TUGAS AKHIR

KAPASITAS TEKAN DAN TARIK BETON DENGAN BAHAN TAMBAH FILLER ABU AMPAS TEBU DAN ABU ARANG BRIKET DENGAN FAS 0,4

Disusun guna memenuhi persyaratan untuk memperoleh Gelar Sarjana Teknik pada Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta

oleh :

Aditya Galih Wijaya NIM : D 100 000 145 NIRM : 00.6.106.03010.5.0145

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2006

LEMBAR PENGESAHAN

KAPASITAS TEKAN DAN TARIK BETON DENGAN BAHAN TAMBAH FILLER ABU AMPAS TEBU DAN ABU ARANG BRIKET DENGAN FAS 0,4
Tugas Akhir Diajukan dan dipertahankan pada Ujian Pendadaran Tugas Akhir di hadapan Dewan Penguji Pada tanggal : …. Juni 2006

Aditya Galih Wijaya
NIM : D 100 000 145 NIRM : 00.6.106.03010.5.0145 Susunan Dewan Penguji Pembimbing utama Pembimbing pendamping

Ir. Suhendro Trinugroho, M.T NIP. 732 Anggota

Ir. H. Aliem Sudjatmiko, M.T NIK. 131 683 033

Much. Sholichin, S.T, M.T NIK : 792 Tugas Akhir ini diterima sebagai salah satu persyaratan Untuk mencapai derajat sarjana S-1 Teknik Sipil Surakarta,…..Juni 2006 Mengetahui Dekan Fakultas Teknik Ketua Jurusan Teknik Sipil

Ir. Sri Widodo, M.T NIK. 542 iii

M. Ujianto, ST, M.T NIK. 564

MOTTO

“Katakanlah : sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah”.
(Q.S Al-An’aam:162-163)

“Tenang setenang langit dan cepat secepat kilat”.
( Penulis )

“Barang siapa berjalan di suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan mempermudah jalan ke surga”.
( H. R. Muslim )
“Janganlah berfikir untuk menjadi orang yang sukses, tapi berpikirlah untuk menjadi orang yang berguna”.

( Penulis )

“Terima kasih Ya Allah untuk kehidupan dan kesehatan saya. Terima kasih atas kesempatan-kesempatan saya, atas persoalan-persoalan saya, dan terima kasih atas bimbingan dalam mengatasi persoalan-persoalan tersebut”.
( Penulis )

iv

Ummi dan Abbah Demi Allah tidak dapat aku balas pengorbanan. Stream K4658KB. BlueMax K6723DE.HALAMAN PERSEMBAHAN Ucapan Terima Kasih Penulis Persembahkan Kepada : My Lord Atas izin-Mu untuk menyelesaikan Tugas Akhir ini. cucuran keringat dan kasih sayangmu selama aku hidup di dunia. Almamaterku. v . Adikku Adhimas Pamungkas Terima kasih atas semua do’anya. Winning Eleven. Istriku Anita Fitriana dan Calon Anakku Naja Keyshika Semangat serta perjuanganmu adalah nafas kehidupanku.

T. nasehat dan kesabaranya. Bapak Ir. Penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1). M. kehadiranmu ajarkan aku bijaksana.. terima kasih untuk semua bimbingan. M. nasehat dan kesabaranya. vi .. 6). keramahanmu teduhkan jiwaku.T. Suhendro Trinugroho. Bapak M.. yang telah memberikan dorongan dan semangat baik moril maupun materiil dalam menyelesaikan laporan ini. Dengan selesainya penyusunan laporan ini.4”. 9).T. Bapak Ir.. selaku Ketua Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta. selaku Dosen Pembimbing Utama Tugas Akhir. M. Anita Fitriana.T. kehangatanmu memberikan cermin hati tuk melihat seluruh putihnya kasihmu. Suhendro Trinugroho. 2). Aliem Sudjatmiko. Bapak Ir. selaku Dosen Koordinator Tugas Akhir.T. M.T. Ujianto. Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir dengan judul ”Kapasitas Tekan Dan Tarik Beton Dengan Bahan Tambah Filler Abu Ampas Tebu Dan Abu Arang Briket Dengan Fas 0.. Sri Widodo. keberadaanmu tunjukkan aku bahagia. H.KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. M. M. terima kasih untuk semua bimbingan. 8).T. S. Bapak Ir.T.Wb Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Karunia. selaku Dosen Pembimbing Pendamping. 3). ilmu. selaku Dosen Pembimbing Akademik 7). ilmu... 4). terima kasih atas semua do’anya. H. Saudara sekandungku Adhimas Pamungkas. Ibu Qunik Wiqoyah. S. penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung membantu membimbing serta meluangkan waktu sehingga laporan ini dapat terselesaikan. 5). Ummi dan Abbah. selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Persero Tbk Cabang II Riau yang telah memberikan segala fasilitas dan jaminan hidup sampai sekarang. Mr. Asih. Bala Tentara Lab Teknik Sipil UNS : Bos Kusno Adi S. Semoga laporan ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca. Penulis menyadari keterbatasan dalam penyusunan Tugas Akhir ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. 12). Save My Soul… 16). Barudak Sipil 2000.45 terima kasih atas semua masukkan dan kerjasamanya yang baik slama ini. Hatur Nuhun Sanget Ya Allah.. Anita. Edwin Reagen Sedunia (kapan modal chek. Sayoko. Wassalamu’alaikum Wr. 11). PT. Danang. 15). Amin. Orang-orang yang dekat denganku dan merubah hidupku jadi lebih berarti.Wb Surakarta. Punggawa Yandu : Kholiq+Sahid (tetep kompak dan rukun slalu yo). Radjimin. Ari.10). 14). Fajri. terima kasih atas persahabatannya. untuk itu kritik dan saran yang sifatnya membangun penulis harapkan demi kesempurnaan penyusunan laporan selanjutnya. Sahabatku Kenci. Guruh+Trek (Laskar Industri Indonesia). Parman. Toni+Ikha (Keluarga Ceria).?!). Pardi terima kasih atas semua bantuannya. terima kasih atas dukungan dan bantuannya. Juni 2006 Penulis vii . 17). Asrie (A4). Rubianto Nugroho selaku Partner Dewan Beton Nasional 0. 13). Adhi Karya. Jesus. Yanuar+Dinda (hidup tak selamanya indah).

14 viii .DAFTAR NOTASI K = Kadar lumpur (gram) G 0 = Berat pasir mula – mula (gram) G 1 = Berat pasir setelah dicuci (gram) B = Berat picnometer + air (gram) BT = Berat picnometer + air + pasir (gram) BJ = Berat batu pecah dalam keadaan jenuh (gram) BA = Berat batu pecah dalam air (gram) Wо = Berat pasir mula – mula (gram) W 1 = Berat agregat halus yang tertahan saringan ukuran 2 mm (gram) M = nilai margin Sd = standart deviasi f’c = Kuat tekan beton (MPa) f’cr = Kuat tarik beton (MPa) W = Berat benda uji (gram) V = Volume silinder beton (cm³) P = Beban maksimal (N) d = Diameter silinder (mm) h = Tinggi silinder (mm) π = 3.

.................... DAFTAR ISI............................................... B............................................................................ Jumlah semen ..... Rumusan Masalah...................................................................................................................................... Sifat umum beton .. A. MOTTO ............................. 2.................................................................................................... Keaslian Penelitian .. A......................................................................................................................................... Tujuan dan Manfaat Penelitian ......................................... 2..................... E......................................................... C......... vii DAFTAR GAMBAR .................. 1............................................................................................. Umum .............. LEMBAR PENGESAHAN ............ i iii iv v vi ix KATA PENGANTAR ..................................................................................................... C...................... ix 1 1 3 3 3 3 3 4 5 5 6 6 6 7 8 8 8 ........................................... Sifat – sifat Beton ............................................................................................................................................................... xiii DAFTAR TABEL.......................................................... BAB II TINJAUAN PUSTAKA ....................................................... xix BAB I PENDAHULUAN............. Pengertian Beton...................... Latar Belakang..................................................................... Faktor air semen................................................ 2.. D............................................................... Tujuan penelitian...................... xv DAFTAR LAMPIRAN............................... HALAMAN SOAL..............................................................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ........................ D............................................................................................................................................. 1........................................................................ HALAMAN PERSEMBAHAN ..................................................................................................................................... Batasan Masalah .......... xviii ABSTRAKSI .................. B...................... Manfaat penelitian.................... xvii DAFTAR NOTASI .......... Beberapa Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Beton ... 1................................................... Sifat khusus beton ............................................................................................................................................

... Kuat Tarik Beton.................................................................................. Agregat halus ............................................. 19 6...................... 11 E......... 15 1. 33 2b)....................................................................................................................................................................... Bahan Penelitian dan Peralatan Penelitian...................... 12 1.......... Gelas ukur..................... 20 C.................................. Bahan tambah kimia....................3........................................................................................ 19 5..................................... Pozolan.................................................................... 18 2b)......................... 15 A................................................ Air ......................................... 32 A...................................... Bahan Tambah Beton........................ 12 2...................... 16 2........................................ 9 4...... Perencanaan Campuran Beton ............................... 10 5............ 30 BAB IV METODE PENELITIAN .............................................................................................................. Bahan Penyusun beton ................... Sifat agregat ....................................... 20 D.. Abu ampas tebu..................... Umum ................................. 35 2e)............................................................................................. 18 3....... Timbangan ....... Bahan Pengisi (Filler) .......... 18 4....................................................... Jenis semen.............................. Semen portland ..................................... Umum .... 15 B....... Bahan penelitian.. 32 2....... Agregat ......................................... 35 x ................. 14 BAB III LANDASAN TEORI................................... Abu arang briket.......... 13 3................................... 29 E....... Kerucut Conus .................................................................................. Umur beton.............................. Agregat kasar ..................................................................................................................................... 33 2c)............... 32 2a)............... Penggetar ayakan (Siever) .................................. Kuat Tekan Beton .............. 32 B............................................... 34 2d)........ 17 2a)...... Serat........................................................................................ Peralatan Penelitian....................................... 32 1.. Ayakan standar ........................................................................................................................................

.............. Kerucut Abram’s....... Oven.............................................................. Tahap I : Persiapan alat dan penyediaan bahan ....... 40 1.......... 42 D................ 45 1c). 38 2m)........................................ Tahap III : Penyediaan benda uji . 37 2i)..................... 36 2g)......................... Volumetric Flash ............................................................................ 39 2o)... Tahap IV : Pengambilan data................................................ 52 2.............. 54 4............... 41 2........... 48 1f).................................................................................... Pemeriksaan Saturated Surface Dry (SSD) pasir.... 47 1e).. 37 2k)......................... Pemeriksaan gradasi agregat pasir...... Bak tempat perendaman benda uji ... 39 2p).............................................. 41 4................... 44 1a)..................................................... Pemeriksaan Specific Gravity dan Absorbtion pasir........................... 51 1i)................................................... Desicator ...... 39 2n)....... 36 2h)............. Pemeriksaan zat organik pasir ........ 41 3.... 44 1...................................................................................................... Tongkat baja ....... 38 2l)......... 37 2j)........... 49 1g) Pemeriksaan Specific Gravity dan Absorbtion kerikil ......... Mesin uji tekan............................... 46 1d)................... Pemeriksaan berat satuan volume batu pecah .......... Mesin uji Los Angeles........................... Peralatan penunjang lain .... Pemeriksaan gradasi batu pecah .................................. Molen ................................................................. Tahap II : Pemeriksaan bahan dasar............................... Pemeriksaan keausan agregat kasar.... Cetakan silinder.................... 55 xi .......................................................................................................... 40 C.......................... 50 1h)......................................................... Pengujian Slump.................. 41 5............................ Tahap V : Analisis data dan kesimpulan.............. 44 1b).. Pembuatan benda uji ....2f)................................ Pemeriksaan kadar lumpur pasir .. Pelaksanaan Penelitian. Perencanaan campuran beton ........................................ 53 3.... Pemeriksaan bahan......... Tahap Penelitian ...........................

...................... Saran ...................................... Pengujian Agregat.................................. Perawatan benda uji (Curing) .............................................. 73 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN xii .................................... Pengujian Slump ...............................................................................5..................... 63 B.......................................... 55 6................... Pemeriksaan berat jenis beton................ Pembahasan Hasil Penelitian ....................... 72 A.......................................................................................... 56 7................... Hasil pengujian agregat kasar ........... 70 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN . Hasil pengujian agregat halus .......................................................... Pengujian kuat tekan dan tarik beton ........................... 67 D............................................ 69 E................... 66 C................. 56 BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .... Pengujian Berat Jenis Beton .. Kesimpulan ............................. 61 A.... 61 2.............. 72 B................................................................ 61 1. Pengujian Kuat Tekan Dan Kuat Tarik Beton ...........

....................................... Benda uji setelah dicat ..... Volumetric flash .......................... 2.... 35 Gambar IV..................18... 5....... Kerucut Abram’s dan tongkat baja .................................14.............. 56 Gambar IV... 3............... 36 Gambar IV.... Grafik kuat tekan beton untuk berbagai jenis semen. 13 Gambar IV..........................................9........10............ Bagan alir tahapan penelitian.......................................13........... 8..............................12........ 33 Gambat IV............................................................................................ 2..................................... Bak tempat perendaman benda uji............... Mesin uji kuat tekan dan kuat tarik merk Milano Italy.. 34 Gambar IV........................... 39 Gambar IV................................. Satu set ayakan dan Siever..... 4............................................................ 37 Gambar IV............. 36 Gambar IV................................................ Timbangan besar.............................. 6................................................ Timbangan digital .................. 34 Gambar IV..... 40 Gambar IV..15..............................................16..... 57 Gambar IV...... Molen ................... 40 Gambar IV............................. 10 Gambar II..............17.......................................... 43 Gambar IV.............6........ 4......... 58 xiii ...................... Pengaruh suhu pada laju kuat tekan beton ............ 11 Gambar II......21................................... Cetakan beton silinder................ Oven ....7...... Hasil pengujian kuat tekan beton.......... Kerucut Conus .. 11 Gambar II................................... Pengaruh umur beton terhadap laju kenaikan kuat tekan beton pada beberapa fas ....................................... 37 Gambar IV.... 38 Gambar IV.....19..... Pengaruh jenis agregat terhadap kuat tekan beton .................. 58 Gambar IV... 12 Gambar II.... Gelas ukur ................ Perawatan benda uji beton ... Hubungan antara faktor air semen dan kuat tekan silinder beton 9 Gambar II....... Hubungan antara kuat tekan beton dan jumlah semen ......................................20.......................... Desicator........................ Peralatan penunjang lainnya ........................1............... 35 Gambar IV..................................... Pengujian kuat tekan beton ..... 39 Gambar IV... Benda uji sebelum dicat ......................... 5.............. 3.. 57 Gambar IV....... 1...... Mesin Los Angeles .......................DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar II..11...... 38 Gambar IV.....................

.............. 1.......Gambar IV... II .. 3.. Batas gradasi pasir dalam daerah gradasi No....22... 59 Gambar IV........................... 71 Gambar V............. Grafik gabungan hubungan kuat tarik rata-rata dengan variasi tebu bahan tambah filler abu ampas dan abu arang briket. 65 Gambar V....... 4......... Grafik gabungan hubungan kuat tekan rata-rata dengan variasi tebu bahan tambah filler abu ampas dan abu arang briket.................... 72 xiv ..... 2........ 63 Gambar V......................... Batas gradasi kerikil .. Hasil pengujian kuat tarik beton ........ Pengujian kuat tarik beton ..................22.................... 59 Gambar V............

........ 65 Tabel V................ 10...................................... Hasil pengujian agregat halus ............... 4........................ 24 Tabel III............ Faktor pengali deviasi standar .......................... 5........... Nilai deviasi standar untuk tingkat pengendalian mutu pekerjaan 22 Tabel III........ 61 Tabel V... 1........ 1................... 22 Tabel III.. 23 Tabel III... Persyaratan jumlah semen minimum dan faktor air semen maksimum untuk berbagai macam pemberonan dalam lingkungan khusus ............. 3....... 6... Hasil pengujian agregat kasar ...................... Perkiraan kuat tekan beton dengan faktor air semen 0.............. Proporsi kebutuhan material tiap 3 sampel untuk uji kuat tekan dan 3 sampel untuk uji kuat tarik dengan fas 0. Ketentuan minimum untuk beton bertulang kedap air.. 8....... 3..................... 24 Tabel III...... 4........................ 54 Tabel IV............. 4......................................... 68 xv ... 2........... Penetapan nilai Slump ...................... Hasil pengujian Slump beton umur 14 hari.. 46 Tabel IV...................................... 6............ 5... 53 Tabel IV.Batas gradasi pasir .................5 dan jenis semen dan agregat kasar yang biasa dipakai di Indonesia ..... 9................. Ketentuan untuk beton yang berhubungan dengan air tanah yang mengandung sulfat .... 2......... 17 Tabel III..............4........................... 4 Tabel III...................... Hasil penurunan SSD pasir .4 ............. Hasil pemeriksaan berat jenis rata-rata kuat tekan beton dengan Fas 0... 63 Tabel V............. 26 Tabel III.....................................................DAFTAR TABEL Halaman Tabel I......................... 7........................................ Rincian jumlah benda uji untuk kuat tekan beton . 3... 1 Jenis-jenis semen Portland ................ Pengujian agregat halus ............... 54 Tabel V................ Rincian jumlah benda uji kuat tekan dan uji kuat tarik ... 66 Tabel V....................... 1...... Perkiraan kadar air bebas yang dibutuhkan untuk beberapa tingkat kemudahan pengerjaan adukan beton .................................................... 65 Tabel V........................................... Rincian jumlah benda uji untuk kuat tarik beton...... 26 Tabel III............. 25 Tabel III...................................................... Pengujian agregat kasar .................. 2............. 28 Tabel IV........................

8.. 7..Tabel V....................4 ............. 68 Tabel V............... 9.............. Hasil pemeriksaan berat jenis rata-rata kuat tarik beton dengan Fas 0..... 69 Tabel V............................4.............. 70 xvi ... Kuat tekan rata-rata beton dengan variasi penambahan filler abu abu arang briket dan abu ampas tebu dengan Fas 0. Kuat tarik rata-rata beton dengan variasi penambahan filler abu abu arang briket dan abu ampas tebu dengan Fas 0..............4.....

Hasil pengujian kuat tarik beton ..................................... Pemeriksaan Spesific Gravity dan Absorbtion batu pecah .......................... 2............ L-7 Lampiran IV......DAFTAR LAMPIRAN Lampiran IV............ 9. 3.......... L-12 Lampiran IV................. Pemeriksaan gradasi pasir .................. 1.14..16...............10......................... L-3 Lampiran IV........................15......................... Pemeriksaan keausan agregat kasar .... 6.................... L-10 Lampiran IV............................... Pemeriksaan berat satuan volume agregat kasar ...... Periksaan kandungan zat organik pada pasir........12............ L-19 xvii ....... Pemeriksaan Spesific Gravity dan Absorbtion pasir ............ L-14 Lampiran IV... 7..... 5................ Pemeriksaan gradasi batu pecah................... 8................... Proporsi campuran..11................. Pemeriksaan berat satuan volume pasir ...13............... Pemeriksaan berat satuan volume batu pecah ... Pemeriksaan kadar lumpur pada pasir................ L-8 Lampiran IV......... Pemeriksaan Slump adukan beton .. L-4 Lampiran IV........ Perencanaan campuran adukan beton metode SK SNI ...... Pengujian Saturated Surface Dry (SSD) pasir ...... L-15 Lampiran IV..... L-1 Lampiran IV..... L-9 Lampiran IV. 4...... L-13 Lampiran IV... Hasil pengujian kuat tekan beton . L-5 Lampiran IV........... L-11 Lampiran IV............ L-2 Lampiran IV........ L-6 Lampiran IV..

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Bahan dan Struktur. variasi bahan tambah abu ampas tebu sebesar 7. adapun penelitian ini mencoba memanfaatkan abu ampas tebu dari Pabrik Gula Tasik Madu yang ada di Karanganyar dan abu arang briket dari PT. Skatex yang ada di Karanganyar. Kata kunci : abu ampas tebu. 12. Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penambahan filler abu ampas tebu dan abu arang briket terhadap kuat tekan dan kuat tarik beton. Universitas Sebelas Maret. Jurusan Teknik Sipil. 10% .5%.4 Beton merupakan bahan bangunan yang telah banyak dikenal masyarakat Indonesia karena bahan penyusun beton mudah didapat dan relatif murah. Beton yang dibuat berbentuk silinder dengan tinggi 30 cm dan diameter 15 cm.T-15-1990-03.78 % dari kuat tekan beton normal dan dari pengujian kuat tarik rata-rata optimum diperoleh pada variasi abu ampas tebu 7.5% . Perancangan adukan beton menggunakan rancangan SK.5% dan abu arang briket 10%. Pada penelitian ini menggunakan fas sebesar 0. 12. Dari hasil pengujian kuat tekan rata-rata optimum diperoleh pada variasi abu ampas tebu 12.SNI. kuat tarik xviii .5% dari berat semen dan abu arang briket sebesar 7. kuat tekan. Penelitian tentang beton telah banyak dilakukan.5% dan abu arang briket 12. Fakultas Teknik. dengan hasil peningkatan sebesar 27.70 % dari kuat tarik beton normal.ABSTRAKSI KAPASITAS TEKAN DAN TARIK BETON DENGAN BAHAN TAMBAH FILLER ABU AMPAS TEBU DAN ABU ARANG BRIKET DENGAN FAS 0. 10% .5% dari berat semen. abu arang briket.5% .4 dengan umur beton 14 hari. sebesar 14.

termasuk teknologi beton yang hampir pada setiap aspek kehidupan manusia selalu terkait dengan beton baik secara langsung maupun tidak langsung. hal ini sangat berbeda dengan elemen struktur baja yang memerlukan perawatan untuk mencegah terjadinya karat. serta mudah dalam mendapatkan bahan penyusunnya. umur beton. Teknologi dibidang konstruksi bangunan juga mengalami perkembangan pesat. mudah dalam perawatan. Struktur yang terbuat dari beton antara lain : jalan dan jembatan yang strukturnya terbuat dari beton. sifat agregat. bendungan dan sebagainya. Jadi perkembangan beton sangat perlu dalam kehidupan sehari-hari yang mempengaruhi konstruksi struktur. jenis semen. gradasi agregat. Beton banyak digunakan karena keunggulan-keunggulannya antara lain kuat tekan beton tinggi. Peningkatan kualitas campuran beton akan menghasilkan beton yang lebih berkualitas. bertujuan 1 . serta bahan kimia tambahan (admixture). Latar Belakang Perkembangan teknologi sekarang ini sangat pesat seiring dengan perkembangan zaman. Beton merupakan salah satu faktor penting dalam bidang konstruksi mengingat fungsinya sebagai salah satu pembentuk struktur.BAB I PENDAHULUAN A. mudah dalam pembentukan. Kualitas yang baik pada campuran beton ditambah dengan bahan tambah (admixture). Beban tarik pada plat atau balok beton dipikul oleh tulangan baja pada beton. Struktur dari beton mempunyai tegangan tarik yang rendah. Kualitas beton bergantung pada bahan-bahan penyusunnya. Semen merupakan salah satu bahan penyusun beton yang bersifat sebagai pengikat agregat pada campuran beton. dan pengerjaan (pencampuran. Pemakaian beton diharapkan dapat menghasilkan bangunan-bangunan berkualitas yang tidak mungkin diperoleh dari beton normal. lapangan terbang. Besarnya kuat beton dipengaruhi beberapa hal antara lain : fas. pemadatan dan perawatan). Beton merupakan bahan bangunan yang awet dan tidak mudah berkarat.

yang tidak mempunyai sifat seperti semen. selain itu abu ampas tebu mudah didapat dan bisa dibedakan atau diketahui cukup dengan indra manusia. Bangunan yang dibuat sampai sekarang rata-rata masih berdiri kokoh. Sedangkan pohon tebu tumbuh subur di daerah tropis seperti di Indonesia ini. Pozolan adalah bahan yang mempunyai kandungan utama senyawa Silicon Dioksida alami atau buatan. Pendapat tersebut adalah kadar gula dengan kadar tertentu akan dapat mengurangi kekuatan beton (Budiyana. saat ini ada beberapa praktisi ilmu pengetahuan yang memiliki pendapat lain dari pendapat masyarakat terdahulu. Penambahan abu ampas tebu sebagai bahan tambah dalam campuran beton telah dilakukan dalam beberapa pengujian dengan beberapa variasi takaran penambahan abu ampas tebu terhadap adukan tersebut. Namun seiring perkembangan zaman. 1998). sehingga bisa menjadi addictive mineral yang baik untuk beton. Hubungannya dengan pembuatan beton dikatakan banyak orang bahwa dalam pelaksanaan pembuatan beton. Berdasarkan hasil penelitian diatas. Penelitian ini ingin mengetahui berapa besar kuat tekan dan tarik beton tersebut setelah diberi bahan tambah dibandingkan dengan beton normal. Pemilihan abu ampas tebu sebagai bahan tambah merupakan salah satu alternatif yang cukup mengena.4. Hal tersebut membuat masyarakat beranggapan. bahwa kadar gula dalam hal ini tetes tebu mampu memberikan pengaruh terhadap beton. . seperti bahan tambah filler arang briket. beberapa ahli memberikan tetes tebu sebagai bahan campuran. Penambahan filler abu arang briket pada campuran beton yang bersifat pozolan. Hal ini mengisyaratkan bahwa tetes tebu berpengaruh terhadap kekuatan beton.2 untuk mengubah satu atau lebih sifat-sifat bahan penyusun beton baik dalam keadaan segar atau setelah keras. dicoba untuk mengembangkan penelitian kapasitas tekan dan tarik beton dengan bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket dengan fas 0. mengingat abu ampas tebu berasal dari sisa penggilingan tebu.

Metode mix design menggunakan Metode SK. b). bahwa pemakaian bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket mampu menambah kuat tekan dan tarik beton yang lebih baik. Faktor air semen yang digunakan 0. 7. Semen yang digunakan adalah semen Portland. Abu ampas tebu berasal dari PG. Filler abu arang briket didapat dari PT.4. .5 %. Rumusan Masalah Rumusan masalah yang diambil dalam penelitian ini adalah seberapa besar pengaruh penambahan filler abu ampas tebu dan abu arang briket terhadap kuat tekan dan kuat tarik beton. untuk mengembangkan pengetahuan tentang teknologi beton terutama pemanfaatan filler abu arang briket sebagai bahan tambah. Agregat kasar (batu pecah) dan agregat halus (pasir). Tujuan penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kuat tekan dan kuat tarik beton yang dihasilkan dengan menggunakan bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket 2. 5. C. Tasik Madu di Karanganyar. maka penulis memberikan batasan-batasan masalah pada penelitian sebagai berikut : 1. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. D.3 B. 3. 9. 7. 4. 8. 10 %.5 % dari berat semen. Penelitian ini diharapkan dapat membuktikan.SNI. Pengujian kuat tekan dan tarik beton tidak menggunakan tulangan. Manfaat teoritis. 6. jenis I merk Holcim. 2. Manfaat penelitian Manfaat penelitian ini antara lain : a). 12. Skatex di Karanganyar. Benda uji berupa silinder berdiameter 15 cm dan tinggi 30 cm. berasal dari Boyolali.T-15-1990-03. Batasan Masalah Agar tidak terjadi perluasan dalam pembahasan tugas akhir ini. Persentase variasi campuran abu ampas tebu dan abu arang briket adalah 0 %.

4. Untuk perencanaan campuran menggunakan metode SK. Variasi campuran bahan tambah yang digunakan untuk adukan beton dan variasi perendaman seperti pada Tabel I. 12. Keaslian Penelitian Penelitian beton dengan bahan tambah abu batu bara telah dilakukan oleh Murgiyanto (2003). Penelitian yang dilakukan oleh Murgiyanto (2003) adalah tinjauan pemakaian abu batubara terhadap karakteristik beton dengan menggunakan faktor air semen 0.5 Jumlah benda uji 0 7. Rincian jumlah benda uji untuk kuat tekan dan tarik beton. Tabel I. di Laboratorium Bahan Konstruksi Teknik. 10 . 11. Penelitian tersebut untuk mengetahui pengaruh bahan tambah larutan gula dan abu arang briket batubara terhadap kuat tekan beton mutu tinggi.5 .5 .4 7.12. 13. Umur pengujian kuat tekan dan kuat tarik beton benda uji silinder beton dilaksanakan pada umur 14 hari.h=30 E. Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta.5 3 9 27 9 48 x 2 = 96 d=15. Penelitian lain tentang analisis kuat tekan beton dengan penambahan larutan gula dan abu arang briket batubara pernah diteliti oleh Muctar Rifai (2005).5 . Jumlah seluruh benda uji yaitu (3 x 4 x 4) x 2 = 96 benda uji.T-15-1990-03. Tinjauan analisis pada kuat tekan dan kuat tarik beton.4 10.12.5 7. Dalam penulisan tugas akhir ini dikaji tentang pengaruh penambahan bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket terhadap kuat tekan dan kuat tarik beton dengan menggunakan fas 0.SNI.1.12. 10 . Umur pengujian (hari) Fas Abu Ampas Tebu (%) Abu Arang Briket (%) Jumah total benda uji Ukuran benda uji (cm) 0 14 hari 0. 10 . . 14.5 7. Jumlah benda uji 3 buah tiap variasi abu ampas tebu dan abu arang briket.1.12.5 . 10 .45.

1996). yang diakibatkan oleh reaksi kimia antara air dan semen. jembatan. Beton yang bermutu sangat baik merupakan material yang sangat awet dan bebas dari pemeliharaan untuk beberapa tahun. agregat. bahwa kegiatan sehari-hari sering dipengaruhi oleh dampak perkembangan teknologi beton. cara pengadukannya maupun cara pengerjaannya selama penuangan adukan beton dan cara perawatan selama proses pengerasan. maka akan didapat suatu fungsi beton maksimum. Campuran tersebut bila dituangkan dalam cetakan kemudian dibiarkan maka akan mengeras seperti batuan. nilai perbandingan bahan-bahannya. serat sampai bahan bangunan non kimia pada prosentase tertentu. maka akan menghasilkan suatu mutu beton yang dapat memenuhi persyaratan. (Tjokrodimuljo. 1995) Kemajuan pengetahuan tentang beton telah dapat memenuhi berbagai tuntutan pembangunan. air dan kadang-kadang memakai bahan tambah yang sangat bervariasi. dan gedung yang sering ditempati. Dengan perencanaan yang tepat dan sesuai rencana serta pengontrolan pada pemilihan material yang baik. (Tjokrodimuljo.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. baik secara langsung maupun tidak langsung. (Subakti. Pengertian Beton Beton merupakan campuran antara semen. keawetan dan sifat beton bergantung pada sifat bahan dasar penyusunnya. Semakin modern suatu bangsa. B. 5 . Umum Beton merupakan suatu material yang sangat sering dijumpai. Jadi dapat diambil kesimpulan. Hampir pada setiap aspek kegiatan pembangunan sehari-hari tergantung pada beton. mulai dari bahan kimia tambah. Sebagai contoh jalan. 1996). misalnya dengan pemanfaatan bahan-bahan lokal yang didapat di daerah tertentu dengan mengubah perbandingan bahan dasarnya. Kekuatan. maka peranan teknologi tentang beton akan sangat dominan dan sangat berpengaruh pada proses pembangunan yang menggunakan teknologi beton.

6 C. Sifat-sifat beton pada umumnya digolongkan menjadi dua. 1996 ). . Diharapkan dari suatu konstruksi adalah hasil yang didapat sesuai harapan secara maksimal tetapi secara ekonomis tidak terjadi pemborosan. yaitu sifat yang berhubungan langsung dengan kelebihan beton dan sifat yang berhubungan dengan kekurangan beton ( Tjokrodimuljo. Sifat – Sifat Beton Sifat beton merupakan hal yang erat kaitannya dengan kualitas beton yang dituntut untuk suatu tujuan konstruksi. 3) Beton keras mengembang dan menyusut bila terjadi perubahan suhu sehingga perlu kelonggaran untuk mencegah retak-retak akibat perubahan suhu. Kelebihan beton antara lain : 1) Beton termasuk bahan yang berkekuatan tekan tinggi. 3) Beton segar dapat dengan mudah diangkut maupun dicetak 4) Akibat kuat tekannya tinggi maka jika dikombinasikan dengan baja tulangan (yang kuat tariknya tinggi) maka dapat dikatakan mampu dibuat untuk struktur berat. 1. 2) Beton segar mengalami proses pengerutan saat terjadi proses pengeringan dan beton mengeras mengalami pengembangan jika basah. 2) Harga relatif murah. 7) Beton termasuk tahan aus dan tahan kebakaran sehingga biaya perawatan termasuk rendah. 5) Beton segar dapat disemprotkan dipermukaan beton lama yang retak maupun diisikan kedalam retakan beton dalam proses perbaikan. 6) Beton segar dapat dipompakan sehingga memungkinkan untuk dituang pada tempat-tempat yang sulit. Kekurangan beton antara lain : 1) Beton mempunyai kuat tarik rendah sehingga mudah retak oleh karena itu perlu diberi tulangan.1996). Sifat umum beton Secara umum beton mempunyai sifat kebaikan dan kekurangan tertentu jika dibandingkan dengan bahan-bahan lain (Tjokrodimuljo.

Biasanya ini tidak diperhitungkan dalam perencanaan struktur beton. . Sifat khusus beton Sifat secara khusus bagi beton adalah sifat-sifat yang ditinjau atau berhubungan dengan : a). tarik dan lentur. Kuat Tekan Kuat tekan beton lebih besar daripada kuat tariknya. Modulus elastisitas Yang menjadi tolok ukur yang umum dari sifat elastis bahan adalah modulus elastisitas yang merupakan perbandingan dari tekanan yang diberikan dan perubahan bentuk persatuan panjang sebagai akibat dari tekanan yang diberikan. dan air yang mengandung garam dapat merusak beton.M. Perubahaan bentuk akibat pembebanan Bilamana beton dibebani. 5) Beton bersifat getas (tidak daktail) sehingga harus dilindungi dan didetail secara seksama agar diperoleh struktur yang komposit. c). kuat geser beton selalu diikuti oleh kuat tekan. bahkan di dalam pengujian tidak mungkin menghilangkan elemen lentur (Murdock & K. b). 1991) d). Kuat tekan ini selalu bertambah bersamaan dengan bertambahnya umur beton. Besarnya kuat geser. Besarnya kuat tarik dan lentur Kuat tarik beton berkisar seperdelapan belas kuat tekan pada umur yang masih muda dan berkisar sepersepuluh sesudahnya. Brook. Dalam praktek. e). 2. Beton berubah bentuk sebagian mengikuti regangan elastis dan sebagian mengalami regangan plastis.7 4) Beton sulit untuk kedap air secara sempurna sehingga selalu dapat dimasuki air. perubahaan bentuk terjadi dan bertambah sesuai dengan pertambahan beban. sebagaimana baja dan bahan-bahan lain.

1996) 2.8 D. Pada jumlah semen yang terlalu sedikit. Hal ini terjadi karena kesulitan dalam pemadatan adukan beton. sehingga beton menjadi kurang padat (Tjokrodimuljo. serta murah dari segi ekonomisnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas beton antara lain : 1. karena penggunaa beton yang diharapkan yaitu dengan kualitas yang baik dan mempunyai kuat tekan tinggi. Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Beton Kesempurnaan semua sifat dasar beton dicapai dengan tidak meninggalkan segi ekonomis. kekuatan beton semakin tinggi.1. makin rendah kuat tekan betonnya. sehingga kuat beton rendah. 1996). Hubungan antara faktor air semen dan kuat tekan silinder beton (Tjokrodimuljo. kuat tekan beton akan rendah.semen Gambar II. akan tetapi dibawah faktor air semen tertentu. Walaupun semakin rendah faktor air semen. dan adukan beton sulit didapatkan. Faktor air semen Faktor air semen adalah angka yang menyatakan perbandingan antara berat air dengan berat semen. Namun jika jumlah . Jumlah semen Beton dengan jumlah kandungan semen tertentu mempunyai kuat tekan tinggi. Pencapaian nilai kuat tekan beton yang maksimal harus dipertimbangkan hal-hal yang mempengaruhi kualitas beton tersebut. berarti jumlah air juga sedikit. Ideal Dipadatkan dengan alat getar Kuat tekan beton Dipadatkan dengan tangan Padat penuh tidak padat Faktor air . Semakin besar faktor air semen.

1996) 3. 1996). Namun apabila dikehendaki kekuatan beton yang lebih tinggi. Gambar II. kekasaran permukaan agregat dan gradasi butir agregatnya. yang berakibat penambahan kuat tekan (Tjokrodimuljo. Hubungan antara kuat tekan beton dan jumlah semen ( Tjokrodimuljo. sedangkan gradasi butiran juga sangat mempengaruhi kekuatan beton. sebenarnya tidak begitu besar karena pada umumnya kekuatan agregat lebih tinggi daripada pastanya. Kekasran permukaan agregat mempengaruhi daya lekat dan besarnya tegangan saat retak-retak beton mulai terbentuk. sehingga penambahan semen berarti pengurangan nilai faktor air semen. gradasi agregat dengan ukuran butiran yang bervariasi berarti sedikit pula pori-pori betonnya sehingga memerlukan jumlah pasta yang sedikit untuk mengisi rongga-rongga antar butirnya dan secara teoritis kekuatannya lebih tinggi (Tjokrodimuljo. Beton dengan kandungan semen lebih banyak mempunyai kuat tekan lebih tinggi.1996).9 semen terlalu berlebihan berarti jumlah air juga berlebihan sehingga beton mengandung banyak pori dan akibatnya kuat tekan beton rendah. .2. Pengaruh kekuatan agregat terhadap kekuatan beton. diperlukan agregat yang lebih kuat. Sifat agregat Sifat agregat yang berpengaruh terhadap kekuatan beton adalah kekuatan agregat.

Pengaruh jenis agregat terhadap kuat tekan beton (Tjokrodimuljo. dan pada permukaan endapan butiran semen ini akan membuat difusu air ke bagian dalam. Selama proses ini. Kenaikan kekuatan beton tersebut mula-mula cepat kemudian semakin melambat selaras dengan umur betonnya. terutama antara semen dan air yang mengalami proses hidrasi. Umur beton Kuat tekan beton bertambah sesuai dengan bertambahnya umur beton.10 Gambar II. 1996) 4. 3. butir-butir semen akan menghasilkan endapan. Hal ini disebabkan oleh reaksi kimia yang terjadi antara bahan-bahan penyusun beton. Gambar II. Yang dimaksud umur beton adalah dihitung sejak umur beton dibuat. Pengaruh suhu pada laju kuat tekan beton (Tjokrodimuljo. 4. hal inilah yang menyebabkan semakin sulitnya proses hidrasi seiring dengan bertambahnya umur beton.1996) .

1996) 5. 1996) .11 Gambar II. Departemen Pekerjaan Umum (1982) membagi semen portland dalam lima jenis yaitu : Jenis semen Jenis I Jenis II Jenis III Jenis IV Jenis V Karakteristik Umum Semen portland untuk penggunaan umum yang tidak memerlukan persyaratan khusus seperti yang disyaratkan pada jenis-jenis lain. Semen portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan panas hidrasi yang rendah. 5. Semen portland yang dalam penggunaannya persyaratan sangat tahan terhadap sulfat. Semen portland yang dalam penggunaannya memerlukan ketahanan terhadap sulfat dan panas hidrasi. (Sumber : Tjokrodimuljo. Semen portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan kekuatan awal yang tinggi setelah pengikatan terjadi. Jenis semen Menurut PUBI. Pengaruh umur beton terhadap laju kenaikan kuat tekan beton pada beberapa fas (Tjokrodimuljo.

segera atau selama pengadukan beton (Tjokrodimuljo. untuk mengubah beberapa sifat beton dan memperoleh sifat-sifat khusus yang diinginkan (Departemen Pekerjaan Umum. 1982). pozolan dan serat (Tjokrodimuljo. Bahan tambah kimia Bahan tambah kimia adalah suatu bahan kimia yang dapat membantu mempermudah dalam proses pembuatan beton. bahan tambah merupakan bahan yang dianggap penting. semen dan agregat) yang ditambahkan pada adukan beton. mengurangi retak-retak pengerasan dan menambah kuat tekan beton. terutama untuk pembuatan beton di daerah yang beriklim tropis seperti Indonesia. sebelum. menghemat harga beton menambah daktalitas (mengurangi sifat getas). Grafik Kuat tekan beton untuk berbagai jenis semen (Tjokrodimuljo. Bahan Tambah Beton Dalam pembuatan konstruksi beton. Penggunaan bahan tambah (admixture) harus didasarkan pada alasanalasan yang tepat misalnya memperbaiki kelecakan beton. 1. 1996). Bahan tambah ialah bahan selain unsur pokok beton (air. Penggunaan bahan tambah tersebut dimaksudkan untuk memperbaiki dan menambah sifat beton sesuai dengan yang diinginkan.12 Gambar II. Bahan tambah beton ini dapat berupa bahan tambah kimia. 6. 1996) E. Bahan kimia (berupa bubuk atau cairan) ini dicampurkan ke dalam adukan beton dengan jumlah tertentu selama pengadukan. . penampilan beton bila mengeras. 1996).

seperti abu terbang (fly ash).13 Menurut Persyaratan Umum Bahan Bangunan Indonesia (PUBI). akan tetapi dalam bentuknya yang halus dengan adanya air. Selain lima jenis di atas. yaitu mengurangi air sampai 12% atau lebih. yang merupakan sisa pembakaran dari tungku ataupun hasil pemanfaatan limbah yang diolah menjadi abu yang mengandung silika reaktif dengan melalui proses pembakaran. d. Jenis B : Bahan tambah kimia untuk memperlambat proses ikatan dan pengerasan beton. b. 1996). untuk menghasilkan adukan beton dengan kekentalan sama (air dikurangi sampai 12% lebih namun adukan beton tidak bertambah kental). memperlambat pengikatan awal. Jenis A : Bahan kimia tambahan untuk mengurangi jumlah air yang dipakai. e. . 2. c. abu sekam padi (rice husk ash). Pozzolan Pozolan merupakan bahan tambah mineral yang mengandung silika (SiO2) dan alumina (Al2O3). yaitu : 1) Pozolan buatan. Jenis C : Bahan tambah kimia untuk mempercepat proses ikatan dan pengerasan beton. Jenis E : Bahan tambah kimia berfungsi ganda yaitu untuk mengurangi air dan mempercepat proses ikatan dan pengerasan beton. Jenis D : Bahan kimia tambahan yang berfungsi ganda yaitu mengurangi air dan memperlambat proses ikatan dan pengerasan beton. Menurut pembentukannya pozolan dibedakan menjadi dua jenis. (Tjokrodimuljo. ada dua jenis lain yang lebih khusus. maka senyawa tersebut akan bereaksi dengan Calsium Hidroksida Ca(OH)2 pada suhu biasa membentuk kalsium hidrat yang bersifat hidrolis. Bahan pozolan tidak mempunyai sifat mengikat seperti semen. yaitu : 1) Bahan kimia tambahan yang digunakan untuk mengurangi jumlah air campuran sampai sebesar 12% atau bahkan lebih. silika fume dan lain-lain. Dengan pemakaian bahan ini diperoleh adukan dengan faktor air semen lebih rendah pada nilai slump yang sama. 2) Bahan kimia tambahan dengan fungsi ganda. 1982 bahan kimia tambahan dibedakan menjadi lima jenis antara lain : a.

namun hanya menambah daktalitas.14 2) Pozolan alam. 3. Abu arang briket batubara termasuk bahan kimia jenis E. Pemakaian serat pada beton lebih tahan retak dan tahan terhadap benturan. pemberian serat pada beton tidak banyak menambah kuat tekan beton. Serat Tujuan utama penambahan serat ke dalam beton adalah untuk menambah kuat tarik beton yang sangat rendah berakibat beton mudah retak. 1996) . yang merupakan sedimentasi dari abu atau lava gunung berapi yang mengandung silika aktif yang bila dicampur dengan kapur padam akan mengadakan proses sedimentasi. dan mengandung pozolan. (Tjokrodimuljo. dan mengurangi keawetan beton.

Untuk pembuatan beton.BAB III LANDASAN TEORI A. cara pengadukan maupun pengerjaan selama penuangan adukan beton. 15 . Produksi beton yang efektif dapat dicapai dengan pemilihan. tahan lama dan tahan aus. agregat kasar. Kesulitan timbul karena di dalamnya banyak parameter yang harus diperhitungkan. penambahan bahan dari sifat-sifat bahan dasar yang dipakai. beton merupakan bahan bangunan yang banyak dipakai secara luas. mudah dikerjakan. cara pemadatan dan cara perawatan selama proses pengerasan. B. yaitu yang kuat tekannya tinggi. murah. misalnya: ukuran maksimum agregat. Perencanaan campuran beton dimaksudkan untuk mendapatkan beton yang sebaik-baiknya. sehingga dapat mengembangkan dan memilih bahan penyusun yang baik serta dapat menentukan komposisi yang tepat. Tahap-tahap penelitian harus diselesaikan sesuai standar penelitian yang baku untuk mendapatkan material yang berkualitas baik. air dan bahan tambah (admixture) bila diperlukan. Umum Pada saat ini. banyaknya pemakaian beton disebabkan terbuat dari bahan-bahan yang umumnya mudah didapat serta mudah diolah sesuai dengan bentuk yang diinginkan. agregat halus. Bahan Penyusun Beton Dasar penyusun material beton normal terdiri dari semen. perbandingan bahan-bahan yang dipakai. pengontrolan dan perbandingan yang tepat untuk semua bahan serta untuk perancangan campuran beton mutu tinggi lebih kompleks bila dibandingkan dengan perancangan campuran beton normal. Bahan-bahan dasar penyusun beton harus diketahui oleh perencana. material-material tersebut harus melalui tahap penelitian dan berkualitas baik.

Jenis-jenis semen Portland. Semen portland yang dalam penggunaannya persyaratan sangat tahan terhadap sulfat. Jenis-jenis semen Portland.1. Semen portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan kekuatan awal yang tinggi setelah pengikatan terjadi. Semen portland yang dalam penggunaannya memerlukan ketahanan terhadap sulfat dan panas hidrasi. Semen ini sangat cepat proses hidrasinya karena itu digunakan serbuk khusus untuk menghambat proses hidrasi semen ini. Semen Portland Semen merupakan bahan yang mempunyai sifat adhesif dan kohesif. sebagai hasil dari pembakaran pada suhu tinggi terhadap bahan-bahan mentah pembentuk semen. Semen-semen itu adalah : 1) Oil well cement. Trikalsium Aluminat (C3A) dan Tetrakalsium Alumina Ferit (C4AF). Semen hidrolis adalah semen yang akan mengeras apabila bereaksi dengan air. dengan gips sebagai bahan tambahnya. 1996) Selain semen-semen yang disebut di atas.16 1. 1995). sebagai berikut : Tabel III. Clinker adalah bahan baku yang dibutuhkan dalam pembuatan semen. kedua sifat fisis ini memiliki fungsi sebagai bahan perekat. Adukan dari semen halus ini tahan sampai tekanan 1000 atmosfir. (Sumber : Tjokrodimuljo.1. juga telah dibuat semen dengan tujuan khusus (Subakti. terutama terdiri dari silikat calsium yang bersifat hidrolis. Sesuai dengan tujuan pemakaiannya PUBI (1982) membagi semen portland dalam lima jenis seperti yang dapat dilihat pada Tabel III. Dikalsium Silikat (C2S). yaitu : Trikalsium Silikat (C3S). semen ini digunakan untuk penyemenan sumur minyak yang dalam. Perubahan komposisi kimia semen dengan mengubah 4 komponen utama semen. Semen portland adalah semen hidrolis yang dihasilkan dengan penghaluskan clinker. menghasilkan beberapa jenis semen sesuai dengan tujuan pemakaiannya. Semen portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan panas hidrasi yang rendah. . menghasilkan bahan yang tahan terhadap air (water resistance) dan stabil tahan air. Jenis semen Jenis I Jenis II Jenis III Jenis IV Jenis V Karakteristik Umum Semen portland untuk penggunaan umum yang tidak memerlukan persyaratan khusus seperti yang disyaratkan pada jenis-jenis lain.

porositas dan karakteristik penyerapan air yang mempengaruhi daya tahan terhadap proses pembekuan waktu musim dingin dan agresi kimia. Selain persyaratan teknis yang harus dipenuhi. Menurut Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia. Jenis semen ini tidak mengandung alkali dalam komposisinya. kuat dan bersudut.075 mm. 3) Semen putih. 2) Tidak mengandung tanah dan kotoran lain yang lolos ayakan 0. 1983). kerikil. quarsa pasir dan kaolin.17 2) Semen dengan kadar alkali rendah. Sifat yang paling penting dari suatu agregat (batu-batuan. Bab 3 Pasal 3.075 mm. pasir dan lain-lain) ialah kekuatan hancur dan ketahanan terhadap benturan.3-3. 2a). 4 standar ASTM) dan lebih besar dari 0. Kadar agregat dalam campuran berkisar antara 70-75% dari volume total beton. buatan (batu pecah) maupun bahan sisa produk tertentu. Agregat halus bersama dengan semen dan air membentuk mortar yang akan mengikat agregat kasar menjadi satu kesatuan yang kuat dan kompak. Agregat halus beton dapat berupa pasir alami sebagai disintegrasi alami atau berupa pasir buatan (artifical sand) yang dihasilkan dari alat-alat pemecah batu. 1999). hal lain yang perlu diperhatikan dalam pemilihan jenis agregat beton mengacu pada Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI) tahun 1971 N.75 mm (No. oleh karena itu penggilingan serbuk mahal. Agregat beton dapat berasal dari bahan alami. oleh karena itu kualitas agregat berpengaruh terhadap kualitas beton (Nugroho. agregat halus mempunyai butiran yang lolos ayakan 4. Brook. Agregat. yang dapat mempengaruhi ikatannya dengan pasta semen. Agregat merupakan bahan utama pembentuk beton disamping pasta semen. 2.5 dan standar ASTM C 33-97.1-2.M. semen ini digunakan di negara-negara penghasil agregat yang reaktif terhadap iklim. agregat halus harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : 1) Butir-butirannya tajam. serta ketahanan terhadap penyusutan (Murdock dan K. Agregat halus. jenis semen ini dibuat dari batu kapur yang bebas besi. .

maka jumlah butir pipih tidak boleh lebih 20% dari agregat seluruhnya. 4) Tidak mengandung zat organik karena dapat mengurangi mutu beton. Untuk . serta untuk menjadi bahan pelumas antara butir-butir agregat agar lebih mudah dikerjakan dan dipadatkan. seperti zat-zat yang reaktif alkali. maka agregat harus memenuhi syarat sebagai berikut : 1) Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir keras dan tidak berpori apabila agregat kasar mengandung butir pipih. Agregat kasar bersifat kekal. 3) Tidak mengandung zat-zat yang merusak beton. 2b). 1/3 tebal plat atau ¾ jarak bersih minimum antara batang tulangan. bila kadar lumpur lebih dari 1% agregat harus dicuci. tahun 1982. Agregat kasar. Air Air merupakan bahan pembuat beton yang sangat penting. yaitu tidak hancur oleh pengaruh cuaca. 5) Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir yang beraneka ragam besarnya. 6) Bersifat kekal. 3. 6) Besar butir agregat maksimum tidak boleh lebih dari 1/5 jarak terkecil antar bidang samping cetakan. Agregat kasar yang akan dicampurkan sebagai adukan beton harus mempunyai syarat mutu yang ditetapkan. Air diperlukan untuk bereaksi dengan semen. 7) Agregat harus mempunyai sifat reaktif terhadap alkali. Menurut persyaratan umum bahan bangunan di Indonesia. 5) Harus mempunyai variasi besar butir atau gradasi yang baik. 2) Agregat tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1% (ditententukan terhadap berat kering). tidak hancur.18 3) Tidak mengandung garam yang menghisap air udara. Agregat kasar adalah kerikil sebagai disintegrasi alami batuan atau berupa batu pecah yang diperoleh dari industri pemecah batu dan mempunyai ukuran antara 5 sampai 40 mm. 4) Kekerasan dari butir-butir agregat kasar diperiksa dengan bejana penguji Los Angeles.

Abu arang briket adalah abu terbang limbah pembakaran batubara yang keluar dari tabung pembakaran. Portland Cement atau bahan lain (Totomiharjo. Bahan pengisi (Filler) Bahan pengisi adalah suatu bahan berbutir halus yang lewat ayakan No. yang kekurangan partikel halus. 4. Bahan filler dapat berupa abu batu. Abu arang briket. permeabilitas dan ketahanan terhadap gaya luar serta pengaruh cuaca. 30 US Standar Sieve dan 65% lewat ayakan No.(Sukandarrumidi. b) Air tidak boleh mengandung garam-garaman lebih dari 15 gram/liter. Abu terbang memiliki ukuran yang blebih halus dan warna lebih terang dari abu dasar. 1995) . c) Air tidak boleh mengandung Chlorida (Cl) lebih dari 0. Selain itu dapat menurunkan kekuatan beton.5 gram/liter. kaolin dan tepung batu menguntungka untuk beton tumbuk yang kasar/kaku. (Tjokrodimuljo. kelenturan plastis. air hanya diperlukan 25% dari berat semen saja. Selain itu air juga digunakan untuk perawatan beton dengan cara pembasahan setelah pengecoran. Sekitarc 20% dalam bentuk abu dasar dan 80% dalam bentuk abu terbang. 200. 1994). kapur. tanah diatomaceous. Pemakaian bahan pengisi berpengaruh pada kekuatan. 5. kelebihan air juga dapat memberikan penyusutan yang besar pada beton. 1996). Persyaratan air yang digunakan dalam campuran beton adalah sebagai berikut : a) Air tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 2 gram/liter. jumlah rongga udara. Pemakaian air yang terlalu banyak akan menimbulkan gelembung air sehingga beton menjadi porous.19 bereaksi dengan semen. Kandungan abu akan tebawa barsama gas pembakaran melalui ruang bakar dan daerah konversi dalam bentuk abu terbang. Didalam peranannya sebagai pengisi. bentonite. bahan-bahan seperti kapur padam. Dapat ditambahkan bahwa flyash dan slag (sisa benda tambang) yang berasal dari dapur etus dapat digolongkan sebagai pengisi pori-pori meskipun bahan ini digunakan karena sifat pozolannya.

K2O. Hal ini karena bahan-bahan dasar beton sangat variabel dan banyak.T-15-1990-03 (Tjokrodimuljo. Penetapan nilai deviasi standar (s) . 2. Perencanaan Campuran Beton Perencanaan adukan beton pada setiap hasil hitungan harus dikontrol dengan uji coba berupa campuran pekerjaan (trial mixes) untuk memastikan hasilnya. agar hasil yang diperoleh dari campuran percobaan tidak menyimpang terlalu jauh. dari sifat bahan tersebut hanya perhitungan awal yang berguna untuk membuat campuran percobaan.SNI.T-15-1990-03 yang dalam perencanaan ini digunakan tabel-tabel dan grafik. C. Abu ampas tebu yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari Pabrik Gula Tasik Madu di Karanganyar Jawa Tengah. Adapun langkah-langkah pokok perencanaan campuran dengan metode SK. 200. Kadar abu batubara di Indonesia biasanya hanya berkisar antara 5%.SNI. Abu yang terjadi pada pembakaran batubara akan membentuk oksida-oksida. Kuat tekan beton yang disyaratkan ditetapkan sesuai dengan persyaratan perencaaan strukturnya dan kondisi setempat. Abu ampas tebu. Di Indonesia yang dimaksudkan dengan kuat tekan beton yang disyaratkan ialah kuat tekan beton dengan kemungkinan lebih rendah dari nilai itu hanya sebesar 5% saja. Perencanaan campuran menggunakan metode SK. Abu arang briket yang bersifat pozolan merupakan additive mineral yang baik untuk beton. MgO. Al2O3. Na2O.20%.20 Abu arang briket didefinisikan sebagai sisa pembakaran dari tungku pemanas yang dikeluarkan dari ruang perapian suatu ketel uap gas buang yang lolos saringan No. Abu ampas tebu bersifat sebagai pengikat dalam campuran beton. 6. Fe2O3. 1996) adalah sebagai berikut : 1. Filler abu arang briket yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari PT. Skatex yang berada di Karanganyar. antara lain : SiO2. CaO. Abu ampas tebu adalah hasil sisa penggilingan tebu yang ada di pabrik gula kemudian dibakar. Penetapan kuat tekan beton yang disyaratkan (f’c) pada umur tertentu.

T-15-1990-03) b. maka nilai margin langsung diambil sebesar 12 MPa. (f’c+12).08 15 1. Tabel. untuk pembuatan beton mutu sama dan menggunakan bahan dasar yang sama pula.3. . III. Penghitungan nilai tambah (margin) (M) Jika nilai tambah ini sudah ditetapkan sebesar 12 Mpa maka langsung ke langkah (4). Jika pelaksana tidak mempunyai catatan/pengalaman hasil pengujian beton pada masa lalu yang memenuhi persyaratan (termasuk data hasil uji kurang dari 15 buah). lihat Tabel. Jika pelaksana mempunyai catatan data hasil pembuatan beton serupa pada masa yang lalu. a.0 25 1. SNI. Penetapan nilai standar deviasi standar ini berdasar pada pengalaman praktek pelaksanaan pada waktu yang lalu. Makin baik mutu pelaksanaan makin kecil nilai standar deviasi standarnya.8 Memuaskan 3. Nilai deviasi standar untuk berbagai tingkat pengendalian mutu pekerjaan.2 Baik 5. Satu data hasil uji kuat tekan adalah hasil rata-rata dari uji tekan dua silinder yang dibuat dari contoh beton yang sama dan diuji pada umur 28 hari atau umur pengujian lain yang ditetapkan. 1996) 3.III. Tingkat pengendalian mutu pekerjaan Sd (Mpa) 2.2. Faktor pengali deviasi standar Jumlah data Faktor pengali 30 1. Jika jumlah hasil uji kurang dari 30 buah maka dilakukan koreksi terhadap nilai deviasi standar dengan suatu faktor pengali.5 Sangat baik 4. 2.16 <15 Lihat butir b (SK.21 Deviasi standar ditetapkan berdasarkan tingkat mutu pengendalian pelaksanaa pencampuran betonnya.03 20 1.0 Jelek 8.6 Cukup 7. maka persyaratannya (selain yang disebut diatas) jumlah data hasil uji minimum 30 buah. Tabel.III.4 Tanpa kendali (Tjokrodimuljo.

64 Sd = deviasi standart ( Mpa ) 4. MPa = nilai tambah. . 7. dalam hal ini diambil 5 % dari nilai k = 1. Pada langkah ini ditetapkan apakah dipakai semen biasa atau semen yang cepat mengeras. II. adapun jenis III merupakan jenis semen yang dipakai untuk struktur yang menuntut persyaratan kekuatan awal yang tinggi. 6. IV dan V. atau dengan kata lain sering disebut semen cepat mengeras. Penetapan jenis agregat Jenis kerikil dan pasir ditetapkan apakah berupa agregat alami (tak dipecahkan) ataukah agregat jenis batu pecah (crushed aggregate). III.22 Jika nilai tambah dihitung berdasarkan nilai deviasi standar Sd maka dilakukan dengan rumus berikut : M = k . Mpa f’c M = kuat tekan yang disyaratkan. yaitu jenis I. Tetapkan faktor air semen dengan salah satu dari dua cara berikut : a. Berdasarkan jenis semen yang dipakai dan kuat tekan rata-rata silinder beton yang direncanakan pada umur tertentu ditetapkan nilai faktor air semen. Penetapan jenis semen Portland Menurut PUBI 1982 di Indonesia semen Portland dibedakan menjadi 5 jenis. MPa 5. Jenis I merupakan jenis semen biasa. Menetapkan kuat tekan rata-rata yang direncanakan Kuat tekan beton rata-rata yang direncanakan diperoleh dengan rumus : f’cr = f’c+ M dengan : f’cr = kuat tekan rata-rata. Sd dengan : M = nilai tambah ( Mpa ) k = tetapan statistic yang nilainya tergantung pada prosentase hasil uji yang lebih rendah dari f’c.

5. keadaan keliling korosif disebabkan oleh kondensasi atau uap korosif Beton diluar ruangan bangunan : a. III. 7 Beton didalam ruang bangunan : a. SNI.60 0.52 0. T-15-1990-03) . 4. maka perlu ditetapkan nilai faktor air semen maksimum. 5. T-15-1990-03) 8. Jika nilai faktor air semen maksimum ini lebih rendah dari langkah (7) maka nilai faktor air semen maksimum ini yang dipakai untuk perhitungan selanjutnya.5 dan jenis semen dan agregat kasar yang biasa dipakai di Indonesia Jenis semen Semen portland tipe I atau semen tahan sulfat tipe II. Penetapan faktor air maksimum Agar beton yang diperoleh tidak cepat rusak misalnya. III.60 0. Tabel. III.52 lihat tabel. tidak terlindung dari hujan dan terik matahari langsung b. dapat terpengaruh sulfat dan alkali dari tanah Beton yang kontinue berhubungan : air tawar dan air laut (SK. SNI. ditetapkan nilai faktor air semen. 6 lihat tabel.23 b. III. III. 4. jenis agregat kasar dan kuat tekan rata-rata yang direncanakan pada umur tertentu. III. Tabel. mengalami keadaan basah dan kering berganti-ganti b. Persyaratan jumlah semen minimum dan faktor air semen maksimum untuk lingkungan khusus Jenis pembetonan berbagai macam pembetonan dalam Jumlah semen minimum per m3 beton (kg) 275 325 325 275 325 - Nilai faktor semen maksimum 0. Berdasar jenis semen yang dipakai. terlindung dari hujan dan terik matahari langsung Beton yang masuk ke dalam tanah : a.60 0. Penetapan faktor air semen maksimum dapat dilihat pada Tabel. lihat Tabel. keadaan keliling korosif b. IV Semen Portland tipe III Jenis agregat kasar Batu tak dipecahkan Batu pecah Batu tak dipecahkan Batu pecah Batu tak dipecahkan Batu pecah Batu tak dipecahkan Batu pecah Kekuatan tekan (Mpa) Bentuk Pada umur (hari) benda uji 3 7 28 91 17 23 33 40 Silinder 19 27 37 45 Kubus 20 28 40 48 Silinder 23 32 45 54 Kubus 21 28 38 44 Silinder 25 33 44 48 Kubus 25 31 46 53 Silinder 30 40 53 60 Kubus (SK. Perkiraan kuat tekan beton dengan faktor air semen 0.

55 .24 Tabel. 7.45 Tipe semen Kandungan semen minimum (kg/m3) Ukuran nominal maksimum agregat 40 mm 20 mm 300 280 340 290 330 380 330 370 Tipe I-V Tipe I + pozzolan (15-40%) atau Semen Portland Tipe II atau tipe V (SK.5 2. Ketentuan minimum untuk beton bertulang kedap air Jenis beton Kondisi lingkungan berhubunga n dengan Air tawar Beton bertulang atau prategang Air payau Faktor air semen maksimum 0. T-15-1990-03) Tabel.2 270 310 360 0.2 < 1.0 < 0. SNI. 280 300 350 0.45 0.3 Kandungan semen minimal (kg/m3) Ukuran nominal agrgegat maksimum 40 mm Tipe I dengan atau tanpa pozzolan (1540%) Tipe I dengan atau tanpa pozzolan (1540%) Tipe I pozzolan (1540%) atau Semen Portland Pozzolan Tipe II atau tipe V 20 mm 10 mm Kadar gangguan sulfat Tipe semen fas 1.50 Air laut 0.9 0.50 0. III.0-1. 6.55 250 290 340 0.5 1. 0. Ketentuan untuk beton yang berhubungan dengan air tanah yang mengandung sulfat Konsentrasi sulfat dalam bentuk SO3 Sulfat (SO3) Dalam tanah dlm air tanah (gr/ltr) Total SO3 SO3 (%) dlm camp air : tnh =2:1 (gr/lt) < 0.2-0.5 290 330 380 0.3-1. III.

Cara pengangkutan adukan beton dengan aliran dalam pipa yang dipompa dengan tekanan membutuhkan nilai slam yang besar. Tetapkan jumlah air Jumlah air yang diperlukan permeter kubik beton. 1.5 9. balok. berdasarkan ukuran maksimum agregat.0 > 5. 8.0 Minimum 5.45 4. 5.0 > 2.5 5.5 7. 8. Lanjutan Tipe pozzolan 40%) Semen Portland Pozzolan Tipe II tipe V Tipe II tipe V Tipe II tipe V *lapisan pelindung I (15atau 340 380 430 0.5-5. pengangkutan.0 (SK.5-1.1 1.0 3.0 > 5. jenis agregat.0 2.9-3. T-15-1990-03) 9. plat pondasi dan pondasi Pondasi telapak tidak bertulang.0 7. Penetapan nilai slump (cm) Pemakaian beton Dinding.0 2. dan slam yang diinginkan. . 7. 1996) 10.25 Tabel. III. 0.5 7. adapun pemadatan adukan dengan alat getar (triller) dapat dilakukan dengan nilai slam yang agak kecil.45 3.0-2. kolom dan dinding Pengerasan jalan Pembetonan massal 15.0 1. 9.50 0. Penetapan nilai slump Penetapan nilai slam dilakukan dengan memperhatikan pelaksanaan pembuatan.5 Maksimal 12. Tabel. di lihat pada dibawah ini yaitu table III. pemadatan maupun jenis strukturnya.1-5.2-2.5 (Tjokrodimuljo. penuangan. kaison. dan struktur di bawah tanah Plat.45 0. III. Nilai slam yang diinginkan dapat dilihat pada Tabel III.5 atau atau atau 290 330 330 330 370 370 380 420 420 0. SNI.0 2.

. Penetapan besar butir agregat maksimum Penetapan besar butir agregat maksimum dilakukan berdasarkan nilai terkecil dari ketentuan –ketentuan berikut : a. III.10 150 180 135 170 115 155 Slam (mm) 10 . 13. Sepertiga kali tebal plat c. Kebutuhan semen minimum Kebutuhan semen minimum ditetapkan dengan tabel. 14. SNI. 9.26 Tabel.60 205 230 180 210 160 190 60 . misalnya lingkungan korosif. T-15-1990-03) 11.180 225 250 195 225 175 205 (SK. Seperlima jarak terkecil antara bidang samping cetakan 12. b. Perkiraan kadar air bebas (kg/m3) yang dibutuhkan untuk beberapa tingkat kemudahan pengerjaan adukan beton Besar ukuran maksimal kerikil (mm) 10 Batu tak dipecahkan Batu pecah 20 Batu tak dipecahkan Batu pecah 40 Batu tak dipecahkan Batu pecah Jenis agregat 0 .. Hitung berat semen yang diperlukan Berat semen per meter kubik beton dihitung dengan membagi jumlah air dari langkah (10) dengan faktor air semen yang didapat dari langkah (7) dan (8). Penyesuaian kebutuhan semen Apabila kebutuhan air semen yang didapat dari langkah (12) ternyata lebih sedikit daripada kebutuhan semen minimum (13) maka kebutuhan semen harus dipakai yang minimum (yang nilainya lebih besar). Tiga per empat kali jarak bersih minimum antar baja tulangan atau berkas baja tulangan atau tendon prategang atau selongsong.30 180 205 160 190 140 175 30 . air payau dan air laut. Kebutuhan semen minimum ini ditetapkan untuk menghindari beton dari kerusakan akibat lingkungan khusus.

Penetapan dilakukan dengan memperhatikan besar butir maksimumagregat kasar.50 0 . Batas gradasi pasir Lubang ayakan (mm) 10 4.3 0.100 95 .15 (SK. faktor air semen dihitung kembali dengan cara membagi jumlah air dengan jumlah air minimum. 16.20 0 . Penentuan daerah itu didasarkan atas grafik gradasi yang diberikan dalam Tabel. Jumlah air disesuaikan dengan mengalikan jumlah semen dengan faktor air semen.15 Persen berat butir yang lewat ayakan 1 100 90 . III.100 80 . Dalam hal ini dapat dilakukan dengan cara berikut : a. 10.100 75 .6 0.34 5 . Penentuan daerah gradasi agregat halus Berdasarkan gradasinya (hasil analisis ayakan) agregat halus yang akan dipakai dapat diklasifikasikan menjadi 4 daerah. Catatan : cara pertama akan menurunkan faktor air semen sedangkan cara kedua menaikan jumlah air yang diperlukan.59 8 . T-15-1990-03) 17. Penyesuaian jumlah air atau faktor air semen Jika jumlah semen ada perubahan akibat langkah (14) maka faktor air semennya berubah.79 12 . b.10 2 100 90 .100 90 .2 0. faktor air semen.100 75 . SNI.100 55 .40 0 – 10 4 100 90 .95 30 .100 60 .100 15 .100 60 .4 1. Pada langkah ini dicari nilai banding antara berat agregat halus dengan berat agregat campuran.10 3 100 90 . 10.100 85 .90 35 . Tabel. nilai slam.27 15. Perbandingan agregat halus dan agregat kasar Nilai perbandingan antara berat agregat halus dan agregat kasar diperlukan untuk memperoleh gradasi agregat campuran yang baik.8 2. dan daerah gradasi agregat halus. III.30 0 . .70 15 .

berdasarkan hasil langkah (20) dan (21) Kebutuhan agregat kasar dihitung dengan cara mengurangi kebutuhan agregat campuran dengan kebutuhan agregat halus. berat jenis agregat campuran dan berat beton dapat diperkirakan berat jenis betonnya.28 Berdasarkan data tersebut dan grafik persentase agregat dapat diperoleh persentase agregat halus terhadap berat agregat campuran.60 gr/cm3untuk agregat tak pecah/alami dan 2.70 gr/cm3 untuk agregat pecahan. 22. namun jika tidak ada dapat diambil sebesar 2. 19. 20. berdasarkan hasil langkah (17) dan (20) Kebutuhan agregat halus dihitung dengan cara mengalikan kebutuhan agregat campuran dengan persentase berat agregat halusnya. Penentuan berat jenis beton Dengan data berat jenis agregat campuran dari langkah (18) dan kebutuhan air tiap meter kubik betonnya maka dengan grafik hubungan kandungan air. . 21. Hitung berat agregat kasar yang diperlukan. Hitung berat agregta halus yang diperlukan. Kebutuhan agregat campuran Kebutuhan agregat campuran dihitung dengan cara mengurangi berat beton permeter kubik dikurangi kebutuhan air dan semen. Berat jenis agregat campuran Berat jenis agregat campuran dihitung dengan rumus : Bj camp = Dengan : Bj campuran Bj agregat hls Bj agregat ksr P K = = = = = Berat jenis agregat campuran Berat jenis agregat halus Berat jenis agregat kasar Persentase agregat halus terhadap agregat campuran Persentase agregat kasar terhadap agregat campuran P K x Bj agregat halus + x Bj agregat kasar 100 100 Berat jenis agregat halus dan agregat kasar didapat dari hasil pemeriksaan laboratorium. 18.

Prosedur pengujian kuat tekan beton menggunakan Standart Test Methode For Commpressive of Cylindrical Concrete. Kuat tekan beton antara lain tergantung pada : faktor air semen. pemadatan dan perawatan) dan umur beton (Tjokrodimuljo.( Dk . ukuran maksimum batuan. Adapun langkah-langkah pengujian sebagai berikut : a. Kuat Tekan Beton Untuk mengetahui kuat tekan beton yang telah mengeras yang disyaratkan. dilakukan pengujian kuat tekan beton. . Dimana : B C D Ca Da Ck Dk = jumlah air (kg/m3) = jumlah agregat halus (kg/m3) = jumlah kerikil (kg/m3) = absorpsi air pada agregat halus (%) = absorpsi agregat kasar (%) = kandungan air dalam agregat halus (%) = kandungan air dalam agregat kasar (%) Air Agregat halus Agregat kasar = B – ( Ck . Beban maksimum yang ditunjukkan oleh jarum petunjuk dicatat.29 Dalam perhitungan diatas agregat halus dan agregat kasar dianggap dalam keadaan jenuh kering muka.Da ) x D/100 D. 1. d. sehingga dilapangan yang pada umumnya keadaan agregatnya tidak jenuh kering muka maka harus dilakukan koreksi terhadap kebutuhan bahannya.Ca ) x C/100 . Pembebanan dilakukan secara perlahan-lahan secara continue dengan mesin hidrolik sampai benda uji mengalami kehancuran (jarum petunjuk berhenti kemudian salah satunya bergerak turun). Benda uji diletakkan pada mesin penekan dan posisinya diatur agar supaya tepat berada ditengah-tengah plat penekan. cara pengerjaan (campuran. gradasi batuan. 3. 2. c. 1996).Da ) x D/100 = C + ( Ck – Ca ) x C/100 = D + ( Dk . b. pengangkutan. Benda uji ditimbang dan dicatat beratnya. Koreksi harus selalu dilakukakan minimum satu kali per hari. bentuk batuan.

30

Menurut Murdock dan K.M. Brook (1991), beton dapat mencapai kuat tekan 80 MPa atau lebih, bergantung pada perbandingan air dan semen dan tingkat pemadatannya. Di samping dipengaruhi oleh perbandingan air dan semen kuat beton juga dipengaruhi oleh faktor lainnya, yaitu : jenis semen, kualitas agregat, efisiensi perawatan, umur beton dan jenis bahan admixture. Kuat tekan beton f’c =

dengan : d

Pmaks P ………………………………………..(III.1) = 1 A 2 .π.d 4

Pmaks = beban maksimum (N) = diameter silinder beton (mm2)
E. Kuat Tarik Beton

Kuat tarik beton adalah kemampuan beton yang diletakkan pada dua perletakan untuk menahan gaya dengan arah tegak lurus sumbu benda uji, yang diberikan padanya, sampai benda patah dan dinyatakan dalam Mega Pascal (MPa) gaya tiap satuan. Peralatan yang dipakai adalah mesin tekan beton yang dapat menguji kuat tarik yang dilengkapi dengan 2 jarum pembacaan beban, 2 buah perletakan benda uji berbentuk titik, dan 2 buah titik pembebanan, ketelitian pembacaan sebesar 12,5 kg. Alat bantu lain berupa timbangan kapasitas 50 kg dengan ketelitian 0,01 %, pengukuran panjang dan jangka sorong. Adapun langkah pengujian sebagai berikut : a. Ukur dimensi penampang benda uji. b. Timbang berat benda. c. Buat garis melintang sebagai penunjuk untuk perletakan dan titik pembebanan. d. Pasang 2 perletakan serta alat pembebanan. e. Letakkan benda uji diatas tumpuan. f. Hidupkan mesin uji tekan. g. Atur pembebanan dengan kecepatan 8-10 kg/cm2 per menit. h. Hentikan pembebanan setelah beban maksimum tercapai.

31

Kuat tarik beton antara lain tergantung pada : faktor air semen, gradasi batuan, bentuk batuan, ukuran maksimum batuan, cara pengerjaan (campuran, pengangkutan, pemadatan dan perawatan) dan umur beton (Tjokrodimuljo, 1996). Kuat tarik beton f’cr =

2.P ………………………………………………. (III.2) π.d.h

dengan:
P = beban maksimum (N) d = diameter silinder (mm) h = tinggi silinder (mm)

BAB IV METODE PENELITIAN A. Umum Pelaksanaan penelitian dilakukan secara eksperimental, yang dilakukan di Laboratorium Bahan dan Struktur, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. Obyek dalam penelitian ini adalah beton yang menggunakan bahan tambah filler abu ampas tebu dengan abu arang briket. Pengujian kuat tekan dan tarik dilakukan setelah beton berumur 14 hari di Laboratorium Bahan dan Struktur, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. B. Bahan Penelitian dan Peralatan Penelitian 1. Bahan penelitian Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : a) Semen yang digunakan adalah semen Portland jenis I, merk Holcim b) Agregat halus berupa pasir, berasal dari Boyolali. c) Agregat kasar berupa batu pecah, berasal dari Boyolali. d) Air yang digunakan diambil dari Laboratorium Bahan dan Struktur, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. e) Bahan tambah filler abu arang briket berasal dari PT. Skatex di Karanganyar dan abu ampas tebu berasal dari PG. Tasik Madu di Karanganyar. 2. Peralatan penelitian Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini tersedia di Laboratorium Bahan dan Struktur, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. Peralatan-peralatan yang digunakan terdiri atas : a) Ayakan standart, untuk memisahkan agregat sesuai ukuran yang diinginkan. b) Penggetar ayakan (Siever), untuk menggetarkan ayakan agregat dapat terpisahkan sesuai lubang ayakan yang diinginkan. c) Timbangan, untuk mengukur benda uji sesuai yang diinginkan. d) Gelas ukur, untuk pemeriksaan kadar Lumpur dan pemeriksaan bahan organik.

32

1. j) Kerucut Abram’s.1. h) Mesin uji Los Angeles. cetok. 12. untuk mengukur benda jenis pasir yang digunakan sebagai bahan penyusun beton. Gambar IV. untuk pengujian agregat kasar.5 mm. Alat ini digetar dengan tenaga listrik selama 15 menit. Satu set ayakan dapat dilihat pada Gambar IV. i) Molen. Alat ini digunakan untuk menggetarkan ayakan yang berisi agregat agar terdistribusi sesuai dengan ukuran butirnya. siku.75 mm. untuk pengujian tekan dan tarik.3 mm.33 e) Oven. 4. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV.18 mm. Satu set ayakan dan Siever . m) Peralatan penunjang lain seperti tongkat baja.1.6 mm. 0. 0. f) Desicator. untuk pengujian Slump. dan bak perendam sample. l) Mesin uji tekan. Ayakan standart. 1. penggaris. Saringan dipasang dari ukuran terbesar hingga lubang terkecil dan paling bawah adalah pan. k) Bak tempat perendaman benda uji. ember.15 mm dan pan.36 mm. untuk mengeringkan agregat. Ayakan digunakan pada uji gradasi yang terdiri dari saringan dengan ukuran : 19 mm. untuk menjaga suhu kamar agregat setelah dioven. Penggetar ayakan (siever). untuk mengaduk campuran beton. g) Volumetric Flash.5 mm. 2. 0. 9. Penggunaan dan gambar alat-alat tersebut di atas adalah sebagai berikut : 2a). 2b).

3.3.2. dan Gambar IV. Timbangan besar .34 2c). dan abu ampas tebu. Timbangan digital Gambar IV. Gambar IV. Timbangan kecil digunakan untuk menimbang briket. Sedangkan timbangan besar digunakan untuk menimbang semen. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Timbangan yang digunakan adalah timbangan kecil dengan digital yang mempunyai kapasitas 3 kg dan timbangan besar dengan kapasitas 100 kg. Timbangan.2. pasir dan batu pecah sebagai bahan beton sebelum dicampur dan juga untuk penimbangan berat benda uji sebelum dilakukan uji tekan dan tarik beton.

Gambar IV.4. tinggi 7. Gelas ukur 2e). Alat ini berbentuk corong dengan ukuran diameter atas 3. Gambar IV. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Alat ini digunakan pada saat pemeriksaaan kadar lumpur dan pemeriksaan bahan organik.35 2d).9 cm.6 cm dan digunakan untuk pengujian SSD (Saturated Surface Dry). Kerucut Conus . Alat dapat dilihat pada Gambar IV.5. Kerucut Conus. Gelas ukur.8 cm dan diameter bawah 8.4. Gelas ukur yang digunakan berkapasitas 1000 cc dan 500 cc.5.

36 2f). Desicator. Alat ini digunakan untuk menjaga suhu kamar agregat setelah dioven pada pemeriksaan kadar lumpur. penyerapan dan berat jenis agregat.7.6. Gambar IV. Alat ini digunakan untuk mengeringkan agregat kasar pada waktu pemeriksaaan kadar lumpur pasir. dan pemeriksaan kandungan bahan organik.6. Oven 2g). Desicator . Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Gambar IV. Oven. pemeriksaan berat jenis dan penyerapan pada agregat.7. Manfaat lain alat ini adalah untuk menjaga berat bahan setelah dioven supaya tidak berubah karena pengaruh udara luar. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV.

8. Gambar IV. Mesin pengaduk campuran beton mempunyai kapasitas 1 m3. Alat yang berkapasitas 500 cc ini digunakan untuk pemeriksaan berat jenis serta penyerapan agregat halus. Volumetric flash 2i). dengan merk SINGLE . Mesin Los Angeles 2j). Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV.8. Gambar IV. Dengan alat ini dimaksudkan agar campuran yang terjadi lebih homogen dan dapat mempersingkat waktu pelaksanaan dibanding dengan pengadukan manual. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Volumetric Flash. Alat ini digunakan untuk pengujian keausan agregat kasar. Alat ini digunakan untuk pembuatan adukan beton. Molen. Mesin uji Los Angeles.9.37 2h).9.

Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV.10.38 PHASE MOTOR Type JY1B-2. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. diameter bawah 20 cm dan tinggi 30 cm. Gambar IV. Alat ini mempunyai diameter atas 10 cm.11. digunakan untuk pengujian slump dan pemadatan beton segar yang dicetak pada cetakan silinder. Tongkat baja.11. 2l).11. Tongkat baja mempunyai ukuran panjang 60 cm dan diameter 16 mm. . buatan Cina pada tahun 1987. Gambar IV. Kerucut Abram’s. Alat ini digunakan untuk pengujian slump pembuatan benda uji.10. alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Kerucut Abram’s dan tongkat baja. Molen 2k).

Cetakan silinder. Mesin uji tekan. Gambar IV. Untuk alat yang ada di Laboratorium Bahan dan Struktur.12. Bak yang berisi air untuk merawat benda uji silinder sampai umur yang direncanakan. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV.14. Alat ini berukuran diameter 15 cm dan tinggi 30 cm. digunakan untuk mencetak beton mutu tinggi.12. Alat tersebut dapat dilihat pada Gambar IV. Alat ini digunakan untuk pemeriksaan berat satuan. Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret memiliki kapasitas 1500 kN dan 2000 kN dengan merk Mylano Italy. pemeriksaan rasio pasir – agregat total dan pembuatan benda uji. Cetakan silinder 2n).13. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Gambar IV.39 2m). Alat ini digunakan untuk menguji kuat tekan beton.13. Bak tempat perendaman benda uji 2o). . Bak tempat perendaman benda uji.

Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV.14. Adapun tahap penelitian tersebut dijelaskan seperti uraian berikut ini : . Gambar IV.40 Gambar IV. Peralatan penunjang lain.15. sekop. Peralatan penunjang lain yang digunakan antara lain cetok. seperti tercantum dalam bentuk bagan alir pada Gambar IV. ember. Mesin uji tekan dan tarik merk Mylano Italy 2p). Peralatan penunjang lain C.1.15. cangkul dan kawat bendrat untuk membantu pembuatan benda uji. Tahapan Penelitian Penelitian dilaksanakan terbagi atas lima tahap.

Tahap II : Pemeriksaan bahan dasar Sebelum digunakan dalam pembuatan campuran. Setelah bahanbahan dasar beton memenuhi persyaratan yang sudah ditentukan. Tahap IV : Pengambilan data Pada tahap ini dilakukan pemeriksaan berat jenis beton dan pengujian kuat tekan beton benda uji silinder pada umur 14 hari. pemeriksaan specific gravity dan absorption pasir dan batu pecah. dan pemeriksaan kadar keausan batu pecah. Prosedur pengujian kuat tekan . pemeriksaan berat satuan volume.41 1. Universitas Sebelas Maret. pasir. Fakultas Teknik. batu pecah. 4. dan dilakukan pengujian slump sampai berhasil baik. bahan tambah filler arang briket dan abu ampas tebu) di Laboratorium Bahan dan Struktur. Perbandingan jumlah proporsi bahan campuran beton ditentukan/dihitung dengan menggunakan Metode SK. maka dilakukan pemeriksaan terhadap rasio pasir . Tahap III : Penyediaan benda uji Tahap ini merupakan tahap perencanaan campuran beton. benda uji silinder tersebut direndam dalam bak perendaman yang berisi air selama 14 hari. Tahap I : Persiapan alat dan penyediaan bahan Tahap ini merupakan tahap persiapan penelitian di laboratorium yang meliputi persiapan alat diantaranya yaitu menyiapkan cetakan silinder ukuran diameter 15 cm tinggi 30 cm yang terbuat besi dan penyediaan bahan susun beton (semen. Selanjutnya dibuat adukan beton sesuai dengan proporsi masing-masing bahan. maka pada tahap ini dilakukan pengujian terhadap bahan dasar beton berupa pasir dan batu pecah. pengujian gradasi batu pecah. pemeriksaan SSD pasir. pembuatan benda uji dan perawatan beton. dilakukan uji visual. Jurusan Teknik Sipil. Setelah dilepas dari cetakan. 2. pemeriksaan kadar lumpur pada pasir dan batu pecah.T-15-1990-03. Sedangkan untuk semen dan air yang dipakai.agregat total. Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan zat organik dalam pasir. Benda uji dibuat dengan cetakan silinder beton. 3.SNI.

2) A 1 / 4πd dengan : f c' Pmaks A d = kuat tekan beton (MPa) = beban maksimum (N) = luas permukaan benda uji yang ditekan (mm2) = diameter silinder beton (mm) 5. c).42 dan kuat tarik mengacu pada standard ASTM C 39 – 86. Tahap V : Analisis data dan kesimpulan Dari hasil pengujian yang dilakukan pada Tahap IV. Menimbang dan mencatat berat benda uji silinder sebelum dilakukan pembebanan. yang kemudian dapat ditarik beberapa kesimpulan penelitian. Pembebanan dilakukan secara perlahan-lahan dengan mesin hidrolik sampai benda uji mengalami keretakan atau kehancuran (jarum penunjuk bergerak kembali ke arah semula). kemudian dilakukan analisis data.1) V γc W V = berat jenis beton (gr/cm3) = berat beton (gr) = volume silinder beton (cm3) Kuat tekan beton dihitung dengan rumus sebagai berikut : f c' = Pmaks P = maks 2 ………………………………………………. Analisis tersebut merupakan pembahasan dari hasil penelitian. Mengukur dan mencatat dimensi benda uji silinder beton. Berat jenis beton dihitung dengan rumus sebagai berikut : γc = dengan : W ……………………………………………………………(IV.. Mencatat beban maksimum yang ditunjukkan jarum penunjuk. d). Meletakkan benda uji silinder pada alat penekan dan diatur posisinya agar tepat berada di tengah-tengah pelat penahan. e). dengan langkah-langkah sebagai berikut : a).(IV. . b).

200 Air diganti kadar lumpur kandungan organik gradasi pasir specific gravity dan absorption Uji visual Tidak baik Memenuhi syarat gradasi agregat kasar berat satuan volume specific gravity dan absorption keausan Uji visual Uji visual Perbaikan kualitas/diganti diganti Tidak baik Tidak baik baik baik baik baik Tahap II Rencana campuran (mix design) Pembuatan adukan beton Tidak memenuhi syarat Slump test Memenuhi syarat Pembuatan benda uji Perbaikan komposisi campuran Perawatan (curing) Tahap III Pengujian kuat tekan dan tarik beton Tahap IV Pengolahan data Analisis data Kesimpulan dan saran Tahap V Selesai Gambar IV. Bagan Alir Tahapan Penelitian .16.43 Mulai Persiapan alat dan bahan Tahap I Semen Agregat halus Agregat kasar Ampas tebu dan filler arang briket lolos ayakan no.

cawan dan timbangan digital. Menimbang pasir yang berada dalam cawan tersebut. dan agregat campuran. Kadar lumpur dihitung dengan rumus sebagai berikut : K= H 0 − H1 x100% ………………………………………………. 1. batu pecah. (7).(IV. Memasukkan pasir ke cawan dan memasukkan ke dalam oven selama 24 jam pada suhu 105° C. Menyediakan cawan dan menimbangnya. gelas ukur. (3). Memasukkan pasir ke dalam cawan kemudian di oven lagi selama 24 jam pada suhu 105° C. (4). Menyediakan pasir yang akan diuji seberat 500 gram (H0).063 mm. Pemeriksaan kadar lumpur pada pasir. kemudian diberi air dan dikocokkocok. Yang dimaksud lumpur adalah bagian yang lolos ayakan 0. Adapun langkah-langkah pemeriksaan kadar lumpur pada pasir adalah sebagai berikut : (1). (5). pasir beserta cawan ditimbang dengan berat 893 gram. kemudian didapat berat 393 gram. Memasukkan pasir ke dalam gelas ukur. Adapun pelaksanaan penelitian tersebut diuraikan seperti berikut ini. Setelah pasir kering. Pemeriksaan bahan Pemeriksaan bahan digunakan sebagai pedoman dalam perancangan adukan beton dan kelayakan bahan untuk campuran beton. Jenisjenis pemeriksaan bahan sebelum digunakan adalah sebagai berikut: 1a). diperoleh 474 gram (H1) (8).44 D. Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui kandungan lumpur pada pasir sehingga diperoleh kualitas beton yang bermutu.C. (6).3) H0 . (2). Adapun bahan-bahan yang akan diperiksa antara lain pasir. Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini dilaksanakan sesuai dengan tahap-tahap yang telah dijelaskan pada Bab IV. Hal ini dilakukan berulang-ulang dengan mengganti air yang sudah keruh dengan yang air yang baru sampai benar-benar jernih. Alat-alat yang digunakan antara lain : oven.

1.45 K= 100 − 95. (6). cawan dan larutan NaOH 3%. (5). Hasil pengamatan diperoleh warna kuning kecoklatan jadi pasir yang akan digunakan tidak banyak mengandung zat organik. 1b). Pemeriksaan zat organik pada pasir. Memasukkan pasir kedalam gelas ukur sebanyak 130 cc. kemudian dimasukkan ke dalam dua buah cawan. (2). (3). Gelas ukur dikocok-kocok sehingga larutan NaOH 3% dapat tercampur secara merata. Menuangkan larutan NaOH 3% ke dalam gelas ukur sampai volume tetap 200 cc. Mendinginkan pasir ke dalam desicator selama 15 menit sehingga mencapai suhu ruang.5 x100% 100 K H0 H1 = kandungan lumpur = berat pasir mula-mula (gr) = berat pasir setelah dicuci (gr) K= 5 % dengan : Perhitungan pada pemeriksaan kadar lumpur pasir ini dapat dilihat pada Lampiran IV. (4). Pasir dikeringkan dengan dimasukkan ke dalam oven selama 24 jam pada suhu 105° C. Memasukkan pasir ke dalam gelas ukur yang berkapasitas 500 cc. kemudian didiamkan selama 24 jam. Pemeriksaan zat organik dalam pasir bertujuan untuk mengetahui sifat kandungan bahan organik yang terdapat pada pasir sehingga dapat diketahui kelayakannya sebagai campuran beton. (7). Adapun langkah-langkah pemeriksaan zat organik pada pasir adalah sebagai berikut : (1). Setelah 24 jam warna diamati dan dibandingkan dengan standard warna yang berlaku. gelas ukur. desicator. (8). . Alat-alat yang digunakan antara lain : oven.

8 12.65 Hasilnya lebih kecil dari setengah tinggi pasir mula-mula sehingga pasir tersebut sudah dalam keadaan SSD.9 4. Langkah-langkah pengujian SSD pasir adalah sebagai berikut : (1). Setiap percobaan dilakukan sebanyak dua kali pengujian.4 III 30 4.7 Jumlah penurunan rata-rata 12.22 cm Rata-rata Penurunan(cm) 3.1 sebagai berikut: Tabel IV.6 3.65 Diperoleh hasil SSD pasir = 3 = 4.1. Tabel hasil penurunan SSD pasir. Dilakukan variasi tumbukan pada percobaan. Menumbuk permukaan pasir dalam kerucut dengan tongkat penumbuk secara gravitasi ± 5 cm dari atas permukaan pasir. Kerucut conus diangkat perlahan-lahan ke arah vertikal kemudian dicatat penurunan pasir yang terjadi. Pemeriksaan Saturated Surface Dry (SSD) pasir.2 4. (4). (5). Menghitung penurunan rata-rata dari masing-masing percobaan sehingga diperoleh hasil pada Tabel IV. Meletakkan kerucut conus di tempat yang datar dan mengisikan pasir ke dalam kerucut conus hingga penuh. Alat-alat yang digunakan antara lain : kerucut conus. Pasir yang akan diuji diangin-anginkan terlebih dahulu.3. . Penurunan tinggi pasir(cm) Percobaan Jumlah Sample A Sample B I 15 3.5 II 20 4. 1c).3 4. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kekeringan pasir yang sebenarnya (kekeringan permukaan) yang dapat digunakan dalam campuran beton. (3). Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV. yaitu dengan 15 kali. (2). 20 kali dan 25 kali. tongkat penumbuk. sendok datar dan penggaris.46 Hasil pemeriksaan kandungan bahan organik pasir dapat dilihat pada Lampiran IV.55 4.2.

.. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui berat jenis dan daya penyerapan air oleh pasir.. oven.............. (3).. lalu dikocok-kocok sampai hilang gelembung-gelembung udara dalam pasir. Membuang airnya kemudian pasir diambil kemudian dioven selama 24 jam. Berat jenis dan penyerapan agregat dihitung dengan rumus sebagai berikut: Berat jenis kering (bulk specific gravity) : = = D . selanjutnya ditimbang..................... (5)..59 gram/cm3 Penyerapan (absorption) : p= A− D x 100% ....... didapat 652 gram (B)....... B+A−C 477 699................42 + 500 − 1006................ Menimbang volumetric flash dan air sesuai garis batas.... diperoleh 964 gram (C) dan didiamkan selama 24 jam.......................... panci dan timbangan digital...........27 (IV......... Menyediakan pasir pada kondisi SSD sebanyak 500 gram (A) dan dimasukkan ke dalam volumetric flash......... (4)........47 1d)......47 gram/cm3 Berat jenis kering permukaan jenuh air (bulk specific gravity SSD) : = = A .......... kemudian ditambah dengan air sampai garis batas........................................... D (IV..4) .. (2)..4) = 2.... Pemeriksaan specific gravity dan absorption pasir............ Menimbang sample setelah dioven selama 24 jam.....42 + 500 − 1006...........4) = 2........... Alat-alat yang digunakan adalah : volumetric flash..... didapat sebesar 494.27 (IV.......... B+A−C 500 699.. Langkah-langkah Pemeriksaan specific gravity dan absorption pasir adalah sebagai berikut : (1).....44 gram (D).

Menyediakan pasir uji kering oven sebanyak 500 gram. Langkah-langkah pemeriksaan gradasi pasir adalah sebagai berikut : (1). Pemeriksaan gradasi pasir.5 mm.3 mm.36 mm.6. 2.75 mm. (3).15 mm.18 mm. 1e). 0. 0. (5). Menimbang pasir pada tiap-tiap ayakan dan kemudian dihitung modulus halus butirnya.6 mm. Menyiapkan ayakan dan menimbang masing-masing ayakan.46 100 = = = 2. Memasukkan pasir uji ke dalam ayakan dan digetarkan dengan siever selama 15 menit.82 % 477 A B C D = berat pasir SSD (gr) = berat volumetricflash + air (gr) = berat volumetricflash + air + pasir (gr) = berat pasir tungku kering (gr) = penyerapan (%) hasil penelitian secara lengkap bisa dilihat pada dengan : p Perhitungan Lampiran IV.93 Untuk hasil perhitungan pemeriksaan gradasi pasir dapat dilihat pada Lampiran IV. Pemeriksaan gradasi pasir bertujuan untuk mengetahui distribusi ukuran butiran pasir modulus halus butirnya. 4. Modulus halus butir Jumlah persentase kumulatif tertahan 100 293. Menyusun ayakan secara urut dari ukuran terbesar sampai ukuran terkecil dan paling bawah adalah pan. 0.4. (2). (4). timbangan digital.48 p= 500 − 477 x 100 % = 4. 1. pan. Alat-alat yang digunakan antara lain : satu set ayakan dengan ukuran 9. . siever dan cetok.

5 mm. 12. (2). Menimbang batu pecah.(IV. (5).5 mm sebanyak 2500 gr.5 gram (B) kemudian dihitung nilai keausannya.5 mm dan oven. Menyediakan batu pecah lolos ayakan 19.7) A 5000 . (4).0 mm. 9. Memasukkan semua batu pecah yang sudah disediakan yaitu 2500 + 2500 = 5000 gram (A) beserta bola-bola baja sebanyak 11 buah ke dalam mesin Los Angeles.4985 x100% 5000 = 0. (7). Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui keausan agregat kasar dan mengetahui daya tahan agregat terhadap degradasi atau perpecahan.3 % . Menyediakan batu pecah lolos ayakan 12. Langkah-langkah pemeriksaan keausan agregat kasar adalah sebagai berikut : (1). timbangan. Keausan agregat dihitung dengan rumus sebagai berikut : Prosentase keausan = = A-B x100% ………………. (3). Alat-alat yang digunakan antara lain : mesin Los Angeles.5 mm dan tertahan 9.5 mm sebanyak 2500 gr.………………. ayakan ukuran 2 mm atau yang mendekati. (6). Semakin kecil nilai abrasi maka semakin baik agregat tersebut untuk digunakan sebagai campuran beton.49 1f). kemudian diputar dengan kecepatan 30 – 35 rpm sebanyak 500 putaran. Mengeluarkan batu pecah dari mesin Los Angeles kemudian diayak dengan ayakan ukuran 2 mm. didapat 3653.0 mm dan tertahan 12. Pemeriksaan keausan agregat kasar. Batu pecah yang tertahan ayakan ukuran 2 mm tersebut kemudian dicuci dan selanjutnya dikeringkan dengan dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 105° selama 24 jam.. ayakan ukuran 19.

ember perendam dan desicator.... Kerikil diambil dan dibuat dalam keadaan SSD dengan cara dilap menggunakan lap kering.... kemudian kerikil ditimbang dalam air dan diperoleh berat 649.... Mendinginkan batu pecah dengan cara dimasukkan ke dalam desicator selama 15 menit.. Pemeriksaan oleh agregat kasar...... A−B 3000 3032................ (5)......................... oven.....8) = 2.............. timbangan digital. Kerikil dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 105° selama 24 jam........... Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui berat jenis dan daya penyerapan air Alat-alat yang digunakan antara lain : panci. Langkah-langkah Pemeriksaan specific gravity dan absorption batu pecah...5 gram (C)......5 gram (B)... diperoleh berat 1014 gram (A).. (4)...... lap kering..7...... specific gravity dan absorption batu pecah................ Berat benda uji kering oven 998. Adalah sebagai berikut : (1)......5 − 1832..5 gram/cm3 Berat jenis kering permukaan jenuh air (bulk specific gravity SSD) : = A ... Merendam kerikil dalam air selama 24 jam......... (3).......5 (IV. Menyediakan kerikil sebanyak 1000 gram.... A−B (IV.....8) .. (2)... (6).......... 1g).............. Berat jenis kering (bulk specific gravity) : = = C ........50 dengan : A B = berat agregat mula-mula (gr) = berat agregat yang tertahan saringan 2 mm setelah dicuci dan dioven (gr) Untuk perhitungan keausan agregat selengkapnya bisa dilihat pada Lampiran IV..... Menimbang kerikil dalam keadaan SSD....

5 = 2... Pemeriksaan berat satuan volume batu pecah ini bertujuan untuk mengetahui berat agregat tiap satuan volume..51 = 3032.....5 − 3000 x 100% p= 3000 p= p = 1.. 1h).. Menimbang silinder baja yang diisi batu pecah tersebut diperoleh 20250 gram (B). Pemeriksaan berat satuan volume batu pecah.......08 % dengan : A B C D = berat pasir SSD (gr) = berat volumetricflash + air (gr) = berat volumetricflash + air + pasir (gr) = berat pasir tungku kering (gr) = penyerapan (%) (IV.... (4).... (2).. C 3032....5 3032...8) p Hasil dari pemeriksaan specific gravity dan absorption batu pecah dapat dilihat pada Lampiran IV. Alat-alat yang digunakan antara lain : cetakan silinder baja (diameter 15 cm dan tinggi 30 cm) dan tongkat baja (diameter 16 mm dan panjang 60cm).....................53 gram/cm3 Penyerapan (absorption) : A−C x 100% .25 x π x d 2 x t ..5 − 1832........8.... Hal ini diulang sampai lima kali percobaan.... Menghitung volume silinder : Volume silinder = 0..... Memasukan batu pecah ke dalam silinder baja secara bertahap sebanyak tiga lapis (masing-masing lapis diisi batu pecah kemudian ditumbuk dengan tongkat baja sebanyak 25 kali dan diratakan permukaannya)..... Langkah-langkah pemeriksaan berat satuan volume batu pecah adalah sebagai berikut : (1). (3).... Menimbang berat silinder baja didapat 13200 gram (A)......

.75 mm..9) 3 = 1.. Melakukan penimbangan batu pecah pada tiap-tiap ayakan kemudian dihitung modulus halus butirnya... pan). (2).....18 mm...438 cm 3 (5)..... Langkah-langkah pemeriksaan gradasi batu pecah adalah sebagai berikut : (1). 4....... (3).......... 1.. timbangan digital.. cetok. Pemeriksaan gradasi batu pecah...6 mm.59 gr/cm3 dengan : A B C = berat silinder baja (gr) = berat silinder baja setelah diisi batu pecah (gr) = volume silinder (cm3) Untuk hasil pemeriksaan dan perhitungan berat satuan volume batu pecah secara lengkap bisa dilihat pada Lampiran IV. Pemeriksaan gradasi batu pecah ini bertujuan untuk mengetahui distribusi ukuran batu pecah dan modulus halus butirnya...25 100 = 7.. siever..3 mm.15 mm. Menyiapkan ayakan dan menimbang masing-masing ayakan tersebut. ember... Menyediakan batu pecah kering oven sebanyak 1000 gram. (IV..25 x π x 15 2 x 30 = 5301..9 1i)...... 0.36 mm. Modulus halus butir = = Jumlah persentase kumulatif tertahan 100 706..06 .. 2. Alat-alat yang digunakan antara lain : satu set ayakan dengan ukuran (19. 9. 0. Rata-rata berat satuan volume batu pecah : = 4.. (4).. Memasukkan batu pecah uji ke dalam ayakan dan digetarkan dengan siever selama 15 menit.. Menyusun ayakan secara urut dari yang berukuran besar sampai yang kecil dan paling bawah adalah pan... 0.0 mm..771 ...52 = 0.5 mm..... (5)......

176 1.679 15.679 15.271 42.679 15.679 15.761 22.761 22.679 Pasir (kg) 22.176 1.568 1.761 22.271 42.271 42.679 15. Berat jenis pasir 3).271 42.271 42. 2.960 1.761 22. 6.5 % 10 % 12. 16.761 22.960 Abu arang briket (kg) 7.056 7. Kebutuhan pembuatan benda uji untuk tiap 3 benda uji adalah sebagai berikut: Tabel. Proporsi kebutuhan material tiap 3 sampel untuk uji tekan dan tiap 3 sampel untuk uji tarik dengan fas 0.568 1.271 42.T-15-1990-30. Ukuran maksimum batu pecah 7).761 22.761 22.271 42. 10.45 = 2.679 15.056 7.568 1.056 7.679 15.761 22.271 42.679 15.960 1.5 % 1.960 1. 7.568 1.056 7.056 7. Air (kg) 7.271 Abu ampas tebu (kg) 7.761 22.761 22.176 1. 11.056 7.960 1.679 15. Berat jenis semen 8). 15. 12.679 15.679 15. Nilai slump rencana = 0. Data-data untuk perencanaan campuran adukan beton adalah sebagai berikut : 1).056 7.679 15.960 1.5 % 1. Modulus halus butir batu pecah = 7.056 7.176 1.271 42.761 22.176 1.056 7.5 % 10 % 12.45 No 1.10. Berat jenis batu pecah 4).056 7. Perencanaan campuran beton Dalam perencanaan proporsi campuran digunakan perencanaan menurut SK. 8.960 1.761 22.06 Langkah-langkah perhitungan rencana campuran beton dapat dilihat pada Lampiran IV.150 ton/m3 = 60 – 100 mm 5).679 15. Faktor air semen 2).056 7.93 = 40 mm = 3.056 7.271 42. Modulus halus butir pasir 6).271 42.056 7.761 22. 14.568 1. 5.10.176 1.2. 3.056 Semen (kg) 15.SNI.IV.761 Kerikil (kg) 42.679 15.271 42.176 1.960 . 13.679 15.568 1.761 22.176 1.271 42.271 42.53 Untuk hasil penelitian dan perhitungan pemeriksaan gradasi batu pecah secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.761 22.5 gr/cm3 = 2. 2.056 7. 4.056 7.47 gr/cm3 = 2. 9.568 1.271 42.568 1.

h=30 Ukuran benda uji (cm) d=15. adukan beton diisikan 1/3 dari volume kerucut.45 10 3 3 3 3 12 12. ditunggu ± 1 menit dan cetakan diangkat secara perlahan-lahan. Dengan menginjak kaki kerucut Abram’s kuat-kuat. Abu ampas tebu (%) Jumlah Abu arang Briket Fas (%) total 0 7. . Rincian jumlah benda uji untuk kuat tarik beton.5 10 12. Setelah terisi penuh oleh adukan beton. h=30 d=15. dan bagian dalam dibasahi dengan air.5 3 3 3 3 12 0. b). Meletakkan kerucut Abram’s ditempat yang rata dan tidak mudah goyah. Pengisian adukan beton dilakukan sampai 2 lapis berikutnya dan masingmasing lapis ditusuk sebanyak 25 kali. c). Langkah-langkah pengujian slump sebagai berikut : a). h=30 d=15. Kerucut Abram’s dibersihkan terlebih dahulu sebelum digunakan.5 0 3 3 3 3 12 7. Setelah pengisian adukan selesai. h=30 d=15.5 0 3 3 3 3 12 7.54 Tabel IV. Pengujian nilai slump Ukuran benda uji (cm) d=15. kemudian ditumbuk sebanyak 25 kali dengan menggunakan tongkat diameter 16 mm dan panjang 60 cm.5 3 3 3 3 12 Jumlah total benda uji 48 3.5 3 3 3 3 12 Jumlah total benda uji 48 Tabel IV. Pengujian dilakukan dengan menggunakan kerucut Abram’s.5 10 12.3. h=30 Pengujian nilai slump ini dimaksudkan untuk mendapatkan kekentalan beton segar. h=30 d=15. e).45 10 3 3 3 3 12 12. h=30 d=15. yaitu berbentuk kerucut dengan diameter atas 10 cm.5 3 3 3 3 12 0. bagian atas cetakan diratakan dengan cetok. h=30 d=15. d). Rincian jumlah benda uji untuk kuat tekan beton.4. Abu ampas tebu (%) Jumlah Abu arang Briket Fas (%) total 0 7. diameter bagian bawah 20 cm dan tinggi 30 cm dengan bagian atas maupun bawah berlubang.

sampai cetakan silinder penuh.1). Adukan beton dimasukkan ke dalam cetakan silinder dengan cetok setinggi sepertiga bagian dan memampatkan adukan beton tersebut dengan menusukkan tongkat baja tumpul sebanyak 25 kali. Meletakkan kerucut Abram’s di samping adukan. dan telah diuji nilai slump-nya. c).55 f). Pembuatan benda uji Pembuatan benda uji sesuai dengan perhitungan proporsi campuran beton yang telah direncanakan. Perawatan beton yang dilakukan pada penelitian ini adalah dengan cara merendam silinder beton di dalam bak yang berisi air sampai beton berumur 14 hari. 4.14. dapat dilihat pada Gambar IV. Agar benda uji satu dan yang lainnya tidak tertukar. Masing-masing variasi dibuat 3 buah benda uji sehingga jumlah total benda uji adalah 100 buah (lihat Tabel IV. e). Setelah 24 jam membuka cetakan.17. sejak adukan beton dipadatkan sampai beton dianggap cukup keras. silinder benda uji disimpan di udara lembab (direndam di dalam bak yang berisi air) untuk perawatan beton. dan diukur selisih antara kerucut dan adukan beton tersebut Hasil pengujian slump test selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran IV. . 5. b). Meratakan bagian atasnya serta membiarkannya sampai 24 jam d). Suhu air saat perendaman berkisar antara 26° – 25° C. Cara pembuatan benda uji silinder beton adalah sebagai berikut: a). Mengisikan adukan beton sepertiga bagian berikutnya dan diperlakukan sama. masing-masing benda uji diberi kode. Perawatan Perawatan beton dimaksudkan untuk menjaga permukaan beton segar selalu lembab.

7. Benda uji diletakkan pada mesin uji tekan dengan posisi vertikal dan posisi jarum penunjuk kuat tekan harus pada angka nol. Gambar IV. Berat jenis dapat diketahui dengan cara menimbang dan mengukur tinggi serta diameter benda uji.21. Kemudian mesin uji dihidupkan dan penambahan beban dapat terlihat pada jarum penunjuk manometer. Perawatan benda uji beton 6. maka permukaan benda uji diberi cat putih Gambar IV.56 Gambar IV. sedangkan jarum hitam akan bergerak turun kembali pada posisi semula (nol). maka salah satu jarum yaitu jarum merah akan tetap pada posisi nilai beban maksimum yang mampu ditahan. Pada saat beban maksimum yang mampu ditahan benda uji terlampaui (benda uji hancur). sehingga dapat diketahui berat dan volume benda uji tersebut. Pengujian kuat tekan dan kuat tarik benda uji Untuk mengetahui keretakan yang terjadi pada saat pengujian. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran IV. Angka yang ditunjuk oleh jarum merah inilah yang dicatat sebagai beban maksimum yang mampu ditahan oleh benda uji.18.12. terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan terhadap berat jenis. Hasil pengujian benda uji dapat dilihat pada Gambar IV.20. Gambar IV.19. Pemeriksaan berat jenis Sebelum pengujian benda uji.17. .

19.57 Gambar IV.18. Benda uji setelah dicat . Benda uji sebelum dicat Gambar IV.

58 Gambar IV.21. Pengujian kuat tekan beton . Hasil pengujian kuat tekan beton Gambar IV.20.

Pengujian kuat tarik beton Gambar IV.59 Gambar IV.23. Hasil pengujian kuat tarik beton .22.

Hasil pengujian agregat halus Pemeriksaan agregat halus dilakukan melalui beberapa tahap pengujian yang sudah diuraikan pada Bab IV.96 Syarat SK SNI 5% > 2.2. Pada pengujian ini diperoleh penurunan pasir rata.1. atau dituliskan pada Tabel V. maka penurunan puncak kerucut pasir harus kurang lebih setengah tinggi kerucut. Hasil pengujian zat organik di dalam pasir dengan cara menambah larutan NaOH 3 % dan didiamkan selama 24 jam.1. diperoleh larutan berwarna kuning kecoklatan.5 gram/cm3 ½ dari tinggi kerucut Keterangan Memenuhi syarat Memenuhi syarat Memenuhi syarat Memenuhi syarat Memenuhi syarat 2.5 cm.59 gram/cm3 Bulk specific gravity Absorption 4.1 sampai dengan Lampiran IV. Hasil pengujian agregat halus Jenis pengujian Hasil pengujian 5% Kadar lumpur Kuning Kandungan bahan kecoklatan organik 2.75 cm Nilai Saturated Surface Dry (SSD) 2.8 gram/cm3 Apparent spesific gravity 3. 61 .1.8 (Sumber: Hasil penelitian) Hasil pengujian agregat halus Tabel V. Untuk mencapai SSD pasir.BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pengujian Agregat 1. Warna ini menunjukkan bahwa pasir tidak banyak mengandung zat organik dan layak digunakan sebagai bahan campuran beton.5 – 3. Hasil pemeriksaan agregat halus secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.rata sebesar 3.5 . sedangkan tinggi pasir mula-mula 7. tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1). 3).82 % Modulus halus butir 2. Karena adanya bahan organik dalam pasir akan mempengaruhi mutu beton.75 cm. Hasil uji kadar lumpur menunjukkan 5 % sehingga memenuhi persyaratan agregat halus sebagai campuran adukan beton karena batas persyaratan campuran beton yaitu 5 %. 2). Tabel V.7 gram/cm3 Memenuhi syarat <5% Memenuhi syarat 1.5.

5).7 gram/cm3). Dari pengujian agregat halus diperoleh berat jenis pasir 2. Oleh karena modulus halus butir pasir yang digunakan berada dalam batasan modulus halus butir pada umumnya. oleh karena itu pasir perlu diangin-anginkan sebelum digunakan. Absorbsi agregat akan mempengaruhi jumlah air dalam campuran yang direncanakan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pasir ini termasuk agregat normal. Dari hasil pengujian yang dilakukan diperoleh nilai absorbsi pasir 4.0 gram/cm3). Hasil pengujian gradasi pasir diperoleh modulus halus butir 2.5 – 3. dan dilukiskan pada Gambar V. 4). Hal ini menunjukan bahwa absorbsi pasir masih dalam batasan yang diisyaratkan. Persyaratan absorbsi agregat yang digunakan dalam campuran beton 5 %. dan agregat berat (mempunyai berat jenis lebih dari 2. . agregat normal (mempunyai berat jenis antara 2.8 gram/cm3).8.1. agregat dibagi menjadi 3 macam yaitu agregat ringan (mempunyai berat jenis kurang dari 2. maka pasir ini memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan susun beton. Semakin besar absorbsi maka jumlah air yang digunakan dalam campuran akan semakin berkurang.62 Keadaan ini membuktikan bahwa pasir masih agak basah. 7).59 gram/cm3.96 Pada umumnya pasir mempunyai nilai modulus halus butir antara 1.6.5 gram/cm3 – 2.82 %. 6). Berdasarkan berat jenisnya. Hasil pemeriksaan gradasi pasir secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.

5 LUBANG AYAKAN (mm) HASIL HITUNGAN BATAS ATAS SK SNI BATAS BAWAH SK SNI Gambar V.08 % Absorption Berat satuan volume 1.15 0.D. 2.59 gram/cm3 Modulus halus butir 7.5 – 2.1.57 gram/cm3 Apparent spesific gravity 2.18 2.3 0.89 gram/cm3 Syarat SK SNI 20 % > 2.2 – 1.53 gram/cm3 Bulk specific gravity 1.63 GRADASI PASIR 120 PERSEN LOLOS (%) 100 80 60 40 20 0 0 0. hasil pemeriksaan tersebut tercantum pada Tabel V. Hasil pengujian agregat kasar Pemeriksaan agregat kasar dilakukan melalui beberapa tahap pengujian yang diuraikan pada Bab IV. gradasi pasir memenuhi persyaratan campuran beton dan termasuk ke dalam kelompok daerah II (pasir agak kasar). Hasil pengujian agregat kasar Jenis pengujian Hasil pengujian 0.1.5 gram/cm3 Keterangan Memenuhi syarat Memenuhi syarat 2.85 1.6 gram/cm3 Memenuhi syarat Memenuhi syarat 5-8 (Sumber: Hasil penelitian) Hasil pengujian agregat kasar pada Tabel V.2.2.9. di atas.2. tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: . Batas gradasi pasir dalam daerah gradasi No.75 9.7 gram/cm3 Memenuhi syarat Memenuhi syarat <5% 1.3 % Keausan agregat batu pecah 2. Tabel V.35 4.1990) Menurut Gambar V. Hasil pemeriksaan agregat kasar secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.6 sampai Lampiran IV. II (Departemen Pekerjaan Umum.

3 %. 7). Hasil pengujian berat jenis batu pecah yang digunakan dalam penelitian dapat disimpulkan bahwa agregat batu pecah tersebut termasuk agregat normal (berat jenis 2.64 1). Hasil pengujian keausan batu pecah dari Boyolali 0. Hal ini menunjukkan batu pecah tersebut dapat digunakan sebagai bahan campuran beton. Dari hasil pengujian gradasi batu pecah diperoleh modulus halus butir 7. Pengujian tersebut membuktikan batu pecah mempunyai berat satuan sesuai yang diisyaratkan untuk berat satuan normal.7 gram/cm3) dan agregat berat (berat jenis 2.53 gram/cm3.8 gram/cm3). .08%.2 gram/cm3 – 1. 3). maka batu pecah tersebut dapat digunakan sebagai bahan campuran beton. Hasil pengujian berat satuan batu pecah 1. 6). 5). Hasil pemeriksaan gradasi pasir secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV. karena memiliki kekerasan butiran yang masih ada dalam batasan yang disyaratkan.2. Hasil pemeriksaan gradasi batu pecah secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV. Berat satuan agregat kasar normal yaitu 1. 2).2. dan dilukiskan pada Gambar V. Dari pengujian agregat batu pecah diperoleh berat jenis batu pecah 2. Dengan melihat grafik batu pecah dapat diketahui bahwa gradasi batu pecah ini masih masuk dalam batasan SK SNI. Batu pecah yang digunakan dalam penelitian ini mempunyai absorbsi 1. sehingga batu pecah tersebut dapat digunakan sebagai campuran beton.59 gram/cm3.9. 4).6 gram/cm3. Hal ini menunjukan bahwa batu pecah tersebut mempunyai daya serap yang kecil. Kekerasan butir-butir batu pecah yang diperiksa dengan mesin Los Angeles harus memenuhi syarat yaitu tidak terjadi kehilangan berat lebih dari 20 % untuk kekuatan beton diatas 20 MPa. Hasil pemeriksaan gradasi batu pecah dapat dilukiskan seperti pada Gambar V.5 gram/cm3 – 2.89 Modulus halus butir untuk agregat kasar yang digunakan sebagai campuran beton yaitu 5 sampai dengan 8.9.

Pengujian slump dilakukan untuk mengetahui workabilitas adukan beton dari setiap percobaan. Pemberian bahan tambah dengan proporsi penambahan yang berbeda.5 dan Lampiran IV. Hasil pengujian slump dapat dilihat pada Tabel V. √ √ √ √ 5. Batas gradasi kerikil (Departemen Pekerjaan Umum.5 dan Lampiran IV.1 LUBANG AYAKAN (mm) HASIL HITUNGAN BATAS BAWAH SK SNI BATAS ATAS SK SNI Gambar V. 11. Dari hasil pengujian slump pada Tabel V.5 2 2.5 7.5. √ √ 4.5 1. Pengujian Slump Pengujian nilai slump dilaksanakan sebelum campuran beton dituang dalam cetakan. Slump (cm) 7. akan dianalisis pengaruhnya terhadap workabilitas beton.2.75 9.5 19 38.5 10 12.5 1.11 dapat dilihat bahwa slump yang dicapai pada adukan beton dengan penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket tidak memenuhi persyaratan yang direncanakan yaitu antara 2 – 4 in atau 5.08 – 10.1990) B.5 1.65 GRADASI KERIKIL 120 PERSEN LOLOS (%) 100 80 60 40 20 0 2. Hasil pengujian slump beton umur 14 hari Abu arang Briket Abu ampas tebu (%) No Beton Normal (%) 7. √ √ 3.5 10 12. Tabel V.5 .36 4. √ 2.16 cm.

1) V V = 0.5 √ 2. sedangkan berat jenis rata-rata dapat dilihat pada Tabel V. √ 13.2) dengan : γ = berat jenis beton (gram/cm3) B = berat beton setelah direndam (gram) .5 2 √ 3. Besarnya berat jenis dapat dihitung dengan rumus : Berat jenis beton (γ) = B ……………………………………………. √ 16. Lanjutan 6. maka nilai slump yang dihasilkan kecil. √ √ √ √ - √ √ √ - √ √ √ √ √ √ - √ 2 √ 2. sehingga didapatkan berat dan volume benda uji tersebut.5 √ 3.25 x π x d 2 x t …………………………………………………(V.5 1. √ 10.5 (Sumber: Hasil penelitian) Dari hasil pengujian nilai slump menunjukkan bahwa nilai slump menurun dengan penambahan persentase abu arang briket dan abu ampas tebu dalam campuran beton. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah bahan tambah yang digunakan maka air akan terserap oleh bahan tambah sehingga nilai fas akan berkurang. √ 8.11.5 √ 2.5 √ 2. √ 7. √ 11.16.6. Data dan hasil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran IV. √ 12. Pengujian Berat Jenis Beton Pengujian berat jenis beton dilakukan sebelum diadakannya pembebanan terhadap benda uji silinder. √ 15. √ 14.5. √ 9.5 2 √ 3. C.(V.66 Tabel V. Berat jenis beton dapat diketahui dengan cara menimbang dan mengukur tinggi serta diameter benda uji.12 sampai dengan Lampiran IV. Hasil pemeriksaan berat jenis beton secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.

238 2.6.5 % 2.5% 10 % 12.213 2.282 2.5 % 0% 2.4.25 x π x d 2 x t = 0.216 (Sumber: Hasil penelitian) D. Pengujian kuat tekan beton dilakukan untuk memperoleh nilai kuat tekan beton dengan adanya perbedaan kadar penambahan bahan tambah abu arang briket serta penambahan abu ampas tebu.188 2. Tabel V. Hasil pengujian kuat tekan beton .25 x π x 15 2 x 30 = 5301.301 gram/cm3.64 gram/cm3 sedangkan berat jenis semen adalah 3.185 2.5% 10 % 2.147 12.6.172 2.263 2. Hal ini disebabkan karena berat jenis briket lebih kecil dari pada berat jenis semen.5% 10 % 12. Berat Jenis rata2 (gr/cm3) Kadar abu arang briket 0% 7.282 Kadar abu ampas tebu 7. Berat jenis akan menurun seiring dengan penambahan abu arang briket.273 2.210 2.213 2.7.188 2.194 Kadar abu 7. Kadar abu ampas tebu Berat Jenis rata2 (gr/cm3) 0% 7. Berat jenis briket adalah 2.210 2. Hasil pemeriksaan berat jenis rata-rata pada kuat tekan beton dengan fas 0.204 2.179 arang briket 10 % 2.176 12.200 2.160 2.438 cm 3 Dari hasil pemeriksaan berat jenis beton Tabel V.207 2.67 V = Volume beton (cm3) d = diameter cetakan beton t = tinggi cetakan beton Volume silinder = 0. diperoleh berat jenis tertinggi 2.5 % 0% 2.118 2.226 2.4. Hasil pemeriksaan berat jenis rata-rata pada kuat tarik beton dengan fas 0.292 2.147 2.289 2.241 2.15 gram/cm3.213 2.5% 2.5 % 2.185 2. Pengujian Kuat Tekan Dan Tarik Beton Pengujian kuat tekan beton dilaksanakan setelah benda uji silinder telah berumur 14 hari.248 2.147 (Sumber: Hasil penelitian) Tabel V.

523 1.9.7.4.434 37.5% 10 % 12.523 2.5% 10 % 12.141 24.029 23.594 2.627 (Sumber: Hasil penelitian) .165 2.665 2.521 23.476 1.318 2.443 (Sumber: Hasil penelitian) Tabel V.159 arang briket 10 % 32.d2……………………………………………………………(V.863 12.d2 = ¼ x π x 152 = 176. Sedangkan estimasi kuat tekan beton rata-rata dapat dilihat pada Tabel V.484 22.5 % 0% 30. Kuat tarik rata-rata beton dengan variasi penambahan abu arang briket dan ampas tebu pada fas 0.68 secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.425 23.201 22.4.4) A = ¼ .075 1.390 39.163 23.263 2. Kadar abu ampas tebu Kuat Tekan rata2 (gr/cm3) 0% 7.π.5 % 2.284 37.933 1.830 2.557 29.069 Kadar abu 7.981 arang briket 10 % 2.17. Besarnya kuat tekan dari benda uji dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus sebagai berikut : f’c = Pmaks …………………………………………………………….π. Kadar abu ampas tebu Kuat Tarik rata2 (gr/cm3) 0% 7.5 % 0% 3.8.3) A A = ¼ .046 12.714 cm2 dengan : f’ A d = kuat tekan beton salah satu benda uji (kg/cm2) = luas permukaan benda uji yang tertekan (cm2) = diameter cetakan Pmaks = beban tekan maksimum (kg) Tabel V.632 22.5 % 34.(V.5% 2.5% 31. Kuat tekan rata-rata beton dengan variasi penambahan filler abu arang briket dan abu ampas tebu pada fas 0.334 Kadar abu 7.476 2.

Kuat tekan optimum diperoleh dari penambahan abu ampas tebu 12.3 dapat disimpulkan bahwa penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket mampu meningkatkan kuat tekan beton.3. .5% Gambar V.5% ampas tebu 12.3.78 %. Sedangkan pada penambahan arang briket kuat tekan mengalami peningkatan.5 10 12. Dari hasil pengujian kuat tekan beton di atas. Grafik gabungan hubungan kuat tekan rata-rata dengan variasi bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket. 45 40 Kuat Tekan (Mpa) 35 30 25 20 15 10 5 0 0 7. Dari Gambar V.69 Hasil pengujian kuat tekan rata-rata silinder beton dengan bahan tambah abu briket dan abu ampas tebu dapat dilihat pada Gambar V.5% dan abu arang briket 10% sebesar 27.5 Kadar Briket (%) Ampas tebu 0% ampas tebu 10% ampas tebu 7. dapat diketahui bahwa beton normal dengan penambahan bahan tambah abu ampas tebu mengalami penurunan pada kuat tekan.

Grafik gabungan hubungan kuat tarik rata-rata dengan variasi bahan tambah abu ampas tebu dan abu arang briket. Pembahasan Hasil Penelitian Dari hasil penelitian ini dengan topik kapasitas tekan dan tarik beton dengan bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket dengan fas 0.5 3 Kuat Tarik (Mpa) 2. Kuat tekan tertinggi tersebut diperoleh dari kadar abu ampas tebu 12.5% ampas tebu 12.5 1 0.5 10 12. Dari Gambar V.70 %.830 MPa.5 Kadar Briket (%) ampas tebu 0% ampas tebu 10% ampas tebu 7.5% dan abu arang briket 10%.5 2 1.046 MPa dan kuat tarik tertinggi adalah 2. diperoleh kuat tekan beton tertinggi adalah 39. dapat diketahui bahwa beton normal dengan penambahan bahan tambah abu ampas tebu dan abu arang briket dapat mengakibatkan penurunan pada kuat tarik beton.4.4 bisa disimpulkan bahwa penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket pada umumnya mengalami penurunan untuk setiap variasi penambahannya. sedangkan kuat tarik tertinggi diperoleh dari kadar abu ampas tebu 7.5% Gambar V.5% sebesar 14.5% dan abu arang briket 12. .4.70 Hasil pengujian kuat tarik rata-rata silinder beton dengan bahan tambah abu arang briket dan abu ampas tebu dapat dilihat pada Gambar V.5% dan abu arang briket 12.4.5 0 0 7. Kuat tarik optimum diperoleh dari penambahan kadar abu ampas tebu 7. 3.5%. Dari hasil pengujian kuat tarik beton di atas. E.

Kuat tarik beton pada penambahan kadar abu ampas tebu 7. Kuat tekan beton pada penambahan kadar abu ampas tebu 12.78 % dari beton normal atau pada kadar abu arang briket 0 % dan abu ampas tebu 0 %. Kekurangan a) Kemudahan pengerjaan lebih rendah karena abu ampas tebu dan abu arang briket mempunyai sifat menyerap air.71 Kelebihan dan kekurangan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. b) Karena sifatnya yang menyerap air mengakibatkan nilai slump rendah. .5 % dan abu arang briket 12. Kelebihan a) Dalam penelitian ini tidak terjadi penundaan ikatan semen karena dalam waktu 24 jam dari pengecoran.5 % dan abu arang briket 10 % mengalami peningkatan sebesar 27. c) Kuat tarik beton yang dihasilkan lebih tinggi pada penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket. 2.70 % dari beton normal atau pada kadar abu arang briket 0 % dan abu ampas tebu 0 %. benda uji langsung dapat dibuka dari cetakannya kemudian dilakukan perawatan benda uji. b) Kuat tekan beton yang dihasilkan lebih tinggi pada penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket.5 % mengalami penurunan sebesar 14.

899 MPa terjadi pada kadar 10 %. perendaman benda uji. 72 .735 MPa terjadi pada kadar 12.572 MPa terjadi pada kadar 20 %.141 MPa terjadi pada kadar 12. 5).45 sebesar 24.5 %.20 %.5 % sedangkan kuat tarik optimum pada fas 0. 7).5 % sedangkan kuat tekan optimum pada fas 0.5 % sedangkan kuat tarik optimum pada fas 0. Semakin besar persentase abu arang briket dan abu ampas tebu pada adukan beton maka nilai slump makin kecil. Kesimpulan Setelah diadakan tahap pembuatan benda uji. Kuat tekan optimum abu ampas tebu pada fas 0.4 sebesar 34. serta analisis yang telah dilakukan.45 sebesar 2.45 sebesar 25.5 % sedangkan kuat tekan optimum pada fas 0.4 sebesar 2.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A.5 %. Berat jenis akan menurun seiring dengan penambahan abu arang briket dan abu ampas tebu.594 MPa terjadi pada kadar 7. Hasil pemeriksaan agregat kasar (batu pecah) memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan campuran beton. 6). akhirnya penelitian ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1). pada fas 0. Kuat tarik optimum abu arang briket pada fas 0. 4).5 %.425 MPa terjadi pada kadar 7. pengujian kuat tekan dan kuat tarik untuk silinder beton. Untuk hasil penelitian Rifai. Kuat tarik optimum abu ampas tebu pada fas 0.665 MPa terjadi pada kadar 7. 3).405 MPa terjadi pada kadar 12. Kuat tekan optimum abu arang briket pada fas 0. 8).3 dengan variasi pencampuran 10 %. 40 % didapat kuat tekan optimum sebesar 46. Hasil pemeriksaan agregat halus (pasir) memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan campuran beton.4 sebesar 29.45 sebesar 2.4 sebesar 2. 30 %. 2).465 MPa terjadi pada kadar 12.

B. 10). 3). Bagian atas dan bawah benda uji diusahakan benar-benar rata. diharapakan dilakukan penelitian selanjutnya pada variasi fas. setelah dilakukan pencampuran material harus segera dimasukkan ke dalam cetakan karena adukan beton akan segera lengket dan mengental.5 % dan abu ampas tebu 7.5 % sehingga dapat dilakukan penelitian selanjutnya tentang besarnya prosentase abu ampas tebu yang dapat menambah kuat tekan dan tarik beton sampai optimum. Kuat tekan optimum terjadi pada penambahan kadar abu arang briket 10 % dan abu ampas tebu 12. 10 %. abu ampas tebu 0 %. Saran Berdasarkan pengamatan selama pelaksanaan penelitian. kesulitankesulitan yang dialami pada saat penelitian dan pembahasan hasil penelitian.5 %.5 % mengalami penurunan sebesar 14. permukaan air harus menutup semua benda uji yang direndam. 5).73 9). Dalam penelitian ini menggunakan abu ampas tebu dengan prosentase tertentu yaitu 7. maka peneliti memberikan saran sebagai berikut : 1).70 % dari beton normal atau pada kadar abu arang briket 0 %. Hal ini dimaksudkan pada waktu pengujian seluruh permukaan benda uji mendapat tekanan yang sama. Dalam pembuatan benda uji. 2). . 4). 12. Penggunaan abu ampas tebu akan mengurangi keenceran adukan campuran beton sehingga kuat tekan dan tarik beton tinggi.5 % mengalami peningkatan sebesar 27. sehingga sulit dipadatkan. Pada saat perendaman benda uji.78 % dari beton normal atau pada kadar abu arang briket 0 %. Kuat tarik beton terjadi pada penambahan kadar abu arang briket 12. abu ampas tebu 0 %.

Direktorat Penyelidikan Masalah Bangunan. 1991. Bandung. Bandung. Surakarta. Peraturan Beton Bertulang Indonesia. . PT Naviri.M. Teknologi Beton Dalam Praktek. 2003. Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta. Departemen Pekerjaan Umum. Tinjauan Pemakaian Abu Batu Bara Terhadap Karakteristik Beton dengan Menggunakan Faktor Air Semen 0. LPMB. Teknologi Beton. Subakti.J. Yogyakarta. Bahan dan Praktek Beton. Pemakaian Variasi Bahan Tambah Larutan Gula dan Abu Arang Briket Pada Kuat Tekan Beton Mutu Tinggi. SK SNI T-15-1991-03. Erlangga. Murgiyanto. 2005. A. Departemen Pekerjaan Umum. SK SNI T-15-1990-03. Rifa’I. Badan Pengembangan Pekerjaan Umum. L. N. 1991.1-2 1971. 1995. Jakarta. Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia. Brook K.DAFTAR PUSTAKA Departemen Pekerjaan Umum. Tjokrodimuljo. Surakarta. Standar Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung. 1971. Yayasan LPMB Puslitbang Pemukiman Balitbang PU. 1982. Direktorat Penyelidikan Masalah Bangunan.45. Murdock. Surabaya. M. Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta. Bandung. Terjemahan Stephany Hindarko. 1996. Institut Teknologi Sepuluh Nopember. 1990. Standar Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung. K.

Surakarta. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Sutami No. Ir. Lab. Mei 2006 Ka. (0271) 632363 Lampiran IV.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.5 100 5% L-1 Kandungan lumpur pada pasir untuk campuran beton adalah 5 %. Telp. 132 129 524 . sehingga pasir tidak perlu dicuci karena sudah memenuhi batas persyaratan campuran beton yaitu 5%.D NIP. ST. Pemeriksaan Kadar Lumpur Pada Pasir Tabel : Pemeriksaan pasir sebelum dicuci (Sumber : Hasil penelitian) Berat cawan (gram) Berat pasir kering tungku+cawan (gram) Berat pasir kering tungku setelah dicuci (gram) Berat pasir kering tungku sebelum dicuci (gram) Kandungan lumpur (%) A B C D=B-A D −C x100% D 158 258 95. 1. Ph. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.

D NIP. Ph. Sutami No. Ini menunjukkan bahwa pasir tersebut tidak banyak mengandung bahan organik. (0271) 632363 Lampiran IV.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. Mei 2006 Ka. Ir. terlihat larutan berwarna kuning kecoklatan. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Pemeriksaan Kandungan Zat Organik Pada Pasir Tabel : Pengujian zat organik dalam pasir (Sumber : Hasil penelitian) No 1 2 Jenis bahan Pasir Larutan NaOH 3% Volume (cc) 130 cc Secukupnya Volume total 200 cc Warna larutan L-2 Kuning Kecoklatan Setelah pasir dicampur NaOH 3 % dan didiamkan selama 24 jam. 132 129 524 . ST. Lab. Telp.2. Surakarta. sehingga pasir dapat langsung digunakan untuk campuran beton.

9 4. Lab.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.2) / 2 = 4. ST. Mei 2006 Ka.75 cm.7 12.5 cm = 8.3.2 4. oleh karena itu pasir perlu diangin-anginkan sebelum digunakan. Keadaan ini membuktikan bahwa pasir masih agak basah.215 L-3 Tinggi pasir mula-mula Nilai SSD = 7.43 2 =4.4 4.5 cm. 36 A Kentingan Surakarta 57126.5 × 7.6 : 3 = 4. 132 129 524 .75 Pada pengujian ini diperoleh penurunan pasir rata. Telp. Sutami No.215>0.23 12. (0271) 632363 Lampiran IV.5 4.5 =3.6 3. Ir.7 : 3 = 4.rata sebesar 3. Surakarta.D NIP.2 (4. Ph. Pengujian Saturated Surface Dry (SSD) Pasir Tabel : Pemeriksaan penurunan pasir rata-rata (Sumber : Hasil penelitian) Percobaan I II III Jumlah 15 20 25 Jumlah penurunan : 3 Nilai SSD Penurunan tinggi pasir(cm) Sample A Sample B 3. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. sedangkan tinggi pasir mula-mula 7.23 + 4.

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. Pemeriksaan Spesific Gravity dan Absorption Pasir Tabel : Perhitungan Spesific Gravity dan Absorbtion Pasir (Sumber : Hasil penelitian) Berat pasir kondisi SSD(gram) Berat volumetric flash+air (gram) Berat volumetric flash+air +pasir(gram) Berat pasir kering tungku (gram) Bulk Specific grafity (gram/cm 3 ) Specific grafity SSD (gram/cm 3 ) L-4 Apparent Specific grafity (gram/cm 3 ) Absorption (%) A B C D D ( A + B − C) A (B + A − C) D (B + D − C) A− D x100% D 500 699.5 – 2. Mei 2006 Ka. (0271) 632363 Lampiran IV.7 (berat jenis agregat halus yang diperoleh memenuhi syarat).27 477 2.4. Telp.59 2.42 1006. 36 A Kentingan Surakarta 57126.82 Syarat berat jenis agregat normal antara 2. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. ST. Lab.47 2. Ir. Ph.80 4. Sutami No. Surakarta. 132 129 524 .D NIP.

25 x π x d 2 x t = 0. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.765 5. Lab. Ph.438 cm 3 = 10150 gram Tabel : Pemeriksaan berat satuan volume (Sumber : Hasil penelitian) No 1 2 3 Berat silinder (gram) 10150 10150 10150 Berat pasir+silinder (gram) Berat pasir (gram) Berat sat. Sutami No.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.D NIP. Telp.5. 36 A Kentingan Surakarta 57126.246 Rata-rata berat satuan volume pasir = 1.745 1. Ir.749 gr/cm 3 Surakarta.246 3 1. Mei 2006 Ka. (0271) 632363 Lampiran IV. 132 129 524 .25 x π x 15 2 x 30 = 5301. ST. volume (gram/cm 3 ) 19400 19355 19505 Jumlah = 9250 9205 9355 5. Pemeriksaan Berat Satuan Volume Pasir L-5 Volume silinder Berat silinder = 0.736 1.

74 211.90 192.76 22.50 39.9 383.60 Koreksi 0. 6.30 0.24 240.77 8.80 18.96 Lolos 97.96 = 2. Ir.90 2999.9 253 1111.51 60.00 Syarat SK SNI 100 90-100 75-100 55-90 35-59 10-30 0-10 0 Gol II Keterangan : * tidak ikut dijumlahkan = 3000 gr = 2999.03 0.03 1051.6 = 0.14 0.D NIP.2 301.00 1050. Sutami No.8 Surakarta.23 91.5 – 3. (0271) 632363 Lampiran IV. 7. 4.04 0. 3. Ukuran Ayakan (mm) 9.982 memenuhi syarat yaitu antara 1.18 0.00 277. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.15 Pan Berat Cawan + Pasir (gr) 136 338.04 322.5 88.90 322.20 53. Pemeriksaan Gradasi Pasir L-6 Tabel : Perhitungan pengujian gradasi pasir Boyolali (Sumber : Hasil penelitian) No .74 17. 1.36 1.30 6.03 0.97 192.04 0. 8.00 295.97 100.26 10.03 Berat Pasir Terkoreksi 75.75 2. Ph.50 11.07 0.85 0.70 322. 132 129 524 .6 gr Berat pasir mula-mula Berat pasir setelah diayak Berat kesalahan penimbangan = 3000 – 2999.93 3000 % Pasir Tertinggal 2.74 8. 5. Telp.6.80 46.04 0.24 77.9 Jumlah Berat Cawan (gr) 61 61 61 61 61 61 61 61 Berat Pasir (gr) 75. Lab.03 100.04 518. ST.20 240.70 383 579.03 10.96 100 Modulus halus butir 2. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Mei 2006 Ka.00 Persen Kumulatif Tertinggal 2.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.01 277.4 gr Koreksi = berat pasir tertahan × kesalahan berat pasir setelah diayak Dari hasil analisa pengujian diatas didapatkan modulus halus butir pasir sebagai berikut : Modulus halus butir = = Jumlah persentase kumulatif tertahan 100 295.40 35.50 4.20 81.00 518. 2.01 0.50 9.

5 dan tertahan 9. Ph. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Hal ini menunjukkan batu pecah tersebut dapat digunakan sebagai bahan campuran beton. 19 dan tertahan 12. karena memiliki kekerasan butiran yang masih ada dalam batasan yang disyaratkan yaitu tidak boleh lebih dari 20 %.3 %. Ir. (0271) 632363 Lampiran IV.3 % Hasil pengujian keausan batu pecah dari Karanganyar 0.D NIP.5 Berat benda uji setelah diuji (gram) Keausan agregat (%) A B A−B x100% A 2500 2500 4985 0. Surakarta. Mei 2006 Ka. Lab. Telp.5 Berat benda uji mula-mula (gram) Lolos No.7. ST. Pemeriksaan Keausan Agregat Kasar L-7 Tabel : Hasil pengujian keausan agregat kasar (Sumber : Hasil penelitian) Lolos No. Sutami No. 132 129 524 . Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. 12..

5 1832. Ir. 132 129 524 .53 2. Telp. Lab.8. Mei 2006 Ka.08 % Surakarta. 36 A Kentingan Surakarta 57126.57 1.5 2. Sutami No.D NIP. (0271) 632363 Lampiran IV.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. Pemeriksaan Spesific Gravity dan Absorbtion Batu Pecah L-8 Tabel : Perhitungan Spesific Gravity dan Absorbtion Batu Pecah (Sumber : Hasil penelitian) Berat batu pecah kondisi SSD(gram) Berat benda uji dalam air (gram) Berat benda uji kering oven (gram) Bulk Specific grafity (gram/cm 3 ) Specific grafity SSD (gram/cm 3 ) Apparent Specific grafity (gram/cm 3 ) Absorbtion (%) A B C C A− B A A− B C C−B A−C x100% C 3032.5 3000 2. Ph. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. ST.

438 cm 3 = 10600 gram Tabel : Pemeriksaan berat satuan volume (Sumber : Hasil penelitian) No 1 2 3 Berat silinder (gram) 10600 10600 10600 Berat batu pecah+silinder (gram) Berat batu pecah (gram) Berat sat. Mei 2006 Ka. Lab. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.590 gr/cm 3 1. Ph.9. volume (gram/cm 3 ) 19000 19055 19040 Jumlah 3 8400 8455 8440 = 4 . Surakarta. (0271) 632363 Lampiran IV.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. 132 129 524 . Hasil pengujian berat satuan batu pecah 1. 771 = 1.590 gram/cm3. Pemeriksaan Berat Satuan Volume Batu Pecah L-9 Volume silinder Berat silinder = 0.D NIP.592 4.6 gram/cm3.2 gram/cm3 – 1.584 1. 36 A Kentingan Surakarta 57126.25 x π x 15 2 x 30 = 5301.595 1. Pengujian tersebut membuktikan batu pecah mempunyai berat satuan sesuai yang disyaratkan untuk berat satuan normal.771 Rata-rata berat satuan volume batu pecah Berat satuan agregat kasar normal yaitu 1. Ir.25 x π x d 2 x t = 0. Sutami No. Telp. ST.

00 100.00 0.00* 789.00 16. Ka.93 0.49 = 7.00 100.00 100.00 % Komulatif Tertinggal 0.00 100.108 memenuhi syarat yaitu antara 5 – 8.00 100.00 0.04 152.D NIP.76 17. Ir.50 4.50 9.01 0.15 Pan Berat ayakan+ Kerikil (gr) 488 961 2253.90 77.2 gr Koreksi = berat pasir tertahan × kesalahan berat pasir setelah diayak Dari hasil analisa pengujian diatas didapatkan modulus halus butir batu Jumlah persentase kumulatif tertahan 100 789.00 100.00 Keterangan : * tidak ikut dihitung = 3000 gr Berat batu pecah mula-mula Berat batu pecah setelah diayak = 2998 gr Berat kesalahan penimbangan = 3000 – 2999.04 0.00 0.07 0.90 60.10 22.03 0.8 Koreksi 0.00 507.49 Lolos 100 83.00 0.00 0. 132 129 524 .85 0. (0271) 632363 Lampiran IV.8 930 573 322 320 315 242 269 Jumlah Berat Ayakan (gr) 488 454 431 412 421 322 320 315 242 269 Berat Kerikil (gr) 0 507 1822.00 0.10. ST.01 0.00 0. Lab. Sutami No.93 100.00 0.92 518. Mei 2006 pecah/kerikil sebagai berikut : Modulus halus butir = = Modulus halus butir 7.00 0.03 1822.18 0.34 5.00 0.27 5.66 94.00 0.12 0.00 0.00 Berat Kerikil terkoreksi 0. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.8 = 0.07 1. 36 A Kentingan Surakarta 57126.00 0. Telp.00 3000 % Kerikil tertinggal 0.00 0.00 16.36 1.00 0.89 100 Surakarta. Ph.8 518 152 0 0 0 0 0 2999.00 0. Pemeriksaan Gradasi Batu Pecah L-10 Tabel : Perhitungan pengujian gradasi batu pecah dari Boyolali (Sumber : Hasil penelitian) no 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Ukuran Ayakan (mm) 25 19 12.75 2.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.00 0.

25 x π x 15 2 x 30 = 5301. Sutami No.604 1.584 1. Telp. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Ir.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.629 4. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.D NIP. (0271) 632363 Lampiran IV. Mei 2006 Ka.11.606 gr/cm 3 Surakarta.817 3 1.25 x π x d 2 x t = 0. 132 129 524 . Pemeriksaan Berat Satuan Volume Agregat Kasar L-11 Volume silinder Berat silinder = 0.438 cm 3 = 10600 gram Tabel : Pemeriksaan berat satuan volume (Sumber : Hasil penelitian) No 1 2 3 Berat silinder (gram) 10600 10600 10600 Berat Agregat Kasar + silinder (gram) Berat Agregat Kasar (gram) Berat sat. Ph.817 Rata-rata berat satuan volume agregat kasar = = 1. ST. Lab. volume (gram/cm 3 ) 19000 19105 19235 Jumlah 8400 8505 8635 4.

Perencanaan Campuran Adukan Beton Metode SK-SNI T-15-199003 L-12 Perancangan Adukan Beton Normal Fas 0.2 * vol cetakan silinder * vol material tiap m3 .25 kg Pasir 561. Ir. Telp.9 ltr Semen 462.4 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Uraian Kuat tekan umur 14 Deviasi standar Nilai tambah Kuat tekan rata2 Jenis semen Jenis kerikil Fas Slam Ukuran maks butir kerikil Kadar air Kebutuhan semen Kebutuhan semen minimum Dipakai kebutuhan semen Penyesuaian jumlah air atau fas Golongan pasir Persen pasir terhadap camp Berat jenis campuran Berat beton Kebutuhan camp pasir dan kerikil Kebutuhan pasir Kebutuhan kerikil Tabel/Grafik/Perhitungan grafik M=k * ds Nilai 36.884 kg Kerikil 1090.884 kg/m3 1090.48 Mpa 47.716 kg Proporsi bahan tiap 1 silinder = 1.12.66 Mpa biasa batu pecah 0. Sutami No. (0271) 632363 Lampiran IV.50 2300 kg/m3 1652.9 ltr dan fas 0.25 kg 275 kg 462.716 kg/m3 tabel 10 : 7 grafik grafik grafik 18-(11+10) 16 * 19 19-20 Proporsi campuran Tiap m 3 Air 184.4 60-100 mm 40 mm 184.25 kg 184.18 Mpa pada 14 hari 7 Mpa 11.6 kg/m3 561.45 2 34 % 2.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.9 ltr 462. 36 A Kentingan Surakarta 57126.

056 7.205 2.205 2.442 21.442 21. 3.205 2.622 41.5 % 1.056 7. (0271) 632363 Lampiran IV.622 41.622 41.056 7.622 41.639 17.764 2. 10. Air (kg) 7.056 7.622 41.056 7.442 21.323 1.4 No 1.323 1.639 17.639 17.442 Kerikil (kg) 41.442 21.205 7. 14.056 7.639 17.056 7.622 41.622 41.5 % 1. Proporsi kebutuhan material L-13 Tabel.442 21.639 Pasir (kg) 21.622 41.056 7.764 1.323 Filler (kg) 10 % 1. 5.622 41.442 21.639 17.323 1. 36 A Kentingan Surakarta 57126.442 21. 12.442 21.639 17.205 2.056 Semen (kg) 17. 2.056 7. Proporsi kebutuhan material tiap 3 sampel untuk uji tekan dan tiap 3 sampel untuk uji tarik dengan fas 0.056 7. 8.442 21. Telp.205 2.622 41.639 17.056 7.622 41.13.639 17.639 17.442 21.639 17.764 1.639 17.639 17.323 1.622 7. 6.056 7.639 17.764 1.056 7.056 7.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. 7. 4. Sutami No.764 12.764 1.622 41. 15.323 1.639 17.205 2.622 41. 16.442 21.442 21.442 21.5 % 2. Ir.622 41.323 Ampas (kg) 10 % 12. 11.639 17.442 21.205 .764 1. 13.622 41.056 7.442 21. 9.323 1.764 1.5 % 1.

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR
JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Jl. Ir. Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Telp. (0271) 632363

Lampiran IV.14. Pemeriksaan Slump Adukan Beton

L-14

Tabel: Hasil pengujian slump beton umur 14 hari (Sumber : Hasil penelitian) No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. Beton Normal √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Ampas (%) 7,5 10 12,5 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Filler Briket (%) 7,5 10 12,5 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Slump (cm) 7,5 2 2,5 1,5 1,5 2 2,5 2 3,5 2,5 2 3,5 2,5 1,5 2,5 3,5

Surakarta,

Mei 2006

Ka. Lab. Bahan Konstruksi Teknik

Kusno Adi Sambowo, ST, Ph.D NIP. 132 129 524

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR
JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Jl. Ir. Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Telp. (0271) 632363

Lampiran IV.15. Hasil Pengujian Kuat Tekan Silinder Beton
HASIL PENGUJIAN KUAT TEKAN SILINDER BETON FAS 0.4

L-15

No 1

Tanda / Kode BN-40

Tgl. dibuat 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 2119 April 2006

Volume silinder (cm3) 5301,438

Berat (gr) 11950 11900 11750 12080 11900 12000 11950 11300 11500 11400 11500 11500 12250 12100 12150

b.j (gr/cm3) 2,254 2,245 2,216 2,279 2,245 2,264 2,254 2,131 2,169 2,150 2,169 2,169 2,301 2,282 2,292

b.j rata-rata (gr/cm3) 2,238

Tgl. diuji 3 Mei 2006

Umur 14

Beban Maks. (kN) 495 600 525 510 570 480 430 415 400 420 330 420 535 560 550

Kuat tekan (MPa) 28,011 33,953 29,709 28,860 32,255 27,162 24,333 23,484 22,635 23,767 18,674 23,767 30,275 31,689 31,124

2

BNA-1-40

5301,438

2,263

3 Mei 2006

14

3

BNA-2-40

5301,438

2,185

3 Mei 2006

14

4

BNA-3-40

5301,438

2,163

3 Mei 2006

14

5

BNF-1-40

5301,438

2,292

3 Mei 2006

14

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR
JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Jl. Ir. Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Telp. (0271) 632363

Lampiran IV.15. Lanjutan
HASIL PENGUJIAN KUAT TEKAN SILINDER BETON FAS 0.4

L-16.

No 1

Tanda / Kode BNF-2-40

Tgl. dibuat 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006

Volume silinder (cm3) 5301,438

Berat (gr) 12100 12200 12000 12100 12100 12100 11550 11650 11850 11900 11700 11600 11600 11600 11600

b.j (gr/cm3) 2,282 2,301 2,264 2,282 2,282 2,282 2,179 2,197 2,235 2,245 2,207 2,188 2,188 2,188 2,188

b.j rata-rata (gr/cm3) 2,282

Tgl. diuji 3 Mei 2006

Umur 14

Beban Maks. (kN) 600 530 600 580 630 600 440 390 400 330 420 425 420 420 460

Kuat tekan (MPa) 33,953 29,992 33,953 32,821 35,651 33,953 24,899 22,069 22,635 18,674 23,767 24,050 23,767 23,767 26,031

2

BNF-3-40

5301,438

2,282

3 Mei 2006

14

3

BNAF-11-40

5301,438

2,204

3 Mei 2006

14

4

BNAF-12-40

5301,438

2,213

3 Mei 2006

14

5

BNAF-13-40

5301,438

2,188

3 Mei 2006

14

213 5 Mei 2006 14 3 BNAF-23-40 5301.465 36. Ir.216 2.438 2.188 2.150 b.264 2.188 2. Telp. (0271) 632363 Lampiran IV.767 24.147 5 Mei 2006 14 5 BNAF-32-40 5301. 36 A Kentingan Surakarta 57126.438 2. Sutami No.084 2.767 23.348 2 BNAF-22-40 5301. Lanjutan HASIL PENGUJIAN KUAT TEKAN SILINDER BETON FAS 0.504 21.782 36.899 21.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.4 L-17 No 1 Tanda / Kode BNAF-21-40 Tgl.188 2.150 2.914 36.169 2.210 Tgl. (kN) 370 420 420 420 440 380 380 430 450 650 670 650 640 770 660 Kuat tekan (MPa) 20.782 37.147 5 Mei 2006 14 4 BNAF-31-40 5301.j (gr/cm3) 2.150 2. dibuat 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301.226 2.573 37.15.217 43.169 2.207 2.438 2.438 Berat (gr) 11600 11750 11800 12000 11600 11600 11350 11400 11400 11050 11500 11600 11700 11500 11400 b.938 23.j rata-rata (gr/cm3) 2.141 2.504 24.175 5 Mei 2006 14 .767 23.333 25.188 2. diuji 5 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks.438 2.

438 Berat (gr) 11250 11250 11750 b. Mei 2006 Ka. No 1 Tanda / Kode BNAF-33-40 Tgl. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Sutami No. dibuat 20 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. Lab.j rata-rata (gr/cm3) 2.216 b.D NIP.15. (kN) 680 680 625 Kuat tekan (MPa) 38. Ir.153 Tgl. diuji 4 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks. (0271) 632363 Lampiran IV.480 35. ST. Telp. 132 129 524 .j (gr/cm3) 2. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.122 2.480 38.4 L-18.368 Surakarta. Lanjutan HASIL PENGUJIAN KUAT TEKAN SILINDER BETON FAS 0.122 2. Ph.

Hasil Pengujian Kuat Tarik Silinder Beton .546 1.245 2. diuji 3 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks.546 2. 2.438 2. (kN) 220 240 245 230 160 175 100 180 180 125 190 180 190 160 200 Kuat tarik (MPa) 3.438 Berat (gr) 12200 11950 12000 11500 11350 11500 11500 11750 11850 11850 11550 11500 11900 11950 11900 b.688.273 Tgl.112 3.438 2.248 3 Mei 2006 14 .235 2.829 2 BNA-1-40 5301.179 2.141 2.395 3.194 3 Mei 2006 14 5 BNF-1-40 5301.546 2.216 2.438 2. HASIL PENGUJIAN KUAT TARIK SILINDER BETON FAS 0. Sutami No.264 2.476 1.264 2.j (gr/cm3) 2.4 L-19 No 1 Tanda / Kode BN-40 Tgl.235 2.688 2.446 3.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.254 2.415 2.254 2.160 3 Mei 2006 14 3 BNA-2-40 5301. dibuat 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301.301 2.438 2. (0271) 632363 Lampiran IV.j rata-rata (gr/cm3) 2. 36 A Kentingan Surakarta 57126.169 2.16.245 b.264 2.169 2.169 2.768 2.169 2.207 3 Mei 2006 14 4 BNA-3-40 5301. Ir. Telp.254 2.

241 3 Mei 2006 14 3 BNAF-11-40 5301.197 2. dibuat 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301.476 2 BNF-3-40 5301.438 2.325 2.4 L-20 No 1 Tanda / Kode BNF-2-40 Tgl.301 2.282 2.197 2.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.438 2.289 Tgl. Lanjutan HASIL PENGUJIAN KUAT TARIK SILINDER BETON FAS 0.971 3.334 2.264 2.197 2. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Telp.263 2.768 3.j rata-rata (gr/cm3) 2. (0271) 632363 Lampiran IV.438 2.188 3 Mei 2006 14 4 BNAF-12-40 5301.829 2.334 2.042 2.334 1.197 2.j (gr/cm3) 2.627 2.200 3 Mei 2006 14 5 BNAF-13-40 5301. Ir. Sutami No.476 2.216 b.301 2.829 2.334 2. (kN) 125 235 165 165 115 200 165 205 165 160 175 200 210 215 175 Kuat tarik (MPa) 1.216 2.207 2.438 Berat (gr) 12200 12200 12000 11650 11900 12100 11500 11650 11650 11700 11650 11650 11750 11900 11750 b.197 2.169 2.900 2.438 2. diuji 3 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks.16.245 2.226 3 Mei 2006 14 .245 2.

207 2.698 1.179 b.264 1. Telp.768 2 BNAF-22-40 5301.122 1.485 2.172 4 Mei 2006 14 3 BNAF-23-40 5301. HASIL PENGUJIAN KUAT TARIK SILINDER BETON FAS 0.122 1.141 2.179 2.169 2.910 2.438 Berat (gr) 11700 11600 11500 11600 11600 11350 11400 11500 11250 11500 11550 11600 11500 11550 11550 b.617 2. Ir.169 2.546 2.176 4 Mei 2006 14 .438 2. (0271) 632363 Lampiran IV.188 Tgl.188 2.j rata-rata (gr/cm3) 2.169 2.179 2.839 2. 36 A Kentingan Surakarta 57126.188 2. dibuat 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301.438 2.j (gr/cm3) 2. Sutami No.169 2.768 1.839 1.147 4 Mei 2006 14 4 BNAF-31-40 5301.264 1.4 L-21 No 1 Tanda / Kode BNAF-21-40 Tgl.188 2.438 2.122 2.179 4 Mei 2006 14 5 BNAF-32-40 5301.16. Lanjutan . diuji 4 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks.188 2.150 2.617 2.438 2. (kN) 180 185 160 125 135 150 150 105 185 160 130 130 150 120 125 Kuat tarik (MPa) 2.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.122 2.

diuji 4 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks.216 Tgl. Lab. No 1 Tanda / Kode BNAF-33-40 Tgl. (kN) 115 115 115 Kuat tarik (MPa) 1.627 Surakarta. Sutami No. ST.j rata-rata (gr/cm3) 2. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. Lanjutan HASIL PENGUJIAN KUAT TARIK SILINDER BETON FAS 0. dibuat 20 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301. Telp.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.627 1.4 L-22.627 1.179 b. Mei 2006 Ka.D NIP. 132 129 524 . Ir. Ph. (0271) 632363 Lampiran IV.216 2.16.j (gr/cm3) 2.254 2.438 Berat (gr) 11750 11950 11550 b. 36 A Kentingan Surakarta 57126.