P. 1
Bahan Cat Tembok

Bahan Cat Tembok

5.0

|Views: 11,195|Likes:
Published by Joseph Gilbert

More info:

Published by: Joseph Gilbert on Jan 28, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/04/2013

pdf

text

original

Bahan Cat Lebih Sehat Dengan Cat Alami Mengecat rumah dengan kapur tohor alias gamping.

Kenapa tidak? Bukankah kini ada kapur tohor yang dikembangkan menjadi cat alami oleh Akademi Kimia Industri (Akin), Semarang. Lagi pula, cat dari bahan alami jangan dipandang remeh. Coba saja lihat nasib produk mainan Cina, beberapa pekan lalu, yang dilarang masuk ke sejumlah negara karena catnya dianggap mengandung bahan kimia berbahaya bagi kesehatan. Karena itulah, Akin mengembangkan cat ramah lingkungan ini. Menurut Direktur Akin, Sari Purnavita, daya rekat dan keawetannya tak kalah oleh cat tembok yang ada di pasaran. Hanya saja, koleksi warnanya masih terbatas, yakni putih, kuning, cokelat, dan hijau. "Semua bahannya diambil dari alam," kata Sari. Akin memulai penelitian cat ramah lingkungan ini pada 2004. Mereka juga telah mengembangkan vernis ramah lingkungan. Gagasannya muncul dari Heinz Frick, dosen arsitektur Universitas Katolik (Unika) Sugiyapranata, Semarang. "Frick yang punya ide dan kami yang mewujudkannya. Kami memiliki laboratorium dan literatur yang mendukung masalah itu," ujar Sari. Apalagi, menurut Singgih Susiono, anggota tim peneliti Akin, sejauh ini belum ada yang mengembangkan cat ramah lingkungan di Indonesia. "Karena itu, masalah cat ramah lingkungan dan kesehatan ini perlu digalakkan," tutur Singgih. Setelah mencoba berbagai komposisi, akhirnya ditemukan formula yang ideal untuk cat tembok luar yang ramah lingkungan. Yaitu, kapur tohor (CaO) sebanyak 20%, minyak rami (linseed oil) 2%, sejenis krim 5%, dan selebihnya air. Cara membuat cat ini, kata Sari, gampang saja. "Mula-mula tohor dilarutkan ke dalam air. Lalu tambahkan krim dan minyak rami. Terus diaduk hingga benar-benar terlarut," ujarnya. Di samping itu, masih ada bahan-bahan tambahan. Untuk keperluan dalam ruangan, komposisi kandungan cat bisa digunakan bahan litofone. Yakni sejenis mineral berwujud serbuk putih. Agar cat menempel dengan baik, Sari memakai tepung tapioka sebagai zat perekat. "Pemakaiannya diencerkan dan dikuaskan beberapa kali. Cat tembok alam jenis ini lebih cocok digunakan untuk permukaan yang tidak halus," kata Sari. Untuk warna pun, cat Akin ini menggunakan bahan-bahan alami. Salah satu warna yang dicoba adalah kuning. "Kami menggunakan zar pewarna batik yang terbuat dari mineral," tutur Sari. Warna lainnya adalah merah, yang diambil dari daun jati atau kulit pohon pinang. Menurut Sari, setidaknya ada sejumlah kelebihan cat alami dibandingkan dengan cat sintetis. "Dari tinjauan ongkos, bahannya lebih murah karena mudah didapat," katanya. Kemudian secara teknis, cat alami masih menjamin adanya pori-pori permukaan sehingga

mengurangi risiko pelapukan permukaan setelah pelapisan. Sejumlah bangunan di kompleks Akin kini menggunakan cat alami ini. Begitu pula gedung perkuliahan Unika Sugiyapranata. Bahkan Heinz Frick menggunakan cat alami ini untuk rumahnya yang asri di kawasan Simongan, Semarang. "Sampai sekarang, setelah tiga tahun, kondisinya masih bagus," kata Singgih. Kelebihan utama cat ini tentu saja terkait dengan lingkungan dan kesehatan. Sejauh ini, menurut tinjauan Sari, banyak cat sintetis yang beredar di pasar menggunakan bahanbahan yang kurang ramah lingkungan. "Memang tak semua cat seperti itu, tapi kita perlu hati-hati memilih cat yang baik," ujarnya. Cat tembok dan vernis sintetis menggunakan zat pelarut yang bisa merusak lingkungan karena bersifat korosif. "Bagi kesehatan pun berdampak buruk karena karsinogenik (memicu kanker)," kata Sari. Apalagi kalau cat yang menggunakan bahan formalin. Bagi sejumlah orang, uapnya bisa memicu radang mata, hidung, saluran pernapasan atas, dan asma. "Jika terhirup dalam kadar tinggi mencapai 2 ppm, berpotensi sebagai pencetus kanker," Sari menjelaskan. Sayang, cat alami ini belum diproduksi secara massal. Alasannya, Akin merupakan lembaga pendidikan dan penelitian. "Jadi tidak dibekali peralatan untuk produksi massal. Selain itu, kami juga perlu dukungan industri," kata Sari. Karena itu, hingga saat ini Akin hanya melayani order khusus. "Kalau ada yang pesan, baru kami bikinkan," ia menambahkan. Sebenarnya sudah ada kelompok usaha di Semarang yang mengajak bekerja sama. Sang pengusaha telah membuat rumah contoh di kawasan Rawa Pening, Ambarawa, Semarang, yang menggunakan cat Akin. "Silakan melihat bagaimana kondisi cat ramah lingkungan itu. Kami berharap, cat ini dapat lebih dikembangkan," kata Sari.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->