P. 1
Mbs

Mbs

|Views: 31|Likes:
Published by Teh Arsya

More info:

Published by: Teh Arsya on Nov 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/25/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah.

Perkembangan ilmu pengetahuan sangat ditentukan oleh perkembangan dunia pendidikan, di mana dunia pendidikan mempunyai peran yang sangat strategis dalam menentukan arah maju mundurnya kualitas pendidikan. Hal ini bisa dirasakan ketika sebuah lembaga pendidikan dalam menyelenggarakan pendidikan yang benar-benar bagus, maka dapat dilihat kualitasnya, berbeda dengan lembaga pendidikan yang melaksanakan pendidikan hanya dengan sekedarnya maka hasilnya pun biasa-biasa saja. Selanjutnya adanya Perubahan sistem pendidikan nasional, dari undang-undang No.2 Tahun 1989 menjadi undang-undang No. 20 Tahun 2003, merupakan upaya pembaharuan pendidikan kearah peningkatan mutu. Upaya peningkatan mutu beralih menjadi tangggung jawab sekolah dengan diberlakukannya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), sejalan dengan eraotonomi daerah. Banyak konsep pendidikan dalam UU Sisdiknas 2003 yang bernilai filosofis, yang dapat membangun ”Paradigma Baru” pendidikan Indonesia. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, telah semakin meningkatkan tuntunan kebutuhan sosial masyarakat. Pada akhirnya tuntunan tersebut bermuara kepada pendidikan, karena masyarakat meyakini bahwa pendidikan mampu menjawab dan mengantisipasi berbagai tantangan tersebut. Pendidikan merupakan salah satu upaya yang dapat. dilakukan oleh sekolah sebagai institusi tempat masyarakat berharap tentang kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang. Pendidikan perlu perubahan yang dapat dilakukan melalui perubahan dan peningkatan dalam pengelolaan atau manajemen pendidikan di sekolah.

Chapman (1990) dalam Fattah (2003 : 28) menjelaskan bahwa : “Manajemen berbasis sekolah (MBS) sebagai terjemahan dari School Base Management adalah suatu pendekatan politik yang bertujuan untuk meningkatkan, me-redisain pengelolaan sekolah, bertujuan untuk memberikan kekuasaan dan meningkatkan partisipasi sekolah dalam upaya perbaikan kinerjanya yang mencakup guru, siswa, orang tua siswa, dan masyarakat. Manajemen Berbasis Sekolah memodifikasi struktur pemerintahan dengan memindahkan otoritas dalam pengambilan keputusan pemerintahan dan manajemen ke setiap yang berkepentingan di tingkat lokal (local stakeholders)”. Dengan mengalihkan wewenang dalam keputusan dari pemerintah tingkat

Pusat/Kanwil/Kadis ke tingkat sekolah, diharapkan sekolah akan lebih mandiri dan mampu menentukan arah pengembangan yang sesuai dengan kondisi dan tuntunan lingkungan masyarakatnya. Pada pelaksanaannya disadari bahwa mengimplementasikan pemberian kewenangan kepada sekolah melalui pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) memerlukan proses dan waktu. Organisasi berwajah lokal dalam kegiatannya cenderung berdasarkan pada konsensus lewat dialog dan diskusi yang terbuka dan seimbang. Dalam kaitan ini, jabatan Kepala Sekolah yang selama ini ditunjuk oleh pemerintah perlu diganti dengan Kepala Sekolah yang dipilih oleh guru dan kelak apabila masa jabatan sudah habis Kepala Sekolah akan dievaluasi oleh guru pula. Sekolah dengan bentuk organisasi semacam itu akan memungkinkan sekolah sebagai suatu lembaga yang relatif otonom dari kekuatan politik. Kerja Kepala Sekolah beserta staf administrasi tim yang demokratis orang tua murid dilibatkan dalam pelaksanaan

pendidikan sebagai anggota bukan sebagai klien. Dari berbagai problem dan tantangan yang menyertainya, baik secara konseptual maupun secara operasional pelaksanaan model manajemen berbasis sekolah, maka urgensi penelitian ini dilaksanakan untuk mengkaji lebih mendalam pada tingkat aktualisasi realitanya yang lebih riil. Untuk itu, maka muncullah sistem baru yaitu sistem Manajemen Berbasis Sekolah. Konsep

Manajemen Berbasis sekolah (MBS) ini pertama kali muncul di Amerika Serikat. Latar belakangnya ketika itu masyarakat mempertanyakan tentang relevansi dan korelasi pendidikan yang diselenggarakan di sekolah dengan tuntutan kebutuhan masyarakat. Bertitik tolak dari kondisi tersebut, dipandang perlu membangun suatu sistem persekolahan yang mampu memberikan kemampuan dasar bagi peserta didik. Muncullah penataan sekolah melalui konsep MBS yang diartikan sebagai wujud dari reformasi pendidikan yang meredesain dan memodifikasi struktur pemerintah ke sekolah dengan pemberdayaan sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasional. (Sagala, 2004: 17). Sistem Manajemen Berbasis Sekolah merupakan suatu sistem yang menunutut agar sekolah dapat secara mandiri menggali, mengalokasikan, menentukan prioritas, mengendalikan dan mempertanggung jawabkan pemberdayaan sumber-sumber, baik kepada masyarakat maupun pemerintah (Mulyasa, 2006: 24). Pembelajaran berbasis kompetensi menekankan pembelajaran ke arah penciptaan dan peningkatan serangkaian kemampuan dan potensi siswa agar bisa mengantisipasi tantangan aneka kehidupannya. Sehingga orientasi pembelajaran yang selama ini lebih ditekankan pada aspek ”pengetahuan” dan target ”materi” yang cenderung verbalistis berubah menjadi lebih ditekankan pada aspek ”kompetensi” dan target ”keterampilan”. Tujuannya adalah untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Peningkatan mutu pembelajaran merupakan suatu proses sistematis yang dilakukan secara terus menerus dalam meningkatkan kualitas proses belajar mengajar dan faktor-faktor yang berkaitan dengan pembelajaran, dengan tujuan agar menjadi target sekolah dapat tercapai. Keberhasilan pendidikan dengan sistem MBS ini dapat diukur dari indikator-indikator yang meliputi: input, proses, output dan outcome. (Engkoswara, 1988: 54). Pertama, input yaitu diantaranya adalah kualitas guru haruslah profesional dalam pengembangan ide kreativitasnya

3. (Rahardja. diantaranya adalah masyarakat dan dunia usaha. output. 2. 4. Engkoswara.sehingga dapat menunjang mutu pembelajaran. maksudnya semua kegiatan pendidikan tidak tergantung pada pusat (pemerintah). 1999: 3). Memiliki hak otonomi yang luas dalam mengembangkan kreativitas dalam memberdayakan dan mengoptimalisasi sumber-sumber daya yang ada. (Bambang Rahardja. sistem pembelajaran MBS ini memiliki ciri-ciri lain diantaranya: 1. Oleh karena itu untuk memperbaiki mutu pendidikan. Hal ini pula yang menjadi tolok ukur peningkatan mutu pembelajaran di sekolah. Tidak bersifat sentralistik. Selain empat ciri diatas. Pemberdayaan yang dimaksud tidak akan meninggalkan fungsi dan peran guru. proses pembelajaran. sehingga keterampilan guru dalam mengelola pembelajaran sangat dibutuhkan. Non birokrasi yaitu sedikit mengesampingkan syarat-syarat hukum dan teknis pendirian sekolah. pada umumnya pembelajaran ditekankan pada proses pengajaran oleh guru (teacher teaching) dibandingkan dengan proses pembelajaran oleh murid (student learning). 1988: 54). upaya pemberdayaan pembelajaran yang difokuskan siswa belajar menjadi sangat penting. karena sekolah yang baik merupakan suatu kebanggaan baik bagi pengelola (yayasan) ataupun bagi masyarakat sekitar (Fattah. Hal ini menyebabkan proses belajar menjadi statis dan beku. Keempat. Ketiga. 2002: 5). Memiliki sifat kewiraswastaan sehingga manajemen sekolah akan lebih luwes dan inovatif. 2002: 5). Selain itu. Adapun untuk dunia usaha itu juga merupakan suatu bukti ada tidaknya peningkatan mutu pembelajaran di sekolah tersebut. semakin baik dunia usaha yang dimiliki lulusan sekolah tersebut maka semakin baik juga pula mutu sekolah tersebut. outcome meliputi jumlah lulusan ketingkat pendidikan berikutnya. ada empat alasan perlunya sekolah menerapkan program sistem dalam . Kedua.

Berdasarkan observasi awal Sebagai implementasi dari konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang demokratis berciri pada pemberian wewenang luas pada sekolah untuk mengatur pendidikan dan pengajaran sebagai aspirasi dari masyarakat kepada sekolah merupakan inti dari konsep MBS. (Umaedi. 2000: 3). Sekolah sebagai lembaga pendidikan lebih mengetahui kelebihan dan kelemahan dirinya. sehingga mereka akan berupaya seoptimal mungkin untuk melaksanakan dan mencapai target mutu pendidikan yang telah direncanakan. tidak terkecuali dengan SMP Negeri 4 Khusus yang juga telah menggunakan model manajemen berbasis sekolah. masyarakat dan pemerintah. Sekolah dapat melakukan persaingan sehat dengan sekolah lain untuk meningkatkan mutu pembelajaran dengan dukungan orangtua. 4. masyarakat dan pemerintah daerah setempat atau bahkan pemerintah pusat.sekolah negeri maupun swasta. Pada dasarnya model manajemen berbasis sekolah adalah model pengelolaan pendidikan yang mencoba diterapkan oleh sekolah. Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan dalam proses pendidikan sesuai dengan kebutuhan sekolah dan perkembangan anak didiknya. SMP Negeri 4 Khusus sebagai sebuah lembaga pendidikan yang telah berdiri cukup . sehingga mereka dapat mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk memajukan lembaganya. maka di ketahui bahwa SMP Negeri 4 Khusus adalah salah satu lembaga yang mencoba mempelopori dan menerapkan konsep MBS. Sekolah dapat mempertanggungjawabkan kinerja dan mutu pendidikan yang dihasilkan sekolah masing-masing kepada orangtua. 2. 3.Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yaitu: 1.

partisipasi. Tingkat kelulusan siswa pada setiap ujian nasional mengalami peningkatan. 6. maka penekanan pengembangan yang semula berorientasi pada kuantitas berubah menjadi kualitas. Belum diketahui ketersediaan dan kesiapan input-input pendidikan yang mendukung keterlaksanaan program manajemen peningkatan berbasis sekolah diduga belum memadai. Berdasarkan observasi awal. proses pengelolaan dan lain sebagainya. dan disentralisasi. Namun realitasnya bahwa belum sepenuhnya sekolah ini mampu melaksanakan school based management atau MBS yang diharapkan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Belum diketahui keterbukaan manajemen sekolah. dan apresiasi masyarakat terhadap sekolah ini sangatlah besar. 5. 4. proses pendidikan. baik di segi dana maupun program belum sesuai dengan yang dikehendaki. Karena orientasi kurikulum sekarang mengacu pada peningkatan kualitas manajemen yang berbasis sekolah. 3. baik dalam bidang administrasi.lama dikenal sebagai sebuah lembaga yang memiliki segudang prestasi yang sangat membanggakan baik di tingkat Kabupaten. Diduga besarnya jumlah siswa pada sekolah tersebut mengindikasikan bahwa minat. mandiri. 2. yaitu: 1. Sebagai sebuah lembaga pendidikan yang di bawah naungan pemerintah. Berdasarkan uraian sebagaimana tersebut di atas maka ada beberapa hal yang mendasari mengapa penelitian ini mengambil lokasi di SMP Negeri 4 Khusus. tenaga pengajar di sekolah tersebut telah menjalankan aktivitas mengajar dengan konsep PAIKEM. Belum ada penelitian terdahulu yang membahas tentang bagaimana implementasi manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Khusus. . Provinsi bahkan sampai pada tingkat Nasional. maka policy yang dilakukan tentu saja didasarkan pada peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Untuk mengetahui Faktor-faktor yang menghambat dan mendukung penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4 Khusus. Manfaat Penelitian 1. Diduga iklim kerjasama antara sesama komunitas sekolah. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan. Manfaat teoritis sebagai bahan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya ilmu . dengan 8. Diduga belum maskimal akuntabitas sekolah kepada stakeholders. komunitas sekolah masyarakat belum terlaksana dengan baik. Bagaimana Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum? 2. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan. 10. 2. Untuk mengetahui Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum.7. Faktor-faktor apa yang menghambat dan mendukung penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4 Khusus? C. 9. dapat dikemukakan rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut: 1. B. D. Diduga belum memadai upaya untuk memecahkan berbagai faktor-faktor penghambat dalam pengimplementasian manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Khusus. Belum terdeteksi efektifitas partisipasi komite sekolah dan dewan pendidikan dalam penggalian dana sekolah. maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.

Sebagai bahan informasi kepada mereka yang berprofesi guru dalam menggali informasi penting tentang manajemen berbasis sekolah. b. Sumber pengetahuan aktual bagi pengelola sekolah (kepala sekolah. 2.Administrasi Negara. yayasan pendidikan) dalam penerapan manajemen berbasis sekolah. Memacu partisipasi aktif masyarakat dalam memajukan mutu pendidikan . c. Manfaat praktis adalah sebagai berikut: a. Sebagai bahan informasi bagi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan umumnya dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Sulawesi Selatan khususnya Kabupaten Umum dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. d.

32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah pada hakekatnya memberi kewenangan dan keleluasaan kepada pemerintah daerah untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 10 Selanjutnya Burhanuddin (1998 : 117) “Sistem Sentralisasi atau desentralisasi dalam penyelenggaraan atau manajemen pemerintahan memiliki implikasi langsung terhadap penyelenggaraan pendidikan. ditegaskan pula bahwa daerah dibentuk berdasarkan kehendak masyarakat setempat dengan mempersyaratkan kemampuan ekonomi. luas daerah dan berbagai syarat lain yang memungkinkan daerah menyelenggarakan otonomi daerah (Pasal 5 ayat 1 dan Pasal 7 ayat 1 UU No. 32 Tahun 2004). pengawasan. mutu dan sumber dana pendidikan”. . Kewenangan diberikan kepada daerah kabupaten dan kota berdasarkan azas desentralisasi dalam wujud otonomi luas. jumlah penduduk. Berkaitan dengan aspirasi masyarakat. sistem pendidikan nasional dan manajemen pendidikan. Bidangbidang yang terkait langsung dengan sistem tersebut adalah kebijaksanaan. potensi daerah. nyata dan bertanggung jawab. Desentralisasi Pendidikan Berlakunya Undang-Undang No. Dipertegas pula “Bahwa bidang pendidikan merupakan bidang yang termasuk dalam garapan kewenangan daerah otonom atau penyerahan (pendelegasian) pemerintah pusat yang dikenal dengan desentralisasi pendidikan”.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A.

Dengan melibatkan masyarakat dalam pengelolaan sekolah. atau dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. pemerintah terhadap tuntutan masyarakat juga dapat ditunjukkan sebagai sarana peningkatan efesiensi. Kewenangan itu perlu diklarifikasikan. Pemberdayaan sekolah dengan memberikan otonomi lebih besar. relevansi. atau dari unit ke unit dibawahnya. menyebutkan bahwa desentralisasi pendidikan dalam bentuk School Base community. mutu dan pemerataan pendidikan. Hasil studinya menunjukkan bahwa terdapat potensi yang memungkinkan keberhasilan pelaksanaan desentralisasi pendidikan di Indonesia. Karena itu tidak seluruh kewenangan dapat didesentralisasikan. menetapkan. termasuk pula dari pemerintah ke masyarakat. Salah satu wujud desentralisasi yang dimaksud adalah terlaksananya proses otonomi dalam penyelenggaraan pendidikan. berkurangnya lapisan birokrasi . Kondisi tersebut secara langsung mengakibatkan menurunnya mutu pendidikan dan terganggunya proses pemerataan. diyakini dapat meningkatkan efisiensi. seperti kewenangan merumuskan.Pendelegasian bisa berarti penyerahan wewenang dari pusat ke daerah. Penekanan tersebut berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah Misalnya krisis ekonomi yang tidak dapat dihindari dampaknya terhadap pendidikan. di samping menunjukkan sikap tanggap. pemerataan dan mutu pendidikan serta memenuhi azas keadilan dan demokrasi. terutamanya berkurangnya penyediaan dana yang cukup untuk pendidikan dan menurunnya kemampuan sebagai orang tua untuk membiayai pendidikan anaknya. Kewenangan begitu luasnya. Kalster (2000 : 11). Di samping itu. pemerintah akan terbantu dalam control maupun pembiayaan sehingga dapat lebih berkonsentrasi pada masyarakat kurang mampu yang semakin bertambah jumlahnya. melaksanakan sampai dengan melakukan evaluasi terhadap suatu kebijakan yang jangkauannya bersifat nasional.

Selain hal tersebut diatas. (Umiarso dan Imam Gojali. Kedua.2010:47-48) Dengan demikian. pebisnis. Pemberian otonomi ini menuntut pendekatan manajemen yang lebih kondusif di sekolah agar dapat mengakomodasi seluruh keinginan sekaligus memberdayakan berbagai komponen masyarakat secara efektif guna mendukung kemajuan dan sistem yang ada di sekolah. anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. Dengan landasan tersebut. tuntutan orang tua. para legislator. Pertama. humanisasi dan demokrasi dalam pendidikan. ada beberapa faktor yang mendorong penerapan desentralisasi. Penerapan demokratisasi pendidikan dilakukan . Keempat. Kelima. penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat. ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. keterlibatan kepala sekolah. tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan. dan guru dalam pengambilan keputusan sekolah yang pada akhirnya mendorong mereka untuk menggunakan sumber daya yang ada seefesien mungkin untuk mencapai hasil yang optimal. Pemberian otonomi yang luas kepada sekolah merupakan kepedulian pemerintah terhadap gejala-gejala yang muncul di masyarakat serta upaya peningkatan mutu pendidikan secara umum. pemerintah mencoba untuk menerapkan desentralisasi pendidikan sebagai solusi. dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan. kelompok masyarakat. Ketiga. meningkatkan pendayagunaan potensi daerah.dalam prinsip desentralisasi juga mendukung efesiensi tersebut. serta terciptanya infrastruktur kedaerahan yang menunjang terselenggaranya sistem pendidikan yang relevan dengan tuntutan zaman. misi utama desentralisasi pendidikan adalah meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaran pendidikan. seperti terserapnya konsep globalisasi.

dengan mengikut sertakan unsur-unsur pemerintah setempat. Restrukturisasi tersebut hendaknya mencakup hal-hal berikut: (a) Struktur organisasi pendidikan hendaknya terbuka dan dinamis. serta sumber-sumber pendanaan sekolah. pendelegasian wewenang. masyarakat. Pada tataran ini. Oleh karena itu dalam desentralisasi pendidikan ada sasaran utama progaram restrukturisasi sistem dan manajemen pendidikan di indonesia. pengembangan kurikulum juga harus mampu mengembangkan kebudayaan daerah dalam rangka memajukan kebudayaan nasional. Selain itu. tercipta pula kearifan ekologi yang merupakan buah dari inovasi kurikulum berbasis lingkungan atau masyarakat. struktur dan perencanaan di tingkat sekolah. desentralisasi pendidikan mencakup tiga hal. Kurikulum dikembangkan sesuai kebutuhan lingkungan. Desentralisasi pendidikan yang efektif tidak hanya melibatkan proses pemberian kewenagan dan pendanaan yang lebih besar dari pusat ke daerah. yaitu manajemen berbasis sekolah. Ada ruang-ruang dalam pendidikan untuk membangun peserta didik agar lebih mengerti dan berbakti untuk kepentingan dan kesejahteraan bersama dengan landasan kearifan lingkungan. Artinya. sehingga mereka dapat merencanakan proses belajar megajar dan pengembangan sekolah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masingt-masing sekolah. dan orang tua dalam hubungan kemitraan dan menumbuhkan dukungan positif bagi pendidikan. Pertanyaan terpenting tentang arah desentralisasi pendidikan adalah sampai seberapa jauh sekolah-sekolah akan diberi kewenangan yang lebih besar menentukan kebijakan-kebijakan tentang organisasi dan proses belajar mengajar. manajemen guru. serta mencerminkan . Hal yang menarik adalah desentralisasi pendidikan akan berimplikasi pada tataran dunia baru pendidikan yang lebih humanis. dan inovasi pendidikan. tetapi juga meliputi pemberian kewenangan dan pendanaan yang lebih besar ke sekolah-sekolah. Dengan asas tersebut.

seperti pondok pesantren. (d) Struktur kurikulum pendidikan hendaknya mengacu pada penerapan sistem pembelajaran tuntas. (b) Sarana pendidikan dan fasilitas pembelajaran dibakukan berdasarkan prinsif edukatif sehingga lembaga pendidikan merupakan tempat yang menyenangkan untuk belajar. (h) Pendidikan berbasis masyarakat. Supervisi serta pembinaan administrasi dan akademis dilakukan oleh unsur manajemen tingkat pusat dan provinsi bertujuan untuk pengendalian mutu. kursus-kursus keterampilan dan pemagangan di tempat kerja dalam rangka pendidikan sistem ganda harus menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional. serta menjalankan syariat agama. (f) Sistem penilaian hasil belajar secara berkelanjutan perlu diterapkan di setiap lembaga pendidikan sebagi konsekuensi dari pelaksanaan pembelajaran tuntas. . tingkat partisipasi pendidikan. (c) Tenaga pendidikan terutama tenaga pengajar harus melalui proses seleksi sejak memasuki LPTK disertai sistem tunjangan ikatan dinas dan wajib mengajar. (g) Kegiatan supervisi dan akreditasi. berolahraga. (i) Formula pembiayaan pendidikan atau unit cost dan subsidi pendidikan harus didasarkan pada bobot penyelenggaraan pendidikan yang memperhatikan jumlah peserta didik. serta kontribusi masyarakat terhadap pendidikan pada setiap sekolah. tidak terikat pada penyelesaian target kurikulum secara seragam persemester dan tujuan ajaran. (e) Proses pembelajaran tuntas diterapkan dengan berbagai modus pendekatan pembelajaran. berkreasi.desentralisasi dan pemberdayaan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. kesulitan komunikasi. tingkat kesejahteraan masyarakat. berprestasi. peserta didik aktif sesuai dengan tingkat kesulitan konsep-konsep dasar yang dipelajari. sedangkan akreditasi dilakukan untuk menjamin mutu pelayanan kelembagaan. berkomunikasi.

Pemangkasan mekanisme sistem birokrasi yang berbelit-belit yang terpusat secara sentralistik telah banyak membuang biaya dan waktu sampai tiba pada tahap sasaran pendidikan yang sesungguhnya seperti perbaikan kualitas dan personil pendidikan sekolah dan peserta didik di daerah. sekolah sebagai community learning centre. dan lingkungannya dapat memberikan topangan hidup yang mengantarkan manusia yang mencintainya menikmati kesejahteraan dunia akhirat. Program ini diyakini akan memberdayakan masyarakat pemerhati pendidikan (stakeholders) dalam memberikan perhatian . (4) Pemerintah juga mencanangkan pendidikan berpendekatan Broad Base Education System (BBE) yang memberi pembekalan kepada pelajar untuk siap bekerja membangun keluarga sejahtera. Maka Di era otonomi daerah kebijakan strategis yang diambil Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah adalah : (1) Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (School Based Management) yang memberi kewenangan pada sekolah untuk merencanakan sendiri upaya peningkatan mutu secara keseluruhan.Berdasarkan hal tersebut di atas. Lingkungan sekitarnya dapat memperoleh masukan baru dari insan yang mencintainya. dan (3) Dengan menggunakan paradigma belajar atau learning paradigma yang akan menjadikan pelajar-pelajar atau learner menjadi manusia yang diberdayakan. (2) Pendidikan yang berbasis pada partisipasi komunitas (community based education) agar terjadi interaksi yang positif antara sekolah dengan masyarakat. Pada awal tahun 2001 digulirkan program MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). Dengan pendekatan itu setiap siswa diharapkan akan mendapatkan pembekalan life skills yang berisi pemahaman yang luas dan mendalam tentang lingkungan dan kemampuannya agar akrab dan saling memberi manfaat. maka pergeseran sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kewenangan lebih banyak kepada daerah kabupaten dan kota pada dasarnya memiliki tujuan agar pendidikan dapat berjalan lebih efektif dan efisien.

Realisasi dari ini. Salah satu di antaranya. termasuk pula untuk peningkatan kualitas kesejahteraan guru di sekolah itu.dan kepeduliannya terhadap dunia pendidikan. khususnya sekolah. sehingga dapat membantu kepedulian masyarakat dalam membantu pembiayaan pendidikan. komite menghimpun dana masyarakat. Tentu saja. yaitu Bantuan Operasional Sekolah (BOS). diharapkan dapat menetapkan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS). termasuk dari orangtua siswa untuk membantu operasional sekolah untuk menggapai kualitas pendidikan. namun mengikutsertakan pula guru. Dari hal di atas. terutama dalam menghimpun sumber-sumber pendanaan pendidikan. Masyarakat dituntut perannya bukan hanya membantu pembiayaan operasional pendidikan di sekolah tersebut. Namun. peran komite sekolah mulai tampak. Tujuan program MBS di antaranya menuntut sekolah agar dapat meningkatkan kualitas penyelenggaraan dan layanan pendidikan (quality insurance) yang disusun secara bersama-sama dengan Komite sekolah. wacana yang dikembangkan adalah “Sekolah Gratis” sehingga mengubur kepedulian masyarakat terhadap pendidikan yang sudah mulai terbangun dalam MBS. Namun. siswa. pada beberapa sekolah yang pemahaman anggota komite sekolah atau para .sejak program MBS ini digulirkan. Dalam menerapkan konsep MBS. tokoh masyarakat dan pemerintahan di sekitar sekolah. Program ini sesungguhnya sangat baik. mensyaratkan sekolah membentuk Komite Sekolah yang keanggotaannya bukan hanya orangtua siswa yang belajar di sekolah tersebut. sebagai salah satu bentuk tanggungjawab pemerintah pada pendidikan. melainkan membantu pula mengawasi dan mengontrol kualitas pendidikan. baik sebagai dukungan terhadap penyediaan sarana dan prasarana pendidikan maupun untuk peningkatan kualitas pendidikan. peran komite di tingkatan pendidikan dasar (SD/MI dan SMP/MTs) yang sudah mulai bagus ini terhapus kembali oleh program berikutnya. Sebetulnya. dan bahkan pengusaha.

Demikian pula. sambil berharap datang sang penyelamat. namun berbagai improvisasi di daerah telah menunjukkan warna yang lebih baik. ditinjau dari hakikat pengajaran dan sejalan dengan desentralisasi pendidikan. Padahal. pada SMTP dan SMTA sebagian kewenangan meluluskan hasil belajar siswa masih menjadi “proyek pemerintah pusat” dengan alasan sebagai pengendalian mutu lulusan. penyelenggaraan pendidikan di kelas memang seluruhnya harus menjadi kewenangan guru. lapuk. melaksanakan. Berdasarkan kewenangan profesionalnya. guru bertugas merencanakan.pendidik masih kurang. Namun. tidak heran jika banyak sekolah yang rusak. bahkan ambruk dibiarkan oleh komite sekolah. Pengelolaan pendidikan pada satuan pendidikan tertentu (sekolah) menjadi kewenangan kepala sekolah. maka penetapan akuntabilitas pendidikan melalui peran stakeholders pendidikan semakin menurun. beberapa langkah program yang telah dijalankan di beberapa daerah. berkaitan dengan kebijakan pendidikan dalam rangka peningkatan mutu berbasis sekolah dan . ujian akhir masih menjadi kewenangan dinas pendidikan kabupaten/kota. sehingga kewenangan itu jangan “direbut” oleh birokrasi pendidikan. dan mengukur hasil pembelajaran. Misalnya. Sampai saat ini hasil dari kebijakan tersebut belum tampak. evaluasi merupakan bagian dari tugas pengajaran seorang guru. yaitu pemerintah. Sehubungan dengan evaluasi kebijakan pendidikan Era Otonomi masih belum terformat secara jelas maka di lapangan masih timbul bermacam-macam metode dan cara dalam melaksanakan program peningkatan mutu pendidikan. dengan dalih “ikutikutan” pemerintah pusat mengendalikan mutu pendidikan di daerah. Demikian pula pada tingkat SD di kabupaten/kota. Dalam hal pengelolaan mikro pendidikan pun masih terdapat beberapa masalah. Kenyataan itu menunjukkan bahwa impelementasi MBS pada tataran mikro yang masih setengah hati diserahkan. menganggap seperti halnya BP3. Maka.

e) Pada tingkat persekolahan. serta bantuan peralatan praktik sekolah (7)Bantuan peningkatan SDM sebagai contoh pemberian beasiswa pada guru untuk mengikuti program Pascasarjana. c) Terdapat potensi tarik menarik antara otonomi pendidikan dalam konteks otonomi daerah dalam menempatkan kepentingan ekonomik dan finansial sebagai kekuatan tarik menarik antara pemerintahan daerah otonom dan institusi pendidikan.peningkatan mutu pendidikan berbasis masyarakat diimplementasikan sebagai berikut : (1) Telah berlakunya UAS dan UAN sebagai pengganti EBTA /EBTANAS (2) Telah dibentuknya Komite Sekolah sebagai pengganti BP3. f) Sudah selayaknya jika otonomi pendidikan harus bergandengan dengan kebijakan akuntabiliti terutama yang berkaitan dengan mekanisme . d) Kejelasan tempat bagi institusi-institusi pendidikan perlu diformulasikan agar otonomi pendidikan dapat berjalan pada relny. b) Pada sisi otonomi daerah. diantaranya: a) Secara general otonomi pendidikan menuju pada upaya meningkatkan mutu pendidikan sebagai jawaban atas “kekeliruan” kita selama lebih dari 20 tahun bergelut dengan persoalan-persoalan kuantitas. otonomi pendidikan berjalan atas dasar desentralisasi dan prinsip School Based Management pada tingkat pedidikan dasar dan menengah. atas bidang pemerintahan berlabel pendidikan yang harus disertai dengan tumbuhnya pemberdayaan dan partisipasi masyarakat. otonomi pendidikan mengarah pada menipisnya kewenangan pemerintah pusat dan membengkaknya kewenangan daerah otonom. Kebijakan otonomi pendidikan dalam konteks otonomi daerah sebagai berikut. (3) Telah diterapkan muatan lokal dan pelajaran ketrampilan di sekolah SLTP (4) Dihapuskannya sistem Rayonisasi dalam penerimaan murid baru (5) Pemberian insentif kepada guru-guru negeri (6) Bantuan dana operasional sekolah. penataan kelembagaan pada level dan tempat yang menjadi faktor kunci keberhasilan otonomi pendidikan.

apapun yang terkandung di dalamnya. sejauh yang telah dilakukan nampaknya cenderung mengambil bentuk yang terakhir. (Yoyon. i) Secara makro. khususnya selama orde baru. g)Pada level pendidikan tinggi. swastanisasi.Menguatnya aspirasi otonomi dan desentralisasi khususnya di bidang pendidikan. yang pada gilirannya mengabaikan keragaman sesuai dengan realita masyarakat Indonesia di berbagai daerah. otonomi pendidikan tinggi haruslah menonjolkan keunggulan-keunggulannya. yakni: a) Dekonsentrasi. berupa pendelegasian kewenangan ke badan usaha swasta atau perorangan. b) Pendelegasian. ada empat bentuk desentralisasi pendidikan. Sebagaimana diungkapkan Azyumardi Azra bahwa di antara masalah dan kelemahan yang sering diangkat dalam konteks ini adalah:1) Kebijakan pendidikan nasional yang sangat sentralistik dan serba seragam. h) Dalam konteks otonomi daerah. yakni pengalihan kewenangan ke pengaturan tingkat yang lebih rendah dalam jajaran birokrasi pusat. kebijakan otonomi masih tetap berada dalam kerangka otonomi keilmuan. yaitu pengalihan kewenangan ke badan quasi pemerintah atau badan yang dikelola secara publik c) Devolusi. Dalam kasus Indonesia. kebijakan otonomi pendidikan tinggi dapat ditempatkan bukan pada kepentingan daerah sematasemata melainkan pada kenyataan bahwa pendidikan tinggi adalah aset nasional. yakni pengalihan ke unit pemerintahan daerah d) Swastanisasi.2) Kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional lebih berorientasi kepada pencapaian target kurikulum.pendanaan atau pembiayaan pendidikan. pada gilirannya mengabaikan proses pembelajaran yang efektif dan . 2000:6) Menurut Fransisca Kemmerer dalam Ali Muhdi 2007:149. tidak terlepas dari kenyataan adanya kelemahan konseptual dan penyelenggaraan pendidikan nasional.

sedangkan kebijakan adalah aturan tertulis hasil keputusan formal organisasi. Kebijakan akan menjadi rujukan utama para anggota organisasi atau anggota masyarakat dalam berprilaku (Dunn. B. (3) Keppres. . Kebijakan pada umumnya bersifat problem solving dan proaktif. meskipun kebijakan juga mengatur “apa yang boleh.Kebijakan adalah aturan tertulis yang merupakan keputusan formal organisasi. 1999). kebijakan berkenaan dengan gagasan pengaturan organisasi dan merupakan pola formal yang sama-sama diterima pemerintah/lembaga sehingga dengan hal itu mereka berusaha mengejar tujuannya (Monahan dalam Syafaruddin. kebijakan lebih adaptif dan interpratatif. Berbeda dengan Hukum (Law) dan Peraturan (Regulation). dan (7) Keputusan Direktur. yaitu “Polis” yang artinya kota (city). yang mengatur prilaku dengan tujuan untuk menciptakan tata nilai baru dalam masyarakat. Kebijakan harus memberi peluang diinterpretasikan sesuai kondisi spesifik yang ada. Kebijakan Publik Dalam Dimensi Akuntabilitas. (5) Perda.mampu menjangkau seluruh ranah dan potensi anak didik. Proses pembelajaran sangat berorientasi pada ranah kognitif dengan pendekatan formalisme dan pada saat yang sama.Masih banyak kesalahan pemahaman maupun kesalahan konsepsi tentang kebijakan. 2008:75). yang bersifat mengikat. Kebijakan (policy) secar etimologi (asal kata) diturunkan dari bahasa Yunani. dan apa yang tidak boleh”. (2) Peraturan Pemerintah. Abidin (2006:17) menjelaskan kebijakan adalah keputusan pemerintah yang bersifat umum dan berlaku untuk seluruh anggota masyarakat. Contoh kebijakan adalah : (1) Undang-Undang. cenderung mengabaikan ranah afektif dan psikomotorik. (4) Kepmen. Beberapa orang menyebut policy dalam sebutan kebijaksanaan. Istilah kebijaksanaan adalah kearifan yang dimiliki oleh seseorang. Kebijakan juga diharapkan dapat bersifat umum tetapi tanpa menghilangkan ciri lokal yang spesifik. yang maknanya sangat berbeda dengan kebijakan. Dalam hal ini. (6) Keputusan Bupati.

Bukan hal yang aneh. pertimbangan tersebut dijadikan sebagai dasar untuk mengopersikan pendidikan yang bersifat melembaga. politik. keagamaan dan lainlain. misalnya kebijakan ekonomi. agar tujuan yang bersifat melembaga bisa tercapai. Kebijakan pendidikan sangat erat hubungannya dengan kebijakan yang ada dalam lingkup kebijakan publik. meso. Ketika kebijakan politik dalam dan luar negeri. Masih ingat dibenak kita ada pelajaran PSPB yang secara prinsipil tidak jauh berbeda dengan IPS sejarah dan lucunya materi itu pun di pelajari di PMP (sekarang PKN/PPKN). Fasli Jalal dan Dedi Supariadi (2001) . dan mikro. Konsekuensinya kebijakan pendidikan di Indonesia tidak bisa berdiri sendiri. Ketika ada perubahan kebijakan publik maka kebijakan pendidikan bisa berubah. Ini membuktikan bahwa kecenderungan masyarakat pada masa kini berbeda dengan masa lalu. Ali Imron dalam bukunya Analisis Kebijakan Pendidikan menjelaskan bahwa kebijakan pendidikan adalah salah satu kebijakan Negara. luar negeri.Setiap kebijakan yang dicontohkan disini adalah bersifat mengikat dan wajib dilaksanakan oleh objek kebijakan. kebijakan pendidikan biasanya akan mengikuti alur kebijakan yang lebih luas. Isu akuntabilitas akhir-akhir ini semakin gencar dibicarakan seturut dengan adanya tuntutan masyarakat akan pendidikan yang bermutu. Contoh ini juga memberi pengetahuan pada kita bahwa ruang lingkup kebijakan dapat bersifat makro.ganti menteri berganti kebijakan. Carter V Good (1959) memberikan pengertian kebijakan pendidikan (educational policy) sebagai suatu pertimbangan yang didasarkan atas system nilai dan beberapa penilaian atas factor-faktor yang bersifat situasional. Bahkan resonansinya semakin keras sekeras tuntutan akan reformasi dalam segala bidang. Bahkan pergantian menteri dapat pula mengganti kebijakan yang telah mapan pada jamannya. Pertimbangan tersebut merupakan perencanaan yang dijadikan sebagai pedoman untuk mengambil keputusan.

Empat hal penting yang dikemukakan di atas membutuhkan proses dan waktu yang tidak singkat. komitmen yang kuat untuk mencapai keunggulan. dan perangkat aturan yang jelas dan dilaksanakan secara konsisten oleh institusi pendidikan yang bersangkutan. sarana penunjang yang mamadai. 4) penghargaan dan sanksi. Sebab tidak saja dibutuhkan kemauan tetapi juga kemampuan untuk melaksanakannya.menyatakan: Bila di masa lalu masyarakat cenderung menerima apa pun yang diberikan oleh pendidikan. 2) pengetahuan. 3) keterampilan." Empat sumber daya ini jika dikelola secara baik akan meningkatkan efektivitas manajemen sekolah. Bagi lembaga-lembaga pendidikan hal ini mulai disadari dan disikapi dengan melakukan redesain sistem yang mampu menjawab tuntutan masyarakat. Fasli Jalal dan Dedi Supriadi (2001) menyatakan: Upaya untuk mencapai akuntabilitas institusi memerlukan kurikulum yang relevan yang memperhitungkan kebutuhan masyarakat. Di Indonesia telah lahir Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang bertumpu pada sekolah dan masyarakat. Caranya adalah mengembangkan model manajemen pendidikan yang akuntabel. . Susan Mohrman menyatakan. Dan efektifitas manajemen sekolah akan ditunjukkan dengan output yang berkualitas. Akuntabilitas pendidikan juga mensyaratkan adanya manajemen yang tinggi. Masyarakat yang notabene membayar pendidikan merasa berhak untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik bagi dirinya dan anak-anaknya. orang dapat berubah. Model manajemen ini menuntut keterlibatan yang tinggi dari stakeholders sekolah. jika ia memiliki kemauan sekaligus kemampuan. "Untuk mendukung pencapaian MBS telah muncul manajemen berpartisipasi tinggi yang membutuhkan empat sumber daya penting: 1) informasi. maka sekarang mereka tidak dengan mudah menerima apa yang diberikan oleh pendidikan. Dalam teori perubahan. kemampuan manajemen yang tinggi.

maka sekolah harus . mengambil keputusan. Manajemen Berbasis Sekolah yang diterapkan di Indonesia juga mensyaratkan kemampuan akuntabilitas sekolah kepada publik. Jadi. Menurut Slamet (2005:6): MBS harus dipahami sebagai model pemberian kewenangan yang lebih besar kepada sekolah. Institusi pendidikan yang akuntabel adalah institusi pendidikan yang mampu menjaga mutu keluarannya sehingga dapat diterima oleh masyarakat. sementara yang kedua sebagai akuntabilitas keuangan. akuntabilitas suatu lembaga juga bergantung kepada kemampuan suatu lembaga pendidikan mempertanggungjawabkan pengelolaan keuangan kepada publik. memimpin. Penulis mengelompokkan akuntabiltas yang pertama sebagai akuntabilitas kinerja. Ada tiga hal yang memiliki kaitan. yaitu kompetensi. selalu berusaha menjaga dan menjamin mutuya sehingga dihargai oleh masyarakat adalah lembaga pendidikan yang akuntable. dalam hal ini akuntabel tidaknya suatu lembaga pendidikan bergantung kepada mutu outputnya. dan mengontrol sekolah. Lulusan pendidikan yang dianggap telah memenuhi semua persyaratan dan memiliki kompetensi yang dituntut berhak mendapat sertifikat. dan akuntabilitas. yang meliputi kewenangan mengatur dan mengurus sekolah. yaitu kompetensi. akreditasi. Akuntabilitas tidak datang dengan sendiri setelah lembaga-lembaga pendidikan melaksanakan usaha-usahanya. Agar penyelenggara sekolah tidak sewenang-wenang dalam menyelenggarakan sekolah.Akuntabilitas yang tinggi hanya dapat dicapai dengan pengelolaan sumber daya sekolah secara efektif dan efisien. mengelola. Menurut Fasli Jalal dan Dedi Supriadi (2001:88): Tiga aspek yang dapat memberi jaminan mutu suatu lembaga pendidikan. Di samping itu. Lembaga pendidikan yang terakreditasi dan dinilai mampu untuk menghasilkan lulusan bermutu. Lembaga pendidikan beserta perangkat-perangkatnya yang dinilai mampu menjamin produk yang bermutu disebut sebagai lembaga terakreditasi (accredited). akreditasi dan akuntabilitas.

Ini berarti akuntabilitas hanya dapat terjadi jika ada partisipasi dari stakeholders sekolah.bertanggung jawab terhadap apa yang dikerjakan. Sekolah-sekolah sebagai basis penerapan manajemen pendidikan dituntut harus mampu mewujudkan akuntabilitas bagi publik. tentu menjadi tantangan tanggung jawab sekolah. isu akuntabilitas sepertinya memperoleh nafas baru. Bagaimana sekolah mampu mempertanggungjawabkan kewenangan yang diberikan kepada publik. juga masih menempuh jalan panjang. Itu berarti akuntabilitas publik menyangkut hak publik untuk memperoleh pertanggungjawaban penyelenggara sekolah. Sementara Zamroni (2008:12) mendefinsikan akuntabilias dikaitkan dengan partisipasi. Pada tahun 1976 Prime Minister Callaghan mengusulkan bahwa pendidikan sudah seharusnya lebih akuntabel kepada masyarakat dan kecenderungan umum bahwa isu-isu pendidikan seharusnya terbuka telah membuka ruang bagi untuk menanggapinya. Ketika terjadi perubahan mendasar dalam sistem pendidikan. maka akan semakin rendah pula akuntabilitas sekolah. Di Indonesia akuntabilitas dalam penyelenggaraan pendidikan. "Akuntabilitas adalah kewajiban untuk memberikan pertanggung jawaban atau untuk menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan penyelenggara organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau kewajiban untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban. Fasli Jalal dan Dedi Supriadi (2001:88) menyatakan di Indonesia banyak instituasi pendidikan yang lemah dan tidak sedikit institusi pendidikan yang tidak akuntabel. 2000). Kalau begitu apa sebenarnya akuntabilitas itu? Menurut Slamet (2005:5)." (Gipps and Golstein.kalau disimpulkan . 1983 dalam Rita Headington.Jadi. Untuk itu sekolah berkewajiban mempertanggungjawabkan kepada publik tentang apa yang dikerjakan sebagai konsekuensi dari mandat yang diberikan oleh publik. Semakin kecil partisipasi stakeholders dalam penyelenggaraan manajemen sekolah. sekalipun itu bersifat non-profesional.

Apa yang dikatakan oleh David Marsh merupakan sebuah peringatan keras akan bahaya kekacauan dalam penerapan MBS. tidak saja bagi publik tetapi pertama-tama harus dimulai bagi warga sekolah itu sendiri. Sekolah akan dianggap sebagai agen bahkan sumber perubahan masyarakat. Di Indonesia. kalau Rita Headington memberi tekanan akuntabiltas pada aspek pembelajaran yang dimotori oleh guru. Rita Headington berpendapat bahwa "Accountability has moral. Tujuan akuntabilitas adalah agar terciptanya kepercayaan publik terhadap sekolah. yaitu moral. Slamet (2005:6) menyatakan: Tujuan utama akuntabilitas adalah untuk . terjadi kekacauan dalam memahami MBS." Ketiga dimensi yang terkandung dalam akuntabilitas." Headington menekankan akuntabilitas dari guru. dan keuangan menuntut tanggung jawab dari sekolah untuk mewujudkannya. maka sebenarnya ini adalah bagian hakiki dalam penerapan MBS yang tidak boleh diabaikan oleh sekolah. Kepercayaan publik yang tinggi akan sekolah dapat mendorong partisipasi yang lebih tinggi pula terdapat pengelolaan manajemen sekolah. Secara moral maupun secara formal (aturan) guru memiliki tanggung jawab bagi siswa maupun orang tua siswa untuk mewujudkan proses pembelajaran yang baik. Sebagaimana dikatakan Rita Headington (2000:83).akuntabilitas adalah kemampuan sekolah mempertanggungjawabkan kepada publik segala sesuatu mengenai kinerja yang diperoleh sebagai hasil partisipasi dari stakeholders. juga di Negara-negara yang telah menerapkan MBS. "Teacher have a moral and legal responsibility to provide appropriate educational experiences for pupils and to report to parents and other professionals. Bahwa MBS tidak dipahami sebagai sebuah inovasi yang terpisah dari pembelajaran. hukum. Jadi. Pendapat Headington memberi tekanan pada akuntabilitas kinerja pembelajaran. legal and financial dimensions and operates at all levels of the education system. bahwa seringkali aspek pembelajaran dipahami terpisah dengan MBS.

dan nepotisme. Penerapan prinsip akuntabilitas dalam penyelenggaraan manejemen sekolah mendapat relevansi ketika pemerintah menerapkan otonomi pendidikan yang ditandai dengan pemberian kewenangan kepada sekolah untuk melaksanakan manajemen sesuai dengan kekhasan dan kebolehan sekolah. kolusi. tujuan akuntabilitas adalah menilai kinerja sekolah dan kepuasaan publik terhadap pelayanan pendidikan yang diselenggarakan oleh sekolah. b. Rumusan tujuan akuntabilitas di atas hendak menegaskan bahwa. Bahkan. Pelaksanaan prinsip akuntabilitas dalam rangka MBS tiada lain agar para pengelola sekolah atau pihak-pihak yang diberi kewenangan mengelola urusan pendidikan itu senantiasa terkontrol dan tidak memiliki peluang melakukan penyimpangan untuk melakukan korupsi. Dengan prinsip ini mereka terus memacu produktifitas profesionalnya sehingga . tetapi merupakan faktor pendorong munculnya kepercayaan dan partisipasi yang lebih tinggi lagi. Pelaksanaan Akuntabilitas dalam MBS.1.mendorong terciptanya akuntabilitas kinerja sekolah sebagai salah satu syarat untuk terciptanya sekolah yang baik dan terpercaya. maka pengelolan manajemen sekolah semakin dekat dengan masyarakat yang adalah pemberi mandat pendidikan. maka penerapan akuntabilitas dalam pengelolaan merupakan hal yang tidak dapat ditunda-tunda. Penyelenggara sekolah harus memahami bahwa mereka harus mempertanggung jawabkan hasil kerja kepada publik. boleh dikatakan bahwa akuntabilitas baru sebagai titik awal menuju keberlangsungan manajemen sekolah yang berkinerja tinggi. Oleh karena manajemen sekolah semakin dekat dengan masyarakat. untuk mengikutsertakan publik dalam pengawasan pelayanan pendidikan dan untuk mempertanggungjawabkan komitmen pelayanan pendidikan kepada publik. akuntabilitas bukanlah akhir dari sistem penyelenggaran manajemen sekolah. Selain itu. Dengan pelimpahan kewenangan tersebut.

dan antara kepala sekolah dengan guru. Mengapa. Sedangkan akuntabilitas horisontal menyangkut hubungan antara sesama warga sekolah. first and foremost. Komponen pertama yang harus melaksanakan akuntabilitas adalah guru. accountable to their pupils. karena inti dari seluruh pelaksanaan manajemen sekolah adalah proses belajar mengajar. Antar kepala sekolah dengan komite. dan kualitas output. Guru harus dapat melaksanakan ini dalam tugasnya sebagai pengajar. Dan pihak pertama di mana guru harus bertanggung jawab adalah siswa. Akuntabilitas menyangkut dua dimensi. hubungan dengan siswa menjadi penting untuk diperhatikan. maintaining pupils' involvement and helping them make progress in their learning. dan mengevaluasi siswa. Akuntabilitas keuangan dapat diukur dari semakin kecilnya penyimpangan dalam pengelolaan keuangan sekolah. Akuntabilitas vertikal menyangkut hubungan antara pengelola sekolah dengan masyarakat. They are responsible for providing work which is interesting and challenging. Pengelola sekolah harus mampu mempertanggungjawabkan seluruh komponen pengelolaan MBS kepada masyarakat. Akuntabilitas tidak saja menyangkut proses pembelajaran. Antara sekolah dan instansi di atasnya (Dinas pendidikan). Sebaliknya pengelola yang melakukan praktek korupsi tidak akan . melaksanakan pengajaran. kejujuran. Baik sumber-sumber penerimaan. tetapi juga menyangkut pengelolaan keuangan. Sebagaimana dikatakan oleh Headington (2004:88) bahwa. yakni akuntabilitas vertikal dan akuntabilitas horisontal.berperan besar dalam memenuhi berbagai aspek kepentingan masyarakat. seperti disiplin. Selain itu dalam hal keteladan. Pengelola keuangan yang bertanggung jawab akan mendapat kepercayaan dari warga sekolah dan masyarakat. besar kecilnya penerimaan. maupun peruntukkannya dapat dipertanggungjawabkan oleh pengelola. "Teacher are. Sekolah dan orang tua siswa. Akuntabilitas dalam pengajaran dilihat dari tanggung jawab guru dalam hal membuat persiapan.

Akuntabilitas mutu juga semakin memiliki arti. akuntabilitas dipengaruhi oleh kecenderungan manusia yang mengutamakan kebebasan. Codd (1999). mulai dari Departemen Pendidikan. Menurutnya Terdapat dua tipe akuntabilitas. tidak saja dari segi intelektual tetapi juga moral. seorang pakar kebijakan pendidikan dalam Marks Olssen. mempertanggungjawabkan kualitas outputnya terhadap publik. hingga di sekolahsekolah. masing-masing akuntabilitas eksternal dan akuntabilitas internal. ini disebabkan oleh karena titik tolak kedunya berbeda. menyatakan bahwa dalam perspektif global. kolusi dan nepotisme. Oleh karena itu dalam rangka penerapan MBS ini. Akuntabilitas eksternal didasarkan manajemen hirarkis. b. Keduanya memiliki ciri yang berbeda. sedangkan akuntabilitas internal . Kebebasan yang muncul secara baru (neoliberalisme) ikut mempengaruhi ketahanan moral orang dalam melaksanakan akuntabilitas. ketika Sekolah sekolah yang mampu mampu mempertanggungjawabkan outputnya terhadap publik. dkk (2004). pengelolaan keuangan sekolah harus jauh dari praktik korupsi. Temuan Indonesian Corruption Watch (ICW) awal tahun 2008 bahwa. moral individu yang baik dan didukung oleh sistem yang baik akan menjamin pengelolaan keuangan yang bersih. Informasi ini merupakan "tamparan" keras bagi dunia pendidikan.2. korupsi dalam dunia pendidikan telah menjamah. mencerminkan sekolah yang memiliki tingkat efektivitas output tinggi. Faktor-Faktor Penghambat Akuntabilitas dalam MBS. dan jauh dari praktek korupsi. Fakta menyangkut praktek korupsi dalam dunia pendidikan bukan hal baru. akan meningkatkan efisiens eksternal. Akuntabilitas tidak saja menyangkut sistem tetapi juga menyangkut moral individu. karena berbanding terbalik dengan apa yang seharusnya diajarkan lembaga pendidikan kepada anak bangsa. Jadi. Kenyataan ini sangat ironis.dipercaya. Dinas Pendidikan. Dan sekolah yang memiliki tingkat efektivitas outputnya tinggi.

sedangkan dalam akuntabilitas internal akuntabel banyak konstituen. Nilai-nilai dan budaya tersebut potensial untuk mendukung penyelenggaraan manajemen sekolah yang akuntabel.didasarkan pada tanggung jawab profesional. Kekuatannya terletak pada motivasi dan komitmen individu untuk melaksanakan akuntabilitas organisasi. sedangkan akuntabilitas internal menekankan pada komitmen. tetapi juga sebaliknya bisa menjadi penghambat. akuntabilitas eksternal memiliki kepercayaan yang rendah. maka hal-hal yang diperlihatkanpun berbeda. ketimbang etika kebiasan. Dalam sebuah ilustrasi perusahaan. Dari segi pelaksanaan tugas. Stephen Robins . Dikatakan sebagai pranata sosial karena di tempat tersebut teradapat orang-orang dari berbagai latar belakang sosial yang membentuk suatu kesatuan dengan nilai-nilai dan budaya tertentu. di sisi lain faktor dalam sangat lemah. Dalam akuntabilitas eksternal kurang mengutamakan peran moral. loyalitas. Akuntabilitas eksternal memperlihatkan proses formal dalam pelaporan dan perekaman untuk manajamen hirarkhis. Sedangkan jenis akuntabilitas internal peran moral tinggi sehingga pertimbangannya matang dan memiliki kebebasan untuk bertindak. Sebaliknya pada akuntabilitas internal faktor dari dalam diri lebih kuat ketimbang faktor luar. pada akuntabilitas eksternal terikat pada kontrak. sedangkan pada akuntabilitas internal justru sebaliknya memiliki kepercayaan yang tinggi. dan kecakapan. Oleh karena pendasaran kedua jenis akuntabilitas ini berbeda. Misalnya. pada akuntabilitas eksternal terdapat kontrol yang hirarkis. dengan melekat sebuah konsep agen moral. dan etika struktur. Selanjutnya dari segi tanggung jawab. Akuntabilitas dan Faktor nilai-budaya Sekolah sebagai tempat penyelenggaran manajemen yang akuntabel merupakan suatu pranata sosial. rasa memiliki. Kalau akuntabilitas eksternal pengaruh faktor luar sangat besar. Kedua jenis akuntabilitas di atas memiliki pendasaran yang sangat berbeda. sedangkan pada akuntabilitas internal tanggung jawab professional didelegasikan.

faktor yang mempengaruhi akuntabilitas terletak pada dua hal. tradisi organisasi. pada saat yang sama. Dalam konteks ini.(2001:14) menyatakan: Workforce diversity has important implication for management practice. dibutuhkan peran pemimpin untuk dapat mengelolanya. Menurut Slamet (2005:6) ada delapan hal yang harus dikerjakan oleh sekolah untuk peningkatan akuntabilitas: Pertama. . b. apakah anggota organisasi dapat mendukungnya? Menjadi tantangan. Apa yang dikemukakan Robins berangkat dari asumsi akan perbedaan nilai dan budaya dari setiap anggota organisasi. Para manejer harus mengubah filosofi mereka dari memperlakukan setiap orang dengan cara yang sama menjadi mengenali perbedaan dan menyikapi mereka yang berbeda dengan caracara yang menjamin kesetiaan karyawan dan peningkatan produktifitas sementara. oleh karena latar belakang tadi. melainkan merupakan produk dari masyarakat dengan budaya tertentu. oleh karena itu perlu ada upaya nyata sekolah untuk mewujudkannya. Akuntabel merupakan nilai yang hendak ditegakan organisasi. Sistem menyangkut aturan-aturan. Kalau ditelisik lebih jauh faktor orang sendiri sebenarnya tidak berdiri sendiri. Artinya.3. yakni faktor sistem dan faktor orang. Sedangkan faktor orang menyangkut motivasi. tidak melakukan diskriminasi. keberagaman tenaga kerja mempunyai implikasi penting pada praktik manajemen. persepsi dan nilai-nilai yang dianutnya mempengaruhi kemampuannya akuntabilitas. tetapi ada juga yang sebaliknya. Ada nilai-nilai yang dapat mendukung nilai-nilai organisasi.Upaya-Upaya Peningkatan Akuntabilitas dalam MBS. at the same time not discriminating. Manager will need to shift their philosophy from treating every one alike to recognizing differences and responding to those differences in ways that will ensure employe retention and greater productivity while. Bagaimanapun juga pengelolaan MBS mensyaratkan akuntabilitas yang tinggi. Jadi.

menyusun indikator yang jelas tentang pengukuran kinerja sekolah dan disampaikan kepada stakeholders. Kelima. sehingga dapat digerakan untuk mewujudkan dan meningkatkan akuntabilitas. Keenam. memperbaharui rencana kinerja yang baru sebagai kesepakatan komitmen baru. Alih-alih sekolah mengetahui sumber dayanya. melakukan pengukuran pencapaian kinerja pelayanan pendidikan dan menyampaikan hasilnya kepada publik/stakeholders diakhir tahun. Keempat. sekolah perlu menyusun pedoman tingkah laku dan sistem pemantauan kinerja penyelenggara sekolah dan sistem pengawasan dengan sanksi yang jelas dan tegas. sebagaimana dinyatakan oleh Slamet (2005:7): Beberapa indikator keberhasilan akuntabilitas adalah: 1. Ketiga. Meningkatnya kepercayaan dan kepuasan publik terhadap sekolah. semuanya bertumpu pada kemampuan dan kemauan sekolah untuk mewujudkannya. Komite sekolah. Ketujuh. kelompok profesi. Dengan begitu stakeholders sejak awal tahu dan merasa memiliki akan sistem yang ada. dapat dilihat pada beberapa hal. orang tua siswa. Untuk mengukur berhasil tidaknya akuntabilitas dalam manajemen berbasis sekolah. Tumbuhnya kesadaran publik tentang hak untuk menilai terhadap penyelenggaraanpendidikan di sekolah . dan pemerintah dapat dilibatkan untuk melaksanakannya. menyediakan informasi kegiatan sekolah kepada publik yang akan memperoleh pelayanan pendidikan. Kedelapan. memberikan tanggapan terhadap pertanyaan dan pengaduan publik. Sekolah dapat melibatkan stakeholders untuk menyusun dan memperbaharui sistem yang dianggap tidak dapat menjamin terwujudnya akuntabilitas di sekolah.sekolah harus menyusun aturan main tentang sistem akuntabilitas termasuk mekanisme pertanggungjawaban. Kedelapan upaya di atas. sekolah menyusun rencana pengembangan sekolah dan menyampaikan kepada publik/stakeholders di awal setiap tahun anggaran. Kedua. 2.

Ketiga. orang yang paling melakukan perbaikan . Meningkatnya kesesuaian kegiatan-kegiatan sekolah dengan nilai dan norma yang berkembang di masyarakat. ketenagaan. yang merupakan gagasan kunci adalah semua hubungan antara pelanggan dan pemasok ditengahi oleh proses. Manajemen Pendidikan Manajemen pendidikan merupakan alternatif strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Selanjutnya Gaffar (1989 : 59). Hasil penelitian Balitbangdikbud (1991:47) menunjukkan bahwa manajemen sekolah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan. 2002 : 131) mengemukakan empat gagasan dasar yang sangat sentral bagi keefektifan manajemen persekolahan. Manajemen pendidikan dapat juga diartikan sebagai segala sesuatu berkenan dengan pengelolaan proses pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. hubungan sekolah dan masyarakat dan layanan-layanan khusus. tetapi sekolah akan mengalami peningkatan dalam banyak hal sehingga kepercayaan masyarakat akan kinerja sekolah menjadi lebih tinggi dan dengan sendirinya partsipasi bertambah. Substansi manajemen pendidikan lebih memusatkan diri pada substansi yang berkaitan dengan proses pendidikan. yaitu manajemen pengajaran. baik tujuan jangka pendek. Kedua. C. Ketiga indikator di atas dapat dipakai oleh sekolah untuk mengukur apakah akuntabilitas manajemen sekolah telah mencapai hasil sebagaiamana yang dikehendaki. sarana dan prasarana. Pertama. Tidak saja publik merasa puas. adalah bahwa lembaga pendidikan merupakan mata rantai yang menghubungkan pelanggan (customer client) dan pemasok (supplier). menengah maupun tujuan jangka panjang. Mugatroyd dan Morgan (dalam Mantja. mengemukakan bahwa : “Manajemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses kerjasama yang sistemik dan komprehensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. keuangan. peserta didik.3.

Konsep MBS (Manajemen Berbasis Sekolah) Istilah Manajemen berbasis Sekolah merupakan terjemahan dari . bahwa untuk menjamin terdapatnya dukungan perbaikan performansi kualitas terhadap sekolah dipersyaratkan kepemimpinan yang bervisi. menawarkan partisipasi langsung kelompokkelompok yang terkait. komite sekolah. Keempat. Menurut Bedjo sudjanto (2005:37) MBS merupakan model manajemen pendidikan yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah. Manajemen Berbasis Sekolah 1. D. Pengertian Manajemen berbasis Sekolah menurut beberapa ahli: Menurut E. MBS juga mendorong . Otonomi dalam manajemen merupakan potensi bagi sekolah untuk meningkatkan kinerja para staff. Istilah ini pertama kali muncul di Amerika Serikat ketika masyarakat mulai mempertanyakan relevansi pendidikan dengan tuntutan dan perkembangan masyarakat setempat. orang tua siswa dan masyarakat. Manajemen berbasis Sekolah mengubah sistem pengambilan keputusan dengan memindahkan otoritas dalam pengambilan keputusan dan manajemen ke setiap yang berkepentingan di tingkat lokal Local Stakeholder. siswa. Menurut Nanang Fatah (2006:32) MBS merupakan pendekatan politik yang bertujuan untuk mendesain ulang pengelolaan sekolah dengan memberikan kekuasaan kepada kepala sekolah dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam upaya perbaikan kinerja sekolah yang mencakup guru. Disamping itu.School Based Management.MBS merupakan salah satu wujud dari reformasi pendidikan yang menawarkan kepada sekolah untuk menyediakan pendidikan yang lebih baik dan memadai bagi para peserta didik.. Mulyasa (2004:24) : . yang mendukung dan meningkatkan kinerja terhadap mereka yang dekat (familiar) dengan klien.adalah mereka yang dekat dengan pelanggan dalam proses tersebut. dan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pendidikan.

siswa. Olehnya itu. karakteristik tersebut merupakan ciri khas yang dimiliki sehingga membedakan dari sesuatu yang lain. Manajemen berbasis sekolah sebagaimana dikemukakan oleh para ahli adalah sebuah model pengelolaan sekolah yang mengarah pada kemandirian lembaga pendidikan sekolah dan terintegratif dengan tuntutan perkembangan masyarakat. serta kurikulum. sarana. Karakteristik MBS MBS memiliki karakter yang perlu dipahami oleh sekolah yang akan menerapkannya. pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat serta manajemen layanan khususnya lembaga pendidikan”. jika model ini dikembangkan dua syarat pokok yang harus dipenuhi oleh setiap pendidikan sekolah. personil. Jadi. pertama sekolah menjamin adanya kultur sekolah yang kondusif dan demokratis menanggapi respon masyarakat secara terbuka sebagai wujud pertanggungjawaban public. dan prasarana pendidikan.pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan langsung semua warga sekolah yang dilayani dengan tetap selaras pada kebijakan nasional pendidikan. 2. yaitu “Kurikulum dan program pengajaran. guru. sedikitnya terdapat tujuh komponen sekolah yang harus dikelola dengan baik dalam rangka pelaksanaan MBS. MBS merupakan sebuah strategi untuk memajukan pendidikan dengan mentransfer keputusan penting memberikan otoritas dari negara dan pemerintah daerah kepada individu pelaksana di sekolah. kesiswaan. MBS memiliki karakteristik sebagai berikut: . 11MBS menyediakan kepala sekolah. Menurut Mulyasa (2004 : 118). keuangan. dan orang tua kontrol yang sangat besar dalam proses pendidikan dengan memberi mereka tanggung jawab untuk memutuskan anggaran. tenaga kependidikan. Hal yang penting dalam implementasi/pelaksanaan manajemen berbasis sekolah adalah manajemen terhadap komponenkomponen sekolah itu sendiri.

dan dinamis. Deduktif dan Ilmiah. kesenian dari para peserta didik dan sebagainya. . (d) Output yang diharapkan Output Sekolah adalah Prestasi sekolah yang dihasilkan melalui proses pembelajarn dan manajemen di sekolah. (a) PBM yang memiliki tingkat efektifitas yang tinggi. Adanya partisipasi masyarakat dan orang tua siswa yang tinggi c. kerjasama yang baik. Kreatif. Adanya team work yang tinggi. (c) staf yang kompeten dan berdedikasi tinggi. (e) Sekolah memiliki budaya mutu.(e) fokus pada pelanggan. Adanya otonomi yang luas kepada sekolah b. Nalar. 2. toleransi. Induktif. cara-cara berfikir ( Kritis. Pada umumnya output dapat di klasifikasikan menjadi dua yaitu output berupa prestasi akademik yang berupa NEM. Rasionalog. (d) memiliki harapan prestasi yang tinggi. (c) Lingkungan sekolah yang aman dan tertib. Hal ini didasari oleh pengertian bahwa sekolah merupakan sebuah sistem sehingga penguraian karakteristik MBS berdasarkan berdasarkan pada input. harga diri. lomba karya ilmiah remaja.a. cerdas. prestasi olahraga. Input Pendidikan Dalam input pendidikan ini meliputi. tujuan. (b) Kepemimpinan sekolah yang kuat. proses dan output 1. (a) memiliki kebijakan. dan sasaran mutu yang jelas. Dan output non akademik. (d) Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif. dinamis dan profesional Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dapat dilihat pula melalui pendidikan sistem. kedisiplinan. Kepemimpinan sekolah yang demokratis dan profesional d. berupa keingintahuan yang tinggi. Proses Dalam proses terdapat karakter yaitu. kejujuran. (f) Sekolah memiliki team work yang kompak. (b) sumber daya yang tersedia dan siap.

dan pengelolaan sumber daya administrasi. hubungan kerja hingga evaluasi kinerja tenaga kerja sekolah dapat dilakukan oleh sekolah kecuali guru pegawai negeri yang sampai saat ini masih ditangani oleh birokrasi di atasnya. Sekolah juga di beri kebebasan untuk mengembangkan kurikulum muatan lokal. 2. 5. pengelolaan sumber daya manusia. Pengelolaan Kurikulum. Pengelolaan Proses Belajar Mengajar. 4. terutama pengalokasian atau penggunaan uang sudah sepantasnya . pengembangan. Sekolah dapat mengembangkan. Sekolah di beri kebebasan untuk memilih strategi. 3. metode. Perencanaan dan evaluasi program sekolah Sekolah di beri kewenangan untuk melakukan perencanaan sesuai dengan kebutuhannya. Pengelolaan ketenagaan. Pengelolaan ketenagaan mulai dari analisis kebutuhan perencanaan.Karakteristik MBS bisa diketahui juga antara lain dari bagaimana sekolah dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah. Menurut Depdiknas fungsi yang dapat didesentralisasikan ke sekolah adalah sebagai berikut: 1. rekrutmen. proses belajar mengajar. penghargaan dan sanksi. Sekolah juga diberi kewenangan untuk melakukan evaluasi khususnya evaluasi internal atau evaluasi diri. Pengelolaan keuangan Pengelolaan keuangan. karakteristik siswa. karakteristik guru dan kondisi nyata sumber daya yang tersedia di sekolah. namun tidak boleh mengurangi isi kurikulum yang berlaku secara nasional yang dikembangkan oleh pemerintah pusat. dan teknik pembelajaran dan pengajaran yang efektif sesuai dengan karakteristik mata pelajaran.

Tujuan Manajemen berbasis Sekolah Tujuan utama Manajemen Berbasis Sekolah adalah meningkatkan efisiensi. adanya hadiah dan hukuman sebagai kontrol. kepemilikan. pembinaan. maupun yang tersurat dan tersirat dalam kebijakan pemerintah dan UU sisdiknas NO. 20 Tahun 2003. peningkatan profesionalisme guru. Peningkatan mutu diperoleh melalui partisipasi orang tua. penempatan untuk melanjutkan sekolah atau untuk memasuki dunia kerja hingga pengurusan alumni dari dulu telah didesentralisasikan. sehingga sumber keuangan tidak sematamata bergantung pada pemerintah. Sekolah juga harus di beri kebebasan untuk untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang mendatangkan penghasilan. 7. Hubungan sekolah dan masyarakat Esensi hubungan sekolah dan masyarakat adalah untuk meningkatkan. pembimbingan. dan penyederhanaan birokrasi.dan pemerataan pendidikan. kepedulian. kelenturan pengelolaan sekolah. Pelayanan siswa Pelayanan siswa mulai dari penerimaan siswa baru. Yang diperlukan adalah peningkatan intensitas dan ekstensitasnya. Yang diperlukan adalah peningkatan intensitas dan ekstensitasnya. mutu. partisipasi masyarakat. serta hal lain yang dapat menumbuh k Sementara itu baik berdasarkan kajian pelaksanaan dinegara-negara lain. terutama dukungan moral dan finansial yang dari dulu telah didesentralisasikan.dilakukan oleh sekolah. 6. Peningkatan efisiensi diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumber daya yang ada. 3. tentang Pendidikan Berbasis Masyarakat pasal 55 ayat 1:Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat pada pendidikan formal dan non formal sesuai dengan kekhasan . dan dukungan dari masyarakat. pengembangan.

serta akuntabilitas. 2) MBS bertujuan menjamin keadilan bagi setiap anak untuk memperoleh layanan pendidikan yang bermutu disekolah yang bersangkutan. maka mutu lebih merujuk pada dicapainya tujuan spesifik oleh siswa (lulusan). dan secara keseluruhan sekolah harus mencapai standar kompetensi minimal bagi setiap anak yang diluluskan. Bagi yang memisahkan keduanya.agama. seperti nilai ujian atau prestasi lainnya. dan budaya untuk kepentingan masyarakat. maka MBS memberi keleluasaan kepada setiap sekolah untuk menangani setiap anak dengan latar belakang social ekonomi dan psikologis yang beragam untuk memperoleh kesempatan dan layanan yang memungkinkan semua anak dan masing-masing anak berkembang secara optimal. artinya hasil pendidikan yang bermutu sekaligus yang relevan dengan berbagai kebutuhan dan konteksnya. efektifitas dan efisiensi.quality and equity. Dengan asumsi bahwa setiap anak berpotensi untuk belajar. dengan tolok ukur penilaian pada hasil output dan outcome bukan pada metodologi atau prosesnya. lingkungan sosial. Sungguhpun antara sekolah harus saling memacu prestasi. sedangkan relevansi lebih merujuk pada manfaat dari apa yang diperoleh siswa melalui pendidikan dalam berbagai lingkup/tuntutan kehidupan (dampak). Keadilan ini begitu penting. termasuk juga ranah pendidikan yang tidak diujikan. Berkaitan dengan pasal tersebut setidaknya ada empat aspek yaitu: kualitas (mutu) dan relevansi. Mutu dan relevansi ada yang memandangnya sebagai satu kesatuan substansi. 1) MBS bertujuan mencapai mutu quality dan relevansi pendidikan yang setinggi-tingginya. tetapi setiap sekolah harus melayani setiap anak (bukan hanya yang pandai). 3) MBS bertujuan meningkatkan efektifitas MBS bertujuan meningkatkan efektifitas dan . keadilan. sehingga para ahli sekolah efektif menyingkat tujuan sekolah efektif hanya mutu dan keadilan atau .

Atau dengan kata lain. Pertanggung jawaban yang bersifat teknis edukatif terbatas pada pelaksanaan program sesuai petunjuk dan pedoman dari pusat (pusat dalam arti nasional. 4. Langkah-langkah MBS Secara umum dapat disimpulkan bahwa implementasi MBS akan behasil melalui strategistrategi berikut ini: Pertama. yaitu dimilikinya otonomi dalam . sehingga semua input tepat guna dan tepat sasaran. sekolah harus memiliki otonomi terhadap empat hal. Efektifitas berhubungan dengan proses. atau dinilai hasilnya. diupayakan menerapkan indikator-indikator atau cirri-ciri sekolah efektif.tanpa pertanggung jawaban hasil pelaksanaan program. maupun pusatpusat irokrasi di bawahnya). Sebaliknya untuk mencapai hasil yang baik. Efektif-tidaknya suatu sekolah diketahui lebih pasti setelah ada hasil. dan input lain yang tepat pula (sesuai lingkungan dan konteks social budaya). MBS bertujuan meningkatkan akuntabilitas sekolah dan komitmen semua stake holders. prosedur. Sementara itu. dapat menerapkan metode yang tepat (yang dikuasai). dan ketepat-gunaan semua input yang dipaki dalam proses pendidikan disekolah. Selama ini pertanggung jawaban sekolah lebih pada masalah administratif keuangan dan bersifat vertical sesuai jalur birokrasi. 4. Dengan menerapkan MBS diharapkan setiap sekolah. efektif untuk meningkatkan mutu pendidikan.efisiensi. efisiensi berhubungan dengan nilai uang yang dikeluarkan atau harga (cost) untuk memenuhi semua input (proses dan semua input yang digunakan dalam proses) dibandingkan atau dihubungkan dengan hasilnya (hasil belajar siswa). sesuai kondisi masing-masing. sehingga menghasilkan hasil belajar siswa seperti yang diharapkan (sesuai tujuan). Akuntabilitas adalah pertanggung jawaban atas semua yang dikerjakan sesuai wewenang dan tanggung jawab yang diperolehnya.

Oleh karena itu. fasilitator. adanya peran serta masyarakat secara aktif. dalam hal pembiayaan. Dalam pengambilan keputusan kepala sekolah harus mengembangkan iklim demokratis dan memperhatikan aspirasi dari bawah. Sekolah harus lebih banyak mengajaklingkungan dalam mengelola sekolah karena bagaimanapun sekolah adalah bagian dari masyarakat luas. Bagaimanapun kepala sekolah adalah pimpinan yang memiliki kekuatan untuk itu. kepala sekolah harus menjadi sumber inspirasi atas pembangunan dan pengembangan sekolah secara umum. Kepala sekolah dalam MBS berperan sebagai designer. Kepala sekolah jangan selalu menengok ke atas sehingga hanya menyenangkan pimpinannya namun mengorbankan masyarakat pendidikan yang utama. pengangkatan kepala sekolah harus didasarkan atas kemampuan manajerial dan kepemimpinan dan bukan lagi didasarkan atas jenjang kepangkatan. adanya proses pengambilan keputusan yang demokratis dalam kehidupan dewan sekolah yang aktif. Keenam. masyarakat dan para guru. motivator. Ketiga. prosespengambian keputusan terhadap kurikulum. Kelima. Untuk bisa memahami peran dan tanggung jawabnya masing-masing harus ada sosialisasi terhadap konsep MBS itu sendiri.kekuasaan dan kewenangan. pengembangan pengetahuan dan keterampilan secara berkesinambungan. Siapa kebagian peran apa dan melakukan apa. semua pihak harus memahami peran dan tanggung jawabnya secara bersungguh sungguh. Konsumen yang harus dilayani kepala sekolah adalah murid dan orang tuanya. Kedua. adanya guidlines dari departemen pendidikan terkait sehingga mampu . sampai batas-batas nyata perlu dijelaskan secara nyata. akses informasi ke segala bagian dan pemberian penghargaan kepada setiap pihak yang berhasil. Keempat.

Penerapan MBS harus diarahkan untuk pencapaian kinerja sekolah dan lebih khusus lagi adalah meningkatkan pencapaian belajar siswa. Kesembilan. implementasi diawali dengan sosialsasi dari konsep MBS. Ketujuh. sekolah harus memiliki transparansi dan akuntabilitas yang minimal diwujudkan dalam laporan pertanggung jawabannya setiap tahunnya. 3)Perencanaan. dan 6) . Pelaporan. dan tujuan. Oleh karena itu. misi. Untuk itu sekolah harus dijalankan secara transparan. atau akan melaksanakan 1) evaluasi diri self assessment. yaitu : Perumusan visi.mendorong proses pendidikan di sekolah secara efisien dan efektif. evaluasi atas pelaksanaan dilapangan dan dilakukan perbaikan-perbaikan. demokratis. Artinya. Akuntabilitas sebagai bentuk pertanggung jawaban sekolah terhadap semua stakeholder. Perlu dikemukakan lagi bahwa MBS tidak bisa langsung meningkatkan kinerja belajar siswa namun berpotensi untuk itu. Kedelapan. implementasi pada proses pembelajaran. Masing-masing langkah dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Evaluasi diri self assessment Evaluasi diri sebagai langkah awal bagi sekolah yang ingin. 5) Evaluasi. identifikasi peran masing-masing pembangunan kelembagaan capacity building mengadakan pelatihan pelatihan terhadap peran barunya. usaha MBS harus lebih terfokus pada pencapaian prestasi belajar siswa. Guidelines itu jangan sampai berupa peraturan-peraturan yang mengekang dan membelenggu sekolah. yang diperlukan adalah rambu-rambu yang membimbing. dan terbuka terhadap segala bidang yang dijalankan dan kepada setiap pihak terkait. tidak perlu lagi petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis dalam pelaksanaan MBS. Bagi sekolah yang sudah beroperasi ( sudah ada / jalan) paling tidak ada 6 (enam) langkah. 2) 4) Pelaksanaan.

kemajuan yang telah dicapai. Prakarsa dan pimpinan rapat adalah kepala sekolah. untuk membangkitkan kesadaran / keprihatinan akan penting dan perlunya pendidikan yang bermutu. dan tujuan Bagi sekolah yang baru berdiri atau baru didirikan. perumusan visi dan misi serta tujuan merupakan langkah awal/pertama yang harus dilakukan yang menjelaskan kemana arah pendidikan yang ingin dituju oleh para pendiri/ penyelenggara pendidikan. Misi.Kegiatan ini dimulai dengan curah pendapat brainstorming yang diikuti oleh kepala sekolah. b) Refleksi/Mawas diri. Dalam kasus sekolah/madrasah negeri kepala sekolah bersama guru mewakili pemerintah kab/kota sebagai pendiri dan bersama wakil masyarakat setempat ataupun orang tua siswa harus merumuskan kemana sekolah kemasa depan akan dibawa.manajemen mutu berbasis sekolah. guru. dan diikuti juga anggota komite sekolah. sehingga timbul komitmen bersama untuk meningkatkan mutu sense of quality. maupun masalah-masalah yang dihadapi ataupun kelemahan yang dialami. c) Merumuskan titik tolak point of departure bagi sekolah/madrasah yang ingin atau akan mengembangkan diri terutama dalam hal mutu. melainkan dari kondisi yang dimiliki. mereka tidak berangkat dari nol. dan seluruh staf. 2) Perumusan Visi. memancing minat acara rapat dapat dimulai dengan pertanyaan seperti: Perlukah kita meningkatkan mutu? seperti apakah kondisi sekolah / madrasah kita dalam hal mutu pada saat ini? Mengapa sekolah kita tidak/belum bermutu? Kegiatan ini bertujuan: a) Mengetahui kondisi sekolah saat ini dalam segala aspeknya (seluruh komponen sekolah). sejauh tidak bertentangan dengan . Titik awal ini penting karena sekolah yang sudah berjalan untuk memperbaiki mutu.

Dengan kata lain perencanaan adalah kegiatan menetapkan lebih dulu tentang apa-apa yang harus dilakukan. dipenggal-penggal menjadi tujuan tahunan yang biasa disebut target/sasaran. 23 tahun 2003 tentang Sisdiknas. kalau dirumuskan secara singkat dan menyeluruh disebut visi. prosedurnya serta metode . Keadaan yang diinginkan tersebut hendaklah ada kaitannya dengan idealisme dan mutu pendidikan. sedangkan visi dan misi (relatif/pada umumnya) masih tetap. Sedangkan misi.tujuan pendidikan nasional seperti tercantum dalam UU No. dalam formulasi yang jelas baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Tujuan-tujuan antara ini sebagai tujuan jangka menengah kalau tiba saatnya berakhir (tahun yang ditetapkan ) akan disusul dengan tujuan berikutnya. ataupun kualitas pendidikan sebagaimana telah didefinisikan sebelumnya. atau tonggak tonggak penting antara titik berangkat (kondisi awal) dan titik tiba tujuan akhir yang rumusannya tertuang dalam dalam bentuk visi-misi. Tujuan merupakan tahapan antara. Tujuan (jangka menengah). misi merupakan tugas-tugas pokok yang harus dilakukan untuk mewujudkan visi. Dengan kata lain. Idealisme disini dapat berkaitan dengan kebangsaan. keadilan. kemanusiaan. termasuk anggaran yang diperlukan untuk membiayai kegiatan yang direncanakan. Kondisi yang diharapkan/diinginkan dan diimpikan dalam jangka panjang itu. Tujuan-tujuan jangka pendek (1 tahun) inilah yang rincian persiapannya dalam bentuk perencanaan. 3) Perencanaan Perencanaan pada tingkat sekolah adalah kegiatan yang ditujukan untuk menjawab: apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannnya untuk mewujudkan tujuan (tujuan-tujuan) yang telah ditetapkan / disepakati pada sekolah yang bersangkutan. keluhuran budi pekerti. merupakan jabaran dan visi atau merupakan komponen-komponen pokok yang harus direalisasikan untuk mencapai visi yang telah ditetapkan.

4) Pelaksanaan Apabila kita bertitik tolak dari fungsi-fungsi manajemen yang umumnya kita kenal sebagai fungsi perencanaan. Dikatakan teliti karena ia harus menjelaskan apa yang akan dilakukan. atau yang terkait erat dengan kegiatan khusus. dapat berjalan sebagaimana mestinya (efektif dan efisien). pengorganisasian. kapan dan berapa perkiraan satuan-satuan biayanya. Perencanaan oleh sekolah merupakan persiapan yang teliti tentang apa-apa yang akan dilakukan dan skenario melaksanakannya untuk mencapai tujuan yang dihar apkan. guru-guru memegang peranan yang sangat menentukan. dalam bentuk tertulis. Selanjutnya Sidi. seberapa besar lingkup cakupan kuantitatif dan kualitatif yang akan dikerjakan. sangat menekankan pada optimalisasi pelaksanaan proses belajar mengajar. pengarahan/penggerakkan atau pemimpinan dan kontrol/pengawasan serta evaluasi. Didalam pelaksanaan tentu masih ada kegiatan perencanaan-perencanaan yang lebih mikro (kecil) baik yang terkait dengan penggalan waktu (bulanan.pelaksanaannya untuk mencapai suatu tujuan organisasi atau satuan organisasi. serta hasil seperti apa yang diharapkan. bagaimana. Pelaksanaan juga dapat diartikan sebagai suatu proses kegiatan merealisasikan apa-apa yang telah direncanakan. atau kegiatan lainnya. maka langkah pertama sampai dengan ketiga dapat digabungkan fungsi perencanaan yang secara keseluruhan (untuk sekolah) sudah dibahas. dalam hal ini pada dasarnya menjawab bagaimana semua fungsi manajemen sebagai suatu proses untuk mencapai tujuan lembaga yang telah ditetapkan melalui kerjasama dengan orang lain dan dengan sumber daya yang ada. Tahap pelaksanaan. misalnya menghadapi lomba bidang studi.semesteran. mengemukakan bahwa kemandirian sekolah yang ditegaskan dalam manajemen berbasis sekolah. bahkan mingguan). Khususnya mengenai pelaksanaan belajar mengajar. sebab sekalipun . partisipasi masyarakat dan kinerja kepala sekolah.

sehingga kepala sekolah dituntut mampu menumbuhkembangkan kreativitas kerja guru dan staf sekolah. Kinerja Kepala Sekolah Kepala sekolah sebagai organisator memiliki peran yang sangat penting menentukan jalannya organisasi sekolah. relevan. (3) perlengkapan.sarana dan prasarana pendidikan lengkap dan mempunyai sumber dana yang cukup memadai. (3) mengadakan hubungan dengan masyarakat di sekitarnya untuk keefektifan pelaksanaan pengajaran di sekolah khususnya para orang tua murid. Sehubungan tugas kepala sekolah sebagai administrator. yakni mendayagunakan berbagai sumber (manusia sarana dan prasarana serta berbagai media pendidikan lainnya) secara optimal. kinerja kepala sekolah seharusnya mencerminkan lebih baik daripada guru dan staf lainnya. (5) sekolah dan masyarakat (IKIP Malang. maka tidak dapat diharapkan mutu output pendidikan akan meningkat. efektif dan efisien guna menunjang pencapaian pendidikan. (Burton dalam Mantja 2002) . tetapi kalau sumber daya manusianya yaitu para guru-gurunya tidak melaksanakan tugasnya dengan baik dalam proses belajar mengajar. 1995). (4) mampu menciptakan hubungan baik guru dengan murid di sekolahnya. kepegawaian dan (6) hubungan dengan itu tugasmenyarankan bahwa: “Beberapa kompetensi dasar yang perlu dikuasai oleh Kepala Sekolah yakni (1) memahami kurikulum sekolah. (4) keuangan. Peran kepala sekolah sebagai administrator pendidik bertolak dari hakikat administrasi pendidikan. E. (5) mengelolah sarana dan fasilitas sekolah. Olehnya itu. Sekolah memerlukan suatu organisasi kerja yang baik. (2) membantu melaksanakan kegiatan belajar mengajar dalam kelas.. (2) kesiswaan. dan (6) mampu melaksanakan program kerja pengajaran”. Kinerja kepala sekolah itu harus tampak dalam memainkan perannya secara professional. Secara kongkret pelaksanaan tugas dan fungsi administrator dalam administrasi pendidikan mencakup lingkup substansi administrasi pendidikan (sekolah) (1) kurikulum atau pengajaran.

guru adalah kreator proses belajar mengajar. terutama ditentukan oleh proses belajar mengajar yang berlangsung dalam ruang kelas. Kualitas pendidikan. manusiawi. manajer. Oleh karenanya usaha peningkatan kualitas guru terletak pada diri guru sendiri. pimpinan. dan konseptual. guru memegang peranan yang penting. staffing. Pada dasarnya peningkatan kualitas diri seseorang harus menjadi tanggung jawab diri pribadi. Keterampilan manusiawi (insani) mengacu kepada keterampilan yang diperlukan dalam keberhasilan kerja dengan orang per orang atau dalam latar kelompok. sekolah supervisor secara substansial merupakan tugas-tugas pokok kepala sekolah yang menurut kinerja kepala sekolah secara profesional. Sedangkan keterampilan konseptual adalah kemampuan yang diperlukan oleh administrator untuk melihat gambaran keseluruhan dan hubungan-hubungannya diantara dan di dalam bagianbagian yang berlainan. Keterampilan teknis yang ditunjuk kerjakan oleh administrator sekolah Budgeting. Dalam usaha meningkatkan kualitas pendidikan disadari suatu kebenaran fundamental. Sehubungan dengan hal tersebut di atas. kepala sekolah harus memiliki kompetensi yang mengacu pada perbuatan dan kinerja yang bersifat rasional dan memenuhi spesifikasi tertentu di dalam pelaksanaan tugas-tugas tertentu termasuk tugas kepala sekolah sebagai administrator. schedule. yakni bahwa kunci keberhasilan menciptakan dan mempersiapkan guru-guru yang profesional yang memiliki kekuatan dan tanggung jawab baru untuk merencanakan pendidikan masa depan. Untuk itu . Dalam proses belajar mengajar. Kinerja Guru Dalam Proses Belajar Mengajar Bangsa dan negara akan dapat memasuki era globalisasi dengan tegar apabila memiliki sistem pendidikan yang berkualitas. F. dan berbagai tanggung jawab administrasi yang sejenisnya.Kompetensi yang diperlukan administrator menekankan perlunya kompetensi dasar yang harus dikuasai yaitu: teknis.

Sebagaimana konsep asah. Standar profesional guru. harmonis. asuh dan asih untuk meningkatkan kualitas diri masing-masing khususnya dan mencapai kualitas sekolah serta pendidikan pada umumnya. observasi. Mekanisme. kegiatan kelompok dilaksanakan secara rutin dan berkesinambungan. Secara sistematis pengembangan kejawatan memerlukan : a. Bentuk kegiatan kelompok yang dibentuk merupakan wadah kegiatan dimana antara anggota sejawat biasa saling asah. pada dasarnya kelompok yang diuraikan di atas merupakan wadah aktivitas profesional untuk meningkatkan kemampuan profesional guru. Maka setiap anggota kelompok memiliki hak. d. kewajiban dan kesempatan yang sama dalam setiap kegiatan tanpa memandang jenjang kepangkatan jabatan dan gelar akademik yang disandangnya. Wadah/kelembagaan. Partisipasi Masyarakat Dalam Undang-Undang No. Selanjutnya. c. saran dan bimbingan G. artinya aktivitas yang dilaksanakan bersifat komprehensif dan total mencakup presentasi. bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga. Aktivitas yang dimaksud tidak bersifat searah melainkan bersifat multi arah. dan objektif. kritik. penilaian. tanggapan.diperlukan adanya kesadaran pada diri guru untuk senantiasa dan secara terus menerus meningkatkan pengetahuan dan kemampuan yang diperlukan guna peningkatan kualitas kerja sebagai pengajar professional. masyarakat dan pemerintah. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. asuh dan asih. untuk pengembangan kesejawatan adalah kelompok yang organ yang bersifat non-struktural dan lebih bersifat formal. peran serta masyarakat dalam pelaksanaan manajemen berbasis sekolah yang diharapkan dari masyarakat. b. antara lain : merupakan . Dengan demikian untuk pembinaan dan peningkatan profesional guru perlu dikembangkan kegiatan profesional kesejawatan yang baik.

menjadi . yaitu memberikan masukan berupa pendapat pemikiran dalam rangka menjaring anak-anak usia sekolah. menengah dan tinggi) yakni. sebaliknya masyarakat pun tidak dapat dipisahkan dari sekolah. Pemikiran. tenaga fasilitas praktik dan penelitian. memberikan beasiswa. 2. baik langsung ataupun tidak langsung demi pemusatan dan keadilan pendidikan.1. 3. dan sebagainya. peningkatan peran serta masyarakat dunia usaha dalam penyelenggaraan pendidikan ditingkatkan. bagi masyarakat tidak mampu disediakan bantuan. Sekolah merupakan lembaga formal yang diserahi mandat untuk mendidik. Dana. untuk membantu pendanaan operasional sekolah. Sekolah merupakan lembaga yang tidak dapat dipisahkan masyarakat lingkungannya. melatih dan membimbing generasi muda bagi peranannya di masa depan sementara masyarakat merupakan pengguna jasa pendidikan itu. Kelompok masyarakat mampu perlu didorong untuk memberi sumbangan yang lebih besar dalam membiayai pendidikan. serta memperbaiki sarana dan prasarana baik secara individu maupun secara kelompok. Salah satu kebijakan pemerintah menyangkut pembiayaan pendidikan dalam rangka peningkatan mutu pada semua jenjang pendidikan (dasar. Sementara itu. antara lain dengan mengembangkan mekanisme kerjasama saling menguntungkan bagi peserta didik. Tenaga yaitu sebagai sumber atau tenaga sukarela untuk membantu mensukseskan wajib belajar dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. dan masyarakat dan dunia usaha. karena keduanya memiliki kepentingan. menjadi sponsor dalam suatu kegiatan sekolah. lembaga pendidikan. Masyarakat dunia usaha juga diharapkan untuk memberikan pemikiran dan sumbangan dalam perumusan kebijakan pendidikan. menanggulangi anak putus sekolah. Dikatakan demikian. orang tua asuh. dan meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. dunia usaha didorong untuk memberi bantuan beasiswa.

merupakan suatu upaya peningkatan pengelolaan dan pemberdayaan sekolah sebagai lembaga pendidikan. memiliki sistem yang kompleks dan dinamis. Dengan kata lain. tokoh masyarakat dan organisasi pemerhati pendidikan dengan upayaupayanya yang dapat dilakukan mulai pada tahap perumusan kebijaksanaan implementasi kebijaksanaan secara operasional serta evaluasi dan pengawasan dan pelaksanaan dan pengelolaan pendidikan sekolah. diatur. Dalam kegiatannya. guru dan masyarakat sebagai pihak yang terkait dengan proses belajar mengajar . merupakan sistem yang memiliki berbagai perangkat dan unsur yang saling berkaitan yang memerlukan pemberdayaan. kalangan dunia usaha. ditata dan diberdayakan agar sekolah dapat menghasilkan produk atau hasil secara optimal. Implikasi pelaksanaan manajemen berbasis sekolah adalah perlunya dukungan dan peran aktif kepala sekolah. sekolah sebagai lembaga tempat penyelenggaraan pendidikan. Pelaksanaan manajemen berbasis sekolah secara efektif dan efisien. sekolah sebagai institusi pendidikan perlu dikelola.Partisipasi masyarakat merupakan wujud pemberdayaan masyarakat sebagai daya dukung sekolah dalam rangka pengelolaan sekolah secara efektif dan efisien agar seoptimal mungkin sasaran dan tujuan pendidikan sekolah dapat tercapai. merupakan wadah tempat proses pendidikan dilakukan. Partisipasi masyarakat luas seperti. melainkan berada dalam satu tatanan sistem yang rumit dan saling berkaitan. 4. Sekolah sebagai institusi/lembaga pendidikan. oleh karena itu sekolah dipandang sebagai suatu organisasi yang membutuhkan pengelolaan. Kerangka Pikir Sekolah dipandang sebagai suatu organisasi yang didesain untuk dapat berkontribusi terhadap upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia serta peningkatan derajat sosial masyarakat bangsa. sekolah adalah tempat yang bukan hanya sekedar tempat berkumpul guru dan murid.

Disamping itu kepala sekolah juga harus melakukan tukar pikiran sumbang saran. dengan melakukan supervisi kelas. Wibawa kepala sekolah harus ditumbuhkembangkan dengan meningkatkan sikap kepedulian. Kepala sekolah dituntut untuk melakukan tugas dan fungsinya sebagai manajer sekolah dalam meningkatkan proses belajar mengajar. jadwal pelajaran. kreativitas dan daya cipta guru untuk pelaksanaan MBS perlu . akan meningkat. maka tidak dapat diharapkan kualitas pendidikan para murid. Guru memegang peranan penting dalam proses belajar mengajar sebab sekalipun sarana dan prasarana pendidikan lengkap dan mempunyai sumber dana yang cukup memadai. disiplin kerja. Suasana kelas yang menyenangkan dan penuh disiplin sangat diperlukan untuk mendorong semangat belajar peserta didik. Guru juga harus mampu mengorganisasikan kelas dengan baik. Dalam mengimplementasikan manajemen berbasis sekolah. semangat belajar.di sekolah. study banding antara sekolah untuk menyerap kiat-kiat kepemimpinan dari kepala sekolah yang lain. keteladanan dan hubungan manusiawi sebagai modal perwujudan iklim kerja yang kondusif. tetapi kalau sumber daya manusia yaitu para guru tidak melaksanakan tugas dengan baik dalam proses belajar mengajar. perencanaan dan pandangan yang luas tentang sekolah dan pendidikan. Guru adalah teladan dan panutan langsung para peserta didik dikelas. membina dan memberikan saran-saran positif kepada guru. penempatan alat dan Iain-Iain harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. oleh karena itu guru perlu siap dengan segala kewajiban baik manajemen maupun persiapan isi materi pengajaran. Guru kelas sebagai pelaksana proses belajar mengajar di kelas harus dapat berkreasi dalam meningkatkan manajemen kelas. kepala sekolah sebagai pucuk pimpinan perlu memiliki pengetahuan kepemimpinan. pembagian tugas peserta didik.

Kepsek. Partisipasi masyarakat secara material dalam pendanaan operasional sekolah seperti pemberian beasiswa. Kelengkapan Program Mengajar 2. Kepsek. Penyajian Materi Pelajaran 3. menjadi sponsor dalam suatu kegiatan sekolah serta bantuan moril yang diharapkan seperti orang tua asuh bagi anak-anak usia sekolah yang kurang mampu. Program Pengajaran dan Perbaikan 1. Evaluasi dan Analisis Hasil Belajar 4. Kepsek. Kepsek sebagai Supervisor 5. dapat diharapkan kualitas pendidikan peserta didik (murid) akan meningkat sehingga mampu mengikuti perkembangan dan tuntutan untuk tahap pendidikan selanjutnya. sebagai Administrasi 4. Dengan demikian pelaksanaan manajemen berbasis sekolah mensyaratkan dukungan dan partisipasi aktif paling tidak dari tiga pihak terkait dengan proses belajar mengajar di sekolah. sebagai Educator 2. Kepsek sebagai Inovator . sebagai Manajer 3. memberikan masukan berupa pendapat dan pemikiran dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Kepsek sebagai Pemimpin 6. Untuk memperoleh gambaran yang. yakni kepala sekolah. Jika ketiga unsur tersebut terlibat secara aktif dan kreatif dalam proses belajar mengajar di sekolah. guru dan masyarakat.terus menerus perlu didorong dan dikembangkan. jelas tentang arah penelitian ini secara skematis digambarkan kerangka pikir ini seperti dapat dilihat pada Gambar 1 Dinas Pendidikan Kabupaten Bone SMP Negeri 4 Watampone Manajemen Berbasis Sekolah Kinerja Guru Kinerja Kepala Sekolah Partisipasi Masyarakat 1.

Partisipasi dalam Perencanaan Program Sekolah 3. Sketsa Kerangka Pikir BAB III . Partisipasi dalam Perencanaan Sekolah 2. Kepsek sebagai Motivator 1.1. Partisipasi dalam Monitoring Gambar 2.7.

yakni (1) kinerja kepala sekolah. guru dan masyarakat. sarana dan prasarana serta infrastruktur sekolah yang cukup memadai. (3) partisipasi masyarakat serta (4) faktor pendukung serta faktor penghambat pelaksanaan manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Khusus. Jenis dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menjelaskan analisis implementasi pelaksanaan manajemen berbasis Sekolah dalam proses belajar mengajar pada tingkat Sekolah Menengah Pertama. Variabel tersebut didefinisikan sebagai berikut: 1.METODE PENELITIAN A. Defenisi Operasional Variabel 56 Dalam penelitian ini terdapat beberapa variabel yang akan diteliti dan dianalisis yang diduga berkaitan dengan pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah. Objek yang diteliti adalah kinerja kepala sekolah. Penelitian ini dilaksanakan pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum dengan pertimbangan bahwa Sekolah Menengah Pertama telah memiliki kewenangan dan tanggung jawab pada tahap awal pelaksanaan manajemen berbasis sekolahdalam berbagai bidang untuk mencapai tujuan pendidikan sehingga memungkinkan pelaksanaan manajemen berbasis sekolah dengan baik karena berbagi faktor-faktor pendukung yang dimiliki seperti. kinerja guru dan partisipasi masyarakat terhadap proses belajar mengajar. (2) kinerja guru dalam proses belajar mengajar. sedangkan subjeknya adalah kepala sekolah. sumber daya guru (lebih banyak menggunakan guru inti). Manajemen berbasis sekolah adalah bentuk pengelolaan sekolah berdasarkan sumber daya . B.

Kinerja guru adalah kemampuan guru dalam melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar di kelas. Faktor pendukung dan faktor penghambat adalah segala sesuatu yang dapat mendukung dan . Variabel ini diukur dengan mengajukan serangkaian pertanyaan kepada guru sekolah. (6) motivator. Indikator variabel ini adalah : (1) partisipasi masyarakat dalam program perencanaan sekolah. (5) innovator. diberi skor dan jumlah skor menunjukkan kinerja guru. Indikator variabel ini adalah pelaksanaan tugas dan fungsi guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar meliputi : (1) kelengkapan program belajar mengajar. Kinerja kepala sekolah yaitu. Variabel ini diukur dengan mengajukan serangkaian pertanyaan kepada guru sekolah. (2) penyajian materi (3) evaluasi hasil proses belajar mengajar. Variabel ini diukur dengan mengajukan serangkaian pertanyaan masyarakat. pencapaian sasaran dan tujuan pendidikan. dan (4) program perbaikan dan pengayaan prosesbelajar mengajar. Partisipasi masyarakat adalah keterlibatan masyarakat secara sukarela dalam kegiatan pengelolaan dan pengembangan sekolah. 5. yakni anggota komite sekolah sebagai perwakilan orang tua siswa di sekolah. setiap pertanyaan akan diberi skor menunjukkan kinerja kepala sekolah. (2) pelaksanaan program sekolah menggunakan dan (3) evaluasi dan monitoring program sekolah. (3) (4) pemimpin.yang dimiliki sekolah secara efektif dan efisien dalam rangka. setiap pertanyaan akan diberikan skor dan jumlah skor akan menunjukkan tinggi rendahnya partisipasi masyarakat. 4. 2. Indikator variabel ini adalah pelaksanaan tugas dan fungsi sebagai kepala sekolah yang meliputi tugas dan fungsi kepala sekolah sebagai: (1) manajer. kemampuan melaksanakan tugas dan fungsi jabatan sekolah. 3. setiap pertanyaan akar. supervisor (2) administrator.

Populasi dan Sampel. Pada variabel manajemen berbasis sekolah akan diteliti tentang bagaimana kinerja kepala sekolah dengan berbagai sub variabelnya. Populasi penelitian ini adalah seluruh komponen yang terdapat pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum yang terlibat langsung dengan aktivitas pembelajaran berjumlah 66 guru. Instrumen Penelitian Pengukuran variabel dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan instrumen berupa daftar pertanyaan yang meliputi: (1) instrumen kinerja kepala sekolah. Faktor pendukung dan penghambat dalam pengimplementasian manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Khusus akan dijabarkan secara mendalam dalam penelitian ini. Mengingat jumlah populasi yang relatif besar. Ketiga instrumen tersebut dikembangkan berdasarkan indikator masing-masing variabel. E. Variabel Penelitian Berdasarkan variabel yang diteliti dan dianalisis. (2) instrumen kinerja guru. Pemilihan sampel dilakukan secara bertujuan (purposive) dengan hanya memilih . 2. kinerja guru dengan sub variabelnya dan kinerja partisipasi masyarakat dengan sub variabelnya. pelaksanaan penelitian dapat dijabarkan sebagai berikut: 1.menghambat implementasi pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah di SMP Negeri 4 Khusus dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah tersebut C. (3) instrumen partisipasi masyarakat. D. maka dilakukan tehnik sampling. Manajemen Berbasis Sekolah. sebagaimana dapat dilihat pada Lampiran I. baik yang berstatus sebagai pegawai tetap maupun yang berstatus sebagai honorer.

yaitu untuk memperoleh keterangan sebagai pelaksana langsung dalam implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4 Khusus. b. Kapala Tata Usaha f. guru. yaitu untuk memperoleh keterangan tentang upaya-upaya yang dilakukan dalam mengimplementasikan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4 Khusus c. Wakil kepala sekolah. Metode Pengumpulan Data 1. Wakasek kurikulum dan pengajaran dan Wakasek Kesiswaan e. yaitu untuk memperoleh keterangan sejauh mana perannya sebagai wakil dari orang tua siswa dan patner sekolah dalam pengimplementasian Manajemen Berbasis Sekolah di SMP Negeri 4 Khusus. Orang tua siswa dalam hal ini yang diwakili Komite sekolah. Kepala sekolah. Metode observasi Metode observasi dapat diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan sistematik . anggota komite sekolah sebagai perwakilan orang tua/wali yang masing-masing terdapat pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum. Sumber data penelitian ini terdiri dari kepala sekolah. Responden diambil dari kepala sekolah. Selanjutnya responder dipilih secara purposive dan dijadikan sampel yang dianggap memahami permasalahan penelitian.sebahagian orang sebagai sampel. F. 24 anggota komite yang mewakili orang tua wali atau seluruhnya 49 Dengan perincian sebagai berikut: a. d. Guru-guru. yaitu untuk memperoleh keterangan mengenai usaha-usahanya dalam mengimplementasikan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4 Khusus. 24 guru. Alasan Pemilihan sampel ini karena orang-orang tersebut dianggap mempunyai kesiapan dalam memberikan informasi yang diperlukan selama penelitian.

Metode wawancara atau interview adalah suatu metode yang dilakukan dengan jalan mengadakan komunikasi dengan sumber data melalui dialog (tanya jawab) secara lisan baik langsung maupun tidak langsung untuk menyelidiki pengalaman. atau suatu studi yang disengaja dan sistematis tentang keadaan/fenomena sosial dan gejala-gejala psikis dengan jalan mengamati dan mencatat Observasi atau pengamatan secara langsung. Humas dan manajemen layanan khusus serta dalam melaksanakan Manajemen Berbasis Sekolah. sarana prasarana. motif. keuangan. kegiatan proses belajar mengajar di SMP Negeri 4 Khusus. 2. tenaga pendidik dan kependidikan. keadaan manajemen-manajemen mulai dari kurikulum. Bagaimana implementasi manajemen berbasis sekolah bagi SMP Negeri 4 Khusus b). 1996:57). kondisi belajar siswa. observasi atau pengamatan merupakan hasil perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya sesuatu rangsangan tertentu yang diinginkan. 2000: 136). Observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh tentang pelaksanaan manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Khusus. serta motivasi. Menurut Suharsimi Arikunto (1996:57) wawancara adalah kegiatan memperhatikan sesuatu dengan menggunakan mata atau pengamatan yang meliputi kegiatan. Sedangkan menurut Mardalis. lingkungan sekolah. dalam arti yang luas observasi tidak hanya terbatas pada pengamatan yang dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung. dan lain sebagainya. pemusatan perhatian terhadap suatu objek dan menggunakan seluruh panca indera (Suharsimi Arikunto. kesiswaan. (Sutrisno Hadi. perasaan. serta . Metode wawancara. Wawancara digunakan untuk mengungkapkan data tentang: a).fenomena-fenomena yang diselidiki. Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data-data secara langsung dan sistematis terhadap obyek yang diteliti untuk memperoleh data lengkap mengenai kondisi umum. keadaan dan fasilitas pendidikan.

agenda dan sebagainya. daftar tenaga pendidik dan kependidikan dan lain sebagainya. Dokumentasi ini digunakan untuk melengkapi dan menambah data yang diperoleh melalui wawancara dan observasi. 1998: 149). transkip. responden yang diteliti. peraturan-peraturan. Sumber informasi yang dibuat dokumentasi adalah sumber informasi yang sangat penting dan dapat menggambarkan pelaksanaan manajemen berbasis sekolah seperti data keadaan siswa dan lain lain baik yang terdapat pada sekoloah sampel maupun dokumen dari Dinas Pendidikan Kabupaten Umum. baik yang terpadu maupun manifes. Dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan. notulen rapat. Sedangkan menurut Lexy J. majalah. majalah. data dari dokumen sekolah tentang sejarah berdirinya SMP Negeri 4 Khusus. Moleong. Wawancara tampaknya merupakan alat pengumpul data (informasi) yang langsung tentang beberapa jenis data sosial. surat kabar. tetapi dapat berupa benda-benda peninggalan seperti prasasti dan simbol-simbol. 3. peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku. . dari asal katanya dokumen. notulen rapat. catatan harian. yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. dan sebagainya. Metode ini penulis gunakan untuk meneliti benda-benda tertulis seperti buku raport.faktor-faktor apa yang mendukung dan menghambat dalam pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah di SMP Negeri 4 Khusus. legger. jumlah siswa. Dalam pengertian yang lebih luas. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi. wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. buku. yang artinya barang-barang tertulis. Metode Dokumentasi Dokumentasi. (Suharsimi Arikunto. dokumen. dokumen bukan hanya yang berwujud tulisan saja. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak.

1991: 76). mengarahkan. data yang telah direduksi akan disajikan dalam bentuk narasi. penarikan kesimpulan dari data yang telah disajikan pada tahap kedua yang didukung oleh tabel untuk mengetahui kecenderungan variabel yang diteliti lalu selanjutnya menarik kesimpulan. treath (ancaman). 1992: 16). penulis menggunakan tekhnik analisis deskriptif kualitatif yang terdiri dari tiga kegiatan. Kedua. Teknik Analisa Data Adalah proses penyusunan. Ketiga. penulis menggunakan instrumen pengumpulan data yang berupa pertanyaan kepada responden.G. yaitu pengumpulan data dan sekaligus reduksi data. setelah pengumpulan data selesai kemudian dilakukan reduksi data yaitu menggolongkan. Dalam proses pengambilan data di lapangan untuk menjaga kevalidan data yag diperoleh. Dalam menganalisa data. weaknes (kelemahan). opportunity (peluang). Pertama. pengaturan dan pengolahan data agar dapat digunakan untuk membenarkan atau menyalahkan hipotesis (Sudjana. Sedangkan untuk menganalisa faktor pendukung dan penghambat maka digunakan metode analisis SWOT yaitu Strength (kekuatan). penulis juga melakukan pencatatan data-data yang ada di SMP Negeri 4 Khusus . dan membuang yang tidak perlu dan pengorganisasian sehingga data terpilahpilah. Penyajian data dan penarikan kesimpulan/ verifikasi (Miller&Huberman.

Karakteristik responden guru berdasarkan pangkat/golongan .BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A.1. Selanjutnya untuk memperoleh informasi yang akurat maka responden dipilih sengaja dari lokasi sampel Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Watampone Kabupaten Umum sebagai syarat memenuhi karakteristik sampel yang diteliti. Identitas Responden Responden sebanyak 49 orang yang terdiri dari 1 orang kepala sekolah dan 24 orang guru kelas. Selanjutnya untuk memperoleh gambaran secara rinci. akan diuraikan karakteristik responden sebagai berikut: a. termasuk diantaranya wakil kepala sekolah dan berbagai urusan yang diberikan amanat untuk menjalankan tugas-tugas vital di sekolah serta 24 orang komite sekolah (masyarakat) yang merupakan perwakilan dari orang tua siswa. Pangkat/golongan responden Semakin tinggi tingkat kepangkatan/golongan merupakan faktor yang diasumsikan signifikan dengan kualitas dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai seorang guru Tabel 4.

Jika responden guru dianalisis berdasarkan golongan seperti pada tabel yang disajikan di atas.17 100 Sumber: Data Primer. Tingkat umur responden Tingkat umur responden dalam penelitian ini dimulai dengan batas usia 30 tahun sampai 55 tahun ke atas.83 persen atau sebanyak 5 orang guru. hal ini diasumsikan keaktifan (enerjik) dalam pelaksanaan tugas-tugas guru. Penyebaran responden guru menurut kelompok umur Kelompok Umur < 30 tahun Frekuensi 2 (f) Persentase (%) 8. Untuk golongan IIIa-IIId sebanyak 20.Pangkat/Golongan II/a – II/d III/a – III/d IV/a – IV/e Jumlah Frekuensi (f) 5 19 24 64 Persentase (%) 20. dan untuk golongan IVaIVe sebanyak 79.2.2 dapat dilihat bahwa responden berusia 30 tahun ke bawah sebanyak 2 orang atau 8. 2012 Tabel 4.17 persen.1 tersebut menunjukkan bahwa dari 24 responden guru yang dijadikan sampel dapat dibuat perincian sebagai berikut yaitu untuk golongan IIa-IId adalah 0 persen. Usia 46-55 tahun sebanyak 12 orang atau sekitar 50 persen dan hanya 3 orang responden atau 12. Berdasarkan tabel 4.17 persen.33 persen.5 persen berusia 55 tahun ke atas. b.83 79.33 . usia responden berusia 31-45 tahun sebanyak 7 orang atau sekitar 29.17 persen . bahwa responden golongan 1V yang paling tinggi yaitu sebanyak 79. hal ini menunjukkan bahwa terdapat potensi yang memadai dalam rangka pengembangan manajemen berbasis sekolah dapat terlaksana dengan baik. Tabel 4.

17 8.5 100 Sumber: Data Primer. Diploma II 3. 2012 0 0 3 19 2 24 0 0 12.5 persen pada usia kurang dari 55 tahun masih sangat potensi dalam kedudukannya baik sebagai guru kelas maupun kedudukannya sebagai kepala sekolah dianggap cukup enerjik dan berpengalaman sedang sisanya yaitu sebanyak 3 orang karena berumur di atas 55 tahun atau sekitar 12. Penyebaran responden guru menurut tingkat Pendidikan Tingkat Pendidikan SPG Sederajat Diploma : 1. Sarjana Strata 2 Jumlah Sumber: Data Primer.3.2 terlihat bahwa dari sebanyak 24 responden guru dan sampel yang diteliti sebanyak 21 orang atau sekitar 87. c. Sarjana Strata 1 5.5 diasumsikan kurang enerjik. Diploma III 4. 2012 Berdasarkan tabel 4.5 79. Diploma I 2. Salah satu indikasi yang dilakukan oleh pemerintah dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan baik output maupun inputnya adalah memberikan kesempatan kepada seluruh tenaga pendidik untuk melanjutkan pendidikannya pada level D.55 tahun > 55 tahun Jumlah 7 12 3 24 29.17 50 12. Tingkat pendidikan Distribusi responden menurut tingkat pendidikan merupakan suatu faktor yang diasumsikan mempunyai pengaruh terhadap kualitas responden yang berprofesi sebagai guru.33 100 Frekuensi (f) 0 Persentase (%) 0 .31-45 tahun 46.4 atau setara dengan sarjana. Tabel 4.

33 persen. 1. disusul guru yang berpendidikan strata satu S1 tampak sangat mayoritas sebanyak 19 orang atau sekitar 79. Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa dari sebanyak 24 responden guru apabila dianalisis berdasarkan kategori pendidikan rendah. Responden anggota komite sekolah maupun orang tua/wali murid yang dipilih sebagai lokasi sampel penelitian.5 persen sedang sarjana strata satu 19 orang atau sekitar 79.3 penyebaran responden berdasarkan tingkat pendidikan terlihat bahwa kategori pendidikan setingkat SPG sebanyak 0 persen atau tidak ada guru yang berpendidikan SPG sederajat.5 persen. demikian halnya dengan pendidikan diploma dua sebanyak 0 persen. Responden masyarakat . Distribusi responden menurut tingkat pendidikan merupakan suatu faktor yang diasumsikan mempunyai pengaruh terhadap kualitas responden berpartisipasi terhadap pengembangan sekolah. Responden Masyarakat Jumlah responden masyarakat/orang tua siswa sebanyak 24 orang.Memperhatikan tabel 4. Responden masyarakat berdasarkan tingkat pendidikan Responden masyarakat/orang tua siswa sebanyak 24 orang. Dengan membandingkan masing-masing tingkat pendidikan dalam tabel tersebut dimana tingginya tingkat pendidikan tinggi (Strata satu) menyusul tingkat pendidikan diploma dan strata 2 dapat dikatakan bahwa Keberadaan responden guru sangat signifikan dengan kualitas akademik dengan prospek pengembangan sekolah dalam rangka pengimplementasian MBS. Selanjutnya karakteristik responden masyarakat akan diuraikan secara rinci sebagai berikut: a. sedang dan tinggi terlihat bahwa tidak terdapat guru yang berkualifikasi pendidikan rendah dan hanya terdapat 3 orang guru yang berpendidikan D.III atau sekitar 12.17 persen dan 2 orang atau 8.17 persen dan yang berpendidikan stara 2 yakni sebanyak 2 orang atau sekitar 8.33 persen dengan tingkat pendidikan strata dua. diploma tiga terdapat 3 orang atau 12.

5 persen sampai pada tingkat sarjana sebanyak 13 orang atau sekitar 54.33 persen. Penyebaran responden masyarakat menurut tingkat pendidikan Tingkat Pendidikan Tidak Tamat SD SD SLTP SLTA Sarjana Frekuensi (f) 2 9 13 Persentase (%) 8.menurut tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel 4. 2012 Tabel 4. Responden masyarakat berdasarkan pendapatan Distribusi responden menurut tingkat pendapatan diasumsikan signifikan dengan tingkat partisipasi masyarakat terhadap pembangunan/pengembangan sekolah. dominan responden berpendidikan sarjana.5: Tabel 4. Responden masyarakat menurut tingkat pendapatan dapat dilihat pada tabel 4.4.4 tentang penyebaran responden menurut tingkat pendidikan dapat dilihat bahwa tingkat pendidikan menyebar dari SLTP sebanyak 2 orang atau 8.17 Jumlah 24 100 Sumber: Data Primer.33 37. SLTA 9 orang atau sekitar 37.4 sebagai berikut: Tabel 4. 2012 Pada tabel 4. Jika distribusi responden tersebut dianalisis dengan membandingkan masing-masing tingkat pendidikan yang ada.5. hal ini menunjukkan bahwa peran serta masyarakat potensial terlibat dalam setiap kegiatan sekolah. Penyebaran responden menurut tingkat pendapatan Tingkat Pendapatan < 1 Juta 1 – 5 Juta < 5 Juta Frekuensi (f) 5 12 7 Persentase (%) 20.5 54.83 50 29. menunjukkan bahwa sebagian besar responden berpendapatan 1-5 juta .17 Jumlah 24 100 Sumber: Data Primer. b.17 persen.5.

67. Memperhatikan tabel tentang penyebaran responded menurut latar belakang pekerjaan bahwa pegawai negeri sipil yang dominan memperlihatkan tingkat partisipasi paling tinggi. 2012 Dengan melihat tabel 4. Dan bila dibandingkan dengan yang berpendapatan rendah (kurang 1 juta) lebih banyak berpendapatan tinggi (di atas 5 juta) yaitu sebesar 29. Dari Persentase ini jika dianalisis.17 persen dan jumlah sampel yang diteliti (sebanyak 24 orang).67 20. kemudian kalangan wiraswasta juga memperlihatkan tingkat partisipasi yang cukup tinggi.6 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki latar belakang pekerjaan sebagai pegawai negeri yaitu sebanyak 9 orang atau sekitar 41. Penyebaran responden masyarakat menurut latar belakang pekerjaan Tingkat Pendidikan Pegawai Negeri Pensiunan Pegawai Negeri Wiraswasta Frekuensi (f) 14 2 8 Persentase (%) 41. menyusul wiraswasta 8 orang atau sekitar 37.83 persen.5 persen sedang pensiunan pegawai negeri yang terlibat dalam komite sekolah hanya 4 orang atau sekitar 20.6. Adapun tabel penyebaran tingkat dan latar belakang pekerjaan dapat dijelaskan melalui tabel 4.atau 50 persen. Latar belakang pekerjaan responden masyarakat Latar belakang pekerjaan dapat diasumsikan signifikan dengan tingkat partisipasi masyarakat terhadap pengembangan sekolah.5 Jumlah 24 100 Sumber: Data Primer.83 37. maka tingkat pendapatan masyarakat potensial terhadap pengembangan sekolah menjadi lebih baik. Biasanya tingkat pekerjaan yang dimiliki oleh seseorang sangat mendukung dalam penetapan kebijakan pada sebuah institusi terlepas dari konsep politik maupun sosial.6 di bawah ini: Tabel 4. hal tersebut jika dianalisis bahwa selama ini perhatian dunia usaha/wiraswasta yang menjadi sorotan masyarakat telah mengalami perubahan yang mendasar sebagai akibat dan perubahan subsistem . 2.

C. (3) kepala. sekolah sebagai administrator. dengan upaya memotret keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah dan sekaligus menggambarkan kondisi obyektif profit sekolah secara utuh. dan (7) kepala sekolah sebagai motivator. memberikan dorongan kepada seluruh tenaga kependidikan. Sebagai edukator. Instrumen yang digunakan untuk mengukur kinerja kepala sekolah adalah instrumen yang sama dikeluarkan oleh departemen pendidikan nasional. peserta didik. (5) kepala sekolah sebagai leader. (4) kepala sekolah sebagai supervisor. memberikan nasehat kepada warga sekolah. Menciptakan iklim sekolah yang kondusif. dan memberi teladan yang baik. . mengikuti perkembangan iptek. (6) kepala sekolah sebagai innovator. Kepala Sekolah sebagai Pendidik (Edukator). serta melaksanakan model pembelajaran yang menarik. Dalam melakukan fungsinya sebagai edukator. Kinerja Kepala Sekolah dalam Pelaksanaan MBS pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum Secara khusus variabel kinerja kepala sekolah dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan quosioner sebagai pedoman wawancara untuk menganlisis aktivitas kinerjanya sebagai kepala sekolah serta melakukan pengamatan secara seksama mengenai kondisi riil berkaitan dengan implementasi manajemen berbasis sekolah. kepala sekolah bertugas untuk membimbing guru. Dirjen Dikdasmen tahun 2000. tenaga kependidikan.manajemen pendidikan yaitu manajemen berbasis sekolah. kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan di sekolahnya. Kinerja sekolah merupakan keterpaduan semua warga sekolah yang tidak terlepas dan pelaksanaan tugas kepala sekolah (Dirjen Dikdasmen 2000) Untuk kinerja kepala sekolah dipakai 7 (tujuh) komponen penilaian yaitu (1) kepala sekolah sebagai edukator (2) kepala sekolah sebagai manajer.

saya serahkan ke pembina kesiswaan. atau pendidikan lanjutan. sedangkan untuk pembimbingan guru diserahkan kepada tim yang saya bentuk untuk memantau kinerja guru” (14 Maret 2012). Apa yang disampaikan oleh kepala SMPM 4 Watampone. . dengan cara mendorong para guru untuk memulai dan mengakhiri pembelajaran sesuai waktu yang telah ditentukan. moving class dan mengadakan program akselerasi bagi peserta didik yang cerdas di atas normal. serta memanfaatkannya secara efektif dan efisien untuk kepentingan pembelajaran. Tugas diluar dan tamu yang datang terkadang menyebabkan kepala sekolah tidak masuk mengajar dikelas. b) menggerakkan tim evaluasi hasil belajar peserta didik. bahkan beliau sebagai kepala sekolah mendapat tugas mengajar di kelas dengan jumlah jam wajib sebanyak 6 jam. “Kepala Sekolah itu adalah tugas tambahan yang dipercayakan pemerintah kepada saya untuk memimpin lembaga ini. khususnya dalam peningkatan kinerja tenaga kependidikan dan prestasi belajar peserta didik adalah sebagai berikut: a) mengikutsertakan guru-guru dalam penataran. dan itu fungsi utama saya sebagai seorang edukator atau tenaga pendidik. Sekalipun demikian saya akan menggantinya atau mencarikan waktu untuk tetap mengajar pada kelas yang saya ajar.seperti team teaching. membimbing siswa serta membimbing guru dalam peningkatan proses pembelajaran. tetapi tetap mencari waktu di sore hari untuk mengajar. c) menggunakan waktu belajar secara efektif di sekolah. Upaya yang dapat dilakukan kepala sekolah dalam meningkatkan kinerjanya sebagai edukator. Tugas utama saya adalah mengajar. Oleh karena itu kami berusaha bekerja semaksimal mungkin agar tugas utama kepesek tidak terbengkalai maka jam mengajar kepala sekolah kami tempatkan pada jam 1dan 2 setiap hari senin sampai jumat. sejalan dengan yang diinformasikan oleh Wakasek “ Drs Suradi” dan bapak Muh Amin sebagai urusan Kurikulum. Khusus untuk membimbing siswa. dan sebagainya Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala SMPN 4 Watampone” Drs Mahmud MM” kegiatan pembelajaran di sekolahnya berjalan dengan tertib. meskipun saya menyadari kegiatan diluar yang berkaitan dengan kepentingan sekolah terkadang membuat saya tidak mengajar.

kepala sekolah sebagai seorang edukator telah bekerja sesuai standar yang berlaku. Karena itu. meskipun beliau tetap menggantinya di sore hari. kami membuat jadwal mengajar yang tetap memungkinkan kepala sekolah tetap mengajar dengan memberi jadwal jam 1-2 setiap hari Senin-Rabu. kepala sekolah Membimbing guru dalam meningkatkan kinerja mereka terutama bagaimana menyusun RPP dan mengajar dengan memanfaatkan tekhnologikhususnya dalam hal kegiatan proses belajar mengajar dan b) membimbing siswa dengan memberikan materi pembelajaran sekaligus memotivasi siswa untuk berprestasi. agar aktivitas pembelajaran siswa tidak terganggu (15 Maret 2012”). Berdasarkan keterangan diatas. Hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa Kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Watampone: a) Masuk kelas mengajar. Dan menurut analisis penulis bahwa prilaku kepala SMPN 4 Watampone yang mengajar dalam kelas dan berusaha menggantinya jika berhalangan masuk adalah sebuah prilaku yang patut ditiru oleh kepala sekolah yang lain yang terkadang hanya namanya yang tercantum dalam jadwal/roster mengajar tetapi orang lain yang menjalankannya. . Adapun bentuk riil dan masing-masing tugas yang telah dilakukan Kepala Sekolah tersebut di atas adalah : a) Bersama dengan tim yang dibentuk dari urusan kurikulum dan pengajaran. b) Kepala SMP Negeri 4 Khusus telah melaksanakan fungsinya sebagai Educator (pendidik) sebagaimana yang diharapkan dalam MBS yaitu kepala sekolah tetap menjalankan aktivitas mengajar dalam kelas.“Kami memahami bahwa kepala sekolah memiliki kesibukan yang teramat padat sehingga tugas mengajarnya terkadang terabaikan. dengan jumlah jam wajib 6 jam pelajaran/minggu yang dilaksanakannya setiap hari Senin-Rabu dengan masuk pada jam pertama sampai jam kedua.

administrasi sekolah. seperti dalam kegiatan ketatausahaan. Hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Watampone sebagai seorang manajer telah melaksanakan fungsinya dengan baik . padahal masih banyak pekerjaan lain”(27 Maret 2012). Meskipun demikian. karena semua urusan yang diangkat untuk mendampingi beliau dalam membantu menjalankan tugasnya adalah orang-orang pilihan. Kepala Sekolah diharuskan mampu mensinkronkan antara berbagai program yang telah disusun dengan memanfaatkan sumber daya sekolah yang tersedia yang disesuaikan dengan arah dan kondisi sekolah. “Potensi guru disekolah kami termasuk pegawai dari segi jumlah sangatlah besar. Sebagai seorang manajer. Berdasarkan wawancara dengan ibu Rosmawati sebagai kepala tata usaha dan pak Herman sebagai wakasek kurikulum dan pengajaran. namun kepala sekolah sering memberikan tugas rangkap kepada seorang guru atau pegawai sehingga sumber daya yang seharusnya bisa dimaksimalkan perannya menjadi berkurang. bahwa masih terdapat beberapa kelemahan yang dilakukan oleh kepala sekolah sebagai seorang manajer yang seharusnya kelemahan tersebut bisa diminimalisir bahkan ditiadakan. “Kepala sekolah sangat jeli melihat guru atau pegawai yang profesional untuk ditempatkan pada bidang atau urusan yang sangat strategis dalam rangka pengembangan sekolah dan sangat membantu meringankan pekerjaan kepala sekolah”(23 Maret 2012).Kegiatan kepala sekolah masuk mengajar adalah selain sebagai tugas pokok juga memberi contoh kepada guru agar guru dapat melaksanakan tugasnya secara optimal dan siswa dapat termotivasi untuk belajar dengan baik. bahwa kepala sekolah tetap menempatkan orang-orang yang dianggap sangat profesional dalam hal-hal yang sangat urgensial untuk kemajuan sekolah. uraian tugas berdasarkan kemampuan personil serta uraian tugas organisasi. ditambahkan oleh ibu Rosmawati. sehingga kelemahankelemahan yang terjadi dapat cepat diatasi. banyak tenaga honorer yang terparkir yang tenaganya hanya kadang dipakai untuk mengurus atau mengerjakan hal yang sama.

Sebagai administator. b) Memiliki susunan kepegawaian sekolah c) Memanfaatkan sumber daya manusia serta sarana-prasarana secara optimal. Pembuatan Program : Program utama yang menjadi fokus antara lain adalah (1) Program kerja kepala sekolah adanya : a) Program jangka panjang (8 tahun). bentuk program . kepala sekolah juga dituntut untuk mengelola kurikulum. Aktivitas administratif adalah semua kegiatan yang berkaitan dengan pencatatan. Secara spesifik. Adapun bentuk kegiatan riil dari masing-masing uraian tugas yang telah dilakukan kepala sekolah tersebut di atas adalah : 1. dan mengelola administrasi keuangan. Kepala Sekolah sebagai Administrator Administrasi merupakan suatu proses yang menyeluruh dan terdiri dari bermacam kegiatan atau aktivitas di dalam pelaksanaannya. jangka menengah (4 tahun) dan jangka pendek baik akademik maupun non akademik. penyusunan dan dokumentasi program dan kegiatan sekolah. Adapun. d) Mempunyai catatan kinerja sumber daya manusia yang ada disekolah serta peningkatan mutu. Berdasarkan uraian tersebut menunjukkan bahwa Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Watampone telah melaksanakan fungsi sebagai administrator. penyusunan RAPBS serta dan mempunyai mekanisme monitor dan evaluasi pelaksanaan program secara sistematika. mengelola administrasi sarana dan prasarana.dengan catatan masih perlu melakukan koordinasi antar pegawai khususnya pegawai tata usaha. mengelola administrasi kearsipan. kepala sekolah bertanggung jawab atas kelancaran segala pekerjaan dan kegiatan administratif di sekolahnya.

kegiatan riil dari masing-masing uraian tugas yang telah dilakukan kepala sekolah sebagai seorang administrator di SMPN 4 Watampone tersebut di atas adalah : a. Memiliki dokumen yang berkaitan dengan laporan penggunaan dana bos, dokumen penyusunan RAPBS dan dokumen-dokumen lainnya yang berkaitan dengan pemanfaatan dana. b. inovasi yang mengikuti perkembangan dunia pendidikan dengan tujuan meningkatkan mutu pendidikan berdasarkan pengembangan kurikulum dilakukan untuk mewujudkan tujuan pendidikan Nasiona c. Administrasi kepala sekolah yang dapat memperlancar semua kegiatan kepala sekolah yang dilengkapi beberapa administrasi antara lain administrasi kesiswaan, keuangan, sarana dan prasarana dan administrasi persuratan yang bertujuan untuk mempermudah/ memperlancar segala sesuatu tugas kepala sekolah. Sejalan dengan fungsinya sebagai seorang administrator, Kepala SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum telah berusaha secara maksimal untuk mengadministrasikan berbagai hal yang berkaitan dengan kepentingan sekolah. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh penulis kepada kepala sekolah, beliau menyatakan: “Saya berusaha untuk mengarsipkan setiap laporan yang berkaitan dengan keuangan, kegiatan kesiswaan, persuratan, penyusunan dan dokumentasi program serta pengelolaan pemanfaatan sarana dan prasarana. Meskipun demikian karena banyaknya dokumen yang harus diarsipkan maka saya mempercayakan kepada kepala tata usaha untuk menghandel sebagian dari tugastugas saya selaku administrator, bahkan dokumen yang berkaitan dengan kegiatan kesiswaan juga banyak yang dipegang langsung oleh urusan kesiswaan( 27 Maret 2012).

Kepala Sekolah sebagai Supervisor. Supervisi juga dapat diartikan sebagai pembinaan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah agar mereka dapat meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan situasi belajar

mengajar dengan lebih baik sesuai dengan tujuan pendidikan. Kepala sekolah sebagai supervisior mempunyai peran dan tanggung jawab untuk membina, memantau, dan memperbaiki proses pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Supervisi kepala sekolah dapat dilakukan secara individual maupun kelompok. Di antara tugas-tugas kepala sekolah sebagai supervisor adalah: 1) Membantu stafnya menyusun program; 2) Membantu stafnya mempertinggi kecakapan dan keterampilan mengajar; dan 3) Mengadakan evaluasi secara kontinyu tentang kesanggupan stafnya dan tentang kemajuan program pendidikan pada umumnya. Keberhasilan peran kepala sekolah sebagai supervisor antara lain dapat ditunjukkan oleh: 1) meningkatnya kesadaran guru dan staf untuk meningkatkan kinerjanya; dan guru dan staf dalam melaksanakan tugasnya. Sesuai dengan wawancara yang dilakukan dengan kepala sekolah, Bapak Drs. Mahmud, MM, bahwa tugasnya sebagai seorang supervisor belumlah berlangsung dengan optimal, karena masih ada guru yang mengajar tidak sesuai dengan program yang telah disusunnya, disisi lain kemampuan mengajar yang diperlihatkan oleh guru yang disupervisi terlihat masih sangat rendah. “Saya menyadari bahwa kemampuan mengajar antara guru yang satu dengan yang lain tidaklah sama, tergantung kepada kemampuan setiap guru. Setiap 3 bulan sekali saya melakukan supervisi akademik dan supervisi manajerial untuk memantau aktivitas pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan selama hasil pemantauan masih ada guru yang belum membuat RPP padahal sudah disiapkan filenya oleh urusan kurikulum dan urusan pengajaran. Disis lain, aktivitas pembelajaran yang dilakukan belumlah mengaktifkan siswa sehingga pembelajaran yang sifatnya Joyfull Learning masih jauh dari harapan”(27 Maret 2012). Kepala Sekolah sebagai Leader Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah dapat mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah melalui program-program yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap. Untuk kepentingan tersebut, kepala sekolah harus mampu mempengaruhi dan menggerakkan sumber daya sekolah dalam kaitannya dengan 2) meningkatakan keterampilan

perencanaan dan evaluasi program sekolah, pengembangan kurikulum, pembelajaran yang berkarakter, pengelolaan ketenagaan, sarana dan sumber belajar, keuangan, pelayanan siswa, hubungan sekolah dengan masyarakat, penciptaan iklim sekolah, dan sebagainya. Kondisi ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh kepala sekolah”Drs. Mahmud, MM’’ bahwa: “Kedudukannya sebagai kepala sekolah sangat berkaitan erat dengan perencanaan dan evaluasi program , pengelolaan ketenagaan, pemanfaatan dana serta penciptaan iklim sekolah yang kondusif. Sebagai orang yang dipercayakan untuk memimpin SMPN 4 Watampone, terkadang sikap otoriter tetap dipakai agar sistem tetap berjalan karena jika terlalu lemah, bawahan bisa semakin menjadi-jadi, bahkan sebagai pimpinan saya harus berani mengambil resiko untuk kepentingan bersama. Perumusan visi dan misi demi sebuah pembaharuan harus menjadi prioritas utama demi terselenggarannya pendidikan yang bermartabat”(27 Maret 2012). Adapun bentuk kegiatan riil dari masing-masing kegiatan uraian dan tugas yang telah dilakukan kepala sekolah di atas dapat dijabarkan sebagai berikut: a) Mengenal bawahannya Kepala sekolah harus mengenal bawahan dari dekat diantaranya jenjang pendidikan, tingkat golongan, kepribadian dan wawasan yang dimiliki guru serta memberikan penghargaan bagi guru yang mengharumkan nama sekolah. b) Berani mengambil resiko Tidak semua kepala sekolah berani mengambil resiko atau bertanggung jawab dalam kehidupan di sekolah. Misalkan gurunya dipindahkan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, pengamperaan kekurangan gaji guru terlambat. Solusinya dikoordinasikan dengan semua bersama

personil sekolah dan komite sekolah. Bahkan kepala sekolah tidak segan

untuk turun kelapangan memperjuangkan bantuan bagi siswa yang tidak mampu. c) Memiliki Visi dan Misi Sekolah harus memiliki visi dan misi yang bertujuan untuk kesiapan kedepan demi terlaksananya pendidikan yang efektif dan efisien.

tetapi manakala menyangkut tentang pemanfaatan dana bos untuk kepentingan guru dan siswa. kepala sekolah terkesan bersikap otoriter. administrasi. Apa yang disampaikan oleh sala seorang guru yang mengajar di sekolah tersebut adalah bentuk ketidakpuasan atas kinerja kepala sekolah sebagai seorang pemimpin yang terkesan . daftar hadir guru (jam dan harian). Pelaksanaan evaluasi dalam fungsinya sebagai leader bahwa semua tanggungjawabnya dilaksanakan sepenuhnya yaitu semua stafnya dinilai berdasarkan hasil yang sudah dicapai dengan pengajuan Kriteria yang didapat sebagai dasar tindak lanjut perbaikan (kalau perlu). baik ulangan harian. e) Evaluasi. Hasil tersebut di atas menunjukkan bahwa Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Watampone Kabupaten Umum dapat melaksanakan tugas/fungsinya sebagai leader/ pemimpin. bahwa kepala sekolah banyak berjuang untuk siswa tidak mampu agar mendapatkan bantuan. ulangan tengah semester serta berbagai aktivitas kesiswaan kurang mendapat perhatian dari kepala sekolah. Banyak kebijakan yang dibuat belum mencerminkan kepentingan guru padahal sumber pendanaan sangat menunjang untuk berbagai kegiatan yang dilakukan. ulangan semester.d) Gagasan Pembaharuan Kepala sekolah memikirkan akan perkembangan sekolahnya sehingga dapat membuat program-program sebagai pembaharuan yang ujung-ujungnya peningkatan mutu dan peningkatan kualitas sekolah. Sambil memberi contoh tentang kegiatan ulangan. Berdasarkan perannya sebagai seorang leader atau pemimpin terdapat perbedaan cara pandang antara beberapa orang guru dengan kinerja kepala sekolah sebagai seorang leader. pembagian tugas guru. kesemuanya hal tersebut di atas dilaksanakan secara demokratis. Jalani Salah seorang guru senior yang diwawancarai mengatakan bahwa: “Kinerja kepala sekolah sebagai seorang pemimpin dianggap belumlah memihak kepada kepentingan guru dan siswa. baik bantuan dari provinsi maupun bantuan dari pusat. Memang kami akui. pelaksanaan pengembangan kegiatan pembelajaran dan hasil kerja guru penetapan dan Kenaikan kelas.padahal telah banyak kritikan untuk memperbaiki kinerja beliau” (28 bapak kepala 2012).

Apa yang disampaikan oleh Jalani juga dipertegas oleh salah seorang guru yang sering mengkritik kebijakan yang dibuat oleh kepala sekolah. mengintegrasikan setiap kegiatan.cenderung bersikap otoriter dan kebijakan yang dibuat belum mencerminkan keadilan untuk guru dan siswa. Bahkan RAPS yang seharusnya dijadikan pedoman dalam pelaksanaan kegiatan atau program yang disusun tidak dijadikan acuan melainkan lebih mengarah kepada keinginan pribadi. Dengan mengacu kepada pendapat dua orang guru. Dalam rangka melakukan peran dan fungsinya sebagai inovator. memberikan teladan kepada seluruh .Kepala sekolah haruslah mampu menyeimbangkan antara kepentingan bawahan dengan kepentingan atasan”(27 Maret 2012). mencari gagasan baru. Bahkan berbagai kegiatan yang dilakukan lebih banyak melibatkan orang dekat ketimbang guru guru yang lain. Dalam MBS. Kami akui. RAPBS yang dibuat terkadang hanyalah dokumen belaka yang tidak dijadikan acuan untuk melaksanakan setiap program yang telah dibuat. kedekatan kepala sekolah dengan penentu kebijakan yang berada diatasnya telah membawa manfaat besar bagi kemajuan sekolah ditinjau dari segi bantuan untuk pembangunan infrastruktur tapi itu belumlah cukup. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Andi Asrib Adnan: “Kepala sekolah belumlah bekerja maksimal untuk kepentingan guru dan siswa terutama dalam pemanfaatan dana. Kebijakan yang dibuat tidaklah mencerminkan kepentingan banyak guru. Kepala sekolah Sebagai Inovator. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk mencegah bentuk kesewenangan yang mungkin akan bertambah. menunjukkan bahwa peran kepala sekolah sebagai seorang leader atau pemimpin belumlah maksimal. maka dewan guru harus berani mengemukakan kepada komite sekolah akan kondisi yang terjadi dan dengan demikian diharapkan komite dapat menjadi penyeimbang setiap keputusan yang diambil oleh pihak sekolah. kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan lingkungan. seorang kepala sekolah haruslah bersikap transparan dan akuntabel untuk kepentingan semua pihak baik dalam internal sekolah maupun dengan pihak yang berada diluar sekolah.

saya harus menjadi teladan bagi guru yang lain. disiplin.tenaga kependidikan di sekolah dan mengembangkan model-model pembelajaran yang inovatif. Adanya ide-ide baru yang menjadi pedoman dalam melaksanakan tugas pembinaan tenaga guru. menggali sumber daya dari komite. Apa pengembangan. Peran kepala sekolah sebagai innovator akan tercermin dari cara-cara ia melakukan pekerjaannya secara konstruktir. keteladanan. adapun bentuk kegiatan riil dan tugas yang telah dilakukan kepala sekolah di atas. adalah : a. kepala sekolah memang terkenal sangat disiplin.kabupaten maupun provinsi” (27 Maret 2012). saya upayakan sebagai orang terakhir yang kembali kerumah. . c. Melaksanakan pembaharuan di bidang kegiatan ekstrakurikuler. rasional dan obyektif. Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala Sekolah”Drs Mahmud MM” dinyatakan bahwa: “Semaksimal mungkin. misalkan datang disekolah tepat waktu bahkan mendahului guru yang lain termasuk ketika pulang. Mendatangkan guru model untuk mengajar pada satu kelas yang dilihat banyak guru adalah salah satu upaya yang saya lakukan untuk memotivasi guru agar lebih inovatif dalam mengajar. serta adaptabel dan fleksibel. delegatif. b. sebagai salah satu pembina kesiswaan yang dikenal memiliki tingkat kedisiplinan yang tinggi berdasarkan informasi dari beberapa guru yang dimintai informasi tentang siapa guru yang paling rajin dan disiplin dimana sebahagian besar menjawab Yusnani. Peneliti mewawancarai Yusnani. beliau menyatakan: “Berbicara tentang masalah kedisiplinan. Untuk membuktikan kebenaran dari apa yang disampaikan oleh kepala sekolah. kreatif. Dalam wawancara yang dilakukan. Mampu berprestasi di sekolah melalui kegiatan ekstrakurikuler. Tujuan utamanya adalah untuk menanamkan keteladanan dan kedisiplinan. Hasil wawancara tersebut di atas menunjukkan bahwa Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Watampone telah melaksanakan fungsinya sebagai innovator di sekolahnya. Tujuan utamanya adalah bagaimana menggali potensi anak untuk berprestasi baik ditingkat sekolah. integratif.

Cuma kami berharap tindakan kepala sekolah hendaknya dibarengi dengan pemberian penghargaan bagi guru yang rajin dan berdedikasi tinggi untuk kemajuan sekolah. UKS dan perpustakaan. Adapun bentuk kegiatan riil dari masing-masing uraian tugas kepala sekolah di atas adalah : a. kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk memberikan motivasi kepada para tenaga kependidikan dalam melakukan berbagai tugas dan fungsinya. 2006:40). pengaturan suasana kerja. dorongan. hirarki kebutuhan maslow pasti disebut-sebut. antara guru dan masyarakat (orang tua siswa) yang harmonis dan menciptakan rasa aman di lingkungan sekolah. Kami juga berharap sikap objektif dan keterbukaan kepala sekolah juga sampai pada tataran penggunaan dana” (28 Maret 2012). Abraham maslow mengemukakan lima tingkat kebutuhan yaitu (1) kebutuhan fisiologis. Motivasi ini dapat tumbuh melalui pengaturan lingkungan fisik. Kemampuan mengatur lingkungan kerja adalah seorang kepala sekolah mampu mengatur ruang kepala sekolah yang kondusif untuk bekerja ruang kelas yang kondusif untuk kegiatan belajar mengajar. Karena itu rasanya kami malu jika datang terlambat. b. Kepala sekolah Sebagai Motivator Sebagai motivator. dan mengatur halaman lingkungan sekolah yang sejuk nyaman dan teratur. Hierarki ini didasarkan pada anggapan bahwa pada waktu orang telah memuaskan satu tingkat kebutuhan tertentu. Kemampuan mengatur lingkungan kerja (non fisik) kepala sekolah menciptakan hubungan kerjasama sesame guru.yang kepala sekolah lakukan tidak lain untuk menunjukkan sikap keteladanan sebagai seorang pemimpin.(2) kebutuhan akan rasa aman. disiplin. penghargaan secara efektif dan penyediaan berbagai sumber belajar melalui pengembangan pusat sumber belajar.(3) kebutuhan akan cinta kasih atau kebutuhan sosial. Meskipun demikian tetap ada beberapa orang guru yang sulit untuk datang tepat pada waktunya padahal jam mengajarnya jam 1. c. Menetapkan prinsip motivasi yang berupa penghargaan dan hukuman Setiap kali membicarakan motivasi. Uno.(4) . mereka ingin bergeser ke tingkat yang lebih tinggi (Hamzah b.

Yang pasti. Seorang pemimpin pada sebuah institusi dalam memperhatikan kinerja pegawainya di dasari oleh berbagai pertimbangan.Sukmawati. Pak A. F. ibu Harlina. ibu Hj A. Zulfadli.W. uang merupakan pendorong semangat utama. tingkat pembayaran insentif yang tepat bagi orang-orang yang menangani pekerjaanpekerjaan produksi menyebabkan peningkatan produktivitas dan lebih banyak upaya. Pak Bachrun Djahidin dan guruguru lainnya terdapat kesamaan pandangan akan kinerja kepala sekolah dalam memberikan penghargaan kepada guru yang sudah bekerja memberikan yang terbaik kepada sekolah. Berdasarkan hasil wawancara peneliiti dengan beberapa orang guru. Kepala SMP Negeri 4 Khusus sedikit banyaknya telah berhasil dalam meningkatkan kinerja guru terhadap kontribusi mereka untuk mengimplementasikan manajemen berbasis sekolah. Orang yang bekerja dengan pekerjaan tangan yang sulit. Pak Syamsuddin.kebutuhan akan penghargaan dan (5) kebutuhan akan aktualisasi diri. kami . Dalam keadaan seperti itu.Uno. Taylor sebagai seorang tokoh manajemen ilmiah memusatkan perhatian pada sebuah pendekatan bahwa uang merupakan motivasi uatama bagi seseorang yang bekerja (Hamzah b. Tampaknya pendekatan manajemen ilmiah Taylor sebagian benar. Meskipun demikian masih terdapat kelompok-kelompok tertentu yang menganggap motivasi kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja guru dan pegawai belum maksimal terutama dalam bentuk pemberian penghargaan kepada guru-guru yang sudah bekerja maksimal dalam memajukan sekolah. diantaranya bapak Madeaming. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan. “Kepala Sekolah memang sudah bekerja untuk membangkitkan motivasi guru tetapi kami rasakan bentuk penghargaan yang diberikan kepada kami belumlah maksimal. Motivasi kerja guru merupakan hal yang sangat menunjang kinerja guru. biasanya tidak termotivasi oleh pekerjaan itu sendiri. Namun kewaspadaan perlu diterapkan untuk memastikan bahwa tidak terdapat perubahan mutu. Kami jujur.2006:40) Namun perkembangannya memang berbeda kepada setiap orang dan setiap pekerjaan.

4. terutama kepada . dana BOS terbesar di Kabupaten Umum adalah SMPN 4 Watampone. Dalam melaksanakan tugasnya kepala sekolah menjadikan staf dewan guru sebagai partner dalam melakukan tugas-tugas pembelajaran di sekolah. 3.bekerja dengan ikhlas tetapi kami rasanya berat untuk berbuat terbaik manakala sekolah lain yang jumlah dana BOSnya kecil tetapi bisa melakukan yang terbaik untuk siswa maupun gurugurunya. padahal menurut kami persoalan dana sama sekali bukanlah masalah prinsipil. 5. sehingga guru mapun staf administrasi merasa dihargai. Pembinaan diberikan secara menyeluruh kepada semua guru dengan tidak berpihak pada guru tertentu serta membantu memecahkan masalah yang dihadapi guru bila terdapat kesulitan dalam menyelesaikan tugasnya. Kedepan kami berharap. baik secara langsung maupun tidak langsung dengan selalu mengedepankan prinsip saling menghargai. Adapun bentuk motivasi yang telah diterapkan oleh Kepala SMP Negeri 4 Khusus kepada guru dan pegawai antara lain: 1. baik berupa pujian maupun dalam bentuk material. Berdasarkan keadaan tersebut maka peran kepala sekolah dalam mengimplementasikan manajemen berbasis sekolah pada bidang motivator telah berjalan secara optimal walaupun untuk kedepannya bentuk penghargaan kepada guru harus lebih ditingkatkan. Setiap masukan ditampung dengan demokratis. Pemberian penghargaan meskipun belum berjalan optimal tetap dilakukan oleh kepala sekolah. Jika terjadi keberhasilan dan kegagalan bawahan maka itu juga merupakan kegagalan dari kepala sekolah. Mendorong partisipasi bawahan dalam melakukan tugas di sekolah dan bertanggung jawab atas segala kegiatan yang berlangsung di sekolah.karena kami tahu. penghargaan yang sifatnya materiil kepada siswa maupun guru bisa diperbaiki dan transparansi pemanfaatan dana baik ke dewan guru maupun ke komite sekolah menjadi lebih terbuka dan akuntabel”(28-3-2012). Kepala sekolah berperan aktif dalam membina dan mengembangkan tugas profesionalisme guru. Bagi guru yang dianggap lalai dalam menjalankan tugasnya sebagai tenaga edukatif yang profesional diberikan teguran. 2.

Dengan demikian Kepala sekolah mampu menerapkan/mengembangkan motivasi infernal dan eksternal bagi warga sekolah. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan kepada 24 responden.guru dan staf tata usaha yang telah mencurahkan waktunya untuk kemajuan sekolah. Apabila suasana seperti ini dilakukan kepala sekolah. Kinerja Guru dalam Pelaksanaan MBS pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Watampone (1). Dari jawaban yang diberikan. D. program perbaikan dan pengayaan serta jurnal pembelajaran.Muliati dan Ibu A. Serta menerapkan prinsip penghargaan dan hukuman. Hal ini tercermin dari hasil wawancara dengan ibu A. memahami dan melaksanakan KTSP baik pada dokumen satu maupun pada dokumen dua.Hajar sebagai berikut: “Baik dokumen satu maupun dokumen 2 sudah kami pahami dan sudah kami jabarkan dalam kegiatan pembelajaran. Kelengkapan Program Mengajar Adapun yang menjadi fokus penelitian yang dilakukan peneliti berkaitan dengan kelengkapan program mengajar adalah:1)Apakah guru-guru di SMPN 4 Watampone telah memiliki. analisis ulangan harian. sedangkan yang harus kami miliki adalah dokumen dua yang berisi semua kelengkapan untuk kepentingan kami sebagai guru dan itu dimiliki oleh semua guru karena kepala sekolah setiap awal semester melakukan pendataan kepada semua guru karena itu sangat berkaitan dengan penilaian kinerja”(28-32012).memahami dan melaksanakan KTSP. Untuk dokumen satu tidak kami pegang karena itu menjadi dokumen sekolah. termasuk siswa-siswa yang telah berjasa mengharumkan nama sekolah. silabus. terlalu tebal dan memuat semua komponen mata pelajaran.2)Apakah administrasi yang dimiliki oleh guru telah lengkap atau belum. hampir semuanya menjawab telah memiliki. daftar hadir dan daftar nilai. seperti RPP. mengindikasikan bahwa tingkat kesadaran guru di SMPN 4 . maka penilaian guru tentang prilaku kepemimpinan kepala sekolah akan senatiasa mengarah pada iklim yang kondusif dan ini akan berdampak pada peningkatan kinerja guru.

apalagi jika pimpinan tersebut dianggap tidak bisa mengakomodir berbagai kepentingan yang ada di sekolah. KKM serta indikator pembelajaran. Bapak M. Hal ini perlu diperhatikan karena pembuatan jurnal pembelajaran sangat membantu guru untuk memahami setiap batasan materi yang diajarkannya dalam kelas. KTSP juga dibuat dalam bentuk program semester dan program tahunan dan terjabarkan dalam analisis materi pelajaran dan rencana pembelajaran artinya membuat analisis RPP. Setiap proses pembelajaran perlu dipahami betul RPP yang telah dibuat.Amin adalah kurangnya kemampuan guru untuk membuat jurnal pembelajaran yang berkaitan dengan tugasnya ketika mengajar dalam kelas. Wujud dan pelaksanaan dari KTSP menurut hasil wawancara dijelaskan bahwa. Hanya ada beberapa diantara guru yang melakukannya. membuat program tahunan. Kemungkinan besar mereka tidak membuatnya karena menganggap hal baru dan kurang disosialisasikan serta tidak menjadi bahan evaluasi dari kepala sekolah maupun pengawas yang datang ketika melakukan supervisi akademik maupun manajerial”(29-3-2012). membuat program semester. Kondisi ini harus terus dijaga oleh sekolah khususnya kepala SMPN 4 Watampone.Watampone sangatlah besar dalam menjalankan tugasnya. agar tidak keluar . KTSP khususnya pada dokumen 2 perlu dimiliki karena merupakan acuan untuk menyusun program pengajaran semester/tahunan. Salah satu kekurangan terbesar yang dimiliki oleh guru SMPN 4 Watampone menurut hasil wawancara dengan urusan kurikulum dan pengajaran. karena terkadang seseorang hanya akan menjadi telaten dalam menjalankan tugas karena tuntutan administratif dan ketaatan yang sesaat kepada pimpinan. karena tanpa kontrol yang rutin khususnya kelengkapan administrasi maka semuanya akan menjadi kacau. Menurut Pak Amin: “Kendala terbesar yang dialami oleh guru-guru disini adalah lemahnya kemampuan untuk membuat jurnal pembelajaran. di samping kurikulum sebagai pedoman sekaligus acuan dalam pembuatan program pengajaran dan pembuatan tes.

alat evaluasi. rangkuman materi pelayaran. kumpulan evaluasi. Bentuk lain dan administrasi yang sudah lengkap yaitu program pengajaran bimbingan penyuluhan persiapan mengajar. daftar nilai dan konseling analisis termasuk jurnal pembelajaran harus dimiliki oleh setiap guru agar pemberian pelayanan yang maksimal kepada anak didik dapat tercapai disamping ada juga program analisis dan rencana perbaikan dan kegiatan pengayaan.dari tujuan yang diharapkan dan wujud pelaksanaannya dituangkan dalam program pengajaran dan persiapan mengajar. program pengajaran. alat/media sumber usaha dan penelitian sehingga kurikulum yang ada betul-betul berbasis kompetensi. kumpulan nilai buku BP analisis soal. analisis pengajaran. analisis materi alat peraga. Penyusunan KTSP juga merupakan sebagai pedoman. buku satuan. daftar nilai. Untuk memperlancar hal tersebut maka pemerintah pusat telah menyusun standar kompetensi dan kompetensi dasar agar penyusunan RPP yang akan dibuat dalam proses pembelajaran dapat berjalan maksimal dengan langkah-langkah kegiatan menyiapkan materi metode. disebutkan juga dalam wawancara yaitu program tahunan. Hasil wawancara lain menyebutkan KTSP perlu dimiliki karena merupakan acuan atau menyusun program pengajaran sebagai dasar atau pedoman untuk membuat perencanaan pengajaran. menurut hasil wawancara dijelaskan bahwa . kumpulan soal. Wujud ataupun bentuk dan lingkupnya administrasi mengajar menurut hasil wawancara dijelaskan bahwa KTSP. Bentuk dan persiapan sebelum mengajar itu. persiapan mengajar. bimbingan penyuluhan . program semester. satuan pelajaran absensi. Karena kalau mengajar tanpa RPP proses kegiatan belajar mengajar tidak berjalan lancer. analisis materi. GBPP. persiapan mengajar. petunjuk atau acuan dalam penyusunan program pengajaran dan sekaligus untuk dipedomani dalam pembuatan Tujuan Pembelajaran Khusus yang sekarang dikenal dengan istilah indikator agar dapat memperlancar proses belajar mengajar.

nilai tugas dan portofolio. Meliputi inti (penjelasan materi) Tujuan Pembelajaran Khusus. daftar nilai harian tes hasil belajar hal yang sama juga dijelaskan oleh responden yang lain bahwa buku daftar nilai siswa itu adalah daftar nilai ulangan harian. pengamatan portofolio dan sumatif artinya buku itu merupakan satu buku didalamnya terdapat format dan di isi sesuai mata pelajaran tiap semester atau satu buku yang didalamnya terdapat format ulangan harian. kadang individu kelompok berpasangan dan klasikal diberikan dalam bentuk bimbingan kelompok dan . dalam bentuk rencana pembelajaran. portofolio dan pekerjaan rumah ada juga yang berupa ulangan harian (tertulis) pengamatan. pekerjaan rumah atau tugas dan ulangan umum.persiapan mengajar dalam bentuk satu kali pertemuan. Ditambahkan lagi bahwa tiap-tiap mata pelajaran dengan bentuk tertulis dan setiap 1 (satu) kali pertemuan di ketahui dan di tanda tangani oleh kepala sekolah. Ada juga persiapan mengajar harian dalam bentuk matriks. dibukukan setiap mata pelajaran hal yang sama juga dijelaskan oleh responden yang lain bahwa persiapannya dalam bentuk 1 (satu) kali pertemuan atau di sesuaikan dengan kondisi yang ada. apersepsi) kegiatan akhir (evaluasi/pegangan) disamping itu ada juga yang berdasarkan KTSP. ada pula yang berdasarkan silabus dibutuhkan permata pelajaran dengan bentuk tertulis. kegiatan awal (motivasi. Bentuk program perbaikan dan pengayaan yang dilaksanakan menurut hasil wawancara dengan responden yaitu dengan bentuk tindakan individu. kelompok diberi pekerjaan/tugas bentuk bimbingan pribadi Ditambahkan pula oleh responden yang lain. pengamatan. Bentuk atau model dan buku daftar nilai siswa menurut hasil wawancara yaitu satu buku diisi sesuai mata pelajaran mencakup nilai ulangan harian. Sumber yang lain menyebutkan bahwa bentuk persiapannya hanya berapa materi dan pola. satu kali pertemuan ditanda tangani oleh kepala sekolah.

Sehingga tidak ada upayua maksimal dari guru yang bersangkutan untuk melakukan koreksi atas pebelajaran yang dilakukannya. banyak mengobrol dan tidak melakukan proses umpan balik. kurang aktif.2 Penyajian Materi Pelajaran. yang sering melakukan supervisi. Persentase dari guru yang bersikap seperti itu tidaklah besar. Drs Mahmud MM. Dari hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan kepala sekolah. Hal ini terbukti banyak siswa yang terkesan tidak memperhatikan penjelasan guru. c. Adapun yang menjadi fokus penelitian yang dilakukan peneliti berkaitan dengan kelengkapan penyajian materi pelajaran penguasaan kelas. Guru terkesan mengajar seadanya tanpa memperhatikan keterampilan proses yang harus tercapai. . Meskipun demikian. sementara Persentase dari guru yang mengajar dengan baik jauh lebih besar”(27-3-2012). mulai dari awal sampai akhir pembelajaran masih ada guru yang tidak menguasai kelas. kegiatan free test dan post test baik sebelum memulai pelajaran maupun setelah melakukan pembelajaran. terdapat kesan guru yang mengajar banyak yang tidak menguasai kelas. “Ketika supervisi dilakukan. Diberikan buku latihan tanya jawab artinya program perbaikan di tujukan terhadap siswa yang mengalami kesulitan baik secara klasikal maupun individu. biasanya hanya dilakukan oleh guru-guru yang mendekati usia pensiun. Salah satu faktor yang menyebabkan proses pembelajaran tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan adalah sikap kepala sekolah yang terkesan agak enggan untuk melakukan koreksi mendalam kepada guru-guru yang hampir memasuki usia pensiun.perorangan. Bentuk yang lain yang ditentukan ialah menerangkan dan memberi motivasi serta mengadakan tanya jawab. Sementara itu bentuk penguasaan kelas yang dilakukan oleh guru menurut hasil wawancara yaitu dengan motivasi siswa agar perhatiannya pada pelajaran yang diberikan dan mengupayakan siswa untuk melibatkan diri dalam belajar. penggunaan model-model pembelajaran yang bervariatif serta pemanfaatn alat-alat peraga. Hal yang lain yang dilakukan yaitu diberikan penjelasan singkat. proses umpan balik dalam setiap pembelajaran.

Kondisi ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Bapak Munir. Ibu Dra Rahmatiah sebagai guru bahasa inggris yang mengajar dengan model pembelajaran yang inovatif berpendapat bahwa: “Waktu yang dipakai dengan penggunaan model pembelajaran yang inovatif terbilang lama. Kegiatan ini berfungsi untuk memberikan pemahaman materi secara kuat kepada siswa”(28-3-2012). agar optimal dalam pengajian materi sehingga tercipta pembelajaran PAIKEM demi melahirkan siswa-siswa yang cerdas dan kreatif serta memiliki keimanan karena mereka juga diwajibkan membaca doa atas surah-surah pendek agar mengenal agama mulai dari kecil sesuai dengan hadist bahwa tuntutlah ilmu dan lahir sampai liang lahat. sedangkan 7 orang atau 29. Meskipun demikian siswa merasa sangat senang dengan cara baru yang dilakukan dalam belajar.83 persen telah menggunakan model-model pembelajaran yang inovatif dan sangat menyenangkan bagi siswa sehingga siswa antusias dalam mengikuti pelajaran. belum lagi pengaturan tempat duduk dan meja.17 persen masih memakai pola lama yang bersifat teacher centered. karena pengaturan kelompok harus diatur sedemikian rupa. Kondisi ini jelas sangat diperlukan seorang guru untuk menguasai kelas. kegiatan post test juga dijalankan. Terdapat 2 jawaban yang berbeda atas penggunaan model model pembelajaran di dalam kelas. Untuk memancing respon siswa terhadap materi yang diajarkan maka kegiatan free test sudah menjadi rutinitas bagi guru-guru di SMPN 4 begitu pula dengan sebaliknya. Bahwa: “Penguasaan kelas sangat diperlukan oleh guru untuk mempermudah penerimaan materi pelajaran.pembacaan doa memberikan kesempatan kepada siswa untuk ditiru oleh temannya. dimana proses interaksi berjalan maksimal baik guru dengan . dari 24 responden yang memberikan jawaban yang ditanyakan peneliti. keterlibatan kelas hendak diperhatikan dan memberikan motivasi berupa penguatan materi dengan jalan melaksanakan free test dan post test. Berkaitan dengan penggunaan model-model pembelajaran. Tanpa penguasaan kelas. maka tujuan pelajaran yang ingin dicapai menjadi lebih sulit. Kegiatan ini dilakukan agar materi yang telah dipelajari siswa dapat tertanam dengan kuat. yang penting adalah siswa mau dan terus fokus dalam mengikuti pelajaran. 17 orang diantaranya atau sekitar 70.Persoalan hasil menjadi standar kedua.

siswa dengan siswa. penggunaan model pembelajaran sangat bergantung kepada kondisi psikologis siswa. efektif. Dalam kegiatan pembelajaran diharapkan guru yang mengajar dapat menerapkan pembelajaran yang aktif. Nurfaigah S. ibu Hamansiah S. mengajar bahasa dengan mengajar IPA memiliki ruang pemahaman yang berbeda.Pd. sehingga tidak terasa berjalannya waktu. siswa dengan guru. M. Berdasarkan jawaban yang diberikan oleh guru-guru SMPN 4 watampone. punya pandangan lain tentang kegiatan pembelajaran yang dilakukannya. Mungkin untuk kelas prestasi model pembelajaran yang inovatif dapat dijalankan. tetapi lebih banyak karena kondisi psikologis siswa yang diajar”(29-3-2012). artinya interaksi ini terjadi agar antara guru dan siswa ada proses pembelajaran yang menyenangkan dan suasana kelas hidup. menyenangkan. inovatif. suasana hati guru yang mengajar. tanya jawab ini biasanya guru dengan siswa. karakteristik mata pelajaran dan kemampuan untuk menjalankan model pembelajaran itu sendiri.siswa maupun siswa dengan siswa. diskusi. pada hakekatnya paham . Ilmu-ilmu pasti membutuhkan ketenangan dan keseriusan. Mereka rata-rata berpendapat bahwa: “Ada kelas yang diajar. Bentuk dan interaksi tersebut dapat berbentuk tanya jawab. kreatif. lebih menekankan kepada kemampuan anak memahami kosakata. pemberian tugas.Usman Abdullah yang diwawancarai tentang penggunaan modelmodel pembelajaran. Dalam MBS. Menurutnya. serta pak Drs Suryadi. tetapi bagi kelas reguler biasa.Pd. Secara umum dapat dianalisis bahwa guru-guru di SMPN 4 Watampone. Pandangan yang sama juga disampaikan oleh guru matematika yang lainnya seperti ibu A. sehingga pembelajaran harus lebih didominasi oleh guru. bagaimanapun metode dan model pembelajaran yang coba untuk dijalankan tetap sulit terlaksana. Sementara itu Bapak H. Jadi persoalannya bukan kepada mampu atau tidak mampu. gembira dan berbobot atau yang biasa disingkat PAIKEM GEMBROT.Pd. terlebih lagi jika materi itu harus dijabarkan dalam bentuk perhitungan. baik bentuk tanya jawab maupun demonstrasi”(27-3-2012). model pembelajaran inovatif menjadi sulit. yang mana bahasa inggris. sedangkan IPA lebih menekankan kepada kemampuan anak dalam menguasai dan mengaplikasikan materi. kondisi yang diharapkan terjadi dalam proses pembelajaran adalah kondisi Joyfull Learning atau pembelajaran yang menyenangkan.

. dan masih banyak lagi yang lainnya. chart. Bagaimana mungkin kami memakai alat peraga kalau di bone tidak ada gunung berapi dan bekas kerajaan-kerajaan yang bercorak hindu budha. Cerdas Spiritual dan Cerdas Emosional.Pd. sistem fermentasi. Sementara hasil wawancara lain yang kontra dengan hasil wawancara sebelumnya menyebutkan bahwa. karena kurangnya bahan/sumber dan kurangnya biaya. katanya sambil tertawa”(28-3-2012). globe. kerajaankerajaan hindu-budha. gambar-gambar pahlawan dan sebagainya jika materi yang diajarkan membutuhkan alat peraga seperti itu. kami tidak memakai alat peraga. karena sulit untuk mendapatkan bahan dari materi yang diajarkan seperti batu-batuan yang keluar dari letusan gunung berapi. Ibu Hj Baraiyyah. baling-baling kertas memanfaatkan energi angin. hanya memberikan gambar/perumpamaan.dengan apa yang diinginkan oleh MBS untuk jalannya pembelajaran yang pada akhirnya akan menciptakan guru-guru yang kreatif dan diidolakan oleh siswa. dan diupayakan mudah diperoleh dilingkungan sekolah siswa. Tapi adakalanya. Berkenaan dengan penggunaan alat-alat peraga yang dapat membantu pelaksanaan pembelajaran hampir semua responden menjawab telah menggunakan alat-alat peraga baik yang sudah tersedia maupun yang dibuat berdasarkan kreasi siswa. termasuk penggunaan buku paket dan buku penunjang yang lainnya. cerdas Intelektual. apakah itu peta. pembelajaran itu dapat menciptakan manusia-manusia yang berkarakter. guru yang mengajar bidang studi IPS. Wujud dan penggunaan alat peraga yang menyatakan “ya” menurut hasil wawancara dijelaskan bahwa alat peraga yang sesuai dengan materi yang dibahas.Pd dan ibu Arniyanti S. Dan yang paling penting. pembuatan pupuk organik. kadang ya kadang tidak sebab sulitnya mencari alat peraga yang sesuai dengan materi. Senada dengan hasil wawancara diatas yaitu ada materi yang tidak membutuhkan alat peraga seperti masalah pembelajaran pada mata pelajaran sejarah pada rumpun IPS terpadu seperti masuk dan berkembangnya agama hindu dan budha di Indonesia. misalnya pemanfaatan sampah untuk daur ulang. S. mengatakan bahwa: “Ada saat tertentu kami memakai alat peraga.

juga mengurangi peluang mereka untuk saling menyontek. menghayati dan merasakan apa yang dipelajari.Ag: “Bentuk penilaian yang saya lakukan adalah menguji siswa dengan cara lisan. sudah seharusnya pihak sekolah menyiapkan miniatur atau meminta kepada dinas pendidikan agar segala hal yang berkaitan dengan materi pelajaran sepanjang pengadaannya sulit diadakan di daerah dapat di sediakan langsung oleh pemerintah pusat.Sebagaimana yang disampaikan oleh kedua guru tersebut.5 persen sedangkan 3 orang atau 12. Adapun yang menjadi fokus penelitian atas kinerja guru disini adalah:1) Apakah pelaksanaan evaluasi itu dilakukan secara tertulis atau lisan. Salah satu indikator dari penilaian kinerja guru dalam tataran MBS adalah bagaimana guru mampu menjalankan fungsinya sebagai evaluator. Salah satu karakteristik MBS adalah bagaimana mengajarkan materi siswa dibawah ke pengalaman langsung supaya mereka dapat memaknai. bukan hanya sekedar teori belaka. Jika nilainya dianggap sudah memenuhi kriteria ketuntasan maka tidak perlu . Bagi guru yang melaksanakan ujian secara lisan. Berdasarkan hasil wawancara yang penulis lakukan.3) Apakah hasil pekerjaan siswa setiap kali ulangan dikembalikan atau tidak. transparan dan bertanggung jawab. Meskipun agak sulit mengontrol siswa yang belum lisan tetapi dapat mengurangi tingkat kecurangan. selain lebih mudah memasukkan nilainya siswa. bahwa mereka telah melaksanakan evaluasi baik dalam bentuk tulisan maupun dalam bentuk lisan. mereka berpendapat anak-anak menjadi lebih fokus dan sulit untuk saling menyontek. sebagaimana yang disampaikan oleh ibu Dra Pancawati dan Ibu Wardana S.2) Apakah penilaian kepada siswa itu dilaksanakan secara obyektif. sebanyak 24 responden menjawab ya.5 persen guru menjawab evaluasi yang dilakukannya dengan cara lisan. serta 4) apakah ada kegiatan perbaikan/remedial bagi siswa yang tidak tuntas dan program pengayaan bagi siswa yang dianggap sudah tuntas. tetapi hampir semua responden lebih memilih menjawab mereka melaksanakan evaluasi dengan cara tertulis dengan jumlah guru yang melaksanakan ulangan tertulis sebanyak 21 orang atau sekitar 87.

dikarenakan setiap selesai pemeriksaan ulangan. sebanyak 12 responden menjawab telah mengembalikan ujian kepada siswanya atau sekitar 50 persen.Pd. karena itulah saya malas mengembalikan pekerjaan siswa”(30-3-2012. disamping itu apabila tidak dilaksanakan penilaian secara obyektif/ transparan dan bertanggung jawab kita tidak bisa membedakan mana murid pintar.dilakukan pengulangan lisan tetapi jika belum maka akan diadakan perbaikan”(29-3-2012).Pd mengatakan: “Hal tersebut dilakukan. dan Tuhan Yang Maha Esa. Pak Munir S. sehingga dapat dipertanggung jawabkan baik terhadap orang tua. . punya alasan lain mengapa setiap kali ujian hasil pekerjaan siswa tidak dikembalikan ujian kepada siswanya. agar siswa diperlakukan sama tanpa dibeda-bedakan dan hasil yang didapat siswa harus di ketahui secara jelas agar menjadikan motivasi untuk berbuat lebih baik. waktu yang diperlukan juga tidak banyak. Alasan yang hampir sama juga dikemukakan oleh guru-guru yang tidak mengembalikan pekerjaan siswa yang lebih banyak karena alasan kebersihan. masyarakat. S. terlebih jika nilai mereka tidak tuntas. Ibu Harlina S. berbeda dengan ujian lisan yang terkadang memakan waktu yang cukup lama”(29-3-2012). pasti saya mengembalikan hasil pekerjaan siswa. dan pengawasan yang ketat membuat anak sulit untuk berbuat curang. Setiap siswa ditanamkan kepercayaan untuk bersikap jujur dan tidak tergantung kepada siapapun. tetapi anakanak tidak punya kepedulian akan apa yang mereka hasilkan. 9 responden atau 37. lebih banyak dirobek atau dibuang secara sembarangan.Pd menyatakan: “evaluasi yang dilakukan dengan bentuk evaluasi tertulis pada setiap akhir pelajaran dilakukan untuk mengetahui sejauh mana siswa mampu menyerap materi yang diberikan. hanya menyebutkan nilainya. Sedangkan guru yang melakukan evaluasi dalam bentuk tulisan mempunyai pandangan lain. Selain tidak ribut. Rata-rata mereka beranggapan: “Sebelumnya setiap kali ulangan. Mengenai hasil pekerjaan siswa setelah ujian.Siswa juga merasa sangat senang jika hasilnya memuaskan begitupun sebaliknya”(30-3-2012).5 persen tidak mengembalikan tetapi hanya menyebutkan nilainya sedangkan 3 responden atau sekitar 12. sekaligus pengkoreksian manakala guru keliru dalam memberikan peniaian. sedang dan kurang sehingga hilanglah angka penilaian disamping itu. pekerjaan siswa dikembalikan agar anak-anak dapat mengetahui sejauh mana kemampuannya dalam menyerap materi.5 persen menjawab tidak karena tidak melaksanakan evaluasi tertulis. Sedangkan ibu Kaerlinda Yusuf.

“Setiap akhir semester ada laporan yang berkenaan dengan pelaksanaan remedial di sekolah kami. Hal tersebut juga dilakukan agar siswa dapat mengetahui sampai dimana kemampuan menyelesaikan soal. Wawancara lain menyebutkan supaya ada umpan balik antara guru dengan murid guru dengan orang tua dan orang tua dengan anaknya. Hal tersebut dilakukan karena siswa dapat puas dengan pekerjaannya dan dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan ketika menjawab soal-soal serta siswa yang terbelakang diberi tugas yang sejenis. semua responden menjawab telah melakukan perbaikan dan pengayaan. yang tujuannya untuk mengetahui berapa persen pencapaian target penguasaan kurikulum oleh guru yang bersangkutan sekaligus memantau perkembangan belajar siswa. yang menangani urusan kurikulum dan pengajaran. rata-rata guru di SMPN 4 Watampone telah melaksanakan kegiatan remedial dan pengayaan. Mengenai tindak lanjut dari kegiatan perbaikan yang dilakukan apakah dalam bentuk remedial maupun pengayaan. Dengan demikian semua responden sesungguhnya telah memeriksa pekerjaan siswa meskipun bentuk umpan baliknya berbeda. Tetapi itu tidak berarti siswa tidak tahu nilainya karena siswa pun tahu akan nilai hasil ujian lisannya setelah semua selesai lisan.Meskipun demikian ada 3 responden yang tidak mengembalikan hasil belajar peserta didik dengan alasan ujian yang mereka lakukan dalam bentuk lisan. yang dibuktikan dengan adanya analisis ulangan harian yang didalamnya terdapat progran remedial dan pengayaan. menjaga terjadinya silang pendapat antara guru siswa dan orangtua. Menurut Pak Amin. Semua itu dilaporkan ke kepala sekolahdan komite agar ada umpan balik baik dari sekolah sendiri maupun dari masyarakat ”(30-3-2012).Indikasi ini menunjukkan bahwa guru memiliki tanggungjawab yang teramat besar dalam memantau hasil belajar peserta didik. Sebagaima Hal tersebut diatas maka program yang berkaitan dengan perbaikan dan pengayaan kepada siswa. selain harus disampaikan ke pihak sekolah juga harus di sampaikan ke orang tua siswa agar anak tersebut mendapat perhatian orang tua dalam hal turut membantu di .

siswa dan orang tua bahwa ada upaya bimbingan dan penyuluhan yang dilakukan. Ketika itu kami sepakat akan visi. Partisipasi Dalam Perencanaan Sekolah Adapun yang menjadi fokus dalam penelitian yang menyangkut peran serta masyarakat dalam pelaksanaan MBS terutama yang berkaitan dengan partisipasi dalam perencanaan sekolah. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa orang tua siswa yang menyangkut tentang peranan mereka dalam merumuskan Visi. sasaran dan Tujuan sekolah.rumah dalam membimbing anaknya sendiri.2) Apakah masyarakat memberikan usul.3) Apakah masyarakat diundang dalam rapat komite di sekolah dan 4) Apakah kebijakan sekolah sudah sesuai harapan masyarakat atau belum. Sasaran dan Tujuan. agar ada umpan balik antar Kepala Sekolah. Bapak Drs H. Misi . Muh Palesangi MH. saran dan pertimbangan terhadap rencana pengembangan sekolah. meliputi:1) Apakah masyarakat dilibatkan dalam merumuskan Visi.sasaran dan tujuan yang akan dicapai oleh SMPN 4 watampone. agar ada saling pengertian antara kepala sekolah maupun orang tua siswa sehingga prinsip saling mempercayai tetap terpelihara antar warga sekolah. Misi. Peran Serta Masyarakat dalam Pelaksanaan MBS pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum (1). Meskipun demikian kami tetap diundang oleh pihak sekolah manakala ada kegiatan yang bersifat ceremonial atau . “Kami memang pernah diundang ketika penyusunan RAPBS berapa tahun yang lalu bersama beberapa anggota komite sekolah lainnya. E.Sasaran maupun tujuan telah mengalami perubahan atau tidak.misi. Misi. Kami tidak tahu apakah Visi. Hal ini didasarkan dari pendapat ketua Komite sekolah.A. tetapi setelah itu kami sangat jarang diundang untuk berpartisipasi dalam perencanaan sekolah. sebagian besar responden yang diwakili oleh pengurus komite sekolah menyebutkan bahwa mereka jarang dilibatkan dengan hal-hal yang dimaksud padahal seharusnya sekolah dalam hal ini kepala sekolah sebagai penentu kebijakan mengundang tokoh-tokoh masyarakat untuk dilibatkan aktif dalam perencanaan sekolah.

kami juga berharap ada fasilitas internet di sekolah sehingga anak-anak tidak perlu keluar mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya manakala berkaitan dengan informasi yang sulit didapatkan dalam buku pelajaran”(3-4-2012).saran dan pertimbangan dalam pengembangan sekolah. Begitupun ketika peneliti menanyakan tentang bagaimana peranan masyarakat dalam memberikan usul. misi. ada juga masyarakat yang acuh tak acuh tidak memberikan usul. agar tugas/pekerjaan rumahnya cepat dikerjakan. kegiatan ekstrakurikuler ditingkatkan. karena menurut anak kami.keagamaan”(2-4-2012). diadakan ruang piket siswa bagian depan sekolah dan sebagainya. kegiatan olahraga di SMPN 4 Watampone tidak dilakukan di dalam sekolah melainkan diluar sekolah. Selain membutuhkan biaya.. tidak . Sebagaimana yang disampaikan oleh Junaedi: “Kami sangat menginginkan agar sekolah bisa memiliki lapangan olahraga. sasaran maupun tujuan sekolah. saran dan pertimbangan kepada sekolah dengan alasan usul ataupun saran yang dimasukkan tidak direspon atau karena sekolah dianggap kurang perhatian terhadap rencana pengembangan sekolah. jangan terlalu banyak tugas/ pekerjaan rumah yang diberikan kepada anak setiap hari agar ada waktunya bermain. sasaran dan tujuan yang ingin dicapai oleh sekolah Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan ketua komite sekolah yang menyebutkan bahwa mereka jarang dilibatkan dalam perumusan visi. sarana dan prasarana olah raga. saran dan pertimbangan yang sering diberikan oleh masyarakat sesuai dengan hasil wawancara adalah melengkapi sarana dan prasarana pendidikan. diupayakan anak memiliki buku cetak setiap mata pelajaran. Adapun usul. banyak yang akan mereka usulkan. supaya dibenahi/diadakan tempat parkir kendaraan motor bagi guru/pegawai. misi. Kecuali untuk hal-hal tertentu mereka selalu diundang oleh pihak sekolah. Seandainya ada kesempatan ketika mereka dilibatkan dalam pengembangan sekolah. juga mengancam keselamatan anak-anak kami dari bahaya kendaraan. informan kunci yang menjadi sumber informasi dalam penelitian ini juga mengatakan jarang sekali dilibatkan. Masyarakat jarang sekali dilibatkan dalam perumusan visi. Tapi. agar anak tidak ngobrol ditempat lain yang tidak bermanfaat.

Sementara mengacu kepada pertanyaan mengenai kehadiran mereka dalam rapat yang pernah diadakan di sekolah. Penyusunan RAPBS. program partisipasi komite terhadap program sekolah. rencana kerja. ibu masradia. Dari 24 responden dalam hal ini yang diwakili oleh informan kunci mengatakan kebijakan sekolah yang dibuat tentu didasari oleh pertimbangan pihak sekolah untuk kepentingan siswa dan warga sekolah. penyusunan berbagai program sekolah yang akan dibicarakan bersama pengurus komite melalui rapat pengurus komite sekolah dengan dewan guru. ada juga masyarakat yang menyatakan kami selaku orang tua tidak perlu mencampuri urusan kebijakan yang dibuat sekolah karena kami percaya sekolah memiliki orang-orang yang dapat diandalkan untuk membuat kebijakan demi kemajuan sekolah yang artinya penyusunan RAPBS. tapi ada juga masyarakat tidak terlibat didalamnya. memilih pengurus. Persoalan puas atau tidak. Mardiana. meminta bantuan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Rapat komite itu sendiri. Partisipasi Dalam Perencanaan Program Sekolah . dari 24 responden sebagai perwakilan komite hampir semua pernah hadir dalam mengikuti rapat komite antara pengurus komite sekolah dengan pihak sekolah. dan kasmawati dan beberapa responden lainnya berpendapat bahwa: “Sekolah pasti sudah punya agenda dan kebijakan yang relevan dengan kemajuan anak-anak kami. termasuk diantaranya pemanfaatan dana BOS.masuk menjadi pengurus komite sekolah. menurut wawancara dengan responden isinya menyangkut berbagai kebijakan-kebijakan yang akan dilakukan oleh sekolah. Sejalan dengan hal tersebut. senang atau tidak.. kami percaya sepenuhnya akan kebijakan yang dibuat dan sudah pasti kami bisa menerima. Selanjutnya mengacu kepada pertanyaan yang keempat tentang apakah kebijakan yang dibuat sadah sesuai dengan harapan masyarakat atau belum. bukan hal yang kami permasalahkan”(5-4-2012) (2).

Ini semua disebabkan karena pendekatan yang dilakukan oleh ketua komite”(4-4-2012). tidak masuk pengurus komite sekolah tidak pernah dimintai untuk memberikan pemikiran oleh sekolah itu. karena kurangnya komunikasi antara masyarakat dengan kepala sekolah. Menurut bapak A. pengadaan tempat parkir kendaraan motor bagi guru/karyawan. Mallaloang SH” “Masyarakat banyak yang tidak berpartisipasi aktif dalam melakukan pengawasan terhadap . Sedangkan yang tidak memberikan pemikiran. menurut hasil wawancara.Pd: “Kebanyakan masyarakat tidak ikut terlibat aktif dalam memberikan sumbangan pemikiran dan tenaga karena kurangnya informasi yang disampaikan pihak sekolah kepada mereka. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan responden sebanyak 9 responden menyatakan “ya” dalam memberikan sumbangan pemikiran dan tenaga atau dengan Persentase 37. Meskipun demikian ketidakterlibatan masyarakat dalam memberikan sumbangsih pemikiran dan tenaga tidak mempengaruhi mereka untuk tetap berpartisipasi aktif. Menurut bapak Drs Syahruddin M.17 persen sedangkan yang menjawab “tidak” sebanyak 17 orang atau dengan Persentase sebesar 70.83persen. masalah keamanan. membantu menyusun proposal Life Skill. dan pengadaan ruang piket siswa bagian depan sekolah.5 persen sedangkan yang menyatakan “tidak” sebanyak 15 orang atau dengan Persentase 62. Sumbangan Pemikiran yang diberikan menurut hasil wawancara adalah kebersihan sekolah. perbaikan lingkungan.5persen. penataan sarana dan prasarana sekolah.Adapun yang menjadi fokus pengkajian dalam partisipasi masyarakat dalam perencanaan program sekolah meliputi (1) Sumbangan pemikiran dan tenaga (2) Pengawasan pelaksanaan kebijakan dan program sekolah. padahal orang tua siswa banyak yang sangat potensial untuk memberikan gagasan yang dapat meningkatkan mutu pendidikan. Selanjutnya dari hasil wawancara yang dilakukan dengan responden tentang pengawasan pelaksanaan kebijakan dan program sekolah menunjukkan jumlah responden yang menjawab “ya” untuk ikut serta mengawasi pelaksanaan kebijakan dan program sekolah sebanyak 7 orang atau dengan Persentase 29.

Selanjutnya. supervisor. leader. Berdasarkan temuan pada lokasi penelitian bahwa kualitas sumber daya pendidikan dimana kualitas guru dapat dilihat berdasarkan golongan berada pada kategori tinggi yaitu diatas 50 persen golongan tiga dan tingkat pendidikan mayoritas guru sudah berada pada jenjang pendidikan strata satu sementara upaya guru dan pihak sekolah terhadap peningkatan kualitas guru masih terus dilaksanakan. Kedua faktor tersebut yaitu tingkat pendidikan dan golongan signifikan dengan kematangan/pengalaman bagi profesi sebagai guru. Pelaksanaan manajemen berbasis sekolah dengan orientasi mewujudkan pendidikan yang bermutu tinggi. Bahkan orangtua siswa sudah mempercayai peranan komite sebagai wakil dari orang tua di sekolah. Ketidakaktifan masyarakat untuk melakukan pengawasan disebabkan karena faktor kesibukan. berdasarkan hasil penelitian dapat berjalan lebih baik. administrator. maka diperlukan sumber daya bermutu tinggi pula. tingkat pendapatan dan jenis .pelaksanaan kebijakan dan program sekolah karena lebih mempercayakan kepada pengurus komite yang dianggap dapat mewakili semua kepentingan mereka. dalam pelaksanaan manajemen berbasis sekolah unsur masyarakat dipandang sebagai unsur yang penting mendukung keberhasilan sekolah (Stakeholder) olehnya itu upaya keterlibatan masyarakat dalam organisasi sekolah telah dilembagakan dalam bentuk komite sekolah. Pelaksanaan manajemen berbasis sekolah sangat berkaitan dengan peningkatan kinerja kepala sekolah dimana kewenangan yang tinggi terhadap berbagai tugas dan fungsi kepala sekolah seperti: kepala sekolah sebagai educator. innovator dan motivator. Berdasarkan temuan penelitian bahwa tingkat partisipasi masyarakat lebih banyak ditentukan oleh berbagai faktor-faktor seperti tingkat pendidikan. manajer. karena tidak menjadi pengurus komite. Pemberdayaan masyarakat terhadap organisasi sekolah baik dalam fungsinya sebagai pengawasan pengelolaan dan pengembangan sekolah juga partisipasi mereka secara material. karena program dan kebijakan tidak disampaikan secara tertulis kepada mereka”(5-4-2012).

menyangkut hal berkaitan dengan sumbangan material secara umum juga tidak menunjukkan perbedaan yang menjolok. bahwa keterbukaan pihak pengelola sekolah terhadap program-program yang direncanakan memberikan informasi kepada masyarakat baik sebagai orang tua murid maupun masyarakat sebagai bagian dari lingkungan sekolah memberikan kesempatan bagi pihak wiraswasta berperan serta dalam mendukung pengembangan sekolah. pertama optimalisasi kinerja kepala sekolah yang memegang . Selanjutnya bahwa dalam pelaksanaan manajemen berbasis sekolah ketiga unsur disebutkan sebelumnya yaitu. Menurut pengamatan peneliti bahwa tingkat pendidikan masyarakat signifikan dengan tingkat partisipasi mereka. Dan faktor latar pekerjaan berkaitan dengan waktu dan kesempatan yang berbeda-beda signifikan terhadap tingkat partisipasi masyarakat berperan aktif dalam komite sekolah. hasil penelitian menunjukkan bahwa dan ketiga jenis pekerjaan yang dianalisis keterlibatan pensiunan dan profesi wiraswasta menduduki tingkat partisipasi yang lebih tinggi dibanding pegawai negeri sipil. baik kehadiran pada pertemuan rutin maupun gagasan dan pemikiran terhadap pengembangan sekolah.pekerjaan. Menurut keterangan dan salah seorang responden yang berprofesi sebagai wiraswasta. hal ini menunjukkan bahwa gagasan-gagasan pemikiran dalam rangka pengembangan sekolah terdapat kecenderungan diwarnai oleh mereka yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Sedang tingkat pendapatan masyarakat yang berbeda tidak menunjukkan tingkat partisipasi masyarakat yang menjolok. Tingkat pendidikan berkaitan dengan kemampuan masyarakat berinteraksi dengan organisasi sekolah mengakibatkan pemahaman masyarakat yang berbeda-beda terhadap pengetahuan berlembaga (komite sekolah).

peranan penting terhadap keberhasilan sekolah, kedua kinerja guru dalam proses belajar mengajar yang berhubungan langsung dengan peserta didik sebagai sasaran pendidikan dan ketiga sumber daya masyarakat yang berhubungan dengan unsur pendukung (stakeholder) dalam upaya pengembangan sekolah. Untuk lebih jelasnya ketiga unsur tersebut akan dibahas secara rinci sebagai berikut: 1. Kinerja kepala sekolah Kinerja kepala sekolah sangat erat kaitannya dengan model manajemen yang diterapkan pengembangan modal manajemen berbasis sekolah yang relatif masih baru memperlihatkan hasil cukup memuaskan terhadap kinerja kepala sekolah. Peran Kepala Sekolah di mana sebelumnya harus mengikuti petunjuk dan instansi vertikal sampai pada masalah-masalah teknis kini telah mengalami perubahan-perubahan mendasar dengan reorientasi pada kemandirian sekolah di mana kewenangan disertai dengan tanggung jawab yang tinggi terhadap pengembangan sumber daya sekolah. Pada dasarnya Kepala Sekolah memiliki potensi yang cukup tinggi untuk berkreasi dan meningkatkan kinerja, namun banyak faktor yang menghambat mereka dalam mengembangkan berbagai potensinya secara optimal. Olehnya itu melalui manajemen berbasis sekolah para kepala sekolah dapat melaksanakan pembinaan secara kontinu dan berkesinambungan dengan program yang terarah dan sistematis terhadap para guru dan personil pendidikan lain di sekolah. Berkaitan dengan hal tersebut dalam rangka mengimplementasikan paradigma pendidikan baru, seperti Manajemen Berbasis Sekolah. Program pembinaan guru dan personil pendidikan tersebut yang lazim disebut supervisi pendidikan sebagai suatu rangkaian kegiatan

manajemen pendidikan di mana peran kepala sekolah sebagai supervisi pendidikan memperlihatkan hasil cukup memuaskan. Kompetensi Kepala Sekolah diperoleh melalui

pendidikan/latihan yang mengandung muatan akademik/ teoritik dan praktik sangat mendukung kinerja kepala sekolah yang bersifat rasional dalam pelaksanaan tugas-tugas pendidikan, dan kompetensi tersebut sudah merupakan persyaratan sebagai jabatan kepala sekolah. Kepala sekolah sebagai administrator pendidikan harus memenuhi fungsi dasar kepala sekolah, yakni program instruksional, kepegawaian kesiswaan, sumber-sumber fisik dan finansial serta menjalin hubungan kerjasama masyarakat yang dinilai berjalan cukup baik, walaupun dalam hubungan dengan fungsi tersebut kepala sekolah pada umumnya lebih menekankan aspek manajerial dan kepemimpinan. Pemahaman terhadap berbagai undang-undang pendidikan/ peraturan sekolah berdampak pada peran kepala sekolah sebagai administrator sekolah dalam pengembangan program, kurikulum atau pengajaran, administrasi kesiswaan, administrasi perlengkapan administrasi keuangan, administrasi kepegawaian dan hubungan sekolah dengan masyarakat dapat pula berjalan dengan baik. Dalam hal ini kepala sekolah menggunakan prinsip pengembangan dan pendayagunaan organisasi secara kooperatif dan aktivitas melibatkan keseluruhan personil dan sumber daya masyarakat sekitar. Selanjutnya, mengetahui bahwa sekolah sebagai suatu organisasi pendidikan formal merupakan wadah kerjasama sekelompok orang yang terdiri atas guru, staf, kepala sekolah dan siswa kepala sekolah sebagai pemimpin pemegang tugas kelembagaan dan pencapaian tujuan organisasi sekolah. inisiatif kepala sekolah dalam menyesuaikan sumber daya sekolah, pengorganisasian aktivitas-aktivitas kerja untuk mencapai sasaran-sasaran dilakukan melalui suatu tim kerja. Sedang kepala sekolah sebagai motivator lebih cenderung masih kurang profesional terhadap berbagai tugas-tugas di luar jam kerja guru dengan secara finansial, sebab bagaimanapun orang yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi selalu melihat hubungan antara usaha/kegiatan dengan hasil yang diperoleh. Kinerja

kepemimpinan kepala sekolah yang efektif dalam MBS dapat dilihat berdasarkan kriteria berikut: 1. Mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik, lancar, dan produktif. 2. Dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. 3. Mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan. 4. Berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain disekolah. 5. Bekerja dengan tim manajemen

2. Kinerja guru dalam pelaksanaan Proses Belajar Mengajar Kualitas sumber daya guru secara nyata dapat dilihat pada bagaimana proses pendidikan itu berlangsung dengan baik sehingga output pendidikan dapat secara maksimal dicapai. Dalam kaitannya dengan penelitian ini difokuskan pada pelaksanaan Proses Belajar Mengajar. Proses Belajar Mengajar merupakan input pendidikan yang menentukan output pendidikan yang berkualitas yang sangat berkaitan dengan unsur-unsur seperti kelengkapan program mengajar, penyajian materi pelajaran, evaluasi dan analisis hasil belajar siswa, serta program perbaikan/pengayaan. Dalam hubungannya dengan penelitian ini dilihat sebagai aspek utama dalam rangka pelaksanaan manajemen berbasis sekolah pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum. Pelaksanaan proses belajar mengajar berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa unsur-unsur seperti kelengkapan program mengajar, penyajian materi, evaluasi dan analisa,

dan rancangan tersebut memberikan kewenangan penuh kepada guru. Sedangkan unsur perbaikan dan pengayaan masih berada dalam kategori rendah. antar guru dengan pimpinan sekolah lebih banyak bersifat pelaporan dan koordinasi mengenai hasil yang dicapai. .secara umum berada dalam kategori tinggi. sekarang dituntut lebih aktif menemukan metodemetode yang sesuai. Dengan otonomi guru yang lebih tinggi dalam proses belajar mengajar menciptakan iklim yang kondusif terhadap organisasi sekolah. buku paket/buku penunjang. Kelengkapan program pengajaran Program pengajaran bagi guru dalam menggunakan silabus secara berkesinambungan mulai pada tahap penyusunan sampai pada tahap pelaksanaan pengajaran di kelas sehingga murid sebagai sasaran pengajaran menerima materi secara sistematis. Faktor lain yang sangat signifikan dimana proses belajar mengajar berlangsung dengan baik ditunjang dengan infrastruktur sekolah yang cukup memadai seperti ruang belajar. di mana bahwa hubungan antar sesama guru.Tingginya penilaian terhadap responden terhadap proses belajar mengajar berdasarkan hasil penelitian pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum selanjutnya akan dibahas pada bagian berikut: a. seperti perkembangan kejiwaan anak. Dengan demikian. Demikian pula kelengkapan administrasi guru mengajar di kelas seperti absen. buku keterampilan dan buku nilai harian yang setiap saat guru dapat menggunakan sebagai bahan evaluasi sementara dalam kelas untuk melihat dan memahami perkembangan kemampuan belajar peserta didik. sehingga proses belajar mengajar guru yang sebelumnya bersifat subyektif terhadap murid. Tingginya penilaian responden terhadap pelaksanaan proses belajar mengajar ditunjukkan oleh keterangan salah seorang guru bahwa selama ini perumusan materi pengajaran lebih banyak bersifat konseptual.

d. Kegiatan evaluasi dilakukan secara berkala. tanya jawab ceramah. digunakan secara terpadu komperatif dalam penyajian mata pelajaran. teratur serta pembukuan hasilnya sampai pada tahap pelaporan hasil evaluasi murid setiap semester yang akan digunakan baik untuk kebutuhan internal sekolah sekaligus sebagai bahan laporan pendidikan. olehnya itu disamping guru menguasai materi pelajaran juga memiliki kemampuan dalam mentrasformasi materi baik dalam fungsinya berperan utama sebagai media maupun sebagai motivator dalam penyajian materi pelajaran di kelas. Dalam strategi belajar dan pembelajaran guru mampu memahami dan mengelola kelas dalam pengertian bahwa penyajian materi pelajar tidak kaku atau fleksibel (infrovisasi) sehingga respon peserta didik berkesan menyenangkan menerima materi pelajaran. c. b. transparan dan bertanggung jawab sehingga hasil belajar yang diperoleh murid merupakan data pokok yang dapat dijadikan rujukan untuk perbaikan dimasa akan datang. demonstrasi (disertai alat peraga/alat bantu). Penyajian materi pelajaran. Program perbaikan dan pengayaan Berdasarkan temuan penelitian bahwa program perbaikan dan pengayaan masih berada . Guru diperkaya dengan penggunaan berbagai metode seperti diskusi. Unsur evaluasi dan analisis hasil belajar siswa Berkaitan dengan evaluasi dan analisis hasil belajar terhadap kesinambungan dan berbagai kegiatan proses belajar mengajar dimana guru bersikap obyektif. Hal ini akan menunjang siswa belajar kreatif dan innovatif pada jenjang sekolah menengah pertama. Penyajian materi pelajaran merupakan unsur pokok dalam proses belajar mengajar di mana unsur berkaitan langsung guru berinteraksi dengan peserta didik dalam kelas.perpustakaan dan fasilitas-fasilitas ekstra kurikuler seperti alat-alat kesenian dan olahraga.

pada hal sasaran utama program perbaikan dan pengayaan adalah pendalaman materi pelajaran kepada murid secara keseluruhan. yaitu peran serta masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan program sekolah berada dalam kategori sedang. 3.dalam kategori rendah. pelaksanaan program. walaupun rancangan program perbaikan dan pengayaan dimiliki oleh setiap guru namun pada tingkat pelaksanaannya hanya sebagian kecil dilakukan oleh guru. Olehnya itu masyarakat sebagai stekhoulder sekolah dituntut keterlibatannya mulai pada tahap perencanaan program. Menurut pengamatan peneliti bahwa kegiatan ini tidak sepenuhnya berjalan. Berkaitan dengan perbaikan dan pengayaan menunjukkan bahwa masih ada sebagian guru beranggapan hanya ditujukan kepada murid yang kurang berprestasi. Partisipasi masyarakat Partisipasi masyarakat yang dilembagakan dalam bentuk komite sekolah untuk menjamin akan adanya akuntabilitas. diakibatkan pada dua hal yaitu prestasi keseluruhan murid memperlihatkan hasil yang memuaskan. Seorang guru memberikan keterangan dan hasil wawancara peneliti program perbaikan dan pengayaan tidak dapat dilaksanakan dengan baik dimana anggaran yang disediakan tidak cukup memadai padahal waktu yang digunakan untuk memberikan materi pengulangan cukup lama dan juga menggunakan biaya pembuatan materi. dan unsur yang lain yaitu peran serta masyarakat dalam monitoring dan evaluasi tergolong sangat rendah ketiga unsur tersebut akan dibahas pada bahagian berikut: a. Dari program perbaikan dan pengayaan berkaitan dengan anggaran yang disediakan masih relatif rendah serta keterbatasan waktu oleh guru. transparansi terhadap proses pelaksanaan pendidikan. monitoring sampai pada tingkat evaluasi hasil yang dicapai. Partisipasi masyarakat dalam perencanaan program sekolah . Berdasarkan hasil penelitian keempat unsur tersebut. sehingga guru cukup merasa puas dengan prestasi anak didik mereka.

sasaran. Menurut pengamatan peneliti bahwa masyarakat belum dapat menempatkan diri sepenuhnya sebagai mitra yang diperlukan oleh pengelola sekolah sampai pada tahap perencanaan program sekolah. b. belum ada persepsi yang sama dan tugas masing-masing masih cenderung tumpang tindih dan masyarakat lebih terkonsentrasi kepada masalah-masalah pengelolaan anggaran sekolah. saran dan pendapat yang dominan mewarnai rapat-rapat antara komite dan pihak pengelolah sekolah sedang pada tingkat pengambilan keputusan masih sering terjadi salah pengertian. materi/uang. pengadaan sarana/prasarana sekolah dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan sekolah seperti pembangunan pagar dan pembangunan sarana lainnya berdasarkan hasil penelitian berada dalam kategori tinggi. Hanya jika hal itu bersifat usul. Partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program sekolah. visi. Hal ini ditunjukkan oleh rendahnya peran serta masyarakat pada kegiatankegiatan seperti perumusan misi. sasaran. Menurut keterangan seorang kepala sekolah.Keterlibatan peran serta masyarakat dalam perencanaan sekolah pada kegiatan yang bersifat akademik. tujuan dan program sekolah dan pemberian informasi/data yang diperlukan sekolah. masih terdapat anggapan bahwa masyarakat hanya berfungsi sebagai donatur dalam rangka pembangunan sekolah. tujuan dan program sekolah dan pemberian informasi/data yang diperlukan sekolah belum menunjukkan peran serta masyarakat yang berarti. Keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan program sekolah seperti pemberian sumbangan tenaga. Peran serta masyarakat mendukung material pembangunan sekolah yang disponsori melalui komite sekolah termasuk sumbangan secara sukarela cukup besar namun di dalam pembiayaan operasional sekolah/rutin siswa bagi . pemahaman masing-masing masyarakat yang duduk pada organisasi komite sekolah yang relatif masih baru ini. visi. Hal ini dapat dilihat pada konteks perumusan misi.

namun pada tingkat pengawasan terhadap pelaksanaan dan pengadaannya peran serta masyarakat masih sangat minim. Berdasarkan hasil penelitian bahwa peran serta masyarakat dalam monitoring dan evaluasi pelaksanaan programprogram sekolah masih berada dalam kategori rendah. Partisipasi masyarakat dalam monitoring dan evaluasi sekolah Partisipasi masyarakat dalam monitoring dan evaluasi merupakan hal yang prinsipil dalam pelaksanaan pengawasan program sekolah sebagai hasil kebijakan yang telah diputuskan secara bersama baik bagi pihak pengelola sekolah maupun masyarakat secara khusus sebagai perwakilan masyarakat yang berada dalam komite sekolah (dewan sekolah). c. Pada kegiatan ekstrakurikuler seperti pekan olahraga dan kesenian dalam rangka perayaan hari ulang tahun kemerdekaan.mereka yang kurang mampu dibiayai oleh Dana BOS (Dana bantuan Operasional) Sekolah. Jikapun secara temuan penelitian sebelumnya bahwa tingkat partisipasi masyarakat cukup tinggi material dalam sumbangan pembangunan sekolah. Seorang kepala sekolah memberikan keterangan berdasarkan hasil wawancara peneliti bahwa dukungan dana masyarakat diluar dan sumbangan komite (sumbangan sukarela) sangat bermanfaat membantu memperkuat pos-pos anggaran yang masih memerlukan dana tambahan secara terus menerus seperti pergantian dan penambahan alat peraga sekolah yang berkembang terus menerus sesuai dengan kebutuhan sekolah. dukungan masyarakat tetap ada untuk dapat meringankan anggaran program sekolah lebih efektif membiayai yang lebih penting. Memantau perkembangan sekolah belum merupakan perhatian khusus bagi masyarakat baik yang bersifat non fisik seperti pengawasan proses yang belajar mengajar/perkembangan prestasi anak didik di sekolah maupun bersifat fisik seperti bantuan pembangunan dan peralatan sekolah. Hal tersebut dikemukakan oleh seorang responden sebagai anggota dalam organisasi .

A. Sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan Pemerintah dan seluruh stake halder pendidikan perlu terus melakukan sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan di berbagai wilayah kerjanya. organisasi formal dan internal.komite sekolah: bahwa masyarakat memang mempunyai tingkat partisipasi yang tinggi secara material terhadap pembangunan sekolah tetapi sangat jarang masyarakat mempersoalkan bagaimana alokasi dana tersebut disalurkan. Faktor Pendukung Dalam buku Pedoman Manajemen Berbasis Sekolah dikaitkan bahwa keberhasilan pelaksanaan MBS sangat dipengaruhi oleh berbagai fakta. Tidak ada penguraian secara rinci sebagai bahan evaluasi organisasi dan komite sekolah walaupun laporan pertanggung jawaban setiap kegiatan tetap ada dan pihak pengelola sekolah dan tidak pernah mendapat tanggapan yang serius baik dan komite sekolah maupun anggota masyarakat yang hadir setiap pertemuan. dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional telah mencanangkan . b.baik faktor internal maupun eksternal. Beberapa faktor pendukung tersebut pada garis besarnya mencakup sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan. gerakan peningkatan kualitas pendidikan dan gotongroyong kekeluargaan. baik dalam pertemuan-pertemuan resmi maupun melalui orientasi dan workshop. Gerakan Peningkatan Kualitas Pendidikan Yang Dicanangkan Pemerintah Upaya meningkatkan kualitas pendidikan terus menerus dilakukan. baik secara konvensional maupun movatif. organisasi profesi serta dukungan dunia usaha dan dunia industri. Faktor Pendukung dan Penghambat Keberhasilan Implementasi MBS 1. a. potensi sumber daya manusia. Hal tersebut lebih terfokus lagi setelah diamanatkan dalam Undang-undang Sisdiknas bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui peningkatan kualitas pendidikan kepada setiap jenis dan jenjang pendidikan Pemerintah.

. menuju terwujudnya visi pendidikan menjadi aksi nyata di Sekolah. Organisasi Profesi Organisasi profesi pendidikan sebagai wadah untuk membantu pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan seperti Pokjawas. Perhatian tersebut harus ditunjukan dalam keamanan dan kemampuan untuk mengembangkan diri dan Sekolahnya secara optimal. Kelompok Kerja Sekolah (KKM). Organisasi-organisasi tersebut sangat mendukung MBS untuk melakukan berbagai terobosan dalam peningkatan kualitas pendidikan diwilayah kerjanya. Gotong Royong Dalam Kekeluargaan Gotongroyong dan kekeluagaan dapat menghasilkan dampak positif (synergistyc effect) dalam berbagai aktifitas. Gotongroyong dan kekeluargaan yang membudaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia masih dapat dikembangkan dalam mewujudkan Kepala Sekolah yang profesional. Potensi Kepala Sekolah. Dewan Pendidikan. KKM. pada tanggal 2 Mei 2002 c. Kepala Sekolah memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan secara optimal. Setiap kepala Sekolah harus memiliki perhatian yang cukup tinggi terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Sekolah. Musyawarah Kepala Sekolah (MKM). Kelompok Kerja guru (KKG). terutama yang berada di lingkungan Sekolah. d. dari Sabang sampai Merauke umumnya telah memiliki organisasi formal terutama yang berhubungan dengan profesi pendidikan seperti Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (Pokjamas). e. Organisasi Formal dan Optimal Pada sebagian besar lingkungan pendidikan Sekolah di berbagai wilayah Indonesia. Kondisi ini dapat ditumbuhkembangkan melalui jalinan kerjasama dan keeratan hubungan dengan msyarakat dan dunia kerja.Gerakan Peningkatan Mutu Pendidikan . f. dan Komite Sekolah. .

h. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Input manajemen yang telah dimiliki seperti tugas yang jelas. Organisasi profesi tersebut sangant mendukung implementasi MBS dalam peningkatan kinerja dan prestasi belajar peserta didik menuju peningkatan kualitas pendidikan nasional g. Harapan Terhadap Kualitas Pendidikan MBS sebagai paradigma baru manajemen pendidikan mempunyai harapan yang tinggi untuk meningkatkan kualitas pendidikan. rencana yang rinci dan sistematis. serta adanya sistem pengendalian mutu yang handal untuk meyakinkan bahwa tujuan yang telah dirumuskan dapat diwujudkan di Sekolah.Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Forum Peduli Guru (FPG). Harapan tinggi dari berbagai dimensi Sekolah merupakan faktor dominan yang menyebabkan Sekolah selalu dinamis untuk melakukan perbaikan secara berkelanjutan (continous quality improvement). Input Manajemen Paradigma baru manajemen pendidikan perlu ditunjang oleh input manajemen yang memadai dalam menjalankan roda Sekolah dan mengelola Sekolah secara efektif. Dalam pada itu. . dan ISPI (Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia) sudah terbentuk hampir diseluruh Indonesia. ketentuan-ketentuan (aturan main) yang jelas dari warga Sekolah dalam bertindak. serta komitmen dan motivasi yang kuat untuk meningkatakan mutu Sekolah secara optimal. program yang mendukung implementasi. dan telah menyentuh berbagai kecamatan. Tenaga kependidikan memiliki komitmen dan harapan yang tinggi bahwa peserta didik dapat mencapai prestasi yang optimal meskipun dengan segala keterbatasan sumber daya pendidikan yang ada di Sekolah. peserta didik juga termotivasi untuk secara sadar meningkatkan diri dalam mencapai prestasi sesuai bakat dan kemampuan yang dimiliki.

MBS akan jika ditopang oleh kemampuan professional Kepala Sekolah dalam memimpin dan mengelola Sekolah secara tepat dan akurat. harapan dan pelibatan diri dalam mendorong anak untuk terus belajar. Kepemimpinan dan manajemen Sekolah yang baik. 2002. faktor ini sangat strategis dalam upaya menentukan mutu dan hasil kerja Sekolah. guru dan pengawas akan sulit dicapai MBS yang bermutu tinggi serta prestasi siswa yang tinggi pula. . b. Faktor Penghambat Beberapa hambatan yang dihadapi pihak-pihak berkepentingan dalam penerapan Manajemen Berbasis sekolah (MBS) pada SMP Negeri 4 Khusus yang dapat dianalisis adalah sebagai berikut: 1. serta tingkat penghayatan. hal yang sangat menentukan tingkat keberhasilan penerapan MBS terutama bagi Sekolah yang kemampuan orang tua/masyarakatnya relatif belum siap memberikan perannya terhadap penyelenggaraan pendidikan. Alokasi dana pemerintah dan pemberian kewenangan dalam pengelolaan Sekolah menjadi penentu keberhasilan. Tidak Berminat Untuk Terlibat. d. Profesionalisme. 2. Keadaan social ekonomi dan penghayatan masyarakat terhadap pendidikan. serta mampu menciptakan iklim organisasi di Sekolah yang mendukung terjadinya proses belajar mengajar. factor luar yang akan turut menentukan keberhasilan MBS adalah keadaan tingkat pendidikan orangtua siswa dan masyarakat. bahwa faktor pendukung keberhasilan MBS terdiri dari a. Kemampuan dalam membiayai pendidikan. c.Pada buku pedoman implementasi manajemen berbasis Sekolah yang diterbitkan oleh Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Jakarta. Tanpa profesionalisme kepala Sekolah. Dukungan pemerintah.

Setelah beberapa saat bersama. 3.Sebagian orang tidak menginginkan kerja tambahan selain pekerjaan yang sekarang mereka lakukan. Tidak Efisien. Di satu sisi hal ini berdampak positif karena mereka akan saling mendukung satu sama lain. Anggota dewan sekolah harus lebih banyak menggunakan waktunya dalam hal-hal yang menyangkut perencanaan dan anggaran. bukan pada halhal lain di luar itu. Pengambilan keputusan yang dilakukan secara partisipatif adakalanya menimbulkan frustrasi dan seringkali lebih lamban dibandingkan dengan cara-cara yang otokratis. 4. Akibatnya kepala sekolah dan guru tidak memiliki banyak waktu lagi yang tersisa untuk memikirkan aspek-aspek lain dari pekerjaan mereka. Para anggota dewan sekolah harus dapat bekerja sama dan memusatkan perhatian pada tugas. Pada saat inilah dewan sekolah mulai terjangkit “pikiran kelompok. Mereka kemungkinan besar tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang hakikat MBS sebenarnya dan bagaimana . Memerlukan Pelatihan. para anggota dewan sekolah kemungkinan besar akan semakin kohesif. Pihak-pihak yang berkepentingan kemungkinan besar sama sekali tidak atau belum berpengalaman menerapkan model yang rumit dan partisipatif ini. Mereka tidak berminat untuk ikut serta dalam kegiatan yang menurut mereka hanya menambah beban.” Ini berbahaya karena keputusan yang diambil kemungkinan besar tidak lagi realistis. Pikiran Kelompok. Di sisi lain. 2. kohesivitas itu menyebabkan anggota terlalu kompromis hanya karena tidak merasa enak berlainan pendapat dengan anggota lainnya. Tidak semua guru akan berminat dalam proses penyusunan anggaran atau tidak ingin menyediakan waktunya untuk urusan itu.

Tanpa itu.Kebingungan Atas Peran dan Tanggung Jawab Baru. 6.cara kerjanya. kegiatan yang beragam akan berjalan sendiri ke tujuannya masing-masing yang kemungkinan besar sama sekali menjauh dari tujuan sekolah. pengambilan keputusan. Selain itu. komunikasi. mereka dapat memastikan bahwa setiap hambatan telah ditangani sebelum penerapan MBS. Penerapan MBS mengubah peran dan tanggung jawab pihakpihak yang berkepentingan. Anggota masyarakat sekolah harus menyadari bahwa adakalanya harapan yang dibebankan kepada sekolah terlalu tinggi. dan sebagainya 5. Apabila pihak-pihak yang berkepentingan telah dilibatkan sejak awal. semua yang terlibat harus memahami apa saja tanggung jawab pengambilan keputusan yang dapat dibagi. Pihak-pihak yang terlibat kemungkinan besar telah sangat terkondisi dengan iklim kerja yang selama ini mereka geluti. Pengalaman penerapannya di tempat lain menunjukkan bahwa daerah yang paling berhasil menerapkan MBS telah memfokuskan harapan mereka pada dua maslahat: meningkatkan keterlibatan dalam pengambilan keputusan dan menghasilkan keputusan lebih baik. Setiap penerapan model yang rumit dan mencakup kegiatan yang beragam mengharuskan adanya koordinasi yang efektif dan efisien. Kesulitan Koordinasi. Perubahan yang mendadak kemungkinan besar akan menimbulkan kejutan dan kebingungan sehingga mereka ragu untuk memikul tanggung jawab pengambilan keputusan. Dua unsur penting adalah pelatihan yang cukup tentang MBS dan klarifikasi peran dan tanggung jawab serta hasil yang diharapkan kepada semua pihak yang berkepentingan. Berdasarkan faktor pendukung dan penghambat yang dikemukan diatas maka ada . oleh siapa. dan pada level mana dalam organisasi.

leaflet. Membangun budaya sekolah (school culture) yang demokratis. termasuk pelaksanaan block grant yang diterima sekolah. Model memajangkan RAPBS di papan pengumuman sekolah yang dilakukan oleh Managing Basic Education (MBE) merupakan tahap awal yang sangat positif. 3. Upaya untuk memperkuat peran kepala sekolah harus menjadi kebijakan yang mengiringi penerapan kebijakan MBS. pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu melakukan kegiatan bersama dalam rangka monitoring dan evaluasi pelaksanaan MBS di sekolah. Model pemberdayaan sekolah berupa pendampingan atau fasilitasi dinilai lebih memberikan hasil yang lebih nyata dibandingkan dengan pola-pola lama berupa penataran MBS. . yang lebih banyak dipenuhi dengan pemberian informasi kepada sekolah. Alangkah serasinya jika kepala sekolah dan ketua Komite Sekolah dapat tampil bersama dalam media tersebut. 2.Pemerintah pusat lebih memainkan peran monitoring dan evaluasi. transparan. termasuk masyarakat dan orangtua siswa. dan akuntabel. Peningkatan kapasitas dan komitmen seluruh warga sekolah. atau poster tentang rencana kegiatan sekolah. Termasuk membiasakan sekolah untuk membuat laporan pertanggungjawaban kepada masyarakat. Dengan kata lain.beberapa Strategi yang dapat diterapkan diterapkan di SMP Negeri 4 Khusus untuk meningkatakan Mutu Pendidikan Melalui Penerapan MBS yaitu : 1. Bukan hanya sekedar melakukan pelatihan MBS. Juga membuat laporan secara insidental berupa booklet. Mengembangkan model program pemberdayaan sekolah.

dukungan dana yang besar yang dapat membiayai berbagai kegiatan baik ekstra maupun intra. 121 Negeri 4 Adapun faktor pendukung diterapkannya manajemen berbasis sekolah di SMP Watampone antara lain: adanya kerjasama antara kepala sekolah dengan semua pihak-pihak yang ada di sekolah. Kesimpulan Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum diperoleh gambaran sebagai berikut: 1. hal mana menunjukkan bahwa tingkat kreatifitas guru menyusun materi masih sangat terbatas. Partisipasi masyarakat terhadap pihak pengelola sekolah belum sepenuhnya menunjukkan kerjasama yang baik diakibatkan oleh rendahnya kemampuan akademik masyarakat berorganisasi (komite sekolah) sehingga memiliki keterbatasan berperan aktif dalam kegiatankegiatan yang bersifat akademik seperti. perumusan misi. inovator dan motivator berjalan maksimal. kemampuan akademik dan manajerial para pendidik sangat menunjang .BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. leader. administrator supervisor. 2. 4. Kinerja kepala sekolah terhadap berbagai tugas dan fungsi kepala sekolah seperti kepala sekolah sebagai edukator. Kinerja guru dilihat dari empat aspek yang dinilai yakni kelengkapan program mengajar guru. 3. Dari empat aspek tersebut secara khusus pada program perbaikan dan pengayaan masih terdapat kelemahan-kelemahan seperti penyusunan tes dan materi berulangulang pada masing-masing sekolah. manajer. visi dalam perencanaan dan mekanisme pengawasan dalam pelaksanaan pengelolaan sekolah. penyajian materi pelajaran evaluasi dan analisis hasil belajar murid serta program perbaikan dan pengayaan.

Pihak pengelola sekolah perlu melakukan transformasi akademik secara intens dengan masyarakat secara kelembagaan melalui organisasi komite sekolah sehingga pemahaman masyarakat terhadap tanggung jawab keberhasilan sekolah dapat berjalan maksimal. sedang yang termasuk faktor penghambat manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Khusus antara lain: Transparansi dan akuntabilitas kepala sekolah belum bersifat terbuka terutama dalam pemanfaatan dana.dalam proses pembelajaran. Lebih memberikan peluang lebih nyata kepada wakil masyarakat dalam komite sekolah untuk lebih optimal dalam melaksanakan tugas dan fungsinya baik secara teknis maupun secara konseptual sehingga pelaksanaan manajemen berbasis sekolah mencerminkan demokratisasi di bidang pendidikan. . kemampuan manajemen tenaga administratif sangat membantu kegiatan ketatausahaan. 2. Dalam upaya untuk meningkatkan kinerja guru agar menjadi lebih profesional sesuai perkembangan tuntutan pendidikan maka pelaksanaan manajemen berbasis sekolah yang lebih mengedepankan kemandirian pengelolaan sekolah maka pengembangan tugas dan tanggung jawab guru menjadi suatu kebutuhan mendesak dengan terus memberikan pendidikan dan latihan atau bentuk kegiatan lainnya dalam rangka pengembangan profesionalisme guru. Saran 1. secara total. 4. serta banyaknya peserta didik dengan berbagai karakter menyulitkan untuk pelaksanaan MBS B. 3. masih ada guru yang bersifat acuh terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Hendaknya dalam meningkatkan efisiensi MBS. analisis serta pengkajian data dan informasi perlu dilakukan secara terus menerus dan mendalam agar setiap unit kerja di sekolah dapat melaksanakan MBS yang efisien. wilayah sekolah yang sempit tidak seimbang dengan jumlah siswa yang teramat banyak lebih dari 1000 siswa.

5. Agar analisis pengimplementasian MBS menjadi lebih sempurna pada sekolah tingkat dasar, menengah dan lanjutan diharapkan kepada peneliti lain dapat melakukan pengkajian secara mendalam pada dimensi lain dalam MBS, sehingga pelaksanaan MBS tidak lagi menemui kendala di lapangan.

DAFTAR PUSTAKA Abdurrahman. 1987. Beberapa Pemikiran Tentang Otonomi Daerah. Jakarta : Media Sarana Press Abidin, Said Zainal. 2006. Kebijakan Publik. Jakarta. Suara Bebas Abustam, Idrus, Djaali dan Rahman Asfah, M. 1996. Pedoman Praktis Penelitian dan Penulisan Karya Tulis Ilmiah. Ujung Pandang Lembaga Penelitian IKP Ujung Pandang.

Arikunto, Suharsimi, 2002 Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta:Rineka Cipta, Cet ke-12. Bastian, Reza Aulia. 2002. Reformasi Pendidikan. Yogyakarta : Lappera Pustaka Utama. Berkepanjangan, ICW, 2004 Burhanuddin, 1998. Desentralisasi Manajemen Pendidikan. Malang : UNM Danuredjo. 1977. Otonomi Indonesia Ditinjau dalam Rangka Kedaulatan. Jakarta : Penerbit Laras Depdiknas, 2001 MPMBS, Konsep & Pelaksanaan, Jakarta: Dirjen Dikdasmen. Depdiknas. 2001. Peningkatan Mutu Pendidikan di Sekolah Dasar. Jakarta Depdiknas. Dunn, William N. 2003. Pengantar Analisis Kebijakan Publik. Jogjakarta. Gajah Mada University Press Fatah, Nanang, 2003 Konsep Management Berbasis Sekolah dan Dewan Sekolah, Bandung Pustaka Bani Quraisy. Fattah, Nanang, 2000, Ekonomi dan Pembiayaan Pendidikan, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya Fiske, Edward. B. 1998. Desentralisasi Pengajaran. (Terjemahan Ahli Bahasa Basillius Bengoteku). Jakarta: Grasindo. Hasbullah, 2006. Otonomi Pendidikan. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada Imron , Ali. 1995. Kebijakan Pendiikan Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara Jalal, Fasli, Supriadi dan Dedi. 2001. Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah. Yogyakarta : Adi Cita. Kalster, Wayang. 2000. Restrukturisasi Penyelenggaraan Pendidikan (Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Oktober No. 26) Jakarta : Badan penelitian dan Pengembangan Depdiknas. Koesoemahatmadja. 1979. Pengantar ke Arah Sistem Pemerintahan di Daerah di Indonesia. Bandung : Binacipta Lexy J. Moleong, 2002, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya. Mantja, W. 1990. Manajemen Pendidikan dan Supervisi Pengajaran. Malang: Wineka Media Mantja. W. dan Imron. AH. 1998. Manajemen Peserta Didik. Malang, Depdikbud

Mardalis, 1993, Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal, Jakarta: Bumi Aksara. Margono, S. 2000. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta Rineka Cipta Mohrman Susan Albert and Wohlstette Priccilla (1994). School-Based Management, Organizing for High Performance, San Fransisco: Jossey-Bass Publisher. Muhdi, Ali. 2007. Konfigurasi Politik Pendidikan Nasional. Yogyakarta. Pustaka Fahima. Mulyasa, E. 2004. Manajemen Berbasis Sekolah (Konsep, Strategi dan Implementasi) Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Mulyasa, E. 2011. Manajemen Berbasis Sekolah (Konsep, Strategi dan Implementasi) cetakan ketigabelas, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Nasution, S dan Thomas. M. 2001. Buku Penuntun Membuat Tesis, Skripsi Disertasi Makalah. Jakarta: Bumi Aksara. Nugroho, D. Riant. 2000. Otonomi Daerah, Desentralisasi Tanpa Revolusi. Jakarta : PT Elex Media Computindo Nurkholis, Manajemen Berbasis Sekolah, 2004 Teori dan Praktek Bandung: Rosda Pongtuluran, Aris. 1995. Kebijakan Organisasi dan Pengambilan Keputusan Manajerial. Jakarta. LPMP Rutmini dan Juyono. 1999. Manajemen Berbasis Sekolah, Konseptual danKemungkinan Strategi Pelaksanaan. Jakarta : Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas. Saleh, Syarif. 1963. Otonomi dan Daerah Otonom. Jakarta : Penerbit Endang Sidi Indra. Djati. 2000. Kebijakan Penyelenggaraan Otonomi Daerah Bidang Pendidikan. Bandung: PPS UPI. Slamet PH. (2005). Handout Kapita Selekta Desentralisasi Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama, Depdiknas RI. Slamet PH. (2005). Handout Kapita Selekta Desentralisasi Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama, Depdiknas RI Sujanto, Bedjo, Mensiasati Manajemen Berbasis Sekolah Di Era Krisis Yang Suparno, Paul. SJ. 2002. Reformasi Pendidikan (Sebuah Rekomendasi). Yogyakarta: Kanisius Suryono, Yoyon. 2000. Arah Kebijakan Otonomi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah. Yogyakarta. FIP UNY

Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Syafaruddin. B. 22 Tahun 1999. Zamroni. 1979. Jakarta Sinar Grafika. Teori Motivasi dan Pengukurannya.2006. 1995. 2 Tahun 1989. Hamzah. Jakarta.Jogjakarta. Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Asas dan Tujuan Pemerintahan Daerah. 1993 Metodologi Research Jilid I. 2008. . 2002. Miftah. Rineka Cipta Thoha. Paradigma Pendidikan Masa Depan. Amidjaja. Uno. 2000. School Based Management.Sutrisno Hadi. D. Pendidikan. Jakarta: Rajawali Tilaar H. Jakarta:Penerbit Djambatan Zamroni. Analisis di Bidang Pendidikan. Yogyakarta: Pascarsarjana Universitas Negeri Yogyakarta. 1989. Umiarso dan Imam Gojali. Tisna. Pola Pembaharuan Sistem Pendidikan Tenaga Kependidikan di Indonesia dan Pedoman Pelaksanaannya Jakarta Depdikbud. Yogyakarta Bigraf Publising. Undang-Undang No. Jakarta: PT Bumi Aksara Wayong J. Manajemen Mutu Sekolah di Era Otonomi Undang-Undang No. Membenahi Pendidikan Nasional.A. Jakarta . Kepemimpinan Dalam Manajemen. (2008). Rineka Cipta.R. Efektivitas Kebijakan Pendidikan. Tentang Otonomi Daerah. 2010. Jakarta Sinar Grafika.A.

JUDUL Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum iv .

pengurus komite sekolah. evaluasi dan analisis hasil belajar murid serta program perbaikan dan pengayaan dan Ketiga.v ABSTRAK Manajemen berbasis sekolah merupakan usaha untuk menumbuhkan pendidikan dari bawah. atas inisiatif masyarakat. Secara filosofis sekolah yang lebih memahami bagaimana situasi atau kondisi sekolah serta harapan apa yang akan dicapai. Penelitian ini ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran secara umum tentang implementasi manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Khusus. termasuk faktor pendukung dan faktor penghambatnya. yakni berakar dari masyarakat. penyajian materi pelajaran. dan dokumentasi. administrator. perumusan misi. . Managemen Berbasis Sekolah. pembelajaran aktif kreatif efektif. Dari studi langsung di lapangan. Tujuan progam MBS adalah peningkatan mutu pendidikan yang meliputi manajemen sekolah. innovator. dan peran serta masyarakat terutama orang tua hanya terbatas pada dukungan dana. penyelenggaraan pendidikan secara sentralistik. Teknik dalam menggali data adalah melalui pengamatan. serta tata usaha. kebijakan. pemimpin. Pertama. dikelola masyarakat dan untuk kepentingan masyarakat. ada tiga faktor sebagai penyebab mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan secara merata. Hasil penelitian dari tiga unsur pokok menunjukkan. Ketiga faktor itu antara lain bahwa kebijakan pendidikan kurang memperhatikan proses pendidikan. Kedua. guru. bahwa kinerja guru dinilai melalui aspek-aspek seperti kelengkapan program mengajar. Dalam MBS. Fokus penelitian MBS di SMP Negeri 4 adalah untuk mengetahui implementasi MBS dari pihak manajemen sekolah dalam hal ini kenerja kepala sekolah. Wakil kepala sekolah. Penelitian ini digolongkan sebagai penelitian deskriftif kualitatif. kinerja guru dan peran serta masyarakat dalam meningkatkan mutu pendidikan. Sumber data utama adalah kata-kata dan tindakan dari kepala sekolah. dan menyenangkan (PAKEM) dan peran serta masyarakat (PSM). visi dalam perencanaan dan pengawasan. supervisor. Dengan adanya manajemen berbasis sekolah ini memberikan kewenangan sekolah untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh lembaga yang bersangkutan. Kata kunci : implementasi. bahwa pelaksanaan manajemen berbasis sekolah dilihat dari kinerja kepala sekolah berbagai tugas dan fungsinya seperti sebagai manajer. bahwa partisipasi masyarakat belum sepenuhnya menunjukkan kerjasama yang baik dengan pihak pengelola sekolah. sekolah memiliki kewenangan yang lebih besar dalam pengelolaan sekolah. Hal tersebut lebih banyak disebabkan oleh rendahnya kemampuan masyarakat berorganisasi (komite sekolah) sehingga memiliki keterbatasan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan seperti. dan motivator dapat berjalan cukup baik. wawancara.

These three factors. This study is classified as a descriptive qualitative research. managed for the benefit of the community and society. teacher performance and community participation in improving the quality of education. Of studies in the field. The main data sources are the words and actions of principals. MBS program goal is to improve the quality of education. administrators of the school committee and administration. education is centralized. that assessed the performance of teachers through such aspects as completeness of the teaching program. and can run pretty good motivator. first. including the factors supporting and inhibiting factors. With a schoolbased management gives schools the authority to develop the potential of the institution concerned. and the role of the community especially the elderly is limited to financial support. teachers. and documentation. interviews. including school management. the formulation of the mission. In MBS. vi . leader. effective creative active learning. that the implementation of school-based management be seen from the performance of the principal tasks and functions such as a manager. evaluation and analysis of student learning outcomes and program improvement and enrichment and Third. It is more often caused by poor ability to organize the community (school committee) so it has limited participation in such activities. This study aims to gather information about the implementation of school based management at SMP Negeri 4 Khusus. the school has greater authority in managing the school. school based management. vision in the planning and supervision. that public participation has not been fully demonstrated good cooperation with the school management. Second. presentation of subject matter. supervisor. and fun (Active Learning) and community (PSM). The results of three main elements indicate.Techniques in exploring the data is through observation. the roots of the community. among others. vice principals.ABSTRACT School based management is an effort to foster the education of. the community initiative. Keywords: implementation. MBS research focus in at SMP Negeri 4 Khusus is to investigate the implementation of MBS from management in this kenerja school principal. In philosophical schools better understand how the situation or condition of the school and what expectations will be achieved. innovator. policy. that the lack of attention to education policy education process. there are three factors as the cause of the quality of education does not increase uniformly. administrator.

.................................. Kebijakan Publik Dalam Dimensi Akuntabilitas C............................................................................................................................................ Kinerja Guru Dalam Proses Belajar Mengajar G....................................................................................... B.............................................................................................................. Manajemen Pendidikan D...................... Manajemen Berbasis Sekolah E........... Kinerja Kepala Sekolah 48 49 34 35 21 F............................... Latar Belakang Masalah ...................... DAFTAR ISI .............................................. BAB I PENDAHULUAN .......... ABSTRAK ......... Tujuan Penelitian D......... Desentralisasi Pendidikan.............. PRAKATA ........ A........................................... Partisipasi Masyarakat 51 ......... Rumusan Masalah C............................ DAFTAR TABEL . A................................................... HALAMAN PENGESAHAN ............................................................... ABSTRACT ......................................................... B..........................................................................................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN SAMPUL ............................. Manfaat Penelitian BAB II 8 8 8 10 10 i ii iii v vi vii ix x 1 1 TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................... DAFTAR GAMBAR ...............

............. A....... Populasi dan Sampel 58 58 59 56 F................ Teknik Analisis Data 62 60 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .............................................................................. Peran Serta Masyarakat dalam Pelaksanaan MBS pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum 98 F................ Variabel Penelitian D.H................................ B.......... ................................. Faktor Pendukung dan Penghambat Implementasi MBS di SMP Negeri 4 Khusus ............................................ Responden Masyarakat 67 64 64 C......................... B... Defenisi Operasional Variabel C.................. A....... Kesimpulan ............ Metode Pengumpulan Data . Jenis dan Lokasi Penelitian .............. BAB V 113 121 121 KESIMPULAN DAN SARAN-SARAN ...... Kerangka Pikir 52 vii BAB III METODE PENELITIAN 56 56 A..... Instrumen Penelitian E................................................ Kinerja Kepala Sekolah dalam Pelaksanaan MBS pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum 70 D.. Kinerja Guru dalam Pelaksanaan MBS pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Watampone 86 E.... Identitas Responden ................................ G..

.6............69 64 65 66 68 69 ........... Tabel 4... Penyebaran responden menurut tingkat pendapatan.........1....... Saran-saran 122 viii DAFTAR PUSTAKA 124 DAFTAR TABEL Tabel 4....................B.............. Penyebaran responden masyarakat menurut tingkat pendidikan................ Tabel 4........ Tabel 4. Karakteristik responden guru berdasarkan pangkat/golongan....5. Tabel 4.......... Penyebaran responden guru menurut kelompok umur............... Penyebaran responden guru menurut tingkat Pendidikan..... Penyebaran responden masyarakat menurut latar belakang pekerjaan ...........3............ Tabel 4.4..2...

.................1 Sketsa Kerangka Pikir ................................ix DAFTAR GAMBAR Gambar 2........... 55 x ......

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->