P. 1
Buku Audit Sosial PNPM Antara Retorika Dan Realita, INFID - TIFA

Buku Audit Sosial PNPM Antara Retorika Dan Realita, INFID - TIFA

|Views: 638|Likes:
Published by infid

More info:

Published by: infid on Nov 26, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

07/19/2013

pdf

Audit Sosial PNPM antara Retorika dan Realita

Penyusun: Zulfikri Bornie Kurniawan Siswan Wendy Bullan

Audit Sosial PNPM antara Retorika dan Realita

ISBN 978-979-8811-05-0

Audit Sosial PNPM antara Retorika dan Realita
Penyusun/Peneli : Zulfikri Konsorsium untuk Studi dan Pengembangan Par sipasi (KONSEPSI) Wilayah Peneli an Nusa Tenggara Barat Bornie Kurniawan Ins tute for Research and Empowerment (IRE) Wilayah Peneli an Kutai Kartanegara dan Kupang Siswan Forum Informasi dan Komunikasi Organisasi Non Pemerintah (FIK-ORNOP) Wilayah Peneli an Sulawesi Selatan Wendy Bullan Circle of Imagine Society Timor (CIS TIMOR) Wilayah Peneli an Nusa Tenggara Timur
Audit Sosial PNPM antara Retorika dan Realita Audit Sosial PNPM antara Retorika dan Realita

Da ar Isi

Judul: Audit Sosial PNPM antara Retorika dan Realita
Cetakan Pertama 2012 ISBN 978-979-8811-05-0 Sampul dan Tata Letak w.suwandi@gmail.com Foto Sampul dan Bagian dalam Interna onal NGO Forum on Indonesian Development (INFID) Penerbit: Interna onal NGO Forum on Indonesian Development (INFID) Alamat: Jl. Ja padang Raya Kav.3 No.105, Pasar Minggu Jakarta Selatan, 12540 Telepon: 021-7819734, 7819735 Fax: 021-78844703 E-mail: infid@infid.org website : www.infid.org

Da ar Singkatan ................................................................................. iii Ringkasan Temuan Audit Sosial oleh KONSEPSI, FIK ORNOP, IRE dan CIS Timor .................................................................................... vii Pengembangan Audit Sosial Konsepsi di NTB Study Kasus PNPM Mandiri Perdesaan .............................................................................. 1 I. Ringkasan Temuan-temuan Utama ............................................ 1 II. Metode Audit Sosial.................................................................... 4 III. Analisis ....................................................................................... 5 IV. Kelemahan-kelamahan PNPM .................................................. 31 V. Rekomendasi ............................................................................ 35 Pengembangan Audit Sosial di Yogyakarta Study Kasus PNPM Mandiri Perdesaan ............................................................................. 43 I. Metode Peneli an .................................................................... 43 II. Analisis ...................................................................................... 45 III. Rekomendasi .......................................................................... 102 Pengembangan Audit Sosial di Sulsel Study Kasus PNPM Mandiri Perdesaan ....................................................................................... 107 I. Ringkasan Temuan-temuan Utama ........................................ 107
Audit Sosial PNPM antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM antara Retorika dan Realita

i

II. Metode Audit Sosial .......................................................... 111 III. Analisis .............................................................................. 117 IV. Kelemahan-Kelamahan PNPM .......................................... 129 V. Rekomendasi ..................................................................... 138 Pengembangan Audit Sosial di NTT Study Kasus PNPM Mandiri Perdesaan .................................................................... 143 I. Ringkasan Temuan-temuan Utama ................................... 143 II. Analisis .............................................................................. 146 III. Rekomendasi .................................................................... 171 DAFTAR SINGKATAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. ADD – Alokasi Dana Desa AKB – Angka Kema an Bayi AKI – Angka Kema an Ibu APBD – Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah APBDes – Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa APBN – Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ARTM – Anggaran Rumah Tangga Miskin Bak PAH – Bak Penampungan Air Hujan Bansos – Bantuan Sosial Bappeda – Badan Perencana Pembangunan Daerah Bappenas – Badan Perencanaan Pembangunan Nasional BIL – Bandara Internasional Lombok BKAD – Badan Kerjasama Antar Desa BLM – Bantuan Langsung untuk Masyarakat Bln – Bulan BPD – Bank Pembangunan Daerah BPMD – Badan Pemberdayaan Masyarakat Daerah BPMK – Badan Pemberdayaan Masyarakat Kota BPMPD – Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa

ii

Audit Sosial PNPM antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM antara Retorika dan Realita

iii

20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50. 51.

BSM – Beasiswa Siswa Miskin CBSA – Community Based Social Audit CIS Timor– Circle of Imagine Society Timor DPR – Dewan Perwakilan Rakyat DPRD – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah FGD – Focus Group Discussion FIK Ornop – Forum Informasi dan Komunikasi Organisasi Non Pemerintah FKP – Fasilitator Kecamatan Pemberdayaan FKT – Fasilitator Kecamatan Teknik GSC – Generasi Sehat Dan Cerdas HDI – Human Development Index HOK – Harian Ongkos Kerja IPM – Indeks Pembangunan Manusia IRE – Ins tute for Research and Empowerment Kemendagri – Kementerian Dalam Negeri Kesra – Kesejehteraan Rakyat KK – Kepala Keluarga KLU – Kabupaten Lombok Utara Konsepsi – Konsorsium untuk Studi dan Pengembangan Par sipasi KPA – Kuasa Pengguna Anggaran KPMD – Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa KTP – Kartu Tanda Penduduk KUD – Koperasi Unit Desa Kukar – Kabupaten Kutai Kartanegara KUR – Kredit Usaha Rakyat LPD – Laporan Penggunaan Dana MAD – Musyawarah Antar Desa MI – Madrasah Ib daiyah NTB – Nusa Tenggara Barat NTT – Nusa Tenggara Timur PAGAS – Penggalian Gagasan PAUD – Pendidikan Anak Usia Dini

52. 53. 54. 55. 56. 57. 58. 59. 60. 61. 62. 63. 64. 65. 66. 67. 68. 69. 70. 71. 72. 73. 74. 75. 76. 77. 78. 79. 80. 81. 82. 83. 84.

PDRB – Produk Domes k Regional Bruto Penlok – Pendamping Lokal PJOK – Penanggung Jawab Operasional Kegiatan PNPM – Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat PNS – Pegawai Negeri Sipil POLINDES – Pondok Bersalin Desa Polri – Kepolisian Republik Indonesia PPK – Program Pengembangan Kecamatan PPL – Pegawai Penyuluh Lapangan PTO – Petunjuk Teknis Operasional PU – Pekerjaan Umum PUSTU – Puskesmas Pembantu RPD – Rencana Penggunaan Dana RPJMD – Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah RPJMDes – Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa RTM – Rumah Tangga Miskin SD – Sekolah Dasar SKPD – Satuan Kerja Perangkat Daerah SMTA – Sekolah Menengah Tingkat Atas SMTP – Sekolah Menengah Tingkat Pertama SOP – Standar Operasional Prosedur SPP – Simpan Pinjam untuk Perempuan Sulsel – Sulawesi Selatan TK – Taman Kanak-kanak TKPKD – Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah TKPKK – Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Kabupaten TNI – Tentara Nasional Indonesia TNP2K – Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan TPK – Tim Pengelola Kegiatan TPKD – Tim Pelaksana Kegiatan Desa TPT – Tembok Penyangga Tanah TPU – Tim Penulis Usulan TTS – Timor Tengah Selatan

iv

Audit Sosial PNPM antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM antara Retorika dan Realita

v

85. TTU – Timor Tengah Utara 86. UKP4 – Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan 87. UPK – Unit Pengelola Kegiatan

RINGKASAN TEMUAN AUDIT SOSIAL OLEH KONSEPSI, FIK ORNOP, IRE DAN CIS TIMOR

aporan ini merupakan ringkasan dari beberapa inisia f menilai manfaat dan dampak dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri. Paska dicanangkan lima tahun yang lalu di Kota Palu, Sulawesi Tengah, hampir dikatakan sedikit kajian penilaian yang dilakukan terutama secara independen oleh kelompok penerima manfaat, pemerintah daerah maupun kelompok–kelompok masyarakat sipil yang menaruh kepedulian kepada efek fitas kebijakan pemberdayaan masyarakat. Dalam kerangka itu pula, laporan ini menyajikan temuan–temuan utama yang didapatkan dari ga wilayah. Di Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat dan Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur inisia f penilaian manfaat dan dampak PNPM Mandiri dilakukan melalui pendekatan audit sosial. Selain audit sosial, pendekatan studi kemanfaatan (benefit analysis) juga diterapkan di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur dan Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Berbeda dengan penilaian yang umumnya dilakukan oleh lembaga–lembaga penilai yang ditunjuk, terutama oleh Bank Dunia

L

vi

Audit Sosial PNPM antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM antara Retorika dan Realita

vii

maupun badan–badan pemerintah, penilaian ini dak sekedar memeriksa efek fitas dan efisiensi dari program PNPM Mandiri, namun lebih dari itu juga menilai dampak–dampak yang di mbulkannya terhadap kebutuhan nyata warga yang menjadi target penerima manfaat PNPM Mandiri. Karenanya, penilaian ini sekaligus akan menampilkan kualitas legi masi program PNPM Mandiri. Terutama terhadap sejauh mana da ar menu intervensi terhadap pemberdayaan masyarakat dalam PNPM Mandiri tersebut telah menjawab dimensi masalah–masalah yang secara nyata dialami oleh warga. PNPM bertolak dari niat yang baik. Seper dicatat dalam laporan dari berbagai daerah yang dihimpun dalam laporan ini, PNPM telah terbuk menyediakan berbagai sarana dan prasarana. Desa– desa dan kecamatan yang dulunya dak memiliki fasilitas publik seper jalan yang rusak atau dak ada jalan, kini telah berubah menjadi baik. Seluruh fasilitas tersebut dibangun dengan par sipasi warga, dimana mereka ikut serta memutuskan proyek dan juga terlibat dalam proses pembangunannya. Pendekatan PNPM Mandiri sungguh mulia, yakni untuk memberdayakan warganegara. Keberdayaan ar nya dari dak bersuara menjadi bersuara, dari dak memutuskan menjadi ikut memutuskan, dari dak berkelompok menjadi berkelompok, dengan singkat dari dak berkuasa (disempowered) menjadi ikut berkuasa atas nasib sendiri dan lingkungannya (empowered). Diharapkan dengan proses–proses itu, warga yang sebelumnya miskin menjadi lebih sejahtera melalui berbagai upaya pengadaan barang publik seper pembangunan dan perawatan jalan desa, pasar, kelompok–kelompok usaha dan lain sebagainya. Penyediaan barang publik seper jalan, jembatan dan barang–barang non–fisik misalnya beasiswa dan bantuan permodalan dilakukan dengan cara penentuan dari bawah yakni dari warga sendiri. Dalam kaitan ini, program PNPM Mandiri merupakan upaya untuk merubah pendekatan pembangunan dari model “seeing like

a state” menjadi “seeing like a ci zen”. Pendekatan berbasis “seeing like state” telah diprak kkan selama ini dan memiliki berbagai kelemahan yang mendasar antara lain (i) negara dak memiliki seluruh informasi mengenai kebutuhan warganya, (ii) sehingga boleh jadi program dan kegiatan yang diajukan dak tepat atau meleset sasaran; (iii) kapasitas negara dalam melakukan penyediaan barang terbatas sehingga jika dipaksakan maka barang yang dihasilkannya juga akan kurang bermutu dan dak berusia panjang; (iv) penyediaan barang oleh negara rentan oleh pembajakan oleh kelompok– kelompok elit baik parpol atau pengusaha sehingga manfaatnya bagi warga negara semakin kecil dan dak memecahkan masalah. Sementara pendekatan lain yaitu “seeing like a ci zen” mendasarkan kepada tesis warga negara sebagai subyek atau pelaku akf dan memiliki informasi. Maka, ciri–ciri utama dari pendekatan a la “seeing like a ci zen” adalah warga negara yang ikut serta dalam perencanaan dan pengambilan keputusan. Dengan kata lain, warga negara baik laki–laki maupun perempuan, melakukan musyawarah bersama, dan memutuskan program dan kegiatan apa yang paling cocok untuk memenuhi kebutuhan mereka. Berdasarkan Petunjuk Teknis Operasional (PTO) PNPM Mandiri, dituliskan bahwa ruang lingkup kegiatan PNPM Mandiri melipu empat hal: pertama, kegiatan pembangunan atau perbaikan prasarana sarana dasar yang dapat memberikan manfaat langsung secara langsung bagi Rumah Tangga Miskin (RTM). Kedua, kegiatan peningkatan bidang pelayanan kesehatan dan pendidikan, termasuk kegiatan pela han pengembangan keterampilan masyarakat (pendidikan non–formal). Ke ga, kegiatan peningkatan kapasitas atau keterampilan kelompok usaha ekonomi terutama bagi kelompok usaha yang berkaitan dengan produksi berbasis sumber daya lokal ( dak termasuk penambahan modal). Keempat, penambahan permodalan simpan pinjam untuk Kelompok Perempuan (SPP).

viii

Audit Sosial PNPM antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM antara Retorika dan Realita

ix

Petunjuk teknis tersebut telah membantu mewujudkan beberapa capaian posi f di daerah, diantara: • Di Kabupaten Bulukumba, jalan menuju perkebunan dan persawahan semakin mudah dijangkau dengan menggunakan alat transportasi seper motor dan mobil. Di Kota Makassar, kegiatan paving, pembangunan drainase dan bedah rumah telah membuat pemukiman bebas dari banjir dan genangan air di waktu hujan selain membuat rumah warga sasaran program menjadi lebih layak untuk dihuni. Di Kabupaten Kutai Kartanegara, pelaksanaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM– MP) telah mencerminkan mekanisme kerja yang terencana dan par sipa f serta berhasil menghimpun usulan kegiatan dari masyarakat terendah yaitu dusun sebagai basis komunitasnya. Paling dak, terdapat enam langkah yang mes ditempuh program PNPM–MP di ngkat desa dalam menggali, mengangkat usulan kegiatan dari masyarakat desa secara par sipa f hingga akhirnya menjadi kebijakan anggaran yang disetujui oleh pengelola PNPM–MP di ngkat kabupaten. Di Kab. Lombok Barat, di Kecamatan Narmada di Desa Sesaot yang merupakan desa lokasi Audit Sosial di Kecamatan Narmada, dari dana PNPM yang diterima sejak tahun 2008-2011 sekitar 70 persen dialokasikan membiayai pembangunan sarana prasarana desa melipu ; perbaikan Polindes 1 unit, peningkatan jalan desa sepanjang 2.200 m dan pembangunan jembatan sepanjang 25 m. Adapun sisanya 29% digunakan untuk pengembangan kelompok SPP sebanyak 15 kelompok. Di Kab. Lombok Tengah, di Kecamatan Suralaga, di Desa Bagik Payung, dana PNPM yang diterima dari tahun 2008-2011 telah digunakan untuk pengembangan SPP sebanyak 13 kelompok; pela han/pemberdayaan sebanyak 1 kegiatan dan par sipan sebanyak 50 orang; peningkatan jalan desa/lingkungan sepanAudit Sosial PNPM antara Retorika dan Realita

jang 350 m dan rehab polindes 1 unit. • Di kab. Lombok Timur, Kecamatan Sakra Barat; Desa Sukarara yang dipilih menjadi lokasi kegiatan Audit Sosial PNPM MP di Kecamatan Sakra Barat. selama 4 tahun dari tahun 2008-2011, berbagai ragam kegiatan antara lain; SPP sebanyak 20 kelompok dan 225 anggota; prasarana umum (irigasi dan jalan) sepanjang 5.966 m; prasarana pendidikan (gedung MTs) sebanyak 3 unit; dan prasarana kesehatan (pembangunan polindes) 1 unit;

Meski begitu, pelaksanaan PNPM juga menunjukkan berbagai kelemahan, sebagaimana terekam dalam beberapa temuan berikut: • Di Kabupaten Bulukumba, desa yang sangat membutuhkan justru dak memperoleh program PNPM. Di salah satu dusun di Desa Garanta yang terletak di wilayah pesisir sangat membutuhkan jembatan penyeberangan sungai dan perbaikan jalan. Namun karena informasi dan akses untuk ikut berpar sipasi dalam pengusulan program dak tersedia, akhirnya lokasi ini dak menerima program PNPM Mandiri. Padahal, kehadiran infrastruktur dasar khususnya jembatan dan perbaikan jalan akan membantu masyarakat dalam mengakses hak–hak dasar lainnya seper air bersih, pendidikan, listrik, Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dan ak vitas ekonomi. Di Kabupaten Kupang, PNPM–MP belum memiliki kepekaan nggi terhadap kebutuhan warga miskin. Di Desa Letbaun, Kecamatan Semau, bak Penampungan Air Hujan (PAH) masih menjadi prioritas kebutuhan warga sebagai media penampung air hujan. Pada tahun anggaran 2009, warga mengajukan usulan pembangunan bak PAH untuk 54 Kepala Keluarga (KK). Setelah diusulkan oleh TPK kepada pihak UPK, PNPM–MP hanya bersedia mengakomodir pembangunan bak PAH berjumlah 27 buah.
Audit Sosial PNPM antara Retorika dan Realita

x

xi

Jumlah ini selanjutnya berkurang menjadi 17 buah setelah verifikasi m UPK. Warga mempertanyakan keputusan tersebut kepada pihak UPK. Salah satu alasan kuat yang menjadi dasar penolakan pihak pengelola PNPM–MP Kecamatan dilatarbelakangi alasan karena sebagian besar rumah penduduk yang diusulkan layak menerima bak PAH, atap rumah mereka masih terbuat dari daun lontar, sehingga akan menimbulkan masalah dikemudian hari. Penilaian ini ditolak oleh warga desa, karena PNPM–MP dipandang lebih berpihak kepada warga yang secara ekonomi berkecukupan. Bagi warga Letbaun, kemampuan sebuah rumah tangga membangun atap rumah dari seng setara dengan rumah tangga yang kaya. Atas per mbangan dari warga, kepala desa melayangkan surat penolakan terhadap proyek pembangunan bak PAH kepada UPK Kecamatan. • Di Kabupaten Kupang, ngkat kehadiran dalam forum Musyawarah Desa (MUSDES) maupun Musyawarah Antar Desa (MAD) yang diselenggarakan PNPM–MP cukup nggi, namun pembahasan usulan masih didominasi oleh elit desa. Di Desa Letbaun,warga umumnya minim kemampuan dalam menyampaikan usulan mereka. Usulan yang telah dihimpun oleh TPU dari masyarakat desa, diserahkan kepada TPK dan ditandatangani oleh Badan Perwakilan Desa (BPD) dan Kepala Desa setempat inipun belum tentu lolos saat dibahas di ngkat forum MAD. Desa–desa yang wakilnya lebih vocal di dalam forum, biasanya yang paling banyak dapat program. Di Kabupaten Kupang, penentuan lokasi PNPM–MP dak mengiku ketentuan yang berlaku sebagaimana ditetapkan oleh Kemenkokesra. Mekanisme penentuan lokasi PNPM–MP, terutama di kecamatan, berdasarkan pada data BPS. Kecamatan yang memiliki jumlah penduduk miskin besar, memperoleh indeks besar sebagai lokasi penerima BLM PNPM–MP, (Kementerian Koordinator Kesra, 2007). Ketentuan seper ini ternyata dak berlaku sepenuhnya di Kabupaten Kupang. Pada akhir
Audit Sosial PNPM antara Retorika dan Realita

tahun 2008, “surat ancar–ancar” dari sekretariat PNPM–MP (demikian is lah yang digunakan) sampai ke Bupa Kupang. Surat tersebut menunjuk 16 kecamatan sebagai lokasi PNPM– MP tahun 2009, dengan kewajiban cost–sharing APBD Rp 5,4 milyar. Berselang beberapa waktu, ba– ba turun kembali “surat ancar–ancar” dari pemerintah pusat yang menunjuk bahwa jumlah lokasi PNPM–MP tahun 2009 menjadi 27 kecamatan, dengan kewajiban cost–sharing sebesar Rp 11,2 milyar. • Syarat–syarat pinjaman dalam Simpan Pinjam kelompok Perempuan (SPP) membatasi akses pemberdayaan ekonomi perempuan miskin. Di Desa Fatubaaf, Belu, Nusa Tenggara Timur, salah satu program utama PNPM adalah Simpan Pinjam Perempuan atau SPP. Program ini merupakan bentuk kepedulian kepada perempuan dimana PNPM mengalokasikan 25% pagu dana untuk pemberdayaan perempuan. Namun demikian, syarat–syarat pinjaman dan pengembalian ternyata menjadi kendala bagi perempuan warga miskin. Selain itu, bunga pinjaman yang bervariasi, denda serta kewajiban untuk mencicil se ap bulan, seringkali dibarengi dengan sanksi penyitaan jaminan. Kegiatan Simpan Pinjam kelompok Perempuan (SPP) belum betul– betul peka pada kondisi dan sumber daya perempuan desa. Masih di Desa Fatubaaf, Belu, Nusa Tenggara Timur, syarat pengembalian pinjaman se ap bulan sangat memberatkan kelompok perempuan, terutama karena sebagian besar warga berprofesi sebagai petani. Pekerjaan di sektor pertanian mengandalkan siklus musim tanam – panen yang melebihi periode bulanan. Minimnya pengalaman berusaha bagi para petani ini membuat modal yang diterima dari SPP habis untuk konsumsi. Di NTB Pembangunan fisik merupakan kegiatan yang paling dominan (70-90 %) dari total anggaran yang diterima oleh desa, selebihnya untuk pengembangkan kapasitas sumber daya

xii

Audit Sosial PNPM antara Retorika dan Realita

xiii

manusia dan SPP, hal ini berar prinsip bertumpu pada pembangunan manusia dak menjadi prioritas. • Di NTB, diketahui bahwa keterwakilan kelompok miskin dan perempuan masih lemah. Dari kegiatan audit sosial, diketahui bahwa dalam pelaksanaan PNPM MP di lapangan secara umum telah menerapkan prinsip par sipasi masyarakat. Semua komponen masyarakat terwakili dalam se ap kegiatan PNPM, termasuk masyarakat miskin dan perempuan. Hal ini terlihat dari absensi berbagai agenda kegiatan PNPM di desa lokasi audit sosial. Tampak keterwakilan perempuan cukup signifikan, namun sangat diragukan adanya keterwakilan masyarakat yang betul-betul miskin apa lagi perempuan miskin. Sebab, dari dokumen absen yang diperiksa, nama-nama peserta yang hadir lebih dominan berasal dari elit-elit masyarakat desa atau dusun. Wawancara yang dilakukan oleh m audit sosial terhadap masyarakat yang tergolong sangat miskin lebih dominan dak tahu dengan PNPM dan dak pernah ikut dalam rapat-rapat di desa. Di NTB juga, wakil masyarakat menyatakan bahwa keberadaan PNPM diakui cukup membantu terutama dalam pengadaan infrastruktur desa. Akan tetapi dalam pelaksanaannya dak luput dari permainan elit desa, sehingga jenis pembangunan yang dilaksanakan lebih dominan mengakomodir kepen ngan elit desa yang tergolong rela f mampu, sangat sedikit dinikma oleh masyarakat yang betul-betul miskin. Contohnya; pembangunan fisik yang dialokasikan untuk pembangunan madrasah milik yayasan yang merupakan cabang dari sebuah organisasi besar di Lombok Timur, seharusnya yang dibangun adalah pembuatan talut di sepanjang jaringan irigasi pertanian yang sudah mulai rusak, akan tetapi kebutuhan kelompok masyarakat miskin ini kalah dalam proses penggalian gagasan, sebab proses penggalian gagasan dak dilaksanakan sesuai prinsip PNPM yang semes nya melibatkan semua elemen mayarakat terutama kelompok miskin dan perempuan.

KESIMPULAN dan REKOMENDASI Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri telah memiliki kontribusi yang kuat dalam pengadaan sarana dan prasarana, mendorong par sipasi warga dan memperkuat peranan aparat desa dalam perencanaan pembangunan. Hal–hal tersebut pen ng dan dak dapat dipandang remeh. Namun demikian, tujuan dan jangkauannya untuk mengangkat warga miskin ternyata belum dapat dikatakan efek f. Warga miskin menjadi miskin bukan hanya akibat miskinnya sarana dan prasarana, akan tetapi juga karena miskinnya aset dan kesempatan sosial seper pendidikan, pendapatan dan jaringan sosial. Dalam kaitan tersebut, beberapa rekomendasi yang layak diper mbangkan bagi perbaikan kebijakan ke depan sebagai berikut: • Memperbesar nilai/manfaat program (economic and social empowerment), antara lain dengan: (a ) menaikkan nilai per kapita program PNPM dari 20 USD/per tahun/per orang menjadi 40-100 USD/per tahun per orang; (b) Menambah alokasi dana APBN pada total PNPM perdesaan; (c) Mikro: menetapkan batas minimum upah dan jumlah hari kerja yang diterima. • Mendesain ulang arsitektur program lebih kepada program pemberdayaan ke mbang pendekatan public works dengan cara (a) memas kan akses dan par sipasi bermakna kaum perempuan miskin dalam pertemuan, perumusan dan pengusulan dan manfaat program; (b) Wakil kaum perempuan 30% dalam semua forum dan kelembagaan; (c) Open Menu dibarengi dengan Mandatory Menu untuk memas kan jangkauan dan manfaat program kepada kaum ibu/perempuan marjinal Mencari cara untuk menaikkan ngkat keterwakilan Kelompok miskin antara lain melalui (a) fasilitator dan kelompok menengah desa/kader desa perlu mendorong dan mengupayakan par sipasi keluarga miskin; (b) pendataan RTM dan desa miskin
Audit Sosial PNPM antara Retorika dan Realita

xiv

Audit Sosial PNPM antara Retorika dan Realita

xv

perlu diadakan dan diperbaharui se ap tahun atas dasar kriteria yang obyek f. Rumah tangga miskin perlu dipas kan masuk ke dalam anggota dan penerima manfaat SPP; (c) desa-desa miskin perlu diprioritaskan dalam upaya mengurangi defisit infrastruktur dasar (jalan, air minum, polindes, irigasi, guru, bidan, dokter, dll); (d) di perkotaan, kemiskinan berkait dengan lapangan kerja pendapatan, dan jaminan sosial ke mbang infrastruktur. Intervensi yang sifatnya pembentukan aset dan perlindungan sosial perlu dikembangkan dan diujicoba. • Pelembagaan pengawasan dan penilaian secara kri s khususnya terhadap pendekatan, dampakmaupun hasil–hasil program. Dalam banyak hal, perbaikan lebih mendasar dapat dilakukan melalui pelibatan penilaian oleh kelompok–kelompok independen. Selain menilai capaian pelaksanaan kegiatan, monitoring dan evaluasi diharapkan juga dapat mengukur keberhasilan program terhadap seberapa besar warga dapat keluar dari situasi kemiskinan sesuai dengan tujuan awal program. Dibutuhkan mekanisme pengaduan dan gugatan di lapangan. Ketersediaan mekanisme umpan balik langsung di lapangan akan memungkinkan perbaikan dan penyesuaian dapat dilakukan segera tanpa harus melalui mekanisme yang berbelit. Skema penyaluran SPP perlu memper mbangkan potensi dan karakteris k usaha perempuan miskin di desa. Selain itu, sebelum penyaluran bantuan permodalan, anggota kelompok perlu dila h tentang bagaimana menyusun rencana usaha, agar modal yang diterima betul–betul dapat dimanfaatkan untuk kegiatan usaha. Alokasi dana untuk kegiatan pela han keterampilan manajemen usaha bagi warga miskin perlu ditambah porsinya, agar dak terkesan PNPM sebagai proyek pengadaan barang dan jasa terutama pengadaan infrastruktur. Demikian halnya dengan perimbangan alokasi dana bagi kelompok Simpan Pinjam Perempuan juga memerlukan peninjaun terhadap besaran dan kebutuhan warga setempat yang menjadi sasaran program.
Audit Sosial PNPM antara Retorika dan Realita Audit Sosial PNPM antara Retorika dan Realita

xvi

xvii

Pengembangan Audit Sosial di NTB Study Kasus PNPM Mandiri Perdesaan
Peneli : Konsorsium untuk Studi dan Pengembangan Par sipasi – NTB

I. RINGKASAN TEMUAN-TEMUAN UTAMA Kegiatan audit sosial terhadap PNPM Mandiri Perdesaan (PNPMMP) yang dilakukan atas kerja sama KONSEPSI dengan Yayasan TIFA di NTB,ditemukan beberapa kelemahan dalam implementasinya, antara lain: I.1. Kurangnya koordinasi antara pelaku PNPM-MP dengan kepala desa. Meskipun dalam struktur manajemen implementasi PNPM di ngkat desa, kepala desa sebagai penanggung jawab implementasi PNPM-MP, namun dalam prak knya, Tim Pelaksana Kegiatan Desa (TPKD) seringkali dak melibatkan kepala desa, sebab TPKD lebih patuh pada fasilitator kecamatan. Dalam proses Penggalian Gagasan (Pagas) di beberapa lokasi
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

I.2.
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

1

desa, sasaran program dilaksanakan dak sesuai dengan prinsip PNPM, sebab proses Pagas dilakukan hanya dengan diskusi antara kepala dusun bersama ketua RT, yang kemudian hasilnya diklaim sebagai hasil masyarakat. I.3. Masih lemahnya ak vitas pendampingan, pembinaan,dan pela han teknis di bidang pengembangan usaha produk f kepada kelompok Simpan-Pinjam untuk Perempuan (SPP) maupun Unit Pengelola Keuangan Kegiatan (UPK). Keberhasilan program hanya diukur berdasarkan kelancaran pengembalian pinjaman. Beberapa anggota kelompok penerima dana pinjaman SPP dak memanfaatkan dana pinjaman tersebut sesuai dengan kegunaannya. Dana SPP kurang dimina oleh masyarakat, sebab aturannya sangat kaku dan dak tepat dengan skema pembiayaan usaha yang dijalankan oleh kaum perempuan, sehingga kelompok perempuan pelaku usaha kecil lebih tertarik dengan tawaran lembaga keuangan nonformal yang beroperasi di desa tersebut yang mekanismenya lebih fleksibel. Angggota kelompok merasa dak mampu mengembalikan pinjaman modal SPP secara bulanan, karena siklus usaha mereka yang berupa usaha bakulan komoditas pangan, baru menghasilkan keuntungan antara 3 – 6 bulan. Kurangnya sosialisasi kepada masyarakat tentang keberadaan dana SPP yang dialokasikan kepada pengusaha kecil yang membutuhkan pinjaman dari program PNPM-MP. Syarat administrasi menjadi kendala masyarakat pengusaha kecil yang mengajukan pinjaman. Salah satu syarat misalnya, masyarakat harus mempunyai kelompok, mengajukan proposal pengajuan pinjaman,dan memiliki KTP setempat. Sementara, sebagian masyarakat dak paham proposal. Bahkan

terkadang dak memiliki KTP. I.9. Ditemukan adanya manipulasi data melalui beberapa kelompok usaha, yang ujungnya berdampak terhadap data fik f peminjam, sehingga terkesan menjadi dak tepat sasaran sesuai dengan pengajuan proposal.

I.10. Adanya anggota kelompok yang berasal dari golongan ekonomi menengah, bahkan lebih dominan. Mereka mendapatkan pinjaman dana dengan mudah dan cepat. I.11. Salah satu kendala dalam usaha mempercepat pencairan bantuan PNPM-MP adalah keterlambatan pencairan dana “sharing” pemerintah kabupaten. Disisi lain, dana bantuan dari pemerintah pusat senan asa tersedia dan dapat dicairkan kapan saja. I.12. Keterlambatan pencairan dana “sharing” dari pemerintah kabupaten akan memberikan dampak terhadap keterlambatan pencairan dana bantuan pemerintah pusat. Hal ini disebabkan 20% bantuan pemerintah pusat baru bisa dicairkan apabila “sharing” pemerintah kabupaten telah dicairkan seluruhnya. Dengan demikian, cepatnya pencairan dana “sharing” Pemkab akan berdampak pada cepatnya pemanfaatan bantuan PNPM-MP dalam rangka peningkatan perekonomian masyarakat pedesaan. II. METODE AUDIT SOSIAL II.1. Jenis Data Informasi atau data tentang PNPM-MP di NTB yang ingin diketahui atau diteli melalui kegiatan audit sosial ini melipu aspek-aspek, sebagai berikut: relasi, transparansi, kelembagaan, kapasitas, gender mainstreaming, kemiskinan, pemberdayaan, akuntabilitas dan sosialisasi. Untuk mendapat informasi-informasi tersebut, ada 2 (dua) jenis data yang dibutuhkan, yaitu
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

I.4.

I.5.

I.6.

I.7.

I.8.

2

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

3

data primer dan data sekunder. Data primer bersumber dari informasi masyarakat (lembaga maupun individu), yang diperoleh melalui ak vitas audit sosial yang dilakukan oleh Tim Community Based Social Audit (CBSA) yang dibentuk di masing-masing desa lokasi program audit sosial. Sedangkan data sekunder bersumber dari lembaga-lembaga pemangku kepen ngan ataupun pelaksana PNPM-MP, baik di kalangan pemerintah maupun dari manajemen PNPM-MP yang diperoleh melalui peneli an dokumen PNPM-MP di NTB. II.2. Pengolahan Data Pengolahan data, khususnya data primer dilakukan melalui beberapa tahapan,yaitu: a. Pengumpulan data oleh m audit sosial yang disebut Tim CBSA di masing-masing desa lokasi melalui wawancara, pengamatan langsung, pemeriksaan dokumen (proposal, rencana kerja dan rencana anggaran biaya, serta laporan proses dan hasil pelaksanaan kegiatan program), serta melalui proses diskusi/FGD. b. Tabulasi, konsolidasi dan kompilasi data dan penulisan laporan hasil audit sosial di ngkat m auditor/CBSA (se apbulan). c. Sosialisasi, sharing, verifikasi, dan review hasil audit sosial PNPM-MP di se ap desa lokasi kegiatan audit sosial. d. Pertemuan hasil audit sosial bulanan. e. Diseminasi laporan audit kepada para pihak. II.3. Wilayah Audit sosial PNPM di Provinsi NTB dilakukan di ga kabupaten di Pulau Lombok, kemudian dari se ap kabupaten dipilih dua kecamatan dan pada se ap kecamatan diambil satu desa sebagai desa sampel. Pemilihan wilayah (kabupaten, kecamatan, 4
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

dan desa sampel) dalam kegiatan audit sosial ini, ditentukan berdasarkan per mbangan sebagai berikut. a. Jumlah dan ngkat kepadatan penduduk nggi. b. Posisi ngkat kemiskinan penduduk yang cukup nggi. c. Telah mendapatkan mendapatkan dana PNPM-MP lebih dari dua tahun berturut-turut. d. Mudah dijangkau dengan alat transportasi. II.4. Lokasi Lokasi pelaksanaan audit sosial terhadap PNPM di NTB adalah sebagai berikut, a) Kabupaten Lombok Barat, yang melipu Desa Sesaot, Kecamatan Narmada dan Desa Tempos, Kecamatan Gerung, b) Kabupaten Lombok Tengah, melipu Desa Ubung, Kecamatan Jonggat dan Desa Murbaya, Kecamatan Pringgarata, c) Kabupaten Lombok Timur, melipu Desa Sukarara, Kecamatan Sakra Barat dan Desa Bagik Payung, Kecamatan Suralaga. III. ANALISIS III.1. Konteks Wilayah III.1.1. Kemiskinan Income dan Nonincome Provinsi Nusa Tenggara Barat mempunyai luas wilayah 20.153,15 Km², dengan jumlah penduduk 4.550.212 jiwa. Penduduk miskin berjumlah 965.196 jiwa (21%), lebih nggi dibandingkan dengan rata-rata nasional tahun 2010, sebesar 13,49%. Kondisi kemiskinan di bawah rata-rata nasional ini menjadi faktor penyebab Indeks Pembangunan Manusia (IPM) NTB berada di urutan 32 dari 33 provinsi di Indonesia. Sebaran luas wilayah, jumlah penduduk, kepadatan, dan kondisi kemiskinan Provinsi NTB per kabupaten TaAudit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

5

hun 2010 digambarkan dalam tabel berikut:
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kabupaten/Kota Lombok Utara Kota Mataram Lombok Barat Lombok Tengah Lombok Timur Sumbawa Barat Sumbawa Dompu Kabupaten Bima Kota Bima Jumlah Luas Wilayah (KM2) 809,53 61,30 1.053,92 1.208,40 1.605,55 1.849,02 6.605,55 2.324,60 4.389,40 207,50 20.153,15 Jumlah Penduduk (Jiwa) 200.072 402.843 599.986 860.209 1.105.582 114.951 415.789 218.973 439.228 142.579 4.500.212 Kepadatan (Jiwa/KM2) 247,15 687,13 569,29 711,86 688,6 62,15 62,94 94,20 100,06 247,15 223,31 Penduduk Miskin (Orang) 86.271 58.171 129.537 165.332 263.350 25.071 90.393 43.554 85.254 18.264 965.196 Tingkat Kemiskinan (%) 43,12 14,44 21,59 19,22 23,82 21,81 21,74 19,89 19,41 12,81 21

ter nggi berada di Kabupaten Lombok Utara, namun dak dipilih menjadi wilayah lokasi audit sosial, sebab Kabupaten Lombok Utara merupakan kabupaten baru, pemekaran dari Kabupaten Lombok Barat pada tahun 2009 dan baru memiliki pemerintahan defini f pada tahun 2010. Adapun gambaran kondisi wilayah kabuapaten, kecamatan, dan desa lokasi audit sosial PNPM-MP, secara umum dapat disampaikan sebagai berikut. a. Kabupaten Lombok Barat Kabupaten Lombok mempunyai luas wilayah 809,53 Km², dengan jumlah penduduk 599.986 jiwa dan ngkat kemiskinan 21,59% dari jumlah penduduk.Secara administra f, dibagi 10 kecamatan, yaitu Sekotong, Lembar, Gerung, Labuapi, Kediri, Kuripan, Narmada, Lingsar, dan Gunung Sari. Di antara 10 kecamatan tersebut, dipilih dua kecamatan sebagai lokasi audit sosial PNPM-MP, yaitu Kecamatan Gerung dan Kecamatan Narmada. Gambaran mengenai kondisidua kecamatan tersebut adalah sebagai berikut: 1) Kecamatan Gerung Kecamatan Gerung memiliki luas wilayah 62,30 Km², jumlah penduduk 74.327 jiwa, dan kepadatan 1.193 jiwa/Km². Gerung merupakan ibu kota Kabupaten Lombok Barat, dibelah oleh jalan negara dari Kota Mataram menuju pelabuhan Lembar, sehingga mempermudah akses transportasi hampir kesemua desa maupun kecamatan sekitarnya. Prasarana jalan Kecamatan Gerung melipu , jalan aspal

Sumber: NTB Dalam Angka dan BPS NTB 2010

Dalam tabel di atas, terlihat gambaran ngkat kepadatan dan kemiskinan penduduk di NTB per kabupaten. Tingkat kepadatan ter nggi (diatas 100 jiwa/Km²), berturut-turut terdapat di ga kabupaten dan satu kota di Pulau Lombok, yaitu; Kabupaten Lombok 711,86 jiwa/ Km²; Kabupaten Lombok Timur 688,6 jiwa/Km;, Kota Mataram 687,13 jiwa/Km²; dan Kabupaten Lombok Barat 569,29 jiwa/Km². Tabel di atas dapat dilihat gambaran posisi ngkat kemiskinan masing-masing kabupaten/kota di NTB, berturut-turut sebagai berikut, Kabupaten Lombok Utara sebesar 43, 12%, Kota Mataram sebesar 14,44%, Kabupaten Lombok Barat sebesar 21,59%, Kabupaten Lombok Tengah sebesar 19,22%, Kabupaten Lombok Timur sebesar 23,82%, Kabupaten Sumbawa Barat sebesar 21,81%, Kabupaten Sumbawa 21, 74%, Kabupaten Dompu 19,89%, Kabupaten Bima 19,41%, dan Kota Bima 12,81%. Meskipun terlihat posisi kemiskinan 6
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

7

sepanjang 64 Km, jalan diperkeras sepanjang 25 Km, dan jalan tanah sepanjang 54 Km.Kecamatan Gerung tergolong sebagai kecamatan dengan ngkat potensi sedang. Topografi Kecamatan Gerung melipu , tanah datar seluas 4.141 Ha dan tanah lereng/perbukitan seluas 1.694 Ha, terbagi dalam ngkat kesuburan tanah; sangat subur seluas 2.027 Ha; subur seluas 1.060 Ha; sedang 1.857 Ha; dan tanah kri s seluas 835 Ha. Sektor pertanian menjadi sumber mata pencaharian paling dominan. Potensi pengembangansektor industri juga cukup bagus, terutama industri kecil, seper gerabah, anyaman rotan, anyaman bambu, ukiran, dan lain-lain. Secara administra f, pemerintahan Kecamatan Gerung dibagi dalam 11 desa. Salah satu di antaranya merupakan desa lokasi audit sosial PNPM-MP, yaitu Desa Tempos. Jumlah penduduk Desa Tempos pada tahun 2010 adalah 7.920 jiwa, melipu 2.457 KK. Mata pencaharian penduduk hampir seluruhnya bergerak di sektor pertanian, yaitu 2.234 KK, selebihnya bergerak di sektor perdagangan, jasa, dan industri kerajinan. Fasilitas umum, seper pendidikan dan kesehatan sangat minim, melipu 2 unit Sekolah Dasar dan 3 Posyandu. 2) Kecamatan Narmada Kecamatan Narmada merupakan kecamatan dengan wilayah terluas di antara 10 kecamatan di Kabupaten Lombok Barat, yaitu 107,62 Km² dengan jumlah penduduk 87.897 Jiwa. Tanah dipergunakan sebagai lahan pertanian dan nonpertanian. Lahan pertanian terdiri dari lahan sawah seluas 2.242 Ha 8
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

dan nonsawah seluas 3.646 Ha. Keperluan nonpertanian seluas 4.874 Ha. Secara administra f, Kecamatan Narmada terbagi menjadi 10 desa. Satu desa di antaranya, yaitu Desa Sesaot, merupakan lokasi audit sosial PNPMMP. Desa Sesaot memiliki luas wilayah luas wilayah 41,96 Km². Desa yang terdiri dari 10 dusun ini berpenduduk7611 Jiwa atau 1947 KK. Sarana pendidikan dan kesehatan melipu 4 unit SD, 1 unit SMP, 1 unit Pustu, dan 9 Posyandu. b. Kabupaten Lombok Tengah Luas wilayah Kabupaten Lombok Tengah 1.208,4 Km²,dengan jumlah penduduk 860.209 jiwa. Pada tahun 2010 ngkat kemiskinan mencapai 19,22%.Secara administra f, terbagi 12 kecamatan, yaitu Praya Barat, Praya Barat Daya, Paraya, Praya Timur, Pujut, Janapria, Kopang, Batukliang, Batukliang Utara, Jonggat, dan Pringgarata. Di antara 12 kecamatan tersebut, dipilih dua kecamatan menjadi lokasi audit sosial PNPM-MP, yaitu Kecamatan Jonggat dan Kecamatan Pringgarata. Gambaran mengenai kedua kecamatan lokasi audit sosial tersebut adalah sebagai berikut. 1) Kecamatan Jonggat Luas wilayah Kecamatan Jonggat 71,55 Km², dengan jumlah penduduk 88.390 jiwa atau 27.748 KK. Penduduk miskin berjumlah 29.445 jiwa.Kecamatan Jonggat dibelah oleh jalan negara sepanjang 10 Km yang menghubungkan ibu kota Kabupaten Lombok Tengah (Praya) dengan ibu kota Provinsi NTB (Mataram). Jalan tersebut merupakan jalur

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

9

alterna f menuju Bandara Internasional Lombok (BIL) dan kawasan wisata Pantai Kuta, Kecamatan Pujut. Karakteris k tanah terdiri dari lahan basah/ sawah seluas 5.334 Ha dan lahan kering seluas 1.821 Ha. Secara administra f, Kecamatan Jonggat terbagi menjadi 13 desa. Satu desa di antaranya merupakan lokasi audit sosial PNPM-MP, yaitu Desa Ubung. Luas wilayah Desa Ubung6,99 Km². Jumlah penduduknya 9.428 jiwa atau2.499 KK dengan ngkat kepadatan 1.349 jiwa/Km². Letak Desa Ubung berada di tengah-tengah dan merupakan ibu kota Kecamatan Jonggat. Desa ini adalah desa perbatasan antara Kabupaten Lombok Barat dengan Kabupaten Lombok Tengah dan dilewa jalur utama transportasi yang menghubungkan Kota Mataram dengan Kota Praya. 2) Kecamatan Pringgarata Kecamatan Pringgarata terletak di bagian barat daya Kabupaten Lombok Tengah, berbatasan dengan Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat. Luas wilayahnya 52,78 Km² dengan jumlah penduduk 4.692 jiwa atau 1.646 KK. Di bagian selatan, kondisi lahannya adalah lahan basah dengan luasan 2.395 Ha. Bagian utara merupakan lahan kering berupa tegalan dan kebun seluas 2.395 Ha. Secara administra f, Kecamatan Pringgarata di bagi menjadi 7 desa. Salah satu desa di antaranya menjadi lokasi kegiatan audit sosial PNPM-MP, yaitu Desa Murbaya. Luas wilayah Desa Murbaya 2,85 Km² dengan jumlah penduduk 4.692 jiwa atau 1.508 RT dan ngkat kepadatan 1.646 jiwa/Km². 10
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

c. Kabupaten Lombok Timur Kabupaten Lombok Timur terletak di bagian paling mur Pulau Lombok dengan luas wilayah 2.679,88 Km², mencakup 33,88% luas Pulau Lombok atau 7,97% luas NTB. Kabupaten ini terdiri dari daratan seluas 1.605,55 Km²dan perairan (lautan) seluas 1.074,33 Km². Daratan dipergunakan sebagai lahan sawah seluas 45.521 Ha (28,35%) dan lahan kering seluas 115.034 Ha (71,65%), di mana 48,62% merupakan hutan negara dan hutan rakyat. Jumlah penduduk pada tahun 2010 sebanyak 1.105.582 jiwa dengan ngkat kemiskinan 23,82%, lebih nggi dari ngkat kemiskinan NTB (21%). Secara administra f, Kabupaten Lombok Timur dibagi menjadi 20 kecamatan, yaitu Keruak, Jerowaru, Sakra Barat, Sakra, Sakra Timur, Labuhan Haji, Selong, Masbagik, Sikur, Terara, Montong Gading, Pringgasela, Suralaga, Aikmel, Wanasaba, Pringgabaya, Swela, Sembalun, dan Kecamatan Sambelia. Lokasi audit soial di pilih dua kecamatan,yaitu Kecamatan Suralaga dan Kecamatan Sakra Barat. Adapun gambaran kondisi dua kecamatan lokasi audit sosial adalah sebagai berikut. 1) Kecamatan Suralaga Luas wilayah Kecamatan Suralaga 27,02 Km², dengan jumlah penduduk 52.173 jiwa atau 15.829 KK, dan kepadatan sebesar 1.931 jiwa/Km². Jumlah penduduk miskin sebanyak 15.044 orang. Secara adminsitra f, Kecamatan Suralaga terbagi menjadi 15 desa, salah satunya menjadi lokasi audit sosial PNPM-MP,yaitu Desa Bagik Payung.

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

11

Mata pencaharian penduduk cukup heterogen, walaupun masih didominasi oleh sektor pertanian. Pada tahun 2011 tercatat 24.756 orang penduduk bermata pencaharian petani, terdiri dari petani pemilik sebanyak 10.487 orang, buruh tani sebanyak 9.925 orang, penggarap sebanyak 998 orang, dan peternak sebanyak 3.346 orang. Dengan demikian, semua desa yang ada di Kecamatan Suralaga tergolong desa swasembada. Sarana perekonomian yang ada melipu pasar umum sebanyak 2 buah,toko 44 buah, kios/warung 888 buah, koperasi 18 buah, KUD 2 buah, dan 1 buah Bank (BPR LKP). Sarana pendidikan, mulai dari prasekolah sampai Sekolah Menengah Atas, baik negeri maupunswasta sebanyak 86 unit, melipu 17 TK, 45 SD dan MI, 22 SMTP dan Tsanawiyah, dan 16 SMTA dan Aliyah.Di bidang kesehatan, fasilitas yang ada saat ini melipu 1 Puskesmas, 6 Puskesmas Pembantu, 6 Polindes, 63 Posyandu, dan 1 toko obat. Tenaga kesehatan melipu 4 orang dokter, 36 orang paramedis, dan 21 orang bidan desa. Sarana penunjang kesehatan lain, diantaranya jamban keluarga sebanyak 9.080 buah dan MCK 2 buah. Desa Bagik Payung, memiliki luas wilayah 5,85 Km² dengan jumlah penduduk 8.912 jiwa dan ngkat kepadatan 2.381 jiwa/Km². Mata pencaharian penduduk didominasi sektor pertanian,melipu petani pemilik sebanyak 2.475 orang, petani penggarap sebanyak 343 orang, buruh tani sebanyak 1.341 orang. Sedangkan yang bekerja di sektor nonpertanian melipu perdagangan, industri, dan jasa sebanyak 167 orang, PNS nonguru sebanyak 44 12
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

orang, guru sebanyak 99 orang, TNI/Polri 1 orang, karyawan swasta 3 orang, dan lainnya 6 orang. Sarana di bidang pendidikan, melipu 1 TK, 4 SD/ MI, 3 SMP/MTs, dan 1 SMA/MA. Di bidang kesehatan, melipu 1 Pustu, 1 Polindes, 5 Posyandu, 833 jamban keluarga, 1 unit MCK umum, 1 orang paramedis, dan 1 orang bidan desa. 2) Kecamatan Sakra Barat Kecamatan Sakra Barat memiliki wilayah seluas 32,30 Km², dengan jumlah penduduk 47.421 jiwa atau 13.961 KK, dan kepadatan sebesar 1.468 jiwa/ Km². Penduduk miskin sebanyak 10.971 orang. Secara administra f, pada tahun 2010 terbagi menjadi6 desa. Pada tahun 2011 dimekarkan menjadi 18 desa. Salah satudi antaranyamenjadi lokasi audit sosial PNPM-MP, yaitu Desa Sukarara. Mata pencaharian penduduk didominasi sektor pertanian. Pada tahun 2011 26.099 penduduknya adalah petani, terdiri dari petani pemilik sebanyak 8.328 orang, buruh tani sebanyak 11.786 orang, penggarap sebanyak 4.724 orang, dan peternak sebanyak 1.261 orang. Sebanyak 3.852 orang bekerja di luar sektor pertanian. Sarana perekonomian melipu 1 pasar umum, 51 toko, 683 kios/warung, 12 koperasi,1 KUD, dan 1 Bank (BPR LKP). Sarana di bidang pendidikan, mulai dari prasekolah sampai Sekolah Menengah Atas sebanyak 85 unit, baik negeri maupun swasta. Di antara jumlah tersebut, 59 unit merupakan lembaga pendidikan prasekolah dan ngkat dasar (SD/MI), sedangkan sisanya adalah lembaga pendidikan menengah (SMP/MTs dan SMA/MA/SMK).Di bidang kesehaAudit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

13

tan, fasilitas yang ada melipu , 1 Puskesmas, 5 Puskesmas Pembantu, 4 Polindes, 2 lokasi prak k dokter, 2 toko obat, dan 73 Posyandu. Tenaga kesehatan melipu , 2 dokter, 14 paramedis, 10 bidan desa, dan 30 dukun bersalin terla h. Sarana penunjang kesehatan lainnya yang ada di Kecamatan Suralaga, diantaranya 6.822 buah jamban keluarga, 310 buah MCK, dan 1 unit kebun gizi. Kondisi lokasi audit sosial PNPM-MP, Desa Sukarara, merupakan salah satu desa di wilayah Kecamatan Sakra Barat. Luas wilayahnya7,43 Km² dengan jumlah penduduk 7.244 jiwa atau 1.889 KK. Tingkat kepadatan mencapai 935 jiwa/Km². Mata pencaharian penduduk Desa Bagik Payung didominasi sektor pertanian, melipu 1.311 orang petani pemilik, 151 orang petani penggarap, 1.294 orang buruh tani, 246 orang peternak. Masyarakat yang bekerja di sektor nonpertanian, melipu perdagangan, industri, dan jasa sebanyak 521 orang, PNS sebanyak 22 orang, guru sebanyak 3 orang, dan TNI/ Polri sebanyak 2 orang. Di bidang pendidikan, sarana pendidikan di Desa Sukarara, melipu 1 unit TK, 5 unit SD/MI, 1 unit SMP/MTs, dan 1 unit. Di bidang kesehatan, sarana yang ada, melipu 1 Pustu, 1 Polindes, 7 Posyandu, dan 690 jamban keluarga. Tenaga paramedis sebanyak 1 orang dan bidan desa 1 orang. III.1.2. Defisit Prasarana dan Sarana, Defisit Par sipasi dan Ragam Kebutuhan Warga Membaca uraian di atas, sesungguhnya keberadaan sarana dan prasarana di Provinsi Nusa Tenggara Barat di bidang ekonomi, pendidikan, dan kesehatan cukup memadai. Po14
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

tensi pengembangannya rela f cukup besar, baik dilevel provinsi, kabupaten, kecamatan, maupun desa. Berbagai program pembangunan melalui APBD, APBN, danswadaya masyarakat, cukup banyak yang telah dilakukan.Persoalannya, hingga saat ini IPM NTB stagnan di posisi 32 besar dari 33 provinsi di Indonesia. Hingga saat ini belum ditemukan letak keterhambatannya. Setelah di lik lebih cermat, keberadaan sarana dan prasarana yang ada ternyata lebih banyak dinikma manfaatnya oleh masyarakat ekonomi menengah ke atas, sedangkan masyarakat miskin dan sangat miskin sedikit merasakan keberadaan fasilitas-fasilitas tersebut. Hal itulah penyebab pengentasan kemiskinan dak bisa dilakukan. Oleh karena itu, di samping pembangunan infrastruktur fisik, masyarakat miskin dipedesaan dan perkotaan sangat membutuhkan kecukupan dalam pemenuhan kebutuhan pangan dan kesehatan secara layak, serta tersedianya lapangan pekerjaan yang sesuai dengan keterampilan mereka. Dengan demikian, apabila kebutuhan pangan dan kesehatan terjamin dengan baik,dan lapangan pekerjaan cukup tersedia, dengan sendirinya akan berimpilikasi terhadap meningkatnya kesejahteraan. Dalam hal ini, sangat pen ng keterlibatan se ap komponen masyarakat, termasuk golongan miskin dan perempuan dalam kegiatan pembangunan. Pelibatan dalam pembangunan bisadimulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan, dan hal ini nampaknya merupakan strategi pembangunan yang mutlak diterapkan. Dengan pelibatan kaum miskin dan perempuan, maka keberpihakan pembangunan pada masyarakat miskin akan lebih terasa, sebab mereka dapat menentukan ragam kegiatan pembangunan yang dapat menjawab kebutuhannya.

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

15

III.2. Kontribusi PNPM III.2.1. Pola-pola Keunggulan/Keberhasilan PNPM-MP adalah program pemerintah yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan dan kesempatan kerja masyarakat miskin pedesaan, dengan mendorong kemandirian dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan pembangunan. Melalui pelaksanaan PNPM-MP diharapkan agar kesejahteraan dan kesempatan kerja masyarakat miskin pedesaan lebih meningkat, dengan mendorong kemandirian dan par sipasi masyarakat, termasuk pelibatan masyarakat miskin dan perempuan dalam pengambilan keputusan, pengelolaan pembangunan, dan pengawasan. Guna mencapai harapan, strategi yang diterapkan adalah dengan meningkatkan kapasitas dan kelembagaanmasyarakat dalam menyelenggarakan pembangunan desa dan antar desa; mendukung pembangunan prasarana dan sarana sosial dasar dan ekonomi; mendorong pelembagaan pengelolaan dana bergulir. Pada tahun 2011, tercatat jumlah dana bantuan PNPMMP di Provinsi NTB sebesar Rp. 166.650.000.000,terdiri dari bantuan pemerintah pusat sebesar Rp. 133.320.000.000,- (80%) dan bantuan pemerintah kabupaten sebesar Rp. 33.330.000.000,- (20%). Dana tersebut dialokasikan untuk membiayai usulan masyarakat di 64 kecamatan di 8 kabupaten. Dari tabel di atas, terlihat jumlah alokasi paling banyak adalah Kabupaten Sumbawa dan paling sedikit di Kabupaten Sumbawa Barat. Sedangkan untuk 3 kabupaten 16
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

lokasi Audit Sosial, masing-masing; Kab. Lombok Tengah menempa urutan kedua, Lombok Timur urutan ke ga dan Lombok Barat urutan keempat dari delapan kabupaten yang memperoleh BLM PNPM MP pada tahun 2011. Adapun jumlah alokasi dan pemanfaatan dana PNPM pada kecamatan- kecamatan lokasi Audit Sosial tahun 2011 dan 6 desa lokasi dari tahun 2007 – 2011 adalah sebagai berikut:
Jumlah dan alokasi dana BLM PNPM-MP Provinsi NTB tahun 2011 menurut kabupaten
Kabupaten Lombok Barat Lombok Utara Lombok Tengah Lombok Timur Sumbawa Barat Sumbawa Dompu Bima Jumlah Alokasi BLM (Rp) 24.000.000.000 15.000.000.000 27.600.000.000 24.600.000.000 4.800.000.000 29.850.000.000 21.600.000.000 19.200.000.000 166.650.000.000 Bantuan Pusat (Rp) 19.200.000.000 12.000.000.000 22.080.000.000 19.680.000.000 3.840.000.000 23.880.000.000 17.280.000.000 15.360.000.000 133.320.000.000 Bantuan Pemkab (Rp) 4.800.000.000 3.000.000.000 5.850.000.000 4.920.000.000 960.000.000 5.970.000.000 4.320.000.000 3.840.000.000 33.330.000.000

Dari tabel di atas, terlihat jumlah alokasi paling banyak adalah Kabupaten Sumbawa dan paling sedikit di Kabupaten Sumbawa Barat. Sedangkan untuk 3 kabupaten lokasi audit sosial, masing-masing Lombok Tengah menempa urutan kedua, Lombok Timur urutan ke ga, dan Lombok Barat urutan keempat dari delapan kabupaten yang memperoleh BLM PNPM-MP pada tahun 2011. Jumlah alokasi dan pemanfaatan dana PNPM di kecamatan-kecamatan lokasi audit sosial tahun 2011 dan 6 desa

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

17

lokasi dari tahun 2007–2011 adalah sebagai berikut. 1) Kecamatan Gerung Lombok Barat Besar dana PNPM-MP yang diterima Kecamatan Gerung tahun 2011 mencapai Rp.3.000.635.300,yang dialokasikan untuk membiayai berbagai ragam kegiatan, melipu ; dana SPP kepada 29 kelompok sebesar Rp. 209.108.900,- dengan jumlah pemanfaat sebanyak 520 orang; peningkatan prasarana jalan sepanjang 1.125 meter dengan alokasi dana Rp.421.354.600,- dengan pemanfaat sebanyak 8.164 orang; peningkatan prasarana irigasi dan drainase sepanjang 7.871 meter dengan alokasi dana Rp. 2.080.217.500,- dengan jumlah pemanfaat sebanyak 12.766 orang; peningkatan sarana kesehatan seluas 84 m² dengan alokasi dana sebesar Rp. 128.755.800,dengan jumlah pemanfaat sebanyak 2.396 orang; peningkatan prasarana pendidikan seluas 88 m² dengan alokasi dana sebesar Rp. 161.198.500,- dengan jumlah pemanfaat sebanyak 2.340 orang. Total dana PNPM yang diterima Desa Tempos sejak tahun 2008-2011 berjumlah Rp. 602.536.200,- dialokasikan untuk berbagai ragam kegiatan, antara lain; pembangunan 1 unit jembatan jalan desa sepanjang 40 meter dengan alokasi dana sebesar Rp. 265.526.400,-; peningkatan jalan desa (rabat beton) sepanjang 2.212 meter dengan jumlah dana sebesar Rp. 205.044.500,-; peningkatan jaringan irigasi desa sepanjang 682 meter dengan jumlah dana sebesar Rp. 193.142.900,- dengan jumlah pemanfaat sebanyak 3.530 orang,-; pengembangan 6 kelompok SPP dengan jumlah dana sebesar Rp. 37.886.600,- dengan jumlah pemanfaat sebanyak 60 orang. 18
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

2) Kecamatan Narmada Lombok Barat Besar dana PNPM-MP yang diterima Kecamatan Narmada pada tahun 2011 mencapai Rp. 2.968.421.400,yang dialokasikan untuk membiayai berbagai ragam kegiatan, melipu ; dana SPP kepada 43 kelompok sebesar Rp. 632.098.900,- dengan jumlah pemanfaat sebanyak 819 orang; peningakatan prasarana jalan desa/lingkungan sepanjang 1.957 meter dengan alokasi dana sebesar Rp. 853.568.900,- dengan pemanfaat sebanyak 8.895 orang; peningkatan prasarana irigasi dan drainase sepanjang 360 meter dengan alokasi dana sebesar Rp. 391.805.500,- dengan jumlah pemanfaat sebanyak 989 orang; peningkatan sarana kesehatan seluas 437 m² dengan alokasi dana sebesar Rp. 783.598.500,- dengan jumlah pemanfaat sebanyak 33.550 orang; pembangunan jaringan air bersih (pipa) sepanjang 3.615 meter dengan alokasi dana sebesar Rp. 307.349.600,- dengan jumlah pemanfaat sebanyak 4.537 orang. Berbagai ragam kegiatan PNPM-MP, terutama kegiatan pembangunan sarana dan prasarana, telah menumbuhkan swadaya masyarakat yang rela f besar nilainya, yaitu mencapai Rp. 65.185.000.Pelaksanaan PNPM-MPdi desa lokasi audit sosial, Desa Sesaot, dana PNPM yang diterima sejak tahun 20082011 berjumlah Rp. 553.293.000.- Dari sejumlah dana tersebut, sebesar Rp. 387.505.000,- (70,036%) dialokasikan untuk pembangunan sarana dan prasarana desa, yang melipu ; perbaikan 1 unit Polindes; peningkatan jalan desa sepanjang 2.200 meter; pembangunan jembatan sepanjang 25 meter. Kelebihan dana sejumlah Rp. 165.788.000,- (29,064%) di alkosaikan untuk pengembangan 15 kelompok SPP.
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

19

3) Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah Pada tahun 2011 Kecamatan Jonggat mendapatkan alokasi PNPM-MP sebesar Rp. 599.910.000.- Dari sejumlah dana tersebut, sebesar Rp. 503.696.500,(83,96%) dialokasikan untuk membiayai pembangunan sarana dan prasarana ekonomi dan sosial, melipu; pembangunan 1 unit gedung Taman Kanak-Kanak; 1 unit Posyandu; peningkatan jalan desa sepanjang 4.070 meter; pembangunan talut seluas 440 m². Sisa sebesar Rp. 96.213.500,- (16,04%) dialokasikan untuk pengembangan 16 kelompok SPP. Di Desa Ubung, desa lokasi audit sosial di Kecamatan Jonggat, sejak tahun 2008 hingga 2011 total dana PNPM yang diterima mencapai Rp.650.507.600.- Sebanyak Rp. 69.578.600,- (10,70%). Dari sejumlah dana tersebut dialokasikan untuk pengembangan 9 kelompok SPP. Alokasi terbesar sebesar Rp. 580.929.000,(18,30%) diperuntukkan untuk membiayai pembangunan sarana dan parasarana fisik, melipu ; pembangunan 1 unit gedung TK; peningkatan jalan desa sepanjang 1.850 meter; 2 unit Posyandu; 1 unit Pustu. Dalam pembangunan infrastruktur fisik, selain dana PNPM, terdapat swadaya masyarakat sebesar Rp. 32.255.100.-. 4) Kecamatan Pringgarata Di Kecamatan Pringgarata, pada tahun 2011 mendapat alokasi dana PNPM-MP sebesar Rp. 1.841.636.600,dialokasikan, antara lain; kegiatan SPP sebesar Rp. 577.631.500,- di 62 kelompok; peningkatan jalan desa (sirtu dan rabat beton) sepanjang 9.500 meter sebesar Rp. 1.264.005.100.- Khusus Desa Murbaya (desa lokasi audit sosial PNPM pada tahun 2011), dana PNPM-MP 20
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

yang diterima selama 4 tahun (2008-2011) berjumlah Rp. 1.099.638.300.- Ragam kegiatan yang dibiayai dari dana tersebut melipu ; 21 kelompok SPP (250 orang) dengan dana Rp. 328.183.500,-; pela han/pemberdayaan 2 kegiatan dan par sipan sebanyak 50 orang dengan alokasi dana Rp. 74.905.000,-; Beasiswa Siswa Miskin (BSM) dengan sasaran 600 murid SD dan SMP/ MTs dengan alokasi dana Rp. 335.642.700,-; pembangunan/perbaikan jaringan irigasi desa sepanjang 1.253 meter dengan alokasi dana Rp. 326.388.600,dan swadaya masyarakat sebesar Rp. 5.676.600.5) Kecamatan Suralaga Tahun 2011 Kecamatan Suralaga mendapatkan alokasi dana Rp. 600.000.000.- Dalam implementasi kegiatan, selain dibiayai dari PNPM MP terdapat swadaya masyarakat sebesar Rp.36.463.850.- Sejumlah dana itu dipergunakan untuk membiayai berbagai ragam kegiatan, antara lain; 2 kelompok SPP sebanyak 20 orang dengan dana Rp. 26.315.000,-; pela han/pemberdayaan sebanyak 2 kegiatan dengan par sipan 120 orang dengan dana Rp. 179.368.000,-; perbaikan jaringan irigasi desa sepanjang 521 meter dengan dana Rp. 86.042.500,-; pembukaan dan peningkatan jalan desa sepanjang 752 meter dengan dana Rp. 210.632.500,-; dan perbaikan 1 unit Polindes dengan dana Rp. 97.642.000.-. Di desa lokasi audit sosial, Desa Bagik Payung, Kecamatan Suralaga, dana PNPM yang diterima dari tahun 2008-2011 berjumlah Rp. 816.704.600.- Ragam kegiatan yang dibiayai dari dana tersebut, melipu ; kegiatan 13 kelompok SPP dengan dana sebesar Rp. 147.367.200,-; satu pela han/pemberdayaan dengan
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

21

par sipan 50 orang dengan dana Rp.92.509.500,-; peningkatan jalan desa sepanjang 350 meter dengan dana Rp. 390.356.600,-; perbaikan 1 unit Polindes dengan dana Rp. 186.471.300.- Dalam pelaksanaan kegiatan, terdapat dana swadaya masyarakat sebesar Rp.23.769.000.6) Kecamatan Sakra Barat Kecamatan Sakra Barat pada tahun 2011 mendapatkan alokasi PNPM-MP sebesar Rp. 2.681.915.700,Jenis-jenis kegiatan yang dibiayai, melipu ; prasarana umum (peningkatan jalan dan irigasi desa) sepanjang 7.168 meter dengan dana Rp. 1.723.542.800,-; peningkatan 8 unit prasarana pendidikan dengan dana Rp. 719.426.000,-; peningkatan 1 unit prasarana kesehatan dengan dana Rp. 175.356.900,- dan SPP sebanyak 23 kelompok dengan dana Rp. 238.946.900.Desa Sukarara yang dipilih menjadi lokasi kegiatan audit sosial PNPM-MP dari tahun 2008-2011 mendapatkan dana PNPM-MP sebesar Rp. 2.112.758.400.Dari sejumlah dana tersebut, dipergunakan untuk membiayai berbagai ragam kegiatan, antara lain; kegiatan 20 kelompok SPP melipu 225 anggota dengan dana Rp. 247.473.200,-; prasarana umum (irigasi dan jalan) sepanjang 5.966 meter dengan dana Rp. 1.191.556.200,-; ga unit gedung MTs dengan dana Rp. 322.999.000,-; pembangunan 1 unit Polindes dengan dana Rp. 172.365.000.- Pembangunan prasarana fisik tersebut menumbuhkan dana swadaya masyarakat sebesar Rp.72.402.400.III.2.2. Metode Seleksi Berdasarkan ketentuan yang termuat dalam Buku Pe22
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

tunjuk Teknis Operasional PNPM-MP, lokasi pelaksaan PNPM-MP melipu ; semua kecamatan pedesaan di seluruh Indonesia; dak termasuk dalam kecamatan bermasalah; diusulkan oleh pemerintah daerah dalam urusan bersama.Sedangkan kelompok sasarannya terdiri dari Rumah Tangga Miskin (RTM) di pedesaan, kelembagaan masyarakat dipedesaan dan kelembagaan pemerintah lokal. Disamping kriteria jumlah penduduk miskin dari suatu kecamatan, dapat atau daknya alokasi dana PNPM suatu kecamatan, juga ditentukan dari usulan pemerintah daerah setempat. Berkaitan dengan hal itu, akan sangat bergantung dari kemampuan keuangan daerah (APBD) untuk memberikan dana sharing sebesar 20% dari jumlah dana PNPM yang akan diterima sebuah kabupaten. Semakin besar kemampuan sebuah kabupaten untuk memberikan dana sharing, maka semakin besar pula alokasi dana PNPM yang diterima kabupaten tersebut, sehingga peluang seluruh kecamatan miskin yang ada di wilayahnya mendapatkan dana PNPM akan semakin besar pula. Adapun seleksi terhadap usulan kegiatan masyarakat yang akan didanai PNPM-MP, harus memenuhi beberapa persyaratan, antara lain; lebih bermanfaat bagi RTM; berdampak langsung dalam peningkatan kesejahteraan;bisa dikerjakan oleh masyarakat; didukung oleh sumber daya yang ada; memiliki potensi berkembang dan berkelanjutan sebagai sumber kesejahteraan. Sedangkan proses pengusulannya dilakukan melalui mekanisme perencanaan par sipa f masyarakat desa dengan tahapantahapan sebagai berikut. Sosialisasi awal dan musyawarah masyarakat, yaitu

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

23

kegiatan sosialisasi dalam menyamakan pemahaman, prinsip, metode program. Mengenali kemiskinan, yaitu kegiatan iden fikasi kemiskinan, menyepaka kriteria miskin, merumuskan masalah dan faktor-faktor penyebab kemiskinan. Pemetaan swadaya, yaitu kegiatan pencacahan KK miskin, merumuskan kebutuhan, memetakan potensi yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah, dan merumuskan visi bersama. Pengorganisasian masyarakat, adanya lembaga/kelompok keswadayaan masyarakat yang dibentuk, diakui, dan dikelola masyarakat secara transparan dan b e r t a n g gungjawab dalam memenuhi kebutuhan bersama. Penyusunan rencana*), membahas berbagai kebutuhanpembangunan, menyepaka prioritas pembangunan, menyusun rencana kegiatan jangka pendek dan menengah berdasarkan visi bersama, serta potensi sumber pembiayaannya. Kegiatan penyusunan rencana ini dilakukan melalui beberapa tahapan proses, antara lain penggalian gagasan (Pagas) di ngkat masyarakat dusun/RT, musyawarah desa untuk membahas usulan masyarakat yang diperoleh melalui Pagas dan menyepak prioritas usulan yang akan menjadi usulan desa, Musyawarah Antar Desa/MAD (forum di ngkat kecamatan guna pembahasan usulan seluruh desa), dan menyepak serta menetapkan usulan kegiatan desa yang akan didanai PNPM-MP. Pelaksanaan kegiatan, pembentukan m- m pelaksana dan pemantau kegiatan di desa/kelurahan, pertanggungjawaban kegiatan. Pemanfaatan dan pemeliharaan hasil kegiatan, pengelo-

laan dan pemeliharaan pelayanan dan prasarana yang sudah dibangun atau dilaksanakan. III.2.3. Apa yang Dijawab dan Disediakan oleh PNPM? Berdasarkan hasil kegiatan audit sosial terhadap PNPMMP yang dilakukan KONSEPSI di NTBdi atas, tampak cukup banyak fasilitas desa yang tersedia melalui kegiatan PNPM. Pembangunan prasarana pedesaan, antara lain berupa prasarana umum, prasarana pendidikan dan kesehatan. Ak vitas pemberdayaan masyarakat dilakukan, antara lain melalui pela han keterampilan wirausaha, pelibatan masyarakat dalam forum-forum musyawarah dusun/desa, dan penyediaan modal usaha melalui SPP. Pembangunan prasarana dan pemberdayaanmasyarakat merupakan kontribusi PNPMMP dalam peningkatan sumberdaya masyarakat dan penyediaan dan penambahan barang publik di desa. Hal tersebut menjadi daya dorong terhadap peningkatan pergerakan perekonomian desa yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, sehingga berkontribusi pada peningkatan IPM NTB secara nasional. Meskipun faktanya, setelah empat tahun pelaksanaan PNPM-MP, IPM NTB dak bergerak dari peringkat 32. “Di mana letak permasalahannya?”Untuk mengetahuinya, perlu dilakukan kajian mendalam terhadap pelaksanaan program pembangunan di NTB, termasuk PNPM-MP. III.2.4. Siapa yang Terlibat dalam Memutuskan? Tujuan umum PNPM-MP adalah meningkatnya kesejahteraan dan kesempatan kerja masyarakat miskin secara mandiri. Untuk mencapai hal tersebut, perlu meningkatkan par sipasi masyarakat, termasuk

24

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

25

masyarakat miskin, kelompok perempuan, komunitas adat terpencil, dan kelompok masyarakat lainnya yang rentandan diabaikan dalam proses pengambilan keputusan dan pengelolaan pembangunan. Melalui audit sosial, pelaksanaan PNPM-MP secara umum telah menerapkan prinsip par sipasi masyarakat. Semua komponen masyarakat terwakili dalam se ap kegiatan PNPM, termasuk masyarakat miskin dan perempuan. Hal ini terlihat dari absensi berbagai agenda kegiatan PNPM, meskipun masih diragukan keterwakilan masyarakat yang betul-betul miskin, apalagi perempuan miskin. Dari dokumen absen yang diperiksa, nama-nama peserta yang hadir berasal dari elit masyarakat desa. Melalui wawancara yang dilakukan m audit sosial terhadap masyarakat yang diindikasikan betul-betul miskin, jawaban yang diperoleh kebanyakan dak tahu PNPM dan dak pernah ikut dalam rapat-rapat di desa.Menurut mereka, rapat bukan urusannya, tetapi urusan kades, kadus, guru, dan tokoh masyarakat. Apa yang ditetapkan oleh tokoh masyarakat menyangkut kepen ngan umum, maka itulah yang akan dilakukan oleh masyarakat. Oleh karena itu, prinsip par sipasi dalam PNPM-MP sangat diragukan penerapannya dalam implementasinya. III.2.5. Siapa Pelaksana PNPM? Struktur organisasi PNPM-MP sudah diatur dalam pedoman umum PNPM, sesuai Keputusan Menkokesra selaku Ketua Tim Penanggulangan KemiskinanNasional,yaitu sebagai berikut:
Departemen/LPND Konsultan Nasional Pusat TKPK Tim Pengendali PNPM Mandiri Pusat

Satker (APBN)

Konsultan Provinsi

TKPKD Kabupaten/Kota Tim Koordinasi PNPM Mandiri Provinsi SKPD Pelaksana

Konsultan Kabupaten Satker (APBD) Komponen co-sharing

TKPKD Kabupaten/Kota Tim Koordinasi PNPM Mandiri

Kabupaten Penanggung Jawab Operasional Kegiatan (PJOK)

Fasilitator Kecamatan

BKAD, MAD/K, UPK

Kecamatan Lembaga Keswadayaan Masyarakat Tim Pelaksana Kegiatan Desa (TKPKD) Masyarakat Penerima Manfaat Desa/Kelurahan

26

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

27

Halilulloh (28 tahun), pemuda Desa Tempos “Sejak tahun 2008, Desa Tempos mendapat bantuan PNPMMP. Jenis kegiatan PNPM-MP yang dilaksanakan, yaitu; pembangunan fisik (saluran irigasi), program Simpan-Pinjam Perempuan (SPP), dan PNPM GSC (Generasi Sehat dan Cerdas). Pembangunan saluran irigasi sangat membantu petani untuk pengairan sawah dan juga memperbaiki saluran drainase, karena selama ini Desa Tempos kerap mengalami banjir di musim hujan yang disebabkan sistem drainase yang dak bagus (badan jalan lebih rendah dibanding saluran). SPP juga sangat bermanfaat untuk mengembangkan wirausaha di Desa Tempos, khususnya kaum perempuan. Sebelum ada PNPM di desa ini dak ada kegiatan usaha oleh perempuan, karena waktunya habis untuk anak dan keluarganya, juga membantu suami mengolah lahan pertanian dan lahan garapan di lokasi HKm Gunung Sasak. Akan tetapi, pelaksanaan PNPM di Desa Tempos terkesan mengabaikan potensi setempat, aturan PNPM terlalu kaku. Pengadaan bahan bangunan harus melalui tender, karena belum ada perusahaan yang memenuhi syarat sesuai ketentuan PNPM, maka pembangunan dilakukan oleh pengusaha luar desa, sehingga terjadi kecemburuan masyarakat terhadap pengusaha luar desa tersebut. Meskipun tenaga buruh diambil dari masyarakat setempat, tetapi kesannya, masyarakat Desa Tempos jadi buruh orang lain untuk pembangunan desa sendiri yang seharusnya dikelola oleh masyarakat Desa Tempos. Demikian pula dengan program SPP, meskipun tujuannya sangat bagus, yaitu untuk membantu masyarakat (perem-

puan) miskin untuk mengembangkan usaha, tetapi dalam implementasinya dak tepat sasaran. Golongan perempuan miskin yang seharusnya dibantu dak bisa mengakses dana SPP karena persyaratannya dak mampu dipenuhi, seper harus mempunyai KTP, bunganya cukup nggi (2%), serta sistem pengembalian secara bulanan menyebabkan kelompok perempuan miskin merasa dak akan mampu untuk mengembalikan sebab usaha yang dijalankan lebih dominan usaha pemasaran hasil pertanian yang bersifat musiman.”

Azuddin Noor (36 tahun), tokoh pemuda dan guru SMP di Sesaot “Tujuan PNPM sebenarnya bagus,akan tetapi pelaksanaannya penuh dengan intervensi dan intrik atau rekayasa poli k kepala desa. Tim pengelola PNPM hanya terdiri dari orangorang lingkaran kepala desa, sehingga ada prak k korupsi dalam pelaksanaan PNPM di Desa Sesaot oleh orang-orang dekat kepala desa, bahkan untuk kepen ngan kepala desa itu sendiri. Contohnya, pengadaan material untuk rehabilitasi Polindes dilakukan sendiri oleh kepala desa, penentuan tukang/buruh yang bekerja pada rehab Polindes ditentukan oleh kepada desa dan dak ada musyawarah. Laporan pertanggungjawaban dan serah terima hasil pembangunan dari TPKD kepada pemerintah desa dak dilakukan melalui rapat bersama masyarakat sesuai ketentuan atau prinsip-prinsip PNPM. SPP cukup membantu meningkatkan skala usaha kecil yang sudah ada di Desa Sesao, cuma penyalurannya dak tepat sasran, dilakukan rekayasa kelompok oleh TPKD dengan mem-

28

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

29

bentuk kelompok-kelompok baru dengan memasukkan orangorang kaya dan PNS menjadi anggota kelompok, katanya untuk menghindari kemacetan. Karena apabila ada anggota kelompok yang dak mampu membayar karena usahanya dak jalan atau digunakan untuk konsumsi, maka pembayarannya ditanggung oleh anggota kelompok yang mampu, sebab sistem yang berlaku pada program SPP adalah sistem tanggung renteng.” Ida Laily ( 36 Tahun), Ketua Kelompok Perempuan Desa Sesaot “Dana SPP di Desa Sesaot dak tepat sasaran, yang diberi bukan orang miskin, melainkan orang-orang kaya. TPKD dak memanfaatkan kelompok yang sudah ada, tetapi mereka membentuk kelompok dadakan yang anggotanya berasal dari orang-orang dekat kepala desa. Kesuksesan program SPP bukan dilihat dari peningkatan usaha kelompok masyarakat (perempuan) miskin, tetapi hanya dilihat dari kelancaran angsuran. Mereka dak mau tahu, dari mana sumber dana pengembaliannya.”

iatan program terkesan kurang memperha kan kebutuhan riil masyarakat dan potensi yang ada di desa. FK PNPM terkesan memposisikan diri lebih nggi dari kepala desa, sehingga menimbulkan kesan di banyak desa bahwa PNPM ini merupakan negara di dalam negara.”

Sudirman (48 tahun), Ketua BPD Desa Sukarara “Secara umum keberadaan diakui cukup membantu, terutama dalam pengadaan infrastruktur desa. Akan tetapi, dalam pelaksanaannya dak luput dari permainan elit desa, sehingga jenis pembangunan yang dilaksanakan lebih dominan mengakomodir kepen ngan elit desa yang tergolong rela f mampu, sangat sedikit dinikma oleh masyarakat yang betul-betul miskin. Contohnya,pembangunan fisik yang dialokasikan untuk pembangunan madrasah milik yayasan yang merupakan cabang dari sebuah organisasi besar di Lombok Timur. Seharusnya yang dibangun, karena betul-betul menjadi kebutuhan masyarakat miskin, adalah pembuatan talut di sepanjang jaringan irigasi pertanian yang sudah mulai rusak, akan tetapi kebutuhan kelompok masyarakat miskin ini kalah dalam proses penggalian gagasan, sebab proses penggalian gagasan dak dilaksanakan sesuai prinsip PNPM yang semesnya melibatkan semua elemen mayarakat, terutama kelompok miskin dan perempuan, tetapi kenyataannya program sudah ditentukan oleh tokoh masyarakat bersama kepala dusun, kemudian dimintakan persetujuan masyarakat melalui forum musyawarah.”Sehingga menurut Sudirman;“PNPM bukan program pemberdayaan masyarakat, melainkan program perdayaan/penjualan masyarakat miskin untuk kepen ngan orang-orang mampu.”

Moh. Tauhid, S.Ag. (45 tahun), Kades Murbaya Keberadaan PNPM-MP di desa kami cukup membantu, terutama dalam pembangunan infrastruktur desa. Akan tetapi, kadang-kadang Fasilitator Kecamatan (FK) PNPM yang bertugas membimbing dan memantau masyarakat dalam kegiatan PNPM, sikap dan ndakannya sangat menjengkelkan. Mereka sangat kaku dengan PTO. Dalam merencanakan keg-

30

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

31

Baiq Haeniah (46 tahun), penyuluh pertanian Bagik Payung “Dengan adanya program PNPM-MP dan program-program pemerintah lainnya yang masuk di Desa Bagik Payung, dirasakan sangat membantu pengembangan infrastruktur desa. Namun yang menjadi sorotan masyarakat terkait dengan PNPM-MP adalah program SPP, karena sistem perggulirannya yang bulanan sangat dak sesuai dengan ak vitas usaha masyarakat (perempuan) yang rata-rata bergerak dalam bidang usaha pengumpul-penyimpan dan pemasaran hasil-hasil pertanian yang rentang waktu “turn over”-nya cukup lama, yaitu antara 2-4 bulan. Tidak banyak kelompok perempuan yang mau memanfaatkan SPP, mereka justru lebih tertarik meminjam modal kepada rentenir yang jangka waktu pinjaman dan pengembaliannya lebih fleksibel, antara 3-4 bulan, meskipun dengan beban bunga yang sangat nggi (bisa mencapai 10%-20%) bergantung jangka waktu pinjaman. Pela han menjahit bagi kelompok SPP oleh PNPM dak ada gunanya, sebab dak diiku dengan pela han manajemen pemasaran dan bantuan fasilitasi pemasaran /memasarkan hasil produksi anggota kelompok SPP yang telah mengiku pela han. Jadi, pela han ini sia-sia, apalagi dak disertai dengan bantuan peralatan dan modal yang cukup dan sistem yang sesuai dengan usaha anggota kelompok.”

IV. KELEMAHAN-KELEMAHAN PNPM Sesuai dengan Pedoman Umum, PNPM-MP mempunyai prinsip atau nilai-nilai dasar yang selalu menjadi landasan dalam se ap pengambilan keputusan maupun ndakan yang akan diambil dalam pelaksanaan rangkaian kegiatan PNPM-MP. Prinsip dan nilai-nilai dasar tersebut adalah. IV.1. Bertumpu pada pembangunan manusia. Maksudnya, masyarakat hendaknya memilih kegiatan yang berdampak langsung terhadap upaya pembangunan manusia dari pada pembangunan fisik semata. IV.2. Otonomi. Maksudnya, masyarakat mempunyai hak dan kewenangan mengatur diri secara mandiri dan bertanggung jawab tanpa intervensi nega f dari luar. IV.3. Desentralisasi. Maksudnya, memberikan ruang yang lebih luas pada masyarakat untuk mengelola kegiatan pembangunan sektoral dan kewilayahan yang bersumber dari pemerintah sesuai dengan kapasitas masyarakat. IV.4. Berorientasi pada masyarakat miskin. Maksudnya, segala keputusan yang diambil berpihak kepada masyarakat miskin. IV.5. Par sipasi. Maksudnya, masyarakat berperan secara ak f dalam alur tahapan program dan pengawasannya, mulai dari tahap sosialisasi, perencanaan, pelaksanaan, dan kegiatan dengan memberikan sumbangan tenaga, pikiran, atau dalam bentuk materi. IV.6. Kesetaraan dan keadilan gender. Maksudnya, masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan mempunyai kesetaraan dalam perannya di se ap tahapan program dan dalam menikma manfaat kegiatan pembangunan. Kesetaraan juga dalam penger an kesejajaran kedudukan pada saat situasi konflik. IV.7. Demokra s, Maksudnya, masyarakat mengambil keputusan pembangunan secara musyarawah dan mufakat.

32

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

33

IV.8. Transparansi dan akuntabel. Maksudnya, masyarakat memiliki akses terhadap segala informasi dan proses pengambilan keputusan, sehingga pengelolaan kegiatan dapat dilaksanakan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan baik secara moral, teknis, legal, maupun administra f. IV.9. Prioritas. Maksudnya, masyarakat memilih kegiatan yang diutamakan dengan memper mbangkan kemendesakan dan kemanfaatan untuk pengentasan kemiskinan. IV.10.Keberlanjutan. Maksudnya, dalam se ap pengambilan keputusan atau ndakan pembangunan, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian harus memper mbangkan sistem pelestariannya. Akan tetapi, pelaksanaan di lapangan, sebagian nilai-nilai dasar di atas dak semuanya dapat diterapkan dengan baik. Hasil audit sosial ditemukan beberapa kelemahan, antara lain: a. Pembangunan fisik merupakan kegiatan yang paling dominan (70-90%) dari total anggaran yang diterima desa. Selebihnya untuk pengembangkan kapasitas sumber daya manusia dan SPP. Hal ini berar , prinsip bertumpu pada pembangunan manusia dak menjadi prioritas. b. Keterwakilan masyarakat yang betul-betul miskin dalam pengambilan keputusan masih patut dipertanyakan, karena dari dokumen absensi se ap agenda kegiatan PNPM-MP di lokasi audit sosial, nama-nama yang hadir selalu orang-orang yang sama, dan rata-rata merupakan elit-elit desa/dusun. c. Proses tender dalam pengadaan barang dan jasa pada kegiatan PNPM-MP mengesankan bahwa PNPM-MP adalah proyek pengadaan barang dan jasa yang prosesnya mengacu pada Kepres Tahun 1980 atau aturan perubahannya yang terbaru. Hal ini kurang tepat diterapkan jika mengacu pada program pemberdayaan. Sistem swakelola dengan pendekatan padat karya

akan lebih tepat diterapkan oleh PNPM-MP, sebab kesempatan masyarakat miskin berpa sipasi dalam se ap agenda kegiatan PNPMakan lebih besar peluangnya dalam mendapatkan manfaat ekonomi. d. PNPM-MP di NTB secara umum dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, utamanya dalam penyediaan infrastruktur desa. e. Prinsip-prinsip PNPM-MP dalam implementasi di lapangan dak diterapkan secara baik dan benar. f. PNPM-MP belum dirasakan manfaatnya oleh masyarakat desa yang betul-betul miskin, karena PNPM-MP dak memiliki agenda kegiatan yang melakukan pendataan dan kajian kemiskinan desa menurut masyarakat desa. g. Par sipasi masyarakat dalam kegiatan PNPM-MP didesa diukur dari terpenuhinya jumlah masyarakat yang hadir (laki/perempuan) sesuai RAB dalam usulan kegiatan. V. REKOMENDASI V. 1. Skema penyaluran SPP perlu diper mbangkan untuk disesuaikan dengan potensi dan karakteris k usaha perempuan miskin di desa. V.2. Sebelum diberikan bantuan modal, anggota kelompok SPP perlu dila h/difasilitasi membuat rencana usaha, agar modal yang diterima betul-betul dimanfaatkan untuk kegiatan usaha. V.3. Pola pelaksanaan kegiatan pembangunan fisik, perlu dipermbangkan pengelolaannya dengan sistem swakelola melalui mekanisme padat karya, agar distribusi kesempatan dan upah tukang-buruh dapat berjalan adil dan merata, terutama bagi masyarakat yang benar-benar miskin.

34

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

35

V.4. Alokasi dana untuk kegiatan pela han keterampilan manajemen usaha bagi masyarakat miskin perlu ditambah porsinya, agar PNPM-MP dak terkesan sebagai proyek pengadaan barang dan jasa, terutama pengadaan infrastruktur. V.5. PTO PNPM-MP agar lebih fleksibel disesuaikan dengan potensi dan karakteris k masyarakat desa.

Lampiran: PENGEMBANGAN AUDIT SOSIAL PNPM-MP DI NTB I. Latar Belakang Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan (PNPM-MP) merupakan salah satu mekanisme pemberdayaan masyarakat yang didesain oleh pemerintah pusat guna mempercepat penanggulangan kemiskinan dan perluasan kesempatan kerja di wilayah pedesaan. Operasionalisasi program ini sesungguhnya telah dilaksanakan sejak tahun 1998 ke ka masih bernama Program Pengembangan Kecamatan (PPK). PNPM-MP merupakan strategi kebijakan yang menjadi dasar dan acuan pelaksanaan program-program penanggulangan kemiskinan yang berbasis pemberdayaan masyarakat. Pelaksanaan programprogram penanggulangan kemiskinan, selama ini masih dilaksanakan secara sektoral dan parsial dengan pendekatan dan prosedur yang beragam, sehingga harmonisasi prinsip, kriteria, dan prosedur program penanggulangan kemiskinan berbasis masyarakat melalui PNPM-MP diharapkan akan lebih efisien dan efek f (Kesra, 2008). Sejak dicanangkan pada tahun 2007, program nasional ini dinilai telah menunjukkan hasil yang signifikan dalam memelopori sejumlah investasi pembangunan di ngkat lokal (kecamatan), misalnya model kelembagaan pembangunan par sipa f (social capital), aset sumberdaya manusia selaku pengelola kegiatan pembangunan (human capital), modal bergulir (financial capital), infrastruktur (physical capital), dan sebagainya. Oleh karena itu, program ini pun diklaim sukses mengentaskan kemiskinan pedesaan oleh pemerintah, dan terutama lembaga donor. Klaim di atas didasarkan pada laporan tahunan konsultan program. Hingga tahun 2008, PNPM-MP telah menjangkau 42.319 desa atau lebih dari 58% desa di Indonesia. Dengan alokasi dana sebesar ga miliar rupiah per kecamatan, diperkirakan mampu menciptakan

Keterangan Gambar: Seorang Warga Melintas di Jalan yang dibangun oleh PNPM-MP

36

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

37

lapangan kerja bagi ga belas juta orang dan memberi manfaat bagi sembilan juta orang miskin. Yakin akan keberhasilan PNPMMP, maka jumlah alokasi dana PNPM selalu meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2008 misalnya, dana PNPM dialokasikan sebesar ga belas triliun rupiah dan meningkat hingga Rp. 16,1 triliun pada tahun 2009. Jumlah ini akan terus berlanjut hingga tahun 2015 nan . Keberhasilan PNPM sebagai genre pengentasan kemiskinan masa kini, diragukan banyak pihak, terutama dari kalangan masyarakat sipil. Pasalnya, pembiayaan program ini sebagian besar bersumber dari hutang luar negeri (World Bank), yang selama ini dicap sebagai salah satu sumber pemiskinan rakyat Indonesia. Selain itu, model pendekatan par sipasi yang melibatkan ‘dana besar’ dikhawatirkan menimbulkan polemik dan distorsi di kalangan masyarakat bawah yang selama ini masih asing dengan nilai dan angka miliaran rupiah. Bisa juga, prak k PNPM di lapangan justru lebih didominasi oleh kepen ngan para elit desa dalam proses penentuan keputusan substansial. Sementara, par sipasi kaum marginal (rakyat miskin dan perempuan) hanya terlihat ke ka pengerjaan proyek yang menekankan spirit keswadayaan (gotong royong). Keberhasilan pencapaian target PNPM, secara kuan ta f memang didukung oleh mekanisme pelaporan dan monev internal dari para konsultan program mul jenjang. Sisi lain, data dan informasi dari sumber lainnya terkait implementasi PNPM ternyata masih kurang. Sebenarnya, sumber informasi pen ng terkait implementasi PNPM di ngkat lapangan justru ada pada struktur sosial masyarakat itu sendiri. Kebenaran akan klaim kesuksesan program bisa dilacak dari sasaran program itu sendiri. Seja nya, ukuran keberhasilan program semisal PNPM harusnya memperha kan suara dan pandangan target utama program,yaitu kelompok marginal melalui skema audit sosial dengan memberdayakan komunitas lokal sebagai m auditor.

Audit sosial adalah suatu proses sistema k yang kri s untuk menilai kinerja kebijakan publik, menyangkut relevansi sosial, tujuan, ketepatan kelompok sasaran, serta dampak pelaksanaan program, untuk diberikan pendapat sesuai kenyataan lapangan dan mengkomunikasikannya dengan pihak-pihak yang berkepen ngan. Program Pengembangan Skema Audit Sosial yang dilakukan KONSESPSI bukanlah semata-mata untuk menemukan penyimpangan prosudur, prinsip, maupun keuangan dalam pelaksanaan PNPMMP. Akan tetapi, kegiatan ini juga difokuskan untuk mendorong dan meningkatkan par sipasi masyarakat desa dalam melakukan monitoring, dan evaluasi terhadap kinerja pelaksanaan PNPM-MP. II. Tujuan Secara umum, program ini bertujuan meningkatkan kualitas par sipasi masyarakat dalam melakukan kontrol sosial terhadap kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan. Tujuan spesifik program, adalah: II.1. Meningkatkan kapasitas masyarakat (individu maupun kelembagaan) dalam melakukan kajian kri s terhadap PNPM-MP. II.2. Mengembangkan dan mempromosikan skema audit sosial berbasis masyarakat dengan fokus PNPM-MP. II.3. Menyediakan data dan informasi secara berkala terkait dinamika dan dampak implementasi PNPM-MP. III. Output III.1. Peningkatan kapasitas masyarakat (individu dan kelembagaan) dalam hal pengawasan pembangunan melalui audit sosial. III.2. Dihasilkannya skema audit sosial berbasis par sipasi masyarakat sebagai bentuk kontrol publik terhadap pelaksanaan PNPM-MP.

38

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

39

III.3. Data dan informasi tentang pelaksanaan PNPM-MP oleh kelompok audit sosial dimanfaatkan sebagai referensi oleh pelaku PNPM mul jenjang. III.4. Skema audit sosial berbasis par sipasi masyarakat terintegrasi dalam kelembagaan lokal pedesaan. IV. Permasalahan-permasalahan yang Ditemukan IV.1. Bagaimana mendorong keterlibatan perempuan dalam program audit sosial ini. Keterlibatan kaum perempuan masih sangat kurang, baik par sipasi dalam pertemuan maupun daya kri s yang berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan yang sudah dilakukan. Hal ini berkaitan dengan masalah tradisi/ adat is adat lokal yang lebih mengedepankan kaum laki-laki dalam proses pembangunan di ngkat desa. IV.2. Masih adanya ketertutupan informasi dari pelaku-pelaku PNPM-MP di lapangan, khususnya menyangkut pelaksanaan dan penggunaan dana. IV.3. Tim Pengelola Kegiatan (TPK) desa yang terbentuk terkadang hanya sekedar simbol nama saja, tetapi dalam pelaksanaan program seringkali dak dilibatkan. IV.4. Tim Monev desa yang dibentuk dak memiliki kapasitas dan keberanian melakukan kontrol terhadap pelaksanaan PNPMMP. IV.5. Masyarakat miskin dan kaum marginal seringkali hanya dilibatkan pada saat pelaksanaan program fisik (saat gotongroyong). IV.6. Elit pemerintah desa yang masih menerapkan pola feodal juga masih cukup ampuh untuk meredam keberanian masyarakat dalam bersuara dan “mengkri si” kebijakan desa yang kurang berpihak kepada masyarakat miskin dan

kaum marginal. IV.7. Tidak ada program pembinaan lanjutan terhadap alumni pela han keterampilan yang dilakukan oleh PNPM-MP, sehingga sebagian besar alumni pela han melaksanakan usaha. IV.8. Masyarakat miskin sulit mengakses SPP karena persyaratan administrasinya berbelit-belit. IV.9. Keberhasilan program SPP hanya diukur dari ngkat kelancaran pengembalian. PNPM dak melakukan peningkatan keterampilan usaha kepada anggota kelompok SPP. IV.10. Kehadiran kelompok perempuan dalam se ap kegiatan masih minim dan yang hadir juga pasif dalam proses pertemuan.

Keterangan Gambar: Penampungan Sampah Sementara, Salah Satu Infrastruktur yang dibangun PNPM-MP

40

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

41

Pengembangan Audit Sosial Study Kasus PNPM Mandiri Perdesaan
Oleh : Ins tute for Research and Empowerment - Yogyakarta

I. METODE PENELITIAN Ins tute for Research and Empowerment (IRE) Yogyakarta melakukan studi kemanfaatan PNPM terhadap penanggulangan kemiskinan di desa pada tahun 2010. Studi tersebut dilakukan di dua kabupaten yakni kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dan kabupaten Kupang. Dua kabupaten tersebut dipilih, pertama keduanya adalah desa penerima PNPM MP. Kedua,keduanya mencerminkan dua sisi daerah yang berbeda karakter, minimal dari aspek kesejahteraannya. Kabupaten Kutai Kartanegara adalah daerah kaya tambang dan banyak investasi yang masuk didalamnya, sehingga potensi pendapatan daerahnya nggi. Lain dengan kabupaten Kupang. Kabupaten ini dak cukup berhasil menggaet investasi dari luar, kondisi geografisnya yang dak memiliki daya dukung terhadap sektor pertanian, sehingga keter nggalan dan kemiskinan selalu melekat pada daerah tersebut.

42

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

43

Di dua kabupaten tersebut, IRE melakukan grounded study, dengan cara live in di dua desa yang juga memiliki karakter berbeda. Pertama, di kabupaten Kukar, studi dilakukan di desa Kersik dan desa Sebulu Modern. Kersik merupakan desa yang terletak disekitar perusahaan minyak raksasa Chevron. Sehingga kami lihat, Kersik pas memiliki karakteris k kesejahteraan dan aksesibilitas dengan desa Sebulu Modern yang memiliki karakter desa agraris dan di pelosok. Kedua, desa Oelbanu dan desa Letbaun. Masing-masing terletak di kecamatan Amfoang dan kecamatan Semau. Oelbanu kami tempatkan sebagai desa yang mewakili karakteris k pegunungan pelosok, sedangkan Letbaun sebagai desa dengan karakteris k pesisir kepulauan pelosok. Proses penggalian data dilakukan melalui beberapa metode. Pertama, kami melacak berbagai informasi, data, baik sekunder maupun primer di level daerah. Beberapa instansi dan aktor kunci yang kami temui misalnya, Bupa , Bappeda, Konsultan Kabupaten PNPM MP maupun BPMPD (Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Peemerintahan Desa). Kedua, observasi lapangan. Kegiatan ini kami tempuh dengan cara live in di desa, sehingga peneli dapat berinteraksi langsung dengan UPK, para fasilitator PNPM MP kecamatan, kaderkader KPMD, pemerintah desa, para kader pembangunan/pelaksana PNPM MP di desa, masyarakat dan kelembagaan desa yang ada. Live in ini kami lakukan selama kurang lebih 2 minggu di masingmasing desa. Ke ga, pendalaman data dilakukan melalui kegiatan seper wawancara (indepth interview) dan FGD dengan melibatkan responden, dari kelompok pemerintah desa, tokoh masyarakat, tokoh adat, organisasi kemasyarakatan di desa, baik laki-laki maupun perempuan. Dengan cara ini, kami bermaksud menggali secara lebih dalam (evidence based) dimana fakta-fakta lapangan sedekat mungkin akan diselaraskan dengan voice masyarakat lokal, sehingga didapatkan informasi yang berdasar pada penerima manfaat PNPM MP bukan pendapat peneli . Keempat, pengolahan data dilakukan melalui beberapa tahapan kegiatan yaitu, a) telling story, 44
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

kegiatan ini dimaksudkan sebagai ruang antar peneli untuk saling bercerita tentang hasil peneli an lapangan antar daerah peneli an sehingga didapatkan peta temuan antardaerah, b) konsinyering perumusan hasil peneli an. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mendiskusikan secara lebih mendalam terhadap temuan yang ada dengan konsepsi kebijakan PNPM sehingga dapat ditarik kesimpulan akhir kemanfaatan PNPM terhadap masyarakat. II. ANALISIS II.1. Konteks Wilayah II.1.1. Kabupaten Kupang Kabupaten Kupang terdiri dari 24 kecamatan, 160 desa, 17 kelurahan, dan 665 dusun. Luas wilayahnya mencapai 5.431 Km², dengan ke nggian antara 0-500 meter dpl. Panjang garis pantainya, 485 km. Struktur ekonomi Kabupaten Kupang didominasi oleh sektor pertanian, jasa, dan perdagangan. Berdasarkan data sta s k PDRB berdasar harga konstan (2008-2010), angka pertumbuhan di ke ga sektor tersebut, yaitu 46,78%, 21,09%, dan 15,09%. Jumlah penduduk miskin di Kabupaten Kupang pada tahun 2008, masing-masing sebesar 63,21% dari total jumlah penduduk 383.896 jiwa. Dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) Kabupaten Kupang tahun 2009-2014, jumlah penduduk miskin mencapai 47,39%. Beberapa tahun terakhir, angka kemiskinan di Kabupaten Kupang cenderung menurun. Di lain pihak, terjadi peningkatan pada sektor infrastruktur jalan, fasilitas kesehatan, sarana air bersih, dan pendidikan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) juga meningkat. Dalam laporan BPS Kabupaten Kupang (2011), IPM naik dari 63,32% pada tahun 2006 menjadi 66,00% pada tahun

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

45

2010. Demikian pula dalam laporan TNP2K (2009) juga menyebutkan, angka kemiskinan di Kupang menurun tajam. Pada tahun 2009, angka kemiskinan mencapai 90.027 jiwa atau 24,26%, turun menjadi 63.179 jiwa atau 20,78% pada tahun 2010. Angka kemiskinan pada tahun 2010 ini lebih rendah dari angka kemiskinan Provinsi NTT yang mencapai 23,03%. Selain itu, ngkat pengangguran terbuka juga lebih rendah (3,18%) dibanding TPT di level provinsi (3,34%). Di bidang kesehatan, persentase balita penderita kurang gizi mencapai angka 37,96%, lebih nggi dari persentase ngkat provinsi (18,40%) dan nasional (33,60%). Angka Kema an Bayi (AKB) mencapai 47/1.000 kelahiran, di atas AKB provinsi 31,42/1.000 dan nasional 39,01/1.000. Aksesibiltas rumah tangga terhadap air bersih 34,2%, lebih rendah dari provinsi (45,34%) dan nasional (58,18%). II.1.2. Desa Oelbanu, Kecamatan Amfoang Selatan Desa Oelbano terletak sekitar 16 Km dari pusat Kecamatan Amfoang Selatan (Lelogama), dengan luas 69,50 Km2. Hanya ada satu jalan menuju desa ini, orang lokal menyebutnya “jalan poros desa”. Jalan poros desa ini, kondisinya buruk. Kondisi jalan masih alami, belum tersentuh aspal maupun makadam (pengerasan/rabat dengan material batu atau semen). Ada dua alterna f cara yang sering dipilih untuk sampai ke Desa Oelbano, yaitu memakai sepeda motor (butuh waktu 1 jam) atau jalan kaki (butuh waktu sekitar 3 jam). Ada pula yang berkuda. Wilayah Amfoang Selatan termasuk dataran nggi. Ia berkadar curah hujan cukup nggi, yakni selama tujuh bulan per tahun. Kondisi fasilitas umum di desa ini tergolong cukup memadai. Amfoang telah memiliki kantor desa yang cukup representa f, gedung Pustu pening-

galan proyek PPK, SD Inpres, gedung PAUD yang baru dan megah hasil PNPM-MP 2009, gagereja, dan bangunan darurat SMP Negeri Persiapan hasil swadaya masyarakat. Desa Oelbanu sekarang dipimpin oleh Saul Naetasi, anak tokoh desa yang kaya, serta bekas sekretaris UPK PPK Kecamatan Amfoang Selatan. Desa Oelbanu dihuni 307 Kepala Keluarga (KK) atau 1.485 jiwa. Jumlah rumah tangga miskin sebanyak 241 RTM (78,5%) dan 1.082 ARTM (72,9% ). Secara administra f, terdiri dari empat dusun. Kemampuan keuangan Desa Oelbanu yang tercermin dalam dokumen APBDes tahun 2009 sebesar Rp. 105.500.000,- Sumber-sumber pendapatan desa diperoleh melalui PADes sebesar Rp. 7.350.000,- ADD sejumlah Rp. 46.000.000,- bagi hasil pajak dan retribusi desa sejumlah Rp. 6.750.000,dan pendapatan desa lainnya yang sah sejumlah Rp. 46.800.000,-

Sumber : BPS Provinsi NTT, 2011

46

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

47

Untuk belanja apa saja keuangan desa? Dalam dokumen APBDes 2009 dapat dianalisis, bahwa alokasi belanja untuk pemerintahan desa (belanja dak langsung) sebesar 48% dan belanja untuk pelayanan masyarakat (belanja langsung) sebesar 52% (Rp. 55.200.000,-). Namun demikian, setelah dilacak dalam rincian belanja langsung tersebut, ternyata alokasi belanja dak semua untuk warga masyarakat. Alokasi belanja yang benar-benar secara numenklatur diperuntukkan dan manfaat langsung dirasakan masyarakat sebesar 71% (Rp. 39.250.000,-). Rincian alokasi belanja tersebut, untuk pengadaan pipa air bersih (92%), instalasi listrik genset (6%), pembelian bahan baku tenun (1%), dan penyediaan bibit tanaman sayur (1%). Jika dibaca dari total belanja desa (Rp. 105.500.000,-), maka warga masyarakat dalam satu tahun hanya merasakan manfaat secara langsung layanan pemerintah desa sebesar 37%. Dengan kata lain, belanja desa masih besar dirasakan manfaatnya oleh aparatur Pemdes dan BPD. Bagaimana kehidupan warga Desa Oelbanu? Desa di pegunungan ini menyediakan tanah garapan seluas 200 Ha untuk tanaman jagung, 200 Ha tanaman padi, dan 200 Ha tanaman ubi kayu. Kapasitas produksi padi di lahan desa terhitung 40 ton/Ha (setara dengan Rp. 1.500.000,-/ Ha), jagung 40 ton/Ha (setara dengan Rp. 750.000,-/ Ha), dan ubi kayu 20 ton/Ha. Selain lahan garapan pertanian ini, warga desa menyandarkan perekonomiannya dengan berternak sapi, kerbau, babi, kuda, kambing, bebek, dan ayam di masing-masing rumah. Rata-rata, rumah warga di desa masih berbentuk rumah lopo (rumah tradisional di Timor) yang berdinding bambu dan beratap daun gaweng. Sebagian warga yang mampu, rumahnya berbentuk bangunan permanen (tembok), beratap seng dan berlantai semen/keramik. Rumah yang 48
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

terlihat paling besar, megah, dan modern adalah rumah milik Kades Saul Naetasi. Rumah Kades sudah memiliki kamar-kamar seper rumah-rumah modern, berlantai keramik, dan berplafon fiber. Gambar berikut memperlihatkan gradasi bentuk-bentuk rumah di Desa Oelbanu yang secara dak langsung menjadi simbol ngkat kesejahteraan pemiliknya.
Gambar 1: Gradasi Rumah Warga Desa Oelbanu

Rumah Warga Miskin

Rumah Warga yang Mampu

Rumah Kades Saul Naetasi

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

49

Kondisi di daerah pegunungan yang serba terbatas, menyebabkan warga desa hidup miskin, dalam ar miskin akses layanan publik, kepemilikan tanah sebagai faktor produksi, rumah, dan pendapatan rumah tangga. Dari proses FGD, terungkap beberapa pitutur masyarakat lokal tentang potret kemiskinan yang mendera desa Oelbanu, sebagai berikut.

warga desa atas akses dan sarana/prasarana umum yang strategis, seper jalan, rumah, dan penerangan. Kondisi seper ini dirasa rentan terhadap kualitas hidup kelompok perempuan. Kesimpulan ini paling dak terungkap dari perkataan berikut. “Desa ini jauh dari rumah sakit/layanan kesehatan. Bagi perempuan yang mau melahirkan dan kondisinya dak sehat, kondisi yang jauh dari layanan kesehatan bisa menyebabkan kema an. Selama ini, yang sering menolong kelahiran adalah dukun, jika proses kelahiran normal.”(Orizin, Perempuan Desa Oelbanu, 23 Oktober 2010). Kegiatan ekonomi desa Oelbanu bercorak subsisten. Lahan pertaniannya bersifat tadah hujan. Beberapa komoditas utama sektor pertanian yaitu padi, jagung, dan ubi kayu. Selain itu, ada beberapa komoditas pertanian pendamping, seper pinang, pisang, kelapa, dan tanaman produksi lainnya. Komoditas pendamping ini pada umumnya ditanam di pekarangan rumah. Sayangnya, keka musim panen ba, hasil bumi desa Oelbanu menghadapi kendala pemasaran yang disebabkan buruknya infrastruktur desa dan sarana transportasi pengangkut hasil pertanian ke kota. Akibatnya, warga terpaksa menjual ke pasar kecamatan se ap akhir pekan, yang ditempuh dengan berjalan kaki selama minimal enam jam (pergi-pulang). Data berikut ini adalah hasil uji pe k kepada ga warga Desa Oelbanu tentang besaran pengeluaran rumah tangga dalam sebulan. Pemetaan data tersebut dimaksudkan untuk mengetahui derajat kemiskinan masyarakat Desa

“Menurut saya, desa kami miskin karena belum dapat listrik, jalan belum baik, rumah-rumah belum sehat. Rumah sehat adalah rumah yang beratap seng, berlantai semen, dan berdinding tembok. Kalau atap daun, se ap enam bulan sekali harus digan , kalau dinding bambu sering untuk sarang serangga, terlebih pada musim hujan.” (warga Desa Oelbanu, 23 Oktober 2010)

“Kalau saya sebagai guru punya pendapat bahwa desa ini termasuk masih miskin, karena faktor SDM. Desa ini miskin karena kami berada jauh dari kota, yang ar nya jauh dari fasilitas dan teknologi. Kemiskinan ini berlanjut karena pendidikan menjadi sesuatu yang masih jarang. Maksudnya, warga hanya bisa menyekolahkan anaknya sampai SD, dak semua warga bisa membiayai anaknya sekolah di SMP. Ini karena kemiskinan dan menyebabkan desa ini terus miskin.” (Guru SDN Oelbanu, 23 Oktober 2010). Dari dua pendapat warga diatas, kiranya menampilkan sebuah pemahaman publik terhadap kemiskinan, dimana salah satu akar penyebabnya adalah keterbatasan

50

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

51

Oelbanu. Tiga responden tersebut, yaitu warga desa dengan latar belakang berbeda: 1) Maksane Baitano, seorang petani penggarap dengan lahan seluas 40x60 meter, beranak dua dan bertempat nggal di rumah lopo, 2) guru SD negeri bernama Cornelays Baitano, dengan penghasilan Rp. 2.100.000,-/bulan, dan 3) mantan Kades, Paulus S. Meno, yang memiliki empat anak, sedang kuliah di Kupang dan duduk di bangku SMA di Kupang, serta memiliki usaha chainshow. Rumah Maksene Baitano berdinding bambu, beratap daun gaweng dan berlantai tanah. Rumah ini berbentuk lopo, ruang bagian depan untuk meja kursi (ruang tamu) dan sebelahnya ada tempat dur berkelambu. Di bagian belakang, tersekat bambu, digunakan untuk memasak dan menyimpan perabot, gabah, jagung, ubi kayu, dan barang lainnya (gudang). Rumah Cornelays Baitano dinding masih bambu, tetapi atas sudah seng dan lantai sudah semen. Rumah Paulus S. Meno berdinding tembok, berlantai semen, dan beratap seng. Rumah tangga Maksene Baitano dalam sebulan membutuhkan biaya Rp. 322.270,- (Rp. 350.000,-) untuk menjalani kehidupan di desanya. Dalam wawancara terungkap, bahwa sebagian besar kebutuhan konsumsi makan dipenuhi dari tanaman produksi di lahan pekarangan dan sawahnya.

1. Nama Status Umur Anak Pekerjaan

: Maksane Paulus Baitano : Warga Miskin : 37 Tahun : 2 orang : Tani (luas lahan 40 x 60 m, panen padi 1 tahun sekali rata-rata 400 kg = Rp 1.920.000)
Jumlah dalam Satuan Beras: 15 kg/bln x Rp. 8.000 Ubi: 90 isi (potong) x Rp. 500 Jagung: 15 kg/bl x Rp. 5000 Tidak Beli 4 bungkus/bln 8 bungkus/bln 8 sirih dan 5 batang/3hari (Rp. 2.000/3 hari) Jumlah dalam Rupiah 120.000 45.000 75.000 Tidak Beli 10.000 4.000 20.000 9.000 6.000 8 Telur 8.000 1 pcs Tidak pakai Tidak pakai Tidak pakai 4 bungkus Daia /bln (biasanya kalo pergi ke keluarga di Kupang) Rp. 60.000/isidental 6.000 2.000

No 1 2 3 4 5 6 7

Jenis Pengeluaran Rumah Tangga Beras/bahan makanan pokok sehari-hari Kayu Bakar Gula Kopi/Teh Sirih Pinang Minyak Goreng Bumbu dapur (bawang merah, garam) cabai meme k di kebun Lauk pauk ( telur, ayam, dll) daun ubi meme k di kebun Sabun mandi Sampo (pakai sabun mandi) Pasta gigi (pakai kulit pinang) Sikat gigi (pakai kulit pinang) Sabun cuci Transportasi (BBM, ongkos ojek, ongkos angkut, dst)

8 9 10 11 12 13 14

52

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

53

15 16 17

Minyak Tanah (belum listrik). Kalo dur pelita dima kan Tagihan air pipa desa Sumbangan social (pengan n, kema an, kelahiran, dst) Biaya hiburan (biaya rekreasi, sewa VCD, dst)

1 liter 6.000 Rp 5.000/tahun Pengan n : Rp 20.000 Kema an : Rp 10.000 Tidak ada 420

2. Nama Status Umur Anak Pekerjaan ART Penghasilan
No 1 2 3

: Cornelays Baitano : Warga Mampu : 45 Tahun : 3 orang (umur 12 th, 10 th, 3 th) : Guru SDN (PNS) : 8 orang : Rp 2.100.000
Jumlah dalam Satuan Beras: 5 kg/hari x Rp 8.000 Jumlah dalam Rupiah 120.000 45.000 75.000 Tidak Beli 10.000 x 7 kg = 70.000/bln 10.000 x 6 = 60.000/bln 2.000/3 hari (20.000/bln) 42.000/bln 30.000/bln 4 telur/minggu 1.000 x 16 telur = 16.000/ bln 1 biji/minggu 4 sachet/minggu 2.500 x 4 = 10.000/bln 1000 x 16 = 16.000/bln 7.000/bln 2.000/bln

18

19

Obat-obat seper obat flu, Biaya kesehatan (biaya ke bidan/man- batuk tra/dokter/puskesmas, pijak capai, jamu pegel linu, dst) Biaya pendidikan (SPP, Buku tulis dan alat tulis (Rp 10.000/thn) sumbangan sekolah, transport sekolah, uang saku, buku, dst) Pengeluaran lain-lain (jajan anak.) Jajan anak

Jenis Pengeluaran Rumah Tangga Beras/bahan makanan pokok sehari-hari Kayu Bakar Gula Kopi/Teh Sirih Pinang Minyak Goreng Bumbu dapur (bawang merah, garam) cabai meme k di kebun Lauk pauk ( telur) Lauk Ikan Sayuran seper daun ubi, bayam meme k sendiri di kebun Sabun mandi Sampo (pakai sabun mandi) Pasta gigi (pakai kulit pinang) Sikat gigi (pakai kulit pinang)

5.000

Tidak Beli 1 kg/4 hari 10 sachet/5 hari 1 bungkus/2 minggu 8 sirih dan 5 batang/3hari 1 botol/5 hari (Rp 8.000 x 6)

20

850 4 5.000 322.270 200.000 (-) 122.270 7 5 6

21

Total Pengeluaran Rata-rata Perbulan Pendapatan Rumah Tangga Rata-rata Perbulan Kondisi Keuangan Rumah Tangga Rata-rata Perbulan

8

9 10 11 12

54

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

55

13 14

Sabun cuci Transportasi (BBM, ongkos ojek, ongkos angkut, dst) Minyak Tanah (belum listrik). Kalo dur pelita dima kan Tagihan air pipa desa Sumbangan social (pengan n, kema an, kelahiran, dst) Biaya hiburan (biaya rekreasi, sewa VCD, dst) Biaya kesehatan (biaya ke bidan/mantra/dokter/puskesmas, pijak capai, jamu pegel linu, dst) Biaya pendidikan (SPP, sumbangan sekolah, transport sekolah, uang saku, buku, dst) Pengeluaran lain-lain (jajan anak.) Angsuran kredit sepeda motor

4 bungkus Daia /bln 1 liter/2 hari

17.500 x 4 = 70.000/bln 7.500 x 15 = 112.500/bln 12.000/bln

2 liter

3. Nama Status Umur Anak Pekerjaan ART

15 16 17 18

: Paulus S. Meno : Warga Mampu : 65 tahun : 4 orang anak kandung dan 1 anak asuh : Mantan Kades dan Pelaku Usaha Chainshow (Gergaji Mesin) : 7 orang
Jumlah dalam Satuan Beras: 3 kg/hari (Rp 8.000 x 90 kg) Tidak Beli 2 kg/minggu (Rp 12.500 x 8 kg) 1) 24 sachet/minggu (Rp 15.000 x 4) 2) 1 bungkus/ minggu (Rp 3.000 x 4) Rp 10.000 x 4 2 botol/minggu (Rp 10.000 x8) Jumlah dalam Rupiah 720.000 Tidak Beli 100.000 60.000 12.000 40.000 80.000

Rp. 80.000/tahun 1) Sumbangan Gereja: 1/10 x Rp. 2.100.000 2) Pengan n: Rp. 20.000 Tidak ada Pemeriksaan ke Puskesmas pakai ASKES

6.670 No 20.000 20.000 1 2 3 5.000 4 5 100.000/thn (Rp. 8.340/bln) 6

Jenis Pengeluaran Rumah Tangga Beras/bahan makanan pokok sehari-hari Kayu Bakar Gula Kopi/Teh

19

Buku tulis dan alat tulis

Sirih Pinang Minyak Goreng Bumbu dapur (bawang merah, garam) cabai meme k di kebun Lauk pauk (telur) Lauk Ikan Sayuran seper daun ubi, bayam meme k sendiri di kebun Sabun mandi Sampo (pakai sabun mandi) Pasta gigi (pakai kulit pinang) Sikat gigi (pakai kulit pinang)

20

21 22

Jajan anak Kredit sepeda motor

30.000/bln 875.000/bln 2.782.510 2.100.000 (-) 682.510

7

25.000 5 telur/minggu (Rp 1.500 x 20 telur)

Total Pengeluaran Rata-rata Perbulan Pendapatan Rumah Tangga Rata-rata Perbulan Kondisi Keuangan Rumah Tangga Rata-rata Perbulan

8

Rp 30.000 Rp 50.000 14.000 Rp 15.000 10.000 10.000

9 10 11 12

4 biji/minggu (Rp 3.500 x 4) 1 pak sachet/bln

56

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

57

13 14

Sabun cuci Transportasi (BBM, ongkos ojek, ongkos angkut, dst) Minyak Tanah (belum listrik). Kalo dur pelita dima kan Tagihan air pipa desa Sumbangan social (pengan n, kema an, kelahiran, dst) Biaya hiburan (biaya rekreasi, sewa VCD, dst)

1 kg Daia /minggu (Rp 17.500 x 4)

70.000 250.000

10 liter (Rp 7.000x10) 70.000 Rp 80.000/tahun Pengan n : Rp 20.000 20.000 Tidak ada 6.670

15 16 17

18

19

Pemeriksaan ke Puskesmas Biaya kesehatan (biaya ke bidan/man- pakai ASKES tra/dokter/puskesmas, pijak capai, jamu pegel linu, dst) Biaya pendidikan (SPP, sumbangan sekolah, transport sekolah, uang saku, buku, dst) Angsuran Pinjam Koperasi di Kota Kupang Total Pengeluaran Rata-rata Perbulan Pendapatan Rumah Tangga Rata-rata Perbulan Kondisi Keuangan Rumah Tangga Rata-rata Perbulan Biaya kost anak sekolah di SMA dan kuliah di Kota Kupang, termasuk untuk perlengkapan sekolah

10.000

20

2.000.000

21

390.000 3.982.670 1.100.000 (-) 2.882.670

II.1.3. Desa Letbaun Secara administra f, Desa Letbaun adalah desa pemekaran dari Desa Uitao, pada tahun 2004. Desa Letbaun ternyata masih dekat dengan nuansa kemiskinan. Kontur tanah yang berkarang, tandus, dan kering dak memberi kesempatan bagi penduduk Letbaun bercocok 58

tanam jenis tanaman hidrofit, seper padi. Salah satu jenis tanaman yang jamak dikembangbiakkan warga Letbaun sebagai sumber makanan pokok adalah jagung. Penduduk Letbaun menanam jagung pada musim penghujan, biasanya jatuh pada bulan-bulan Juli-Desember. Lahan pertanian Desa Letbaun bersifat tadah hujan, sehingga sulit menghasilkan produk jagung dengan kapasitas besar dengan tempo cepat, sebagaimana dikehendaki pasar, sehingga sekadar untuk memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga. Dengan kata lain, sistem pertaniannya masih subsisten. Maka, daklah mengagetkan ke ka penduduk Letbaun se ap bulannya menyediakan anggaran untuk membeli beras. Bahkan saat pemerintah meluncurkan program beras bagi warga miskin beberapa tahun lalu, semua keluarga di Letbaun dicatat sebagai penerima raskin. Desa Letbaun terdiri dari lima dusun, yaituDusun Buhun, Kampung Baru, Lanunu, Ahleten, dan Bahan Salit. Jumlah penduduknya 447 jiwadengan jumlah KK sebanyak 117. Jumlah KK miskin sebanyak 113. Dibalik angka kemiskinan tersebut, Letbaun menyimpan sejumlah pengalaman menyedihkan sebagai desa miskin, yaitu kema an bayi dan ibu melahirkan. Pada tahun 2000 kemaan bayi atau balita mencapai 3 anak/tahun. Pada tahun 2008 dan 2009 angka ini dak turun, masing-masing 2 jiwa pada tahun 2008 dan 3 jiwa pada tahun 2009. Pun demikian dengan pengalaman gizi buruk. Tahun 2009 terdapat 3 anak menderita gizi buruk dan pada tahun 2010 sebanyak 3 anak mengalami derita serupa. Hal ini menunjukkan dak adanya perbaikan kualitas kesehatan penduduk dalam diri masyarakat Letbaun1.
__________ 1) Sumber; FGD stakeholder IRE di desa Letbaun pada tanggal 22 Oktober 2010 di kantor desa Letbaun

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

59

Pengalaman kema an demi kema an yang menimpa sejumlah balita yang hampir selalu melekat pada kehidupan masyarakat Desa Letbaun diatas, memiliki hubungan erat dengan rendahnya aksesibilitas penduduk terhadap fasilitas kesehatan dan air bersih. Selama bertahun-tahun, warga Desa Letbaun harus menempuh jarak belasan kilometer untuk menjangkau Puskesmas Pembantu atau Puskemas utama yang ada di pusat Kecamatan Semau. Kondisi jalan yang terjal dan rusak berat semakin memaksa warga yang sakit mengeluarkan ongkos pengobatan lebih besar, karena harus membayar ongkos ojek. Bahkan kalau sakitnya parah, semantara layanan Puskesmas dak lagi bisa mengatasi, biaya pengobatan yang lebih besar harus disediakan warga, karena untuk menjangkau Rumah Sakit Daerah di Kota Kupang harus melalui perjalanan laut dan darat yang cukup lama dan melelahkan. Beruntung, pada tahun 2009, Proyek Pembangunan Kecamatan (PPK) membangun sebuah Polindes di sebelah mur Sekolah Dasar Letbaun. Walau demikian, Polindes tersebut belum mampu memberikan layanan kesehatan pada penduduk secara maksimal, mengingat belum ada tenaga kesehatan yang bersedia secara op mal mendarmakan tenaganya untuk menghidupkan layanan kesehatan bagi Polindes tersebut. Sebagaimana desa-desa lainya di Kecamatan Semau, rona kemiskinan Desa Letbaun terlihat dari kekeringan dan kekurangan sumber air bersih. Kondisi tersebut selalu datang menjadi masalah utama kehidupan penduduknya. Tersebab sulitnya air bersih, dak sedikit warga Letbaun mencari air ke desa-desa tetangga, seper ke Desa Batuinan, yang rata-rata jarak tempuhnya mencapai lima kilometer. Tidak jarang penduduk menepuh-

nya dengan berjalan kaki. Karena alasan ini, beberapa lembaga sosial seper Alfa Omega dan Dian Desa, serta program pemerintah seper PPK membangun bak-bak penampungan air hujan (bak PAH) bagi warga. Pada tahun 1984-an Dian Desa masuk ke Letbaun, menyumbang bantuan berupa semen kepada sekitar 87-an KK. Masing-masing KK menerima bantuan 10 sak semen, besi, dan kawat satu rol. Bantuan tersebut diberikan kepada warga dengan syarat, warga calon penerima bantuan bersedia menyediakan lima sak semen, pasir, dan juga tenaga. Dian Desa mela h keterampilan membuat bak PAH kepada sejumlah warga. Salah satunya Bapak Abraham, yang saat ini menjabat Kepala Desa Letbaun. Demikian pula dengan Alfa Omega, juga memberikan bantuan bak-bak PAH dengan teknologi dan bentuk yang dak jauh berbeda dengan peninggalan Dian Desa. Walhasil, semaraknya lembaga-lembaga pemberi bantuan yang masuk ke Letbaun, dalam perkembangan saat ini, dak sedikit rumah di Letbaun mempunyai bak PAH lebih dari satu buah. Meskipun telah memiliki bak PAH lebih dari satu, ternyata warga Letbaun masih merasa kurang. Curah hujan yang rendah ternyata dak mejamin bak-bak PAH mampu menyediakan cadangan air bersih se ap saat. Menyadari kondisi tersebut, pemerintah Desa Letbaun melakukan upaya pengajuan bantuan kepada pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten. Harapanya, ada alokasi budget APBD ke Desa Letbaun agar ada penambahan jumlah bak PAH. Sayangnya, selama ga tahun berturutturut (2007, 2008, 2009), Pemdes Letbaun mengajukan proposal kepada pemerintah Kabupaten Kupang dak

60

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

61

pernah membuahkan hasil. Menurut informasi2, sebenarnya usulan pengadaan bak PAH dari Desa Letbaun terakomodir, namun pada pelaksanaanya malah dibelokkan oleh oknum-oknum tertentu di pemerintahan kabupaten ke desa lainya. Pada tahun anggaran 2008 misalnya, bantuan yang seharusnya diberikan kepada Desa Letbaun malah dibelokkan ke Kecamatan Sabo, pada tahun 2009, usulan kembali dicover oleh Pemkab, tapi lagi-lagi dibelokkan ke Desa Uiasa yang akses air bersihnya rela f mudah. Ternyata, dak hanya di sektor air bersih saja negara kurang memberi perha an pada Desa Letbaun. Kehidupan para petani Desa Letbaun nyaris luput dari intervensi kebijakan pembangunan yang diselenggarakan pemerintah. Biarpun berstatus petani subsisten, para petani mengaku dak pernah mendapatkan sosialisasi maupun pela han yang bersifat meningkatkan kapasitas ilmu pengetahuan dan penerapan teknologi pertanian dari pihak terkait, khususnya Dinas Pertanian melalui PPL-nya. Adapun keterampilan bercocok tanam di lahan yang sangat jauh dari subur, banyak mereka peroleh dari pengalaman hidup selama berpuluh-puluh tahun. Meskipun dak begitu menjanjikan karena tanahnya yang dak subur, warga tetap menyempatkan diri menanami tanah-tanah tandus mereka dengan tanaman jagung ke ka musim penghujan ba. Nyaris dak ada diversifikasi pertanian. Setelah panen jagung, lahan kemudian banyak yang dibiarkan begitu saja hingga datang musim penghujan pada tahun berikutnya. Akibatnya, dari tahun ke tahun Letbaun nampak dak ada peningkatan hasil produksi pangan di bidang pertanian. Akhirnya,
__________ 2) Sebagaimana disampaikan oleh kepala desa Letbaun pada FGD, 22 Oktober 2010 di kantor desa Letbaun. Menurutnya, pembelokan realisasi usulan ini Letbaun dak memiliki koneksi dengan aparat pemerintah maupun anggota DPRD.

saat musim panen ba, hasilnya pun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga saja. Untuk menambah pendapatan keluarga, sebagian besar penduduk mengembangkan usaha budidaya rumput laut. Ak vitas budidaya rumput laut berjalan sudah lama dan turun-temurun. Para petani rumput laut membangun gubuk yang setara dengan rumah lopodi sepanjang pesisir desa. Nyaris selama 24 jam, warga pembudidaya rumput laut menghabiskan waktu mereka di rumah tersebut. Hampir semua ak vitas rumah tangga beralih ke gubuk-gubuk tempat mereka menjaga rumput laut. Se ap hari, suami, istri, dan anak-anak dewasa bersamasama, kadang saling bergan an menceburkan diri ke laut untuk merawat tanaman rumput laut. Karena padatnya ak vitas sebagai petani rumput laut, rumah utama mereka di desa sering di nggalkan. Tidaklah mengherankan apabila kegiatan sosial antarwarga Letbaun lebih sering berlangsung di kawasan pesisir dibandingkan di kantor desa maupun kawasan perumahan. Selain menjaga dan merawat rumput laut, ibu-ibu rumah tangga memiliki kegiatan sampingan membuat kain tenun khas Suku Helong3. Para istri tekun membuat kain tenun. Biarpun secara tradisional, menenun kain tradisional Suku Helong secara langsung memberi nilai tambah pada pendapatan keluarga. Sayangnya, penjualan kain tenun khas Suku Helong dak bisa diandalkan, misalnya terjual dalam tempo cepat, apalagi menghasilkan keuntungan besar. Penjualanya sangat bergantung pada musim upacara-upacara adat, seper pernikahan. Dalam adat perkawinan, kedua mempelai calon pengan n diwajibkan mengenakan kain tenun khas Suku Helong.
__________ 3) Perlu diketahui disini, suku Helong adalah penduduk asli yang secara turun temurun berdomisili di pulau Semau, salah satunya di Letbaun.

62

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

63

Sang suami diwajibkan memberikan mahar kepada calon istrinya berupa kain tenun. Posisi antarpetani rumput laut di Letbaun rela f sama, yakni sebagai petani yang dak memiliki aksesibilitas kuat terhadap jaringan pemasaran rumput laut. Akhirnya, para petani selalu menanggung kekalahan saat berhadapan dengan jaringan pemasaran rumput laut. Budidaya rumput laut bagi warga berkontribusi terhadap pemasukan ru n keluarga. Para petani akan memanen rumput laut kurang lebih se ap 45 hari sekali. Jika dirata-rata, pendapatan petani rumput laut mencapai Rp. 500.000,-/ sekali panen. Tapi, biarpun secara nominal Rp. 500.000,tampak besar dan secara teratur menjadi bagian dari income genera ng penduduk Letbaun, ternyata jika dibelanjakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga belumlah cukup. Yang ada, neraca belanja keluarganya malah jomplang “besar pasak daripada ang”, dimana pengeluaran selalu lebih banyak dari pendapatan. Kencenderungan ini paling dak tampak pada sepuluh keluarga dalam tabel dibawah. Pendapatan yang menjanjikan dari budidaya rumput laut tersebut kadangkala mengundang ratapan para petani, terlebih pada tahun 2010 yang syarat dengan anomali iklim. Dalam kondisi cuaca buruk, para petani rumput laut harus siap menghadapi gagal panen. Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga lainnya, warga memanfaatkan potensi alam yang ada disekelilingnya, seper garam. Warga Letbaun banyak memproduksi garam secara tradisional di pesisir desa. Mereka memanfaatkan cangkang-cangkang kerang yang besar sebagai media penampung air laut. Kemudian, cangkang-cangkang kerang yang sudah terisi air laut dijemur agar berubah menjadi garam. Warga Letbaun juga

memanfaatkan daun pohon kelor dan rumput laut sebagai sayuran pelengkap makan mereka sehari-hari. Dengan cara seper ini, secara dak langsung beban belanja rumah tangga dapat ditekan.
Tabel 1 Pendapatan dan Pengeluaran KK Desa Lebaun Per Bulan
Pendapatan Perbulan (Rp) Pengeluaran Perbulan Jenis Barang Harga 270.000 50.000 50.000 100.000 100.000 100.000 695.000 (195.000) 500.000 Beras Kopi Gula Jajan Anak Biaya Sekolah 2 Anak Sabun, Minyak Tanah, Odol Sayur dan Lauk Transport Jumlah Defisit/Surplus 500.000 270.000 15.000 50.000 60.000 100.000 50.000 100.000 100.000 745.000 (245.000)

No. 1

Nama KK Desiyanus Ai s

500.000 1 Karung Beras Gula Pasir Lauk Pauk Biaya Pendidikan 2 anak Transportasi Lain-lain

Jumlah Defisit/Surflus 2 J. Solet

500.000

64

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

65

3

Joktan C. Pallo

500.000 Beras Kopi Gula Pasir Biaya Sekolah 4 Anak Jajan Anak Sabun Mandi Sabun Cuci Odol Lauk Pauk dan Sayuran

270.000 15.000 50.000 300.000 50.000 10.000 10.000 5.000 25.000 735.000 (235.000)

6

A. Neno (Anggota Keluarga 5 orang)

200.000 Beras Ikan (Lauk) Gula Pasir Sayur Sabun Kopi Minyak Tanah Minyak Goreng

90.000 10.000 70.000 120.000 10.000 5.000 14.000 12.500 239.500 (39.500) 210.000 150.000 30.000 180.000 570.000 (170.000) 560.000

Jumlah Defisit/Surplus 7 Ibrahim Neno

200.000 400.000 Beras Ikan Sayur Miniyak Goreng

Jumlah Defisit/Surplus 4 Marten Koen (Jumlah Keluarga 5 orang)

500.000 Beras

250.000

Minyak Tanah Sayuran Ikan (Lauk) Gula Pasir Kopi TB Jumlah Defisit/Surplus 5 Yunas Ukat 700.000 Beras 2 karung Biaya Sekolah 3 anak Rokok, Hula, Kopi Sabun, Rinso Lauk Pauk Bensi 20 liter Jumlah Defisit/Surplus 700.000 500.000

25.000 60.000 20.000 40.000 15.000 410.000 (10.000) 540.000 400.000 85.000 12.000 50.000 120.000 1.167.000 (467.000) 9 8

Jumlah Defisit/Surplus Ibrahim Baung (anggota keluarga 8 orang

400.000 1.000.000 Beras 80 kg X Rp. 7000 Minyak Goreng Sayuran Ikan Biaya Sekolah (SMU 1 orang, SMP 2 orang, SD 3 orang) Lain-lain

50.000 150.000 50.000 750.000

100.000 1.660.000 (660.000) 210.000 12.000 1.500 13.000

Jumlah Defisit/Surplus Alesilas Pay

1.000.000 100.000 Beras 1kg/hari Sabun Cuci Sabun Mandi Minyak Goreng

66

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

67

Ajionomoto Sayuran Jumlah Defisit/Surplus 10 Yohan Rape 350.000 Beras 15 kg Gula Kopi Ikan Minyak Goreng Minyak Tanah Sayuran Minyak Rambut Ajinomoto Rokok Jumlah Defisit/Surplus 350.000 100.000

2.500 2.000 240.000 (140.000) 90.000 50.000 15.000 30.000 60.000 25.000 60.000 10.000 5.000 15.000 360.000 (10.000)

(saving). Padahal dengan tabungan, secara ekonomis, masyarakat sama halnya memiliki investasi, sehingga akan mengungkit daya produksi keluarga dalam jangka panjang. Potret pendapatan dan pengeluaran keluarga desa Letbau diatas, jika dikaitkan dengan empat pendekatan garis kemiskinan menurut Firdausy dan Tisdel (1992:77)4 dapat ditarik beberapa kecenderungan. Pertama, beras merupakan kebutuhan prioritas rumah tangga yang menelan budget lebih banyak dibanding dengan kebutuhan lainya. Bahkan keluarga Yonas Ukat dan Ibrahim Baung (jumlah anggota keluarga 8 orang) misalnya, mengalokasikan anggaran hingga Rp. 500 ribu/bulanya untuk membeli beras. Jika kita komparasikan dengan pengeluaran pada pos belanja beras dari keluarga Abraham Neno yang hanya mencapai Rp. 90.000/bulan, dengan jumlah anggota keluarga 5 orang, maka boleh jadi keluarga Ibrahim Baung dan Yonas Ukat nampak lebih kaya. Pada saat yang sama sudah barang tentu keluarga Abraham Neno dan Yohan Repe, pas lebih miskin dari keluarga Ibrahim Baung dengan Yonas Ukat. Dari perbandingan pengeluaran belanja beras dari dua kelompok keluarga (Abrahan Neno dan Yohan Repe vs Ibrahim Baung dan Yonas Ukat) tersebut kiranya dapat ditarik makna bahwa beras dak bisa dijadikan sebagai satu-satunya standar kemiskinan warga Letbaun. Secara kualitas pemenuhan sumber makanan boleh jadi keluarga Abraham Neno lebih produk f nimbang keluarga Ibrahim Baung maupun Yonas Ukat. Tapi, di sisi lain, dari kacamata beras sebagai tolok ukur ngkat kemiskinan suatu keluarga, maka keluarga Abraham Neno, Yohan

Sumber: hasil FGD IRE, 22 Oktober 2010 di Kantor Desa Letbaun.

Secara umum tabel pendapatan dan pengeluaran diatas mencerminkan adanya kesempatan yang lebih luas bagi keluarga berpendapatan nggi (misalnya Rp. 500 ribu/diatasnya) untuk berbelanja kebutuhan rumah tangga lebih banyak daripada keluarga berpendapatan rendah (misalnya Rp. 200 ribu/ke bawah). Dalam hal belanja konsumi harian, warga berpendapatan nggi mampu mengalokasikan budget belanja dengan coverage volume belanja lebih besar daripada warga berpendapatan rendah. Ini ar nya daya beli masyarakat Letbaun sangat bergantung pada ngkat pendapatan mereka. Lepas dari nggi rendahnya pendapatan perkapita keluarga desa Letbaun diatas, kencenderungan yang sama, mereka dak memiliki tabungan 68
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

__________ 4) Keempat pendekatan garis kemiskinan tersebut yaitu pertama, pendekatan setara beras giling, kedua, pendekatan nutrisional, ke ga, pendekatan menurut kebutuhan pokok dan keempat pendekatan menurut pendapatan dan pengeluaran belanja rumah tangga.

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

69

Repe yang hanya mampu membeli beras Rp. 90.000/bulan termasuk kategori keluarga miskin. Sebaliknya, jika kita menggunakan pendekatan kedua, yaitu pendekatan nutrisional, maka keluarga berpengeluaran rendah pada pos belanja beras, boleh jadi memiliki ngkat pemenuhan nutrisi yang baik. Mencerma pola hidup (mode of survivality) masyarakat Letbaun, yang akrab dengan pola hidup apa adanya, memanfaatkan potensi alam, wajar saja kalau sumber bahan makanan pokok dak hanya bergantung pada beras, melainkan pada berbagai jenis umbi-umbian dan jagung yang selama ini banyak tumbuh baik secara liar maupun dibudidayakan. Dengan menggunakan pendekatan menurut kebutuhan pokok, warga Letbaun masih cenderung meletakan kemiskinan sebagai ke dakmampuan rumah tangga menghasilkan pendapatan untuk mencukupi kebutuhan pokok yang cara pemenuhanya dengan membeli (comsup on). Dengan kata lain, uang sebagai alat jual beli menjadi status kaya dan miskin. Sementara, peran alam yang menyediakan berbagai jenis bahan pokok, seper sayuran, umbi-umbian, dak diperhitungkan sebagai variabel pendukung kehidupan penduduk. Sebagaimana diceritakan sebelumnya, ndakan warga Letbaun yang memproduksi garam secara mandiri, namun dak dimasukan ke dalam da ar pendapatan, cukup memberikan pemahaman bahwa warga Letbaun, bahkan termasuk kita, dak menghargai upaya mandiri kita memenuhi kebutuhan pokok dengan cara memanfaatkan potensi alam yang bebas dari biaya. Dari rincian belanja diatas, sepuluh keluarga Letbaun diatas sama sekali dak memperlihatkan adanya surplus anggaran keluarga yang memungkinkan warga dapat memiliki tabungan dan in70
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

vestasi. Defisit anggaran seper menjadi bagian cerita hidup mereka se ap hari. II.1.4. Kabupaten Kutai Kartanegara Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dikenal sebagai kabupaten kaya. Kekayaan potensi tambang, hutan dan perkebunan sawit yang dimilikinya, disinyalir sebagai sektor utama pendongkrak kekayaan Kutai Kartanegara. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 27.263,10 km2 dengan luas perairan kurang lebih 4.097 km2. Secara administra f Kutai Kartanegara terbagi menjadi 18 wilayah kecamatan, 184 desa dan 42 kelurahan. Pertumbuhan penduduknya rata-rata 4,13% per tahun, sehingga pada tahun 2009, penduduk Kabupaten Kutai Kartanegara telah mencapai 579.592 jiwa.
Tabel 2: Angka Kemiskinan Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun 2001-2008 Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Jumlah Penduduk Miskin 85.400 75.400 72.900 73.250 70.358 63.500 59.000 48.000 % 19,75 16,39 14,96 13,94 12,84 11,13 10,80 9,00

Menyimak angka kemiskinan pada tabel diatas, sejak tahun 2001 jumlahnya cenderung menurun. Selama kurun waktu 7 tahun tersebut, angka rata-rata kemiskinan menurun 10% saja. Dengan demikian, rata-rata penurunan angka kemiskinan se ap tahun sebesar 1-2% saja.

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

71

a. Desa Sebulu Modern Desa Sebulu Modern,Kecamatan Sebulu terletak di sebelah utara kota Tenggarong. Desa ini merupakan desa pemekaran dari Desa Sebulu Ulu. Desa ini berdiri secara resmi pada tahun 2001. Untuk ke desa ini, kita harus menyeberangi sungai selama kurang-lebih lima menit dengan menaiki kapal kayu, yang oleh masyarakat setempat disebut kapal “Ferri”. Ferri ini biasa diisi maksimal 10 motor dan 20 penumpang. Ada pula Ferri yang dikhususkan untuk mengangkut mobil. Ferri-ferri tersebut beroperasi 24 jam. Untuk satu motor dikenai biaya Rp. 3000,-, sedangkan mobil dikenai biaya Rp.20.000,-. Desa Sebulu Modern terdiri dari ga dusun, yaitu Dusun Sirbaya, Antai, dan Antelan. Jumlah penduduk Desa Sebulu Modern per September 2010 sebanyak 4.068 orang dengan jumlah KK 1060, dan terdiri dari 14 RT. Luas wilayahnya mencapai 72,9 Km2. Sebagian besar mata pencarian penduduknya petani dan pedagang. Menurut kepala desa setempat, kemiskinan di desanya berbeda dengan kemiskinan yang ada di Jawa. Menurutnya, orang miskin di Jawa benar-benar miskin. Baginya, orang miskin di Jawa benar-benar dak punya apa-apa, misalnya, rumahnya berlantai tanah, rumahnya terbuat dari kayu jelek, punya satu tempat dur, rumah dan kandang binatang menjadi satu, makan hanya dua kali dalam sehari. Sebaliknya, kemiskinan di Sebulu Modern dalam pandangannya berbeda jauh. “Di sini, yang dikatakan miskin, rumahnya dari kayu ulin, punya motor, makan masih 3 kali/sehari, punya kebun minimal 1 hektar. Itu kemiskinan di sini, berbeda jauh dengan di Jawa,”ujar kepala desa.

b. Desa Kersik Desa Kersik merupakan salah satu desa pesisir di Kukar. Tidak jauh dari desa tersebut, berdiri megah perusahaan minyak raksasa, Chevron. Namun, kehidupan warga Desa Kersik, masih menunjukan corak kemiskinan yang cukup nggi. Aksesibilitas warga terhadap fasilitas publik, infrastruktur (jalan, jaringan listrik) dan air bersih belum dapat dipenuhi dengan baik oleh pemerintah daerah setempat. Air bersih menjadi barang yang sangat mahal bagi warga. Harga 1 jerigen air bersih mencapai Rp. 3.000,00,-. Pihak Chevron pernah membantu penyediaan air bersih dengan membuatkan sumur di beberapa k, namun kapasitas dan kualitasnya dak layak sebagai sumber air minum, mengingat kondisi airnya yang buruk, kuning, dan berbau. Desa Kersik baru teraliri listrik pada tahun 2010. Meski sudah teraliri listrik, bukan berar warga desa bisa menikma layanan listrik dengan baik. Pasalnya, pemadaman listrik bergilir seringkali harus mereka terima, sehingga dak se ap hari pula masyarakat dapat berproduksi. Salah satu dampak layanan listrik yang buruk, yakni menggangu ak vitas transaksi ekonomi di pasar. Pasar di Kersik yang selalu beroperasi pada malam hari memiliki manfaat tersendiri, karena warga dak perlu bersusah payah pergi ke pasar induk di kota yang jarak tempuhnya yang jauh akan menyerap biaya produksi lebih nggi. Oleh karena itu, ke ka layanan listriknya buruk, transaksi pasar malam pun sering kali batal. Maka, pergi ke pasar di pusat kota harus kembali mereka lakukan. Kondisi Desa Kersik yang minim layanan listrik, sangat kontras dengan kehidupan kompleks perusahaan Chev-

72

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

73

ron, yang syarat sarana produksi dan pemukiman para pekerja perusahaan. Di wilayah ini, dak pernah ada pemadaman listrik. Seorang warga Desa Kersik mengibaratkan ke mpangan ini dengan ungkapan berikut. “Melihat Chevron di malam hari dari pinggir pantai begitu gemerlap seper Singapur, namun disekelilingnya penuh dengan lumpur.” (Bucherra) Infrastruktur jalan Desa Kersik juga masih buruk. Belum ada pengerasan jalan desa. Apabila turun hujan, maka air akan segera menggenangi jalan dalam tempo yang lama, sehingga jalan menjadi becek. Akibatnya, hilir mudik perekonomian warga terganggu. Pemerintah desa sebenarnya sudah berkali-kali mengajukan permohonan pengerasan jalan kepada pemerintah kabupaten, namun dak pernah mendapat respon. Buruknya infrastruktur desa juga mengganggu ak vitas pendidikan warga setempat. Hal tersebut terungkap dari cerita Harya berikut ini. “Apabila musim penghujan datang, anak-anak Desa Kersik, terutama yang di wilayah Empang seringkali dak hadir sekolah, dan kata mereka jalan yang mereka lalui tergenang air dan sangat becek, serta cukup berbahaya dilewa ,karena berupa jalan setapak, yang kalau dipaksakan, bisa-bisa tergelincir dan nyemplung empang.” (Harya , Guru SMP Negeri 4 Marangkayu)

II.2. Kontribusi PNPM-MP Desain kebijakan berdasarkan Petunjuk Teknis Operasional (PTO) PNPM, dituliskan bahwa ruang lingkup kegiatan PNPM melipu 4 hal,Pertama, kegiatan pembangunan atau perbaikan sarana dan prasarana dasar yang dapat memberikan manfaat langsung bagi RTM. Kedua, kegiatan peningkatan bidang pelayanan kesehatan dan pendidikan, termasuk kegiatan pela han pengembangan keterampilan masyarakat (pendidikan nonformal). Ke ga, kegiatan peningkatan kapasitas/keterampilan kelompok usaha ekonomi, terutama bagi kelompok usaha yang berkaitan dengan produksi berbasis sumber daya lokal ( dak termasuk penambahan modal). Keempat, penambahan permodalan bagi kelompok Simpan-Pinjam Perempuan (SPP). II.3. Nilai Tambah PNPM-MP PNPM-MP di Kabupaten Kupang hadir ke ka pemerintah kabupaten menjalankan sistem perencanaan par sipa f. PNPMMP bisa dibilang menjadi triger pelaksanaan agenda-agenda perencanaan pembangunan desa. Sampai tahun 2010, pemerintah kabupaten belum menjalankan kebijakan perencanaan par sipa f hingga ke level desa. Akibatnya, desa belum pernah menyelenggarakan Musrenbang reguler untuk menghimpun usulan pembangunan dari masyarakat desa yang akan didanai melalui skema APBD. Saat peneli an lapangan dilakukan, desa-desa di Semau belum memiliki RPJMDes, RPTDes, maupun APBDes. Walau demikian, ke adaan dokumen kebijakan desa tersebut, bukan berar menghalangi penggelontoran ADD ke desa. Di Kabupaten Kupang, desa rata-rata mendapatkan ADD senilai Rp. 32 juta, disertai pula dengan tunjangan untuk perangkat desa. Kepala desa mendapat tunjangan satu juta rupiah/bulan, sedangkan untuk perangkat Rp. 750.000,-/bulan. Rendahnya daya serap sistem perencanaan daerah terhadap usulan kebutuhan/program dari masyarakat desa, membuka

74

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

75

peluang kepercayaan masyarakat terhadap PNPM-MP, karena PNPM-MP juga membuka forum perencanaan pembangunan, sekaligus menyediakan anggaran yang pas . “Akhirnya, masyarakat melihat bahwa PNPM-MP lebih membantu mereka, karena ke dakhadiran program/kegiatan dari pemerintah daerah. Dalam sektor perencanaan, justru perencanaan desa milik PNPM yang jalan, bukan Musrenbang regular milik pemerintah. Waktu kemarin kami kawal Musrenbang, ketahuan para camat marah-marah karena para kepala desa pada saat Musrenbang kecamatan dak membawa dokumen perencanaan desa hasil Musrenbang.” (Ak vis Alfa Omega, 26 oktober 2010). PNPM-MP cukup berkontribusi posi f dalam mendorong kemampuan teknokra s desa (perencanaan pembangunan). Untuk mengatasi keterbelakangan desa-desa di Semau dalam hal penyiapan dokumen perencanaan pembangunan, PNPM-MP bekerjasama dengan pemerintah kecamatan menyelenggarakan pela han membuat dua dokumen tersebut untuk memperkuat kapasitas penyelenggaraan pemerintahan di desa. Karenanya, kedatangan PNPM-MP di Semau secara umum mendapat sambutan yang cukup marak dari penduduk. Pada even musyawarah desa, warga masyarakat laki-laki dan perempuan berduyun-duyun mengiku kegiatan tersebut. Musyawarah desa tersebut biasanya diselenggarakan di balai desa atau di pelataran desa, dibawah pohon. Musyawarah desa merupakan mekanisme awal pelaksanaan proyek PNPM-MP, yakni menyiapkan seperangkat perencanaan program, kegiatan, dan anggaran, termasuk melengkapi kebutuhan pengurus dan pelaksana proyek. Putaran roda pengelolaan PNPM-MP di Semau diperankan secara baik oleh sejumlah pengurus UPK yang didalamnya melibatkan unsur masyarakat desa. Keterlibatan masyarakat berada

di semua tahapan proyek, baik pada ngkat perencanaan, pencairan, dan pelaksanaan, maupun pada ngkat pemeliharaan hasil. Kepengurusan UPK terdiri dari Penanggung Jawab Organisasi dan Kegiatan (PJOK), Fasilitator Kecamatan Pemberdayaan (FKP), Fasilitator Kecamatan Teknik (FKT), Badan Kerjasama Antar-Desa (BKAD), Pendamping Lokal (Penlok), kemudian menyentuh ke level desa dalam bentuk kelembagaan TPK, KPMD, dan TPU. Berikut adalah struktur kepengurusan UPK Semau.
Struktur Organisasi PNPM Kecamatan Semau
PJOK FKP FKT BKAD PENLOK Ketua Sekertaris

Bendahara

Desa

Desa

Desa

Desa

Pelaksanaan PNPM-MP di Semau, m UPK selalu menjalankan program dan kegiatan PNPM-MP sesuai dengan tahapan yang telah diatur di PTO atau SOP (alur, lihat halaman berikutnya). Secara garis besar, pelaksanaan PNPM-MP dibagi menjadi ga tahapan, yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap pemeliharaan. Tahap perencanaan dimulai dengan musyawarah sosialisasi mulai dari ngkat desa dan ngkat kecamatan. Di level desa dilakukan Musyawarah Desa yang bertujuan untuk sosialisasi dan transfer informasi seputar program PNPM-MP. Sedangkan di level kecamatan Musyawarah Antar Desa dilakukan dengan tujuan sosialisasi dan penetapan dana. Pada level inilah antardesa akan saling bermusyawarah untuk mempertemukan da ar usulan sebagaimana yang telah ditetapkan sebelumnya di ngkat desa. Dengan kata lain, usulan antardesa akan dipertarungkan dengan usulan dari desa lain, sehingga didapat da ar usulan yang singkron sesuai dengan prioritas kebutuhan masing-masing desa. Adapun usulan77

76

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

usulan yang dibawa dari desa ke MAD kecamatan, sudah barang tentu telah melalui tahap seper penggalian gagasan dan musyawarah desa. Dalam sebuah bagan, alur proses pelaksanaan PNPM-MP dapat dijelaskan dalam bagan di bawah ini.
Alur Tahapan PNPM Mandiri Perdesaan
Orientasi & Pengamatan Lapangan

Evaluas

MAD Sosialisasi

Operasional Pemeliharaan

MUSDES Sosialisasi Pela han Kader Pemberdayaan Masyarakat Form: Survey Dusun Kriteria Kesejahteraan Pemetaan RTM Penggalian Gagasan Musyawarah Desa Khusus Perempuan

MUSDES Pertanggungjawaban Supervisi Pelaksanaan, Kun-jungan Antar Desa, Pela han Tim Pemeliharaan

PNPM-MP mampu memobilisasi keikutsertaan masyarakat sebagai pengelola program dalam jumlah besar. Namun, segmentasi aktor yang terpilih menjadi m pengelola proyek PNPMMP pada umumnya berasal dari kelas menengah ke atas desa, bukan kelompok warga miskin. Merunut sejarah pembentukannya, TPK, TPU, maupun KPMD dipersiapkan PNPM-MP sebagai perpanjangan tangan kelembagaan yang akan mengelola dana-dana PNPM-MP di level pedesaan. Maka, merekrut warga asli desa bersangkutan adalah cara yang ditempuhnya. Perekrutan anggota masyarakat untuk mengisi ga kelembagaan ini, benar-benar berasal dari perwakilan masyarakat yang dak mempunyai posisi pen ng di dalam struktur pemerintahan desa, terutama aktor desa yang cukup disegani dan kharismak. Selain itu, aspek keterwakilan gender juga cukup diperhakan. Di Letbaun, TPU terdiri dari Marthen Koen selaku ketua TPK, Wihelmina Neno (wakil masyarakat perempuan), Wihelmince Baung (wakil masyarakat perempuan yang juga istri kepala desa) dan Belandina Leolede (salah satu m KPMD). Berikut ini contoh da ar jumlah keterlibatan masyarakat sebagai bagian m PNPM di Kabupaten Kutai Kartanegara.
Tabel 3 Pelibatan Masyarakat dalam Tim PNPM di Kab. Kukar
No 1 2 3 4 Kecamatan
Samoa Maura Jawa Sanga Sanga Loa Kulu Maura Muntai Maura Wis

Pencairan Dana dan Pelaksanaan Kegiatan

MUSDES Pertanggungjawaban Supervisi Pelaksanaan dan Kunjungan Antar Desa Persiapan pelaksanaan (penda aran tenaga, pela han TPK, UPK, dan pelaku desa lainnya) Musrenbang Kabupaten MUSDES Informasi Hasil MAD Form SKPD Pencairan Dana dan Pelaksanaan Kegiatan

1. Visi Desa 2. Peta Sosial Desa 3. Usulan Desa (BLM, ADD, PJM dll) 4. PJM (RPT Des, PJM Des 5. Renstra Desa

MUSDES Perencanaan Penulisan Usulan dengan/tanpan desain RAB Verifikasi MAD Desain & RAB: Verifikasi Teknis SPP • Penetapan Pendanaan • Utusan Kecamatan KPMD (Org) 42 16 10 24 26 14 TPU (Org) 1 1 1 1 1 1 BKAD (Org) 3 3 3 3 3 3 PL (Org) 1 1 1 1 1 1 UPK (Org) 3 3 3 3 3 3

BPUPK (Org) 3 3 3 3 3 3

TV (Org) 5 5 5 5 5 5

TM (Org) 1 1 1 1 1 1

FK 2 2 2 2 2 2

Total 61 35 29 43 45 33

• Ringkasan Usulan • Renstra Kecamatan

5 6

MAD

78

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

79

7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

Kota Bangun Sebulu Tenggarong Seberang Anggana Maura Badak Marangkayu Maura Kaman Kanohan Kembang Janggut Tabang

40 26 36 16 26 22 38 16 22 38 412

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 16

3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 48

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 16

3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 48

3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 48

5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 80

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 16

2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 32

59 45 55 35 45 41 57 35 41 57 716

3. Usulan dari dusun kemudian ditempel di depan peserta musyawarah. 4. Setelah usulan lolos prioritas, kemudian penulisan proposal oleh TPU yang dipilih pada saat Musdes perencanaan (MD2). 5. Setelah m TPU terbentuk, m kemudian dila h di kecamatan oleh FK dan FT untuk penulisan proposal usulan masing-masing desa. 6. Penulisan proposal oleh TPU di ngkat desa. 7. Proposal diajukan ke pihak UPK yang kemudian akan di ndaklanju dengan tahap verifikasi. Dalam konteks penguatan par sipasi, PNPM-MP menggiring par sipasi masyarakat ke dalam berbagai kegiatan musyawarah yang dilengkapi dengan beberapa aturan dan sanksi yang dirumuskan secara bersama. Aturan dan sanksi yang dirumuskan dan ditetapkan melalui tahapan MAD sosialisasi ini dimaksudkan untuk mengop malkan derajat par sipasi warga. Hasil akhirnya, tentu da ar usulan kegiatan yang nan nya masuk ke dalam da ar kegiatan yang akan didanai PNPM-MP merupakan hasil kesepakatan warga desa yang digali melalui proses Pagas yang benar-benar par sipa f. Berikut ini beberapa catatan hasil kesepakatan aturan dan sanksi yang dihasilkan melalui MAD sosialisasi Kecamatan Semau.

Total

Secara sistema s, PNPM-MP telah mencerminkan mekanisme kerja yang terencana dan berhasil menghimpun usulan kegiatan dari masyarakat terendah, yaitu dusun sebagai basis komunitasnya. Paling dak, ada enam langkah yang ditempuh program PNPM-MP di ngkat desa dalam menggali, mengangkat usulan kegiatan dari masyarakat desa secara par sipa f hingga akhirnya menjadi kebijakan anggaran yang disetujui oleh pengelola PNPM-MP ngkat kabupaten. 1. Usulan dari dusun dihimpun oleh KPMD melalui penggalian gagasan (Pagas) di masing-masing dusun. 2. Usulan di ngkat dusun dibawa ke ngkat desa untuk ditarungkan skala prioritasnya melalui musyawarah desa. Pertama, Musdes khusus perempuan (biasanya membahas program yang kemanfaatan khusus perempuan, seper SPP dan pela han yang sifatnya untuk perempuan). Kedua, menghasilkan usulan campuran yang kemanfaatannya dirasakan laki-laki dan perempuan.

80

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

81

Tabel 4 Kesepakatan Aturan dan Sanksi Hasil MAD No 1 Aturan
Utusan desa yang wajib hadir dalam Forum MAD terdiri dari 6 orang yakni Kepala Desa, BPD, Tokoh Masyarakat dan 3 orang Kaum Perempuan.

8

Sanksi
Bila dak menjcapai target tesebut, maka forum berhak penilaian kelompok untuk anggota yang dak hadir dak dihitung/ dak dinilai.

Se ap desa/ Kelurahan wajib memelihara dan mengak an sarana prasarana yang telah dibangun oleh program PPK, PNPM – PPK dan PNPM – MP

2

Kepala Desa atau Lurah Wajib mengiku Bila Kades/ Lurah atau Wakilnya MAD dan bila ada halangan yang dak dak mengiku MAD, maka usubisa dihindari, maka harus diberikan reko- lan dari desanya dak dibahas. mendasikan secara tertulis kepada Sekdes untuk mengiku MAD. Se ap desa (Kepala Desa, dan BPD) wajib memfasilitasi menyusun Dokumen RPJMDes di desa masing- masing dan batas waktu penyelesaian dokumen RPJMDes pada Bulan Mei 2009. Apabila sampai dengan Bulan Mei 2009 dokumen RPJMDes dari desa tersebut belum selesai, maka desa tersebut dak diikutsertakan dalam kompe si kegiatan PNPM – MP atau program lain pada tahun berikutnya sampai desa tersebut memiliki Dokumen RPJMDes. Nilai = -10 Nilai = 0 Nilai = 5 Nilai = 10

Bila desa dak melakukan pemeliharaan dan mengak an sarana prasarana dak akan mendapat nilai bonus pada penilaian diskusi kelompok MAD Prioritas, bagi desa selalu memelihara dan mengak an sarana prasarana yang dibagun, maka akan mendapat nilai bonusnya pada penilaian kelompok diskusi MAD Prioritas

3

4

Kaum perempuan yang hadir dalam se- < 20%, ap pertemuan MAD dan MD minimal 20 – 40%, mencapai 40 % dari jumlah KK. > 40 – 50%, > 50%, Par sipasi masyarakat dalam se ap musyawarah di desa minimal mencapai 50 % +1 dari jumlah KK yang ada di desa tersebut. Kriteria lokal par sipasi masayarakat: Kehadiran < 51 %, Nilai = - 10 Kehadiran 51 % - 75 %, Nilai = 5 Kehadiran > 75 %, Nilai = 10 Se ap desa wajib memfasilitasi masyarakat untuk mengembalikan dana kredit macet/ SPP minimal 30 % pada proses perencanaan.

5

Bila kehadiran se ap forum MD < 51 %, maka desa tersebut diberi sanksi kriteria lokal par sipasi dengan nilai = -10

Kapasitas fiskal PNPMMP mampu merengkuh semua desa dalam suatu wilayah kecamatan. PNPM masuk ke Kecamatan Semau sejak tahun 2009. UPK Kecamatan Semau, selama dua tahun mengelola anggaran PNPM-MP sebesar Rp. 3,175 miliar. Semua desa di Semau terengkuh oleh proyek PNPM. Dana pembangunan PNPM-MP terdistribusikan untuk proyek pengerasan jalan (di 3 desa), pembangunan Sarpras sekolah PAUD dan TK (di 2 desa), beasiswa (1 desa), dan jaringan perpipaan (1 desa). Pada tahun anggaran 2010, PNPM kembali menggelontorkan sejumlah uang untuk desa-desa di Semau dengan coverage penerima manfaat yang juga bertambah. Kali ini trend usulan lain dari tahun sebelumnya. Usulan beasiswa dan honor guru menjadi usulan yang paling banyak muncul. Kecuali desa Hansisi, semua mengusulkan beasiswa. Tabel alokasi dana PNP-MP untuk Kecamatan Semau terlampir. Kapasitas fiskal PNPM-MP yang besar mampu mengalokasikan reward kepada masyarakat desa yang terpilih sebagai m pengelola proyek. Kasus di Desa Letbaun, kecuali TPU, TPK, dan KPMD mendapat reward kerja dari se ap proyek yang didanai PNPM-MP. Sesuai dengan aturannya, TPK yang berjumlah ga orang mendapat alokasi budget untuk honor sebesar 3% dari total dana proyek. Semakin besar dana proyeknya, maka akan semakin besar pula honorarium TPK. Pada tahun anggaran 2009 TPK Letbaun mendapat honorarium sebesar Rp. 709.800,-. Pada tahun 2010 mendapat alokasi Rp. 1.416.900,-.
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

6

Bila dak memfasiitasi atau pengembalian dak mencapai 30 %, maka desa tersebut akan dibahas khusus pada MAD Prioritas.

7

Se ap desa wajib mendorong kerelaan Bila desa dak mendorong kermasyarakat untuk swadaya dalam mewu- elaan masyarakat untuk swadaya judkan par sipasi pelaksanaan tahapan dak akan mendapat nilai bonus PNPM – Mandiri Perdesaan pada penilaian diskusi kelompok MAD Prioritas, bagi desa mempunyai kerelaan masyarakat untuk swadaya maka akan mendapat nilai bonusnya

82

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

83

Sedangkan untuk honor KPMD masuk dalam tanggungan UPK. Kalau dirinci, maka rata-rata pertahun, ke ga pengurus TPK mendapat honor Rp. 236.300,- selama tahun anggaran 2009 dan Rp. 472.300,- selama tahun anggaran 2010. Dari segi penguatan kapasitas masyarakat desa, sebenarnya secara dak langsung PNPM-MP telah meletakkan pondasi keterampilan dan pengetahuan administrasi. Warga desa, khususnya yang terlibat sebagai m pengelola PNPM-MP di level desa, secara langsung menerima transfer pengetahuan, tentang hal-hal yang berkaitan dengan administrasi dan keuangan. Dalam jangka waktu tertentu, pengetahuan tersebut akan berdampak meningkatnya kemampuan teknokra s merumuskan program dan mata anggaran. TPU yang dibentuk PNPMMP sebagai m perumus usulan bertugas menghimpun suara dan usulan dari masyarakat. TPU kemudian dila h membuat proposal usulan program. TPK ditugasi membuat berbagai jenis laporan, salah satunya laporan catatan keuangan proyek. Di desa Letbaun, kepala desa setempat mengakui, posisi dan peran TPU sangat dibutuhkan kelak untuk desanya, meski dia menyayangkan besarnya energi yang dikeluarkan TPU dak sebanding penghargaan yang diberikan PNPM-MP. Sebagaimana diketahui, TPU sama sekali dak menerima alokasi honor. Secara kuan ta f, PNPM-MP mampu mendongkrak angka keswadayaan masyarakat, utamanya pada proyek-proyek infrastruktur. Menurut Ardiansyah (Kabid. Pengelolaan Aset Desa Bappemas Kab. Kukar), “Program PNPM bagus untuk membantu program pemerintah daerah dalam penanggulangan kemiskinan di Kukar, karena ada swadaya masyarakatnya, sehingga masyarakat dilibatkan dalam proyek tersebut.” Dikatakan pula, “Di saat animo masyarakat untuk berpar pasi sangat menurun, program PNPM mengajak masyarakat untuk kembali berpar sipasi dalam membangun desanya.” Sebagai buk kemampuan PNPM menggalang swadaya, Ardiansyah 84
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

memberikan contoh proyek PNPM dengan proyek Pekerjaan Umum (PU) yang masuk ke desa. Proyek pembangunan madrasah di Kecamatan Samboja, yang dikerjakan oleh PU menghabiskan total biaya Rp. 400 juta. Tapi PNPM hanya membutuhkan Rp. 165 juta. Nilai unggul PNPM dalam konteks proyek ini menurutnya, “Karena progam PNPM dak perlu lelang dengan para kontraktor. Ini salah satu yang memudahkan program ini, dan masyarakat selalu dilibatkan dalam penentuan program di desa.” Pendapat Ardiansyah diperkuat pula oleh Mahmudan, Kabid. Sosial-Budaya Kabupaten Kukar. Menurutnya, “Kekuataan PNPM ada pada swadaya dan gotong-royongnya. Selain itu, program PNPM masuk dalam ketegori Bansos (Bantuan Sosial)5, sehingga dak perlu mengikut Kepres No. 80 Tahun 2003 tentang lelang barang dan jasa,” ujar Kabid yang sedang menyelesaikan kuliah S3. II.4. Sisi Lemah Pelaksanaan PNPM-MP PNPM-MP berhasil memobilisasi masyarakat, dan juga mendorong lahirnya emansipasi warga terhadap jalan (infrastruktur) proyek PNPM-MP, tapi belum mampu meminimalisasi penyimpangan proyek. Di Desa Uitao, ada seorang warga desa yang menyerahkan secara sukarela tanahnya yang berukuran 20m x 15m untuk membangun satu lokal gedung TK kepada pengelola PNPM pada tahun anggaran 2009. Pembangunan TK tersebut menelan anggaran sebesar Rp. 199.301.300,-. Pada tahun 2010 proses pembangunan TK diatas tanah tersebut masih berlangsung. Masih di Desa Uitao, pada tahun anggaran yang sama, selain pembangunan TK, PNPM-MP juga merengkuh proyek pengerasan jalan senilai Rp. 192.405.700,Untuk pengerjaan TK dan pengerasan jalan di Desa Uitao, dilaksanakan secara swakelola oleh masyarakat desa setempat
_________ 5) Bansos adalah salah satu program pemerintah yang dialokasikan untuk kepen ngan pembedayaan masyarakat.

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

85

dengan upah sesuai dengan HOK yang berlaku, serta dalam pantauan TPK setempat. Untuk pengadaan barang/material bangunan dilelang secara terbuka kepada masyarakat setempat yang nan nya sanggup menjadi suplyer-nya. Di Uitao, proses lelang dimenangkan oleh orang kaya setempat. Pengadaan material dibeli seper batu, pasir dibeli dari masyarakat setempat, mengingat ketersediaan material ini bisa diperoleh di sekitar Semau saja. Sementara, untuk material jenis semen dan besi dibeli di Kupang. Sayangnya, pelaksanaan proyek pembangunan TK dan pengerasan jalan di Uitao dak sebaik perencanaanya. Material bangunan untuk konstruksi TK banyak yang dak sesuai dengan RAB-nya. Sehingga sangat mungkin kelak hanya akan menghasilkan kualitas bangunan rendah. Hal serupa juga dilaksanakan pada proyek pembuatan rabat beton di Desa Uiasa. Selaku pemasok, berasal dari dalam masyarakat Desa Uiasa, tapi yang membedakan dengan desa Uitao, ada kesepakatan antara pemasok dengan warga yang terlibat dalam proses pengerjaan rabat beton. Warga masyarakat yang terlibat dalam pengerjaan proyek senilai Rp.196.471.750,adalah warga desa yang bekerja sekaligus menyediakan material bangunan, terutama batu yang dijual kepada pemasok. Pemasok akan menggan nya setelah proyek selesai. HOK yang diterima para pekerja proyek rabat beton di Uiasa tergolong rendah, yaitu Rp. 6.000,-/hari. Batu-batu yang mereka jual kepada pemasok tentu menjadi tumpuan harapan para pekerja tersebut sebagai nilai tambah upah dari proyek yang dikerjakannya. PNPM-MP di Letbaun menampilkan warna berbeda dibandingkan desa-desa tetangganya yang sebagian besar memprioritaskan proyek-proyek fisik. Desa Letbaun, sejak PNPMMP masuk tahun 2009, prioritas usulan programnya justru bersifat nonfisik, yaitu program beasiswa multy year (lihat tabel alokasi anggaran PNPM-MP pada bagian lampiran). Se86
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

bagaimana proyek fisik pada umumnya, proyek PNPM-MP di desa Uitao dan Uiasa membawa angin pendapatan tambahan bagi penduduk desa karena tercerap sebagai tenaga kerja untuk se ap pengerjaan proyek. Biarpun berupah murah, sekitar 20-an warga Uiasa rela bekerja untuk mengerjakan proyek rabat beton. Keuntungan lebih besar malah ada pada pihak pemenang lelang proyek. Sementara itu, program beasiswa multy year di Letbaun sama sekali dak berdampak pada pembukaan lapangan kerja baru bagi warga. Hanya pengelola seper TPK saja yang memperoleh berkah honor 3% dari total nilai proyek. Perebutan posisi TPK di Letbaun dak nampak menimbulkan gejolak. Secara teknis fasilitasi uang diperankan fasilitator PNPM-MP kecamatan dalam musyawarah desa, berhasil melahirkan perwakilan masyarakat sebagai TPK secara demokra s, dimana warga diberikan kesempatan secara bebas untuk mengajukan calon dan memilihnya. Namun demikian, anggota TPK pada umumnya adalah aktor desa yang sudah memiliki kharisma sosial di mata masyarakat karena posisinya dalam lembaga-lembaga keagamaan “gereja”. Proses pemilihan pengurus TPK dilakukan secara par sipa f. Warga Letbaun secara bebas mengajukan calon pengurus, namun secara naluriah, preferensi masyarakat mengarah pada aktor-aktor yang selama ini ak f dalam struktur kelembagaan lokal desa, seper pengurus adat dan pengurus organisasi gereja. Akhirnya, domain kelembagaan lokal yang dibentuk PNPM-MP menambah sekaligus memperluas arena poli k bagi elit-elit desa. Sebaliknya, bagi warga biasa tetap berada dalam gelanggang subek yang akan diambil kemanfaatanya pada saat pelaksanaan kegiatan PNPM-MP. Masuknya dana PNPM-MP ke Letbaun dak membawa pengaruh posi f terhadap arus keuangan desa dan dak membangun keterbukaan informasi pembelanjaan angAudit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

87

garan kepada masyarakat. Desa dak memiliki kewenangan terhadap proses pembelanjaan anggaran pengadaan barang seper tas, sepatu, kaos kaki, dan seragam sekolah dari program beasiswa multy year. Sesuai dengan Protapnya, semua catatan belanja dari program beasiswa tersebut dilakukan TPK Desa. Laporan keuangan diberikan searah hanya kepada Unit Pengelola Kegiatan Kecamatan. Dalam posisi ini, tampak sekali desa seper papan reklame, dimana PNPM-MP berkontestasi, dan membangun citra sebagai program yang propengentasan warga desa dari jerat kemiskinan. Sementara, papan reklamenya sendiri dak terlihat oleh publik. Dalam konteks kesepakatan antara pengelola PNPM dengan desa (lihat tabel aturan dan sanksi hasil MAD), mencerminkan adanya relasi kuasa antara elite desa dengan masyarakat biasa. Pada kesepakatan nomor 2, secara tersirat hendak mengatakan bahwa kepala desa adalah aktor yang paling sah dan diakui sebagai satu-satunya wakil desa dalam forum MAD. Secara tegas, dalam kesepakatan ini mengatakan, “Bila Kades/lurah atau wakilnya dak mengiku MAD, maka usulan dari desanya dak dibahas.” Sanksi ini sangat jelas meniadakan peran produk-produk hukum di desa, seper RPMJDes, RPTDes, RKP Desa atau produk perencanaan dan penganggaran pembangunan desa lainya. Kiranya dapat dikatakan disini, PNPM-MP masih mengutamakan par sipasi tubuh, bukan otak. Dalam konteks ini, PNPM MP secara dak langsung mereduksi makna desa yang disederhanakan menjadi kepala desa. Dalam konteks kesepakatan No.2 dapat dikatakan bahwa arena MAD yang diselenggarakan PNPM-MP dak memberi ruang bagi masyarakat kelas menengah ke bawah, dan bagi keterwakilan kelembagaan desa nonkorpora s terlibat dalam forum MAD. Padahal, aktor-aktor terse88
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

but sangat mungkin lebih mengetahui duduk persoalan dan potensi pemecahan atas persoalan yang dihadapi masyarakat sendiri. Di desa Letbaun, memang kelembagaan formal sektoral seper kelompok tani rumput laut dak ada. Tapi kehidupan para petani rumput laut yang mengelompok di sepanjang pantai Letbaun sangat memungkinkan adanya bangunan komunikasi komunitas yang baik. Sangat mungkin, nihilnya keterwakilan kelompok sektoral ini dalam kontestasi PNPM-MP, suara mereka dak terdengar. PNPM-MP belum memiliki kepekaan nggi terhadap kebutuhan masyarakat miskin. Bak PAH bagi Desa Letbaun masih menjadi prioritas kebutuhan masyarakat sebagai media penampung air hujan. Karena itulah pada tahun anggaran 2009, warga mengajukan usulan pembangunan bak PAH untuk 54 KK. Setelah diusulkan oleh TPK kepada pihak UPK, PNPM-MP hanya bersedia mengakomodir pembangunan bak PAH berjumlah 27 unit. Namun setelah diverifikasi, m UPK menurunkan kembali jumlah bak PAH, dari 27 menjadi 17 unit. Warga pun mempertanyakan keputusan tersebut pada pihak UPK. Salah satu alasan kuat yang menjadi dasar penolakan pihak pengelola PNPM-MP Kecamatan Semau, karena sebagian besar rumah penduduk yang diusulkan layak menerima bak PAH, atap rumahnya masih terbuat dari daun lontar, sehingga akan menimbulkan masalah dikemudian hari. Dengan hasil akhir ini, warga Desa Letbaun pun menolaknya, karena dengan demikian PNPM-MP lebih berpihak pada warga yang secara ekonomi berkecukupan. Bagi warga Letbaun, kemampuan sebuah rumah tangga membangun atap rumah dari seng setara dengan rumah tangga yang kaya. Atas per mbangan dari masyarakat desa, Kepala Desa Letbaun di kemudian hari melayangkan surat penolakan atas proyek pembangunan bak PAH kepada UPK Kecamatan Semau. Terhadap kasus tersebut seorang warga
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

89

menuturkan. “PNPM dak berpihak pada warga miskin, sebab usulan bak PAH dari warga yang rumahnya beratap daun ditolak, sementara malah meloloskan usulan dari warga yang rumahnya terbuat dari seng.” (Yonsi Exonhi s, warga Letbaun) PNPM mendahulukan usulan kelompok elit desa daripada kebutuhan dasar masyarakat. Sebagaimana diketahui di lapangan, Desa Oelbanu membutuhkan akses listrik. Tapi musyawarah desa maupun musyawarah antardesa dak pernah meloloskan usulan pembangunan infrastruktur listrik. Seorang warga miskin, dalam forum FGD menyampaikan sebagai berikut. “Begini, Pak, jalan sudah dapat, duwit sudah dapat, penerangan kok belum sampai desa ini? Saya usul ada listrik tenaga surya di desa ini, tapi PNPMMP belum mau meloloskan usul saya. Padahal,Pak, di desa dan kecamatan lain listrik tenaga surya sudah ada. Saya sebagai orang tua hanya mengusulkan ini,Pak. Di desa ini adanya hanya genset, tetapi hanya beberapa orang dan itu harus menghabiskan uang ratusan ribu dalam semalam.” (warga miskin Desa Oelbanu, 23 Oktober 2010) Warga Oelbanu juga menghadapi masalah kesehatan dan pendidikan. Seorang warga miskin yang terlibat dalam agenda FGD menyampaikan fakta sebagai berikut. “Secara pribadi, saya ini orang miskin. Setelah dilahirkan, bapak dan mama saya meninggal. Setelah umur 10 tahun saya mendapat penyakit asma/

sesak napas, dak bisa bergerak dan untuk jalan mendaki dak bisa. Sehingga saya putus sekolah di kelas 2 SD. Akhirnya saya menjadi pemuda yang dak punya tenaga untuk bekerja, karena saya juga punya penyakit cacing sampai sekarang. Disamping itu, saya juga punya penyakit ambeien yang menyebabkan dak bisa bekerja. Saya dak bisa memikul hasil bumi untuk dijual ke pasar Lelogama (ibukota kecamatan). Jadilah saya orang miskin. Saya pun punya anak, yang seharusnya sudah sekolah SD namun saya dak mampu menyekolahkan. Saya juga mau beli obat di warung sekitar dak mampu. Kebetulan juga,Pak, saya memelihara hewan seper ayam, bebek, dan lainnya seringkali diganggu atau diterkam oleh hewan pemangsa. Jadi, sempurnalah saya sebagai orang miskin di desa ini.” (warga miskin Desa Oelbanu, 23 Oktober 2010) Sekalipun warga yang dak mau ditulis namanya ini telah menyampaikan masalahnya dalam forum musyawarah desa, namun usulannya dak diterima forum. Forum mendahulukan usulan pembangunan PAUD yang sejumlah warga. Beberapa warga yang kuat mempertahankan usulan PAUD diketahui adalah istri-istri tokoh desa yang selama ini mengelola PAUD dan menghendaki adanya pembangunan gedung PAUD. Mereka adalah istri mantan Kades Paul S. Meno, istri Ketua TPKD, dan istri Kades Saul. Akhirnya, PNPM-MP pun mendahulukan usulan pembangunan PAUD dengan biaya Rp. 150 juta daripada menjawab persoalan hidup yang dihadapi warga miskin Oelbanu tersebut. Pengaturan waktu pencairan dana PNPM-MP untuk beasiswa dak beriringan dengan kalender pendidikan, seAudit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

90

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

91

hingga terjadi missing antara kebutuhan warga miskin dengan mekanisme pencairan. Pada tahun anggaran 2009 PNPM-MP mengalokasikan dana sebesar Rp. 23.660.600,untuk 25 siswa (SD 23 anak dan SMP 2 anak). Pada tahun 2010, warga kembali mengajukan program beasiswa untuk 58 siswa dengan total dana sebesar Rp. 47.228.800.,- Besar anggaran ini tentu belum dipotong untuk biaya operasional UPK 2% dan TPK 3%. Materialisasi bantuan beasiswa PNPM-MP ini, yakni bantuan anggaran untuk meringankan kebutuhan siswa seper tas, sepatu, pakaian, dan ATK. Dalam perencanaannya, pemberian beasiswa dicairkan se ap menjelang tahun ajaran baru. Sayangnya, realisasi tahun perencanaan anggaran 2009 yang seharusnya cair pada bulan Juli 2010 dak sesuai rencana, dimana sampai peneli an ini dilakukan (Oktober 2010), dana beasiswa belum dicairkan. Padahal, tahun ajaran baru sudah cukup lama berlalu. Itu ar nya, siswa calon penerima beasiswa tetap terbebani biaya pendidikan yang biasanya akan naik menjelang tahun ajaran baru. Keterlambatan pencairan beasiswa ini disebabkan panjangnya siklus perencanaan yang diselenggarakan PNPMMP. Pada tahun 2009 secara otoma s habis untuk tahap perencanaan, penggalian gagasan, dan penetapan da ar usulan kegiatan. Pada bulan April 2010, pengelola PNPMMP baru melakukan pendataan siswa calon penerima yang melibatkan POKJA, TPK, dan UPK sebagai satu kesatuan m pengelola dana beasiswa. Usai pendataan, baru pada bulan Mei rumusan proposal dibuat oleh Tim Penulis Usulan yang kemudian diajukan TPK ke UPK. Pada bulan Juni, UPK turun ke desa untuk sosialisasi program beasiswa sekaligus memverifikasi data yang dan proposal yang diajukan TPK Desa Letbaun. Proses validasi datapun kembali dilakukan pada bulan September. Akhirnya pada bulan Desember 2010 siswa 92
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

menerima beasiswa. Panjangnya alur pengelolaan beasiswa diawal ini, semakin berbelit karena pencairannya ternyata dilakukan dua tahap, dengan alur tahapan yang panjang. Tahap pertama, dana yang dicairkan 40% dan tahap kedua 60% dari total budget proyek setelah dikurangi operasional UPK dan TPK. Alur pencairan melewa beberapa tahapan. Sesuai dengan tata ter b yang ditetapkan dalam forum MAD 28 Agutus 2010, tahapan penyaluran dana beasiswa multy years sebagai berikut. a. TPK membuka rekening kolek f pendidikan dikecamatan yang dikelola oleh Pokja dikecamatan. b. TPK mengajukan RPD kegiatan pendidikan ke UPK sesuai anggaran yang disetujui pada forum MAD pendanaan dengan tahap pertamaI 40%, dan tahap keduan 60%. c. UPK menyalurkan dana kegiatan pendidikan kepada TPK berdasarkan RPD yang diajukan (termasuk OPS 2% UPK) untuk kemudian dana tersebut dimasukkan dalam rekening kolek f pendidikan diluar OPS 2% UPK. d. TPK mengajukan RPD sesuai kebutuhan (termasuk OPS 3% TPK) dan dilampiri da ar penerimaan manfaat ke Pokja Pendidikan. e. TPK membelanjakan dana beasiswa sesuai dengan RPD dan membuat laporan penggunaan dana (LPD) serta melakukan pertanggungjawaban penggunaan dana tersebut didesa. LPD harus diverifikasi oleh Pokja dan FK (bila masih bertugas) serta mendapatkan pengesahan dari kepala sekolah dan komite sekolah untuk menghindari terjadinya tumpang ndih bantuan pendidikan. f. Seluruh laporan penggunaan dana (LPD) harus diarsipkan dengan baik di desa dan di kecamatan oleh Pokja. g. Tahap selanjutnya, TPK mengajukan RPD kedua 60%
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

93

ke UPK untuk kemudian dana tersebut ditransfer langsung ke rekening kolek f pendidikan. Pada tahapan ini dapat dilakukan pertanggungjawaban tahap kedua, dimana TPK menyampaikan bahwa seluruh dana tersebut telah dimasukkan dalam rekening kolek f pendidikan, sekaligus dilakukan serah terima dari FK, bahwa seluruh alokasi dana pendidikan untuk desa tersebut telah disalurkan sesuai dengan alokasinya. h. Untuk pencairan kedua dan seterusnya, TPK langsung mengajukan RPD ke Pokja sesuai rencana kerja dan dilakukan pertanggungjawaban seper pencairan tahap pertama. Secara konseptual, pemberian beasiswa ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan alat tulis sekolah siswa-siswa dari Desa Letbaun yang tak mampu, mulai tahun 2009 sampai dengan tahun 2017. Siswa yang saat ini tercatat sebagai siswa Sekolah Dasar, sesuai dengan ngkat kelasnya, maka jatah beasiswa yang akan diterima hingga tahun akhir tamat belajar di SD. Demikian pula bagi siswa yang duduk di SLTP, maka PNPM-MP juga akan merengkuh kebutuhan ATK, tas, pakaian, dan sepatu siswa bersangkutan hingga akhir tahun belajar. Adanya jaminan beasiswa kepada keluarga miskin hingga tahun 2017 cukup memberi ruang bagi rumah tangga miskin untuk menghemat pengeluaran belanja, terutama untuk pendidikan. Lalu siapakah yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan program tersebut, memantau akuntabilitas dan transparansi pengelolaanya, padahal PNPM-MP akan berakhir pada tahun 2015? Dalam konteks ini, PNPMMP berharap Pokja dan TPK menjadi lembaga peninggalan PNPM-MP yang nan nya akan mengawal dan mengelola dana-dana beasiswa tersebut. Sebagaimana telah ditetap-

kan pada MAD III tahun 2010, TPK di se ap desa membuat rekening kolek f pendidikan di kecamatan yang dikelola oleh Pokja di kecamatan. TPK, kemudian adalah lembaga bentukan PNPM-MP yang diberi otoritas untuk mengambil rekening saat pencairan beasiswa. Di sinilah TPK dinilai akan tetap bekerja mengawal program beasiswa multy years hingga tahun proyek berakhir pada tahun 2017. Tingkat kehadiran dalam Forum Musyawarah Desa (Musdes) maupun MAD yang diselenggarakan PNPM-MP cukup nggi, namun dari segi suara, masih didominasi elit-elit desa yang pada umumnya memiliki kemampuan retorika yang lebih dibanding masyarakat desa pada umumnya. Usulan yang telah dihimpun oleh TPU dari masyarakat desa, yang diserahkan kepada TPK dan ditandatangani BPD dan Kades setempat, belum tentu lolos saat diperdebatkan di ngkat forum MAD. “Kalau di PNPM-MP, desa yang vocal di forum dia yang paling banyak dapat program,” kata seorang anggota TPK Letbaun yang terungkap dalam obrolan santai di tepi pantai dengan penulis (23 Oktober 2010). Dalam forum MAD, ternyata Letbaun selalu kalah dengan suara desa lain yang lebih berani bersuara dalam forum. Ternyata,kekalahan desa Letbaun dak hanya di atas panggung proyek PNPM-MP, melainkan di arena poli k anggaran daerah. Hal ini tercermin pada statemen Kadesnya. “Se ap tahun, masyarakat punya usulan kepada APBD, tapi kemudian dak ada jawaban, karena ada perangkingan yang dibuat, akibatnya, tumpuhan harapannya kepada PNPM-MP.” (kades Letbaun) Pendapat Kades Letbaun ini kiranya mengatakan bahwa ada suara lokal yang selama ini coba disoundingkan kepada pemerintah diatasnya selalu kalah. Kiranya, suara-suara
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

94

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

95

warga Desa Letbaun semakin dak terdengar, ke ka bentuk aspirasi dari tahun ke tahun sama. Pengalaman pengajuan proposal yang dilakukan pemerintah desa selalu sama, yaitu pengajuan bantuan bak PAH. Demikian pula dengan masuknya program-program dari PPK dan NGO seper Dian Desa dan Alfa Omega, semua membawa tawaran proyek pembangunan bak PAH. Padahal, di sisi lain masih banyak sudut kehidupan warga Letbaun yang belum tersentuh kebijakan untuk mengangkatnya menjadi potensi yang berbuah berkah bagi masyarakat desa. Namun nihilnya pengalaman teknokra s sebagai dampak belum dilaksanakanya sistem perencanaan dan penganggaran par sipa f, membuat pemerintah Desa Letbaun selalu menggunakan strategi “pengajuan proposal” yang hanya mampu merengkuh dan menjelaskan kepada pemerintah supra desa tentang persoalan desa satu dimensi saja. Forum MAD dak mengembangkan musyawarah untuk mufakat, tapi menjadi ajang perebutan proyek. Kelemahan MAD juga dikiri k oleh Kepala Desa Sebulu Modern, Kutai Kartanegara karena prioritas pembangunan yang diusulkan desanya malah dinegasikan oleh desa-desa lainnya. PNPM dak mampu mengakomodasi dan merumuskan sinergi antara program satu desa dengan desa lainnya. Beliau mengatakan, “Bagaimana bisa desa yang lain menilai desa kami, apalagi di Kukar ini, satu desa dengan desa yang lain jauh sekali tempatnya. Belum tentu misalnya, Kepala Desa Lakakidau pernah ke Desa Sebulu Modern, begitu juga sebaliknya, bagaimana bisa orang yang belum pernah tahu desa A, bisa menilai kebutuhan desa A tersebut?” Fasilitator Teknik PNPM yang mendampingi desa Lakakidau, Hendri, juga mengaku kecewa dengan proses MAD, karena perencanaan yang telah dibangun secara baik di desa, bisa begitu saja patah di MAD karena kalah rangking. “Sudah 4 tahun 96
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

PNPM berjalan Desa Selerong, baru dapat sekali di tahun 2010 ini.” Demikian pula dengan Ramli, Ketua TPK Desa Sebulu Modern, mengatakan bahwa dalam MAD, jika perwakilan desa dak pandai bicara, maka sebaik apapun prioritas programnya akan terkalahkan oleh desa lainnya. “Kalau gak bisa bicara, bisa kalah terus, Mas,”ujarnya. Ramli menyebut MAD dengan ungkapan, “Ada lelucon di kami, kalau PNPM menyebutkan MAD prioritas, kami menyebutnya MAD perebutan.” Penentuan lokasi PNPM-MP dak mengiku ketentuan yang berlaku sebagaimana ditetapkan oleh Kemenko Kesra dan berpotensi mengalami pembajakan poli k. Parulian Samosir, koordinator kabupaten PNPM Kupang, pada saat diwawancarai menuturkan cerita penentuan lokasi kecamatan tahun 2009. Mekanisme penentuan lokasi PNPM-MP, terutama kecamatan, berdasarkan pada data BPS. Kecamatan yang memiliki jumlah penduduk miskin besar, memperoleh indeks besar sebagai lokasi penerima BLM PNPM-MP, (Kementerian Koordinator Kesra, 2007). Ketentuan seper ini ternyata dak berlaku linear di Kabupaten Kupang. Akhir tahun 2008, surat ancar-ancar dari sekretariat PNPM-MP (demikian is lah yang digunakan) sampai ke Bupa Kupang. Surat itu menunjuk 16 kecamatan di Kabupaten Kupang sebagai lokasi PNPM-MP tahun 2009, dengan kewajiban cost sharing APBD Rp. 5,4 miliar. Berselang beberapa waktu, ba- ba turun kembali surat ancar-ancar dari pusat yang menunjuk bahwa jumlah lokasi PNPM-MP tahun 2009 menjadi 27 kecamatan, dengan kewajiban cost sharing sebesar Rp. 11,2 miliar. Informasi dari pusat ini menimbulkan perdebatan sengit antara poli si DPRD Kupang yang baru saja dilan k dengan bupa yang akan mengakhiri masa jabatan pada Maret 2009. Secara teknokrasi, pembahasan APBD 2009 pada
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

97

saat itu sudah selesai dan telah menjadi Perda APBD 2009. Namun, karena desakan poli k akhirnya tambahan komitmen costsharing sebesar Rp. 5,8 miliar (Rp. 11,2 miliar-Rp. 5,4 miliar) akan dialokasikan pada APBD Perubahan tahun 2009. Ketegangan poli k akhir tahun 2008 mereda, karena tercapai kesepakatan. Bulan Maret 2009, Dr. Ayub Titu Eki, M.Si resmi dilan k menjadi Bupa Kupang periode 20092014. Sampai akhir 2009, ternyata dalam APBD Perubahan anggaran costsharing sebesar Rp. 5,8 miliar dak teralokasikan. Padahal prasyarat wajib suatu daerah mendapatkan BLM PNPM-MP adalah penyediaan costsharing di APBD tahun anggaran berjalan. Pihak PNPM-MP memberi peringatan keras kepada bupa dan akhirnya dicapai kesepakatan bahwa anggaran costsharing sebesar Rp. 5,8 miliar akan dialokasikan pada APBD 2010. Bupa Kupang berpendapat bahwa sistem rekrutmen fasilitator dan peran fasilitator yang cenderung prosedural dan administra f, kurang memberikan perspek f dan inspirasi kepada para pelaku di kecamatan dan desa mengenai efek fitas dana PNPM-MP untuk mendongkrak kemandirian masyarakat. Bupa Kupang mengaku dak menemukan informasi yang menunjukkan adanya suatu kebijakan, program/kegiatan yang nyata untuk menyinergikan program/kegiatan daerah ke dalam kegiatan PNPM-MP di kecamatan dan desa. “Menurut saya, PNPM-MP masih banyak persoalan. Salah satu soal adalah implementasinya. Memahami dan menjiwai kondisi wilayah kabupaten ini, seharusnya PNPM-MP dimaknai untuk mendongkrak kemandirian masyarakat. Karena itu, implementasi pemanfaatan dana PNPM-MP seharusnya digunakan untuk kebutuhan yang selek f.

Hanya saja, yang sering saya dengar dan saksikan, kecenderungan yang terjadi adalah orang berpikir ini uangnya, membiayai kegiatan, dan batas pertanggungjawabannya pakai kuitansi. Tetapi orang dak memikirkan dampak dari implementasi program itu apa. Secara khusus, dampak dalam mendongkrak kemandirian masyarakat, itu dimana?” (Ayub Titu Eki, Bupa Kupang, Oktober 2010) Kewajiban seper cost sharing terhadap APBD atas BLM PNPM-MP, menyebabkan ruang diskresi belanja daerah berkurang, sehingga alokasi APBD untuk penyelenggaraan pelayanan publik terbatas. Pemerintah Kabupaten Kupang memberikan ketugasan kepada Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemberdayaan Perempuan (BPMPP) untuk mengawal pelaksanaan PNPM-MP. Karena ketugasan tersebut, maka kepala BPMPP menjadi kuasa pengguna anggaran (KPA) BLM, baik APBN maupun APBD. Sebagaimana dituturkan oleh Parulian Samosir, Koordinator Kabupaten PNPM Kupang, “Tahun 2009, awalnya lokasi PNPM-MP sebanyak 16 kecamatan dengan cost sharing APBD sebesar Rp. 5,4 miliar. Namun, karena ada perubahan dari pusat, lokasi PNPM-MP tahun 2009 menjadi 27 kecamatan, dengan cost sharing Rp. 11,2 miliar. Perubahan ini menyebabkan dana cost sharing yang disediakan masih kurang Rp. 5,8 miliar. Kekurangan inilah yang dak bisa disediakan dalam alokasi APBD 2009 murni maupun perubahan. Akibatnya, karena dak tersedia dana cost sharing, maka DIPA BLM PNPM-MP tahun 2009 dak bisa dicairkan.” Anggaran besar tapi implementasinya bermasalah, dana PNPM jangan sekali-kali untuk membangun gedung sekolah, gedung pusat layanan kesehatan seper Pustu” (Ayub Titu Eki, Bupa Kupang)
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

98

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

99

Maraknya pembangunan fisik baik untuk pengadaan infrastruktur jalan, sarana pendidikan dan kesehatan yang diperankan PNPM, merupakan suatu ndakan yang melampaui tugas pokok fungsi SKPD-SKPD bersangkutan. Terlebih dengan skema cost sharing, selain memangkas Tupoksi dinas terkait, PNPM-MP telah mengurangi tugas layanan pemerintah untuk rakyat. Menurut bupa Kupang, yang terungkap dalam indepth interview (19/10), yang menjadi permasalahan malah bukan pada besaran anggarannya, melainkan pelaksanaan PNPM itu sendiri. Pertama, PNPM berkecenderungan melakukan kerja-kerja yang seharusnya menjadi porsi SKPD terkait, seper SKPD Pendidikan dan SKPD Kesehatan. Ungkapan bupa sebagaimana dalam kotak disamping, hendak mengatakan bahwa seharusnya PNPM dak mengalokasikan anggaran untuk membiayai pembangunan fasilias-fasilitas pendidikan dan kesehatan yang seharusnya menjadi wilayah kerja dinas terkait. Kedua, masih ada masalah pemahaman masyarakat dalam memilih, memilah, dan memprioritaskan program yang mendasar dan tepat dalam menjawab persoalan masyarakat secara umum. Masyarakat cenderung memilih proyek pembangunan yang sifatnya fisik, karena mudah membelanjakan uang yang ditawarkan PNPM. Memang, secara metodologis PNPM sangat rinci dan par sipa f dalam melakukan penggalian usulan masyarakat. Namun bukan berar saat usulan terkumpul, apalagi disepaka untuk mendapat dana dari PNPM, maka usulan tersebut merupakan jawaban atas in persoalan kemiskinan yang membeli penduduk. Ke ga, bagi bupa , nihilnya kewenangan pemerintah kabupaten menentukan siapa-siapa saja yang berkompeten menjadi tenaga dan fasilitator PNPM, terutama di ngkat kecamatan dan kabupaten, menyulitkan proses quality 100
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

control pada pelaksanaan program pemberdayaan terbesar tersebut. Sebagaimana disampaikan bupa Kupang, pemerintah pusat yang sama sekali dak memberi kewenangan kepada pemerintah kabupaten untuk menentukan fasilitator PNPM yang bekerja di Kupang, menimbulkan ruang koordinasi, konsultasi, dan relasi instruksional yang terbatas. Pemerintah kabupaten dak bisa berbuat apa-apa, apalagi melakukan intervensi pada arah dan kebijakan yang diselenggarakan PNPM. Keempat, bagi bupa Kupang, PNPM di kabupatenya sejauh ini cenderung meninggalkan potensi lokal yang sebenarnya merupakan aset strategis untuk dikembangkan sebagai en tas keberdayaan masyarakat. Sebaliknya, berbagai proyek dan kegiatan yang dilakukan PNPM saat ini cenderung menciptakan ketergantungan masyarakat pada PNPM sendiri. Dengan kata lain, proyek yang seharusnya mendidik masyarakat desa dari ketergantungan menjadi mandiri dan berdaya, malah berpotensi melanggengkan ketergantungan. Bagi bupa yang berlatar belakang akademisi ini, seharusnya danadana PNPM diarahkan pada proyek dan kegiatan yang sifatnya mengembangkan potensi lokal, sehingga menjadi basis kemandirian masyarakat desa. Dia mencontohkan, dak sedikit desa-desa di Kupang yang memiliki potensi tanah liat yang layak menjadi bahan baku genteng. Daripada membeli seng yang notabene didatangkan dari luar Kupang, lebih baik mela h warga desa membuat genteng. Selain akan membuka pasar kerja, juga akan mendorong tumbuhnya ekonomi kerakyatan. Tambahan pula, genteng barangkali lebih tepat dijadikan atap dari pada seng, mengingat iklim Kupang yang bersuhu 380 C yang jelas cukup panas. Maka, dengan menggunakan genteng, suhu panas tersebut akan terkurangi, karena sifat genteng yang mampu meredam panas .

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

101

PNPM berhasil melahirkan banyak prestasi pembangunan fisik, memobilisasi warga untuk musyawarah, melahirkan banyak kelembagaan baru di desa, namun dak mampu menjelaskan kepada publik atas keberhasilannya mengurangi kemiskinan. Chairil, Kepala Bappemas Kabupaten Kukar, mengatakan: “PNPM banyak melahirkan prestasi yang bagus dalam pelaksanaan progamnya, contohnya SPP di Kecamatan Muara Muntai, Samboja, dan Kota Bangun asetnya sudah mencapai Rp. 11 miliar, tapi saya belum bisa membuk kan apakah program PNPM tersebut sudah berhasil menurunkan kemiskinan di Kukar.” III. REKOMENDASI III. 1. PNPM berhasil membangun serta memperkaya aset infrastruktur pedesaan, seper pengerasan jalan (rabat beton, pengaspalan), jembatan, gedung sekolah, poliklinik desa. Tapi perlu dikaji ulang tentang status kepemilikan asetnya. PNPM juga perlu melakukan kaji ulang terhadap relasinya dengan SKPD terkait, karena di sisi yang lain, PNPM telah meminimalisir peran (tugas pokok dan fungsi) SKPD dalam penyelenggaraan pembangunan. III.2. PNPM perlu memperha kan aspek pengupahan yang layak bagi masyarakat desa yang berpar sipasi menjadi pekerja dalam proyek-proyek pembangunan insfrastruktur. PNPM belum menyediakan jaminan keselamatan kerja. Sedangkan HOK yang diterapkan dibawah garis standar hidup yang layak. III.3. PNPM perlu memperha kan lebih seksama terhadap mekanisme dan keberpihakan rekrutmen fasilitator/kaderkader pengelola PNPM di desa terhadap upaya peningkatan kapasitas dan kapabilitas masyarakat miskin, untuk meminimalisir dominasi elit desa (elite capture).

III.4. PNPM perlu mengembangkan model musyawarah perencanaan yang menjamin prioritas kebutuhan masyarakat miskin terakomodir menjadi program prioritas PNPM, bukan mendahulukan usulan kebutuhan dari kelompok elit. III.5. PNPM perlu menghilangkan skema cost sharing agar dak mengurangi ruang diskresi keuangan APBD. PNPM juga perlu memperbesar alokasi anggaran untuk programprogram pemberdayaan (pengembangan kualitas pendidikan, keterampilan warga miskin, dan perluasan akses informasi, teknologi), dan pengurangan kemiskinan. III.6. Pencairan anggaran untuk program beasiswa hendaknya mengiku kalender pendidikan, sehingga ke ka menjelang tahun ajaran baru khususnya, masyarakat dak terbebani ngginya biaya pendidikan. III.7. PNPM memprioritaskan kebutuhan masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan akses kebutuhan dasar, seperair bersih. Kasus penolakan PNPM-MP terhadap usulan pengadaan bak PAH oleh masyarakat Desa Letbaun menjadi pelajaran berharga agar PNPM-MP lebih memprioritaskan hak dasar ini, sehingga akses masyarakat, khususnya perempuan yang selama ini sebagai kelompok yang paling rentan terkena dampak kondisi sulit air. III.8. Lampiran:
Tabel 1 Alokasi Dana PNPM-MP TA. 2009 Kec. Semau Kab. Kupang

No

Desa

Kegiatan
Jaringan Perpipaan SPP Jumlah

Volume
1700 2

Satuan
m Klpk

Dana Fiisik
83,793,500 31,000,000 114,793,500

UPK 2%
1,764,000

TPK 3%
2,646,100 978,900 3,625,000

Biaya (Rp)
88,203,600* 32,631,500 120,835,100

1

Batuinan

652,600 2,416,600

102

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

103

2

UIasa

Rabat Beton SPP Jumlah

483 1

m Klpk

190,733,500 40,000,000 230,733,500

4,015,300 842,100 4,857,400 624,000 2,416,600

6,023,100 1,263,100 7,286,200 936,000 3,625,000

200,771,900 42,105,200 242,877,100 31,200,700 31,200,700* 1 Otan

Tabel 2 Alokasi Dana PNPM-MP TA. 2010 Kec. Semau Kab Kupang
No Desa Kegiatan
SPP Beasiswa Jumlah 2 Batuinan Beasiswa Jalan Sirtu Jumlah 3 Bokonusan Beasiswa Jalan Sirtu Jumlah 4 5 Uitao Huilelot Beasiswa Jalan Rabat Beasiswa & Honor Guru Jalan Rabat Jumlah 7 8 Hansisi Letbaun SPP Beasiswa Total 1 58 Klpk Siswa 109 1226 212 &3 734 Siswa m Siswa & Guru m 80 2862 Siswa m 63 1,247 Siswa m

3

Huilelot

Meubeler PAUD Jumlah Perkerasan Jalan (Sirtu) Gedung TK Jumlah Perkerasan Jalan (Sirtu) PMTA Jumlah

Volume
2 132

Satuan
Klpk Siswa

Dana Fiisik
139,000,000 111,723,950 250,723,950 56,582,400 145,851,750 202,434,150 71,279,150 274,625,300 345,904,450 93,799,150 314,840,000

UPK 2%
2,926,300 2,352,100 5,278,400 1,191,200 3,070,600 4,261,800 1,500,600 5,781,600 7,282,200 1,974,700 6,628,200

TPK 3%
4,389,400 3,528,100 7,917,500 1,786,800 4,605,900 6,392,700 2,250,900 8,672,400 10,923,300 2,962,100 9,942,300

Biaya (Rp)
146,315,700 117,604,150* 263,919,850 59,560,400* 153,528,250** 213,088,650 75,030,650* 289,079,300* 364,109,950 98,735,950* 331,410,500*

1

Paket

29,640,700 29,640,700

2065

m

182,785,500

3,938,000

5,682,200

192,405,700 199,301,300 391,707,000

4

Uitao

1

Unit

189,336,400 372,121,900

3,985,900 7,923,900

5,979,000 11,661,200

5

Bokonusan

2161

m Anak

181,145,000

3,813,500

5,720,300

190,678,800

59

75,543,000 256,688,000

1,590,300 5,403,800 3,690,500 3,690,500 2,182,600 5,611,900 6,905,200 14,699,700 473,200 473,200

2,385,500 8,105,800 5,535,800 5,535,800 3,273,900 8,417,800 10,357,800 22,049,500 709,800 709,800

79,518,800 270,197,600 184,527,700 184,527,700 109,135,500 280,595,700* 345,263,000 734,994,200 23,660,600 23,660,600 2,000,000,000 6 Uiasa

6

Hansisi

Gedung PAUD Jumlah TPT

1

Unit

175,301,400 175,301,400

201,282,850

4,237,500

6,356,300

211,876,650*

132 30 3 Jumlah

m Unit Klpk

103,679,000 266,566,000 328,000,000 698,245,000

7

Otan

Bak PAH SPP

186,648,150 387,931,000 22,000,000 44,867,300 1,662,500,000

3,929,400 8,166,900 463,200 944,600 35,000,000

5,894,200 12,250,500 694,700 1,416,900 52,500,000

196,471,750** 408,348,400 23,157,900* 47,228,800* 1,750,000,000

8

Letbaun

Beasiswa Jumlah

25

Siswa

22,477,600 22,477,600 Total

Keterangan: *) sumber Anggaran APBN **) Cost sharing Anggaran APBD Sumber: Papan Informasi PNPM di UPK Semau

Keterangan: *)cost sharing Sumber: Papan Informasi PNPM di UPK Semau

104

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

105

Pengembangan Audit Sosial Study Kasus PNPM Mandiri Perdesaan
Peneli : Forum Informasi dan Komunikasi Organisasi non Pemerintah – Sulsel

I. RINGKASAN TEMUAN-TEMUAN UTAMA Berdasarkan audit sosial yang dilakukan di empat komunitas di Provinsi Sulawesi Selatan, temuan-temuan yang didapatkan antara lain. I.1. Alokasi anggaran PNPM Mandiri dibagi dalam 3 hal, yakni pembangunan infrastruktur, pemberdayaan ekonomi melalui bantuan permodalam bagi kelompok perempuan, dan peningkatan kapasitas masyarakat. Proporsi anggaran melipu , infrastruktur minimal 70% dari total anggaran, bantuan permodalan untuk kelompok perempuan maksimal 25% dan peningkatan kapasitas yang dak boleh melebihi 5% dari total anggaran. Program infrastruktur umumnya sama, diantaranya rabat beton, pembuatan ataupun perbaikan 107

Keterangan Gambar: Jalan yang dibangun oleh PNPM-MP

106

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

drainase, pembangunan jembatan. I.2. Perbandingan kondisi sosial sebelum dan saat program berlangsung beberapa tahun. Perubahan situasi sosial di kota Makassar mengalami disharmoni. Hal ini disebabkan oleh keputusan memilih penerima manfaat atas program PNPM Mandiri, khususnya yang berkaitan langsung dengan individu. Penerima manfaat yang dimaksud seper penentuan tenaga kerja yang akan mengerjakan program infrastruktur dan sasaran dari program sosial atas keuntungan modal bergulir seper bedah rumah. Perubahan sosial dimaksud adalah sebelum adanya program PNPM Mandiri, masyarakat masih dapat bekerja sama dalam hal untuk kepen ngan bersama, tegur sapa antartetangga, namun pasca-keputusan yang dianggapnya dak adil, baik karena kondisi kemiskinan yang dianggap lebih berhak maupun karena keputusan tersebut tak luput dari pengaruh keluarga dan kekerabatan. Perubahan kondisi sosial dalam taraf yang lebih rendah juga terjadi dalam kelompok perempuan. Kasus-kasus seper tunggakan yang berkonsekuensi terhadap tertundanya berbagai program lain, baik pencairan modal bergulir maupun program infrastruktur, juga memacu adanya disharmoni di antara mereka. Perilaku disharmoni tersebut dapat dilihat adanya kerenggangan hubungan di antara yang berkasus dengan ketua kelompok, dan memudarnya kerja sama untuk kepen ngan di antara komunitas maupun keluarganya. Kondisi ini umumnya terjadi di kota. Namun pada masyarakat desa, situasi sosial sebelum dan setelah program PNPM Mandiri dak mengalami perubahan berar . I.3. Secara mikro, program-program yang ditawarkan atau dijalankan oleh PNPM Mandiri dak menjawab permasalahan kemiskinan. Kemiskinan dak dikaji secara matang

sebelum memberikan alterna f-alterna f formula atau program. Secara umum, kemiskinan masih disebabkan oleh akses atas kebutuhan dasar (pemenuhan hak oleh pemerintah), seper pendidikan, kesehatan, sistem administrasi kependudukan, mo vasi masyarakat untuk mengembangkan diri, keterampilan serta dukungan permodalan, khususnya dari lembaga perbankan. Di empat komunitas, justru hal tersebut kurang mendapatkan perha an dari program PNPM-MP. Pemberdayaan sangat minim dilakukan dibanding kerja-kerja administrasi dan pelaporan. Sinkronisasi dan integrasi pada ngkat perencanaan dan implementasi SKPD untuk membangun program yang pro terhadap penanggulangan kemiskinan juga dak terbangun, selain koordinasi yang sifatnya pelaporan. I.4. Munculnya kelembagaan baru yang dibentuk PNPM Mandiri, seper Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) ataupun Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), Unit Pelaksana Kegiatan (UPK). Kelembagaan yang dibentuk tersebut akan menjalankan secara teknis program-program PNPM Mandiri. Di awal terbentuknya kelembagaan, mengalami gesekan (konflik) dengan keberadaan lembaga perwakilan masyarakat seper LPM pada ngkat kelurahan maupun Badan Perwakilan Desa (BPD). Hal ini karena masing-masing didasari pada mekanisme pembentukan kelembagaan yang sama, yakni representasi masyarakat. Kelembagaan yang dibentuk oleh PNPM-MP memiliki dukungan pembiayaan program, sebaliknya kelembagaan formal yang dibentuk oleh pemerintah memiliki legi masi dan dilan k oleh walikota atau bupa dak memiliki dukungan pembiayaan program. Parahnya, upaya meredam konflik tersebut justru dengan mengakomodasi pengurus kelembagaan formal sebelumnya ke dalam kelembagaan yang dibentuk PNPM Mandiri. Akibatnya, lingkaran elit desa/kelurahan tetap menguasai kelembagaan
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

108

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

109

baru tersebut. Kelembagaan tersebut dominan dalam memberikan pengaruh lahirnya sebuah keputusan. I.5. Mekanisme pengambilan keputusan penetapan program diawali dengan pertemuan pada ngkat dusun, lalu ditetapkan sebagai keputusan yang mewakili dusun selanjutnya dibawa pada pertemuan di ngkat desa. Pada pertemuanpertemuan tersebut, masyarakat mengakui tak dapat berbuat banyak untuk mempengaruhi lahirnya keputusan, karena pembahasan lebih teknik, khususnya apa yang akan dibangun dengan anggaran yang tersedia. Olehnya, keputusan lebih banyak dipengaruhi oleh elit lokal pada ngkat desa, yakni kepala desa dan perangkat kelembagaan lainnya. Pertemuan lebih bersifat untuk memenuhi legi masi. I.6. Bantuan modal yang digulirkan pada sebagian masyarakat, khususnya yang telah punya usaha, dapat dimanfaatkan untuk perkembangan usahanya, namun tak sedikit pula kelompok maupun individu yang tak memanfaakan untuk memulai usaha maupun mengembangkan usahanya yang lebih maju. Sebagai s mulus, diberikan kesempatan kepada kelompok perempuan dalam menggerakkan modal. Ternyata, mereka dak dapat menfasilitasi kelompok ataupun individu yang telah sukses meminjam modal bergulir, lalu mengembalikan untuk mendapatkan modal yang lebih besar. Caranya, mengakses dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan sebagainya di perbankan. I.7. Klaim membuka lapangan kerja dak simetris dengan pandangan masyarakat. Bagi PNPM Mandiri, lapangan kerja yang dimaksudkan adalah pengerjaan pada proyek-proyek infrastruktur dengan rata-rata masa kerja antara 2 sampai 3 bulan, namun bagi masyarakat, khususnya yang butuh lapangan kerja, pekerjaan ini justru disebutnya sebagai sampingan. Masyarakat berharap ada lapangan kerja yang lebih berkelanjutan (sustainabilitas). 110

II. METODE AUDIT SOSIAL II.1. Pendekatan Audit Sosial Audit sosial berasal dari kata “social audit”, ar nya penilaian dari masyarakat. Dalam kerangka metodologi, pencarian data dan advokasi, audit sosial berar memberikan penilaian terhadap suatu program yang penilaiannya bersumber dari masyarakat dan dilaksanakan oleh masyarakat dari segala dimensi sesuai kapasitas masyarakat. Metode ini sangat pen ng karena berdasar pada penilaian suatu program dari penerima manfaat secara langsung dengan terlebih dahulu memberikan pemahaman secara memadai terkait program yang akan diaudit, dengan cara berkelompok dan wawancara mendalam. Beberapa program seper PNPM Mandiri sebenarnya sudah ada badan atau kelembagaan yang memberikan evaluasi ataupun monitoring, baik dari akademisi maupun lembaga terkait. Khusus PNPM Mandiri, pemerintah selalu mengklaim sebagai program yang berhasil. Oleh karena itu, pen ng menyandingkannya dengan data penilaian yang bersumber dari masyarakat. Data penilaian tersebut dapat saja menguatkan penilaian pemerintah, namun dapat juga kontradiksi dengan hasil penilaian pemerintah sebagai bentuk apresiasi langsung dari masyarakat sebagai penerima manfaat dan pelaksana. Audit sosial dilakukan secara bersama-sama. Sasaran audit adalah mul pihak, mulai dari pemerintah, pelaksana program, sasaran prioritas program, penerima manfaat langsung, maupun yang hanya menerima dampak. Audit pada dasarnya merupakan peran pengawasan yang dijalankan oleh sebuah lembaga yang bertujuan untuk menghimpun informasi terkait lembaga atau kegiatan yang dilakukan sebuah lembaga. Pada prinsipnya, audit dijalankan untuk mendukung mekanisme pengawasan demi terseAudit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

111

lenggaranya sebuah program sesuai dengan perencanaan dan peraturan yang berlaku, dan untuk menjamin program yang direncanakan tepat sasaran. Audit sosial adalah pemberian peran pen ng dan strategis bagi masyarakat untuk menjalankan mekanisme pengawasan terhadap program yang dijalankan oleh pemerintah. Jika audit dalam perusahaan swasta dilaksanakan oleh lembaga profesional yang umumnya bersifat independen, sehingga memiliki kewenangan yang lebih fleksibel dan mandiri dalam membuat penilaian, maka audit sosial pada program PNPM dilakukan oleh masyarakat yang didasari oleh prinsip kepercayaan dan pemberdayaan. Jika selama ini masyarakat hanya menyaksikan pembangunan berlangsung di daerahnya, maka dengan PNPM masyarakat menjadi bagian dan terlibat secara ak f dalam proses penyelenggaraannya. Subtansi dari audit sosial dalam rangka mengop malkan peran dan kontribusi masyarakat dalam pembangunan adalah pemberdayaan (empowerment). Pemberdayaan masyarakat memiliki nilai pen ng dalam kerangka penyelenggaraan otonomi daerah, yang menekankan aspek pemberdayaan daerah. Ke ka masyarakat berdaya, maka sebuah daerah akan mampu merancang dan merealisasikan sebuah program yang tepat sasaran, yang tentu saja sesuai dengan apa yang menjadi kebutuhan daerah dan masyarakat. Konsep pemberdayaan juga menyentuh pada aspek penting pembangunan yang menempatkan masyarakat sebagai subjek yang ak f. Menurut Chambers (1987), pemberdayaan masyarakat sangat pen ng dalam pembangunan, karena banyak potensi masyarakat yang selama ini dak terdayagunakan; pemberdayaan masyarakat dapat meningkatkan rasa turut memiliki, pemberdayaan juga mampu mengurangi resistensi (penolakan) program.

Dengan memper mbangkan uraian di atas, maka dilakukanlah audit sosial terhadap pelaksanaan PNPM-MP, serta mengembangkan audit sosial menjadi sebuah gerakan di tengah masyarakat dalam pengawasan berbagai program pembangunan. Melalui audit sosial, diharapkan dapat menakar atau menilai sejauhmana kebijakan tersebut dianggap dapat menyelesaikan masalah masyarakat secara substansial, khususnya dalam menangani kemiskinan di empat kabupaten/kota, yakni Kabupaten Bulukumba, Kota Makassar, Kabupaten Barru, dan Kabupaten Luwu. II.2. Jenis Data Data yang dikumpulkan bersumber dari masyarakat (komunitas) yang ada pada masing-masing desa/kelurahan wilayah program. Alat pengumpul data berasal dari respon dan penilaian atas berbagai aturan dan program PNPM-MP dihubungkan dengan apa yang diimplementasikan di lapangan. Cara mengumpulkan data melalui wawancara dan diskusi terfokus. Data sekunder, antara lain proposal kegiatan PNPM Mandiri, laporan kegiatan, baik berupa pertemuanpertemuan maupun laporan program, seper infrastruktur, permodalan, Peraturan Desa yang relevan seper Rencana Pembangunan Menengah Desa (RPJMDes), dan berbagai kebijakan lain yang relevan. II.3. Pengolahan Data Pengolahan data dilakukan dengan mendeskripsikan temuan-temuan. Temuan awal pada ngkat desa kemudian dianalisis secara konperehensif, khususnya dalam konteks penanggulangan kemiskinan. Temuan-temuan di ngkat desa kemudian didesiminasi dengan berbagai stakeholder

112

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

113

termasuk pengelola program PNPM-MP secara berjenjang. Diseminasi memberikan ruang kepada publik, termasuk pengelola program PNPM Mandiri untuk memberikan klarifikasi dan respon untuk selanjutnya memperkaya pengolahan data. Pada ngkat kabupaten/kota juga dilakukan diseminasi dengan stakeholder dan penyampaian temuan-temuan kepada pemerintah kabupaten yang terkait, khususnya Badan Pemberdayaan Masyarakat Daerah/Kota (BPMD/K), Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) kabupaten/kota, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kabupaten/kota, yang selanjutnya temuan tersebut kembali diolah sebagai data baru. Setelah ngkat kabupaten, maka temuan-temuan tersebut disampaikan kepada pemerintah provinsi, yakni Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (BPMD) Provinsi Sulawesi Selatan, Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Provinsi Sulawesi Selatan, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulawesi Selatan. Pengolahan data berkembang sesuai masukan yang lebih menjelaskan secara deskripsi. Secara ringkas, pengolahan data dilakukan melalui, 1) analisis deskripsi atas temuan-temuan di ngkat masyarakat, baik penerima manfaat, aparat kelurahan dan desa, 2) peerreview, dan 3) konsultasi publik. I.4. Wilayah Wilayah program adalah Provinsi Sulawesi Selatan. Provinsi ini terdiri dari 24 kabupaten/kota. Jenis program PNPM Mandiri yang diaudit adalah PNPM-MP dan Perkotaan. PNPMMP merupakan program yang paling banyak dijalankan di Provinsi Sulawesi Selatan dan kedua adalah PNPM Mandiri Perkotaan. Program PNPM-MP dilaksanakan pada 20 kabupaten di Sulawesi Selatan. Pada tahun 2011, total anggaran 114
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

untuk program ini berjumlah Rp. 352.650.000.000,- bersumber dari belanja APBN sebesar Rp. 282.120.000.000,- dan APBD Rp. 70.530.000.000,-. Adapun PNPM Mandiri Perkotaan dijalankan di 14 kabupaten/kota dengan alokasi anggaran pada tahun 2011 Rp. 41.300.000.000,- bersumber dari belanja APBN Rp. 34.330.000.000,- dan APBD sebesar Rp. 6.970.000.000,-. Kedua jenis program ini pula dalam PNPM Mandiri yang memiliki alokasi anggaran yang lebih besar, khususnya di Sulawesi Selatan. Pemilihan wilayah program audit sosial di ga kabupaten dan satu kota, yakni pertama, dengan memper mbangkan aspek persebaran letak geografis yang mewakili wilayah barat, yakni; Kabupaten Barru, dimana mata pencaharian masyarakatnya umumnya nelayan dan pedagang kecil; di tengah, yakni di Kota Makassar, dengan per mbangan keterwakilan dari situasi masyarakat perkotaan, dimana umumnya masyarakatnya kelompok urrbanpoor; di selatan, Kabupaten Bulukumba yang merupakan wilayah pertanian dan pesisir, dimana penduduknya umumnya petani sawah dan tambak; sedangkan bagian utara,Kabupaten Luwu yang merupakan wilayah pertanian sawah dan ladang. Dari sisi representasi etnik dan kultural, pemilihan wilayah ini dapat mewakili etnik besar, yakni Bugis, Makassar, dan Luwu. Adapun jenis program PNPM Mandiri yang dijadikan objek audit sosial, antara lain: a. Kabupaten Bulukumba b. Kota Makassar c. Kabupaten Barru d. Kabupaten Luwu : PNPM-MP : PNPM Mandiri Perkotaan : PNPM-MP : PNPM-MP

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

115

I.5. Lokasi Secara spesifik, lokasi pelaksanaan audit sosial PNPM Mandiri di Provinsi Sulawesi Selatan, sebagai berikut. a. Kota Makassar Kecamatan Panakkukang, Kelurahan Sinrijala. Komunitas sekaligus responden berasal dari kelompok-kelompok miskin yang umumnya tak memiliki tanah, kecuali bangunan (rumah). Lokasi ini dekat dengan jantung kota Makassar. b. Kabupaten Bulukumba Kecamatan Ujung Loe, Desa Garanta. Komunitas ini sekaligus responden umumnya adalah petani sawah, petani tambak, buruh tani, buruh bangunan, penjual pasar maupun kios-kios di jalan. Lokasi ini terletak sekitar 10 Km dari ibukota Kabupaten Bulukumba. Fasilitas dasar seper Puskesmas, sekolah mulai SD hingga SMA atau sederajat bagi sebagian warga mudah diakses, namun sebagian warga desa yang bermukim di wilayah tambak dan pesisir belum dapat mengakses berbagai fasilitas kebutuhan dasar, seper listrik, sekolah, Puskesmas, karena sulitnya menjangkau dari dan ke kota, khususnya kota kecamatan. c. Kabupaten Barru Kecamatan Barru, Kelurahan Sumpang Binangae. Komunitas ini sekaligus responden adalah nelayan dan penjual kios. Kelurahan ini terletak di ibukota Kabupaten Barru, sehingga berbagai fasilitas umum yang menyangkut hak dasar terdapat di kelurahan ini. d. Kabupaten Luwu Kecamatan Belopa, Desa Senga Selatan. Komunitas sekali-

gus yang menjadi responden adalah petani sawah, petani ladang, petani tambak, perkebunan (nila), dan ibu rumah tangga. Kabupaten Luwu merupakan salah satu kabupaten yang dimekarkan menjadi beberapa kabupaten, di antaranya Kota Palopo, Kabupaten Luwu Utara, dan Kabupaten Luwu Timur. Jarak antara desa Senga Selatan dengan kota Kabupaten Luwu (Belopa) sekitar 5 Km dengan akses jalan yang bagus. Berdasarkan uraian di atas, maka lokasi program umumnya dak jauh dari ibukota kabupaten atau kota. Pemilihan lokasi yang dekat dengan ibu kota kabupaten atau kota dimaksudkan untuk memudahkan dalam pengorganisasian masyarakat untuk menfasilitasi advokasi kebijakan dan implementasi program atas temuan dari pelaksanaan audit sosial terhadap stakeholder di antaranya Pengelola Program PNPM Mandiri di kecamatan dan kabupaten, Badan Pemberdayaan Masyarakat Daerah (BPMD) atau Badan Pemberdayaan Masyarakat Kota, Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Kabupaten/Kota (TKPK Kabupaten/Kota), dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). III. ANALISIS III. 1. Konteks Wilayah II.1.1. Kemiskinan Income dan Nonincome Sebagian besar kemiskinan disebabkan oleh rendahnya ngkat pendidikan dan ke adaan aset, khususnya lahan pertanian di ngkat desa ataupun kapal/ perahu penangkapan ikan bagi masyarakat pesisir. Di ngkat desa, orang miskin menjadi buruh tani, buruh bangunan, jualan barang campuran di kios

116

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

117

depan rumahnya. Bagi petani sawah yang memiliki lahan, juga diberhadapan pada situasi mahalnya biaya produksi, mulai dari pengolahan tanah, pemupukan, pes sida, hingga panen dan pengolahan pascapanen. Situasi pasar juga dak menentu atas permainan tengkulak. Banyaknya pekerjaan yang digan kan oleh teknologi pada pertanian membuat semakin banyak buruh tani terpinggirkan, dan akhirnya banyak memilih menjadi tenaga kerja Indonesia di Malaysia. Pada masyarakat nelayan, kemiskinan selain pendidikan disebabkan oleh kurangnya fasilitas penangkap ikan. Kekurangan fasilitas perahu dan alat tangkap menyebabkan nelayan lebih banyak menangkap ikan dak jauh dari pantai, yang hasilnya kurang memadai. Bantuan pemerintah melalui Dinas Perikanan dan Kelautan umumnya dak sesuai dengan kebutuhan, misalnya perahu penangkapan ikan yang dibutuhkan, justru perahu mengangkut barang yang diberikan. Selain miskin dari sisi penghasilan, di Kota Makassar diperparah dengan ke adaan lahan tempat nggal. Umumnya memiliki rumah, namun di tanah orang lain, sehingga sewaktu-waktu dapat saja tergusur bila pemilik tanah akan memanfaatkannya. Status tersebut membuat sulitnya mengakses program yang dijalankan pemerintah dalam hal penanggulangan kemiskinan, karena dak memiliki buk pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). III.1.2. Defisit Prasarana dan Sarana Keberadaan sarana dan prasarana dasar yang sifatnya sektoral merupakan salah satu kunci keluar dari 118
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

kemiskinan. Sarana dan prasarana dasar tersebut seper menghubungkan antara wilayah pemukiman masyarakat miskin dengan jalan raya atau lokasi tempat berbagai fasilitas publik. Beberapa warga miskin masih sulit menjangkau lokasi fasilitas publik, seper sekolah, Puskesmas, dan kantor pemerintahan, termasuk desanya karena ke adaan jalan umum dan jembatan yang menghubungkan antardusun. Kondisi ini dapat ditemui di Bulukumba, khususnya desa lokasi program. Ke adaan hubungan darat yang dibatasi sungai dan tambak warga sekitar, mengakibatkan aliran listrik dak dapat masuk. Anak-anak usia sekolah dak dapat sekolah karena harus menyebereangi sungai. Kebijakan pendidikan gra s dak dapat disentuh warga yang mendiami lokasi tersebut karena minimnya prasarana transportasi. III.1.3. Desifit Par sipasi Pada sebagian warga, baik desa maupun kota telah menyadari pen ngnya berpar sipasi dalam pengambilan keputusan dalam program pembangunan. Par sipasi tersebut nampak pada kehadiran dalam Musrenbang, termasuk pertemuan-pertemuan yang dilakukan fasilitator program PNPM Mandiri. Animo masyarakat berpar sipasi di se ap pertemuan masih belum memadai dalam hal mempengaruhi keputusan. Keputusan di se ap pertemuan didominasi elit desa, yang melipu kepala desa dan aparatnya, serta orang-orang di sekitarnya. Hal sama terjadi di ngkat kota. “Kami selalu mau hadir dalam se ap pertemuan, Pak. Asal diundang dan tak punya kesibukan, saya menyempatkan. Namun karena seap pertemuan saya cenderung untuk bersuara kri-

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

119

s, termasuk bagaimana aspirasi warga di lingkungan kami diperha kan, keadilan distribusi bantuan akhirnya kami tak pernah lagi diundang,”kata Bapak Salpatang, salah seorang Ketua RW di kota Makassar sekaligus auditor sosial. Cara paling mudah untuk meredam suara kri s warga adalah dengan dak mengundang orang-orang kri s di pertemuan. Par sipasi, meskipun merupakan hak warga, namun ada persyaratan-persyaratan yang dianggap e k masyarakat. Perempuan-perempuan di desa juga merasakannya. Untuk dapat hadir dalam se ap pertemuan didahului adanya undangan. Bentuk undangan lisan maupun tulisan dari pani a atau penyelenggara. Hal ini sangat berbeda dengan kelompok masyarakat yang ada di sekitar elit desa dan kelurahan. Mereka sudah keluar dari kondisi psikologis serupa. Akibatnya, kehadiran dan keputusan lebih banyak didominasi oleh mereka. III.1.4. Ragam Kebutuhan Warga, dll. “Kami meminta perahu, namun yang datang adalah rabat beton,” kata M. Asdi Abbas, seorang warga Kabupaten Barru. Haji Ismail, seorang tokoh masyarakat juga menimpali, “Beberapa tahun lalu ada bantuan perahu dari Dinas Perikanan dan Kelautan, namun anehnya, masyarakat butuh perahu penangkapan ikan justru perahunya untuk peruntukan membawa barang-barang atau kapal dagang. Bukan untuk menangkap ikan. Belum lagi perahu tersebut dak dibuat di sini, dimana banyak warga yang bisa mengerjakannya. Tapi perahunya didatangkan dari luar, yang tentu butuh modal lebih besar dibanding dibuat di Barru sendiri”.

“Masyarakat kami, khususnya di perkampungan pesisir membutuhkan sarana jalan dan jembatan yang dapat menghubungkan antara ibukota desa dengan kampungnya. Setelah jalan ada, maka tentu sarana penerangan atau listrik”, terang Andi Alwi, Kepala Desa Garanta, Kabupaten Bulukumba. Bagi ibu-ibu lain lagi, mereka membutuhkan uang sekolah anakanaknya. Meskipun gra s sesuai kebijakan provinsi, namun masih saja ada pembayaran yang memberatkan warga miskin. Pendidikan gra s pun hanya sampai di ngkat dasar atau SMP. Akibatnya, untuk sekolah di SMA dan perguruan nggi harus mengocek kantong yang lebih dalam. Rosmia , seorang ibu rumah tangga di Kabupaten Luwu menuturkan, “Pinjaman modal yang diberikan, umumnya kami manfaatkan untuk membiayai anak-anak sekolah kami. Nan setelah panen, baru kami kembalikan”. Potret komentar warga di atas mencerminkan keragaman kebutuhan. Kebutuhan tersebut dapat dilihat pada aspek rumah tangga, kelompok, maupun wilayah atau kampung. Se ap program penanggulangan kemiskinan harusnya dapat lebih responsif atas situasi lokal. Kebutuhan bukan hanya dibedakan atas dasar sektoral secara umum, namun harus lebih mendetail sesuai peruntukan dan kemampuan atau kecakapan yang dimiliki warganya. Sebagai contoh, meskipun perahu akan dipakai berlayar, namun jenis untuk menangkap ikan dengan pengangkutan barang ternyata berbeda. Pemerintah hendaknya memiliki kemampuan teknis membedakan sarana tersebut. Berdasarkan pengamatan selama ini, penempatan posisi dalam satuan kerja pemerintahan
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

120

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

121

belum mencerminkan keahlian. Pegawai di Dinas Perikanan dan Kelautan banyak yang dak paham masalah-masalah teknis masyarakat nelayan. Akibatnya, kebutuhan masyarakat yang beragam cenderung disederhanakan. Kemampuan dan kecakapan masyarakatnya dalam membuat perahu juga diabaikan. Selain dak memenuhi kebutuhan warga, hal tersebut berbiaya nggi. III.2. Kontribusi PNPM: Pola-pola Keunggulan/Keberhasilan III.2.1. Metode Seleksi a. Perencanaan program Seleksi program diawali dengan memasukkan usulan-usulan warga dalam pertemuan yang dimulai di ngkat dusun. Seleksi selanjutnya dilakukan dengan pendekatan vo ng setelah ada musyawarah untuk menentukan prioritas-prioritas program yang diusulkan di ngkat dusun, untuk selanjutnya dibawa pada pertemuan ngkat desa. Mekanisme ini dianggap paling mudah dan dapat diterima oleh semua, mengingat sulitnya ada mufakat. Per mbangan lain adalah adanya sinkronisasi antara kebutuhan desa sesuai program yang ada dalam RPJMDes. Seleksi untuk meloloskan program diawali mulai dari ngkat dusun hingga kecamatan atau MAD. Vo ng dilakukan dengan melihat porsi alokasi anggaran yang dak dapat memenuhi semua usulan masyarakat. Prioritas pada ngkat kecamatan yang mewakili antardesa dimaksudkan untuk melihat seberapa banyak yang membutuhkan program tersebut.
Lokakarya Sosialisasi Prop/Kab

Lebih jauh, tahapan manajemen program PNPMMP, mulai perencanaan hingga evaluasi nampak berikut.
Bagian 1. Tahapan Kegiatan PNPM Mandiri Pedesaan

Tahapan Kegiatan
Persiapan Program Seleksi & Pela han Faskab/FK Pela han KPMD Pertemuan Klp/Dusun Musyawarah Desa Khusus Perempuan

Musyawarah Antar Desa Sosialisasi

Musyawarah Desa Sosialisasi
Proses MMDD

Musyawarah Desa Perencanaan

Verifikasi Usulan Musyawarah Antar Desa Prioritas Usulan

Penulisan Usulan

Evaluasi • Operasional • Pemeliharaan • Pengembalian Pinjaman Musyawarah Desa Serah Terima

Desain & RAB, Verifikasi Teknis SPP Musyawarah Antar Desa Penetapan Usulan

• Supervisi Pelaksanaan Kegiatan • Kunjungan Antar Desa • Pela han Tim Pemelihara

Pelaksanaan Kegiatan serta Pencairan Dana

Persiapan Pelaksanaan, Rekrutmen Tenaga Kerja, Pela h Pelaku

Forum SKPD

Musrembang Kabupaten

Musyawarah Desa Pertanggungjawaban Minimal 2x

Musyawarah Desa Informasi hasil MAD

122

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

123

Tahapan perencanaan hingga evaluasi program PNPM Mandiri dari aspek prosedural sangat ketat. Skema tersebut memperlihatkan betapa banyaknya pertemuan-pertemuan yang harus dilewa untuk melahirkan sebuah program. Mulai dari ngkat provinsi, fasilitator PNPM Mandiri diberikan penguatan untuk agenda program prioritas satu tahunan. Setelah itu melakukan sosialisasi di ngkat desa hingga pertemuan-pertemuan yang membahas usulan warga. Untuk memas kan adanya suara perempuan, pertemuan sesama perempuan diakomodasi. Meskipun demikian, hasil keputusan perencanaan program PNPM Mandiri umumnya hampir sama dengan usulan laki-laki. Penentuan program ini bersifat poli s. Mobilisasi anggota masyarakat dapat saja dilakukan untuk meloloskan program di desanya. Peluang itu ada, mengingat kepesertaan dak diperlakukan secara ketat. Hal ini sejalan dengan core atau haluan PNPM Mandiri untuk meningkatkan par sipasi masyarakat mulai perencanaan hingga evaluasi program. Salah satu indikator par sipasi warga ditandai dengan banyaknya warga yang hadir dalam penentuan program. Hasil seleksi ini menentukan jumlah dan jenis program infrastruktur, alokasi anggaran untuk bantuan permodalan kelompok perempuan, dan program peningkatan kapasitas masyarakat. Melalui mekanisme seleksi program, khususnya dalam perencanaan, memas kan bahwa se ap desa akan punya program. Mekanisme dilakukan secara terbuka, sehingga ruang-ruang lobby dan 124
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

negosiasi dari elit kecamatan, apalagi kabupaten akan tertutup. Suara masyarakat menjadi penentu jenis program yang akan dijalankan. b. Implementasi Program b.1. Infrastruktur Sebelum pelaksanaan proyek, dibentuk m pelaksana lelang yang terdiri dari tokoh masyarakat dan unsur pengelola (TPK) yang berjumlah 5 orang. Tim melakukan proses tender untuk menentukan pihak yang berhak menjadi pemasok bahan proyek yang dilaksanakan dengan memperha kan penawaran terendah dan wajar. Setelah proses tender dilaksanakan, pemasok pemenang tender memasukkan bahan yang dibutuhkan untuk dilaksanakan oleh TPK dengan memberdayakan masyarakat pengguna. Dengan mekanisme yang lebih terbuka, membuat proses tender lebih adil. Masyarakat dapat ikut serta memberikan masukan dalam proses tersebut, termasuk kesiapan pemenang dan kelengkapan administrasi secara faktual. b.2. Permodalan bagi kelompok perempuan Proses terbentuknya kelompok Simpan Pinjam Perempuan (SPP) adalah, beberapa warga perempuan melakukan pertemuan awal dengan mufakat untuk bergabung dalam kelompok SPP dengan sistem tanggung renteng. Selanjutnya dilakukan pertemuan kedua yang didampingi fasilitator kecamatan untuk memAudit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

125

berikan pengarahan dan penjelasan tentang PNPM, SPP, dan aturan main dalam kelompok. Proses pertemuan terus berlanjut hingga dilaksanakan selama empat kali pertemuan dengan keputusan akhir, mereka memahami aturan main kelompok serta proses pengurusan dan pencairan dana. Setelah mereka, dilakukan administrasi anggota, mulai dari pengumpulan KTP, kartu keluarga, dan dibentuk kelompok secara resmi yang diketahui kepala desa. Selanjutnya, m penulis yang merupakan salah satu struktur dalam pengelola kegiatan menyusun proposal sesuai kebutuhan kelompok. Proposal tersebut diajukan ke kecamatan dalam hal ini Tim Pengelola Kegiatan (TPK). Proses pencairan dana bersamaan dengan dana pembangunan infrastruktur. Dari seleksi implementasi program permodalan, maka pilihan ini cukup terbuka dan parsipa f serta memiliki koordinasi dengan pemerintah setempat. III.2.2. Apa yang Dijawab dan Disediakan oleh PNPM? PNPM Mandiri merupakan program transfer uang ke desa atau kelurahan dan kelompok masyarakat sebagai penerima manfaat dengan jenis program pembangunan infrastruktur dasar, permodalan bergulir, dan peningkatan kapasitas. Hal ini dilihat dari program-program yang banyak dijalankan di ngkat desa dan kelompok perempuan. Program ini mampu meningkatkan daya beli masyarakat secara jangka pendek dengan pendekatan pembangunan yang me126
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

nekankan par sipasi masyarakat. Tenaga kerja yang mengerjakan berbagai program infrastruktur berasal dari masyarakat. PNPM Mandiri dengan skala proyek kecil untuk pembangunan infrastruktur tanpa menggunakan teknologi besar. Model ini dapat menguntungkan dari sisi efisiensi anggaran, dan kontrol kualitas dari masyarakat. Program ini dapat mendorong tumbuhnya par sipasi masyarakat, mulai perencanaan, implementasi, kontrol, dan evaluasi yang memungkinkan meningkatnya rasa memiliki atas program pembangunan yang ada di desanya. Kehadiran mereka dalam pertemuan-pertemuan pembahasan rencana program merasa berar , karena apa yang direncanakan bersama, meskipun seleksi usulan yang terakomodir melalui vo ng, akan menjadi agenda pembangunan. III.2.3. Siapa yang Terlibat dalam Memutuskan? Keputusan yang diambil dalam program PNPM Mandiri secara proporsional sudah ditentukan sendiri dalam Petunjuk Teknis Operasional (PTO). Keputusan dalam hal teknis, khususnya penentuan program melibatkan, antara lain kelompok perempuan, tokoh masyarakat, masyarakat umum, kepala desa, aparat desa, dan fasilitator PNPM Mandiri. Keputusan yang sifatnya par sipa f lebih banyak berkembang di ngkat desa, sedangkan selanjutnya di ngkat kecamatan, kabupaten, bahkan provinsi bersifat prosedural. Keterlibatan pemerintah, khususnya instansi yang berkaitan dengan program PNPM Mandiri, misalnya PNPM-MP adalah Badan Pemberdayaan Masyarakat Daerah (BPMD) atau PNPM Perkotaan melalui Dinas
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

127

Pekerjaan Umum, lebih bersifat koordina f untuk mengintegrasikan program-programnya di lapangan. Pihak lain yang terlibat dari pemerintah adalah Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). Keterlibatan Bappeda, antara lain dalam hal: 1) Mensinkronkan antara rencana PNPM Mandiri dengan program SKPD agar dak terjadi tumpang ndih program dari sisi perencanaan, 2) Ikut serta dalam Musrenbang, mengingat sejak tahun 2011 perencanaan PNPM Mandiri dengan daerah sudah diintegrasikan, 3) Dalam hal mengajukan anggaran pendampingan bersama dengan instansi atau SKPD terkait. Keterlibatan banyak pihak dalam penentuan keputusan program PNPM Mandiri, khususnya di level desa membuat pengetahuan masyarakat atas program yang akan masuk ke desanya diketahui lebih dini. Secara dak langsung ada proses sosialisasi program. III.2.4. Siapa Pelaksana? Pelaksana program sebagian besar dijalankan masyarakat, khususnya kelembagaan yang dibentuk melalui fasilitasi PNPM Mandiri. Di ngkat desa, ada Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD), di ngkat kecamatan melalui Tim Pelaksana Kegiatan (TPK). Secara umum, semua kegiatan dilaksanakan oleh TPK, baik infrastruktur maupun distribusi modal ke kelompok perempuan. Masyarakat secara umum ber ndak sebagai penerima manfaat, baik terlibat dalam pengerjaan program pembangunan infrastruktur seper sekolah, rabat beton, irigasi, maupun drainase.

III.2.5. Barang Publik yang Dihasilkan Barang publik yang dihasilkan, umumnya adalah infrastruktur dasar yang menghubungkan antara warga dengan sarana produksi, seper tambak, lahan, dan lorong-lorong menuju pemukiman warga dari jalan raya. Infrastruktur dasar tersebut, antara lain rabat beton, talud, drainase/saluran air, paving blok (perbaikan jalan kecil menuju pemukiman dengan jalan raya). IV. Kelemahan-kelemahan PNPM IV.1. Kelemahan Metode Program ini lebih banyak bersifat teknis prosedural. Parsipasi yang berkembang bersifat kuan ta f. Par sipasi yang sifatnya kualita f seper penguatan perspek f, alasan program yang lebih rasional dan menguntungkan dari sisi ekonomi untuk masyarakat miskin dak berkembang. Program ini juga lebih banyak diukur dari sisi serapan anggaran. Faktanya, di ngkat masyarakat terjadi dinamika sosial, sehingga implementasi program mulai dari awal, khususnya PNPM Mandiri sebagai sebuah program, kurang dilakukan persiapan pada ngkat masyarakat (persiapan sosial). Pendalaman kondisi sosial-budaya dan sosialisasi program yang minim mengakibatkan masyarakat kurang pemahaman terhadap program ini. Kelembagaan yang dibentuk membuat lembaga-lembaga sebelumnya pada ngkat desa menjadi dak produk f. Lembaga-lembaga yang dibentuk tersebut dengan dukungan pembiayaan untuk mendanai program bahkan membuat pengurus kelembagaan lama protes kepada peAudit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

128

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

129

merintah. Jalan tengah masalah tersebut justru dengan memasukkan mereka ke dalam struktur kelembagaan baru. Akhirnya, kelembagaan yang banyak dibentuk di desa justru pengurusnya oleh orang tertentu saja. Tidak semua warga desa memiliki kemampuan menulis proposal kegiatan maupun peminjaman modal. Peningkatan kemampuan menulis juga melalui proses panjang. Hal ini kontradiksi dengan metode yang dikembangkan dengan menyamakan seluruh prosedur yang ada. Akibatnya, banyak dijumpai manipulasi. Banyak proposal dibuat fasilitator PNPM Mandiri, karena mengejar tenggat waktu program, sementara sumber daya terbatas. Keadaan ini berjalan dalam ruang yang sunyi kri kan. Meskipun dalam kelembagaan masyarakat ada m pengawas, namun mereka cenderung pasif atau hanya mengisi struktur kelembagaan secara formal saja. Kesan lain, bila kri k tersebut menimbulkan masalah, maka berimplikasi terhadap program lain yang ditunda, seper pembangunan infrastruktur. Bila pembangunan infrastruktur tertunda atau dibatalkan seper yang terjadi di Kabupaten Barru karena ada masalah penunggakan pembayaran oleh kelompok perempuan yang meminjam modal, maka ada kepen ngan lain yang akan bergerak. Kepen ngan dimaksud, antara lain di luar penerima manfaat modal bergulir, yakni pembangunan infrastruktur seper kepala desa, unit pelaksana kegiatan, pemenang tender untuk pengadaan barang, bahkan hingga tenaga kerja yang akan menjalankan pembangunan tersebut. Dengan metode ketat pada prosedural dan waktu, hal ini kurang bersinergi dengan makna par sipasi dan pemberdayaan yang akan dilakukan di ngkat masyarakat. Masyarakat memiliki ngkat pemahaman bervariasi, termasuk dukungan stakeholder. Secara konsep, par sipasi 130

juga memiliki derajat ber ngkat. Bila dihubungkan dengan program PNPM Mandiri, par sipasi yang tumbuh dan berkembang masih pada aspek yang rendah, khususnya pada mobilisasi dan manipulasi. Par sipasi dalam derajat tersebut umumnya kurang bermanfaat dalam menumbuhkan potensi-potensi masyarakat, baik secara individu maupun kolek f untuk ke luar dari kemiskinan. IV.2. Besaran Manfaat Konsep penerima manfaat dalam program ini adalah pendekatan wilayah. Penerima manfaat dari sisi program infrastruktur, di antaranya adalah pekerja langsung yang terlibat sebagai suatu kesempatan kerja, petani maupun pemilik lahan, khususnya pada perbaikan jalan berupa rabat beton, maupun warga yang nggal pada wilayah masuknya program pembangunan infrastruktur, seper drainase yang dapat mencegah banjir. Adapun program infrastruktur dan sumber daya yang digunakan adalah sebagai berikut.
Tabel 1. Jenis Program Infrastruktur

Kabupaten /Kota

Jenis

Budget dan Tahun Pelaksanan

Pelaksanaan dan Upah/ Gaji Pelaksana TPK, gaji/biaya operasioanal 3% dari anggaran proyek Pelaksana TPK, gaji / biaya operasioanal 3% dari anggaran proyek

Hasil Jalan menuju perkebunan dan persawahan semakin mudah dijangkau dengan menggunakan alat transportasi seper motor dan mobil Jalan menuju perkebunan dan persawahan semakin mudah dijangkau dengan menggunakan alat transportasi seper motor dan mobil

Rabat beton dan talud 250 Rp. 56.000.000 Tahun 2010 Meter Bulukumba Rabat beton 800 M Rp. 173.000.000 Tahun 2011

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

131

Paving blok Drainase Makassar Bedah rumah

Akses jalan ke pemukiman lebih lancar. Air dak tergenang lagi di rumah warga Rumah warga sasaran program menjadi lebih layak untuk dihuni. Dana ini bersumber dari keuntungan modal bergulir - Masyarakat setempat - Gaji - Pekerja/ buruh: Rp 35.000/hari - Tukang : Rp 55.000/hari - Mandor : Rp 55.000/hari - Masyarakat setempat - Gaji - Pekerja/ buruh: Rp 35.000/hari - Tukang : Rp 55.000/hari - Mandor : Rp 55.000/hari - Sistem pelelangan. - Masyarakat melaksanakan dengan sis m gaji/ borongan - Sistem pelelangan. - Masyarakat melaksanakan dengan sis m gaji/ borongan - Sistem pelelangan - Masyarakat melaksana kan Swadaya - Memperlancar transportasi - Meningkatkan status sosial dimana dak dianggap lagi pemukiman kumuh karena ke adaan jalan yang layak dari jalan raya ke tempat nggal - Mengatasi banjir

Program infrastruktur yang dibangun meskipun ada sorotan, yaitu kurang sesuai dengan aspirasi masyarakat, khususnya dalam peningkatan ekonomi secara langsung, namun tetap dinilai bermanfaat. Hal ini karena jenis program yang dibangun merupakan infrastruktur dasar, seper rabat beton, irigasi, drainase, paving blok, dan sebagainya guna membuka akses masyarakat dari dan ke rumah dengan lokasi produksi. Di sisi kemanfaatan, program infrastruktur lebih bersifat wilayah. Siapapun yang berkepen ngan menggunakan fasilitas, baik pedagang, petani, orang yang nggal di lokasi program dapat menggunakannya. Kemanfaatannya lebih bersifat umum, dak peduli kaya atau miskin. Bagi orang kaya akan lebih mudah menggunakan kendaraannya, bagi orang miskin dapat pula mengambil manfaat bila nggal di lokasi pembangunan drainase dimana banjir dapat diatasi. Melihat jenis pembangunan infrastruktur yang dibangun, dapat dikatakan bahwa program ini bukan untuk penanggulangan kemiskinan, khususnya untuk mengeluarkan masyarakat dari situasi yang memiskinkan. Akses yang bagus ke tempat produksi dak serta memberikan manfaat kepada petani. Keberadaan infrastruktur dasar tersebut dak dapat mengurangi biaya produksi petani yang nggi yang diakibatkan oleh penggunaan teknologi, misalnya handtractor yang disewa, pembelian pupuk, pes sida, dan biaya panen dan pascapanen. Meskipun infrastruktur sudah ada, khususnya jalanan, namun dak dapat meningkatkan harga hasil pertanian. Padahal, naiknya harga gabah dapat berdampak langsung pada meningkatnya keuntungan petani. Demikian pula dengan nelayan. Nelayan lebih butuh kebutuhan mendasar seper perahu, alat tangkap ikan, harga ikan yang lebih stabil agar dak dipermainkan tengkulak. Justru pembangunan yang sifatnya spesifik
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Rabat beton

Rp. 79.000.000,Tahun 2009

Barru

Drainase/ saluran air 300 M

Rp. 93.000.000,Tahun 2010

Pengkerikilan

Tahun : 2007 Volume : 1.800M3

- Membuka lapangan kerja bagi masyarakat - Memudahkan transportasi (sudah dapat dilewa motor dan sepeda) Memisahkan antara air laut dan air tawar

Luwu Unit Pintu Air Tahun : 2009 Volume : 80M3

Irigasi

Tahun : 2009 Volume : 900M3

- Membuka lapangan kerja - Meningkatkan hasilhasil pertanian

132

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

133

tersebut dak menjadi domain PNPM Mandiri. Besaran penerima manfaat untuk permodalan bagi kelompok perempuan adalah nampak pada tabel berikut.

Tabel 2. Penerima Manfaat Modal Bergulir Bagi Kelompok Perempuan
Kabupaten/Kota Bulukumba (Desa Garanta) Jumlah Kelompok Tahun 2011 ada 3 Kelompok Tahun 2010 ada 5 kelompok, 1 kelompok 5 orang, 1 orang Rp. 500.000,Tahun 2011, ada 5 kelompok, 1 kelompok 1 juta rupiah Tahun 2012 Tahun 2008, ada 4 kelompok Tahun 2009 , ada 7 kelompok Tahun 2010, ada 15 kelompok Tahun 2011, ada 20 kelompok Barru (Kelurahan Sumpang Binangae) Tahun 2010, ada 37 kelompok Tahun 2011, ada 1 kelompok Jumlah Anggota 90 orang 25 orang Jumlah Modal (Rp) 90.000.000,12.500.000,-

Berdasarkan tabel di atas, penerima manfaat langsung permodalan bila dibandingkan dengan jumlah penduduk pada se ap desa/kelurahan, maka cukup besar. Desa Garanta dengan durasi program PNPM Mandiri yang baru berlangsung sekitar 2 tahun (tahun 2011) menerima manfaat sekitar 90 orang dimana jumlah penduduknya 4.042 jiwa dan jumlah KK miskin 240 berdasarkan data penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT). Bila penerima manfaat 90 orang tersebut mewakili 90 KK, maka dibandingkan dengan jumlah KK miskin sudah 37,5%. Di desa Senga Selatan tahun 2011, jumlah penduduknya 3.137 jiwa dengan penerima manfaat sekitar 300-320 orang, berar ada sekitar 10% lebih dari jumlah penduduk. Pengembangan program bantuan modal bergulir di Kelurahan Sumpang Binangae mengalami masalah, khususnya dalam mengembalikan pinjaman. Banyak anggota kelompok yang menunggak dan berimplikasi pada implementasi program lainnya, seper tertundanya program pembangunan infrastruktur. Atas terjadinya tunggakan, ada kesan bahwa masyarakat menganggap hal ini dana dari pemerintah, sehingga tak perlu dikembalikan. Hal ini dikemukakan salah seorang tokoh masyarakat, Bapak Abdul Kadir “Ini masalahnya bahwa sudah menjadi wacana umum pada ngkat masyarakat bahwa kalau dana pemerintah berar uangnya masyarakat juga, karena berasal dari pajak masyarakat. Olehnya, dak perlu dikembalikan. Maka banyak anggota kelompok malas membayar angsuran akhirnya macet perputaran modalnya. Namun masalahnya kemudian, membuat program lainnya dak jalan seper infrastruktur. Ini masalahnya harusnya dipisahkan antara masalah di permodalan jangan dikaitkan dengan tersendatnya dana untuk program pembangunan infrastruktur.”

Makassar (Kelurahan Sinrijala)

25 orang

25.000.000,-

25 orang 1 kelompok minimal 5 orang anggota 1 kelompok minimal anggotanya 10 orang 1 kelompok, 12-15 anggota 1 kelompok, anggotanya 15-17 orang 1 kelompok anggotanya 5 orang 1 kelompok anggotanya 5 orang 1.100.000 s.d 1.500.000 per orang 2.200.000 per orang 3.000.000 per orang 4.000.000 s.d 5.000.000 per orang 1.500.000 s.d 2.000.000 per orang 1.500.000 s.d 2.000.000 per orang

Luwu (Desa Senga Selatan)

134

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

135

Di njau dari aspek modal yang diterima, anggota kelompok menganggap sangat minim. Dengan modal tersebut, akan sulit membuka usaha. Modal sudah terbatas, kualitas SDM untuk menggerakkan dan mengisi peluang-peluang juga sangat minim. Secara eksternal juga harus berpacu pada sistem ekonomi yang sangat terbuka tanpa ada upaya perlindungan pada usaha mikro agar mereka juga dapat berkembang. Hal ini dapat dilihat dengan semakin menjamurnya minimarket yang dimiliki pemodal besar dari Kota Makassar hingga kabupaten yang menembus pada kantong-kantong pemukiman. Fenomena keberadaan Alfa Midi, Alfa Mart, Indo Maret menjamur dimana-mana banyak berimbas semakin sepinya pembeli di toko-toko kecil rakyat. Program pemberian modal ini dianggap dak menghasilkan manfaat yang berar , khususnya jika dikaitkan dengan tujuan pemberian modal. Tidak ada contoh sukses. Sebaliknya, kegagalan banyak sekali yang dapat diceritakan. Kurangnya modal yang diberikan membuat mereka yang menerimanya tak dapat membuka usaha. Cerita ini hampir seragam pada semua kelompok. Peran pengelola PNPM Mandiri dalam menggerakkan usaha bagi mereka yang mendapatkan modal tak nampak. Bahkan seper nya, program ini lebih mengarah pada bagaimana semua anggaran dapat terserap habis tanpa melihat tujuan yang hendak dicapai. Ar nya, anggaran bisa habis namun ngkat ekonomi/kesejahteraan masyarakat tetap dak bergerak. Koordinasi dengan pemerintah dalam peningkatan kesejahteraan guna menjamin program ini dapat sukses mencapai tujuannya juga tak nampak. Koordinasi yang terbangun lebih bersifat administra f dibanding pemberdayaan.

IV.3. Siapa yang Tidak Tercakup? Program bantuan modal bagi kelompok perempuan hanya dapat dimanfaatkan oleh mereka yang memiliki jaminan. Jaminan merupakan salah satu prasyarat tanpa ada pengembangan tafsiran yang lebih pro pada penanggulangan kemiskinan oleh fasilitator PNPM Mandiri. Makna kelompok sebagai penjamin pada anggotanya untuk dapat mengembalikan pinjaman dak terbangun. Akibatnya, warga miskin yang tak memiliki aset tak dapat meminjam. Pengerjaan program infrastruktur membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal. Tukang dan buruh bangunan untuk pembangunan tersebut direkrut dari masyarakat setempat. Rekrutmen tukang dan buruh dak berdasarkan data angkatan kerja yang dak memiliki pekerjaan di desa atau kelurahan. Olehnya, tukang dan buruh yang mengerjakan proyek tersebut lebih banyak berasal dari kerabat pengurus kelembagaan yang dibentuk PNPM Mandiri seper KPMD maupun UPK atau pengaruh lingkaran elit kelurahan/desa. Padahal, dalam satu desa atau satu kelurahan amat banyak yang membutuhkan pekerjaan tersebut. IV.4. Lokasi yang Belum Tercakup Program ini diawali oleh usulan-usulan masyarakat. Program akan dilaksanakan pada lokasi sesuai usulan-usulan masyarakat. Secara logis, usulan-usulan masyarakat dak jauh dari lokasi tempat mereka menetap maupun yang berhubungan dengan kebutuhan mereka. Olehnya, bagi masyarakat yang dak hadir atau tak punya akses ikut serta dan mengusulkan program, lokasinya dak tercakup menjadi sasaran program. Sementara, dalam satu desa, akses untuk berpar sipasi mulai perencanaan hingga evaluasi program bervariasi. Baik karena ke adaan informasi, ngAudit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

136

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

137

kat kesadaran berpar sipasi, maupun per mbangan prioritas antara ru nitas sehari-hari dan mengiku pertemuanpertemuan yang dilaksanakan fasilitator program PNPM Mandiri maupun pengurus kelembagaan masyarakat yang dibentuk. Bisa saja ngkat kebutuhan jenis infrastruktur dasar seper jembatan lebih besar bagi warga yang dak hadir, namun karena mereka tak ikut mengusulkan program atau hadir dalam pertemuan pembahasan rencana program, maka lokasinya tak tersentuh pembangunan infrastruktur. Sebagai contoh, di Kabupaten Bulukumba ada satu dusun di Desa Garanta yang terletak di pesisir, sangat membutuhkan jembatan sungai dan perbaikan jalan, minimal rabat beton. Tetapi, karena informasi dan akses untuk ikut berpar sipasi dalam pengusulan program dak ada, akhirnya tak tersentuh program PNPM Mandiri, padahal kehadiran infrastruktur dasar tersebut akan membantu masyarakat untuk mengakses hak-hak dasar lainnya, seper air bersih, pendidikan, listrik, Puskesmas, dan ak vitas ekonomi. Berdasarkan karakteris k program PNPM Mandiri tersebut, ada lokasi yang dak tersentuh, yakni lokasi dimana pengusul tak memiliki kepen ngan. Meskipun, dalam per mbangan secara proporsional justru lokasi yang tak tersentuh tersebut lebih membutuhkan. V. REKOMENDASI PNPM Mandiri menghadapi dilema. Pemerintah mengklaim sebagai salah satu program penanggulangan kemiskinan. Pemberdayaan masyarakat dimaknai dengan berbasis kepada:1) peningkatan akses masyarakat terhadap infrastruktur, 2) pemberdayaan ekonomi produksi, dan 3) dimensi sosial dalam menumbuhkan rasa kebersamaan dalam warga atau komuni138
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

tas untuk hidup bersama. Sementara, berdasarkan hasil audit sosial, program ini memiliki kelemahan dalam upaya penanggulangan kemiskinan. Hal ini didasari, 1) infrastruktur dapat dimanfaatkan oleh semua elemen, bukan hanya masyarakat miskin, 2) par sipasi yang dikembangkan masih di level kehadiran, sehingga suara-suara masyarakat miskin dak berkembang, akibatnya warga miskin yang akan diberdayakan tak mampu mempengaruhi keputusan-keputusan, 3) kehadiran PNPM Mandiri di sebagian komunitas menimbulkan konflik baru. Program ini kurang mampu mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan lokal. Kebutuhan lokal dimaksud, seper usulan-usulan masyarakat yang sifatnya membantu perkembangan usaha kelompok masyarakat (bukan hanya perempuan). Dalam upaya membangun koordinasi, sinkronisasi dengan pemerintah dalam mengintegrasikan program penanggulangan kemiskinan tak berjalan sebagaimana mes nya. Hal ini ditandai koordinasi dengan pemerintah hanya di level output program, baik pada sisi perencanaan maupun di ngkat implementasi dengan instansi teknis. Oleh karena itu, direkomendasikan sebagai berikut. V.1. Idealnya pilihan-pilihan pembangunan infrastruktur merupakan akumulasi akhir dari proses pemberdayaan. Pemberdayaan diawali dengan peningkatan kapasitas masyarakat, baik secara kri s maupun berkelompok, sehingga lebih berdaya dalam mengelola potensinya secara mandiri dan kolek f. Berdaya terhadap struktur sosial, ekonomi, dan poli k. Keberdayaan tersebut dapat dilihat dalam ngkat peran dan posisi kelompok masyarakat miskin dalam domain kelompok sosial, poli k, dan ekonomi di wilayahnya. Semakin rendah peran-peran mereka, maka keberdayaannyapun semakin lemah. Hanya pada masyarakat yang berdaya akan melahirkan usulan-usulan pembangunan infrastruktur yang relevan dengan peningkatan kesejahteraannya. Bila dak, maka par sipasi mereka hanya menAudit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

139

jadi legi masi prosedural formal pelaksanaan program. Lemahnya kadar par sipasi tersebut dapat dilihat dengan program infrastruktur pada komunitas hampir sama, meskipun memiliki tantangan yang berbeda dalam usaha ke luar dari kemiskinan. Padahal, se ap komunitas sesuai kluster pemberdayaan masyarakat memiliki ngkat kebutuhan yang harusnya berbeda se ap wilayah, misalnya nelayan dan petani. V.2. Pen ng adanya monitoring dan evaluasi secara kri s dengan pendekatan outcome dan output program. Bila perlu, untuk perbaikan lebih mendasar dilakukan oleh kelompok independen. Melalui monitoring dan evaluasi, maka keberhasilan program ini pun dapat diukur. Seberapa besar masyarakat yang keluar dari kemiskinan sesuai dengan maksud program ini? V.3. Bantuan permodalan untuk meningkatkan produk vitas dan aset masyarakat hendaknya di njau ulang, baik dari sisi syarat penerima manfaat, besaran pinjaman, desain program, aturan-aturan baik pada ngkat pengelola PNPM Mandiri maupun kelompok perempuan. Prasyarat lain, pen ngnya membangun mo vasi bagi masyarakat untuk maju. Mo vasi dimaksud bukan dengan sekedar membangun impian-impian kolek f, namun dapat saja secara individual untuk membentuk etos. Peran-peran pemberdayaan juga dengan menjembatani kelompok usaha atau individu dampingan yang sudah sukses menjalankan modal masing-masing Rp. 5.000.000,- untuk dapat mengakses dana perbankan dalam skim program penanggulangan kemiskinan pada kluster III (dana kredit usaha rakyat dengan bunga rendah) untuk pinjaman lima juta hingga lima ratus juta. Pemikiran ini didasarkan dengan asumsi, bantuan permodalan pada kelompok perempuan berupa s mulus, untuk selanjutnya dapat dikembangkan pada sektor for140
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

mal (perbankan). Pemberdayaan lain dengan menfasilitasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan produk vitas sektor usaha lain,misalnya peningkatan produk vitas petani rumput laut agar usahanya sukses dan dapat mengembalikan modal pinjaman, akses pasar, dan sebagainya.

Keterangan Gambar: Jalan yang dibangun oleh PNPM-MP

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

141

Pengembangan Audit Sosila Study Kasus PNPM Mandiri Perdesaan
Oleh: Wendy Bullan Circle of Imange Society Timor (CIS Timor) - NTT

I. RINGKASAN TEMUAN-TEMUAN UTAMA I.1. Metode Audit Social I.1.1. Jenis data Dalam audit ini jenis data yang digunakan adalah: (1) data primer yang diperoleh melalui hasil wawancara, dengan seluruh responden. Data primer yang dimaksud dalam peneli an ini adalah bagaimana upaya pelaksanaan program PNPM Mandiri Pedesaan di wilayah sampel. (2) data Sekunder, merupakan data yang diambil secara dak langsung dari sumbernya, yang diambil dari dokumen (laporan, paper, majalah 142
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

143

dan koran) atau seseorang mendapat informasi dari “orang lain”. Dalam peneli an ini juga data sekunder yang digunakan penulis adalah data yang diperoleh dari instansi pemerintah di Kabupaten sampel yang telah ada sebelumnya. I.1.2. Metode Pengumpulan Dalam mengumpulkan informasi untuk audit ini dilakukan wawancara mendalam kepada beberapa penerima manfaat PNPN, seper masyarakat desa, aparat desa, perempuan, bahkan fasilitator PNPM di propinsi, kabupaten menggunakan pertanyaan- pertanyaan kunci yang akan berkembang sesuai jawaban responden, yang dianggap mampu memberikan gambaran yang menyeluruh dan mendapatkan informasi pen ng dalam rangka memperkaya analisis. Informasi juga didapatkan dari dokumen terkait tentang kebijakan, pedoman, serta prosedur teknis PNPM. Adapun responden dalam audit ini yakni: a. Masyarakat sebagai penerima manfaat langsung PNPM b. Instansi pemerintah terkait program ini, antara lain: Pemda, BPMPD, Pemerintah Kecamatan, aparat desa. c. Pelaksana PNPM di daerah (Fasilitator Propinsi, kabupaten, kecamatan, dan UPK). I.1.3. Pengolahan Data Audit ini menggunakan pendekatan kualita f melalui analisis data dan informasi yang dikumpulkan dari hasil wawancara, observasi, dan telaah dokumen untuk mendapatkan gambaran menyeluruh dan jawaban dari II. Analisis

beberapa asumsi yang dibangun peneli sebelumnya. Untuk memperkaya analisis observasi hasil- hasil program yang diiku wawancara konfirmasi juga dilakukan pada aparat desa dan masyarakat untuk mendapatkan kofirmasi dan memperkuat informasi yang didapat dari responden ataupun pengamatan sebelumnya. Secara kualita f kajian ini juga akan menganalisis berbagai masalah yang mbul dalam implementasi PNPM. Pendekatan kualita f juga dilakukan dalam melihat kerangka regulasi dan implementasi PNPM, berbagai hambatan, dan kemungkinan pemecahannya. I.1.4. Wilayah Secara purposif empat kabupaten dipilih sebagai daerah sampel, yaitu Kabupaten Kupang, Kabupaten TTS, Kabupaten Belu, dan Sumba Timur. Wilayah Kabupaten dipilih berdasarkan konsentrasi upaya, yaitu kabupaten yang memperoleh program PNPM dengan karakteris k daerah yang dipilih berdasarkan per mbangan khusus dan disesuaikan dengan waktu audit ini. Per mbangan pemilihan wilayah sampel tersebut berkaitan beberapa hal, yakni: Kabupaten Kupang sebagai kabupaten yang dekat dengan ibu kota propinsi, Kabupaten Sumba Timur, yang paling rendah IPM-nya untuk seluruh NTT yakni 59,6, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) di mana IPM-nya termasuk yang terendah di daratan Timor, yakni 62,7, dan Kabupaten Belu yang memiliki laju pertumbuhan penduduk ter nggi di NTT. II.1. Konteks Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melipu 566 pulau besar dan kecil dengan luas daratan 47,3 ribu km2. Propinsi

144

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

145

NTT memiliki 21 kabupaten/ kota dengan tujuh pulau besar, yaitu Flores, Sumba, Timor Barat, Alor, Lembata, Rote, dan Sabu, yang menurut Hasil Sensus Penduduk 2010, Jumlah penduduk Provinsi NTT adalah 4.683.827 jiwa. Topografi di semua pulau di NTT berbukit-bukit dengan dataran yang tersebar secara sporadis dan sempit, dengan ngkat kemiringan lahan rata-rata lebih dari 50 derajat. Kondisi topografi wilayah inilah yang merupakan salah satu tantangan utama bagi transportasi dan komunikasi antar daerah. Tantangan ini pula membuat secara umum di ap kabupaten pelayanan infrastruktur belum op mal dan belum menjangkau seluruh wilayah. Prasarana dan sarana perhubungan di provinsi ini masih sangat terbatas, baik jumlah, mutu, maupun frekuensinya. Provinsi NTT memiliki panjang Jalan 18. 997,44 Km (NTT dalam angka 2012), belum semua desa di ap kabupaten memiliki akses jalan. Kondisi Jalan Nasional, 39,13% dalam kondisi baik, 34,92% dalam kondisi sedang dan 25,78% kondisi rusak (Hasil Survey Tahun 2007). Pengelolaan potensi peternakan, perikanan, lahan kering, lahan basah, pariwisata, serta industri pengolahan juga belum op mal. Hal ini pula yang membuat pola pertumbuhan ekonomi NTT rata- rata dari tahun 2001- 2007 berada pada 4,75%. Hingga tahun 2010 (BPS NTT) sektor jasa dan pertanian masih sebagai penyanggah dari pengurangan kesempatan kerja di sektor industri, perdagangan dan lainnya. Yang berkontribusi pada jumlah persentase penduduk miskin di NTT menempa urutan ke lima terbawah (23,03 %) di tahun 2010. Dan kabupaten Timor Tengah Selatan adalah kabupaten yang jumlah penduduk miskinnya paling banyak di NTT (12,41%). Tiga kabupaten dalam audit ini menempa peringkat ter nggi berkaitan dengan jumlah keluarga miskin terbanyak; TTS (67.291), Kupang (58.033), Belu (54.244), dan Sumba Timur (29.034) menempa peringakat kelima 146
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

(NTT dalam angka 2012). Secara umum gambaran wilayah dalam audit ini seper yang ada dalam tabel dibawah ini:
Kabupaten/ Kecamatan/ Desa Luas Desa/ Kelurahan Total Penduduk (Jiwa) Ak vitas Ekonomi Utama Pertanian, peternakan, industri rumah tangga (terutama kerajinan teks l/tenun), serta pariwisata Petanian, peternakan, perkebunan Pertanian, peternakan, perkebunan Pertanian, perkebunan, peternakan Pertanian, peternakan, perikanan, tambak garam Pertanian, peternakan, perikanan, budidaya rumput laut Jumlah KK Miskin 829

Sumba Timur/ Kota Waingapu/Kambajawa

10.451

Belu/Tasifeto Timur/Fatubaa

400- 500

662 Ha

1336

Timor Tengah Selatan/Am11 Km2 abuban Barat/ Eno Neontes Timor Tengah Selatan/Batu Pu h/Boentuka Kupang/Kupang Tengah/ Oebelo

200-400

1634

200-400

1883

< 800

27,19 Km2

3936

< 200

Kupang/Kupang Barat/ Kuanheum

21,46 Km2

1280

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

147

Di NTT, PNPM berak vitas di semua kabupaten rata-rata tahun 2007/2008 (Oebelo: 2008, Kuanheum: 2008, Eno Neontes: 2009, Boentuka: 2009, Fatubaa; 2010, Kambajawa: 2008) yang sebelumnya dengan nama PPK. Di tahun 2012 dengan target 288 kecamatan di NTT, jumlah BLM yang disalurkan sebanyak Rp. 668.200.000.000,- (APBN= Rp. 603.578.000.000,-, APBD= Rp. 64.623.000.000,-). Sejak tahun 2007/2008 ada banyak ak vitas yang telah dilakukan PNPM di ap- ap desa/kelurahan sesuai usulan masyarakat. Sesuai keputusan Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia (2010), usulan yang didanai dalam PNPM-MP dapat diklasifikasikan atas empat jenis kegiatan, melipu , 1) Kegiatan pembangunan atau perbaikan prasarana dasar yang dapat memberikan manfaat jangka pendek ataupun jangka panjang secara ekonomi bagi masyarakat miskin atau rumah tangga miskin, 2) Peningkatan bidang pelayanan kesehatan dan pendidikan, termasuk kegiatan pela han pengembangan keterampilan masyarakat, 3) Kegiatan peningkatan kapasitas/keterampilan kelompok usaha ekonomi, terutama bagi kelompok usaha yang berkaitan dengan produksi berbasis sumberdaya lokal, dan 4) Penambahan permodalan SPP. Tabel berikut menjelaskan ak vitas PNPM di desa yang diaudit.

Eno Neontes
• Bangunan Posyandu • Jalan 2,5 km • SPP: enam kelompok (@ 5-8 orang)

Boentuka
• 80 Unit PLTS di empat dusun (350 Juta) • SPP untuk lima kelompok • Gedung TK (202 Juta) • Fee untuk guru honor pada SD Inpres Boentuka dan SMP Satap

Oebelo
• Jalan 5 km • Bangunan untuk PAUD • SPP untuk 11 kelompok (510 orang); kios, ternak ayam, babi, tanam sayur. • Beasiswa berupa seragam dan perlengkapan sekolah bagi pelajar SD, SLTP, dan SLTA.

Kuanheum
• Pembuatan jalan 2 km • SPP • Beasiswa untuk anak SD (kelas 1-5) dan SLTP (Kelas 1-2) berupa seragam dan peralatan sekolah. • Pustu • Pela han karang taruna • PAUD

Kambajawa
• Infrastruktur 263.500.000 • Ekonomi Sosial pela han menjahit dan modal usaha, privat untuk pelajar SD, SLTP, SLTA, simpan pinjam untuk masyarakat 29.000.000 • BOP 7.500.000

Fatubaaf
• 4 unit sumur untuk ga dusun • SPP (490 Juta). • Sebuah saluran irigasi sawah (P= 1.3 km, L= 3 m, T= 60 m). • 3 unit ruang kelas SD Inpres Fatubaa, 290.800.000 • PNPM GSC membantu posyandu dengan makan tambahan untuk anak dan ibu menyusui • Membayar honor guru SD Inpres Fatubaa • Membayar honor kader kesehatan • Membayar satu orang tenaga administrasi bidan. • Dan saluran irigasi sepanjang 1.200 m
Rp. 291.348.800.000

148

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

149

II.2. Kontribusi PNPM: Pola-Pola Keunggulan/Keberhasilan Sesuai dengan kebijakan umum PNPM Mandiri, maka komponen umum program ini ada empat jenis, yakni: 1) pemberdayaan masyarakat, 2) bantuan langsung masyarakat (BLM), 3) Peningkatan Kapasitas Pemerintahan dan Pelaku Lokal, dan 4) Bantuan Pengelolaan dan Pengembangan Program. Turunan dari komponen diatas maka jenis program PNPM di bagi dalam dua bentuk kegiatan, yaitu membangun fasilitas umum seper jalan, rumah Posyandu, gedung Polindes, dan berbagai fasilitas publik lainnya. Bentuk kegiatan kedua adalah memberi peminjaman uang dengan bunga 1,5% dengan waktu pengembalian selama satu tahun atau 12 bulan kepada induvidu-induvidu yang tergabung dalam berbagai kelompok tani, terutama kelompok perempuan. Semuanya dilandasi dengan semangat besar pemberdayaan masyarakat, baik aparat pemerintah maupun masyarakat miskin agar mampu mandiri. Berbagai pendekatan dan metode dalam program diharapkan mampu mendorong par sipasi masyarakat sebagai pelaku dan penerima manfaat program. Hal ini juga diakui Yoktan Tanesib (Ketua KPMD Desa Bentuka, TTS- NTT), “Berbagai pendekatan yang dipakai PNPM sudah sangat melibatkan masyarakat, tetapi kesiapan masyarakat dengan berbagai pendekatan tersebut belum sepenuhnya”. Dalam penentuan suatu kegiatan PNPM, biasanya proses penjaringan aspirasi dimulai dari desa/kelurahan sampai ngkat kecamatan. Masyarakat yang diwakili berbagai elemen dilibatkan dalam musyawarah desa. Komitmen parsipa f menjadi acuan se ap kegiatan PNPM. “Dalam semua tahapan penjaringan kebutuhan, kami harus pas kan semua masyarakat terlibat, baik perempuan maupun laki- laki. Hal ini bisa dilihat dalam kepengurusan BKM 40% harus perempuan”. (Verkianus Meto, 29 tahun, fasilita150
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

tor kelurahan-kecamatan Kota Waingapu). Se ap kegiatan yang sudah ditetapkan, akan disosialisasikan oleh FK dan FT di desanya masing-masing. “Pada prinsipnya, kegiatan mereka (PNPM) sesuai dengan petunjuk operasional mereka”. (Timo us K., 40 Tahun, petani Desa Kuanheum) Dalam mekanisme PNPM Mandiri Perkotaan, dibentuk Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) di ap kelurahan dengan masa kerja ga tahun. Mereka bersama fasilitator di se ap ak vitas PNPM di kelurahan. Ada proses di kelurahan/desa untuk menyusun Program Jangka Menengah (PJM), Penanggulangan Kemiskinan/Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa, yang didasarkan atas usulan masyarakat, mulai dari ngkat RT. Kemudian dibuat skala prioritas berdasarkan refleksi kemiskinan, njauan par sipa f, dan pemetaan swadaya oleh masyarakat. Masyarakat sendiri yang menentukan kategori miskin menurut mereka. Proses menyusun PJM Penanggulangan Kemiskinan dibuat ga tahun sekali, kemudian disinkronkan dengan hasil Musrenbang. Dalam pengalokasian biaya dipilah, mana yang perlu dibiayai PNPM atau SKPD. “Masyarakat cenderung lebih percaya PNPM, karena mengakomodir usulan mereka, dan pas untuk pendanaan dan realisasi kerjanya daripada Musrenbang pemerintah. Karena biasanya, usulan walaupun berulang-ulang dak direalisasi. Biasanya, usulan dalam Musrenbang yang dak direalisasi dibawa ke PNPM untuk mendapatkan realisasinya”. (Apeles Moon, 42 tahun, Kepala Desa Oebelo) PNPM masuk di NTT antara tahun 2007-2008. PNPM telah membantu pemerintah melakukan beberapa tanggung jawabnya, seper pengadaan infrastruktur. Proses perencanaan melalui musyawarah bersama untuk menjaring usulan atas dasar kebutuhan masyarakat. Proses ini sebenarnya membantu untuk mendapatkan banyak informasi
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

151

tentang ragam kebutuhan warga yang mungkin saja selama ini belum diketahui. “Pekerjaan PNPM ini sangat baik, karena pengawasannya ketat. Dulu, setelah kami panen di sawah, kami harus pikul karung sampai di rumah, tapi sekarang kendaraan sudah bisa masuk sampai ke sawah, dan kami dak pikul lagi hasil panen. Jadi, kerja PNPM ini sangat baik, dan juga ada pengawasnya dari masyarakat”. (Bincer Neslaka, 25 tahun, Kepala Dusun I Desa Kuanheun, Kabupaten Kupang). PNPM hadir membantu desa dalam merealisasi usulan yang dijaring dalam Musrenbang desa, karena dak mungkin dijawab dalam Musrenbang kecamatan ataupun kabupaten. PNPM sering dipandang sebagai pembawa dana bagi “da ar belanja” desa yang dak mungkin terbiayai. “Kalau disuruh memilih, kami memang lebih senang ban-

tuan fisik, seper jalan. Karena kita mau minta atau ambil uang dimana lagi supaya jalan bisa dibangun. Kami siap memberikan bantuan bahan di sekitar kita dengan cumacuma agar jalan bisa dibuat, kalau dak, maka proyek itu pindah ke desa lain. Kita yang rugi toh. Biasanya, suatu daerah dikatakan maju bila ada jalan yang baik”. (Ibu rumah tangga dari Desa Fatubaaf, Belu). Kebijakan PNPM mengalokasikan 25% dana untuk kegiatan pemberdayaan ekonomi perempuan merupakan sebuah kebijakan yang properempuan. Mengingat dana yang dialokasiakan dalam PNPM merupakan dana kompe si, sehingga akan sangat sulit jika memberikan kompe si itu terbuka bagi perempuan, dengan posisi sangat terbatas pelibatan perempuan dalam ak vitas publik. “Dulu peluang untuk mendapatkan modal usaha sangat terbatas, kami biasanya meminjam di koperasi harian untuk berusaha, tetapi setelah PNPM ada, membantu peluang kami dalam menambah modal”. (Yuliana Pakh-Lay Doko, 59 tahun, petani dan ibu rumah tangga dari Desa Oebelo). Di kelurahan Kota Waingapu dan Kambajawa ada kelompok yang sudah membentuk lembaga keuangan mikro, yang nan nya mau dibentuk koperasi setelah ada rapat anggota. “PNPM sangat membantu karena persyaratannya dak berbelit seper yang lain. Kalau setoran rajin, maka permohonan pinjaman selanjutnya akan lebih gampang lagi”. (Ibu Rince N., 24 tahun, petani rumput laut dari Desa Kuanheum). II.3. Kelemahan –kelemahan PNPM II.3.1. Lemahnya Penguatan Kelembagaan Berdampak pada Kesiapan Masyarakat untuk Berpar sipasi

Keterangan Gambar: Salah Satu Rumah yang dibangun oleh PNMP-MP

Berdasarkan arah dan prinsip dasar pemberdayaan masyarakat dalam PNPM, maka pendekatan proAudit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

152

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

153

gram yang digunakan melibatkan komunitas sebagai pengembang dan pengambil keputusan dalam se ap ak vitas pemberdayaan. Oleh karena itu, kesiapan masyarakat berpar sipasi perlu didukung dengan penguatan kelembagaan yang utuh dari segi kebijakan, pelibatan, dan pengawasan. Kesiapan pemerintah desa merupakan prasyarat utama dalam se ap ak vitas, mengingat fokus ak vitas PNPM adalah desa. Hal ini juga yang diingatkan oleh Yoktan Tanesib, Ketua KPMD Desa Bentuka, TTS. “Pemerintah desa belum op mal dalam menerima berbagai program, agar semua program yang ada di desa mampu memberikan manfaat bagi masyarakat. Pemerintah desa masih sekedar mencatat berbagai program yang ada namun untuk pengawasan, kontrol, dan saran menyangkut program belum bisa dijalankan. Mengapa orang yang sama sebagai sasaran berbagai program pemberdayaan namun orang-orang itu juga yang masih tergolong masyarakat miskin”. Penguatan kelembagaan yang belum op mal membuat informasi dan data di desa hanya digunakan sebagai pelengkap administrasi, tapi dak dijadikan acuan pengambilan keputusan berdasarkan potensi yang ada. NTT sendiri hingga kini belum memilki data desa spesifik untuk membantu mengarahkan program pembangunan yang dilakukan bisa menjawab kebutuhan masyarakat. Pengelolaan data dan informasi program pada kenyataannya menjadi ironi. PNPM-MP sebagai satu-satunya program pemberdayaan masyarakat terbesar, walaupun sudah menginjak usianya lebih dari satu dasawarsa, dalam urusan data dan informasi masih kedodoran (Laporan Bulanan KMN PNPM periode Februari 2009). 154
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Pada dasarnya, sebuah proses pemberdayaan adalah proses membuat orang menjadi berdaya dengan memaksimalkan apa yang ada di sekitarnya. Hingga kini konsep berdaya yang dibangun masih belum kontekstual dan berkelanjutan. Hanya dihitung dari kepemilikan materi dan perekrutan masyarakat menjadi tukang atau buruh dalam proyek fisik di desa. Padahal, konsep berdaya di ap desa berbeda, begitupun dengan potensi yang ada di desa. Program pemberdayaan seharusnya disesuaikan dengan potensi desa, sehingga harus berbasis data dari desa bukan ditentukan oleh pemegang mandat ter nggi, karena yang lebih mengetahui keadaan daerah adalah masyarakatnya sendiri. Fasilitator dan para camat harus turun ke desa-desa untuk mencerma kondisi yang ada. Menurut Bupa Sumba Timur, Gideon Mbilijora, 56 tahun, “Seharusnya penentuan besaran dana untuk se ap desa jangan hanya berdasarkan laporan kepala desa, tanpa ada survei lokasi atau desa sasaran”. (Spirit NTT). Masyarakat, ke ka ditanya ukuran kesehjahteraan maupun kemiskinan, jawabannya berbeda di ap tempat, bergantung perspek f masyarakat. Pada masyarakat yang pernah mendapat intervensi berbagai program, baik oleh pemerintah maupun LSM, standar yang ditetapkan sangat nggi, ataupun sering memakai standar luar untuk mengukurnya. Hal ini berbeda ke ka ditanya pada masyarakat yang belum atau jarang diintervensi berbagai program pemberdayaan. Ukuran yang mereka digunakan yakni dilihat dari hasil pendapatan KK, kepemilikan hewan, bentuk rumah, frekuensi makan dalam satu hari, pemakaian sabun mandi/cuci, ada TV, beragam lauk
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

155

yang dimakan ap hari. Ada juga yang mengukur kesejahteraan pada kondisi rumah, lantainya, atapnya seng atau dak, makan ga kali sehari, kepemilkan ternak, dan barang berharga lainnya. Ke daksiapan masyarakat diperparah dengan waktu pengerjaan proyek yang terkesan terburu-buru, sehingga TPK yang seharusnya mengontrol se ap kegiatan dak melakukan tugasnya. Pela han yang diberikan hanya diperuntukkan bagi masyarakat yang tergabung dalam BKM, TPK, dan pani a lainnya untuk mengontrol jalan- daknya pengerjaan, sehingga masyarakat lain yang dak mendapat pela han dak menger walaupun diperlihatkan RAB. “Supaya kami bisa kontrol proyek ini dengan baik, maka harus ada pela han bagi masyarakat dan juga pemerintah desa, sehingga kami bisa kontrol jalannya proyek yang sesuai dengan RAB-nya. Kalau dak mau kasih tunjuk juga, kami hanya menyahut “ya”,meski dak menger ”. (Timo us Kause, 40 Tahun, masyarakat Desa Kuanheum). II.3.2. Pemberdayaan Masyarakat Sebatas Pembangunan Infrastruktur Desa Pemberdayaan merupakan proses berkesinambungan yang terintegrasi di se ap ak vitas pembangunan yang par sipa f. Melalui par sipasi, masyarakat diharapkan semakin terdorong untuk menggerakkan kemampuannya dalam mencapai kehidupan yang mandiri. PNPM sebagai program pemberdayaan terbesar di Indonesia, hingga kini skala prioritas yang dibuat bersama masih mengarah pada proyek infrastruktur tanpa memperha kan kebutuhan masyarakat sebenarnya. Di desa-desa didor156
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

ong membangun jalan dan infrastruktur publik lain, padahal ada kebutuhan lain yang lebih menyentuh masyarakat desa, seper sumur air bersih, pertanian, perkebunan. Seper nya, semua pembangunan di desa mengarahkan masyarakat desa untuk ke kota tanpa membangun kapasitas masyarakat desa. Pemberdayaan dan intervensi masih sebatas membangun infrastruktur agar memudahkan akses orang,. Penguatan akses pada sumber-sumber penghidupan yang berkelanjutan agar masyarakat lebih mandiri pun terlupakan. PNPM menjadi program membangun infrastruktur tanpa melakukan pemberdayaan masyarakat. Dalam laporan pencairan dan kemajuan kegiatan PNPM terlihat semua kegiatan di masyarakat hanya untuk memas kan bahwa semua tahapan terlaksana. Pela han yang dilakukan pun hanya bagi mereka yang terekrut sebagai TPK, UPK, fasilitator dan pelaku manajemen PNPM, baik di ngkat desa sampai kabupaten. Fasilitator PNPM Kabupaten Sumba Timur ke ka diwawancarai mengatakan, “Pela han untuk pendamping ada sebelas jenis. Ada pela han yang dilakukan oleh fasilitator dan UPK untuk kelompok SPP tentang petunjuk-petunjuk teknis pembukuan, namun dak ada pela han reguler tentang penguatan kelompok. Yang ada hanyalah pendampingan dalam bentuk pengontrolan terhadap kemampuan pengembalian pinjaman selama masa peminjaman”. Membangun infrastruktur lebih dimina dibandingkan pemberdayaan. Kegiatan fisik dianggap menjadi “berkat” berkelimpahan yang diterima dengan dalih kebanyakan masyarakat lebih memilih kegiatan fisik
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

157

dalam ak vitas PNPM. Hal ini disambut baik oleh para aparat lainnya yang mengambil untung dari kegiatan fisik ini. Di kalangan aparat, baik ngkat kecamatan maupun desa sering menggunakan is lah “dapur ber-asap” ke ka ada banyak proyek fisik, karena “bagian” mereka pas telah disediakan. Hal ini juga didukung fasilitator demi memperlancar segala ak vitas di desa. Di Sumba Timur beberapa tokoh desa dan masyarakat mengeluh berkaitan dengan RAB yang dibuat. Bagi mereka, RAB infrastruktur yang diperlihatkan sama sekali dak dimenger , karena dak tahu mana yang bermutu atau dak untuk sebuah jalan yang baik. Mereka dak diajarkan tentang hal itu. Dalam tahap sosialisasi biasanya sudah diumumkan bahwa pagu dana hanya untuk infrastruktur. Masyarakat desa memilih pembangunan fisik, karena belum ada prasarana untuk pelayanan dasar di desa. “Masyarakat desa ini memiliki SDM yang rendah, tapi dak ada dalam program untuk meningkatkan SDM masyarakat, terutama desa ini 98% adalah petani. Dalam sosialisai dak disinggung berkaitan dengan pertanian dan peternakan, hanya untuk jalan ataupun pekerjaan fisik lainnya, jadi masyarakat pas lebih pilih fisik, apalagi jalan di desa kami masih parah”. (Moses Piter Faot, 50 tahun, Kepala Desa Eno Neontes, TTS). Berbagai proses pemberdayaan seper nya terbengkalai dengan tuntutan penyelesaian program fisik yang kemudian dijus fikasi sebagai bagian dari pemberdayaan. Hal ini diperkuat pernyataan seorang Fasilitator Pemberdayaan Kelurahan-Kecamatan Kota Waingapu, “PNPM konsepnya bagus, tapi yang terjadi di ngkat m leader kadang-kadang lebih 158
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

mengutamakan administrasi yang fokusnya pada penyelesaian proyek, bukan pemberdayaan. Misalkan kegiatan kadang-kadang belum dilakukan, tetapi laporan dan data sudah harus dimasukkan agar ada pencairan dana tahap lanjut. Otoma s, dengan siklus ak vitas PNPM yang begitu banyak, membuat kami hanya mengejar realisasi proyek daripada pemberdayaan. Seharusnya, pencairan dana juga harus disesuaikan dengan kesiapan masyarakat, bukan hanya deadline waktu dan kelengkapan administrasi. Akhirnya, kegiatan pemberdayaan dak jalan. Kami hanya dipusingkan kelengkapan administrasi dan penyelesaian proyek.” (Verkianus Meto, 29 tahun). Banyak persoalan yang terjadi berkaitan implementasi program PNPM di daerah, namun hingga saat ini belum ada mekanisme yang dibangun berkaitan monitoring dan evaluasi dari masyarakat. Ada banyak hasil program yang mengeluarkan banyak dana, namun dalam waktu singkat terjadi kerusakan, bahkan dak sesuai spesifikasi. Hasil observasi salah satu proyek jalan PNPM di Kabupaten Kupang, yang dibangun di Kelurahan Manulai I (640 meter dengan biaya Rp. 360-an juta) dan Kelurahan Naibonat, dikatakan sebagai jalan rabat beton dibangun tahun 2011 dan 2010. Namun, betonnya sangat pis, membuat jalan tersebut rusak dalan jangka pendek. Hingga kini, mekanisme komplain dari masyarakat yang merasa dirugikan program ini dak ada. Mereka kebingungan mau lapor kemana. Banyak komplain masyarakat, namun mereka dak punya kekuatan untuk memperjuangkannya. Walaupun ada yang sudah dilaporkan, tapi seper nya terlupakan, akhirnya masyarakat memilih acuh.
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

159

II.3.3. Sis m Swakelola sebagai Jus fikasi Ke dakmampuan Negara Memenuhi Tanggung Jawabnya dan Pembebanan Masyarakat Secara kuan ta f, penerima manfaat PNPM sangat banyak karena intervensinya per kecamatan dengan beberapa desa didalamnya. Hingga tahun 2012 target daerah intervensi PNPM di NTT berjumlah 288 kecamatan, melipu 21 kebupaten/kota. Dalam realisasinya, sistem swakelola adalah ciri utama PNPM dalam mendorong pembangunan yang par sipa f. Sistem tersebut oleh sebagian masyarakat menjadi pendekatan yang seper nya dipaksakan, yaitu ke ka masyarakat dituntut memikirkan dan menanggung sebagian kewajiban yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara, seper penyediaan jalan, sekolah, Pustu, dll. “Kami sebenarnya sedikit keberatan untuk bersama membangun jalan desa. Bukannya kami dak mau, tetapi waktunya bersamaan kerja lainnya: pergi berkebun. Tapi karena ada himbauan dari pemerintah desa, sehingga kami harus pergi, kalau dak, maka kami dak boleh pakai jalan tersebut”. (Paulus, 45 tahun, petani Desa Praibokul, Sumba Timur). Membangun jalan, jembatan, dan berbagai prasarana, baik kesehatan maupun pendidikan sudah seharusnya dilakukan negara tanpa harus membebani rakyat. Masyarakat berkewajiban untuk menjaga sarana prasarana tersebut. Bantuan yang diberikan PNPM seolah-olah menggambarkan bahwa masyarakat di desa adalah peminta yang tak berdaya dan terus bergantung. Selama ini, masyarakat dituntut melakukan kewajiban se-

bagai warga negara, misalnya membayar pajak, tapi pelayanan dasar yang diberikan belum sepenuhnya menyentuh masyarakat desa. PNPM dengan program kemandirian yang menjadi gaung kesuksesan berharap mental ketergantungan masyarakat bisa hilang. Akan tetapi, sejalan dengan hal itu program pengurangan kemiskinan yang dijalankan cenderung fokus pada bantuan fisik dan upaya penyaluran bantuan sosial dibandingkan program-program penguatan kapasitas masyarakat untuk dapat mandiri dengan potensi yang ada. Masyarakat desa yang lemah posisi tawar dan akses terhadap pelayanan dasar, tentu saja menerima bantuan atas nama kesejahteraan dan pemberdayaan. Namun, disaat yang bersamaan, mereka disibukkan untuk bekerja mandiri memenuhi pelayanan dasar yang seharusnya diterima dari negara. Sementara, waktu untuk memikirkan hak-hak mereka atas kehidupan yang lebih layak di masa datang lewat akses berbagai sumber daya terlalaikan. Hal ini dibenarkan Mery Neken, 36 tahun, Kader Pasyandu dan petani di desa Bentuka, TTS, “Masyarakat secara swadaya membangun jalan atau Pustu karena itu untuk kepen ngan bersama, nan nya masyarakat yang bekerja akan diberikan uang sirih pinang, tetapi kadang-kadang banyak masyarakat yang dak mau kerja karena mereka dak setuju tanah mereka diambil untuk bangun jalan”. Mekanisme pencairan dana yang terlambat juga menjadi kendala, karena dalam waktu bersamaan (Oktober-Desember) merupakan jadwal masyarakat mempersiapkan kebun, ladang, sawah menyambut musim hujan. Biasanya, pencairan dana untuk keAudit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

160

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

161

camatan akan menunggu hasil musyawarah di semua desa selesai. Banyak yang mengeluh walaupun desa mereka sudah selesai lebih awal, namun harus menunggu desa lain, sehingga realisasi proyek juga terlambat dak sesuai jadwal masyarakat. “Pekerjaan PNPM membutuhkan gotong-royong, sehingga susah masyarakat bagi waktu kalau sudah mulai kerja kebun, kalau sudah begini, susah untuk menghimpun masyarakat gotong-royong”. (BN, 25 tahun,kepala dusun di salah satu desa di Kabupaten Kupang). Kerja masyarakat dalam proyek PNPM dihitung HOK se ap harinya, namun biasanya cair terlambat, sementara masyarakat dak bekerja di kebun karena berharap HOK untuk makan. “Menurut saya, PNPM harus memperbaiki sis m pencairan dana, karena dana dicairkan terlambat, padahal sudah selesai verifikasi. Pencairan dana terlambat membuat kami kesulitan untuk kerja. Seharusnya dana dicairkan ke desa sekitar bulan April-Mei, sehingga kami dapat kerja gotong-royong. Karena bulan begitu, rumput dan daun masih hijau, jadi kami dak perlu mencari makanan untuk ternak. Kalau bulan Agustus, daun dan rumput sudah kering, kami harus mencari daun untuk ternak. Sedangkan bulan September atau Oktober, kami sedang membersihkan kebun untuk ditanam. Ini dana cair pada bulan begitu, kapan kami kerja PNPM punya, kapan kami kerja kebun? Jadi, bulan begitu masyarakat sulit untuk gotong-royong”. (Fredik S., 52 tahun, petani Desa Oebelo). II.3.4. Mekanisme Kredit SPP Perempuan Desa dak Peka pada Kondisi

mengharuskan 25% pagu dana dialokasikan untuk pemberdayaan perempuan. Hasil sensus BPS NTT 2010 persentase perempuan yang bekerja pada sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, perburuan, dan perikanan 64,60%, dak jauh beda dengan lakilaki 64,78%. Sedangkan persentase perempuan yang bekerja pada sektor perdagangan, rumah makan, dan jasa akomodasi 0,79%, dibandingkan laki-laki 7,90%. Banyak lembaga keuangan serta beberapa program pemberdayaan yang menyediakan modal bagi masyarakat, khusus perempuan, tapi hingga kini belum ada yang betul-betul peka pada kondisi dan sumber daya perempuan desa, yang tersedia kebanyakan fokus kegiatan pada ekonomi produk f skala besar dan usaha agribisnis. “Untuk PNPM, kalau mau dapat pinjaman harus ada usaha seper kios, jual sayur. Saya dak mau pinjam, karena dak bisa kembalikan, apalagi dak biasa untuk berusaha. Kami butuh modal, tapi kalau ada usaha maka bisa kembalikan. Syaratnya dak susah, tapi kalau pas penagihan dak ada uang, maka kita yang sulit. Kami sebagai petani pas sulit karena pas dapat hasil baru bisa dijual, sehingga kalau pengembalian per bulan maka akan memberatkan. Kalau dak ada usaha maka sama saja, kalau buka kios dan semua ramai-ramai buka kios, siapa yang beli?” (Agnes Bete, 37 tahun, ibu rumah tangga, anggota Kelompok Tani Mu kuai, Desa Fatubaaf, Belu). Pendapat diatas diperkuat Sekertaris Desa Kadahang, Sumba Timur, Alens Jangkapeka, 42 tahun, “Di sini banyak sekali kelompok yang terbentuk untuk dapat bantuan maupun pinjaman. Sekitar delapan kelompok, dengan jumlah anggota satu kelompok 20
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Sebuah kebijakan yang properempuan ke ka PNPM 162
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

163

orang. Biasanya, pinjam hanya untuk beli kebutuhan makan saja, hanya pengembalianya harus lancar begitu. Kalau mereka pinjam untuk usaha produk f, untuk saya dak nampak. Kalau usaha kios, ada juga, tetapi modal pribadi. Usaha kios terlalu banyak sebagai syarat pinjaman, tetapi penduduk disini sekitar 600-an orang jiwa saja, jadi kalau semua yang berusaha jualan di desa ini, siapa yang beli, siapa yang jual?”. Petani kecil dengan modal dan teknologi terbatas, ak vitas pertaniannya sangat bergantung pada alam. Kondisi demikian berdampak pada hasil yang dak menjanjikan. Hal ini membuat program pemberdayaan memang memberikan pinjaman modal khusus perempuan, tetapi mekanisme yang digunakan dak disesuaikan dengan kemampuan pengembalian perempuan di desa yang kebanyakan petani. Mekanisme pengembalian modal dan bunga yang disepaka bersama, yakni se ap bulan dan akan mulai dikembalikan bulan berikut setelah meminjam. Terasa memberatkan, apalagi bagi petani, peternak yang masa perputaran modal menunggu waktu panen, antara 3-5 bulan. Mekanisme ini membuat masyarakat desa sering kebingungan, terutama di bulan pertama hingga ke ga, banyak dari mereka yang menyisihkan (20-25%) pinjaman modal untuk pengembalian awal. Hal ini disampaikan Kepala Desa Enonenotes, TTS, Moses Piter Faot, 50 tahun, “Bunga pinjaman PNPM ke kelompok agak rendah, hanya 1,5-2%, namun mekanisme pengembalian per bulan dak disesuaikan dengan waktu pendapatan perempuan petani. Pinjam bulan ini, bulan depan langsung setor tanpa memberikan kesempatan mengembang164
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

kan modal dulu. Apalagi di desa, orang-orangnya belum paham melakukan kegiatan dagang atau bisnis. Kebanyakan petani, kalau berikan tempo minimal ga bulan kan bagus, disesuaikan dengan waktu panen”. Mekanisme ini merupakan standar pengembalian yang digunakan untuk peminjaman di SPP, yang akan disepaka ke ka peminjaman dan disesuaikan dalam standar operasional peminjaman. Pengembalian biasanya berupa pokok+bunga+simpanan (akan dikembalikan setelah pinjaman dilunasi). Keberatan menyangkut mekanisme ini juga disampaikan Ibu Rensi N., 24 tahun, salah satu anggota kelompok SPP Desa Kuanheum dan petani rumput laut, “Pinjaman modal dari SPP di desa kami dipakai untuk usaha kios, beli ayam potong, beli babi, maupun untuk petani rumput laut. Metode pengembalian sangat memberatkan, terutama yang usaha babi maupun petani rumput laut. Mereka membutuhkan jangka waktu 3-5 bulan baru bisa kembali modal. Begitupun untuk petani rumput laut, membutuhkan sekitar ga bulan untuk bisa panen, terutama petani rumput laut yang dengan modal itu baru membeli tali untuk tanam rumput laut, membutuhkan waktu minimal ga bulan untuk modalnya bisa berputar dan mengembangkan usahanya”. II.3.5. Peluang Kredit SPP Hanya bagi Perempuan yang Bisa Memberikan Jaminan Pinjaman dan Pengembalian Ru n PNPM memberikan kebebasan seluasnya bagi perempuan untuk mengakses pinjaman asal menjadi anggota salah satu kelompok dan bisa mengembalikan
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

165

pinjaman sesuai jangka waktu yang disepaka . Dengan demikian, maka peluang itu hanya akan dijangkau oleh perempuan kelompok menengah ke atas dengan jaminan pengembalian ru n se ap bulannya. “Saya dapat informasi ada pinjaman untuk perempuan dari PNPM, ada lima kelompok didesa kami. Saya pinjam untuk usaha kios dengan bunga 1,3% X jumlah pinjaman. Kalau dak bisa kembalikan se ap bulan, maka ada denda, kalau dak maka jaminan akan disita. Kadang-kadang saya ambil uang gaji untuk menutup pinjaman jika belum ada uang. Syaratnya harus bisa kembalikan, terserah mau buat apa, yang pen ng pengembalian lancar. Uang itu kami pakai beli ternak, ada juga beli bibit sayur kemudian ditanam”. (Dolores Bitan, 46 tahun, guru dan ibu rumah tangga, anggota kelompok SPP “Moris Humalu”, Desa Fatubaaf, Belu). Mekanisme pinjaman dan pengembalian PNPM yang memberatkan membuat banyak yang memilih pinjam ke koperasi harian. Masyarakat merasa lebih ringan, karena se ap hari sedikit penyetorannya walaupun dengan bunga nggi, karena mereka dak bisa paskan se ap bulan ada pendapatan ru n. Koperasi harian menyediakan pinjaman hingga batas minimum (Rp. 50-100 ribu) yang bisa dijangkau semua kalangan. Pengembalian ap bulan yang ru n dirasa memberatkan, belum tentu pendapatan masyarakat petani menengah ke bawah bisa ru n sampai jumlah angsuran per bulan. Dengan kondisi ekonomi yang dak menentu, uang pinjaman dak hanya untuk usaha, tapi juga untuk konsumsi rumah tangga. “Saya pernah pinjam di PNPM, dua juta dengan pengembalian 200 ribu/bulan selama satu tahun. Usaha buka 166
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

kios, beli babi, ayam, kalau pengembalian se ap bulan dak mampu dari kios, saya usaha dari lain untuk angsuran. Sekarang sudah lunas. Kebanyakan ibu-ibu disini kalau ada uang dipakai untuk beli barang,Mas, yang kalau kesulitan uang kami gadai untuk beli bibit, pupuk, ataupun kebutuhan mendadak lainnya. Sangat menolong, karena jatuh tempo 3-4 bulan baru ditebus, kalau belum bisa tebus, bayar bunga saja”. (Tamar Faot, 32 Tahun, ibu rumah tangga dan petani Desa Enonenotes, TTS). Hal ini juga dipertegas Edmundus Nuk ta, 38 tahun, Kepala Desa Fatubaaf, Belu, yang membenarkan limit waktu pengembalian pinjaman PNPM singkat dan memberatkan perempuan, karena kebanyakan mereka hanya menanam sayur. “Ada juga yang dak berminat PNPM, karena takut dak bisa dikembalikan. Yang pinjam di PNPM juga harus yang punya modal awal, misalnya kalau mau pinjam ga juta, harus setor awal sebagai jaminan Rp. 300.000,-. Kalau pengambalian pinjaman lancar dalam enam bulan, baru jaminan itu dikembalikan”. (Reny Pakh-Mooy, 39 tahun, ibu rumah tangga dan petani garam Desa Oebelo, Kupang). SPP yang tujuan awalnya untuk menjangkau perempuan miskin di desa, seper nya menjadi pemberi kredit yang dak jauh beda dengan lembaga keuangan lainnya yang ekslusif bagi masyarakat miskin. Lanjutnya, “Banyak yang ingin pinjam, tapi karena harus punya modal awal, mereka lebih memilih pinjam di koperasi harian sebagai modal awal di rekening, kalau uang PNPM cair terlambat berar sebagian uang akan dipakai untuk tutup pinjaman pada koperasi lain. Harapan ke depan, pemerintah bisa bantu untuk pemberian
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

167

modal dengan bunga yang rendah. Ataupun jangan pakai bunga untuk perempuan yang usaha kecil. Keinginan usaha ada, tapi modal awal untuk bisa dapat bantuan pemerintah dak ada”. II.3.6. Pemberian Kredit Modal SPP Hanya untuk Kesuksesan Program tanpa Pendampingan Sesuai data di NTT, perempuan desa memiliki ngkat pendidikan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Hal ini juga berpengaruh pada kemampuan perempuan mengembangkan sumber dayanya tanpa pendampingan. Tantangan itu semakin kompleks dengan tuntutan memenuhi kebutuhan rumah tangga, apalagi ngkat krea vitas yang rendah dalam menciptakan alterna f pendapatan bagi rumah tangga. “Saya anggota kelompok tani, tapi belum pernah dapat bantuan modal. Hanya anggota yang pintar yang dapat, kami yang bodoh dak. Pernah dengar informasi dari teman kelompok, ada pinjaman untuk perempuan, tapi nama dak masuk dalam kelompok karena dak ada usaha dan jaminan. Saya juga takut kalau dak bisa kembalikan, jangan sampai kita akan masuk penjara”. (Modesta Basa, 33 tahun, anggota Kelompok Tani Taumer, Desa Fatubaaf, Belu). Terbatasnya alterna f pendapatan rumah tangga karena keterbatasan sumber daya dan kemampuan individu untuk mencari dan mendapatkan berbagai alterna f modal usaha. Petani umumnya punya lahan yang cukup, tetapi kekurangan modal untuk mengadakan bibit, pupuk, dan obat- obatan untuk penuhi lahan yang ada, sehingga hasil panen tetap sedikit. Pemahaman dan pengalaman perempuan desa yang terbatas dalam melakukan kegiatan dagang menun168
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

jukkan sangat sulit jika pemberian modal untuk usaha tanpa pendampingan. Kemampuan perencanaan usaha, menghitung laba-rugi, dan krea vitas jenis usaha sangat dibutuhkan, terutama yang memiliki ngkat pendidikan rendah dengan akses informasi terbatas. Hal ini ditegaskan Kepala Desa Fatubaaf, Belu, Edmundus Nuk ta, 38 tahun, yang mengharapkan ada pendampingan lanjutan setelah para ibu-ibu diberikan modal sehingga nan nya ada perubahan yang tampak dalam pengelolaan kredit tersebut. “Dengan pendidikan kami yang rendah, saya kadangkadang bingung untuk gunakan modal yang sudah ada, ke ka pinjam buat apa, belum ada perencanaan yang jelas sehingga bisa sulit membayar pinjaman nan . Apalagi waktu pengembalian yang sangat singkat. Kami ingin berusaha tapi kalah bersaing. Di desa saja kita dak bisa bersaing,apalagi kalau ke pasar yang penjualnya banyak”. (Martha Eklemis, 45 tahun, penjual kue dan petani Desa Oebelo, Kupang). II.3.7. Rasionalisasi Berbagai Pemotongan Pinjaman dan Fee yang Merugikan Masyarakat Dalam prinsip dasar PNPM, salah point dasar yang perlu dikembangkan adalah good governance, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari komitmen penguatan kelembagaan untuk pemberdayakan masyarakat. Dalam prak knya, masih banyak pihak yang menggunakan kesempatan itu untuk melakukan korupsi. Di beberapa tempat, keluhan datang dari perempuan anggota kelompok SPP. Mereka menyayangkan mekanisme yang diatur dalam pencairan pinjaman kelompok disertai potongan-potongan, dengan alasan administrasi. Potongan untuk adminAudit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

169

istrasi kecamatan dan lainnya demi memperlancar pencairan pinjaman. “Kami juga bingung, kenapa harus ada potongan ini dan itu. Waktu mau pencairan uang, petugas katakan setelah ambil di bank, yang dua juta harus dikembalikan ke kecamatan untuk urusan administrasi di kecamatan dan desa. Jadi kami ikut saja daripada dak dapat sama sekali” (DT, 50 tahun, Ketua Kelompok salah satu SPP). Sangat disayangkan, potongan-potongan itu diketahui fasilitator PNPM di kecamatan, dengan alasan prosedural, sehingga semua proses bisa lancar. Hal ini terpaksa dianggap wajar oleh kelompok SPP, karena ingin mendapatkan pinjaman. Kadang-kadang mereka protes, tapi dikarenakan pemahaman akan meknisme operasional yang kurang, hal itu diterima secara wajar. “Kami ingin bertanya, tetapi takut pinjaman akan dialihkan ke kelompok lain. Waktu itu jatah untuk kelompok kami 20 juta, dengan anggota lima orang, sehingga masing-masing akan terima empat juta. Tapi ada potongan dua ratus ribu ap orang untuk administrasi katanya”. (RN, 24 tahun,petani dan anggota kelompok SPP). Pemotongan juga terjadi di proyek infrastruktur yang seharusnya melibatkan masyarakat sebagai subjek pemberdayaan. Kepala Desa Oebelo dalam pernyataannya merasa dak setuju jika harus ada potongan 10% dari pemasok untuk pelaku PNPM seper TPK, BKM. “Hal ini membuat kadang-kadang suplyer kerja seenaknya dengan kualitas yang rendah. Tapi dak ada yang bisa mengontrol mereka, padahal yang dila h untuk menger RAB kan TPK sebagai pelaku yang akan mengawasi”. (Apeles Moon, 42 tahun). Rasionalisasi potongan yang dak sesuai 170
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

prinsip dan prosedur PNPM membuat masyarakat dirugikan, apalagi dengan mekanisme tender yang melibatkan pemasok yang dak paham prinsip kerja PNPM. “Saya pernah ikut pertemuan di kantor Camat Kupang Barat. Kami dapat informasi dari sekretaris camat, di Desa Lifuleo, desa tetangga kami. Pembangunan gedung PAUD dak sesuai dengan RAB yang ada. Pengadaan besi beton dan kayu oleh suplayer jauh berbeda dengan yang ada di RAB. Jadi kepala desanya lapor ke anggota DPR, dan anggota DPR itu marah-marah dan suruh segera perbaiki. Jadi masalahnya sudah selesai. Itu karena permainan suplayer”. (Bincer Neslaka, 25 tahun,Kepala Dusun V, Desa Kuanheum). Hingga saat ini, belum dibangun mekanisme komplain sebagai evaluasi masyarakat sebagai subjek pemberdayaan. Posisi tawar masyarakat sebagai pengambil kebijakan seakan dimentahkan dengan in midasi akan mengalihkan proyek ke daerah/desa lain. Berdasarkan informasi-informasi seper ini, membuat masyarakat dan aparat desa meningkatkan pengawasan dalam pembangunan infrastruktur di desa. Mereka juga mencari dan membangun jaringan dengan pihak luar yang diharapkan mampu memberikan kontrol, bahkan tekanan bagi para pelaku. III. REKOMENDASI III. 1. Masyarakat III.1.1. Perlu dipikirkan kembali tentang waktu pencairan dana dan realisasi kegiatan, sehingga dak terkesan terburu-buru, karena akhir tahun (OktoberDesember), yang akhirnya berdampak pada kontrol
Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

171

pengerjaan kegiatan yang dak maksimal dan dak adanya ak vitas pemberdayaan bagi masyarakat. III.1.2. Perbaikan sis m pencairan dana yang berkaitan dengan penyesuaian waktu masyarakat untuk bergotong-royong. Sebaiknya dana dicairkan ke desa, sekitar bulan April-Mei, karena di bulan-bulan tersebut merupakan waktu luang bagi petani untuk berkebun atau mempersiapkan ladang. III.1.3. Membuat skema kebijakan kredit mikro SPP yang sensi f pada siklus ak vitas perempuan petani yang kebanyakan pertanian berskala rumah tangga, sebagai bagian dari tanggung jawab sosial lembaga. III.1.4. Diperlukan kebijakan dan program pemberdayaan perempuan dengan memberikan kredit untuk tujuan nonusaha, yang melibatkan lembaga di masyarakat, seper lembaga agama, adat, dll. Mereplikasi model Grameen Bank ala Muhamad Yunus dalam rangka menjangkau perempuan kalangan bawah dengan tanpa bunga atau bunga sangat rendah, tetapi membangun sebuah sistem sosial dalam kelompok/ masyarakat. III.1.5. Mereplikasi mekanisme pengembalian modal ala pegadaian yang memberikan kelonggaran waktu bagi perempuan desa dalam mengembangkan modal (3-4 bulan tenggang waktu perputaran modal). Mekanisme ini bisa dijangkau perempuan dari seluruh lapisan masyarakat. Tanpa meragukan akvitas bertani sebagai jaminan pengembalian kredit modal.

III. 2. Aparat Desa III.2.1. Transparansi data dan anggaran yang melibatkan pemerintah desa dan kecamatan untuk mengintervensi dan mengawasi jalannya program, dan pencairan dana yang sesuai RAB dan realisasi di lapangan. III.2.2. Perubahan kebijakan berkaitan dengan alokasi dana untuk pemberdayaan masyarakat (pela han keterampilan hidup yang berkelanjutan) yang disesuaikan dengan potensi desa, seper pertanian, peternakan, perikanan, dan industri rumah tangga. III.2.3. Mela h aparat desa dan m independen masyarakat untuk bisa membaca RAB, dan cara penerapannya di lapangan. III.2.4. Dalam rangka menghindari tumpang ndih, realisasi ak vitas fisik perlu dibangun mekanisme koordinasi, komunikasi yang intensif antara FK, PPK, dan pemerintah desa. III.2.5. Perekrutan fasilitator PNPM, baik teknik maupun pemberdayaan yang memiliki jiwa sosial kemasyarakatan dan yang bisa membangun kerja sama berkelanjtan dengan masyarakat dalam rangka pemberdayaan. III.3. Tim Audit Sosial Perlu dibentuk sebuah m independen dari CSOs dan pemerintah untuk memantau dan mengevaluasi program PNPM di daerah. Tim ini yang akan menjadi mitra masyarakat dalam mengawasi dan mendukung ak vitas PNPM di desa/kelurahan sesuai prinsip dan nilai kerja PNPM.

172

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

173

Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri telah memiliki kontribusi yang kuat dalam pengadaan sarana dan prasarana, mendorong par sipasi warga dan memperkuat peranan aparat desa dalam perencanaan pembangunan. Hal–hal tersebut pen ng dan dak dapat dipandang remeh. Namun demikian, tujuan dan jangkauannya untuk mengangkat warga miskin ternyata belum dapat dikatakan efek f. Warga miskin menjadi miskin bukan hanya akibat miskinnya sarana dan prasarana, akan tetapi juga karena miskinnya asset dan kesempatan sosial seper pendidikan, pendapatan dan jaringan sosial.

ISBN 978-979-8811-05-0
INFID (Interna onal NGO Forum on Indonesian Development) Alamat: Jl. Ja Padang Raya Kav.3 No. 105 Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12540 - Indonesia Phone (62-21) 781 9734, 781 9735, 7884 0497 Fax (62-21) 7884 4703 E-mail: infid@infid.org www.infid.org

174

Audit Sosial PNPM Antara Retorika dan Realita

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->