BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Prestasi atlet diberbagai cabang olahraga dapat diraih melalui latihan yang teratur, peningkatan sarana prasarana pendukung, serta peningkatan pelatih yang berkualitas dan berpengalaman. Prestasi dan kualitas atlet diberbagai cabang olahraga harus ditingkatkan, agar tidak mengalami penurunan. Saat ini saja, prestasi Indonesia baik di tingkat nasional maupun internasional mengalami penurunan. Contohnya saja dalam tradisi meraih emas Olimpiade Indonesia yang sudah dimulai sejak tahun 1992 harus terhenti di ajang Olimpiade London. Bulutangkis yang selama ini menjadi tumpuan meraih medali emas tidak menempatkan satu wakilpun di babak final. Terhentinya tradisi emas di cabang bulutangkis masih ditambah perilaku tidak etis dan mencederai sportifitas yang ditunjukkan para atlitnya. Ganda putri Indonesia Greysia Polii dan Meliana Jauhari harus angkat koper setelah main sabun dengan ganda Korea Selatan. Selain ganda Indonesia 6 pemain lainnya adalah ganda Korea Selatan Ha Jungeun/Kim Min-jung dan Kim Ha-na/Jung Kyung-eun dan ganda China u Yang/Wang Xiaoli. Federasi Badminton Dunia (BWF) memutuskan bahwa kedelapan atlet badminton, yang merupakan pemain ganda puteri dari Tiongkok, Korea Selatan dan Indonesia melanggar tata tertib untuk “tidak menggunakan salah satu upaya terbaik seseorang guna memenangkan pertandingan” dan “berperilaku dalam cara yang jelas-jelas merugikan pertandingan olahraga itu”. Tidak hanya bulutangkis, atlet cabang lainnya juga semakin menurun prestasinya, seperti sepakbola, bola voli, basket, serta olahraga lainnya. Seharusnya hal ini dapat menjadikan suatu pngalaman berharga supaya tidak ada lagi prestasi atlet yang mengecewakan.

1

Bagaimana cara meningkatkan prestasi atlet? 3. Apakah yang dimaksud olahraga? 2.1. 1. 1. makalah ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan: 1. Pengertian olahraga. 3. Tahapan peningkatan prestasi atlet.3 Tujuan Makalah Sejalan dengan rumusan masalah diatas. penulis merumuskan rumusan masalah sebagai berikut. Proses pemilihan atlet. 2 .2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas.4 Tujuan dan Manfaat Makalah Tujuan dan manfaat ini bertujuan penelitian untuk: • • • Untuk mengetahui prestasi olahraga Untuk mengetahui bagaimana motivasi atlet dalam meraih prestasi. Bagaimana proses pemilihan atlet? 1. 2. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh sarana dan prasarana terhadap prestasi atlet.

Berikut ini adalah pengertian dan definisi olahraga: a. baik secara jasmani maupun rohani d. Si Olahraga adalah suatu kegiatan untuk melatih tubuh kita agar badan terasa sehat dan kuat. JESSICA DOLLAND Olahraga adalah pereda stress yang sangat baik. Dengan kata lain. masyarakat adil dan makmur. Olahraga dapat mengalihkan pikiran dari kekhawatiran dengan cara meredakan ketegangan otot tubuh 3 .BAB II PEMBAHASAN 2. SURYANTO RUKMONO. yaiut: Negara Kesatuan RI yang kuat. Olahraga juga merupakan salah satu metode penting untuk mereduksi stress. Olahraga juga merupakan suatu perilaku aktif yang menggiatkan metabolisme dan mempengaruhi fungsi kelenjar di dalam tubuh untuk memproduksi sistem kekebalan tubuh dalam upaya mempertahankan tubuh dari gangguan penyakit serta stress. Olahraga adalah alat untuk melaksanakan ampera (amanat penderitaan rakyat) c. sangat dianjurkan kepada setiap orang untuk melakukan kegiatan olahraga secara rutin dan tersetruktur dengan baik.1 Definisi Olahraga Olahraga merupakan aktivitas yang sangat penting untuk mempertahankan kebugaran seseorang. SOEKARNO Olahraga adalah alat untuk melaksanakan tiga tujuan revolusi Indonesia. Oleh karena itu. dan tata dunia baru. SENO GUMIRA AJIDARMA Olahraga adalah sarana kompetisi untuk menjadi nomer satu e. TIM GURU EDUKA Olahraga adalah suatu kegiatan yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh kita b. S.

“Di negara yang kerap meraih langganan juara telah lama menggunakan metodologi kepelatihan maupun unsur pendukung yang berbasis iptek. Hal ini sebenarnya bisa dicontoh oleh Indonesia untuk mendongkrak prestasi pada cabang lari cepat 100 meter perorangan. salah satunya adalah psikologi olahraga. faktor psikologis atlet juga berpengaruh terhadap pencapaian prestasi. HANS TANDRA Olahraga adalah gerakan tubuh yang berirama dan teratur untuk memperbaiki dan meningkatkan kebugaran i.2 Cara Meningkatkan Prestasi Atlet Peringkat prestasi olahraga di Indonesia khususnya pada cabang atletik mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Pengajar di Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menjelaskan. KATHRYN MARSDEN Olahraga adalah pengusir stress terbaik yang pernah ditemukan g. Selain kesiapan fisik. Namun. pelari cepat perorangan Indonesia dapat lolos ke semi final. 2.” jelasnya saat melaksanakan ujian terbuka program doktor di 4 . pada tahun-tahun berikutnya tidak ada satu pun catatan prestasi yang diraih. CHATLES C.f. Miftakhul Jannah. terdapat sejumlah faktor yang mempengaruhi pencapaian prestasi dalam bidang olahraga. pengusaan teknik. Sepanjang catatan sejarah Olimpiade dan kejuaraan dunia atletik. MANZ Olahraga adalah sesuatu yang harus menjadi prioritas dan dijadwalkan tapi tetap realistis h. dan penerapan taktik yang tepat. SHETHA DARGAZELLI Olahraga adalah minyak yang membuat gerakan tubuh bergerak secara fleksibel dan mudah. hanya pada tahun 1988.

Atlet yang memiliki kepercayaan diri akan lebih berkonsentrasi terhadap tugas gerak yang harus dilakukan. Kepercayaan Diri. Miftakhul mengambil sampel 51 orang atlet lari 100 meter perorangan yang mengikuti POMNAS XII tahun 2011. pemerintah perlu menjalankan sejumlah program pengelolaan atlet berbasis faktor psikologis yang terintegrasi. guna meningkatkan prestasi atlet lari Indonesia. goal setting turut mempengaruhi capaian prestasi seorang atlet. Melalui proses kognitif. “Atlet yang memiliki regulasi emosi tinggi akan lebih konsentrasi terhadap tugas gerak yang harus dilakukan sehingga mempercepat waktu tempuh yang diraih. dan Resistensi Terhadap Prestasi Pelari Cepat 100 Meter Perorangan. konsentrasi. Di antaranya melalui penggunaan faktor psikologis sebagai konstruk alat ukur untuk mengidentifikasi kemampuan atlet. dan evaluasi penguasaan faktor psikologis. Ia menyarankan.” Dalam penelitiannya. asupan nutrisi.” ujarnya. melengkapi faktor fisik di awal intensifikasi latihan.” paparnya. Efektivitas gerak yang dilakukan akan meningkatkan efisiensi waktu dalam kompetisi. Kemampuan Goal Setting. pengelompokan atlet berdasar faktor psikologis. “Program pembinaan atlet pelari cepat berbasis aspek psikologis seperti pelatihan regulasi emosi perlu dilakukan untuk melengkapi latihan fisik. agar prestasi pelari cepat lebih optimal. Kamis (14/6) dengan judul “Peran Konsentrasi.Fakultas Psikologi UGM. Begitu pula atlet yang menetapkan goal setting dalam dirinya akan terdorong untuk presisten dalam berlatih untuk meraih prestasi. pemantauan saat latihan. Temuan lain juga memperlihatkan bahwa kepercayaan diri. atlet meregulasi stimulasi emosi yang diterima dan memilih strategi yang tepat untuk melakukan tugas geraknya secara efektif. Regulasi Emosi. 5 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek psikologis berupa regulasi emosi memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap pencapaian prestasi atlet.

The Camper: Atlet tipe ini telah melakukan pendakian cukup jauh dan cukup tinggi. 2. 2000): 1. dan dengan analogi tersebut atlet dapat dklasifikasikan ke dalam tiga kelompok (Stolz. derita dan kekecewaan yang pernah dialami oleh orang yang berhasil tidak berbeda dengan mereka yang menyerah dan membenamkan diri dalam penyesalan dan kegagalan. atlet sering dihadapkan pada rintangan dan kesulitan. Lebih dari itu. The Climber : Atlet tipe ini sepanjang hidupnya selalu merasa tertantang untuk mendaki puncak yang lebih tinggi. Inilah tipe orang yang memiliki AQ tinggi. Rintangan dan kesulitan dapat berasal dari lingkungan maupun dari dalam diri sendiri. dan terjadi sewaktu latihan maupun pertandingan. kekalahan. ia selalu meneruskan pendakian sepanjang hayat. Jika direnungkan. Perbedaannya. Lopez yang dikutip oleh William ( 2002 ) mengatakan bahwa suatu hal yang selalu dimiliki oleh para juara adalah harga diri yang tinggi. Ia menolak tantangan pendakian ke puncak gunung. Tidak peduli latar belakang kehidupannya. turun dan pulang tidak melanjutkan pendakian.Dalam perjalanan menempuh karier. kelompok yang satu selalu cepat menyerah karena kegagalan. Sesungguhnya kegagalan dan kekalahan atlet dalam bertanding adalah juga pelajaran untuk berhasil. nasibnya. atlet tipe ini tanpa ragu akan berhenti. atau keberuntungannya. dan 6 . Idealnya seorang atlet harus merespon kesulitan seperti seorang Climber untuk sampai pada puncak prestasinya. namun ia berhenti (berkemah) sebelum mencapai puncak karena sudah puas dengan prestasi yang telah dicapainya. kegagalan. Orang-orang unggul adalah mereka yang terdorong untuk menunjukkan pada dunia dan membuktikan kehebatan dirinya. 3. sedangkan kelompok yang lain belajar dan memetik hikmah dari kegagalan (La Rose. The Quitter: Setelah mengalami kesulitan dan tantangan dalam mendaki. dan itu berlaku dalam setiap segi kehidupan. kesukaran. Schwartz (1996) mengatakan bahwa tidak mungkin untuk mencapai keberhasilan yang besar tanpa menjumpai perlawanan. Perjalanan menuju puncak sukses dapat dianalogikan dengan sebuah pendakian.1996).

kecerdasan. Seseorang yang tidak mengenal sakit dan kesulitan. Rahasia sukses adalah kerja keras.kemunduran. yang banyak adalah mereka yang berhenti sebelum mencapai keberhasilan. dan dunia membungkuk takzim kepada segelintir orang yang menyumbangkan 100 % kemampuannya. kebanyakan orang mengeluarkan 25 % energi dari kemampuannya dalam bekerja. Akan tetapi adalah mungkin untuk mengalami hidup selebihnya tanpa kekalahan. Jordan sebagai atlet elite dalam cabang olahraga Bola Basket mengatakan bahwa sukses bukan sesuatu yang dikejar. perencanaan. Edison yang dikutip oleh Stoltz (2002) mengatakan bahwa sibuk tidak identik dengan bekerja efektif. Sebenarnya tidak ada orang yang gagal. Hal ini tidak selalu membawa kita ke puncak prestasi. Dalam dunia kerja. Senada dengan hal tersebut Dryden (2001) mengatakan bahwa kebanyakan orang gagal adalah yang tidak menyadari betapa dekatnya mereka ke 7 . Rousseau yang dikutip oleh Agus (2001) mengatakan bahwa jika tubuh banyak berada dalam kemudahan dan kesenangan. tetapi pasti membawa kita sangat dekat dengan kesuksesan. Dunia angkat topi bagi mereka yang mengerahkan kemampuannya lebih dari 50 %. Jordan lebih menekankan pada proses untuk mengerahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya (Williams. 2002 ). Secara ekstrim. Sukses mungkin menghampiri kita ketika kita tidak mengharapkannya dan kebanyakan orang tidak menyadarinya. Menurut Carnegie yang dikutip oleh Williams (2002). Untuk mencapai keduanya diperlukan pemikiran. dan oleh karena itu tidak dapat diajak bergaul. namun merupakan sesuatu yang yang dilakukan dengan segala kemampuan secara terus menerus. Dengan demikian bekerja yang sesungguhnya bukanlah bekerja sekedarnya. kejelasan tujuan. Sasaran kerja adalah produktivitas dan pencapaian. dan keringat. dia tidak akan mengenal lezatnya belas kasih dan manisnya kasih sayang. Manusia yang seperti ini hatinya tidak akan tersentuh oleh apapun. sebagai orang yang pernah menjadi orang nomor satu di Inggris mengatakan bahwa ia tak pernah mengenal orang yang bisa mencapai sukses tanpa kerja keras. Thatcher yang dikutip oleh Susilo (2000). maka jiwa akan menjadi rusak.

tidak gampang patah. menyelam jauh ke dasar samudera. dan kesungguhan untuk melahirkan hasil unjuk kerja yang bernilai tinggi. dinamika. Sikap tabah melahirkan keyakinan. Mereka menang karena mereka menolak menyerah oleh kekalahan yang pernah mereka alami. kekuatan. Mereka sadar bahwa untuk memperoleh mutiara dibutuhkan perjalanan yang panjang. Mereka tidak gampang menyerah. mungkin ia tidak akan menjadi bintang dunia basket seperti sekarang. Lebih dari itu Salak yang dikutip oleh Williams (2002) mengatakan bahwa ada dua macam orang gagal. Berkaitan dengan hal tersebut. walaupun tantangan atau tekanan menghadang setiap langkah pekerjaannya. Tingkat Kecemasan 8 . banyaknya para bintang yang selalu menghadapi tantangan sangat keras sebelum akhirnya mereka keluar sebagai pemenang. Mereka sangat yakin bahwa nilai setiap pekerjaan akan terasa semakin bermakna bila mereka mampu mengatasi setiap tantangan yang dihadapinya. Greene yang dikutip oleh Williams (2002) mengatakan bahwa ia kadang-kadang berpikir seandainya Michael tidak pernah dicoret dari tim. Bekerja dalam tekanan justru akan menimbulkan kreativitas. Forbes yang dikutip oleh Williams (2002) mengatakan bahwa sejarah menunjukkan. yaitu mereka yang bertindak tanpa berpikir. tetapi dimaknai sebagai tantangan yang akan membentuk kepribadian dirinya menjadi lebih cemerlang. dan mereka yang berpikir tanpa bertindak. Dalam bidang olahraga. tetapi setiap kita sanggup bangkit dari kegagalan. Toto Tasmara (2001) mengatakan bahwa mereka yang memiliki sifat tabah adalah mereka yang mampu menghadapi tekanan. Sikap percaya diri yang dilandaskan pada iman menyebabkan segala bentuk tekanan tidak dijadikan sebagai kendala. Konfusius yang dikutip oleh Williams (2002) mengatakan bahwa kemenangan terbesar kita bukanlah saat kita pernah mengalalmi kegagalan. Tidak ada hasil yang gratis kecuali harus diperjuangkan.titik sukses saat mereka memutuskan untuk menyerah. dan nilai tambah bagi seseorang.

dan 4) Emotional Affirmation (Martin. Dalam kondisi cemas timbul reaksi fisiologis dan psikologis dalam organisme tubuh. pernafasan menjadi cepat dan dangkal. Setiap orang adalah normal untuk mengalami kecemasan. Pada beberapa orang. Singer menunjukkan dua gejala yang berhubungan dengan emosi. Tingkat kecemasan tertentu dapat mendorong terciptanya prestasi dalam olahraga. Ada empat komponen pengendali emosi: 1) Emotional Knowledge. Di samping keempat pengendali tersebut. 3) Emotional Affection. 2) Emotional Acceptance. bahkan dalam beberapa kasus dianggap perlu. Kematangan Emosi Emosi adalah suatu reaksi kognitif dan reaksi tubuh terhadap situasi tertentu. muka menjadi merah dan mulai berkeringat. otot-otot menjadi tegang.Kecemasan adalah suatu perasaan tak aman. kehilangan koordinasi gerak. Jantung berdenyut semakin keras dan cepat. Toleransi tingkat kecemasan seseorang berbeda. 2) Emotional Spirituality. dan akhirnya menurunkan prestasi. Bagi atlet pada umumnya kecemasan yang tertinggi disebabkan oleh persaingan dalam mencapai prestasi atau takut tidak berprestasi. 2) Pengalaman. tanpa sebab yang jelas. Emosi terkait pada tiga aspek yaitu: 1) Persepsi. untuk mencapai tingkat kematangan emosi harus didorong oleh empat komponen berikut: 1) Emotional Awareness. Singer yang dikutip Sudibyo (1993) mengemukakan bahwa aktivitas penuh ketegangan tidak selalu jelek bagi seorang atlet. Setiap atlet yang bertanding dalam peristiwa olahraga merasakan adanya peningkatan ketegangan emosional untuk mengantisipasi situasi pertandingan yang dihadapi. dan 3) Proses berpikir. 3) Emotional Authenticity. Ronge yang dikutip Sudibyo (1993) mengatakan bahwa manusia sebagai suatu organisme mengikuti hukum alam. Ditinjau dari reaksi mental dan emosional. yaitu tidak adanya kesiapan atau kesiapan berlebih untuk menang atau kalah. 9 . Kecemasan yang melewati batas ambang kemampuan seseorang atlet meninbulkan dampak negatif. tidak bisa konsentrasi. 2003). Ada hubungan timbal balik antara jiawa dan raga yang telah menjadi bahan kajian para ahli psikologi. antara lain. dan 4) Emotional Reconciliation.

Keinginan bekerjasama 3. seorang doctor psikologi Harvard menerbitkan buku Emotional Intelligence (1995) dunia seakan terperangah. Hal ini didukung antara lain hasil penelitian yang menunjukkan bahwa semakin tinggi IQ semakin rendah sosialisasinya. Kapasitas untuk dipercaya dan bertahan pada suatu komitmen 4.Seorang atlet yang ingin mencapai prestasi puncak harus didukung oleh tingkat kematangan emosi yang tinggi. Martin (2003) mengatakan bahwa banyak riset dilakukan kepada orangorang sukses di berbagai bidang kehidupan menemukan lima karekteristik kepribadian penentu kesuksesan yaitu: 1. Jika seorang atlet tidak memiliki tingkat kematangan emosi yang tinggi maka dapat diduga bahwa ia tidak akan mamapu berpikir cepat dan jernih untuk mengambil keputusan dan tindakan yang tepat dalam situasi pertandingan yang ketat. Kesadaran diri (self awareness) adalah kemampuan mengobservasi dan mengenali diri sendiri 10 . Ada beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan sebagai langkah awal guna meningkatkan kecerdasan emosional para atlet. Keterbukaan diri meghadapi masalah dan berpikir inovatif serta kecerdikan menghadapi masalah. 1. jawabannya terletak pada kemampuan mengendalikan diri. semangat juang. sering mengulang dalam ujian. mahasiswa yang dulu lulus cumlaude dan ber IQ tinggi malah tidak berkembang dalam pekerjaannya. dan kemampuan memotivasi diri. ketekunan. Kemampuan beradaptasi dengan berbagai hirargi social 2. Pengendalian emosi merupakan kunci pengendalian diri dalam menghadapi situasi kompetisi yang sangat menekan. bahkan prestasinya jelek. tetapi setelah bekerja sangat sukses dalam kariernya. Menurut Goleman. Kemampuan bertahan terhadap stress dan berbagai tekanan 5. yang dominan menentukan kesuksesan seseorang bukan IQ tetapi EQ. Selain itu fakta di masyarakat menunjukkan bahwa banyak orang yang semasa sekolah dan kuliah biasa-biasa saja. Sejak Daniel Goleman. Sebaliknya banyak pelajar.

Martin (2003) mengataka bahwa manfaat lain yang lebih manarik dari emosi manusia dikemukakan sebagai berikut: diri pada sudut pandang orang lain sekaligus 1 Emosi manusia berfungsi sebagai energizer atau pembangkit energi 2 Emosi memberi kegairahan dalam kehidupan manusia 3 Emosi bermanfaat sebagai memperkuat pesan atau informasi yang disampaikan (reinforcer) 4 Emosi sebagai penyeimbang kehidupan kita (balancer). Relaksasi Untuk mencapai keadaan relaks kita harus masuk ke pikiran bawah sadar. Keadaan alpha adalah keadaan putaran gelombang otak dengan frekuensi 7 – 13 per detik. menempatkan menghargainya 5. Dalam kondisi alpha konsentrasi akan terpusat pada satu hal dalam satu saat. tetapi emosi adalah dasar dari pengaturan memori. yang membuka jalan menuju ke pikiran bawah sadar secara efektif. Menjaga relasi (handling relationship) adalah kemampuan berinteraksi dan menjaga hubungan yang sehat dengan orang lain (interpersonal). Di tahun 1971 Rappaport yang dikutip Gregor (2000) mengatakan emosi tidak hanya diperlukan dalam penciptaan ingatan. Mengelola emosi (managing emotional) adalah kemampuan mengelola emosi secara akurat dan memahami alasan di baliknya 3. Empati (empaty) adalah kemampuan untuk mengelola sensitivitas. Orang tidak akan sukses di bidang apapun kecuali mereka senang menggeluti bidang tersebut. Keadaan ini adalah dalam kondisi relaks tanpa stress.2. Kita harus membuka filter Retcular Activating System yang membatasi 11 . Memotivasi diri sendiri (motivating oneself) adalah kemampuan mengendalikan emosi guna mendukung pencapaian tujuan pribadi 4. mencapai gelombang energi otak alpha. dengan kata lain emosi memungkinkan kita menjaga proses homeostatis dalam diri kita. Dewasa ini emosi digunakan sebagai kunci gerakan Accelerated Learning termasuk memacu keinginan mencapai prestasi puncak bagi seorang atlet.

Pada lapisan kesadaran tertinggi (alam pikiran bawah sadar terdalam) kita akan dapat mencapai target dan tujuan lebih cepat dan lebih mudah serta akan dapat mengatasi hambatan-hambatan pengalaman negatif. seolah-olah melakukan dengan sesungguhnya. memberikan energi dan kesegaran. Contoh teknik relaksasi otot secara rinci dapat dilihat pada lampiran no. Dalam kondisi alpha pikiran kita dalam keadaan relaks tetapi siaga serta kreatif. meningkatkan kepercayaan diri. Aribowa (2002) mengtakan bahwa pada saat pertama kali latihan relaksasi kita memerlukan waktu kira-kira 15 menit. Menurut Taufiq (2003) syarat untuk melakukan relaksasi adalah: 1) Lingkungan yang tenang. serta mengantar kita masuk ke lapisan kesadaran yang lebih tinggi sehingga kita mampu membangun realitas yang kita kehendaki. dan 4) Posisi yang nyaman. Jika berada dalam keadaan theta. Dalam kondisi relaks kita dapat melakukan afirmasi. proses relaksasi ini hanya cukup dilakukan dalam waktu 30 – 60 detik. kita dapat secara kreatif menciptakan dan juga memecahkan berbagai persoalan kehidupan yang kita hadapi. dimana saja dan kapan saja kita mau. Pada akhirnya jika sudah sangat terlatih . sehingga mampu memaksimalkan 12 . Ketika seseorang berpikir dua hal atau lebih dalam satu saat. dan memenangkan kejuaraan dalam olahraga atau pun seni. Afirmasi merupakan cara yang paling mudah dan sederhana untuk mempengaruhi pikiran bawah sadar kita. 2) Menetapkan satu objek untuk memusatkan perhatian. Afirmasi bisa digunakan dalam berbagai bidang kehidupan antara lain. Dengan teknik relaksasi kita bisa masuk ke dalam keadaan alpha ataupun theta yang sangat berguna untuk mencapai kondisi relaks. 3) Sikap pasif (pasrah). Selanjutnya setelah beberapa kali berlatih membutuhkan waktu cukup 3 menit. Dalam menuju flow ini atlet membentuk kondisi khusus dalam dirinya. maka ia akan kembali pada kondisi beta. 6. untuk mengubah citra diri. Menuju Flow Yang dimaksud dengan menuju flow adalah kemampuan berimajinasi untuk memvisualisasikan tentang proses latihan atau pertandingan yang akan dilakukan.pikiran sadar dan pikiran bawah sadar.

dan Aksi dengan rumus: HASRAT + VISI + AKSI = SUKSES Hasrat adalah sesuatu yang menjadi perhatian. yang akan membawa mereka selangkah lebih dekat dengan impiannya. jika tidak bisa menatap arah yang jelas akan tersandung dan jatuh. Aksi adalah melakukan sesuatu setiap hari sesuai rencana. Visi adalah kemauan melihat tujuan dan membayangkan langkah demi langkah untuk mencapainya dengan jelas. sangat ingin melakukannya atau yang dicita-citakan. Contoh teknik menuju flow secara rinci dapat dilihat lampiran no. karena imajinasi dapat memicu kreativitas dan meningkatkan motivasi. sekalipun banyak rintangan dan hambatan yang dihadapi. Dalam pikiran harus diciptakan kepercayaan yang tinggi akan sukses. Rose juga mendefinisikan motivasi yang kuat dengan cara berikut: KEMAUAN KUAT = VISI YANG JELAS + PERCAYA DIRI Visi penting. 6. Visi. Gelombang Energi Otak 13 . menemukan kunci sukses ke puncak prestasi bukan talenta bawaan (bakat). Einstein yang dikutip oleh Rose (2003) mengatakan bahwa imajinasi lebih penting dari pada pengetahuan. Hasil studi Benyamin Bloom selama 5 tahun terhadap 120 atlet. Sukses yang dicapai karena motivasi dan tekad luar biasa yang muncul dari visi tentang sesuatu yang mereka inginkan. Untuk menuju flow dibutuhkan pula keterampilan yang memadai serta otomatisasi gerak sehingga tidak lagi diperlukan analisis yang mendalam saat bertanding. Marilyn King yang dikutip Rose (2003) mengemukakan tiga karakter utama yang dimiliki kebanyakan orang sukses yaitu: Hasrat. Kondisi flow dapat dicapai apabila seorang atlet mampu mengesampingkan pikiran yang dapat menghambat bersatunya energi.keterampilan serta meminimalkan hambatan yang ada. artis dan sarjana top Amerika. Napoleon berperang dalam otaknya sebelum berperang dalam peperangan yang sesungguhnya. Dia menyatakan imajinasi lebih kuat ketimbang kemauan kuat.

2000. guna mencari bibit baru Pelantikan Pengkab PBSI Purbalingga berbarengan dengan pembukaan Kejurkab Bulu Tangkis Purbalingga Open 2012.Gelombang otak diukur oleh mesin yang disebut elektro-ensefalograf (EEG). Peserta turnamen Purbalingga Open 2012 diikuti oleh 298 peserta yang memperebutkan total hadiah senilai Rp. Proses Pemilihan Atlet Pemilihan atlet dalam cabang olahraga biasanya berbeda-beda. Jumlah putaran per detik itu menentukan keadaan gelombang otak. turnamen bulu tangkis ini akan berlangsung selama tiga hari dan berakhir Sabtu besok 7 Juli 2012. saat ini sangat sulit mencari atlit muda berbakat. biasanya dilakukan melalui turnamen-turnament. Mesin ini mengukur berapa bunyi tut yang muncul di layar dalam setiap detik. 2) Theta. Ketua panitia turnamen Eko Purwanto menuturkan. 2002. 2003) 2. 14 . misalnya dalam olahraga bulutangkis.3. Sehingga diharapkan pengurus PBSI Purbalingga mampu menjaring atlit yang mampu bertanding di kancah regional maupun nasional. Ketua Pengurus Provinsi Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Jawa Tengah Mochamad Anwari saat melantik pengurus Pengkab PBSI Purbalingga masa bakti 2012 – 2016 di gedung Kong Kwan siang tadi menuturkan. Dalam event inilah akan kelihatan dan muncul bibit atlit bulutangkis yang dapat diambil untuk menguatkan tim bulutangkis daerah. Pencarian bibit-bibit atlit bulutangkis yang ada di daerah. Oleh para ilmuwan gelombang energi otak itu dibagi dalam empat tingkat yaitu: 1) Delta. Karena kekurangan bibit bulutangkis ini. Aribowo. Taufiq. Anwari minta kepada pengurus kabupaten untuk rutin menggelar turnamen minimal 2 kali dalam setahun. dan 4) Beta (Gregor. 20 juta 600 ribu. 3) Alpha.

2. Prestasi atlet diberbagai cabang olahraga dapat diraih melalui latihan yang teratur. Pencarian bibit-bibit atlit bulutangkis yang ada di daerah. Inilah tipe orang yang memiliki AQ tinggi. 3. Ia menolak tantangan pendakian ke puncak gunung. atlet tipe ini tanpa ragu akan berhenti. atau keberuntungannya. Pemilihan atlet dalam cabang olahraga biasanya berbeda-beda. ia selalu meneruskan pendakian sepanjang hayat. peningkatan sarana prasarana pendukung. The Camper: Atlet tipe ini telah melakukan pendakian cukup jauh dan cukup tinggi. serta peningkatan pelatih yang berkualitas dan berpengalaman. nasibnya. Perjalanan menuju puncak sukses dapat dianalogikan dengan sebuah pendakian. biasanya dilakukan melalui turnamen-turnament. 15 . Tidak peduli latar belakang kehidupannya. namun ia berhenti (berkemah) sebelum mencapai puncak karena sudah puas dengan prestasi yang telah dicapainya. dan dengan analogi tersebut atlet dapat dklasifikasikan ke dalam tiga kelompok (Stolz. turun dan pulang tidak melanjutkan pendakian. The Climber : Atlet tipe ini sepanjang hidupnya selalu merasa tertantang untuk mendaki puncak yang lebih tinggi.BAB III KESIMPULAN 3.1 Kesimpulan Dari pembahasan diatas maka penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut: 1. misalnya dalam olahraga bulutangkis. 2000): The Quitter: Setelah mengalami kesulitan dan tantangan dalam mendaki. Dalam event inilah akan kelihatan dan muncul bibit atlit bulutangkis yang dapat diambil untuk menguatkan tim bulutangkis daerah.

Jakarta: Ciputat Pers. II 16 . Psikologi Umum dan Perkembangan. Jakarta: PT Mizan Publika. 2000. Media Pengajaran. Cet. Cet. Cet. Basyiruddin Usman. Azhar. Cet. Jakarta: PT Bumi Aksara. 2004.DAFTAR PUSTAKA Asnawir dan M. Seri Manajemen Peningkatan Mutu Atlet. 2003. I Arsyad. 2002. I Bafadal. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Ibrahim. Media Pembelajaran. I Azhari. Akyas.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful