P. 1
narkoba

narkoba

|Views: 265|Likes:
Published by Yadi Swagger
narkoba
narkoba

More info:

Published by: Yadi Swagger on Nov 26, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/08/2015

pdf

text

original

Narkotika dan Minuman Beralkohol

Menurut Hukum di Indonesia
Akhir-akhir ini marak berita mengenai pro dan kontra Mendagri yang ingin mengevaluasi
Perda Anti-Miras di televisi. Namun dalam artikel ini saya lebih menyorot kepada pihak yang
kontra mengenai hal ini, sampai-sampai terjadi protes yang berlebihan mengenai isu ini.
Lalu apakah minuman beralkohol ini sama berbahayanya dengan narkotika?
Nah dalam artikel saya ini, terdapat pencerahan mengenai hal ini, semoga bermanfaat
Pada prinsipnya, menurut hukum, alkohol atau minuman beralkohol dan ganja merupakan
dua hal yang diatur dengan peraturan perundang-undangan yang berbeda. Pengaturan
narkotika adalah dengan UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika (“UU 35/2009”), dan
bukan dengan KUHP.
Menurut Pasal 1 Keppres No. 3 Tahun 1997 tentang Pengawasan dan Pengendalian
Minuman Beralkohol (“Keppres 3/1997”), yang dimaksud dengan minuman beralkohol
adalah;
“minuman yang mengandung ethanol yang diproses dari bahan hasil pertanian yang
mengandung karbohidrat dengan cara fermentasi dan destilasi atau fermentasi tanpa
destilasi, baik dengan cara memberikan perlakuan terlebih dahulu atau tidak, menambahkan
bahan lain atau tidak, maupun yang diproses dengan cara mencampur kosentrat dengan
ethanol atau dengan cara pengenceran minuman mengandung ethanol.”
Mengenai produksi minuman beralkohol, menurut Pasal 2 ayat (1) Keppres 3/1997,
produksi minuman beralkohol di Indonesia hanya dapat dilakukan dengan izin Menteri
Perindustrian dan Perdagangan (sekarang, Menteri Perdagangan).
Adapun pengedaran dan penjualan minuman beralkohol bergantung pada kelompoknya.
Minuman beralkohol yang digolongkan minuman keras yang produksi, pengedaran dan
penjualannya ditetapkan sebagai barang dalam pengawasan adalah golongan B dan golongan
C (lihat Pasal 3 ayat [2] Keppres 3/1997). Minuman beralkohol golongan B adalah
minuman beralkohol dengan kadar ethanol (C2H5OH) lebih dari 5 persen s.d. 20 persen.
Kemudian, minuman beralkohol golongan C adalah minuman beralkohol dengan kadar
ethanol (C2H5OH) 20 persen s.d. 55 persen.
Minuman beralkohol golongan B dan golongan C dilarang diedarkan dan atau dijual di
tempat umum, kecuali di hotel, bar, restoran dan di tempat tertentu oleh pemerintah daerah
(lihat Pasal 5 ayat [1] Keppres 3/1997). Larangan dan ketentuan tersebut tidak berlaku
terhadap minuman beralkohol golongan A yaitu minuman beralkohol dengan kadar ethanol
(C2H5OH) 1 persen s.d. 5 persen.
Di sisi lain, ganja (cannabis sativa) merupakan tanaman atau daun yang mengandung zat
narkotik aktif, terutama tetrahidrokanabinol yang dapat memabukkan, sering dijadikan
ramuan tembakau untuk rokok. Demikian uraian mengenai ganja sebagaimana kami sarikan
dari Kamus Besar Bahasa Indonesia. Ganja maupun zat yang dikandungnya
(tetrahidrokanabinol) merupakan narkotika Golongan I menurut Pasal 6 ayat (1) huruf a jo
Lampiran I UU 35/2009.
Berbeda dengan minuman beralkohol, pada prinsipnya undang-undang melarang setiap
produksi, peredaran dan penggunaan narkotika Golongan I, kecuali dalam kadar, kondisi atau
untuk kepentingan tertentu. Hal itu dapat kita lihat antara lain dari ketentuan Pasal 8 ayat (1)
UU 35/2009 yang menyatakan bahwa narkotika Golongan I dilarang digunakan untuk
kepentingan pelayanan kesehatan. Dalam jumlah terbatas, Narkotika Golongan I dapat
digunakan untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan untuk
reagensia diagnostik, serta reagensia laboratorium setelah mendapatkan persetujuan Menteri
atas rekomendasi Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (lihat Pasal 8 ayat [2] UU
35/2009).
Kemudian, di dalam Pasal 12 ayat (1) UU 35/2009 diatur bahwa narkotika Golongan I
dilarang diproduksi dan/atau digunakan dalam proses produksi, kecuali dalam jumlah yang
sangat terbatas untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pengawasan produksi narkotika Golongan I untuk kepentingan pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi dilakukan secara ketat oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan
(lihat Pasal 12 ayat [2] UU 35/2009).
Dari sisi dampak penyalahgunaannya, jika dilihat dari bagaimana pemerintah mengatur
masing-masing di dalam peraturan perundang-undangan, akan terlihat jelas bahwa dampak
penyalahgunaan narkotika jauh lebih merusak daripada alkohol. Di dalam Pasal 1 angka 1
UU 35/2009 antara lain dinyatakan bahwa narkotika dapat menyebabkan penurunan atau
perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan
dapat menimbulkan ketergantungan.
Sedangkan, di dalam konsiderans menimbang Kepmenkes No. 282/Menkes/SK/II/1998
tentang Standar Mutu Produksi Minuman Beralkohol, “hanya” dikatakan bahwa
minuman beralkohol merupakan minuman yang penggunaannya dapat menimbulkan
gangguan kesehatan.
Dari penjelasan di atas, jelas bahwa minuman beralkohol dan ganja adalah dua hal yang
berbeda. Hal yang paling mendasar adalah dari kandungan masing-masing yaitu alkohol
mengandung ethanol, sedangkan ganja mengandung tetrahidrokanabinol. Namun, menurut
hukum, hanya narkotika yang dapat menimbulkan ketergantungan. Oleh karena itu,
pengaturan masing-masing dibedakan oleh pembuat undang-undang. Jadi, minuman
beralkohol memang tidak termasuk dalam golongan narkotika, tapi termasuk minuman keras
yang produksi, pengedaran dan penjualannya ditetapkan sebagai barang dalam pengawasan
(untuk gol. B dan gol. C).
Dasar hukum:
1. Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika
2. Keputusan Presiden No. 3 Tahun 1997 tentang Pengawasan dan Pengendalian Minuman
Beralkohol
3. Keputusan Menteri Kesehatan No. 282/Menkes/SK/II/1998 tentang Standar Mutu
Produksi Minuman Beralkohol





PENDAHULUAN

Disekitar kita saat ini, banyak sekali zat-zat adiktif yang negatif dan sangat berbahaya bagi
tubuh. Dikenal dengan sebutan narkotika dan obat-obatan terlarang. Dulu, narkoba hanya
dipakai secara terbatas oleh beberapa komunitas manusia di berbagai negara. Tapi kini,
narkoba telah menyebar dalam spektrum yang kian meluas. Para era modern dan kapitalisme
mutakhir, narkoba telah menjadi problem bagi umat manusia diberbagai belahan bumi.
Narkoba yang bisa mengobrak-abrik nalar yang cerah, merusak jiwa dan raga, tak pelak bisa
mengancam hari depan umat manusia.

PEMBAHASAN

A. Macam-macam Narkoba, Pengaruh dan Efek Penggunaannya

1. Cannabis (ganja, cimeng, mariyuana, hashis, rumput, grass)

Ganja bahan aktifnya tetrahidrocanabinol yang dapat membuat hilang kesadaran atau fly /
teler.

Efek penggunaan Ganja :

- Gelisah

- Lemas dan ingin tidur terus
- Perasaan gembira dan selalu tertawa untuk hal yang tidak lucu
- Nafsu makan besar
- Persepsi tentang benda berubah

Akibat jangka panjang

- Gangguan memori otak / pelupa
- Sulit berfikir dan konsentrasi
- Suka bengong

2. Ecstasy (inex, kancing)

Tergolong jenis zat psikotropika
Jenisnya antara lain : apel, alladin, elektric, gober, butterfly, dan lain-lain.
Bahan ecstasy sering dicampur dengan zat-zat kimia berbahaya seperti insektisida dan pil KB
Pengaruh menggunakan ecstasy

- Energik - Tidak bisa diam
- Mata sayu - Over acting
- Pusat - Susah tidur
- Berkeringat

Efek penggunaan ecstasy

- Syaraf otak rusak
- Dehidrasi
- Gangguan lever
- Tulang dan gigi keropos
- Tidak nafsu makan
- Waktu tidur terganggu (jet lag)
- Syaraf mata rusak
- Paranoid

3. Shabu-shabu (ubas, ss, mecin)

Nama aslinya methamphetamine. Berbentuk kristal seperti gula atau bumbu penyedap
masakan. Jenisnya antara lain gold river, coconut, dan kristal.

Efek yang ditimbulkan :

- Menjadi bersemangat
- Paranoid
- Gelisah
- Tidak bisa diam
- Tidak ingin makan
- Tidak bisa tidur
- Otak sulit berfikir dan konsentrasi
- Kesehatan terganggu karena menyerang fungsi lever dan darah.


4. Putaw (PT, bedak, putih)

Putaw adalah sejenis heroin dengan kadar lebih rendah (heroin kelas lima atau enam). Zat ini
berasal dari sari bunga opium. Putaw terdiri dari beberapa jenis antara lain banan dan snow
whitee. Bentuknya seperti bedak dan dijual dalam bentuk paket gram atau paketan gauw.

Efek pemakaian putaw

- Mata menjadi sayu - Menjadi pendiam
- Mengantuk - Mata berair
- Pucat - Badan menjadi kurus / mual-mual
- Bicara tidak jelas - Sulit berfikir
- Tidak dapat konsentrasi - Pemarah dan temperamental
- Cadel - Pandai berbohong
- Hidung gatal - Plin-plan
- Menyebabkan kelumpuhan - Kematian bila overdosis
- Terkena gangguan darah dan darah

Sakaw atau sakit karena putau terjadi apabila si pecandu "putus" menggunakan putaw.
Sebenarnya sakaw salah satu bentuk detoksifikasi alamiah yaitu membiarkan si pecandu
melewati masa sakaw tanpa obat. Selain diberikan motivasi dan didampingi.

Gejala yang ditimbulkan :

- Mual-mual
- Mata dan hidung berair
- Sakit perut / diare
- Tulang terasa ngilu
- Badan berkeringat
- Selalu kedinginan

5. Bahan adiktif lainnya seperti :

Lem aica aibon, thinner, bensin, spritus, jamur kotoran kerbau dan kecubung.

Penyalahgunaan narkoba selain merugikan kesehatan diri sendiri juga berdampak negatif
terhadap kehidupan ekonomi dan sosial seseorang. Penyalahgunaan narkoba dapat merusak
ekonomi karena sifat obat yang membuat ketergantungan, dimana tubuh pengguna selalu
meminta tambahan dosis dan dengan harga obat-obatan jenis narkoba yang tergolong relatif
mahal maka hal tersebut secara ekonomis sangat merugikan. Ekonomi keluarga bisa bangkrut
bilamana keluarga tidak mampu lagi membiayai ketergantungan anggotanya terhadap
narkoba, bahkan hal ini bisa berdampak buruk yaitu bisa menimbulkan persoalan kriminalitas
seperti pencurian, penodongan bahkan perampokan.

Keharmonisan keluarga pun bisa terganggu manakala salah seorang atau beberapa orang
anggota keluarga menjadi pecandu. Sifat obat yang merusak secara fisik maupun psikis akan
berdampak kepada ketidaknyamanan hubungan sosial dalam keluarga. Penyalahguna narkoba
juga menimbulkan keresahan dalam masyarakat. Perilaku pengguna yang tidak terkontrol
dapat mengganggu ketertiban dan keamanan masyarakat. Terlebih jika dikaitkan dengan
timbulnya berbagai penyakit yang menyertainya seperti Hepatitis, HIV/AIDS, bahkan
kematian.

Hal tersebut lebih jauh bisa menyebabkan hancurnya suatu negara, oleh karena itu negara
melarang narkoba. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika, menyatakan :

o Pasal 45 : Pecandu narkotika wajib menjalani pengobatan dan/atau perawatan
o Pasal 36 : Orang tua atau wali pecandu yang belum cukup umur bila sengaja tidak
melaporkan diancam kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak satu
juta rupiah.
o Pasal 88 : Pecandu narkotika yang telah dewasa sengaja tidak melapor diancam kurungan
paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak dua juta rupiah, sedang bagi
keluarganya paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling banyak satu juta rupiah.

Undang-undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika, menyatakan :

o Pasal 37 ayat (1) : Pengguna psikotropika yang menderita syndrome ketergantungan
berkewajiban ikut serta dalam pengobatan atau perawatan
o Pasal 64 ayat (1) barang siapa : a. menghalang-halangi penderita syndrome ketergantungan
untuk menjalani pengobatan dan/atau perawatan pada fasilitas rehabilitasi sebagaimana
dimaksudkan dalam pasal 37, dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun
dan/atau pidana denda paling banyak 20 juta rupiah.

Bahaya yang timbul dari penyalahgunaan narkoba ini secara umum sebagai berikut :

Aspek fisik

- Gagal ginjal
- Perlemakan hati, pengkerutan hati, kanker hati
- Radang paru-paru, radang selaput paru, TBC paru
- Rentan terhadap berbagai penyakit hepatitis B, Hepatitis C, dan HIV/AIDS
- Cacat janin
- Impotensi
- Gangguan menstruasi
- Pucat akibat kurang darah (anemia)
- Penyakit lupa ingatan/pikun
- Kerusakan otak
- Pendarahan lambung
- Radang pankreas
- Radang syaraf
- Mudah memar
- Gangguan fungsi jantung
- Menyebabkan kematian

Aspek psikologis

- Emosi tidak terkendali
- Curiga berlebihan sampai pada tingkat Waham (tidak sejalan antara pikiran dan kenyataan)
- Selalu berbohong
- Tidak merasa aman
- Tidak mampu mengambil keputusan yang wajar
- Tidak memiliki tanggung jawab
- Kecemasan yang berlebihan dan depresi
- Ketakutan yang luar biasa
- Hilang ingatan (gila)

Aspek sosial

- Hubungan dengan keluarga, guru, dan teman serta lingkungannya terganggu
- Mengganggu ketertiban umum
- Selalu menghindari kontak dengan orang lain
- Merasa dikucilkan atau menarik diri dari lingkungan positif
- Tidak peduli dengan norma dan nilai yang ada
- Melakukan hubungan seks secara bebas
- Tidak peduli dengan norma dan nilai yang ada
- Melakukan tindakan kekerasan, baik fisik, psikis maupun seksual
- Mencuri.

Penyalahgunaan narkoba umumnya terjadi pada kaum remaja yang tinggal di perkotaan.
Mereka biasanya mempunyai sifat kosmopolit, relatif tidak cepat menikah karena harus
menempuh masa belajar hingga jenjang universitas, bahkan hingga memperoleh pekerjaan
dianggap layak. Pada masa itulah mereka hidup dalam pancaroba; antara kanak-kanak dan
kedewasaan, baik fisik, mental, maupun sosio-kulturalnya. Ia hidup antara kebebasan dan
ketergantungan kepada orang tuanya; mereka ada dalam pembentukan nilai-nilainya sendiri
serta sikapnya, baik sikap keagamaan, maupun sikap kultural dan sosialnya. Remaja sedang
mencari identitas sikapnya terhadap lingkungan dan sesamanya. Dalam kondisi yang serba
mendua itulah seringkali remaja tergelincir ke jalur kenakalan, yang disebut juvenile
delinquency. Pada masa itu banyak remaja yang melakukan kenakalan, pelanggaran hukum,
bahkan tindak kriminal. Motivasinya ialah karena ingin mendapatkan perhatian "status
sosial", dan penghargaan atas eksistensi dirinya.

Dengan kata lain, kenakalan remaja merupakan bentuk pernyataan eksistensi diri di tengah-
tengah lingkungan dan masyarakatnya, bukan kenakalan semata. Salah satu penyimpangan
perilaku ini adalah perilaku seksual. Sementara salah satu bentuk pelanggaran hukum ialah
meminum minuman keras, obat terlarang hingga ganja dan zat adiktif lainnya.

Adapun faktor lain yang beresiko tinggi sehingga remaja dapat menggunakan narkoba,
diantaranya :

- Keluarga yang kacau balau, terutama adanya orang tua yang menjadi penyalahguna narkoba
atau menderita sakit mental
- Orang tua dan anak kurang saling memberi kasih sayang dan pengasuhan
- Anal/remaja yang sangat pemalu
- Anak yang bertingkah laku agresif
- Gagal dalam mengikuti pelajaran di sekolah
- Miskin ketrampilan sosial
- Bergabung dengan kelompok sebaya yang berperilaku menyimpang
- Tidak bisa berkomunikasi dengan orang tua
- Tidak berada dalam pengawasan orang tua
- Suka mencari sensasi
- Dikucilkan dan sulit menyesuaikan diri dengan lingkungannya
- Tidak mau mengikuti aturan / norma / tata tertib
- Rencah penghayatan spiritualnya.

Ciri-ciri penyalahguna narkoba

Perubahan fisik dan lingkungan sehari-hari

- Jalan sempoyongan, bicara pelo, tampak terkantuk-kantuk
- Kamar tidak mau diperiksa atau selalu dikunci
- Sering didatangi atau menerima telepon orang-orang yang tidak dikenal
- Ditemukan obat-obatan, kertas timah, jarum suntik, korek api di kamar/di dalam tas.
- Terdapat tanda-tanda bekas suntikan atau sayatan
- Sering kehilangan uang/barang di rumah

Perubahan psikologis

- Malas belajar
- Mudah tersinggung
- Sulit berkonsentrasi

Perubahan perilaku sosial

- Menghindari kontak mata langsung
- Berbohong atau memanipulasi keadaan
- Kurang disiplin
- Bengong atau linglung
- Suka membolos
- Mengabaikan kegiatan ibadah
- Menarik diri dari aktivitas bersama keluarga
- Sering menyendiri atau bersembunyi di kamar mandi, di gudang atau tempat-tempat
tertutup.

B. Narkoba dan Agama

Narkotika dan minuman keras telah lama dikenal umat manusia. Tapi sebenarnya lebih
banyak madharatnya daripada manfaatnya. Untuk itu, hampir semua agama besar melarang
umat manusia untuk mengkonsumsi narkotika dan minuman keras (dalam bentuk yang lebih
luas lagi adalah narkoba)

Dalam wacana Islam, ada beberapa ayat al-Qur'an dan hadits yang melarang manusia untuk
mengkonsumsi minuman keras dan hal-hal yang memabukkan. Pada orde yang lebih
mutakhir, minuman keras dan hal-hal yang memabukkan bisa juga dianalogikan sebagai
narkoba. Waktu Islam lahir dari terik padang pasir lewat Nabi Muhammad, zat berbahaya
yang paling populer memang baru minuman keras (khamar). Dalam perkembangan dunia
Islam, khamar kemudian bergesekan, bermetamorfosa dan beranak pinak dalam bentuk yang
makin canggih, yang kemudian lazim disebut narkotika atau lebih luas lagi narkoba.

Untuk itu, dalam analoginya, larangan mengonsumsi minuman keras dan hal-hal yang
memabukkan, adalah sama dengan larangan mengonsumsi narkoba. Ada dua surat al-Qur'an
dan dua hadits yang coba dilansir disini, yang terjemahannya kira-kira begini :

"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban
untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka
jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan". (QS Al-Maidah : 90)

Kemudian ayat yang kedua:

"Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di
antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari
mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)".
(QS Al-Maidah : 91)

Perbuatan setan adalah hal-hal yang mengarah pada keburukan, kegelapan, dan sisi-sisi
destruktif manusia. Ini semua bisa dipicu dari khamar (narkoba) dan judi karena bisa
membius nalar yang sehat dan jernih. Khamar (narkoba) dan judi sangat dekat dengan dunia
kejahatan dan kekerasan, maka menurut al-Qur'an khamar (narkoba) dan judi potensial
memicu permusuhan dan kebencian antar sesama manusia. Khamar dan judi juga bisa
memalingkan seseorang dari Allah dan shalat.

Selain dua ayat al-Qur'an di atas, juga ada hadits yang melarang khamar/minuman keras
(baca : narkoba), yaitu :

"Malaikat Jibril datang kepadaku, lalu berkata, 'Hai Muhammad, Allah melaknat minuman
keras, pembuatnya, orang-orang yang membantu membuatnya, peminumnya, penerima dan
penyimpannya, penjualnya, pembelinya, penyuguhnya, dan orang yang mau disuguhi". (HR.
Ahmad bin Hambal dari Ibnu Abbas)

Kemudian hadits yang kedua :

"Setiap zat, bahan atau minuman yang dapat memabukkan dan melemahkan adalah khamar,
dan setiap khamar haram". (HR. Abdullah bin Umar).

Jelas dari hadits di atas, khamar (narkoba) bisa memerosokkan seseorang ke derajat yang
rendah dan hina karena dapat memabukkan dan melemahkan. Untuk itu, khamar (dalam
bentuk yang lebih luas adalah narkoba) dilarang dan diharamkan. Sementara itu, orang yang
terlibat dalam penyalahgunaan khamar (narkoba) dilaknat oleh Allah, entah itu pembuatnya,
pemakainya, penjualnya, pembelinya, penyuguhnya, dan orang yang mau disuguhi.

Bukan hanya agama Islam, beberapa agama lain juga mewanti-wanti (memberi peringatan
yang sungguh-sungguh) kepada para pemeluknya atau secara lebih umum umat manusia,
untuk menjauhi narkoba.

C. Pencegahan Dan Solusi Penyalahgunaan Narkoba

Faktor yang dapat mencegah remaja menggunakan narkoba :

- Ikatan yang kuat di dalam keluarga

- Pengawasan orang tua yang didasarkan pada aturan tingkah laku yang jelas dan pelibatan
orang tua dalam kehidupan anak/remaja

- Keberhasilan di sekolah

- Ikatan yang kuat di dalam institusi pro-sosial seperti keluarga, sekolah, dan organisasi-
organisasi keagamaan.

- Menerima norma kebiasaan tentang larangan penggunaan narkoba.
- Keluarga harus dapat menciptakan komunikasi yang lebih baik
- Disiplin, tegas dan konsisten dengan aturan yang dibuat
- Berperan aktif dalam kehidupan anak-anak
- Memonitor aktivitas mereka
- Mengetahui dengan siapa anak/remaja bergaul
- Mengerti masalah dan apa yang menjadi perhatian mereka
- Orang tua harus menjadi panutan
- Orang tua menjadi teman diskusi
- Orang tua menjadi tempat bertanya
- Mampu mengembangkan tradisi keluarga dan nilai-nilai keagamaan
- Menggali potensi anak untuk dikembangkan melalui berbagai macam kegiatan.

Solusi yang dapat dilakukan ketika ada anggota keluarga yang menggunakan narkoba :

- Berusaha tenang, kendalikan emosi, jangan marah dan tersinggung
- Jangan tunda masalah, hadapi kenyataan, adakan dialog terbuka dengan anak
- Dengarkan anak, beri dorongan non verbal. Jangan memberi ceramah/nasehat berlebih
- Hargai kejujuran
- Jujur terhadap diri sendiri, jangan merasa benar sendiri
- Tingkatkan hubungan dalam keluarga, rencanakan membuat kegiatan bersama-sama
keluarga
- Cari pertolongan, cari bantuan pihak ketiga yang paham dalam menangani narkoba atau
tenaga profesional, puskesmas, rumah sakit, panti/tempat rehabilitasi.
- Pendekatan kepada orang tua teman anak pemakai narkoba, ungkapkan dengan hati-hati dan
ajak mereka bekerja sama menghadapi masalah.

DAFTAR PUSTAKA
- Simuh, dkk., Tasawuf dan Krisis, Semarang, Pustaka Pelajar, 2001.
- M. Arief Hakim, Bahaya Narkoba Alkohol : Cara Islam Mengatasi, Mencegah dan
Melawan, Bandung : Nuansa, 2004.
- Brosur Direktorat Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Korban NAPZA, Depsos RI.


















A. Pendahuluan
Miras dan narkoba merupakan dua hal yang memiliki kesamaan daya perusak
terhadap sendi-sendi kehidupan, sehingga menyita perhatian banyak kalangan.
Lebih-lebih ketika sekian banyak penelitian menyatakan bahwa korban miras dan
narkoba saat ini telah merambah ke segenap lapisan masyarakat mulai dari anak
yang baru dilahirkan hingga orang tua, mulai dari rakyat jelata sampai
konglomeratnya. Bahkan, tidak sedikit dari anak sekolah dasar hingga perguruan
tinggi, yang ikut menjadi korban keganasannya. Yang sangat memprihatinkan lagi,
bahwa perilaku orang tua sudah biasa mempengaruhi sejak si kecil masih berada
dalam kandungan. Bila waktu hamil sang ibu terbiasa minum alkohol, maka resiko si
kecil berkembang menjadi pecandu alkohol pun juga besar.
Dr John S Baer, seorang psikolog dari University of Washington mengatakan:
“Jumlah dan frekuensi alkohol yang diminum ibu hamil bisa menjadi patokan berapa
besar anak berkembang menjadi alkoholik”. Penelitian ini membuktikan penyebab
semakin lama semakin banyak anak yang terlibat masalah alkohol. Baer yang juga
mengajar di Addiction Treatment Center mengatakan kalau penelitian ini
sebenarnya melanjutkan penelitian-penelitian sebelumnya. Para ilmuwan sudah
lama menghubungkan masalah alkoholik dengan lingkungan dan kebiasaan. Dan
studi ini adalah yang pertama mengangkat hubungan ibu hamil yang mengkonsumsi
alkohol dengan kemungkinan munculnya masalah alkohol pada si kecil. Penelitian ini
membutuhkan waktu yang lama sejak tahun 2974-1975, sekitar 500 ibu hamil yang
mempunyai kebiasaan minum alkohol berhasil dikumpulkan. Selanjutnya peneliti
mengikuti perkembangan buah hati mereka selama 21 tahun. Penelitian ini tidak sia-
sia. “Kami menemukan sekitar 14 persen dewasa muda berusia 21 tahun, yang saat
janinnya banyak terpapar alkohol, mengalami sedikitnya 4 sampai 5 kali masalah
dengan alkohol. sedangkan anak yang dalam kandungan terpajani sedikit alkohol,
hanya 4 persen yang berkembang menjadi pecandu. Memang masalah ini tidak bisa
dihubungkan secara langsung. Namun dengan adanya penelitian ini menunjukkan
bahwa kebiasaan minum semasa hamil bisa menigkatkan resiko anak menjadi
pecandu juga. Selain itu, kebiasaan minum alkohol bisa membuat anak lahir cacat
atau kurang bulan (premature).
Lain halnya dengan narkoba. Dampaknya lebih berbahaya dari sekedar meneguk
minuman keras. “Pemakaian narkoba dapat mengakibatkan gangguan mental atau
jiwa yang dalam istilah kedokteran jiwa (psikiatri) disebut gangguan mental organic.
Disebut organic karena narkoba ini bila masuk ke dalam tubuh maka langsung
bereaksi dengan sel-sel syaraf pusat (otak) serta menimbulkan gangguan pada alam
pikir, perasaan, dan perilaku. Paramedis pun telah bersepakat, bahwa heroin dan
semisalnya dapat memakan sel-sel otak dan mengakibatkan kerusakan jiwa serta
badan manusia. Sedangkan ekstasi merangsang susunan syaraf pusat, terutama
syaraf otonom yang mengatur peredaran darah dan pernapasan. Rangsangan ini
menyebabkan orang mampu bergerak terus menerus tanpa rasa lelah, tidak tidur
semalam suntuk, hilang nafsu makan, dan jika ada suara musik secara refleks
kepalanya langsung bergoyang-goyang atau bergeleng-geleng mengikuti alur musik
tanpa henti. Dalam dosis tinggi, narkoba akan menyebabkan tekanan darah
meningkat sehingga menambah kerja jantung secara paksa dan memungkinkan
pecahnya pembuluh darah. Dan sesungguhnya mengonsumsi barang terlaknat ini
menyebabkan penderitraan pada manusia secara material maupun moral.
Dari aspek stabilitas keamanan, misalnya, baik nasional maupun internasional,
persoalan narkoba saat ini sangat memperihatinkan. Dalam skala nasional
banyaknya kejahatan-kejahatan di tanah air erat sekali hubunganya dengan masalah
narkoba. Bahkan yang sangat mengerikan bahwa jaringan pengedar narkotika di
Bali, Surabaya, dan Jakarta, selama lebih dari dua tahun ini dikendalikan oleh
seorang narapidana (napi) laki-laki dewasa kelas I di Tangerang. Napi yang menjadi
otak peredaran heroin dan putau tersebut adalah Innocent Iwuofor, seorang warga
Negara Nigeria.
Dalam skala internasional, ternyata kegiatan terorisme sering terkait dan erat
hubunganya dengan kegiatan perdagangan narkotika ilegal lintas batas negara
sehingga kepustakaan mengenai narkotika mengenal dan mengakui kedekatan
kegiatan tersebut sebagai narco-terorism. Pasangan dua kegiatan yang berbeda latar
belakang tampaknya semakin serasi sejalan dengan perkembangan pasca perang
dingin karena kontrol dari negara kuat semakin berkurang terutama setelah hancur
leburnya Negeri Unisoviet dan Yugoslavia. Kegiatan mafia kejahatan yang dimotori
oleh bekas agen–agen KGB semakin merajalela dan menghalalkan segala cara untuk
mengeruk keuntungan berlipat ganda yang tidak pernah akan diperoleh selama
rezim Unisoviet masih berdiri utuh. Kegiatan perdagangan ilegal narkotika menjadi
salah satu alternative sumber pendanaan bagi kegiatan terorisme dan kejahatan
transnasional lainya, seperti perdagangan wanita dan anak-anak serta
penyelundupan migran ke beberapa negara.
Paparan di atas menunjukkan bahwa minuman keras, narkotika, dan obat berbahaya
merupakan hal yang sangat menarik sekali untuk dikaji secara intensif, guna
memberikan sumbangan pemikiran untuk mengatasi minuman keras, narkotika, dan
obat berbahaya yang menjadi permasalahan serius, baik dalam skala nasional
maupun internasional.

B. Tinjauan Umum Tentang Miras Dan Narkoba
1. Miras
a. Pengertian Miras (minuman keras)
Minuman keras, sering kali disingkat dengan miras, adalah minuman beralkohol
yang diproses dari hasil pertanian dengan jalan fermentasi atau destilasi. Dalam
bahasa Arab (Islam) disebut khamer. Jadi, miras di sini adalah semua jenis minuman
yang mengandung alkohol (ethanol) dan apabila diminum dapat memabukkan,
membuat linglung, dan tidak sadarkan diri. Sekali pun mengandung alkohol
(dibawah 20%) dan tidak bereaksi memabukkan, maka berdasarkan Standard
Industri Indonesia (SII) tidak dinamakan minuman keras, akan tetapi dinamakan
minuman ringan (shoft drink).
b. Macam-macam Miras
Macam-macam miras bisa diketahui melalui sedikit dan banyaknya kandungan
ethanol yang terdapat pada setiap jenis minuman keras yang tersedia dan beredar di
masyarakat. Dewasa ini minuman beralkohol (ethanol) yang dikonsumsi masyarakat
tersedia dalam berbagai konsentrasi mulai dari 5% sampai 50%, seperti: Must
dengan kadar ethanol 5-6%, Wine: 10%, Frotified Wine: 15-20%, Beer: 49%, Spirit:
38%, Whiskey US: 43-50%, Whiskey UK: 40%. , Anggur: 7-22%, umumnya 12-14 %,
anggur merah: kira-kira 14%, Anggur Putih: kira-kira 10%, Champagne atau Sparking
Wine: 10,13-20%, Port dan Sherry (dari jenis Anggur): 20% atau lebih, golongan bir :
4%-7%, Ale: 8-16%, Porter: 8-16%, Bir hitam: 8-16%, Toak (hasil fermentasi nira): 8%,
Gin (dihasilkan dengan cara destilasi): 37-54%, Whiskey: 37-53%, Brendy: 37-43%
dan sebagainya.
c. Klasifikasi Miras
Minuman beralkohol dikelompokkan dalam golongan sebagai berikut:
1. Minuman beralkohol golongan A, yakni yang memiliki kadar ethanol (C2HOH)
sebesar 1% sampai dengan 5%.
2. Minuman beralkohol golongan B, yakni yang memiliki kadar ethanol kurang dari
20%.
3. Minuman beralkohol golongan C, yakni yang memiliki kadar ethanol lebih dari
20% sampai 55%.

d. Pengaruh Miras terhadap Kejiwaan
Minuman keras baru berpengaruh pada kejiwaan, apabila mencapai konsentrasi
ethanol dalam darah dengan efek klinik sebagai berikut:
1. 30-100 mg/dl: Eforia sedang, aktif berbicara, hilang hambatan, tidak bisa
berkonsentrasi, inkordinasi, tidak bisa berpendapat.
2. 100-200 mg/dl: Emosi tak stabil, Excitement, reaksi lambat, keseimbangan hilang,
bicara tidak karuan.
3. 200-300 mg/dl: Binggung, disorientasi, pusing, diplopia, pupil melebar,
keseimbangan berkurang.
4. 300-400 mg/dl: Apatis, tidur, muntah, ngompol, tidak mau berdiri.
5. 400 mg/dl: tidak sadar, koma, pernapasan lambat, reflek mata berkurang,
temperatur tubuh menurun, hipotensi, shok mati.

C. NARKOBA
a. Pengertian Narkoba
Narkotika dan obat-obat berbahaya yang seringkali disingkat narkoba adalah dua
jenis yang berbeda. Pertama, narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari
tanaman atau bukan tanaman baik sintesis maupun semi sintesis yang dapat
menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri dan
dapat menimbulkan ketergantungan. Kedua, psikotropika dan obat-obat berbahaya
adalah zat atau obat, baik alami maupun sintesis, bukan narkotika, yang berkhasiat
psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan
perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.
b. Jenis-jenis Narkotika
Narkotika atau obat bius yang dalam bahasa Inggris disebut narcotic adalah semua
bahan obat yang mempunyai efek kerja yang pada umumnya bersifat:
1. Membius (menurunkan kesadaran)
2. Merangsang (meningkatkan semangat kegiatan atau aktivitas)
3. Ketagihan (ketergantungan , mengikat, dependence)
4. Menimbulkan daya berkhayal (halusinasi)
Zat ini secara garis besar digolongkan menjadi dua macam: narkotika dalam arti
sempit dan narkotika dalam arti luas. Narkotika dalam arti sempit, bersifat alami.
Yaitu semua bahan obat opiatin, cocaine, dan ganja. Sedangkan narkotika dalam arti
luas, bersifat alami dan syntetic. Yaitu semua bahan obat-obatan yang berasal dari:
a. Papaver Somniferum (opium atau candu, morphine, heroin dan sebagainya)
b. Eryth Roxylon Coca (cocaine)
c. Cannabis Sativa (ganja, hasyisy)
d. Golongan obat-obatan depressant (obat-obat penenang)
e. Golongan obat-obatan stimulant (obat-obat perangsang)
f. Golongan obat-obatan hallucinogen( obat pemicu khayal)
Dr.Shaleh bin Ghonim as Sadlan membagi obat-obat terlarang ini menjadi tiga
bagian, yaitu :
a. Narkotika Natural (Alami)
Yaitu yang berasal dari tumbuh-tumbuhan seperti ganja, opium, koka, alkot
(cathaedulis) dan lain-lain.
b. Narkotika Semi Sintesis
Yaitu yang dimodifikasi dari bahan-bahan alami (biasanya dari zat kimia yang
terdapat dalam opium) kemudian diproses secara kimiawi supaya memberikan
pengaruh lebih kuat, seperti morfin, heroin, kokain dan lain-lain
c. Narkotika Sintesis
Yaitu pil-pil yang terbuat dari bahan kimia murni. Pengaruh dan efek yang
ditimbulkannya sama dengan narkotika natural atau semi sintesis. Dikemas dalam
bentuk kapsul, pil, tablet, cairan injeksi, minuman, serbuk dan berbagai bentuk
lainya. Di antaranya adalah berbagai jenis obat tidur seperti kapsul Signal, atau pil
perangsang (stimulantia) seperti Kiptagon atau Amphetamine, atau tablet penenang
seperti Valium 5 dan derivate-derivatnya yang lain. Termasuk diantaranya pil
hallusinogent (pembangkit halusinasi) sepert L.S.D (Lysegic Acid Diethlamide).
Sejalan dengan itu Abu Ghifari membagi narkotika menjadi dua bagian yaitu :
a. Narkotika alam. Jenis natur dari dedaunan dan getah, yang tehnik penggunaanya
sangat praktis yang terdiri dari :
1. Bentuk daun, misalnya ganja, wujudnya mirip daun teh kering, warnanya hijau
kecoklatan, dan
2. Bentuk getah, misalnya cannabis dan hasyis, wujudnya cairan kental, warnanya
coklat tua.
b. Narkotika sintetik jenis yang diolah secara kimiawi, terdiri dari:
1. Bentuk cairan, misalnya morfin (ampul), wujudnya mirip cairan alkohol murni,
warnanya bening.
2. Bentuk tablet atau kapsul, misalnya: tablet cosadon, warnanya merah muda,
magadon (nitrazwpam 5 mg), warnanya putih, rohipnool warnanya putih, kapsul
nembutal, warnanya kuning, trandene 10, warnanya kuning tua.
d. Klasifikasi Narkoba
1. Narkotika
Menurut UU No. 22 Th. 1997 tentang narkotika, pasal 2 ayat 1 ditinjau dari ruang
lingkup dan tujuanya, narkotika bisa diklasifikasikan menjadi tiga golongan, yaitu
narkotika golongan I, golongan II, dan narkotika golongan III.
Yang dimaksud dengan narkotika golongan I adalah narkotika yang hanya dapat
digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan
dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan
ketergantungan. Dan yang dimaksud dengan narkotika golongan II, adalah yang
berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan
dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. Adapun yang
dimaksudkan dengan narkotika golongan III, adalah narkotika ynag berkhasiat
pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan atau tujuan pengembangan
ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan.
2. Psikotropika
Sebagaimana narkotika, psikotropika pun juga digolong-golongkan atau
diklasifikasikan menurut jenisnya. Psikotropika yang mempunyai potensi
mengakibatkan sindroma ketergantungan, digolongkan menjadi empat golongan ,
yaitu psikotropika golongan I, golongan II, golongan III, dan psikotropika golongan IV.
Dalam penjelasan atas Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1997
tentang psikotropika dijelaskan, bahwa psikotropika golongan I adalah psikotropika
yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan
dalam terapi, serta mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan sindrom
ketergantungan.
Sedangkan psikotropika golongan II adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan
dan dapat digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindrom ketergantungan.
Psikotropika golongan III adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat
digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan sertam
mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindrom ketergantungan.
Psikotropika golongan IV adalah psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan
sangat luas digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindrom ketergantungan.
Sekalipun pengaturan psikotropika dalam undang-undang ini hanya meliputi
psikotropika golongan I, golongan II, golongan III, dan psikotropika golongan IV,
masih terdapat psikotropika lainya yang tidak mempunyai potensi mengakibatkan
sindrom ketergantungan, tetapi digolongkan sebagai obat keras. Oleh Karena itu,
pengaturan, pembinaan, dan pengawasannya tunduk kepada peraturan perundang-
undangan yang berlaku dibidang obat keras.

e. Pengaruh atau gejala yang ditimbulkan oleh narkoba
e.1. Psikologi
Meskipun efek narkotika dan psikotropika sering berlainan, namun secara umum
benda itu menyerang sistem dan fungsi neotransmitter pada susunan syaraf pusat
atau otak. Akibatnya fungsi berfikir, berperasaan dan berperilaku dari si pemakai
atau pecandu akan terganggu. Misalnya semangat berlebihan, gelisah, dan tidak bisa
diam, tidak bisa tidur, dan tidak bisa makan. Dalam jangka panjang, penggunaan
obat ini dapat menimbulkan fungsi otak terganggu dan bisa berakhir dengan
kegilaan.
Bila si pemakai sudah sampai pada tingkat pecandu, kemudian ia tidak memakainya,
maka pengaruh yang dapat dirasakan, antara lain cepat marah, tidak tenang, cepat
lelah, tidak bersemangat, dan ingin tidur terus.
e.2. Fisiologis
Efek yang ditimbulkan oleh narkotika dan psikotropika terhadap fisik, antara lain
menurunya kekebalan tubuh dan rusaknya beberapa fungsi organ tubuh, baik organ
dalam seperti jantung, paru-paru, liver, hati dan lain sebagainya, juga organ luar
seperti pupil mata mengecil , bicara cadel, mulut kering, dan alat-alat indera lainya.
Dari uaraian di atas dapat disimpulkan bahwa narkoba adalah racun yang bukan saja
merusak seseorang secara fisik tapi juga merusak jiwa dan masa depan
penggunanya. Secara fisik, kekebalan tubuh semakin lama semakin ambruk,
sementara mentalitasnya sudah terlanjur ketergantungan dan membutuhkan
pemenuhan narkoba dalam dosis yang semakin tinggi. Jika dia tidak berhasil
menemukan narkoba, maka tubuh akan mengadakan reaksi yang menyakitkan,
diantaranya sembelit, muntah-muntah, kejang-kejang, dan badan menggigil yang
dikenal dengan sakau. Untuk itu para pecandu narkoba tidak bisa lepas dari
ketergantungan, hingga memerlukan terapi cukup lama.
Penyalahgunaan narkoba dapat mengakibatkan gangguan mental atau jiwa yang
dalam istilah kedokteran jiwa (psikiatri) disebut gangguan mental organic. Disebut
organic karena narkoba ini bila masuk ke dalam tubuh langsung bereaksi dengan sel-
sel saraf pusat (otak) dan menimbulkan gangguan dalam alam pikir, perasaan
danperilaku. Kondisi demikian dapat dikonseptualisasikan sebagai gangguan jiwa
karena narkoba.

D. Tinjauan Hukum Islam terhadap Miras dan Narkoba
1. Miras
a. Pengertian Miras menurut Hukum Islam
Miras dalam Islam disebut dengan khamer. Sedangkan kata khamer berasal dari
kosa-kata Arab khamara-yakhmuru atau khamara yakhmiru, yang berarti tertutup
atau terhalang. Karena itu, minuman tersebut sifatnya dapat menutupi akal dan
pikiran sehat peminumnya dari mengerjakan perintah-perintah agama (Allah dan
rasulnya). Khamer dibuat dari perasan atau sari buah anggur. Bisa disebut khamer
juga setiap perasan atau sari buah yang difermentasi atau didestilasi, atau dilakukan
peragian sehingga berefek memabukkan.
Namun untuk yang terakhir ini masih diperselisihkan oleh kalangan ulama fikih,
misalnya:
1. Imam Abu Hanifah
Ia berpendapat, bahwa khamer adalah minuman yang memabukkan dan hanya
terbuat dari perasan anggur saja. Sedangkan minuman memabukkan yang terbuat
dari bahan selain perasan anggur, ia tidak dimasukkanya ke dalam kategori khamer,
akan tetapi menamakanya dengan sebutan nabidz. Sebagaimana pernyataannya
sebagai berikut ini:

“Khamer adalah minuman yang memabukkan yang berasal dari perasan anggur saja.
Adapun yang memabukkan dari selain anggur, seperti minuman yang terbuat dari
perasan kurma dan gandum, maka tidak dinamakan khamer, akan tetapi dinamakan
nabidz. Ini adalah madhabnya ulama Kufah, Al-Nakha’I, Al-Tsauri dan Ibnu Laila”
Dengan pendapatnya tersebut, ia mengemukakan dua alasan :
a. Karena alasan bahasa. Mereka berpegang pada kata-kata Abu al-Aswad al –Du’ali
sebuah sya’irnya yang berbunyi sebagai berikut :

ل ه ه ه ث ه
“Biarlah khamer itu diminum orang-orang yang sesat,
Karena aku yakin bahwa sang pemabuk tetap menyanyikan (membela)
keberadaanya”
“Baik Khamer itu tak ada untuknya atau sang pemabuk tak memilikinya.
Sesungguhnya mereka berdua adalah saudara yang pernah disusui seorang ibu”
Dengan alasan ini mereka berpendapat bahwa sesungguhnya nabidz bukan
termasuk khamer. Dan yang dinamakan khamer adalah sesuatu (minuman) yang
sangat keras (memabukkan) yang berasal dari perasan anggur.
b. Karena alasan agama, (berlandaskan sunnah nabi). Yaitu hadis yang diriwayatkan
oleh Abi Sa’id al Khudri :
ا ه م ه ؟ ق
ح ا ه ق ق ق مح ا ا ه
م
“Ketika Nisywan datang kepada rasulullah, beliau berkata kepadanya: Apakah kau
minum khamer? Ia menjawab: saya tidak meminumnya sejak Allah dan rasulnya
mengharamkan. Kalau begitu apa yang kau minum? Ia menjawab: Dua campuran.
Maka rasulullah mengharamkan kedua campuran tersebut”.
Hadis tersebut menjelaskan bahwa peminum meniadakan penamaan khamer dari
dua campuran minuman dihadapan rasulullah sedangkan beliau tidak
mengingkarinya.
2. Jumhur Ulama (Mayoritas Ulama)
Di antara mayoritas ini, antara lain, adalah Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam
Ahmad. Mereka berpendapat:
م إ ء .
ج ثح زجح .
“Khamer adalah nama (sebutan) bagi setiap minuman yang memabukkan baik
terbuat dari anggur, kurma, gandum, atau lainnya. Ini merupakan pendapat
mayoritas dari kalangan ahli hadis dan ulama Hijaz”
Alasan mereka bahwa yang dinamakan khamer adalah segala sesuatu yang
memabukkan, menjadi sangat kuat sekali dengan ditopang beberapa dalil hadits
berikut:
1. Hadis Ibnu Umar yang mengatakan
مح ( )
“Segala yang memabukkan adalah khamer, dan segala yang memabukkan hukumnya
haram.”(H.R. Abu DAud dari Ibnu Umar).
2. Hadis Ibnu Umar
ز م ح م ز ة : ، ة ح
( )
“Khamer diharamkan semenjak ditetapkan keharamanya, dan khamer yang
dimaksud yang terbuat dari lima hal: anggur, kurma, biji gandum, jewawud (jelai),
dan sari pati. Khamer adalah apa yang dapat menutupi akal“.(H.R. Abu Daud).
3. Hadis Ummi Salimah
ا ا ه م ف ( م ة ض
ا ).
“Rasulullah melarang segala minuman yang memabukkan dan menutupi akal .”(HR.
Abu Daud dari Ummi Salamah RA).
4. Hadis Abu Hurairah:
ثح ز ح ثح م ججح ث ثح
ح ث ث ه ثح ق ق ا ا ه
م ج ة ة ( م )
“Zuhair bin Harb bercerita padaku, bahwa Isnai’l bin Ibrahim telah bercerita kepada
kita, kita telah mendapatkan kabar dari Al Hajjaj bin Abi Usman, bahwa Yahya bin
Abi Katsir bercerita padaku sesungguhnya Aba Katsir mendengar Abu Hurairah
berkata : Rasulullah saw, bersabda : khamer itu terbuat dari kedua pohon ini, yaitu
kurma dan anggur”.(H.R.Muslim).
5. Hadits Anas:
ثح ح س ثح ه ع س ث
س ح ح ح ج ة ل ل إ ق ة
. ( )
“Ahmad bin Yunus bercerita kepada kita, bahwa Abu Syihab Abdu Rabbih bin Nafi’,
dari Yunus, (ia) dari Tsabit Al Bunnani, (ia) dari Anas telah bercerita kepada kita,
diharamkan khamer semenjak ditetapkan keharamanya, dan di Madinah kami tidak
mendapatkan khamer yang terbuat dari anggur, kecuali hanya sedikit. Sedangkan
umumnya khamer kita kebanyakan terbuat dari kurma atau kurma yang masih
muda.”
Al-Fahru al Rozi berpendapat bahwa hal di atas merupakan argumentasi yang paling
kuat dalam hal menamakan khamer dalam pengertian semua yang memabukkan.
Al-Imam al-Alusi pun juga mengemukakan komentarnya sebagai berikut:
قح ل ء ه ف أ
م ث ح مح ه ق ث ح ه ع ه ق
ه ج ةظ .
“Menurut saya, sesungguhnya yang benar dan tidak boleh diingkari, bahwa
minuman yang dibuat dari apa saja selain anggur, apapun adanya serta apapun
namanya, sekiranya memabukkan maka hukumnya haram. Baik sedikit maupun
banyak. Peminumnya dikenai hukuman had, talaknya dianggap sah serta najisnya
terhitung najis mughalladhah”
Dari berbagai argumentasi di atas, Muhammad Ali al-Shabuni berpendapat bahwa
sesungguhnya segala sesuatu yang memabukkan adalah khamer.
Selain permasalahan di atas, yang juga menjadi perbincangan para ulama adalah
bentuk zat dari khamer. Muhammad al-Zuhri al –Ghamrawi menyatakan:
ه ه ج ث ح ه ئ.
“Yang dimaksudkan dengan peminumnya adalah orang yang mengonsumsi khamer,
sekali pun berupa zat padat, adalkan berasal dari zat cair”
Dari pernyataan tersebut bisa diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan
khamer harus berupa zat cair atau zat padat yang berasal dari zat cair. Oleh karena
itu yang tidak berbentuk zat cair (minuman), seperti: ganja, opium, dan sebagainya
bukan termasuk khamer. Oleh karenanya, tidak berlaku hukuman had bagi
penggunanya (peminumnya). Hal ini sesuai dengan pendapat Ibrahim al –Bajuri yang
mengatakan:
ج ة ح ل ح ح ه إ مح
ه ف ل ه ه مح مث ك م .
“Dikecualikan dari minuman (syarab), tumbuh-tumbuhan seperti ganja, opium, dan
lainya, maka tidak diberlakukan hukum had, sekalipun semua itu haram dan
menutupi akal. Tetapi sebaiknya hal tersebut dijauhkan dari pandangan orang
awam”
Dari ulasan di atas, secara definitive, khamer bisa diartikan sebagai: Zat cair atau zat
padat yang berasal dari zat cair yang disajikan untuk minuman, yang apabila
diminum akan mengakibatkan mabuk atau tertutupnya akal. Dengan demikian
sekalipun berupa zat cair, tetapi tidak disajikan untuk diminum, tidak termasuk
kategori khamer, seperti alkohol dan sebagainya.

b. Tinjauan Hukum Islam Terhadap Miras (Khamer)
Sebagian telah dimaklumi, bahwasanya al-Qur’an merupakan sumber hukum yang
pertama dalam mengatur segala persoalan kehidupan. Kemudian setelah itu secara
berurutan adalah: Sunnah rasul (al-Hadis), Ijma’, dan yang terakhir adalah Qiyas.
Dengan bersandar pada empat hal inilah segala persoalan sosial baik yang sudah
terjadi , maupun yang sedang dan akan terjadi, ditetapkan sebagai aturan – aturan
hukum yang harus ditaati. Karena al-Qur’an diturunkan oleh Allah ke dunia
diperuntukkan sebagai pedoman hidup bagi seluruh umat manusia. Sebagaimana
firman-Nya dalam al-Qur’an surat Al-Anbiya’, ayat 107:
Z_· 9me=\v~=v0e¹ vu1HttZ )ee &p|v=+o~ puBt-!
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi
semesta alam.
Secara universal, kandungan isi al-Qur’an, mencakup persoalan sosial, yang terdiri
dari :
1) Ilmu-ilmu tentang hokum.
2) Ilmu–ilmu tentang jidal (dialog).
3) Ilmu–ilmu tentang bagaimana orang mengingat-ingat kenikmatan yang telah
diberikan oleh Allah kepadanya.
4) Ilmu-ilmu tentang peringatan terhadap manusia akan adanya hari pembalasan.
5) Ilmu–ilmu tentang kematian dan kehidupan setelah mati.
Masalah minuman keras memang sudah ditetapkan keharamanya di dalam al-
Qur’an. Dan segala sesuatu yang telah ditetapkan aturanya di dalam al-Qur’an ,
wajib ditaati dan tidak boleh seorang pun mengingkarinya. Hal ini sesuai dengan apa
yang dikemukakan oleh Ibnu Abbas sebagai berikut:
إ ج ث ك ه . ق ص ز ح ا
ه ،م ه م .
“Apabila telah kami kumpulkan dan kami tetapkan al-Qur’an di hatimu, maka
berbuatlah kamu dengannya. Yang dimaksudkan Ibnu Abbas adalah al-Qur’an yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.maka jadilah al-Qur’an itu baginya
bagaikan ilmu.”
Setelah melalui perdebatan panjang di kalangan para ulama’ dalam menentukan
apakah sesunguhnya khamer tersebut, pada akhirnya bisa disimpulkan bahwa
mereka (ulama) terbagi menjadi dua golongan, yaitu:
Pertama, adalah golongan Hanafiyah. Mereka memutuskan bahwa khamer adalah:
“Minuman yang memabukkan yang terbuat dari perasan anggur”. Sedangkan yang
terbuat dari selain anggur tidak disebut khamer, akan tetapi disebut nabidz.
Kedua, adalah golongan jumhur ulama, yaitu Malik, Syafi’i, dan Ahmad. Mereka
memutuskan bahwa khamer adalah:”Nama (sebutan) bagi setiap minuman yang
memabukkan , baik terbuat dari perasan anggur, kurma, gandum atau yang lainnya.”
Setelah mencermati perbedaan pendapat tersebut, maka bisa disimpulkan bahwa
secara definitive khamer adalah: “Zat cair atau zat padat yang berasal dari zat cair
yang disajikan untuk minuman, yang apabila diminum akan mengakibatkan mabuk
atau tertutupnya akal fikiran”.
Islam memandang khamer sebagai sesuatu yang kehadiranya akan menimbulkan
mafsadat atau kerusakan dalam perjalanan hidup manusia. Oleh karenanya khamer
harus dijauhkan dari segala aktifitas manusia, agar bisa mendapatkan kebahagiaan
hidup baik di dunia maupun akhirat. Firman Allah dalam al -Qur’an, surat Al-Maidah,
ayat 90 menyatakan:
t~|÷pkt- pu#-{uP·'->: pu#-9.0v.s© #-:.o01© )eP|0v-
'u#Bt+©u)#( #-!v°e¦t o--1It±e7uv #-9±.:o~· ©t0v~ Bie1
_1+© pu#-{u.9o~N© ®· ?\.=eo¹u|t 9o\v=+3'N|
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum (khamer), berjudi
(berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji
termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu
mendapat keberuntungan.”
Kata rijs(سج ) dalam ayat di atas, sekalipun oleh kebanyakan orang diterjemahkan
ke dalam bahasa Indonesia dengan kata “keji”, sesungguhnya merupakan
terjemahan yang kurang tepat (kurang pas). Karena dalam ayat di atas, perbuatan
(keji) itu dinyatakan sebagai bagian dari syaitan. Kesimpulannya, orang yang minum
khamer telah mengambil alih satu perbuatan dari perbuatan-perbuatan syaitan.
Sebagaimana diinformasikan al-Qur’an , bahwa syaitan adalah musuh bagi manusia,
dan manusia harus memposisikanya sebagai musuh yang nyata. Bukan hanya Islam
yang menyatakan bahwa syaitan adalah musuh bagi manusia, tetapi hampir semua
agama dan keyakinan menyatakan bahwa syaitan adalah musuh yang selalu
bertujuan untuk menyesatkan dan merusak sendi-sendi agama yang bertujuan
memelihara kelangsungan dan keselamatan serta kebahagiaan hidup di dunia dan
akhirat.
Untuk memberikan pemeliharaan terhadaap kelangsungan dan keselamatan serta
kebahagiaan hidup yang dimaksud, Imam Syathibi, menetapkan lima tujuan yang
paling mendasar dengan diturunkanya syari’at Islam. Lima tujuan dasar itu, ia
menyebutnya dengan al dlaruriyyah al khams, yang diantaranya, Hifdzu al din
(menjaga agama), Hifdzu al nasl (menjaga keturunan), Hifdzu al mal (menjaga harta),
Hifdzu al aql (menajga akal), Hifdzu al I’rdli (menjaga harga diri).
Kelima hal tersebut merupakan kebutuhan dasar manusia yang wajib dijaga. Oleh
karena itu datangnya khamer yang berpotensi merusak, harus dihindarkan jauh-jauh
dengan tujuan untuk:
1) Menjaga agama
Agama merupakan suatu keyakinan yang mengatur perjalanan hidup manusia demi
mencapai kebahagiaanya di dunia maupun akhirat. Oleh karena itu agama
merupakan kebutuhan asasi manusia yang harus dihormati dan dijaga dari segala hal
yang merusaknya. Baik dalam hubunganya antara manusia dengan sesame
(muamalah), maupun dengan penciptanya (ibadah). Baik dalam bidang muamalah
maupun ibadah, kesehatan jasmani dan rohani merupakan kebutuhan fital yang
tidak boleh ditiadakan. Sebab itulah minum khamer yang berpotensi merusak
ditetapkan sebagai perbuatan syaitan. Ibadah, (khususnya shalat) merupakan
perintah Allah yang harus dijalankan dengan sepenuh hati dan ikhlas, serta dalam
konsentrasi maksimal. Yaitu melaksanakan ibadah penuh dengan kesadaran berfikir
serta hadirnya hati yang diikuti dengan gerakan-gerakan anggota badan secara
teratur dan tuma’ninah. Kehadiran khamer (miras) yang berpotensi merusak akal
dan jiwa serta membuat lemahnya fisik, sangat bertentangan dan bahkan bisa
mengacaukan perbuatan shalat tersebut. Oleh karena itu Islam melarang orang
mendekati perbuatan shalat ketika dalam keadaan mabuk. al-Qur’an suran An-Nisa’:
c_· ?o)^u9'u|t Bt- ?o\|=v0¹u#( uvA÷©4 ¹3o~t3 pu&pPuO(
#-9·'=vu4ov ?o).t/u#( e 'u#Bt+©u#( #-!v°e¦t t~|÷pkt-
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam
keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.”
Ayat tersebut sesungguhnya tidak menunjukkan larangan tentang shalat. Karena
shalat merupakan kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Hanya saja ayat tersebut
menjelaskan bahwa shalat tidak boleh didekati(dikerjakan) ketiak orang itu dalam
keadaan mabuk. Artinya fokus larangan dalam ayat tersebut adalah larangan mabuk
(minum khamer). Karena ketika orang itu mabuk , jiwa, raga, dan fikiranya
terganggu, hingga ia tidak menyadari apa yang ia ucapkan di dalam shalat, dan tidak
pula menyadari akan gerakan-gerakan yang ia kerjakan di dalamnya. Hal semacam
ini sangat bertentangan dengan tujuan syari’at dalam hal shalat atau ibadah-ibadah
yang lainnya.
2) Menjaga Keturunan.
Majunya ilmu pengetahuan dan teknologi memberikan jawaban tegas bahwa
minuman keras ternyata berakibat buruk pada generasi penerus. Bahaya minuman
keras, bukan hanya mengancam peminumnya saja. Namun secara tidak manusiawi,
anak yang masih kecil, bahkan ketika anak masih berada dalam kandungan , sudah
terpengaruh (mengalami gangguan-gangguan kesehatan) manakala ketika sang ibu
hamil terbiasa minum alkohol. Bahkan resiko si kecil berkembang menjadi pecandu
alkohol pun besar. Masalah ini dikemukakan dalam suatu studi: “Jumlah dan
frekuensi alkohol yang diminum ibu hamil bisa menjadi patokan berapa besar anak
berkembang menjadi alkoholik. . Pengaruh buruk alkohol atau miras tidak hanya
berpengaruh fisik saja, melainkan juga berpengaruh pada karakter atau akhlak si
anak, yang dalam pepatah Jawa dikatakan “kacang ora ninggalno lanjaran”. Artinya
seseorang meniru keadaan akhlak orang tuanya.
3) Untuk menjaga harta
Orang hidup tidak mungkin bisa dipisahkan dari harta. Artinya tanpa harta orang
tidak akan bisa hidup. Oleh karena itu harta termasuk kebutuhan asasi yang harus
dipenuhi dan dijaga. Membelanjakan harta ke jalan yang tidak benar (untuk
minuman keras atau khamer) merupakan perbuatan yang tidak ada artinya dan sia-
sia atau mubadzir, sekaligus merupakan perbuatan syaitan yang seharusnya dijauhi.
Sebagaimana al-Qur’an , surat Al-Isyra’ ayat 27 menyatakan :
Z.· .c^u+# 9et/veue÷ #-9±.:o~¹ pu.c°|t ( #-9±u~:e¹
)e.|uu÷|t .c°Pu)#( #-9.0¹6tm_¦t )e|•
“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan
itu adalah sangat ingkar kepada Tuhanya”.

4) Untuk menjaga akal
Banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an yang menerangkan bahwa akal adalah sesuatu
yang amat penting bagi manusia. Dengan akalnya manusia bisa mengetahui tanda-
tanda kekuasaan dan kebesaran Allah. Dan dengan akalnya pula manusia akan
mendapatkan kebahagiaanya. al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 242 menegaskan
sebagai berikut:
._.· ?o\|)=\u|t 9o\v=+3'N| 'u#t~Ieue÷ 9o6^N| #-!+ ©7t¹ie¹
.cc÷9e
“Demikian Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya (hukum hukum-Nya) supaya
kamu memahaminya.”
Mengenal Tuhan adlaah suatu kebahagiaan tersendiri bagi orang yang mengerti apa
artinya hidup dalam naungan agama. Irulah sebabnya pada suatu ketika Siti A’isyah
menyatakan sebagai berikut:
ق ح ج ا ه .
“Sungguh berbahagialah orang-orang yang diberi akal oleh Allah.”
Demikian halnya Al Hasan Ra. Dalam suatu komentarnya ia mangatakan:
م ج ح م ه ا ء ل إ ف ه
“Tidaklah sempurna agama seseorang hingga sempurna akalnya, dan Alloh tidak
menitipkan akal kepadanya kecuali pada suatu hari Allah berkenan
menyelamatkanya”.
Ia berkomentar demikian tidak lain karena memandang betapa akal itu merupakan
sesutau yang sangat berharga baginya. Agama seseorang tidak akan sempurna jika
akalnya tidak sempurna. Dan keselamatan seseorang pun tergantung pada
kesempurnaan akalnya pula.

5) Untuk menjaga Kehormatan
Mengkonsumsi minuman keras, tidak hanya menyebabkan rusaknya fisik, dan
kerugian harta saja, melainkan juga menyebabkan penderitaan manusia secara
moral atau kejiwaan serta menterlantarkan keluarga yang seharusnya dijunjung
tinggi. Para ahli dibidang kedokteran menyatakan:
ث ض ه ف ع ض أج إ م جل ج ه ك
ه ف ه ف ضإ ه ه م
“Tidak sedikit orang yang kecanduan (selalu minum khamer), akhirnya kehilangan
kepedulian terhadap dirinya sendiri , keluarga, bahkan menyeret dirinya untuk
berbuat kriminal lainya demi mendapatkan harta untuk menghancurkan dirinya
sendiri, keluarga, bahkan memperlemah umat dan negaranya”.
Realitas sosial menunjukkan bahwa banyak sekali kejadian-kejadian kriminal. Yang
disebabkan karena pelakunya dalam keadaan mabuk. Perbuatan tersebut dilakukan
diluar kesadarannya. Karena otak (pikiran) orang yang sedang mabuk khamer,
terganggu oleh serangan alkohol pada syaraf pusatnya. Dalam kitabnya Dalil al Sailin
dituturkan:
ق : س .
“Berkatalah seorang Badui, minuman keras (khamer) adalah pangkal semua
kejahatan , asal segala bencana dan sebab segala kerusakan.”
Dengan demikian jelaslah bahwa miras (khamer) merupakan penyebab segala
terjadinya perbuatan jahat (criminal), sesuai dengan al-Qur’an surat Al-Maidah ayat
91:
/t|Zu3'N© ©u°e¦v &p| #-9±.:o~¹ ©c¹ )eP|0v-
pu#-9.0v|s©e #-:.oK|c e pu#-9.7t(.®-!'u #-9.\vv÷puov
&pP'A o¸v~| ( #-9·'=vu4o_ pu©t· #-!÷ e..c ©t put·]s.'N|
_®· BZ0tk¯u|t
“Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan
kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamer dan berjudi itu, dan
menghalangi kamu mengingat Allah dan sembahyang, maak berhentilah kamu (dari
mengerjakan pekerjaan itu)”.
Setelah mencermati ulasan di atas, secara garis besar bisa disimpulkan bahwa miras
adalah sesuatu yang sangat merugikan, karena adanya daya perusaknya sangat
besar terhadap sendi-sendi kehidupan, yaitu: agama, keturunan, harta, akal dan
harga diri manusia.

c. Pertimbangan Hukum Islam terhadap Miras (Khamer)
Proses yang panjang dalam perjalanan manusia bersama minuman keras (khamer),
pada akhirnya membuahkan suatu ketetapan bahwa miras adalah sebagai sesuatu
yang dilarang (diharamkan)
Dengan memperhatikan dan mempertimbangkan dampak negatip yang ditimbulkan
oleh miras, yaitu:
1). Miras sebagai faktor penyebab terganggunya agama
2). Miras sebagai faktor penyebab terganggunya keturunan
3). Miras sebagai faktor penyebab terganggunya harta.
4). Miras sebagai faktor penyebab terganggunya akal
5). Miras sebagai penyebab terganggunya harga diri.
Maka berdasarkan:
1. Q.S. Al-Baqarah 219-220:
+ )eO.N\ e¸e0v-! °\~| ( pu#-9.0v|s©e #-9.v01c ©tC·
oT(÷t=\uPt7v 3 P|.\e¸e0v- Be &p2í9t pu)eO.0¹¸¹0v-! 9e=Z•-•©
puBt+o~e¦¹ 27e· ©7t¹ie¹ .cc÷9e 3 #-9.\v.uu °\~
©Ze)^u|t Bt-o# puoT(÷t=\uPt #-9P|u- e ®_.·
?outc3v©p|t 9o\v=|6^N| #-vut~Me 9o3'N© #-!+ :°ìN| )e=1cv©
°\~| ( #-9.uIt~0v4 ©t· puoT(÷t=\uPt7v 3 pu#-vu.©to_ t\|=vN©
pu#-!+ 4 o-e.|uu÷P3'N| Bo-9e:'uo\N| pu)e| ( .v|· )e| •4
{c©1Zuut3'N| #-!+ vc-!'u pu9ou| 4 #-9.0¹·(=ec. Be. #-9.0¹.T©v
..· uv3©O® ©t_¹ #-!v
“Tentang dunia dan akhirat, Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim,
katakanlah: “Menurut urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu
bergaul dengan mereka, maka mereka adalah saudaramu, dan Allah mengetahui
siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan. Dan jikalau Allah
menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya
Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijak….”(220).
2. Q.S. Al-Maidah 90
t~|÷pkt- pu#-{uP·'->: pu#-9.0v.s© #-:.o01© )eP|0v-
'u#Bt+©u)#( #-!v°e¦t o--1It±e7uv #-9±.:o~· ©t0v~ Bie1
_1+© pu#-{u.9o~N© ®· ?\.=eo¹u|t 9o\v=+3'N|
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum (khamer), berjudi
(berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji
termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu
mendapat keberuntungan.”

3. Q.S. Al-Maidah 91
©c¹ )eP|0v- e pu#-9.7t(.®-!'u #-9.\vv÷puov /t|Zu3'N©
©u°e¦v &p| #-9±.:o~¹ pu©t· #-!÷ e..c ©t put·]s.'N|
pu#-9.0v|s©e #-:.oK|c _®· BZ0tk¯u|t &pP'A o¸v~| (
#-9·'=vu4o_
“Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan
kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamer dan berjudi itu, dan
menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang, amak berhentilah kamu
(dari mengerjakan pekerjaan itu)”.
4. Hadits Anas
س ض ا ه ا ه م ج ج
م ث ج س ف ى ق: ج
ح ف: ى ج فأ ح ج ث (
ة ل)
“Dari Anas RA. Bahwasanya nabi Muhammad SAW, menjilid (melaksanakan
hukuman had) dengan menggunakan pelepah kurma dan sandal. Kemudian
Abubakar menjilid 40 kali. Ketika sampai pada giliranya Umar, sedangkan manusia
mulai berdatangan dari pedesaan, beliau bertanya: apa pendapatmu tentang
penjilitan terhadap masalah khamer? Seraya Abdurrahman bin Auf menjawab: aku
melihat bahwa engkau menjilid dengan hukuman had yang paling ringan. Maka
selanjutnya Umar menjilid sebanyak 80 kali.”
5. Hadits Abu Hurairoh
ق ض ا ه : ا ه م ج ق ق:
ض ض ض ه ض ه ث ف ق ض
م : كز ا ق ه م : ل ل ه (
)
“Berkatalah Abu Hurairoh RA, seorang laki-laki peminum khamer didatangkan
kehadapan Rosululloh, seraya beliau berkata: Pukullah dia. Maka diantara kita (para
sahabat nabi) ada orang yang memukul dengan tanganya, ada yang memukul
dengan sandalnya, dan ada yang memukul dengan pakaianya. Setelah lelaki tersebut
pergi, sebagian kaum mengatakan semoga Allah menghinakan kamu. Maka
bersabdalah Rosulullah SAW, jangan kau katakana demikian, jangan kau
memberikan pertolongan kepada syetan atas dia”. (HR. Al-Bukhori dan Abu Daud)
Hukum Islam, menetapkan bahwa khamer adalah barang diharamkan. Barang siapa
melanggar, berarti ia berbuat melawan hukum. Bagi peminumnya dikenakan
hukuman had atau dicambuk (dipukul) sebanyak 40 kali. Berdasarkan hadits ini juga,
hukuman had bisa ditingkatkan menjadi 80 kali, apabila hakim memandang perlu.
Hal itu dilakukan manakala hakim melihat masalah dalam pemberatan hukuman had
tersebut. Seperti apabila peminum sudah berkali-kali dijatuhi hukuman had tetapi
tidak juga jera.
Adapaun alat yang dipergunaakn untuk memukul, boleh dengan segala sesuatu yang
apabila dipukulkan bisa menimbulkan rasa sakit (bisa membuat si peminum jera),
berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Al Imam Bukhori dan Abu Daud di atas,
maka dengan demikian jelaslah bahwa persoalan alat untuk mencambuk atau
melaksanakan hukuman had, menjadi kewenangan hakim.
Dari uraian di atas bisa disimpulkan bahwa khamer atau miras dalam tinjauan
(perspektif) hukum Islam adalah:
1) Hukumnya haram.
2) Peminumnya dikenakan hukuman had (dicambuk 40 kali hingga 80 kali), menurut
keputusan hakim.
3) Penentuan alat untuk hukuman had, merupakan wewenang hakim.
2. Narkoba
a. Pengertian Narkoba Menurut Hukum Islam
Narkoba yang dikenal sekarang ini, sesungguhnya tidak pernah ada pada masa
permulaan Islam. Bahkan tidak satu ayat-pun dari ayat-ayat al-Qur’an maupun Hadis
Nabi yang membahas masalah tersebut. Pembahasan pada waktu itu hanya berkisar
pada permasalahan khamer saja, sebagaimana ulasan sebelumnya.
Adapun narkoba yang dalam istilah agama Islam disebut mukhoddirot, baru dikenal
oleh umat Islam pada akhir abad ke 6 H. itupun masih terbatas pada ganja. Yaitu
ketika bangsa Tartar memerangi atau menjajah negara-negara Islam. Pada waktu
itulah orang-orang Islam yang masih lemah imanya, dan orang-orang fasiq dari
kalangan umat Islam terpengaruh dan kemudian mengkonsumsi barang tersebut.
Baru setelah itu persoalan ganja dikenal dan tersebar dikalangan umat Islam.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah membahas panjang dan lebar mengenai
tumbuhan marihuana (dalam bahasa Arab disebut Hasyisyah) yang ternyata
belakangan ini tergolong narkotika. Hasil kajiannya dapat ditemukan dalam kitabnya
yang berjudul Majmu’ al-Fatawa. Diantaranya ia menyatakan sebagai berikut:
... ة ح ه ظ ة ئ ة
ئ ة ث ح ظ ه ، ظ ع ظ ف ج...
“Sesungguhnya awal dikenalnya ganja oleh umat Islam adlaah pada akhir abad ke 6
H atau abad ke 7 H, yaitu ketika bangsa Tatar dengan panglimanya bernama Jenghis
Kan merambah kewilayah Negara Islam.”
Begitu juga Syaikh Muhammad Ali Husin Al-Maliki RA. Menyatakan bahwa
marihuana belum pernah dibahas oleh ulama-ulama mujtahidin pada masanya, dan
belum pernah juga dibicarakan oleh ulama-ulama salaf. Karena sesungguhnya ganja
atau marihuana tersebut tidak dikenal pada waktu itu. Tumbuhan ini baru dikenal
dan tersebar pada akhir abad ke 6, yaitu pada masa pendudukan bangsa Tatar. Hal
ini diketahui dari pernyataan yang termuat dalam kitab Tahdziful furuq sebagai
berikut:
م ف ة ح م م ه ة ئل ، ج ل م ء
ف ه ل م م ز إ ظ ة ئ ة ة
.
“ketahuilah sesungguhnya tumbuh-tumbuhan yang dikenal dengan nama
marihuana(ganja) belum pernah dibahas oleh ulama-ulama mejtahidin, dan belum
pernah juga dibicarakan oleh ulama-ulama slaaf. Karena sesungguhnya ganja atau
marihuana tersebut tidak ada pada zaman mereka. Barang tersebut baru dikenal
dan tersebar pada akhir abad ke 6, yaitu pada masa pendudukan bangsa Tatar.”
Sejak itulah ulama-ulama Islam mulai mendiskusikan dan memperdebatkan
permasalahan narkoba, baik dalam pengertianya, jenisnya, macam-macamnya serta
segala sesuatu yang terkait denganya. Dalam kenyataan al-Qur’an dan Al-Hadis tidak
pernah membahas secara langsung persoalan narkoba tersebut. Bahkan tidak
pernah membahas jenis tumbuh-tumbuhan tertentu, yang kemudian hari
dinyatakan sebagai tumbuhan (tanaman) terlarang. Kini narkoba menjadi
permasalahan umat, yang menuntut para ulama untuk segera memberikan jawaban
tentang hukumnya yang pada kenyataanya barang tersebut memang memabukkan.
Ini artinya antara miras dan narkoba memiliki kesamaan sifat (illat), yaitu iskar atau
sifat memabukkan.
b. Tinjauan hukum Islam terhadap Narkoba
Sekalipun narkoba memiliki kesamaan sifat iskar dengan miras, namun secara
definitive menunjukkan adanya perbedaan. Karena miras berupa zat cair sedangkan
narkoba tidak. Dari sini muncul pertanyaan apakah narkoba yang memiliki dasar
kesamaan iskar dengan miras, juga memiliki potensi muatan hukum yang sama?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, harus diketahui dahulu sumber hukum yang
dipergunakan di dalam hukum Islam yang sudah menjadi kesepakatan para yuris
(dalam hal ini ulama Syafi’iyah), yaitu: al-Qur’an, al-Hadis, dan Qiyas.
Sebagaimana mereka telah sepakat bahwa dalil –dalil tersebut adalah sebagai alat
istidlal (menetapkan dalil suatu peristiwa) juga telah sepakat tentang tertib atau
jenjang dalam beristidlal dari dalil-dalil tersebut.
Diatas telah dijelaskan bahwa baik al-Qur’an maupun Al-Hadis , tidak pernah
menjelaskan secara langsung persoalan narkoba. Begitu juga halnya dengan ijma’,
baik dari para sahabat nabi maupun ulama mujtahid. Karena pada masa itu narkoba
memang belum dikenal. Oleh karena itu alternative terakhir dalam memutuskan
hukumnya narkoba adalah melalui jalan qiyas.
Secara etimologis kata qiyas berarti qadara, artinya mengukur, membandingkan
sesuatu dengan yang semisalnya. Sedangkan menurut terminology hukum Islam, Al-
Imam Al-Ghozali mendefinisikan qiyas sebagai berikut:
ح م م ث م ح ه ف أ عج ث م ح
ه ف .
“Menanggungkan sesuatu yang diketahui kepada sesuatu yang diketahui dalam hal
menetapkan hukum pada keduanya disebabkan ada hal yang sama antara keduanya,
dalam penetapan hukum atau peniadaan hukum.”
Karena sifat Iskar yang berpengaruh di dalam penggunaan narkoba sangat
ditentukan oleh besar kecilnya kadar yang dikonsumsi, maka hasil penetapan besar
kecilnya muatan hukum narkoba tersebut harus disesuaikan dengan qiyas yang
dipergunakan. Apakah qiyas awlawi (yaitu qiyas yang berlkunya hukum furu’ lebih
kuat dari pemberlakuan hukum pada asal karena kekuatan illat pada furu’). Atau
dengan menggunakan qiyas musawi (qiyas yang berlakunya hukum furu’ sama
keadaanya dengan berlakunya hukum asal karena kekuatanillatnya sama). Ataukah
menggunakan qiyas adwan (qiyas yang berlakunya hukum pada furu’ lebih lemah
dibandingkan dengan berlakunya hukum pada asal meskipun qiyas tersebut
memenuhi persyaratan.
c. Pertimbangan hukum Islam terhadap Narkoba
Pada pasal miras menurut hukum Islam telah dijelaskan bahwa seperti epium dan
sebagainya, tidak diberlakukan hukuman had. Karena pada kenyataanya narkoba
bukanlah miras. Untuk itu diperlukan qiyas sebagai alat beristidlal. Dengan maksud
untuk menentukan hukuman bagi pelaku penyalahgunaan narkoba secara pasti dan
adil. Oleh karena itu mekanisme penetapanya diserahkan kepada yang
berwewenang atau hakim. Kalau menurut pandangan hakim, penyalahgunaan
narkoba itu kadarnya di bawah standar miras, maka hakim menggunakan qiyas
adwan. Dan hukuman yang dijatuhkan , potensinya berada di bawah hukuman had.
Akan tetapi kalau penyalahgunaan narkoba itu sama kadarnya dengan miras, maka
qiyas yang harus dipergunakan adalah qiyas musawi. Dan hukuman yang ditetapkan
dipersamakan dengan hukuman had. Bergitu juga apabila penyalahgunaan narkoba
itu kadarnya lebih besar dari pada miras, maka yang dipergunakan adalah qiyas
aulawi. Dan hukuman yang ditetapkan harus lebih berat dari hukuman miras sesuai
dengan muatan kadar narkoba yang dikonsumsi atau disalahgunakan.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah sepanjang narkoba dipergunakan di jalan
benar, maka Islam masih memberikan toleransi. Artinya narkoba dalam hal-hal
tertentu boleh dipergunakan, khususnya pada kepentingan medis pada tingkat –
tingkat tertentu:
a. Pada tingkat darurat. Yaitu pada aktifitas pembedahan atau operasi besar, yakni
operasi pada organ-organ tubuh yang vital seperti hati, jantung, dan lain-lain. Yang
apabila dilaksanakan tanpa diadakan pembiusan total, kemungkinan besar si pasien
akan mengalami kematian.
b. Pada tingkat kebutuhan atau hajat. Yaitu pada aktifitas pembedahan yang apabila
tidak menggunakan pembiusan, pasien akan merasakan sangat kesakitan, tetapi
pada akhirnya akan mengganggu jalanya pembedahan. Walaupun tidak sampai pada
kekhawatiran matinya si pasien.
c. Tingkatan bukan darurat dan bukan hajat. Yaitu tingkatan pada aktifitas
pembedahan ringan yakni pembedahan paada organ tubuh yang apabila tidak
dilakukan pembiusan, tidak apa-apa. Seperti pencabutan gigi, kuku, dan sebagainya.
Namun pasien akan merasakan kesakitan juga.


Setelah melalui proses diskusi dan perdebatan panjang, akhirnya para ulama sampai
pada kesepakatan bahwa narkoba adlaah haram, karena pada narkoba terdapat illat
(sifat) memabukkan sebagaimana pada khamer, sekalipun mekanisme hukumanya
berbeda. Hal ini selaras dengan pernyataan Ibnu Taimiyah yang berbunyi:
ق خ م ل- هح ا -: " ة ح ة ،مح ث ث ئ
،ةح ء ق ، ث ث مح قف
"
“Berkatalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah r.a. mengkonsumsi ganja hukumnya
adalah haram, bahkan termasuk sejelek-jelek perkara, baik sedikit maupun banyak,
hanya saja mengkonsumsi secara banyak hukumnya haram berdasarkan
kesepakatan umat Islam.”
Sejalan dengan itu Al-Imam Al-Qarafi juga berpendapat:
ف ة ح ق ف قف ع
ث
“Tumbuh-tumbuhan yang terkenal dengan anam ganja yang dikonsumsi oleh orang-
orang fasiq, telah disepakati keharamanya oleh para ulama’, yaitu penggunaan
dengan kadar banyak sehingga menghilangkan (berpengaruh) pada akal.
Ulama yang lain memberikan ulasan agak luas. Artinya tidak terbatas pada ganja
saja. Mereka sudah memasukkan opium , marihuana dan sebagainya. Sebagaimana
Syekh Muhammad A’lauddin Al –Hashkafi al-Hanafi, beliau mengatakan :
... مح ج ة ح م ل ه ل ف ا

“ …dan haram mengonsumsi ganja, marihuana dan epium , karena merusak akal dan
menghalangi ingatan (dzikir) pada Allah dan shalat.”
Dari ulasan di atas bisa disimpulkan bahwa narkoba menurut Islam adalah:”Segala
sesuatu yang memabukkan atau menghilangkan kesadaran, tetapi bukan minuman
keras, baik berupa tanaman maupun yang selainya. Selanjutnya istilah narkoba
dalam terminology Islam disebut mukhoddirot”.
Hukum keharaman narkoba ditetapkan melalui jalan qiyas yang terdiri dari: qiyas
aulawi, qiyas musawi dan qiyas adwan. Adapun sangsi hukumnya, bagi pengguna
narkoba sepenuhnya menjadi wewenang hakim. Selain itu, Islam memandang
narkoba merupakan barang yang sejak awal sudah diharamkan. Oleh karenanya
pada kebutuhan medis, penggunaan narkoba dianggap tingkat darurat atau
toleransi.

6. Kesimpulan
Beberapa hal yang bisa disimpulkan dari tulisan ini, dirumuskan sebagai berikut:
1. Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam hal mendefinisikan miras
(khamer), sebagai berikut:
a. Imam Abu Hanifah
Menurut al Imam Abu Hanifah, khamer (miras) adalah : “Minuman keras yang
memabukkan yang berasal dari perasaan anggur saja”. Sedangkan yang terbuat dari
selain anggur, dinamakan nabidz. Oleh karena itu bagi peminumnya (nabidz) tidak
dikenakan hukuman had.
b. Jumhur ulama’ (Syafi’i, Maliki, dan Ahmad)
Menurut mereka Khamer adalah:”Nama (sebutan) dari setiap minuman yang
memabukkan “. Oleh karenanya dari apapun minuman itu dibuat, asalkan
memabukkan, maka minuman tersebut layak dinamakan khamer. Bagi peminumnya
dikenakan hukuman had.
c. Untuk memperoleh definisi yang kongkrit, dan sesuai dengan pendapat ulama
Syafi’iyah sebagai panutan mayoritas masyarakat hukum di Indonesia, diadakan
penggabungan kedua definisi di atas. Sehingga khamer didefinisikan sebagai:” Zat
cair atau zat padat yang berasal dari zat cair yang disajikan untuk minuman, yang
apabila diminum akan memabukkan”.
2. Dari definisi di atas (definisi miras), menunjukkan bahwa menurut pandangan
Hukum Islam, narkoba bukanlah miras (khamer). Hanya saja pada narkoba terdapat
illat yang sama dengan khamer. Illat tersebut adalah sifat iskar (memabukkan). Oleh
karena itu bagi pelaku penyalahgunaan narkoba tidak dikenakan hukuman had,
melainkan dikenakan hukuman dengan jalan qiyas terhadap miras. Yaitu:
a. Apabila penyidikannya menunjukkan illat yang lebih rendah (ringan) dari pada
khamer, maka yang dipakai adalah qiyas adwan. Dalam arti derajat hukuman
pidananya harus di bawah hukuman had.
b. Apabila penyidikanya menunjukkan illat yang sama dengan khamer, maka yang
dipakai adalah qiyas musawi. Dalam arti derajat hukumanya dipersamakan dengan
hukuman had. Akan tetapi apabila penyidikanya menunjukkan lebih berat dari pada
khamer, maka yang dipakai adalah qiyas aulawi. Artinya , derajat hukumanya lebih
berat dari hukuman had. Sedangkan muatan berat-ringanya (berat) hukuman
sepenuhnya menjadi wewenang hakim.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Mazid, Muhammad bin Muhammad Al Mukhtar bin, (t.th.), Ahkam al Jirohah
al Thibbiyah wa al Atsar al Mutarottabah alaiha, (Madinah: Al Jamiah al Islamiyah bin
al Madinah al Nabawiyah).
Al Alusi, (1994), Ruhu al Maa’ni, juz 2, (Beirut: Dar al Kutub al Ilmiyah).
Al Bajuri, Ibrohim, (t.th.), Hasyiyah al Bajuri, (Indonesia: Dahlan).





Narkotika dan obat-obatan berbahaya (narkoba) adalah jenis obat yang mempunyai efek
tertentu sehingga berbahaya jika dikonsumsi secara sembarangan, karena itu penggunaannya
harus dikontrol oleh dokter.
Efek-efek tersebut antara lain:
- menyebabkan lumpuh atau matirasa (narkotika),
- mengurangi rasa sakit, mengendorkan syaraf, menenangkan dan membuat tidur
(depresan),
- merangsang syaraf pusat agar energi atau aktivitas meningkat (stimulansia),
- merubah pikiran atau perasaan agar terasakan hal yang luar biasa (halusinogen),
- akhirny ketagihan Narkoba akan menyebabkan penurunan kekebalan, keracunan
darah dan dapat pula menyebabkan kematian.
Lain halnya dengan Miras (minuman keras) adalah minuman yang mengandung alkohol dan
dapat menimbulkan ketagihan, bisa berbahaya bagi pemakainya karena dapat mempengaruhi
pikiran, suasana hati dan perilaku, serta menyebabkan kerusakan fungsi-fungsi organ tubuh.
Efek yang ditimbulkan adalah memberikan rangsangan, menenangkan, menghilangkan rasa
sakit, membius, serta membuat gembira.
Apabila kita atau teman kita menggunakan secara terus menerus selama satu bulan atau lebih
maka akan menjurus pada gejala :
- malas makan, sehingga fisik lemah dan kekurangan gizi.
- hidup jorok, sehingga terkena eksim, penyakit kelamin, lebih lanjut paru-paru,
hepatitis.
- sering sakit kepala, mual-mual, muntah, murus-murus, sulit tidur.
- gangguan otot jantung dan tekanan darah tinggi.
- gangguan gerak dan keseimbangan tubuh.
- lamban kerja, ceroboh kerja, sering tegang dan gelisah.
- hilang kepercayaan diri, apatis, pengkhayal, penuh curiga.
- gangguan mental, anti-sosial dan asusila, dikucilkan oleh lingkungan.
- cenderung menyakiti diri, bahkan bunuh diri.
- kematian karena kerusakan organ tubuh.
Hal-hal yang menyebabkan penyalahan narkoba berdasar aspek pribadi :
1.Ada yang mengatakan bahwa narkoba dapat mengatasi semua persoalan.
2.Berharap akan mendapatkan “kenikmatan”dari obat terlarang.
3.Kepercaya diri yang kurang.
4.Biar terlihat lebih gaul.
5.Tidak berani untuk menolak ajakan negative dari teman.
6.Anggapan sudah dewasa atau mengikuti zaman (mode).
7.Dan terakhir perasaan ingin tahu sehingga remaja suka coba-coba.
Selain agama mengharamkan dan membahayakan diri sendiri, penyalahgunaan minuman
keras, naarkoba, dan sejenisnya juga diancam hukuman sesuai Undang-Undang No. 2 tahun
1997 tentang narkoba dan Undang-Undang No. 5 tahun 1997 tentang psikotropika. Isinya,
antara lain, pengguna ancaman hukumnny sampai 5 tahun penjara, pemilik dengan hukuman
maksimal 10 tahun, dan pengedar dengan hukuman sampai 15 tahun.


Bahaya Narkoba

Bahaya Narkoba
I. Pengertian Narkoba
Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat/bahan berbaya lainnya. Kata lain dari
narkoba adalah nafzah yang merupakan singkatan dari narkotika, psitroppika, dan zat adaktif.
Menurut orang – orang ahli kesehatan, narkoba sebenarnya penghilang rasa nyeri atau disebut
psitropika. Namun kkini banyak terjadi penyalaguanan pemakaian narkoba. Saat ini penyebaran
narkoba sudah hamper tidak bisah dicegah, mengingat hamper seluruh penduduk dunia dapat
dengan mudah narkoba dari oknum – oknum yang tidak bertanggung jawab.
II. Sejarah Awal Narkoba
Jauh sebelum kamu lahir, yaitu sebelum masuk abad masehi, orang – orang Masopotamia telah
membudidayakan tanaman lpoppy yang behasyat mengurangi nyeri dan member efek nyaman. Zat
ini dalam bahasa yunani disebut opium atabi candu. Penyebaran selanjutnya adalh ke India, Cina,
dan wilayah – wilayah asia lainnya. Pada tahun 1803 seorang apoter jerman yang benama Friendrier
Wilhelim Sentuner berhasil mengisolasi bahan aktif oplum yang member epek narkotika dan diberi
nama Morpin.
III. Jenis – jenis Narkoba
Berdasarkan jenisnya, Nafzah dibedakan menjadi 3 katagori :
A. Narkotika
B. Psitropika
C. Bahan Berbahaya
A. Narkotika
Narkotika berasal dari bahasa yunani narkoun yang berarti membuat lumpuh atau mati rasa.
Menurut undang – undang RI NO. 22 / 1997 narkotika adalah zat atau lobat yang berasal dari
tanaman atau bukan tanaman yang menyebabkan penurunan kesadaran, mengurang atau sampai
menghilangkan nyri dan dapat menimbulkan ketergantungan dan kecanduan.
Jenis – jenis Narkotika :
1. Opiate atau Opium (candu)
Opium merupakan candu kasar atau mentah yanmg didapat dari getah buah tanaman papaver
samniterum yang dihisap / digores dan di biarkan mongering. Opium merupakan golongan narkotika
alami yang sering digunakan dengan cara dihisap.
Pengaruh pemakaian opium pada pemakai adalah :
- Menimbulkan rasa gelisah
- Menimbulkan semangat
- Membuat waktu terasa berjalan lambat
- Merasa pusing, kehilangan keseimbangan, dan mabuk
- Menimbulkan masalah kulit disekitar mulut dan hidung
2. Morpin
Morpin merupakan zat aktif yang diperoleh dari candu melalui pengolahan secara kimia. Cara
penggunaanya disuntikan ke tubuh.
Pengaruh pemakaian morpin pada pemakai adalah :
- Rasa senang berlebihan
- Merasa mual muntah, bingung
- Menimbulkan keringat
- Dapat menyebabkan pinsan dan jantung berdepar kencang
- Mulut terasa kering dan wana muka berubah
3. Demerol
Nama lain demerola adalah pethidna. Pemakaiannya dapat dielan atau disuntikkan. Demerol
dijual dalam bentuk pil dan ciran tidak bewarna.
4. Heroin atau Putaw
Zat ini lebih mudah menembus otak sehingga lebih kuat dari morfin itu sendiri.
Ciri –ciri orang yang sedang memakia heroin adalah:
- Denyut nadi melambat
- Tekanan darah menurun
- Otot –otot menjadi lemas / relaks
- Diapragma mata mengecil
5. Ganja atau Kanabis
Ganja merupakan tanaman kanabis yang biasanya dipotong, dikeringkan, dipotong kecil – kecil
dan dijgulung menjadi rokok yang disebut joints.

B. Psikotropika

Psikotropika adalah merupakan suatu zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan
narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang
menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.

Psikotropika yang mempunyai potensi mengakibatkan sindroma ketergantungan digolongkan
menjadi4 golongan, yaitu:


1. Psikotropika golongan I : yaitu psikotropika yang tidak digunakan untuk tujuan
pengobatan dengan potensi ketergantungan yang sangat kuat
2. Psikotropika golongan II : yaitu psikotropika yang berkhasiat terapi tetapi dapat
menimbulkan ketergantungan.
3. Psikotropika golongan III : yaitu psikotropika dengan efek ketergantungannya sedang
dari kelompok hipnotik sedatif.
4. Psikotropika golongan IV : yaitu psikotropika yang efek ketergantungannya ringan.
C. Zat / Bahan Berbahaya
Bahan berbahaya adalah zat adektif yang bukan narkotika dan psitropika atau zat – zat baru
hasil olahan manuasia yang menyebabkan kecanduan.
Jenis – jenis zat adaktif adalah sebgai berikut :
1. Alcohol
Alcohol diperoleh dari hasil peragian/fermentasi madu, gula, sari buah, atau umbi – umbian. Dari
pperagian tersebut dapat diperoleh alcohol sampai 15% tetapi dengan proses penyulinagn dapat
dihasilkan alcohol lebih tinggi bahkan mencapai 100%.
Efek yang ditimbulkan alcohol :
- Menghilang perasaan yang menhambata atau menghilangi
- Merasa lebih tegar (tidak menemui masalah)
- Banyak tertawa, tidak mampu berjalan, dan pingunya.
2. Inhalasia atau Solver
Pengunaan menahu toloen yang terdapat pada lem dapat menimbulkan kerusakan fungsi
kecerdasan otak.
Efek yang ditimbulkan :
- Pada mulanya terasa sedikit merangsang
- Bernapas menjadi lambata dan sulit
- Terlihat mabuk dan jalan sempoyongan
- Mual, batuk dan bersin – bersin
- Kehilangan nafsu makan, halusinasi



IV. Bahaya Narkoba Bagi Pemakai
Narkoba juga dapat menimbulkan organ – organ tubuh, seperti otak, jantung, dan paru- paru.
Dari penampilan setiap penguna akan selalu tampak tidak sehat dan tidak baik, misalnya :
- Penampilannya akan terlihat dekil atau tidak rapi.
- Cara bicaranya ngawur atau tidak nyambung
- Kurus dan tidak ada nafsu untuk makan.
Kerusakan yang disebabkan narkoba dan sejenisnya
- Narkoba dapat merusak fisik
- Kerusakan otak
- Kerusakan pada jantung
- Kerusakan jantung disebabkan oleh metode penggunaan narkoba tidak bersih atau sterile.
- Dapat Merusak Mental
- Dampak mental dari narkoba adalah mematrikan akal sehat para poenggunanya. Terutama yang
sudah dalam tahap kecanduan.
- Narkoba dapat merusak emosional.
- Emosi seorang pecandu sangat jabil dan bisa berubah kapan saja
V. Penanganan dan Penyembuhan Ketergantungan Narkoba
A. Detoksifikasi Oploid Cepat dengan Anestesi (D.O.C.A)
D.O.C.A adalah cara mutahir detoksifikasi nerkoba yang efektif dan aman yang berkembang
sauteni untuk penanggulangan awal ketergantungan Narkoba, cara ini mengeluarkan Narkoba
dengan cepat sebanyak mungkin dari reseptornya diotak yang dipicu oleh obat lawannya selama
kurang lebih 4 tahun.
B. Rehabilitas
Rumah salat ketergantungan obat dan ketempat rehabilitas menggunakan metode yang berbeda
– beda di antaranya, Therapelitice Commonity, yaitu metode pendekatan yang mendampingi para
mantan pecandu sehingga para mantan pecandu tersebut bercerita, bertanya, tidak merasa sendiri.
C. Dukungan Masyarakat
Pada umumnya, perasaan para mantan pecandu itu sangatlah sensitive merasa sendiri bila
dibiarkan maka bukan tidak mungkin mereka akan kembali terjerumus, maka para mantan pecandu
harus diberikan perhatian khusus dan jangan dikucilkan atau dilecehkan.


VI. Pencegahan Dari Pemakaian Narkoba
A. Dapatkan informasi mengenai bahaya narkoba dari Koran, majalah, seminer dan lain – lain.
B. Persiapan mental untuk menolak jika ditawarkan.
C. Belajar berkata TIDAK kalau mendapat tawaran narkoba.
D. Miliki cita – cita dalam hidup, sehingga hidupmu memiliki arah.
E. Lakukanlah kegiatan posotof yang dapat menolong kamu untuk menjadi lebih mandiri, percaya diri,
serta menyalurkan hobi secara berprestasi.
F. Mendekati diri pada Allah SWT dan mengembalikan segala masalah yang dihadapi kepada Allah SWT.
Selain itu, agar tidak terjerumus narkoba, diperlukan pendekatan kognitif dari orang tua,
sekolah, dan guru. Pendekatan kognitif adalah pendekatan yang mencoba mengurangi persepsi
negative tentang diri sendiri dengan cara mengubah kesalahan berfikir dan keyakinan yang keliru

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->