TUGAS AKHIR

KAPASITAS TEKAN DAN TARIK BETON DENGAN BAHAN TAMBAH FILLER ABU AMPAS TEBU DAN ABU ARANG BRIKET DENGAN FAS 0,4

Disusun guna memenuhi persyaratan untuk memperoleh Gelar Sarjana Teknik pada Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta

oleh :

Aditya Galih Wijaya NIM : D 100 000 145 NIRM : 00.6.106.03010.5.0145

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2006

LEMBAR PENGESAHAN

KAPASITAS TEKAN DAN TARIK BETON DENGAN BAHAN TAMBAH FILLER ABU AMPAS TEBU DAN ABU ARANG BRIKET DENGAN FAS 0,4
Tugas Akhir Diajukan dan dipertahankan pada Ujian Pendadaran Tugas Akhir di hadapan Dewan Penguji Pada tanggal : …. Juni 2006

Aditya Galih Wijaya
NIM : D 100 000 145 NIRM : 00.6.106.03010.5.0145 Susunan Dewan Penguji Pembimbing utama Pembimbing pendamping

Ir. Suhendro Trinugroho, M.T NIP. 732 Anggota

Ir. H. Aliem Sudjatmiko, M.T NIK. 131 683 033

Much. Sholichin, S.T, M.T NIK : 792 Tugas Akhir ini diterima sebagai salah satu persyaratan Untuk mencapai derajat sarjana S-1 Teknik Sipil Surakarta,…..Juni 2006 Mengetahui Dekan Fakultas Teknik Ketua Jurusan Teknik Sipil

Ir. Sri Widodo, M.T NIK. 542 iii

M. Ujianto, ST, M.T NIK. 564

MOTTO

“Katakanlah : sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah”.
(Q.S Al-An’aam:162-163)

“Tenang setenang langit dan cepat secepat kilat”.
( Penulis )

“Barang siapa berjalan di suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan mempermudah jalan ke surga”.
( H. R. Muslim )
“Janganlah berfikir untuk menjadi orang yang sukses, tapi berpikirlah untuk menjadi orang yang berguna”.

( Penulis )

“Terima kasih Ya Allah untuk kehidupan dan kesehatan saya. Terima kasih atas kesempatan-kesempatan saya, atas persoalan-persoalan saya, dan terima kasih atas bimbingan dalam mengatasi persoalan-persoalan tersebut”.
( Penulis )

iv

Ummi dan Abbah Demi Allah tidak dapat aku balas pengorbanan. Almamaterku. Istriku Anita Fitriana dan Calon Anakku Naja Keyshika Semangat serta perjuanganmu adalah nafas kehidupanku. Adikku Adhimas Pamungkas Terima kasih atas semua do’anya.HALAMAN PERSEMBAHAN Ucapan Terima Kasih Penulis Persembahkan Kepada : My Lord Atas izin-Mu untuk menyelesaikan Tugas Akhir ini. cucuran keringat dan kasih sayangmu selama aku hidup di dunia. Stream K4658KB. Winning Eleven. v . BlueMax K6723DE.

vi . Ummi dan Abbah. ilmu.KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. nasehat dan kesabaranya.. M.. Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir dengan judul ”Kapasitas Tekan Dan Tarik Beton Dengan Bahan Tambah Filler Abu Ampas Tebu Dan Abu Arang Briket Dengan Fas 0.T. selaku Dosen Pembimbing Pendamping. H. Suhendro Trinugroho. Saudara sekandungku Adhimas Pamungkas. Bapak Ir. yang telah memberikan dorongan dan semangat baik moril maupun materiil dalam menyelesaikan laporan ini. terima kasih untuk semua bimbingan.T. selaku Dosen Pembimbing Utama Tugas Akhir. Anita Fitriana. Bapak M.. Ujianto. Bapak Ir. Bapak Ir... terima kasih untuk semua bimbingan. penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung membantu membimbing serta meluangkan waktu sehingga laporan ini dapat terselesaikan. selaku Dosen Koordinator Tugas Akhir. selaku Ketua Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta. Aliem Sudjatmiko. Ibu Qunik Wiqoyah. M. M. Penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1). keberadaanmu tunjukkan aku bahagia. ilmu.T.T. 3).4”. Sri Widodo. terima kasih atas semua do’anya. 2). Dengan selesainya penyusunan laporan ini. keramahanmu teduhkan jiwaku. M. 5). 4).T. selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta. kehangatanmu memberikan cermin hati tuk melihat seluruh putihnya kasihmu. M. S. Bapak Ir. H.. S. 8). kehadiranmu ajarkan aku bijaksana.. M. Suhendro Trinugroho.T. selaku Dosen Pembimbing Akademik 7).T. nasehat dan kesabaranya. 6).Wb Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Karunia. 9).T.

Pardi terima kasih atas semua bantuannya. Jesus. Mr.Wb Surakarta.10). Parman. Wassalamu’alaikum Wr.?!). Guruh+Trek (Laskar Industri Indonesia). Juni 2006 Penulis vii . 12). 11). PT. Asih. 17). Toni+Ikha (Keluarga Ceria). Fajri. Semoga laporan ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca. Anita. 15). Ari. Punggawa Yandu : Kholiq+Sahid (tetep kompak dan rukun slalu yo). Sahabatku Kenci. Bala Tentara Lab Teknik Sipil UNS : Bos Kusno Adi S. Barudak Sipil 2000. Adhi Karya. Edwin Reagen Sedunia (kapan modal chek. 13). Yanuar+Dinda (hidup tak selamanya indah).45 terima kasih atas semua masukkan dan kerjasamanya yang baik slama ini. Rubianto Nugroho selaku Partner Dewan Beton Nasional 0. untuk itu kritik dan saran yang sifatnya membangun penulis harapkan demi kesempurnaan penyusunan laporan selanjutnya. Persero Tbk Cabang II Riau yang telah memberikan segala fasilitas dan jaminan hidup sampai sekarang. terima kasih atas dukungan dan bantuannya.. Save My Soul… 16). terima kasih atas persahabatannya. 14). Asrie (A4). Hatur Nuhun Sanget Ya Allah. Sayoko. Amin. Radjimin. Danang. Penulis menyadari keterbatasan dalam penyusunan Tugas Akhir ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Orang-orang yang dekat denganku dan merubah hidupku jadi lebih berarti.

DAFTAR NOTASI K = Kadar lumpur (gram) G 0 = Berat pasir mula – mula (gram) G 1 = Berat pasir setelah dicuci (gram) B = Berat picnometer + air (gram) BT = Berat picnometer + air + pasir (gram) BJ = Berat batu pecah dalam keadaan jenuh (gram) BA = Berat batu pecah dalam air (gram) Wо = Berat pasir mula – mula (gram) W 1 = Berat agregat halus yang tertahan saringan ukuran 2 mm (gram) M = nilai margin Sd = standart deviasi f’c = Kuat tekan beton (MPa) f’cr = Kuat tarik beton (MPa) W = Berat benda uji (gram) V = Volume silinder beton (cm³) P = Beban maksimal (N) d = Diameter silinder (mm) h = Tinggi silinder (mm) π = 3.14 viii .

............ Rumusan Masalah....... Pengertian Beton................................................................................................................................................ 2.................................................................. HALAMAN SOAL...............DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ..................................................................................................................................... 2................................................... HALAMAN PERSEMBAHAN ........................................................... BAB II TINJAUAN PUSTAKA .......... Umum ................. Faktor air semen............................................................................................................................. C..................................................................... 1.. Batasan Masalah ...................................... ix 1 1 3 3 3 3 3 4 5 5 6 6 6 7 8 8 8 ........................................................................................ 1............................................... Tujuan penelitian...... A................................................................................................................................................ A............ xviii ABSTRAKSI .............. B............................. Sifat khusus beton .................................. xv DAFTAR LAMPIRAN....................................................... 1........................ DAFTAR ISI...................................... C......................... xvii DAFTAR NOTASI ........................................... E. Keaslian Penelitian ....................................................................................................................... MOTTO .................................... LEMBAR PENGESAHAN ........................... Beberapa Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Beton ................................................................................................... vii DAFTAR GAMBAR ............................................ D........................................................................... xix BAB I PENDAHULUAN............................... 2..................... xiii DAFTAR TABEL............................................................................... D..................................................................................................................... i iii iv v vi ix KATA PENGANTAR ......................................................... B................ Latar Belakang........... Sifat umum beton .................................................................... Manfaat penelitian.................... Tujuan dan Manfaat Penelitian ......................... Sifat – sifat Beton ..................................... Jumlah semen ..........................................

......................................................... 13 3........ 32 A.................................................................................... 19 6....... 14 BAB III LANDASAN TEORI............................................................................................ Abu ampas tebu...............................................................................................3...... 35 x ..................................................... Bahan Pengisi (Filler) ........ Bahan Tambah Beton.............................. 17 2a)... Air ........... Agregat ........ Bahan Penyusun beton ........................... 18 2b)............. 18 3.. Peralatan Penelitian.................. Agregat kasar .... 19 5................. 15 B............................................................................................................................................................... 33 2b).... Umum ....................................... 20 D.................................................................. 16 2.. 30 BAB IV METODE PENELITIAN ......... Bahan tambah kimia..................................... 15 A............ 29 E...... Serat............................................................ Perencanaan Campuran Beton ................................................................................................... 33 2c).................................................................... Jenis semen.......................... 32 1.................................................... Umur beton....................................................... 12 2................ 10 5........ Kuat Tarik Beton.................. Bahan Penelitian dan Peralatan Penelitian............... 34 2d).................................... Pozolan............................................ 11 E............. Sifat agregat ................................................................................... 18 4................................................................................ Penggetar ayakan (Siever) .............................................................................................. Gelas ukur................................................ Timbangan .. 15 1................................................. 35 2e)........... Bahan penelitian. Kerucut Conus .............................................................. Umum .... Ayakan standar .................. Agregat halus ........................................... 32 B............... Semen portland ........... 32 2a).. 20 C................................................................................ Kuat Tekan Beton ......... 9 4.................................................................................... 12 1. Abu arang briket.............................................. 32 2...............................................................

........ Cetakan silinder.......... 37 2i).......... 37 2j)............. Tahap I : Persiapan alat dan penyediaan bahan ............................. 53 3........................... Mesin uji Los Angeles............................................ 44 1b)................. 38 2m)...................... Mesin uji tekan.......................................... 52 2................. 44 1a)................................ 48 1f)........................... Pemeriksaan kadar lumpur pasir .. Pemeriksaan gradasi batu pecah ..................................................... 42 D..................... Tahap V : Analisis data dan kesimpulan................................................................... Pemeriksaan keausan agregat kasar............ Pemeriksaan zat organik pasir ................................ Pemeriksaan berat satuan volume batu pecah .............................. 44 1...... Tahap Penelitian ..... 41 2............. 39 2n).... 50 1h)... Pelaksanaan Penelitian............................. 45 1c)..... Kerucut Abram’s...................................................................... 46 1d)..................................................................... Desicator .. 41 5....................................2f)........ Pemeriksaan bahan....... 36 2h). 36 2g). Molen ................................... 49 1g) Pemeriksaan Specific Gravity dan Absorbtion kerikil ....................................... 41 3. 38 2l).................................... Tahap IV : Pengambilan data.............................. 55 xi ................... 51 1i).................................................................. Oven........................... Peralatan penunjang lain ................................... 40 1.. 54 4..................................................... Perencanaan campuran beton .................................. Pengujian Slump... Tahap II : Pemeriksaan bahan dasar........... Tahap III : Penyediaan benda uji ................................................ Pemeriksaan Saturated Surface Dry (SSD) pasir....................... Volumetric Flash ............................. 39 2o)..... Pembuatan benda uji . 40 C... 39 2p)......... Bak tempat perendaman benda uji . Tongkat baja .... 47 1e)........................................................................... Pemeriksaan Specific Gravity dan Absorbtion pasir...................................... Pemeriksaan gradasi agregat pasir............................................... 37 2k). 41 4.................................

.... Perawatan benda uji (Curing) ...... Pengujian Berat Jenis Beton ................................................. Hasil pengujian agregat halus ......... Pengujian kuat tekan dan tarik beton ..................................................................................................................................... Kesimpulan ........ 61 2........................... 63 B.................................... Hasil pengujian agregat kasar .............................. 72 A...................................... 61 1..... 56 7........... Pemeriksaan berat jenis beton.... Pengujian Agregat....................... 55 6...................... 61 A..................................... Pengujian Slump ............................................................................ Pengujian Kuat Tekan Dan Kuat Tarik Beton .. Pembahasan Hasil Penelitian ..............................................5................................................... 72 B.............................................. 56 BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .. 67 D...... 70 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ............. Saran ..................................................... 69 E............ 73 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN xii ............. 66 C.............................

................................6................. 35 Gambar IV.................................... Hasil pengujian kuat tekan beton......12........10.......16..................... Pengaruh umur beton terhadap laju kenaikan kuat tekan beton pada beberapa fas . 37 Gambar IV............. 57 Gambar IV. Molen ............................ Benda uji setelah dicat ........................... 2...... 2................... 58 Gambar IV.................. Satu set ayakan dan Siever... 36 Gambar IV................................. 58 xiii .......... 4...................... Timbangan digital .... 34 Gambar IV........19.......................................................................... 39 Gambar IV........ Hubungan antara kuat tekan beton dan jumlah semen . Pengaruh suhu pada laju kuat tekan beton .... 36 Gambar IV................. 43 Gambar IV........................ 8......................DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar II....... Oven ..........................1...................................... Mesin Los Angeles .........................13.................................11.... 1....... 38 Gambar IV................................... Cetakan beton silinder.. 12 Gambar II............. 34 Gambar IV.....................21..........14... 56 Gambar IV.................. 13 Gambar IV.....................................20.... 57 Gambar IV....................... Kerucut Abram’s dan tongkat baja ........... 33 Gambat IV.....9......... Gelas ukur ..... 3....... Desicator.......... Peralatan penunjang lainnya ........... 38 Gambar IV.............. Bak tempat perendaman benda uji...... Kerucut Conus ...............18... 11 Gambar II............ Benda uji sebelum dicat .......15................................................................... Pengujian kuat tekan beton .............................................................. 3...........................17.................. Volumetric flash ............................. 10 Gambar II......... 37 Gambar IV....7.................................................................. Mesin uji kuat tekan dan kuat tarik merk Milano Italy.................... 40 Gambar IV..... 40 Gambar IV...... Pengaruh jenis agregat terhadap kuat tekan beton ......... 6.................. Bagan alir tahapan penelitian............... Perawatan benda uji beton ................. Grafik kuat tekan beton untuk berbagai jenis semen... 4............................ Hubungan antara faktor air semen dan kuat tekan silinder beton 9 Gambar II......................... 39 Gambar IV.... 11 Gambar II............... Timbangan besar........ 35 Gambar IV....................................... 5................................................................................ 5.............

................... Grafik gabungan hubungan kuat tarik rata-rata dengan variasi tebu bahan tambah filler abu ampas dan abu arang briket.............. Pengujian kuat tarik beton .......................................... 59 Gambar V............................................... Hasil pengujian kuat tarik beton ....... Batas gradasi kerikil . Grafik gabungan hubungan kuat tekan rata-rata dengan variasi tebu bahan tambah filler abu ampas dan abu arang briket.. 72 xiv ..........Gambar IV......22. 63 Gambar V............... 3. Batas gradasi pasir dalam daerah gradasi No.... 59 Gambar IV......... 1.... 4. 65 Gambar V.... 2............. II .....22.. 71 Gambar V...

................................................... 53 Tabel IV............................. 2............... 5............................................. Penetapan nilai Slump .. 5................................ 68 xv ............ 1. 4. Hasil pengujian agregat halus .... Rincian jumlah benda uji untuk kuat tarik beton.............5 dan jenis semen dan agregat kasar yang biasa dipakai di Indonesia ................. 4..4.. Proporsi kebutuhan material tiap 3 sampel untuk uji kuat tekan dan 3 sampel untuk uji kuat tarik dengan fas 0......................................... 2..................... Rincian jumlah benda uji untuk kuat tekan beton ......... 7....................4 .................Batas gradasi pasir ...... 1............... 4 Tabel III.... Ketentuan untuk beton yang berhubungan dengan air tanah yang mengandung sulfat ........... Pengujian agregat kasar ..... Persyaratan jumlah semen minimum dan faktor air semen maksimum untuk berbagai macam pemberonan dalam lingkungan khusus ................... 66 Tabel V............ 28 Tabel IV........... 26 Tabel III.... 10............... Ketentuan minimum untuk beton bertulang kedap air............. Nilai deviasi standar untuk tingkat pengendalian mutu pekerjaan 22 Tabel III............................ Rincian jumlah benda uji kuat tekan dan uji kuat tarik .. 2.. 9............................. 54 Tabel V............................................ Hasil pemeriksaan berat jenis rata-rata kuat tekan beton dengan Fas 0................................................................ Faktor pengali deviasi standar ......... 25 Tabel III..... 65 Tabel V... 24 Tabel III..... Perkiraan kadar air bebas yang dibutuhkan untuk beberapa tingkat kemudahan pengerjaan adukan beton ....... 23 Tabel III................ Hasil penurunan SSD pasir ......................... 1...... 61 Tabel V..................... 26 Tabel III............................... 46 Tabel IV............................DAFTAR TABEL Halaman Tabel I........ 22 Tabel III.. 3... Hasil pengujian agregat kasar .............................. 1 Jenis-jenis semen Portland . 24 Tabel III.... 4.......................................... 63 Tabel V........ 3. 8.... 6... 54 Tabel IV.............. 17 Tabel III.... 3............................................... Hasil pengujian Slump beton umur 14 hari................. Pengujian agregat halus .... Perkiraan kuat tekan beton dengan faktor air semen 0.......................... 65 Tabel V....... 6.............................

. Kuat tekan rata-rata beton dengan variasi penambahan filler abu abu arang briket dan abu ampas tebu dengan Fas 0...................4.................. Hasil pemeriksaan berat jenis rata-rata kuat tarik beton dengan Fas 0....... 7............Tabel V........................ 9... Kuat tarik rata-rata beton dengan variasi penambahan filler abu abu arang briket dan abu ampas tebu dengan Fas 0..... 69 Tabel V......... 68 Tabel V.4.. 70 xvi ............................ 8......4 .

12.................... 8...... Pemeriksaan Slump adukan beton .................................... Hasil pengujian kuat tekan beton ... Pemeriksaan berat satuan volume pasir . Pemeriksaan gradasi batu pecah................. 2........... L-11 Lampiran IV.. L-6 Lampiran IV.................... 9. L-14 Lampiran IV. 3... L-9 Lampiran IV.........13....... 6.. Pemeriksaan gradasi pasir .............. 7..... Proporsi campuran...... L-8 Lampiran IV............. Perencanaan campuran adukan beton metode SK SNI .... L-15 Lampiran IV......................................... Pengujian Saturated Surface Dry (SSD) pasir ..... L-5 Lampiran IV............ L-19 xvii ..........15...............................................14....... 1..... L-12 Lampiran IV..... Pemeriksaan berat satuan volume agregat kasar ............ Pemeriksaan keausan agregat kasar ...10. Pemeriksaan berat satuan volume batu pecah ................ Periksaan kandungan zat organik pada pasir..11..... Pemeriksaan Spesific Gravity dan Absorbtion batu pecah ......................... 5.... L-4 Lampiran IV..................... Pemeriksaan kadar lumpur pada pasir......... L-2 Lampiran IV.......... 4............16.. Hasil pengujian kuat tarik beton . L-7 Lampiran IV. L-10 Lampiran IV.....DAFTAR LAMPIRAN Lampiran IV..... Pemeriksaan Spesific Gravity dan Absorbtion pasir .......... L-13 Lampiran IV................................................ L-3 Lampiran IV..... L-1 Lampiran IV........................

variasi bahan tambah abu ampas tebu sebesar 7.5% dari berat semen.T-15-1990-03.5%.5% . kuat tarik xviii .ABSTRAKSI KAPASITAS TEKAN DAN TARIK BETON DENGAN BAHAN TAMBAH FILLER ABU AMPAS TEBU DAN ABU ARANG BRIKET DENGAN FAS 0. Universitas Sebelas Maret. Fakultas Teknik. 10% . Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Bahan dan Struktur. abu arang briket. Kata kunci : abu ampas tebu.5% dan abu arang briket 12.SNI. 10% .5% dan abu arang briket 10%. dengan hasil peningkatan sebesar 27.70 % dari kuat tarik beton normal.5% dari berat semen dan abu arang briket sebesar 7. Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penambahan filler abu ampas tebu dan abu arang briket terhadap kuat tekan dan kuat tarik beton.5% . 12. Beton yang dibuat berbentuk silinder dengan tinggi 30 cm dan diameter 15 cm.4 dengan umur beton 14 hari.78 % dari kuat tekan beton normal dan dari pengujian kuat tarik rata-rata optimum diperoleh pada variasi abu ampas tebu 7. Skatex yang ada di Karanganyar. 12. Pada penelitian ini menggunakan fas sebesar 0. Jurusan Teknik Sipil. sebesar 14. Dari hasil pengujian kuat tekan rata-rata optimum diperoleh pada variasi abu ampas tebu 12. Penelitian tentang beton telah banyak dilakukan. kuat tekan. Perancangan adukan beton menggunakan rancangan SK.4 Beton merupakan bahan bangunan yang telah banyak dikenal masyarakat Indonesia karena bahan penyusun beton mudah didapat dan relatif murah. adapun penelitian ini mencoba memanfaatkan abu ampas tebu dari Pabrik Gula Tasik Madu yang ada di Karanganyar dan abu arang briket dari PT.

serta bahan kimia tambahan (admixture). Struktur dari beton mempunyai tegangan tarik yang rendah. Beton banyak digunakan karena keunggulan-keunggulannya antara lain kuat tekan beton tinggi. Struktur yang terbuat dari beton antara lain : jalan dan jembatan yang strukturnya terbuat dari beton. mudah dalam perawatan. Latar Belakang Perkembangan teknologi sekarang ini sangat pesat seiring dengan perkembangan zaman. mudah dalam pembentukan. bertujuan 1 . Pemakaian beton diharapkan dapat menghasilkan bangunan-bangunan berkualitas yang tidak mungkin diperoleh dari beton normal. Peningkatan kualitas campuran beton akan menghasilkan beton yang lebih berkualitas. Teknologi dibidang konstruksi bangunan juga mengalami perkembangan pesat. Besarnya kuat beton dipengaruhi beberapa hal antara lain : fas. gradasi agregat. jenis semen. pemadatan dan perawatan). Kualitas beton bergantung pada bahan-bahan penyusunnya. sifat agregat. Kualitas yang baik pada campuran beton ditambah dengan bahan tambah (admixture). Beton merupakan bahan bangunan yang awet dan tidak mudah berkarat. Beban tarik pada plat atau balok beton dipikul oleh tulangan baja pada beton. Jadi perkembangan beton sangat perlu dalam kehidupan sehari-hari yang mempengaruhi konstruksi struktur. bendungan dan sebagainya. serta mudah dalam mendapatkan bahan penyusunnya. dan pengerjaan (pencampuran. umur beton.BAB I PENDAHULUAN A. Semen merupakan salah satu bahan penyusun beton yang bersifat sebagai pengikat agregat pada campuran beton. lapangan terbang. Beton merupakan salah satu faktor penting dalam bidang konstruksi mengingat fungsinya sebagai salah satu pembentuk struktur. hal ini sangat berbeda dengan elemen struktur baja yang memerlukan perawatan untuk mencegah terjadinya karat. termasuk teknologi beton yang hampir pada setiap aspek kehidupan manusia selalu terkait dengan beton baik secara langsung maupun tidak langsung.

Hal ini mengisyaratkan bahwa tetes tebu berpengaruh terhadap kekuatan beton. . Pozolan adalah bahan yang mempunyai kandungan utama senyawa Silicon Dioksida alami atau buatan. Penambahan filler abu arang briket pada campuran beton yang bersifat pozolan. Namun seiring perkembangan zaman. Hubungannya dengan pembuatan beton dikatakan banyak orang bahwa dalam pelaksanaan pembuatan beton. beberapa ahli memberikan tetes tebu sebagai bahan campuran. 1998). Berdasarkan hasil penelitian diatas.2 untuk mengubah satu atau lebih sifat-sifat bahan penyusun beton baik dalam keadaan segar atau setelah keras. seperti bahan tambah filler arang briket. Penambahan abu ampas tebu sebagai bahan tambah dalam campuran beton telah dilakukan dalam beberapa pengujian dengan beberapa variasi takaran penambahan abu ampas tebu terhadap adukan tersebut. mengingat abu ampas tebu berasal dari sisa penggilingan tebu. saat ini ada beberapa praktisi ilmu pengetahuan yang memiliki pendapat lain dari pendapat masyarakat terdahulu. sehingga bisa menjadi addictive mineral yang baik untuk beton. bahwa kadar gula dalam hal ini tetes tebu mampu memberikan pengaruh terhadap beton. dicoba untuk mengembangkan penelitian kapasitas tekan dan tarik beton dengan bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket dengan fas 0.4. Pendapat tersebut adalah kadar gula dengan kadar tertentu akan dapat mengurangi kekuatan beton (Budiyana. Hal tersebut membuat masyarakat beranggapan. Pemilihan abu ampas tebu sebagai bahan tambah merupakan salah satu alternatif yang cukup mengena. yang tidak mempunyai sifat seperti semen. Bangunan yang dibuat sampai sekarang rata-rata masih berdiri kokoh. Penelitian ini ingin mengetahui berapa besar kuat tekan dan tarik beton tersebut setelah diberi bahan tambah dibandingkan dengan beton normal. selain itu abu ampas tebu mudah didapat dan bisa dibedakan atau diketahui cukup dengan indra manusia. Sedangkan pohon tebu tumbuh subur di daerah tropis seperti di Indonesia ini.

jenis I merk Holcim.5 %. 10 %. C. 8. 12. D. Filler abu arang briket didapat dari PT. Benda uji berupa silinder berdiameter 15 cm dan tinggi 30 cm. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Rumusan Masalah Rumusan masalah yang diambil dalam penelitian ini adalah seberapa besar pengaruh penambahan filler abu ampas tebu dan abu arang briket terhadap kuat tekan dan kuat tarik beton. Faktor air semen yang digunakan 0.5 % dari berat semen. maka penulis memberikan batasan-batasan masalah pada penelitian sebagai berikut : 1. 4. 5. Pengujian kuat tekan dan tarik beton tidak menggunakan tulangan. bahwa pemakaian bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket mampu menambah kuat tekan dan tarik beton yang lebih baik. 6. untuk mengembangkan pengetahuan tentang teknologi beton terutama pemanfaatan filler abu arang briket sebagai bahan tambah. Metode mix design menggunakan Metode SK. 7. Tujuan penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kuat tekan dan kuat tarik beton yang dihasilkan dengan menggunakan bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket 2. Manfaat penelitian Manfaat penelitian ini antara lain : a). Manfaat teoritis.4. Agregat kasar (batu pecah) dan agregat halus (pasir). Skatex di Karanganyar. Abu ampas tebu berasal dari PG. 9.T-15-1990-03. 3. . b). Batasan Masalah Agar tidak terjadi perluasan dalam pembahasan tugas akhir ini. 2. Persentase variasi campuran abu ampas tebu dan abu arang briket adalah 0 %. Penelitian ini diharapkan dapat membuktikan.SNI. Tasik Madu di Karanganyar.3 B. berasal dari Boyolali. 7. Semen yang digunakan adalah semen Portland.

12.5 7.h=30 E.5 .12. Jumlah seluruh benda uji yaitu (3 x 4 x 4) x 2 = 96 benda uji. Umur pengujian (hari) Fas Abu Ampas Tebu (%) Abu Arang Briket (%) Jumah total benda uji Ukuran benda uji (cm) 0 14 hari 0.45. di Laboratorium Bahan Konstruksi Teknik.5 3 9 27 9 48 x 2 = 96 d=15. Rincian jumlah benda uji untuk kuat tekan dan tarik beton.4. Umur pengujian kuat tekan dan kuat tarik beton benda uji silinder beton dilaksanakan pada umur 14 hari. Variasi campuran bahan tambah yang digunakan untuk adukan beton dan variasi perendaman seperti pada Tabel I.5 .1.SNI.1. Tinjauan analisis pada kuat tekan dan kuat tarik beton. Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta.12.5 . Jumlah benda uji 3 buah tiap variasi abu ampas tebu dan abu arang briket. 10 .5 7. Keaslian Penelitian Penelitian beton dengan bahan tambah abu batu bara telah dilakukan oleh Murgiyanto (2003). Penelitian lain tentang analisis kuat tekan beton dengan penambahan larutan gula dan abu arang briket batubara pernah diteliti oleh Muctar Rifai (2005). 10 . 10 .12.12. Penelitian yang dilakukan oleh Murgiyanto (2003) adalah tinjauan pemakaian abu batubara terhadap karakteristik beton dengan menggunakan faktor air semen 0. 11. .T-15-1990-03.4 7.5 .5 Jumlah benda uji 0 7. 13. Penelitian tersebut untuk mengetahui pengaruh bahan tambah larutan gula dan abu arang briket batubara terhadap kuat tekan beton mutu tinggi. Dalam penulisan tugas akhir ini dikaji tentang pengaruh penambahan bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket terhadap kuat tekan dan kuat tarik beton dengan menggunakan fas 0.4 10. 14. Untuk perencanaan campuran menggunakan metode SK. Tabel I. 10 .

B. dan gedung yang sering ditempati. baik secara langsung maupun tidak langsung. yang diakibatkan oleh reaksi kimia antara air dan semen. Jadi dapat diambil kesimpulan. Sebagai contoh jalan. misalnya dengan pemanfaatan bahan-bahan lokal yang didapat di daerah tertentu dengan mengubah perbandingan bahan dasarnya. Semakin modern suatu bangsa. maka peranan teknologi tentang beton akan sangat dominan dan sangat berpengaruh pada proses pembangunan yang menggunakan teknologi beton. 5 . Hampir pada setiap aspek kegiatan pembangunan sehari-hari tergantung pada beton. air dan kadang-kadang memakai bahan tambah yang sangat bervariasi. nilai perbandingan bahan-bahannya. Umum Beton merupakan suatu material yang sangat sering dijumpai. cara pengadukannya maupun cara pengerjaannya selama penuangan adukan beton dan cara perawatan selama proses pengerasan. 1996). (Tjokrodimuljo. agregat. maka akan didapat suatu fungsi beton maksimum. Kekuatan. jembatan. mulai dari bahan kimia tambah. 1995) Kemajuan pengetahuan tentang beton telah dapat memenuhi berbagai tuntutan pembangunan.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. (Tjokrodimuljo. Dengan perencanaan yang tepat dan sesuai rencana serta pengontrolan pada pemilihan material yang baik. bahwa kegiatan sehari-hari sering dipengaruhi oleh dampak perkembangan teknologi beton. keawetan dan sifat beton bergantung pada sifat bahan dasar penyusunnya. Beton yang bermutu sangat baik merupakan material yang sangat awet dan bebas dari pemeliharaan untuk beberapa tahun. Pengertian Beton Beton merupakan campuran antara semen. (Subakti. maka akan menghasilkan suatu mutu beton yang dapat memenuhi persyaratan. serat sampai bahan bangunan non kimia pada prosentase tertentu. Campuran tersebut bila dituangkan dalam cetakan kemudian dibiarkan maka akan mengeras seperti batuan. 1996).

Sifat umum beton Secara umum beton mempunyai sifat kebaikan dan kekurangan tertentu jika dibandingkan dengan bahan-bahan lain (Tjokrodimuljo. 5) Beton segar dapat disemprotkan dipermukaan beton lama yang retak maupun diisikan kedalam retakan beton dalam proses perbaikan. . 3) Beton segar dapat dengan mudah diangkut maupun dicetak 4) Akibat kuat tekannya tinggi maka jika dikombinasikan dengan baja tulangan (yang kuat tariknya tinggi) maka dapat dikatakan mampu dibuat untuk struktur berat. 1996 ). 2) Beton segar mengalami proses pengerutan saat terjadi proses pengeringan dan beton mengeras mengalami pengembangan jika basah. 2) Harga relatif murah. Kelebihan beton antara lain : 1) Beton termasuk bahan yang berkekuatan tekan tinggi.1996). 1. Diharapkan dari suatu konstruksi adalah hasil yang didapat sesuai harapan secara maksimal tetapi secara ekonomis tidak terjadi pemborosan. Sifat – Sifat Beton Sifat beton merupakan hal yang erat kaitannya dengan kualitas beton yang dituntut untuk suatu tujuan konstruksi.6 C. Kekurangan beton antara lain : 1) Beton mempunyai kuat tarik rendah sehingga mudah retak oleh karena itu perlu diberi tulangan. 7) Beton termasuk tahan aus dan tahan kebakaran sehingga biaya perawatan termasuk rendah. Sifat-sifat beton pada umumnya digolongkan menjadi dua. 6) Beton segar dapat dipompakan sehingga memungkinkan untuk dituang pada tempat-tempat yang sulit. yaitu sifat yang berhubungan langsung dengan kelebihan beton dan sifat yang berhubungan dengan kekurangan beton ( Tjokrodimuljo. 3) Beton keras mengembang dan menyusut bila terjadi perubahan suhu sehingga perlu kelonggaran untuk mencegah retak-retak akibat perubahan suhu.

Kuat tekan ini selalu bertambah bersamaan dengan bertambahnya umur beton. b). Sifat khusus beton Sifat secara khusus bagi beton adalah sifat-sifat yang ditinjau atau berhubungan dengan : a). 2. bahkan di dalam pengujian tidak mungkin menghilangkan elemen lentur (Murdock & K. Kuat Tekan Kuat tekan beton lebih besar daripada kuat tariknya. perubahaan bentuk terjadi dan bertambah sesuai dengan pertambahan beban. Besarnya kuat geser. Dalam praktek. Beton berubah bentuk sebagian mengikuti regangan elastis dan sebagian mengalami regangan plastis. Biasanya ini tidak diperhitungkan dalam perencanaan struktur beton. dan air yang mengandung garam dapat merusak beton. tarik dan lentur. Modulus elastisitas Yang menjadi tolok ukur yang umum dari sifat elastis bahan adalah modulus elastisitas yang merupakan perbandingan dari tekanan yang diberikan dan perubahan bentuk persatuan panjang sebagai akibat dari tekanan yang diberikan. Perubahaan bentuk akibat pembebanan Bilamana beton dibebani. Besarnya kuat tarik dan lentur Kuat tarik beton berkisar seperdelapan belas kuat tekan pada umur yang masih muda dan berkisar sepersepuluh sesudahnya. Brook.7 4) Beton sulit untuk kedap air secara sempurna sehingga selalu dapat dimasuki air. sebagaimana baja dan bahan-bahan lain. 1991) d). c). .M. kuat geser beton selalu diikuti oleh kuat tekan. 5) Beton bersifat getas (tidak daktail) sehingga harus dilindungi dan didetail secara seksama agar diperoleh struktur yang komposit. e).

Walaupun semakin rendah faktor air semen. Hubungan antara faktor air semen dan kuat tekan silinder beton (Tjokrodimuljo. 1996). Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas beton antara lain : 1. Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Beton Kesempurnaan semua sifat dasar beton dicapai dengan tidak meninggalkan segi ekonomis. makin rendah kuat tekan betonnya.semen Gambar II. dan adukan beton sulit didapatkan. sehingga beton menjadi kurang padat (Tjokrodimuljo. kekuatan beton semakin tinggi. Pencapaian nilai kuat tekan beton yang maksimal harus dipertimbangkan hal-hal yang mempengaruhi kualitas beton tersebut.1. Ideal Dipadatkan dengan alat getar Kuat tekan beton Dipadatkan dengan tangan Padat penuh tidak padat Faktor air . Namun jika jumlah . berarti jumlah air juga sedikit.8 D. karena penggunaa beton yang diharapkan yaitu dengan kualitas yang baik dan mempunyai kuat tekan tinggi. 1996) 2. Pada jumlah semen yang terlalu sedikit. Faktor air semen Faktor air semen adalah angka yang menyatakan perbandingan antara berat air dengan berat semen. serta murah dari segi ekonomisnya. Semakin besar faktor air semen. kuat tekan beton akan rendah. sehingga kuat beton rendah. akan tetapi dibawah faktor air semen tertentu. Hal ini terjadi karena kesulitan dalam pemadatan adukan beton. Jumlah semen Beton dengan jumlah kandungan semen tertentu mempunyai kuat tekan tinggi.

kekasaran permukaan agregat dan gradasi butir agregatnya. sebenarnya tidak begitu besar karena pada umumnya kekuatan agregat lebih tinggi daripada pastanya. Kekasran permukaan agregat mempengaruhi daya lekat dan besarnya tegangan saat retak-retak beton mulai terbentuk. Namun apabila dikehendaki kekuatan beton yang lebih tinggi. Beton dengan kandungan semen lebih banyak mempunyai kuat tekan lebih tinggi. Gambar II. sedangkan gradasi butiran juga sangat mempengaruhi kekuatan beton.1996). Hubungan antara kuat tekan beton dan jumlah semen ( Tjokrodimuljo. gradasi agregat dengan ukuran butiran yang bervariasi berarti sedikit pula pori-pori betonnya sehingga memerlukan jumlah pasta yang sedikit untuk mengisi rongga-rongga antar butirnya dan secara teoritis kekuatannya lebih tinggi (Tjokrodimuljo. sehingga penambahan semen berarti pengurangan nilai faktor air semen. yang berakibat penambahan kuat tekan (Tjokrodimuljo. 1996). diperlukan agregat yang lebih kuat. Pengaruh kekuatan agregat terhadap kekuatan beton. Sifat agregat Sifat agregat yang berpengaruh terhadap kekuatan beton adalah kekuatan agregat.9 semen terlalu berlebihan berarti jumlah air juga berlebihan sehingga beton mengandung banyak pori dan akibatnya kuat tekan beton rendah. .2. 1996) 3.

dan pada permukaan endapan butiran semen ini akan membuat difusu air ke bagian dalam.10 Gambar II. hal inilah yang menyebabkan semakin sulitnya proses hidrasi seiring dengan bertambahnya umur beton. Umur beton Kuat tekan beton bertambah sesuai dengan bertambahnya umur beton. Kenaikan kekuatan beton tersebut mula-mula cepat kemudian semakin melambat selaras dengan umur betonnya. 4. 3. Yang dimaksud umur beton adalah dihitung sejak umur beton dibuat.1996) . 1996) 4. Hal ini disebabkan oleh reaksi kimia yang terjadi antara bahan-bahan penyusun beton. terutama antara semen dan air yang mengalami proses hidrasi. Gambar II. Pengaruh jenis agregat terhadap kuat tekan beton (Tjokrodimuljo. butir-butir semen akan menghasilkan endapan. Selama proses ini. Pengaruh suhu pada laju kuat tekan beton (Tjokrodimuljo.

Semen portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan panas hidrasi yang rendah. Jenis semen Menurut PUBI. Semen portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan kekuatan awal yang tinggi setelah pengikatan terjadi. 5. Pengaruh umur beton terhadap laju kenaikan kuat tekan beton pada beberapa fas (Tjokrodimuljo.11 Gambar II. Semen portland yang dalam penggunaannya persyaratan sangat tahan terhadap sulfat.1996) 5. 1996) . Departemen Pekerjaan Umum (1982) membagi semen portland dalam lima jenis yaitu : Jenis semen Jenis I Jenis II Jenis III Jenis IV Jenis V Karakteristik Umum Semen portland untuk penggunaan umum yang tidak memerlukan persyaratan khusus seperti yang disyaratkan pada jenis-jenis lain. Semen portland yang dalam penggunaannya memerlukan ketahanan terhadap sulfat dan panas hidrasi. (Sumber : Tjokrodimuljo.

semen dan agregat) yang ditambahkan pada adukan beton. segera atau selama pengadukan beton (Tjokrodimuljo. sebelum. 1996). . Penggunaan bahan tambah (admixture) harus didasarkan pada alasanalasan yang tepat misalnya memperbaiki kelecakan beton. untuk mengubah beberapa sifat beton dan memperoleh sifat-sifat khusus yang diinginkan (Departemen Pekerjaan Umum. Bahan kimia (berupa bubuk atau cairan) ini dicampurkan ke dalam adukan beton dengan jumlah tertentu selama pengadukan. menghemat harga beton menambah daktalitas (mengurangi sifat getas). Penggunaan bahan tambah tersebut dimaksudkan untuk memperbaiki dan menambah sifat beton sesuai dengan yang diinginkan. mengurangi retak-retak pengerasan dan menambah kuat tekan beton. Bahan tambah kimia Bahan tambah kimia adalah suatu bahan kimia yang dapat membantu mempermudah dalam proses pembuatan beton. 1982). penampilan beton bila mengeras. bahan tambah merupakan bahan yang dianggap penting. 6. Bahan Tambah Beton Dalam pembuatan konstruksi beton. pozolan dan serat (Tjokrodimuljo. Grafik Kuat tekan beton untuk berbagai jenis semen (Tjokrodimuljo.12 Gambar II. 1996) E. 1. terutama untuk pembuatan beton di daerah yang beriklim tropis seperti Indonesia. Bahan tambah ialah bahan selain unsur pokok beton (air. Bahan tambah beton ini dapat berupa bahan tambah kimia. 1996).

1996). Menurut pembentukannya pozolan dibedakan menjadi dua jenis. . Bahan pozolan tidak mempunyai sifat mengikat seperti semen. Jenis A : Bahan kimia tambahan untuk mengurangi jumlah air yang dipakai. 2. memperlambat pengikatan awal. silika fume dan lain-lain. d. yaitu mengurangi air sampai 12% atau lebih. (Tjokrodimuljo. Jenis D : Bahan kimia tambahan yang berfungsi ganda yaitu mengurangi air dan memperlambat proses ikatan dan pengerasan beton. akan tetapi dalam bentuknya yang halus dengan adanya air. untuk menghasilkan adukan beton dengan kekentalan sama (air dikurangi sampai 12% lebih namun adukan beton tidak bertambah kental). maka senyawa tersebut akan bereaksi dengan Calsium Hidroksida Ca(OH)2 pada suhu biasa membentuk kalsium hidrat yang bersifat hidrolis. 1982 bahan kimia tambahan dibedakan menjadi lima jenis antara lain : a. Selain lima jenis di atas.13 Menurut Persyaratan Umum Bahan Bangunan Indonesia (PUBI). yaitu : 1) Bahan kimia tambahan yang digunakan untuk mengurangi jumlah air campuran sampai sebesar 12% atau bahkan lebih. c. yaitu : 1) Pozolan buatan. Pozzolan Pozolan merupakan bahan tambah mineral yang mengandung silika (SiO2) dan alumina (Al2O3). 2) Bahan kimia tambahan dengan fungsi ganda. seperti abu terbang (fly ash). yang merupakan sisa pembakaran dari tungku ataupun hasil pemanfaatan limbah yang diolah menjadi abu yang mengandung silika reaktif dengan melalui proses pembakaran. Jenis B : Bahan tambah kimia untuk memperlambat proses ikatan dan pengerasan beton. abu sekam padi (rice husk ash). ada dua jenis lain yang lebih khusus. b. Dengan pemakaian bahan ini diperoleh adukan dengan faktor air semen lebih rendah pada nilai slump yang sama. Jenis C : Bahan tambah kimia untuk mempercepat proses ikatan dan pengerasan beton. e. Jenis E : Bahan tambah kimia berfungsi ganda yaitu untuk mengurangi air dan mempercepat proses ikatan dan pengerasan beton.

pemberian serat pada beton tidak banyak menambah kuat tekan beton. yang merupakan sedimentasi dari abu atau lava gunung berapi yang mengandung silika aktif yang bila dicampur dengan kapur padam akan mengadakan proses sedimentasi. (Tjokrodimuljo.14 2) Pozolan alam. dan mengandung pozolan. Serat Tujuan utama penambahan serat ke dalam beton adalah untuk menambah kuat tarik beton yang sangat rendah berakibat beton mudah retak. namun hanya menambah daktalitas. Abu arang briket batubara termasuk bahan kimia jenis E. dan mengurangi keawetan beton. Pemakaian serat pada beton lebih tahan retak dan tahan terhadap benturan. 1996) . 3.

Bahan-bahan dasar penyusun beton harus diketahui oleh perencana. tahan lama dan tahan aus. air dan bahan tambah (admixture) bila diperlukan. Tahap-tahap penelitian harus diselesaikan sesuai standar penelitian yang baku untuk mendapatkan material yang berkualitas baik. Kesulitan timbul karena di dalamnya banyak parameter yang harus diperhitungkan. murah. Produksi beton yang efektif dapat dicapai dengan pemilihan. agregat halus. perbandingan bahan-bahan yang dipakai. banyaknya pemakaian beton disebabkan terbuat dari bahan-bahan yang umumnya mudah didapat serta mudah diolah sesuai dengan bentuk yang diinginkan.BAB III LANDASAN TEORI A. Untuk pembuatan beton. B. yaitu yang kuat tekannya tinggi. beton merupakan bahan bangunan yang banyak dipakai secara luas. Bahan Penyusun Beton Dasar penyusun material beton normal terdiri dari semen. agregat kasar. Umum Pada saat ini. misalnya: ukuran maksimum agregat. cara pemadatan dan cara perawatan selama proses pengerasan. material-material tersebut harus melalui tahap penelitian dan berkualitas baik. cara pengadukan maupun pengerjaan selama penuangan adukan beton. mudah dikerjakan. sehingga dapat mengembangkan dan memilih bahan penyusun yang baik serta dapat menentukan komposisi yang tepat. 15 . penambahan bahan dari sifat-sifat bahan dasar yang dipakai. Perencanaan campuran beton dimaksudkan untuk mendapatkan beton yang sebaik-baiknya. pengontrolan dan perbandingan yang tepat untuk semua bahan serta untuk perancangan campuran beton mutu tinggi lebih kompleks bila dibandingkan dengan perancangan campuran beton normal.

Semen portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan panas hidrasi yang rendah. juga telah dibuat semen dengan tujuan khusus (Subakti. sebagai hasil dari pembakaran pada suhu tinggi terhadap bahan-bahan mentah pembentuk semen. (Sumber : Tjokrodimuljo.1. Semen portland yang dalam penggunaannya memerlukan ketahanan terhadap sulfat dan panas hidrasi. Clinker adalah bahan baku yang dibutuhkan dalam pembuatan semen. Semen Portland Semen merupakan bahan yang mempunyai sifat adhesif dan kohesif. Semen-semen itu adalah : 1) Oil well cement. Semen ini sangat cepat proses hidrasinya karena itu digunakan serbuk khusus untuk menghambat proses hidrasi semen ini.16 1.1. terutama terdiri dari silikat calsium yang bersifat hidrolis. Semen portland adalah semen hidrolis yang dihasilkan dengan penghaluskan clinker. . yaitu : Trikalsium Silikat (C3S). Jenis semen Jenis I Jenis II Jenis III Jenis IV Jenis V Karakteristik Umum Semen portland untuk penggunaan umum yang tidak memerlukan persyaratan khusus seperti yang disyaratkan pada jenis-jenis lain. 1996) Selain semen-semen yang disebut di atas. Jenis-jenis semen Portland. Trikalsium Aluminat (C3A) dan Tetrakalsium Alumina Ferit (C4AF). menghasilkan bahan yang tahan terhadap air (water resistance) dan stabil tahan air. Dikalsium Silikat (C2S). semen ini digunakan untuk penyemenan sumur minyak yang dalam. 1995). menghasilkan beberapa jenis semen sesuai dengan tujuan pemakaiannya. Jenis-jenis semen Portland. sebagai berikut : Tabel III. Semen portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan kekuatan awal yang tinggi setelah pengikatan terjadi. Adukan dari semen halus ini tahan sampai tekanan 1000 atmosfir. Sesuai dengan tujuan pemakaiannya PUBI (1982) membagi semen portland dalam lima jenis seperti yang dapat dilihat pada Tabel III. kedua sifat fisis ini memiliki fungsi sebagai bahan perekat. Semen hidrolis adalah semen yang akan mengeras apabila bereaksi dengan air. Semen portland yang dalam penggunaannya persyaratan sangat tahan terhadap sulfat. dengan gips sebagai bahan tambahnya. Perubahan komposisi kimia semen dengan mengubah 4 komponen utama semen.

17 2) Semen dengan kadar alkali rendah. hal lain yang perlu diperhatikan dalam pemilihan jenis agregat beton mengacu pada Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI) tahun 1971 N. 1983). Menurut Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia. pasir dan lain-lain) ialah kekuatan hancur dan ketahanan terhadap benturan. Bab 3 Pasal 3. 1999). 4 standar ASTM) dan lebih besar dari 0. agregat halus harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : 1) Butir-butirannya tajam. Agregat.M. buatan (batu pecah) maupun bahan sisa produk tertentu.075 mm. yang dapat mempengaruhi ikatannya dengan pasta semen. Kadar agregat dalam campuran berkisar antara 70-75% dari volume total beton.75 mm (No. Jenis semen ini tidak mengandung alkali dalam komposisinya. Sifat yang paling penting dari suatu agregat (batu-batuan. Brook. serta ketahanan terhadap penyusutan (Murdock dan K. Agregat halus.1-2. agregat halus mempunyai butiran yang lolos ayakan 4. 2a).3-3. 2. oleh karena itu penggilingan serbuk mahal. oleh karena itu kualitas agregat berpengaruh terhadap kualitas beton (Nugroho. semen ini digunakan di negara-negara penghasil agregat yang reaktif terhadap iklim. kuat dan bersudut. porositas dan karakteristik penyerapan air yang mempengaruhi daya tahan terhadap proses pembekuan waktu musim dingin dan agresi kimia. Agregat beton dapat berasal dari bahan alami. 3) Semen putih.5 dan standar ASTM C 33-97. Agregat halus bersama dengan semen dan air membentuk mortar yang akan mengikat agregat kasar menjadi satu kesatuan yang kuat dan kompak. 2) Tidak mengandung tanah dan kotoran lain yang lolos ayakan 0.075 mm. kerikil. . quarsa pasir dan kaolin. Agregat merupakan bahan utama pembentuk beton disamping pasta semen. Agregat halus beton dapat berupa pasir alami sebagai disintegrasi alami atau berupa pasir buatan (artifical sand) yang dihasilkan dari alat-alat pemecah batu. Selain persyaratan teknis yang harus dipenuhi. jenis semen ini dibuat dari batu kapur yang bebas besi.

4) Tidak mengandung zat organik karena dapat mengurangi mutu beton. 3) Tidak mengandung zat-zat yang merusak beton. tahun 1982.18 3) Tidak mengandung garam yang menghisap air udara. maka agregat harus memenuhi syarat sebagai berikut : 1) Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir keras dan tidak berpori apabila agregat kasar mengandung butir pipih. Air Air merupakan bahan pembuat beton yang sangat penting. 6) Bersifat kekal. serta untuk menjadi bahan pelumas antara butir-butir agregat agar lebih mudah dikerjakan dan dipadatkan. 2) Agregat tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1% (ditententukan terhadap berat kering). Menurut persyaratan umum bahan bangunan di Indonesia. 5) Harus mempunyai variasi besar butir atau gradasi yang baik. 1/3 tebal plat atau ¾ jarak bersih minimum antara batang tulangan. 4) Kekerasan dari butir-butir agregat kasar diperiksa dengan bejana penguji Los Angeles. Air diperlukan untuk bereaksi dengan semen. bila kadar lumpur lebih dari 1% agregat harus dicuci. seperti zat-zat yang reaktif alkali. Untuk . maka jumlah butir pipih tidak boleh lebih 20% dari agregat seluruhnya. 7) Agregat harus mempunyai sifat reaktif terhadap alkali. 2b). Agregat kasar adalah kerikil sebagai disintegrasi alami batuan atau berupa batu pecah yang diperoleh dari industri pemecah batu dan mempunyai ukuran antara 5 sampai 40 mm. 6) Besar butir agregat maksimum tidak boleh lebih dari 1/5 jarak terkecil antar bidang samping cetakan. 3. Agregat kasar yang akan dicampurkan sebagai adukan beton harus mempunyai syarat mutu yang ditetapkan. Agregat kasar bersifat kekal. yaitu tidak hancur oleh pengaruh cuaca. Agregat kasar. tidak hancur. 5) Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir yang beraneka ragam besarnya.

permeabilitas dan ketahanan terhadap gaya luar serta pengaruh cuaca. Sekitarc 20% dalam bentuk abu dasar dan 80% dalam bentuk abu terbang. tanah diatomaceous. c) Air tidak boleh mengandung Chlorida (Cl) lebih dari 0. Kandungan abu akan tebawa barsama gas pembakaran melalui ruang bakar dan daerah konversi dalam bentuk abu terbang. kaolin dan tepung batu menguntungka untuk beton tumbuk yang kasar/kaku. (Tjokrodimuljo. 5. Bahan filler dapat berupa abu batu. b) Air tidak boleh mengandung garam-garaman lebih dari 15 gram/liter. Bahan pengisi (Filler) Bahan pengisi adalah suatu bahan berbutir halus yang lewat ayakan No. jumlah rongga udara. Selain itu air juga digunakan untuk perawatan beton dengan cara pembasahan setelah pengecoran.(Sukandarrumidi. yang kekurangan partikel halus. Pemakaian air yang terlalu banyak akan menimbulkan gelembung air sehingga beton menjadi porous. bahan-bahan seperti kapur padam. Pemakaian bahan pengisi berpengaruh pada kekuatan. kapur.5 gram/liter. 30 US Standar Sieve dan 65% lewat ayakan No. Portland Cement atau bahan lain (Totomiharjo. Abu arang briket adalah abu terbang limbah pembakaran batubara yang keluar dari tabung pembakaran. Abu arang briket. 1995) . Abu terbang memiliki ukuran yang blebih halus dan warna lebih terang dari abu dasar. air hanya diperlukan 25% dari berat semen saja. Selain itu dapat menurunkan kekuatan beton. kelenturan plastis. Dapat ditambahkan bahwa flyash dan slag (sisa benda tambang) yang berasal dari dapur etus dapat digolongkan sebagai pengisi pori-pori meskipun bahan ini digunakan karena sifat pozolannya. 1994). 4. kelebihan air juga dapat memberikan penyusutan yang besar pada beton. bentonite. Persyaratan air yang digunakan dalam campuran beton adalah sebagai berikut : a) Air tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 2 gram/liter. 200. Didalam peranannya sebagai pengisi. 1996).19 bereaksi dengan semen.

Penetapan kuat tekan beton yang disyaratkan (f’c) pada umur tertentu.20 Abu arang briket didefinisikan sebagai sisa pembakaran dari tungku pemanas yang dikeluarkan dari ruang perapian suatu ketel uap gas buang yang lolos saringan No. Al2O3.T-15-1990-03 (Tjokrodimuljo. Hal ini karena bahan-bahan dasar beton sangat variabel dan banyak.SNI. C.T-15-1990-03 yang dalam perencanaan ini digunakan tabel-tabel dan grafik. 6. antara lain : SiO2. Kuat tekan beton yang disyaratkan ditetapkan sesuai dengan persyaratan perencaaan strukturnya dan kondisi setempat. Di Indonesia yang dimaksudkan dengan kuat tekan beton yang disyaratkan ialah kuat tekan beton dengan kemungkinan lebih rendah dari nilai itu hanya sebesar 5% saja. 2. Abu ampas tebu yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari Pabrik Gula Tasik Madu di Karanganyar Jawa Tengah. Abu ampas tebu adalah hasil sisa penggilingan tebu yang ada di pabrik gula kemudian dibakar. dari sifat bahan tersebut hanya perhitungan awal yang berguna untuk membuat campuran percobaan. Kadar abu batubara di Indonesia biasanya hanya berkisar antara 5%. Fe2O3. Abu ampas tebu bersifat sebagai pengikat dalam campuran beton. Perencanaan Campuran Beton Perencanaan adukan beton pada setiap hasil hitungan harus dikontrol dengan uji coba berupa campuran pekerjaan (trial mixes) untuk memastikan hasilnya. 1996) adalah sebagai berikut : 1. agar hasil yang diperoleh dari campuran percobaan tidak menyimpang terlalu jauh. Filler abu arang briket yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari PT. Adapun langkah-langkah pokok perencanaan campuran dengan metode SK. MgO. Abu yang terjadi pada pembakaran batubara akan membentuk oksida-oksida. Abu arang briket yang bersifat pozolan merupakan additive mineral yang baik untuk beton. Penetapan nilai deviasi standar (s) . 200. Skatex yang berada di Karanganyar. Abu ampas tebu.20%. CaO.K2O.SNI. Na2O. Perencanaan campuran menggunakan metode SK.

Faktor pengali deviasi standar Jumlah data Faktor pengali 30 1.5 Sangat baik 4.III.III.16 <15 Lihat butir b (SK. maka nilai margin langsung diambil sebesar 12 MPa. Jika jumlah hasil uji kurang dari 30 buah maka dilakukan koreksi terhadap nilai deviasi standar dengan suatu faktor pengali. Penghitungan nilai tambah (margin) (M) Jika nilai tambah ini sudah ditetapkan sebesar 12 Mpa maka langsung ke langkah (4). maka persyaratannya (selain yang disebut diatas) jumlah data hasil uji minimum 30 buah. 2.4 Tanpa kendali (Tjokrodimuljo. Jika pelaksana tidak mempunyai catatan/pengalaman hasil pengujian beton pada masa lalu yang memenuhi persyaratan (termasuk data hasil uji kurang dari 15 buah). 1996) 3. SNI. Penetapan nilai standar deviasi standar ini berdasar pada pengalaman praktek pelaksanaan pada waktu yang lalu. T-15-1990-03) b.03 20 1.6 Cukup 7.2. Satu data hasil uji kuat tekan adalah hasil rata-rata dari uji tekan dua silinder yang dibuat dari contoh beton yang sama dan diuji pada umur 28 hari atau umur pengujian lain yang ditetapkan. Jika pelaksana mempunyai catatan data hasil pembuatan beton serupa pada masa yang lalu.2 Baik 5.0 Jelek 8. Tingkat pengendalian mutu pekerjaan Sd (Mpa) 2. Nilai deviasi standar untuk berbagai tingkat pengendalian mutu pekerjaan. Tabel. Tabel. untuk pembuatan beton mutu sama dan menggunakan bahan dasar yang sama pula. III. Makin baik mutu pelaksanaan makin kecil nilai standar deviasi standarnya.3. . (f’c+12). lihat Tabel. a.8 Memuaskan 3.0 25 1.08 15 1.21 Deviasi standar ditetapkan berdasarkan tingkat mutu pengendalian pelaksanaa pencampuran betonnya.

Menetapkan kuat tekan rata-rata yang direncanakan Kuat tekan beton rata-rata yang direncanakan diperoleh dengan rumus : f’cr = f’c+ M dengan : f’cr = kuat tekan rata-rata. Penetapan jenis semen Portland Menurut PUBI 1982 di Indonesia semen Portland dibedakan menjadi 5 jenis. dalam hal ini diambil 5 % dari nilai k = 1. Sd dengan : M = nilai tambah ( Mpa ) k = tetapan statistic yang nilainya tergantung pada prosentase hasil uji yang lebih rendah dari f’c.22 Jika nilai tambah dihitung berdasarkan nilai deviasi standar Sd maka dilakukan dengan rumus berikut : M = k . adapun jenis III merupakan jenis semen yang dipakai untuk struktur yang menuntut persyaratan kekuatan awal yang tinggi. Jenis I merupakan jenis semen biasa.64 Sd = deviasi standart ( Mpa ) 4. yaitu jenis I. Pada langkah ini ditetapkan apakah dipakai semen biasa atau semen yang cepat mengeras. 6. MPa 5. III. Penetapan jenis agregat Jenis kerikil dan pasir ditetapkan apakah berupa agregat alami (tak dipecahkan) ataukah agregat jenis batu pecah (crushed aggregate). atau dengan kata lain sering disebut semen cepat mengeras. Tetapkan faktor air semen dengan salah satu dari dua cara berikut : a. MPa = nilai tambah. Berdasarkan jenis semen yang dipakai dan kuat tekan rata-rata silinder beton yang direncanakan pada umur tertentu ditetapkan nilai faktor air semen. II. Mpa f’c M = kuat tekan yang disyaratkan. 7. IV dan V. .

SNI. 6 lihat tabel. maka perlu ditetapkan nilai faktor air semen maksimum. Berdasar jenis semen yang dipakai. 4. III. Jika nilai faktor air semen maksimum ini lebih rendah dari langkah (7) maka nilai faktor air semen maksimum ini yang dipakai untuk perhitungan selanjutnya.52 lihat tabel. Tabel. IV Semen Portland tipe III Jenis agregat kasar Batu tak dipecahkan Batu pecah Batu tak dipecahkan Batu pecah Batu tak dipecahkan Batu pecah Batu tak dipecahkan Batu pecah Kekuatan tekan (Mpa) Bentuk Pada umur (hari) benda uji 3 7 28 91 17 23 33 40 Silinder 19 27 37 45 Kubus 20 28 40 48 Silinder 23 32 45 54 Kubus 21 28 38 44 Silinder 25 33 44 48 Kubus 25 31 46 53 Silinder 30 40 53 60 Kubus (SK.60 0. SNI. T-15-1990-03) 8. III. III.60 0.60 0. 4.52 0. 5. 5. III. lihat Tabel. Persyaratan jumlah semen minimum dan faktor air semen maksimum untuk lingkungan khusus Jenis pembetonan berbagai macam pembetonan dalam Jumlah semen minimum per m3 beton (kg) 275 325 325 275 325 - Nilai faktor semen maksimum 0. Perkiraan kuat tekan beton dengan faktor air semen 0. tidak terlindung dari hujan dan terik matahari langsung b. keadaan keliling korosif b. Penetapan faktor air maksimum Agar beton yang diperoleh tidak cepat rusak misalnya. T-15-1990-03) . keadaan keliling korosif disebabkan oleh kondensasi atau uap korosif Beton diluar ruangan bangunan : a. Penetapan faktor air semen maksimum dapat dilihat pada Tabel. dapat terpengaruh sulfat dan alkali dari tanah Beton yang kontinue berhubungan : air tawar dan air laut (SK. III.5 dan jenis semen dan agregat kasar yang biasa dipakai di Indonesia Jenis semen Semen portland tipe I atau semen tahan sulfat tipe II. Tabel. mengalami keadaan basah dan kering berganti-ganti b. III. 7 Beton didalam ruang bangunan : a. ditetapkan nilai faktor air semen. terlindung dari hujan dan terik matahari langsung Beton yang masuk ke dalam tanah : a.23 b. jenis agregat kasar dan kuat tekan rata-rata yang direncanakan pada umur tertentu.

SNI.3 Kandungan semen minimal (kg/m3) Ukuran nominal agrgegat maksimum 40 mm Tipe I dengan atau tanpa pozzolan (1540%) Tipe I dengan atau tanpa pozzolan (1540%) Tipe I pozzolan (1540%) atau Semen Portland Pozzolan Tipe II atau tipe V 20 mm 10 mm Kadar gangguan sulfat Tipe semen fas 1.45 Tipe semen Kandungan semen minimum (kg/m3) Ukuran nominal maksimum agregat 40 mm 20 mm 300 280 340 290 330 380 330 370 Tipe I-V Tipe I + pozzolan (15-40%) atau Semen Portland Tipe II atau tipe V (SK. 0.50 Air laut 0. III.24 Tabel.50 0.2 < 1.2 270 310 360 0. III. Ketentuan untuk beton yang berhubungan dengan air tanah yang mengandung sulfat Konsentrasi sulfat dalam bentuk SO3 Sulfat (SO3) Dalam tanah dlm air tanah (gr/ltr) Total SO3 SO3 (%) dlm camp air : tnh =2:1 (gr/lt) < 0. 7.0-1. Ketentuan minimum untuk beton bertulang kedap air Jenis beton Kondisi lingkungan berhubunga n dengan Air tawar Beton bertulang atau prategang Air payau Faktor air semen maksimum 0.55 250 290 340 0.5 1.5 2.0 < 0. 6.5 290 330 380 0. 280 300 350 0.2-0.55 .45 0.3-1. T-15-1990-03) Tabel.9 0.

45 3.5 7. jenis agregat. kolom dan dinding Pengerasan jalan Pembetonan massal 15.5 Maksimal 12. Cara pengangkutan adukan beton dengan aliran dalam pipa yang dipompa dengan tekanan membutuhkan nilai slam yang besar. 1. pengangkutan. berdasarkan ukuran maksimum agregat. Lanjutan Tipe pozzolan 40%) Semen Portland Pozzolan Tipe II tipe V Tipe II tipe V Tipe II tipe V *lapisan pelindung I (15atau 340 380 430 0.1 1. T-15-1990-03) 9.5 5.5 7. pemadatan maupun jenis strukturnya.0 > 5. 5.0 > 5. Penetapan nilai slump (cm) Pemakaian beton Dinding. dan slam yang diinginkan. SNI. III. 0.5-5.0 (SK.0 3. di lihat pada dibawah ini yaitu table III. dan struktur di bawah tanah Plat. Penetapan nilai slump Penetapan nilai slam dilakukan dengan memperhatikan pelaksanaan pembuatan. Tetapkan jumlah air Jumlah air yang diperlukan permeter kubik beton. balok. 8.1-5.45 4.5 9. Nilai slam yang diinginkan dapat dilihat pada Tabel III.0 2.0 2.5-1.25 Tabel. 8. . Tabel. kaison.0 7.2-2.0 2.9-3. 9.5 (Tjokrodimuljo. III. penuangan.45 0.0 1.0-2.50 0.5 atau atau atau 290 330 330 330 370 370 380 420 420 0. 7. 1996) 10. adapun pemadatan adukan dengan alat getar (triller) dapat dilakukan dengan nilai slam yang agak kecil.0 > 2.0 Minimum 5. plat pondasi dan pondasi Pondasi telapak tidak bertulang.

b. Perkiraan kadar air bebas (kg/m3) yang dibutuhkan untuk beberapa tingkat kemudahan pengerjaan adukan beton Besar ukuran maksimal kerikil (mm) 10 Batu tak dipecahkan Batu pecah 20 Batu tak dipecahkan Batu pecah 40 Batu tak dipecahkan Batu pecah Jenis agregat 0 . Penetapan besar butir agregat maksimum Penetapan besar butir agregat maksimum dilakukan berdasarkan nilai terkecil dari ketentuan –ketentuan berikut : a. Penyesuaian kebutuhan semen Apabila kebutuhan air semen yang didapat dari langkah (12) ternyata lebih sedikit daripada kebutuhan semen minimum (13) maka kebutuhan semen harus dipakai yang minimum (yang nilainya lebih besar). T-15-1990-03) 11. air payau dan air laut. Kebutuhan semen minimum Kebutuhan semen minimum ditetapkan dengan tabel. Sepertiga kali tebal plat c.30 180 205 160 190 140 175 30 .180 225 250 195 225 175 205 (SK. Kebutuhan semen minimum ini ditetapkan untuk menghindari beton dari kerusakan akibat lingkungan khusus.60 205 230 180 210 160 190 60 . Tiga per empat kali jarak bersih minimum antar baja tulangan atau berkas baja tulangan atau tendon prategang atau selongsong. Seperlima jarak terkecil antara bidang samping cetakan 12. III. 9. misalnya lingkungan korosif.26 Tabel. SNI.10 150 180 135 170 115 155 Slam (mm) 10 . . Hitung berat semen yang diperlukan Berat semen per meter kubik beton dihitung dengan membagi jumlah air dari langkah (10) dengan faktor air semen yang didapat dari langkah (7) dan (8). 13.. 14.

SNI.20 0 .100 60 . nilai slam. Penentuan daerah gradasi agregat halus Berdasarkan gradasinya (hasil analisis ayakan) agregat halus yang akan dipakai dapat diklasifikasikan menjadi 4 daerah.6 0.100 55 . Penyesuaian jumlah air atau faktor air semen Jika jumlah semen ada perubahan akibat langkah (14) maka faktor air semennya berubah.15 (SK. Tabel.15 Persen berat butir yang lewat ayakan 1 100 90 . .70 15 . faktor air semen dihitung kembali dengan cara membagi jumlah air dengan jumlah air minimum. faktor air semen.10 3 100 90 . Batas gradasi pasir Lubang ayakan (mm) 10 4.100 75 . 10.95 30 .59 8 .10 2 100 90 .4 1.8 2.100 95 . Pada langkah ini dicari nilai banding antara berat agregat halus dengan berat agregat campuran.2 0. Penentuan daerah itu didasarkan atas grafik gradasi yang diberikan dalam Tabel.100 15 .27 15.100 85 .50 0 . 16.100 75 .3 0.100 60 . Perbandingan agregat halus dan agregat kasar Nilai perbandingan antara berat agregat halus dan agregat kasar diperlukan untuk memperoleh gradasi agregat campuran yang baik. T-15-1990-03) 17. Penetapan dilakukan dengan memperhatikan besar butir maksimumagregat kasar.90 35 . III. 10. Jumlah air disesuaikan dengan mengalikan jumlah semen dengan faktor air semen.79 12 .100 80 .40 0 – 10 4 100 90 .30 0 .34 5 . Catatan : cara pertama akan menurunkan faktor air semen sedangkan cara kedua menaikan jumlah air yang diperlukan. dan daerah gradasi agregat halus. b. Dalam hal ini dapat dilakukan dengan cara berikut : a.100 90 . III.

18. Hitung berat agregat kasar yang diperlukan. . Kebutuhan agregat campuran Kebutuhan agregat campuran dihitung dengan cara mengurangi berat beton permeter kubik dikurangi kebutuhan air dan semen. 20. berdasarkan hasil langkah (20) dan (21) Kebutuhan agregat kasar dihitung dengan cara mengurangi kebutuhan agregat campuran dengan kebutuhan agregat halus.60 gr/cm3untuk agregat tak pecah/alami dan 2. Berat jenis agregat campuran Berat jenis agregat campuran dihitung dengan rumus : Bj camp = Dengan : Bj campuran Bj agregat hls Bj agregat ksr P K = = = = = Berat jenis agregat campuran Berat jenis agregat halus Berat jenis agregat kasar Persentase agregat halus terhadap agregat campuran Persentase agregat kasar terhadap agregat campuran P K x Bj agregat halus + x Bj agregat kasar 100 100 Berat jenis agregat halus dan agregat kasar didapat dari hasil pemeriksaan laboratorium. berat jenis agregat campuran dan berat beton dapat diperkirakan berat jenis betonnya. Penentuan berat jenis beton Dengan data berat jenis agregat campuran dari langkah (18) dan kebutuhan air tiap meter kubik betonnya maka dengan grafik hubungan kandungan air. Hitung berat agregta halus yang diperlukan.28 Berdasarkan data tersebut dan grafik persentase agregat dapat diperoleh persentase agregat halus terhadap berat agregat campuran.70 gr/cm3 untuk agregat pecahan. 21. 19. 22. namun jika tidak ada dapat diambil sebesar 2. berdasarkan hasil langkah (17) dan (20) Kebutuhan agregat halus dihitung dengan cara mengalikan kebutuhan agregat campuran dengan persentase berat agregat halusnya.

Benda uji diletakkan pada mesin penekan dan posisinya diatur agar supaya tepat berada ditengah-tengah plat penekan. Beban maksimum yang ditunjukkan oleh jarum petunjuk dicatat. Adapun langkah-langkah pengujian sebagai berikut : a. 1996).Da ) x D/100 D. sehingga dilapangan yang pada umumnya keadaan agregatnya tidak jenuh kering muka maka harus dilakukan koreksi terhadap kebutuhan bahannya. ukuran maksimum batuan.Ca ) x C/100 . bentuk batuan.29 Dalam perhitungan diatas agregat halus dan agregat kasar dianggap dalam keadaan jenuh kering muka. Koreksi harus selalu dilakukakan minimum satu kali per hari. pemadatan dan perawatan) dan umur beton (Tjokrodimuljo. 3. c. pengangkutan. d. Dimana : B C D Ca Da Ck Dk = jumlah air (kg/m3) = jumlah agregat halus (kg/m3) = jumlah kerikil (kg/m3) = absorpsi air pada agregat halus (%) = absorpsi agregat kasar (%) = kandungan air dalam agregat halus (%) = kandungan air dalam agregat kasar (%) Air Agregat halus Agregat kasar = B – ( Ck . . Kuat Tekan Beton Untuk mengetahui kuat tekan beton yang telah mengeras yang disyaratkan. cara pengerjaan (campuran. 1. gradasi batuan. Benda uji ditimbang dan dicatat beratnya. b.Da ) x D/100 = C + ( Ck – Ca ) x C/100 = D + ( Dk . 2. Prosedur pengujian kuat tekan beton menggunakan Standart Test Methode For Commpressive of Cylindrical Concrete.( Dk . Kuat tekan beton antara lain tergantung pada : faktor air semen. dilakukan pengujian kuat tekan beton. Pembebanan dilakukan secara perlahan-lahan secara continue dengan mesin hidrolik sampai benda uji mengalami kehancuran (jarum petunjuk berhenti kemudian salah satunya bergerak turun).

30

Menurut Murdock dan K.M. Brook (1991), beton dapat mencapai kuat tekan 80 MPa atau lebih, bergantung pada perbandingan air dan semen dan tingkat pemadatannya. Di samping dipengaruhi oleh perbandingan air dan semen kuat beton juga dipengaruhi oleh faktor lainnya, yaitu : jenis semen, kualitas agregat, efisiensi perawatan, umur beton dan jenis bahan admixture. Kuat tekan beton f’c =

dengan : d

Pmaks P ………………………………………..(III.1) = 1 A 2 .π.d 4

Pmaks = beban maksimum (N) = diameter silinder beton (mm2)
E. Kuat Tarik Beton

Kuat tarik beton adalah kemampuan beton yang diletakkan pada dua perletakan untuk menahan gaya dengan arah tegak lurus sumbu benda uji, yang diberikan padanya, sampai benda patah dan dinyatakan dalam Mega Pascal (MPa) gaya tiap satuan. Peralatan yang dipakai adalah mesin tekan beton yang dapat menguji kuat tarik yang dilengkapi dengan 2 jarum pembacaan beban, 2 buah perletakan benda uji berbentuk titik, dan 2 buah titik pembebanan, ketelitian pembacaan sebesar 12,5 kg. Alat bantu lain berupa timbangan kapasitas 50 kg dengan ketelitian 0,01 %, pengukuran panjang dan jangka sorong. Adapun langkah pengujian sebagai berikut : a. Ukur dimensi penampang benda uji. b. Timbang berat benda. c. Buat garis melintang sebagai penunjuk untuk perletakan dan titik pembebanan. d. Pasang 2 perletakan serta alat pembebanan. e. Letakkan benda uji diatas tumpuan. f. Hidupkan mesin uji tekan. g. Atur pembebanan dengan kecepatan 8-10 kg/cm2 per menit. h. Hentikan pembebanan setelah beban maksimum tercapai.

31

Kuat tarik beton antara lain tergantung pada : faktor air semen, gradasi batuan, bentuk batuan, ukuran maksimum batuan, cara pengerjaan (campuran, pengangkutan, pemadatan dan perawatan) dan umur beton (Tjokrodimuljo, 1996). Kuat tarik beton f’cr =

2.P ………………………………………………. (III.2) π.d.h

dengan:
P = beban maksimum (N) d = diameter silinder (mm) h = tinggi silinder (mm)

BAB IV METODE PENELITIAN A. Umum Pelaksanaan penelitian dilakukan secara eksperimental, yang dilakukan di Laboratorium Bahan dan Struktur, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. Obyek dalam penelitian ini adalah beton yang menggunakan bahan tambah filler abu ampas tebu dengan abu arang briket. Pengujian kuat tekan dan tarik dilakukan setelah beton berumur 14 hari di Laboratorium Bahan dan Struktur, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. B. Bahan Penelitian dan Peralatan Penelitian 1. Bahan penelitian Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : a) Semen yang digunakan adalah semen Portland jenis I, merk Holcim b) Agregat halus berupa pasir, berasal dari Boyolali. c) Agregat kasar berupa batu pecah, berasal dari Boyolali. d) Air yang digunakan diambil dari Laboratorium Bahan dan Struktur, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. e) Bahan tambah filler abu arang briket berasal dari PT. Skatex di Karanganyar dan abu ampas tebu berasal dari PG. Tasik Madu di Karanganyar. 2. Peralatan penelitian Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini tersedia di Laboratorium Bahan dan Struktur, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. Peralatan-peralatan yang digunakan terdiri atas : a) Ayakan standart, untuk memisahkan agregat sesuai ukuran yang diinginkan. b) Penggetar ayakan (Siever), untuk menggetarkan ayakan agregat dapat terpisahkan sesuai lubang ayakan yang diinginkan. c) Timbangan, untuk mengukur benda uji sesuai yang diinginkan. d) Gelas ukur, untuk pemeriksaan kadar Lumpur dan pemeriksaan bahan organik.

32

5 mm. Alat ini digunakan untuk menggetarkan ayakan yang berisi agregat agar terdistribusi sesuai dengan ukuran butirnya. Alat ini digetar dengan tenaga listrik selama 15 menit. untuk pengujian Slump. 4. 1. Penggetar ayakan (siever). 9. 0. untuk mengeringkan agregat. 2b). Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Satu set ayakan dan Siever . Saringan dipasang dari ukuran terbesar hingga lubang terkecil dan paling bawah adalah pan. untuk pengujian agregat kasar.5 mm. Ayakan standart. untuk menjaga suhu kamar agregat setelah dioven.33 e) Oven. cetok. ember. g) Volumetric Flash. untuk mengukur benda jenis pasir yang digunakan sebagai bahan penyusun beton. 12. siku. h) Mesin uji Los Angeles. dan bak perendam sample.36 mm.15 mm dan pan.75 mm. 0. Satu set ayakan dapat dilihat pada Gambar IV. untuk pengujian tekan dan tarik. penggaris.6 mm. 2. Penggunaan dan gambar alat-alat tersebut di atas adalah sebagai berikut : 2a).1. untuk mengaduk campuran beton.3 mm. l) Mesin uji tekan.1. 0. Ayakan digunakan pada uji gradasi yang terdiri dari saringan dengan ukuran : 19 mm. j) Kerucut Abram’s. Gambar IV.1. m) Peralatan penunjang lain seperti tongkat baja. k) Bak tempat perendaman benda uji. i) Molen. f) Desicator.18 mm.

dan Gambar IV. Timbangan kecil digunakan untuk menimbang briket.2.3.2. Timbangan yang digunakan adalah timbangan kecil dengan digital yang mempunyai kapasitas 3 kg dan timbangan besar dengan kapasitas 100 kg.34 2c).3. Timbangan digital Gambar IV. dan abu ampas tebu. Timbangan besar . pasir dan batu pecah sebagai bahan beton sebelum dicampur dan juga untuk penimbangan berat benda uji sebelum dilakukan uji tekan dan tarik beton. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Gambar IV. Sedangkan timbangan besar digunakan untuk menimbang semen. Timbangan.

8 cm dan diameter bawah 8. Kerucut Conus. Kerucut Conus .9 cm.4. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV.35 2d).4. Gelas ukur 2e). Gelas ukur yang digunakan berkapasitas 1000 cc dan 500 cc.6 cm dan digunakan untuk pengujian SSD (Saturated Surface Dry). Alat ini berbentuk corong dengan ukuran diameter atas 3. Alat dapat dilihat pada Gambar IV. Gambar IV. Gelas ukur. tinggi 7. Gambar IV. Alat ini digunakan pada saat pemeriksaaan kadar lumpur dan pemeriksaan bahan organik.5.5.

pemeriksaan berat jenis dan penyerapan pada agregat. Desicator . Gambar IV. Oven 2g).36 2f). Gambar IV. dan pemeriksaan kandungan bahan organik. Manfaat lain alat ini adalah untuk menjaga berat bahan setelah dioven supaya tidak berubah karena pengaruh udara luar. Oven. Alat ini digunakan untuk menjaga suhu kamar agregat setelah dioven pada pemeriksaan kadar lumpur.7. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Alat ini digunakan untuk mengeringkan agregat kasar pada waktu pemeriksaaan kadar lumpur pasir. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. penyerapan dan berat jenis agregat.6.6.7. Desicator.

8. Alat yang berkapasitas 500 cc ini digunakan untuk pemeriksaan berat jenis serta penyerapan agregat halus. Mesin pengaduk campuran beton mempunyai kapasitas 1 m3. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Volumetric flash 2i). Volumetric Flash.9. Gambar IV. Mesin Los Angeles 2j). Mesin uji Los Angeles.8. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Gambar IV. Molen. dengan merk SINGLE . Alat ini digunakan untuk pembuatan adukan beton. Alat ini digunakan untuk pengujian keausan agregat kasar.9. Dengan alat ini dimaksudkan agar campuran yang terjadi lebih homogen dan dapat mempersingkat waktu pelaksanaan dibanding dengan pengadukan manual.37 2h).

11. Tongkat baja mempunyai ukuran panjang 60 cm dan diameter 16 mm. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. digunakan untuk pengujian slump dan pemadatan beton segar yang dicetak pada cetakan silinder.38 PHASE MOTOR Type JY1B-2. . Kerucut Abram’s. Tongkat baja.10.11. Gambar IV. diameter bawah 20 cm dan tinggi 30 cm. alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Kerucut Abram’s dan tongkat baja. Gambar IV.11. Molen 2k). Alat ini mempunyai diameter atas 10 cm. buatan Cina pada tahun 1987. Alat ini digunakan untuk pengujian slump pembuatan benda uji. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV.10. 2l).

Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret memiliki kapasitas 1500 kN dan 2000 kN dengan merk Mylano Italy. pemeriksaan rasio pasir – agregat total dan pembuatan benda uji. Gambar IV. Untuk alat yang ada di Laboratorium Bahan dan Struktur.12. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV.13.14. Bak yang berisi air untuk merawat benda uji silinder sampai umur yang direncanakan. digunakan untuk mencetak beton mutu tinggi. Gambar IV. Alat ini berukuran diameter 15 cm dan tinggi 30 cm. Bak tempat perendaman benda uji. Cetakan silinder 2n).12. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV.13. Mesin uji tekan. Cetakan silinder.39 2m). Alat ini digunakan untuk pemeriksaan berat satuan. Bak tempat perendaman benda uji 2o). Alat ini digunakan untuk menguji kuat tekan beton. Alat tersebut dapat dilihat pada Gambar IV. .

14.15. ember. Mesin uji tekan dan tarik merk Mylano Italy 2p). Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. sekop. Adapun tahap penelitian tersebut dijelaskan seperti uraian berikut ini : .40 Gambar IV.1. seperti tercantum dalam bentuk bagan alir pada Gambar IV. Peralatan penunjang lain.15. Peralatan penunjang lain C. cangkul dan kawat bendrat untuk membantu pembuatan benda uji. Gambar IV. Peralatan penunjang lain yang digunakan antara lain cetok. Tahapan Penelitian Penelitian dilaksanakan terbagi atas lima tahap.

Setelah bahanbahan dasar beton memenuhi persyaratan yang sudah ditentukan. 3.41 1. Setelah dilepas dari cetakan. Universitas Sebelas Maret. Tahap III : Penyediaan benda uji Tahap ini merupakan tahap perencanaan campuran beton. pemeriksaan kadar lumpur pada pasir dan batu pecah. Tahap II : Pemeriksaan bahan dasar Sebelum digunakan dalam pembuatan campuran. 4. bahan tambah filler arang briket dan abu ampas tebu) di Laboratorium Bahan dan Struktur. Selanjutnya dibuat adukan beton sesuai dengan proporsi masing-masing bahan. benda uji silinder tersebut direndam dalam bak perendaman yang berisi air selama 14 hari. pemeriksaan specific gravity dan absorption pasir dan batu pecah. pasir. Fakultas Teknik. Sedangkan untuk semen dan air yang dipakai. Perbandingan jumlah proporsi bahan campuran beton ditentukan/dihitung dengan menggunakan Metode SK. maka dilakukan pemeriksaan terhadap rasio pasir . Benda uji dibuat dengan cetakan silinder beton. 2. Tahap IV : Pengambilan data Pada tahap ini dilakukan pemeriksaan berat jenis beton dan pengujian kuat tekan beton benda uji silinder pada umur 14 hari. batu pecah. Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan zat organik dalam pasir. pemeriksaan berat satuan volume.SNI. dan dilakukan pengujian slump sampai berhasil baik. Prosedur pengujian kuat tekan .T-15-1990-03. maka pada tahap ini dilakukan pengujian terhadap bahan dasar beton berupa pasir dan batu pecah. Tahap I : Persiapan alat dan penyediaan bahan Tahap ini merupakan tahap persiapan penelitian di laboratorium yang meliputi persiapan alat diantaranya yaitu menyiapkan cetakan silinder ukuran diameter 15 cm tinggi 30 cm yang terbuat besi dan penyediaan bahan susun beton (semen. pengujian gradasi batu pecah. pembuatan benda uji dan perawatan beton. dan pemeriksaan kadar keausan batu pecah. dilakukan uji visual.agregat total. Jurusan Teknik Sipil. pemeriksaan SSD pasir.

kemudian dilakukan analisis data.(IV.2) A 1 / 4πd dengan : f c' Pmaks A d = kuat tekan beton (MPa) = beban maksimum (N) = luas permukaan benda uji yang ditekan (mm2) = diameter silinder beton (mm) 5. Analisis tersebut merupakan pembahasan dari hasil penelitian. Berat jenis beton dihitung dengan rumus sebagai berikut : γc = dengan : W ……………………………………………………………(IV. e). Tahap V : Analisis data dan kesimpulan Dari hasil pengujian yang dilakukan pada Tahap IV. b). dengan langkah-langkah sebagai berikut : a). yang kemudian dapat ditarik beberapa kesimpulan penelitian. Pembebanan dilakukan secara perlahan-lahan dengan mesin hidrolik sampai benda uji mengalami keretakan atau kehancuran (jarum penunjuk bergerak kembali ke arah semula). c). Mengukur dan mencatat dimensi benda uji silinder beton.42 dan kuat tarik mengacu pada standard ASTM C 39 – 86. Mencatat beban maksimum yang ditunjukkan jarum penunjuk. d). Menimbang dan mencatat berat benda uji silinder sebelum dilakukan pembebanan. Meletakkan benda uji silinder pada alat penekan dan diatur posisinya agar tepat berada di tengah-tengah pelat penahan. ..1) V γc W V = berat jenis beton (gr/cm3) = berat beton (gr) = volume silinder beton (cm3) Kuat tekan beton dihitung dengan rumus sebagai berikut : f c' = Pmaks P = maks 2 ……………………………………………….

43 Mulai Persiapan alat dan bahan Tahap I Semen Agregat halus Agregat kasar Ampas tebu dan filler arang briket lolos ayakan no.16. Bagan Alir Tahapan Penelitian .200 Air diganti kadar lumpur kandungan organik gradasi pasir specific gravity dan absorption Uji visual Tidak baik Memenuhi syarat gradasi agregat kasar berat satuan volume specific gravity dan absorption keausan Uji visual Uji visual Perbaikan kualitas/diganti diganti Tidak baik Tidak baik baik baik baik baik Tahap II Rencana campuran (mix design) Pembuatan adukan beton Tidak memenuhi syarat Slump test Memenuhi syarat Pembuatan benda uji Perbaikan komposisi campuran Perawatan (curing) Tahap III Pengujian kuat tekan dan tarik beton Tahap IV Pengolahan data Analisis data Kesimpulan dan saran Tahap V Selesai Gambar IV.

Kadar lumpur dihitung dengan rumus sebagai berikut : K= H 0 − H1 x100% ………………………………………………. Yang dimaksud lumpur adalah bagian yang lolos ayakan 0. (6). Jenisjenis pemeriksaan bahan sebelum digunakan adalah sebagai berikut: 1a). batu pecah. Memasukkan pasir ke cawan dan memasukkan ke dalam oven selama 24 jam pada suhu 105° C. Pemeriksaan bahan Pemeriksaan bahan digunakan sebagai pedoman dalam perancangan adukan beton dan kelayakan bahan untuk campuran beton.063 mm. pasir beserta cawan ditimbang dengan berat 893 gram.44 D. Menimbang pasir yang berada dalam cawan tersebut. Pemeriksaan kadar lumpur pada pasir. diperoleh 474 gram (H1) (8). (2). Adapun bahan-bahan yang akan diperiksa antara lain pasir. dan agregat campuran. Setelah pasir kering. Menyediakan cawan dan menimbangnya. Adapun pelaksanaan penelitian tersebut diuraikan seperti berikut ini. 1. Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini dilaksanakan sesuai dengan tahap-tahap yang telah dijelaskan pada Bab IV. kemudian diberi air dan dikocokkocok. Memasukkan pasir ke dalam cawan kemudian di oven lagi selama 24 jam pada suhu 105° C. Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui kandungan lumpur pada pasir sehingga diperoleh kualitas beton yang bermutu. Adapun langkah-langkah pemeriksaan kadar lumpur pada pasir adalah sebagai berikut : (1). gelas ukur. cawan dan timbangan digital.3) H0 . Menyediakan pasir yang akan diuji seberat 500 gram (H0).(IV. Alat-alat yang digunakan antara lain : oven. (3). (5). kemudian didapat berat 393 gram. (7). Hal ini dilakukan berulang-ulang dengan mengganti air yang sudah keruh dengan yang air yang baru sampai benar-benar jernih. (4). Memasukkan pasir ke dalam gelas ukur.C.

Gelas ukur dikocok-kocok sehingga larutan NaOH 3% dapat tercampur secara merata. (5). Memasukkan pasir kedalam gelas ukur sebanyak 130 cc. Menuangkan larutan NaOH 3% ke dalam gelas ukur sampai volume tetap 200 cc. Pasir dikeringkan dengan dimasukkan ke dalam oven selama 24 jam pada suhu 105° C. Pemeriksaan zat organik pada pasir. cawan dan larutan NaOH 3%. (8). Hasil pengamatan diperoleh warna kuning kecoklatan jadi pasir yang akan digunakan tidak banyak mengandung zat organik. desicator. (2). kemudian dimasukkan ke dalam dua buah cawan. (3).45 K= 100 − 95. Adapun langkah-langkah pemeriksaan zat organik pada pasir adalah sebagai berikut : (1). . Setelah 24 jam warna diamati dan dibandingkan dengan standard warna yang berlaku. Memasukkan pasir ke dalam gelas ukur yang berkapasitas 500 cc. Alat-alat yang digunakan antara lain : oven. (6). 1b).1. Mendinginkan pasir ke dalam desicator selama 15 menit sehingga mencapai suhu ruang. (7). (4). Pemeriksaan zat organik dalam pasir bertujuan untuk mengetahui sifat kandungan bahan organik yang terdapat pada pasir sehingga dapat diketahui kelayakannya sebagai campuran beton. gelas ukur. kemudian didiamkan selama 24 jam.5 x100% 100 K H0 H1 = kandungan lumpur = berat pasir mula-mula (gr) = berat pasir setelah dicuci (gr) K= 5 % dengan : Perhitungan pada pemeriksaan kadar lumpur pasir ini dapat dilihat pada Lampiran IV.

55 4.22 cm Rata-rata Penurunan(cm) 3.1 sebagai berikut: Tabel IV. tongkat penumbuk. Penurunan tinggi pasir(cm) Percobaan Jumlah Sample A Sample B I 15 3.46 Hasil pemeriksaan kandungan bahan organik pasir dapat dilihat pada Lampiran IV. yaitu dengan 15 kali.9 4. 20 kali dan 25 kali. (4).5 II 20 4.3 4. Menumbuk permukaan pasir dalam kerucut dengan tongkat penumbuk secara gravitasi ± 5 cm dari atas permukaan pasir. Tabel hasil penurunan SSD pasir.4 III 30 4. Kerucut conus diangkat perlahan-lahan ke arah vertikal kemudian dicatat penurunan pasir yang terjadi. (2). sendok datar dan penggaris.2 4. Menghitung penurunan rata-rata dari masing-masing percobaan sehingga diperoleh hasil pada Tabel IV. Langkah-langkah pengujian SSD pasir adalah sebagai berikut : (1). Pemeriksaan Saturated Surface Dry (SSD) pasir. (5).2. Dilakukan variasi tumbukan pada percobaan. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV. Pasir yang akan diuji diangin-anginkan terlebih dahulu. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kekeringan pasir yang sebenarnya (kekeringan permukaan) yang dapat digunakan dalam campuran beton. Meletakkan kerucut conus di tempat yang datar dan mengisikan pasir ke dalam kerucut conus hingga penuh.3. Setiap percobaan dilakukan sebanyak dua kali pengujian.6 3.7 Jumlah penurunan rata-rata 12. .65 Hasilnya lebih kecil dari setengah tinggi pasir mula-mula sehingga pasir tersebut sudah dalam keadaan SSD.8 12. (3). Alat-alat yang digunakan antara lain : kerucut conus. 1c).1.65 Diperoleh hasil SSD pasir = 3 = 4.

. oven..................... (4)........ Menimbang sample setelah dioven selama 24 jam......... didapat sebesar 494........... Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui berat jenis dan daya penyerapan air oleh pasir........... (2).............47 gram/cm3 Berat jenis kering permukaan jenuh air (bulk specific gravity SSD) : = = A ..27 (IV............... kemudian ditambah dengan air sampai garis batas........... Membuang airnya kemudian pasir diambil kemudian dioven selama 24 jam............... Pemeriksaan specific gravity dan absorption pasir...................... Menyediakan pasir pada kondisi SSD sebanyak 500 gram (A) dan dimasukkan ke dalam volumetric flash.... diperoleh 964 gram (C) dan didiamkan selama 24 jam.............27 (IV.... (3).. Langkah-langkah Pemeriksaan specific gravity dan absorption pasir adalah sebagai berikut : (1)...........47 1d)... (5).....42 + 500 − 1006. lalu dikocok-kocok sampai hilang gelembung-gelembung udara dalam pasir.... B+A−C 477 699.....4) = 2................4) .......42 + 500 − 1006..... D (IV.... Menimbang volumetric flash dan air sesuai garis batas.. selanjutnya ditimbang... Berat jenis dan penyerapan agregat dihitung dengan rumus sebagai berikut: Berat jenis kering (bulk specific gravity) : = = D .............. didapat 652 gram (B).. panci dan timbangan digital..................... Alat-alat yang digunakan adalah : volumetric flash......59 gram/cm3 Penyerapan (absorption) : p= A− D x 100% .....4) = 2..... B+A−C 500 699.......44 gram (D)...

4. Menimbang pasir pada tiap-tiap ayakan dan kemudian dihitung modulus halus butirnya.36 mm. (4).6 mm. siever dan cetok.46 100 = = = 2. Alat-alat yang digunakan antara lain : satu set ayakan dengan ukuran 9. Pemeriksaan gradasi pasir. pan. Memasukkan pasir uji ke dalam ayakan dan digetarkan dengan siever selama 15 menit. (3). Modulus halus butir Jumlah persentase kumulatif tertahan 100 293.48 p= 500 − 477 x 100 % = 4. (2).3 mm. timbangan digital.93 Untuk hasil perhitungan pemeriksaan gradasi pasir dapat dilihat pada Lampiran IV.82 % 477 A B C D = berat pasir SSD (gr) = berat volumetricflash + air (gr) = berat volumetricflash + air + pasir (gr) = berat pasir tungku kering (gr) = penyerapan (%) hasil penelitian secara lengkap bisa dilihat pada dengan : p Perhitungan Lampiran IV. 0. Menyusun ayakan secara urut dari ukuran terbesar sampai ukuran terkecil dan paling bawah adalah pan. .6. Langkah-langkah pemeriksaan gradasi pasir adalah sebagai berikut : (1).15 mm.75 mm.4.5 mm.18 mm. 0. Pemeriksaan gradasi pasir bertujuan untuk mengetahui distribusi ukuran butiran pasir modulus halus butirnya. (5). Menyediakan pasir uji kering oven sebanyak 500 gram. 1e). 2. 0. 1. Menyiapkan ayakan dan menimbang masing-masing ayakan.

ayakan ukuran 2 mm atau yang mendekati.49 1f).(IV. Mengeluarkan batu pecah dari mesin Los Angeles kemudian diayak dengan ayakan ukuran 2 mm. Keausan agregat dihitung dengan rumus sebagai berikut : Prosentase keausan = = A-B x100% ……………….5 mm dan oven.5 mm. (4).5 gram (B) kemudian dihitung nilai keausannya.0 mm dan tertahan 12. kemudian diputar dengan kecepatan 30 – 35 rpm sebanyak 500 putaran.3 % . Batu pecah yang tertahan ayakan ukuran 2 mm tersebut kemudian dicuci dan selanjutnya dikeringkan dengan dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 105° selama 24 jam. Menimbang batu pecah. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui keausan agregat kasar dan mengetahui daya tahan agregat terhadap degradasi atau perpecahan. Memasukkan semua batu pecah yang sudah disediakan yaitu 2500 + 2500 = 5000 gram (A) beserta bola-bola baja sebanyak 11 buah ke dalam mesin Los Angeles.5 mm sebanyak 2500 gr.5 mm dan tertahan 9. (5). (3). (7). 9. (6).5 mm sebanyak 2500 gr.7) A 5000 . Pemeriksaan keausan agregat kasar. Alat-alat yang digunakan antara lain : mesin Los Angeles. Langkah-langkah pemeriksaan keausan agregat kasar adalah sebagai berikut : (1). Menyediakan batu pecah lolos ayakan 19.……………….4985 x100% 5000 = 0. didapat 3653.0 mm. timbangan. 12.. ayakan ukuran 19. Menyediakan batu pecah lolos ayakan 12. (2). Semakin kecil nilai abrasi maka semakin baik agregat tersebut untuk digunakan sebagai campuran beton.

..... (4)..8) ................. Pemeriksaan oleh agregat kasar.5 gram/cm3 Berat jenis kering permukaan jenuh air (bulk specific gravity SSD) : = A .. A−B 3000 3032.......... Kerikil dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 105° selama 24 jam.... Mendinginkan batu pecah dengan cara dimasukkan ke dalam desicator selama 15 menit.....5 gram (C).. 1g)........ Kerikil diambil dan dibuat dalam keadaan SSD dengan cara dilap menggunakan lap kering........5 gram (B). ember perendam dan desicator....... timbangan digital...8) = 2. Langkah-langkah Pemeriksaan specific gravity dan absorption batu pecah.......... diperoleh berat 1014 gram (A)......... (2). (6)..... specific gravity dan absorption batu pecah........ Merendam kerikil dalam air selama 24 jam............. Adalah sebagai berikut : (1)..5 (IV......... (3)... Menyediakan kerikil sebanyak 1000 gram..... oven... Berat benda uji kering oven 998...5 − 1832............... A−B (IV.......... Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui berat jenis dan daya penyerapan air Alat-alat yang digunakan antara lain : panci.... (5)... Berat jenis kering (bulk specific gravity) : = = C ....... lap kering.50 dengan : A B = berat agregat mula-mula (gr) = berat agregat yang tertahan saringan 2 mm setelah dicuci dan dioven (gr) Untuk perhitungan keausan agregat selengkapnya bisa dilihat pada Lampiran IV..................... kemudian kerikil ditimbang dalam air dan diperoleh berat 649....... Menimbang kerikil dalam keadaan SSD...7...

...... Hal ini diulang sampai lima kali percobaan............ 1h). Alat-alat yang digunakan antara lain : cetakan silinder baja (diameter 15 cm dan tinggi 30 cm) dan tongkat baja (diameter 16 mm dan panjang 60cm)..5 3032... Menghitung volume silinder : Volume silinder = 0... (4).53 gram/cm3 Penyerapan (absorption) : A−C x 100% .5 = 2....08 % dengan : A B C D = berat pasir SSD (gr) = berat volumetricflash + air (gr) = berat volumetricflash + air + pasir (gr) = berat pasir tungku kering (gr) = penyerapan (%) (IV.....25 x π x d 2 x t ......... Memasukan batu pecah ke dalam silinder baja secara bertahap sebanyak tiga lapis (masing-masing lapis diisi batu pecah kemudian ditumbuk dengan tongkat baja sebanyak 25 kali dan diratakan permukaannya).... Menimbang silinder baja yang diisi batu pecah tersebut diperoleh 20250 gram (B)........51 = 3032... Langkah-langkah pemeriksaan berat satuan volume batu pecah adalah sebagai berikut : (1).....8) p Hasil dari pemeriksaan specific gravity dan absorption batu pecah dapat dilihat pada Lampiran IV. Menimbang berat silinder baja didapat 13200 gram (A)...... (3)...5 − 1832....5 − 3000 x 100% p= 3000 p= p = 1...... (2).... Pemeriksaan berat satuan volume batu pecah ini bertujuan untuk mengetahui berat agregat tiap satuan volume....8.. Pemeriksaan berat satuan volume batu pecah... C 3032.

timbangan digital.. (5). 2. Memasukkan batu pecah uji ke dalam ayakan dan digetarkan dengan siever selama 15 menit.3 mm........ Melakukan penimbangan batu pecah pada tiap-tiap ayakan kemudian dihitung modulus halus butirnya.. Menyediakan batu pecah kering oven sebanyak 1000 gram.9) 3 = 1.. Menyusun ayakan secara urut dari yang berukuran besar sampai yang kecil dan paling bawah adalah pan. Rata-rata berat satuan volume batu pecah : = 4....6 mm..06 . (4).0 mm....771 ...15 mm.36 mm..438 cm 3 (5)..18 mm... 4.. 0..25 100 = 7. Alat-alat yang digunakan antara lain : satu set ayakan dengan ukuran (19..25 x π x 15 2 x 30 = 5301. siever. Menyiapkan ayakan dan menimbang masing-masing ayakan tersebut..... Modulus halus butir = = Jumlah persentase kumulatif tertahan 100 706.... (3).... 0.. (IV..59 gr/cm3 dengan : A B C = berat silinder baja (gr) = berat silinder baja setelah diisi batu pecah (gr) = volume silinder (cm3) Untuk hasil pemeriksaan dan perhitungan berat satuan volume batu pecah secara lengkap bisa dilihat pada Lampiran IV.5 mm.... Pemeriksaan gradasi batu pecah......75 mm.9 1i). ember...... pan)... Langkah-langkah pemeriksaan gradasi batu pecah adalah sebagai berikut : (1).... 1.....52 = 0. 9...... (2). cetok. Pemeriksaan gradasi batu pecah ini bertujuan untuk mengetahui distribusi ukuran batu pecah dan modulus halus butirnya. 0..

679 15.056 7.271 42. 5.761 22. 15. Data-data untuk perencanaan campuran adukan beton adalah sebagai berikut : 1). Air (kg) 7.176 1. 9. 14.056 7.761 22.271 42.679 15. Berat jenis semen 8).271 Abu ampas tebu (kg) 7.960 Abu arang briket (kg) 7.679 15.176 1.056 7.056 7.056 7. Berat jenis pasir 3). Perencanaan campuran beton Dalam perencanaan proporsi campuran digunakan perencanaan menurut SK.960 .761 22.679 Pasir (kg) 22. 11.761 22.679 15.271 42.679 15.271 42.271 42. 16.2.568 1.679 15.5 % 1. Faktor air semen 2).5 % 1.761 22.271 42. Kebutuhan pembuatan benda uji untuk tiap 3 benda uji adalah sebagai berikut: Tabel.5 gr/cm3 = 2.679 15.06 Langkah-langkah perhitungan rencana campuran beton dapat dilihat pada Lampiran IV.960 1.056 Semen (kg) 15.761 22.056 7.056 7. Berat jenis batu pecah 4).568 1.761 22.761 22.150 ton/m3 = 60 – 100 mm 5).761 22.679 15.T-15-1990-30.47 gr/cm3 = 2. Modulus halus butir batu pecah = 7.960 1.056 7.271 42.271 42.5 % 10 % 12. 3.271 42.53 Untuk hasil penelitian dan perhitungan pemeriksaan gradasi batu pecah secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.45 = 2.056 7.176 1.679 15.568 1.761 22.45 No 1.761 22.271 42.761 22.056 7.056 7. 8.679 15.271 42.679 15.5 % 10 % 12. Proporsi kebutuhan material tiap 3 sampel untuk uji tekan dan tiap 3 sampel untuk uji tarik dengan fas 0.960 1. Nilai slump rencana = 0. Ukuran maksimum batu pecah 7).960 1. 7.761 22.568 1.271 42.056 7. 6.056 7. 2.056 7.176 1. 13.679 15.960 1.93 = 40 mm = 3.176 1.960 1.SNI.176 1.568 1.271 42.271 42.568 1.761 22.679 15.10.056 7.568 1.679 15.176 1.IV. 2. 4.176 1.761 22.761 Kerikil (kg) 42.271 42. Modulus halus butir pasir 6).679 15. 12.568 1. 10.10.

5 10 12. h=30 d=15. h=30 d=15.3.5 3 3 3 3 12 Jumlah total benda uji 48 3.4. h=30 Pengujian nilai slump ini dimaksudkan untuk mendapatkan kekentalan beton segar. Pengujian nilai slump Ukuran benda uji (cm) d=15. b). Rincian jumlah benda uji untuk kuat tekan beton. Setelah terisi penuh oleh adukan beton. h=30 d=15. d). Setelah pengisian adukan selesai.5 3 3 3 3 12 Jumlah total benda uji 48 Tabel IV.5 0 3 3 3 3 12 7. h=30 d=15. . e). h=30 d=15. c). h=30 Ukuran benda uji (cm) d=15. Pengisian adukan beton dilakukan sampai 2 lapis berikutnya dan masingmasing lapis ditusuk sebanyak 25 kali. Rincian jumlah benda uji untuk kuat tarik beton. Abu ampas tebu (%) Jumlah Abu arang Briket Fas (%) total 0 7.5 3 3 3 3 12 0. h=30 d=15.5 0 3 3 3 3 12 7. Abu ampas tebu (%) Jumlah Abu arang Briket Fas (%) total 0 7. bagian atas cetakan diratakan dengan cetok. adukan beton diisikan 1/3 dari volume kerucut. Pengujian dilakukan dengan menggunakan kerucut Abram’s. Meletakkan kerucut Abram’s ditempat yang rata dan tidak mudah goyah.54 Tabel IV. kemudian ditumbuk sebanyak 25 kali dengan menggunakan tongkat diameter 16 mm dan panjang 60 cm. yaitu berbentuk kerucut dengan diameter atas 10 cm.45 10 3 3 3 3 12 12. dan bagian dalam dibasahi dengan air. ditunggu ± 1 menit dan cetakan diangkat secara perlahan-lahan. Kerucut Abram’s dibersihkan terlebih dahulu sebelum digunakan. Dengan menginjak kaki kerucut Abram’s kuat-kuat.45 10 3 3 3 3 12 12.5 10 12.5 3 3 3 3 12 0. diameter bagian bawah 20 cm dan tinggi 30 cm dengan bagian atas maupun bawah berlubang. Langkah-langkah pengujian slump sebagai berikut : a).

silinder benda uji disimpan di udara lembab (direndam di dalam bak yang berisi air) untuk perawatan beton. Mengisikan adukan beton sepertiga bagian berikutnya dan diperlakukan sama. dapat dilihat pada Gambar IV. Pembuatan benda uji Pembuatan benda uji sesuai dengan perhitungan proporsi campuran beton yang telah direncanakan. e). Meratakan bagian atasnya serta membiarkannya sampai 24 jam d). Agar benda uji satu dan yang lainnya tidak tertukar. 4.55 f). b). dan diukur selisih antara kerucut dan adukan beton tersebut Hasil pengujian slump test selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran IV.14. dan telah diuji nilai slump-nya. c). Cara pembuatan benda uji silinder beton adalah sebagai berikut: a). sampai cetakan silinder penuh. Perawatan beton yang dilakukan pada penelitian ini adalah dengan cara merendam silinder beton di dalam bak yang berisi air sampai beton berumur 14 hari. Meletakkan kerucut Abram’s di samping adukan.17. 5. sejak adukan beton dipadatkan sampai beton dianggap cukup keras. Suhu air saat perendaman berkisar antara 26° – 25° C. Setelah 24 jam membuka cetakan. Perawatan Perawatan beton dimaksudkan untuk menjaga permukaan beton segar selalu lembab. . masing-masing benda uji diberi kode. Masing-masing variasi dibuat 3 buah benda uji sehingga jumlah total benda uji adalah 100 buah (lihat Tabel IV. Adukan beton dimasukkan ke dalam cetakan silinder dengan cetok setinggi sepertiga bagian dan memampatkan adukan beton tersebut dengan menusukkan tongkat baja tumpul sebanyak 25 kali.1).

maka permukaan benda uji diberi cat putih Gambar IV. .56 Gambar IV. Gambar IV. Gambar IV. terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan terhadap berat jenis.18. Pemeriksaan berat jenis Sebelum pengujian benda uji. Kemudian mesin uji dihidupkan dan penambahan beban dapat terlihat pada jarum penunjuk manometer. Angka yang ditunjuk oleh jarum merah inilah yang dicatat sebagai beban maksimum yang mampu ditahan oleh benda uji. Perawatan benda uji beton 6. Pada saat beban maksimum yang mampu ditahan benda uji terlampaui (benda uji hancur). sedangkan jarum hitam akan bergerak turun kembali pada posisi semula (nol).17.20. Hasil pengujian benda uji dapat dilihat pada Gambar IV. Pengujian kuat tekan dan kuat tarik benda uji Untuk mengetahui keretakan yang terjadi pada saat pengujian. 7.12. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran IV. maka salah satu jarum yaitu jarum merah akan tetap pada posisi nilai beban maksimum yang mampu ditahan.21. sehingga dapat diketahui berat dan volume benda uji tersebut. Benda uji diletakkan pada mesin uji tekan dengan posisi vertikal dan posisi jarum penunjuk kuat tekan harus pada angka nol.19. Berat jenis dapat diketahui dengan cara menimbang dan mengukur tinggi serta diameter benda uji.

19.18. Benda uji sebelum dicat Gambar IV. Benda uji setelah dicat .57 Gambar IV.

20. Pengujian kuat tekan beton . Hasil pengujian kuat tekan beton Gambar IV.58 Gambar IV.21.

Pengujian kuat tarik beton Gambar IV.23.59 Gambar IV. Hasil pengujian kuat tarik beton .22.

Warna ini menunjukkan bahwa pasir tidak banyak mengandung zat organik dan layak digunakan sebagai bahan campuran beton. Pengujian Agregat 1. Hasil pengujian agregat halus Jenis pengujian Hasil pengujian 5% Kadar lumpur Kuning Kandungan bahan kecoklatan organik 2.5 cm.5 .2.96 Syarat SK SNI 5% > 2. tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1). maka penurunan puncak kerucut pasir harus kurang lebih setengah tinggi kerucut. Hasil pengujian zat organik di dalam pasir dengan cara menambah larutan NaOH 3 % dan didiamkan selama 24 jam.82 % Modulus halus butir 2. sedangkan tinggi pasir mula-mula 7.rata sebesar 3.75 cm Nilai Saturated Surface Dry (SSD) 2. Untuk mencapai SSD pasir.75 cm. 61 .BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A.5 – 3.1. diperoleh larutan berwarna kuning kecoklatan. Tabel V. Pada pengujian ini diperoleh penurunan pasir rata.59 gram/cm3 Bulk specific gravity Absorption 4.1 sampai dengan Lampiran IV.1.8 (Sumber: Hasil penelitian) Hasil pengujian agregat halus Tabel V.5. 2). atau dituliskan pada Tabel V. Hasil uji kadar lumpur menunjukkan 5 % sehingga memenuhi persyaratan agregat halus sebagai campuran adukan beton karena batas persyaratan campuran beton yaitu 5 %. Hasil pemeriksaan agregat halus secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.8 gram/cm3 Apparent spesific gravity 3.5 gram/cm3 ½ dari tinggi kerucut Keterangan Memenuhi syarat Memenuhi syarat Memenuhi syarat Memenuhi syarat Memenuhi syarat 2.1. 3). Hasil pengujian agregat halus Pemeriksaan agregat halus dilakukan melalui beberapa tahap pengujian yang sudah diuraikan pada Bab IV. Karena adanya bahan organik dalam pasir akan mempengaruhi mutu beton.7 gram/cm3 Memenuhi syarat <5% Memenuhi syarat 1.

7 gram/cm3). agregat dibagi menjadi 3 macam yaitu agregat ringan (mempunyai berat jenis kurang dari 2. Hasil pemeriksaan gradasi pasir secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pasir ini termasuk agregat normal. Berdasarkan berat jenisnya.96 Pada umumnya pasir mempunyai nilai modulus halus butir antara 1. 4).59 gram/cm3. dan dilukiskan pada Gambar V. oleh karena itu pasir perlu diangin-anginkan sebelum digunakan.6. Dari hasil pengujian yang dilakukan diperoleh nilai absorbsi pasir 4.0 gram/cm3).5 – 3. 7). Hal ini menunjukan bahwa absorbsi pasir masih dalam batasan yang diisyaratkan. 5). Hasil pengujian gradasi pasir diperoleh modulus halus butir 2. . 6). Semakin besar absorbsi maka jumlah air yang digunakan dalam campuran akan semakin berkurang. dan agregat berat (mempunyai berat jenis lebih dari 2. Oleh karena modulus halus butir pasir yang digunakan berada dalam batasan modulus halus butir pada umumnya. Absorbsi agregat akan mempengaruhi jumlah air dalam campuran yang direncanakan.1.8. Dari pengujian agregat halus diperoleh berat jenis pasir 2. agregat normal (mempunyai berat jenis antara 2.5 gram/cm3 – 2. maka pasir ini memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan susun beton.8 gram/cm3). Persyaratan absorbsi agregat yang digunakan dalam campuran beton 5 %.82 %.62 Keadaan ini membuktikan bahwa pasir masih agak basah.

Hasil pengujian agregat kasar Pemeriksaan agregat kasar dilakukan melalui beberapa tahap pengujian yang diuraikan pada Bab IV.08 % Absorption Berat satuan volume 1.2.6 gram/cm3 Memenuhi syarat Memenuhi syarat 5-8 (Sumber: Hasil penelitian) Hasil pengujian agregat kasar pada Tabel V.2. gradasi pasir memenuhi persyaratan campuran beton dan termasuk ke dalam kelompok daerah II (pasir agak kasar).63 GRADASI PASIR 120 PERSEN LOLOS (%) 100 80 60 40 20 0 0 0. di atas. Batas gradasi pasir dalam daerah gradasi No. 2.85 1.15 0.1990) Menurut Gambar V. Hasil pengujian agregat kasar Jenis pengujian Hasil pengujian 0.89 gram/cm3 Syarat SK SNI 20 % > 2.5 – 2.57 gram/cm3 Apparent spesific gravity 2. tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: .35 4.5 LUBANG AYAKAN (mm) HASIL HITUNGAN BATAS ATAS SK SNI BATAS BAWAH SK SNI Gambar V.1.59 gram/cm3 Modulus halus butir 7.3 % Keausan agregat batu pecah 2.2.75 9. hasil pemeriksaan tersebut tercantum pada Tabel V. Hasil pemeriksaan agregat kasar secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.3 0.D.18 2.5 gram/cm3 Keterangan Memenuhi syarat Memenuhi syarat 2.6 sampai Lampiran IV.9. Tabel V.53 gram/cm3 Bulk specific gravity 1.7 gram/cm3 Memenuhi syarat Memenuhi syarat <5% 1. II (Departemen Pekerjaan Umum.2 – 1.1.

Hasil pemeriksaan gradasi batu pecah secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV. 7).9. sehingga batu pecah tersebut dapat digunakan sebagai campuran beton.7 gram/cm3) dan agregat berat (berat jenis 2. Batu pecah yang digunakan dalam penelitian ini mempunyai absorbsi 1. Dari hasil pengujian gradasi batu pecah diperoleh modulus halus butir 7. Hasil pemeriksaan gradasi batu pecah dapat dilukiskan seperti pada Gambar V.2 gram/cm3 – 1. Pengujian tersebut membuktikan batu pecah mempunyai berat satuan sesuai yang diisyaratkan untuk berat satuan normal.89 Modulus halus butir untuk agregat kasar yang digunakan sebagai campuran beton yaitu 5 sampai dengan 8. Dengan melihat grafik batu pecah dapat diketahui bahwa gradasi batu pecah ini masih masuk dalam batasan SK SNI.59 gram/cm3. Hasil pengujian berat jenis batu pecah yang digunakan dalam penelitian dapat disimpulkan bahwa agregat batu pecah tersebut termasuk agregat normal (berat jenis 2. Kekerasan butir-butir batu pecah yang diperiksa dengan mesin Los Angeles harus memenuhi syarat yaitu tidak terjadi kehilangan berat lebih dari 20 % untuk kekuatan beton diatas 20 MPa. 2).53 gram/cm3.64 1). 3). 5).3 %. Dari pengujian agregat batu pecah diperoleh berat jenis batu pecah 2. 6). 4). dan dilukiskan pada Gambar V.6 gram/cm3. Hal ini menunjukkan batu pecah tersebut dapat digunakan sebagai bahan campuran beton. Hasil pengujian berat satuan batu pecah 1. Hasil pengujian keausan batu pecah dari Boyolali 0.2.8 gram/cm3). Hasil pemeriksaan gradasi pasir secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.08%.5 gram/cm3 – 2.2. Hal ini menunjukan bahwa batu pecah tersebut mempunyai daya serap yang kecil. maka batu pecah tersebut dapat digunakan sebagai bahan campuran beton. karena memiliki kekerasan butiran yang masih ada dalam batasan yang disyaratkan. Berat satuan agregat kasar normal yaitu 1.9. .

1 LUBANG AYAKAN (mm) HASIL HITUNGAN BATAS BAWAH SK SNI BATAS ATAS SK SNI Gambar V. Hasil pengujian slump dapat dilihat pada Tabel V.5 1.1990) B.5 1.36 4. Pemberian bahan tambah dengan proporsi penambahan yang berbeda. Dari hasil pengujian slump pada Tabel V. Slump (cm) 7.2.16 cm.5 2 2.5 dan Lampiran IV.5 10 12. 11.5 19 38.5 7. √ √ 4.5 .5.11 dapat dilihat bahwa slump yang dicapai pada adukan beton dengan penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket tidak memenuhi persyaratan yang direncanakan yaitu antara 2 – 4 in atau 5. Tabel V.65 GRADASI KERIKIL 120 PERSEN LOLOS (%) 100 80 60 40 20 0 2.5 1.5 10 12. Pengujian slump dilakukan untuk mengetahui workabilitas adukan beton dari setiap percobaan. √ 2.75 9. Hasil pengujian slump beton umur 14 hari Abu arang Briket Abu ampas tebu (%) No Beton Normal (%) 7. akan dianalisis pengaruhnya terhadap workabilitas beton. √ √ √ √ 5. Pengujian Slump Pengujian nilai slump dilaksanakan sebelum campuran beton dituang dalam cetakan. Batas gradasi kerikil (Departemen Pekerjaan Umum. √ √ 3.08 – 10.5 dan Lampiran IV.

5. Data dan hasil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran IV.6.5 √ 2. sehingga didapatkan berat dan volume benda uji tersebut.5 √ 2. √ 16.5 1. sedangkan berat jenis rata-rata dapat dilihat pada Tabel V.5 2 √ 3. Besarnya berat jenis dapat dihitung dengan rumus : Berat jenis beton (γ) = B ……………………………………………. √ 11. √ 8.2) dengan : γ = berat jenis beton (gram/cm3) B = berat beton setelah direndam (gram) . √ 10.(V. Pengujian Berat Jenis Beton Pengujian berat jenis beton dilakukan sebelum diadakannya pembebanan terhadap benda uji silinder.5 (Sumber: Hasil penelitian) Dari hasil pengujian nilai slump menunjukkan bahwa nilai slump menurun dengan penambahan persentase abu arang briket dan abu ampas tebu dalam campuran beton. Lanjutan 6. √ 14.5 √ 2. Hasil pemeriksaan berat jenis beton secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV. √ 13.25 x π x d 2 x t …………………………………………………(V. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah bahan tambah yang digunakan maka air akan terserap oleh bahan tambah sehingga nilai fas akan berkurang.11.12 sampai dengan Lampiran IV.5 √ 3.66 Tabel V. √ √ √ √ - √ √ √ - √ √ √ √ √ √ - √ 2 √ 2. √ 15. maka nilai slump yang dihasilkan kecil. C.1) V V = 0. √ 9. √ 12. √ 7.16. Berat jenis beton dapat diketahui dengan cara menimbang dan mengukur tinggi serta diameter benda uji.5 2 √ 3.

15 gram/cm3.147 12.289 2.5 % 0% 2. Pengujian kuat tekan beton dilakukan untuk memperoleh nilai kuat tekan beton dengan adanya perbedaan kadar penambahan bahan tambah abu arang briket serta penambahan abu ampas tebu.248 2. Kadar abu ampas tebu Berat Jenis rata2 (gr/cm3) 0% 7.25 x π x d 2 x t = 0.226 2.207 2.5% 10 % 12.5 % 2.179 arang briket 10 % 2.6.5% 10 % 2. Hal ini disebabkan karena berat jenis briket lebih kecil dari pada berat jenis semen.188 2.282 2.160 2.118 2.438 cm 3 Dari hasil pemeriksaan berat jenis beton Tabel V.185 2.204 2.64 gram/cm3 sedangkan berat jenis semen adalah 3.147 (Sumber: Hasil penelitian) Tabel V.200 2.147 2. Hasil pengujian kuat tekan beton .67 V = Volume beton (cm3) d = diameter cetakan beton t = tinggi cetakan beton Volume silinder = 0.301 gram/cm3.282 Kadar abu ampas tebu 7.5 % 2. Hasil pemeriksaan berat jenis rata-rata pada kuat tarik beton dengan fas 0. Berat jenis briket adalah 2.263 2.4.188 2.273 2.213 2.194 Kadar abu 7. Berat jenis akan menurun seiring dengan penambahan abu arang briket. diperoleh berat jenis tertinggi 2. Hasil pemeriksaan berat jenis rata-rata pada kuat tekan beton dengan fas 0.213 2. Tabel V.6. Pengujian Kuat Tekan Dan Tarik Beton Pengujian kuat tekan beton dilaksanakan setelah benda uji silinder telah berumur 14 hari.5 % 0% 2.238 2.185 2.292 2.216 (Sumber: Hasil penelitian) D.210 2.7.5% 2.241 2.4.172 2.25 x π x 15 2 x 30 = 5301.213 2.5% 10 % 12.210 2. Berat Jenis rata2 (gr/cm3) Kadar abu arang briket 0% 7.176 12.

17.830 2.68 secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.5 % 2.665 2.5 % 0% 30.5 % 34. Kuat tarik rata-rata beton dengan variasi penambahan abu arang briket dan ampas tebu pada fas 0.π.8.5 % 0% 3.863 12.7.3) A A = ¼ .5% 31.443 (Sumber: Hasil penelitian) Tabel V.046 12.484 22.318 2.165 2.263 2.4) A = ¼ .476 1.(V. Kadar abu ampas tebu Kuat Tekan rata2 (gr/cm3) 0% 7.434 37. Besarnya kuat tekan dari benda uji dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus sebagai berikut : f’c = Pmaks …………………………………………………………….163 23.521 23. Kadar abu ampas tebu Kuat Tarik rata2 (gr/cm3) 0% 7.075 1.425 23.141 24.390 39.284 37.627 (Sumber: Hasil penelitian) .9.981 arang briket 10 % 2.714 cm2 dengan : f’ A d = kuat tekan beton salah satu benda uji (kg/cm2) = luas permukaan benda uji yang tertekan (cm2) = diameter cetakan Pmaks = beban tekan maksimum (kg) Tabel V.476 2.594 2.5% 10 % 12.029 23.5% 2.632 22.201 22.523 1.5% 10 % 12.4.4.334 Kadar abu 7.d2 = ¼ x π x 152 = 176.π.557 29.159 arang briket 10 % 32.933 1. Sedangkan estimasi kuat tekan beton rata-rata dapat dilihat pada Tabel V.523 2. Kuat tekan rata-rata beton dengan variasi penambahan filler abu arang briket dan abu ampas tebu pada fas 0.d2……………………………………………………………(V.069 Kadar abu 7.

5 Kadar Briket (%) Ampas tebu 0% ampas tebu 10% ampas tebu 7.5 10 12.5% dan abu arang briket 10% sebesar 27.5% Gambar V.5% ampas tebu 12. 45 40 Kuat Tekan (Mpa) 35 30 25 20 15 10 5 0 0 7. Grafik gabungan hubungan kuat tekan rata-rata dengan variasi bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket. Dari Gambar V. Kuat tekan optimum diperoleh dari penambahan abu ampas tebu 12. dapat diketahui bahwa beton normal dengan penambahan bahan tambah abu ampas tebu mengalami penurunan pada kuat tekan. .78 %.3. Dari hasil pengujian kuat tekan beton di atas.3 dapat disimpulkan bahwa penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket mampu meningkatkan kuat tekan beton.3. Sedangkan pada penambahan arang briket kuat tekan mengalami peningkatan.69 Hasil pengujian kuat tekan rata-rata silinder beton dengan bahan tambah abu briket dan abu ampas tebu dapat dilihat pada Gambar V.

4.5 0 0 7. Pembahasan Hasil Penelitian Dari hasil penelitian ini dengan topik kapasitas tekan dan tarik beton dengan bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket dengan fas 0.5% dan abu arang briket 10%.5 10 12. Dari Gambar V.70 %.5%.5% ampas tebu 12. Grafik gabungan hubungan kuat tarik rata-rata dengan variasi bahan tambah abu ampas tebu dan abu arang briket. diperoleh kuat tekan beton tertinggi adalah 39.4. Kuat tekan tertinggi tersebut diperoleh dari kadar abu ampas tebu 12. sedangkan kuat tarik tertinggi diperoleh dari kadar abu ampas tebu 7.5% dan abu arang briket 12.046 MPa dan kuat tarik tertinggi adalah 2.4.830 MPa. Kuat tarik optimum diperoleh dari penambahan kadar abu ampas tebu 7.5 2 1.70 Hasil pengujian kuat tarik rata-rata silinder beton dengan bahan tambah abu arang briket dan abu ampas tebu dapat dilihat pada Gambar V.4 bisa disimpulkan bahwa penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket pada umumnya mengalami penurunan untuk setiap variasi penambahannya.5% sebesar 14. . 3. E.5 1 0.5% dan abu arang briket 12. dapat diketahui bahwa beton normal dengan penambahan bahan tambah abu ampas tebu dan abu arang briket dapat mengakibatkan penurunan pada kuat tarik beton. Dari hasil pengujian kuat tarik beton di atas.5% Gambar V.5 Kadar Briket (%) ampas tebu 0% ampas tebu 10% ampas tebu 7.5 3 Kuat Tarik (Mpa) 2.

70 % dari beton normal atau pada kadar abu arang briket 0 % dan abu ampas tebu 0 %. 2.78 % dari beton normal atau pada kadar abu arang briket 0 % dan abu ampas tebu 0 %.5 % mengalami penurunan sebesar 14. . b) Kuat tekan beton yang dihasilkan lebih tinggi pada penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket.5 % dan abu arang briket 10 % mengalami peningkatan sebesar 27. Kuat tarik beton pada penambahan kadar abu ampas tebu 7.5 % dan abu arang briket 12. benda uji langsung dapat dibuka dari cetakannya kemudian dilakukan perawatan benda uji. Kekurangan a) Kemudahan pengerjaan lebih rendah karena abu ampas tebu dan abu arang briket mempunyai sifat menyerap air. Kelebihan a) Dalam penelitian ini tidak terjadi penundaan ikatan semen karena dalam waktu 24 jam dari pengecoran. b) Karena sifatnya yang menyerap air mengakibatkan nilai slump rendah. Kuat tekan beton pada penambahan kadar abu ampas tebu 12.71 Kelebihan dan kekurangan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. c) Kuat tarik beton yang dihasilkan lebih tinggi pada penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket.

3 dengan variasi pencampuran 10 %.20 %.665 MPa terjadi pada kadar 7.5 %.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. pada fas 0. 30 %.45 sebesar 2.899 MPa terjadi pada kadar 10 %.5 %.45 sebesar 25. 7). 2). 72 . 5). Semakin besar persentase abu arang briket dan abu ampas tebu pada adukan beton maka nilai slump makin kecil.4 sebesar 2.572 MPa terjadi pada kadar 20 %. Kuat tekan optimum abu ampas tebu pada fas 0.45 sebesar 24.5 %. Berat jenis akan menurun seiring dengan penambahan abu arang briket dan abu ampas tebu. Hasil pemeriksaan agregat halus (pasir) memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan campuran beton. perendaman benda uji. Kuat tekan optimum abu arang briket pada fas 0. 6).4 sebesar 2. serta analisis yang telah dilakukan.5 % sedangkan kuat tekan optimum pada fas 0.594 MPa terjadi pada kadar 7. pengujian kuat tekan dan kuat tarik untuk silinder beton.465 MPa terjadi pada kadar 12.735 MPa terjadi pada kadar 12.4 sebesar 29. akhirnya penelitian ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1).405 MPa terjadi pada kadar 12.5 % sedangkan kuat tarik optimum pada fas 0. 4).141 MPa terjadi pada kadar 12. 3). Kuat tarik optimum abu arang briket pada fas 0. 40 % didapat kuat tekan optimum sebesar 46. Kuat tarik optimum abu ampas tebu pada fas 0. 8). Untuk hasil penelitian Rifai.425 MPa terjadi pada kadar 7. Kesimpulan Setelah diadakan tahap pembuatan benda uji. Hasil pemeriksaan agregat kasar (batu pecah) memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan campuran beton.4 sebesar 34.5 % sedangkan kuat tekan optimum pada fas 0.5 % sedangkan kuat tarik optimum pada fas 0.45 sebesar 2.

73 9).5 % dan abu ampas tebu 7.70 % dari beton normal atau pada kadar abu arang briket 0 %. 10 %.5 % mengalami penurunan sebesar 14. B. sehingga sulit dipadatkan. kesulitankesulitan yang dialami pada saat penelitian dan pembahasan hasil penelitian. Saran Berdasarkan pengamatan selama pelaksanaan penelitian. . abu ampas tebu 0 %. Bagian atas dan bawah benda uji diusahakan benar-benar rata. 12. diharapakan dilakukan penelitian selanjutnya pada variasi fas. Hal ini dimaksudkan pada waktu pengujian seluruh permukaan benda uji mendapat tekanan yang sama. 10). Dalam penelitian ini menggunakan abu ampas tebu dengan prosentase tertentu yaitu 7. 4). setelah dilakukan pencampuran material harus segera dimasukkan ke dalam cetakan karena adukan beton akan segera lengket dan mengental. Kuat tekan optimum terjadi pada penambahan kadar abu arang briket 10 % dan abu ampas tebu 12. 3). 5).5 % sehingga dapat dilakukan penelitian selanjutnya tentang besarnya prosentase abu ampas tebu yang dapat menambah kuat tekan dan tarik beton sampai optimum. Kuat tarik beton terjadi pada penambahan kadar abu arang briket 12. maka peneliti memberikan saran sebagai berikut : 1). 2). Penggunaan abu ampas tebu akan mengurangi keenceran adukan campuran beton sehingga kuat tekan dan tarik beton tinggi.5 % mengalami peningkatan sebesar 27.5 %. Dalam pembuatan benda uji. permukaan air harus menutup semua benda uji yang direndam. abu ampas tebu 0 %.78 % dari beton normal atau pada kadar abu arang briket 0 %. Pada saat perendaman benda uji.

Terjemahan Stephany Hindarko. Teknologi Beton. 1995. Murdock. Peraturan Beton Bertulang Indonesia. N. Yogyakarta. A. Subakti. K. Departemen Pekerjaan Umum. Surakarta. Yayasan LPMB Puslitbang Pemukiman Balitbang PU. SK SNI T-15-1991-03. Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta. Teknologi Beton Dalam Praktek. PT Naviri. M.45. Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia.M. 1990. . 2005. Surakarta.DAFTAR PUSTAKA Departemen Pekerjaan Umum. Tjokrodimuljo. Erlangga. Direktorat Penyelidikan Masalah Bangunan. Bandung. Bahan dan Praktek Beton. 1971. Murgiyanto. 1991. Institut Teknologi Sepuluh Nopember. 1996. Standar Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung. LPMB. L. 1991. Standar Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung. Direktorat Penyelidikan Masalah Bangunan. Bandung. Rifa’I. Jakarta. 1982. Departemen Pekerjaan Umum. Surabaya. Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta.J. Pemakaian Variasi Bahan Tambah Larutan Gula dan Abu Arang Briket Pada Kuat Tekan Beton Mutu Tinggi.1-2 1971. 2003. Bandung. SK SNI T-15-1990-03. Tinjauan Pemakaian Abu Batu Bara Terhadap Karakteristik Beton dengan Menggunakan Faktor Air Semen 0. Badan Pengembangan Pekerjaan Umum. Brook K.

Surakarta. Ph. Telp. sehingga pasir tidak perlu dicuci karena sudah memenuhi batas persyaratan campuran beton yaitu 5%.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. Ir.D NIP. 1.5 100 5% L-1 Kandungan lumpur pada pasir untuk campuran beton adalah 5 %. Sutami No. Mei 2006 Ka. Lab. 132 129 524 . Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. ST. (0271) 632363 Lampiran IV. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Pemeriksaan Kadar Lumpur Pada Pasir Tabel : Pemeriksaan pasir sebelum dicuci (Sumber : Hasil penelitian) Berat cawan (gram) Berat pasir kering tungku+cawan (gram) Berat pasir kering tungku setelah dicuci (gram) Berat pasir kering tungku sebelum dicuci (gram) Kandungan lumpur (%) A B C D=B-A D −C x100% D 158 258 95.

Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. Ir. terlihat larutan berwarna kuning kecoklatan. Surakarta.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. Lab. Ph. Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Pemeriksaan Kandungan Zat Organik Pada Pasir Tabel : Pengujian zat organik dalam pasir (Sumber : Hasil penelitian) No 1 2 Jenis bahan Pasir Larutan NaOH 3% Volume (cc) 130 cc Secukupnya Volume total 200 cc Warna larutan L-2 Kuning Kecoklatan Setelah pasir dicampur NaOH 3 % dan didiamkan selama 24 jam.2. 132 129 524 . ST. Ini menunjukkan bahwa pasir tersebut tidak banyak mengandung bahan organik. (0271) 632363 Lampiran IV. sehingga pasir dapat langsung digunakan untuk campuran beton. Telp.D NIP. Mei 2006 Ka.

5 × 7.5 =3. ST. Pengujian Saturated Surface Dry (SSD) Pasir Tabel : Pemeriksaan penurunan pasir rata-rata (Sumber : Hasil penelitian) Percobaan I II III Jumlah 15 20 25 Jumlah penurunan : 3 Nilai SSD Penurunan tinggi pasir(cm) Sample A Sample B 3.23 + 4.6 : 3 = 4.3.5 4.2 4.rata sebesar 3.5 cm = 8.75 cm.215>0.D NIP.215 L-3 Tinggi pasir mula-mula Nilai SSD = 7. Ph.7 : 3 = 4.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.5 cm. Surakarta. Ir. oleh karena itu pasir perlu diangin-anginkan sebelum digunakan. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Telp. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.9 4.23 12.7 12.6 3. Keadaan ini membuktikan bahwa pasir masih agak basah. 132 129 524 . Sutami No.2) / 2 = 4.4 4. (0271) 632363 Lampiran IV. sedangkan tinggi pasir mula-mula 7. Mei 2006 Ka. Lab.43 2 =4.2 (4.75 Pada pengujian ini diperoleh penurunan pasir rata.

36 A Kentingan Surakarta 57126.80 4.D NIP. Lab. Telp. ST.47 2.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. Mei 2006 Ka. Ph.7 (berat jenis agregat halus yang diperoleh memenuhi syarat). Surakarta. 132 129 524 . Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.59 2.5 – 2. Sutami No. (0271) 632363 Lampiran IV. Ir.82 Syarat berat jenis agregat normal antara 2.27 477 2.42 1006. Pemeriksaan Spesific Gravity dan Absorption Pasir Tabel : Perhitungan Spesific Gravity dan Absorbtion Pasir (Sumber : Hasil penelitian) Berat pasir kondisi SSD(gram) Berat volumetric flash+air (gram) Berat volumetric flash+air +pasir(gram) Berat pasir kering tungku (gram) Bulk Specific grafity (gram/cm 3 ) Specific grafity SSD (gram/cm 3 ) L-4 Apparent Specific grafity (gram/cm 3 ) Absorption (%) A B C D D ( A + B − C) A (B + A − C) D (B + D − C) A− D x100% D 500 699.4.

Pemeriksaan Berat Satuan Volume Pasir L-5 Volume silinder Berat silinder = 0.246 3 1. volume (gram/cm 3 ) 19400 19355 19505 Jumlah = 9250 9205 9355 5. Ph.438 cm 3 = 10150 gram Tabel : Pemeriksaan berat satuan volume (Sumber : Hasil penelitian) No 1 2 3 Berat silinder (gram) 10150 10150 10150 Berat pasir+silinder (gram) Berat pasir (gram) Berat sat.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.765 5.749 gr/cm 3 Surakarta. Lab. ST. Telp.25 x π x d 2 x t = 0.25 x π x 15 2 x 30 = 5301.246 Rata-rata berat satuan volume pasir = 1. 132 129 524 .5. (0271) 632363 Lampiran IV.745 1. Ir.736 1.D NIP. Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. Mei 2006 Ka.

60 Koreksi 0.40 35. 4.75 2.03 100.97 100.85 0.04 518. Mei 2006 Ka. 5.97 192.93 3000 % Pasir Tertinggal 2. 36 A Kentingan Surakarta 57126.04 0.03 10.50 39.77 8. Telp.5 88. 2.50 11.04 322.4 gr Koreksi = berat pasir tertahan × kesalahan berat pasir setelah diayak Dari hasil analisa pengujian diatas didapatkan modulus halus butir pasir sebagai berikut : Modulus halus butir = = Jumlah persentase kumulatif tertahan 100 295.24 77.76 22.74 211.D NIP.6 = 0.96 Lolos 97. 7. Sutami No.01 0.23 91.5 – 3. Ph.36 1.96 = 2.9 Jumlah Berat Cawan (gr) 61 61 61 61 61 61 61 61 Berat Pasir (gr) 75.14 0.20 81.26 10.15 Pan Berat Cawan + Pasir (gr) 136 338.90 192. Pemeriksaan Gradasi Pasir L-6 Tabel : Perhitungan pengujian gradasi pasir Boyolali (Sumber : Hasil penelitian) No .90 2999.03 Berat Pasir Terkoreksi 75.70 322.00 Persen Kumulatif Tertinggal 2.00 Syarat SK SNI 100 90-100 75-100 55-90 35-59 10-30 0-10 0 Gol II Keterangan : * tidak ikut dijumlahkan = 3000 gr = 2999.03 0.30 0.74 17.90 322.04 0.00 295. Lab.982 memenuhi syarat yaitu antara 1.03 0.6 gr Berat pasir mula-mula Berat pasir setelah diayak Berat kesalahan penimbangan = 3000 – 2999. 8.18 0. 132 129 524 .04 0. (0271) 632363 Lampiran IV.6.30 6.07 0.74 8.2 301.9 383. Ir. Ukuran Ayakan (mm) 9.00 518.20 53.00 1050.96 100 Modulus halus butir 2.24 240. 3.50 9.00 277.03 1051.8 Surakarta.80 46.80 18. 1.20 240.50 4. ST.51 60.01 277.9 253 1111.70 383 579. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. 6.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.

Pemeriksaan Keausan Agregat Kasar L-7 Tabel : Hasil pengujian keausan agregat kasar (Sumber : Hasil penelitian) Lolos No. Lab. Ph. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Telp.5 dan tertahan 9.7. Sutami No.D NIP. 132 129 524 . Mei 2006 Ka.3 % Hasil pengujian keausan batu pecah dari Karanganyar 0.3 %. 12. Surakarta. ST.. Hal ini menunjukkan batu pecah tersebut dapat digunakan sebagai bahan campuran beton. Ir. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.5 Berat benda uji mula-mula (gram) Lolos No.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.5 Berat benda uji setelah diuji (gram) Keausan agregat (%) A B A−B x100% A 2500 2500 4985 0. 19 dan tertahan 12. (0271) 632363 Lampiran IV. karena memiliki kekerasan butiran yang masih ada dalam batasan yang disyaratkan yaitu tidak boleh lebih dari 20 %.

8.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. Lab.5 2. Mei 2006 Ka. ST. 36 A Kentingan Surakarta 57126. (0271) 632363 Lampiran IV.5 3000 2. 132 129 524 .5 1832. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.D NIP. Ph.53 2. Telp.57 1. Pemeriksaan Spesific Gravity dan Absorbtion Batu Pecah L-8 Tabel : Perhitungan Spesific Gravity dan Absorbtion Batu Pecah (Sumber : Hasil penelitian) Berat batu pecah kondisi SSD(gram) Berat benda uji dalam air (gram) Berat benda uji kering oven (gram) Bulk Specific grafity (gram/cm 3 ) Specific grafity SSD (gram/cm 3 ) Apparent Specific grafity (gram/cm 3 ) Absorbtion (%) A B C C A− B A A− B C C−B A−C x100% C 3032. Ir. Sutami No.08 % Surakarta.

584 1. Hasil pengujian berat satuan batu pecah 1.6 gram/cm3. Ph.592 4. 771 = 1.590 gram/cm3.2 gram/cm3 – 1. Sutami No. 132 129 524 .595 1.9. volume (gram/cm 3 ) 19000 19055 19040 Jumlah 3 8400 8455 8440 = 4 . Telp. ST.25 x π x d 2 x t = 0. Lab. 36 A Kentingan Surakarta 57126.25 x π x 15 2 x 30 = 5301. Ir.590 gr/cm 3 1. Surakarta.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.438 cm 3 = 10600 gram Tabel : Pemeriksaan berat satuan volume (Sumber : Hasil penelitian) No 1 2 3 Berat silinder (gram) 10600 10600 10600 Berat batu pecah+silinder (gram) Berat batu pecah (gram) Berat sat. Pemeriksaan Berat Satuan Volume Batu Pecah L-9 Volume silinder Berat silinder = 0.771 Rata-rata berat satuan volume batu pecah Berat satuan agregat kasar normal yaitu 1. (0271) 632363 Lampiran IV. Pengujian tersebut membuktikan batu pecah mempunyai berat satuan sesuai yang disyaratkan untuk berat satuan normal.D NIP. Mei 2006 Ka. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.

00 0.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.00 0.03 1822.00 100.00 0.49 Lolos 100 83. 132 129 524 .108 memenuhi syarat yaitu antara 5 – 8. 36 A Kentingan Surakarta 57126.00 0. Ph. (0271) 632363 Lampiran IV. Sutami No.27 5.93 0.00 100.00 0.00 Berat Kerikil terkoreksi 0.00 507.76 17.92 518.07 1.00 0.89 100 Surakarta.10 22.15 Pan Berat ayakan+ Kerikil (gr) 488 961 2253.00 0.12 0.04 152. Ir.01 0.8 Koreksi 0.2 gr Koreksi = berat pasir tertahan × kesalahan berat pasir setelah diayak Dari hasil analisa pengujian diatas didapatkan modulus halus butir batu Jumlah persentase kumulatif tertahan 100 789.00 0.75 2.8 930 573 322 320 315 242 269 Jumlah Berat Ayakan (gr) 488 454 431 412 421 322 320 315 242 269 Berat Kerikil (gr) 0 507 1822.00 0.00 0. Pemeriksaan Gradasi Batu Pecah L-10 Tabel : Perhitungan pengujian gradasi batu pecah dari Boyolali (Sumber : Hasil penelitian) no 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Ukuran Ayakan (mm) 25 19 12.01 0.90 77.00* 789.00 0.00 0.00 100. Ka. Mei 2006 pecah/kerikil sebagai berikut : Modulus halus butir = = Modulus halus butir 7.00 16.00 16.10.49 = 7.00 3000 % Kerikil tertinggal 0.8 518 152 0 0 0 0 0 2999.00 0. ST.66 94.00 0.00 0. Telp.00 100.00 Keterangan : * tidak ikut dihitung = 3000 gr Berat batu pecah mula-mula Berat batu pecah setelah diayak = 2998 gr Berat kesalahan penimbangan = 3000 – 2999.00 0.85 0.07 0.D NIP.8 = 0.50 9.36 1.04 0.00 % Komulatif Tertinggal 0.90 60.34 5. Lab.18 0.00 100. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.50 4.00 0.00 100.03 0.93 100.

25 x π x d 2 x t = 0. Mei 2006 Ka. Ph. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.817 Rata-rata berat satuan volume agregat kasar = = 1.606 gr/cm 3 Surakarta. 36 A Kentingan Surakarta 57126.629 4.604 1.25 x π x 15 2 x 30 = 5301.11. (0271) 632363 Lampiran IV. Pemeriksaan Berat Satuan Volume Agregat Kasar L-11 Volume silinder Berat silinder = 0. Lab. Telp.584 1. Ir. ST. volume (gram/cm 3 ) 19000 19105 19235 Jumlah 8400 8505 8635 4.438 cm 3 = 10600 gram Tabel : Pemeriksaan berat satuan volume (Sumber : Hasil penelitian) No 1 2 3 Berat silinder (gram) 10600 10600 10600 Berat Agregat Kasar + silinder (gram) Berat Agregat Kasar (gram) Berat sat.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. 132 129 524 .817 3 1. Sutami No.D NIP.

9 ltr Semen 462.2 * vol cetakan silinder * vol material tiap m3 .9 ltr dan fas 0. Perencanaan Campuran Adukan Beton Metode SK-SNI T-15-199003 L-12 Perancangan Adukan Beton Normal Fas 0.25 kg 184.12.66 Mpa biasa batu pecah 0. Ir.48 Mpa 47.4 60-100 mm 40 mm 184.9 ltr 462. Sutami No.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.50 2300 kg/m3 1652.45 2 34 % 2.884 kg Kerikil 1090.716 kg/m3 tabel 10 : 7 grafik grafik grafik 18-(11+10) 16 * 19 19-20 Proporsi campuran Tiap m 3 Air 184. Telp.4 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Uraian Kuat tekan umur 14 Deviasi standar Nilai tambah Kuat tekan rata2 Jenis semen Jenis kerikil Fas Slam Ukuran maks butir kerikil Kadar air Kebutuhan semen Kebutuhan semen minimum Dipakai kebutuhan semen Penyesuaian jumlah air atau fas Golongan pasir Persen pasir terhadap camp Berat jenis campuran Berat beton Kebutuhan camp pasir dan kerikil Kebutuhan pasir Kebutuhan kerikil Tabel/Grafik/Perhitungan grafik M=k * ds Nilai 36.25 kg Pasir 561.6 kg/m3 561.716 kg Proporsi bahan tiap 1 silinder = 1.884 kg/m3 1090. 36 A Kentingan Surakarta 57126.25 kg 275 kg 462.18 Mpa pada 14 hari 7 Mpa 11. (0271) 632363 Lampiran IV.

442 21.442 21.056 7.323 Ampas (kg) 10 % 12.639 17.622 41.442 21. Ir.323 1. (0271) 632363 Lampiran IV.764 2.056 7.622 41. 9.639 17.442 21.323 1.205 2.442 Kerikil (kg) 41.622 41. 16.056 7.622 41.323 1.622 41.622 41. Sutami No. 8.13.056 7. 13.5 % 1.639 17.442 21.5 % 2.639 17.5 % 1.639 Pasir (kg) 21.639 17. 6.205 2. Telp.622 41.056 7.764 1.205 2.442 21. 11.056 7.323 1.622 41.622 41.323 Filler (kg) 10 % 1.442 21.205 2.442 21.056 Semen (kg) 17.5 % 1.056 7.764 1. 3.639 17.622 7.056 7.323 1. 5.639 17.764 12.764 1.056 7. 36 A Kentingan Surakarta 57126.205 2.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.205 7.639 17.442 21.056 7.442 21. 14.056 7. 2.056 7.639 17. Proporsi kebutuhan material tiap 3 sampel untuk uji tekan dan tiap 3 sampel untuk uji tarik dengan fas 0.622 41.639 17.622 41.442 21. 12.639 17.4 No 1.639 17.323 1. Proporsi kebutuhan material L-13 Tabel.764 1.639 17. 15.639 17.205 2.056 7.622 41. 4.056 7.442 21. 7.442 21.442 21.622 41.622 41.622 41. Air (kg) 7.056 7.442 21.205 .764 1.764 1. 10.639 17.

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR
JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Jl. Ir. Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Telp. (0271) 632363

Lampiran IV.14. Pemeriksaan Slump Adukan Beton

L-14

Tabel: Hasil pengujian slump beton umur 14 hari (Sumber : Hasil penelitian) No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. Beton Normal √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Ampas (%) 7,5 10 12,5 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Filler Briket (%) 7,5 10 12,5 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Slump (cm) 7,5 2 2,5 1,5 1,5 2 2,5 2 3,5 2,5 2 3,5 2,5 1,5 2,5 3,5

Surakarta,

Mei 2006

Ka. Lab. Bahan Konstruksi Teknik

Kusno Adi Sambowo, ST, Ph.D NIP. 132 129 524

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR
JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Jl. Ir. Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Telp. (0271) 632363

Lampiran IV.15. Hasil Pengujian Kuat Tekan Silinder Beton
HASIL PENGUJIAN KUAT TEKAN SILINDER BETON FAS 0.4

L-15

No 1

Tanda / Kode BN-40

Tgl. dibuat 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 2119 April 2006

Volume silinder (cm3) 5301,438

Berat (gr) 11950 11900 11750 12080 11900 12000 11950 11300 11500 11400 11500 11500 12250 12100 12150

b.j (gr/cm3) 2,254 2,245 2,216 2,279 2,245 2,264 2,254 2,131 2,169 2,150 2,169 2,169 2,301 2,282 2,292

b.j rata-rata (gr/cm3) 2,238

Tgl. diuji 3 Mei 2006

Umur 14

Beban Maks. (kN) 495 600 525 510 570 480 430 415 400 420 330 420 535 560 550

Kuat tekan (MPa) 28,011 33,953 29,709 28,860 32,255 27,162 24,333 23,484 22,635 23,767 18,674 23,767 30,275 31,689 31,124

2

BNA-1-40

5301,438

2,263

3 Mei 2006

14

3

BNA-2-40

5301,438

2,185

3 Mei 2006

14

4

BNA-3-40

5301,438

2,163

3 Mei 2006

14

5

BNF-1-40

5301,438

2,292

3 Mei 2006

14

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR
JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Jl. Ir. Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Telp. (0271) 632363

Lampiran IV.15. Lanjutan
HASIL PENGUJIAN KUAT TEKAN SILINDER BETON FAS 0.4

L-16.

No 1

Tanda / Kode BNF-2-40

Tgl. dibuat 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006

Volume silinder (cm3) 5301,438

Berat (gr) 12100 12200 12000 12100 12100 12100 11550 11650 11850 11900 11700 11600 11600 11600 11600

b.j (gr/cm3) 2,282 2,301 2,264 2,282 2,282 2,282 2,179 2,197 2,235 2,245 2,207 2,188 2,188 2,188 2,188

b.j rata-rata (gr/cm3) 2,282

Tgl. diuji 3 Mei 2006

Umur 14

Beban Maks. (kN) 600 530 600 580 630 600 440 390 400 330 420 425 420 420 460

Kuat tekan (MPa) 33,953 29,992 33,953 32,821 35,651 33,953 24,899 22,069 22,635 18,674 23,767 24,050 23,767 23,767 26,031

2

BNF-3-40

5301,438

2,282

3 Mei 2006

14

3

BNAF-11-40

5301,438

2,204

3 Mei 2006

14

4

BNAF-12-40

5301,438

2,213

3 Mei 2006

14

5

BNAF-13-40

5301,438

2,188

3 Mei 2006

14

169 2.213 5 Mei 2006 14 3 BNAF-23-40 5301.084 2.899 21.210 Tgl.150 b.438 2.438 Berat (gr) 11600 11750 11800 12000 11600 11600 11350 11400 11400 11050 11500 11600 11700 11500 11400 b.j rata-rata (gr/cm3) 2.175 5 Mei 2006 14 .150 2.573 37.767 23.207 2.504 24.141 2. (0271) 632363 Lampiran IV.150 2.767 23.438 2.169 2.217 43.147 5 Mei 2006 14 5 BNAF-32-40 5301.j (gr/cm3) 2.504 21.188 2.188 2.914 36. Sutami No. Ir.264 2.438 2.188 2.226 2.465 36. Telp. 36 A Kentingan Surakarta 57126. (kN) 370 420 420 420 440 380 380 430 450 650 670 650 640 770 660 Kuat tekan (MPa) 20.348 2 BNAF-22-40 5301. Lanjutan HASIL PENGUJIAN KUAT TEKAN SILINDER BETON FAS 0. diuji 5 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks.938 23.767 24.15.333 25.4 L-17 No 1 Tanda / Kode BNAF-21-40 Tgl.216 2.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.782 36.438 2.188 2. dibuat 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301.782 37.147 5 Mei 2006 14 4 BNAF-31-40 5301.

438 Berat (gr) 11250 11250 11750 b.480 35.15.4 L-18.368 Surakarta. Telp. Sutami No. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.122 2.122 2. No 1 Tanda / Kode BNAF-33-40 Tgl.216 b.j (gr/cm3) 2.j rata-rata (gr/cm3) 2. Lab. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Ir.D NIP.153 Tgl. Mei 2006 Ka.480 38. 132 129 524 . (kN) 680 680 625 Kuat tekan (MPa) 38. Ph. Lanjutan HASIL PENGUJIAN KUAT TEKAN SILINDER BETON FAS 0.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. (0271) 632363 Lampiran IV. diuji 4 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks. ST. dibuat 20 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301.

546 2.254 2.438 2.194 3 Mei 2006 14 5 BNF-1-40 5301.112 3.j (gr/cm3) 2.301 2.438 2. Telp.207 3 Mei 2006 14 4 BNA-3-40 5301.829 2 BNA-1-40 5301.16.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.446 3.245 2.264 2.160 3 Mei 2006 14 3 BNA-2-40 5301.169 2.4 L-19 No 1 Tanda / Kode BN-40 Tgl. Sutami No.438 2.j rata-rata (gr/cm3) 2. (kN) 220 240 245 230 160 175 100 180 180 125 190 180 190 160 200 Kuat tarik (MPa) 3. (0271) 632363 Lampiran IV.254 2.438 2.273 Tgl.688 2. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Ir.254 2. 2.169 2.395 3.546 2.438 Berat (gr) 12200 11950 12000 11500 11350 11500 11500 11750 11850 11850 11550 11500 11900 11950 11900 b.688.476 1.248 3 Mei 2006 14 . dibuat 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301.169 2.245 b.546 1. diuji 3 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks. Hasil Pengujian Kuat Tarik Silinder Beton .768 2.264 2.235 2.415 2.179 2.141 2. HASIL PENGUJIAN KUAT TARIK SILINDER BETON FAS 0.235 2.169 2.264 2.216 2.

334 2.334 2. Telp.197 2.263 2.245 2.438 Berat (gr) 12200 12200 12000 11650 11900 12100 11500 11650 11650 11700 11650 11650 11750 11900 11750 b.4 L-20 No 1 Tanda / Kode BNF-2-40 Tgl. Lanjutan HASIL PENGUJIAN KUAT TARIK SILINDER BETON FAS 0.245 2. 36 A Kentingan Surakarta 57126.900 2.334 1.438 2.325 2.476 2 BNF-3-40 5301. Ir.j rata-rata (gr/cm3) 2. (0271) 632363 Lampiran IV.334 2.301 2.207 2.476 2.627 2.197 2.768 3.289 Tgl.438 2.226 3 Mei 2006 14 .264 2.829 2. diuji 3 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks.200 3 Mei 2006 14 5 BNAF-13-40 5301.241 3 Mei 2006 14 3 BNAF-11-40 5301.197 2. (kN) 125 235 165 165 115 200 165 205 165 160 175 200 210 215 175 Kuat tarik (MPa) 1. Sutami No.188 3 Mei 2006 14 4 BNAF-12-40 5301.16.197 2.438 2.971 3.042 2.829 2.j (gr/cm3) 2.438 2.169 2.282 2.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.197 2.216 2.216 b.301 2. dibuat 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301.

122 1.179 b. 36 A Kentingan Surakarta 57126.4 L-21 No 1 Tanda / Kode BNAF-21-40 Tgl.264 1.141 2.617 2.169 2. Lanjutan .122 2.j (gr/cm3) 2.179 2.169 2.122 1.438 2.169 2.438 2.176 4 Mei 2006 14 .617 2.207 2. dibuat 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301.768 2 BNAF-22-40 5301.546 2.438 Berat (gr) 11700 11600 11500 11600 11600 11350 11400 11500 11250 11500 11550 11600 11500 11550 11550 b.169 2.172 4 Mei 2006 14 3 BNAF-23-40 5301.188 2.910 2.179 2.438 2.j rata-rata (gr/cm3) 2.264 1.438 2.188 2. (kN) 180 185 160 125 135 150 150 105 185 160 130 130 150 120 125 Kuat tarik (MPa) 2.16. HASIL PENGUJIAN KUAT TARIK SILINDER BETON FAS 0.768 1.147 4 Mei 2006 14 4 BNAF-31-40 5301.485 2.179 4 Mei 2006 14 5 BNAF-32-40 5301.150 2. Telp.839 1.188 2.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.188 Tgl. (0271) 632363 Lampiran IV. diuji 4 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks. Sutami No. Ir.122 2.698 1.839 2.188 2.

16. 36 A Kentingan Surakarta 57126.D NIP. diuji 4 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks.627 1.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. Ir.4 L-22. Ph.627 Surakarta. dibuat 20 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301. Sutami No. No 1 Tanda / Kode BNAF-33-40 Tgl. Mei 2006 Ka. (0271) 632363 Lampiran IV. 132 129 524 .216 2.216 Tgl. (kN) 115 115 115 Kuat tarik (MPa) 1.438 Berat (gr) 11750 11950 11550 b. ST. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.j rata-rata (gr/cm3) 2. Lanjutan HASIL PENGUJIAN KUAT TARIK SILINDER BETON FAS 0.627 1. Telp. Lab.179 b.254 2.j (gr/cm3) 2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful