TUGAS AKHIR

KAPASITAS TEKAN DAN TARIK BETON DENGAN BAHAN TAMBAH FILLER ABU AMPAS TEBU DAN ABU ARANG BRIKET DENGAN FAS 0,4

Disusun guna memenuhi persyaratan untuk memperoleh Gelar Sarjana Teknik pada Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta

oleh :

Aditya Galih Wijaya NIM : D 100 000 145 NIRM : 00.6.106.03010.5.0145

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2006

LEMBAR PENGESAHAN

KAPASITAS TEKAN DAN TARIK BETON DENGAN BAHAN TAMBAH FILLER ABU AMPAS TEBU DAN ABU ARANG BRIKET DENGAN FAS 0,4
Tugas Akhir Diajukan dan dipertahankan pada Ujian Pendadaran Tugas Akhir di hadapan Dewan Penguji Pada tanggal : …. Juni 2006

Aditya Galih Wijaya
NIM : D 100 000 145 NIRM : 00.6.106.03010.5.0145 Susunan Dewan Penguji Pembimbing utama Pembimbing pendamping

Ir. Suhendro Trinugroho, M.T NIP. 732 Anggota

Ir. H. Aliem Sudjatmiko, M.T NIK. 131 683 033

Much. Sholichin, S.T, M.T NIK : 792 Tugas Akhir ini diterima sebagai salah satu persyaratan Untuk mencapai derajat sarjana S-1 Teknik Sipil Surakarta,…..Juni 2006 Mengetahui Dekan Fakultas Teknik Ketua Jurusan Teknik Sipil

Ir. Sri Widodo, M.T NIK. 542 iii

M. Ujianto, ST, M.T NIK. 564

MOTTO

“Katakanlah : sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah”.
(Q.S Al-An’aam:162-163)

“Tenang setenang langit dan cepat secepat kilat”.
( Penulis )

“Barang siapa berjalan di suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan mempermudah jalan ke surga”.
( H. R. Muslim )
“Janganlah berfikir untuk menjadi orang yang sukses, tapi berpikirlah untuk menjadi orang yang berguna”.

( Penulis )

“Terima kasih Ya Allah untuk kehidupan dan kesehatan saya. Terima kasih atas kesempatan-kesempatan saya, atas persoalan-persoalan saya, dan terima kasih atas bimbingan dalam mengatasi persoalan-persoalan tersebut”.
( Penulis )

iv

BlueMax K6723DE. v . cucuran keringat dan kasih sayangmu selama aku hidup di dunia. Winning Eleven. Istriku Anita Fitriana dan Calon Anakku Naja Keyshika Semangat serta perjuanganmu adalah nafas kehidupanku. Adikku Adhimas Pamungkas Terima kasih atas semua do’anya.HALAMAN PERSEMBAHAN Ucapan Terima Kasih Penulis Persembahkan Kepada : My Lord Atas izin-Mu untuk menyelesaikan Tugas Akhir ini. Stream K4658KB. Ummi dan Abbah Demi Allah tidak dapat aku balas pengorbanan. Almamaterku.

T. kehangatanmu memberikan cermin hati tuk melihat seluruh putihnya kasihmu. Ujianto. Bapak Ir. keramahanmu teduhkan jiwaku. Aliem Sudjatmiko. 8). 6). Bapak Ir. 2). Penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1). vi .. Ummi dan Abbah. Bapak Ir.. Anita Fitriana.T. Dengan selesainya penyusunan laporan ini. terima kasih untuk semua bimbingan. keberadaanmu tunjukkan aku bahagia.T. kehadiranmu ajarkan aku bijaksana. M. M. S. selaku Dosen Pembimbing Pendamping. selaku Dosen Koordinator Tugas Akhir. 9).T.4”. yang telah memberikan dorongan dan semangat baik moril maupun materiil dalam menyelesaikan laporan ini. M. Suhendro Trinugroho. selaku Dosen Pembimbing Utama Tugas Akhir.T. nasehat dan kesabaranya. ilmu. selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta. Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir dengan judul ”Kapasitas Tekan Dan Tarik Beton Dengan Bahan Tambah Filler Abu Ampas Tebu Dan Abu Arang Briket Dengan Fas 0.. S. selaku Ketua Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta. terima kasih atas semua do’anya. H.T. nasehat dan kesabaranya. selaku Dosen Pembimbing Akademik 7). Ibu Qunik Wiqoyah.T. M. H. Bapak M.Wb Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Karunia. ilmu.T. penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung membantu membimbing serta meluangkan waktu sehingga laporan ini dapat terselesaikan. 3)... Saudara sekandungku Adhimas Pamungkas. 4). Sri Widodo.. 5).KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. M.. terima kasih untuk semua bimbingan. Suhendro Trinugroho. M. Bapak Ir.

Wb Surakarta. Adhi Karya. Pardi terima kasih atas semua bantuannya. terima kasih atas persahabatannya. Jesus. Edwin Reagen Sedunia (kapan modal chek. Penulis menyadari keterbatasan dalam penyusunan Tugas Akhir ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. 15). 14). Mr. Juni 2006 Penulis vii . Semoga laporan ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca. PT.10). Sayoko. Toni+Ikha (Keluarga Ceria). Asih.. Danang. Wassalamu’alaikum Wr. Persero Tbk Cabang II Riau yang telah memberikan segala fasilitas dan jaminan hidup sampai sekarang. Yanuar+Dinda (hidup tak selamanya indah). Orang-orang yang dekat denganku dan merubah hidupku jadi lebih berarti. Bala Tentara Lab Teknik Sipil UNS : Bos Kusno Adi S. Ari. Rubianto Nugroho selaku Partner Dewan Beton Nasional 0. Radjimin. Save My Soul… 16). 17). untuk itu kritik dan saran yang sifatnya membangun penulis harapkan demi kesempurnaan penyusunan laporan selanjutnya. Punggawa Yandu : Kholiq+Sahid (tetep kompak dan rukun slalu yo). Fajri. Sahabatku Kenci. Amin. Barudak Sipil 2000. Parman. 13). Guruh+Trek (Laskar Industri Indonesia). Hatur Nuhun Sanget Ya Allah. Asrie (A4). 11).?!). terima kasih atas dukungan dan bantuannya. 12). Anita.45 terima kasih atas semua masukkan dan kerjasamanya yang baik slama ini.

DAFTAR NOTASI K = Kadar lumpur (gram) G 0 = Berat pasir mula – mula (gram) G 1 = Berat pasir setelah dicuci (gram) B = Berat picnometer + air (gram) BT = Berat picnometer + air + pasir (gram) BJ = Berat batu pecah dalam keadaan jenuh (gram) BA = Berat batu pecah dalam air (gram) Wо = Berat pasir mula – mula (gram) W 1 = Berat agregat halus yang tertahan saringan ukuran 2 mm (gram) M = nilai margin Sd = standart deviasi f’c = Kuat tekan beton (MPa) f’cr = Kuat tarik beton (MPa) W = Berat benda uji (gram) V = Volume silinder beton (cm³) P = Beban maksimal (N) d = Diameter silinder (mm) h = Tinggi silinder (mm) π = 3.14 viii .

.............................................................................. Pengertian Beton....................................................................... 1.... i iii iv v vi ix KATA PENGANTAR .............................. Faktor air semen................................................................ 2.................................................................................................................................................. Beberapa Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Beton ..... Tujuan penelitian.. Sifat umum beton ..................................... vii DAFTAR GAMBAR ............................................................................ A.............................. 1...... xiii DAFTAR TABEL................................................... Batasan Masalah ...... BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..................................................... xix BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................................................................................................................................. B........................................................................ Tujuan dan Manfaat Penelitian ........................................... E....................................................................................................... DAFTAR ISI.......................................... C..................................................................................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ... MOTTO .................................. D.............. Rumusan Masalah.. Manfaat penelitian...................................... xviii ABSTRAKSI .................. Sifat khusus beton ........................................................................ HALAMAN PERSEMBAHAN .......................................................... Latar Belakang.......................................... LEMBAR PENGESAHAN ......... Umum ....................................................................................... 1. xvii DAFTAR NOTASI ....................... 2. B.......... Jumlah semen .... HALAMAN SOAL.......................................... ix 1 1 3 3 3 3 3 4 5 5 6 6 6 7 8 8 8 .................. Keaslian Penelitian ................................................................................................................................................................. A................... 2.................. C........................................... D.......................................................................................................................................................................................... Sifat – sifat Beton ................................................ xv DAFTAR LAMPIRAN..........................................................................

. 32 A......................................................................................................... 32 2............................................. 35 2e).................. 15 B............................... Abu ampas tebu..................................................................... 10 5.............. 17 2a)........................................... 20 D..................................................................................... 13 3........................................................................... Sifat agregat ... 32 1............................................................ Bahan Tambah Beton................................. Ayakan standar ...... 33 2b)............................... 12 2........................................................ Bahan Penyusun beton ...........3............. Bahan penelitian............................................. 32 2a)..................... 14 BAB III LANDASAN TEORI...................................................................................................... Kerucut Conus ......................... Abu arang briket................................... Gelas ukur......... 34 2d)............................................................................................................................................................................. Penggetar ayakan (Siever) ............... Bahan Penelitian dan Peralatan Penelitian...................................................................... Bahan tambah kimia.......... Agregat halus ........................ 19 5.... Air .......................................... Kuat Tekan Beton ................................................................... 15 1......... 18 3.................................. Agregat ........ Jenis semen............................................................................................... 30 BAB IV METODE PENELITIAN ...... Umur beton............................... Timbangan ........................... Bahan Pengisi (Filler) ........... Umum ................................ 18 2b)......................................................................................................... Agregat kasar ..................................................... 18 4.................................................. 32 B..................................................... 12 1.................. Serat............................... Peralatan Penelitian....................... Kuat Tarik Beton.......................................... 29 E.............................................................. 15 A......... 9 4......... Pozolan........................................... 11 E. 16 2............................. 35 x ............... 33 2c)............. 20 C. Umum .... Perencanaan Campuran Beton ......... Semen portland ............. 19 6................

....... 40 1........................................... 38 2l)........ Pemeriksaan bahan........... Pemeriksaan kadar lumpur pasir ......... 39 2o).. Kerucut Abram’s. 50 1h)............................. Pemeriksaan berat satuan volume batu pecah ......... Tahap V : Analisis data dan kesimpulan......... Mesin uji Los Angeles............................................ 41 3.................... Perencanaan campuran beton ........ Tahap II : Pemeriksaan bahan dasar.... Molen ........... Peralatan penunjang lain ............................ 37 2k). 51 1i).... 41 4.. Tahap IV : Pengambilan data................................... Mesin uji tekan........................................ Pengujian Slump............ Pemeriksaan zat organik pasir .............. 47 1e)..... 54 4................. 36 2g).................................... Pemeriksaan Specific Gravity dan Absorbtion pasir................ Tahap I : Persiapan alat dan penyediaan bahan ................... 55 xi .................. Pemeriksaan Saturated Surface Dry (SSD) pasir. Oven............ 52 2.......................... Pemeriksaan keausan agregat kasar............................................................................................................. 49 1g) Pemeriksaan Specific Gravity dan Absorbtion kerikil ........... Tahap Penelitian .............. 42 D............................................ 39 2n)..... 46 1d).......... 53 3. Pemeriksaan gradasi batu pecah ......... 38 2m)....................... Tahap III : Penyediaan benda uji ..2f)............ 44 1.................................. 48 1f)................................. Pembuatan benda uji ................... Pemeriksaan gradasi agregat pasir........................................................ Pelaksanaan Penelitian............................................................................................................................... 40 C...... Bak tempat perendaman benda uji ........... Tongkat baja ...................... Desicator ....................................................... 37 2i)................................................... 36 2h)...................... 39 2p).. Volumetric Flash ...................................... 44 1a)................................................................. 37 2j).......... 41 2..................................... 41 5............ Cetakan silinder.............................................................................. 44 1b)...................................................... 45 1c).........

.............................................................................. Pemeriksaan berat jenis beton...................................................................................... 56 7............................. Kesimpulan ........... 67 D...... 73 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN xii ... 72 A.............. 69 E........................ 56 BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ....................................... Pembahasan Hasil Penelitian ............ 66 C...................................... 61 A..... Hasil pengujian agregat halus ......................... Perawatan benda uji (Curing) .. Hasil pengujian agregat kasar ........................................................................................................................................ 72 B........5...... 63 B...................... Pengujian Berat Jenis Beton .......... 61 2..................... 61 1.................................. Pengujian Kuat Tekan Dan Kuat Tarik Beton .......................... 55 6........... 70 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ............... Pengujian Agregat................................................................. Pengujian kuat tekan dan tarik beton ....... Saran ............... Pengujian Slump ...........................................

............... 10 Gambar II.. 39 Gambar IV......................................................................14...19............................................ Benda uji sebelum dicat .................... Volumetric flash ...........18.............6.... 37 Gambar IV.... Desicator...........21................... Cetakan beton silinder. 57 Gambar IV........ 13 Gambar IV..................... Pengaruh umur beton terhadap laju kenaikan kuat tekan beton pada beberapa fas .......................... 38 Gambar IV....................... 1.................. Grafik kuat tekan beton untuk berbagai jenis semen....13.................................. 58 xiii ......... 36 Gambar IV................................................. 38 Gambar IV.. 5....................... Pengujian kuat tekan beton .................. 39 Gambar IV............ Oven ....................................... 2............... Pengaruh suhu pada laju kuat tekan beton .................... 37 Gambar IV............................... Peralatan penunjang lainnya .............. 35 Gambar IV.................... Satu set ayakan dan Siever................................ Hubungan antara faktor air semen dan kuat tekan silinder beton 9 Gambar II.......................16............................ 6................................... 35 Gambar IV.............7.............................. 56 Gambar IV. 43 Gambar IV..... 3.......... Gelas ukur ............................ 2. Timbangan digital ..........10.....11.......................... Perawatan benda uji beton .............................................1...... Bagan alir tahapan penelitian.......................................................12..........................................17............ 40 Gambar IV.................... 34 Gambar IV........................................ 4......................... 11 Gambar II............ Kerucut Conus .............. Mesin Los Angeles ....... 12 Gambar II.............. Benda uji setelah dicat ........ 4......... 11 Gambar II.... 34 Gambar IV..... Hubungan antara kuat tekan beton dan jumlah semen ...........15.......................... 57 Gambar IV............... 40 Gambar IV....9..... 36 Gambar IV.. Bak tempat perendaman benda uji.......... Hasil pengujian kuat tekan beton.20.......................... Kerucut Abram’s dan tongkat baja ................................ Mesin uji kuat tekan dan kuat tarik merk Milano Italy. Pengaruh jenis agregat terhadap kuat tekan beton ........DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar II............................... Timbangan besar.............. 58 Gambar IV...... 3............................... 8.......................................... 33 Gambat IV....... 5................................... Molen ...

3..... 65 Gambar V.. Hasil pengujian kuat tarik beton .. 59 Gambar V..... 59 Gambar IV.22.. 72 xiv ............................. 63 Gambar V.............. Grafik gabungan hubungan kuat tarik rata-rata dengan variasi tebu bahan tambah filler abu ampas dan abu arang briket............. 1............................... Batas gradasi kerikil .......................................22..........Gambar IV...... Batas gradasi pasir dalam daerah gradasi No. 71 Gambar V................. 2............... Pengujian kuat tarik beton ... 4......... Grafik gabungan hubungan kuat tekan rata-rata dengan variasi tebu bahan tambah filler abu ampas dan abu arang briket... II ...

.5 dan jenis semen dan agregat kasar yang biasa dipakai di Indonesia ............... Proporsi kebutuhan material tiap 3 sampel untuk uji kuat tekan dan 3 sampel untuk uji kuat tarik dengan fas 0. 22 Tabel III............................................ 6........................ 24 Tabel III.................... 54 Tabel IV................. 63 Tabel V............. 53 Tabel IV. 54 Tabel V....................... 28 Tabel IV....... 66 Tabel V......... 5...................... 4 Tabel III..DAFTAR TABEL Halaman Tabel I. Hasil pengujian Slump beton umur 14 hari.... 65 Tabel V.......... 1 Jenis-jenis semen Portland .............. 3.................................................. 61 Tabel V......................... Hasil pengujian agregat kasar .................. 1...........Batas gradasi pasir ....... 24 Tabel III............... Rincian jumlah benda uji untuk kuat tekan beton .............................. 26 Tabel III... 4. 26 Tabel III................................................. 2......... 1. 3.................................. Pengujian agregat halus ..... Nilai deviasi standar untuk tingkat pengendalian mutu pekerjaan 22 Tabel III.. 7.......... 4............. 3................................ Perkiraan kadar air bebas yang dibutuhkan untuk beberapa tingkat kemudahan pengerjaan adukan beton ............ 65 Tabel V........................ 46 Tabel IV...... 68 xv .. 5......................... Ketentuan untuk beton yang berhubungan dengan air tanah yang mengandung sulfat ........4.. Rincian jumlah benda uji kuat tekan dan uji kuat tarik ........................................................ 6... 8............. Persyaratan jumlah semen minimum dan faktor air semen maksimum untuk berbagai macam pemberonan dalam lingkungan khusus ............. Penetapan nilai Slump .......... Hasil penurunan SSD pasir ....... Hasil pengujian agregat halus .......... 10...... 23 Tabel III.......... Hasil pemeriksaan berat jenis rata-rata kuat tekan beton dengan Fas 0.................................................. 25 Tabel III........... 17 Tabel III................. 2..... 4...................................................... Perkiraan kuat tekan beton dengan faktor air semen 0............... Rincian jumlah benda uji untuk kuat tarik beton..................................... Pengujian agregat kasar . Faktor pengali deviasi standar .... 9.. 2....................... Ketentuan minimum untuk beton bertulang kedap air..4 ....... 1..................................................

.... Kuat tarik rata-rata beton dengan variasi penambahan filler abu abu arang briket dan abu ampas tebu dengan Fas 0.................4 ................................. Kuat tekan rata-rata beton dengan variasi penambahan filler abu abu arang briket dan abu ampas tebu dengan Fas 0...... 7........4.............. Hasil pemeriksaan berat jenis rata-rata kuat tarik beton dengan Fas 0.... 70 xvi .... 9......Tabel V. 8.................................4.. 69 Tabel V... 68 Tabel V.

............................... L-2 Lampiran IV................... Pemeriksaan Spesific Gravity dan Absorbtion pasir .DAFTAR LAMPIRAN Lampiran IV.15..... Hasil pengujian kuat tekan beton ... Pemeriksaan berat satuan volume pasir ..... Periksaan kandungan zat organik pada pasir...... Pemeriksaan kadar lumpur pada pasir............... L-4 Lampiran IV........................ Pemeriksaan Spesific Gravity dan Absorbtion batu pecah ......... L-11 Lampiran IV....... Pengujian Saturated Surface Dry (SSD) pasir ...... Proporsi campuran.... L-10 Lampiran IV..14............. L-14 Lampiran IV................. Pemeriksaan gradasi batu pecah........... 2........10....... L-8 Lampiran IV..... 1.13................ L-3 Lampiran IV...... L-9 Lampiran IV............. L-6 Lampiran IV..11... 8.......16.. L-19 xvii ...... L-15 Lampiran IV... Pemeriksaan gradasi pasir ................. 5........................... L-12 Lampiran IV. 6.... Pemeriksaan Slump adukan beton ............ L-5 Lampiran IV....................... Hasil pengujian kuat tarik beton ........ Perencanaan campuran adukan beton metode SK SNI .................. L-13 Lampiran IV................................................ 3........... 4.......................... Pemeriksaan keausan agregat kasar ......12..................... Pemeriksaan berat satuan volume agregat kasar . L-7 Lampiran IV............ 7................ L-1 Lampiran IV.......... Pemeriksaan berat satuan volume batu pecah .. 9.............

12. Perancangan adukan beton menggunakan rancangan SK. Kata kunci : abu ampas tebu.5% dari berat semen dan abu arang briket sebesar 7.4 dengan umur beton 14 hari. Fakultas Teknik.4 Beton merupakan bahan bangunan yang telah banyak dikenal masyarakat Indonesia karena bahan penyusun beton mudah didapat dan relatif murah. Dari hasil pengujian kuat tekan rata-rata optimum diperoleh pada variasi abu ampas tebu 12. kuat tarik xviii .78 % dari kuat tekan beton normal dan dari pengujian kuat tarik rata-rata optimum diperoleh pada variasi abu ampas tebu 7. dengan hasil peningkatan sebesar 27.5%. kuat tekan.5% . sebesar 14. Penelitian tentang beton telah banyak dilakukan. Jurusan Teknik Sipil.T-15-1990-03.5% dan abu arang briket 10%. adapun penelitian ini mencoba memanfaatkan abu ampas tebu dari Pabrik Gula Tasik Madu yang ada di Karanganyar dan abu arang briket dari PT.70 % dari kuat tarik beton normal.5% dan abu arang briket 12.5% dari berat semen.ABSTRAKSI KAPASITAS TEKAN DAN TARIK BETON DENGAN BAHAN TAMBAH FILLER ABU AMPAS TEBU DAN ABU ARANG BRIKET DENGAN FAS 0. Beton yang dibuat berbentuk silinder dengan tinggi 30 cm dan diameter 15 cm. abu arang briket. Skatex yang ada di Karanganyar.SNI. 12. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Bahan dan Struktur. 10% . Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penambahan filler abu ampas tebu dan abu arang briket terhadap kuat tekan dan kuat tarik beton. Pada penelitian ini menggunakan fas sebesar 0.5% . 10% . variasi bahan tambah abu ampas tebu sebesar 7. Universitas Sebelas Maret.

termasuk teknologi beton yang hampir pada setiap aspek kehidupan manusia selalu terkait dengan beton baik secara langsung maupun tidak langsung. Jadi perkembangan beton sangat perlu dalam kehidupan sehari-hari yang mempengaruhi konstruksi struktur. Kualitas beton bergantung pada bahan-bahan penyusunnya. bertujuan 1 . sifat agregat.BAB I PENDAHULUAN A. Beton merupakan salah satu faktor penting dalam bidang konstruksi mengingat fungsinya sebagai salah satu pembentuk struktur. jenis semen. umur beton. dan pengerjaan (pencampuran. gradasi agregat. Latar Belakang Perkembangan teknologi sekarang ini sangat pesat seiring dengan perkembangan zaman. mudah dalam pembentukan. Semen merupakan salah satu bahan penyusun beton yang bersifat sebagai pengikat agregat pada campuran beton. Beton merupakan bahan bangunan yang awet dan tidak mudah berkarat. bendungan dan sebagainya. Beton banyak digunakan karena keunggulan-keunggulannya antara lain kuat tekan beton tinggi. mudah dalam perawatan. Teknologi dibidang konstruksi bangunan juga mengalami perkembangan pesat. Struktur dari beton mempunyai tegangan tarik yang rendah. Struktur yang terbuat dari beton antara lain : jalan dan jembatan yang strukturnya terbuat dari beton. serta mudah dalam mendapatkan bahan penyusunnya. hal ini sangat berbeda dengan elemen struktur baja yang memerlukan perawatan untuk mencegah terjadinya karat. pemadatan dan perawatan). Besarnya kuat beton dipengaruhi beberapa hal antara lain : fas. Beban tarik pada plat atau balok beton dipikul oleh tulangan baja pada beton. serta bahan kimia tambahan (admixture). Pemakaian beton diharapkan dapat menghasilkan bangunan-bangunan berkualitas yang tidak mungkin diperoleh dari beton normal. Kualitas yang baik pada campuran beton ditambah dengan bahan tambah (admixture). Peningkatan kualitas campuran beton akan menghasilkan beton yang lebih berkualitas. lapangan terbang.

Penelitian ini ingin mengetahui berapa besar kuat tekan dan tarik beton tersebut setelah diberi bahan tambah dibandingkan dengan beton normal. Namun seiring perkembangan zaman. bahwa kadar gula dalam hal ini tetes tebu mampu memberikan pengaruh terhadap beton. mengingat abu ampas tebu berasal dari sisa penggilingan tebu. selain itu abu ampas tebu mudah didapat dan bisa dibedakan atau diketahui cukup dengan indra manusia. 1998). Hubungannya dengan pembuatan beton dikatakan banyak orang bahwa dalam pelaksanaan pembuatan beton. Pendapat tersebut adalah kadar gula dengan kadar tertentu akan dapat mengurangi kekuatan beton (Budiyana. Pozolan adalah bahan yang mempunyai kandungan utama senyawa Silicon Dioksida alami atau buatan.4. Hal tersebut membuat masyarakat beranggapan. Bangunan yang dibuat sampai sekarang rata-rata masih berdiri kokoh. Pemilihan abu ampas tebu sebagai bahan tambah merupakan salah satu alternatif yang cukup mengena. Hal ini mengisyaratkan bahwa tetes tebu berpengaruh terhadap kekuatan beton. dicoba untuk mengembangkan penelitian kapasitas tekan dan tarik beton dengan bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket dengan fas 0. saat ini ada beberapa praktisi ilmu pengetahuan yang memiliki pendapat lain dari pendapat masyarakat terdahulu. beberapa ahli memberikan tetes tebu sebagai bahan campuran. sehingga bisa menjadi addictive mineral yang baik untuk beton. Penambahan abu ampas tebu sebagai bahan tambah dalam campuran beton telah dilakukan dalam beberapa pengujian dengan beberapa variasi takaran penambahan abu ampas tebu terhadap adukan tersebut. Penambahan filler abu arang briket pada campuran beton yang bersifat pozolan. Sedangkan pohon tebu tumbuh subur di daerah tropis seperti di Indonesia ini. yang tidak mempunyai sifat seperti semen. Berdasarkan hasil penelitian diatas.2 untuk mengubah satu atau lebih sifat-sifat bahan penyusun beton baik dalam keadaan segar atau setelah keras. . seperti bahan tambah filler arang briket.

D.T-15-1990-03. untuk mengembangkan pengetahuan tentang teknologi beton terutama pemanfaatan filler abu arang briket sebagai bahan tambah. berasal dari Boyolali. 7. 5. . Agregat kasar (batu pecah) dan agregat halus (pasir). 2. 7. Semen yang digunakan adalah semen Portland.4. Abu ampas tebu berasal dari PG. jenis I merk Holcim. C. Penelitian ini diharapkan dapat membuktikan. Manfaat teoritis. Faktor air semen yang digunakan 0. 10 %. Batasan Masalah Agar tidak terjadi perluasan dalam pembahasan tugas akhir ini. 12. Rumusan Masalah Rumusan masalah yang diambil dalam penelitian ini adalah seberapa besar pengaruh penambahan filler abu ampas tebu dan abu arang briket terhadap kuat tekan dan kuat tarik beton. Manfaat penelitian Manfaat penelitian ini antara lain : a).3 B. Tasik Madu di Karanganyar. Metode mix design menggunakan Metode SK. Tujuan penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kuat tekan dan kuat tarik beton yang dihasilkan dengan menggunakan bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket 2. bahwa pemakaian bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket mampu menambah kuat tekan dan tarik beton yang lebih baik. Pengujian kuat tekan dan tarik beton tidak menggunakan tulangan.SNI. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Filler abu arang briket didapat dari PT. Skatex di Karanganyar. b). Persentase variasi campuran abu ampas tebu dan abu arang briket adalah 0 %. 3. Benda uji berupa silinder berdiameter 15 cm dan tinggi 30 cm.5 %. 8. 9. 6.5 % dari berat semen. maka penulis memberikan batasan-batasan masalah pada penelitian sebagai berikut : 1. 4.

5 . Jumlah seluruh benda uji yaitu (3 x 4 x 4) x 2 = 96 benda uji. Tinjauan analisis pada kuat tekan dan kuat tarik beton.h=30 E.5 . Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta. 11.5 7.T-15-1990-03.5 . Variasi campuran bahan tambah yang digunakan untuk adukan beton dan variasi perendaman seperti pada Tabel I. 14. Penelitian yang dilakukan oleh Murgiyanto (2003) adalah tinjauan pemakaian abu batubara terhadap karakteristik beton dengan menggunakan faktor air semen 0.1. Penelitian tersebut untuk mengetahui pengaruh bahan tambah larutan gula dan abu arang briket batubara terhadap kuat tekan beton mutu tinggi.5 . 13.1. . 12. Keaslian Penelitian Penelitian beton dengan bahan tambah abu batu bara telah dilakukan oleh Murgiyanto (2003). Umur pengujian kuat tekan dan kuat tarik beton benda uji silinder beton dilaksanakan pada umur 14 hari. Rincian jumlah benda uji untuk kuat tekan dan tarik beton. 10 . Umur pengujian (hari) Fas Abu Ampas Tebu (%) Abu Arang Briket (%) Jumah total benda uji Ukuran benda uji (cm) 0 14 hari 0. 10 .12.5 3 9 27 9 48 x 2 = 96 d=15. Jumlah benda uji 3 buah tiap variasi abu ampas tebu dan abu arang briket. Penelitian lain tentang analisis kuat tekan beton dengan penambahan larutan gula dan abu arang briket batubara pernah diteliti oleh Muctar Rifai (2005). Untuk perencanaan campuran menggunakan metode SK. 10 .5 7.4 10. di Laboratorium Bahan Konstruksi Teknik.4.4 7.5 Jumlah benda uji 0 7.SNI.12.12. 10 . Tabel I.45.12. Dalam penulisan tugas akhir ini dikaji tentang pengaruh penambahan bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket terhadap kuat tekan dan kuat tarik beton dengan menggunakan fas 0.

keawetan dan sifat beton bergantung pada sifat bahan dasar penyusunnya. 1996). (Tjokrodimuljo. (Subakti. mulai dari bahan kimia tambah. Umum Beton merupakan suatu material yang sangat sering dijumpai. Jadi dapat diambil kesimpulan. maka akan didapat suatu fungsi beton maksimum. air dan kadang-kadang memakai bahan tambah yang sangat bervariasi. 1995) Kemajuan pengetahuan tentang beton telah dapat memenuhi berbagai tuntutan pembangunan. Semakin modern suatu bangsa. bahwa kegiatan sehari-hari sering dipengaruhi oleh dampak perkembangan teknologi beton. Pengertian Beton Beton merupakan campuran antara semen. misalnya dengan pemanfaatan bahan-bahan lokal yang didapat di daerah tertentu dengan mengubah perbandingan bahan dasarnya. Beton yang bermutu sangat baik merupakan material yang sangat awet dan bebas dari pemeliharaan untuk beberapa tahun. Hampir pada setiap aspek kegiatan pembangunan sehari-hari tergantung pada beton. 5 . dan gedung yang sering ditempati. 1996). jembatan. Dengan perencanaan yang tepat dan sesuai rencana serta pengontrolan pada pemilihan material yang baik. Kekuatan. Campuran tersebut bila dituangkan dalam cetakan kemudian dibiarkan maka akan mengeras seperti batuan. maka peranan teknologi tentang beton akan sangat dominan dan sangat berpengaruh pada proses pembangunan yang menggunakan teknologi beton. baik secara langsung maupun tidak langsung. yang diakibatkan oleh reaksi kimia antara air dan semen. nilai perbandingan bahan-bahannya. B. agregat.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. cara pengadukannya maupun cara pengerjaannya selama penuangan adukan beton dan cara perawatan selama proses pengerasan. maka akan menghasilkan suatu mutu beton yang dapat memenuhi persyaratan. (Tjokrodimuljo. Sebagai contoh jalan. serat sampai bahan bangunan non kimia pada prosentase tertentu.

1996 ). Sifat – Sifat Beton Sifat beton merupakan hal yang erat kaitannya dengan kualitas beton yang dituntut untuk suatu tujuan konstruksi. 2) Beton segar mengalami proses pengerutan saat terjadi proses pengeringan dan beton mengeras mengalami pengembangan jika basah. 3) Beton segar dapat dengan mudah diangkut maupun dicetak 4) Akibat kuat tekannya tinggi maka jika dikombinasikan dengan baja tulangan (yang kuat tariknya tinggi) maka dapat dikatakan mampu dibuat untuk struktur berat. 3) Beton keras mengembang dan menyusut bila terjadi perubahan suhu sehingga perlu kelonggaran untuk mencegah retak-retak akibat perubahan suhu.1996). 5) Beton segar dapat disemprotkan dipermukaan beton lama yang retak maupun diisikan kedalam retakan beton dalam proses perbaikan. Sifat-sifat beton pada umumnya digolongkan menjadi dua. yaitu sifat yang berhubungan langsung dengan kelebihan beton dan sifat yang berhubungan dengan kekurangan beton ( Tjokrodimuljo. . 1. 2) Harga relatif murah. Kekurangan beton antara lain : 1) Beton mempunyai kuat tarik rendah sehingga mudah retak oleh karena itu perlu diberi tulangan. Diharapkan dari suatu konstruksi adalah hasil yang didapat sesuai harapan secara maksimal tetapi secara ekonomis tidak terjadi pemborosan. Sifat umum beton Secara umum beton mempunyai sifat kebaikan dan kekurangan tertentu jika dibandingkan dengan bahan-bahan lain (Tjokrodimuljo. Kelebihan beton antara lain : 1) Beton termasuk bahan yang berkekuatan tekan tinggi.6 C. 6) Beton segar dapat dipompakan sehingga memungkinkan untuk dituang pada tempat-tempat yang sulit. 7) Beton termasuk tahan aus dan tahan kebakaran sehingga biaya perawatan termasuk rendah.

Dalam praktek. . sebagaimana baja dan bahan-bahan lain.7 4) Beton sulit untuk kedap air secara sempurna sehingga selalu dapat dimasuki air. c). 5) Beton bersifat getas (tidak daktail) sehingga harus dilindungi dan didetail secara seksama agar diperoleh struktur yang komposit. Beton berubah bentuk sebagian mengikuti regangan elastis dan sebagian mengalami regangan plastis. Biasanya ini tidak diperhitungkan dalam perencanaan struktur beton. Perubahaan bentuk akibat pembebanan Bilamana beton dibebani. kuat geser beton selalu diikuti oleh kuat tekan. Besarnya kuat tarik dan lentur Kuat tarik beton berkisar seperdelapan belas kuat tekan pada umur yang masih muda dan berkisar sepersepuluh sesudahnya. Brook. Modulus elastisitas Yang menjadi tolok ukur yang umum dari sifat elastis bahan adalah modulus elastisitas yang merupakan perbandingan dari tekanan yang diberikan dan perubahan bentuk persatuan panjang sebagai akibat dari tekanan yang diberikan. perubahaan bentuk terjadi dan bertambah sesuai dengan pertambahan beban. 2.M. dan air yang mengandung garam dapat merusak beton. bahkan di dalam pengujian tidak mungkin menghilangkan elemen lentur (Murdock & K. e). Sifat khusus beton Sifat secara khusus bagi beton adalah sifat-sifat yang ditinjau atau berhubungan dengan : a). b). Kuat Tekan Kuat tekan beton lebih besar daripada kuat tariknya. Besarnya kuat geser. tarik dan lentur. Kuat tekan ini selalu bertambah bersamaan dengan bertambahnya umur beton. 1991) d).

1996). Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas beton antara lain : 1. kuat tekan beton akan rendah. Jumlah semen Beton dengan jumlah kandungan semen tertentu mempunyai kuat tekan tinggi. Pencapaian nilai kuat tekan beton yang maksimal harus dipertimbangkan hal-hal yang mempengaruhi kualitas beton tersebut. berarti jumlah air juga sedikit. Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Beton Kesempurnaan semua sifat dasar beton dicapai dengan tidak meninggalkan segi ekonomis. kekuatan beton semakin tinggi. Ideal Dipadatkan dengan alat getar Kuat tekan beton Dipadatkan dengan tangan Padat penuh tidak padat Faktor air . Namun jika jumlah . dan adukan beton sulit didapatkan. Hal ini terjadi karena kesulitan dalam pemadatan adukan beton. serta murah dari segi ekonomisnya. akan tetapi dibawah faktor air semen tertentu.1.8 D.semen Gambar II. sehingga kuat beton rendah. Walaupun semakin rendah faktor air semen. karena penggunaa beton yang diharapkan yaitu dengan kualitas yang baik dan mempunyai kuat tekan tinggi. 1996) 2. makin rendah kuat tekan betonnya. Hubungan antara faktor air semen dan kuat tekan silinder beton (Tjokrodimuljo. Semakin besar faktor air semen. Pada jumlah semen yang terlalu sedikit. Faktor air semen Faktor air semen adalah angka yang menyatakan perbandingan antara berat air dengan berat semen. sehingga beton menjadi kurang padat (Tjokrodimuljo.

sedangkan gradasi butiran juga sangat mempengaruhi kekuatan beton. gradasi agregat dengan ukuran butiran yang bervariasi berarti sedikit pula pori-pori betonnya sehingga memerlukan jumlah pasta yang sedikit untuk mengisi rongga-rongga antar butirnya dan secara teoritis kekuatannya lebih tinggi (Tjokrodimuljo. Namun apabila dikehendaki kekuatan beton yang lebih tinggi. diperlukan agregat yang lebih kuat. Sifat agregat Sifat agregat yang berpengaruh terhadap kekuatan beton adalah kekuatan agregat. 1996). Pengaruh kekuatan agregat terhadap kekuatan beton. sehingga penambahan semen berarti pengurangan nilai faktor air semen. 1996) 3. .2. sebenarnya tidak begitu besar karena pada umumnya kekuatan agregat lebih tinggi daripada pastanya. Beton dengan kandungan semen lebih banyak mempunyai kuat tekan lebih tinggi. Kekasran permukaan agregat mempengaruhi daya lekat dan besarnya tegangan saat retak-retak beton mulai terbentuk.1996). kekasaran permukaan agregat dan gradasi butir agregatnya. Gambar II. yang berakibat penambahan kuat tekan (Tjokrodimuljo.9 semen terlalu berlebihan berarti jumlah air juga berlebihan sehingga beton mengandung banyak pori dan akibatnya kuat tekan beton rendah. Hubungan antara kuat tekan beton dan jumlah semen ( Tjokrodimuljo.

Selama proses ini. hal inilah yang menyebabkan semakin sulitnya proses hidrasi seiring dengan bertambahnya umur beton.1996) . butir-butir semen akan menghasilkan endapan. Yang dimaksud umur beton adalah dihitung sejak umur beton dibuat. Gambar II. Hal ini disebabkan oleh reaksi kimia yang terjadi antara bahan-bahan penyusun beton. Pengaruh suhu pada laju kuat tekan beton (Tjokrodimuljo. Pengaruh jenis agregat terhadap kuat tekan beton (Tjokrodimuljo. Kenaikan kekuatan beton tersebut mula-mula cepat kemudian semakin melambat selaras dengan umur betonnya.10 Gambar II. 4. 1996) 4. dan pada permukaan endapan butiran semen ini akan membuat difusu air ke bagian dalam. terutama antara semen dan air yang mengalami proses hidrasi. 3. Umur beton Kuat tekan beton bertambah sesuai dengan bertambahnya umur beton.

Semen portland yang dalam penggunaannya persyaratan sangat tahan terhadap sulfat. 1996) . Pengaruh umur beton terhadap laju kenaikan kuat tekan beton pada beberapa fas (Tjokrodimuljo. (Sumber : Tjokrodimuljo. Jenis semen Menurut PUBI. 5. Semen portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan panas hidrasi yang rendah. Departemen Pekerjaan Umum (1982) membagi semen portland dalam lima jenis yaitu : Jenis semen Jenis I Jenis II Jenis III Jenis IV Jenis V Karakteristik Umum Semen portland untuk penggunaan umum yang tidak memerlukan persyaratan khusus seperti yang disyaratkan pada jenis-jenis lain. Semen portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan kekuatan awal yang tinggi setelah pengikatan terjadi. Semen portland yang dalam penggunaannya memerlukan ketahanan terhadap sulfat dan panas hidrasi.1996) 5.11 Gambar II.

1982). Bahan tambah ialah bahan selain unsur pokok beton (air. sebelum. penampilan beton bila mengeras. mengurangi retak-retak pengerasan dan menambah kuat tekan beton. pozolan dan serat (Tjokrodimuljo. Bahan Tambah Beton Dalam pembuatan konstruksi beton. untuk mengubah beberapa sifat beton dan memperoleh sifat-sifat khusus yang diinginkan (Departemen Pekerjaan Umum. semen dan agregat) yang ditambahkan pada adukan beton. Bahan kimia (berupa bubuk atau cairan) ini dicampurkan ke dalam adukan beton dengan jumlah tertentu selama pengadukan. 1. Grafik Kuat tekan beton untuk berbagai jenis semen (Tjokrodimuljo. menghemat harga beton menambah daktalitas (mengurangi sifat getas). 1996) E. segera atau selama pengadukan beton (Tjokrodimuljo. 1996). . Penggunaan bahan tambah (admixture) harus didasarkan pada alasanalasan yang tepat misalnya memperbaiki kelecakan beton. 6. terutama untuk pembuatan beton di daerah yang beriklim tropis seperti Indonesia. 1996). Penggunaan bahan tambah tersebut dimaksudkan untuk memperbaiki dan menambah sifat beton sesuai dengan yang diinginkan. Bahan tambah kimia Bahan tambah kimia adalah suatu bahan kimia yang dapat membantu mempermudah dalam proses pembuatan beton. Bahan tambah beton ini dapat berupa bahan tambah kimia.12 Gambar II. bahan tambah merupakan bahan yang dianggap penting.

d. 2. maka senyawa tersebut akan bereaksi dengan Calsium Hidroksida Ca(OH)2 pada suhu biasa membentuk kalsium hidrat yang bersifat hidrolis. 2) Bahan kimia tambahan dengan fungsi ganda. yaitu : 1) Bahan kimia tambahan yang digunakan untuk mengurangi jumlah air campuran sampai sebesar 12% atau bahkan lebih. Bahan pozolan tidak mempunyai sifat mengikat seperti semen. . Selain lima jenis di atas. silika fume dan lain-lain.13 Menurut Persyaratan Umum Bahan Bangunan Indonesia (PUBI). Jenis B : Bahan tambah kimia untuk memperlambat proses ikatan dan pengerasan beton. Jenis C : Bahan tambah kimia untuk mempercepat proses ikatan dan pengerasan beton. yang merupakan sisa pembakaran dari tungku ataupun hasil pemanfaatan limbah yang diolah menjadi abu yang mengandung silika reaktif dengan melalui proses pembakaran. seperti abu terbang (fly ash). 1996). e. untuk menghasilkan adukan beton dengan kekentalan sama (air dikurangi sampai 12% lebih namun adukan beton tidak bertambah kental). yaitu : 1) Pozolan buatan. Jenis D : Bahan kimia tambahan yang berfungsi ganda yaitu mengurangi air dan memperlambat proses ikatan dan pengerasan beton. ada dua jenis lain yang lebih khusus. Jenis E : Bahan tambah kimia berfungsi ganda yaitu untuk mengurangi air dan mempercepat proses ikatan dan pengerasan beton. Menurut pembentukannya pozolan dibedakan menjadi dua jenis. Jenis A : Bahan kimia tambahan untuk mengurangi jumlah air yang dipakai. Dengan pemakaian bahan ini diperoleh adukan dengan faktor air semen lebih rendah pada nilai slump yang sama. c. 1982 bahan kimia tambahan dibedakan menjadi lima jenis antara lain : a. akan tetapi dalam bentuknya yang halus dengan adanya air. abu sekam padi (rice husk ash). b. (Tjokrodimuljo. yaitu mengurangi air sampai 12% atau lebih. memperlambat pengikatan awal. Pozzolan Pozolan merupakan bahan tambah mineral yang mengandung silika (SiO2) dan alumina (Al2O3).

Serat Tujuan utama penambahan serat ke dalam beton adalah untuk menambah kuat tarik beton yang sangat rendah berakibat beton mudah retak.14 2) Pozolan alam. Abu arang briket batubara termasuk bahan kimia jenis E. yang merupakan sedimentasi dari abu atau lava gunung berapi yang mengandung silika aktif yang bila dicampur dengan kapur padam akan mengadakan proses sedimentasi. pemberian serat pada beton tidak banyak menambah kuat tekan beton. (Tjokrodimuljo. Pemakaian serat pada beton lebih tahan retak dan tahan terhadap benturan. namun hanya menambah daktalitas. 1996) . dan mengandung pozolan. dan mengurangi keawetan beton. 3.

agregat kasar. banyaknya pemakaian beton disebabkan terbuat dari bahan-bahan yang umumnya mudah didapat serta mudah diolah sesuai dengan bentuk yang diinginkan. yaitu yang kuat tekannya tinggi. 15 .BAB III LANDASAN TEORI A. mudah dikerjakan. Kesulitan timbul karena di dalamnya banyak parameter yang harus diperhitungkan. murah. air dan bahan tambah (admixture) bila diperlukan. tahan lama dan tahan aus. Bahan Penyusun Beton Dasar penyusun material beton normal terdiri dari semen. cara pemadatan dan cara perawatan selama proses pengerasan. Perencanaan campuran beton dimaksudkan untuk mendapatkan beton yang sebaik-baiknya. agregat halus. Umum Pada saat ini. Untuk pembuatan beton. perbandingan bahan-bahan yang dipakai. Bahan-bahan dasar penyusun beton harus diketahui oleh perencana. sehingga dapat mengembangkan dan memilih bahan penyusun yang baik serta dapat menentukan komposisi yang tepat. penambahan bahan dari sifat-sifat bahan dasar yang dipakai. pengontrolan dan perbandingan yang tepat untuk semua bahan serta untuk perancangan campuran beton mutu tinggi lebih kompleks bila dibandingkan dengan perancangan campuran beton normal. cara pengadukan maupun pengerjaan selama penuangan adukan beton. Tahap-tahap penelitian harus diselesaikan sesuai standar penelitian yang baku untuk mendapatkan material yang berkualitas baik. Produksi beton yang efektif dapat dicapai dengan pemilihan. misalnya: ukuran maksimum agregat. B. material-material tersebut harus melalui tahap penelitian dan berkualitas baik. beton merupakan bahan bangunan yang banyak dipakai secara luas.

Semen portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan kekuatan awal yang tinggi setelah pengikatan terjadi. yaitu : Trikalsium Silikat (C3S). Jenis-jenis semen Portland. Semen-semen itu adalah : 1) Oil well cement. 1995). menghasilkan bahan yang tahan terhadap air (water resistance) dan stabil tahan air.16 1.1. juga telah dibuat semen dengan tujuan khusus (Subakti. sebagai hasil dari pembakaran pada suhu tinggi terhadap bahan-bahan mentah pembentuk semen. 1996) Selain semen-semen yang disebut di atas. Dikalsium Silikat (C2S). semen ini digunakan untuk penyemenan sumur minyak yang dalam. terutama terdiri dari silikat calsium yang bersifat hidrolis. kedua sifat fisis ini memiliki fungsi sebagai bahan perekat. Adukan dari semen halus ini tahan sampai tekanan 1000 atmosfir. Semen ini sangat cepat proses hidrasinya karena itu digunakan serbuk khusus untuk menghambat proses hidrasi semen ini. Semen portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan panas hidrasi yang rendah. Perubahan komposisi kimia semen dengan mengubah 4 komponen utama semen. sebagai berikut : Tabel III. Semen portland yang dalam penggunaannya persyaratan sangat tahan terhadap sulfat. Sesuai dengan tujuan pemakaiannya PUBI (1982) membagi semen portland dalam lima jenis seperti yang dapat dilihat pada Tabel III. Semen hidrolis adalah semen yang akan mengeras apabila bereaksi dengan air. Jenis semen Jenis I Jenis II Jenis III Jenis IV Jenis V Karakteristik Umum Semen portland untuk penggunaan umum yang tidak memerlukan persyaratan khusus seperti yang disyaratkan pada jenis-jenis lain. Semen portland adalah semen hidrolis yang dihasilkan dengan penghaluskan clinker. Clinker adalah bahan baku yang dibutuhkan dalam pembuatan semen.1. Semen portland yang dalam penggunaannya memerlukan ketahanan terhadap sulfat dan panas hidrasi. Trikalsium Aluminat (C3A) dan Tetrakalsium Alumina Ferit (C4AF). Jenis-jenis semen Portland. Semen Portland Semen merupakan bahan yang mempunyai sifat adhesif dan kohesif. (Sumber : Tjokrodimuljo. dengan gips sebagai bahan tambahnya. menghasilkan beberapa jenis semen sesuai dengan tujuan pemakaiannya. .

1999). Jenis semen ini tidak mengandung alkali dalam komposisinya. Agregat merupakan bahan utama pembentuk beton disamping pasta semen. oleh karena itu kualitas agregat berpengaruh terhadap kualitas beton (Nugroho. yang dapat mempengaruhi ikatannya dengan pasta semen. quarsa pasir dan kaolin. Agregat beton dapat berasal dari bahan alami. Menurut Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia. Sifat yang paling penting dari suatu agregat (batu-batuan. . kerikil. 2) Tidak mengandung tanah dan kotoran lain yang lolos ayakan 0. porositas dan karakteristik penyerapan air yang mempengaruhi daya tahan terhadap proses pembekuan waktu musim dingin dan agresi kimia. semen ini digunakan di negara-negara penghasil agregat yang reaktif terhadap iklim. kuat dan bersudut. pasir dan lain-lain) ialah kekuatan hancur dan ketahanan terhadap benturan.075 mm.M. 1983). 2. Agregat halus beton dapat berupa pasir alami sebagai disintegrasi alami atau berupa pasir buatan (artifical sand) yang dihasilkan dari alat-alat pemecah batu.17 2) Semen dengan kadar alkali rendah. agregat halus mempunyai butiran yang lolos ayakan 4.3-3. Agregat halus. 4 standar ASTM) dan lebih besar dari 0.5 dan standar ASTM C 33-97. oleh karena itu penggilingan serbuk mahal.1-2. Agregat halus bersama dengan semen dan air membentuk mortar yang akan mengikat agregat kasar menjadi satu kesatuan yang kuat dan kompak. agregat halus harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : 1) Butir-butirannya tajam. Selain persyaratan teknis yang harus dipenuhi. Bab 3 Pasal 3.75 mm (No. hal lain yang perlu diperhatikan dalam pemilihan jenis agregat beton mengacu pada Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI) tahun 1971 N. 2a).075 mm. Brook. 3) Semen putih. Kadar agregat dalam campuran berkisar antara 70-75% dari volume total beton. Agregat. jenis semen ini dibuat dari batu kapur yang bebas besi. buatan (batu pecah) maupun bahan sisa produk tertentu. serta ketahanan terhadap penyusutan (Murdock dan K.

2b). 6) Bersifat kekal. Agregat kasar adalah kerikil sebagai disintegrasi alami batuan atau berupa batu pecah yang diperoleh dari industri pemecah batu dan mempunyai ukuran antara 5 sampai 40 mm. tahun 1982.18 3) Tidak mengandung garam yang menghisap air udara. tidak hancur. 3. 6) Besar butir agregat maksimum tidak boleh lebih dari 1/5 jarak terkecil antar bidang samping cetakan. 3) Tidak mengandung zat-zat yang merusak beton. 5) Harus mempunyai variasi besar butir atau gradasi yang baik. yaitu tidak hancur oleh pengaruh cuaca. 2) Agregat tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1% (ditententukan terhadap berat kering). 4) Tidak mengandung zat organik karena dapat mengurangi mutu beton. Agregat kasar yang akan dicampurkan sebagai adukan beton harus mempunyai syarat mutu yang ditetapkan. 1/3 tebal plat atau ¾ jarak bersih minimum antara batang tulangan. bila kadar lumpur lebih dari 1% agregat harus dicuci. serta untuk menjadi bahan pelumas antara butir-butir agregat agar lebih mudah dikerjakan dan dipadatkan. Agregat kasar bersifat kekal. maka jumlah butir pipih tidak boleh lebih 20% dari agregat seluruhnya. Menurut persyaratan umum bahan bangunan di Indonesia. 4) Kekerasan dari butir-butir agregat kasar diperiksa dengan bejana penguji Los Angeles. maka agregat harus memenuhi syarat sebagai berikut : 1) Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir keras dan tidak berpori apabila agregat kasar mengandung butir pipih. Agregat kasar. Air Air merupakan bahan pembuat beton yang sangat penting. Air diperlukan untuk bereaksi dengan semen. 7) Agregat harus mempunyai sifat reaktif terhadap alkali. 5) Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir yang beraneka ragam besarnya. seperti zat-zat yang reaktif alkali. Untuk .

kapur.(Sukandarrumidi. Kandungan abu akan tebawa barsama gas pembakaran melalui ruang bakar dan daerah konversi dalam bentuk abu terbang. Abu arang briket. Dapat ditambahkan bahwa flyash dan slag (sisa benda tambang) yang berasal dari dapur etus dapat digolongkan sebagai pengisi pori-pori meskipun bahan ini digunakan karena sifat pozolannya. Bahan pengisi (Filler) Bahan pengisi adalah suatu bahan berbutir halus yang lewat ayakan No. Sekitarc 20% dalam bentuk abu dasar dan 80% dalam bentuk abu terbang. Didalam peranannya sebagai pengisi. c) Air tidak boleh mengandung Chlorida (Cl) lebih dari 0. Abu arang briket adalah abu terbang limbah pembakaran batubara yang keluar dari tabung pembakaran. Pemakaian air yang terlalu banyak akan menimbulkan gelembung air sehingga beton menjadi porous. kelenturan plastis. bentonite. Abu terbang memiliki ukuran yang blebih halus dan warna lebih terang dari abu dasar. 1996).5 gram/liter. 1995) . Selain itu dapat menurunkan kekuatan beton. (Tjokrodimuljo. tanah diatomaceous. Bahan filler dapat berupa abu batu. 200. air hanya diperlukan 25% dari berat semen saja.19 bereaksi dengan semen. Selain itu air juga digunakan untuk perawatan beton dengan cara pembasahan setelah pengecoran. kaolin dan tepung batu menguntungka untuk beton tumbuk yang kasar/kaku. 4. permeabilitas dan ketahanan terhadap gaya luar serta pengaruh cuaca. Portland Cement atau bahan lain (Totomiharjo. 5. b) Air tidak boleh mengandung garam-garaman lebih dari 15 gram/liter. Persyaratan air yang digunakan dalam campuran beton adalah sebagai berikut : a) Air tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 2 gram/liter. kelebihan air juga dapat memberikan penyusutan yang besar pada beton. jumlah rongga udara. 1994). 30 US Standar Sieve dan 65% lewat ayakan No. yang kekurangan partikel halus. bahan-bahan seperti kapur padam. Pemakaian bahan pengisi berpengaruh pada kekuatan.

Penetapan kuat tekan beton yang disyaratkan (f’c) pada umur tertentu.SNI. Abu ampas tebu yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari Pabrik Gula Tasik Madu di Karanganyar Jawa Tengah.20 Abu arang briket didefinisikan sebagai sisa pembakaran dari tungku pemanas yang dikeluarkan dari ruang perapian suatu ketel uap gas buang yang lolos saringan No. C.T-15-1990-03 (Tjokrodimuljo. Skatex yang berada di Karanganyar. Adapun langkah-langkah pokok perencanaan campuran dengan metode SK. Na2O. Fe2O3. agar hasil yang diperoleh dari campuran percobaan tidak menyimpang terlalu jauh. 2.20%. Perencanaan campuran menggunakan metode SK. Perencanaan Campuran Beton Perencanaan adukan beton pada setiap hasil hitungan harus dikontrol dengan uji coba berupa campuran pekerjaan (trial mixes) untuk memastikan hasilnya. Di Indonesia yang dimaksudkan dengan kuat tekan beton yang disyaratkan ialah kuat tekan beton dengan kemungkinan lebih rendah dari nilai itu hanya sebesar 5% saja. Filler abu arang briket yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari PT. Penetapan nilai deviasi standar (s) . Kuat tekan beton yang disyaratkan ditetapkan sesuai dengan persyaratan perencaaan strukturnya dan kondisi setempat. Hal ini karena bahan-bahan dasar beton sangat variabel dan banyak. dari sifat bahan tersebut hanya perhitungan awal yang berguna untuk membuat campuran percobaan. 6.K2O. antara lain : SiO2. CaO.SNI. Abu ampas tebu bersifat sebagai pengikat dalam campuran beton. Al2O3. 1996) adalah sebagai berikut : 1. Abu ampas tebu. Abu ampas tebu adalah hasil sisa penggilingan tebu yang ada di pabrik gula kemudian dibakar. Abu yang terjadi pada pembakaran batubara akan membentuk oksida-oksida. 200. Kadar abu batubara di Indonesia biasanya hanya berkisar antara 5%.T-15-1990-03 yang dalam perencanaan ini digunakan tabel-tabel dan grafik. Abu arang briket yang bersifat pozolan merupakan additive mineral yang baik untuk beton. MgO.

Tingkat pengendalian mutu pekerjaan Sd (Mpa) 2. maka persyaratannya (selain yang disebut diatas) jumlah data hasil uji minimum 30 buah. Penghitungan nilai tambah (margin) (M) Jika nilai tambah ini sudah ditetapkan sebesar 12 Mpa maka langsung ke langkah (4). Jika pelaksana tidak mempunyai catatan/pengalaman hasil pengujian beton pada masa lalu yang memenuhi persyaratan (termasuk data hasil uji kurang dari 15 buah). Tabel. Satu data hasil uji kuat tekan adalah hasil rata-rata dari uji tekan dua silinder yang dibuat dari contoh beton yang sama dan diuji pada umur 28 hari atau umur pengujian lain yang ditetapkan.03 20 1. Tabel.III. 1996) 3. 2. III. T-15-1990-03) b. Penetapan nilai standar deviasi standar ini berdasar pada pengalaman praktek pelaksanaan pada waktu yang lalu.3.6 Cukup 7.2. Makin baik mutu pelaksanaan makin kecil nilai standar deviasi standarnya. Jika pelaksana mempunyai catatan data hasil pembuatan beton serupa pada masa yang lalu. (f’c+12). a.2 Baik 5. Nilai deviasi standar untuk berbagai tingkat pengendalian mutu pekerjaan. . maka nilai margin langsung diambil sebesar 12 MPa.16 <15 Lihat butir b (SK. untuk pembuatan beton mutu sama dan menggunakan bahan dasar yang sama pula.5 Sangat baik 4.4 Tanpa kendali (Tjokrodimuljo.08 15 1.0 25 1. SNI.0 Jelek 8. lihat Tabel.21 Deviasi standar ditetapkan berdasarkan tingkat mutu pengendalian pelaksanaa pencampuran betonnya.III.8 Memuaskan 3. Jika jumlah hasil uji kurang dari 30 buah maka dilakukan koreksi terhadap nilai deviasi standar dengan suatu faktor pengali. Faktor pengali deviasi standar Jumlah data Faktor pengali 30 1.

yaitu jenis I. Sd dengan : M = nilai tambah ( Mpa ) k = tetapan statistic yang nilainya tergantung pada prosentase hasil uji yang lebih rendah dari f’c. Pada langkah ini ditetapkan apakah dipakai semen biasa atau semen yang cepat mengeras. dalam hal ini diambil 5 % dari nilai k = 1. atau dengan kata lain sering disebut semen cepat mengeras.64 Sd = deviasi standart ( Mpa ) 4. adapun jenis III merupakan jenis semen yang dipakai untuk struktur yang menuntut persyaratan kekuatan awal yang tinggi. Tetapkan faktor air semen dengan salah satu dari dua cara berikut : a. MPa = nilai tambah. MPa 5. Penetapan jenis semen Portland Menurut PUBI 1982 di Indonesia semen Portland dibedakan menjadi 5 jenis. 6. .22 Jika nilai tambah dihitung berdasarkan nilai deviasi standar Sd maka dilakukan dengan rumus berikut : M = k . Menetapkan kuat tekan rata-rata yang direncanakan Kuat tekan beton rata-rata yang direncanakan diperoleh dengan rumus : f’cr = f’c+ M dengan : f’cr = kuat tekan rata-rata. Berdasarkan jenis semen yang dipakai dan kuat tekan rata-rata silinder beton yang direncanakan pada umur tertentu ditetapkan nilai faktor air semen. Jenis I merupakan jenis semen biasa. IV dan V. 7. III. II. Mpa f’c M = kuat tekan yang disyaratkan. Penetapan jenis agregat Jenis kerikil dan pasir ditetapkan apakah berupa agregat alami (tak dipecahkan) ataukah agregat jenis batu pecah (crushed aggregate).

5 dan jenis semen dan agregat kasar yang biasa dipakai di Indonesia Jenis semen Semen portland tipe I atau semen tahan sulfat tipe II. Tabel. 4. keadaan keliling korosif b. Penetapan faktor air maksimum Agar beton yang diperoleh tidak cepat rusak misalnya. 7 Beton didalam ruang bangunan : a. 6 lihat tabel. tidak terlindung dari hujan dan terik matahari langsung b. III. ditetapkan nilai faktor air semen. III. T-15-1990-03) . SNI. mengalami keadaan basah dan kering berganti-ganti b. IV Semen Portland tipe III Jenis agregat kasar Batu tak dipecahkan Batu pecah Batu tak dipecahkan Batu pecah Batu tak dipecahkan Batu pecah Batu tak dipecahkan Batu pecah Kekuatan tekan (Mpa) Bentuk Pada umur (hari) benda uji 3 7 28 91 17 23 33 40 Silinder 19 27 37 45 Kubus 20 28 40 48 Silinder 23 32 45 54 Kubus 21 28 38 44 Silinder 25 33 44 48 Kubus 25 31 46 53 Silinder 30 40 53 60 Kubus (SK. maka perlu ditetapkan nilai faktor air semen maksimum. Perkiraan kuat tekan beton dengan faktor air semen 0. III.52 0.23 b. T-15-1990-03) 8. 4. SNI.60 0. 5. Persyaratan jumlah semen minimum dan faktor air semen maksimum untuk lingkungan khusus Jenis pembetonan berbagai macam pembetonan dalam Jumlah semen minimum per m3 beton (kg) 275 325 325 275 325 - Nilai faktor semen maksimum 0. Tabel.60 0.52 lihat tabel. terlindung dari hujan dan terik matahari langsung Beton yang masuk ke dalam tanah : a. keadaan keliling korosif disebabkan oleh kondensasi atau uap korosif Beton diluar ruangan bangunan : a.60 0. III. lihat Tabel. III. Penetapan faktor air semen maksimum dapat dilihat pada Tabel. jenis agregat kasar dan kuat tekan rata-rata yang direncanakan pada umur tertentu. dapat terpengaruh sulfat dan alkali dari tanah Beton yang kontinue berhubungan : air tawar dan air laut (SK. Jika nilai faktor air semen maksimum ini lebih rendah dari langkah (7) maka nilai faktor air semen maksimum ini yang dipakai untuk perhitungan selanjutnya. 5. III. Berdasar jenis semen yang dipakai.

III.2 < 1.45 0. Ketentuan minimum untuk beton bertulang kedap air Jenis beton Kondisi lingkungan berhubunga n dengan Air tawar Beton bertulang atau prategang Air payau Faktor air semen maksimum 0.0 < 0.24 Tabel. 280 300 350 0. 0.50 Air laut 0.0-1.2-0.5 290 330 380 0.5 1.2 270 310 360 0.50 0. SNI. 7.45 Tipe semen Kandungan semen minimum (kg/m3) Ukuran nominal maksimum agregat 40 mm 20 mm 300 280 340 290 330 380 330 370 Tipe I-V Tipe I + pozzolan (15-40%) atau Semen Portland Tipe II atau tipe V (SK. 6.55 .3 Kandungan semen minimal (kg/m3) Ukuran nominal agrgegat maksimum 40 mm Tipe I dengan atau tanpa pozzolan (1540%) Tipe I dengan atau tanpa pozzolan (1540%) Tipe I pozzolan (1540%) atau Semen Portland Pozzolan Tipe II atau tipe V 20 mm 10 mm Kadar gangguan sulfat Tipe semen fas 1.9 0.3-1. III.5 2. T-15-1990-03) Tabel. Ketentuan untuk beton yang berhubungan dengan air tanah yang mengandung sulfat Konsentrasi sulfat dalam bentuk SO3 Sulfat (SO3) Dalam tanah dlm air tanah (gr/ltr) Total SO3 SO3 (%) dlm camp air : tnh =2:1 (gr/lt) < 0.55 250 290 340 0.

50 0.0 3. dan slam yang diinginkan.45 4. 9. berdasarkan ukuran maksimum agregat. 1.1-5. Lanjutan Tipe pozzolan 40%) Semen Portland Pozzolan Tipe II tipe V Tipe II tipe V Tipe II tipe V *lapisan pelindung I (15atau 340 380 430 0. . Penetapan nilai slump Penetapan nilai slam dilakukan dengan memperhatikan pelaksanaan pembuatan.0 2. SNI.9-3.5 (Tjokrodimuljo. penuangan. jenis agregat.5 5. pengangkutan. 1996) 10.5 9. Tetapkan jumlah air Jumlah air yang diperlukan permeter kubik beton.5 7. 0.0 (SK.2-2. III.5 Maksimal 12. plat pondasi dan pondasi Pondasi telapak tidak bertulang. pemadatan maupun jenis strukturnya.0 > 2. kolom dan dinding Pengerasan jalan Pembetonan massal 15.0 Minimum 5.0 > 5. 8.45 3. di lihat pada dibawah ini yaitu table III.5 7. adapun pemadatan adukan dengan alat getar (triller) dapat dilakukan dengan nilai slam yang agak kecil.0 7. III.5-1. dan struktur di bawah tanah Plat.5 atau atau atau 290 330 330 330 370 370 380 420 420 0. 8. 7.25 Tabel.45 0. 5.0 2.0 > 5.5-5. Cara pengangkutan adukan beton dengan aliran dalam pipa yang dipompa dengan tekanan membutuhkan nilai slam yang besar.0 1. Penetapan nilai slump (cm) Pemakaian beton Dinding. T-15-1990-03) 9.0 2.1 1. balok. Nilai slam yang diinginkan dapat dilihat pada Tabel III.0-2. kaison. Tabel.

Penetapan besar butir agregat maksimum Penetapan besar butir agregat maksimum dilakukan berdasarkan nilai terkecil dari ketentuan –ketentuan berikut : a.26 Tabel. 13. . Tiga per empat kali jarak bersih minimum antar baja tulangan atau berkas baja tulangan atau tendon prategang atau selongsong. T-15-1990-03) 11.. III.180 225 250 195 225 175 205 (SK. Sepertiga kali tebal plat c. Hitung berat semen yang diperlukan Berat semen per meter kubik beton dihitung dengan membagi jumlah air dari langkah (10) dengan faktor air semen yang didapat dari langkah (7) dan (8). SNI. air payau dan air laut. misalnya lingkungan korosif.10 150 180 135 170 115 155 Slam (mm) 10 . Kebutuhan semen minimum ini ditetapkan untuk menghindari beton dari kerusakan akibat lingkungan khusus. 9. 14.60 205 230 180 210 160 190 60 . Perkiraan kadar air bebas (kg/m3) yang dibutuhkan untuk beberapa tingkat kemudahan pengerjaan adukan beton Besar ukuran maksimal kerikil (mm) 10 Batu tak dipecahkan Batu pecah 20 Batu tak dipecahkan Batu pecah 40 Batu tak dipecahkan Batu pecah Jenis agregat 0 . Seperlima jarak terkecil antara bidang samping cetakan 12. Kebutuhan semen minimum Kebutuhan semen minimum ditetapkan dengan tabel. b. Penyesuaian kebutuhan semen Apabila kebutuhan air semen yang didapat dari langkah (12) ternyata lebih sedikit daripada kebutuhan semen minimum (13) maka kebutuhan semen harus dipakai yang minimum (yang nilainya lebih besar).30 180 205 160 190 140 175 30 .

Penentuan daerah gradasi agregat halus Berdasarkan gradasinya (hasil analisis ayakan) agregat halus yang akan dipakai dapat diklasifikasikan menjadi 4 daerah. Tabel.100 60 . III.10 3 100 90 .34 5 . Pada langkah ini dicari nilai banding antara berat agregat halus dengan berat agregat campuran. nilai slam. b.100 15 .4 1. SNI.79 12 .100 55 .3 0. Penyesuaian jumlah air atau faktor air semen Jika jumlah semen ada perubahan akibat langkah (14) maka faktor air semennya berubah. dan daerah gradasi agregat halus.40 0 – 10 4 100 90 .27 15.15 Persen berat butir yang lewat ayakan 1 100 90 .90 35 . 10.100 95 .100 60 .15 (SK. 10.20 0 . faktor air semen. faktor air semen dihitung kembali dengan cara membagi jumlah air dengan jumlah air minimum. Batas gradasi pasir Lubang ayakan (mm) 10 4. Dalam hal ini dapat dilakukan dengan cara berikut : a. T-15-1990-03) 17.100 80 . Penetapan dilakukan dengan memperhatikan besar butir maksimumagregat kasar.2 0. .100 90 .10 2 100 90 .6 0.59 8 . 16.100 85 .100 75 .8 2. Perbandingan agregat halus dan agregat kasar Nilai perbandingan antara berat agregat halus dan agregat kasar diperlukan untuk memperoleh gradasi agregat campuran yang baik.100 75 .50 0 .70 15 .95 30 . Catatan : cara pertama akan menurunkan faktor air semen sedangkan cara kedua menaikan jumlah air yang diperlukan. Penentuan daerah itu didasarkan atas grafik gradasi yang diberikan dalam Tabel. III. Jumlah air disesuaikan dengan mengalikan jumlah semen dengan faktor air semen.30 0 .

Kebutuhan agregat campuran Kebutuhan agregat campuran dihitung dengan cara mengurangi berat beton permeter kubik dikurangi kebutuhan air dan semen. Penentuan berat jenis beton Dengan data berat jenis agregat campuran dari langkah (18) dan kebutuhan air tiap meter kubik betonnya maka dengan grafik hubungan kandungan air. berdasarkan hasil langkah (17) dan (20) Kebutuhan agregat halus dihitung dengan cara mengalikan kebutuhan agregat campuran dengan persentase berat agregat halusnya. 19. berdasarkan hasil langkah (20) dan (21) Kebutuhan agregat kasar dihitung dengan cara mengurangi kebutuhan agregat campuran dengan kebutuhan agregat halus. berat jenis agregat campuran dan berat beton dapat diperkirakan berat jenis betonnya. 22. 20. Berat jenis agregat campuran Berat jenis agregat campuran dihitung dengan rumus : Bj camp = Dengan : Bj campuran Bj agregat hls Bj agregat ksr P K = = = = = Berat jenis agregat campuran Berat jenis agregat halus Berat jenis agregat kasar Persentase agregat halus terhadap agregat campuran Persentase agregat kasar terhadap agregat campuran P K x Bj agregat halus + x Bj agregat kasar 100 100 Berat jenis agregat halus dan agregat kasar didapat dari hasil pemeriksaan laboratorium. . Hitung berat agregat kasar yang diperlukan.70 gr/cm3 untuk agregat pecahan. 18. Hitung berat agregta halus yang diperlukan.60 gr/cm3untuk agregat tak pecah/alami dan 2. 21.28 Berdasarkan data tersebut dan grafik persentase agregat dapat diperoleh persentase agregat halus terhadap berat agregat campuran. namun jika tidak ada dapat diambil sebesar 2.

1996). b. Beban maksimum yang ditunjukkan oleh jarum petunjuk dicatat. d. 1. dilakukan pengujian kuat tekan beton.Da ) x D/100 = C + ( Ck – Ca ) x C/100 = D + ( Dk . ukuran maksimum batuan. Benda uji diletakkan pada mesin penekan dan posisinya diatur agar supaya tepat berada ditengah-tengah plat penekan. Dimana : B C D Ca Da Ck Dk = jumlah air (kg/m3) = jumlah agregat halus (kg/m3) = jumlah kerikil (kg/m3) = absorpsi air pada agregat halus (%) = absorpsi agregat kasar (%) = kandungan air dalam agregat halus (%) = kandungan air dalam agregat kasar (%) Air Agregat halus Agregat kasar = B – ( Ck . . Prosedur pengujian kuat tekan beton menggunakan Standart Test Methode For Commpressive of Cylindrical Concrete. 2. c.( Dk . Kuat Tekan Beton Untuk mengetahui kuat tekan beton yang telah mengeras yang disyaratkan. pengangkutan. cara pengerjaan (campuran. Pembebanan dilakukan secara perlahan-lahan secara continue dengan mesin hidrolik sampai benda uji mengalami kehancuran (jarum petunjuk berhenti kemudian salah satunya bergerak turun). Koreksi harus selalu dilakukakan minimum satu kali per hari.Da ) x D/100 D.29 Dalam perhitungan diatas agregat halus dan agregat kasar dianggap dalam keadaan jenuh kering muka. Adapun langkah-langkah pengujian sebagai berikut : a. 3. Benda uji ditimbang dan dicatat beratnya. gradasi batuan. Kuat tekan beton antara lain tergantung pada : faktor air semen. pemadatan dan perawatan) dan umur beton (Tjokrodimuljo.Ca ) x C/100 . sehingga dilapangan yang pada umumnya keadaan agregatnya tidak jenuh kering muka maka harus dilakukan koreksi terhadap kebutuhan bahannya. bentuk batuan.

30

Menurut Murdock dan K.M. Brook (1991), beton dapat mencapai kuat tekan 80 MPa atau lebih, bergantung pada perbandingan air dan semen dan tingkat pemadatannya. Di samping dipengaruhi oleh perbandingan air dan semen kuat beton juga dipengaruhi oleh faktor lainnya, yaitu : jenis semen, kualitas agregat, efisiensi perawatan, umur beton dan jenis bahan admixture. Kuat tekan beton f’c =

dengan : d

Pmaks P ………………………………………..(III.1) = 1 A 2 .π.d 4

Pmaks = beban maksimum (N) = diameter silinder beton (mm2)
E. Kuat Tarik Beton

Kuat tarik beton adalah kemampuan beton yang diletakkan pada dua perletakan untuk menahan gaya dengan arah tegak lurus sumbu benda uji, yang diberikan padanya, sampai benda patah dan dinyatakan dalam Mega Pascal (MPa) gaya tiap satuan. Peralatan yang dipakai adalah mesin tekan beton yang dapat menguji kuat tarik yang dilengkapi dengan 2 jarum pembacaan beban, 2 buah perletakan benda uji berbentuk titik, dan 2 buah titik pembebanan, ketelitian pembacaan sebesar 12,5 kg. Alat bantu lain berupa timbangan kapasitas 50 kg dengan ketelitian 0,01 %, pengukuran panjang dan jangka sorong. Adapun langkah pengujian sebagai berikut : a. Ukur dimensi penampang benda uji. b. Timbang berat benda. c. Buat garis melintang sebagai penunjuk untuk perletakan dan titik pembebanan. d. Pasang 2 perletakan serta alat pembebanan. e. Letakkan benda uji diatas tumpuan. f. Hidupkan mesin uji tekan. g. Atur pembebanan dengan kecepatan 8-10 kg/cm2 per menit. h. Hentikan pembebanan setelah beban maksimum tercapai.

31

Kuat tarik beton antara lain tergantung pada : faktor air semen, gradasi batuan, bentuk batuan, ukuran maksimum batuan, cara pengerjaan (campuran, pengangkutan, pemadatan dan perawatan) dan umur beton (Tjokrodimuljo, 1996). Kuat tarik beton f’cr =

2.P ………………………………………………. (III.2) π.d.h

dengan:
P = beban maksimum (N) d = diameter silinder (mm) h = tinggi silinder (mm)

BAB IV METODE PENELITIAN A. Umum Pelaksanaan penelitian dilakukan secara eksperimental, yang dilakukan di Laboratorium Bahan dan Struktur, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. Obyek dalam penelitian ini adalah beton yang menggunakan bahan tambah filler abu ampas tebu dengan abu arang briket. Pengujian kuat tekan dan tarik dilakukan setelah beton berumur 14 hari di Laboratorium Bahan dan Struktur, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. B. Bahan Penelitian dan Peralatan Penelitian 1. Bahan penelitian Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : a) Semen yang digunakan adalah semen Portland jenis I, merk Holcim b) Agregat halus berupa pasir, berasal dari Boyolali. c) Agregat kasar berupa batu pecah, berasal dari Boyolali. d) Air yang digunakan diambil dari Laboratorium Bahan dan Struktur, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. e) Bahan tambah filler abu arang briket berasal dari PT. Skatex di Karanganyar dan abu ampas tebu berasal dari PG. Tasik Madu di Karanganyar. 2. Peralatan penelitian Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini tersedia di Laboratorium Bahan dan Struktur, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. Peralatan-peralatan yang digunakan terdiri atas : a) Ayakan standart, untuk memisahkan agregat sesuai ukuran yang diinginkan. b) Penggetar ayakan (Siever), untuk menggetarkan ayakan agregat dapat terpisahkan sesuai lubang ayakan yang diinginkan. c) Timbangan, untuk mengukur benda uji sesuai yang diinginkan. d) Gelas ukur, untuk pemeriksaan kadar Lumpur dan pemeriksaan bahan organik.

32

18 mm. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. 0.3 mm.1.1. Alat ini digunakan untuk menggetarkan ayakan yang berisi agregat agar terdistribusi sesuai dengan ukuran butirnya. Ayakan digunakan pada uji gradasi yang terdiri dari saringan dengan ukuran : 19 mm. l) Mesin uji tekan. h) Mesin uji Los Angeles.6 mm. dan bak perendam sample. 0. Penggetar ayakan (siever). j) Kerucut Abram’s. untuk menjaga suhu kamar agregat setelah dioven.1. g) Volumetric Flash. Gambar IV. Satu set ayakan dan Siever . untuk mengaduk campuran beton. i) Molen.15 mm dan pan. untuk pengujian Slump. 12. 0. penggaris. cetok.5 mm.5 mm. untuk mengeringkan agregat. k) Bak tempat perendaman benda uji. untuk pengujian agregat kasar. 2. Alat ini digetar dengan tenaga listrik selama 15 menit. siku. f) Desicator. Penggunaan dan gambar alat-alat tersebut di atas adalah sebagai berikut : 2a). untuk mengukur benda jenis pasir yang digunakan sebagai bahan penyusun beton. 4. untuk pengujian tekan dan tarik. m) Peralatan penunjang lain seperti tongkat baja.75 mm. 2b). Satu set ayakan dapat dilihat pada Gambar IV. 9. Ayakan standart. ember.33 e) Oven. Saringan dipasang dari ukuran terbesar hingga lubang terkecil dan paling bawah adalah pan. 1.36 mm.

dan Gambar IV. Timbangan kecil digunakan untuk menimbang briket. Gambar IV. Timbangan digital Gambar IV. Timbangan yang digunakan adalah timbangan kecil dengan digital yang mempunyai kapasitas 3 kg dan timbangan besar dengan kapasitas 100 kg. dan abu ampas tebu.2. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV.2.3. Sedangkan timbangan besar digunakan untuk menimbang semen.34 2c). Timbangan besar . pasir dan batu pecah sebagai bahan beton sebelum dicampur dan juga untuk penimbangan berat benda uji sebelum dilakukan uji tekan dan tarik beton.3. Timbangan.

Gelas ukur yang digunakan berkapasitas 1000 cc dan 500 cc.4.8 cm dan diameter bawah 8. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Alat ini berbentuk corong dengan ukuran diameter atas 3.4. Gelas ukur. Alat ini digunakan pada saat pemeriksaaan kadar lumpur dan pemeriksaan bahan organik. Gambar IV. Alat dapat dilihat pada Gambar IV.35 2d). Kerucut Conus.6 cm dan digunakan untuk pengujian SSD (Saturated Surface Dry). tinggi 7. Kerucut Conus . Gambar IV.5. Gelas ukur 2e).5.9 cm.

Oven. Alat ini digunakan untuk menjaga suhu kamar agregat setelah dioven pada pemeriksaan kadar lumpur. Desicator. Alat ini digunakan untuk mengeringkan agregat kasar pada waktu pemeriksaaan kadar lumpur pasir.6. Oven 2g). Manfaat lain alat ini adalah untuk menjaga berat bahan setelah dioven supaya tidak berubah karena pengaruh udara luar.6. Desicator . dan pemeriksaan kandungan bahan organik.7.36 2f). Gambar IV. Gambar IV. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. pemeriksaan berat jenis dan penyerapan pada agregat. penyerapan dan berat jenis agregat.7.

Gambar IV. Dengan alat ini dimaksudkan agar campuran yang terjadi lebih homogen dan dapat mempersingkat waktu pelaksanaan dibanding dengan pengadukan manual.8. Volumetric Flash.8. Molen. Mesin Los Angeles 2j). Alat ini digunakan untuk pengujian keausan agregat kasar. Gambar IV.9. Mesin pengaduk campuran beton mempunyai kapasitas 1 m3. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Alat ini digunakan untuk pembuatan adukan beton. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Alat yang berkapasitas 500 cc ini digunakan untuk pemeriksaan berat jenis serta penyerapan agregat halus.37 2h). dengan merk SINGLE . Volumetric flash 2i). Mesin uji Los Angeles.9.

Gambar IV. diameter bawah 20 cm dan tinggi 30 cm. Kerucut Abram’s dan tongkat baja. Alat ini mempunyai diameter atas 10 cm.11. 2l). buatan Cina pada tahun 1987. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV.10.10. Kerucut Abram’s. Molen 2k). Tongkat baja mempunyai ukuran panjang 60 cm dan diameter 16 mm. alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. digunakan untuk pengujian slump dan pemadatan beton segar yang dicetak pada cetakan silinder.11. . Tongkat baja. Alat ini digunakan untuk pengujian slump pembuatan benda uji. Gambar IV.11.38 PHASE MOTOR Type JY1B-2.

Alat tersebut dapat dilihat pada Gambar IV.12. Bak tempat perendaman benda uji 2o). Bak yang berisi air untuk merawat benda uji silinder sampai umur yang direncanakan.39 2m). digunakan untuk mencetak beton mutu tinggi. Cetakan silinder. . Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Mesin uji tekan. Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret memiliki kapasitas 1500 kN dan 2000 kN dengan merk Mylano Italy. Gambar IV. Alat ini digunakan untuk pemeriksaan berat satuan. Alat ini berukuran diameter 15 cm dan tinggi 30 cm. Cetakan silinder 2n).13.14. Alat ini digunakan untuk menguji kuat tekan beton. Untuk alat yang ada di Laboratorium Bahan dan Struktur. pemeriksaan rasio pasir – agregat total dan pembuatan benda uji.12.13. Gambar IV. Bak tempat perendaman benda uji.

Gambar IV. ember.1.40 Gambar IV. seperti tercantum dalam bentuk bagan alir pada Gambar IV.14. Peralatan penunjang lain. Adapun tahap penelitian tersebut dijelaskan seperti uraian berikut ini : .15. Tahapan Penelitian Penelitian dilaksanakan terbagi atas lima tahap. sekop. Peralatan penunjang lain yang digunakan antara lain cetok. Peralatan penunjang lain C. cangkul dan kawat bendrat untuk membantu pembuatan benda uji. Mesin uji tekan dan tarik merk Mylano Italy 2p).15. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV.

Perbandingan jumlah proporsi bahan campuran beton ditentukan/dihitung dengan menggunakan Metode SK. 3. Tahap IV : Pengambilan data Pada tahap ini dilakukan pemeriksaan berat jenis beton dan pengujian kuat tekan beton benda uji silinder pada umur 14 hari. Fakultas Teknik. Tahap III : Penyediaan benda uji Tahap ini merupakan tahap perencanaan campuran beton.agregat total. Universitas Sebelas Maret. pemeriksaan specific gravity dan absorption pasir dan batu pecah. pengujian gradasi batu pecah. 4. pemeriksaan berat satuan volume.SNI. bahan tambah filler arang briket dan abu ampas tebu) di Laboratorium Bahan dan Struktur.41 1. pembuatan benda uji dan perawatan beton. maka dilakukan pemeriksaan terhadap rasio pasir . dan dilakukan pengujian slump sampai berhasil baik. Jurusan Teknik Sipil. benda uji silinder tersebut direndam dalam bak perendaman yang berisi air selama 14 hari. pemeriksaan SSD pasir. Selanjutnya dibuat adukan beton sesuai dengan proporsi masing-masing bahan. batu pecah.T-15-1990-03. maka pada tahap ini dilakukan pengujian terhadap bahan dasar beton berupa pasir dan batu pecah. Setelah dilepas dari cetakan. pasir. dilakukan uji visual. pemeriksaan kadar lumpur pada pasir dan batu pecah. Tahap I : Persiapan alat dan penyediaan bahan Tahap ini merupakan tahap persiapan penelitian di laboratorium yang meliputi persiapan alat diantaranya yaitu menyiapkan cetakan silinder ukuran diameter 15 cm tinggi 30 cm yang terbuat besi dan penyediaan bahan susun beton (semen. Benda uji dibuat dengan cetakan silinder beton. Tahap II : Pemeriksaan bahan dasar Sebelum digunakan dalam pembuatan campuran. Setelah bahanbahan dasar beton memenuhi persyaratan yang sudah ditentukan. Prosedur pengujian kuat tekan . Sedangkan untuk semen dan air yang dipakai. Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan zat organik dalam pasir. dan pemeriksaan kadar keausan batu pecah. 2.

2) A 1 / 4πd dengan : f c' Pmaks A d = kuat tekan beton (MPa) = beban maksimum (N) = luas permukaan benda uji yang ditekan (mm2) = diameter silinder beton (mm) 5. kemudian dilakukan analisis data. b). yang kemudian dapat ditarik beberapa kesimpulan penelitian. d). c). Analisis tersebut merupakan pembahasan dari hasil penelitian. Mengukur dan mencatat dimensi benda uji silinder beton. Pembebanan dilakukan secara perlahan-lahan dengan mesin hidrolik sampai benda uji mengalami keretakan atau kehancuran (jarum penunjuk bergerak kembali ke arah semula).(IV. Mencatat beban maksimum yang ditunjukkan jarum penunjuk. Tahap V : Analisis data dan kesimpulan Dari hasil pengujian yang dilakukan pada Tahap IV. Menimbang dan mencatat berat benda uji silinder sebelum dilakukan pembebanan. . Meletakkan benda uji silinder pada alat penekan dan diatur posisinya agar tepat berada di tengah-tengah pelat penahan. Berat jenis beton dihitung dengan rumus sebagai berikut : γc = dengan : W ……………………………………………………………(IV.1) V γc W V = berat jenis beton (gr/cm3) = berat beton (gr) = volume silinder beton (cm3) Kuat tekan beton dihitung dengan rumus sebagai berikut : f c' = Pmaks P = maks 2 ………………………………………………. dengan langkah-langkah sebagai berikut : a). e)..42 dan kuat tarik mengacu pada standard ASTM C 39 – 86.

200 Air diganti kadar lumpur kandungan organik gradasi pasir specific gravity dan absorption Uji visual Tidak baik Memenuhi syarat gradasi agregat kasar berat satuan volume specific gravity dan absorption keausan Uji visual Uji visual Perbaikan kualitas/diganti diganti Tidak baik Tidak baik baik baik baik baik Tahap II Rencana campuran (mix design) Pembuatan adukan beton Tidak memenuhi syarat Slump test Memenuhi syarat Pembuatan benda uji Perbaikan komposisi campuran Perawatan (curing) Tahap III Pengujian kuat tekan dan tarik beton Tahap IV Pengolahan data Analisis data Kesimpulan dan saran Tahap V Selesai Gambar IV. Bagan Alir Tahapan Penelitian .43 Mulai Persiapan alat dan bahan Tahap I Semen Agregat halus Agregat kasar Ampas tebu dan filler arang briket lolos ayakan no.16.

batu pecah. Pemeriksaan kadar lumpur pada pasir. Jenisjenis pemeriksaan bahan sebelum digunakan adalah sebagai berikut: 1a).(IV. Yang dimaksud lumpur adalah bagian yang lolos ayakan 0. cawan dan timbangan digital. dan agregat campuran. diperoleh 474 gram (H1) (8). Adapun bahan-bahan yang akan diperiksa antara lain pasir. (7). Adapun pelaksanaan penelitian tersebut diuraikan seperti berikut ini. Pemeriksaan bahan Pemeriksaan bahan digunakan sebagai pedoman dalam perancangan adukan beton dan kelayakan bahan untuk campuran beton. (3). kemudian diberi air dan dikocokkocok. (4). Memasukkan pasir ke cawan dan memasukkan ke dalam oven selama 24 jam pada suhu 105° C. Adapun langkah-langkah pemeriksaan kadar lumpur pada pasir adalah sebagai berikut : (1). Memasukkan pasir ke dalam gelas ukur. Menyediakan pasir yang akan diuji seberat 500 gram (H0). (6).44 D. (5). Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini dilaksanakan sesuai dengan tahap-tahap yang telah dijelaskan pada Bab IV. Kadar lumpur dihitung dengan rumus sebagai berikut : K= H 0 − H1 x100% ………………………………………………. kemudian didapat berat 393 gram. 1.C. Menimbang pasir yang berada dalam cawan tersebut. gelas ukur. Hal ini dilakukan berulang-ulang dengan mengganti air yang sudah keruh dengan yang air yang baru sampai benar-benar jernih. Alat-alat yang digunakan antara lain : oven. (2). Memasukkan pasir ke dalam cawan kemudian di oven lagi selama 24 jam pada suhu 105° C. pasir beserta cawan ditimbang dengan berat 893 gram.3) H0 . Setelah pasir kering.063 mm. Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui kandungan lumpur pada pasir sehingga diperoleh kualitas beton yang bermutu. Menyediakan cawan dan menimbangnya.

cawan dan larutan NaOH 3%. Alat-alat yang digunakan antara lain : oven. Menuangkan larutan NaOH 3% ke dalam gelas ukur sampai volume tetap 200 cc. Hasil pengamatan diperoleh warna kuning kecoklatan jadi pasir yang akan digunakan tidak banyak mengandung zat organik.45 K= 100 − 95.1. . Pemeriksaan zat organik dalam pasir bertujuan untuk mengetahui sifat kandungan bahan organik yang terdapat pada pasir sehingga dapat diketahui kelayakannya sebagai campuran beton. Adapun langkah-langkah pemeriksaan zat organik pada pasir adalah sebagai berikut : (1). kemudian dimasukkan ke dalam dua buah cawan. Mendinginkan pasir ke dalam desicator selama 15 menit sehingga mencapai suhu ruang. (4). kemudian didiamkan selama 24 jam. (3). (5). Pemeriksaan zat organik pada pasir. 1b). Gelas ukur dikocok-kocok sehingga larutan NaOH 3% dapat tercampur secara merata. (8). Setelah 24 jam warna diamati dan dibandingkan dengan standard warna yang berlaku. Memasukkan pasir ke dalam gelas ukur yang berkapasitas 500 cc. Pasir dikeringkan dengan dimasukkan ke dalam oven selama 24 jam pada suhu 105° C. Memasukkan pasir kedalam gelas ukur sebanyak 130 cc. desicator. (2).5 x100% 100 K H0 H1 = kandungan lumpur = berat pasir mula-mula (gr) = berat pasir setelah dicuci (gr) K= 5 % dengan : Perhitungan pada pemeriksaan kadar lumpur pasir ini dapat dilihat pada Lampiran IV. (6). (7). gelas ukur.

(2). Setiap percobaan dilakukan sebanyak dua kali pengujian.8 12. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.65 Hasilnya lebih kecil dari setengah tinggi pasir mula-mula sehingga pasir tersebut sudah dalam keadaan SSD. .6 3.3. Alat-alat yang digunakan antara lain : kerucut conus. Menumbuk permukaan pasir dalam kerucut dengan tongkat penumbuk secara gravitasi ± 5 cm dari atas permukaan pasir.9 4.2. (3).55 4. Meletakkan kerucut conus di tempat yang datar dan mengisikan pasir ke dalam kerucut conus hingga penuh. (5). Pemeriksaan Saturated Surface Dry (SSD) pasir. Penurunan tinggi pasir(cm) Percobaan Jumlah Sample A Sample B I 15 3.65 Diperoleh hasil SSD pasir = 3 = 4. Menghitung penurunan rata-rata dari masing-masing percobaan sehingga diperoleh hasil pada Tabel IV. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kekeringan pasir yang sebenarnya (kekeringan permukaan) yang dapat digunakan dalam campuran beton.46 Hasil pemeriksaan kandungan bahan organik pasir dapat dilihat pada Lampiran IV. Pasir yang akan diuji diangin-anginkan terlebih dahulu. sendok datar dan penggaris. 20 kali dan 25 kali. Kerucut conus diangkat perlahan-lahan ke arah vertikal kemudian dicatat penurunan pasir yang terjadi.2 4. Dilakukan variasi tumbukan pada percobaan.22 cm Rata-rata Penurunan(cm) 3. Tabel hasil penurunan SSD pasir. 1c). yaitu dengan 15 kali.1 sebagai berikut: Tabel IV. (4).7 Jumlah penurunan rata-rata 12. tongkat penumbuk. Langkah-langkah pengujian SSD pasir adalah sebagai berikut : (1).3 4.5 II 20 4.1.4 III 30 4.

............ didapat sebesar 494............... Menimbang sample setelah dioven selama 24 jam. didapat 652 gram (B)...59 gram/cm3 Penyerapan (absorption) : p= A− D x 100% ... Berat jenis dan penyerapan agregat dihitung dengan rumus sebagai berikut: Berat jenis kering (bulk specific gravity) : = = D ......... (5)............ panci dan timbangan digital.27 (IV...... (2). Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui berat jenis dan daya penyerapan air oleh pasir........... diperoleh 964 gram (C) dan didiamkan selama 24 jam.... selanjutnya ditimbang............ (3)........ oven. Menimbang volumetric flash dan air sesuai garis batas.... lalu dikocok-kocok sampai hilang gelembung-gelembung udara dalam pasir....44 gram (D)........42 + 500 − 1006.............. B+A−C 477 699..4) = 2. Alat-alat yang digunakan adalah : volumetric flash............. Pemeriksaan specific gravity dan absorption pasir.................47 gram/cm3 Berat jenis kering permukaan jenuh air (bulk specific gravity SSD) : = = A .. D (IV....42 + 500 − 1006.. kemudian ditambah dengan air sampai garis batas...... B+A−C 500 699. Menyediakan pasir pada kondisi SSD sebanyak 500 gram (A) dan dimasukkan ke dalam volumetric flash........................... Membuang airnya kemudian pasir diambil kemudian dioven selama 24 jam..... Langkah-langkah Pemeriksaan specific gravity dan absorption pasir adalah sebagai berikut : (1)......... (4).......................................4) = 2..4) .47 1d).....27 (IV..........................

Langkah-langkah pemeriksaan gradasi pasir adalah sebagai berikut : (1). 1e). 0. Alat-alat yang digunakan antara lain : satu set ayakan dengan ukuran 9. siever dan cetok. Menyiapkan ayakan dan menimbang masing-masing ayakan.4. timbangan digital. pan.3 mm. (3). .46 100 = = = 2. 0. Menyediakan pasir uji kering oven sebanyak 500 gram. (5). 1.36 mm.75 mm. Memasukkan pasir uji ke dalam ayakan dan digetarkan dengan siever selama 15 menit.93 Untuk hasil perhitungan pemeriksaan gradasi pasir dapat dilihat pada Lampiran IV. Pemeriksaan gradasi pasir bertujuan untuk mengetahui distribusi ukuran butiran pasir modulus halus butirnya. Menyusun ayakan secara urut dari ukuran terbesar sampai ukuran terkecil dan paling bawah adalah pan. Pemeriksaan gradasi pasir.6.18 mm. Modulus halus butir Jumlah persentase kumulatif tertahan 100 293.6 mm. (4). (2). Menimbang pasir pada tiap-tiap ayakan dan kemudian dihitung modulus halus butirnya. 4. 0.82 % 477 A B C D = berat pasir SSD (gr) = berat volumetricflash + air (gr) = berat volumetricflash + air + pasir (gr) = berat pasir tungku kering (gr) = penyerapan (%) hasil penelitian secara lengkap bisa dilihat pada dengan : p Perhitungan Lampiran IV. 2.48 p= 500 − 477 x 100 % = 4.15 mm.5 mm.

Menyediakan batu pecah lolos ayakan 12. ayakan ukuran 2 mm atau yang mendekati. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui keausan agregat kasar dan mengetahui daya tahan agregat terhadap degradasi atau perpecahan. ayakan ukuran 19. Keausan agregat dihitung dengan rumus sebagai berikut : Prosentase keausan = = A-B x100% ………………. (6). (2). 12. timbangan. didapat 3653.0 mm. Pemeriksaan keausan agregat kasar. Langkah-langkah pemeriksaan keausan agregat kasar adalah sebagai berikut : (1).0 mm dan tertahan 12.5 mm dan tertahan 9. (4).. Menyediakan batu pecah lolos ayakan 19. Mengeluarkan batu pecah dari mesin Los Angeles kemudian diayak dengan ayakan ukuran 2 mm.7) A 5000 .5 gram (B) kemudian dihitung nilai keausannya. (7).………………. (5). Semakin kecil nilai abrasi maka semakin baik agregat tersebut untuk digunakan sebagai campuran beton. 9.5 mm.5 mm sebanyak 2500 gr. Alat-alat yang digunakan antara lain : mesin Los Angeles. Batu pecah yang tertahan ayakan ukuran 2 mm tersebut kemudian dicuci dan selanjutnya dikeringkan dengan dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 105° selama 24 jam. Menimbang batu pecah. kemudian diputar dengan kecepatan 30 – 35 rpm sebanyak 500 putaran.4985 x100% 5000 = 0. (3). Memasukkan semua batu pecah yang sudah disediakan yaitu 2500 + 2500 = 5000 gram (A) beserta bola-bola baja sebanyak 11 buah ke dalam mesin Los Angeles.(IV.3 % .5 mm dan oven.49 1f).5 mm sebanyak 2500 gr.

... specific gravity dan absorption batu pecah...8) = 2.......5 (IV......... ember perendam dan desicator....8) ......... oven........ Berat benda uji kering oven 998. Berat jenis kering (bulk specific gravity) : = = C .... 1g)..................... Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui berat jenis dan daya penyerapan air Alat-alat yang digunakan antara lain : panci..... (6)...................... Menimbang kerikil dalam keadaan SSD......5 − 1832......50 dengan : A B = berat agregat mula-mula (gr) = berat agregat yang tertahan saringan 2 mm setelah dicuci dan dioven (gr) Untuk perhitungan keausan agregat selengkapnya bisa dilihat pada Lampiran IV.. kemudian kerikil ditimbang dalam air dan diperoleh berat 649... (5).............. A−B (IV... (3)................. timbangan digital..... (2).......... Menyediakan kerikil sebanyak 1000 gram. lap kering....... diperoleh berat 1014 gram (A). Mendinginkan batu pecah dengan cara dimasukkan ke dalam desicator selama 15 menit.... Kerikil dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 105° selama 24 jam...5 gram (B)........ Merendam kerikil dalam air selama 24 jam...7. Langkah-langkah Pemeriksaan specific gravity dan absorption batu pecah.. (4).. Pemeriksaan oleh agregat kasar. A−B 3000 3032........ Kerikil diambil dan dibuat dalam keadaan SSD dengan cara dilap menggunakan lap kering...5 gram (C)...5 gram/cm3 Berat jenis kering permukaan jenuh air (bulk specific gravity SSD) : = A ... Adalah sebagai berikut : (1).........

Menghitung volume silinder : Volume silinder = 0.8) p Hasil dari pemeriksaan specific gravity dan absorption batu pecah dapat dilihat pada Lampiran IV. Pemeriksaan berat satuan volume batu pecah..................... Memasukan batu pecah ke dalam silinder baja secara bertahap sebanyak tiga lapis (masing-masing lapis diisi batu pecah kemudian ditumbuk dengan tongkat baja sebanyak 25 kali dan diratakan permukaannya)..08 % dengan : A B C D = berat pasir SSD (gr) = berat volumetricflash + air (gr) = berat volumetricflash + air + pasir (gr) = berat pasir tungku kering (gr) = penyerapan (%) (IV.. Hal ini diulang sampai lima kali percobaan.......5 − 1832... Menimbang berat silinder baja didapat 13200 gram (A).......... Pemeriksaan berat satuan volume batu pecah ini bertujuan untuk mengetahui berat agregat tiap satuan volume......... Langkah-langkah pemeriksaan berat satuan volume batu pecah adalah sebagai berikut : (1)...5 3032...... (2).....53 gram/cm3 Penyerapan (absorption) : A−C x 100% .25 x π x d 2 x t .. C 3032..5 − 3000 x 100% p= 3000 p= p = 1.. Alat-alat yang digunakan antara lain : cetakan silinder baja (diameter 15 cm dan tinggi 30 cm) dan tongkat baja (diameter 16 mm dan panjang 60cm). (3).....51 = 3032..... Menimbang silinder baja yang diisi batu pecah tersebut diperoleh 20250 gram (B)... (4)..5 = 2....8. 1h)...

0 mm... Pemeriksaan gradasi batu pecah.25 100 = 7.36 mm.....18 mm.9 1i). Melakukan penimbangan batu pecah pada tiap-tiap ayakan kemudian dihitung modulus halus butirnya. Menyiapkan ayakan dan menimbang masing-masing ayakan tersebut. (5).... Menyusun ayakan secara urut dari yang berukuran besar sampai yang kecil dan paling bawah adalah pan... 1. 0.. Rata-rata berat satuan volume batu pecah : = 4...... (3)..6 mm. Memasukkan batu pecah uji ke dalam ayakan dan digetarkan dengan siever selama 15 menit.. siever. 2.25 x π x 15 2 x 30 = 5301....75 mm. Alat-alat yang digunakan antara lain : satu set ayakan dengan ukuran (19.. (4)..3 mm.06 .... timbangan digital. 4..15 mm.59 gr/cm3 dengan : A B C = berat silinder baja (gr) = berat silinder baja setelah diisi batu pecah (gr) = volume silinder (cm3) Untuk hasil pemeriksaan dan perhitungan berat satuan volume batu pecah secara lengkap bisa dilihat pada Lampiran IV..... Modulus halus butir = = Jumlah persentase kumulatif tertahan 100 706. cetok.5 mm...... Langkah-langkah pemeriksaan gradasi batu pecah adalah sebagai berikut : (1)..... Menyediakan batu pecah kering oven sebanyak 1000 gram.... (2)......52 = 0.. pan). 0... 9..771 ... 0..438 cm 3 (5)....... (IV..9) 3 = 1.. ember... Pemeriksaan gradasi batu pecah ini bertujuan untuk mengetahui distribusi ukuran batu pecah dan modulus halus butirnya.

5 % 1.176 1. 14. Nilai slump rencana = 0.960 1. Berat jenis batu pecah 4).960 .056 7.568 1. 10. 8.056 7.679 15.056 7. 6.761 22.761 22.5 % 10 % 12.056 7.2. 2. Perencanaan campuran beton Dalam perencanaan proporsi campuran digunakan perencanaan menurut SK. Air (kg) 7.056 7. Modulus halus butir pasir 6).271 42.176 1.679 15.056 7.761 22. Faktor air semen 2).761 22.960 1.056 7.271 42.568 1.176 1.53 Untuk hasil penelitian dan perhitungan pemeriksaan gradasi batu pecah secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.960 1.271 42.056 7.679 15.45 No 1.176 1.679 15.568 1. 5.271 42.568 1.176 1.271 42.679 15.271 42. Berat jenis pasir 3).679 15.568 1.SNI.271 42.679 15.271 42.271 42.056 7.761 22.568 1. Modulus halus butir batu pecah = 7. Berat jenis semen 8).960 Abu arang briket (kg) 7.761 22.056 7. 4.271 42. 3.271 42.06 Langkah-langkah perhitungan rencana campuran beton dapat dilihat pada Lampiran IV.45 = 2.679 15.761 22.679 Pasir (kg) 22.056 7.271 42.568 1.679 15.056 7.056 7. 2.5 % 1.679 15. Ukuran maksimum batu pecah 7).761 22.056 7.761 22. Proporsi kebutuhan material tiap 3 sampel untuk uji tekan dan tiap 3 sampel untuk uji tarik dengan fas 0.5 % 10 % 12.056 Semen (kg) 15.679 15.679 15. 15.271 42.761 22.150 ton/m3 = 60 – 100 mm 5).47 gr/cm3 = 2. 12.679 15.IV.761 22.271 42.176 1.5 gr/cm3 = 2.271 Abu ampas tebu (kg) 7. Data-data untuk perencanaan campuran adukan beton adalah sebagai berikut : 1). 13.761 22.960 1.960 1.679 15. 7. 9. 11.761 22.960 1.679 15.568 1.10.761 22.761 Kerikil (kg) 42.176 1.T-15-1990-30. 16.056 7. Kebutuhan pembuatan benda uji untuk tiap 3 benda uji adalah sebagai berikut: Tabel.10.761 22.271 42.93 = 40 mm = 3.176 1.

5 3 3 3 3 12 0. Pengujian dilakukan dengan menggunakan kerucut Abram’s.5 10 12. Pengujian nilai slump Ukuran benda uji (cm) d=15.5 3 3 3 3 12 0. h=30 Pengujian nilai slump ini dimaksudkan untuk mendapatkan kekentalan beton segar.5 10 12. diameter bagian bawah 20 cm dan tinggi 30 cm dengan bagian atas maupun bawah berlubang. h=30 d=15. h=30 d=15. Meletakkan kerucut Abram’s ditempat yang rata dan tidak mudah goyah. ditunggu ± 1 menit dan cetakan diangkat secara perlahan-lahan. Abu ampas tebu (%) Jumlah Abu arang Briket Fas (%) total 0 7. Pengisian adukan beton dilakukan sampai 2 lapis berikutnya dan masingmasing lapis ditusuk sebanyak 25 kali. adukan beton diisikan 1/3 dari volume kerucut. dan bagian dalam dibasahi dengan air.5 3 3 3 3 12 Jumlah total benda uji 48 3. Dengan menginjak kaki kerucut Abram’s kuat-kuat. Abu ampas tebu (%) Jumlah Abu arang Briket Fas (%) total 0 7. h=30 d=15. b). bagian atas cetakan diratakan dengan cetok.45 10 3 3 3 3 12 12. c). d). yaitu berbentuk kerucut dengan diameter atas 10 cm. h=30 Ukuran benda uji (cm) d=15. kemudian ditumbuk sebanyak 25 kali dengan menggunakan tongkat diameter 16 mm dan panjang 60 cm. Rincian jumlah benda uji untuk kuat tarik beton.5 0 3 3 3 3 12 7.5 0 3 3 3 3 12 7. Rincian jumlah benda uji untuk kuat tekan beton. h=30 d=15. Setelah terisi penuh oleh adukan beton. Kerucut Abram’s dibersihkan terlebih dahulu sebelum digunakan. e). Langkah-langkah pengujian slump sebagai berikut : a).3.54 Tabel IV.5 3 3 3 3 12 Jumlah total benda uji 48 Tabel IV. Setelah pengisian adukan selesai.4.45 10 3 3 3 3 12 12. h=30 d=15. . h=30 d=15.

17. Suhu air saat perendaman berkisar antara 26° – 25° C.1). masing-masing benda uji diberi kode. Pembuatan benda uji Pembuatan benda uji sesuai dengan perhitungan proporsi campuran beton yang telah direncanakan. . 4. Adukan beton dimasukkan ke dalam cetakan silinder dengan cetok setinggi sepertiga bagian dan memampatkan adukan beton tersebut dengan menusukkan tongkat baja tumpul sebanyak 25 kali. Perawatan beton yang dilakukan pada penelitian ini adalah dengan cara merendam silinder beton di dalam bak yang berisi air sampai beton berumur 14 hari. Meratakan bagian atasnya serta membiarkannya sampai 24 jam d). Mengisikan adukan beton sepertiga bagian berikutnya dan diperlakukan sama. dan diukur selisih antara kerucut dan adukan beton tersebut Hasil pengujian slump test selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran IV. c).55 f). sampai cetakan silinder penuh. Masing-masing variasi dibuat 3 buah benda uji sehingga jumlah total benda uji adalah 100 buah (lihat Tabel IV. dan telah diuji nilai slump-nya. e). Perawatan Perawatan beton dimaksudkan untuk menjaga permukaan beton segar selalu lembab.14. sejak adukan beton dipadatkan sampai beton dianggap cukup keras. Cara pembuatan benda uji silinder beton adalah sebagai berikut: a). Meletakkan kerucut Abram’s di samping adukan. 5. b). Agar benda uji satu dan yang lainnya tidak tertukar. Setelah 24 jam membuka cetakan. dapat dilihat pada Gambar IV. silinder benda uji disimpan di udara lembab (direndam di dalam bak yang berisi air) untuk perawatan beton.

Hasil pengujian benda uji dapat dilihat pada Gambar IV.18.17.12. Angka yang ditunjuk oleh jarum merah inilah yang dicatat sebagai beban maksimum yang mampu ditahan oleh benda uji. Pada saat beban maksimum yang mampu ditahan benda uji terlampaui (benda uji hancur).21. terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan terhadap berat jenis. Berat jenis dapat diketahui dengan cara menimbang dan mengukur tinggi serta diameter benda uji. maka permukaan benda uji diberi cat putih Gambar IV. Pemeriksaan berat jenis Sebelum pengujian benda uji.56 Gambar IV.20. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran IV.19. maka salah satu jarum yaitu jarum merah akan tetap pada posisi nilai beban maksimum yang mampu ditahan. Benda uji diletakkan pada mesin uji tekan dengan posisi vertikal dan posisi jarum penunjuk kuat tekan harus pada angka nol. 7. . Perawatan benda uji beton 6. sehingga dapat diketahui berat dan volume benda uji tersebut. Pengujian kuat tekan dan kuat tarik benda uji Untuk mengetahui keretakan yang terjadi pada saat pengujian. Kemudian mesin uji dihidupkan dan penambahan beban dapat terlihat pada jarum penunjuk manometer. Gambar IV. sedangkan jarum hitam akan bergerak turun kembali pada posisi semula (nol). Gambar IV.

18. Benda uji setelah dicat . Benda uji sebelum dicat Gambar IV.57 Gambar IV.19.

Pengujian kuat tekan beton .20.58 Gambar IV. Hasil pengujian kuat tekan beton Gambar IV.21.

Pengujian kuat tarik beton Gambar IV.22.23. Hasil pengujian kuat tarik beton .59 Gambar IV.

59 gram/cm3 Bulk specific gravity Absorption 4. Tabel V. Warna ini menunjukkan bahwa pasir tidak banyak mengandung zat organik dan layak digunakan sebagai bahan campuran beton. diperoleh larutan berwarna kuning kecoklatan. Hasil uji kadar lumpur menunjukkan 5 % sehingga memenuhi persyaratan agregat halus sebagai campuran adukan beton karena batas persyaratan campuran beton yaitu 5 %. maka penurunan puncak kerucut pasir harus kurang lebih setengah tinggi kerucut. Karena adanya bahan organik dalam pasir akan mempengaruhi mutu beton.8 gram/cm3 Apparent spesific gravity 3.1 sampai dengan Lampiran IV.2.7 gram/cm3 Memenuhi syarat <5% Memenuhi syarat 1.1. 2). 61 .96 Syarat SK SNI 5% > 2.5 .5 gram/cm3 ½ dari tinggi kerucut Keterangan Memenuhi syarat Memenuhi syarat Memenuhi syarat Memenuhi syarat Memenuhi syarat 2.75 cm Nilai Saturated Surface Dry (SSD) 2.1.1.8 (Sumber: Hasil penelitian) Hasil pengujian agregat halus Tabel V. Hasil pemeriksaan agregat halus secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV. Hasil pengujian agregat halus Jenis pengujian Hasil pengujian 5% Kadar lumpur Kuning Kandungan bahan kecoklatan organik 2. atau dituliskan pada Tabel V. Pada pengujian ini diperoleh penurunan pasir rata.5.82 % Modulus halus butir 2. Untuk mencapai SSD pasir. Hasil pengujian agregat halus Pemeriksaan agregat halus dilakukan melalui beberapa tahap pengujian yang sudah diuraikan pada Bab IV.5 cm. Pengujian Agregat 1. 3). tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1).rata sebesar 3.BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. sedangkan tinggi pasir mula-mula 7.5 – 3. Hasil pengujian zat organik di dalam pasir dengan cara menambah larutan NaOH 3 % dan didiamkan selama 24 jam.75 cm.

Oleh karena modulus halus butir pasir yang digunakan berada dalam batasan modulus halus butir pada umumnya. Hasil pengujian gradasi pasir diperoleh modulus halus butir 2. Hasil pemeriksaan gradasi pasir secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV. maka pasir ini memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan susun beton.96 Pada umumnya pasir mempunyai nilai modulus halus butir antara 1. oleh karena itu pasir perlu diangin-anginkan sebelum digunakan. .5 gram/cm3 – 2.5 – 3.8. 6). Berdasarkan berat jenisnya. agregat dibagi menjadi 3 macam yaitu agregat ringan (mempunyai berat jenis kurang dari 2. Persyaratan absorbsi agregat yang digunakan dalam campuran beton 5 %. Semakin besar absorbsi maka jumlah air yang digunakan dalam campuran akan semakin berkurang. 5).7 gram/cm3).6.8 gram/cm3). Hal ini menunjukan bahwa absorbsi pasir masih dalam batasan yang diisyaratkan. 7).0 gram/cm3). Dari hasil pengujian yang dilakukan diperoleh nilai absorbsi pasir 4.59 gram/cm3. Dari pengujian agregat halus diperoleh berat jenis pasir 2. 4). agregat normal (mempunyai berat jenis antara 2.82 %. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pasir ini termasuk agregat normal. dan dilukiskan pada Gambar V.62 Keadaan ini membuktikan bahwa pasir masih agak basah. Absorbsi agregat akan mempengaruhi jumlah air dalam campuran yang direncanakan.1. dan agregat berat (mempunyai berat jenis lebih dari 2.

2. tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: .59 gram/cm3 Modulus halus butir 7.35 4. Tabel V.2.3 0.6 gram/cm3 Memenuhi syarat Memenuhi syarat 5-8 (Sumber: Hasil penelitian) Hasil pengujian agregat kasar pada Tabel V.85 1.1.5 – 2.53 gram/cm3 Bulk specific gravity 1.18 2.6 sampai Lampiran IV.57 gram/cm3 Apparent spesific gravity 2.1990) Menurut Gambar V. Hasil pengujian agregat kasar Jenis pengujian Hasil pengujian 0.89 gram/cm3 Syarat SK SNI 20 % > 2.3 % Keausan agregat batu pecah 2. Hasil pengujian agregat kasar Pemeriksaan agregat kasar dilakukan melalui beberapa tahap pengujian yang diuraikan pada Bab IV.15 0.75 9.D.08 % Absorption Berat satuan volume 1.2 – 1. II (Departemen Pekerjaan Umum. di atas. Batas gradasi pasir dalam daerah gradasi No.2.1. gradasi pasir memenuhi persyaratan campuran beton dan termasuk ke dalam kelompok daerah II (pasir agak kasar).7 gram/cm3 Memenuhi syarat Memenuhi syarat <5% 1.5 gram/cm3 Keterangan Memenuhi syarat Memenuhi syarat 2.9. 2. hasil pemeriksaan tersebut tercantum pada Tabel V.63 GRADASI PASIR 120 PERSEN LOLOS (%) 100 80 60 40 20 0 0 0. Hasil pemeriksaan agregat kasar secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.5 LUBANG AYAKAN (mm) HASIL HITUNGAN BATAS ATAS SK SNI BATAS BAWAH SK SNI Gambar V.

Hasil pemeriksaan gradasi pasir secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.64 1).6 gram/cm3. dan dilukiskan pada Gambar V.3 %. Hal ini menunjukan bahwa batu pecah tersebut mempunyai daya serap yang kecil. maka batu pecah tersebut dapat digunakan sebagai bahan campuran beton.53 gram/cm3.9. Dari pengujian agregat batu pecah diperoleh berat jenis batu pecah 2. 7). 6). Batu pecah yang digunakan dalam penelitian ini mempunyai absorbsi 1.08%. 5). Berat satuan agregat kasar normal yaitu 1. Hasil pengujian berat jenis batu pecah yang digunakan dalam penelitian dapat disimpulkan bahwa agregat batu pecah tersebut termasuk agregat normal (berat jenis 2.8 gram/cm3). karena memiliki kekerasan butiran yang masih ada dalam batasan yang disyaratkan. Pengujian tersebut membuktikan batu pecah mempunyai berat satuan sesuai yang diisyaratkan untuk berat satuan normal. 2). Kekerasan butir-butir batu pecah yang diperiksa dengan mesin Los Angeles harus memenuhi syarat yaitu tidak terjadi kehilangan berat lebih dari 20 % untuk kekuatan beton diatas 20 MPa. Hasil pemeriksaan gradasi batu pecah secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV. Hasil pengujian berat satuan batu pecah 1.2. Hasil pemeriksaan gradasi batu pecah dapat dilukiskan seperti pada Gambar V.5 gram/cm3 – 2.59 gram/cm3. sehingga batu pecah tersebut dapat digunakan sebagai campuran beton. Hal ini menunjukkan batu pecah tersebut dapat digunakan sebagai bahan campuran beton.7 gram/cm3) dan agregat berat (berat jenis 2. 3). Dengan melihat grafik batu pecah dapat diketahui bahwa gradasi batu pecah ini masih masuk dalam batasan SK SNI.2. Hasil pengujian keausan batu pecah dari Boyolali 0. Dari hasil pengujian gradasi batu pecah diperoleh modulus halus butir 7. 4).9.2 gram/cm3 – 1.89 Modulus halus butir untuk agregat kasar yang digunakan sebagai campuran beton yaitu 5 sampai dengan 8. .

Dari hasil pengujian slump pada Tabel V. Slump (cm) 7.5 10 12.5 .5 19 38.11 dapat dilihat bahwa slump yang dicapai pada adukan beton dengan penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket tidak memenuhi persyaratan yang direncanakan yaitu antara 2 – 4 in atau 5. √ √ 3. Tabel V.5.5 1.65 GRADASI KERIKIL 120 PERSEN LOLOS (%) 100 80 60 40 20 0 2.1 LUBANG AYAKAN (mm) HASIL HITUNGAN BATAS BAWAH SK SNI BATAS ATAS SK SNI Gambar V.5 1.5 1. Hasil pengujian slump dapat dilihat pada Tabel V.1990) B. Batas gradasi kerikil (Departemen Pekerjaan Umum. √ √ √ √ 5.75 9. Pemberian bahan tambah dengan proporsi penambahan yang berbeda.36 4.5 dan Lampiran IV.5 10 12.5 7. 11.08 – 10. akan dianalisis pengaruhnya terhadap workabilitas beton. √ 2. Pengujian Slump Pengujian nilai slump dilaksanakan sebelum campuran beton dituang dalam cetakan.16 cm.5 2 2. √ √ 4. Pengujian slump dilakukan untuk mengetahui workabilitas adukan beton dari setiap percobaan.2.5 dan Lampiran IV. Hasil pengujian slump beton umur 14 hari Abu arang Briket Abu ampas tebu (%) No Beton Normal (%) 7.

√ 15.66 Tabel V.5 √ 2.(V.5 √ 3. Berat jenis beton dapat diketahui dengan cara menimbang dan mengukur tinggi serta diameter benda uji.5 1. sehingga didapatkan berat dan volume benda uji tersebut.6.5 2 √ 3. Hasil pemeriksaan berat jenis beton secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV. C.5 √ 2. Pengujian Berat Jenis Beton Pengujian berat jenis beton dilakukan sebelum diadakannya pembebanan terhadap benda uji silinder.5 √ 2. √ 11.25 x π x d 2 x t …………………………………………………(V.5. Lanjutan 6.11. √ 16. √ 7.2) dengan : γ = berat jenis beton (gram/cm3) B = berat beton setelah direndam (gram) . Besarnya berat jenis dapat dihitung dengan rumus : Berat jenis beton (γ) = B …………………………………………….16. √ 9. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah bahan tambah yang digunakan maka air akan terserap oleh bahan tambah sehingga nilai fas akan berkurang. sedangkan berat jenis rata-rata dapat dilihat pada Tabel V. √ 13. Data dan hasil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran IV.1) V V = 0.12 sampai dengan Lampiran IV. √ √ √ √ - √ √ √ - √ √ √ √ √ √ - √ 2 √ 2. maka nilai slump yang dihasilkan kecil. √ 8.5 2 √ 3. √ 12. √ 14.5 (Sumber: Hasil penelitian) Dari hasil pengujian nilai slump menunjukkan bahwa nilai slump menurun dengan penambahan persentase abu arang briket dan abu ampas tebu dalam campuran beton. √ 10.

301 gram/cm3. Berat Jenis rata2 (gr/cm3) Kadar abu arang briket 0% 7. Berat jenis briket adalah 2.6.172 2.147 2.147 12.282 Kadar abu ampas tebu 7.179 arang briket 10 % 2.213 2.4.248 2.160 2.7.64 gram/cm3 sedangkan berat jenis semen adalah 3.67 V = Volume beton (cm3) d = diameter cetakan beton t = tinggi cetakan beton Volume silinder = 0.210 2.5 % 2. Pengujian Kuat Tekan Dan Tarik Beton Pengujian kuat tekan beton dilaksanakan setelah benda uji silinder telah berumur 14 hari.5% 2.241 2.176 12. Hasil pemeriksaan berat jenis rata-rata pada kuat tekan beton dengan fas 0.185 2.238 2. Tabel V. Kadar abu ampas tebu Berat Jenis rata2 (gr/cm3) 0% 7.147 (Sumber: Hasil penelitian) Tabel V.289 2.213 2.194 Kadar abu 7.5% 10 % 12.185 2.6.282 2.207 2. Hasil pemeriksaan berat jenis rata-rata pada kuat tarik beton dengan fas 0.5 % 0% 2.292 2.226 2.188 2. Berat jenis akan menurun seiring dengan penambahan abu arang briket.15 gram/cm3.200 2. Hal ini disebabkan karena berat jenis briket lebih kecil dari pada berat jenis semen.118 2.438 cm 3 Dari hasil pemeriksaan berat jenis beton Tabel V.213 2.4.216 (Sumber: Hasil penelitian) D.5% 10 % 12. Pengujian kuat tekan beton dilakukan untuk memperoleh nilai kuat tekan beton dengan adanya perbedaan kadar penambahan bahan tambah abu arang briket serta penambahan abu ampas tebu.5% 10 % 2.263 2.5 % 0% 2. Hasil pengujian kuat tekan beton .273 2.5 % 2. diperoleh berat jenis tertinggi 2.25 x π x d 2 x t = 0.25 x π x 15 2 x 30 = 5301.204 2.188 2.210 2.

632 22.4) A = ¼ .4.(V.5 % 34.5 % 0% 3.523 2.069 Kadar abu 7.665 2.d2 = ¼ x π x 152 = 176.π.d2……………………………………………………………(V.523 1. Kadar abu ampas tebu Kuat Tekan rata2 (gr/cm3) 0% 7.476 2. Kuat tarik rata-rata beton dengan variasi penambahan abu arang briket dan ampas tebu pada fas 0.521 23.863 12.714 cm2 dengan : f’ A d = kuat tekan beton salah satu benda uji (kg/cm2) = luas permukaan benda uji yang tertekan (cm2) = diameter cetakan Pmaks = beban tekan maksimum (kg) Tabel V.284 37.5% 10 % 12.8.141 24.075 1.434 37.165 2. Kuat tekan rata-rata beton dengan variasi penambahan filler abu arang briket dan abu ampas tebu pada fas 0. Kadar abu ampas tebu Kuat Tarik rata2 (gr/cm3) 0% 7.5% 10 % 12.4.3) A A = ¼ .830 2.484 22.9.557 29.390 39.029 23.334 Kadar abu 7.476 1.163 23.68 secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.425 23.594 2.933 1.318 2. Besarnya kuat tekan dari benda uji dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus sebagai berikut : f’c = Pmaks …………………………………………………………….159 arang briket 10 % 32.981 arang briket 10 % 2.443 (Sumber: Hasil penelitian) Tabel V.201 22.263 2.5% 2.627 (Sumber: Hasil penelitian) .π.5 % 2. Sedangkan estimasi kuat tekan beton rata-rata dapat dilihat pada Tabel V.17.5 % 0% 30.046 12.7.5% 31.

dapat diketahui bahwa beton normal dengan penambahan bahan tambah abu ampas tebu mengalami penurunan pada kuat tekan. Dari hasil pengujian kuat tekan beton di atas. Grafik gabungan hubungan kuat tekan rata-rata dengan variasi bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket. Sedangkan pada penambahan arang briket kuat tekan mengalami peningkatan.3 dapat disimpulkan bahwa penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket mampu meningkatkan kuat tekan beton.5% dan abu arang briket 10% sebesar 27.3. Kuat tekan optimum diperoleh dari penambahan abu ampas tebu 12.5 Kadar Briket (%) Ampas tebu 0% ampas tebu 10% ampas tebu 7. .5 10 12.78 %.69 Hasil pengujian kuat tekan rata-rata silinder beton dengan bahan tambah abu briket dan abu ampas tebu dapat dilihat pada Gambar V.5% Gambar V.3.5% ampas tebu 12. Dari Gambar V. 45 40 Kuat Tekan (Mpa) 35 30 25 20 15 10 5 0 0 7.

Dari Gambar V.4. dapat diketahui bahwa beton normal dengan penambahan bahan tambah abu ampas tebu dan abu arang briket dapat mengakibatkan penurunan pada kuat tarik beton.5% dan abu arang briket 12.5% dan abu arang briket 10%.830 MPa. 3.70 %. diperoleh kuat tekan beton tertinggi adalah 39.5% Gambar V.4.5 1 0. Kuat tekan tertinggi tersebut diperoleh dari kadar abu ampas tebu 12. Pembahasan Hasil Penelitian Dari hasil penelitian ini dengan topik kapasitas tekan dan tarik beton dengan bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket dengan fas 0. sedangkan kuat tarik tertinggi diperoleh dari kadar abu ampas tebu 7.5 3 Kuat Tarik (Mpa) 2.5% dan abu arang briket 12. Grafik gabungan hubungan kuat tarik rata-rata dengan variasi bahan tambah abu ampas tebu dan abu arang briket.5 10 12.4. Dari hasil pengujian kuat tarik beton di atas.4 bisa disimpulkan bahwa penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket pada umumnya mengalami penurunan untuk setiap variasi penambahannya.5 2 1.5 0 0 7.5% ampas tebu 12.046 MPa dan kuat tarik tertinggi adalah 2. .70 Hasil pengujian kuat tarik rata-rata silinder beton dengan bahan tambah abu arang briket dan abu ampas tebu dapat dilihat pada Gambar V.5%. Kuat tarik optimum diperoleh dari penambahan kadar abu ampas tebu 7.5% sebesar 14. E.5 Kadar Briket (%) ampas tebu 0% ampas tebu 10% ampas tebu 7.

Kuat tekan beton pada penambahan kadar abu ampas tebu 12. . Kuat tarik beton pada penambahan kadar abu ampas tebu 7.78 % dari beton normal atau pada kadar abu arang briket 0 % dan abu ampas tebu 0 %. 2. Kelebihan a) Dalam penelitian ini tidak terjadi penundaan ikatan semen karena dalam waktu 24 jam dari pengecoran.5 % dan abu arang briket 10 % mengalami peningkatan sebesar 27.71 Kelebihan dan kekurangan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.5 % dan abu arang briket 12. b) Karena sifatnya yang menyerap air mengakibatkan nilai slump rendah.70 % dari beton normal atau pada kadar abu arang briket 0 % dan abu ampas tebu 0 %. Kekurangan a) Kemudahan pengerjaan lebih rendah karena abu ampas tebu dan abu arang briket mempunyai sifat menyerap air. benda uji langsung dapat dibuka dari cetakannya kemudian dilakukan perawatan benda uji.5 % mengalami penurunan sebesar 14. b) Kuat tekan beton yang dihasilkan lebih tinggi pada penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket. c) Kuat tarik beton yang dihasilkan lebih tinggi pada penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket.

pengujian kuat tekan dan kuat tarik untuk silinder beton.4 sebesar 2.5 % sedangkan kuat tarik optimum pada fas 0.594 MPa terjadi pada kadar 7. 7).465 MPa terjadi pada kadar 12. 2). Semakin besar persentase abu arang briket dan abu ampas tebu pada adukan beton maka nilai slump makin kecil. Berat jenis akan menurun seiring dengan penambahan abu arang briket dan abu ampas tebu.572 MPa terjadi pada kadar 20 %.5 %. perendaman benda uji.5 % sedangkan kuat tekan optimum pada fas 0.425 MPa terjadi pada kadar 7. 5). Kuat tarik optimum abu arang briket pada fas 0. Hasil pemeriksaan agregat kasar (batu pecah) memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan campuran beton. pada fas 0.5 %. 3).5 %. 72 .4 sebesar 34.45 sebesar 2.5 % sedangkan kuat tekan optimum pada fas 0.735 MPa terjadi pada kadar 12.45 sebesar 2. serta analisis yang telah dilakukan. 30 %.665 MPa terjadi pada kadar 7.45 sebesar 24. Hasil pemeriksaan agregat halus (pasir) memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan campuran beton.4 sebesar 2.4 sebesar 29. Kuat tekan optimum abu arang briket pada fas 0. 40 % didapat kuat tekan optimum sebesar 46. akhirnya penelitian ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1). Kuat tekan optimum abu ampas tebu pada fas 0. Kesimpulan Setelah diadakan tahap pembuatan benda uji.45 sebesar 25. 6).5 % sedangkan kuat tarik optimum pada fas 0.141 MPa terjadi pada kadar 12.3 dengan variasi pencampuran 10 %.BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A.405 MPa terjadi pada kadar 12. Kuat tarik optimum abu ampas tebu pada fas 0. Untuk hasil penelitian Rifai. 4).20 %. 8).899 MPa terjadi pada kadar 10 %.

Dalam pembuatan benda uji.73 9).5 % mengalami peningkatan sebesar 27. 3). Saran Berdasarkan pengamatan selama pelaksanaan penelitian. permukaan air harus menutup semua benda uji yang direndam. abu ampas tebu 0 %. Hal ini dimaksudkan pada waktu pengujian seluruh permukaan benda uji mendapat tekanan yang sama. kesulitankesulitan yang dialami pada saat penelitian dan pembahasan hasil penelitian. 10 %.78 % dari beton normal atau pada kadar abu arang briket 0 %. abu ampas tebu 0 %. 2). maka peneliti memberikan saran sebagai berikut : 1). Penggunaan abu ampas tebu akan mengurangi keenceran adukan campuran beton sehingga kuat tekan dan tarik beton tinggi.5 % dan abu ampas tebu 7.70 % dari beton normal atau pada kadar abu arang briket 0 %. sehingga sulit dipadatkan. 4). setelah dilakukan pencampuran material harus segera dimasukkan ke dalam cetakan karena adukan beton akan segera lengket dan mengental.5 % sehingga dapat dilakukan penelitian selanjutnya tentang besarnya prosentase abu ampas tebu yang dapat menambah kuat tekan dan tarik beton sampai optimum. 10). diharapakan dilakukan penelitian selanjutnya pada variasi fas. Pada saat perendaman benda uji. Bagian atas dan bawah benda uji diusahakan benar-benar rata. Dalam penelitian ini menggunakan abu ampas tebu dengan prosentase tertentu yaitu 7. Kuat tarik beton terjadi pada penambahan kadar abu arang briket 12. 12. .5 % mengalami penurunan sebesar 14. B.5 %. Kuat tekan optimum terjadi pada penambahan kadar abu arang briket 10 % dan abu ampas tebu 12. 5).

Surakarta. SK SNI T-15-1991-03. 2003. Pemakaian Variasi Bahan Tambah Larutan Gula dan Abu Arang Briket Pada Kuat Tekan Beton Mutu Tinggi. Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia. Badan Pengembangan Pekerjaan Umum. 1991. Terjemahan Stephany Hindarko. Standar Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung. Departemen Pekerjaan Umum. Erlangga. 1995. SK SNI T-15-1990-03. K. Teknologi Beton.DAFTAR PUSTAKA Departemen Pekerjaan Umum. Murgiyanto. N. Jakarta. Direktorat Penyelidikan Masalah Bangunan. PT Naviri. M.M.1-2 1971. Subakti. 1990. Brook K. Direktorat Penyelidikan Masalah Bangunan. 1991. Peraturan Beton Bertulang Indonesia. LPMB. Rifa’I. Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta. 2005. Bandung. Surakarta. A. Standar Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung. Bandung. Yogyakarta. 1982.45. . 1971. Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta. Yayasan LPMB Puslitbang Pemukiman Balitbang PU.J. Murdock. Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Tjokrodimuljo. Departemen Pekerjaan Umum. L. Teknologi Beton Dalam Praktek. 1996. Tinjauan Pemakaian Abu Batu Bara Terhadap Karakteristik Beton dengan Menggunakan Faktor Air Semen 0. Surabaya. Bahan dan Praktek Beton. Bandung.

Ph. (0271) 632363 Lampiran IV.5 100 5% L-1 Kandungan lumpur pada pasir untuk campuran beton adalah 5 %. Lab.D NIP. Telp. ST. Ir. Surakarta. 36 A Kentingan Surakarta 57126. sehingga pasir tidak perlu dicuci karena sudah memenuhi batas persyaratan campuran beton yaitu 5%. 1. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. 132 129 524 . Pemeriksaan Kadar Lumpur Pada Pasir Tabel : Pemeriksaan pasir sebelum dicuci (Sumber : Hasil penelitian) Berat cawan (gram) Berat pasir kering tungku+cawan (gram) Berat pasir kering tungku setelah dicuci (gram) Berat pasir kering tungku sebelum dicuci (gram) Kandungan lumpur (%) A B C D=B-A D −C x100% D 158 258 95. Sutami No. Mei 2006 Ka.

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. Mei 2006 Ka. Lab.D NIP. terlihat larutan berwarna kuning kecoklatan. sehingga pasir dapat langsung digunakan untuk campuran beton. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. Ph. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Sutami No. (0271) 632363 Lampiran IV. Pemeriksaan Kandungan Zat Organik Pada Pasir Tabel : Pengujian zat organik dalam pasir (Sumber : Hasil penelitian) No 1 2 Jenis bahan Pasir Larutan NaOH 3% Volume (cc) 130 cc Secukupnya Volume total 200 cc Warna larutan L-2 Kuning Kecoklatan Setelah pasir dicampur NaOH 3 % dan didiamkan selama 24 jam. Ir. 132 129 524 . Surakarta. ST.2. Telp. Ini menunjukkan bahwa pasir tersebut tidak banyak mengandung bahan organik.

Lab.6 : 3 = 4.43 2 =4.215>0. Sutami No. (0271) 632363 Lampiran IV.2 (4.5 × 7.5 cm = 8.23 + 4.2 4. Ph.75 Pada pengujian ini diperoleh penurunan pasir rata.7 12.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.6 3. Pengujian Saturated Surface Dry (SSD) Pasir Tabel : Pemeriksaan penurunan pasir rata-rata (Sumber : Hasil penelitian) Percobaan I II III Jumlah 15 20 25 Jumlah penurunan : 3 Nilai SSD Penurunan tinggi pasir(cm) Sample A Sample B 3.rata sebesar 3.D NIP.215 L-3 Tinggi pasir mula-mula Nilai SSD = 7. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.3.23 12. sedangkan tinggi pasir mula-mula 7. Ir. oleh karena itu pasir perlu diangin-anginkan sebelum digunakan. Telp.5 4.2) / 2 = 4.4 4.5 =3. 132 129 524 . ST.75 cm. Surakarta.7 : 3 = 4. 36 A Kentingan Surakarta 57126.9 4. Mei 2006 Ka. Keadaan ini membuktikan bahwa pasir masih agak basah.5 cm.

132 129 524 . ST.4.59 2.82 Syarat berat jenis agregat normal antara 2. Ph. Surakarta. Telp.7 (berat jenis agregat halus yang diperoleh memenuhi syarat).5 – 2.42 1006. Sutami No. Ir.47 2. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. Pemeriksaan Spesific Gravity dan Absorption Pasir Tabel : Perhitungan Spesific Gravity dan Absorbtion Pasir (Sumber : Hasil penelitian) Berat pasir kondisi SSD(gram) Berat volumetric flash+air (gram) Berat volumetric flash+air +pasir(gram) Berat pasir kering tungku (gram) Bulk Specific grafity (gram/cm 3 ) Specific grafity SSD (gram/cm 3 ) L-4 Apparent Specific grafity (gram/cm 3 ) Absorption (%) A B C D D ( A + B − C) A (B + A − C) D (B + D − C) A− D x100% D 500 699. Lab. Mei 2006 Ka.D NIP.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.80 4. 36 A Kentingan Surakarta 57126.27 477 2. (0271) 632363 Lampiran IV.

736 1.25 x π x 15 2 x 30 = 5301.749 gr/cm 3 Surakarta.246 Rata-rata berat satuan volume pasir = 1.438 cm 3 = 10150 gram Tabel : Pemeriksaan berat satuan volume (Sumber : Hasil penelitian) No 1 2 3 Berat silinder (gram) 10150 10150 10150 Berat pasir+silinder (gram) Berat pasir (gram) Berat sat. Lab. Ir.765 5. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. (0271) 632363 Lampiran IV. Telp. Sutami No.5.246 3 1. Pemeriksaan Berat Satuan Volume Pasir L-5 Volume silinder Berat silinder = 0.745 1.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. 132 129 524 . volume (gram/cm 3 ) 19400 19355 19505 Jumlah = 9250 9205 9355 5. ST.25 x π x d 2 x t = 0. 36 A Kentingan Surakarta 57126.D NIP. Mei 2006 Ka. Ph.

07 0.5 – 3.90 322. Ukuran Ayakan (mm) 9.24 240.18 0. 2.00 1050. Sutami No.80 18.01 277.2 301.00 Syarat SK SNI 100 90-100 75-100 55-90 35-59 10-30 0-10 0 Gol II Keterangan : * tidak ikut dijumlahkan = 3000 gr = 2999.77 8. Ph. 6.70 322.14 0.00 295.03 Berat Pasir Terkoreksi 75.4 gr Koreksi = berat pasir tertahan × kesalahan berat pasir setelah diayak Dari hasil analisa pengujian diatas didapatkan modulus halus butir pasir sebagai berikut : Modulus halus butir = = Jumlah persentase kumulatif tertahan 100 295.80 46.70 383 579.93 3000 % Pasir Tertinggal 2.04 322.6.00 Persen Kumulatif Tertinggal 2.03 0.6 gr Berat pasir mula-mula Berat pasir setelah diayak Berat kesalahan penimbangan = 3000 – 2999.51 60.74 211.04 0.04 518. 5.20 240. 132 129 524 .6 = 0.74 8.96 = 2. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Ir.04 0.30 0.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.40 35. 1.50 9. ST.9 Jumlah Berat Cawan (gr) 61 61 61 61 61 61 61 61 Berat Pasir (gr) 75.20 81.01 0. (0271) 632363 Lampiran IV.60 Koreksi 0.50 4.03 100.23 91.24 77.8 Surakarta.20 53.00 277. 3.D NIP.15 Pan Berat Cawan + Pasir (gr) 136 338. Pemeriksaan Gradasi Pasir L-6 Tabel : Perhitungan pengujian gradasi pasir Boyolali (Sumber : Hasil penelitian) No .74 17. 4. Telp.03 0. Mei 2006 Ka.76 22. Lab.03 1051.00 518.26 10.97 100.75 2.36 1. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.30 6.5 88.9 383.96 100 Modulus halus butir 2.9 253 1111.982 memenuhi syarat yaitu antara 1.50 39.90 192.97 192.50 11.90 2999. 7.96 Lolos 97.04 0. 8.03 10.85 0.

Hal ini menunjukkan batu pecah tersebut dapat digunakan sebagai bahan campuran beton.7. 19 dan tertahan 12.3 %.D NIP. 12. Ph. Telp.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. 132 129 524 . Pemeriksaan Keausan Agregat Kasar L-7 Tabel : Hasil pengujian keausan agregat kasar (Sumber : Hasil penelitian) Lolos No.5 dan tertahan 9.5 Berat benda uji mula-mula (gram) Lolos No. karena memiliki kekerasan butiran yang masih ada dalam batasan yang disyaratkan yaitu tidak boleh lebih dari 20 %. Sutami No. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.. Mei 2006 Ka. ST. Lab. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Ir.3 % Hasil pengujian keausan batu pecah dari Karanganyar 0. (0271) 632363 Lampiran IV. Surakarta.5 Berat benda uji setelah diuji (gram) Keausan agregat (%) A B A−B x100% A 2500 2500 4985 0.

D NIP. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.08 % Surakarta. Pemeriksaan Spesific Gravity dan Absorbtion Batu Pecah L-8 Tabel : Perhitungan Spesific Gravity dan Absorbtion Batu Pecah (Sumber : Hasil penelitian) Berat batu pecah kondisi SSD(gram) Berat benda uji dalam air (gram) Berat benda uji kering oven (gram) Bulk Specific grafity (gram/cm 3 ) Specific grafity SSD (gram/cm 3 ) Apparent Specific grafity (gram/cm 3 ) Absorbtion (%) A B C C A− B A A− B C C−B A−C x100% C 3032.5 2. Ir.5 1832.5 3000 2. Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Ph. Telp. ST. 132 129 524 .DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.53 2. Lab.57 1. Mei 2006 Ka.8. (0271) 632363 Lampiran IV.

Pemeriksaan Berat Satuan Volume Batu Pecah L-9 Volume silinder Berat silinder = 0.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.2 gram/cm3 – 1. 771 = 1. 36 A Kentingan Surakarta 57126.590 gram/cm3.9. Hasil pengujian berat satuan batu pecah 1. Ir.6 gram/cm3.584 1. Mei 2006 Ka.D NIP.595 1. Lab.771 Rata-rata berat satuan volume batu pecah Berat satuan agregat kasar normal yaitu 1.438 cm 3 = 10600 gram Tabel : Pemeriksaan berat satuan volume (Sumber : Hasil penelitian) No 1 2 3 Berat silinder (gram) 10600 10600 10600 Berat batu pecah+silinder (gram) Berat batu pecah (gram) Berat sat. (0271) 632363 Lampiran IV. ST. Ph.25 x π x 15 2 x 30 = 5301. 132 129 524 . Telp. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.592 4. volume (gram/cm 3 ) 19000 19055 19040 Jumlah 3 8400 8455 8440 = 4 . Pengujian tersebut membuktikan batu pecah mempunyai berat satuan sesuai yang disyaratkan untuk berat satuan normal.25 x π x d 2 x t = 0. Sutami No. Surakarta.590 gr/cm 3 1.

00 0.00 0.00 0. Ir.50 9.108 memenuhi syarat yaitu antara 5 – 8. Pemeriksaan Gradasi Batu Pecah L-10 Tabel : Perhitungan pengujian gradasi batu pecah dari Boyolali (Sumber : Hasil penelitian) no 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Ukuran Ayakan (mm) 25 19 12.49 Lolos 100 83. 132 129 524 . Telp.00 0. Sutami No.00 % Komulatif Tertinggal 0.D NIP.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.89 100 Surakarta.00 0.34 5.90 60.00 16.04 152.03 0.49 = 7.50 4.66 94.03 1822.93 100. Lab. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.90 77.00 0.00 100.00 100.01 0.00 0.8 930 573 322 320 315 242 269 Jumlah Berat Ayakan (gr) 488 454 431 412 421 322 320 315 242 269 Berat Kerikil (gr) 0 507 1822. Ph.00 0.00 0.00 0.00 0.8 = 0.76 17.00 100.00 0.15 Pan Berat ayakan+ Kerikil (gr) 488 961 2253.2 gr Koreksi = berat pasir tertahan × kesalahan berat pasir setelah diayak Dari hasil analisa pengujian diatas didapatkan modulus halus butir batu Jumlah persentase kumulatif tertahan 100 789. (0271) 632363 Lampiran IV.92 518.00 16.8 518 152 0 0 0 0 0 2999.00 3000 % Kerikil tertinggal 0.00 507.27 5.10 22.00 0. Mei 2006 pecah/kerikil sebagai berikut : Modulus halus butir = = Modulus halus butir 7.12 0.85 0.01 0.00 Keterangan : * tidak ikut dihitung = 3000 gr Berat batu pecah mula-mula Berat batu pecah setelah diayak = 2998 gr Berat kesalahan penimbangan = 3000 – 2999. 36 A Kentingan Surakarta 57126.00 100.00 0.36 1.00 100. ST.00 100.00* 789.75 2.10.07 1.00 0.8 Koreksi 0.00 Berat Kerikil terkoreksi 0.93 0.04 0.00 0. Ka.18 0.00 0.07 0.

438 cm 3 = 10600 gram Tabel : Pemeriksaan berat satuan volume (Sumber : Hasil penelitian) No 1 2 3 Berat silinder (gram) 10600 10600 10600 Berat Agregat Kasar + silinder (gram) Berat Agregat Kasar (gram) Berat sat.606 gr/cm 3 Surakarta.25 x π x 15 2 x 30 = 5301. (0271) 632363 Lampiran IV. 132 129 524 . Mei 2006 Ka.604 1. volume (gram/cm 3 ) 19000 19105 19235 Jumlah 8400 8505 8635 4.629 4. Ph. Telp.25 x π x d 2 x t = 0. Pemeriksaan Berat Satuan Volume Agregat Kasar L-11 Volume silinder Berat silinder = 0.817 3 1. ST. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.11.817 Rata-rata berat satuan volume agregat kasar = = 1. Ir. Lab.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.D NIP.584 1. Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta 57126.

48 Mpa 47.66 Mpa biasa batu pecah 0.45 2 34 % 2.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.716 kg Proporsi bahan tiap 1 silinder = 1.4 60-100 mm 40 mm 184.50 2300 kg/m3 1652. 36 A Kentingan Surakarta 57126. (0271) 632363 Lampiran IV.18 Mpa pada 14 hari 7 Mpa 11. Sutami No.884 kg Kerikil 1090.12.9 ltr dan fas 0. Ir.884 kg/m3 1090.2 * vol cetakan silinder * vol material tiap m3 .4 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Uraian Kuat tekan umur 14 Deviasi standar Nilai tambah Kuat tekan rata2 Jenis semen Jenis kerikil Fas Slam Ukuran maks butir kerikil Kadar air Kebutuhan semen Kebutuhan semen minimum Dipakai kebutuhan semen Penyesuaian jumlah air atau fas Golongan pasir Persen pasir terhadap camp Berat jenis campuran Berat beton Kebutuhan camp pasir dan kerikil Kebutuhan pasir Kebutuhan kerikil Tabel/Grafik/Perhitungan grafik M=k * ds Nilai 36.6 kg/m3 561. Perencanaan Campuran Adukan Beton Metode SK-SNI T-15-199003 L-12 Perancangan Adukan Beton Normal Fas 0.25 kg 275 kg 462.25 kg 184.9 ltr 462.9 ltr Semen 462.716 kg/m3 tabel 10 : 7 grafik grafik grafik 18-(11+10) 16 * 19 19-20 Proporsi campuran Tiap m 3 Air 184.25 kg Pasir 561. Telp.

14.622 41.639 17.639 17.205 .056 7.622 41. 6.639 17.622 41. 5.056 7.056 7.442 21.5 % 2. Sutami No.056 7. (0271) 632363 Lampiran IV.622 41.442 21.442 21.442 21. 3.622 7. 8.639 17.442 Kerikil (kg) 41.056 7.622 41.056 7. 36 A Kentingan Surakarta 57126.622 41.639 17.323 Filler (kg) 10 % 1.056 7.205 7.323 1.056 7.442 21.622 41. Telp.622 41.622 41.205 2. 13.442 21.056 Semen (kg) 17.622 41.639 17.639 17. 16.764 2.639 17.639 Pasir (kg) 21.4 No 1.639 17.442 21.205 2.5 % 1.639 17.639 17.442 21. 10.622 41.205 2.622 41.323 1. Ir. 15. 4.622 41.323 1.323 1.764 1.205 2.764 1.205 2. 11.442 21.205 2.442 21.639 17. Proporsi kebutuhan material tiap 3 sampel untuk uji tekan dan tiap 3 sampel untuk uji tarik dengan fas 0.442 21.764 1.639 17.056 7.323 1. Proporsi kebutuhan material L-13 Tabel.764 1.056 7.442 21.442 21.639 17. 9. Air (kg) 7.622 41.056 7.056 7.442 21.764 1. 12.5 % 1.639 17.323 Ampas (kg) 10 % 12.764 12.056 7.764 1.13. 7.323 1.056 7.5 % 1.056 7. 2.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.622 41.442 21.

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR
JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Jl. Ir. Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Telp. (0271) 632363

Lampiran IV.14. Pemeriksaan Slump Adukan Beton

L-14

Tabel: Hasil pengujian slump beton umur 14 hari (Sumber : Hasil penelitian) No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. Beton Normal √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Ampas (%) 7,5 10 12,5 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Filler Briket (%) 7,5 10 12,5 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Slump (cm) 7,5 2 2,5 1,5 1,5 2 2,5 2 3,5 2,5 2 3,5 2,5 1,5 2,5 3,5

Surakarta,

Mei 2006

Ka. Lab. Bahan Konstruksi Teknik

Kusno Adi Sambowo, ST, Ph.D NIP. 132 129 524

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR
JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Jl. Ir. Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Telp. (0271) 632363

Lampiran IV.15. Hasil Pengujian Kuat Tekan Silinder Beton
HASIL PENGUJIAN KUAT TEKAN SILINDER BETON FAS 0.4

L-15

No 1

Tanda / Kode BN-40

Tgl. dibuat 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 2119 April 2006

Volume silinder (cm3) 5301,438

Berat (gr) 11950 11900 11750 12080 11900 12000 11950 11300 11500 11400 11500 11500 12250 12100 12150

b.j (gr/cm3) 2,254 2,245 2,216 2,279 2,245 2,264 2,254 2,131 2,169 2,150 2,169 2,169 2,301 2,282 2,292

b.j rata-rata (gr/cm3) 2,238

Tgl. diuji 3 Mei 2006

Umur 14

Beban Maks. (kN) 495 600 525 510 570 480 430 415 400 420 330 420 535 560 550

Kuat tekan (MPa) 28,011 33,953 29,709 28,860 32,255 27,162 24,333 23,484 22,635 23,767 18,674 23,767 30,275 31,689 31,124

2

BNA-1-40

5301,438

2,263

3 Mei 2006

14

3

BNA-2-40

5301,438

2,185

3 Mei 2006

14

4

BNA-3-40

5301,438

2,163

3 Mei 2006

14

5

BNF-1-40

5301,438

2,292

3 Mei 2006

14

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR
JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Jl. Ir. Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Telp. (0271) 632363

Lampiran IV.15. Lanjutan
HASIL PENGUJIAN KUAT TEKAN SILINDER BETON FAS 0.4

L-16.

No 1

Tanda / Kode BNF-2-40

Tgl. dibuat 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006

Volume silinder (cm3) 5301,438

Berat (gr) 12100 12200 12000 12100 12100 12100 11550 11650 11850 11900 11700 11600 11600 11600 11600

b.j (gr/cm3) 2,282 2,301 2,264 2,282 2,282 2,282 2,179 2,197 2,235 2,245 2,207 2,188 2,188 2,188 2,188

b.j rata-rata (gr/cm3) 2,282

Tgl. diuji 3 Mei 2006

Umur 14

Beban Maks. (kN) 600 530 600 580 630 600 440 390 400 330 420 425 420 420 460

Kuat tekan (MPa) 33,953 29,992 33,953 32,821 35,651 33,953 24,899 22,069 22,635 18,674 23,767 24,050 23,767 23,767 26,031

2

BNF-3-40

5301,438

2,282

3 Mei 2006

14

3

BNAF-11-40

5301,438

2,204

3 Mei 2006

14

4

BNAF-12-40

5301,438

2,213

3 Mei 2006

14

5

BNAF-13-40

5301,438

2,188

3 Mei 2006

14

438 2.899 21.150 2.147 5 Mei 2006 14 5 BNAF-32-40 5301. dibuat 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301.15. diuji 5 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks.150 b.348 2 BNAF-22-40 5301.207 2. (0271) 632363 Lampiran IV.782 36.188 2.767 23.169 2.j rata-rata (gr/cm3) 2.226 2. Ir.333 25.150 2.210 Tgl.782 37.147 5 Mei 2006 14 4 BNAF-31-40 5301.938 23.438 2.573 37.j (gr/cm3) 2.175 5 Mei 2006 14 .188 2.264 2.169 2. Sutami No.504 24. Lanjutan HASIL PENGUJIAN KUAT TEKAN SILINDER BETON FAS 0.188 2.141 2.465 36.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.188 2.438 2.216 2.213 5 Mei 2006 14 3 BNAF-23-40 5301. 36 A Kentingan Surakarta 57126.217 43.4 L-17 No 1 Tanda / Kode BNAF-21-40 Tgl.767 24.504 21.084 2.438 2. Telp.914 36.438 Berat (gr) 11600 11750 11800 12000 11600 11600 11350 11400 11400 11050 11500 11600 11700 11500 11400 b.767 23. (kN) 370 420 420 420 440 380 380 430 450 650 670 650 640 770 660 Kuat tekan (MPa) 20.

dibuat 20 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301. (0271) 632363 Lampiran IV. 36 A Kentingan Surakarta 57126.4 L-18. Lab. Mei 2006 Ka.j (gr/cm3) 2.153 Tgl. Sutami No.480 38. Ph. 132 129 524 .122 2. No 1 Tanda / Kode BNAF-33-40 Tgl. ST.j rata-rata (gr/cm3) 2.D NIP.122 2. Lanjutan HASIL PENGUJIAN KUAT TEKAN SILINDER BETON FAS 0. Telp.15.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. diuji 4 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks.438 Berat (gr) 11250 11250 11750 b.216 b. Ir. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.368 Surakarta.480 35. (kN) 680 680 625 Kuat tekan (MPa) 38.

179 2.264 2.169 2.438 2. Ir.476 1.438 2.254 2.16.438 2.438 Berat (gr) 12200 11950 12000 11500 11350 11500 11500 11750 11850 11850 11550 11500 11900 11950 11900 b.264 2.395 3.j rata-rata (gr/cm3) 2.248 3 Mei 2006 14 .4 L-19 No 1 Tanda / Kode BN-40 Tgl. HASIL PENGUJIAN KUAT TARIK SILINDER BETON FAS 0.235 2.301 2. (0271) 632363 Lampiran IV. Hasil Pengujian Kuat Tarik Silinder Beton . diuji 3 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks.768 2.546 2.141 2.j (gr/cm3) 2.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.254 2.254 2.273 Tgl.688.169 2. 36 A Kentingan Surakarta 57126.207 3 Mei 2006 14 4 BNA-3-40 5301.112 3.194 3 Mei 2006 14 5 BNF-1-40 5301.160 3 Mei 2006 14 3 BNA-2-40 5301. dibuat 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301. Telp.546 2.235 2.546 1.245 b.169 2.688 2.216 2.169 2. Sutami No.415 2.438 2.829 2 BNA-1-40 5301.245 2. 2. (kN) 220 240 245 230 160 175 100 180 180 125 190 180 190 160 200 Kuat tarik (MPa) 3.446 3.264 2.

188 3 Mei 2006 14 4 BNAF-12-40 5301.334 2.4 L-20 No 1 Tanda / Kode BNF-2-40 Tgl.200 3 Mei 2006 14 5 BNAF-13-40 5301. diuji 3 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks.768 3. 36 A Kentingan Surakarta 57126.169 2.829 2.245 2. Ir.289 Tgl.971 3.197 2.438 2.207 2.j rata-rata (gr/cm3) 2.16.282 2.438 2.216 2.301 2.197 2. (0271) 632363 Lampiran IV. (kN) 125 235 165 165 115 200 165 205 165 160 175 200 210 215 175 Kuat tarik (MPa) 1.627 2.438 2.197 2.216 b.334 2.325 2.334 1.j (gr/cm3) 2. Telp.245 2.900 2.301 2.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.241 3 Mei 2006 14 3 BNAF-11-40 5301.476 2 BNF-3-40 5301. Sutami No. dibuat 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301. Lanjutan HASIL PENGUJIAN KUAT TARIK SILINDER BETON FAS 0.197 2.264 2.476 2.226 3 Mei 2006 14 .197 2.334 2.438 Berat (gr) 12200 12200 12000 11650 11900 12100 11500 11650 11650 11700 11650 11650 11750 11900 11750 b.829 2.438 2.042 2.263 2.

839 1.188 2.188 2.438 Berat (gr) 11700 11600 11500 11600 11600 11350 11400 11500 11250 11500 11550 11600 11500 11550 11550 b.16.122 1.j (gr/cm3) 2.122 2. Sutami No. (kN) 180 185 160 125 135 150 150 105 185 160 130 130 150 120 125 Kuat tarik (MPa) 2.485 2.207 2.j rata-rata (gr/cm3) 2.188 Tgl.4 L-21 No 1 Tanda / Kode BNAF-21-40 Tgl.169 2.768 1. Ir. (0271) 632363 Lampiran IV. dibuat 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301.179 b.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.122 2.150 2.169 2.438 2.188 2. HASIL PENGUJIAN KUAT TARIK SILINDER BETON FAS 0. diuji 4 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks.188 2.179 4 Mei 2006 14 5 BNAF-32-40 5301.172 4 Mei 2006 14 3 BNAF-23-40 5301. Lanjutan .438 2.438 2.910 2.546 2.617 2. 36 A Kentingan Surakarta 57126.176 4 Mei 2006 14 .147 4 Mei 2006 14 4 BNAF-31-40 5301.179 2.169 2.122 1.141 2. Telp.839 2.617 2.768 2 BNAF-22-40 5301.169 2.264 1.438 2.179 2.698 1.264 1.

179 b. 132 129 524 .216 2. ST. (kN) 115 115 115 Kuat tarik (MPa) 1. Ph. Ir.254 2.j (gr/cm3) 2. (0271) 632363 Lampiran IV. Mei 2006 Ka. No 1 Tanda / Kode BNAF-33-40 Tgl.627 Surakarta.j rata-rata (gr/cm3) 2. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. Sutami No. diuji 4 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks.16.4 L-22.627 1.D NIP.627 1. Lanjutan HASIL PENGUJIAN KUAT TARIK SILINDER BETON FAS 0.438 Berat (gr) 11750 11950 11550 b.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.216 Tgl. Telp. 36 A Kentingan Surakarta 57126. dibuat 20 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301. Lab.