P. 1
Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah Mbs Pada Smp1

Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah Mbs Pada Smp1

|Views: 377|Likes:
Published by Teh Arsya

More info:

Published by: Teh Arsya on Nov 26, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/23/2014

pdf

text

original

Sections

  • BAB I
  • PENDAHULUAN
  • A.Latar Belakang Masalah
  • B.Rumusan Masalah
  • C. Tujuan Penelitian
  • D.Manfaat Penelitian
  • B.Kebijakan Publik Dalam Dimensi Akuntabilitas
  • b.2. Faktor-Faktor Penghambat Akuntabilitas dalam MBS
  • b.3.Upaya-Upaya Peningkatan Akuntabilitas dalam MBS
  • C.Manajemen Pendidikan
  • D. Manajemen Berbasis Sekolah
  • 1. Konsep MBS (Manajemen Berbasis Sekolah)
  • 2.Karakteristik MBS
  • 3.Tujuan Manajemen berbasis Sekolah
  • 4. Langkah-langkah MBS
  • E. Kinerja Kepala Sekolah
  • F. Kinerja Guru Dalam Proses Belajar Mengajar
  • G. Partisipasi Masyarakat
  • BAB III
  • METODE PENELITIAN
  • A.Jenis dan Lokasi Penelitian
  • B.Defenisi Operasional Variabel
  • C.Variabel Penelitian
  • D.Instrumen Penelitian
  • E.Populasi dan Sampel
  • F.Metode Pengumpulan Data
  • G. Teknik Analisa Data
  • BAB IV
  • HASIL DAN PEMBAHASAN
  • A. Identitas Responden
  • Pangkat/Golongan Frekuensi (f) Persentase (%)
  • Jumlah 24 100
  • Kelompok Umur Frekuensi (f) Persentase (%)
  • Jumlah 24 100
  • Tingkat Pendidikan Frekuensi (f) Persentase (%)
  • Jumlah 24 100
  • Tingkat Pendapatan Frekuensi (f) Persentase (%)
  • C.Kinerja Kepala Sekolah dalam Pelaksanaan MBS pada SMP Negeri 4 Khusus
  • Kepala Sekolah sebagai Pendidik (Edukator)
  • Kepala Sekolah sebagai Administrator
  • Kepala Sekolah sebagai Supervisor
  • Kepala Sekolah sebagai Leader
  • Kepala sekolah Sebagai Inovator
  • Kepala sekolah Sebagai Motivator
  • D.Kinerja Guru dalam Pelaksanaan MBS pada Sekolah Menengah Pertama
  • (SMP) Negeri 4 Watampone
  • E.Peran Serta Masyarakat dalam Pelaksanaan MBS pada SMP Negeri 4 Khusus
  • Kabupaten Umum
  • BAB V
  • KESIMPULAN DAN SARAN
  • A. Kesimpulan
  • B. Saran
  • ABSTRAK
  • DAFTAR ISI
  • DAFTAR TABEL
  • DAFTAR GAMBAR

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah.

Perkembangan ilmu pengetahuan sangat ditentukan oleh perkembangan dunia pendidikan, di mana dunia pendidikan mempunyai peran yang sangat strategis dalam 1 menentukan arah maju mundurnya kualitas pendidikan. Hal ini bisa dirasakan ketika sebuah lembaga pendidikan dalam menyelenggarakan pendidikan yang benar-benar bagus, maka dapat dilihat kualitasnya, berbeda dengan lembaga pendidikan yang melaksanakan pendidikan hanya dengan sekedarnya maka hasilnya pun biasa-biasa saja. Selanjutnya adanya Perubahan sistem pendidikan nasional, dari undang-undang No.2 Tahun 1989 menjadi undang-undang No. 20 Tahun 2003, merupakan upaya pembaharuan pendidikan kearah peningkatan mutu. Upaya peningkatan mutu beralih menjadi tangggung jawab sekolah dengan diberlakukannya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), sejalan dengan eraotonomi daerah. Banyak konsep pendidikan dalam UU Sisdiknas 2003 yang bernilai filosofis, yang dapat membangun ”Paradigma Baru” pendidikan Indonesia. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, telah semakin meningkatkan tuntunan kebutuhan sosial masyarakat. Pada akhirnya tuntunan tersebut bermuara kepada pendidikan, karena masyarakat meyakini bahwa pendidikan mampu menjawab dan mengantisipasi berbagai tantangan tersebut. Pendidikan merupakan salah satu upaya yang dapat. dilakukan oleh sekolah sebagai institusi tempat masyarakat berharap tentang kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang. Pendidikan perlu perubahan yang dapat dilakukan melalui perubahan dan peningkatan dalam pengelolaan atau manajemen

pendidikan di sekolah. Chapman (1990) dalam Fattah (2003 : 28) menjelaskan bahwa : “Manajemen berbasis sekolah (MBS) sebagai terjemahan dari School Base Management adalah suatu pendekatan politik yang bertujuan untuk meningkatkan, me-redisain pengelolaan sekolah, bertujuan untuk memberikan kekuasaan dan meningkatkan partisipasi sekolah dalam upaya perbaikan kinerjanya yang mencakup guru, siswa, orang tua siswa, dan masyarakat. Manajemen Berbasis Sekolah memodifikasi struktur pemerintahan dengan memindahkan otoritas dalam pengambilan keputusan pemerintahan dan manajemen ke setiap yang berkepentingan di tingkat lokal (local stakeholders)”. Dengan mengalihkan wewenang dalam keputusan dari pemerintah tingkat Pusat/Kanwil/Kadis ke tingkat sekolah, diharapkan sekolah akan lebih mandiri dan mampu menentukan arah pengembangan yang sesuai dengan kondisi dan tuntunan lingkungan masyarakatnya. Pada pelaksanaannya disadari bahwa mengimplementasikan pemberian kewenangan kepada sekolah melalui pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) memerlukan proses dan waktu. Organisasi berwajah lokal dalam kegiatannya cenderung berdasarkan pada konsensus lewat dialog dan diskusi yang terbuka dan seimbang. Dalam kaitan ini, jabatan Kepala Sekolah yang selama ini ditunjuk oleh pemerintah perlu diganti dengan Kepala Sekolah yang dipilih oleh guru dan kelak apabila masa jabatan sudah habis Kepala Sekolah akan dievaluasi oleh guru pula. Sekolah dengan bentuk organisasi semacam itu akan memungkinkan sekolah sebagai suatu lembaga yang relatif otonom dari kekuatan politik. Kerja Kepala Sekolah beserta staf administrasi tim yang demokratis orang tua murid dilibatkan dalam pelaksanaan pendidikan sebagai anggota bukan sebagai klien. Dari berbagai problem dan tantangan yang menyertainya, baik secara konseptual maupun secara operasional pelaksanaan model manajemen berbasis sekolah, maka urgensi penelitian ini dilaksanakan untuk mengkaji lebih mendalam pada tingkat

3 aktualisasi realitanya yang lebih riil. Untuk itu, maka muncullah sistem baru yaitu sistem Manajemen Berbasis Sekolah. Konsep Manajemen Berbasis sekolah (MBS) ini pertama kali muncul di Amerika Serikat. Latar belakangnya ketika itu masyarakat mempertanyakan tentang relevansi dan korelasi pendidikan yang diselenggarakan di sekolah dengan tuntutan kebutuhan masyarakat. Bertitik tolak dari kondisi tersebut, dipandang perlu membangun suatu sistem persekolahan yang mampu memberikan kemampuan dasar bagi peserta didik. Muncullah penataan sekolah melalui konsep MBS yang diartikan sebagai wujud dari reformasi pendidikan yang meredesain dan memodifikasi struktur pemerintah ke sekolah dengan pemberdayaan sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasional.

(Sagala, 2004: 17). Sistem Manajemen Berbasis Sekolah merupakan suatu sistem yang menunutut agar sekolah dapat secara mandiri menggali, mengalokasikan, menentukan prioritas, mengendalikan dan mempertanggung jawabkan pemberdayaan sumber-sumber, baik kepada masyarakat maupun pemerintah (Mulyasa, 2006: 24). Pembelajaran berbasis kompetensi menekankan pembelajaran ke arah penciptaan dan peningkatan serangkaian kemampuan dan potensi siswa agar bisa mengantisipasi tantangan aneka kehidupannya. Sehingga orientasi pembelajaran yang selama ini lebih ditekankan pada aspek ”pengetahuan” dan target ”materi” yang cenderung verbalistis berubah menjadi lebih ditekankan pada aspek ”kompetensi” dan target ”keterampilan”. Tujuannya adalah untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Peningkatan mutu pembelajaran merupakan suatu proses sistematis yang dilakukan secara terus menerus dalam meningkatkan kualitas proses belajar mengajar dan faktor-faktor yang berkaitan dengan pembelajaran, dengan tujuan agar menjadi target sekolah dapat tercapai.

Keempat. output dan outcome. . Ketiga. 1988: 54). Memiliki hak otonomi yang luas dalam mengembangkan kreativitas dalam memberdayakan dan mengoptimalisasi sumber-sumber daya yang ada. 1999: 3). sehingga keterampilan guru dalam mengelola pembelajaran sangat dibutuhkan. Hal ini pula yang menjadi tolok ukur peningkatan mutu pembelajaran di sekolah. Selain itu. maksudnya semua kegiatan pendidikan tidak tergantung pada pusat (pemerintah). outcome meliputi jumlah lulusan ketingkat pendidikan berikutnya. Tidak bersifat sentralistik. Oleh karena itu untuk memperbaiki mutu pendidikan.Keberhasilan pendidikan dengan sistem MBS ini dapat diukur dari indikatorindikator yang meliputi: input. pada umumnya pembelajaran ditekankan pada proses pengajaran oleh guru (teacher teaching) dibandingkan dengan proses pembelajaran oleh murid (student learning). Adapun untuk dunia usaha itu juga merupakan suatu bukti ada tidaknya peningkatan mutu pembelajaran di sekolah tersebut. output. (Rahardja. Hal ini menyebabkan proses belajar menjadi statis dan beku. Pemberdayaan yang dimaksud tidak akan meninggalkan fungsi dan peran guru. Kedua. (Engkoswara. 1988: 54). diantaranya adalah masyarakat dan dunia usaha. Pertama. sistem pembelajaran MBS ini memiliki ciri-ciri lain diantaranya: 1. Engkoswara. semakin baik dunia usaha yang dimiliki lulusan sekolah tersebut maka semakin baik juga pula mutu sekolah tersebut. proses. 2002: 5). proses pembelajaran. 2. karena sekolah yang baik merupakan suatu kebanggaan baik bagi pengelola (yayasan) ataupun bagi masyarakat sekitar (Fattah. upaya pemberdayaan pembelajaran yang difokuskan siswa belajar menjadi sangat penting. input yaitu diantaranya adalah kualitas guru haruslah profesional dalam pengembangan ide kreativitasnya sehingga dapat menunjang mutu pembelajaran.

4. Sekolah dapat melakukan persaingan sehat dengan sekolah lain untuk meningkatkan mutu pembelajaran dengan dukungan orangtua. masyarakat dan pemerintah daerah setempat atau bahkan pemerintah pusat. 3. ada empat alasan perlunya sekolah menerapkan program sistem Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yaitu: 1. Selain empat ciri diatas. 2. Sekolah sebagai lembaga pendidikan lebih mengetahui kelebihan dan kelemahan dirinya. Sekolah dapat mempertanggungjawabkan kinerja dan mutu pendidikan yang dihasilkan sekolah masing-masing kepada orangtua. 4.5 3. (Bambang Rahardja. sehingga mereka dapat mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk memajukan lembaganya. Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan dalam proses pendidikan sesuai dengan kebutuhan sekolah dan perkembangan anak didiknya. Non birokrasi yaitu sedikit mengesampingkan syarat-syarat hukum dan teknis dalam pendirian sekolah. masyarakat dan pemerintah. 2002: 5). tidak terkecuali dengan SMP Negeri 4 Khusus yang juga telah menggunakan model manajemen berbasis sekolah. Memiliki sifat kewiraswastaan sehingga manajemen sekolah akan lebih luwes dan inovatif. Berdasarkan observasi awal Sebagai implementasi dari konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang demokratis berciri pada pemberian .sekolah negeri maupun swasta. Pada dasarnya model manajemen berbasis sekolah adalah model pengelolaan pendidikan yang mencoba diterapkan oleh sekolah. sehingga mereka akan berupaya seoptimal mungkin untuk melaksanakan dan mencapai target mutu pendidikan yang telah direncanakan. 2000: 3). (Umaedi.

Berdasarkan uraian sebagaimana tersebut di atas maka ada beberapa hal yang mendasari mengapa penelitian ini mengambil lokasi di SMP Negeri 4 Khusus. Provinsi bahkan sampai pada tingkat Nasional. Namun realitasnya bahwa belum sepenuhnya sekolah ini mampu melaksanakan school based management atau MBS yang diharapkan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. 2. 3. mandiri. Belum ada penelitian terdahulu yang membahas tentang bagaimana implementasi manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Khusus. maka policy yang dilakukan tentu saja didasarkan pada peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Tingkat kelulusan siswa pada setiap ujian nasional mengalami peningkatan. SMP Negeri 4 Khusus sebagai sebuah lembaga pendidikan yang telah berdiri cukup lama dikenal sebagai sebuah lembaga yang memiliki segudang prestasi yang sangat membanggakan baik di tingkat Kabupaten. maka penekanan pengembangan yang semula berorientasi pada kuantitas berubah menjadi kualitas. proses pendidikan. tenaga pengajar di sekolah tersebut telah menjalankan aktivitas mengajar dengan konsep PAIKEM. proses pengelolaan dan lain sebagainya.wewenang luas pada sekolah untuk mengatur pendidikan dan pengajaran sebagai aspirasi dari masyarakat kepada sekolah merupakan inti dari konsep MBS. Sebagai sebuah lembaga pendidikan yang di bawah naungan pemerintah. baik dalam bidang administrasi. 4. maka di ketahui bahwa SMP Negeri 4 Khusus adalah salah satu lembaga yang mencoba mempelopori dan menerapkan konsep MBS. yaitu: 1. Berdasarkan observasi awal. Diduga besarnya jumlah siswa pada sekolah tersebut mengindikasikan bahwa . Karena orientasi kurikulum sekarang mengacu pada peningkatan kualitas manajemen yang berbasis sekolah. dan disentralisasi.

maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: . baik di segi dana maupun program belum sesuai dengan yang dikehendaki. Faktor-faktor apa yang menghambat dan mendukung penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4 Khusus? C. Bagaimana Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum? 2. Belum diketahui ketersediaan dan kesiapan input-input pendidikan yang mendukung keterlaksanaan program manajemen peningkatan berbasis sekolah diduga belum memadai. 5. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan. Belum terdeteksi efektifitas partisipasi komite sekolah dan dewan pendidikan dalam penggalian dana sekolah. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan. 10.7 minat. Diduga belum memadai upaya untuk memecahkan berbagai faktor-faktor penghambat dalam pengimplementasian manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Khusus. partisipasi. 6. 8. Diduga iklim kerjasama antara sesama komunitas sekolah. dapat dikemukakan rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut: 1. 9. Diduga belum maskimal akuntabitas sekolah kepada stakeholders. Belum diketahui keterbukaan manajemen sekolah. komunitas sekolah dengan masyarakat belum terlaksana dengan baik. 7. B. dan apresiasi masyarakat terhadap sekolah ini sangatlah besar.

d.1. Untuk mengetahui Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum. Untuk mengetahui Faktor-faktor yang menghambat dan mendukung penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4 Khusus. Sumber pengetahuan aktual bagi pengelola sekolah (kepala sekolah. yayasan pendidikan) dalam penerapan manajemen berbasis sekolah. Manfaat Penelitian 1. 2. Sebagai bahan informasi kepada mereka yang berprofesi guru dalam menggali informasi penting tentang manajemen berbasis sekolah. 2. b. Manfaat praktis adalah sebagai berikut: a. Sebagai bahan informasi bagi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan umumnya dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Sulawesi Selatan khususnya Kabupaten Umum dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. c. Memacu partisipasi aktif masyarakat dalam memajukan mutu pendidikan . D. Manfaat teoritis sebagai bahan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya ilmu Administrasi Negara.

Dipertegas pula “Bahwa bidang pendidikan merupakan bidang yang termasuk dalam garapan kewenangan daerah otonom atau penyerahan (pendelegasian) pemerintah pusat yang dikenal dengan desentralisasi pendidikan”. mutu dan sumber dana pendidikan”. atau dari . Kewenangan diberikan kepada daerah kabupaten dan kota berdasarkan azas desentralisasi dalam wujud otonomi luas. luas daerah dan berbagai syarat lain yang memungkinkan daerah menyelenggarakan otonomi daerah (Pasal 5 ayat 1 dan Pasal 7 ayat 1 UU No. ditegaskan pula bahwa daerah dibentuk berdasarkan kehendak masyarakat setempat dengan mempersyaratkan kemampuan ekonomi. sistem pendidikan nasional dan manajemen pendidikan. jumlah penduduk. potensi daerah. Desentralisasi Pendidikan Berlakunya Undang-Undang No. nyata dan bertanggung jawab. Bidang-bidang yang terkait langsung dengan sistem tersebut adalah kebijaksanaan. Berkaitan dengan aspirasi masyarakat. Pendelegasian bisa berarti penyerahan wewenang dari pusat ke daerah. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah 10 pada hakekatnya memberi kewenangan dan keleluasaan kepada pemerintah daerah untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 32 Tahun 2004). pengawasan.9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Selanjutnya Burhanuddin (1998 : 117) “Sistem Sentralisasi atau desentralisasi dalam penyelenggaraan atau manajemen pemerintahan memiliki implikasi langsung terhadap penyelenggaraan pendidikan.

menetapkan. Karena itu tidak seluruh kewenangan dapat didesentralisasikan. Kondisi tersebut secara langsung mengakibatkan menurunnya mutu pendidikan dan terganggunya proses pemerataan. Penekanan tersebut berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah Misalnya krisis ekonomi yang tidak dapat dihindari dampaknya terhadap pendidikan. melaksanakan sampai dengan melakukan evaluasi terhadap suatu kebijakan yang jangkauannya bersifat nasional. Pemberdayaan sekolah dengan memberikan otonomi lebih besar. Kalster (2000 : 11). Hasil studinya menunjukkan bahwa terdapat potensi yang memungkinkan keberhasilan pelaksanaan desentralisasi pendidikan di Indonesia. atau dari unit ke unit dibawahnya. berkurangnya lapisan birokrasi dalam . seperti kewenangan merumuskan. di samping menunjukkan sikap tanggap. Di samping itu. pemerintah akan terbantu dalam control maupun pembiayaan sehingga dapat lebih berkonsentrasi pada masyarakat kurang mampu yang semakin bertambah jumlahnya.pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Salah satu wujud desentralisasi yang dimaksud adalah terlaksananya proses otonomi dalam penyelenggaraan pendidikan. Kewenangan itu perlu diklarifikasikan. mutu dan pemerataan pendidikan. terutamanya berkurangnya penyediaan dana yang cukup untuk pendidikan dan menurunnya kemampuan sebagai orang tua untuk membiayai pendidikan anaknya. pemerintah terhadap tuntutan masyarakat juga dapat ditunjukkan sebagai sarana peningkatan efesiensi. Dengan melibatkan masyarakat dalam pengelolaan sekolah. termasuk pula dari pemerintah ke masyarakat. pemerataan dan mutu pendidikan serta memenuhi azas keadilan dan demokrasi. relevansi. diyakini dapat meningkatkan efisiensi. menyebutkan bahwa desentralisasi pendidikan dalam bentuk School Base community. Kewenangan begitu luasnya.

Ketiga. ada beberapa faktor yang mendorong penerapan desentralisasi. dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan. tuntutan orang tua. misi utama desentralisasi pendidikan adalah meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaran pendidikan.2010:47-48) Dengan demikian. Kelima. Dengan landasan tersebut. seperti . dan guru dalam pengambilan keputusan sekolah yang pada akhirnya mendorong mereka untuk menggunakan sumber daya yang ada seefesien mungkin untuk mencapai hasil yang optimal. pebisnis. kelompok masyarakat. tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan. penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat. (Umiarso dan Imam Gojali. Selain hal tersebut diatas. pemerintah mencoba untuk menerapkan desentralisasi pendidikan sebagai solusi. keterlibatan kepala sekolah. para legislator.11 prinsip desentralisasi juga mendukung efesiensi tersebut. Kedua. ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. serta terciptanya infrastruktur kedaerahan yang menunjang terselenggaranya sistem pendidikan yang relevan dengan tuntutan zaman. Pertama. anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. Pemberian otonomi ini menuntut pendekatan manajemen yang lebih kondusif di sekolah agar dapat mengakomodasi seluruh keinginan sekaligus memberdayakan berbagai komponen masyarakat secara efektif guna mendukung kemajuan dan sistem yang ada di sekolah. Keempat. meningkatkan pendayagunaan potensi daerah. Pemberian otonomi yang luas kepada sekolah merupakan kepedulian pemerintah terhadap gejala-gejala yang muncul di masyarakat serta upaya peningkatan mutu pendidikan secara umum.

struktur dan perencanaan di tingkat sekolah. manajemen guru. dan orang tua dalam hubungan kemitraan dan menumbuhkan dukungan positif bagi pendidikan. humanisasi dan demokrasi dalam pendidikan. Selain itu. pengembangan kurikulum juga harus mampu mengembangkan kebudayaan daerah dalam rangka memajukan kebudayaan nasional. Penerapan demokratisasi pendidikan dilakukan dengan mengikut sertakan unsur-unsur pemerintah setempat.terserapnya konsep globalisasi. Hal yang menarik adalah desentralisasi pendidikan akan berimplikasi pada tataran dunia baru pendidikan yang lebih humanis. masyarakat. yaitu manajemen berbasis sekolah. desentralisasi pendidikan mencakup tiga hal. Dengan asas tersebut. pendelegasian wewenang. sehingga mereka dapat merencanakan proses belajar megajar dan pengembangan sekolah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masingt-masing sekolah. Desentralisasi pendidikan yang efektif tidak hanya melibatkan proses pemberian kewenagan dan pendanaan yang lebih besar dari pusat ke daerah. Ada ruang-ruang dalam pendidikan untuk membangun peserta didik agar lebih mengerti dan berbakti untuk kepentingan dan kesejahteraan bersama dengan landasan kearifan lingkungan. Pertanyaan terpenting tentang arah desentralisasi pendidikan adalah sampai seberapa jauh sekolah-sekolah akan diberi kewenangan yang lebih besar menentukan kebijakan-kebijakan tentang organisasi dan proses belajar mengajar. tetapi juga meliputi pemberian kewenangan dan pendanaan yang lebih besar ke sekolah-sekolah. Oleh karena itu dalam desentralisasi pendidikan ada sasaran utama progaram restrukturisasi sistem dan . Artinya. tercipta pula kearifan ekologi yang merupakan buah dari inovasi kurikulum berbasis lingkungan atau masyarakat. Kurikulum dikembangkan sesuai kebutuhan lingkungan. Pada tataran ini. dan inovasi pendidikan. serta sumber-sumber pendanaan sekolah.

(d) Struktur kurikulum pendidikan hendaknya mengacu pada penerapan sistem pembelajaran tuntas. (f) Sistem penilaian hasil belajar secara berkelanjutan perlu diterapkan di setiap lembaga pendidikan sebagi konsekuensi dari pelaksanaan pembelajaran tuntas. Restrukturisasi tersebut hendaknya mencakup halhal berikut: (a) Struktur organisasi pendidikan hendaknya terbuka dan dinamis. (h) Pendidikan berbasis masyarakat. kursus-kursus keterampilan dan pemagangan di tempat kerja dalam rangka pendidikan sistem . (c) Tenaga pendidikan terutama tenaga pengajar harus melalui proses seleksi sejak memasuki LPTK disertai sistem tunjangan ikatan dinas dan wajib mengajar. berkreasi. berkomunikasi. peserta didik aktif sesuai dengan tingkat kesulitan konsep-konsep dasar yang dipelajari. berolahraga. seperti pondok pesantren.13 manajemen pendidikan di indonesia. (e) Proses pembelajaran tuntas diterapkan dengan berbagai modus pendekatan pembelajaran. (g) Kegiatan supervisi dan akreditasi. Supervisi serta pembinaan administrasi dan akademis dilakukan oleh unsur manajemen tingkat pusat dan provinsi bertujuan untuk pengendalian mutu. (b) Sarana pendidikan dan fasilitas pembelajaran dibakukan berdasarkan prinsif edukatif sehingga lembaga pendidikan merupakan tempat yang menyenangkan untuk belajar. serta menjalankan syariat agama. tidak terikat pada penyelesaian target kurikulum secara seragam persemester dan tujuan ajaran. sedangkan akreditasi dilakukan untuk menjamin mutu pelayanan kelembagaan. serta mencerminkan desentralisasi dan pemberdayaan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. berprestasi.

(i) Formula pembiayaan pendidikan atau unit cost dan subsidi pendidikan harus didasarkan pada bobot penyelenggaraan pendidikan yang memperhatikan jumlah peserta didik. dan (3) Dengan menggunakan paradigma belajar atau learning paradigma yang akan menjadikan pelajar-pelajar atau learner menjadi manusia yang diberdayakan. kesulitan komunikasi. (4) Pemerintah juga mencanangkan pendidikan berpendekatan Broad Base Education System (BBE) yang memberi pembekalan kepada pelajar untuk siap bekerja membangun keluarga sejahtera. tingkat kesejahteraan masyarakat.ganda harus menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional. Dengan pendekatan itu setiap siswa diharapkan akan mendapatkan pembekalan . tingkat partisipasi pendidikan. sekolah sebagai community learning centre. (2) Pendidikan yang berbasis pada partisipasi komunitas (community based education) agar terjadi interaksi yang positif antara sekolah dengan masyarakat. maka pergeseran sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kewenangan lebih banyak kepada daerah kabupaten dan kota pada dasarnya memiliki tujuan agar pendidikan dapat berjalan lebih efektif dan efisien. Berdasarkan hal tersebut di atas. Pemangkasan mekanisme sistem birokrasi yang berbelit-belit yang terpusat secara sentralistik telah banyak membuang biaya dan waktu sampai tiba pada tahap sasaran pendidikan yang sesungguhnya seperti perbaikan kualitas dan personil pendidikan sekolah dan peserta didik di daerah. Maka Di era otonomi daerah kebijakan strategis yang diambil Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah adalah : (1) Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (School Based Management) yang memberi kewenangan pada sekolah untuk merencanakan sendiri upaya peningkatan mutu secara keseluruhan. serta kontribusi masyarakat terhadap pendidikan pada setiap sekolah.

Masyarakat dituntut perannya bukan hanya membantu pembiayaan operasional pendidikan di sekolah tersebut. mensyaratkan sekolah membentuk Komite Sekolah yang keanggotaannya bukan hanya orangtua siswa yang belajar di sekolah tersebut. dan bahkan pengusaha.sejak program MBS ini digulirkan. siswa. tokoh masyarakat dan pemerintahan di sekitar sekolah. baik sebagai dukungan terhadap penyediaan sarana dan prasarana pendidikan maupun untuk peningkatan kualitas pendidikan. Pada awal tahun 2001 digulirkan program MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). komite menghimpun dana masyarakat. Dalam menerapkan konsep MBS. termasuk pula untuk peningkatan kualitas . khususnya sekolah. melainkan membantu pula mengawasi dan mengontrol kualitas pendidikan. Lingkungan sekitarnya dapat memperoleh masukan baru dari insan yang mencintainya. Salah satu di antaranya. namun mengikutsertakan pula guru. Realisasi dari ini. peran komite sekolah mulai tampak. Program ini diyakini akan memberdayakan masyarakat pemerhati pendidikan (stakeholders) dalam memberikan perhatian dan kepeduliannya terhadap dunia pendidikan. diharapkan dapat menetapkan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS). Tentu saja. termasuk dari orangtua siswa untuk membantu operasional sekolah untuk menggapai kualitas pendidikan. dan lingkungannya dapat memberikan topangan hidup yang mengantarkan manusia yang mencintainya menikmati kesejahteraan dunia akhirat. Sebetulnya. Tujuan program MBS di antaranya menuntut sekolah agar dapat meningkatkan kualitas penyelenggaraan dan layanan pendidikan (quality insurance) yang disusun secara bersama-sama dengan Komite sekolah. terutama dalam menghimpun sumber-sumber pendanaan pendidikan.15 life skills yang berisi pemahaman yang luas dan mendalam tentang lingkungan dan kemampuannya agar akrab dan saling memberi manfaat.

Maka. dan mengukur hasil pembelajaran. yaitu pemerintah. menganggap seperti halnya BP3. yaitu Bantuan Operasional Sekolah (BOS).kesejahteraan guru di sekolah itu. sambil berharap datang sang penyelamat. Namun. penyelenggaraan pendidikan di kelas memang seluruhnya harus menjadi kewenangan guru. guru bertugas merencanakan. melaksanakan. Pengelolaan pendidikan pada satuan pendidikan tertentu (sekolah) menjadi kewenangan kepala sekolah. Demikian pula pada tingkat SD di kabupaten/kota. lapuk. Dalam hal pengelolaan mikro pendidikan pun masih terdapat beberapa masalah. ditinjau dari hakikat pengajaran dan sejalan dengan desentralisasi pendidikan. Namun. ujian akhir masih menjadi kewenangan dinas pendidikan kabupaten/kota. maka penetapan akuntabilitas pendidikan melalui peran stakeholders pendidikan semakin menurun. Program ini sesungguhnya sangat baik. wacana yang dikembangkan adalah “Sekolah Gratis” sehingga mengubur kepedulian masyarakat terhadap pendidikan yang sudah mulai terbangun dalam MBS. bahkan ambruk dibiarkan oleh komite sekolah. pada SMTP dan SMTA sebagian kewenangan meluluskan hasil belajar siswa masih menjadi “proyek pemerintah pusat” dengan alasan sebagai pengendalian mutu lulusan. Berdasarkan kewenangan profesionalnya. peran komite di tingkatan pendidikan dasar (SD/MI dan SMP/MTs) yang sudah mulai bagus ini terhapus kembali oleh program berikutnya. evaluasi merupakan bagian . pada beberapa sekolah yang pemahaman anggota komite sekolah atau para pendidik masih kurang. Dari hal di atas. tidak heran jika banyak sekolah yang rusak. sehingga dapat membantu kepedulian masyarakat dalam membantu pembiayaan pendidikan. Namun. Demikian pula. sebagai salah satu bentuk tanggungjawab pemerintah pada pendidikan. Padahal. dengan dalih “ikut-ikutan” pemerintah pusat mengendalikan mutu pendidikan di daerah.

namun berbagai improvisasi di daerah telah menunjukkan warna yang lebih baik. otonomi pendidikan mengarah pada menipisnya kewenangan pemerintah pusat dan membengkaknya kewenangan daerah otonom.17 dari tugas pengajaran seorang guru. Kenyataan itu menunjukkan bahwa impelementasi MBS pada tataran mikro yang masih setengah hati diserahkan. atas bidang pemerintahan berlabel . b) Pada sisi otonomi daerah. Kebijakan otonomi pendidikan dalam konteks otonomi daerah sebagai berikut. Sampai saat ini hasil dari kebijakan tersebut belum tampak. diantaranya: a) Secara general otonomi pendidikan menuju pada upaya meningkatkan mutu pendidikan sebagai jawaban atas “kekeliruan” kita selama lebih dari 20 tahun bergelut dengan persoalan-persoalan kuantitas. berkaitan dengan kebijakan pendidikan dalam rangka peningkatan mutu berbasis sekolah dan peningkatan mutu pendidikan berbasis masyarakat diimplementasikan sebagai berikut : (1) Telah berlakunya UAS dan UAN sebagai pengganti EBTA /EBTANAS (2) Telah dibentuknya Komite Sekolah sebagai pengganti BP3. (3) Telah diterapkan muatan lokal dan pelajaran ketrampilan di sekolah SLTP (4) Dihapuskannya sistem Rayonisasi dalam penerimaan murid baru (5) Pemberian insentif kepada guru-guru negeri (6) Bantuan dana operasional sekolah. beberapa langkah program yang telah dijalankan di beberapa daerah. Misalnya. serta bantuan peralatan praktik sekolah (7)Bantuan peningkatan SDM sebagai contoh pemberian beasiswa pada guru untuk mengikuti program Pascasarjana. Sehubungan dengan evaluasi kebijakan pendidikan Era Otonomi masih belum terformat secara jelas maka di lapangan masih timbul bermacammacam metode dan cara dalam melaksanakan program peningkatan mutu pendidikan. sehingga kewenangan itu jangan “direbut” oleh birokrasi pendidikan.

g)Pada level pendidikan tinggi. yakni pengalihan ke unit pemerintahan daerah . penataan kelembagaan pada level dan tempat yang menjadi faktor kunci keberhasilan otonomi pendidikan. i) Secara makro. yakni: a) Dekonsentrasi. ada empat bentuk desentralisasi pendidikan. d) Kejelasan tempat bagi institusi-institusi pendidikan perlu diformulasikan agar otonomi pendidikan dapat berjalan pada relny. yaitu pengalihan kewenangan ke badan quasi pemerintah atau badan yang dikelola secara publik c) Devolusi. f) Sudah selayaknya jika otonomi pendidikan harus bergandengan dengan kebijakan akuntabiliti terutama yang berkaitan dengan mekanisme pendanaan atau pembiayaan pendidikan. otonomi pendidikan berjalan atas dasar desentralisasi dan prinsip School Based Management pada tingkat pedidikan dasar dan menengah. kebijakan otonomi masih tetap berada dalam kerangka otonomi keilmuan. kebijakan otonomi pendidikan tinggi dapat ditempatkan bukan pada kepentingan daerah semata-semata melainkan pada kenyataan bahwa pendidikan tinggi adalah aset nasional. 2000:6) Menurut Fransisca Kemmerer dalam Ali Muhdi 2007:149. otonomi pendidikan tinggi haruslah menonjolkan keunggulankeunggulannya. apapun yang terkandung di dalamnya. yakni pengalihan kewenangan ke pengaturan tingkat yang lebih rendah dalam jajaran birokrasi pusat. h) Dalam konteks otonomi daerah. e) Pada tingkat persekolahan. b) Pendelegasian.pendidikan yang harus disertai dengan tumbuhnya pemberdayaan dan partisipasi masyarakat. (Yoyon. c) Terdapat potensi tarik menarik antara otonomi pendidikan dalam konteks otonomi daerah dalam menempatkan kepentingan ekonomik dan finansial sebagai kekuatan tarik menarik antara pemerintahan daerah otonom dan institusi pendidikan.

kebijakan berkenaan dengan gagasan pengaturan organisasi dan merupakan pola formal yang sama-sama diterima pemerintah/lembaga sehingga dengan hal itu mereka berusaha mengejar tujuannya (Monahan dalam Syafaruddin. Dalam hal ini. Abidin (2006:17) menjelaskan kebijakan adalah keputusan pemerintah yang bersifat umum dan berlaku untuk seluruh anggota masyarakat. berupa pendelegasian kewenangan ke badan usaha swasta atau perorangan. tidak terlepas dari kenyataan adanya kelemahan konseptual dan penyelenggaraan pendidikan nasional.19 d) Swastanisasi. Kebijakan Publik Dalam Dimensi Akuntabilitas. yang mengatur prilaku dengan tujuan untuk . cenderung mengabaikan ranah afektif dan psikomotorik.Menguatnya aspirasi otonomi dan desentralisasi khususnya di bidang pendidikan. Proses pembelajaran sangat berorientasi pada ranah kognitif dengan pendekatan formalisme dan pada saat yang sama. khususnya selama orde baru. Kebijakan (policy) secar etimologi (asal kata) diturunkan dari bahasa Yunani.Kebijakan adalah aturan tertulis yang merupakan keputusan formal organisasi. yang bersifat mengikat. Sebagaimana diungkapkan Azyumardi Azra bahwa di antara masalah dan kelemahan yang sering diangkat dalam konteks ini adalah:1) Kebijakan pendidikan nasional yang sangat sentralistik dan serba seragam. swastanisasi. yaitu “Polis” yang artinya kota (city). 2008:75). pada gilirannya mengabaikan proses pembelajaran yang efektif dan mampu menjangkau seluruh ranah dan potensi anak didik. Dalam kasus Indonesia. yang pada gilirannya mengabaikan keragaman sesuai dengan realita masyarakat Indonesia di berbagai daerah. B.2) Kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional lebih berorientasi kepada pencapaian target kurikulum. sejauh yang telah dilakukan nampaknya cenderung mengambil bentuk yang terakhir.

sedangkan kebijakan adalah aturan tertulis hasil keputusan formal organisasi. (4) Kepmen. (3) Keppres. Setiap kebijakan yang dicontohkan disini adalah bersifat mengikat dan wajib dilaksanakan oleh objek kebijakan.menciptakan tata nilai baru dalam masyarakat. Istilah kebijaksanaan adalah kearifan yang dimiliki oleh seseorang.Masih banyak kesalahan pemahaman maupun kesalahan konsepsi tentang kebijakan. Kebijakan harus memberi peluang diinterpretasikan sesuai kondisi spesifik yang ada. meskipun kebijakan juga mengatur “apa yang boleh. 1999). (5) Perda. dan apa yang tidak boleh”. Kebijakan juga diharapkan dapat bersifat umum tetapi tanpa menghilangkan ciri lokal yang spesifik. Berbeda dengan Hukum (Law) dan Peraturan (Regulation). dan (7) Keputusan Direktur. Kebijakan akan menjadi rujukan utama para anggota organisasi atau anggota masyarakat dalam berprilaku (Dunn. . Kebijakan pada umumnya bersifat problem solving dan proaktif. Contoh ini juga memberi pengetahuan pada kita bahwa ruang lingkup kebijakan dapat bersifat makro. dan mikro. Ali Imron dalam bukunya Analisis Kebijakan Pendidikan menjelaskan bahwa kebijakan pendidikan adalah salah satu kebijakan Negara. Pertimbangan tersebut merupakan perencanaan yang dijadikan sebagai pedoman untuk mengambil keputusan. Carter V Good (1959) memberikan pengertian kebijakan pendidikan (educational policy) sebagai suatu pertimbangan yang didasarkan atas system nilai dan beberapa penilaian atas factorfaktor yang bersifat situasional. (6) Keputusan Bupati. yang maknanya sangat berbeda dengan kebijakan. kebijakan lebih adaptif dan interpratatif. pertimbangan tersebut dijadikan sebagai dasar untuk mengopersikan pendidikan yang bersifat melembaga. agar tujuan yang bersifat melembaga bisa tercapai. meso. Beberapa orang menyebut policy dalam sebutan kebijaksanaan. Contoh kebijakan adalah : (1) Undang-Undang. (2) Peraturan Pemerintah.

Fasli Jalal dan Dedi Supariadi (2001) menyatakan: Bila di masa lalu masyarakat cenderung menerima apa pun yang diberikan oleh pendidikan. Bahkan resonansinya semakin keras sekeras tuntutan akan reformasi dalam segala bidang. Masyarakat yang notabene membayar pendidikan merasa berhak untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik bagi dirinya dan anak-anaknya.21 Kebijakan pendidikan sangat erat hubungannya dengan kebijakan yang ada dalam lingkup kebijakan publik. politik. Fasli Jalal dan Dedi Supriadi (2001) menyatakan: Upaya untuk mencapai akuntabilitas institusi memerlukan kurikulum yang relevan yang memperhitungkan kebutuhan masyarakat. Masih ingat dibenak kita ada pelajaran PSPB yang secara prinsipil tidak jauh berbeda dengan IPS sejarah dan lucunya materi itu pun di pelajari di PMP (sekarang PKN/PPKN). Ini membuktikan bahwa kecenderungan masyarakat pada masa kini berbeda dengan masa lalu. Caranya adalah mengembangkan model manajemen pendidikan yang akuntabel. maka sekarang mereka tidak dengan mudah menerima apa yang diberikan oleh pendidikan. misalnya kebijakan ekonomi. kemampuan . kebijakan pendidikan biasanya akan mengikuti alur kebijakan yang lebih luas. Bagi lembaga-lembaga pendidikan hal ini mulai disadari dan disikapi dengan melakukan redesain sistem yang mampu menjawab tuntutan masyarakat.ganti menteri berganti kebijakan. Konsekuensinya kebijakan pendidikan di Indonesia tidak bisa berdiri sendiri. luar negeri. Bukan hal yang aneh. keagamaan dan lain-lain. Ketika kebijakan politik dalam dan luar negeri. Isu akuntabilitas akhir-akhir ini semakin gencar dibicarakan seturut dengan adanya tuntutan masyarakat akan pendidikan yang bermutu. Bahkan pergantian menteri dapat pula mengganti kebijakan yang telah mapan pada jamannya. Ketika ada perubahan kebijakan publik maka kebijakan pendidikan bisa berubah.

Ada tiga hal yang memiliki kaitan. komitmen yang kuat untuk mencapai keunggulan. Empat hal penting yang dikemukakan di atas membutuhkan proses dan waktu yang tidak singkat. Menurut Fasli Jalal dan Dedi Supriadi (2001:88): Tiga aspek yang dapat memberi jaminan mutu suatu lembaga pendidikan.manajemen yang tinggi. Susan Mohrman menyatakan. Akuntabilitas pendidikan juga mensyaratkan adanya manajemen yang tinggi. Akuntabilitas tidak datang dengan sendiri setelah lembaga-lembaga pendidikan melaksanakan usaha-usahanya. orang dapat berubah. Di Indonesia telah lahir Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang bertumpu pada sekolah dan masyarakat. Sebab tidak saja dibutuhkan kemauan tetapi juga kemampuan untuk melaksanakannya. Dalam teori perubahan. akreditasi. sarana penunjang yang mamadai." Empat sumber daya ini jika dikelola secara baik akan meningkatkan efektivitas manajemen sekolah. "Untuk mendukung pencapaian MBS telah muncul manajemen berpartisipasi tinggi yang membutuhkan empat sumber daya penting: 1) informasi. 3) keterampilan. Model manajemen ini menuntut keterlibatan yang tinggi dari stakeholders sekolah. dan akuntabilitas. Akuntabilitas yang tinggi hanya dapat dicapai dengan pengelolaan sumber daya sekolah secara efektif dan efisien. yaitu kompetensi. Lulusan pendidikan yang dianggap telah memenuhi semua persyaratan dan memiliki kompetensi yang dituntut berhak mendapat sertifikat. 4) penghargaan dan sanksi. jika ia memiliki kemauan sekaligus kemampuan. 2) pengetahuan. Lembaga pendidikan beserta perangkat-perangkatnya yang dinilai mampu menjamin produk yang bermutu disebut sebagai lembaga terakreditasi . akreditasi dan akuntabilitas. dan perangkat aturan yang jelas dan dilaksanakan secara konsisten oleh institusi pendidikan yang bersangkutan. yaitu kompetensi. Dan efektifitas manajemen sekolah akan ditunjukkan dengan output yang berkualitas.

dalam hal ini akuntabel tidaknya suatu lembaga pendidikan bergantung kepada mutu outputnya. Untuk itu sekolah berkewajiban mempertanggungjawabkan kepada publik tentang apa yang dikerjakan sebagai konsekuensi dari mandat yang diberikan oleh publik. Lembaga pendidikan yang terakreditasi dan dinilai mampu untuk menghasilkan lulusan bermutu. tentu menjadi tantangan tanggung jawab sekolah. Jadi. mengambil keputusan.23 (accredited). maka sekolah harus bertanggung jawab terhadap apa yang dikerjakan. Itu berarti akuntabilitas publik menyangkut hak publik untuk memperoleh pertanggungjawaban penyelenggara sekolah. Institusi pendidikan yang akuntabel adalah institusi pendidikan yang mampu menjaga mutu keluarannya sehingga dapat diterima oleh masyarakat. mengelola. Agar penyelenggara sekolah tidak sewenang-wenang dalam menyelenggarakan sekolah. Fasli Jalal dan Dedi Supriadi (2001:88) menyatakan di Indonesia banyak . Menurut Slamet (2005:6): MBS harus dipahami sebagai model pemberian kewenangan yang lebih besar kepada sekolah. yang meliputi kewenangan mengatur dan mengurus sekolah. sementara yang kedua sebagai akuntabilitas keuangan. pendidikan Penulis mempertanggungjawabkan kepada mengelompokkan akuntabiltas yang pertama sebagai akuntabilitas kinerja. Bagaimana sekolah mampu mempertanggungjawabkan kewenangan yang diberikan kepada publik. akuntabilitas suatu lembaga juga bergantung kepada pengelolaan kemampuan keuangan suatu lembaga publik. memimpin. dan mengontrol sekolah. Di samping itu. selalu berusaha menjaga dan menjamin mutuya sehingga dihargai oleh masyarakat adalah lembaga pendidikan yang akuntable. Manajemen Berbasis Sekolah yang diterapkan di Indonesia juga mensyaratkan kemampuan akuntabilitas sekolah kepada publik.

kalau disimpulkan akuntabilitas adalah kemampuan sekolah mempertanggungjawabkan kepada publik segala sesuatu mengenai kinerja yang diperoleh sebagai hasil partisipasi dari stakeholders. dan keuangan menuntut .Jadi. "Akuntabilitas adalah kewajiban untuk memberikan pertanggung jawaban atau untuk menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan penyelenggara organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau kewajiban untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban. yaitu moral." (Gipps and Golstein. juga masih menempuh jalan panjang. 1983 dalam Rita Headington. Ini berarti akuntabilitas hanya dapat terjadi jika ada partisipasi dari stakeholders sekolah. Rita Headington berpendapat bahwa "Accountability has moral.instituasi pendidikan yang lemah dan tidak sedikit institusi pendidikan yang tidak akuntabel. Pada tahun 1976 Prime Minister Callaghan mengusulkan bahwa pendidikan sudah seharusnya lebih akuntabel kepada masyarakat dan kecenderungan umum bahwa isu-isu pendidikan seharusnya terbuka telah membuka ruang bagi untuk menanggapinya. Semakin kecil partisipasi stakeholders dalam penyelenggaraan manajemen sekolah. 2000). Ketika terjadi perubahan mendasar dalam sistem pendidikan." Ketiga dimensi yang terkandung dalam akuntabilitas. sekalipun itu bersifat non-profesional. legal and financial dimensions and operates at all levels of the education system. isu akuntabilitas sepertinya memperoleh nafas baru. hukum. Di Indonesia akuntabilitas dalam penyelenggaraan pendidikan. Sekolah-sekolah sebagai basis penerapan manajemen pendidikan dituntut harus mampu mewujudkan akuntabilitas bagi publik. Kalau begitu apa sebenarnya akuntabilitas itu? Menurut Slamet (2005:5). maka akan semakin rendah pula akuntabilitas sekolah. Sementara Zamroni (2008:12) mendefinsikan akuntabilias dikaitkan dengan partisipasi.

Tujuan akuntabilitas adalah agar terciptanya kepercayaan publik terhadap sekolah. Jadi. Slamet (2005:6) menyatakan: Tujuan utama akuntabilitas adalah untuk mendorong terciptanya akuntabilitas kinerja sekolah sebagai salah satu syarat untuk terciptanya sekolah yang baik dan terpercaya. Sebagaimana dikatakan Rita Headington (2000:83). Secara moral maupun secara formal (aturan) guru memiliki tanggung jawab bagi siswa maupun orang tua siswa untuk mewujudkan proses pembelajaran yang baik. Bahwa MBS tidak dipahami sebagai sebuah inovasi yang terpisah dari pembelajaran. tidak saja bagi publik tetapi pertama-tama harus dimulai bagi warga sekolah itu sendiri. kalau Rita Headington memberi tekanan akuntabiltas pada aspek pembelajaran yang dimotori oleh guru. Penyelenggara sekolah harus memahami bahwa mereka harus mempertanggung jawabkan hasil kerja kepada publik. maka sebenarnya ini adalah bagian hakiki dalam penerapan MBS yang tidak boleh diabaikan oleh sekolah. Selain itu. bahwa seringkali aspek pembelajaran dipahami terpisah dengan MBS. Apa yang dikatakan oleh David Marsh merupakan sebuah peringatan keras akan bahaya kekacauan dalam penerapan MBS. Kepercayaan publik yang tinggi akan sekolah dapat mendorong partisipasi yang lebih tinggi pula terdapat pengelolaan manajemen sekolah. juga di Negaranegara yang telah menerapkan MBS. terjadi kekacauan dalam memahami MBS. "Teacher have a moral and legal responsibility to provide appropriate educational experiences for pupils and to report to parents and other professionals.25 tanggung jawab dari sekolah untuk mewujudkannya. Di Indonesia. Sekolah akan dianggap sebagai agen bahkan sumber perubahan masyarakat." Headington menekankan akuntabilitas dari guru. tujuan akuntabilitas adalah menilai kinerja sekolah dan kepuasaan publik terhadap pelayanan pendidikan yang . Pendapat Headington memberi tekanan pada akuntabilitas kinerja pembelajaran.

maka penerapan akuntabilitas dalam pengelolaan merupakan hal yang tidak dapat ditunda-tunda. Akuntabilitas vertikal menyangkut hubungan antara pengelola sekolah dengan masyarakat.1. akuntabilitas bukanlah akhir dari sistem penyelenggaran manajemen sekolah. untuk mengikutsertakan publik dalam pengawasan pelayanan pendidikan dan untuk mempertanggungjawabkan komitmen pelayanan pendidikan kepada publik. yakni akuntabilitas vertikal dan akuntabilitas horisontal. Pelaksanaan prinsip akuntabilitas dalam rangka MBS tiada lain agar para pengelola sekolah atau pihak-pihak yang diberi kewenangan mengelola urusan pendidikan itu senantiasa terkontrol dan tidak memiliki peluang melakukan penyimpangan untuk melakukan korupsi. Bahkan.diselenggarakan oleh sekolah. Rumusan tujuan akuntabilitas di atas hendak menegaskan bahwa. b. maka pengelolan manajemen sekolah semakin dekat dengan masyarakat yang adalah pemberi mandat pendidikan. Akuntabilitas menyangkut dua dimensi. Dengan pelimpahan kewenangan tersebut. Penerapan prinsip akuntabilitas dalam penyelenggaraan manejemen sekolah mendapat relevansi ketika pemerintah menerapkan otonomi pendidikan yang ditandai dengan pemberian kewenangan kepada sekolah untuk melaksanakan manajemen sesuai dengan kekhasan dan kebolehan sekolah. tetapi merupakan faktor pendorong munculnya kepercayaan dan partisipasi yang lebih tinggi lagi. Sekolah dan orang tua siswa. Antara sekolah dan instansi di atasnya (Dinas . dan nepotisme. boleh dikatakan bahwa akuntabilitas baru sebagai titik awal menuju keberlangsungan manajemen sekolah yang berkinerja tinggi. Dengan prinsip ini mereka terus memacu produktifitas profesionalnya sehingga berperan besar dalam memenuhi berbagai aspek kepentingan masyarakat. kolusi. Pelaksanaan Akuntabilitas dalam MBS. Oleh karena manajemen sekolah semakin dekat dengan masyarakat.

Baik sumber-sumber penerimaan. Antar kepala sekolah dengan komite. maintaining pupils' involvement and helping them make progress in their learning. Komponen pertama yang harus melaksanakan akuntabilitas adalah guru. Mengapa. moral individu yang baik dan didukung oleh sistem yang baik akan menjamin pengelolaan keuangan yang bersih. first and foremost. Selain itu dalam hal keteladan. Jadi. Sedangkan akuntabilitas horisontal menyangkut hubungan antara sesama warga sekolah. dan antara kepala sekolah dengan guru. kejujuran. seperti disiplin. Sebagaimana dikatakan oleh Headington (2004:88) bahwa. Pengelola keuangan yang bertanggung jawab akan mendapat kepercayaan dari warga sekolah dan masyarakat. maupun peruntukkannya dapat dipertanggungjawabkan oleh pengelola. melaksanakan pengajaran. hubungan dengan siswa menjadi penting untuk diperhatikan. karena inti dari seluruh pelaksanaan manajemen sekolah adalah proses belajar mengajar. dan kualitas output. Akuntabilitas tidak saja menyangkut proses pembelajaran. dan mengevaluasi siswa. tetapi juga menyangkut pengelolaan keuangan. Dan pihak pertama di mana guru harus bertanggung jawab adalah siswa. Sebaliknya pengelola yang melakukan praktek korupsi tidak akan dipercaya. Akuntabilitas dalam pengajaran dilihat dari tanggung jawab guru dalam hal membuat persiapan.27 pendidikan). Guru harus dapat melaksanakan ini dalam tugasnya sebagai pengajar. They are responsible for providing work which is interesting and challenging. Pengelola sekolah harus mampu mempertanggungjawabkan seluruh komponen pengelolaan MBS kepada masyarakat. Akuntabilitas tidak saja menyangkut sistem tetapi juga menyangkut moral individu. besar kecilnya penerimaan. dan jauh dari praktek . accountable to their pupils. Akuntabilitas keuangan dapat diukur dari semakin kecilnya penyimpangan dalam pengelolaan keuangan sekolah. "Teacher are.

akan meningkatkan efisiens eksternal. tidak saja dari segi intelektual tetapi juga moral. dengan melekat sebuah konsep agen moral. Oleh karena itu dalam rangka penerapan MBS ini. Kebebasan yang muncul secara baru (neoliberalisme) ikut mempengaruhi ketahanan moral orang dalam melaksanakan akuntabilitas. ini disebabkan oleh karena titik tolak kedunya berbeda. Akuntabilitas eksternal didasarkan manajemen hirarkis. Kenyataan ini sangat ironis. b. Temuan Indonesian Corruption Watch (ICW) awal tahun 2008 bahwa. Informasi ini merupakan "tamparan" keras bagi dunia pendidikan.korupsi. mulai dari Departemen Pendidikan. akuntabilitas dipengaruhi oleh kecenderungan manusia yang mengutamakan kebebasan. kolusi dan nepotisme. menyatakan bahwa dalam perspektif global. Oleh karena . Dinas Pendidikan. Menurutnya Terdapat dua tipe akuntabilitas. pengelolaan keuangan sekolah harus jauh dari praktik korupsi. sedangkan akuntabilitas internal didasarkan pada tanggung jawab profesional. dkk (2004). ketika sekolah mampu mempertanggungjawabkan mutu outputnya terhadap publik. Dan sekolah yang memiliki tingkat efektivitas outputnya tinggi. Fakta menyangkut praktek korupsi dalam dunia pendidikan bukan hal baru. hingga di sekolah-sekolah.2. Faktor-Faktor Penghambat Akuntabilitas dalam MBS. Keduanya memiliki ciri yang berbeda. masing- masing akuntabilitas eksternal dan akuntabilitas internal. Codd (1999). korupsi dalam dunia pendidikan telah menjamah. karena berbanding terbalik dengan apa yang seharusnya diajarkan lembaga pendidikan kepada anak bangsa. seorang pakar kebijakan pendidikan dalam Marks Olssen. Akuntabilitas juga semakin memiliki arti. Sekolah yang mampu mempertanggungjawabkan kualitas outputnya terhadap publik. mencerminkan sekolah yang memiliki tingkat efektivitas output tinggi.

Dalam sebuah ilustrasi . di sisi lain faktor dalam sangat lemah. dan kecakapan. Nilai-nilai dan budaya tersebut potensial untuk mendukung penyelenggaraan manajemen sekolah yang akuntabel. Dalam akuntabilitas eksternal kurang mengutamakan peran moral. Sedangkan jenis akuntabilitas internal peran moral tinggi sehingga pertimbangannya matang dan memiliki kebebasan untuk bertindak. loyalitas. Kedua jenis akuntabilitas di atas memiliki pendasaran yang sangat berbeda. ketimbang etika kebiasan. maka hal-hal yang diperlihatkanpun berbeda. Akuntabilitas eksternal memperlihatkan proses formal dalam pelaporan dan perekaman untuk manajamen hirarkhis. sedangkan akuntabilitas internal menekankan pada komitmen. pada akuntabilitas eksternal terikat pada kontrak. Sebaliknya pada akuntabilitas internal faktor dari dalam diri lebih kuat ketimbang faktor luar. pada akuntabilitas eksternal terdapat kontrol yang hirarkis. Misalnya. Kalau akuntabilitas eksternal pengaruh faktor luar sangat besar. sedangkan pada akuntabilitas internal tanggung jawab professional didelegasikan. Dikatakan sebagai pranata sosial karena di tempat tersebut teradapat orang-orang dari berbagai latar belakang sosial yang membentuk suatu kesatuan dengan nilai-nilai dan budaya tertentu. Kekuatannya terletak pada motivasi dan komitmen individu untuk melaksanakan akuntabilitas organisasi. rasa memiliki. Akuntabilitas dan Faktor nilai-budaya Sekolah sebagai tempat penyelenggaran manajemen yang akuntabel merupakan suatu pranata sosial. dan etika struktur. akuntabilitas eksternal memiliki kepercayaan yang rendah. sedangkan pada akuntabilitas internal justru sebaliknya memiliki kepercayaan yang tinggi. Selanjutnya dari segi tanggung jawab. sedangkan dalam akuntabilitas internal akuntabel banyak konstituen. Dari segi pelaksanaan tugas.29 pendasaran kedua jenis akuntabilitas ini berbeda. tetapi juga sebaliknya bisa menjadi penghambat.

Ada nilai-nilai yang dapat mendukung nilai-nilai organisasi. . at the same time not discriminating. dibutuhkan peran pemimpin untuk dapat mengelolanya. Sedangkan faktor orang menyangkut motivasi. Akuntabel merupakan nilai yang hendak ditegakan organisasi. Stephen Robins (2001:14) menyatakan: Workforce diversity has important implication for management practice.Upaya-Upaya Peningkatan Akuntabilitas dalam MBS. melainkan merupakan produk dari masyarakat dengan budaya tertentu. Apa yang dikemukakan Robins berangkat dari asumsi akan perbedaan nilai dan budaya dari setiap anggota organisasi. Para manejer harus mengubah filosofi mereka dari memperlakukan setiap orang dengan cara yang sama menjadi mengenali perbedaan dan menyikapi mereka yang berbeda dengan cara-cara yang menjamin kesetiaan karyawan dan peningkatan produktifitas sementara. Artinya. oleh karena latar belakang tadi.3. pada saat yang sama. Sistem menyangkut aturan-aturan. faktor yang mempengaruhi akuntabilitas terletak pada dua hal. persepsi dan nilai-nilai yang dianutnya mempengaruhi kemampuannya akuntabilitas.perusahaan. yakni faktor sistem dan faktor orang. Bagaimanapun juga pengelolaan MBS mensyaratkan akuntabilitas yang tinggi. tradisi organisasi. b. Jadi. Kalau ditelisik lebih jauh faktor orang sendiri sebenarnya tidak berdiri sendiri. apakah anggota organisasi dapat mendukungnya? Menjadi tantangan. tetapi ada juga yang sebaliknya. keberagaman tenaga kerja mempunyai implikasi penting pada praktik manajemen. Manager will need to shift their philosophy from treating every one alike to recognizing differences and responding to those differences in ways that will ensure employe retention and greater productivity while. tidak melakukan diskriminasi. Dalam konteks ini.

31 oleh karena itu perlu ada upaya nyata sekolah untuk mewujudkannya. semuanya bertumpu pada kemampuan dan kemauan sekolah untuk mewujudkannya. Alih-alih sekolah mengetahui sumber dayanya. kelompok profesi. Kedua. memberikan tanggapan terhadap pertanyaan dan pengaduan publik. orang tua siswa. Dengan begitu stakeholders sejak awal tahu dan merasa memiliki akan sistem yang ada. sekolah menyusun rencana pengembangan sekolah dan menyampaikan kepada publik/stakeholders di awal setiap tahun anggaran. Kedelapan. sehingga dapat digerakan untuk mewujudkan dan meningkatkan akuntabilitas. sekolah harus menyusun aturan main tentang sistem akuntabilitas termasuk mekanisme pertanggungjawaban. Kelima. melakukan pengukuran pencapaian kinerja pelayanan pendidikan dan menyampaikan hasilnya kepada publik/stakeholders diakhir tahun. memperbaharui rencana kinerja yang baru sebagai kesepakatan komitmen baru. Ketujuh. Menurut Slamet (2005:6) ada delapan hal yang harus dikerjakan oleh sekolah untuk peningkatan akuntabilitas: Pertama. sekolah perlu menyusun pedoman tingkah laku dan sistem pemantauan kinerja penyelenggara sekolah dan sistem pengawasan dengan sanksi yang jelas dan tegas. Keempat. dan pemerintah dapat dilibatkan untuk melaksanakannya. Sekolah dapat melibatkan stakeholders untuk menyusun dan memperbaharui sistem yang dianggap tidak dapat menjamin terwujudnya akuntabilitas di sekolah. Ketiga. Kedelapan upaya di atas. sebagaimana dinyatakan oleh Slamet (2005:7): Beberapa indikator keberhasilan akuntabilitas adalah: . dapat dilihat pada beberapa hal. Komite sekolah. Untuk mengukur berhasil tidaknya akuntabilitas dalam manajemen berbasis sekolah. menyediakan informasi kegiatan sekolah kepada publik yang akan memperoleh pelayanan pendidikan. Keenam. menyusun indikator yang jelas tentang pengukuran kinerja sekolah dan disampaikan kepada stakeholders.

Ketiga indikator di atas dapat dipakai oleh sekolah untuk mengukur apakah akuntabilitas manajemen sekolah telah mencapai hasil sebagaiamana yang dikehendaki. Manajemen Pendidikan Manajemen pendidikan merupakan alternatif strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan. peserta didik. ketenagaan. Substansi manajemen pendidikan lebih memusatkan diri pada substansi yang berkaitan dengan proses pendidikan. C. yaitu manajemen pengajaran. Meningkatnya kesesuaian kegiatan-kegiatan sekolah dengan nilai dan norma yang berkembang di masyarakat.1. Manajemen pendidikan dapat juga diartikan sebagai segala sesuatu berkenan dengan pengelolaan proses pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. tetapi sekolah akan mengalami peningkatan dalam banyak hal sehingga kepercayaan masyarakat akan kinerja sekolah menjadi lebih tinggi dan dengan sendirinya partsipasi bertambah. Hasil penelitian Balitbangdikbud (1991:47) menunjukkan bahwa manajemen sekolah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan. Meningkatnya kepercayaan dan kepuasan publik terhadap sekolah. hubungan sekolah dan masyarakat dan layanan-layanan khusus. Selanjutnya Gaffar (1989 : 59). sarana dan prasarana. menengah maupun tujuan jangka panjang. mengemukakan bahwa : “Manajemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses kerjasama yang sistemik dan komprehensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Tidak saja publik merasa puas. 2002 : 131) mengemukakan empat . baik tujuan jangka pendek. Mugatroyd dan Morgan (dalam Mantja. 2. Tumbuhnya kesadaran publik tentang hak untuk menilai terhadap penyelenggaraanpendidikan di sekolah 3. keuangan.

Keempat. Konsep MBS (Manajemen Berbasis Sekolah) Istilah Manajemen berbasis Sekolah merupakan terjemahan dari . Pertama. bahwa untuk menjamin terdapatnya dukungan perbaikan performansi kualitas terhadap sekolah dipersyaratkan kepemimpinan yang bervisi.School Based Management. orang yang paling melakukan perbaikan adalah mereka yang dekat dengan pelanggan dalam proses tersebut. yang merupakan gagasan kunci adalah semua hubungan antara pelanggan dan pemasok ditengahi oleh proses. Ketiga. menawarkan partisipasi langsung kelompok-kelompok yang terkait. adalah bahwa lembaga pendidikan merupakan mata rantai yang menghubungkan pelanggan (customer client) dan pemasok (supplier). Kedua.. yang mendukung dan meningkatkan kinerja terhadap mereka yang dekat (familiar) dengan klien. Istilah ini pertama kali muncul di Amerika Serikat ketika masyarakat mulai mempertanyakan relevansi pendidikan dengan tuntutan dan perkembangan masyarakat setempat. Mulyasa (2004:24) : . Manajemen Berbasis Sekolah 1. D.33 gagasan dasar yang sangat sentral bagi keefektifan manajemen persekolahan. Otonomi dalam manajemen merupakan potensi bagi sekolah untuk meningkatkan kinerja para staff. dan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pendidikan. Pengertian Manajemen berbasis Sekolah menurut beberapa ahli: Menurut E. Menurut Nanang Fatah (2006:32) MBS merupakan pendekatan politik yang bertujuan untuk mendesain ulang pengelolaan sekolah dengan memberikan kekuasaan kepada kepala sekolah dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam upaya perbaikan .MBS merupakan salah satu wujud dari reformasi pendidikan yang menawarkan kepada sekolah untuk menyediakan pendidikan yang lebih baik dan memadai bagi para peserta didik.

Menurut Mulyasa (2004 : 118). pertama sekolah menjamin adanya kultur sekolah yang kondusif dan demokratis menanggapi respon masyarakat secara terbuka sebagai wujud pertanggungjawaban public. dan prasarana pendidikan. tenaga kependidikan. yaitu “Kurikulum dan program pengajaran.kinerja sekolah yang mencakup guru. pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat serta manajemen layanan khususnya lembaga pendidikan”. siswa. orang tua siswa dan masyarakat. Jadi. Olehnya itu. Hal yang penting dalam implementasi/pelaksanaan manajemen berbasis sekolah adalah manajemen terhadap komponen-komponen sekolah itu sendiri. Manajemen berbasis sekolah sebagaimana dikemukakan oleh para ahli adalah sebuah model pengelolaan sekolah yang mengarah pada kemandirian lembaga pendidikan sekolah dan terintegratif dengan tuntutan perkembangan masyarakat. Manajemen berbasis Sekolah mengubah sistem pengambilan keputusan dengan memindahkan otoritas dalam pengambilan keputusan dan manajemen ke setiap yang berkepentingan di tingkat lokal Local Stakeholder. siswa. jika model ini dikembangkan dua syarat pokok yang harus dipenuhi oleh setiap pendidikan sekolah. 11MBS menyediakan kepala sekolah. kesiswaan. MBS juga mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan langsung semua warga sekolah yang dilayani dengan tetap selaras pada kebijakan nasional pendidikan. keuangan. MBS merupakan sebuah strategi untuk memajukan pendidikan dengan mentransfer keputusan penting memberikan otoritas dari negara dan pemerintah daerah kepada individu pelaksana di sekolah. guru. sarana. komite sekolah. sedikitnya terdapat tujuh komponen sekolah yang harus dikelola dengan baik dalam rangka pelaksanaan MBS. Disamping itu. Menurut Bedjo sudjanto (2005:37) MBS merupakan model manajemen pendidikan yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah. .

. Input Pendidikan Dalam input pendidikan ini meliputi. dan sasaran mutu yang jelas.(e) fokus pada pelanggan. (d) Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif. Karakteristik MBS MBS memiliki karakter yang perlu dipahami oleh sekolah yang akan menerapkannya. (a) PBM yang memiliki tingkat efektifitas yang tinggi. (b) sumber daya yang tersedia dan siap.35 dan orang tua kontrol yang sangat besar dalam proses pendidikan dengan memberi mereka tanggung jawab untuk memutuskan anggaran. serta kurikulum. MBS memiliki karakteristik sebagai berikut: a. (c) Lingkungan sekolah yang aman dan tertib. (d) memiliki harapan prestasi yang tinggi. dinamis dan profesional Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dapat dilihat pula melalui pendidikan sistem. Adanya team work yang tinggi. Hal ini didasari oleh pengertian bahwa sekolah merupakan sebuah sistem sehingga penguraian karakteristik MBS berdasarkan berdasarkan pada input. tujuan. Adanya partisipasi masyarakat dan orang tua siswa yang tinggi c. (a) memiliki kebijakan. Adanya otonomi yang luas kepada sekolah b. Kepemimpinan sekolah yang demokratis dan profesional d. dan dinamis. (c) staf yang kompeten dan berdedikasi tinggi. proses dan output 1. (e) Sekolah memiliki budaya mutu. (f) Sekolah memiliki team work yang kompak. 2. Proses Dalam proses terdapat karakter yaitu. karakteristik tersebut merupakan ciri khas yang dimiliki sehingga membedakan dari sesuatu yang lain. 2. (b) Kepemimpinan sekolah yang kuat. cerdas. personil.

Menurut Depdiknas fungsi yang dapat didesentralisasikan ke sekolah adalah sebagai berikut: 1. lomba karya ilmiah remaja. karakteristik siswa. Deduktif dan Ilmiah. toleransi. 3. Pengelolaan Proses Belajar Mengajar. metode. Induktif. Sekolah di beri kebebasan untuk memilih strategi. Sekolah juga diberi kewenangan untuk melakukan evaluasi khususnya evaluasi internal atau evaluasi diri. pengelolaan sumber daya manusia. Sekolah juga di beri kebebasan untuk mengembangkan kurikulum muatan lokal.dan pengelolaan sumber daya administrasi. proses belajar mengajar. dan teknik pembelajaran dan pengajaran yang efektif sesuai dengan karakteristik mata pelajaran. Sekolah dapat mengembangkan. prestasi olahraga. kedisiplinan. Nalar. Pengelolaan Kurikulum. . kerjasama yang baik. Kreatif. kejujuran. namun tidak boleh mengurangi isi kurikulum yang berlaku secara nasional yang dikembangkan oleh pemerintah pusat. 2. harga diri. berupa keingintahuan yang tinggi. kesenian dari para peserta didik dan sebagainya. cara-cara berfikir ( Kritis.d) Output yang diharapkan Output Sekolah adalah Prestasi sekolah yang dihasilkan melalui proses pembelajarn dan manajemen di sekolah. Rasionalog. Karakteristik MBS bisa diketahui juga antara lain dari bagaimana sekolah dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah. Perencanaan dan evaluasi program sekolah Sekolah di beri kewenangan untuk melakukan perencanaan sesuai dengan kebutuhannya. Pada umumnya output dapat di klasifikasikan menjadi dua yaitu output berupa prestasi akademik yang berupa NEM. karakteristik guru dan kondisi nyata sumber daya yang tersedia di sekolah. Dan output non akademik.

pengembangan. . Sekolah juga harus di beri kebebasan untuk untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang mendatangkan penghasilan. 6. penghargaan dan sanksi. terutama dukungan moral dan finansial yang dari dulu telah didesentralisasikan. Tujuan Manajemen berbasis Sekolah Tujuan utama Manajemen Berbasis Sekolah adalah meningkatkan efisiensi. 3.37 4. kepemilikan. terutama pengalokasian atau penggunaan uang sudah sepantasnya dilakukan oleh sekolah. Pengelolaan ketenagaan mulai dari analisis kebutuhan perencanaan. Hubungan sekolah dan masyarakat Esensi hubungan sekolah dan masyarakat adalah untuk meningkatkan. pembimbingan. pengembangan. 7. Yang diperlukan adalah peningkatan intensitas dan ekstensitasnya. sehingga sumber keuangan tidak semata-mata bergantung pada pemerintah. Pengelolaan keuangan Pengelolaan keuangan. dan dukungan dari masyarakat. Pelayanan siswa Pelayanan siswa mulai dari penerimaan siswa baru. Pengelolaan ketenagaan. partisipasi masyarakat. mutu. rekrutmen. Peningkatan efisiensi diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumber daya yang ada.dan pemerataan pendidikan. kepedulian. pembinaan. dan penyederhanaan birokrasi. Yang diperlukan adalah peningkatan intensitas dan ekstensitasnya. 5. penempatan untuk melanjutkan sekolah atau untuk memasuki dunia kerja hingga pengurusan alumni dari dulu telah didesentralisasikan. hubungan kerja hingga evaluasi kinerja tenaga kerja sekolah dapat dilakukan oleh sekolah kecuali guru pegawai negeri yang sampai saat ini masih ditangani oleh birokrasi di atasnya.

maka MBS memberi keleluasaan kepada setiap sekolah untuk menangani setiap anak dengan latar belakang social ekonomi dan . Bagi yang memisahkan keduanya. Dengan asumsi bahwa setiap anak berpotensi untuk belajar. dan budaya untuk kepentingan masyarakat.Peningkatan mutu diperoleh melalui partisipasi orang tua. efektifitas dan efisiensi. dengan tolok ukur penilaian pada hasil output dan outcome bukan pada metodologi atau prosesnya. 20 Tahun 2003. serta akuntabilitas. kelenturan pengelolaan sekolah. tentang Pendidikan Berbasis Masyarakat pasal 55 ayat 1:Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat pada pendidikan formal dan non formal sesuai dengan kekhasan agama. adanya hadiah dan hukuman sebagai kontrol. sedangkan relevansi lebih merujuk pada manfaat dari apa yang diperoleh siswa melalui pendidikan dalam berbagai lingkup/tuntutan kehidupan (dampak). seperti nilai ujian atau prestasi lainnya. maupun yang tersurat dan tersirat dalam kebijakan pemerintah dan UU sisdiknas NO. 1) MBS bertujuan mencapai mutu quality dan relevansi pendidikan yang setinggi- tingginya. artinya hasil pendidikan yang bermutu sekaligus yang relevan dengan berbagai kebutuhan dan konteksnya. Mutu dan relevansi ada yang memandangnya sebagai satu kesatuan substansi. 2) MBS bertujuan menjamin keadilan bagi setiap anak untuk memperoleh layanan pendidikan yang bermutu disekolah yang bersangkutan. termasuk juga ranah pendidikan yang tidak diujikan. peningkatan profesionalisme guru. maka mutu lebih merujuk pada dicapainya tujuan spesifik oleh siswa (lulusan). lingkungan sosial. Berkaitan dengan pasal tersebut setidaknya ada empat aspek yaitu: kualitas (mutu) dan relevansi. serta hal lain yang dapat menumbuh k Sementara itu baik berdasarkan kajian pelaksanaan dinegara-negara lain. keadilan.

quality and equity. Keadilan ini begitu penting. sehingga para ahli sekolah efektif menyingkat tujuan sekolah efektif hanya mutu dan keadilan atau . Sebaliknya untuk mencapai hasil yang baik. efisiensi berhubungan dengan nilai uang yang dikeluarkan atau harga (cost) untuk memenuhi semua input (proses dan semua input yang digunakan dalam proses) dibandingkan atau dihubungkan dengan hasilnya (hasil belajar siswa). Sungguhpun antara sekolah harus saling memacu prestasi. Dengan menerapkan MBS diharapkan setiap sekolah. Efektif-tidaknya suatu sekolah diketahui lebih pasti setelah ada hasil. dan input lain yang tepat pula (sesuai lingkungan dan konteks social budaya). MBS bertujuan meningkatkan akuntabilitas sekolah dan komitmen semua stake holders. sesuai kondisi masing-masing. Efektifitas berhubungan dengan proses. diupayakan menerapkan indikator-indikator atau cirri-ciri sekolah efektif. efektif untuk meningkatkan mutu pendidikan. dapat menerapkan metode yang tepat (yang dikuasai). tetapi setiap sekolah harus melayani setiap anak (bukan hanya yang pandai). Selama ini pertanggung . dan secara keseluruhan sekolah harus mencapai standar kompetensi minimal bagi setiap anak yang diluluskan. Atau dengan kata lain. prosedur. sehingga menghasilkan hasil belajar siswa seperti yang diharapkan (sesuai tujuan). sehingga semua input tepat guna dan tepat sasaran. dan ketepat-gunaan semua input yang dipaki dalam proses pendidikan disekolah. Sementara itu. 3) MBS bertujuan meningkatkan efektifitas MBS bertujuan meningkatkan efektifitas dan efisiensi.39 psikologis yang beragam untuk memperoleh kesempatan dan layanan yang memungkinkan semua anak dan masing-masing anak berkembang secara optimal. 4. Akuntabilitas adalah pertanggung jawaban atas semua yang dikerjakan sesuai wewenang dan tanggung jawab yang diperolehnya. atau dinilai hasilnya.

sekolah harus memiliki otonomi terhadap empat hal. Keempat. Pertanggung jawaban yang bersifat teknis edukatif terbatas pada pelaksanaan program sesuai petunjuk dan pedoman dari pusat (pusat dalam arti nasional. Bagaimanapun kepala sekolah adalah pimpinan yang memiliki kekuatan untuk itu. yaitu dimilikinya otonomi dalam kekuasaan dan kewenangan. 4. motivator. Sekolah harus lebih banyak mengajaklingkungan dalam mengelola sekolah karena bagaimanapun sekolah adalah bagian dari masyarakat luas. fasilitator. pengembangan pengetahuan dan keterampilan secara berkesinambungan. pengangkatan kepala sekolah harus didasarkan atas kemampuan manajerial dan kepemimpinan dan bukan lagi didasarkan atas jenjang kepangkatan. Kedua. Dalam pengambilan keputusan kepala sekolah harus .jawaban sekolah lebih pada masalah administratif keuangan dan bersifat vertical sesuai jalur birokrasi. adanya peran serta masyarakat secara aktif. adanya proses pengambilan keputusan yang demokratis dalam kehidupan dewan sekolah yang aktif. prosespengambian keputusan terhadap kurikulum. maupun pusatpusat irokrasi di bawahnya).tanpa pertanggung jawaban hasil pelaksanaan program. Kepala sekolah dalam MBS berperan sebagai designer. dalam hal pembiayaan. Langkah-langkah MBS Secara umum dapat disimpulkan bahwa implementasi MBS akan behasil melalui strategi. Oleh karena itu.strategi berikut ini: Pertama. kepala sekolah harus menjadi sumber inspirasi atas pembangunan dan pengembangan sekolah secara umum. Ketiga. akses informasi ke segala bagian dan pemberian penghargaan kepada setiap pihak yang berhasil.

Kelima. Kesembilan. Kepala sekolah jangan selalu menengok ke atas sehingga hanya menyenangkan pimpinannya namun mengorbankan masyarakat pendidikan yang utama. identifikasi . semua pihak harus memahami peran dan tanggung jawabnya secara bersungguh sungguh. Ketujuh. yang diperlukan adalah rambu-rambu yang membimbing. implementasi diawali dengan sosialsasi dari konsep MBS. Konsumen yang harus dilayani kepala sekolah adalah murid dan orang tuanya. Untuk bisa memahami peran dan tanggung jawabnya masing-masing harus ada sosialisasi terhadap konsep MBS itu sendiri. Akuntabilitas sebagai bentuk pertanggung jawaban sekolah terhadap semua stakeholder. Perlu dikemukakan lagi bahwa MBS tidak bisa langsung meningkatkan kinerja belajar siswa namun berpotensi untuk itu. tidak perlu lagi petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis dalam pelaksanaan MBS. sekolah harus memiliki transparansi dan akuntabilitas yang minimal diwujudkan dalam laporan pertanggung jawabannya setiap tahunnya. masyarakat dan para guru. Siapa kebagian peran apa dan melakukan apa. Keenam. Oleh karena itu. Artinya. Penerapan MBS harus diarahkan untuk pencapaian kinerja sekolah dan lebih khusus lagi adalah meningkatkan pencapaian belajar siswa. dan terbuka terhadap segala bidang yang dijalankan dan kepada setiap pihak terkait. demokratis. sampai batas-batas nyata perlu dijelaskan secara nyata. usaha MBS harus lebih terfokus pada pencapaian prestasi belajar siswa. adanya guidlines dari departemen pendidikan terkait sehingga mampu mendorong proses pendidikan di sekolah secara efisien dan efektif. Untuk itu sekolah harus dijalankan secara transparan.41 mengembangkan iklim demokratis dan memperhatikan aspirasi dari bawah. Kedelapan. Guidelines itu jangan sampai berupa peraturan-peraturan yang mengekang dan membelenggu sekolah.

c) Merumuskan titik tolak point of departure bagi sekolah/madrasah yang ingin atau akan mengembangkan diri terutama dalam hal mutu. Masing-masing langkah dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Evaluasi diri self assessment Evaluasi diri sebagai langkah awal bagi sekolah yang ingin. misi. kemajuan yang telah dicapai. 4) Pelaksanaan. implementasi pada proses pembelajaran.peran masing-masing pembangunan kelembagaan capacity building mengadakan pelatihan pelatihan terhadap peran barunya. guru. maupun masalah-masalah yang dihadapi ataupun kelemahan yang dialami. dan tujuan. dan 6) Pelaporan. evaluasi atas pelaksanaan dilapangan dan dilakukan perbaikan-perbaikan. 2) Perumusan visi. Bagi sekolah yang sudah beroperasi ( sudah ada / jalan) paling tidak ada 6 (enam) langkah.Kegiatan ini dimulai dengan curah pendapat brainstorming yang diikuti oleh kepala sekolah. Prakarsa dan pimpinan rapat adalah kepala sekolah. untuk membangkitkan kesadaran / keprihatinan akan penting dan perlunya pendidikan yang bermutu. memancing minat acara rapat dapat dimulai dengan pertanyaan seperti: Perlukah kita meningkatkan mutu? seperti apakah kondisi sekolah / madrasah kita dalam hal mutu pada saat ini? Mengapa sekolah kita tidak/belum bermutu? Kegiatan ini bertujuan: a) Mengetahui kondisi sekolah saat ini dalam segala aspeknya (seluruh komponen sekolah). yaitu : 1) evaluasi diri self assessment. b) Refleksi/Mawas diri. atau akan melaksanakan manajemen mutu berbasis sekolah. sehingga timbul komitmen bersama untuk meningkatkan mutu sense of quality. dan diikuti juga anggota komite sekolah. Titik awal ini penting karena . dan seluruh staf. 3)Perencanaan. 5) Evaluasi.

misi merupakan tugas-tugas pokok yang harus dilakukan untuk mewujudkan visi. kemanusiaan. dan tujuan Bagi sekolah yang baru berdiri atau baru didirikan. ataupun kualitas pendidikan sebagaimana telah didefinisikan sebelumnya. kalau dirumuskan secara singkat dan menyeluruh disebut visi. sedangkan visi dan misi (relatif/pada umumnya) masih tetap. sejauh tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional seperti tercantum dalam UU No. Kondisi yang diharapkan/diinginkan dan diimpikan dalam jangka panjang itu. keadilan. 2) Perumusan Visi.43 sekolah yang sudah berjalan untuk memperbaiki mutu. Idealisme disini dapat berkaitan dengan kebangsaan. 23 tahun 2003 tentang Sisdiknas. atau tonggak tonggak penting antara titik berangkat (kondisi awal) dan titik tiba tujuan akhir yang rumusannya tertuang dalam dalam bentuk visi-misi. Tujuan-tujuan antara ini sebagai tujuan jangka menengah kalau tiba saatnya berakhir (tahun yang ditetapkan ) akan disusul dengan tujuan berikutnya. dipenggal-penggal menjadi tujuan tahunan yang biasa disebut . mereka tidak berangkat dari nol. Misi. Tujuan (jangka menengah). merupakan jabaran dan visi atau merupakan komponenkomponen pokok yang harus direalisasikan untuk mencapai visi yang telah ditetapkan. Dengan kata lain. melainkan dari kondisi yang dimiliki. Tujuan merupakan tahapan antara. perumusan visi dan misi serta tujuan merupakan langkah awal/pertama yang harus dilakukan yang menjelaskan kemana arah pendidikan yang ingin dituju oleh para pendiri/ penyelenggara pendidikan. keluhuran budi pekerti. Sedangkan misi. Keadaan yang diinginkan tersebut hendaklah ada kaitannya dengan idealisme dan mutu pendidikan. Dalam kasus sekolah/madrasah negeri kepala sekolah bersama guru mewakili pemerintah kab/kota sebagai pendiri dan bersama wakil masyarakat setempat ataupun orang tua siswa harus merumuskan kemana sekolah kemasa depan akan dibawa.

serta hasil seperti apa yang diharapkan. 4) Pelaksanaan Apabila kita bertitik tolak dari fungsi-fungsi manajemen yang umumnya kita kenal sebagai fungsi perencanaan. dalam formulasi yang jelas baik secara kualitatif maupun kuantitatif. 3) Perencanaan Perencanaan pada tingkat sekolah adalah kegiatan yang ditujukan untuk menjawab: apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannnya untuk mewujudkan tujuan (tujuan-tujuan) yang telah ditetapkan / disepakati pada sekolah yang bersangkutan.target/sasaran. prosedurnya serta metode pelaksanaannya untuk mencapai suatu tujuan organisasi atau satuan organisasi. seberapa besar lingkup cakupan kuantitatif dan kualitatif yang akan dikerjakan. pengorganisasian. kapan dan berapa perkiraan satuan-satuan biayanya. termasuk anggaran yang diperlukan untuk membiayai kegiatan yang direncanakan. pengarahan/penggerakkan atau pemimpinan dan kontrol/pengawasan serta evaluasi. Didalam pelaksanaan tentu masih ada kegiatan perencanaanperencanaan yang lebih mikro (kecil) baik yang terkait dengan penggalan waktu . bagaimana. dalam bentuk tertulis. maka langkah pertama sampai dengan ketiga dapat digabungkan fungsi perencanaan yang secara keseluruhan (untuk sekolah) sudah dibahas. Dengan kata lain perencanaan adalah kegiatan menetapkan lebih dulu tentang apa-apa yang harus dilakukan. Perencanaan oleh sekolah merupakan persiapan yang teliti tentang apa-apa yang akan dilakukan dan skenario melaksanakannya untuk mencapai tujuan yang dihar apkan. Tujuan-tujuan jangka pendek (1 tahun) inilah yang rincian persiapannya dalam bentuk perencanaan. Dikatakan teliti karena ia harus menjelaskan apa yang akan dilakukan.

Olehnya itu. maka tidak dapat diharapkan mutu output pendidikan akan meningkat. Khususnya mengenai pelaksanaan belajar mengajar. Sekolah memerlukan suatu organisasi kerja yang baik. dapat berjalan sebagaimana mestinya (efektif dan efisien). guru-guru memegang peranan yang sangat menentukan. sangat menekankan pada optimalisasi pelaksanaan proses belajar mengajar. Selanjutnya Sidi. Peran kepala sekolah sebagai administrator pendidik bertolak dari hakikat administrasi pendidikan. Tahap pelaksanaan. atau yang terkait erat dengan kegiatan khusus. mengemukakan bahwa kemandirian sekolah yang ditegaskan dalam manajemen berbasis sekolah. Kinerja kepala sekolah itu harus tampak dalam memainkan perannya secara professional. sehingga kepala sekolah dituntut mampu menumbuhkembangkan kreativitas kerja guru dan staf sekolah.45 (bulanan. kinerja kepala sekolah seharusnya mencerminkan lebih baik daripada guru dan staf lainnya. atau kegiatan lainnya.semesteran. yakni mendayagunakan berbagai sumber (manusia sarana . misalnya menghadapi lomba bidang studi. E. partisipasi masyarakat dan kinerja kepala sekolah. sebab sekalipun sarana dan prasarana pendidikan lengkap dan mempunyai sumber dana yang cukup memadai. dalam hal ini pada dasarnya menjawab bagaimana semua fungsi manajemen sebagai suatu proses untuk mencapai tujuan lembaga yang telah ditetapkan melalui kerjasama dengan orang lain dan dengan sumber daya yang ada. Kinerja Kepala Sekolah Kepala sekolah sebagai organisator memiliki peran yang sangat penting menentukan jalannya organisasi sekolah. Pelaksanaan juga dapat diartikan sebagai suatu proses kegiatan merealisasikan apa-apa yang telah direncanakan. tetapi kalau sumber daya manusianya yaitu para guru-gurunya tidak melaksanakan tugasnya dengan baik dalam proses belajar mengajar. bahkan mingguan).

dan konseptual. Sedangkan keterampilan konseptual adalah kemampuan yang diperlukan oleh administrator untuk melihat gambaran keseluruhan dan hubungan-hubungannya diantara dan di dalam bagian-bagian yang berlainan. (3) perlengkapan. Kompetensi yang diperlukan administrator menekankan perlunya kompetensi dasar yang harus dikuasai yaitu: teknis. Keterampilan teknis yang ditunjuk kerjakan oleh administrator sekolah Budgeting. manusiawi. Keterampilan manusiawi (insani) mengacu kepada keterampilan yang diperlukan dalam keberhasilan kerja dengan orang per orang atau dalam latar kelompok. (4) keuangan. pimpinan. kepala sekolah harus memiliki kompetensi yang mengacu pada perbuatan dan kinerja yang bersifat rasional dan memenuhi spesifikasi tertentu di dalam pelaksanaan tugas-tugas tertentu termasuk tugas kepala sekolah sebagai administrator. (4) mampu menciptakan hubungan baik guru dengan murid di sekolahnya. (3) mengadakan hubungan dengan masyarakat di sekitarnya untuk keefektifan pelaksanaan pengajaran di sekolah khususnya para orang tua murid.dan prasarana serta berbagai media pendidikan lainnya) secara optimal. manajer. staffing. (5) mengelolah sarana dan fasilitas sekolah. efektif dan efisien guna menunjang pencapaian pendidikan. dan (6) mampu melaksanakan program kerja pengajaran”. Sehubungan dengan itu tugastugas kepala sekolah sebagai administrator. (Burton dalam Mantja 2002) menyarankan bahwa: “Beberapa kompetensi dasar yang perlu dikuasai oleh Kepala Sekolah yakni (1) memahami kurikulum sekolah. dan berbagai tanggung jawab administrasi yang sejenisnya. 1995). Secara kongkret pelaksanaan tugas dan fungsi administrator dalam administrasi pendidikan mencakup substansi lingkup administrasi pendidikan (sekolah) (1) kurikulum atau pengajaran. schedule.. (2) membantu melaksanakan kegiatan belajar mengajar dalam kelas. relevan. (2) kesiswaan. sekolah supervisor secara . (5) kepegawaian dan (6) hubungan sekolah dan masyarakat (IKIP Malang. Sehubungan dengan hal tersebut di atas.

Wadah/kelembagaan. guru memegang peranan yang penting. Dengan demikian untuk pembinaan dan peningkatan profesional guru perlu dikembangkan kegiatan profesional kesejawatan yang baik. harmonis. F. untuk pengembangan kesejawatan adalah kelompok yang merupakan organ yang bersifat non-struktural dan lebih bersifat formal. Kinerja Guru Dalam Proses Belajar Mengajar Bangsa dan negara akan dapat memasuki era globalisasi dengan tegar apabila memiliki sistem pendidikan yang berkualitas. Oleh karenanya usaha peningkatan kualitas guru terletak pada diri guru sendiri.47 substansial merupakan tugas-tugas pokok kepala sekolah yang menurut kinerja kepala sekolah secara profesional. yakni bahwa kunci keberhasilan menciptakan dan mempersiapkan guruguru yang profesional yang memiliki kekuatan dan tanggung jawab baru untuk merencanakan pendidikan masa depan. asuh dan asih untuk meningkatkan kualitas diri masing-masing khususnya dan mencapai kualitas sekolah serta pendidikan pada . terutama ditentukan oleh proses belajar mengajar yang berlangsung dalam ruang kelas. Pada dasarnya peningkatan kualitas diri seseorang harus menjadi tanggung jawab diri pribadi. b. Dalam proses belajar mengajar. dan objektif. Untuk itu diperlukan adanya kesadaran pada diri guru untuk senantiasa dan secara terus menerus meningkatkan pengetahuan dan kemampuan yang diperlukan guna peningkatan kualitas kerja sebagai pengajar professional. guru adalah kreator proses belajar mengajar. Dalam usaha meningkatkan kualitas pendidikan disadari suatu kebenaran fundamental. Bentuk kegiatan kelompok yang dibentuk merupakan wadah kegiatan dimana antara anggota sejawat biasa saling asah. Secara sistematis pengembangan kejawatan memerlukan : a. Kualitas pendidikan.

antara lain : 1. bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga. asuh dan asih. kegiatan kelompok dilaksanakan secara rutin dan berkesinambungan. peran serta masyarakat dalam pelaksanaan manajemen berbasis sekolah yang diharapkan dari masyarakat. untuk membantu pendanaan operasional sekolah. tanggapan. observasi. kritik. Partisipasi Masyarakat Dalam Undang-Undang No. pada dasarnya kelompok yang diuraikan di atas merupakan wadah aktivitas profesional untuk meningkatkan kemampuan profesional guru. menjadi sponsor dalam suatu kegiatan sekolah. menanggulangi anak putus sekolah. 3. d. 2. saran dan bimbingan G. penilaian. yaitu memberikan masukan berupa pendapat pemikiran dalam rangka menjaring anak-anak usia sekolah. Salah satu kebijakan pemerintah menyangkut pembiayaan pendidikan dalam . Standar profesional guru. Selanjutnya. artinya aktivitas yang dilaksanakan bersifat komprehensif dan total mencakup presentasi. Pemikiran. dan sebagainya. menjadi orang tua asuh. c. Mekanisme. Sebagaimana konsep asah.umumnya. Maka setiap anggota kelompok memiliki hak. Tenaga yaitu sebagai sumber atau tenaga sukarela untuk membantu mensukseskan wajib belajar dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Dana. masyarakat dan pemerintah. Aktivitas yang dimaksud tidak bersifat searah melainkan bersifat multi arah. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. memberikan beasiswa. dan meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. serta memperbaiki sarana dan prasarana baik secara individu maupun secara kelompok. kewajiban dan kesempatan yang sama dalam setiap kegiatan tanpa memandang jenjang kepangkatan jabatan dan gelar akademik yang disandangnya.

Partisipasi masyarakat merupakan wujud pemberdayaan masyarakat sebagai daya dukung sekolah dalam rangka pengelolaan sekolah secara efektif dan efisien agar seoptimal mungkin sasaran dan tujuan pendidikan sekolah dapat tercapai. tenaga fasilitas praktik dan penelitian. sebaliknya masyarakat pun tidak dapat dipisahkan dari sekolah. Sekolah merupakan lembaga formal yang diserahi mandat untuk mendidik. tokoh masyarakat dan organisasi pemerhati pendidikan dengan upaya-upayanya yang dapat dilakukan mulai pada tahap perumusan kebijaksanaan implementasi kebijaksanaan secara operasional serta evaluasi dan pengawasan dan pelaksanaan dan pengelolaan pendidikan sekolah.49 rangka peningkatan mutu pada semua jenjang pendidikan (dasar. Sementara itu. dunia usaha didorong untuk memberi bantuan beasiswa. dan masyarakat dan dunia usaha. bagi masyarakat tidak mampu disediakan bantuan. kalangan dunia usaha. antara lain dengan mengembangkan mekanisme kerjasama saling menguntungkan bagi peserta didik. Sekolah merupakan lembaga yang tidak dapat dipisahkan masyarakat lingkungannya. karena keduanya memiliki kepentingan. melatih dan membimbing generasi muda bagi peranannya di masa depan sementara masyarakat merupakan pengguna jasa pendidikan itu. Masyarakat dunia usaha juga diharapkan untuk memberikan pemikiran dan sumbangan dalam perumusan kebijakan pendidikan. 4. lembaga pendidikan. baik langsung ataupun tidak langsung demi pemusatan dan keadilan pendidikan. Kelompok masyarakat mampu perlu didorong untuk memberi sumbangan yang lebih besar dalam membiayai pendidikan. menengah dan tinggi) yakni. Dikatakan demikian. Kerangka Pikir . Partisipasi masyarakat luas seperti. peningkatan peran serta masyarakat dunia usaha dalam penyelenggaraan pendidikan ditingkatkan.

guru dan masyarakat sebagai pihak yang terkait dengan proses belajar mengajar di sekolah. semangat belajar. perencanaan dan pandangan yang luas tentang sekolah dan pendidikan. kepala sekolah sebagai pucuk pimpinan perlu memiliki pengetahuan kepemimpinan. Dalam mengimplementasikan manajemen berbasis sekolah. sekolah sebagai institusi pendidikan perlu dikelola. Kepala sekolah dituntut untuk melakukan tugas dan fungsinya sebagai manajer .Sekolah dipandang sebagai suatu organisasi yang didesain untuk dapat berkontribusi terhadap upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia serta peningkatan derajat sosial masyarakat bangsa. ditata dan diberdayakan agar sekolah dapat menghasilkan produk atau hasil secara optimal. keteladanan dan hubungan manusiawi sebagai modal perwujudan iklim kerja yang kondusif. merupakan wadah tempat proses pendidikan dilakukan. merupakan sistem yang memiliki berbagai perangkat dan unsur yang saling berkaitan yang memerlukan pemberdayaan. memiliki sistem yang kompleks dan dinamis. Implikasi pelaksanaan manajemen berbasis sekolah adalah perlunya dukungan dan peran aktif kepala sekolah. Dengan kata lain. Sekolah sebagai institusi/lembaga pendidikan. Pelaksanaan manajemen berbasis sekolah secara efektif dan efisien. merupakan suatu upaya peningkatan pengelolaan dan pemberdayaan sekolah sebagai lembaga pendidikan. oleh karena itu sekolah dipandang sebagai suatu organisasi yang membutuhkan pengelolaan. sekolah sebagai lembaga tempat penyelenggaraan pendidikan. diatur. Wibawa kepala sekolah harus ditumbuhkembangkan dengan meningkatkan sikap kepedulian. Dalam kegiatannya. disiplin kerja. sekolah adalah tempat yang bukan hanya sekedar tempat berkumpul guru dan murid. melainkan berada dalam satu tatanan sistem yang rumit dan saling berkaitan.

penempatan alat dan Iain-Iain harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. Guru adalah teladan dan panutan langsung para peserta didik dikelas. maka tidak dapat diharapkan kualitas pendidikan para murid. akan meningkat. dengan melakukan supervisi kelas. memberikan masukan berupa pendapat dan pemikiran dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Partisipasi masyarakat secara material dalam pendanaan operasional sekolah seperti pemberian beasiswa. Dengan demikian pelaksanaan manajemen berbasis sekolah mensyaratkan dukungan dan partisipasi aktif paling tidak dari tiga pihak terkait dengan proses belajar mengajar di sekolah. Guru kelas sebagai pelaksana proses belajar mengajar di kelas harus dapat berkreasi dalam meningkatkan manajemen kelas. jadwal pelajaran. Suasana kelas yang menyenangkan dan penuh disiplin sangat diperlukan untuk mendorong semangat belajar peserta didik. oleh karena itu guru perlu siap dengan segala kewajiban baik manajemen maupun persiapan isi materi pengajaran. guru dan . tetapi kalau sumber daya manusia yaitu para guru tidak melaksanakan tugas dengan baik dalam proses belajar mengajar. pembagian tugas peserta didik. study banding antara sekolah untuk menyerap kiat-kiat kepemimpinan dari kepala sekolah yang lain. Disamping itu kepala sekolah juga harus melakukan tukar pikiran sumbang saran. menjadi sponsor dalam suatu kegiatan sekolah serta bantuan moril yang diharapkan seperti orang tua asuh bagi anak-anak usia sekolah yang kurang mampu.51 sekolah dalam meningkatkan proses belajar mengajar. membina dan memberikan saran-saran positif kepada guru. Guru juga harus mampu mengorganisasikan kelas dengan baik. kreativitas dan daya cipta guru untuk pelaksanaan MBS perlu terus menerus perlu didorong dan dikembangkan. Guru memegang peranan penting dalam proses belajar mengajar sebab sekalipun sarana dan prasarana pendidikan lengkap dan mempunyai sumber dana yang cukup memadai. yakni kepala sekolah.

Sketsa Kerangka Pikir . dapat diharapkan kualitas pendidikan peserta didik (murid) akan meningkat sehingga mampu mengikuti perkembangan dan tuntutan untuk tahap pendidikan selanjutnya. Jika ketiga unsur tersebut terlibat secara aktif dan kreatif dalam proses belajar mengajar di sekolah.masyarakat. jelas tentang arah penelitian ini secara skematis digambarkan kerangka pikir ini seperti dapat dilihat pada Gambar 1 Gambar 2. Untuk memperoleh gambaran yang.1.

53 BAB III METODE PENELITIAN A. yakni (1) kinerja kepala sekolah. Objek yang diteliti adalah kinerja kepala sekolah. guru dan masyarakat. Defenisi Operasional Variabel Dalam penelitian ini terdapat beberapa variabel yang akan diteliti dan dianalisis yang diduga berkaitan dengan pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah. sumber daya guru (lebih banyak menggunakan guru inti). (2) kinerja guru dalam proses belajar mengajar. Penelitian ini dilaksanakan pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum dengan pertimbangan bahwa Sekolah Menengah Pertama telah memiliki kewenangan dan tanggung jawab pada tahap awal pelaksanaan manajemen berbasis sekolahdalam berbagai bidang untuk mencapai tujuan pendidikan sehingga memungkinkan pelaksanaan manajemen berbasis sekolah dengan baik karena berbagi faktor-faktor pendukung yang dimiliki seperti. Jenis dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif 56 untuk menjelaskan analisis implementasi pelaksanaan manajemen berbasis Sekolah dalam proses belajar mengajar pada tingkat Sekolah Menengah Pertama. B. kinerja guru dan partisipasi masyarakat terhadap proses belajar mengajar. sarana dan prasarana serta infrastruktur sekolah yang cukup memadai. sedangkan subjeknya adalah kepala sekolah. (3) partisipasi masyarakat serta (4) faktor pendukung serta faktor penghambat pelaksanaan manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Khusus. Variabel tersebut didefinisikan sebagai berikut: .

4. Indikator variabel ini adalah pelaksanaan tugas dan fungsi sebagai kepala sekolah yang meliputi tugas dan fungsi kepala sekolah sebagai: (1) manajer. (2) penyajian materi (3) evaluasi hasil proses belajar mengajar. Indikator variabel ini adalah pelaksanaan tugas dan fungsi guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar meliputi : (1) kelengkapan program belajar mengajar. dan (4) program perbaikan dan pengayaan prosesbelajar mengajar. . Kinerja guru adalah kemampuan guru dalam melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar di kelas. setiap pertanyaan akan diberi skor menunjukkan kinerja kepala sekolah. 3. kemampuan melaksanakan tugas dan fungsi jabatan sekolah. setiap pertanyaan akan diberikan skor dan jumlah skor akan menunjukkan tinggi rendahnya partisipasi masyarakat. Variabel ini diukur dengan mengajukan serangkaian pertanyaan masyarakat. Kinerja kepala sekolah yaitu. Partisipasi masyarakat adalah keterlibatan masyarakat secara sukarela dalam kegiatan pengelolaan dan pengembangan sekolah. (3) supervisor (4) pemimpin. Indikator variabel ini adalah : (1) partisipasi masyarakat dalam program perencanaan sekolah. (5) innovator.1. setiap pertanyaan akar. yakni anggota komite sekolah sebagai perwakilan orang tua siswa di sekolah. Variabel ini diukur dengan mengajukan serangkaian pertanyaan kepada guru sekolah. 2. (2) pelaksanaan program sekolah menggunakan dan (3) evaluasi dan monitoring program sekolah. pencapaian sasaran dan tujuan pendidikan. (2) administrator. Manajemen berbasis sekolah adalah bentuk pengelolaan sekolah berdasarkan sumber daya yang dimiliki sekolah secara efektif dan efisien dalam rangka. diberi skor dan jumlah skor menunjukkan kinerja guru. (6) motivator. Variabel ini diukur dengan mengajukan serangkaian pertanyaan kepada guru sekolah.

2. kinerja guru dengan sub variabelnya dan kinerja partisipasi masyarakat dengan sub variabelnya. Faktor pendukung dan penghambat dalam pengimplementasian manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Khusus akan dijabarkan secara mendalam dalam penelitian ini. Populasi penelitian ini adalah seluruh komponen yang terdapat pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum yang terlibat langsung dengan aktivitas . sebagaimana dapat dilihat pada Lampiran I. Populasi dan Sampel. Variabel Penelitian Berdasarkan variabel yang diteliti dan dianalisis. Manajemen Berbasis Sekolah. Faktor pendukung dan faktor penghambat adalah segala sesuatu yang dapat mendukung dan menghambat implementasi pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah di SMP Negeri 4 Khusus dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah tersebut C. E. (3) instrumen partisipasi masyarakat. D. Ketiga instrumen tersebut dikembangkan berdasarkan indikator masing-masing variabel.55 5. Instrumen Penelitian Pengukuran variabel dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan instrumen berupa daftar pertanyaan yang meliputi: (1) instrumen kinerja kepala sekolah. pelaksanaan penelitian dapat dijabarkan sebagai berikut: 1. (2) instrumen kinerja guru. Pada variabel manajemen berbasis sekolah akan diteliti tentang bagaimana kinerja kepala sekolah dengan berbagai sub variabelnya.

pembelajaran berjumlah 66 guru. d. Kapala Tata Usaha f. Orang tua siswa dalam hal ini yang diwakili Komite sekolah. Kepala sekolah. yaitu untuk memperoleh keterangan tentang upaya-upaya yang dilakukan dalam mengimplementasikan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4 Khusus c. guru. Mengingat jumlah populasi yang relatif besar. 24 guru. Wakil kepala sekolah. yaitu untuk memperoleh keterangan sebagai pelaksana langsung dalam implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4 Khusus. yaitu untuk memperoleh keterangan sejauh mana perannya sebagai wakil dari orang tua siswa dan . Alasan Pemilihan sampel ini karena orang-orang tersebut dianggap mempunyai kesiapan dalam memberikan informasi yang diperlukan selama penelitian. 24 anggota komite yang mewakili orang tua wali atau seluruhnya 49 Dengan perincian sebagai berikut: a. Pemilihan sampel dilakukan secara bertujuan (purposive) dengan hanya memilih sebahagian orang sebagai sampel. baik yang berstatus sebagai pegawai tetap maupun yang berstatus sebagai honorer. b. Wakasek kurikulum dan pengajaran dan Wakasek Kesiswaan e. Selanjutnya responder dipilih secara purposive dan dijadikan sampel yang dianggap memahami permasalahan penelitian. maka dilakukan tehnik sampling. Responden diambil dari kepala sekolah. yaitu untuk memperoleh keterangan mengenai usaha-usahanya dalam mengimplementasikan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4 Khusus. anggota komite sekolah sebagai perwakilan orang tua/wali yang masing-masing terdapat pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum. Sumber data penelitian ini terdiri dari kepala sekolah. Guru-guru.

keadaan dan fasilitas pendidikan. observasi atau pengamatan merupakan hasil perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya sesuatu rangsangan tertentu yang diinginkan. tenaga pendidik dan kependidikan. pemusatan perhatian terhadap suatu objek dan menggunakan seluruh panca indera (Suharsimi Arikunto. dan lain sebagainya. atau suatu studi yang disengaja dan sistematis tentang keadaan/fenomena sosial dan gejala-gejala psikis dengan jalan mengamati dan mencatat Observasi atau pengamatan secara langsung. keadaan manajemen-manajemen mulai dari kurikulum.57 patner sekolah dalam pengimplementasian Manajemen Berbasis Sekolah di SMP Negeri 4 Khusus. 1996:57). kegiatan proses belajar mengajar di SMP Negeri 4 Khusus. Menurut Suharsimi Arikunto (1996:57) wawancara adalah kegiatan memperhatikan sesuatu dengan menggunakan mata atau pengamatan yang meliputi kegiatan. Metode Pengumpulan Data 1. . keuangan. Humas dan manajemen layanan khusus serta dalam melaksanakan Manajemen Berbasis Sekolah. sarana prasarana. kesiswaan. kondisi belajar siswa. Sedangkan menurut Mardalis. dalam arti yang luas observasi tidak hanya terbatas pada pengamatan yang dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung. Observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh tentang pelaksanaan manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Khusus. lingkungan sekolah. Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data-data secara langsung dan sistematis terhadap obyek yang diteliti untuk memperoleh data lengkap mengenai kondisi umum. Metode observasi Metode observasi dapat diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan sistematik fenomena-fenomena yang diselidiki. F.

Metode wawancara atau interview adalah suatu metode yang dilakukan dengan jalan mengadakan komunikasi dengan sumber data melalui dialog (tanya jawab) secara lisan baik langsung maupun tidak langsung untuk menyelidiki pengalaman. 3. Dokumentasi ini digunakan untuk melengkapi dan menambah data yang . motif. catatan harian. serta faktor-faktor apa yang mendukung dan menghambat dalam pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah di SMP Negeri 4 Khusus. serta motivasi. legger. (Suharsimi Arikunto. agenda dan sebagainya. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak. dan sebagainya. dokumen. Wawancara tampaknya merupakan alat pengumpul data (informasi) yang langsung tentang beberapa jenis data sosial. peraturan-peraturan. yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Wawancara digunakan untuk mengungkapkan data tentang: a). 1998: 149). Di dalam melaksanakan metode dokumentasi. baik yang terpadu maupun manifes. Moleong. Dalam pengertian yang lebih luas. surat kabar.2. notulen rapat. Dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan. buku. 2000: 136). majalah. dokumen bukan hanya yang berwujud tulisan saja. notulen rapat. Metode Dokumentasi Dokumentasi. Metode wawancara. Bagaimana implementasi manajemen berbasis sekolah bagi SMP Negeri 4 Khusus b). dari asal katanya dokumen. tetapi dapat berupa benda-benda peninggalan seperti prasasti dan simbol-simbol. majalah. perasaan. yang artinya barang-barang tertulis. transkip. (Sutrisno Hadi. Sedangkan menurut Lexy J. wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku.

Ketiga. penulis menggunakan tekhnik analisis deskriptif kualitatif yang terdiri dari tiga kegiatan. Dalam proses pengambilan data di lapangan untuk menjaga kevalidan data yag diperoleh. penarikan kesimpulan dari data yang telah disajikan pada tahap kedua yang didukung oleh tabel untuk mengetahui kecenderungan variabel yang diteliti lalu selanjutnya menarik kesimpulan. pengaturan dan pengolahan data agar dapat digunakan untuk membenarkan atau menyalahkan hipotesis (Sudjana. mengarahkan. Metode ini penulis gunakan untuk meneliti benda-benda tertulis seperti buku raport. Penyajian data dan penarikan kesimpulan/ verifikasi (Miller&Huberman. responden yang diteliti. penulis menggunakan instrumen pengumpulan data yang berupa pertanyaan kepada responden. penulis juga melakukan . G. treath (ancaman). jumlah siswa. Teknik Analisa Data Adalah proses penyusunan. 1992: 16). Sumber informasi yang dibuat dokumentasi adalah sumber informasi yang sangat penting dan dapat menggambarkan pelaksanaan manajemen berbasis sekolah seperti data keadaan siswa dan lain lain baik yang terdapat pada sekoloah sampel maupun dokumen dari Dinas Pendidikan Kabupaten Umum. Kedua. opportunity (peluang). data yang telah direduksi akan disajikan dalam bentuk narasi. Dalam menganalisa data. dan membuang yang tidak perlu dan pengorganisasian sehingga data terpilahpilah. data dari dokumen sekolah tentang sejarah berdirinya SMP Negeri 4 Khusus. daftar tenaga pendidik dan kependidikan dan lain sebagainya. weaknes (kelemahan). Sedangkan untuk menganalisa faktor pendukung dan penghambat maka digunakan metode analisis SWOT yaitu Strength (kekuatan). yaitu pengumpulan data dan sekaligus reduksi data. setelah pengumpulan data selesai kemudian dilakukan reduksi data yaitu menggolongkan. 1991: 76).59 diperoleh melalui wawancara dan observasi. Pertama.

pencatatan data-data yang ada di SMP Negeri 4 Khusus BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Selanjutnya untuk memperoleh informasi yang akurat maka responden dipilih sengaja dari lokasi sampel Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Watampone Kabupaten . termasuk diantaranya wakil kepala sekolah dan berbagai urusan yang diberikan amanat untuk menjalankan tugas-tugas vital di sekolah serta 24 orang komite sekolah (masyarakat) yang merupakan perwakilan dari orang tua siswa. Identitas Responden Responden sebanyak 49 orang yang terdiri dari 1 orang kepala sekolah dan 24 orang guru kelas.

2012 Frekuensi (f) 5 19 24 Persentase (%) 20.83 persen atau sebanyak 5 orang guru. akan diuraikan karakteristik responden sebagai berikut: a. b. hal ini menunjukkan bahwa terdapat potensi yang memadai dalam rangka pengembangan manajemen berbasis sekolah dapat terlaksana dengan baik.17 100 Tabel 4. Jika responden guru dianalisis berdasarkan golongan seperti pada tabel yang disajikan di atas. Selanjutnya untuk 64 memperoleh gambaran secara rinci.61 Umum sebagai syarat memenuhi karakteristik sampel yang diteliti. Pangkat/golongan responden Semakin tinggi tingkat kepangkatan/golongan merupakan faktor yang diasumsikan signifikan dengan kualitas dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai seorang guru Tabel 4.1 tersebut menunjukkan bahwa dari 24 responden guru yang dijadikan sampel dapat dibuat perincian sebagai berikut yaitu untuk golongan IIa-IId adalah 0 persen. hal ini diasumsikan keaktifan (enerjik) dalam pelaksanaan . Untuk golongan IIIa-IIId sebanyak 20. Karakteristik responden guru berdasarkan pangkat/golongan Pangkat/Golongan II/a – II/d III/a – III/d IV/a – IV/e Jumlah Sumber: Data Primer. dan untuk golongan IVa-IVe sebanyak 79.17 persen.83 79.17 persen .1. Tingkat umur responden Tingkat umur responden dalam penelitian ini dimulai dengan batas usia 30 tahun sampai 55 tahun ke atas. bahwa responden golongan 1V yang paling tinggi yaitu sebanyak 79.

.4 atau setara dengan sarjana. c.33 29. Berdasarkan tabel 4.33 persen.2.5 100 Sumber: Data Primer.2 terlihat bahwa dari sebanyak 24 responden guru dan sampel yang diteliti sebanyak 21 orang atau sekitar 87.17 50 12. Tingkat pendidikan Distribusi responden menurut tingkat pendidikan merupakan suatu faktor yang diasumsikan mempunyai pengaruh terhadap kualitas responden yang berprofesi sebagai guru. usia responden berusia 31-45 tahun sebanyak 7 orang atau sekitar 29. Tabel 4. Penyebaran responden guru menurut kelompok umur Kelompok Umur < 30 tahun 31-45 tahun 46.5 diasumsikan kurang enerjik. Usia 46-55 tahun sebanyak 12 orang atau sekitar 50 persen dan hanya 3 orang responden atau 12.5 persen berusia 55 tahun ke atas. 2012 Berdasarkan tabel 4.17 persen.55 tahun > 55 tahun Jumlah Frekuensi 2 7 12 3 24 (f) Persentase (%) 8.2 dapat dilihat bahwa responden berusia 30 tahun ke bawah sebanyak 2 orang atau 8.tugas-tugas guru.5 persen pada usia kurang dari 55 tahun masih sangat potensi dalam kedudukannya baik sebagai guru kelas maupun kedudukannya sebagai kepala sekolah dianggap cukup enerjik dan berpengalaman sedang sisanya yaitu sebanyak 3 orang karena berumur di atas 55 tahun atau sekitar 12. Salah satu indikasi yang dilakukan oleh pemerintah dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan baik output maupun inputnya adalah memberikan kesempatan kepada seluruh tenaga pendidik untuk melanjutkan pendidikannya pada level D.

sedang dan tinggi terlihat bahwa tidak terdapat guru yang berkualifikasi pendidikan rendah dan hanya terdapat 3 orang guru yang berpendidikan D.5 79. Diploma I 2.17 persen dan 2 orang atau 8.33 persen dengan tingkat pendidikan strata dua. Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa dari sebanyak 24 responden guru apabila dianalisis berdasarkan kategori pendidikan rendah. demikian halnya dengan pendidikan diploma dua sebanyak 0 persen. Diploma II 3. diploma tiga terdapat 3 orang atau 12.17 8.3. Sarjana Strata 2 Jumlah Sumber: Data Primer.17 persen dan yang berpendidikan stara 2 yakni sebanyak 2 orang atau sekitar 8. Dengan membandingkan masing-masing tingkat pendidikan dalam tabel tersebut dimana tingginya tingkat pendidikan tinggi (Strata satu) menyusul tingkat pendidikan . 2012 0 0 3 19 2 24 0 0 12. Sarjana Strata 1 5.33 persen.3 penyebaran responden berdasarkan tingkat pendidikan terlihat bahwa kategori pendidikan setingkat SPG sebanyak 0 persen atau tidak ada guru yang berpendidikan SPG sederajat. disusul guru yang berpendidikan strata satu S1 tampak sangat mayoritas sebanyak 19 orang atau sekitar 79.33 100 Frekuensi (f) 0 Persentase (%) 0 Memperhatikan tabel 4.III atau sekitar 12.5 persen sedang sarjana strata satu 19 orang atau sekitar 79.5 persen.63 Tabel 4. Penyebaran responden guru menurut tingkat Pendidikan Tingkat Pendidikan SPG Sederajat Diploma : 1. Diploma III 4.

diploma

dan strata 2 dapat dikatakan bahwa Keberadaan responden guru sangat

signifikan dengan kualitas akademik dengan prospek pengembangan sekolah dalam rangka pengimplementasian MBS. 1. Responden Masyarakat

Jumlah responden masyarakat/orang tua siswa sebanyak 24 orang. Responden anggota komite sekolah maupun orang tua/wali murid yang dipilih sebagai lokasi sampel penelitian. Selanjutnya karakteristik responden masyarakat akan diuraikan secara rinci sebagai berikut: a. Responden masyarakat berdasarkan tingkat pendidikan Responden masyarakat/orang tua siswa sebanyak 24 orang. Distribusi responden menurut tingkat pendidikan merupakan suatu faktor yang diasumsikan mempunyai pengaruh terhadap kualitas responden berpartisipasi terhadap pengembangan sekolah. Responden masyarakat menurut tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel 4.4 sebagai berikut: Tabel 4.4. Penyebaran responden masyarakat menurut tingkat pendidikan Tingkat Pendidikan Tidak Tamat SD SD SLTP SLTA Sarjana Frekuensi (f) 2 9 13 Persentase (%) 8.33 37.5 54.17

Jumlah 24 100 Sumber: Data Primer, 2012 Tabel 4.4 tentang penyebaran responden menurut tingkat pendidikan dapat dilihat bahwa tingkat pendidikan menyebar dari SLTP sebanyak 2 orang atau 8.33 persen, SLTA 9 orang atau sekitar 37.5 persen sampai pada tingkat sarjana sebanyak 13 orang atau sekitar 54.17 persen. Jika distribusi responden tersebut dianalisis dengan

65 membandingkan masing-masing tingkat pendidikan yang ada, dominan responden berpendidikan sarjana, hal ini menunjukkan bahwa peran serta masyarakat potensial terlibat dalam setiap kegiatan sekolah. b. Responden masyarakat berdasarkan pendapatan Distribusi responden menurut tingkat pendapatan diasumsikan signifikan dengan tingkat partisipasi masyarakat terhadap pembangunan/pengembangan sekolah. Responden masyarakat menurut tingkat pendapatan dapat dilihat pada tabel 4.5: Tabel 4.5. Penyebaran responden menurut tingkat pendapatan Tingkat Pendapatan < 1 Juta 1 – 5 Juta < 5 Juta Frekuensi (f) 5 12 7 Persentase (%) 20,83 50 29,17

Jumlah 24 100 Sumber: Data Primer, 2012 Pada tabel 4.5, menunjukkan bahwa sebagian besar responden berpendapatan 1-5 juta atau 50 persen. Dan bila dibandingkan dengan yang berpendapatan rendah (kurang 1 juta) lebih banyak berpendapatan tinggi (di atas 5 juta) yaitu sebesar 29,17 persen dan jumlah sampel yang diteliti (sebanyak 24 orang). Dari Persentase ini jika dianalisis, maka tingkat pendapatan masyarakat potensial terhadap pengembangan sekolah menjadi lebih baik. 2. Latar belakang pekerjaan responden masyarakat

Latar belakang pekerjaan dapat diasumsikan signifikan dengan tingkat partisipasi masyarakat terhadap pengembangan sekolah. Biasanya tingkat pekerjaan yang dimiliki oleh seseorang sangat mendukung dalam penetapan kebijakan pada sebuah institusi terlepas dari konsep politik maupun sosial. Adapun tabel penyebaran tingkat dan latar belakang pekerjaan dapat dijelaskan melalui tabel 4.6 di bawah ini:

Tabel 4.6. Penyebaran responden masyarakat menurut latar belakang pekerjaan Tingkat Pendidikan Pegawai Negeri Pensiunan Pegawai Negeri Wiraswasta Frekuensi (f) 14 2 8 Persentase (%) 41,67 20.83 37.5

Jumlah 24 100 Sumber: Data Primer, 2012 Dengan melihat tabel 4.6 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki latar belakang pekerjaan sebagai pegawai negeri yaitu sebanyak 9 orang atau sekitar 41,67, menyusul wiraswasta 8 orang atau sekitar 37,5 persen sedang pensiunan pegawai negeri yang terlibat dalam komite sekolah hanya 4 orang atau sekitar 20.83 persen. Memperhatikan tabel tentang penyebaran responded menurut latar belakang pekerjaan bahwa pegawai negeri sipil yang dominan memperlihatkan tingkat partisipasi paling tinggi, kemudian kalangan wiraswasta juga memperlihatkan tingkat partisipasi yang cukup tinggi, hal tersebut jika dianalisis bahwa selama ini perhatian dunia usaha/wiraswasta yang menjadi sorotan masyarakat telah mengalami perubahan yang mendasar sebagai akibat dan perubahan subsistem manajemen pendidikan yaitu manajemen berbasis sekolah. C. Kinerja Kepala Sekolah dalam Pelaksanaan MBS pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum Secara khusus variabel kinerja kepala sekolah dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan quosioner sebagai pedoman wawancara untuk menganlisis aktivitas kinerjanya sebagai kepala sekolah serta melakukan pengamatan secara seksama mengenai kondisi riil berkaitan dengan implementasi manajemen berbasis sekolah. Instrumen yang digunakan untuk mengukur kinerja kepala sekolah adalah instrumen

67 yang sama dikeluarkan oleh departemen pendidikan nasional. seperti team teaching. Kinerja sekolah merupakan keterpaduan semua warga sekolah yang tidak terlepas dan pelaksanaan tugas kepala sekolah (Dirjen Dikdasmen 2000) Untuk kinerja kepala sekolah dipakai 7 (tujuh) komponen penilaian yaitu (1) kepala sekolah sebagai edukator (2) kepala sekolah sebagai manajer. dan memberi teladan yang baik. atau pendidikan lanjutan. peserta didik. memberikan nasehat kepada warga sekolah. dan (7) kepala sekolah sebagai motivator. dengan upaya memotret keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah dan sekaligus menggambarkan kondisi obyektif profit sekolah secara utuh. memberikan dorongan kepada seluruh tenaga kependidikan. mengikuti perkembangan iptek. kepala sekolah bertugas untuk membimbing guru. Sebagai edukator. Kepala Sekolah sebagai Pendidik (Edukator). (4) kepala sekolah sebagai supervisor. (6) kepala sekolah sebagai innovator. (5) kepala sekolah sebagai leader. khususnya dalam peningkatan kinerja tenaga kependidikan dan prestasi belajar peserta didik adalah sebagai berikut: a) mengikutsertakan guru-guru dalam penataran. serta melaksanakan model pembelajaran yang menarik. Dirjen Dikdasmen tahun 2000. moving class dan mengadakan program akselerasi bagi peserta didik yang cerdas di atas normal. (3) kepala. kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan di sekolahnya. tenaga kependidikan. c) menggunakan waktu belajar secara efektif di sekolah. sekolah sebagai administrator. b) menggerakkan tim evaluasi hasil belajar peserta didik. Upaya yang dapat dilakukan kepala sekolah dalam meningkatkan kinerjanya sebagai edukator. Menciptakan iklim sekolah yang kondusif. Dalam melakukan fungsinya sebagai edukator. dengan cara .

Berdasarkan keterangan diatas. meskipun beliau tetap menggantinya di sore hari. Tugas diluar dan tamu yang datang terkadang menyebabkan kepala sekolah tidak masuk mengajar dikelas. kami membuat jadwal mengajar yang tetap memungkinkan kepala sekolah tetap mengajar dengan memberi jadwal jam 1-2 setiap hari Senin-Rabu. “Kami memahami bahwa kepala sekolah memiliki kesibukan yang teramat padat sehingga tugas mengajarnya terkadang terabaikan. Tugas utama saya adalah mengajar. sedangkan untuk pembimbingan guru diserahkan kepada tim yang saya bentuk untuk memantau kinerja guru” (14 Maret 2012). Oleh karena itu kami berusaha bekerja semaksimal mungkin agar tugas utama kepesek tidak terbengkalai maka jam mengajar kepala sekolah kami tempatkan pada jam 1dan 2 setiap hari senin sampai jumat. tetapi tetap mencari waktu di sore hari untuk mengajar. kepala sekolah sebagai seorang edukator telah bekerja sesuai standar yang berlaku. Karena itu. sejalan dengan yang diinformasikan oleh Wakasek “ Drs Suradi” dan bapak Muh Amin sebagai urusan Kurikulum. dan sebagainya Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala SMPN 4 Watampone” Drs Mahmud MM” kegiatan pembelajaran di sekolahnya berjalan dengan tertib. bahkan beliau sebagai kepala sekolah mendapat tugas mengajar di kelas dengan jumlah jam wajib sebanyak 6 jam. agar aktivitas pembelajaran siswa tidak terganggu (15 Maret 2012”). Khusus untuk membimbing siswa. membimbing siswa serta membimbing guru dalam peningkatan proses pembelajaran. serta memanfaatkannya secara efektif dan efisien untuk kepentingan pembelajaran. dan itu fungsi utama saya sebagai seorang edukator atau tenaga pendidik. Dan menurut analisis penulis bahwa prilaku kepala . Apa yang disampaikan oleh kepala SMPM 4 Watampone. Sekalipun demikian saya akan menggantinya atau mencarikan waktu untuk tetap mengajar pada kelas yang saya ajar. meskipun saya menyadari kegiatan diluar yang berkaitan dengan kepentingan sekolah terkadang membuat saya tidak mengajar.mendorong para guru untuk memulai dan mengakhiri pembelajaran sesuai waktu yang telah ditentukan. “Kepala Sekolah itu adalah tugas tambahan yang dipercayakan pemerintah kepada saya untuk memimpin lembaga ini. saya serahkan ke pembina kesiswaan.

dengan jumlah jam wajib 6 jam pelajaran/minggu yang dilaksanakannya setiap hari Senin-Rabu dengan masuk pada jam pertama sampai jam kedua. Hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa Kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Watampone: a) Masuk kelas mengajar.69 SMPN 4 Watampone yang mengajar dalam kelas dan berusaha menggantinya jika berhalangan masuk adalah sebuah prilaku yang patut ditiru oleh kepala sekolah yang lain yang terkadang hanya namanya yang tercantum dalam jadwal/roster mengajar tetapi orang lain yang menjalankannya. b) Kepala SMP Negeri 4 Khusus telah melaksanakan fungsinya sebagai Educator (pendidik) sebagaimana yang diharapkan dalam MBS yaitu kepala sekolah tetap menjalankan aktivitas mengajar dalam kelas. Kegiatan kepala sekolah masuk mengajar adalah selain sebagai tugas pokok juga memberi contoh kepada guru agar guru dapat melaksanakan tugasnya secara optimal dan siswa dapat termotivasi untuk belajar dengan baik. kepala sekolah Membimbing guru dalam meningkatkan kinerja mereka terutama bagaimana menyusun RPP dan mengajar dengan memanfaatkan tekhnologikhususnya dalam hal kegiatan proses belajar mengajar dan b) membimbing siswa dengan memberikan materi pembelajaran sekaligus memotivasi siswa untuk berprestasi. Adapun bentuk riil dan masing-masing tugas yang telah dilakukan Kepala Sekolah tersebut di atas adalah : a) Bersama dengan tim yang dibentuk dari urusan kurikulum dan pengajaran. .

administrasi sekolah. namun kepala sekolah sering memberikan tugas rangkap kepada seorang guru atau pegawai sehingga sumber daya yang seharusnya bisa dimaksimalkan perannya menjadi berkurang. sehingga kelemahan-kelemahan yang terjadi dapat cepat diatasi. Kepala Sekolah diharuskan mampu mensinkronkan antara berbagai program yang telah disusun dengan memanfaatkan sumber daya sekolah yang tersedia yang disesuaikan dengan arah dan kondisi sekolah. karena semua urusan yang diangkat untuk mendampingi beliau dalam membantu menjalankan tugasnya adalah orang-orang pilihan. “Kepala sekolah sangat jeli melihat guru atau pegawai yang profesional untuk ditempatkan pada bidang atau urusan yang sangat strategis dalam rangka pengembangan sekolah dan sangat membantu meringankan pekerjaan kepala sekolah”(23 Maret 2012). Meskipun demikian. bahwa masih terdapat beberapa kelemahan yang dilakukan oleh kepala sekolah sebagai seorang manajer yang seharusnya kelemahan tersebut bisa diminimalisir bahkan ditiadakan. uraian tugas berdasarkan kemampuan personil serta uraian tugas organisasi.Sebagai seorang manajer. ditambahkan oleh ibu Rosmawati. “Potensi guru disekolah kami termasuk pegawai dari segi jumlah sangatlah besar. Berdasarkan wawancara dengan ibu Rosmawati sebagai kepala tata usaha dan pak Herman sebagai wakasek kurikulum dan pengajaran. Adapun bentuk kegiatan riil dari masing-masing uraian tugas yang telah dilakukan kepala sekolah tersebut di atas adalah : . Hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Watampone sebagai seorang manajer telah melaksanakan fungsinya dengan baik dengan catatan masih perlu melakukan koordinasi antar pegawai khususnya pegawai tata usaha. seperti dalam kegiatan ketatausahaan. bahwa kepala sekolah tetap menempatkan orang-orang yang dianggap sangat profesional dalam hal-hal yang sangat urgensial untuk kemajuan sekolah. padahal masih banyak pekerjaan lain”(27 Maret 2012). banyak tenaga honorer yang terparkir yang tenaganya hanya kadang dipakai untuk mengurus atau mengerjakan hal yang sama.

mengelola administrasi sarana dan prasarana. penyusunan RAPBS serta dan mempunyai mekanisme monitor dan evaluasi pelaksanaan program secara sistematika. Kepala Sekolah sebagai Administrator Administrasi merupakan suatu proses yang menyeluruh dan terdiri dari bermacam kegiatan atau aktivitas di dalam pelaksanaannya. bentuk kegiatan riil dari masing-masing uraian tugas yang telah dilakukan . dan mengelola administrasi keuangan. kepala sekolah juga dituntut untuk mengelola kurikulum. Adapun.71 1. Pembuatan Program : Program utama yang menjadi fokus antara lain adalah (1) Program kerja kepala sekolah adanya : a) Program jangka panjang (8 tahun). mengelola administrasi kearsipan. jangka menengah (4 tahun) dan jangka pendek baik akademik maupun non akademik. Berdasarkan uraian tersebut menunjukkan bahwa Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Watampone telah melaksanakan fungsi sebagai administrator. Aktivitas administratif adalah semua kegiatan yang berkaitan dengan pencatatan. penyusunan dan dokumentasi program dan kegiatan sekolah. b) c) Memiliki susunan kepegawaian sekolah Memanfaatkan sumber daya manusia serta sarana-prasarana secara optimal. kepala sekolah bertanggung jawab atas kelancaran segala pekerjaan dan kegiatan administratif di sekolahnya. Sebagai administator. Secara spesifik. d) Mempunyai catatan kinerja sumber daya manusia yang ada disekolah serta program peningkatan mutu.

kepala sekolah sebagai seorang administrator di SMPN 4 Watampone tersebut di atas adalah : a. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh penulis kepada kepala sekolah. Supervisi juga dapat diartikan sebagai pembinaan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah agar mereka dapat meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan . keuangan. inovasi yang mengikuti perkembangan dunia pendidikan dengan tujuan meningkatkan mutu pendidikan berdasarkan pengembangan kurikulum dilakukan untuk mewujudkan tujuan pendidikan Nasiona c. Memiliki dokumen yang berkaitan dengan laporan penggunaan dana bos. penyusunan dan dokumentasi program serta pengelolaan pemanfaatan sarana dan prasarana. persuratan. dokumen penyusunan RAPBS dan dokumen-dokumen lainnya yang berkaitan dengan pemanfaatan dana. Kepala SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum telah berusaha secara maksimal untuk mengadministrasikan berbagai hal yang berkaitan dengan kepentingan sekolah. Administrasi kepala sekolah yang dapat memperlancar semua kegiatan kepala sekolah yang dilengkapi beberapa administrasi antara lain administrasi kesiswaan. Sejalan dengan fungsinya sebagai seorang administrator. Kepala Sekolah sebagai Supervisor. beliau menyatakan: “Saya berusaha untuk mengarsipkan setiap laporan yang berkaitan dengan keuangan. kegiatan kesiswaan. sarana dan prasarana dan administrasi persuratan yang bertujuan untuk mempermudah/ memperlancar segala sesuatu tugas kepala sekolah. Meskipun demikian karena banyaknya dokumen yang harus diarsipkan maka saya mempercayakan kepada kepala tata usaha untuk menghandel sebagian dari tugas-tugas saya selaku administrator. bahkan dokumen yang berkaitan dengan kegiatan kesiswaan juga banyak yang dipegang langsung oleh urusan kesiswaan( 27 Maret 2012). b.

Di antara tugas-tugas kepala sekolah sebagai supervisor adalah: 1) Membantu stafnya menyusun program. Keberhasilan peran kepala sekolah sebagai supervisor antara lain dapat ditunjukkan oleh: 1) meningkatnya kesadaran guru dan staf untuk meningkatkan kinerjanya. Untuk kepentingan . karena masih ada guru yang mengajar tidak sesuai dengan program yang telah disusunnya. tujuan dan sasaran sekolah melalui program-program yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap. dan 2) meningkatakan keterampilan guru dan staf dalam melaksanakan tugasnya. Mahmud. efektif. Disis lain. tergantung kepada kemampuan setiap guru. memantau. dan menyenangkan. Sesuai dengan wawancara yang dilakukan dengan kepala sekolah. MM. Kepala sekolah sebagai supervisior mempunyai peran dan tanggung jawab untuk membina. aktivitas pembelajaran yang dilakukan belumlah mengaktifkan siswa sehingga pembelajaran yang sifatnya Joyfull Learning masih jauh dari harapan”(27 Maret 2012).73 situasi belajar mengajar dengan lebih baik sesuai dengan tujuan pendidikan. 2) Membantu stafnya mempertinggi kecakapan dan keterampilan mengajar. Bapak Drs. dan 3) Mengadakan evaluasi secara kontinyu tentang kesanggupan stafnya dan tentang kemajuan program pendidikan pada umumnya. Kepala Sekolah sebagai Leader Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah dapat mewujudkan visi. Supervisi kepala sekolah dapat dilakukan secara individual maupun kelompok. kreatif. misi. Setiap 3 bulan sekali saya melakukan supervisi akademik dan supervisi manajerial untuk memantau aktivitas pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan selama hasil pemantauan masih ada guru yang belum membuat RPP padahal sudah disiapkan filenya oleh urusan kurikulum dan urusan pengajaran. disisi lain kemampuan mengajar yang diperlihatkan oleh guru yang disupervisi terlihat masih sangat rendah. bahwa tugasnya sebagai seorang supervisor belumlah berlangsung dengan optimal. dan memperbaiki proses pembelajaran aktif. “Saya menyadari bahwa kemampuan mengajar antara guru yang satu dengan yang lain tidaklah sama.

bawahan bisa semakin menjadi-jadi. hubungan sekolah dengan masyarakat. kepribadian dan wawasan yang dimiliki guru serta memberikan penghargaan bagi guru yang mengharumkan nama sekolah. pengamperaan kekurangan gaji guru terlambat. Bahkan kepala sekolah tidak segan untuk turun kelapangan memperjuangkan bantuan bagi siswa yang tidak mampu. sarana dan sumber belajar. penciptaan iklim sekolah. pemanfaatan dana serta penciptaan iklim sekolah yang kondusif. Adapun bentuk kegiatan riil dari masing-masing kegiatan uraian dan tugas yang telah dilakukan kepala sekolah di atas dapat dijabarkan sebagai berikut: a) Mengenal bawahannya Kepala sekolah harus mengenal bawahan dari dekat diantaranya jenjang pendidikan. kepala sekolah harus mampu mempengaruhi dan menggerakkan sumber daya sekolah dalam kaitannya dengan perencanaan dan evaluasi program sekolah. b) Berani mengambil resiko Tidak semua kepala sekolah berani mengambil resiko atau bertanggung jawab dalam kehidupan di sekolah. Sebagai orang yang dipercayakan untuk memimpin SMPN 4 Watampone. terkadang sikap otoriter tetap dipakai agar sistem tetap berjalan karena jika terlalu lemah. Perumusan visi dan misi demi sebuah pembaharuan harus menjadi prioritas utama demi terselenggarannya pendidikan yang bermartabat”(27 Maret 2012).tersebut. pengelolaan ketenagaan. pelayanan siswa. pembelajaran yang berkarakter. pengelolaan ketenagaan. Kondisi ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh kepala sekolah”Drs. c) Memiliki Visi dan Misi . pengembangan kurikulum. Mahmud. dan sebagainya. bahkan sebagai pimpinan saya harus berani mengambil resiko untuk kepentingan bersama. Misalkan gurunya dipindahkan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Solusinya dikoordinasikan bersama dengan semua personil sekolah dan komite sekolah. MM’’ bahwa: “Kedudukannya sebagai kepala sekolah sangat berkaitan erat dengan perencanaan dan evaluasi program . keuangan. tingkat golongan.

Pelaksanaan evaluasi dalam fungsinya sebagai leader bahwa semua tanggungjawabnya dilaksanakan sepenuhnya yaitu semua stafnya dinilai berdasarkan hasil yang sudah dicapai dengan pengajuan Kriteria yang didapat sebagai dasar tindak lanjut perbaikan (kalau perlu). daftar hadir guru (jam dan harian). ulangan tengah semester serta berbagai aktivitas kesiswaan kurang mendapat perhatian dari kepala sekolah. baik bantuan dari . Memang kami akui. ulangan semester. baik ulangan harian. Berdasarkan perannya sebagai seorang leader atau pemimpin terdapat perbedaan cara pandang antara beberapa orang guru dengan kinerja kepala sekolah sebagai seorang leader. pelaksanaan pengembangan kegiatan pembelajaran dan hasil kerja guru penetapan dan Kenaikan kelas. d) Gagasan Pembaharuan Kepala sekolah memikirkan akan perkembangan sekolahnya sehingga dapat membuat program-program sebagai pembaharuan yang ujung-ujungnya peningkatan mutu dan peningkatan kualitas sekolah. pembagian tugas guru. Jalani Salah seorang guru senior yang diwawancarai mengatakan bahwa: “Kinerja kepala sekolah sebagai seorang pemimpin dianggap belumlah memihak kepada kepentingan guru dan siswa. Sambil memberi contoh tentang kegiatan ulangan. bahwa kepala sekolah banyak berjuang untuk siswa tidak mampu agar mendapatkan bantuan.75 Sekolah harus memiliki visi dan misi yang bertujuan untuk kesiapan kedepan demi terlaksananya pendidikan yang efektif dan efisien. Hasil tersebut di atas menunjukkan bahwa Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Watampone Kabupaten Umum dapat melaksanakan tugas/fungsinya sebagai leader/ pemimpin. kesemuanya hal tersebut di atas dilaksanakan secara demokratis. administrasi. Banyak kebijakan yang dibuat belum mencerminkan kepentingan guru padahal sumber pendanaan sangat menunjang untuk berbagai kegiatan yang dilakukan. e) Evaluasi.

Sebagaimana yang dinyatakan oleh Andi Asrib Adnan: “Kepala sekolah belumlah bekerja maksimal untuk kepentingan guru dan siswa terutama dalam pemanfaatan dana. menunjukkan bahwa peran kepala sekolah sebagai seorang leader atau pemimpin belumlah maksimal. Kebijakan yang dibuat tidaklah mencerminkan kepentingan banyak guru. Bahkan berbagai kegiatan yang dilakukan lebih banyak melibatkan orang dekat ketimbang guru guru yang lain. Kami akui. kepala sekolah terkesan bersikap otoriter. tetapi manakala menyangkut tentang pemanfaatan dana bos untuk kepentingan guru dan siswa. Dalam MBS. seorang kepala sekolah haruslah bersikap transparan dan akuntabel untuk kepentingan semua pihak baik dalam internal sekolah maupun dengan pihak yang berada diluar sekolah. kedekatan kepala sekolah dengan penentu kebijakan yang berada diatasnya telah membawa manfaat besar bagi kemajuan sekolah ditinjau dari segi bantuan untuk pembangunan infrastruktur tapi itu belumlah cukup. maka dewan guru harus berani mengemukakan kepada komite sekolah akan kondisi yang terjadi dan dengan demikian diharapkan komite dapat menjadi penyeimbang setiap keputusan yang diambil oleh . Apa yang disampaikan oleh sala seorang guru yang mengajar di sekolah tersebut adalah bentuk ketidakpuasan atas kinerja kepala sekolah sebagai seorang pemimpin yang terkesan cenderung bersikap otoriter dan kebijakan yang dibuat belum mencerminkan keadilan untuk guru dan siswa. Dengan mengacu kepada pendapat dua orang guru.Kepala sekolah haruslah mampu menyeimbangkan antara kepentingan bawahan dengan kepentingan atasan”(27 Maret 2012). Apa yang disampaikan oleh Jalani juga dipertegas oleh salah seorang guru yang sering mengkritik kebijakan yang dibuat oleh kepala sekolah. Bahkan RAPS yang seharusnya dijadikan pedoman dalam pelaksanaan kegiatan atau program yang disusun tidak dijadikan acuan melainkan lebih mengarah kepada keinginan pribadi. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk mencegah bentuk kesewenangan yang mungkin akan bertambah.provinsi maupun bantuan dari pusat.padahal telah banyak kritikan untuk memperbaiki kinerja beliau” (28 bapak kepala 2012). RAPBS yang dibuat terkadang hanyalah dokumen belaka yang tidak dijadikan acuan untuk melaksanakan setiap program yang telah dibuat.

77 pihak sekolah. Kepala sekolah Sebagai Inovator. Dalam rangka melakukan peran dan fungsinya sebagai inovator, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan lingkungan, mencari gagasan baru, mengintegrasikan setiap kegiatan, memberikan teladan kepada seluruh tenaga kependidikan di sekolah dan mengembangkan modelmodel pembelajaran yang inovatif. Peran kepala sekolah sebagai innovator akan tercermin dari cara-cara ia melakukan pekerjaannya secara konstruktir, kreatif, delegatif, integratif, rasional dan obyektif, keteladanan, disiplin, serta adaptabel dan fleksibel. Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala Sekolah”Drs Mahmud MM” dinyatakan bahwa: “Semaksimal mungkin, saya harus menjadi teladan bagi guru yang lain, misalkan datang disekolah tepat waktu bahkan mendahului guru yang lain termasuk ketika pulang, saya upayakan sebagai orang terakhir yang kembali kerumah. Tujuan utamanya adalah untuk menanamkan keteladanan dan kedisiplinan. Mendatangkan guru model untuk mengajar pada satu kelas yang dilihat banyak guru adalah salah satu upaya yang saya lakukan untuk memotivasi guru agar lebih inovatif dalam mengajar. Tujuan utamanya adalah bagaimana menggali potensi anak untuk berprestasi baik ditingkat sekolah,kabupaten maupun provinsi” (27 Maret 2012). Hasil wawancara tersebut di atas menunjukkan bahwa Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Watampone telah melaksanakan fungsinya sebagai innovator di sekolahnya, adapun bentuk kegiatan riil dan tugas yang telah dilakukan kepala sekolah di atas, adalah : a. Adanya ide-ide baru yang menjadi pedoman dalam melaksanakan tugas pengembangan, pembinaan tenaga guru. b. Melaksanakan pembaharuan di bidang kegiatan ekstrakurikuler, menggali sumber daya dari komite. c. Mampu berprestasi di sekolah melalui kegiatan ekstrakurikuler.

Untuk membuktikan kebenaran dari apa yang disampaikan oleh kepala sekolah, Peneliti mewawancarai Yusnani, sebagai salah satu pembina kesiswaan yang dikenal memiliki tingkat kedisiplinan yang tinggi berdasarkan informasi dari beberapa guru yang dimintai informasi tentang siapa guru yang paling rajin dan disiplin dimana sebahagian besar menjawab Yusnani. Dalam wawancara yang dilakukan, beliau menyatakan: “Berbicara tentang masalah kedisiplinan, kepala sekolah memang terkenal sangat disiplin. Apa yang kepala sekolah lakukan tidak lain untuk menunjukkan sikap keteladanan sebagai seorang pemimpin. Karena itu rasanya kami malu jika datang terlambat. Meskipun demikian tetap ada beberapa orang guru yang sulit untuk datang tepat pada waktunya padahal jam mengajarnya jam 1. Cuma kami berharap tindakan kepala sekolah hendaknya dibarengi dengan pemberian penghargaan bagi guru yang rajin dan berdedikasi tinggi untuk kemajuan sekolah. Kami juga berharap sikap objektif dan keterbukaan kepala sekolah juga sampai pada tataran penggunaan dana” (28 Maret 2012). Kepala sekolah Sebagai Motivator Sebagai motivator, kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk memberikan motivasi kepada para tenaga kependidikan dalam melakukan berbagai tugas dan fungsinya. Motivasi ini dapat tumbuh melalui pengaturan lingkungan fisik, pengaturan suasana kerja, disiplin, dorongan, penghargaan secara efektif dan penyediaan berbagai sumber belajar melalui pengembangan pusat sumber belajar. Adapun bentuk kegiatan riil dari masing-masing uraian tugas kepala sekolah di atas adalah : a. Kemampuan mengatur lingkungan kerja adalah seorang kepala sekolah mampu mengatur ruang kepala sekolah yang kondusif untuk bekerja ruang kelas yang kondusif untuk kegiatan belajar mengajar, UKS dan perpustakaan, dan mengatur halaman lingkungan sekolah yang sejuk nyaman dan teratur. b. Kemampuan mengatur lingkungan kerja (non fisik) kepala sekolah menciptakan hubungan kerjasama sesame guru, antara guru dan masyarakat (orang tua siswa)

79 yang harmonis dan menciptakan rasa aman di lingkungan sekolah. c. Menetapkan prinsip motivasi yang berupa penghargaan dan hukuman Setiap kali membicarakan motivasi, hirarki kebutuhan maslow pasti disebutsebut. Hierarki ini didasarkan pada anggapan bahwa pada waktu orang telah memuaskan satu tingkat kebutuhan tertentu, mereka ingin bergeser ke tingkat yang lebih tinggi (Hamzah b. Uno, 2006:40). Abraham maslow mengemukakan lima tingkat kebutuhan yaitu (1) kebutuhan fisiologis,(2) kebutuhan akan rasa aman,(3) kebutuhan akan cinta kasih atau kebutuhan sosial,(4) kebutuhan akan penghargaan dan (5) kebutuhan akan aktualisasi diri. Motivasi kerja guru merupakan hal yang sangat menunjang kinerja guru. Seorang pemimpin pada sebuah institusi dalam memperhatikan kinerja pegawainya di dasari oleh berbagai pertimbangan. F.W. Taylor sebagai seorang tokoh manajemen ilmiah memusatkan perhatian pada sebuah pendekatan bahwa uang merupakan motivasi uatama bagi seseorang yang bekerja (Hamzah b.Uno,2006:40) Namun perkembangannya memang berbeda kepada setiap orang dan setiap pekerjaan. Orang yang bekerja dengan pekerjaan tangan yang sulit, biasanya tidak termotivasi oleh pekerjaan itu sendiri. Dalam keadaan seperti itu, uang merupakan pendorong semangat utama. Tampaknya pendekatan manajemen ilmiah Taylor sebagian benar. Yang pasti, tingkat pembayaran insentif yang tepat bagi orang-orang yang menangani pekerjaan-pekerjaan produksi menyebabkan peningkatan produktivitas dan lebih banyak upaya. Namun kewaspadaan perlu diterapkan untuk memastikan bahwa tidak terdapat perubahan mutu. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, Kepala SMP Negeri 4 Khusus sedikit banyaknya telah berhasil dalam meningkatkan kinerja guru terhadap kontribusi mereka untuk mengimplementasikan manajemen berbasis sekolah. Meskipun demikian

masih terdapat kelompok-kelompok tertentu yang menganggap motivasi kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja guru dan pegawai belum maksimal terutama dalam bentuk pemberian penghargaan kepada guru-guru yang sudah bekerja maksimal dalam memajukan sekolah. padahal menurut kami persoalan dana sama sekali bukanlah masalah prinsipil. kami bekerja dengan ikhlas tetapi kami rasanya berat untuk berbuat terbaik manakala sekolah lain yang jumlah dana BOSnya kecil tetapi bisa melakukan yang terbaik untuk siswa maupun guru-gurunya. diantaranya bapak Madeaming. ibu Hj A. ibu Harlina. sehingga guru mapun staf administrasi merasa dihargai. Zulfadli. Pak Bachrun Djahidin dan guru-guru lainnya terdapat kesamaan pandangan akan kinerja kepala sekolah dalam memberikan penghargaan kepada guru yang sudah bekerja memberikan yang terbaik kepada sekolah. Setiap masukan ditampung dengan demokratis. Adapun bentuk motivasi yang telah diterapkan oleh Kepala SMP Negeri 4 Khusus kepada guru dan pegawai antara lain: 1. dana BOS terbesar di Kabupaten Umum adalah SMPN 4 Watampone.karena kami tahu. Kami jujur. Pembinaan diberikan secara menyeluruh kepada semua guru dengan tidak berpihak pada guru tertentu serta membantu memecahkan masalah yang dihadapi guru bila terdapat kesulitan dalam menyelesaikan tugasnya. Pak Syamsuddin. . Berdasarkan hasil wawancara peneliiti dengan beberapa orang guru. Kedepan kami berharap.Sukmawati. 2. penghargaan yang sifatnya materiil kepada siswa maupun guru bisa diperbaiki dan transparansi pemanfaatan dana baik ke dewan guru maupun ke komite sekolah menjadi lebih terbuka dan akuntabel”(28-3-2012). Kepala sekolah berperan aktif dalam membina dan mengembangkan tugas profesionalisme guru. Pak A. Dalam melaksanakan tugasnya kepala sekolah menjadikan staf dewan guru sebagai partner dalam melakukan tugas-tugas pembelajaran di sekolah. “Kepala Sekolah memang sudah bekerja untuk membangkitkan motivasi guru tetapi kami rasakan bentuk penghargaan yang diberikan kepada kami belumlah maksimal.

5. Berdasarkan keadaan tersebut maka peran kepala sekolah dalam mengimplementasikan manajemen berbasis sekolah pada bidang motivator telah berjalan secara optimal walaupun untuk kedepannya bentuk penghargaan kepada guru harus lebih ditingkatkan. 4. Serta menerapkan prinsip penghargaan dan hukuman. Pemberian penghargaan meskipun belum berjalan optimal tetap dilakukan oleh kepala sekolah. terutama kepada guru dan staf tata usaha yang telah mencurahkan waktunya untuk kemajuan sekolah. Apabila suasana seperti ini dilakukan kepala sekolah. baik berupa pujian maupun dalam bentuk material. Bagi guru yang dianggap lalai dalam menjalankan tugasnya sebagai tenaga edukatif yang profesional diberikan teguran. Jika terjadi keberhasilan dan kegagalan bawahan maka itu juga merupakan kegagalan dari kepala sekolah. Kinerja Guru dalam Pelaksanaan MBS pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Watampone (1). maka penilaian guru tentang prilaku kepemimpinan kepala sekolah akan senatiasa mengarah pada iklim yang kondusif dan ini akan berdampak pada peningkatan kinerja guru.81 3. Kelengkapan Program Mengajar Adapun yang menjadi fokus penelitian yang dilakukan peneliti berkaitan dengan . termasuk siswa-siswa yang telah berjasa mengharumkan nama sekolah. Mendorong partisipasi bawahan dalam melakukan tugas di sekolah dan bertanggung jawab atas segala kegiatan yang berlangsung di sekolah. Dengan demikian Kepala sekolah mampu menerapkan/mengembangkan motivasi infernal dan eksternal bagi warga sekolah. baik secara langsung maupun tidak langsung dengan selalu mengedepankan prinsip saling menghargai. D.

Dari jawaban yang diberikan. seperti RPP.2)Apakah administrasi yang dimiliki oleh guru telah lengkap atau belum. daftar hadir dan daftar nilai.memahami dan melaksanakan KTSP. apalagi jika pimpinan tersebut dianggap tidak bisa mengakomodir berbagai kepentingan yang ada di sekolah. Salah satu kekurangan terbesar yang dimiliki oleh guru SMPN 4 Watampone menurut hasil wawancara dengan urusan kurikulum dan pengajaran. mengindikasikan bahwa tingkat kesadaran guru di SMPN 4 Watampone sangatlah besar dalam menjalankan tugasnya.Amin adalah kurangnya kemampuan guru untuk membuat jurnal pembelajaran yang berkaitan dengan tugasnya ketika mengajar dalam kelas.kelengkapan program mengajar adalah:1)Apakah guru-guru di SMPN 4 Watampone telah memiliki. Hal ini perlu diperhatikan karena pembuatan jurnal pembelajaran sangat membantu guru untuk memahami setiap batasan . sedangkan yang harus kami miliki adalah dokumen dua yang berisi semua kelengkapan untuk kepentingan kami sebagai guru dan itu dimiliki oleh semua guru karena kepala sekolah setiap awal semester melakukan pendataan kepada semua guru karena itu sangat berkaitan dengan penilaian kinerja”(28-3-2012).Muliati dan Ibu A. silabus. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan kepada 24 responden. Kondisi ini harus terus dijaga oleh sekolah khususnya kepala SMPN 4 Watampone. hampir semuanya menjawab telah memiliki. Hal ini tercermin dari hasil wawancara dengan ibu A. karena terkadang seseorang hanya akan menjadi telaten dalam menjalankan tugas karena tuntutan administratif dan ketaatan yang sesaat kepada pimpinan. memahami dan melaksanakan KTSP baik pada dokumen satu maupun pada dokumen dua. analisis ulangan harian. karena tanpa kontrol yang rutin khususnya kelengkapan administrasi maka semuanya akan menjadi kacau. Bapak M. Untuk dokumen satu tidak kami pegang karena itu menjadi dokumen sekolah.Hajar sebagai berikut: “Baik dokumen satu maupun dokumen 2 sudah kami pahami dan sudah kami jabarkan dalam kegiatan pembelajaran. program perbaikan dan pengayaan serta jurnal pembelajaran. terlalu tebal dan memuat semua komponen mata pelajaran.

Penyusunan KTSP juga merupakan sebagai pedoman. Wujud dan pelaksanaan dari KTSP menurut hasil wawancara dijelaskan bahwa. membuat program semester. alat/media sumber usaha dan penelitian sehingga kurikulum . KKM serta indikator pembelajaran. Menurut Pak Amin: “Kendala terbesar yang dialami oleh guru-guru disini adalah lemahnya kemampuan untuk membuat jurnal pembelajaran. Kemungkinan besar mereka tidak membuatnya karena menganggap hal baru dan kurang disosialisasikan serta tidak menjadi bahan evaluasi dari kepala sekolah maupun pengawas yang datang ketika melakukan supervisi akademik maupun manajerial”(29-3-2012). agar tidak keluar dari tujuan yang diharapkan dan wujud pelaksanaannya dituangkan dalam program pengajaran dan persiapan mengajar. KTSP khususnya pada dokumen 2 perlu dimiliki karena merupakan acuan untuk menyusun program pengajaran semester/tahunan. Setiap proses pembelajaran perlu dipahami betul RPP yang telah dibuat.83 materi yang diajarkannya dalam kelas. Untuk memperlancar hal tersebut maka pemerintah pusat telah menyusun standar kompetensi dan kompetensi dasar agar penyusunan RPP yang akan dibuat dalam proses pembelajaran dapat berjalan maksimal dengan langkah-langkah kegiatan menyiapkan materi metode. membuat program tahunan. petunjuk atau acuan dalam penyusunan program pengajaran dan sekaligus untuk dipedomani dalam pembuatan Tujuan Pembelajaran Khusus yang sekarang dikenal dengan istilah indikator agar dapat memperlancar proses belajar mengajar. KTSP juga dibuat dalam bentuk program semester dan program tahunan dan terjabarkan dalam analisis materi pelajaran dan rencana pembelajaran artinya membuat analisis RPP. di samping kurikulum sebagai pedoman sekaligus acuan dalam pembuatan program pengajaran dan pembuatan tes. Hanya ada beberapa diantara guru yang melakukannya. Karena kalau mengajar tanpa RPP proses kegiatan belajar mengajar tidak berjalan lancer.

GBPP. daftar nilai dan konseling analisis termasuk jurnal pembelajaran harus dimiliki oleh setiap guru agar pemberian pelayanan yang maksimal kepada anak didik dapat tercapai disamping ada juga program analisis dan rencana perbaikan dan kegiatan pengayaan. program pengajaran. Meliputi inti (penjelasan materi) Tujuan Pembelajaran Khusus. kegiatan awal (motivasi. Bentuk lain dan administrasi yang sudah lengkap yaitu program pengajaran bimbingan penyuluhan persiapan mengajar. kumpulan soal. satuan pelajaran absensi. apersepsi) kegiatan akhir (evaluasi/pegangan) disamping itu . daftar nilai. buku satuan. bimbingan penyuluhan . dibukukan setiap mata pelajaran hal yang sama juga dijelaskan oleh responden yang lain bahwa persiapannya dalam bentuk 1 (satu) kali pertemuan atau di sesuaikan dengan kondisi yang ada. analisis materi alat peraga. Ditambahkan lagi bahwa tiap-tiap mata pelajaran dengan bentuk tertulis dan setiap 1 (satu) kali pertemuan di ketahui dan di tanda tangani oleh kepala sekolah. Wujud ataupun bentuk dan lingkupnya administrasi mengajar menurut hasil wawancara dijelaskan bahwa KTSP. analisis materi.yang ada betul-betul berbasis kompetensi. alat evaluasi. rangkuman materi pelayaran. disebutkan juga dalam wawancara yaitu program tahunan. program semester. persiapan mengajar. kumpulan evaluasi. Ada juga persiapan mengajar harian dalam bentuk matriks. Sumber yang lain menyebutkan bahwa bentuk persiapannya hanya berapa materi dan pola. Hasil wawancara lain menyebutkan KTSP perlu dimiliki karena merupakan acuan atau menyusun program pengajaran sebagai dasar atau pedoman untuk membuat perencanaan pengajaran. dalam bentuk rencana pembelajaran. analisis pengajaran. persiapan mengajar. Bentuk dan persiapan sebelum mengajar itu. menurut hasil wawancara dijelaskan bahwa persiapan mengajar dalam bentuk satu kali pertemuan. kumpulan nilai buku BP analisis soal.

c. pengamatan portofolio dan sumatif artinya buku itu merupakan satu buku didalamnya terdapat format dan di isi sesuai mata pelajaran tiap semester atau satu buku yang didalamnya terdapat format ulangan harian. pengamatan. nilai tugas dan portofolio. Bentuk atau model dan buku daftar nilai siswa menurut hasil wawancara yaitu satu buku diisi sesuai mata pelajaran mencakup nilai ulangan harian. penggunaan model-model pembelajaran yang . kadang individu kelompok berpasangan dan klasikal diberikan dalam bentuk bimbingan kelompok dan perorangan. Diberikan buku latihan tanya jawab artinya program perbaikan di tujukan terhadap siswa yang mengalami kesulitan baik secara klasikal maupun individu. pekerjaan rumah atau tugas dan ulangan umum. daftar nilai harian tes hasil belajar hal yang sama juga dijelaskan oleh responden yang lain bahwa buku daftar nilai siswa itu adalah daftar nilai ulangan harian.85 ada juga yang berdasarkan KTSP. ada pula yang berdasarkan silabus dibutuhkan permata pelajaran dengan bentuk tertulis. proses umpan balik dalam setiap pembelajaran.2 Penyajian Materi Pelajaran. kelompok diberi pekerjaan/tugas bentuk bimbingan pribadi Ditambahkan pula oleh responden yang lain. satu kali pertemuan ditanda tangani oleh kepala sekolah. kegiatan free test dan post test baik sebelum memulai pelajaran maupun setelah melakukan pembelajaran. Bentuk program perbaikan dan pengayaan yang dilaksanakan menurut hasil wawancara dengan responden yaitu dengan bentuk tindakan individu. Adapun yang menjadi fokus penelitian yang dilakukan peneliti berkaitan dengan kelengkapan penyajian materi pelajaran penguasaan kelas. portofolio dan pekerjaan rumah ada juga yang berupa ulangan harian (tertulis) pengamatan.

Bentuk yang lain yang ditentukan ialah menerangkan dan memberi motivasi serta mengadakan tanya jawab. Guru terkesan mengajar seadanya tanpa memperhatikan keterampilan proses yang harus tercapai. Bahwa: “Penguasaan kelas sangat diperlukan oleh guru untuk mempermudah penerimaan materi pelajaran. Kegiatan ini dilakukan agar materi yang telah dipelajari siswa dapat tertanam dengan kuat. mulai dari awal sampai akhir pembelajaran masih ada guru yang tidak menguasai kelas. terdapat kesan guru yang mengajar banyak yang tidak menguasai kelas. Hal ini terbukti banyak siswa yang terkesan tidak memperhatikan penjelasan guru. Kondisi ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Bapak Munir. Hal yang lain yang dilakukan yaitu diberikan penjelasan singkat. Sehingga tidak ada upayua maksimal dari guru yang bersangkutan untuk melakukan koreksi atas pebelajaran yang dilakukannya. Tanpa penguasaan kelas. maka tujuan pelajaran yang ingin dicapai menjadi lebih sulit. biasanya hanya dilakukan oleh guru-guru yang mendekati usia pensiun. “Ketika supervisi dilakukan. Drs Mahmud MM. pembacaan doa memberikan kesempatan kepada siswa untuk ditiru oleh temannya. Persentase dari guru yang bersikap seperti itu tidaklah besar. Salah satu faktor yang menyebabkan proses pembelajaran tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan adalah sikap kepala sekolah yang terkesan agak enggan untuk melakukan koreksi mendalam kepada guru-guru yang hampir memasuki usia pensiun. Meskipun demikian. keterlibatan kelas hendak diperhatikan dan memberikan motivasi berupa penguatan materi dengan jalan melaksanakan free test dan post test.bervariatif serta pemanfaatn alat-alat peraga. yang sering melakukan supervisi. kurang aktif. Sementara itu bentuk penguasaan kelas yang dilakukan oleh guru menurut hasil wawancara yaitu dengan motivasi siswa agar perhatiannya pada pelajaran yang diberikan dan mengupayakan siswa untuk melibatkan diri dalam belajar. banyak mengobrol dan tidak melakukan proses umpan balik. Dari hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan kepala sekolah. sementara Persentase dari guru yang mengajar dengan baik jauh lebih besar”(27-3-2012). Untuk memancing respon siswa terhadap materi yang diajarkan .

Usman Abdullah yang diwawancarai tentang penggunaan model-model pembelajaran. karena pengaturan kelompok harus diatur sedemikian rupa. baik bentuk tanya jawab maupun demonstrasi”(27-3-2012). siswa dengan guru. Kondisi ini jelas sangat diperlukan seorang guru untuk menguasai kelas. Berkaitan dengan penggunaan model-model pembelajaran. tanya jawab ini biasanya guru dengan siswa.87 maka kegiatan free test sudah menjadi rutinitas bagi guru-guru di SMPN 4 begitu pula dengan sebaliknya. dari 24 responden yang memberikan jawaban yang ditanyakan peneliti. Kegiatan ini berfungsi untuk memberikan pemahaman materi secara kuat kepada siswa”(28-3-2012). Meskipun demikian siswa merasa sangat senang dengan cara baru yang dilakukan dalam belajar. artinya interaksi ini terjadi agar antara guru dan siswa ada proses pembelajaran yang menyenangkan dan suasana kelas hidup. Bentuk dan interaksi tersebut dapat berbentuk tanya jawab. siswa dengan siswa.17 persen masih memakai pola lama yang bersifat teacher centered. dimana proses interaksi berjalan maksimal baik guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa. yang penting adalah siswa mau dan terus fokus dalam mengikuti pelajaran. belum lagi pengaturan tempat duduk dan meja. pemberian tugas. sedangkan 7 orang atau 29. Terdapat 2 jawaban yang berbeda atas penggunaan model model pembelajaran di dalam kelas. agar optimal dalam pengajian materi sehingga tercipta pembelajaran PAIKEM demi melahirkan siswa-siswa yang cerdas dan kreatif serta memiliki keimanan karena mereka juga diwajibkan membaca doa atas surah-surah pendek agar mengenal agama mulai dari kecil sesuai dengan hadist bahwa tuntutlah ilmu dan lahir sampai liang lahat. diskusi. 17 orang diantaranya atau sekitar 70. Ibu Dra Rahmatiah sebagai guru bahasa inggris yang mengajar dengan model pembelajaran yang inovatif berpendapat bahwa: “Waktu yang dipakai dengan penggunaan model pembelajaran yang inovatif terbilang lama. Sementara itu Bapak H.Persoalan hasil menjadi standar kedua. punya pandangan lain tentang kegiatan pembelajaran yang .83 persen telah menggunakan model-model pembelajaran yang inovatif dan sangat menyenangkan bagi siswa sehingga siswa antusias dalam mengikuti pelajaran. kegiatan post test juga dijalankan. sehingga tidak terasa berjalannya waktu.

tetapi lebih banyak karena kondisi psikologis siswa yang diajar”(29-3-2012). Mungkin untuk kelas prestasi model pembelajaran yang inovatif dapat dijalankan. gembira dan berbobot atau yang biasa disingkat PAIKEM GEMBROT. . efektif. karakteristik mata pelajaran dan kemampuan untuk menjalankan model pembelajaran itu sendiri. Dan yang paling penting. menyenangkan. inovatif. Berdasarkan jawaban yang diberikan oleh guru-guru SMPN 4 watampone. Mereka rata-rata berpendapat bahwa: “Ada kelas yang diajar. Jadi persoalannya bukan kepada mampu atau tidak mampu. Ilmu-ilmu pasti membutuhkan ketenangan dan keseriusan. kreatif. cerdas Intelektual. Cerdas Spiritual dan Cerdas Emosional. pada hakekatnya paham dengan apa yang diinginkan oleh MBS untuk jalannya pembelajaran yang pada akhirnya akan menciptakan guru-guru yang kreatif dan diidolakan oleh siswa. tetapi bagi kelas reguler biasa. Dalam kegiatan pembelajaran diharapkan guru yang mengajar dapat menerapkan pembelajaran yang aktif. serta pak Drs Suryadi. sedangkan IPA lebih menekankan kepada kemampuan anak dalam menguasai dan mengaplikasikan materi.Pd.Pd. pembelajaran itu dapat menciptakan manusia-manusia yang berkarakter. terlebih lagi jika materi itu harus dijabarkan dalam bentuk perhitungan. sehingga pembelajaran harus lebih didominasi oleh guru. ibu Hamansiah S. Secara umum dapat dianalisis bahwa guru-guru di SMPN 4 Watampone. Dalam MBS. Nurfaigah S. M. bagaimanapun metode dan model pembelajaran yang coba untuk dijalankan tetap sulit terlaksana. Menurutnya. model pembelajaran inovatif menjadi sulit. Pandangan yang sama juga disampaikan oleh guru matematika yang lainnya seperti ibu A. kondisi yang diharapkan terjadi dalam proses pembelajaran adalah kondisi Joyfull Learning atau pembelajaran yang menyenangkan.Pd. lebih menekankan kepada kemampuan anak memahami kosakata. suasana hati guru yang mengajar.dilakukannya. yang mana bahasa inggris. mengajar bahasa dengan mengajar IPA memiliki ruang pemahaman yang berbeda. penggunaan model pembelajaran sangat bergantung kepada kondisi psikologis siswa.

gambargambar pahlawan dan sebagainya jika materi yang diajarkan membutuhkan alat peraga seperti itu. guru yang mengajar bidang studi IPS. dan diupayakan mudah diperoleh dilingkungan sekolah siswa. misalnya pemanfaatan sampah untuk daur ulang.Pd dan ibu Arniyanti S. sistem fermentasi. termasuk penggunaan buku paket dan buku penunjang yang lainnya. Wujud dan penggunaan alat peraga yang menyatakan “ya” menurut hasil wawancara dijelaskan bahwa alat peraga yang sesuai dengan materi yang dibahas. mengatakan bahwa: “Ada saat tertentu kami memakai alat peraga. Salah satu karakteristik MBS . Sebagaimana yang disampaikan oleh kedua guru tersebut. Senada dengan hasil wawancara diatas yaitu ada materi yang tidak membutuhkan alat peraga seperti masalah pembelajaran pada mata pelajaran sejarah pada rumpun IPS terpadu seperti masuk dan berkembangnya agama hindu dan budha di Indonesia. S. chart. sudah seharusnya pihak sekolah menyiapkan miniatur atau meminta kepada dinas pendidikan agar segala hal yang berkaitan dengan materi pelajaran sepanjang pengadaannya sulit diadakan di daerah dapat di sediakan langsung oleh pemerintah pusat. Sementara hasil wawancara lain yang kontra dengan hasil wawancara sebelumnya menyebutkan bahwa. baling-baling kertas memanfaatkan energi angin. hanya memberikan gambar/perumpamaan. Tapi adakalanya.89 Berkenaan dengan penggunaan alat-alat peraga yang dapat membantu pelaksanaan pembelajaran hampir semua responden menjawab telah menggunakan alatalat peraga baik yang sudah tersedia maupun yang dibuat berdasarkan kreasi siswa. kami tidak memakai alat peraga. Bagaimana mungkin kami memakai alat peraga kalau di bone tidak ada gunung berapi dan bekas kerajaan-kerajaan yang bercorak hindu budha. karena sulit untuk mendapatkan bahan dari materi yang diajarkan seperti batu-batuan yang keluar dari letusan gunung berapi. pembuatan pupuk organik. kadang ya kadang tidak sebab sulitnya mencari alat peraga yang sesuai dengan materi. karena kurangnya bahan/sumber dan kurangnya biaya. globe. dan masih banyak lagi yang lainnya. Ibu Hj Baraiyyah. katanya sambil tertawa”(28-3-2012). kerajaan-kerajaan hindu-budha. apakah itu peta.Pd.

sebanyak 24 responden menjawab ya.2) Apakah penilaian kepada siswa itu dilaksanakan secara obyektif. bukan hanya sekedar teori belaka. Adapun yang menjadi fokus penelitian atas kinerja guru disini adalah:1) Apakah pelaksanaan evaluasi itu dilakukan secara tertulis atau lisan. selain lebih mudah memasukkan nilainya siswa.5 persen guru menjawab evaluasi yang dilakukannya dengan cara lisan. Salah satu indikator dari penilaian kinerja guru dalam tataran MBS adalah bagaimana guru mampu menjalankan fungsinya sebagai evaluator.Ag: “Bentuk penilaian yang saya lakukan adalah menguji siswa dengan cara lisan. Berdasarkan hasil wawancara yang penulis lakukan.5 persen sedangkan 3 orang atau 12.adalah bagaimana mengajarkan materi siswa dibawah ke pengalaman langsung supaya mereka dapat memaknai. Bagi guru yang melaksanakan ujian secara lisan. Meskipun agak sulit mengontrol siswa yang belum lisan tetapi dapat mengurangi tingkat kecurangan.3) Apakah hasil pekerjaan siswa setiap kali ulangan dikembalikan atau tidak. sebagaimana yang disampaikan oleh ibu Dra Pancawati dan Ibu Wardana S. menghayati dan merasakan apa yang dipelajari. bahwa mereka telah melaksanakan evaluasi baik dalam bentuk tulisan maupun dalam bentuk lisan. transparan dan bertanggung jawab. Sedangkan guru yang melakukan evaluasi dalam bentuk tulisan mempunyai . Jika nilainya dianggap sudah memenuhi kriteria ketuntasan maka tidak perlu dilakukan pengulangan lisan tetapi jika belum maka akan diadakan perbaikan”(29-3-2012). serta 4) apakah ada kegiatan perbaikan/remedial bagi siswa yang tidak tuntas dan program pengayaan bagi siswa yang dianggap sudah tuntas. tetapi hampir semua responden lebih memilih menjawab mereka melaksanakan evaluasi dengan cara tertulis dengan jumlah guru yang melaksanakan ulangan tertulis sebanyak 21 orang atau sekitar 87. mereka berpendapat anak-anak menjadi lebih fokus dan sulit untuk saling menyontek. juga mengurangi peluang mereka untuk saling menyontek.

9 responden atau 37. Mengenai hasil pekerjaan siswa setelah ujian. sebanyak 12 responden menjawab telah mengembalikan ujian kepada siswanya atau sekitar 50 persen. karena itulah saya malas mengembalikan pekerjaan siswa”(30-3-2012. dan Tuhan Yang Maha Esa. waktu yang diperlukan juga tidak banyak. sehingga dapat dipertanggung jawabkan baik terhadap orang tua. terlebih jika nilai mereka tidak tuntas. Ibu Harlina S.Pd mengatakan: “Hal tersebut dilakukan. pekerjaan siswa dikembalikan agar anak-anak dapat mengetahui sejauh mana kemampuannya dalam menyerap materi. agar siswa diperlakukan sama tanpa dibeda-bedakan dan hasil yang didapat siswa harus di ketahui secara jelas agar menjadikan motivasi untuk berbuat lebih baik. sekaligus pengkoreksian manakala guru keliru dalam memberikan peniaian. Setiap siswa ditanamkan kepercayaan untuk bersikap jujur dan tidak tergantung kepada siapapun. lebih banyak dirobek atau dibuang secara sembarangan.5 persen tidak mengembalikan tetapi hanya menyebutkan nilainya sedangkan 3 responden atau sekitar 12. Selain tidak ribut. Sedangkan ibu Kaerlinda Yusuf. masyarakat. Rata-rata mereka beranggapan: “Sebelumnya setiap kali ulangan. tetapi anak-anak tidak punya kepedulian akan apa yang mereka hasilkan. punya alasan lain mengapa setiap kali ujian hasil pekerjaan siswa tidak dikembalikan ujian kepada siswanya. hanya menyebutkan nilainya. S.Siswa juga merasa sangat senang jika hasilnya memuaskan begitupun sebaliknya”(30-3-2012).5 persen menjawab tidak karena tidak melaksanakan evaluasi tertulis. Alasan yang hampir sama juga dikemukakan oleh guru-guru yang tidak mengembalikan pekerjaan siswa yang lebih banyak karena alasan kebersihan. Indikasi ini menunjukkan bahwa guru memiliki tanggungjawab yang teramat . disamping itu apabila tidak dilaksanakan penilaian secara obyektif/ transparan dan bertanggung jawab kita tidak bisa membedakan mana murid pintar. Pak Munir S.91 pandangan lain. dikarenakan setiap selesai pemeriksaan ulangan.Pd menyatakan: “evaluasi yang dilakukan dengan bentuk evaluasi tertulis pada setiap akhir pelajaran dilakukan untuk mengetahui sejauh mana siswa mampu menyerap materi yang diberikan.Pd. sedang dan kurang sehingga hilanglah angka penilaian disamping itu. dan pengawasan yang ketat membuat anak sulit untuk berbuat curang. pasti saya mengembalikan hasil pekerjaan siswa. berbeda dengan ujian lisan yang terkadang memakan waktu yang cukup lama”(29-3-2012).

Tetapi itu tidak berarti siswa tidak tahu nilainya karena siswa pun tahu akan nilai hasil ujian lisannya setelah semua selesai lisan.besar dalam memantau hasil belajar peserta didik. “Setiap akhir semester ada laporan yang berkenaan dengan pelaksanaan remedial di sekolah kami. yang dibuktikan dengan adanya analisis ulangan harian yang didalamnya terdapat progran remedial dan pengayaan. Hal tersebut dilakukan karena siswa dapat puas dengan pekerjaannya dan dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan ketika menjawab soal-soal serta siswa yang terbelakang diberi tugas yang sejenis. Hal tersebut juga dilakukan agar siswa dapat mengetahui sampai dimana kemampuan menyelesaikan soal. selain harus disampaikan ke pihak sekolah juga harus di sampaikan ke orang tua siswa agar anak tersebut mendapat perhatian orang tua dalam hal turut membantu di rumah dalam membimbing anaknya sendiri. Semua itu dilaporkan ke kepala sekolahdan komite agar ada umpan balik baik dari sekolah sendiri maupun dari masyarakat ”(30-3-2012). agar ada umpan balik .Meskipun demikian ada 3 responden yang tidak mengembalikan hasil belajar peserta didik dengan alasan ujian yang mereka lakukan dalam bentuk lisan. Wawancara lain menyebutkan supaya ada umpan balik antara guru dengan murid guru dengan orang tua dan orang tua dengan anaknya. Mengenai tindak lanjut dari kegiatan perbaikan yang dilakukan apakah dalam bentuk remedial maupun pengayaan. semua responden menjawab telah melakukan perbaikan dan pengayaan. rata-rata guru di SMPN 4 Watampone telah melaksanakan kegiatan remedial dan pengayaan. yang tujuannya untuk mengetahui berapa persen pencapaian target penguasaan kurikulum oleh guru yang bersangkutan sekaligus memantau perkembangan belajar siswa. yang menangani urusan kurikulum dan pengajaran. Sebagaima Hal tersebut diatas maka program yang berkaitan dengan perbaikan dan pengayaan kepada siswa. menjaga terjadinya silang pendapat antara guru siswa dan orangtua. Dengan demikian semua responden sesungguhnya telah memeriksa pekerjaan siswa meskipun bentuk umpan baliknya berbeda. Menurut Pak Amin.

sasaran dan tujuan yang akan dicapai oleh SMPN 4 watampone. “Kami memang pernah diundang ketika penyusunan RAPBS berapa tahun yang lalu bersama beberapa anggota komite sekolah lainnya. sasaran dan Tujuan sekolah. Partisipasi Dalam Perencanaan Sekolah Adapun yang menjadi fokus dalam penelitian yang menyangkut peran serta masyarakat dalam pelaksanaan MBS terutama yang berkaitan dengan partisipasi dalam perencanaan sekolah. . Ketika itu kami sepakat akan visi. tetapi setelah itu kami sangat jarang diundang untuk berpartisipasi dalam perencanaan sekolah.93 antar Kepala Sekolah. Muh Palesangi MH. Hal ini didasarkan dari pendapat ketua Komite sekolah.A. Misi. Sasaran dan Tujuan. sebagian besar responden yang diwakili oleh pengurus komite sekolah menyebutkan bahwa mereka jarang dilibatkan dengan hal-hal yang dimaksud padahal seharusnya sekolah dalam hal ini kepala sekolah sebagai penentu kebijakan mengundang tokoh-tokoh masyarakat untuk dilibatkan aktif dalam perencanaan sekolah. siswa dan orang tua bahwa ada upaya bimbingan dan penyuluhan yang dilakukan. Misi. Misi .Sasaran maupun tujuan telah mengalami perubahan atau tidak.2) Apakah masyarakat memberikan usul.misi. saran dan pertimbangan terhadap rencana pengembangan sekolah. Meskipun demikian kami tetap diundang oleh pihak sekolah manakala ada kegiatan yang bersifat ceremonial atau keagamaan”(2-4-2012). Kami tidak tahu apakah Visi. agar ada saling pengertian antara kepala sekolah maupun orang tua siswa sehingga prinsip saling mempercayai tetap terpelihara antar warga sekolah. Peran Serta Masyarakat dalam Pelaksanaan MBS pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum (1). E. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa orang tua siswa yang menyangkut tentang peranan mereka dalam merumuskan Visi.3) Apakah masyarakat diundang dalam rapat komite di sekolah dan 4) Apakah kebijakan sekolah sudah sesuai harapan masyarakat atau belum. meliputi:1) Apakah masyarakat dilibatkan dalam merumuskan Visi. Bapak Drs H.

Kecuali untuk hal-hal tertentu mereka selalu diundang oleh pihak sekolah. juga mengancam keselamatan anak-anak kami dari bahaya kendaraan.Masyarakat jarang sekali dilibatkan dalam perumusan visi. informan kunci yang menjadi sumber informasi dalam penelitian ini juga mengatakan jarang sekali dilibatkan.saran dan pertimbangan dalam pengembangan sekolah. diupayakan anak memiliki buku cetak setiap mata pelajaran. kami juga berharap ada fasilitas internet di sekolah sehingga anak-anak tidak perlu keluar mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya manakala berkaitan dengan informasi yang sulit didapatkan dalam buku pelajaran”(3-4-2012). Sebagaimana yang disampaikan oleh Junaedi: “Kami sangat menginginkan agar sekolah bisa memiliki lapangan olahraga. supaya dibenahi/diadakan tempat parkir kendaraan motor bagi guru/pegawai. agar anak tidak ngobrol ditempat lain yang tidak bermanfaat. agar tugas/pekerjaan rumahnya cepat dikerjakan. misi.. sarana dan prasarana olah raga. Tapi. Begitupun ketika peneliti menanyakan tentang bagaimana peranan masyarakat dalam memberikan usul. saran dan pertimbangan kepada sekolah dengan alasan usul ataupun saran yang dimasukkan tidak direspon atau . karena menurut anak kami. ada juga masyarakat yang acuh tak acuh tidak memberikan usul. Seandainya ada kesempatan ketika mereka dilibatkan dalam pengembangan sekolah. saran dan pertimbangan yang sering diberikan oleh masyarakat sesuai dengan hasil wawancara adalah melengkapi sarana dan prasarana pendidikan. kegiatan ekstrakurikuler ditingkatkan. kegiatan olahraga di SMPN 4 Watampone tidak dilakukan di dalam sekolah melainkan diluar sekolah. sasaran dan tujuan yang ingin dicapai oleh sekolah Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan ketua komite sekolah yang menyebutkan bahwa mereka jarang dilibatkan dalam perumusan visi. diadakan ruang piket siswa bagian depan sekolah dan sebagainya. misi. banyak yang akan mereka usulkan. Selain membutuhkan biaya. Adapun usul. jangan terlalu banyak tugas/ pekerjaan rumah yang diberikan kepada anak setiap hari agar ada waktunya bermain. sasaran maupun tujuan sekolah.

kami percaya sepenuhnya akan kebijakan yang dibuat dan sudah pasti kami bisa menerima. ada juga masyarakat yang menyatakan kami selaku orang tua tidak perlu mencampuri urusan kebijakan yang dibuat sekolah karena kami percaya sekolah memiliki orang-orang yang dapat diandalkan untuk membuat kebijakan demi kemajuan sekolah yang artinya penyusunan RAPBS. tapi ada juga masyarakat tidak terlibat didalamnya. bukan hal yang kami . dari 24 responden sebagai perwakilan komite hampir semua pernah hadir dalam mengikuti rapat komite antara pengurus komite sekolah dengan pihak sekolah. memilih pengurus. program partisipasi komite terhadap program sekolah. menurut wawancara dengan responden isinya menyangkut berbagai kebijakan-kebijakan yang akan dilakukan oleh sekolah. ibu masradia. Sementara mengacu kepada pertanyaan mengenai kehadiran mereka dalam rapat yang pernah diadakan di sekolah. Selanjutnya mengacu kepada pertanyaan yang keempat tentang apakah kebijakan yang dibuat sadah sesuai dengan harapan masyarakat atau belum.95 karena sekolah dianggap kurang perhatian terhadap rencana pengembangan sekolah. rencana kerja. senang atau tidak.. Mardiana. termasuk diantaranya pemanfaatan dana BOS. Dari 24 responden dalam hal ini yang diwakili oleh informan kunci mengatakan kebijakan sekolah yang dibuat tentu didasari oleh pertimbangan pihak sekolah untuk kepentingan siswa dan warga sekolah. Persoalan puas atau tidak. Rapat komite itu sendiri. tidak masuk menjadi pengurus komite sekolah. Penyusunan RAPBS. dan kasmawati dan beberapa responden lainnya berpendapat bahwa: “Sekolah pasti sudah punya agenda dan kebijakan yang relevan dengan kemajuan anakanak kami. meminta bantuan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Sejalan dengan hal tersebut. penyusunan berbagai program sekolah yang akan dibicarakan bersama pengurus komite melalui rapat pengurus komite sekolah dengan dewan guru.

tidak masuk pengurus komite sekolah tidak pernah dimintai untuk memberikan pemikiran oleh sekolah itu. Partisipasi Dalam Perencanaan Program Sekolah Adapun yang menjadi fokus pengkajian dalam partisipasi masyarakat dalam perencanaan program sekolah meliputi (1) Sumbangan pemikiran dan tenaga (2) Pengawasan pelaksanaan kebijakan dan program sekolah. karena kurangnya komunikasi antara masyarakat dengan kepala sekolah. masalah keamanan. Sumbangan Pemikiran yang diberikan menurut hasil wawancara adalah kebersihan sekolah. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan responden sebanyak 9 responden menyatakan “ya” dalam memberikan sumbangan pemikiran dan tenaga atau dengan Persentase 37. dan pengadaan ruang piket siswa bagian depan sekolah. menurut hasil wawancara. Meskipun demikian ketidakterlibatan masyarakat dalam memberikan sumbangsih pemikiran dan tenaga tidak mempengaruhi mereka untuk tetap berpartisipasi aktif.Pd: “Kebanyakan masyarakat tidak ikut terlibat aktif dalam memberikan sumbangan pemikiran dan tenaga karena kurangnya informasi yang disampaikan pihak sekolah kepada mereka. penataan sarana dan prasarana sekolah. Ini semua disebabkan karena pendekatan yang dilakukan oleh ketua komite”(4-4-2012). Menurut bapak Drs Syahruddin M. padahal orang tua siswa banyak yang sangat potensial untuk memberikan gagasan yang dapat meningkatkan mutu pendidikan.5 persen sedangkan yang menyatakan “tidak” sebanyak 15 orang atau dengan Persentase 62.permasalahkan”(5-4-2012) (2). Selanjutnya dari hasil wawancara yang dilakukan dengan responden tentang pengawasan pelaksanaan kebijakan dan program sekolah menunjukkan jumlah responden yang menjawab “ya” untuk ikut serta mengawasi pelaksanaan kebijakan dan . perbaikan lingkungan. Sedangkan yang tidak memberikan pemikiran. pengadaan tempat parkir kendaraan motor bagi guru/karyawan. membantu menyusun proposal Life Skill.5persen.

supervisor. Bahkan orangtua siswa sudah mempercayai peranan komite sebagai wakil dari orang tua di sekolah.97 program sekolah sebanyak 7 orang atau dengan Persentase 29. administrator. Mallaloang SH” “Masyarakat banyak yang tidak berpartisipasi aktif dalam melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan dan program sekolah karena lebih mempercayakan kepada pengurus komite yang dianggap dapat mewakili semua kepentingan mereka. maka diperlukan sumber daya bermutu tinggi pula.83persen. Pelaksanaan manajemen berbasis sekolah dengan orientasi mewujudkan pendidikan yang bermutu tinggi. Ketidakaktifan masyarakat untuk melakukan pengawasan disebabkan karena faktor kesibukan. Berdasarkan temuan pada lokasi penelitian bahwa kualitas sumber daya pendidikan dimana kualitas guru dapat dilihat berdasarkan golongan berada pada kategori tinggi yaitu diatas 50 persen golongan tiga dan tingkat pendidikan mayoritas guru sudah berada pada jenjang pendidikan strata satu sementara upaya guru dan pihak sekolah terhadap peningkatan kualitas guru masih terus dilaksanakan. innovator dan motivator. manajer. dalam pelaksanaan manajemen berbasis sekolah unsur masyarakat dipandang sebagai unsur yang penting mendukung keberhasilan sekolah (Stakeholder) olehnya itu upaya keterlibatan masyarakat dalam organisasi sekolah telah dilembagakan . berdasarkan hasil penelitian dapat berjalan lebih baik. karena tidak menjadi pengurus komite.17 persen sedangkan yang menjawab “tidak” sebanyak 17 orang atau dengan Persentase sebesar 70. Selanjutnya. karena program dan kebijakan tidak disampaikan secara tertulis kepada mereka”(5-4-2012). leader. Menurut bapak A. Pelaksanaan manajemen berbasis sekolah sangat berkaitan dengan peningkatan kinerja kepala sekolah dimana kewenangan yang tinggi terhadap berbagai tugas dan fungsi kepala sekolah seperti: kepala sekolah sebagai educator. Kedua faktor tersebut yaitu tingkat pendidikan dan golongan signifikan dengan kematangan/pengalaman bagi profesi sebagai guru.

tingkat pendapatan dan jenis pekerjaan. baik kehadiran pada pertemuan rutin maupun gagasan dan pemikiran terhadap pengembangan sekolah.dalam bentuk komite sekolah. hasil penelitian menunjukkan bahwa dan ketiga jenis pekerjaan yang dianalisis keterlibatan pensiunan dan profesi wiraswasta menduduki tingkat partisipasi yang lebih tinggi dibanding pegawai negeri sipil. hal ini menunjukkan bahwa gagasan-gagasan pemikiran dalam rangka pengembangan sekolah terdapat kecenderungan diwarnai oleh mereka yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Berdasarkan temuan penelitian bahwa tingkat partisipasi masyarakat lebih banyak ditentukan oleh berbagai faktor-faktor seperti tingkat pendidikan. menyangkut hal berkaitan dengan sumbangan material secara umum juga tidak menunjukkan perbedaan yang menjolok. Menurut pengamatan peneliti bahwa tingkat pendidikan masyarakat signifikan dengan tingkat partisipasi mereka. Menurut keterangan dan salah seorang responden yang berprofesi sebagai . Dan faktor latar pekerjaan berkaitan dengan waktu dan kesempatan yang berbeda-beda signifikan terhadap tingkat partisipasi masyarakat berperan aktif dalam komite sekolah. Sedang tingkat pendapatan masyarakat yang berbeda tidak menunjukkan tingkat partisipasi masyarakat yang menjolok. Tingkat pendidikan berkaitan dengan kemampuan masyarakat berinteraksi dengan organisasi sekolah mengakibatkan pemahaman masyarakat yang berbeda-beda terhadap pengetahuan berlembaga (komite sekolah). Pemberdayaan masyarakat terhadap organisasi sekolah baik dalam fungsinya sebagai pengawasan pengelolaan dan pengembangan sekolah juga partisipasi mereka secara material.

Peran Kepala Sekolah di mana sebelumnya harus mengikuti petunjuk dan instansi vertikal sampai pada masalah-masalah teknis kini telah mengalami perubahan-perubahan mendasar dengan reorientasi pada kemandirian sekolah di mana kewenangan disertai dengan tanggung jawab yang tinggi terhadap pengembangan sumber daya sekolah. pertama optimalisasi kinerja kepala sekolah yang memegang peranan penting terhadap keberhasilan sekolah. kedua kinerja guru dalam proses belajar mengajar yang berhubungan langsung dengan peserta didik sebagai sasaran pendidikan dan ketiga sumber daya masyarakat yang berhubungan dengan unsur pendukung (stakeholder) dalam upaya pengembangan sekolah. namun banyak faktor yang menghambat mereka dalam mengembangkan berbagai potensinya secara optimal.99 wiraswasta. Selanjutnya bahwa dalam pelaksanaan manajemen berbasis sekolah ketiga unsur disebutkan sebelumnya yaitu. bahwa keterbukaan pihak pengelola sekolah terhadap program-program yang direncanakan memberikan informasi kepada masyarakat baik sebagai orang tua murid maupun masyarakat sebagai bagian dari lingkungan sekolah memberikan kesempatan bagi pihak wiraswasta berperan serta dalam mendukung pengembangan sekolah. Untuk lebih jelasnya ketiga unsur tersebut akan dibahas secara rinci sebagai berikut: 1. Pada dasarnya Kepala Sekolah memiliki potensi yang cukup tinggi untuk berkreasi dan meningkatkan kinerja. Olehnya itu melalui manajemen berbasis sekolah para kepala sekolah dapat melaksanakan pembinaan secara . Kinerja kepala sekolah Kinerja kepala sekolah sangat erat kaitannya dengan model manajemen yang diterapkan pengembangan modal manajemen berbasis sekolah yang relatif masih baru memperlihatkan hasil cukup memuaskan terhadap kinerja kepala sekolah.

kurikulum atau pengajaran. yakni program instruksional. Program pembinaan guru dan personil pendidikan tersebut yang lazim disebut supervisi pendidikan rangkaian kegiatan sebagai suatu manajemen pendidikan di mana peran kepala sekolah sebagai supervisi pendidikan memperlihatkan hasil cukup memuaskan. administrasi perlengkapan administrasi keuangan. kepegawaian kesiswaan. walaupun dalam hubungan dengan fungsi tersebut kepala sekolah pada umumnya lebih menekankan aspek manajerial dan kepemimpinan. seperti Manajemen Berbasis Sekolah. Kompetensi Kepala Sekolah diperoleh melalui pendidikan/latihan yang mengandung muatan akademik/ teoritik dan praktik sangat mendukung kinerja kepala sekolah yang bersifat rasional dalam pelaksanaan tugas-tugas pendidikan. Dalam hal ini kepala sekolah menggunakan prinsip pengembangan dan pendayagunaan organisasi secara kooperatif dan aktivitas melibatkan keseluruhan personil dan sumber daya masyarakat sekitar. dan kompetensi tersebut sudah merupakan persyaratan sebagai jabatan kepala sekolah. Selanjutnya. administrasi kepegawaian dan hubungan sekolah dengan masyarakat dapat pula berjalan dengan baik. Kepala sekolah sebagai administrator pendidikan harus memenuhi fungsi dasar kepala sekolah. Berkaitan dengan hal tersebut dalam rangka mengimplementasikan paradigma pendidikan baru. sumber-sumber fisik dan finansial serta menjalin hubungan kerjasama masyarakat yang dinilai berjalan cukup baik. Pemahaman terhadap berbagai undang-undang pendidikan/ peraturan sekolah berdampak pada peran kepala sekolah sebagai administrator sekolah dalam pengembangan program.kontinu dan berkesinambungan dengan program yang terarah dan sistematis terhadap para guru dan personil pendidikan lain di sekolah. mengetahui bahwa sekolah sebagai suatu organisasi . administrasi kesiswaan.

3. Sedang kepala sekolah sebagai motivator lebih cenderung masih kurang profesional terhadap berbagai tugastugas di luar jam kerja guru dengan secara finansial.101 pendidikan formal merupakan wadah kerjasama sekelompok orang yang terdiri atas guru. inisiatif kepala sekolah dalam menyesuaikan sumber daya sekolah. 2. Mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik. pengorganisasian aktivitas-aktivitas kerja untuk mencapai sasaran-sasaran dilakukan melalui suatu tim kerja. 5. Dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. dan produktif. kepala sekolah dan siswa kepala sekolah sebagai pemimpin pemegang tugas kelembagaan dan pencapaian tujuan organisasi sekolah. Dalam kaitannya dengan penelitian ini difokuskan pada pelaksanaan . Kinerja guru dalam pelaksanaan Proses Belajar Mengajar Kualitas sumber daya guru secara nyata dapat dilihat pada bagaimana proses pendidikan itu berlangsung dengan baik sehingga output pendidikan dapat secara maksimal dicapai. lancar. Bekerja dengan tim manajemen 2. staf. 4. sebab bagaimanapun orang yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi selalu melihat hubungan antara usaha/kegiatan dengan hasil yang diperoleh. Berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain disekolah. Kinerja kepemimpinan kepala sekolah yang efektif dalam MBS dapat dilihat berdasarkan kriteria berikut: 1. Mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan.

Proses Belajar Mengajar. Proses Belajar Mengajar merupakan input pendidikan yang menentukan output pendidikan yang berkualitas yang sangat berkaitan dengan unsurunsur seperti kelengkapan program mengajar, penyajian materi pelajaran, evaluasi dan analisis hasil belajar siswa, serta program perbaikan/pengayaan. Dalam hubungannya dengan penelitian ini dilihat sebagai aspek utama dalam rangka pelaksanaan manajemen berbasis sekolah pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum. Pelaksanaan proses belajar mengajar berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa unsur-unsur seperti kelengkapan program mengajar, penyajian materi, evaluasi dan analisa, secara umum berada dalam kategori tinggi. Sedangkan unsur perbaikan dan pengayaan masih berada dalam kategori rendah. Tingginya penilaian responden terhadap pelaksanaan proses belajar mengajar ditunjukkan oleh keterangan salah seorang guru bahwa selama ini perumusan materi pengajaran lebih banyak bersifat konseptual, dan rancangan tersebut memberikan kewenangan penuh kepada guru. Dengan demikian, sehingga proses belajar mengajar guru yang sebelumnya bersifat subyektif terhadap murid, sekarang dituntut lebih aktif menemukan metode-metode yang sesuai, seperti perkembangan kejiwaan anak. Dengan otonomi guru yang lebih tinggi dalam proses belajar mengajar menciptakan iklim yang kondusif terhadap organisasi sekolah, di mana bahwa hubungan antar sesama guru, antar guru dengan pimpinan sekolah lebih banyak bersifat pelaporan dan koordinasi mengenai hasil yang dicapai.Tingginya penilaian terhadap responden terhadap proses belajar mengajar berdasarkan hasil penelitian pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum selanjutnya akan dibahas pada bagian berikut: a. Kelengkapan program pengajaran Program pengajaran bagi guru dalam menggunakan silabus secara

103 berkesinambungan mulai pada tahap penyusunan sampai pada tahap pelaksanaan pengajaran di kelas sehingga murid sebagai sasaran pengajaran menerima materi secara sistematis. Demikian pula kelengkapan administrasi guru mengajar di kelas seperti absen, buku paket/buku penunjang, buku keterampilan dan buku nilai harian yang setiap saat guru dapat menggunakan sebagai bahan evaluasi sementara dalam kelas untuk melihat dan memahami perkembangan kemampuan belajar peserta didik. Faktor lain yang sangat signifikan dimana proses belajar mengajar berlangsung dengan baik ditunjang dengan infrastruktur sekolah yang cukup memadai seperti ruang belajar, perpustakaan dan fasilitas-fasilitas ekstra kurikuler seperti alat-alat kesenian dan olahraga. Hal ini akan menunjang siswa belajar kreatif dan innovatif pada jenjang sekolah menengah pertama. b. Penyajian materi pelajaran. Penyajian materi pelajaran merupakan unsur pokok dalam proses belajar mengajar di mana unsur berkaitan langsung guru berinteraksi dengan peserta didik dalam kelas, olehnya itu disamping guru menguasai materi pelajaran juga memiliki kemampuan dalam mentrasformasi materi baik dalam fungsinya berperan utama sebagai media maupun sebagai motivator dalam penyajian materi pelajaran di kelas. Dalam strategi belajar dan pembelajaran guru mampu memahami dan mengelola kelas dalam pengertian bahwa penyajian materi pelajar tidak kaku atau fleksibel (infrovisasi) sehingga respon peserta didik berkesan menyenangkan menerima materi pelajaran. Guru diperkaya dengan penggunaan berbagai metode seperti diskusi, tanya jawab ceramah, demonstrasi (disertai alat peraga/alat bantu), digunakan secara terpadu komperatif dalam penyajian mata pelajaran. c. Unsur evaluasi dan analisis hasil belajar siswa

Berkaitan dengan evaluasi dan analisis hasil belajar terhadap kesinambungan dan berbagai kegiatan proses belajar mengajar dimana guru bersikap obyektif, transparan dan bertanggung jawab sehingga hasil belajar yang diperoleh murid merupakan data pokok yang dapat dijadikan rujukan untuk perbaikan dimasa akan datang. Kegiatan evaluasi dilakukan secara berkala, teratur serta pembukuan hasilnya sampai pada tahap pelaporan hasil evaluasi murid setiap semester yang akan digunakan baik untuk kebutuhan internal sekolah sekaligus sebagai bahan laporan pendidikan. d. Program perbaikan dan pengayaan Berdasarkan temuan penelitian bahwa program perbaikan dan pengayaan masih berada dalam kategori rendah, walaupun rancangan program perbaikan dan pengayaan dimiliki oleh setiap guru namun pada tingkat pelaksanaannya hanya sebagian kecil dilakukan oleh guru. Menurut pengamatan peneliti bahwa kegiatan ini tidak sepenuhnya berjalan, diakibatkan pada dua hal yaitu prestasi keseluruhan murid memperlihatkan hasil yang memuaskan, sehingga guru cukup merasa puas dengan prestasi anak didik mereka. Dari program perbaikan dan pengayaan berkaitan dengan anggaran yang disediakan masih relatif rendah serta keterbatasan waktu oleh guru. Seorang guru memberikan keterangan dan hasil wawancara peneliti program perbaikan dan pengayaan tidak dapat dilaksanakan dengan baik dimana anggaran yang disediakan tidak cukup memadai padahal waktu yang digunakan untuk memberikan materi pengulangan cukup lama dan juga menggunakan biaya pembuatan materi. Berkaitan dengan perbaikan dan pengayaan menunjukkan bahwa masih ada sebagian guru beranggapan hanya ditujukan kepada murid yang kurang berprestasi, pada hal sasaran utama program perbaikan dan pengayaan adalah pendalaman materi pelajaran kepada murid secara keseluruhan.

Berdasarkan hasil penelitian keempat unsur tersebut. monitoring sampai pada tingkat evaluasi hasil yang dicapai. dan unsur yang lain yaitu peran serta masyarakat dalam monitoring dan evaluasi tergolong sangat rendah ketiga unsur tersebut akan dibahas pada bahagian berikut: a. Menurut keterangan seorang kepala sekolah. tujuan dan program sekolah dan pemberian informasi/data yang diperlukan sekolah. . sasaran. transparansi terhadap proses pelaksanaan pendidikan. pelaksanaan program. Hal ini ditunjukkan oleh rendahnya peran serta masyarakat pada kegiatan-kegiatan seperti perumusan misi. belum ada persepsi yang sama dan tugas masing-masing masih cenderung tumpang tindih dan masyarakat lebih terkonsentrasi kepada masalah-masalah pengelolaan anggaran sekolah. Partisipasi masyarakat dalam perencanaan program sekolah Keterlibatan peran serta masyarakat dalam perencanaan sekolah pada kegiatan yang bersifat akademik. Partisipasi masyarakat Partisipasi masyarakat yang dilembagakan dalam bentuk komite sekolah untuk menjamin akan adanya akuntabilitas. pemahaman masing-masing masyarakat yang duduk pada organisasi komite sekolah yang relatif masih baru ini. visi.105 3. Olehnya itu masyarakat sebagai stekhoulder sekolah dituntut keterlibatannya mulai pada tahap perencanaan program. Hanya jika hal itu bersifat usul. yaitu peran serta masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan program sekolah berada dalam kategori sedang. saran dan pendapat yang dominan mewarnai rapat-rapat antara komite dan pihak pengelolah sekolah sedang pada tingkat pengambilan keputusan masih sering terjadi salah pengertian.

b. materi/uang. Seorang kepala sekolah memberikan keterangan berdasarkan hasil wawancara peneliti bahwa dukungan dana masyarakat diluar dan sumbangan komite (sumbangan sukarela) sangat bermanfaat membantu memperkuat pos-pos anggaran yang masih memerlukan dana tambahan secara terus menerus seperti pergantian dan penambahan alat peraga . visi. Partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program sekolah. Peran serta masyarakat mendukung material pembangunan sekolah yang disponsori melalui komite sekolah termasuk sumbangan secara sukarela cukup besar namun di dalam pembiayaan operasional sekolah/rutin siswa bagi mereka yang kurang mampu dibiayai oleh Dana BOS (Dana bantuan Operasional) Sekolah. sasaran. masih terdapat anggapan bahwa masyarakat hanya berfungsi sebagai donatur dalam rangka pembangunan sekolah.Menurut pengamatan peneliti bahwa masyarakat belum dapat menempatkan diri sepenuhnya sebagai mitra yang diperlukan oleh pengelola sekolah sampai pada tahap perencanaan program sekolah. dukungan masyarakat tetap ada untuk dapat meringankan anggaran program sekolah lebih efektif membiayai yang lebih penting. Keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan program sekolah seperti pemberian sumbangan tenaga. Pada kegiatan ekstrakurikuler seperti pekan olahraga dan kesenian dalam rangka perayaan hari ulang tahun kemerdekaan. tujuan dan program sekolah dan pemberian informasi/data yang diperlukan sekolah belum menunjukkan peran serta masyarakat yang berarti. pengadaan sarana/prasarana sekolah dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan sekolah seperti pembangunan pagar dan pembangunan sarana lainnya berdasarkan hasil penelitian berada dalam kategori tinggi. Hal ini dapat dilihat pada konteks perumusan misi.

namun pada tingkat pengawasan terhadap pelaksanaan dan pengadaannya peran serta masyarakat masih sangat minim. Tidak ada penguraian secara rinci sebagai bahan evaluasi organisasi dan komite sekolah walaupun laporan pertanggung jawaban setiap kegiatan tetap ada dan pihak pengelola sekolah dan tidak pernah mendapat tanggapan yang serius baik dan komite sekolah maupun anggota . Berdasarkan hasil penelitian bahwa peran serta masyarakat dalam monitoring dan evaluasi pelaksanaan program-program sekolah masih berada dalam kategori rendah. Hal tersebut dikemukakan oleh seorang responden sebagai anggota dalam organisasi komite sekolah: bahwa masyarakat memang mempunyai tingkat partisipasi yang tinggi secara material terhadap pembangunan sekolah tetapi sangat jarang masyarakat mempersoalkan bagaimana alokasi dana tersebut disalurkan. Partisipasi masyarakat dalam monitoring dan evaluasi sekolah Partisipasi masyarakat dalam monitoring dan evaluasi merupakan hal yang prinsipil dalam pelaksanaan pengawasan program sekolah sebagai hasil kebijakan yang telah diputuskan secara bersama baik bagi pihak pengelola sekolah maupun masyarakat secara khusus sebagai perwakilan masyarakat yang berada dalam komite sekolah (dewan sekolah). Jikapun temuan penelitian sebelumnya bahwa tingkat partisipasi masyarakat cukup tinggi secara material dalam sumbangan pembangunan sekolah. c.107 sekolah yang berkembang terus menerus sesuai dengan kebutuhan sekolah. Memantau perkembangan sekolah belum merupakan perhatian khusus bagi masyarakat baik yang bersifat non fisik seperti pengawasan proses belajar mengajar/perkembangan prestasi anak didik di sekolah maupun yang bersifat fisik seperti bantuan pembangunan dan peralatan sekolah.

baik secara konvensional maupun movatif. A.Gerakan Peningkatan Mutu Pendidikan . baik dalam pertemuanpertemuan resmi maupun melalui orientasi dan workshop. Gerakan Peningkatan Kualitas Pendidikan Yang Dicanangkan Pemerintah Upaya meningkatkan kualitas pendidikan terus menerus dilakukan. Beberapa faktor pendukung tersebut pada garis besarnya mencakup sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan. Faktor Pendukung dan Penghambat Keberhasilan Implementasi MBS 1. pada tanggal 2 Mei 2002 c. Faktor Pendukung Dalam buku Pedoman Manajemen Berbasis Sekolah dikaitkan bahwa keberhasilan pelaksanaan MBS sangat dipengaruhi oleh berbagai fakta. Gotong Royong Dalam Kekeluargaan Gotongroyong dan kekeluagaan dapat menghasilkan dampak positif (synergistyc effect) dalam berbagai aktifitas. organisasi formal dan internal.masyarakat yang hadir setiap pertemuan. potensi sumber daya manusia. a. Gotongroyong dan kekeluargaan yang membudaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia masih dapat dikembangkan dalam mewujudkan Kepala Sekolah yang profesional. menuju terwujudnya visi pendidikan menjadi aksi . Sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan Pemerintah dan seluruh stake halder pendidikan perlu terus melakukan sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan di berbagai wilayah kerjanya. gerakan peningkatan kualitas pendidikan dan gotongroyong kekeluargaan. Hal tersebut lebih terfokus lagi setelah diamanatkan dalam Undang-undang Sisdiknas bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui peningkatan kualitas pendidikan kepada setiap jenis dan jenjang pendidikan Pemerintah. dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional telah mencanangkan . organisasi profesi serta dukungan dunia usaha dan dunia industri. b.baik faktor internal maupun eksternal.

Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Musyawarah Kepala Sekolah (MKM). Kepala Sekolah memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan secara optimal. Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). dan ISPI (Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia) sudah terbentuk hampir diseluruh Indonesia. Perhatian tersebut harus ditunjukan dalam keamanan dan kemampuan untuk mengembangkan diri dan Sekolahnya secara optimal. Potensi Kepala Sekolah. Dewan Pendidikan. f. Forum Peduli Guru (FPG). Kelompok Kerja Sekolah (KKM). dan Komite Sekolah. dan telah menyentuh berbagai kecamatan. KKM. Kondisi ini dapat ditumbuhkembangkan melalui jalinan kerjasama dan keeratan hubungan dengan msyarakat dan dunia kerja. Kelompok Kerja guru (KKG). Organisasi Profesi Organisasi profesi pendidikan sebagai wadah untuk membantu pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan seperti Pokjawas. Organisasi profesi tersebut sangant mendukung implementasi MBS dalam peningkatan kinerja dan prestasi belajar peserta didik menuju peningkatan kualitas . Setiap kepala Sekolah harus memiliki perhatian yang cukup tinggi terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Sekolah. Organisasi-organisasi tersebut sangat mendukung MBS untuk melakukan berbagai terobosan dalam peningkatan kualitas pendidikan diwilayah kerjanya. d. dari Sabang sampai Merauke umumnya telah memiliki organisasi formal terutama yang berhubungan dengan profesi pendidikan seperti Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (Pokjamas). terutama yang berada di lingkungan Sekolah.109 nyata di Sekolah. Organisasi Formal dan Optimal Pada sebagian besar lingkungan pendidikan Sekolah di berbagai wilayah Indonesia. e.

rencana yang rinci dan sistematis. ketentuan-ketentuan (aturan main) yang jelas dari warga Sekolah dalam bertindak.pendidikan nasional g. serta adanya sistem pengendalian mutu yang handal untuk meyakinkan bahwa tujuan yang telah dirumuskan dapat diwujudkan di Sekolah. peserta didik juga termotivasi untuk secara sadar meningkatkan diri dalam mencapai prestasi sesuai bakat dan kemampuan yang dimiliki. 2002. Dalam pada itu. Tenaga kependidikan memiliki komitmen dan harapan yang tinggi bahwa peserta didik dapat mencapai prestasi yang optimal meskipun dengan segala keterbatasan sumber daya pendidikan yang ada di Sekolah. Harapan tinggi dari berbagai dimensi Sekolah merupakan faktor dominan yang menyebabkan Sekolah selalu dinamis untuk melakukan perbaikan secara berkelanjutan (continous quality improvement). Harapan Terhadap Kualitas Pendidikan MBS sebagai paradigma baru manajemen pendidikan mempunyai harapan yang tinggi untuk meningkatkan kualitas pendidikan. serta komitmen dan motivasi yang kuat untuk meningkatakan mutu Sekolah secara optimal. Pada buku pedoman implementasi manajemen berbasis Sekolah yang diterbitkan oleh Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Jakarta. h. Input manajemen yang telah dimiliki seperti tugas yang jelas. program yang mendukung implementasi. Input Manajemen Paradigma baru manajemen pendidikan perlu ditunjang oleh input manajemen yang memadai dalam menjalankan roda Sekolah dan mengelola Sekolah secara efektif. bahwa faktor pendukung keberhasilan MBS terdiri dari .

faktor ini sangat strategis dalam upaya menentukan mutu dan hasil kerja Sekolah. d. factor luar yang akan turut menentukan keberhasilan MBS adalah keadaan tingkat pendidikan orangtua siswa dan masyarakat. Kemampuan dalam membiayai pendidikan. Keadaan social ekonomi dan penghayatan masyarakat terhadap pendidikan. b. Dukungan pemerintah. serta mampu menciptakan iklim organisasi di Sekolah yang mendukung terjadinya proses belajar mengajar.111 a. hal yang sangat menentukan tingkat keberhasilan penerapan MBS terutama bagi Sekolah yang kemampuan orang tua/masyarakatnya relatif belum siap memberikan perannya terhadap penyelenggaraan pendidikan. Sebagian orang tidak menginginkan kerja tambahan selain pekerjaan yang sekarang mereka lakukan. MBS akan jika ditopang oleh kemampuan professional Kepala Sekolah dalam memimpin dan mengelola Sekolah secara tepat dan akurat. Profesionalisme. c. Mereka tidak berminat untuk ikut serta dalam kegiatan yang . Tanpa profesionalisme kepala Sekolah. Kepemimpinan dan manajemen Sekolah yang baik. Faktor Penghambat Beberapa hambatan yang dihadapi pihak-pihak berkepentingan dalam penerapan Manajemen Berbasis sekolah (MBS) pada SMP Negeri 4 Khusus yang dapat dianalisis adalah sebagai berikut: 1. Tidak Berminat Untuk Terlibat. serta tingkat penghayatan. Alokasi dana pemerintah dan pemberian kewenangan dalam pengelolaan Sekolah menjadi penentu keberhasilan. guru dan pengawas akan sulit dicapai MBS yang bermutu tinggi serta prestasi siswa yang tinggi pula. 2. harapan dan pelibatan diri dalam mendorong anak untuk terus belajar.

Pikiran Kelompok. Anggota dewan sekolah harus lebih banyak menggunakan waktunya dalam hal-hal yang menyangkut perencanaan dan anggaran. Di satu sisi hal ini berdampak positif karena mereka akan saling mendukung satu sama lain. Memerlukan Pelatihan. Tidak semua guru akan berminat dalam proses penyusunan anggaran atau tidak ingin menyediakan waktunya untuk urusan itu. Tidak Efisien. Di sisi lain. Akibatnya kepala sekolah dan guru tidak memiliki banyak waktu lagi yang tersisa untuk memikirkan aspek-aspek lain dari pekerjaan mereka.menurut mereka hanya menambah beban. Pengambilan keputusan yang dilakukan secara partisipatif adakalanya menimbulkan frustrasi dan seringkali lebih lamban dibandingkan dengan cara-cara yang otokratis. Para anggota dewan sekolah harus dapat bekerja sama dan memusatkan perhatian pada tugas. Mereka kemungkinan besar tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang hakikat MBS sebenarnya dan bagaimana cara kerjanya. bukan pada hal-hal lain di luar itu. 2. 3. 4.” Ini berbahaya karena keputusan yang diambil kemungkinan besar tidak lagi realistis. Pihak-pihak yang berkepentingan kemungkinan besar sama sekali tidak atau belum berpengalaman menerapkan model yang rumit dan partisipatif ini. komunikasi. dan sebagainya . Setelah beberapa saat bersama. pengambilan keputusan. para anggota dewan sekolah kemungkinan besar akan semakin kohesif. Pada saat inilah dewan sekolah mulai terjangkit “pikiran kelompok. kohesivitas itu menyebabkan anggota terlalu kompromis hanya karena tidak merasa enak berlainan pendapat dengan anggota lainnya.

Tanpa itu. Berdasarkan faktor pendukung dan penghambat yang dikemukan diatas maka ada beberapa Strategi yang dapat diterapkan diterapkan di SMP Negeri 4 Khusus untuk . oleh siapa. semua yang terlibat harus memahami apa saja tanggung jawab pengambilan keputusan yang dapat dibagi. mereka dapat memastikan bahwa setiap hambatan telah ditangani sebelum penerapan MBS. Perubahan yang mendadak kemungkinan besar akan menimbulkan kejutan dan kebingungan sehingga mereka ragu untuk memikul tanggung jawab pengambilan keputusan. Pihak-pihak yang terlibat kemungkinan besar telah sangat terkondisi dengan iklim kerja yang selama ini mereka geluti. Penerapan MBS mengubah peran dan tanggung jawab pihak-pihak yang berkepentingan. kegiatan yang beragam akan berjalan sendiri ke tujuannya masing-masing yang kemungkinan besar sama sekali menjauh dari tujuan sekolah. Apabila pihak-pihak yang berkepentingan telah dilibatkan sejak awal.Kebingungan Atas Peran dan Tanggung Jawab Baru. 6. Kesulitan Koordinasi. Selain itu. Pengalaman penerapannya di tempat lain menunjukkan bahwa daerah yang paling berhasil menerapkan MBS telah memfokuskan harapan mereka pada dua maslahat: meningkatkan keterlibatan dalam pengambilan keputusan dan menghasilkan keputusan lebih baik. Anggota masyarakat sekolah harus menyadari bahwa adakalanya harapan yang dibebankan kepada sekolah terlalu tinggi. Setiap penerapan model yang rumit dan mencakup kegiatan yang beragam mengharuskan adanya koordinasi yang efektif dan efisien. dan pada level mana dalam organisasi.113 5. Dua unsur penting adalah pelatihan yang cukup tentang MBS dan klarifikasi peran dan tanggung jawab serta hasil yang diharapkan kepada semua pihak yang berkepentingan.

termasuk masyarakat dan orangtua siswa. Peningkatan kapasitas dan komitmen seluruh warga sekolah. 2.meningkatakan Mutu Pendidikan Melalui Penerapan MBS yaitu : 1. pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu melakukan kegiatan bersama dalam rangka monitoring dan evaluasi pelaksanaan MBS di sekolah. Termasuk membiasakan sekolah untuk membuat laporan pertanggungjawaban kepada masyarakat. Alangkah serasinya jika kepala sekolah dan ketua Komite Sekolah dapat tampil bersama dalam media tersebut.Pemerintah pusat lebih memainkan peran monitoring dan evaluasi. Bukan hanya sekedar melakukan pelatihan MBS. leaflet. Membangun budaya sekolah (school culture) yang demokratis. Dengan kata lain. Juga membuat laporan secara insidental berupa booklet. . 3. Mengembangkan model program pemberdayaan sekolah. transparan. Upaya untuk memperkuat peran kepala sekolah harus menjadi kebijakan yang mengiringi penerapan kebijakan MBS. termasuk pelaksanaan block grant yang diterima sekolah. dan akuntabel. yang lebih banyak dipenuhi dengan pemberian informasi kepada sekolah. atau poster tentang rencana kegiatan sekolah. Model memajangkan RAPBS di papan pengumuman sekolah yang dilakukan oleh Managing Basic Education (MBE) merupakan tahap awal yang sangat positif. Model pemberdayaan sekolah berupa pendampingan atau fasilitasi dinilai lebih memberikan hasil yang lebih nyata dibandingkan dengan pola-pola lama berupa penataran MBS.

hal mana menunjukkan bahwa tingkat kreatifitas guru menyusun materi masih sangat terbatas.115 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kinerja kepala sekolah terhadap berbagai tugas dan fungsi kepala sekolah seperti kepala sekolah sebagai edukator. leader. administrator supervisor. dukungan dana yang besar yang dapat . 2. 4. penyajian materi pelajaran evaluasi dan analisis hasil belajar murid serta program perbaikan dan pengayaan. Kinerja guru dilihat dari empat aspek yang dinilai yakni kelengkapan program mengajar guru. Adapun faktor pendukung diterapkannya manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Watampone antara lain: adanya kerjasama antara kepala sekolah dengan semua pihak-pihak yang ada di sekolah. Partisipasi masyarakat terhadap pihak pengelola sekolah belum sepenuhnya menunjukkan kerjasama yang baik diakibatkan oleh rendahnya kemampuan akademik masyarakat berorganisasi (komite sekolah) sehingga memiliki keterbatasan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat akademik seperti. manajer. perumusan misi. visi dalam perencanaan dan mekanisme pengawasan dalam pelaksanaan pengelolaan sekolah. Kesimpulan 121 Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum diperoleh gambaran sebagai berikut: 1. 3. inovator dan motivator berjalan maksimal. Dari empat aspek tersebut secara khusus pada program perbaikan dan pengayaan masih terdapat kelemahan-kelemahan seperti penyusunan tes dan materi berulang-ulang pada masing-masing sekolah.

Saran 1. kemampuan akademik dan manajerial para pendidik sangat menunjang dalam proses pembelajaran.membiayai berbagai kegiatan baik ekstra maupun intra. . serta banyaknya peserta didik dengan berbagai karakter menyulitkan untuk pelaksanaan MBS B. 3. 2. sedang yang termasuk faktor penghambat manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Khusus antara lain: Transparansi dan akuntabilitas kepala sekolah belum bersifat terbuka terutama dalam pemanfaatan dana. Dalam upaya untuk meningkatkan kinerja guru agar menjadi lebih profesional sesuai perkembangan tuntutan pendidikan maka pelaksanaan manajemen berbasis sekolah yang lebih mengedepankan kemandirian pengelolaan sekolah maka pengembangan tugas dan tanggung jawab guru menjadi suatu kebutuhan mendesak dengan terus memberikan pendidikan dan latihan atau bentuk kegiatan lainnya dalam rangka pengembangan profesionalisme guru. masih ada guru yang bersifat acuh terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Pihak pengelola sekolah perlu melakukan transformasi akademik secara intens dengan masyarakat secara kelembagaan melalui organisasi komite sekolah sehingga pemahaman masyarakat terhadap tanggung jawab keberhasilan sekolah dapat berjalan maksimal. kemampuan manajemen tenaga administratif sangat membantu kegiatan ketatausahaan. Lebih memberikan peluang lebih nyata kepada wakil masyarakat dalam komite sekolah untuk lebih optimal dalam melaksanakan tugas dan fungsinya baik secara teknis maupun secara konseptual sehingga pelaksanaan manajemen berbasis sekolah secara total. wilayah sekolah yang sempit tidak seimbang dengan jumlah siswa yang teramat banyak lebih dari 1000 siswa.

analisis serta pengkajian data dan informasi perlu dilakukan secara terus menerus dan mendalam agar setiap unit kerja di sekolah dapat melaksanakan MBS yang efisien. sehingga pelaksanaan MBS tidak lagi menemui kendala di lapangan.117 mencerminkan demokratisasi di bidang pendidikan. 5. menengah dan lanjutan diharapkan kepada peneliti lain dapat melakukan pengkajian secara mendalam pada dimensi lain dalam MBS. Hendaknya dalam meningkatkan efisiensi MBS. Agar analisis pengimplementasian MBS menjadi lebih sempurna pada sekolah tingkat dasar. DAFTAR PUSTAKA . 4.

1977. 2002 Prosedur Penelitian: Jakarta:Rineka Cipta. 2006. Berkepanjangan. 2006. M. William N. Ali. Bandung : PT. Fasli. 2000. Wayang.Abdurrahman. Malang : UNM Danuredjo. Jakarta: Bumi Aksara Jalal. Jakarta Depdiknas. Dunn. Reformasi Pendidikan. Ekonomi dan Pembiayaan Pendidikan. Koesoemahatmadja. 1987. Oktober No. Bandung Pustaka Bani Quraisy. 1998. Yogyakarta : Adi Cita. Suharsimi. ICW. Fattah. B. Restrukturisasi Penyelenggaraan Pendidikan (Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Suatu Pendekatan Praktek. Jogjakarta. 2001. Cet ke-12. 1998. Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah. Suara Bebas Abustam. Jakarta: Grasindo. 2004 Burhanuddin. Pengantar ke Arah Sistem Pemerintahan di Daerah di . Yogyakarta : Lappera Pustaka Utama. Remaja Rosdakarya Fiske. Kebijakan Pendiikan Indonesia. Beberapa Pemikiran Tentang Otonomi Daerah. 1996. Kalster. Hasbullah. Jakarta : Media Sarana Press Abidin. Supriadi dan Dedi. 2000. 2001. Reza Aulia. Otonomi Pendidikan. 2003 Konsep Management Berbasis Sekolah dan Dewan Sekolah. 1995. Jakarta: Dirjen Dikdasmen. Bastian. (Terjemahan Ahli Bahasa Basillius Bengoteku). 2001 MPMBS. Said Zainal. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada Imron . Jakarta : Penerbit Laras Depdiknas. Jakarta. Nanang. Kebijakan Publik. Idrus. Pedoman Praktis Penelitian dan Penulisan Karya Tulis Ilmiah. Desentralisasi Manajemen Pendidikan. Arikunto. Depdiknas. Djaali dan Rahman Asfah. Gajah Mada University Press Fatah. Edward. Ujung Pandang Lembaga Penelitian IKP Ujung Pandang. Pengantar Analisis Kebijakan Publik. 26) Jakarta : Badan penelitian dan Pengembangan Depdiknas. 2003. 1979. 2002. Otonomi Indonesia Ditinjau dalam Rangka Kedaulatan. Nanang. Peningkatan Mutu Pendidikan di Sekolah Dasar. Konsep & Pelaksanaan. Desentralisasi Pengajaran.

Desentralisasi Tanpa Revolusi. Bandung : Binacipta Lexy J. Moleong. D. 2000. Buku Penuntun Membuat Tesis. Manajemen Berbasis Sekolah (Konsep. Jakarta : Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas. Handout Kapita Selekta Desentralisasi Pendidikan di Indonesia. 2004. E. Strategi dan Implementasi) Bandung: PT. 2000. Bandung: PPS UPI. Otonomi dan Daerah Otonom. Strategi dan Implementasi) cetakan ketigabelas. W. E. Jakarta Rineka Cipta Mohrman Susan Albert and Wohlstette Priccilla (1994). Metodologi Penelitian Pendidikan. . Jakarta: Bumi Aksara. 2000. Saleh. 2001. Konseptual danKemungkinan Strategi Pelaksanaan. Jakarta : Penerbit Endang Sidi Indra. S. Jakarta : PT Elex Media Computindo Nurkholis. Djati. 1990. Ali. W. Bandung: Remaja Rosdakarya. Otonomi Daerah. 2004 Teori dan Praktek Bandung: Rosda Pongtuluran. S dan Thomas. School-Based Management. Kebijakan Penyelenggaraan Otonomi Daerah Bidang Pendidikan. Pustaka Fahima. San Fransisco: Jossey-Bass Publisher. 2007. Malang: Wineka Media Mantja. Manajemen Berbasis Sekolah. Syarif.119 Indonesia. Mulyasa. Kebijakan Organisasi dan Pengambilan Keputusan Manajerial. Mantja. Nugroho. 2011. Manajemen Berbasis Sekolah. Konfigurasi Politik Pendidikan Nasional. Organizing for High Performance. Nasution. LPMP Rutmini dan Juyono. Mulyasa. Muhdi. Remaja Rosdakarya. 1995. 1998. 1993. Bandung: PT. Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal. dan Imron. Slamet PH. Manajemen Pendidikan dan Supervisi Pengajaran. Jakarta: Bumi Aksara. Manajemen Berbasis Sekolah (Konsep. 2002. 1963. AH. Jakarta. Manajemen Peserta Didik. 1999. Yogyakarta. Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama. Riant. Metodologi Penelitian Kualitatif. M. Depdikbud Mardalis. Aris. Skripsi Disertasi Makalah. Malang. Depdiknas RI. Remaja Rosdakarya. Margono. (2005).

A. Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama. (2005).A. Hamzah. Jakarta Sinar Grafika. D. Yoyon. Jakarta Sinar Grafika. Amidjaja. 2 Tahun 1989. Tentang Otonomi Daerah. Jakarta: PT Bumi Aksara Wayong J. Teori Motivasi dan Pengukurannya. 1995. 1979. Rineka Cipta Thoha. Jakarta: Rajawali Tilaar H. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Jakarta . Analisis di Bidang Pendidikan. Kepemimpinan Dalam Manajemen. Tentang Sistem Pendidikan Nasional. SJ. Yogyakarta: Kanisius Suryono. 2002. 2008. Membenahi Pendidikan Nasional. Pola Pembaharuan Sistem Pendidikan Tenaga Kependidikan di Indonesia dan Pedoman Pelaksanaannya Jakarta Depdikbud. B. Depdiknas RI Sujanto.R. Yogyakarta Bigraf Publising. (2008). Mensiasati Manajemen Berbasis Sekolah Di Era Krisis Yang Suparno. Jakarta. School Based Management. 2000. Bedjo. Undang-Undang No. 22 Tahun 1999. 1989. Yogyakarta: Pascarsarjana Universitas Negeri Yogyakarta. Undang-Undang No. Handout Kapita Selekta Desentralisasi Pendidikan di Indonesia.Jogjakarta. Efektivitas Kebijakan Pendidikan. Asas dan Tujuan Pemerintahan Daerah.Slamet PH. Zamroni. Paradigma Pendidikan Masa Depan.2006. Umiarso dan Imam Gojali. 2002. 1993 Metodologi Research Jilid I. Uno. 2010. Paul. Syafaruddin. Manajemen Mutu Sekolah di Era Otonomi Pendidikan. Miftah. FIP UNY Sutrisno Hadi. 2000. Yogyakarta. . Arah Kebijakan Otonomi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah. Tisna. Jakarta:Penerbit Djambatan Zamroni. Reformasi Pendidikan (Sebuah Rekomendasi). Rineka Cipta.

121 JUDUL Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum .

administrator. Hasil penelitian dari tiga unsur pokok menunjukkan. bahwa partisipasi masyarakat belum sepenuhnya menunjukkan kerjasama yang baik dengan pihak pengelola sekolah.ABSTRAK Manajemen berbasis sekolah merupakan usaha untuk menumbuhkan pendidikan dari bawah. evaluasi dan analisis hasil belajar murid serta program perbaikan dan pengayaan dan Ketiga. yakni berakar dari masyarakat. penyelenggaraan pendidikan secara sentralistik. perumusan misi. dan peran serta masyarakat terutama orang tua hanya terbatas pada dukungan dana. pemimpin. bahwa pelaksanaan manajemen berbasis sekolah dilihat dari kinerja kepala sekolah berbagai tugas dan fungsinya seperti sebagai manajer. guru. penyajian materi pelajaran. Dalam MBS. wawancara. atas inisiatif masyarakat. kebijakan. Fokus penelitian MBS di SMP Negeri 4 adalah untuk mengetahui implementasi MBS dari pihak manajemen sekolah dalam hal ini kenerja kepala sekolah. Pertama. v ABSTRACT . Tujuan progam MBS adalah peningkatan mutu pendidikan yang meliputi manajemen sekolah. Dengan adanya manajemen berbasis sekolah ini memberikan kewenangan sekolah untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh lembaga yang bersangkutan. serta tata usaha. supervisor. dan menyenangkan (PAKEM) dan peran serta masyarakat (PSM). Wakil kepala sekolah. visi dalam perencanaan dan pengawasan. pembelajaran aktif kreatif efektif. Hal tersebut lebih banyak disebabkan oleh rendahnya kemampuan masyarakat berorganisasi (komite sekolah) sehingga memiliki keterbatasan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan seperti. pengurus komite sekolah. Ketiga faktor itu antara lain bahwa kebijakan pendidikan kurang memperhatikan proses pendidikan. Dari studi langsung di lapangan. dan motivator dapat berjalan cukup baik. ada tiga faktor sebagai penyebab mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan secara merata. Teknik dalam menggali data adalah melalui pengamatan. kinerja guru dan peran serta masyarakat dalam meningkatkan mutu pendidikan. Sumber data utama adalah kata-kata dan tindakan dari kepala sekolah. termasuk faktor pendukung dan faktor penghambatnya. Penelitian ini digolongkan sebagai penelitian deskriftif kualitatif. Kata kunci : implementasi. Kedua. sekolah memiliki kewenangan yang lebih besar dalam pengelolaan sekolah. bahwa kinerja guru dinilai melalui aspek-aspek seperti kelengkapan program mengajar. dan dokumentasi. Penelitian ini ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran secara umum tentang implementasi manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Khusus. Managemen Berbasis Sekolah. dikelola masyarakat dan untuk kepentingan masyarakat. Secara filosofis sekolah yang lebih memahami bagaimana situasi atau kondisi sekolah serta harapan apa yang akan dicapai. iv innovator.

that assessed the performance of teachers through such aspects as completeness of the teaching program. the formulation of the mission. innovator. interviews.Techniques in exploring the data is through observation. and fun (Active Learning) and community (PSM). the community initiative. leader. that the implementation of school-based management be seen from the performance of the principal tasks and functions such as a manager. and the role of the community especially the elderly is limited to financial support. and can run pretty good motivator. administrators of the school committee and administration. and documentation. school based management. It is more often caused by poor ability to organize the community (school committee) so it has limited participation in such activities. presentation of subject matter. In MBS. vice principals. supervisor. vision in the planning and supervision. among others. teachers. With a school-based management gives schools the authority to develop the potential of the institution concerned. This study aims to gather information about the implementation of school based management at SMP Negeri 4 Khusus. Keywords: implementation. DAFTAR ISI Halaman . These three factors. there are three factors as the cause of the quality of education does not increase uniformly. The results of three main elements indicate. effective creative active learning. administrator. the school has greater authority in managing the school. This study is classified as a descriptive qualitative research. MBS research focus in at SMP Negeri 4 Khusus is to investigate the implementation of MBS from management in this kenerja school principal. including school management. evaluation and analysis of student learning outcomes and program improvement and enrichment and Third. the roots of the community. managed for the benefit of the community and society. teacher performance and community participation in improving the quality of education. Second. In philosophical schools better understand how the situation or condition of the school and what expectations will be achieved. including the factors supporting and inhibiting factors. Of studies in the field. that the lack of attention to education policy education process. first. The main data sources are the words and actions of principals.vi 123 School based management is an effort to foster the education of. policy. education is centralized. that public participation has not been fully demonstrated good cooperation with the school management. MBS program goal is to improve the quality of education.

Manajemen Berbasis Sekolah ..................................... Kebijakan Publik Dalam Dimensi Akuntabilitas ............................................................. ABSTRAK ................................................ DAFTAR TABEL ............................................................. A............... DAFTAR ISI ...... E.............. C................................................................ ABSTRACT .......... C.................................................................................... Latar Belakang Masalah ....... 49 51 52 ............... HALAMAN PENGESAHAN ................. Partisipasi Masyarakat .............................................................................. PRAKATA .......................................................................................................................... Kinerja Kepala Sekolah .......... Desentralisasi Pendidikan......................................................... B.......................... BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................. BAB I PENDAHULUAN ............... Tujuan Penelitian ...................................................................... H.............. A.............................. Manajemen Pendidikan ................................. Rumusan Masalah ..................................... DAFTAR GAMBAR ....................... D.............................................................................................vii HALAMAN SAMPUL ......... Kerangka Pikir ............ D.......................................................................... G............... Manfaat Penelitian ................................... i ii iii v vi vii ix x 1 1 8 8 8 10 10 B........ Kinerja Guru Dalam Proses Belajar Mengajar ............................. 21 34 35 48 F............

....... A...................................... Metode Pengumpulan Data ........................... Kinerja Kepala Sekolah dalam Pelaksanaan MBS pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum......................................................................................... Identitas Responden ............................... Instrumen Penelitian ................................................................................................................... 70............. G...... 86 E.................... D........................... 67 C.. D............ A............ Populasi dan Sampel ............................................................................................................... 64 B...... Peran Serta Masyarakat dalam Pelaksanaan MBS pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum................................................ B..................... F................. Defenisi Operasional Variabel................... 56 56 56 58 58 59 60 62 64 .................................................................... Kinerja Guru dalam Pelaksanaan MBS pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Watampone... Faktor Pendukung dan Penghambat Implementasi MBS di SMP Negeri 4 Khusus ................... Variabel Penelitian ....................... C.........................125 BAB III METODE PENELITIAN ................. Teknik Analisis Data .................. Jenis dan Lokasi Penelitian .................................... 98 F.................................................................. Responden Masyarakat ......... E...................... BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ..................................................

................................ 69 ...................... 113 121 121 122 DAFTAR PUSTAKA ........................................... Kesimpulan ............................. 64 Penyebaran responden guru menurut kelompok umur.....3..................... Tabel 4....4........... Tabel 4.................1............................... 65 Penyebaran responden guru menurut tingkat Pendidikan.... Tabel 4.... 66 Penyebaran responden masyarakat menurut tingkat pendidikan.6............... Tabel 4.......................2.................... Karakteristik responden guru berdasarkan pangkat/golongan............ 124 DAFTAR TABEL Tabel 4............5........... Saran-saran ............................... Tabel 4............... A............ 69 Penyebaran responden masyarakat menurut latar belakang pekerjaan............................BAB V viii KESIMPULAN DAN SARAN-SARAN ......... 68 Penyebaran responden menurut tingkat pendapatan... B......................

............................... 55 x .............1 Sketsa Kerangka Pikir ..........ix 127 DAFTAR GAMBAR Gambar 2............

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->