P. 1
4633 Didik Prasetyoko Prosiding Non Hayati (NH)

4633 Didik Prasetyoko Prosiding Non Hayati (NH)

|Views: 75|Likes:
Published by simparmin42331377

More info:

Published by: simparmin42331377 on Nov 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/28/2012

pdf

text

original

ISBN 978-602-98130-0-5

SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
SINTESIS DAN KARAKTERISASI SENYAWA KOMPLEKS
NIKEL(II) DENGAN LIGAN ETILENDIAMINTETRAASETAT
(EDTA)

Nur Chamimmah Lailis I dan Irmina Kris Murwani*

Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya
*Email: irmina@chem.its.ac.id

Abstrak :
Pada penelitian ini dilakukan sintesis senyawa kompleks Ni-EDTA melalui reaksi larutan
Ni
2+
dan H
4
EDTA. pH optimum sintesis Ni-EDTA diperoleh pada pH 10. Penentuan rumus senyawa
kompleks dilakukan dengan metode variasi kontinu sehingga diperoleh perbandingan logam Ni dan
EDTA adalah 1 : 1. Padatan kompleks Ni-EDTA berwarna biru, mempunyai serapan panjang
gelombang maksimum sebesar 584 nm dan serapan khas vibrasi logam-ligan dengan spektroskopi
infra merah pada bilangan gelombang 347 cm
-1
.

Kata kunci : Senyawa kompleks, Nikel (II) EDTA, sintesis, karakterisasi

1. Pendahuluan
Senyawa koordinasi adalah salah satu senyawa yang memegang peranan penting dalam
kehidupan manusia. Senyawa ini terbentuk karena adanya ikatan antara ligan yang berperan
sebagai donor pasangan elektron (basa lewis) dengan ion pusat (logam) yang berperan sebagai
akseptor pasangan elektron (asam lewis).
Kajian dan penelitian tentang sintesis senyawa koordinasi juga semakin beragam. Salah
satunya adalah penelitian tentang senyawa kompleks sebagai katalis. Dari beberapa penelitian
telah dilaporkan bahwa senyawa kompleks nikel telah terbukti dapat digunakan pada proses
katalitik dalam beberapa reaksi organik seperti reaksi karbonilasi etanol menjadi asam propionat
yang menggunakan katalis senyawa kompleks [Ni(isoquinoline)
4
]Cl
2
(Ubale, 1997) dan reaksi
hidrogenasi yang mengkonversi glukosa menjadi sorbitol dengan katalis senyawa kompleks
[Ni(EDTA)
3
(NO
3
)
2
] berpendukung silika (SiO
2
) (Schimpf, 2007). Senyawa kompleks yang bisa
dijadikan sebagai katalis harus memiliki sifat yang stabil. Salah satu senyawa kompleks yang
sangat stabil adalah senyawa kompleks yang membentuk khelat. Salah satu senyawa kompleks
yang memiliki tingkat kestabilan cukup tinggi adalah senyawa kompleks Nikel(II)-EDTA yang
memiliki Kstab = 18.62 (Underwood, 2002). Pada penelitian ini disintesis dan dikarakterisasi
senyawa kompleks nikel(II)-EDTA yang nantinya dapat dimanfaatkan sebagai katalis.

2. Metodologi
Bahan-bahan yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah bahan-bahan kimia yang
memiliki kemurnian pro analisis (p.a) meliputi nikel(II) triklorida heksahidrat NiCl
2
.6H
2
O, H
4
EDTA
(Titriplex II), NH
4
OH dan akuades. Selanjutnya akan dilakukan karakterisasi dengan UV-VIS, FTIR,
dan XRD.
Tahapan dalam sintesis senyawa kompleks Ni-EDTA adalah penentuan panjang
gelombang maksimum, pengaruh pH pada pembentukan senyawa kompleks dan penentuan rumus
senyawa kompleks dengan metode variasi kontinu. Sintesis senyawa kompleks dilakukan dengan






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
mereaksikan larutan H
4
EDTA (titriplex II) dan NiCl. Larutan campuran tersebut dipanaskan sampai
tepat jenuh kemudian didiamkan selama beberapa hari hingga terbentuk padatan kristal. Kristal
yang terbentuk disaring dan diletakkan pada cawan porselen lalu di oven 90°hingga cukup kering.

3. Hasil dan Pembahasan
Penentuan Panjang Gelombang Senyawa Kompleks [Ni(EDTA)]
2-
Hasil reaksi NiCl
2
dan EDTA diukur dengan spektrofotometer UV-VIS pada panjang
gelombang 400-780 nm. Dari hasil analisis diperoleh bahwa panjang gelombang maksimum
senyawa kompleks [Ni(EDTA)]
2-
adalah 584 nm. Jika dibandingkan dengan panjang gelombang
maksimum NiCl
2
yaitu sebesar 658 nm, maka terjadi pergeseran ke arah panjang gelombang yang
lebih pendek seperti yang terlihat pada Gambar 1. Pergeseran ini dipengaruhi oleh ligan EDTA
yang merupakan ligan dengan medan kuat (Sukardjo, 1992). Senyawa kompleks [Ni(EDTA)]
2-

memiliki warna biru, sehingga senyawa kompleks tersebut menyerap panjang gelombang pada
daerah kuning (580-595) nm (Underwood, 2002).

Gambar 1. Panjang Gelombang Maksimum Senyawa NiCl
2
( )
dan Senyawa Kompleks [Ni(EDTA)]
2-
( )

Pengaruh pH Pada Pembentukan Senyawa Kompleks [Ni(EDTA)]
2-
Pembentukan senyawa kompleks sangat dipengaruhi oleh pH. Pengamatan pengaruh pH
pada pembentukan kompleks terlihat pada Gambar 2. Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa
senyawa kompleks [Ni(EDTA)]
2-
mulai terbentuk pada pH 5 sedangkan pH optimum terdapat pada
pH 10, karena pada pH tersebut absorbansi senyawa kompleks menunjukkan nilai paling besar.
Hal ini menunjukkan bahwa akibat perubahan pH larutan, konsentrasi senyawa kompleks yang
terbentuk juga mengalami perubahan.












ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS














Gambar 2. Pengaruh pH Pada Pembentukan Senyawa Kompleks [Ni(EDTA)]
2-

Penentuan Rumus Senyawa Kompleks dengan Metode Variasi Kontinu
Rumus senyawa kompleks nikel-EDTA ditentukan melalui metode variasi kontinu. Hasil
menunjukkan bahwa perbandingan mol antara Ni
2+
dan ligan EDTA adalah 1 : 1. Hasil penentuan
rumus senyawa kompleks dapat diamati pada Gambar 3. Pada gambar tersebut titik potong
terdapat pada perbandingan fraksi mol EDTA 0,5. Hasil perbandingan ini menunjukkan bahwa satu
mol ligan EDTA dapat berikatan dengan satu mol nikel(II) sehingga dihasilkan perbandingan mol
nikel(II) : EDTA adalah 1 : 1 dan membentuk senyawa koordinasi [Ni(EDTA)]
2-
(Bhat, dkk. 1965).

Gambar 3. Penentuan Stoikiometri Senyawa Kompleks [Ni(EDTA)]
2-








ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Berdasarkan hasil penentuan rumus stoikiometri tersebut maka dapat diperkirakan bahwa
senyawa kompleks [Ni(EDTA)]
2-
mempunyai struktur oktahedral seperti yang dapat dilihat pada
Gambar 4.

















Gambar 4. Struktur Senyawa Kompleks [Ni(EDTA)]
2-

Karakterisasi Senyawa Kompleks dengan Spektrofotometer Inframerah
Karakterisasi senyawa kompleks [Ni(EDTA)]
2-
dilakukan pada bilangan gelombang 300-4000
cm
-1
. Pada karakterisasi ini dibandingkan spektra antara senyawa kompleks yang terbentuk
[Ni(EDTA)]
2-
dan ligan EDTA seperti yang terlihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Spektra inframerah EDTA ( ) dan [Ni(EDTA)]
2-
( )






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

Spektra EDTA (Gambar 5) diperoleh dengan menganalisis padatan H
4
EDTA (titriplex II).
Pada gambar diatas terlihat bahwa terdapat serapan O-H pada daerah 3400 cm
-1
tidak terlalu tajam
karena EDTA yang dianalisis bukan garam EDTA yang memiliki air hidrat. Sedangkan serapan N-H
terlihat sangat tajam pada daerah 3100 cm
-1
. Gugus fungsi C=O terlihat pada 1697 cm
-1
sedangkan
vibrasi COO
-
yang berasal dari ester pada 1396 cm
-1
sedangkan frekuensi vibrasi C-C untuk alkana
muncul pada serapan 1200-800 cm
-1
.
Pada spektra [Ni(EDTA)]
2-
diatas, dapat dilihat bahwa terdapat serapan melebar O-H muncul
pada daerah 3410 cm
-1
yang mengindikasikan bahwa senyawa koordinasi [Ni(EDTA)]
2-

mengandung air kristal. Sedangkan serapan N-H muncul pada daerah 3200 cm
-1
. Serapan C=O
muncul pada 1600 cm
-1
sedangkan vibrasi C-O yang berasal dari ester pada 1396 cm
-1
. Vibrasi C-
O yang berasal dari ester menunjukkan serapan yang sangat tajam dibandingkan dengan serapan
pada ligan bebasnya, hal ini karena vibrasi dari C-O pada senyawa ini terikat pada logam Ni
sehingga intensitasnya meningkat. Frekuensi vibrasi C-C untuk alkana muncul pada serapan 1200-
800 cm
-1
. Serapan vibrasi ikatan antara logam Ni dengan ligan terlihat pada bilangan gelombang
300-600 cm
-1
, vibrasi ikatan Ni-N terlihat pada bilangan gelombang 347 nm. Hal ini sesuai dengan
literatur yang menyebutkan bahwa vibrasi ikatan logam dengan gugus N dari ligan akan muncul
pada bilangan gelombang 300-390 cm
-1
. Sedangkan vibrasi Ni-O dari ligan EDTA muncul pada
bilangan gelombang 470 cm
-1
. Hal ini sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa vibrasi
logam dengan gugus O dari ligan akan muncul pada bilangan gelombang 600-400 cm
-1
(Nakamoto,
1978).

Identifikasi Senyawa Kompleks dengan Difraktometer Sinar-X
Padatan senyawa kompleks [Ni(EDTA)]
2-
hasil sintesis dianalisis XRD untuk mengetahui
komponen penyusunnya. Difraktogram hasil analisis disajikan pada Gambar 6.

Gambar 6. Difraktogram Senyawa Kompleks [Ni(EDTA)]
2-










ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
4. Kesimpulan
Senyawa kompleks nikel(II)-EDTA telah berhasil disintesis dengan perbandingan mol ligan
dan atom pusat = 1:1. pH maksimum pembentukan senyawa kompleks adalah pH 10. Berdasarkan
hasil penentuan rumus molekul senyawa kompleks dan analisis FTIR yang membuktikan adanya
vibrasi logam nikel ke ligan EDTA, maka [Ni(EDTA)]
2-
diperkirakan mempunyai struktur oktahedral.

Daftar Pustaka
Bhat, R.T., Radhamma, D. & Shankar, J., (1965), “ Studies on EDTA Complexes : Mixed
Complexes of Copper (II), Nickel (II) and Cobalt (II) Versenates with Pyridine, Hydrazine,
Hydroxylamine, Ethylenediamine and Propylenediamine “, Journal Inorganic Nuclear
Chemistry, Vol. 27, hal. 2641-2651.
Nakamoto K., 1978, Infrared and Raman Spectra of Inorganic and Coordination Compound, Third
Edition., John Wiley and Sons Inc, New York.
Schimpf, S., Louis, C & Claus, P., (2007), “ Ni/SiO
2
catalysts prepared with ethylenediamine nickel
precursors : Influence of the pretreatment on the catalytic properties in glucose
hydrogenation “, Applied Catalysis A: General , Vol. 318, hal. 45–53.
Sukardjo., 1992, Kimia Koordinasi, Edisi Ketiga, PT. Rineka Cipta, Jakarta.
Ubale, R.S., Kelkar, A.A. & Chaudari, R.V. (1997), “Carbonylation of ethanol using Ni-isoquinoline
complex catalyst: Activity and selectivity studies”, Journal of Molecular Catalysis A :
Chemical, Vol.118, hal. 9-19.
Underwood, A. L. & Day, R.A, (2002), Analisis Kimia Kuantitatif, Edisi Keenam, Penerbit Erlangga,
Jakarta.





























ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
ESTERIFIKASI ASAM LEMAK BEBAS DARI
LIMBAH MINYAK SAWIT MENTAH DENGAN METANOL DAN
KATALIS KAOLINIT TERIMPREGNASI AlCl
3


Harlia, Thamrin Usman, Nelly Wahyuni, Winda Rahmalia

Jurusan Kimia FMIPA Universitas Tanjungpura
Jl. A Yani Pontianak, 78124
Email: rahmalia_mipa@yahoo.com


Abstrak

Telah dilakukan sintesis metil ester dengan metode esterifikasi terhadap asam lemak bebas
limbah minyak sawit mentah menggunakan katalis kaolinit terimpregnasi AlCl
3
. Variabel yang dikaji
pada proses esterifikasi adalah waktu reaksi dan konsentrasi katalis AlCl
3
. Hasil penelitian
menunjukkan waktu reaksi dan konsentrasi katalis optimum masing-masing 1 jam dan 4 % dengan
persentase konversi produk mencapai 79,86 %. Metil ester yang dihasilkan telah dianalisa sifat
fisika yang meliputi indeks bias 1,454, kerapatan 0,880 g/mL (25
0
C) dan viskositas 6,975 cSt
(25
0
C).

Kata kunci: kaolinit, AlCl
3
, esterifikasi, metil ester, limbah minyak sawit mentah























ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
PENGGUNAAN ISATIN SEBAGAI
INHIBITOR KOROSI BAJA SS 304 DALAM LARUTAN
ASAM
*

Harmami dan Adrian Gunawan

Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya

Phone : 08883077956, e-mail: harmami@chem.its.ac.id


Abstrak
Penggunaan isatin sebagai inhibitor korosi baja SS 304 dalam media asam dipelajari
dengan menggunakan metode pengurangan massa, polarisasi potensiodinamik, serta analisis
Scanning Electron Microscopy (SEM). Dari data pengurangan massa maupun data polarisasi
menunjukkan nilai efisiensi inhibisi ( % EI )

sebanding dengan konsentrasi inhibitor yang
ditambahkan dan berbanding terbalik dengan kenaikan temperatur. Data konstanta Tafel
menunjukkan bahwa Isatin dapat bertindak sebagai inhibitor katodik dan anodik (tipe inhibitor
campuran). Analisa SEM menunjukkan perbedaan tekstur permukaan spesimen yang direndam
pada media asam tanpa dan dengan penambahan Isatin 12.5 mM, dimana tanpa penambahan
inhibitor, tekstur permukaan lebih banyak berlubang dan kasar. Proses adsorpsi inhibitor pada
permukaan logam diduga diawali dengan adsorpsi fisika dan kemudian dilanjutkan dengan adsorpsi
kimia. Adsorpsi kimia dimungkinkan karena luas pelingkupan permukaan logam meningkat seiring
dengan meningkatnya konsentrasi inhibitor.

Kata kunci: Inhibitor, Isatin , baja tahan karat 304, dan efisiensi inhibisi..

1. Pendahuluan
Stainless Steel (SS) 304 merupakan baja nirkarat yang paling banyak diproduksi
dibandingkan baja nirkarat yang lainnya dan banyak digunakan baik untuk peralatan rumah tangga
maupun untuk keperluan industri karena harganya yang relatif lebih murah dibandingkan tipe 316
maupun tipe yang lain. Baja tipe 304 disebut sebagai baja tahan tahan karat karena dapat
membentuk lapisan oksida logam pasif pada permukaannya. Namun demikian dalam lingkungan
asam yang korosif , lapisan tahan karat tersebut tidak dapat terbentuk dan logam akan mengalami
korosi. Dalam penggunaannya, baja 304 sering mengalami proses cuci asam, sehingga dalam
proses tersebut, baja 304 pasti akan mengalami korosi.
Berbagai upaya telah banyak dilakukan untuk mencegah atau setidaknya mengurangi laju
korosi dalam suatu proses cuci asam, antara lain dengan penggunaan inhibitor, yakni suatu zat
yang ditambahkan dalam jumlah kecil dalam larutan cuci asam untuk menghambat laju korosi
(Thretwey, 1991).
Inhibitor korosi dapat berasal dari bahan anorganik (kromat, dikromat, oksalat, dll) atau
organik (berbagai jenis minyak dan ekstrak bahan alam). Inhibitor dari bahan anorganik saat ini
sudah mulai ditinggalkan karena sifatnya yang tidak ramah lingkungan dan bisa menjadi katalis
korosi apabila konsentrasinya tidak tepat (Surya, 2004)
Inhibitor korosi dari bahan organik lebih dipilih karena memiliki afinitas yang cukup tinggi
pada logam, nilai effisiensi yang tinggi, serta ramah lingkungan. Effektivitas senyawa organik






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
sebagai inhibitor sangat dipengaruhi oleh keberadaan heteroatom (O, N, P, dan S), gugus polar,
ikatan π, serta pasangan elektron bebas yang menjadi sarana bagi inhibitor untuk melakukan
chemisorpsi / berikatan dengan logam secara koordinasi (Spinelli dkk, 2009).
Isatin (1) adalah senyawa turunan indole dengan 2 gugus karbonil di nomor 2 dan 3. Gugus
karbonil yang berada di nomor 3 (karbonil golongan keton) sangat reaktif. Sedangkan karbonil pada
nomor 2 memiliki sifat seperti amida.

Gambar 1. Struktur Isatin (1)
Penggunaan Isatin sebagai inhibitor laju korosi baja 304 dikaji dalam larutan asam
khususnya larutan 1M HCL dan dikaji pula pengaruh temperatur.larutan tersebut terhadap efisiensi
inhibisinya.

2. Metodologi
Alat dan Bahan

Alat
Botol timbang, neraca analitis, gelas beker, alumunium foil, plastik, kertas gosok, labu ukur, buret,
erlenmeyer. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah termostat, potensiostat, dan
Scanning Electron Microscopy (SEM).

Bahan
Isatin, Asam Klorida Pekat (37%), SS 304, Aquabidest, Aseton, Natrium Hidroksida, dan Asam
Oksalat

Prosedur Kerja
Pembuatan Spesimen Baja SS 304

Baja SS 304 dipotong dengan dimensi 3 x 3 x 0.1 cm
3
yang digunakan dalam pengukuran
dengan menggunakan metode pengurangan berat dan analisis dengan SEM, sedangkan untuk
pengukuran dengan metode polarisasi, baja yang digunakan berbentuk silinder dengan diameter
1,4 cm, tebal 0.1 cm. Baja terlebih dahulu digosok dengan kertas gosok grade 500 dan 1000
berturut-turut, kemudian dicuci dengan aquadest dilanjutkan dengan aseton, dan dibilas lagi
dengan aquades serta dikeringkan.

Pembuatan Media Korosi
Media korosi yang digunakan adalah larutan HCl 1M tanpa inhibitor, larutan HCl 1M
dengan penambahan inhibitor (isatin) dengan variasi konsentrasi 2.5 mM – 12.5 mM








ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

Metode Pengurangan Massa
Spesimen ditimbang dengan neraca analitis kemudian direndam dalam larutan 1M HCL
tanpa dan dengan penambahan inhibitor masing-masing selama 3 jam pada variasi temperatur
larutan, 35
o
C, 40
o
C, 45
o
C, 50
o
C, 55
o
C. Masing-masing perlakuan dilakukan pengukuran tiga kali
ulangan.
Effisiensi inhibisi dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :

%IE=
Wo-Wi
Wo
×100 %
Dimana Wo pengurangan massa spesimen pada media korosi tanpa inhibitor, dan Wi
adalah pengurangan massa spesimen pada media korosi dengan inhibitor.

Metode Polarisasi Potensiodinamik
Metode ini dilakukan untuk mengetahui nilai berbagai parameter korosi (arus korosi,
potensial korosi, konstanta Tafel katodik dan anodik). Instrumen yang digunakan adalah
Potensiostat type PGS 201 T dengan sel 3 elektroda. Elektroda acuan adalah tipe calomel (SCE),
elektroda bantu berupa platina dan elektroda kerja adalah spesimen baja berbentuk silinder.
Elektroda kerja, elektroda bantu, dan elektroda pembanding di rangkai menjadi suatu sel dengan
larutan elektrolit berupa media korosi tanpa inhibitor atau media korosi dengan inhibitor.
Sel kemudian dihubungkan dengan potensiostat dan komputer untuk membaca data yang
diperoleh. Metode polarisasi dilakukan pada suhu kamar. Efisiensi inhibisi (IE) dihitung
menggunakan Persamaaan :

%IE=
Io-Ii
Io
×100 %
dimana Io merupakan densitas arus korosi pada media
korosi tanpa inhibitor dan Ii pada media korosi dengan inhibitor.

Analisa SEM
Spesimen hasil metode pengurangan berat, dianalisa permukaannya dengan
menggunakan SEM (Scanning Electron Microscopy) dengan perbesaran 10.000 kali. Spesimen
yang digunakan adalah hasil rendaman pada media korosi tanpa inhibitor dan media korosi dengan
inhibitor yang memiliki nilai %IE maksimum yaitu dengan penambahan Isatin 12.5 mM

Penentuan nilai Energi Aktivasi (Ea)
Nilai pengurangan berat pada media korosi tanpa dan dengan inhibitor pada berbagai
temperatur dialurkan sebagai fungsi 1000/T. Nilai Ea diketahui dari slope.

3. Hasil dan Diskusi
Metode Pengurangan Massa
Pengurangan massa merupakan metode selain elektrokimia yang dapat digunakan untuk
menentukan laju korosi dan effisiensi inhibisi. Metode ini sederhana dan praktis dilakukan, akan
tetapi membutuhkan waktu yang cukup lama untuk perendaman (Spinelli dkk, 2009). Pengurangan
massa tersebut terjadi karena logam terdestruksi dan larut menjadi keadaan teroksidasinya yang
diakibatkan oleh adanya reaksi kimia antara logam dengan lingkungannya.
Metode ini dilakukan pada temperatur yang bervariasi, yakni mulai dari temperatur Kamar,
35°C, 40°C, 45°C, 50°C, dan 55
O
C. Untuk temperatur kamar tidak membutuhkan instrumen






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
tambahan. Sedangkan untuk temperatur lain digunakan instrumen berupa termostat yang dapat
menjaga temperatur dengan konstan. Grafik yang menyatakan hubungan antara konsentrasi isatin
dengan efisiensi inhibitor (%EI), dapat dilihat pada gambar 2.
Metode pengurangan massa menunjukkan effisiensi maksimum yang berhasil dicapai
adalah sebesar 73.90% pada isatin 12.5 mM di suhu kamar, sedangkan nilai minimum sebesar
42.0% pada isatin 2.5 mM dan suhu 55°C. Metode ini menunjukkan fakta bahwa saat konsentrasi
isatin meningkat (pada temperatur yang sama) maka jumlah massa yang berkurang akan semakin
kecil (laju korosi berkurang) sehingga effisiensi inhibisinya (%EI) akan meningkat. Hal tersebut
karena semakin luas permukaan spesimen yang dilingkupi oleh inhibitor akibat dari peristiwa
adsorpsi inhibitor di permukaan baja dan juga semakin berkurangnya serangan ion H
+
dan Cl
-
pada
baja akibat bereaksi dengan isatin.
Penelitian lain yang dilakukan Quraishi dkk pada 2008 menunjukkan pola sama dengan
yang terjadi pada penelitian ini. Penelitian tersebut menggunakan inhibitor N-(Piperidinomethyl)-3-
[(pyridylidene)amino]isatin (PPI) (sebuah turunan isatin) untuk menginhibisi korosi dari baja lunak
pada media HCl, ternyata memiliki nilai %EI yang semakin besar saat konsentrasi PPI meningkat.
Nilai %EI maksimum yang dicapai adalah 94%, yaitu pada saat konsentrasi isatin 300 ppm. Saat
PPI yang ditambahkan melebihi 300 ppm, tidak terjadi perubahan yang signifikan dari nila%EI.
Efektivitas dari PPI ditentukan oleh keberadaan ikatan rengkap dan elektron bebas yang terdapat
dalam PPI.
Peningkatan temperatur dari media ternyata meningkatkan jumlah pengurangan massa
yang mengakibatkan nilai %EI turun. Hal ini dikarenakan peningkatan difusi ion – ion dalam media
dan meningkatkan jumlah oksigen terlarut, sehingga reaksi parsial elektrokimia akan semakin cepat
dan proses pelarutan logam juga meningkat. Pada media korosi dengan inhibitor yang
mengandung inhibitor, kenaikan temperatur akan mengakibatkan proses desorpsi dari inhibitor jika
adsorpsinya merupakan fisisorpsi (Harmami dkk, 2006). Grafik yang menunjukkan hubungan
antara temperatur dengan %EI pada berbagai konsentrasi isatin dapat dilihat pada gambar 3


40,00
50,00
60,00
70,00
80,00
0 2,5 5 7,5 10 12,5
%

E
f
f
i
s
i
e
n
s
i

I
n
h
i
b
i
s
i
Konsentrasi Isatin (mM)
Kamar
35°C
40°C
45°C
50°C
55°C
Gambar 2. Grafik Hubungan Antara Konsentrasi Isatin dengan %EI pada Berbagai Temperatur Media






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

Gambar 3. Grafik Hubungan Antara Temperatur Media dengan Nilai %EI pada Berbagai
Konsentrasi Isatin
Hal yang berbeda terjadi saat PPI digunakan sebagai inhibitor korosi pada berbagai variasi
temperatur. PPI akan menghasilkan nilai %EI yang meningkat pada saat temperatur media
meningkat. Perbedaan ini diakibatkan oleh adanya perbedaan jenis adsorpsi yang terjadi pada PPI
dan isatin. Fisisorpsi terjadi pada molekul isatin sedangkan PPI mengalami kemisorpsi yang
didahului oleh fisisorpsi. Pada peristiwa kemisorpsi dibutuhkan energi yang cukup tinggi yakni untuk
membentuk ikatan antara adsorbat dan adsorben, sehingga pada saat temperaturnya meningkat
maka pembentukan ikatan akan lebih mudah dan cepat terjadi. Luas permukaan yang terlingkupi
nantinya juga akan bertambah saat temperatur naik dan mengakibatkan semakin tingginya nilai
%EI pada penggunaan PPI.
Perbedaaan jenis adsorpsi dan nilai %EI pada isatin dan PPI dikarenakan perbedaan
struktur diantara kedua inhibitor tersebut. PPI adalah turunan isatin dengan molekul yang lebih
besar dibandingkan isatin sehingga luas pelingkupannya pada logam akan lebih besar dibanding
isatin pada konsentrasi sama, sehingga nilai %EI PPI akan lebih besar dibandingkan isatin.
Perbandingan struktur PPI dan isatin, ditampilkan pada gambar 4. PPI memiliki lebih
banyak heteroatom (4 atom N dan 1 atom O), molekul isatin memiliki 2 atom O dan 1 atom N,
sehingga memungkinkan PPI lebih mudah melakukan ikatan koordinasi (kemisorpsi) dengan logam
melalui PEB yang ada di heteroatom tersebut. Isatin sendiri dengan jumlah PEB yang lebih sedikit
akan lebih sulit melakukan kemisorpsi dengan logam, sehingga hanya terjadi fisisorpsi.
Keberadaan heteroatom pada PPI tersebut juga akan mengakibatkan lebih banyaknya ion
H
+
yang tertangkap oleh PPI dibandingkan pada isatin. Karena dua hal yang disebutkan tersebut
maka nilai %EI
max
pada PPI yang mencapai 94% menjadi lebih tinggi dibandingkan %EI
max
pada
isatin yang hanya mencapai 73.90%.



(a) (b)

Gambar 4. Perbandingan Struktur antara (a) PPI dan (b) Isatin
40,00
45,00
50,00
55,00
60,00
65,00
70,00
75,00
80,00
30 35 40 45 50 55
%

E
f
f
i
s
i
e
n
s
i

I
n
h
i
b
i
s
i
Temperatur (°C)
2.5
5
7.5
10
12.5






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Perhitungan Energi Aktivasi (Ea)
Perhitungan nilai energi aktivasi (Ea) menggunakan data dari metode pengurangan massa.
Nilai logaritma natural (ln) jumlah pengurangan massa (∆w) pada larutan dengan konsentrasi isatin
yang sama dialirkan pada fungsi 1000/T. Gambar 5 menampilkan hasil pengaluran data tersebut.



Gambar 5. Grafik Hubungan antara ln ∆W vs 1000/T

Berdasar persamaan Arhennius nilai slope yang diperoleh dari persamaan garis tersebut
adalah nilai dari –Ea/R. Nilai Ea diperoleh dengan mengalikan nilai slope dengan konstanta gas
ideal (R) sebesar 8.314 J/mol. Grafik yang menyatakan hubungan antara energi aktivasi (Ea) dan
konsentrasi inhibitor yang digunakan dapat dilihat pada gambar 6.


Gambar 6. Grafik Hubungan Energi Aktivasi (Ea) dan Konsentrasi Isatin

Nilai Ea maksimum diperoleh sebesar 12.22 kJ/mol dan Ea minimum sebesar 6.79 kJ/mol.
Terjadi sedikit penurunan nilai Ea pada saat konsentrasi isatin mencapai 12.5 mM, nilai Ea
seharusnya lebih besar dari 12.22 kJ/mol tetapi faktanya hanya mencapai 12.14 kJ/mol. Hal
tersebut dimungkinkan karena pengaruh kelarutan isatin pada 12.5 mM yang tidak sempurna meski
-5
-4,5
-4
-3,5
-3
-2,5
3 3,1 3,2 3,3 3,4
l
n

Δ
w
1000/T (K
-1
)
0 mM
2.5 mM
5 mM
7.5 mM
10 mM
12.5 mM
R² = 0,9344
0
2
4
6
8
10
12
14
0 2,5 5 7,5 10 12,5
E
n
e
r
g
i

A
k
t
i
v
a
s
i

(
K
j
/
m
o
l
)
Konsentrasi Isatin (mM)






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
telah dilakukan pengadukan dan pemanasan selama 15 menit, akan tetapi hal tersebut tidak terlalu
berpengaruh pada kinerja isatin sebagai inhibitor korosi.
Berdasar data dapat diketahui bahwa energi aktivasi dalam media korosi dengan inhibitor
lebih besar dibanding dalam media korosi tanpa inhibitor, dan nilai energi aktivasi cenderung naik
saat konsentrasi isatin meningkat. Energi aktivasi yang semakin besar juga identik dengan nilai
%EI yang semakin besar. Hal ini dikarenakan secara termodinamik, nilai Ea yang besar akan
mengakibatkan korosi lebih lambat dan sulit terjadi, sehingga laju korosi dalam media yang sudah
ditambahkan inhibitor akan mengalami penurunan dan nilai %EI akan meningkat.
Pada penelitian lain juga ditemukan inhibisi korosi yang menghasilkan nilai Ea meningkat
pada saat inhibitor ditambahkan, seperti yang dilaporkan oleh Xianghong dkk pada 2009 saat
menggunakan 6-benzylaminopurine sebagai inhibitor korosi. Nilai Ea pada media tanpa inhibitor
mencapai 51.86 kJ/mol, sedangkan nilai Ea pada media dengan inhibitor masksimum (300 mg/L)
mencapai 120.25 kJ/mol. Peningkatan energi aktivasi ini terjadi karena energi yang dibutuhkan oleh
H
+
untuk mengkorosi baja meningkat karena terganggu oleh hadirnya inhibitor dan mengakibatkan
laju korosi menurun.
Pada penelitian Spinelli dkk pada 2009 yang menggunakan asam kaffeat sebagai inhibitor
korosi pada baja lunak dalam asam sulfat, ditemukan fenomena nilai Ea pada media tanpa inhibitor
yang lebih besar dibanding pada media dengan inhibitor, dimana hal tersebut dihubungkan dengan
terjadinya peristiwa kemisorpsi dari asam kaffeat pada permukaan baja. Nilai Ea yang sama pada
media tanpa dan dengan inhibitor juga dapat terjadi, oleh karena itu tipe inhibitor korosi
diklasifikasikan menjadi 3 golongan :
i. %EI turun dengan naiknya temperatur, maka Ea dengan inhibitor > Ea tanpa inhibitor.
Menandakan adanya fisisorpsi dari inhibitor pada permukaan logam, dan kerja katodik dari
inhibitor.
ii. %EI naik dengan naiknya temperatur, maka Ea dengan inhibitor < Ea tanpa inhibitor.
Menandakan adanya kemisorpsi dari inhibitor pada permukaan logam
iii. %EI tidak berubah saat temperatur berubah, maka Ea dengan inhibitor = Ea tanpa inhibitor
(Xianghong dkk, 2009)
Isatin pada penelitian ini termasuk golongan (i), sehingga dapat dikatakan bahwa Isatin
merupakan inhibitor yang teradsorp secara fisika pada permukaan logam.

Metode Polarisasi Potensiodinamik
Nilai arus korosi (I
corr
) dan potensial korosi (E
corr
) pada proses korosi baja SS 304 dalam
media korosi dapat diketahui dengan menggunakan metode polarisasasi potensiodinamik.
Instrumen untuk metode ini adalah potensiostat PGZ 201 T dengan sistem 3 elektroda yang
terdapat di PTAPB – BATAN Jogjakarta.
Baja SS 304 dengan ketebalan 1 cm dipotong berbentuk silinder dengan diameter 1.4 cm,
spesimen terlebih dahulu digosok dengan kertas gosok, untuk membersihkan kerak, kotoran dan
lapisan oksida yang terdapat di permukaan baja, kemudian dicuci dengan aquabidest, aseton, dan
dibilas dengan aquabidest. Spesimen kemudian dikeringkan.
Spesimen di uji polarisasi potensiodinamik dengan sistem 3 elektroda, spesimen sebagai
elektroda kerja (WE), platina sebagai elektroda bantu (AE), dan SCE sebagai elektroda reference
(RE), sedangkan untuk elektrolit digunakan larutan HCl tanpa inhibitor dan dengan inhibitor. Media
korosi pada metode ini diencerkan 10 kali dari media korosi pada metode pengurangan massa. Hal
tersebut dilakukan karena keterbatasan instrumen potensiostat tersebut. Metode Polarisasi
potensiodinamik dijalankan dengan scan rate 20 mV/s pada range -2500 mV sampai 1000 mV.
I
corr
maksimum diperoleh pada media korosi tanpa inhibitor dengan nilai sebesar 101.9 µA,
sedangkan nilai minimum diperoleh pada saat konsentrasi Isatin 1.25 mM sebesar 46.99 µA. Dapat
disimpulkan bahwa inhibisinya akan cenderung meningkat pada saat konsentrasi Isatin semakin






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
meningkat sampai konsentrasi 12.5 mM, dengan nilai % EI minimum sebesar 26.4 % dan
maksimum sebesar 53.88 %
Hasil dari polarisasi ditampilkan dalam gambar 7, 8, dan 9 sebagai berikut :


Gambar 7. Kurva Polarisasi SS 304 pada HCl 0.1 M (1) dan HCl 0.1 M dengan Isatin 0.25 mM (2)


Gambar 8. Kurva Polarisasi SS 304 pada HCl 0.1M dengan Isatin 0.5mM (3) dan HCl 0.1 M dengan
Isatin 0.75mM (4)


Gambar 9. Kurva Polarisasi SS 304 pada HCl 0.1 M dengan Isatin 1.0 mM (5) dan HCl 0.1 M
dengan Isatin 1.25 mM (6)






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

Nilai berbagai parameter korosi (I
corr
, E
corr
, βa, βc, dan % EI) pada berbagai kondisi yang
dihasilkan dari metode ini disampaikan dalam tabel 1.
Tabel 1. Nilai Berbagai Parameter Korosi Baja SS 304
pada Media HCl 0.1 M dengan Hadirnya Isatin pada T kamar

[Inhibitor] E
corr
i
corr
βa -βc % EI
0 mM -862.2 101.9 563.7 273.8 -
0.25 mM -904.8 74.58 591.4 240.7 26.8106
0.5 mM -904.5 74.29 563.3 197.6 26.48675
0.75 mM -783.6 61.16 291.1 172 39.98037
1mM -853.1 57.53 338.9 173.8 43.54269
1.25 mM -836.9 46.99 226.3 136.3 53.88616

Hubungan antara % i
corr
dengan konsentrasi Isatin dapat dilihat pada gambar 10.


Gambar 10 Grafik Hubungan i
corr
dengan Konsentrasi Isatin.

Nilai potensial korosi (E
corr
) yang naik turun dimungkinkan oleh adanya proses adsorpsi
Isatin di permukaan baja SS 304 saat polarisasi tidak stabil. Akan tetapi inhibisi korosi tetap
berlangsung, hal itu terbukti dari nilai I
corr
yang terus menurun saat ditambahkan Isatin.
Nilai konstanta tafel anodik pada tabel 1 diatas menunjukkan perubahan yang tak teratur,
hal ini menunjukkan bahwa adsorpsi Isatin di permukaan spesimen lemah dan mudah lepas yang
merupakan ciri dari adsorpsi secara fisika. Fisisorpsi ini terjadi akibat adanya interaksi elektrostatik
antara inhibitor dengan permukaan logam. Sedangkan nilai konstanta tafel katodik, menunjukkan
nilai penurunan yang teratur dengan meningkatnya konsentrasi inhibitor, hal tersebut menunjukkan
bahwa isatin bekerja cukup baik di sisi katodik, yaitu dengan mengurangi laju reduksi ion H
+

menjadi H
2

Pada penelitian Isatin yang lain, oleh Quartarone dkk (2003), terdapat peristiwa kemisorpsi
antara isatin dengan Cu yang di buktikan oleh spektrofotometri uv-vis. Nilai βc pada penelitian
Quartarone ini menunjukkan bahwa Isatin juga bekerja dengan baik pada sisi katoda dengan
menghambat laju reduksi H
+
menjadi H
2.
Hal diatas menunjukkan bahwa Isatin adalah tipe inhibitor
campuran.

R² = 0,9023
0
50
100
150
0 0,25 0,5 0,75 1 1,25
D
e
n
s
i
t
a
s

A
r
u
s

K
o
r
o
s
i
Konsentrasi Isatin (mM)






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Mekanisme Inhibisi Korosi
Inhibitor korosi dapat bekerja menghambat korosi dengan berbagai jalan dan persitiwa
adsorpsi inhibitor pada permukaan logam merupakan satu mekanisme untuk inhibitor korosi type
anodik. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa inhibitor organik disukai sebagai
inhibitor, karena perilakunya yang memiliki afinitas tinggi pada logam dan ramah lingkungan.
Afinitas senyawa organik sangat dipengaruhi oleh keberadaan heteroatom (N, O, P, S), PEB, dan
ikatan rangkap (Spinelli dkk, 2009).
Jenis adsorpsi yang terjadi, apakah fisisorpsi, kemisorpsi, ataupun kemisorpsi yang
didahului fisisorpsi sangat tergantung pada struktur inhibitor itu sendiri, jenis logam dan keadaan
media (pH, Temperatur, dan jumlah inhibitor). Molekul isatin dapat teradsorp secara kimia pada
permukaan logam yang ditunjukkan dengan pembentukan kompleks Cu-Isatin dalam media H
2
SO
4

0.5 M yang dibuktikan dengan spektrofotometri uv-vis. Isatin berperan sebagai basa lewis yang
mendonorkan PEB, sedangkan logam sebagai asam lewis akan menangkap PEB tersebut,
sehingga terbentuk senyawa kompleks. Senyawa kompleks tersebut akan menutup sebagian
permukaan logam dan menghambat pelarutan dari logam. Proses kemisorpsi seperti ini
membutuhkan energi yang cukup tinggi dan waktu kontak yang lama. Pola kemisorpsi yang terjadi
dapat diuji dengan cara fitting terhadap berbagai persamaan isothermal adsorpsi (Quartarone dkk,
2003)
Fisisorpsi terjadi apabila hanya ada interaksi dipol-dipol antara inhibitor dan logam,
adsorpsi model ini lemah dan mudah lepas. Fisisorpsi akan terjadi apabila struktur inhibitor tidak
memungkinkan untuk mendonorkan pasangan elektron bebas (PEB) nya pada logam. Fisisorpsi
inhibitor di permukaan logam ditemukan pula pada penelitian Harmami dkk (2003) yang
menggunakan 4-metil imidazole untuk inhibitor korosi baja 316L. Fisisorpsinya diketahui dari nilai
energi bebas Gibbs (∆G) yang rendah, dan nilai energi aktivasi korosi saat ditambahkan inhibitor
korosi menjadi lebih besar. “Fitting” membuktikan bahwa inhibitor tersebut mengikuti pola
Freundlich. Proses fisisorpsi tersebut bisa diikuti dengan kemisorpsi, hal itu dapat dilihat dengan
meningkatnya fraksi pelingkupan permukaan logam seiring dengan peningkatan konsentrasi
inhibitornya.
Pada penelitian ini menunjukkan bahwa isatin pada awalnya teradsorp secara fisika pada
permukaan logam, hal ini diketahui dari nilai βa yang berubah tidak beraturan. Nilai βa tersebut
menunjukkan kalau adsorpsi isatin di permukaan logam lemah dan mudah lepas, sama seperti ciri
dari fisisorpsi. Nilai energi aktivasi pada media korosi dengan inhibitor yang lebih besar
dibandingkan pada media korosi tanpa inhibitor juga menunjukkan adanya fisisorpsi seperti pada
penelitian Behpour dkk pada tahun 2009.
Ditinjau berdasarkan struktur, isatin memang kurang mampu untuk mendonorkan PEB
pada logam, hal ini terkait dengan terbatasnya PEB yang dimiliki dan adanya delokalisasi elektron
pada isatin yang melibatkan PEB dari atom N dan O sehingga mempersulit donor PEB oleh isatin
pada logam.
Keberadaan fisisorpsi sebenarnya kurang menguntungkan untuk proses inhibisi korosi,
karena ikatan antara inhibitor dan logam yang lemah dan mudah lepas yang memungkinkan
peristiwa korosi masih bisa terjadi, akan tetapi pada penelitian ini diketahui bahwa isatin juga
berperan pada sisi katodik dengan menghambat laju reduksi dari H
+
melalui pembentukan senyawa
isatin yang terprotonasi (H-Isatin)
+
yang kemudian dapat membentuk garam klorida Isatin (H-
isatin)
+
Cl
—.
Sulitnya H
+
dan Cl
-
untuk bereaksi dengan logam pada hadrinya isatin akan
mengakibatkan nilai Ea meningkat, hal ini terbukti pada penelitian ini, dimana nilai Ea pada media
korosi dengan inhibitor lebih besar dibanding Ea pada media korosi tanpa inhibitor.











ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Analisa SEM (Scanning Electron Microscopy)
Spesimen SS 304 hasil pengurangan massa pada media korosi tanpa inhibitor (HCl 1M
tanpa Isatin) dan media korosi dengan inhibitor yang menghasilkan nilai effisiensi maksimum (HCl
1M + Isatin 12.5 mM) dianalisa dengan menggunakan SEM pada perbesaran 5.000 kali. Tujuan
dari analisa ini adalah untuk mengetahui kerusakan akibat korosi yang terjadi pada permukaan baja
setelah direndam dalam media korosi. Hasil dari analisa SEM pada 2 spesimen tersebut
ditampilkan pada gambar 11 a dan b.
Dari hasil analisa SEM tersebut menunjukkan bahwa pada permukaan baja yang direndam
dalam media HCl 1M tanpa isatin mengalami kerusakan yang lebih dibandingkan baja yang
direndam dalam HCl dan Isatin 12.5 mM. Terlihat lebih banyak cacat di permukaan akibat serangan
H
+
dan Cl
-
pada gambar a dibanding gambar b. Cacat logam tersebut terjadi karena adanya bagian
logam yang teroksidasi dan larut akibat peristiwa korosi. Pada gambar b yang menunjukkan cacat
yang lebih sedikit dibandingkan gambar a menunjukkan bahwa korosi telah terhambat oleh
kehadiran isatin. Hal tersebut menunjukkan bahwa isatin bertindak sebagai inhibitor korosi.


(a) (b)

Gambar 11. Hasil SEM spesimen SS 304 pada larutan HCl 1M tanpa
Isatin (a) dan dengan Isatin 12.5 mM (b) (perbesaran 5000x)

4. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa isatin dapat
digunakan sebagai inhibitor korosi untuk baja SS 304 dalam larutan HCl.. Dari data hasil
pengukuran dengan menggunakan metode pengurangan dan polarisasi potensiodinamik
menunjukkan bahwa nilai efisiensi inhibisi meningkat seiring dengan meningkatnya konsentrasi
isatin dengan nilai efisiensi sebesar 73.90% pada konsentrasi isatin 12,5 mM. Efisiensi inhibisi
tersebut akan turun seiring dengan peningkatan temperatur media. Nilai energi aktivasi yang
meningkat menunjukkan terjadinya inhibisi korosi, serta data parameter korosi menunjukkan bahwa
isatin adalah tipe inhbitor campuran, yang bekerja pada sisi anodik dan katodik. Proses adorpsi
inhibitor pada permukaan logam diawali dengan adsorpsi fisika dan dilanjutkan dengan adsorpsi
kimia.

Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar – besarnya kepada :
1. Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) di Babarsari Yogyakarta yang telah memberikan
ijin untuk menggunakan alat potensiostat.
2. LPPM ITS yang telah mengijinkan untuk penggunaan SEM







ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Daftar Pustaka
Behpour, M, S.M. Ghoreishi, N. Soltani, M. Salavati-Niasari (2009), “The inhibitive effect of some
bis-N,S-bidentate Schiff bases on corrosion behaviour of 304 stainless steel in
hydrochloric acid solution” Corrosion Science 51 : 1073 – 1082
Da Silva, Joaquim F. M, Simon J. Garden and Angelo C. Pinto (2001) “The Chemistry of Isatins: a
Review from 1975 to 1999” J. Braz. Chem. Soc., Vol. 12, No. 3 : 273-324,
Harmami, Hendro Juwono, Agus W., Yusuf P., M.Yusuf dan Nurhayati* (2003), “study of 4-methyl
imidazole as corrosion inhibitor of 316L austenitic steel in acidic media” Majalah IPTEK 17
: 35 – 39
Hasnan, Ahmad, S., (2006),”Mengenal Baja”, (http://www.oke.or.id/)
Honeycombe, R.W.K., (1995),“Steels Microstructure and Properties”, Second Edition, Edward
Arnold, London
Indocor, (1999), Pelatihan Ahli Korosi Muda, Indocor, Bandung
Jones, D.A (1996),”Principles and preventation of corrosion”, Second Edition, Prentice Hall, Inc.,
United States of America
Migahed, M.A, dkk (2005), “Effectiveness of some non ionic surfactants as corrosion inhibitors for
carbon steel pipelines in oil fields” Electrochimica acta 50 : 4683 – 4689.
Mulyono, (2006), “Kamus Kimia”, Bumi Aksara, Jakarta
Oxtoby, David W, (2001), “ Kimia Modern, Edisi Keempat Jilid 1”, Erlangga, Jakarta
Quartarone, G, T. Bellomi, A. Zingales (2003), “Inhibition of Copper Corrosion by Isatin in Aerated
0.5 M H
2
SO
4
” Corrosion Science 45 : 715 – 733
Quraishi, M.A, Ishtiaque A, Ashish K S, Sudhish K S, B. Lal, Vakil Singhb (2008), “N-
(Piperidinomethyl) -3 [(pyridylidene)amino] isatin: A new and effective acid corrosion
inhibitor for mild steel” Materials Chemistry and Physics 112 : 1035 - 1039
Spinelli, A , FS. De Souza (2009), ”Caffeic acid as a green corrosion inhibitor for mild steel”
Corrosion Science 51 : 642 – 649
Surya, Indra, D., (2004),“Kimia Dari Inhibitor Korosi”, UNSUD, Sumatra Utara
Thretwey, Kenneth R dan John Camberlein, (1991), “Korosi untuk Mahasiswa Sains dan
Rekayasa” Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Xianghong Li, Shuduan Deng, Hui Fu, Guannan Muc (2009), “Inhibition effect of 6-benzyl
aminopurine on the corrosion of cold rolled steel in H2SO4 solution” Corrosion Science 51
: 620 – 634




















ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

VALIDASI METODE PENGUKURAN LOGAM DALAM
LIMBAH ELEKTROPLATING DENGAN METODE AAS
(ATOMIC ABSORPTION SPECTROPHOTOMETER)

Yatim Lailun Ni’mah, Irmina Kris Murwani dan Ita Ulfin
Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya


Abstrak
Telah dilakukan validasi metode F-AAS (Flame – Atomic Absorption Spectrophotometric)
untuk penentuan kandungan logam Mn, Cu, Zn, dan Fe dalam limbah elektroplating. Parameter
validasi meliputi sensitivitas, accuracy (kecermatan), precission, linieritas LOD, LOQ. Hasil Validasi
metode AAS untuk penentuan logam Cu, Zn, Fe, dan Mn diperoleh uji linearitas memberikan nilai
R
2
masing-masing adalah 0,999; 0,996; 0,999 dan 0,999. Nilai presisi untuk logam tersebut
berturut-turut adalah , 0,1594; 0,020267; 0,0228 dan 0,044 dan sensitivitasnya berturut-turut
0,1379; 0,217; 0,9624 dan 0,4993. Sedangkan nilai LOD nya adalah 5,48x10
-3
; 4,08x10
-3
; 0,067
dan 0,0168 dan nilai LOQ nya adalah 0,0183; 0,0136; 0,2235 dan 0,0559. Konsentrasi logam Fe,
Mn, Cu dan Zn dalam sampel limbah elektroplating berturut – turut adalah 4,22 ; 0,7275 ; 0,8563
dan 1,033 ppm.

1. Pendahuluan
Di laboratorium Lingkungan ITS yang terdapat di Research Center memiliki beberapa
peralatan / instrument yang dapat digunakan untuk menentukan pengukuran kualitas dan kuantitas
parameter untuk lingkungan. Diantara instrument yang ada yaitu Spektrofotometer Serapan Atom
(Atomic Absorption Spectrophotometer). Instrument tersebut dapat digunakan untuk pengukuran
analisa beberapa logam. Sebelum di lakukan untuk pengukuran sampel, maka sebelumnya
instrument tersebut perlu di lakukan validasi metode agar data hasil pengukuran yang diperoleh
memiliki nilai yang ukurat. Jika pada pengukuran diperoleh data dengan penyimpangan yang terlalu
besar, maka kesalahan pengukuran tidak dapat diterima, jadi hasil analisis tersebut tidak valid.
Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian mengenai validasi metode penentuan beberapa
konsentrasi logam yang sering diukur dengan instrumen tersebut. Pengukuran konsentrasi logam
dengan AAS perlu divalidasi agar data yang diperoleh lebih presisi dan akurat. Pada penelitian ini
dilakukan optimasi dalam pengukuran logam menggunakan AAS dengan beberapa parameter
validasi yaitu sensitivitas, accuracy (kecermatan), precission, linieritas dan rentang, LOD dan LOQ.
Validasi metode analisis adalah suatu tindakan penilaian terhadap parameter tertentu,
berdasarkan percobaan laboratorium, untuk membuktikan bahwa parameter tersebut memenuhi
persyaratan untuk penggunaannya.
Kecermatan (Accuracy) adalah ukuran yang menunjukkan derajat kedekatan hasil analisis
dengan kadar analit yang sebenarnya. Kecermatan dinyatakan sebagai persen perolehan kembali
(recovery) analit yang ditambahkan. Kecermatan hasil analisis sangat tergantung pada sebaran
galat sistematik di dalam keseluruhan tahapan analisis. Oleh karena itu untuk mencapai
kecermatan yang tingi hanya dapat dilakukan dengan cara mengurangi galat sistematik tersebut
seperti menggunakan peralatan yang telah dikalibrasi, menggunakan pereaksi dan pelarut yang
baik, pengontrolan suhu, dan pelaksanaannya yang cermat, taat asas sesuai prosedur.
Kriteria kecermatan sangat tergantung kepada konsentrasi analit dalam matriks sampel dan
pada keseksamaan metode (RSD). Vander Wielen, dkk menyatakan bahwa selisih kadar pada






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
berbagai penentuan (X
d
) harus 5% atau kurang pada setiap konsentrasi analit pada mana prosedur
dilakukan.
Keseksamaan (Precision) adalah ukuran yang menunjukkan derajat kesesuaian antara
hasil uji individual, diukur melalui penyebaran hasil individual dari rata-rata jika prosedur diterapkan
secara berulang pada sampel-sampel yang diambil dari campuran yang homogen.
Keseksamaan diukur sebagai simpangan baku atau simpangan baku relatif (koefisien
variasi). Keseksamaan dapat dinyatakan sebagai keterulangan (repeatability) atau ketertiruan
(reproducibility). Keterulangan adalah keseksamaan metode jika dilakukan berulang kali oleh analis
yang sama pada kondisi sama dan dalam interval waktu yang pendek. Keterulangan dinilai melalui
pelaksanaan penetapan terpisah lengkap terhadap sampel – sampel identik yang terpisah dari
batch yang sama, jadi memberikan ukuran keseksamaan pada kondisi yang normal. Ketertiruan
adalah keseksamaan metode jika dikerjakan pad kondisi yang berbeda. Biasanya analiosis
dilakkan pada laboratorium – laboratorium yang berbeda menggunakan peralatan, pereaksi, pelarut
dana analis ayang berbeda pula. Analisis dilakukan terhadap sampel – sampel yang diduga identik
yang dicuplik dari batch yang sama.
Keseksamaan dapat dihitung dengan cara sebagai berikut :
a. Hasil analisis adalah X
1
, X
2
, X
3
,…..X
n
, maka simpangan bakunya adalah :
1
) ( (
2

− ∑
=
n
X X
SD
b. Simpangan baku relatif (RSD) atau koefisien variasi (KV) adalah :
RSD = SD/X
% 100 x
X
SD
KV =
Linearitas adalah kemampuan metode analisis yang memberikan respon yang secara
langsung atau dengan bantuan transformasi matematik yang baik, proporsional terhadap
konsentrasi analit dalam sampel. Rentang metode adalah pernyataan batas terendah dan tertinggi
analit yang sudah ditunjukkan dapat ditetapkan dengan kecermatan, keseksamaan, dan linearitas
yang dapat diterima.
Sebagai parameter adanya hubungan linier digunakan koefisien korelasi r pada analisis
regresi linier Y = a + bX. Hubungan linier yang ideal dicapai jika nilai b = 0 dan r = +1 atau -1
bergantunga pada arah garis. Sedangakan nilai a menunjukkan kepekaan analisis terutama
instrumen yang digunakan.
Batas deteksi adalah jumlah terkecil analit dalam sampel yang dapat dideteksi yang masih
memberikan respon signifikan dibandingkan dengan blanko. Batas deteksi merupakan parameter
uji batas. Batas kuntitasi merupakan parameter pada analisis renik dan diartikan sebagai kuantitas
terkecil analit dalam sampel yang masih dapat memenuhi kriteria cermat dan seksama.
Penentuan batas deteksi suatu metode berbeda-beda tergantung pada metode analisis itu
menggunakan instrumen atau tidak. Pada analisis yang tidak menggunakan instrumen batas
tersebut ditentukan dengan mendeteksi analit dalam sampel pada pengenceran bertingkat. Pada
analisis instrumen batas deteksi dapat dihitung dengan mengukur respon blanko beberapa kali lalu
dihitung simpangan baku respon blanko dan formula dibawah ini dapat digunakan untuk
perhitungan,


SI
S k
Q
b
.
=







ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Q = LOD (batas deteksi) atau LOQ (batas kuantitasi)
k = 3 untuk batas deteksi atau 10 untuk batas kuantitasi
S
b
= simpangan baku respon analitik dari blanko
SI = arah garis linear (kepekaan arah) dari kurva antara respon terhadap konsentrasi = slope (b
pada persamaan garis y = a + bx)
Batas deteksi dan kuantitasi dapat dihitung secara statistik melalui garis regresi linier dari
kurva kalibrasi. Nilai pengukuran akan sama dengan nilai b pada persamaan garis linier y = a + bx,
sedangkan simpangan baku blanko sama dengan simpangan baku residual (Sy/x).
Batas deteksi (LOD)
Karena k = 3 atau 10, simpangan baku (Sb) = Sy/x, maka :
LOD =
SI
x Sy / 3

Batas kuantitasi (LOQ)
LOQ =
SI
x Sy / 10

Metode AAS memiliki prinsip kerja pada absorpsi cahaya oleh atom. Atom-atom menyerap
cahaya tersebut pada panjang gelombang tertentu, tergantung pada sifat unsurnya. Cahaya pada
panjang gelombang ini memiliki cukup energi untuk mengubah tingkat elektronik dari atom–atom
logam.
Metode AAS sering digunakan untuk analisis logam karena ketelitiannya sampai tingkat
yang sangat kecil, tidak memerlukan pemisahan pendahuluan. Kemungkinan untuk menentukan
konsentrasi semua unsur sampai pada ppm. Sebelum pengukuran tidak selalu memisahkan unsur
yang ditentukan karena kemungkinan penentuan satu unsur dengan kehadiran unsur lain.
Penelitian ini bertujuan untuk melakukan validasi penentuan logam (Tembaga, Seng , Besi
dan Mangan) dari sampel limbah elektroplating dengan Spektofotometer Serapan Atom.

2. Metode Penelitian
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah Satu unit alat Spektrofotometer Serapan Atom, Mikropipet,
pipet volume, pipet tetes, gelas ukur, beker gelas, neraca analitik, dan labu ukur. Sedangkan bahan
yang digunakan adalah padatan Seng (II) nitrat Zn(NO
3
)
2
.9H
2
O, padatan tembaga (II) nitrat trihidrat
Cu(NO
3
)
2
.3H
2
O, HCl, Larutan standar Cu, Zn, Fe dam Mn digunakan sebagai larutan standar
kalibrasi, kertas saring whatman, HNO
3
65%, NaOH, aquades, aqua DM dan sampel limbah
industri elektroplating.

Prosedur Kerja
Pembuatan Kurva Kalibrasi Larutan Fe, Cu, Mn dan Zn
Larutan induk Fe, Cu dan Mn 1000 ppm masing-masing dipipet sebanyak 10 ml kemudian
dimasukkan dalam labu ukur 100 ml dan diencerkan dengan menambahkan larutan HNO
3
1%
hingga tanda batas, sehingga diperoleh larutan tembaga dengan konsentrasi 100 ppm. Larutan ini
kemudian dipipet sebanyak 0; 1; 5; 10; dan 20 mL kemudian dimasukkan dalam labu ukur 100 ml
dan diencerkan dengan menambahkan larutan HNO
3
1% hingga tanda batas, sehingga diperoleh
larutan tembaga dengan konsentrasi 0; 1; 5; 10; dan 20 ppm. Larutan Fe dianalisa dengan AAS
pada λ 249,3 nm, dengan tipe nyala AA (udara-asetilen), sensitivitas 0,045 ppm, range kerja 2,5 –
10 ppm dan batas deteksi 0,006 ppm. Larutan Mn dianalisa dengan AAS pada λ 279,5 nm, dengan
tipe nyala AA (udara-asetilen), sensitivitas 0,021 ppm, range kerja 1 – 4 ppm dan batas deteksi






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
0,002 ppm, lalu masing – masing dibuat kurva kalibrasi dengan mengalurkan harga absorbansi (A)
terhadap konsentrasi larutan(C).
Sedangkan pembuatan kurva kalibrasi Zn dilakukan dengan cara : larutan induk seng 1000
ppm dipipet sebanyak 10 ml kemudian dimasukkan dalam labu ukur 100 ml dan diencerkan dengan
menambahkan larutan HNO
3
1% hingga tanda batas, sehingga diperoleh larutan Seng dengan
konsentrasi 100 ppm. Larutan ini kemudian dipipet sebanyak 0; 1; 2; 3; dan 4 mL kemudian
dimasukkan dalam labu ukur 100 ml dan diencerkan dengan menambahkan larutan HNO
3
1%
hingga tanda batas, sehingga diperoleh larutan Seng dengan konsentrasi 0; 1; 2; 3 dan 4 ppm.
Selanjutnya dianalisa dengan SSA pada λ 357,9 nm, dengan tipe nyala AA (udara-asetilen), lalu
dibuat kurva kalibrasi dengan mengalurkan harga absorbansi (A) terhadap konsentrasi larutan(C).

Pengukuran konsentrasi Fe, dan Mn dalam sampel limbah industri
Sampel berupa air limbah di ambil 1 mL kemudian ditambah HNO
3
1 % 3 tetes,
dimasukkan kedalam labu ukur 100 mL kemudian diencerkan sampai tanda batas. Sampel diukur
kadar Cu, Fe dan Mn dengan menggunakan SSA.

3. Hasil dan Pembahasan
Persiapan instrumen diawali dengan pemeriksaan lampu yang terpasang pada alat AAS
dan dicatat pada nomor berapa lampu tembaga, besi mangan dan seng terpasang. Sebelum alat
AAS digunakan untuk mengukur sampel, semua kondisi harus dicek dalam keadaan benar,
misalnya gas dan udara sudah mengalir, cooling water pada burner sudah nyala, air pada drill pot
tidak boleh kosong, penampung buangan sudah terpasang, panjang gelombang sudah sesuai
untuk logam yang diukur, dll.
Analisa yang dilakukan yaitu pembuatan kurva kalibrasi dari logam tembaga, besi, mangan
dan seng serta uji linieritas untuk masing-masing logam tersebut serta uji yang lain (presisi, akurasi,
selektivitas, LOD dan LOQ).
Hasil yang sudah didapatkan dari penelitian ini yaitu berupa data hasil uji linieritas, uji
presisi, selektifitas, LOD dan LOQ untuk logam mangan, seng, besi dan tembaga.
Kurva kalibrasi dibuat dengan mengukur absorbansi dari larutan standar yang telah
diketahui konsentrasinya dengan menggunakan AAS pada λ maksimum tertentu untuk masing-
masing logam. Kemudian dengan mengalurkan nilai absorbansi terhadap konsentrasi dari larutan
standart dan berdasarkan hukum Lambert Beer akan diperoleh suatu persamaan garis lurus
melalui regresi linier. Persamaan regresi linier dari kurva kalibrasi ini yang digunakan untuk
menghitung konsentrasi logam dalam cuplikan.

Uji Linieritas
Pembuatan Kurva kalibrasi Logam Tembaga, Besi dan Mangan
Kurva kalibrasi logam tembaga (Cu) dibuat dengan mengukur absorbansi larutan standar
logam tembaga dengan konsentrasi 0, 1, 5, 10, 20 ppm yang diukur dengan AAS pada λ 324,7 nm.
Dari data yang diperoleh kemudian dibuat kurva kalibrasi dengan mengalurkan konsentrasi larutan
standar tembaga (x) terhadap absorbansinya (y), dan dapat ditentukan persamaan garis regresi
liniernya. Kurva kalibrasi logam tembaga ditunjukkan pada Gambar 1 di bawah ini.






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

Gambar 1. Kurva kalibrasi larutan standar tembaga

Kurva kalibrasi logam besi dibuat dengan mengukur absorbansi larutan standar logam besi
dengan konsentrasi 0, 1, 5, 10, 20 ppm yang diukur dengan AAS pada λ 248,3 nm. Dari data yang
diperoleh kemudian dibuat kurva kalibrasi dengan mengalurkan konsentrasi larutan standar
tembaga (x) terhadap absorbansinya (y), dan dapat ditentukan persamaan garis regresi liniernya.
Kurva kalibrasi logam besi ditunjukkan pada Gambar 2.


Gambar 2. Kurva kalibrasi larutan standar besi

Kurva kalibrasi logam mangan dibuat dengan mengukur absorbansi larutan standar logam
mangan dengan konsentrasi 0, 1, 5, 10, 20, ppm yang diukur dengan SSA pada λ 279,5 nm. Dari
data yang diperoleh kemudian dibuat kurva kalibrasi dengan mengalurkan konsentrasi larutan
standar tembaga (x) terhadap absorbansinya (y), dan dapat ditentukan persamaan garis regresi
liniernya. Kurva kalibrasi logam mangan ditunjukkan pada Gambar 3.

y = 0,0309x + 0,0021
R² = 0,9999
0
0,1
0,2
0,3
0,4
0,5
0,6
0,7
0 5 10 15 20 25
A
b
s
o
r
b
a
n
s
i
Konsentrasi Tembaga (ppm)
y = 0,0044x + 0,0002
R² = 0,9999
0
0,02
0,04
0,06
0,08
0,1
0 5 10 15 20 25
A
b
s
o
r
b
a
n
s
i
Konsentrasi Besi (ppm)






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

Gambar 3. Kurva kalibrasi larutan standar mangan

Keabsahan kurva kalibrasi diatas dapat diuji dengan menentukan harga koefisien korelasi
(R
2
) atau uji kelinieran yang menyatakan ukuran kesempurnaan hubungan antara konsentrasi
larutan standar dengan absorbansinya.
Korelasi dikatakan sempurna jika nilai R
2
mendekati +1. sedangkan nilai nol menyatakan
tidak ada korelasi antara dua variabel yang diamati. Berdasarkan Gambar 1, 2 dan 3 didapatkan
nilai R
2
untuk Logam Cu, Fe dan Mn adalah 0.999. Harga R
2
yang diperoleh mendekati +1, maka
dapat disimpulkan bahwa nilai koefisien korelasi layak artinya titik-titik pada kurva kalibrasi
mendekati garis lerengnya.

Pembuatan Kurva kalibrasi Logam Seng
Kurva kalibrasi logam seng dibuat dengan mengukur absorbansi larutan standar logam
seng dengan konsentrasi 0, 1, 2, 3, 4, ppm yang diukur dengan SSA pada λ 213,9 nm. Dari data
yang diperoleh kemudian dibuat kurva kalibrasi dengan mengalurkan konsentrasi larutan standar
tembaga (x) terhadap absorbansinya (y), dan dapat ditentukan persamaan garis regresi liniernya.
Kurva kalibrasi logam mangsengan ditunjukkan pada Gambar 4.


Gambar 4. Kurva kalibrasi larutan standar seng

y = 0,0089x - 0,0007
R² = 0,9996
0
0,05
0,1
0,15
0,2
0 5 10 15 20 25
A
b
s
o
r
b
a
n
s
i
Konsentrasi Mangan (ppm)
y = 0,0184x + 0,0018
R² = 0,996
0
0,01
0,02
0,03
0,04
0,05
0,06
0,07
0,08
0 1 2 3 4 5
A
b
s
o
r
b
a
n
s
i
Konsentrasi Seng (ppm)






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Keabsahan kurva kalibrasi diatas dapat diuji dengan menentukan harga koefisien korelasi
(R
2
) atau uji kelinieran yang menyatakan ukuran kesempurnaan hubungan antara konsentrasi
larutan standar dengan absorbansinya. Korelasi dikatakan sempurna jika nilai R
2
mendekati +1.
Sedangkan nilai nolmenyatakan tidak ada korelasi antara dua variabel yang diamati. Berdasarkan
Gambar 4. didapatkan nilai R
2
= 0.996. Harga R
2
yang diperoleh mendekati +1, maka dapat
disimpulkan bahwa nilai koefisien korelasi layak artinya titik-titik pada kurva kalibrasi mendekati
garis lerengnya.

Uji Presisi Alat AAS
Uji presisi ini mengacu kepada kesepakatan di dalam satu kelompok hasil eksperimen.
Kesepakatan ini tidak berdampak apa pun terhadap hubungannya dengan nilai yang sebenarnya.
Uji presisi ini meliputi SD (standar deviasi), RSD dan CV, dimana masing-masing uji tersebut
dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
1
) ( (
2

− ∑
=
n
X X
SD
% 100 x
X
SD
RSD =
CV = RSD x 100%
Uji presisi ini diambil dari salah satu data uji linieritas yang tepat berada pada garis linier,
sehingga untuk tiap-tiap logam berbeda-beda konsentrasi yang digunakan. Untuk logam Zn, titik
yang tepat berada pada garis linier adalah pada konsentrasi 1 ppm. Sedangkan untuk logam Mn,
Fe dan Cu, titik yang berada pada garis linier adalah pada konsentrasi 5 ppm. Data untuk masing –
masing logam ada pada Tabel 1 - 4
Tabel 1. Data Konsentrasi dan Absorbansi untuk Logam Mn
No Konsentrasi
Absorbansi
1 2 3 4 5 6 Rata-rata
1 Blanko 0.0001 0.0001 0.0001 0.0001 0.0002 0.0001 0.000117
2 1 0.0088 0.0088 0.0088 0.0088 0.0087 0.0088 0.008783
3 5 0.0442 0.044 0.044 0.0441 0.044 0.0437 0.044
4 10 0.0849 0.0851 0.0852 0.085 0.0849 0.0846 0.08495
5 20 0.1767 0.1757 0.1763 0.1766 0.1761 0.177 0.1764

Tabel 2. Data Konsentrasi dan Absorbansi untuk Logam Cu
No Konsentrasi
Absorbansi
1 2 3 4 5 6 Rata-rata
1 Blanko 0.0001 0.0001 0.0002 0.0001 0.0002 0.0002 0.00015
2 1 0.0307 0.0306 0.0307 0.0307 0.0306 0.0306 0.03065
3 5 0.16 0.1596 0.1596 0.1594 0.1585 0.1593 0.1594
4 10 0.3171 0.3178 0.3154 0.3152 0.3156 0.3157 0.316133
5 20 0.6161 0.6165 0.6138 0.6147 0.6163 0.6148 0.615367







ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Tabel 3. Data Konsentrasi dan Absorbansi untuk Logam Fe
No Konsentrasi
Absorbansi
1 2 3 4 5 6 Rata-rata
1 Blanko 0.0002 0.0002 0.0004 0.0004 0.0002 0.0003 0.000283
2 1 0.0043 0.0044 0.0042 0.0044 0.0044 0.0043 0.004333
3 5 0.023 0.0228 0.0228 0.0228 0.0229 0.023 0.022883
4 10 0.0442 0.0442 0.0441 0.0441 0.0442 0.0441 0.04415
5 20 0.0874 0.0873 0.0873 0.0875 0.0871 0.0871 0.087283

Tabel 4. Data Konsentrasi dan Absorbansi untuk Logam Zn
No Konsentrasi
Absorbansi
1 2 3 4 5 6 Rata-rata
1 Blanko 0.0003 0.0004 0.0004 0.0003 0.0004 0.0006 0.0004
2 1 0.0202 0.0202 0.0202 0.0204 0.0203 0.0203 0.020267
3 2 0.0411 0.041 0.041 0.041 0.0411 0.0412 0.041067
4 3 0.0588 0.0591 0.0588 0.0587 0.0587 0.0588 0.058817
5 4 0.0734 0.0735 0.0735 0.0733 0.0732 0.0735 0.0734

Data pada Tabel 1 – 4 adalah berbagai konsentrasi standar logam Mn, Cu, Fe dan Zn yang
diukur sebanyak enam kali. Konsentrasi yang digunakan untuk menghitung uji presisi alat adalah
pada data dicetak tebal. Dari hasil perhitungan didapatkan nilai SD untuk logam Mn, Cu, Fe dan Zn
berturut – turut adalah 0,0112; 9,1 x10
-3
; 0.0224; dan 3.01 x 10
-3
. Nilai RSD untuk logam Mn, Cu,
Fe dan Zn berturut – turut adalah 2,03 x10
-3
; 1,73 x 10
-
3; 0.00392 2.82 x 10
-3
. Sedangkan Nilai CV
untuk logam Mn, Cu, Fe dan Zn berturut – turut adalah 0,203 % ; 0,173 % 0,392 % dan 0,282 %.
Nilai CV (%) untuk presisi single operator dan rekomendasi range untuk metode AAS
langsung dan ekstraksi logam, std method 21
st
ed AWWA, APHA 3111B) adalah 2,9. CV (%) baik
bila memenuhi syarat yaitu CV (%) percobaan ≤ CV (%) metode standart. Semua data diatas
(logam Mn, Fe, Cu dan Zn) menunjukkan nilai CV (%) ≤ 2,9.s

Uji Sensitivitas Alat AAS
Kepekaan (S) adalah konsentrasi analit yang memberikan nilai absorbansi = 0,0044
ekivalent dengan 1 % T (transmitansi). Kepekaan dapat dihitung dengan persamaan sebagai
berikut :
S = 0,0044 (C1/A1)
Dimana:
C1 : Konsentrasi analit dalam larutan kalibrasi
A1 : Absorbansi rata-rata larutan kalibrasi C1
Data untuk perhitungan uji sensitivitas untuk tiap logam terdapat pada Tabel 4.5 – 4.8.
Dari hasil perhitungan nilai sensitivitas untuk logam Mn, Cu, Fe dan Zn berturut – turut adalah
0,4993 ; 0,1379 ; 0,9624 dan 0,217.
Uji sensitivitas alat memenuhi syarat bila sensitivitas percobaan ≤ 1,25 sensitivitas alat.






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

Limit Deteksi.
Larutan blanko yang digunakan adalah larutan blanko yang yang telah dispike menjadi
larutan yang mengandung konsentrasi logam sebesar 0,001mg/L. Data untuk tiap logam terdapat
pada Tabel 4.5 -4.8 yang ada tulisan blanko.
Limit deteksi ada 2, yaitu LOD (batas deteksi) dan LOQ (batas kuantitasi). LOD dan LOQ dapat
dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
LOD =
SI
x Sy / 3
dan LOQ =
SI
x Sy / 10

Dimana :
Sy/x = simpangan baku respon analitik dari blanko
SI = arah garis linear (kepekaan arah) dari kurva antara respon terhadap konsentrasi = slope (b
pada persamaan garis y = a + bx)
Dari hasil perhitungan didapatkan nilai LOD dan LOQ untuk logam Mn, Fe, Cu dan Zn berturut
– turut adalah 0,0168 dan 0,0559 mg/L ; 0,067 dan 0,2235 mg/L; 5,48 x 10
-3
dan 0,0183 mg/L;
4,08 x 10
-3
dan 0,0136 mg/L.

Hasil uji presisi, sensitivitas, batas deteksi dan batas kuantitasi, secara ringkas disajikan dalam
Tabel 4.9.

Tabel 4.9. Rangkuman Data Uji Validasi Metode AAS Untuk
Semua Logam Uji
Mn Fe Cu Zn
RSD 2.03 x 10
-3
0.00392 1.73 x 10
-3
2.82 x 10
-3

CV 0.203 0.3919 0.173 0.282
S 0.4993 0.9624 0.1379 0.217
LOD 0.0168 0.067 5.48 x 10
-3
4.08 x 10
-3

LOQ 0.0559 0.2235 0.0183 0.0136

Hasil pengukuran kadar logam Fe, Mn, Cu dan Zn dalam limbah
Elektroplating
Nilai absorbansi yang didapat dari pengukuran dengan AAS untuk keempat logam (Fe, Mn,
Cu dan Zn) yang di ukur dimasukkan kedalam persamaan regresi linier sehingga didapatkan
konsentrasi logam tersebut dalam limbah elektroplating. Nilai konsentrasi logam Fe, Mn, Cu dan Zn
dalam sampel limbah elektroplating berturut – turut adalah 4,22 ; 0,7275 ; 0,8563 dan 1,033 ppm.

4.Kesimpulan
Hasil Validasi metode AAS untuk penentuan logam Cu, Zn, Fe, dan Mn diperoleh uji
linearitas memberikan nilai R
2
masing-masing adalah 0,999; 0,996; 0,999 dan 0,999. Nilai presisi
untuk logam tersebut berturut-turut adalah , 0,1594; 0,020267; 0,0228 dan 0,044 dan
sensitivitasnya berturut-turut 0,1379; 0,217; 0,9624 dan 0,4993. Sedangkan nilai LOD nya adalah
5,48x10
-3
; 4,08x10
-3
; 0,067 dan 0,0168 dan nilai LOQ nya adalah 0,0183; 0,0136; 0,2235 dan
0,0559. Konsentrasi logam Fe, Mn, Cu dan Zn dalam sampel limbah elektroplating berturut – turut
adalah 4,22 ; 0,7275 ; 0,8563 dan 1,033 ppm.






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

Ucapan Terimakasih
Dengan tersusunnya makalah ini, penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada
pemberi dana dari Program Penelitian Produktif Tahun Anggaran 2010, Jurusan Kimia FMIPA dan
Laboratorium Research Center ITS.

Daftar Pustaka

ASTM E 66386 (Reapproved 1991), Standard Practice For Flame AtomicAbsorption Analysis,
1991.
ASTM E 181296,Optimation of Flame Atomic Absorption Spectrometric Equipment, 1996.
ASTM E1024 and E1330, 1992
Harmita, (2004), “Petunjuk Pelaksanaan Validasi Metode dan Cara Perhitungannya”, Majalah Ilmu
Kefarmasian, Vol. 1, No. 3, hal. 117-135.
Khopkar, S. M., (1984), “Konsep Dasar Kimia Analitik”, Analytical Chemistry Laboratories,
Department of Chemistry, Indian Institute of Technology, Bombay.
Samin, (2006), “Jaminan Mutu Metode FAAS dan UVVIS untuk Penentuan Unsur – Unsur
dalam Air Tangki Reaktor” Sminar Keselamatan Nuklir 2 – 3 Agustus 2006, Pusat
Teknologi Akselerator dan Proses Bahan, BATAN Yogyakarta.
Ebdon L., (1982), “An Introduction to Atomic Absorption Spectroscopy”, Heyden and Son,
London
Underwood A. L., (1994), “Analisis kimia Kuantitatif “, Erlangga, Jakarta
Vogel, (1990), “Analisis Anorganik Kualitatif Mikro dan Semimikro”, Bagian 1, Edisi kelima,
PT Kalman media pustaka, Jakarta


























ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
STUDI KOMPARATIF KURVA BREAK THROUGH
PEMISAHAN ION Cu
2+
DAN Ni
2+
DARI LARUTAN DENGAN
PELET KOMPOSIT CANGKANG KUPANG – KHITOSAN
TERIKATSILANG DALAM UP FLOW FIXED BED
COLUMN
**

Eko Santoso
*
, Hendro Juwono, Diah Dwi Jayanti, dan Rulina Rachmawati
Laboratorium Kimia Fisika dan Polimer, Kimia FMIPA
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Abstrak

Ion Cu
2+
dan Ni
2+
secara independen telah dipisahkan dari larutan pada pH optimum
dengan pelet komposit cangkang kupang – khitosan terikatsilang dalam up flow fixed bed
column. Pelet komposit dibuat dengan variasi komposisi, masing-masing mengandung 93,75%,
95,24%, dan 96,15%(w/w) cangkang kupang. Proses ikatsilang khitosan dilakukan
menggunakan gluteraldehid sebagai agen pengikatsilang. Proses pemisahan ion logam
dilakukan dengan mengalirkan larutan yang mengadung ion logam ke dalam kolom yang berisi
pelet kompsit dengan ukuran bed tertentu (fixed bed column) dengan variasi laju 1,5 mL/menit,
2,0 mL/menit, dan 2,5 mL/menit. Hasil menunjukkan bahwa pada seluruh variasi laju alir, ion
Ni
2*
lebih cepat mengalami break through dibandingkan ion Cu
2+
. Waktu break through kedua
logam semakin menurun dengan meningkatnya laju alir larutan dan dengan meningkatnya
kadar cangkang kupang dalam pelet komposit. Fakta ini menunjukkan bahwa agen aktif
pemisahan ion logam dalam komposit didominasi oleh khitosan. Secara kinetik, ion Cu
2+

bersifat lebih reaktif terikat pada pelet komposit dibandingkan dengan ion Ni
2+
dan reaktifitas
kedua logam terikat pada pelet komposit menurun dengan menigkatnya laju alir larutan ke
dalam kolom.

Kata kunci : komposit, cangkang kupang, khitosan, ion Cu
2+
, ion Ni
2+
, dan break through.

1. Pendahuluan
Air limbah dari perindustrian dan pertambangan merupakan sumber utama polutan logam
berat. Logam berat dapat membahayakaan bagi kesehatan manusia jika konsentrasinya melebihi
batas ambang yang diijinkan. Meskipun konsentrasinya belum melebihi batas ambang, keberadaan
logam berat tetap memiliki potensi yang berbahaya untuk jangka waktu yang panjang karena logam
berat telah diketahui bersifat akumulatif dalam sistem biologis. Oleh karena itu, saat ini lembaga-
lembaga pemerintahan juga memberikan perhatian yang serius dan membuat aturan yang ketat
terhadap pengolahan air limbah industri sebelum dibuang ke perairan terbuka [Quek et al., 1998].
Berbagai macam teknologi pemisahan logam-logam berat dan beracun dari air limbah telah
dikembangkan, seperti metoda pengendapan kimia, oksidasi-reduksi, filtrasi mekanik, penukar ion,
pemisahan membrane, dan adsorpsi dengan karbon. Namun, berbagai teknologi tersebut
mempunyai beberapa kendala, yakni disamping biayanya mahal seringkali juga membutuhkan
perlakuan-perlakuan khusus. Oleh karena itu, berbagai penelitian telah dilakukan untuk mencari
metoda atau teknologi alternatif untuk memisahkan logam-logam berat dan beracun dari air limbah
yang lebih baik dengan biaya yang lebih ekonomis.
Salah satu usaha untuk mengatasi persoalan polutan logam berat dalam air limbah yang
sekarang banyak diteliti adalah mencari biosorben alami yang melimpah dan murah [Babel and
Kurniawan, 2003]. Teknik adsorpsi mempunyai keunggulan dibandingkan teknik pengendapan
karena teknik adsorpsi mampu memisahkan logam berat dalam air limbah meskipun konsentrasi
logam berat dalam air limbah sangat rendah hingga kurang dari 1,00 ppm. Sedangkan teknik






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
pengendapan membutuhkan konsentrasi logam berat yang cukup tinggi dan senantiasa masih
menyisakan logam berat dengan konsentrasi tertentu yang tidak mungkin dihilangkan dengan
teknik pengendapan [Schmul et al, 2001]. Biosorben yang melimpah dan murah dapat menjadikan
proses pengolahan air limbah menjadi murah karena setelah proses adsorpsi tak perlu dilakukan
regenerasi sebagaimana penggunaan karbon aktif dan resin sintetik yang mahal, mengingat proses
regenerasi juga membutuhkan biaya [Ozcan and Ozcan, 2005].
Kupang beras atau kupang putih (Tellina sp) merupakan binatang moluska dari jenis kerang-
kerang bercangkang ganda (bivalve) yang sudah tidak asing bagi masyarakat. Bagi masyarakat
Jawa Timur, khususnya daerah Surabaya, Sidoarjo dan sekitarnya, binatang ini sudah tidak asing
lagi karena daging binatang ini biasa dimasak dan dimakan bersama lontong, yang terkenal dengan
nama "Lontong Kupang". Ketika daging binatang ini dimasak maka cangkang atau kulit luar
binatang biasanya hanya dibuang sebagai limbah. Meskipun tidak ada data kuantitatif yang tertulis,
jumlah limbah cangkang kupang yang dihasilkan pasti sangat besar karena "Lontong Kupang"
adalah makanan yang setiap hari dijual di warung makanan. Dalam situs pemprov jatim
diungkapkan bahwa Sidoarjo mampu memproduksi kupang 10 ton per hari [d-infokom-jatim, 2007].
Mengingat jumlah kupang yang dihasilkan per hari sangat besar tentu jumlah limbah cangkang
kupang yang dihasilkan juga sangat besar. Namun demikian, pemanfaatan limbah cangkang
kupang beras ini belum tampak kecuali hanya untuk pengeras jalan yang berlumpur di daerah
perkampungan bekas persawahan.
Pada tahun 2008, peneliti dan dibantu seorang mahasiswa telah melakukan kajian
pendahuluan tentang pemanfaatan serbuk cangkang kupang sebagai bisorben bagi logam
tembaga dalam air limbah dan hasilnya menunjukkan bahwa serbuk cangkang kupang cukup layak
sebagai bisorben bagi logam tembaga karena kapsitas adsorpsi lebih tinggi dibandingkan beberapa
biosorben lain seperti serbuk gergaji (sawdusk), tongkol jagung, abu terbang (fly ash), clipnotilolite
zeolite, dan charbazite zeolite. Namun kapasitas adsorpsi serbuk cangkang kupang terhadap
logam tembaga masih lebih rendah dibandingkan dengan karbon aktif dan khitosan. [Santoso,
2008]. Pada tahun 2009, peneliti telah melanjutkan penelitiannya dimana serbuk cangkang kupang
dibuat komposit bisorben dengan menggunakan khitosan terikatsilang sebagai polimer pengikat
serbuk cangkang kupang dan digunakan sebagai biosorben untuk menghilangkan ion logam dalam
larutan dengan metoda “batch”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya khitosan yang
berfungsi sebagai pengikat serbuk cangkang kupang dalam komposit dapat meningkatkan
kapasitas adsorpsi (kemampuan mengikat) logam berat yang lebih baik dibandingkan serbuk
cangkang kupang murni [Santoso, dkk., 2009].
Pada penelitian ini , telah dikaji secara komparatif adsorpsi ion logam Cu
2+
dan ion Ni
2+
oleh
pelet komposit serbuk cangkang kupang – khitosan terikatsilang dengan metoda “up flow fixed bed
column”.

2. Metodologi
Preparasi adsorben dilakukan dengan melarutkan 1,0 gram khitosan dengan larutan asam
asetat 2% sebanyak 100 ml dan diaduk sampai larut sambil dipananskan. Khitosan yang sudah
larut diangkat dari hotplate dan dibiarkan di ruangan terbuka hingga temperaturnya turun sama
dengan suhu kamar. Kemudian, larutan khitosan diambil sebanyak 20 ml, dituangkan ke dalam
beker gelas dan di tambahkan erbuk cangkang kupang sebanyak 3,0 gram. Campuran serbuk
cangkang kupang dan larutan khitosan diaduk menggunakan stirer magnetik, kemudian diambil
dengan pipet tetes dan diteteskan ke dalam larutan NaOH 2N. Pelet komposit serbuk cangkang
kupang khitosan yang terbentuk dipisahkan dari larutan NaOH 2N dengan kertas saring, kemudian
direndam dalam larutan glurtaraldehid 0,2 % selama 24 jam sehingga terbentuk pelet komposit
serbuk cangkang kupang – khitosan terikatsilang. Kemudian, pelet komposit yang telah
terikatsilang dipisahkan dari larutan gluteraldehid 2% dengan kertas saring, dicuci dengan akuades
hingga pH netral dan dikeringkan dengan oven. Pelet ini disebut pelet biosorben A (PB-A).
Perlakuan ini diulangi dengan penambahan serbuk kupang sebanyak 4 gram untuk memperoleh
pelet biosorben B (PB-B) dan dengan penambahan serbuk cangkang kupang sebanyak 5 gram
untuk memperoleh pelet biosorben C (PB-C).






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Larutan mengandung ion logam 100 ppm dialirkan secara kontimu kedalam kolom yang
berisi pelet sejumlah tertentu biosorben dengan laju alir bervariasi, yaitu 1,5 mL/menit, 2,0
mL/menit, dan 2,5 mL/menit. pH larutan ion logam yang akan dialiirkan ke dalam kolom diatur pada
nilai tertentu yang menghasilkan adosprsi maksimum [Santoso, dkk., 2009]. 20 mL pertama dari
cairan efluen yang keluar dari kolom, dianggap waktu proses pengolahan ke nol (t=0), diukur kadar
logamnya dengan spektroskopi serapan atom (SSA) dan diukur nilai pHnya.. 20 mL kedua dari
efluen dukur kadar logam dan pHnya pada 15 jam berikutnya, dianggap t=15 dari proses
pengolahan. Pengukuran kadar logam dan pH dari efluen selanjutnya dilakukan setiap 15 jam.
Seluruh proses ini dilakukan pada suhu kamar.

3. Hasil dan Pembahasan
Kadar logam dalam efluen yang diukur pada waktu tertentu di sebut Ct dan kadar logam
dalam larutan awal 100 ppm disebut Co. Perbandingan antara Ct/Co diplot versus waktu proses t
menghasilkan sebuah kurva yang disebut sebagai kurva “break through” atau kurva “penerobosan”.
Kurva “break through” dari proses pemisahan ion logam Cu
2+
dan ion Ni
2+
pada berbagai laju alir
dan komposisi ditunjukkan pada Gambar 1 sampai Gambar 3 untuk pemisahan menggunakan
bisorsen PB-A dengan laju alir 1,5; 2,0; dan 2,5 mL/menit secara berurutan, pada Gambar 4
sampai Gambar 6 untuk pemisahan menggunakan biosorben PB-B dengan laju alir1,5; 2,0; dan 2,5
mL/menit secara berurutan, dan pada Gambar 7 sampai Gambar 9 untuk pemisahan menggunakan
biosorben PB-C dengan laju alir 1,5; 2,0; dan 2,5 mL/menit secara berurutan.


Gambar 1 Gambar 2


Gambar 3 Gambar 4


0
0,2
0,4
0,6
0,8
1
1,2
0 100 200 300 400
C
t
/
C
o
t (jam)
Cu
Ni
0
0,2
0,4
0,6
0,8
1
1,2
0 100 200 300 400
C
t
/
C
o
t (jam)
Cu
Ni
0
0,2
0,4
0,6
0,8
1
1,2
0 100 200 300 400
C
t
/
C
o
t (jam)
Cu
Ni
0
0,2
0,4
0,6
0,8
1
1,2
0 100 200 300 400
C
t
/
C
o
t (jam)
Cu
Ni






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

Gambar 5 Gambar 6


Gambar 7 Gambar 8


Gambar 9
Pada Gambar 1 sampai Gambar 9 tampak bahwa pola kurva “break through” proses
pemisahan ion logam Cu
2+
berbeda dengan dengan ion logam Ni
2+.
Pada seluruh variasi laju alir
dan komposisi pelet biosorben, tampak bahwa pada laju alir dan komposisi tertentu dari pelet
biosorben maka nilai waktu “break through” (t
B
) dan waktu “exhausted” (t
E
) dari ion logam Cu
2+
lebih
besar dari ion logam Ni
2+
. Hal ini menunjukkan bahwa ion logam Cu
2+
lebih sulit menerobos
halangan kolom biosorben dan membutuhkan waktu lebih lama untuk menjenuhkan kolom
dibandingkan dengan ion logam Ni
2+
. Artinjya, interaksi antara gugus aktif (gugus amina) dari
khitosan dalam biosorben dengan ion logam Cu
2+
adalah lebih kuat dibandingkan dengan ion
logam Ni
2+
. Fakta ini dapat dikaitkan dengan ukuran ion dimana ukuran jari-jari ion Ni
2+
adalah 0,69
angstrom dan jari-jari ion Cu
2+
adalah 0,73 angstrom [Lide, 1989]. Jadi, ukuran ion Ni
2+
adalah lebih
kecil dibandingkangkan dengan ukuran ion Cu
2+
. Boleh jadi, ion logam Cu
2+
mempunyai ukuran
diameter yang tepat dengan rongga yang disediakan oleh ligan pengikatnya, jika usulan ikatan
antara ion logam dengan gugus aktif dalam khitosan ditunjukkan pada Gambar 10 [Schmuhl, 2001;
Kalyani et al, 2005; Verbych et al, 2005]. Ukuran rongga yang disediakan oleh ligan untuk ion
logam adalah sudah tertentu dan bersifat kaku karena terletak di dalam biosorben padat yang
bersifat kaku. Oleh karena itu, jika ukuran ion Ni
2+
terlalu kecil untuk menempati rongga tersebut
0
0,2
0,4
0,6
0,8
1
1,2
0 100 200 300
C
t
/
C
o
t (jam)
Cu
Ni
0
0,2
0,4
0,6
0,8
1
1,2
0 100 200 300
C
t
/
C
o
t (jam)
Cu
Ni
0
0,2
0,4
0,6
0,8
1
1,2
0 100 200 300
C
t
/
C
o
t (jam)
Cu
Ni
0
0,2
0,4
0,6
0,8
1
1,2
0 50 100 150 200
C
t
/
C
o
t (jam)
Cu
0
0,2
0,4
0,6
0,8
1
1,2
0 50 100 150 200
C
t
/
C
o
t (jam)
Cu
Ni






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
maka ikatan menjadi agak longgar dan lemah, sehingga ion Ni
2+
mudah lepas dan menerobos
rongga tersebut bersama aliran larutan melewati kolom. Pada laju alir 2,0 mL/menit dan 2,5
mL/menit, ion Ni
2+
pada waktu nol menit sudah terdeteksi dalam efluen. Artinya, pada tetesan
efluen yang pertama sudah mampu menerobos halangan kolom biosorben. Jadi pada laju alir 2,0
dan 2,5 mL/menit, waktu “break through” ion Ni
2+
adalah nol. Nilai waktu “break through” (t
B
) hanya
terdeteksi (lebih besar dari nol) pada laju alir 1,5 mL/menit dan kemungkinan akan lebih besar lagi
ketika laju alir diturunkan kurang dari 1,5 mL/menit. Untuk ion logam Cu
2+
, pada semua variasi laju
alir dan komposisi biosorben masih mempunyai waktu “break through” yang tertentu.

Gambar 10
Perubahan pH efuen selama proses pemisahan ion logam Cu
2+
oleh kolom bisosorben
dengan laju alir 1,5; 2,0; dan 2,5 mL/menit ditunjukkan pada Gambar 11 sampai dengan Gambar
13 secara berurutan dan untuk pemisahan ion logam Ni
2+
dengan laju alir 1,5; 2,0; dan 2,5
mL/menit ditunjukkan pada Gambar 14 sampai Gambar 16 secara berurutan.


Gambar 11 Gambar 12


Gambar 13 Gambar 14
0
2
4
6
8
10
12
0 100 200 300 400
p
H
-
e
f
l
u
e
n
t (jam)
PB-A
PB-B
PB-C
0
2
4
6
8
10
0 100 200 300 400
p
H
-
e
f
l
u
e
n
t (jam)
PB-A
PB-B
PB-C
0
2
4
6
8
10
12
0 50 100 150 200 250 300
p
H
-
e
f
l
u
e
n
t (jam)
PB-A
PB-B
PB-C
0
2
4
6
8
10
0 50 100 150 200 250 300 350
p
H
-
e
f
l
u
e
n
t (jam)
PB-A
PB-B
PB-C






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

Gambar 15 Gambar 16

pH awal dari larutan yang mengandung ion Cu
2+
dan ion Ni
2+
masing-masing sebelum masuk kolom
biosorben adalan diatur 4 karena pada pH 4 kemampuan biosorben mengikat kedua ion logam
mencapai nilai maksimum [Santoso, dkk., 2009]. Dari Gambar 11 sampai 16 tampak bahwa pH
efluen yang dihasilkan dari proses pemisahan ion logam Cu
2+
berkisar pada pH 6 dan pH efluen
hasil pemisahan ion logam Ni
2+
berkisar pada pH 7. Hal ini menunjukkan bahwa selama proses
pemisahan kedua ion logam telah terjadi reaksi kimiawi yang mengubah nilai pH dari pH 4 (pH awal
larutan ion logam sebelum masuk kolom biosorben) menjadi 6 atau 7 (pH efluen yang keluar dari
kolom biosorben). Reaksi tersebut kemungkinan adalah ada 2 macam, yaitu reaksi antara gugus
aktif dalam khitosan dengan ion logam yang merupakan reaksi pertukaran ion dan menghasilkan
ion H
+
dan reaksi antara ion H
+
dengan CaCO
3
dalam cangkang kupang menghasilkan H
2
O dan
gas CO
2
yang menghasilkan pH netral. Reaksi tersebut dapat ditulis sebagai berikut :
Khitosan (s) + M
2+
(aq) Khitosan-M (s) + 2H
+
(aq)
2H
+
(aq) + CaCO
3
(s) Ca
2+
(aq) + H
2
O (l) + CO
2
(g)
Efluen dengan pH netral adalah adalah salah satu persyaratan agar efluen hasil pengolahan limbah
cair dapat dibuang ke perairan bebas atau untuk dimanfaatkan kembali [Ahuja, 2009].
Hasil pengolahan data kurva “break through” pada Gambar 1 sampai Gambar 9 dengan
model kinetika Thomas [Planas, 2002] menghasilkan nilai kapasitas adsorpsi pelet biosorben pada
ion logam Cu
2+
dan ion Ni
2+
, yang ditunjukkan pada Tabel 1.
Tabel 1. Nilai kapasitas adsorpsi (Q
0
) pelet biosorben pada ion logam dengan pendekatan
model kinetika Thomas.
Jenis Biosorben
Laju
(mL/mnt)
Q
0
-ion Ni
2+

(mg/g)
Q
o
-ion Cu
2*

(mg/g)
PB-A (93,75%-serbuk cangkang
kupang)
1,5 390,30 642,92
2,0 177,27 649,96
2,5 162,28 689,66
PB-B (95,24%-serbuk cangkang
kupang)
1,5 337,96 451,30
2,0 144.93 584,08
2,5 135.49 624,57
PB-C (96,15%-serbuk cangkang
kupang)
1,5 247,86 325,74
2,0 127.73 352,92
2,5 118.58 443,95

Pada semua variasi komposisi dan laju alir, pelet biosorben mempunyai nilai kapasitas
adsorpsi pada ion Cu
2+
lebih besar dibandingkan pada ion Ni
2+
. Hal ini menunjukkan bahwa
reaksitifitas ion Cu
2+
pada pelet biosorben adalah lebih besar dibandingkan ion Ni
2+
. Kenaikan
kadar serbuk cangkang kupang menurunkan nilai kapasitas adsorpsi pelet biosorben pada kedua
jenis ion logam.

0
2
4
6
8
10
0 50 100 150 200 250 300
p
H
-
e
f
l
u
e
n
t (jam)
PB-A
PB-B
PB-C
0
2
4
6
8
10
0 50 100 150 200 250
p
H
-
e
f
l
u
e
n
t (jam)
PB-A
PB-B
PB-C






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
4. Kesimpulan
Gugus aktif dalam khitosan mempunyai peranan penting dalam menetukan nilai kapasitas
adsorpsi pelet biosorben pada kedua jenis ion logam karena semakin besar kadar khitosan dalam
pelet biosorben semakin besar nilai kapasitas dan waktu “break through”. Waktu “break throug” dan
nilai kapasitas adsorpsi pelet biosorben pada ion Cu
2+
adalah lebih besar dibandingkan pada ion
Ni
2+
. Dengan demikian reaktifitas ion Cu
2+
adalah lebih besar dibandingkan ion Ni
2+
.

Ucapan Terimakasih

Peneliti mengucapkan banyak terimakasih pada semua pihak atas terselesaikannya
penelitisn ini, khususnya Program Hibah PHKI yang telah memberikan dana.

Daftar Pustaka

Babel, S. and Kurniawan, T.A., 2003, “Low-cost adsorbent for heavy metals uptake from
contaminated water : a review”, J. Hazardous Mat., B97, 219-2433.
Kalyani et al, 2005, “Removal of copper and nickel from aqeous solutions using chitosan coated on
perlite as biosorbent”, Separation Science and Technology, 40, pp. 1483–1495.
Lide, D.R., ed., 1989, “CRC Handbook of Chemistry and Physics, 89th Edition (Internet Version
2009), CRC Press/Taylor and Francis, Boca Raton, FL.
Ozcan, A. and Ozcan, A.S., 2005, “Adsorption of Acid Red 57 from aqueous solutions onto
surfactant – modified spiolite”, J. Hazardous Mat., B125, pp. 252-259.
Planas, M.R., 2002, “Development of technique based on natural polymers for the recovery
precious metals”, Tesi Doctoral, Departament d’Enginyeria Quimica, Universitat
Politecnica de Catalunya.
Quek, SY., Wase, DAJ., and Forster, CF., 1998, “The use of sago waste for the sorption of lead and
copper”, Water SA, Vol. 24, No. 3, pp. 251-256.
Santoso, E., 2008, “Studi pemanfaatan cangkang kupang beras (Tellina sp) sebagai biosorben
logam tembaga dalam air limbah sintetik dengan sistem adsorpsi dinamik pada kolom
katil tetap (fixed bed colomn), Laporan Penelitian Produktif, Institut Tekonologi Sepuluh
Nopember, Surabaya.
Santoso, E, dan Isti’anah, S., 2009, “Studi pemanfaatan cangkang kupang beras (Tellina sp)
sebagai biosorben untuk mengolah air limbah yang mengandung ion tembaga (II)”, Jurnal
Purifikasi, Vol. 10, No.1, hal. 39-48.
Santoso, E., Juwono, H., Habibi, M., Dwi PW, V., Asih. E., Saputra, F.W., 2009, “Pemanfaatan
limbah cangkang kupang untuk pembuatan komposit cangkang kupang – khitosan
terikatsilang sebagai biosorben murah bagi logam berat dari air limbah”, Laporan
Penelitian Hibah PHKI Tema B, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Schmuhl, R., Krieg, H.M., and Keizer, K., 2001, “Adsorption of Cu(II) and Cr(VI) ions by Chitosan :
Kinetics and Equilibrium Studies”, Water SA, Vol. 27, No. 1, pp. 79–86.
Verbych, S., Bryk, M., and Chornokur, G., 2005, “Removal of Copper(II) from Aqueous Solutions by
Chitosan Adsorption”, Separation Science and Technology, 40, pp. 1749–1759.













ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

SINTESIS KATALIS Sn BERPENDUKUNG ZEOLIT NaY
DARI SEKAM PADI UNTUK REAKSI DENITRIFIKASI
DENGAN HASIL AMMONIUM

Netty Kartika Sari dan Irmina Kris Murwani*
Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
*Email: irmina@chem.its.ac.id

Abstrak
Pada penelitian ini dicoba untuk mengurangi konsentrasi nitrat dengan cara denitrifikasi
NO
x
dengan bantuan katalis Sn berpendukung zeolit NaY dari sekam padi. Penelitian ini diawali
dengan sintesis zeolit NaY. Kemudian dilakukan loading logam Sn pada zeolit NaY. Katalis yang
dihasilkan adalah zeolit NaY dan katalis logam tunggal Sn berpendukung NaY. Katalis yang
diperoleh dikarakterisasi dengan menggunakan XRD dan FTIR untuk mengetahui strukturnya.
Katalis tersebut diuji katalitik melalui reaksi denitrifikasi dengan cara mereaksikan nitrat dengan
katalis dibawah kondisi aliran gas hidrogen. Produk berupa amonium dianalisis dengan
spektroskopi UV-Vis.
Kata Kunci : Denitrifikasi, katalis Sn, zeolit NaY

1. Pendahuluan
Konsentrasi nitrat di dalam tanah, khususnya di dalam air tanah dan air permukaan, selama
beberapa tahun ini semakin bertambah di seluruh dunia. Senyawa ini menyebabkan eutrofikasi laut
dan sungai. Konsentrasi nitrat pada air minum sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh manusia
karena dapat menimbulkan methemoglobinemia atau sindrom bayi biru yaitu penyakit yang
menyerang darah anak-anak karena kapasitas pembawa oksigen pada darah diinterferensi oleh
nitrat (EPA, 1995). Beberapa penelitian juga melaporkan bahwa senyawa N-nitroso berpotensi
karsinogenik, yang dihasilkan reaksi nitrat dengan amina atau amida (Canter, 1997).
Pada penelitian ini dicoba untuk mengurangi konsentrasi nitrat dengan cara denitrifikasi
NO
x
dengan bantuan katalis Sn berpendukung zeolit NaY dari sekam padi. Logam Sn berperan
sebagai logam promotor diharapkan dapat meningkatkan selektivitas katalis dalam reduksi.

2. Metodologi
Preparasi SiO
2

Pada penelitian ini akan diperoleh SiO
2
dari sekam padi melalui beberapa tahap. Mula-
mula sekam padi dioven pada suhu 600
o
C selama 4 jam. Dari proses pengovenan akan dihasilkan
abu berwarna putih. Selanjutnya abu dicuci dengan HCl 1M secara berulangkali dan dibilas
dengan akuades lalu disaring menggunakan corong buchner. Setelah didapatkan residu dan filtrat,
residu kemudian dikeringkan.
Preparasi, Aktivasi dan Karakterisasi Zeolit NaY
Katalis zeolit NaY dibuat dari bahan dasar SiO
2
, natrium aluminat, natrium hidroksida dan
akuades. Mula-mula natrium hidroksida dicampur dengan akuades membentuk larutan NaOH.
Selanjutnya larutan NaOH tersebut dibagi menjadi dua bagian. Larutan NaOH pertama
ditambahkan natrium aluminat membentuk campuran A, sedangkan larutan NaOH kedua
ditambahkan SiO
2
membentuk campuran B. Masing-masing campuran diaduk 2 jam, kemudian
kedua campuran digabungkan dengan tetap diaduk membentuk campuran A-B. Campuran






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
A-B dimasukan ke dalam 38tirrer dan dioven pada suhu 100°C selama 6 jam, kemudian
disaring hingga didapatkan residu dan filtrat. Selanjutnya residu dicuci dengan akuades hingga
netral dan dioven pada temperatur 100
o
C selama 24 jam. NaY yang terbentuk kemudian
dikarakterisasi strukturnya menggunakan difraktometer sinar-X dan FT-IR.
Preparasi Katalis Sn Berpendukung NaY
Katalis Sn berpendukung diperoleh dengan metoda presipitasi. Awalnya padatan
pendukung dimasukkan dalam larutan SnCl
2
⋅2H
2
O (Sn=1,25%). Kemudian ditambahkan larutan
NH
4
OH 1N hingga terbentuk endapan. Selanjutnya endapan disaring dan dicuci dengan akuades.
Kemudian padatan dikeringkan dan dikalsinasi pada suhu 450°C selama 4 jam. Aktivasi katalis
melalui kalsinasi 450
o
C dengan dialiri gas H
2
selama 2 jam (Prϋsse dan Vorlop, 2001).
Uji Katalisis pada Reaksi Denitrifikasi
Hasil preparasi katalis diuji sifat katalisisnya dengan cara melihat aktivitasnya dalam
reaksi denitrifikasi. Katalis dimasukkan dalam 38tirrer labu leher tiga dan dijenuhkan dengan H
2

selama 1 jam. Kalium nitrat dimasukkan dalam labu leher tiga dan distirer selama 15 menit
pada suhu ruang sambil dialiri H
2
dengan laju alir 60 mL/menit. Produk yang berupa gas
dianalisis menggunakan Kromatografi Gas dengan detektor TCD dan produk yang berupa
larutan dianalisis dengan spektrofotometer UV-Vis.

Gambar 1. Eksperimen set up, skema penggambaran reaktor untuk reaksi denitrifikasi. (1). Gas
inlet, (2) Pemanas, (3) Gas keluar, (4) Termometer, (5) Labu leher tiga, (6)
Magnetik stirrer
3. Hasil dan Pembahasan
Karakterisasi Logam Sn Berpendukung NaY Dengan Menggunakan XRD

Gambar 2. Difraktogram Zeolit NaY (merah) dan Sn/NaY (biru)






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Difraktogram Sn/NaY terlihat pada Gambar 2. Pada Gambar 2. Terlihat difraktogram yang
mirip antara Sn/NaY dan zeolit NaY. Terdapat sedikit perbedaan jika difraktogram Sn/NaY
dibandingkan dengan zeolit NaY, terdapat puncak – puncak baru yang merupakan puncak-puncak
khas Sn yaitu pada daerah 2θ = 44,91 dan 55,34 (tanda ) sesuai dengan database PDF 86-
2265. Puncak-puncak khas zeolit NaY juga masih jelas terlihat dalam difraktogram Sn/NaY, yaitu
berada pada daerah 2θ = 6,10, 12, 15, 23, 26 dan 31°. Adanya puncak-punc ak khas dari bahan-
bahan awal penyusun padatan Sn/NaY menunjukkan bahwa proses presipitasi menurunkan
kristalinitas pendukung karena adanya logam Sn yang terdispersi pada permukaan pendukung,
namun struktur utama tetap ada (Huang dkk., 2008).
Jika membandingkan pola difraksi Sn/NaY dengan Sn murni, terlihat adanya puncak-
puncak karakteristik dari logam Sn, namun intensitas puncak khas logam Sn pada difraktogram
Sn/NaY terlihat jauh lebih rendah dari pada difraktogram Sn murni. Sehingga beberapa puncak
khas Sn pada 2θ = 30,64; 32,02; 43,88 tidak tampak pada difraktogram Sn/NaY. Hal ini
kemungkinan disebabkan loading Sn yang kecil (1,25% berat Sn dari total berat katalis). Fenomena
ini dapat pula dikarenakan proses penambahan basa yang terlalu cepat, sebab proses
pengendapan yang terlalu cepat dapat menghasilkan padatan yang amorf (Perego dan Villa, 1997).

Karakterisasi Logam Sn Berpendukung NaY Dengan Menggunakan FT-IR
Pada spektra FT-IR Sn/NaY tetap didominasi ikatan-ikatan dari pendukung, yaitu pada
daerah 3400 cm
-1
menunjukkan daerah vibrasi ulur O-H. Sedangkan vibrasi tekuk H-O-H muncul
pada 1650 cm
-1
(Nakamoto, 1978; Cordoba dkk., 1996; Figueiredo dkk., 2006; Wang dkk., 2003).
Puncak serapan pada daerah 1139 cm
-1
menunjukkan adanya vibrasi ulur T-O dimana T adalah Si
atau Al (Wang dkk. 2003 dan Thammavong, 2003) dan puncak pada daerah 950 cm
-1
adalah
puncak vibrasi dari T-O
-
(Cordoba dkk., 1996 dan Wang dkk., 2003 ). Puncak pada daerah 506 dan
432 cm
-1
merupakan vibrasi tekuk O-T-O (Nakamoto, 1976 dan Wang dkk., 2003). Adapun Rios
dkk. (2007) juga menambahkan bahwa puncak pada daerah 699 cm
-1
dan 610 cm
-1
merupakan
vibrasi ulur TO
4
. Sedangkan ikatan Sn-O tidak nampak, hal ini dikarenakan loading Sn yang terlalu
kecil. Jika dilihat dari intensitas spektra FT-IR pada Gambar 3. ternyata intensitas Sn/NaY lebih
rendah dibandingkan dengan zeolit NaY, hal ini dikarenakan adanya logam Sn yang terdispersi
merata pada permukaan pendukung (Kalevaru dkk., 2009).

Gambar 3. Spektra FTIR Zeolit NaY dan Sn/NaY
O
-
H
-
O
-
H

T
-
T
-
O
-







ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

Uji Katalisis
Katalis Sn/NaY diuji kemampuan katalisisnya pada reaksi denitrifikasi dengan produk
katalisisnya adalah ammonium. Pembentukan ammonium pada reaksi denitrifikasi sesuai dengan
yang dilaporkan Cholier-Brym (2002). Konsentrasi ammonium diukur dengan metoda UV-Vis pada
panjang gelombang 460 nm menggunakan reagen Nessler. Konsentrasi yang didapatkan adalah
1,33 ppm. Hasil ammonium yang sedikit menurut penelitian Chen dkk. (2003) adalah dikarenakan
ammonium (NH
4
+
) merupakan produk samping dari reaksi denitrifikasi.
NO
3
-
+ H
2
→ NO
2
-
+ H
2
O (reaksi 1)
NO
2
-
→ NO → NH
4
+
(reaksi 2)
Adapun tahap-tahap reaksi reduksi yang terjadi dalam (reaksi 2) adalah :
2NO
2
-
+ H
2
→ 2NO + 2OH
-
(reaksi 2a)
NO

+ 3H
2
→ NH
4
+
+ H
2
O (reaksi 2b)

4. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa katalis
Sn/NaY dapat mendenitrifikasi nitrat dan menghasilkan produk berupa ammonium dengan
konsentrasi 1,33 ppm.

Daftar Pustaka

Canter, L.W. (1997), “Nitrates in Groundwater”, CRC Press, Boca Raton, Florida.
Chen, Ying-Xue, Zhang, Y. dan Guang-Hao, C. (2003), “Approriate Conditions or Maximizing
Catalytic Reduction Efficiency of Nitrate into Nitrogen Gas in Groundwater”, Water
Research, Vol. 37, hal. 2489-2495.
Chollier-Brym, M.J., Gavagnin, R., Strukul, G., Marella, M., Tomaselli, M. dan Ruiz, P. (2002) New
insight in the Solid State Characteristics, in the Possible Intermediates and on the
Reactivity of Pd–Cu and Pd–Sn Catalysts Used in Denitratation of Drinking Water,
Catalysis Today, Vol. 75, hal. 49-55.
Cordoba, G., Arroyo, R., Fierro, J. L. G. dan Viniegra, M. (1996), “Study of Xerogel–Glass
Transition of CuO/SiO
2
”, Journal of Solid State Chemistry, Vol. 123, hal. 93 – 99.
EPA. (1995), “National Primary Drinking Water Regulations Office of Groungwater and Drinking
Water”, Washington D.C, United States.
Figueiredo, H., Neves, I. C., Quintelas, C., Tavares, T., Taralunga, M., Mijoin, J. dan Magnoux, P.
(2006), “Oxidation Catalysts Prepared from Biosorbents Supported on Zeolite”, Applied
Catalysis B : Environmental, Vol. 66, hal. 274 – 280.
Huang, S., Zhang, C. dan He, H. (2008), “Complete Oxidation of o-xylene over Pd/Al
2
O
3
Catalyst at
Low Temperature”, Catalysis Today, Vol 139, Hal. 15-23.
Kalevaru, V. N., Raju, B. D., Rao, V. V. dan Martin, A. (2009), “ Preparation, Characterization and
Catalytic Evaluation of MgF
2
Supported V
2
O
5
Catalyst for Ammoximation of 3-picoline”,
Applied Catalysis A: GeneraI, Vol. 352, hal. 223-233.
Nakamoto, K., (1978), Infrared and Raman Spectra of Inorganic and Coordination Compounds, 5
th

Edition, John Wiley & Sons, USA.
Perego, C. dan Villa P. (1997). “Catalyst Preparation Methods”. Catalysis Today, Vol. 34, hal. 281-
305.
Prϋsse, U. dan Vorlop, D. (2001), ”Supported Bimetalic Palladium Catalysts for Water-Phase Nitrate
Reduction“, Journal of Molecular Catalysis, Vol. 173, hal. 313-328.






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Rios, C., Williams, C. dan Maple, M. J. (2007), “Synthesis oz Zeolites and Zeotypes by
Hidrothermal Transformation of Kaolinite and Metakaolinite”, BISTUA, Vol. 5, No. 1, hal. 15-
26.
Thammavong, S. (2003), “Studies of Synthesis, Kinetics and Particle Size of Zeolite X from
Narathiwat Kaolin”, Thesis Submitted in Partial Fulfillment of the Requirements for the
Degree of Master of Science in Chemistry Suranaree University of Technology.

Wang, Z., Liu, Q., Yu, J., Wu, T. dan Wang, G. (2003), “Surface Structure and Catalytic Behavior of
Silica-Supported Copper Catalysts Prepared by Impregnation and Sol-Gel Methods”,
Applied Catalysis A: General, Vol. 239, hal. 87 – 94.









































ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

KOMPLEKS BESI (II) DENGAN LIGAN 2-FENIL-ETIL AMIN


Fahimah Martak

Jurusan Kimia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
Corresponding author Phone : 081572535690
e-mail: fahimahm@chem.its.ac.id


Abstrak

Kompleks besi(II) dengan ligan 2-fenil etil amin telah disintesis dan dikarakterisasi dengan
menggunakan FTIR, Elemental analisis, SSA, difraksi sinar-X powder dan magnetometer.
Kompleks ini memiliki formula [Fe
II
(2-fenil-etil-amin)
3
]Cl
5.
Puncak pada 451,34 cm
-1
terjadi karena
vibrasi ulur Fe dengan N amin pada ligan 2-fenil-etil amin. Berdasarkan pola difraksi sinar-X,
kompleks polimer [Fe
4
II
(2-fenil-etil-amin)
3
]Cl
5
memiliki kelompok ruang P
6(3)
. Data suseptibilitas
magnetik terhadap temperatur menunjukkan bahwa kompleks memiliki interaksi feromagnetik, ini
dibuktikan dengan adanya meningkatnya magnetisasi pada medan rendah dan cenderung saturasi
pada medan lebih tinggi dengan nilai 5 µB pada 50 kOe. Kompleks [Fe
II
(2-fenil-etil-amin)
3
]Cl
5

memberikan interaksi feromagnetik pada temperatur rendah yaitu 32 K.

Kata kunci: kompleks besi(II), kompleks polimer, interaksi feromagnetik dan fenil-etil amin.

1. Pendahuluan
Sejak penemuan magnet molekul tunggal sepuluh tahun yang lalu, sintesis dan
karakterisasi fisik senyawa magnetik berdasarkan molekular menjadi salah satu bidang paling aktif
diteliti. Senyawa magnetik berdasarkan molekular dapat diperoleh dari interaksi ion-ion logam
transisi deret pertama dengan konfigurasi elektron d
1
-d
9
. Interaksi magnetik berdasarkan molekular
juga dihasilkan dari interaksi antar ligan, seperti ditunjukkan pada kompleks binuklir dengan ligan
etilen diamin dengan ligan oksalat.
Senyawa kompleks dapat menunjukkan sifat feromagnet. Sifat feromagnet ini timbul dari
akibat interaksi antar elektron tidak berpasangan pada ion-ion logam. Interaksi feromagnet pada
senyawa kompleks umumnya ditunjukkan pada temperatur rendah (Garcia, et al., 2002). Oleh
karena itu yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah upaya apa yang harus dilakukan
untuk meningkatkan temperatur terjadinya interaksi feromagnetik.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah merancang kompleks polimer yang dapat terjadi
interaksi coulomb dan ikatan hidrogen sehingga menaikkan temperatur Curie Weiss (T
CW
)
senyawa. T
CW
adalah temperatur dimana mulai terjadi perubahan sifat bahan dari paramagnetik
menjadi feromagnetik. Temperatur Curie Weiss pada bahan merupakan indikasi bahwa senyawa
memiliki interaksi feromagnetik. Interaksi feromagnetik dapat diidentifikasi melalui pengukuran nilai
suseptibilitas magnetik dengan variasi temperatur. Nilai suseptibilitas magnetik senyawa
feromagnetik meningkat tajam dibawah temperatur Curie. Interaksi ini dapat dihasilkan dengan
pemilihan ligan yang tepat. Studi yang telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya dengan
menggunakan ligan oksalat (Martak, 2010). Namun, senyawa kompleks polimer yang dihasilkan
menunjukkan interaksi feromagnetik pada temperatur dibawah 15 K. Oleh sebab itu pada
penelitian ini dikembangkan dengan menggunakan ligan fenil etil amin. Gugus amin pada ligan
tersebut dapat diubah menjadi ammonium, diharapkan atom hidrogen yang terikat pada ammonium
dapat berikatan hidrogen pada ligan yang terkoordinasi pada ion logam sehingga interaksi inter dan






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
intramolekular senyawa kompleks meningkat. Sruktur senyawa 2-fenil etil amin ditunjukkan pada
Gambar 1.
NH
2


Gambar 1. Struktur ligan 2-fenil etil amin

Penggunaan ligan 2-fenil etil amin sebagai pembentuk kompleks polimer dikaji secara
struktural dan dikaji pula sifat magnetik dari kompleks tersebut.


2. Metodologi Penelitian
Alat dan Bahan

Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari : FeCl
3
.4H
2
O, 2-fenil etil amin,
asam klorida, methanol, ethanol, dimetil sulfoksida, asam nitrat, kalium klorida, dietil eter,
alumunium fosfat, serbuk Fe, aquadest dan gas nitrogen. Semua bahan tersebut memiliki kualitas
p.a.
Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini meliputi seperangkat alat-alat gelas, rotary
evaporator, spektrometer serapan atom (SSA) Shimadzu AA8801S dan GBC 902 Double Beam,
analisis mikrounsur C, H, N, S Model Fison EA 1108, neraca kerentanan magnet (MSB = Magnetic
Susceptibility Balance) Sherwood Scientific Ltd., Spektrophotomer Infra Red Perkin Elmer
Spektrum GX, dan Difraktometer sinar-x Bruker Smart Apex CCD dengan sumber Molibdenum Kα
(λ=0,71073 Å) digunakan untuk analisis kristalografi kristal tunggal.

Prosedur Sintesis
Sintesis FeCl
2
.4H
2
O
Sejumlah 5,24 gram FeCl
3
dilarutkan dalam 20 ml etanol, setelah itu larutan FeCl
3

ditambah 2,63 gram serbuk Fe sambil dipanaskan sampai 70 °C. Campuran panas ini ditambah 4
ml HCl pekat. Terbentuk dua lapisan, larutan atas bening dan dibagian bawah terbentuk endapan
hitam. Larutan bening yang dihasilkan ditambahkan pada dietil eter dalam wadah tertutup yang
telah didinginkan. Kristal putih kehijauan terbentuk dengan segera. Kristal disaring dengan kaca
masir G-4 sambil dialiri gas N
2
. Kristal kering putih kehijauan dikeringkan dalam vakum.
Sintesis kompleks [Fe(2-fenil-etil ammonium)
x
]Cl
2+x


Sejumlah 0,212 gram (1,5 mmol) garam 2-fenil etil amin ditambahkan asam klorida untuk
merubah menjadi garam ammonium. Mangan asetat tetrahidrat (0,124 gram, 0,5 mmol) dilarutkan
dalam 20 mL metanol. Kedalam larutan tersebut ditambahkan pada larutan 2-fenil etil amin yang
telah diberi asam. Campuran ini diaduk hingga dihasilkan endapan. Endapan yang terbentuk
disaring. Larutan yang diperoleh dibiarkan beberapa hari dalam desikator yang telah diberi gas
nitrogen. Kristal yang terbentuk dari penguapan pelarut pada temperatur ruang disaring,
selanjutnya dianalisis formula dan strukturnya.

3. Hasil dan DiskusiI

Senyawa kompleks Fe(II)-2-fenil-etil-amin disintesis dengan menggunakan metoda yang
telah dilakukan oleh Eimer, dkk (2008). Senyawa memiliki tampilan berupa kristal berwarna hijau.
Ligan 2-fenil-etil amin mengalami pelepasan ion hidrogen menjadi gugus amonium. Pasangan






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
elektron bebas atom Nitrogen dari gugus amonium tersebut berperan sebagai donor elektron pada
ion logam besi(II). Foto senyawa kompleks ditunjukkan pada Gambar 2.


Gambar 2 Foto kristal kompleks Fe(II)-2-fenil-etil-amin
Kompleks ini pada temperatur ruang bersifat paramagnetik dengan nilai momen magnetik
sebesar 5,2 BM. Nilai momen magnetik ini sesuai nilai momen magnetik spin tinggi yang berasal
dari sumbangan spin untuk besi(II). Kompleks ini tidak larut dalam pelarut air maupun organik
(aseton, dietil eter, metanol, etanol, dimetilformamida dan asetonitril). Kristal ini larut dalam dimetil
sulfoksida. Kompleks Fe(II)-2-fenil-etil-amin merupakan kompleks bermuatan +5, ini dibuktikan dari
analisis elemental C, H dan N yang menunjukkan tiga ligan 2-fenil-etil-amin terikat pada ion logam
besi(II). Hasil penentuan kadar Fe dengan SSA dan hasil C, H, N terangkum pada Tabel 1.
Tabel 1 Kadar unsur-unsur penyusun senyawa kompleks [tris(2-fenil-etil-amin)besi(II)] pentaklorida
Fe(II)-2-fenil-etil-amin Kadar unsur-unsur penyusunnya (%)
Fe C H N
Hasil Eksperimen 9,75 48,85 5,28 7,27
Teoritik (9,53) (48,52) (5,09) (7,08)

Untuk mendukung fomula senyawa, dilakukan analisis lebih lanjut secara spektrofotometri.
Spektroskopi inframerah menunjukkan adanya gugus C=C pada benzena pada 1598,99 cm
-1
.
Frekwensi vibrasi ulur C=C dari etil tampak pada bilangan gelombang 1132,21 cm
-1
. Puncak
serapan pada 3429,43 mengindikasikan adanya vibrasi ulur N-H dari gugus amin. Sedangkan
vibrasi tekuk antara karbon dengan nitrogen pada gugus amin umumnya tampak pada bilangan
gelombang antara 1650-1580 cm
-1
. Vibrasi tekuk N-H amin pada kompleks ini ditunjukkan pada
1658,85 cm
-1
. Puncak serapan pada bilangan gelombang 1157,29 cm
-1
menunjukkan adanya
vibrasi ulur =C-N. Kehadiran pita pada bilangan gelombang 400-500 cm
-1
mengindikasikan adanya
ikatan logam dengan nitrogen. Puncak pada 451,34 cm
-1
terjadi karena vibrasi ulur Fe dengan N
amin pada ligan 2-fenil-etil amin. Spektrum inframerah senyawa kompleks ini disajikan pada
Gambar 3.








ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

Gambar 3 Spektrum inframerah kompleks [Fe
II
(2-fenil-etil-amin)
3
]Cl
5
.
Untuk menguji bahwa senyawa kompleks yang disintesis telah terbentuk, dapat dilakukan
analisis dengan difraksi sinar-X powder. Difraktogram sinar-X kompleks polimer [Fe
II
(2-fenil-etil-
amin)
3
]Cl
5
ditunjukkan pada Gambar 4.

Gambar 4. Difraksi sinar-X kompleks [Fe
II
(2-fenil-etil-amin)
3
]Cl
5


Hasil analisa difraksi sinar-X senyawa kompleks [Fe
II
(2-fenil-etil-amin)
3
]Cl
5
terdapat
kesesuaian dengan pola difraksi sinar-X senyawa kompleks besi(II) amin 1,2,4-trizol yang
dilaporkan (Nuttal,1999). Pola difraksi sinar-X senyawa kompleks tersebut dibandingkan kompleks






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
besi(II) amin trizol. Dari kedua pola difraksi tersebut terdapat perbedaan pada sudut 2θ 12,23;
12,98 dan 13,01
0
.

Hal ini dipengaruhi oleh adanya etil yang terikat pada ligan tersebut. Perbedaan
panjang rantai pada ligan mempengaruhi jarak pemisahan antar kation logam. Perbedaan jarak
antar ion logam berakibat pada perbedaan pola difraksi sinar-X kompleks [Fe
II
(2-fenil-etil-
amin)
3
]Cl
5
. Puncak difraktogram karakteristik pada kompleks [Fe
II
(2-fenil-etil-amin)
3
]Cl
5
dan
kompleks [Fe
II
(amin-1,2,4-triazol)
3
]Cl
2
ditunjukkan Tabel 2.

Tabel 2. Data difraktogram karakteristik kompleks hasil sintesis [Fe
II
(2-fenil-etil-amin)
3
]Cl
5
terhadap
kompleks [Fe
II
(amin-1,2,4-triazol)
3
]Cl
2

Kompleks Polimer Kompleks Binuklir
[Fe
II
(2-fenil-etil-amin)
3
]Cl
5
[Fe
II
(amin-1,2,4-triazol)
3
]Cl
2


11,97 11,89; 12,23
− 12,98; 13,01
14,71; 17,13 14,79; 16,86
18,8; 19,99 18,43; 19,51
21,30; 22,13 21,07; 22,08
24,09 23,95

Berdasarkan pola difraksi sinar-X, kompleks polimer [Fe
II
(2-fenil-etil-amin)
3
]Cl
5
memiliki
kelompok ruang P
6(3)
. Pola difraksi sinar–X kompleks tersebut sama dengan difraktogram
[Fe
II
(amin-1,2,4-triazol)
3
]Cl
2
,

dapat disimpulkan bahwa struktur kompleks polimer [Fe
II
(2-fenil-etil-
amin)
3
]Cl
5
memiliki kemiripan terhadap struktur kompleks polimer [Fe
II
(amin-1,2,4-triazol)
3
]Cl
2
.
Struktur kompleks polimer [Fe
II
(amin-1,2,4-triazol)
3
]Cl
2
ditunjukkan pada Gambar 5.


Gambar 5 Struktur kompleks polimer [Fe
II
(amin-1,2,4-triazol)
3
]Cl
2
(Verdaguer, 2001)
Sifat kemagnetan kompleks polimer [Fe
II
(2-fenil-etil-amin)
3
]Cl
5
dapat diamati dengan
menganalisis kurva dari nilai suseptibilitas magnetik senyawa terhadap temperatur. Dari
pengukuran nilai suseptibilitas magnetik, diperoleh nilai momen magnetik senyawa kompleks
polimer pada temperatur ruang adalah 5,51 BM. Nilai momen magnetik pada kompleks [Fe
II
(2-
fenil-etil-amin)
3
]Cl
5
lebih kecil dibandingkan kompleks polimer [Fe
II
(amin-1,2,4-triazol)
3
]Cl
2
sebesar
5,84 BM yang telah dilaporkan (Mathoniere, 1996). Hal ini membuktikan bahwa dengan







ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
meningkatnya jarak antar ion logam pada kompleks dapat menurunkan interaksi magnetik
senyawa.
Nilai momen magnetik senyawa secara teoritik berkaitan dengan keadaan spin ion-ion
logamnya. Sumbangan spin ditentukan dari penjumlahan maksimum spin-spin ion logam yang
diperoleh dari jumlah elektron yang tidak berpasangan pada ion logam Fe
II
dan Fe
II ,
, dimana
S
T
=S
Fe
+ S
Fe
dengan S
Fe
=2. Senyawa kompleks polimer [Fe
II
(2-fenil-etil-amin)
3
]Cl
5
yang dihasilkan
bersifat spin tinggi. Hal ini mengindikasi bahwa kompleks polimer tersebut bersifat paramagnetic
pada temperatur ruang.
Kompleks [Fe
II
(2-fenil-etil-amin)
3
]Cl
5
memberikan interaksi feromagnetik pada temperatur
rendah yaitu 32 K. Momen magnetik komplek binuklir dengan interaksi feromagnetik secara teoritik
ditentukan dengan persamaan µ=g(S
T
(S
T
+1))
1/2
(g=2,00023). Berdasarkan persamaan tersebut
diperoleh momen efektif polimer [Fe
II
(2-fenil-etil-amin)
3
]Cl
5
adalah sebesar 5,27 BM. Nilai pada
temperatur ruang sesuai untuk pusat magnetic terisolasi, dengan spin local S
Fe
= 2. Dalam
kompleks [Fe
II
(2-fenil-etil-amin)
3
]Cl
5
, nilai χT hampir konstan hingga temperatur 30 K dan
menunjukkan peningkatan setelah pendinginan. Sifat ini konsisten dengan interaksi feromagnetik
Fe
II
-Fe
II
.

Gambar 6. Ketergantungan χ
M
terhadap temperatur kompleks
[Fe
II
(2-fenil-etil-amin)
3
]Cl
5


Magnetisasi terhadap medan pada 2 K memperkuat interaksi feromagnetik pada senyawa.
Ini ditunjukkan meningkatnya magnetisasi pada medan rendah dan cenderung saturasi pada
medan lebih tinggi dengan nilai 5 µB pada 50 kOe. Nilai ini lebih rendah daripada yang diharapkan
untuk arah pararel dari dua interaksi spin (nilai perhitungan 6 µB). Sumbangan ion besi
II
yang
dihasilkan lebih rendah, ini karena efek anisotropi.

4. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa kompleks Fe(II)-2-
fenil-etil amin adalah kompleks polimerik. Kompleks memiliki spin tinggi pada temperatur ruang.
Dari data hasil pengukuran dengan magnetometer menunjukkan bahwa kompleks memiliki interaksi
ferromagnetik yang ditunjukkan nilai konstanta Weiss positif, adanya saturasi pada medan lebih
tinggi. Kompleks [Fe
4
II
(2-fenil-etil-amin)
3
]Cl
5
memberikan interaksi feromagnetik pada temperatur
rendah yaitu 32 K.






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan rasa terima kasih kepada :
1. Kimia Anorganik, Universitas Kebangsaan Malaysia, Bangi, Malaysia, untuk analisi
elemental senyawa kompleks
2. LPPM ITS yang telah memberikan dana penelitian SPI-ITS tahun 2010 dengan no kontrak:
0535/12.7/PM/2010 tanggal 1 Mei 2010.

Daftar Pustaka

Albertsson, J. and A. Oskarsson, (1977), Compounds with intermediate spin. I. The crystal structure
of tris(N,N-dimethyldithiocarbamato)iron(III) at 150 and 295 K, Acta. Cryst. B. 33, 1871-1877.
Charles Shipman, J., et al., (1981), Antiviral Activity of 2-Acetylpyridine Thiosemicarbazones
Against Herpes Simplex Virus, Ant. Agents. Chemo.. 19, 682-685.
Darken, M.C.a.J., (1971), Metal complexes of thio-b-diketones, Coord. Chem. Rev.,7, 29.
Dietzsch, W., et al., (1990), Mosbauer spectra of tris(diorganothioselenocarbamato)- and tris
diorganodiselenocarbamato)iron(III) complexes, Inorg. Chim. Act.. 169, 157-160.
Ewald, A.H. and E. Sinn, (1968), Magnetically anomalous thio complexes of iron(III) and nickel(II),
Aust. J. Chem.. 21, 927-938.
Filippo, D.D., et al., (1977), On the anomalous magnetic properties of
tris(diselenocarbamato)iron(III) compounds, J. Chem. Soc., Dalton Trans. 1566-1571.
Gupta, N.S., et al., (1991), Magnetic and Moessbauer characterization of the discontinuous high
spin (
6
A
1
) low-spin (
2
T
2
) transition in solid bis(pyridoxal-4-phenylthiosemicarbazonato) iron(III)
chloride, Inorg. Chim. Act.. 184, 13-21.
Gutlich, P. and H.A. Goodwin, Spin Crossover an Overall Perspective, in Topics in Current
Chemistry, Volume: Spin crossover in Transition Metal Compounds, P. Gutlich and H.A.
Goodwin, Editors. 2004, Springer-Verlag: Berlin. p. 4.
Hayami, S., et al., (2000), First Observation of Light-Induced Excited Spin State Trapping for an
Iron(III) Complex, J. Am. Chem. Soc.. 122, 7126-7127.
Hauser, A., Ligand Field Theoretical Considerations, in Topics in Current Chemistry, Volume: Spin
Crossover in Transition Metal Compounds, P. Gutlich and H.A. Goodwin, Editors. 2004,
Springer-Verlag: Berlin. p. 49-50.
Juhasz, G., Hayami, S. Sato, O., Maeda, Y. (2002), Photo-induced spin transition for iron(III)
compounds with π-π interactions, Chemical Physics Letter, 364, 164-170.
Kondo, M. and K. Yoshizawa, (2003), A theoretical study of spin orbit coupling in an Fe(II) spin-
crossover complex. Mechanism of the LIESST effect, Chem. Phys. Lett.. 372, 519-523.
Koningsbruggen, P.J.v., Y. Maeda, and H. Oshio, Iron(III) Spin Crossover Compounds, in Topics in
Current Chemistry, Volume: Spin Crossover in Transition Metal Compounds, P. Gutlich and
H.A. Goodwin, Editors. 2004, Springer-Verlag: Berlin. p. 317-318.
Kunze, K.R., D.L. Perry, and L.J. Wilson, (1977), Synthesis and variable-temperature
magnetochemical and Moessbauer spectroscopy studies of tris(monothiocarbamato)iron(III)
complexes. A new 2T .dblarw. 6A spin-equilibrium system containing the FeS
3
O
3
core, Inorg.
Chem.. 16, 594-599.
Letard, J.-F., et al., (2005), A Guideline to the Design of Molecular-Based Materials with Long-Lived
Photomagnetic Lifetimes, Chem. Eur. J.. 11, 4582-4589.
McGarvey, J.J. and I. Lawthers, (1982), Photochemically-induced Perturbation of the 'A + 5T
Equilibrium in Fe
ll
Complexes by Pulsed Laser Irradiation in the Metal-to-ligand Charge-transfer
Absorption Band, J. Chem. Soc., Chem. Commun.. 906-907.






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Mohan, M., et al., (1989), Magnetic and Spectroscopic Characterization of the High-Spin (
6
A
1
) <=>
Low-Spin (
2
T
2
) Transition in an Iron(III) Complex of Pyridoxal Thiosemicarbazone, Inorg.
Chem.. 28, 96-99.
Padhy S. and G.B. Kauffman, (1985), Transition metal complexes of semicarbazones and
thiosemicarbazones, Coord. Chem. Rev.. 63, 127-160.
Petty, R.H., et al., (1978), Bis(N-methylethylenediaminesalicylaldiminato)iron(III) complexes.
Magnetic, Moessbauer, and intersystem crossing rate studies in the solid and solution states for
a new (S = 1/2) .dblarw. (S = 5/2) spin-equilibrium case, Inorg. Chem.. 17, 1064-1071.
Thompson, A.L., et al., (2005), Structural studies of thermal- and light- induced transitions in iron(II)
spin-crossover complexes, Chimie. 8, 1365-1373.
Timken, M.D., et al., (1986), Dynamics of spin-state interconversion and cooperativity for ferric spin-
crossover complexes in the solid state. 5. Variable-temperature spectroscopic, magnetic, and
single-crystal x-ray structural characterizations of the spin-state and order-disorder
transformations of a Schiff base complex, J. Am. Chem. Soc.. 108, 395-402.
West, D.X., et al., (1994), Copper(II) complexes of 6-methyl-2-formylpyridine 4N-
s
ubstituted
thiosemicarbazones, Trans. Met. Chem.. 19, 195-200.



































ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL ZnO
SEBAGAI SUPPORT KATALIS

Cicik Herlina Yulianti, Ratna Ediati, Didik Prasetyoko*
Kimia FMIPA Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya
Laboratorium Kimia Anorganik, Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Tekndiologi Sepuluh November, Surabaya
*Email : didikp@chem.its.ac.id Telp : 031-5943353

Abstrak
Transesterifikasi minyak nabati dan alkohol menjadi biodiesel sering dilakukan dengan
katalis homogen basa. Kelemahan proses ini antara lain adanya kesulitan untuk memisahkan
produk reaksi. Katalis heterogen CaO yang diimpregkan pada support ZnO terbukti dapat
mempermudah pemisahan produk dan katalis serta memberikan yield yang tinggi pada reaksi
transesterifikasi minyak biji matahari (konversi >90%). Untuk meningkatkan unjuk kerja katalis, luas
permukaan persatuan berat katalis diperbesar dengan memperkecil ukuran katalis. Penelitian ini
bertujuan untuk mensintesis nanopartikel ZnO sebagai support katalis. Nanopartikel ZnO diperoleh
dengan menyiapkan zinc oksalat dalam pelarut air menggunakan zinc asetat dan asam oksalat
sebagai prekursor. Dalam penelitian ini, nanopartikel ZnO diperoleh melalui dekomposisi termal
zinc oksalat pada 450
o
C di udara selama 90 menit. Nanopartikel ZnO hasil sintesis dikarakterisasi
dengan menggunakan XRD dan FT-IR. Hasil karakterisasi dengan XRD menunjukkan bahwa
nanopartikel ZnO memiliki struktur kristal wurtzite heksagonal dan ukuran kristal ZnO dapat
diperoleh sebesar 20,6 - 27 nm.

Kata kunci : nanopartikel, sintesis, ZnO

Abstract

Transesterification of vegetable oil and alcohol producing biodiesel was much carried out
using homogeneous basic catalyst. These proces had disanvantages: difficulty separation the
product and catalyst. The heterogen catalyst CaO supported on ZnO as transesterification catalyst
has proven to be easily separate the product and catalyst and given high yield in transesterification
of sun flower oil (conversion > 90%) . To improve the catalytic performance, the surface area per
mas of catalyst must be increased by decreasing the size of particle. The aim of the research were
to obtain ZnO nanoparticles as support catalyst. Zinc oxide nanoparticles for catalyst support was
synthesized by prepared zinc oxalate in aqueous solvents using zinc acetate and oxalic acid as
precursors. During this study, zinc oxide nanoparticles was obtained by thermal decomposition of
zinc oxalate at 450
o
C in air for 90 minute. The zinc oxide nanoparticles have been characterized
by XRD and FT-IR. X-ray diffraction demonstrates that the zinc oxide nanoparticles have a
hexagonal wurtzite crystal structure and the crystallite sizes were obtained to be 20,65 nm.

Key words : nanoparticles, synthesis, ZnO

1. Pendahuluan
Biodiesel sangat potensial dikembangkan dalam rangka pengembangan bahan bakar
alternatif yang dapat diperbaharui. Biodiesel memiliki kemanfaatan yang tinggi karena bisa
digunakan secara langsung untuk mengganti minyak petrosolar pada mesin diesel. Cara
memperoleh biodiesel bisa dengan reaksi esterifikasi dari free fatty acids (FFAs) dengan alkohol
melalui katalis asam atau transesterifikasi dari trigliserida dengan alkohol melalui katalis basa.
Metode paling umum untuk memperoleh biodiesel adalah melalui proses transesterifikasi
dengan menggunakan katalis homogen basa kuat seperti NaOH dan KOH. Akan tetapi,






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
penggunaan katalis homogen akan menambah langkah proses dan mengalami kesulitan untuk
memisahkan produk reaksi (Alonso dkk, 2008)
Penggunaan katalis heterogen merupakan suatu alternatif karena katalis heterogen mudah
dipisahkan dari campuran reaksi dengan filtrasi serta dapat digunakan kembali (direcovery) (Alonso
dkk, 2008). Salah satu jenis katalis heterogen yang banyak digunakan dalam reaksi
transesterifikasi adalah katalis berpendukung (bersupport). ZnO adalah suatu material yang di
gunakan secara luas sebagai support katalis, karena memiliki struktur wurtzite yang stabil, dapat
digunakan kembali, ramah lingkungan, memiliki temperatur leleh tinggi (975
o
C) dan murah (Alba-
Rubio dkk, 2010). impregnasi ZnO dengan CaO pada reaksi transesterifikasi minyak biji matahari
memberikan hasil alkil ester yang sama dengan CaO yang dihasilkan dari dekomposisi CaCO
3

pada suhu 700
o
C, (konversi > 90%) tapi keuntungan menggunakan katalis CaO yang dimpregkan
pada ZnO adalah tidak melarutnya fase aktif CaO pada media reaksi karena adanya interaksi yang
kuat antara sisi aktif dan support yang artinya kontribusi fase homogen dapat dihilangkan (Alba-
Rubio dkk, 2009).
Karakteristik ZnO sebagai pendukung katalis sangat tergantung pada ukuran partikel dan
metode penyiapannya. Semakin besar luas permukaan per satuan masa katalis maka efektivitas
katalis semakin baik. Memperbesar luas permukaan per satuan masa katalis dapat dilakukan
dengan memperkecil ukuran padatan katalis misalnya dengan membuat support katalis berukuran
nanopartikel. Pada penelitian sebelumnya, Yan S., dkk (2010), telah berhasil membuat ZnO
modifikasi nanopartikel dengan metode hidrolisis urea untuk reaksi transesterifikasi. Kanade K.G.,
dkk (2006), telah berhasil membuat ZnO nano size dari precursor zinc asetat dengan asam oksalat
dengan solven air, methanol, dan etilen glikol dengan hasil ukuran partikel berturut-turut 22-25 nm
untuk pelarut air dan 14-17 nm untuk pelarut organik.
ZnO telah diteliti sebagai salah satu support katalis yang baik untuk reaksi transesterifikasi.
Untuk meningkatkan aktivitas dan effektivitas support katalis maka pada penelitian ini nanopartikel
ZnO disintesis dengan metode Kanade K.G., dkk (2006) menggunakan precursor zinc asetat dan
asam oksalat dengan pelarut air. Fase kristal zinc oksalat dan zinc oksida hasil sintesis ditentukan
dengan diffraksi X-Ray (XRD) dengan mencocokkan posisi dan intensitas puncak XRD dengan
data JCPDS no. 25-1029 untuk zinc oksalat dan JCPDS no. 80-0075 untuk zinc oksida.

2. Metodologi
Support nanopartikel ZnO disintesis dengan menggunakan metode yang dilakukan oleh
Kanade K.G., dkk (2006), yaitu dengan membuat dua larutan asam oksalat dan zinc asetat sebagai
prekursor dengan perbandingan molar 1 : 1. Zinc oksalat didapatkan dengan penambahan sedikit
demi sedikit larutan asam oksalat ke dalam zinc asetat sambil melakukan pengadukan dengan
kecepatan konstan sebesar 160 rpm selama 12 jam pada temperatur ruang. Endapan putih yang
didapatkan kemudian disaring dan dicuci dengan air deionisasi dan aseton untuk menghilangkan
pengotor, lalu dikeringkan pada 120
o
C. ZnO diperoleh setelah kalsinasi di udara dari zinc oksalat
pada 450
o
C selama 90 menit (kecepatan pemanasan 2
o
C per menit). ZnO yang telah dikalsinasi
kemudian diambil dan dikarakterisasi. Karakterisasi partikel menggunakan diffraksi X-Ray (XRD)
dan FT-IR.

3. Hasil dan Pembahasan

Analisa XRD dari Zinc oksalat (ZnC
2
O
4
.2H
2
O)
Serbuk nanopartikel ZnO disiapkan dengan menggunakan zinc asetat dan asam oksalat dalam
pelarut air. Skema reaksinya dapat ditunjukkan sebagai berikut:
Zn(CH
3
COO)
2
.2H
2
O + H
2
C
2
O
4
.2H
2
O ZnC
2
O
4
.2H
2
O + 2CH
3
COOH + 2H
2
O






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

Gambar 1 : diffraktogram X-ray dari zinc oksalat yang disiapkan dalam pelarut air.

Pola diffraktogram X-ray di atas memiliki kesamaan dengan data yang dilaporkan untuk fase
monoklinik dari zinc oksalat [JCPDS no. 25-1029]. Puncak karakteristiknya terletak di 2θ (
o
) 18.7
dengan menampilkan intensitas relatif 100% yang menandakan pembentukan ZnC
2
O
4
.2H
2
O .

1. Analisa XRD dari ZnO

Gambar 2 : Diffraktogram X-ray dari ZnO sintesis dan ZnO komersial

Pola XRD dari ZnO sintesis di atas menunjukkan puncak tinggi di 2θ (
o
): 31.80, 34.45,
36.28, 47.56 dan 56.61 yang dapat dikategorikan dalam struktur wurtzite dari kristal ZnO (fase
hexagonal, space group P6
3
mc) (JCPDS no. 80-0075).
ZnO
komersial
ZnO sintesis






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Pada gambar di atas dapat dilihat ZnO komersial lebih kristalin dari pada ZnO sintesis,
sebagai mana ditunjukkan dengan sinyal diffraksinya yang lebih tinggi. Ukuran kristal dapat dihitung
dari pola XRD dengan menggunakan rumus Scherrer untuk 3 puncak XRD tertinggi di 2θ (
o
): 31.80,
34.45, dan 36.28. Berdasarkan perhitungan tersebut dapat diperoleh ukuran partikel ZnO sintesis
sebesar 20,6 – 27 nm dan untuk ZnO komersial sebesar 110-135 nm. Hasil ini seperti yang
diharapkan sebagai konsekuensi metode sintesis yang digunakan untuk support ZnO, karena
adanya gas-gas yang dihasilkan dari dekomposisi oksalat sehingga menghasilkan ukuran partikel
yang lebih rendah yang mengarah pada derajat kristalinitas yang lebih rendah pula (Alba-Rubio
dkk, 2010).

2. Analisa FT-IR dari support ZnO

Gambar 3: Spektra FT-IR dari support ZnO

Analisa FT-IR yang dilakukan bertujuan untuk mengkonfirmasi pembentukan support ZnO
dan mengidentifikasi setiap species yang teradsorb pada permukaan kristal. Gambar 3
menunjukkan spektra FT-IR untuk support ZnO. Pita pada 486,08 cm
-1
menunjukkan vibrasi
streching dari Zn-O (υ
Zn−O
). Pita kuat lainnya teramati antara 1350 cm
-1
hingga 1600 cm
-1

menunjukkan spesies asetat yang teradsorb di dalam permukaan ZnO. Puncak lebar yang terpusat
pada 3433,4 cm
-1
berhubungan dengan gugus -OH dari H
2
O, menunjukkan keberadaan air yang
terabsorb di atas permukaan ZnO (Adrian G. Parra Palomino, 2006).

4. Kesimpulan
1. Bedasarkan hasil analisa XRD dan FT-IR yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa support
nanopartikel ZnO telah berhasil disintesis dari dekomposisi thermal zinc oksalat yang
disiapkan melalui zinc asetat dan asam oksalat sebagai prekursornya.
2. Perhitungan dengan menggunakan rumus Scherrer dapat ditentukan ukuran partikel ZnO
sintesis adalah sebesar 20,6 - 27 nm.





486,08
3433,4






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Daftar Pustaka

Alba-Rubio, Ana C., Jose Santamaria-Gonzalez, Josefa M., (2010), “Heterogeneous
Transesterification Processes by Using CaO Supported On Zinc Oxide as Basic Catalysts”,
Catalysis Today, Vol 149, hal 281-287
Alonso, D.M, R. Mariscal, M. Lo´ pez G, and P. Maireles T, (2008), “Biodiesel Preparasion Using
Li/CaO Catalysts: Activation Process and Homogeneous Contribution”, Catalysis Today, Vol. 30,
hal. 1-5.
Kanade K.G., Kale B.B., Aiyer R.C., Das B.K., (2006), “Effect Of Solvents On The Synthesis Of
Nano-Size Zinc Oxide And Its Properties”, Materials Research Bulletin, Vol. 41, hal. 590–600
Palomino A. G.P., 2006, “Room-Temperature Synthesis and Characterization of Highly
Monodisperse Transition Metal-Doped ZnO Nanocrystals”, Physics, University Of Puerto Rico,
Physics, Puerto Rico
Yan S., Mohan S., DiMaggio C., Kim M., Simon Ng K.Y., Salley S.O., “Long Term Activity Of
Modified ZnO Nanoparticles For Transesterification”, Fuel, Vol. 89, hal. 2844–2852































ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
ADSORPSI AMMONIUM (NH
4
+
) PADA ZEOLIT
BERKARBON DAN ZEOLIT A YANG DISINTESIS DARI
ABU DASAR BATUBARA PT. IPMOMI PAITON DENGAN
METODE BATCH

Nurul Widiastuti, Nurlailis Handayani, Didik Prasetyoko

Jurusan Kimia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Sepuluh Nopember


Abstrak

Pada penelitian ini, telah berhasil disintesis zeolit A dari abu dasar batubara melalui metode
peleburan, sedangkan zeolit berkarbon disintesis dengan metode hidrotermal langsung. Penelitian
ini terfokus pada efektifitas penghilangan ion amonium yang diadsorp dari limbah sintetik amonium
dengan menggunakan adsorben zeolit A dan zeolit berkarbon yang disintesis dari abu dasar. Studi
adsorpsi ini mencakup variasi waktu, konsentrasi, pH serta mempelajari kinetika adsorpsi dan
isotherm adsorpsinya. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa zeolit A mampu mengadsorpi
amonium hingga 0,9391 mg/g dengan konsentrasi 35 mg/l, pada pH 5 selama 240 menit.
Sedangkan zeolit berkarbon mampu mengadsorpi amonium hingga 0,9789 mg/g dengan
konsentrasi 35 mg/l, pada pH 6 selama 480 menit. Kinetika adsorpsinya mengikuti model dua semu
untuk semua adsorben. Isotherm adsorpsinya yang terbaik untuk zeolit berkarbon mengikuti model
Freundlich, sedangkan zeolit A yaitu mengikuti model Temkin.

Kata kunci: Zeolit A, Zeolit berkarbon, Adsorpsi ammonium, Kinetik, Isotherm

1. Pendahuluan
Ammonium adalah bentuk ion dari ammonia yang dalam perairan merupakan pencemar
utama yang berkontribusi terhadap terjadinya eutrofikasi pada danau dan sungai, pengurangan
konsumsi oksigen dan keracunan pada ikan dalam perairan (Wang, 2008). Bahkan menurut
Sawyer (1994), ammonia bebas didalam air dengan konsentrasi diatas 0,2 mg/l dapat
menyebabkan kematian pada beberapa jenis ikan. Untuk faktor keamanan, menurut baku mutu
yang berlaku di Indonesia (PP No. 82 tahun 2001), bahwa batas maksimum kandungan ammonia
dalam badan air kelas I adalah 0,5 mg/l. Sedangkan menurut KEPMEN LH No. 122 tahun 2004
tentang beban maksimum pencemaran limbah kegiatan industri khususnya adalah industri pupuk
adalah 0,75 kg/ton untuk industri pupuk urea; 1,5 kg/ton untuk industri pupuk nitrogen lain dan 0,3
kg/ton untuk industri ammonia.
Berbagai metode telah banyak dilakukan untuk menghilangkan ammonium ini antara lain
melalui proses biologi seperti nitrifikasi/denitrifikasi yang mana ammonium dirubah secara biologi
menjadi nitrit, nitrat dan akhirnya menjadi gas nitrogen. Cara lain yaitu dengan proses kimia-fisik
seperti stripping, adsorbsi dan pertukaran ion (Metcalf dan Winkler, 1998). Proses adsorpsi
merupakan cara yang sangat mudah dan biaya yang relatif rendah untuk menghilangkan
ammonium didalam limbah.
Disisi lain, adanya limbah pembakaran batu bara berupa abu dasar yang menumpuk
dengan kandungan terbesar yaitu oksida-oksida silikon, alumunium, besi dan kalsium. Komponen
kimia dari abu dasar sebagian besar berfasa amorf, yaitu sekitar 66 sampai 88% berat. Sementara
itu, fasa kristalin utama adalah silika (SiO
2
) dan Alumina (Al
2
O
3
). Dengan komposisi kandungan
tersebut, abu dasar memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan zeolit
yang banyak digunakan sebagai penyaring molekul (molecular sieve), penukar kation serta katalis.






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Sintesis zeolit dari beberapa bahan abu yang mengandung Si dan Al telah banyak
dilakukan sebelumnya (Hollman dkk, 1999, Hui dan Chao, 2006, Molina dan Poole, 2004,
Chandrasekar dkk, 2006). Penelitian terdahulu telah dilakukan oleh Yanti (2009) dan Londar (2009)
mempelajari beberapa metode dan variabel yang mempelajari kondisi optimum untuk sintesis zeolit
A dan zeolit berkarbon dari abu dasar dengan metode peleburan yang diikuti oleh hidrotermal dan
metode hidrotermal langsung. Hasil dari penelitian Yanti (2009), menyebutkan kondisi optimum
untuk sintesis zeolit A dengan metode peleburan diikuti hidrotermal adalah dilakukan pada suhu
100
o
C selama 12 jam. Sedangkan untuk sintesis zeolit berkarbon kondisi optimum yang dilaporkan
Londar (2009) adalah dilakukan hidrotermal pada suhu 160
o
C selama 24 jam.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji kapasitas adsorpsi Zeolit A dan Zeolite A berkarbon
yang dibuat dari abu dasar berdasarkan kondisi yang telah dilaporkanoleh Yanti (2009) dan Londar
(2009) untuk mengadsorp ammonium.

2. Metodologi
Abu dasar batubara yang digunakan pada penelitian ini berasal dari PT. IPMOMI Paiton
Probolinggo. Struktur kristal dan mineralogi dari abu dasar telah dianalisa pada penelitian
sebelumnya yang menggunakan abu dasar yang sama dengan X-ray Diffraction (XRD) dan
komposisi kimia dianalisa menggunakan analisa X-ray Fluoroscene (XRF) (Yanti, 2009). Abu dasar
tersebut digunakan sebagai bahan dasar sintesis Zeolit A dan Zeolit A berkarbon yang dibuat pada
kondisi optimum yang telah dilaporkan oleh Yanti (2009) dan Londar (2009). Zeolit yang dihasilkan
selanjutnya diuji kapasitas adsorpsinya terhadap ammoium dalam sistem batch.

Studi Adsorpsi
Pada studi adsorpsi, pertama ditentukan waktu setimbang dengan kondisi konsentrasi
ammonium 10 mg/L sebanyak 50 mL dengan adsorben 0,5 g pada suhu ruang diaduk dengan
kecepatan konstan pada variasi waktu tertentu. Setelah diperoleh waktu setimbang, kemudian
dilakukan variasi konsentrasi awal ammonium dan pH.
Konsentrasi ammonium (NH
4
+
) yang tidak teradsorp diukur dengan alat Spektrofotometer UV-vis
pada λ = 630 nm dengan menggunakan metode phenate (APHA, 1995). Banyaknya kontaminan
yang diserap dari larutan dinyatakan sebagai kapasitas penghilangan ammonium tiap unit berat
dari zeolit (q) yaitu:
ݍ =
ሺܥ

− ܥ

ሻܸ
݉

(1)
dengan, C
o
adalah konsentrasi awal ammonium (mg/L), C
e
konsentrasi kesetimbangan ammonium
(mg/L), V adalah jumlah volume (L) dan m adalah massa zeolit (g). Efisiensi penghilangan
ammonium dari larutan dihitung dari:
Eϐisiensi penghilanganሺ%ሻ =
ሺC

−C


C

× 100%
(2)

Analisa data kinetik dan isoterm adsorpsi
Lima model kinetik digunakan dalam mengamati proses adsorpsi kontaminan kedalam
adsorben yaitu orde satu semu, orde dua semu, Bangham, model difusi intra-partikel dan Elovich.
Pertama, orde satu semu adalah persamaan yang biasa digunakan untuk menggambarkan
adsorpsi dan ditentukan dengan persamaan berikut:
ௗ௤



= ݇

ሺݍ

− ݍ

ሻ (3)
dengan q
t
(mg/g) adalah jumlah adsorbat yang diserap pada waktu t (min), q
e
(mg/g) adalah
kapasitas adsorpsi kesetimbangan (mg/g), dan k
f
(min
-1
) adalah konstanta laju model orde satu
semu(min
-1
). Persamaan dapat diintegrasi dengan memakai kondisi-kondisi batas q
t
= 0 pada t = 0
dan q
t
=q
t
pada t=t, persamaan menjadi:
lnሺݍ

− ݍ

ሻ = ݈݊ݍ

− ݇

ݐ (4)

Model orde dua semu dapat dinyatakan dalam bentuk :






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

ௗ௤

ௗ௧
= ݇

ሺݍ

− ݍ



(5)
dimana k
s
adalah konstanta laju model orde dua semu (dalam g/(mg min)). Setelah integrasi dan
penggunaan kindisi-kondisi batas q
t
=0 pada t =0 dan q
t
=q
t
pada t=t, persamaan linier dapat
diperoleh sebagai berikut :




=






+



ݐ (6)
Laju penyerapan awal, h (mg/g min) sedangkan t t → 0 dapat didefinisikan sebagai berikut :
ℎ = ݇

ݍ


(7)
Laju adsorpsi awal (h), kapasitas adsorpsi kesetimbangan (q
e
) dan konstanta orde dua semu k
s

dapat ditentukan secara eksperimen dari slope dan intersep plot dari t/q
t
versus t.
Persamaan Bangham digunakan untuk mempelajari tahap waktu terjadinya sistem adsorpsi dan
persamaannya digambarkan sebagai berikut:
log log ቂ




ି௤


ቃ = ݈݋݃ ቂ


ଶ,ଷ଴ଷ௏
ቃ +ߙ log ݐ (8)
dengan C
o
adalah konsentrasi awal adsorbat dalam larutan (mg/L), V adalah volume larutan (mL),
m adalah berat adsorben per liter larutan (g/L), q
t
(mg/g) adalah jumlah adsorbat yang tertinggal
pada waktu t, dan α (<1) dan k
o
adalah tetap/konstan.
Studi difusi intra partikel juga digunakan dalam studi kinetik ini. Rumus model intra-partikel
dinyatakan sebagai berikut:
ݍ

= ݇
௜ௗ
ݐ



+ ܥ (9)
dimana k
id
adalah konstanta laju difusi intra-partikel. Sebuah plot q
t
versus t
1/2
akan didapatkan
garis lurus dengan slope k
id
dan intersep C ketika mekanisme adsorpsi mengikuti proses difusi
intra-partikel. Nilai intersep menandakan tentang ketebalan dari batas lapisan, yaitu luas intersep
terbesar adalah efek batas lapisan.
Persamaan Elovich berasumsi bahwa permukaan padat sesungguhnya adalah sepenuhnya
heterogen. Persamaan Elovich dapat dinyatakan sebagai:

ௗ௤

ௗ௧
= ߙ݁
ିఉ௤

(10)
Integrasi persamaan diatas dan penggunaan kondisi awal q
t
= 0 pada t = 0 dan q
t
=q
t
, akan kita
peroleh model Elovich:
ݍ

= ሺ1 ߚ ⁄ ሻ݈݊ሺߙߚሻ + ሺ1 ߚ ⁄ ሻ ln ݐ (11)
dimana α adalah laju adsorpsi awal (mg/(g min)) dan parameter β berhubungan dengan luas
perrmukaan yang tertutup dan energi aktivasi (g/mg).
Sedangkan pada isoterm adsorpsi terkarakterisasi oleh nilai konstanta tertentu yang
menggambarkan karakteristik permukaan, afinitas dari adsorben dan kapasitas adsorpsi dari
adsorben. Untuk menggambarkan kesetimbangan adsorpsi, persamaan isoterm yang bermacam-
macam telah digunakan seperti Langmuir, Freundlich dan model Tempkin.
Parameter Langmuir ditentukan dengan rumus berikut
ݍ =

೘ೌೣ
௄஼

ଵା௄஼

(12)
q
max
(mg/L) dan K (L/mg) adalah kapasitas monolayer yang dicapai pada konsentrasi tinggi dan
konstanta kesetimbangan, berturut-turut. C
e
adalah konsentrasi kesetimbangan dalam larutan
(mg/L) dan q menunjukkan jumlah yang diserap pada kesetimbangan (mg/g).




=

௄௤
೘ೌೣ
+


೘ೌೣ
ܥ

(13)
Parameter Freundlich ditentukan dengan rumus
ݍ = ܭ
ி
ܥ



(14)
K
F
dan 1/n menunjukkan faktor kapasitas Freundlich dan parameter intensitas Freundlich, berturut-
turut. C
e
adalah konsentrasi kesetimbangan dalam larutan (mg/L) dan q menunjukkan jumlah yang
diserap pada kesetimbangan (mg/g).
log ݍ = ݈݋݃ܭ
ி
+


݈݋݃ܥ

(15)
Model isoterm Tempkin menjelaskan tentang interaksi antara adsorben dengan
adsorbatnya. Model ini menganggap adsorpsi pada semua molekul pada permukaan akan






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
menurun linier dengan jumlah interaksi antara adsorbat dan adsorben dan adsorpsinya
dikarakterisasi dengan energi sampai energinya maksimun. Parameter Tempkin ditentukan dengan
rumus
ݍ

=
ோ்

ln ሺܭ

ܥ

ሻ (16)
Model liniernya yaitu
ݍ݁ ൌ ܤ

݈݊ܭ

൅ ܤ

݈݊ܥ

(17)
dimana
ܤ


ோ்

(18)
A adalah plot dari q
e
versus ln C
e
yang digunakan untuk menentukan konstanta isoterm K
t
dan B
1
.
C
e
adalah konsentrasi kesetimbangan dalam larutan (mg/L) dan q

mewakili jumlah
kesetimbangan adsorpsi (mg/g). K
t
adalah konstanta kesetimbangan (L/mol) yang cocok digunakan
untuk energi ikatan maksimum dan konstanta B
1
berhubungan dengan bagian adsorpsi (Widiastuti
dkk, 2009).

3. Hasil dan diskusi
Penentuan waktu kontak optimum
Variasi waktu dilakukan untuk menentukan waktu setimbang yang merupakan kondisi
maksimum adsorben untuk menyerap ammonium (NH
4
+
). Efek waktu kontak ammonium (NH
4
+
)
dengan zeolit berkarbon dan zeolit A ditunjukkan oleh Gambar 1. yang menunjukkan penghilangan
ionammonium (NH
4
+
) oleh zeolit A dan zeolit berkarbon yang cukup cepat mulai 15 menit pertama
kemudian lajunya meningkat secara signifikan pada menit-menit berikutnya, hingga tercapai laju
yang konstan pada 240 menit untuk zeolit A dan 480 menit untuk zeolit berkarbon. Hal ini terjadi
karena banyak sisi adsorben yang kosong sehingga kecenderungan larutan untuk terserap ke
adsorben semakin tinggi dengan bertambahnya waktu kontak hingga tercapai waktu
kesetimbangan (Karadag, 2006). Selama waktu kesetimbangan tersebut, amonium berhasil
teradsorp pada zeolit A dan zeolit berkarbon berturut-turut sebesar 0,9391 mg/g dan 0,9789 mg/g.
Mekanisme penghilangan amonium menggunakan zeolit termasuk reaksi pertukaran ion
dimana zeolit mempunyai muatan negatif akibat adanya perbedaan muatan antara Si
4+
dengan
Al
3+
. Muatan negatif ini muncul karena atom Al yang bervalensi 3 harus mengikat 4 atom oksigen
yang lebih elektronegatif dalam kerangka zeolit. Dengan adanya muatan negatif ini maka zeolit
mampu mengikat kation dengan ikatan yang lemah seperti kation Na dan Ca. Karena lemahnya
ikatan inilah maka zeolit bersifat sebagai penukar kation yaitu kation Na atau Ca akan tergantikan
posisinya dengan ion amonium (NH
4
+
). Adsorpsi kation amonium ini terjadi pada permukaan
dengan gugus hidroksil pada zeolit dan kombinasi muatan positif dari kation amonium dan muatan
negatif pada permukaan zeolit (Gates, 1992).


Gambar 1. Hubungan waktu kontak (menit) dengan qe (mg/g). Kondisi proses: jumlah adsorben
0,5 gram, volume 50 ml, konsentrasi awal 10 mg/l, T=32
0
C dan pH 6,5







ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Berdasarkan data kapasitas adsorpsi pada Gambar 1 dapat diketahui bahwa zeolit
berkarbon memiliki kapasitas adsorpsi sedikit lebih besar daripada zeolit A. Hal ini dimungkinkan
karena adanya karbon pada Zeolit A berkarbon yang dapat mengadsorp ammonium. Selain itu, bila
dilihat dari data luas permukaan, zeolit berkarbon memiliki luas permukaan lebih besar
dibandingkan zeolit A karena keberadaan karbon dalam zeolit berkarbon tersebut. Hal ini didukung
dengan data luas permukaan zeolit A oleh Yanti, 2009 yang melaporkan bahwa luas permukaan
zeolit A sebesar 2,47 m
2
/g, sedangkan Londar, 2009 melaporkan bahwa luas permukaan zeolit
berkarbon sebesar 105,99 m
2
/g.

Penentuan konsentrasi awal larutan ammonium optimum
Variasi konsentrasi awal ini dilakukan untuk menentukan adsorpsi isoterm dan kapasitas
adsorpsi zeolit yang digunakan sebagai adsorben. Hasil pada Gambar 2 menunjukkan bahwa
penyerapan ion amonium meningkat dengan meningkatnya konsentrasi awal ion amonium,
kemudian konstan setelah tercapai kesetimbangan. Efisiensi penghilangan amonium (NH
4
+
) oleh
zeolit A dan zeolit berkarbon meningkat dengan meningkatnya konsentrasi awal amonium (NH
4
+
).
Hasil ini seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh Lebedynetz, dkk (2004); Inglezakis, dkk (2005)
dan Sprinsky, dkk (2005) yang mengatakan bahwa dengan meningkatnya konsentrasi awal
amonium (NH
4
+
) akan memberikan daya dorong yang lebih besar pada sisi – sisi adsorben.
Hasilnya amonium (NH
4
+
) berpindah (migrasi) dari permukaan luar ke dalam pori-pori zeolit A dan
zeolit berkarbon yang berukuran mikro. Ion amonium (NH
4
+
) mampu bertukar kation tidak hanya
pada permukaan luar zeolit tapi juga pada permukaan dalam zeolit. Kesetimbangan tercapai ketika
semua pertukaran ion amonium (NH
4
+
) dan kation pada permukaan luar dan dalam zeolit telah
tercapai. Dalam Gambar 2 menunjukkan semakin tinggi konsentrasi larutan amonium (NH
4
+
), maka
lebih banyak amonium (NH
4
+
) yang tertukar atau terserap. Hasil penyerapan ion amonium (NH
4
+
)
pada zeolit A dan zeolit berkarbon berturut-turut sebesar 3,2868 mg/g dan 2,9236 mg/g pada
konsentrasi awal 35 mg/l.


Gambar 2. Hubungan konsentrasi awal dengan qe (mg/g) dengan konsentrasi awal (Co) = 5-50
mg/l. Kondisi proses: jumlah adsorben 0,5 gram, volume 50 ml, waktu kontak: 240
menit(4 jam) untuk zeolit A dan 480 menit (8 jam) untuk zeolit berkarbon, T=32
0
C dan
pH 6,5

Penentuan pH optimum
Variasi pH ini dilakukan untuk mengetahui kondisi pH yang optimum untuk penyerapan
ammonium (NH
4
+
). Gambar 3 menunjukkan pengaruh pH terhadap kinerja zeolit A dan zeolit
berkarbon pada pH 4-9. Effisiensi penghilangan ammonium (NH
4
+
) dengan menggunakan zeolit A
dari pH 4 sampai 5 effisiensi penghilangan cenderung naik, kemudian turun mulai pH 6 sampai 9,
sehingga puncak pH dengan efisiensi penghilangan terbesar juga terjadi pada pH 5 sebesar
55,78%. Pada zeolit berkarbon, dari pH 4 sampai 6 effisiensi penghilangan cenderung naik,
kemudian turun mulai pH 7 sampai 9, sehingga puncak pH dengan efisiensi penghilangan terbesar
juga terjadi pada pH 6 sebesar 72,63%. Hasil penelitian dapat dilihat pada Gambar 3 .







ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

Gambar 3. Pengaruh pH larutan ammonium (NH
4
+
) dengan % ammonium yang teradsorp, waktu
kontak 4 jam untuk adsorben zeolit A dan 8 jam untuk adsorben zeolit berkarbon.
Kondisi proses: jumlah adsorbent 0,5 gram, volume 50 ml, T=32
0
C dan konsentrasi 10
mg/l.

Penelitian yang dilakukan oleh Thornton (2007) dan Emerson (2006), juga menunjukkan
hasil yang sama bahwa adsorpsi ion ammonium (NH
4
+
) menggunakan zeolit dimana kondisi pH
yang optimum tercapai saat pH < 8. Peningkatan adsorpsi secara cepat ini berhubungan dengan
pembentukan hidrokso yang berbeda dengan saat terjadi kenaikan pH larutan. Ammonia berada
didalam air dalam dua bentuk yaitu berupa ion ammonium (NH
4
+
) atau non-ion ammonium (NH
3
),
yang sesuai dengan persamaan berikut (Weatherley,2004):
NH
4
+
+ OH

⇔ NH
3
+ H
2
O (19)
NH
3
+ H
3
O
+
⇔ NH
4
+
+ H
2
O (20)
Keseimbangan ammonium dalam larutan sangat dipengaruhi oleh pH (Hedstrom,2001). Hal
ini menunjukkan bahwa hanya dalam bentuk ionnya, ammonium dapat dihilangkan dari larutan
dengan pertukaran ion. Pada pH = 8 dan dibawahnya, kebanyakan ammonium berada dalam
bentuk ionnya. Oleh karena itu sangat mungkin berasumsi bahwa kondisi-kondisi ini sangat baik
untuk proses penghilangan ion ammonium (Thornton, 2007).
Diatas pH 8 kesetimbangan bergeser dengan cepat ke arah ammonium dalam bentuk
bukan ionnya (NH
3
) dan dengan meningkatnya pH maka kurang baik untuk proses penghilangan
ammonium. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pada pH dibawah 8 akan meningkatkan
jumlah ion hidrogen dalam larutan, sehingga menyediakan cukup banyak rongga - rongga untuk
kompetisi terjadinya pertukaran (Koon, et.al., 1975, Hankins, et.al., 2004, Hedstrom, et.al., 2001).
Berdasarkan Gambar 3. diatas, hal ini dapat dijelaskan dengan Gambar 4. dibawah ini
yang menunjukkan perilaku ammonia dalam larutan yaitu bahwa ammonia pada pH 5 sampai 7
berbentuk ion ammonium (NH
4
+
), yang merupakan spesies utama yang dapat membuat terjadinya
pertukaran ion dengan kation-kation yang berada dalam zeolit. Oleh karena itu, pada kondisi ini
effisiensi penghilangan ammonium tinggi. Tetapi pada pH 10 keatas dimana NH
3
merupakan
spesies dominannya, effisiensi penghilangan ammonium rendah. Hal ini berhubungan dengan
kemampuan pertukaran ion dalam bentuk utama NH
3
ini sangat rendah.






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS


Gambar 4. Diagram perilaku ammonia dalam larutan (Widiastuti, 2009)

Kinetika adsorpsi
Dari data hasil variasi waktu maka dapat ditentukan data model kinetika adsorpsinya. Data
kinetika dalam penelitian ini dianalisa dengan beberapa model. Hasil dapat dilihat di Gambar 5.
Nilai parameter adsorpsi kinetik dari lima model dirangkum dalam Tabel 1. Dari data Gambar 5. dan
Tabel 1. dapat diketahui bahwa adsorpsi ammonium (NH
4
+
) menggunakan zeolit A serta zeolit
berkarbon mengikuti model orde dua semu. Hal ini dapat disimpulkan jenis modelnya sesuai
dengan nilai R
2
yang mendekati satu, dimana nilai R ini merupakan nilai koefisien korelasi dari
grafik. Nilai R semakin mendekati satu memiliki data yang linier. Hasil penelitian ini sesuai dengan
hasil penelitian dari Lecheng Lei, dkk (2008).

Tabel 1. Ringkasan dari perhitungan kinetika adsorpsi







ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS


Isoterm adsorpsi
Dari data hasil variasi konsentrasi maka dapat ditentukan data model isoterm adsorpsinya.
Hal ini untuk mengetahui model isoterm dan untuk mengetahui jenis adsorpsi yang terjadi. Setelah
mengetahui jenis adsorpsi yang terjadi maka dapat diketahui ikatan yang terjadi. Data ini sangat
bermanfaat untuk mengetahui apakah adsorben yang digunakan dapat diregenerasi ulang atau
tidak. Data isoterm dalam penelitian ini dianalisa dengan beberapa model. Hasil dapat dilihat di
Gambar 6. (a), (b), dan (c). Nilai parameter adsorpsi isoterm dari tiga model dirangkum dalam Tabel
2.
Jika dilihat dari data koefisien korelasi maka dari semua grafik tersebut nilai R
2
mendekati
angka satu sehingga dapat disimpulkan bahwa adsorpsi ammonium (NH
4
+
) menggunakan zeolit A
mengikuti model Freundlich. Adsorpsi Freundlich merupakan adsorpsi yang terjadi karena adanya
interaksi secara fisik yang terjadi antara adsorbat ( zat yang diserap ) dengan permukaan adsorben
(zat yang menyerap ). Ketika permukaan adsorben sudah tertutupi adsorbat, adsorbat tidak hanya
terserap pada lapisan atas/tunggal pada permukaan adsorben, tetapi juga pada lapisan kedua dan
seterusnya hingga menghasilkan lapisan multi (multilayer). Hal ini karena lemahnya interaksi
secara fisik yang terjadi, sehingga jika terjadi peningkatan suhu dan konsentrasi adsorpsi adsorbat
pada adsorben juga akan meningkat dengan membentuk lapisan pertama, kedua dan seterusnya
menghasilkan lapisan multilayer. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adsorpsi ammonium
(NH
4
+
) menggunakan zeolit A termasuk jenis adsorpsi fisika. Adsorpsi fisika terjadi bila gaya
intermolekular lebih besar dari gaya tarik antar molekul atau gaya tarik menarik yang relatif lemah
antara adsorbat dengan permukaan adsorben, gaya ini disebut gaya Van der Waals sehingga
adsorbat dapat bergerak dari satu bagian permukaan ke bagian permukaan lain dari adsorben
(Khartikeyan, 2004). Gaya antar molekul adalah gaya tarik antara molekul-molekul fluida dengan
permukaan padat, sedangkan gaya intermolekular adalah gaya tarik antar molekul-molekul fluida
itu sendiri.

(a)

(b)
(c) (d)






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS



(e)
Gambar 5. Analisa beberapa model kinetik, (a.) Model orde satu semu, (b.) Model orde dua semu,
(c.) Model difusi intrapartikel (d.) Model elovich dan (e) Model bangham, Kondisi proses:
jumlah adsorbent 0,5 gram, konsentrasi awal 10 mg/L, volume 50 ml, suhu 25°C , pH =
6,5 dan waktu kontak 4 jam untuk adsorben zeolit A dan 8 jam untuk adsorben zeolit
berkarbon.



(a) (b)



(c)
Gambar 6. Kurva adsorpsi isotherm (a) Langmuir, (b) Freundlich dan (c) Temkin. Kondisi proses:
jumlah adsorben 0,5 gram, volume 50 ml, t = 8 jam untuk zeolit A dan 4 jam untuk
zeolit karbon, T=32
0
C dan pH 6,5






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS


Tabel 2. Ringkasan dari perhitungan isoterm adsorpsi


Hasil model Freundlich ini sesuai dengan penelitian Qi Du, dkk (2005) yaitu adsorpsi
ammonium (NH
4
+
) menggunakan zeolit. Gambar 6 (c) merupakan gambar kurva isotherm model
Tempkin. Jika dilihat dari data koefisien korelasi maka dari grafik tersebut nilai R
2
mendekati angka
satu sehingga dapat disimpulkan bahwa adsorpsi ammonium (NH
4
+
) menggunakan zeolit A
mengikuti model Tempkin. Nilai parameter adsorpsi isotherm dari tiga model dirangkum dalam
Tabel 2.

4. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa zeolit A hasil sintesis dari
abu dasar mampu mengadsorpi ammonium hingga 93,91% dengan konsentrasi 35 mg/l, pada pH 5
selama 240 menit. Sedangkan zeolit berkarbon yang juga disintesis dari abud asar mampu
mengadsorpi ammonium hingga 97,89% dengan konsentrasi 35 mg/l, pada pH 6 selama 480 menit.
Ammonium dalam bentuk ion dapat dihilangkan dari larutan dengan pertukaran ion pada pH = 8
dan dibawahnya, karena kebanyakan ammonium pada pH tersebut berada dalam bentuk ionnya.
Adsorpsi dengan menggunakan zeolit A serta zeolit berkarbon mengikuti model adsorpsi kinetik
orde dua semu. Sedangkan untuk adsorbsi isotherm untuk zeolit A mengikuti model adsorpsi
isotherm Temkin, dan zeolit A berkarbon mengikuti model adsorpsi isotherm Freundlich.

Ucapan Terimakasih

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Direktorat Pendidikan Tinggi atas dukungan dana
melalui program penelitian Hibah Pasca Sarjana dengan kontrak No. : 0536/I2.7/PM/2010.

Daftar Pustaka
A. Hedstrom, (2001), “Ion exchange of ammonium in zeolites: a literature review”, J. Environ. Eng.
Hal.673–681







ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
APHA, (1995) , Standard Methods for the Examination of Water and Wastewater, nineteenth ed.,
American Public Health Association, Washington, DC, USA, 1995
Barrer, R.M. (1982), “Hydrothermal Chemistry of Zeolites”, Academic Press Inc, London.
D. Karadag, Y. Koc, M. Turan, A. Armagan, (2006), “Removal of ammonium ion from aqueous
solution using naturalTurkish clinoptilolite”, J. Hazard. Mater. B136, hal. 604–609.
Gates, Bruce C. (1992), “Catalytic Chemistry”, John Wiley and Sons Inc., New York
Hassett D.J. and Eylands K.E. (1999). "Mercury Capture on Coal Combustion Fly Ash" Fuel 78:
243-248.
H.J.Koon,W.J. Kaufmann, Ammonia removal from municipalwastewaters by ion exchange, J.
WPCF 47 (3) (1975) 448–465.
Hollman G G, Steenbruggen G, Janssen-Jurkovicova M, (1999), “A two-step process for the
synthesis of zeolites from coal fly ash”, Fuel, Vol. 78(10), P. 1225–1230.
Hui, K.S. dan Chao, C.Y.H. (2006), “Effects of step-change of synthesis temperature on synthesisof
zeolite 4A from coal fly ash”, Microporous and Mesoporous Materials, vol 88 hal. 145–151.
Karthikeyan, G., Anbalagan, K., Andal, N.M., (2004), Adsorption Dynamics and equilibrium Studies
of Zn(II) onto Chitosan. Indian J. Chem. Sci.,116, 2, pp. 119-127
K.R. Emmerson, R.C. Russo, R.E. Luna, R.V. Thurston, (1981), “Aqueous ammonia equilibrium
calculation: effect of pH and temperature”, Can. J. Fish Aquat. Sci. 32, hal 2379.
Londar, (2009), “Sintesis zeolit karbon dari abu dasar PT. IPMOMI Paiton dengan menggunakan
metode hidrotermal langsung“, Senaki IV, Jurusan Kimia FMIPA ITS, Surabaya
Metcalf and Winkler, M.A, (1998), Wastewater Engineering—Treatment and Reuse, 4th ed.,
McGraw-Hill, New York vol. 2, Editorial McGraw Hill
M. Lebedynets, M. Sprynskyy, I. Sakhnyuk, R. Zbytniewski, R. Golembiewski, B. Buszewski,
(2004), “Adsorption of ammonium ions onto a natural zeolite: Transcarpathian clinoptilolite”,
Adsorption Science Technology 22, hal. 731–741.
Molina, A. dan Poole, C. (2004) “A Comparative Study Using Two Methods To Produce Zeolites
from Fly Ash”, Minerals Engineering, 17, p. 167–173
N.P. Hankins, S. Pliankarom, N. Hilal, R(2004) , “Removal of NH
4
+
ion from NH
4
Cl solution using
clinoptilolite: an equilibrium ion exchange study on the removal of NH
4
+
ion from aqueous
effluent using clinoptilolite”, Separation. Science Technology. 39 (15), hal. 3639–3663.
M. Sprynskyy, M. Lebedynets, A.P. Terzyk, P. Kowalczyk, J. Namiesnik, B. Buszewski, (2005),
“Ammonium Sorption from aqueous solutions by the natural zeolite transcarpathian
clinoptilolite studied under dynamic conditions”, Colloid Interface Sci. 284, hal. 408–415.
Querol, X., Moreno, N., Umana, J.C., Alastuey, A., Hernandez, E., Soler, A.L., Plana, F.,(2002),
“Synthesis of Zeolites From Coal Fly Ash:An Overview”, International Journal of Coal
Geology 50, hal. 413-423.
Sawyer, Clair N., McCarty, Perry L., dan Parkin, Gene, (1994), Chemistry for Environmental
Engineering, 4
th
edition, Mc Graw- Hill Inc, New York
Thornton, A., et al. (2007), “Ammonium removal from solution using ion exchange on to Mesolite,
an equilibrium study”, Journal of Hazardous Materials, Vol. 147, hal. 883–889.
V.J. Inglezakis, (2005), “The concept of capacity in zeolite ion-exchange systems”, J. Colloid
Interface Science. 281, hal 68–79.
Wang, C.F., Li, J.S., Wang, L.J. dan Sun, X.Y. (2008), “Influence of NaOH Concentrations on
Synthesis of Pure-form Zeolite A from Fly Ash Using Two-Stage Method”, Journal of
Hazardous Materials, Vol. 155, hal. 58–64.
Yanti, Yuli (2009), “ Sintesis zeolit A dan Zeolit Karbon Aktif dari Abu Dasar PLTU Paiton denga
Metode Peleburan” Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya.







ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
ADSORPSI ION LOGAM Zn (II) PADA ABU DASAR
LIMBAH PLTU
DENGAN METODE KOLOM

Sartika Dwi Purwandari
1
, Nurul Widiastuti
2


Jurusan Kimia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Sepuluh Nopember


Abstrak
Pada penelitian ini, abu dasar limbah PLTU digunakan sebagai adsorben untuk adsorpsi
larutan Zn(II) dengan metode kolom dengan paramater yang diteliti yaitu pengaruh laju alir.
Perhitungan kapasitas adsorpsi ditentukan dengan menggunakan model Thomas, di mana
kapasitas adsorpsi maksimum dicapai pada laju alir yang paling kecil (1,5 ml/menit) dan massa
adsorben 1 gram dengan nilai qmaks 537,25 mg/g.

Kata kunci : adsorpsi, abu dasar, larutan Zn(II), metode kolom

1. Pendahuluan
Industri pelapisan logam atau yang lebih dikenal dengan electroplating merupakan salah
satu industri yang menghasilkan air limbah yang mengandung logam berat yang berbahaya bagi
lingkungan. Logam berat yang terkandung dalam limbah industri pelapisan logam antara lain Cu,
Zn, Cr, Cd, Ni dan Pb. Toksisitas dari kandungan logam berat tersebut bervariasi, menurut paris
Commision (PARCOM) untuk konsentrrasi maksimum tiap mg/l yaitu 0,5 untuk Cr total, Cu, Ni dan
Zn, sedangkan untuk Cr (IV) yaitu 0,1 dan 0,2 mg/l untuk Cd (Leinonen, 1999). Untuk itu diperlukan
penanganan yang serius dalam penanggulangan limbah tersebut agar tidak berbahaya bagi
lingkungan..
Beberapa metode yang telah digunakan untuk mengurangi kadar logam berat yang
terkandung dalam limbah yaitu penukar ion (Shin Juang, dkk., 2005), penyerapan dengan karbon
aktif (Kobya, dkk., 2005) dan pengendapan secara elektrolisis (Adhoum, dkk., 2004). Namun, cara
ini dirasa kurang efektif karena membutuhkan biaya yang sangat tinggi dalam pengoperasiannya.
Upaya alternatif yang saat ini sedang dilakukan untuk menangani proses pengolahan limbah yaitu
dilakukan proses adsorpsi dengan menggunakan adsorben yang efektif. Selain itu, dalam hal
pemilihan adsorben dapat juga digunakan limbah sebagai media pengadsorpnya seperti cangkang
kepiting (Vijayaraghavan, dkk., 2004), abu pembakaran batubara (Wahyuni, 2010), serutan kayu
(Sciban, dkk., 2006) dan lain-lain.
Penggunaan batu bara sebagai sumber bahan bakar untuk pembangkit listrik menghasilkan
residu sebagai sisa hasil pembakaran. Sebagai contoh, PLTU Paiton yang membutuhkan batu bara
165 ton/ jam atau sekitar 4000 ton/hari akan menghasilkan residu sebanyak 38.219 ton per tahun
(Megawati dan Henny, 2000). Apabila residu hasil pembakaran tersebut tidak dimanfaatkan atau
digunakan maka residu bertumpuk sehingga dapat menyebabkan pencemaran. Residu yang
dihasilkan dari pembakaran batu bara ini berupa 80% abu layang (fly ash) dan 20% abu dasar
(bottom ash). Untuk dapat memanfaatkan abu layang dan abu dasar sebagai bahan dasar pembuat
sesuatu haruslah diketahui komponen yang terkandung di dalamnya. Komponen utama yang ada
pada abu layang dan abu dasar yaitu silika (SiO
2
), alumina(Al
2
O
3
) dan besi oksida (Fe
2
O
3
) dan
sisanya adalah karbon, kalsium magnesium dan belerang. Perbedaan kandungan antara abu
layang dan abu dasar yang sangat mendasar adalah kandungan Si dan Al. Abu layang memiliki
kandungan Si dan Al yang lebih banyak dari pada abu dasar. Menurut Kula (2000) Si dan Al yang
terkandung dalam abu layang dan abu dasar yaitu sebesar 56,13% dan 18,49% untuk abu layang






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
dan 50,98% dan 14,996% untuk abu dasar. Berdasarkan data di atas, maka abu layang telah
banyak dimanfaatkan dalam pembuatan geopolimer, zeolit maupun adsorben. Pemanfaatan limbah
abu dasar sendiri masih kurang sehingga perlu diteliti kemungkinan pemanfaatan abu dasar.
Penelitian sebelumnya, telah memanfaatkan abu dasar sebagai abu adsorben untuk
mengadsorp logam berat (Ayala dkk., 1998), polutan organik (Aksu dan Yener, 2001), dan zat
warna (Sari, 2010). Penelitian ini menfokuskan pada pemanfaatan abu dasar sebagai adsorben
logam berat. Pemanfaatan abu dasar sebagai adsorben untuk menyerap ion Zn(II) telah dilakukan
oleh peneliti sebelumnya (Wahyuni, 2010). Penelitian tersebut dilakukan dalam sistem batch
dengan melakukan beberapa variasi kondisi adsorpsi seperti variasi waktu, konsentrasi, dan suhu.
Penelitian ini merupakan lanjutan dari penelitian diatas yaitu menguji kinerja abu dasar sebagai
adsorben untuk ion Zn(II) dalam sistem kolom.

2. Eksperimental
Bahan
Abu dasar batu bara diperoleh dari PLTU IPMOMI, Paiton Probolinggo. Sebelum digunakan
sebagai adsorben, abu dasar dihilangkan kandungan airnya, kemudian digerus dan diayak pada
ukuran tertentu.

Karakterisasi Abu Dasar
Komposisi dari abu dasar ditentukan dengan menggunakan X-ray fluorescence spectrometer
dan struktur kristal dari abu dasar ditentukan dengan menggunakan X-Ray Diffraction, Permukaan
dari abu dasar sebelum dan sesudah adsorpsi diamati dengan menggunakan SEM.

Metode Kolom
Pengukuran untuk adsorpsi larutan Zn(II) pada abu dasar dilakukan dengan metode
kolom. Kolom disiapkan dengan diameter 1 cm, panjang 20 cm dan pada bagian atas dihubungkan
dengan pompa untuk menyedot influen. Adsorben diletakkan pada kolom dengan massa 1 gram
dan divariasikan laju alirnya sebesar 1,5;3 dan 4,5 ml/menit. Sampel dikumpulkan setiap selang
waktu 12 jam. Influen dikondisikan dalam suasana asam yaitu pH 6.














Gambar 1. Skema alat kerja kolom

3. Hasil dan Pembahasan
Karakteristik dari adsorben
Sifat fisika-kimia dari abu dasar dapat dilihat pada Tabel 1 yang menunjukkan bahwa
komponen utama abu dasar yaitu besi, silika dan alumina. Bahan inilah yang berperan dalam
proses adsorbsi logam berat.

Tabel 1. Data XRF abu dasar PT IPMOMI Paiton
Adsorben Kolom
Selang
Pompa






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Komposisi Kadar %
Al
2
O
3
6,40
SiO
2
32,3
Fe
2
O
3
38,2
CaO 19,2
lainnya 3,29

Pada penelitian kami sebelumnya, abu dasar telah dikarakterisasi menggunakan XRD
untuk menentukan kandungan fasa mineralnya seperti terlihat pada Gambar 1. Hasil tersebut
memperlihatkan bahwa komponen mineral abu dasar yang utama adalah mineral kuarsa (SiO
2
),
mulit (3Al
2
O
3.
2SiO
2
), hematit (Fe
2
O
3
) dan kalsit (CaCO
3
). Komponen kimia lainnya pada abu dasar
ada dalam jumlah yang cukup besar adalah sisa karbon.

Gambar 2. Difraktogram Sinar-X Abu Dasar Batubara PT. IPMOMI Paiton
(Q = Kuarsa, M = Mulit, Hm = Hematit ; Ks= kalsit) (Yanti,2009).

Studi Adsorpsi
Pengaruh Laju alir
Pengaruh laju alir terhadap adsorpsi larutan Zn(II) ini dilakukan pada konsentrasi awal
larutan 500 ppm dengan massa adsorben 1 gram pada pH 6 laju alir divariasikan antara 1,5;3 dan
4,5 ml/menit . Larutan yang telah melalui kolom (effluen) ditampung dalam bak penampung dan
konsentrasinya dianalisa menggunakan spektrofotometer Serapan Atom (SSA) setiap selang waktu
12 jam agar range titik penerobosan (breakthrough) tidak berdekatan dan nampak. Operasi kolom
ini dihentikan ketika konsentrasi ion logam Zn(II) pada keluaran (effluen) sama dengan konsentrsi
ion logam Zn(II) awal (influen). Kondisi ini menunjukkan bahwa adsorben telah jenuh.

Tabel 2. Nilai kapasitas adsorpsi, tetapan laju Thomas, waktu jenuh, dan waktu breakthrough pada
variasi laju alir yang dihitung berdasarkan model Thomas.

Laju alir
(mL/menit)
Massa
(g)
K
Th
(L/g
jam)
q
o
(mg/g)
t
b
(jam) t
e
(jam)
1,5 1,0131 4,2 . 10
-5
537,25 12,095 230,911
3 1,0041 5,8 . 10
-5
352,348 3,931 162,383
4,5 1,0007 2.42 . 10
-4
199,571 1.479 39,455







ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Terlihat pada Tabel 2 bahwa semakin meningkatnya laju alir, maka kapasitas adsorpsi dari
abu dasar semakin menurun yang disertai dengan peningkatan tetapan laju Thomas. Nilai
kapasitas adsorpsi ion Zn(II) pada abu dasar dengan laju alir 1,5; 3; dan 4,5 mL/menit berturut-turut
adalah 537,25 mg/g, 352,348 mg/g, dan 199,571 mg/g. Hal ini terjadi karena dengan bertambahnya
laju alir, maka waktu kontak antara larutan pada influen dengan adsorben semakin berkurang
sehingga menyebabkan interaksi adsorben dengan adsorbat sedikit, jadi adsorben kurang
maksimal dalam penyerapannya(Kalavathy, 2010).
Hasil variasi laju alir ditampilkan juga dalam kurva breakthrough pada Gambar 4 yang
dihitung berdasarkan model Thomas. Kurva breakthrough ini diperoleh dari hasil percobaan
adsorpsi dalam sistem kolom, dimana konsentrasi effluent diamati tiap 12 jam hingga mencapai
konsentrasi mendekati influen. Pada saat inilah menunjukkan Ct/Co yang konstan pada kurva
breakthrough. Hasil variasi laju alir ditampilkan sebagai kurva breakthrough yang menggambarkan
hubungan antara Ct/Co dan t, dimana Ct adalah konsentrasi ion Zn(II) effluen dan Co adalah
konsentrasi ion Zn(II) influen. Sedangkan t adalah waktu adsorpsi.


Gambar 3. Kurva breakthrough dengan variasi laju alir 1,5; 3; dan 4 mL/menit dengan fitting data
berdasarkan model Thomas pada pH 6

Perhitungan dengan model Thomas
Metode Thomas merupakan salah metode yang secara umum digunakan dalam
pengoperasian dengan metode kolom. Model Thomas mengasumsikan bahwa adsorpsi-desorpsi
mengikuti model kinetika Langmuir. Persamaan model Thomas untuk adsorpsi kolom yaitu:

஼௧
஼௢


ଵାୣ୶୮ ሺ

೅೓
ೂቀ೜೚ೣష಴


೐೑೑


( 1)

di mana KTh merupakan konstanta Thomas (L/g jam); q
o
adalah kapasitas adsorpsi maksimum per
berat adsorben (mg/g); x adalah massa adsorben dalam kolom (g); V
eff
adalah volume effluent (L);
C
o
adalah konsentrasi influen (mg/L), t adalah waktu (jam). Persamaan 1 dapat diubah menjadi
persamaan linear sehingga didapat kurva breakthrough dan dapat dihitung nilai kapasitas
adsorpsinya.
Bentuk linier dari model Thomas adalah sebagai berikut:
ln
eff
o Th o Th
t
O
V
Q
C K
Q
X q K
C
C
− =
|
|
¹
|

\
|
−1
(2)
Koefisien kinetika K
Th
dan kapasitas adsorpsi kolom q
o
dapat ditentukan dari plot ln [(Co/Ct)-1]
versus Veff (atau t) pada laju alir tertentu( Aksu, Gonen, 2004).

Morfologi abu dasar
0
0,2
0,4
0,6
0,8
1
1,2
0 50 100 150 200 250
C
t
/
C
o
Waktu (jam)
laju alir 1,5 ml/menit
laju alir 4,5 ml/menit
laju alir 3 ml/ menit






SEMINAR NASIONAL KIMI
Surabaya, 2
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA
Morfologi abu dasar ditunjukkan pada Gambar
berbentuk bola merupakan
sebelum proses adsorpsi dan Gambar
dengan laju alir 4,5 ml/menit. Pada Gambar
sehingga bentuk dari abu dasar sudah tidak beraturan.

Gambar 4. Morfologi abu dasar (a) sebelum proses adsorpsi (b) sesudah proses adsorpsi
4. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian ini maka dapat
kemampuan yang efektif sebagai adsorben. Adsorpsi larutan Zn(II) pada abu dasar ini
menggunakan parameter
lainnya (konsentrasi awal larutan 500
bertambahnya laju alir yang digunakan maka semakin menurun kapasitas adsorpsinya.
adsorpsi maksimum (537,25 mg/g) dicapai ketika laju alir adsorben diatur pada laju alir yang
terkecil (1,5 ml/menit).

Daftar Pustaka

Adhoum, N., Moseer, L., Bellakhal, L., Eddine Belgaied, J., (2004), “ Treatment of Electroplating
Wastewater Containing Cu
Materials, B112, p. 207
Aksu, Z. dan Gonen, H., (2004), “Biosorption of Phenol by Immobilized Activated Sludge in A
Continuous Packed Bed: Prediction of Breakthrough Curves”,
613
Kalavathy, Helen., Karthik, B., Miranda, L.R., (2010), “ Removal and recover
aqueous solution using activated carbon from Hevea brasiliensis : batch and column
studies”, 78, p. 291
Kobya, M., Demirbas, E., Senturk, E., Ince, M., (2005),” Adsorption of Heavy Metal Ions from
Aqueous Solutions by Activated Carb
Technology, 96, p. 1518
Kula, A. Olgun, (2000), ”Effects of Colemanite Waste, Cool Bottom ash and Fly ash on The
Properties of Cement”,
Leinonnen, H., (1999), “Removal of Harmful Metals from Metal Plating Waste Waters Using
Selective Ion Exchangers”, Academic Disertation,University of Helsinki Faculty of Science
Department of Chemistry Laboratory of Radiochemistry, Report Series in Radiochemistry p:
10
Megawati T. dan Henny, C.F.S., (2000), “ Penggunaan Bottom Ash Sebagai Material Dalam CLSM
(Controlled Low Strength Material)”, Tugas Akhir Sarjana Jurusan Teknik Sipil, Fakultas
Teknik, nomr 995-
ISBN 978
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Morfologi abu dasar ditunjukkan pada Gambar 4 (a). Terlihat bahwa
merupakan aluminosilikat. Gambar 4 (a) merupakan gambar morfologi abu dasar
sebelum proses adsorpsi dan Gambar 4 (b) merupakan morfologi abu dasar setelah adsorpsi
alir 4,5 ml/menit. Pada Gambar 4 (b) abu dasar telah tertutupi oleh partikel dari Zn
sehingga bentuk dari abu dasar sudah tidak beraturan.

(a) (b)
Morfologi abu dasar (a) sebelum proses adsorpsi (b) sesudah proses adsorpsi

Berdasarkan penelitian ini maka dapat ditarik kesimpulan bahwa abu dasar mempunyai
kemampuan yang efektif sebagai adsorben. Adsorpsi larutan Zn(II) pada abu dasar ini
menggunakan parameter yang diteliti yaitu laju alir dengan mangkonstankan parameter yang
lainnya (konsentrasi awal larutan 500 mg/L; pH 6 dan massa adsorben 1 g)
bertambahnya laju alir yang digunakan maka semakin menurun kapasitas adsorpsinya.
adsorpsi maksimum (537,25 mg/g) dicapai ketika laju alir adsorben diatur pada laju alir yang
Adhoum, N., Moseer, L., Bellakhal, L., Eddine Belgaied, J., (2004), “ Treatment of Electroplating
Wastewater Containing Cu
2+
, Zn
2+
and Cr (VI) by Electrocoagulation,”
, B112, p. 207-213
Aksu, Z. dan Gonen, H., (2004), “Biosorption of Phenol by Immobilized Activated Sludge in A
Continuous Packed Bed: Prediction of Breakthrough Curves”, Process Biochem
Kalavathy, Helen., Karthik, B., Miranda, L.R., (2010), “ Removal and recover
aqueous solution using activated carbon from Hevea brasiliensis : batch and column
studies”, 78, p. 291-302
Kobya, M., Demirbas, E., Senturk, E., Ince, M., (2005),” Adsorption of Heavy Metal Ions from
Aqueous Solutions by Activated Carbon Prepared from Apricot Stone”,
, 96, p. 1518-1521
Kula, A. Olgun, (2000), ”Effects of Colemanite Waste, Cool Bottom ash and Fly ash on The
Properties of Cement”, Journal of cement and concrete research, p.491
(1999), “Removal of Harmful Metals from Metal Plating Waste Waters Using
Selective Ion Exchangers”, Academic Disertation,University of Helsinki Faculty of Science
Department of Chemistry Laboratory of Radiochemistry, Report Series in Radiochemistry p:
egawati T. dan Henny, C.F.S., (2000), “ Penggunaan Bottom Ash Sebagai Material Dalam CLSM
(Controlled Low Strength Material)”, Tugas Akhir Sarjana Jurusan Teknik Sipil, Fakultas
-S, Universitas Kristen Petra, Surabaya
ISBN 978-602-98130-0-5
lihat bahwa adanya partikel yang
(a) merupakan gambar morfologi abu dasar
(b) merupakan morfologi abu dasar setelah adsorpsi
(b) abu dasar telah tertutupi oleh partikel dari Zn

Morfologi abu dasar (a) sebelum proses adsorpsi (b) sesudah proses adsorpsi
ditarik kesimpulan bahwa abu dasar mempunyai
kemampuan yang efektif sebagai adsorben. Adsorpsi larutan Zn(II) pada abu dasar ini
dengan mangkonstankan parameter yang
mg/L; pH 6 dan massa adsorben 1 g), semakin
bertambahnya laju alir yang digunakan maka semakin menurun kapasitas adsorpsinya. Kapasitas
adsorpsi maksimum (537,25 mg/g) dicapai ketika laju alir adsorben diatur pada laju alir yang
Adhoum, N., Moseer, L., Bellakhal, L., Eddine Belgaied, J., (2004), “ Treatment of Electroplating
and Cr (VI) by Electrocoagulation,” Journal of Hazardous
Aksu, Z. dan Gonen, H., (2004), “Biosorption of Phenol by Immobilized Activated Sludge in A
Process Biochem, 39: 599–
Kalavathy, Helen., Karthik, B., Miranda, L.R., (2010), “ Removal and recovery of Ni and Zn from
aqueous solution using activated carbon from Hevea brasiliensis : batch and column
Kobya, M., Demirbas, E., Senturk, E., Ince, M., (2005),” Adsorption of Heavy Metal Ions from
on Prepared from Apricot Stone”, Bioresource
Kula, A. Olgun, (2000), ”Effects of Colemanite Waste, Cool Bottom ash and Fly ash on The
, p.491-494
(1999), “Removal of Harmful Metals from Metal Plating Waste Waters Using
Selective Ion Exchangers”, Academic Disertation,University of Helsinki Faculty of Science
Department of Chemistry Laboratory of Radiochemistry, Report Series in Radiochemistry p:
egawati T. dan Henny, C.F.S., (2000), “ Penggunaan Bottom Ash Sebagai Material Dalam CLSM
(Controlled Low Strength Material)”, Tugas Akhir Sarjana Jurusan Teknik Sipil, Fakultas






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Sciban, Marina, Bogdanca, (2006), “Adsorption of Heavy Metals From electroplating wastewater by
Wood Sawdust”, Journal of Bioresource Technology, P.402-409
Shin Juang, Ruey., Chien Kao, Hsiang., Yi Liu, Fong., (2005),” Ion Exchange Recovery of Ni (II)
from Simulted Electroplating Waste Solutions Containing Anionic Ligands”, Journal of
Hazardous Materials, B128, p. 53-59
Shingchen, Shiao, (2007), “Chromate reduction by waste iron from electroplating wastewater using
plug flow reactor”, Journal of Hazardous Materials, P. 1092-1097
Vijayaraghavan, K., Jegan, J., Palanivelu, K., Velan, M., “ Removal of Nickel (II) Ions from Aqueous
Solution Using Crab Shell Particles in a Packed Bed Up-Flow Column”, Journal of Hazardous
Materials, B113, p. 223-230
Yanti, Yuli, (2009), “Sintesis Zeolit A dan Zeolit Karbon dari Abu Dasar Batu Bara PLTU PT
IPMOMI Paiton dengan Metode Reaksi Fusi”, Jurusan KIMIA FMIPA, ITS, Surabaya































ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
SINTESIS DAN KARAKTERISASI KATALIS Al-MCM-41, Fe-
Al-MCM-41, serta Fe-MCM-41

Dedi Navia Sandi
(1)
dan Endang Purwanti S
(2)


(1) Alumni Jurusan Kimia FMIPA ITS (2) Dosen Jurusan Kimia FMIPA ITS,
Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Abstrak

Katalis Al-MCM-41, Fe-Al-MCM-41, dan Fe-MCM-41 telah disintesis dengan metode
hidrotermal dalam penelitian ini. Proses hidrotermal dilakukan dalam botol polipropilena pada suhu
100
o
C selama 144 jam. Katalis hasil sintesis dikarakterisasi menggunakan XRD dan FTIR, serta
diuji keasamannya dengan menggunakan FTIR-piridin. Hasil karakterisasi dengan menggunakan
XRD dan FTIR menunjukkan bahwa katalis Al-MCM-41, Fe-Al-MCM-41 dan Fe-MCM-41
mempunyai struktur yang sama dengan material mesopori MCM-41, hal ini ditandai puncak-puncak
karakteristik difraktogram pada 2θ sekitar 1,5-2,5
o
; 3,5-4,5
o
; 4,5-5,0
o
dan 6,0-6,5
o
. Sedangkan pada
spektra FTIR muncul 5 puncak spesifik dari MCM-41 yaitu puncak pada bilangan gelombang 466-
462; 796-802; 960-968; 1080-1091 dan 1226-1238 cm
-1
. Hasil uji keasaman dengan FTIR-piridin
menunjukkan bahwa sisi asam Lewis dan sisi asam Bronsted dipengaruhi oleh logam Al dan Fe
yang disubstitusikan. Peningkatan sisi asam katalis sesuai dengan meningkatnya kandungan
logam.

Kata Kunci : Katalis Al-MCM-41, Fe-Al-MCM-41, Fe-MCM-41, XRD, FTIR, FTIR-Piridin

1. Pendahuluan

MCM-41 merupakan padatan mesopori yang memiliki struktur teratur dengan rongga
(channel) seragam, membentuk susunan heksagonal, luas permukaan spesifik yang besar (1000
m
2
.g
-1
) serta stabilitas termal yang baik (Beck dkk, 1992). Sebagai katalis heterogen, MCM-41
memiliki pori-pori luas/besar yang dapat digunakan sebagai katalis untuk reaksi organik. Akan
tetapi, katalis MCM-41 murni tidak memiliki keasaman yang cukup untuk digunakan secara
langsung sebagai katalis. MCM-41 mengandung material silika murni yang hanya memiliki
kandungan sisi asam Lewis lemah dan tidak memiliki sisi asam Bronsted, sehingga sulit untuk
dimanfaatkan secara langsung sebagai katalis dan adsorben (Kim dkk, 1995; Enlud dkk, 1998).
Karena itu perlu menambahkan logam atau bukan logam pada MCM-41 untuk menciptakan sisi
asam yang diharapkan. Adanya logam Al dalam struktur MCM-41 dapat meningkatkan sifat
keasamannya yaitu sisi asam Bronsted (Endud dkk, 1998).
Sisi asam Lewis ini akan meningkat, jika dalam struktur Al-MCM-41 dimasukkan
dimasukkan logam transisi. Sejumlah logam transisi seperti Zn (Lu dkk, 2002) dan Ti, V, Cr, Fe, Co,
Ni, Mn, Cu, La dan Ru (Gomes dkk, 2005; Chaliha dan Battacharyya, 2007) telah berhasil
dimodifikasi dalam framework silika MCM-41. Pengikatan atom bervalensi tiga (Al, Fe atau Ga) ke
dalam struktur MCM-41 menciptakan sisi asam Bronsted dan dapat menghasilkan material dengan
variasi keasaman, sehingga akan memiliki perbedaan sifat katalisis dan adsorpsi (Vinu dkk, 2004).
Beberapa atom Fe kemungkinan akan membentuk oksida besi yang terdapat dalam pori.
Substitusi atom Fe kedalam struktur MCM-41 berpengaruh terhadap sifat redoks dan aktivitasnya
dalam reaksi alkilasi dan oksidasi. Akan tetapi, permasalahan yang timbul adalah kurangnya
stabilitas Fe-MCM-41 selama kalsinasi karena lemahnya ikatan Fe-O-Si (Vinu dkk, 2004). Sehingga
diperlukan substitusi atom Al dan atom Fe ke dalam struktur MCM-41, selain dihasilkan Fe-Al-
MCM-41 yang mempunyai stabilitas termal yang baik, juga didapatkan katalis yang mempunyai sisi
asam Bronsted dan sisi asam Lewis.






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Berdasarkan analisa TPD (Temperature Programmed Desorption) piridin, sisi asam kuat
dan menengah yang dihasilkan bergantung pada perbandingan n
Si
/(n
Fe
+n
Al
) dan meningkatnya
kandungan logam bervalensi tiga (Fe dan Al) dalam struktur MCM-41 (Vinu dkk, 2004). Hal ini perlu
diketahui bahwa jumlah sisi asam kuat meningkat dengan meningkatnya kandungan logam.
Aplikasi katalis Fe-Al-MCM-41 dalam reaksi katalisis tert-butylation fenol menunjukkan bahwa
peningkatan kandungan logam dalam struktur MCM-41, diikuti oleh peningkatan aktivitas katalis
yang dihasilkan. Aktivitas katalis menurun dengan urutan sebagai berikut: Fe-Al-MCM-41(20) > Fe-
Al-MCM-41(50) > Fe-Al-MCM-41(80) dan hal ini sebanding dengan jumlah sisi asam yang
dikandung (Vinu dkk, 2004). Pada penelitian ini diharapkan dapat diketahui pengaruh logam Fe dan
Al terhadap struktur dan sifat keasaman dari katalis dengan berbagi variasi komposisi.

2. Metode Penelitian
Peralatan dan Bahan

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: gelas beker, gelas piala, gelas ukur,
labu ukur, botol polipropilen, kertas saring, pengaduk magnetik (stirrer), corong Buchner, oven,
furnace, alat X-Ray Diffraction (XRD), spektrofotometer Fourier-Transform Infrared (FTIR) dan
spektrofotometer FTIR-Piridin.

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain Natrium metasilikat
(Na
2
SiO
3
.5H
2
O), Cetiltrimetilammonium Bromida (CTAB, Merck), aqua DM, etanol, Besi (III) Klorida
(FeCl
3
.6H
2
O, Merck), Aluminium sulfat (Al
2
(SO
4
)
3
.18H
2
O), dan asam sulfat (H
2
SO
4
).

Prosedur Penelitian
Katalis Fe-Al-MCM-41 disintesis dengan menggunakan metode hidrotermal. Katalis Fe-Al-
MCM-41 disintesis dengan variasi perbandingan Si/(Fe+Al) sebesar 15 dan 25. Katalis Fe-Al-MCM-
41 dibandingkan dengan katalis Al-MCM-41 dengan perbandingan Si/Al sebesar 40, sehingga pada
katalis Fe-Al-MCM-41 dengan variasi perbandingan Si/(Fe+Al) sebesar 15 dan 25, perbandingan
Si/Al dibuat tetap 40. Hal ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahan logam Fe dalam
struktur Al-MCM-41 (40). Selain itu, juga dilakukan sintesis katalis Fe-Al-MCM-41 dengan
perbandingan Si/(Fe+Al) sebesar 25 dan perbandingan Si/Al dibuat tetap 60, katalis ini
dibandingkan dengan katalis Fe-MCM-41 (Si/Fe = 100). Hal ini dilakukan untuk mengetahui
pengaruh logam Al terhadap struktur dan tingkat keasaman yang dihasilkan dari katalis Fe-Al-
MCM-41 (25) dengan (Si/Al = 60).
Untuk mensintesis Fe-Al-MCM-41 dengan perbandingan Si/(Fe+Al) sebesar 15, maka
21,2045 gram (0,1 mol) natrium metasilikat dilarutkan dalam 50 gram aqua DM dan di stirrer
selama 15 menit dengan kecepatan 250 rpm. Setelah itu, CTAB sebanyak 9,1115 gram (0,025 mol)
dilarutkan kedalam aqua DM sebanyak 50 gram dan ditambahkan sedikit demi sedikit sambil
distirer selama 15 menit dengan kecepatan 250 rpm. Larutan aluminium sulfat 0,5125 gram (0,0013
mol) dilarutkan dalam 20 gram aqua DM dan0,4596 gram (0,0017 mol) besi klorida (dilarutkan
dalam 20 gram aqua DM) ditambahkan kedalam larutan sedikit demi sedikit. Campuran diaduk
dengan menggunakan pengaduk magnetik selama 30 menit dengan kecepatan 300 rpm sampai
menjadi homogen. Untuk mengurangi pH menjadi 11 ditambahkan asam sulfat pekat sebanyak 8,5
mL setetes demi setetes sehingga pH turun menjadi 11 dengan diaduk pengaduk magnetik.
Suspensi yang terbentuk diaduk dengan pengaduk magnetik selama 30 menit untuk menghasilkan
suspensi dengan komposisi 0,1 SiO
2
/0,0017 Fe
2
O
3
/ 0,0035 Al
2
O
3
/ 0,025 CTAB/10 H
2
O.
Suspensi dituangkan kedalam botol polipropilen dan dipanaskan pada suhu 100
o
C selama
144 jam. Setelah didinginkan pada temperatur ruangan, campuran disaring dengan corong Buchner
dan residu yang berupa gel dicuci dengan aqua DM sebanyak 200 mL dan etanol untuk
menurunkan pH menjadi netral. Gel yang dihasilkan kemudian dikalsisnasi pada suhu 550
o
C
selama 6 jam. Hasil kalsinasi dikarakterisasi dengan X-Ray Diffraction (XRD), FTIR, dan FTIR-
Piridin.






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Langkah dan perlakuan yang sama dapat dilakukan untuk mensintesis katalis Fe-Al-MCM-
41 (25), Al-MCM-41 (40), Fe-MCM-41 (100), dan Fe-Al-MCM-41 (25) (Si/Al = 60) dengan variasi
komposisi mol gel yang berbeda. Hal ini dapat dilihat pada tabel 2.1 dibawah ini.

Tabel 2.1 Komposisi gel dengan perbandingan mol 0,1 SiO
2
/ x Fe
2
O
3
/ y Al
2
O
3
/ 0,025 CTAB/10 H
2
O
dari katalis
Katalis SiO
2
Fe
2
O
3
Al
2
O
3
CTAB H
2
O
Al-MCM-41 (Si/Al = 40) 0,1 - 0,0013 0,025 10
Fe-Al-MCM-41
(Si/Fe+Al = 15)
0,1 0,0017 0,0013 0,025 10
Fe-Al-MCM-41
(Si/Fe+Al = 25)
0,1 0,001 0,0013 0,025 10
Fe-MCM-41 (Si/Fe =
100)
0,1 0,001 - 0,025 10
Fe-Al-MCM-41
(Si/Fe+Al = 25)
dengan (Si/Al = 60)
konstan
0,1 0,001 0,000871 0,025 10

Karakterisasi Katalis

Analisis dengan XRD
Katalis Fe-Al-MCM-41 yang sudah dikalsinasi pada suhu 540
o
C selama 6 jam dianalisis
dengan XRD merk Phillip X’pert radiasi Cu K
α1
(λ=1,54056 Å). Sampel hasil sintesis dihaluskan dan
ditempatkan dalam holder, kemudian dimasukkan pada alat XRD. Sampel di scan dengan sudut
(2θ) 1,5
o
-10
o
dengan penghitungan 0,02
o
setiap 5 detik.

Analisis dengan FTIR
Cuplikan hasil sintesis katalis Fe-Al-MCM-41 yang berbentuk serbuk dicampurkan dengan
KBr pada perbandingan katalis dan KBr sebesar 1:100. Cuplikan dan KBr dihaluskan dengan
mortar agate, lalu diambil beberapa mg dan ditempatkan dalam pellet holder untuk dimampatkan
menjadi pellet KBr. Pellet ditempatkan pada holder dan dimasukkan pada alat FTIR untuk dianalisis
pada daerah bilangan gelombang 4000-400 cm
-1
.

Analisis dengan FTIR Piridin
Katalis sebanyak 10-15 mg dipress dalam self supporting wafer diameter 13 mm dan
diaktifkan dibawah keadaan vakum pada suhu 200
o
C selama 3 jam dialiri gas nitrogen. Setelah itu
didinginkan dengan keadaan tabung tertutup tanpa dialiri gas nitrogen sampai pada suhu ruang.
Pada saat mencapai suhu ruang (30
o
C) ditetesi dengan piridin selama 5 menit dan didesorp
dengan aliran nitrogen pada suhu 150
o
C. Setelah selesai didesorp tabung ditutup dan didinginkan
sampai pada suhu ruang. Pada saat suhu ruang, sampel diambil dan dianalisis dengan IR. Spektra
direkam pada bilangan gelombang 1700-1400 cm
-1
.

3. Hasil dan Diskusi
Sintesis Katalis Al-MCM-41; Fe-Al-MCM-41 dan Fe-MCM-41
Proses hidrotermal pada sintesis katalis Al-MCM-41; Fe-Al-MCM-41 dan Fe-MCM-41
dilakukan dalam botol polipropilena. Proses ini dilakukan pada suhu 100
o
C selama 144 jam karena
pembentukan material mesoporous lebih optimum dilakukan pada suhu 100
o
C selama 144 jam
(Aini, 2009). Menurut Yahdi, (2009), perlakuan hidrotermal pada suhu 100
o
C selama 6 hari (144
jam) merupakan proses kristalisasi sehingga diharapkan keteraturan struktur mesopori Al-MCM-41
dapat ditingkatkan. Selanjutnya proses kalsinasi dilakukan pada suhu 550
o
C untuk menghilangkan
templat sehingga diperoleh hasil akhir berupa serbuk putih.







ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Sintesis Katalis Al-MCM-41
Larutan CTAB distirer selama 15 menit pada 250 rpm. Setelah itu ditambahkan larutan
natrium metasilikat dan larutan aluminium sulfat sedikit demi sedikit dan distirer dengan kecepatan
300 rpm selama 30 menit. Campuran yang semula campuran heterogen berubah menjadi
campuran homogen yang putih bening. Untuk mengurangi pH menjadi 11, campuran tersebut
ditambah larutan H
2
SO
4
36 N sebanyak 8,5 mL setetes demi setetes dan distirer selama 30 menit
pada 300 rpm. Campuran berubah menjadi putih keruh. Penambahan asam sulfat pada campuran
homogen mengubah mengubah kondisi larutan menjadi keruh. Pada pH 11, campuran yang
semula keruh berubah menjadi gel. Gejala ini mengindikasikan pembentukan inti partikel (nukleasi)
(Perego dan Villa, 1997). Campuran yang mulai membentuk gel tersebut distirer pada kecepatan
450 rpm selama 30 menit sampai terbentuk suspensi.
Surfaktan CTAB bertindak sebagai templat pengarah susunan heksagonal MCM-41
dengan cara membentuk misel. Peningkatan konsentrasi tempalat akan menyebabkan misel
berubah bentuk dari spheris menjadi tabung. Peningkatan misel yang berbetuk seperti tabung
menjadi struktur Kristal cair yang merupakan struktur MCM-41 (Zhao dkk., 1996). Reaksi
pembentukan struktur MCM-41 terjadi melalui pertukaran ion antara surfaktan Br
-
dengan anion
silica dalam larutan aqueous. Campuran yang berbentuk suspensi tersebut dituangkan kedalam
botol polipropilena dan dipanaskan pada suhu 100
o
C selama 144 jam.
Hasil yang diperoleh setelah proses hidrotermal berupa gel berwarna putih dan filtrat putih
bening melalui proses penyaringan menggunakan corong Buchner. Sebelum disaring, campuran
didinginkan pada suhu ruang. Endapan yang berbentuk gel tersebut dicuci dengan aqua DM
sampai pH 7. Aqua DM yang dibutuhkan sebanyak 360 mL. Proses pencucian ini dilakukan untuk
menghilangkan sebagian surfaktan dan pengotor lainnya. Material dikeringkan pada suhu 100
o
C
selama 12 jam untuk mengurangi sisa pelarut air dari pori-pori padatan. Selanjutnya padatan
tersebut dikalsinasi pada suhu 550
o
C selama 6 jam. Pada suhu 540
o
C

molekul-moekul organik
yang berasal dari templat CTAB dapat dihilangkan dari struktur padatan melalui kalsinasi selama 6
jam. Hasil sintesis berupa padatan berwarna putih. Hasil sintesis tersebut dikarakterisasi dengan
menggunakan XRD, FTIR dan FTIR-piridin untuk menguji keasamannya.

Sintesis Katalis Fe-Al-MCM-41
Larutan CTAB distirer selama 15 menit untuk membentuk misel-misel. Larutan natrium
metasilikat ditambahkan dengan penetesan dan pengadukan konstan selama 30 menit untuk
menyempurnakan penyebaran silikon ke semua bagian misel. Penambahan larutan Al
2
SO
4
dan
larutan FeCl
3
ke dalam campuran dilakukan dengan penetesan dan pengadukan konstan selama 1
jam pada kecepatan 300 rpm. Hal ini dilakukan untuk penyempurnaan dispersi ion Al
3+
dan Fe
3+

dalam kerangka MCM-41. Warna campuran berubah dari putih keruh menjadi kekuning-kuningan.
Akan tetapi, semakin lama campuran distirer, warna kuning tersebut semakin berkurang.
Selanjutnya dilakukan penurunan pH dengan cara penambahan asam sulfat sampai pH 11. Jumlah
asam sulfat yang dibutuhkan dapat dilihat pada tabel 4.1. Penambahan asam sulfat mengubah
campuran menjadi suspensi yang dilanjutkan pengadukan selama 1 jam. Suspensi ini merupakan
komposit anorganik-organik, dimana komposit ini terbentuk karena adanya interaksi elektrostatik
antara muatan positif surfaktan (C
16
H
33
(CH
3
)
3
+
Br
-
) dengan muatan negatif spesi silikat dalam
larutan (Taguchi dan Schuth., 2005). Campuran yang dihasilkan berbentuk suspensi, campuran
tersebut dimasukkan dalam botol polipropilen dan dipanaskan pada suhu 100
o
C selama 144 jam.
Produk yang dihasilkan selanjutnya dicuci dengan aqua DM sampai pH material tersebut
netral (pH = 7). Jumlah aqua DM yang dibutuhkan dapat dilihat pada tabel 3.1. Kemudian sampel
tersebut dikeringkan pada suhu 100
o
C selama 24 jam. Hal ini dimaksudkan untuk menghilangkan
sisa reaktan dan air yang terikat secara fisis. Sedangkan kalsinasi pada suhu 550
o
C selama 6 jam
dimaksudkan untuk menghilangkan templat yang digunakan. Hasil sintesis berupa padatan
berwarna putih kekuning-kuningan yang selanjutnya dikarakterisasi dengan XRD, FTIR, dan diuji
keasamannya dengan FTIR-Piridin.







ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Tabel 3.1 Volume aqua DM dan H
2
SO
4
yang diperlukan dalam sintesis Fe-Al-MCM-41

Fe-Al-
MCM-41
Si/(Fe+Al)=15
(Si/Al=40)
Si/(Fe+Al)=25
(Si/Al=40)
Si/(Fe+Al)=25
(Si/Al=60)
Aqua DM 300 mL 300 mL 300 mL
H
2
SO
4
8,5 mL 9 mL 15 mL

Sintesis Katalis Fe-MCM-41 (Si/Fe=100)
Larutan CTAB yang digunakan sebagai templat diaduk selama 30 menit dengan kecepatan
250 rpm. Larutan natrium metasilikat ditambahkan dengan cara penetesan dan pengadukan
konstan. Hal ini dilakukan untuk penyebaran silikon ke semua bagian misel. Selanjutnya ditambah
larutan FeCl
3
dengan cara penetesan dan pengadukan konstan selama 15 menit dengan
kecepatan 300 rpm agar ion Fe
3+
terdispersi secara sempurna dalam kerangka MCM-41. Warna
larutan yang semula bening menjadi keruh kekuning-kuningan, semakin lama proses pengadukan,
warna kuning mulai memudar. Hal ini menunjukkan ion Fe
3+
terdispersi kedalam struktur MCM-41.
Untuk penurunan pH menjadi 11, ditambahkan asam sulfat sebanyak 18,5 mL dalam kondisi
campuran diaduk selama 1 jam dengan kecepatan 300 rpm. Penambahan asam sulfat
menyebabkan campuran berubah menjadi suspensi.
Suspensi yang terbentuk dimasukkan dalam botol polipropilena yang dipanaskan pada
suhu 100
o
C selama 144 jam. Selanjutnya produk yang dihasilkan disaring dengan corong
Buchner, dimana diperoleh filtrat berwarna bening dan residu berwarna kekuning-kuningan.
Kemudian residu tersebut dicuci dengan aqua DM sampai pH netral. Volume aqua DM yang
dibutuhkan sebanyak 325 mL. Residu tersebut dikeringkan selama 12 jam pada suhu 100
o
C. Hal
ini dimaksudkan untuk menghilangkan sisa reaktan dan air yang terikat secara fisis. Proses
kalsinasi dilakukan pada suhu 550
o
C selama 6 jam dengan tujuan untuk menghilangkan templat
organik yang tersisa, sehingga diperoleh padatan kekuning-kuningan.

Karakterisasi Katalis
Padatan katalis Al-MCM-41, Fe-Al-MCM-41 dan Fe-MCM-41 hasil sintesis dikarakterisasi
dengan XRD, FTIR, SEM, dan uji keasamannya dengan menggunakan FTIR-piridin.

Hasil Karakterisasi Menggunakan XRD
Pola difraktogram katalis Fe-Al-MCM-41(15), Fe-Al-MCM-41(25) dengan Si/Al=40, Fe-Al-
MCM-41(25) dengan Si/Al=60, Al-MCM-41(40), dan Fe-MCM-41(100) dapat dilihat pada gambar
3.1. Puncak tajam pada rentang 2θ = 1,5-2,5
o
merupakan puncak karakteristik pertama yang
mengindikasikan terbentuknya MCM-41 (Selvaraj dkk., 2005).

Gambar 1. Difraktogram katalis: (a) Fe-Al-MCM-41(15), (b) Fe-Al-MCM-41(25) dengan Si/Al=60, (c)
Fe-Al-MCM-41(25) dengan Si/Al=40, (d) Al-MCM-41(40) dan (e) Fe-MCM-41(100).
2 4 6 8 10
2θ (
ο
)
(a)
(b)
(c)
(d)
(e)
I
n
t
e
n
s
i
t
a
s

(
a
.
u
)






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

Difraktogram katalis Al-MCM-41(40) menunjukkan puncak pada rentang 2θ sekitar 1,5-2,5
o
,
3,5-4,5
o
, 4,5-5,0
o
dan 6,0-6,5
o
. Puncak-puncak tersebut merupakan puncak-puncak karakteristik
dari struktur MCM-41, sesuai dengan yang dilaporkan oleh Beck dkk., (1992) bahwa puncak
karakteristik dari difraksi heksagonal MCM-41 terdiri dari puncak kuat pada 2θ = 1,8-2,4
o
yang
merupakan refleksi bidang [100] dan 4 puncak pada 2θ antara 3,0-8,0
o
yaitu antara 2θ = 3,5-4,12
o
,
2θ = 4,31-4,85
o
, 2θ = 5,64-6,00
o
dan 2θ = 6,7
o
merupakan refleksi bidang [110], [200], [210], dan
[300]. Hal ini menunjukkan bahwa katalis Al-MCM-41(40) mempunyai struktur yang sesuai dengan
struktur MCM-41. Savidha dkk., (2004) melaporkan bahwa munculnya puncak-puncak tersebut
menunjukkan terbentuknya regularitas struktur hekasgonal dari MCM-41.
Fenomena munculnya puncak tambahan pada 2θ sekitar 6,7
o
setelah kalsinasi merupakan
refleksi dari derajat keteraturan struktur yang meningkat secara dramatis dengan hilangnya molekul
surfaktan (CTAB) (Muhamed, 2005). Difraktogram Fe-MCM-41(100) menunjukkan pergeseran dan
peningkatan intensitas puncak pada 2θ = 1,5-3,5
o
, serta puncak dengan intensitas rendah pada 2θ
= 3,5-4,12
o
, 2θ = 4,31-4,85
o
. Perbandingan mol Si/Fe = 100 menunjukkan bahwa jumlah atom Fe
yang disubstitusikan sangat sedikit apabila dibandingkan dengan jumlah atom Si yang digunakan
untuk membentuk struktur MCM-41, sehingga intensitas puncak pada 2θ = 1,5-3,5
o
sangat tinggi.
Substitusi atom Fe menyebabkan pergeseran puncak pada 2θ = 1,5-3,5
o
dan penurunan puncak
pada 2θ = 3,5-4,12
o
, 2θ = 4,31-4,85
o
.
Difraktogram katalis Fe-Al-MCM-41(25) dengan perbandingan Si/Al sebesar 40,
menunjukkan puncak kuat pada rentang 2θ = 1,5-2,5
o
dan puncak dengan intensitas kecil pada 2θ
= 3,5-4,5
o
dan 2θ = 4,5-5,0
o
. Tingginya puncak pada 2θ sekitar 1,5-2,5
o
merupakan puncak
karakteristik dari MCM-41, sedangkan rendahnya intensitas puncak pada 2θ = 3,5-4,5
o
dan 2θ =
4,5-5,0
o
menunjukkan banyaknya logam Al dan Fe yang menggantikan posisi Si dalam framework
MCM-41.
Hal yang sama nampak pada difraktogram Fe-Al-MCM-41(25) dengan perbandingan
Si/Al=60, dimana puncak pada rentang 2θ antara 1,5-2,5
o
muncul dengan intensitas cukup kuat
sedangkan puncak pada 2θ = 3,5-4,5
o
dan 2θ = 4,5-5,0
o
muncul dengan intensitas sangat rendah.
Substitusi Fe pada Fe-Al-MCM-41(25) dengan Si/Al=60 lebih kecil dibandingkan dengan Fe-Al-
MCM-41(25) dengan Si/Al=40, sehingga puncak pada 2θ = 3,5-4,5
o
dan 2θ = 4,5-5,0
o
dari Fe-Al-
MCM-41(25) dengan Si/Al=60 relatif lebih rendah. Selain itu pada difraktogram Fe-Al-MCM-41(25)
dengan Si/Al=60 terjadi pelebaran puncak pada 2θ = 1,5-2,5
o
, hal ini disebabkan karena banyaknya
substitusi Al dengan perbandingan Si/Al=60, dimana jari-jari ion Al
3+
lebih kecil dibandingkan jari-jari
ion Fe
3+
, sehingga kerusakan regularitas struktur MCM-41 relatif besar. Selain itu penambahan
logam Fe pada Fe-Al-MCM-41 tidak terlalu berpengaruh terhadap kerusakan struktur MCM-41, hal
ini dikarenakan lemahnya ikatan Fe-O-Si setelah kalsinasi (Vinu dkk., 2004).
Difraktogram Fe-Al-MCM-41(15) menunjukkan pergeseran puncak dengan intensitas tinggi
pada 2θ sekitar 1,5-2,5
o
dan tidak tampaknya puncak pada 2θ sekitar 3,5-4,5
o
, 4,5-5,0
o
dan 6,0-
6,5
o
menunjukkan bahwa besarnya kandungan Fe dan Al untuk mensubstitusi Si dalam framework
MCM-41 berpengaruh terhadap regularitas struktur MCM-41 itu sendiri. Semakin kecil
perbandingan Si/(Fe+Al) maka jumlah Fe dan Al yang digunakan untuk mensubstitusi Si semakin
banyak, sehingga terjadi kerusakan struktur dari Fe-Al-MCM-41 yang terbentuk. Savidha dkk.,
(2004) melaporkan bahwa berkurangnya intensitas puncak dan terjadinya pergeseran puncak pada
bidang refleksi [100] mengindikasikan berkurangnya simetri dari struktur heksagonal MCM-41
akibat terbentuknya ikatan Fe atau Zn dalam struktur tersebut. Yahdi, (2009) melaporkan bahwa
penurunan intensitas diikuti dengan pergeseran 2θ kearah yang lebih besar. Semakin kecil
perbandingan mol Si/(Fe+Al) menunjukkan penurunan ketebalan dinding sel karena meningkatnya
kandungan logam Fe dan Al (Vinu dkk., 2004). Pengikatan kation logam Fe
3+
dan Al
3+
yang
mempunyai jari-jari ion yang lebih besar dibandingkan jari-jari ion Si
4+
menyebabkan pembesaran
jarak ikatan M-O. Jari-jari ion Fe
3+
dan Al
3+
yaitu 74 pm dan 53 pm, sedangkan Si
4+
sebesar 40 pm.
Penurunan intensitas, pelebaran dan pergeseran puncak difraktogram menurut Chen dkk.,
(1993) karena substitusi isomorphous dari heteroatom (dalam hal ini atom Al dan Fe) kedalam






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
framework Moleculer Sieve MCM-41 yang mengakibatkan perubahan sudut ikatan T-O-T dari Al
dan Fe dalam framework sehingga terjadi distorsi (penyimpangan) pada keteraturan struktur MCM-
41. Meningkatnya jumlah loading Fe dan Al mengakibatkan regularitas struktur Fe-Al-MCM-41
menurun (bertambah amorf) karena kemungkinan terjadi kerusakan parsial pada strukturnya,
karena Si-O-Al dan Si-O-Fe terasosiasi tidak stabil.

Hasil Karakterisasi Menggunakan FTIR
Spektra FTIR katalis MCM-41 menurut Gu dkk, (1999) memiliki empat puncak spesifik yaitu
pada bilangan gelombang 465, 797, 961, dan 1088 cm
-1
. Bilangan gelombang 961 cm
-1

menunjukkan puncak gugus Si-O-Si yang diperkirakan merupakan puncak karakteristik MCM-
41(Gu dkk., 1999).
Hasil analisis FTIR terhadap katalis Fe-MCM-41(100), Al-MCM-41(40), Fe-Al-MCM-41(25)
dengan Si/Al=40, Fe-Al-MCM-41(25) dengan Si/Al=60 dan Fe-Al-MCM-41(15) menunjukkan pola
serapan yang hampir sama. Semua katalis tersebut menunjukkan 5 puncak spesifik dari kerangka
MCM-41 seperti yang ditunjukkan pada gambar 3.2. Perbandingan puncak serapan FTIR katalis
hasil sintesis dapat dilihat pada tabel 3.2.
Puncak pada bilangan gelombang sekitar 453-467cm
-1
menunjukkan vibrasi tekuk Si-O-Si
dari kerangka SiO
4
. Puncak pada bilangan gelombang sekitar 796-802 cm
-1
merupakan vibrasi ulur
simetri Si-O-Si, puncak pada bilangan gelombang sekitar 960-968 cm
-1
menunjukkan vibrasi ulur
simetri Si-OH.
Puncak pada bilangan gelombang 1080-1091 cm
-1
sebagai puncak anti simetris pita vibrasi
Si-O-Si. Puncak pada daerah sekitar 1234-1238 cm
-1
merupakan vibrasi ulur asimetri eksternal dari
Si-O. Choi dkk, (2006) melaporkan bahwa puncak pada bilangan gelombang sekitar 660 dan 960
cm
-1
menunjukkan adanya spesies Si-O-Fe.

Gambar 2. Spektra FTIR katalis: (a) Fe-MCM-41(100), (b) Al-MCM-41(40), (c) Fe-Al-MCM-41(25)
dengan Si/Al=40, (d) Fe-Al-MCM-41(25) dengan Si/Al=60 dan (e) Fe-Al-MCM-41(15).

Apabila dibandingkan dengan spektra MCM-41 murni hasil penelitian Gu dkk, (1999),
puncak pada spektra Fe-Al-MCM-41(15) meningkat dari bilangan gelombang 797 cm
-1
menjadi
802,4 cm
-1
. Hal ini disebabkan karena kandungan Fe dan Al yang lebih besar dibandingkan Fe-Al-
MCM-41(25), Al-MCM-41(40) maupun Fe-MCM-41(100). Hal yang sama terjadi pada bilangan
gelombang gugus Si-O-Si yang meningkat dari 961 (Gu dkk., 1999) menjadi 964-968 cm
-1
, kecuali
untuk Fe-Al-MCM-41(25) dengan Si/Al=60 yang menunjukkan puncak pada 960,58 cm
-1
.
Kandungan Si dalam struktur Fe-Al-MCM-41(25) dengan perbandingan Si/Al=60 cukup
banyak, sehingga tidak terlalu berpengaruh pada vibrasi ulur simetri Si-OH. Peningkatan bilangan
gelombang yang lebih besar mengindikasikan adanya logam-logam yang telah bergabung dalam
framework silika MCM-41 (Selvaraj dkk., 2005). Telah diketahui bahwa jari-jari ion Si
4+
(40 pm)
1400 1200 1000 800 600 400
Bilangan gelombang (cm
-1
)
(a)
(b)
(c)
(d)
(e)






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
lebih kecil dibandingkan jari-jari ion Al
3+
(53 pm) maupun Fe
3+
(74 pm). Masuknya Fe dan Al yang
mempunyai ukuran lebih besar menyebabkan pita akan bergeser ke arah bilangan gelombang yang
lebih tinggi.
Tabel 3.2 Perbandingan puncak serapan FTIR katalis hasil sintesis
Katalis Bilangan geolmbang (cm
-1
)
Fe-MCM-41(100) 466,79 798,56 968,3 1091,75 1234,48
Al-MCM-41(40) 462,93 796,44 964,44 1084,05 1238,34
Fe-Al-MCM-41(25)
(Si/Al=40)
459,07 796,56 964,44 1084,03 1234,4
Fe-Al-MCM-41(25)
(Si/Al=60)
459,07 796,56 960,58 1080,17 1226,77
Fe-Al-MCM-41(15) 462,93 802,4 964,44 1084,03 1234,4

Hasil Karakterisasi Menggunakan FTIR-Piridin
Untuk menentukan jenis sisi asam dari katalis, yaitu sisi asam Bronsted dan asam Lewis,
maka dilakukan analisis spektroskopi FTIR dengan piridin sebagai molekul probe (penyidiknya).
Adsorpsi piridin dilakukan pada suhu 150
o
C dibawah kondisi vakum. Sebelum adsorpsi piridin,
katalis diprotonasi dengan dehidrasi dalam kondisi aliran gas N
2
pada suhu 400
o
C selama 3 jam.
Keasaman katalis dikarakterisasi dengan spektroskopi FTIR pada daerah 1700-1400 cm
-1
(Yahdi,
2009).
Berdasarkan gambar 3.3, spektra FTIR piridin menunjukkan beberapa puncak antara lain
puncak pada bilangan gelombang 1447, 1496, 1546, 1620 dan 1649 cm
-1
. Semua sampel memiliki
puncak pada bilangan gelombang 1447 dan 1620 cm
-1
, dimana puncak tersebut mengindikasikan
adanya sisi asam Lewis. Savidha dan Pandurangan, (2004) melaporkan bahwa puncak rendah
disekitar 1455 cm
-1
dan puncak tinggi disekitar 1620 cm
-1
mengindikasikan piridin teradsorp dalam
sisi asam Lewis.

Gambar 3 Spektra FTIR adsorpsi piridin: (a) Fe-Al-MCM-41(25) dengan Si/Al = 40, (b) Fe-Al-MCM-
41(25) dengan Si/Al = 60, (c) Fe-Al-MCM-41(15) dengan Si/Al = 40, (d) Fe-MCM-
41(100) dan (e) Al-MCM-41(40)

Puncak rendah pada bilangan gelombang 1447 cm
-1
disebabkan karena katalis Al-MCM-
41(40) tidak mengandung cukup sisi asam Lewis. Katalis Fe-Al-MCM-41(25) pada Si/Al = 40 dan
Fe-Al-MCM-41(25) pada Si/Al = 60 mempunyai puncak paling tinggi diantara lainnya, karena
1700 1650 1600 1550 1500 1450 1400


(e)
(c)
(d)
(b)
Bilangan Gelombang (cm
-1
)
A
b
s
o
r
b
a
n
s
i

(
a
.
u
)
L
B
L+B
B
L
(a)






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
kandungan Fe dan Al dalam MCM-41 memberikan kontribusi terhadap sisi asam Lewis. Menurut
Savidha, (2004) Al dan Fe berkontribusi terhadap keseluruhan sisi keasaman dari Al-MCM-41.
Intensitas puncak yang menunjukkan sisi asam Lewis maupun sisi asam Bronsted
berhubungan dengan kandungan Zn maupun Fe dalam framework Al-MCM-41 (Savidha dkk.,
2004). Jentys dkk., (1999) melaporkan bahwa keasaman material yang mengandung ion Al
3+

secara langsung bergantung pada jumlah ion Al
3+
dalam senyawa tersebut. Penggabungan kation
Al
3+
ke dalam struktur silika MCM-41 yang terkoordinasi secara tetrahedral menghasilkan sisi asam
Bronsted (Kang dkk., 2005).
Puncak rendah pada bilangan gelombang 1546 cm
-1
dan puncak tinggi pada 1649 cm
-1

menunjukkan piridin teradsorp pada sisi asam Bronsted. Aini, (2009) melaporkan bahwa puncak
pada bilangan gelombang 1638 dan 1545 cm
-1
merupakan ciri-ciri regangan ion piridium
(C
5
H
5
NH
+
), dimana piridin berikatan dengan proton. Kehadiran puncak regangan piridinium
membuktikan bahwa adanya kumpulan hidroksil yang bersifat asam Bronsted. Fe-MCM-41
mempunyai puncak sangat kecil pada bilangan gelombang 1546 cm
-1
, hal ini disebabkan oleh tidak
adanya kandungan Al dalam Fe-MCM-41.
Puncak pada bilangan gelombang 1496 cm
-1
merupakan pita adsorpsi gabungan sisi asam
Lewis dan sisi asam Bronsted. Hal ini sesuai dengan yang dilaporkan oleh Selvaraj (2005) bahwa
pita adsorpsi pada bilangan gelombang 1496 cm
-1
menunjukkan piridin yang terikat pada sisi asam
Lewis dan sisi asam Bronsted. Intensitas puncak pada bilangan gelombang 1496 cm
-1
tertinggi
berturut-turut: Fe-Al-MCM-41(15) > Fe-Al-MCM-41(25) pada Si/Al=40 > Fe-Al-MCM-41(25) pada
Si/Al=60 > Al-MCM-41(40) > Fe-MCM-41(100). Hal ini berhubungan dengan kandungan Fe dan Al
yang dapat berkontribusi terhadap sisi asam secara keseluruhan, baik sisi asam Lewis maupun sisi
asam Bronsted.
Secara umum, adanya Fe dapat meningkatkan sisi asam Lewis, sedangkan kekuatan sisi
asam Bronsted disebabkan oleh adanya ion Al
3+
dalam framework Al-MCM-41. Pengikatan Fe pada
koordinasi tetrahedral dalam struktur Al-MCM-41 menambah sisi asam secara keseluruhan, hal ini
disebabkan terbentuknya polarisasi yang kuat antara Si-O
δ-
…Fe
δ+
. Selain itu juga terdapat Si-O…Al
yang juga dapat berperan terhadap distribusi sisi keasaman (Savidha dkk., 2004).

4. Kesimpulan
Katalis Al-MCM-41, Fe-Al-MCM-41 dan Fe-MCM-41 telah berhasil disintesis dengan
metode hidrotermal dalam botol propilena pada suhu 100
o
C selama 144 jam. Proses kalsinasi
dilakukan pada suhu 550
o
C selama 6 jam. Berdasarkan hasil analisa XRD, difraktogram dari
katalis Al-MCM-41, Fe-Al-MCM-41 dan Fe-MCM-41 terbentuk sesuai dengan difraktogram MCM-
41. Peningkatan kandungan logam Fe dan Al untuk mensubstitusi atom Si menyebabkan
pergeseran dan penurunan intensitas puncak.
Hasil analisa FTIR menunjukkan bahwa spektra dari katalis Al-MCM-41, Fe-Al-MCM-41
dan Fe-MCM-41 mempunyai 5 puncak spesifik dari MCM-41 yaitu puncak pada bilangan
gelombang 466-462; 796-802; 960-968; 1080-1091 dan 1226-1238 cm
-1
. Hal ini menunjukkan
bahwa katalis tersebut mempunyai struktur yang sama dengan MCM-41.
Hasil analisa FTIR-Piridin dari katalis Al-MCM-41, Fe-Al-MCM-41 dan Fe-MCM-41
menunjukkan bahwa katalis hasil sintesis memiliki sisi asam Bronsted dan sisi asam Lewis. Sisi
asam Bronsted dipengaruhi oleh kandungan logam Al, sedangkan sisi asam Lewis dipengaruhi
oleh kandungan logam Fe. Peningkatan sisi asam katalis sesuai dengan meningkatnya kandungan
logam.

Ucapan Terima Kasih:
1. Dra. Ratna Ediati, MS, Ph.D selaku rekan penelitian MCM-41.
2. Lukman Atmaja, Ph.D selaku ketua Jurusan Kimia FMIPA ITS
3. Seluruh panitia SENAKI XII 2010 Kimia FMIPA ITS






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

Daftar Pustaka
Aini, Dinur. Rohmah., (2009), “Aktivitas Katalis Zn-Al-MCM-41 Pada Reaksi Siklisasi Sitronelal”,
Tesis, Master of Science (Kimia), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut
Teknologi Sepuluh Nopember.
Beck, J.S., Artuli, J.C., Rowth, W.J., Leonowiez, M.E., Kresge, C.T., Schmitt, K.D., Chu, T.W.,
Olson, D.H., Sheppard., E.W., Mc Cullen, S.B., Higgins, J.B., dan Sclenker, J.L, (1992), “A
New Family of Mesoporous Moleculer Sieves Prepared with Liquid Crystal Templates”,
American Journal of Chemical Society, Vol.114, hal. 10834-10843.
Bhattachrrya, KG, Anup K, Taklukdar, Parashmani, D., dan Sivasanker, S, (2001), “Acetylation of
Phenol with Al-MCM-41”, Catalysis Communication, Vol.2, hal. 105-111.
Chen, L.Y, Jaenicke, S., dan Chuah, G.K. (1993), “Thermal and Hydrotermal Stability of
Framework-substituted MCM-41 Mesoporous Materials”, Microporous Materials, Vol.12, hal.
323-330.
Choi, Jung-Sik., Yoon. Sang-Soon., Jang. Soo-Hyun., Ahn. Wha-Seung., (2006), “Phenol
hydroxylation using Fe-MCM-41 catalysts”, Catalyst Today, Vol.111, hal. 280-287.
Endud, S., Hadi dan Halimaton Hamdan. (1998), “Probing The Active Sites of Aluminated
Mesoporous Moleculer Sieve MCM-41 By Secondary Synthesis In The conversion of
Cycloheksanol”, Mesoporous Moleculer Sieve, Vol. 117, hal 453-459.
Gomes, H.T., Selvam, P., Dapurkar, S.E., Figuiredo, J.L, dan Faria, J.L, (2005), “Transition Metal
(Cu, Cr and V) modified MCM-41 for the Catalytic Wet Air Oxidation of aniline”, Microporous
and Mesoporous Materials, Vol.86, hal. 287-294.
Gu, G., Ong, P.P., dan Chu, C, (1999), “Thermal Stability of Mesoporous Silica Moleculer Sieve”,
Journal of Physic and Chemistry of Solid, vol. 60, hal 943-947.
Kang, F., Wang, Q., Xiang, S., (2005), “Synthesis of mesoporous Al-MCM-41 materials using
metakaolin as aluminium source”, Material Letters, Vol. 59, hal. 1426-1429.
Kim, J.M, Kwak. Ja Hun, Jun. Shinae dan Ryoo, R. (1995), “Ion Exchange and Thermal Stability of
MCM-41”, Journal of Physical Chemistry, Vol.99, hal 16742-16747.
Muhamed, B.A, (2005), “Synthesis, Characterization, and Activity of Al-MCM-41 Catalyst for
Hydroxyalkylation of Epoxides” Tesis, Master of Science (Chemistry), Faculty of Science
Universiti Teknologi Malaysia.
Perego, C dan Perluigi Villa. (1997), ”Catalyst Preparation Methods”, Catalysis Today, Vol. 34, hal.
281-305.
Savidha, R., dan Pandurangan, A. (2004), “Vapour Phase Isopropylation of Phenol Over Zinc and
Iron containing Al-MCM-41 Moleculer Sieves”, Applied Catalysis A, Vol. 262, hal 1-11.
Selvaraj, M., dan Lee. T.G., (2005), “t-Butylation of toluene with t-butyl alcohol over mesoporous
Zn-Al-MCM-41 moleculer sieves”, Microporous and Mesoporous Materials, Vol. 85, hal 59-
74.
Vinu, A dan Nandhini, Usha K. (2004), “Mesoporous FeAlMCM-41: an Improved Catalyst for the
Vapor Phase tert-butylation of phenol”, Applied Catalysis, Vol. 265, hal 1-10.
Yahdi, (2009), “Sintesis dan Karakterisasi Katalis H-Al-MCM-41 dengan variasi Rasio Si/Al serta
Aktivitasnya pada Reaksi Siklisasi Sitronelal”, Tesis, Master of Science (Kimia), Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Zhao, X., Lu, M., Miller, dan Graeme, J. (1996), “Advanced in Mesoporous Moleculer Sieve MCM-
41”,Industrial Engineering Chemical Research, Vol.35, hal 2075-2090.









ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

SINTESIS Zr-Al-MCM-41 DENGAN METODE
HIDROTERMAL SERTA KARAKTERISASINYA

Ratna Ediati
1)
, Faurista Agustin Lestari
2)

Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
e-mail: rediati@chem.its.ac.id, rista@chem.its.ac.id / faurista_al@yahoo.com


Abstrak

Pada penelitian ini telah dilakukan sintesis Al-MCM-41, Zr -MCM-41, dan Zr-Al-MCM-41
dengan metode hidrotermal., kemudian dikarakterisasi menggunakan XRD, FT-IR, dan FT-IR
piridin. Difraktogram XRD dari Zr-Al-MCM-41 ditandai dengan munculnya puncak-puncak
karakteristik pada 2θ sekitar 2,42-2,56; 4,06-4,25 dan 4,75-4,78, sedangkan spektra FT-IRnya
memiliki pola yang serupa dengan MCM-41. Hasil pengukuran keasaman dengan FT-IR piridin
menunjukkan bahwa Al-MCM-41 mempunyai sisi asam Lewis dan gabungan sisi asam Lewis dan
Brønsted. Sedangkan Zr-Al-MCM-41 mempunyai sisi asam Brønsted, disamping kedua sisi asam
tersebut. Zr-Al-MCM-41 dengan rasio Si/(Zr+Al)=25 mempunyai keasaman paling tinggi. Semakin
banyak ion zirkonium yang ditambahkan, maka keasaman padatan yang terbentuk semakin besar.

1. Pendahuluan

Mobil Corporation (1992) telah menemukan kelompok M41S dari silikat/aluminat mesopori.
MCM-41 merupakan salah satu material mesopori anggota M41S yang mempunyai struktur
heksagonal dan pori yang seragam dengan diameter 15-100 Ǻ (Beck et al., 1992; Kresge et al.,
1992). MCM-41 mempunyai keasaman rendah tetapi kelebihannya adalah mempunyai struktur
teratur, ukuran pori besar dan seragam, stabilitas termal tinggi, dan luas permukaan yang besar
telah digunakan secara luas sebagai katalis ataupun media adsorpsi (Zhao et al.,1996).
MCM-41 merupakan katalis heterogen dengan struktur yang teratur dan mempunyai ukuran
pori yang sesuai untuk digunakan pada reaksi organik. Akan tetapi, MCM-41 murni tidak dapat
digunakan langsung sebagai katalis, sehingga perlu ditambahkan logam atau bukan logam untuk
menciptakan sisi asam (Bhattacharryya, 2001). Selain itu, Carrot et al.,(2006) melaporkan bahwa
meningkatnya kandungan logam akan menurunkan kualitas pori, seperti menurunnnya keteraturan
struktur disertai dengan menurunnya luas permukaan dan volume pori. Kualitas struktur pori dan
keasamannya memegang peranan penting dalam reaksi katalitik. Bîrjega et al., (2002) meneliti
MCM-41 yang ditambah ion logam Al.
Sintesis MCM-41 ini dapat dipengaruhi beberapa faktor seperti jenis surfaktan, waktu, suhu
sintesis hidrotermal, serta pengkondisian pH. Faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi diameter
pori, ketebalan dinding, dan struktur dari senyawa akhir (Blin et al.,2000). Ukuran pori MCM-41
dapat diatur melalui pemilihan surfaktan, penambahan senyawa organik dan pengubahan
parameter reaksi. Reaksi gel yang mengandung konsentrasi surfaktan tinggi akan menyebabkan
terjadinya kesetimbangan antara misel dengan molekul monomerik (Zhao et al.,1996).
Sintesis katalis mesoporus dengan sifat redoks juga dapat dilakukan dengan menggunakan
logam-logam transisi seperti Ti, V, Zr, dan Cr dalam ikatan silika dan silika-alumina (Beck et al.,
1992; Corma et al., 1994; Reddy et al., 1994). Diantara logam-logam transisi tersebut, logam
zirkonium merupakan oksida logam transisi yang tidak bersifat asam lemah dan basa lemah, tetapi
sebagai redoks. Zirkonium banyak digunakan dalam proses katalitik pada katalis, sebagai
pendukung, dan juga sebagai promotor (Tanabe et al.,1994; Teterycz et al.,2003). Zirkonium juga






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
merupakan salah satu logam yang penting karena kemungkinan adanya polarisasi yang kuat
antara ikatan SiO
2-
....Zr
2+
(Beck et al., 1992; Corma et al., 1994; Reddy et al., 1994). Selain itu,
zirkonium mempunyai luas permukaan yang rendah (biasanya 50 m2g-1) (Nawrocki, J. et al.,
1993).
Eswaramoorthi et al., (2004) membandingkan struktur Al-MCM-41 (Si/Al = 50) dengan Zr-
Al-MCM-41 (Si/Zr = 200,100, dan 50). Berdasarkan hasil karakterisasi yang telah dilakukan
didapatkan bahwa Al-MCM-41 dan Zr-Al-MCM-41 (Si/Zr = 200,100, dan 50), dengan rasio Si/Al =
50 adalah tetap, mempunyai nilai d-spacing 44.0, 45.3, 46.0, dan 47.2. Hal ini menandakan bahwa
ion logam zirkonium yang ditambahkan telah masuk dalam kerangka Al-MCM-41, sehingga Zr-Al-
MCM-41 ini dapat diaplikasikan sebagai katalis hidroisomerisasi dan hidrokraking. Oleh karena itu,
pada penelitian ini akan dilakukan sintesis Zr-Al-MCM-41 dengan menggunakan metode
hidrotermal dengan variasi rasio Si/(Al+Zr)=25 dan 40 serta Si/Al=40 dan untuk membandingkan
pengaruh zirkonium terhadap kerangka MCM-41 dilakukan sintesis Zr-MCM-41, dimana jumlah Al
adalah tetap. Adapun sumber silika yang digunakan adalah natrium metasilikat anhidrat (silika
murni).

2. Metode Penelitian
Peralatan dan Bahan

Peralatan
Peralatan yang digunakan untuk sintesis katalis dalam percobaan ini adalah beker glass,
beker plastik, pengaduk magnetik, botol polipropilen 500 mL, pipet tetes, kertas saring, neraca
analitik, oven listrik, muffle furnace, hot plate, corong Buchner, pompa vakum, krusibel, difraksi
sinar-X (XRD,JEOL), spektrofotometer FT-IR (BUCK-500).

Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah natrium metasilikat pentahidrat
(Na
2
SiO
3
.5H
2
O, LIPI), Cetiltrimetilamonium bromida (CTABr, Merck), aqua DM, etanol,
Zirconium(IV) oxide cloride octahydrate (ZrOCl
2
.8H
2
O, Merck), Aluminiumsulfat kristal
(Al
2
(SO
4
)
3
.18H
2
O, Merck), Asam sulfat 98%, dan kertas pH universal (MN).

Prosedur Kerja
Katalis Al-MCM-41 dengan rasio Si/Al=60 disintesis pada perbandingan gel 0,1SiO
2
:
0,0009Al
2
O
3
: 0,025CTABr : 10 H
2
O. Mula-mula CTABr 0,025 mol dilarutkan dalam aqua DM
sebanyak 50 ml, ditambahkan Na
2
SiO
3
.5H
2
O 0,1 mol yang telah dilarutkan dalam 50 ml aqua DM,
lalu ditambahkan Al
2
(SO
4
)
3
.18H
2
O 0,0009 mol yang telah dilarutkan dalam 20 ml aqua DM. Larutan
campuran diaduk selama 30 menit menggunakan pengaduk magnetik dengan kecepatan 350 rpm.
Selanjutnya, ditambahkan asam sulfat secara terus-menerus hingga pH 10-11, dan terbentuk
suspensi. Setelah itu, distrirer lagi 30 menit, lalu dipindahkan ke botol polipropilen 500 mL, dan
dioven pada suhu 100°C selama 6 hari. Selanjutnya d idinginkan pada suhu ruang dan disaring.
Residu dicuci dengan aqua DM hingga pH netral, dikeringkan pada suhu 100 C selama 12 jam,
dan dikalsinasi pada suhu 550 C selama 6 jam.
Sintesis Zr-MCM-41 dilakukan dengan cara yang sama seperti pada Al-MCM-41. Ion logam
yang ditambahkan dalam MCM-41 diganti dengan ion Zr dari Zirconium(IV) oxide cloride
octahydrate (ZrOCl
2
.8H
2
O). Rasio Zr-MCM-41 adalah Si/Zr=25. Perbandingan mol gel yang
digunakan adalah 0,1SiO
2
: 0,001ZrO
2
: 0,025CTABr : 10H
2
O
Begitu pula dengan sintesis Zr-Al-MCM-41, perlakuan yang dilakukan sama halnya seperti
Al-MCM-41 dan Zr-MCM-41, ion logam yang ditambahkan dalam sintesis ini adalah ion Al dan ion
Zr. Variasi rasio pada sintesis Zr-Al-MCM-41 adalah Si/(Zr+Al)=25 dan Si/(Zr+Al)=40.
Perbandingan mol gel yang digunakan adalah 0,1SiO
2
: 0,0009Al
2
O
3
: XZrO
2
: 0,025CTABr : 10
H
2
O, dimana nilai X adalah 0,001 dan 0,0008.






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Padatan putih hasil sintesis dikarakterisasi dengan XRD, FT-IR, dan keasaman dengan
metode adsorpsi piridin (FT-IR piridin).

3. Hasil dan Diskusi
Sintesis Al-MCM-41, Zr-MCM-41, dan Al-MCM-41
Penelitian ini diawali dengan melarutkan CTABr dalam aqua DM. CTABr merupakan
surfaktan yang bertindak sebagai templat pengarah (prekursor) susunan heksagonal MCM-41
dengan cara membetuk misel. Setelah itu, ditambahkan larutan Na
2
SiO
3
.5H
2
O yang merupakan
sebagai sumber silikat. Penambahan Al
2
(SO
4
)
3
.18H
2
O ke dalam campuran reaksi dan tetap diaduk
supaya terjadi pembentukan gel dan penyempurnaan dispersi dari ion Al
3+
dalam kerangka MCM-
41, kemudian pH larutan diturunkan dengan ditambahkan H
2
SO
4
tetes demi tetes hingga pH 10,8.
H
2
SO
4
ini digunakan sebagai agen pengendap untuk mengubah campuran reaksi menjadi
suspensi. Perlakuan hidrotermal pada suhu 100C selama 6 hari (144 jam), merupakan proses
kristalisasi sehingga diharapkan keteraturan struktur mesoporinya dapat ditingkatkan, seperti yang
disampaikan oleh Eimer,et, al.,(2003) dan setelah dioven akan terbentuk endapan putih
(Parego,1997).
Endapan yang berada dalam botol polipropilen (PP) didinginkan pada suhu ruang. Waktu
pendiaman yang lebih lama dilakukan dengan harapan derajat kristalinitas dari struktur Al-MCM-41
yang terbentuk meningkat (Park et, al.,1997). Pencucian produk sintesis dengan aquadest dan
etanol yang dilanjutkan dengan pengeringan pada suhu 100C bertujuan untuk menghilangkan
pengotor dan surfaktan. Selanjutnya, dilakukan kalsinasi pada suhu 550 C selama 6 jam. Pada
tahap kalsinasi diharapkan terjadi proses-proses seperti hilangnya air kristal, berubahnya tekstur
kristal, muncul fasa aktif, serta sifat mekanik yang makin stabil (Perego, 1997). Hasil kalsinasi
berupa serbuk putih Al-MCM-41. Poh et al., (2005) menjelaskan bahwa masuknya logam Al dalam
framework MCM-41 akan meningkatkan sisi asam Lewis, selanjutnya akan dikarakterisasi dengan
XRD, FT-IR, dan FT-IR piridin.

Hasil Karakterisasi
Hasil Karakterisasi dengan XRD
Karakterisasi dengan metode difraksi sinar-X (XRD) dilakukan untuk mengetahui pola
difraktogram struktur dari katalis Al-MCM-41, Zr-Al-MCM-41dan Zr-MCM-41 hasil sintesis dengan
metode hidrotermal.
Berdasarkan penelitian sebelumnya, MCM-41 mempunyai pola difraksi sinar-X dengan
puncak karakterisasi di daerah 2θ yang sangat rendah, yaitu antara 2 – 10°dan tidak ditemukan
adanya puncak lain pada sudut lebih dari 10°(Gu et al., 1999). Gambar 3.1 (a) Adanya puncak
tajam pada 2θ = 2,44°dan puncak kecil yang terlihat di 2 θ = 4,06°serta 2 θ = 4,56°menunjukkan
adanya kemiripan pola difraktogram padatan Al-MCM-41 hasil sintesis dengan pola difraktogram
Al-MCM-41 yang telah dilaporkan oleh Ajaikumar dan Pandurangan pada tahun 2008.
Puncak-puncak tersebut merupakan puncak-puncak karakteristik dari struktur MCM-41,
sesuai yang dilaporkan oleh Beck et al., (1992) bahwa puncak karakteristik dari difraksi heksagonal
MCM-41 terdiri dari puncak kuat pada 2θ = 1,8-2,4°yang merupakan refleksi bidang (100) se rta 4
puncak pada 2θ antara 3,0-8,0°yaitu 2 θ = 3,5-4,12°; 2 θ = 4,31-4,85°, 2 θ = 5,64-6,00°dan 2 θ = 6,7°
yang berturut-turut merupakan refleksi bidang (110), (200), (210) dan (300). Oleh karena itu, dapat
disimpulkan bahwa keteraturan struktur MCM-41 sudah terbentuk pada padatan Al-MCM-41 hasil
sintesis.










ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
2 4 6 8 10


I
n
t
e
n
s
i
t
a
s

(
C
P
S
)
2θ (°)

















Gambar 1 Difraktogram (a) Al-MCM-41 (60); (b) Zr-Al-MCM-41 (40);
(c) Zr-Al-MCM-41 (25)

Tabel 1 Perbandingan Difraktogram Zr-Al-MCM-41 Hasil Sintesis dengan Zr-Al-MCM-41 (Hasil
Sintesis).
Puncak
Al-MCM-41 (60)
Zr-Al-MCM-41
Si/(Zr+Al)=40 Si/(Zr+Al)=25
2θ (°) d (Ǻ) 2θ (°) d (Ǻ) 2θ (°) d (Ǻ)
1 2,44 36,15 2,42 36,43 2,53 34,83
2 4,06 21,74 4,22 20,89 4,25 20,77
3 4,56 19,36 4,74 18,62 4,78 18,47
4 6,08 14,51 5,92 14,91 5,96 14,81

Tabel 1 menunjukkan bahwa nilai 2θ difraktogram Zr-Al-MCM-41 (40) adalah 2,42°yang
diikuti dua puncak tambahan pada 2θ = 4,22 dan 4,74°. Sedangkan pada Zr-Al-MCM-41 (25)
adanya puncak dengan sudut 2θ = 2,53°serta adanya puncak tambahan pada sudut 4, 25 dan
4,78°. Pengamatan ini menunjukkan bahwa penambahan ion zirkonium ke dalam Al-MCM-41
menurunkan keteraturan struktur karakteristik MCM-41 dari Zr-Al-MCM-41 yang terbentuk. Semakin
banyak ion zirkonium yang ditambahkan, padatan Zr-Al-MCM-41 yang terbentuk tidak lagi
menunjukkan keteraturan struktur MCM-41 dan bertambah amorf. Kerusakan dari struktur Zr-Al-
MCM-41 (25) tersebut kemungkinan terjadi karena Si-O-Zr terasosiasi tidak stabil akibat pengaruh
jari-jari ion Zr
4+
dan Al
3+
yang mempunyai ukuran yang lebih besar dari ion Si
4+
. Ion Zr
4+
yang
memiliki jari-jari 59 pm dan ion Al
3+
yang memiliki jari-jari 53 pm mensubstitusi ion Si
4+
yang
memiliki ukuran lebih kecil (jari-jari ionnya = 40 pm), menyebabkan terjadinya kerusakan struktur
Zr-Al-MCM-41 yang terbentuk (Muhamed, 2005).
1
2
3
4
(a)
(b)
(c)






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
2 4 6 8 10


I
n
t
e
n
s
i
t
a
s

(
C
P
S
)
2θ (°)
Pola difraktogram dari Zr-MCM-41 hasil sintesis dengan rasio Si/Zr = 25 dapat dilihat pada
Gambar 2. Berdasarkan data XRD tersebut diketahui bahwa pola difraktogram Zr-MCM-41 (Si/Zr =
25) hanya memiliki satu puncak, yaitu pada sudut 2θ = 2,56°yang menunjukkan bahwa keteraturan
struktur MCM-41 tidak terbentuk pada Zr-MCM-41 hasil sintesis. Menurut Muhamed (2005), ion
logam Zr
4+
yang masuk ke dalam struktur SiO
2
akan membentuk kerangka Zr-MCM-41. Karena
ukuran jari-jari ion Zr
4+
(59 pm) lebih besar dari pada jari-jari ion Si
4+
(40 pm), menyebabkan
terjadinya penurunan nilai parameter kisi. Oleh karena itu, jumlah ion Zr
4+
yang masuk dalam
struktur MCM-41 dapat mempengaruhi regularitas struktur Zr-MCM-41. Semakin banyak jumlah ion
Zr
4+
yang ditambahkan, regularitas struktur Zr-MCM-41 semakin berkurang.















Gambar.2 Difraktogram Zr-MCM-41 (25)

Hasil Karakterisasi dengan FT-IR
FT-IR digunakan untuk membantu mendapatkan informasi dalam memperkirakan struktur
molekul katalis Al-MCM-41, Zr-MCM-41, dan Zr-Al-MCM-41 hasil sintesis, yang dapat dilihat pada
Gambar 3. Seperti dapat dilihat, jika dibandingkan dengan Al-MCM-41 dan Zr-MCM-41 hasil
sintesis, puncak-puncak serapan karakteristik katalis Zr-Al-MCM-41 teramati pada bilangan
gelombang yang hampir sama. Nilai masing-masing puncak serapan FT-IR dari seluruh katalis
hasil sintesis yang direkam pada daerah bilangan gelombang 400-4000 cm
-1
ditabulasikan pada
Tabel 3.2 Berdasarkan spektra IR pada Gambar 3 tersebut diketahui bahwa puncak lebar yang
muncul pada bilangan gelombang 3421,83 cm
-1
merupakan daerah serapan gugus OH dari air.
Serapan vibrasi ulur simetri dan asimetri Si-O-Si terlihat pada bilangan gelombang 798,56 dan
1238,34 cm
-1.
Puncak karakteristik dari gugus Si-O dimana O berikatan dengan H muncul pada
bilangan gelombang 964,44 yang menunjukkan bahwa struktur MCM-41 telah terbentuk pada
katalis Zr-Al-MCM-41 dengan variasi rasio Si/(Zr+Al) = 40 dan 25. Sedangkan serapan vibrasi tekuk
dari gugus Si-O muncul pada bilangan gelombang 455,22 cm
-1
. Munculnya puncak serapan pada
bilangan gelombang disekitar 964,44 dan 455,22 cm
-1
untuk katalis Zr-Al-MCM-41 dengan variasi
rasio Si/(Zr+Al) = 40 dan 25 yang mengindikasikan bahwa struktur kerangka Al-MCM-41 tidak
berubah dengan adanya ion zirkonium. Kecenderunan yang sama juga dilaporkan oleh Qomariyah,
(2009) untuk katalis Ni-Al-MCM-41. Penambahan ion Ni ke dalam Al-MCM-41 mengindikasikan
bahwa struktur framework Al-MCM-41 tidak berubah.









SEMINAR NASIONAL KIMI
Surabaya, 2
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA
4000




















Gambar 3 Spektra FT-IR (a) Al
MCM-41 (40)

Tabel 2 Identifikasi puncak
Puncak
Bilangan
Gelombang
(cm
Al-MCM-41 (Hasil
Sintesis)
1 3421,12
2 1226,77
3 798,56
4 960,58
5 459,07

Hasil Karakterisasi dengan FT
Masuknya ion logam zirkonium dalam katalis Al
keasaman katalis. Pada penelitian Eswaramoorthi
digunakan pada hidroisomerisasi ataupun
41 akan menjadi sisi asam Lewis dan berperan sebagai sisi aktif pada proses katalis. Penelitian
yang telah dilakukan Selvaraj
meningkatkan jumlah sisi asam.
ISBN 978
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
4000 3000 2000 1000

Bilangan Gelombang (cm
-1
)
IR (a) Al-MCM-41 (60), (b) Zr-MCM-41 (25), (c) Zr-Al

Tabel 2 Identifikasi puncak-puncak serapan FT-IR katalis hasil sintesis
Bilangan
Gelombang
(cm
-1
)
Bilangan
Gelombang
(cm
-1
)
Bilangan Gelombang
41 (Hasil
Sintesis)
Zr-MCM-41 (Hasil
Sintesis)
Zr-Al-MCM
Si/(Zr+Al) = 25
3421,12 3421,83 3421,83
1226,77 1222,91 1238,34
798,56 802,41 798,56
960,58 964,44 964,44
459,07 462,93 455,22
Hasil Karakterisasi dengan FT-IR Piridin
Masuknya ion logam zirkonium dalam katalis Al-MCM-41 akan dapat meningkatkan
keasaman katalis. Pada penelitian Eswaramoorthi et al, (2004) dikatakan bahwa katalis ini dapat
nakan pada hidroisomerisasi ataupun hydrocracking. Adanya ion logam pada struktur Al
41 akan menjadi sisi asam Lewis dan berperan sebagai sisi aktif pada proses katalis. Penelitian
yang telah dilakukan Selvaraj et al., (2005) juga menjelaskan bahwa ada
meningkatkan jumlah sisi asam.
1 2
ISBN 978-602-98130-0-5
1000

Al-MCM-41 (25), (d) Zr-Al-
Bilangan Gelombang
(cm
-1
)
MCM-41 Hasil Sintesis
Si/(Zr+Al) = 25 Si/(Zr+Al) = 40
3421,83
1238,34
798,56
968,3
459,07
41 akan dapat meningkatkan
, (2004) dikatakan bahwa katalis ini dapat
. Adanya ion logam pada struktur Al-MCM-
41 akan menjadi sisi asam Lewis dan berperan sebagai sisi aktif pada proses katalis. Penelitian
., (2005) juga menjelaskan bahwa adanya ion logam akan

3
4
5
(a)
(b)
(c)
(d)






SEMINAR NASIONAL KIMI
Surabaya, 2
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA
1600
Puncak yang muncul pada bilangan gelombang 1446 cm
adsorpsi piridin pada sisi asam Lewis, dimana piridin menggunakan pasangan elektron bebas untuk
berikatan dengan orbital kosong s
gelombang 1550 cm
-1
mengindikasikan adanya adsorpsi piridin pada sisi asam Brønsted. Hal ini
merupakan karakter vibrasi untuk ion piridinium (C
dari gugus OH sampel yang bersifat asam Brønsted (Prasetyoko,2000). Puncak Vibrasi piridinium
membuktikan adanya gugus OH bersifat asam Brønsted. Puncak yang muncul disekitar 1492 cm
menunjukkan adanya gabungan dari kedua sisi asam Lewis dan Brønsted.






























Gambar 3.4 Spektra FT-IR piridin (a) Al
(d) Zr-Al-MCM

Intensitas puncak meningkat dengan meningkatnya kandungan Zr, yang merupakan indikasi
bahwa keasaman katalis meningkat sebanding dengan kandungan zirkonium. Hal ini kemungkinan
dikarenakan adanya polarisasi ikatan dari Si
kemungkinan yang terjadi adalah terbentuknya ikatan Si
ISBN 978
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
1580 1560 1540 1520 1500 1480 1460 1440 1420 1400
Bilangan Gelombang cm
-1
Puncak yang muncul pada bilangan gelombang 1446 cm
-1
mengindikasikan adanya
adsorpsi piridin pada sisi asam Lewis, dimana piridin menggunakan pasangan elektron bebas untuk
berikatan dengan orbital kosong sampel. Sedangkan puncak yang muncul pada bilangan
mengindikasikan adanya adsorpsi piridin pada sisi asam Brønsted. Hal ini
merupakan karakter vibrasi untuk ion piridinium (C
5
H
5
NH
+
), dimana piridin berikatan dengan proton
ampel yang bersifat asam Brønsted (Prasetyoko,2000). Puncak Vibrasi piridinium
membuktikan adanya gugus OH bersifat asam Brønsted. Puncak yang muncul disekitar 1492 cm
menunjukkan adanya gabungan dari kedua sisi asam Lewis dan Brønsted.
IR piridin (a) Al-MCM-41 (60), (b) Zr-MCM-41 (25), (c) Zr
MCM-41 (40)
Intensitas puncak meningkat dengan meningkatnya kandungan Zr, yang merupakan indikasi
s meningkat sebanding dengan kandungan zirkonium. Hal ini kemungkinan
dikarenakan adanya polarisasi ikatan dari Si–O
-
----Zr
+
dalam Zr
kemungkinan yang terjadi adalah terbentuknya ikatan Si–O---Zr dan Si–O (Eswaramoorthi
B

L
ISBN 978-602-98130-0-5
1400
mengindikasikan adanya
adsorpsi piridin pada sisi asam Lewis, dimana piridin menggunakan pasangan elektron bebas untuk
ampel. Sedangkan puncak yang muncul pada bilangan
mengindikasikan adanya adsorpsi piridin pada sisi asam Brønsted. Hal ini
), dimana piridin berikatan dengan proton
ampel yang bersifat asam Brønsted (Prasetyoko,2000). Puncak Vibrasi piridinium
membuktikan adanya gugus OH bersifat asam Brønsted. Puncak yang muncul disekitar 1492 cm
-1

menunjukkan adanya gabungan dari kedua sisi asam Lewis dan Brønsted.
41 (25), (c) Zr-Al-MCM-41 (25),
Intensitas puncak meningkat dengan meningkatnya kandungan Zr, yang merupakan indikasi
s meningkat sebanding dengan kandungan zirkonium. Hal ini kemungkinan
dalam Zr-Al-MCM-41, sehingga
O (Eswaramoorthi et al.,
(d)
(c)
(b)
(a)






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
2004). Bila keasamannya dibandingkan dengan Eswaramoorthi, (2004), tingkat keasaman yang
dimiliki Eswaramoorthi lebih tinggi dibanding dengan hasil sintesis, hal ini dikarenakan adanya
pengaruh ion logam Al yang masuk dalam MCM-41 lebih banyak dibanding ion logam Al yang
digunakan dalam sintesis. Poh et al, (2006) mengatakatan bahwa penambahan ion logam Al dapat
mempengaruhi tingkat keasaman sisi Brønsted.

4. Kesimpulan
Padatan Al-MCM-41, Zr-MCM-41, dan Zr-Al-MCM-41 telah berhasil disintesis dengan
metode hidrotermal. Hasil karakterisasi menggunakan XRD menunjukkan adanya puncak-puncak
difraktogram pada sudut 2θ kurang dari 10°. Katalis Al-MCM-41 (60) memiliki s truktur yang mirip
dengan padatan MCM-41 serta memiliki kristalinitas lebih tinggi dibanding Zr-MCM-41, Zr-Al-MCM-
41 (40) dan Zr-Al-MCM-41 (25). Penambahan ion zirkonium dalam proses sintesis menyebabkan
perubahan struktur Al-MCM-41 yang ditandai dengan penurunan intensitas puncak-puncak
difraktogramnya. Meskipun demikian, spektra FT-IR dari semua padatan hasil sintesis
menunjukkan pola spektra yang sama dengan MCM-41. Sedangkan hasil karakterisasi
menggunakan FT-IR piridin menunjukkan bahwa Zr-Al-MCM-41 (25) memiliki keasaman paling
tinggi dibandingkan dengan ketiga padatan yang lain. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa
semakin banyak ion zirkonium yang ditambahkan, maka keasaman padatan yang terbentuk
semakin besar.

Daftar Pustaka

Ajaikumar, S., Pandurangan, A., (2008), “Reaction of Benzaldehyde with Various Aliphatic Glycols
in the Presence of Hydrophobic Al-MCM-41: A Convenient Synthesis of Cyclic Acetals”,
Journal of Molecular Catalysts A: Chemical, Vol. 290, Hal. 35-43
Beck, J.S., Vartuli, J.C.,Roth, W.J., Leonowiez, M.E.,Kresge, C.T., Schmitt, K.D., Chu, G.T.W.,
Olson, D.H., Sheppard, E.W., McCullen, S.B., Higgins dan J.B., Schlenker, J.L., (1992),
“A New Family of Mesoporous Molecular Sieves Prepared With Liquid Crystal
Template”, American Journal of Chemical Society, Vol. 114, Hal. 10834-10843.
Birjega, R., Nenu, C., Ganea, R., Pop, Gr., Şerban, S., Blaseo, T., (2002), “Synthesis and
Characterization of Bimetallic Ga,Al-MCM-41 and Fe,Al-MCM-41”, Studies on Surface
Science and Catalysis, Vol. 142, Hal. 1331-1338.
Blin, J, L., Harrier, G., Otjacqueus, C., Bao-Lian So, (2000), “New Way to Synthesize: MCM-41 and
MCM-48 Material with Toilered Pore Size”, Studies on Surface Science and Catalysis,
Vol. 129, Hal. 57-66.
Corma, A., Nawaro, M, T., Perez-Pariente, Sanches, S., (1994), “Preparation and Properties of Ti-
containing MCM-41”, Studies on Surface Science and Catalysis, Vol.84, hal. 69-75.
Eswaramoorthi, I., Sundaramurthi, V., Lingappan, N., (2004), “Hydroisomerisation of C
6
–C
7
n-
alkane over Pt Loaded Zirkonium Containing Al-MCM-41 Molecular Sieves” Microporous and
Mesoporous Material, Vol. 71, Hal. 109-111.
Nawrocki, J., Ziolek, M., Kasprzyk, B., Nowak, I., (2002), “A Possible Use of Modified Mesoporous
Molecular Sieves in Water Treatment Process”, Studies on Surface Science and
Catalysis, Vol.141, Hal. 591-598.
Poh, Eng Ng., Nur, H., Nazlan, M., Muhid, M., Hamdan, H., (2006), “Sulphated Al-MCM-41:
Mesoporous Solid Brønsted Acid Catalysts for Dibenzoylation of Biphenyl”, Catalysis
Today, Vol. 114, Hal. 257-262.
Reddy, M, K., Wei Boli, Song C., (1998), “Mesoporous Molecular Sieves MCM-41 Supported Co-Mo
Catalyst for Hydrosulfurization of Petroleum Residu”, Catalysis Today, Vol. 43, Hal. 261-
272.






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Selvaraj, M., Lee, G, T., (2005), “t-Butylation of Toluena with t-butyl Alcohol Over Mesoporous Zn-
Al-MCM-41 Molecular Sieves”, Microporous and Mesoporous Materials, Vol. 85, Hal.
59-79.
Tanabe, M., Hokim, J., Nivea, (1997), “Characterizatoin and Catalytic Activity of the Al-MCM-41
Prepared by Methode of Gel Equalibrium Adjustment”, Microporous and Mesoporous
Materials, Vol. 10, Hal. 85-93.
Zhao, Xiu., Lu, Max., dan Graeme J., (2006), “Advanced in Mesoporous Molecular Sieve MCM-41”,
Industrial Engineering Chemical. Research, Vol. 35, Hal. 2075-2090.









































ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

ANALISA SIFAT KIMIA GELATIN KULIT IKAN PATIN
(Pangasius)
MELALUI VARIASI JENIS LARUTAN ASAM

Yuniarto, Fahimah Martak*, Lukman Atmaja*

Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Abstrak
Gelatin adalah biopolymer protein yang diperoleh dari jaringan kolagen hewan yang terdapat pada
kulit, tulang dan jaringan ikat Pada peneltian ini telah diisolasi gelatin dari kulit ikan Patin
(Pangasius) yang divariasikan pada tipe A dengan variasi jenis larutan asam dengan konsentrasi,
waktu perendaman dan waktu ekstraksi masing – masing larutan sama. Gelatin dari kulit ikan Patin
(Pangasius) direndam pada larutan asam Klorida 5 % ( GLK ), asam phospat 5 % (GLP) dan asam
sitrat 5 % (GLS) dengan waktu perendaman masing – masing ± 12 jam dan lama ekstraksi masing
– masing larutan asam 3 jam. Dari hasil penelitian ini diperoleh hasil gelatin dengan rendemen
gelatin 8,11 %, 1,88 %, dan 2,66 % untuk nilai rendeman GLK, GLS dan GLP. Struktur gelatin
secara umum di analisa dengan FTIR menunjukkan adanya serapan gugus karbon C-H, hidroksil
(OH), gugus karbonil (C=O), gugus C-H aromatik dan gugus amina (N – H) yang kesemua gugus
fungsi tersebut hamper sama dengan gelatin komersial. Nilai berat molekul rata – rata gelatin pada
GLK, GLS dan GLP memiliki nilai secara berurutan 1.609.137 gr/mol, 35.788 gr/mol dan 455.294
gr/mol. Dari hasil analisa tersebut total berat gelatin dan hasil analisa FTIR gelatin terbaik pada
variasi Asam Phospat dengan konsentrasi 5 %.

Kata kunci : Gelatin, Ikan Patin, kulit, Berat Gelatin, Analisa FTIR.

1. Pendahul uan

Gelatin adalah biopolymer protein yang diperoleh dari jaringan kolagen hewan yang terdapat
pada kulit, tulang dan jaringan ikat. Dalam industri makanan, gelatin digunakan pada permen
(sebagai penyedia elastisitas dan stabilisator), mentega dan keju (sebagai penyebab bentuk
cream), susu (sebagai stabilisator), roti dan kue (sebagai emulsifier dan stabilisator) dan makanan
– makanan berdaging (sebagai water-binding) (Johnston-Banks,1990; Scheriber dan Gareis,2007).
Gelatin juga digunakan sebagai bahan untuk membuat zat pelapis makanan dan lapis tipis (film)
pembungkus bahan – bahan makanan yang berfungsi sebagai pelindung dari proses pengeringan
dan oksidasi. Pemanfaatan gelatin pada umumnya diambil dari pemanfatan kulit atau tulang hewan
mamalia yaitu Babi dan Sapi. Hal tersebut menimbulkan kekhawatiran segi religius umat Islam dan
umat Yahudi. Umat islam diharamkan untuk mengkonsumsi produk dari Babi dan umat Yahudi
terdapat anjuran untuk mengkonsumsi produk dari Sapi. Selain dari faktor religious juga terdapat
kekhawatiran pada faktor kesehatan. Jika pemanfaatan dari tulang atau kulit Sapi dikhawatirkan
adanya virus sapi gila (Mad Cow Disease) yang nantinya virus tersebut berpengaruh terhadap
kesehatan konsumen (Intan, 2009). Struktur gelatin tersusun atas asam amino dimana glisin
sebagai asam amino utama dan merupakan 2/3 dari seluruh asam amino yang menyusunnya, 1/3
asam amino yang tersisa diisi oleh prolin dan hidroksiprolin (Chaplin, 2005). Berikut struktur
molekul gelatin dari tulang atau kulit sapi.









ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS








Gambar 1. Struktur molekul gelatin

Sebagai alternatif untuk menggantikan gelatin dari hewan mamalia (Babi dan Sapi), maka
sebagai potensi menggunakan pemanfaatan ikan Patin sebagai sumber gelatin. Gelatin dari ikan
Patin memiliki rendemen 15,38 % (Peranginangin,2005), sedangkan ikan Nila 11,19 %, ikan Tuna
9,43 % (Junianto,dkk,2006) dan ikan Pari 6,10 % (Suviana,2002). Rendeman gelatin ikan Patin
lebih tinggi daripada ikan Nila, Tuna, Pari. Peneltian terdahulu mengenai gelatin dengan sumber
kulit ikan Patin (Melly Dianti,2006) yang divariasikan pada larutan asam sitrat dengan konsentrasi
1,5 % menyebutkan memiliki nilai rendemen gelatin 15,26 – 20,68 %; viskositas 4 – 5,8 cP;
kekuatan gelnya 118,69 – 170,62 bloom. Sedangkan pada penelitian lainnya dengan menggunakan
sumber kulit ikan Patin (Peranginangin,2005) menyebutkan ekstraksi gelatin kulit ikan Patin
(Pangasius hypopthalmus) yang divariasikan asam sitrat dengan pH 3 memberikan hasil nilai
rendemen 9,36 %; (Cek abstrak jurnal) viskositas 10,1 cP; kekuatan gel 202,55 bloom. Penelitian
Melly dan Peranginangin hanya sampai pada kajian sifat fisika – kimia, yang meliputi nilai
rendemen, nilai kekuatan bloom, viskositas dan belum membahas kajian sifat kimia yang meliputi
gugus fungsi molekul gelatin, berat molekul gelatin dan membandingkan dengan gelatin komersial
yang telah beredar di masyarakat umum yang sebagaian besar berasal dari gelatin Babi dan Sapi.
Penelitian ini mengkaji karakteristik sifat kimia yang meliputi gugus fungsi molekul gelatin,
berat molekul gelatin gelatin kulit ikan Patin dengan variasi konsentrasi asam sitrat
(C
3
H
5
O(COOH)
3
)

5 %, asam klorida (HCl) 5 % dan asam phospat (H
3
PO
4
) 5 % yang dibandingkan
dengan gelatin komersial.

2. Metodologi Penelitian

Alat dan bahan
Alat - alat yang digunakan pada penelitian ini adalah timbangan, alat-alat gelas, waterbath,
pemanas, termometer, kertas pH indikator universal dari Merck, kain katun (cheesecloth),
pengaduk, pisau, gelas ukur, labu ukur, gelas beker, pipet volum, kaca arloji, cawan petri,
spectrometer FTIR M - 500,dan viskometer Ostwald.

Bahan Penelitian

a. Kulit ikan Patin
b. Larutan HCl 5 %
c. Larutan (C
3
H
5
O(COOH)
3
) 5 %
d. Larutan H
3
PO
4
5 %

Eksperimen

Penelitian ini menggunakan tipe A yaitu perendaman kulit ikan patin dengan variasi 3 jenis larutan
asam yaitu larutan HCl ( Asam Klorida) 5 %, Larutan H
3
PO
4
(Asam Phospat) 5 % dan larutan
(C
3
H
5
O(COOH)
3
) (Asam sitrat) 5 %. Adapun prosedur penelitian sebagai berikut :








ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
1. Persiapan Bahan Baku
Ikan Patin segar diambil kulitnya kemudian dibersihkan dari daging, sisik dan lapisan
luar yang mengandung lemak. Kemudian kulit dicuci dengan air mengalir hingga bersih. Berat
kulit ikan Patin yang akan dianalisis ± 60 gram
2. Preparasi Gelatin
a. Degresing
Kulit Ikan Patin dicuci dengan air panas pada suhu 60
0
– 70
0
C sampai 2 – 3 menit dan
selanjutnya ditiriskan selama 3 menit. Tahap selanjutnya kulit tersebut dipotong – potong kecil
dengan ukuran ± 2 – 3 cm.

b. Demineralisasi
Kulit direndam dalam larutan asam, yaitu (C
3
H
5
O(COOH)
3
) 5 %, HCl 5 %, dan H
3
PO
4
5 %.
Perendaman dilakukan selama 12 jam. Kulit yang telah direndam kemudian ditimbang dan
dicuci air mengalir hingga pH menjadi netral (6-7).

c. Ekstraksi
Kulit Ikan Patin dimasukkan ke dalam beaker glass dan ditambahkan aquadest dengan
perbandingan kulit dan aquadest adalah 1 : 3. Kemudian kulit tersebut diekstraksi dalam
waterbath pada suhu 80
0
- 90
0
C selama 3 jam. Ekstrak disaring dengan kain katun berlapis
empat untuk menghilangkan kotoran, kemudian filtrat yang diperoleh diukur.

d. Pembentukan Gel
Filtrat dimasukkan dalam lemari pendingin dengan suhu 4
0
C - 10
0
C selama 10 – 12 jam
hingga membentuk gel.

e. Pembentukan Gelatin
Gel dimasukkan kedalam tempat loyang oven yang dilapisi plastik mika untuk memudahkan
pengambilan lapisan tipis gelatin. Gel dioven pada suhu 60
o
C selama 24 jam hingga
terbentuk lapisan gelatin. Lapisan tipis gelatin yang diperoleh ditimbang dengan neraca
analitis.

3 Hasil Dan Pembahasan

1. Persiapan Bahan Baku
Ikan Patin segar diambil kulitnya kemudian dibersihkan dari daging, sisik dan lapisan
luar yang mengandung lemak. Kemudian kulit dicuci dengan air mengalir hingga bersih. Di
usahakan jangan sampai daging, sisik atau bagian lemak masih menempel pada bagian kulit yang
akan diproses. Karena akan mempengaruhi terhadap hasil ekstraksi dan hasil analisa gelatin yang
diperoleh. Untuk menghilangkan bagian daging, sisik atau bagian lemak bisa dilakukan dengan
menyeset dengan menggunakan pisau chater kecil. Berat kulit ikan Patin yang akan dianalisis ±
60 gram, hal ini dimaksudkan agar diperoleh gelatin dengan massa yang cukup banyak.

2. Preparasi Gelatin

a. Tahap Perendaman
Kulit ikan patin yang telah dicuci direndam dengan air hangat selama 2 – 3 menit pada
suhu 60
0
C - 70
0
C dengan tujuan untuk menghilangkan daging, sisik atau lemak yang masih
tertinggal pada kulit ikan Patin. Kemudian kulit ikan Patin ditiriskan 3 menit. Kulit ikan Patin
dipotong – potong menjadi bagian kecil dengan ukuran 2 – 3 cm. hal ini dimaksudkan untuk
memperluas permukaan kulit sehingga proses interaksi molekul – molekul kolagen dengan larutan
asam dapat optimal. Jika kulit tidak dipotong – potong kecil, maka interaksi ikatan molekul –
molekul kolagen sangat sedikit karena ikatannya yang kuat. Kemudian kulit ikan Patin direndam
pada variasi larutan asam dengan konsentrasi yang sama yaitu larutan asam klorida 5 % (GLK),
larutan asam phospat 5 % (GLP) dan asam sitrat 5 % (GLS). Waktu perendaman pada larutan






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
asam selama 12 jam. Perendaman dilakukan dalam satu larutan asam kuat dan 2 larutan asam
lemah. Tujuan dilakukan perendaman adalah untuk mengkonversi kolagen yaitu dengan adanya
interaksi ion H
+
dari larutan asam dengan kolagen yang terdapat pada kulit ikan Patin. Sebagian
ikatan hydrogen dalam tropokolagen serta ikatan hidrogen dalam tropokolagen serta ikatan silang
yang menghubungkan tropokolagen satu dengan tropokolagen lainnya dihidrolisis menghasilkan
rantai tropokolagen yang mulai kehilangan struktur trpel heliknya. Proses perendaman juga
membantu terjadinya penggembungan (swelling) yang dapat membuang material lemak dan
protein non – kolagen pada kulit yang tidak diharapkan (Zhou 2007). Ketika jaringan yang
mengandung kolagen diperlakukan secara asam dan diikuti dengan pemanasan dalam air, maka
struktur fibril kolagen akan dipecah secara irreversible.
Proses waktu perendaman harus tepat 12 jam, karena jika lebih dari 12 jam maka terjadi
konversi kolagen yang berlebihan sehingga kolagen dari kulit ikan Patin akan larut dalam larutan
asam sehingga menyebabkan penurunan nilai rendeman gelatin (Utama, 1997). Nilai rendeman
dapat juga sebagai acuan terhadap efekfitas perlakuan dalam penelitian sehingga diharapkan nilai
rendeman gelatin yang dihasilkan tinggi. Perubahan jumlah bobot berat kulit dapat dilihat pada
tabel 1.
Tabel 1 Perubahan berat kulit sebelum dan sesudah perendaman.
Variasi asam Bobot kulit sebelum
perendaman
Bobot kulit setelah
perendaman
DP (%)
HCl 5 % 60,1532 gr 136,2457 gr 126,49
H
3
PO
4
5 % 60,1552 gr 86,1923 gr 43,28
As.sitrat 5 % 58, 3457 gr 81,5232 gr 39,72

Pada variasi larutan asam klorida perubahan bobot kulit setelah perendaman sangat
besar dibandingkan dengan pada asam phospat ataupun asam sitrat. Hal ini dikarenakan H
+
pada
asam kuat mampu mengkonversi kolagen pada jaringan kulit dalam waktu 12 jam dan kolagen
tidak banyak yang larut dalam larutan asam. Sedangkan pada asam phospat maupun asam sitrat,
H
+
pada asam telah mengkonversi berlebih kolagen pada jaringan kulit sehingga sebagian
kolagen telah larut dalam larutan asam. Hal ini akan mempengaruhi terhadap hasil nilai rendeman
gelatin. Nilai rendeman pada GLK lebih besar daripada GLP ataupun GLS. Nilai rendeman GLK
8,11 %, GLP 2,66 % sedangkan GLS 1,88 %.
Proses Konversi Kolagen manjadi Gelatin. Setelah kulit direndam dalam larutan asam
selama 12 jam kemudian di cuci dengan air mengalir hingga pH netral mencapai 6 – 7. Pada pH
tersebut, kondisi kulit setelah direndam tidak lagi bersifat asam. Setelah dicuci dengan air mengalir,
kemudian kulit diekstraksi kedalam waterbath selama 3 jam dengan perbandingan kulit dengan
aguadest 1: 3.Ekstraksi dilakukan dengan pemanasan pada suhu 80
0
C - 90
0
C. Hal ini dilakukan
untuk merusak ikatan – ikatan silang antara ikatan hidrogen antar molekul tropokolagen dimana
pada tahap perendaman belum terurai sempurna oleh asam. Selian itu tahap ekstraksi dilakukan
dengan tujuan untuk merusak sempurna ikatan hydrogen dengan rantai – α dalam tropokolagen.
Pada tahap ekstraksi ini diharapkan ikatan silang antara ikatan hydrogen dengan ikatan rantai – α
terdenaturasi oleh H
2
O (gambar 2)






Gambar 2.Interaksi molekul air dengan ikatan hidrogen dan ikatan kovalen






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Pada tahap ekstraksi menyebabkan molekul triple-helix kehilangan stabilitas kemudian
terurai menjadi 3 rantai-α. Denaturasi kolagen menyebabkan rantai triple helik secara sempurna
bertransformasi menjadi rantai tunggal gelatin. Ranai tunggal dari gelatin dapat larut dalam air
(gambar 3)








Gambar 3. Denaturasi tropokolagen menjadi gelatin
Hasil ekstraksi tersebut disaring dengan menggunakan kain berlapis dua sebanyak dua
kali penyaringan. Hal ini dilakukan agar didapatkan hasil pemisahan filtrat yang baik. Kemudian
hasil filtrat dimasukkan kedalam lemari pendingin bersuhu 4
0
C - 5
0
C selama ± 10 jam sehingga
terbentuk gel gelatin. Pada saat proses pendinginan rantai polipeptida gelatin yang secara acak
dapat membentuk kembali struktur triple-helik. Polipeptida pada asam amino, prolin dan
hidroksiprolin merupakan bagian yang penting dalam pembentukan junction zones
Gel gelatin yang terbentuk dimasukkan kedalam Loyang oven yang dibawahnya diberi
alas plastik. Hal ini bertujuan Untuk memudahkan pengambilan lembaran lapis tipis gelatin yang
terbentuk. Sehingga lapis tipis gelatin yang terbentuk tidak patah. Kemudian oven di atur suhu
70
0
C selama 24 jam. Tujuan oven ini untuk pengeringan sehingga dihasilkan gelatin bentuk
lapisan tipis padatan gelatin. Pengaturan suhu berkisar antara 60
0
C - 70
0
C untuk mencegah
terjadinya denaturasi rantai polipeptida pada lapis tipis gelatin yang diperoleh. Gelatin yang
semula pada fase gel akan mencair akibat pemanasan oleh suhu oven. Lapisan tipis gelatin yang
terbentuk kemudian didinginkan di dalam desikator dan diukur massa konstan gelatinnya untuk
mendapatkan nilai kadar air gelatin yang diperoleh. Nilai kadar air ?



















Gambar 4. Spektra Gelatin Ikan Patin






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
3. Analisa Gugus fungsi FTIR
Sampel lapis tipis gelatin harus tersimpan dalam desikator karena gelatin mudah lembab
dan mudah larut dalam air. Sehingga dikhawatirkan berpengaruh terhadap analisa berikutnya.
Sampel gelatin di ambil dari dalam desikator kemudian dianalisa dengan FTIR untuk mengetahui
gugus fungsi yang terdapat dalam gelatin. Spektra FTIR gelatin pada variasi asam dapat dilihat
pada gambar 5. Gelatin pada umunya berasal dari protein secara umum mempunyai struktur
gugus fungsi karbon- hidrogen (C - H), gugus hidroksil (OH ), gugus karbonil (C=O) dan gugus
Amina (NH). Pada gambar 5 GLK menunjukkan vibrasi stretching OH pada bilangan gelombang
3435 cm
-1
. Vibrasi stretching OH mempunyai rentang pita bilangan gelombang 3100 cm
-1
– 3500
cm
-1
. Pada gelatin masih terdapat gugus O-H yangdimungkinkan berasal dari O-H senyawa air
pada saat ekstraksi yang pelarutnya aquadest. Puncak CH aromatik muncul dengan puncak yang
kecil yang terdapat pada rentang 3100 – 3000 cm
-1

yaitu pada sekitar 3050 cm
-1
.Bending dan
streching C-H terdapat pada bilangan gelombang 2925 cm
-1

Rentang bilangan gelombang
bending dan stretching CH mulai 2800 – 3000 cm
-
1. Streching gugus karbonil (C = O) terdapat
pada bilangan gelombang 1650 cm
-1
Secara umum bilangan gelombang gugus karbonil mulai
1670 – 1640 cm
-1
.Bending OH terdapat pada bilangan gelombang 1457 cm
-1
.Rentang bilangan
gelombang untuk bending OH pada 1500 – 1300 cm
-1
. Sedangkan puncak gugus amina (NH)
tidak ditemukan karena tertutupi dengan gugus OH.
Pada gambar 5 GLS gugus fungsi yang ditemukan tidak jauh beda dengan spectra GLK.
Vibrasi stretching gugus fungsi OH ditemukan pada bilangan gelombang 3455 cm
-1
. Puncak CH
aromatik muncul dengan puncak yang kecil yang terdapat pada rentang 3100 – 3000 cm
-
1
kemudian bending dan stretching CH terdapat pada bilangan gelombang 2926, 2854 cm
-1
.
Stretching gugus karbonil (C = O) terdapat pada bilangan gelombang 1650 cm
-1
dan bending OH
terdapat pada bilangan gelombang 1458 cm
-1
pada GLS puncak starching NH juga tidak muncul.
Puncak stretching NH terdapat pada rentang 3000 - 3700 cm
-1
.


















Gambar 5. Spektra FTIR Gelatin komersial
Pada gambar 5 GLP yang divariasikan dengan asam phospat. Vibrasi streching gugus
OH terdapat pada bilangan gelombang 3444 cm
-1
, Pada GLP puncak CH aromatik muncul
dengan puncak yang kecil yang terdapat pada rentang 3100 – 3000 cm
-1
. Bending dan stretching
gugus CH terdapat pada 2926 cm
-1
, kemudian streching gugus karbonil (C = O) terdapat pada
bilangan gelombang 1648 cm
-1
dan bending OH terdapat pada bilangan gelombang 1458 cm
-1
.
Dari hasil spectra FTIR secara umum pada GLK, GLS dan GLP menunjukkan bilangan gelombang
gugus fungsi pada gelatin. Gugus fungsi-gugus fungsi O-H, C-H, C=O, N-H dan C-H aromatis
merupakan spektra yang terdapat pada gelatin ikan dan sapi komersial (Norziah, 2008). Jika kita
bandingkan Spektra gugus fungsi pada gelatin komersial maka tidak akan jauh beda. Spektra






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
FTIR gelatin komersal dapat dilihat pada gambar 5 diatas.
Dari hasil spektra FTIR gelatin komersial yang beredar di masyarakat berasal dari hewan
mamalia sapi. Serapan gugus fungsi yang ditemukan hampir sama dengan gelatin kulit ikan patin
baik pada GLK, GLS maupun GLP. Sehingga dapat disimpulkan serapan gugusfungsi FTIR pada
GLK, GLS, dan GLP meruapakan serapan gugus fungsi pada gelatin.

4. Analisis Berat Molekul
Analisa berat molekul relatif rata- rata gelatin dapat ditentukan dengan analisa viskositas
larutan gelatin dengan menggunakan viscometer Ostwald pada suhu kamar. Pengukuran berat
molekul relative rata – rata digunakan untuk mengetahui karakteristik fisik gelatin kulit ikan
Patinyang sebelumnya belum diketahui. Pengukuran viskositas pada alat viscometer Ostwald
dilakukan dengan menentukan waktu larutan yang mengalir diantara dua tanda kalibrasi.
Penentuan besarnya viskositas larutan gelatin ini, digunakan sebuah pelarut berupa air (aquades).
Pelarut ini digunakan karena dapat melarutkan gelatin pada temperatur ruang dan nilai tetapan
Mark-Houwink-Sakurada-nya (K dan α) telah diketahui sesuai dengan handbook data polimer.
Konsentrasi larutan gelatin dibuat bervariasi yaitu; 0,03; 0,035; 0,04; 0,045; dan 0,05
gram. Waktu alir larutan gelatin dalam viskometer diukur dan diperoleh bahwa waktu alir semakin
meningkat dengan meningkatnya konsentrasi gelatin dalam larutan. Peningkatan ini dapat terjadi
karena adanya peningkatan konsentrasi gelatin dalam larutan maka molekul-molekul gelatin yang
bergesekan akan semakin banyak pula sehingga viskositas larutan meningkat dan waktu alirnya
juga meningkat. Berikut Tabel waktu alir larutan gelatin pada berbagai larutan asam

Tabel 2. Waktu laju alir larutan gelatin pada berbagai larutan asam
Larutan Asam Konsentrasi Waktu
Asam Klorida 0,030 7,18
0,035 8,08
0,040 8,22
0,045 9,22
0,050 9,92
AsamPhospat 0,030 6,79
0,035 7,08
0,040 7,23
0,045 7,45
0,050 7,73
Asam sitrat 0,030 6,54
0,035 6,67
0,040 6,79
0,045 6,98
0,050 7,11

Dari waktu laju alir dapat di gambarkan grafik linear pada sumbu x dan sumbu y, dinama
sebagai sumbu x nilai variasi konsentrasi dan sebagai sumbu y nilai viskositas yang tereduksi

sp/C
). berikut grafik (ƞ
sp/C
) dengan konsentrasi untuk berbagai variasi larutan asam.








ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

Gambar 6.a Pada variasi larutan asam klorida

Gambar 6.b. Pada variasi larutan asam phospat

Gambar 6.c. Pada variasi larutan asam sitrat.

Dari grafik tersebut dapat dicari massa molekul relative rata – rata gelatin, dimana nilai α
yang digunakan untuk menghitung massa molekul relative rata – rata menggunakan nilai α gelatin
momersial yang berasa dari sapi. Kemudian nilai K juga menggunakan nilai K pada gelatin sapi
sebesar 1,66 x 10
-5
. Dimasukkan kedalam persamaan [ƞ] = K.M
v
α
. Untuk gelatin variasi asam
klorida mempunyai nilai viskositas tereduksi sebesar 5,980 sehingga pada gelatin ini mempunyai
massa molekul relative rata –rata sebesar 1.609.137 gr/mol, sedangkan pada variasi asam
phospat mempunyai nilai viskositas tereduksi sebesar 1,692 dan mempunyai massa molekul
relative rata – rata sebesar 455.294 gr/mol. Kemudian pada variasi asam phospat memiliki nilai
viskositas tereduksi sebesar 0,133 dan nilai massa molekul relatif rata – rata sebesar 35.788
gr/mol.
Menurut pernyataan Fatimah (1996) berat molekul gelatin berkisar antara 15.000 –
250.000 g/mol sedangkan menurut Rose (1987) berat molekul rata – rata bisa mencapai > 5x10
5

gr/mol. Dari nilai berat molekul yang didapat menunjukkan pada GLK memiliki nilai berat molekul
yang sangat besar dbandingkan dengan GLS dan GLP. Hal ini dapat dilihat pada serapan gugus
FTIR yang menunjukkan serapan GLK pada bilangan gelombang 1700 -1400 cm
-1
yang identik
serapan gugus karbonil dan gugus hidroksil. Pada daerah tersebut terdapat 3 puncak peak dan
dari 3 peak terdapat 2 peak yang cukup tajam sehingga mempengaruhi nilai berat molekul rata –
rata gelatin.


y = 330,04x - 5,9802
R² = 0,9161
0
10
20
0 0,02 0,04 0,06
y
y
Linear (y)
y = 108,41x - 1,6926
R² = 0,9502
0
2
4
0 0,02 0,04 0,06
y
y
Linear (y)
y = 4,441x - 0,1335
R² = 0,9942
-0,05
0
0,05
0,1
0 0,02 0,04 0,06
y
y
Linear (y)






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

STUDI SPEKTROSKOPI UV-VIS DAN INFRAMERAH
SENYAWA KOMPLEKS INTI GANDA Cu-EDTA

Sus Indrayanah, Irmina Kris Murwani

Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya


Abstrak

Senyawa kompleks inti ganda Cu-EDTA telah berhasil disintesis melalui reaksi antara
tembaga sulfat dan etilendiamintetraasetat (EDTA). Dari metode variasi kontinu didapatkan rumus
molekul senyawa kompleks dengan perbandingan Cu dan EDTA sebesar 3 : 2. Pembentukan
senyawa kompleks Cu-EDTA optimum pada pH 2.7. Kristal hasil sintesis dikarakterisasi dengan
spektroskopi UV-Vis dan inframerah. Senyawa kompleks inti ganda Cu-EDTA memiliki panjang
gelombang maksimum sebesar 740 nm dan serapan khas yang menunjukkan vibrasi logam-ligan
muncul pada bilangan gelombang di bawah 500 cm
-1
.

Kata kunci : Tembaga (II), etilendiamintetraasetat (EDTA), spektra Cu-EDTA

1. Pendahuluan
Senyawa koordinasi merupakan salah satu senyawa yang memegang peranan penting
dalam kehidupan manusia. Senyawa ini terbentuk karena adanya ikatan antara ligan yang berperan
sebagai donor pasangan elektron (basa Lewis) dengan ion pusat (logam) yang berperan sebagai
akseptor pasangan elektron (asam Lewis). Penelitian tentang sintesis senyawa koordinasi juga
semakin beragam. Salah satunya adalah penelitian tentang senyawa kompleks sebagai katalis.
Dari beberapa penelitian telah dilaporkan bahwa senyawa kompleks tembaga memiliki peranan
penting pada proses katalitik, yaitu sebagai active site katalis. Senyawa kompleks tembaga,
(HLCu
2
Cl
3
)Cl · H
2
O merupakan katalis asam Lewis yang baik digunakan dalam reaksi
siklopropanasi olefin dengan tingkat selektivitas yang tinggi. Katalis ini juga sangat kuat dan produk
yang dihasilkan tidak mengalami penurunan meskipun katalis telah digunakan sebanyak tiga kali
reaksi (Youssef et al., 2009). Zeolit NaY yang diimpregnasi dengan kompleks tembaga,
Cu(Phen)(PPh
3
)Br digunakan sebagai katalis asam Lewis pada reaksi aminasi arilhalida yang
menunjukkkan aktivitas dan selektivitas yang tinggi serta sangat stabil dan tidak terjadi leaching
(Patil et al., 2010). Senyawa kompleks yang bisa dijadikan sebagai katalis harus memiliki sifat stabil.
Salah satu senyawa kompleks yang sangat stabil adalah senyawa kompleks yang membentuk
khelat. Salah satu senyawa kompleks yang memiliki tingkat kestabilan tinggi adalah senyawa
kompleks Cu-EDTA yang memiliki K
stab
= 18.8 (Underwood, 2002).
Oleh karena itu pada penelitian ini disintesis senyawa kompleks Cu-EDTA dari tembaga (II)
sulfat sebagai ion pusat dan etilendiamintetraasetat (EDTA) sebagai ligan, kemudian hasil sintesis
akan dikarakterisasi dengan menggunakan spektroskopi UV-Vis dan inframerah.

2. Metode Penelitian
Bahan-bahan yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah bahan-bahan kimia yang
memiliki kemurnian pro analisis (p.a) meliputi CuSO
4
, EDTA, NH
4
OH, dan akua DM. Selanjutnya
dilakukan karakterisasi dengan UV-VIS dan Inframerah.
Tahapan dalam sintesis senyawa kompleks Cu-EDTA adalah penentuan panjang
gelombang maksimum, pengaruh pH pada pembentukan senyawa kompleks dan penentuan rumus






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
senyawa kompleks dengan metode variasi kontinu. Dari hasil tersebut, disintesis senyawa
kompleks dengan melarutkan CuSO
4
ke dalam 10 ml akua DM kemudian ditambahkan dengan
larutan EDTA dan diaduk. Larutan dibiarkan hingga terbentuk kristal.

3. Hasil dan Pembahasan
Penentuan Panjang Gelombang Senyawa Kompleks Cu-EDTA
Pada penelitian ini dilakukan penentuan panjang gelombang maksimum senyawa kompleks
dengan mencampurkan larutan Cu
2+
dengan larutan EDTA kemudian diukur panjang
gelombangnya menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 600-900 nm.
Spektra absorpsi kompleks Cu-EDTA ditunjukkan pada Gambar 1. Senyawa CuSO
4
memiliki
absorpsi maksimum pada daerah 810 nm, dan pada kondisi yang sama kompleks Cu-EDTA
mengabsorps pada panjang gelombang 740 nm. Pergeseran absorpsi maksimum antara CuSO
4

dengan Cu-EDTA menunjukkan bahwa telah terjadi pembentukan kompleks antara Cu dengan
EDTA.


Gambar 1. Panjang Gelombang Maksimum CuSO
4
dan Senyawa Kompleks Cu-EDTA

Pengaruh pH Pada Pembentukan Senyawa Kompleks Cu-EDTA
Pada penelitian ini telah dilakukan pembentukan senyawa kompleks pada pH yang
bervariasi, yaitu dari pH 2.5 sampai pH 7. Hasil pembentukan senyawa kompleks berdasarkan
pengaruh pH tertera pada gambar 2. Hasil terbaik pada pembentukan kompleks Cu-EDTA yang
stabil diperoleh pada pH optimum 2.7. Karena pada pH 2.7 dihasilkan kristal dengan larutan
bening yang menunjukkan terbentuknya kompleks Cu-EDTA murni.








ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

Gambar 2. Pengaruh pH Pada Pembentukan Senyawa Kompleks Cu-EDTA
Penentuan Rumus Senyawa Kompleks dengan Metode Variasi Kontinu
Rumus senyawa kompleks Cu-EDTA ditentukan dengan menggunakan metode variasi
kontinu. Dari metode variasi kontinu didapatkan kurva seperti ditunjukkan pada Gambar 3. Dari
kurva tersebut tampak bahwa perbandingan rasio molar antara tembaga (II) dengan EDTA dalam
senyawa kompleks Cu-EDTA adalah 3 : 2. Hal ini menunjukkan terbentuknya senyawa kompleks
inti ganda Cu-EDTA. Pembentukan kompleks inti ganda tembaga (II) dengan EDTA menjelaskan
bahwa hanya 0.6 EDTA yang dibutuhkan oleh ion tembaga (II).



Gambar 3. Kurva Variasi Kontinu Senyawa Kompleks Cu-EDTA







ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

Identifikasi Senyawa Kompleks dengan Spektroskopi Inframerah
Analisis inframerah senyawa kompleks dilakukan pada bilangan gelombang 300 – 4000
cm
-1
untuk mengetahui gugus fungsi senyawa kompleks dan interaksi yang terjadi antara logam
dan ligan. Spektra senyawa kompleks inti ganda ditunjukkan pada Gambar 4. Dari spektra Cu-
EDTA dapat diketahui adanya serapan C – N dan adanya H
2
O pada daerah 3380 cm
1
. Sedangkan
stretching –CH
2
– muncul pada bilangan gelombang 2950 cm
-1
. Serapan gugus karboksil (C=O) dari
EDTA yang terikat dengan Cu dan membentuk senyawa heksadentat pada Cu-EDTA ditunjukkan
pada puncak tunggal di daerah 1600 cm
-1
. Selain itu pada kompleks Cu-EDTA juga terlihat serapan
pada daerah 1390 - 1320 cm
-1
yang disebabkan karena adanya karboksil yang terkoordinasi pada
kompleks. Serapan pada 1440 cm
-1
juga mengindikasikan adanya –CH
2
COO
-
yang terikat dengan
Cu-EDTA. Vibrasi –COO
-
juga

terjadi pada daerah 1009 – 916 cm
-1
, namun ini merupakan
interpretasi yang sulit karena dimungkinkan H
2
O juga terikat pada daerah itu. Serapan pada 853
cm
-1
merupakan vibrasi dari –COO
-
yang disebabkan karena karboksil yang terkoordinasi,
sedangkan pada derah 825 cm
-1
merupakan karboksil yang tidak terkoordinasi pada kompleks. Dari
spektra tersebut juga muncul vibrasi C – N yang tidak terkoordinasi pada daerah 1113 cm
-1
.
Sedangkan pada 1200 – 800 cm
-1
merupakan vibrasi C – C untuk alkana (Citron, I.,1961).
Serapan vibrasi ikatan antara ligan dengan logam Cu terlihat pada daerah 400 cm
-1
. Hal ini
sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa vibrasi ikatan logam dengan gugus N dari ligan
akan muncul pada daerah 300 – 400 cm
-1
. Sedangkan vibrasi Cu – O muncul pada bilangan
gelombang 470 cm
-1
. Hal ini sesuai dengan literatur bahwa vibrasi logam dengan gugus O dari
ligan akan muncul pada bilangan gelombang 420 – 600 cm
-1
( Nakamoto, 1978 ). Bila spektra
antara Cu-EDTA dengan CuSO
4
dibandingkan, akan terlihat bahwa tidak ada tambahan vibrasi
muncul pada daerah 1110 cm
-1
dan 625 cm
-1
pada spektra Cu-EDTA yang menandakan tidak
adanya gugus SO
4
2-
(Gyliene at al., 2004 ).

Gambar 4. Spektra inframerah EDTA, Cu-EDTA, dan CuSO
4









ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

Berdasarkan data – data tersebut, struktur senyawa kompleks inti ganda Cu-EDTA dapat
diusulkan sebagai berikut :


Gambar 5. Struktur Kompleks Cu-EDTA

Kesimpulan
Senyawa kompleks inti ganda Cu-EDTA telah berhasil disintesis dengan perbandingan mol
logam dan ligan 3 : 2. Pembentukan senyawa kompleks dicapai pada pH optimum 2.7. Hasil
analisis inframerah mampu membuktikan adanya vibrasi antara Cu dengan EDTA yang didukung
dengan hasil analisis UV-Vis dengan panjang gelombang maksimum sebesar 740 nm.

Daftar Pustaka
Citron, Irvin, 1961, “Infrared Studi Of Copper-EDTA Complex And Its Reaction With Various Amino
Compounds”, analytica Chimica Acta, Vol. 26, hal. 446-457.
Gyliene,O., Alkaite,J., Nivinskiene, O. 2004, “Recovery of EDTA from Complex Solution Using
Cu(II) as Precipitant and Cu(II) Subsequent Removal by Electrolysis”, Journal of Hazardous
Materials, Vol. 116, hal. 119-124.
Nakamoto K., 1978, Infrared and Raman Spectra of Inorganic and Coordination Compound, Third
Edition., John Wiley and Sons Inc, New York.
Patil, M.N., Gupte, P.S., Chaudhari, V., 2010, “ Heterogenized Copper Catalysts for the Amination
of Arylhalide : Synthesis, Characterization and Catalytic Applications”, Applied Catalysis,
Vol. 373, hal. 73-81.
Underwood, A. L. & Day, R.A, 2002, Analisis Kimia Kuantitatif, Edisi Keenam, Penerbit Erlangga,
Jakarta.
Youssef, S.N., Eman, E.Z., Ahmed,M.A.,Caselli, A., Cenini, S., 2009, ” Synthesis and
Characterization of some Transition Metal Complexes with a Novel Schiff Base Ligand and
their use as Catalysts for Olefin Cyclopropanation”, Journal of Molecular Catalysis, Vol.
308, hal. 159-168.












ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
SINTESIS DAN KARAKTERISASI AURIVILLIUS LAPIS
DUA: PbBi
2
Nb
2
O
9
, BaBi
2
Ta
2
O
9


Laili Dwi Insyani dan Afifah Rosyidah*
Jurusan Kimia,Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Jl. Arif Rahman Hakim, Surabaya, 60111

*Corresponding author. Tel/Fax : 031-5943353/031-5928314; Email: afifahr@chem.its.ac.id


Abstrak

Oksida Aurivillius lapis dua BaBi
2
Ta
2
O
9
dan PbBi
2
Nb
2
O
9
dalam bentuk serbuk polikristalin
telah berhasil disintesis melalui metode reaksi kimia keadaan padat dari bahan-bahan oksida yang
mempunyai kemurnian tinggi mencapai 99,99% yaitu , BaCO
3
, Bi
2
O
3
, PbO, dan Ta
2
O
5
.
Karakterisasi serbuk polikristalin yang diperoleh dilakukan dengan teknik difraksi sinar-X (XRD),
Scanning Electron Microscopy (SEM) yang dilengkapi dengan Energy Dispersive X-Ray
Spectroscopy (EDX) dan X-Ray Fluorescence (XRF). Data difraksi sinar-X, SEM dan XRF dari
serbuk polikristalin BaBi
2
Ta
2
O
9
dan PbBi
2
Nb
2
O
9
memperlihatkan bahwa senyawa ini murni dengan
kristalinitas yang tinggi dan tidak terdapat adanya pengotor, sedangkan morfologi oksida Aurivillius
lapis dua yang dihasilkan dari SEM menunjukkan tingkat kristalinitas yang sangat baik dengan
struktur butiran yang cukup baik.

Kata Kunci : Aurivillius BaBi
2
Ta
2
O
9
dan PbBi
2
Nb
2
O
9
, reaksi kimia keadaan padat


1. Pendahuluan

Oksida Aurivilius adalah material oksida dengan struktur berlapis yang mempunyai rumus
umum M
2
A
n-1
B
n
O
3n+3
yang terdiri dari lapis bismut [M
2
O
2
]
2+
dan lapis perovskit [A
n-1
B
n
O
3n+1
]
2-
. Oksida
Aurivillius mempunyai banyak jenis yang berbeda-beda tergantung pada jumlah lapisan
perovskitnya dan subtituen kation yang digunakan untuk lapisan bismut atau perovskit. Pada
umumnya struktur Aurivillius disusun oleh kation A yang memiliki jari-jari ~ 1Å dan kation B yang
memiliki jari-jari ~ 0,6Å. Logam A pada lapisan perovskit merupakan kation yang berukuran besar,
bermuatan +1, +2, atau +3, diantaranya adalah logam alkali, alkali tanah, unsur tanah jarang atau
campurannya yang mempunyai koordinasi dodekahedral, sedangkan logam B merupakan unsur
transisi yang berukuran lebih kecil dari kation A dengan koordinasi oktahedral dan n adalah
bilangan bulat yang menunjukkan jumlah oktahedral pada lapisan perovskit (1 ≤ n ≤8). Adanya
pasangan elektron bebas pada Bi (III) memungkinkan munculnya berbagai sifat fisika dan kimia.
Potensi aplikasi oksida ini untuk ferroelectric random access memories (FRAM),
semikonduktor untuk industri elektronik bahkan penemuan terbaru digunakan sebagai bahan
superkonduktor, katalis dalam industri petrokimia, keramik di bidang kesehatan dan rekayasa,
biosensor dari sifat listrik, magnetik, optik bahan serta sifat mekanik yang dapat diaplikasikan telah
mendorong penelitian yang intensif. Penelitian ini mengkaji tentang struktur detail material
Aurivilllius lapis dua yaitu PbBi
2
Nb
2
O
9
dan BaBi
2
Ta
2
O
9
dengan menggunakan metode reaksi kimia
keadaan padat. Aurivillius lapis dua ini disubstitusi kation A yang pada lapis perovskite (A = Pb, Ba)
serta perbedaan pada kation B pada lapisan perovskit (B = Nb, Ta). Hal ini dapat menyebabkan
perbedaan sifat fisik dan sifat kimia serta perbedaan struktur pada setiap oksida Aurivillius, yang
berpengaruh terhadap kualitas material oksida Aurivillius tersebut dalam penggunaan untuk aplikasi
selanjutnya. Oksida Aurivillius ini kemudian dikarakterisasi menggunakan XRF (X-Ray






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Fluorescence) untuk menganalisa unsur logam yang dikandung sampel, sedangkan SEM untuk
mengetahui bentuk morfologinya dan XRD (X-Ray Diffraction) untuk mengetahui fasa yang
terbentuk serta untuk penentuan struktur awal.

2. Metodologi

Alat dan Bahan
Alat
Peralatan yang digunakan pada penelitian ini adalah peralatan-peralatan gelas, mortar dan
pestel agate, krus alumina yang inert terhadap pereaksi serta tahan terhadap temperatur yang
tinggi, neraca analitis, furnace suhu tinggi, difraktometer sinar-X (XRD), Scanning Electron
Microscopy (SEM) dan X-Ray Fluorescence (XRF).

Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah Nb
2
O
5
, BaCO
3
, Bi
2
O
3
, PbO, dan
Ta
2
O
5
yang memiliki kemurnian 99,99% (Sigma-Aldrich), aseton serta aquades.

Prosedur Kerja
Sintesis dan Karakterisasi Material Oksida Aurivillius
Sintesis oksida Aurivillius lapis dua PbBi
2
Nb
2
O
9
dan BaBi
2
Ta
2
O
9
dilakukan dengan cara
semua material disiapkan dengan reaksi kimia keadaan padat pada jumlah stoikiometrik yaitu
Nb
2
O
5
, BaCO
3
, Bi
2
O
3
, PbO, dan Ta
2
O
5
(Sigma-Aldrich, 99,99%). Oksida-oksida penyusun
Aurivillius yang akan disintesis tersebut dimasukkan dalam mortar dan dihomogenkan dengan
penggerusan serta penambahan aseton, untuk selanjutnya dibuat pelet. Pelet dimasukkan dalam
krus alumina dan dipanaskan pada kondisi reaksi 12 jam pada temperatur 400
o
C, dan selanjutnya
12 jam pada temperatur 900
0
C. Antara dua pemanasan dilakukan penggerusan ulang untuk
membentuk permukaan baru dan pemanasan akhir dilakukan selama 24 jam pada temperatur
1100
o
C. Perlakuan ini dilakukan karena diperkirakan reaksi telah berlangsung secara sempurna
yaitu jika sudah ada perubahan yang menandakan terjadinya suatu reaksi. Tanda-tanda itu antara
lain berubahnya warna sampel dan tekstur (mengeras dan kasar) dari sampel. Perlakuan ini sama
untuk kedua oksida Aurivillius lapis dua yaitu PbBi
2
Nb
2
O
9
dan BaBi
2
Ta
2
O
9
.
Karakterisasi bahan dilakukan dengan menggunakan difraksi sinar-X serbuk untuk
mengetahui fasa yang terbentuk serta untuk penentuan struktur awal. Dari difraktogram yang
dihasilkan dapat diketahui apakah senyawa target telah terbentuk atau belum. Sejumlah 0,6 gram
sampel diletakkan pada sel difraksi (sampel holder) lalu disinari dengan sinar Cu-Kα (1,54056Å).
Data difraksi diambil pada rentang sudut 2θ antara 10°sampai dengan 90°dalam interval kenaik an
sudut sebesar 0,05°per tahap. Difraktogram yang di peroleh berupa grafik hubungan antara sudut
difraksi 2θ dan intensitas. (Hunter, dkk., 1997).
Morfologi permukaan sampel-sampel hasil sintesis dianalisis menggunakan SEM yang
mampu memberikan perbesaran sampai ~15.000x dengan resolusi sampai 40 Å. Pada penelitian
ini, analisis SEM dipakai sebagai informasi pendukung untuk menunjukkan morfologi permukaan
dan distribusi partikel dari sampel hasil analisis. X-Ray Fluoresence (XRF) digunakan untuk
menganalisis komposisi kimia beserta konsentrasi unsur-unsur yang terkandung dalam suatu
sampel dengan menggunakan spektrometri. Penggunaan XRF untuk sampel ini menggunakan
energi maksimum yaitu 30 keV.

3. Hasil dan Pembahasan

Sintesis Aurivillius Lapis Dua BaBi
2
Ta
2
O
9
dan PbBi
2
Nb
2
O
9

Aurivillius lapis dua BaBi
2
Ta
2
O
9
dan PbBi
2
Nb
2
O
9
telah berhasil disintesis dengan metode
reaksi kimia keadaan padat. Sintesis senyawa Aurivillius lapis dua ini dilakukan dari bahan-bahan
oksida yang mempunyai kemurnian tinggi dengan menggunakan perbandingan stokiometris yang
diinginkan, bahan-bahan tersebut dihomogenkan dan kemudian dilakukan penggerusan yang
disertai dengan bantuan pembasah pelarut berupa penambahan aseton yang mudah menguap.






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Langkah berikutnya adalah pemanasan secara bertahap pada temperatur yang telah ditentukan,
setelah sebelumnya dibiarkan kering dan kemudian dilakukan pengepresan campuran menjadi
pelet yang bertujuan untuk memaksimalkan kontak antar partikel dan untuk meminimalkan kontak
dengan krusibel.
Kenaikan temperatur reaksi dilakukan secara bertahap yaitu dari 400 °C selama 12 jam
kemudian 900°C selama 12 jam dan 1100°C selama 24 j am. Antara dua pemanasan dilakukan
penggerusan ulang untuk membentuk permukaan baru dan mempercepat terbentuknya produk.
Penggerusan ulang ini dilakukan karena sebagian produk telah terbentuk pada tahap awal
pemanasan yang akan menganggu permukaan bidang sentuh reaktan sehingga memperlambat
terjadinya difusi kation masing-masing reaktan dan reaksi akan berlangsung tidak sempurna. Oleh
karena itu, perlakuan tambahan yaitu penggerusan ulang tersebut sangat diperlukan. Oksida
Aurivillius yang dihasilkan berupa serbuk polikristalin untuk BaBi
2
Ta
2
O
9
serbuk berwarna krem
sedangkan untuk PbBi
2
Nb
2
O
9
serbuk berwarna kuning.

Karakterisasi Aurivillius Lapis Dua BaBi
2
Ta
2
O
9
dan PbBi
2
Nb
2
O
9

Pada penelitian ini, hasil sintesis Aurivillius lapis dua BaBi
2
Ta
2
O
9
dan PbBi
2
Nb
2
O
9

dikarakterisasi dengan Difraksi Sinar-X (XRD), Scanning Electron Microscopy (SEM) dan X-Ray
Fluorescence (XRF).

Karakterisasi Aurivillius Lapis Dua BaBi
2
Ta
2
O
9
dan PbBi
2
Nb
2
O
9
dengan Difraksi Sinar-X
serbuk (XRD)
Karakterisasi serbuk Aurivillius yang diperoleh dilakukan dengan mengggunakan difraksi
sinar-X serbuk untuk mengetahui fasa yang terbentuk serta untuk penentuan struktur awal. Hasil
analisis dengan difraksi sinar-X yaitu sampel memiliki intensitas puncak yang cukup tinggi (Gambar
1) pada 2θ = 32,07949°; 29,41088°dan 27,75130°. Puncak-punca k ini hampir mirip dengan
puncak-puncak difraktogram Aurivillius lapis dua BaBi
2
Ta
2
O
9
yang telah dilakukan pada penelitian
sebelumnya oleh Costa pada tahun 2004. Intensitas puncak menunjukkan kristalinitas dari sampel,
yaitu semakin tinggi intensitasnya maka kristalinitas dari sampel tersebut juga akan semakin tinggi.
Pola difraktogram yang dihasilkan menunjukkan sampel tersebut mempunyai kristalinitas yang
tinggi dan tidak ditemukan fase kristalin yang lain atau tidak ditemukan adanya puncak-puncak fasa
pengotor.

Gambar 1. Pola difraktogram dari serbuk polikristalin hasil sintesis BaBi
2
Ta
2
O
9


Pola difraktogram untuk PbBi
2
Nb
2
O9 menunjukkan bahwa sampel memiliki intensitas
puncak yang cukup tinggi (Gambar 2) pada 2θ = 28,88236°; 55,86333°dan 35,18535°. Puncak-
puncak ini hampir mirip dengan puncak-puncak difraktogram Aurivillius lapis dua PbBi
2
Nb
2
O
9
yang
telah dilakukan pada penelitian sebelummnya oleh Jinhong Bi pada tahun 2008. Pada difraktogram






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
yang dihasilkan menunjukkan sampel tersebut mempunyai kristalinitas yang tinggi dan tidak
ditemukan fase kristalin yang lain atau tidak ditemukan adanya puncak-puncak fasa pengotor.


Gambar 2. Pola difraktogram dari serbuk polikristalin hasil sintesis PbBi
2
Nb
2
O
9


Karakterisasi Aurivillius Lapis Dua BaBi
2
Ta
2
O
9
dan PbBi
2
Nb
2
O
9
dengan Scanning Electron
Microscopy (SEM)

Morfologi oksida Aurivillius lapis dua yang dihasilkan menunjukkan tingkat kristalinitas yang
sangat baik dengan struktur butiran yang cukup baik seperti terlihat sangat jelas pada Gambar 3.
Dari skala hasil pengukuran SEM, tampak bahwa setiap butiran mempunyai ukuran 2 µm.



(a)
(b)
Gambar 3. Pengamatan morfologi dari serbuk polikristalin hasil sintesis (a) PbBi
2
Nb
2
O
9
dan
(b) BaBi
2
Ta
2
O
9










ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Karakterisasi Aurivillius Lapis Dua BaBi
2
Ta
2
O
9
dan PbBi
2
Nb
2
O
9
dengan X-Ray Fluorescence
(XRF)

X-Ray Fluoresence (XRF) digunakan untuk menganalisis komposisi kimia beserta
konsentrasi unsur-unsur yang terkandung dalam suatu sampel dengan menggunakan spektrometri.
Penggunaan XRF untuk sampel ini menggunakan energi maksimum yaitu 30 keV. Hasil spektra
yang diperoleh dari karakterisasi dengan XRF yaitu pada sampel PbBi
2
Nb
2
O
9
mengandung Pb
dengan konsentrasi sebesar 22,5%, untuk Bi sebesar 53,0% dan untuk Nb sebesar 22,5%.
Sedangkan untuk sampel BaBi
2
Ta
2
O
9
mengandung konsentrasi Ba sebesar 19,4%, untuk Ta
sebesar 64,1% dan untuk Bi sebesar 16,5%. Hasil spektra tersebut tidak menunjukkan adanya
pengotor.



Gambar 4. Pengamatan hasil karakterisasi XRF dari serbuk polikristalin hasil sintesis BaBi
2
Ta
2
O
9



Gambar 5. Pengamatan hasil karakterisasi XRF dari serbuk polikristalin hasil sintesis PbBi
2
Nb
2
O
9









ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
4. Kesimpulan

Senyawa Aurivillius lapis dua BaBi
2
Ta
2
O
9
dan PbBi
2
Nb
2
O
9
berhasil disintesis dengan metode
reaksi kimia keadaan padat dengan pemanasan 400°C s elama 12 jam, 900°C selama 12 jam dan
1100°C selama 24 jam. Data difraksi sinar-X, SEM da n XRF dari serbuk polikristalin BaBi
2
Ta
2
O
9

dan PbBi
2
Nb
2
O
9
memperlihatkan bahwa senyawa ini murni dengan kristalinitas yang tinggi dan
tidak terdapat adanya pengotor sedangkan morfologi oksida Aurivillius lapis dua yang dihasilkan
dari SEM menunjukkan tingkat kristalinitas yang sangat baik dengan struktur butiran yang cukup
baik.


DAFTAR PUSTAKA

Aurivillius, B. dan Kemi A., (1949), “ Mixed Bismuth Oxides with Layer Lattices : I, The Structure
Type of CaBi
2
Nb
2
O
9
”, Arkiv Kemi Band, 1, 463-480
Aurivillius, B. dan Kemi A., (1949), “ Mixed Bismuth Oxides with Layer Lattices : II, The Structure
Type of Bi
4
Ti
3
O
12
”, Arkiv Kemi Band, 1, 499-512
Hunter, B.A. dan Howard, C.J. (1997) : http://www.rietica.org, v. 1.7.7; Lucas Heights Research
Laboratories
Ismunandar, Hunter, B.A. dan Kennedy, B.J., (1998), “Cation Disorder in the Ferroelectric Aurivillius
Phase PbBi
2
Nb
2
O
9
: an Anamolous Dispersion X-ray Diffraction Study, Solid State Ion.,
112, 281-289
Ismunandar, (2004), “Padatan Oksida Logam : Struktur, Sintesis dan Sifat-Sifatnya”, Departemen
Kimia FMIPA ITB, Bandung
Jinhong, Bi, Ling Wu, Zhaohui Li, Xuxu Wang, dan Xianzhi Fu, (2008), “A Citrate Complex Process
to Prepare Nanocrystalline PbBi
2
Nb
2
O
9
at a Low Temperature”, Material Letters, 62, 155-
158

































ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS


SINTESIS DAN KARAKTERISASI AURIVILLIUS LAPIS 2:
PbBi
2
Nb
2
O
9
, BaBi
2
Nb
2
O
9
DENGAN METODA REAKSI
KIMIA PADAT

Eva Agustina dan Afifah Rosyidah*
Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
Jl. Arif Rahman Hakim, Surabaya, 60111
*Corresponding author. Tel/Fax : 031-5943353/031-5928314; Email: afifahr@chem.its.ac.id

Abstrak

Kelompok oksida Aurivillius dengan rumus umum [Bi
2
O
2
][A
n-1
B
n
O
3n+1
] terdiri atas lapisan
bismut [Bi
2
O
2
]
2+
dan lapisan seperti perovskit [A
n-1
B
n
O
3n+1
]
2-
. Oksida Aurivillius ini dapat
diaplikasikan untuk ferroelectric random access memories (FRAM), semikonduktor, katalis,
keramik, superkonduktor dan lain-lain. Struktur oksida Aurivillius ini dapat dimodifikasi dengan
subtitusi kation, baik dalam lapisan bismut maupun perovskit sehingga mengakibatkan perubahan
sifat fisikokimia. Penelitian ini untuk mempelajari struktur dari dua jenis Aurivillius lapis dua
ABi
2
Nb
2
O
9
(A= Ba, Pb). Kedua oksida ini merupakan senyawa isostruktur. Kedua oksida Aurivillius
ini disintesis menggunakan metode reaksi kimia padat. Oksida Aurivillius hasil sintesis
dikarakterisasi dengan X-Ray Diffraction (XRD). Data difraktogram yang dihasilkan diketahui bahwa
oksida Aurivillius hasil sintesis merupakan oksida Aurivillius lapis 2 karena memiliki puncak pada 2θ
tertentu sesuai standar. Intensitas puncak pada difraktogram dan hasil morfologi permukaan
dengan SEM menunjukkan bahwa BaBi
2
Nb
2
O
9
lebih kristalin dibandingkan dengan PbBi
2
Nb
2
O
9
.
Data XRF menunjukkan komposisi unsur-unsur yang ada dalam sampel. Persen massa untuk
BaBi
2
Nb
2
O
9
adalah Ba 30,02%, Bi 7,82%, Nb 32,40%, O 29,76% dan untuk PbBi
2
Nb
2
O
9
adalah Pb
1,64%, Bi 3,66%, Nb 1,54%, O 93,15%. Ion Pb memiliki jari-jari yang lebih kecil dari pada ion Ba
sehingga menyebabkan adanya perbedaan struktur yang dapat berpengaruh pada sifat fisikokimia
dari kedua jenis oksida Aurivillius.
Kata kunci : Oksida Aurivillius, Fasa Aurivillius BaBi
2
Nb
2
O
9
dan PbBi
2
Nb
2
O
9
, Reaksi Kimia Padat.

1. Pendahuluan

Aurivillius adalah nama yang diberikan kepada oksida logam dengan rumus umum [Bi
2
O
2
]
2+

[A
n-1
B
n
O
3n+1
]
2-
. Oksida Aurivillius disusun oleh struktur [Bi
2
O
2
]
2+
dan lapisan perovskit. Kation A
adalah unsur mono-, di-, atau trivalent yang mempunyai koordinasi dodekahedral, misalnya logam
alkali, alkali tanah, unsur tanah jarang atau campurannya. Sedangkan kation B biasanya adalah
suatu unsur transisi, dalam strukturnya kation B berkoordinasi oktahedral, n adalah bilangan
bilangan bulat (1≤n≤8) yang menyatakan jumlah oktahedral dalam lapisan perovskit. Adanya
pasangan elektron bebas pada Bi (III) memungkinkan munculnya berbagai sifat fisika dan kimia.
Selain itu adanya subtitusi kation A maupun B yang memiliki jari-jari yang berbeda dapat
menyebabkan terjadinya defek pada oksida Aurivillius.
Oksida Aurivillius mempunyai variabilitas yang besar dalam stokiometri kation logam, hal ini
berpotensi untuk kontrol sistematik dari sifat fisika dan elektronik. Kation A ditempati dengan Ca,
Sr, Ba, Pb, Bi, Na atau campuran, untuk oktahedral B ditempati kation Ti
4+
, Nb
5+
, Ta
5+
, W
6+
atau
Mo
6+
. Subtitusi pada kation A dan B dalam lapisan perovskit cenderung lebih mudah dilakukan
dari pada subtitusi kation pada Bi
3+
dalam lapis [Bi
2
O
2
]
2+
karena dapat merusak struktur
(Subbarano, 1959, 1960, 1961, 1962; Newnham, 1971, 1973). Lapisan [Bi
2
O
2
]
2+
terbentuk dari
jaringan anion oksigen segiempat datar yang mana kation Bi
3+
berada diatas dan dibawah bidang






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
secara bergantian dan dapat digambarkan sebagai tutup piramida BiO
4
bujur sangkar. Kondisi
koordinasi asimetris dan kation Bi
3+
disebabkan oleh aktivitas stereokimia pasangan elektron
bebas pada orbital 6s2. Keadaan terdistorsi inilah yang dipercayai menghalangi subtitusi kation ke
dalam lapisan [Bi
2
O
2
]
2+
.
Adanya perbedaan jumlah lapisan pada Aurivillius dan subtituen kation pada lapisan bismut
atau perovskit menyebabkan perbedaan struktur, sifat fisik maupun kimia yang dapat berpengaruh
terhadap kualitas marerial dalam aplikasi selanjutnya. Untuk memperoleh hasil deskripsi yang tepat
tentang struktur kristal, morfologi serta komposisi unsur-unsur Aurivillius BaBi
2
Nb
2
O
9
dan
PbBi
2
Nb
2
O
9
maka dilakukan penelitian ini. Pada penelitian dilakukan sintesis dan karakterisasi
Aurivillius lapis dua ABi
2
Nb
2
O
9
(A=Pb, Ba). Metode yang digunakan untuk sintesis senyawa ini
adalah metode reaksi kimia padat, karena metode ini dapat digunakan untuk sintesis oksida
Aurivillius dalam bentuk kristal tunggal atau polikristalin selain itu meskipun memerlukan temperatur
reaksi yang tinggi tetapi operasinya mudah dan oksida material awal yang digunakan mudah
didapat dari pada menggunakan metode sintesis lain seperti sol gel dan polimerisasi gel
(Bencan,dkk., 2004).
Dalam penelitian ini akan dilakukan dua sintesis Aurivillius lapis dua, perbedaannya yaitu
pada lapisan perovskit dengan membedakan substitusi kation A yang isovalen sedangkan kation B-
nya dibuat sama. Kation B diisi dengan Nb
5+
d
0
merupakan off-center pergeseran pada oktahedral
(Lufaso,dkk., 2007). Sedangkan untuk senyawa satu kation A diisi dengan Pb memiliki jari-jari 1,29
Å dan senyawa dua diisi dengan Ba memiliki jari-jari 1,46Å . Adanya perbedaan jari-jari ionik dari
Pb dan Ba menyebabkan perubahan kemiringan dan distorsi disekitar oktahedral NbO
6
tetapi masih
dalam batas toleransi terbentuknya struktur perovskit yang nantinya diharapkan memiliki sifat-sifat
listrik dan magnet.
Hasil sintesis ini dikarakterisasi menggunakan XRD (X-Ray Diffraction) untuk mengetahui
struktur kristal, SEM (Scanning Electron Microscopy) untuk mengtahui morfologinya, dan XRF
untuk analisa kadar unsur-unsur logam. Dari hasil karakterisasi kedua oksida Aurivillius ini
kemudian dibandingan untuk mengetahui oksida mana yang lebih terdistorsi sehingga akan
berpengaruh kesifat fisikokimia oksida ini. Untuk mengetahui oksida Aurivillius lapis dua
BaBi
2
Nb
2
O
9
dan PbBi
2
Nb
2
O
9
berhasil atau tidak, dilakukan perbandingan dengan hasil karakterisasi
dari Aurivillius lapis dua Bi
3
TiNbO
9
yang telah berhasil disintesis sebelumnya. Perbandingan ini
bertujuan untuk melihat apakah Aurivillius BaBi
2
Nb
2
O
9
dan PbBi
2
Nb
2
O
9
memiliki karakteristik sama
dengan Aurivillius lapis dua Bi
3
TiNbO
9,
karena BaBi
2
Nb
2
O
9
dan PbBi
2
Nb
2
O
9
isostruktural dengan
Bi
3
TiNbO
9
yaitu sama-sama Aurivillius lapis dua, hanya terjadi perbedaan subtituen kation A dan B
yang masih dalam batas toleransi terbentuknya oksida Aurivillius. Senyawa Aurivillius yang memilki
lapis sama memiliki pola difraksi yang hampir sama. Afifah, R., dkk., (2008) telah melakukan
simulasi sintesis Bi
3
TiNbO
9
dan melakukan sintesis dengan metode reaksi kimia padat serta
berhasil mendapatkan produk sesuai apa yang diharapkan yaitu tidak ada fasa pengotor dan
memiliki struktur kristal yang sesuai dengan struktur kristalografi Aurivillius lapis dua.

2. Metodologi
Alat dan Bahan
Alat
Peralatan yang digunakan dalam percobaan ini adalah peralatan-peralatan gelas, mortar
dan pestel agat, furnace suhu tinggi, krusibel alumina, X-Ray Diffraction (XRD), Scanning Elektron
Microscopy (SEM) dan X-Ray Flouroscent (XRF).
Bahan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah Bi
2
O
3
, PbO, BaCO
3
, Nb
2
O
5
dengan
kemurnia tinggi 99,999% dan aseton.
Prosedur Kerja
Sintesis oksida aurivillius lapis 2 dilakukan dengan menggunakan metode reaksi kimia
padat pada tekanan atmosfer. Sintesis senyawa Aurivillius dilakukan dari bahan-bahan oksida






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
dengan kemurnian tinggi 99,999%. Aurivillius BaBi
2
NbO
9
dibuat dengan mencampurkan pereaksi-
pereksi Bi
2
O
3
, PbO, BaCO
3
dan Aurivillius PbBi
2
NbO
9
dibuat dengan mencampurkan pereaksi-
pereksi Bi
2
O
3
, PbO, Nb
2
O
5
dengan stokiometri yang tepat pada Tabel 3.1, kemudian dimasukkan
dalam mortar dan dihomogenkan dengan penggerusan dengan penambahan aseton, dibiarkan
kering, untuk selanjutnya dipelet. Pelet dimasukkan dalam krus alumina dan dipanaskan.
Pemanasan dilakukan pada temperatur 400°C selama 12 jam dan selanjutnya temperatur
pemanasan dinaikkan 900°C selama 12 jam dan pemanasan terakhir pada suhu 1100°C. Antara
tiga pemanasan dilakukan penggerusan ulang untuk membentuk permukaan baru.
Karakterisasi bahan dilakukan menggunakan difraksi sinar X serbuk untuk mengetahui fase
yang terbentuk serta untuk penentuan struktur awal. Sejumlah 0,6 gram diletakkan pada sel difraksi
(sampel holder) lalu disinari dengan Cu-kα. Data difraksi diambil pada sudut 2θ dalam interval 5°
sampai 90°. Difraktogram yang diperoleh berupa grafik hubungan antara sudut difraksi 2θ dengan
intensitas.
Morfologi permukaan sampel-sampel hasil sintesis dianalisis menggunakan SEM yang
mampu memberikan pembesaran sampai ~10.000x dengan resulusi sampai 40Å. Pada penelitian
ini, analisis SEM dipakai sebagai informasi pendukung untk memperlihatkan morfologi permukaan
dan distribusi partikel dari sampel hasil sintesis. Komposisi unsur-unsur yang ada dalam sampel
hasil sintesis dianalisa dengan X-Ray Flouroscent (XRF). Sampel dimasukkan dalam holder dan
siap dianalisis.

Tabel 1 Komposisi reaktan untuk menghasilkan senyawa target 5 gram
No Senyawa target Reaktan-reaktan (gram)
Bi
2
O
3
Nb
2
O
5
PbO BaCO
3

1 BaBi
2
Nb
2
O
9
2,6096 1,4896 1,1032
2 PbBi
2
Nb
2
O
9
2,4232 1,3832 1,1596

3. Hasil dan Pembahasan

Sintesis Oksida Aurivillius
Senyawa Aurivillius BaBi
2
Nb
2
O
9
dan PbBi
2
Nb
2
O
9
berhasil disintesis dengan metode reaksi
kimia padat. Melalui perbandingan stokiometris, bahan–bahan pereaksi dengan kemurnian tinggi
digabungkan dan dilakukan penggerusan. Penggerusan pada oksida logam akan menghasilkan
distribusi homogen dari campuran oksida reaktan dimana partikel oksida yang satu akan dikelilingi
oleh partikel oksida yang lain. Kemudian dibentuk pelet supaya kontak antar partikel meningkat dan
kontak dengan krusibel seminim mungkin. Langkah berikutnya adalah pemanasan secara bertahap
pada temperatur tertentu. Wadah yang digunakan untuk pemanasan adalah krusibel alumina
karena merupakan bahan inert dan tahan sampai temperatur 1950°C.
Reaktan-reaktan yang digunakan merupakan logam oksida yang rata-rata memiliki titik
leleh tinggi. Salah satu reaktan yang digunakan merupakan senyawa karbonat, sehingga pada awal
pemanasan ditetapkan temperatur reaksi 400°C karena pada temperatur di atas 400°C senyawa
karbonat mengalami dekomposisi, sedangkan titik leleh reaktan-reaktan pembentuk senyawa target
harus lebih tinggi dari 400°C. Berdasarkan aturan Tamman, pemanasan awal dilakukan pada
temeperatur 2/3 dari titik leleh reaktan terendah. Ini dilakukan untuk mencegah terjadinya
penguapan rektan yang memiliki titik leleh terendah. Apabila pemanasan langsung dilakukan pada
temperatur yang sama atau lebih tinggi dari titik leleh reaktan terendah, maka terjadi penguapan
reaktan sehingga terjadi perubahan perbandingan stokiometris reaktan, akhirnya pada akhir reaksi
tidak terbentuk produk yang diinginkan.
Kenaikan temperatur reaksi dilakukan secara bertahap mulai dari 400°C selama 12 jam,
900°C selama 12 jam dan 1100°C selama 2 jam dan setiap tahap pemanasan diselinggi
penggerusan sehingga mempercepat terbentuknya produk. Pada taha awal pemanasan, sabagian
produk sudah mulai terbentuk. Terbentuknya sebagian produk ini akan mengganggu permukaan
bidang sentuh rektan sehingga memperlambat terjadinya difusi kation masing-masing reaktan dan
reaksi berlangsung tidak sempurna. Sehingga diperlukan perlakuan tambahan yaitu penggerusan






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
pada selang tahap pemanasan. Aurivillius yang dihasilkan untuk BaBi
2
Nb
2
O
9
berwarna putih
sedangakan PbBi
2
Nb
2
O
9
berwarna kuning kehijauan.

Karakerisasi
Difraksi Sinar-X
Sebagai model awal, digunakan Bi
3
TiNbO
9
yang memiliki struktur ortorombik dan grup
ruang A21am dengan parameter sel a = 5,4248(2) (Å); b = 5,3864(2) (Å); c= 25,0392(9) (Å) dan V =
731,67(7) (Å
3
) yang telah ditentukan oleh Nalini, dkk (Nalini, dkk., 2003) untuk mengetahui apakah
oksida Aurivillius merupakan oksida Aurivillius lapis 2. Hasil karakterisasi dengan difraksi sinar-X
menunjukkan pola difraktogram senyawa oksida Aurivillius hasil sintesis mirip dengan Bi
3
TiNbO
9
.
Pengukuran difraksi sinar-X menghasilkan pola difraksi yang menggambarkan kekristalan
suatu bahan. Adanya kristal ditunjukkan dengan puncak-puncak difraksi. Hasil yang diperoleh
dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Difraktogram oksida Aurivillius lapis 2 BaBi
2
Nb
2
O
9


Gambar 2. Difraktogram oksida Aurivillius lapis 2 PbBi
2
Nb
2
O
9

Munculnya puncak pada 2θ: 14,097, 23,448,29,279, 32,890, 33,122, 35,729,
47,373, 49,345, 49,511, 56,819, 56,919 dan 60,724 merupakan indikasi bahwa senyawa
yang dihasilkan adalah fasa Aurivillius lapis 2 sesuai standar Bi
3
TiNbO
9
. Jadi BaBi
2
Nb
2
O
9
dan
PbBi
2
Nb
2
O
9
merupakan oksida Aurivillius lapis 2 yang memiliki lapis bimut [Bi
2
O
2
]
+
dan lapis
perovskit [BaNb
2
O
7
]
-
untuk BaBi
2
Nb
2
O
9
dan [PbNb
2
O
7
]
-
untuk PbBi
2
Nb
2
O
9
. Untuk mengetahui
perbedaan intensitas pada 2θ tertentu maka dibandingkan difraktogram BaBi
2
Nb
2
O
9
dan
PbBi
2
Nb
2
O
9
dapat dilihat pada Gambar 2.






SEMINAR NASIONAL KIMI
Surabaya, 2
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA
Gambar 3. Difraktogram oksida Aurivillius lapis 2 BaBi
Dari penggabungan difraktogram dapat diketahui bahwa oksida Aurivillius lapis 2 hasil
sintesis memiliki puncak-p
menunjukkan kristalinitas dari oksida Aurivillius yang dihasilkan. BaBi
kristalinitas yang tinggi dari pada PbBi
dari kedua senyawa tersebut. Pada 2
yang lebih tinggi dari pada PbBi
temperatur reaksi. Pada awal pemanasan pada temperatu
ada senyawa karbonat sehingga mudah untuk berdifusi ke antar muka senyawa
Sedangkan PbO merupakan logam oksida yang memerlukan temperatur lebih tinggi untuk mulai
berdifusi ke antar muka senyawa lain.
Oksida Aurivillius dengan menggunakan jari
toleransi (t) 1,04 dan PbBi
BaBi
2
Nb
2
O
9
memiliki struktur perovskit sedangkan PbBi
sedikit terdistorsi.
Scanning Elektron Microscopy
Hasil karakterisasi SEM berfungsi untuk mengetahui morfologi permukaan dari sampel.
Morfologi oksida Aurivillius yang dihasilkan menunjukkan tingkat kritalinitas yang baik dengan
struktur butiran yang cukup baik seperti terlihat pada Gambar 4.
Gambar 4. Morfologi permukaan oksida Aurivillius (a) BaBi
ISBN 978
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
3. Difraktogram oksida Aurivillius lapis 2 BaBi
2
Nb
2
O
Dari penggabungan difraktogram dapat diketahui bahwa oksida Aurivillius lapis 2 hasil
puncak pada 2θ yang sama, tetapi memiliki intensitas yang berbeda hal ini
menunjukkan kristalinitas dari oksida Aurivillius yang dihasilkan. BaBi
kristalinitas yang tinggi dari pada PbBi
2
Nb
2
O
9
dapat dilihat dari intensitas puncak hasi
dari kedua senyawa tersebut. Pada 2θ oksida Aurivillius BaBi
2
Nb
2
O
9
memiliki intensitas puncak
yang lebih tinggi dari pada PbBi
2
Nb
2
O
9
. Kekristalinitasan suatu material bisa disebabkan oleh
temperatur reaksi. Pada awal pemanasan pada temperatur 400 C, BaCO
ada senyawa karbonat sehingga mudah untuk berdifusi ke antar muka senyawa
Sedangkan PbO merupakan logam oksida yang memerlukan temperatur lebih tinggi untuk mulai
berdifusi ke antar muka senyawa lain.
da Aurivillius dengan menggunakan jari-jari Shanon untuk BaBi
toleransi (t) 1,04 dan PbBi
2
Nb
2
O
9
faktor toleransinya adalah 0,89. Jadi oksida Aurivillius
memiliki struktur perovskit sedangkan PbBi
2
Nb
2
O
9
memiliki struktur per
Scanning Elektron Microscopy (SEM)
Hasil karakterisasi SEM berfungsi untuk mengetahui morfologi permukaan dari sampel.
Morfologi oksida Aurivillius yang dihasilkan menunjukkan tingkat kritalinitas yang baik dengan
butiran yang cukup baik seperti terlihat pada Gambar 4.















Gambar 4. Morfologi permukaan oksida Aurivillius (a) BaBi
2
Nb
2
O
9
ISBN 978-602-98130-0-5

O
9
dan PbBi
2
Nb
2
O
9

Dari penggabungan difraktogram dapat diketahui bahwa oksida Aurivillius lapis 2 hasil
yang sama, tetapi memiliki intensitas yang berbeda hal ini
menunjukkan kristalinitas dari oksida Aurivillius yang dihasilkan. BaBi
2
Nb
2
O
9
memiliki tingkat
dapat dilihat dari intensitas puncak hasil difraktogram
memiliki intensitas puncak
. Kekristalinitasan suatu material bisa disebabkan oleh
C, BaCO
3
terdekomposisi karena
ada senyawa karbonat sehingga mudah untuk berdifusi ke antar muka senyawa-senawa lain.
Sedangkan PbO merupakan logam oksida yang memerlukan temperatur lebih tinggi untuk mulai
jari Shanon untuk BaBi
2
Nb
2
O
9
memiliki faktor
faktor toleransinya adalah 0,89. Jadi oksida Aurivillius
memiliki struktur perovskit yang
Hasil karakterisasi SEM berfungsi untuk mengetahui morfologi permukaan dari sampel.
Morfologi oksida Aurivillius yang dihasilkan menunjukkan tingkat kritalinitas yang baik dengan
9
(b) PbBi
2
Nb
2
O
9







ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Dari hasil karakterisasi SEM dapat diketahui bahwa oksida Aurivillis BaBi
2
Nb
2
O
9
memiliki
bentuk permukaan yang lebih teratur dan halus dari pada PbBi
2
Nb
2
O
9
, hal ini mengindikasikan
bahwa BaBi
2
Nb
2
O
9
memiliki kristalinitas yang lebih tinggi dari pada PbBi
2
Nb
2
O
9
.

X-Ray Flouroscent (XRF)
Hasil karakterisasi XRF menunjukan komposisi unsur-unsur yang terdapat dalam oksida
Aurivillius. Energi yang digunakan untuk analisa oksida ini adalah 30 keV. Spektra komposisi unsur
dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Spekta oksida Aurivillius BaBi
2
Nb
2
O
9

Gambar 6. Spektra oksida Aurivillius PbBi
2
Nb
2
O
9
Komposisi unsur (%) dalam senyawa berdasarkan pengukuran data XRF diperoleh persen
massa untuk BaBi
2
Nb
2
O
9
adalah Ba 30,02%, Bi 7,82%, Nb 32,40%, O 29,76% dan untuk
PbBi
2
Nb
2
O
9
adalah Pb 1,64%, Bi 3,66%, Nb 1,54%, O 93,15%.

4. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah oksida Aurivillius lapis 2
BaBi
2
Nb
2
O
9
dan PbBi
2
Nb
2
O
9
berhasil disintesis dengan teknik reaksi kimia padat. Oksida Aurivillius
yang dihasilkan untuk BaBi
2
Nb
2
O
9
bewarna putih dan PbBi
2
Nb
2
O
9
bewarna kuning kehijauan. Dari
difraktogram yang dihasilkan diketahui bahwa oksida Aurivillius hasil sintesis merupakan oksida






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Aurivillius lapis 2. Intensitas puncak pada difraktogram dan hasil morfologi permukaan dengan
SEM menunjukkan bahwa BaBi
2
Nb
2
O
9
lebih kristalinitas dibandingkan dengan PbBi
2
Nb
2
O
9
. Data
XRF diperoleh komposisi unsur-unsur yang ada dalam sampel. Dari data XRF diperoleh persen
massa untuk BaBi
2
Nb
2
O
9
adalah Ba 30,02%, Bi 7,82%, Nb 32,40%, O 29,76% dan untuk
PbBi
2
Nb
2
O
9
adalah Pb 1,64%, Bi 3,66%, Nb 1,54%, O 93,15%. Ion Pb memiliki jari-jari yang lebih
kecil dari pada ion Ba sehingga menyebabkan adanya perbedaan struktur yang dapat berpengaruh
pada sifat fisikokimia dari kedua jenis oksida Aurivillius.

Daftar Pustaka

Benca, A., Boullay, P., Merculo, J.P., (2004) : Characterisation of BaBi
2
Nb
2
O
9
Powders and Thin
Films Prepared by a Solution Synthesis Technique, J. Solid State Chem., 6, 547–551
Ismunandar, dkk., (2004), “Padatan Oksida Logam : Struktur, Sintesis dan Sifat-Sifatnya”,
Departemen Kimia FMIPA ITB, Bandung
Lufasoa, M.W., Schulzeb, W.A., Mistureb, S.T., Vanderahc, T.A., (2007) : Crystal structure,
magnetic, and dielectric properties of Aurivillius-type Bi
3
Fe
0.5
Nb
1.5
O
9
, J. Solid State
Chemistry, 180, 2655–2660
Nalini, G., Subbanna, G.N. dan Row, T.N.G. (2003) : Studies on n = 2 Aurivillius Phases: Structure
of the Series Bi
3-x
La
x
TiNbO
9
(0 < x < 1), Mater. Chem. Phys., 82, 663–671
Newnham, R.E., Wolfe, R.E. dan Dorrian, J.F. (1971) : Structural Basis of Ferroelectricity in the
Bismuth Titanate Family, Mater. Res. Bull., 6, 1029–1040
Newnham, R.E., Wolfe, R.W., Horsey, R.S., Diaz-Colon, F.A. dan Kay, M.I. (1973) : Crystal
Structure of (Sr,Ba)Bi
2
Ta
2
O
9
, Mater. Res. Bull., 8, 1183–1196
Shrivastava, V., Jha, A.K. dan Mendiratta, R.G. (2005) : Structural Distortion and Phase Transition
Studies of Aurivillius type Sr
1-x
Pb
x
Bi
2
Nb
2
O
9
Ferroelectric Ceramics, J. Solid State Comm.,
133, 125–129
Smart, L., and Moore, E., (2005), “Solid State Chemistry : An Introduction”, Chapman & Hall
University and Professional Division, London
Subbarao, E.C. (1961) : Ferroelectricity in Mixed Bismuth Oxides with Layer-Type Structure, J.
Chem. Phys. 34, 695–696
Subbarao, E.C. (1962) : Ferroelectric of PbBi
2
Nb
2
O
9
, SrBi
2
Nb
2
O
9
, BaBi
2
Nb
2
O
9
, J. Am. Ceram. Soc.,
45, 564
Subbarao, E.C. (1962) : Crystal Chemistry of Mixed Bismuth Oxides with Layer- Type Structure, J.
Am. Ceram. Soc., 45, 166–169
Subbarao, E.C. (1962) : A Family of Ferrolectric Bismuth Compounds, J. Phys. Chem. Solids, 23,
665–676























ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
SINTESIS DAN KARAKTERISASI SIFAT FERROELEKTRIK
AURIVILLIUS LAPIS 2: Bi
3
TiNbO
9


Afifah Rosyidah
Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
Jl. Arif Rahman Hakim, Surabaya, 60111

Corresponding author. Tel/Fax : 031-5943353/031-5928314; Email: afifahr@chem.its.ac.id


Abstrak
Kelompok oksida Aurivillius merupakan salah satu material yang dipelajari secara luas
untuk waktu yang telah cukup lama, karena potensi aplikasi yang dimiliki, yaitu sifat feroelektrik.
Rumus umum oksida ini adalah [Bi
2
O
2
][A
n-1
B
n
O
3n+1
], yang terdiri atas lapisan [Bi
2
O
2
]
2+
dan lapisan
seperti perovskit [A
n-1
B
n
O
3n+1
]
2-
. Konfigurasi elektron Bi
3+
adalah [Xe] 4f
14
5d
10
6s
2
dan adanya
pasangan elektron bebas 6s
2
ini memungkinkan munculnya berbagai sifat fisika dan kimia. Elektron
bebas ini dipercaya mempunyai peran penting dalam mengontrol fluktuasi valensi dan penstabilan
non-stoikiometri. Selain itu, beragamnya kation A dan B pada lapis perovskit memungkinkan
terjadinya banyak modifikasi.
Dalam rangka usaha rekayasa bahan, diperlukan elusidasi hubungan antara struktur dan
sifat bahan. Pada penelitian ini, dilakukan kajian sistematis oksida Aurivillius lapis 2 Bi
3
TiNbO
9
serta
pengaruhnya terhadap feroelektrik. Bi
3
TiNbO
9
telah berhasil disintesis dengan teknik reaksi kimia
padat. Pola difraktogram yang dihasilkan tidak ditemukan adanya puncak-puncak fasa pengotor.
Penentuan sifat feroelektrik dilakukan dengan teknik keramik. Pola histerisis pengukuran
feroelektrik pada senyawa Aurivillius lapis 2 Bi
3
TiNbO
9
hasil sintesis menunjukkan pola yang
teratur. Ini mengindikasikan bahwa telah terjadi perubahan medan dipol yang searah dan sejajar
mengikuti arah polarisasi tegangan listrik luar.
Hasil perhitungan terhadap parameter polarisasi menunjukkan adanya polarisasi. Kondisi
ini sangat mendukung terjadinya sifat feroelektrik. Hal ini sangat sesuai dengan hasil pengukuran
yang menunjukkan adanya peningkatan P
r
, terutama hasil pengukuran kontribusi polarisasi ke arah
sumbu x.

Kata kunci: Bi
3
TiNbO
9
; Reaksi kimia padat; Sifat feroelektrik

1. Pendahuluan
Kelompok oksida Aurivillius dengan rumus umum [Bi
2
O
2
][A
n-1
B
n
O
3n+1
] terdiri atas lembar
[Bi
2
O
2
]
2+
dan lapisan seperti perovskit [A
n-1
B
n
O
3n+1
]
2-
. Potensi aplikasi oksida ini untuk ferroelectric
random access memories (FeRAM) telah mendorong penelitian yang intensif. Kajian tentang
struktur detail material ini pada suhu kamar dan transisinya pada suhu tinggi telah dilakukan oleh
peneliti sebelumnya. Substitusi kation telah pula dilakukan pada Bi baik di lapis [Bi
2
O
2
]
2+
maupun di
lapis perovskit. Substitusi ini menimbulkan defek pada oksida Aurivillius dan dapat mengakibatkan
perubahan sifat fisikokimia. (Huiling dkk, 2008).
Bahan dengan struktur Aurivillius memiliki potensi yang besar untuk dapat dijadikan
sebagai bahan feroelektrik (Smolenskii, 1959, 1962). Struktur Aurivillius, yang memiliki formula
Bi
2
A
n-1
B
n
O
3n+3
, n = 2, 3, 4 …., merupakan kombinasi antara struktur berbasis [Bi
2
O
2
]
2+
dengan
struktur yang berbasis perovskit [A
n-1
B
n
O
3n+3
]
2-
, [Aurivillius, 1949]. Posisi A dapat diisi oleh kation
yang berukuran besar seperti Na
+
, K
+
, Ca
2+
, Sr
2+
, Ba
2+
, Pb
2+
, Bi
3+
atau Ln
3+
dimana Ln adalah
unsur-unsur tanah jarang dan pada posisi B dalam struktur perovskit dapat diisi oleh kation
berukuran kecil seperti Fe
3+
, Cr
3+
, Ti
4+
, Nb
5+
atau W
6+
. Susunan struktur yang terdiri dari beberapa
lapisan ini menyebabkan struktur Aurivillius memiliki fleksibilitas untuk disubstitusi atau didoping
dengan kation lain untuk menghasilkan suatu sifat tertentu.






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Untuk membuat bahan yang bersifat feroelektrik, penambahan atau penggantian beberapa
lapisan perovskit yang berbasis kation Ti dengan kation lain yang dapat memberikan sifat
feroelekrik tertentu. Calon untuk kation tersebut adalah Pb, Ba, Ca dan Ta yang dalam struktur
perovskit murni dapat bersifat feroelektrik. (Ismunandar dkk, 1998, Macquart dkk, 2001; Meng-Qiu
dkk, 2005; Millan dkk, 1993, 1999; Gaikwad dkk, 2004, 2005; Karthik dkk, 2006; Debasis dkk,
2007). Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari oksida Aurivillius lapis 2 Bi
3
TiNbO
9
dan
mendapatkan kestabilan oksida Aurivillius, baik pada lapis perosvkit maupun pada lapis [Bi
2
O
2
]
2+

sehingga diperoleh oksida-oksida Aurivillius yang mempunyai sifat feroelektrik.

2. Eksperimen
Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Aurivillius
Sintesis senyawa Aurivillius Bi
3
TiNbO
9
dilakukan dari bahan-bahan oksida dengan
kemurnian tinggi. Pereaksi-pereaksi: Bi
2
O
3
, TiO
2
dan Nb
2
O
5
. Semua bahan tersebut memiliki
kemurnian 99,999% Aldrich; sesuai komposisi sintesis, dimasukkan dalam mortar dan
dihomogenkan dengan penggerusan serta penambahan aseton, dibiarkan kering, untuk selanjutnya
dibuat pelet. Pelet dimasukkan dalam krus alumina dan dipanaskan pada temperatur 400
o
C
selama 24 jam dan selanjutnya temperatur pemanasan dinaikkan 100
o
C lebih tinggi dari
pemanasan sebelumnya. Antara dua pemanasan dilakukan penggerusan ulang untuk membentuk
permukaan baru dan pemanasan lanjutan dilakukan pada temperatur 900
o
C, 1000
o
C, masing-
masing selama 24 jam dan 1100
o
C selama 48 jam.
Karakterisasi bahan dilakukan mengunakan difraksi sinar-X serbuk untuk mengetahui fasa
yang terbentuk serta untuk penentuan struktur awal. Sejumlah sampel diletakkan pada sel difraksi
(sampel holder) lalu disinari dengan sinar Cu-Kα. Data difraksi diambil pada sudut 2θ dalam interval
10
o
sampai dengan 80
o
. Difraktogram yang diperoleh berupa grafik hubungan antara sudut difraksi
2θ dan intensitas. Penentuan struktur kristal dari data difraksi serbuk ini melibatkan perekaman
data difraksi serbuk sinar-X beresolusi tinggi. Data kemudian dianalisis dengan program RIETICA
(Hunter, dkk.,1997). Morfologi permukaan sampel hasil sintesis dianalisis menggunakan SEM dan
EDX digunakan untuk menentukan secara kualitatif komposisi unsur yang ada dalam spesimen.

Pengukuran Sifat Feroelektrik
Pada awal perlakuan, sampel hasil sintesis senyawa Aurivillius dibuat dalam bentuk pelet
dengan luas penampang sekitar 1,5 cm
2
dan ketebalan sekitar 1 mm. Tahap berikutnya adalah
pemanasan yang dilakukan sekitar ¾ di bawah temperatur sintesis (800
o
C) selama 24 jam
sehingga terbentuk keramik. Selanjutnya dilakukan pembuatan kontak yaitu menempelkan keramik
tersebut dengan beberapa tetes pasta perak. Semua permukaan keramik harus kontak dengan
elektroda sehingga pengukuran terjadi pada semua bagian keramik. Bagian atas dan bawah
keramik juga ditetesi dengan pasta perak sehingga terbentuk suatu kapasitor. Berikutnya dilakukan
pemanasan pada temperatur 300
o
C selama 20 menit dan didinginkan. Karakterisasi sifat
feroelektrik dilakukan dengan instrumen RT 66A Ferroelectric System-Radiant Technology. Data
diambil pada tegangan maksimum (Vmax) 10 volt pada kapasitor pembobot 0,05 µF.


3. Hasil dan Pembahasan
Sintesis dan Karakterisasi Struktur
Pada penelitian ini oksida Aurivillius lapis 2: Bi
3
TiNbO
9
telah berhasil disintesis dengan
teknik reaksi kimia padat. Oksida Aurivillius yang dihasilkan berwarna putih pucat. Hasil analisis
difraksi sinar-X menunjukkan pola difraktogram yang mirip dengan Bi
3
TiNbO
9
ICSD #: 066551
untuk lapis 2 basis data PDF. Pada difraktogram yang dihasilkan tidak ditemukan adanya puncak-
puncak fasa pengotor.
Untuk mengetahui ada tidaknya perubahan parameter sel satuan dan struktur produk yang
disintesis, maka dilakukan penghalusan struktur menggunakan metode Rietveld dengan program






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Rietica. Sebagai model awal, digunakan Bi
3
TiNbO
9
yang memiliki struktur ortorombik dan grup
ruang A2
1
am dengan parameter sel a = 5,4248(2) (Å); b = 5,3864(2) (Å); c = 25,0392(9) (Å) dan
V = 731,67(7) (Å
3
) dan telah ditentukan oleh Nalini, dkk. (Nalini, dkk., 2003). Hasil penghalusan
struktur dengan metode Rietveld menggunakan program Rietica terhadap 3500 data difraksi pada
rentang sudut difraksi 2θ = 10
o
– 80
o
menunjukkan kesesuaian antara data percobaan dan
perhitungan yang sangat baik sehingga dinyatakan bahwa oksida Aurivillius yang disintesis

mengkristal dalam sistem kristal ortorombik, Z = 4, grup ruang A2
1
am untuk lapis 2: Bi
3
TiNbO
9
.
Munculnya puncak pada 2θ: 14,097
o
, 23,448
o
, 29,279
o
, 32,890
o
, 33,122
o
, 35,729
o
, 47,373
o
,
49,345
o
, 49,511
o
, 56,517
o
, 56,819
o
dan 60,724
o
merupakan indikasi bahwa senyawa yang
dihasilkan adalah fasa Aurivillius lapis 2 sesuai standar Bi
3
TiNbO
9
ICSD #: 066551. Hasil
penghalusan struktur dengan metode Rietveld menggunakan program Rietica terhadap data
difraksi menunjukkan kesesuaian antara data percobaan dan perhitungan yang sangat baik yang
mana titik-titik difraksi berimpit dengan garis kalkulasi seperti ditunjukkan dengan plot Rietveld pada
Gambar.1.

Gambar .1 Plot Rietveld Bi
3
TiNbO
9
hasil pengukuran menggunakan difraksi sinar-X; data
percobaan (x), perhitungan (garis tegas) dan selisih (grafik di bawah garis pendek-
pendek) yang diindeks pada grup ruang yang terkait.
Secara keseluruhan, hasil penghalusan struktur dengan metode Rietveld menggunakan
program Rietica menghasilkan derajat kesesuaian antara data observasi dan kalkulasi mencapai
taraf kepercayaan di atas 90 %. Keadaan ini ditunjukkan oleh nilai kesalahan relatif, R
p
yang
rendah yaitu berkisar 7,75 %. Demikian pula halnya parameter yang lain seperti nilai R
wp
dan nilai
R
Bragg
yang rendah serta nilai paramater sel hasil ekstraksi yang sangat logis dengan parameter sel
kristal senyawa acuan, sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 1.










ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Tabel .1 Parameter sel satuan Bi
3
TiNbO
9
ditentukan menggunakan metode Rietveld.
Parameter Bi
3
TiNbO
9
*) Bi
3
TiNbO
9
#
)
Grup ruang
a (Å)
A2
1
am
5,4248(2)
A2
1
am
5,4253(3)
b (Å) 5,3864(2) 5,3871(4)
c (Å) 25,0392(9) 25,0445 (6)
V (Å
3
) 731,67(7) 731,80(5)
) (
) ( 2
b a
b a
+


7,07x 10
-3

R
p
11,79 7,75
R
wp
17,29 5,38
R
exp
5,42
R
Bragg
8,35 4,19
GOF 1,05
R
p
= 100∑|y
obs
-y
cal
|/|y
obs
| ; R
wp
= 100{∑w
i
(y
oi
-y
ci
)
2
/∑w
i
(y
oi
)
2
}
1/2
;
R
Bragg
= 100∑|I
o
-I
c
|/|I
o
|; GOF = R
wp
/R
exp

*) Nalini, dkk. (2003)
#
) hasil sintesis

Bentuk morfologi senyawa yang dihasilkan menunjukkan tingkat kristalinitas ortorombik
yang sangat baik dengan penampakan material secara umum serta struktur butiran yang cukup
baik seperti terlihat sangat jelas pada Gambar 2. Setiap butiran mempunyai ukuran antara 1
hingga 5 µm. Data EDX yang diperoleh, memperlihatkan unsur-unsur apa saja yang terdapat pada
Aurivillius yang disintesis. Secara umum terlihat bahwa pada sintesis senyawa Bi
3
TiNbO
9
ini tidak
terbentuk adanya pengotor, meski pada analisis EDX ini hanya terjadi pada daerah yang sangat
kecil dari sejumlah sampel.

Gambar .2 Pengamatan morfologi Bi
3
TiNbO
9
pada pembesaran 5000 x. Terbentuk agregat partikel
dengan ukuran 1 hingga 5 µm.







ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Plot polarisasi terhadap medan listrik luar memperlihatkan suatu loop histerisis, yang
menunjukkan karakter material feroelektrik. Pada saat sampel Bi
3
TiNbO
9
tanpa perlakuan,
pertambahan medan listrik menyebabkan meningkatnya polarisasi hingga mencapai kejenuhan,
polarisari spontan, P
s
. Setelah medan listrik ditiadakan, polarisasi akan menurun, akan tetapi
polarisasi remanen, P
r
tetap tertahan. Senyawa yang disintesis

tidak dapat didepolarisasi secara
sempurna sampai besar suatu medan luar bernilai negatif. Medan listrik luar yang dibutuhkan untuk
mereduksi polarisasi ke nilai nol dinyatakan sebagai medan koersif, E
c
. Hasil pengukuran sifat
feroelektrik polarisasi remanen, P
r
terhadap medan koersif, E
c
senyawa Aurivillius yang disintesis
disajikan dalam Gambar 3. Pola histerisis pengukuran feroelektrik pada senyawa oksida Aurivillius
lapis 2 Bi
3
TiNbO
9
menunjukkan pola yang teratur. Ini mengindikasikan bahwa telah terjadi
perubahan medan dipol yang searah dan sejajar mengikuti arah polarisasi tegangan listrik luar.
Hasil pengukuran menunjukkan nilai P
r
sebesar 5,9 µC/cm
2
dan E
c
39 kV/cm.

Gambar 3. Pola histerisis pengukuran feroelektrik Bi
3
TiNbO
9
.
Hasil perhitungan terhadap parameter polarisasi, menunjukkan adanya polarisasi. Kondisi
ini sangat mendukung terjadinya peningkatan sifat feroelektrik. Hal ini sesuai dengan hasil
pengukuran yang menunjukkan adanya peningkatan P
r
, terutama hasil pengukuran kontribusi
polarisasi ke arah sumbu x, seperti dinyatakan dalam Gambar 4.

Gambar 4. Kontribusi polarisasi Bi
3
TiNbO
9
pada arah sumbu x






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Data yang ada menunjukkan bahwa polarisasi berorientasi pada bidang paralel terhadap
lapis [Bi
2
O
2
]
2+
yakni bidang a-b pada struktur ortorombik. Newnham dkk. (1971) menyatakan
bahwa lapis perovskit pada material lapis bismut berstruktur feroelektrik (bismuth layer-structured
ferroelectric, BLSF) berorientasi “zigzag” sepanjang sumbu c untuk lapis genap dengan adanya
simetri cermin. Ini sesuai dengan hasil yang diperoleh untuk Bi
3
TiNbO
9
oksida Aurivillius lapis 2.

4. Kesimpulan
Aurivillius merupakan kelompok oksida dengan rumus umum [Bi
2
O
2
][A
n-1
B
n
O
3n+1
] terdiri atas
lembar [Bi
2
O
2
]
2+
dan lapisan seperti perovskit [A
n-1
B
n
O
3n+1
]
2-
. Potensi aplikasi oksida ini adalah
untuk ferroelectric random access memories (FeRAM). Substitusi kation dapat dilakukan baik pada
lapis [Bi
2
O
2
]
2+
maupun di lapis perovskit. Substitusi tersebut menimbulkan dapat mengakibatkan
perubahan sifat fisikokimia.
Pada penelitian ini oksida Aurivillius lapis 2: Bi
3
TiNbO
9
telah berhasil disintesis dengan
teknik reaksi kimia padat. Oksida Aurivillius yang dihasilkan berwarna putih pucat. Pola
difraktogram yang dihasilkan tidak menunjukkan adanya puncak-puncak fasa pengotor. Analisis
yang dilakukan dengan Scanning Electron Microscopy (SEM) yang dilengkapi dengan Energy
Dispersive X-Ray Spectroscopy (EDX), secara umum memperlihatkan bahwa pada sintesis
senyawa ini tidak terbentuk adanya pengotor. Meski pada analisis EDX ini terjadi pada daerah
yang sangat kecil dari sejumlah sampel. Secara keseluruhan, hasil penghalusan struktur dengan
metode Rietveld menggunakan program Rietica menghasilkan derajat kesesuaian antara data
observasi dan kalkulasi mencapai taraf kepercayaan di atas 90 %.
Penentuan sifat feroelektrik senyawa oksida Aurivillius hasil sintesis dilakukan mengunakan
metode keramik. Pola histerisis pengukuran feroelektrik pada senyawa oksida Aurivillius lapis 2
Bi
3
TiNbO
9
menunjukkan pola yang teratur. Ini mengindikasikan bahwa telah terjadi perubahan
medan dipol yang searah dan sejajar mengikuti arah polarisasi tegangan listrik luar. Hasil
perhitungan terhadap parameter polarisasi akibat pergeseran posisi menunjukkan adanya
polarisasi. Kondisi ini sangat mendukung terjadinya sifat feroelektrik. Hal ini sangat sesuai dengan
hasil pengukuran yang menunjukkan adanya peningkatan P
r
, terutama hasil pengukuran kontribusi
polarisasi ke arah sumbu x.


Daftar Pustaka
Aurivillius, B. dan Kemi A. (1949) : Mixed Bismuth Oxides with Layer Lattices: I, The Structure Type
of CaBi
2
Nb
2
O
9
, Arkiv Kemi Band, 1, 463–480.
de Araujo, C.A.P., Cuchlaro, J.D., McMillan, L.D., Scott, M. dan Scott, J.F. (1995) : Fatigue-free
Ferroelectric Capacitors with Platinum Electrodes, Nature (Lond.), 374, 627–629.
Debasis,D., Ghorai K.T., Panchanan, P., (2007), Studies of dielectric characteristics of BaBi
2
Nb
2
O
9

ferroelectrics prepared by chemical precursor decomposition method, Solid State Sciences,
9, 1, 57-64.
Gaikwad, S.P., Samuel, V., Pasricha,R., Ravi,V., (2004), Preparation of nanocrystalline ferroelectric
BaBi
2
Nb
2
O
9
by citrate gel method, Materials Letters, 58, 29, 3729-3731.
Gaikwad, S.P., Potdar, H.S., Samuel, V., Ravi,V., (2005), Co-precipitation method for the
preparation of fine ferroelectric BaBi
2
Nb
2
O
9
, Ceramics International, 31, 3, 379-381.
Gaikwad, S.P., Pasricha,R., Ravi,V., (2005), Preparation of nanocrystalline ferroelectric CaBi
2
Ta
2
O
9

by the urea method, Ceramics International, 31, 6, 773-775.
Huiling Du, Ying Li, Huilu Li, Xiang Shi, Cui Liu, (2008), Relaxor behavior of bismuth layer-
structured ferroelectric ceramic with m=2, Solid State Communications, 148, 7-8, 357-360.
Hunter, B.A. dan Howard, C.J. (1997) : http://www.rietica.org, v. 1.7.7; Lucas Heights Research
Laboratories.
Karthik,C., Varma, K.B.R., (2006), Dielectric and AC conductivity behavior of BaBi
2
Nb
2
O
9
ceramics,
Journal of Physics and Chemistry of Solids, 67, 12, 2437-2441
Macquart, R., Kennedy, B.J., Shimakawa, Y., (2001), Cation Disorder in the Ferroelectric Oxides
ABi
2
Ta
2
O
9
, A = Ca, Sr, Ba, Journal of Solid State Chemistry, 160, 1, 174-177.






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Meng-Qiu, C, Zhen, Y, Ming-Sheng, Z, (2005), Electronic structures and ferroelectric properties of
ABi
2
Ta
2
O
9
(A=Ca, Sr, and Ba), Solid State Communications, 133, 10, 663-666.
Millán, P. , Castro, A. dan Torrance, J.B. (1993) : The First Doping of Lead
2+
into the Bismuth Oxide
Layers of the Aurivillius Oxides, Mater. Res. Bull., 28, 117–122.
Millán, P. dan Castro, A. (1999) : Thallium Substitution in the Bismuth–Oxygen Layer of Aurivillius
Phases, Mater. Res. Bull., 34, 25–34.
Nalini, G., Subbanna, G.N. dan Row, T.N.G. (2003) : Studies on n = 2 Aurivillius Phases: Structure
of the Series Bi
3-x
La
x
TiNbO
9
(0 < x < 1), Mater. Chem. Phys., 82, 663–671.
Newnham, R.E., Wolfe, R.E. dan Dorrian, J.F. (1971) : Structural Basis of Ferroelectricity in the
Bismuth Titanate Family, Mater. Res. Bull., 6, 1029–1040.
Park, B.H., Kang, B.S., Bu, S.D., Noh, T.W., Lee, J. dan Jo, W. (1999) : Lanthanum-Substituted
Bismuth Titanate for Use in Non-Volatile Memories, Nature, 401, 682–684.
Rietveld, H.M. (1967) : Line Profiles of Neutron Powder-Diffraction Peaks for Structure Refinement,
Acta Cryst., 22, 151–152.
Rietveld, H.M. (1969) : A Profile Refinement Method for Nuclear and Magnetic Structures, J. Appl.
Cryst., 2, 65–71.
Smolenskii, G.A., Isupov, V.A. dan Agranovskaya, A.I. (1959) : A New Group of Ferroelectrics (with
Layered Structure), Sov. Phys. Solid State (Engl. Transl.), 1, 149–150.
Smolenskii, G.A., Isupov, V.A. dan Agranovskaya, A.I. (1962) : Ferroelectric of the Oxygen-
Octahedral Type with Layered Structure, Sov. Phys. Solid State (Engl. Transl.), 3, 651–655.
Subbarao, E.C. (1961) : Ferroelectricity in Mixed Bismuth Oxides with Layer-Type Structure, J.
Chem. Phys. 34, 695–696.
Subbarao, E.C. (1962) : A Family of Ferrolectric Bismuth Compounds, J. Phys. Chem. Solids, 23,
665–676.
Thompson, J.G., Rae, A.D., Withers, R.L. dan Craig, D.C. (1991) : Revised Structure of Bi
3
TiNbO
9
,
Acta Crys. B, 47, 174–180.
Withers, R.L., Thompson, J.G. dan Rae, A.D. (1991) : The Crystal Chemistry Underlying
Ferroelectricity in Bi
4
Ti
3
O
12
, Bi
3
TiNbO
9
, Bi
2
WO
6
, J. Solid State Chem., 94, 404–417
Wolfe, R.W., Newnham, R.E., Smith, D.K.jr. dan Kay, M.I. (1971) : Crystal Structure of Bi
3
TiNbO
9
,
Ferroelectrics, 3, 1–7.
Xiang, P.H., Kinemuchi, Y., Watari, K., Cao, F. dan Dong, X.L. (2006) : Fabrication of Textured
Bi
3
NbTiO
9
Ceramics, J. Am. Ceram. Soc., 89, 684–687.
Yan, H., Zhang, H., Zhang, Z., Ubic, R. dan Reece, M.J (2005) : B-site Donor and Acceptor Doped
Aurivillius Phase Bi
3
NbTiO
9
Ceramics, J. Eur. Ceram. Soc., 118, 125–132.


























ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

SINTESIS DAN KARAKTERISASI KATALIS Cu/TS-1

Nuni Widiarti, Didik Prasetyoko*

Kimia FMIPA Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
Laboratorium Kimia Anorganik, Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya
*Email : didikp@chem.its.ac.id Telp : 031-5943353

Abstrak
Telah dilakukan sintesis katalis TS-1 dan Cu/TS-1 dengan metode hidrotermal dan
impregnasi dengan berbagai prosentase massa loading Cu pada katalis TS-1. Variasi loading Cu
pada katalis TS-1 akan berpengaruh terhadap karakteristik dan aktivitas katalitik TS-1 pada reaksi
hidroksilasi benzena secara langsung menjadi fenol. TS-1 hasil sintesis dikarakterisasi
menggunakan XRD dan FTIR, sedangkan karakterisasi terhadap Cu/TS-1 dilakukan menggunakan
XRD. Hasil analisis dengan XRD menunjukkan adanya CuO kristalin muncul pada 2θ = 35 – 38
yang semakin kuat intensitasnya dengan kenaikan loading Cu.

Kata Kunci : TS-1, Cu/TS-1, karakterisasi

1. Pendahuluan
Titanium silikalit (TS-1) merupakan katalis heterogen golongan zeolit berstruktur MFI. TS-
1mempunyai sifat aktif dan selektif sebagai katalis dalam beberapa reaksi senyawa aromatik,
sehingga dikembangkan untuk digunakan sebagai katalis oksidasi berbagai senyawa organik
seperti epoksidasi olefin, oksidasi aromatik, oksidasi alkana menjadi alkohol dan keton, hidroksilasi
fenol, hidroksilasi benzena dengan H
2
O
2
sebagai oksidan.(Huan Xin Gau dkk, 1999). Bengoa dkk,
1998 telah menggunakan TS-1 untuk mengkatalisis reaksi hidroksilasi benzene dengan H
2
O
2
, dari
penelitian tersebut TS-1 mempunyai selektifitas tinggi yaitu 74% dan waktu reaksi 4 jam. Gao dan
Xu 2006 penggunaan TS-1 pada reaksi hidroksilasi benzene menghasilkan produks hingga 97 %.
Namun disamping banyak keunggulan yang dimiliki, penggunaan TS-1 sebagai katalis juga masih
mempunyai kelemahan yaitu reaksinya berjalan lambat (Bhaumik dkk, 1998). Beberapa penelitian
dikembangkan untuk meningkatkan aktivitas katalitik TS-1, dengan mempercepat waktu reaksinya.
Peningkatan laju reaksi katalitik TS-1 pada produksi fenol telah dikembangkan dengan
menambahkan oksida logam yang bersifat asam terutama yang memberikan sisi asam Brönsted.
Oksida logam yang bersifat asam dapat ditemukan pada oksida logam dari unsur transisi. Oksida
logam juga merupakan katalis heterogen yang mempunyai aktivitas dan selektivitas yang rendah
dalam memilih produks yang diinginkan dalam reaksi hidroksilasi senyawa aromatic.( Sun dkk,
2000)
Logam Cu merupakan logam transisi dengan nomor atom 29 dan nomor massa 63,5.
Logam Cu dapat bereaksi dengan oksigen (O
2
) membentuk oksida logam CuO dan Cu
2
O. Untuk
keperluan sebagai katalis digunakan Cu dan oksida logam CuO. Beberapa katalis Cu yang
dikembangkan untuk hidroksilasi benzena seperti Cu/Al
2
O
3
(Konzaki, dkk 2001), Cu/HMCM-41
(Okamura dkk,1998), CuO–Al
2
O
3
(Miyahara dkk, 2001). Pharida, 2007 menggunakan CuO yang
disupport oleh MCM-41 dengan perbandingan rasio katalis 4% menghasilkan konversi 21 % dan
selektivitas 94 %, waktu reaksi 70 menit pada suhu kamar. Dengan adanya CuO yang terimpreg
pada MCM-41 dan katalis lain dapat meningkatkan aktivitas katalitik dari masing-masing katalis.
Demikian pula penambahan CuO pada TS-1 diharapkan dapat pula meningkatkan aktivitas katalitik
TS-1 terhadap reaksi hidroksilasi langsung benzena menjadi fenol.
Pada paper ini akan dipelajari prosedur, karakterisasi dan pengaruh loading Cu terhadap
karakteristik TS-1.







ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

2. Metodologi
Alat
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain gelas beker dari plastik 250 mL,
hotplate magnetic stirrer, tabung reaksi, pipet tetes, gelas ukur, batang pengaduk, oven, neraca
analitis, termometer, reaktor autoklaf stainless steel, dan instrumen X-Ray Diffraction Phillips
Expert, FTIR Instruments Spectrum

Bahan

Bahan-bahan yang diperlukan untuk penenlitian adalah tetraetil ortosilikat (TEOS, Merck,
98 %), tetrabutil ortotitanat (TBOT, Merck, 99 %), tetrapropilamonium hidroksida (TPAOH, Merck,
40 % dalam air), air Destilasi, 2-propanol, aquabidestilasi, dan Tembaga Nitrat trihidrat (Merk)

Eksperimen
TS-1 disintesis menurut prosedur yang didapat dari patent (Tarramasso, dkk, 1983) dengan
mengganti TEOT sebagai sumber titanium dengan Tetrabutil ortotitanat (TBOT). Gel untuk
membuat TS-1 (1% mol titanium), tetraetil ortosilikat, TEOS (66,86 g, Merck, 98%) yang
mengandung 0,3145 mol silika diletakkan dalam beker dan diaduk, tetrabutil ortotitanat, TBOT (1,1
g, Merck, 98%) yang mengandung 0,0032 mol titanium dalam 2-propanol (10 mL) ditambahkan
dengan cepat ke dalam TEOS. Beker ditutup dengan aluminium foil 38 untuk mencegah terjadinya
hidrolisis. Campuran diaduk selama 30 menit pada suhu ruang. Kemudian campuran didinginkan
sampai temperatur 0°C. Tetrapropilamonium hidroksid a, TPAOH (Merck, 40% TPAOH dalam air),
yang digunakan sebagai templat, juga didinginkan sampai temperatur 0°C. Setelah beberapa
menit, 60 g TPAOH yang mengandung 0,1287 mol TPAOH ditambahkan perlahan-lahan pada
campuran TEOS dan TBOT. Penambahan TPAOH harus menunggu beberapa menit dari
penambahan sebelumnya, untuk mencegah terjadinya presipitasi. Campuran tetap diaduk dan
didinginkan selama proses berjalan. Laju penambahan ditingkatkan setelah penambahan 10 mL
larutan TPAOH. Ketika penambahan selesai, campuran dipanaskan pada temperatur antara 80-
90°C selama 4 jam. Air destilasi ditambahkan untuk menaikkan volume campuran hingga 127 mL.
Campuran dimasukkan dalam 300 mL reaktor dan dipanaskan pada temperatur 175°C dalam
keadaan diam selama 4 hari. Setelah proses pendinginan, zat disentrifugasi dan dicuci dengan air
destilasi sampai pH =7 (netral). Padatan yang diperoleh, dikeringkan pada temperatur 100°C
selama satu malam.
Katalis Cu/TS-1 disiapkan berdasarkan prosedur (Pharida KM, 2007) dengan prosentase 0;
2; 4; 6; 8 disiapkan dengan metode impregnasi, yaitu dengan memasukkan Padatan Titanium
Silikalit (TS-1) kedalam larutan Cu(NO
3
)
2
.3H
2
O yang diperoleh dengan melarutkan padatan
tembaga nitrat kedalam air demineral. Campuran TS-1 dan Cu-nitrat diaduk dengan magnetic
stirrer pada suhu kamar selama 3 jam, kemudian campuran diuapkan untuk menghilangkan kadar
airnya. Padatan yang diperoleh kemudian dikeringkan pada suhu ± 100
o
C selama 24 jam dan
dikalsinasi dengan suhu 550
o
C selama 5 jam sebagaimana kalsinasi untuk TS-1. Karakterisasi TS-
1 dan CuO/TS-1.

3. Hasil dan Pembahasan
Karakterisasi XRD digunakan untuk mencari informasi mengenai derajat kemurnian, kristalisasi dan
kisi kristal (Kwayke-Awuah, 2008). Puncak-puncak difragtogram X-ray direkam menggunakan PW
Philips menggunakan filter Ni sumber sinar Cu Kα dengan range 2θ= 5 – 40
o
. Pola difraksi sinar-X
untuk TS-1 dan CuO/TS-1 dapat dilihat pada gambar 1.






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

Gambar 1 : Difragtogram X-Ray (a)TS-1, (b)CuO/TS-1 loading 1 %, (c)CuO/TS-1 loading 2%, (d)
CuO/TS-1 loading 4 % dan (e) CuO/TS-1 loading 8 %

Pola difraksi sinar X dari TS-1, dan X CuO/TS-1 mempunyai pola difraksi yang serupa.
Semua sampel mempunyai puncak yang tinggi pada 2θ = 7,92; 8,82; 23,09; 23,29; 23,68; dan
23,92. Puncak 2θ = 7,92 dan 8,82 menunjukkan tipe struktur MFI yang disebabkan oleh
penggunaan templet TPA
+
( Treacy dkk; 2001) pada TS-1 sedangkan puncak difraksi pada 2θ =
23,09; 23,29; 23,68; dan 23,92 menunjukkan bentuk simetri orthorombik (Treacy dkk; 2001) .
Adanya CuO kristalin yang terimpreg pada TS-1 tidak mengubah struktur mikropori TS-1, puncak
difraksi CuO kristalin ditunjukkan oleh puncak difraksi pada 2θ = 35 dan 38,6
o
yang tidak terlihat
pada penambahan Cu kurang dari 4 % dan mempunyai intensitas semakin kuat seiring dengan
penambahan jumlah Cu yang ditambahkan. Dengan adanya CuO yang terimpreg pada TS-1 akan
mengurangi kristalinitas TS-1 itu sendiri, hal ini terlihat dari menurunnya intesitas puncak
difragtogram pada 2θ karakteristik dari TS-1 . Penurunan puncak ini dapat disebabkan karena
dengan semakin besarnya kandungan oksida logam CuO pada katalis TS-1 maka oksida logam
CuO akan lebih terdispersi pada permukaan katalis TS-1 dan menutupi permukaan katalis TS-1,
sehingga menngurangi kristalinitas dari TS-1 itu sendiri. Hal ini sesuai dengan penelitian yang
dilakukan oleh Pharida dkk (2007) yang menyatakan bahwa kritalinitas puncak MCM-41 menurun
dengan meningkatnya kandungan CuO, puncak-puncak CuO juga terlihat semakin tinggi dengan
meningkatnya jumlah loading Cu pada MCM-41 yang ditunjukkan pada 2θ 35 dan 38
o
.
Berkurangnya intensitas puncak difraksi (kristalinitas) dari TS-1 setelah ditambahkan CuO
menunjukkan bahwa CuO telah berada dalam permukaan katalis TS-1.
FTIR merupakan spektroskopi yang digunakan untuk mengidentifikasi material berdasarkan
gugus fungsi, struktur molekulnya. Analisa dengan metode ini didasarkan pada fakta bahwa
molekul memiliki frekuensi spesifik yang dihubungkan dengan vibrasi internal dari atom gugus
fungsi. Spektrum Inframerah muncul ketika diletakkan dalam berkas radiasi IR, sampel
mengabsorpsi radiasi pada frekuensi yang sesuai dengan frekuensi vibrasional molecular dan
meneruskan seluruh frekuensi yang lain.






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

Gambar 2 : Transmitran analisisFT IR TS-1

Pada gambar tersebut TS-1 mempunyai pita absorbsi pada daerah bilangan gelombang
1230 cm
-1
, 1100 cm
-1
, 800 cm
-1
, 500 cm
-1
dan 400 cm
-1
. Pita-pita tersebut merupakan vibrasi yang
berbeda dari struktur tetrahedral yang menjadi ciri khas dari zeolit MFI. Pita absorbsi pada daerah
1100 cm
-1
menunjukkan adanya vibrasi asimetris dari Si-O-Si, sedangkan vibrasi simetrisnya
terletak pada 800 cm
-1
. Pita absorbsi yang muncul pada bilangan gelombang sekitar 1230 dan 547
cm
-1
merupakan karakteristik struktur tetrahedral dalam framework zeolit dengan tipe MFI (Drago
dkk, 1998). Pita absorbsi yang muncul pada bilangan gelombang sekitar 970 cm
-1
merupakan
karakteristik TS-1, dimana pita absorbsi pada daerah bilangan gelombang ini mengondikasikan
adanya atom titanium dalam struktur katalis TS-1 (Bengoa dkk, 1998). Menurut Gang Li dkk (2000),
pita absorbsi pada daerah bilangan gelombang sekitar 970 cm
-1
merupakan mode vibrasi regang
dari gugus Si-O
-
dari unit [SiO
4
] yang terikat pada atom Ti
IV
dengan koordinasi tetrahedral dalam
framework TS-1. Sedangkan menurut menurut Astorino dkk (1995), Thangaraj dkk (1991), Bengoa
dkk (1998), dan Bocutti dkk (1989), pita absorbsi pada daerah bilangan gelombang sekitar 970 cm
-1

merupakan mode vibrasi regang asimetri dari jembatan Si-O-Ti. Dilihat dari berbagai sudut
pandang manapun dapat disimpulkan bahwa pita absorbsi pada daerah bilangan gelombang
sekitar 970 cm
-1
merupakan bukti telah bergabungnya titanium dalam struktur katalis TS-1.

4. Kesimpulan
Berdasarkan data karakterisasi dapat disimpulkan
1. TS-1 hasil sintesis sesuai dengan karakteristik Zeolit MFI.
2. Adanya CuO terimpreg pada TS-1 mengurangi kristalinitas katalis TS-1, yang ditandai
dengan berkurangnya intesitas hasil difraksi sinar X

4000 3500 3000 2500 2000 1500 1000 500
-18
-16
-14
-12
-10
-8
-6
-4
-2
0
2
T
r
a
n
s
m
i
t
r
a
n
s
i
Bilangan Gelombang






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

Daftar Pustaka
Astorino, E., Peri, J.B., Willey, R.J., dan Busca, G. (1995), “Spectroscopic Caracterization of
Silicalite-1 and Titanium Silicalite-1”, Journal of Catalysis, 157, 482-500.
Bengoa, J.F., Gallegos, N. G., Marchetti, S. G., Alvarez, A. M., Cagnoli, M. V., Yeramian, A. A.,
(1998), ‘Influence of Structural Properties and Operation Conditions on Benzena Catalytic
Oxidation with H2O2”, Microporous and mesoporous Materials, Vol. 24, hal. 163-172.
Bhaumik, A., Mukherjee, P., Kumar, R., (1998)., “Triphase Catalysis over Titanium-Silicate
Molecular Sieves under Solvent-free Conditions”, Journal of Catalysis, Vol. 178, hal. 101-
107.
Drago, R. S.,Dias, S. C. , McGilvray, J. M., Mateus, A. L. M. L. (1998), “Acidity and Hydrophobicity
of TS-1”, Journal of Physical Chemistry, Vol. 102, hal. 1508-1514.
Gao, X., Xu, J., (2006), “A new application of clay-supported vanadium oxide Catalyst to Selective
Hydroxylation of Benzena To Phenol”, Applied ClayScience, Vol. 33, hal. 1-6.
Kwayke-Awuah, B. (2008) Production of Silver-Loaded Zeolites and Investigation of Their
Antimicrobial Activity, Tesis : University of Wolverhampton.
Miyahara, T., Kanzaki, H., Hamada, R., Kuroiwa, S., Nishiyama, S., Tsuruya, S., (2001), ”Liquid-
phase Oxidation of Benzena to Phenol by CuO-Al2O3 Catalysts Prepared by Co-precipitation
Methode, Journal of Molecular Catalysis A : Chemical, Vol. 176, hal. 141-150.
Parida, K. M., Rath, D., (2007), “Structural Properties and Catalytic Oxidation of Benzene to Phenol
over CuO-Impregnated Mesoporous Silika”, Applied Catalysis A: General, Vol. 321, hal. 101-
108.
Sun, J., Meng, X., Shi, Y., Wang, R., Feng, S., Jiang, D., Xu, R., Xiao, F. (2000), ”A Novel Catalyst
of Cu-Bi-V-O Complex in Phenol Hydroxylation with Hydrogen Peroxide”, Journal of Catalyst,
Vol. 193, hal. 199-206.
Taramasso, M., Perego, G., Notari, B. (1983), Preparation of Porous Crystalline Synthetic Material
Comprised of Silicon and titanium Oxides, U.S. Patent, No. 4,410,501.
Thangaraj, A., Kumar, R., Mirajkar, S. P., Ratnasamy, P., (1991)., “ Catalytic Properties of
Crystalline Titanium Silicalites: I. Synthesis and Characterization of Titanium-Rich Zeolites
with MFI Structure”, Journal of Catalysis, Vol. 130, hal. 1-8.
Treacy, M. M. J., Higgins, J. B. and von Balloms, R. (2001), Collection of Simulated XRD Powder
Patterns for Zeolite, 4th edition, Amsterdam: Elsevier.
























ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
PENENTUAN KANDUNGAN KOMPOSISI KIMIA DALAM
SUATU BAHAN MENGGUNAKAN INSTRUMEN X-RAY
FLUOROSENCE
(XRF) MINIPAL-4

N. F. Said
1,*
, I. Meilani
1
dan H. Fansuri
1,2


1
Laboratorium Studi Energi dan Rekayasa LPPM-ITS Surabaya
2
Jurusan Kimia FMIPA ITS, Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111
*Email: raisya_dheel@yahoo.co.id

Abstrak

Instrumentasi X-Ray Fluorosence merupakan suatu alat yang digunakan untuk menentukan
komposisi kimia suatu bahan baik padatan maupun cairan. Pengukuran menggunakan alat ini
bersifat non-destruktif atau bersifat tidak merusak bahan. Unsur-unsur mulai dari Natrium hingga
Uranium dapat diukur secara simultan, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Bahan yang dapat
diukur menggunakan instrumen ini yaitu serbuk, padatan lempengan, bentuk pellet atau tablet,
bentuk manik-manik ataupun bentuk cair. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kandungan
komposisi kimia dari batuan alam, mineral-mineral alam, biji salak dan oli. Pengukuran komposisi
kimia untuk oli menggunakan standar yaitu standar sulfur dalam minyak, sedangkan untuk bahan
batuan alam, mineral-mineral alam, lumpur dan biji salak, diukur tanpa menggunakan standar
(standarless). Dalam pengujian ini dilakukan variasi beberapa parameter yang mempengaruhi yaitu
energi, filter, waktu dan medium. Penggunaan energi yang lebih besar akan berpengaruh pada
lebih banyak unsur yang terbaca. Sedangkan penggunaan filter bertujuan untuk mengurangi
gangguan efek matriks sehingga akan didapatkan data yang yang lebih akurat. Penggunaan waktu
yang lebih lama akan dihasilkan data yang lebih bagus, sedangkan penggunaan medium gas
Helium digunakan untuk pengukuran unsur dengan nomor atom ringan dan medium udara untuk
pengukuran unsur dengan nomor atom besar.

Kata kunci : X-Ray Fluorosence (XRF), Batuan mineral, komposisi kimia

1. Pendahuluan

Kemajuan teknologi dari tahun ke tahun mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dalam
berbagai bidang termasuk teknologi dalam bidang pendidikan. Teknologi terbaru ini sangat
bermanfaat dalam membantu penelitian yang ada. Teknologi-teknologi terbaru ini antara lain
Scanning Electron Microscope (SEM), Inductively Coupled Plasma (ICP), X-Ray Diffraction (XRD),
Gas Chromatography, X-Ray Fluorosence (XRF) dan lain-lain. Diantara teknologi-teknologi yang
ada tersebut, salah satunya yang sangat bermanfaat adalah instrumen X-Ray Fluorosence (XRF).
Instrumen X-Ray Fluorosence merupakan suatu alat yang digunakan untuk menentukan
komposisi kimia suatu bahan baik padatan maupun cairan. Pengukuran menggunakan alat ini
mempunyai beberapa keunggulan antara lain pengukurannya bersifat non-destruktif atau bersifat
tidak merusak bahan, tidak memerlukan preparasi yang rumit, ekonomis, sederhana dan cepat
untuk penentuan komposisi kimia dari berbagai jenis bahan dibandingkan dengan alat lainnya serta
dapat digunakan untuk membaca unsur dari Natrium hingga Uranium secara simultan, baik secara
kualitatif maupun kuantitatif (Sumantry, 2002).

Pada saat pengukuran menggunakan X-Ray Fluorosence (XRF), terdapat faktor-faktor
penting yang berpengaruh seperti waktu, energi dan filter. Pada penelitian ini akan dilakukan






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
pengukuran suatu bahan dari batuan alam, mineral-mineral alam, biji salak dan oli. Pengukuran
komposisi kimia untuk oli menggunakan standar yaitu standar sulfur dalam minyak, sedangkan
untuk bahan batuan alam, mineral-mineral alam, lumpur dan biji salak diukur tanpa menggunakan
standar (standarless).

2. Tinjauan Pustaka

Seperti metode spektrofotometri lainnya, analisis spektrofotometri XRF (X-Ray
Fluorescence) dilakukan dengan mengaplikasikan sumber sinar terhadap sampel, selanjutnya akan
terjadi interaksi sinar dengan sampel yang menjadi dasar dari analisis suatu materi. Pada
spektrofotometri XRF, yang menjadi sumber sinar adalah sinar-X. Saat sinar-X mengenai materi
maka akan terjadi bermacam interaksi seperti, absorpsi, florosensi maupun hamburan, tergantung
sinar datang yang mengenai materi.
Spektrofotometri XRF memanfaatkan sinar-X yang berfluorosensi. Jika suatu elektron
ditembakkan pada atom dan tepat mengenai elektron, maka electron akan tereksitasi. Akibatnya
terjadi kekosongan pada posisi elektron yang tereksitasi. Keadaan ini bersifat tidak stabil. Untuk
mengatasi ketidakstabilan tersebut, elektron yang berasal dari kulit yang lebih luar akan turun
mengisi kekosongan. Saat elektron turun kedua (sekunder) turun ke kulit yang lebih dalam maka
elektron akan memancarkan sinar-X seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 1 (Schlotz, 2006).
Terdapat beberapa pancaran sinar-X dilihat dari posisi awal dan akhir elektron, yaitu:
a. Sinar-X Kα, jika sinar-X dipancarkan pada saat elektron berpindah dari kulit L ke kulit K.
b. Sinar-X Kβ, jika sinar-X dipancarkan pada saat elektron berpindah dari kulit M ke kulit K.
c. Sinar-X Lα, jika sinar-X dipancarkan pada saat elektron berpindah dari kulit M ke kulit L.
d. Sinar-X Mα, jika sinar-X dipancarkan pada saat elektron berpindah dari kulit N ke kulit M.



Gambar 1. Skema perpindahan elektron saat diradiasi oleh sinar-X sampai mengalami fluorosensi.

Setiap atom memiliki panjang gelombang sinar-X yang khas, baik itu jenis panjang
gelombangnya maupun nilai panjangnya. Karena itulah, XRF dapat digunakan untuk menganalisis
secara kualitatif unsur-unsur yang terdapat dalam suatu materi.

Teknik pengukuran menggunakan XRF

Beberapa hal perlu diperhatikan untuk keperluan praktik dalam pengukuran
spektrofotometri XRF. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah dalam teknik penyiapan
sampel. Biasanya, hanya sejumlah kecil sampel dari material yang dianalisis. Sampel harus
mewakili dari keseluruhan material, dan harus diperlakukan secara hati-hati. Sensitifitas
spektrofotometer yang tinggi dapat mengganggu hasil analisis sampel disebabkan oleh adanya
bekas sidik jari. Karena sampel yang dianalisis adalah bagian permukaan maka sampel harus
sehomogen mungkin dan mewakili dari keseluruhan sampel.






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Sebagian besar spektrofotometer XRF memiliki tempat sampel berbentuk silinder dangan
jari-jari antara 5 sampai dengan 50 mm. Jenis sampel yang dapat dianalisis pada pengukuran
spektrofotometri XRF adalah sampel yang disiapkan dalam bentuk padat, serbuk, manik (gelas),
cair, dan material dalam filter. Pada penelitian ini, jenis sampel yang dapat disiapkan adalah dalam
keadaan padat, serbuk dan manik.
Padatan hanya memerlukan sedikit penyiapan sampel. Pada beberapa kasus diperlukan
pembersihan dan penggosokan permukaan. Misalnya pada logam yang permukaannya mudah
teroksidasi, diperlukan penggosokan untuk menghilangkan bagian yang berkarat.
Sampel berupa serbuk dapat ditempatkan pada film pendukung dan diukur secara
langsung. Teknik yang lainnya adalah mengepres bubuk tersebut dengan tekanan tinggi (20.000
kg) untuk dijadikan tablet. Material tambahan kadang ditambahkan untuk memperbaiki kualitas
tablet. Sampel yang sudah jadi tablet tersebut kemudian diukur dan dianalisis. Jika material
tambahan disertakan, harus dimasukkan ke dalam perhitungan karena tidak masuk pada sampel
awal.
Serbuk bersama dengan zat tambahan yang dinamakan flux juga dapat dilelehkan (1000-
1200
o
C) di dalam sampel gelas dinamakan manik. Sampel ini homogen dan dapat diukur secara
langsung. Karena pada saat proses pelelehan, sebagian dari sampel dapat menguap menjadi H
2
O
atau CO
2
sedangkan unsur S, Hg, dan Cd juga dapat hilang pada saat sampel dipanaskan.
Hilangnya beberapa elemen ini dinamakan Loss On Ignition (LOI) (Hanif, 1998).

3. Metodologi

Alat Dan Bahan
Alat
Peralatan yang digunakan di dalam penelitian ini meliputi mortar penghalus, ayakan 120
mesh, tempat cup sampel XRF (P1) dan alat perata XRF.

Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pasir paras Probolinggo, pasir
laut Pamekasan, zeolit A, lumpur, biji salak dan oli.

Prosedur Kerja
Semua bahan dihaluskan menggunakan mortar dan diayak menggunakan ayakan 120
mesh. Kemudian dimasukkan ke dalam cup P1 XRF dan diratakan menggunakan alat perata XRF.
Sampel siap dianalisis.

4. Hasil dan Pembahasan
Hasil pengukuran untuk sampel biji salak seperti tertera pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil kandungan kimia dari biji salak menggunakan XRF Standarless
Unsur Konsentrasi (%)
Si 1,5
P 1,9
S 4,72
Cl 10,9
K 24,8
Mn 0,24
Fe 21,4
Cu 1,6
Zn 7,02
Br 26

Kondisi pengukuran biji salak yaitu tanpa standar (standarless), energi 14 Kv, tanpa filter,
medium udara dan waktu 60 detik. Gambar spektra ditunjukkan pada Gambar 3.






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS


Gambar 3. Spektra pengukuran biji salak menggunakan XRF Standarless

Pengukuran selanjutnya yaitu sampel pasir paras Probolinggo. Pada pengukuran sampel
ini akan divariasi energi yang digunakan yaitu 14 kV dan 30 kV. Hasil analisis menggunakan XRF
seperti tertera pada Tabel 2.

Tabel 2. Hasil kandungan kimia dari pasir paras Probolinggo menggunakan XRF Standarless
Unsur
Unsur (%)
Energi 14 Kv Energi 30 Kv
Al 7,9 8,2
Si 28,9 27
K 4,73 5,41
Ca 11,3 12,8
Ti 2,68 2,99
V 0,064 0,05
Mn 0,66 0,69
Fe 42,3 40,21
Cu 0,15 0,23
Ba 0,71 0,74
Eu 0,68 0,48
Rb - 0,096
Sr - 0,42
Zr - 0,25
Re - 0,08

Dari data di atas terlihat bahwa dengan menggunakan energi yang lebih besar maka unsur
yang terukur lebih banyak daripada menggunakan energi yang lebih kecil. Hal ini berarti ketika
mengukur kandungan kimia menggunakan XRF, semakin besar energi yang digunakan akan
semakin banyak unsur yang terbaca dan semakin akurat pembacaannya. Dalam pengukuran
menggunakan XRF, energi minimum yang bisa digunakan yaitu 4 kV dan energi maksimum yang
bisa digunakan yaitu 30 kV.
Pengukuran selanjutnya yaitu ingin mengetahui efek dari variasi penggunaan filter.
Pengukuran akan dilakukan dengan sampel Zeolit A sintesis. Secara teori, zeolit A terkandung
unsur Si, Al dan Na, sehingga penggunaan filter mengacu pada ketiga unsur tersebut. Sesuai
dalam tabel periodik khusus pengukuran menggunakan XRF, maka filter yang digunakan adalah
filter Kapton (PANalytical, 2007). Hasil analisis tertera pada Tabel 3.
Dari data di Tabel 3 terlihat bahwa dengan menggunakan filter maka pembacaan komposisi
kimia lebih baik daripada tanpa filter. Pada besar unsur Kalsium dan Kalium lebih besar nilainya
ketika menggunakan filter, hal ini dikarenakan ketika pengukuran menggunakan XRF dan memakai
filter bertujuan untuk mengurangi gangguan efek matriks. Gangguan efek matriks yaitu ketika






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
terdapat dua unsur atau lebih yang mempunyai energi yang hampir sama, maka pembacaannya
akan lebih teliti dan akurat ketika menggunakan filter (PANalytical, 2007).

Tabel 3. Hasil kandungan kimia dari Zeolit A sintesis menggunakan XRF Standarless
Unsur
Unsur (%)
Tanpa filter Filter Kapton
Al 30,8 30
Si 63,6 63,6
K 0,96 1,4
Ca 2,14 2,27
P 1,8 2,1
Mn 0,12 0,15
Fe 0,45 0,44
Cu 0,18 0,18
Na - -

Dari data di atas terlihat bahwa dengan menggunakan filter maka pembacaan komposisi
kimia lebih baik daripada tanpa filter. Pada besar unsur Kalsium dan Kalium lebih besar nilainya
ketika menggunakan filter, hal ini dikarenakan ketika pengukuran menggunakan XRF dan memakai
filter bertujuan untuk mengurangi gangguan efek matriks. Gangguan efek matriks yaitu ketika
terdapat dua unsur atau lebih yang mempunyai energi yang hampir sama, maka pembacaannya
akan lebih teliti dan akurat ketika menggunakan filter (PANalytical, 2007).
Pengukuran selanjutnya yaitu ingin mengetahui efek dari variasi penggunaan waktu.
Pengukuran akan dilakukan pada sampel pasir laut Pamekasan. Hasil analisis tertera pada Tabel
4.
Tabel 4. Hasil kandungan kimia dari pasir laut Pamekasan menggunakan XRF Standarless
Unsur
Unsur (%)
60 detik 120 detik 180 detik
Al 0,6 0,47 0,55
Si 1,5 1,4 1,48
S 0,3 0,3 0,31
Ca 96,24 96,44 96,27
Ti 0,1 0,11 0,11
Mn 0,098 0,097 0,1
Fe 1,09 1,10 1,07
Ba 0,09 0,09 0,08
Cu - - 0,04

Dari data di Tabel 4 terlihat bahwa dengan menggunakan waktu pengukuran yang lebih
lama maka pembacaan komposisi kimia lebih baik daripada waktu pengukuran yang sedikit. Pada
pengukuran selama 60 detik dan 120 detik tidak teridentifikasi unsur tembaga, tetapi ketika diukur
menggunakan waktu 180 detik maka teridentifikasi tembaga walaupun konsentrasinya sangat kecil.
Hal ini berarti semakin lama waktu pengukuran menggunakan XRF maka akan didapatkan data
yang lebih akurat. Pada pengukuran menggunakan XRF ini waktu minimumnya adalah 10 detik dan
waktu maksimumnya adalah 300 detik (PANalytical, 2007).
Pengukuran selanjutnya yaitu ingin mengetahui efek dari penggunaan medium udara dan
gas Helium. Pengukuran akan dilakukan pada sampel fly ash atau abu terbang. Hasil analisis
tertera pada Tabel 5.
Dari data pada Tabel 5 terlihat bahwa dengan menggunakan medium gas Helium maka
unsur Natrium terbaca. Hal ini sesuai dengan penggunaannya yaitu medium gas Helium digunakan
untuk mengukur unsur-unsur dengan nomor atom ringan seperti Natrium dan Kalium, sedangkan
medium udara digunakan untuk mengukur unsur-unsur dengan nomor atom besar (PANalytical,
2007).






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Tabel 5. Hasil kandungan kimia dari fly ash
menggunakan XRF Standarless
Unsur
Unsur (%)
Udara Gas Helium
Al 7,8 7,7
Si 18,7 18,8
P 0,53 0,53
S 1,1 1,2
K 2,29 2,19
Ca 25,0 24,0
Ti 1,50 2,50
V 0,066 0,063
Cr 0,04 0,04
Mn 0,35 0,36
Fe 36,2 34,56
Cu 0,093 0,082
Zn 0,12 0,22
Ba 0,72 0,72
Pb 5,5 4,3
Na - 2,3

Pengukuran selanjutnya yaitu sampel oli dengan menggunakan larutan standar Sulfur
dalam minyak. Padapengukuran menggunakan standar ini perlu dibuatkan aplikasi terlebih dahulu
yang berisi tentang kurva kalibrasi agar didapatkan data yang lebih akurat. Kurva kalibrasi Sulfur
dalam minyak seperti terlihat pada Gambar 3.


Gambar 3. Kurva kalibrasi Sulfur dalam minyak menggunakan XRF


Sampel oli jenis HSD dan MFO dianalisis kadar Sulfurnya menggunakan XRF dan hasilnya
dapat dilihat pada Tabel 6.













ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Tabel 6. Hasil pengukuran oli menggunakan XRF dengan standar Sulfur dalam minyak

Nama oli
Kadar Sulfur
% ppm
HSD 0,21 2110,85
MFO 2,67 26803,46

Pengukuran menggunakan XRF dengan standar dapat dilakukan dalam berbagai satuan
konsentrasi yaitu %, ppm dan ppb. Pengukuran menggunakan standar lebih akurat hasilnya
daripada pengukuran tanpa menggunakan standar.

5. Kesimpulan

Dari hasil dan diskusi yang dipaparkan dalam pembahasan diatas, maka pada pada
penelitian ini terdapat beberapa hal yang dapat disimpulkan yaitu
Penggunaan energi yang lebih besar pada saat mengukur menggunakan XRF akan berpengaruh
pada lebih banyak unsur yang terbaca. Sedangkan penggunaan filter bertujuan untuk mengurangi
gangguan efek matriks sehingga akan didapatkan data yang yang lebih akurat. Penggunaan waktu
yang lebih lama akan dihasilkan data yang lebih bagus, sedangkan penggunaan medium gas
Helium digunakan untuk pengukuran unsur dengan nomor atom ringan dan medium udara untuk
pengukuran unsur dengan nomor atom besar. Pengukuran menggunakan standar akan didapatkan
data yang lebih akurat dibandingkan tanpa menggunakan standar.

Ucapan Terimakasih

Penelitian ini dibiayai oleh dana SPI ITS sesuai dengan surat penugasan dalam rangka
pelaksanaan penelitian unggulan tahun anggaran 2010 No. 0535/I2.7/PM/2010 tgl 1 Mei 2010.

Daftar Pustaka

Hanif, M. I. (1998), “X-Ray Fluorescence (XRF) Spectroscopic studies of elements in refractory
materials: Soils, Alloys, and Nuclear Wastes”, thesis of Doctor of Philosophy Program,
University of Punjab, Pakistan
PANalytical, (2007), “User’s Guide Minipal4”, PANalytical B.V, 7602 EA, Almelo, Belanda

Schlotz, R. dan Uhlig, S. (2006) ”Introduction to X ray Fluorerescence(XRF)”, Bruker AXS GmbH,
Jerman Barat
Sumantry, Teddy, (2002), “Pembuatan sumber eksitasi Am-241 untuk pemberdayaan instrument X-
Ray Fluorescent”, Hasil penelitian P2PLR, Pusat pengembangan pengelolaan limbah
radioaktif

















ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
PENENTUAN KANDUNGAN MINERAL BATUBARA YANG
BERASAL DARI KALIMANTAN DENGAN VARIASI
BENTUK SERBUK DAN PELLET MENGGUNAKAN
SPEKTROFOTOMETRI X-RAY FLUOROSENCE (XRF)
MINIPAL-4

N. F. Said
1,*
, Y. Kusumawati
2
, I. Meilani
1
,

E. Agustiani
3
, H. Fansuri
1,2


1
Laboratorium Studi Energi dan Rekayasa LPPM-ITS Surabaya
2
Jurusan Kimia FMIPA ITS, Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111
3
Studi D3 Teknik Kimia FTI ITS, Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111
*Email: raisya_dheel@yahoo.co.id


Abstrak

Kandungan mineral dalam batubara penting untuk diketahui selain penentuan kandungan unsur
utama yaitu C, H, O, N. Penentuan kandungan mineral dalam batubara penting dilakukan karena
mineral dapat mempengaruhi kemampuan pembakaran batubara. Mineral juga dapat memberikan
efek yang tidak diinginkan pada saat penyimpanan batubara. Dalam penelitian ini dilakukan
pengukuran terhadap kandungan mineral dalam sampel batubara yang berasal dari berbagai
daerah di Kalimantan dengan menggunakan metode Spektrofotometri X-Ray Fluorosensi (XRF)
standarless. Dalam pengukurannya akan divariasi bentuk batubara yaitu serbuk dengan ukuran
120 mesh dan bentuk pellet batubara sesuai standar pengukuran menggunakan Spektrofotometri
X-Ray Fluorosensi (XRF) standarless. Dari hasil pengukuran diketahui bahwa komposisi kimia yang
paling dominan terkandung dalam batubara adalah Silikon dan Besi. Batubara dengan kalori
rendah (4331,67 J) mengandung Silikon sebesar 25,36 % untuk bentuk serbuk dan 24,89% untuk
bentuk pellet, sedangkan kandungan Besi sebesar 23,10% untuk bentuk serbuk dan 23,88% untuk
bentuk pellet. Batubara dengan kalori sedang (5781,67 J) mengandung Bromin sebesar 55,48 %
untuk bentuk serbuk dan 64,72% untuk bentuk pellet, sedangkan kandungan Besi sebesar 14,78%
untuk bentuk serbuk dan 10,94% untuk bentuk pellet. Batubara dengan kalori tinggi (6247,67 J)
mengandung Silikon sebesar 22,48% untuk bentuk serbuk dan 21,36% untuk bentuk pellet,
sedangkan kandungan Besi sebesar 20,51% untuk bentuk serbuk dan 21,70% untuk bentuk pellet.
Mineral lain yang teridentifikasi adalah Aluminium, Sulfur, Kalsium, Titanium, Kalium dan Mangan.

Kata kunci : Batubara, Kadar mineral, X-Ray Fluorosensi (XRF)


1. Pendahuluan
Batubara merupakan batuan sedimen organik yang mengandung karbon, hidrogen,
nitrogen, oksigen dan Sulfur dengan beragam nilai sesuai jenisnya (Speight, 2005; ASTM D-121).
Batubara saat ini merupakan bahan bakar yang diandalkan oleh pemerintah sebagai sumber energi
utama dalam pembangkitan energi listrik. Program listrik 10000 MW, misalnya, hampir semua
dibangun dengan menggunakan batubara sebagai sumber energinya. Dalam penggunaannya,
perlu diketahui kualitas batubara yang digunakan agar dapat dicapai efisiensi penggunaan
batubara yang optimal. Parameter utama yang dijadikan kualitas batubara meliputi kelembaban dan
kemampuan pembakaran. Kemampuan pembakaran batubara dapat dianalisis dari kandungan di
dalamnya, terutama karbon (Speight, 2005).
Selain Karbon, kandungan mineral dalam batubara penting juga diketahui. Mineral dalam
batubara dapat merupakan unsur yang berikatan dengan unsur utama batu bara (C, H, O. N),
misalnya Kalsium dan Magnesium yang merupakan unsur pendamping dari senyawa CaCO
3
dan






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
MgCO
3
. Selain itu, terdapat juga mineral yang tidak berikatan dengan unsur utama batubara
(Speight, 2005). Mineral dapat menjadi sumber abrasi yang tidak diinginkan, stickines, korosi atau
polusi pada saat penanganan dan atau penggunaan batubara (Ward, 2002).
Penentuan kadar mineral dapat dilakukan dengan menggunakan metode spektrofotometri
serapan atom (speight, 2005), scanning dan transmission electrkon microscopy (Allen dan
VanderSande, 1984), difraksi sinar-X (Ward dkk, 2001) atau Spektroskopi XRF (X-Ray Fluorosensi)
(Fernandez dkk; 2001).
Metode pengukuran flourosensi sinar-X memiliki kelebihan diantara metode lainnya dalam
hal tidak memerlukan pelarut dan kecepatan waktu analisis. Pengukuran batubara menggunakan
spektroskopi XRF dapat dilakukan dengan bentuk serbuk, pellet dan manik-manik. Penelitian ini
bertujuan untuk melakukan pengukuran kandungan mineral terhadap sampel batubara yang telah
dikumpulkan dari berbagai daerah di Kalimantan dengan menggunakan metode pengukuran
spektroskopi XRF dengan variasi bentuk serbuk dan pellet.

2. Tinjauan Pustaka

Seperti halnya dengan metode spektrofotometri lainnya, analisis spektrofotometri XRF (X-
Ray Fluorescence) dilakukan dengan mengaplikasikan sumber sinar terhadap sampel, selanjutnya
akan terjadi interaksi sinar dengan sampel yang menjadi dasar dari analisis suatu materi. Pada
spektrofotometri XRF, yang menjadi sumber sinar adalah sinar-X. Saat sinar-X mengenai materi
maka akan terjadi bermacam interaksi seperti, absorpsi, florosensi maupun hamburan, tergantung
sinar datang yang mengenai materi.
Spektrofotometri XRF memanfaatkan sinar-X yang berfluorosensi. Jika suatu elektron
ditembakkan pada atom dan tepat mengenai elektron, maka elektron akan tereksitasi. Akibatnya
terjadi kekosongan pada posisi elektron yang tereksitasi. Keadaan ini bersifat tidak stabil. Untuk
mengatasi ketidakstabilan tersebut, elektron yang berasal dari kulit yang lebih luar akan turun
mengisi kekosongan. Saat elektron turun kedua (sekunder) turun ke kulit yang lebih dalam maka
elektron akan memancarkan sinar-X sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar 1.



Gambar 1. Skema perpindahan elektron saat diradiasi oleh sinar-X sampai mengalami fluorosensi.

Terdapat beberapa pancaran sinar-X dilihat dari posisi awal dan akhir elektron, yaitu:
a. Sinar-X Kα, jika sinar-X dipancarkan pada saat elektron berpindah dari kulit L ke kulit K.
b. Sinar-X Kβ, jika sinar-X dipancarkan pada saat elektron berpindah dari kulit M ke kulit K.
c. Sinar-X Lα, jika sinar-X dipancarkan pada saat elektron berpindah dari kulit M ke kulit L.
d. Sinar-X Mα, jika sinar-X dipancarkan pada saat elektron berpindah dari kulit N ke kulit M.

Setiap atom memiliki panjang gelombang sinar-X yang khas, baik itu jenis panjang
gelombangnya maupun nilai panjangnya. Karena itulah, XRF dapat digunakan untuk menganalisis
secara kualitatif unsur-unsur yang terdapat dalam suatu materi.






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

Beberapa hal perlu diperhatikan untuk keperluan praktik dalam pengukuran spektrofotometri XRF.
Hal pertama yang harus diperhatikan adalah dalam teknik penyiapan sampel. Biasanya, hanya
sejumlah kecil sampel dari material yang dianalisis. Sampel harus mewakili dari keseluruhan
material, dan harus diperlakukan secara hati-hati. Sensitifitas spektrofotometer yang tinggi dapat
mengganggu hasil analisis sampel disebabkan oleh adanya bekas sidik jari. Karena sampel yang
dianalisis adalah bagian permukaan maka sampel harus sehomogen mungkin dan mewakili dari
keseluruhan sampel.
Sebagian besar spektrofotometer XRF memiliki tempat sampel berbentuk silinder dangan
jari-jari antara 5 sampai dengan 50 mm. Jenis sampel yang dapat dianalisis pada pengukuran
spektrofotometri XRF adalah sampel yang disiapkan dalam bentuk padat, serbuk, manik (gelas),
cair, dan material dalam filter. Pada penelitian ini, jenis sampel yang dapat disiapkan adalah dalam
keadaan padat (pellet) dan serbuk.
Padatan hanya memerlukan sedikit penyiapan sampel. Pada beberapa kasus diperlukan
pembersihan dan penggosokan permukaan. Misalnya pada logam yang permukaannya mudah
teroksidasi, diperlukan penggosokan untuk menghilangkan bagian yang berkarat.
Sampel berupa serbuk dapat ditempatkan pada film pendukung dan diukur secara
langsung. Teknik yang lainnya adalah mengepres bubuk tersebut dengan tekanan tinggi (20.000
kg) untuk dijadikan tablet. Material tambahan kadang ditambahkan untuk memperbaiki kualitas
tablet. Sampel yang sudah jadi tablet tersebut kemudian diukur dan dianalisis. Jika material
tambahan disertakan, harus dimasukkan ke dalam perhitungan karena tidak masuk pada sampel
awal.

3. Metodologi

Alat Dan Bahan

Alat
Peralatan yang digunakan di dalam penelitian ini meliputi peralatan gelas, cup XRF, alat perata
XRF, mortar, ayakan 120 mesh dan 200 mesh, cetakan tablet pellet dan alat press.

Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi batubara dari berbagai daerah di
Kalimantan, larutan Mowiol dan aqua demineralisasi.

Prosedur Kerja
Bentuk Serbuk
Preparasi cuplikan serbuk sampel untuk analisis menggunakan XRF adalah sebagai berikut
(Freiburg, 1986):
1. Sampel batubara dihaluskan berupa serbuk halus dengan ukuran 120 mesh sebanyak 20
gram.
2. Sampel serbuk dimasukkan dalam tempat sampel XRF dan diratakan dengan alat perata
XRF agar pendistribusiannya homogen dan selanjutnya dapat dilakukan pengukuran
dengan menggunakan XRF.

Bentuk Pellet
Batubara ditimbang sebanyak 30 gram kemudian dihaluskan dan diayak dengan ukuran 200 mesh
(kurang lebih 75 micron). Untuk pembuatan pellet ini diperlukan agen pengikat. Agen pengikat yang
digunakan adalah larutan Mowiol. Pembuatan larutan Mowiol dilakukan dengan cara
menambahkan 2 g serbuk Mowiol ke dalam 100ml aqua demin sambil dipanaskan dan diaduk
selama 15-20 menit. Kemudian didinginkan dan disimpan dalam botol polietilen. Agen pengikat ini
siap digunakan dengan masa kadaluarsa adalah 2 tahun.






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Pembuatan pellet batubara dilakukan dengan cara menambahkan agen pengikat dengan serbuk
batubara. Untuk 30 gram sampel batubara digunakan 12 tetes larutan Mowiol. Selanjutnya,
dihaluskan dengan menggunakan mortar sampai tidak ada gumpalan. Lalu dimasukkan ke dalam
mesin press dengan tekanan 12 ton selama 5 menit. Mesin tekan MiniPress digunakan untuk
menekan sampel powder (Ahadnejad, M. dkk, 2008). Apabila pellet yang terbentuk kurang terikat
kuat antar sampel maka agen pengikat mowiol dapat ditambahkan lagi (sampel yang mengandung
quartz atau banyak mengandung quartz bisa membutuhkan sampai 50 tetes/10g). Untuk sampel
yang mengandung mowiol dalam jumlah tinggi, sampel harus dikeringkan sebelum pengukuran
dengan XRF (Schlotz dan Uhlig, 2006). Pellet yang terbentuk siap digunakan untuk analisis
menggunakan XRF.

4. Hasil dan Pembahasan
Hasil pengukuran kandungan mineral batubara dapat dilihat pada Tabel 1, Tabel 3 dan
Tabel 5 dengan menggunakan instrumen X-Ray Fluorosence (XRF) dengan kondisi energi 14 Kv,
medium udara, waktu 60 detik dan tanpa filter.
Tabel 1. Hasil analisis kandungan mineral pada batubara kalori rendah (4331,67 J) menggunakan
XRF
Unsur
Konsentrasi (%)
Bentuk serbuk Bentuk pellet
Al 13 13
Si 32,6 32
P 1,2 1,3
S 3,77 3,73
K 6,56 6,25
Ca 7,76 7,78
Ti 3,55 3,43
V 0,13 0,13
Mn 0,2 0,27
Fe 29,7 30,7
Cu 0,36 0,31
Ba 1,17 1,1

Dari data diatas, kemudian dilakukan pengolahan tentang interpretasi data. Dengan nilai
kadar abu batubara sebesar 22,22 %, maka kandungan mineralnya sebesar 77,22% seperti pada
Tabel 2.
Tabel 2. Hasil interpretasi data kandungan mineral pada batubara kalori rendah (4331,67 J)

Unsur
Konsentrasi (%)
Bentuk serbuk Bentuk pellet
Al 10,11 10,11
Si 25,36 24,89
P 0,93 1,01
S 2,93 2,90
K 5,10 4,86
Ca 6,04 6,05
Ti 2,76 2,67
V 0,10 0,10
Mn 0,16 0,21
Fe 23,10 23,88
Cu 0,28 0,24
Ba 0,91 0,86







ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Tabel 3. Hasil analisis kandungan mineral pada batubara kalori sedang (5781,67 J) menggunakan
XRF

Unsur
Konsentrasi (%)
Bentuk
serbuk
Bentuk pellet
Al 4 3
Si 4,7 4,7
P 1,3 1,1
S 6,54 5,17
K 0,49 0,32
Ca 9,34 7,29
Ti 0,91 0,66
Mn 0,36 0,18
Fe 15 11,1
Cu 0,29 0,26
Br 56,31 65,68
Ba 0,76 0,54

Dari data diatas, kemudian dilakukan pengolahan tentang interpretasi data. Dengan nilai kadar abu
batubara sebesar 1,47%, maka kandungan mineralnya sebesar 98,53% seperti pada Tabel 4.

Tabel 4. Hasil interpretasi data kandungan mineral pada batubara kalori sedang (5781,67 J)

Unsur
Konsentrasi (%)
Bentuk
serbuk
Bentuk pellet
Al 3,94 2,96
Si 4,63 4,63
P 1,28 1,08
S 6,44 5,09
K 0,48 0,32
Ca 9,20 7,18
Ti 0,90 0,65
Mn 0,35 0,18
Fe 14,78 10,94
Cu 0,29 0,26
Br 55,48 64,72
Ba 0,75 0,53

Sedangkan untuk batubara dengan nilai kalori tinggi, hasil analisis kandungan mineral terdapat
pada Tabel 5 dan hasil interpretasi data kandungan mineral-nya terdapat pada Tabel 6.
















ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Tabel 5. Hasil analisis kandungan mineral pada batubara kalori tinggi (6247,67 J) menggunakan
XRF

Unsur
Konsentrasi (%)
Bentuk
serbuk
Bentuk pellet
Al 15 14
Si 26,3 25
P 1,4 1,6
S 10,4 10,7
K 1,2 1,2
Ca 5,5 5,69
Ti 14,7 14,7
V 0,5 0,55
Mn 0,3 0,38
Fe 24 25,39
Cu 0,7 0,79

Dari data diatas, kemudian dilakukan pengolahan tentang interpretasi data. Dengan nilai
kadar abu batubara sebesar 14,54323 %, maka kandungan mineralnya sebesar 85,46 % seperti
pada Tabel 6.
Tabel 6. Hasil interpretasi data kandungan mineral pada batubara kalori tinggi (6247,67 J)

Unsur
Konsentrasi (%)
Bentuk
serbuk
Bentuk pellet
Al 12,82 11,96
Si 22,48 21,36
P 1,20 1,37
S 8,89 9,14
K 1,03 1,03
Ca 4,70 4,86
Ti 12,56 12,56
V 0,43 0,47
Mn 0,26 0,32
Fe 20,51 21,70
Cu 0,60 0,68

Dari keseluruhan data di atas dapat diketahui bahwa unsur yang paling dominan dalam
batubara adalah Silikon dan Besi. Unsur-unsur Besi, Aluminium, Sulfur, Kalsium, Titanium, Kalium
dan Mangan yang teridentifikasi dalam sampel batubara merupakan penyusun dari mineral-mineral
yang umumnya ditemukan dalam batubara seperti senyawa Silikon termasuk didalamnya kuarsa
(SiO
2
), senyawa penyusun tanah liat seperti kaolin (Al
2
Si
2
O
5
(OH)
4
), ilit (K
1.5
Al
4
(Si
6.5
Al
1.5
)O
20
(OH)
4
),
smectit (Na
0.33
(Al
1.67
Mg
0.33
)Si
4
O
10
(OH)
2
), feldspar (KAlSi
3
O
8
); senyawa karbonat seperti kalsit
(CaCO
3
) atau dolomit (CaMg(CO
3
)
2
); senyawa sulfida seperti pirit (FeS
2
) atau galena (PbS),
senyawa sulfat seperti gipsum (CaSO
4
) dan persenyawaan lainnya (Ward, 2002).
Mengetahui kandungan mineral dalam batubara sangat penting, karena jenis mineral yang
terdapat dalam batubara akan mempengaruhi karakteristik pembakaran batubara (Wigley, 1997).
Selain itu dengan mengetahui kandungan mineral kita dapat dengan tepat melakukan penanganan
terhadap material atau penanganan terhadap berbagai perlatan yang digunakan. Misalnya,
Kandungan Fe dalam sampel batubara yang diamati cukup tinggi dibandingkan kandungan logam






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
lainnya. Ini dapat dijadikan sebagai suatu rambu-rambu agar kita lebih waspada terhadap proses
perkaratan peralatan penyimpanan atau pipa pembakaran.

5. Kesimpulan

Dari hasil dan diskusi yang dipaparkan dalam pembahasan diatas, maka pada pada penelitian ini
terdapat beberapa hal yang dapat disimpulkan yaitu bahwa Besi dan Silikon merupakan mineral
yang paling banyak terdapat dalam sampel batubara. Mineral lain yang teridentifikasi adalah
Aluminium, Sulfur, Kalsium, Titanium, Kalium dan Mangan.

Ucapan Terimakasih

Penelitian ini dibiayai oleh dana SPI ITS sesuai dengan surat penugasan dalam rangka
pelaksanaan penelitian unggulan tahun anggaran 2010 No. 0535/I2.7/PM/2010 tgl 1 Mei 2010

Daftar Pustaka

Ahadnejad, V. dkk, (2008), “Setting in House XRF Reference Material for Minerals ; A Case Study:
Biotite Minerals of Malayer Granitoid Rocks(Western Iran)”, Journal of Apllied Sciences 8(23):
4369-4375
Allen, R. M.; VanderSande, J. B., (1984), “Analysis of sub-micron mineral matter in coal via
scanning transmission electron microscopy. Fuel”, vol 63, hal 24-29.
Freiburg, C dan Reichert, W. (1986), “The Spot XRF Sequential Analysis”, The Rigoku Journal Vol.
3 No.2 Schlotz, R. dan Uhlig, S. (2006) ”Introduction to X ray Fluorerescence(XRF)”, Bruker
AXS GmbH, Jerman Barat
Speight, J. G. (2005), “ Handbook of Coal Analysis”, John Wiley & Sons: New Jersey.
Suarez-Fernandez, G. P et all. (2001), “ Analysis of major, minor and trace elements in coal by
radioisotope X-ray fluorescence spectromletry”. Fuel , vol 80, hal 255-261.
Ward, C. R. et all. (2001), “Quantification of mineral matter in the Argonne Premium Coals using
interactive Rietveld-based X-ray diffraction”. International Journal of Coal Geology, vol 46, hal
67-82.
Ward, C. R. (2002), “Analysis and significance of mineral matter in coal seams”, International
Journal of Coal Geology, vol 50, hal 135-168.
Wigley, F; Williamson, J; Gibb W. H, (1997), “The distribution of mineral matter in pulverized coal
particles in relation to burnout behavior”. Fuel, vol 76, hal 1283-1288.





















ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
ANALISIS SIFAT KIMIA, FISIK, DAN TERMAL GELATIN
DARI EKSTRAKSI KULIT IKAN PARI (Himantura gerrardi)
MELALUI VARIASI JENIS LARUTAN ASAM

Niniet Martianingsih*, Lukman Atmaja
1


Jurusan Kimia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Abstrak
Pada penelitian ini, telah diisolasi gelatin dari kulit ikan pari (Himantura gerrardi) dengan
proses asam melalui variasi jenis larutan asam pada konsentrasi dan waktu perendaman yang
sama untuk mengetahui pengaruhnya terhadap karakteristik kimia, fisik dan termal gelatin yang
dihasilkan. Kulit ikan direndam dalam tiga larutan asam yaitu, HCl 4% (GC), CH
3
COOH 4% (GA),
dan H
3
PO
4
4% (GP), kemudian diekstraksi dan dikeringkan untuk memperoleh gelatin. Proses
konversi kolagen menjadi gelatin dipengaruhi oleh perbedaan laju hidrolisis kolagen karena
konsentrasi ion H
+
yang berbeda pada setiap larutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa GP
memiliki randemen dan massa molekul relatif terbesar dengan kadar air yang paling kecil yaitu
8,4%, 292.238 gram/ mol dan 14,16%. Analisis FTIR dari setiap gelatin yang dihasilkan
menunjukkan gugus- gugus fungsi O-H, C-H, C=O, N-H dan C-H aromatis yang sama dengan
gelatin komersial. Analisis termal DSC/TGA titik denaturasi (T
d
) pada gelatin GC, GA, dan GP
adalah 44,83
0
C dan 187,93
0
C, 48,39
0
C dan 188,33
0
C, 48,33
0
C dan 188,71
0
C, sedangkan
presentasi pengurangan berat totalnya adalah 26,77%, 32,31%, dan 25,62%. Gelatin terbaik yang
diperoleh pada penelitian ini adalah gelatin GP.

Kata kunci: gelatin, ikan pari, kulit, massa molekul relatif, termal

Abstract
Fish skins gelatin of rayfish (Himantura gerrardi) have been isolated by acid process with
variation of acid solution types at the same concentration and pretreatment time to analyse its
influence to chemical, physical, and thermal characteristic of yielded gelatin. Fish skins were
pretreated in HCl 4% (GC), CH
3
COOH 4% (GA), and H
3
PO
4
4% (GP) independently, then extracted
and dried to obtain gelatin. Conversion of collagen to gelatin process are normally influenced by
different collagen hydrolysis rate. The different is caused by H
+
concentration in the solution. Result
of this research shows that GP has the biggest relative molecule mass and randemen with the
smallest water content, that is 8,4%, 292.238 gram/mole and 14,16%. FTIR analysis of each
resulted gelatin shows O-H, C-H, C=O, N-H dan C-H aromatic groups which are exactly same with
that the comercial gelatin. The denaturation point (T
d
) of GC, GA, and GP gelatin from DSC/TGA
analysis are 44,83
0
C and 187,93
0
C, 48,39
0
C and 188,33
0
C, 48,33
0
C and 188,71
0
C, while their total
reduction weight are 26,77%, 32,31%, and 25,62%, respectively. The best gelatin from this
research is gelatin GP.

Keywords: gelatin, ray fish, relatif molecule mass, skin, thermal

1. Pendahuluan
Gelatin merupakan protein konversi bersifat larut air yang diperoleh dari hidrolisis kolagen
yang bersifat tidak larut air. Tulang sapi, kulit sapi, dan kulit babi adalah bahan yang biasa
digunakan untuk memperoleh gelatin (Sobral, 2001). Permintaan gelatin telah meningkat selama
bertahun-tahun. Laporan terkini mengindikasikan produksi gelatin dunia mendekati angka 326.000






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
ton per tahun, dimana gelatin dari kulit babi sebesar 46%, dari kulit sapi sebesar 29,4%, dari tulang
sapi sebesar 23,1%, dan dari sumber lain sebesar 1,5% (Karim, 2009).
Sedangkan kebutuhan dalam negeri, Indonesia mengimpor lebih dari 6.200 ton gelatin
(tahun 2003) atau senilai US$ 6.962.237 dari berbagai negara (Perancis, Jepang, India, Brazil,
Jerman, Cina, Argentina, dan Australia) dengan harga jual di pasar dalam negeri mencapai Rp
60.000 hingga Rp 70.000 setiap kilogramnya (Wahyuni, 2009).
Penggunaan gelatin cukup luas dalam berbagai aplikasi, tapi terdapat beberapa kendala
bagi para konsumen untuk mengonsumsi produk-produk tersebut. Kendala tersebut diantaranya
ialah kepercayaan yang dianut oleh konsumen, dimana umat Hindu dilarang untuk mengonsumsi
sapi, serta umat Islam dan Yahudi dilarang untuk mengonsumsi segala produk yang berasal dari
babi. Selain itu, terdapat pula kekhawatiran akan kontaminasi Bovine Spongiform Encephalopathy
(BSE) dalam gelatin sapi meski telah terdapat pernyataan dari Scientific Steering Committeee of
The European Union bahwa resiko tersebut mendekati nol (Schrieber, 2007).
Pemanfaatan gelatin dari mamalia masih banyak menemui kendala. Oleh karena itu, dicari
alternatif untuk mengatasi kendala tersebut karena mengingat pula kebutuhan gelatin dalam negeri
yang cukup besar. Kulit ikan dapat dimanfaatkan sebagai sumber gelatin alternatif dan telah
banyak dilaporkan pada penelitian-penelitian terkini (Gudmundsson, 1997). Pemanfaatan kulit ikan
juga sejalan dengan usaha pengurangan limbah industri pada pengolahan ikan, dimana menurut
Gómez-Guillén (2002), 30% dari limbah industri pengolahan ikan berasal dari kulit dan tulang ikan.
Salah satu bahan kulit ikan yang berpotensi digunakan ialah kulit ikan pari, karena ikan pari
merupakan salah satu jenis ikan tropis yang banyak dan dapat ditemukan sepanjang tahun di
perairan Indonesia. Produksi ikan pari yang dijual di tempat pelelangan ikan (TPI) di seluruh
Indonesia mencapai jumlah 1.434 ton pada tahun 1999 (BPS, 1999).
Proses asam umumnya lebih sesuai untuk kulit ikan, seperti yang telah diungkapkan oleh
Karim dan Bhat (2008). Namun, jenis larutan asam yang digunakan dapat sangat bervariasi, baik
larutan asam organik maupun anorganik. Sopian (2002), telah melakukan penelitian terhadap
gelatin ikan dengan beberapa jenis larutan asam pada variasi konsentrasi dan waktu, kemudian
diikuti dengan ekstraksi dalam air hangat dan pengeringan untuk memperoleh gelatin dalam bentuk
kering. Hasil yang didapat adalah gelatin dengan rendemen terbanyak diperoleh melalui
perendaman dalam asam fosfat. Variasi konsentrasi serta waktu terbaik yang dapat digunakan
ialah konsentrasi 4% selama 12 jam. Oleh karena itu, dalam penelitian ini digunakan pula larutan
asam H
3
PO
4
4%. Variasi jenis larutan asam akan dilakukan pada penelitian ini, sehingga selain
H
3
PO
4
4% digunakan pula larutan asam HCl 4% dan CH
3
COOH 4% dengan waktu perendaman
yang sama untuk diamati pengaruhnya terhadap karakteristik kimia, fisik, serta termal gelatin yang
dihasilkan dari kulit ikan pari. Gelatin yang dihasilkan akan dianalisis menggunakan spektroskopi
infra merah, dan analisis termal menggunakan alat DSC (Differential Scanning Calorimetry) serta
TGA (Themogravimetric Analysis), sedangkan massa molekul relatif rata-rata gelatin akan diukur
menggunakan viskometer Ostwald.

2. Metode Penelitian
Alat dan Bahan
Alat
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah timbangan, alat-alat gelas,
waterbath, pemanas, termometer, kertas pH indikator universal dari Merck, kain katun
(cheesecloth), pengaduk, pisau, gelas ukur, labu ukur, gelas beker, pipet volum, spektrometer,
Differential Scanning Calorimetry (DSC), Thermogravimetric Analysis (TGA), dan viskometer
Ostwald.

Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam peneitian ini adalah kulit ikan pari, HCl 4%, H
3
PO
4
4%,
CH
3
COOH 4%, aquades, aqua DM.








ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

Prosedur Kerja

Persiapan Bahan Baku
Ikan segar diambil kulitnya dan dibersihkan dari daging, sisik dan lapisan luar yang
mengandung lemak yang masih menempel. Kulit kemudian dicuci dengan air mengalir hingga
bersih. Kulit bersih dimasukkan dalam kantong plastik dan ditutup rapat, kemudian disimpan dalam
lemari pendingin untuk preparasi dan analisis gelatin berikutnya.

Preparasi Gelatin
Kulit yang telah disimpan dalam lemari pendingin dicuci dengan air mengalir. Kulit
kemudian direndam dengan air panas 60-70
0
C selama 1-2 menit. Kulit lalu ditiriskan dan dipotong
kecil-kecil kemudian dicuci dengan air mengalir. Kulit ditimbang ± 30 gram kemudian direndam
dalam larutan asam, yaitu H
3
PO
4
4%, HCl 4%, dan CH
3
COOH 4%. Perendaman dilakukan selama
12 jam. Kulit yang telah direndam lalu ditimbang dan dicuci dengan air mengalir hinga pH menjadi
netral (6-7). Kulit diekstrasi dalam waterbath pada suhu 60-70
0
C selama 2 jam dengan
perbandingan kulit : air = 1:2. Ekstrak disaring dengan kain katun berlapis empat untuk
menghilangkan kotoran, kemudian diukur filtrat yang diperoleh. Filtrat kemudian dimasukkan dalam
lemari pendingin hingga membentuk gel. Gel lalu dioven dengan suhu 60
o
C selama 24 jam hingga
terbentuk lapisan gelatin. Lapisan tipis gelatin yang diperoleh dimasukkan desikator sampai uap
panasnya hilang kemudian ditimbang dan dikecilkan ukurannya untuk disimpan dalam wadah yang
tertutup rapat.

Total Rendemen
Kulit segar yang telah disimpan dalam lemari pendingin dicuci terlebih dahulu dengan air
mengalir. Kulit lalu ditiriskan dan ditimbang bobotnya (± 30 gram). Besarnya rendemen dapat
dihitung dengan metode AOAC:

Rendemen (%) = bobot kering gelatin x 100%
bobot bahan segar
Kadar Air
Cawan dioven dengan suhu 105
0
C selama 2 jam untuk menghasilkan cawan yang kering
dan bebas air. Serbuk gelatin kemudian ditimbang ± 1 gram dan ditaruh dalam cawan yang telah
dioven dan diketahui massanya. Cawan + sampel dimasukkan dalam oven lalu dipanaskan pada
105
0
C selama 2 jam, didinginkan dalam desikator dan ditimbang berkali-kali hingga beratnya
konstan. Kadar air diperoleh dengan menggunakan metode AOAC (1995):

ܭܽ݀ܽݎ ܽ݅ݎ =
ܤ − ܣ
ܤ݁ݎܽݐ ݏܽ݉݌݈݁
ݔ 100%

Keterangan:
A = berat cawan + sampel akhir (gram)
B = berat cawan + sampel awal (gram)

Analisis FTIR
Analisis FTIR digunakan untuk mengetahui gugus fungsi-gugus fungsi khas dari gelatin
yang telah dipreparasi. Sampel gelatin yang digunakan ialah serbuk gelatin yang diperoleh melalui
variasi proses perendaman yaitu, perendaman dengan HCl, H
3
PO
4
dan CH
3
OOH 4%. Spektra FTIR
diperoleh dari kepingan yang berisi 2 mg sampel dalam 100 mg kalium bromida (KBr). Sampel
dibaca dari range 4000 -500 cm
-1
.







ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Pengukuran Massa Molekul Relatif Rata-Rata Gelatin
Serbuk gelatin ditimbang sebanyak 0,03 gram dan dilarutkan dalam 10 ml pelarut air
(aquades) pada suhu kamar. Larutan kemudian dimasukkan ke dalam viskometer Ostwald. Waktu
alir larutan dan pelarut diukur dengan menggunakan stopwatch sebanyak lima kali. Data waktu alir
digunakan untuk menghitung viskositas relatif, viskositas tereduksi dan viskositas intrinsik.
Perlakuan diatas diulangi untuk variasi bobot gelatin 0,035; 0,04; 0,045; dan 0,05 gram.

Analisis Termal dengan DSC/TGA
Analisis termal dilakukan dengan menggunakan alat DSC/TGA untuk mengetahui
karakteristik termal gelatin yang dihasilkan. Sampel sebanyak 5 -10 mg ditempatkan dalam wadah
aluminium lalu ditutup. Sampel kemudian dianalisis pada range 20
0
C hingga 300
0
C dengan laju
pemanasan 10
0
C/menit.

3. Hasil dan Diskusi
Persiapan Bahan Baku
Ikan pari diambil kulitnya dan dibersihkan dari sisa-sisa daging, sisik dan lapisan luar yang
mengandung lemak yang masih menempel untuk diolah pada tahap selanjutnya. Kulit ikan
kemudian dicuci dengan air mengalir hingga bersih dan dimasukkan dalam kantong plastik yang
ditutup rapat untuk disimpan dalam freezer lemari pendingin. Penyimpanan dalam lemari pendingin
ini berfungsi untuk menjaga kesegaran dan kualitas kulit sampai digunakan untuk perlakuan
selanjutnya. Waktu maksimum penyimpanan ikan dalam lemari pendingin adalah kurang dari dua
bulan (Yang, 2007).

Tahap Perendaman
Proses perendaman bertujuan untuk mengkonversi kolagen menjadi bentuk yang sesuai
untuk ektraksi, yaitu dengan adanya interaksi ion H
+
dari larutan asam dengan kolagen. Sebagian
ikatan hidrogen dalam tropokolagen serta ikatan-ikatan silang yang menghubungkan tropokolagen
satu dengan tropokolagen lainnya dihidrolisis menghasilkan rantai-rantai tropokolagen yang mulai
kehilangan struktur tripel heliknya
Proses perendaman juga mengakibatkan terjadinya penggembungan (swelling) yang dapat
membuang material-material yang tidak diinginkan, seperti lemak dan protein non-kolagen pada
kulit dengan kehilangan kolagen yang minimum (Zhou, 2005). Saat jaringan yang mengandung
kolagen diperlakukan secara asam dan diikuti dengan pemanasan dalam air, maka struktur fibril
kolagen akan dipecah secara irreversible.
Oleh karena itu, tahapan perendaman harus dilakukan dengan tepat (waktu dan
konsentrasinya), agar tidak terjadi kelarutan kolagen dalam larutan dan menyebabkan penurunan
rendemen yang dihasilkan (Utama, 1997). Nilai rendemen dapat menjadi indikator untuk
mengetahui efektif tidaknya metode yang diterapkan pada suatu penelitian, khususnya tentang
optimalitasnya dalam menghasilkan suatu produk. Semakin tinggi nilai rendemen berarti perlakuan
yang diterapkan pada penelitian tersebut semakin efektif. Perubahan jumlah bobot ditunjukkan
dalam persen derajat penggembungan (DP), seperti tampak pada Tabel 1.

Tabel 1.Perubahan Bobot Kulit Ikan Pari Sebelum dan Sesudah Perendaman dalam Larutan
Asam





Larutan Asam Bobot
kulit awal
(gram)
Bobot
kulit akhir
(gram)
DP (%)
HCl 4% 28,5999 171,5994 500
CH
3
COOH 4% 28,7528 172, 5168 500
H
3
PO
4
4% 28,9854 173,9854 500,25






SEMINAR NASIONAL KIMI
Surabaya, 2
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA
Proses Konversi Kolagen Menjadi Gelatin
Kulit ikan yang telah direndam dicuci dengan air mengalir hingga mencapai pH netral (6
karena umumnya pH tersebut merupakan titik isoelektrik dari komponen
kolagen pada kulit sehingga mudah terkoagulasi da
Ekstraksi dilakukan pada suhu 60
dengan air adalah 1:2. Pemanasan perlu dilakukan karena gelatin umumnya akan melarut dalam
air hangat (T≥ 40C) (Ross
perusakan ikatan-ikatan silang, serta untuk merusak ikatan hidrogen yang menjadi f
struktur kolagen.










Gambar 1.
Ikatan-ikatan hidrogen yang dirusak dan ikatan
mendestabilkan tripel helik melalui transisi helik
yang larut air (Djabourov, 1993). Tropokolagen yang diekstraksi mengalami reaksi hidrolisis yang
sama dengan reaksi hidrolisis tropokolagen yang terjadi saat perendaman dalam larutan asam.
Reaksi hidrolisis tersebut diilustrasikan pada
silang kovalen rantai-rantai tropokolagen diputus sehingga menghasilkan tropokolagen tripel helik
yang berubah menjadi rantai
Gelatin yang diperoleh dar
dan memperoleh filtrat yang jernih. Filtrat kemudian didinginkan dalam lemari pendingin (15
untuk memadatkan struktur gel gelatin. Pendinginan akan membentuk gel yang thermoreversibel.
Proses pendinginan dilakukan pada temperatur 15
ikan pari, dimana berdasar penelitian sebelumnya menyebutkan gelatin ikan pari memiliki titik leleh
antara 22
0
– 33,5
0
C (Sopian, 2002).

rantai polipeptida
rantai polipetida

Gambar 2. Reaksi Pemutusan Ikatan Hidrogen Tropokolagen



ISBN 978
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
i Kolagen Menjadi Gelatin
Kulit ikan yang telah direndam dicuci dengan air mengalir hingga mencapai pH netral (6
karena umumnya pH tersebut merupakan titik isoelektrik dari komponen-komponen protein non
kolagen pada kulit sehingga mudah terkoagulasi dan dihilangkan (Hinterwaldner, 1977).
Ekstraksi dilakukan pada suhu 60
0
C dalam sistem water bath, dimana pebandingan kulit
gan air adalah 1:2. Pemanasan perlu dilakukan karena gelatin umumnya akan melarut dalam
40C) (Ross-Murphy, 1991). Ekstraksi dengan air hangat akan melanjutkan
ikatan silang, serta untuk merusak ikatan hidrogen yang menjadi f
Gambar 1. Transisi Rantai Helik–Gulungan pada Kolagen

ikatan hidrogen yang dirusak dan ikatan-ikatan kovalen yang dipecah akan
mendestabilkan tripel helik melalui transisi helik-ke-gulungan dan menghasil
yang larut air (Djabourov, 1993). Tropokolagen yang diekstraksi mengalami reaksi hidrolisis yang
sama dengan reaksi hidrolisis tropokolagen yang terjadi saat perendaman dalam larutan asam.
Reaksi hidrolisis tersebut diilustrasikan pada Gambar 2 dan 3, dimana ikatan hidrogen dan ikatan
rantai tropokolagen diputus sehingga menghasilkan tropokolagen tripel helik
yang berubah menjadi rantai-rantai α dapat larut dalam air atau disebut gelatin.
Gelatin yang diperoleh dari ekstraksi disaring dengan kain katun untuk dipisahkan dari kulit
dan memperoleh filtrat yang jernih. Filtrat kemudian didinginkan dalam lemari pendingin (15
untuk memadatkan struktur gel gelatin. Pendinginan akan membentuk gel yang thermoreversibel.
roses pendinginan dilakukan pada temperatur 15
0
C, yaitu di bawah temperatur leleh (T
ikan pari, dimana berdasar penelitian sebelumnya menyebutkan gelatin ikan pari memiliki titik leleh
C (Sopian, 2002).
C N
O
C
H
N
O
H
C N
O
C
O
H
H
O
H
Gambar 2. Reaksi Pemutusan Ikatan Hidrogen Tropokolagen
ISBN 978-602-98130-0-5
Kulit ikan yang telah direndam dicuci dengan air mengalir hingga mencapai pH netral (6-7),
komponen protein non-
n dihilangkan (Hinterwaldner, 1977).
, dimana pebandingan kulit
gan air adalah 1:2. Pemanasan perlu dilakukan karena gelatin umumnya akan melarut dalam
Murphy, 1991). Ekstraksi dengan air hangat akan melanjutkan
ikatan silang, serta untuk merusak ikatan hidrogen yang menjadi faktor penstabil
Gulungan pada Kolagen
ikatan kovalen yang dipecah akan
dan menghasilkan konversi gelatin
yang larut air (Djabourov, 1993). Tropokolagen yang diekstraksi mengalami reaksi hidrolisis yang
sama dengan reaksi hidrolisis tropokolagen yang terjadi saat perendaman dalam larutan asam.
Gambar 2 dan 3, dimana ikatan hidrogen dan ikatan
rantai tropokolagen diputus sehingga menghasilkan tropokolagen tripel helik
dapat larut dalam air atau disebut gelatin.
i ekstraksi disaring dengan kain katun untuk dipisahkan dari kulit
dan memperoleh filtrat yang jernih. Filtrat kemudian didinginkan dalam lemari pendingin (15
0
C)
untuk memadatkan struktur gel gelatin. Pendinginan akan membentuk gel yang thermoreversibel.
C, yaitu di bawah temperatur leleh (T
m
) gelatin
ikan pari, dimana berdasar penelitian sebelumnya menyebutkan gelatin ikan pari memiliki titik leleh
N
C
H
N
O
H H
O
H

Gambar 2. Reaksi Pemutusan Ikatan Hidrogen Tropokolagen






SEMINAR NASIONAL KIMI
Surabaya, 2
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA
(CH
2
)
2
H
2
N COO
CH
2
CH
N
CH
CH
2
(CH
2
)
2
H
2
N COO
Gambar 3. Reaksi Hidrolisis Ikatan Silang
Pendinginan mengakibatkan transisi struktur gulungan yang acak menjadi struktur
baru dan akan memperkuat kekuatan gel gelatin yang dihasilkan. Struktur helik yang baru terbentuk
tersebut tidak sama dengan struktur asli kolagen, karena terbatasnya jumlah tripel helik yang
terbentuk kembali.
Pembentukkan kembali tripel hel
dalam pembentukkan gel gelatin.
terinterkoneksi satu sama lain melalui rantai
Penelitian ini, rendemen serbuk gelatin yang diperoleh ialah 5,27% untuk GC, 5,48 % untuk GA,
dan 8,4 % untuk GP.
Gambar 5. Gelatin dengan perendaman dalam (a) HCl 4% (GC), (b) CH
H
3
PO
4
4% (GP)






Gambar 6. Spektra Infra Merah Gelatin pada (a) GC, (b) GA, dan (c) GP
ISBN 978
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
OH
OH
OH
H
O
H
(CH2)2
H2N COOH
CH2
CH
NH
CH
CH
2
OH
(CH
2
)
2
H
2
N COOH
(CH
2
)
2
H
2
N COOH
CH
2
C
NH
CH
CH
2
OH
(CH
2
)
2
H2N COOH
O H
(CH2)2
H2N COOH
CH2
C
NH2
CH
CH
2
OH
(CH
2
)
2
H
2
N COOH
O
(
H2N
H
OH
H
2
N
H
Reaksi Hidrolisis Ikatan Silang Kovalen Tropokolagen
Pendinginan mengakibatkan transisi struktur gulungan yang acak menjadi struktur
baru dan akan memperkuat kekuatan gel gelatin yang dihasilkan. Struktur helik yang baru terbentuk
tersebut tidak sama dengan struktur asli kolagen, karena terbatasnya jumlah tripel helik yang

Pembentukkan kembali tripel helik mengakibatkan adanya junction zones
dalam pembentukkan gel gelatin. Junction zones distabilkan oleh ikatan hidrogen, dan saling
terinterkoneksi satu sama lain melalui rantai-rantai peptida yang fleksibel (De Wolf, 2003).
demen serbuk gelatin yang diperoleh ialah 5,27% untuk GC, 5,48 % untuk GA,

Gambar 5. Gelatin dengan perendaman dalam (a) HCl 4% (GC), (b) CH
3
COOH 4% (GA), (c)
4% (GP)








Gambar 6. Spektra Infra Merah Gelatin pada (a) GC, (b) GA, dan (c) GP

ISBN 978-602-98130-0-5
(CH2)2
COOH
CH2
HC
+
H
2
N
CH2
CH2
(CH2)2
N COOH
O
Alisin
Hidroksilisin

Kovalen Tropokolagen
Pendinginan mengakibatkan transisi struktur gulungan yang acak menjadi struktur helik yang
baru dan akan memperkuat kekuatan gel gelatin yang dihasilkan. Struktur helik yang baru terbentuk
tersebut tidak sama dengan struktur asli kolagen, karena terbatasnya jumlah tripel helik yang

junction zones yang penting
distabilkan oleh ikatan hidrogen, dan saling
rantai peptida yang fleksibel (De Wolf, 2003).
demen serbuk gelatin yang diperoleh ialah 5,27% untuk GC, 5,48 % untuk GA,
COOH 4% (GA), (c)



Gambar 6. Spektra Infra Merah Gelatin pada (a) GC, (b) GA, dan (c) GP






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Serbuk gelatin kemudian dioven selama 2 jam pada temperatur 105
0
C untuk dihitung kadar
airnya. Temperatur tersebut digunakan untuk menguapkan kandungan air pada gelatin. Kadar air
yang diperoleh untuk gelatin GC, GA, dan GP masing-masing adalah 14,25%, 14,35%, dan
14,16%. Menurut batas standar mutu gelatin SNI, kadar air maksimum gelatin yang diperbolehkan
adalah 16%. Berdasar data total rendemen dan kadar air, maka gelatin serbuk terbaik adalah
gelatin yang diperoleh melalui proses perendaman dalam larutan asam fosfat 4% selama 12 jam
karena memiliki total rendemen terbesar dengan kadar air yang paling sedikit.

Analisis FTIR
Analisis FTIR berguna untuk membuktikan apakah senyawa yang diperoleh dari penelitian
ini adalah gelatin. Penelitian ini dimulai dengan preparasi sampel gelatin. Gelatin yang diperoleh
dikecilkan terlebih dahulu permukaannya hingga menjadi bentuk bubuk, agar dapat dianalisis
dengan alat FTIR.
Gelatin seperti umumnya protein memilki struktur yang terdiri dari karbon, hidrogen, gugus
hiroksil (OH), gugus karbonil (C=O), dan gugus amina (NH). Spektra infra merah (Gambar6a)
diatas menunjukkan adanya vibrasi stretching gugus fungsi OH pada bilangan gelombang sekitar
3100-3500 cm
-1
. Bilangan gelombang 1448,8 menunjukkan adanya bending OH yang terdapat
pada daerah 1500-1300 cm
-1
.

Adanya gugus OH dmungkinkan karena masih adanya senyawa OH
dari air yang digunakan untuk mengekstraksi gelatin. Bending dan streching CH ditunjukkan pada
daerah 3000-2800 cm
-1
ditunjukkan oleh bilangan gelombang 2928,4cm
-1
. Puncak CH aromatik
pada daerah 3100-3000 cm
-1
ditunjukkan oleh bilangan gelombang 3047,4 cm
-1
. Streching C=O
ditunjukkan oleh bilangan gelombang 1647,2 cm
-1
yang daerah bilangan gelombangnya ialah 1670-
1640 cm
-1
. Sedangkan puncak N-H streching tidak ditemukan karena tertutupi oleh puncak OH.
Spektra infra merah gelatin (Gambar 6b) menunjukkan vibrasi streching OH pada bilangan
gelombang 3441,2 cm
-1
. Bending OH ditunjukkan oleh bilangan gelombang 1448,1 cm
-1
. Streching
dan bending CH ditunjukkan oleh bilangan gelombang 2928,5 cm
-1
. Puncak CH aromatik
ditunjukkan oleh bilangan gelombang 3048 cm
-1
. Puncak C=O streching ditunjukkan oleh bilangan
gelombang 1650 cm
-1
. Puncak NH streching tidak tampak karena tertutupi oleh puncak OH.
Spektra infra merah (Gambar 6c) menunjukkan vibrasi streching OH pada bilangan
gelombang 3437,8 cm
-1
. Bending OH ditunjukkan oleh bilangan gelombang 1401,5 cm
-1
. Streching
dan bending CH ditunjukkan oleh bilangan gelombang 2926,9 cm
-1
. Puncak CH aromatik
ditunjukkan oleh bilangan gelombang 3047,9cm
-1
. Puncak C=O streching ditunjukkan oleh bilangan
gelombang 1648,7 cm
-1
. Puncak NH streching tidak tampak karena tertutupi oleh puncak OH.
Gugus fungsi-gugus fungsi O-H, C-H, C=O, N-H dan C-H aromatis merupakan spektra yang
terdapat pada gelatin ikan dan sapi komersial (Norziah, 2008). Spektra senyawa yang diperoleh
pada penelitian ini menunjukkan gugus fungsi-gugus fungsi yang sama dengan kedua gelatin
komersial tersebut. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa senyawa yang diperoleh dari penelitian ini
adalah gelatin.
Menurut Prystupa dan Donald (1996), puncak serapan pada bilangan gelombang 1645–
1657 cm
-1
menunjukkan adanya gulungan acak rantai-α. Hal ini menunjukkan tripel helik yang telah
terkonversi menjadi struktur rantai-α atau disebut gelatin.

Gelatin GP menunjukkan adanya konversi
kolagen menjadi gelatin yang lebih banyak dibanding kedua gelatin lainnya, GC dan GA.

Pengukuran Massa Molekul Relatif Rata-Rata Gelatin
Massa molekul relatif rata-rata gelatin dapat ditentukan dengan menggunakan analisis
viskositas larutan gelatin pada viskometer Ostwald dalam suhu kamar. Pengukuran massa molekul
relatif rata-rata gelatin dilakukan untuk mengetahui karakteristik fisik gelatin, yaitu massa molekul
relatif rata-rata gelatin yang sebelumnya tidak diketahui. Manfaat mengetahui massa molekul relatif
rata-rata gelatin ialah dapat diperkirakan banyaknya unit ulang dalam rantai gelatin. Pengukuran
viskositas pada viskometer Ostwald dilakukan dengan menentukan waktu yang dibutuhkan oleh
sejumlah volume larutan untuk mengalir diantara dua tanda kalibrasi. Penentuan besarnya
viskositas larutan gelatin ini, digunakan sebuah pelarut berupa air (aquades). Pelarut ini digunakan






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
karena dapat melarutkan gelatin pada temperatur ruang dan nilai tetapan Mark-Houwink-Sakurada-
nya (K dan α) telah diketahui sesuai dengan handbook data polimer. Konsentrasi larutan gelatin
dibuat bervariasi yaitu 0,03; 0,035; 0,04; 0,045; dan 0,05 gram. Waktu alir larutan gelatin dalam
viskometer diukur dan diperoleh bahwa waktu alir semakin meningkat dengan meningkatnya
konsentrasi gelatin dalam larutan. Peningkatan ini dapat terjadi karena adanya peningkatan
konsentrasi gelatin dalam larutan maka molekul-molekul gelatin yang bergesekan akan semakin
banyak pula sehingga viskositas larutan meningkat dan waktu alirnya juga meningkat.
Waktu alir larutan gelatin dibandingkan terhadap waktu alir pelarut untuk mendapatkan nilai
viskositas spesifik (
sp
η ). Nilai viskositas tereduksi (
sp
η /c) dialurkan terhadap konsentrasi (c) untuk
memperoleh nilai viskositas intrinsik, [η], yang merupakan intersep grafik. Massa molekul relatif
rata-rata viskositas gelatin ditentukan dari viskositas intrinsik menggunakan persamaan Mark-
Houwink-Sakurada:
[ η ] = K . M
v
α

dimana K sebesar 1,66. 10
-5
dan α sebesar 0,885 untuk polimer gelatin dalam pelarut air pada
temperatur ruang. Konstanta K dan α yang digunakan ialah dari konstanta gelatin pada kulit anak
sapi. Hal ini dilkukan karena harga K dan α gelatin dari kulit ikan tidak ditemukan.



Gambar 7. Grafik
sp
η / c Vs =GC, =GA, =GP)

Perkiraan massa molekul relatif rata-rata gelatin yang diperoleh dalam penelitian ini
sebesar 210.927 gram/ mol pada GC, 279.248 gram/ mol pada GA, dan 292.238 gram/ mol pada
GP. Data perkiraan massa molekul gelatin yang diperoleh pada penelitian ini sifatnya hanya
sebagai data pembanding terhadap massa gelatin dari penelitian sebelumnya, karena harga K dan
α yang digunakan bukanlah harga untuk gelatin ikan.

Analisis Termal Gelatin
Analisis termal DSC digunakan untuk mengetahui fase- fase transisi pada polimer. Analisis
ini menggunakan dua wadah sampel dan pembanding yang identik dan umumnya terbuat dari
alumunium. Sampel yang digunakan berupa serbuk gelatin sebanyak ± 5 miligram yang diletakkan
pada wadah sampel dan wadah pembandingnya dibiarkan kosong. Gambar 4 hingga 6
menunjukkan kurva thermogram yang dihasilkan oleh pemanasan gelatin dari temperatur 20
0

hingga 300
0
C dengan laju pemanasan 10
0
C/menit.
Berdasar kurva yang diperoleh, gelatin dengan perendaman dalam larutan HCl 4% (Gambar
8) memiliki puncak eksotermis denaturasi pada 44,83
0
C dan 187,93
0
C yang dihubungkan dengan
panas (q) dengan yang dilepaskan sampel. Aliran panas (W/g) setara dengan perubahan entalpi
(J/s) yang diterima atau dilepas oleh sampel (gelatin). Aliran panas pada gelatin GC adalah
y = 16,10x - 0,855
R² = 0,994
y = 15,84x - 1,096
R² = 0,997
y = 24,74x - 1,141
R² = 0,992
0
2
4
6
8
10
12
0 0,2 0,4 0,6
c (gram/dL)
η
s
p
/
c






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
sebesar 0,6 W/g dan 0,61 W/g. Pada perendaman dalam larutan asam CH
3
COOH 4% (Gambar 9),
gelatin menunjukkan puncak eksotermis denaturasi pada 48,39
0
C dan 188,33
0
C yang
dihubungkan dengan aliran panas (q) dengan yang dilepaskan sampel sebesar 0,77 W/g dan 0,76
W/g. Sedangkan, gelatin dari larutan perendaman asam H
3
PO
4
4% (Gambar 10), menunjukkan
puncak eksotermis denaturasi pada 48,33
0
C dan 188,71
0
C yang dihubungkan dengan aliran panas
(q) yang dilepaskan sampel sebesar 0,5 W/g dan 0,44 W/g. Temperatur denaturasi dari ketiga
gelatin menunjukkan bahwa gelatin GC adalah gelatin yang paling labil terhadap pemanasan,
sedangkan gelatin GA dan GP lebih stabil terhadap pemanasan dengan temperatur denaturasi
yang hampir sama. Hal ini dapat dikarenakan gelatin GP dan GA yang terekstrak lebih banyak
daripada gelatin GC seperti yang ditunjukkan pada lebar puncak serapan FTIR (Gambar 4.7).
Sehingga, gelatin GP dan GA keduanya terdenaturasi pada temperatur yang lebih tinggi.
Sampel gelatin juga dianalisis dengan analisis thermoravimetri (TGA), dimana bobot
sampel diukur secara kontinyu ketika suhu sampel dinaikkan. TGA ini dinyatakan sebagai TGA
nonisotermal yang mencatat data sebagai thermogram bobot versus temperatur. Gambar 4.9
menunjukkan persen pengurangan bobot serbuk gelatin dari perendaman bahan baku dengan
larutan HCl 4% terhadap temperatur. Bobot awal gelatin pada 20
0
C adalah 5,5040 mg. Setelah
dianalisis, bobot gelatin berkurang menjadi 85,33% pada 205,17
0
C dan pada 296,55
0
C menjadi
73,23% dari bobot awalnya, atau telah terjadi pengurangan bobot total sebanyak 26,77% (1,4734
mg) dari bobot awalnya.
Sampel gelatin juga dianalisis dengan analisis thermoravimetri (TGA), dimana bobot sampel
diukur secara kontinyu ketika suhu sampel dinaikkan. TGA ini dinyatakan sebagai TGA
nonisotermal yang mencatat data sebagai thermogram bobot versus temperatur.
Gambar 9 menunjukkan persen pengurangan bobot serbuk gelatin dari perendaman bahan
baku dengan larutan HCl 4% terhadap temperatur. Bobot awal gelatin pada 20
0
C adalah 5,5040
mg. Setelah dianalisis, bobot gelatin berkurang menjadi 85,33% pada 205,17
0
C dan pada 296,55
0
C
menjadi 73,23% dari bobot awalnya, atau telah terjadi pengurangan bobot total sebanyak 26,77%
(1,4734 mg) dari bobot awalnya.


Gambar 9. Gelatin dengan Larutan Asam HCl 4%

Gambar 10 dan 11 menunjukkan persen pengurangan bobot gelatin dari perendaman bahan
baku dengan larutan asam CH
3
COOH 4% dan asam H
3
PO
4
4% .Gambar 10 menunjukkan bobot
gelatin sebanyak 4,5840 mg berkurang 16,15% pada 224,19
0
C, lalu pada 295,16
0
C terjadi
pengurangan sebesar 16,16% dari bobot awalnya. Sehingga, gelatin dengan larutan perendaman
CH
3
COOH 4% mengalami pengurangan bobot total sebesar 32,31% atau 1,4811 mg.







ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

Gambar 10. Gelatin dengan Larutan Asam CH
3
COOH 4%

Gambar 11 menunjukkan pengurangan bobot gelatin dari bobot awal 6,7770 mg sebesar
10,94% pada 211,67
0
C dan 14,68% pada 295,2
0
C. Sehingga, gelatin dengan larutan perendaman
H
3
PO
4
4% mengalami pengurangan bobot total sebesar 25,62% atau 1,7363 mg. Pengurangan
bobot yang pertama menunjukkan pengurangan jumlah air yang terdapat pada gelatin, sedangkan
pengurangan bobot kedua menunjukkan terjadinya proses degradasi gelatin selama peningkatan
temperatur.


Gambar 11. Gelatin dengan Larutan Asam H
3
PO
4
4%

Berdasar hasil analisis yang telah dilakukan terhadap gelatin GC, GA, dan GP pada
penelitian ini, data utama yang digunakan sebagai acuan gelatin terbaik ialah melalui analisis FTIR
karena analisis FTIR menunjukkan puncak serapan masing-masing gugus fungsi gelatin yang
sesuai dengan gelatin komersial yang ada di pasaran (Gambar 2.8). Serapan FTIR gelatin terbaik
ditunjukkan oleh serapan pada gelatin GP (Gambar 4.7). Data lain yang mendukung analisis FTIR
adalah analisis total rendemen, kadar air, perhitungan massa molekul relatif rata-rata gelatin, serta
analisis termal DSC/TGA. Analisis total rendemen dan kadar air terbaik ditunjukkan oleh gelatin
GP, karena gelatin GP memiliki total rendemen terbesar (8,4 %) dengan kadar air paling kecil
(14,16%). Massa molekul relatif yang ditentukan menggunakan viskometer Ostwald merupakan
data tambahan yang tidak dapat digunakan sebagai acuan gelatin terbaik, karena harga konstanta
Mark-Houwink-Sakurada yang digunakan bukanlah konstanta untuk gelatin ikan. Namun, dari
analisis tersebut dihasilkan gelatin dengan massa molekul raltif rata-rata terbesar ialah gelatin GP
(292.238 gram/mol). Analisis termal dengan DSC menunjukkan gelatin GP cukup stabil terhadap
pemanasan dan memiliki temperatur denaturasi (T
d
) yang cukup tinggi. Analisis termal TGA
menunjukkan gelatin terbaik yang diperoleh pada penelitian ini adalah gelatin GP, dimana total
persen pengurangan bobot pertamanya adalah yang paling kecil (10,94%) dibandingkan dengan






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
dua gelatin lainnya. Pengurangan bobot ini berkaitan dengan massa air yang terdapat pada gelatin.
Sehingga, kurva TGA didukung dengan jumlah kadar air yang telah dihitung menunjukkan gelatin
GP memiliki kadar air yang paling kecil. Oleh karena itu, berdasar keseluruhan analisis yang telah
dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa gelatin terbaik yang diperoleh dalam penelitian ini ialah
gelatin dengan perendaman dalam larutan asam H
3
PO
4
4%.

4. Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah:
1. Rendemen dan kadar air gelatin yang diperoleh dari perendaman bahan baku dalam larutan
asam HCl, CH
3
COOH, dan H
3
PO
4
4% masing-masing adalah 5,27% dan 14,25%, 5,48 % dan
14,35%, 8,4 % dan 14,16%.
2. Analisis FTIR menunjukkan gugus-gugus fungsi O-H, C-H, C=O, N-H dan C-H aromatis yang
sama dengan gelatin komersial.
3. Perkiraan massa molekul relatif rata-rata gelatin gelatin yang diperoleh melalui perendaman
dengan larutan asam HCl 4%, CH
3
COOH 4%, H
3
PO
4
4% adalah 210.927 gram/ mol, 279.248
gram/ mol dan 292.238 gram/ mol.
4. Titik denaturasi (T
d
) gelatin melalui perendaman dengan larutan asam HCl 4%, CH
3
COOH 4%,
H
3
PO
4
4% ialah 44,83
0
C dan 187,93
0
C, 48,39
0
C dan 188,33
0
C, 48,33
0
C dan 188,71
0
C.
5. Total persen pengurangan bobot pada gelatin melalui perendaman dengan larutan asam HCl
4%, CH
3
COOH 4%, H
3
PO
4
4% ialah 26,77%, 32,31%, dan 25,62%.
6. Gelatin terbaik yang diperoleh dalam penelitian ini adalah gelatin dengan lautan perendaman
H
3
PO
4
4%.

Daftar Pustaka

AOAC.1995. Official Methods of Analysis of The Association of Analtical Chemist. Washington.
Badan Pusat Statistik. 1999. Statistik Produksi Ikan di Tempat Pelelangan Ikan. Jakarta.
De Wolf, F. A. 2003. “Collagen and Gelatin In Progress In Biotechnology”. Elsevier Science, 23:
133–218.
Djabourov, M., Lechaire, J., dan Gaill, F. 1993. “Structure and Rheology of Gelatin and Collagen
Gels”. Biorheology, 30: 191–205.
Gómez-Guillén, M. C., Turnay, J., Fernandez-Diaz, M. D., lmo, N., Lizarbe, M. A. dan Montero, P.
2002. “Structural and Physical Properties of Gelatin Extracted from Different Marine
Species: A Comparative Study”. Food Hydrocolloid, 16: 25-34.
Gudmundsson, M. dan Hafsteinssen, H. 1997. “Gelatin from Cod Skin as Affected by Chemical
Treatments”. Journal of Food Science, 621: 37-39. 47.
Hinterwaldner, R. 1997. Raw Material in Ward, AG dan Courts, A. (Ed.). The Science and
Technology of Gelatin. New York: Academic Press.
Karim, A. A. dan Bhat, R. 2008. “Fish Gelatin: Properties. Challenges, and Prospects As An
Alternative To Mammalian Gelatins”. Food hydrocolloids, 23: 563-576,656.
Karim, A. A. dan Bhat, R. 2009. “Review Fish Gelatin: Properties. Challenges. And Prospects As An
Alternative To Mammalian Gelatins”. Trends in Food Science and Technology, 19: 644-
656.
Lehninger, L. A. 1982. Dasar-Dasar Biokimia. Jilid 1. Diterjemahkan oleh Maggy Thenawijaya.
Jakarta: Erlangga.
Norziah, M.H., Al-Hassan, A., Khairulnizam, A. B., Mordi, M. N., dan Norita, M. 2009.
“Characterization of Fish Gelatin from Surimi Processing Waste: Termal Analysis and Effect
of Transglutaminase on Gel Properties”. Food Hydrocolloid, 23: 1610-1616.







ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Ross-Murphy, S. B. 1991. “Structure and Rheology of Gelatine Gels: Recent Progress”. Polymer,
3312: 2622-2627.
Samsudin, S. A. 2006. “Chemical Resistance Evaluation of Poystyrene/Polypropylene Blends
Compositions and SEBS Content”. Malaysian Polymer Journal 1, 1: 11-24.
Sobral, P. J. A., dan Habitante, A. M. Q. B. 2001. “Phase Transitions of Pigskin Gelatin”. Food
Hydrocolloids, 15: 377–382.
Sopian, I. 2002. “Analisis Sifat Fisik. Kimia dan Fungsional Gelatin yang Diekstrak dari Kulit dan
Tulang Ikan Pari”. Bogor: Skripsi Fakultas Teknologi Pertanian IPB.
Utama, H. 1997. “Gelatin yang Bikin Heboh”. Jurnal Halal LPPOM-MUI, No.18: 10-12.
Wahyuni, Mita dan Peranginangin, Rosmawat. 2009. Perbaikan Daya Saing Industri Pengolahan
Perikanan Melalui Pemanfaatan Limbah Non Ekonomis Ikan Menjadi Gelatin,
(www.ikanmania.wordpress.com).
Yang, H., Wang, Y., Jiang, M., Oh, J., Herring, J., dan Zhou, P. 2007. “2-Step Optimization of The
Extraction and Subsequent Physical Properties of Channel Catfish (Ictalurus punctatus)
Skin Gelatin”. Journal Of Food Science, (72) 4.
Zhou, P. dan Regenstein, J. M. 2005. “Effects of Alkaline and Acid Pretreatments on Alaska Pollock
Skin Gelatin Extraction”. Journal of Food Science, 70(6): C392–C396.








































ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
ADSORPSI ION LOGAM Cu(II) PADA ZEOLIT A YANG
DISINTESIS DARI ABU DASAR BATUBARA PT IPMOMI
PAITON DENGAN METODE BATCH

Nurul Faradilah Said*, Nurul Widiastuti
1
, Hamzah Fansuri
1


Jurusan Kimia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya


Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan abu dasar batubara dengan merubahnya
menjadi zeolit A yang digunakan sebagai adsorben ion logam Cu(II). Selain itu juga dipelajari
kemampuan abu dasar dalam mengadsorp ion logam Cu(II). Dalam pengujian ini dilakukan variasi
beberapa parameter yang mempengaruhi, yaitu waktu, konsentrasi, pH dan suhu. Penyerapan ion
logam Cu(II) menggunakan zeolit A maupun abu dasar ini dilakukan pada waktu setimbang yang
sama yaitu 6 jam. Kapasitas penyerapan ion logam Cu(II) menggunakan zeolit A dan abu dasar
akan naik dengan meningkatnya konsentrasi logam yang diserap dan dengan menurunnya suhu
proses adsorpsi. Pada penentuan pH optimum diperoleh kondisi optimum penyerapan yaitu pH 8
untuk zeolit A dan pH 9 untuk abu dasar. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa zeolit A mampu
mengadsorpsi ion logam Cu(II) hingga 8.335 mg/g dengan konsentrasi awal larutan ion logam
Cu(II) 50 mg/l pada pH 8 selama 360 menit dan jumlah adsorben 0,5 gram, sedangkan abu dasar
mampu mengadsorpsi ion logam Cu(II) hingga 9.047 mg/g dengan konsentrasi ion logam Cu(II) 50
mg/l pada pH 9 selama 360 menit dan jumlah adsorben 0,5 gram. Hasil pengolahan data untuk
kinetika dan isoterm adsorpsi menunjukkan bahwa kinetika adsorpsi ion logam Cu(II) pada zeolit A
dan pada abu dasar mengikuti model orde dua semu, sedangkan adsorpsi isoterm adsorpsi pada
zeolit A dan abu dasar mengikuti model Freundlich.

Kata kunci : Penghilangan ion logam Cu(II), Zeolit A, Abu dasar batubara, Adsorpsi, Kinetik,
Isoterm

Abstrack
This research aims to utilise coal bottom ash by converting to zeolite A used as an
adsorbent for Cu(II). The zeolite was then tested for adsorption of Cu(II). Bottom ash also was
tested for adsorption of Cu(II). Parameters such as time, concentration, pH and temperature were
varied. Adsorption of Cu(II) using both zeolite A and bottom ash have been done at the same
equilibrium time, 6 h. Capacity of adsorption of Cu(II) increased when metal adsorbed concentration
increasing and temperature of adsorption on decreasing. Optimum pH of adsorption was found pH
8 for zeolite A and pH 9 for bottom ash. Results showed that the synthesized zeolite has ability to
adsorp Cu(II) up to 83,35% at concentration 50 mg/l , pH 8 for 360 minute, and bottom ash has
ability to adsorp Cu(II) up to 90,47% at concentration 50 mg/l, pH 9 for 360 minute. This research
also studied kinetics adsorption of Cu(II) and adsorption isotherm. Results showed that the
adsorption kinetics is best approximated by the pseudo-second-order model for zeolite A and for
bottom ash, and Freundlich model provides the best fit for the equilibrium data for zeolite A and
bottom ash.

Keyword: Adsorption of Cu(II) ions metal, Zeolite A, coal bottom ash, Adsorption, Kinetic, Isotherm










ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
1. Pendahuluan

Untuk mencukupi kebutuhan tenaga listrik yang terus meningkat dari tahun ke tahun,
Indonesia menempuh kebijaksanaan menggalakkan pemakaian batubara sebagai salah satu
diversifikasi energi yang mungkin terdapat di Indonesia. Produksi batubara selama ini terus
meningkat, terutama sekali sesudah ada himbauan dari Presiden RI pada tahun 1976 untuk
menggunakan batubara sebagai prioritas utama dalam pembangkitan tenaga listrik oleh PLTU dan
juga sebagai bahan bakar utama untuk industri berat seperti industri baja dan semen
(Supriatna,2003).
Akan tetapi, penggunaan batubara ini menghasilkan limbah yang dapat mencemari
lingkungan antara lain, pelepasan polutan gas seperti CO
2
, NO
X
, CO, SO
2
, hidrokarbon dan abu
yang relatif besar. Ada dua jenis limbah abu pada proses pembakaran batubara, yaitu abu layang
(fly ash) dan abu dasar (bottom ash).
Abu layang adalah abu yang dihasilkan dari transformasi, pelelehan atau gasifikasi dari
material anorganik yang terkandung dalam batubara (Molina dan Poole,2004).
Sedangkan abu dasar adalah abu yang terbentuk dibawah tungku proses pembakarannya.
Abu dasar batubara merupakan bahan buangan dari proses pembakaran batu bara pada
pembangkit tenaga yang mempunyai ukuran partikel yang lebih besar dan lebih berat dari pada abu
layang.
Pada satu proses pembakaran batubara dihasilkan abu layang sekitar 80% dan abu dasar
sekitar 20% (Supriatna, 2003). Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2006, limbah
abu layang yang dihasilkan dalam satu industri listrik mencapai 52,2 ton/hari dan limbah abu dasar
mencapai 5,8 ton/hari. Kedua limbah ini biasanya hanya dibuang dilahan terbuka tanpa ada
pemanfaatan lebih lanjut. Limbah abu ini dapat menimbulkan masalah lingkungan seperti polusi
tanah dan air tanah. Jika abu layang dan abu dasar ini langsung dibuang ke lingkungan, maka
lambat laun akan terbentuk gas metana (CH
4
) yang sewaktu-waktu dapat terbakar atau meledak
dengan sendirinya (self burning dan self exploding).
Selain itu jika limbah abu dibuang ditempat terbuka akan sangat berbahaya dan
mempunyai dampak yang sangat merugikan terhadap kesehatan. Abu dari pembakaran batubara
ini secara umum mengandung silikon dioksida (SiO
2
) dalam bentuk amorf dan kristalin. Debu silica
ini jika masuk ke dalam paru-paru akan mengalami masa inkubasi sekitar 2 sampai 4 tahun. Bila
penyakit silicosis sudah berat maka sesak nafas akan semakin parah dan kemudian diikuti dengan
hipertropi jantung sebelah kanan yang akan mengakibatkan kegagalan kerja jantung (Eko, 2008).
Selain itu, abu tersebut mengandung logam berat seperti nikel, vanadium, arsenic,
cadmium, chromium, molybdenum, seng, selenium, uranium, radium dan lainnya. Unsur-unsur ini
memang ditemukan dalam jumlah yang relatif kecil, namun dengan melimpahnya jumlah abu yang
dihasilkan, unsur-unsur tersebut akan mencapai batas yang cukup membahayakan. Unsur beracun
menyebabkan penyakit kulit, gangguan pencernaan, paru- paru dan penyakit kanker otak. Abu
layang dan abu dasar juga mengandung debu-debu alumia (Al
2
O
3
) dan oksida-oksida besi (Fe
2
O
3

atau Fe
3
O
4
). Partikel-partikel tersebut dapat menimbulkan dampak pencemaran lingkungan, selain
timbulnya hujan asam yang dapat merusak hutan dan lahan pertanian maupun efek rumah kaca
yang dapat menyebabkan kenaikan suhu dipermukaan bumi dengan segala efek sampingannya
yang disebabkan oleh gas-gas hasil pembakaran batubara. Hujan asam ini dapat menyebabkan
korosif pada bangunan/gedung , tanah menjadi tandus dan gatal-gatal jika terkena kulit,
sedangkan gasnya sendiri dapat menyebabkan kerusakan pada sistem pernafasan (Eko, 2008).
Karena abu layang dan abu dasar mengandung logam-logam yang berbahaya serta
memiliki kandungan Si dan Al yang sangat membahayakan bagi kesehatan dan lingkungan, maka
abu layang maupun abu dasar dikategorikan sebagai bahan beracun dan berbahaya dalam PP
85/1999. Oleh karena itu perlu dipikirkan cara pengolahan atau pemanfaatan abu tersebut menjadi
bahan yang tidak berbahaya dan bermanfaat. Abu dasar ini dapat dirubah menjadi zeolit. Zeolit
mempunyai beragam kegunaan seperti katalis, adsorben logam berat, penukar kation, serta
penyaring molekul (Smart, 1993).
Berdasarkan studi literatur yang dilakukan, abu layang telah banyak dimanfaatkan sebagai
bahan dasar sintesis zeolit dan abu dasar masih sangat jarang dipakai sebagai bahan dasar untuk






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
sintesis zeolit. Rendahnya minat peneliti untuk memanfaatkan abu dasar dengan mengubahnya
menjadi zeolit kemungkinan disebabkan oleh rendahnya kandungan SiO
2
dan Al
2
O
3
serta sisa
karbon tak terbakar dalam abu dasar. Dengan dirubah menjadi zeolit maka kandungan Si dan Al
dalam abu dasar tidak berbahaya lagi karena Si dan Al berubah menjadi alumino silikat dengan
kerangka struktur tiga dimensi yang tersusun atas tetrahedral (SiO
4
)
4–
dan (AlO
4
)
5–
dalam kerangka
zeolit. Selain itu zeolit sangat bermanfaat karena dapat digunakan sebagai katalis, pupuk maupun
sebagai penyerap logam berat dalam limbah industri.
Jenis zeolit telah berhasil disintesis dari abu layang batubara, diantaranya zeolit X dan A
(Molina dan Poole, 2004), Na-P1 (Moreno dkk., 2001), zeolit A (Chang, dkk 2000; Moreno dkk.,
2001), zeolit K-H (Mimura dkk., 2001), Phillipsite dan Hidrokso-sodalite (Fukui dkk., 2006),
Analcime dan Chabazite (Querol dkk., 2002; Elliot dan Zhang, 2004), Cancrinite, Gismodine, dan
Gmelinite (Elliot dan Zhang, 2004).
Sintesis zeolit dari bahan dasar abu batubara dapat dilakukan dengan tiga metode yaitu (i)
secara ekstraksi, (ii) hidrotermal secara langsung dan (iii) peleburan diikuti dengan kristalisasi
hidrotermal. Pada metode ekstraksi, silika dan alumina yang terkandung dalam abu diekstrak
hingga larut dalam air. Kemudian ekstrak silika dan alumina tersebut digunakan sebagai bahan
dasar untuk sintesis zeolit (Querol, 2002). Pada metode hidrotermal secara langsung, abu
dicampur dengan larutan basa alkali disertai pengadukan pada suhu tertentu. Perlakuan ini
bertujuan melarutkan Si dan Al yang terkandung dalam abu (Chang dan Shih (2000) . Sedangkan
metode yang ketiga yaitu metode peleburan diikuti dengan kristalisasi hidrotermal yaitu abu
ditambahkan dengan basa NaOH untuk merubah silika dan alumina dalam abu membentuk produk
garam silikat dan aluminat. Dari ketiga metode tersebut, metode yang menghasilkan zeolit dengan
nilai KTK tertinggi adalah metode terakhir yaitu metode peleburan diikuti dengan kristalisasi
hidrotermal, sehingga metode ini akan digunakan selanjutnya dalam penelitian ini.
Disisi lain, dalam era yang semakin modern ini, pertumbuhan dalam bidang industri sangatlah
pesat. Namun, tumbuh pesatnya industri ini juga berarti makin banyak limbah yang dikeluarkan dan
mengakibatkan permasalahan yang kompleks bagi lingkungan. Limbah yang sangat berbahaya dan
memiliki daya racun tinggi umumnya berasal dari buangan industri, terutama industri kimia,
termasuk industri pelapisan logam. Salah satu diantaranya adalah limbah logam berat yang
tergolong limbah B3 yang sangat membahayakan lingkungan sekitarnya karena bersifat toksik bagi
hewan dan manusia.
Salah satu contoh industri yang banyak menghasilkan logam berat adalah industri pelapisan
logam. Menurut penelitian Sirianuntapiboon (2008), kandungan logam yang terdapat dalam limbah
pelapisan logam yaitu Cu 27 mg/l, NO
2
-
0,03 mg/l; NH
4
+
4,4 mg/l dengan range pH 12,5. Sciban M
(2006) juga melaporkan tentang kandungan logam berat dalam limbah pelapisan logam antara lain
Cu 18,9 mg/l; Zn 76,3 mg/l; Cd 8,52 mg/l dan range pH 7,89. Heidmann (2008) dan Sze,K.F (1996)
juga melaporkan kandungan logam Cu dalam limbah pelapisan logam mencapai masing-masing
250 mg/l dan 30 mg/l. Dari data tersebut terlihat bahwa logam Cu(II) hampir selalu terkandung
didalam limbah industri pelapisan logam dan konsentrasi logam Cu(II) yang terkandung dalam
limbah industri pelapisan logam cukup tinggi. Disisi lain logam Cu(II) berbahaya bagi kesehatan
manusia maupun bagi lingkungan. Logam Cu(II) ini bersifat racun terhadap semua tumbuhan pada
konsentrasi larutan di atas 0,1 mg/l, sedangkan konsentrasi yang aman bagi air minum manusia
tidak lebih dari 1 mg/l. Oleh karena itu, logam Cu(II) menjadi masalah dan harus dihilangkan pada
setiap limbah yang ada baik dari limbah pelapisan logam maupun dari limbah industri lainnya.
Pada penelitian ini, abu dasar dirubah menjadi zeolit yang kemudian dimanfaatkan sebagai
bahan adsorben untuk menyerap logam Cu(II). Dengan dirubah menjadi zeolit maka abu dasar
tidak berbahaya lagi karena kandungan Si dan Al sudah berikatan membentuk struktur zeolit.
Selain itu zeolit sangat bermanfaat karena dapat digunakan sebagai katalis, pupuk maupun
sebagai penyerap logam berat dalam limbah industri. Kemampuan penyerapan zeolit terhadap
logam tembaga akan dibandingkan dengan menggunakan abu dasar murni.









ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
2. Metodologi
Alat Dan Bahan
Alat
Peralatan yang digunakan di dalam penelitian ini meliputi peralatan yang digunakan untuk
pembuatan zeolit dari abu dasar seperti krusibel stainles steel, reaktor hidrotermal (autoclave
stainless steel), muffle furnace, pengaduk magnetik, neraca analitis dan beberapa alat gelas.
Peralatan instrumen untuk karakterisasi bahan adsorben dan hasil sintesis meliputi XRD, ICP-AES
dan SEM, serta peralatan untuk pengujian kapasitas adsorpsi meliputi peralatan gelas, hot plate
stirer, termometer, pH meter, stopwatch, kertas saring dan spektroskopi serapan atom (AAS).

Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi bahan yang digunakan untuk
pembuatan zeolit dari abu dasar seperti abu dasar batubara dari PT. IPMOMI di Probolinggo Jawa
Timur, pelet NaOH, aqua DM dan serbuk NaAlO
2
. Sedangkan bahan yang digunakan untuk
pengujian kapasitas adsorpsi meliputi Cu(NO
3
)
2
.3H
2
O, aqua DM, H
2
SO
4
, HCl, HNO
3
dan HNO
3

encer (1:499).

Prosedur Kerja
Penyiapan Adsorben Abu Dasar
Abu dasar dalam cawan porselen dipanaskan pada suhu 105ºC dalam oven listrik selama
12 jam, kemudian didinginkan dalam desikator. Selanjutnya abu dasar dihaluskan dan diayak
dengan ukuran 20 mesh kemudian digunakan sebagai adsorben.

Sintesis Zeolit A dari Abu Dasar
Pada penelitian ini, zeolit A disintesis dari abu dasar menggunakan metode peleburan
diikuti kristalisasi hidrotermal (Yanti, 2009). Pertama, dilakukan penghilangan kandungan air dalam
abu dasar. Abu dasar batubara ditaruh didalam cawan porselen dan dipanaskan pada suhu 105ºC
dalam oven listrik selama 12 jam dan didinginkan dalam desikator. Abu dasar dihaluskan dan
diayak dengan ukuran 60 mesh. Kemudian abu dasar dicampur dengan NaOH halus dengan
perbandingan massa NaOH/abu dasar = 1,2 ke dalam stainles steel krusibel hingga rata dan
didiamkan selama 30 menit. Campuran kemudian dipanaskan pada suhu 750ºC selama 1 jam
dalam muffle furnace. Setelah peleburan, campuran didinginkan, digerus dan dibuat suspensi
dengan penambahan 12 air deionisasi mL/g, campuran hasil peleburan diikuti oleh pengadukan
dengan laju sekitar 600 rpm dan pemeraman (aging) selama 2 jam dalam botol polietilen pada suhu
kamar. Selanjutnya campuran yang telah diperam tersebut disaring dan diambil supernatannya
sebagai larutan sumber Si dan Al. Kandungan Si, Al dan Na terlarut pada supernatan tersebut
dianalisa dengan ICP-AES. Residu dicuci dengan aquades sampai pH 9.
Supernatan yang telah diketahui kandungan Si, Al dan Na-nya selanjutnya dibuat slurry
berkomposisi molar relatif 3,165 Na
2
O : Al
2
O
3
: 1,926 SiO
2
: 128 H
2
O dengan penambahan larutan
NaAl
2
O-NaOH sebagai sumber Al untuk mengatur rasio molar Si/Al yang sesuai untuk sintesis
zeolit A.
Campuran (slurry) dan residu dimasukkan dalam autoklaf stainless steel yang tertutup
rapat untuk kristalisasi hidrotermal pada suhu 100°C selama 12 jam. Setelah perlakuan hidrotermal,
padatan hasil kristalisasi dipisahkan dari filtratnya, dicuci dengan air destilat sampai pH 9-10 dan
dikeringkan pada suhu 105°C selama 24 jam kemudian ditimbang. Zeolit A hasil sintesis
dikarakterisasi dengan difraksi sinar-X (XRD). Selanjutnya zeolit hasil sintesis ini digunakan
sebagai adsorben untuk logam Cu(II).

Studi Adsorpsi
Pembuatan Larutan Stok Ion Cu
2+
1000 mg/l
Senyawa Cu(NO
3
)
2
.3H
2
O ditimbang sebanyak 3,8120 gram dan dimasukkan ke dalam
beker gelas, ditambahkan aqua DM sebanyak 100 ml dan diaduk. Kemudian larutan ini






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
dipindahkan ke dalam labu ukur 1000 ml dan diencerkan sampai tanda batas menggunakan aqua
DM dan diperoleh larutan Cu
2+
1000 mg/l.

Penentuan Waktu Setimbang
Untuk menentukan waktu setimbang dilakukan prosedur percobaan sebagai berikut.
Pertama, erlenmeyer disiapkan beberapa buah dan dimasukkan 100 ml larutan ion logam Cu(II)
dengan konsentrasi 50 mg/l. Kedalam masing-masing larutan dimasukkan adsorben abu dasar
sebanyak 0,5 g. Larutan diaduk dengan kecepatan pengadukan 300 rpm dengan waktu yang
divariasi dari 45menit hingga dicapai waktu setimbang dan pada suhu ruang (27
0
C). Larutan
disaring sampai jernih. Filtrat dibuat menjadi pH 3 dengan penambahan HNO
3
2% agar tidak terjadi
pengendapan. Konsentrasi ion logam Cu(II) yang tidak teradsorp diukur dengan alat Spektroskopi
Serapan Atom menggunakan metode pengukuran secara langsung (ASTM D 1688). Percobaan ini
dilakukan juga dengan adsorben zeolit A hasil sintesis dari abu dasar.

Variasi Konsentrasi Awal
Adsorben sebanyak 0,5g ditambahkan kedalam larutan ion logam Cu(II) sebanyak 100ml
dengan konsentrasi yang divariasi (1,5 mg/l; 5mg/l; 10mg/l; 15mg/l; 20mg/l, 25mg/l; 30mg/l; 35mg/l;
40mg/l; 45mg/l dan 50mg/l). Larutan diaduk dengan kecepatan pengadukan 300 rpm selama 6 jam
pada suhu ruang (27
0
C). Larutan disaring sampai jernih. Filtrat dibuat menjadi pH 3 dengan
penambahan HNO
3
2% agar tidak terjadi pengendapan. Konsentrasi ion logam Cu(II) yang tidak
teradsorp diukur dengan alat Spektroskopi Serapan Atom menggunakan metode pengukuran
secara langsung (ASTM D 1688). Percobaan ini dilakukan juga dengan adsorben zeolit A hasil
sintesis dari abu dasar.

Penentuan pH Optimum
Untuk menentukan pH optimum larutan terhadap proses adsorpsi ion logam Cu(II), maka
percobaan dilakukan dengan menambahkan adsorben sebanyak 0,5 g ke dalam 100 ml larutan ion
logam Cu(II) dengan konsentrasi 50 mg/l. pH awal larutan divariasi dengan range pH 4-10 dan
dilakukan pengadukan. Pengaturan pH ini dengan penambahan HNO
3
2% dan NaOH 1 M. Larutan
diaduk dengan kecepatan pengadukan 300 rpm selama 6 jam pada suhu ruang (27
o
C). Larutan
disaring sampai jernih. Filtrat dibuat menjadi pH 3 dengan penambahan HNO
3
2% agar tidak terjadi
pengendapan. Kemudian konsentrasi ion logam Cu(II) yang tidak teradsorp diukur dengan alat
Spektroskopi Serapan Atom menggunakan metode pengukuran secara langsung (ASTM D 1688).
Percobaan ini dilakukan juga dengan adsorben zeolit A hasil sintesis dari abu dasar.

Variasi Suhu
Pada penelitian ini suhu divariasikan pada 35
o
C dan 45
o
C untuk adsorpsi ion logam Cu(II).
Percobaan dilakukan dengan menambahkan adsorben sebanyak 0,5 gr kedalam larutan ion logam
Cu(II) sebanyak 100ml dengan konsentrasi (1,5 mg/l; 5mg/l; 10mg/l; 15mg/l; 20mg/l, 25mg/l;
30mg/l; 35mg/l; 40mg/l; 45mg/l dan 50mg/l). Larutan diaduk dengan kecepatan pengadukan 300
rpm selama 6 jam pada suhu ruang (27
0
C). Larutan disaring sampai jernih. Filtrat dibuat menjadi
pH 3 dengan penambahan HNO
3
2% agar tidak terjadi pengendapan. Konsentrasi ion logam Cu(II)
yang tidak teradsorp diukur dengan alat Spektroskopi Serapan Atom menggunakan metode
pengukuran secara langsung (ASTM D 1688). Percobaan ini dilakukan juga dengan adsorben zeolit
A hasil sintesis dari abu dasar.

Analisis Morfologi dengan SEM
Abu dasar dan zeolit A sesudah digunakan proses adsorpsi dikeringkan terlebih dahulu
pada suhu ruang kemudian mikrograf diambil dengan SEM JSM-6360 LA, dimana sampel dilapisi
dengan lapisan tipis gold paladium menggunakan mesin ion sputter pada voltase 20 kv.









ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

Pengolahan Data
Kapasitas dan Efisiensi Penghilangan
Banyaknya kontaminan yang diserap dari larutan dinyatakan sebagai kapasitas
penghilangan ion logam Cu(II) tiap unit berat dari zeolit A atau abu dasar yaitu
(1)

Dimana, C
o
adalah konsentrasi awal logam Cu(II) (mg/L), C
e
konsentrasi kesetimbangan logam
Cu(II) (mg/L), V adalah jumlah volume (L) dan m adalah massa zeolit atau abu dasar (g). Efisiensi
penghilangan logam Cu(II) dari larutan secara berturut-turut kemudian dihitung dari:
(2)

Analisa Data Kinetik
Lima model kinetik digunakan dalam mengamati proses adsorpsi kontaminan kedalam
adsorben yaitu orde 1 semu, orde dua semu, Bangham, model difusi intra-partikel dan Elovich.
Data diproses dan dicocokkan dengan persamaan kinetik. Pertama, orde satu semu adalah
persamaan yang biasa digunakan untuk menggambarkan adsorpsi dan ditentukan dengan
persamaan berikut:
(3)
q
t
(mg/g) adalah jumlah adsorbat yang diserap pada waktu t (min), q
e
(mg/g) adalah kapasitas
adsorpsi kesetimbangan (mg/g), dan k
f
(min
-1
) adalah konstanta laju model orde satu semu(min
-1
).
Persamaan dapat diintegrasi dengan memakai kondisi-kondisi batas q
t
= 0 pada t = 0 dan q
t
=q
t
pada t=t, persamaan menjadi:
(4)
Model orde dua semu dapat dinyatakan dalam bentuk
(5)
dimana k
s
adalah konstanta laju model orde dua semu (dalam g/(mg min)). Setelah integrasi dan
penggunaan kondisi-kondisi batas q
t
=0 pada t =0 dan q
t
=q
t
pada t=t, persamaan linier dapat
diperoleh sebagai berikut
(6)
Laju penyerapan awal, h (mg/g min) sedangkan t t → 0 dapat didefinisikan sebagai berikut
(7)
Laju adsorpsi awal (h), kapasitas adsorpsi kesetimbangan (q
e
) dan konstanta orde dua semu k
s

dapat ditentukan secara eksperimen dari slope dan intersep plot dari t/q
t
versus t. Persamaan
Bangham digunakan untuk mempelajari tahap waktu terjadinya sistem adsorpsi dan persamaannya
digambarkan sebagai berikut
(8)
C
o
adalah konsentrasi awal adsorbat dalam larutan (mg/L), V adalah volume larutan (mL), m adalah
berat adsorben per liter larutan (g/L), q
t
(mg/g) adalah jumlah adsorbat yang tertinggal pada waktu
t, dan α (<1) dan k
o
adalah tetap/konstan.
Studi difusi intra partikel juga digunakan dalam studi kinetik ini. Rumus model intra-partikel
dinyatakan sebagai berikut
m
V C C
q
e o
) ( −
=
( )
( )
% 100 % x
C
C C
n enghilanga EfisiensiP
o
e o

=
) (
t e f
t
q q k
dt
dq
− =
t k q q q
e t e 1
ln ) ln( − = −
2
) (
t e s
t
q q k
dt
dq
− =
t
q q k q
t
e e s t
1 1
2
+ =
2
e s
q k h =
t
V
m k
m q C
C
o
t o
o
log
303 . 2
log log log α +
(
¸
(

¸

=
(
¸
(

¸








ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
(9)
dimana k
id
adalah konstanta laju difusi intra-partikel. Sebuah plot q
t
versus t
1/2
akan didapatkan
garis lurus dengan slope k
id
dan intersep C ketika mekanisme adsorpsi mengikuti proses difusi
intra-partikel. Nilai intersep menandakan tentang ketebalan dari batas lapisan, yaitu luas intersep
terbesar adalah efek batas lapisan. Persamaan Elovich berasumsi bahwa permukaan padat
sesungguhnya adalah sepenuhnya heterogen. Persamaan Elovich dapat dinyatakan sebagai
(10)
Integrasi persamaan diatas dan penggunaan kondisi awal q
t
= 0 pada t = 0 dan q
t
=q
t
, akan kita
peroleh model Elovich
(11)
α adalah laju adsorpsi awal (mg/(g min)) dan parameter β berhubungan dengan luas perrmukaan
yang tertutup dan energi aktivasi(g/mg).

Analisa Data Isoterm
Isoterm adsorpsi terkarakterisasi oleh nilai konstanta tertentu yang menggambarkan
karakteristik permukaan, afinitas dari adsorben dan kapasitas adsorpsi dari adsorben. Untuk
menggambarkan kesetimbangan adsorpsi, persamaan isoterm yang bermacam-macam telah
digunakan seperti Langmuir, Freundlich dan model Tempkin.
Model isoterm adsorpsi Langmuir mengasumsikan bahwa penyerapan mengambil pada
tempat spesifik yang homogen dalam adsorben dan distribusi yang seragam dari tempat adsorpsi
energetik. Akibatnya, sekali molekul adsorbat menempati tempat, tidak ada lagi penyerapan yang
dapat terjadi pada tempat tersebut. Oleh karena itu, model Langmuir valid untuk adsorpsi
monolayer pada permukaan dengan jumlah terbatas pada tempat yang sama. Parameter Langmuir
ditentukan dengan rumus berikut
(12)
q
max
(mg/L) dan K (L/mg) adalah kapasitas monolayer yang dicapai pada konsentrasi tinggi dan
konstanta kesetimbangan, berturut-turut. C
e
adalah konsentrasi kesetimbangan dalam larutan
(mg/L) dan q menunjukkan jumlah yang diserap pada kesetimbangan (mg/g).
(13)
Selanjutnya model Freundlich menganggap permukaan heterogen dengan distribusi panas
adsorpsi yang tidak seragam pada permukaan. Parameter Freundlich ditentukan dengan rumus
(14)
K
F
dan 1/n menunjukkan faktor kapasitas Freundlich dan parameter intensitas Freundlich, berturut-
turut. C
e
adalah konsentrasi kesetimbangan dalam larutan (mg/L) dan q menunjukkan jumlah yang
diserap pada kesetimbangan (mg/g).
(15)
Model isoterm Tempkin menjelaskan tentang interaksi antara adsorben dengan adsorbatnya. Model
ini menganggap adsorpsi pada semua molekul pada permukaan akan menurun linier dengan
jumlah interaksi antara adsorbat dan adsorben dan adsorpsinya dikarakterisasi dengan energi
sampai energinya maksimun. Parameter Tempkin ditentukan dengan rumus
(16)
Model liniernya yaitu
C t k q
id t
+ =
2 / 1
t
q t
e
dt
dq
β
α

=
t q
t
ln ) / 1 ( ) ln( ) / 1 ( β αβ β + =
e
e
KC
KC q
q
+
=
1
max
e
e
C
q Kq q
C
max max
1 1
+ =
n
e F
C K q
1
=
e F
C
n
K q log
1
log log + =
) ln(
e t e
C K
b
RT
q =






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
(17)
dimana (18)
A adalah plot dari q
e
versus ln C
e
yang digunakan untuk menentukan konstanta isotherm K
t
dan
B
1
. C
e
adalah konsentrasi kesetimbangan dalam larutan (mg/L) dan q

mewakili jumlah
kesetimbangan adsorpsi (mg/g). K
t
adalah konstanta kesetimbangan (L/mol) yang cocok digunakan
untuk energi ikatan maksimum dan konstanta B
1
berhubungan dengan bagian adsorpsi
(Widiastuti,2009).

3. Hasil Dan Pembahasan

Sintesis Zeolit A dari Abu Dasar
Tahap Peleburan
Prinsip metode peleburan ini adalah mereaksikan bahan dasar dengan basa alkali. Pada
penelitian ini basa alkali yang digunakan adalah NaOH. Pada metode ini, abu dasar direaksikan
dengan NaOH dan dilebur pada suhu yang tinggi yaitu 750
0
C dalam stainles steel krusibel selama
1 jam. Hal ini bertujuan untuk merubah silika dan alumina dalam abu membentuk produk garam
silikat dan aluminat. Garam yang terbentuk ini mempunyai sifat mudah larut dalam air. Dengan
melarutnya garam-garam tersebut dalam air, maka akan diperoleh Si dan Al terlarutnya sebagai
bahan untuk sintesis zeolit.
Menurut Ojha dkk (2004), reaksi yang terjadi selama proses peleburan antara komponen
abu layang SiO
2
dan Al
2
O
3
dengan NaOH adalah sebagai berikut;






Hasil yang didapatkan dari peleburan ini adalah produk yang disebut massa peleburan.
Massa peleburan yang didapatkan pada penelitian ini berupa padatan berwarna cokelat keabu-
abuan seperti pada Gambar 1.

Gambar 1. (a). Abu Dasar Murni, (b). Abu Dasar Setelah Proses Peleburan dan (c). Zeolit A

Perubahan warna ini menunjukkan bahwa komponen abu dasar dengan NaOH telah
mengalami reaksi peleburan dan telah berubah menjadi garam alkali. Mekanisme peleburan antara
NaOH dengan abu dasar hampir sama dengan yang terjadi pada peleburan antara NaOH dengan
abu layang seperti yang dipaparkan oleh Irani (2009) sesuai Gambar 2,
Gambar 2 (a) menunjukkan tahap penyerangan awal terhadap permukaan abu layang .
Penyerangan alkali terhadap abu layang ini yaitu dengan merusak rantai silika dan alumina pada
permukaan abu layang. Peningkatan konsentrasi larutan alkali yang menyerang abu ini
menyebabkan kerusakan rantai silika dan alumina semakin meningkat sehingga perluasan lubang
pada permukaan semakin besar (Irani,2009).
Gambar 2 (b) menunjukkan bahwa penyerangan alkali terhadap abu menyebabkan
partikel- partikel yang terdapat didalam abu keluar sedangkan larutan alkali akan masuk ke dalam
e t e
C B K B q ln ln
1 1
+ =
b
RT
B =
1
2NaOH(s) + Al
2
O
3
(s)



2NaAlO
2
(s) + H
2
O(g)
2NaOH(s) + SiO
2
(s) Na
2
SiO
3
(s) + H
2
O(g)
10NaOH(s) + 2SiO
2
.3Al
2
O
3
(s) 2Na
2
SiO
3
(s) + 6NaAlO
2
(s) +
2
O(g)









SEMINAR NASIONAL KIMI
Surabaya, 2
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA
abu layang kemudian gugus
bereaksi dengan larutan NaOH membentuk produk
dihasilkan akan memenuhi lapisan abu layang baik didalam
hampir semua partikel abu layang yang terkonsumsi itu bereaksi dengan NaOH seperti yang
terlihat pada Gambar 2 (c)
Gambar 2 (c) menunjukkan mekanisme yang terlibat dalam tahap ini adalah tahap
pelarutan dimana alkali akan
lapisan abu layang, seperti Gambar 2 (d).

Gambar 2. Diagram modifikasi abu layang oleh larutan alkali (Irani,2009).

Gambar (d) merupakan salah satu akibat dari produk reaksi yang terb
endapan pejal akan menutupi permukaan abu layang. Endapan seperti kerak ini menyebabkan
permukaan abu layang menjadi kasar seperti yang Gambar (e). Gambar 2 (e) menunjukkan proses
yang terjadi sepenuhnya seragam atau sama melainkan berva
ukuran partikel dan kondisi reaksi kimia seperti pH. Perbedaan morfologi dari abu layang hasil
modifikasi meliputi morfologi partikel abu layang yang tidak bereaksi, partikel abu layang
terserang larutan alkali, produ
Menurut Irani (2009), abu yang sudah dilebur dengan NaOH strukturnya akan berbentuk
kasar. Hal ini sesuai pada Gambar 3 tentang morfologi abu dasar sesudah dilebur dengan NaOH
Gambar 3 Abu dasar

Pelarutan Si dan Al
Pelarutan Si dan Al dilakukan pada massa peleburan yang telah didapatkan. Proses
pelarutan massa peleburan campuran NaOH dengan abu dasar dan aqua DM ditunjukkan pada
persamaan reaksi yang berikut;

Na
2
SiO
3
(
s
) + H
2
O(
l
) Na

NaAlO
2
(
s
) + 2H
2
O(
l
) NaAl(OH)

ISBN 978
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
abu layang kemudian gugus-gugus yang aktif yang terdapat didalam silika dan alumina akan
bereaksi dengan larutan NaOH membentuk produk-produk silika dan aluminat. Produk reaksi yang
dihasilkan akan memenuhi lapisan abu layang baik didalam maupun diluar permukaannya, hingga
hampir semua partikel abu layang yang terkonsumsi itu bereaksi dengan NaOH seperti yang
terlihat pada Gambar 2 (c)
Gambar 2 (c) menunjukkan mekanisme yang terlibat dalam tahap ini adalah tahap
pelarutan dimana alkali akan menembus dan kontak dengan partikel-partikel yang terdapat didalam
lapisan abu layang, seperti Gambar 2 (d).
Diagram modifikasi abu layang oleh larutan alkali (Irani,2009).
Gambar (d) merupakan salah satu akibat dari produk reaksi yang terb
endapan pejal akan menutupi permukaan abu layang. Endapan seperti kerak ini menyebabkan
permukaan abu layang menjadi kasar seperti yang Gambar (e). Gambar 2 (e) menunjukkan proses
yang terjadi sepenuhnya seragam atau sama melainkan bervariasi, tergantung dari distribusi
ukuran partikel dan kondisi reaksi kimia seperti pH. Perbedaan morfologi dari abu layang hasil
modifikasi meliputi morfologi partikel abu layang yang tidak bereaksi, partikel abu layang
terserang larutan alkali, produk reaksi dan lain- lain (Irani, 2009).
Menurut Irani (2009), abu yang sudah dilebur dengan NaOH strukturnya akan berbentuk
kasar. Hal ini sesuai pada Gambar 3 tentang morfologi abu dasar sesudah dilebur dengan NaOH

Abu dasar (a). murni dan (b). setelah peleburan dengan NaOH
Pelarutan Si dan Al dilakukan pada massa peleburan yang telah didapatkan. Proses
pelarutan massa peleburan campuran NaOH dengan abu dasar dan aqua DM ditunjukkan pada
berikut;
) Na
2
SiO
3
(
aq
)
) NaAl(OH)
4
(
aq
)
ISBN 978-602-98130-0-5
gugus yang aktif yang terdapat didalam silika dan alumina akan
produk silika dan aluminat. Produk reaksi yang
maupun diluar permukaannya, hingga
hampir semua partikel abu layang yang terkonsumsi itu bereaksi dengan NaOH seperti yang
Gambar 2 (c) menunjukkan mekanisme yang terlibat dalam tahap ini adalah tahap
partikel yang terdapat didalam

Diagram modifikasi abu layang oleh larutan alkali (Irani,2009).
Gambar (d) merupakan salah satu akibat dari produk reaksi yang terbentuk yang berupa
endapan pejal akan menutupi permukaan abu layang. Endapan seperti kerak ini menyebabkan
permukaan abu layang menjadi kasar seperti yang Gambar (e). Gambar 2 (e) menunjukkan proses
riasi, tergantung dari distribusi
ukuran partikel dan kondisi reaksi kimia seperti pH. Perbedaan morfologi dari abu layang hasil
modifikasi meliputi morfologi partikel abu layang yang tidak bereaksi, partikel abu layang yang
Menurut Irani (2009), abu yang sudah dilebur dengan NaOH strukturnya akan berbentuk
kasar. Hal ini sesuai pada Gambar 3 tentang morfologi abu dasar sesudah dilebur dengan NaOH

setelah peleburan dengan NaOH (Yanti,2009).
Pelarutan Si dan Al dilakukan pada massa peleburan yang telah didapatkan. Proses
pelarutan massa peleburan campuran NaOH dengan abu dasar dan aqua DM ditunjukkan pada






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Campuran hasil pelarutan Si dan Al kemudian difiltrasi menggunakan kertas saring
whatman dan corong buchner dengan bantuan pompa vakum. Filtrat yang telah terpisah dari
endapannya diambil sebagian untuk dianalisis konsentrasi Si, Al dan Na terlarutnya menggunakan
metode Atomic Emission Spectrometry (ICP AES). Data ini nantinya akan digunakan untuk
mengatur komposisi molar antara Si dan Al sebesar 1,926 untuk didapatkan zeolit A. Hasil analisis
menggunakan ICP AES ditampilkan pada Tabel 2.

Tabel 1. Data konsentrasi Si, Al dan Na terlarut
No
Konsentrasi Filtrat (ppm)
Si Al Na
1 5835,4 271,0 25053,3

Proses Kritalisasi Hidrotermal
Gel untuk kristalisasi zeolit A dipreparasi dari filtrat hasil pelarutan Si dan Al yang telah
diketahui komposisi mol Si, Al dan Na nya dan dicampur dengan larutan NaAlO
2
-NaOH sebagai
sumber Al tambahannya. Preparasi gel untuk sintesis zeolit A pada penelitian ini diatur pada rasio
molar gel SiO
2
/Al
2
O
3
1,926 dimana rasio molar 1,926 merupakan kondisi yang sesuai untuk sintesis
zeolit A, sebagaimana yang telah dilaporkan oleh Robson (2001).
Untuk pembuatan gel, larutan natrium aluminat (NaAlO
2
) ditambahkan pada ekstrak
leburan abu. Gel yang telah dipreparasi selanjutnya dikristalisasi menjadi kristal aluminosilikat
(zeolit A) secara hidrotermal dalam autoklaf stainles steel. Kristalisasi ini juga menggunakan
endapan hasil pelarutan Si dan Al agar didapatkan zeolit dalam jumlah yang banyak. Kristalisasi
pada penelitian ini dilakukan pada 100°C selama 12 jam (Yanti,2009).
Oleh Ojha dkk. (2004), proses kristalisasi yang berlangsung dapat ditunjukkan pada
persamaan reaksi berikut.

NaOH(aq)+NaAl(OH)
4
(aq)+Na
2
SiO
3
(aq)Suhu Kamar
[Na
x
(AlO
2
)
y
(SiO
2
)
z
.NaOH.H
2
O](gel)Suhu 373,3
o
C

Na
p
[(AlO
2
)
p
(SiO
2
)
q
]. h H
2
O (Kristal dalam suspensi)

Zeolit hasil sintesis pada penelitian ini dianalisa menggunakan XRD seperti dapat dilihat pada
Gambar 4. Hasil ini menunjukkan hasil yang sama dengan peneliitan Yanti (2009).
Hampir semua puncak-puncak yang muncul pada pola XRD merupakan puncak-puncak
karakteristik zeolit A, walaupun ada puncak zeolit Hidroksi-sodalit yang muncul pada 2θ = 13,9,
Zeolit A ini juga dianalisis menggunakan SEM untuk megetahui gambar morfologinya dan dapat
dilihat pada Gambar 5.

Gambar 4. Difraktogram sinar-X dari Zeolit A hasil sintesis dari abu dasar batubara PT IPMOMI
Paiton dengan data PDF no 39-0222






SEMINAR NASIONAL KIMI
Surabaya, 2
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA
Gambar 5. Mikrograf SEM hasil sintesis zeolit A dengan perbesaran 1.000x dan 10.000x (suhu
100 ºC selama 12 jam hidroterm
Selanjutnya adalah tahap pengujian zeolit hasil sintesis terhadap kemampuan adsorpsi ion
logam Cu(II). Kemampuan zeolit A untuk mengadsorpsi ion logam Cu(II) ini dibandingkan dengan
abu dasar. Hal ini bertujuan untuk melihat kapasitas adsorpsi menggunakan abu dasar murni
apakah hasilnya lebih baik daripada menggunakan zeolit A. Untuk melihat k
maka penelitian ini dilakukan beberapa variasi yaitu variasi waktu, konsentrasi awal, pH dan suhu.

Penentuan Waktu Setimbang
Variasi waktu kontak dilakukan untuk menentukan waktu setimbang dari adsorpsi. Waktu
setimbang ini merupakan kondisi maksimum adsorben untuk menyerap ion logam Cu(II).
variasi waktu kontak antara ion
pada Gambar 6.
Kapasitas penyerapan adsorben meningkat tajam pada menit
mencapai waktu kesetimbangan akan mencapai keadaan konstan. H
banyak sisi adsorben yang kosong
semakin tinggi. Dengan bertambahnya waktu kontak
permukaan adsorben semakin meningkat hingga tercapai titik setimbang. Pada saat mencapai titik
kesetimbangan, permukaan adsorben telah penuh tertutupi oleh logam yang diserap dan adsorben
mengalami titik jenuh sehingga adsorben tidak da
Gambar 6. Hubungan waktu kontak (menit) dengan
adsorben 0,5 gram, volume 100 ml, konsentrasi awal 50 mg/l,

Dari grafik diatas terlihat bahwa kapasitas penyerap
hasilnya tidak terlalu jauh berbeda dengan menggunakan
dasar terdapat beberapa komponen seperti silika, alumina
dalam proses adsorpsi (Lim
dasar dapat digunakan sebagai adsorben untuk menghilangkan logam dalam larutan karena dalam
abu dasar terkandung beberapa komponen dalam bentuk oksida yang relatif besar. Bentuk oksida
ini antara lain SiO
2
, Al
2
O
3
0
1
2
3
4
5
6
7
8
0
q
t

(
m
g
/
g
)
ISBN 978
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

Mikrograf SEM hasil sintesis zeolit A dengan perbesaran 1.000x dan 10.000x (suhu
100 ºC selama 12 jam hidrotermal) (Yanti,2009).
Selanjutnya adalah tahap pengujian zeolit hasil sintesis terhadap kemampuan adsorpsi ion
ogam Cu(II). Kemampuan zeolit A untuk mengadsorpsi ion logam Cu(II) ini dibandingkan dengan
abu dasar. Hal ini bertujuan untuk melihat kapasitas adsorpsi menggunakan abu dasar murni
apakah hasilnya lebih baik daripada menggunakan zeolit A. Untuk melihat k
maka penelitian ini dilakukan beberapa variasi yaitu variasi waktu, konsentrasi awal, pH dan suhu.
Penentuan Waktu Setimbang
Variasi waktu kontak dilakukan untuk menentukan waktu setimbang dari adsorpsi. Waktu
n kondisi maksimum adsorben untuk menyerap ion logam Cu(II).
antara ion logam Cu(II) dan adsorben, yaitu zeolit A dan
Kapasitas penyerapan adsorben meningkat tajam pada menit-
mencapai waktu kesetimbangan akan mencapai keadaan konstan. Hal ini
banyak sisi adsorben yang kosong, sehingga kecendurangan larutan untuk terserap ke adsorben
engan bertambahnya waktu kontak, jumlah adsorbat ya
permukaan adsorben semakin meningkat hingga tercapai titik setimbang. Pada saat mencapai titik
kesetimbangan, permukaan adsorben telah penuh tertutupi oleh logam yang diserap dan adsorben
mengalami titik jenuh sehingga adsorben tidak dapat menyerap logam lagi.
. Hubungan waktu kontak (menit) dengan kapasitas adsorpsi (q
adsorben 0,5 gram, volume 100 ml, konsentrasi awal 50 mg/l,
Dari grafik diatas terlihat bahwa kapasitas penyerapan ion logam Cu
hasilnya tidak terlalu jauh berbeda dengan menggunakan abu dasar, hal ini dikarenakan dalam abu
dasar terdapat beberapa komponen seperti silika, alumina, kalsium dan besi yang berperan juga
Lim et al, 1997). Sook shim et al (2003) juga membenarkan bahwa abu
dasar dapat digunakan sebagai adsorben untuk menghilangkan logam dalam larutan karena dalam
abu dasar terkandung beberapa komponen dalam bentuk oksida yang relatif besar. Bentuk oksida
3
, CaO dan Fe
2
O
3
. Jumlah komponen ini mencapai 90,79% dalam abu
200 400 600 800 1000 1200 1400
waktu (menit)
abu dasar zeolit
A
ISBN 978-602-98130-0-5

Mikrograf SEM hasil sintesis zeolit A dengan perbesaran 1.000x dan 10.000x (suhu
Selanjutnya adalah tahap pengujian zeolit hasil sintesis terhadap kemampuan adsorpsi ion
ogam Cu(II). Kemampuan zeolit A untuk mengadsorpsi ion logam Cu(II) ini dibandingkan dengan
abu dasar. Hal ini bertujuan untuk melihat kapasitas adsorpsi menggunakan abu dasar murni
apakah hasilnya lebih baik daripada menggunakan zeolit A. Untuk melihat kapasitas adsorpsinya
maka penelitian ini dilakukan beberapa variasi yaitu variasi waktu, konsentrasi awal, pH dan suhu.
Variasi waktu kontak dilakukan untuk menentukan waktu setimbang dari adsorpsi. Waktu
n kondisi maksimum adsorben untuk menyerap ion logam Cu(II). Hasil
dan abu dasar ditunjukkan
-menit awal dan setelah
al ini karena pada awalnya
sehingga kecendurangan larutan untuk terserap ke adsorben
, jumlah adsorbat yang terserap pada
permukaan adsorben semakin meningkat hingga tercapai titik setimbang. Pada saat mencapai titik
kesetimbangan, permukaan adsorben telah penuh tertutupi oleh logam yang diserap dan adsorben
pat menyerap logam lagi.

q
t
) (mg/g) dengan jumlah
adsorben 0,5 gram, volume 100 ml, konsentrasi awal 50 mg/l, suhu 27
0
C dan pH 6
logam Cu(II) oleh Zeolit A
, hal ini dikarenakan dalam abu
dan besi yang berperan juga
Sook shim et al (2003) juga membenarkan bahwa abu
dasar dapat digunakan sebagai adsorben untuk menghilangkan logam dalam larutan karena dalam
abu dasar terkandung beberapa komponen dalam bentuk oksida yang relatif besar. Bentuk oksida
. Jumlah komponen ini mencapai 90,79% dalam abu
1400 1600
zeolit






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
dasar yang digunakan dalam penelitian ini dengan komponen yang terbesar yaitu Fe
2
O
3
sebanyak
33,59%; SiO
2
sebanyak 24,1%; CaO sebanyak 26,3% dan Al
2
O
3
sebanyak 6,8% (Yanti, 2009).
Banyaknya komponen inilah yang menyebabkan abu dasar dapat menyerap ion logam
Cu(II) secara maksimal dan hampir mendekati kapasitas penyerapan ion logam Cu(II)
menggunakan zeolit A. Mekanisme penghilangan logam menggunakan abu dasar termasuk dalam
jenis adsorpsi dan reaksi pengendapan (Sook Shim et al, 2003). Secara umum, antara adsorpsi
dan proses pengendapan melibatkan antara ikatan logam dengan permukaan fasa padat. Hal ini
sangat sulit membedakan antara adsorpsi logam dan pengendapan logam. Lim et al (1997)
menjelaskan bahwa logam berat dapat teradsorpsi kuat dalam permukaan abu dasar mengikuti
persamaan sebagai berikut:

Fe-OH + M
2
+ + H
2
O Fe-O-MOH + 2H
+

Berbeda halnya dengan abu dasar, mekanisme penghilangan logam menggunakan zeolit
termasuk reaksi pertukaran ion. Zeolit mempunyai pori dan berongga serta memiliki ikatan yang
lemah dengan kation lain, sehingga jika zeolit ini dikontakkan dengan logam maka bisa terjadi
pertukaran ion. Zeolit ini dapat digunakan sebagai adsorben untuk menghilangkan logam dalam
larutan karena zeolit mempunyai muatan negatif akibat adanya perbedaan muatan antara Si
4+

dengan Al
3+
.
Muatan negatif ini muncul karena atom Al yang bervalensi 3 harus mengikat 4 atom
oksigen yang lebih elektronegatif dalam kerangka zeolit. Dengan adanya muatan negatif ini maka
zeolit mampu mengikat kation dengan ikatan yang lemah seperti kation Na dan Ca. Karena
lemahnya ikatan inilah maka zeolit bersifat sebagai penukar kation yaitu kation Na atau Ca akan
tergantikan posisinya dengan ion logam Cu(II). Adsorpsi kation logam berat terjadi pada permukaan
dengan grup hidroksil pada zeolit dan kombinasi muatan positif dari kation logam dan muatan
negatif pada permukaan zeolit (Qiu,2008).

Variasi Konsentrasi Awal
Variasi konsentrasi awal ini dilakukan untuk mengetahui pola penyerapan ion logam Cu(II)
menggunakan zeolit A dan abu dasar. Hasil dari penelitian dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7. Hubungan konsentrasi awal (mg/l) dengan kapasitas adsorpsi, qe (mg/g) dengan
jumlah adsorben 0,5 gram, volume 100 ml, waktu 6 jam, suhu 35
0
C dan pH 6

Kemampuan penyerapan ion logam Cu(II) meningkat seiring dengan meningkatnya
konsentrasi ion logam Cu(II). Hal ini karena meningkatnya konsentrasi awal ion logam Cu(II) akan
memberikan daya dorong yang lebih besar, sehingga ion logam Cu(II) akan berpindah (migrasi)
dari permukaan luar ke dalam pori-pori zeolit A yang berukuran mikro. Ion logam Cu(II) mampu
bertukar kation tidak hanya pada permukaan luar zeolit tapi juga pada permukaan dalam zeolit.
Kesetimbangan tercapai ketika semua pertukaran ion logam Cu(II) dan kation pada perrmukaan
luar dan dalam zeolit A telah tercapai.
-0.5
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
3.5
0 10 20 30 40 50 60
Co (mg/l)
q
e

(
m
g
/
g
)
abu dasar zeolit






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Hal yang terjadi pada zeolit juga terjadi dalam adsorben abu dasar. Semakin besar
konsentrasi awal ion logam Cu(II) maka jumlah logam yang teradsorp juga semakin besar. Ini
disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi yang diberikan akan memberikan daya dorong yang
lebih besar terhadap logam untuk teradsorp dan pindah ke permukaan abu dasar.

Variasi pH
Variasi pH ini dilakukan untuk mengetahui kondisi pH yang optimum untuk penyerapan ion logam
Cu(II). Hasil penelitian dapat dilihat pada gambar 8. Gambar 8 menunjukkan pengaruh pH terhadap
kapasitas penyerapan ion logam Cu(II). Dari Gambar 8 dapat diketahui bahwa penyerapan ion
logam Cu(II) maksimal pada abu dasar terjadi pada pH 9 dengan persen teradsorp mencapai
90,47% dan pada zeolit A terjadi pada pH 8 hingga mencapai 83,35%. Secara umum besarnya
logam yang teradsorp akan naik pada pH lebih besar dari 6. Pada pH yang rendah dan bersifat
asam akan menyebabkan konsentrasi ion H
+
akan naik dan akan terjadi kompetisi antara ion H
+

dan ion logam untuk bertukar tempat dengan kation lain pada adsorben zeolit (Chunfeng,2009).
Adanya kompetisi antara ion H
+
dengan ion logam ini dapat menyebabkan rusaknya struktur zeolit
karena adanya kompetisi pertukaran ion sehingga menyebabkan penurunan kapasitas adsorpsi
terhadap ion logam (Chunfeng,2009).

Gambar 8. Hubungan pH dengan kapasitas adsorpsi, qe (mg/g) dengan jumlah adsorben 0,5
gram, volume 100 ml, waktu 6 jam, suhu 27
0
C dan konsentrasi awal 50 mg/l

Sedangkan pada pH yang tinggi dapat menyebabkan semakin banyaknya logam hidroksida
yang mengendap dan mengurangi ion logam dari larutan (Chunfeng,2009). Pada pH yang tinggi
ini, kompetisi ion H
+
sebagai kompetitor ion logam akan menurun karena larutan bersifat basa.
Dengan menurunnya ion H
+
ini maka ion logam dapat teradsorp secara maksimal (Wang, 2008).
Peneliti lain juga melaporkan bahwa penyerapan ion logam Cu(II) naik seiring dengan naiknya pH.
Hal ini dikarenakan pada pH rendah menyebabkan meningkatnya konsentrasi ion H
+
sehingga
terjadi kompetisi antara ion logam Cu(II) dengan ion H
+
yang terikat pada abu dasar maupun zeolit
(Hui et al, 2005).
Berbeda halnya yang terjadi pada abu dasar, pada pH tinggi menyebabkan permukaan abu
bermuatan negatif dan meningkatkan persen penghilangan logam. Hal ini disebabkan karena
adanya kontribusi kandungan SiO
2
, Al
2
O
3
, Fe
2
O
3
yang memberikan alkalinitas dan menaikkan
sistem pH. Sedangkan pada pH rendah menyebabkan permukaan abu bermuatan positif dan
membentuk logam hidroksil.

Variasi Suhu
Variasi suhu ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap penyerapan ion
logam Cu(II). Dari Gambar 9 dapat dilihat bahwa semakin tinggi suhu operasi maka semakin
sedikit ion logam Cu(II) yang terserap oleh zeolit A dan abu dasar. Hal ini terjadi karena semakin
tinggi suhu operasi maka semakin tinggi pergerakan ion sehingga jumlah ion Cu(II) yang terserap
oleh zeolit dan abu dasar semakin berkurang (Kundari, 2008).
2
3
4
5
6
7
8
9
10
2 4 6 8 10 12
pH
q
e

(
m
g
/
g
)
abu dasar zeolit






SEMINAR NASIONAL KIMI
Surabaya, 2
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Chunfeng (2009) yaitu pada adsorpsi fisik,
adsorpsi semakin kecil dengan meningkatnya suhu. Hal ini dikarenakan dengan kenaikan suhu
menyebabkan desorpsi semakin besar.

Gambar 9. pengaruh konse
(a). Adsorben abu dasar, (b). Adsorben zeolit.
gram, volume 100 ml,

Kinetika Adsorpsi
Dari data hasil variasi waktu maka dapat d
ini akan sangat bermanfaat apabila adsorpsi ini diaplikasikan untuk sistem kolom dalam skala
industri. Data kinetika dalam penelitian ini dianalisa dengan beberapa model. Hasil dapat dilihat di
Gambar 10. Nilai parameter adsorpsi kinetik dari lima model dirangkum dalam Tabel 2. Dari data
Gambar 10 dan Tabel 2 dapat diketahui bahwa adsorpsi ion logam Cu(II) menggunakan abu dasar
dan zeolit A mengikuti model orde satu semu. Hal ini dapat disimpulkan jenis modeln
dengan nilai R
2
yang mendekati satu, dimana nilai R ini merupakan nilai koefisien korelasi dari
grafik. Nilai R semakin mendekati satu memiliki data yang linier.

Isoterm Adsorpsi
Dari data hasil variasi konsentrasi maka dapat ditentukan data mo
Hal ini untuk mengetahui model isoterm dan untuk mengetahui jenis adsorpsi yang terjadi. Setelah
mengetahui jenis adsorpsi yang terjadi maka dapat diketahui ikatan yang terjadi. Data ini sangat
bermanfaat untuk mengetahui apakah a
tidak. Data isoterm dalam penelitian ini dianalisis dengan beberapa model. Hasil dapat dilihat di
Gambar 11. Nilai parameter adsorpsi isoterm dari tiga model dirangkum dalam Tabel 3.
Tabel 2
Adsorben
Abu dasar
ISBN 978
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Chunfeng (2009) yaitu pada adsorpsi fisik,
adsorpsi semakin kecil dengan meningkatnya suhu. Hal ini dikarenakan dengan kenaikan suhu
menyebabkan desorpsi semakin besar.
pengaruh konsentrasi awal dengan qe (mg/g) dalam keadaan suhu yang berbeda
(a). Adsorben abu dasar, (b). Adsorben zeolit. Kondisi proses: jumlah adsorbent 0,5
gram, volume 100 ml, waktu 6 jam dan pH 6.
Dari data hasil variasi waktu maka dapat ditentukan data model kinetika adsorpsinya. Hal
ini akan sangat bermanfaat apabila adsorpsi ini diaplikasikan untuk sistem kolom dalam skala
industri. Data kinetika dalam penelitian ini dianalisa dengan beberapa model. Hasil dapat dilihat di
i parameter adsorpsi kinetik dari lima model dirangkum dalam Tabel 2. Dari data
Gambar 10 dan Tabel 2 dapat diketahui bahwa adsorpsi ion logam Cu(II) menggunakan abu dasar
dan zeolit A mengikuti model orde satu semu. Hal ini dapat disimpulkan jenis modeln
yang mendekati satu, dimana nilai R ini merupakan nilai koefisien korelasi dari
grafik. Nilai R semakin mendekati satu memiliki data yang linier.
Dari data hasil variasi konsentrasi maka dapat ditentukan data model isoterm adsorpsinya.
Hal ini untuk mengetahui model isoterm dan untuk mengetahui jenis adsorpsi yang terjadi. Setelah
mengetahui jenis adsorpsi yang terjadi maka dapat diketahui ikatan yang terjadi. Data ini sangat
bermanfaat untuk mengetahui apakah adsorben yang digunakan dapat diregenerasi ulang atau
tidak. Data isoterm dalam penelitian ini dianalisis dengan beberapa model. Hasil dapat dilihat di
Nilai parameter adsorpsi isoterm dari tiga model dirangkum dalam Tabel 3.
Tabel 2.Ringkasan dari perhitungan kinetika adsorpsi
Orde satu semu
Adsorben k
f
(min
-
1
)
q
e

(mg/g)
R
2

Abu dasar 0,003 1,39 0,501
Zeolit A 0,009 2,927 0,887
Orde dua semu
ISBN 978-602-98130-0-5
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Chunfeng (2009) yaitu pada adsorpsi fisik,
adsorpsi semakin kecil dengan meningkatnya suhu. Hal ini dikarenakan dengan kenaikan suhu
A
B
dalam keadaan suhu yang berbeda-beda.
Kondisi proses: jumlah adsorbent 0,5
itentukan data model kinetika adsorpsinya. Hal
ini akan sangat bermanfaat apabila adsorpsi ini diaplikasikan untuk sistem kolom dalam skala
industri. Data kinetika dalam penelitian ini dianalisa dengan beberapa model. Hasil dapat dilihat di
i parameter adsorpsi kinetik dari lima model dirangkum dalam Tabel 2. Dari data
Gambar 10 dan Tabel 2 dapat diketahui bahwa adsorpsi ion logam Cu(II) menggunakan abu dasar
dan zeolit A mengikuti model orde satu semu. Hal ini dapat disimpulkan jenis modelnya sesuai
yang mendekati satu, dimana nilai R ini merupakan nilai koefisien korelasi dari
del isoterm adsorpsinya.
Hal ini untuk mengetahui model isoterm dan untuk mengetahui jenis adsorpsi yang terjadi. Setelah
mengetahui jenis adsorpsi yang terjadi maka dapat diketahui ikatan yang terjadi. Data ini sangat
dsorben yang digunakan dapat diregenerasi ulang atau
tidak. Data isoterm dalam penelitian ini dianalisis dengan beberapa model. Hasil dapat dilihat di
Nilai parameter adsorpsi isoterm dari tiga model dirangkum dalam Tabel 3.
ari perhitungan kinetika adsorpsi






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Adsorben h
(mg/g
min)
q
e

(mg/g)
R
2
K
s
(g/(m
g min)
Abu dasar 0.2914 6,949 0.99
5
0.00603
4
Zeolit A 0.298 7,3529 0.99
7
0.00551
6
Bangham
Adsorben k
o
(mL/(g/L)) α R
2

Abu dasar 7,2498 0,159 0,623
Zeolit A 5,947 0,215 0,784
Elovich
Adsorben α (mg/(g
min))
β
(g/mg)
R
2

Abu dasar 70,974 1.773 0.630
Zeolit A 9,452 1,285 0.785
Difusi intra partikel
Adsorben C K
id
R
2

Abu dasar 5,020 0,048 0,45
Zeolit A 5,024 0,070 0,623

Tabel 3. Ringkasan dari perhitungan isoterm adsorpsi
Model isotherm
Parameter
Langmuir
Adsorben Suhu K R
2

Abu
dasar
35
0
C
0.1093 0,2424
Zeolit A 35
0
C 0.1093 0.2424
Freundlich
Adsorben Suhu K 1/n R
2

Abu
dasar
25
0
C 0,049 1,4205 0,943
35
0
C 0,0489 1,0419 0,9353
45
0
C 0,042 0,8371 0,945
Zeolit A
25
0
C 0,149 1,192 0,947
35
0
C 0,0799 1,0845 0,955
45
0
C 0,029 1,3371 0,939
Tempkin
Adsorben Suhu K B R
2

Abu
dasar
35
0
C
0.8978 0.4537 0.7441
Zeolit A 35
0
C 1.6588 0.5847 0.7452








SEMINAR NASIONAL KIMI
Surabaya, 2
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA




Gambar 12 Foto SEM (a) Abu dasar murni (Yanti, 2009) (b) Abu dasar setelah menyerap ion
logam Cu(II)
a
b
c
Gambar 11. Kurva adsorpsi isoterm
Tempkin dengan suhu
jam dan pH 6
ISBN 978
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS

Foto SEM (a) Abu dasar murni (Yanti, 2009) (b) Abu dasar setelah menyerap ion
logam Cu(II)
. Kurva adsorpsi isoterm (a). Model Langmuir, (b). model Freundlich dan (c). model
Tempkin dengan suhu 35
0
C, dengan jumlah adsorben 0,5 gram, volume 100 ml,
abu dasar zeolit Linear (abu dasar) Linear (zeolit)
ISBN 978-602-98130-0-5
Foto SEM (a) Abu dasar murni (Yanti, 2009) (b) Abu dasar setelah menyerap ion




(a). Model Langmuir, (b). model Freundlich dan (c). model
jumlah adsorben 0,5 gram, volume 100 ml, waktu 6






SEMINAR NASIONAL KIMI
Surabaya, 2
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA

c

Gambar 10. Analisa beberapa model kinetik, (a.) Model orde satu semu, (b.) Model orde dua semu,
(c.) Model Bangham, (d.) difusi intra partikel dan (e) Model Elovich,
jumlah adsorben 0,5 gram,
jam dan pH 6

Dari data Gambar 11 dan Tabel 3 dapat diketahui bahwa adsorpsi ion logam Cu(II)
menggunakan abu dasar maupun menggunakan zeolit A mengikuti model Freundlich. Hal ini dapat
disimpulkan jenis modelnya sesuai dengan nilai R
merupakan nilai koefisien korelasi dari grafik. Nilai R semakin mendekati satu memiliki data yang
linier. Hal ini berarti bahwa adsorpsi ion logam Cu(II) menggunakan abu dasar dan zeolit A
termasuk jenis adsorpsi fisika.
tarik antar molekul atau gaya tarik menarik yang relatif lemah antara adsorbat dengan permukaan
adsorben, gaya ini disebut gaya Van der Waals sehingga adsorbat dapat bergerak
permukaan ke bagian permukaan lain dari adsorben
ISBN 978
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
a
b
d
e
eberapa model kinetik, (a.) Model orde satu semu, (b.) Model orde dua semu,
(c.) Model Bangham, (d.) difusi intra partikel dan (e) Model Elovich,
jumlah adsorben 0,5 gram, konsentrasi awal 50mg/L, volume 100 ml,
6
Dari data Gambar 11 dan Tabel 3 dapat diketahui bahwa adsorpsi ion logam Cu(II)
menggunakan abu dasar maupun menggunakan zeolit A mengikuti model Freundlich. Hal ini dapat
disimpulkan jenis modelnya sesuai dengan nilai R
2
yang mendekati satu, dimana ni
merupakan nilai koefisien korelasi dari grafik. Nilai R semakin mendekati satu memiliki data yang
linier. Hal ini berarti bahwa adsorpsi ion logam Cu(II) menggunakan abu dasar dan zeolit A
termasuk jenis adsorpsi fisika. Adsorpsi fisika terjadi bila gaya intermolekular lebih besar dari gaya
tarik antar molekul atau gaya tarik menarik yang relatif lemah antara adsorbat dengan permukaan
disebut gaya Van der Waals sehingga adsorbat dapat bergerak
n permukaan lain dari adsorben (Khartikeyan, 2004).
ISBN 978-602-98130-0-5
e
eberapa model kinetik, (a.) Model orde satu semu, (b.) Model orde dua semu,
(c.) Model Bangham, (d.) difusi intra partikel dan (e) Model Elovich, Kondisi proses:
volume 100 ml, suhu 27°C , t= 6
Dari data Gambar 11 dan Tabel 3 dapat diketahui bahwa adsorpsi ion logam Cu(II)
menggunakan abu dasar maupun menggunakan zeolit A mengikuti model Freundlich. Hal ini dapat
yang mendekati satu, dimana nilai R ini
merupakan nilai koefisien korelasi dari grafik. Nilai R semakin mendekati satu memiliki data yang
linier. Hal ini berarti bahwa adsorpsi ion logam Cu(II) menggunakan abu dasar dan zeolit A
ila gaya intermolekular lebih besar dari gaya
tarik antar molekul atau gaya tarik menarik yang relatif lemah antara adsorbat dengan permukaan
disebut gaya Van der Waals sehingga adsorbat dapat bergerak dari satu bagian







SEMINAR NASIONAL KIMI
Surabaya, 2
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA
Ketika permukaan adsorben sudah tertutupi adsorbat, adsorbat tidak hanya terserap pada
lapisan atas/tunggal pada permukaan adsorben
hingga menghasilkan lapisan multi (
sehingga jika terjadi peningkatan
meningkat dengan membentuk lapisan pertama, kedua dan seterusnya menghasilkan lap
multilayer seperti yang terlihat pada Gambar 12 dan Gambar 14.
tarik antara molekul-molekul fluida dengan permukaan padat, sedangkan gaya intermolekular
adalah gaya tarik antar molekul
membentuk lapisan jamak (
dibutuhkan relatif rendah. Energi aktivasi untuk terjadinya adsorpsi fisika biasanya adalah tidak
lebih dari 1 kkal/gr-mol, sehi
fisika dapat berlangsung di bawah temperatur kritis adsorbat yang relatif rendah sehingga panas
adsorpsi yang dilepaskan juga rendah yaitu sekitar 5
adsorpsi kimia.
Gambar 14 Foto SEM (a) dan (b) zeolit A hasil sintesis (Yanti, 2009) serta (c) dan (d) Zeolit A
setelah menyerap ion logam Cu(II)

Dari gambar dan data model Freundlich dapat diketahui bahwa ion logam Cu(II) yang
terikat pada permukaan zeolit A maupun abu dasar berikatan secara lemah karena adanya gaya
Van Der Waals, ikatan ini sangat lemah sehingga bersifat
membutuhkan energi yang sangat rendah. Adsorben (abu dasar dan zeolit A) dapat diregenerasi
ulang lagi karena sangat mudah memutuskan ikatan yang terjadi antara logam dengan adsorben.
Dari gambar juga diketahui bahwa zeolit A maupun abu
menyerap logam permukaannya bersifat heterogen. Hal ini sesuai dengan asumsi Freundlich yaitu
pada adsorpsi fisika akan terbentuk
Dengan mudahnya adsorben zeolit A
tersendiri dari segi ekonomi dan juga dari segi lingkungan karena akan mengurangi limbah
adsorben hasil penyerapan logam.



ISBN 978
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Ketika permukaan adsorben sudah tertutupi adsorbat, adsorbat tidak hanya terserap pada
lapisan atas/tunggal pada permukaan adsorben, tetapi juga pada lapisan kedua dan seterusnya
isan multi (multilayer). Hal ini karena lemahnya ikatan fisika yang terjadi
sehingga jika terjadi peningkatan suhu dan konsentrasi adsorpsi adsorbat pada adsorben juga akan
meningkat dengan membentuk lapisan pertama, kedua dan seterusnya menghasilkan lap
seperti yang terlihat pada Gambar 12 dan Gambar 14. Gaya antar molekul adalah gaya
molekul fluida dengan permukaan padat, sedangkan gaya intermolekular
adalah gaya tarik antar molekul-molekul fluida itu sendiri. Adsorpsi ini berlangsung cepat, dapat
lapisan jamak (multilayer), dan dapat bereaksi balik (reversible
dibutuhkan relatif rendah. Energi aktivasi untuk terjadinya adsorpsi fisika biasanya adalah tidak
mol, sehingga gaya yang terjadi pada adsorpsi fisika termasuk lemah. Adsorpsi
fisika dapat berlangsung di bawah temperatur kritis adsorbat yang relatif rendah sehingga panas
adsorpsi yang dilepaskan juga rendah yaitu sekitar 5-10 kkal/gr-mol gas, lebih rendah dari

(a) (c)
(b) (d)
Foto SEM (a) dan (b) zeolit A hasil sintesis (Yanti, 2009) serta (c) dan (d) Zeolit A
setelah menyerap ion logam Cu(II)\
Dari gambar dan data model Freundlich dapat diketahui bahwa ion logam Cu(II) yang
terikat pada permukaan zeolit A maupun abu dasar berikatan secara lemah karena adanya gaya
Van Der Waals, ikatan ini sangat lemah sehingga bersifat reversible dan jika me
membutuhkan energi yang sangat rendah. Adsorben (abu dasar dan zeolit A) dapat diregenerasi
ulang lagi karena sangat mudah memutuskan ikatan yang terjadi antara logam dengan adsorben.
Dari gambar juga diketahui bahwa zeolit A maupun abu dasar yang sudah digunakan untuk
menyerap logam permukaannya bersifat heterogen. Hal ini sesuai dengan asumsi Freundlich yaitu
pada adsorpsi fisika akan terbentuk monolayer sehingga lapisan dipermukaan bersifat heterogen.
Dengan mudahnya adsorben zeolit A dan abu dasar diregenerasi ulang akan memiliki kelebihan
tersendiri dari segi ekonomi dan juga dari segi lingkungan karena akan mengurangi limbah
adsorben hasil penyerapan logam.
ISBN 978-602-98130-0-5
Ketika permukaan adsorben sudah tertutupi adsorbat, adsorbat tidak hanya terserap pada
, tetapi juga pada lapisan kedua dan seterusnya
karena lemahnya ikatan fisika yang terjadi ,
dan konsentrasi adsorpsi adsorbat pada adsorben juga akan
meningkat dengan membentuk lapisan pertama, kedua dan seterusnya menghasilkan lapisan
Gaya antar molekul adalah gaya
molekul fluida dengan permukaan padat, sedangkan gaya intermolekular
i ini berlangsung cepat, dapat
reversible), karena energi yang
dibutuhkan relatif rendah. Energi aktivasi untuk terjadinya adsorpsi fisika biasanya adalah tidak
ngga gaya yang terjadi pada adsorpsi fisika termasuk lemah. Adsorpsi
fisika dapat berlangsung di bawah temperatur kritis adsorbat yang relatif rendah sehingga panas
mol gas, lebih rendah dari panas


Foto SEM (a) dan (b) zeolit A hasil sintesis (Yanti, 2009) serta (c) dan (d) Zeolit A
Dari gambar dan data model Freundlich dapat diketahui bahwa ion logam Cu(II) yang
terikat pada permukaan zeolit A maupun abu dasar berikatan secara lemah karena adanya gaya
dan jika memutuskan ikatan ini
membutuhkan energi yang sangat rendah. Adsorben (abu dasar dan zeolit A) dapat diregenerasi
ulang lagi karena sangat mudah memutuskan ikatan yang terjadi antara logam dengan adsorben.
dasar yang sudah digunakan untuk
menyerap logam permukaannya bersifat heterogen. Hal ini sesuai dengan asumsi Freundlich yaitu
sehingga lapisan dipermukaan bersifat heterogen.
dan abu dasar diregenerasi ulang akan memiliki kelebihan
tersendiri dari segi ekonomi dan juga dari segi lingkungan karena akan mengurangi limbah






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
4. Kesimpulan
Dari hasil dan diskusi yang dipaparkan dalam pembahasan diatas, maka pada pada
penelitian ini terdapat beberapa hal yang dapat disimpulkan yaitu zeolit A yang disintesis dari abu
dasar memiliki kapasitas adsorpsi terhadap ion logam Cu(II) hingga 8.335 mg/g dengan konsentrasi
awal larutan ion logam Cu(II) 50 mg/l pada pH 8 selama 360 menit dan jumlah adsorben 0,5 gram.
Hal yang menarik adalah abu dasar mampu mengadsorp ion logam Cu(II) hingga 9.047 mg/g
dengan konsentrasi ion logam Cu(II) 50 mg/l pada pH 9 selama 360 menit dan jumlah adsorben 0,5
gram. Penyerapan ion logam Cu(II) menggunakan zeolit A maupun abu dasar ini dilakukan pada
waktu setimbang yang sama yaitu selama 6 jam. Kapasitas penyerapan ion logam Cu(II)
menggunakan zeolit A dan abu dasar akan naik dengan meningkatnya konsentrasi logam yang
diserap dan dengan menurunnya suhu proses adsorpsi. Pada penentuan pH optimum diperoleh
kondisi optimum penyerapan yaitu pH 8 untuk zeolit A dan pH 9 untuk abu dasar.
Hasil pengolahan data untuk kinetika dan isoterm adsorpsi menunjukkan bahwa kinetika
adsorpsi ion Cu(II) pada zeolit A dan abu dasar mengikuti model orde dua semu, sedangkan
adsorpsi isoterm pada zeolit A dan abu dasar mengikuti model Freundlich.

Daftar Pustaka
Chang , H.L. dan Shih, W.H., (2000) , “Synthesis of Zeolites A and X from Fly Ashes and Their Ion-
Exchange Behavior with Cobalt Ions” Ind. Eng. Chem. Res., 39, 4185-4191
Chunfeng, Wang, (2009), “Evaluation of Zeolites Synthesized from Fly Ash Potential Adsorbents for
Wastewater Containing Heavy Metals”, Journal of Environmental Sciences, P.127-136
Eko, Aris,(2008),”Dampak Penggunaan Energi Batubara (PLTU), www.one.indoskripsi.com
Elliot, A.D., Zhang, D.K., (2004), “Controlled Release Zeolite Fertilizers : A Value Added Product
Produced from Fly Ash”, Curtin University of Technology,Australia
Fukui,

K., Nishimoto, T., Takiguchi, M., dan Yoshida H., (2006), “Effects of NaOH Concentration on
Zeolite Synthesis from Fly Ash with a Hydrothermal Treatment Method”, Dept. Chemical
Engineering,,Hiroshima University
Heidmann, Ilona, Wolfgang Calmano, (2008),” Removal of Zn(II), Cu(II), Ni(II), Ag(I) and Cr(VI)
present in aqueous solutions by aluminium electrocoagulation”, Journal of Hazardous
Materials, P.934-941
Hui, K.S., Chao, C.Y.H., (2005), “Pure, Singgle Phase, Hight Crystalline, Chamfered-Edge Zeolit 4A
Synthesized from Coal Fly Ash for Use a Builder in Detergent”, J. Hazardous Material B
137, 401-409

Irani, Khosna, (2009),” Modifikasi permukaan abu layang menggunakan NaOH dan aplikasinya
untuk Geopolimer: Sifat fisik dan mekanik”, Tesis S2 Kimia FMIPA ITS, Surabaya
Karthikeyan, G., Anbalagan, K., Andal, N.M., (2004), Adsorption Dynamics and equilibrium Studies
of Zn(II) onto Chitosan. Indian J. Chem. Sci.,116, 2, pp. 119-127.
Kementrian Lingkungan Hidup, (2006), ”Pengelolaan Bahan dan Limbah Berbahaya dan Beracun”,
www.Lingkunganhidup.com
Kundari, Noor Anis, Slamet W, (2008),”Tinjauan kesetimbangan adsorpsi tembaga dalam limbah
pencuci PCB dengan zeolit”, Seminar Nasional IV SDM Teknologi Nuklir, Yogyakarta
Lim, T.Y, Tay, J.H,Teh, C.I, (1997), “Sorption and speciation of heavy metals from incinerator fly
ash in a marine clay”, Environmental Engineering 123, p.1108-1115
Mimura, H., Yokota, K., Akiba, K., dan Onodera, Y., (2001) “Alkali Hydrothermal Synthesis of
Zeolites from Coal Fly Ash and Their Uptake Properties of Cesium Ion”, Journal of Nuclear
Science and Technology, Vol.38 (9), 766-772
Molina, A. dan Poole, C, (2004) “A Comparative Study Using Two Methods To Produce Zeolites
from Fly Ash”, Minerals Engineering, 17, p. 167–173
Moreno, N., Querol, X., Ayora, C., Alastuey, A., Pereira, C. F., Jurkovicova, M.,J., (2001), “Potential
Environmental Applications of Pure Zeolitic Material Synthesized from Fly Ash”, J. Env.
Eng., hal. 994-1002






ISBN 978-602-98130-0-5
SEMINAR NASIONAL KIMIA
Surabaya, 23 Nopember 2010
Diselenggarakan oleh Jurusan Kimia FMIPA-ITS
Ojha, K., Pradhan, N. dan Samanta, A. N. (2004), “Zeolite from Fly Ash: Synthesis and
Characterization”, Bull. Mater. Sci. Indian Academy of Sciences, Vol. 27, No. 6, hal. 555-
564.
Peraturan Pemerintah, (1999), Peraturan Pemerintah No. 85 Tahun 1999 Tentang : Perubahan
Atas Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Limbah Bahan
Berbahaya Dan Beracun, Presiden Republik Indonesia, Jakarta
Qiu, Wei, (2008),”Removal of lead, copper, nickel, cobalt, and zinc from water by a cancrinite- type
zeolite synthesized from fly ash”, Journal of Chemical Engineering
Querol, X., Moreno, N., Umaña, J.C., Alastuey, A., Hernández, E., López-Soler, A., Plana, F, (2002)
“Synthesis of Zeolites from Coal Fly Ash: An Overview” International Journal of Coal
Geology, 50, p. 413–423.
Sciban, Marina, Bogdanka, (2006), “Adsorption of Heavy Metals From Electroplating wastewater by
Wood Sawdust”, Journal of Bioresource Technology, P.402-409
Sirianuntapiboon,Suntud, Kanidta Chairattanawan , Methinee Rarunroeng (2008),” Biological
removal of cyanide compounds from electroplating wastewater (EPWW) by sequencing
batch reactor (SBR) system”, Journal of Hazardous Materials, P.526-534
Smart, L., and Moore, E., (1993), Solid State Chemistry : An Introduction, Chapman & Hall
University and Professional Division, London, p.183-208.
Sook Shim, Young, et al, (2003), “The adsorption characteristics of heavy metals by various particle
sized of MSWI bottom ash”, Journal of waste management, P.851-857
Supriatna, Uus, (2003), “Dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan
Lingkungan (UPL)”, www.PTIndoramaSyntetics.com
Sze,K.F, Y.J. Lu, P.K. Wong ,(1996),” Removal and recovery of copper ion (Cu
2+
) from
electroplating effluent by a bioreactor containing magnetite-immobilized cells of
Pseudomonas putida 5X”, Journal of resources, conservation recycling, P.175-193
Wang, C.F., Li, J.S., wang, L.J., Sun, X.Y., (2008) “Influence of NaOH concentrations on synthesis
of pure-form zeolite A from fly ash using two-stage method”, Journal of Hazardous
Materials, 155, 58–64
Widiastuti, N., Wu, H.,Ang, M. & Zhang, D.-k, (2009),”Removal of ammonium from greywater using
natural zeolite”, Desalination
Yanti, Yuli (2009), “ Sintesis zeolit A dan Zeolit Karbon Aktif dari Abu Dasar PLTU Paiton denga
Metode Peleburan” Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->