TUGAS AKHIR

KAPASITAS TEKAN DAN TARIK BETON DENGAN BAHAN TAMBAH FILLER ABU AMPAS TEBU DAN ABU ARANG BRIKET DENGAN FAS 0,4

Disusun guna memenuhi persyaratan untuk memperoleh Gelar Sarjana Teknik pada Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta

oleh :

Aditya Galih Wijaya NIM : D 100 000 145 NIRM : 00.6.106.03010.5.0145

JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2006

LEMBAR PENGESAHAN

KAPASITAS TEKAN DAN TARIK BETON DENGAN BAHAN TAMBAH FILLER ABU AMPAS TEBU DAN ABU ARANG BRIKET DENGAN FAS 0,4
Tugas Akhir Diajukan dan dipertahankan pada Ujian Pendadaran Tugas Akhir di hadapan Dewan Penguji Pada tanggal : …. Juni 2006

Aditya Galih Wijaya
NIM : D 100 000 145 NIRM : 00.6.106.03010.5.0145 Susunan Dewan Penguji Pembimbing utama Pembimbing pendamping

Ir. Suhendro Trinugroho, M.T NIP. 732 Anggota

Ir. H. Aliem Sudjatmiko, M.T NIK. 131 683 033

Much. Sholichin, S.T, M.T NIK : 792 Tugas Akhir ini diterima sebagai salah satu persyaratan Untuk mencapai derajat sarjana S-1 Teknik Sipil Surakarta,…..Juni 2006 Mengetahui Dekan Fakultas Teknik Ketua Jurusan Teknik Sipil

Ir. Sri Widodo, M.T NIK. 542 iii

M. Ujianto, ST, M.T NIK. 564

MOTTO

“Katakanlah : sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah”.
(Q.S Al-An’aam:162-163)

“Tenang setenang langit dan cepat secepat kilat”.
( Penulis )

“Barang siapa berjalan di suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan mempermudah jalan ke surga”.
( H. R. Muslim )
“Janganlah berfikir untuk menjadi orang yang sukses, tapi berpikirlah untuk menjadi orang yang berguna”.

( Penulis )

“Terima kasih Ya Allah untuk kehidupan dan kesehatan saya. Terima kasih atas kesempatan-kesempatan saya, atas persoalan-persoalan saya, dan terima kasih atas bimbingan dalam mengatasi persoalan-persoalan tersebut”.
( Penulis )

iv

Almamaterku. v . Winning Eleven.HALAMAN PERSEMBAHAN Ucapan Terima Kasih Penulis Persembahkan Kepada : My Lord Atas izin-Mu untuk menyelesaikan Tugas Akhir ini. Adikku Adhimas Pamungkas Terima kasih atas semua do’anya. Istriku Anita Fitriana dan Calon Anakku Naja Keyshika Semangat serta perjuanganmu adalah nafas kehidupanku. Ummi dan Abbah Demi Allah tidak dapat aku balas pengorbanan. Stream K4658KB. BlueMax K6723DE. cucuran keringat dan kasih sayangmu selama aku hidup di dunia.

Ummi dan Abbah. yang telah memberikan dorongan dan semangat baik moril maupun materiil dalam menyelesaikan laporan ini. 8).T. M.T. Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir dengan judul ”Kapasitas Tekan Dan Tarik Beton Dengan Bahan Tambah Filler Abu Ampas Tebu Dan Abu Arang Briket Dengan Fas 0. Bapak Ir.. M. terima kasih untuk semua bimbingan.. kehangatanmu memberikan cermin hati tuk melihat seluruh putihnya kasihmu.T. M. 4). Bapak M.T..Wb Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Karunia. Dengan selesainya penyusunan laporan ini. 5). Ujianto. M. Bapak Ir. selaku Dosen Pembimbing Akademik 7). S. selaku Dosen Pembimbing Utama Tugas Akhir. terima kasih untuk semua bimbingan.4”. H. vi . selaku Dosen Pembimbing Pendamping. Penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1).. Saudara sekandungku Adhimas Pamungkas.T.T. ilmu. Suhendro Trinugroho. terima kasih atas semua do’anya. 2).KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. selaku Ketua Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta. selaku Dosen Koordinator Tugas Akhir. keramahanmu teduhkan jiwaku. Suhendro Trinugroho. 9). Bapak Ir. Ibu Qunik Wiqoyah. H. keberadaanmu tunjukkan aku bahagia. nasehat dan kesabaranya.. S. Anita Fitriana.T. ilmu.. Sri Widodo. 6). Aliem Sudjatmiko. M.T. Bapak Ir.. 3). selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta. kehadiranmu ajarkan aku bijaksana. nasehat dan kesabaranya. M. penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung membantu membimbing serta meluangkan waktu sehingga laporan ini dapat terselesaikan.

Ari. Wassalamu’alaikum Wr. 13).Wb Surakarta. Sahabatku Kenci. Parman. Pardi terima kasih atas semua bantuannya. 17). Yanuar+Dinda (hidup tak selamanya indah). Radjimin.45 terima kasih atas semua masukkan dan kerjasamanya yang baik slama ini. 14). Juni 2006 Penulis vii . Amin. Rubianto Nugroho selaku Partner Dewan Beton Nasional 0.. Guruh+Trek (Laskar Industri Indonesia). Adhi Karya. Punggawa Yandu : Kholiq+Sahid (tetep kompak dan rukun slalu yo). Fajri. Penulis menyadari keterbatasan dalam penyusunan Tugas Akhir ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna.10). Mr. 15). terima kasih atas dukungan dan bantuannya. terima kasih atas persahabatannya. Hatur Nuhun Sanget Ya Allah. 12). Jesus. Toni+Ikha (Keluarga Ceria). Sayoko. Bala Tentara Lab Teknik Sipil UNS : Bos Kusno Adi S. untuk itu kritik dan saran yang sifatnya membangun penulis harapkan demi kesempurnaan penyusunan laporan selanjutnya. Barudak Sipil 2000. Orang-orang yang dekat denganku dan merubah hidupku jadi lebih berarti. Danang. Edwin Reagen Sedunia (kapan modal chek.?!). 11). Anita. Save My Soul… 16). Asrie (A4). Semoga laporan ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca. Persero Tbk Cabang II Riau yang telah memberikan segala fasilitas dan jaminan hidup sampai sekarang. PT. Asih.

DAFTAR NOTASI K = Kadar lumpur (gram) G 0 = Berat pasir mula – mula (gram) G 1 = Berat pasir setelah dicuci (gram) B = Berat picnometer + air (gram) BT = Berat picnometer + air + pasir (gram) BJ = Berat batu pecah dalam keadaan jenuh (gram) BA = Berat batu pecah dalam air (gram) Wо = Berat pasir mula – mula (gram) W 1 = Berat agregat halus yang tertahan saringan ukuran 2 mm (gram) M = nilai margin Sd = standart deviasi f’c = Kuat tekan beton (MPa) f’cr = Kuat tarik beton (MPa) W = Berat benda uji (gram) V = Volume silinder beton (cm³) P = Beban maksimal (N) d = Diameter silinder (mm) h = Tinggi silinder (mm) π = 3.14 viii .

........ MOTTO ....................................................................................... 2............................................................................................................................................... A.................................................................................................... C..... D............................. xvii DAFTAR NOTASI ....................................................................................................................................... 1............................................... LEMBAR PENGESAHAN ............................................ Keaslian Penelitian ... Rumusan Masalah.................................. xviii ABSTRAKSI ..................................................................... Sifat khusus beton ................................................................................. Jumlah semen ......................................................... 2........... xv DAFTAR LAMPIRAN............................................. BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................ Sifat umum beton .............. Latar Belakang.................................................................... DAFTAR ISI......................... i iii iv v vi ix KATA PENGANTAR ... E........................................................ Sifat – sifat Beton ........... Umum ........................................... Tujuan dan Manfaat Penelitian ............... 1........................................................... Faktor air semen.... ix 1 1 3 3 3 3 3 4 5 5 6 6 6 7 8 8 8 ...................................................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ........................................... Beberapa Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Beton ............................................... Manfaat penelitian........... D....... B....... Tujuan penelitian......................................................................................................................................................................... HALAMAN PERSEMBAHAN ........ C............................................................................................................................................................. A...................................................... Pengertian Beton......... 2.................. HALAMAN SOAL......... xix BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................................................... Batasan Masalah ....... xiii DAFTAR TABEL............................................... 1........................................................................................................................... B................. vii DAFTAR GAMBAR ..................................................

.................... Ayakan standar ........................................................................... Bahan penelitian............ 12 1........................................................ 19 5..................................... 11 E...................................... 30 BAB IV METODE PENELITIAN ............. Abu ampas tebu.................... Agregat halus .......................... Bahan tambah kimia................................................................................... Abu arang briket........................... Bahan Pengisi (Filler) ...................... 12 2................ 16 2.. Umum .. 33 2b)......... Bahan Tambah Beton................................................... Agregat ....... 35 2e).............................. Penggetar ayakan (Siever) .............................. 29 E........ 15 A........................ 19 6... Serat................................................................................................................................. 13 3.. 34 2d).................................................. 17 2a).................................................... 32 2................................... Kuat Tarik Beton... 18 2b)..... 32 1.................................................................................................................. 32 B................................................................... 14 BAB III LANDASAN TEORI.................. Peralatan Penelitian.................................. Umum ................................................................................................... 33 2c).................................................................................................................................................. 32 A........................................................ 35 x ............. Air ....... Kerucut Conus ... 20 D.............................................................. Agregat kasar .. Perencanaan Campuran Beton ...................................... Timbangan ......................................... Kuat Tekan Beton . 18 3................................. Gelas ukur....3.............................. Jenis semen............................... 15 1............................................................. 20 C....................................................... Bahan Penelitian dan Peralatan Penelitian......................... Semen portland ................. 32 2a)....................................................................................... 9 4........................................... Pozolan............................................ 15 B.......................................... Umur beton............................................... 18 4.......... Sifat agregat ...................... 10 5......... Bahan Penyusun beton .............................................

................................................................................................................ Tahap Penelitian ... 40 1.... Tahap II : Pemeriksaan bahan dasar.................... Pemeriksaan Specific Gravity dan Absorbtion pasir.................. Volumetric Flash ........... 44 1............................. Molen ......................................................................................................... 52 2.......................... Mesin uji Los Angeles..... 41 4....................... 38 2l)................ 47 1e)...... Pemeriksaan zat organik pasir .................. 36 2g)...... Pemeriksaan bahan..... Pemeriksaan berat satuan volume batu pecah . Tahap IV : Pengambilan data.. 53 3...... 37 2k)................ 36 2h)........................................................................... 41 2...... Pembuatan benda uji .......................................... 50 1h)....... Oven.. Cetakan silinder.................................................................. Bak tempat perendaman benda uji .......................... 37 2i)... Tahap III : Penyediaan benda uji ............................................................... 54 4...................................... Desicator .......... Peralatan penunjang lain ................................ Perencanaan campuran beton .. 39 2n)...... 39 2o). 51 1i)........... 45 1c)........................................ Tahap I : Persiapan alat dan penyediaan bahan ... 49 1g) Pemeriksaan Specific Gravity dan Absorbtion kerikil ......... Pemeriksaan Saturated Surface Dry (SSD) pasir............ Pelaksanaan Penelitian........................ 48 1f)................ 44 1b).... Kerucut Abram’s............................... Pemeriksaan kadar lumpur pasir .... Mesin uji tekan............................................................................................................. 44 1a). Pengujian Slump.......................... 41 3................................................ 37 2j).......................................................... Pemeriksaan gradasi agregat pasir................................................. 46 1d)..................... Tongkat baja ............................................ 38 2m).... 42 D................ 39 2p).... Pemeriksaan gradasi batu pecah ........................................ 40 C................ 41 5.........................2f)........ 55 xi ...... Pemeriksaan keausan agregat kasar........... Tahap V : Analisis data dan kesimpulan...............................

.................................. Hasil pengujian agregat halus ..... 61 A.......... Pembahasan Hasil Penelitian . 70 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................................... 63 B................................................... 66 C................................................. 73 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN xii .... 72 B............................. Pengujian kuat tekan dan tarik beton ..................... Hasil pengujian agregat kasar ............................ 72 A........ Pengujian Berat Jenis Beton . Pengujian Kuat Tekan Dan Kuat Tarik Beton ............ 56 BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............ 61 1.... 69 E..................................................... Perawatan benda uji (Curing) ............................................. Pengujian Agregat....................................... Saran ...... Pengujian Slump ... 55 6.................................. Kesimpulan .................. 56 7............................................ 61 2............................................................................................5..... 67 D........................................................................................ Pemeriksaan berat jenis beton......................

........... Kerucut Conus ............. Pengaruh jenis agregat terhadap kuat tekan beton . 34 Gambar IV......21............... 58 xiii ............. 3........................... Kerucut Abram’s dan tongkat baja ........ 57 Gambar IV......................7.................. Gelas ukur .....10.........................DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar II......15................... 13 Gambar IV..13.............................................................. Peralatan penunjang lainnya . 39 Gambar IV................... 36 Gambar IV............. Molen ..... Perawatan benda uji beton ................. 58 Gambar IV................................ 37 Gambar IV............. Mesin uji kuat tekan dan kuat tarik merk Milano Italy.................................................20................17..... 38 Gambar IV............................... 39 Gambar IV.............. Grafik kuat tekan beton untuk berbagai jenis semen............... Pengaruh suhu pada laju kuat tekan beton ................. Cetakan beton silinder.....................12........19.......1.......................................... 33 Gambat IV................... Hubungan antara faktor air semen dan kuat tekan silinder beton 9 Gambar II....................................... 43 Gambar IV............ 10 Gambar II........................................................... 40 Gambar IV........ 8....... Volumetric flash ...... 40 Gambar IV............ Satu set ayakan dan Siever..............14............... Pengujian kuat tekan beton ................................. 1................ Desicator................. Timbangan digital .......... 37 Gambar IV........ 3....................................... 35 Gambar IV.......................... 4.......... Timbangan besar......... 5........ 2...................... 11 Gambar II.............................. 56 Gambar IV...... Hubungan antara kuat tekan beton dan jumlah semen . Benda uji sebelum dicat ................................................................................6....................... Oven ......... 5.. 6.....9........................... 2................................... 4... 12 Gambar II. 38 Gambar IV.......16................................................................ Mesin Los Angeles .............. 35 Gambar IV..... Bak tempat perendaman benda uji........................ 57 Gambar IV..... Benda uji setelah dicat ...... 11 Gambar II. Hasil pengujian kuat tekan beton.....18........................................................... Pengaruh umur beton terhadap laju kenaikan kuat tekan beton pada beberapa fas .............................. Bagan alir tahapan penelitian.............. 36 Gambar IV.............. 34 Gambar IV......11...................................

...22. II ................................................ Grafik gabungan hubungan kuat tarik rata-rata dengan variasi tebu bahan tambah filler abu ampas dan abu arang briket...22........ 1.. Grafik gabungan hubungan kuat tekan rata-rata dengan variasi tebu bahan tambah filler abu ampas dan abu arang briket....... Hasil pengujian kuat tarik beton .....Gambar IV................ 59 Gambar IV.. 72 xiv ........... 2...... Batas gradasi pasir dalam daerah gradasi No..... 59 Gambar V....................... Batas gradasi kerikil ........ 71 Gambar V............... 65 Gambar V.. Pengujian kuat tarik beton ......... 4........ 3......... 63 Gambar V...................

. Perkiraan kuat tekan beton dengan faktor air semen 0.. 17 Tabel III........................................................ 4 Tabel III.... Hasil penurunan SSD pasir ................................................. 54 Tabel V................................................................................................ 65 Tabel V.............. 2................................................ Rincian jumlah benda uji untuk kuat tarik beton.... 6.............. 9... 24 Tabel III..... 25 Tabel III............Batas gradasi pasir . 1 Jenis-jenis semen Portland ........ 3...........................DAFTAR TABEL Halaman Tabel I.......................... Rincian jumlah benda uji untuk kuat tekan beton ........ Proporsi kebutuhan material tiap 3 sampel untuk uji kuat tekan dan 3 sampel untuk uji kuat tarik dengan fas 0......... 7..... 8........................ 28 Tabel IV....... Nilai deviasi standar untuk tingkat pengendalian mutu pekerjaan 22 Tabel III.. Pengujian agregat halus ........... 22 Tabel III................ Ketentuan minimum untuk beton bertulang kedap air. Penetapan nilai Slump .......... 4................ 1..4 ......... 3..................... 66 Tabel V............................... 26 Tabel III.................................................. 2. 5. 2...................... 53 Tabel IV... 26 Tabel III...................... 6........ Rincian jumlah benda uji kuat tekan dan uji kuat tarik .......... Hasil pengujian agregat halus .. 24 Tabel III.. 61 Tabel V... 5............. 10................. 46 Tabel IV..... Perkiraan kadar air bebas yang dibutuhkan untuk beberapa tingkat kemudahan pengerjaan adukan beton . Ketentuan untuk beton yang berhubungan dengan air tanah yang mengandung sulfat .................... 23 Tabel III...................4......... 54 Tabel IV......... Hasil pemeriksaan berat jenis rata-rata kuat tekan beton dengan Fas 0................................ 4.....................5 dan jenis semen dan agregat kasar yang biasa dipakai di Indonesia ............... 4.... 68 xv .................... Persyaratan jumlah semen minimum dan faktor air semen maksimum untuk berbagai macam pemberonan dalam lingkungan khusus .......... 63 Tabel V.................... 65 Tabel V.... Faktor pengali deviasi standar ......................... 3........ 1.......................................................................... Hasil pengujian Slump beton umur 14 hari.... Hasil pengujian agregat kasar .............. Pengujian agregat kasar ..... 1.............

.. 69 Tabel V... 70 xvi ................ Kuat tarik rata-rata beton dengan variasi penambahan filler abu abu arang briket dan abu ampas tebu dengan Fas 0.... 8.................. 7... Hasil pemeriksaan berat jenis rata-rata kuat tarik beton dengan Fas 0.................... Kuat tekan rata-rata beton dengan variasi penambahan filler abu abu arang briket dan abu ampas tebu dengan Fas 0......4 ...........................4........4..Tabel V.... 9........ 68 Tabel V...............

...................... L-1 Lampiran IV. Hasil pengujian kuat tekan beton .................................... Pemeriksaan berat satuan volume batu pecah .............. Pemeriksaan gradasi batu pecah.................12........ L-2 Lampiran IV.... L-12 Lampiran IV. 4............... L-10 Lampiran IV....... 1...14....... Pemeriksaan Spesific Gravity dan Absorbtion batu pecah ..... L-7 Lampiran IV...10. Pemeriksaan berat satuan volume pasir ................... L-6 Lampiran IV...11............. Pengujian Saturated Surface Dry (SSD) pasir .............DAFTAR LAMPIRAN Lampiran IV......16................... L-5 Lampiran IV............ L-8 Lampiran IV.... L-14 Lampiran IV.. Pemeriksaan kadar lumpur pada pasir..... Periksaan kandungan zat organik pada pasir. L-4 Lampiran IV............ Perencanaan campuran adukan beton metode SK SNI ... L-9 Lampiran IV.................. 8....... 5.....................13......... 2. 9.. L-19 xvii . 7.. 3... L-11 Lampiran IV... Pemeriksaan keausan agregat kasar ...................... Pemeriksaan Spesific Gravity dan Absorbtion pasir ....... L-3 Lampiran IV................................................... Proporsi campuran. L-13 Lampiran IV....................... L-15 Lampiran IV..... Pemeriksaan berat satuan volume agregat kasar .. Pemeriksaan Slump adukan beton ..................... 6.....15........................................ Pemeriksaan gradasi pasir .................. Hasil pengujian kuat tarik beton ................

Beton yang dibuat berbentuk silinder dengan tinggi 30 cm dan diameter 15 cm. Fakultas Teknik.4 Beton merupakan bahan bangunan yang telah banyak dikenal masyarakat Indonesia karena bahan penyusun beton mudah didapat dan relatif murah. Pada penelitian ini menggunakan fas sebesar 0.5% . 10% .78 % dari kuat tekan beton normal dan dari pengujian kuat tarik rata-rata optimum diperoleh pada variasi abu ampas tebu 7.SNI.5% . Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penambahan filler abu ampas tebu dan abu arang briket terhadap kuat tekan dan kuat tarik beton. kuat tekan. Dari hasil pengujian kuat tekan rata-rata optimum diperoleh pada variasi abu ampas tebu 12.5% dan abu arang briket 10%. 12. adapun penelitian ini mencoba memanfaatkan abu ampas tebu dari Pabrik Gula Tasik Madu yang ada di Karanganyar dan abu arang briket dari PT. kuat tarik xviii . Penelitian tentang beton telah banyak dilakukan.ABSTRAKSI KAPASITAS TEKAN DAN TARIK BETON DENGAN BAHAN TAMBAH FILLER ABU AMPAS TEBU DAN ABU ARANG BRIKET DENGAN FAS 0. variasi bahan tambah abu ampas tebu sebesar 7. sebesar 14. Skatex yang ada di Karanganyar.5%. Universitas Sebelas Maret. 10% .70 % dari kuat tarik beton normal.T-15-1990-03. 12.4 dengan umur beton 14 hari.5% dari berat semen dan abu arang briket sebesar 7.5% dan abu arang briket 12. Kata kunci : abu ampas tebu. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Bahan dan Struktur. Jurusan Teknik Sipil.5% dari berat semen. Perancangan adukan beton menggunakan rancangan SK. dengan hasil peningkatan sebesar 27. abu arang briket.

Jadi perkembangan beton sangat perlu dalam kehidupan sehari-hari yang mempengaruhi konstruksi struktur. lapangan terbang. serta mudah dalam mendapatkan bahan penyusunnya. serta bahan kimia tambahan (admixture). Teknologi dibidang konstruksi bangunan juga mengalami perkembangan pesat. sifat agregat. Peningkatan kualitas campuran beton akan menghasilkan beton yang lebih berkualitas. Latar Belakang Perkembangan teknologi sekarang ini sangat pesat seiring dengan perkembangan zaman. Struktur dari beton mempunyai tegangan tarik yang rendah. Beton banyak digunakan karena keunggulan-keunggulannya antara lain kuat tekan beton tinggi. Kualitas yang baik pada campuran beton ditambah dengan bahan tambah (admixture). mudah dalam perawatan. hal ini sangat berbeda dengan elemen struktur baja yang memerlukan perawatan untuk mencegah terjadinya karat. Semen merupakan salah satu bahan penyusun beton yang bersifat sebagai pengikat agregat pada campuran beton. Beton merupakan salah satu faktor penting dalam bidang konstruksi mengingat fungsinya sebagai salah satu pembentuk struktur. pemadatan dan perawatan).BAB I PENDAHULUAN A. jenis semen. gradasi agregat. Beton merupakan bahan bangunan yang awet dan tidak mudah berkarat. bertujuan 1 . mudah dalam pembentukan. umur beton. Pemakaian beton diharapkan dapat menghasilkan bangunan-bangunan berkualitas yang tidak mungkin diperoleh dari beton normal. bendungan dan sebagainya. Besarnya kuat beton dipengaruhi beberapa hal antara lain : fas. termasuk teknologi beton yang hampir pada setiap aspek kehidupan manusia selalu terkait dengan beton baik secara langsung maupun tidak langsung. Kualitas beton bergantung pada bahan-bahan penyusunnya. Struktur yang terbuat dari beton antara lain : jalan dan jembatan yang strukturnya terbuat dari beton. Beban tarik pada plat atau balok beton dipikul oleh tulangan baja pada beton. dan pengerjaan (pencampuran.

yang tidak mempunyai sifat seperti semen. Berdasarkan hasil penelitian diatas. Penelitian ini ingin mengetahui berapa besar kuat tekan dan tarik beton tersebut setelah diberi bahan tambah dibandingkan dengan beton normal. sehingga bisa menjadi addictive mineral yang baik untuk beton. Sedangkan pohon tebu tumbuh subur di daerah tropis seperti di Indonesia ini. Hal tersebut membuat masyarakat beranggapan.2 untuk mengubah satu atau lebih sifat-sifat bahan penyusun beton baik dalam keadaan segar atau setelah keras. saat ini ada beberapa praktisi ilmu pengetahuan yang memiliki pendapat lain dari pendapat masyarakat terdahulu. Pozolan adalah bahan yang mempunyai kandungan utama senyawa Silicon Dioksida alami atau buatan. mengingat abu ampas tebu berasal dari sisa penggilingan tebu.4. 1998). selain itu abu ampas tebu mudah didapat dan bisa dibedakan atau diketahui cukup dengan indra manusia. bahwa kadar gula dalam hal ini tetes tebu mampu memberikan pengaruh terhadap beton. Penambahan filler abu arang briket pada campuran beton yang bersifat pozolan. Hubungannya dengan pembuatan beton dikatakan banyak orang bahwa dalam pelaksanaan pembuatan beton. Namun seiring perkembangan zaman. Pendapat tersebut adalah kadar gula dengan kadar tertentu akan dapat mengurangi kekuatan beton (Budiyana. Penambahan abu ampas tebu sebagai bahan tambah dalam campuran beton telah dilakukan dalam beberapa pengujian dengan beberapa variasi takaran penambahan abu ampas tebu terhadap adukan tersebut. . beberapa ahli memberikan tetes tebu sebagai bahan campuran. Pemilihan abu ampas tebu sebagai bahan tambah merupakan salah satu alternatif yang cukup mengena. Bangunan yang dibuat sampai sekarang rata-rata masih berdiri kokoh. dicoba untuk mengembangkan penelitian kapasitas tekan dan tarik beton dengan bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket dengan fas 0. Hal ini mengisyaratkan bahwa tetes tebu berpengaruh terhadap kekuatan beton. seperti bahan tambah filler arang briket.

Manfaat penelitian Manfaat penelitian ini antara lain : a). Persentase variasi campuran abu ampas tebu dan abu arang briket adalah 0 %. bahwa pemakaian bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket mampu menambah kuat tekan dan tarik beton yang lebih baik. Pengujian kuat tekan dan tarik beton tidak menggunakan tulangan. 2. 12. Tujuan penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kuat tekan dan kuat tarik beton yang dihasilkan dengan menggunakan bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket 2. Faktor air semen yang digunakan 0. 4. . Semen yang digunakan adalah semen Portland. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. 5. maka penulis memberikan batasan-batasan masalah pada penelitian sebagai berikut : 1.SNI. D. 3. berasal dari Boyolali. 6. untuk mengembangkan pengetahuan tentang teknologi beton terutama pemanfaatan filler abu arang briket sebagai bahan tambah.4. Penelitian ini diharapkan dapat membuktikan.3 B. Tasik Madu di Karanganyar. C.5 % dari berat semen. Manfaat teoritis. b). 10 %. 8. Rumusan Masalah Rumusan masalah yang diambil dalam penelitian ini adalah seberapa besar pengaruh penambahan filler abu ampas tebu dan abu arang briket terhadap kuat tekan dan kuat tarik beton.T-15-1990-03. Skatex di Karanganyar.5 %. Batasan Masalah Agar tidak terjadi perluasan dalam pembahasan tugas akhir ini. jenis I merk Holcim. 7. Abu ampas tebu berasal dari PG. Agregat kasar (batu pecah) dan agregat halus (pasir). 7. Benda uji berupa silinder berdiameter 15 cm dan tinggi 30 cm. Filler abu arang briket didapat dari PT. 9. Metode mix design menggunakan Metode SK.

Penelitian tersebut untuk mengetahui pengaruh bahan tambah larutan gula dan abu arang briket batubara terhadap kuat tekan beton mutu tinggi.4 10. Dalam penulisan tugas akhir ini dikaji tentang pengaruh penambahan bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket terhadap kuat tekan dan kuat tarik beton dengan menggunakan fas 0. Umur pengujian kuat tekan dan kuat tarik beton benda uji silinder beton dilaksanakan pada umur 14 hari.T-15-1990-03.5 7. 10 . .5 . di Laboratorium Bahan Konstruksi Teknik. 14.5 .12. Jumlah benda uji 3 buah tiap variasi abu ampas tebu dan abu arang briket. 10 .5 7. 13. Variasi campuran bahan tambah yang digunakan untuk adukan beton dan variasi perendaman seperti pada Tabel I. 11. Untuk perencanaan campuran menggunakan metode SK.4 7. 12. Keaslian Penelitian Penelitian beton dengan bahan tambah abu batu bara telah dilakukan oleh Murgiyanto (2003).SNI.5 3 9 27 9 48 x 2 = 96 d=15. Rincian jumlah benda uji untuk kuat tekan dan tarik beton. Umur pengujian (hari) Fas Abu Ampas Tebu (%) Abu Arang Briket (%) Jumah total benda uji Ukuran benda uji (cm) 0 14 hari 0.12.12. 10 .5 .1. Tinjauan analisis pada kuat tekan dan kuat tarik beton. Penelitian lain tentang analisis kuat tekan beton dengan penambahan larutan gula dan abu arang briket batubara pernah diteliti oleh Muctar Rifai (2005). Jumlah seluruh benda uji yaitu (3 x 4 x 4) x 2 = 96 benda uji.h=30 E.5 Jumlah benda uji 0 7.5 . 10 .4.45. Tabel I. Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta. Penelitian yang dilakukan oleh Murgiyanto (2003) adalah tinjauan pemakaian abu batubara terhadap karakteristik beton dengan menggunakan faktor air semen 0.1.12.

(Tjokrodimuljo. Kekuatan. misalnya dengan pemanfaatan bahan-bahan lokal yang didapat di daerah tertentu dengan mengubah perbandingan bahan dasarnya. Dengan perencanaan yang tepat dan sesuai rencana serta pengontrolan pada pemilihan material yang baik. 1996). bahwa kegiatan sehari-hari sering dipengaruhi oleh dampak perkembangan teknologi beton. Umum Beton merupakan suatu material yang sangat sering dijumpai. jembatan. (Subakti. (Tjokrodimuljo. Beton yang bermutu sangat baik merupakan material yang sangat awet dan bebas dari pemeliharaan untuk beberapa tahun. B. Semakin modern suatu bangsa. Sebagai contoh jalan. agregat. Campuran tersebut bila dituangkan dalam cetakan kemudian dibiarkan maka akan mengeras seperti batuan. Pengertian Beton Beton merupakan campuran antara semen. air dan kadang-kadang memakai bahan tambah yang sangat bervariasi. 1995) Kemajuan pengetahuan tentang beton telah dapat memenuhi berbagai tuntutan pembangunan. maka akan didapat suatu fungsi beton maksimum. dan gedung yang sering ditempati. maka peranan teknologi tentang beton akan sangat dominan dan sangat berpengaruh pada proses pembangunan yang menggunakan teknologi beton.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. serat sampai bahan bangunan non kimia pada prosentase tertentu. mulai dari bahan kimia tambah. keawetan dan sifat beton bergantung pada sifat bahan dasar penyusunnya. nilai perbandingan bahan-bahannya. Hampir pada setiap aspek kegiatan pembangunan sehari-hari tergantung pada beton. 5 . 1996). maka akan menghasilkan suatu mutu beton yang dapat memenuhi persyaratan. cara pengadukannya maupun cara pengerjaannya selama penuangan adukan beton dan cara perawatan selama proses pengerasan. yang diakibatkan oleh reaksi kimia antara air dan semen. Jadi dapat diambil kesimpulan. baik secara langsung maupun tidak langsung.

yaitu sifat yang berhubungan langsung dengan kelebihan beton dan sifat yang berhubungan dengan kekurangan beton ( Tjokrodimuljo.6 C. 2) Harga relatif murah. 1996 ).1996). Kelebihan beton antara lain : 1) Beton termasuk bahan yang berkekuatan tekan tinggi. 1. 5) Beton segar dapat disemprotkan dipermukaan beton lama yang retak maupun diisikan kedalam retakan beton dalam proses perbaikan. 6) Beton segar dapat dipompakan sehingga memungkinkan untuk dituang pada tempat-tempat yang sulit. Sifat – Sifat Beton Sifat beton merupakan hal yang erat kaitannya dengan kualitas beton yang dituntut untuk suatu tujuan konstruksi. 3) Beton segar dapat dengan mudah diangkut maupun dicetak 4) Akibat kuat tekannya tinggi maka jika dikombinasikan dengan baja tulangan (yang kuat tariknya tinggi) maka dapat dikatakan mampu dibuat untuk struktur berat. . Diharapkan dari suatu konstruksi adalah hasil yang didapat sesuai harapan secara maksimal tetapi secara ekonomis tidak terjadi pemborosan. Kekurangan beton antara lain : 1) Beton mempunyai kuat tarik rendah sehingga mudah retak oleh karena itu perlu diberi tulangan. Sifat-sifat beton pada umumnya digolongkan menjadi dua. 3) Beton keras mengembang dan menyusut bila terjadi perubahan suhu sehingga perlu kelonggaran untuk mencegah retak-retak akibat perubahan suhu. Sifat umum beton Secara umum beton mempunyai sifat kebaikan dan kekurangan tertentu jika dibandingkan dengan bahan-bahan lain (Tjokrodimuljo. 7) Beton termasuk tahan aus dan tahan kebakaran sehingga biaya perawatan termasuk rendah. 2) Beton segar mengalami proses pengerutan saat terjadi proses pengeringan dan beton mengeras mengalami pengembangan jika basah.

Dalam praktek. Besarnya kuat geser. . b). Beton berubah bentuk sebagian mengikuti regangan elastis dan sebagian mengalami regangan plastis. Kuat Tekan Kuat tekan beton lebih besar daripada kuat tariknya. Brook. Modulus elastisitas Yang menjadi tolok ukur yang umum dari sifat elastis bahan adalah modulus elastisitas yang merupakan perbandingan dari tekanan yang diberikan dan perubahan bentuk persatuan panjang sebagai akibat dari tekanan yang diberikan. 2. e). 1991) d). bahkan di dalam pengujian tidak mungkin menghilangkan elemen lentur (Murdock & K. Besarnya kuat tarik dan lentur Kuat tarik beton berkisar seperdelapan belas kuat tekan pada umur yang masih muda dan berkisar sepersepuluh sesudahnya. perubahaan bentuk terjadi dan bertambah sesuai dengan pertambahan beban. sebagaimana baja dan bahan-bahan lain.M. Biasanya ini tidak diperhitungkan dalam perencanaan struktur beton. Sifat khusus beton Sifat secara khusus bagi beton adalah sifat-sifat yang ditinjau atau berhubungan dengan : a). Perubahaan bentuk akibat pembebanan Bilamana beton dibebani. tarik dan lentur. kuat geser beton selalu diikuti oleh kuat tekan. dan air yang mengandung garam dapat merusak beton. Kuat tekan ini selalu bertambah bersamaan dengan bertambahnya umur beton. 5) Beton bersifat getas (tidak daktail) sehingga harus dilindungi dan didetail secara seksama agar diperoleh struktur yang komposit. c).7 4) Beton sulit untuk kedap air secara sempurna sehingga selalu dapat dimasuki air.

Semakin besar faktor air semen. Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Beton Kesempurnaan semua sifat dasar beton dicapai dengan tidak meninggalkan segi ekonomis. Hubungan antara faktor air semen dan kuat tekan silinder beton (Tjokrodimuljo. Hal ini terjadi karena kesulitan dalam pemadatan adukan beton. dan adukan beton sulit didapatkan. Faktor air semen Faktor air semen adalah angka yang menyatakan perbandingan antara berat air dengan berat semen. sehingga beton menjadi kurang padat (Tjokrodimuljo. makin rendah kuat tekan betonnya.1.semen Gambar II. sehingga kuat beton rendah. Namun jika jumlah . akan tetapi dibawah faktor air semen tertentu. kuat tekan beton akan rendah. kekuatan beton semakin tinggi. Ideal Dipadatkan dengan alat getar Kuat tekan beton Dipadatkan dengan tangan Padat penuh tidak padat Faktor air . 1996).8 D. Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas beton antara lain : 1. berarti jumlah air juga sedikit. 1996) 2. Pencapaian nilai kuat tekan beton yang maksimal harus dipertimbangkan hal-hal yang mempengaruhi kualitas beton tersebut. Walaupun semakin rendah faktor air semen. Pada jumlah semen yang terlalu sedikit. Jumlah semen Beton dengan jumlah kandungan semen tertentu mempunyai kuat tekan tinggi. karena penggunaa beton yang diharapkan yaitu dengan kualitas yang baik dan mempunyai kuat tekan tinggi. serta murah dari segi ekonomisnya.

Gambar II. Hubungan antara kuat tekan beton dan jumlah semen ( Tjokrodimuljo. sebenarnya tidak begitu besar karena pada umumnya kekuatan agregat lebih tinggi daripada pastanya. sehingga penambahan semen berarti pengurangan nilai faktor air semen.2. Beton dengan kandungan semen lebih banyak mempunyai kuat tekan lebih tinggi.9 semen terlalu berlebihan berarti jumlah air juga berlebihan sehingga beton mengandung banyak pori dan akibatnya kuat tekan beton rendah. diperlukan agregat yang lebih kuat. Kekasran permukaan agregat mempengaruhi daya lekat dan besarnya tegangan saat retak-retak beton mulai terbentuk. sedangkan gradasi butiran juga sangat mempengaruhi kekuatan beton. Namun apabila dikehendaki kekuatan beton yang lebih tinggi. kekasaran permukaan agregat dan gradasi butir agregatnya. Sifat agregat Sifat agregat yang berpengaruh terhadap kekuatan beton adalah kekuatan agregat. . Pengaruh kekuatan agregat terhadap kekuatan beton. 1996) 3.1996). yang berakibat penambahan kuat tekan (Tjokrodimuljo. gradasi agregat dengan ukuran butiran yang bervariasi berarti sedikit pula pori-pori betonnya sehingga memerlukan jumlah pasta yang sedikit untuk mengisi rongga-rongga antar butirnya dan secara teoritis kekuatannya lebih tinggi (Tjokrodimuljo. 1996).

Pengaruh jenis agregat terhadap kuat tekan beton (Tjokrodimuljo. dan pada permukaan endapan butiran semen ini akan membuat difusu air ke bagian dalam. Umur beton Kuat tekan beton bertambah sesuai dengan bertambahnya umur beton. hal inilah yang menyebabkan semakin sulitnya proses hidrasi seiring dengan bertambahnya umur beton. Hal ini disebabkan oleh reaksi kimia yang terjadi antara bahan-bahan penyusun beton. Pengaruh suhu pada laju kuat tekan beton (Tjokrodimuljo.1996) . butir-butir semen akan menghasilkan endapan.10 Gambar II. Gambar II. 1996) 4. Yang dimaksud umur beton adalah dihitung sejak umur beton dibuat. 4. terutama antara semen dan air yang mengalami proses hidrasi. 3. Kenaikan kekuatan beton tersebut mula-mula cepat kemudian semakin melambat selaras dengan umur betonnya. Selama proses ini.

11 Gambar II. Jenis semen Menurut PUBI. 1996) . Semen portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan panas hidrasi yang rendah. Semen portland yang dalam penggunaannya memerlukan ketahanan terhadap sulfat dan panas hidrasi. Departemen Pekerjaan Umum (1982) membagi semen portland dalam lima jenis yaitu : Jenis semen Jenis I Jenis II Jenis III Jenis IV Jenis V Karakteristik Umum Semen portland untuk penggunaan umum yang tidak memerlukan persyaratan khusus seperti yang disyaratkan pada jenis-jenis lain. Semen portland yang dalam penggunaannya persyaratan sangat tahan terhadap sulfat. (Sumber : Tjokrodimuljo. Pengaruh umur beton terhadap laju kenaikan kuat tekan beton pada beberapa fas (Tjokrodimuljo. Semen portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan kekuatan awal yang tinggi setelah pengikatan terjadi. 5.1996) 5.

6. Bahan kimia (berupa bubuk atau cairan) ini dicampurkan ke dalam adukan beton dengan jumlah tertentu selama pengadukan. Penggunaan bahan tambah (admixture) harus didasarkan pada alasanalasan yang tepat misalnya memperbaiki kelecakan beton. menghemat harga beton menambah daktalitas (mengurangi sifat getas). untuk mengubah beberapa sifat beton dan memperoleh sifat-sifat khusus yang diinginkan (Departemen Pekerjaan Umum. mengurangi retak-retak pengerasan dan menambah kuat tekan beton. 1982). 1996) E. Bahan Tambah Beton Dalam pembuatan konstruksi beton. Penggunaan bahan tambah tersebut dimaksudkan untuk memperbaiki dan menambah sifat beton sesuai dengan yang diinginkan.12 Gambar II. Bahan tambah beton ini dapat berupa bahan tambah kimia. penampilan beton bila mengeras. semen dan agregat) yang ditambahkan pada adukan beton. Grafik Kuat tekan beton untuk berbagai jenis semen (Tjokrodimuljo. 1996). Bahan tambah kimia Bahan tambah kimia adalah suatu bahan kimia yang dapat membantu mempermudah dalam proses pembuatan beton. bahan tambah merupakan bahan yang dianggap penting. . sebelum. pozolan dan serat (Tjokrodimuljo. segera atau selama pengadukan beton (Tjokrodimuljo. Bahan tambah ialah bahan selain unsur pokok beton (air. 1. terutama untuk pembuatan beton di daerah yang beriklim tropis seperti Indonesia. 1996).

Jenis D : Bahan kimia tambahan yang berfungsi ganda yaitu mengurangi air dan memperlambat proses ikatan dan pengerasan beton. yaitu : 1) Pozolan buatan. ada dua jenis lain yang lebih khusus. untuk menghasilkan adukan beton dengan kekentalan sama (air dikurangi sampai 12% lebih namun adukan beton tidak bertambah kental). (Tjokrodimuljo. Selain lima jenis di atas. 1996). . Dengan pemakaian bahan ini diperoleh adukan dengan faktor air semen lebih rendah pada nilai slump yang sama. 1982 bahan kimia tambahan dibedakan menjadi lima jenis antara lain : a. silika fume dan lain-lain. memperlambat pengikatan awal. abu sekam padi (rice husk ash). Jenis C : Bahan tambah kimia untuk mempercepat proses ikatan dan pengerasan beton. Jenis B : Bahan tambah kimia untuk memperlambat proses ikatan dan pengerasan beton. Pozzolan Pozolan merupakan bahan tambah mineral yang mengandung silika (SiO2) dan alumina (Al2O3). d. Jenis E : Bahan tambah kimia berfungsi ganda yaitu untuk mengurangi air dan mempercepat proses ikatan dan pengerasan beton. Jenis A : Bahan kimia tambahan untuk mengurangi jumlah air yang dipakai. akan tetapi dalam bentuknya yang halus dengan adanya air. Bahan pozolan tidak mempunyai sifat mengikat seperti semen. yaitu mengurangi air sampai 12% atau lebih. maka senyawa tersebut akan bereaksi dengan Calsium Hidroksida Ca(OH)2 pada suhu biasa membentuk kalsium hidrat yang bersifat hidrolis. 2) Bahan kimia tambahan dengan fungsi ganda.13 Menurut Persyaratan Umum Bahan Bangunan Indonesia (PUBI). yaitu : 1) Bahan kimia tambahan yang digunakan untuk mengurangi jumlah air campuran sampai sebesar 12% atau bahkan lebih. b. yang merupakan sisa pembakaran dari tungku ataupun hasil pemanfaatan limbah yang diolah menjadi abu yang mengandung silika reaktif dengan melalui proses pembakaran. c. 2. seperti abu terbang (fly ash). e. Menurut pembentukannya pozolan dibedakan menjadi dua jenis.

(Tjokrodimuljo. Pemakaian serat pada beton lebih tahan retak dan tahan terhadap benturan. 1996) . Abu arang briket batubara termasuk bahan kimia jenis E. Serat Tujuan utama penambahan serat ke dalam beton adalah untuk menambah kuat tarik beton yang sangat rendah berakibat beton mudah retak. pemberian serat pada beton tidak banyak menambah kuat tekan beton. yang merupakan sedimentasi dari abu atau lava gunung berapi yang mengandung silika aktif yang bila dicampur dengan kapur padam akan mengadakan proses sedimentasi. 3.14 2) Pozolan alam. dan mengandung pozolan. dan mengurangi keawetan beton. namun hanya menambah daktalitas.

air dan bahan tambah (admixture) bila diperlukan. Umum Pada saat ini. 15 . Tahap-tahap penelitian harus diselesaikan sesuai standar penelitian yang baku untuk mendapatkan material yang berkualitas baik. Perencanaan campuran beton dimaksudkan untuk mendapatkan beton yang sebaik-baiknya. pengontrolan dan perbandingan yang tepat untuk semua bahan serta untuk perancangan campuran beton mutu tinggi lebih kompleks bila dibandingkan dengan perancangan campuran beton normal.BAB III LANDASAN TEORI A. murah. banyaknya pemakaian beton disebabkan terbuat dari bahan-bahan yang umumnya mudah didapat serta mudah diolah sesuai dengan bentuk yang diinginkan. beton merupakan bahan bangunan yang banyak dipakai secara luas. yaitu yang kuat tekannya tinggi. cara pengadukan maupun pengerjaan selama penuangan adukan beton. Produksi beton yang efektif dapat dicapai dengan pemilihan. Bahan-bahan dasar penyusun beton harus diketahui oleh perencana. perbandingan bahan-bahan yang dipakai. penambahan bahan dari sifat-sifat bahan dasar yang dipakai. Bahan Penyusun Beton Dasar penyusun material beton normal terdiri dari semen. B. tahan lama dan tahan aus. agregat halus. Untuk pembuatan beton. Kesulitan timbul karena di dalamnya banyak parameter yang harus diperhitungkan. misalnya: ukuran maksimum agregat. cara pemadatan dan cara perawatan selama proses pengerasan. sehingga dapat mengembangkan dan memilih bahan penyusun yang baik serta dapat menentukan komposisi yang tepat. material-material tersebut harus melalui tahap penelitian dan berkualitas baik. agregat kasar. mudah dikerjakan.

Jenis semen Jenis I Jenis II Jenis III Jenis IV Jenis V Karakteristik Umum Semen portland untuk penggunaan umum yang tidak memerlukan persyaratan khusus seperti yang disyaratkan pada jenis-jenis lain. Trikalsium Aluminat (C3A) dan Tetrakalsium Alumina Ferit (C4AF). dengan gips sebagai bahan tambahnya.1. yaitu : Trikalsium Silikat (C3S). semen ini digunakan untuk penyemenan sumur minyak yang dalam. Jenis-jenis semen Portland. menghasilkan beberapa jenis semen sesuai dengan tujuan pemakaiannya. Semen-semen itu adalah : 1) Oil well cement.16 1. Semen portland yang dalam penggunaannya memerlukan ketahanan terhadap sulfat dan panas hidrasi. juga telah dibuat semen dengan tujuan khusus (Subakti. terutama terdiri dari silikat calsium yang bersifat hidrolis. . menghasilkan bahan yang tahan terhadap air (water resistance) dan stabil tahan air. Semen portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan kekuatan awal yang tinggi setelah pengikatan terjadi. Jenis-jenis semen Portland. sebagai berikut : Tabel III. Semen portland yang dalam penggunaannya persyaratan sangat tahan terhadap sulfat. Semen ini sangat cepat proses hidrasinya karena itu digunakan serbuk khusus untuk menghambat proses hidrasi semen ini.1. kedua sifat fisis ini memiliki fungsi sebagai bahan perekat. Semen hidrolis adalah semen yang akan mengeras apabila bereaksi dengan air. Clinker adalah bahan baku yang dibutuhkan dalam pembuatan semen. Dikalsium Silikat (C2S). (Sumber : Tjokrodimuljo. 1995). Semen portland yang dalam penggunaannya menuntut persyaratan panas hidrasi yang rendah. sebagai hasil dari pembakaran pada suhu tinggi terhadap bahan-bahan mentah pembentuk semen. Sesuai dengan tujuan pemakaiannya PUBI (1982) membagi semen portland dalam lima jenis seperti yang dapat dilihat pada Tabel III. Perubahan komposisi kimia semen dengan mengubah 4 komponen utama semen. Adukan dari semen halus ini tahan sampai tekanan 1000 atmosfir. Semen Portland Semen merupakan bahan yang mempunyai sifat adhesif dan kohesif. Semen portland adalah semen hidrolis yang dihasilkan dengan penghaluskan clinker. 1996) Selain semen-semen yang disebut di atas.

4 standar ASTM) dan lebih besar dari 0. buatan (batu pecah) maupun bahan sisa produk tertentu. kuat dan bersudut. oleh karena itu penggilingan serbuk mahal. Agregat merupakan bahan utama pembentuk beton disamping pasta semen. yang dapat mempengaruhi ikatannya dengan pasta semen. Selain persyaratan teknis yang harus dipenuhi. Agregat halus. oleh karena itu kualitas agregat berpengaruh terhadap kualitas beton (Nugroho. 2. 1999). pasir dan lain-lain) ialah kekuatan hancur dan ketahanan terhadap benturan.3-3. Agregat halus beton dapat berupa pasir alami sebagai disintegrasi alami atau berupa pasir buatan (artifical sand) yang dihasilkan dari alat-alat pemecah batu. Bab 3 Pasal 3.1-2.M.075 mm. Agregat. Menurut Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia. porositas dan karakteristik penyerapan air yang mempengaruhi daya tahan terhadap proses pembekuan waktu musim dingin dan agresi kimia.17 2) Semen dengan kadar alkali rendah.075 mm. quarsa pasir dan kaolin. kerikil. Jenis semen ini tidak mengandung alkali dalam komposisinya. hal lain yang perlu diperhatikan dalam pemilihan jenis agregat beton mengacu pada Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI) tahun 1971 N. . 1983). Agregat beton dapat berasal dari bahan alami. 2a). Agregat halus bersama dengan semen dan air membentuk mortar yang akan mengikat agregat kasar menjadi satu kesatuan yang kuat dan kompak. Sifat yang paling penting dari suatu agregat (batu-batuan.75 mm (No. Kadar agregat dalam campuran berkisar antara 70-75% dari volume total beton. 3) Semen putih. 2) Tidak mengandung tanah dan kotoran lain yang lolos ayakan 0. jenis semen ini dibuat dari batu kapur yang bebas besi. agregat halus mempunyai butiran yang lolos ayakan 4.5 dan standar ASTM C 33-97. agregat halus harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : 1) Butir-butirannya tajam. semen ini digunakan di negara-negara penghasil agregat yang reaktif terhadap iklim. Brook. serta ketahanan terhadap penyusutan (Murdock dan K.

Agregat kasar. 3) Tidak mengandung zat-zat yang merusak beton. bila kadar lumpur lebih dari 1% agregat harus dicuci. 2) Agregat tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1% (ditententukan terhadap berat kering). maka jumlah butir pipih tidak boleh lebih 20% dari agregat seluruhnya. Untuk . 5) Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir yang beraneka ragam besarnya. maka agregat harus memenuhi syarat sebagai berikut : 1) Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir keras dan tidak berpori apabila agregat kasar mengandung butir pipih. Agregat kasar yang akan dicampurkan sebagai adukan beton harus mempunyai syarat mutu yang ditetapkan. Air Air merupakan bahan pembuat beton yang sangat penting. 3. Menurut persyaratan umum bahan bangunan di Indonesia. yaitu tidak hancur oleh pengaruh cuaca. serta untuk menjadi bahan pelumas antara butir-butir agregat agar lebih mudah dikerjakan dan dipadatkan. 7) Agregat harus mempunyai sifat reaktif terhadap alkali. 6) Bersifat kekal. tahun 1982. 4) Tidak mengandung zat organik karena dapat mengurangi mutu beton. Air diperlukan untuk bereaksi dengan semen. Agregat kasar adalah kerikil sebagai disintegrasi alami batuan atau berupa batu pecah yang diperoleh dari industri pemecah batu dan mempunyai ukuran antara 5 sampai 40 mm. seperti zat-zat yang reaktif alkali. Agregat kasar bersifat kekal. 5) Harus mempunyai variasi besar butir atau gradasi yang baik. 4) Kekerasan dari butir-butir agregat kasar diperiksa dengan bejana penguji Los Angeles. 1/3 tebal plat atau ¾ jarak bersih minimum antara batang tulangan. tidak hancur. 6) Besar butir agregat maksimum tidak boleh lebih dari 1/5 jarak terkecil antar bidang samping cetakan. 2b).18 3) Tidak mengandung garam yang menghisap air udara.

Bahan filler dapat berupa abu batu. Kandungan abu akan tebawa barsama gas pembakaran melalui ruang bakar dan daerah konversi dalam bentuk abu terbang. jumlah rongga udara. Abu arang briket. c) Air tidak boleh mengandung Chlorida (Cl) lebih dari 0. 1995) . bentonite. 1996). yang kekurangan partikel halus. Abu terbang memiliki ukuran yang blebih halus dan warna lebih terang dari abu dasar. bahan-bahan seperti kapur padam. Sekitarc 20% dalam bentuk abu dasar dan 80% dalam bentuk abu terbang. 200. permeabilitas dan ketahanan terhadap gaya luar serta pengaruh cuaca. kelenturan plastis.19 bereaksi dengan semen. Selain itu air juga digunakan untuk perawatan beton dengan cara pembasahan setelah pengecoran. Dapat ditambahkan bahwa flyash dan slag (sisa benda tambang) yang berasal dari dapur etus dapat digolongkan sebagai pengisi pori-pori meskipun bahan ini digunakan karena sifat pozolannya. kelebihan air juga dapat memberikan penyusutan yang besar pada beton.5 gram/liter. air hanya diperlukan 25% dari berat semen saja. Persyaratan air yang digunakan dalam campuran beton adalah sebagai berikut : a) Air tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 2 gram/liter. Didalam peranannya sebagai pengisi. Selain itu dapat menurunkan kekuatan beton. Portland Cement atau bahan lain (Totomiharjo. b) Air tidak boleh mengandung garam-garaman lebih dari 15 gram/liter. 1994). 5. (Tjokrodimuljo.(Sukandarrumidi. 30 US Standar Sieve dan 65% lewat ayakan No. kapur. Bahan pengisi (Filler) Bahan pengisi adalah suatu bahan berbutir halus yang lewat ayakan No. Pemakaian air yang terlalu banyak akan menimbulkan gelembung air sehingga beton menjadi porous. kaolin dan tepung batu menguntungka untuk beton tumbuk yang kasar/kaku. Abu arang briket adalah abu terbang limbah pembakaran batubara yang keluar dari tabung pembakaran. Pemakaian bahan pengisi berpengaruh pada kekuatan. 4. tanah diatomaceous.

Perencanaan Campuran Beton Perencanaan adukan beton pada setiap hasil hitungan harus dikontrol dengan uji coba berupa campuran pekerjaan (trial mixes) untuk memastikan hasilnya. Na2O.SNI. 200.20%. Abu arang briket yang bersifat pozolan merupakan additive mineral yang baik untuk beton. CaO. 1996) adalah sebagai berikut : 1. MgO. Adapun langkah-langkah pokok perencanaan campuran dengan metode SK. Skatex yang berada di Karanganyar. Kadar abu batubara di Indonesia biasanya hanya berkisar antara 5%. Al2O3. antara lain : SiO2. Perencanaan campuran menggunakan metode SK. dari sifat bahan tersebut hanya perhitungan awal yang berguna untuk membuat campuran percobaan. 2. agar hasil yang diperoleh dari campuran percobaan tidak menyimpang terlalu jauh. Abu yang terjadi pada pembakaran batubara akan membentuk oksida-oksida.T-15-1990-03 (Tjokrodimuljo.T-15-1990-03 yang dalam perencanaan ini digunakan tabel-tabel dan grafik. Kuat tekan beton yang disyaratkan ditetapkan sesuai dengan persyaratan perencaaan strukturnya dan kondisi setempat. Di Indonesia yang dimaksudkan dengan kuat tekan beton yang disyaratkan ialah kuat tekan beton dengan kemungkinan lebih rendah dari nilai itu hanya sebesar 5% saja. Fe2O3.K2O. 6. Penetapan kuat tekan beton yang disyaratkan (f’c) pada umur tertentu.20 Abu arang briket didefinisikan sebagai sisa pembakaran dari tungku pemanas yang dikeluarkan dari ruang perapian suatu ketel uap gas buang yang lolos saringan No.SNI. Hal ini karena bahan-bahan dasar beton sangat variabel dan banyak. Abu ampas tebu yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari Pabrik Gula Tasik Madu di Karanganyar Jawa Tengah. Abu ampas tebu bersifat sebagai pengikat dalam campuran beton. C. Abu ampas tebu. Penetapan nilai deviasi standar (s) . Filler abu arang briket yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari PT. Abu ampas tebu adalah hasil sisa penggilingan tebu yang ada di pabrik gula kemudian dibakar.

5 Sangat baik 4.6 Cukup 7. Jika pelaksana tidak mempunyai catatan/pengalaman hasil pengujian beton pada masa lalu yang memenuhi persyaratan (termasuk data hasil uji kurang dari 15 buah). 1996) 3. Tingkat pengendalian mutu pekerjaan Sd (Mpa) 2. Penghitungan nilai tambah (margin) (M) Jika nilai tambah ini sudah ditetapkan sebesar 12 Mpa maka langsung ke langkah (4).III.0 Jelek 8.4 Tanpa kendali (Tjokrodimuljo. untuk pembuatan beton mutu sama dan menggunakan bahan dasar yang sama pula. Nilai deviasi standar untuk berbagai tingkat pengendalian mutu pekerjaan. Tabel. lihat Tabel. III. a. Tabel. . maka nilai margin langsung diambil sebesar 12 MPa.08 15 1.03 20 1.2 Baik 5. (f’c+12).16 <15 Lihat butir b (SK. maka persyaratannya (selain yang disebut diatas) jumlah data hasil uji minimum 30 buah. Makin baik mutu pelaksanaan makin kecil nilai standar deviasi standarnya. Satu data hasil uji kuat tekan adalah hasil rata-rata dari uji tekan dua silinder yang dibuat dari contoh beton yang sama dan diuji pada umur 28 hari atau umur pengujian lain yang ditetapkan. T-15-1990-03) b.2.III.0 25 1. Penetapan nilai standar deviasi standar ini berdasar pada pengalaman praktek pelaksanaan pada waktu yang lalu. Jika pelaksana mempunyai catatan data hasil pembuatan beton serupa pada masa yang lalu.21 Deviasi standar ditetapkan berdasarkan tingkat mutu pengendalian pelaksanaa pencampuran betonnya. SNI.8 Memuaskan 3. Faktor pengali deviasi standar Jumlah data Faktor pengali 30 1.3. Jika jumlah hasil uji kurang dari 30 buah maka dilakukan koreksi terhadap nilai deviasi standar dengan suatu faktor pengali. 2.

Berdasarkan jenis semen yang dipakai dan kuat tekan rata-rata silinder beton yang direncanakan pada umur tertentu ditetapkan nilai faktor air semen. Penetapan jenis agregat Jenis kerikil dan pasir ditetapkan apakah berupa agregat alami (tak dipecahkan) ataukah agregat jenis batu pecah (crushed aggregate). IV dan V. Tetapkan faktor air semen dengan salah satu dari dua cara berikut : a. Menetapkan kuat tekan rata-rata yang direncanakan Kuat tekan beton rata-rata yang direncanakan diperoleh dengan rumus : f’cr = f’c+ M dengan : f’cr = kuat tekan rata-rata. II. . Penetapan jenis semen Portland Menurut PUBI 1982 di Indonesia semen Portland dibedakan menjadi 5 jenis.64 Sd = deviasi standart ( Mpa ) 4. adapun jenis III merupakan jenis semen yang dipakai untuk struktur yang menuntut persyaratan kekuatan awal yang tinggi. 6. 7. Sd dengan : M = nilai tambah ( Mpa ) k = tetapan statistic yang nilainya tergantung pada prosentase hasil uji yang lebih rendah dari f’c. MPa = nilai tambah. yaitu jenis I. Pada langkah ini ditetapkan apakah dipakai semen biasa atau semen yang cepat mengeras. atau dengan kata lain sering disebut semen cepat mengeras. Mpa f’c M = kuat tekan yang disyaratkan.22 Jika nilai tambah dihitung berdasarkan nilai deviasi standar Sd maka dilakukan dengan rumus berikut : M = k . Jenis I merupakan jenis semen biasa. III. MPa 5. dalam hal ini diambil 5 % dari nilai k = 1.

23 b. Persyaratan jumlah semen minimum dan faktor air semen maksimum untuk lingkungan khusus Jenis pembetonan berbagai macam pembetonan dalam Jumlah semen minimum per m3 beton (kg) 275 325 325 275 325 - Nilai faktor semen maksimum 0. 5. tidak terlindung dari hujan dan terik matahari langsung b. maka perlu ditetapkan nilai faktor air semen maksimum.52 lihat tabel. jenis agregat kasar dan kuat tekan rata-rata yang direncanakan pada umur tertentu.60 0.60 0. keadaan keliling korosif disebabkan oleh kondensasi atau uap korosif Beton diluar ruangan bangunan : a. mengalami keadaan basah dan kering berganti-ganti b. III. keadaan keliling korosif b. Berdasar jenis semen yang dipakai. T-15-1990-03) 8. Jika nilai faktor air semen maksimum ini lebih rendah dari langkah (7) maka nilai faktor air semen maksimum ini yang dipakai untuk perhitungan selanjutnya. Tabel. III. III. dapat terpengaruh sulfat dan alkali dari tanah Beton yang kontinue berhubungan : air tawar dan air laut (SK. 4. ditetapkan nilai faktor air semen. 4.5 dan jenis semen dan agregat kasar yang biasa dipakai di Indonesia Jenis semen Semen portland tipe I atau semen tahan sulfat tipe II. SNI. Perkiraan kuat tekan beton dengan faktor air semen 0.52 0. lihat Tabel. III. Tabel. Penetapan faktor air maksimum Agar beton yang diperoleh tidak cepat rusak misalnya. T-15-1990-03) . Penetapan faktor air semen maksimum dapat dilihat pada Tabel. 7 Beton didalam ruang bangunan : a. terlindung dari hujan dan terik matahari langsung Beton yang masuk ke dalam tanah : a.60 0. IV Semen Portland tipe III Jenis agregat kasar Batu tak dipecahkan Batu pecah Batu tak dipecahkan Batu pecah Batu tak dipecahkan Batu pecah Batu tak dipecahkan Batu pecah Kekuatan tekan (Mpa) Bentuk Pada umur (hari) benda uji 3 7 28 91 17 23 33 40 Silinder 19 27 37 45 Kubus 20 28 40 48 Silinder 23 32 45 54 Kubus 21 28 38 44 Silinder 25 33 44 48 Kubus 25 31 46 53 Silinder 30 40 53 60 Kubus (SK. III. 6 lihat tabel. SNI. III. 5.

2 270 310 360 0.3-1. III. 280 300 350 0.2-0. SNI. Ketentuan minimum untuk beton bertulang kedap air Jenis beton Kondisi lingkungan berhubunga n dengan Air tawar Beton bertulang atau prategang Air payau Faktor air semen maksimum 0. T-15-1990-03) Tabel.5 2.0-1.45 0.9 0.5 1.24 Tabel. 6.45 Tipe semen Kandungan semen minimum (kg/m3) Ukuran nominal maksimum agregat 40 mm 20 mm 300 280 340 290 330 380 330 370 Tipe I-V Tipe I + pozzolan (15-40%) atau Semen Portland Tipe II atau tipe V (SK.55 250 290 340 0.2 < 1.55 .50 Air laut 0. 7.0 < 0.50 0. 0. Ketentuan untuk beton yang berhubungan dengan air tanah yang mengandung sulfat Konsentrasi sulfat dalam bentuk SO3 Sulfat (SO3) Dalam tanah dlm air tanah (gr/ltr) Total SO3 SO3 (%) dlm camp air : tnh =2:1 (gr/lt) < 0.3 Kandungan semen minimal (kg/m3) Ukuran nominal agrgegat maksimum 40 mm Tipe I dengan atau tanpa pozzolan (1540%) Tipe I dengan atau tanpa pozzolan (1540%) Tipe I pozzolan (1540%) atau Semen Portland Pozzolan Tipe II atau tipe V 20 mm 10 mm Kadar gangguan sulfat Tipe semen fas 1. III.5 290 330 380 0.

45 4. pengangkutan. SNI.5 5. . 5.5 atau atau atau 290 330 330 330 370 370 380 420 420 0. Cara pengangkutan adukan beton dengan aliran dalam pipa yang dipompa dengan tekanan membutuhkan nilai slam yang besar. Penetapan nilai slump (cm) Pemakaian beton Dinding.5 Maksimal 12.2-2. kaison.50 0.0 > 2. 1996) 10.0 7.25 Tabel. III. Lanjutan Tipe pozzolan 40%) Semen Portland Pozzolan Tipe II tipe V Tipe II tipe V Tipe II tipe V *lapisan pelindung I (15atau 340 380 430 0. kolom dan dinding Pengerasan jalan Pembetonan massal 15.45 0. 8. T-15-1990-03) 9.0 Minimum 5.0 3. plat pondasi dan pondasi Pondasi telapak tidak bertulang.1 1.5 7. adapun pemadatan adukan dengan alat getar (triller) dapat dilakukan dengan nilai slam yang agak kecil. penuangan. 0.45 3.5-1.9-3. 7.0 > 5.5-5.5 (Tjokrodimuljo. pemadatan maupun jenis strukturnya.0-2.1-5.0 (SK. jenis agregat. dan struktur di bawah tanah Plat.5 9.0 2.0 2. III. 1. Tetapkan jumlah air Jumlah air yang diperlukan permeter kubik beton. di lihat pada dibawah ini yaitu table III.0 1. balok. berdasarkan ukuran maksimum agregat.0 > 5. Penetapan nilai slump Penetapan nilai slam dilakukan dengan memperhatikan pelaksanaan pembuatan.5 7. 9. Tabel. Nilai slam yang diinginkan dapat dilihat pada Tabel III.0 2. 8. dan slam yang diinginkan.

Seperlima jarak terkecil antara bidang samping cetakan 12. Penetapan besar butir agregat maksimum Penetapan besar butir agregat maksimum dilakukan berdasarkan nilai terkecil dari ketentuan –ketentuan berikut : a. 13. Tiga per empat kali jarak bersih minimum antar baja tulangan atau berkas baja tulangan atau tendon prategang atau selongsong.. 9. Penyesuaian kebutuhan semen Apabila kebutuhan air semen yang didapat dari langkah (12) ternyata lebih sedikit daripada kebutuhan semen minimum (13) maka kebutuhan semen harus dipakai yang minimum (yang nilainya lebih besar). air payau dan air laut.30 180 205 160 190 140 175 30 . Sepertiga kali tebal plat c. Kebutuhan semen minimum Kebutuhan semen minimum ditetapkan dengan tabel. . Perkiraan kadar air bebas (kg/m3) yang dibutuhkan untuk beberapa tingkat kemudahan pengerjaan adukan beton Besar ukuran maksimal kerikil (mm) 10 Batu tak dipecahkan Batu pecah 20 Batu tak dipecahkan Batu pecah 40 Batu tak dipecahkan Batu pecah Jenis agregat 0 .180 225 250 195 225 175 205 (SK. III. SNI.60 205 230 180 210 160 190 60 . Hitung berat semen yang diperlukan Berat semen per meter kubik beton dihitung dengan membagi jumlah air dari langkah (10) dengan faktor air semen yang didapat dari langkah (7) dan (8).10 150 180 135 170 115 155 Slam (mm) 10 . b. T-15-1990-03) 11. Kebutuhan semen minimum ini ditetapkan untuk menghindari beton dari kerusakan akibat lingkungan khusus.26 Tabel. 14. misalnya lingkungan korosif.

10.30 0 . III.15 (SK.100 80 . Penetapan dilakukan dengan memperhatikan besar butir maksimumagregat kasar.70 15 .59 8 . Pada langkah ini dicari nilai banding antara berat agregat halus dengan berat agregat campuran. SNI. Catatan : cara pertama akan menurunkan faktor air semen sedangkan cara kedua menaikan jumlah air yang diperlukan.95 30 .100 60 .10 3 100 90 . T-15-1990-03) 17.50 0 .27 15.100 75 . nilai slam.3 0.100 90 .10 2 100 90 .20 0 .79 12 .34 5 . 16. Penentuan daerah gradasi agregat halus Berdasarkan gradasinya (hasil analisis ayakan) agregat halus yang akan dipakai dapat diklasifikasikan menjadi 4 daerah. Jumlah air disesuaikan dengan mengalikan jumlah semen dengan faktor air semen.100 60 .8 2.6 0. Batas gradasi pasir Lubang ayakan (mm) 10 4. Perbandingan agregat halus dan agregat kasar Nilai perbandingan antara berat agregat halus dan agregat kasar diperlukan untuk memperoleh gradasi agregat campuran yang baik.100 85 .100 95 . . faktor air semen dihitung kembali dengan cara membagi jumlah air dengan jumlah air minimum. III. dan daerah gradasi agregat halus. 10.40 0 – 10 4 100 90 .2 0.4 1. Penyesuaian jumlah air atau faktor air semen Jika jumlah semen ada perubahan akibat langkah (14) maka faktor air semennya berubah.90 35 .100 55 . Tabel. b.100 15 . Dalam hal ini dapat dilakukan dengan cara berikut : a.15 Persen berat butir yang lewat ayakan 1 100 90 .100 75 . Penentuan daerah itu didasarkan atas grafik gradasi yang diberikan dalam Tabel. faktor air semen.

Berat jenis agregat campuran Berat jenis agregat campuran dihitung dengan rumus : Bj camp = Dengan : Bj campuran Bj agregat hls Bj agregat ksr P K = = = = = Berat jenis agregat campuran Berat jenis agregat halus Berat jenis agregat kasar Persentase agregat halus terhadap agregat campuran Persentase agregat kasar terhadap agregat campuran P K x Bj agregat halus + x Bj agregat kasar 100 100 Berat jenis agregat halus dan agregat kasar didapat dari hasil pemeriksaan laboratorium. 21. berat jenis agregat campuran dan berat beton dapat diperkirakan berat jenis betonnya. berdasarkan hasil langkah (17) dan (20) Kebutuhan agregat halus dihitung dengan cara mengalikan kebutuhan agregat campuran dengan persentase berat agregat halusnya. berdasarkan hasil langkah (20) dan (21) Kebutuhan agregat kasar dihitung dengan cara mengurangi kebutuhan agregat campuran dengan kebutuhan agregat halus. 18. 20. Kebutuhan agregat campuran Kebutuhan agregat campuran dihitung dengan cara mengurangi berat beton permeter kubik dikurangi kebutuhan air dan semen.70 gr/cm3 untuk agregat pecahan. Hitung berat agregat kasar yang diperlukan.60 gr/cm3untuk agregat tak pecah/alami dan 2. 22. Hitung berat agregta halus yang diperlukan.28 Berdasarkan data tersebut dan grafik persentase agregat dapat diperoleh persentase agregat halus terhadap berat agregat campuran. . Penentuan berat jenis beton Dengan data berat jenis agregat campuran dari langkah (18) dan kebutuhan air tiap meter kubik betonnya maka dengan grafik hubungan kandungan air. 19. namun jika tidak ada dapat diambil sebesar 2.

( Dk . Kuat tekan beton antara lain tergantung pada : faktor air semen. Beban maksimum yang ditunjukkan oleh jarum petunjuk dicatat. 1. dilakukan pengujian kuat tekan beton. Koreksi harus selalu dilakukakan minimum satu kali per hari. Adapun langkah-langkah pengujian sebagai berikut : a. c. Benda uji diletakkan pada mesin penekan dan posisinya diatur agar supaya tepat berada ditengah-tengah plat penekan. bentuk batuan. b. 2. pemadatan dan perawatan) dan umur beton (Tjokrodimuljo.Da ) x D/100 D. . d.Da ) x D/100 = C + ( Ck – Ca ) x C/100 = D + ( Dk .29 Dalam perhitungan diatas agregat halus dan agregat kasar dianggap dalam keadaan jenuh kering muka. Dimana : B C D Ca Da Ck Dk = jumlah air (kg/m3) = jumlah agregat halus (kg/m3) = jumlah kerikil (kg/m3) = absorpsi air pada agregat halus (%) = absorpsi agregat kasar (%) = kandungan air dalam agregat halus (%) = kandungan air dalam agregat kasar (%) Air Agregat halus Agregat kasar = B – ( Ck . Benda uji ditimbang dan dicatat beratnya. cara pengerjaan (campuran. sehingga dilapangan yang pada umumnya keadaan agregatnya tidak jenuh kering muka maka harus dilakukan koreksi terhadap kebutuhan bahannya. 1996). gradasi batuan. Pembebanan dilakukan secara perlahan-lahan secara continue dengan mesin hidrolik sampai benda uji mengalami kehancuran (jarum petunjuk berhenti kemudian salah satunya bergerak turun). pengangkutan. ukuran maksimum batuan.Ca ) x C/100 . Prosedur pengujian kuat tekan beton menggunakan Standart Test Methode For Commpressive of Cylindrical Concrete. 3. Kuat Tekan Beton Untuk mengetahui kuat tekan beton yang telah mengeras yang disyaratkan.

30

Menurut Murdock dan K.M. Brook (1991), beton dapat mencapai kuat tekan 80 MPa atau lebih, bergantung pada perbandingan air dan semen dan tingkat pemadatannya. Di samping dipengaruhi oleh perbandingan air dan semen kuat beton juga dipengaruhi oleh faktor lainnya, yaitu : jenis semen, kualitas agregat, efisiensi perawatan, umur beton dan jenis bahan admixture. Kuat tekan beton f’c =

dengan : d

Pmaks P ………………………………………..(III.1) = 1 A 2 .π.d 4

Pmaks = beban maksimum (N) = diameter silinder beton (mm2)
E. Kuat Tarik Beton

Kuat tarik beton adalah kemampuan beton yang diletakkan pada dua perletakan untuk menahan gaya dengan arah tegak lurus sumbu benda uji, yang diberikan padanya, sampai benda patah dan dinyatakan dalam Mega Pascal (MPa) gaya tiap satuan. Peralatan yang dipakai adalah mesin tekan beton yang dapat menguji kuat tarik yang dilengkapi dengan 2 jarum pembacaan beban, 2 buah perletakan benda uji berbentuk titik, dan 2 buah titik pembebanan, ketelitian pembacaan sebesar 12,5 kg. Alat bantu lain berupa timbangan kapasitas 50 kg dengan ketelitian 0,01 %, pengukuran panjang dan jangka sorong. Adapun langkah pengujian sebagai berikut : a. Ukur dimensi penampang benda uji. b. Timbang berat benda. c. Buat garis melintang sebagai penunjuk untuk perletakan dan titik pembebanan. d. Pasang 2 perletakan serta alat pembebanan. e. Letakkan benda uji diatas tumpuan. f. Hidupkan mesin uji tekan. g. Atur pembebanan dengan kecepatan 8-10 kg/cm2 per menit. h. Hentikan pembebanan setelah beban maksimum tercapai.

31

Kuat tarik beton antara lain tergantung pada : faktor air semen, gradasi batuan, bentuk batuan, ukuran maksimum batuan, cara pengerjaan (campuran, pengangkutan, pemadatan dan perawatan) dan umur beton (Tjokrodimuljo, 1996). Kuat tarik beton f’cr =

2.P ………………………………………………. (III.2) π.d.h

dengan:
P = beban maksimum (N) d = diameter silinder (mm) h = tinggi silinder (mm)

BAB IV METODE PENELITIAN A. Umum Pelaksanaan penelitian dilakukan secara eksperimental, yang dilakukan di Laboratorium Bahan dan Struktur, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. Obyek dalam penelitian ini adalah beton yang menggunakan bahan tambah filler abu ampas tebu dengan abu arang briket. Pengujian kuat tekan dan tarik dilakukan setelah beton berumur 14 hari di Laboratorium Bahan dan Struktur, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. B. Bahan Penelitian dan Peralatan Penelitian 1. Bahan penelitian Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : a) Semen yang digunakan adalah semen Portland jenis I, merk Holcim b) Agregat halus berupa pasir, berasal dari Boyolali. c) Agregat kasar berupa batu pecah, berasal dari Boyolali. d) Air yang digunakan diambil dari Laboratorium Bahan dan Struktur, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. e) Bahan tambah filler abu arang briket berasal dari PT. Skatex di Karanganyar dan abu ampas tebu berasal dari PG. Tasik Madu di Karanganyar. 2. Peralatan penelitian Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini tersedia di Laboratorium Bahan dan Struktur, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. Peralatan-peralatan yang digunakan terdiri atas : a) Ayakan standart, untuk memisahkan agregat sesuai ukuran yang diinginkan. b) Penggetar ayakan (Siever), untuk menggetarkan ayakan agregat dapat terpisahkan sesuai lubang ayakan yang diinginkan. c) Timbangan, untuk mengukur benda uji sesuai yang diinginkan. d) Gelas ukur, untuk pemeriksaan kadar Lumpur dan pemeriksaan bahan organik.

32

Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. g) Volumetric Flash. dan bak perendam sample. Satu set ayakan dan Siever .15 mm dan pan. siku. cetok. m) Peralatan penunjang lain seperti tongkat baja. penggaris.5 mm. Gambar IV.6 mm.1. untuk mengeringkan agregat. Satu set ayakan dapat dilihat pada Gambar IV. 4. 0. untuk menjaga suhu kamar agregat setelah dioven. j) Kerucut Abram’s. Alat ini digetar dengan tenaga listrik selama 15 menit. Alat ini digunakan untuk menggetarkan ayakan yang berisi agregat agar terdistribusi sesuai dengan ukuran butirnya.36 mm. untuk mengukur benda jenis pasir yang digunakan sebagai bahan penyusun beton. Saringan dipasang dari ukuran terbesar hingga lubang terkecil dan paling bawah adalah pan. Penggetar ayakan (siever). Ayakan digunakan pada uji gradasi yang terdiri dari saringan dengan ukuran : 19 mm.18 mm. ember. 2.5 mm. 12.1. 1. Penggunaan dan gambar alat-alat tersebut di atas adalah sebagai berikut : 2a). 2b). Ayakan standart.3 mm. untuk pengujian Slump. untuk mengaduk campuran beton. f) Desicator. i) Molen.75 mm. untuk pengujian agregat kasar. l) Mesin uji tekan. 0. 9. h) Mesin uji Los Angeles. 0. k) Bak tempat perendaman benda uji. untuk pengujian tekan dan tarik.33 e) Oven.1.

Timbangan kecil digunakan untuk menimbang briket. dan abu ampas tebu. Gambar IV.2.2.3. Timbangan. dan Gambar IV.34 2c). Timbangan digital Gambar IV.3. Timbangan besar . Sedangkan timbangan besar digunakan untuk menimbang semen. pasir dan batu pecah sebagai bahan beton sebelum dicampur dan juga untuk penimbangan berat benda uji sebelum dilakukan uji tekan dan tarik beton. Timbangan yang digunakan adalah timbangan kecil dengan digital yang mempunyai kapasitas 3 kg dan timbangan besar dengan kapasitas 100 kg. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV.

Kerucut Conus . Alat ini berbentuk corong dengan ukuran diameter atas 3.5.4.6 cm dan digunakan untuk pengujian SSD (Saturated Surface Dry). Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Gelas ukur. Alat ini digunakan pada saat pemeriksaaan kadar lumpur dan pemeriksaan bahan organik.9 cm. Gelas ukur yang digunakan berkapasitas 1000 cc dan 500 cc. Gambar IV. Kerucut Conus.8 cm dan diameter bawah 8.5. tinggi 7.35 2d). Gelas ukur 2e).4. Alat dapat dilihat pada Gambar IV. Gambar IV.

7. Alat ini digunakan untuk mengeringkan agregat kasar pada waktu pemeriksaaan kadar lumpur pasir. penyerapan dan berat jenis agregat. Alat ini digunakan untuk menjaga suhu kamar agregat setelah dioven pada pemeriksaan kadar lumpur.6.6. Oven. Desicator. Gambar IV. pemeriksaan berat jenis dan penyerapan pada agregat. Gambar IV. Desicator . dan pemeriksaan kandungan bahan organik.36 2f). Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV.7. Manfaat lain alat ini adalah untuk menjaga berat bahan setelah dioven supaya tidak berubah karena pengaruh udara luar. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Oven 2g).

Gambar IV. Volumetric Flash. Volumetric flash 2i). Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. dengan merk SINGLE . Mesin Los Angeles 2j).8. Gambar IV. Alat ini digunakan untuk pengujian keausan agregat kasar.37 2h).8. Molen. Mesin pengaduk campuran beton mempunyai kapasitas 1 m3.9.9. Dengan alat ini dimaksudkan agar campuran yang terjadi lebih homogen dan dapat mempersingkat waktu pelaksanaan dibanding dengan pengadukan manual. Alat yang berkapasitas 500 cc ini digunakan untuk pemeriksaan berat jenis serta penyerapan agregat halus. Mesin uji Los Angeles. Alat ini digunakan untuk pembuatan adukan beton.

Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. 2l). Molen 2k). buatan Cina pada tahun 1987. digunakan untuk pengujian slump dan pemadatan beton segar yang dicetak pada cetakan silinder. Alat ini digunakan untuk pengujian slump pembuatan benda uji. alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Kerucut Abram’s.11. Kerucut Abram’s dan tongkat baja.10. .11. Gambar IV. Gambar IV. Tongkat baja.10.11. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Alat ini mempunyai diameter atas 10 cm. Tongkat baja mempunyai ukuran panjang 60 cm dan diameter 16 mm.38 PHASE MOTOR Type JY1B-2. diameter bawah 20 cm dan tinggi 30 cm.

39 2m). . Cetakan silinder 2n).12. Alat ini digunakan untuk pemeriksaan berat satuan. pemeriksaan rasio pasir – agregat total dan pembuatan benda uji.13. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Bak tempat perendaman benda uji. digunakan untuk mencetak beton mutu tinggi. Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret memiliki kapasitas 1500 kN dan 2000 kN dengan merk Mylano Italy. Alat ini berukuran diameter 15 cm dan tinggi 30 cm.14. Mesin uji tekan. Cetakan silinder. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV.12.13. Alat tersebut dapat dilihat pada Gambar IV. Bak yang berisi air untuk merawat benda uji silinder sampai umur yang direncanakan. Untuk alat yang ada di Laboratorium Bahan dan Struktur. Bak tempat perendaman benda uji 2o). Gambar IV. Gambar IV. Alat ini digunakan untuk menguji kuat tekan beton.

Peralatan penunjang lain.40 Gambar IV. Adapun tahap penelitian tersebut dijelaskan seperti uraian berikut ini : . Tahapan Penelitian Penelitian dilaksanakan terbagi atas lima tahap. seperti tercantum dalam bentuk bagan alir pada Gambar IV.15. Gambar IV. Alat ini dapat dilihat pada Gambar IV. Peralatan penunjang lain yang digunakan antara lain cetok. ember. Mesin uji tekan dan tarik merk Mylano Italy 2p). sekop.1. Peralatan penunjang lain C.14.15. cangkul dan kawat bendrat untuk membantu pembuatan benda uji.

Selanjutnya dibuat adukan beton sesuai dengan proporsi masing-masing bahan. benda uji silinder tersebut direndam dalam bak perendaman yang berisi air selama 14 hari. Tahap III : Penyediaan benda uji Tahap ini merupakan tahap perencanaan campuran beton.T-15-1990-03. Prosedur pengujian kuat tekan . maka pada tahap ini dilakukan pengujian terhadap bahan dasar beton berupa pasir dan batu pecah. dan dilakukan pengujian slump sampai berhasil baik. Sedangkan untuk semen dan air yang dipakai. Setelah dilepas dari cetakan. pembuatan benda uji dan perawatan beton. Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan zat organik dalam pasir. Perbandingan jumlah proporsi bahan campuran beton ditentukan/dihitung dengan menggunakan Metode SK. pemeriksaan SSD pasir. Jurusan Teknik Sipil.41 1. pemeriksaan specific gravity dan absorption pasir dan batu pecah. 3. bahan tambah filler arang briket dan abu ampas tebu) di Laboratorium Bahan dan Struktur. batu pecah. pemeriksaan berat satuan volume. Tahap II : Pemeriksaan bahan dasar Sebelum digunakan dalam pembuatan campuran. maka dilakukan pemeriksaan terhadap rasio pasir . Universitas Sebelas Maret.agregat total. Fakultas Teknik. dan pemeriksaan kadar keausan batu pecah. pasir. Benda uji dibuat dengan cetakan silinder beton. Tahap I : Persiapan alat dan penyediaan bahan Tahap ini merupakan tahap persiapan penelitian di laboratorium yang meliputi persiapan alat diantaranya yaitu menyiapkan cetakan silinder ukuran diameter 15 cm tinggi 30 cm yang terbuat besi dan penyediaan bahan susun beton (semen. Setelah bahanbahan dasar beton memenuhi persyaratan yang sudah ditentukan. 2. 4. Tahap IV : Pengambilan data Pada tahap ini dilakukan pemeriksaan berat jenis beton dan pengujian kuat tekan beton benda uji silinder pada umur 14 hari. pemeriksaan kadar lumpur pada pasir dan batu pecah.SNI. dilakukan uji visual. pengujian gradasi batu pecah.

Tahap V : Analisis data dan kesimpulan Dari hasil pengujian yang dilakukan pada Tahap IV. Analisis tersebut merupakan pembahasan dari hasil penelitian. d). Meletakkan benda uji silinder pada alat penekan dan diatur posisinya agar tepat berada di tengah-tengah pelat penahan.42 dan kuat tarik mengacu pada standard ASTM C 39 – 86.. Mencatat beban maksimum yang ditunjukkan jarum penunjuk. e). Mengukur dan mencatat dimensi benda uji silinder beton.(IV.1) V γc W V = berat jenis beton (gr/cm3) = berat beton (gr) = volume silinder beton (cm3) Kuat tekan beton dihitung dengan rumus sebagai berikut : f c' = Pmaks P = maks 2 ………………………………………………. b). c). kemudian dilakukan analisis data. yang kemudian dapat ditarik beberapa kesimpulan penelitian. dengan langkah-langkah sebagai berikut : a). Menimbang dan mencatat berat benda uji silinder sebelum dilakukan pembebanan. Pembebanan dilakukan secara perlahan-lahan dengan mesin hidrolik sampai benda uji mengalami keretakan atau kehancuran (jarum penunjuk bergerak kembali ke arah semula). . Berat jenis beton dihitung dengan rumus sebagai berikut : γc = dengan : W ……………………………………………………………(IV.2) A 1 / 4πd dengan : f c' Pmaks A d = kuat tekan beton (MPa) = beban maksimum (N) = luas permukaan benda uji yang ditekan (mm2) = diameter silinder beton (mm) 5.

16.43 Mulai Persiapan alat dan bahan Tahap I Semen Agregat halus Agregat kasar Ampas tebu dan filler arang briket lolos ayakan no.200 Air diganti kadar lumpur kandungan organik gradasi pasir specific gravity dan absorption Uji visual Tidak baik Memenuhi syarat gradasi agregat kasar berat satuan volume specific gravity dan absorption keausan Uji visual Uji visual Perbaikan kualitas/diganti diganti Tidak baik Tidak baik baik baik baik baik Tahap II Rencana campuran (mix design) Pembuatan adukan beton Tidak memenuhi syarat Slump test Memenuhi syarat Pembuatan benda uji Perbaikan komposisi campuran Perawatan (curing) Tahap III Pengujian kuat tekan dan tarik beton Tahap IV Pengolahan data Analisis data Kesimpulan dan saran Tahap V Selesai Gambar IV. Bagan Alir Tahapan Penelitian .

Jenisjenis pemeriksaan bahan sebelum digunakan adalah sebagai berikut: 1a). (7).063 mm. Menimbang pasir yang berada dalam cawan tersebut. Pemeriksaan kadar lumpur pada pasir. Hal ini dilakukan berulang-ulang dengan mengganti air yang sudah keruh dengan yang air yang baru sampai benar-benar jernih. Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini dilaksanakan sesuai dengan tahap-tahap yang telah dijelaskan pada Bab IV. Adapun langkah-langkah pemeriksaan kadar lumpur pada pasir adalah sebagai berikut : (1). Menyediakan cawan dan menimbangnya. pasir beserta cawan ditimbang dengan berat 893 gram. kemudian didapat berat 393 gram. (4). (2). (6). kemudian diberi air dan dikocokkocok.(IV. Yang dimaksud lumpur adalah bagian yang lolos ayakan 0. Memasukkan pasir ke dalam cawan kemudian di oven lagi selama 24 jam pada suhu 105° C. Adapun bahan-bahan yang akan diperiksa antara lain pasir. dan agregat campuran.C.44 D.3) H0 . Pemeriksaan bahan Pemeriksaan bahan digunakan sebagai pedoman dalam perancangan adukan beton dan kelayakan bahan untuk campuran beton. (3). gelas ukur. cawan dan timbangan digital. Setelah pasir kering. 1. Memasukkan pasir ke cawan dan memasukkan ke dalam oven selama 24 jam pada suhu 105° C. Alat-alat yang digunakan antara lain : oven. Memasukkan pasir ke dalam gelas ukur. Adapun pelaksanaan penelitian tersebut diuraikan seperti berikut ini. Menyediakan pasir yang akan diuji seberat 500 gram (H0). batu pecah. Kadar lumpur dihitung dengan rumus sebagai berikut : K= H 0 − H1 x100% ………………………………………………. (5). Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui kandungan lumpur pada pasir sehingga diperoleh kualitas beton yang bermutu. diperoleh 474 gram (H1) (8).

desicator. (8). Pasir dikeringkan dengan dimasukkan ke dalam oven selama 24 jam pada suhu 105° C. (6). Memasukkan pasir kedalam gelas ukur sebanyak 130 cc. 1b). kemudian didiamkan selama 24 jam. Mendinginkan pasir ke dalam desicator selama 15 menit sehingga mencapai suhu ruang.45 K= 100 − 95. (7). Hasil pengamatan diperoleh warna kuning kecoklatan jadi pasir yang akan digunakan tidak banyak mengandung zat organik. Memasukkan pasir ke dalam gelas ukur yang berkapasitas 500 cc. (5). . (2). Pemeriksaan zat organik pada pasir. Alat-alat yang digunakan antara lain : oven. (3). kemudian dimasukkan ke dalam dua buah cawan. cawan dan larutan NaOH 3%. Setelah 24 jam warna diamati dan dibandingkan dengan standard warna yang berlaku.1. Pemeriksaan zat organik dalam pasir bertujuan untuk mengetahui sifat kandungan bahan organik yang terdapat pada pasir sehingga dapat diketahui kelayakannya sebagai campuran beton. Adapun langkah-langkah pemeriksaan zat organik pada pasir adalah sebagai berikut : (1). Menuangkan larutan NaOH 3% ke dalam gelas ukur sampai volume tetap 200 cc. Gelas ukur dikocok-kocok sehingga larutan NaOH 3% dapat tercampur secara merata.5 x100% 100 K H0 H1 = kandungan lumpur = berat pasir mula-mula (gr) = berat pasir setelah dicuci (gr) K= 5 % dengan : Perhitungan pada pemeriksaan kadar lumpur pasir ini dapat dilihat pada Lampiran IV. (4). gelas ukur.

(5).7 Jumlah penurunan rata-rata 12.1.3 4. Pemeriksaan Saturated Surface Dry (SSD) pasir.46 Hasil pemeriksaan kandungan bahan organik pasir dapat dilihat pada Lampiran IV. Tabel hasil penurunan SSD pasir.9 4. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kekeringan pasir yang sebenarnya (kekeringan permukaan) yang dapat digunakan dalam campuran beton. yaitu dengan 15 kali.3.2.65 Diperoleh hasil SSD pasir = 3 = 4.65 Hasilnya lebih kecil dari setengah tinggi pasir mula-mula sehingga pasir tersebut sudah dalam keadaan SSD.8 12. Menumbuk permukaan pasir dalam kerucut dengan tongkat penumbuk secara gravitasi ± 5 cm dari atas permukaan pasir.22 cm Rata-rata Penurunan(cm) 3. 20 kali dan 25 kali.55 4. . (3). 1c). Alat-alat yang digunakan antara lain : kerucut conus. sendok datar dan penggaris.2 4. Meletakkan kerucut conus di tempat yang datar dan mengisikan pasir ke dalam kerucut conus hingga penuh. Setiap percobaan dilakukan sebanyak dua kali pengujian.6 3. Dilakukan variasi tumbukan pada percobaan. (4). Penurunan tinggi pasir(cm) Percobaan Jumlah Sample A Sample B I 15 3. Hasil pemeriksaan secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV. Kerucut conus diangkat perlahan-lahan ke arah vertikal kemudian dicatat penurunan pasir yang terjadi. Menghitung penurunan rata-rata dari masing-masing percobaan sehingga diperoleh hasil pada Tabel IV.5 II 20 4. Pasir yang akan diuji diangin-anginkan terlebih dahulu. Langkah-langkah pengujian SSD pasir adalah sebagai berikut : (1). (2).1 sebagai berikut: Tabel IV. tongkat penumbuk.4 III 30 4.

(3)...... (4)............ (5)..... Pemeriksaan specific gravity dan absorption pasir. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui berat jenis dan daya penyerapan air oleh pasir...... D (IV...............59 gram/cm3 Penyerapan (absorption) : p= A− D x 100% ..........4) = 2....... kemudian ditambah dengan air sampai garis batas..... Langkah-langkah Pemeriksaan specific gravity dan absorption pasir adalah sebagai berikut : (1)..........................4) = 2.............................42 + 500 − 1006....47 gram/cm3 Berat jenis kering permukaan jenuh air (bulk specific gravity SSD) : = = A .. panci dan timbangan digital..... Menyediakan pasir pada kondisi SSD sebanyak 500 gram (A) dan dimasukkan ke dalam volumetric flash............... Menimbang sample setelah dioven selama 24 jam. didapat 652 gram (B)... Alat-alat yang digunakan adalah : volumetric flash...................... Membuang airnya kemudian pasir diambil kemudian dioven selama 24 jam.........47 1d)... B+A−C 477 699............. (2)..... Menimbang volumetric flash dan air sesuai garis batas........27 (IV.............27 (IV......... oven.......... selanjutnya ditimbang.... B+A−C 500 699. diperoleh 964 gram (C) dan didiamkan selama 24 jam......42 + 500 − 1006.. lalu dikocok-kocok sampai hilang gelembung-gelembung udara dalam pasir..................4) . Berat jenis dan penyerapan agregat dihitung dengan rumus sebagai berikut: Berat jenis kering (bulk specific gravity) : = = D .....44 gram (D)....... didapat sebesar 494...

18 mm.6 mm. (3).46 100 = = = 2. timbangan digital. Menyediakan pasir uji kering oven sebanyak 500 gram.82 % 477 A B C D = berat pasir SSD (gr) = berat volumetricflash + air (gr) = berat volumetricflash + air + pasir (gr) = berat pasir tungku kering (gr) = penyerapan (%) hasil penelitian secara lengkap bisa dilihat pada dengan : p Perhitungan Lampiran IV. 1. 4. Menyiapkan ayakan dan menimbang masing-masing ayakan. pan. 0.5 mm.3 mm. Memasukkan pasir uji ke dalam ayakan dan digetarkan dengan siever selama 15 menit. Menimbang pasir pada tiap-tiap ayakan dan kemudian dihitung modulus halus butirnya.36 mm. Pemeriksaan gradasi pasir. 0. Langkah-langkah pemeriksaan gradasi pasir adalah sebagai berikut : (1). Alat-alat yang digunakan antara lain : satu set ayakan dengan ukuran 9.93 Untuk hasil perhitungan pemeriksaan gradasi pasir dapat dilihat pada Lampiran IV.15 mm. (4). (2).6. Modulus halus butir Jumlah persentase kumulatif tertahan 100 293.4. siever dan cetok.48 p= 500 − 477 x 100 % = 4. 2. . (5). Pemeriksaan gradasi pasir bertujuan untuk mengetahui distribusi ukuran butiran pasir modulus halus butirnya.75 mm. Menyusun ayakan secara urut dari ukuran terbesar sampai ukuran terkecil dan paling bawah adalah pan. 0. 1e).

5 gram (B) kemudian dihitung nilai keausannya. (2). Batu pecah yang tertahan ayakan ukuran 2 mm tersebut kemudian dicuci dan selanjutnya dikeringkan dengan dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 105° selama 24 jam. (6). Mengeluarkan batu pecah dari mesin Los Angeles kemudian diayak dengan ayakan ukuran 2 mm.0 mm. (5). Pemeriksaan keausan agregat kasar. Menimbang batu pecah. (4).7) A 5000 .5 mm sebanyak 2500 gr. Memasukkan semua batu pecah yang sudah disediakan yaitu 2500 + 2500 = 5000 gram (A) beserta bola-bola baja sebanyak 11 buah ke dalam mesin Los Angeles. kemudian diputar dengan kecepatan 30 – 35 rpm sebanyak 500 putaran. Keausan agregat dihitung dengan rumus sebagai berikut : Prosentase keausan = = A-B x100% ……………….. didapat 3653. (7).5 mm. ayakan ukuran 2 mm atau yang mendekati. ayakan ukuran 19. 9. timbangan. Alat-alat yang digunakan antara lain : mesin Los Angeles. Menyediakan batu pecah lolos ayakan 12.5 mm dan oven.4985 x100% 5000 = 0. Menyediakan batu pecah lolos ayakan 19. Semakin kecil nilai abrasi maka semakin baik agregat tersebut untuk digunakan sebagai campuran beton.5 mm dan tertahan 9.3 % .……………….0 mm dan tertahan 12.(IV. (3).49 1f). Langkah-langkah pemeriksaan keausan agregat kasar adalah sebagai berikut : (1). Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui keausan agregat kasar dan mengetahui daya tahan agregat terhadap degradasi atau perpecahan. 12.5 mm sebanyak 2500 gr.

.....8) = 2. specific gravity dan absorption batu pecah.. (4).5 (IV... (3)....... (5).... (2)... Merendam kerikil dalam air selama 24 jam.................... Pemeriksaan oleh agregat kasar........5 gram/cm3 Berat jenis kering permukaan jenuh air (bulk specific gravity SSD) : = A ..........7.... kemudian kerikil ditimbang dalam air dan diperoleh berat 649.. A−B (IV. diperoleh berat 1014 gram (A)......................... timbangan digital........ oven.... Menyediakan kerikil sebanyak 1000 gram.....5 gram (C).......... Adalah sebagai berikut : (1). Berat benda uji kering oven 998........... lap kering.......5 − 1832................ A−B 3000 3032......... Kerikil diambil dan dibuat dalam keadaan SSD dengan cara dilap menggunakan lap kering. Menimbang kerikil dalam keadaan SSD. Langkah-langkah Pemeriksaan specific gravity dan absorption batu pecah........ Mendinginkan batu pecah dengan cara dimasukkan ke dalam desicator selama 15 menit.50 dengan : A B = berat agregat mula-mula (gr) = berat agregat yang tertahan saringan 2 mm setelah dicuci dan dioven (gr) Untuk perhitungan keausan agregat selengkapnya bisa dilihat pada Lampiran IV.....8) ..... 1g). Berat jenis kering (bulk specific gravity) : = = C . Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui berat jenis dan daya penyerapan air Alat-alat yang digunakan antara lain : panci.. Kerikil dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 105° selama 24 jam.. ember perendam dan desicator.. (6)....5 gram (B).....................

..... Menimbang silinder baja yang diisi batu pecah tersebut diperoleh 20250 gram (B).. Hal ini diulang sampai lima kali percobaan..... (4). 1h)..25 x π x d 2 x t .................. Menghitung volume silinder : Volume silinder = 0............ C 3032.... Pemeriksaan berat satuan volume batu pecah.8) p Hasil dari pemeriksaan specific gravity dan absorption batu pecah dapat dilihat pada Lampiran IV......... (3)...5 = 2....51 = 3032..8..5 − 1832.. Menimbang berat silinder baja didapat 13200 gram (A).. Alat-alat yang digunakan antara lain : cetakan silinder baja (diameter 15 cm dan tinggi 30 cm) dan tongkat baja (diameter 16 mm dan panjang 60cm).. Langkah-langkah pemeriksaan berat satuan volume batu pecah adalah sebagai berikut : (1)... Pemeriksaan berat satuan volume batu pecah ini bertujuan untuk mengetahui berat agregat tiap satuan volume...5 3032...53 gram/cm3 Penyerapan (absorption) : A−C x 100% ...... (2)....5 − 3000 x 100% p= 3000 p= p = 1. Memasukan batu pecah ke dalam silinder baja secara bertahap sebanyak tiga lapis (masing-masing lapis diisi batu pecah kemudian ditumbuk dengan tongkat baja sebanyak 25 kali dan diratakan permukaannya)....08 % dengan : A B C D = berat pasir SSD (gr) = berat volumetricflash + air (gr) = berat volumetricflash + air + pasir (gr) = berat pasir tungku kering (gr) = penyerapan (%) (IV.

ember. 0. Rata-rata berat satuan volume batu pecah : = 4.. (2).9 1i).. Langkah-langkah pemeriksaan gradasi batu pecah adalah sebagai berikut : (1). pan)... 2. (5)... Pemeriksaan gradasi batu pecah....... Modulus halus butir = = Jumlah persentase kumulatif tertahan 100 706.0 mm.9) 3 = 1. Memasukkan batu pecah uji ke dalam ayakan dan digetarkan dengan siever selama 15 menit.. Menyusun ayakan secara urut dari yang berukuran besar sampai yang kecil dan paling bawah adalah pan. timbangan digital.25 x π x 15 2 x 30 = 5301.771 ... Menyiapkan ayakan dan menimbang masing-masing ayakan tersebut.6 mm... 0.. 0. (4)....52 = 0........... Menyediakan batu pecah kering oven sebanyak 1000 gram.... Alat-alat yang digunakan antara lain : satu set ayakan dengan ukuran (19..... Melakukan penimbangan batu pecah pada tiap-tiap ayakan kemudian dihitung modulus halus butirnya....75 mm.5 mm.59 gr/cm3 dengan : A B C = berat silinder baja (gr) = berat silinder baja setelah diisi batu pecah (gr) = volume silinder (cm3) Untuk hasil pemeriksaan dan perhitungan berat satuan volume batu pecah secara lengkap bisa dilihat pada Lampiran IV. 4.. siever... (3).18 mm.. Pemeriksaan gradasi batu pecah ini bertujuan untuk mengetahui distribusi ukuran batu pecah dan modulus halus butirnya....15 mm. cetok.06 ...... 1.36 mm.438 cm 3 (5)........3 mm.. 9.25 100 = 7.... (IV...

568 1.06 Langkah-langkah perhitungan rencana campuran beton dapat dilihat pada Lampiran IV.271 42.761 22.SNI.960 1.150 ton/m3 = 60 – 100 mm 5).176 1.679 15.176 1.679 15.176 1.5 % 1. Berat jenis batu pecah 4). Berat jenis semen 8).056 Semen (kg) 15. Perencanaan campuran beton Dalam perencanaan proporsi campuran digunakan perencanaan menurut SK.679 15. 11. 10.93 = 40 mm = 3.761 22.761 Kerikil (kg) 42. 13. Berat jenis pasir 3).271 42.176 1.761 22.568 1.960 . Modulus halus butir pasir 6).960 Abu arang briket (kg) 7. 12.271 42.056 7. 6.5 % 1. 4.10.679 Pasir (kg) 22.761 22.679 15. Modulus halus butir batu pecah = 7.176 1.2.568 1. 2. Data-data untuk perencanaan campuran adukan beton adalah sebagai berikut : 1).056 7.056 7. 16.271 Abu ampas tebu (kg) 7.960 1. 8.271 42.960 1.176 1.056 7.271 42. Nilai slump rencana = 0.056 7.45 No 1.271 42.568 1.056 7.47 gr/cm3 = 2.761 22.761 22.761 22.056 7. 7.5 % 10 % 12.568 1.176 1.5 gr/cm3 = 2.568 1.679 15.10.960 1.271 42. Air (kg) 7. Proporsi kebutuhan material tiap 3 sampel untuk uji tekan dan tiap 3 sampel untuk uji tarik dengan fas 0.679 15.761 22. Faktor air semen 2).53 Untuk hasil penelitian dan perhitungan pemeriksaan gradasi batu pecah secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.271 42.176 1.960 1.056 7.45 = 2. 5.271 42.679 15.5 % 10 % 12.271 42.761 22.679 15.679 15. Kebutuhan pembuatan benda uji untuk tiap 3 benda uji adalah sebagai berikut: Tabel.056 7.761 22.568 1.761 22.761 22.271 42.056 7.271 42.IV.056 7.T-15-1990-30.679 15.761 22.271 42.679 15.056 7. 3.679 15. 15. 9.568 1.679 15.960 1.761 22. Ukuran maksimum batu pecah 7).056 7.056 7.761 22.679 15. 2. 14.271 42.271 42.056 7.679 15.

h=30 d=15. h=30 d=15. Pengujian nilai slump Ukuran benda uji (cm) d=15. .5 0 3 3 3 3 12 7. Dengan menginjak kaki kerucut Abram’s kuat-kuat. Meletakkan kerucut Abram’s ditempat yang rata dan tidak mudah goyah. Pengisian adukan beton dilakukan sampai 2 lapis berikutnya dan masingmasing lapis ditusuk sebanyak 25 kali.4. c). ditunggu ± 1 menit dan cetakan diangkat secara perlahan-lahan. b). h=30 d=15. bagian atas cetakan diratakan dengan cetok. diameter bagian bawah 20 cm dan tinggi 30 cm dengan bagian atas maupun bawah berlubang. h=30 Pengujian nilai slump ini dimaksudkan untuk mendapatkan kekentalan beton segar. e). dan bagian dalam dibasahi dengan air.5 3 3 3 3 12 0. h=30 Ukuran benda uji (cm) d=15. adukan beton diisikan 1/3 dari volume kerucut.5 10 12.54 Tabel IV.5 3 3 3 3 12 0. Setelah terisi penuh oleh adukan beton. Setelah pengisian adukan selesai. h=30 d=15. Rincian jumlah benda uji untuk kuat tarik beton. kemudian ditumbuk sebanyak 25 kali dengan menggunakan tongkat diameter 16 mm dan panjang 60 cm. Rincian jumlah benda uji untuk kuat tekan beton.5 0 3 3 3 3 12 7. yaitu berbentuk kerucut dengan diameter atas 10 cm.5 3 3 3 3 12 Jumlah total benda uji 48 Tabel IV.45 10 3 3 3 3 12 12.5 10 12. Kerucut Abram’s dibersihkan terlebih dahulu sebelum digunakan. h=30 d=15. h=30 d=15. Pengujian dilakukan dengan menggunakan kerucut Abram’s. Abu ampas tebu (%) Jumlah Abu arang Briket Fas (%) total 0 7. d).45 10 3 3 3 3 12 12. Abu ampas tebu (%) Jumlah Abu arang Briket Fas (%) total 0 7. Langkah-langkah pengujian slump sebagai berikut : a).3.5 3 3 3 3 12 Jumlah total benda uji 48 3.

sampai cetakan silinder penuh. e). Cara pembuatan benda uji silinder beton adalah sebagai berikut: a). Masing-masing variasi dibuat 3 buah benda uji sehingga jumlah total benda uji adalah 100 buah (lihat Tabel IV. Adukan beton dimasukkan ke dalam cetakan silinder dengan cetok setinggi sepertiga bagian dan memampatkan adukan beton tersebut dengan menusukkan tongkat baja tumpul sebanyak 25 kali. Setelah 24 jam membuka cetakan. Mengisikan adukan beton sepertiga bagian berikutnya dan diperlakukan sama. dan diukur selisih antara kerucut dan adukan beton tersebut Hasil pengujian slump test selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran IV. Meratakan bagian atasnya serta membiarkannya sampai 24 jam d). silinder benda uji disimpan di udara lembab (direndam di dalam bak yang berisi air) untuk perawatan beton. sejak adukan beton dipadatkan sampai beton dianggap cukup keras.17. Agar benda uji satu dan yang lainnya tidak tertukar. . 5. Suhu air saat perendaman berkisar antara 26° – 25° C.55 f).1). Perawatan Perawatan beton dimaksudkan untuk menjaga permukaan beton segar selalu lembab. dapat dilihat pada Gambar IV. dan telah diuji nilai slump-nya. c). Pembuatan benda uji Pembuatan benda uji sesuai dengan perhitungan proporsi campuran beton yang telah direncanakan.14. 4. b). Meletakkan kerucut Abram’s di samping adukan. Perawatan beton yang dilakukan pada penelitian ini adalah dengan cara merendam silinder beton di dalam bak yang berisi air sampai beton berumur 14 hari. masing-masing benda uji diberi kode.

Hasil pengujian benda uji dapat dilihat pada Gambar IV. terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan terhadap berat jenis. Gambar IV. Pemeriksaan berat jenis Sebelum pengujian benda uji.12. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran IV.20. Pengujian kuat tekan dan kuat tarik benda uji Untuk mengetahui keretakan yang terjadi pada saat pengujian. sedangkan jarum hitam akan bergerak turun kembali pada posisi semula (nol). sehingga dapat diketahui berat dan volume benda uji tersebut.56 Gambar IV. maka salah satu jarum yaitu jarum merah akan tetap pada posisi nilai beban maksimum yang mampu ditahan. Pada saat beban maksimum yang mampu ditahan benda uji terlampaui (benda uji hancur). maka permukaan benda uji diberi cat putih Gambar IV. Perawatan benda uji beton 6.17.18. Angka yang ditunjuk oleh jarum merah inilah yang dicatat sebagai beban maksimum yang mampu ditahan oleh benda uji. Benda uji diletakkan pada mesin uji tekan dengan posisi vertikal dan posisi jarum penunjuk kuat tekan harus pada angka nol. Gambar IV. Kemudian mesin uji dihidupkan dan penambahan beban dapat terlihat pada jarum penunjuk manometer.21. 7. . Berat jenis dapat diketahui dengan cara menimbang dan mengukur tinggi serta diameter benda uji.19.

Benda uji setelah dicat .57 Gambar IV.18.19. Benda uji sebelum dicat Gambar IV.

58 Gambar IV. Hasil pengujian kuat tekan beton Gambar IV.21.20. Pengujian kuat tekan beton .

23. Pengujian kuat tarik beton Gambar IV. Hasil pengujian kuat tarik beton .22.59 Gambar IV.

Hasil uji kadar lumpur menunjukkan 5 % sehingga memenuhi persyaratan agregat halus sebagai campuran adukan beton karena batas persyaratan campuran beton yaitu 5 %. Pengujian Agregat 1.82 % Modulus halus butir 2. atau dituliskan pada Tabel V.8 gram/cm3 Apparent spesific gravity 3.5 . Hasil pengujian zat organik di dalam pasir dengan cara menambah larutan NaOH 3 % dan didiamkan selama 24 jam. sedangkan tinggi pasir mula-mula 7. Tabel V.8 (Sumber: Hasil penelitian) Hasil pengujian agregat halus Tabel V.96 Syarat SK SNI 5% > 2.75 cm Nilai Saturated Surface Dry (SSD) 2.5 gram/cm3 ½ dari tinggi kerucut Keterangan Memenuhi syarat Memenuhi syarat Memenuhi syarat Memenuhi syarat Memenuhi syarat 2. 61 . Hasil pengujian agregat halus Pemeriksaan agregat halus dilakukan melalui beberapa tahap pengujian yang sudah diuraikan pada Bab IV.1. diperoleh larutan berwarna kuning kecoklatan.7 gram/cm3 Memenuhi syarat <5% Memenuhi syarat 1.rata sebesar 3.BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil pengujian agregat halus Jenis pengujian Hasil pengujian 5% Kadar lumpur Kuning Kandungan bahan kecoklatan organik 2.5. tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1). 3). Pada pengujian ini diperoleh penurunan pasir rata.5 cm.2.1 sampai dengan Lampiran IV. Hasil pemeriksaan agregat halus secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.1.5 – 3.75 cm. Warna ini menunjukkan bahwa pasir tidak banyak mengandung zat organik dan layak digunakan sebagai bahan campuran beton.59 gram/cm3 Bulk specific gravity Absorption 4. maka penurunan puncak kerucut pasir harus kurang lebih setengah tinggi kerucut. Untuk mencapai SSD pasir. 2). Karena adanya bahan organik dalam pasir akan mempengaruhi mutu beton.1.

0 gram/cm3). 6).5 gram/cm3 – 2. Oleh karena modulus halus butir pasir yang digunakan berada dalam batasan modulus halus butir pada umumnya.62 Keadaan ini membuktikan bahwa pasir masih agak basah. agregat dibagi menjadi 3 macam yaitu agregat ringan (mempunyai berat jenis kurang dari 2. oleh karena itu pasir perlu diangin-anginkan sebelum digunakan. 5). .1. Semakin besar absorbsi maka jumlah air yang digunakan dalam campuran akan semakin berkurang. 4). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pasir ini termasuk agregat normal.7 gram/cm3). Dari hasil pengujian yang dilakukan diperoleh nilai absorbsi pasir 4. dan dilukiskan pada Gambar V. Hasil pemeriksaan gradasi pasir secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.59 gram/cm3. Dari pengujian agregat halus diperoleh berat jenis pasir 2. Hal ini menunjukan bahwa absorbsi pasir masih dalam batasan yang diisyaratkan.96 Pada umumnya pasir mempunyai nilai modulus halus butir antara 1. dan agregat berat (mempunyai berat jenis lebih dari 2.8.6. 7). Berdasarkan berat jenisnya. Absorbsi agregat akan mempengaruhi jumlah air dalam campuran yang direncanakan. maka pasir ini memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan susun beton. agregat normal (mempunyai berat jenis antara 2.8 gram/cm3).82 %.5 – 3. Persyaratan absorbsi agregat yang digunakan dalam campuran beton 5 %. Hasil pengujian gradasi pasir diperoleh modulus halus butir 2.

2. Hasil pengujian agregat kasar Pemeriksaan agregat kasar dilakukan melalui beberapa tahap pengujian yang diuraikan pada Bab IV.6 sampai Lampiran IV.59 gram/cm3 Modulus halus butir 7.3 % Keausan agregat batu pecah 2.35 4.18 2.85 1.5 – 2.75 9.89 gram/cm3 Syarat SK SNI 20 % > 2. tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: .08 % Absorption Berat satuan volume 1.7 gram/cm3 Memenuhi syarat Memenuhi syarat <5% 1.D. di atas.1.1990) Menurut Gambar V.2.9. Hasil pengujian agregat kasar Jenis pengujian Hasil pengujian 0.3 0. Batas gradasi pasir dalam daerah gradasi No.5 gram/cm3 Keterangan Memenuhi syarat Memenuhi syarat 2.57 gram/cm3 Apparent spesific gravity 2. Hasil pemeriksaan agregat kasar secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.63 GRADASI PASIR 120 PERSEN LOLOS (%) 100 80 60 40 20 0 0 0.53 gram/cm3 Bulk specific gravity 1.2 – 1.1.6 gram/cm3 Memenuhi syarat Memenuhi syarat 5-8 (Sumber: Hasil penelitian) Hasil pengujian agregat kasar pada Tabel V. hasil pemeriksaan tersebut tercantum pada Tabel V.2.5 LUBANG AYAKAN (mm) HASIL HITUNGAN BATAS ATAS SK SNI BATAS BAWAH SK SNI Gambar V. II (Departemen Pekerjaan Umum.15 0. gradasi pasir memenuhi persyaratan campuran beton dan termasuk ke dalam kelompok daerah II (pasir agak kasar). Tabel V. 2.

Kekerasan butir-butir batu pecah yang diperiksa dengan mesin Los Angeles harus memenuhi syarat yaitu tidak terjadi kehilangan berat lebih dari 20 % untuk kekuatan beton diatas 20 MPa.2.5 gram/cm3 – 2. 2). Dengan melihat grafik batu pecah dapat diketahui bahwa gradasi batu pecah ini masih masuk dalam batasan SK SNI.08%.59 gram/cm3. 4). 3). Hal ini menunjukkan batu pecah tersebut dapat digunakan sebagai bahan campuran beton.9. Dari pengujian agregat batu pecah diperoleh berat jenis batu pecah 2. Hasil pemeriksaan gradasi batu pecah dapat dilukiskan seperti pada Gambar V. Hasil pengujian keausan batu pecah dari Boyolali 0. Berat satuan agregat kasar normal yaitu 1. sehingga batu pecah tersebut dapat digunakan sebagai campuran beton. maka batu pecah tersebut dapat digunakan sebagai bahan campuran beton. 6).2. karena memiliki kekerasan butiran yang masih ada dalam batasan yang disyaratkan.64 1). Hasil pemeriksaan gradasi pasir secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.2 gram/cm3 – 1. Pengujian tersebut membuktikan batu pecah mempunyai berat satuan sesuai yang diisyaratkan untuk berat satuan normal.8 gram/cm3). . 5).9.7 gram/cm3) dan agregat berat (berat jenis 2. dan dilukiskan pada Gambar V.6 gram/cm3. Hasil pengujian berat satuan batu pecah 1. Hasil pemeriksaan gradasi batu pecah secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV.3 %. 7). Batu pecah yang digunakan dalam penelitian ini mempunyai absorbsi 1. Hal ini menunjukan bahwa batu pecah tersebut mempunyai daya serap yang kecil. Hasil pengujian berat jenis batu pecah yang digunakan dalam penelitian dapat disimpulkan bahwa agregat batu pecah tersebut termasuk agregat normal (berat jenis 2. Dari hasil pengujian gradasi batu pecah diperoleh modulus halus butir 7.53 gram/cm3.89 Modulus halus butir untuk agregat kasar yang digunakan sebagai campuran beton yaitu 5 sampai dengan 8.

5 10 12. Hasil pengujian slump dapat dilihat pada Tabel V.16 cm.08 – 10.5 10 12. akan dianalisis pengaruhnya terhadap workabilitas beton.1 LUBANG AYAKAN (mm) HASIL HITUNGAN BATAS BAWAH SK SNI BATAS ATAS SK SNI Gambar V. √ √ 3.75 9. Dari hasil pengujian slump pada Tabel V.65 GRADASI KERIKIL 120 PERSEN LOLOS (%) 100 80 60 40 20 0 2.5 2 2.5 1. Batas gradasi kerikil (Departemen Pekerjaan Umum. Hasil pengujian slump beton umur 14 hari Abu arang Briket Abu ampas tebu (%) No Beton Normal (%) 7. √ √ √ √ 5. Pengujian slump dilakukan untuk mengetahui workabilitas adukan beton dari setiap percobaan.1990) B. √ √ 4.5.5 .5 1.11 dapat dilihat bahwa slump yang dicapai pada adukan beton dengan penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket tidak memenuhi persyaratan yang direncanakan yaitu antara 2 – 4 in atau 5.5 dan Lampiran IV.5 19 38.36 4. Pemberian bahan tambah dengan proporsi penambahan yang berbeda.2.5 7.5 dan Lampiran IV. Pengujian Slump Pengujian nilai slump dilaksanakan sebelum campuran beton dituang dalam cetakan. 11.5 1. Tabel V. Slump (cm) 7. √ 2.

Data dan hasil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran IV.5 √ 2.25 x π x d 2 x t …………………………………………………(V.5 2 √ 3. Hasil pemeriksaan berat jenis beton secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV. √ 9.5 √ 3.(V. Pengujian Berat Jenis Beton Pengujian berat jenis beton dilakukan sebelum diadakannya pembebanan terhadap benda uji silinder.5 (Sumber: Hasil penelitian) Dari hasil pengujian nilai slump menunjukkan bahwa nilai slump menurun dengan penambahan persentase abu arang briket dan abu ampas tebu dalam campuran beton. √ √ √ √ - √ √ √ - √ √ √ √ √ √ - √ 2 √ 2.66 Tabel V. √ 16.12 sampai dengan Lampiran IV. Lanjutan 6. Besarnya berat jenis dapat dihitung dengan rumus : Berat jenis beton (γ) = B ……………………………………………. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak jumlah bahan tambah yang digunakan maka air akan terserap oleh bahan tambah sehingga nilai fas akan berkurang. √ 8.5. √ 13.2) dengan : γ = berat jenis beton (gram/cm3) B = berat beton setelah direndam (gram) .5 1. √ 15. maka nilai slump yang dihasilkan kecil. sedangkan berat jenis rata-rata dapat dilihat pada Tabel V. √ 10.5 √ 2.5 √ 2.16. Berat jenis beton dapat diketahui dengan cara menimbang dan mengukur tinggi serta diameter benda uji.5 2 √ 3. C.1) V V = 0.11. √ 14. √ 7. √ 12. sehingga didapatkan berat dan volume benda uji tersebut. √ 11.6.

241 2.5 % 0% 2.5% 10 % 12.147 2.6.5% 10 % 2.213 2. Tabel V.273 2.5 % 2.147 (Sumber: Hasil penelitian) Tabel V. Kadar abu ampas tebu Berat Jenis rata2 (gr/cm3) 0% 7.4.210 2.213 2.301 gram/cm3. Hasil pemeriksaan berat jenis rata-rata pada kuat tarik beton dengan fas 0.172 2.238 2.185 2.15 gram/cm3.210 2.226 2.67 V = Volume beton (cm3) d = diameter cetakan beton t = tinggi cetakan beton Volume silinder = 0.188 2. Berat jenis briket adalah 2. Hal ini disebabkan karena berat jenis briket lebih kecil dari pada berat jenis semen.289 2.25 x π x 15 2 x 30 = 5301.5% 2.5 % 2.204 2.282 2. Pengujian Kuat Tekan Dan Tarik Beton Pengujian kuat tekan beton dilaksanakan setelah benda uji silinder telah berumur 14 hari.5% 10 % 12.179 arang briket 10 % 2. diperoleh berat jenis tertinggi 2. Hasil pengujian kuat tekan beton .292 2.213 2. Berat jenis akan menurun seiring dengan penambahan abu arang briket.282 Kadar abu ampas tebu 7.185 2.25 x π x d 2 x t = 0.248 2.64 gram/cm3 sedangkan berat jenis semen adalah 3.118 2. Hasil pemeriksaan berat jenis rata-rata pada kuat tekan beton dengan fas 0.438 cm 3 Dari hasil pemeriksaan berat jenis beton Tabel V.194 Kadar abu 7.6.7. Pengujian kuat tekan beton dilakukan untuk memperoleh nilai kuat tekan beton dengan adanya perbedaan kadar penambahan bahan tambah abu arang briket serta penambahan abu ampas tebu.263 2. Berat Jenis rata2 (gr/cm3) Kadar abu arang briket 0% 7.200 2.5 % 0% 2.160 2.147 12.216 (Sumber: Hasil penelitian) D.4.207 2.176 12.188 2.

Besarnya kuat tekan dari benda uji dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus sebagai berikut : f’c = Pmaks …………………………………………………………….201 22.425 23.665 2.046 12.069 Kadar abu 7.334 Kadar abu 7.π.523 1.9.434 37.029 23.318 2.284 37.8.476 2.476 1.5% 31.557 29.863 12.(V.141 24.523 2.390 39.5 % 2.163 23.5% 2.5 % 34. Kadar abu ampas tebu Kuat Tekan rata2 (gr/cm3) 0% 7.17.4. Sedangkan estimasi kuat tekan beton rata-rata dapat dilihat pada Tabel V. Kadar abu ampas tebu Kuat Tarik rata2 (gr/cm3) 0% 7.159 arang briket 10 % 32.933 1.632 22.5% 10 % 12.5 % 0% 30.075 1.165 2.7.263 2.d2……………………………………………………………(V.627 (Sumber: Hasil penelitian) .4.3) A A = ¼ .830 2.4) A = ¼ .π.443 (Sumber: Hasil penelitian) Tabel V.d2 = ¼ x π x 152 = 176.714 cm2 dengan : f’ A d = kuat tekan beton salah satu benda uji (kg/cm2) = luas permukaan benda uji yang tertekan (cm2) = diameter cetakan Pmaks = beban tekan maksimum (kg) Tabel V.484 22.981 arang briket 10 % 2.594 2.5 % 0% 3. Kuat tekan rata-rata beton dengan variasi penambahan filler abu arang briket dan abu ampas tebu pada fas 0.521 23.68 secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran IV. Kuat tarik rata-rata beton dengan variasi penambahan abu arang briket dan ampas tebu pada fas 0.5% 10 % 12.

78 %. Dari hasil pengujian kuat tekan beton di atas. Sedangkan pada penambahan arang briket kuat tekan mengalami peningkatan.69 Hasil pengujian kuat tekan rata-rata silinder beton dengan bahan tambah abu briket dan abu ampas tebu dapat dilihat pada Gambar V.5 10 12. dapat diketahui bahwa beton normal dengan penambahan bahan tambah abu ampas tebu mengalami penurunan pada kuat tekan.5% dan abu arang briket 10% sebesar 27.5% ampas tebu 12. Dari Gambar V. .3.5 Kadar Briket (%) Ampas tebu 0% ampas tebu 10% ampas tebu 7.5% Gambar V. Kuat tekan optimum diperoleh dari penambahan abu ampas tebu 12.3. Grafik gabungan hubungan kuat tekan rata-rata dengan variasi bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket.3 dapat disimpulkan bahwa penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket mampu meningkatkan kuat tekan beton. 45 40 Kuat Tekan (Mpa) 35 30 25 20 15 10 5 0 0 7.

Kuat tekan tertinggi tersebut diperoleh dari kadar abu ampas tebu 12.5% dan abu arang briket 12.4. Grafik gabungan hubungan kuat tarik rata-rata dengan variasi bahan tambah abu ampas tebu dan abu arang briket.5%.5 10 12. dapat diketahui bahwa beton normal dengan penambahan bahan tambah abu ampas tebu dan abu arang briket dapat mengakibatkan penurunan pada kuat tarik beton.70 %.5 Kadar Briket (%) ampas tebu 0% ampas tebu 10% ampas tebu 7.5% dan abu arang briket 12.4 bisa disimpulkan bahwa penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket pada umumnya mengalami penurunan untuk setiap variasi penambahannya.5 3 Kuat Tarik (Mpa) 2. 3. Dari Gambar V.046 MPa dan kuat tarik tertinggi adalah 2. diperoleh kuat tekan beton tertinggi adalah 39.5% dan abu arang briket 10%.5% Gambar V.5% sebesar 14. . Kuat tarik optimum diperoleh dari penambahan kadar abu ampas tebu 7.830 MPa. Pembahasan Hasil Penelitian Dari hasil penelitian ini dengan topik kapasitas tekan dan tarik beton dengan bahan tambah filler abu ampas tebu dan abu arang briket dengan fas 0.4.70 Hasil pengujian kuat tarik rata-rata silinder beton dengan bahan tambah abu arang briket dan abu ampas tebu dapat dilihat pada Gambar V.5 0 0 7.5 1 0. Dari hasil pengujian kuat tarik beton di atas.5% ampas tebu 12.5 2 1. sedangkan kuat tarik tertinggi diperoleh dari kadar abu ampas tebu 7.4. E.

71 Kelebihan dan kekurangan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Kelebihan a) Dalam penelitian ini tidak terjadi penundaan ikatan semen karena dalam waktu 24 jam dari pengecoran.5 % dan abu arang briket 10 % mengalami peningkatan sebesar 27.5 % dan abu arang briket 12. b) Kuat tekan beton yang dihasilkan lebih tinggi pada penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket. .70 % dari beton normal atau pada kadar abu arang briket 0 % dan abu ampas tebu 0 %.5 % mengalami penurunan sebesar 14. b) Karena sifatnya yang menyerap air mengakibatkan nilai slump rendah.78 % dari beton normal atau pada kadar abu arang briket 0 % dan abu ampas tebu 0 %. 2. c) Kuat tarik beton yang dihasilkan lebih tinggi pada penambahan abu ampas tebu dan abu arang briket. benda uji langsung dapat dibuka dari cetakannya kemudian dilakukan perawatan benda uji. Kuat tarik beton pada penambahan kadar abu ampas tebu 7. Kekurangan a) Kemudahan pengerjaan lebih rendah karena abu ampas tebu dan abu arang briket mempunyai sifat menyerap air. Kuat tekan beton pada penambahan kadar abu ampas tebu 12.

4 sebesar 2. 8). Kesimpulan Setelah diadakan tahap pembuatan benda uji.5 % sedangkan kuat tekan optimum pada fas 0. 5).5 % sedangkan kuat tarik optimum pada fas 0. 40 % didapat kuat tekan optimum sebesar 46.665 MPa terjadi pada kadar 7.572 MPa terjadi pada kadar 20 %. Kuat tarik optimum abu arang briket pada fas 0.5 %. Kuat tarik optimum abu ampas tebu pada fas 0. Kuat tekan optimum abu ampas tebu pada fas 0. Hasil pemeriksaan agregat halus (pasir) memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan campuran beton.45 sebesar 2.5 %. Untuk hasil penelitian Rifai.45 sebesar 24.465 MPa terjadi pada kadar 12.5 %.899 MPa terjadi pada kadar 10 %. 2).20 %.4 sebesar 2.45 sebesar 25. 72 .3 dengan variasi pencampuran 10 %.425 MPa terjadi pada kadar 7. 3). Hasil pemeriksaan agregat kasar (batu pecah) memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan campuran beton. pengujian kuat tekan dan kuat tarik untuk silinder beton. Kuat tekan optimum abu arang briket pada fas 0. 7).BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. Semakin besar persentase abu arang briket dan abu ampas tebu pada adukan beton maka nilai slump makin kecil.4 sebesar 34.405 MPa terjadi pada kadar 12.4 sebesar 29.594 MPa terjadi pada kadar 7.45 sebesar 2.141 MPa terjadi pada kadar 12.5 % sedangkan kuat tekan optimum pada fas 0. Berat jenis akan menurun seiring dengan penambahan abu arang briket dan abu ampas tebu. 30 %. perendaman benda uji. akhirnya penelitian ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1). pada fas 0. 6). 4).5 % sedangkan kuat tarik optimum pada fas 0.735 MPa terjadi pada kadar 12. serta analisis yang telah dilakukan.

maka peneliti memberikan saran sebagai berikut : 1).5 % mengalami penurunan sebesar 14. B. Dalam pembuatan benda uji. Kuat tekan optimum terjadi pada penambahan kadar abu arang briket 10 % dan abu ampas tebu 12. 5). Kuat tarik beton terjadi pada penambahan kadar abu arang briket 12. Penggunaan abu ampas tebu akan mengurangi keenceran adukan campuran beton sehingga kuat tekan dan tarik beton tinggi.73 9). abu ampas tebu 0 %.5 % mengalami peningkatan sebesar 27.5 %. sehingga sulit dipadatkan.5 % dan abu ampas tebu 7.5 % sehingga dapat dilakukan penelitian selanjutnya tentang besarnya prosentase abu ampas tebu yang dapat menambah kuat tekan dan tarik beton sampai optimum. kesulitankesulitan yang dialami pada saat penelitian dan pembahasan hasil penelitian. Saran Berdasarkan pengamatan selama pelaksanaan penelitian. setelah dilakukan pencampuran material harus segera dimasukkan ke dalam cetakan karena adukan beton akan segera lengket dan mengental. 2). 4). 10).70 % dari beton normal atau pada kadar abu arang briket 0 %. Dalam penelitian ini menggunakan abu ampas tebu dengan prosentase tertentu yaitu 7. 3). 10 %. 12. abu ampas tebu 0 %. . Pada saat perendaman benda uji. Hal ini dimaksudkan pada waktu pengujian seluruh permukaan benda uji mendapat tekanan yang sama. diharapakan dilakukan penelitian selanjutnya pada variasi fas.78 % dari beton normal atau pada kadar abu arang briket 0 %. Bagian atas dan bawah benda uji diusahakan benar-benar rata. permukaan air harus menutup semua benda uji yang direndam.

Direktorat Penyelidikan Masalah Bangunan. Tjokrodimuljo. L. Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia. 1995.M. M. Pemakaian Variasi Bahan Tambah Larutan Gula dan Abu Arang Briket Pada Kuat Tekan Beton Mutu Tinggi. Murgiyanto. 2003. Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta. 1990. N. . Rifa’I. 1991. Yogyakarta. 1991. Surakarta. Departemen Pekerjaan Umum. Institut Teknologi Sepuluh Nopember. SK SNI T-15-1990-03.45. Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta. 2005. Tinjauan Pemakaian Abu Batu Bara Terhadap Karakteristik Beton dengan Menggunakan Faktor Air Semen 0. 1996. LPMB. Teknologi Beton Dalam Praktek. Terjemahan Stephany Hindarko. Erlangga. Badan Pengembangan Pekerjaan Umum. A. Standar Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung.J. Peraturan Beton Bertulang Indonesia. Subakti. Surakarta. Bandung. PT Naviri. Murdock.DAFTAR PUSTAKA Departemen Pekerjaan Umum. K. Yayasan LPMB Puslitbang Pemukiman Balitbang PU. Jakarta. Teknologi Beton. Surabaya. 1982.1-2 1971. Bandung. Standar Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung. Brook K. 1971. Bahan dan Praktek Beton. Departemen Pekerjaan Umum. SK SNI T-15-1991-03. Direktorat Penyelidikan Masalah Bangunan. Bandung.

Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. Sutami No. Telp.D NIP.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. 1. Lab. 132 129 524 .5 100 5% L-1 Kandungan lumpur pada pasir untuk campuran beton adalah 5 %. ST. Mei 2006 Ka. Surakarta. sehingga pasir tidak perlu dicuci karena sudah memenuhi batas persyaratan campuran beton yaitu 5%. Ir. Pemeriksaan Kadar Lumpur Pada Pasir Tabel : Pemeriksaan pasir sebelum dicuci (Sumber : Hasil penelitian) Berat cawan (gram) Berat pasir kering tungku+cawan (gram) Berat pasir kering tungku setelah dicuci (gram) Berat pasir kering tungku sebelum dicuci (gram) Kandungan lumpur (%) A B C D=B-A D −C x100% D 158 258 95. 36 A Kentingan Surakarta 57126. (0271) 632363 Lampiran IV. Ph.

Telp. Ph. 132 129 524 . Ir.D NIP.2. Ini menunjukkan bahwa pasir tersebut tidak banyak mengandung bahan organik. (0271) 632363 Lampiran IV. Sutami No. Lab.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. sehingga pasir dapat langsung digunakan untuk campuran beton. Surakarta. terlihat larutan berwarna kuning kecoklatan. 36 A Kentingan Surakarta 57126. ST. Pemeriksaan Kandungan Zat Organik Pada Pasir Tabel : Pengujian zat organik dalam pasir (Sumber : Hasil penelitian) No 1 2 Jenis bahan Pasir Larutan NaOH 3% Volume (cc) 130 cc Secukupnya Volume total 200 cc Warna larutan L-2 Kuning Kecoklatan Setelah pasir dicampur NaOH 3 % dan didiamkan selama 24 jam. Mei 2006 Ka.

36 A Kentingan Surakarta 57126.5 4. Telp. ST.23 12.5 cm.3.7 12.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. oleh karena itu pasir perlu diangin-anginkan sebelum digunakan.D NIP.rata sebesar 3.5 × 7. Surakarta.43 2 =4. Lab.4 4. Ph.7 : 3 = 4. 132 129 524 . Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. Ir. sedangkan tinggi pasir mula-mula 7.5 =3.5 cm = 8. Pengujian Saturated Surface Dry (SSD) Pasir Tabel : Pemeriksaan penurunan pasir rata-rata (Sumber : Hasil penelitian) Percobaan I II III Jumlah 15 20 25 Jumlah penurunan : 3 Nilai SSD Penurunan tinggi pasir(cm) Sample A Sample B 3.75 cm. Mei 2006 Ka.23 + 4.2) / 2 = 4.9 4.215>0. (0271) 632363 Lampiran IV.2 4.6 3.6 : 3 = 4.75 Pada pengujian ini diperoleh penurunan pasir rata. Keadaan ini membuktikan bahwa pasir masih agak basah.2 (4. Sutami No.215 L-3 Tinggi pasir mula-mula Nilai SSD = 7.

47 2. ST.59 2.4.5 – 2.7 (berat jenis agregat halus yang diperoleh memenuhi syarat). Ir.82 Syarat berat jenis agregat normal antara 2.80 4. 132 129 524 . Sutami No. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. Pemeriksaan Spesific Gravity dan Absorption Pasir Tabel : Perhitungan Spesific Gravity dan Absorbtion Pasir (Sumber : Hasil penelitian) Berat pasir kondisi SSD(gram) Berat volumetric flash+air (gram) Berat volumetric flash+air +pasir(gram) Berat pasir kering tungku (gram) Bulk Specific grafity (gram/cm 3 ) Specific grafity SSD (gram/cm 3 ) L-4 Apparent Specific grafity (gram/cm 3 ) Absorption (%) A B C D D ( A + B − C) A (B + A − C) D (B + D − C) A− D x100% D 500 699.27 477 2. Surakarta. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Telp.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. Mei 2006 Ka. Ph. Lab.42 1006. (0271) 632363 Lampiran IV.D NIP.

25 x π x 15 2 x 30 = 5301. 36 A Kentingan Surakarta 57126. (0271) 632363 Lampiran IV. Telp. Ph.765 5.246 Rata-rata berat satuan volume pasir = 1.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. Pemeriksaan Berat Satuan Volume Pasir L-5 Volume silinder Berat silinder = 0. Lab. Sutami No.25 x π x d 2 x t = 0. volume (gram/cm 3 ) 19400 19355 19505 Jumlah = 9250 9205 9355 5.736 1.438 cm 3 = 10150 gram Tabel : Pemeriksaan berat satuan volume (Sumber : Hasil penelitian) No 1 2 3 Berat silinder (gram) 10150 10150 10150 Berat pasir+silinder (gram) Berat pasir (gram) Berat sat.D NIP. ST.5. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. 132 129 524 . Mei 2006 Ka.749 gr/cm 3 Surakarta.745 1.246 3 1. Ir.

4.74 8.04 0. Sutami No.76 22.96 = 2.20 81.6.8 Surakarta.00 277. 7.77 8.04 0.51 60. 8.80 18.93 3000 % Pasir Tertinggal 2.2 301. 2.75 2. Ph.9 Jumlah Berat Cawan (gr) 61 61 61 61 61 61 61 61 Berat Pasir (gr) 75.24 240. 6.23 91.50 4.04 322.00 Syarat SK SNI 100 90-100 75-100 55-90 35-59 10-30 0-10 0 Gol II Keterangan : * tidak ikut dijumlahkan = 3000 gr = 2999.03 100. 132 129 524 .03 0.97 100. Telp.80 46.26 10.90 2999.6 = 0.00 295. 1.00 518. 3.4 gr Koreksi = berat pasir tertahan × kesalahan berat pasir setelah diayak Dari hasil analisa pengujian diatas didapatkan modulus halus butir pasir sebagai berikut : Modulus halus butir = = Jumlah persentase kumulatif tertahan 100 295.50 9. Ir. 5. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.97 192. (0271) 632363 Lampiran IV.36 1.30 0.24 77.20 240.50 11.60 Koreksi 0.00 Persen Kumulatif Tertinggal 2.74 17.74 211. Ukuran Ayakan (mm) 9.9 253 1111.85 0.6 gr Berat pasir mula-mula Berat pasir setelah diayak Berat kesalahan penimbangan = 3000 – 2999. ST.90 192. Pemeriksaan Gradasi Pasir L-6 Tabel : Perhitungan pengujian gradasi pasir Boyolali (Sumber : Hasil penelitian) No .04 518.03 1051.982 memenuhi syarat yaitu antara 1.20 53.18 0.96 Lolos 97.04 0. Mei 2006 Ka.70 322.5 – 3.14 0.9 383.00 1050.96 100 Modulus halus butir 2. Lab.D NIP.70 383 579.5 88.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.03 0.03 Berat Pasir Terkoreksi 75. 36 A Kentingan Surakarta 57126.01 0.03 10.50 39.07 0.90 322.40 35.15 Pan Berat Cawan + Pasir (gr) 136 338.30 6.01 277.

Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Telp.5 Berat benda uji mula-mula (gram) Lolos No.3 % Hasil pengujian keausan batu pecah dari Karanganyar 0. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.D NIP. 132 129 524 . Ph. Hal ini menunjukkan batu pecah tersebut dapat digunakan sebagai bahan campuran beton. ST.3 %.5 Berat benda uji setelah diuji (gram) Keausan agregat (%) A B A−B x100% A 2500 2500 4985 0. Mei 2006 Ka.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. Pemeriksaan Keausan Agregat Kasar L-7 Tabel : Hasil pengujian keausan agregat kasar (Sumber : Hasil penelitian) Lolos No. karena memiliki kekerasan butiran yang masih ada dalam batasan yang disyaratkan yaitu tidak boleh lebih dari 20 %.5 dan tertahan 9. (0271) 632363 Lampiran IV. Lab. Ir.7. 19 dan tertahan 12. Surakarta.. 12.

132 129 524 .57 1.08 % Surakarta.5 3000 2.5 2.D NIP. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Telp. (0271) 632363 Lampiran IV. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.5 1832. Lab.8. Pemeriksaan Spesific Gravity dan Absorbtion Batu Pecah L-8 Tabel : Perhitungan Spesific Gravity dan Absorbtion Batu Pecah (Sumber : Hasil penelitian) Berat batu pecah kondisi SSD(gram) Berat benda uji dalam air (gram) Berat benda uji kering oven (gram) Bulk Specific grafity (gram/cm 3 ) Specific grafity SSD (gram/cm 3 ) Apparent Specific grafity (gram/cm 3 ) Absorbtion (%) A B C C A− B A A− B C C−B A−C x100% C 3032.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. Sutami No. ST. Ir. Mei 2006 Ka.53 2. Ph.

590 gr/cm 3 1.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. Telp. Ir. Lab.584 1.438 cm 3 = 10600 gram Tabel : Pemeriksaan berat satuan volume (Sumber : Hasil penelitian) No 1 2 3 Berat silinder (gram) 10600 10600 10600 Berat batu pecah+silinder (gram) Berat batu pecah (gram) Berat sat. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. volume (gram/cm 3 ) 19000 19055 19040 Jumlah 3 8400 8455 8440 = 4 .2 gram/cm3 – 1. (0271) 632363 Lampiran IV. Hasil pengujian berat satuan batu pecah 1.771 Rata-rata berat satuan volume batu pecah Berat satuan agregat kasar normal yaitu 1.D NIP. Pemeriksaan Berat Satuan Volume Batu Pecah L-9 Volume silinder Berat silinder = 0.590 gram/cm3.595 1. Sutami No. 771 = 1.25 x π x d 2 x t = 0.6 gram/cm3. 36 A Kentingan Surakarta 57126. ST.592 4. 132 129 524 . Surakarta.9. Pengujian tersebut membuktikan batu pecah mempunyai berat satuan sesuai yang disyaratkan untuk berat satuan normal. Ph. Mei 2006 Ka.25 x π x 15 2 x 30 = 5301.

00 0.04 152.76 17.49 = 7.00 0.00 507.00 0.07 0.49 Lolos 100 83.15 Pan Berat ayakan+ Kerikil (gr) 488 961 2253.89 100 Surakarta.00* 789.00 0.00 100.108 memenuhi syarat yaitu antara 5 – 8.00 % Komulatif Tertinggal 0. Sutami No.00 0. Ka.8 = 0.00 100.00 0. 36 A Kentingan Surakarta 57126.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.00 0.00 0.10.12 0.00 0.90 60. Lab. (0271) 632363 Lampiran IV.8 Koreksi 0.00 0.50 9.75 2.01 0.00 0.34 5.18 0.8 930 573 322 320 315 242 269 Jumlah Berat Ayakan (gr) 488 454 431 412 421 322 320 315 242 269 Berat Kerikil (gr) 0 507 1822.66 94.00 16.85 0.00 0.03 0.00 0.D NIP.00 Berat Kerikil terkoreksi 0.93 0. Pemeriksaan Gradasi Batu Pecah L-10 Tabel : Perhitungan pengujian gradasi batu pecah dari Boyolali (Sumber : Hasil penelitian) no 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Ukuran Ayakan (mm) 25 19 12. ST.00 0. Ph.00 0. Ir.93 100.01 0.00 100.00 Keterangan : * tidak ikut dihitung = 3000 gr Berat batu pecah mula-mula Berat batu pecah setelah diayak = 2998 gr Berat kesalahan penimbangan = 3000 – 2999.36 1.50 4.2 gr Koreksi = berat pasir tertahan × kesalahan berat pasir setelah diayak Dari hasil analisa pengujian diatas didapatkan modulus halus butir batu Jumlah persentase kumulatif tertahan 100 789.00 16.90 77.00 100. Mei 2006 pecah/kerikil sebagai berikut : Modulus halus butir = = Modulus halus butir 7.00 0.03 1822. 132 129 524 .92 518.10 22.00 100.00 3000 % Kerikil tertinggal 0.04 0.8 518 152 0 0 0 0 0 2999.00 100.00 0. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo.07 1. Telp.27 5.

Mei 2006 Ka.584 1.629 4. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. ST.817 3 1. Lab. 36 A Kentingan Surakarta 57126.25 x π x d 2 x t = 0.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.11.606 gr/cm 3 Surakarta.438 cm 3 = 10600 gram Tabel : Pemeriksaan berat satuan volume (Sumber : Hasil penelitian) No 1 2 3 Berat silinder (gram) 10600 10600 10600 Berat Agregat Kasar + silinder (gram) Berat Agregat Kasar (gram) Berat sat.25 x π x 15 2 x 30 = 5301. Telp. 132 129 524 .D NIP. Sutami No.604 1. Ir. volume (gram/cm 3 ) 19000 19105 19235 Jumlah 8400 8505 8635 4. Ph. Pemeriksaan Berat Satuan Volume Agregat Kasar L-11 Volume silinder Berat silinder = 0.817 Rata-rata berat satuan volume agregat kasar = = 1. (0271) 632363 Lampiran IV.

Perencanaan Campuran Adukan Beton Metode SK-SNI T-15-199003 L-12 Perancangan Adukan Beton Normal Fas 0. (0271) 632363 Lampiran IV.6 kg/m3 561.9 ltr dan fas 0.25 kg 275 kg 462. 36 A Kentingan Surakarta 57126.4 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Uraian Kuat tekan umur 14 Deviasi standar Nilai tambah Kuat tekan rata2 Jenis semen Jenis kerikil Fas Slam Ukuran maks butir kerikil Kadar air Kebutuhan semen Kebutuhan semen minimum Dipakai kebutuhan semen Penyesuaian jumlah air atau fas Golongan pasir Persen pasir terhadap camp Berat jenis campuran Berat beton Kebutuhan camp pasir dan kerikil Kebutuhan pasir Kebutuhan kerikil Tabel/Grafik/Perhitungan grafik M=k * ds Nilai 36.45 2 34 % 2.4 60-100 mm 40 mm 184.716 kg/m3 tabel 10 : 7 grafik grafik grafik 18-(11+10) 16 * 19 19-20 Proporsi campuran Tiap m 3 Air 184.884 kg Kerikil 1090.25 kg 184.25 kg Pasir 561.2 * vol cetakan silinder * vol material tiap m3 .9 ltr Semen 462.716 kg Proporsi bahan tiap 1 silinder = 1.12.48 Mpa 47.18 Mpa pada 14 hari 7 Mpa 11.884 kg/m3 1090. Telp. Sutami No.50 2300 kg/m3 1652.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.66 Mpa biasa batu pecah 0.9 ltr 462. Ir.

(0271) 632363 Lampiran IV.622 41. 4.323 1.622 41. Proporsi kebutuhan material tiap 3 sampel untuk uji tekan dan tiap 3 sampel untuk uji tarik dengan fas 0.622 41.622 41. Proporsi kebutuhan material L-13 Tabel. 11.764 1.323 1.205 2. Sutami No. 7.639 17.639 17.056 7.4 No 1.056 7.205 .639 17. 16.5 % 1.205 2.764 1.764 2.056 7.442 21.442 21.056 7. 10. 9. 6.5 % 1.622 41.13.056 7.056 7.639 17. 3.442 Kerikil (kg) 41. Telp. 5. 2.056 7.639 17.622 41.639 17.056 7.639 Pasir (kg) 21.622 41.639 17.205 2.056 7.323 1.639 17. Air (kg) 7.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.622 41.323 1. 12.323 1.442 21.442 21.205 2.639 17.056 7.442 21.205 7.764 1.056 7.639 17.442 21.205 2.639 17.323 Ampas (kg) 10 % 12.622 41.442 21.442 21.764 1. 15.622 7.5 % 1. 8.622 41.056 7. 13.622 41.442 21.442 21.622 41.622 41.639 17. Ir.442 21.639 17.622 41.442 21.442 21.622 41.056 7.056 7. 36 A Kentingan Surakarta 57126.205 2.764 12.323 Filler (kg) 10 % 1.056 7.056 Semen (kg) 17.639 17.639 17.442 21. 14.5 % 2.764 1.323 1.442 21.764 1.

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR
JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Jl. Ir. Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Telp. (0271) 632363

Lampiran IV.14. Pemeriksaan Slump Adukan Beton

L-14

Tabel: Hasil pengujian slump beton umur 14 hari (Sumber : Hasil penelitian) No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. Beton Normal √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Ampas (%) 7,5 10 12,5 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Filler Briket (%) 7,5 10 12,5 √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Slump (cm) 7,5 2 2,5 1,5 1,5 2 2,5 2 3,5 2,5 2 3,5 2,5 1,5 2,5 3,5

Surakarta,

Mei 2006

Ka. Lab. Bahan Konstruksi Teknik

Kusno Adi Sambowo, ST, Ph.D NIP. 132 129 524

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR
JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Jl. Ir. Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Telp. (0271) 632363

Lampiran IV.15. Hasil Pengujian Kuat Tekan Silinder Beton
HASIL PENGUJIAN KUAT TEKAN SILINDER BETON FAS 0.4

L-15

No 1

Tanda / Kode BN-40

Tgl. dibuat 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 2119 April 2006

Volume silinder (cm3) 5301,438

Berat (gr) 11950 11900 11750 12080 11900 12000 11950 11300 11500 11400 11500 11500 12250 12100 12150

b.j (gr/cm3) 2,254 2,245 2,216 2,279 2,245 2,264 2,254 2,131 2,169 2,150 2,169 2,169 2,301 2,282 2,292

b.j rata-rata (gr/cm3) 2,238

Tgl. diuji 3 Mei 2006

Umur 14

Beban Maks. (kN) 495 600 525 510 570 480 430 415 400 420 330 420 535 560 550

Kuat tekan (MPa) 28,011 33,953 29,709 28,860 32,255 27,162 24,333 23,484 22,635 23,767 18,674 23,767 30,275 31,689 31,124

2

BNA-1-40

5301,438

2,263

3 Mei 2006

14

3

BNA-2-40

5301,438

2,185

3 Mei 2006

14

4

BNA-3-40

5301,438

2,163

3 Mei 2006

14

5

BNF-1-40

5301,438

2,292

3 Mei 2006

14

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR
JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Jl. Ir. Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta 57126. Telp. (0271) 632363

Lampiran IV.15. Lanjutan
HASIL PENGUJIAN KUAT TEKAN SILINDER BETON FAS 0.4

L-16.

No 1

Tanda / Kode BNF-2-40

Tgl. dibuat 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006

Volume silinder (cm3) 5301,438

Berat (gr) 12100 12200 12000 12100 12100 12100 11550 11650 11850 11900 11700 11600 11600 11600 11600

b.j (gr/cm3) 2,282 2,301 2,264 2,282 2,282 2,282 2,179 2,197 2,235 2,245 2,207 2,188 2,188 2,188 2,188

b.j rata-rata (gr/cm3) 2,282

Tgl. diuji 3 Mei 2006

Umur 14

Beban Maks. (kN) 600 530 600 580 630 600 440 390 400 330 420 425 420 420 460

Kuat tekan (MPa) 33,953 29,992 33,953 32,821 35,651 33,953 24,899 22,069 22,635 18,674 23,767 24,050 23,767 23,767 26,031

2

BNF-3-40

5301,438

2,282

3 Mei 2006

14

3

BNAF-11-40

5301,438

2,204

3 Mei 2006

14

4

BNAF-12-40

5301,438

2,213

3 Mei 2006

14

5

BNAF-13-40

5301,438

2,188

3 Mei 2006

14

333 25.084 2.188 2.782 36.147 5 Mei 2006 14 4 BNAF-31-40 5301.188 2.226 2.504 24. Lanjutan HASIL PENGUJIAN KUAT TEKAN SILINDER BETON FAS 0.899 21.207 2.264 2.438 Berat (gr) 11600 11750 11800 12000 11600 11600 11350 11400 11400 11050 11500 11600 11700 11500 11400 b.188 2.438 2.147 5 Mei 2006 14 5 BNAF-32-40 5301.4 L-17 No 1 Tanda / Kode BNAF-21-40 Tgl. Ir.348 2 BNAF-22-40 5301.15. 36 A Kentingan Surakarta 57126.213 5 Mei 2006 14 3 BNAF-23-40 5301.217 43.j rata-rata (gr/cm3) 2. Telp.573 37.169 2.150 2.150 2.175 5 Mei 2006 14 . (kN) 370 420 420 420 440 380 380 430 450 650 670 650 640 770 660 Kuat tekan (MPa) 20.438 2.216 2.782 37.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl. (0271) 632363 Lampiran IV.188 2.504 21.767 24.938 23.210 Tgl. diuji 5 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks.j (gr/cm3) 2.767 23.150 b.169 2.438 2. dibuat 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301.767 23. Sutami No.914 36.141 2.438 2.465 36.

j (gr/cm3) 2. Lanjutan HASIL PENGUJIAN KUAT TEKAN SILINDER BETON FAS 0.122 2.122 2.D NIP. Telp. (kN) 680 680 625 Kuat tekan (MPa) 38.480 35. 132 129 524 . Ir. Ph. Lab. Mei 2006 Ka. Sutami No.153 Tgl. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. 36 A Kentingan Surakarta 57126.4 L-18.15.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.480 38.j rata-rata (gr/cm3) 2. No 1 Tanda / Kode BNAF-33-40 Tgl. ST. (0271) 632363 Lampiran IV. diuji 4 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks.438 Berat (gr) 11250 11250 11750 b.216 b.368 Surakarta. dibuat 20 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301.

Sutami No.160 3 Mei 2006 14 3 BNA-2-40 5301.688.235 2. 36 A Kentingan Surakarta 57126.438 2.245 b. 2.169 2.273 Tgl.254 2. (kN) 220 240 245 230 160 175 100 180 180 125 190 180 190 160 200 Kuat tarik (MPa) 3.179 2.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.768 2.446 3.112 3.264 2.476 1.169 2.254 2. (0271) 632363 Lampiran IV.546 1. diuji 3 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks. Hasil Pengujian Kuat Tarik Silinder Beton .235 2.16.169 2. Ir.438 Berat (gr) 12200 11950 12000 11500 11350 11500 11500 11750 11850 11850 11550 11500 11900 11950 11900 b.216 2.j rata-rata (gr/cm3) 2. HASIL PENGUJIAN KUAT TARIK SILINDER BETON FAS 0.169 2.141 2.245 2.207 3 Mei 2006 14 4 BNA-3-40 5301.415 2.546 2.395 3.194 3 Mei 2006 14 5 BNF-1-40 5301. dibuat 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301.264 2.546 2.4 L-19 No 1 Tanda / Kode BN-40 Tgl.264 2. Telp.j (gr/cm3) 2.829 2 BNA-1-40 5301.438 2.438 2.438 2.254 2.688 2.248 3 Mei 2006 14 .301 2.

j (gr/cm3) 2.438 2.226 3 Mei 2006 14 . 36 A Kentingan Surakarta 57126.829 2.241 3 Mei 2006 14 3 BNAF-11-40 5301.16.334 1.197 2.334 2.245 2.042 2.j rata-rata (gr/cm3) 2.768 3. Telp.188 3 Mei 2006 14 4 BNAF-12-40 5301.197 2.325 2.207 2. Sutami No.301 2.216 2.334 2.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.900 2.438 2.263 2.438 Berat (gr) 12200 12200 12000 11650 11900 12100 11500 11650 11650 11700 11650 11650 11750 11900 11750 b.4 L-20 No 1 Tanda / Kode BNF-2-40 Tgl.829 2.197 2. Ir. (kN) 125 235 165 165 115 200 165 205 165 160 175 200 210 215 175 Kuat tarik (MPa) 1.169 2.476 2.971 3. diuji 3 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks.264 2.438 2.334 2.197 2.438 2.216 b.245 2.301 2.289 Tgl.282 2.197 2. Lanjutan HASIL PENGUJIAN KUAT TARIK SILINDER BETON FAS 0.627 2.200 3 Mei 2006 14 5 BNAF-13-40 5301. dibuat 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 19 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301. (0271) 632363 Lampiran IV.476 2 BNF-3-40 5301.

264 1.768 2 BNAF-22-40 5301. 36 A Kentingan Surakarta 57126.150 2.179 2. (0271) 632363 Lampiran IV.264 1.179 b.188 Tgl.910 2.188 2.172 4 Mei 2006 14 3 BNAF-23-40 5301.698 1.438 Berat (gr) 11700 11600 11500 11600 11600 11350 11400 11500 11250 11500 11550 11600 11500 11550 11550 b.438 2.122 2. Telp.4 L-21 No 1 Tanda / Kode BNAF-21-40 Tgl.438 2.141 2. Sutami No.188 2.122 2.438 2.485 2.546 2.169 2. (kN) 180 185 160 125 135 150 150 105 185 160 130 130 150 120 125 Kuat tarik (MPa) 2. HASIL PENGUJIAN KUAT TARIK SILINDER BETON FAS 0. dibuat 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 20 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301.122 1.j (gr/cm3) 2.839 2.188 2.188 2.122 1.207 2.j rata-rata (gr/cm3) 2.169 2.617 2.16. Ir.438 2.179 2.169 2.176 4 Mei 2006 14 .839 1.179 4 Mei 2006 14 5 BNAF-32-40 5301.147 4 Mei 2006 14 4 BNAF-31-40 5301. Lanjutan .768 1. diuji 4 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks.617 2.169 2.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.

dibuat 20 April 2006 Volume silinder (cm3) 5301.j (gr/cm3) 2. 132 129 524 . Sutami No. 36 A Kentingan Surakarta 57126.j rata-rata (gr/cm3) 2.254 2.627 1. Bahan Konstruksi Teknik Kusno Adi Sambowo. (0271) 632363 Lampiran IV.438 Berat (gr) 11750 11950 11550 b. Lab. (kN) 115 115 115 Kuat tarik (MPa) 1.179 b.16.4 L-22. Mei 2006 Ka. Telp. ST.216 2. Ph. No 1 Tanda / Kode BNAF-33-40 Tgl.627 1. Ir. diuji 4 Mei 2006 Umur 14 Beban Maks.DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL LABORATORIUM BAHAN & STRUKTUR JURUSAN TEKNIK SIPIL – FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET Jl.627 Surakarta.D NIP.216 Tgl. Lanjutan HASIL PENGUJIAN KUAT TARIK SILINDER BETON FAS 0.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful