P. 1
trembesi

trembesi

|Views: 62|Likes:
Published by Aries Ramadhan
trmbesi
trmbesi

More info:

Published by: Aries Ramadhan on Nov 26, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/13/2013

pdf

text

original

Join today to get your own Multiply site

Harmoni Alam
HomeBlogPhotosVideoCalendarReviewsLinks

Pancuran Mas Sumawur Ing Jagad Hujan Bagaikan Emas Turun ke Bumi

Oct 23, '09 8:27 PM for everyone

Judul yang saya tulis ini merupakan watak Mangsa Kalima dalam Pranatamangsa (silakan mengikuti tulisan saya mengenai Pranatamangsa di pedulialam.blogspot.com). Keadaan mangsa ini saya ceritakan sebagai berikut: "Hujan pertama menandai mangsa ini. Manusia pun mulai diliputi suka cita atas kesegaran air hujan yang turun dari langit seperti  pancuran emas. Mangsa ini berlangsung antara 13 Oktober sampai 8 November." Malam tadi, hujan yang cukup lebat turun di Kota Solo. Saya benar-benar merasakan bahwa ini berkah dari alam. Dua hari yang lalu, saya mengalami malam-malam yang tidak menyenangkan. Malam-malam itu terasa sangat panas sehingga orang tidak dapat tidur nyenyak. Hujan malam tadi memberikan kesegaran yang selama ini dinantikan. Setelah sekian lama saya berprihatin dengan alam karena musim kemarau panjang, hari ini saya mulai berharap akan datangnya hujan yang menyegarkan bumi. Memang ini baru awal. Masih ada kemungkinan hari-hari dilalui dengan panas, tetapi hujan ini memberikan harapan akan adanya air untuk hidup yang berkelanjutan. Melalui pengalaman malam tadi, saya menjadi mengerti bagaimana manusia bisa berprihatin dan bergembira bersama bumi. "Alam selalu bergerak dalam peredarannya. Dan manusia dengan rela bergerak terjun dan terlibat dalam siklus itu. Jatuh bangun, gembira dan bersedih, berputusasa dan berpengharapan bersama alam. Menjalani siklus bersama alam, manusia dibantu untuk merasakan apa itu kegembiraan, kesedihan, keputusasaan, dan pengharapan." Semoga hujan semalam memberi pengharapan akan hujan-hujan berikutnya yang membuat alam ini kembali dalam pembaruan.

sahabatlingkung an

0 commentsshare

Ayo Tanami Bantaran Kali

Feb 22, '09 8:44 PM for everyone

Krisis air menghadang kehidupan makhluk hidup di dunia.

Diperkirakan 40 sampai 50 tahun lagi akan terjadi krisis itu. Untuk mencegah krisis itu, satu-satunya jalan yang dapat dibuat adalah membuat benteng yang bisa menahan air untuk dikonsumsi oleh makhluk hidup. Pemerintah Kota Solo - yang diwakili oleh Walikota Joko Widodo menegaskan komitmennya untuk terlibat dalam mengatasi krisis air dan pemanasan global dengan menanami bantaran sungai Bengawan Solo. Ketika meresmikan Taman Sekartaji (Jumat, 20 Februari 2009), walikota memberikan kesungguhannya untuk terus melanjutkan gerakan penghijauan. Penghijauan yang sudah dilakukan di Taman Balekambang, kawasan Tirtonadi, dan Taman Sekartaji akan dilanjutkan di bantaran sungai sekitar Jebres, Pucangsawit, dan Kampung Sewu. Semoga kita terinspirasi melalui gerakan ini dan mulai menanam. Jika ada bantaran kali yang dapat dimanfaatkan, bicarakan dengan pengurus lingkungan setempat agar pemanfaatan tanah itu dapat sesuai dengan prosedur yang benar. Ini semua demi kehidupan kita sendiri di masa depan.

Kereta Api, Moda Transportasi Paling Ramah Lingkungan

Jul 10, '08 12:31 AM for everyone

“Naik kereta api tut tut tut... Siapa hendak turut... Ke Bandung Surabaya bolehlah naik dengan percuma... Ayo kawanku lekas naik... Keretaku tak berhenti lama...”

Siapa tidak kenal kereta api. Bahkan ada ramalan yang mengatakan akan adanya Pulau Jawa yang dikalungi wesi. Inilah rel kereta yang menghubungkan tempattempat di pelosok pulau Jawa. Kereta api di Indonesia sudah ada sejak tahun 1864. Ia pernah menjadi sarana transportasi yang sangat populer di mata masyarakat. Namun, keberadaanya tergeser oleh transportasi darat lain. Meskipun demikian, ia tetap menjadi sarana transportasi murah dan ternyata paling ramah lingkungan. Mengapa begitu? Mari kita baca kisahnya...

Beberapa Perhitungan Ada beberapa pihak yang telah menghitung

bagaimana kereta api dapat menjadi sarana transportasi yang ramahlingkungan.

“Coba kita ambil perbandingan antara kendaraan pribadi, kereta api, dan pesawat terbang untuk menempuh perjalanan Jakarta-Surabaya. Berdasarkan situs timeanddate, jarak Jakarta dengan Surabaya adalah 674 km. Sedangkan menurut City Distance adalah 668 km. Terima kasih buat informasinya ya mas ramadanz. Okelah, ambil jarak yang paling jauh, 674 km. Yak, kita mulai hitungannya! Pertama, kita pakai kendaraan pribadi dulu. Menurut asumsi Kompas, kendaraan pribadi memakan 1 liter bahan bakar untuk berjalan 10 km. Dengan perhitungan sederhana, untuk menempuh perjalanan Jakarta-Surabaya diperlukan 67,4 liter. Jika satu kendaraan diisi empat orang, maka satu orang akan membutuhkan konsumsi BBM 16,85 liter. Bila bahan bakar yang digunakan adalah bensin, yang massa jenisnya 737,22 kg/m³ (737,22 g/L). Maka satu orang memerlukan 12.422,157 gram bensin. Menurut tante wiki, bensin adalah campuran senyawa karbon yang jumlah karbonnya 5 sampai 12. Ambilah senyawa yang paling sederhana, pentana (C5H12). Maka jumlah mol bensin satu orang yang diperlukan itu 172,53 mol. Pembakaran yang sempurna akan menghasilkan karbon dioksida sebanyak 862,65 mol atau 20.703,6 liter dalam suhu ruang untuk satu orang saja. Duh, banyak banget! Sekarang, kalau pakai pesawat terbang gimana? Masih menurut Kompas tadi. Pesawat terbang butuh dua setengah ton avtur per jam terbang. Waktu tempuh Jakarta-Surabaya itu 1 jam 15 menit menurut Tempo. Jadi butuh 3.125 kg avtur. Ambil contoh pesawat Boeing 737-300 yang mampu mengangkut 148 penumpang. Maka satu orang butuh 21,115 kg bahan bakar itu. Di sini dibilang avtur itu campuran senyawa karbon dengan jumlah karbon 12 sampai 15. Ambil lagi yang paling sederhana, dodekana (C12H26) maka jumlah mol yang diperlukan satu orang adalah 124,21 mol avtur. Ini akan menghasilkan 1490,52 mol karbon dioksida atau sebanyak 35.772,48 liter per orang. Walah yang ini lebih banyak lagi! Lalu, bagaimana dengan kereta api? masih dari Kompas, lokomotif diesel jenis CC 201 atau CC 203 menghabiskan bahan bakar (solar, C12H23) 2 liter tiap kilometernya. Berarti Jakarta-Surabaya butuh 1348 liter solar. Ambil contoh KA Gumarang kelas bisnis, yang menarik 12 gerbong penumpang. Tiap gerbong bisa memuat 60 penumpang, jadi total 720 penumpang. Artinya satu orang cuma butuh 1,87 liter solar. Tante wiki tadi bilang massa jenis solar itu 850 g/L. Jadi satu orang butuh 1589,5 gram atau 9,5 mol solar. Artinya karbon dioksida yang dihasilkan 114 mol atau cuma 2736 liter tiap orang. Jauh lebih rendah dibanding kendaraan pribadi dan pesawat terbang.

Dengan naik kereta api, kita bisa membantu mengurangi polusi udara.”[1]

“Padahal kalau ditilik dari sisi lingkungan, kereta api adalah moda transportasi yang paling hemat, malah 10x lipat lebih hemat energi dari pesawat terbang. Kereta api bisa mengurangi lebih dari 70% bahan bakar yang diperlukan dan bisa mengurangi sampai 85% polusi dibandingkan pesawat terbang. Untuk jarak dekat, pesawat terbang jauh lebih boros, seperti untuk jarak Jakarta-Bandung.”[2] “Patut diakui, salah satu moda transportasi yang pantas dilirik adalah kereta api. Pasalnya dalam kondisi kesulitan BBM saat ini, angkutan kereta api memiliki sejumlah kelebihan dibanding moda angkutan lain. Seperti mampu mengangkut penumpang dalam jumlah besar, serta memiliki rasio konsumsi BBM per unit satuan angkutan yang amat rendah. Contohnya, operasional KRL Jakarta - Bogor untuk kepentingan angkutan komuter di sekitar Jakarta. Setiap hari dioperasikan 156 KRL dengan kapasitas angkut rata-rata 1.610 penumpang per KA. Bisa dibayangkan, berapa konsumsi BBM untuk operasi KRL tersebut? Karena energi yang digunakan adalah listrik, maka konsumsi BBM secara riil tidak ada. Berapa BBM yang bisa dihemat per hari? Tentunya tergantung asumsi dasar yang dipakai sebagai pembanding, sepeda motor, bus atau mobil pribadi. Contoh kedua adalah KA Batu Bara Rangkaian Panjang yang menarik 50 gerbong berisi 50 ton batubara dari Tanjungenim (Sumsel) ke Tarahan (Lampung). Berapa BBM yang dikonsumsi KA tersebut untuk memindahkan batubara sejauh 411 km itu? Dengan tipe Lokomotif yang digunakan, maka konsumsi BBM per lokomotif adalah 4 liter/km. Kalau KA Babaranjang yang mengangkut 2500 ton batubara itu ditarik dua lokomotif, maka konsumsi BBM yang diperlukan untuk itu = 2 lok x 4 liter x 411 km = 3.288 liter BBM. Bandingkan kalau diangkut dengan truk yang mengonsumsi BBM 1 liter/10 km. Untuk mengangkut 2.500 ton batubara diperlukan 5.000 truk x 411 x 1/10 liter = 205.500 liter BBM.”[3] “Menurut UIC, transportasi rel KA terbukti paling rendah emisi dan punya peluang mendukung kelangsungan mobilitas manusia dan barang. Apabila direncanakan dan dikelola secara efisien, segala lalu lintas pedesaan, perkotaan, antardaerah dan kawasan akan terjamin, serta orang tak perlu lagi berdebat soal penurunan atau perdagangan emisi.”[4] “Dari sudut apapun sebenarnya angkutan jenis KA lebih unggul dibandingkan dengan moda lainnya. Data yang

dilansir dari kantor berita Antara menyatakan angkutan KA lebih hemat bahan bakar dibandingkan jenis angkutan lain. KA dapat mengangkut penumpang hingga 1.500 orang dengan konsumsi BBM hanya 3 liter per km (0,002 liter per orang). Angkutan kapal laut dengan kapasitas angkut penumpang yang sama membutuhkan BBM 10 liter per km (0,006 liter per orang). Apalagi bila dibandingkan dengan bus, angkutan KA akan jauh lebih hemat lagi. Bus dengan kapasitas angkut penumpang 40 orang membutuhkan konsumsi BBM 0,5 liter per km (0,0125 liter per orang). Pesawat terbang jauh lebih boros karena dengan daya angkut penumpang 500 orang menghabiskan BBM 40 liter per km (0,08 liter per orang). Keunggulan tersebut masih ditambah dengan kapasitas angkut barang angkutan KA yang juga jauh lebih unggul. KA misalnya dapat mengangkut barang hingga 2000 ton dengan perjalanan sejauh 420 km. Kapasitas angkut dan jarak angkut tersebut hanya membutuhkan konsumsi BBM 2.940 liter. Sementara truk untuk mengangkut barang 2000 ton diperlukan 400 truk. Dengan kondisi tersebut pemerintah membutuhkan sarana transportasi darat karena jalan macet dan akan cepat rusak juga. Dengan demikian selain hemat energi, angkutan KA bisa menekan umur jalan darat lebih panjang. Selain itu bisa menekan tingkat kepadatan lalu lintas serta mengurangi biaya angkutan dan distribusi logistik. Dari sini saja sudah terlihat jelas multi keunggulan angkutan jenis KA. Keunggulan-keunggulan itu antara lain hemat energi, hemat lahan, ramah lingkungan dengan tingkat keselamatan penumpang yang tinggi. Tambahan lagi KA bisa mengangkut penumpang jauh lebih tinggi karena bersifat massal. Memang bukan omong kosong KA lebih irit BBM serta cocok dikembangkan karena Indonesia membutuhkan sarana transportasi massal yang nyaman.”[5]

Kondisi yang Memprihatinkan Meskipun kereta api merupakan transportasi yang murah, hemat energi, dan ramah lingkungan, tampaknya belum ada perhatian khusus dari pemerintah seperti yang tercatat berikut ini:

“Setelah beberapa hari saya merasa kesulitan untuk menulis, saya coba untuk menulis tentang kereta api. Sebagai seorang penggemar kereta api, sebenarnya saya agak kecewa dengan kereta api di kota saya, Kudus. Kenapa? yah, karena jalur rel kereta api yang melintasi kota saya, jurusan Semarang-Rembang, telah ditutup tahun 1985 yang lalu. Setelah mencari informasi ke sana sini, akhirnya saya dapat informasi

dari mulut ke mulut bahwa jalur itu ditutup karena letak rel yang berada di pinggir jalan sehingga membahayakan keamanan pengguna jalan raya. Ada pula yang mengatakan kereta api kalah bersaing dengan bus kala itu.”[6] “...dalam 5 tahun terakhir nasib kereta api di Tanah Air malah kian merana, tersisihkan oleh pengembangan moda transportasi lain, khususnya angkutan udara yang dalam era lima tahun terakhir seakan-akan menjadi "anak emas", sehingga terjadilah booming angkutan penerbangan tiket murah. Secara luar biasa angkutan penumpang lewat maskapai udara melonjak tajam hingga volume penumpang di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng menjadi yang tertinggi di dunia setelah Bandara Pudong Shanghai Cina. Pesatnya angkutan udara juga dibuktikan dari jumlah maskapai penerbangan yang semula cuma 10-an perusahaan kini meningkat menjadi 24 perusahaan. Meledaknya angkutan penumpang lewat pesawat udara itu serta merta membuat drop jumlah penumpang kereta api yang semula sangat dominan, terutama di hari Sabtu dan Minggu untuk segala jurusan kota besar di Jawa, seperti Jakarta-Surabaya, Jakarta-Malang, JakartaYogyakarta, Jakarta-Semarang dan Jakarta-Bandung. Akibat maraknya penerbangan tiket murah, KA-KA kondang yang semula jadi rebutan, seperti KA Argo menjadi kosong melompong, sehingga mulai tahun 2002 hingga 2005 praktis hanya KA-KA ekonomi dan KA Parahyangan Bandung-Jakarta saja yang masih penuh. Belakangan, setelah jalan tol Cipularang Tahap II dioperasikan yang menghubungkan Jakarta - Bandung, penumpang KA Parahyangan pun kian berkurang. ...aset kereta api tidak semakin membaik seirama dengan perjalanan waktu. Jalan KA yang pada tahun 1939 = 6.811 km, kini menyusut menjadi 4.030 km, karena sebagian jalan KA sudah tidak beroperasi lagi. Demikian juga jumlah stasiun KA sebagai basis pelayanan angkutan KA. Tahun 1955 terdapat 1.516 stasiun, tetapi sampai tahun 2004 menyusut menjadi 507 stasiun. Jumlah armada lokomotif juga demikian, tahun 1939 terdapat 1.314 lokomotif, tetapi tahun 2004 jumlahnya menyusut menjadi 530 buah.”[7] “Ambil contoh kasus pembangunan jalan tol Cipularang yang menghubungkan kota Jakarta ke Bandung. Sejak jalan tol tersebut beroperasi tingkat pendapatan PT KA turun. Pendapatan KA Parahyangan jurusan JakartaBandung menurun drastis. Negara donor yang sering diutangi pemerintah Indonesia seperti Jepang jelas senang dan bersedia membatu pembangunan jalan raya dan jalan bebas hambatan. Tujuannya agar produk mobil dan motornya terus meningkat penjualannya. Pengoperasian jalan tol Cipularang jelas surga bagi para pemilik kendaraan. Tetapi hal itu neraka bagi pengembangan transportasi KA dalam negeri. Ironisnya pemerintah seperti abai bahwa terjadi pemborosan

tiada tara. Pasalnya setiap akhir pekan pintu tol Cikampek selalu macet yang berarti pemborosan. Padahal transportasi KA Parahyangan jelas lebih murah dan hemat. Tak aneh minimnya perhatian pemerintah tersebut makin menyurutkan infrastruktur angkutan KA di Tanah Air. Sebut saja panjang rel KA pada 1939 tercatat mencapai 6811 km. Tetapi panjang rel itu susut menjadi 4030 km pada 2000 atau turun 41 persen selama lebih dari setengah abad. Begitu pula dengan sarana pendukungnya seperti jumlah stasiun pemberhentian KA. Pada 1955 jumlah stasiun mencapai 1516 buah. Dalam kurun waktu yang hampir sama jumlah itu susut menjadi tinggal 571 stasiun atau turun 62 persen. Menurut data Antara, jumlah lokomotif tahun 1939 sebanyak 1314 dan terus merosot jumlahnya menjadi 530 tahun 2000 atau turun 60 persen dalam 61 tahun. Sementara peran kereta api dalam angkutan penumpang juga kian memudar. Pada tahun 1955 penduduk Jawa dan Madura sebanyak 54,5 juta. KA waktu itu mengakut 137,5 juta atau 248 persen. Bandingkan dengan jumlah penduduk Jawa dan Madura tahun 2000 yang sebanyak 114,9 juta, KA hanya mengangkut 69,2 juta atau 60 persen!”[8]

Mestinya Kita Semua Sadar Isu lingkungan mengenai pemanasan global, krisis energi, dan kenaikan BBM hendaknya semakin menyadarkan kita untuk mengusahakan penghematan dan pengurangan emisi dalam keseharian. Mengadakan perjalanan dengan kereta api adalah sebuah pilihan yang dapat ditempuh. Kita boleh berbangga karena turut mengurangi emisi yang dilepaskan ke angkasa dengan menggunakan kereta api sebagai sarana perjalanan. Mestinya pemerintah pun sadar bahwa kereta api sesungguhnya menjadi transportasi andalan di banyak negara. Di sejumlah negara maju kebijakan pemerintahnya sangat memperhatikan kereta api. Di banyak negara transportasi darat terkena charge lebih mahal, sementara kereta api mendapat dukungan tarif yang lebih murah. Sarana kereta api juga diperbaiki agar tetap nyaman digunakan oleh para pengguna. Impian membangun subway yang nyaman di Indonesia tak mungkin dapat terlaksana sepanjang komitmen pemerintah masih setengah hati.

Dikumpulkan dari berbagai sumber di internet. Terima kasih kepada mereka yang telah menulis atas masukan berharga yang dapat membangkitkan kesadaran masyarakat untuk berperilaku

ramah lingkungan.

[1] http://ardianto.blogsome.com/2008/01/07/kereta-api-kendaraanramah-lingkungan/ [2] http://akuinginhijau.wordpress.com/2007/07/03/kereta-apipaling-hemat-dari-semua-moda-transportasi/ [3] http://www.suaramerdeka.com/harian/0509/22/opi3.htm [4] http://groups.yahoo.com/group/berita-lingkungan/message/1773 [5] http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=156985 [6] http://ardianto.blogsome.com/2008/01/07/kereta-api-kendaraanramah-lingkungan/ [7] http://www.suaramerdeka.com/harian/0509/22/opi3.htm [8] http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=156985

3 commentsshare

Teknik Penjernihan Air

May 27, '08 8:49 PM for everyone

Biji Kelor sebagai Penjernih Air Sungai
MESKIPUN berwarna coklat karena mengandung partikel-partikel tanah, lumpur bahkan unsur logam berat karena tercampur rembesan air limbah industri pabrik, air Sungai Mahakam hingga kini masih tetap menjadi kebanggaan warga Kalimantan Timur, khususnya Kota Samarinda dan Kutai Kartanegara. Berdasarkan kepercayaan dan sedikit dongeng, setiap orang Kalimantan Timur meyakini, siapa pun pendatang atau tamu yang berkunjung ke Kalimantan Timur dan pernah meminum air Sungai Mahakam, diyakini pasti akan kembali lagi ke daerah tersebut, bahkan menetap. Sungai sepanjang 920 Km yang menjadi salah satu sarana transportasi sungai terpenting di propinsi Kaltim itu tak pernah sepi dari lintasan kapal motor dan kapal kontainer, yang terkadang menumpahkan limbah oli sisa ke sungai. Masyarakat agaknya tak pernah peduli dengan warna airnya yang keruh, atau berwarna hitam ketika air sungai surut, terbukti pinggiran sungai tak pernah sepi dari aktivitas manusia yang datang dan pergi mandi, mencuci atau bahkan mengambil air dari sungai tersebut untuk dikonsumsi. Padahal masyarakat dapat memanfaatkan air sungai dengan lebih nyaman dan terjamin kebersihannya apabila mampu menerapkan hasil penelitian seorang dosen dari Fakultas Kehutanan (Fahutan)

Universitas Mulawarman (Samarinda) yang diadopsi dari Negara Sudan, dan kemudian dikembangkan di wilayah tersebut. Adalah Enos Tangke Arung, MP, dosen Fahutan Unmul yang menemukan biji kelor dan menyulapnya menjadi ''serbuk ajaib'' yang dapat mengubah air keruh dengan partikel tanah maupun unsur logam menjadi air bersih layak konsumsi, dan memenuhi standar baku mutu yang ditetapkan. Endapkan Partikel Logam Biji buah kelor (Moringan oleifera) mengandung zat aktifrhamnosyloxy-benzil-isothiocyanate, yang mampu mengadopsi dan menetralisir partikel-partikel lumpur serta logam yang terkandung dalam air limbah suspensi, dengan partikel kotoran melayang di dalam air. Penemuan yang telah dikembangkan sejak tahun 1986 di negeri Sudan untuk menjernihkan air dari anak Sungai Nil dan tampungan air hujan ini di masa datang dapat dikembangkan sebagai penjernih air Sungai Mahakam dan hasilnya dapat dimanfaatkan PDAM setempat. ''Serbuk biji buah kelor ternyata cukup ampuh menurunkan dan mengendapkan kandungan unsur logam berat yang cukup tinggi dalam air, sehingga air tersebut memenuhi standar baku air minum dan air bersih,'' katanya. Disebutkan, kandungan logam besi (Fe) dalam air Sungai Mahakam yang sebelumnya mencapai 3,23 mg/l, setelah dibersihkan dengan serbuk biji kelor menurun menjadi 0,13 mg/l, dan telah memenuhi standar baku mutu air minum, yaitu 0,3 mg/l dan standar baku mutu air bersih 1,0 mg/l. Sedangkan tembaga (Cu) yang semula 1,15 mg/I menjadi 0,12mg/l, telah memenuhi standar baku mutu air minum dan air bersih yang diperbolehkan, yaitu 1 mg/l, dan kandungan logam mangan (Mn) yang semula 0,24 mg/l menjadi 0,04 mg/l, telah memenuhi standar baku mutu air minum dan air bersih 0,1 mg/l dan 0,5 mg/l. Arang Namun apabila air tersebut dikonsumsi untuk diminum, aroma kelor yang khas masih terasa, oleh sebab itu, pada bak penampungan air harus ditambahkan arang yang dibungkus sedemikian rupa agar tidak bertebaran saat proses pengadukan. Arang berfungsi untuk menyerap aroma kelor tersebut. Selain itu, dari hasil uji sifat fisika kualitas air Sungai Mahakam dengan parameter kekeruhan yang semula mencapai 146 NTU, setelah dibersihkan dengan sebuk biji kelor menurun menjadi 7,75 NTU, atau memenuhi standar baku air bersih yang ditetapkan, yaitu 25NTU. Untuk parameter warna yang semula sebesar 233 Pt.Co menjadi 13,75 Pt.Co, atau telah memenuhi standar baku mutu air minum dan air bersih 15 Pt.Co dan 50 Pt.Co. Membuat Serbuk Cara memperoleh serbuk tersebut cukup sederhana, yaitu dengan menumbuk biji buah kelor yang sudah tua hingga halus, kemudian ditaburkan ke dalam air limbah, dengan perbandingan tiga sampailima miligram untuk satu liter air dan diaduk cepat. Dalam waktu 10 hingga 15 menit setelah pengadukan, partikel-partikel kotoran yan terdapat di dalam air akan menyatu dan mengendap, sehingga air menjadi jernih. Enos, yang juga kepala Laboratorium Pulp dan Kertas Fahutan Unmul mengatakan, pihaknya juga telah membuat ekstraktif kelor dengan konsentrasi lima persen, yaitu dengan merebus lima gram tepung biji kelor ke dalam 100 ml air hingga mendidih dan disaring.

''Air saringan kelor ini dapat digunakan untuk menjernihkan air, caranya dengan mencampur tiga hingga lima militer ekstrak biji kelor ke dalam satu liter air dan diaduk dengan cepat,'' katanya. Disebutkan, dalam satu polong buah kelor terdapat 10 hingga 15 biji kelor dengan berat masing-masing biji sebesar 2,5 gram tanpa kulit ari, dan dari 10 biji kelor dapat dibuat menjadi serbuk untuk menjernihkan air sebanyak 40 liter. Lebih Ekonomis Kepala laboratorium pengujian air PDAM Unit Cendana (Samarinda), Alimudin mengakui, cara tersebut lebih ekonomis dibanding menggunakan sistem penjernihan air dengan bahan baku tawas yang digunakan selama ini. Perbedaan penjernihan air dengan menggunakan tawas dan serbuk biji kelor adalah pada lamanya waktu pengendapan partikel setelah pengadukan, yaitu hanya lima menit, sedangkan dengan serbuk kelor mencapai 10 hingga 15 menit. Karena tawas jarang diproduksi di Kaltim, pihak PDAM Samarinda mendatangkan tawas dari luar daerah, yaitu dari Sulawesi (Manado) dan Kupang. Tawas tersebut dicampur dengan aluminium dan sulfat sebelum digunakan untuk menjernihkan air sungai. Menurut Enos Tangke, penggunaan serbuk biji kelor lebih ekonomis dibanding tawas, apalagi tanaman kelor dapat dibudidayakan di Kaltim, sementara daun dan buahnya yang masih muda pun dapat dimanfaatkan untuk bahan makanan. Enos yang juga dosen pengasuh mata kuliah Pengendalian Pencemaran menambahkan, tanaman kelor yang dikembangbiakkan dengan biji dan stek dapat tumbuh dengan cepat di daerah berair, sehingga dapat dimanfaatkan untuk dibudidayakan di sekitar daerah aliran sungai (DAS) Mahakam. ''Dalam tiga bulan pertama tumbuhan tersebut sudah cukup besar dan enam bulan kemudian sudah berbuah dan bisa dimanfaatkan bijinya,'' katanya. Oleh sebab itu, tambahnya, memanfaatkan kelor untuk menjernihkan air merupakan alternatif terbaik dan lebih ekonomis, efisien serta turut melestarikan lingkungan dengan membudidayakan tanaman tersebut di sekitar DAS.(Aspek-35)

Suara Merdeka, Senin, 1 Juli 2002

Penyaringan untuk Menjernihkan Air
1. PENDAHULUAN
Kebutuhan akan air bersih di daerah pedesaan dan pinggirankota untuk air minum, memasak , mencuci dan sebagiannya harus diperhatikan. Cara penjernihan air perlu diketahui karena semakin banyak sumber air yang tercemar limbah rumah tangga maupun limbah industri. Cara penjernihan air baik secara alami maupun kimiawi akan diuraikan dalam bab ini. Cara-cara yang disajikan dapat digunakan di desa karena bahan dan alatnya mudah didapat. Bahan-bahannya anatara lain batu, pasir, kerikil, arang tempurung kelapa, arang sekam padi, tanah liat, ijuk, kaporit, kapur, tawas, biji kelor dan lain-lain. URAIAN SINGKAT Cara penjernihan air ini sama dengan cara penyaringan I. Perbedaanya terletak pada penyusunan drum atau bak pengendapan dan bak penyaringan, serta susunan lapisan

2.

bahan penyaring.

3. BAHAN 1. 10 (sepuluh) kg arang 2. 10 (sepuluh) kg ijuk 3. pasir beton halus 4. batu kerikil 5. 2 (dua) buah kran 1 inci 6. batu dengan garis tengah 2-3 cm 4. PERALATAN 1. 1 (satu) buah bak penampungan 2. 1 (satu) buah drum bekas 5. PEMBUATAN 1. Sediakan sebuah bak atau kolam dengan kedalaman
1 meter sebagai bak penampungan. 2. Buat bak penyaringan dari drum bekas. Beri kran pada ketinggian 5 cm dari dasar bak. Isi dengan ijuk, pasir, ijuk tebal, pasir halus, arang tempurung kelapa, baru kerikil, dan batu-batu dengan garis tengah 2-3 cm (lihat Gambar). 6. PENGGUNAAN 1. Air sungai atau telaga dialirkan ke dalam bak penampungan, yang sebelumnya pada pintu masuk air diberi kawat kasa untuk menyaring kotoran. 2. Setelah bak pengendapan penuh air, lubang untuk mengalirkan air dibuka ke bak penyaringan air. 3. Kemudian kran yang terletak di bawah bak dibuka, selanjutnya beberapa menit kemudian air akan ke luar. Mula-mula air agak keruh, tetapi setelah beberapa waktu berselang air akan jernih. Agar air yang keluar tetap jernih, kran harus dibuka dengan aliran yang kecil. 7. PEMELIHARAAN 1. Ijuk dicuci bersih kemudian dipanaskan di matahari sampai kering 2. Pasir halus dicuci dengan air bersih di dalam ember, diaduk sehingga kotoran dapat dikeluarkan, kemudian dijemur sampai kering. 3. Batu kerikil diperoleh dari sisa ayakan pasir halus, kemudian dicuci bersih dan dijemur sampai kering. 4. Batu yang dibersihkan sampai bersih betul dari kotoran atau tanah yang melekat, kemudian dijemur. 8. KEUNTUNGAN 1. Air keruh yang digunakan bisa berasal dari mana saja misalnya : sungai, rawa, telaga, sawah dan sumur. 2. Cara ini berguna untuk desa yang jauh dari kota dan tempatnya terpencil. 9. KERUGIAN 1. Air tidak bisa dialirkan secara teratur, karena air dalam jumlah tertentu harus diendapkan dulu dan disaring melalui bak penyaringan. 2. Bahan penyaring harus sering diganti. 3. Air harus dimasak lebih dahulu sebelum diminum 10. DAFTAR PUSTAKA Water Purification. Joint Program Development

Centre,Institute of Technology Bandung and Indonesia Voluntary Workers Agency (BUTSI) of the Department of Manpower Trasmigration and Cooperatives, 1977. 11. INFORMASI LEBIH LANJUT 1. Pusat Penelitian dan Pengembangan Fisika Terapan – LIPI; Jl. Cisitu Sangkuriang No. 1 – Bandung 40134 - INDONESIA; Tel.+62 22 250 3052, 250 4826, 250 4832, 250 4833; Fax. +62 22 250 3050 2. Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan PDIILIPI; Sasana Widya Sarwono, Jl. Jend. Gatot Subroto 10 Jakarta12710, INDONESIA.

Sumber : Buku Panduan Air dan Sanitasi, Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan PDII-LIPI bekerjasama dengan Swiss Development Cooperation,Jakarta, 1991.

1 commentshare

Hutan Rakyat

May 27, '08 8:12 PM for everyone

Hutan Rakyat, Sarana Pelestarian Alam dan Penambah Pendapatan
Lahan kritis yang tidak produktif khususnya yang berada di luar kawasan hutan seperti padang alangalang, tanah-tanah terlantar, dimana sebagian hanya dimanfaatkan untuk usaha tani lahan kering, dalam praktek pengelolaannya masih belum memperhatikan aspek konservasi. Pada akhirnya apabila tidak ada perhatian, tanah tidak dapat berfungsi sebagai unsur produksi, media pengatur tata air dan perlindungan lingkungan. Salah satu cara untuk memelihara dan memulihkan lahan kritis tersebut adalah dengan jalan menanami jenis tanaman yang dapat melindungi tanah, memperbaiki kesuburan tanah dan meningkatkan penghasilan petani, yaitu melalui pembuatan hutan rakyat. Kebutuhan kayu sebagai bahan bangunan dan untuk bahan baku industri pada saat ini cenderung semakin meningkat, sedangkan pasokan kayu dari hutan alam (areal HPH) dirasakan tidak mencukupi, sehingga memberikan peluang yang besar pengembangan hutan rakyat. Dengan adanya peluang pasar bagi hasil Hutan Rakyat untuk menunjang kebutuhan bahan baku industri pengolahan kayu, maka usaha perhutanan rakyat merupakan peluang berusaha dan kesempatan kerja bagi masyarakat yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Hutan Rakyat dan Manfaatnya Hutan rakyat merupakan fenomena yang relatof baru untuk Indonesia. Oleh karena itu, dalam UU Pokok Kehutanan No. 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan Pokok Kehutanan, belum dimasukkan pemahaman mengenai hutan rakyat secara proporsional. Fenomena hutan rakyat ini muncul pada tahun 1970-an ketika pemerintah dengan bantuan dari Belanda dan FAO meluncurkan program penghijauan. Daerah yang semula tergolong daerah kritis menjadi daerah yang penuh hutan rakyat. Hutan rakyat adalah hutan buatan, melalui penanaman tanaman (tanaman keras) di lahan milik, baik secara perorangan, marga maupun kelompok. Berdasarkan pengertian yang dikemukakan, hutan rakyat mempunyai ciri khas:  Tidak merupakan lahan yang kompak, tapi terpencarpencar diantara lahan-lahan pedesaan.  Bentuk usahanya tidak selalu murni berupa kayukayuan, tetapi terpadu atau terkombinasikan dengan berbagai tanaman seperti perkebunan, rumput makanan ternak dan tanaman pangan.  Terdiri dari tanaman yang cepat tumbuh dan cepat memberikan hasil bagi pemiliknya. Berbeda dengan hutan alam atau hutan tanaman monokultur, hutan rakyat dikembangkan dengan budidaya manusia yang sangat intensif. Hutan Rakyat memiliki beberapa manfaat yang antara lain dapat disebutkan sebagai berikut: 1. Untuk meningkatkan pendapatan petani sekaligus meningkatkan kesejahteraan hidupnya 2. Manfaatnya secara maksimal dan lestari, lahan yang tidak produktif dan mengelolanya agar menjadi lahan yang subur 3. Meningkatkan produksi kayu bakar dalam mengatasi kekurangan bahan bakar, penyediaan kebutuhan kayu perkakas, bahan bangunan dan alat rumah tangga 4. Untuk penyediaan bahan baku industri pengolahan yang memerlukan bahan kayu, seperti pabrik kertas, pabrik korek api dan lain-lain 5. Menambah lapangan kerja bagi penduduk di pedesaan; 6. Membantu mempercepat usaha rehabilitasi lahan kritis dalam mewujudkan terbinanya lingkungan hidup sehat dan kelestarian sumberdaya alam Sasaran dan Lokasi Hutan Rakyat Hutan rakyat merupakan sebuah langkah untuk memanfaatkan lahan-lahan yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Lahan-lahan yang dapat dijadikan hutan rakyat antara lain adalah: 1. Lahan dengan kemiringan lereng lebih dari 50%, misalnya pada tebing-tebing yang curam untuk melindungi tanah dari bahaya longsor 2. Lahan yang tidak digarap lagi sebagi lahan tanam semusim

3. Lahan yang karena pertimbangan khusus, misalnya untuk perlindungan mata air 4. Lahan milik rakyat yang karena pertimbangan ekonomi lebih menguntungkan apabila dijadikan hutan rakyat dari pada tanaman semusim Pemilihan Jenis Tanaman Pemilihan tanaman untuk masing-masing daerah bisa berbeda tergantung pada situasi, kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat. Pembuatan hutan rakyat dapat dilaksanakan dengan sistem tumpangsari, yaitu menanam tanaman kayu-kayuan dicampur dengan tanaman semusim seperti padi, jagung, kedelai, kacang panjang dan lain-lain. Pemilihan jenis tanaman pokok disesuaikan dengan jenis tanah, iklim setempat dan peruntukan kayunya dengan penjelasan sebagai berikut: 1. Untuk Kayu Bakar Untuk kayu bakar biasanya dipilih jenis-jenis yang mempunyai persyaratan cepat tumbuh, menghasilkan trubusan (tunas baru) bila dipangkas dan mempunyai nilai kalori panas yang tinggi. Pembangunan hutan rakyat ini dikaitkan dengan penyediaan bahan bakar untuk industri perusahaan genteng, batu kapur dan pembuatan arang, jenisjenis yang dianjurkan untuk kayu bakar adalah: No 1 2 3 4 2. Jenis Tanaman Lamtorogung (Leucanea heucocephala) Akasia (Accacia auriculiformis) Kaliandra (Caliandra calothyrsus) Gamala (Glirisdae maculata) Kalori 4464 4907 4617 4548

Untuk Kayu Pertukangan Pemilihan jenis kayu untuk pertukangan dipilih jenis yang mempunyai nilai ekonomi, cepat tumbuh, berkualitas batang baik, produksinya tinggi dan pasarannya cukup baik, jenis-jenis yang dianjurkan adalah:  Sengon (Pareserianthes falcataria) mempunyai riap (pertambahan tumbuh) 37,4 M3/Ha/tahun dengan rotasi 5 tahun;  Mahoni (Swietenia macrophylla) mempunyai riap 16,7 M3/Ha/tahun dengan rotasi 10 tahun;  Sonokeling (Delbergia lafifolia) mempunyai riap 16 M3/Ha/tahun dengan rotasi 15 tahun;  Jati (Tectona grandis) mempunyai riap 7,9 – 10,9 M3/Ha/tahun dengan rotasi 60 tahun. Untuk Bahan Baku Industri Untuk penyediaan bahan baku industri misalnya untuk kertas, pulp atau pabrik korek api, pemilihan ini ditekankan pada nilai ekonomi,

3.

bersifat cepat tumbuh dalam berbagai kondisi lahan dan mempunyai riap tinggi. Jenis untuk bahan baku ini adalah:  Paraserianthes falcataria mempunyai riap 37,4 M3/Ha/tahun dengan rotasi 5 tahun;  Eucalypthus deglupta mempunyai riap 24,5 M3/Ha/tahun dengan rotasi 9 tahun;  Kayu Afrika/Kayu manis (Maesopsis emenii) mempunyai riap 13,34 M3/Ha/tahun dengan rotasi 15 tahun;  Damar (Agathis larantifolia) mempunyai riap 27,4 M3/Ha/tahun dengan rotasi 25 tahun;  Pinus (Pinus merkusii) mempunyai riap 19,9 M3/Ha/tahun dengan rotasi 15 tahun. 4. Untuk Tujuan Perbaikan Hydroorologi Pemilihan jenis dititikberatkan kepada jenis-jenis yang ideal dengan syarat-syarat:  Cepat tumbuh;  Bertajuk lebat dan dapat memberikan serasah yang banyak;  Dapat tumbuh di tempat-tempat yang lahannya kritis;  Mempunyai sistem perakaran yang dalam, melebar dan kuat, sehingga mampu mengikat tanah;  Mudah ditanam dan tidak memerlukan pemeliharaan;  Tahan terhadap hama penyakit;  Mampu memperbaiki tanah;  Berkemampuan menghasilkan trubusan (turunan baru) bila dipangkas. Jenis-jenis untuk tujuan hydroorologi:  Trembesi (Samanea saman)  Akasia (Acacia auriculiformis)  Mahoni (Swietenia marciophylla)  Puspa (Schima noronhae)  Asam (Tamarindus indica)  Turi (Sesbania grandiflora)  Kaliandra (Caliandra calothyrsus)  Beringin (Ficus benyamina) Untuk Tujuan Ekonomi dari Hasil Buahnya Pemilihan jenis ini bertujuan dapat dikonsumsi sendiri atau dijual buahnya. Jenisjenis antara lain: Duwet (Eugenia cuminia), Durian (Durio zibethinus), Nangka (Arthocapus integra), Kemiri (Aleurites moluccana), Jambu Air (Euginia aquatica) atau Kapuk Randu (Ceiba pentanora). Hutan Bersama Rakyat Management). Yogyakarta:

5.

Sumber: Hasanu Simon. Pengelolaan (Cooperative Forest

Pustaka Pelajar. 2008. Berbagai artikel hutan rakyat di internet.

Belajar dari Masyarakat Adat dalam Memelihara Hutan
Masyarakat adat merupakan komunitas yang menjunjung tinggi adat dan pranata sosial mereka. Namun, mereka sering menempati posisi sebagai korban perlakuan tidak adil. Istilah “masyarakat terasing”, “peladang berpindah”, “masyarakat rentan”, masyarakat primitif” dan sebagainya menjadi salah satu hal yang membuat mereka seakan-akan tidak maju dan harus dibuat beradab. Namun, kita – yang mungkin menganggap diri lebih beradab – perlu belajar dari mereka mengenai sikap terhadap alam lingkungan tempat tinggal. Hutan Adat dan Masyarakat Adat Hutan adat adalah kawasan hutan yang berada di dalam wilayah adat yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari siklus kehidupan komunitas adat penghuninya. Pada umumnya, komunitas-komunitas masyarakat adat penghuni hutan di Indonesia memandang bahwa manusia adalah bagian dari alam yang harus saling memelihara dan menjaga keseimbangan dan harmoni. Banyak studi yang membuktikan bahwa sebagian besar masyarakat adat di Indonesia masih memiliki kearifan adat dalam pengelolaan sumber daya alam. Sistem-sistem lokal ini berbeda satu sama lain yang berkembang dan berubah secara evolusioner sesuai kondisi sosial budaya dan tipe ekosistem setempat. Penelitian yang pernah dilakukan oleh Yayasan Sejati di empat provinsi (Kalimantan Timur, Maluku, Irian Jaya, dan Nusa Tenggara Timur) menunjukkan bahwa walaupun sistem-sistem lokal ini berbeda satu sama lain, masih ada beberapa prinsip kearifan adat yang masih dihormati. Menurut Nababan (1995), prinsip tersebut antara lain adalah: 1. Hidup selaras alam melalui ketaatan terhadap mekanisme ekosistem di mana manusia menjadi bagian dari ekosistem yang harus dijaga keseimbangannya 2. Adanya hak penguasaan atau kepemilikan bersama seluruh komunitas atas suatu kawasan hutan yang masih bersifat eksklusif sehingga mengikat semua warganya untuk menjaga dan mengamankannya dari kerusakan 3. Adanya sistem pengetahuan dan struktur kelembagaan adar yang memberikan kemampuan bagi komunitas untuk memecahkan secara bersama masalah yang mereka hadapi dalam pemanfaatan sumber daya hutan 4. Adanya sistem pembagian kerja dan penegakan hukum adat untuk mengamankan sumber daya milik bersama dari penggunaan berlebihan, baik oleh masyarakat

5.

sendiri maupun orang luar Adanya mekanisme pemerataan hasil panen sumber daya alam milik bersama yang bida meredam kecemburuan sosial di tengah masyarakat

Perkembangan Pengelolaan Hutan Sampai awal 1970-an, kearifan adat ini masih mendominasi sistem pengelolaan hutan di seluruh pelosok Nusantara, khususnya di luar Jawa. Masyarakat adat yang belum banyak diintervensi kebijakan pemerintah masih mengelola hutan adatnya dengan otonom untuk menjamin keberlangsungan hidup mereka seharihari. Perubahan drastis mulai terjadi di awal 1970-an ketika pemerintah mengeluarkan penebangan hutan komersial dengan sistem konsesi Hak Pengusahaan Hutan (HPH). Sampai bulan Juli 2000, Departemen Kehutanan dan Perkebunan mencatat ada 652 HPH dengan luas keseluruhan 69,4 juta hektar. Sebagian besar kawasan hutan yang dikonsesikan oleh pemerintah kepada perusahaan swasta dan BUMN ini berada di wilayah adat. Berdasarkan penafsian citra landsat HPH periode April 1997 – Januari 2000, dari 320 HPH aktif yang luas areal konsesi keseluruhannya 41,2 juta hektar, diidentifikasi bahwa ada 28 % - sekitar 11,7 juta hektar – yang rusak atau menjadi tanah kosong atau lahan pertanian. Pemetaan hutan yang dilakukan oleh pemerintah dengan bantuan Bank Dunia pada tahun 1999 menyatakan bahwa laju deforestasi selama periode 1986-1997 sekitar 1,7 hektar per tahun. Selama periode itu, kerusakan yang paling parah terjadi di Sumatera karena harus kehilangan 30 % wilayah hutannya. Belajar dari Masyarakat Adat Sudah banyak sekali dana dan bantuan teknis untuk menghentikan pengrusakan massif dan ancaman kepunahan hutan tropis, tetapi dapat dikatakan hampir semuanya gagal. Tampaknya, solusi terhadap persoalan kehutanan di Indonesia adalah kearifan adat. Kearifan adat yang berbasis komunitas ini merupakan nilai yang sangat potensial untuk dikembangkan, direvitalisasi, diperkuat, dan dikembangkan sebagai landasan baru menuju perubahan kebijakan pngelolaan sumber daya alam. Masyarakat adapat sudah terbukti mampu menjaga kehidupan dan keselamatan mereka sendiri sekaligus menyangga lingkungan sosial-ekologis alam untuk kebutuhan seluruh makhluk. Pranata sosial yang bersahabat dengan alam membuat masyarakat adat memiliki kemampuan yang memadai untuk melakukan rehabilitasi dan memulihkan kerusakan hutan di arealareal bekas konsesi HPH dan lahan-lahan kritis dengan pohon-pohon jenis asli komersial. Dengan pengayaan terhadap pranata adat untuk pencapaian tujuan

ekonomis, komunitas adat mampu mengelola usaha ekonomi komersial yang berbasis sumber daya hutan yang ada di wilayah adatnya. Dari pemaparan di atas, tampaklah usaha-usaha yang dilakukan masyarakat adat untuk memelihara hutan. Kita perlu belajar dari sana untuk memelihara alam ciptaan. Maukah kita berubah? Semuanya terserah pada keputusan kita... Sumber: Bestari Raden dan Abdon Nababan. “Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat Adat: Antara Konsep dan Realitas”. Makalah dalam Kongres Kehutanan Indonesia III, 25-28 Oktober 2001.

Para Penyerap Karbondioksida
Klorofil dapat diibaratkan pabrik roti; karbondioksida tepungnya; dan sinar matahari gas elpijinya. Karbiondioksida diubah menjadi glukosa setelah bertemu air. Banyaknya karbondioksida yang diserap tanaman dalam proses fotosintesis sangat ditentukan oleh mutu klorofil. Faktor yang Mempengaruhi Indikasi daun yang mutu klorofilnya bagus – menurut Yos Sutiyoso, pakar tanaman Trubus – tampak hijau gelap. Inti korofil berupa magnesium. Jika kekurangan magnesium, daun berubah menjadi kuning. Daya serap karbondioksida dipengaruhi luas daun secara keseluruhan. Fase pertumbuhan tanaman juga mempengaruhi daya serap karbondioksida. Menurut Endes N. Dahlan, dosen Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, pohon yang berbunga dan berbuah memiliki laju fotosintesis lebih tinggi. Selain itu, Endes juga mengatakan bahwa umur daun juga mempengaruhi banyaknya serapan karbondioksida. Suhu udara dan matahari juga berpengaruh secara langsung. Ketika intensitas sinar matahari rendah, infra merah yang dibutuhkan dalam proses asimilasi pun terbatas. Proses itu berlangsung optimal jika suhu mencapai 27o C. Yang tak dapat diabaikan adalah air tanah. Jika kekurangan air, translokasi air dari akar ke daun pun terhambat sehingga stomata mengecil bahkan menutup. Jika demikian, karbondioksida tak dapat masuk ke jaringan dun. Padahal, ia adalah bahan utama proses fotosintesis. Dengan demikian, mestinya pohon-pohon penghijauan tidak dapat dibiarkan begitu saja tanpa pemupukan dan penyiraman. Trembesi, Sang Juara Selama dua tahun terakhir ini, Endes N. Dahlan meriset kemampuan bermacam pohon dalam menyerap

karbondioksida. Penelitian itu memberikan hasil bahwa trembesi alias munggur (Samanea saman) terbukti menyerap paling banyak karbondioksida. Dalam setahun, tanaman yang dibawa dari Semenanjung Yucatan, Mexico itu menyerap 28.488,39 kg karbondioksida. Trembesi pun direkomendasikan untuk ditanam pada daerah berpolutan tinggi. Namun, harus dipertimbangkan agar penanamannya jauh dari bangunan karena akar pohon dapat menjebol bangunan. Namun, Endes menyarankan untuk memilih pohon penghijauan sesuai dengan karakteristik daerahnya. Ia menyebutkan beberapa contoh. Di Cilegon yang udaranya mengandung debu besi, sangat cocok ditanami pohon waru (Hibiscus sp) karena pohon itu mampu menyerap 3 kg besi setahun. Di daerah yang kerap tergenang dan kita ingin air cepat surut, sengon (Albisia falcata) menjadi pilihan yang sangat tepat karena evaporasinya sangat tinggi. “Jadi, kita harus tahu tujuan menanam pohon,” tambah Endes. Para Penyerap Karbondioksida Berikut ini, akan diberikan tabel mengenai pohon yang dapat menyerap karbondioksida.
No Nama Lokal Nama Ilmiah

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26

Trembesi Cassia Kenanga Pingku Beringin Krey payung Matoa Mahoni Saga Bungur Jati Nangka Johar Sirsak Puspa Akasia Flamboyan Sawo kecik Tanjung Bunga merak Sempur Khaya Merbau pantai Akasia Angsana Asam kranji

Samanea saman Cassia sp Canangium odoratum Dyxoxylum excelsum Ficus benyamina Fellicium decipiens Pometia pinnata Swettiana mahagoni Adenanthera pavoniana Lagerstroemia speciosa Tectona grandis Arthocarpus heterophyllus Cassia grandis Annona muricata Schima wallichii Acacia auriculiformis Delonix regia Maniilkara kauki Mimusops elengi Caesalpinia pulcherrima Dilenia retusa Khaya anthotheca Intsia bijuga Acacia mangium Pterocarpus indicus Pithecelobium dulce

Daya serap per pohon (kg/tahun) 28.488,39 5.295,47 756,59 720,49 535,90 404,83 329,76 295,73 221,18 160,14 135,27 126,51 116,25 75,29 63,31 48,68 42,20 36,19 34,29 30,95 24,24 21,90 19,25 15,19 11,12 8,48

27 28 29 30 31

Saputangan Dadap merah Rambutan Asam Kempas

Maniltoa grandiflora Erythrina cristagalli Nephelium lappaceum Tamarindus indica Coompasia excelsa

8,26 4,55 2,19 1,49 0,20

Pohon-pohon dalam tabel ini adalah para jagoan penyerap karbondioksida. Sekarang, tinggal bagaimana kita mau bermitra dengan mereka untuk menyelamatkan bumi. Mereka siap membantu jika kita mau berbuat. Sumber: Sardi Duryatmo. “Para Jagoan Serap Karbondioksida” dalamTRUBUS 459. Februari 2008. _____. “Pabrik di Sehelai Daun” dalam TRUBUS 459. Februari 2008. Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi: Paulus Widyawan Widhiasta Kelompok Pemerhati Lingkungan Jl. Wijayakusuma no. 9 Kalitan Solo 57141 HP. 0819 311 979 26

7 commentsshare

Use Your Own Shopping Bag!

Feb 13, '08 9:08 PM for everyone

Ingat berapa kali Anda membuang sampah hari ini??? Mungkin Anda tidak pernah menghitung berapa kali dan sampah jenis apa saja yang masuk dalam keranjang sampah kita. Baik di rumah (plastik kemasan makanan, limbah dapur - kulit buah, batang sayur, kerak telur dll), di kantor (kertas – yang kalau kita tengok akan membuat kita terkejut berapa banyak pohon yang sudah ditebang untuk memenuhi kebutuhan kertas kantoran), ataupun di mana saja kita hidup dan menikmati sesuatu kita pasti berhubungan dengan sampah. Dewi Lestari pernah menulis tentang perjalanan sampul plastik kemasan buku yang dibelinya lewat internet. Begitu jauh perjalanan yang ditempuhnya dan berujung di tempat sampah. Begitu penasaran dia kemana sampah plastik tersebut akan berhenti dan hilang membuat dia terkejut ketika mengetahui bahwa sampah plastik hanya

bisa terurai oleh alam setelah puluhan tahun. Dari sana dia akhirnya memulai aksi, yaitu dengan

memaksa dirinya sendiri untuk meminimalkan penggunaan plastik dan mengurangi pembelian pakaian. Aksi tersebut dia tujukan untuk menyelamatkan bumi. Mengurangi plastic, untuk dengan plastik ketergantungan ingin 25 x bumi 30 kita dari cm ini terhadap satu sampah dapat jalan penggunaan kecil Tas

kami

menawarkan

langkah

menyelamatkan ukuran ketika Anda

plastic. membeli

menggantikan suatu

berjalan

barang kecil dan tidak terlalu berat. Kami menawarkan tas tersebut hanya dengan harga Rp. 12.500,- (belum termasuk ongkos kirim). Ada bebarapa macam model yang dibuat dan kami menerima pesanan dalam jumlah besar untuk keperluan seminar dsb (tentunya dengan harga nego :D )

4 commentsshare

© 2010 Multiply About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · Translate · API · Contact · Help

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->