P. 1
fisiologi kedokteran

fisiologi kedokteran

|Views: 68|Likes:

More info:

Published by: Selvy Anriani Gaspersz on Nov 27, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/19/2013

pdf

text

original

BAGIAN III.

FUNGSI SISTEM SARAF
BAB 6 : REFLEKS LENGKUNG REFLEKS Unit dasar aktivitas integratif saraf adalah lengkung refleks. Lengkung ini terdiri dari organ sensorik neuron aferen, satu sinaps atau lebih pada tempat integrasi sentral, neuron aferen, dan efektor. Pada mamalia, hubungan antara neuron aferen dan aferen saraf somatik adalah dalam otak atau medula spinalis. Neuron aferen masuk melalui radiks dorsal atau saraf-saraf kranial, dan badan selnya teletak pada ganglion yang sejenis dari sara kranial. Serabut eferen meninggalkan melalui radiks ventral atau saraf motorik kranial yang sejenis. Prinsip bahwa dalam medula spinalis radiks dorsal adalah sensorik dan radiks ventral adalah motorik dikenal sebagai hukum Bell-magendie. Pada bab-bab sebelum ini, fungsi masing-masing komponen lengkung refleks telah dikemukakan dengan mendetail. Seperti tertera dalam bab 2 dan 3, impuls yang timbul dalam akson dari neuron aferen dan aferen dan dalam otot sifatnya adalah “tuntas atau gagal”. Sebaliknya, terdapat 3 buah hubungan atau daerah yang menyerupai hubungan dalam lengkung refleks dimana respons “tertakar “ (“graded”) (gambar 6-1). Ketiga hubungan itu adalah daerah reseptor neuron aferen, sinaps antara neuron aferen dan neuron aferen, dan hubungan mioneural. Pada masing-masing pada tempattempat ini, ditimbulkan potensial yang tidak beredar sebanding dengan kuatnya rangsangan yang masuk. Potensial “tertakar” berperan secara elektronik menimbulkan depolarisasi saraf atau membran otot yang berdekatan dan membangunkan respon “tuntas atau gagal”. Jumlah potensial aksi pada saraf aferen berbanding proporsional dengan besarnya rangsangan yang dikenakan pada organ sensorik. Juga terdapat korelasi yang kasar antara besar rangsangan dan frekuensi potensial aksi pada saraf aferen, akan tetapi karena hubungan antara neuron aferen dan aferen terdapat dalam SSP, aktivitas pada lengkung refleks diubah-ubah oleh beraneka input yang memusat pada neuron aferen. Lengkung refleks yang paling sederhana adalah lengkung refleks dengan satu sinaps antara neuron aferen dan aferen. Lengkung refleks seperti ini adalah monosinaps, dan refleks yang terjadi pada lengkung ini adalah refleks monosinaps. Lengkung refleks dimana satu interneuron atau lebih terdapat diantara neuron aferen dan aferen adalah polisinaps, jumlah sinap dalam lengkung bervariasi dari 2 sampai beratus-ratus. Pada jenis kedua lengkung refleks ini, tetapi terutama pada lengkung refleks polisinaps, aktivitas diubah oleh fasilitasi spasial dan temporal, oklusi, efek subliminal, dan efek lainnya. Gambar 6-1 Lengkung refleks. Perhatikan bahwa pada reseptor dan pada tiap hubungan dalam lengkung terdapat respon yang tidak beredar yang sebanding dengan besarnya rangsangan, sedangkan pada bagian-bagian dari lengkung yang dikhususkan untuk penghantaran (akson, membran otot) respon adalah potensial aksi “tuntas atau gagal “ REFLEKS MONOSINAPS : REFLEKS REGANG Apabila otot kerangka dengan saraf yang utuh diregangkan otot akan berkontraksi. Jawaban ini dinamakan refleks regang. Rangsangan yang membangkitkan refleks ini adalah regangan otot, dan jawabannya adalah kontraksi otot yang diregangkan tersebut. Organ sensoriknya adalah kumparan otot. Impuls yang berasal dari kumparan dihantarkan ke SSp keserabut-serabut sensorik yang cepat dan langsung melintas ke neuron-neuron motorik yang mensarafi otot yang sama. Refleks regang adalah satu-satunya refleks monosinaps dalam tubuh.

1

gastrocnemius. ketokan pada urat achilles menyebabkan sentakan pergelangan kaki karena kontraksi M. Karena ukurannya yang khas saraf-saraf ini dinamakan gama eferen dar leksell atau sistem saraf motorik halus. Jenis pertama banyak mengandung inti dalam bagian tengahnya yang melebar dan oleh karenanya dinamakan “serabut kantong inti” (Gambar 6-2). sedangkan bagian tengahnya mungkin tidak. Refleks regang juga dapat ditimbulkan pada sebagian besar otot-otot besar dari tubuh. terdiri dari kira-kira 30% darei serabut-serabut dalam radiks ventral. masseter. mungkin hanya pada serabut serabut inti.) Ujung dari gama aferen adalah dari 2 jenis histologi . Kontraksi yang sama didapatkan bila M. 1974. Gambar 6-2 Diagram kumparan otot (disadur dan disalin. dan ujung saraf yang membentuk jala-jala yang halus (ujung berakar) terutama pada serabut rantai inti. quadriceps diregangkan secara manual.Contoh-contoh dari dalam klinik Ketokan pada urat patela menimbulkan sentakan lutut. Ujung-ujung serabut rantai inti berhubungan dengan sisi serabut kantong inti. lebih kurus lebih pendek dan tidak mempunyai kantong yang jelas. Serabut-serabut intrafusal sersusun sejajar dengan serabut serabut ekstrafusal. tricepsa brachii. yaitu suatu efek regang dari M quadriceps femoris sebab ketokan pada urat meregangkan otot teresbut. Conto-contoh lain dari refleks regang dapat ditemukan dalam buku-buku neurologi. Tampaknya terdapat juga penyarapan kumparan oleh serabut motorik yang jarang yang berukuran sedang. Ujung saraf primer (anulospiral-ending) adalah ujung dari serabut aferen golongan Ia yang merupakan penhantar cepat. dengan ijin dari stein RB : peripheral control of movement physiol rev 54 :215.. Susunan ini dinamakan serabut-serabut kumparan ( intrafusal) untuk membedakannya dari serabut-serabut diluar kumparan. Efek berbagai pengaruh letupan kumparan otot. ialah lempeng-ujung motorik pada serabut kantong inti. dan ketokan pada pinggir wajah menyebabkan refleks regang pada M. Terdapat 2 ujung sensorik pada tiap-tiap kumparan. Ujung-ujung serabut intrafusal adalah kontraktil.. Fungsi persyarafan beta ini tidak diketahui. Kumparan mengandung saraf-saraf motorik sendiri. misalnya menyebabkan jawaban ekstensi dari sendi disebabkan karena refleks kontraksi triceps . Sudah diketahui bahwa kumparan menerima dua jenis fungsional dari persyarafan gama eferen dinamik dan gama eferen statik (lihat bawah) dan masuk diakal untuk membuat hipotesis bahwa gama eferen dinamik berakhir pada lempeng ujung sedangkan gama eferen statis berakhir pada lempeng ujung sedangkan gama eferen statis berakhir pada ujung berakar Gambar 6-3.saraf ini bergaris tengahnya 3-6 ùm. 2 . Ketokan pada urat M. Serabut-serabut ini sifatnya lebih embrional dan mempunyai coretan-coretan yang kurang tegas dari pada serabut-serabut otot lainnya. yaitu unit-unit kontraktil yang biasa dari otot. Jenis kedua adalah serabut rantai inti. Susunan “kumparan otot” (muscle spindle) Tiap kumparan otot terdiri dari 2-10 serabut otot yang terbungkus dalam kapsula jaringan pengikat. Terdapat dua jenis serabut intafusal pada kumparan otot mamalia. yang mengitari bagian tengah kantong inti ujung saraf sekunder (ujung pancaran bunga) adalah ujung-ujung serabut sensorik golongan II dan terletak lebih dekat pada ujung-ujung serabut intrafusal. dan termasuk golongan Ay Erlanger dan Gasser.

6-0. Apabila nilai ini dikurangkan dari waktu reaksi. aferen kumparan secara khas menghentikan letupan. Kumparan otot terletak sejajar dengan serabutsrabut ekstrafusal. Saraf sensorik primer akan meletup amat cepat apabila otot diregangkan dan kurang cepat sewaktu regangan bertahan (Gambar 6-4). letupan kumparan meningkat dan refleks pemendekan terjadi. Jadi. Aferen dari saraf-araf sekonder mungkin membuat hubungan yang merangsang otot-otot ekstensor. maka mungkinlah menghitung berapa dari medula spinalis.Hubungan serabut aferen dengan pusat Dapat dibuktikan dalam percobaan bahwa serabut yang berasal dari saraf aferen primer langsung berakhir pada neuro-neuron motorik yang menyarafi serabut-serabut ekstrafusal otot yang sama. Apabila nilai ini dikurangkan dari waktu reaksi merupakan waktu konduksi ke dan dari medula spinalis.sebaliknya. sebab serabut-serabut intrafusal tidak cukup kuat atau tidak 3 .9 ms. letupan kumparan berkurang dan otot melemas. Waktu antara pemberian rangsangan dan jawaban adalah waktu reaksi. Dengan perkataan lain.5 ms (lihat bab 4). apabila otot dibuat berkontraksi dengan rangsangan listrik pada serabut-serabut saraf ekstrafusalnya sebab otot memendek sedangkan kumparan tidak (Gambar 6-3) Jadi kumparan dan hubungan refleknya merupakan rangkaian “umpan balik” (feedback). dan angka-angka yang sama telah ditemukan pada binatang percobaan. Ini selanjutnya membangkitkan potensial aksi pada serabut-serabut sensorik dengan frekuensi yang sebanding dengan derajat-regang otot. ini adalah tremor fisiologi yang berfrekuensi kira-kira 10 Hz. Ini membangkitkan refleks kontraksi serabut-serabut ekstrafusal dalam otot. tremor akan menjadi lebih buruk jika kimparan tidak sensitif terhadap kecepatan peregangan. Rangsangan lemah pada saraf sensorik dari otot. dan ujung sekunder terutama mengukur panjang. ujung primer menjawab terhadap perubahan panjang dan perubahan kecepatan peregangan. akan tetapi pola jawabannya berbeda. Efek letupan eferen-gama Perangsangan pada sistem eferen-gama meghasilkan pola yang sangat berbeda dari pola yang dihasilkan oleh perangsangan serabut-serabut ekstrafusal rangsangan seperti ini tidak langsung meghasilkan kontraksi otot yang tampak. Pada manusia. Keduanya . Jawaban dari ujung primer terhadap peristiwa berfasa (phasic) dan tonik dari otot adalah penting sebab jawaban berfasa yang nyata membantu memegas getaran-getaran akibat perlambatan konduksi pada lintas “umpan balik” yang mengatur panjangnya otot . yang diketahui hanya merangsang serabut-serabut Ia. ujung primer mengukur ujung panjang dan kecepatan peregangan. sedangkan apabila otot dipendekkan tanpa mengubah letupan dari saraf gama eferen. dan ujung sekunder menjawab terutama pada panjangnya saja. yang berpungsi untuk mempertahankan panjangnya otot . maka hanya ada satu sinaps yang dapat dilewati. waktu reaksi untuk refleks regang seperti sentakan lutut adalah 19-24 ms. Karena kecepatan konduksi jenis serabut aferen dan eferen diketahui dan jarak dari otot ke medula spinalis dapat diukur. Saraf dari ujung sekunder meletup dengan kecepatan yang meningkat sepanjang waktu otot diregangkan. ujung-ujung saraf primer berubah bentuk dan potensial reseptor timbul. apabila otot diregangkan. menyebabkan jawaban kontraksi dengan masa laten yang sama. perlembatan sentral untuk sentakan lutut adalah 0. Tealh diperlihatkan bahwa kumparan otot juga mengadakan hubungan-hubungan yang menyebabkan kontraksi otot melalui lintasan polisinaps. dan bilamana otot diregangkan secara pasif kumpran juga teregangkan. sisanya dinamakan perlambatan sentral (“central delay”) ialah waktu yang diperlukan untuk refleks melewati medula spinalis. Akan tetapi. Pada manusia. saraf primer dan sekunder akan terangsang apabila kumparan diregangkan. Karena perlambatan sinaps minimum adalah 0. Pungsi kumparan otot Apabila kumparan otot diregangkan.

Bila seluruh otot diregangkan selama perangsangan pada gama eferen. Apabila kecepatan letupan gama eferen meningkat. Sudah dikenal. Perangsangan pada yang pertama yang dapat berakhir melalui lempeng ujung pada serabut berkantong-inti. dan kecepatan letupan dalam serabut Ia selanjutnya (Gambar 6-3). otot-otot antagonis akan melemas (relaksasi). Dengan jalan ini. Kolateral dari masing-masing serabut Ia melewati medula spinalis ke internueron penghambat ( neuron botol golgi) yang langsung bersinaps pada satu satu motoneuron yang menyarafi otot-otot antagonis. mengubah bentuk ujung anulospiral dan menimbulkan impuls pada serabut Ia.. Persyarafan timbal balik ( resiprok) Bila terjadi efek regang. disebabkan karena persarafan timbal balik (resiprok). Contoh dari inhibisi postsinaps ini dibicarakan dalam Bab 4. Peristiwa ini dikatakan. Tedapat eferen gama dinamik dan statik eferen telah diterangkan diatas. menaikan letupan gama eferen kepada kumparan-kumparan otot fleksor sisi yang sama. kumparan tetap mampu menjawab terhadap regangan dan secara refleks menyesuaikan letupan motoneuron selama kontraksi. Melalui lintasan ini dapatlah diatur kepekaan kumparan dan karena itu ambang refleks regang diberbagai bagian tubuh da digeser untuk memenuhi kebutuhan dalam pengaturan sikap tubuh (lihat bab 12) Faktor-faktor lain juga mempengaruhi letupan gama eferen. otot dapat dibuat berkontraksi melalui perangsangan pada alpa motoneuron yang menyarafi serabut ekstrafusal. 4 . Kenaikan letupan gama eferen akan meningkatkan kepekaan kumparan terhadap regangan yang berbeda-beda sesuai dengan kecepatan letupan gama eferen. Perangsangan pada yang terakhir. Akan tetapi. Dalam hal ini terdapat perdebatan mengenai mengenai gerakan mahir dan gerakan volunter dibangkitkan. Perangsangan pada kulit.cukup banyak untuk menyebabkan pemendekan. terutama oleh zat yang merusak. Ini selanjutnya dapat menghasilkan refleks kontraksi otot. atau neuron γ-eferen yang memulai kontraksi secara tidak langsung melalui refleks regang. Jadi. perangsangan menyebabkan ujung-ujung kontraktil dari serabut intrafusal memendek dan oleh karena itu meregangkan bagian kantong inti dari kumparan. Kecemasan menyebabkan peningkatan letupan. suatu fakta yang mungkin dapat menerangkan refleks urat yang diperaktif yang kadang-kadang terlihat pada penderita kecemasan. mungkin melalui ujung berakar pada serabut rantai inti. Impuls dalam serabut-serabut Ia dari kumparan otot protagonis. serabut intrafusal menjadi lebih pendek daripada ekstrapusal. dapat berperan. dan mungkin kedua mekanisme. bahwa percobaan untuk melepaskan kedua tangan yang berdekapan akan mempermudah (fasilitasi) timbulnya refleks sentakan lutut (test jendrassik) dan ini mungkin juga disebabkan karena kenaikan letupan gama eferen yang dibangkitkan oleh impuls aferen dari tangan. alfa dan gama. yang menyebabkan gerakan karena hubungan “alfa gama” inilah kumparan akan memendek bersama dengan otot dan letupannya dapat berlangsung terus selama kontraksi. Pengaturan letupan gama eferen Motoneuron dari sistem gama eferen sebagian besar diatur oleh traktus desenden dari beberapa daerah dalam otak. sementara itu menurunkan impuls ke ekstensor dan menimbulkan pola gerakan yang berlawanan pada tungkai yang lain. peningkatan potensial aksi ditimbulkan karena regangan tambahan pada daerah kantong inti. meningkatkan kepekaan kumparan terhadap kecepatan perubahan regangan. dan lintasannya dilukiskan pada gambar 4-19. Menyebabkan inhibisi postsinaps pada motoneuron otot-otot antagonis. memungkinkan penyesuaian jawaban kumparan terhadap kejadian berfase dan tonik. secara terpisah. meningkatkan kepekaan kumparan terhadap regangan yang tetap dan bertahan. Banyak bukti bahwa peningkatan letupan gama eferen dan diikuti oleh peningkatan letupan alfa motoneuron. Tampak lintasan yang dilewati peristiwa ini adalah bisinaps. Jadi.

dan interaksi dari letupan kumparan. Relaksasi sebagai jawaban terhadap regangan yang kuat dinamakan refleks regang berbalik. Terdapat 3 . (disalin dengan ijin dari Henneman E & others : excitability and inhibility pf motorneurons of disserent sizes. dan menghantarkan secara cepat. letupan secara teratur dihasilkan oleh kontraksi otot. Diagram blok dari sistem pengaturan motorik. Garis yang terputus-putus menunjukan lintasan umpan balik bukan saraf. dan organ urat Golgi masing-masing dalam mengatur kecepatan kontraksi otot. bemielin. dan persarafan timbal balik dalam menentukan kecepatan letupan dari motoneuron diperlihatkan pada gambar 6-8. Serabut-serabut dari organ urat Golgi terdiri dari serabut-serabut saraf sensorik yang termasuk golongan Ib. J Neurophysiol 28 :599. letak berderet dengan serabut-serabut otot. dan gaya otot dilukiskan dengan kenyataan bahwa pemotongan saraf-saraf eferen yang menuju ke tungkai akan meyebabkan tungkai menggantung lemas pada tubuh dalam keadaan semiparalisis. makin kuat kontraksi efeknya. dirangsang oleh peregangan pasof dan kontraksi aktif dari otot. dari otot yang membatasi panjang dan kecepatan melalui sifat-sifat mekanik inheren dari otot. Karena organ orat otot Golgi tidak sperti kumparan. Reseptor untuk refleks regang berbalik adalah dalam organ urat Golgi (gambar 6-5). Susunan sistem ini diperlihatkan pada gambar 6-7. 1966). Gambar 6-8. otot memberi resistensi yang sangat sedikit dan dikatakan 5 . panjang otot. atau hambatan antogen. Serabut-serabut itu juga membuat hubungan yang bersifat perangsangan dengan motoneuron yang menyarafi otot-otot antagonis. tersisip diantara sreabutserabut urat. Akan tetapi. Betapa pentingnya otot primer pada kumparan. letupan organ urat Glogi. Frekuensi letupan dari motoneuron yang menyarafi otot tungkai pada kucing. ujung sekunder pada kumparan. Gambar 6-5 Organ urat Golgi (disalin dengan ijin dari Goss CM (editor) :Gray’s Anatomy of the Human Body. Perangsangan dengan peregangan pasif tidak kuat sebab serabut otot yang lebih elastis meyerap banyak regangan. 29 th ed les & Febiger. Tonus otot Daya tahan (resistensi ) otot terhadap regangan sering dinyatakan sebagai tonus. Akan tetapi. Serabut-serabut Ib tampaknya berakhir dalam medula spinalis pada interneuron penghambatan yang selanjutnya terakhir pada motoneuron (gambar 6-6).25 serabut otot untuk tiap organ urat. Ambang organ urat Golgi adalah rendah. bila tegangan cukup besar. Perangsangan pada serabut Ib ini menimbulkan PIPS pada motoneuron yang menyarafi otot-otot dari mana serabut-serabut itu berasal. Frekuensi letupan dihubungkan dengan panjang otot pada berbagai tingkat perangsangan pada saraf dari otot antagonisnya. Organ ini terdiri dari ujung-ujung saraf berbutir yang merupakan jaringan jala sel.Refleks regang berbalik ( Inverse stretch refleks) Sampai batas tertentu.. kontraksi mendadak berhenti dan otot melemas. 1973). maka makin kuat otot diregangkan. dan organ urat Golgi berfungsi sebagai transduser dalam sirkuit umpan balik yang mengatur gaya otot. mirip dengan sirkuit umpan balik kumparan otot yang mengatur panjangnya otot. dan inilah sebabnya bahwa diperlukan regangan yang kuat untuk menghasilkan relaksasi. Gambar 6-7. Apabila saraf motorik yang menuju ke otot dipotong.

Klonus Penemuan lain yang khas untuk kejadian yang menyangkut peningkatan letupan gama eferen adalah klonus. Antara keadaan lembek dan hipertonik (spastik) terdapat daerah tonus normal. lintasan B dengan 4 interneuron. urutan peregangan yang sedang ___ kontraksi otot. dan memnungkinkan aktivitas menggema sampai tenaganya menurun dan tidak mampu lagi meletupkan respons transinaps yang beredar dan mati. Pemanjangan reaksi Apabila otot sedang hipertonik. di ikuti oleh aktivitas pada lintasan yang lebih panjang. maka segera otot melemas. Resistensi terhadap fleksi mendadak runtuh. Akibat kontraksi otot-otot menghentikan letupan kumparan spindle . REFLEKS POLISINAPS : REFLEKS TARIK MUNDUR Lintasan refleks polisinaps bercabang menurut pola yang kompleks (Gambar 6-9). klonus juga dapat ditimbulkan berdasrkan sinkronisasi letupan motoneuron tanpa letupan organ urat Golgi. apabila tungkai digerakkan secara pasif dalam klinik dikenal sebagai efek pisau lipat sebab menyerupai penutupan pisau saku. Ini menyebabkan perangsangan yang lama pada motoneuron dari perangsang tunggal dan akibatnya memberi jawaban yang memanjang. akan mncapai motor neuron pertama kali. Klonus sendi kaki adalah contoh yang khas. dan ledakan impuls dari kumparan itu meletupkan seluruh motoneuron yang menyarafi otot secara serentak. dan urutan dapat diulang. aktivitas dalam cabang dengan jumlah sinaps yang paling kecil. ritmik pada otot yang timbul karena peregangan mendadak dan bertahan. Refleks tarik diri Refleks tarik diri adalah refleks polisinaps yang khas yang terdapat sebagai jawaban terhadap rangsangan yang membahayakan dan biasanya nyeri dari kulit atau jaringan subkutis dan otot. 6 . Peregangan selanjutnya mengaktifkan refleks regang berbalik. paling sedikit sebagian dari lintasan cabang memutar kembali. Perhatikan bahwa salah satu interneuron dalam lintasan C berhubungan dengan neuron yang membalik kearah dua inerneuron lainnya. mungkin ikut serta dalam reaksi respon ini. misalnya akan menemui resisitensi yang mendadak karena refleks regang pada otot triceps. Fleksi pasif dari sendi siku. Serabut radiks dorsal mengaktifkan lintasan A dengan 3 interneuron. Kumparan otot-otot di test tampak hiperaktif. seperti diperlihatkan pada gambar 6-9. Otot yang hipertonik (spastik) adalah otot dimana resistensi terhadap regangan adalah tinggi. Urutan refleks regang refleks regang berbalik yang diuraikan diatas. dan lintasan C dengan 4 interneuron. dan lengan berfleksi. Sirkuit penggema sperti ini sering terdapat dalam otak dan medula spinalis. akan tetapi. Urutan resistensi disusul oleh perlemasan. Akan tetapi. peregangan kuat ___ relaksasi jelas terlihat. Tanda neurologik ini terdiri dari kontraksi-kontrakis yang teratur. Fleksi pasif terus meregangkan otot kembali. Selanjutnya. Otot umumnya adalah hipotonik apabila kecepatan letupan gama eferen rendah dan hipertonik apabila letupan gama eferen tinggi. Nama fisiologik untuk ini adalah reaksi memanjang sebab ini adalah jawaban dan otot yang spastik (dari contoh. dan membentuk “sirkuit penggama”. Karena perlambatan sinaps yang terdapat pada tiap-tiap sinaps. karena regangan dipertahankan. triceps) terhadap pemanjangan . Diagram hubungan polisinaps antara neuron aferen dan eferen dalam medula spinalis. kemudian otot kembali diregangkan dan kumparan akan terangsang. Ini timbul dengan dorsofleksi kaki yang kuat dan bertahan dan jawabnya adalah plantarfleksi yang ritmik dari sendi kaki. Jumlah sinaps tiap–tiap cabang sangat bebeda-beda. Gambar 6-9.lembek (flaksid).

jawabannya tidak hanya keluhlukan (fleksi) dan menarik tungkai tersebut tetapi juga memanjangnya ekstensi tungkai sisi yang berlawanan. apabila tungkai belakang seekor kucing spinal dijentik. Response ekstensi menyilang ini sebenarnya merupakan bagian dari refleks tarik-diri.Jawabannya adalah kontraksi otot fleksor dan inhibisi otot-otot ekstensor. tetapi mudah diperlihatkan pada bintang dimana efek pengaturan oleh impuls-impuls dari otak telah ditiadakan. sehingga bagian yang terangsang berekeluk (fleksi) dan menarik diri dari perangsang. 7 . dan tungkai depan kontralteral mengeluk (fleksi). Juga dapat diperlihatkan dalam percobaan bahwa rangsangan yang kuat menimbulkan aktivitas dalam pool interneuron yang menyebar ke empat anggota badan. tungkai yang terangsang akan ditarik. Misalnya. Hal ini sukar diperlihatkan pada binatang normal. Penyebaran impuls eksitasi naik dan turun medula spinalis ke makin banyak motoneuron dinamakan pemancaran (irradiasi) rangsangan dan penambahan jumlah unit motor yang aktif dinamakan pengerahan (recruitment motor unit-motor unit). dengan sebelumnya dengan memotong medula spinalis (binatang spinal). Apabila rangsangannya kuat dikenakan pada tungkai. tungkai belakang sisi yang berlawanan akan melurus (ekstensi). tungkai depan yang ipsilateral melurus (ekstensi).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->