BAB II TINJAUAN TEORITIS 2.1. Pengertian, Prinsip dan Hakekat Pembelajaran Matematika 2.1.1.

Pengertian Belajar dan Pembelajaran Matematika Menurut Slameto (2003: 2) ―belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya‖. Selanjutnya Winkel (1989: 36) mengatakan ―belajar adalah suatu aktivitas psikis yang berlangsung dalan interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, ketrampilan dan sikap‖. Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses aktivitas, proses mental, dan proses berfikir yang terjadi dalam diri seseorang yang dilakukan secara sengaja melalui pengalaman dan reaksi terhadap lingkunganya untuk memperoleh suatu perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap, dan ketrampilan. Perolehan pengalaman seseorang itu dari proses asimilasi dan akomodasi sehingga pengalaman yang lebih khusus ialah pengetahuan yang tertanam dalam benak sesuai dengan skemata yang dimiliki seseorang (Ernest dalam Steffe, 1996: 336). Assimilasi adalah proses kognitif seseorang dalam mengintegrasikan informasi atau pengalaman baru ke dalam skemata atau pola yang sudah ada dalam pikiranya. Sedangkan akomodasi adalah penyesuaian pada skemata atau struktur kognitif manusia sebagai akibat dari adanya informasi-informasi baru yang diserap (Depdiknas, 2005: 15). Karena itu belajar merupakan proses aktif untuk mengembangkan skemata, sehingga pengetahuan yang terdiri dari konsepkonsep dan prinsip-prinsip terkait satu sama lain dan tidak sekedar tersusun hirarkis. Dengan kata lain belajar itu harus melalui suatu proses menemukan proses membangun/mengkonstruksi konsep-konsep dan prinsip-prinsip, proses memahami, tidak sekedar mentransfer pengetahuan kepada seseorang yang terkesan pasif dan statis, namun belajar itu harus aktif dan dinamis atau mengalami.

12

13

Kegiatan dan usaha untuk mencapai perubahan tingkah laku merupakan proses belajar, sedangkan perubahan tingkah laku itu merupakan hasil belajar (Hudojo, 1988: 1). Artinya perubahan setelah belajar itu dapat dilihat dari prestasi belajar yang dihasilkan oleh siswa, dalam menjawab pertanyaan atau persoalan yang ada serta menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Selanjutnya Oemar Hamalik (2003: 74) menyatakan hasil belajar adalah hasil yang dicapai melalui perbuatan belajar. Belajar dikatakan berhasil bila terjadi perubahan dalam diri individu. Sebaliknya, bila tidak terjadi perubahan dalam diri individu, maka belajar dikatakan tidak berhasil (Djamarah, 2000: 21). Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku atau kemampuan dalam diri siswa berupa pengetahuan, sikap dan ketrampilan yaitu efektif, efesien dan mempunyai daya tarik. Hasil belajar ini diperoleh siswa setelah mengikuti serangkaian kegiatan pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran. Matematika sebagai bahan pelajaran yang objek kajiannya berupa fakta, konsep, operasi, dan prinsip yang abstrak, dalam mempelajarinya diperlukan kegiatan psikologis seperti mengabstraksi dan mengklasifikasi. Mengabstraksi merupakan kegiatan memahami kesamaan dari sejumlah objek atau situasi yang berbeda. Sedangkan mengklasifikasi merupakan kegiatan memahami cara mengelompokkan objek atau situasi berdasarkan kesamaanya. Hudojo (1980: 3) mengemukakan bahwa matematika berkenaan dengan ide-ide (gagasan-gagasan), struktur-struktur, dan hubungan-hubungannya yang diatur secara logik sehingga matematika berkenan dengan konsep-konsep yang abstrak. Soedjadi (1995: 5) mengemukakan bahwa matematika sebagai ilmu dalam batas tertentu disusun secara deduktif aksiomatik yang diawali dengan pernyataan pangkal dan selanjutnya diturunkan sebagai teorema tertentu atau dilengkapi dengan berbagai defenisi. Dari pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa matematika memiliki objek-objek yang abstrak yang tertata secara matematis dalam suatu struktur berdasarkan penalaran logis.

14

Belajar matematika adalah suatu proses psikologis berupa kegiatan aktif dalam upaya seseorang untuk mengonstruksi, memahami atau menguasai materi matematika agar tercapai tujuan belajar. Oleh karena itu Freudenthal (1993) menyatakan bahwa konsep matematika tidak boleh diberikan dalam bentuk jadi (a ready made product). Artinya konsep-konsep yang ada dalam matematika tidak boleh dipindahkan langsung dari guru ke siswa sebab di dalamnya mengandung proses abstraksi, dimana siswa harus dilibatkan dalam proses penemuan konsep. Siswa dituntut menciptakan ide-ide, mencari hubungan-hubungan membentuk konsep. Pembelajaran matematika adalah usaha membantu siswa

mengonstruksikan pengetahuan melalui proses yang dimulai dari pengalaman dimana siswa harus aktif berinteraksi dengan lingkungan belajarnya sehingga dapat membantu siswa memperoleh pemahaman yang lebih tinggi. Pembelajaran matematika akan lebih efektif bila guru dapat menerapkan model mengajar,

pendekatan mengajar, dan media mengajar itu mengikut sertakan siswa secara aktif dalam menemukanpengetahuan sehingga pengetahuan yang di peroleh itu menjadi bermakna (Ambarita, 2004). 2.1.2. Hakekat Pembelajaran Matematika Mengajarkan ilmu pengetahuan, termasuk matematika mempunyai caracara yang sifatnya umum dan khusus. Keduanya harus mencakup hakekat pemahaman kognitif, afektif dan psikomotor. Disamping itu, tidak kalah pentingnya bagaimana mengkomunikasikan ide atau gagasan yang dikandung oleh ilmu pengetahuan tersebut kepada orang lain. Karena pada dasarnya, pembelajaran adalah proses menjadikan orang lain paham dan mampu menyebarkan apa yang dipahaminya (Suherman dkk, 2003:301) Belajar merupakan suatu proses (aktivitas) mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif antara seseorang (organisme) dengan lingkungannya yang menghasilkan perubahan-perubahan tingkah laku, baik pengetahuan, pemahaman, keterampilan, nilai atau sikap (Winkel, 1996). Belajar bukan hanya penguasaan hasil latihan, bukan hanya suatu hasil atau tujuan, bukan hanya mengingat melainkan mengalami (Suryosubroto, 2002). Belajar juga sebagai hasil pengalamannya sendiri (Slameto, 2003), melalui jalan latihan baik

15

di laboratorium atau di lingkungan alamiyah, dengan perubahan yang relatif konstan dan berbekas atau permanen (Hidrad dalam Nasution, 1982). Lebih lanjut, Hamalik (2003) memberikan ciri-ciri belajar, yaitu: proses belajar harus mengalami, berbuat, mereaksi dan melampaui; bermakna bagi kehidupan tertentu; dipengaruhi oleh perbedaan-perbedaan individual; di bawah bimbingan yang merangsang dan bimbingan tanpa tekanan dan paksaan; hasilhasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikapsikap, apresiasi abilitas dan keterampilan; serta bersifat kompleks dan dapat berubah-ubah, jadi tidak sederhana dan statis. Selanjutnya, NCTM (2000) menyebutkan prinsip-prinsip agar

pembelajaran matematika dapat efektif, yaitu: (a) guru memahami apa yang siswa ketahui dan butuhkan, kemudian mengingatkan dan mendukung mereka untuk mempelajarinya dengan baik; (b) guru mengetahui dan memahami matematika, siswa sebagai pembelajar, dan strategi pedagogi; (c) guru mengingatkan dan mendukung lingkungan dan suasana kelas yang belajar; (d) guru selalu mencari perbaikan secara terus menerus; (e) siswa belajar matematika dengan memahami esensi; dan (f) siswa dapat belajar matematika dengan pemahaman. Tujuan umum pendidikan matematika dalam Kurikulum 2004 adalah setelah pembelajaran, siswa ditekankan memiliki:(a) Kemampuan yang berkaitan dengan matematika yang dapat digunakan dalam memecahkan masalah matematika, pelajaran lain ataupun masalah yang berkaitan dengan kehidupan nyata; (b) Kemampuan menggunakan matematika sebagai alat komunikasi; (c) Kemampuan menggunakan matematika sebagai cara bernalar yang dapat

dialihgunakan pada setiap keadaan, seperti berpikir kritis, berpikir logis, berpikir sistematis, bersifat obyektif, bersifat jujur, bersifat disiplin dalam memandang dan menyelesaikan masalah. Paparan di atas menjelaskan bahwa hakekat pembelajaran matematika sesungguhnya mengacu kepada usaha membuat siswa percaya bahwa matematika masuk akal dan bahwa mereka sendiri dapat memahami konsep-konsep matematika. Dan guru dalam hal ini harus percaya pada anak-anak dan memberi

2000:10) mengemukakan: ―Maksud dari model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang istematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu.16 kesempatan pada mereka untuk terlibat secara aktif dalam berfikir. Penggunaan model pencapaian konsep . Model pencapaian konsep ini banyak menggunakan contoh dan non contoh. Sukamto. Pengertian Model Pembelajaran Pencapaian Konsep Pada prinsipnya model pembelajaran pencapaian konsep adalah suatu model mengajar yang menggunakan data untuk mengajarkan konsep kepada siswa. bukan dalam bentuk observasi . (b) Guru menuntun jalan pikiran siswa ketika mereka menetapkan apakah suatu hipotesis diterima atau tidak. dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas mengajar‖. tetapi juga untuk menganalisis dan mengembangkan konsep.1. (c) Guru meminta siswa untuk menjelaskan mengapa mereka menerima atau menolak suatu hipotesis. berjuang menemukan ide-ide matematiknya. Model Pencapaian Konsep 2. dkk (Nurul wati. dimana guru mengawali pengajaran dengan menyajikan data atau contoh. Model pencapaian konsep mula-mula didesain oleh Joyce dan Weil (1972) yang didasarkan pada hasil riset Jerome Bruner dengan maksud bukan saja didesain untuk mengembangkan berfikir induktif. kemudian guru meminta siswa untuk mengamati data tersebut.2. Kauchak dan Eggan (1996) mengemukakan: ―Model pencapaian konsep adalah suatu strategi pembelajaran induktif yang didesain untuk membantu siswa pada semua usia dalam mempelajari konsep dan melatih pengujian hipotesis‖. Suherman dan Saripuddin (2009) mengemukakan bahwa: ―Salah satu keunggulan model pencapaian konsep adalah untuk memahami (mempelajari) suatu konsep dengan cara lebih efektif‖. Ada tiga cara yang dapat dilakukan oleh guru dalam membimbing aktifitas siswa yaitu: (a) Guru mendorong siswa untuk menyatakan pemikiran mereka dalam bentuk hipotesa. Model ini membantu siswa pada semua usia dalam memahami tentang konsep dan latihan pengujian hipotesis.2. 2.

kemudian dengan mengamati contoh-contoh diturunkan definisi dari konsepkonsep tersebut. 1998). sepeti membuat contoh penyangkal atau non contoh dan sebagainya.17 dimulai dengan pemberian contoh-contoh penerapan konsep yang diajarkan. atau prinsip). Merencakan Pembelajaran Model Pencapaian Konsep Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam merancang pelajaran menggunakan model pencapaian konsep adalah sebagai berikut: (1) menetapkan materi: dalam menerapkan model pencapaian konsep guru harus menetapkan materi-materi yang akan diajarkan. Kedua. 2.2. Konsep yang akan diajarkan itu sebaliknya bukan baru sama sekali bagi siswa. Dengan kata lain. penggunaan model ini akan lebih efektif jika siswa sudah memiliki pengalaman tentang konsep yang akan dipelajari itu. Dalam pembelajaran harus ditekankan pada analisis siswa terhadap hipotesis yang ada dan mengapa hipotesis itu diterima. dimodifikasi. (2) pentingnya tujuan pembelajaran: tujuan penggunaan model pencapaian konsep adalah untuk membantu siswa mengembangkan konsep dan relasi-relasi antara konsep itu dan memberikan latihan kepada mereka tentang . yaitu contoh tentang hal-hal yang akrab dengan siswa. tujuan isi model pencapaian konsep lebih efektif untuk memperkaya suatu konsep daripada belajar (initial learning) dan juga akan efektif dalam membantu siswa memahami hubungan-hubungan antara konsep-konsep yang terkait erat dan digunakan dalam bentuk review (Eggen dan Kauchak. Dalam hal ini bentuk materi adalah konsep (bukan generalisasi. rumus.2.2. atau ditolak. model pencapaian konsep lebih memfokuskan pada pengembangan berpikir kritis siswa dalam bentuk menguji hipotesis. 2. Siswa harus dilatih dalam menciptakan jenisjenis kesimpulan. tujuan isi. Hal yang paling utama diperhatikan dalam penggunaan model ini adalah pemilihan contoh yang tepat untuk konsep yang diajarkan.3. Tujuan Pengembangan Berpikir Kritis Siswa. Tujuan Penggunaan Model Pencapaian Konsep Ada dua tujuan dalam penerapan pembelajaran model pencapain konsep yaitu: Pertama. bukan siswa baru mempelajari konsep itu. Perlu diketahui bahwa model ini akan lebih efektif bila siswa yang akan diajarkan itu memiliki beberapa pengalaman tentang konsep yang akan diajarkan.

Contoh-contoh itu harus diurutkan sedemikian sehingga para siswa mendapat kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kreatif mereka. dengan menggambarkan gagasan yang mereka . yaitu: (1) setelah suatu konsep dicapai. Selain memilih contoh positif . Ada dua cara yang dapat kita gunakan untuk mengamati dan memperoleh informasi tentang strategi yang digunakan siswa untuk mencapai konsep. diupayakan merubah karakteristik esensial menjadi karakteristik non esensial pada konsep yang akan diajarkan dan menyajikan semua hal-hal yang bukan merupakan karakteristik esensial konsepit itu.18 proses berpikir kreatif terutama dalam perumusan dan pengujian hipotesis.2. 2. Dalam mengurutkan contoh. Artinya contoh yang dipilih harus ada dalam lingkungan dimana siswa beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari ataupun yang ada dalam jangkauan pemikirannya.contoh). Strategi Penemuan Konsep denga Model Pencapaian Konsep Kunci untuk memahami strategi-strategi yang digunakan siswa untuk mencapai konsep adalah menganalisis bagaimana mereka mendekati informasi yang tersedia dalam contoh-contoh yang disediakan guru. (3) memilih contoh dan non-contoh: faktor yang paling penting dalam memilih contoh adalah mengidentifikasi contoh-contoh yang paling baik mengilustrasikan konsep tersebut. tidak memberi kesempatan kepada siswa dalam melakukan analisis dan akibatnya tidak menghasilkan pemahaman yang sangat dalam terhadap konsep yang dikaji. Misalnya. guru juga menyiapkan contohcontoh negatif atau non contoh. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam memilih contoh adalah tidak memilih contoh yang terisolasi dari konteks. (4) mengurutkan contoh: Setelah memilih contoh dan non-contoh tugas akhir dalam merencanakan pelajaran adalah bagaimana mengurutkan contoh dan non contoh itu.4. kita dapat meminta mereka menceritakan pemikirannya agar latihan terus berlangsung. Menunjukkan secara cepat atau langsung makna dari konsep yang diajarkan. Disamping itu. contoh yang dipilih juga harus dapat memperluas pemikiran siswa tentang konsep yang diajari. jika pengembangan berpikir kreatif menjadi tujuan penting bagi guru. guru dapat melakukan dengan menyajikan dua atau lebih contoh positif kemudian diikuti dua atau lebih contoh negatif (non. Dalam memilih contoh negatif .

. mereka diminta menyerahkan pada kita suatu catatan yang dapat kita analisis. berikut. Struktur Pengajaran Model Pencapaian Konsep Menurut Joyce (2009. Setelah itu. 2. 136). secara seksama akan menghasilkan hipotesis ganda dan secara bertahap akan menghilangkan hipotesis yang tak dapat dipertahankan. Siswa yang bekerja secara holistik. siswa akan terdorong untuk menerapkan strategi-strategi holistic untuk memperoleh ciri-ciri ganda atas contoh-contoh itu.2. mereka pada akhirnya akan mampu memeriksa data dan memilih sedikit hipotesis untuk diterapkan. dan alasan-alasan yang mereka kemukakan. perubahan-perubahan yang mereka buat. siswa dapat mencoba strategi baru dalam pelajaran selanjutnya dan menyelidiki pengaruh perubahan itu. dan modifikasi apa yang mereka buat. Siswa bekerja secara berpasangan untuk membentuk hipotesis-hipotesis pada pasangan contoh-contoh (satu positif dan satu negatif) yang telah disajikan untuk mereka. jika contoh-contoh itu dalam bentuk pasangan demi pasangan.19 munculkan. (2) kita dapat meminta siswa untuk menulis hipotesis mereka. sifat apa yang mereka fokuskan. Siswa yang memilih satu atau dua hipotesis dalam awal-awal pengamatan perlu mengubah contoh-contoh secara terus-menerus dan meninjau ulang atau merevisi gagasan mereka agar mencapai konsep sifat ganda yang menjadi tujuannya. Hal ini dapat membimbing mereka pada suatu diskusi di mana mereka dapat menemukan strategi-strategi yang lain dan bagaimana penerapan strategi ini. Jika diberikan beberapa contoh yang sebelumnya telah diberi label pada siswa (satu diidentifikasi sebagai contoh positif dan satu diidentifikasi untuk contoh negatif). langkah-langkah model pembelajaran pencap aian konsep terdiri dari 3 face yang disajikan pada tabel 2.2. Dengan menggunakan dan bercermin pada strategi mereka.5. Mereka mencatat hipotesis mereka. Namun.

2. Ada beberapa siswa yang pada mulanya mencoba konstruk-konstruk yang luas dan secara bertahap mempersempit konstruk-konstuk itu. menamai konsep. siswa mulai menganalisis strategi-strategi dengan segala hal yang mereka gunakan untuk mencapai konsep. sistim sosial dalam model pembelajaran ini adalah sebagai berikut: (a) kegiatan guru: guru atau . dan menyatakan kembali definisi-definisi menurut sifat-sifat/ ciri-ciri yang paling esensial Siswa membuat contoh-contoh Tahap Ketiga Analisis Strategi-Strategi Berpikir Siswa mendeskripsikan pemikiran-pemikiran Siswa mendiskusikan peran sifat-sfat dan hipotesis-hipotesis Siswa mendiskusikan jenis dan ragam hipotesis Pada tahap kedua. guru (dan siswa) dapat membenarkan atau tidak membenarkan hipotesis mereka. Sebelum mengajar dengan model pencapaian konsep. Struktur Pengajaran Model Pencapaian Konsep Tahap Pertama: Penyajian Data dan Identifikasi Konsep Guru menyajikan contoh-contoh yang telah dilabeli Siswa membandingkan sifat-sifat/ciriciri dalam contoh -contoh positif dan contoh. pertama-tama dengan mengidentifikasi secara tepat contoh-contoh tambahan yang tidak dilabeli dari konsep itu dan kemudian dengan membuat contoh-contoh mereka. siswa menguji penemuan konsep mereka. apakah mereka melakukannya sekaligus dalam satu waktu atau beberapa saja. Pembelajar dapat menggambarkan pola-pola mereka apakah mereka focus pada ciri-ciri atau konsep-konsep.20 Tabel 2. dan apa yang terjadi ketika hipotesis mereka tidak dibenarkan. ada pula yang memulai dengan konstrukkonstruk yang lebih berbeda. Pada tahap ketiga. Setelah itu.contoh negatif Siswa menjelaskan sebuah definisi menurut sifat-sifat/ciri-ciri yang paling esensial Tahap Kedua: Pengujian Pencapaian Konsep Siswa mengidentifikasi contoh-contoh tambahan yang tidak dilabeli dengan tanda Ya dan Tidak Guru menguji hipotesis. merevisi pilihan konsep atau sifat-sifat yang mereka tentukan sebagaimana mestinya.

.2. Dalam pengamatan ini siswa harus mendata atau mengidentifikasi ciri-ciri dari contoh-contoh yang diberikan. memiliki orientasi ruang yang berbeda terhadap objek itu. Klausmeier (Dahar. Dengan demikian dapat dikatakan juga anak mampu membedakan stimulus yang ada di lingkungannya terhadap kelereng tersebut. kita dapat menghubungkan kata itu kedalam suatu konsep-konsep yang lain. untuk selanjutnya membuat suatu hipotesa. ketika seseorang bertanya kepada kita tentang konsep sesuatu kata. (b) kegiatan siswa: dalam kegiatan pembelajaran dengan model pencapaian konsep. bahkan kita dapat menghubungkannya ke dalam suatu kalimat namun kita tidak dapat mendefinisikannya kedalam suatu kata atau kalimat yang formal. Tingkat-tingkat Pencapaian Konsep Mungkin kita pernah mengalami. 1996:88) menghipotesiskan bahwa ada Empat tingkat pencapaian konsep. 2.21 pengajar mempunyai tanggung jawab memilih atau menentukan konsep. para siswa harus aktif mengamati contoh-contoh yang diberikan guru. Contohnya pada suatu saat anak bermain kelereng dan pada waktu yang lain dengan tempat yang berbeda ia menemukan lagi kelereng. Pada tingkat identitas seseorang dapat dikatakan telah mencapai tingkat konsep identitas apabila ia mengenal suatu objek setelah selang waktu tertentu. (3) Tingkat klasifikatori. yaitu: (1). atau bekerja secara . Selanjutnya adalah mempersiapkan contoh-contoh dan non-contoh serta mengumpulkan ideide dari berbagai sumber. bukan hanya dengan melihatnya lagi. serta mendesain sedemikian rupa sehingga ciri-ciri masing-masing contoh dan non-contoh terlihat dengan jelas. Pada saat ini anak sudah mampu menyimpan gambaran mental dalam struktur kognitifnya. Misalnya mengenal kelereng dengan cara memainkannya.6. (2) Tingkat identitas. tingkat konkret ditandai dengan adanya pengenalan anak terhadap suatu benda yang pernah ia kenal. serta operasi dari bangun ruang sisi datar yang harus dipelajari oleh siswa. Dalam melaksanakan peran ini para siswa dapat bekerja sama dalam satu kelompok individu. pada tingkat ini dapat digambarkan bahwa anak sudah mampu mengenal kecil. lalu ia bisa mengidentifikasi bahwa itu adalah kelereng maka anak tersebut sudah mencapai tingkat konkret. atau bila objek itu ditentukan melalui suatu cara indra yang berbeda.

(4) Tingkat formal pada tingkatan formal anak sudah mampu membatasi suatu konsep dengan konsep lain. memberi nama atribut yang membatasinya. Misalnya anak mampu membedakan antara apel yang masak dengan apel yang mentah. menentukan ciri-ciri.3 berikut ini: Pemahaman Konsep  Mengklasifikasikan objek  Tingkat konkret Fase Model Pencapaian Konsep Tinkat pencapaian konsep menurut sifat-sifat tertentu sesuai dengan konsepnya Fase Penyajian data  Menyajikan konsep dalam dan identifikasi konsep  Tingkat identitas berbagai bentuk representasi matematis  menyatakan ulang sebuah konsep  Memberikan contoh dan non contoh dari konsep  Mengembangkan syarat Fase Pengujian pencapaian konsep  Tingkat klasifikatori perlu atau syarat cukup dari suatu konsep  Mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup dari suatu konsep  Mengaplikasikan konsep fase Analisis strategi berfikir  Tingkat formal atau logaritma pemecahan masalah . Untuk mengetahui hubungan antara pemahaman konsep dengan tingkattingkat pencapaian konsep dengan komponen utama model pencapaian konsep dapat dilihat pada tabel 2.22 persamaan dari contoh yang berbeda tetapi dari kelas yang sama. bahkan sampai mengevaluasi atau memberikan contoh secara verbal. membedakannya.

pemakaian mencontoh dirancang untuk menyajikan adanya kemungkinan-kemungkinan hipotesis secara terbuka. Siswa menguji contoh-contoh dan menghasilkan hipotesis. Setelah aktivitas pengenalan selesai pembelajaran diawali dengan penyajian contoh atau noncontoh yang bertujuan untuk menyediakan data bagi siswa untuk mengawali proses penciptaan hipotesis. . Hipotesis – hipotesis tersebut membantu arah perhatian siswa kepada atribut-atribut kritis dan memfokuskan dialog kelas berikutnya pada karakteristik ini. Setelah itu guru dan siswa dapat membenarkan atau tidak hipotesis mereka tentuikan sebagaimana mestinya yang memungkinkan kategori-kategori (nama-nama konsep) diilustrasikan dengan contoh positif. Misalkan seorang guru akan mengajarkan konsep bujur sangkar. terutama kepada siswa yang masih kurang pengalaman. Setelah penyajian satu contoh atau lebih guru meminta siswa untuk menguji penemuan konsep mereka yaitu dengan mengidentifikasikan secara tepat contoh-contoh tambahan yang tidak dilabeli dari konsep itu dan kemudian dengan membuat contoh-contoh mereka sendiri. Pembelajaran model pencapaian konsep terdiri dari tiga fase yaitu: Fase 1 : Penyajian Contoh. Setelah siswa memahami prosedur yang berlaku pada model ini. guru dapat memasuki materi yang sesungguhnya untuk dibahas dengan menggunakan model pencapaian konsep. Gordon. Dalam pengenalan ini. 2009. Proses dalam fase 1 dan fase 2 dapat diringkas dalam langkah-langkah sebagai berikut : Guru menyajikan contoh positif dan negatif. Sebelum memasuki fase ini terlebih dahulu guru memberi pengantar tentang prosedur yang digunakan pada model pencapaian konsep ini. Pemakaian non-contoh jelas berbeda dengan menggunakan contoh. Penerapan Model Pencapain Konsep Pencapaian konsep merupakan ― proses mencari dan mendaftar sifat-sifat yang dapat digunakan untuk membedakan contoh-contoh yang tepat dengan contoh-contoh yang tidak tepat dari berbagai kategori ― (Bruner.2.125). guru dapat menggunakan materi-materi sederhana pada kesempatan yang pertama. Fase 2 : Pengujian Pencapaian konsep. dalam Bruce Joice. guru tersebut kemudian memberikan gambar kepada siswa untuk selanjutnya meminta kepada siswa untuk menyusun hipotesis berkenaan dengan gambar tersebut.23 2.7. dan Austin. Sebagai contoh .

Ada beberapa siswa yang pada mulanya mencoba-coba konstruk yang luas dan secara bertahap mempersempit konstruk itu dan ada pula yang memulai dengan konstruk yang berbeda. Hal yang paling utama diperhatikan dalam penggunaan model ini adalah pemilihan contoh yang tepat untuk konsep yang diajarkan. Siswa menganalisis hipotesis dan menghilangkan hal-hal yang tidak didukung oleh data (contoh-contoh). kemudian dengan mengamati contohcontoh diturunkan defenisi dari konsep-konsep tersebut. Pada tahap ini siswa diwajibkan mengemukakan hasil yang telah dikerjakan. dan penawaran hipotesis tambahan diulangi hingga satu hipotesis diterima. Di dalam model pembelajaran pencapain konsep ini pendidik harus bisa menciptakan lingkungan belajar sedemikian hingga siswa merasa bebas untuk berfikir. Ketika siswa telah mampu memisahkan hipotess yang didukung oleh semua contoh dengan hipotesis yang tidak didukung oleh contoh. Siswa dapat menggambarkan pola-pola mereka apakah mereka fokus pada ciri-ciri atau konsep dan apakah mereka melakukannya ekaligus dalam satu waktu dan apa yang terjadi ketika hipotesis mereka tidak dibenarkan. menghilangkan data yang tidak valid dengan menggantikannya dengan contoh-contoh baru. siswa mulai mengalalisis strategi-strategi dengan segala hal yang mereka gunakan untuk mencapai konsep. yaitu hal-hal yang akrab dengan siswa. Apakah mereka mengubah strategi yang intinya secara bertahap mereka dapat membandingkan efektivitas setiap strategi yang mereka rancang dan terapkan. Proses menganalisis hipotesis. Siswa menawarkan hipotesis tambahan jika data yang ada mendukung. serta membimbing siswa dalam menyatakan/menganalisis hipotesa serta mengartikulasi pemikiran-pemikiran siswa. Penggunaan model pencapaian konsep dinilai dengan pemberian contohcontoh penerapan konsep yang diajarkan. secara gamblang langkahlangkah Pengajaran Model pencapaian konsep dapat kita amati seperti pada tabel berikut: . Disini guru bersama-sama siswa menganalisa strategi berpikir yang telah digunakan para siswa dalam menerapkan konsep atau operasi yang telah dipelajari untuk memecahkan masalah.24 Guru menyajikan tambahan contoh positif dan contoh negatif. Fase 3 : Analisis Stategi Berpikir. Dari penjelasa diatas.

(2009:26) adalah: ―Konsep merupakan suatu bentuk absraksi dari serangkaian pengalaman yang . yaitu: konsep adalah suatu abstraksi yang mewakili kelas objek-objek.3.3. ada baiknya terlebih dahulu kita tinjau tentang pengertian konsep. Pemahaman Konsep Matematika Untuk mengambil kesimpulan dari pengertian pemahaman konsep dalam penelitian ini. Tanya mengapa/bagaimana demikian Memimbing siswa untuk berdiskusi. Meminta siswa menjelaskan definisi menurut sifat atau ciri yang esensial. hasil dari hasil Penyajian data Pengetesan Pencapaian Konsep Analisis Strategi berfikir 2.1. pencapaian konsep dan pemahaman matematika. Menguji hipotesis. kegiatgan-kegiatan. atau hubungan-hubungan yang mempunyai atribut yang sama. Pengertian konsep yang lain dapat didefinisikan kedalam beberapa rumusan dimana konsep diperoleh dari pengalaman-pengalaman yang mengalami abstraksi yang didefinisikan salah satu rumusan. Pengertian Konsep Pengertian konsep secara tegas dijelaskan oleh Rosser (1984) dalam Dahar (1988:80). Tahapan Kegiatan Peserta Didik Mengamati contoh berlabel yang disajikan oleh guru. Memeberikan contoh tidak berlabel dan menyuruh siswa mengidentifikasinya. menanamkan konsep. pengertian pemahaman konsep. kejadian-kejadian. dan menyatakan kembali definisi-definisi menurut sifat atau ciri yang paling esensial Minta siswa membuat contoh lain.3.25 Tabel 2. Siswa menjelaskan definisi menurut sifat atau ciri yang paling esensial Mengidentifikasi contohcontoh yang tidak berlabel dengan memberikan tanda Ya dan Tidak Memberikan nama konsep untuk setiap contoh yang tidak berlabel sesuai dengan ciri atau sifat yang paling esensial Memebuat contoh yang alain Mengungkapkan pemikiran sendiri Melakukan diskusi keaneka ragaman pemikiran. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh corrol dalam kardi (1997) dalam irwan. Langkah-langkah Pembelajaran Model Pencapaian Konsep Kegiaatan Pengajar Guru mensajikan contoh-contoh yang telah dilabeli Menyuruh siswa membandingkan sifat atau ciri yang terkandung dalam contoh dan non-contoh. 2. Membandingkan sifat atau ciri yang terkandung dalam contoh dan non-contoh.

Salah satunya adalah defenisi yang dikemukakan Carrol dalam Kardi (1997: 2) bahwa konsep merupakan suatu abstraksi dari serangkaian pengalaman yang didefinisikan sebagai suatu kelompok obyek atau kejadian. dan untuk menentukan hubungan di dalam dan di antara kategori-kategori. tidak ada satu definisipun yang dapat menjelaskan makna dari suatu konsep dan jenis-jenis dari suatu konsep yang diperoleh siswa. Menurut Arends (2008: 324). Dari penjelasan diatas. Oleh karena itu konsep-konsep itu merupakan penyajian internal dari sekelompok stimulus. Seperti yang terdapat dalam salah satu pernyataan dalam teori Ausubel adalah ‗bahwa faktor yang paling penting yang mempengaruhi pembelajaran adalah apa yang telah diketahui siswa (pengetahuan awal).26 didefinisikan sebagai suatru kelompok objek atau kejadian. konsep-konsep tersebut merupakan hasil penyajian internal dari sekelompok stimulus. maka konsep baru harus dikaitkan . Abstraksi berarti suatu proses pemusatan perhatian seseorang pada situasi tertentu dan mengambil elemen-elemen tertentu. Suatu konsep telah dipelajari bila siswa dapat menampilkan perilakuperilaku tertentu. dan harus disimpulkan dari perilaku. Konsep dapat didefenisikan dengan bermacam-macam rumusan. Tidak ada satu pun definisi yang dapat mengungkapkan arti yang kaya dari konsep atau berbagai macam konsep-konsep yang diperoleh para siswa. Jadi supaya belajar jadi bermakna. tetapi harus disimpulkan dari setiap perilaku. serta mengabaikan elemen yang lain. Abstraksi berarti suatu proses pemusatan perhatian seseorang pada situasi tertentu dan mengambil elemen-elemen tertentu. kategori-kategori yang kita berikan pada stimulus-stimulus yang ada di lingkungan kita. Konsep-konsep merupakan. belajar konsep (Concept leaarning) pada dasarnya adalah `meletakkan berbagai macam hal ke dalam golongan-golongan` dan setelah itu mampu mengenali anggota-anggota golongan itu‖. Dalam bagian lain. Konsep-konsep menyediakan skema-skema terorganisasi untuk mengasimilasikan stimulus-stimulus baru. serta mengabaikan elemen-elemen yang lain‖. secara singkat Dahar (1988:81) menyimpulkan bahwa suatu konsep merupakan suatu abstraksi yang memiliki suatu kelas stimulusstimulus. konsep-konsep itu tidak dapat diamati. konsep-konsep tidak dapat diamati dan dilihat.

3. Kegiatan belajar dipandang tidak hanya sejauh mengenalkan suatu pengetahuan yang baru kepada siswa. sehingga suatu konsep itu telah dipelajari jika siswa dapat menampilkan perilaku-perilaku tertentu (Dahar. Menurut Costa bahwa ―Seorang siswa apabila dirinya sudah memahami konsep. 2008: 325). prosedur. Pemahaman konsep adalah kekuatan yang terkait antara informasi yang terkandung pada konsep yang dipahami dengan skema yang telah dimiliki sebelumnya Hiebert (dalam Tim PLPG 2008:42). Suatu konsep. 2. supaya belajar bermakna berlangsung dapat dilakukan dengan pertolongan peta konsep. Dalam proses belajar .2. tetapi juga sebagai suatu upaya untuk memberdayakan serta memperkuat pengetahuan yang sudah dimiliki siswa. Mempelajari konsep tentu melibatkan mengidentifikasi contoh dan bukan contoh untuk konsep itu (Arends.27 dengan konsep-konsep yang ada dalam struktur kognitif siswa. Ausubel belum menyediakan suatu alat atau cara yang sesuai yang digunakan guru untuk mengetahui apa yang telah diketahui oleh para siswa (Dahar. Oleh karena itu dalam proses pembelajaran tentang konsep haruslah disertai oleh contoh dan juga memperlihatkan yang bukan contoh dari konsep itu. Pengertian Pemahaman Konsep Sebagaimana telah dinyatakan diatas bahwa. 1988:81). dan fakta dapat dipahami oleh siswa secara menyeluruh. Dengan demikian tingkat pemahaman konsep siswa dapat ditentukan oleh banyaknya jaringan informasi yang telah dimiliki. artinya konsep tersebut sudah tersimpan dalam pikirannya berdasarkan pola-pola tertentu yang dibutuhkan oleh siswa untuk ditetapkan dalam pikiran mereka sendiri sebagai ciri dari kesan mental untuk membuat suatu contoh konsep dan membedakan contoh dan non contoh (Fikriam. Berkenaan dengan itu Novak dan Gowin (1985) mengemukakan bahwa cara untuk mengetahui konsep-konsep yang telah dimiliki siswa. 1988: 149). Konsep dipelajari melalui contoh dan bukan contoh. bila objek matematika tersebut dihubungkan dengan jaringanjaringan yang ada maka keterkaitan antara objek tersebut makin lebih kuat dan banyak. 2009). Sekarang kita ingin mengetahui tentang pengertian pemahaman konsep. suatu konsep dapat diartikan sebagai suatu absrakasi mental yang mana abstraksi mental tersebut memiliki kelas-kelas stimulus.

(4) melakukan koneksi matematika (mathematical connection). mengidentifikasi konsep.28 tersebut perlu disediakan aktivitas untuk memberdayakan pengetahuan yang sudah dimiliki itu agar siswa memahami dan menguasai pengetahuan yang baru. maka keterlibatannya dalam proses belajar haruslah nampak. (2) mengklasifikasikan objek-objek berdasarkan sifat-sifat tertentu (sesuai dengan konsepnya). 2009). Karena siswa akan menjalani suatu proses yang memampukannya membangun pengetahuannya dengan bantuan fasilitas dari guru. (5) mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup suatu konsep. (5) melakukan komunikasi matematika (mathematical communication). (2) menyelesaikan masalah matematika (mathematical problem solving). dan ide matematika. ini mengandung arti bahwa benda-benda atau objek-objek dalam bentuk permainan akan sangat berperan bila dimanipulasi dengan baik dalam pengajaran matematika (wangmuba. . teorema. yang meliputi: (1) memahami dan menerapkan konsep. Jadi siswa dituntut lebih aktif. sehingga mampu mengetahui asal muasal dari konsep yang di hasilkan. sekaligus memperkokoh pengetahuan yang sudah ada sebelumnya pada siswa. dapat memberikan contoh yang bukan dari konsep‖.. (3) memberikan contoh dan non-contoh dari konsep. prosedur. (4) menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representative matematis. (3) melakukan penalaran matematika (mathematical reasoning). Sa‘dijah (2006) mejelaskan bahwa setidaknya ada tujuh indikator pemahaman konsep matematika yang dapat dilihat oleh siswa. indicator-indikator tersebut meliputi: 1) menyatakan ulang sebuah konsep. Sementara Bansul Ansari mengemukakan bahwa: Tiap-tiap konsep atau prinsip dalam matematika yang disajikan dalam bentuk yang konkret akan dapat dipahami dengan baik. Dalam K urikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) juga menyatakan agar guru senantiasa mengarahkan aktivitas belajar matematika di sekolah pada pencapaian standar kompetensi. prinsip. (6) menggunakan. Berdasarkan kurikulum 2004 Depdiknas (2003:20) menyatakan bahwa ―………beberapa kemampuan yang perlu diperlihatkan dalam penilaian matematika adalalah pemahaman konsep yang meliputi kemampuan mendefinisikan konsep.

7) Mengaplikasikan konsep atau logaritma pemecahan masalah. 2005) tentang penilaian perkembangan anak didik SMP dicantumkan indikator dari kemampuan pemahaman komsep sebagai hasil belajar matematika. .3. 2) Mengklasifikasikan objek menurut sifat-sifat tertentu sesuai dengan konsepnya. prosedur. dan fakta dapat dipahami oleh siswa secara menyeluruh. Pengukuran Pemahaman Konsep Sebagaimana telah dikemukakan pada tinjauan teori diatas bahwa konsep merupakan suatu abstraksi dari serangkaian pengalaman yang didefinisikan sebagai suatu kelompok obyek atau kejadian (Dahar. bila objek matematika tersebut dihubungkan dengan jaringan-jaringan yang ada maka keterkaitan antara objek tersebut makin lebih kuat dan banyak. 5) Mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup dari suatu konsep.29 memanfaatkan. 7) mengaplikasikan konsep atau algoritma pemecahan masalah. Mempelajari konsep tentu melibatkan mengidentifikasi contoh dan bukan contoh untuk konsep itu (Arends. Pada petunjuk teknis peraturan Dirjen Dikdasmen Depdiknas No:506/C/PP/2004 tanggal 11 November 2004 (dalam Tim PPPG Matematika. Dengan demikian tingkat pemahaman konsep siswa dapat ditentukan oleh banyaknya jaringan informasi yang telah dimiliki. dan memilih prosedur tertentu. artinya konsep tersebut sudah tersimpan dalam pikirannya berdasarkan pola-pola tertentu yang dibutuhkan oleh siswa untuk ditetapkan dalam pikiran mereka sendiri sebagai ciri dari kesan mental untuk membuat suatu contoh konsep dan membedakan contoh dan non contoh (Fikriam. 2008: 325). 2009).3. 3) Memberikan contoh dan non contoh dari konsep. 1988). 6) Menggunakan. 4) Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis. Sementara itu pemahaman konsep adalah kekuatan yang terkait antara informasi yang terkandung pada konsep yang dipahami dengan skema yang telah dimiliki sebelumnya Hiebert (dalam Tim PLPG 2008:42). Suatu konsep. memanfaatkan. Konsep dipelajari melalui contoh dan bukan contoh. 2. Menurut Costa bahwa ―Seorang siswa apabila dirinya sudah memahami konsep. dan memilih prosedur atau operasi tertentu. Indikator tersebut adalah: 1) Menyatakan ulang sebuah konsep.

. Menyatakan ulang sebuah konsep yaitu menyebutkan definisi berdasarkan konsep esensial yang dimiliki oleh sebuah objek 2. Selain itu. Kreativitas merupakan konstruk payung sebagai produk kreatif dari individu yang kreatif. Semua ahli yang mendalami kreativitas sependapat bahwa novelty merupakan komponen utama dalam kreativitas. Sedangakan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk mencipta. Pengertian Kreativitas Kreativitas merupakan kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru dan menerapkannya dalam pemecahan masalah (Semiawan dalam Akbar. novelty ini merupakan keaslian dan ide yang benar-benar baru serta merupakan penggabungan dari dua hal ataupun dua pemikiran atau lebih (Matlin 1998).4. kreativitas juga menjadi topik yang penting untuk membedakan individu dalam level sosialnya dalam penyelesaian suatu tugas.3. 2001). daya cipta pekerjaan yang menghendaki kecerdasan dan imajinasi. dan lingkungan yang kondusif untuk berlangsungnya berpikir kreatif (Puccio dan Murdock dalam Sumarmo: 2010). Dengan demikian anak yang kreatif cenderung untuk menemukan cara atau ide baru yang lebih efektif dan mudah untuk dilakukan dalam pemecahan suatu masalah.30 Dalam penelitan ini yang menjadi indikator pemahaman konsep adalah 1. Mengklasifikasikan objek yaitu menganalisis suatu objek dan mengklasifikasikannya menurut sifat-sifat/ciri-ciri tertentu yang dimiliki sesuai dengan konsepnya 3. memuat tahapan proses berpikir kreatif. Jadi kreativitas adalah kemampuan menghasilkan suatu pekerjaan atau hasil karya yang baru dan bermanfaat dari orang yang kreatif. Mengaplikasikan konsep yaitu Menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis sebagai suatu logaritma pemecahan masalah Kreativitas 2. Memberikan contoh dan non contoh yaitu memberikan contoh lain dari sebuah objek baik untuk contoh maupun untuk non contoh 4.

dan mangajukan pertanyaan baru. serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan/ memperkaya/ merici suatu gagasan). maka dapat dipahami bahwa berpikir kreatif dalam matematika dan dalam bidang lainnya merupakan bagian keterampilan hidup yang perlu dikembangkan terutama dalam menghadapi era informasi dan suasana bersaing semakin ketat. memecahkan/ menjawab masalah. Individu yang diberi kesempatan berpikir kreatif akan tumbuh sehat dan mampu menghadapi tantangan. atau unsur-unsur yang ada. 2010) mendefinisikan kreativitas sebagai kemampuan menyusun idea. Memperhatikan karakteristik yang termuat dalam berpikir kreatif. (3) kemampuan yang secara operasional mencerminkan kelancaran. Sebaliknya.31 Lebih lanjut Utami Munandar (dalam Akbar 2001: 4) mengatakan dalam uraiannya tentang pengertian kreativitas menunjukkan ada tiga tekanan kemampuan. Ketiga tekanan tersebut adalah sebagai berikut: (1) kemampuan untuk membuat kombinasi baru. merumuskan konsep yang tidak mudah diingat. menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah. ketepatgunaan. menciptakan jawaban baru atau yang tak terduga. yaitu berkaitan dengan kemampuan untuk mengkombinasi. Lebih lanjut Musbikin (dalam Sumarmo. mencari hubungan baru. baik berupa gagasan maupun karya nyata. menghasilkan jawaban baru dari masalah asal. Berdasarkan uraian definisi diatas dapat dikemukakan bahwa kreativitas merupakan kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru. Berdasarkan pengertian di atas terlihat bahwa kreativitas menekankan pada ide atau pemikiran dan penemuan yang mendatangkan hasil yang baru atau relatif baru yang berkisar pada berpikir kreatif dan hasil kreatif. informasi. baik dalam . berdasarkan data. dimana penekanannya adalah pada kuantitas. dan orisinilitas dalam berpikir. individu yang tidak diperkenankan berpikir kreatif akan menjadi frustrasi dan tidak puas. Supriadi (2001:7) menyimpulkan bahwa pada intinya kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru baik berupa gagasan maupun karya nyata. baik dalam bentuk ciri-ciri aptitude maupun non aptitude. yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya. dan keragaman jawaban. dan cerminan kemampuan operasional anak kreatif. (2) kemampuan berdasarkan data atau informasi yang tersedia. keluwesan.

dan bukan lagi merupakan pandangan kreativitas yang dapat diterapkan kepada pendidikan. gaya berpikir dan kebiasaan-kebiasaan dalam berprilaku. luwes dalam berpikir dan bertindak.5. dengan mengukur unsur-unsur yang memadai ciri . Menurut pandangan ini tindakan kreatif dipandang sebagai ciri-ciri mental yang langka. pengukuran tidak langsung. berminat pada kegiatankegiatan kreatif. dapat mengapresiasi fantasi.32 karya baru maupun kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada. Selanjutnya. yaitu: terbuka terhadap pengalaman baru dan luar biasa. sehingga dapat dikaitkan dengan kerja dalam periode panjang yang disertai perenungan. Tujuh sikap kreatif pada orang-orang yang kreatif. Pandangan pertama ini telah banyak dipertanyakan dalam penelitian-penelitian terbaru. Pandangan ini menyatakan bahwa kreativitas berkaitan erat dengan pemahaman yang mendalam. Pengukuran Kreativitas Ada dua pandangan tentang kreativitas. Jadi dalam pandangan ini ada batasan untuk menerapkan kreativitas dalam dunia pendidikan. 2.1997) dalam (Enden Mina. Pandangan pertama disebut pandangan kreativitas jenius. motivasi. cepat. dan spontan. yang dihasilkan oleh individu luar biasa berbakat melalui penggunaan proses pemikiran yang luar biasa. fleksibel di dalam isi dan sikap.3. Pandangan ini mengatakan bahwa kreativitas tidak dapat dipengaruhi oleh pembelajaran dan kerja kreatif lebih merupakan suatu kejadian tiba-tiba daripada suatu proses panjang sampai selesai seperti yang dilakukan dalam sekolah. Menurut pandangan ini kreativitas dapat ditanamkan pada kegiatan pembelajaran dan lingkungan sekitar (Silver. dan mandiri (Munandar 1997). potensi kreativitas dapat diukur melalui beberapa pendekatan yakni pengukuran langsung. Diartikan secara luas kepribadian kreatif meliputi sikap. minat. bebas dalam mengekspresikan diri. Pandangan kedua merupakan pandangan baru kreativitas yang muncul dari penelitian-penelitian terbaru — bertentangan dengan pandangan jenius. 2006:8). percaya pada gagasan sendiri. Jadi kreativitas bukan hanya merupakan gagasan yang cepat dan luar biasa. yang semuanya itu relatif berbeda dengan yang telah ada sebelumnya.

Soal-soal yang digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir kreatif adalah soal jenis open-ended yaitu soal cerita yang menghasilkan banyak jawaban benar (Torrance. pertama. Sejumlah tes kreativitas telah disusun dan digunakan. siswa dapat melihat masalah dari susdut pandang yang berbeda- . Soalsoal yang digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir kreatif umum. dan (4) intuitif. 1969). yaitu: 1) Fluency (kelancaran). indikator yang akan diukur pada tingkat fluency ini adalah pertama apabila siswa telah mampu mencetuskan banyak. 2) Flexibility (Keluwesan).yaitu : (1) afektif . dua. intuisi.33 tersebut. Singh. diperkenalkan pertama kali oleh peneliti Amerika yaitu Guilford (1959) dan Torrance (1969) pada tahun 50-an dan tahun 60-an. jawaban. tiga siswa mampu mengaitkan sejumlah kategori yang berbeda dari pernyataan yang dihasilkan. diantarannya tes dari Torrance untuk mengukur pemikiran kreatif (Torrance Test of Creative Thingking:TTCT). jawaban atau pertanyaan yang bervariasi. dengan ditandai oleh tingkah laku yang kreatif. emosi dan bakat khusus yang terpadu sehingga menghasilkan produk tertentu yang berguna. 1992). Dengan demikian bisa dikatakan bahwa perkembangan kreativitas individu akan berkembang secara optimal jika individu itu memiliki bakat. (3) kognitif. dua siswa mampu memberikan banyak cara atau saran untuk melakukan berbagai hal. penyelesaian dari masalah atau pertanyaan. (2) psikomotorik. Konsep Kreativitas menurutnya dibedakan menjadi 4 ranah . pengukuran ciri kepribadian yang berkaitan erat dengan ciri tersebut. 1992. interaksi dan interpretasi dari dimensi rasio. apabila siswa telah menghasilkan gagasan. dan beberapa jenis pengukuran non-test‖ (Munandar 2009:58). gagasan. Batasan lain tentang kreativitas disampaikan oleh Conny R Semiawan (1992 : 26) bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk memberikan gagasan baru dan menerapkannya dalam pemecahan masalah. Indikator kreativitas yang akan dikaji dalam penelitian ini untuk menyatakan siswa kreatif apabila memenuhi tiga hal. Dalam soal jenis ini diberikan cerita open-ended yaitu cerita yang menghasilkan banyak jawaban benar. Soalsoal matematika yang mengizinkan siswa untuk memperlihatkan proses berpikir divergen atau kreatif telah banyak dikembangkan oleh para peneliti (Pehkonen.

siwa mamapu mengubah cara pendekatan atau cara pemikiran. teori belajar Vygotsky. (c) siswa aktif mengkontruksi terus menerus. kecuali dengan keaktifan siswa itu sendiri. Siswa harus membangun pengetahuan dalam pikirannya sendiri dengan informasi dan pengetahuan awal yang telah dimilikinya. Piaget yang dikenal sebagai kontruksivis pertama (dalam Dahar: 1989) menegaskan bahwa pikiran dibangun dalam pikiran anak. teori belajar Jerome S. lengkap. 1997) sebagai berikut: yakni (a) pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri. yakni: teori belajar Jean Peaget. Dalam kaitannya dengan konstruksivisme. 3) Originality (Kebaruan). Menurut pandangan kontruksivisme. dan (d) guru sekedar membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses kontruksi siswa berjalan mulus. 1991) 2. serta sesuai dengan konsep ilmiah. gagasan atau situasi sehingga lebih menarik (Evans. indikator yang akan diukur pada tingkat originality ini adalah: pertama. sehingga selalu terjadi perubahan konsep menuju ke konsep yang lebih rinci. dalam pembelajaran siswa diberi kesempatan untuk menggunakan strateginya sendiri dalam belajar secara sadar. siswa dapat mencari banyak alternatif atau arah yang berbeda-beda. (b) pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke siswa. dan teori belajar David P. dan guru membimbing ke tingkat pengetahuan yang lebih tinggi.Teori Belajar Pendukung Memperhatikan rangkaian kegiatan pembelajaran dengan metode pembelajaran kooperatif yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan koneksi dan pemecahan masalah matematik. dapat menambahkan atau memperinci detil-detil dari suatu objek. maka terdapat beberapa teori belajar kontruksivisme yang mendasarinya. Ausubel. siswa mamapu memperkaya dan mengembangkan sesuatu gagasan atau produk. empat. baik secara individual maupun kelompok. pengetahuan tidak diperoleh secara pasif oleh seseorang tetapi melalui tindakan aktif memanipulasi dan berinteraksi untuk beradaptasi dengan lingkungannya melalui proses asimilasi (penyerapan informasi baru dalam . dua.34 beda.4. tiga. Prinsip-prinsip pembelajaran yang berlandaskan kontruktivisme dikemukakan Driver (dalam Suparno. Bruner.

(3) memaklumi adanya perbedaan kecepatan individu dalam hal kemajuan perkembangan. Lebih lanjut. bukan sekedar hasilnya. Ruseffendi (1991) merinci 4 dalil dari Bruner yang penting dalam pembelajaran matematika. 1991) atau memperoleh informasi baru. pada waktu seseorang berinteraksi dengan lingkungannya. (3) Akomodasi merupakan penyesuaian struktur kognitif terhadap situasi baru dan membentuk atau memodifikasi skema baru yang cocok dengan rangsangan baru. dalil pengkontrasan dan keanekaragaman. membagi perkembangan intelektual anak dalam tiga kategori. (4) mengutamakan peran siswa dalam berinteraksi. Bruner dengan pendekatan penemuannya.35 pikiran) dan akomodasi (menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru) dengan melibatkan interaksi pikiran dan kenyataan. dan ekuilibrasi. transformasi informasi. yakni (1) Skema (struktur kognitif) merupakan struktur mental seseorang yang menggambarkan adanya keterkaitan konsep-konsep tertentu yang terbentuk. Seseorang menggunakan asimilasi untuk mencocokan rangsangan yang diterima dengan skema yang telah ada dalam pikiran. yakni enaktik. mendeskripsikan dengan menggunakan beberapa istilah berikut. konsep atau pengalaman baru ke dalam skema atau struktur kognitif yang telah ada. Proses seseorang dalam membentuk pengetahuan pada dirinya. ikonik. Lebih lanjut. tidak menyebabkan perubahan atau penggantian skema. namun yang paling erat . yaitu dalil penyusunan. dan menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan (Dahar: 1989). Seperti halnya Peaget. (4) Ekuilibrasi merupakan proses keseimbangan yang dipengaruhi asimilasi dan akomodasi sehingga terjadi adaptasi. Skema berkembang seiring dengan perkembangan kognitif yang dipengaruhi oleh tiga proses dasar. Asimilasi mengembangkan skema yang telah dimiliki. (2) mengutamakan peran siswa dalam berinisiatif sendiri dan keterlibatan aktif dalam kegiatan pembelajaran. akomodasi. Suparno (1997). dan simbolik (Ruseffendi. Suparno (1997) mengemukakan bahwa implikasi dari teori Peaget dengan konstruksivismenya dalam pembelajaran adalah (1) memusatkan perhatian pada berpikir atau proses mental anak. dalil notasi. serta dalil pengaitan. (2) Asimilasi merupakan pengintegrasian persepsi. yaitu asimilasi.

materi matematika memiliki karakteristik saling keterkaitan yang sangat kuat satu sama lain. siswa mempelajari matematika akan lebih bermakna bila melalui penyusunan representasi obyek yang dimaksud dan dilakukan secara langsung. maka sebaiknya guru menyajikan dan melakukan percobaan beberapa kali dengan menggunakan Dadu atau benda lainnya. yaitu (1) kategori awal. sehingga siswa diharuskan menguasai materi atau konsepkonsep prasyarat dari materi yang akan dipelajari. Misalnya.36 kaitannya dengan pembelajaran kooperatif. Berbeda dengan konstruktivisme kognitifnya Peaget. jika guru akan menjelaskan konsep Peluang di sekolah tingkat menengah. upaya lanjut untuk mendapatkan kepastian tentang apa yang distrukturkan dalam memori. Pembelajaran menurut Vygotsky berlangsung jika siswa bekerja pada jangkauan peserta didik yang disebut dengan zone of proximal development (zona perkembangan proximal) sehingga siswa dalam menyelesaikan tugasnya harus bekerja sama. membuktikan apakah pola-pola struktur yang dibangun itu dapat dioperasikan pada situasi baru yang mirip dengan karakteristik permasalahan yang ada dalam memori. agar ia sampai pada jawaban akhir yang diberikan. Dalil Pengaitan. ketika seseorang harus menggabungkan informasi yang telah dipilih dengan apa yang telah ada dalam memori menjadi pola struktur dengan karakter-karakter tertentu. Pandangan Bruner (dalam Suharsono: 1991) tentang alternatif pemecahan masalah dikembangkan berdasarkan persepsinya terhadap permasalahan yang dihadapinya. ada empat tahapan aktivitas mental dan pengambilan keputusan yang harus dilakukan seseorang dalam memecahkan masalah. Vigotsky lebih menekankan pada konstruksivisme sosial. Kontribusi yang paling penting dari teori Vigotsky adalah penekanan pada kerjasama. (2) mencari jejak. Dalil Penyusunan. seperti yang kita ketahui. (3) pemeriksaan konfirmasi. memilih informasi yang datang dari sumber-sumber eksternal ke dalam bentuk-bentuk tertentu. saling bertukar pendapat antara sesama siswa dalam pembelajaran. Nur dan . dan (4) penyelesaian konfirmasi. yaitu belajar dilakukan dengan interaksi terhadap lingkungan sosial maupun fisik seseorang. koneksi dan pemecahan masalah matematik adalah dalil penyusunan dan dalil pengaitan.

Dari beberapa teori konstruktivisme tersebut. di samping materi yang disajikan harus disesuaikan dengan kemampuan siswa. sejalan dengan penerapan pembelajaran kooperatif yaitu agar siswa dapat diberi kesempatan untuk mengkonstruksi pengetahuan. Dari teori Ausubel yang paling familier adalah belajar bermakna (meaningful learning). Belajar bermakna adalah memproses pengetahuan baru yang sedang dipelajari dikaitkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Ide lain dari teori Vygotsky dalam pembelajaran ditekankan pada Scaffolding. Lebih lanjut. 1991). dorongan. karena dia membedakan antara belajar menerima dengan belajar menemukan atau belajar menghafal dengan belajar bermakna. sejumlah besar bantuan diberikan kepada peserta didik selama tahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian peserta didik mengambil alih tanggung jawab sendiri. sehingga materi harus dikaitkan dengan konsep-konsep (pengetahuan) yang telah dimiliki siswa dan dikaitkan dengan bidang lain atau kehidupan sehari-hari siswa. 1998) menyatakan bahwa tidak hanya proses siswa belajar. Teori belajar pendukung pembelajaran kooperatif yang bertujuan meningkatkan kemampuan koneksi dan pemecahan masalah matematik yang lain. namun materi yang dipelajari juga harus bermakna. pemberian contoh ataupun yang lainnya yang memungkinkan sehingga peserta didik tumbuh mandiri. Bantuan tersebut dapat berupa petunjuk. sedangkan belajar menghafal adalah belajar melalui proses menghafal apa yang sudah diperoleh (Ruseffendi. Ausubel. Ausubel (Hudoyo. maksudnya adalah. Maksudnya.37 Samani (1996) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan zone of proximal development adalah jarak antara tingkat perkembangan sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah secara mandiri dengan tingkat perkembangan potensial yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa melalui kerjasama dengan teman yang lebih mampu. berkomunikasi dan berinteraksi secara sosial dengan temannya. adalah teori belajar David P. juga harus relevan dengan struktur kognitif siswa. siswa belajar dengan bermakna tidak hanya sekedar menghafal . Peringatan.

dengan menjadikan guru sebagai pusat pembelajaran. seorang guru mengatakan penjumlahan dua bilangan positif akan menghasilkan bilangan positif pula. Hal ini dipertegas oleh Marpaung (2006: 7) bahwa pembelajaran matematika yang sampai sekarang pada umumnya masih berlangsung di sekolah dengan paradigma mengajar mempunyai ciri-ciri diantaranya. aktivitas siswa menjadi pasif sehingga siswa . Pembelajaran Konvensional. Hal ini didukung oleh Soejadi (2001) bahwa pembelajaran matematika yang dilakukan selama ini telah menjadi kebiasaan para guru dalam menyajiikan pelajaran dengan urutan: (1) dengarkan teori/defenisi/teorema. (2) berikan contohcontoh. menggunakan buku pegangan siswa dan guru yang disarankan untuk dimiliki. Proses pembelajaran matematika yang dimulai dari menjelaskan teori kemudian diberikan contoh dan diikuti dengan soal latihan. jika siswa melakukan kesalahan maka guru memberi hukuman dalam berbagai bentuk (pengaruh behaviorisme). penjumlahan dua bilangan negatif akan menghasilkan bilangan negatif pula. (3) berikan latihan soal-soal. Sebagai contoh. Pembelajaran konvensional yang dimaksud dalam penelitian ini adalah suatu pola pembelajaran yang biasa diterapkan di sekolah-sekolah sampai saat ini. Metode pembelajaran matematika umumnya menggunakan kombinasi metode ceramah dan metode tanya jawab.38 dan masalah yang dihadapi siswa adalah masalah yang sesuai dengan struktur kognitifnya dan kehidupan sehari-hari. Hal ini berarti pembelajaran saat ini dengan pemberian informasi sebanyakbanyaknya tidak memotivasi siswa untuk belajar. 2. Guru lebih banyak menyampaikan materi dengan ceramah dan sekali-kali diselingi dengan tanya jawab. Setelah itu guru memberikan contoh soal dan diakhiri dengan menugaskan kepada siswa untuk mengerjakan soal-soal. Dengan demikian pelaksanaan pembelajaran bersifat menyampaikan informasi.5. Guru menggunakan perangkat pembelajaran dari yang sudah ada sebelumnya. yang masih cenderung menganut paham behaviorisme. guru aktif dan siswa pasif. untuk mencapai tujuan belajar secara bersama dan pada pembelajaran kooperatif ini guru berlaku sebagai motivator dan moderator.

Buku Guru. Sehubungan dengan hal tersebut Usman (2001: 24) menyatakan perangkat pembelajaran merupakan prasyarat bagi terjadinya interaksi belajar mengajar yang optimal. Lembar Kegiatan Siswa (LKS) dan Tes Hasil Belajar. Ibrahim (2003:3) menyatakan bahwa ibarat pasukan yang akan berperang memerlukan logistik. Namun dalam penelitian ini. seorang guru yang akan ―bertempur‖ di dalam kelaspun memerlukan sejumlah piranti/perangkat pembelajaran yang akan membantu dan memudahkan proses mengajar belajarnya dan memberikan pengalaman kepada siswa dalam rangka mencapai tujuan yang sudah ditentukan. Rencana pembelajaran untuk pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik terdiri dari bagian pendahuluan. 2001:43). Makin baik perencanaan yang dibuat.39 tidak memahami. kegiatan inti. Oleh sebab itu perangkat pembelajaran mutlak diperlukan oleh seorang guru dan siswa dalam mengelola pembelajaran. Dalam implementasinya perangkat pembelajaran terdiri dari berbagai komponen tergantung kepada kebutuhan masing-masing orang (guru). Perangkat Pembelajaran Perangkat pembelajaran adalah sekumpulan sumber belajar yang memungkinkan siswa dan guru melakukan kegiatan pembelajaran. dan hanya sedikit siswa yang bertanya kepada tentang penjelasan guru. Selanjutnya perangkat pembelajaran meliputi : 1. perangkat pembelajaran yang dimaksud adalah : Rencana Pembelajaran (RP). makin mudah pelaksanaan kegiatan pembelajaran sehingga semakin tinggi kemungkinan hasil belajar yang dicapai (Usman. 2. Jadi jelas bahwa perangkat pembelajaran akan mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran di kelas. Perumpamaan di atas memberikan gambaran tentang pentingnya perangkat pembelajaran bagi guru dalam mengelolah pembelajaran. dan penutup yang didalamnya memuat langkah-langkah pembelajaran sesuai .6. Rencana Pembelajaran (RP) Rencana Pembelajaran adalah suatu rencana yang berisi prosedur atau langkah-langkah kegiatan guru dan siswa yang disusun secara sistematis sebagai pedoman bagi guru dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas. kebanyakan siswa hanya mendengar dan menulis.

Bagian pertama memuat komentar dan petunjuk pelaksanaan pembelajaran yang terkait dengan halaman pada LKS. 2. relevansinya dengan TPK. Penyusunan buku guru ini didasarkan pada pendekatan PMR. disamping memberi kemudahan bagi guru untuk mengelolah pembelajaran matematika realistik. Suparman (1996:212).40 pendekatan PMR. desain fisik . 2. mengatakan bahwa idealnya seorang pengembang perangkat melakukan review (pemeriksaan ulang) kepada para ahli khususnya tentang ketepatan isi. Buku Guru Pada buku guru dikemukakan pokok-pokok kegiatan guru dan siswa selama proses pembelajaran di kelas. 3. Keberadaan LKS ini dimaksudkan untuk memberikan kemudahan pada guru dalam mengakomodir tingkat kemampuan siswa yang berbeda. indikator pencapaian hasil belajar. Komponen utama dari buku ini terdiri dari dua bagian. 4. Dalam penelitian ini proses validasi dilakukan dalam satu tahap yaitu validasi ahli/pakar. hasil belajar.7. Sedangkan bagian kedua sepenuhnya memuat halaman LKS. Tes Hasil Belajar Perangkat pembelajaran juga dilengkapi dengan alat evaluasi berupa tes hasil belajar yang dapat digunakan untuk mengukur ketuntasan belajar siswa pada materi pokok aritmetika sosial. yaitu Kompetensi dasar. Validitas Perangkat Pembelajaran Harjanto (1997:288) mengatakan bahwa sebelum digunakan dalam kegiatan pembelajaran hendaknya perangkat pembelajaran telah mempunyai status ―valid/baik‖. maka perangkat ini perlu dilengkapi dengan Lembar Kegiatan Siswa. Dalam RP ini juga disajikan informasi-informasi penting lain yang terkait dengan pembelajaran tersebut. materi prasyarat dan daftar sumber bacaan. materi pembelajaran. Untuk dapat mencapai validitas perangkat pembelajaran tersebut perlu melalui proses validasi. Lembar Kegiatan Siswa (LKS) Mengingat tingkat kemampuan siswa yang berbeda.

. dan penggunaan konteks local. meliputi komponensecara kejelasan petunjuk dan arahan. meliputi komponen-komponen: kebenaran isi. hubungan dengan materi sebelumnya. Berikut ini adalah komponen-komponen indikator validasi yang dikemukakan oleh O‘Meara (dalam Sabardin. 2004:40) sebagai berikut: (a) Indikator format. kejelasan definisi tiap terminology. kesesuaian dengan pola pikir siswa. dan memuat latihan yang berhubungan dengan konsep yang ditemukan.67 untuk Siklus III meskipun kenaikkannya tidak lebih dari 3 %. keterkaitan langsung dengan konsep yang dibahas. bagian-bagiannya tersusun secara logis.komponen: kebenaran tata kalimat dengan tingkat perkembangan siswa. arahan untuk membaca sumber lain.92 untuk Siklus I. Indikator ilustrasi. kesesuaian bahasa.72 untuk Siklus II . kejelasan. kesederhanaan struktur kalimat. komponen-komponen: kejelasan pembagian materi. kesesuaian dengan garis besar program pembelajaran. (d) Indikator isi perangkat pembelajaran. keseimbangan antara teks dan pengaturan ruang. Selanjutnya para ahli tersebut dalam penelitian ini dinamakan validator. merupakan materi yang esensial.Hasil-hasil Penelitian yang Relevan. dan 65. a. komponen: dukungan ilustrasi untuk memperjelas konsep.41 dan lain-lain. kemudahan untuk dipahami. kesesuaian jenis dan ukuran huruf. 64. kesesuaian dengan pembelajaran matematika realistik. Aceng Haetami dan Sri Wahyuni Penerapan Model Pembelajaran Pencapaian Konsep Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Kimia Dasar I (Studi Perbaikan Pembelajaran pada Mahasiswa Pendidikan Kimia FKIP Unhalu) Hasil penelitian: hasil belajar mahasiwa untuk setiap siklus meningkat yaitu 62. (b) Indikator bahasa. meskipun sedikit ada kenaikan tetapi untuk ketiga siklus masih di jauh di bawah target pencapaian indikator kinerja yaitu 80 % mahassiwa bernilai ≥ 65. 2. penomoran jelas dan menarik. meliputi komponen . (c). Jumlah mahasiswa yang bernilai ≥ 65 pun relatif sama.8. meliputi sistem ilustrasi.

Hal ini ditunjukkan berdasarkan hasil nilai rerata pada kelompok eksperimen sebesar 7. Teknik pembelajaran Bermain Peran lebih baik daripada Teknik Peta Konsep. 36. 33% merasa baru terhadap komponen pembelajaran dan 91. aktivitas guru 66.9. respon siswa 85% merasa senang dengan komponen belajar. sampel yang diteliti sebanyak 2 kelas yaitu kelas I.67.18% berminat mengikuti pembelajaran pencapaian konsep.1 sebagai kelas eksperimen berjumlah 34 siswa dan kelas I.73 lebih tinggi daripada nilai rerata kelompok kontrol sebesar 7.42 b. 2. 33.22% efektif. aktivitas siswa 61.00.31% perilaku yang tidak relevan.35% siswa tuntas. Belajar matematika adalah belajar dengan mengaitkan simbol-simbol dan . 1. Nularsih telakukan penelitian terhadap siswa SMA yaitu Teknik Pencapaian Konsep Siswa melalui Pembelajaran Peta Konsep dan Bermain Peran Terhadap Hasil Belajar Geografi Siswa Kelas XI IPS SMA Negeri 1 Surakarta Tahun 2008. 97% aktif.2 sebagai kelas kontrol sebanyak 35 siswa . 62.48 lebih besar dari harga t tabel dengan db 77 taraf signifikansi 5% sebesar 1. Sanusi Pembelajaran Pencapaian Konsep dalam Mengajarkan persamaan kuadrat di Kelas I SMA/MA Hasil penelitian: Dalam penelitian ini. c. data yang terkumpul hasil postes dari kelas eksperimen sebesar 82. Kerangka Konseptual Belajar adalah suatu proses mental yang terjadi dalam diri seseorang yang melibatkan kegiatan (proses) berfikir. 2. Hasil penelitian: Terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan teknik pembelajaran Peta Konsep dan teknik Bermain Peran.75% memberikan petunjuk/bimbingan siswa dan 0% perilaku yang tidak relevan. dan terjadi melalui pengalamanpengalaman yang diperoleh dan melalui reaksi terhadap lingkungan dimana ia berada. 72 % mendengarkan penjelasan guru. Hal ini ditunjukkan berdasarkan hasil perhitungan diperoleh t hitung 3.

Oleh sebab itu. teknik. sebab ada yang menganggap suatu persoalan adalah masalah tetapi bagi yang lain mungkin bukan merupakan suatu masalah. melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logik dan rasional. Dengan demikian konsep itu sangat penting bagi manusia dalam berpikir dan belajar. Karena itu dibuatlah suatu pemetaan konsep merupakan suatu alternatif selain outlining. Masalah yang dihadapi siswa berbeda-beda. tetapi pada gambaran kegiatan tahap demi tahap dan media yang dipakai. terutama dilakukan dengan mengenakan . untuk menemukan penyelesaian dari suatu masalah. atau pendekatan dalam pembelajaran matematika yang dapat menarik perhatian siswa untuk dapat terlibat aktif dalam proses pembelajaran Salah satu strategi yang dapat meningkatkan proses berfikir siswa dalam pemecahan masalah adalah pembelajaran kontekstual dimana penekananya bukan pada rincian kejelasan tujuan. guru harus mampu merencanakan dan melaksanakan strategi. untuk belajar aturan-aturan dan akhirnya untuk memecahkan masalah. konsep-konsep itu tidak dapat diamati. oleh karena itu konsep-konsep itu merupakan penyajian internal dari sekelompok stimulus. kritis dan cermat. Strategi organisasi bertujuan membantu pembelajar meningkatkan kebermaknaan bahan-bahan organisasi bertujuan membantu pembelajar meningkatkan kebermaknaan bahan-bahan baru. sehingga diupayakan seefektif mungkin dapat membantu siswa mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Dahar menyatakan bahwa konsep merupakan dasar untuk berpikir. mempersiapkan anak didik sanggup menghadapi perubahan keadaan di dalam kehidupan dan di dalam dunia yang senantiasa berubah. Model pencapaian konsep merupakan bagian dari strategi organisasi. Tidak ada satu pun definisi yang dapat mengungkapkan arti yang kaya dari konsep. dan harus disimpulkan dari perilaku. Dan mempersiapkan anak didik agar dapat menggunakan matematika secara fungsional di dalam kehidupan sehari-hari dan di dalam menghadapi ilmu pengetahuan yang senantiasa berubah.43 konsep abstrak. Sesuai dengan tujuan pembelajaran matematika yaitu. kreatif. dan dalam beberapa hal lebih efektif daripada outlining dalam mempelajari hal-hal yang lebih kompleks. objektif. metode.

Penggunaan model pencapaian konsep dimulai dengan pemberian contoh-contoh penerapan konsep yang diajarkan. 1. prosedur. Pemahaman konsep adalah kekuatan yang terkait antara informasi yang terkandung pada konsep yang dipahami dengan skema yang telah dimiliki sebelumnya. dan fakta dapat dipahami oleh siswa secara menyeluruh. bukan dalam bentuk observasi . kesesuaian tingkat pembelajaran ( appropriate level of instruction). (b) Guru menuntun jalan pikiran siswa ketika mereka menetapkan apakah suatu hipotesis diterima atau tidak. Dengan diterapkannya ketujuh komponen di atas dalam pembelajaran matematika maka siswa akan menemukan sendiri kebermaknaan dalam belajar matematika sehingga diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika dan hasil belajar siswa. pemodelan (modelling). Suatu kelas dikatakan menggunakan pembelajaran kontekstual jika dalam penerapannya terlaksana ketujuh komponen. (c) Guru meminta siswa untuk menjelaskan mengapa mereka menerima atau menolak suatu hipotesis. menemukan(inquiri). bila objek matematika tersebut dihubungkan dengan jaringanjaringan yang ada maka keterkaitan antara objek tersebut makin lebih kuat dan banyak. yaitu konstruktivisme (construktivism).44 struktur-struktur pengorganisasian baru pada bahan-bahan tersebut. bertanya (questioning). dan waktu (time). refleksi (reflection) dan penilaian sebenarnya (authentic assesment). Peningkatan pemahaman konsep matematika siswa yang diajarkan dengan model pencapaian konsep lebih baik dari pada pemahaman konsep matematika siswa yang diajarkan dengan pembelajaran konvensional. insentif ( incentive). masyarakat belajar (learning community). Suatu pembelajaran dikatakan efektif jika melalui pembelajaran tersebut terdapat indikator kualitas pembelajaran ( quality of instruction). Ada tiga cara yang dapat dilakukan oleh guru dalam membimbing aktifitas siswa yaitu: (a) Guru mendorong siswa untuk menyatakan pemikiran mereka dalam bentuk hipotesa. Dengan demikian tingkat pemahaman konsep siswa dapat ditentukan oleh . Suatu konsep. kemudian dengan mengamati contoh-contoh diturunkan definisi dari konsep-konsep tersebut.

. Pada prinsipnya model pembelajaran pencapaian konsep adalah suatu model mengajar yang menggunakan data untuk mengajarkan konsep kepada siswa. bukan dalam bentuk observasi . (c) Guru meminta siswa untuk menjelaskan mengapa mereka menerima atau menolak suatu hipotesis. kemudian guru meminta siswa untuk mengamati data tersebut. Model pencapaian konsep ini banyak menggunakan contoh dan non contoh.45 banyaknya jaringan informasi yang telah dimiliki. Selain itu siswa diberi kesempatan untuk mengaitkan antara konsep baru dengan konsep sebelumnya sehingga pembelajaran akan bermakna. Seorang siswa apabila dirinya sudah memahami konsep. yaitu contoh tentang hal-hal yang akrab dengan siswa. Model pencapaian konsep adalah suatu strategi pembelajaran induktif yang didesain untuk membantu siswa pada semua usia dalam mempelajari konsep dan melatih pengujian hipotesis dan model ini memiliki keunggulan untuk memahami cara lebih efektif. dimana guru mengawali pengajaran dengan menyajikan data atau contoh. Ada tiga cara yang dapat dilakukan oleh guru dalam membimbing aktifitas siswa yaitu: (a) Guru mendorong siswa untuk menyatakan pemikiran mereka dalam bentuk hipotesa. Penggunaan model pencapaian konsep dimulai dengan pemberian contoh-contoh penerapan konsep yang diajarkan. artinya konsep tersebut sudah tersimpan dalam pikirannya berdasarkan pola-pola tertentu yang dibutuhkan oleh siswa untuk ditetapkan dalam pikiran mereka sendiri sebagai ciri dari kesan mental untuk membuat suatu contoh konsep dan membedakan contoh dan non contoh Untuk meningkatkan kemampuan pemahamankonsep matematika siswa adalah dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat salah satunya adalah pembelajaran dengan model pencapaian konsep. (b) Guru (mempelajari) suatu konsep dengan menuntun jalan pikiran siswa ketika mereka menetapkan apakah suatu hipotesis diterima atau tidak. Hal yang paling utama diperhatikan dalam penggunaan model ini adalah pemilihan contoh yang tepat untuk konsep yang diajarkan. kemudian dengan mengamati contoh-contoh diturunkan definisi dari konsepkonsep tersebut.

sehingga dapat dikaitkan dengan . siswa juga tidak memiliki kesempatan menemukan sendiri konsep dasar suatu ilmu dan mengaikan antara konsep baru dengan konsep sebelumnya sehingga pembelajaran tidak bermakna. Terutama soal-soal yang membutuhkan pemahaman lebih dalam misalnya soal-soal cerita maupun soal-soal open-ended. Dalam pembelajaran konvesnional siswa tidak dilibatkan dalam pembelajaran secara fisik. cepat. Pandangan kedua merupakan pandangan baru kreativitas yang muncul dari penelitian-penelitian terbaru bertentangan dengan pandangan jenius. langkah-langkah dalam pembelajaran diawali dengan persiapan guru.46 Dalam pembelajaran konvensional. Ada dua pandangan tentang kreativitas. apersepsi materi pada pendahuluan. yang dihasilkan oleh individu luar biasa berbakat melalui penggunaan proses pemikiran yang luar biasa. Peningkatan kemampuan kreativitas matematika siswa yang diajarkan dengan model pencapaian konsep lebih baik dari pada kreativitas matematika siswa yang diajarkan dengan pembelajaran konvensional. tanya jawab dan penugasan. 2. Pandangan pertama disebut pandangan kreativitas jenius. mental maupun pada lingkungan sendiri. mengembangkan maupun menghasilkan ide yang tak biasa diantara kebanyakan orang. Kreatifitas menunjukan kemampuan siswa menghasilkan sejumlah ide yang beragam. Menurut pandangan ini tindakan kreatif dipandang sebagai ciri-ciri mental yang langka. fleksibel di dalam isi dan sikap. kegiatan inti adalah uraian materi yang biasanya disampaikan guru dengan metode caramah. dan spontan. Kegaiatan guru dalam pembelajaran seolah-olah hanya mentransfer ilmu yang dimilikinya kepada siswa. Pandangan ini menyatakan bahwa kreativitas berkaitan erat dengan pemahaman yang mendalam. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model pencapaian konsep diduga dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa yang lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran ekpositori. Kemampuan ini merupakan sesuatu yang sangat penting dalam menyelesaikan berbagai persoalan-persoalan matematika.

contoh). . guru dapat melakukan dengan menyajikan dua atau lebih contoh positif kemudian diikuti dua atau lebih contoh negatif (non. Hal ini akan menghambat kreativitas berpikir siswa dalam menyelesaikan persoalan representatif matematika. kegiatan inti adalah uraian materi yang biasanya disampaikan guru dengan metode caramah. Bahkan dengan model pencapaian konsep. tanya jawab dan penugasan. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan model pencapaian konsep diduga dapat meningkatkan kreativitas siswa yang lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran ekpositori. Dalam pembelajaran konvesnional siswa tidak dilibatkan dalam pembelajaran secara fisik. Dalam pembelajaran konvensional. siswa diberi kesempatan untuk menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis sebagai suatu logaritma pemecahan masalah yang dapat menimbulkan kreativitas siswa. yaitu contoh yang harus diurutkan sedemikian sehingga para siswa mendapat kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kreatif mereka. Jadi kreativitas bukan hanya merupakan gagasan yang cepat dan luar biasa. kemudian dengan mengamati contohcontoh diturunkan definisi dari konsep-konsep tersebut. mental maupun pada lingkungan sendiri sehingga kesempatan siswa untuk mengungkapkan ide-ide yang dimilikinya akan terhalang.47 kerja dalam periode panjang yang disertai perenungan. Dalam mengurutkan contoh. langkah-langkah dalam pembelajaran diawali dengan persiapan guru. Hal yang paling utama diperhatikan dalam penggunaan model ini adalah pemilihan contoh yang tepat untuk konsep yang diajarkan. apersepsi materi pada pendahuluan. Kegaiatan guru dalam pembelajaran seolah-olah hanya mentransfer ilmu yang dimilikinya kepada siswa. Penggunaan model pencapaian konsep dimulai dengan pemberian contohcontoh penerapan konsep yang diajarkan. menunjukkan secara cepat atau langsung makna dari konsep yang diajarkan.

dan modifikasi apa yang mereka buat. mereka pada akhirnya akan mampu memeriksa data dan memilih sedikit hipotesis untuk diterapkan. Namun. Mereka mencatat hipotesis mereka. kita dapat meminta mereka menceritakan pemikirannya agar latihan terus berlangsung. Siswa yang memilih satu atau dua hipotesis dalam awal-awal pengamatan perlu mengubah contoh-contoh secara terus-menerus dan meninjau ulang atau merevisi gagasan mereka agar mencapai konsep sifat ganda yang menjadi tujuannya. Jika diberikan beberapa contoh yang sebelumnya telah diberi label pada siswa (satu diidentifikasi sebagai contoh positif dan satu diidentifikasi untuk contoh negatif). Dengan menggunakan dan bercermin pada strategi mereka. siswa dapat mencoba strategi baru dalam pelajaran selanjutnya dan menyelidiki pengaruh perubahan itu. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa diduga ada interaksi yang signifikan antara . dan alasan-alasan yang mereka kemukakan.48 3. Terdapat interaksi yang signifikan antara pendekatan pembelajaran dengan tingkat kemampuan matematika siswa terhadap peningkatan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa Ada dua cara yang dapat kita gunakan untuk mengamati dan memperoleh informasi tentang strategi yang digunakan siswa untuk mencapai konsep. dengan menggambarkan gagasan yang mereka munculkan. yaitu: (1) setelah suatu konsep dicapai. Setelah itu. Hal ini dapat membimbing mereka pada suatu diskusi di mana mereka dapat menemukan strategi-strategi yang lain dan bagaimana penerapan strategi ini. siswa akan terdorong untuk menerapkan strategi-strategi holistic untuk memperoleh ciri-ciri ganda atas contoh-contoh itu. Siswa yang bekerja secara holistik. Siswa bekerja secara berpasangan untuk membentuk hipotesishipotesis pada pasangan contoh-contoh (satu positif dan satu negatif) yang telah disajikan untuk mereka. Misalnya. mereka diminta menyerahkan pada kita suatu catatan yang dapat kita analisis. perubahan-perubahan yang mereka buat. (2) kita dapat meminta siswa untuk menulis hipotesis mereka. secara seksama akan menghasilkan hipotesis ganda dan secara bertahap akan menghilangkan hipotesis yang tak dapat dipertahankan. sifat apa yang mereka fokuskan. jika contoh-contoh itu dalam bentuk pasangan demi pasangan.

Sementara itu model pencapaian konsep dimulai dengan pemberian contoh-contoh penerapan konsep yang diajarkan. sebagian besar pendekatan pembelajaran yang digunakan guru selama ini cenderung berpusat pada guru.49 pendekatan pembelajaran dengan tingkat kemampuan matematika siswa terhadap peningkatan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa. Hal di atas menunjukkan bahwa dengan pembelajaran model pencapaian konsep akan dapat meningkatkan kreativitas siswa dengan baik. penguasaan konsep dasar ilmu yang baik dan tinggi akan menimbulkan problem solving yang baik dan bervariasi sehingga memunculkan suatu kreativitas berfikir siswa. menunjukkan secara cepat atau langsung makna dari konsep yang diajarkan. kemudian dengan mengamati contoh-contoh diturunkan definisi dari konsep-konsep tersebut. Aktivitas siswa yang memperoleh pembelajaran model pencapaian konsep lebih positif daripada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional. Siswa bekerja secara berpasangan untuk membentuk hipotesis-hipotesis pada pasangan contoh-contoh (satu positif dan satu negatif) yang telah disajikan untuk mereka. (2) kita dapat meminta siswa untuk menulis hipotesis mereka. Setelah itu. 4. Selain itu. kita dapat meminta mereka menceritakan pemikirannya agar latihan terus berlangsung. Pembelajaran . Berdasarkan fakta dilapangan. Terdapat interaksi yang signifikan antara model pembelajaran dengan tingkat kemampuan matematika siswa terhadap peningkatan kemampuan kreativitas matematika siswa Sebagaimana telah di utarakan bahwa Ada dua cara yang dapat kita gunakan untuk mengamati dan memperoleh informasi tentang strategi yang digunakan siswa untuk mencapai konsep. mereka diminta menyerahkan pada kita suatu catatan yang dapat kita analisis. yaitu: setelah suatu konsep dicapai. Contoh-contoh itu harus diurutkan sedemikian sehingga para siswa mendapat kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kreatif mereka. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa diduga ada interaksi yang signifikan antara pendekatan pembelajaran dengan tingkat kemampuan matematika siswa terhadap peningkatan kemampuan kreativitas matematika siswa 5.

mendengarkan dan mencatat hal – hal yang penting dari pelajaran. 6. lebih dari hanya menghafal. dimana guru mengawali pengajaran dengan menyajikan data atau contoh. dimana guru mengawali pengajaran dengan menyajikan data atau contoh. Model ini membantu siswa pada semua usia dalam memahami tentang konsep dan latihan pengujian hipotesis. kemudian guru meminta siswa untuk mengamati data tersebut. Salah satu cara yang dapat mendorong siswa untuk belajar secara bermakna adalah dengan penggunaan model pencapaian konsep. Pola jawaban yang dibuat siswa dalam menyelesaikan masalah pada masing-masing pembelajaran Pada prinsipnya model pembelajaran pencapaian konsep adalah suatu model mengajar yang menggunakan data untuk mengajarkan konsep kepada siswa. yaitu memebutuhkan kemauan siswa mencari hubungan konseptual antara pengetahuan yang dimiliki dengan yang sedang dipelajari di dalam kelas. Untuk penguasaan konsep yang baik dibutuhkan komitmen siswa dalam memilih belajar sebagai suatu yang bermakna. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa aktivitas siswa yang memperoleh pembelajaran model pencapaian konsep lebih positif daripada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional. kemudian guru meminta siswa untuk mengamati data tersebut. Hal ini mengakibatkan sikap anak yang pasif terhadap pelajaran yang disampaikan. Pada prinsipnya model pembelajaran pencapaian konsep adalah suatu model mengajar yang menggunakan data untuk mengajarkan konsep kepada siswa.50 disampaikan dengan menggunakan sistem ceramah sehingga mendorong aktivitas belajar siswa yang cenderung diam. Model ini membantu siswa pada semua usia dalam memahami tentang konsep dan latihan pengujian hipotesis .

51 2. peningkatan kemampuan kreativitas matematika siswa yang diajarkan dengan model pencapaian konsep lebih tinggi dari pada kreativitas matematika siswa yang diajarkan dengan pembelajaran konvensional. Terdapat interaksi antara model pembelajaran dengan tingkat kemampuan matematika siswa terhadap peningkatan kemampuan kreativitas matematika siswa. 6.10. 5. Pola jawaban siswa dengan pembelajaran berbasis masalah lebih bervariasi dibandingkan dengan pembelajaran konvensional . Aktivitas siswa yang memperoleh pembelajaran model pencapaian konsep lebih positif daripada siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional. 4. 3. 2. Terdapat interaksi antara pendekatan siswa pembelajaran dengan tingkat kemampuan matematika terhadap peningkatan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa. peningkatan pemahaman konsep matematika siswa yang diajarkan dengan model pencapaian konsep lebih tinggi dari pada pemahaman konsep matematika siswa yang diajarkan dengan pembelajaran konvensional. Rumusan Hipotesis Penelitian Berdasarkan rumusan masalah dan uraian pada tinjauan pustaka. pada penelitian ini diajukan hipotesis sebagai berikut: 1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful