P. 1
Aditya Galih Wijaya

Aditya Galih Wijaya

|Views: 78|Likes:
Published by Aris Widanarko

More info:

Published by: Aris Widanarko on Nov 25, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/04/2015

pdf

text

original

Sections

  • A. Latar Belakang
  • B. Rumusan Masalah
  • C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
  • D. Batasan Masalah
  • E. Keaslian Penelitian
  • BAB II TINJAUAN PUSTAKA
  • C. Sifat – Sifat Beton
  • 3. Sifat agregat
  • 4. Umur beton
  • 5. Jenis semen
  • E. Bahan Tambah Beton
  • 1. Bahan tambah kimia
  • 3. Serat
  • BAB III LANDASAN TEORI
  • A. Umum
  • B. Bahan Penyusun Beton
  • 1. Semen Portland
  • 2. Agregat
  • 3. Air
  • 4. Bahan pengisi (Filler)
  • 5. Abu arang briket
  • 6. Abu ampas tebu
  • C. Perencanaan Campuran Beton
  • Tabel. III. 6. Ketentuan minimum untuk beton bertulang kedap air
  • E. Kuat Tarik Beton
  • BAB IV METODE PENELITIAN
  • B. Bahan Penelitian dan Peralatan Penelitian
  • 1. Bahan penelitian
  • 2. Peralatan penelitian
  • Gambar IV.1. Satu set ayakan dan Siever
  • Gambar IV.2. Timbangan digital
  • Gambar IV.4. Gelas ukur
  • Gambar IV.6. Oven
  • Gambar IV.7. Desicator
  • Gambar IV.8. Volumetric flash
  • Gambar IV.10. Molen
  • 2l). Tongkat baja
  • Gambar IV.11. Kerucut Abram’s dan tongkat baja
  • Gambar IV.13. Bak tempat perendaman benda uji
  • Gambar IV.15. Peralatan penunjang lain
  • C. Tahapan Penelitian
  • 1. Tahap I : Persiapan alat dan penyediaan bahan
  • 2. Tahap II : Pemeriksaan bahan dasar
  • 3. Tahap III : Penyediaan benda uji
  • 4. Tahap IV : Pengambilan data
  • 5. Tahap V : Analisis data dan kesimpulan
  • Gambar IV.16. Bagan Alir Tahapan Penelitian
  • D. Pelaksanaan Penelitian
  • 1. Pemeriksaan bahan
  • 2. Perencanaan campuran beton
  • 4. Pembuatan benda uji
  • Gambar IV.17. Perawatan benda uji beton
  • 6. Pemeriksaan berat jenis
  • 7. Pengujian kuat tekan dan kuat tarik benda uji
  • Gambar IV.18. Benda uji sebelum dicat
  • Gambar IV.19. Benda uji setelah dicat
  • Gambar IV.20. Hasil pengujian kuat tekan beton
  • Gambar IV.21. Pengujian kuat tekan beton
  • Gambar IV.22. Pengujian kuat tarik beton

TUGAS AKHIR

KAPASITAS TEKAN DAN TARIK BETON DENGAN BAHAN TAMBAH FILLER ABU AMPAS TEBU DAN ABU ARANG BRIKET DENGAN FAS 0,4

Disusun guna memenuhi persyaratan untuk memperoleh Gelar Sarjana Teknik pada Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta

oleh :

Aditya Galih Wijaya NIM : D 100 000 145 NIRM : 00.6.106.03010.5.0145

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2006

LEMBAR PENGESAHAN

KAPASITAS TEKAN DAN TARIK BETON DENGAN BAHAN TAMBAH FILLER ABU AMPAS TEBU DAN ABU ARANG BRIKET DENGAN FAS 0,4
Tugas Akhir Diajukan dan dipertahankan pada Ujian Pendadaran Tugas Akhir di hadapan Dewan Penguji Pada tanggal : …. Juni 2006

Aditya Galih Wijaya
NIM : D 100 000 145 NIRM : 00.6.106.03010.5.0145 Susunan Dewan Penguji Pembimbing utama Pembimbing pendamping

Ir. Suhendro Trinugroho, M.T NIP. 732 Anggota

Ir. H. Aliem Sudjatmiko, M.T NIK. 131 683 033

Much. Sholichin, S.T, M.T NIK : 792 Tugas Akhir ini diterima sebagai salah satu persyaratan Untuk mencapai derajat sarjana S-1 Teknik Sipil Surakarta,…..Juni 2006 Mengetahui Dekan Fakultas Teknik Ketua Jurusan Teknik Sipil

Ir. Sri Widodo, M.T NIK. 542 iii

M. Ujianto, ST, M.T NIK. 564

MOTTO

“Katakanlah : sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah”.
(Q.S Al-An’aam:162-163)

“Tenang setenang langit dan cepat secepat kilat”.
( Penulis )

“Barang siapa berjalan di suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan mempermudah jalan ke surga”.
( H. R. Muslim )
“Janganlah berfikir untuk menjadi orang yang sukses, tapi berpikirlah untuk menjadi orang yang berguna”.

( Penulis )

“Terima kasih Ya Allah untuk kehidupan dan kesehatan saya. Terima kasih atas kesempatan-kesempatan saya, atas persoalan-persoalan saya, dan terima kasih atas bimbingan dalam mengatasi persoalan-persoalan tersebut”.
( Penulis )

iv

v . Ummi dan Abbah Demi Allah tidak dapat aku balas pengorbanan. Almamaterku.HALAMAN PERSEMBAHAN Ucapan Terima Kasih Penulis Persembahkan Kepada : My Lord Atas izin-Mu untuk menyelesaikan Tugas Akhir ini. BlueMax K6723DE. Istriku Anita Fitriana dan Calon Anakku Naja Keyshika Semangat serta perjuanganmu adalah nafas kehidupanku. Stream K4658KB. Adikku Adhimas Pamungkas Terima kasih atas semua do’anya. Winning Eleven. cucuran keringat dan kasih sayangmu selama aku hidup di dunia.

ilmu. vi . nasehat dan kesabaranya. terima kasih untuk semua bimbingan. nasehat dan kesabaranya. selaku Dosen Koordinator Tugas Akhir. Bapak Ir.T. Bapak Ir.. Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir dengan judul ”Kapasitas Tekan Dan Tarik Beton Dengan Bahan Tambah Filler Abu Ampas Tebu Dan Abu Arang Briket Dengan Fas 0. M. penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung membantu membimbing serta meluangkan waktu sehingga laporan ini dapat terselesaikan. Ummi dan Abbah. selaku Dosen Pembimbing Pendamping. kehadiranmu ajarkan aku bijaksana. selaku Dosen Pembimbing Utama Tugas Akhir. M. terima kasih atas semua do’anya. Bapak Ir.T. H. keberadaanmu tunjukkan aku bahagia. Ujianto.T. Dengan selesainya penyusunan laporan ini.KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. kehangatanmu memberikan cermin hati tuk melihat seluruh putihnya kasihmu... S. Anita Fitriana.Wb Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Karunia. M. Bapak M. 6).T. M. Sri Widodo.T.T. keramahanmu teduhkan jiwaku. M.T... Suhendro Trinugroho. 4).4”. 8). selaku Ketua Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta. M. H. Aliem Sudjatmiko. Penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1). ilmu.. 2). 9). selaku Dosen Pembimbing Akademik 7). S. Saudara sekandungku Adhimas Pamungkas. Suhendro Trinugroho.T. yang telah memberikan dorongan dan semangat baik moril maupun materiil dalam menyelesaikan laporan ini. terima kasih untuk semua bimbingan. 5). selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta.. Ibu Qunik Wiqoyah. Bapak Ir. 3).

14). PT. Mr. Anita.Wb Surakarta. Yanuar+Dinda (hidup tak selamanya indah). Semoga laporan ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca. Radjimin. Bala Tentara Lab Teknik Sipil UNS : Bos Kusno Adi S. Penulis menyadari keterbatasan dalam penyusunan Tugas Akhir ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Pardi terima kasih atas semua bantuannya. Juni 2006 Penulis vii . Ari. Hatur Nuhun Sanget Ya Allah. Amin. Rubianto Nugroho selaku Partner Dewan Beton Nasional 0. Asih. 12). Asrie (A4). Sayoko. Persero Tbk Cabang II Riau yang telah memberikan segala fasilitas dan jaminan hidup sampai sekarang.?!). Jesus. 11). Guruh+Trek (Laskar Industri Indonesia). terima kasih atas persahabatannya. terima kasih atas dukungan dan bantuannya. 15). Punggawa Yandu : Kholiq+Sahid (tetep kompak dan rukun slalu yo). Danang. Sahabatku Kenci. Save My Soul… 16). Wassalamu’alaikum Wr. Toni+Ikha (Keluarga Ceria). Barudak Sipil 2000. Fajri. Orang-orang yang dekat denganku dan merubah hidupku jadi lebih berarti.45 terima kasih atas semua masukkan dan kerjasamanya yang baik slama ini. untuk itu kritik dan saran yang sifatnya membangun penulis harapkan demi kesempurnaan penyusunan laporan selanjutnya. 13). Parman. Edwin Reagen Sedunia (kapan modal chek.. Adhi Karya. 17).10).

14 viii .DAFTAR NOTASI K = Kadar lumpur (gram) G 0 = Berat pasir mula – mula (gram) G 1 = Berat pasir setelah dicuci (gram) B = Berat picnometer + air (gram) BT = Berat picnometer + air + pasir (gram) BJ = Berat batu pecah dalam keadaan jenuh (gram) BA = Berat batu pecah dalam air (gram) Wо = Berat pasir mula – mula (gram) W 1 = Berat agregat halus yang tertahan saringan ukuran 2 mm (gram) M = nilai margin Sd = standart deviasi f’c = Kuat tekan beton (MPa) f’cr = Kuat tarik beton (MPa) W = Berat benda uji (gram) V = Volume silinder beton (cm³) P = Beban maksimal (N) d = Diameter silinder (mm) h = Tinggi silinder (mm) π = 3.

..... vii DAFTAR GAMBAR ................................................................................................................................................................................ HALAMAN PERSEMBAHAN .............. C........... D................................................. A...................... Keaslian Penelitian .......................................... Pengertian Beton......... Faktor air semen........................................................... xvii DAFTAR NOTASI ........ Jumlah semen ......... 1............................................. B........................................................................................................... xv DAFTAR LAMPIRAN....... C.... Sifat umum beton ................................... ix 1 1 3 3 3 3 3 4 5 5 6 6 6 7 8 8 8 ... Sifat khusus beton ..................................................................................................................................................................................................................................................... xiii DAFTAR TABEL............................. Manfaat penelitian.................................................. D.............................................................................. Umum ................. Latar Belakang............. 1................. Tujuan dan Manfaat Penelitian .............................................. BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................................. Sifat – sifat Beton ............................ Rumusan Masalah......................................................... 2........................ B.......................................... MOTTO ................................ Tujuan penelitian................. Batasan Masalah ........................................ 1.................................... E........................................................................... i iii iv v vi ix KATA PENGANTAR ............................................................. 2..................................................................................................................... HALAMAN SOAL..... A...........................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ................................................................................................................................................................................................................................................................................................... xviii ABSTRAKSI .. Beberapa Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Beton .... xix BAB I PENDAHULUAN..................................................... DAFTAR ISI......... LEMBAR PENGESAHAN .......... 2.............................................................................................................

........................................................ Abu arang briket.............................. Bahan Penyusun beton .................................................................................... 32 1........................................... 35 x ..................................................................... Pozolan............ Agregat kasar ................... 30 BAB IV METODE PENELITIAN ............................ Bahan Penelitian dan Peralatan Penelitian....................... Serat........................................................... 17 2a)............................................................3.................... Kerucut Conus ........... 15 B.. 19 5............... 18 4.... Kuat Tekan Beton ................... 20 C..................................... 33 2b).................. Air .......................... 34 2d)............................................................................................................................................................................................... 18 2b)........................... 32 2................... Ayakan standar ... Umum .... Agregat ......................................................... 19 6............. 15 1.......................................................................................... 32 B............................................................................................................................................................................ Peralatan Penelitian............... 14 BAB III LANDASAN TEORI.................................... Bahan Tambah Beton........................ 35 2e)................ 15 A............. Bahan tambah kimia.............. 9 4.............................. Bahan penelitian............................................................ Jenis semen................................. 18 3. Abu ampas tebu......................... 10 5........ Kuat Tarik Beton.......................................................... 12 2.......................................................................................... Timbangan ................... Umum ......................... Semen portland ....................................................................................................... 12 1.................... Perencanaan Campuran Beton ......................................... 29 E...................................................................... Gelas ukur......... Bahan Pengisi (Filler) ........ 20 D................................ 13 3........ 32 2a)..... 32 A........................................................................................................................................... 33 2c)........ Penggetar ayakan (Siever) .................... Sifat agregat .......... 16 2......... Umur beton. Agregat halus ............... 11 E.................

................. Tahap III : Penyediaan benda uji .. Mesin uji tekan.............. Pemeriksaan Specific Gravity dan Absorbtion pasir.................................... Desicator ........... Pengujian Slump.... 48 1f)................ Pemeriksaan berat satuan volume batu pecah ............ 37 2j)....... Pembuatan benda uji ......... 52 2. Volumetric Flash .................... 38 2l)............................................... Mesin uji Los Angeles................................2f)........................................................................ 39 2o)....................................................... Bak tempat perendaman benda uji .................... Pemeriksaan gradasi agregat pasir................................................................ Tahap II : Pemeriksaan bahan dasar............................ 46 1d)..... 41 5............. Pemeriksaan Saturated Surface Dry (SSD) pasir........... 37 2i)............... Tongkat baja ...... Pemeriksaan kadar lumpur pasir .................................... 39 2n).............. Perencanaan campuran beton ............................................................. Tahap Penelitian ................... 54 4.......................... 41 3........................................................................... 44 1b).............................................. 40 1................................................. 41 4............... Molen .... 42 D.................... 44 1.................... 53 3.......................................... Tahap V : Analisis data dan kesimpulan............... 36 2h).................................... Pemeriksaan keausan agregat kasar......... 49 1g) Pemeriksaan Specific Gravity dan Absorbtion kerikil ..................... Tahap I : Persiapan alat dan penyediaan bahan . Oven.... 40 C...... 41 2........................................................ 51 1i)................. Pemeriksaan zat organik pasir ............. 37 2k).......................... 55 xi .... Pelaksanaan Penelitian.............. Tahap IV : Pengambilan data... 45 1c).......... Pemeriksaan gradasi batu pecah ......... 47 1e)................................................. Cetakan silinder............................................................ Pemeriksaan bahan.... Peralatan penunjang lain ................................................ 44 1a)....... 50 1h)............................. 39 2p)........................................ 36 2g).................. 38 2m)..... Kerucut Abram’s..................................

............................. Hasil pengujian agregat halus ................................................ 70 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ........... 72 A................................................... Pengujian Slump ............ 72 B.................................. Pembahasan Hasil Penelitian ............ 69 E.......... Pengujian Kuat Tekan Dan Kuat Tarik Beton ............. 55 6................................................................................................................... Pengujian kuat tekan dan tarik beton .................................................... 61 A.............. 63 B......... Pengujian Berat Jenis Beton .... 67 D.................... 56 7............... Perawatan benda uji (Curing) ........... Kesimpulan ............................. Pengujian Agregat......................................................... Saran ...................................... 66 C.. Pemeriksaan berat jenis beton.................................................................................... Hasil pengujian agregat kasar ............................ 56 BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...................................................................... 61 2..5............... 61 1. 73 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN xii .....

..... 3..................................... 13 Gambar IV....... 39 Gambar IV....... 57 Gambar IV.......................................................... Hasil pengujian kuat tekan beton... 57 Gambar IV.......... 5....... 11 Gambar II..............17.............. Perawatan benda uji beton . Desicator......... 3.................13........15............. 2...................9..... 1................. Kerucut Conus .......DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar II...................... 10 Gambar II............................ 12 Gambar II.............. Satu set ayakan dan Siever..20.............. Bak tempat perendaman benda uji.................... 58 Gambar IV... 2.......................19... Benda uji setelah dicat .... 8...................................................................10... Pengujian kuat tekan beton .................... Oven .. Volumetric flash ........................ 35 Gambar IV.12.... Molen ............. 38 Gambar IV.............. 34 Gambar IV.................................................11.....6.....................................16. 39 Gambar IV..1...... Timbangan digital .................... 37 Gambar IV.................................. Benda uji sebelum dicat .......................... 36 Gambar IV........................................... 4............................ 36 Gambar IV.................. Mesin Los Angeles .. 4...................................... 56 Gambar IV............................................ 43 Gambar IV............. 11 Gambar II.................... 35 Gambar IV........................................ 37 Gambar IV.21................................................................................... 38 Gambar IV......... 40 Gambar IV................ Grafik kuat tekan beton untuk berbagai jenis semen. Mesin uji kuat tekan dan kuat tarik merk Milano Italy.................................. Cetakan beton silinder.... 58 xiii ................................................ Kerucut Abram’s dan tongkat baja ..................................... Pengaruh suhu pada laju kuat tekan beton .......... Hubungan antara kuat tekan beton dan jumlah semen .... Gelas ukur ...... 40 Gambar IV.................... 33 Gambat IV..................14............ Bagan alir tahapan penelitian............. 5........................................... Pengaruh umur beton terhadap laju kenaikan kuat tekan beton pada beberapa fas .........................................................7..................................... Pengaruh jenis agregat terhadap kuat tekan beton .................18. 6............. Peralatan penunjang lainnya .......... Timbangan besar... Hubungan antara faktor air semen dan kuat tekan silinder beton 9 Gambar II..... 34 Gambar IV...........

..... Grafik gabungan hubungan kuat tekan rata-rata dengan variasi tebu bahan tambah filler abu ampas dan abu arang briket....... 59 Gambar V.. 59 Gambar IV.......... Grafik gabungan hubungan kuat tarik rata-rata dengan variasi tebu bahan tambah filler abu ampas dan abu arang briket...................................... Hasil pengujian kuat tarik beton ... 72 xiv ............. 63 Gambar V.. 2..22... 3... 71 Gambar V.... Pengujian kuat tarik beton .. Batas gradasi pasir dalam daerah gradasi No.......................... Batas gradasi kerikil ............. 65 Gambar V..........................Gambar IV.....22............... II .... 1............ 4...............

....... 3..... 61 Tabel V.... Hasil pengujian agregat kasar ............................... 2...................................... 46 Tabel IV.............................. 6.... 65 Tabel V.. 25 Tabel III............................. 26 Tabel III.. Penetapan nilai Slump ..................... Rincian jumlah benda uji untuk kuat tarik beton................................ 5......... Pengujian agregat kasar ... Faktor pengali deviasi standar .................................. 54 Tabel IV......... 8....... Pengujian agregat halus .. 22 Tabel III..... 3.. Nilai deviasi standar untuk tingkat pengendalian mutu pekerjaan 22 Tabel III.......... 66 Tabel V........... 6........ Hasil pemeriksaan berat jenis rata-rata kuat tekan beton dengan Fas 0........... 5......... 4............................... 1 Jenis-jenis semen Portland ......................... Hasil pengujian Slump beton umur 14 hari....... 7......... 10..... 28 Tabel IV........... 1.................... 54 Tabel V.... 53 Tabel IV....... 9......................DAFTAR TABEL Halaman Tabel I........................................... 63 Tabel V............................................... Proporsi kebutuhan material tiap 3 sampel untuk uji kuat tekan dan 3 sampel untuk uji kuat tarik dengan fas 0........................................................................... Rincian jumlah benda uji untuk kuat tekan beton ..... 4................4................. Rincian jumlah benda uji kuat tekan dan uji kuat tarik ..................................... 17 Tabel III.......Batas gradasi pasir ... Ketentuan untuk beton yang berhubungan dengan air tanah yang mengandung sulfat . Perkiraan kuat tekan beton dengan faktor air semen 0........... 24 Tabel III..................... 4 Tabel III..... 65 Tabel V. Hasil penurunan SSD pasir ......................... 24 Tabel III......................... 26 Tabel III. 1..... 2..... 23 Tabel III....... 68 xv ......................... 3.................................................. 1.............. Perkiraan kadar air bebas yang dibutuhkan untuk beberapa tingkat kemudahan pengerjaan adukan beton ............. Persyaratan jumlah semen minimum dan faktor air semen maksimum untuk berbagai macam pemberonan dalam lingkungan khusus ......................4 ..... 2.............................. Hasil pengujian agregat halus ... Ketentuan minimum untuk beton bertulang kedap air... 4.............5 dan jenis semen dan agregat kasar yang biasa dipakai di Indonesia ...........................

....... Kuat tekan rata-rata beton dengan variasi penambahan filler abu abu arang briket dan abu ampas tebu dengan Fas 0................ Kuat tarik rata-rata beton dengan variasi penambahan filler abu abu arang briket dan abu ampas tebu dengan Fas 0............4..... 70 xvi .............................4 . 7............ 68 Tabel V.. 69 Tabel V.Tabel V.......... Hasil pemeriksaan berat jenis rata-rata kuat tarik beton dengan Fas 0..... 9....4....... 8.........................

............. Pemeriksaan kadar lumpur pada pasir... Pemeriksaan berat satuan volume pasir ..... L-5 Lampiran IV. 2............ Pemeriksaan Slump adukan beton ................12... Hasil pengujian kuat tarik beton ............... Pemeriksaan Spesific Gravity dan Absorbtion batu pecah ...............................15....... L-1 Lampiran IV.... Hasil pengujian kuat tekan beton ..... L-12 Lampiran IV. Pemeriksaan berat satuan volume batu pecah ............................................ L-3 Lampiran IV......... L-14 Lampiran IV...... L-11 Lampiran IV........ Pemeriksaan gradasi pasir ... 9....... Periksaan kandungan zat organik pada pasir......DAFTAR LAMPIRAN Lampiran IV....... 6....14............................ L-4 Lampiran IV......................... Pemeriksaan Spesific Gravity dan Absorbtion pasir ...........11.. 8........ L-15 Lampiran IV...................... L-10 Lampiran IV............ Pemeriksaan keausan agregat kasar . Pemeriksaan berat satuan volume agregat kasar ........................... 3......... L-8 Lampiran IV............... Pengujian Saturated Surface Dry (SSD) pasir ................. L-6 Lampiran IV............ L-9 Lampiran IV...............16. Proporsi campuran............... 5.... Perencanaan campuran adukan beton metode SK SNI ...................... 1... Pemeriksaan gradasi batu pecah................... L-13 Lampiran IV............ L-7 Lampiran IV....10........ L-2 Lampiran IV.. 7. L-19 xvii ..13.............. 4.............

70 % dari kuat tarik beton normal.ABSTRAKSI KAPASITAS TEKAN DAN TARIK BETON DENGAN BAHAN TAMBAH FILLER ABU AMPAS TEBU DAN ABU ARANG BRIKET DENGAN FAS 0.5% . Perancangan adukan beton menggunakan rancangan SK. Fakultas Teknik. 12. 10% . adapun penelitian ini mencoba memanfaatkan abu ampas tebu dari Pabrik Gula Tasik Madu yang ada di Karanganyar dan abu arang briket dari PT. variasi bahan tambah abu ampas tebu sebesar 7. Pada penelitian ini menggunakan fas sebesar 0. kuat tarik xviii . Penelitian tentang beton telah banyak dilakukan.5% dari berat semen dan abu arang briket sebesar 7. Dari hasil pengujian kuat tekan rata-rata optimum diperoleh pada variasi abu ampas tebu 12.5% dan abu arang briket 12. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Bahan dan Struktur. Beton yang dibuat berbentuk silinder dengan tinggi 30 cm dan diameter 15 cm.5% dari berat semen.4 dengan umur beton 14 hari. Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penambahan filler abu ampas tebu dan abu arang briket terhadap kuat tekan dan kuat tarik beton.5% . Kata kunci : abu ampas tebu. Jurusan Teknik Sipil.5%. kuat tekan. dengan hasil peningkatan sebesar 27.SNI.T-15-1990-03. Skatex yang ada di Karanganyar.4 Beton merupakan bahan bangunan yang telah banyak dikenal masyarakat Indonesia karena bahan penyusun beton mudah didapat dan relatif murah. 12. abu arang briket.5% dan abu arang briket 10%. 10% . Universitas Sebelas Maret.78 % dari kuat tekan beton normal dan dari pengujian kuat tarik rata-rata optimum diperoleh pada variasi abu ampas tebu 7. sebesar 14.

Semen merupakan salah satu bahan penyusun beton yang bersifat sebagai pengikat agregat pada campuran beton. Beban tarik pada plat atau balok beton dipikul oleh tulangan baja pada beton. Besarnya kuat beton dipengaruhi beberapa hal antara lain : fas. pemadatan dan perawatan). Struktur yang terbuat dari beton antara lain : jalan dan jembatan yang strukturnya terbuat dari beton. Pemakaian beton diharapkan dapat menghasilkan bangunan-bangunan berkualitas yang tidak mungkin diperoleh dari beton normal. bertujuan 1 . Jadi perkembangan beton sangat perlu dalam kehidupan sehari-hari yang mempengaruhi konstruksi struktur. lapangan terbang. Beton merupakan bahan bangunan yang awet dan tidak mudah berkarat. Beton merupakan salah satu faktor penting dalam bidang konstruksi mengingat fungsinya sebagai salah satu pembentuk struktur. serta bahan kimia tambahan (admixture). sifat agregat. umur beton. dan pengerjaan (pencampuran. jenis semen. serta mudah dalam mendapatkan bahan penyusunnya. gradasi agregat. bendungan dan sebagainya. Peningkatan kualitas campuran beton akan menghasilkan beton yang lebih berkualitas. Struktur dari beton mempunyai tegangan tarik yang rendah. mudah dalam perawatan. Latar Belakang Perkembangan teknologi sekarang ini sangat pesat seiring dengan perkembangan zaman. mudah dalam pembentukan. termasuk teknologi beton yang hampir pada setiap aspek kehidupan manusia selalu terkait dengan beton baik secara langsung maupun tidak langsung. Kualitas beton bergantung pada bahan-bahan penyusunnya. Beton banyak digunakan karena keunggulan-keunggulannya antara lain kuat tekan beton tinggi. Kualitas yang baik pada campuran beton ditambah dengan bahan tambah (admixture). hal ini sangat berbeda dengan elemen struktur baja yang memerlukan perawatan untuk mencegah terjadinya karat. Teknologi dibidang konstruksi bangunan juga mengalami perkembangan pesat.BAB I PENDAHULUAN A.

dicoba untuk mengembangkan penelitian kapasitas tekan dan tarik beton dengan bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket dengan fas 0. mengingat abu ampas tebu berasal dari sisa penggilingan tebu. Pendapat tersebut adalah kadar gula dengan kadar tertentu akan dapat mengurangi kekuatan beton (Budiyana. Hal tersebut membuat masyarakat beranggapan. yang tidak mempunyai sifat seperti semen. saat ini ada beberapa praktisi ilmu pengetahuan yang memiliki pendapat lain dari pendapat masyarakat terdahulu. beberapa ahli memberikan tetes tebu sebagai bahan campuran. 1998). Bangunan yang dibuat sampai sekarang rata-rata masih berdiri kokoh. Hubungannya dengan pembuatan beton dikatakan banyak orang bahwa dalam pelaksanaan pembuatan beton.4.2 untuk mengubah satu atau lebih sifat-sifat bahan penyusun beton baik dalam keadaan segar atau setelah keras. Penambahan abu ampas tebu sebagai bahan tambah dalam campuran beton telah dilakukan dalam beberapa pengujian dengan beberapa variasi takaran penambahan abu ampas tebu terhadap adukan tersebut. Pemilihan abu ampas tebu sebagai bahan tambah merupakan salah satu alternatif yang cukup mengena. Penelitian ini ingin mengetahui berapa besar kuat tekan dan tarik beton tersebut setelah diberi bahan tambah dibandingkan dengan beton normal. Hal ini mengisyaratkan bahwa tetes tebu berpengaruh terhadap kekuatan beton. seperti bahan tambah filler arang briket. Namun seiring perkembangan zaman. sehingga bisa menjadi addictive mineral yang baik untuk beton. Pozolan adalah bahan yang mempunyai kandungan utama senyawa Silicon Dioksida alami atau buatan. Sedangkan pohon tebu tumbuh subur di daerah tropis seperti di Indonesia ini. Berdasarkan hasil penelitian diatas. . Penambahan filler abu arang briket pada campuran beton yang bersifat pozolan. bahwa kadar gula dalam hal ini tetes tebu mampu memberikan pengaruh terhadap beton. selain itu abu ampas tebu mudah didapat dan bisa dibedakan atau diketahui cukup dengan indra manusia.

2. 7. Semen yang digunakan adalah semen Portland. 9.SNI. bahwa pemakaian bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket mampu menambah kuat tekan dan tarik beton yang lebih baik. 12. 3. Metode mix design menggunakan Metode SK.T-15-1990-03. Benda uji berupa silinder berdiameter 15 cm dan tinggi 30 cm. C. jenis I merk Holcim. Manfaat penelitian Manfaat penelitian ini antara lain : a). Rumusan Masalah Rumusan masalah yang diambil dalam penelitian ini adalah seberapa besar pengaruh penambahan filler abu ampas tebu dan abu arang briket terhadap kuat tekan dan kuat tarik beton. Filler abu arang briket didapat dari PT. maka penulis memberikan batasan-batasan masalah pada penelitian sebagai berikut : 1. Penelitian ini diharapkan dapat membuktikan. Faktor air semen yang digunakan 0. 8. Skatex di Karanganyar. Persentase variasi campuran abu ampas tebu dan abu arang briket adalah 0 %. 6. . berasal dari Boyolali.5 % dari berat semen. Agregat kasar (batu pecah) dan agregat halus (pasir).5 %. untuk mengembangkan pengetahuan tentang teknologi beton terutama pemanfaatan filler abu arang briket sebagai bahan tambah. Manfaat teoritis. 4.4. 5. b). Pengujian kuat tekan dan tarik beton tidak menggunakan tulangan. D. Tasik Madu di Karanganyar. 7. Abu ampas tebu berasal dari PG. 10 %. Tujuan penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kuat tekan dan kuat tarik beton yang dihasilkan dengan menggunakan bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket 2. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Batasan Masalah Agar tidak terjadi perluasan dalam pembahasan tugas akhir ini.3 B.

11. 10 .4 10.5 . Rincian jumlah benda uji untuk kuat tekan dan tarik beton. di Laboratorium Bahan Konstruksi Teknik. .5 7.5 .1. Umur pengujian kuat tekan dan kuat tarik beton benda uji silinder beton dilaksanakan pada umur 14 hari. 13.12. Variasi campuran bahan tambah yang digunakan untuk adukan beton dan variasi perendaman seperti pada Tabel I. 12. 10 .5 7.12.4. Keaslian Penelitian Penelitian beton dengan bahan tambah abu batu bara telah dilakukan oleh Murgiyanto (2003).4 7. 14.5 . 10 . Tabel I.5 Jumlah benda uji 0 7.h=30 E.5 3 9 27 9 48 x 2 = 96 d=15. Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta. 10 .12.1.SNI. Untuk perencanaan campuran menggunakan metode SK. Dalam penulisan tugas akhir ini dikaji tentang pengaruh penambahan bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket terhadap kuat tekan dan kuat tarik beton dengan menggunakan fas 0. Penelitian yang dilakukan oleh Murgiyanto (2003) adalah tinjauan pemakaian abu batubara terhadap karakteristik beton dengan menggunakan faktor air semen 0.T-15-1990-03.12. Jumlah seluruh benda uji yaitu (3 x 4 x 4) x 2 = 96 benda uji. Jumlah benda uji 3 buah tiap variasi abu ampas tebu dan abu arang briket. Penelitian lain tentang analisis kuat tekan beton dengan penambahan larutan gula dan abu arang briket batubara pernah diteliti oleh Muctar Rifai (2005). Tinjauan analisis pada kuat tekan dan kuat tarik beton.5 . Penelitian tersebut untuk mengetahui pengaruh bahan tambah larutan gula dan abu arang briket batubara terhadap kuat tekan beton mutu tinggi.45. Umur pengujian (hari) Fas Abu Ampas Tebu (%) Abu Arang Briket (%) Jumah total benda uji Ukuran benda uji (cm) 0 14 hari 0.

5 . Kekuatan. (Subakti. Jadi dapat diambil kesimpulan. mulai dari bahan kimia tambah. B.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Dengan perencanaan yang tepat dan sesuai rencana serta pengontrolan pada pemilihan material yang baik. jembatan. Semakin modern suatu bangsa. baik secara langsung maupun tidak langsung. 1996). misalnya dengan pemanfaatan bahan-bahan lokal yang didapat di daerah tertentu dengan mengubah perbandingan bahan dasarnya. agregat. Campuran tersebut bila dituangkan dalam cetakan kemudian dibiarkan maka akan mengeras seperti batuan. maka peranan teknologi tentang beton akan sangat dominan dan sangat berpengaruh pada proses pembangunan yang menggunakan teknologi beton. Hampir pada setiap aspek kegiatan pembangunan sehari-hari tergantung pada beton. yang diakibatkan oleh reaksi kimia antara air dan semen. 1995) Kemajuan pengetahuan tentang beton telah dapat memenuhi berbagai tuntutan pembangunan. (Tjokrodimuljo. Sebagai contoh jalan. Pengertian Beton Beton merupakan campuran antara semen. 1996). maka akan didapat suatu fungsi beton maksimum. (Tjokrodimuljo. dan gedung yang sering ditempati. nilai perbandingan bahan-bahannya. Beton yang bermutu sangat baik merupakan material yang sangat awet dan bebas dari pemeliharaan untuk beberapa tahun. maka akan menghasilkan suatu mutu beton yang dapat memenuhi persyaratan. air dan kadang-kadang memakai bahan tambah yang sangat bervariasi. cara pengadukannya maupun cara pengerjaannya selama penuangan adukan beton dan cara perawatan selama proses pengerasan. Umum Beton merupakan suatu material yang sangat sering dijumpai. bahwa kegiatan sehari-hari sering dipengaruhi oleh dampak perkembangan teknologi beton. serat sampai bahan bangunan non kimia pada prosentase tertentu. keawetan dan sifat beton bergantung pada sifat bahan dasar penyusunnya.

Sifat – Sifat Beton Sifat beton merupakan hal yang erat kaitannya dengan kualitas beton yang dituntut untuk suatu tujuan konstruksi. 3) Beton segar dapat dengan mudah diangkut maupun dicetak 4) Akibat kuat tekannya tinggi maka jika dikombinasikan dengan baja tulangan (yang kuat tariknya tinggi) maka dapat dikatakan mampu dibuat untuk struktur berat. 5) Beton segar dapat disemprotkan dipermukaan beton lama yang retak maupun diisikan kedalam retakan beton dalam proses perbaikan. yaitu sifat yang berhubungan langsung dengan kelebihan beton dan sifat yang berhubungan dengan kekurangan beton ( Tjokrodimuljo. 3) Beton keras mengembang dan menyusut bila terjadi perubahan suhu sehingga perlu kelonggaran untuk mencegah retak-retak akibat perubahan suhu. 6) Beton segar dapat dipompakan sehingga memungkinkan untuk dituang pada tempat-tempat yang sulit. Kelebihan beton antara lain : 1) Beton termasuk bahan yang berkekuatan tekan tinggi. Sifat umum beton Secara umum beton mempunyai sifat kebaikan dan kekurangan tertentu jika dibandingkan dengan bahan-bahan lain (Tjokrodimuljo.6 C. Diharapkan dari suatu konstruksi adalah hasil yang didapat sesuai harapan secara maksimal tetapi secara ekonomis tidak terjadi pemborosan. 2) Harga relatif murah. 1996 ). Kekurangan beton antara lain : 1) Beton mempunyai kuat tarik rendah sehingga mudah retak oleh karena itu perlu diberi tulangan. Sifat-sifat beton pada umumnya digolongkan menjadi dua. . 1.1996). 7) Beton termasuk tahan aus dan tahan kebakaran sehingga biaya perawatan termasuk rendah. 2) Beton segar mengalami proses pengerutan saat terjadi proses pengeringan dan beton mengeras mengalami pengembangan jika basah.

. Kuat Tekan Kuat tekan beton lebih besar daripada kuat tariknya. 2.M. Dalam praktek. c). bahkan di dalam pengujian tidak mungkin menghilangkan elemen lentur (Murdock & K. perubahaan bentuk terjadi dan bertambah sesuai dengan pertambahan beban. b). Besarnya kuat geser. sebagaimana baja dan bahan-bahan lain. Kuat tekan ini selalu bertambah bersamaan dengan bertambahnya umur beton. 1991) d). Modulus elastisitas Yang menjadi tolok ukur yang umum dari sifat elastis bahan adalah modulus elastisitas yang merupakan perbandingan dari tekanan yang diberikan dan perubahan bentuk persatuan panjang sebagai akibat dari tekanan yang diberikan. 5) Beton bersifat getas (tidak daktail) sehingga harus dilindungi dan didetail secara seksama agar diperoleh struktur yang komposit. Besarnya kuat tarik dan lentur Kuat tarik beton berkisar seperdelapan belas kuat tekan pada umur yang masih muda dan berkisar sepersepuluh sesudahnya. Biasanya ini tidak diperhitungkan dalam perencanaan struktur beton. Beton berubah bentuk sebagian mengikuti regangan elastis dan sebagian mengalami regangan plastis. dan air yang mengandung garam dapat merusak beton. Brook. Perubahaan bentuk akibat pembebanan Bilamana beton dibebani. tarik dan lentur. e). kuat geser beton selalu diikuti oleh kuat tekan. Sifat khusus beton Sifat secara khusus bagi beton adalah sifat-sifat yang ditinjau atau berhubungan dengan : a).7 4) Beton sulit untuk kedap air secara sempurna sehingga selalu dapat dimasuki air.

kekuatan beton semakin tinggi. 1996). makin rendah kuat tekan betonnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas beton antara lain : 1. Ideal Dipadatkan dengan alat getar Kuat tekan beton Dipadatkan dengan tangan Padat penuh tidak padat Faktor air . akan tetapi dibawah faktor air semen tertentu. Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Beton Kesempurnaan semua sifat dasar beton dicapai dengan tidak meninggalkan segi ekonomis.1. sehingga kuat beton rendah. Pencapaian nilai kuat tekan beton yang maksimal harus dipertimbangkan hal-hal yang mempengaruhi kualitas beton tersebut. berarti jumlah air juga sedikit. Hubungan antara faktor air semen dan kuat tekan silinder beton (Tjokrodimuljo. kuat tekan beton akan rendah. Hal ini terjadi karena kesulitan dalam pemadatan adukan beton. dan adukan beton sulit didapatkan.semen Gambar II. serta murah dari segi ekonomisnya. Faktor air semen Faktor air semen adalah angka yang menyatakan perbandingan antara berat air dengan berat semen. karena penggunaa beton yang diharapkan yaitu dengan kualitas yang baik dan mempunyai kuat tekan tinggi. Pada jumlah semen yang terlalu sedikit.8 D. Semakin besar faktor air semen. Jumlah semen Beton dengan jumlah kandungan semen tertentu mempunyai kuat tekan tinggi. Walaupun semakin rendah faktor air semen. sehingga beton menjadi kurang padat (Tjokrodimuljo. Namun jika jumlah . 1996) 2.

sedangkan gradasi butiran juga sangat mempengaruhi kekuatan beton. gradasi agregat dengan ukuran butiran yang bervariasi berarti sedikit pula pori-pori betonnya sehingga memerlukan jumlah pasta yang sedikit untuk mengisi rongga-rongga antar butirnya dan secara teoritis kekuatannya lebih tinggi (Tjokrodimuljo.9 semen terlalu berlebihan berarti jumlah air juga berlebihan sehingga beton mengandung banyak pori dan akibatnya kuat tekan beton rendah. Hubungan antara kuat tekan beton dan jumlah semen ( Tjokrodimuljo. yang berakibat penambahan kuat tekan (Tjokrodimuljo. 1996). diperlukan agregat yang lebih kuat. Sifat agregat Sifat agregat yang berpengaruh terhadap kekuatan beton adalah kekuatan agregat. Gambar II. sebenarnya tidak begitu besar karena pada umumnya kekuatan agregat lebih tinggi daripada pastanya. 1996) 3. . Pengaruh kekuatan agregat terhadap kekuatan beton. Namun apabila dikehendaki kekuatan beton yang lebih tinggi. sehingga penambahan semen berarti pengurangan nilai faktor air semen.1996). kekasaran permukaan agregat dan gradasi butir agregatnya.2. Beton dengan kandungan semen lebih banyak mempunyai kuat tekan lebih tinggi. Kekasran permukaan agregat mempengaruhi daya lekat dan besarnya tegangan saat retak-retak beton mulai terbentuk.

4. dan pada permukaan endapan butiran semen ini akan membuat difusu air ke bagian dalam. Pengaruh suhu pada laju kuat tekan beton (Tjokrodimuljo. Gambar II. Hal ini disebabkan oleh reaksi kimia yang terjadi antara bahan-bahan penyusun beton. Kenaikan kekuatan beton tersebut mula-mula cepat kemudian semakin melambat selaras dengan umur betonnya. 3. Pengaruh jenis agregat terhadap kuat tekan beton (Tjokrodimuljo. 1996) 4. hal inilah yang menyebabkan semakin sulitnya proses hidrasi seiring dengan bertambahnya umur beton.10 Gambar II.1996) . Yang dimaksud umur beton adalah dihitung sejak umur beton dibuat. butir-butir semen akan menghasilkan endapan. Umur beton Kuat tekan beton bertambah sesuai dengan bertambahnya umur beton. terutama antara semen dan air yang mengalami proses hidrasi. Selama proses ini.

Semen portland yang dalam penggunaannya persyaratan sangat tahan terhadap sulfat. Departemen Pekerjaan Umum (1982) membagi semen portland dalam lima jenis yaitu : Jenis semen Jenis I Jenis II Jenis III Jenis IV Jenis V Karakteristik Umum Semen portland untuk penggunaan umum yang tidak memerlukan persyaratan khusus seperti yang disyaratkan pada jenis-jenis lain. (Sumber : Tjokrodimuljo. Semen portland yang dalam penggunaannya memerlukan ketahanan terhadap sulfat dan panas hidrasi. Pengaruh umur beton terhadap laju kenaikan kuat tekan beton pada beberapa fas (Tjokrodimuljo. 5. 1996) . Semen portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan kekuatan awal yang tinggi setelah pengikatan terjadi.1996) 5. Semen portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan panas hidrasi yang rendah.11 Gambar II. Jenis semen Menurut PUBI.

Bahan kimia (berupa bubuk atau cairan) ini dicampurkan ke dalam adukan beton dengan jumlah tertentu selama pengadukan. Bahan tambah ialah bahan selain unsur pokok beton (air. Penggunaan bahan tambah tersebut dimaksudkan untuk memperbaiki dan menambah sifat beton sesuai dengan yang diinginkan. Grafik Kuat tekan beton untuk berbagai jenis semen (Tjokrodimuljo. pozolan dan serat (Tjokrodimuljo. Penggunaan bahan tambah (admixture) harus didasarkan pada alasanalasan yang tepat misalnya memperbaiki kelecakan beton. Bahan tambah beton ini dapat berupa bahan tambah kimia. 1996). menghemat harga beton menambah daktalitas (mengurangi sifat getas). 1996).12 Gambar II. 6. terutama untuk pembuatan beton di daerah yang beriklim tropis seperti Indonesia. semen dan agregat) yang ditambahkan pada adukan beton. 1996) E. untuk mengubah beberapa sifat beton dan memperoleh sifat-sifat khusus yang diinginkan (Departemen Pekerjaan Umum. segera atau selama pengadukan beton (Tjokrodimuljo. mengurangi retak-retak pengerasan dan menambah kuat tekan beton. . Bahan tambah kimia Bahan tambah kimia adalah suatu bahan kimia yang dapat membantu mempermudah dalam proses pembuatan beton. 1982). penampilan beton bila mengeras. bahan tambah merupakan bahan yang dianggap penting. Bahan Tambah Beton Dalam pembuatan konstruksi beton. 1. sebelum.

Jenis E : Bahan tambah kimia berfungsi ganda yaitu untuk mengurangi air dan mempercepat proses ikatan dan pengerasan beton. Jenis D : Bahan kimia tambahan yang berfungsi ganda yaitu mengurangi air dan memperlambat proses ikatan dan pengerasan beton. Menurut pembentukannya pozolan dibedakan menjadi dua jenis. silika fume dan lain-lain. abu sekam padi (rice husk ash). c. yaitu : 1) Pozolan buatan. d. 1996). seperti abu terbang (fly ash). 1982 bahan kimia tambahan dibedakan menjadi lima jenis antara lain : a. 2) Bahan kimia tambahan dengan fungsi ganda. Dengan pemakaian bahan ini diperoleh adukan dengan faktor air semen lebih rendah pada nilai slump yang sama. Selain lima jenis di atas. Jenis B : Bahan tambah kimia untuk memperlambat proses ikatan dan pengerasan beton. Jenis A : Bahan kimia tambahan untuk mengurangi jumlah air yang dipakai. akan tetapi dalam bentuknya yang halus dengan adanya air. yang merupakan sisa pembakaran dari tungku ataupun hasil pemanfaatan limbah yang diolah menjadi abu yang mengandung silika reaktif dengan melalui proses pembakaran. ada dua jenis lain yang lebih khusus. 2. b. yaitu : 1) Bahan kimia tambahan yang digunakan untuk mengurangi jumlah air campuran sampai sebesar 12% atau bahkan lebih. Bahan pozolan tidak mempunyai sifat mengikat seperti semen. Jenis C : Bahan tambah kimia untuk mempercepat proses ikatan dan pengerasan beton. yaitu mengurangi air sampai 12% atau lebih.13 Menurut Persyaratan Umum Bahan Bangunan Indonesia (PUBI). untuk menghasilkan adukan beton dengan kekentalan sama (air dikurangi sampai 12% lebih namun adukan beton tidak bertambah kental). Pozzolan Pozolan merupakan bahan tambah mineral yang mengandung silika (SiO2) dan alumina (Al2O3). (Tjokrodimuljo. e. . memperlambat pengikatan awal. maka senyawa tersebut akan bereaksi dengan Calsium Hidroksida Ca(OH)2 pada suhu biasa membentuk kalsium hidrat yang bersifat hidrolis.

yang merupakan sedimentasi dari abu atau lava gunung berapi yang mengandung silika aktif yang bila dicampur dengan kapur padam akan mengadakan proses sedimentasi. Pemakaian serat pada beton lebih tahan retak dan tahan terhadap benturan. dan mengandung pozolan. dan mengurangi keawetan beton. 3. namun hanya menambah daktalitas. 1996) . (Tjokrodimuljo. pemberian serat pada beton tidak banyak menambah kuat tekan beton. Serat Tujuan utama penambahan serat ke dalam beton adalah untuk menambah kuat tarik beton yang sangat rendah berakibat beton mudah retak.14 2) Pozolan alam. Abu arang briket batubara termasuk bahan kimia jenis E.

B.BAB III LANDASAN TEORI A. murah. Bahan Penyusun Beton Dasar penyusun material beton normal terdiri dari semen. Kesulitan timbul karena di dalamnya banyak parameter yang harus diperhitungkan. misalnya: ukuran maksimum agregat. Perencanaan campuran beton dimaksudkan untuk mendapatkan beton yang sebaik-baiknya. agregat halus. perbandingan bahan-bahan yang dipakai. tahan lama dan tahan aus. Tahap-tahap penelitian harus diselesaikan sesuai standar penelitian yang baku untuk mendapatkan material yang berkualitas baik. air dan bahan tambah (admixture) bila diperlukan. banyaknya pemakaian beton disebabkan terbuat dari bahan-bahan yang umumnya mudah didapat serta mudah diolah sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Bahan-bahan dasar penyusun beton harus diketahui oleh perencana. pengontrolan dan perbandingan yang tepat untuk semua bahan serta untuk perancangan campuran beton mutu tinggi lebih kompleks bila dibandingkan dengan perancangan campuran beton normal. cara pengadukan maupun pengerjaan selama penuangan adukan beton. Umum Pada saat ini. sehingga dapat mengembangkan dan memilih bahan penyusun yang baik serta dapat menentukan komposisi yang tepat. material-material tersebut harus melalui tahap penelitian dan berkualitas baik. Untuk pembuatan beton. yaitu yang kuat tekannya tinggi. beton merupakan bahan bangunan yang banyak dipakai secara luas. Produksi beton yang efektif dapat dicapai dengan pemilihan. mudah dikerjakan. 15 . cara pemadatan dan cara perawatan selama proses pengerasan. penambahan bahan dari sifat-sifat bahan dasar yang dipakai. agregat kasar.

1. Trikalsium Aluminat (C3A) dan Tetrakalsium Alumina Ferit (C4AF). . 1996) Selain semen-semen yang disebut di atas. Semen hidrolis adalah semen yang akan mengeras apabila bereaksi dengan air.1. Dikalsium Silikat (C2S). Semen portland yang dalam penggunaannya memerlukan ketahanan terhadap sulfat dan panas hidrasi. sebagai berikut : Tabel III. sebagai hasil dari pembakaran pada suhu tinggi terhadap bahan-bahan mentah pembentuk semen. kedua sifat fisis ini memiliki fungsi sebagai bahan perekat. Adukan dari semen halus ini tahan sampai tekanan 1000 atmosfir. yaitu : Trikalsium Silikat (C3S). menghasilkan bahan yang tahan terhadap air (water resistance) dan stabil tahan air. Semen portland yang dalam penggunaannya persyaratan sangat tahan terhadap sulfat. Semen portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan kekuatan awal yang tinggi setelah pengikatan terjadi. Jenis semen Jenis I Jenis II Jenis III Jenis IV Jenis V Karakteristik Umum Semen portland untuk penggunaan umum yang tidak memerlukan persyaratan khusus seperti yang disyaratkan pada jenis-jenis lain. Semen portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan panas hidrasi yang rendah.16 1. menghasilkan beberapa jenis semen sesuai dengan tujuan pemakaiannya. Semen Portland Semen merupakan bahan yang mempunyai sifat adhesif dan kohesif. Jenis-jenis semen Portland. Sesuai dengan tujuan pemakaiannya PUBI (1982) membagi semen portland dalam lima jenis seperti yang dapat dilihat pada Tabel III. Clinker adalah bahan baku yang dibutuhkan dalam pembuatan semen. Semen ini sangat cepat proses hidrasinya karena itu digunakan serbuk khusus untuk menghambat proses hidrasi semen ini. Semen portland adalah semen hidrolis yang dihasilkan dengan penghaluskan clinker. semen ini digunakan untuk penyemenan sumur minyak yang dalam. Semen-semen itu adalah : 1) Oil well cement. juga telah dibuat semen dengan tujuan khusus (Subakti. 1995). terutama terdiri dari silikat calsium yang bersifat hidrolis. dengan gips sebagai bahan tambahnya. (Sumber : Tjokrodimuljo. Jenis-jenis semen Portland. Perubahan komposisi kimia semen dengan mengubah 4 komponen utama semen.

porositas dan karakteristik penyerapan air yang mempengaruhi daya tahan terhadap proses pembekuan waktu musim dingin dan agresi kimia. 3) Semen putih. Sifat yang paling penting dari suatu agregat (batu-batuan. . Agregat. Selain persyaratan teknis yang harus dipenuhi. oleh karena itu kualitas agregat berpengaruh terhadap kualitas beton (Nugroho. Brook. Agregat halus beton dapat berupa pasir alami sebagai disintegrasi alami atau berupa pasir buatan (artifical sand) yang dihasilkan dari alat-alat pemecah batu. 2. buatan (batu pecah) maupun bahan sisa produk tertentu. Agregat merupakan bahan utama pembentuk beton disamping pasta semen. hal lain yang perlu diperhatikan dalam pemilihan jenis agregat beton mengacu pada Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI) tahun 1971 N.075 mm. oleh karena itu penggilingan serbuk mahal.5 dan standar ASTM C 33-97. kuat dan bersudut. serta ketahanan terhadap penyusutan (Murdock dan K. yang dapat mempengaruhi ikatannya dengan pasta semen. quarsa pasir dan kaolin.1-2. 1983). Bab 3 Pasal 3. 4 standar ASTM) dan lebih besar dari 0.17 2) Semen dengan kadar alkali rendah.75 mm (No.3-3. Agregat halus. jenis semen ini dibuat dari batu kapur yang bebas besi. 1999). agregat halus mempunyai butiran yang lolos ayakan 4.075 mm. 2a). kerikil. Agregat beton dapat berasal dari bahan alami. semen ini digunakan di negara-negara penghasil agregat yang reaktif terhadap iklim. agregat halus harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : 1) Butir-butirannya tajam. Jenis semen ini tidak mengandung alkali dalam komposisinya.M. pasir dan lain-lain) ialah kekuatan hancur dan ketahanan terhadap benturan. Agregat halus bersama dengan semen dan air membentuk mortar yang akan mengikat agregat kasar menjadi satu kesatuan yang kuat dan kompak. 2) Tidak mengandung tanah dan kotoran lain yang lolos ayakan 0. Kadar agregat dalam campuran berkisar antara 70-75% dari volume total beton. Menurut Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia.

Menurut persyaratan umum bahan bangunan di Indonesia. Agregat kasar adalah kerikil sebagai disintegrasi alami batuan atau berupa batu pecah yang diperoleh dari industri pemecah batu dan mempunyai ukuran antara 5 sampai 40 mm. yaitu tidak hancur oleh pengaruh cuaca. 6) Bersifat kekal. 5) Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir yang beraneka ragam besarnya. maka jumlah butir pipih tidak boleh lebih 20% dari agregat seluruhnya. Agregat kasar. Untuk . 6) Besar butir agregat maksimum tidak boleh lebih dari 1/5 jarak terkecil antar bidang samping cetakan. 3) Tidak mengandung zat-zat yang merusak beton. 7) Agregat harus mempunyai sifat reaktif terhadap alkali. 4) Kekerasan dari butir-butir agregat kasar diperiksa dengan bejana penguji Los Angeles. 3.18 3) Tidak mengandung garam yang menghisap air udara. bila kadar lumpur lebih dari 1% agregat harus dicuci. maka agregat harus memenuhi syarat sebagai berikut : 1) Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir keras dan tidak berpori apabila agregat kasar mengandung butir pipih. tidak hancur. Air Air merupakan bahan pembuat beton yang sangat penting. tahun 1982. seperti zat-zat yang reaktif alkali. Agregat kasar yang akan dicampurkan sebagai adukan beton harus mempunyai syarat mutu yang ditetapkan. Agregat kasar bersifat kekal. Air diperlukan untuk bereaksi dengan semen. 5) Harus mempunyai variasi besar butir atau gradasi yang baik. 4) Tidak mengandung zat organik karena dapat mengurangi mutu beton. 2b). serta untuk menjadi bahan pelumas antara butir-butir agregat agar lebih mudah dikerjakan dan dipadatkan. 2) Agregat tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1% (ditententukan terhadap berat kering). 1/3 tebal plat atau ¾ jarak bersih minimum antara batang tulangan.

bahan-bahan seperti kapur padam. kapur. 1995) . 1996). jumlah rongga udara. 5.5 gram/liter. tanah diatomaceous.(Sukandarrumidi. kelebihan air juga dapat memberikan penyusutan yang besar pada beton. Bahan pengisi (Filler) Bahan pengisi adalah suatu bahan berbutir halus yang lewat ayakan No. 4. yang kekurangan partikel halus. Dapat ditambahkan bahwa flyash dan slag (sisa benda tambang) yang berasal dari dapur etus dapat digolongkan sebagai pengisi pori-pori meskipun bahan ini digunakan karena sifat pozolannya. 1994). kaolin dan tepung batu menguntungka untuk beton tumbuk yang kasar/kaku. Bahan filler dapat berupa abu batu. 30 US Standar Sieve dan 65% lewat ayakan No. c) Air tidak boleh mengandung Chlorida (Cl) lebih dari 0. (Tjokrodimuljo. 200. b) Air tidak boleh mengandung garam-garaman lebih dari 15 gram/liter. Pemakaian bahan pengisi berpengaruh pada kekuatan. Selain itu dapat menurunkan kekuatan beton. Sekitarc 20% dalam bentuk abu dasar dan 80% dalam bentuk abu terbang. Abu arang briket. Abu arang briket adalah abu terbang limbah pembakaran batubara yang keluar dari tabung pembakaran. permeabilitas dan ketahanan terhadap gaya luar serta pengaruh cuaca. Abu terbang memiliki ukuran yang blebih halus dan warna lebih terang dari abu dasar. Didalam peranannya sebagai pengisi.19 bereaksi dengan semen. kelenturan plastis. Pemakaian air yang terlalu banyak akan menimbulkan gelembung air sehingga beton menjadi porous. air hanya diperlukan 25% dari berat semen saja. Persyaratan air yang digunakan dalam campuran beton adalah sebagai berikut : a) Air tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 2 gram/liter. Kandungan abu akan tebawa barsama gas pembakaran melalui ruang bakar dan daerah konversi dalam bentuk abu terbang. Portland Cement atau bahan lain (Totomiharjo. bentonite. Selain itu air juga digunakan untuk perawatan beton dengan cara pembasahan setelah pengecoran.

C.20 Abu arang briket didefinisikan sebagai sisa pembakaran dari tungku pemanas yang dikeluarkan dari ruang perapian suatu ketel uap gas buang yang lolos saringan No. antara lain : SiO2. Abu yang terjadi pada pembakaran batubara akan membentuk oksida-oksida. 1996) adalah sebagai berikut : 1. agar hasil yang diperoleh dari campuran percobaan tidak menyimpang terlalu jauh.T-15-1990-03 (Tjokrodimuljo. Kuat tekan beton yang disyaratkan ditetapkan sesuai dengan persyaratan perencaaan strukturnya dan kondisi setempat. Abu ampas tebu. Adapun langkah-langkah pokok perencanaan campuran dengan metode SK.SNI. Filler abu arang briket yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari PT. 6. Penetapan nilai deviasi standar (s) . CaO. Abu ampas tebu bersifat sebagai pengikat dalam campuran beton.SNI.T-15-1990-03 yang dalam perencanaan ini digunakan tabel-tabel dan grafik.K2O. Abu ampas tebu adalah hasil sisa penggilingan tebu yang ada di pabrik gula kemudian dibakar. Skatex yang berada di Karanganyar. Al2O3. Abu ampas tebu yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari Pabrik Gula Tasik Madu di Karanganyar Jawa Tengah. Penetapan kuat tekan beton yang disyaratkan (f’c) pada umur tertentu. Di Indonesia yang dimaksudkan dengan kuat tekan beton yang disyaratkan ialah kuat tekan beton dengan kemungkinan lebih rendah dari nilai itu hanya sebesar 5% saja. Perencanaan Campuran Beton Perencanaan adukan beton pada setiap hasil hitungan harus dikontrol dengan uji coba berupa campuran pekerjaan (trial mixes) untuk memastikan hasilnya. MgO. 200. Fe2O3. Perencanaan campuran menggunakan metode SK. Na2O. 2. Hal ini karena bahan-bahan dasar beton sangat variabel dan banyak. Abu arang briket yang bersifat pozolan merupakan additive mineral yang baik untuk beton.20%. dari sifat bahan tersebut hanya perhitungan awal yang berguna untuk membuat campuran percobaan. Kadar abu batubara di Indonesia biasanya hanya berkisar antara 5%.

T-15-1990-03) b. maka persyaratannya (selain yang disebut diatas) jumlah data hasil uji minimum 30 buah. Satu data hasil uji kuat tekan adalah hasil rata-rata dari uji tekan dua silinder yang dibuat dari contoh beton yang sama dan diuji pada umur 28 hari atau umur pengujian lain yang ditetapkan.III.0 25 1.6 Cukup 7.21 Deviasi standar ditetapkan berdasarkan tingkat mutu pengendalian pelaksanaa pencampuran betonnya. Jika pelaksana mempunyai catatan data hasil pembuatan beton serupa pada masa yang lalu.2.III.3. SNI. Penetapan nilai standar deviasi standar ini berdasar pada pengalaman praktek pelaksanaan pada waktu yang lalu. Nilai deviasi standar untuk berbagai tingkat pengendalian mutu pekerjaan. Penghitungan nilai tambah (margin) (M) Jika nilai tambah ini sudah ditetapkan sebesar 12 Mpa maka langsung ke langkah (4). a.08 15 1. Tabel.16 <15 Lihat butir b (SK.2 Baik 5.8 Memuaskan 3. lihat Tabel. 2.03 20 1. Tabel. Tingkat pengendalian mutu pekerjaan Sd (Mpa) 2. Faktor pengali deviasi standar Jumlah data Faktor pengali 30 1. 1996) 3. Jika jumlah hasil uji kurang dari 30 buah maka dilakukan koreksi terhadap nilai deviasi standar dengan suatu faktor pengali.5 Sangat baik 4. maka nilai margin langsung diambil sebesar 12 MPa. (f’c+12). Makin baik mutu pelaksanaan makin kecil nilai standar deviasi standarnya. untuk pembuatan beton mutu sama dan menggunakan bahan dasar yang sama pula. .4 Tanpa kendali (Tjokrodimuljo. Jika pelaksana tidak mempunyai catatan/pengalaman hasil pengujian beton pada masa lalu yang memenuhi persyaratan (termasuk data hasil uji kurang dari 15 buah). III.0 Jelek 8.

IV dan V. 6. MPa = nilai tambah. Menetapkan kuat tekan rata-rata yang direncanakan Kuat tekan beton rata-rata yang direncanakan diperoleh dengan rumus : f’cr = f’c+ M dengan : f’cr = kuat tekan rata-rata. Berdasarkan jenis semen yang dipakai dan kuat tekan rata-rata silinder beton yang direncanakan pada umur tertentu ditetapkan nilai faktor air semen. Tetapkan faktor air semen dengan salah satu dari dua cara berikut : a. Penetapan jenis semen Portland Menurut PUBI 1982 di Indonesia semen Portland dibedakan menjadi 5 jenis. III.64 Sd = deviasi standart ( Mpa ) 4. MPa 5. 7. . Mpa f’c M = kuat tekan yang disyaratkan. Penetapan jenis agregat Jenis kerikil dan pasir ditetapkan apakah berupa agregat alami (tak dipecahkan) ataukah agregat jenis batu pecah (crushed aggregate). Sd dengan : M = nilai tambah ( Mpa ) k = tetapan statistic yang nilainya tergantung pada prosentase hasil uji yang lebih rendah dari f’c. dalam hal ini diambil 5 % dari nilai k = 1. Jenis I merupakan jenis semen biasa. II. Pada langkah ini ditetapkan apakah dipakai semen biasa atau semen yang cepat mengeras. atau dengan kata lain sering disebut semen cepat mengeras. yaitu jenis I.22 Jika nilai tambah dihitung berdasarkan nilai deviasi standar Sd maka dilakukan dengan rumus berikut : M = k . adapun jenis III merupakan jenis semen yang dipakai untuk struktur yang menuntut persyaratan kekuatan awal yang tinggi.

Tabel. terlindung dari hujan dan terik matahari langsung Beton yang masuk ke dalam tanah : a.60 0. III.52 0. mengalami keadaan basah dan kering berganti-ganti b. 6 lihat tabel. SNI. III. Persyaratan jumlah semen minimum dan faktor air semen maksimum untuk lingkungan khusus Jenis pembetonan berbagai macam pembetonan dalam Jumlah semen minimum per m3 beton (kg) 275 325 325 275 325 - Nilai faktor semen maksimum 0. III. lihat Tabel. T-15-1990-03) 8. Penetapan faktor air semen maksimum dapat dilihat pada Tabel.23 b. 7 Beton didalam ruang bangunan : a. keadaan keliling korosif disebabkan oleh kondensasi atau uap korosif Beton diluar ruangan bangunan : a. III. 4. keadaan keliling korosif b. jenis agregat kasar dan kuat tekan rata-rata yang direncanakan pada umur tertentu.52 lihat tabel. Perkiraan kuat tekan beton dengan faktor air semen 0. III. ditetapkan nilai faktor air semen. Penetapan faktor air maksimum Agar beton yang diperoleh tidak cepat rusak misalnya. Berdasar jenis semen yang dipakai. T-15-1990-03) . IV Semen Portland tipe III Jenis agregat kasar Batu tak dipecahkan Batu pecah Batu tak dipecahkan Batu pecah Batu tak dipecahkan Batu pecah Batu tak dipecahkan Batu pecah Kekuatan tekan (Mpa) Bentuk Pada umur (hari) benda uji 3 7 28 91 17 23 33 40 Silinder 19 27 37 45 Kubus 20 28 40 48 Silinder 23 32 45 54 Kubus 21 28 38 44 Silinder 25 33 44 48 Kubus 25 31 46 53 Silinder 30 40 53 60 Kubus (SK. Jika nilai faktor air semen maksimum ini lebih rendah dari langkah (7) maka nilai faktor air semen maksimum ini yang dipakai untuk perhitungan selanjutnya. 4.5 dan jenis semen dan agregat kasar yang biasa dipakai di Indonesia Jenis semen Semen portland tipe I atau semen tahan sulfat tipe II. 5. Tabel. III. tidak terlindung dari hujan dan terik matahari langsung b. SNI.60 0. maka perlu ditetapkan nilai faktor air semen maksimum. 5. dapat terpengaruh sulfat dan alkali dari tanah Beton yang kontinue berhubungan : air tawar dan air laut (SK.60 0.

2 < 1. SNI.0-1.24 Tabel.5 290 330 380 0. III. III.5 2. Ketentuan untuk beton yang berhubungan dengan air tanah yang mengandung sulfat Konsentrasi sulfat dalam bentuk SO3 Sulfat (SO3) Dalam tanah dlm air tanah (gr/ltr) Total SO3 SO3 (%) dlm camp air : tnh =2:1 (gr/lt) < 0.5 1.3 Kandungan semen minimal (kg/m3) Ukuran nominal agrgegat maksimum 40 mm Tipe I dengan atau tanpa pozzolan (1540%) Tipe I dengan atau tanpa pozzolan (1540%) Tipe I pozzolan (1540%) atau Semen Portland Pozzolan Tipe II atau tipe V 20 mm 10 mm Kadar gangguan sulfat Tipe semen fas 1.2-0. 280 300 350 0. Ketentuan minimum untuk beton bertulang kedap air Jenis beton Kondisi lingkungan berhubunga n dengan Air tawar Beton bertulang atau prategang Air payau Faktor air semen maksimum 0.55 250 290 340 0. 7. T-15-1990-03) Tabel.3-1.50 Air laut 0.50 0.2 270 310 360 0.45 Tipe semen Kandungan semen minimum (kg/m3) Ukuran nominal maksimum agregat 40 mm 20 mm 300 280 340 290 330 380 330 370 Tipe I-V Tipe I + pozzolan (15-40%) atau Semen Portland Tipe II atau tipe V (SK. 6.55 .45 0.0 < 0.9 0. 0.

9.0 2.0 > 5.5 7.2-2. dan slam yang diinginkan. 1.0-2.0 2.5 atau atau atau 290 330 330 330 370 370 380 420 420 0. Penetapan nilai slump (cm) Pemakaian beton Dinding.45 3. berdasarkan ukuran maksimum agregat. Penetapan nilai slump Penetapan nilai slam dilakukan dengan memperhatikan pelaksanaan pembuatan. di lihat pada dibawah ini yaitu table III.5 Maksimal 12. Lanjutan Tipe pozzolan 40%) Semen Portland Pozzolan Tipe II tipe V Tipe II tipe V Tipe II tipe V *lapisan pelindung I (15atau 340 380 430 0.5 (Tjokrodimuljo. kaison.5-5. Cara pengangkutan adukan beton dengan aliran dalam pipa yang dipompa dengan tekanan membutuhkan nilai slam yang besar.5-1. plat pondasi dan pondasi Pondasi telapak tidak bertulang.5 7.25 Tabel. balok. pemadatan maupun jenis strukturnya.0 2. 7. 0.0 (SK.1-5. 1996) 10. 8. SNI. 8. kolom dan dinding Pengerasan jalan Pembetonan massal 15. 5.0 7. jenis agregat.0 > 5. pengangkutan.45 0. Nilai slam yang diinginkan dapat dilihat pada Tabel III. penuangan.0 3.0 Minimum 5. III.50 0. III. T-15-1990-03) 9.0 > 2. adapun pemadatan adukan dengan alat getar (triller) dapat dilakukan dengan nilai slam yang agak kecil.5 9. dan struktur di bawah tanah Plat.1 1. Tabel.9-3.0 1. .45 4. Tetapkan jumlah air Jumlah air yang diperlukan permeter kubik beton.5 5.

Hitung berat semen yang diperlukan Berat semen per meter kubik beton dihitung dengan membagi jumlah air dari langkah (10) dengan faktor air semen yang didapat dari langkah (7) dan (8).10 150 180 135 170 115 155 Slam (mm) 10 .180 225 250 195 225 175 205 (SK.26 Tabel. Penyesuaian kebutuhan semen Apabila kebutuhan air semen yang didapat dari langkah (12) ternyata lebih sedikit daripada kebutuhan semen minimum (13) maka kebutuhan semen harus dipakai yang minimum (yang nilainya lebih besar). Penetapan besar butir agregat maksimum Penetapan besar butir agregat maksimum dilakukan berdasarkan nilai terkecil dari ketentuan –ketentuan berikut : a. Kebutuhan semen minimum ini ditetapkan untuk menghindari beton dari kerusakan akibat lingkungan khusus. misalnya lingkungan korosif. Seperlima jarak terkecil antara bidang samping cetakan 12. SNI. III..30 180 205 160 190 140 175 30 . Perkiraan kadar air bebas (kg/m3) yang dibutuhkan untuk beberapa tingkat kemudahan pengerjaan adukan beton Besar ukuran maksimal kerikil (mm) 10 Batu tak dipecahkan Batu pecah 20 Batu tak dipecahkan Batu pecah 40 Batu tak dipecahkan Batu pecah Jenis agregat 0 . . Kebutuhan semen minimum Kebutuhan semen minimum ditetapkan dengan tabel. T-15-1990-03) 11. b. Sepertiga kali tebal plat c. 9. 13. Tiga per empat kali jarak bersih minimum antar baja tulangan atau berkas baja tulangan atau tendon prategang atau selongsong.60 205 230 180 210 160 190 60 . 14. air payau dan air laut.

100 90 . Catatan : cara pertama akan menurunkan faktor air semen sedangkan cara kedua menaikan jumlah air yang diperlukan. III.50 0 . 10.10 2 100 90 .90 35 . . T-15-1990-03) 17.40 0 – 10 4 100 90 .59 8 . Penentuan daerah itu didasarkan atas grafik gradasi yang diberikan dalam Tabel. Penentuan daerah gradasi agregat halus Berdasarkan gradasinya (hasil analisis ayakan) agregat halus yang akan dipakai dapat diklasifikasikan menjadi 4 daerah. Pada langkah ini dicari nilai banding antara berat agregat halus dengan berat agregat campuran.70 15 .6 0.3 0. Perbandingan agregat halus dan agregat kasar Nilai perbandingan antara berat agregat halus dan agregat kasar diperlukan untuk memperoleh gradasi agregat campuran yang baik.100 85 .95 30 . faktor air semen.100 75 . Batas gradasi pasir Lubang ayakan (mm) 10 4. Dalam hal ini dapat dilakukan dengan cara berikut : a.10 3 100 90 . dan daerah gradasi agregat halus. faktor air semen dihitung kembali dengan cara membagi jumlah air dengan jumlah air minimum. 16.34 5 . nilai slam.15 Persen berat butir yang lewat ayakan 1 100 90 . b. Penyesuaian jumlah air atau faktor air semen Jika jumlah semen ada perubahan akibat langkah (14) maka faktor air semennya berubah.100 75 .4 1.15 (SK.30 0 . III.20 0 .100 95 .27 15.2 0. Tabel. Penetapan dilakukan dengan memperhatikan besar butir maksimumagregat kasar.8 2.100 55 .79 12 . 10.100 60 . SNI.100 80 .100 60 .100 15 . Jumlah air disesuaikan dengan mengalikan jumlah semen dengan faktor air semen.

Berat jenis agregat campuran Berat jenis agregat campuran dihitung dengan rumus : Bj camp = Dengan : Bj campuran Bj agregat hls Bj agregat ksr P K = = = = = Berat jenis agregat campuran Berat jenis agregat halus Berat jenis agregat kasar Persentase agregat halus terhadap agregat campuran Persentase agregat kasar terhadap agregat campuran P K x Bj agregat halus + x Bj agregat kasar 100 100 Berat jenis agregat halus dan agregat kasar didapat dari hasil pemeriksaan laboratorium. 18. . namun jika tidak ada dapat diambil sebesar 2.28 Berdasarkan data tersebut dan grafik persentase agregat dapat diperoleh persentase agregat halus terhadap berat agregat campuran.70 gr/cm3 untuk agregat pecahan. 19. berdasarkan hasil langkah (20) dan (21) Kebutuhan agregat kasar dihitung dengan cara mengurangi kebutuhan agregat campuran dengan kebutuhan agregat halus.60 gr/cm3untuk agregat tak pecah/alami dan 2. 22. 20. berdasarkan hasil langkah (17) dan (20) Kebutuhan agregat halus dihitung dengan cara mengalikan kebutuhan agregat campuran dengan persentase berat agregat halusnya. Hitung berat agregat kasar yang diperlukan. 21. Hitung berat agregta halus yang diperlukan. Kebutuhan agregat campuran Kebutuhan agregat campuran dihitung dengan cara mengurangi berat beton permeter kubik dikurangi kebutuhan air dan semen. Penentuan berat jenis beton Dengan data berat jenis agregat campuran dari langkah (18) dan kebutuhan air tiap meter kubik betonnya maka dengan grafik hubungan kandungan air. berat jenis agregat campuran dan berat beton dapat diperkirakan berat jenis betonnya.

Benda uji ditimbang dan dicatat beratnya. d. Koreksi harus selalu dilakukakan minimum satu kali per hari. gradasi batuan.Ca ) x C/100 . b.( Dk . 1996). Pembebanan dilakukan secara perlahan-lahan secara continue dengan mesin hidrolik sampai benda uji mengalami kehancuran (jarum petunjuk berhenti kemudian salah satunya bergerak turun). ukuran maksimum batuan. c. pemadatan dan perawatan) dan umur beton (Tjokrodimuljo. Kuat Tekan Beton Untuk mengetahui kuat tekan beton yang telah mengeras yang disyaratkan. dilakukan pengujian kuat tekan beton. Prosedur pengujian kuat tekan beton menggunakan Standart Test Methode For Commpressive of Cylindrical Concrete. 2. Kuat tekan beton antara lain tergantung pada : faktor air semen. Benda uji diletakkan pada mesin penekan dan posisinya diatur agar supaya tepat berada ditengah-tengah plat penekan. cara pengerjaan (campuran. 3.29 Dalam perhitungan diatas agregat halus dan agregat kasar dianggap dalam keadaan jenuh kering muka. . 1. sehingga dilapangan yang pada umumnya keadaan agregatnya tidak jenuh kering muka maka harus dilakukan koreksi terhadap kebutuhan bahannya. pengangkutan. Dimana : B C D Ca Da Ck Dk = jumlah air (kg/m3) = jumlah agregat halus (kg/m3) = jumlah kerikil (kg/m3) = absorpsi air pada agregat halus (%) = absorpsi agregat kasar (%) = kandungan air dalam agregat halus (%) = kandungan air dalam agregat kasar (%) Air Agregat halus Agregat kasar = B – ( Ck . bentuk batuan.Da ) x D/100 = C + ( Ck – Ca ) x C/100 = D + ( Dk . Beban maksimum yang ditunjukkan oleh jarum petunjuk dicatat.Da ) x D/100 D. Adapun langkah-langkah pengujian sebagai berikut : a.

30

Menurut Murdock dan K.M. Brook (1991), beton dapat mencapai kuat tekan 80 MPa atau lebih, bergantung pada perbandingan air dan semen dan tingkat pemadatannya. Di samping dipengaruhi oleh perbandingan air dan semen kuat beton juga dipengaruhi oleh faktor lainnya, yaitu : jenis semen, kualitas agregat, efisiensi perawatan, umur beton dan jenis bahan admixture. Kuat tekan beton f’c =

dengan : d

Pmaks P ………………………………………..(III.1) = 1 A 2 .π.d 4

Pmaks = beban maksimum (N) = diameter silinder beton (mm2)
E. Kuat Tarik Beton

Kuat tarik beton adalah kemampuan beton yang diletakkan pada dua perletakan untuk menahan gaya dengan arah tegak lurus sumbu benda uji, yang diberikan padanya, sampai benda patah dan dinyatakan dalam Mega Pascal (MPa) gaya tiap satuan. Peralatan yang dipakai adalah mesin tekan beton yang dapat menguji kuat tarik yang dilengkapi dengan 2 jarum pembacaan beban, 2 buah perletakan benda uji berbentuk titik, dan 2 buah titik pembebanan, ketelitian pembacaan sebesar 12,5 kg. Alat bantu lain berupa timbangan kapasitas 50 kg dengan ketelitian 0,01 %, pengukuran panjang dan jangka sorong. Adapun langkah pengujian sebagai berikut : a. Ukur dimensi penampang benda uji. b. Timbang berat benda. c. Buat garis melintang sebagai penunjuk untuk perletakan dan titik pembebanan. d. Pasang 2 perletakan serta alat pembebanan. e. Letakkan benda uji diatas tumpuan. f. Hidupkan mesin uji tekan. g. Atur pembebanan dengan kecepatan 8-10 kg/cm2 per menit. h. Hentikan pembebanan setelah beban maksimum tercapai.

31

Kuat tarik beton antara lain tergantung pada : faktor air semen, gradasi batuan, bentuk batuan, ukuran maksimum batuan, cara pengerjaan (campuran, pengangkutan, pemadatan dan perawatan) dan umur beton (Tjokrodimuljo, 1996). Kuat tarik beton f’cr =

2.P ………………………………………………. (III.2) π.d.h

dengan:
P = beban maksimum (N) d = diameter silinder (mm) h = tinggi silinder (mm)

BAB IV METODE PENELITIAN A. Umum Pelaksanaan penelitian dilakukan secara eksperimental, yang dilakukan di Laboratorium Bahan dan Struktur, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. Obyek dalam penelitian ini adalah beton yang menggunakan bahan tambah filler abu ampas tebu dengan abu arang briket. Pengujian kuat tekan dan tarik dilakukan setelah beton berumur 14 hari di Laboratorium Bahan dan Struktur, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. B. Bahan Penelitian dan Peralatan Penelitian 1. Bahan penelitian Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : a) Semen yang digunakan adalah semen Portland jenis I, merk Holcim b) Agregat halus berupa pasir, berasal dari Boyolali. c) Agregat kasar berupa batu pecah, berasal dari Boyolali. d) Air yang digunakan diambil dari Laboratorium Bahan dan Struktur, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. e) Bahan tambah filler abu arang briket berasal dari PT. Skatex di Karanganyar dan abu ampas tebu berasal dari PG. Tasik Madu di Karanganyar. 2. Peralatan penelitian Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini tersedia di Laboratorium Bahan dan Struktur, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. Peralatan-peralatan yang digunakan terdiri atas : a) Ayakan standart, untuk memisahkan agregat sesuai ukuran yang diinginkan. b) Penggetar ayakan (Siever), untuk menggetarkan ayakan agregat dapat terpisahkan sesuai lubang ayakan yang diinginkan. c) Timbangan, untuk mengukur benda uji sesuai yang diinginkan. d) Gelas ukur, untuk pemeriksaan kadar Lumpur dan pemeriksaan bahan organik.

32

Gambar IV. penggaris. untuk mengukur benda jenis pasir yang digunakan sebagai bahan penyusun beton.6 mm. 2. g) Volumetric Flash. siku.5 mm. i) Molen. 9.75 mm. Satu set ayakan dapat dilihat pada Gambar IV.3 mm. 12. Ayakan standart.1.18 mm. Ayakan digunakan pada uji gradasi yang terdiri dari saringan dengan ukuran : 19 mm. k) Bak tempat perendaman benda uji. h) Mesin uji Los Angeles.33 e) Oven. 4.1.5 mm. untuk pengujian tekan dan tarik.1. Penggetar ayakan (siever). ember. j) Kerucut Abram’s.36 mm. untuk pengujian agregat kasar. untuk mengeringkan agregat. untuk mengaduk campuran beton. 0. 1. 2b). Alat ini digetar dengan tenaga listrik selama 15 menit. untuk menjaga suhu kamar agregat setelah dioven. Saringan dipasang dari ukuran terbesar hingga lubang terkecil dan paling bawah adalah pan. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Alat ini digunakan untuk menggetarkan ayakan yang berisi agregat agar terdistribusi sesuai dengan ukuran butirnya. untuk pengujian Slump. 0. 0. m) Peralatan penunjang lain seperti tongkat baja. f) Desicator. Penggunaan dan gambar alat-alat tersebut di atas adalah sebagai berikut : 2a). cetok. dan bak perendam sample. Satu set ayakan dan Siever . l) Mesin uji tekan.15 mm dan pan.

Timbangan besar .34 2c). Timbangan. Timbangan kecil digunakan untuk menimbang briket. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Gambar IV.2.3. dan abu ampas tebu.3. Timbangan digital Gambar IV. Sedangkan timbangan besar digunakan untuk menimbang semen.2. pasir dan batu pecah sebagai bahan beton sebelum dicampur dan juga untuk penimbangan berat benda uji sebelum dilakukan uji tekan dan tarik beton. Timbangan yang digunakan adalah timbangan kecil dengan digital yang mempunyai kapasitas 3 kg dan timbangan besar dengan kapasitas 100 kg. dan Gambar IV.

35 2d).6 cm dan digunakan untuk pengujian SSD (Saturated Surface Dry). Alat dapat dilihat pada Gambar IV. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Gelas ukur. Gambar IV.4. Kerucut Conus. Gambar IV. Alat ini digunakan pada saat pemeriksaaan kadar lumpur dan pemeriksaan bahan organik.9 cm. Gelas ukur 2e).4. Gelas ukur yang digunakan berkapasitas 1000 cc dan 500 cc. tinggi 7. Kerucut Conus .5.5. Alat ini berbentuk corong dengan ukuran diameter atas 3.8 cm dan diameter bawah 8.

Manfaat lain alat ini adalah untuk menjaga berat bahan setelah dioven supaya tidak berubah karena pengaruh udara luar. penyerapan dan berat jenis agregat. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. dan pemeriksaan kandungan bahan organik.6. Alat ini digunakan untuk menjaga suhu kamar agregat setelah dioven pada pemeriksaan kadar lumpur. Desicator . Alat ini digunakan untuk mengeringkan agregat kasar pada waktu pemeriksaaan kadar lumpur pasir. Gambar IV. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Gambar IV. pemeriksaan berat jenis dan penyerapan pada agregat. Oven.7.36 2f). Desicator.7.6. Oven 2g).

Alat yang berkapasitas 500 cc ini digunakan untuk pemeriksaan berat jenis serta penyerapan agregat halus. Gambar IV.37 2h). Volumetric Flash. Mesin uji Los Angeles. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV.8. Dengan alat ini dimaksudkan agar campuran yang terjadi lebih homogen dan dapat mempersingkat waktu pelaksanaan dibanding dengan pengadukan manual. Mesin Los Angeles 2j). Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Gambar IV.9. Alat ini digunakan untuk pembuatan adukan beton. Alat ini digunakan untuk pengujian keausan agregat kasar. Mesin pengaduk campuran beton mempunyai kapasitas 1 m3.9. dengan merk SINGLE . Volumetric flash 2i).8. Molen.

Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Gambar IV.11. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV.38 PHASE MOTOR Type JY1B-2. Gambar IV. Molen 2k). Tongkat baja mempunyai ukuran panjang 60 cm dan diameter 16 mm.11.10.11. Tongkat baja. Alat ini digunakan untuk pengujian slump pembuatan benda uji. alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Kerucut Abram’s.10. Kerucut Abram’s dan tongkat baja. 2l). Alat ini mempunyai diameter atas 10 cm. buatan Cina pada tahun 1987. diameter bawah 20 cm dan tinggi 30 cm. digunakan untuk pengujian slump dan pemadatan beton segar yang dicetak pada cetakan silinder. .

Gambar IV.14. Cetakan silinder 2n). pemeriksaan rasio pasir – agregat total dan pembuatan benda uji. Alat tersebut dapat dilihat pada Gambar IV. Untuk alat yang ada di Laboratorium Bahan dan Struktur.12. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Cetakan silinder.13. Alat ini berukuran diameter 15 cm dan tinggi 30 cm. . Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret memiliki kapasitas 1500 kN dan 2000 kN dengan merk Mylano Italy. Bak tempat perendaman benda uji 2o). Bak yang berisi air untuk merawat benda uji silinder sampai umur yang direncanakan.13. digunakan untuk mencetak beton mutu tinggi. Alat ini digunakan untuk pemeriksaan berat satuan.12. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Mesin uji tekan. Gambar IV.39 2m). Bak tempat perendaman benda uji. Alat ini digunakan untuk menguji kuat tekan beton.

Tahapan Penelitian Penelitian dilaksanakan terbagi atas lima tahap. Mesin uji tekan dan tarik merk Mylano Italy 2p). Gambar IV.40 Gambar IV. seperti tercantum dalam bentuk bagan alir pada Gambar IV.14. Peralatan penunjang lain C.15. Peralatan penunjang lain. cangkul dan kawat bendrat untuk membantu pembuatan benda uji. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. sekop. ember. Peralatan penunjang lain yang digunakan antara lain cetok. Adapun tahap penelitian tersebut dijelaskan seperti uraian berikut ini : .1.15.

Fakultas Teknik. batu pecah. 3. Tahap IV : Pengambilan data Pada tahap ini dilakukan pemeriksaan berat jenis beton dan pengujian kuat tekan beton benda uji silinder pada umur 14 hari.agregat total. maka dilakukan pemeriksaan terhadap rasio pasir . Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan zat organik dalam pasir. Benda uji dibuat dengan cetakan silinder beton. Selanjutnya dibuat adukan beton sesuai dengan proporsi masing-masing bahan. Sedangkan untuk semen dan air yang dipakai. Perbandingan jumlah proporsi bahan campuran beton ditentukan/dihitung dengan menggunakan Metode SK. Tahap I : Persiapan alat dan penyediaan bahan Tahap ini merupakan tahap persiapan penelitian di laboratorium yang meliputi persiapan alat diantaranya yaitu menyiapkan cetakan silinder ukuran diameter 15 cm tinggi 30 cm yang terbuat besi dan penyediaan bahan susun beton (semen. dan dilakukan pengujian slump sampai berhasil baik. 2. 4. maka pada tahap ini dilakukan pengujian terhadap bahan dasar beton berupa pasir dan batu pecah. Universitas Sebelas Maret. Prosedur pengujian kuat tekan . pemeriksaan specific gravity dan absorption pasir dan batu pecah. Setelah dilepas dari cetakan. Jurusan Teknik Sipil. dilakukan uji visual. Setelah bahanbahan dasar beton memenuhi persyaratan yang sudah ditentukan. pemeriksaan SSD pasir. Tahap III : Penyediaan benda uji Tahap ini merupakan tahap perencanaan campuran beton.41 1. pasir. bahan tambah filler arang briket dan abu ampas tebu) di Laboratorium Bahan dan Struktur. benda uji silinder tersebut direndam dalam bak perendaman yang berisi air selama 14 hari. pembuatan benda uji dan perawatan beton. pemeriksaan berat satuan volume. Tahap II : Pemeriksaan bahan dasar Sebelum digunakan dalam pembuatan campuran. pengujian gradasi batu pecah. pemeriksaan kadar lumpur pada pasir dan batu pecah.T-15-1990-03. dan pemeriksaan kadar keausan batu pecah.SNI.

yang kemudian dapat ditarik beberapa kesimpulan penelitian.(IV. . e).2) A 1 / 4πd dengan : f c' Pmaks A d = kuat tekan beton (MPa) = beban maksimum (N) = luas permukaan benda uji yang ditekan (mm2) = diameter silinder beton (mm) 5. Menimbang dan mencatat berat benda uji silinder sebelum dilakukan pembebanan.1) V γc W V = berat jenis beton (gr/cm3) = berat beton (gr) = volume silinder beton (cm3) Kuat tekan beton dihitung dengan rumus sebagai berikut : f c' = Pmaks P = maks 2 ……………………………………………….. Tahap V : Analisis data dan kesimpulan Dari hasil pengujian yang dilakukan pada Tahap IV. b). Mengukur dan mencatat dimensi benda uji silinder beton. Pembebanan dilakukan secara perlahan-lahan dengan mesin hidrolik sampai benda uji mengalami keretakan atau kehancuran (jarum penunjuk bergerak kembali ke arah semula). kemudian dilakukan analisis data.42 dan kuat tarik mengacu pada standard ASTM C 39 – 86. dengan langkah-langkah sebagai berikut : a). Meletakkan benda uji silinder pada alat penekan dan diatur posisinya agar tepat berada di tengah-tengah pelat penahan. c). Mencatat beban maksimum yang ditunjukkan jarum penunjuk. Analisis tersebut merupakan pembahasan dari hasil penelitian. Berat jenis beton dihitung dengan rumus sebagai berikut : γc = dengan : W ……………………………………………………………(IV. d).

200 Air diganti kadar lumpur kandungan organik gradasi pasir specific gravity dan absorption Uji visual Tidak baik Memenuhi syarat gradasi agregat kasar berat satuan volume specific gravity dan absorption keausan Uji visual Uji visual Perbaikan kualitas/diganti diganti Tidak baik Tidak baik baik baik baik baik Tahap II Rencana campuran (mix design) Pembuatan adukan beton Tidak memenuhi syarat Slump test Memenuhi syarat Pembuatan benda uji Perbaikan komposisi campuran Perawatan (curing) Tahap III Pengujian kuat tekan dan tarik beton Tahap IV Pengolahan data Analisis data Kesimpulan dan saran Tahap V Selesai Gambar IV.16. Bagan Alir Tahapan Penelitian .43 Mulai Persiapan alat dan bahan Tahap I Semen Agregat halus Agregat kasar Ampas tebu dan filler arang briket lolos ayakan no.

Yang dimaksud lumpur adalah bagian yang lolos ayakan 0. Menyediakan pasir yang akan diuji seberat 500 gram (H0). Adapun langkah-langkah pemeriksaan kadar lumpur pada pasir adalah sebagai berikut : (1). Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini dilaksanakan sesuai dengan tahap-tahap yang telah dijelaskan pada Bab IV.44 D. Adapun pelaksanaan penelitian tersebut diuraikan seperti berikut ini. (6). (3). diperoleh 474 gram (H1) (8). Memasukkan pasir ke dalam cawan kemudian di oven lagi selama 24 jam pada suhu 105° C.C. Kadar lumpur dihitung dengan rumus sebagai berikut : K= H 0 − H1 x100% ………………………………………………. kemudian diberi air dan dikocokkocok. dan agregat campuran. batu pecah. (7). Menimbang pasir yang berada dalam cawan tersebut. Menyediakan cawan dan menimbangnya. (4). Hal ini dilakukan berulang-ulang dengan mengganti air yang sudah keruh dengan yang air yang baru sampai benar-benar jernih. Adapun bahan-bahan yang akan diperiksa antara lain pasir. Pemeriksaan kadar lumpur pada pasir. cawan dan timbangan digital. Jenisjenis pemeriksaan bahan sebelum digunakan adalah sebagai berikut: 1a). Pemeriksaan bahan Pemeriksaan bahan digunakan sebagai pedoman dalam perancangan adukan beton dan kelayakan bahan untuk campuran beton. (5).(IV. Memasukkan pasir ke cawan dan memasukkan ke dalam oven selama 24 jam pada suhu 105° C. Memasukkan pasir ke dalam gelas ukur. Setelah pasir kering.063 mm. 1. Alat-alat yang digunakan antara lain : oven. (2). pasir beserta cawan ditimbang dengan berat 893 gram. Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui kandungan lumpur pada pasir sehingga diperoleh kualitas beton yang bermutu.3) H0 . kemudian didapat berat 393 gram. gelas ukur.

Hasil pengamatan diperoleh warna kuning kecoklatan jadi pasir yang akan digunakan tidak banyak mengandung zat organik. Memasukkan pasir ke dalam gelas ukur yang berkapasitas 500 cc. desicator. (2).5 x100% 100 K H0 H1 = kandungan lumpur = berat pasir mula-mula (gr) = berat pasir setelah dicuci (gr) K= 5 % dengan : Perhitungan pada pemeriksaan kadar lumpur pasir ini dapat dilihat pada Lampiran IV. Setelah 24 jam warna diamati dan dibandingkan dengan standard warna yang berlaku. . kemudian didiamkan selama 24 jam. gelas ukur. Pasir dikeringkan dengan dimasukkan ke dalam oven selama 24 jam pada suhu 105° C. (5). cawan dan larutan NaOH 3%. (6). kemudian dimasukkan ke dalam dua buah cawan. (4). Pemeriksaan zat organik dalam pasir bertujuan untuk mengetahui sifat kandungan bahan organik yang terdapat pada pasir sehingga dapat diketahui kelayakannya sebagai campuran beton. 1b). Adapun langkah-langkah pemeriksaan zat organik pada pasir adalah sebagai berikut : (1). Menuangkan larutan NaOH 3% ke dalam gelas ukur sampai volume tetap 200 cc. (3). Pemeriksaan zat organik pada pasir. Mendinginkan pasir ke dalam desicator selama 15 menit sehingga mencapai suhu ruang. Memasukkan pasir kedalam gelas ukur sebanyak 130 cc. Gelas ukur dikocok-kocok sehingga larutan NaOH 3% dapat tercampur secara merata. Alat-alat yang digunakan antara lain : oven. (8). (7).1.45 K= 100 − 95.

4 III 30 4. sendok datar dan penggaris. Pemeriksaan Saturated Surface Dry (SSD) pasir. Dilakukan variasi tumbukan pada percobaan. (3). Setiap percobaan dilakukan sebanyak dua kali pengujian. Menghitung penurunan rata-rata dari masing-masing percobaan sehingga diperoleh hasil pada Tabel IV. Alat-alat yang digunakan antara lain : kerucut conus.65 Diperoleh hasil SSD pasir = 3 = 4.7 Jumlah penurunan rata-rata 12.1 sebagai berikut: Tabel IV. tongkat penumbuk. (5). yaitu dengan 15 kali.6 3. (4). Kerucut conus diangkat perlahan-lahan ke arah vertikal kemudian dicatat penurunan pasir yang terjadi.2 4.8 12.3. Pasir yang akan diuji diangin-anginkan terlebih dahulu. 1c). Penurunan tinggi pasir(cm) Percobaan Jumlah Sample A Sample B I 15 3. Menumbuk permukaan pasir dalam kerucut dengan tongkat penumbuk secara gravitasi ± 5 cm dari atas permukaan pasir. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kekeringan pasir yang sebenarnya (kekeringan permukaan) yang dapat digunakan dalam campuran beton. .65 Hasilnya lebih kecil dari setengah tinggi pasir mula-mula sehingga pasir tersebut sudah dalam keadaan SSD.2.3 4. (2).55 4.46 Hasil pemeriksaan kandungan bahan organik pasir dapat dilihat pada Lampiran IV. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.1. Meletakkan kerucut conus di tempat yang datar dan mengisikan pasir ke dalam kerucut conus hingga penuh.22 cm Rata-rata Penurunan(cm) 3. Tabel hasil penurunan SSD pasir.5 II 20 4. 20 kali dan 25 kali. Langkah-langkah pengujian SSD pasir adalah sebagai berikut : (1).9 4.

................ Berat jenis dan penyerapan agregat dihitung dengan rumus sebagai berikut: Berat jenis kering (bulk specific gravity) : = = D ....... B+A−C 500 699.... lalu dikocok-kocok sampai hilang gelembung-gelembung udara dalam pasir.........................4) = 2......... Menimbang sample setelah dioven selama 24 jam. (4)....... (2)....... (5)............... Alat-alat yang digunakan adalah : volumetric flash..........27 (IV.......42 + 500 − 1006........... Menyediakan pasir pada kondisi SSD sebanyak 500 gram (A) dan dimasukkan ke dalam volumetric flash.............4) ........... Langkah-langkah Pemeriksaan specific gravity dan absorption pasir adalah sebagai berikut : (1).........47 1d)........................ D (IV...... Menimbang volumetric flash dan air sesuai garis batas......... Membuang airnya kemudian pasir diambil kemudian dioven selama 24 jam.............59 gram/cm3 Penyerapan (absorption) : p= A− D x 100% .. kemudian ditambah dengan air sampai garis batas..................... Pemeriksaan specific gravity dan absorption pasir.... B+A−C 477 699..42 + 500 − 1006....4) = 2.. oven...........27 (IV.... didapat sebesar 494........44 gram (D)........47 gram/cm3 Berat jenis kering permukaan jenuh air (bulk specific gravity SSD) : = = A .. selanjutnya ditimbang....... didapat 652 gram (B).... Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui berat jenis dan daya penyerapan air oleh pasir. diperoleh 964 gram (C) dan didiamkan selama 24 jam. (3).... panci dan timbangan digital..

4. Menyediakan pasir uji kering oven sebanyak 500 gram.5 mm. 0.82 % 477 A B C D = berat pasir SSD (gr) = berat volumetricflash + air (gr) = berat volumetricflash + air + pasir (gr) = berat pasir tungku kering (gr) = penyerapan (%) hasil penelitian secara lengkap bisa dilihat pada dengan : p Perhitungan Lampiran IV. 0. Pemeriksaan gradasi pasir. timbangan digital. pan. Menyusun ayakan secara urut dari ukuran terbesar sampai ukuran terkecil dan paling bawah adalah pan. 0. Langkah-langkah pemeriksaan gradasi pasir adalah sebagai berikut : (1).48 p= 500 − 477 x 100 % = 4. 1e). 1. Pemeriksaan gradasi pasir bertujuan untuk mengetahui distribusi ukuran butiran pasir modulus halus butirnya. Modulus halus butir Jumlah persentase kumulatif tertahan 100 293.36 mm.46 100 = = = 2.18 mm.75 mm. Alat-alat yang digunakan antara lain : satu set ayakan dengan ukuran 9.15 mm. (5). 2.3 mm. Menyiapkan ayakan dan menimbang masing-masing ayakan. (4).93 Untuk hasil perhitungan pemeriksaan gradasi pasir dapat dilihat pada Lampiran IV. Memasukkan pasir uji ke dalam ayakan dan digetarkan dengan siever selama 15 menit. (2). siever dan cetok. (3). .6 mm.4. Menimbang pasir pada tiap-tiap ayakan dan kemudian dihitung modulus halus butirnya.6.

Menyediakan batu pecah lolos ayakan 19. Langkah-langkah pemeriksaan keausan agregat kasar adalah sebagai berikut : (1). Alat-alat yang digunakan antara lain : mesin Los Angeles. Semakin kecil nilai abrasi maka semakin baik agregat tersebut untuk digunakan sebagai campuran beton. (5). ayakan ukuran 2 mm atau yang mendekati.5 mm sebanyak 2500 gr.……………….3 % . Batu pecah yang tertahan ayakan ukuran 2 mm tersebut kemudian dicuci dan selanjutnya dikeringkan dengan dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 105° selama 24 jam. (2).5 mm sebanyak 2500 gr.5 mm dan oven. Mengeluarkan batu pecah dari mesin Los Angeles kemudian diayak dengan ayakan ukuran 2 mm.0 mm. Memasukkan semua batu pecah yang sudah disediakan yaitu 2500 + 2500 = 5000 gram (A) beserta bola-bola baja sebanyak 11 buah ke dalam mesin Los Angeles. 12. didapat 3653. (6). Menyediakan batu pecah lolos ayakan 12.7) A 5000 . Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui keausan agregat kasar dan mengetahui daya tahan agregat terhadap degradasi atau perpecahan.0 mm dan tertahan 12. (4).5 gram (B) kemudian dihitung nilai keausannya. Keausan agregat dihitung dengan rumus sebagai berikut : Prosentase keausan = = A-B x100% ……………….(IV. Pemeriksaan keausan agregat kasar. (3).4985 x100% 5000 = 0.5 mm dan tertahan 9.49 1f). ayakan ukuran 19.5 mm. kemudian diputar dengan kecepatan 30 – 35 rpm sebanyak 500 putaran. (7). 9.. timbangan. Menimbang batu pecah.

..... (6)..... Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui berat jenis dan daya penyerapan air Alat-alat yang digunakan antara lain : panci..... 1g)..5 gram (C)............... Menyediakan kerikil sebanyak 1000 gram........ Langkah-langkah Pemeriksaan specific gravity dan absorption batu pecah....7......8) = 2........ Kerikil diambil dan dibuat dalam keadaan SSD dengan cara dilap menggunakan lap kering... timbangan digital.... (2)...... kemudian kerikil ditimbang dalam air dan diperoleh berat 649.. Kerikil dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 105° selama 24 jam..5 gram (B).......5 − 1832... Adalah sebagai berikut : (1)... A−B (IV....8) .... Berat jenis kering (bulk specific gravity) : = = C ....... Merendam kerikil dalam air selama 24 jam...... (5).. Menimbang kerikil dalam keadaan SSD........5 (IV.....50 dengan : A B = berat agregat mula-mula (gr) = berat agregat yang tertahan saringan 2 mm setelah dicuci dan dioven (gr) Untuk perhitungan keausan agregat selengkapnya bisa dilihat pada Lampiran IV..................... (4)..... ember perendam dan desicator.... Pemeriksaan oleh agregat kasar... specific gravity dan absorption batu pecah......... Mendinginkan batu pecah dengan cara dimasukkan ke dalam desicator selama 15 menit..... A−B 3000 3032. (3)... oven................ Berat benda uji kering oven 998..5 gram/cm3 Berat jenis kering permukaan jenuh air (bulk specific gravity SSD) : = A .......... diperoleh berat 1014 gram (A)... lap kering...............

1h)... Pemeriksaan berat satuan volume batu pecah. Pemeriksaan berat satuan volume batu pecah ini bertujuan untuk mengetahui berat agregat tiap satuan volume....5 − 3000 x 100% p= 3000 p= p = 1..5 3032... Hal ini diulang sampai lima kali percobaan.. Menimbang berat silinder baja didapat 13200 gram (A)....... (3). Memasukan batu pecah ke dalam silinder baja secara bertahap sebanyak tiga lapis (masing-masing lapis diisi batu pecah kemudian ditumbuk dengan tongkat baja sebanyak 25 kali dan diratakan permukaannya)...08 % dengan : A B C D = berat pasir SSD (gr) = berat volumetricflash + air (gr) = berat volumetricflash + air + pasir (gr) = berat pasir tungku kering (gr) = penyerapan (%) (IV.... (2)............ Menimbang silinder baja yang diisi batu pecah tersebut diperoleh 20250 gram (B)..5 = 2. C 3032... Langkah-langkah pemeriksaan berat satuan volume batu pecah adalah sebagai berikut : (1).51 = 3032......... (4)....8) p Hasil dari pemeriksaan specific gravity dan absorption batu pecah dapat dilihat pada Lampiran IV.. Menghitung volume silinder : Volume silinder = 0........5 − 1832......... Alat-alat yang digunakan antara lain : cetakan silinder baja (diameter 15 cm dan tinggi 30 cm) dan tongkat baja (diameter 16 mm dan panjang 60cm).....25 x π x d 2 x t .53 gram/cm3 Penyerapan (absorption) : A−C x 100% .............8.

.3 mm... 0.. (IV... timbangan digital...15 mm.. 2.. pan).18 mm.438 cm 3 (5)...06 . (4)...25 x π x 15 2 x 30 = 5301.......75 mm. Memasukkan batu pecah uji ke dalam ayakan dan digetarkan dengan siever selama 15 menit...771 .... Menyiapkan ayakan dan menimbang masing-masing ayakan tersebut... cetok...... ember. Langkah-langkah pemeriksaan gradasi batu pecah adalah sebagai berikut : (1).. Pemeriksaan gradasi batu pecah... Menyediakan batu pecah kering oven sebanyak 1000 gram. Melakukan penimbangan batu pecah pada tiap-tiap ayakan kemudian dihitung modulus halus butirnya. (3).59 gr/cm3 dengan : A B C = berat silinder baja (gr) = berat silinder baja setelah diisi batu pecah (gr) = volume silinder (cm3) Untuk hasil pemeriksaan dan perhitungan berat satuan volume batu pecah secara lengkap bisa dilihat pada Lampiran IV.. Alat-alat yang digunakan antara lain : satu set ayakan dengan ukuran (19. 0...52 = 0.. 9... Modulus halus butir = = Jumlah persentase kumulatif tertahan 100 706.....6 mm. 0...... 4..36 mm. siever..25 100 = 7...9) 3 = 1.9 1i). Pemeriksaan gradasi batu pecah ini bertujuan untuk mengetahui distribusi ukuran batu pecah dan modulus halus butirnya.. Menyusun ayakan secara urut dari yang berukuran besar sampai yang kecil dan paling bawah adalah pan... (5)....0 mm... (2)....5 mm. Rata-rata berat satuan volume batu pecah : = 4. 1..

960 Abu arang briket (kg) 7.271 Abu ampas tebu (kg) 7.271 42.679 Pasir (kg) 22.679 15.679 15.761 22. Perencanaan campuran beton Dalam perencanaan proporsi campuran digunakan perencanaan menurut SK.960 .271 42.271 42. Modulus halus butir batu pecah = 7. Berat jenis pasir 3).056 7. Berat jenis semen 8).176 1. Modulus halus butir pasir 6). Air (kg) 7.761 22.271 42.761 22. 2.5 gr/cm3 = 2.176 1.53 Untuk hasil penelitian dan perhitungan pemeriksaan gradasi batu pecah secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.176 1.176 1.679 15. 3.679 15.056 7.5 % 1.271 42.568 1.761 22.056 7.679 15.5 % 10 % 12. 10.271 42. Berat jenis batu pecah 4).056 7.568 1.679 15. 13.056 7.960 1. 7.761 22. 5.568 1.271 42.10. Ukuran maksimum batu pecah 7).271 42.679 15.271 42.568 1.45 = 2. 12.960 1.176 1.679 15. Proporsi kebutuhan material tiap 3 sampel untuk uji tekan dan tiap 3 sampel untuk uji tarik dengan fas 0.568 1. 16.056 7.761 22.568 1.568 1.568 1. 2. 4.45 No 1.960 1.960 1.056 7.5 % 10 % 12.056 7.679 15.761 22.761 22.761 22.761 22. 14.679 15.056 Semen (kg) 15. 6.10.271 42. 11.056 7.5 % 1.761 22.271 42. Data-data untuk perencanaan campuran adukan beton adalah sebagai berikut : 1).761 Kerikil (kg) 42.056 7.679 15.761 22.271 42. 9.679 15.679 15.T-15-1990-30. Kebutuhan pembuatan benda uji untuk tiap 3 benda uji adalah sebagai berikut: Tabel.176 1.056 7.2.056 7.761 22.150 ton/m3 = 60 – 100 mm 5).47 gr/cm3 = 2.271 42.SNI.960 1.271 42.056 7.056 7.06 Langkah-langkah perhitungan rencana campuran beton dapat dilihat pada Lampiran IV. 15.176 1.271 42. Faktor air semen 2). Nilai slump rencana = 0.176 1.679 15.93 = 40 mm = 3.679 15. 8.960 1.056 7.IV.761 22.761 22.

Langkah-langkah pengujian slump sebagai berikut : a). Pengujian dilakukan dengan menggunakan kerucut Abram’s. diameter bagian bawah 20 cm dan tinggi 30 cm dengan bagian atas maupun bawah berlubang. e).5 3 3 3 3 12 Jumlah total benda uji 48 3. h=30 Ukuran benda uji (cm) d=15. h=30 d=15. h=30 d=15.3. bagian atas cetakan diratakan dengan cetok. h=30 d=15. Rincian jumlah benda uji untuk kuat tarik beton. b). Pengujian nilai slump Ukuran benda uji (cm) d=15. Dengan menginjak kaki kerucut Abram’s kuat-kuat. dan bagian dalam dibasahi dengan air.5 0 3 3 3 3 12 7. Abu ampas tebu (%) Jumlah Abu arang Briket Fas (%) total 0 7. h=30 d=15.54 Tabel IV.5 0 3 3 3 3 12 7. Rincian jumlah benda uji untuk kuat tekan beton. h=30 d=15.45 10 3 3 3 3 12 12. kemudian ditumbuk sebanyak 25 kali dengan menggunakan tongkat diameter 16 mm dan panjang 60 cm. Abu ampas tebu (%) Jumlah Abu arang Briket Fas (%) total 0 7.5 10 12. Meletakkan kerucut Abram’s ditempat yang rata dan tidak mudah goyah.5 3 3 3 3 12 0. Setelah pengisian adukan selesai.5 10 12.45 10 3 3 3 3 12 12. .5 3 3 3 3 12 0. Pengisian adukan beton dilakukan sampai 2 lapis berikutnya dan masingmasing lapis ditusuk sebanyak 25 kali. h=30 Pengujian nilai slump ini dimaksudkan untuk mendapatkan kekentalan beton segar.5 3 3 3 3 12 Jumlah total benda uji 48 Tabel IV. ditunggu ± 1 menit dan cetakan diangkat secara perlahan-lahan. d). Setelah terisi penuh oleh adukan beton. adukan beton diisikan 1/3 dari volume kerucut. Kerucut Abram’s dibersihkan terlebih dahulu sebelum digunakan. h=30 d=15. c). yaitu berbentuk kerucut dengan diameter atas 10 cm.4.

sejak adukan beton dipadatkan sampai beton dianggap cukup keras. Adukan beton dimasukkan ke dalam cetakan silinder dengan cetok setinggi sepertiga bagian dan memampatkan adukan beton tersebut dengan menusukkan tongkat baja tumpul sebanyak 25 kali. 4. silinder benda uji disimpan di udara lembab (direndam di dalam bak yang berisi air) untuk perawatan beton. Agar benda uji satu dan yang lainnya tidak tertukar. dapat dilihat pada Gambar IV. Perawatan Perawatan beton dimaksudkan untuk menjaga permukaan beton segar selalu lembab. b). dan telah diuji nilai slump-nya. e).1). Cara pembuatan benda uji silinder beton adalah sebagai berikut: a). c). 5. Masing-masing variasi dibuat 3 buah benda uji sehingga jumlah total benda uji adalah 100 buah (lihat Tabel IV. Mengisikan adukan beton sepertiga bagian berikutnya dan diperlakukan sama. Pembuatan benda uji Pembuatan benda uji sesuai dengan perhitungan proporsi campuran beton yang telah direncanakan.14. masing-masing benda uji diberi kode. Setelah 24 jam membuka cetakan. dan diukur selisih antara kerucut dan adukan beton tersebut Hasil pengujian slump test selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran IV. Suhu air saat perendaman berkisar antara 26° – 25° C. Meletakkan kerucut Abram’s di samping adukan.17.55 f). Perawatan beton yang dilakukan pada penelitian ini adalah dengan cara merendam silinder beton di dalam bak yang berisi air sampai beton berumur 14 hari. . Meratakan bagian atasnya serta membiarkannya sampai 24 jam d). sampai cetakan silinder penuh.

Gambar IV.56 Gambar IV.17. Pada saat beban maksimum yang mampu ditahan benda uji terlampaui (benda uji hancur).21. Gambar IV. Angka yang ditunjuk oleh jarum merah inilah yang dicatat sebagai beban maksimum yang mampu ditahan oleh benda uji. Pengujian kuat tekan dan kuat tarik benda uji Untuk mengetahui keretakan yang terjadi pada saat pengujian.18. 7. Hasil pengujian benda uji dapat dilihat pada Gambar IV. . Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran IV. Benda uji diletakkan pada mesin uji tekan dengan posisi vertikal dan posisi jarum penunjuk kuat tekan harus pada angka nol. sedangkan jarum hitam akan bergerak turun kembali pada posisi semula (nol). maka permukaan benda uji diberi cat putih Gambar IV. Perawatan benda uji beton 6. Pemeriksaan berat jenis Sebelum pengujian benda uji. sehingga dapat diketahui berat dan volume benda uji tersebut. terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan terhadap berat jenis. maka salah satu jarum yaitu jarum merah akan tetap pada posisi nilai beban maksimum yang mampu ditahan. Kemudian mesin uji dihidupkan dan penambahan beban dapat terlihat pada jarum penunjuk manometer.20.19. Berat jenis dapat diketahui dengan cara menimbang dan mengukur tinggi serta diameter benda uji.12.

19. Benda uji setelah dicat .57 Gambar IV.18. Benda uji sebelum dicat Gambar IV.

21.20.58 Gambar IV. Pengujian kuat tekan beton . Hasil pengujian kuat tekan beton Gambar IV.

Hasil pengujian kuat tarik beton . Pengujian kuat tarik beton Gambar IV.22.23.59 Gambar IV.

rata sebesar 3.1 sampai dengan Lampiran IV. tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1). diperoleh larutan berwarna kuning kecoklatan. Hasil pengujian zat organik di dalam pasir dengan cara menambah larutan NaOH 3 % dan didiamkan selama 24 jam. Hasil pemeriksaan agregat halus secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.5 – 3.5 . Tabel V. Hasil pengujian agregat halus Jenis pengujian Hasil pengujian 5% Kadar lumpur Kuning Kandungan bahan kecoklatan organik 2.BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Untuk mencapai SSD pasir. maka penurunan puncak kerucut pasir harus kurang lebih setengah tinggi kerucut.75 cm.7 gram/cm3 Memenuhi syarat <5% Memenuhi syarat 1.5.5 cm.75 cm Nilai Saturated Surface Dry (SSD) 2. Pada pengujian ini diperoleh penurunan pasir rata.1.8 gram/cm3 Apparent spesific gravity 3. Hasil pengujian agregat halus Pemeriksaan agregat halus dilakukan melalui beberapa tahap pengujian yang sudah diuraikan pada Bab IV.59 gram/cm3 Bulk specific gravity Absorption 4.96 Syarat SK SNI 5% > 2.2.1. atau dituliskan pada Tabel V. Hasil uji kadar lumpur menunjukkan 5 % sehingga memenuhi persyaratan agregat halus sebagai campuran adukan beton karena batas persyaratan campuran beton yaitu 5 %. Karena adanya bahan organik dalam pasir akan mempengaruhi mutu beton.8 (Sumber: Hasil penelitian) Hasil pengujian agregat halus Tabel V. Pengujian Agregat 1.82 % Modulus halus butir 2. 61 . Warna ini menunjukkan bahwa pasir tidak banyak mengandung zat organik dan layak digunakan sebagai bahan campuran beton.5 gram/cm3 ½ dari tinggi kerucut Keterangan Memenuhi syarat Memenuhi syarat Memenuhi syarat Memenuhi syarat Memenuhi syarat 2. 3). 2).1. sedangkan tinggi pasir mula-mula 7.

Hal ini menunjukan bahwa absorbsi pasir masih dalam batasan yang diisyaratkan.7 gram/cm3). Hasil pemeriksaan gradasi pasir secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.1. Oleh karena modulus halus butir pasir yang digunakan berada dalam batasan modulus halus butir pada umumnya. 4).5 gram/cm3 – 2. Absorbsi agregat akan mempengaruhi jumlah air dalam campuran yang direncanakan.6. Berdasarkan berat jenisnya. 6).62 Keadaan ini membuktikan bahwa pasir masih agak basah.59 gram/cm3.8 gram/cm3). Dari hasil pengujian yang dilakukan diperoleh nilai absorbsi pasir 4.8.82 %. dan dilukiskan pada Gambar V. agregat dibagi menjadi 3 macam yaitu agregat ringan (mempunyai berat jenis kurang dari 2. 7). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pasir ini termasuk agregat normal. 5).96 Pada umumnya pasir mempunyai nilai modulus halus butir antara 1.0 gram/cm3). Semakin besar absorbsi maka jumlah air yang digunakan dalam campuran akan semakin berkurang. Dari pengujian agregat halus diperoleh berat jenis pasir 2. Persyaratan absorbsi agregat yang digunakan dalam campuran beton 5 %. maka pasir ini memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan susun beton. oleh karena itu pasir perlu diangin-anginkan sebelum digunakan. agregat normal (mempunyai berat jenis antara 2. dan agregat berat (mempunyai berat jenis lebih dari 2.5 – 3. Hasil pengujian gradasi pasir diperoleh modulus halus butir 2. .

di atas. Batas gradasi pasir dalam daerah gradasi No. Hasil pemeriksaan agregat kasar secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.6 sampai Lampiran IV.75 9.35 4.59 gram/cm3 Modulus halus butir 7.18 2.5 LUBANG AYAKAN (mm) HASIL HITUNGAN BATAS ATAS SK SNI BATAS BAWAH SK SNI Gambar V.3 % Keausan agregat batu pecah 2. Hasil pengujian agregat kasar Jenis pengujian Hasil pengujian 0. II (Departemen Pekerjaan Umum.85 1. tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: .2 – 1.53 gram/cm3 Bulk specific gravity 1.2. hasil pemeriksaan tersebut tercantum pada Tabel V.1.3 0.6 gram/cm3 Memenuhi syarat Memenuhi syarat 5-8 (Sumber: Hasil penelitian) Hasil pengujian agregat kasar pada Tabel V.1990) Menurut Gambar V.63 GRADASI PASIR 120 PERSEN LOLOS (%) 100 80 60 40 20 0 0 0.1. Hasil pengujian agregat kasar Pemeriksaan agregat kasar dilakukan melalui beberapa tahap pengujian yang diuraikan pada Bab IV. gradasi pasir memenuhi persyaratan campuran beton dan termasuk ke dalam kelompok daerah II (pasir agak kasar).5 gram/cm3 Keterangan Memenuhi syarat Memenuhi syarat 2.5 – 2.7 gram/cm3 Memenuhi syarat Memenuhi syarat <5% 1. 2.89 gram/cm3 Syarat SK SNI 20 % > 2.2. Tabel V.15 0.08 % Absorption Berat satuan volume 1.9.D.57 gram/cm3 Apparent spesific gravity 2.2.

Hasil pengujian berat satuan batu pecah 1.7 gram/cm3) dan agregat berat (berat jenis 2.08%.53 gram/cm3. 4). maka batu pecah tersebut dapat digunakan sebagai bahan campuran beton. . Dari pengujian agregat batu pecah diperoleh berat jenis batu pecah 2. Kekerasan butir-butir batu pecah yang diperiksa dengan mesin Los Angeles harus memenuhi syarat yaitu tidak terjadi kehilangan berat lebih dari 20 % untuk kekuatan beton diatas 20 MPa. Batu pecah yang digunakan dalam penelitian ini mempunyai absorbsi 1.64 1). 5).2.9. Hasil pemeriksaan gradasi batu pecah dapat dilukiskan seperti pada Gambar V.89 Modulus halus butir untuk agregat kasar yang digunakan sebagai campuran beton yaitu 5 sampai dengan 8. Hasil pengujian keausan batu pecah dari Boyolali 0.5 gram/cm3 – 2. Berat satuan agregat kasar normal yaitu 1. 6). Hasil pemeriksaan gradasi batu pecah secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV. Pengujian tersebut membuktikan batu pecah mempunyai berat satuan sesuai yang diisyaratkan untuk berat satuan normal.9.59 gram/cm3. 3). Dengan melihat grafik batu pecah dapat diketahui bahwa gradasi batu pecah ini masih masuk dalam batasan SK SNI. 7).3 %. Hal ini menunjukan bahwa batu pecah tersebut mempunyai daya serap yang kecil. dan dilukiskan pada Gambar V. Hasil pemeriksaan gradasi pasir secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV. sehingga batu pecah tersebut dapat digunakan sebagai campuran beton. karena memiliki kekerasan butiran yang masih ada dalam batasan yang disyaratkan.2 gram/cm3 – 1. 2).8 gram/cm3). Dari hasil pengujian gradasi batu pecah diperoleh modulus halus butir 7. Hal ini menunjukkan batu pecah tersebut dapat digunakan sebagai bahan campuran beton. Hasil pengujian berat jenis batu pecah yang digunakan dalam penelitian dapat disimpulkan bahwa agregat batu pecah tersebut termasuk agregat normal (berat jenis 2.6 gram/cm3.2.

Pengujian slump dilakukan untuk mengetahui workabilitas adukan beton dari setiap percobaan.5 2 2.36 4.65 GRADASI KERIKIL 120 PERSEN LOLOS (%) 100 80 60 40 20 0 2.5 1. Pemberian bahan tambah dengan proporsi penambahan yang berbeda. √ √ 4. 11. Pengujian Slump Pengujian nilai slump dilaksanakan sebelum campuran beton dituang dalam cetakan.08 – 10. Hasil pengujian slump beton umur 14 hari Abu arang Briket Abu ampas tebu (%) No Beton Normal (%) 7.5 dan Lampiran IV. Hasil pengujian slump dapat dilihat pada Tabel V. akan dianalisis pengaruhnya terhadap workabilitas beton.5 .2.5 dan Lampiran IV. √ 2.11 dapat dilihat bahwa slump yang dicapai pada adukan beton dengan penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket tidak memenuhi persyaratan yang direncanakan yaitu antara 2 – 4 in atau 5. Slump (cm) 7.5 1.5 10 12.5 1. √ √ 3. Batas gradasi kerikil (Departemen Pekerjaan Umum.1 LUBANG AYAKAN (mm) HASIL HITUNGAN BATAS BAWAH SK SNI BATAS ATAS SK SNI Gambar V. Tabel V.5 10 12.16 cm.75 9. Dari hasil pengujian slump pada Tabel V. √ √ √ √ 5.5.5 19 38.5 7.1990) B.

5 2 √ 3.66 Tabel V. √ 10.5 √ 2. √ 9.5 √ 3. √ 7. Pengujian Berat Jenis Beton Pengujian berat jenis beton dilakukan sebelum diadakannya pembebanan terhadap benda uji silinder.5 1.6. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah bahan tambah yang digunakan maka air akan terserap oleh bahan tambah sehingga nilai fas akan berkurang.5 √ 2.5 √ 2. √ √ √ √ - √ √ √ - √ √ √ √ √ √ - √ 2 √ 2. √ 14.5 2 √ 3.12 sampai dengan Lampiran IV. √ 12.2) dengan : γ = berat jenis beton (gram/cm3) B = berat beton setelah direndam (gram) . Besarnya berat jenis dapat dihitung dengan rumus : Berat jenis beton (γ) = B …………………………………………….1) V V = 0. √ 11. sedangkan berat jenis rata-rata dapat dilihat pada Tabel V.5 (Sumber: Hasil penelitian) Dari hasil pengujian nilai slump menunjukkan bahwa nilai slump menurun dengan penambahan persentase abu arang briket dan abu ampas tebu dalam campuran beton.5. sehingga didapatkan berat dan volume benda uji tersebut. Hasil pemeriksaan berat jenis beton secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.11. √ 16. maka nilai slump yang dihasilkan kecil.25 x π x d 2 x t …………………………………………………(V.16. C. Data dan hasil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran IV. Berat jenis beton dapat diketahui dengan cara menimbang dan mengukur tinggi serta diameter benda uji. Lanjutan 6. √ 13. √ 8. √ 15.(V.

210 2.5 % 0% 2.289 2.273 2.6.194 Kadar abu 7.118 2.4.160 2.226 2.248 2.147 12. Berat jenis briket adalah 2.188 2. Berat Jenis rata2 (gr/cm3) Kadar abu arang briket 0% 7. diperoleh berat jenis tertinggi 2.7.200 2.147 (Sumber: Hasil penelitian) Tabel V. Hasil pemeriksaan berat jenis rata-rata pada kuat tekan beton dengan fas 0.292 2.5 % 2. Berat jenis akan menurun seiring dengan penambahan abu arang briket.188 2.213 2.5% 10 % 12.67 V = Volume beton (cm3) d = diameter cetakan beton t = tinggi cetakan beton Volume silinder = 0.216 (Sumber: Hasil penelitian) D.147 2.64 gram/cm3 sedangkan berat jenis semen adalah 3.4.213 2.438 cm 3 Dari hasil pemeriksaan berat jenis beton Tabel V.6.5 % 2.241 2.15 gram/cm3. Kadar abu ampas tebu Berat Jenis rata2 (gr/cm3) 0% 7.207 2.176 12. Tabel V.263 2.238 2.185 2.5% 10 % 2.5 % 0% 2.301 gram/cm3.210 2.172 2. Hal ini disebabkan karena berat jenis briket lebih kecil dari pada berat jenis semen.5% 2.185 2. Pengujian kuat tekan beton dilakukan untuk memperoleh nilai kuat tekan beton dengan adanya perbedaan kadar penambahan bahan tambah abu arang briket serta penambahan abu ampas tebu.204 2.5% 10 % 12.282 Kadar abu ampas tebu 7. Hasil pengujian kuat tekan beton . Pengujian Kuat Tekan Dan Tarik Beton Pengujian kuat tekan beton dilaksanakan setelah benda uji silinder telah berumur 14 hari.282 2.179 arang briket 10 % 2.25 x π x 15 2 x 30 = 5301. Hasil pemeriksaan berat jenis rata-rata pada kuat tarik beton dengan fas 0.213 2.25 x π x d 2 x t = 0.

Kadar abu ampas tebu Kuat Tarik rata2 (gr/cm3) 0% 7.933 1.17.5 % 34.318 2.557 29.π.443 (Sumber: Hasil penelitian) Tabel V. Sedangkan estimasi kuat tekan beton rata-rata dapat dilihat pada Tabel V.5 % 0% 30.627 (Sumber: Hasil penelitian) .π.594 2.7.075 1.830 2.5% 31.5 % 2.8.334 Kadar abu 7.d2 = ¼ x π x 152 = 176.5% 10 % 12.029 23.159 arang briket 10 % 32.201 22.5% 2.390 39.521 23.68 secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.476 2.981 arang briket 10 % 2.d2……………………………………………………………(V.141 24.484 22.163 23.5 % 0% 3.632 22.4. Kadar abu ampas tebu Kuat Tekan rata2 (gr/cm3) 0% 7.9.(V.046 12.714 cm2 dengan : f’ A d = kuat tekan beton salah satu benda uji (kg/cm2) = luas permukaan benda uji yang tertekan (cm2) = diameter cetakan Pmaks = beban tekan maksimum (kg) Tabel V.425 23.4.3) A A = ¼ .263 2.476 1.5% 10 % 12. Besarnya kuat tekan dari benda uji dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus sebagai berikut : f’c = Pmaks …………………………………………………………….523 2. Kuat tarik rata-rata beton dengan variasi penambahan abu arang briket dan ampas tebu pada fas 0.284 37.069 Kadar abu 7.523 1.863 12.665 2.165 2.4) A = ¼ .434 37. Kuat tekan rata-rata beton dengan variasi penambahan filler abu arang briket dan abu ampas tebu pada fas 0.

78 %. Dari Gambar V. Grafik gabungan hubungan kuat tekan rata-rata dengan variasi bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket. 45 40 Kuat Tekan (Mpa) 35 30 25 20 15 10 5 0 0 7.3 dapat disimpulkan bahwa penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket mampu meningkatkan kuat tekan beton.5 Kadar Briket (%) Ampas tebu 0% ampas tebu 10% ampas tebu 7.3.5% ampas tebu 12.5% Gambar V.5% dan abu arang briket 10% sebesar 27.5 10 12. Sedangkan pada penambahan arang briket kuat tekan mengalami peningkatan. Kuat tekan optimum diperoleh dari penambahan abu ampas tebu 12. Dari hasil pengujian kuat tekan beton di atas. .3.69 Hasil pengujian kuat tekan rata-rata silinder beton dengan bahan tambah abu briket dan abu ampas tebu dapat dilihat pada Gambar V. dapat diketahui bahwa beton normal dengan penambahan bahan tambah abu ampas tebu mengalami penurunan pada kuat tekan.

5% dan abu arang briket 10%.5 10 12.5% dan abu arang briket 12.5% sebesar 14. dapat diketahui bahwa beton normal dengan penambahan bahan tambah abu ampas tebu dan abu arang briket dapat mengakibatkan penurunan pada kuat tarik beton. Kuat tekan tertinggi tersebut diperoleh dari kadar abu ampas tebu 12.4.5% dan abu arang briket 12.5 1 0.046 MPa dan kuat tarik tertinggi adalah 2.5% ampas tebu 12.5% Gambar V. .4. Kuat tarik optimum diperoleh dari penambahan kadar abu ampas tebu 7. Grafik gabungan hubungan kuat tarik rata-rata dengan variasi bahan tambah abu ampas tebu dan abu arang briket.4 bisa disimpulkan bahwa penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket pada umumnya mengalami penurunan untuk setiap variasi penambahannya. sedangkan kuat tarik tertinggi diperoleh dari kadar abu ampas tebu 7.5 3 Kuat Tarik (Mpa) 2. E. Pembahasan Hasil Penelitian Dari hasil penelitian ini dengan topik kapasitas tekan dan tarik beton dengan bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket dengan fas 0.5 2 1. diperoleh kuat tekan beton tertinggi adalah 39.5 Kadar Briket (%) ampas tebu 0% ampas tebu 10% ampas tebu 7. Dari hasil pengujian kuat tarik beton di atas.4. 3.830 MPa.70 Hasil pengujian kuat tarik rata-rata silinder beton dengan bahan tambah abu arang briket dan abu ampas tebu dapat dilihat pada Gambar V.5%. Dari Gambar V.70 %.5 0 0 7.

78 % dari beton normal atau pada kadar abu arang briket 0 % dan abu ampas tebu 0 %.5 % dan abu arang briket 10 % mengalami peningkatan sebesar 27.70 % dari beton normal atau pada kadar abu arang briket 0 % dan abu ampas tebu 0 %.71 Kelebihan dan kekurangan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.5 % mengalami penurunan sebesar 14. c) Kuat tarik beton yang dihasilkan lebih tinggi pada penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket. . b) Kuat tekan beton yang dihasilkan lebih tinggi pada penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket. Kuat tarik beton pada penambahan kadar abu ampas tebu 7. Kelebihan a) Dalam penelitian ini tidak terjadi penundaan ikatan semen karena dalam waktu 24 jam dari pengecoran. Kuat tekan beton pada penambahan kadar abu ampas tebu 12. 2.5 % dan abu arang briket 12. b) Karena sifatnya yang menyerap air mengakibatkan nilai slump rendah. Kekurangan a) Kemudahan pengerjaan lebih rendah karena abu ampas tebu dan abu arang briket mempunyai sifat menyerap air. benda uji langsung dapat dibuka dari cetakannya kemudian dilakukan perawatan benda uji.

465 MPa terjadi pada kadar 12. Berat jenis akan menurun seiring dengan penambahan abu arang briket dan abu ampas tebu.45 sebesar 25.5 % sedangkan kuat tekan optimum pada fas 0. 3).BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A.141 MPa terjadi pada kadar 12.735 MPa terjadi pada kadar 12. Semakin besar persentase abu arang briket dan abu ampas tebu pada adukan beton maka nilai slump makin kecil.665 MPa terjadi pada kadar 7. 72 .5 %. Kuat tarik optimum abu ampas tebu pada fas 0. serta analisis yang telah dilakukan. 4).5 %.4 sebesar 2.425 MPa terjadi pada kadar 7.4 sebesar 29. akhirnya penelitian ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1). 6). Kuat tarik optimum abu arang briket pada fas 0.4 sebesar 34.4 sebesar 2.45 sebesar 2.20 %. Hasil pemeriksaan agregat kasar (batu pecah) memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan campuran beton.594 MPa terjadi pada kadar 7.572 MPa terjadi pada kadar 20 %.3 dengan variasi pencampuran 10 %. 7).5 %.899 MPa terjadi pada kadar 10 %.405 MPa terjadi pada kadar 12. pengujian kuat tekan dan kuat tarik untuk silinder beton. 40 % didapat kuat tekan optimum sebesar 46.5 % sedangkan kuat tarik optimum pada fas 0.5 % sedangkan kuat tarik optimum pada fas 0.5 % sedangkan kuat tekan optimum pada fas 0. 30 %. Kuat tekan optimum abu ampas tebu pada fas 0. 2). Hasil pemeriksaan agregat halus (pasir) memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan campuran beton.45 sebesar 24. 8). Untuk hasil penelitian Rifai. 5). Kuat tekan optimum abu arang briket pada fas 0. pada fas 0. perendaman benda uji. Kesimpulan Setelah diadakan tahap pembuatan benda uji.45 sebesar 2.

Hal ini dimaksudkan pada waktu pengujian seluruh permukaan benda uji mendapat tekanan yang sama.5 % dan abu ampas tebu 7. Dalam penelitian ini menggunakan abu ampas tebu dengan prosentase tertentu yaitu 7. Dalam pembuatan benda uji.78 % dari beton normal atau pada kadar abu arang briket 0 %. Saran Berdasarkan pengamatan selama pelaksanaan penelitian. setelah dilakukan pencampuran material harus segera dimasukkan ke dalam cetakan karena adukan beton akan segera lengket dan mengental. 2).5 % sehingga dapat dilakukan penelitian selanjutnya tentang besarnya prosentase abu ampas tebu yang dapat menambah kuat tekan dan tarik beton sampai optimum. .5 % mengalami peningkatan sebesar 27. 10 %. abu ampas tebu 0 %. Bagian atas dan bawah benda uji diusahakan benar-benar rata. 10). kesulitankesulitan yang dialami pada saat penelitian dan pembahasan hasil penelitian. 3). maka peneliti memberikan saran sebagai berikut : 1). diharapakan dilakukan penelitian selanjutnya pada variasi fas.70 % dari beton normal atau pada kadar abu arang briket 0 %.5 % mengalami penurunan sebesar 14. Kuat tekan optimum terjadi pada penambahan kadar abu arang briket 10 % dan abu ampas tebu 12. sehingga sulit dipadatkan. 5). permukaan air harus menutup semua benda uji yang direndam. Kuat tarik beton terjadi pada penambahan kadar abu arang briket 12. Pada saat perendaman benda uji. Penggunaan abu ampas tebu akan mengurangi keenceran adukan campuran beton sehingga kuat tekan dan tarik beton tinggi.73 9). B. 12. 4). abu ampas tebu 0 %.5 %.

Bandung. Standar Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung. SK SNI T-15-1991-03. Departemen Pekerjaan Umum. Rifa’I. 2005. Erlangga.45. Murgiyanto. L. Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta. Yayasan LPMB Puslitbang Pemukiman Balitbang PU. 1982. PT Naviri. Surabaya. 1991. 1990. Surakarta. Direktorat Penyelidikan Masalah Bangunan. Pemakaian Variasi Bahan Tambah Larutan Gula dan Abu Arang Briket Pada Kuat Tekan Beton Mutu Tinggi. K. N. . Badan Pengembangan Pekerjaan Umum. Surakarta. A. M. Teknologi Beton Dalam Praktek.1-2 1971. SK SNI T-15-1990-03. 2003. 1995. Yogyakarta. Subakti. Departemen Pekerjaan Umum. Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta. LPMB. Jakarta. 1971. Bahan dan Praktek Beton. Bandung. Murdock. Direktorat Penyelidikan Masalah Bangunan.DAFTAR PUSTAKA Departemen Pekerjaan Umum. Bandung. Standar Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung.J. Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia. Tjokrodimuljo. Peraturan Beton Bertulang Indonesia. Teknologi Beton. 1996.M. Terjemahan Stephany Hindarko. 1991. Tinjauan Pemakaian Abu Batu Bara Terhadap Karakteristik Beton dengan Menggunakan Faktor Air Semen 0. Brook K.

(0271) 632363 Lampiran IV.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. Surakarta. Ir. 1. 132 129 524 . sehingga pasir tidak perlu dicuci karena sudah memenuhi batas persyaratan campuran beton yaitu 5%. Mei 2006 Ka.5 100 5% L-1 Kandungan lumpur pada pasir untuk campuran beton adalah 5 %. Telp. Lab. Ph. ST.D NIP. Pemeriksaan Kadar Lumpur Pada Pasir Tabel : Pemeriksaan pasir sebelum dicuci (Sumber : Hasil penelitian) Berat cawan (gram) Berat pasir kering tungku+cawan (gram) Berat pasir kering tungku setelah dicuci (gram) Berat pasir kering tungku sebelum dicuci (gram) Kandungan lumpur (%) A B C D=B-A D −C x100% D 158 258 95. Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.

Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. sehingga pasir dapat langsung digunakan untuk campuran beton. Lab. Pemeriksaan Kandungan Zat Organik Pada Pasir Tabel : Pengujian zat organik dalam pasir (Sumber : Hasil penelitian) No 1 2 Jenis bahan Pasir Larutan NaOH 3% Volume (cc) 130 cc Secukupnya Volume total 200 cc Warna larutan L-2 Kuning Kecoklatan Setelah pasir dicampur NaOH 3 % dan didiamkan selama 24 jam.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. Ini menunjukkan bahwa pasir tersebut tidak banyak mengandung bahan organik. Sutami No.D NIP. (0271) 632363 Lampiran IV.2. Surakarta. Ir. Mei 2006 Ka. Telp. terlihat larutan berwarna kuning kecoklatan. 36 A Kentingan Surakarta 57126. ST. 132 129 524 . Ph.

6 3.23 12.2 4.5 cm = 8.7 : 3 = 4. Mei 2006 Ka. Telp.9 4.2) / 2 = 4.7 12.6 : 3 = 4. Lab.D NIP. Keadaan ini membuktikan bahwa pasir masih agak basah.3. Ph.75 Pada pengujian ini diperoleh penurunan pasir rata. 36 A Kentingan Surakarta 57126.43 2 =4.75 cm. 132 129 524 .5 cm. Pengujian Saturated Surface Dry (SSD) Pasir Tabel : Pemeriksaan penurunan pasir rata-rata (Sumber : Hasil penelitian) Percobaan I II III Jumlah 15 20 25 Jumlah penurunan : 3 Nilai SSD Penurunan tinggi pasir(cm) Sample A Sample B 3. ST.5 × 7.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.23 + 4.215>0.rata sebesar 3. Ir.5 4.215 L-3 Tinggi pasir mula-mula Nilai SSD = 7.4 4.5 =3. Sutami No. oleh karena itu pasir perlu diangin-anginkan sebelum digunakan.2 (4. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. (0271) 632363 Lampiran IV. Surakarta. sedangkan tinggi pasir mula-mula 7.

Ph.80 4.47 2. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Telp. Ir. 132 129 524 .59 2. Mei 2006 Ka. Surakarta. Lab. ST.42 1006. Pemeriksaan Spesific Gravity dan Absorption Pasir Tabel : Perhitungan Spesific Gravity dan Absorbtion Pasir (Sumber : Hasil penelitian) Berat pasir kondisi SSD(gram) Berat volumetric flash+air (gram) Berat volumetric flash+air +pasir(gram) Berat pasir kering tungku (gram) Bulk Specific grafity (gram/cm 3 ) Specific grafity SSD (gram/cm 3 ) L-4 Apparent Specific grafity (gram/cm 3 ) Absorption (%) A B C D D ( A + B − C) A (B + A − C) D (B + D − C) A− D x100% D 500 699.7 (berat jenis agregat halus yang diperoleh memenuhi syarat). (0271) 632363 Lampiran IV.4.27 477 2.D NIP.82 Syarat berat jenis agregat normal antara 2.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.5 – 2.

25 x π x 15 2 x 30 = 5301. Sutami No.765 5.246 3 1. volume (gram/cm 3 ) 19400 19355 19505 Jumlah = 9250 9205 9355 5.D NIP. (0271) 632363 Lampiran IV.438 cm 3 = 10150 gram Tabel : Pemeriksaan berat satuan volume (Sumber : Hasil penelitian) No 1 2 3 Berat silinder (gram) 10150 10150 10150 Berat pasir+silinder (gram) Berat pasir (gram) Berat sat. Pemeriksaan Berat Satuan Volume Pasir L-5 Volume silinder Berat silinder = 0.745 1.749 gr/cm 3 Surakarta.25 x π x d 2 x t = 0. ST.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. 132 129 524 .246 Rata-rata berat satuan volume pasir = 1. Ph. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. Telp. Lab. Mei 2006 Ka.736 1.5. Ir.

4 gr Koreksi = berat pasir tertahan × kesalahan berat pasir setelah diayak Dari hasil analisa pengujian diatas didapatkan modulus halus butir pasir sebagai berikut : Modulus halus butir = = Jumlah persentase kumulatif tertahan 100 295.01 277.01 0. 7.90 322. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.74 8.982 memenuhi syarat yaitu antara 1.04 322. ST.03 10.D NIP.30 0.90 2999.77 8.96 = 2. Telp.70 383 579. Sutami No.20 53.93 3000 % Pasir Tertinggal 2.00 Syarat SK SNI 100 90-100 75-100 55-90 35-59 10-30 0-10 0 Gol II Keterangan : * tidak ikut dijumlahkan = 3000 gr = 2999.36 1. 4. 1.6 gr Berat pasir mula-mula Berat pasir setelah diayak Berat kesalahan penimbangan = 3000 – 2999.26 10.60 Koreksi 0.9 383.50 11.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. 2.04 0.24 240.2 301.03 0.00 518.51 60.96 100 Modulus halus butir 2. Ir.50 39.04 518.97 100.96 Lolos 97.04 0.50 9. 6.14 0.18 0.80 46.50 4.20 81.00 295.24 77. (0271) 632363 Lampiran IV. Ph.30 6. Ukuran Ayakan (mm) 9. Mei 2006 Ka.74 211. 8.03 Berat Pasir Terkoreksi 75.03 1051.15 Pan Berat Cawan + Pasir (gr) 136 338. 36 A Kentingan Surakarta 57126.04 0.00 277.85 0.74 17.03 100.00 1050.70 322. 132 129 524 .6 = 0. 3.75 2.8 Surakarta.00 Persen Kumulatif Tertinggal 2.6.23 91.03 0.5 88.20 240.07 0. Pemeriksaan Gradasi Pasir L-6 Tabel : Perhitungan pengujian gradasi pasir Boyolali (Sumber : Hasil penelitian) No .80 18. 5.90 192.9 Jumlah Berat Cawan (gr) 61 61 61 61 61 61 61 61 Berat Pasir (gr) 75.5 – 3. Lab.97 192.9 253 1111.40 35.76 22.

Telp. 12.5 Berat benda uji mula-mula (gram) Lolos No.3 %.5 Berat benda uji setelah diuji (gram) Keausan agregat (%) A B A−B x100% A 2500 2500 4985 0. karena memiliki kekerasan butiran yang masih ada dalam batasan yang disyaratkan yaitu tidak boleh lebih dari 20 %.. 19 dan tertahan 12.D NIP.5 dan tertahan 9. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Lab. Surakarta.3 % Hasil pengujian keausan batu pecah dari Karanganyar 0. Pemeriksaan Keausan Agregat Kasar L-7 Tabel : Hasil pengujian keausan agregat kasar (Sumber : Hasil penelitian) Lolos No. Ph.7. (0271) 632363 Lampiran IV.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. Sutami No. Mei 2006 Ka. ST. 132 129 524 . Ir. Hal ini menunjukkan batu pecah tersebut dapat digunakan sebagai bahan campuran beton. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.

Lab. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Ph. Ir.08 % Surakarta.5 1832. Mei 2006 Ka.57 1. ST.5 3000 2.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.53 2. (0271) 632363 Lampiran IV.5 2. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. Sutami No. Telp.8. 132 129 524 .D NIP. Pemeriksaan Spesific Gravity dan Absorbtion Batu Pecah L-8 Tabel : Perhitungan Spesific Gravity dan Absorbtion Batu Pecah (Sumber : Hasil penelitian) Berat batu pecah kondisi SSD(gram) Berat benda uji dalam air (gram) Berat benda uji kering oven (gram) Bulk Specific grafity (gram/cm 3 ) Specific grafity SSD (gram/cm 3 ) Apparent Specific grafity (gram/cm 3 ) Absorbtion (%) A B C C A− B A A− B C C−B A−C x100% C 3032.

595 1.25 x π x d 2 x t = 0.584 1.592 4. Mei 2006 Ka. Pemeriksaan Berat Satuan Volume Batu Pecah L-9 Volume silinder Berat silinder = 0. 132 129 524 . Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. volume (gram/cm 3 ) 19000 19055 19040 Jumlah 3 8400 8455 8440 = 4 . (0271) 632363 Lampiran IV. Sutami No. Hasil pengujian berat satuan batu pecah 1.771 Rata-rata berat satuan volume batu pecah Berat satuan agregat kasar normal yaitu 1. Lab.438 cm 3 = 10600 gram Tabel : Pemeriksaan berat satuan volume (Sumber : Hasil penelitian) No 1 2 3 Berat silinder (gram) 10600 10600 10600 Berat batu pecah+silinder (gram) Berat batu pecah (gram) Berat sat. ST. Ph.590 gr/cm 3 1. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Ir.6 gram/cm3. 771 = 1.2 gram/cm3 – 1.25 x π x 15 2 x 30 = 5301.590 gram/cm3. Pengujian tersebut membuktikan batu pecah mempunyai berat satuan sesuai yang disyaratkan untuk berat satuan normal.D NIP. Surakarta.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. Telp.9.

00 0. Lab.00 0.00 100.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.8 Koreksi 0.01 0.00 507.15 Pan Berat ayakan+ Kerikil (gr) 488 961 2253.00 0.00 0.00 0.00 0.66 94. 36 A Kentingan Surakarta 57126.90 60.00 0.00 0.89 100 Surakarta.01 0.93 0. Ir.8 = 0.2 gr Koreksi = berat pasir tertahan × kesalahan berat pasir setelah diayak Dari hasil analisa pengujian diatas didapatkan modulus halus butir batu Jumlah persentase kumulatif tertahan 100 789. Mei 2006 pecah/kerikil sebagai berikut : Modulus halus butir = = Modulus halus butir 7.00 0.12 0.75 2.108 memenuhi syarat yaitu antara 5 – 8.76 17.90 77.00 0.03 0.00 % Komulatif Tertinggal 0.00* 789.00 3000 % Kerikil tertinggal 0.04 0.00 0.8 930 573 322 320 315 242 269 Jumlah Berat Ayakan (gr) 488 454 431 412 421 322 320 315 242 269 Berat Kerikil (gr) 0 507 1822. Ph.50 9.10 22.00 0.34 5. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. Ka.00 16.04 152.00 16.85 0. ST.07 1.00 0.07 0. Pemeriksaan Gradasi Batu Pecah L-10 Tabel : Perhitungan pengujian gradasi batu pecah dari Boyolali (Sumber : Hasil penelitian) no 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Ukuran Ayakan (mm) 25 19 12.49 = 7.00 100.18 0.50 4.00 Keterangan : * tidak ikut dihitung = 3000 gr Berat batu pecah mula-mula Berat batu pecah setelah diayak = 2998 gr Berat kesalahan penimbangan = 3000 – 2999.93 100.03 1822.36 1.92 518.00 100.27 5.00 Berat Kerikil terkoreksi 0. Telp.10.49 Lolos 100 83. Sutami No.D NIP. 132 129 524 .00 100.00 0.00 100.00 0.00 100.00 0. (0271) 632363 Lampiran IV.8 518 152 0 0 0 0 0 2999.00 0.

11.25 x π x 15 2 x 30 = 5301.25 x π x d 2 x t = 0. Telp.584 1. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.817 Rata-rata berat satuan volume agregat kasar = = 1. (0271) 632363 Lampiran IV. 36 A Kentingan Surakarta 57126.606 gr/cm 3 Surakarta. Ph.D NIP.817 3 1.604 1. volume (gram/cm 3 ) 19000 19105 19235 Jumlah 8400 8505 8635 4. Pemeriksaan Berat Satuan Volume Agregat Kasar L-11 Volume silinder Berat silinder = 0.629 4. Sutami No. 132 129 524 . ST. Ir. Mei 2006 Ka.438 cm 3 = 10600 gram Tabel : Pemeriksaan berat satuan volume (Sumber : Hasil penelitian) No 1 2 3 Berat silinder (gram) 10600 10600 10600 Berat Agregat Kasar + silinder (gram) Berat Agregat Kasar (gram) Berat sat. Lab.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.

25 kg Pasir 561.18 Mpa pada 14 hari 7 Mpa 11.25 kg 275 kg 462.9 ltr dan fas 0. Sutami No. (0271) 632363 Lampiran IV.48 Mpa 47.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.716 kg Proporsi bahan tiap 1 silinder = 1.9 ltr 462.50 2300 kg/m3 1652. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Perencanaan Campuran Adukan Beton Metode SK-SNI T-15-199003 L-12 Perancangan Adukan Beton Normal Fas 0.2 * vol cetakan silinder * vol material tiap m3 .45 2 34 % 2.12.25 kg 184.66 Mpa biasa batu pecah 0.716 kg/m3 tabel 10 : 7 grafik grafik grafik 18-(11+10) 16 * 19 19-20 Proporsi campuran Tiap m 3 Air 184. Telp. Ir.4 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Uraian Kuat tekan umur 14 Deviasi standar Nilai tambah Kuat tekan rata2 Jenis semen Jenis kerikil Fas Slam Ukuran maks butir kerikil Kadar air Kebutuhan semen Kebutuhan semen minimum Dipakai kebutuhan semen Penyesuaian jumlah air atau fas Golongan pasir Persen pasir terhadap camp Berat jenis campuran Berat beton Kebutuhan camp pasir dan kerikil Kebutuhan pasir Kebutuhan kerikil Tabel/Grafik/Perhitungan grafik M=k * ds Nilai 36.6 kg/m3 561.884 kg/m3 1090.4 60-100 mm 40 mm 184.884 kg Kerikil 1090.9 ltr Semen 462.

764 1.056 Semen (kg) 17.622 7.622 41.442 21.622 41.442 21.205 2.639 17.056 7. (0271) 632363 Lampiran IV.639 Pasir (kg) 21.639 17.639 17. 11.205 .056 7.639 17. Air (kg) 7.622 41.5 % 2.622 41.056 7.442 21.4 No 1.442 21.622 41.639 17.205 2.442 21.205 7.205 2.323 1.442 21.5 % 1. 5. Sutami No.639 17. 16. 12.056 7.056 7. 36 A Kentingan Surakarta 57126.764 12.442 21.323 1. Proporsi kebutuhan material L-13 Tabel. 7.622 41.205 2.205 2.639 17.622 41.639 17.056 7.622 41.639 17.442 21.442 21. 8.13. 6.622 41.442 21.764 1.622 41.323 1. 10.323 1.056 7.056 7.622 41.764 1.323 Ampas (kg) 10 % 12.056 7.639 17. Telp.056 7.442 21.323 Filler (kg) 10 % 1.442 21.442 21.764 1.622 41.056 7. 13.442 Kerikil (kg) 41.639 17. 3. Ir.639 17.5 % 1.764 2.056 7. Proporsi kebutuhan material tiap 3 sampel untuk uji tekan dan tiap 3 sampel untuk uji tarik dengan fas 0. 14.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.639 17.622 41.442 21. 15.442 21.056 7.764 1.056 7.205 2.764 1.323 1.5 % 1.323 1.639 17.639 17.622 41.622 41. 2. 4.056 7. 9.

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR
JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Jl. Ir. Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Telp. (0271) 632363

Lampiran IV.14. Pemeriksaan Slump Adukan Beton

L-14

Tabel: Hasil pengujian slump beton umur 14 hari (Sumber : Hasil penelitian) No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. Beton Normal √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Ampas (%) 7,5 10 12,5 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Filler Briket (%) 7,5 10 12,5 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Slump (cm) 7,5 2 2,5 1,5 1,5 2 2,5 2 3,5 2,5 2 3,5 2,5 1,5 2,5 3,5

Surakarta,

Mei 2006

Ka. Lab. Bahan Konstruksi Teknik

Kusno Adi Sambowo, ST, Ph.D NIP. 132 129 524

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR
JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Jl. Ir. Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Telp. (0271) 632363

Lampiran IV.15. Hasil Pengujian Kuat Tekan Silinder Beton
HASIL PENGUJIAN KUAT TEKAN SILINDER BETON FAS 0.4

L-15

No 1

Tanda / Kode BN-40

Tgl. dibuat 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 2119 April 2006

Volume silinder (cm3) 5301,438

Berat (gr) 11950 11900 11750 12080 11900 12000 11950 11300 11500 11400 11500 11500 12250 12100 12150

b.j (gr/cm3) 2,254 2,245 2,216 2,279 2,245 2,264 2,254 2,131 2,169 2,150 2,169 2,169 2,301 2,282 2,292

b.j rata-rata (gr/cm3) 2,238

Tgl. diuji 3 Mei 2006

Umur 14

Beban Maks. (kN) 495 600 525 510 570 480 430 415 400 420 330 420 535 560 550

Kuat tekan (MPa) 28,011 33,953 29,709 28,860 32,255 27,162 24,333 23,484 22,635 23,767 18,674 23,767 30,275 31,689 31,124

2

BNA-1-40

5301,438

2,263

3 Mei 2006

14

3

BNA-2-40

5301,438

2,185

3 Mei 2006

14

4

BNA-3-40

5301,438

2,163

3 Mei 2006

14

5

BNF-1-40

5301,438

2,292

3 Mei 2006

14

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR
JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Jl. Ir. Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Telp. (0271) 632363

Lampiran IV.15. Lanjutan
HASIL PENGUJIAN KUAT TEKAN SILINDER BETON FAS 0.4

L-16.

No 1

Tanda / Kode BNF-2-40

Tgl. dibuat 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006

Volume silinder (cm3) 5301,438

Berat (gr) 12100 12200 12000 12100 12100 12100 11550 11650 11850 11900 11700 11600 11600 11600 11600

b.j (gr/cm3) 2,282 2,301 2,264 2,282 2,282 2,282 2,179 2,197 2,235 2,245 2,207 2,188 2,188 2,188 2,188

b.j rata-rata (gr/cm3) 2,282

Tgl. diuji 3 Mei 2006

Umur 14

Beban Maks. (kN) 600 530 600 580 630 600 440 390 400 330 420 425 420 420 460

Kuat tekan (MPa) 33,953 29,992 33,953 32,821 35,651 33,953 24,899 22,069 22,635 18,674 23,767 24,050 23,767 23,767 26,031

2

BNF-3-40

5301,438

2,282

3 Mei 2006

14

3

BNAF-11-40

5301,438

2,204

3 Mei 2006

14

4

BNAF-12-40

5301,438

2,213

3 Mei 2006

14

5

BNAF-13-40

5301,438

2,188

3 Mei 2006

14

Telp.767 23.938 23.348 2 BNAF-22-40 5301.207 2.188 2.438 Berat (gr) 11600 11750 11800 12000 11600 11600 11350 11400 11400 11050 11500 11600 11700 11500 11400 b.438 2.169 2.188 2.767 23.333 25. Lanjutan HASIL PENGUJIAN KUAT TEKAN SILINDER BETON FAS 0.504 21.216 2.782 37.504 24.4 L-17 No 1 Tanda / Kode BNAF-21-40 Tgl.899 21.j rata-rata (gr/cm3) 2.213 5 Mei 2006 14 3 BNAF-23-40 5301.j (gr/cm3) 2.15. diuji 5 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks.767 24. 36 A Kentingan Surakarta 57126.150 2.264 2.150 2.141 2.210 Tgl.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.438 2.782 36.438 2. Ir.147 5 Mei 2006 14 4 BNAF-31-40 5301.084 2.147 5 Mei 2006 14 5 BNAF-32-40 5301.188 2.573 37.188 2.169 2.175 5 Mei 2006 14 . dibuat 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301.217 43. (0271) 632363 Lampiran IV.150 b.226 2.438 2. Sutami No.914 36. (kN) 370 420 420 420 440 380 380 430 450 650 670 650 640 770 660 Kuat tekan (MPa) 20.465 36.

368 Surakarta.j (gr/cm3) 2.j rata-rata (gr/cm3) 2.D NIP.122 2. Telp. diuji 4 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. (0271) 632363 Lampiran IV. Lab. Lanjutan HASIL PENGUJIAN KUAT TEKAN SILINDER BETON FAS 0. Ir.438 Berat (gr) 11250 11250 11750 b. 132 129 524 . (kN) 680 680 625 Kuat tekan (MPa) 38.480 38. dibuat 20 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301.4 L-18.153 Tgl. Mei 2006 Ka.15. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Ph.122 2. No 1 Tanda / Kode BNAF-33-40 Tgl.216 b. ST.480 35.

169 2. dibuat 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301.254 2.194 3 Mei 2006 14 5 BNF-1-40 5301.169 2. (0271) 632363 Lampiran IV.207 3 Mei 2006 14 4 BNA-3-40 5301. Sutami No.476 1.169 2.273 Tgl.169 2.546 1.438 2.245 b. 2.235 2.248 3 Mei 2006 14 .j (gr/cm3) 2.264 2. 36 A Kentingan Surakarta 57126.546 2.438 2. (kN) 220 240 245 230 160 175 100 180 180 125 190 180 190 160 200 Kuat tarik (MPa) 3.301 2.16.254 2.216 2. Telp.235 2.141 2.245 2.688.179 2. Ir.395 3.829 2 BNA-1-40 5301.264 2.264 2.415 2.438 2.160 3 Mei 2006 14 3 BNA-2-40 5301.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. Hasil Pengujian Kuat Tarik Silinder Beton .4 L-19 No 1 Tanda / Kode BN-40 Tgl. HASIL PENGUJIAN KUAT TARIK SILINDER BETON FAS 0.446 3.768 2.112 3. diuji 3 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks.438 2.254 2.438 Berat (gr) 12200 11950 12000 11500 11350 11500 11500 11750 11850 11850 11550 11500 11900 11950 11900 b.688 2.j rata-rata (gr/cm3) 2.546 2.

264 2. (0271) 632363 Lampiran IV.200 3 Mei 2006 14 5 BNAF-13-40 5301.245 2.216 b.325 2. 36 A Kentingan Surakarta 57126.971 3. Lanjutan HASIL PENGUJIAN KUAT TARIK SILINDER BETON FAS 0.334 2.197 2.334 1.j (gr/cm3) 2.334 2.301 2.4 L-20 No 1 Tanda / Kode BNF-2-40 Tgl. Sutami No.768 3.197 2.207 2.438 2.188 3 Mei 2006 14 4 BNAF-12-40 5301. dibuat 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301.476 2.289 Tgl.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.301 2.j rata-rata (gr/cm3) 2.197 2.627 2.197 2. Ir.334 2.263 2.16.900 2.438 2.216 2.226 3 Mei 2006 14 .169 2.438 2.282 2. (kN) 125 235 165 165 115 200 165 205 165 160 175 200 210 215 175 Kuat tarik (MPa) 1.438 Berat (gr) 12200 12200 12000 11650 11900 12100 11500 11650 11650 11700 11650 11650 11750 11900 11750 b. Telp. diuji 3 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks.042 2.476 2 BNF-3-40 5301.197 2.829 2.245 2.438 2.241 3 Mei 2006 14 3 BNAF-11-40 5301.829 2.

169 2.179 b. diuji 4 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks. (0271) 632363 Lampiran IV.438 2. dibuat 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301. Ir.768 2 BNAF-22-40 5301.122 2.122 2.546 2.910 2.768 1.264 1.188 2.179 2.141 2. Lanjutan .188 2.438 2.188 2.188 Tgl.122 1.j rata-rata (gr/cm3) 2.839 2.176 4 Mei 2006 14 .188 2. HASIL PENGUJIAN KUAT TARIK SILINDER BETON FAS 0.169 2.179 4 Mei 2006 14 5 BNAF-32-40 5301.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. (kN) 180 185 160 125 135 150 150 105 185 160 130 130 150 120 125 Kuat tarik (MPa) 2.617 2.172 4 Mei 2006 14 3 BNAF-23-40 5301.150 2.438 2.169 2.485 2.438 Berat (gr) 11700 11600 11500 11600 11600 11350 11400 11500 11250 11500 11550 11600 11500 11550 11550 b.j (gr/cm3) 2.207 2.147 4 Mei 2006 14 4 BNAF-31-40 5301.179 2.698 1.617 2.839 1.16.438 2. Sutami No.122 1. 36 A Kentingan Surakarta 57126.169 2.4 L-21 No 1 Tanda / Kode BNAF-21-40 Tgl. Telp.264 1.

Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. Ir.216 Tgl. Sutami No.j rata-rata (gr/cm3) 2.627 1.179 b. Lab. ST.438 Berat (gr) 11750 11950 11550 b. No 1 Tanda / Kode BNAF-33-40 Tgl.D NIP. Telp.4 L-22. Ph.627 Surakarta. diuji 4 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks. (kN) 115 115 115 Kuat tarik (MPa) 1. dibuat 20 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301.254 2. Mei 2006 Ka. Lanjutan HASIL PENGUJIAN KUAT TARIK SILINDER BETON FAS 0.16.627 1. 132 129 524 .j (gr/cm3) 2.216 2. 36 A Kentingan Surakarta 57126.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. (0271) 632363 Lampiran IV.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->