P. 1
Landasan Teori Tugas Presentasi Sosiologi Industri

Landasan Teori Tugas Presentasi Sosiologi Industri

|Views: 77|Likes:
Published by Fristy Tania
Tugas Presentasi Sosiologi Industri
Tugas Presentasi Sosiologi Industri

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Fristy Tania on Nov 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial
List Price: $4.99 Buy Now

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

12/15/2014

$4.99

USD

pdf

text

original

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian sosiologi perkotaan
Sosiologi perkotaan mempelajari masyarakat perkotaan dan segala pola interaksi yang
dilakukannya sesuai dengan lingkungan tempat tinggalnya. Materi yang dipelajari antara lain
mata pencaharian hidup, pola hubungan dengan orang-orang yang ada di sekitarnya, dan pola
pikir dalam menyikapi suatu permasalahan.[1]
B. Pengertian kota menurut para ahli
1. Max Weber berpendapar bahwa “suatu tempat adalah kota apabila penghuni setempatnya
dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan ekonominya di pasar lokal. Barang-barang itu
harus dihasilkan oleh penduduk dari pedalaman dan dijualbelikan di pasar itu. Jadi menurut
Max Weber, ciri kota adalah adanya pasar, dan sebagai benteng, serta mempunyai sistem
hukum dan lain-lain tersendiri, dan bersifat kosmopolitan.
2. Cristaller dengan “central place theory”-nya menyatakan kota berfungsi menyelenggarakan
penyediaan jasa-jasa bagi daerah lingkungannya. Jadi menurut teori ini, kota diartikan
sebagai pusat pelayanan. Sebagai pusat tergantung kepada seberapa jauh daerah-daerah
sekitar kota memanfaatkan penyediaan jasa-jasa kota itu. Dari pandangan ini kemudian kota-
kota tersusun dalam suatu hirarki berbagai jenis.
3. Sjoberg berpendapat bahwa , sebagai titik awal gejala kota adalah timbulnya golongan
literati (golongan intelegensia kuno seperti pujangga, sastrawan dan ahli-ahli keagamaan),
atau berbagai kelompok spesialis yang berpendidikan dan nonagraris, sehingga muncul
pembagian kerja tertentu. Pembagian kerja ini merupakan cir-kota.
4. Wirth, mendifinisikan kota sebagai “pemukiman yang relatif besar, padat dan permanen,
dihuni oleh orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya. Akibatnya hubungan sosialnya
menjadi longgar acuh dan tidak pribadi (impersonal relation)
5. Karl Marx dan F.Engels memandang kota sebagai “persekutuan yang dibentuk guna
melindungi hak milik dan guna memperbanyak alat-alat produksi dan alat –alat yang
diperlukan agar anggota masing-masing dapat mempertahankan diri”. Perbedaan antara kota
dan pedesaan menurut mereka adalah pemisahan yang besar antara kegiatan rohani dan
materi.
6. Harris dan Ullman , berpendapat bahwa kota merupakan pusat pemukiman dan
pemabfaatan bumi oleh manusia. Kota-kota sekaligus merupakan paradoks. Pertumbuhannya
yang cepat dan luasnya kota-kota menunjukkan keunggulan dalam mengeksploitasi bumi,
tetapi di pihak lain juga berakibta munculnya lingkungan yang miskin bagi manusia. Yang
perlu diperhatikan, menurut Harris dan Ullman adalah bagaimana membangun kota di masa
depan agar keuntungan dari konsentrasi pemikiman tidak mendatangkan kerugian atau paling
tidak kerugian dapat diperkecil.
7. Menurut ahli geografi indonesia yakni Prof.Bintarto, (1984:36) sebagai berikut :kota dapat
diartikan sebagai suatu sistem jaringan kehidupan manusia yang ditandai dengan strata sosial
ekonomi yang heterogen dan coraknya yang materialistis, atau dapat pula diartikan sebagai
benteng budaya yang ditimbulkan oleh unsur-unsur alami dan non alami dengan gejala-gejala
pemutusan penduduk yang cukup besar dengan corak kehidupan yang bersifat heterogen dan
materialistis dibandingkan dengan daerah belakangnya.”
8. Menurut Arnold Tonybee, sebuahkota tidak hanya merupakan pemukiman khusus tetapi
merupakan suatu kekomplekan yang khusus dan setiap kotamenunjukkan perwujudan
pribadinya masing-masing.[2]

Perkembangan Teori Sosiologi di Prancis
a) AUGUSTE COMTE (1798-1857)
Comte merupakan orang pertama yang menggunakan kata sosiologi dalam upaya
mempelajari tentang perilaku manusia. Meskipun Comte yang memberikan istilah positivis,
gagasan yang terkandung dalam kata itu bukan dari dia asalanya. Kaum positivis percaya
bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam dan bahwa metode-metode penelitian empiris
dapat dipergunakan untuk menemukan hukum-hukumnya. Comte melihat masyarakat sebagai
suatu keseluruhan organic yang kenyataannya lebih dari pada sekedar jumlah bagian-bagian
yang saling tergantung, tetapi untuk mengerti kenyataan ini.
Comte berpendirian bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam dan bahwa
memperoleh pengetahuan tentang masyarakat menunutut penggunaan metode-metode
penelitian empiris dari ilmu-ilmu alam lainnya, merupakan sumbangannya ang tak terhingga
nilanya terhadap perkembangan sosiologi. Comte melihat perkembangan ilmu tentang
masyarakat yang bersifat alamiah ini sebaga puncak suatu proses kemajuan intelektual yang
logis melalui semua ilmu-ilmu lainnya.
Social statics dan social dynamics
Comte membagi sosiologi menjadi dua bagian, yaitu apa yang disebut dengan social
statics dan social dynamics. Dengan social statics dimaksudkannya sebagai suatu studi
tentang hokum-hukum aksi dan reaksi antara bagian-bagian dari suatu system social. Bagian
yang paling penting dari sosiologi menurut Comte adalah apa yang disebutnya dengan social
dynamics, yang didefinisikannya sebagai teori tentang perkembangan dan kemajuan
masyarakat manusia.
[1]

Social statics dimaksudkan Comte sebagai teori tentang wajib daar masyarakat.
Sekalipun social statics merupakan bagian yang lebih elementer dalam sosiologi tetapi
kedudukannya tidak begitu penting dibandingkan social dynamic. Fungsi dari social static
adalah untuk mencari hokum-hukum tentang aksi dan reaksi dari pada berbagai bagian di
dalam suatu system social.
[2]

Hukum Tiga Tahap
Hukum tiga tahap merupakan usaha Comte untuk menjelaskan kemajuan evolusioner
ummat manusia dari masa primitive sampai ke peradaban Prancis abad ke Sembilan belas
yang sangat maju. Hokum ini menjelaskan bahwa masyarakat-masyarakat (atau manusia)
berkembang melalui tiga tahap utama, tahap-tahap ini ditentukan menurut cara berpikir yang
dominan: teologis, metafisik, dan positif.
Tahap teologis merupakan periode yang paling lama dalam sejarah manusia, dan untuk
analisa terperinci maka Comte membaginya kedalam periode fetisisme, politeisme dan
monoteisme.
Tahap metafisik terutama merupakan tahap transisi antara tahap teologis dan positif.
Tahap ini ditandai oleh satu kepercayaan akan hokum-hukum alam yang asasi yang dapat
ditemukan dengan akal budi.
Tahap positif ditandai oleh kepercayaan akan data empiris sebagai data pengetahuan
terakhir. Tetapi pengetahuan selalu sementara sifatnya, tidak mutlak; semangat positivisme
memperlihatkan suatu keterbukaan terus-menerus terhadap data baru atas dasar mana
pengetahuan dapat ditinjau kembali dan diperluas.
[3]


b) EMILE DURKHEIM (1858-1917)
Kenyataan Fakta Sosial
Asumsi umum yang paling fundamental yang mendasari pendekataan Durkheim
terhadap sosiologi adalah bahwa gejala social itu riil dan mempengaruhi kesadaran individu
serta perilakunya yang berbeda dari karakteristik psikologis, biologis, atau karakteristik
individu lainnya. Lebih lagi karena gejala social merupakan fakta yang riil, gejala-gejala itu
dapat dipelajar dengan metode-metode empiric, yang memungkinkan satu ilmu sejati tentang
masyarakat dapat dikembangkan.
Di dalam bab petama dari Rules, Durkheim mendifinisikan fakta social sebagai cara-
cara bertindak, berpikir dan merasa, yang berada diluar indiidu dan dimuati dengan sebuah
kekuatan memaksa, yang karenanya hal-hal itu mengontrol individu itu. Fakta social,
menurut pendapatnya, „berada diluar‟ diri individu dalam arti bahwa fakta itu dating
kepadanya dari diluar dirinya sendiri dan menguasai tingkah lakunya.
[4]
Karena itu, para
ilmuan social pasti memperlakukan fakta social sebagai „benda-benda‟ dengan cara yang
sama seperti ilmuan-ilmua alam memperlakukan objek-objek fisis yang kenyataannya harus
mereka terima dan jelaskan.
Karakteristik Fakta Sosial
Bagaimana gejala social itu benar-benar dapat dibedakan dari gejala yang benar-benar
individual? Durkheim mengemukakan dengan tegas tiga karakteristik yang berbeda: Pertama,
gejala social bersifat eksternal terhadap individu. Karakteristik fakta social
yang Kedua adalah bahwa fakta itu memaksa individu. Jelas bagi Durkheim bahwa individu
dipaksa, di bimbing, di yakinkan, didorong atau dengan cara tertentu di pengaruhi oleh
pelbagai tipe fakta social dalam lingkungan sosialnya.
Karakteristik fakta social yang ketiga adalah bahwa fakta itu bersifat umum atau
tersebar secara meluas dalam suatu masyarakat. Dengan kata lain, fakta social itu merupakan
milik bersama bukan sifat individu perorangan. Sifat umumnya ini bukan sekedar hasil dari
penjumlahan beberapa fakta individu. Fakta social benar-benar bersifat kolektif, dan
pengaruhnya terhadap individu merupakan hasil dari sifat kolektifnya ini
Fakta social material dan nonmaterial
Durkheim membedakan dua tipe ranah fakta social, yaitu material dan nonmaterial.
Fakta material diwakili oleh gaya arsitektur, bentuk teknologi, hokum dan perundang-
undangan. Memang relative mudah di pahami karena keduanya bisa diamati secara langsung.
Durkheim mengakui bahwa fakta social nonmaterial memiliki batasan tertentu, ia ada
dalam pikiran manusia. Akan tetapi dia yakin bahwa ketika orang memulai berinteraksi
secara sempurna, maka interaksi itu akan mematuhi hukumnya sendiri. Durkheim membagi
fakta social nonmaterial menjadi empat jenis; Moraitas, kesadaran kolektif, representasi
kolektif dan arus social.

II. Perkembangan Teori Sosiologi di Jerman
a) KARL MARX (1818-1883)
Alienasi
Analisa Marx tetang alenasi merupakan respons terhadap perubahan ekonomis, social,
dan politis yang dia lihat di sekelilingnya. Dia tidak ingin memahami alienasi sebagai suatu
masalah filosofis. Dia ingin memahami perubahan semacam apa yang dibutuhkan untuk
membuat suatu masyarakat bias mengekspresikan potensi kemanusiannya secara memadai.
Berkaitan dengan hal ini, Marx mengembangkan suatu pengertian penting; Sistem ekonomi
kapitalis adalah sebab utama alienasi.
Alienasi terdiri dari empat unsure dasar. Pertama, para pekerja di dalam masyarakat
kapitalis teralienasi dari aktifitas produktif mereka. Kaum pekerja tidak memproduksi objek-
objek berdasarkan ide-idenya mereka sendiri atau untuk secara langsung memenuhi
kebutuhan-kebutuhan mereka sendiri.
Kedua, pekerja tidak hanya teralienasi dari aktivitas-aktivitas produktif, akan tetapi
juga dari tujuan aktivitas-aktivitas tersebut. Produk kerja mereka tidak menjadi milik mereka
sendiri, melainkan menjadi milik para kapitalis yang mungkin saja menginginkan cara-cara
yang mereka inginkan.
Ketiga, para pekerja di dalam kapitalisme teralienasi dari sesame pekerja. Asumsi
Marx adalah bahwa manusia pada dasarnya membutuhkan dan menginginkan bekerja secara
kooperatif untuk mengambil apa yang mereka butuhkan dari alam untuk terus bertahan.
Keempat, para pekerja dalam masyarakat kapitalis teralienasi dari potensi kemanusiaan
mereka sendiri. Kerja tidak lagi menjadi transformasi dan pemenuhan sifat dasar manusia kita,
akan tetapi membuat kita merasa kurang menjadi manusia dan kurang menjadi diri kita
sendiri.
[5]

Teori Konflik
Teori konflik melihat elemen-elemen dan komponen-komponen dalam masyarakat
merupakan suatu persaingan dengan kepentingan yang berbeda sehingga pihak yang satu
selalu berusaha menguasai pihak yang lain. Pihak yang kuat berusaha menguasai pihak yang
lemah. Dengan demikian konflik menjadi tak terhindarkan. Asumsi dasar teori konflik adalah.
a. Struktur dan jaringan dalam masyarakat merupakan persaingan antar
kepentingan dan bahkan saling bertentangan satu sama lain.
b. Sehingga dalam kenyataan menunjukkan bahwa system sosial dalam
masyarakat menimbulkan konflik.
c. Karena konflik adalah sesuatu yang tak terelak, maka konflik menjadi
salah satu cirri dari system sosial.
d. Konflik ini tampak dalam kepentingan-kepentingan dalam kelompok –
kelompok masyarakat yang berbeda-beda.
e. Selain itu konflik juga terjadi dalam pembagian sumber-sumber daya
dan kekuasaan yang tidak merata dan tidak adil.
[6]

Sehingga konflik menungkinkan terjadinya perubahan-perubahan dalam masyarakat. Dan
perubahan yang akan terjadi tentu saja perubahan ke arah yang lebih baik atau bisa juga
sebaliknya.
Pertentangan Kelas (Teori Kelas)
Teori kelas dari Marx berdasarkan pemikiran bahwa: “sejarah dari segala bentuk
masyarakat dari dulu hingga sekarang adalah sejarah pertikaian antar golongan”. Menurut
pandangannya, sejak masyarakat manusia mulai dari bentuknya yang primitive secara relative
tidak berbeda satu sama lain.
Analisa Marx selalu mengemukakan bagaimana hubungan antar manusia terjadi dilihat
dari hubungan antara posisi masing-masing terhadap sarana-sarana produksi, yaitu dilihat
dari usaha yang berbeda dalam mendapatkan sumber-sumber daya yang langka.
Ada dua macam kelas yang ditemukan Marx ketika menganalisi kapitalisme: yaitu
kelas borjuis dan kelas proletar. Kelas borjuis merupakan nama khusus untuk para kaum
kapitalis dalam ekonomi modern. Mereka memiliki alat-alat produksi dan mempekerjakan
pekerja upahan. Pertentangan antara konflik antar kelas borjuis dan kelas proletar adalah
contoh lain dari kontradiksi antara kerja dan kapitalisme.
[7]


b) MAX WEBER (1864-1920)
Tindakan Sosial
Keseluruhan sosiologi Weber didasarkan pada pemahamannya tentang tindakan social.
Ia membedakan tindakan dengan perilaku yang murni reaktif. Mulai sekarang konsep
perilaku dimaksudkan sebagai perilaku otomatis yang tidak melibatkan proses pemikiran.
Bagi Weber, sosiologi adalah suatu ilmu yang berusaha memahami tindakan-tindakan social
dengan menguraikannya dengan menerangkan sebab-sebab tindakan tersebut.
[8]

Bagi Weber cirri yang mencolok dari hubungan-hubungan social yang menyusun
sebuah masyarakat dapat dimengerti hanya dengan mencapai sebuah pemahaman mengenai
segi-segi subjektif dari kegiatan-kegiatan antar pribadi dari para anggota masyarakat itu. Oleh
karena itu melalui analisis atas berbagai macamtindakan manusialah kita memperoleh
pengetahuan mengenai cirri dan keanekaragaman masyarakat-masyarakat manusia.
[9]

Dalam teori tindakannya, tujuan Weber tak lain adalah memfokuskan perhatian pada
individu, pola dan regularqitas tindakan, dan bukan pada kolektivitas. Tindakan dalam
pengertian orientasi perilaku yang dapat dipahami secara subjektif hanya hadir sebagai
perilaku seorang atau beberapa orang manusia individual.
Weber memisahkan empat tindakan social di dalam sosiologinya, yaitu apa yang
disebut:
a. Zweck Rational (Rasionalitas instrumental), yaitu tindakan social yang menyandarkan diri
kepada pertimbangan-pertimbangan manusia yang rasional ketika menanggapi lingkungan
eksternalnya. Dengan perkataan lain zweck rational adalah suatu tindakan social yang
ditujukan untuk mencapai tujuan semaksial mungkin dengan menggunakan dana serta daya
seminimal mungkin.
b. Wert Rational (Rasionalitas yang berorientasi nilai), yaitu tindakan social yang rasional,
namun yang mendasarkan diri kepada suatu-suatu nilai absolute tertentu. Nilai-nilai yang
dijadikan sandaran ini bisa nilai etis, estetika, keagamaan atau pula nilai-nilai lain. Jadi di
dalam tindangan berupa wert ration ini manusia selalu menyandarkan tindakan yang rasional
pada suatu keyakinan terhadap suatu nilai tersebut.
c. Affectual (tindakan afektif), yaitu suatu tindakan social yang timbul karena dorongan atau
motivasi yang sifatnya emosional. Ledakan kemarahan seseoang misalnya, atau ungkapan
rasa cinta, kasihan, adalah contoh dari tindakan affectual.
d. Tradisional, yaitu tindakan social yang didorong dan berorientasi kepada tradisi masa
lampau. Tradisi di dalam pengertian ini adalah suatu kebiasaan bertindak yang berkembang
di masa lampau. Mekanisme tindakan semacam ini selalu berlandaskan hukum-hukum
normative yang telah ditetapkan secara tegas-tegasan oleh masyarakat.
[10]


c) GEORGE SIMMEL (1858-1918)
Teori Pertukaran Nilai
Teori ini berangkat dari asumsi dasar „do ut des” artinya saya memberisupaya engkau
juga memberi. Menurut Goerge Simmel peletak toeri ini, semua kontak di antara manusia
bertolak dari skema memberi dan memdapatkan kembali dalam jumlah yang sama.
Pendukung teori ini merumuskan ke dalam lima proposisi yang saling berhubungan satu
sama lain. Dalam setiap tindakan, semakin sering suatu tindakan tertentu memperoleh
ganjaran atau upah atau manfaat, maka semakin sering orang tersebut akan melakukan
tindakan yang sama. Misalnya, seseorangakan meminta nasihat pada seorang psikiatris, kalau
ia merasa bahwa nasehat orang itu sangat berguna baginya.
[11]

Jika di masa lalu ada stimulus yang khusus atau satu perangkat stimulus yang
merupakan peristiwa di mana tindakan seseorang mempeoleh ganjaran, maka semakin stimuli
itu mirip dengan stimuli masa lalu, semakin besar kemungkinan orang itu melakukan
tindakan serupa. Contoh, seorang nelayan menebar jala di laut yang dalam dan gelap
dan menangkap banyak ikan, maka ia cenderung melakukan hal yang sama kemudiannya.
Semakin tinggi nilai suatu tindakan, maka semakin senang seseorangmelakukan
tindakan itu. Misalnya, apabila bantuan yang saya berikan kepada orang itu bernilai, maka
kemingkinan besar saya akan melakukan tindakan yang sama lagi. Sebaliknya bila bantuan
kurang bernilai, tidak mungkin diulangi lagi.
Semakin sering seseorang menerima satu ganjaran dalam waktu yangberdekatan, maka
semakin kurang bernilai ganjaran tersebut. Di sini unsure waktu memainkan peranan penting.
Misalnya, apabila seseorang menerima pujian dari orang yang sama dalam waktu yang
berdekatan, maka semakin kurang bernilai pujian itu baginya.
Bila tindakan seseorang tidak memperoleh ganjaran yang diharapkan atau menerima
hukuman, maka ia menjadi marah atau kecewa. Sebaliknya bila seseorang menerima
ganjaran yang lebih besar dari apa yang ia harapkan, maka ia merasa senang dan lebih besar
kemungkinan ia melakukan perilaku yang disenanginya.
Uang Dan Nilai
Secara umum Simmel berpendapat bahwa orang menciptakan nilai dengan menciptakan
objek, memisahkan dirinya dari objk-objek tersebut, dan selanjutnya berusaha mengatasi
jarak, kendala dan kesulitan. Semakin besar kesulitan untuk mendapatkan suatu objek maka
semakin besar pula nilainya. Prinsup umumnya adalah bahwa nilai benda berasal dari
kemampuan orang untuk menjarakkan dirinya secara tepat dengan objeknya. Benda-benda
yang terlalu dekat, terlalu mudah diperoleh, dan tidak terlalu berharga perlu upaya tertentu
untuk agar dianggap bernilai. Sebaliknya, benda-benda yang terlalu jauh, terlalu sulit, atau
nyaris diperoleh juga sangat tidak bernilai. Benda-benda yang menghalangi sebagian besar,
jika tidak semua, upaya untuk memperolehnya semakin tidak bernilai di mata kita.
[12]

Dalam konteks umum nilai inilah Simmel mendiskusikan uang. Dalam ranah ekonomi,
uang berperan dalam menciptakan jarak dengan objek yang ditawarkan diri jadi sarana untuk
mengatasi jarak tersebut. Nilai uang yang melekat pada objek dalam ekonomi modrn
menyebabkan kita berjarak darinya; kita tidak dapat memperolehnya tanpa uang. Kesulitan
untuk mendapatkan uang dan objek-objek tersebut menjadikannya bernilai bagi kita. Pada
saat yang sama, sekali kita dapat uang yang banyak maka kita mampu mengatasi jarak antara
diri kita dengan objek. Dengan demikian uang memiliki fungsi yang unik, menciptakan jarak
antara orang denga objk dan kemudian menjadi sarana untuk mengatasi jarak tersebut.

KESIMPULAN
Dari penjelasan yang sangat detail dan rumit diatas maka teori-teori sosiologi dasar bisa
disimpulkan menjadi sangat mudah sebagai berikut:
Nama tokoh Masa Dedikasi Teori-teorinya
Auguste Comte Prancis 1798-1857
 Social statics dan social
dynamics
 Hukum Tiga Tahap

Emile Durkheim Prancis 1858-1917
 Kenyataan Fakta Sosial
 Karakteristik Fakta Sosial
 Fakta social material dan
nonmaterial

Karl Marx Jerman 1818-1883
 Alienasi
 Teori Konflik
 Pertentangan Kelas (Teori
Kelas)

Max Weber Jerman 1864-1920
 Tindakan Sosial

George Simmel Jerman 1858-1918
 Teori pertukaran nilai
 Uang Dan Nilai


A. Teori Evolusi
- Premis-Premis (Pernyataan) Teori Evolusi:
1. Sebuah Masyarakat akan senantiasa mengalami perubahan.
2. Perubahan itu akan senantiasa bergerak maju dan tidak akan bergerak mundur.
3. Perubahan yang akan dilalui oleh setiap masyarakat, berjalan dalam tiga tahap:
- Tahap Teologis
Tahap Teologis adalah tahapan di mana masyarakat mencoba mencari penjelasan akan
realitas alam dengan berdasarkan pada kekuatan adikodrati. Tahapan teologis memiliki
tiga sub-tahapan, yaitu tahap animisme, politheisme, dan monotheisme.
Pada tahapan animisme, masyarakat memandang bahwa setiap benda itu berjiwa.
Pada tahapan politheisme, masyarakat percaya akan kekuatan banyak dewa.
Pada tahapan monotheisme, masyarakat percaya akan kekuatan satu Tuhan.
- Tahap Metafisis
Tahap Metafisis adalah tahapan di mana masyarakat mencoba mencari penjelasan akan
realitas alam dengan berdasarkan ide-ide abstrak.
Pada tahapan metafisis ini, masyarakat selangkah lebih maju dibanding dengan mereka
yang berada pada tahapan teologis. Pada tahapan ini, orang sudah mulai menggunakan
jalan pemikiran yang logis untuk menemukan penyebab dari realitas alam yang ada.
Orang-orang pada tahapan ini, belum mampu membahasakan penyebab itu dengan
bahasa yang jelas.
- Tahap Positivisme
Tahap positivism adalah tahapan di mana masyarakat mencoba mencari penjelasan akan
realitas alam dengan berdasarkan pada ilmu-ilmu positif. Ini adalah tahapan yang paling
modern karena sudah berdasarkan pada alur pemikiran yang logis rasional dan
pemikiran itu mampu dibahasakan dengan bahasa-bahasa yang jelas.
4. Perubahan itu akan senantiasa berjalan secara beruntun dan bertahap.

B. Teori Strukturalis Fungsional
- Premis-premis Teori Struktural Fungsional:
1. Setiap masyarakat tersusun atas sistem-sistem kecil.
2. Sistem-sistem yang memiliki daya guna bagi masyarakat, akan bertahan dengan
sendirinya di dalam masyarakat itu. Sementara, sistem-sistem yang tidak memiliki daya
guna, akan hilang dengan dirinya sendiri.
3. Hilangnya sistem-sistem yang tidak berguna itu juga didukung oleh adanya kekuatan
eksternal yang mempengaruhinya.

C. Teori Konflik
- Premis-premis:
1. Setiap orang memiliki kepentingannya sendiri-sendiri.
2. Masing-masing orang akan berusaha mewujudnyatakan kepentingannya itu.
3. Cara yang digunakan untuk mewujudkan kepentingan itu adalah dengan
menggunakan Power (kekuatan). Orang akan sebisa mungkin menguasai orang lain
terlebih dahulu agar ia dapat mewujudnyatakan kepentingan pribadinya itu. Hanya
dengan menguasai orang lain itulah, ia dapat mencapai kepentingan pribadinya itu. Di
sinilah, saling terjadi konflik untuk menguasai.

Catatan: Teori Konflik muncul sebagai kritik atas Teori Struktural Fungsional. Apa yang
dikritik teori konflik? Yang dikritik teori konflik adalah pemahaman teori structural
fungsional terhadap konsensus. Teori structural fungsional menganggap bahwa
consensus (nilai-nilai bersama) adalah sesuatu yang mengikat sebuah masyarakat. Tapi,
teori konflik mengkritik bahwa yang mengikat sebuah masyarakat bukanlah consensus
itu. Yang mengikat sebuah masyarakat adalah penguasa (si pemilik kekuasaan).
Konsensus hanyalah alat buatan si penguasa itu sendiri.

D. Teori Interaksionisme Simbolik
- Premis-Premis:
1. Dalam setiap masyarakat, pasti terdapat individu-individu yang saling berinteraksi
satu sama lain.
2. Interaksi itu dilakukan dengan menggunakan symbol-simbol. Simbol-simbol itu
berupa bahasa, budaya, tradisi, tanda-tanda, dan sebagainya.
3. Makna-makna symbol yang digunakan dalam proses interaksi itu adalah makna yang
sudah disepakati bersama dalam masyarakat itu.

E. Teori Pertukaran Sosial
- Premis-Premis:
1. Setiap individu dalam masyarakat pasti akan melakukan tindakan sosial.
2. Tindakan sosial yang dilakukan pasti memiliki motif. Setiap orang akan selalu memiliki
alasan terpendam dalam melakukan tindakan tersembunyi itu.

merupakan sumbangannya ang tak terhingga nilanya terhadap perkembangan sosiologi.[1] Social statics dimaksudkan Comte sebagai teori tentang wajib daar masyarakat. Yang perlu diperhatikan. Menurut Arnold Tonybee. Social statics dan social dynamics Comte membagi sosiologi menjadi dua bagian. Bagian yang paling penting dari sosiologi menurut Comte adalah apa yang disebutnya dengan social dynamics. Comte melihat perkembangan ilmu tentang masyarakat yang bersifat alamiah ini sebaga puncak suatu proses kemajuan intelektual yang logis melalui semua ilmu-ilmu lainnya. sebuahkota tidak hanya merupakan pemukiman khusus tetapi merupakan suatu kekomplekan yang khusus dan setiap kotamenunjukkan perwujudan pribadinya masing-masing. atau dapat pula diartikan sebagai benteng budaya yang ditimbulkan oleh unsur-unsur alami dan non alami dengan gejala-gejala pemutusan penduduk yang cukup besar dengan corak kehidupan yang bersifat heterogen dan materialistis dibandingkan dengan daerah belakangnya. yaitu apa yang disebut dengan social statics dan social dynamics. Dengan social statics dimaksudkannya sebagai suatu studi tentang hokum-hukum aksi dan reaksi antara bagian-bagian dari suatu system social. Kaum positivis percaya bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam dan bahwa metode-metode penelitian empiris dapat dipergunakan untuk menemukan hukum-hukumnya. Comte melihat masyarakat sebagai suatu keseluruhan organic yang kenyataannya lebih dari pada sekedar jumlah bagian-bagian yang saling tergantung. (1984:36) sebagai berikut :kota dapat diartikan sebagai suatu sistem jaringan kehidupan manusia yang ditandai dengan strata sosial ekonomi yang heterogen dan coraknya yang materialistis. tetapi untuk mengerti kenyataan ini.[2] Perkembangan Teori Sosiologi di Prancis a) AUGUSTE COMTE (1798-1857) Comte merupakan orang pertama yang menggunakan kata sosiologi dalam upaya mempelajari tentang perilaku manusia. Meskipun Comte yang memberikan istilah positivis. yang didefinisikannya sebagai teori tentang perkembangan dan kemajuan masyarakat manusia. Sekalipun social statics merupakan bagian yang lebih elementer dalam sosiologi tetapi . menurut Harris dan Ullman adalah bagaimana membangun kota di masa depan agar keuntungan dari konsentrasi pemikiman tidak mendatangkan kerugian atau paling tidak kerugian dapat diperkecil.Bintarto. 7. gagasan yang terkandung dalam kata itu bukan dari dia asalanya.tetapi di pihak lain juga berakibta munculnya lingkungan yang miskin bagi manusia.” 8. Menurut ahli geografi indonesia yakni Prof. Comte berpendirian bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam dan bahwa memperoleh pengetahuan tentang masyarakat menunutut penggunaan metode-metode penelitian empiris dari ilmu-ilmu alam lainnya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->