Perawatan beton dimaksudkan untuk menjaga permukaan beton segar selalu lembab. sejak adukan beton dipadatkan sampai beton dianggap cukup keras. Setelah 24 jam membuka cetakan. Mengisikan adukan beton sepertiga bagian berikutnya dan diperlakukan sama. Pembuatan benda uji Pembuatan benda uji sesuai dengan perhitungan proporsi campuran beton yang telah direncanakan.

terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan terhadap berat jenis. Benda uji diletakkan pada mesin uji tekan dengan posisi vertikal dan posisi jarum penunjuk kuat tekan harus pada angka nol.18. Kemudian mesin uji dihidupkan dan penambahan beban dapat terlihat pada jarum penunjuk manometer. Angka yang ditunjuk oleh jarum merah inilah yang dicatat sebagai beban maksimum yang mampu ditahan oleh benda uji. Pemeriksaan berat jenis Sebelum pengujian benda uji. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran IV. Gambar IV. Gambar IV.21. Perawatan benda uji beton 6.17. sehingga dapat diketahui berat dan volume benda uji tersebut. maka salah satu jarum yaitu jarum merah akan tetap pada posisi nilai beban maksimum yang mampu ditahan.56 Gambar IV.20. 7. .12. Pengujian kuat tekan dan kuat tarik benda uji Untuk mengetahui keretakan yang terjadi pada saat pengujian.19. maka permukaan benda uji diberi cat putih Gambar IV. sedangkan jarum hitam akan bergerak turun kembali pada posisi semula (nol). Hasil pengujian benda uji dapat dilihat pada Gambar IV. Berat jenis dapat diketahui dengan cara menimbang dan mengukur tinggi serta diameter benda uji. Pada saat beban maksimum yang mampu ditahan benda uji terlampaui (benda uji hancur).

57 Gambar IV. Benda uji sebelum dicat Gambar IV.19. Benda uji setelah dicat .18.

21.58 Gambar IV. Hasil pengujian kuat tekan beton Gambar IV. Pengujian kuat tekan beton .20.

Hasil pengujian kuat tarik beton . Pengujian kuat tarik beton Gambar IV.23.22.59 Gambar IV.

Hasil pemeriksaan agregat halus secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV. Warna ini menunjukkan bahwa pasir tidak banyak mengandung zat organik dan layak digunakan sebagai bahan campuran beton.5. maka penurunan puncak kerucut pasir harus kurang lebih setengah tinggi kerucut. Karena adanya bahan organik dalam pasir akan mempengaruhi mutu beton. Hasil pengujian agregat halus Pemeriksaan agregat halus dilakukan melalui beberapa tahap pengujian yang sudah diuraikan pada Bab IV.82 % Modulus halus butir 2.5 gram/cm3 ½ dari tinggi kerucut Keterangan Memenuhi syarat Memenuhi syarat Memenuhi syarat Memenuhi syarat Memenuhi syarat 2.1.BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pada pengujian ini diperoleh penurunan pasir rata. diperoleh larutan berwarna kuning kecoklatan.75 cm Nilai Saturated Surface Dry (SSD) 2.2.5 . tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1). Untuk mencapai SSD pasir. Pengujian Agregat 1. Hasil pengujian agregat halus Jenis pengujian Hasil pengujian 5% Kadar lumpur Kuning Kandungan bahan kecoklatan organik 2.7 gram/cm3 Memenuhi syarat <5% Memenuhi syarat 1. 61 . Hasil uji kadar lumpur menunjukkan 5 % sehingga memenuhi persyaratan agregat halus sebagai campuran adukan beton karena batas persyaratan campuran beton yaitu 5 %.59 gram/cm3 Bulk specific gravity Absorption 4.96 Syarat SK SNI 5% > 2.1 sampai dengan Lampiran IV.8 (Sumber: Hasil penelitian) Hasil pengujian agregat halus Tabel V.5 – 3. sedangkan tinggi pasir mula-mula 7. 2). Tabel V.75 cm.8 gram/cm3 Apparent spesific gravity 3.1. 3).rata sebesar 3.5 cm. atau dituliskan pada Tabel V.1. Hasil pengujian zat organik di dalam pasir dengan cara menambah larutan NaOH 3 % dan didiamkan selama 24 jam.

. 6).5 gram/cm3 – 2. dan agregat berat (mempunyai berat jenis lebih dari 2. Absorbsi agregat akan mempengaruhi jumlah air dalam campuran yang direncanakan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pasir ini termasuk agregat normal.82 %. Oleh karena modulus halus butir pasir yang digunakan berada dalam batasan modulus halus butir pada umumnya.1.7 gram/cm3). Hasil pemeriksaan gradasi pasir secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.96 Pada umumnya pasir mempunyai nilai modulus halus butir antara 1. Persyaratan absorbsi agregat yang digunakan dalam campuran beton 5 %. maka pasir ini memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan susun beton.8 gram/cm3). Dari pengujian agregat halus diperoleh berat jenis pasir 2. 5). Hasil pengujian gradasi pasir diperoleh modulus halus butir 2. dan dilukiskan pada Gambar V. Semakin besar absorbsi maka jumlah air yang digunakan dalam campuran akan semakin berkurang.5 – 3. 7). agregat dibagi menjadi 3 macam yaitu agregat ringan (mempunyai berat jenis kurang dari 2. Hal ini menunjukan bahwa absorbsi pasir masih dalam batasan yang diisyaratkan.62 Keadaan ini membuktikan bahwa pasir masih agak basah. 4).8. agregat normal (mempunyai berat jenis antara 2. Berdasarkan berat jenisnya.6. Dari hasil pengujian yang dilakukan diperoleh nilai absorbsi pasir 4.0 gram/cm3). oleh karena itu pasir perlu diangin-anginkan sebelum digunakan.59 gram/cm3.

57 gram/cm3 Apparent spesific gravity 2.6 gram/cm3 Memenuhi syarat Memenuhi syarat 5-8 (Sumber: Hasil penelitian) Hasil pengujian agregat kasar pada Tabel V. 2.6 sampai Lampiran IV. Hasil pengujian agregat kasar Jenis pengujian Hasil pengujian 0.9.3 % Keausan agregat batu pecah 2. Hasil pengujian agregat kasar Pemeriksaan agregat kasar dilakukan melalui beberapa tahap pengujian yang diuraikan pada Bab IV.75 9.2.89 gram/cm3 Syarat SK SNI 20 % > 2.2.08 % Absorption Berat satuan volume 1.85 1. gradasi pasir memenuhi persyaratan campuran beton dan termasuk ke dalam kelompok daerah II (pasir agak kasar).15 0.5 LUBANG AYAKAN (mm) HASIL HITUNGAN BATAS ATAS SK SNI BATAS BAWAH SK SNI Gambar V.D. Tabel V.1.7 gram/cm3 Memenuhi syarat Memenuhi syarat <5% 1.5 – 2.18 2.2 – 1.5 gram/cm3 Keterangan Memenuhi syarat Memenuhi syarat 2.2.1. Hasil pemeriksaan agregat kasar secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV. hasil pemeriksaan tersebut tercantum pada Tabel V.53 gram/cm3 Bulk specific gravity 1. di atas.3 0.59 gram/cm3 Modulus halus butir 7. Batas gradasi pasir dalam daerah gradasi No.35 4. tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: . II (Departemen Pekerjaan Umum.63 GRADASI PASIR 120 PERSEN LOLOS (%) 100 80 60 40 20 0 0 0.1990) Menurut Gambar V.

2. dan dilukiskan pada Gambar V. 6).5 gram/cm3 – 2. Hal ini menunjukan bahwa batu pecah tersebut mempunyai daya serap yang kecil. Hal ini menunjukkan batu pecah tersebut dapat digunakan sebagai bahan campuran beton.7 gram/cm3) dan agregat berat (berat jenis 2.9. maka batu pecah tersebut dapat digunakan sebagai bahan campuran beton. sehingga batu pecah tersebut dapat digunakan sebagai campuran beton. 5). Dari hasil pengujian gradasi batu pecah diperoleh modulus halus butir 7.9. Batu pecah yang digunakan dalam penelitian ini mempunyai absorbsi 1. 4).64 1).3 %. Hasil pemeriksaan gradasi pasir secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.53 gram/cm3. 2).59 gram/cm3.6 gram/cm3. Hasil pengujian berat satuan batu pecah 1. Kekerasan butir-butir batu pecah yang diperiksa dengan mesin Los Angeles harus memenuhi syarat yaitu tidak terjadi kehilangan berat lebih dari 20 % untuk kekuatan beton diatas 20 MPa.08%. Hasil pengujian keausan batu pecah dari Boyolali 0.2 gram/cm3 – 1. 7).2. 3). Hasil pengujian berat jenis batu pecah yang digunakan dalam penelitian dapat disimpulkan bahwa agregat batu pecah tersebut termasuk agregat normal (berat jenis 2. . Hasil pemeriksaan gradasi batu pecah secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV. karena memiliki kekerasan butiran yang masih ada dalam batasan yang disyaratkan.8 gram/cm3). Dari pengujian agregat batu pecah diperoleh berat jenis batu pecah 2.89 Modulus halus butir untuk agregat kasar yang digunakan sebagai campuran beton yaitu 5 sampai dengan 8. Pengujian tersebut membuktikan batu pecah mempunyai berat satuan sesuai yang diisyaratkan untuk berat satuan normal. Hasil pemeriksaan gradasi batu pecah dapat dilukiskan seperti pada Gambar V. Berat satuan agregat kasar normal yaitu 1. Dengan melihat grafik batu pecah dapat diketahui bahwa gradasi batu pecah ini masih masuk dalam batasan SK SNI.

5 1. Dari hasil pengujian slump pada Tabel V.5 10 12. Batas gradasi kerikil (Departemen Pekerjaan Umum. Hasil pengujian slump dapat dilihat pada Tabel V.1990) B.5 2 2.16 cm. 11.5 dan Lampiran IV. Tabel V. √ √ 4. akan dianalisis pengaruhnya terhadap workabilitas beton.5 19 38. Pengujian Slump Pengujian nilai slump dilaksanakan sebelum campuran beton dituang dalam cetakan.5 1. √ √ 3.36 4.2. √ 2.5.1 LUBANG AYAKAN (mm) HASIL HITUNGAN BATAS BAWAH SK SNI BATAS ATAS SK SNI Gambar V. √ √ √ √ 5.5 . Pengujian slump dilakukan untuk mengetahui workabilitas adukan beton dari setiap percobaan.5 dan Lampiran IV.5 7.5 10 12.08 – 10. Slump (cm) 7. Hasil pengujian slump beton umur 14 hari Abu arang Briket Abu ampas tebu (%) No Beton Normal (%) 7.5 1.65 GRADASI KERIKIL 120 PERSEN LOLOS (%) 100 80 60 40 20 0 2.75 9.11 dapat dilihat bahwa slump yang dicapai pada adukan beton dengan penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket tidak memenuhi persyaratan yang direncanakan yaitu antara 2 – 4 in atau 5. Pemberian bahan tambah dengan proporsi penambahan yang berbeda.

12 sampai dengan Lampiran IV. √ 13. maka nilai slump yang dihasilkan kecil.5. √ 9. √ √ √ √ - √ √ √ - √ √ √ √ √ √ - √ 2 √ 2. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah bahan tambah yang digunakan maka air akan terserap oleh bahan tambah sehingga nilai fas akan berkurang.5 (Sumber: Hasil penelitian) Dari hasil pengujian nilai slump menunjukkan bahwa nilai slump menurun dengan penambahan persentase abu arang briket dan abu ampas tebu dalam campuran beton.1) V V = 0. Pengujian Berat Jenis Beton Pengujian berat jenis beton dilakukan sebelum diadakannya pembebanan terhadap benda uji silinder. √ 12. √ 14.5 1.11.66 Tabel V. Hasil pemeriksaan berat jenis beton secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.(V. Data dan hasil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran IV.6. √ 8. √ 11. √ 7. C.5 √ 2. √ 15. sehingga didapatkan berat dan volume benda uji tersebut.5 √ 2.5 √ 2.5 2 √ 3.16.5 √ 3. √ 16.5 2 √ 3.2) dengan : γ = berat jenis beton (gram/cm3) B = berat beton setelah direndam (gram) . Berat jenis beton dapat diketahui dengan cara menimbang dan mengukur tinggi serta diameter benda uji. Besarnya berat jenis dapat dihitung dengan rumus : Berat jenis beton (γ) = B ……………………………………………. √ 10. sedangkan berat jenis rata-rata dapat dilihat pada Tabel V.25 x π x d 2 x t …………………………………………………(V. Lanjutan 6.

5 % 0% 2.241 2. Berat jenis akan menurun seiring dengan penambahan abu arang briket.179 arang briket 10 % 2.5 % 2.194 Kadar abu 7.5% 2. Berat jenis briket adalah 2.207 2.25 x π x 15 2 x 30 = 5301. Hasil pemeriksaan berat jenis rata-rata pada kuat tarik beton dengan fas 0.64 gram/cm3 sedangkan berat jenis semen adalah 3.147 (Sumber: Hasil penelitian) Tabel V.185 2.200 2.213 2. Berat Jenis rata2 (gr/cm3) Kadar abu arang briket 0% 7.147 2.4. Hasil pengujian kuat tekan beton .5% 10 % 12.4.7.67 V = Volume beton (cm3) d = diameter cetakan beton t = tinggi cetakan beton Volume silinder = 0.6.160 2.282 Kadar abu ampas tebu 7.292 2.5 % 0% 2.213 2.188 2.204 2. Pengujian kuat tekan beton dilakukan untuk memperoleh nilai kuat tekan beton dengan adanya perbedaan kadar penambahan bahan tambah abu arang briket serta penambahan abu ampas tebu.5% 10 % 12. Pengujian Kuat Tekan Dan Tarik Beton Pengujian kuat tekan beton dilaksanakan setelah benda uji silinder telah berumur 14 hari.6.210 2.118 2.176 12.172 2.238 2. Kadar abu ampas tebu Berat Jenis rata2 (gr/cm3) 0% 7.301 gram/cm3. Hasil pemeriksaan berat jenis rata-rata pada kuat tekan beton dengan fas 0.273 2.5% 10 % 2.25 x π x d 2 x t = 0.188 2.289 2. diperoleh berat jenis tertinggi 2.213 2. Tabel V.5 % 2.15 gram/cm3.210 2.147 12.263 2.185 2.226 2.216 (Sumber: Hasil penelitian) D.438 cm 3 Dari hasil pemeriksaan berat jenis beton Tabel V.248 2.282 2. Hal ini disebabkan karena berat jenis briket lebih kecil dari pada berat jenis semen.

434 37.830 2.π.7.476 2.390 39. Sedangkan estimasi kuat tekan beton rata-rata dapat dilihat pada Tabel V.443 (Sumber: Hasil penelitian) Tabel V.π.5% 31.981 arang briket 10 % 2.484 22.5% 10 % 12. Kuat tarik rata-rata beton dengan variasi penambahan abu arang briket dan ampas tebu pada fas 0. Kadar abu ampas tebu Kuat Tarik rata2 (gr/cm3) 0% 7.425 23.5% 2.5 % 0% 3.163 23. Besarnya kuat tekan dari benda uji dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus sebagai berikut : f’c = Pmaks ……………………………………………………………. Kuat tekan rata-rata beton dengan variasi penambahan filler abu arang briket dan abu ampas tebu pada fas 0.9.594 2.523 1.3) A A = ¼ .523 2.714 cm2 dengan : f’ A d = kuat tekan beton salah satu benda uji (kg/cm2) = luas permukaan benda uji yang tertekan (cm2) = diameter cetakan Pmaks = beban tekan maksimum (kg) Tabel V. Kadar abu ampas tebu Kuat Tekan rata2 (gr/cm3) 0% 7.5% 10 % 12.17.627 (Sumber: Hasil penelitian) .5 % 0% 30.4.d2……………………………………………………………(V.d2 = ¼ x π x 152 = 176.665 2.5 % 2.141 24.8.284 37.318 2.933 1.863 12.557 29.069 Kadar abu 7.159 arang briket 10 % 32.632 22.4) A = ¼ .4.165 2.201 22.029 23.476 1.5 % 34.334 Kadar abu 7.075 1.521 23.046 12.68 secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.263 2.(V.

dapat diketahui bahwa beton normal dengan penambahan bahan tambah abu ampas tebu mengalami penurunan pada kuat tekan.5 Kadar Briket (%) Ampas tebu 0% ampas tebu 10% ampas tebu 7. 45 40 Kuat Tekan (Mpa) 35 30 25 20 15 10 5 0 0 7.3.5% dan abu arang briket 10% sebesar 27.78 %. Grafik gabungan hubungan kuat tekan rata-rata dengan variasi bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket.5% ampas tebu 12. . Kuat tekan optimum diperoleh dari penambahan abu ampas tebu 12. Dari Gambar V.5 10 12.3 dapat disimpulkan bahwa penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket mampu meningkatkan kuat tekan beton.69 Hasil pengujian kuat tekan rata-rata silinder beton dengan bahan tambah abu briket dan abu ampas tebu dapat dilihat pada Gambar V. Sedangkan pada penambahan arang briket kuat tekan mengalami peningkatan. Dari hasil pengujian kuat tekan beton di atas.5% Gambar V.3.

Grafik gabungan hubungan kuat tarik rata-rata dengan variasi bahan tambah abu ampas tebu dan abu arang briket.5 0 0 7. Kuat tarik optimum diperoleh dari penambahan kadar abu ampas tebu 7. Dari Gambar V.5% Gambar V.5 10 12. diperoleh kuat tekan beton tertinggi adalah 39.046 MPa dan kuat tarik tertinggi adalah 2.5% dan abu arang briket 12.4.830 MPa.5% ampas tebu 12.4 bisa disimpulkan bahwa penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket pada umumnya mengalami penurunan untuk setiap variasi penambahannya. 3.5% dan abu arang briket 12. Dari hasil pengujian kuat tarik beton di atas.70 %.5 2 1.4. Kuat tekan tertinggi tersebut diperoleh dari kadar abu ampas tebu 12.5 Kadar Briket (%) ampas tebu 0% ampas tebu 10% ampas tebu 7. Pembahasan Hasil Penelitian Dari hasil penelitian ini dengan topik kapasitas tekan dan tarik beton dengan bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket dengan fas 0.5%. . sedangkan kuat tarik tertinggi diperoleh dari kadar abu ampas tebu 7.5 3 Kuat Tarik (Mpa) 2.5% dan abu arang briket 10%.5 1 0.70 Hasil pengujian kuat tarik rata-rata silinder beton dengan bahan tambah abu arang briket dan abu ampas tebu dapat dilihat pada Gambar V. E.4. dapat diketahui bahwa beton normal dengan penambahan bahan tambah abu ampas tebu dan abu arang briket dapat mengakibatkan penurunan pada kuat tarik beton.5% sebesar 14.

Kelebihan a) Dalam penelitian ini tidak terjadi penundaan ikatan semen karena dalam waktu 24 jam dari pengecoran. Kuat tekan beton pada penambahan kadar abu ampas tebu 12.78 % dari beton normal atau pada kadar abu arang briket 0 % dan abu ampas tebu 0 %.5 % mengalami penurunan sebesar 14.71 Kelebihan dan kekurangan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.70 % dari beton normal atau pada kadar abu arang briket 0 % dan abu ampas tebu 0 %. 2. Kekurangan a) Kemudahan pengerjaan lebih rendah karena abu ampas tebu dan abu arang briket mempunyai sifat menyerap air. . Kuat tarik beton pada penambahan kadar abu ampas tebu 7.5 % dan abu arang briket 10 % mengalami peningkatan sebesar 27. b) Kuat tekan beton yang dihasilkan lebih tinggi pada penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket. c) Kuat tarik beton yang dihasilkan lebih tinggi pada penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket.5 % dan abu arang briket 12. benda uji langsung dapat dibuka dari cetakannya kemudian dilakukan perawatan benda uji. b) Karena sifatnya yang menyerap air mengakibatkan nilai slump rendah.

3).4 sebesar 34. Untuk hasil penelitian Rifai. Kuat tekan optimum abu ampas tebu pada fas 0. Kuat tekan optimum abu arang briket pada fas 0. Kesimpulan Setelah diadakan tahap pembuatan benda uji.4 sebesar 29.5 % sedangkan kuat tarik optimum pada fas 0.20 %.45 sebesar 25. 7). Semakin besar persentase abu arang briket dan abu ampas tebu pada adukan beton maka nilai slump makin kecil. 2). 4). 30 %.5 % sedangkan kuat tekan optimum pada fas 0.5 %. perendaman benda uji.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A.141 MPa terjadi pada kadar 12.5 %.405 MPa terjadi pada kadar 12.665 MPa terjadi pada kadar 7.594 MPa terjadi pada kadar 7. Kuat tarik optimum abu ampas tebu pada fas 0. Hasil pemeriksaan agregat kasar (batu pecah) memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan campuran beton.4 sebesar 2. serta analisis yang telah dilakukan.3 dengan variasi pencampuran 10 %. Kuat tarik optimum abu arang briket pada fas 0.45 sebesar 24. akhirnya penelitian ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1). 5).572 MPa terjadi pada kadar 20 %.5 %.45 sebesar 2.5 % sedangkan kuat tekan optimum pada fas 0.5 % sedangkan kuat tarik optimum pada fas 0.735 MPa terjadi pada kadar 12. pengujian kuat tekan dan kuat tarik untuk silinder beton.465 MPa terjadi pada kadar 12.899 MPa terjadi pada kadar 10 %. 72 .45 sebesar 2. 8). Hasil pemeriksaan agregat halus (pasir) memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan campuran beton. pada fas 0. 40 % didapat kuat tekan optimum sebesar 46. 6).4 sebesar 2.425 MPa terjadi pada kadar 7. Berat jenis akan menurun seiring dengan penambahan abu arang briket dan abu ampas tebu.

sehingga sulit dipadatkan. 10 %. B. Dalam pembuatan benda uji. 10). Hal ini dimaksudkan pada waktu pengujian seluruh permukaan benda uji mendapat tekanan yang sama. Kuat tarik beton terjadi pada penambahan kadar abu arang briket 12.5 % mengalami penurunan sebesar 14. Saran Berdasarkan pengamatan selama pelaksanaan penelitian. Dalam penelitian ini menggunakan abu ampas tebu dengan prosentase tertentu yaitu 7. 5).5 % dan abu ampas tebu 7. 4). Bagian atas dan bawah benda uji diusahakan benar-benar rata. kesulitankesulitan yang dialami pada saat penelitian dan pembahasan hasil penelitian. Pada saat perendaman benda uji.5 % mengalami peningkatan sebesar 27. Kuat tekan optimum terjadi pada penambahan kadar abu arang briket 10 % dan abu ampas tebu 12. 3).5 %.73 9). abu ampas tebu 0 %. . setelah dilakukan pencampuran material harus segera dimasukkan ke dalam cetakan karena adukan beton akan segera lengket dan mengental. permukaan air harus menutup semua benda uji yang direndam.70 % dari beton normal atau pada kadar abu arang briket 0 %.5 % sehingga dapat dilakukan penelitian selanjutnya tentang besarnya prosentase abu ampas tebu yang dapat menambah kuat tekan dan tarik beton sampai optimum. Penggunaan abu ampas tebu akan mengurangi keenceran adukan campuran beton sehingga kuat tekan dan tarik beton tinggi. 2).78 % dari beton normal atau pada kadar abu arang briket 0 %. diharapakan dilakukan penelitian selanjutnya pada variasi fas. 12. abu ampas tebu 0 %. maka peneliti memberikan saran sebagai berikut : 1).

Subakti. Departemen Pekerjaan Umum. Bandung.45. Murgiyanto. Surakarta. 1995. 1971. Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta. . K. Badan Pengembangan Pekerjaan Umum. Brook K. Direktorat Penyelidikan Masalah Bangunan. Departemen Pekerjaan Umum. 1982. Bandung. L. SK SNI T-15-1990-03. N. Erlangga.1-2 1971. Standar Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung. 1990. Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia. Tjokrodimuljo. Peraturan Beton Bertulang Indonesia. Rifa’I. A. Pemakaian Variasi Bahan Tambah Larutan Gula dan Abu Arang Briket Pada Kuat Tekan Beton Mutu Tinggi. Murdock. 1991. Direktorat Penyelidikan Masalah Bangunan. Bahan dan Praktek Beton. Institut Teknologi Sepuluh Nopember. 1991.J. PT Naviri. Jakarta. LPMB. Yayasan LPMB Puslitbang Pemukiman Balitbang PU. Tinjauan Pemakaian Abu Batu Bara Terhadap Karakteristik Beton dengan Menggunakan Faktor Air Semen 0. Teknologi Beton. SK SNI T-15-1991-03. Surabaya. Bandung. 2003. Terjemahan Stephany Hindarko. Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta. 1996.DAFTAR PUSTAKA Departemen Pekerjaan Umum. M. Teknologi Beton Dalam Praktek. 2005. Standar Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung. Surakarta. Yogyakarta.M.

(0271) 632363 Lampiran IV.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. Lab. 36 A Kentingan Surakarta 57126. sehingga pasir tidak perlu dicuci karena sudah memenuhi batas persyaratan campuran beton yaitu 5%.5 100 5% L-1 Kandungan lumpur pada pasir untuk campuran beton adalah 5 %. Surakarta. ST. Ir. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. 1. Mei 2006 Ka.D NIP. Pemeriksaan Kadar Lumpur Pada Pasir Tabel : Pemeriksaan pasir sebelum dicuci (Sumber : Hasil penelitian) Berat cawan (gram) Berat pasir kering tungku+cawan (gram) Berat pasir kering tungku setelah dicuci (gram) Berat pasir kering tungku sebelum dicuci (gram) Kandungan lumpur (%) A B C D=B-A D −C x100% D 158 258 95. 132 129 524 . Sutami No. Ph. Telp.

36 A Kentingan Surakarta 57126. Ini menunjukkan bahwa pasir tersebut tidak banyak mengandung bahan organik. ST. Sutami No. terlihat larutan berwarna kuning kecoklatan. (0271) 632363 Lampiran IV. 132 129 524 . sehingga pasir dapat langsung digunakan untuk campuran beton.2. Surakarta. Mei 2006 Ka. Ir. Telp. Ph.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. Lab. Pemeriksaan Kandungan Zat Organik Pada Pasir Tabel : Pengujian zat organik dalam pasir (Sumber : Hasil penelitian) No 1 2 Jenis bahan Pasir Larutan NaOH 3% Volume (cc) 130 cc Secukupnya Volume total 200 cc Warna larutan L-2 Kuning Kecoklatan Setelah pasir dicampur NaOH 3 % dan didiamkan selama 24 jam.D NIP.

sedangkan tinggi pasir mula-mula 7.5 cm = 8. Keadaan ini membuktikan bahwa pasir masih agak basah.215>0. Telp.5 =3.2) / 2 = 4.4 4. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.5 4. 132 129 524 .5 × 7. Ph.23 12. Pengujian Saturated Surface Dry (SSD) Pasir Tabel : Pemeriksaan penurunan pasir rata-rata (Sumber : Hasil penelitian) Percobaan I II III Jumlah 15 20 25 Jumlah penurunan : 3 Nilai SSD Penurunan tinggi pasir(cm) Sample A Sample B 3.6 : 3 = 4.43 2 =4.215 L-3 Tinggi pasir mula-mula Nilai SSD = 7.2 (4. (0271) 632363 Lampiran IV.7 12. Mei 2006 Ka.6 3.75 cm.75 Pada pengujian ini diperoleh penurunan pasir rata.7 : 3 = 4. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Lab.9 4.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. Sutami No.D NIP. oleh karena itu pasir perlu diangin-anginkan sebelum digunakan. Ir. ST.23 + 4.rata sebesar 3. Surakarta.5 cm.2 4.3.

5 – 2. Ir.47 2. Ph.80 4. ST. Telp. 132 129 524 . Sutami No.D NIP.42 1006. Lab. 36 A Kentingan Surakarta 57126.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.7 (berat jenis agregat halus yang diperoleh memenuhi syarat).82 Syarat berat jenis agregat normal antara 2. Surakarta.27 477 2. (0271) 632363 Lampiran IV.59 2.4. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. Mei 2006 Ka. Pemeriksaan Spesific Gravity dan Absorption Pasir Tabel : Perhitungan Spesific Gravity dan Absorbtion Pasir (Sumber : Hasil penelitian) Berat pasir kondisi SSD(gram) Berat volumetric flash+air (gram) Berat volumetric flash+air +pasir(gram) Berat pasir kering tungku (gram) Bulk Specific grafity (gram/cm 3 ) Specific grafity SSD (gram/cm 3 ) L-4 Apparent Specific grafity (gram/cm 3 ) Absorption (%) A B C D D ( A + B − C) A (B + A − C) D (B + D − C) A− D x100% D 500 699.

(0271) 632363 Lampiran IV.438 cm 3 = 10150 gram Tabel : Pemeriksaan berat satuan volume (Sumber : Hasil penelitian) No 1 2 3 Berat silinder (gram) 10150 10150 10150 Berat pasir+silinder (gram) Berat pasir (gram) Berat sat. Ir.246 Rata-rata berat satuan volume pasir = 1.5. Mei 2006 Ka.D NIP.736 1. 36 A Kentingan Surakarta 57126.25 x π x 15 2 x 30 = 5301.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. 132 129 524 . Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.765 5. Telp. Pemeriksaan Berat Satuan Volume Pasir L-5 Volume silinder Berat silinder = 0.246 3 1. Sutami No. Lab. volume (gram/cm 3 ) 19400 19355 19505 Jumlah = 9250 9205 9355 5.745 1.749 gr/cm 3 Surakarta. ST.25 x π x d 2 x t = 0. Ph.

Pemeriksaan Gradasi Pasir L-6 Tabel : Perhitungan pengujian gradasi pasir Boyolali (Sumber : Hasil penelitian) No .50 4.96 = 2.70 322.20 81.20 240. 4.5 88.60 Koreksi 0.24 240.20 53.9 Jumlah Berat Cawan (gr) 61 61 61 61 61 61 61 61 Berat Pasir (gr) 75.80 46.90 2999.03 100. 6.23 91.6 = 0.74 17.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.50 39. ST. 36 A Kentingan Surakarta 57126. 132 129 524 .982 memenuhi syarat yaitu antara 1.51 60.00 518.93 3000 % Pasir Tertinggal 2.76 22.03 0. Ir.04 518.00 1050.00 Syarat SK SNI 100 90-100 75-100 55-90 35-59 10-30 0-10 0 Gol II Keterangan : * tidak ikut dijumlahkan = 3000 gr = 2999. 7.90 192.70 383 579. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.01 277. 8. Ph.04 0.14 0.50 11.50 9.03 0.26 10.36 1.8 Surakarta.00 277.85 0.00 Persen Kumulatif Tertinggal 2.07 0.04 0.97 100.00 295.74 8. Telp.30 6. (0271) 632363 Lampiran IV.04 0. Mei 2006 Ka.77 8.30 0.04 322.03 Berat Pasir Terkoreksi 75. Lab.03 1051. 2.18 0.9 253 1111.24 77.03 10.D NIP.5 – 3.90 322. 5.9 383.96 100 Modulus halus butir 2. 1.75 2.97 192.01 0.74 211.2 301.80 18. Ukuran Ayakan (mm) 9.96 Lolos 97.15 Pan Berat Cawan + Pasir (gr) 136 338. 3.6.4 gr Koreksi = berat pasir tertahan × kesalahan berat pasir setelah diayak Dari hasil analisa pengujian diatas didapatkan modulus halus butir pasir sebagai berikut : Modulus halus butir = = Jumlah persentase kumulatif tertahan 100 295.6 gr Berat pasir mula-mula Berat pasir setelah diayak Berat kesalahan penimbangan = 3000 – 2999. Sutami No.40 35.

Hal ini menunjukkan batu pecah tersebut dapat digunakan sebagai bahan campuran beton. karena memiliki kekerasan butiran yang masih ada dalam batasan yang disyaratkan yaitu tidak boleh lebih dari 20 %. Sutami No. 12..5 Berat benda uji mula-mula (gram) Lolos No.5 dan tertahan 9. Pemeriksaan Keausan Agregat Kasar L-7 Tabel : Hasil pengujian keausan agregat kasar (Sumber : Hasil penelitian) Lolos No. Ir. Telp.7. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. Lab. (0271) 632363 Lampiran IV.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. Surakarta. 19 dan tertahan 12. Mei 2006 Ka.D NIP. Ph. 36 A Kentingan Surakarta 57126.5 Berat benda uji setelah diuji (gram) Keausan agregat (%) A B A−B x100% A 2500 2500 4985 0. ST.3 %.3 % Hasil pengujian keausan batu pecah dari Karanganyar 0. 132 129 524 .

57 1. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. Lab.53 2. ST. Sutami No. Ph. Ir.5 2. Telp.08 % Surakarta.5 1832. 36 A Kentingan Surakarta 57126. (0271) 632363 Lampiran IV. 132 129 524 .D NIP.5 3000 2. Pemeriksaan Spesific Gravity dan Absorbtion Batu Pecah L-8 Tabel : Perhitungan Spesific Gravity dan Absorbtion Batu Pecah (Sumber : Hasil penelitian) Berat batu pecah kondisi SSD(gram) Berat benda uji dalam air (gram) Berat benda uji kering oven (gram) Bulk Specific grafity (gram/cm 3 ) Specific grafity SSD (gram/cm 3 ) Apparent Specific grafity (gram/cm 3 ) Absorbtion (%) A B C C A− B A A− B C C−B A−C x100% C 3032.8. Mei 2006 Ka.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.

Mei 2006 Ka. Lab.584 1. Pengujian tersebut membuktikan batu pecah mempunyai berat satuan sesuai yang disyaratkan untuk berat satuan normal.771 Rata-rata berat satuan volume batu pecah Berat satuan agregat kasar normal yaitu 1. volume (gram/cm 3 ) 19000 19055 19040 Jumlah 3 8400 8455 8440 = 4 . Pemeriksaan Berat Satuan Volume Batu Pecah L-9 Volume silinder Berat silinder = 0. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. 132 129 524 .D NIP.592 4.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.2 gram/cm3 – 1. 36 A Kentingan Surakarta 57126. 771 = 1. Sutami No. (0271) 632363 Lampiran IV.595 1.25 x π x d 2 x t = 0.25 x π x 15 2 x 30 = 5301.9. Hasil pengujian berat satuan batu pecah 1.590 gr/cm 3 1.6 gram/cm3. Telp. ST. Surakarta.438 cm 3 = 10600 gram Tabel : Pemeriksaan berat satuan volume (Sumber : Hasil penelitian) No 1 2 3 Berat silinder (gram) 10600 10600 10600 Berat batu pecah+silinder (gram) Berat batu pecah (gram) Berat sat. Ph. Ir.590 gram/cm3.

Mei 2006 pecah/kerikil sebagai berikut : Modulus halus butir = = Modulus halus butir 7.49 Lolos 100 83.00 Keterangan : * tidak ikut dihitung = 3000 gr Berat batu pecah mula-mula Berat batu pecah setelah diayak = 2998 gr Berat kesalahan penimbangan = 3000 – 2999.07 1.27 5.00 0.18 0.93 100.00 0.00 100. Sutami No.00 0.8 930 573 322 320 315 242 269 Jumlah Berat Ayakan (gr) 488 454 431 412 421 322 320 315 242 269 Berat Kerikil (gr) 0 507 1822.00 0.00 % Komulatif Tertinggal 0.04 0. Pemeriksaan Gradasi Batu Pecah L-10 Tabel : Perhitungan pengujian gradasi batu pecah dari Boyolali (Sumber : Hasil penelitian) no 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Ukuran Ayakan (mm) 25 19 12.89 100 Surakarta.93 0.90 77.8 Koreksi 0.00 100. Ph.49 = 7. 132 129 524 .00 16.03 1822. (0271) 632363 Lampiran IV.00 0. Lab.90 60.00 100.00 100.04 152.00 0.36 1.00 0.66 94.00 Berat Kerikil terkoreksi 0.108 memenuhi syarat yaitu antara 5 – 8.10 22.34 5.01 0. Ka.00 100.00 3000 % Kerikil tertinggal 0. ST.15 Pan Berat ayakan+ Kerikil (gr) 488 961 2253. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.00 0.2 gr Koreksi = berat pasir tertahan × kesalahan berat pasir setelah diayak Dari hasil analisa pengujian diatas didapatkan modulus halus butir batu Jumlah persentase kumulatif tertahan 100 789.00 0.00 0.00* 789. Telp.76 17.00 0.00 100. Ir.85 0.03 0.07 0.00 0.8 = 0.50 9.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.12 0.00 0.75 2.00 507.00 0. 36 A Kentingan Surakarta 57126.8 518 152 0 0 0 0 0 2999.92 518.00 16.10.00 0.00 0.50 4.D NIP.00 0.01 0.

584 1.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. Lab.606 gr/cm 3 Surakarta. Sutami No. ST. Pemeriksaan Berat Satuan Volume Agregat Kasar L-11 Volume silinder Berat silinder = 0. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.25 x π x 15 2 x 30 = 5301. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Ir. (0271) 632363 Lampiran IV. Telp.817 3 1.817 Rata-rata berat satuan volume agregat kasar = = 1.25 x π x d 2 x t = 0. Ph. Mei 2006 Ka.D NIP.604 1.438 cm 3 = 10600 gram Tabel : Pemeriksaan berat satuan volume (Sumber : Hasil penelitian) No 1 2 3 Berat silinder (gram) 10600 10600 10600 Berat Agregat Kasar + silinder (gram) Berat Agregat Kasar (gram) Berat sat.11. volume (gram/cm 3 ) 19000 19105 19235 Jumlah 8400 8505 8635 4.629 4. 132 129 524 .

716 kg Proporsi bahan tiap 1 silinder = 1. Ir.66 Mpa biasa batu pecah 0.12. (0271) 632363 Lampiran IV.884 kg Kerikil 1090.45 2 34 % 2.884 kg/m3 1090.9 ltr 462.9 ltr dan fas 0.6 kg/m3 561.9 ltr Semen 462.25 kg 275 kg 462. Telp. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Sutami No.25 kg Pasir 561.4 60-100 mm 40 mm 184.25 kg 184.48 Mpa 47. Perencanaan Campuran Adukan Beton Metode SK-SNI T-15-199003 L-12 Perancangan Adukan Beton Normal Fas 0.2 * vol cetakan silinder * vol material tiap m3 .DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.50 2300 kg/m3 1652.716 kg/m3 tabel 10 : 7 grafik grafik grafik 18-(11+10) 16 * 19 19-20 Proporsi campuran Tiap m 3 Air 184.18 Mpa pada 14 hari 7 Mpa 11.4 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Uraian Kuat tekan umur 14 Deviasi standar Nilai tambah Kuat tekan rata2 Jenis semen Jenis kerikil Fas Slam Ukuran maks butir kerikil Kadar air Kebutuhan semen Kebutuhan semen minimum Dipakai kebutuhan semen Penyesuaian jumlah air atau fas Golongan pasir Persen pasir terhadap camp Berat jenis campuran Berat beton Kebutuhan camp pasir dan kerikil Kebutuhan pasir Kebutuhan kerikil Tabel/Grafik/Perhitungan grafik M=k * ds Nilai 36.

14.622 41.442 21. 16. 7.5 % 2.056 7.764 1.4 No 1.323 1. 5.5 % 1.622 41.056 7.205 2.639 17.764 1.205 2. Proporsi kebutuhan material tiap 3 sampel untuk uji tekan dan tiap 3 sampel untuk uji tarik dengan fas 0.442 21.056 7.056 7.764 1.639 17.622 41. 4.056 7.442 21.764 1.323 1. 15.639 17. Proporsi kebutuhan material L-13 Tabel.205 2. (0271) 632363 Lampiran IV.205 2.442 21. Air (kg) 7.056 7. 36 A Kentingan Surakarta 57126. 6.056 7.5 % 1.056 7.323 1.056 7.442 21.442 21.639 17.622 41.764 12.13.639 17.639 17.323 Filler (kg) 10 % 1.442 21.323 1.639 17. 12.442 21.639 17.622 41.205 7.056 7.639 17.056 7. 2.639 17.622 7.622 41.442 21.639 Pasir (kg) 21.622 41.764 1.442 Kerikil (kg) 41.5 % 1.323 Ampas (kg) 10 % 12.639 17.442 21. 11.323 1. 10.442 21.323 1.205 2.622 41. Telp.622 41.442 21.622 41.764 1. 9. 3. Sutami No.056 7.056 Semen (kg) 17.622 41.639 17.056 7. 8.205 .442 21.622 41.622 41.622 41.442 21.205 2.764 2. Ir.442 21.639 17.056 7.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. 13.639 17.639 17.056 7.622 41.

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR
JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Jl. Ir. Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Telp. (0271) 632363

Lampiran IV.14. Pemeriksaan Slump Adukan Beton

L-14

Tabel: Hasil pengujian slump beton umur 14 hari (Sumber : Hasil penelitian) No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. Beton Normal √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Ampas (%) 7,5 10 12,5 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Filler Briket (%) 7,5 10 12,5 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Slump (cm) 7,5 2 2,5 1,5 1,5 2 2,5 2 3,5 2,5 2 3,5 2,5 1,5 2,5 3,5

Surakarta,

Mei 2006

Ka. Lab. Bahan Konstruksi Teknik

Kusno Adi Sambowo, ST, Ph.D NIP. 132 129 524

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR
JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Jl. Ir. Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Telp. (0271) 632363

Lampiran IV.15. Hasil Pengujian Kuat Tekan Silinder Beton
HASIL PENGUJIAN KUAT TEKAN SILINDER BETON FAS 0.4

L-15

No 1

Tanda / Kode BN-40

Tgl. dibuat 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 2119 April 2006

Volume silinder (cm3) 5301,438

Berat (gr) 11950 11900 11750 12080 11900 12000 11950 11300 11500 11400 11500 11500 12250 12100 12150

b.j (gr/cm3) 2,254 2,245 2,216 2,279 2,245 2,264 2,254 2,131 2,169 2,150 2,169 2,169 2,301 2,282 2,292

b.j rata-rata (gr/cm3) 2,238

Tgl. diuji 3 Mei 2006

Umur 14

Beban Maks. (kN) 495 600 525 510 570 480 430 415 400 420 330 420 535 560 550

Kuat tekan (MPa) 28,011 33,953 29,709 28,860 32,255 27,162 24,333 23,484 22,635 23,767 18,674 23,767 30,275 31,689 31,124

2

BNA-1-40

5301,438

2,263

3 Mei 2006

14

3

BNA-2-40

5301,438

2,185

3 Mei 2006

14

4

BNA-3-40

5301,438

2,163

3 Mei 2006

14

5

BNF-1-40

5301,438

2,292

3 Mei 2006

14

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR
JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Jl. Ir. Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Telp. (0271) 632363

Lampiran IV.15. Lanjutan
HASIL PENGUJIAN KUAT TEKAN SILINDER BETON FAS 0.4

L-16.

No 1

Tanda / Kode BNF-2-40

Tgl. dibuat 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006

Volume silinder (cm3) 5301,438

Berat (gr) 12100 12200 12000 12100 12100 12100 11550 11650 11850 11900 11700 11600 11600 11600 11600

b.j (gr/cm3) 2,282 2,301 2,264 2,282 2,282 2,282 2,179 2,197 2,235 2,245 2,207 2,188 2,188 2,188 2,188

b.j rata-rata (gr/cm3) 2,282

Tgl. diuji 3 Mei 2006

Umur 14

Beban Maks. (kN) 600 530 600 580 630 600 440 390 400 330 420 425 420 420 460

Kuat tekan (MPa) 33,953 29,992 33,953 32,821 35,651 33,953 24,899 22,069 22,635 18,674 23,767 24,050 23,767 23,767 26,031

2

BNF-3-40

5301,438

2,282

3 Mei 2006

14

3

BNAF-11-40

5301,438

2,204

3 Mei 2006

14

4

BNAF-12-40

5301,438

2,213

3 Mei 2006

14

5

BNAF-13-40

5301,438

2,188

3 Mei 2006

14

188 2. 36 A Kentingan Surakarta 57126.188 2.465 36.938 23.169 2. dibuat 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301.226 2.504 24.333 25.438 2.188 2.084 2.169 2.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.438 2.141 2.216 2.188 2.210 Tgl.899 21. Lanjutan HASIL PENGUJIAN KUAT TEKAN SILINDER BETON FAS 0.348 2 BNAF-22-40 5301.4 L-17 No 1 Tanda / Kode BNAF-21-40 Tgl. diuji 5 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks.j (gr/cm3) 2.15.147 5 Mei 2006 14 5 BNAF-32-40 5301.150 2.767 24. Ir.213 5 Mei 2006 14 3 BNAF-23-40 5301.438 Berat (gr) 11600 11750 11800 12000 11600 11600 11350 11400 11400 11050 11500 11600 11700 11500 11400 b.573 37. Sutami No.504 21.767 23.217 43. (kN) 370 420 420 420 440 380 380 430 450 650 670 650 640 770 660 Kuat tekan (MPa) 20.782 36. Telp.914 36.767 23.264 2.j rata-rata (gr/cm3) 2.207 2.175 5 Mei 2006 14 .150 b.438 2.150 2. (0271) 632363 Lampiran IV.438 2.147 5 Mei 2006 14 4 BNAF-31-40 5301.782 37.

36 A Kentingan Surakarta 57126.4 L-18.D NIP. (0271) 632363 Lampiran IV. (kN) 680 680 625 Kuat tekan (MPa) 38. Telp. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.122 2.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. diuji 4 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks. dibuat 20 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301. Lab.j rata-rata (gr/cm3) 2.153 Tgl. No 1 Tanda / Kode BNAF-33-40 Tgl. Ph. Ir.j (gr/cm3) 2.216 b.480 38. 132 129 524 .15.438 Berat (gr) 11250 11250 11750 b. ST. Lanjutan HASIL PENGUJIAN KUAT TEKAN SILINDER BETON FAS 0.480 35.368 Surakarta. Mei 2006 Ka. Sutami No.122 2.

395 3.546 1.169 2. 36 A Kentingan Surakarta 57126.438 2.476 1.254 2.169 2.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.768 2.264 2.194 3 Mei 2006 14 5 BNF-1-40 5301. (0271) 632363 Lampiran IV.207 3 Mei 2006 14 4 BNA-3-40 5301.245 b.546 2.264 2. (kN) 220 240 245 230 160 175 100 180 180 125 190 180 190 160 200 Kuat tarik (MPa) 3.273 Tgl.216 2. HASIL PENGUJIAN KUAT TARIK SILINDER BETON FAS 0. Telp. dibuat 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301.112 3.235 2.169 2.4 L-19 No 1 Tanda / Kode BN-40 Tgl.438 Berat (gr) 12200 11950 12000 11500 11350 11500 11500 11750 11850 11850 11550 11500 11900 11950 11900 b.688 2. 2.254 2.235 2. Ir.546 2.829 2 BNA-1-40 5301.301 2.j rata-rata (gr/cm3) 2.415 2.j (gr/cm3) 2.254 2.16.264 2.446 3.248 3 Mei 2006 14 .160 3 Mei 2006 14 3 BNA-2-40 5301.169 2.688.179 2.438 2. diuji 3 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks.141 2.438 2.245 2. Hasil Pengujian Kuat Tarik Silinder Beton . Sutami No.438 2.

627 2.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.245 2.188 3 Mei 2006 14 4 BNAF-12-40 5301. dibuat 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301.j rata-rata (gr/cm3) 2.334 2.476 2 BNF-3-40 5301.334 2.438 Berat (gr) 12200 12200 12000 11650 11900 12100 11500 11650 11650 11700 11650 11650 11750 11900 11750 b.241 3 Mei 2006 14 3 BNAF-11-40 5301.325 2. Telp.438 2. Ir.476 2. Sutami No.334 1.768 3. 36 A Kentingan Surakarta 57126.197 2.829 2.263 2. Lanjutan HASIL PENGUJIAN KUAT TARIK SILINDER BETON FAS 0. diuji 3 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks.971 3.j (gr/cm3) 2.245 2.197 2.282 2.438 2.264 2.197 2.829 2.438 2.197 2.301 2.16.438 2.301 2.197 2.289 Tgl.042 2.226 3 Mei 2006 14 . (0271) 632363 Lampiran IV.169 2.334 2.207 2.900 2. (kN) 125 235 165 165 115 200 165 205 165 160 175 200 210 215 175 Kuat tarik (MPa) 1.216 2.200 3 Mei 2006 14 5 BNAF-13-40 5301.216 b.4 L-20 No 1 Tanda / Kode BNF-2-40 Tgl.

4 L-21 No 1 Tanda / Kode BNAF-21-40 Tgl.172 4 Mei 2006 14 3 BNAF-23-40 5301.150 2.264 1.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.438 2.122 2.169 2.169 2.169 2.122 2. dibuat 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301. HASIL PENGUJIAN KUAT TARIK SILINDER BETON FAS 0.16.188 2.617 2.438 2.264 1. (0271) 632363 Lampiran IV.839 1.188 2. (kN) 180 185 160 125 135 150 150 105 185 160 130 130 150 120 125 Kuat tarik (MPa) 2.839 2. Sutami No.617 2.122 1.768 2 BNAF-22-40 5301.188 2.147 4 Mei 2006 14 4 BNAF-31-40 5301. diuji 4 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks.179 2. 36 A Kentingan Surakarta 57126.207 2.j rata-rata (gr/cm3) 2.698 1.438 2.188 2.122 1. Lanjutan .176 4 Mei 2006 14 . Ir.179 b.188 Tgl.910 2.179 4 Mei 2006 14 5 BNAF-32-40 5301.438 Berat (gr) 11700 11600 11500 11600 11600 11350 11400 11500 11250 11500 11550 11600 11500 11550 11550 b.546 2.j (gr/cm3) 2.768 1.179 2.485 2.141 2.438 2.169 2. Telp.

D NIP. (kN) 115 115 115 Kuat tarik (MPa) 1.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. Ph. Telp. No 1 Tanda / Kode BNAF-33-40 Tgl. Mei 2006 Ka. Lab.254 2. (0271) 632363 Lampiran IV. 36 A Kentingan Surakarta 57126.j (gr/cm3) 2. Ir.4 L-22. 132 129 524 . ST.627 1. diuji 4 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks.438 Berat (gr) 11750 11950 11550 b.216 Tgl.j rata-rata (gr/cm3) 2.179 b.16.627 1. Sutami No. Lanjutan HASIL PENGUJIAN KUAT TARIK SILINDER BETON FAS 0. dibuat 20 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301.216 2. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.627 Surakarta.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful