P. 1
Diversifikasi pangan

Diversifikasi pangan

|Views: 308|Likes:
Published by Olandri Wijaya

More info:

Published by: Olandri Wijaya on Nov 27, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/19/2015

pdf

text

original

Diversifikasi ekonomi adalah usaha penganekaragaman product (bidang usaha) atau lokasi perusahaan yang dilakukan suatu perusahaan

untuk memaksimalkan keuntungan sehingga arus kas perusahaan dapat lebih stabil, ini dilakukan perusahaan untuk mengatasi krisis ekonomi, sehingga apabila suatu perusahaan mengalami kemerosotan pendapatan di salah satu product atau negara/daerah, di product atau negara/daerah lain mendapatkan kelebihan pendapatan, sehingga kekurangan yang terjadi bisa tertutupi. Biasanya hal ini dilakukan oleh perusahan besar Multi Nasional Coorporation (MNC) karena dengan demikian perusahaan dapat menjamin pendapatan / arus kas yang lebih stabil sehingga meningkatkan trust kepada pemegang saham. Diversifikasi bertujuan untuk mengurangi tingkat risiko dan tetap memberikan potensi tingkat keuntungan yang cukup. Apa itu diversifikasi? Diversifikasi adalah sebuah strategi investasi dengan menempatkan dana dalam berbagai instrument investasi dengan tingkat risiko dan potensi keuntungan yang berbeda, atau strategi ini biasa disebut dengan alokasi aset (asset allocation). Alokasi aset ini lebih fokus terhadap penempatan dana di berbagai instrumen investasi. Bukan menfokuskan terhadap pilihan saham dalam portofolio. Dari hasil studi, perbedaan performa lebih banyak dikarenakan oleh alokasi aset (asset allocation) bukannya pilihan investasi (investment selection). Arti kata Subsidi adalah tunjangan atau bantuan.

Kedeputian Bidang Teknonologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB) BPPT memiliki tugas mendukung terealisasinya ketahanan pangan nasional serta berupaya mendukung tugas pemerintah dalam program diversifikasi pangan, yaitu yang dituangkan pada Kebijakan Strategis Nasional (Jaktranas) Riset dan Teknologi, Rencana strategis (Renstra) Kementerian Riset dan Teknologi (KRT), dan Kontrak Kinerja Menristek pada KB II 2009 -2014. Guna melihat dari dekat pengembangan pangan lokal dalam kaitan dengan pelaksanaan diversifikasi pangan di daerah, Deputi Kepala BPPT Bidang TAB, Listyani Wijayanti beserta Direktur Pusat Teknologi Agroindustri (PTA), Priyo Atmaji, Kepala Balai Besar Teknologi Pati (B2TP), Bambang Triwiyono dan staf terkait melaksanakan kunjungan kerja ke Yogyakarta 14-15 September lalu. Adapun destinasi kunjungan adalah Dewan Ketahanan Pangan, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), PT Kepurun Pawana Indonesia (PT KPI), guna meninjau model pertanian terpadu hulu (on farm) dan hilir (off farm) serta Merica Singkong Resto, pelopor pemanfaatan singkong yang memiliki aneka resep masakan dan menyajikan 78 macam menu dengan bahan baku singkong. Dalam kunjungan ke Badan Ketahanan Pangan Provinsi DIY, rombongan diterima oleh Kepala Bidang Konsumsi dan Kewaspadaan Pangan, Arofah Noor. Implementasi program dan kegiatan diversifikasi pangan telah banyak dilakukan, namun pada umumnya masih bersifat demonstratif (pameran, pelatihan, sosialisasi) dan belum menyentuh pada perilaku masyarakat untuk mengimplementasikan dalam pola konsumsi makanan sehari-hari. Produk yang dihasilkan pada umumnya dalam bentuk makanan camilan yang belum dikonsumsi bersama-sama atau menjadi satu kesatuan pada menu santap makan, dan sosialisasi secara konsisten serta berkesinambungan masih terbatas pada komunitas tertentu, misalnya kepada Ibu-ibu PKK. Kebijakan pemerintah dalam bentuk dasar hukum, peraturan dan sebagainya masih belum sepenuhnya didukung dengan tindakan implementatif secara konsisten yang direncanakan secara rinci, terintegrasi hulu-hilirnya dan terkoordinasi diantara para pelaku. Badan Ketahanan Pangan DIY dalam melaksanakan program diversifikasi pangan berbasis bahan baku seperti sukun, labu kuning dan singkong untuk memproduksi tepung, dan dari tepung ini digunakan untuk produksi mie (mie bendo dan mie lethek). Untuk dapat menjamin ketersediaan produk, Badan Ketahanan Pangan DIY melakukan pembinaan pada usaha kecil (UK) yang terkait dengan usaha produksi tepung dan mie tersebut. Kemudian dalam upaya mendukung segera terwujudnya ketahanan pangan, dibentuk program P2KP (Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan) yang antara lain dilakukan melalui kegiatan penyuluhan secara nyata dan terfokus pada kegiatan Ibu-ibu PKK.

Contohnya produksi tepung dari bahan pangan umbi-umbian. pelaksanaan dan monitoring dan evaluasi akan menentukan keberhasilan program diversifikasi pangan. yaitu dalam berbagai bentuk yaitu daging sapi. susu sapi. sebagai berikut :  jelas. telur asin. pupuk dari kotoran hewan. mulai dari hulu (budidaya) hingga hilirnya (pemasaran produk).  Produk antara dari komoditas hasil pangan lokal sangat direkomendasikan. penjualan produk pasca panen yaitu bakso. dimana keuntungan secara ekonomi menjadi bagian penting. Klaten. PT Kepurun terletak di desa Kepurun. naget. Eddy Wachid Sutoto beserta jajaran. sayuran (tanaman salad. telur. karena cara penyajian ini akan menentukan seberapa banyak (kuantitas) makanan tersebut dikonsumsi. misalnya Mocaf khususnya untuk tepung terigu/gandum dengan memanfaatkan produk lokal seperti sagu. dalam kunjungan ke PT KPI tim BPPT diterima oleh Direktur Utama PT KPI. singkong. PT KPI juga langsung mengimplementasikan konsep pertanian terpadu. maka cara penyajian makanan dalam bentuk makanan siap saji (jenis menu/ masakan dan cara penyajian) perlu mendapat perhatian. domba. PT ini didirikan oleh PLN Jakarta pada tahun 1997 sebagai bentuk kepedulian sosial untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui program pelatihan pertanian terpadu. Program/kegiatan diversifikasi pangan perlu disiapkan dengan perencanaan secara holistik dan terintegrasi. Kunjungan Tim BPPT ke Merica Singkong Resto diterima oleh pengelola restoran. khususnya sayur-sayuran.Sementara itu. ikan air tawar (lele dan nila). biskuit dan roti. kripik buah (proses vacuum frying). ikan) dan sumber pangan zat gizi lainnya. Manisrenggo. sedemikian produk antara ini dapat disimpan lebih lama dan dapat diolah lebih lanjut menjadi pangan siap saji.   Pengembangan produk lokal perlu didukung industri pengolahan dengan memanfaatkan teknologi Untuk mendukung diversifikasi pangan direkomendasikan juga untuk dapat dilaksanakan dengan tepat-guna dalam upaya meningkatkan nilai tambah. PT KPI mempunyai misi sosial yaitu menyelenggarakan pelatihan pertanian terpadu untuk masyarakat. perencanaan. (tab/humas) . dan penetasan telur itik serta penjualan anak itiknya. Penyajian singkong yang notabene adalah sumber karbohidrat dipadukan dengan berbagai bahan pangan lainnya baik sebagai sumber protein (ayam. ubi jalar dan sebagainya untuk dikembangkan menjadi mie. sayuran/salad.  Untuk menunjang keberhasilan diversifikasi pangan. serta dengan target capaian yang  Proses pengolahan produk pangan lokal perlu dilakukan dengan memanfaatkan proses/ teknologi tepat guna. sehingga diperoleh produk pangan yang standar. substitusi impor.  Dukungan pemerintah (daerah/pusat) dan kementerian terkait dalam bentuk kebijakan/ peraturan. daya saing dan pengembangan pemasaran. itik. namun untuk kesinambungannya tetap memperhatikan aspek enterpreneurship. yaitu dalam bentuk budidaya sapi. Bentuk usaha lainnya adalah memproduksi biogas. tomatcheri). Merica Singkong Resto adalah restoran yang menerapkan diversifikasi pangan berbasis singkong dalam bentuk menu makanan camilan maupun makanan utama/makanan pokok. Dari kunjungan ke Yogyakarta dapat disampaikan beberapa rekomendasi pengembangan program diversifikasi pangan. yaitu dengan membuat percontohan unit-unit usaha yang satu sama lain mempunyai keterkaitan/terpadu. serta memenuhi kriteria konsumsi makanan seimbang dan aman. melakukan usaha penjualan produk pertanian segar yang dihasilkan.

PURWOKERTO . pada tahun 2014 nanti skor Pola Pangan Harapan (PPH) penganekaragaman pangan berbasis sumber daya lokal ditargetkan meningkat menjadi 93. 14 September 2012. masyarakat masih mengandalkan beras dan tepung sebagai sumber karbohidrat. "Perlu promosi pangan lokal. . Makanan tradisional juga perlu dikembangkan ke arah komersial.Kondisi ketersediaan pangan yang tidak merata di beberapa daerah di Indonesia membuat pemerintah mengupayakan berbagai cara untuk mengatasinya. Padahal.5 persen per kapita per tahun. Selama ini. Sementara Kepala Bidang Penganekaragaman Konsumsi Pangan Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah Bowo Suryotomo yang juga hadir dalam seminar mengatakan bahwa diversifikasi pangan tidak bisa dilakukan dengan mudah.Pemerintah mengakui proses diversifikasi pangan masih sangat sulit diterapkan. Pemanfaatan sumber-sumber pangan lokal. Konsep bantuan pangan lokal non-beras dalam raskin itu akan diupayakan minimal sepertiga bagian dari jatah beras yang ditetapkan. sedangkan konsumsi protein.CO. "Harus ada segmentasi usia masyarakat untuk pengembangan kuliner di Indonesia karena kita tidak bisa menggantungkan pada satu komoditas saja. Rabu (19/9/2012) Handewi menambahkan. pengembangan teknologi pengolahan." tutur Handewi saat ditemui seusai mengisi materi dalam Seminar Nasional "Peran Pertanian Menunjang Ketahanan Pangan dan Energi Untuk Memperkuat Pangan Nasional Berbasis Sumber Daya Lokal" di Auditorium Pertanian Universitas Jendral Soedirman (Unsoed) Purwokerto. pemerintah telah menargetkan diversifikasi konsumsi pangan berupa penurunan konsumsi beras minimal sebesar 1. pengembangan investasi agroindustri berbasis pangan lokal. Rana. Secara umum. Selain itu. Kementerian Pertanian juga tengah mengusulkan konsep bantuan pangan lokal non-beras dalam program penyaluran subsidi beras untuk masyarakat miskin (raskin). Jakarta . pemerintah akan mengirim surat edaran menteri yang ditujukan pada instansi pemerintah atau organisasi untuk menggunakan pangan lokal dalam setiap jamuan pertemuan. padahal idealnya 275 gram.3. Padahal. Badan Ketahanan Pangan Nasional. "Perlu proses yang terstruktur dan teratur agar upaya tersebut dapat berhasil nantinya." kata Bowo. tapi kami akan terus mengusahakanya agar berhasil. Kepala Pusat Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan. dan penelitian bahan pangan lokal untuk menggenjot diversifikasi pangan.Diversifikasi Pangan Menjadi Solusi Masa Depan TRIBUNJOGJA. sebetulnya potensi aneka ragam pangan Indonesia tergolong banyak karena negeri ini kaya jenis pangan nabati dan hewani. "Misalnya dari umbi-umbian yang diolah sedemikian rupa sebagai sumber karbohidrat pengganti beras." katanya. menilai proses diversifikasi masih terhambat pola pikir masyarakat." katanya. masih banyak potensi sumber lain yang bisa diolah. seperti jagung dan sagu juga masih rendah. "Kualitas konsumsi pangan penduduk Indonesia pada 2011 untuk padi-padian masih 316 gram. Salah satu upaya yang gencar dilakukan pemerintah saat ini adalah diversifikasi pangan berupa pengalihan makanan pokok beras ke bahan makanan lainya. Ke depan." ujar Gayatri. Kepala Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Kementerian Pertanian Handewi Purwati Saliem mengatakan bahwa diversifikasi konsumsi pangan dapat dilakukan dengan cara menambah konsumsi karbohidrat dari bahan pangan lain selain beras. Gayatri K. Selain itu. kacang-kacangan. (*) Pemerintah Akui Diversifikasi Pangan Sulit Besar Kecil Normal TEMPO. dan umbi-umbian rendah.3 setelah pada tahun 2011 kemarin berada pada angka 77.COM. Jumat. kualitas konsumsi pangan masyarakat dinilai masih rendah karena konsumsi karbohidrat masih tinggi.

Oleh sebab itu. Hal ini. Dia menyatakan pemerintah akan mendorong fasilitasi perusahaan swasta yang bergerak di bidang industri pangan menggunakan bahan baku pangan lokal. Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Achmad Suryana mengatakan pemerintah memiliki target mengurangi konsumsi beras 1." kata Suryana dalam diskusi Bahan Baku Pangan Lokal. Jumat. 14 September 2012. Jakarta.Kementerian Pertanian tengah menggenjot upaya diversifikasi pangan dalam rangka mengurangi tingkat konsumsi beras. Selama ini swasta kurang tertarik mengembangkan diversifikasi pangan lokal karena kurangnya dorongan fasilitas dari pemerintah.5 persen per tahun. tepung-tepungan. Itu. dikembangkan oleh swasta. kan. sesuai arahan dari Presiden untuk meningkatkan diversifikasi pangan dengan cara mengajak kerja sama pihak swasta dengan beberapa strategi. pemerintah akan memberikan dorongan sesuai koridor kewenangan agar pengembangan pangan lokal bisa menjadi bisnis menguntungkan sehingga target diversifikasi tercapai. kata dia. . di kantor Kadin. "Arahannya seperti itu karena pemerintah tidak mengolah ubi.

segar maupun olahan. PENDAHULUAN Ketahanan pangan merupakan hal yang sangat strategis dan penting. tetapi juga sangat berarti dari segi pertahanan dan keamanan. sehingga pengelolaan pangan secara berencana merupakan suatu keharusan yang perlu diupayakan dengan sebaik-baiknya. (3) orientasi yang berupaya untuk mengatasi situasi kelangkaan (scarcity) menjadi orientasi yang didasarkan pada upaya untuk mengatasi situasi yang berlebih (plenty) melalui mekanisme pasar. dan potensi daerah. Situasi pangan di Indonesia cukup unik disebabkan oleh kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau. terutama dalam hal mutu dan tingkat gizinya. Memperhatikan definisi tersebut. Usaha membangun Ketahanan pangan pada umumnya dan diversifikasi pangan khususnya saat ini diaktualisasikan kembali antara lain melalui Undang-undang nomor 25 tahun 2000 tentang Propenas. memungkinkan untuk tercipta diversifikasi konsumsi pangan (DKP). Disamping itu ketahanan pangan adalah bagian dari ketahanan nasional yang saat ini dinilai paling rapuh. Makalah ini bertujuan untuk menganalisis arah. apa saja faktor penghambatnya. teknologi pengolahan dan promosi pangan non beras masih rendah. Pada tahun 1960-an. pemerintah juga mencanangkan kebijakan diversifikasi untuk lebih menganekaragamkan jenis pangan dan meningkatkan muti gizi makanan masyarakat melalui Intruksi Presiden (Inpres) No. ekonomi. yaitu: (1) dari swasembada beras menjadi swasembada pangan. pada tahun 1950-an telah dilakukan usaha melalui Panitia Perbaikan Makanan Rakyat. kesuburan tanah dan potensi daerah. dalam jumlah yang cukup. pendapatan petani dan agroindustri pangan serta menghemat devisa. sebaliknya pangan global seperti mi semakin banyak digemari. 20 tahun 1979. saat ini ketahanan pangan belum dicapai pada seluruh rumah tangga walaupun pada tingkat nasional hasilnya telah lebih baik. (4) orientasi produksi yang menekankan kepada upaya mencukupi melalui peningkatan produksi menjadi orientasi untuk memproduksi pangan yang sesuai dengan permintaan pasar (market orinted). Dan usaha menganeka-ragamkan pangan masyarakat sebenarnya bukan merupakan hal yang baru. namun kenyataan menunjukkan posisi beras sebagai pangan pokok di semua provinsi semakin kuat. Keseriusan itu diwujudkan dalam bentuk cita-cita besarnya yaitu mampu mencapai swasembada pangan. mengembangkan kelembagaan pangan yang menjarnin peningkatan produksi dan konsumsi yang lebih beragam. Berbagai contoh peristiwa pada masa akhir orde lama sampai dengan awal orde baru dan pengalaman bekas negara Uni Sovyet menunjukkan bahwa ketahanan dan ketenteraman suatu negara sangat ditentukan oleh ketersediaan pangan. Pangan tidak saja berarti strategis secara ekonomi. apakah pola pangan masyarakat sudah beragam dan jika belum. sosial. kebijakan pangan yang tumpang tindih. Beberapa tonggak sejarah yang penting dalam usaha penganeka-ragaman pangan. Program ini bertujuan untuk meningkatkan keaneka-ragarnan produksi bahan pangan. dan menjamin ketersediaan gizi dan pangan bagi masyarakat. tahun 1963 dikembangkan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga. (2) dari pemenuhan kuantitas menjadi orientasi yang semakin menekankan kepada kualitas pangan. Kebijakan DKP bertujuan untuk menurunkan konsumsi beras sudah dirintis sejak awal tahun 60-an. merasa belum makan kalau belum makan nasi. kebijakan diversifikasi konsumsi pangan sudah berjalan lebih dari 20 tahun. Dengan adanya perubahan orientasi kebijakan yang lebih luas dan juga potensi pangan di daerah yang beragam diharapkan akan terjadi pola makan pada masyarakat yang lebih beragam. ekonomi. Kemudian pada tahun 1974. konsep makan. kesuburan tanah. yang akhirnya tercapai pada tahun 1984 dengan swasembada beras. tetapi juga adanya keragaman sosial. Pangan lokal seperti jagung dan umbi-umbian ditinggalkan masyarakat. Dengan keberhasilan tersebut. Pangan adalah komoditas strategis karena merupakan kebutuhan dasar manusia. orientasi pembangunan selanjutnya diperluas tidak hanya berswasembada beras tetapi juga swasembada pangan secara keseluruhan Perubahan orientasi pembangunan di bidang pangan meliputi lima aspek. kendala dan pentingnya DKP. pemerintah Indonesia telah berupaya secara maksimal agar kebutuhan pangan masyarakat dapat terpenuhi. . Dalam usaha pemenuhan kebutuhan pangan. Oleh karenanya pangan tidak dapat diabaikan dalam kebijakan ekonomi suatu negara. merata serta terjangkau oleh setiap individu. Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau dengan keragaman sosial. Makalah ini bertujuan menganalisis sejauhmana keberhasilan kebijakan diversifikasi konsumsi pangan. karenanya hak atas pangan menjadi bagian sangat penting dari hak azasi manusia. 1998). walaupun sebetulnya swasembada beras ditargetkan tercapai pada tahun 1974 (Rahardjo. tahun 1974 dikeluarkan Inpres 14/1974 tentang Perbaikan Menu Makanan Rakyat (PMMR) yang kemudian disempurnakan dengen Inpres 20/1979. Dalam hal ini keaneka-ragarnan pangan menjadi salah satu pilar utarna dalam ketahanan pangan Diversifikasi pangan memang merupakan salah satu prasyaratan pokok dalam konsumsi pangan yang cukup mutu dan gizinya. tetapi juga berdampak positif pada ketahanan pangan. Keberhasilan kebijakan DKP penting tidak hanya untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. pemerintah sudah menganjurkan konsumsi bahan-bahan pangan pokok selain beras (Rahardjo.DIVERSIFIKASI PANGAN DI INDONESIA Diposkan oleh Aswar_Agribusiness di 01:30 I. 1993). beras sebagai komoditas superior ketersediaannya melimpah dengan harga yang murah. melanjutkan proses sebelumnya pada Pelita VI telah pula dikembangkan Program Diversifikasi Pangan dan Gizi (DPG). aman dikonsumsi. mutu dan gizi yang layak. dan (5) orientasi yang menitikberatkan kepada single komoditas menjadi orientasi kepada pangan yang beraneka ragam. Pangan adalah kebutuhan pokok sekaligus menjadi esensi kehidupan manusia. 14 dan disempurnakan pada Inpres No. Pembangunan ketahanan pangan di Indonesia telah ditegaskan dalam Undang-undang nomor 7 tahun 1996 tentang Pangan yang dirumuskannya sebagai usaha mewujudkan ketersediaan pangan bagi seluruh rurnah tangga. yang menetapkan Program Peningkatan Ketahanan Pangan. Beberapa faktor yang menjadi penghambat DKP adalah karena rasa beras lebih enak dan mudah diolah. dan politis (Hasan. Dengan demikian. mengembangkan bisnis pangan. 1993). serta kebijakan impor gandum dan promosi produk mi yang gencar. Masih banyak rumah tangga yang belum mampu mewujudkan ketersediaan pangan yang cukup. pendapatan masyarakat masih rendah.

tetapi juga makanan pendamping.5 Pangan hewani 11 2.0 24.5 2. Suhardjo dan Martianto (1992) menyatakan dimensi diversifikasi konsumsi pangan tidak hanya terbatas pada diversifikasi konsumsi makanan pokok. dimana pemerintah telah menyadari pentingnya dilakukan diversifikasi tersebut. Konsep PPH untuk Indonesia adalah sebagaimana dijabarkan pada Tabel 1. Dalam konteks diversifikasi konsumsi pangan. Cara ini memang sederhana namun memiliki kelemahan karena belum memperhitungkan kuantitas zat gizi dari setiap jenis pangan. dan diversifikasi produksi pangan.5 1. upaya untuk mewujudkan diversifikasi konsumsi pangan sudah dirintis sejak awal dasawarsa 60-an. diversifikasi ketersediaan pangan. sebagai usaha untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. karena konteks diversifikasi tersebut adalah untuk meningkatkan mutu gizi masyarakat secara kualitas dan kuantitas. Diversifikasi konsumsi pangan juga dapat dinilai tanpa melalui ukuran indeks. yang berarti diversifikasi konsumsi pangan sangat sempurna. tingkat konsumsi protein dan kuantitas pangan yang dikonsumsi. sehingga dalam konteks analisis ketahanan pangan tidak layak dijadikan ukuran (Ariani. Saat itu pemerintah mulai . pemasaran. Dalam skala makro. Arah Diversifikasi Konsumsi Pangan Program diversifikasi konsumsi pangan dapat diusahakan secara simultan di tingkat nasional. yang mencakup aspek produksi. n apabila rumah tangga membenjakan pengeluaran pangannya merata untuk seluruh jenis pangan atau mengkonsumsi semua jenis pangan. Dimensi diversifikasi pangan secara jelas dapat dibedakan apakah yang dimaksud diversifikasi produksi pangan atau diversifikasi konsumsi pangan atau kedua-duanya. Jenis ukuran yang digunakan untuk mengukur diversifikasi konsumsi pangan banyak peneliti hanya menggunakan salah satu saja yaitu indeks Entropy (Pakpahan dan Suhartini 1989. Pengertian Diversifikasi Pangan Konsep diversifikasi pangan bukan suatu hal baru dalam peristilahan kebijakan pembangunan pertanian di Indonesia karena konsep tersebut telah banyak dirumuskan dan diinterprestasikan oleh para pakar. Dari beberapa pendapat tersebut terlihat telah terjadi kerancuan dalam mengartikan konsep diversifikasi pangan.3. Konsep harus dipahami secara jelas. konsumsi. Susunan hidangan makanan dalam PPH dianggap baik karena mengandung 10-12 persen energi dari protein. Pemusatan proporsi pengeluaran untuk jenis-jenis komoditas tertentu menunjukkan bahwa konsumsi keluarga tersebut tidak beranekaragam. Nilai E mulai dari nol. Kasryno et al. Semakin tinggi skor PPH berarti semakin beranekaragam. sehingga semakin banyak jenis makanan yang dikonsumsi akan semakin beranekaragam.II. dan nilai skor tertinggi adalah 100. DIVERSIFIKASI PANGAN DI INDONESIA 2.S Wi ln (Wi) dimana : Wi = pangsa pengeluaran pangan/konsumsi zat gizi rumah tangga untuk komoditas. 1997.5 Umbi-umbian 6 0. rumus indeks Entropy seperti berikut : E = .padian 50 0. Komposisi Energi Menurut Pola Pangan Harapan Kelompok Pangan Energi (%) Bobot Skor Pangan Padi. dan distribusi. Simatupang dan Ariani. apabila rumah tangga hanya mengkonsumsi satu jenis pangan sampai dengan ln. i .1. konsep tersebut mengalami penyesuaian sebagai respon dari perbedaan situasi konsumsi pangan.0 Total 100 100. tetapi dengan melihat pola pengeluaran keluarga atau arah perkembangan konsumsi pangan. alat ukur yang digunakan untuk mengukur diversifikasi konsumsi pangan juga sangat beragam.. 20-25 persen energi dari lemak dan sisanya dari karbohidrat. tidak tumpang tindih. PPH didefinisikan sebagai komposisi dari kelompok pangan yang dapat dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan energi dan akan memberikan semua zat gizi dalam jumlah yang mencukupi. i = 1……n. tingkat konsumsi energi.0 30. Diversifikasi konsumsi pangan didefinisikan sebagai jumlah jenis makanan yang dikonsumsi.2 Pengukuran Diversifikasi Konsumsi Pangan Sejalan dengan keragaman konsep yang digunakan oleh para pakar.0 10. 1999).0 Minyak dan lemak 10 0. Pakpahan dan Suhartini (1989) menetapkan konsep diversifikasi hanya terbatas pangan pokok.0 Gula 5 0. (1993) memandang diversifikasi pangan sebagai upaya yang sangat erat kaitannya dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. regional (daerah) maupun keluarga. 2. (2001) 2. pembangunan pertanian di bidang pangan dan perbaikan gizi masyarakat. yaitu diversifikasi konsumsi pangan. Seperti telah disebutkan.0 Kacang-kacangan 5 2. konsep yang tepat adalah konsep Pola Pangan Harapan (PPH) yang diperkenalkan oleh FAO-RAPA (1989).5 5. kondisi ini dapat dilihat dari kecenderungan konsumsi jenis pangannya (Pakpahan. Erwidodo et al. Di Indonesia.0 Buah dan biji berminyak 3 0.5 Sayur dan buah 6 5.5 2. sehingga diversifikasi konsumsi pangan diartikan sebagai pengurangan konsumsi beras yang dikompensasi oleh penambahan konsumsi bahan pangan non beras. Aspek yang diukur juga beragam seperti pengeluaran pangan. 1999). tidak hanya aspek konsumsi pangan tetapi juga aspek produksi pangan. Kedua penulis tersebut menterjemahkan konsep diversifikasi dalam arti luas. Sementara Suhardjo (1998) menyebutkan bahwa pada dasarnya diversifikasi pangan mencakup tiga lingkup pengertian yang saling berkaitan. Secara matematika.0 Sumber: Deptan. budaya dan kondisi sosial ekonomi. Dimensi diversifikasi konsumsi pangan tidak hanya terbatas pada pangan pokok tetapi juga pangan jenis lainnya. Secara lebih tegas.0 00. sehingga dimensi mana yang akan digunakan juga akan jelas.0 Lain-lain 3 0. 1990).5 2. Tabel 1.

Tabel 2. Jumlah orang yang mengkonsumsi beras selama tahun 1990 sampai 1996 dapat dikatakan relatif tidak berubah (lebih kecil satu persen). NTB. namun pada tahun 1996 terjadi di 8 provinsi yaitu Kalsel. (2) pola tunggal beras pada tahun 1979 hanya terjadi di satu provinsi yaitu Kalsel. 1989) dan 1996 di wilayah Kawasan Timur Indonesia menunjukkan bahwa : (1) semua provinsi di Indonesia pada tahun 1979 mempunyai pola pangan pokok utama beras. Hasil analisis dengan menggunakan data Susenas 1979 (Pusat Penelitian Agro Ekonomi. yaitu hampir 100 persen. tujuan diversifikasi konsumsi pangan lebih ditekankan sebagai usaha untuk menurunkan tingkat konsumsi beras. Namun kenyataan. Departemen Kesehatan juga melaksanakan program diversifikasi konsumsi pangan secara tidak langsung melalui program perbaikan gizi yang tujuan utamanya untuk menurunkan angka prevalensi Kurang Energi Protein (KEP). Program yang menonjol adalah anjuran untuk mengkombinasikan beras dengan agung. Fenomena ini menunjukkan telah terjadi peningkatan preferensi dan jumlah konsumsi beras yang signifikan di provinsi tersebut. Kalbar. maka perkembangan diversifikasi konsumsi pangan dapat dilihat pada Tabel 2. Kebijakan ini ditempuh sebagai reaksi terhadap krisis pangan yang terjadi saat itu (Rahardjo. Kemudian di akhir Pelita I (1974). 1998). Berdasarkan keragaman produk yang ada. sehingga mampu menggeser peran jagung dan umbi-umbian sebagai pangan pokok. ubikayu atau ubijalar. Sulut dan Sulteng. dan disempurnakan melalui Inpres No. walaupun secara umum tingkat partisipasi di desa masih lebih rendah daripada di kota. Kalteng. kalaupun berubah hanya terjadi pada pangan kedua yaitu antara jagung dan umbi-umbian. Kecenderungan tersebut tidak hanya terjadi pada rumah tangga perkotaan tetapi juga rumah tangga di pedesaan. 3 dan 4. dan masyarakat tergantung pada beras. Program DPG bertujuan untuk mendorong meningkatnya ketahanan pangan di tingkat rumah tangga dan mendorong meningkatnya kesadaran masyarakat terutama di pedesaan untuk mengkonsumsi pangan yang beranekaragam dan bermutu gizi seimbang. dan diversifikasi konsumsi pangan hanya diartikan pada penganekaragaman pangan pokok. Gangguan Yodium (GAKI). beras masih mendominasi pola konsumsi pangan masyarakat. seharusnya tingkat partisipasi konsumsi pada rumah tangga perkotaan menurun secara signifikan. Bila dilihat antarpulau. yaitu rata-rata hampir mencapai 100 persen. sehingga banyak bermunculan berbagai pameran dan demo masak-memasak yang menggunakan bahan baku non beras seperti dari sagu. baik di kota maupun di desa. Fokus program DPG lebih diarahkan pada upaya pemberdayaan kelompok rawan pangan di wilayah miskin dengan memanfaatkan pekarangan pada jangkauan sasaran wilayah program yang terbatas. Kaltim. dengan harapan masyarakat akan beralih pada pangan non beras. Pada tahun 1996. Partisipasi konsumsi beras yang masih rendah hanya terjadi di pedesaan Maluku dan Papua yang memang dikenal sebagai wilayah dengan ekologi sagu yaitu sekitar 80 persen. secara eksplisit pemerintah mencanangkan kebijaksanaan diversifikasi pangan melalui Inpres No. sehingga pernah populer istilah ”beras jagung”. Ada dua arti dari istilah itu. DPG dilakukan tatkala Indonesia sudah pernah mencapai swasembada beras. Tingkat partisipasi konsumsi beras di kota pada kurun waktu tersebut menunjukkan sedikit penurunan. maka tingkat partisipasi konsumsi beras tidak jauh berbeda antara pulau yang satu dengan pulau yang lain. sehingga upaya yang dilakukan adalah meningkatkan ketersediaan keanekaragaman pangan di tingkat rumah tangga. Namun dalam perjalanannya. 14 tahun 1974 tentang Perbaikan Menu Makanan Rakyat (UPMMR). pada tahun 1991/1992 pemerintah melalui Departemen Pertanian mulai menggarap diversifikasi konsumsi melalui Program Diversifikasi Pangan dan Gizi (DPG). Kurang Vitamin A (KVA). yang berarti hampir semua rumah tangga telah mengkonsumsi beras (Tabel 2). 1993). tersedia dalam berbagai kemasan yang praktis. Tingkat partisipasi konsumsi beras di berbagai wilayah cukup tinggi. Upaya ini dilaksanakan dengan perubahan orientasi dari pendekatan sempit (pemanfaatan pekarangan untuk menyediakan aneka ragam kebutuhan pangan) ke arah yang lebih luas yaitu pemanfaatan pekarangan guna pengembangan pangan lokal alternatif. posisi tersebut masih tetap. Kecenderungan tersebut terjadi di semua pulau. Usaha tersebut kurang berhasil untuk mengangkat citra pangan non beras dan mengubah pola pangan pokok masyarakat. tidak pada keanakeragaman pangan secara keseluruhan. Kemudian pada tahun anggaran 1998/ 1999 dilakukan revitalisasi program DPG untuk memberikan respon yang lebih baik dalam rangka meningkatkan diversifikasi pangan pokok. dikarenakan di wilayah ini banyak terdapat produk-produk alternatif yang dapat berperan sebagai subsitusi beras. mudah diperoleh dan dihidangkan. Setelah sekian lama.menganjurkan konsumsi bahan-bahan pangan pokok selain beras. Bila dimensi diversifikasi konsumsi pangan dibatasi pada pangan sumber karbohidrat (pangan pokok). Sulsel. jagung. Perkembangan Tingkat Partisipasi Konsumsi Beras (%) Wilayah 1990 1993 1996 1999 Nasional Desa Kota Bali & Nusa Tenggara Desa Kalimantan Kota Kota Desa Jawa Desa Kota Maluku & Papua Desa Sulawesi Kota Sumatera Kota Desa Kota Desa . Berbeda dengan kondisi dasa warsa 60-an yang semata-mata karena terjadi krisis pangan. Pembinaannya pun tidak terbatas pada aspek budi daya tetapi juga meliputi aspek pengolahan dan penanganan pasca panen agar pangan lokal alternatif ini dapat memenuhi selera masyarakat (Proyek DPG Pusat. dan anemia. sebaliknya di desa masih menunjukkan peningkatan.20 tahun 1979. baik dalam bentuk mentah maupun olahan. sehingga perubahannya sangat kecil. yaitu campuran beras dengan jagung dan penggantian konsumsi beras pada waktu-waktu tertentu dengan jagung.

tidak lagi sebagai makanan pokok tetapi sebagai makanan selingan atau snack. menunjukkan kenaikan yang sangat tajam. Berbagai studi menunjukkan bahwa mengkonsumsi beranekaragam pangan dapat meningkatkan konsumsi berbagai anti oksidan pangan.Mi instan .7 99.6 99. Tabel 3 Perubahan Tingkat Konsumsi Pangan Sumber Karbohidrat (kg/kap/th) Komoditas 1990 1993 1996 1999 2002 Kota .1 97.6 99. Sementara untuk komoditas ubikayu dan jagung.7 99.9 97. Peningkatan konsumsi ubikayu dan jagung hanya terjadi pada awal krisis (tahun 1999).2 99.Beras . yang hanya cocok untuk kalangan bawah.6 78.4 98.4 99. 1999 (diolah) Berdasarkan data perkembangan tingkat partisipasi konsumsi beras tersebut dapat diartikan bahwa program diversifikasi konsumsi pangan yang salah satu tujuannya untuk menurunkan tingkat konsumsi beras dapat dikatakan masih belum menunjukkan keberhasilan.0 99.5 97.4 99. sehingga jumlah yang dikonsumsi juga sangat terbatas.5 99.8 99.9 99.9 99. dan pangan global seperti mi semakin digemari oleh masyarakat.Ubikayu . Kebijakan diversifikasi konsumsi pangan yang bertujuan untuk meningkatkan konsumsi pangan lokal tidak menunjukkan keberhasilan bahkan salah arah dan justru masyarakat lebih memilih pangan global.Beras . konsumsi serat dapat menurunkan resiko hiperkolesterol. hipertensi dan penyakit jantung koroner.5 98.9 95.9 100. Selera masyarakat terhadap pangan berubah seiring dengan semakin maraknya jenis pangan olahan yang siap saji dan praktis.3 97.5 99.8 99.7 100. Hal ini juga membuktikan bahwa diversifikasi konsumsi pangan Indonesia masih belum berhasil.9 99.9 99. 1990.8 80.Jagung Desa . Mungkin orang akan gengsi mengkonsumsi jagung dan ubikayu karena komoditas tersebut sudah mempunyai trade mark sebagai barang inferior. kemudian pada tahun 2002 menjadi turun kembali.2 95.0 80.3 92.9 100.0 99.9 98. Masyarakat mengalihkan fungsi jagung dan ubikayu.1 99.7 91. Perubahan gaya hidup masyarakat berpengaruh pula pada gaya makan. sedangkan untuk kelompok pangan yang lain masih di bawah anjuran.7 98.9 100. serta dapat diperoleh dengan mudah.8 99.7 98. 99.8 99.7 100.9 98.0 99.9 97. Sebaliknya tingkat konsumsi mi instan yang juga sebagai salah satu sumber karbohidrat.99.9 96.6 99.8 99. Dari keragaan data tersebut menunjukkan bahwa pangan lokal seperti jagung dan ubikayu telah ditinggalkan oleh masyarakat.Jagung . konsumsi pangan yang melebihi standar anjuran hanya pada kelompok padi-padian.7 98. terjadi penurunan tingkat konsumsi cukup tajam.7 Sumber : Data Susenas.8 98.1993.0 99.8 99. Dengan membandingkan antara komposisi energi anjuran dan konsumsi energi riil seperti terlihat pada Tabel 4.9 II. Permasalahan konsumsi pangan yang dihadapi tidak hanya belum terpenuhinya kecukupan gizi tetapi juga ketidakseimbangan komposisi pangan penduduk.0 99. Penurunan tersebut juga terjadi di desa.4 96.1996.6 99.

71 0.18 96. memang nenek moyang kita menjadikan nasi beras yang dimakan sesuatu yang elite. sehingga orang gengsi mengkonsumsi jagung dan ubikayu karena komoditas tersebut sudah .24 8.16 120. Dalam komposisi zat gizi. Pola pangan lokal seperti jagung dan ubikayu telah ditinggalkan masyarakat. Pola makan masyarakat sebenarnya telah beragam.97 3. Selain itu beras mempunyai cita rasa yang lebih enak walaupun dikonsumsi dengan lauk-pauk seadanya.05 13.70 2. Kualitas pangan juga masih rendah. walaupun sudah mengkonsumsi macam-macam makanan termasuk lontong. Dalam hal ini diversifikasi pola makan tersebut sangat dipengarnhi oleh tingkat pendapatan.40 1. Ketergantungan akan beras yang masih tinggi di kalangan masyarakat dan meningkatnya tingkat konsumsi mi secara signifikan menjadikan upaya diversifikasi konsumsi pangan belum menunjukkan keberhasilan.50 III. bahkan salah arah. sehingga masyarakat menjadikan beras sebagai pangan pokok yang memiliki status sosial lebih tinggi.82 125. Banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut dan saling berkaitan satu dengan yang lain.19 19. Sumber : Data SUSENAS.66 5.76 5.Mi instan 120. Pada hakekatnya faktor-faktor yang mempengaruhi diversifikasi konsumsi pangan adalah sama dengan faktor yang mempengaruhi konsumsi pangan yaitu sosial. Namun kesalahan kita mengapa barang elite tersebut kita ajarkan kepada generasi keturunan sehingga semakin banyak orang yang mengkonsumsi beras. 1993. misal dengan mengolah nasi jagung. di samping lebih mudah cara mengolah dan lebih praktis. namun sampai saat ini masih belum berjalan sesuai dengan yang diharapkan.75 7. maka dinyatakan keluarga tersebut rawan pangan. lebih tinggi daripada jagung dan ubikayu (Depkes. yang menurut hasil studi Ariani dan Pasandaran (2002) memerlukan waktu sampai 2. KENDALA DIVERSIFIKASI KONSUMSI PANGAN Walaupun upaya diversifikasi sudah dirintis sejak dasawarsa 60-an.98 1. Beras Lebih Bergizi dan Mudah Diolah Secara intrisik.88 109. budaya.44 2.. yang sebenarnya tidak ditujukan untuk mendorong keaneka-ragaman pangan masyarakat tetapi untuk mempromosikan produk yang dihasilkan. walaupun hanya makan nasi dan lauk pauk yang sederhana.07 108. 1990.05 111.2002 (diolah) III.Ubikayu . berubah ke pola beras dan pola mi.1996. beras memang mempunyai banyak kelebihan dibandingkan jagung dan ubikayu. serta ketersediaan dan keterjangkauan.42 32. peran Departemen Pertanian sangat menonjol dalam program yang disusun. pendidikan dan pengetahuan. Pola sosial-budaya di masyarakat seperti ini secara nyata akan meningkatkan permintaan beras dan menghambat diversifikasi konsumsi pangan. Implementasi program banyak yang terjebak dalam proyekproyek parsial yang kurang berkesinambungan. Menurut Syamsoe’oed Sadjad.70 1.61 17. kurang beragam dan masih didominasi pangan sumber karbohidrat.3 Beras Sebagai Komoditas Pangan Superior Kesulitan menerapkan diversifikasi konsumsi pangan disebabkan kuatnya paradigma masyarakat yang menganggap beras sebagai komoditas yang superior atau prestisius. pengetahuan. Program Diversifikasi pangan yang dilakukan selama ini cenderung didominasi oleh peran pemerintah (pusat). tidak diperlukan waktu yang lama.48 0. 1990).62 5.5 jam.11 0.61 7. sebaliknya dibilang sudah makan. ekonomi.60 8.64 1.59 2.21 0. Hal ini bisa dibandingkan. Sebagai contoh. sedangkan departemen lain cenderung untuk enggan berperan aktif di dalamnya.89 0. apabila ada keluarga yang beralih konsumsi dari pola beras ke umbiumbian.09 123.74 0. Adanya image seperti di atas dan perubahan gaya hidup yang diikuti perubahan gaya makan. walaupun tingkatannya masih belum seperti yang diharapkan. Dalam program tersebut terdapat banyak konsep tetapi kurang diturunkan dalam bentuk langkah implementatif yang melibatkan stake-holder. Pola makan yang beragam diduga lebih disebabkan karena peningkatan pendapatan dan sebagai hasil komunikasi antara produsen (industri) pangan dan konsumen. terutama dalam standar kualitas dan kuantitas makanannya.37 27. ketersediaan pangan dan lain-lain.48 14. kandungan energi dan protein beras adalah sekitar 360 Kalori dan 7-9 gram per 100 gram bahan. 3. ketupat. Dengan demikian tingkat keaneka-ragaman pangan akan berbeda menurut kelompok masyarakat.00 0.1999. Sampai sekarang masih sering terdengar pernyataan yang disampaikan oleh pejabat pemerintah atau media massa yang mendukung pernyataan tersebut.49 89. Lama proses pemasakan jagung ini juga menjadi pendorong beralihnya konsumsi masyarakat ke beras atau mi yang mudah dimasak.50 0.78 4. Konsep Makan Masih banyak ditemukan di masyarakat yang mempunyai konsep makan “merasa belum makan kalau belum makan nasi. Disamping itu. sehingga hanya layak dikonsumsi oleh kalangan atas (orang kaya). Dalam hal ini terlihat adanya hambatan koordinasi baik secara horizontal maupun vertikal. Disamping itu terdapat pula pengaruh lintas budaya terutama akibat globalisasi yang signifikan. dan tidak memiliki target kuantitatif yang disepakati bersama.70 8.

beras telah dijadikan komoditas politik dan strategis. konsumsi beras akan menurun.8 1.0 5.4 8. Kebijakan terhadap produksi. 2)Data Susenas 1996.3 2.4 3. 1999.Pangan hewani .4 4.mempunyai trade mark sebagai barang inferior.3 56.0 3. yang menurut terletak pada rumusan tujuan dan implementasi yang diarahkan terutama untuk stabilitas politik dan ekonomi. sehingga konsumsi beras menurun dan akan beralih pada pangan yang mahal seperti pangan hewani atau makanan jadi.Kacang-kacangan .8 2. tergantung dari motif mana yang akan menjadi unsur utama. harga dan impor beras telah menyebabkan harga beras menjadi murah dan dapat terjangkau oleh masyarakat. sehingga jumlah yang dikonsumsi juga terbatas. Seperti hasil kajian yang dilakukan oleh Simatupang dan Ariani (1997) yang menggunakan data Susenas 1996 dengan indeks Entropy menunjukkan bahwa diversifikasi sumber konsumsi energi dan protein selalu lebih tinggi pada kelompok pengeluaran (proksi pendapatan) tinggi. kebijakan pemerintah dalam hal ini masih ambivalensi dan terkesan setengah hati.0 1.0 5.5. Salah satu hal penting dalam menyukseskan diversifikasi konsumsi pangan adalah karena dukungan kebijakan pemerintah.Padi-padian . Jagung dan ubikayu tidak lagi sebagai pangan pokok tetapi makanan selingan atau snack. Pemerintah telah menetapkan berbagai kebijakan yang berkaitan dengan perberasan mulai dari industri hulu sampai industri hilir. dalam hal ini jaminan ketersediaan beras (pangan pokok penduduk) pada tingkat harga yang terjangkau. Dalam kasus beras. peningkatan pendapatan akan meningkatkan konsumsi beras.0 6.8 62. pengolahan pangan nonberas masih terbatas dan teknologi yang digunakan masih sederhana .0 70.3 9. Menurut Baharsyah (1991) kebijaksanaan harga pangan yang belum berimbang dengan harga beras yang cenderung menurun terhadap pangan lain merupakan salah satu faktor penghambat diversifikasi pangan. Namun faktanya. sehingga kebijakan pangan bias pada beras.0 6. Pendapatan Rumah Tangga Masih Rendah Perubahan pola konsumsi akibat kenaikan pendapatan tidak hanya mengakibatkan tuntutan akan kuantitas tetapi juga kualitas dan bahkan komoditas baru. Proporsi Konsumsi Energi yang Dianjurkan dan Konsumsi Energi Riil Penduduk Indonesia Menurut Konsep PPH (%) Kelompok pangan Konsumsi Anjuran Konsumsi Riil 1996 1999 2002 . Pergeseran pola pangan pokok di Madura. masih ada kelemahan kebijakan pangan selama ini. Rumah tangga dengan pendapatan tinggi akan berupaya memenuhi tuntutan kualitas. Program diversifikasi konsumsi pangan semestinya juga diarahkan pada perbaikan pendapatan masyarakat petani dengan melakukan diversifikasi produksi tanaman pangan.0 2.2 56.2 5.Gula . 2002 3. Dengan sentuhan teknologi pengolahan diharapkan dapat menghasilkan pangan yang lebih bermutu. Di Indonesia.Umbi-umbian . Telah banyak kajian yang menunjukkan bahwa pendapatan rumah tangga mempengaruhi diversifikasi konsumsi pangan.6 3. dan pada tingkat pendapatan tertentu.4 68.2 3.Lain-lain 50. sehingga pertumbuhan produksi beras terus meningkat dan beras dapat dijumpai dimana-mana dengan mudah. sehingga beras menjadi populer. sehingga berbagai motif dalam memilih pangan akan muncul.4.5 1.4 2. dari jagung ke beras selain karena letak Pulau Madura yang dekat dengan Jawa Timur.3 2.0 3. Ketersediaan Beras Melimpah dan Harga Beras Murah Salah satu cara untuk mewujudkan stabilitas politik adalah dengan menyediakan pangan yang stabil dengan harga yang terjangkau.8 4.1 4.4 3. menarik. 3.0 59. Tabel 4. keluarga akan dapat leluasa menentukan pilihan-pilihan pangan sesuai dengan selera.2 1.0 10. Selain itu.6.6 Sumber: 1)Deptan (2001). juga pengaruh pompanisasi dan ditemukannya varietas padi yang pendek. Pada saat ini. pemerintah juga telah menetapkan harga dasar gabah sejak Musim Tanam (MT) 1969/70 yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani.Minyak+lemak . Pada rumah tangga dengan pendapatan rendah.8 4.4 Skor PPH 100. disukai dan terjangkau oleh masyarakat. Dengan pendapatan yang cukup.Buah/biji berminyak .Sayur+buah . 3.0 12.5 2. peningkatan pendapatan justru meningkatkan konsumsi beras dan mengurangi atau beralih dari pangan pokok seperti jagung dan ubikayu. Hal ini berarti peningkatan pendapatan berasosiasi kuat dengan diversifikasi sumber konsumsi zat gizi.9 3. Teknologi Pengolahan Pangan Nonberas dan Promosinya Masih Terbatas Pengembangan teknologi pengolahan diperlukan untuk mempercepat mewujudkan diversifikasi konsumsi pangan.0 7.1 5. Padahal semestinya tujuan tersebut diarahkan kepada pencapaian ketahanan pangan berkelanjutan. Namun.

Pada saat yang sama sekitar 100. Belajar dari industri mi instant. sehingga mengurangi konsumsi pangan lokal seperti jagung dan umbi-umbian. Beberapa fenomena globalisasi yang mempengaruhi kondisi keaneka-ragaman pangan Indonesia: a. Kebutuhan tersebut tidak hanya dari jenis pangannya tetapi juga dari pengolahan. disajikan dan dikonsumsi dengan kemasan yang bagus dan dengan variasi harga yang memungkinkan masyarakat untuk melakukan pilihan-pilihan produk mi sesuai dengan kemampuan.8. Menurut Sawit (2003) beralihnya pangan dari non terigu ke terigu atau produk olahannya pada kelompok rendah dan menengah di Indonesia begitu cepat dibandingkan di negara-negara Asia. pengemasan. Dalam 5 tahun pasar beras dunia menunjukkan trend penurunan harga. Program diversifikasi konsumsi pangan telah ditetapkan sejak dulu. padahal potensi pangan lokal yang dapat berperan untuk menggantikan atau mengurangi beras sangat tinggi.(tradisional) sehingga produk yang dihasilkan masih dianggap sebagai barang inferior. pemerintah menetapkan harga beras murah. 3. fast food. Generalisasi program tersebut jelas akan menstabilkan dan mendorong beras sebagai pangan pokok. Banyak ragam jenis. Namun adanya kebijakan impor gandum untuk diproses menjadi tepung di dalam negeri yang berlangsung lama dan subsidi harga terigu oleh pemerintah. Kebijakan Impor Gandum.49 % per tahun. karena kondisi fisik lingkungan yang tidak cocok. Selain itu adanya kampanye yang intensif melalui berbagai jenis media seperti media elektronik. tidak hanya golongan atas tetapi juga menengah dan bawah. Globalisasi juga membawa pengaruh budaya pangan baru: mie. d. Dilihat dari perspektif pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat. 2. Globalisasi dapat mengurangi keleluasaan pemerintah Indonesia dalam memformulasi dan menerapkan kebijakan dibidang pangan akibat keterkaitannya dengan kepentingan beberapa lembaga internasional seperti Bank Dunia dan IMF. turut mendorong peningkatan partisipasi konsumsi produk gandum terutama berupa mi dan roti. Hal tersebut akan menyebabkan pengambilan keputusan industri menjadi tergantung pada kepentingan perusahaan induknya. mi instant dan produk mi lainnya. yang salah satu tujuannya untuk menurunkan konsumsi beras. Kalaupun tersedia. Kondisi ini perlu dilihat sebagai peluang untuk mengembangkan pola konsumsi beraneka-ragam bagi "konsumen baru" yang cukup besar. penampilan. bahkan mencapai US$ 1. Impor gandum pada tahun 1997/1998 sekitar 3. tambahan kandungan nutrisi.7 juta ton telah naik menjadi 4. yang mendorong orang untuk mengkonsumsi beras. Proses reformasi yang menginginkan penyeimbangan peran masyarakat dan peran pemerintah mendorong peningkatan partisipasi masyarakat yang lebih besar. sehingga Indonesia tidak menanam tanaman tersebut. Konsumen produk mi juga meliputi semua golongan. tingginya tingkat konsumsi pangan tersebut dikarenakan product development yang dihasilkan sangat beragam dan promosinya juga sangat kuat. 3. seperti mi basah. Namun sebagian besar pola pangan baru tersebut berbasis bahan baku yang harus impor dan kurang menyerap potensi alam Indonesia. 3. Hal ini menyebabkan masuknya beras impor ke pasar Indonesia legal maupun ilegal dengan harga relatif murah. IV. Jenis Product Development Cukup Banyak dan Gencarnya Promosi Produk gandum sesungguhnya bukan makanan pokok Indonesia. Selain itu cara dan alat pengolahan pangan non beras tingkat rumah tangga juga masih terbatas. Kebijakan yang Tumpang Tindih Kebijakan pangan yang ditetapkan tidak konsisten dan sinkron antara program yang satu dengan yang lain. Walaupun hal ini memungkinkan lebih tersedianya "pangan murah" bagi penduduk miskin. Indonesia dengan jumlah konsumen yang besar merupakan pasar yang sangat menarik bagi produsen pangan dunia. b. product development yang diperluas dengan harga yang bervariasi dan mudah diperoleh. yang walaupun juga mendorong penganeka-ragaman pola pangan. 4. Selain itu. pemerintah juga menetapkan program OPK beras yang berlaku untuk semua provinsi baik di kota maupun di desa tanpa memperhatikan faktor sosial dan budaya makan setempat. bentuk dan cara masak dari mie. Globalisasi merupakan kondisi riil yang telah terjadi dalam kehidupan sehari-hari. dan (2) menjadi disinsentif bagi petani untuk menanam beras sehingga dapat menimbulkan ketergantungan terhadap beras impor.000 hektar lahan pertanian umurnnya pangan terkonversi setiap tahunnya untuk berbagai kepentingan non-pertanian. tidak hanya di swalayan tetapi juga di pasar tradisional atau warung kecil di pedesaan. c. Dengan pertumbuhan penduduk 1. Disamping itu dominasi peran pemerintah dalam pengambilan keputusan yang terjadi selama ini juga semakin terbatasi oleh kemampuan pemerintah sendiri dalam menjalankan keputusannya.1 juta ton tahun 2000/2001. Selain itu mi juga dengan mudah dijumpai di berbagai tempat.7. PELUANG DAN TANTANGAN MASA DEPAN Indonesia merupakan negara besar yang sangat dinamis. Perusahaan-perusahaan industri pangan di Indonesia sebagian besar telah dimiliki oleh perusahaan multinasional. maka harga terigu menjadi murah (50% lebih rendah dari harga internasional). Indonesia harus mampu menyediakan pangan untuk 210 juta penduduknya saat ini dan pertambahan setidaknya 3 juta konsumen baru setiap tahun. dan sebagainya. terdapat beberapa peluang dan tantangan yang perlu diperhatikan: 1. harganya masih mahal dan dikonsumsi dalam jumlah yang kecil seperti snack dari jagung. Hal ini dapat menjadi kendala bagi pengembangan 'industrialisasi pangan alternatif .2 billion pada tahun 2002 dan menjadi impor tertinggi untuk kelompok pangan. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang beragam. Disisi lain. yang ditandai oleh berbagai perkembangan strategis beberapa tahun terakhir dan tahun-tahun yang akan datang. Beras impor murah akan (1) menimbulkan ketergantungan terhadap beras semakin tinggi dan mengurangi insentif untuk menganekaragamkan sumber karbohidrat. Keragaman sosial ekonomi tersebut sekaligus sekaligus juga menjadi peluang dan potensi untuk mengembangkan pangan yang beragam. dll. sekaligus tantangan yang besar karena sumberdaya alam untuk memenuhi kebutuhan pangan tersebut semakin terbatas. namun hal ini dapat sangat serius mempengaruhi ketahanan pangan jangka panjang. Produk mi dapat dengan cepat diolah. Dengan dorongan bagi terbukanya pasar domestik Indonesia menyebabkan berbagai produk dipasarkan ke Indonesia. tetapi dikhawatirkan dapat menimbulkan masalah baru dalam ketahanan pangan Kondisi tersebut juga dikhawatirkan akan menciptakan playing field yang tidak seimbang antara pelaku bisnis pangan domestik dan MNC. contohnya belum ada alat masak untuk jagung dan ubikayu seperti “rice cooker”. e. mi kuah. Juga telah semakin seriusnya penurunan kesediaan air dan meningkatnya kompetisi penggunaan air tersebut antara keperluan konsumsi rurnah tangga dan industri dengan keperluan pertanian. terutama akibat .

laju peningkatan produktivitas usahatani padi semakin kecil karena perkembangan teknologi produksi padi mengalami kejenuhan. Peluang dan tantangan lain yang melingkupi pengembangan keaneka.masalah yang tidak dapat diatasi oleh propinsi dan kabupaten serta mengembangkan hubungan dengan masyarakat internasional (international relations and diplomacy). Dalam hal ini pengembangan "public-private partnership" termasuk pelibatan petani merupakan langkah strategis yang perlu dikembangkan.keterbatasan kemampuan anggaran pemerintah dan keterkaitan pemerintah dengan lembaga. dari segi selera. baik di dalam negeri maupun di dunia internasional. Peran pemerintah pusat terbatas pada masalah. dan bagaimana proses pengukuran yang mudah dari indikator tersebut. Beberapa karakter yang seharusnya dimiliki oleh pangan pengganti beras. 4. PENTINGNYA DIVERSIFIKASI KONSUMSI PANGAN Dalam KTT Pangan Dunia 1996 yang menghasilkan Deklarasi Roma tentang Ketahanan Pangan ditegaskan bahwa: “adalah hak setiap orang untuk memiliki akses terhadap pangan yang aman. tetapi melalui keseimbangan yang optimal antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. keterbatasan anggaran pemerintah. Secara tegas dikatakan bahwa pemenuhan kebutuhan pangan secara cukup bagi setiap penduduk merupakan suatu hal yang mutlak dipenuhi dari sisi hak manusia. 7. terutama yang terkait dengan aspek stabilitas kecukupan pangan. memiliki peluang yang besar untuk dikonsumsi dalam kuantitas yang relatif tinggi sehingga apabila terjadi penggatian konsumsi beras dengan bahan tersebut maka pengurangan kuantitas kalori dan protein nabati yang berasal dari beras dapat dipenuhi dari bahan pangan alternatif yang dikonsumsi. 3. kebijakan diversifikasi konsumsi pangan dipandang masih tetap diperlukan. 2. Bila terjadi kelangkaan beras maka akan memberikan dampak yang besar terhadap pemenuhan kebutuhan konsumsi pangan bagi rumah tangga. bahan pangan alternatif memiliki peluang cukup besar untuk dikonsumsi secara luas oleh rumah tangga . 6. meningkatkan pendapatan petani dan agroindustri pangan.1. Disamping itu pengembangan pola 'user-fee' atau 'fee-services' juga dapat menjadi wujud kongkrit tantangan dan peluang peran swasta dan petani tersebut. Pada tahap implementasi. kelembagaan dan budaya lokal (Badan Bimas Ketahanan Pangan. Padahal akhir-akhir ini cenderung terjadi stagnasi dalam produksi beras nasional yang diakibatkan oleh : 1. memiliki kandungan energi dan protein yang cukup tinggi sehingga apabila harga bahan pangan tersebut dihitung dalam kalori atau harga protein nabati. secara eksplisit dituangkan bahwa penganekaragaman pangan diselenggarakan untuk meningkatkan ketahanan pangan dengan memperhatikan sumberdaya. menurut Irawan et al. 8. Selain peningkatan kualitas sumberdaya manusia. 2. maka perbedaannya tidak terlalu jauh dengan harga energi atau harga protein nabati yang berasal dari beras. Memperkuat Ketahanan Pangan Masalah ketahanan pangan menjadi isu penting akhir-akhir ini.ragaman pangan pada masa yang akan datang adalah perkembangan teknologi pangan yang semakin maju sekaligus mudah diimplementasikan. 5. Dalam konteks diversifikasi pangan. swasta nasional juga telah menunjukkan perannya dalam mendorong diversifikasi pangan. Keberhasilan pelaksanaan kebijakan pada tingkat operasional saat ini dan di masa yang akan datang akan sangat ditentukan oleh kemampuan dan kemauan pemerintah daerah. Pendayagunaan teknologi yang sesuai akan menjadi faktor menentukan keberhasilan proses penganeka-ragaman pangan. Prinsip industrialisasi pangan membutuhkan peran swasta secara aktif. proses penganeka-ragaman pangan membutuhkan pemahaman yang benar mengenai apa yang dimaksud dengan keaneka-ragaman pangan.lembaga internasional. Ketergantungan konsumsi pangan terhadap beras tidaklah menguntungkan bagi ketahanan pangan. bahan baku untuk pembuatan bahan pangan alternatif cukup tersedia di daerah sekitarnya. 2002). konversi lahan pertanian terutama di Jawa ke penggunaan nonsawah. apa indikator yang dapat memberikan gambaran mengenai tingkat keanekaragaman tersebut. baik dalam pengertian konsumsi maupun produksi. (1999) adalah sebagai berikut: 1. dan menggantikannya dengan jenis pangan lain menjadi penting dilakukan dalam rangka menjaga ketahanan pangan dalam jangka panjang. Agar industrialisasi yang dikembangkan terkait dengan kegiatan petani menghasilkan bahan baku pangan. Pengambilan keputusan publik oleh pemerintah juga tidak dapat lagi dilakukan hanya oleh pemerintah pusat. bermutu dan bergizi. hal tersebut perlu menjadi pusat perhatian karena akhirnya masyarakatlah yang akan melakukan dan memperoleh dari hasil penganeka-ragaman. Dengan demikian kekurangan pangan atau kelaparan yang berdampak pada kekurangan gizi dapat dianggap sebagai bentuk pelanggaran hak azasi manusia. dampak positif dari kebijakan diversifikasi konsumsi pangan antara lain memperkuat ketahanan pangan Indonesia. Oleh karena itu upaya menurunkan peranan beras. serta menghemat devisa negara. V. Dalam Peraturan Pemerintah (PP) RI Nomor 68 tentang Ketahanan Pangan. konsisten dengan hak azasi bagi setiap orang untuk memperoleh pangan yang cukup dan bebas dari kelaparan”. sehingga tidak mampu melakukan perluasan areal irigasi dan pemberian subsidi input produksi kepada petani. Faktor-faktor tersebut menimbulkan kekahawatiran akan potensi terjadinya kelangkaan beras di masa mendatang. maka proses industrialisasi pangan tersebut perlu diletakkan pula dalam kerangka pengembangan dan usaha agribisnis pangan Hal tersebut juga membutuhkan partisipasi aktif kalangan pengusaha. terutama kebutuhan energi dan protein. dan 3. Oleh sebab itu pengambilan keputusan publik dimasa yang akan datang akan sangat ditentukan oleh kemampuan melibatkan partisipasi masyarakat secara optimal. dimana peran pemerintah daerah akan lebih dominan tanpa mengesampingkan peran penting pemerintah pusat dalam mengembangkan kebijakan makro yang kondusif. 5. Seperti telah dikemukakan sebelumnya. Disamping itu perlu pula dikembangkan pemahaman pemerintah daerah bahwa sangat banyak masalah sosial ekonomi yang tidak bisa hanya diselesaikan dalam lingkup batas kewenangan administratif satu daerah tetapi membutuhkan kerjasama yang erat antar pemerintah daerah. Berdasarkan beberapa permasalahan tersebut diatas. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan mengembangkan dan mengintroduksi bahan pangan alternatif pengganti beras yang berharga murah dan memiliki kandungan gizi yang tidak jauh berbeda dengan beras.

Indonesia telah mengimpor tidak kurang dari 15 juta ton beras atau senilai US $ 4.0 32. protein.0 22.1 3.2 42.5 1.0 17. Tabel 5. Menghemat Devisa Negara Produksi beras Indonesia jauh tertinggal dari permintaan dan nampak semakin fluktuatif selama dasawarsa sembilan puluhan. yang cenderung meningkat semakin menambah beban pemerintah dalam mencukupi kebutuhan konsumsi beras.2 37.8 22. Pada tahun 1997/1998 impor biji gandum Indonesia hanya sekitar 3. tetapi dapat mencoba tanaman lain yang memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi.0 61.3. dan lemak.2. Meningkatkan Pendapatan Petani dan Agroindustri Pangan Peran sektor pertanian yang utama adalah sebagai penyedia pangan bagi penduduk. kembili.2 20. Petani akan memproduksi komoditas yang banyak dibutuhkan oleh konsumen dan yang memiliki harga cukup tinggi.4 62.8 1.5 36.2 1. Oleh karena itu.8 11.5 36. Mereka tidak lagi tergantung pada komoditas padi sebagai sumber pendapatan usahataninya. Kondisi ini akan membawa dampak pada peningkatan pendapatan petani.9 22.2 22.7 4. Tingkat partisipasi konsumsi beras masyarakat di kota maupun di desa.9 23.2 0. Terigu yang sering menjadi polemik dapat berkurang penggunaannya dengan memanfaatkan tepung dari umbiumbian.9 61. tetapi pada tahun 2000/2001 melonjak menjadi 4.0 69.7 Kacang bogor Koro benguk Kecipir Koro wedus Kacang hijau Kacang tanah 1. Hal ini sekaligus menjadi peluang yang dapat mengantar Indonesia untuk berswasembada karbohidrat.4 1. tetapi juga akan bermanfaat bagi penghematan devisa negara jutaan dolar per tahunnya yang berarti juga meringankan beban keuangan negara.0 1.3 0.7 15. 5.7 23. 2003).0 3.0 0.7 23. 68 yang menyebutkan bahwa penganekaragaman pangan dilakukan dengan mengembangkan teknologi pengolahan dan produk pangan.7 27. 5.7 22.9 .7 24. Kandungan Makronutrien per 100 gram Komoditas Pangan Alternatif (gram) Komoditas Protein Lemak Karbohidrat Ubikayu Kentang hitam Ubikayu kuning Suweg Ganyong Talas Jagung kuning Kimpul Ubijalar Garut Jali Gude Kembili Kacang tinggak Sorgum Kacang merah 0.1 3.5 11.7 juta ton.1 0.3 0.0 9.2 25. Selain itu.9 2.8 34.4 0.4 37.6 59. baik di Jawa maupun Luar Jawa. Akibatnya. antisipasi terhadap pangan baru seperti mi yang bahan bakunya tidak diproduksi di dalam negeri harus diperhatikan dalam mengembangkan industri dan menerapkan jenis teknologi yang akan dipilih.3 0. Terjadinya krisis ekonomi Indonesia yang berdampak pada lahirnya krisis pangan dan gizi dapat dijadikan momentum untuk membuka peluang pemanfaatan komoditas pangan lokal yang selama ini kurang mendapat perhatian masyarakat.Pelaksanaan diversifikasi konsumsi pangan secara bertahap akan mengubah pola produksi pertanian di tingkat petani (diversifikasi produksi pertanian). Sayang potensi besar tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal. koro pedang dan komoditas lainnya (yang nyaris tidak dikenal lagi) dapat dikembangkan sebagai pangan alternatif.0 1. ketergantungan Indonesia akan beras impor juga semakin besar. apalagi di saat terjadi krisis ekonomi ini. Keragaman hayati (biodiversity) yang tersebar di wilayah Indonesia merupakan potensi besar yang dapat diolah menjadi pangan.0 33.1 1.0 1.0 0. Kandungan karbohidrat dan protein pangan tersebut dapat mensubtitusi penggunaan komoditas pangan utama pada aneka produk pangan. Keberhasilan diversifikasi konsumsi tidak saja akan memperkuat ketahanan pangan masyarakat karena tidak terlalu berpengaruh terhadap fluktuasi produksi beras.0 24.9 1. impor biji gandum sebagai bahan baku produk mi juga meningkat terus.1 16. Selama tahun 1990-2001.5 65.5 61. Pengembangan teknologi seyogyanya mampu mengembangkan penggunaan jenis serealia atau umbi-umbian yang dapat digunakan sebagai substitusi atau pencampuran sehingga ketergantungan terhadap impor terigu dapat ditekan. Hal ini juga secara ekplisit dituangkan dalam PP No. Jenis komoditas pangan yang dihasilkan oleh sektor pertanian akan sangat tergantung dari pola konsumsi masyarakat.1 juta ton (Sawit.4 1.7 6.4 milyar.2 0.konsumen.3 0.9 0. Beberapa komoditas lokal seperti ganyong.6 73.9 1.

.A. (6) teknologi pengolahan dan promosi pangan non beras (pangan lokal) masih terbatas. Keragaman hayati Indonesia berupa tumbuhan. Kebijakan diversifikasi konsumsi pangan masih tetap diperlukan. Gunawan. Prisma. Kepala Pusat Studi Pembangunan. Rasahan. Di sisi lain. meningkatkan pendapatan petani dan agroindustri pangan serta menghemat devisa. (5) pendapatan rumah tangga masih rendah. Keberhasilan diversifikasi konsumsi pangan tidak hanya memberikan keuntungan bagi tersedianya bahan pangan bagi penduduk. Politik Pangan dan Industri Pangan di Indonesia. jenis product development cukup banyak dan promosi yang gencar. LP3ES. (4) ketersediaan beras melimpah dan harganya murah.. Jakarta. I. dan S. namun diharapkan juga membawa dampak positif dalam kehidupan sosial masyarakat dan perekonomian nasional. 1993. 2003. dan C. Institut Pertanian Bogor (PSP-IPB) http://www. legume. Tahun XXII. namun pangan global seperti mi semakin banyak digemari yang ditunjukkan dengan kenaikan tingkat konsumsi mi instan yang signifikan. DAFTAR PUSTAKA Ariani dan Ashari. Suhartini. Pakpahan. Untuk selanjutnya. LIPI. vitamin. LP3ES. Strategi Diversifikasi Produksi Pangan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta. protein. yang melibatkan swasta terutama para industriawan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. (2) ada konsep makan yang keliru. kacang-kacangan.H. 5. Selain bertujuan untuk meningkatkan sumberdaya manusia. Kasus terjadinya perubahan konsumsi beras dan mi disebabkan karena peran pemerintah sangat kuat. tetapi juga swasta.21. tidak hanya pemerintah. Rahardjo. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN Peran beras sebagai pangan pokok semakin kuat. A. Beberapa faktor yang menjadi kendala terhambatnya diversifikasi konsumsi pangan adalah : (1) rasa beras memang lebih enak dan mudah diolah. Jakarta Kasryno.htm 22/11/06 . Bogor. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Krisnamurthi B. (7) kebijakan pangan yang tumpang tindih.D. 1989. Bahkan di beberapa provinsi terjadi pergeseran pangan pokok dari beragam cenderung menjadi pola tunggal yaitu beras. yang ditunjukkan oleh tingkat partisipasi yang cukup tinggi di berbagai wilayah termasuk pada wilayah yang sebelumnya mempunyai pola pangan pokok bukan beras. dampak positif dari pelaksanaan program diversifikasi konsumsi pangan adalah memperkuat ketahanan pangan. LSM dan masyarakat. Prisma No. M. No. Jakarta. 1998.ekonomirakyat. Th XXII.1 Sumber : Widowati dan Sunihardi (2000) VI. 5. Oleh karena itu. 1998. lesson learned dari pelaksanaan diversifikasi konsumsi pangan selama ini dapat dijadikan pijakan untuk pelaksanaan selanjutnya. Oleh karena itu.org/edisi_19/artikel_4. Penganeka-Ragaman Pangan: Pengalaman 40 Tahun Dan Tantangan Ke Depan. 2003. F. buahbuahan dan tumbuhan lalapan sangat banyak dan kaya sumber karbohidrat. belum dikatakan makan kalau belum makan nasi. Pedoman Umum Program Diversifikasi Pangan dan Gizi Tahun Anggaran 1998/1999. pangan lokal seperti jagung dan ubikayu semakin ditinggalkan masyarakat. Permintaan Rumah Tangga Kota di Indonesia Terhadap Keanekaragaman. (3) beras sebagai komoditas superior. hlm. program diversifikasi konsumsi pangan seyogyanya dijadikan gerakan bersama yang melibatkan semua unsur. 13-24. Hasan. terwujudnya diversifikasi konsumsi pangan sangat tergantung dari peran pemerintah baik di pusat maupun di daerah. dan (8) adanya kebijakan impor gandum. dan mineral. Penggalian potensi tersebut dilaksanakan dengan pengembangan teknologi pengolahan dan produk pangan. Jurnal Agro Ekonomi. Sambutan Penutupan Menteri Negara Urusan Pangan pada Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VI. M. 1993. Departemen Pertanian. Bogor Proyek DPG Pusat.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->