TUGAS AKHIR

KAPASITAS TEKAN DAN TARIK BETON DENGAN BAHAN TAMBAH FILLER ABU AMPAS TEBU DAN ABU ARANG BRIKET DENGAN FAS 0,4

Disusun guna memenuhi persyaratan untuk memperoleh Gelar Sarjana Teknik pada Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta

oleh :

Aditya Galih Wijaya NIM : D 100 000 145 NIRM : 00.6.106.03010.5.0145

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2006

LEMBAR PENGESAHAN

KAPASITAS TEKAN DAN TARIK BETON DENGAN BAHAN TAMBAH FILLER ABU AMPAS TEBU DAN ABU ARANG BRIKET DENGAN FAS 0,4
Tugas Akhir Diajukan dan dipertahankan pada Ujian Pendadaran Tugas Akhir di hadapan Dewan Penguji Pada tanggal : …. Juni 2006

Aditya Galih Wijaya
NIM : D 100 000 145 NIRM : 00.6.106.03010.5.0145 Susunan Dewan Penguji Pembimbing utama Pembimbing pendamping

Ir. Suhendro Trinugroho, M.T NIP. 732 Anggota

Ir. H. Aliem Sudjatmiko, M.T NIK. 131 683 033

Much. Sholichin, S.T, M.T NIK : 792 Tugas Akhir ini diterima sebagai salah satu persyaratan Untuk mencapai derajat sarjana S-1 Teknik Sipil Surakarta,…..Juni 2006 Mengetahui Dekan Fakultas Teknik Ketua Jurusan Teknik Sipil

Ir. Sri Widodo, M.T NIK. 542 iii

M. Ujianto, ST, M.T NIK. 564

MOTTO

“Katakanlah : sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah”.
(Q.S Al-An’aam:162-163)

“Tenang setenang langit dan cepat secepat kilat”.
( Penulis )

“Barang siapa berjalan di suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan mempermudah jalan ke surga”.
( H. R. Muslim )
“Janganlah berfikir untuk menjadi orang yang sukses, tapi berpikirlah untuk menjadi orang yang berguna”.

( Penulis )

“Terima kasih Ya Allah untuk kehidupan dan kesehatan saya. Terima kasih atas kesempatan-kesempatan saya, atas persoalan-persoalan saya, dan terima kasih atas bimbingan dalam mengatasi persoalan-persoalan tersebut”.
( Penulis )

iv

Adikku Adhimas Pamungkas Terima kasih atas semua do’anya. Stream K4658KB. Winning Eleven.HALAMAN PERSEMBAHAN Ucapan Terima Kasih Penulis Persembahkan Kepada : My Lord Atas izin-Mu untuk menyelesaikan Tugas Akhir ini. BlueMax K6723DE. Almamaterku. cucuran keringat dan kasih sayangmu selama aku hidup di dunia. Istriku Anita Fitriana dan Calon Anakku Naja Keyshika Semangat serta perjuanganmu adalah nafas kehidupanku. Ummi dan Abbah Demi Allah tidak dapat aku balas pengorbanan. v .

vi . S. yang telah memberikan dorongan dan semangat baik moril maupun materiil dalam menyelesaikan laporan ini. Bapak Ir. kehadiranmu ajarkan aku bijaksana.KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr..T. Ibu Qunik Wiqoyah. H.. Bapak Ir.4”. terima kasih untuk semua bimbingan. S. terima kasih atas semua do’anya. kehangatanmu memberikan cermin hati tuk melihat seluruh putihnya kasihmu. Dengan selesainya penyusunan laporan ini. keberadaanmu tunjukkan aku bahagia.. Suhendro Trinugroho.T. keramahanmu teduhkan jiwaku. penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung membantu membimbing serta meluangkan waktu sehingga laporan ini dapat terselesaikan. 3).T.. M. selaku Dosen Pembimbing Utama Tugas Akhir.. nasehat dan kesabaranya. selaku Dosen Pembimbing Pendamping. 5). 9). Suhendro Trinugroho. Bapak Ir. Ummi dan Abbah. 6). nasehat dan kesabaranya. M. selaku Dosen Pembimbing Akademik 7). selaku Ketua Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta. selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta. Saudara sekandungku Adhimas Pamungkas. Penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1). H. terima kasih untuk semua bimbingan.. 2). 8). Anita Fitriana.Wb Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Karunia. Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir dengan judul ”Kapasitas Tekan Dan Tarik Beton Dengan Bahan Tambah Filler Abu Ampas Tebu Dan Abu Arang Briket Dengan Fas 0..T. Aliem Sudjatmiko.T. Sri Widodo.T. ilmu. M. Ujianto. M.T.T. selaku Dosen Koordinator Tugas Akhir. ilmu. M. M. Bapak M. 4). Bapak Ir.

Fajri. Sayoko. Radjimin. Sahabatku Kenci. Edwin Reagen Sedunia (kapan modal chek.10). 14).Wb Surakarta.. Adhi Karya. Toni+Ikha (Keluarga Ceria). terima kasih atas persahabatannya. Pardi terima kasih atas semua bantuannya. Hatur Nuhun Sanget Ya Allah. Yanuar+Dinda (hidup tak selamanya indah). Asih. Semoga laporan ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca.?!). terima kasih atas dukungan dan bantuannya. Barudak Sipil 2000. Penulis menyadari keterbatasan dalam penyusunan Tugas Akhir ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Anita.45 terima kasih atas semua masukkan dan kerjasamanya yang baik slama ini. Bala Tentara Lab Teknik Sipil UNS : Bos Kusno Adi S. Wassalamu’alaikum Wr. PT. Amin. Jesus. untuk itu kritik dan saran yang sifatnya membangun penulis harapkan demi kesempurnaan penyusunan laporan selanjutnya. 13). Ari. 11). Punggawa Yandu : Kholiq+Sahid (tetep kompak dan rukun slalu yo). Asrie (A4). 12). Save My Soul… 16). Parman. Danang. Juni 2006 Penulis vii . Rubianto Nugroho selaku Partner Dewan Beton Nasional 0. 17). Persero Tbk Cabang II Riau yang telah memberikan segala fasilitas dan jaminan hidup sampai sekarang. Orang-orang yang dekat denganku dan merubah hidupku jadi lebih berarti. Guruh+Trek (Laskar Industri Indonesia). Mr. 15).

DAFTAR NOTASI K = Kadar lumpur (gram) G 0 = Berat pasir mula – mula (gram) G 1 = Berat pasir setelah dicuci (gram) B = Berat picnometer + air (gram) BT = Berat picnometer + air + pasir (gram) BJ = Berat batu pecah dalam keadaan jenuh (gram) BA = Berat batu pecah dalam air (gram) Wо = Berat pasir mula – mula (gram) W 1 = Berat agregat halus yang tertahan saringan ukuran 2 mm (gram) M = nilai margin Sd = standart deviasi f’c = Kuat tekan beton (MPa) f’cr = Kuat tarik beton (MPa) W = Berat benda uji (gram) V = Volume silinder beton (cm³) P = Beban maksimal (N) d = Diameter silinder (mm) h = Tinggi silinder (mm) π = 3.14 viii .

..... Umum . i iii iv v vi ix KATA PENGANTAR .............. Tujuan penelitian................................................................................................... ix 1 1 3 3 3 3 3 4 5 5 6 6 6 7 8 8 8 ......................................... HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................................... DAFTAR ISI.... 2......................................... 1................................................................................................... Sifat umum beton ....... Sifat – sifat Beton ......................... xvii DAFTAR NOTASI ................................................................................... Beberapa Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Beton ............. B....................................................................................................................................................................................................................................... Jumlah semen ........................................................ 1... C..... B............... MOTTO ......................... BAB II TINJAUAN PUSTAKA ......... Tujuan dan Manfaat Penelitian ................................................................................................ xiii DAFTAR TABEL............................................................................................ 2...................................................................................................................................................... Batasan Masalah .............................................................. A................................................ xviii ABSTRAKSI ...................................... C...................................... LEMBAR PENGESAHAN ................... 2.............................. 1............................ Keaslian Penelitian ............................... E............. HALAMAN SOAL........................................................................................................................ D......................................... Sifat khusus beton .......................................... xix BAB I PENDAHULUAN......... Pengertian Beton.......................... A.......................................................................... vii DAFTAR GAMBAR ........... xv DAFTAR LAMPIRAN. Faktor air semen.................................................................... D........................................................................................................................................................................................ Latar Belakang.......DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ............ Manfaat penelitian......................................................... Rumusan Masalah...........................................................................

........................... 29 E........... 33 2c).................... Penggetar ayakan (Siever) ............................. Umum ................................ Agregat kasar ............................... Air ....... Semen portland .. Umur beton............. Kuat Tekan Beton ............................................................. 32 A.. Serat..................... 34 2d).................................... 30 BAB IV METODE PENELITIAN ......... 13 3.................................................................. 10 5........................... 19 6............................................ Abu arang briket....... Abu ampas tebu.......... Bahan Tambah Beton... 15 1......... Agregat halus ........... 32 2.............................. Ayakan standar .............................................................................................................................. 18 4...... 19 5.............................. 18 3.................................................................... Umum .......... Bahan Pengisi (Filler) .................................. 15 A........... Jenis semen.. Gelas ukur. 35 x ............................................................................. 18 2b)......... 20 D.......................... 16 2........................................ 12 1......... 35 2e).......................................................................................................................................................... Kuat Tarik Beton.......................................................................................................... 14 BAB III LANDASAN TEORI............................................... 32 B.................................................... 9 4..................... 32 1.. Sifat agregat ............................................ Timbangan ...........3.................................. Bahan Penyusun beton ................................................. Perencanaan Campuran Beton .................................................................................................. Peralatan Penelitian................................ 20 C............. Agregat ............................. Pozolan................................................................. 17 2a)......................................... Kerucut Conus ............ Bahan penelitian.......... 12 2................................................................................................................................................................. 32 2a)............................................................................... 11 E.................... Bahan Penelitian dan Peralatan Penelitian................ 15 B.................................. Bahan tambah kimia........................................................................................................ 33 2b)..

......................................... 49 1g) Pemeriksaan Specific Gravity dan Absorbtion kerikil ... Desicator ......................................... Perencanaan campuran beton .......... Tahap III : Penyediaan benda uji ................ Tahap Penelitian ................ Tahap V : Analisis data dan kesimpulan...................................................... Tahap II : Pemeriksaan bahan dasar............................. 52 2.....2f)........................ Peralatan penunjang lain .................. Pemeriksaan Saturated Surface Dry (SSD) pasir....................................... 36 2h)................................ 41 2.......................... 38 2m)............. Mesin uji Los Angeles......... Tahap IV : Pengambilan data................ Pengujian Slump........................................... 37 2j).................................................................... Cetakan silinder........... 37 2k).................. 45 1c).............. 54 4............................................. Pemeriksaan gradasi agregat pasir................ 40 1....................................... 40 C......... 41 5.................................................... 44 1a)................................................ 48 1f)........... Tahap I : Persiapan alat dan penyediaan bahan .................................................................................................................................... Pemeriksaan kadar lumpur pasir ........................ 39 2o)................ 39 2p)....................... Pemeriksaan Specific Gravity dan Absorbtion pasir.... Volumetric Flash .......... 46 1d).............................. Pembuatan benda uji ........ Bak tempat perendaman benda uji .................. Pemeriksaan berat satuan volume batu pecah ... 39 2n).................................................................................. 38 2l)........ Pemeriksaan keausan agregat kasar......... Pemeriksaan bahan.......... 51 1i)............................... Molen .... 37 2i)... Mesin uji tekan.. Pelaksanaan Penelitian. 50 1h).................... 41 4.......... 44 1....... 55 xi ...... 36 2g)... Oven........... 44 1b)...... Pemeriksaan zat organik pasir .......................... Tongkat baja .............................................. Pemeriksaan gradasi batu pecah ..................................... 41 3........................ Kerucut Abram’s........................................... 47 1e)................ 53 3......... 42 D..................................

................................................................... 63 B.............................. Pembahasan Hasil Penelitian .......... 56 7.............................. 66 C....... 72 A......................... Hasil pengujian agregat halus ...................................................... 61 A.................. Pengujian Agregat.......................................................................................... 56 BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................ Saran ............ 70 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN .. 61 2....................................................... 61 1........... Pengujian kuat tekan dan tarik beton .............................................................. Pengujian Berat Jenis Beton .... 67 D...... 73 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN xii ..... 69 E........ Pengujian Slump ....................................................................................... 72 B................... 55 6.. Kesimpulan .............................5..................................................... Perawatan benda uji (Curing) ....... Hasil pengujian agregat kasar ..... Pemeriksaan berat jenis beton.......... Pengujian Kuat Tekan Dan Kuat Tarik Beton ...................................................................

...........14..................18.. Timbangan digital ................................ Pengaruh umur beton terhadap laju kenaikan kuat tekan beton pada beberapa fas .... 2..............19............ 57 Gambar IV............. Desicator......................................................... 13 Gambar IV....................................17.. Kerucut Abram’s dan tongkat baja .................................11............... Volumetric flash ................. 3.. Bagan alir tahapan penelitian............................. 37 Gambar IV................ 11 Gambar II.................. Hubungan antara faktor air semen dan kuat tekan silinder beton 9 Gambar II.1................................ 2................ 40 Gambar IV................................. 4......... 3........ 5... 10 Gambar II................................... 57 Gambar IV.............................. 8........................................................................................................... Grafik kuat tekan beton untuk berbagai jenis semen..............6.................. Mesin uji kuat tekan dan kuat tarik merk Milano Italy............ 36 Gambar IV.................... 1................. 11 Gambar II..............................12............ 58 Gambar IV........21......................................... 38 Gambar IV............. 33 Gambat IV... Oven ................. Bak tempat perendaman benda uji........... 37 Gambar IV......20..... Hubungan antara kuat tekan beton dan jumlah semen ..................9. Peralatan penunjang lainnya ..... 12 Gambar II................. 5.......................... 4....... 43 Gambar IV............................................ Perawatan benda uji beton ......................... 35 Gambar IV......DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar II................... Benda uji sebelum dicat ...... 39 Gambar IV......13........15................................7..................................................................... 35 Gambar IV... Pengaruh suhu pada laju kuat tekan beton ........................ 38 Gambar IV........ Satu set ayakan dan Siever............................... 56 Gambar IV............................ 40 Gambar IV.............. Molen .... 58 xiii ................. 39 Gambar IV...... Kerucut Conus ..................................................................... Pengaruh jenis agregat terhadap kuat tekan beton ........ 6.................... Timbangan besar.... Pengujian kuat tekan beton .... Cetakan beton silinder...... Gelas ukur ............................ Mesin Los Angeles ......... 34 Gambar IV.......................10............... 36 Gambar IV.................16.. 34 Gambar IV.... Hasil pengujian kuat tekan beton.. Benda uji setelah dicat ...........

.............22.......... 59 Gambar V.. Batas gradasi pasir dalam daerah gradasi No............... 4......... 3.......... 72 xiv . 59 Gambar IV............ 2......... Grafik gabungan hubungan kuat tekan rata-rata dengan variasi tebu bahan tambah filler abu ampas dan abu arang briket................. Batas gradasi kerikil ....... 63 Gambar V... Pengujian kuat tarik beton ........... 1....................................Gambar IV............... Hasil pengujian kuat tarik beton ... Grafik gabungan hubungan kuat tarik rata-rata dengan variasi tebu bahan tambah filler abu ampas dan abu arang briket. 65 Gambar V.....22......... II . 71 Gambar V.....................

........... 9................................. 1 Jenis-jenis semen Portland ... Hasil pengujian Slump beton umur 14 hari........ 46 Tabel IV.............. 7...... 10......4 .......... 6..... Faktor pengali deviasi standar ...... 4 Tabel III.......... 1.. 4. Rincian jumlah benda uji kuat tekan dan uji kuat tarik .................................................................................... Rincian jumlah benda uji untuk kuat tarik beton.............. 23 Tabel III.......... 2............... 26 Tabel III........................ 5......... 3... 2... 54 Tabel IV...... Perkiraan kadar air bebas yang dibutuhkan untuk beberapa tingkat kemudahan pengerjaan adukan beton ..................................... Pengujian agregat halus ............... 5.......................... 8... Hasil pengujian agregat kasar ...... 4.......DAFTAR TABEL Halaman Tabel I.......... 4. Hasil pengujian agregat halus ... 63 Tabel V..................... 3......... Pengujian agregat kasar ..4.....5 dan jenis semen dan agregat kasar yang biasa dipakai di Indonesia ......................... 28 Tabel IV....................... Nilai deviasi standar untuk tingkat pengendalian mutu pekerjaan 22 Tabel III.................................... Hasil pemeriksaan berat jenis rata-rata kuat tekan beton dengan Fas 0......................................................... 24 Tabel III..... 53 Tabel IV.......................... 65 Tabel V...................................................................... 2... 66 Tabel V. 61 Tabel V................. 24 Tabel III...... 6............ 26 Tabel III............ Persyaratan jumlah semen minimum dan faktor air semen maksimum untuk berbagai macam pemberonan dalam lingkungan khusus ......... Rincian jumlah benda uji untuk kuat tekan beton ................. 25 Tabel III... Perkiraan kuat tekan beton dengan faktor air semen 0...... Penetapan nilai Slump ....... 22 Tabel III......... Ketentuan untuk beton yang berhubungan dengan air tanah yang mengandung sulfat ......................................... 54 Tabel V................. Proporsi kebutuhan material tiap 3 sampel untuk uji kuat tekan dan 3 sampel untuk uji kuat tarik dengan fas 0..........................Batas gradasi pasir ........... Ketentuan minimum untuk beton bertulang kedap air......... 68 xv ........................ 1......... 1.................................................................................... 65 Tabel V..................... 3. Hasil penurunan SSD pasir ... 17 Tabel III..........

............ 8......4 .......4.................. Kuat tarik rata-rata beton dengan variasi penambahan filler abu abu arang briket dan abu ampas tebu dengan Fas 0.. 9. 70 xvi .. 69 Tabel V..Tabel V....... 7.......... Kuat tekan rata-rata beton dengan variasi penambahan filler abu abu arang briket dan abu ampas tebu dengan Fas 0..............................4...... Hasil pemeriksaan berat jenis rata-rata kuat tarik beton dengan Fas 0............................... 68 Tabel V..

................ L-4 Lampiran IV...... L-5 Lampiran IV.......................... 5................................ Pemeriksaan Slump adukan beton ................. Pemeriksaan kadar lumpur pada pasir... Pemeriksaan berat satuan volume pasir ..............15...... 7......................... Periksaan kandungan zat organik pada pasir........................................10... 8.........12.... Pemeriksaan gradasi pasir ............ L-11 Lampiran IV...... L-2 Lampiran IV... L-8 Lampiran IV................ Pemeriksaan gradasi batu pecah. Pemeriksaan keausan agregat kasar .. 2.............. 1...14...................... Pemeriksaan Spesific Gravity dan Absorbtion batu pecah ....................... L-14 Lampiran IV...... L-7 Lampiran IV..DAFTAR LAMPIRAN Lampiran IV.....16.....13. Pemeriksaan berat satuan volume agregat kasar .................... Pengujian Saturated Surface Dry (SSD) pasir .... 4..11... L-3 Lampiran IV.......... L-19 xvii ............ Perencanaan campuran adukan beton metode SK SNI .................. L-1 Lampiran IV.......... Pemeriksaan Spesific Gravity dan Absorbtion pasir ................ Proporsi campuran.................... L-12 Lampiran IV................ L-6 Lampiran IV................ L-15 Lampiran IV.......... 9........ 3.... Hasil pengujian kuat tekan beton ........... L-9 Lampiran IV... L-13 Lampiran IV......... L-10 Lampiran IV.... Hasil pengujian kuat tarik beton .......... 6.... Pemeriksaan berat satuan volume batu pecah ..

12.5% dari berat semen dan abu arang briket sebesar 7.5% dan abu arang briket 12. kuat tarik xviii . variasi bahan tambah abu ampas tebu sebesar 7.4 dengan umur beton 14 hari.70 % dari kuat tarik beton normal. Pada penelitian ini menggunakan fas sebesar 0. Fakultas Teknik. Beton yang dibuat berbentuk silinder dengan tinggi 30 cm dan diameter 15 cm. Perancangan adukan beton menggunakan rancangan SK.SNI. 12.5%.T-15-1990-03. dengan hasil peningkatan sebesar 27. Universitas Sebelas Maret. Jurusan Teknik Sipil. abu arang briket. kuat tekan.4 Beton merupakan bahan bangunan yang telah banyak dikenal masyarakat Indonesia karena bahan penyusun beton mudah didapat dan relatif murah. sebesar 14.5% .ABSTRAKSI KAPASITAS TEKAN DAN TARIK BETON DENGAN BAHAN TAMBAH FILLER ABU AMPAS TEBU DAN ABU ARANG BRIKET DENGAN FAS 0. 10% .5% . Dari hasil pengujian kuat tekan rata-rata optimum diperoleh pada variasi abu ampas tebu 12. 10% . Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penambahan filler abu ampas tebu dan abu arang briket terhadap kuat tekan dan kuat tarik beton. Kata kunci : abu ampas tebu.5% dari berat semen.5% dan abu arang briket 10%. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Bahan dan Struktur.78 % dari kuat tekan beton normal dan dari pengujian kuat tarik rata-rata optimum diperoleh pada variasi abu ampas tebu 7. adapun penelitian ini mencoba memanfaatkan abu ampas tebu dari Pabrik Gula Tasik Madu yang ada di Karanganyar dan abu arang briket dari PT. Skatex yang ada di Karanganyar. Penelitian tentang beton telah banyak dilakukan.

Struktur yang terbuat dari beton antara lain : jalan dan jembatan yang strukturnya terbuat dari beton. umur beton. Pemakaian beton diharapkan dapat menghasilkan bangunan-bangunan berkualitas yang tidak mungkin diperoleh dari beton normal. Kualitas beton bergantung pada bahan-bahan penyusunnya. lapangan terbang. pemadatan dan perawatan). termasuk teknologi beton yang hampir pada setiap aspek kehidupan manusia selalu terkait dengan beton baik secara langsung maupun tidak langsung. jenis semen. Jadi perkembangan beton sangat perlu dalam kehidupan sehari-hari yang mempengaruhi konstruksi struktur. Struktur dari beton mempunyai tegangan tarik yang rendah. Latar Belakang Perkembangan teknologi sekarang ini sangat pesat seiring dengan perkembangan zaman. Besarnya kuat beton dipengaruhi beberapa hal antara lain : fas. mudah dalam pembentukan. Beton merupakan salah satu faktor penting dalam bidang konstruksi mengingat fungsinya sebagai salah satu pembentuk struktur. sifat agregat. bertujuan 1 . Teknologi dibidang konstruksi bangunan juga mengalami perkembangan pesat. Beton merupakan bahan bangunan yang awet dan tidak mudah berkarat. bendungan dan sebagainya. Semen merupakan salah satu bahan penyusun beton yang bersifat sebagai pengikat agregat pada campuran beton. hal ini sangat berbeda dengan elemen struktur baja yang memerlukan perawatan untuk mencegah terjadinya karat. Peningkatan kualitas campuran beton akan menghasilkan beton yang lebih berkualitas.BAB I PENDAHULUAN A. gradasi agregat. Beton banyak digunakan karena keunggulan-keunggulannya antara lain kuat tekan beton tinggi. serta bahan kimia tambahan (admixture). dan pengerjaan (pencampuran. mudah dalam perawatan. Kualitas yang baik pada campuran beton ditambah dengan bahan tambah (admixture). Beban tarik pada plat atau balok beton dipikul oleh tulangan baja pada beton. serta mudah dalam mendapatkan bahan penyusunnya.

mengingat abu ampas tebu berasal dari sisa penggilingan tebu. Hal ini mengisyaratkan bahwa tetes tebu berpengaruh terhadap kekuatan beton. seperti bahan tambah filler arang briket. Penelitian ini ingin mengetahui berapa besar kuat tekan dan tarik beton tersebut setelah diberi bahan tambah dibandingkan dengan beton normal. Bangunan yang dibuat sampai sekarang rata-rata masih berdiri kokoh. Hal tersebut membuat masyarakat beranggapan.2 untuk mengubah satu atau lebih sifat-sifat bahan penyusun beton baik dalam keadaan segar atau setelah keras. saat ini ada beberapa praktisi ilmu pengetahuan yang memiliki pendapat lain dari pendapat masyarakat terdahulu. Namun seiring perkembangan zaman.4. sehingga bisa menjadi addictive mineral yang baik untuk beton. dicoba untuk mengembangkan penelitian kapasitas tekan dan tarik beton dengan bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket dengan fas 0. yang tidak mempunyai sifat seperti semen. Sedangkan pohon tebu tumbuh subur di daerah tropis seperti di Indonesia ini. Pemilihan abu ampas tebu sebagai bahan tambah merupakan salah satu alternatif yang cukup mengena. 1998). . Berdasarkan hasil penelitian diatas. Pozolan adalah bahan yang mempunyai kandungan utama senyawa Silicon Dioksida alami atau buatan. Pendapat tersebut adalah kadar gula dengan kadar tertentu akan dapat mengurangi kekuatan beton (Budiyana. selain itu abu ampas tebu mudah didapat dan bisa dibedakan atau diketahui cukup dengan indra manusia. Hubungannya dengan pembuatan beton dikatakan banyak orang bahwa dalam pelaksanaan pembuatan beton. Penambahan filler abu arang briket pada campuran beton yang bersifat pozolan. bahwa kadar gula dalam hal ini tetes tebu mampu memberikan pengaruh terhadap beton. Penambahan abu ampas tebu sebagai bahan tambah dalam campuran beton telah dilakukan dalam beberapa pengujian dengan beberapa variasi takaran penambahan abu ampas tebu terhadap adukan tersebut. beberapa ahli memberikan tetes tebu sebagai bahan campuran.

Agregat kasar (batu pecah) dan agregat halus (pasir). Tasik Madu di Karanganyar. Rumusan Masalah Rumusan masalah yang diambil dalam penelitian ini adalah seberapa besar pengaruh penambahan filler abu ampas tebu dan abu arang briket terhadap kuat tekan dan kuat tarik beton. berasal dari Boyolali. Manfaat teoritis. 6. 7. Benda uji berupa silinder berdiameter 15 cm dan tinggi 30 cm. Tujuan penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kuat tekan dan kuat tarik beton yang dihasilkan dengan menggunakan bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket 2. 2. Skatex di Karanganyar. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Pengujian kuat tekan dan tarik beton tidak menggunakan tulangan. D. jenis I merk Holcim.5 %.T-15-1990-03. . b). Semen yang digunakan adalah semen Portland. C. Manfaat penelitian Manfaat penelitian ini antara lain : a).4. 9. 8. Filler abu arang briket didapat dari PT. Penelitian ini diharapkan dapat membuktikan. 12. maka penulis memberikan batasan-batasan masalah pada penelitian sebagai berikut : 1.5 % dari berat semen. 10 %. bahwa pemakaian bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket mampu menambah kuat tekan dan tarik beton yang lebih baik. Metode mix design menggunakan Metode SK. untuk mengembangkan pengetahuan tentang teknologi beton terutama pemanfaatan filler abu arang briket sebagai bahan tambah. Persentase variasi campuran abu ampas tebu dan abu arang briket adalah 0 %. Abu ampas tebu berasal dari PG. Batasan Masalah Agar tidak terjadi perluasan dalam pembahasan tugas akhir ini. 5.3 B. Faktor air semen yang digunakan 0. 4. 3.SNI. 7.

5 7.12.4 10. Jumlah seluruh benda uji yaitu (3 x 4 x 4) x 2 = 96 benda uji.SNI.5 .12. 10 .45. Keaslian Penelitian Penelitian beton dengan bahan tambah abu batu bara telah dilakukan oleh Murgiyanto (2003). Variasi campuran bahan tambah yang digunakan untuk adukan beton dan variasi perendaman seperti pada Tabel I.5 .h=30 E.1. Tabel I.5 7. Untuk perencanaan campuran menggunakan metode SK. . di Laboratorium Bahan Konstruksi Teknik. Umur pengujian (hari) Fas Abu Ampas Tebu (%) Abu Arang Briket (%) Jumah total benda uji Ukuran benda uji (cm) 0 14 hari 0.4 7. Rincian jumlah benda uji untuk kuat tekan dan tarik beton.5 Jumlah benda uji 0 7.T-15-1990-03.5 .4. 12.1. Dalam penulisan tugas akhir ini dikaji tentang pengaruh penambahan bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket terhadap kuat tekan dan kuat tarik beton dengan menggunakan fas 0. 10 .12. 11.12. Jumlah benda uji 3 buah tiap variasi abu ampas tebu dan abu arang briket. Penelitian tersebut untuk mengetahui pengaruh bahan tambah larutan gula dan abu arang briket batubara terhadap kuat tekan beton mutu tinggi.5 3 9 27 9 48 x 2 = 96 d=15. Umur pengujian kuat tekan dan kuat tarik beton benda uji silinder beton dilaksanakan pada umur 14 hari. 10 . 14. Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta. 13. Penelitian lain tentang analisis kuat tekan beton dengan penambahan larutan gula dan abu arang briket batubara pernah diteliti oleh Muctar Rifai (2005). Tinjauan analisis pada kuat tekan dan kuat tarik beton. Penelitian yang dilakukan oleh Murgiyanto (2003) adalah tinjauan pemakaian abu batubara terhadap karakteristik beton dengan menggunakan faktor air semen 0.5 . 10 .

B. Umum Beton merupakan suatu material yang sangat sering dijumpai. Jadi dapat diambil kesimpulan. Dengan perencanaan yang tepat dan sesuai rencana serta pengontrolan pada pemilihan material yang baik. (Subakti. yang diakibatkan oleh reaksi kimia antara air dan semen.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. serat sampai bahan bangunan non kimia pada prosentase tertentu. jembatan. air dan kadang-kadang memakai bahan tambah yang sangat bervariasi. dan gedung yang sering ditempati. keawetan dan sifat beton bergantung pada sifat bahan dasar penyusunnya. 1996). Hampir pada setiap aspek kegiatan pembangunan sehari-hari tergantung pada beton. maka peranan teknologi tentang beton akan sangat dominan dan sangat berpengaruh pada proses pembangunan yang menggunakan teknologi beton. baik secara langsung maupun tidak langsung. mulai dari bahan kimia tambah. (Tjokrodimuljo. Semakin modern suatu bangsa. 1995) Kemajuan pengetahuan tentang beton telah dapat memenuhi berbagai tuntutan pembangunan. (Tjokrodimuljo. cara pengadukannya maupun cara pengerjaannya selama penuangan adukan beton dan cara perawatan selama proses pengerasan. maka akan menghasilkan suatu mutu beton yang dapat memenuhi persyaratan. 1996). Beton yang bermutu sangat baik merupakan material yang sangat awet dan bebas dari pemeliharaan untuk beberapa tahun. Kekuatan. maka akan didapat suatu fungsi beton maksimum. 5 . nilai perbandingan bahan-bahannya. Pengertian Beton Beton merupakan campuran antara semen. bahwa kegiatan sehari-hari sering dipengaruhi oleh dampak perkembangan teknologi beton. Sebagai contoh jalan. Campuran tersebut bila dituangkan dalam cetakan kemudian dibiarkan maka akan mengeras seperti batuan. misalnya dengan pemanfaatan bahan-bahan lokal yang didapat di daerah tertentu dengan mengubah perbandingan bahan dasarnya. agregat.

yaitu sifat yang berhubungan langsung dengan kelebihan beton dan sifat yang berhubungan dengan kekurangan beton ( Tjokrodimuljo. . 3) Beton keras mengembang dan menyusut bila terjadi perubahan suhu sehingga perlu kelonggaran untuk mencegah retak-retak akibat perubahan suhu.1996). Sifat-sifat beton pada umumnya digolongkan menjadi dua. 7) Beton termasuk tahan aus dan tahan kebakaran sehingga biaya perawatan termasuk rendah. Kelebihan beton antara lain : 1) Beton termasuk bahan yang berkekuatan tekan tinggi. 3) Beton segar dapat dengan mudah diangkut maupun dicetak 4) Akibat kuat tekannya tinggi maka jika dikombinasikan dengan baja tulangan (yang kuat tariknya tinggi) maka dapat dikatakan mampu dibuat untuk struktur berat. 2) Beton segar mengalami proses pengerutan saat terjadi proses pengeringan dan beton mengeras mengalami pengembangan jika basah. Kekurangan beton antara lain : 1) Beton mempunyai kuat tarik rendah sehingga mudah retak oleh karena itu perlu diberi tulangan. 1996 ). 2) Harga relatif murah. Sifat umum beton Secara umum beton mempunyai sifat kebaikan dan kekurangan tertentu jika dibandingkan dengan bahan-bahan lain (Tjokrodimuljo.6 C. 5) Beton segar dapat disemprotkan dipermukaan beton lama yang retak maupun diisikan kedalam retakan beton dalam proses perbaikan. 1. Diharapkan dari suatu konstruksi adalah hasil yang didapat sesuai harapan secara maksimal tetapi secara ekonomis tidak terjadi pemborosan. Sifat – Sifat Beton Sifat beton merupakan hal yang erat kaitannya dengan kualitas beton yang dituntut untuk suatu tujuan konstruksi. 6) Beton segar dapat dipompakan sehingga memungkinkan untuk dituang pada tempat-tempat yang sulit.

sebagaimana baja dan bahan-bahan lain. Beton berubah bentuk sebagian mengikuti regangan elastis dan sebagian mengalami regangan plastis. 5) Beton bersifat getas (tidak daktail) sehingga harus dilindungi dan didetail secara seksama agar diperoleh struktur yang komposit. Kuat tekan ini selalu bertambah bersamaan dengan bertambahnya umur beton. Modulus elastisitas Yang menjadi tolok ukur yang umum dari sifat elastis bahan adalah modulus elastisitas yang merupakan perbandingan dari tekanan yang diberikan dan perubahan bentuk persatuan panjang sebagai akibat dari tekanan yang diberikan. c).M. perubahaan bentuk terjadi dan bertambah sesuai dengan pertambahan beban. Biasanya ini tidak diperhitungkan dalam perencanaan struktur beton. Brook. 1991) d). dan air yang mengandung garam dapat merusak beton. Kuat Tekan Kuat tekan beton lebih besar daripada kuat tariknya. kuat geser beton selalu diikuti oleh kuat tekan. . Besarnya kuat tarik dan lentur Kuat tarik beton berkisar seperdelapan belas kuat tekan pada umur yang masih muda dan berkisar sepersepuluh sesudahnya. Sifat khusus beton Sifat secara khusus bagi beton adalah sifat-sifat yang ditinjau atau berhubungan dengan : a). Perubahaan bentuk akibat pembebanan Bilamana beton dibebani.7 4) Beton sulit untuk kedap air secara sempurna sehingga selalu dapat dimasuki air. Besarnya kuat geser. Dalam praktek. tarik dan lentur. e). bahkan di dalam pengujian tidak mungkin menghilangkan elemen lentur (Murdock & K. 2. b).

dan adukan beton sulit didapatkan. sehingga beton menjadi kurang padat (Tjokrodimuljo. Semakin besar faktor air semen. Faktor air semen Faktor air semen adalah angka yang menyatakan perbandingan antara berat air dengan berat semen. Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas beton antara lain : 1. Hal ini terjadi karena kesulitan dalam pemadatan adukan beton. Ideal Dipadatkan dengan alat getar Kuat tekan beton Dipadatkan dengan tangan Padat penuh tidak padat Faktor air . 1996). berarti jumlah air juga sedikit. sehingga kuat beton rendah. Namun jika jumlah .8 D. akan tetapi dibawah faktor air semen tertentu. Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Beton Kesempurnaan semua sifat dasar beton dicapai dengan tidak meninggalkan segi ekonomis. 1996) 2. kekuatan beton semakin tinggi. serta murah dari segi ekonomisnya. karena penggunaa beton yang diharapkan yaitu dengan kualitas yang baik dan mempunyai kuat tekan tinggi. Hubungan antara faktor air semen dan kuat tekan silinder beton (Tjokrodimuljo. Pada jumlah semen yang terlalu sedikit.1. makin rendah kuat tekan betonnya.semen Gambar II. kuat tekan beton akan rendah. Jumlah semen Beton dengan jumlah kandungan semen tertentu mempunyai kuat tekan tinggi. Pencapaian nilai kuat tekan beton yang maksimal harus dipertimbangkan hal-hal yang mempengaruhi kualitas beton tersebut. Walaupun semakin rendah faktor air semen.

1996) 3.2. Pengaruh kekuatan agregat terhadap kekuatan beton. Kekasran permukaan agregat mempengaruhi daya lekat dan besarnya tegangan saat retak-retak beton mulai terbentuk. Sifat agregat Sifat agregat yang berpengaruh terhadap kekuatan beton adalah kekuatan agregat. Hubungan antara kuat tekan beton dan jumlah semen ( Tjokrodimuljo. diperlukan agregat yang lebih kuat.1996). sebenarnya tidak begitu besar karena pada umumnya kekuatan agregat lebih tinggi daripada pastanya. sehingga penambahan semen berarti pengurangan nilai faktor air semen. yang berakibat penambahan kuat tekan (Tjokrodimuljo. Gambar II. 1996). Beton dengan kandungan semen lebih banyak mempunyai kuat tekan lebih tinggi. sedangkan gradasi butiran juga sangat mempengaruhi kekuatan beton. Namun apabila dikehendaki kekuatan beton yang lebih tinggi. . gradasi agregat dengan ukuran butiran yang bervariasi berarti sedikit pula pori-pori betonnya sehingga memerlukan jumlah pasta yang sedikit untuk mengisi rongga-rongga antar butirnya dan secara teoritis kekuatannya lebih tinggi (Tjokrodimuljo. kekasaran permukaan agregat dan gradasi butir agregatnya.9 semen terlalu berlebihan berarti jumlah air juga berlebihan sehingga beton mengandung banyak pori dan akibatnya kuat tekan beton rendah.

3. Yang dimaksud umur beton adalah dihitung sejak umur beton dibuat. Umur beton Kuat tekan beton bertambah sesuai dengan bertambahnya umur beton. 4. Selama proses ini. Kenaikan kekuatan beton tersebut mula-mula cepat kemudian semakin melambat selaras dengan umur betonnya. terutama antara semen dan air yang mengalami proses hidrasi. Pengaruh suhu pada laju kuat tekan beton (Tjokrodimuljo. hal inilah yang menyebabkan semakin sulitnya proses hidrasi seiring dengan bertambahnya umur beton. Gambar II. dan pada permukaan endapan butiran semen ini akan membuat difusu air ke bagian dalam. butir-butir semen akan menghasilkan endapan.1996) .10 Gambar II. Pengaruh jenis agregat terhadap kuat tekan beton (Tjokrodimuljo. 1996) 4. Hal ini disebabkan oleh reaksi kimia yang terjadi antara bahan-bahan penyusun beton.

1996) . Departemen Pekerjaan Umum (1982) membagi semen portland dalam lima jenis yaitu : Jenis semen Jenis I Jenis II Jenis III Jenis IV Jenis V Karakteristik Umum Semen portland untuk penggunaan umum yang tidak memerlukan persyaratan khusus seperti yang disyaratkan pada jenis-jenis lain. (Sumber : Tjokrodimuljo. Semen portland yang dalam penggunaannya persyaratan sangat tahan terhadap sulfat.11 Gambar II. 5. Pengaruh umur beton terhadap laju kenaikan kuat tekan beton pada beberapa fas (Tjokrodimuljo.1996) 5. Jenis semen Menurut PUBI. Semen portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan panas hidrasi yang rendah. Semen portland yang dalam penggunaannya memerlukan ketahanan terhadap sulfat dan panas hidrasi. Semen portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan kekuatan awal yang tinggi setelah pengikatan terjadi.

. pozolan dan serat (Tjokrodimuljo. mengurangi retak-retak pengerasan dan menambah kuat tekan beton. Bahan tambah ialah bahan selain unsur pokok beton (air. segera atau selama pengadukan beton (Tjokrodimuljo. 1996). 1996) E. terutama untuk pembuatan beton di daerah yang beriklim tropis seperti Indonesia. penampilan beton bila mengeras. Bahan kimia (berupa bubuk atau cairan) ini dicampurkan ke dalam adukan beton dengan jumlah tertentu selama pengadukan. untuk mengubah beberapa sifat beton dan memperoleh sifat-sifat khusus yang diinginkan (Departemen Pekerjaan Umum. Penggunaan bahan tambah tersebut dimaksudkan untuk memperbaiki dan menambah sifat beton sesuai dengan yang diinginkan. Bahan Tambah Beton Dalam pembuatan konstruksi beton.12 Gambar II. 6. sebelum. bahan tambah merupakan bahan yang dianggap penting. semen dan agregat) yang ditambahkan pada adukan beton. 1996). 1982). Penggunaan bahan tambah (admixture) harus didasarkan pada alasanalasan yang tepat misalnya memperbaiki kelecakan beton. Bahan tambah kimia Bahan tambah kimia adalah suatu bahan kimia yang dapat membantu mempermudah dalam proses pembuatan beton. 1. Bahan tambah beton ini dapat berupa bahan tambah kimia. menghemat harga beton menambah daktalitas (mengurangi sifat getas). Grafik Kuat tekan beton untuk berbagai jenis semen (Tjokrodimuljo.

Jenis D : Bahan kimia tambahan yang berfungsi ganda yaitu mengurangi air dan memperlambat proses ikatan dan pengerasan beton. yang merupakan sisa pembakaran dari tungku ataupun hasil pemanfaatan limbah yang diolah menjadi abu yang mengandung silika reaktif dengan melalui proses pembakaran. ada dua jenis lain yang lebih khusus. Jenis A : Bahan kimia tambahan untuk mengurangi jumlah air yang dipakai. Selain lima jenis di atas. Menurut pembentukannya pozolan dibedakan menjadi dua jenis. 1982 bahan kimia tambahan dibedakan menjadi lima jenis antara lain : a. e. maka senyawa tersebut akan bereaksi dengan Calsium Hidroksida Ca(OH)2 pada suhu biasa membentuk kalsium hidrat yang bersifat hidrolis. c. Pozzolan Pozolan merupakan bahan tambah mineral yang mengandung silika (SiO2) dan alumina (Al2O3). . Jenis C : Bahan tambah kimia untuk mempercepat proses ikatan dan pengerasan beton. yaitu mengurangi air sampai 12% atau lebih. d.13 Menurut Persyaratan Umum Bahan Bangunan Indonesia (PUBI). 1996). seperti abu terbang (fly ash). akan tetapi dalam bentuknya yang halus dengan adanya air. b. 2) Bahan kimia tambahan dengan fungsi ganda. yaitu : 1) Bahan kimia tambahan yang digunakan untuk mengurangi jumlah air campuran sampai sebesar 12% atau bahkan lebih. untuk menghasilkan adukan beton dengan kekentalan sama (air dikurangi sampai 12% lebih namun adukan beton tidak bertambah kental). Bahan pozolan tidak mempunyai sifat mengikat seperti semen. memperlambat pengikatan awal. Jenis B : Bahan tambah kimia untuk memperlambat proses ikatan dan pengerasan beton. yaitu : 1) Pozolan buatan. 2. (Tjokrodimuljo. silika fume dan lain-lain. Dengan pemakaian bahan ini diperoleh adukan dengan faktor air semen lebih rendah pada nilai slump yang sama. Jenis E : Bahan tambah kimia berfungsi ganda yaitu untuk mengurangi air dan mempercepat proses ikatan dan pengerasan beton. abu sekam padi (rice husk ash).

Pemakaian serat pada beton lebih tahan retak dan tahan terhadap benturan. Abu arang briket batubara termasuk bahan kimia jenis E. dan mengandung pozolan. dan mengurangi keawetan beton. yang merupakan sedimentasi dari abu atau lava gunung berapi yang mengandung silika aktif yang bila dicampur dengan kapur padam akan mengadakan proses sedimentasi. namun hanya menambah daktalitas. 3. 1996) . pemberian serat pada beton tidak banyak menambah kuat tekan beton. (Tjokrodimuljo. Serat Tujuan utama penambahan serat ke dalam beton adalah untuk menambah kuat tarik beton yang sangat rendah berakibat beton mudah retak.14 2) Pozolan alam.

15 . cara pengadukan maupun pengerjaan selama penuangan adukan beton. Produksi beton yang efektif dapat dicapai dengan pemilihan. material-material tersebut harus melalui tahap penelitian dan berkualitas baik. beton merupakan bahan bangunan yang banyak dipakai secara luas. murah. misalnya: ukuran maksimum agregat. air dan bahan tambah (admixture) bila diperlukan. perbandingan bahan-bahan yang dipakai. cara pemadatan dan cara perawatan selama proses pengerasan. sehingga dapat mengembangkan dan memilih bahan penyusun yang baik serta dapat menentukan komposisi yang tepat. banyaknya pemakaian beton disebabkan terbuat dari bahan-bahan yang umumnya mudah didapat serta mudah diolah sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Bahan-bahan dasar penyusun beton harus diketahui oleh perencana. Perencanaan campuran beton dimaksudkan untuk mendapatkan beton yang sebaik-baiknya. Kesulitan timbul karena di dalamnya banyak parameter yang harus diperhitungkan. pengontrolan dan perbandingan yang tepat untuk semua bahan serta untuk perancangan campuran beton mutu tinggi lebih kompleks bila dibandingkan dengan perancangan campuran beton normal. B.BAB III LANDASAN TEORI A. Untuk pembuatan beton. agregat kasar. mudah dikerjakan. tahan lama dan tahan aus. Umum Pada saat ini. agregat halus. Bahan Penyusun Beton Dasar penyusun material beton normal terdiri dari semen. yaitu yang kuat tekannya tinggi. Tahap-tahap penelitian harus diselesaikan sesuai standar penelitian yang baku untuk mendapatkan material yang berkualitas baik. penambahan bahan dari sifat-sifat bahan dasar yang dipakai.

dengan gips sebagai bahan tambahnya.1. Semen Portland Semen merupakan bahan yang mempunyai sifat adhesif dan kohesif. Jenis semen Jenis I Jenis II Jenis III Jenis IV Jenis V Karakteristik Umum Semen portland untuk penggunaan umum yang tidak memerlukan persyaratan khusus seperti yang disyaratkan pada jenis-jenis lain.16 1. Clinker adalah bahan baku yang dibutuhkan dalam pembuatan semen. Jenis-jenis semen Portland. Semen hidrolis adalah semen yang akan mengeras apabila bereaksi dengan air. Semen portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan kekuatan awal yang tinggi setelah pengikatan terjadi. Semen-semen itu adalah : 1) Oil well cement.1. . yaitu : Trikalsium Silikat (C3S). Dikalsium Silikat (C2S). Perubahan komposisi kimia semen dengan mengubah 4 komponen utama semen. sebagai hasil dari pembakaran pada suhu tinggi terhadap bahan-bahan mentah pembentuk semen. Adukan dari semen halus ini tahan sampai tekanan 1000 atmosfir. Sesuai dengan tujuan pemakaiannya PUBI (1982) membagi semen portland dalam lima jenis seperti yang dapat dilihat pada Tabel III. (Sumber : Tjokrodimuljo. Semen ini sangat cepat proses hidrasinya karena itu digunakan serbuk khusus untuk menghambat proses hidrasi semen ini. menghasilkan beberapa jenis semen sesuai dengan tujuan pemakaiannya. sebagai berikut : Tabel III. Semen portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan panas hidrasi yang rendah. 1995). Semen portland yang dalam penggunaannya memerlukan ketahanan terhadap sulfat dan panas hidrasi. 1996) Selain semen-semen yang disebut di atas. semen ini digunakan untuk penyemenan sumur minyak yang dalam. menghasilkan bahan yang tahan terhadap air (water resistance) dan stabil tahan air. terutama terdiri dari silikat calsium yang bersifat hidrolis. Jenis-jenis semen Portland. Semen portland adalah semen hidrolis yang dihasilkan dengan penghaluskan clinker. Trikalsium Aluminat (C3A) dan Tetrakalsium Alumina Ferit (C4AF). juga telah dibuat semen dengan tujuan khusus (Subakti. kedua sifat fisis ini memiliki fungsi sebagai bahan perekat. Semen portland yang dalam penggunaannya persyaratan sangat tahan terhadap sulfat.

pasir dan lain-lain) ialah kekuatan hancur dan ketahanan terhadap benturan. Agregat merupakan bahan utama pembentuk beton disamping pasta semen. serta ketahanan terhadap penyusutan (Murdock dan K. 1999). yang dapat mempengaruhi ikatannya dengan pasta semen.5 dan standar ASTM C 33-97. Sifat yang paling penting dari suatu agregat (batu-batuan. Agregat halus bersama dengan semen dan air membentuk mortar yang akan mengikat agregat kasar menjadi satu kesatuan yang kuat dan kompak.1-2. quarsa pasir dan kaolin. porositas dan karakteristik penyerapan air yang mempengaruhi daya tahan terhadap proses pembekuan waktu musim dingin dan agresi kimia. Agregat halus beton dapat berupa pasir alami sebagai disintegrasi alami atau berupa pasir buatan (artifical sand) yang dihasilkan dari alat-alat pemecah batu.075 mm. 2. Agregat. . Agregat beton dapat berasal dari bahan alami.17 2) Semen dengan kadar alkali rendah. 2a). 2) Tidak mengandung tanah dan kotoran lain yang lolos ayakan 0. buatan (batu pecah) maupun bahan sisa produk tertentu. Kadar agregat dalam campuran berkisar antara 70-75% dari volume total beton. semen ini digunakan di negara-negara penghasil agregat yang reaktif terhadap iklim.3-3.75 mm (No. Bab 3 Pasal 3. jenis semen ini dibuat dari batu kapur yang bebas besi. 3) Semen putih. agregat halus harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : 1) Butir-butirannya tajam. 1983). Agregat halus. Menurut Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia. oleh karena itu penggilingan serbuk mahal. kuat dan bersudut. 4 standar ASTM) dan lebih besar dari 0. oleh karena itu kualitas agregat berpengaruh terhadap kualitas beton (Nugroho.M. Brook. agregat halus mempunyai butiran yang lolos ayakan 4. Selain persyaratan teknis yang harus dipenuhi.075 mm. Jenis semen ini tidak mengandung alkali dalam komposisinya. hal lain yang perlu diperhatikan dalam pemilihan jenis agregat beton mengacu pada Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI) tahun 1971 N. kerikil.

2) Agregat tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1% (ditententukan terhadap berat kering). 3) Tidak mengandung zat-zat yang merusak beton. Air Air merupakan bahan pembuat beton yang sangat penting. tidak hancur. 5) Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir yang beraneka ragam besarnya. 6) Besar butir agregat maksimum tidak boleh lebih dari 1/5 jarak terkecil antar bidang samping cetakan. Agregat kasar bersifat kekal. serta untuk menjadi bahan pelumas antara butir-butir agregat agar lebih mudah dikerjakan dan dipadatkan. 4) Tidak mengandung zat organik karena dapat mengurangi mutu beton. Air diperlukan untuk bereaksi dengan semen. seperti zat-zat yang reaktif alkali. 2b). Agregat kasar adalah kerikil sebagai disintegrasi alami batuan atau berupa batu pecah yang diperoleh dari industri pemecah batu dan mempunyai ukuran antara 5 sampai 40 mm. 3. maka jumlah butir pipih tidak boleh lebih 20% dari agregat seluruhnya. 7) Agregat harus mempunyai sifat reaktif terhadap alkali. tahun 1982. 5) Harus mempunyai variasi besar butir atau gradasi yang baik. Menurut persyaratan umum bahan bangunan di Indonesia. Untuk . 6) Bersifat kekal. Agregat kasar. Agregat kasar yang akan dicampurkan sebagai adukan beton harus mempunyai syarat mutu yang ditetapkan. maka agregat harus memenuhi syarat sebagai berikut : 1) Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir keras dan tidak berpori apabila agregat kasar mengandung butir pipih. 4) Kekerasan dari butir-butir agregat kasar diperiksa dengan bejana penguji Los Angeles.18 3) Tidak mengandung garam yang menghisap air udara. bila kadar lumpur lebih dari 1% agregat harus dicuci. yaitu tidak hancur oleh pengaruh cuaca. 1/3 tebal plat atau ¾ jarak bersih minimum antara batang tulangan.

kelenturan plastis.19 bereaksi dengan semen. 5. Selain itu dapat menurunkan kekuatan beton. kaolin dan tepung batu menguntungka untuk beton tumbuk yang kasar/kaku. kapur.5 gram/liter. 30 US Standar Sieve dan 65% lewat ayakan No. bentonite. Bahan pengisi (Filler) Bahan pengisi adalah suatu bahan berbutir halus yang lewat ayakan No. Didalam peranannya sebagai pengisi. c) Air tidak boleh mengandung Chlorida (Cl) lebih dari 0. kelebihan air juga dapat memberikan penyusutan yang besar pada beton. Dapat ditambahkan bahwa flyash dan slag (sisa benda tambang) yang berasal dari dapur etus dapat digolongkan sebagai pengisi pori-pori meskipun bahan ini digunakan karena sifat pozolannya.(Sukandarrumidi. Pemakaian bahan pengisi berpengaruh pada kekuatan. Selain itu air juga digunakan untuk perawatan beton dengan cara pembasahan setelah pengecoran. Abu arang briket adalah abu terbang limbah pembakaran batubara yang keluar dari tabung pembakaran. Bahan filler dapat berupa abu batu. 200. Pemakaian air yang terlalu banyak akan menimbulkan gelembung air sehingga beton menjadi porous. 1996). Persyaratan air yang digunakan dalam campuran beton adalah sebagai berikut : a) Air tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 2 gram/liter. jumlah rongga udara. 1995) . Portland Cement atau bahan lain (Totomiharjo. 4. Sekitarc 20% dalam bentuk abu dasar dan 80% dalam bentuk abu terbang. Abu terbang memiliki ukuran yang blebih halus dan warna lebih terang dari abu dasar. b) Air tidak boleh mengandung garam-garaman lebih dari 15 gram/liter. bahan-bahan seperti kapur padam. Abu arang briket. 1994). (Tjokrodimuljo. Kandungan abu akan tebawa barsama gas pembakaran melalui ruang bakar dan daerah konversi dalam bentuk abu terbang. yang kekurangan partikel halus. permeabilitas dan ketahanan terhadap gaya luar serta pengaruh cuaca. air hanya diperlukan 25% dari berat semen saja. tanah diatomaceous.

SNI. dari sifat bahan tersebut hanya perhitungan awal yang berguna untuk membuat campuran percobaan. 6. Abu ampas tebu bersifat sebagai pengikat dalam campuran beton. Kadar abu batubara di Indonesia biasanya hanya berkisar antara 5%. Abu ampas tebu yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari Pabrik Gula Tasik Madu di Karanganyar Jawa Tengah. Hal ini karena bahan-bahan dasar beton sangat variabel dan banyak. 200. Kuat tekan beton yang disyaratkan ditetapkan sesuai dengan persyaratan perencaaan strukturnya dan kondisi setempat. Adapun langkah-langkah pokok perencanaan campuran dengan metode SK. 1996) adalah sebagai berikut : 1. Di Indonesia yang dimaksudkan dengan kuat tekan beton yang disyaratkan ialah kuat tekan beton dengan kemungkinan lebih rendah dari nilai itu hanya sebesar 5% saja. agar hasil yang diperoleh dari campuran percobaan tidak menyimpang terlalu jauh. Perencanaan Campuran Beton Perencanaan adukan beton pada setiap hasil hitungan harus dikontrol dengan uji coba berupa campuran pekerjaan (trial mixes) untuk memastikan hasilnya. Abu yang terjadi pada pembakaran batubara akan membentuk oksida-oksida. Penetapan nilai deviasi standar (s) . Perencanaan campuran menggunakan metode SK.T-15-1990-03 yang dalam perencanaan ini digunakan tabel-tabel dan grafik.SNI. 2. Na2O.20%. Abu ampas tebu. antara lain : SiO2. CaO. Abu arang briket yang bersifat pozolan merupakan additive mineral yang baik untuk beton.K2O. Penetapan kuat tekan beton yang disyaratkan (f’c) pada umur tertentu. C.T-15-1990-03 (Tjokrodimuljo. MgO.20 Abu arang briket didefinisikan sebagai sisa pembakaran dari tungku pemanas yang dikeluarkan dari ruang perapian suatu ketel uap gas buang yang lolos saringan No. Skatex yang berada di Karanganyar. Fe2O3. Abu ampas tebu adalah hasil sisa penggilingan tebu yang ada di pabrik gula kemudian dibakar. Al2O3. Filler abu arang briket yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari PT.

maka persyaratannya (selain yang disebut diatas) jumlah data hasil uji minimum 30 buah. 1996) 3.6 Cukup 7.3. .0 25 1. Tabel. lihat Tabel.21 Deviasi standar ditetapkan berdasarkan tingkat mutu pengendalian pelaksanaa pencampuran betonnya.03 20 1. Tingkat pengendalian mutu pekerjaan Sd (Mpa) 2. Jika pelaksana tidak mempunyai catatan/pengalaman hasil pengujian beton pada masa lalu yang memenuhi persyaratan (termasuk data hasil uji kurang dari 15 buah). Jika pelaksana mempunyai catatan data hasil pembuatan beton serupa pada masa yang lalu. maka nilai margin langsung diambil sebesar 12 MPa. Penghitungan nilai tambah (margin) (M) Jika nilai tambah ini sudah ditetapkan sebesar 12 Mpa maka langsung ke langkah (4). Faktor pengali deviasi standar Jumlah data Faktor pengali 30 1.0 Jelek 8.2 Baik 5.III. Tabel. Jika jumlah hasil uji kurang dari 30 buah maka dilakukan koreksi terhadap nilai deviasi standar dengan suatu faktor pengali.4 Tanpa kendali (Tjokrodimuljo.5 Sangat baik 4.2. SNI.16 <15 Lihat butir b (SK. Makin baik mutu pelaksanaan makin kecil nilai standar deviasi standarnya.8 Memuaskan 3.08 15 1. Nilai deviasi standar untuk berbagai tingkat pengendalian mutu pekerjaan. untuk pembuatan beton mutu sama dan menggunakan bahan dasar yang sama pula.III. III. T-15-1990-03) b. (f’c+12). Penetapan nilai standar deviasi standar ini berdasar pada pengalaman praktek pelaksanaan pada waktu yang lalu. 2. Satu data hasil uji kuat tekan adalah hasil rata-rata dari uji tekan dua silinder yang dibuat dari contoh beton yang sama dan diuji pada umur 28 hari atau umur pengujian lain yang ditetapkan. a.

MPa = nilai tambah. Mpa f’c M = kuat tekan yang disyaratkan. atau dengan kata lain sering disebut semen cepat mengeras. IV dan V. 6. yaitu jenis I. .64 Sd = deviasi standart ( Mpa ) 4. Menetapkan kuat tekan rata-rata yang direncanakan Kuat tekan beton rata-rata yang direncanakan diperoleh dengan rumus : f’cr = f’c+ M dengan : f’cr = kuat tekan rata-rata. MPa 5. adapun jenis III merupakan jenis semen yang dipakai untuk struktur yang menuntut persyaratan kekuatan awal yang tinggi. Tetapkan faktor air semen dengan salah satu dari dua cara berikut : a. Sd dengan : M = nilai tambah ( Mpa ) k = tetapan statistic yang nilainya tergantung pada prosentase hasil uji yang lebih rendah dari f’c. II. Jenis I merupakan jenis semen biasa. III. Pada langkah ini ditetapkan apakah dipakai semen biasa atau semen yang cepat mengeras. 7. Berdasarkan jenis semen yang dipakai dan kuat tekan rata-rata silinder beton yang direncanakan pada umur tertentu ditetapkan nilai faktor air semen. Penetapan jenis agregat Jenis kerikil dan pasir ditetapkan apakah berupa agregat alami (tak dipecahkan) ataukah agregat jenis batu pecah (crushed aggregate). dalam hal ini diambil 5 % dari nilai k = 1.22 Jika nilai tambah dihitung berdasarkan nilai deviasi standar Sd maka dilakukan dengan rumus berikut : M = k . Penetapan jenis semen Portland Menurut PUBI 1982 di Indonesia semen Portland dibedakan menjadi 5 jenis.

6 lihat tabel. T-15-1990-03) .5 dan jenis semen dan agregat kasar yang biasa dipakai di Indonesia Jenis semen Semen portland tipe I atau semen tahan sulfat tipe II. III. terlindung dari hujan dan terik matahari langsung Beton yang masuk ke dalam tanah : a. lihat Tabel. Jika nilai faktor air semen maksimum ini lebih rendah dari langkah (7) maka nilai faktor air semen maksimum ini yang dipakai untuk perhitungan selanjutnya. Perkiraan kuat tekan beton dengan faktor air semen 0. 4.52 0.60 0.23 b. 5. SNI. III. Tabel. 5. IV Semen Portland tipe III Jenis agregat kasar Batu tak dipecahkan Batu pecah Batu tak dipecahkan Batu pecah Batu tak dipecahkan Batu pecah Batu tak dipecahkan Batu pecah Kekuatan tekan (Mpa) Bentuk Pada umur (hari) benda uji 3 7 28 91 17 23 33 40 Silinder 19 27 37 45 Kubus 20 28 40 48 Silinder 23 32 45 54 Kubus 21 28 38 44 Silinder 25 33 44 48 Kubus 25 31 46 53 Silinder 30 40 53 60 Kubus (SK. keadaan keliling korosif b. tidak terlindung dari hujan dan terik matahari langsung b. III.60 0. mengalami keadaan basah dan kering berganti-ganti b. T-15-1990-03) 8.52 lihat tabel. ditetapkan nilai faktor air semen.60 0. III. III. SNI. Tabel. dapat terpengaruh sulfat dan alkali dari tanah Beton yang kontinue berhubungan : air tawar dan air laut (SK. Penetapan faktor air semen maksimum dapat dilihat pada Tabel. maka perlu ditetapkan nilai faktor air semen maksimum. Penetapan faktor air maksimum Agar beton yang diperoleh tidak cepat rusak misalnya. keadaan keliling korosif disebabkan oleh kondensasi atau uap korosif Beton diluar ruangan bangunan : a. III. 7 Beton didalam ruang bangunan : a. Persyaratan jumlah semen minimum dan faktor air semen maksimum untuk lingkungan khusus Jenis pembetonan berbagai macam pembetonan dalam Jumlah semen minimum per m3 beton (kg) 275 325 325 275 325 - Nilai faktor semen maksimum 0. Berdasar jenis semen yang dipakai. 4. jenis agregat kasar dan kuat tekan rata-rata yang direncanakan pada umur tertentu.

Ketentuan minimum untuk beton bertulang kedap air Jenis beton Kondisi lingkungan berhubunga n dengan Air tawar Beton bertulang atau prategang Air payau Faktor air semen maksimum 0.5 2. 7.5 290 330 380 0.5 1.2-0. 6.55 250 290 340 0. T-15-1990-03) Tabel.3-1.45 0.50 Air laut 0.55 .9 0.45 Tipe semen Kandungan semen minimum (kg/m3) Ukuran nominal maksimum agregat 40 mm 20 mm 300 280 340 290 330 380 330 370 Tipe I-V Tipe I + pozzolan (15-40%) atau Semen Portland Tipe II atau tipe V (SK. 280 300 350 0.2 < 1.0 < 0.50 0.2 270 310 360 0. Ketentuan untuk beton yang berhubungan dengan air tanah yang mengandung sulfat Konsentrasi sulfat dalam bentuk SO3 Sulfat (SO3) Dalam tanah dlm air tanah (gr/ltr) Total SO3 SO3 (%) dlm camp air : tnh =2:1 (gr/lt) < 0. III.3 Kandungan semen minimal (kg/m3) Ukuran nominal agrgegat maksimum 40 mm Tipe I dengan atau tanpa pozzolan (1540%) Tipe I dengan atau tanpa pozzolan (1540%) Tipe I pozzolan (1540%) atau Semen Portland Pozzolan Tipe II atau tipe V 20 mm 10 mm Kadar gangguan sulfat Tipe semen fas 1.0-1. 0. SNI. III.24 Tabel.

0 (SK.5 5.1 1. 7. balok. 1996) 10. 9.0 3. adapun pemadatan adukan dengan alat getar (triller) dapat dilakukan dengan nilai slam yang agak kecil. Lanjutan Tipe pozzolan 40%) Semen Portland Pozzolan Tipe II tipe V Tipe II tipe V Tipe II tipe V *lapisan pelindung I (15atau 340 380 430 0. T-15-1990-03) 9. 8.5 atau atau atau 290 330 330 330 370 370 380 420 420 0. berdasarkan ukuran maksimum agregat.0 > 2. pengangkutan. jenis agregat.0-2. . pemadatan maupun jenis strukturnya. di lihat pada dibawah ini yaitu table III.2-2.45 0. Nilai slam yang diinginkan dapat dilihat pada Tabel III. plat pondasi dan pondasi Pondasi telapak tidak bertulang. III.0 Minimum 5.9-3.0 7.5-5. dan slam yang diinginkan.0 > 5. 1.5-1. III. Tetapkan jumlah air Jumlah air yang diperlukan permeter kubik beton. 5.1-5. kaison.50 0.0 1.0 2.5 7.0 2.45 3. Penetapan nilai slump Penetapan nilai slam dilakukan dengan memperhatikan pelaksanaan pembuatan.5 Maksimal 12. 0. kolom dan dinding Pengerasan jalan Pembetonan massal 15. Tabel.45 4. dan struktur di bawah tanah Plat.0 > 5.0 2. Cara pengangkutan adukan beton dengan aliran dalam pipa yang dipompa dengan tekanan membutuhkan nilai slam yang besar.5 7. SNI. penuangan. 8.5 9. Penetapan nilai slump (cm) Pemakaian beton Dinding.5 (Tjokrodimuljo.25 Tabel.

Seperlima jarak terkecil antara bidang samping cetakan 12. III. T-15-1990-03) 11. b. Sepertiga kali tebal plat c. Penyesuaian kebutuhan semen Apabila kebutuhan air semen yang didapat dari langkah (12) ternyata lebih sedikit daripada kebutuhan semen minimum (13) maka kebutuhan semen harus dipakai yang minimum (yang nilainya lebih besar). Penetapan besar butir agregat maksimum Penetapan besar butir agregat maksimum dilakukan berdasarkan nilai terkecil dari ketentuan –ketentuan berikut : a. 13. Tiga per empat kali jarak bersih minimum antar baja tulangan atau berkas baja tulangan atau tendon prategang atau selongsong.180 225 250 195 225 175 205 (SK.26 Tabel. misalnya lingkungan korosif. Hitung berat semen yang diperlukan Berat semen per meter kubik beton dihitung dengan membagi jumlah air dari langkah (10) dengan faktor air semen yang didapat dari langkah (7) dan (8). 9.60 205 230 180 210 160 190 60 . Kebutuhan semen minimum ini ditetapkan untuk menghindari beton dari kerusakan akibat lingkungan khusus. SNI..30 180 205 160 190 140 175 30 . Kebutuhan semen minimum Kebutuhan semen minimum ditetapkan dengan tabel. .10 150 180 135 170 115 155 Slam (mm) 10 . Perkiraan kadar air bebas (kg/m3) yang dibutuhkan untuk beberapa tingkat kemudahan pengerjaan adukan beton Besar ukuran maksimal kerikil (mm) 10 Batu tak dipecahkan Batu pecah 20 Batu tak dipecahkan Batu pecah 40 Batu tak dipecahkan Batu pecah Jenis agregat 0 . air payau dan air laut. 14.

79 12 .50 0 . 10.10 3 100 90 .6 0. Pada langkah ini dicari nilai banding antara berat agregat halus dengan berat agregat campuran.15 Persen berat butir yang lewat ayakan 1 100 90 .30 0 .100 85 . Penetapan dilakukan dengan memperhatikan besar butir maksimumagregat kasar.95 30 .90 35 . 10. Batas gradasi pasir Lubang ayakan (mm) 10 4.34 5 .59 8 .100 80 . dan daerah gradasi agregat halus.2 0.100 90 . 16.70 15 . nilai slam. Perbandingan agregat halus dan agregat kasar Nilai perbandingan antara berat agregat halus dan agregat kasar diperlukan untuk memperoleh gradasi agregat campuran yang baik. Tabel. SNI.10 2 100 90 . Penentuan daerah itu didasarkan atas grafik gradasi yang diberikan dalam Tabel.100 55 .100 60 . faktor air semen dihitung kembali dengan cara membagi jumlah air dengan jumlah air minimum. Penentuan daerah gradasi agregat halus Berdasarkan gradasinya (hasil analisis ayakan) agregat halus yang akan dipakai dapat diklasifikasikan menjadi 4 daerah. Dalam hal ini dapat dilakukan dengan cara berikut : a.100 95 .40 0 – 10 4 100 90 . III. Penyesuaian jumlah air atau faktor air semen Jika jumlah semen ada perubahan akibat langkah (14) maka faktor air semennya berubah.100 75 .20 0 . III.8 2. Jumlah air disesuaikan dengan mengalikan jumlah semen dengan faktor air semen. T-15-1990-03) 17. faktor air semen.100 60 . Catatan : cara pertama akan menurunkan faktor air semen sedangkan cara kedua menaikan jumlah air yang diperlukan.100 15 .15 (SK.27 15.100 75 . . b.3 0.4 1.

namun jika tidak ada dapat diambil sebesar 2. berdasarkan hasil langkah (17) dan (20) Kebutuhan agregat halus dihitung dengan cara mengalikan kebutuhan agregat campuran dengan persentase berat agregat halusnya. berdasarkan hasil langkah (20) dan (21) Kebutuhan agregat kasar dihitung dengan cara mengurangi kebutuhan agregat campuran dengan kebutuhan agregat halus. Penentuan berat jenis beton Dengan data berat jenis agregat campuran dari langkah (18) dan kebutuhan air tiap meter kubik betonnya maka dengan grafik hubungan kandungan air. berat jenis agregat campuran dan berat beton dapat diperkirakan berat jenis betonnya. Hitung berat agregta halus yang diperlukan. 19. Hitung berat agregat kasar yang diperlukan.60 gr/cm3untuk agregat tak pecah/alami dan 2. .70 gr/cm3 untuk agregat pecahan. Kebutuhan agregat campuran Kebutuhan agregat campuran dihitung dengan cara mengurangi berat beton permeter kubik dikurangi kebutuhan air dan semen. 21. Berat jenis agregat campuran Berat jenis agregat campuran dihitung dengan rumus : Bj camp = Dengan : Bj campuran Bj agregat hls Bj agregat ksr P K = = = = = Berat jenis agregat campuran Berat jenis agregat halus Berat jenis agregat kasar Persentase agregat halus terhadap agregat campuran Persentase agregat kasar terhadap agregat campuran P K x Bj agregat halus + x Bj agregat kasar 100 100 Berat jenis agregat halus dan agregat kasar didapat dari hasil pemeriksaan laboratorium. 22. 18.28 Berdasarkan data tersebut dan grafik persentase agregat dapat diperoleh persentase agregat halus terhadap berat agregat campuran. 20.

c. Adapun langkah-langkah pengujian sebagai berikut : a. sehingga dilapangan yang pada umumnya keadaan agregatnya tidak jenuh kering muka maka harus dilakukan koreksi terhadap kebutuhan bahannya.Da ) x D/100 D. Prosedur pengujian kuat tekan beton menggunakan Standart Test Methode For Commpressive of Cylindrical Concrete. . Koreksi harus selalu dilakukakan minimum satu kali per hari. pemadatan dan perawatan) dan umur beton (Tjokrodimuljo. 3. 2. Kuat Tekan Beton Untuk mengetahui kuat tekan beton yang telah mengeras yang disyaratkan. ukuran maksimum batuan. dilakukan pengujian kuat tekan beton. gradasi batuan. Kuat tekan beton antara lain tergantung pada : faktor air semen. Benda uji diletakkan pada mesin penekan dan posisinya diatur agar supaya tepat berada ditengah-tengah plat penekan. d. bentuk batuan. Beban maksimum yang ditunjukkan oleh jarum petunjuk dicatat.( Dk . Dimana : B C D Ca Da Ck Dk = jumlah air (kg/m3) = jumlah agregat halus (kg/m3) = jumlah kerikil (kg/m3) = absorpsi air pada agregat halus (%) = absorpsi agregat kasar (%) = kandungan air dalam agregat halus (%) = kandungan air dalam agregat kasar (%) Air Agregat halus Agregat kasar = B – ( Ck .29 Dalam perhitungan diatas agregat halus dan agregat kasar dianggap dalam keadaan jenuh kering muka. 1. 1996).Ca ) x C/100 . pengangkutan. Benda uji ditimbang dan dicatat beratnya. cara pengerjaan (campuran. b.Da ) x D/100 = C + ( Ck – Ca ) x C/100 = D + ( Dk . Pembebanan dilakukan secara perlahan-lahan secara continue dengan mesin hidrolik sampai benda uji mengalami kehancuran (jarum petunjuk berhenti kemudian salah satunya bergerak turun).

30

Menurut Murdock dan K.M. Brook (1991), beton dapat mencapai kuat tekan 80 MPa atau lebih, bergantung pada perbandingan air dan semen dan tingkat pemadatannya. Di samping dipengaruhi oleh perbandingan air dan semen kuat beton juga dipengaruhi oleh faktor lainnya, yaitu : jenis semen, kualitas agregat, efisiensi perawatan, umur beton dan jenis bahan admixture. Kuat tekan beton f’c =

dengan : d

Pmaks P ………………………………………..(III.1) = 1 A 2 .π.d 4

Pmaks = beban maksimum (N) = diameter silinder beton (mm2)
E. Kuat Tarik Beton

Kuat tarik beton adalah kemampuan beton yang diletakkan pada dua perletakan untuk menahan gaya dengan arah tegak lurus sumbu benda uji, yang diberikan padanya, sampai benda patah dan dinyatakan dalam Mega Pascal (MPa) gaya tiap satuan. Peralatan yang dipakai adalah mesin tekan beton yang dapat menguji kuat tarik yang dilengkapi dengan 2 jarum pembacaan beban, 2 buah perletakan benda uji berbentuk titik, dan 2 buah titik pembebanan, ketelitian pembacaan sebesar 12,5 kg. Alat bantu lain berupa timbangan kapasitas 50 kg dengan ketelitian 0,01 %, pengukuran panjang dan jangka sorong. Adapun langkah pengujian sebagai berikut : a. Ukur dimensi penampang benda uji. b. Timbang berat benda. c. Buat garis melintang sebagai penunjuk untuk perletakan dan titik pembebanan. d. Pasang 2 perletakan serta alat pembebanan. e. Letakkan benda uji diatas tumpuan. f. Hidupkan mesin uji tekan. g. Atur pembebanan dengan kecepatan 8-10 kg/cm2 per menit. h. Hentikan pembebanan setelah beban maksimum tercapai.

31

Kuat tarik beton antara lain tergantung pada : faktor air semen, gradasi batuan, bentuk batuan, ukuran maksimum batuan, cara pengerjaan (campuran, pengangkutan, pemadatan dan perawatan) dan umur beton (Tjokrodimuljo, 1996). Kuat tarik beton f’cr =

2.P ………………………………………………. (III.2) π.d.h

dengan:
P = beban maksimum (N) d = diameter silinder (mm) h = tinggi silinder (mm)

BAB IV METODE PENELITIAN A. Umum Pelaksanaan penelitian dilakukan secara eksperimental, yang dilakukan di Laboratorium Bahan dan Struktur, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. Obyek dalam penelitian ini adalah beton yang menggunakan bahan tambah filler abu ampas tebu dengan abu arang briket. Pengujian kuat tekan dan tarik dilakukan setelah beton berumur 14 hari di Laboratorium Bahan dan Struktur, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. B. Bahan Penelitian dan Peralatan Penelitian 1. Bahan penelitian Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : a) Semen yang digunakan adalah semen Portland jenis I, merk Holcim b) Agregat halus berupa pasir, berasal dari Boyolali. c) Agregat kasar berupa batu pecah, berasal dari Boyolali. d) Air yang digunakan diambil dari Laboratorium Bahan dan Struktur, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. e) Bahan tambah filler abu arang briket berasal dari PT. Skatex di Karanganyar dan abu ampas tebu berasal dari PG. Tasik Madu di Karanganyar. 2. Peralatan penelitian Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini tersedia di Laboratorium Bahan dan Struktur, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. Peralatan-peralatan yang digunakan terdiri atas : a) Ayakan standart, untuk memisahkan agregat sesuai ukuran yang diinginkan. b) Penggetar ayakan (Siever), untuk menggetarkan ayakan agregat dapat terpisahkan sesuai lubang ayakan yang diinginkan. c) Timbangan, untuk mengukur benda uji sesuai yang diinginkan. d) Gelas ukur, untuk pemeriksaan kadar Lumpur dan pemeriksaan bahan organik.

32

5 mm.1. 0.1.1. untuk mengukur benda jenis pasir yang digunakan sebagai bahan penyusun beton.6 mm. untuk pengujian Slump. untuk mengaduk campuran beton.36 mm. untuk mengeringkan agregat. 9. Saringan dipasang dari ukuran terbesar hingga lubang terkecil dan paling bawah adalah pan. penggaris. i) Molen. h) Mesin uji Los Angeles. 12. Ayakan standart.75 mm. k) Bak tempat perendaman benda uji. Satu set ayakan dapat dilihat pada Gambar IV. 0. Satu set ayakan dan Siever . cetok. 4. Ayakan digunakan pada uji gradasi yang terdiri dari saringan dengan ukuran : 19 mm.18 mm. 1.15 mm dan pan. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. siku. untuk pengujian agregat kasar. ember. 2b). g) Volumetric Flash. untuk pengujian tekan dan tarik. m) Peralatan penunjang lain seperti tongkat baja.5 mm. Penggunaan dan gambar alat-alat tersebut di atas adalah sebagai berikut : 2a). Alat ini digunakan untuk menggetarkan ayakan yang berisi agregat agar terdistribusi sesuai dengan ukuran butirnya. j) Kerucut Abram’s.33 e) Oven. Penggetar ayakan (siever). 0. f) Desicator. dan bak perendam sample. untuk menjaga suhu kamar agregat setelah dioven. Alat ini digetar dengan tenaga listrik selama 15 menit. l) Mesin uji tekan. Gambar IV. 2.3 mm.

2.3. pasir dan batu pecah sebagai bahan beton sebelum dicampur dan juga untuk penimbangan berat benda uji sebelum dilakukan uji tekan dan tarik beton.34 2c). Timbangan. Timbangan besar . Sedangkan timbangan besar digunakan untuk menimbang semen. Timbangan kecil digunakan untuk menimbang briket.2. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Timbangan yang digunakan adalah timbangan kecil dengan digital yang mempunyai kapasitas 3 kg dan timbangan besar dengan kapasitas 100 kg. Timbangan digital Gambar IV. dan Gambar IV. dan abu ampas tebu.3. Gambar IV.

Gambar IV. Gambar IV.5.4. Kerucut Conus . Gelas ukur 2e). Gelas ukur yang digunakan berkapasitas 1000 cc dan 500 cc. Kerucut Conus.6 cm dan digunakan untuk pengujian SSD (Saturated Surface Dry).4.5.9 cm. Alat dapat dilihat pada Gambar IV.35 2d). tinggi 7.8 cm dan diameter bawah 8. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Alat ini digunakan pada saat pemeriksaaan kadar lumpur dan pemeriksaan bahan organik. Alat ini berbentuk corong dengan ukuran diameter atas 3. Gelas ukur.

6. Manfaat lain alat ini adalah untuk menjaga berat bahan setelah dioven supaya tidak berubah karena pengaruh udara luar.6. dan pemeriksaan kandungan bahan organik. Gambar IV. Oven 2g). Oven. Alat ini digunakan untuk menjaga suhu kamar agregat setelah dioven pada pemeriksaan kadar lumpur. Alat ini digunakan untuk mengeringkan agregat kasar pada waktu pemeriksaaan kadar lumpur pasir. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV.36 2f).7.7. pemeriksaan berat jenis dan penyerapan pada agregat. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Gambar IV. Desicator. Desicator . penyerapan dan berat jenis agregat.

Gambar IV. Alat ini digunakan untuk pengujian keausan agregat kasar. Alat yang berkapasitas 500 cc ini digunakan untuk pemeriksaan berat jenis serta penyerapan agregat halus. Volumetric Flash. dengan merk SINGLE . Mesin pengaduk campuran beton mempunyai kapasitas 1 m3.37 2h). Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Gambar IV. Dengan alat ini dimaksudkan agar campuran yang terjadi lebih homogen dan dapat mempersingkat waktu pelaksanaan dibanding dengan pengadukan manual.9. Mesin Los Angeles 2j).8. Alat ini digunakan untuk pembuatan adukan beton.8. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV.9. Molen. Volumetric flash 2i). Mesin uji Los Angeles.

Kerucut Abram’s dan tongkat baja. alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV.11. Tongkat baja mempunyai ukuran panjang 60 cm dan diameter 16 mm. Alat ini digunakan untuk pengujian slump pembuatan benda uji. 2l).10. Alat ini mempunyai diameter atas 10 cm. Gambar IV.38 PHASE MOTOR Type JY1B-2. digunakan untuk pengujian slump dan pemadatan beton segar yang dicetak pada cetakan silinder.10.11. buatan Cina pada tahun 1987. Tongkat baja. . diameter bawah 20 cm dan tinggi 30 cm. Kerucut Abram’s.11. Gambar IV. Molen 2k). Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV.

Bak yang berisi air untuk merawat benda uji silinder sampai umur yang direncanakan. pemeriksaan rasio pasir – agregat total dan pembuatan benda uji. Untuk alat yang ada di Laboratorium Bahan dan Struktur. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Alat ini berukuran diameter 15 cm dan tinggi 30 cm. Bak tempat perendaman benda uji 2o). Alat tersebut dapat dilihat pada Gambar IV.12. Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret memiliki kapasitas 1500 kN dan 2000 kN dengan merk Mylano Italy. Cetakan silinder 2n).12. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV.13. .39 2m). Alat ini digunakan untuk pemeriksaan berat satuan. Mesin uji tekan. Gambar IV. digunakan untuk mencetak beton mutu tinggi. Alat ini digunakan untuk menguji kuat tekan beton. Gambar IV. Cetakan silinder. Bak tempat perendaman benda uji.14.13.

Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. seperti tercantum dalam bentuk bagan alir pada Gambar IV.15.40 Gambar IV. Gambar IV. cangkul dan kawat bendrat untuk membantu pembuatan benda uji. ember.15. Mesin uji tekan dan tarik merk Mylano Italy 2p). sekop.14.1. Peralatan penunjang lain C. Peralatan penunjang lain yang digunakan antara lain cetok. Tahapan Penelitian Penelitian dilaksanakan terbagi atas lima tahap. Adapun tahap penelitian tersebut dijelaskan seperti uraian berikut ini : . Peralatan penunjang lain.

Tahap II : Pemeriksaan bahan dasar Sebelum digunakan dalam pembuatan campuran. Selanjutnya dibuat adukan beton sesuai dengan proporsi masing-masing bahan. pembuatan benda uji dan perawatan beton. dilakukan uji visual. pengujian gradasi batu pecah. 4. 3. Setelah dilepas dari cetakan.SNI.41 1. Prosedur pengujian kuat tekan . pemeriksaan berat satuan volume. Tahap IV : Pengambilan data Pada tahap ini dilakukan pemeriksaan berat jenis beton dan pengujian kuat tekan beton benda uji silinder pada umur 14 hari.agregat total. maka dilakukan pemeriksaan terhadap rasio pasir . bahan tambah filler arang briket dan abu ampas tebu) di Laboratorium Bahan dan Struktur. Benda uji dibuat dengan cetakan silinder beton. Fakultas Teknik. Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan zat organik dalam pasir. Tahap I : Persiapan alat dan penyediaan bahan Tahap ini merupakan tahap persiapan penelitian di laboratorium yang meliputi persiapan alat diantaranya yaitu menyiapkan cetakan silinder ukuran diameter 15 cm tinggi 30 cm yang terbuat besi dan penyediaan bahan susun beton (semen. pemeriksaan SSD pasir. batu pecah. maka pada tahap ini dilakukan pengujian terhadap bahan dasar beton berupa pasir dan batu pecah. Sedangkan untuk semen dan air yang dipakai. dan pemeriksaan kadar keausan batu pecah. Perbandingan jumlah proporsi bahan campuran beton ditentukan/dihitung dengan menggunakan Metode SK.T-15-1990-03. Tahap III : Penyediaan benda uji Tahap ini merupakan tahap perencanaan campuran beton. pasir. pemeriksaan kadar lumpur pada pasir dan batu pecah. Jurusan Teknik Sipil. benda uji silinder tersebut direndam dalam bak perendaman yang berisi air selama 14 hari. pemeriksaan specific gravity dan absorption pasir dan batu pecah. Setelah bahanbahan dasar beton memenuhi persyaratan yang sudah ditentukan. 2. Universitas Sebelas Maret. dan dilakukan pengujian slump sampai berhasil baik.

1) V γc W V = berat jenis beton (gr/cm3) = berat beton (gr) = volume silinder beton (cm3) Kuat tekan beton dihitung dengan rumus sebagai berikut : f c' = Pmaks P = maks 2 ………………………………………………. yang kemudian dapat ditarik beberapa kesimpulan penelitian. Berat jenis beton dihitung dengan rumus sebagai berikut : γc = dengan : W ……………………………………………………………(IV. Pembebanan dilakukan secara perlahan-lahan dengan mesin hidrolik sampai benda uji mengalami keretakan atau kehancuran (jarum penunjuk bergerak kembali ke arah semula). Menimbang dan mencatat berat benda uji silinder sebelum dilakukan pembebanan. d). Meletakkan benda uji silinder pada alat penekan dan diatur posisinya agar tepat berada di tengah-tengah pelat penahan. dengan langkah-langkah sebagai berikut : a).42 dan kuat tarik mengacu pada standard ASTM C 39 – 86. Mencatat beban maksimum yang ditunjukkan jarum penunjuk. . Mengukur dan mencatat dimensi benda uji silinder beton. b). Analisis tersebut merupakan pembahasan dari hasil penelitian. c).2) A 1 / 4πd dengan : f c' Pmaks A d = kuat tekan beton (MPa) = beban maksimum (N) = luas permukaan benda uji yang ditekan (mm2) = diameter silinder beton (mm) 5.. Tahap V : Analisis data dan kesimpulan Dari hasil pengujian yang dilakukan pada Tahap IV. e).(IV. kemudian dilakukan analisis data.

16.43 Mulai Persiapan alat dan bahan Tahap I Semen Agregat halus Agregat kasar Ampas tebu dan filler arang briket lolos ayakan no.200 Air diganti kadar lumpur kandungan organik gradasi pasir specific gravity dan absorption Uji visual Tidak baik Memenuhi syarat gradasi agregat kasar berat satuan volume specific gravity dan absorption keausan Uji visual Uji visual Perbaikan kualitas/diganti diganti Tidak baik Tidak baik baik baik baik baik Tahap II Rencana campuran (mix design) Pembuatan adukan beton Tidak memenuhi syarat Slump test Memenuhi syarat Pembuatan benda uji Perbaikan komposisi campuran Perawatan (curing) Tahap III Pengujian kuat tekan dan tarik beton Tahap IV Pengolahan data Analisis data Kesimpulan dan saran Tahap V Selesai Gambar IV. Bagan Alir Tahapan Penelitian .

Adapun bahan-bahan yang akan diperiksa antara lain pasir. 1.44 D.(IV. Menimbang pasir yang berada dalam cawan tersebut. Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui kandungan lumpur pada pasir sehingga diperoleh kualitas beton yang bermutu. Menyediakan pasir yang akan diuji seberat 500 gram (H0). (7). Adapun langkah-langkah pemeriksaan kadar lumpur pada pasir adalah sebagai berikut : (1).063 mm.3) H0 . (4). Setelah pasir kering. (2). Kadar lumpur dihitung dengan rumus sebagai berikut : K= H 0 − H1 x100% ………………………………………………. (5). Memasukkan pasir ke cawan dan memasukkan ke dalam oven selama 24 jam pada suhu 105° C. pasir beserta cawan ditimbang dengan berat 893 gram. (3). Adapun pelaksanaan penelitian tersebut diuraikan seperti berikut ini. batu pecah. Hal ini dilakukan berulang-ulang dengan mengganti air yang sudah keruh dengan yang air yang baru sampai benar-benar jernih.C. Memasukkan pasir ke dalam gelas ukur. (6). Pemeriksaan kadar lumpur pada pasir. Yang dimaksud lumpur adalah bagian yang lolos ayakan 0. gelas ukur. Menyediakan cawan dan menimbangnya. cawan dan timbangan digital. Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini dilaksanakan sesuai dengan tahap-tahap yang telah dijelaskan pada Bab IV. Memasukkan pasir ke dalam cawan kemudian di oven lagi selama 24 jam pada suhu 105° C. diperoleh 474 gram (H1) (8). Jenisjenis pemeriksaan bahan sebelum digunakan adalah sebagai berikut: 1a). kemudian diberi air dan dikocokkocok. kemudian didapat berat 393 gram. Pemeriksaan bahan Pemeriksaan bahan digunakan sebagai pedoman dalam perancangan adukan beton dan kelayakan bahan untuk campuran beton. Alat-alat yang digunakan antara lain : oven. dan agregat campuran.

Menuangkan larutan NaOH 3% ke dalam gelas ukur sampai volume tetap 200 cc. desicator. kemudian dimasukkan ke dalam dua buah cawan. . Hasil pengamatan diperoleh warna kuning kecoklatan jadi pasir yang akan digunakan tidak banyak mengandung zat organik. Gelas ukur dikocok-kocok sehingga larutan NaOH 3% dapat tercampur secara merata. kemudian didiamkan selama 24 jam. Pemeriksaan zat organik pada pasir. Adapun langkah-langkah pemeriksaan zat organik pada pasir adalah sebagai berikut : (1). Memasukkan pasir ke dalam gelas ukur yang berkapasitas 500 cc. (5). Setelah 24 jam warna diamati dan dibandingkan dengan standard warna yang berlaku. cawan dan larutan NaOH 3%. 1b). (4). (2).5 x100% 100 K H0 H1 = kandungan lumpur = berat pasir mula-mula (gr) = berat pasir setelah dicuci (gr) K= 5 % dengan : Perhitungan pada pemeriksaan kadar lumpur pasir ini dapat dilihat pada Lampiran IV. (6). Pemeriksaan zat organik dalam pasir bertujuan untuk mengetahui sifat kandungan bahan organik yang terdapat pada pasir sehingga dapat diketahui kelayakannya sebagai campuran beton. Memasukkan pasir kedalam gelas ukur sebanyak 130 cc. gelas ukur. Alat-alat yang digunakan antara lain : oven.1.45 K= 100 − 95. Mendinginkan pasir ke dalam desicator selama 15 menit sehingga mencapai suhu ruang. Pasir dikeringkan dengan dimasukkan ke dalam oven selama 24 jam pada suhu 105° C. (3). (7). (8).

(2). tongkat penumbuk.6 3. (5). Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kekeringan pasir yang sebenarnya (kekeringan permukaan) yang dapat digunakan dalam campuran beton. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.8 12. Dilakukan variasi tumbukan pada percobaan. .65 Hasilnya lebih kecil dari setengah tinggi pasir mula-mula sehingga pasir tersebut sudah dalam keadaan SSD. (4).1. Penurunan tinggi pasir(cm) Percobaan Jumlah Sample A Sample B I 15 3. sendok datar dan penggaris.1 sebagai berikut: Tabel IV.2 4. Menghitung penurunan rata-rata dari masing-masing percobaan sehingga diperoleh hasil pada Tabel IV. 1c). Menumbuk permukaan pasir dalam kerucut dengan tongkat penumbuk secara gravitasi ± 5 cm dari atas permukaan pasir.3.2.4 III 30 4. Pemeriksaan Saturated Surface Dry (SSD) pasir.3 4. Kerucut conus diangkat perlahan-lahan ke arah vertikal kemudian dicatat penurunan pasir yang terjadi. Alat-alat yang digunakan antara lain : kerucut conus. Tabel hasil penurunan SSD pasir. Langkah-langkah pengujian SSD pasir adalah sebagai berikut : (1). (3). Meletakkan kerucut conus di tempat yang datar dan mengisikan pasir ke dalam kerucut conus hingga penuh. Pasir yang akan diuji diangin-anginkan terlebih dahulu. 20 kali dan 25 kali.65 Diperoleh hasil SSD pasir = 3 = 4.55 4.22 cm Rata-rata Penurunan(cm) 3.5 II 20 4.7 Jumlah penurunan rata-rata 12.46 Hasil pemeriksaan kandungan bahan organik pasir dapat dilihat pada Lampiran IV. Setiap percobaan dilakukan sebanyak dua kali pengujian.9 4. yaitu dengan 15 kali.

.. B+A−C 477 699............ Membuang airnya kemudian pasir diambil kemudian dioven selama 24 jam... lalu dikocok-kocok sampai hilang gelembung-gelembung udara dalam pasir. diperoleh 964 gram (C) dan didiamkan selama 24 jam....... (2)......... didapat sebesar 494............... Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui berat jenis dan daya penyerapan air oleh pasir........................4) = 2..4) ..... Berat jenis dan penyerapan agregat dihitung dengan rumus sebagai berikut: Berat jenis kering (bulk specific gravity) : = = D .. (4)... panci dan timbangan digital.. Pemeriksaan specific gravity dan absorption pasir......47 1d)... Menimbang volumetric flash dan air sesuai garis batas....................27 (IV.. selanjutnya ditimbang.. Alat-alat yang digunakan adalah : volumetric flash.....59 gram/cm3 Penyerapan (absorption) : p= A− D x 100% ................... didapat 652 gram (B)...... Menyediakan pasir pada kondisi SSD sebanyak 500 gram (A) dan dimasukkan ke dalam volumetric flash.................. Langkah-langkah Pemeriksaan specific gravity dan absorption pasir adalah sebagai berikut : (1)..... kemudian ditambah dengan air sampai garis batas.............44 gram (D)....27 (IV.........4) = 2... (3).42 + 500 − 1006................. Menimbang sample setelah dioven selama 24 jam...... B+A−C 500 699......................................42 + 500 − 1006........ D (IV.. oven.....47 gram/cm3 Berat jenis kering permukaan jenuh air (bulk specific gravity SSD) : = = A ....... (5).....

Modulus halus butir Jumlah persentase kumulatif tertahan 100 293. Menimbang pasir pada tiap-tiap ayakan dan kemudian dihitung modulus halus butirnya. 1e). 4. Menyediakan pasir uji kering oven sebanyak 500 gram. 0.46 100 = = = 2. Alat-alat yang digunakan antara lain : satu set ayakan dengan ukuran 9. Pemeriksaan gradasi pasir bertujuan untuk mengetahui distribusi ukuran butiran pasir modulus halus butirnya.36 mm. Langkah-langkah pemeriksaan gradasi pasir adalah sebagai berikut : (1).6. 1. 0.4. .48 p= 500 − 477 x 100 % = 4.6 mm.18 mm.15 mm. timbangan digital. pan. Menyiapkan ayakan dan menimbang masing-masing ayakan. Memasukkan pasir uji ke dalam ayakan dan digetarkan dengan siever selama 15 menit. (2). (4). Menyusun ayakan secara urut dari ukuran terbesar sampai ukuran terkecil dan paling bawah adalah pan.5 mm. (3). 0.3 mm. (5).75 mm.82 % 477 A B C D = berat pasir SSD (gr) = berat volumetricflash + air (gr) = berat volumetricflash + air + pasir (gr) = berat pasir tungku kering (gr) = penyerapan (%) hasil penelitian secara lengkap bisa dilihat pada dengan : p Perhitungan Lampiran IV. 2. siever dan cetok. Pemeriksaan gradasi pasir.93 Untuk hasil perhitungan pemeriksaan gradasi pasir dapat dilihat pada Lampiran IV.

Alat-alat yang digunakan antara lain : mesin Los Angeles. Mengeluarkan batu pecah dari mesin Los Angeles kemudian diayak dengan ayakan ukuran 2 mm. Semakin kecil nilai abrasi maka semakin baik agregat tersebut untuk digunakan sebagai campuran beton. Menyediakan batu pecah lolos ayakan 19. (2).5 mm dan tertahan 9.5 mm sebanyak 2500 gr. Langkah-langkah pemeriksaan keausan agregat kasar adalah sebagai berikut : (1). 12. Pemeriksaan keausan agregat kasar.4985 x100% 5000 = 0..3 % . (6). Memasukkan semua batu pecah yang sudah disediakan yaitu 2500 + 2500 = 5000 gram (A) beserta bola-bola baja sebanyak 11 buah ke dalam mesin Los Angeles. (3). Menimbang batu pecah.5 mm. (4).(IV. kemudian diputar dengan kecepatan 30 – 35 rpm sebanyak 500 putaran. (5). Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui keausan agregat kasar dan mengetahui daya tahan agregat terhadap degradasi atau perpecahan. 9. ayakan ukuran 2 mm atau yang mendekati.5 gram (B) kemudian dihitung nilai keausannya. Batu pecah yang tertahan ayakan ukuran 2 mm tersebut kemudian dicuci dan selanjutnya dikeringkan dengan dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 105° selama 24 jam.5 mm sebanyak 2500 gr. Menyediakan batu pecah lolos ayakan 12. (7). ayakan ukuran 19.0 mm.0 mm dan tertahan 12.7) A 5000 . Keausan agregat dihitung dengan rumus sebagai berikut : Prosentase keausan = = A-B x100% ……………….……………….5 mm dan oven. timbangan.49 1f). didapat 3653.

50 dengan : A B = berat agregat mula-mula (gr) = berat agregat yang tertahan saringan 2 mm setelah dicuci dan dioven (gr) Untuk perhitungan keausan agregat selengkapnya bisa dilihat pada Lampiran IV................ oven. kemudian kerikil ditimbang dalam air dan diperoleh berat 649.5 (IV...5 gram (B)..........5 − 1832.. ember perendam dan desicator.. (3)... Mendinginkan batu pecah dengan cara dimasukkan ke dalam desicator selama 15 menit.................. Menyediakan kerikil sebanyak 1000 gram.8) ............8) = 2.5 gram (C). Pemeriksaan oleh agregat kasar....... Merendam kerikil dalam air selama 24 jam... Menimbang kerikil dalam keadaan SSD... lap kering...... Kerikil dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 105° selama 24 jam... (6)....... Adalah sebagai berikut : (1)......... Berat benda uji kering oven 998. A−B 3000 3032... timbangan digital............ diperoleh berat 1014 gram (A)......... (5)....... Berat jenis kering (bulk specific gravity) : = = C .. specific gravity dan absorption batu pecah...5 gram/cm3 Berat jenis kering permukaan jenuh air (bulk specific gravity SSD) : = A . (4).... (2)........... 1g)....................................... Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui berat jenis dan daya penyerapan air Alat-alat yang digunakan antara lain : panci..... A−B (IV........7..... Kerikil diambil dan dibuat dalam keadaan SSD dengan cara dilap menggunakan lap kering. Langkah-langkah Pemeriksaan specific gravity dan absorption batu pecah.

... Hal ini diulang sampai lima kali percobaan. Pemeriksaan berat satuan volume batu pecah ini bertujuan untuk mengetahui berat agregat tiap satuan volume. Memasukan batu pecah ke dalam silinder baja secara bertahap sebanyak tiga lapis (masing-masing lapis diisi batu pecah kemudian ditumbuk dengan tongkat baja sebanyak 25 kali dan diratakan permukaannya)..... Langkah-langkah pemeriksaan berat satuan volume batu pecah adalah sebagai berikut : (1)...... C 3032............... (4)....5 − 3000 x 100% p= 3000 p= p = 1... Menimbang berat silinder baja didapat 13200 gram (A).....51 = 3032. Alat-alat yang digunakan antara lain : cetakan silinder baja (diameter 15 cm dan tinggi 30 cm) dan tongkat baja (diameter 16 mm dan panjang 60cm)....5 − 1832..08 % dengan : A B C D = berat pasir SSD (gr) = berat volumetricflash + air (gr) = berat volumetricflash + air + pasir (gr) = berat pasir tungku kering (gr) = penyerapan (%) (IV......53 gram/cm3 Penyerapan (absorption) : A−C x 100% ... Menghitung volume silinder : Volume silinder = 0... (3)......... 1h)........5 3032.........8.25 x π x d 2 x t .. Pemeriksaan berat satuan volume batu pecah.. Menimbang silinder baja yang diisi batu pecah tersebut diperoleh 20250 gram (B)...8) p Hasil dari pemeriksaan specific gravity dan absorption batu pecah dapat dilihat pada Lampiran IV.5 = 2.. (2)..

. siever. 0..... 4. 1..6 mm. 0..........771 .. Alat-alat yang digunakan antara lain : satu set ayakan dengan ukuran (19.. Modulus halus butir = = Jumlah persentase kumulatif tertahan 100 706..9) 3 = 1. (IV.. Menyiapkan ayakan dan menimbang masing-masing ayakan tersebut. (2).15 mm... Memasukkan batu pecah uji ke dalam ayakan dan digetarkan dengan siever selama 15 menit.25 100 = 7.. 2. ember. (3)........ Rata-rata berat satuan volume batu pecah : = 4.. pan).0 mm.18 mm.25 x π x 15 2 x 30 = 5301. 0.06 .52 = 0.. Menyusun ayakan secara urut dari yang berukuran besar sampai yang kecil dan paling bawah adalah pan.... timbangan digital.. cetok.438 cm 3 (5). (4)......5 mm....... Pemeriksaan gradasi batu pecah.9 1i).. Menyediakan batu pecah kering oven sebanyak 1000 gram...59 gr/cm3 dengan : A B C = berat silinder baja (gr) = berat silinder baja setelah diisi batu pecah (gr) = volume silinder (cm3) Untuk hasil pemeriksaan dan perhitungan berat satuan volume batu pecah secara lengkap bisa dilihat pada Lampiran IV. Langkah-langkah pemeriksaan gradasi batu pecah adalah sebagai berikut : (1).... 9. Pemeriksaan gradasi batu pecah ini bertujuan untuk mengetahui distribusi ukuran batu pecah dan modulus halus butirnya.75 mm.3 mm......36 mm.... (5)..... Melakukan penimbangan batu pecah pada tiap-tiap ayakan kemudian dihitung modulus halus butirnya...

271 42. 8.679 15.53 Untuk hasil penelitian dan perhitungan pemeriksaan gradasi batu pecah secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.056 7.761 22.056 7.10.056 7.176 1. 3.960 1.271 42.761 22. Berat jenis batu pecah 4). Ukuran maksimum batu pecah 7). Proporsi kebutuhan material tiap 3 sampel untuk uji tekan dan tiap 3 sampel untuk uji tarik dengan fas 0.271 42.45 No 1. 7. Data-data untuk perencanaan campuran adukan beton adalah sebagai berikut : 1).761 22.47 gr/cm3 = 2.679 15. Nilai slump rencana = 0.761 22.IV.45 = 2.5 % 10 % 12. 2.679 15.568 1. Air (kg) 7. Faktor air semen 2). 15.056 7.271 42.5 % 1.056 7.761 22.271 42.271 42.679 15.761 22.568 1. 9.761 22.176 1.568 1.10.5 % 1.761 22.679 Pasir (kg) 22.960 1.761 Kerikil (kg) 42.056 7.056 Semen (kg) 15.271 42.761 22. 11. 14. Modulus halus butir batu pecah = 7.568 1. 10.761 22. 6.761 22.056 7.176 1.06 Langkah-langkah perhitungan rencana campuran beton dapat dilihat pada Lampiran IV.679 15. Kebutuhan pembuatan benda uji untuk tiap 3 benda uji adalah sebagai berikut: Tabel.SNI.056 7.679 15.T-15-1990-30.056 7.150 ton/m3 = 60 – 100 mm 5).679 15.2.761 22.761 22.568 1.568 1. Berat jenis semen 8).271 Abu ampas tebu (kg) 7.960 1.056 7.960 1. Modulus halus butir pasir 6).056 7.679 15.679 15. Berat jenis pasir 3).271 42.271 42.271 42.679 15. 13.960 1.960 .5 % 10 % 12.271 42.93 = 40 mm = 3. 12. Perencanaan campuran beton Dalam perencanaan proporsi campuran digunakan perencanaan menurut SK.056 7.271 42.176 1.679 15.271 42.271 42.679 15. 2.960 Abu arang briket (kg) 7.679 15.056 7.761 22.568 1.960 1.176 1.271 42.568 1. 16.679 15.176 1.176 1.679 15. 4.761 22. 5.5 gr/cm3 = 2.176 1.056 7.056 7.

e). c). h=30 d=15. h=30 d=15. h=30 Pengujian nilai slump ini dimaksudkan untuk mendapatkan kekentalan beton segar. Pengisian adukan beton dilakukan sampai 2 lapis berikutnya dan masingmasing lapis ditusuk sebanyak 25 kali.5 3 3 3 3 12 0. Abu ampas tebu (%) Jumlah Abu arang Briket Fas (%) total 0 7. h=30 d=15. Meletakkan kerucut Abram’s ditempat yang rata dan tidak mudah goyah. h=30 d=15. bagian atas cetakan diratakan dengan cetok.5 0 3 3 3 3 12 7. b). h=30 Ukuran benda uji (cm) d=15.45 10 3 3 3 3 12 12.45 10 3 3 3 3 12 12.5 0 3 3 3 3 12 7.54 Tabel IV. diameter bagian bawah 20 cm dan tinggi 30 cm dengan bagian atas maupun bawah berlubang.3. Pengujian nilai slump Ukuran benda uji (cm) d=15.4. Langkah-langkah pengujian slump sebagai berikut : a). Dengan menginjak kaki kerucut Abram’s kuat-kuat. h=30 d=15. Rincian jumlah benda uji untuk kuat tarik beton. adukan beton diisikan 1/3 dari volume kerucut. h=30 d=15. Setelah terisi penuh oleh adukan beton. dan bagian dalam dibasahi dengan air.5 3 3 3 3 12 Jumlah total benda uji 48 Tabel IV. . yaitu berbentuk kerucut dengan diameter atas 10 cm.5 3 3 3 3 12 0. Rincian jumlah benda uji untuk kuat tekan beton.5 10 12. ditunggu ± 1 menit dan cetakan diangkat secara perlahan-lahan. kemudian ditumbuk sebanyak 25 kali dengan menggunakan tongkat diameter 16 mm dan panjang 60 cm. d). Setelah pengisian adukan selesai.5 10 12. Pengujian dilakukan dengan menggunakan kerucut Abram’s. Kerucut Abram’s dibersihkan terlebih dahulu sebelum digunakan.5 3 3 3 3 12 Jumlah total benda uji 48 3. Abu ampas tebu (%) Jumlah Abu arang Briket Fas (%) total 0 7.

sampai cetakan silinder penuh.17. Adukan beton dimasukkan ke dalam cetakan silinder dengan cetok setinggi sepertiga bagian dan memampatkan adukan beton tersebut dengan menusukkan tongkat baja tumpul sebanyak 25 kali. Perawatan Perawatan beton dimaksudkan untuk menjaga permukaan beton segar selalu lembab.1). . Meletakkan kerucut Abram’s di samping adukan. Masing-masing variasi dibuat 3 buah benda uji sehingga jumlah total benda uji adalah 100 buah (lihat Tabel IV. silinder benda uji disimpan di udara lembab (direndam di dalam bak yang berisi air) untuk perawatan beton. dan diukur selisih antara kerucut dan adukan beton tersebut Hasil pengujian slump test selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran IV. Cara pembuatan benda uji silinder beton adalah sebagai berikut: a). Meratakan bagian atasnya serta membiarkannya sampai 24 jam d). e). 4. masing-masing benda uji diberi kode. Setelah 24 jam membuka cetakan. Agar benda uji satu dan yang lainnya tidak tertukar. dapat dilihat pada Gambar IV. Pembuatan benda uji Pembuatan benda uji sesuai dengan perhitungan proporsi campuran beton yang telah direncanakan. c). Suhu air saat perendaman berkisar antara 26° – 25° C. dan telah diuji nilai slump-nya. Perawatan beton yang dilakukan pada penelitian ini adalah dengan cara merendam silinder beton di dalam bak yang berisi air sampai beton berumur 14 hari. Mengisikan adukan beton sepertiga bagian berikutnya dan diperlakukan sama.55 f). 5.14. sejak adukan beton dipadatkan sampai beton dianggap cukup keras. b).

21. terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan terhadap berat jenis. Angka yang ditunjuk oleh jarum merah inilah yang dicatat sebagai beban maksimum yang mampu ditahan oleh benda uji. Kemudian mesin uji dihidupkan dan penambahan beban dapat terlihat pada jarum penunjuk manometer.17. 7. .12. Pengujian kuat tekan dan kuat tarik benda uji Untuk mengetahui keretakan yang terjadi pada saat pengujian. sehingga dapat diketahui berat dan volume benda uji tersebut. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran IV.19. Pada saat beban maksimum yang mampu ditahan benda uji terlampaui (benda uji hancur). Berat jenis dapat diketahui dengan cara menimbang dan mengukur tinggi serta diameter benda uji. Gambar IV.56 Gambar IV. Benda uji diletakkan pada mesin uji tekan dengan posisi vertikal dan posisi jarum penunjuk kuat tekan harus pada angka nol. maka salah satu jarum yaitu jarum merah akan tetap pada posisi nilai beban maksimum yang mampu ditahan. Gambar IV.18. sedangkan jarum hitam akan bergerak turun kembali pada posisi semula (nol). Pemeriksaan berat jenis Sebelum pengujian benda uji. maka permukaan benda uji diberi cat putih Gambar IV. Hasil pengujian benda uji dapat dilihat pada Gambar IV.20. Perawatan benda uji beton 6.

Benda uji setelah dicat . Benda uji sebelum dicat Gambar IV.18.19.57 Gambar IV.

58 Gambar IV. Pengujian kuat tekan beton . Hasil pengujian kuat tekan beton Gambar IV.21.20.

22. Hasil pengujian kuat tarik beton .23. Pengujian kuat tarik beton Gambar IV.59 Gambar IV.

5 . Untuk mencapai SSD pasir. 2). Warna ini menunjukkan bahwa pasir tidak banyak mengandung zat organik dan layak digunakan sebagai bahan campuran beton. 61 .75 cm. Pada pengujian ini diperoleh penurunan pasir rata. Hasil uji kadar lumpur menunjukkan 5 % sehingga memenuhi persyaratan agregat halus sebagai campuran adukan beton karena batas persyaratan campuran beton yaitu 5 %. Pengujian Agregat 1.96 Syarat SK SNI 5% > 2. sedangkan tinggi pasir mula-mula 7. Hasil pengujian zat organik di dalam pasir dengan cara menambah larutan NaOH 3 % dan didiamkan selama 24 jam. Karena adanya bahan organik dalam pasir akan mempengaruhi mutu beton.8 (Sumber: Hasil penelitian) Hasil pengujian agregat halus Tabel V.7 gram/cm3 Memenuhi syarat <5% Memenuhi syarat 1.8 gram/cm3 Apparent spesific gravity 3. diperoleh larutan berwarna kuning kecoklatan.1.2.1.rata sebesar 3. Hasil pengujian agregat halus Jenis pengujian Hasil pengujian 5% Kadar lumpur Kuning Kandungan bahan kecoklatan organik 2.5. Hasil pengujian agregat halus Pemeriksaan agregat halus dilakukan melalui beberapa tahap pengujian yang sudah diuraikan pada Bab IV.75 cm Nilai Saturated Surface Dry (SSD) 2. tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1). Tabel V.5 cm.1.BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.5 – 3.1 sampai dengan Lampiran IV.5 gram/cm3 ½ dari tinggi kerucut Keterangan Memenuhi syarat Memenuhi syarat Memenuhi syarat Memenuhi syarat Memenuhi syarat 2. 3).82 % Modulus halus butir 2.59 gram/cm3 Bulk specific gravity Absorption 4. maka penurunan puncak kerucut pasir harus kurang lebih setengah tinggi kerucut. Hasil pemeriksaan agregat halus secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV. atau dituliskan pada Tabel V.

82 %.59 gram/cm3. Berdasarkan berat jenisnya. Dari pengujian agregat halus diperoleh berat jenis pasir 2.7 gram/cm3). . oleh karena itu pasir perlu diangin-anginkan sebelum digunakan.6. dan agregat berat (mempunyai berat jenis lebih dari 2. Oleh karena modulus halus butir pasir yang digunakan berada dalam batasan modulus halus butir pada umumnya. 7).5 – 3.1. dan dilukiskan pada Gambar V. 6).0 gram/cm3). Semakin besar absorbsi maka jumlah air yang digunakan dalam campuran akan semakin berkurang. Dari hasil pengujian yang dilakukan diperoleh nilai absorbsi pasir 4. maka pasir ini memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan susun beton.8. 5).8 gram/cm3). Absorbsi agregat akan mempengaruhi jumlah air dalam campuran yang direncanakan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pasir ini termasuk agregat normal.5 gram/cm3 – 2. 4). agregat dibagi menjadi 3 macam yaitu agregat ringan (mempunyai berat jenis kurang dari 2. Persyaratan absorbsi agregat yang digunakan dalam campuran beton 5 %. Hal ini menunjukan bahwa absorbsi pasir masih dalam batasan yang diisyaratkan. Hasil pengujian gradasi pasir diperoleh modulus halus butir 2.62 Keadaan ini membuktikan bahwa pasir masih agak basah.96 Pada umumnya pasir mempunyai nilai modulus halus butir antara 1. Hasil pemeriksaan gradasi pasir secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV. agregat normal (mempunyai berat jenis antara 2.

85 1. tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: .6 gram/cm3 Memenuhi syarat Memenuhi syarat 5-8 (Sumber: Hasil penelitian) Hasil pengujian agregat kasar pada Tabel V. 2.2.D. Hasil pengujian agregat kasar Jenis pengujian Hasil pengujian 0.35 4.7 gram/cm3 Memenuhi syarat Memenuhi syarat <5% 1. Tabel V. Hasil pengujian agregat kasar Pemeriksaan agregat kasar dilakukan melalui beberapa tahap pengujian yang diuraikan pada Bab IV.2. hasil pemeriksaan tersebut tercantum pada Tabel V.57 gram/cm3 Apparent spesific gravity 2.2 – 1. di atas.08 % Absorption Berat satuan volume 1. II (Departemen Pekerjaan Umum. gradasi pasir memenuhi persyaratan campuran beton dan termasuk ke dalam kelompok daerah II (pasir agak kasar).1990) Menurut Gambar V.89 gram/cm3 Syarat SK SNI 20 % > 2.5 gram/cm3 Keterangan Memenuhi syarat Memenuhi syarat 2.63 GRADASI PASIR 120 PERSEN LOLOS (%) 100 80 60 40 20 0 0 0. Batas gradasi pasir dalam daerah gradasi No.18 2.53 gram/cm3 Bulk specific gravity 1.3 0.1.59 gram/cm3 Modulus halus butir 7.15 0.9.75 9.2.1.5 LUBANG AYAKAN (mm) HASIL HITUNGAN BATAS ATAS SK SNI BATAS BAWAH SK SNI Gambar V. Hasil pemeriksaan agregat kasar secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.5 – 2.3 % Keausan agregat batu pecah 2.6 sampai Lampiran IV.

Hasil pengujian berat satuan batu pecah 1. Hasil pengujian keausan batu pecah dari Boyolali 0. dan dilukiskan pada Gambar V.59 gram/cm3. 7).6 gram/cm3. Dengan melihat grafik batu pecah dapat diketahui bahwa gradasi batu pecah ini masih masuk dalam batasan SK SNI. Pengujian tersebut membuktikan batu pecah mempunyai berat satuan sesuai yang diisyaratkan untuk berat satuan normal. . 3).9.08%.8 gram/cm3). karena memiliki kekerasan butiran yang masih ada dalam batasan yang disyaratkan.2. 6).3 %.2 gram/cm3 – 1.9. Kekerasan butir-butir batu pecah yang diperiksa dengan mesin Los Angeles harus memenuhi syarat yaitu tidak terjadi kehilangan berat lebih dari 20 % untuk kekuatan beton diatas 20 MPa. maka batu pecah tersebut dapat digunakan sebagai bahan campuran beton. Hal ini menunjukkan batu pecah tersebut dapat digunakan sebagai bahan campuran beton. Dari hasil pengujian gradasi batu pecah diperoleh modulus halus butir 7. Batu pecah yang digunakan dalam penelitian ini mempunyai absorbsi 1. 2). 4).64 1). Hasil pemeriksaan gradasi batu pecah secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.53 gram/cm3. Berat satuan agregat kasar normal yaitu 1. Hasil pemeriksaan gradasi batu pecah dapat dilukiskan seperti pada Gambar V.2. sehingga batu pecah tersebut dapat digunakan sebagai campuran beton.5 gram/cm3 – 2. 5). Hasil pemeriksaan gradasi pasir secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.89 Modulus halus butir untuk agregat kasar yang digunakan sebagai campuran beton yaitu 5 sampai dengan 8.7 gram/cm3) dan agregat berat (berat jenis 2. Hasil pengujian berat jenis batu pecah yang digunakan dalam penelitian dapat disimpulkan bahwa agregat batu pecah tersebut termasuk agregat normal (berat jenis 2. Dari pengujian agregat batu pecah diperoleh berat jenis batu pecah 2. Hal ini menunjukan bahwa batu pecah tersebut mempunyai daya serap yang kecil.

Pemberian bahan tambah dengan proporsi penambahan yang berbeda.1 LUBANG AYAKAN (mm) HASIL HITUNGAN BATAS BAWAH SK SNI BATAS ATAS SK SNI Gambar V.5 2 2.5.1990) B.5 1. 11.5 10 12.5 10 12.5 1.5 7. √ 2.11 dapat dilihat bahwa slump yang dicapai pada adukan beton dengan penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket tidak memenuhi persyaratan yang direncanakan yaitu antara 2 – 4 in atau 5. √ √ 4. Pengujian Slump Pengujian nilai slump dilaksanakan sebelum campuran beton dituang dalam cetakan.2. Dari hasil pengujian slump pada Tabel V.5 dan Lampiran IV. Hasil pengujian slump beton umur 14 hari Abu arang Briket Abu ampas tebu (%) No Beton Normal (%) 7. akan dianalisis pengaruhnya terhadap workabilitas beton. √ √ 3.08 – 10. Batas gradasi kerikil (Departemen Pekerjaan Umum. Pengujian slump dilakukan untuk mengetahui workabilitas adukan beton dari setiap percobaan. Hasil pengujian slump dapat dilihat pada Tabel V.65 GRADASI KERIKIL 120 PERSEN LOLOS (%) 100 80 60 40 20 0 2.5 19 38.5 .5 dan Lampiran IV.36 4. Tabel V. Slump (cm) 7.75 9.5 1. √ √ √ √ 5.16 cm.

√ 7. √ 16. Lanjutan 6. √ 13. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah bahan tambah yang digunakan maka air akan terserap oleh bahan tambah sehingga nilai fas akan berkurang.5.5 2 √ 3. √ 10. Hasil pemeriksaan berat jenis beton secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.5 √ 2.66 Tabel V. Besarnya berat jenis dapat dihitung dengan rumus : Berat jenis beton (γ) = B ……………………………………………. √ 15. √ 8.11.5 √ 3.1) V V = 0. √ √ √ √ - √ √ √ - √ √ √ √ √ √ - √ 2 √ 2.5 √ 2. √ 9.5 √ 2. Pengujian Berat Jenis Beton Pengujian berat jenis beton dilakukan sebelum diadakannya pembebanan terhadap benda uji silinder. C. Data dan hasil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran IV.16. √ 11. sehingga didapatkan berat dan volume benda uji tersebut.2) dengan : γ = berat jenis beton (gram/cm3) B = berat beton setelah direndam (gram) .5 2 √ 3.5 1. √ 14. sedangkan berat jenis rata-rata dapat dilihat pada Tabel V. Berat jenis beton dapat diketahui dengan cara menimbang dan mengukur tinggi serta diameter benda uji.25 x π x d 2 x t …………………………………………………(V.6.5 (Sumber: Hasil penelitian) Dari hasil pengujian nilai slump menunjukkan bahwa nilai slump menurun dengan penambahan persentase abu arang briket dan abu ampas tebu dalam campuran beton. √ 12.(V. maka nilai slump yang dihasilkan kecil.12 sampai dengan Lampiran IV.

241 2.5 % 0% 2. Kadar abu ampas tebu Berat Jenis rata2 (gr/cm3) 0% 7.185 2.25 x π x 15 2 x 30 = 5301.5 % 0% 2.263 2.188 2.5% 2.172 2.25 x π x d 2 x t = 0.210 2.282 2.15 gram/cm3.213 2.213 2.118 2. Hal ini disebabkan karena berat jenis briket lebih kecil dari pada berat jenis semen.207 2. Hasil pemeriksaan berat jenis rata-rata pada kuat tekan beton dengan fas 0. Pengujian Kuat Tekan Dan Tarik Beton Pengujian kuat tekan beton dilaksanakan setelah benda uji silinder telah berumur 14 hari. Berat jenis akan menurun seiring dengan penambahan abu arang briket.5% 10 % 12.185 2.282 Kadar abu ampas tebu 7. diperoleh berat jenis tertinggi 2.273 2.5% 10 % 2.5% 10 % 12.301 gram/cm3.160 2.226 2.64 gram/cm3 sedangkan berat jenis semen adalah 3.6. Pengujian kuat tekan beton dilakukan untuk memperoleh nilai kuat tekan beton dengan adanya perbedaan kadar penambahan bahan tambah abu arang briket serta penambahan abu ampas tebu.204 2.238 2.179 arang briket 10 % 2.200 2.248 2. Hasil pengujian kuat tekan beton .147 (Sumber: Hasil penelitian) Tabel V.4. Tabel V.67 V = Volume beton (cm3) d = diameter cetakan beton t = tinggi cetakan beton Volume silinder = 0.194 Kadar abu 7.5 % 2.147 12.147 2.438 cm 3 Dari hasil pemeriksaan berat jenis beton Tabel V.176 12.4.210 2.289 2.5 % 2.188 2. Berat jenis briket adalah 2.292 2.7. Hasil pemeriksaan berat jenis rata-rata pada kuat tarik beton dengan fas 0.6. Berat Jenis rata2 (gr/cm3) Kadar abu arang briket 0% 7.213 2.216 (Sumber: Hasil penelitian) D.

390 39.5% 2.9.4.159 arang briket 10 % 32.476 1.434 37.5 % 0% 3.523 2.069 Kadar abu 7.263 2.029 23.334 Kadar abu 7. Sedangkan estimasi kuat tekan beton rata-rata dapat dilihat pada Tabel V.3) A A = ¼ .627 (Sumber: Hasil penelitian) .201 22.7.284 37.046 12.484 22. Kadar abu ampas tebu Kuat Tarik rata2 (gr/cm3) 0% 7.557 29.165 2. Kuat tekan rata-rata beton dengan variasi penambahan filler abu arang briket dan abu ampas tebu pada fas 0.594 2.981 arang briket 10 % 2.4. Kadar abu ampas tebu Kuat Tekan rata2 (gr/cm3) 0% 7.830 2.425 23.163 23.318 2.141 24.5 % 2.863 12.(V. Besarnya kuat tekan dari benda uji dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus sebagai berikut : f’c = Pmaks …………………………………………………………….d2 = ¼ x π x 152 = 176.d2……………………………………………………………(V.933 1.4) A = ¼ .π.5% 10 % 12.443 (Sumber: Hasil penelitian) Tabel V.5 % 0% 30.665 2.17.075 1.5% 10 % 12.521 23.523 1.714 cm2 dengan : f’ A d = kuat tekan beton salah satu benda uji (kg/cm2) = luas permukaan benda uji yang tertekan (cm2) = diameter cetakan Pmaks = beban tekan maksimum (kg) Tabel V.8.π. Kuat tarik rata-rata beton dengan variasi penambahan abu arang briket dan ampas tebu pada fas 0.5% 31.68 secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.632 22.5 % 34.476 2.

Grafik gabungan hubungan kuat tekan rata-rata dengan variasi bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket.3.5 Kadar Briket (%) Ampas tebu 0% ampas tebu 10% ampas tebu 7. Kuat tekan optimum diperoleh dari penambahan abu ampas tebu 12. Dari Gambar V. Dari hasil pengujian kuat tekan beton di atas. dapat diketahui bahwa beton normal dengan penambahan bahan tambah abu ampas tebu mengalami penurunan pada kuat tekan.5% ampas tebu 12. Sedangkan pada penambahan arang briket kuat tekan mengalami peningkatan.5% Gambar V.69 Hasil pengujian kuat tekan rata-rata silinder beton dengan bahan tambah abu briket dan abu ampas tebu dapat dilihat pada Gambar V. 45 40 Kuat Tekan (Mpa) 35 30 25 20 15 10 5 0 0 7.3. .3 dapat disimpulkan bahwa penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket mampu meningkatkan kuat tekan beton.78 %.5% dan abu arang briket 10% sebesar 27.5 10 12.

E.5% Gambar V.5 3 Kuat Tarik (Mpa) 2.046 MPa dan kuat tarik tertinggi adalah 2. sedangkan kuat tarik tertinggi diperoleh dari kadar abu ampas tebu 7.70 Hasil pengujian kuat tarik rata-rata silinder beton dengan bahan tambah abu arang briket dan abu ampas tebu dapat dilihat pada Gambar V. Grafik gabungan hubungan kuat tarik rata-rata dengan variasi bahan tambah abu ampas tebu dan abu arang briket. .5 2 1. Kuat tekan tertinggi tersebut diperoleh dari kadar abu ampas tebu 12. Dari hasil pengujian kuat tarik beton di atas.5 10 12.5 1 0.70 %.4.5% dan abu arang briket 10%.5 Kadar Briket (%) ampas tebu 0% ampas tebu 10% ampas tebu 7.5% ampas tebu 12.4 bisa disimpulkan bahwa penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket pada umumnya mengalami penurunan untuk setiap variasi penambahannya. Kuat tarik optimum diperoleh dari penambahan kadar abu ampas tebu 7. dapat diketahui bahwa beton normal dengan penambahan bahan tambah abu ampas tebu dan abu arang briket dapat mengakibatkan penurunan pada kuat tarik beton.5% dan abu arang briket 12.830 MPa.5%. Pembahasan Hasil Penelitian Dari hasil penelitian ini dengan topik kapasitas tekan dan tarik beton dengan bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket dengan fas 0.4.4.5 0 0 7. diperoleh kuat tekan beton tertinggi adalah 39.5% sebesar 14.5% dan abu arang briket 12. Dari Gambar V. 3.

Kelebihan a) Dalam penelitian ini tidak terjadi penundaan ikatan semen karena dalam waktu 24 jam dari pengecoran.78 % dari beton normal atau pada kadar abu arang briket 0 % dan abu ampas tebu 0 %. Kuat tekan beton pada penambahan kadar abu ampas tebu 12. Kuat tarik beton pada penambahan kadar abu ampas tebu 7. b) Kuat tekan beton yang dihasilkan lebih tinggi pada penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket. 2. c) Kuat tarik beton yang dihasilkan lebih tinggi pada penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket.71 Kelebihan dan kekurangan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. b) Karena sifatnya yang menyerap air mengakibatkan nilai slump rendah.5 % dan abu arang briket 10 % mengalami peningkatan sebesar 27. . benda uji langsung dapat dibuka dari cetakannya kemudian dilakukan perawatan benda uji.5 % mengalami penurunan sebesar 14.5 % dan abu arang briket 12. Kekurangan a) Kemudahan pengerjaan lebih rendah karena abu ampas tebu dan abu arang briket mempunyai sifat menyerap air.70 % dari beton normal atau pada kadar abu arang briket 0 % dan abu ampas tebu 0 %.

4).4 sebesar 2.141 MPa terjadi pada kadar 12. akhirnya penelitian ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1).45 sebesar 2. pengujian kuat tekan dan kuat tarik untuk silinder beton.405 MPa terjadi pada kadar 12. serta analisis yang telah dilakukan. Hasil pemeriksaan agregat halus (pasir) memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan campuran beton.3 dengan variasi pencampuran 10 %.665 MPa terjadi pada kadar 7.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A.20 %.5 % sedangkan kuat tarik optimum pada fas 0.4 sebesar 29. 8). 30 %.594 MPa terjadi pada kadar 7.45 sebesar 2.45 sebesar 25. Kuat tekan optimum abu ampas tebu pada fas 0.5 %.45 sebesar 24. perendaman benda uji.465 MPa terjadi pada kadar 12. Kuat tarik optimum abu ampas tebu pada fas 0.5 % sedangkan kuat tekan optimum pada fas 0.572 MPa terjadi pada kadar 20 %.425 MPa terjadi pada kadar 7. 7).5 % sedangkan kuat tarik optimum pada fas 0. Kuat tekan optimum abu arang briket pada fas 0.5 %. 72 . 3). 5).735 MPa terjadi pada kadar 12. Kesimpulan Setelah diadakan tahap pembuatan benda uji. 6).4 sebesar 34. Berat jenis akan menurun seiring dengan penambahan abu arang briket dan abu ampas tebu. pada fas 0.5 % sedangkan kuat tekan optimum pada fas 0.899 MPa terjadi pada kadar 10 %. Hasil pemeriksaan agregat kasar (batu pecah) memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan campuran beton.4 sebesar 2. Untuk hasil penelitian Rifai. 2). Kuat tarik optimum abu arang briket pada fas 0.5 %. Semakin besar persentase abu arang briket dan abu ampas tebu pada adukan beton maka nilai slump makin kecil. 40 % didapat kuat tekan optimum sebesar 46.

Hal ini dimaksudkan pada waktu pengujian seluruh permukaan benda uji mendapat tekanan yang sama.78 % dari beton normal atau pada kadar abu arang briket 0 %. . kesulitankesulitan yang dialami pada saat penelitian dan pembahasan hasil penelitian. sehingga sulit dipadatkan. Kuat tarik beton terjadi pada penambahan kadar abu arang briket 12. 12. diharapakan dilakukan penelitian selanjutnya pada variasi fas. 10 %.70 % dari beton normal atau pada kadar abu arang briket 0 %. 10).5 % dan abu ampas tebu 7. Dalam penelitian ini menggunakan abu ampas tebu dengan prosentase tertentu yaitu 7. permukaan air harus menutup semua benda uji yang direndam.5 % sehingga dapat dilakukan penelitian selanjutnya tentang besarnya prosentase abu ampas tebu yang dapat menambah kuat tekan dan tarik beton sampai optimum. Pada saat perendaman benda uji. 4). Kuat tekan optimum terjadi pada penambahan kadar abu arang briket 10 % dan abu ampas tebu 12. 3). 5). abu ampas tebu 0 %. B. Saran Berdasarkan pengamatan selama pelaksanaan penelitian. Dalam pembuatan benda uji. Penggunaan abu ampas tebu akan mengurangi keenceran adukan campuran beton sehingga kuat tekan dan tarik beton tinggi.73 9).5 % mengalami peningkatan sebesar 27. maka peneliti memberikan saran sebagai berikut : 1). setelah dilakukan pencampuran material harus segera dimasukkan ke dalam cetakan karena adukan beton akan segera lengket dan mengental. abu ampas tebu 0 %.5 %. 2).5 % mengalami penurunan sebesar 14. Bagian atas dan bawah benda uji diusahakan benar-benar rata.

1991. PT Naviri. Direktorat Penyelidikan Masalah Bangunan. Direktorat Penyelidikan Masalah Bangunan. Yayasan LPMB Puslitbang Pemukiman Balitbang PU. Bandung. Teknologi Beton. K. 1971. Rifa’I. 1995. Brook K. Surakarta. N. Terjemahan Stephany Hindarko. Erlangga. SK SNI T-15-1991-03. 1990. 1996. LPMB.1-2 1971. 2005. Bandung. Jakarta. Murgiyanto. Tinjauan Pemakaian Abu Batu Bara Terhadap Karakteristik Beton dengan Menggunakan Faktor Air Semen 0. SK SNI T-15-1990-03. Peraturan Beton Bertulang Indonesia. Surakarta. Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta. 2003. Departemen Pekerjaan Umum. Departemen Pekerjaan Umum. Teknologi Beton Dalam Praktek. Surabaya.M. A. Institut Teknologi Sepuluh Nopember. 1991. Pemakaian Variasi Bahan Tambah Larutan Gula dan Abu Arang Briket Pada Kuat Tekan Beton Mutu Tinggi. Standar Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung. Subakti.45. Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta.J. . Bahan dan Praktek Beton. Bandung. Yogyakarta. Tjokrodimuljo. Badan Pengembangan Pekerjaan Umum. Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia. M. 1982. Murdock. L. Standar Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung.DAFTAR PUSTAKA Departemen Pekerjaan Umum.

36 A Kentingan Surakarta 57126.D NIP. 1. ST.5 100 5% L-1 Kandungan lumpur pada pasir untuk campuran beton adalah 5 %. Surakarta. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. Ir. Lab. Mei 2006 Ka. Ph. Pemeriksaan Kadar Lumpur Pada Pasir Tabel : Pemeriksaan pasir sebelum dicuci (Sumber : Hasil penelitian) Berat cawan (gram) Berat pasir kering tungku+cawan (gram) Berat pasir kering tungku setelah dicuci (gram) Berat pasir kering tungku sebelum dicuci (gram) Kandungan lumpur (%) A B C D=B-A D −C x100% D 158 258 95. Telp. (0271) 632363 Lampiran IV. sehingga pasir tidak perlu dicuci karena sudah memenuhi batas persyaratan campuran beton yaitu 5%. 132 129 524 . Sutami No.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.

Ir.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. Pemeriksaan Kandungan Zat Organik Pada Pasir Tabel : Pengujian zat organik dalam pasir (Sumber : Hasil penelitian) No 1 2 Jenis bahan Pasir Larutan NaOH 3% Volume (cc) 130 cc Secukupnya Volume total 200 cc Warna larutan L-2 Kuning Kecoklatan Setelah pasir dicampur NaOH 3 % dan didiamkan selama 24 jam. Ph. Ini menunjukkan bahwa pasir tersebut tidak banyak mengandung bahan organik. Mei 2006 Ka.D NIP. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Sutami No. Surakarta.2. Lab. Telp. 132 129 524 . sehingga pasir dapat langsung digunakan untuk campuran beton. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. ST. (0271) 632363 Lampiran IV. terlihat larutan berwarna kuning kecoklatan.

Keadaan ini membuktikan bahwa pasir masih agak basah. ST. 36 A Kentingan Surakarta 57126.rata sebesar 3.2) / 2 = 4.4 4.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.5 4.5 cm = 8. Sutami No. Surakarta. sedangkan tinggi pasir mula-mula 7.7 : 3 = 4.6 3. Lab.43 2 =4.23 + 4.75 Pada pengujian ini diperoleh penurunan pasir rata.5 × 7. Telp.215 L-3 Tinggi pasir mula-mula Nilai SSD = 7.9 4. Ir.75 cm. Mei 2006 Ka.5 cm.2 (4.3.2 4.7 12. 132 129 524 .D NIP.6 : 3 = 4. oleh karena itu pasir perlu diangin-anginkan sebelum digunakan. Ph.5 =3.215>0. Pengujian Saturated Surface Dry (SSD) Pasir Tabel : Pemeriksaan penurunan pasir rata-rata (Sumber : Hasil penelitian) Percobaan I II III Jumlah 15 20 25 Jumlah penurunan : 3 Nilai SSD Penurunan tinggi pasir(cm) Sample A Sample B 3.23 12. (0271) 632363 Lampiran IV.

ST.7 (berat jenis agregat halus yang diperoleh memenuhi syarat). Lab.D NIP.4. (0271) 632363 Lampiran IV. Sutami No.82 Syarat berat jenis agregat normal antara 2. 36 A Kentingan Surakarta 57126.42 1006. Ir.27 477 2. Telp. Ph. 132 129 524 . Pemeriksaan Spesific Gravity dan Absorption Pasir Tabel : Perhitungan Spesific Gravity dan Absorbtion Pasir (Sumber : Hasil penelitian) Berat pasir kondisi SSD(gram) Berat volumetric flash+air (gram) Berat volumetric flash+air +pasir(gram) Berat pasir kering tungku (gram) Bulk Specific grafity (gram/cm 3 ) Specific grafity SSD (gram/cm 3 ) L-4 Apparent Specific grafity (gram/cm 3 ) Absorption (%) A B C D D ( A + B − C) A (B + A − C) D (B + D − C) A− D x100% D 500 699. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.47 2.59 2. Mei 2006 Ka.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.5 – 2. Surakarta.80 4.

(0271) 632363 Lampiran IV.438 cm 3 = 10150 gram Tabel : Pemeriksaan berat satuan volume (Sumber : Hasil penelitian) No 1 2 3 Berat silinder (gram) 10150 10150 10150 Berat pasir+silinder (gram) Berat pasir (gram) Berat sat.246 3 1.5.736 1. Mei 2006 Ka.246 Rata-rata berat satuan volume pasir = 1.765 5.745 1. volume (gram/cm 3 ) 19400 19355 19505 Jumlah = 9250 9205 9355 5.749 gr/cm 3 Surakarta.25 x π x 15 2 x 30 = 5301. Pemeriksaan Berat Satuan Volume Pasir L-5 Volume silinder Berat silinder = 0. 132 129 524 . Lab. Ir. Sutami No.D NIP. ST.25 x π x d 2 x t = 0. Telp. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Ph.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.

Ir.8 Surakarta.85 0.9 383.74 17.03 10.04 0.00 295.18 0.50 9.2 301.03 0. Pemeriksaan Gradasi Pasir L-6 Tabel : Perhitungan pengujian gradasi pasir Boyolali (Sumber : Hasil penelitian) No .9 253 1111.93 3000 % Pasir Tertinggal 2. (0271) 632363 Lampiran IV. Ukuran Ayakan (mm) 9.30 0.04 0. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.74 8.01 277. 1.01 0.90 2999.50 4. 7.00 277.20 81.96 100 Modulus halus butir 2.76 22. ST.50 11.07 0. Lab.51 60.50 39. 4.24 240.03 Berat Pasir Terkoreksi 75. 3.00 Syarat SK SNI 100 90-100 75-100 55-90 35-59 10-30 0-10 0 Gol II Keterangan : * tidak ikut dijumlahkan = 3000 gr = 2999.6 = 0.00 518. 132 129 524 .00 1050.03 100.90 192.36 1.77 8. 2.04 0.26 10.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.03 0. 6.4 gr Koreksi = berat pasir tertahan × kesalahan berat pasir setelah diayak Dari hasil analisa pengujian diatas didapatkan modulus halus butir pasir sebagai berikut : Modulus halus butir = = Jumlah persentase kumulatif tertahan 100 295.04 518. 5.97 192.5 – 3.74 211. 8.20 53.04 322.24 77.23 91. Sutami No.80 18.982 memenuhi syarat yaitu antara 1.D NIP.5 88.6 gr Berat pasir mula-mula Berat pasir setelah diayak Berat kesalahan penimbangan = 3000 – 2999.20 240.75 2.96 Lolos 97.60 Koreksi 0.14 0.40 35. Ph.03 1051.96 = 2. Telp.00 Persen Kumulatif Tertinggal 2.9 Jumlah Berat Cawan (gr) 61 61 61 61 61 61 61 61 Berat Pasir (gr) 75.30 6. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Mei 2006 Ka.90 322.97 100.15 Pan Berat Cawan + Pasir (gr) 136 338.70 322.70 383 579.80 46.6.

Ph. (0271) 632363 Lampiran IV.3 % Hasil pengujian keausan batu pecah dari Karanganyar 0.5 Berat benda uji setelah diuji (gram) Keausan agregat (%) A B A−B x100% A 2500 2500 4985 0. 12. 19 dan tertahan 12. Sutami No. Surakarta. karena memiliki kekerasan butiran yang masih ada dalam batasan yang disyaratkan yaitu tidak boleh lebih dari 20 %. Ir. 132 129 524 .DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.3 %. Hal ini menunjukkan batu pecah tersebut dapat digunakan sebagai bahan campuran beton. Mei 2006 Ka.5 Berat benda uji mula-mula (gram) Lolos No. ST. Telp.7. Pemeriksaan Keausan Agregat Kasar L-7 Tabel : Hasil pengujian keausan agregat kasar (Sumber : Hasil penelitian) Lolos No. 36 A Kentingan Surakarta 57126.D NIP.5 dan tertahan 9.. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. Lab.

Telp.57 1. (0271) 632363 Lampiran IV.D NIP.08 % Surakarta. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Ph. Sutami No.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.53 2. 132 129 524 . ST. Mei 2006 Ka.5 1832. Ir.5 3000 2. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. Lab.8.5 2. Pemeriksaan Spesific Gravity dan Absorbtion Batu Pecah L-8 Tabel : Perhitungan Spesific Gravity dan Absorbtion Batu Pecah (Sumber : Hasil penelitian) Berat batu pecah kondisi SSD(gram) Berat benda uji dalam air (gram) Berat benda uji kering oven (gram) Bulk Specific grafity (gram/cm 3 ) Specific grafity SSD (gram/cm 3 ) Apparent Specific grafity (gram/cm 3 ) Absorbtion (%) A B C C A− B A A− B C C−B A−C x100% C 3032.

volume (gram/cm 3 ) 19000 19055 19040 Jumlah 3 8400 8455 8440 = 4 . ST. 132 129 524 . Mei 2006 Ka. Ph.9.590 gr/cm 3 1.2 gram/cm3 – 1.771 Rata-rata berat satuan volume batu pecah Berat satuan agregat kasar normal yaitu 1. Telp. Ir.590 gram/cm3. Hasil pengujian berat satuan batu pecah 1. Pengujian tersebut membuktikan batu pecah mempunyai berat satuan sesuai yang disyaratkan untuk berat satuan normal. Pemeriksaan Berat Satuan Volume Batu Pecah L-9 Volume silinder Berat silinder = 0. (0271) 632363 Lampiran IV.438 cm 3 = 10600 gram Tabel : Pemeriksaan berat satuan volume (Sumber : Hasil penelitian) No 1 2 3 Berat silinder (gram) 10600 10600 10600 Berat batu pecah+silinder (gram) Berat batu pecah (gram) Berat sat. Sutami No.592 4. 36 A Kentingan Surakarta 57126.6 gram/cm3.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. 771 = 1.584 1.595 1. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.25 x π x d 2 x t = 0. Surakarta.D NIP.25 x π x 15 2 x 30 = 5301. Lab.

Ka.49 Lolos 100 83.00 0.00* 789.04 152.00 0. Pemeriksaan Gradasi Batu Pecah L-10 Tabel : Perhitungan pengujian gradasi batu pecah dari Boyolali (Sumber : Hasil penelitian) no 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Ukuran Ayakan (mm) 25 19 12.2 gr Koreksi = berat pasir tertahan × kesalahan berat pasir setelah diayak Dari hasil analisa pengujian diatas didapatkan modulus halus butir batu Jumlah persentase kumulatif tertahan 100 789.8 930 573 322 320 315 242 269 Jumlah Berat Ayakan (gr) 488 454 431 412 421 322 320 315 242 269 Berat Kerikil (gr) 0 507 1822. Telp.00 0.D NIP.00 100.10 22.76 17.00 3000 % Kerikil tertinggal 0.00 0.00 % Komulatif Tertinggal 0. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.8 Koreksi 0.00 100.00 0.90 77. 132 129 524 .04 0.03 1822.50 4.10.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.00 0.00 0.00 0.92 518.00 16. Ph. Ir.66 94.49 = 7.00 100.18 0.01 0. Lab.12 0.00 0.03 0. ST.90 60.93 100.85 0.00 100.00 100.00 Berat Kerikil terkoreksi 0.15 Pan Berat ayakan+ Kerikil (gr) 488 961 2253.75 2.93 0.108 memenuhi syarat yaitu antara 5 – 8.36 1.00 Keterangan : * tidak ikut dihitung = 3000 gr Berat batu pecah mula-mula Berat batu pecah setelah diayak = 2998 gr Berat kesalahan penimbangan = 3000 – 2999.01 0. Mei 2006 pecah/kerikil sebagai berikut : Modulus halus butir = = Modulus halus butir 7.00 0.8 518 152 0 0 0 0 0 2999.00 0.00 0.8 = 0. 36 A Kentingan Surakarta 57126. (0271) 632363 Lampiran IV.00 0.00 100.27 5.07 1.00 0.34 5. Sutami No.00 0.50 9.00 0.07 0.00 507.00 0.00 16.89 100 Surakarta.

Pemeriksaan Berat Satuan Volume Agregat Kasar L-11 Volume silinder Berat silinder = 0.25 x π x 15 2 x 30 = 5301.817 Rata-rata berat satuan volume agregat kasar = = 1.629 4. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. Telp.604 1.D NIP. volume (gram/cm 3 ) 19000 19105 19235 Jumlah 8400 8505 8635 4.817 3 1.11. Lab.584 1. 132 129 524 .438 cm 3 = 10600 gram Tabel : Pemeriksaan berat satuan volume (Sumber : Hasil penelitian) No 1 2 3 Berat silinder (gram) 10600 10600 10600 Berat Agregat Kasar + silinder (gram) Berat Agregat Kasar (gram) Berat sat. Sutami No.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. Ph. ST. (0271) 632363 Lampiran IV.606 gr/cm 3 Surakarta. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Mei 2006 Ka.25 x π x d 2 x t = 0. Ir.

66 Mpa biasa batu pecah 0.18 Mpa pada 14 hari 7 Mpa 11.884 kg/m3 1090.6 kg/m3 561. 36 A Kentingan Surakarta 57126.884 kg Kerikil 1090.2 * vol cetakan silinder * vol material tiap m3 .25 kg 184. Ir.716 kg Proporsi bahan tiap 1 silinder = 1. Telp.25 kg Pasir 561.9 ltr 462.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. (0271) 632363 Lampiran IV.12.4 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Uraian Kuat tekan umur 14 Deviasi standar Nilai tambah Kuat tekan rata2 Jenis semen Jenis kerikil Fas Slam Ukuran maks butir kerikil Kadar air Kebutuhan semen Kebutuhan semen minimum Dipakai kebutuhan semen Penyesuaian jumlah air atau fas Golongan pasir Persen pasir terhadap camp Berat jenis campuran Berat beton Kebutuhan camp pasir dan kerikil Kebutuhan pasir Kebutuhan kerikil Tabel/Grafik/Perhitungan grafik M=k * ds Nilai 36.9 ltr Semen 462.9 ltr dan fas 0.48 Mpa 47.716 kg/m3 tabel 10 : 7 grafik grafik grafik 18-(11+10) 16 * 19 19-20 Proporsi campuran Tiap m 3 Air 184.45 2 34 % 2.25 kg 275 kg 462.50 2300 kg/m3 1652. Perencanaan Campuran Adukan Beton Metode SK-SNI T-15-199003 L-12 Perancangan Adukan Beton Normal Fas 0. Sutami No.4 60-100 mm 40 mm 184.

323 1.056 7. 4. 15. Proporsi kebutuhan material L-13 Tabel. Ir.205 .323 1.622 41.442 21.622 41.5 % 2.442 21.639 17. 13.056 7. 16.622 41.205 2.639 17.056 7.205 2.056 7.442 21. 11.5 % 1.056 7. Telp.323 1.639 17. 5.622 41.442 21.323 Filler (kg) 10 % 1.442 Kerikil (kg) 41.639 17.622 41. 36 A Kentingan Surakarta 57126.056 7.205 7.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.056 7. Proporsi kebutuhan material tiap 3 sampel untuk uji tekan dan tiap 3 sampel untuk uji tarik dengan fas 0.442 21.205 2.323 Ampas (kg) 10 % 12.622 7. 3.442 21.622 41.639 17.639 Pasir (kg) 21.764 1.323 1.056 7.639 17.442 21.056 7.622 41. 2.5 % 1.056 7.442 21.639 17.764 12.5 % 1.639 17.622 41. 12. 6.056 7.442 21.639 17.764 1.764 2.442 21.622 41.442 21.205 2. 8.639 17. Sutami No.442 21.442 21.205 2.4 No 1.056 7.764 1.764 1.639 17.056 Semen (kg) 17.639 17.639 17.056 7.13.622 41.323 1.622 41. Air (kg) 7.056 7.442 21.764 1. (0271) 632363 Lampiran IV.622 41.764 1.622 41. 10.205 2. 14.639 17.056 7.639 17. 7.442 21.622 41.622 41. 9.323 1.

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR
JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Jl. Ir. Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Telp. (0271) 632363

Lampiran IV.14. Pemeriksaan Slump Adukan Beton

L-14

Tabel: Hasil pengujian slump beton umur 14 hari (Sumber : Hasil penelitian) No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. Beton Normal √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Ampas (%) 7,5 10 12,5 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Filler Briket (%) 7,5 10 12,5 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Slump (cm) 7,5 2 2,5 1,5 1,5 2 2,5 2 3,5 2,5 2 3,5 2,5 1,5 2,5 3,5

Surakarta,

Mei 2006

Ka. Lab. Bahan Konstruksi Teknik

Kusno Adi Sambowo, ST, Ph.D NIP. 132 129 524

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR
JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Jl. Ir. Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Telp. (0271) 632363

Lampiran IV.15. Hasil Pengujian Kuat Tekan Silinder Beton
HASIL PENGUJIAN KUAT TEKAN SILINDER BETON FAS 0.4

L-15

No 1

Tanda / Kode BN-40

Tgl. dibuat 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 2119 April 2006

Volume silinder (cm3) 5301,438

Berat (gr) 11950 11900 11750 12080 11900 12000 11950 11300 11500 11400 11500 11500 12250 12100 12150

b.j (gr/cm3) 2,254 2,245 2,216 2,279 2,245 2,264 2,254 2,131 2,169 2,150 2,169 2,169 2,301 2,282 2,292

b.j rata-rata (gr/cm3) 2,238

Tgl. diuji 3 Mei 2006

Umur 14

Beban Maks. (kN) 495 600 525 510 570 480 430 415 400 420 330 420 535 560 550

Kuat tekan (MPa) 28,011 33,953 29,709 28,860 32,255 27,162 24,333 23,484 22,635 23,767 18,674 23,767 30,275 31,689 31,124

2

BNA-1-40

5301,438

2,263

3 Mei 2006

14

3

BNA-2-40

5301,438

2,185

3 Mei 2006

14

4

BNA-3-40

5301,438

2,163

3 Mei 2006

14

5

BNF-1-40

5301,438

2,292

3 Mei 2006

14

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR
JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Jl. Ir. Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Telp. (0271) 632363

Lampiran IV.15. Lanjutan
HASIL PENGUJIAN KUAT TEKAN SILINDER BETON FAS 0.4

L-16.

No 1

Tanda / Kode BNF-2-40

Tgl. dibuat 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006

Volume silinder (cm3) 5301,438

Berat (gr) 12100 12200 12000 12100 12100 12100 11550 11650 11850 11900 11700 11600 11600 11600 11600

b.j (gr/cm3) 2,282 2,301 2,264 2,282 2,282 2,282 2,179 2,197 2,235 2,245 2,207 2,188 2,188 2,188 2,188

b.j rata-rata (gr/cm3) 2,282

Tgl. diuji 3 Mei 2006

Umur 14

Beban Maks. (kN) 600 530 600 580 630 600 440 390 400 330 420 425 420 420 460

Kuat tekan (MPa) 33,953 29,992 33,953 32,821 35,651 33,953 24,899 22,069 22,635 18,674 23,767 24,050 23,767 23,767 26,031

2

BNF-3-40

5301,438

2,282

3 Mei 2006

14

3

BNAF-11-40

5301,438

2,204

3 Mei 2006

14

4

BNAF-12-40

5301,438

2,213

3 Mei 2006

14

5

BNAF-13-40

5301,438

2,188

3 Mei 2006

14

147 5 Mei 2006 14 4 BNAF-31-40 5301.188 2.767 23.438 2.216 2.438 2.782 36. Sutami No. diuji 5 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks. 36 A Kentingan Surakarta 57126.899 21.210 Tgl.767 23.169 2.767 24.j rata-rata (gr/cm3) 2.226 2.938 23.438 Berat (gr) 11600 11750 11800 12000 11600 11600 11350 11400 11400 11050 11500 11600 11700 11500 11400 b.348 2 BNAF-22-40 5301.438 2.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.084 2. Telp.264 2.914 36.504 24.175 5 Mei 2006 14 .169 2.141 2.188 2. Lanjutan HASIL PENGUJIAN KUAT TEKAN SILINDER BETON FAS 0.782 37.188 2.147 5 Mei 2006 14 5 BNAF-32-40 5301.573 37.15. dibuat 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301.207 2.150 b.4 L-17 No 1 Tanda / Kode BNAF-21-40 Tgl.213 5 Mei 2006 14 3 BNAF-23-40 5301.333 25.504 21.j (gr/cm3) 2. Ir.150 2.438 2. (0271) 632363 Lampiran IV. (kN) 370 420 420 420 440 380 380 430 450 650 670 650 640 770 660 Kuat tekan (MPa) 20.150 2.465 36.217 43.188 2.

No 1 Tanda / Kode BNAF-33-40 Tgl. 132 129 524 . Telp. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Ir. Mei 2006 Ka. ST. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. diuji 4 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks. Sutami No. Lab.j rata-rata (gr/cm3) 2.j (gr/cm3) 2. (0271) 632363 Lampiran IV.480 38.438 Berat (gr) 11250 11250 11750 b.480 35.15.216 b.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.122 2.D NIP. Ph.122 2.4 L-18. Lanjutan HASIL PENGUJIAN KUAT TEKAN SILINDER BETON FAS 0. dibuat 20 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301.153 Tgl.368 Surakarta. (kN) 680 680 625 Kuat tekan (MPa) 38.

169 2.235 2.245 2.169 2.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.248 3 Mei 2006 14 .235 2.688.254 2. diuji 3 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks.301 2.395 3.768 2.438 2. 2.446 3.16. (kN) 220 240 245 230 160 175 100 180 180 125 190 180 190 160 200 Kuat tarik (MPa) 3.179 2. Telp.438 2.112 3.264 2.4 L-19 No 1 Tanda / Kode BN-40 Tgl. Hasil Pengujian Kuat Tarik Silinder Beton . dibuat 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301. Sutami No.438 2.264 2.207 3 Mei 2006 14 4 BNA-3-40 5301.216 2.546 1.169 2.j rata-rata (gr/cm3) 2.438 2.264 2.546 2.160 3 Mei 2006 14 3 BNA-2-40 5301. Ir.254 2.j (gr/cm3) 2.415 2.273 Tgl. 36 A Kentingan Surakarta 57126.194 3 Mei 2006 14 5 BNF-1-40 5301.254 2.245 b.141 2.829 2 BNA-1-40 5301.169 2. HASIL PENGUJIAN KUAT TARIK SILINDER BETON FAS 0.688 2. (0271) 632363 Lampiran IV.476 1.546 2.438 Berat (gr) 12200 11950 12000 11500 11350 11500 11500 11750 11850 11850 11550 11500 11900 11950 11900 b.

301 2.971 3.900 2.197 2.768 3.829 2.264 2.200 3 Mei 2006 14 5 BNAF-13-40 5301. 36 A Kentingan Surakarta 57126.334 2.4 L-20 No 1 Tanda / Kode BNF-2-40 Tgl.197 2.334 2. Ir.627 2.282 2.476 2 BNF-3-40 5301.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.j (gr/cm3) 2.438 2.438 2.301 2. diuji 3 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks.197 2.476 2.325 2.245 2.j rata-rata (gr/cm3) 2.289 Tgl. Telp. Sutami No. (0271) 632363 Lampiran IV.042 2.169 2.438 Berat (gr) 12200 12200 12000 11650 11900 12100 11500 11650 11650 11700 11650 11650 11750 11900 11750 b.241 3 Mei 2006 14 3 BNAF-11-40 5301.197 2.438 2.216 2.438 2.334 1.829 2. (kN) 125 235 165 165 115 200 165 205 165 160 175 200 210 215 175 Kuat tarik (MPa) 1.216 b.334 2.245 2.207 2. Lanjutan HASIL PENGUJIAN KUAT TARIK SILINDER BETON FAS 0.263 2.16.226 3 Mei 2006 14 .188 3 Mei 2006 14 4 BNAF-12-40 5301.197 2. dibuat 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301.

169 2. Sutami No.176 4 Mei 2006 14 .141 2.264 1.179 2.438 2.768 1. dibuat 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301.16.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. Telp.188 Tgl.122 2.179 2.188 2.188 2.839 2.172 4 Mei 2006 14 3 BNAF-23-40 5301.617 2.179 4 Mei 2006 14 5 BNAF-32-40 5301.264 1.147 4 Mei 2006 14 4 BNAF-31-40 5301.122 1.910 2.438 2. 36 A Kentingan Surakarta 57126.122 2.768 2 BNAF-22-40 5301. Ir. diuji 4 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks.4 L-21 No 1 Tanda / Kode BNAF-21-40 Tgl.839 1. HASIL PENGUJIAN KUAT TARIK SILINDER BETON FAS 0. (kN) 180 185 160 125 135 150 150 105 185 160 130 130 150 120 125 Kuat tarik (MPa) 2.169 2.169 2.150 2.698 1.546 2.207 2.169 2.485 2.122 1.j rata-rata (gr/cm3) 2.438 Berat (gr) 11700 11600 11500 11600 11600 11350 11400 11500 11250 11500 11550 11600 11500 11550 11550 b.438 2.617 2.j (gr/cm3) 2. (0271) 632363 Lampiran IV.188 2.179 b. Lanjutan .438 2.188 2.

Telp.16. Mei 2006 Ka. dibuat 20 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301. 132 129 524 . Ph.627 1. (kN) 115 115 115 Kuat tarik (MPa) 1. Lanjutan HASIL PENGUJIAN KUAT TARIK SILINDER BETON FAS 0.D NIP. ST.j (gr/cm3) 2. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.j rata-rata (gr/cm3) 2. No 1 Tanda / Kode BNAF-33-40 Tgl.627 1. Ir.254 2. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Sutami No. Lab.4 L-22. diuji 4 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks. (0271) 632363 Lampiran IV.438 Berat (gr) 11750 11950 11550 b.627 Surakarta.216 2.216 Tgl.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.179 b.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful