BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah.

Perkembangan ilmu pengetahuan sangat ditentukan oleh perkembangan dunia pendidikan, di mana dunia pendidikan mempunyai peran yang sangat strategis dalam menentukan arah maju mundurnya kualitas pendidikan. Hal ini bisa dirasakan ketika sebuah lembaga pendidikan dalam menyelenggarakan pendidikan yang benar-benar bagus, maka dapat dilihat kualitasnya, berbeda dengan lembaga pendidikan yang melaksanakan pendidikan hanya dengan sekedarnya maka hasilnya pun biasa-biasa saja. Selanjutnya adanya Perubahan sistem pendidikan nasional, dari undang-undang No.2 Tahun 1989 menjadi undang-undang No. 20 Tahun 2003, merupakan upaya pembaharuan pendidikan kearah peningkatan mutu. Upaya peningkatan mutu beralih menjadi tangggung jawab sekolah dengan diberlakukannya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), sejalan dengan eraotonomi daerah. Banyak konsep pendidikan dalam UU Sisdiknas 2003 yang bernilai filosofis, yang dapat membangun ”Paradigma Baru” pendidikan Indonesia. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, telah semakin meningkatkan tuntunan kebutuhan sosial masyarakat. Pada akhirnya tuntunan tersebut bermuara kepada pendidikan, karena masyarakat meyakini bahwa pendidikan mampu menjawab dan mengantisipasi berbagai tantangan tersebut. Pendidikan merupakan salah satu upaya yang dapat. dilakukan oleh sekolah sebagai institusi tempat masyarakat berharap tentang kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang. Pendidikan perlu perubahan yang dapat dilakukan melalui perubahan dan peningkatan dalam pengelolaan atau manajemen pendidikan di sekolah.

Chapman (1990) dalam Fattah (2003 : 28) menjelaskan bahwa : “Manajemen berbasis sekolah (MBS) sebagai terjemahan dari School Base Management adalah suatu pendekatan politik yang bertujuan untuk meningkatkan, me-redisain pengelolaan sekolah, bertujuan untuk memberikan kekuasaan dan meningkatkan partisipasi sekolah dalam upaya perbaikan kinerjanya yang mencakup guru, siswa, orang tua siswa, dan masyarakat. Manajemen Berbasis Sekolah memodifikasi struktur pemerintahan dengan memindahkan otoritas dalam pengambilan keputusan pemerintahan dan manajemen ke setiap yang berkepentingan di tingkat lokal (local stakeholders)”. Dengan mengalihkan wewenang dalam keputusan dari pemerintah tingkat

Pusat/Kanwil/Kadis ke tingkat sekolah, diharapkan sekolah akan lebih mandiri dan mampu menentukan arah pengembangan yang sesuai dengan kondisi dan tuntunan lingkungan masyarakatnya. Pada pelaksanaannya disadari bahwa mengimplementasikan pemberian kewenangan kepada sekolah melalui pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) memerlukan proses dan waktu. Organisasi berwajah lokal dalam kegiatannya cenderung berdasarkan pada konsensus lewat dialog dan diskusi yang terbuka dan seimbang. Dalam kaitan ini, jabatan Kepala Sekolah yang selama ini ditunjuk oleh pemerintah perlu diganti dengan Kepala Sekolah yang dipilih oleh guru dan kelak apabila masa jabatan sudah habis Kepala Sekolah akan dievaluasi oleh guru pula. Sekolah dengan bentuk organisasi semacam itu akan memungkinkan sekolah sebagai suatu lembaga yang relatif otonom dari kekuatan politik. Kerja Kepala Sekolah beserta staf administrasi tim yang demokratis orang tua murid dilibatkan dalam pelaksanaan

pendidikan sebagai anggota bukan sebagai klien. Dari berbagai problem dan tantangan yang menyertainya, baik secara konseptual maupun secara operasional pelaksanaan model manajemen berbasis sekolah, maka urgensi penelitian ini dilaksanakan untuk mengkaji lebih mendalam pada tingkat aktualisasi realitanya yang lebih riil. Untuk itu, maka muncullah sistem baru yaitu sistem Manajemen Berbasis Sekolah. Konsep

Manajemen Berbasis sekolah (MBS) ini pertama kali muncul di Amerika Serikat. Latar belakangnya ketika itu masyarakat mempertanyakan tentang relevansi dan korelasi pendidikan yang diselenggarakan di sekolah dengan tuntutan kebutuhan masyarakat. Bertitik tolak dari kondisi tersebut, dipandang perlu membangun suatu sistem persekolahan yang mampu memberikan kemampuan dasar bagi peserta didik. Muncullah penataan sekolah melalui konsep MBS yang diartikan sebagai wujud dari reformasi pendidikan yang meredesain dan memodifikasi struktur pemerintah ke sekolah dengan pemberdayaan sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasional. (Sagala, 2004: 17). Sistem Manajemen Berbasis Sekolah merupakan suatu sistem yang menunutut agar sekolah dapat secara mandiri menggali, mengalokasikan, menentukan prioritas, mengendalikan dan mempertanggung jawabkan pemberdayaan sumber-sumber, baik kepada masyarakat maupun pemerintah (Mulyasa, 2006: 24). Pembelajaran berbasis kompetensi menekankan pembelajaran ke arah penciptaan dan peningkatan serangkaian kemampuan dan potensi siswa agar bisa mengantisipasi tantangan aneka kehidupannya. Sehingga orientasi pembelajaran yang selama ini lebih ditekankan pada aspek ”pengetahuan” dan target ”materi” yang cenderung verbalistis berubah menjadi lebih ditekankan pada aspek ”kompetensi” dan target ”keterampilan”. Tujuannya adalah untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Peningkatan mutu pembelajaran merupakan suatu proses sistematis yang dilakukan secara terus menerus dalam meningkatkan kualitas proses belajar mengajar dan faktor-faktor yang berkaitan dengan pembelajaran, dengan tujuan agar menjadi target sekolah dapat tercapai. Keberhasilan pendidikan dengan sistem MBS ini dapat diukur dari indikator-indikator yang meliputi: input, proses, output dan outcome. (Engkoswara, 1988: 54). Pertama, input yaitu diantaranya adalah kualitas guru haruslah profesional dalam pengembangan ide kreativitasnya

Tidak bersifat sentralistik.sehingga dapat menunjang mutu pembelajaran. upaya pemberdayaan pembelajaran yang difokuskan siswa belajar menjadi sangat penting. Adapun untuk dunia usaha itu juga merupakan suatu bukti ada tidaknya peningkatan mutu pembelajaran di sekolah tersebut. outcome meliputi jumlah lulusan ketingkat pendidikan berikutnya. Pemberdayaan yang dimaksud tidak akan meninggalkan fungsi dan peran guru. Memiliki hak otonomi yang luas dalam mengembangkan kreativitas dalam memberdayakan dan mengoptimalisasi sumber-sumber daya yang ada. Keempat. diantaranya adalah masyarakat dan dunia usaha. sehingga keterampilan guru dalam mengelola pembelajaran sangat dibutuhkan. maksudnya semua kegiatan pendidikan tidak tergantung pada pusat (pemerintah). karena sekolah yang baik merupakan suatu kebanggaan baik bagi pengelola (yayasan) ataupun bagi masyarakat sekitar (Fattah. Engkoswara. 3. sistem pembelajaran MBS ini memiliki ciri-ciri lain diantaranya: 1. Oleh karena itu untuk memperbaiki mutu pendidikan. 2. 1999: 3). Selain itu. 2002: 5). 2002: 5). Hal ini menyebabkan proses belajar menjadi statis dan beku. Non birokrasi yaitu sedikit mengesampingkan syarat-syarat hukum dan teknis pendirian sekolah. Memiliki sifat kewiraswastaan sehingga manajemen sekolah akan lebih luwes dan inovatif. (Rahardja. ada empat alasan perlunya sekolah menerapkan program sistem dalam . output. proses pembelajaran. Ketiga. pada umumnya pembelajaran ditekankan pada proses pengajaran oleh guru (teacher teaching) dibandingkan dengan proses pembelajaran oleh murid (student learning). Selain empat ciri diatas. (Bambang Rahardja. 1988: 54). Kedua. 4. semakin baik dunia usaha yang dimiliki lulusan sekolah tersebut maka semakin baik juga pula mutu sekolah tersebut. Hal ini pula yang menjadi tolok ukur peningkatan mutu pembelajaran di sekolah.

Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan dalam proses pendidikan sesuai dengan kebutuhan sekolah dan perkembangan anak didiknya. 2000: 3). tidak terkecuali dengan SMP Negeri 4 Khusus yang juga telah menggunakan model manajemen berbasis sekolah. maka di ketahui bahwa SMP Negeri 4 Khusus adalah salah satu lembaga yang mencoba mempelopori dan menerapkan konsep MBS. Sekolah dapat melakukan persaingan sehat dengan sekolah lain untuk meningkatkan mutu pembelajaran dengan dukungan orangtua. Sekolah dapat mempertanggungjawabkan kinerja dan mutu pendidikan yang dihasilkan sekolah masing-masing kepada orangtua. 4.Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yaitu: 1. 2. (Umaedi.sekolah negeri maupun swasta. Berdasarkan observasi awal Sebagai implementasi dari konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang demokratis berciri pada pemberian wewenang luas pada sekolah untuk mengatur pendidikan dan pengajaran sebagai aspirasi dari masyarakat kepada sekolah merupakan inti dari konsep MBS. sehingga mereka akan berupaya seoptimal mungkin untuk melaksanakan dan mencapai target mutu pendidikan yang telah direncanakan. masyarakat dan pemerintah daerah setempat atau bahkan pemerintah pusat. Pada dasarnya model manajemen berbasis sekolah adalah model pengelolaan pendidikan yang mencoba diterapkan oleh sekolah. 3. Sekolah sebagai lembaga pendidikan lebih mengetahui kelebihan dan kelemahan dirinya. SMP Negeri 4 Khusus sebagai sebuah lembaga pendidikan yang telah berdiri cukup . masyarakat dan pemerintah. sehingga mereka dapat mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk memajukan lembaganya.

proses pengelolaan dan lain sebagainya. Belum diketahui keterbukaan manajemen sekolah. dan apresiasi masyarakat terhadap sekolah ini sangatlah besar. baik dalam bidang administrasi. partisipasi. 3. Provinsi bahkan sampai pada tingkat Nasional. Diduga besarnya jumlah siswa pada sekolah tersebut mengindikasikan bahwa minat. yaitu: 1. Tingkat kelulusan siswa pada setiap ujian nasional mengalami peningkatan. Belum ada penelitian terdahulu yang membahas tentang bagaimana implementasi manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Khusus. dan disentralisasi. maka policy yang dilakukan tentu saja didasarkan pada peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah. maka penekanan pengembangan yang semula berorientasi pada kuantitas berubah menjadi kualitas. tenaga pengajar di sekolah tersebut telah menjalankan aktivitas mengajar dengan konsep PAIKEM. Berdasarkan uraian sebagaimana tersebut di atas maka ada beberapa hal yang mendasari mengapa penelitian ini mengambil lokasi di SMP Negeri 4 Khusus. Berdasarkan observasi awal.lama dikenal sebagai sebuah lembaga yang memiliki segudang prestasi yang sangat membanggakan baik di tingkat Kabupaten. mandiri. Belum diketahui ketersediaan dan kesiapan input-input pendidikan yang mendukung keterlaksanaan program manajemen peningkatan berbasis sekolah diduga belum memadai. 4. 6. Karena orientasi kurikulum sekarang mengacu pada peningkatan kualitas manajemen yang berbasis sekolah. . Sebagai sebuah lembaga pendidikan yang di bawah naungan pemerintah. 5. Namun realitasnya bahwa belum sepenuhnya sekolah ini mampu melaksanakan school based management atau MBS yang diharapkan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. 2. baik di segi dana maupun program belum sesuai dengan yang dikehendaki. proses pendidikan.

Untuk mengetahui Faktor-faktor yang menghambat dan mendukung penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4 Khusus. Belum terdeteksi efektifitas partisipasi komite sekolah dan dewan pendidikan dalam penggalian dana sekolah. Diduga belum memadai upaya untuk memecahkan berbagai faktor-faktor penghambat dalam pengimplementasian manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Khusus.7. 10. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan. Bagaimana Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum? 2. Diduga belum maskimal akuntabitas sekolah kepada stakeholders. 9. Manfaat teoritis sebagai bahan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya ilmu . Manfaat Penelitian 1. Untuk mengetahui Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum. B. dapat dikemukakan rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut: 1. dengan 8. Faktor-faktor apa yang menghambat dan mendukung penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4 Khusus? C. Diduga iklim kerjasama antara sesama komunitas sekolah. D. maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. 2. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan. komunitas sekolah masyarakat belum terlaksana dengan baik.

Sebagai bahan informasi bagi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan umumnya dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Sulawesi Selatan khususnya Kabupaten Umum dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. 2. Memacu partisipasi aktif masyarakat dalam memajukan mutu pendidikan . yayasan pendidikan) dalam penerapan manajemen berbasis sekolah. Sumber pengetahuan aktual bagi pengelola sekolah (kepala sekolah. c. Manfaat praktis adalah sebagai berikut: a.Administrasi Negara. b. Sebagai bahan informasi kepada mereka yang berprofesi guru dalam menggali informasi penting tentang manajemen berbasis sekolah. d.

pengawasan. Dipertegas pula “Bahwa bidang pendidikan merupakan bidang yang termasuk dalam garapan kewenangan daerah otonom atau penyerahan (pendelegasian) pemerintah pusat yang dikenal dengan desentralisasi pendidikan”. Desentralisasi Pendidikan Berlakunya Undang-Undang No. 32 Tahun 2004). 10 Selanjutnya Burhanuddin (1998 : 117) “Sistem Sentralisasi atau desentralisasi dalam penyelenggaraan atau manajemen pemerintahan memiliki implikasi langsung terhadap penyelenggaraan pendidikan. Kewenangan diberikan kepada daerah kabupaten dan kota berdasarkan azas desentralisasi dalam wujud otonomi luas. ditegaskan pula bahwa daerah dibentuk berdasarkan kehendak masyarakat setempat dengan mempersyaratkan kemampuan ekonomi. Bidangbidang yang terkait langsung dengan sistem tersebut adalah kebijaksanaan.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. nyata dan bertanggung jawab. jumlah penduduk. Berkaitan dengan aspirasi masyarakat. luas daerah dan berbagai syarat lain yang memungkinkan daerah menyelenggarakan otonomi daerah (Pasal 5 ayat 1 dan Pasal 7 ayat 1 UU No. mutu dan sumber dana pendidikan”. sistem pendidikan nasional dan manajemen pendidikan. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah pada hakekatnya memberi kewenangan dan keleluasaan kepada pemerintah daerah untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. . potensi daerah.

atau dari unit ke unit dibawahnya. Di samping itu. pemerintah akan terbantu dalam control maupun pembiayaan sehingga dapat lebih berkonsentrasi pada masyarakat kurang mampu yang semakin bertambah jumlahnya. atau dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. Penekanan tersebut berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah Misalnya krisis ekonomi yang tidak dapat dihindari dampaknya terhadap pendidikan. relevansi. mutu dan pemerataan pendidikan. Kalster (2000 : 11). menyebutkan bahwa desentralisasi pendidikan dalam bentuk School Base community. Kondisi tersebut secara langsung mengakibatkan menurunnya mutu pendidikan dan terganggunya proses pemerataan. terutamanya berkurangnya penyediaan dana yang cukup untuk pendidikan dan menurunnya kemampuan sebagai orang tua untuk membiayai pendidikan anaknya. berkurangnya lapisan birokrasi . diyakini dapat meningkatkan efisiensi. pemerintah terhadap tuntutan masyarakat juga dapat ditunjukkan sebagai sarana peningkatan efesiensi. Pemberdayaan sekolah dengan memberikan otonomi lebih besar. Kewenangan begitu luasnya.Pendelegasian bisa berarti penyerahan wewenang dari pusat ke daerah. termasuk pula dari pemerintah ke masyarakat. menetapkan. Hasil studinya menunjukkan bahwa terdapat potensi yang memungkinkan keberhasilan pelaksanaan desentralisasi pendidikan di Indonesia. Salah satu wujud desentralisasi yang dimaksud adalah terlaksananya proses otonomi dalam penyelenggaraan pendidikan. Dengan melibatkan masyarakat dalam pengelolaan sekolah. pemerataan dan mutu pendidikan serta memenuhi azas keadilan dan demokrasi. seperti kewenangan merumuskan. Karena itu tidak seluruh kewenangan dapat didesentralisasikan. di samping menunjukkan sikap tanggap. melaksanakan sampai dengan melakukan evaluasi terhadap suatu kebijakan yang jangkauannya bersifat nasional. Kewenangan itu perlu diklarifikasikan.

Pemberian otonomi yang luas kepada sekolah merupakan kepedulian pemerintah terhadap gejala-gejala yang muncul di masyarakat serta upaya peningkatan mutu pendidikan secara umum.2010:47-48) Dengan demikian. humanisasi dan demokrasi dalam pendidikan. Penerapan demokratisasi pendidikan dilakukan . Keempat. tuntutan orang tua. keterlibatan kepala sekolah. seperti terserapnya konsep globalisasi. ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. Dengan landasan tersebut. para legislator. Kedua. Pemberian otonomi ini menuntut pendekatan manajemen yang lebih kondusif di sekolah agar dapat mengakomodasi seluruh keinginan sekaligus memberdayakan berbagai komponen masyarakat secara efektif guna mendukung kemajuan dan sistem yang ada di sekolah. dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan. Selain hal tersebut diatas. tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan. Ketiga. ada beberapa faktor yang mendorong penerapan desentralisasi. pemerintah mencoba untuk menerapkan desentralisasi pendidikan sebagai solusi. Kelima. (Umiarso dan Imam Gojali. meningkatkan pendayagunaan potensi daerah. serta terciptanya infrastruktur kedaerahan yang menunjang terselenggaranya sistem pendidikan yang relevan dengan tuntutan zaman. kelompok masyarakat. Pertama. pebisnis. misi utama desentralisasi pendidikan adalah meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaran pendidikan.dalam prinsip desentralisasi juga mendukung efesiensi tersebut. penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat. anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. dan guru dalam pengambilan keputusan sekolah yang pada akhirnya mendorong mereka untuk menggunakan sumber daya yang ada seefesien mungkin untuk mencapai hasil yang optimal.

pengembangan kurikulum juga harus mampu mengembangkan kebudayaan daerah dalam rangka memajukan kebudayaan nasional. Oleh karena itu dalam desentralisasi pendidikan ada sasaran utama progaram restrukturisasi sistem dan manajemen pendidikan di indonesia. Pada tataran ini. masyarakat. Desentralisasi pendidikan yang efektif tidak hanya melibatkan proses pemberian kewenagan dan pendanaan yang lebih besar dari pusat ke daerah. Ada ruang-ruang dalam pendidikan untuk membangun peserta didik agar lebih mengerti dan berbakti untuk kepentingan dan kesejahteraan bersama dengan landasan kearifan lingkungan. serta mencerminkan . Selain itu. tercipta pula kearifan ekologi yang merupakan buah dari inovasi kurikulum berbasis lingkungan atau masyarakat. Restrukturisasi tersebut hendaknya mencakup hal-hal berikut: (a) Struktur organisasi pendidikan hendaknya terbuka dan dinamis. pendelegasian wewenang. Pertanyaan terpenting tentang arah desentralisasi pendidikan adalah sampai seberapa jauh sekolah-sekolah akan diberi kewenangan yang lebih besar menentukan kebijakan-kebijakan tentang organisasi dan proses belajar mengajar. sehingga mereka dapat merencanakan proses belajar megajar dan pengembangan sekolah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masingt-masing sekolah. dan inovasi pendidikan. tetapi juga meliputi pemberian kewenangan dan pendanaan yang lebih besar ke sekolah-sekolah. dan orang tua dalam hubungan kemitraan dan menumbuhkan dukungan positif bagi pendidikan. manajemen guru. Dengan asas tersebut. Kurikulum dikembangkan sesuai kebutuhan lingkungan.dengan mengikut sertakan unsur-unsur pemerintah setempat. yaitu manajemen berbasis sekolah. Hal yang menarik adalah desentralisasi pendidikan akan berimplikasi pada tataran dunia baru pendidikan yang lebih humanis. Artinya. desentralisasi pendidikan mencakup tiga hal. serta sumber-sumber pendanaan sekolah. struktur dan perencanaan di tingkat sekolah.

(h) Pendidikan berbasis masyarakat. kursus-kursus keterampilan dan pemagangan di tempat kerja dalam rangka pendidikan sistem ganda harus menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional. berprestasi. kesulitan komunikasi. . berkreasi. berkomunikasi.desentralisasi dan pemberdayaan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. serta kontribusi masyarakat terhadap pendidikan pada setiap sekolah. (c) Tenaga pendidikan terutama tenaga pengajar harus melalui proses seleksi sejak memasuki LPTK disertai sistem tunjangan ikatan dinas dan wajib mengajar. (g) Kegiatan supervisi dan akreditasi. (f) Sistem penilaian hasil belajar secara berkelanjutan perlu diterapkan di setiap lembaga pendidikan sebagi konsekuensi dari pelaksanaan pembelajaran tuntas. (i) Formula pembiayaan pendidikan atau unit cost dan subsidi pendidikan harus didasarkan pada bobot penyelenggaraan pendidikan yang memperhatikan jumlah peserta didik. Supervisi serta pembinaan administrasi dan akademis dilakukan oleh unsur manajemen tingkat pusat dan provinsi bertujuan untuk pengendalian mutu. peserta didik aktif sesuai dengan tingkat kesulitan konsep-konsep dasar yang dipelajari. tingkat kesejahteraan masyarakat. seperti pondok pesantren. serta menjalankan syariat agama. tidak terikat pada penyelesaian target kurikulum secara seragam persemester dan tujuan ajaran. (e) Proses pembelajaran tuntas diterapkan dengan berbagai modus pendekatan pembelajaran. sedangkan akreditasi dilakukan untuk menjamin mutu pelayanan kelembagaan. berolahraga. tingkat partisipasi pendidikan. (b) Sarana pendidikan dan fasilitas pembelajaran dibakukan berdasarkan prinsif edukatif sehingga lembaga pendidikan merupakan tempat yang menyenangkan untuk belajar. (d) Struktur kurikulum pendidikan hendaknya mengacu pada penerapan sistem pembelajaran tuntas.

dan (3) Dengan menggunakan paradigma belajar atau learning paradigma yang akan menjadikan pelajar-pelajar atau learner menjadi manusia yang diberdayakan. Pada awal tahun 2001 digulirkan program MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). dan lingkungannya dapat memberikan topangan hidup yang mengantarkan manusia yang mencintainya menikmati kesejahteraan dunia akhirat. maka pergeseran sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kewenangan lebih banyak kepada daerah kabupaten dan kota pada dasarnya memiliki tujuan agar pendidikan dapat berjalan lebih efektif dan efisien. Maka Di era otonomi daerah kebijakan strategis yang diambil Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah adalah : (1) Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (School Based Management) yang memberi kewenangan pada sekolah untuk merencanakan sendiri upaya peningkatan mutu secara keseluruhan. Program ini diyakini akan memberdayakan masyarakat pemerhati pendidikan (stakeholders) dalam memberikan perhatian . (2) Pendidikan yang berbasis pada partisipasi komunitas (community based education) agar terjadi interaksi yang positif antara sekolah dengan masyarakat. (4) Pemerintah juga mencanangkan pendidikan berpendekatan Broad Base Education System (BBE) yang memberi pembekalan kepada pelajar untuk siap bekerja membangun keluarga sejahtera. sekolah sebagai community learning centre.Berdasarkan hal tersebut di atas. Lingkungan sekitarnya dapat memperoleh masukan baru dari insan yang mencintainya. Pemangkasan mekanisme sistem birokrasi yang berbelit-belit yang terpusat secara sentralistik telah banyak membuang biaya dan waktu sampai tiba pada tahap sasaran pendidikan yang sesungguhnya seperti perbaikan kualitas dan personil pendidikan sekolah dan peserta didik di daerah. Dengan pendekatan itu setiap siswa diharapkan akan mendapatkan pembekalan life skills yang berisi pemahaman yang luas dan mendalam tentang lingkungan dan kemampuannya agar akrab dan saling memberi manfaat.

Dari hal di atas. Namun. yaitu Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Tujuan program MBS di antaranya menuntut sekolah agar dapat meningkatkan kualitas penyelenggaraan dan layanan pendidikan (quality insurance) yang disusun secara bersama-sama dengan Komite sekolah. Realisasi dari ini. sebagai salah satu bentuk tanggungjawab pemerintah pada pendidikan. Namun. melainkan membantu pula mengawasi dan mengontrol kualitas pendidikan. dan bahkan pengusaha. Dalam menerapkan konsep MBS. baik sebagai dukungan terhadap penyediaan sarana dan prasarana pendidikan maupun untuk peningkatan kualitas pendidikan. Sebetulnya. khususnya sekolah. Salah satu di antaranya. Program ini sesungguhnya sangat baik. termasuk dari orangtua siswa untuk membantu operasional sekolah untuk menggapai kualitas pendidikan. terutama dalam menghimpun sumber-sumber pendanaan pendidikan. sehingga dapat membantu kepedulian masyarakat dalam membantu pembiayaan pendidikan. pada beberapa sekolah yang pemahaman anggota komite sekolah atau para . komite menghimpun dana masyarakat. tokoh masyarakat dan pemerintahan di sekitar sekolah. diharapkan dapat menetapkan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS). peran komite di tingkatan pendidikan dasar (SD/MI dan SMP/MTs) yang sudah mulai bagus ini terhapus kembali oleh program berikutnya.sejak program MBS ini digulirkan. Masyarakat dituntut perannya bukan hanya membantu pembiayaan operasional pendidikan di sekolah tersebut. peran komite sekolah mulai tampak. siswa. wacana yang dikembangkan adalah “Sekolah Gratis” sehingga mengubur kepedulian masyarakat terhadap pendidikan yang sudah mulai terbangun dalam MBS. Tentu saja. mensyaratkan sekolah membentuk Komite Sekolah yang keanggotaannya bukan hanya orangtua siswa yang belajar di sekolah tersebut. namun mengikutsertakan pula guru. termasuk pula untuk peningkatan kualitas kesejahteraan guru di sekolah itu.dan kepeduliannya terhadap dunia pendidikan.

penyelenggaraan pendidikan di kelas memang seluruhnya harus menjadi kewenangan guru. lapuk. pada SMTP dan SMTA sebagian kewenangan meluluskan hasil belajar siswa masih menjadi “proyek pemerintah pusat” dengan alasan sebagai pengendalian mutu lulusan. ditinjau dari hakikat pengajaran dan sejalan dengan desentralisasi pendidikan. Demikian pula pada tingkat SD di kabupaten/kota. Kenyataan itu menunjukkan bahwa impelementasi MBS pada tataran mikro yang masih setengah hati diserahkan. Padahal. menganggap seperti halnya BP3. Berdasarkan kewenangan profesionalnya. Misalnya. dengan dalih “ikutikutan” pemerintah pusat mengendalikan mutu pendidikan di daerah. guru bertugas merencanakan. ujian akhir masih menjadi kewenangan dinas pendidikan kabupaten/kota. evaluasi merupakan bagian dari tugas pengajaran seorang guru. Maka. sambil berharap datang sang penyelamat. sehingga kewenangan itu jangan “direbut” oleh birokrasi pendidikan. Demikian pula. tidak heran jika banyak sekolah yang rusak. berkaitan dengan kebijakan pendidikan dalam rangka peningkatan mutu berbasis sekolah dan . Sehubungan dengan evaluasi kebijakan pendidikan Era Otonomi masih belum terformat secara jelas maka di lapangan masih timbul bermacam-macam metode dan cara dalam melaksanakan program peningkatan mutu pendidikan. Sampai saat ini hasil dari kebijakan tersebut belum tampak. bahkan ambruk dibiarkan oleh komite sekolah. yaitu pemerintah. Namun.pendidik masih kurang. namun berbagai improvisasi di daerah telah menunjukkan warna yang lebih baik. maka penetapan akuntabilitas pendidikan melalui peran stakeholders pendidikan semakin menurun. melaksanakan. Pengelolaan pendidikan pada satuan pendidikan tertentu (sekolah) menjadi kewenangan kepala sekolah. beberapa langkah program yang telah dijalankan di beberapa daerah. Dalam hal pengelolaan mikro pendidikan pun masih terdapat beberapa masalah. dan mengukur hasil pembelajaran.

f) Sudah selayaknya jika otonomi pendidikan harus bergandengan dengan kebijakan akuntabiliti terutama yang berkaitan dengan mekanisme .peningkatan mutu pendidikan berbasis masyarakat diimplementasikan sebagai berikut : (1) Telah berlakunya UAS dan UAN sebagai pengganti EBTA /EBTANAS (2) Telah dibentuknya Komite Sekolah sebagai pengganti BP3. otonomi pendidikan mengarah pada menipisnya kewenangan pemerintah pusat dan membengkaknya kewenangan daerah otonom. atas bidang pemerintahan berlabel pendidikan yang harus disertai dengan tumbuhnya pemberdayaan dan partisipasi masyarakat. c) Terdapat potensi tarik menarik antara otonomi pendidikan dalam konteks otonomi daerah dalam menempatkan kepentingan ekonomik dan finansial sebagai kekuatan tarik menarik antara pemerintahan daerah otonom dan institusi pendidikan. serta bantuan peralatan praktik sekolah (7)Bantuan peningkatan SDM sebagai contoh pemberian beasiswa pada guru untuk mengikuti program Pascasarjana. d) Kejelasan tempat bagi institusi-institusi pendidikan perlu diformulasikan agar otonomi pendidikan dapat berjalan pada relny. penataan kelembagaan pada level dan tempat yang menjadi faktor kunci keberhasilan otonomi pendidikan. (3) Telah diterapkan muatan lokal dan pelajaran ketrampilan di sekolah SLTP (4) Dihapuskannya sistem Rayonisasi dalam penerimaan murid baru (5) Pemberian insentif kepada guru-guru negeri (6) Bantuan dana operasional sekolah. b) Pada sisi otonomi daerah. otonomi pendidikan berjalan atas dasar desentralisasi dan prinsip School Based Management pada tingkat pedidikan dasar dan menengah. e) Pada tingkat persekolahan. diantaranya: a) Secara general otonomi pendidikan menuju pada upaya meningkatkan mutu pendidikan sebagai jawaban atas “kekeliruan” kita selama lebih dari 20 tahun bergelut dengan persoalan-persoalan kuantitas. Kebijakan otonomi pendidikan dalam konteks otonomi daerah sebagai berikut.

i) Secara makro. apapun yang terkandung di dalamnya.pendanaan atau pembiayaan pendidikan.Menguatnya aspirasi otonomi dan desentralisasi khususnya di bidang pendidikan. yakni pengalihan kewenangan ke pengaturan tingkat yang lebih rendah dalam jajaran birokrasi pusat.2) Kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional lebih berorientasi kepada pencapaian target kurikulum. Dalam kasus Indonesia. yakni: a) Dekonsentrasi. otonomi pendidikan tinggi haruslah menonjolkan keunggulan-keunggulannya. yakni pengalihan ke unit pemerintahan daerah d) Swastanisasi. yang pada gilirannya mengabaikan keragaman sesuai dengan realita masyarakat Indonesia di berbagai daerah. kebijakan otonomi pendidikan tinggi dapat ditempatkan bukan pada kepentingan daerah sematasemata melainkan pada kenyataan bahwa pendidikan tinggi adalah aset nasional. h) Dalam konteks otonomi daerah. yaitu pengalihan kewenangan ke badan quasi pemerintah atau badan yang dikelola secara publik c) Devolusi. g)Pada level pendidikan tinggi. ada empat bentuk desentralisasi pendidikan. Sebagaimana diungkapkan Azyumardi Azra bahwa di antara masalah dan kelemahan yang sering diangkat dalam konteks ini adalah:1) Kebijakan pendidikan nasional yang sangat sentralistik dan serba seragam. swastanisasi. berupa pendelegasian kewenangan ke badan usaha swasta atau perorangan. kebijakan otonomi masih tetap berada dalam kerangka otonomi keilmuan. khususnya selama orde baru. tidak terlepas dari kenyataan adanya kelemahan konseptual dan penyelenggaraan pendidikan nasional. b) Pendelegasian. 2000:6) Menurut Fransisca Kemmerer dalam Ali Muhdi 2007:149. (Yoyon. pada gilirannya mengabaikan proses pembelajaran yang efektif dan . sejauh yang telah dilakukan nampaknya cenderung mengambil bentuk yang terakhir.

Berbeda dengan Hukum (Law) dan Peraturan (Regulation).mampu menjangkau seluruh ranah dan potensi anak didik. Dalam hal ini. (2) Peraturan Pemerintah. Istilah kebijaksanaan adalah kearifan yang dimiliki oleh seseorang. (4) Kepmen. Kebijakan juga diharapkan dapat bersifat umum tetapi tanpa menghilangkan ciri lokal yang spesifik. . Kebijakan harus memberi peluang diinterpretasikan sesuai kondisi spesifik yang ada. Contoh kebijakan adalah : (1) Undang-Undang. kebijakan berkenaan dengan gagasan pengaturan organisasi dan merupakan pola formal yang sama-sama diterima pemerintah/lembaga sehingga dengan hal itu mereka berusaha mengejar tujuannya (Monahan dalam Syafaruddin. Kebijakan akan menjadi rujukan utama para anggota organisasi atau anggota masyarakat dalam berprilaku (Dunn.Masih banyak kesalahan pemahaman maupun kesalahan konsepsi tentang kebijakan. dan (7) Keputusan Direktur. Kebijakan (policy) secar etimologi (asal kata) diturunkan dari bahasa Yunani. Abidin (2006:17) menjelaskan kebijakan adalah keputusan pemerintah yang bersifat umum dan berlaku untuk seluruh anggota masyarakat. (6) Keputusan Bupati. cenderung mengabaikan ranah afektif dan psikomotorik. (3) Keppres. meskipun kebijakan juga mengatur “apa yang boleh. 1999). dan apa yang tidak boleh”. yang bersifat mengikat. sedangkan kebijakan adalah aturan tertulis hasil keputusan formal organisasi. yang maknanya sangat berbeda dengan kebijakan. Proses pembelajaran sangat berorientasi pada ranah kognitif dengan pendekatan formalisme dan pada saat yang sama. kebijakan lebih adaptif dan interpratatif. B. 2008:75). Kebijakan Publik Dalam Dimensi Akuntabilitas. yaitu “Polis” yang artinya kota (city). Kebijakan pada umumnya bersifat problem solving dan proaktif.Kebijakan adalah aturan tertulis yang merupakan keputusan formal organisasi. yang mengatur prilaku dengan tujuan untuk menciptakan tata nilai baru dalam masyarakat. (5) Perda. Beberapa orang menyebut policy dalam sebutan kebijaksanaan.

agar tujuan yang bersifat melembaga bisa tercapai. Isu akuntabilitas akhir-akhir ini semakin gencar dibicarakan seturut dengan adanya tuntutan masyarakat akan pendidikan yang bermutu. Carter V Good (1959) memberikan pengertian kebijakan pendidikan (educational policy) sebagai suatu pertimbangan yang didasarkan atas system nilai dan beberapa penilaian atas factor-faktor yang bersifat situasional. Pertimbangan tersebut merupakan perencanaan yang dijadikan sebagai pedoman untuk mengambil keputusan. dan mikro. Ini membuktikan bahwa kecenderungan masyarakat pada masa kini berbeda dengan masa lalu. Bukan hal yang aneh. Ketika ada perubahan kebijakan publik maka kebijakan pendidikan bisa berubah.ganti menteri berganti kebijakan. meso. Ketika kebijakan politik dalam dan luar negeri. Kebijakan pendidikan sangat erat hubungannya dengan kebijakan yang ada dalam lingkup kebijakan publik. Masih ingat dibenak kita ada pelajaran PSPB yang secara prinsipil tidak jauh berbeda dengan IPS sejarah dan lucunya materi itu pun di pelajari di PMP (sekarang PKN/PPKN). Bahkan resonansinya semakin keras sekeras tuntutan akan reformasi dalam segala bidang.Setiap kebijakan yang dicontohkan disini adalah bersifat mengikat dan wajib dilaksanakan oleh objek kebijakan. keagamaan dan lainlain. misalnya kebijakan ekonomi. Ali Imron dalam bukunya Analisis Kebijakan Pendidikan menjelaskan bahwa kebijakan pendidikan adalah salah satu kebijakan Negara. luar negeri. kebijakan pendidikan biasanya akan mengikuti alur kebijakan yang lebih luas. Fasli Jalal dan Dedi Supariadi (2001) . Bahkan pergantian menteri dapat pula mengganti kebijakan yang telah mapan pada jamannya. pertimbangan tersebut dijadikan sebagai dasar untuk mengopersikan pendidikan yang bersifat melembaga. politik. Contoh ini juga memberi pengetahuan pada kita bahwa ruang lingkup kebijakan dapat bersifat makro. Konsekuensinya kebijakan pendidikan di Indonesia tidak bisa berdiri sendiri.

" Empat sumber daya ini jika dikelola secara baik akan meningkatkan efektivitas manajemen sekolah.menyatakan: Bila di masa lalu masyarakat cenderung menerima apa pun yang diberikan oleh pendidikan. Dalam teori perubahan. 2) pengetahuan. 4) penghargaan dan sanksi. sarana penunjang yang mamadai. komitmen yang kuat untuk mencapai keunggulan. Bagi lembaga-lembaga pendidikan hal ini mulai disadari dan disikapi dengan melakukan redesain sistem yang mampu menjawab tuntutan masyarakat. jika ia memiliki kemauan sekaligus kemampuan. Dan efektifitas manajemen sekolah akan ditunjukkan dengan output yang berkualitas. orang dapat berubah. Empat hal penting yang dikemukakan di atas membutuhkan proses dan waktu yang tidak singkat. Di Indonesia telah lahir Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang bertumpu pada sekolah dan masyarakat. Susan Mohrman menyatakan. Model manajemen ini menuntut keterlibatan yang tinggi dari stakeholders sekolah. . 3) keterampilan. dan perangkat aturan yang jelas dan dilaksanakan secara konsisten oleh institusi pendidikan yang bersangkutan. maka sekarang mereka tidak dengan mudah menerima apa yang diberikan oleh pendidikan. kemampuan manajemen yang tinggi. Masyarakat yang notabene membayar pendidikan merasa berhak untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik bagi dirinya dan anak-anaknya. Caranya adalah mengembangkan model manajemen pendidikan yang akuntabel. "Untuk mendukung pencapaian MBS telah muncul manajemen berpartisipasi tinggi yang membutuhkan empat sumber daya penting: 1) informasi. Akuntabilitas pendidikan juga mensyaratkan adanya manajemen yang tinggi. Fasli Jalal dan Dedi Supriadi (2001) menyatakan: Upaya untuk mencapai akuntabilitas institusi memerlukan kurikulum yang relevan yang memperhitungkan kebutuhan masyarakat. Sebab tidak saja dibutuhkan kemauan tetapi juga kemampuan untuk melaksanakannya.

mengambil keputusan. Lembaga pendidikan yang terakreditasi dan dinilai mampu untuk menghasilkan lulusan bermutu. Lulusan pendidikan yang dianggap telah memenuhi semua persyaratan dan memiliki kompetensi yang dituntut berhak mendapat sertifikat. akreditasi. yaitu kompetensi. sementara yang kedua sebagai akuntabilitas keuangan. Institusi pendidikan yang akuntabel adalah institusi pendidikan yang mampu menjaga mutu keluarannya sehingga dapat diterima oleh masyarakat. dan akuntabilitas. yang meliputi kewenangan mengatur dan mengurus sekolah. Ada tiga hal yang memiliki kaitan. akuntabilitas suatu lembaga juga bergantung kepada kemampuan suatu lembaga pendidikan mempertanggungjawabkan pengelolaan keuangan kepada publik. maka sekolah harus . Menurut Fasli Jalal dan Dedi Supriadi (2001:88): Tiga aspek yang dapat memberi jaminan mutu suatu lembaga pendidikan. akreditasi dan akuntabilitas. dan mengontrol sekolah. Penulis mengelompokkan akuntabiltas yang pertama sebagai akuntabilitas kinerja. Manajemen Berbasis Sekolah yang diterapkan di Indonesia juga mensyaratkan kemampuan akuntabilitas sekolah kepada publik. memimpin. Akuntabilitas tidak datang dengan sendiri setelah lembaga-lembaga pendidikan melaksanakan usaha-usahanya. Agar penyelenggara sekolah tidak sewenang-wenang dalam menyelenggarakan sekolah.Akuntabilitas yang tinggi hanya dapat dicapai dengan pengelolaan sumber daya sekolah secara efektif dan efisien. Jadi. yaitu kompetensi. selalu berusaha menjaga dan menjamin mutuya sehingga dihargai oleh masyarakat adalah lembaga pendidikan yang akuntable. Di samping itu. Lembaga pendidikan beserta perangkat-perangkatnya yang dinilai mampu menjamin produk yang bermutu disebut sebagai lembaga terakreditasi (accredited). dalam hal ini akuntabel tidaknya suatu lembaga pendidikan bergantung kepada mutu outputnya. mengelola. Menurut Slamet (2005:6): MBS harus dipahami sebagai model pemberian kewenangan yang lebih besar kepada sekolah.

"Akuntabilitas adalah kewajiban untuk memberikan pertanggung jawaban atau untuk menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan penyelenggara organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau kewajiban untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban. Fasli Jalal dan Dedi Supriadi (2001:88) menyatakan di Indonesia banyak instituasi pendidikan yang lemah dan tidak sedikit institusi pendidikan yang tidak akuntabel. Ini berarti akuntabilitas hanya dapat terjadi jika ada partisipasi dari stakeholders sekolah.bertanggung jawab terhadap apa yang dikerjakan. Sementara Zamroni (2008:12) mendefinsikan akuntabilias dikaitkan dengan partisipasi. Semakin kecil partisipasi stakeholders dalam penyelenggaraan manajemen sekolah. maka akan semakin rendah pula akuntabilitas sekolah. Untuk itu sekolah berkewajiban mempertanggungjawabkan kepada publik tentang apa yang dikerjakan sebagai konsekuensi dari mandat yang diberikan oleh publik. 2000). tentu menjadi tantangan tanggung jawab sekolah. sekalipun itu bersifat non-profesional. Itu berarti akuntabilitas publik menyangkut hak publik untuk memperoleh pertanggungjawaban penyelenggara sekolah.kalau disimpulkan . Di Indonesia akuntabilitas dalam penyelenggaraan pendidikan.Jadi. Ketika terjadi perubahan mendasar dalam sistem pendidikan. 1983 dalam Rita Headington. Pada tahun 1976 Prime Minister Callaghan mengusulkan bahwa pendidikan sudah seharusnya lebih akuntabel kepada masyarakat dan kecenderungan umum bahwa isu-isu pendidikan seharusnya terbuka telah membuka ruang bagi untuk menanggapinya. juga masih menempuh jalan panjang. Kalau begitu apa sebenarnya akuntabilitas itu? Menurut Slamet (2005:5)." (Gipps and Golstein. Bagaimana sekolah mampu mempertanggungjawabkan kewenangan yang diberikan kepada publik. Sekolah-sekolah sebagai basis penerapan manajemen pendidikan dituntut harus mampu mewujudkan akuntabilitas bagi publik. isu akuntabilitas sepertinya memperoleh nafas baru.

" Ketiga dimensi yang terkandung dalam akuntabilitas. Rita Headington berpendapat bahwa "Accountability has moral. legal and financial dimensions and operates at all levels of the education system. Pendapat Headington memberi tekanan pada akuntabilitas kinerja pembelajaran. Kepercayaan publik yang tinggi akan sekolah dapat mendorong partisipasi yang lebih tinggi pula terdapat pengelolaan manajemen sekolah." Headington menekankan akuntabilitas dari guru. Slamet (2005:6) menyatakan: Tujuan utama akuntabilitas adalah untuk . bahwa seringkali aspek pembelajaran dipahami terpisah dengan MBS. maka sebenarnya ini adalah bagian hakiki dalam penerapan MBS yang tidak boleh diabaikan oleh sekolah.akuntabilitas adalah kemampuan sekolah mempertanggungjawabkan kepada publik segala sesuatu mengenai kinerja yang diperoleh sebagai hasil partisipasi dari stakeholders. tidak saja bagi publik tetapi pertama-tama harus dimulai bagi warga sekolah itu sendiri. juga di Negara-negara yang telah menerapkan MBS. Apa yang dikatakan oleh David Marsh merupakan sebuah peringatan keras akan bahaya kekacauan dalam penerapan MBS. Di Indonesia. Sekolah akan dianggap sebagai agen bahkan sumber perubahan masyarakat. Sebagaimana dikatakan Rita Headington (2000:83). "Teacher have a moral and legal responsibility to provide appropriate educational experiences for pupils and to report to parents and other professionals. Tujuan akuntabilitas adalah agar terciptanya kepercayaan publik terhadap sekolah. dan keuangan menuntut tanggung jawab dari sekolah untuk mewujudkannya. Bahwa MBS tidak dipahami sebagai sebuah inovasi yang terpisah dari pembelajaran. yaitu moral. Secara moral maupun secara formal (aturan) guru memiliki tanggung jawab bagi siswa maupun orang tua siswa untuk mewujudkan proses pembelajaran yang baik. terjadi kekacauan dalam memahami MBS. kalau Rita Headington memberi tekanan akuntabiltas pada aspek pembelajaran yang dimotori oleh guru. Jadi. hukum.

Pelaksanaan Akuntabilitas dalam MBS. dan nepotisme.mendorong terciptanya akuntabilitas kinerja sekolah sebagai salah satu syarat untuk terciptanya sekolah yang baik dan terpercaya. maka penerapan akuntabilitas dalam pengelolaan merupakan hal yang tidak dapat ditunda-tunda.1. b. Selain itu. tujuan akuntabilitas adalah menilai kinerja sekolah dan kepuasaan publik terhadap pelayanan pendidikan yang diselenggarakan oleh sekolah. Dengan pelimpahan kewenangan tersebut. Pelaksanaan prinsip akuntabilitas dalam rangka MBS tiada lain agar para pengelola sekolah atau pihak-pihak yang diberi kewenangan mengelola urusan pendidikan itu senantiasa terkontrol dan tidak memiliki peluang melakukan penyimpangan untuk melakukan korupsi. Bahkan. Penyelenggara sekolah harus memahami bahwa mereka harus mempertanggung jawabkan hasil kerja kepada publik. Rumusan tujuan akuntabilitas di atas hendak menegaskan bahwa. untuk mengikutsertakan publik dalam pengawasan pelayanan pendidikan dan untuk mempertanggungjawabkan komitmen pelayanan pendidikan kepada publik. tetapi merupakan faktor pendorong munculnya kepercayaan dan partisipasi yang lebih tinggi lagi. kolusi. Oleh karena manajemen sekolah semakin dekat dengan masyarakat. akuntabilitas bukanlah akhir dari sistem penyelenggaran manajemen sekolah. Penerapan prinsip akuntabilitas dalam penyelenggaraan manejemen sekolah mendapat relevansi ketika pemerintah menerapkan otonomi pendidikan yang ditandai dengan pemberian kewenangan kepada sekolah untuk melaksanakan manajemen sesuai dengan kekhasan dan kebolehan sekolah. maka pengelolan manajemen sekolah semakin dekat dengan masyarakat yang adalah pemberi mandat pendidikan. Dengan prinsip ini mereka terus memacu produktifitas profesionalnya sehingga . boleh dikatakan bahwa akuntabilitas baru sebagai titik awal menuju keberlangsungan manajemen sekolah yang berkinerja tinggi.

yakni akuntabilitas vertikal dan akuntabilitas horisontal. Antar kepala sekolah dengan komite. Akuntabilitas menyangkut dua dimensi. dan antara kepala sekolah dengan guru.berperan besar dalam memenuhi berbagai aspek kepentingan masyarakat. Akuntabilitas keuangan dapat diukur dari semakin kecilnya penyimpangan dalam pengelolaan keuangan sekolah. maintaining pupils' involvement and helping them make progress in their learning. maupun peruntukkannya dapat dipertanggungjawabkan oleh pengelola. accountable to their pupils. Akuntabilitas tidak saja menyangkut proses pembelajaran. Baik sumber-sumber penerimaan. Sekolah dan orang tua siswa. first and foremost. Sebagaimana dikatakan oleh Headington (2004:88) bahwa. Akuntabilitas vertikal menyangkut hubungan antara pengelola sekolah dengan masyarakat. dan mengevaluasi siswa. Pengelola sekolah harus mampu mempertanggungjawabkan seluruh komponen pengelolaan MBS kepada masyarakat. Akuntabilitas dalam pengajaran dilihat dari tanggung jawab guru dalam hal membuat persiapan. karena inti dari seluruh pelaksanaan manajemen sekolah adalah proses belajar mengajar. They are responsible for providing work which is interesting and challenging. melaksanakan pengajaran. Sebaliknya pengelola yang melakukan praktek korupsi tidak akan . Pengelola keuangan yang bertanggung jawab akan mendapat kepercayaan dari warga sekolah dan masyarakat. Mengapa. "Teacher are. besar kecilnya penerimaan. Sedangkan akuntabilitas horisontal menyangkut hubungan antara sesama warga sekolah. Dan pihak pertama di mana guru harus bertanggung jawab adalah siswa. kejujuran. Guru harus dapat melaksanakan ini dalam tugasnya sebagai pengajar. Antara sekolah dan instansi di atasnya (Dinas pendidikan). Komponen pertama yang harus melaksanakan akuntabilitas adalah guru. seperti disiplin. tetapi juga menyangkut pengelolaan keuangan. Selain itu dalam hal keteladan. hubungan dengan siswa menjadi penting untuk diperhatikan. dan kualitas output.

ketika Sekolah sekolah yang mampu mampu mempertanggungjawabkan outputnya terhadap publik. Akuntabilitas eksternal didasarkan manajemen hirarkis. akan meningkatkan efisiens eksternal.dipercaya. b. Oleh karena itu dalam rangka penerapan MBS ini. dkk (2004). menyatakan bahwa dalam perspektif global. akuntabilitas dipengaruhi oleh kecenderungan manusia yang mengutamakan kebebasan. pengelolaan keuangan sekolah harus jauh dari praktik korupsi. Kebebasan yang muncul secara baru (neoliberalisme) ikut mempengaruhi ketahanan moral orang dalam melaksanakan akuntabilitas. Dinas Pendidikan. hingga di sekolahsekolah. masing-masing akuntabilitas eksternal dan akuntabilitas internal. ini disebabkan oleh karena titik tolak kedunya berbeda. sedangkan akuntabilitas internal . Menurutnya Terdapat dua tipe akuntabilitas. mencerminkan sekolah yang memiliki tingkat efektivitas output tinggi. Fakta menyangkut praktek korupsi dalam dunia pendidikan bukan hal baru. kolusi dan nepotisme. tidak saja dari segi intelektual tetapi juga moral. Informasi ini merupakan "tamparan" keras bagi dunia pendidikan. seorang pakar kebijakan pendidikan dalam Marks Olssen. mempertanggungjawabkan kualitas outputnya terhadap publik. Codd (1999). Akuntabilitas mutu juga semakin memiliki arti. Temuan Indonesian Corruption Watch (ICW) awal tahun 2008 bahwa. mulai dari Departemen Pendidikan. Dan sekolah yang memiliki tingkat efektivitas outputnya tinggi. korupsi dalam dunia pendidikan telah menjamah. dan jauh dari praktek korupsi.2. Keduanya memiliki ciri yang berbeda. Jadi. moral individu yang baik dan didukung oleh sistem yang baik akan menjamin pengelolaan keuangan yang bersih. Kenyataan ini sangat ironis. Akuntabilitas tidak saja menyangkut sistem tetapi juga menyangkut moral individu. Faktor-Faktor Penghambat Akuntabilitas dalam MBS. karena berbanding terbalik dengan apa yang seharusnya diajarkan lembaga pendidikan kepada anak bangsa.

Dalam sebuah ilustrasi perusahaan. pada akuntabilitas eksternal terdapat kontrol yang hirarkis. akuntabilitas eksternal memiliki kepercayaan yang rendah. Kalau akuntabilitas eksternal pengaruh faktor luar sangat besar. dan kecakapan. ketimbang etika kebiasan. Sebaliknya pada akuntabilitas internal faktor dari dalam diri lebih kuat ketimbang faktor luar.didasarkan pada tanggung jawab profesional. Akuntabilitas dan Faktor nilai-budaya Sekolah sebagai tempat penyelenggaran manajemen yang akuntabel merupakan suatu pranata sosial. Oleh karena pendasaran kedua jenis akuntabilitas ini berbeda. Dalam akuntabilitas eksternal kurang mengutamakan peran moral. Stephen Robins . sedangkan pada akuntabilitas internal justru sebaliknya memiliki kepercayaan yang tinggi. sedangkan akuntabilitas internal menekankan pada komitmen. Kedua jenis akuntabilitas di atas memiliki pendasaran yang sangat berbeda. loyalitas. Dari segi pelaksanaan tugas. di sisi lain faktor dalam sangat lemah. maka hal-hal yang diperlihatkanpun berbeda. pada akuntabilitas eksternal terikat pada kontrak. Nilai-nilai dan budaya tersebut potensial untuk mendukung penyelenggaraan manajemen sekolah yang akuntabel. Kekuatannya terletak pada motivasi dan komitmen individu untuk melaksanakan akuntabilitas organisasi. Dikatakan sebagai pranata sosial karena di tempat tersebut teradapat orang-orang dari berbagai latar belakang sosial yang membentuk suatu kesatuan dengan nilai-nilai dan budaya tertentu. Misalnya. Selanjutnya dari segi tanggung jawab. tetapi juga sebaliknya bisa menjadi penghambat. rasa memiliki. Sedangkan jenis akuntabilitas internal peran moral tinggi sehingga pertimbangannya matang dan memiliki kebebasan untuk bertindak. sedangkan pada akuntabilitas internal tanggung jawab professional didelegasikan. dan etika struktur. Akuntabilitas eksternal memperlihatkan proses formal dalam pelaporan dan perekaman untuk manajamen hirarkhis. dengan melekat sebuah konsep agen moral. sedangkan dalam akuntabilitas internal akuntabel banyak konstituen.

tradisi organisasi. Menurut Slamet (2005:6) ada delapan hal yang harus dikerjakan oleh sekolah untuk peningkatan akuntabilitas: Pertama. Artinya. dibutuhkan peran pemimpin untuk dapat mengelolanya. keberagaman tenaga kerja mempunyai implikasi penting pada praktik manajemen. tetapi ada juga yang sebaliknya. . persepsi dan nilai-nilai yang dianutnya mempengaruhi kemampuannya akuntabilitas.(2001:14) menyatakan: Workforce diversity has important implication for management practice. at the same time not discriminating.3. oleh karena latar belakang tadi. apakah anggota organisasi dapat mendukungnya? Menjadi tantangan. oleh karena itu perlu ada upaya nyata sekolah untuk mewujudkannya. Manager will need to shift their philosophy from treating every one alike to recognizing differences and responding to those differences in ways that will ensure employe retention and greater productivity while. melainkan merupakan produk dari masyarakat dengan budaya tertentu. Sistem menyangkut aturan-aturan. Ada nilai-nilai yang dapat mendukung nilai-nilai organisasi.Upaya-Upaya Peningkatan Akuntabilitas dalam MBS. faktor yang mempengaruhi akuntabilitas terletak pada dua hal. pada saat yang sama. Dalam konteks ini. yakni faktor sistem dan faktor orang. Kalau ditelisik lebih jauh faktor orang sendiri sebenarnya tidak berdiri sendiri. Akuntabel merupakan nilai yang hendak ditegakan organisasi. Bagaimanapun juga pengelolaan MBS mensyaratkan akuntabilitas yang tinggi. Para manejer harus mengubah filosofi mereka dari memperlakukan setiap orang dengan cara yang sama menjadi mengenali perbedaan dan menyikapi mereka yang berbeda dengan caracara yang menjamin kesetiaan karyawan dan peningkatan produktifitas sementara. tidak melakukan diskriminasi. Jadi. Apa yang dikemukakan Robins berangkat dari asumsi akan perbedaan nilai dan budaya dari setiap anggota organisasi. Sedangkan faktor orang menyangkut motivasi. b.

Keenam. Meningkatnya kepercayaan dan kepuasan publik terhadap sekolah. memperbaharui rencana kinerja yang baru sebagai kesepakatan komitmen baru. orang tua siswa. Ketiga. Tumbuhnya kesadaran publik tentang hak untuk menilai terhadap penyelenggaraanpendidikan di sekolah . Untuk mengukur berhasil tidaknya akuntabilitas dalam manajemen berbasis sekolah. Ketujuh. sehingga dapat digerakan untuk mewujudkan dan meningkatkan akuntabilitas. Keempat. menyediakan informasi kegiatan sekolah kepada publik yang akan memperoleh pelayanan pendidikan. kelompok profesi. Sekolah dapat melibatkan stakeholders untuk menyusun dan memperbaharui sistem yang dianggap tidak dapat menjamin terwujudnya akuntabilitas di sekolah. Kelima. sekolah perlu menyusun pedoman tingkah laku dan sistem pemantauan kinerja penyelenggara sekolah dan sistem pengawasan dengan sanksi yang jelas dan tegas.sekolah harus menyusun aturan main tentang sistem akuntabilitas termasuk mekanisme pertanggungjawaban. sebagaimana dinyatakan oleh Slamet (2005:7): Beberapa indikator keberhasilan akuntabilitas adalah: 1. memberikan tanggapan terhadap pertanyaan dan pengaduan publik. Dengan begitu stakeholders sejak awal tahu dan merasa memiliki akan sistem yang ada. sekolah menyusun rencana pengembangan sekolah dan menyampaikan kepada publik/stakeholders di awal setiap tahun anggaran. Komite sekolah. semuanya bertumpu pada kemampuan dan kemauan sekolah untuk mewujudkannya. Kedua. 2. melakukan pengukuran pencapaian kinerja pelayanan pendidikan dan menyampaikan hasilnya kepada publik/stakeholders diakhir tahun. Kedelapan. menyusun indikator yang jelas tentang pengukuran kinerja sekolah dan disampaikan kepada stakeholders. dan pemerintah dapat dilibatkan untuk melaksanakannya. Kedelapan upaya di atas. Alih-alih sekolah mengetahui sumber dayanya. dapat dilihat pada beberapa hal.

tetapi sekolah akan mengalami peningkatan dalam banyak hal sehingga kepercayaan masyarakat akan kinerja sekolah menjadi lebih tinggi dan dengan sendirinya partsipasi bertambah. Pertama. menengah maupun tujuan jangka panjang. C. Ketiga indikator di atas dapat dipakai oleh sekolah untuk mengukur apakah akuntabilitas manajemen sekolah telah mencapai hasil sebagaiamana yang dikehendaki. Mugatroyd dan Morgan (dalam Mantja. mengemukakan bahwa : “Manajemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses kerjasama yang sistemik dan komprehensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. sarana dan prasarana. hubungan sekolah dan masyarakat dan layanan-layanan khusus. 2002 : 131) mengemukakan empat gagasan dasar yang sangat sentral bagi keefektifan manajemen persekolahan. ketenagaan. orang yang paling melakukan perbaikan . Selanjutnya Gaffar (1989 : 59). Hasil penelitian Balitbangdikbud (1991:47) menunjukkan bahwa manajemen sekolah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan.3. peserta didik. Substansi manajemen pendidikan lebih memusatkan diri pada substansi yang berkaitan dengan proses pendidikan. Manajemen Pendidikan Manajemen pendidikan merupakan alternatif strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Ketiga. baik tujuan jangka pendek. Tidak saja publik merasa puas. Manajemen pendidikan dapat juga diartikan sebagai segala sesuatu berkenan dengan pengelolaan proses pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. keuangan. yaitu manajemen pengajaran. Kedua. adalah bahwa lembaga pendidikan merupakan mata rantai yang menghubungkan pelanggan (customer client) dan pemasok (supplier). yang merupakan gagasan kunci adalah semua hubungan antara pelanggan dan pemasok ditengahi oleh proses. Meningkatnya kesesuaian kegiatan-kegiatan sekolah dengan nilai dan norma yang berkembang di masyarakat.

Disamping itu. D. menawarkan partisipasi langsung kelompokkelompok yang terkait. Manajemen berbasis Sekolah mengubah sistem pengambilan keputusan dengan memindahkan otoritas dalam pengambilan keputusan dan manajemen ke setiap yang berkepentingan di tingkat lokal Local Stakeholder.MBS merupakan salah satu wujud dari reformasi pendidikan yang menawarkan kepada sekolah untuk menyediakan pendidikan yang lebih baik dan memadai bagi para peserta didik. Mulyasa (2004:24) : .adalah mereka yang dekat dengan pelanggan dalam proses tersebut. MBS juga mendorong . dan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pendidikan. Menurut Bedjo sudjanto (2005:37) MBS merupakan model manajemen pendidikan yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah. Otonomi dalam manajemen merupakan potensi bagi sekolah untuk meningkatkan kinerja para staff.. Pengertian Manajemen berbasis Sekolah menurut beberapa ahli: Menurut E. Istilah ini pertama kali muncul di Amerika Serikat ketika masyarakat mulai mempertanyakan relevansi pendidikan dengan tuntutan dan perkembangan masyarakat setempat. orang tua siswa dan masyarakat. Menurut Nanang Fatah (2006:32) MBS merupakan pendekatan politik yang bertujuan untuk mendesain ulang pengelolaan sekolah dengan memberikan kekuasaan kepada kepala sekolah dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam upaya perbaikan kinerja sekolah yang mencakup guru.School Based Management. yang mendukung dan meningkatkan kinerja terhadap mereka yang dekat (familiar) dengan klien. Konsep MBS (Manajemen Berbasis Sekolah) Istilah Manajemen berbasis Sekolah merupakan terjemahan dari . Manajemen Berbasis Sekolah 1. bahwa untuk menjamin terdapatnya dukungan perbaikan performansi kualitas terhadap sekolah dipersyaratkan kepemimpinan yang bervisi. Keempat. komite sekolah. siswa.

siswa. pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat serta manajemen layanan khususnya lembaga pendidikan”. sedikitnya terdapat tujuh komponen sekolah yang harus dikelola dengan baik dalam rangka pelaksanaan MBS. Hal yang penting dalam implementasi/pelaksanaan manajemen berbasis sekolah adalah manajemen terhadap komponenkomponen sekolah itu sendiri. Menurut Mulyasa (2004 : 118). 2. sarana. dan orang tua kontrol yang sangat besar dalam proses pendidikan dengan memberi mereka tanggung jawab untuk memutuskan anggaran. tenaga kependidikan. personil. MBS merupakan sebuah strategi untuk memajukan pendidikan dengan mentransfer keputusan penting memberikan otoritas dari negara dan pemerintah daerah kepada individu pelaksana di sekolah. Jadi. dan prasarana pendidikan. Manajemen berbasis sekolah sebagaimana dikemukakan oleh para ahli adalah sebuah model pengelolaan sekolah yang mengarah pada kemandirian lembaga pendidikan sekolah dan terintegratif dengan tuntutan perkembangan masyarakat. MBS memiliki karakteristik sebagai berikut: . kesiswaan. guru. pertama sekolah menjamin adanya kultur sekolah yang kondusif dan demokratis menanggapi respon masyarakat secara terbuka sebagai wujud pertanggungjawaban public. 11MBS menyediakan kepala sekolah. serta kurikulum. keuangan. Karakteristik MBS MBS memiliki karakter yang perlu dipahami oleh sekolah yang akan menerapkannya. jika model ini dikembangkan dua syarat pokok yang harus dipenuhi oleh setiap pendidikan sekolah. yaitu “Kurikulum dan program pengajaran.pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan langsung semua warga sekolah yang dilayani dengan tetap selaras pada kebijakan nasional pendidikan. karakteristik tersebut merupakan ciri khas yang dimiliki sehingga membedakan dari sesuatu yang lain. Olehnya itu.

Kepemimpinan sekolah yang demokratis dan profesional d. Proses Dalam proses terdapat karakter yaitu. harga diri. Rasionalog. Adanya partisipasi masyarakat dan orang tua siswa yang tinggi c. prestasi olahraga. (d) memiliki harapan prestasi yang tinggi. Dan output non akademik. toleransi. (d) Output yang diharapkan Output Sekolah adalah Prestasi sekolah yang dihasilkan melalui proses pembelajarn dan manajemen di sekolah. Nalar. (a) memiliki kebijakan. (a) PBM yang memiliki tingkat efektifitas yang tinggi. (d) Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif. Adanya team work yang tinggi. proses dan output 1. (b) sumber daya yang tersedia dan siap. 2. kesenian dari para peserta didik dan sebagainya. (b) Kepemimpinan sekolah yang kuat. (c) staf yang kompeten dan berdedikasi tinggi. Hal ini didasari oleh pengertian bahwa sekolah merupakan sebuah sistem sehingga penguraian karakteristik MBS berdasarkan berdasarkan pada input. Adanya otonomi yang luas kepada sekolah b. cerdas. (c) Lingkungan sekolah yang aman dan tertib. Input Pendidikan Dalam input pendidikan ini meliputi. cara-cara berfikir ( Kritis.a. tujuan. dinamis dan profesional Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dapat dilihat pula melalui pendidikan sistem.(e) fokus pada pelanggan. (e) Sekolah memiliki budaya mutu. dan dinamis. (f) Sekolah memiliki team work yang kompak. kedisiplinan. berupa keingintahuan yang tinggi. . lomba karya ilmiah remaja. Pada umumnya output dapat di klasifikasikan menjadi dua yaitu output berupa prestasi akademik yang berupa NEM. kejujuran. dan sasaran mutu yang jelas. Kreatif. Induktif. kerjasama yang baik. Deduktif dan Ilmiah.

pengelolaan sumber daya manusia. 4. 3. rekrutmen. Pengelolaan Proses Belajar Mengajar. terutama pengalokasian atau penggunaan uang sudah sepantasnya . Pengelolaan keuangan Pengelolaan keuangan. Sekolah dapat mengembangkan. metode. penghargaan dan sanksi. 2. 5. Pengelolaan ketenagaan mulai dari analisis kebutuhan perencanaan. Pengelolaan Kurikulum. pengembangan.dan pengelolaan sumber daya administrasi. dan teknik pembelajaran dan pengajaran yang efektif sesuai dengan karakteristik mata pelajaran. Sekolah juga di beri kebebasan untuk mengembangkan kurikulum muatan lokal. karakteristik guru dan kondisi nyata sumber daya yang tersedia di sekolah. Pengelolaan ketenagaan. hubungan kerja hingga evaluasi kinerja tenaga kerja sekolah dapat dilakukan oleh sekolah kecuali guru pegawai negeri yang sampai saat ini masih ditangani oleh birokrasi di atasnya. Menurut Depdiknas fungsi yang dapat didesentralisasikan ke sekolah adalah sebagai berikut: 1.Karakteristik MBS bisa diketahui juga antara lain dari bagaimana sekolah dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah. Sekolah juga diberi kewenangan untuk melakukan evaluasi khususnya evaluasi internal atau evaluasi diri. Sekolah di beri kebebasan untuk memilih strategi. namun tidak boleh mengurangi isi kurikulum yang berlaku secara nasional yang dikembangkan oleh pemerintah pusat. Perencanaan dan evaluasi program sekolah Sekolah di beri kewenangan untuk melakukan perencanaan sesuai dengan kebutuhannya. karakteristik siswa. proses belajar mengajar.

terutama dukungan moral dan finansial yang dari dulu telah didesentralisasikan. pembinaan. Yang diperlukan adalah peningkatan intensitas dan ekstensitasnya. Peningkatan efisiensi diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumber daya yang ada. kepedulian. 6. 20 Tahun 2003. mutu.dilakukan oleh sekolah. Sekolah juga harus di beri kebebasan untuk untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang mendatangkan penghasilan. partisipasi masyarakat. peningkatan profesionalisme guru. sehingga sumber keuangan tidak sematamata bergantung pada pemerintah. Pelayanan siswa Pelayanan siswa mulai dari penerimaan siswa baru. kelenturan pengelolaan sekolah. Hubungan sekolah dan masyarakat Esensi hubungan sekolah dan masyarakat adalah untuk meningkatkan. dan dukungan dari masyarakat. serta hal lain yang dapat menumbuh k Sementara itu baik berdasarkan kajian pelaksanaan dinegara-negara lain. kepemilikan. Tujuan Manajemen berbasis Sekolah Tujuan utama Manajemen Berbasis Sekolah adalah meningkatkan efisiensi. 7. pembimbingan. adanya hadiah dan hukuman sebagai kontrol. dan penyederhanaan birokrasi. Peningkatan mutu diperoleh melalui partisipasi orang tua. penempatan untuk melanjutkan sekolah atau untuk memasuki dunia kerja hingga pengurusan alumni dari dulu telah didesentralisasikan. maupun yang tersurat dan tersirat dalam kebijakan pemerintah dan UU sisdiknas NO. pengembangan. 3. Yang diperlukan adalah peningkatan intensitas dan ekstensitasnya.dan pemerataan pendidikan. tentang Pendidikan Berbasis Masyarakat pasal 55 ayat 1:Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat pada pendidikan formal dan non formal sesuai dengan kekhasan .

1) MBS bertujuan mencapai mutu quality dan relevansi pendidikan yang setinggi-tingginya. tetapi setiap sekolah harus melayani setiap anak (bukan hanya yang pandai). dan secara keseluruhan sekolah harus mencapai standar kompetensi minimal bagi setiap anak yang diluluskan.quality and equity. Sungguhpun antara sekolah harus saling memacu prestasi. keadilan. sedangkan relevansi lebih merujuk pada manfaat dari apa yang diperoleh siswa melalui pendidikan dalam berbagai lingkup/tuntutan kehidupan (dampak). serta akuntabilitas. termasuk juga ranah pendidikan yang tidak diujikan. Mutu dan relevansi ada yang memandangnya sebagai satu kesatuan substansi. Berkaitan dengan pasal tersebut setidaknya ada empat aspek yaitu: kualitas (mutu) dan relevansi. dan budaya untuk kepentingan masyarakat. seperti nilai ujian atau prestasi lainnya. maka MBS memberi keleluasaan kepada setiap sekolah untuk menangani setiap anak dengan latar belakang social ekonomi dan psikologis yang beragam untuk memperoleh kesempatan dan layanan yang memungkinkan semua anak dan masing-masing anak berkembang secara optimal. Keadilan ini begitu penting. artinya hasil pendidikan yang bermutu sekaligus yang relevan dengan berbagai kebutuhan dan konteksnya. lingkungan sosial.agama. efektifitas dan efisiensi. maka mutu lebih merujuk pada dicapainya tujuan spesifik oleh siswa (lulusan). dengan tolok ukur penilaian pada hasil output dan outcome bukan pada metodologi atau prosesnya. 2) MBS bertujuan menjamin keadilan bagi setiap anak untuk memperoleh layanan pendidikan yang bermutu disekolah yang bersangkutan. 3) MBS bertujuan meningkatkan efektifitas MBS bertujuan meningkatkan efektifitas dan . sehingga para ahli sekolah efektif menyingkat tujuan sekolah efektif hanya mutu dan keadilan atau . Bagi yang memisahkan keduanya. Dengan asumsi bahwa setiap anak berpotensi untuk belajar.

Sebaliknya untuk mencapai hasil yang baik. sehingga menghasilkan hasil belajar siswa seperti yang diharapkan (sesuai tujuan). prosedur. dan input lain yang tepat pula (sesuai lingkungan dan konteks social budaya).efisiensi. dan ketepat-gunaan semua input yang dipaki dalam proses pendidikan disekolah. diupayakan menerapkan indikator-indikator atau cirri-ciri sekolah efektif. Pertanggung jawaban yang bersifat teknis edukatif terbatas pada pelaksanaan program sesuai petunjuk dan pedoman dari pusat (pusat dalam arti nasional. Sementara itu. sesuai kondisi masing-masing. sehingga semua input tepat guna dan tepat sasaran. dapat menerapkan metode yang tepat (yang dikuasai). MBS bertujuan meningkatkan akuntabilitas sekolah dan komitmen semua stake holders. Atau dengan kata lain. yaitu dimilikinya otonomi dalam . Efektifitas berhubungan dengan proses. efisiensi berhubungan dengan nilai uang yang dikeluarkan atau harga (cost) untuk memenuhi semua input (proses dan semua input yang digunakan dalam proses) dibandingkan atau dihubungkan dengan hasilnya (hasil belajar siswa). 4. maupun pusatpusat irokrasi di bawahnya). Langkah-langkah MBS Secara umum dapat disimpulkan bahwa implementasi MBS akan behasil melalui strategistrategi berikut ini: Pertama. Efektif-tidaknya suatu sekolah diketahui lebih pasti setelah ada hasil. Selama ini pertanggung jawaban sekolah lebih pada masalah administratif keuangan dan bersifat vertical sesuai jalur birokrasi.tanpa pertanggung jawaban hasil pelaksanaan program. sekolah harus memiliki otonomi terhadap empat hal. 4. Dengan menerapkan MBS diharapkan setiap sekolah. efektif untuk meningkatkan mutu pendidikan. Akuntabilitas adalah pertanggung jawaban atas semua yang dikerjakan sesuai wewenang dan tanggung jawab yang diperolehnya. atau dinilai hasilnya.

adanya guidlines dari departemen pendidikan terkait sehingga mampu . Ketiga. prosespengambian keputusan terhadap kurikulum. adanya peran serta masyarakat secara aktif. dalam hal pembiayaan. pengangkatan kepala sekolah harus didasarkan atas kemampuan manajerial dan kepemimpinan dan bukan lagi didasarkan atas jenjang kepangkatan. akses informasi ke segala bagian dan pemberian penghargaan kepada setiap pihak yang berhasil. Siapa kebagian peran apa dan melakukan apa. pengembangan pengetahuan dan keterampilan secara berkesinambungan. masyarakat dan para guru.kekuasaan dan kewenangan. Kedua. motivator. Konsumen yang harus dilayani kepala sekolah adalah murid dan orang tuanya. adanya proses pengambilan keputusan yang demokratis dalam kehidupan dewan sekolah yang aktif. fasilitator. Bagaimanapun kepala sekolah adalah pimpinan yang memiliki kekuatan untuk itu. Sekolah harus lebih banyak mengajaklingkungan dalam mengelola sekolah karena bagaimanapun sekolah adalah bagian dari masyarakat luas. semua pihak harus memahami peran dan tanggung jawabnya secara bersungguh sungguh. sampai batas-batas nyata perlu dijelaskan secara nyata. kepala sekolah harus menjadi sumber inspirasi atas pembangunan dan pengembangan sekolah secara umum. Keempat. Keenam. Oleh karena itu. Untuk bisa memahami peran dan tanggung jawabnya masing-masing harus ada sosialisasi terhadap konsep MBS itu sendiri. Kelima. Dalam pengambilan keputusan kepala sekolah harus mengembangkan iklim demokratis dan memperhatikan aspirasi dari bawah. Kepala sekolah dalam MBS berperan sebagai designer. Kepala sekolah jangan selalu menengok ke atas sehingga hanya menyenangkan pimpinannya namun mengorbankan masyarakat pendidikan yang utama.

demokratis. Kedelapan. evaluasi atas pelaksanaan dilapangan dan dilakukan perbaikan-perbaikan. identifikasi peran masing-masing pembangunan kelembagaan capacity building mengadakan pelatihan pelatihan terhadap peran barunya. Perlu dikemukakan lagi bahwa MBS tidak bisa langsung meningkatkan kinerja belajar siswa namun berpotensi untuk itu. Pelaporan. Guidelines itu jangan sampai berupa peraturan-peraturan yang mengekang dan membelenggu sekolah. yaitu : Perumusan visi.mendorong proses pendidikan di sekolah secara efisien dan efektif. 5) Evaluasi. yang diperlukan adalah rambu-rambu yang membimbing. Bagi sekolah yang sudah beroperasi ( sudah ada / jalan) paling tidak ada 6 (enam) langkah. misi. Penerapan MBS harus diarahkan untuk pencapaian kinerja sekolah dan lebih khusus lagi adalah meningkatkan pencapaian belajar siswa. Ketujuh. dan tujuan. Kesembilan. implementasi diawali dengan sosialsasi dari konsep MBS. Untuk itu sekolah harus dijalankan secara transparan. dan terbuka terhadap segala bidang yang dijalankan dan kepada setiap pihak terkait. tidak perlu lagi petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis dalam pelaksanaan MBS. atau akan melaksanakan 1) evaluasi diri self assessment. usaha MBS harus lebih terfokus pada pencapaian prestasi belajar siswa. Oleh karena itu. Masing-masing langkah dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Evaluasi diri self assessment Evaluasi diri sebagai langkah awal bagi sekolah yang ingin. dan 6) . Akuntabilitas sebagai bentuk pertanggung jawaban sekolah terhadap semua stakeholder. sekolah harus memiliki transparansi dan akuntabilitas yang minimal diwujudkan dalam laporan pertanggung jawabannya setiap tahunnya. implementasi pada proses pembelajaran. 3)Perencanaan. 2) 4) Pelaksanaan. Artinya.

Kegiatan ini dimulai dengan curah pendapat brainstorming yang diikuti oleh kepala sekolah. kemajuan yang telah dicapai. maupun masalah-masalah yang dihadapi ataupun kelemahan yang dialami. 2) Perumusan Visi. melainkan dari kondisi yang dimiliki.manajemen mutu berbasis sekolah. guru. Misi. dan seluruh staf. sehingga timbul komitmen bersama untuk meningkatkan mutu sense of quality. Titik awal ini penting karena sekolah yang sudah berjalan untuk memperbaiki mutu. untuk membangkitkan kesadaran / keprihatinan akan penting dan perlunya pendidikan yang bermutu. dan diikuti juga anggota komite sekolah. Prakarsa dan pimpinan rapat adalah kepala sekolah. c) Merumuskan titik tolak point of departure bagi sekolah/madrasah yang ingin atau akan mengembangkan diri terutama dalam hal mutu. sejauh tidak bertentangan dengan . b) Refleksi/Mawas diri. dan tujuan Bagi sekolah yang baru berdiri atau baru didirikan. Dalam kasus sekolah/madrasah negeri kepala sekolah bersama guru mewakili pemerintah kab/kota sebagai pendiri dan bersama wakil masyarakat setempat ataupun orang tua siswa harus merumuskan kemana sekolah kemasa depan akan dibawa. memancing minat acara rapat dapat dimulai dengan pertanyaan seperti: Perlukah kita meningkatkan mutu? seperti apakah kondisi sekolah / madrasah kita dalam hal mutu pada saat ini? Mengapa sekolah kita tidak/belum bermutu? Kegiatan ini bertujuan: a) Mengetahui kondisi sekolah saat ini dalam segala aspeknya (seluruh komponen sekolah). mereka tidak berangkat dari nol. perumusan visi dan misi serta tujuan merupakan langkah awal/pertama yang harus dilakukan yang menjelaskan kemana arah pendidikan yang ingin dituju oleh para pendiri/ penyelenggara pendidikan.

keluhuran budi pekerti. Dengan kata lain perencanaan adalah kegiatan menetapkan lebih dulu tentang apa-apa yang harus dilakukan. 3) Perencanaan Perencanaan pada tingkat sekolah adalah kegiatan yang ditujukan untuk menjawab: apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannnya untuk mewujudkan tujuan (tujuan-tujuan) yang telah ditetapkan / disepakati pada sekolah yang bersangkutan. Tujuan (jangka menengah). Tujuan-tujuan jangka pendek (1 tahun) inilah yang rincian persiapannya dalam bentuk perencanaan. 23 tahun 2003 tentang Sisdiknas. atau tonggak tonggak penting antara titik berangkat (kondisi awal) dan titik tiba tujuan akhir yang rumusannya tertuang dalam dalam bentuk visi-misi. dalam formulasi yang jelas baik secara kualitatif maupun kuantitatif. kalau dirumuskan secara singkat dan menyeluruh disebut visi. dipenggal-penggal menjadi tujuan tahunan yang biasa disebut target/sasaran. Keadaan yang diinginkan tersebut hendaklah ada kaitannya dengan idealisme dan mutu pendidikan. Tujuan merupakan tahapan antara. kemanusiaan. termasuk anggaran yang diperlukan untuk membiayai kegiatan yang direncanakan. misi merupakan tugas-tugas pokok yang harus dilakukan untuk mewujudkan visi. Idealisme disini dapat berkaitan dengan kebangsaan. merupakan jabaran dan visi atau merupakan komponen-komponen pokok yang harus direalisasikan untuk mencapai visi yang telah ditetapkan. Kondisi yang diharapkan/diinginkan dan diimpikan dalam jangka panjang itu. keadilan.tujuan pendidikan nasional seperti tercantum dalam UU No. sedangkan visi dan misi (relatif/pada umumnya) masih tetap. Dengan kata lain. ataupun kualitas pendidikan sebagaimana telah didefinisikan sebelumnya. Tujuan-tujuan antara ini sebagai tujuan jangka menengah kalau tiba saatnya berakhir (tahun yang ditetapkan ) akan disusul dengan tujuan berikutnya. prosedurnya serta metode . Sedangkan misi.

maka langkah pertama sampai dengan ketiga dapat digabungkan fungsi perencanaan yang secara keseluruhan (untuk sekolah) sudah dibahas. guru-guru memegang peranan yang sangat menentukan. Khususnya mengenai pelaksanaan belajar mengajar. partisipasi masyarakat dan kinerja kepala sekolah. Selanjutnya Sidi. bahkan mingguan). mengemukakan bahwa kemandirian sekolah yang ditegaskan dalam manajemen berbasis sekolah. Didalam pelaksanaan tentu masih ada kegiatan perencanaan-perencanaan yang lebih mikro (kecil) baik yang terkait dengan penggalan waktu (bulanan. seberapa besar lingkup cakupan kuantitatif dan kualitatif yang akan dikerjakan. dalam hal ini pada dasarnya menjawab bagaimana semua fungsi manajemen sebagai suatu proses untuk mencapai tujuan lembaga yang telah ditetapkan melalui kerjasama dengan orang lain dan dengan sumber daya yang ada. kapan dan berapa perkiraan satuan-satuan biayanya. atau yang terkait erat dengan kegiatan khusus. Dikatakan teliti karena ia harus menjelaskan apa yang akan dilakukan. 4) Pelaksanaan Apabila kita bertitik tolak dari fungsi-fungsi manajemen yang umumnya kita kenal sebagai fungsi perencanaan. bagaimana. atau kegiatan lainnya. sebab sekalipun . misalnya menghadapi lomba bidang studi.semesteran. pengorganisasian. serta hasil seperti apa yang diharapkan. Perencanaan oleh sekolah merupakan persiapan yang teliti tentang apa-apa yang akan dilakukan dan skenario melaksanakannya untuk mencapai tujuan yang dihar apkan. pengarahan/penggerakkan atau pemimpinan dan kontrol/pengawasan serta evaluasi.pelaksanaannya untuk mencapai suatu tujuan organisasi atau satuan organisasi. sangat menekankan pada optimalisasi pelaksanaan proses belajar mengajar. dalam bentuk tertulis. dapat berjalan sebagaimana mestinya (efektif dan efisien). Pelaksanaan juga dapat diartikan sebagai suatu proses kegiatan merealisasikan apa-apa yang telah direncanakan. Tahap pelaksanaan.

. Sehubungan tugas kepala sekolah sebagai administrator. dan (6) mampu melaksanakan program kerja pengajaran”. (4) mampu menciptakan hubungan baik guru dengan murid di sekolahnya.sarana dan prasarana pendidikan lengkap dan mempunyai sumber dana yang cukup memadai. (3) perlengkapan. (3) mengadakan hubungan dengan masyarakat di sekitarnya untuk keefektifan pelaksanaan pengajaran di sekolah khususnya para orang tua murid. (4) keuangan. (Burton dalam Mantja 2002) . Olehnya itu. (5) sekolah dan masyarakat (IKIP Malang. yakni mendayagunakan berbagai sumber (manusia sarana dan prasarana serta berbagai media pendidikan lainnya) secara optimal. Sekolah memerlukan suatu organisasi kerja yang baik. E. (2) kesiswaan. Kinerja Kepala Sekolah Kepala sekolah sebagai organisator memiliki peran yang sangat penting menentukan jalannya organisasi sekolah. 1995). Secara kongkret pelaksanaan tugas dan fungsi administrator dalam administrasi pendidikan mencakup lingkup substansi administrasi pendidikan (sekolah) (1) kurikulum atau pengajaran. tetapi kalau sumber daya manusianya yaitu para guru-gurunya tidak melaksanakan tugasnya dengan baik dalam proses belajar mengajar. Kinerja kepala sekolah itu harus tampak dalam memainkan perannya secara professional. Peran kepala sekolah sebagai administrator pendidik bertolak dari hakikat administrasi pendidikan. kinerja kepala sekolah seharusnya mencerminkan lebih baik daripada guru dan staf lainnya. relevan. (5) mengelolah sarana dan fasilitas sekolah. kepegawaian dan (6) hubungan dengan itu tugasmenyarankan bahwa: “Beberapa kompetensi dasar yang perlu dikuasai oleh Kepala Sekolah yakni (1) memahami kurikulum sekolah. efektif dan efisien guna menunjang pencapaian pendidikan. (2) membantu melaksanakan kegiatan belajar mengajar dalam kelas. maka tidak dapat diharapkan mutu output pendidikan akan meningkat. sehingga kepala sekolah dituntut mampu menumbuhkembangkan kreativitas kerja guru dan staf sekolah.

sekolah supervisor secara substansial merupakan tugas-tugas pokok kepala sekolah yang menurut kinerja kepala sekolah secara profesional. Keterampilan teknis yang ditunjuk kerjakan oleh administrator sekolah Budgeting. guru adalah kreator proses belajar mengajar. manusiawi.Kompetensi yang diperlukan administrator menekankan perlunya kompetensi dasar yang harus dikuasai yaitu: teknis. Sedangkan keterampilan konseptual adalah kemampuan yang diperlukan oleh administrator untuk melihat gambaran keseluruhan dan hubungan-hubungannya diantara dan di dalam bagianbagian yang berlainan. manajer. dan berbagai tanggung jawab administrasi yang sejenisnya. pimpinan. Dalam usaha meningkatkan kualitas pendidikan disadari suatu kebenaran fundamental. yakni bahwa kunci keberhasilan menciptakan dan mempersiapkan guru-guru yang profesional yang memiliki kekuatan dan tanggung jawab baru untuk merencanakan pendidikan masa depan. Oleh karenanya usaha peningkatan kualitas guru terletak pada diri guru sendiri. Kinerja Guru Dalam Proses Belajar Mengajar Bangsa dan negara akan dapat memasuki era globalisasi dengan tegar apabila memiliki sistem pendidikan yang berkualitas. Pada dasarnya peningkatan kualitas diri seseorang harus menjadi tanggung jawab diri pribadi. Untuk itu . Dalam proses belajar mengajar. Kualitas pendidikan. dan konseptual. terutama ditentukan oleh proses belajar mengajar yang berlangsung dalam ruang kelas. staffing. schedule. Keterampilan manusiawi (insani) mengacu kepada keterampilan yang diperlukan dalam keberhasilan kerja dengan orang per orang atau dalam latar kelompok. guru memegang peranan yang penting. Sehubungan dengan hal tersebut di atas. kepala sekolah harus memiliki kompetensi yang mengacu pada perbuatan dan kinerja yang bersifat rasional dan memenuhi spesifikasi tertentu di dalam pelaksanaan tugas-tugas tertentu termasuk tugas kepala sekolah sebagai administrator. F.

asuh dan asih. untuk pengembangan kesejawatan adalah kelompok yang organ yang bersifat non-struktural dan lebih bersifat formal. Aktivitas yang dimaksud tidak bersifat searah melainkan bersifat multi arah. Partisipasi Masyarakat Dalam Undang-Undang No. saran dan bimbingan G. b. pada dasarnya kelompok yang diuraikan di atas merupakan wadah aktivitas profesional untuk meningkatkan kemampuan profesional guru. dan objektif. kritik. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. masyarakat dan pemerintah. penilaian. Bentuk kegiatan kelompok yang dibentuk merupakan wadah kegiatan dimana antara anggota sejawat biasa saling asah. asuh dan asih untuk meningkatkan kualitas diri masing-masing khususnya dan mencapai kualitas sekolah serta pendidikan pada umumnya. Secara sistematis pengembangan kejawatan memerlukan : a. Standar profesional guru. artinya aktivitas yang dilaksanakan bersifat komprehensif dan total mencakup presentasi. Selanjutnya.diperlukan adanya kesadaran pada diri guru untuk senantiasa dan secara terus menerus meningkatkan pengetahuan dan kemampuan yang diperlukan guna peningkatan kualitas kerja sebagai pengajar professional. observasi. kewajiban dan kesempatan yang sama dalam setiap kegiatan tanpa memandang jenjang kepangkatan jabatan dan gelar akademik yang disandangnya. Maka setiap anggota kelompok memiliki hak. antara lain : merupakan . d. tanggapan. Sebagaimana konsep asah. bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga. c. kegiatan kelompok dilaksanakan secara rutin dan berkesinambungan. harmonis. Dengan demikian untuk pembinaan dan peningkatan profesional guru perlu dikembangkan kegiatan profesional kesejawatan yang baik. Wadah/kelembagaan. peran serta masyarakat dalam pelaksanaan manajemen berbasis sekolah yang diharapkan dari masyarakat. Mekanisme.

antara lain dengan mengembangkan mekanisme kerjasama saling menguntungkan bagi peserta didik. baik langsung ataupun tidak langsung demi pemusatan dan keadilan pendidikan. memberikan beasiswa. menjadi sponsor dalam suatu kegiatan sekolah. orang tua asuh. Sementara itu. dan meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. tenaga fasilitas praktik dan penelitian. Dana. sebaliknya masyarakat pun tidak dapat dipisahkan dari sekolah.1. untuk membantu pendanaan operasional sekolah. Sekolah merupakan lembaga yang tidak dapat dipisahkan masyarakat lingkungannya. dan sebagainya. dan masyarakat dan dunia usaha. menengah dan tinggi) yakni. serta memperbaiki sarana dan prasarana baik secara individu maupun secara kelompok. Dikatakan demikian. menjadi . Salah satu kebijakan pemerintah menyangkut pembiayaan pendidikan dalam rangka peningkatan mutu pada semua jenjang pendidikan (dasar. Tenaga yaitu sebagai sumber atau tenaga sukarela untuk membantu mensukseskan wajib belajar dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Sekolah merupakan lembaga formal yang diserahi mandat untuk mendidik. Kelompok masyarakat mampu perlu didorong untuk memberi sumbangan yang lebih besar dalam membiayai pendidikan. menanggulangi anak putus sekolah. karena keduanya memiliki kepentingan. melatih dan membimbing generasi muda bagi peranannya di masa depan sementara masyarakat merupakan pengguna jasa pendidikan itu. peningkatan peran serta masyarakat dunia usaha dalam penyelenggaraan pendidikan ditingkatkan. Masyarakat dunia usaha juga diharapkan untuk memberikan pemikiran dan sumbangan dalam perumusan kebijakan pendidikan. dunia usaha didorong untuk memberi bantuan beasiswa. 2. Pemikiran. 3. lembaga pendidikan. bagi masyarakat tidak mampu disediakan bantuan. yaitu memberikan masukan berupa pendapat pemikiran dalam rangka menjaring anak-anak usia sekolah.

guru dan masyarakat sebagai pihak yang terkait dengan proses belajar mengajar . kalangan dunia usaha. Sekolah sebagai institusi/lembaga pendidikan. merupakan suatu upaya peningkatan pengelolaan dan pemberdayaan sekolah sebagai lembaga pendidikan. Dengan kata lain. Dalam kegiatannya. oleh karena itu sekolah dipandang sebagai suatu organisasi yang membutuhkan pengelolaan. sekolah sebagai institusi pendidikan perlu dikelola. melainkan berada dalam satu tatanan sistem yang rumit dan saling berkaitan. Kerangka Pikir Sekolah dipandang sebagai suatu organisasi yang didesain untuk dapat berkontribusi terhadap upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia serta peningkatan derajat sosial masyarakat bangsa. Implikasi pelaksanaan manajemen berbasis sekolah adalah perlunya dukungan dan peran aktif kepala sekolah. ditata dan diberdayakan agar sekolah dapat menghasilkan produk atau hasil secara optimal. Partisipasi masyarakat luas seperti. merupakan wadah tempat proses pendidikan dilakukan.Partisipasi masyarakat merupakan wujud pemberdayaan masyarakat sebagai daya dukung sekolah dalam rangka pengelolaan sekolah secara efektif dan efisien agar seoptimal mungkin sasaran dan tujuan pendidikan sekolah dapat tercapai. Pelaksanaan manajemen berbasis sekolah secara efektif dan efisien. merupakan sistem yang memiliki berbagai perangkat dan unsur yang saling berkaitan yang memerlukan pemberdayaan. sekolah sebagai lembaga tempat penyelenggaraan pendidikan. tokoh masyarakat dan organisasi pemerhati pendidikan dengan upayaupayanya yang dapat dilakukan mulai pada tahap perumusan kebijaksanaan implementasi kebijaksanaan secara operasional serta evaluasi dan pengawasan dan pelaksanaan dan pengelolaan pendidikan sekolah. diatur. 4. sekolah adalah tempat yang bukan hanya sekedar tempat berkumpul guru dan murid. memiliki sistem yang kompleks dan dinamis.

oleh karena itu guru perlu siap dengan segala kewajiban baik manajemen maupun persiapan isi materi pengajaran. Kepala sekolah dituntut untuk melakukan tugas dan fungsinya sebagai manajer sekolah dalam meningkatkan proses belajar mengajar. kepala sekolah sebagai pucuk pimpinan perlu memiliki pengetahuan kepemimpinan. jadwal pelajaran. Guru kelas sebagai pelaksana proses belajar mengajar di kelas harus dapat berkreasi dalam meningkatkan manajemen kelas. disiplin kerja. kreativitas dan daya cipta guru untuk pelaksanaan MBS perlu . Guru juga harus mampu mengorganisasikan kelas dengan baik. Dalam mengimplementasikan manajemen berbasis sekolah. membina dan memberikan saran-saran positif kepada guru. Guru adalah teladan dan panutan langsung para peserta didik dikelas. Disamping itu kepala sekolah juga harus melakukan tukar pikiran sumbang saran. perencanaan dan pandangan yang luas tentang sekolah dan pendidikan. Suasana kelas yang menyenangkan dan penuh disiplin sangat diperlukan untuk mendorong semangat belajar peserta didik. dengan melakukan supervisi kelas. pembagian tugas peserta didik. keteladanan dan hubungan manusiawi sebagai modal perwujudan iklim kerja yang kondusif.di sekolah. study banding antara sekolah untuk menyerap kiat-kiat kepemimpinan dari kepala sekolah yang lain. Wibawa kepala sekolah harus ditumbuhkembangkan dengan meningkatkan sikap kepedulian. tetapi kalau sumber daya manusia yaitu para guru tidak melaksanakan tugas dengan baik dalam proses belajar mengajar. penempatan alat dan Iain-Iain harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. maka tidak dapat diharapkan kualitas pendidikan para murid. Guru memegang peranan penting dalam proses belajar mengajar sebab sekalipun sarana dan prasarana pendidikan lengkap dan mempunyai sumber dana yang cukup memadai. akan meningkat. semangat belajar.

Kepsek. sebagai Educator 2. sebagai Administrasi 4. dapat diharapkan kualitas pendidikan peserta didik (murid) akan meningkat sehingga mampu mengikuti perkembangan dan tuntutan untuk tahap pendidikan selanjutnya. Kepsek sebagai Inovator . Kepsek. Partisipasi masyarakat secara material dalam pendanaan operasional sekolah seperti pemberian beasiswa. Untuk memperoleh gambaran yang. Dengan demikian pelaksanaan manajemen berbasis sekolah mensyaratkan dukungan dan partisipasi aktif paling tidak dari tiga pihak terkait dengan proses belajar mengajar di sekolah.terus menerus perlu didorong dan dikembangkan. Kepsek sebagai Pemimpin 6. Evaluasi dan Analisis Hasil Belajar 4. sebagai Manajer 3. yakni kepala sekolah. Kelengkapan Program Mengajar 2. Jika ketiga unsur tersebut terlibat secara aktif dan kreatif dalam proses belajar mengajar di sekolah. guru dan masyarakat. menjadi sponsor dalam suatu kegiatan sekolah serta bantuan moril yang diharapkan seperti orang tua asuh bagi anak-anak usia sekolah yang kurang mampu. memberikan masukan berupa pendapat dan pemikiran dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Kepsek. Program Pengajaran dan Perbaikan 1. Penyajian Materi Pelajaran 3. jelas tentang arah penelitian ini secara skematis digambarkan kerangka pikir ini seperti dapat dilihat pada Gambar 1 Dinas Pendidikan Kabupaten Bone SMP Negeri 4 Watampone Manajemen Berbasis Sekolah Kinerja Guru Kinerja Kepala Sekolah Partisipasi Masyarakat 1. Kepsek sebagai Supervisor 5.

Partisipasi dalam Perencanaan Program Sekolah 3.1. Kepsek sebagai Motivator 1. Partisipasi dalam Monitoring Gambar 2.7. Partisipasi dalam Perencanaan Sekolah 2. Sketsa Kerangka Pikir BAB III .

Penelitian ini dilaksanakan pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum dengan pertimbangan bahwa Sekolah Menengah Pertama telah memiliki kewenangan dan tanggung jawab pada tahap awal pelaksanaan manajemen berbasis sekolahdalam berbagai bidang untuk mencapai tujuan pendidikan sehingga memungkinkan pelaksanaan manajemen berbasis sekolah dengan baik karena berbagi faktor-faktor pendukung yang dimiliki seperti. B. Jenis dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menjelaskan analisis implementasi pelaksanaan manajemen berbasis Sekolah dalam proses belajar mengajar pada tingkat Sekolah Menengah Pertama. sumber daya guru (lebih banyak menggunakan guru inti). Defenisi Operasional Variabel 56 Dalam penelitian ini terdapat beberapa variabel yang akan diteliti dan dianalisis yang diduga berkaitan dengan pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah. yakni (1) kinerja kepala sekolah. sedangkan subjeknya adalah kepala sekolah. guru dan masyarakat. Objek yang diteliti adalah kinerja kepala sekolah. Manajemen berbasis sekolah adalah bentuk pengelolaan sekolah berdasarkan sumber daya . (2) kinerja guru dalam proses belajar mengajar. sarana dan prasarana serta infrastruktur sekolah yang cukup memadai.METODE PENELITIAN A. Variabel tersebut didefinisikan sebagai berikut: 1. kinerja guru dan partisipasi masyarakat terhadap proses belajar mengajar. (3) partisipasi masyarakat serta (4) faktor pendukung serta faktor penghambat pelaksanaan manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Khusus.

setiap pertanyaan akan diberi skor menunjukkan kinerja kepala sekolah. 3. Indikator variabel ini adalah pelaksanaan tugas dan fungsi guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar meliputi : (1) kelengkapan program belajar mengajar. yakni anggota komite sekolah sebagai perwakilan orang tua siswa di sekolah. Faktor pendukung dan faktor penghambat adalah segala sesuatu yang dapat mendukung dan . Variabel ini diukur dengan mengajukan serangkaian pertanyaan kepada guru sekolah. kemampuan melaksanakan tugas dan fungsi jabatan sekolah. (2) pelaksanaan program sekolah menggunakan dan (3) evaluasi dan monitoring program sekolah. (3) (4) pemimpin. setiap pertanyaan akar. Indikator variabel ini adalah : (1) partisipasi masyarakat dalam program perencanaan sekolah. Variabel ini diukur dengan mengajukan serangkaian pertanyaan kepada guru sekolah. Kinerja kepala sekolah yaitu. Variabel ini diukur dengan mengajukan serangkaian pertanyaan masyarakat. supervisor (2) administrator. (2) penyajian materi (3) evaluasi hasil proses belajar mengajar. Indikator variabel ini adalah pelaksanaan tugas dan fungsi sebagai kepala sekolah yang meliputi tugas dan fungsi kepala sekolah sebagai: (1) manajer. Partisipasi masyarakat adalah keterlibatan masyarakat secara sukarela dalam kegiatan pengelolaan dan pengembangan sekolah. 2. setiap pertanyaan akan diberikan skor dan jumlah skor akan menunjukkan tinggi rendahnya partisipasi masyarakat. dan (4) program perbaikan dan pengayaan prosesbelajar mengajar. pencapaian sasaran dan tujuan pendidikan. (6) motivator. 5. diberi skor dan jumlah skor menunjukkan kinerja guru. Kinerja guru adalah kemampuan guru dalam melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar di kelas.yang dimiliki sekolah secara efektif dan efisien dalam rangka. (5) innovator. 4.

E.menghambat implementasi pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah di SMP Negeri 4 Khusus dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah tersebut C. pelaksanaan penelitian dapat dijabarkan sebagai berikut: 1. Manajemen Berbasis Sekolah. kinerja guru dengan sub variabelnya dan kinerja partisipasi masyarakat dengan sub variabelnya. Variabel Penelitian Berdasarkan variabel yang diteliti dan dianalisis. Pemilihan sampel dilakukan secara bertujuan (purposive) dengan hanya memilih . (2) instrumen kinerja guru. Populasi penelitian ini adalah seluruh komponen yang terdapat pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum yang terlibat langsung dengan aktivitas pembelajaran berjumlah 66 guru. D. Instrumen Penelitian Pengukuran variabel dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan instrumen berupa daftar pertanyaan yang meliputi: (1) instrumen kinerja kepala sekolah. sebagaimana dapat dilihat pada Lampiran I. Ketiga instrumen tersebut dikembangkan berdasarkan indikator masing-masing variabel. 2. Populasi dan Sampel. maka dilakukan tehnik sampling. Pada variabel manajemen berbasis sekolah akan diteliti tentang bagaimana kinerja kepala sekolah dengan berbagai sub variabelnya. Mengingat jumlah populasi yang relatif besar. (3) instrumen partisipasi masyarakat. Faktor pendukung dan penghambat dalam pengimplementasian manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Khusus akan dijabarkan secara mendalam dalam penelitian ini. baik yang berstatus sebagai pegawai tetap maupun yang berstatus sebagai honorer.

Metode Pengumpulan Data 1. yaitu untuk memperoleh keterangan sebagai pelaksana langsung dalam implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4 Khusus.sebahagian orang sebagai sampel. Wakasek kurikulum dan pengajaran dan Wakasek Kesiswaan e. F. Sumber data penelitian ini terdiri dari kepala sekolah. Responden diambil dari kepala sekolah. yaitu untuk memperoleh keterangan mengenai usaha-usahanya dalam mengimplementasikan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4 Khusus. anggota komite sekolah sebagai perwakilan orang tua/wali yang masing-masing terdapat pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum. Wakil kepala sekolah. b. Kapala Tata Usaha f. Orang tua siswa dalam hal ini yang diwakili Komite sekolah. yaitu untuk memperoleh keterangan sejauh mana perannya sebagai wakil dari orang tua siswa dan patner sekolah dalam pengimplementasian Manajemen Berbasis Sekolah di SMP Negeri 4 Khusus. 24 guru. Selanjutnya responder dipilih secara purposive dan dijadikan sampel yang dianggap memahami permasalahan penelitian. Guru-guru. Metode observasi Metode observasi dapat diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan sistematik . Kepala sekolah. d. Alasan Pemilihan sampel ini karena orang-orang tersebut dianggap mempunyai kesiapan dalam memberikan informasi yang diperlukan selama penelitian. yaitu untuk memperoleh keterangan tentang upaya-upaya yang dilakukan dalam mengimplementasikan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4 Khusus c. guru. 24 anggota komite yang mewakili orang tua wali atau seluruhnya 49 Dengan perincian sebagai berikut: a.

atau suatu studi yang disengaja dan sistematis tentang keadaan/fenomena sosial dan gejala-gejala psikis dengan jalan mengamati dan mencatat Observasi atau pengamatan secara langsung. observasi atau pengamatan merupakan hasil perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya sesuatu rangsangan tertentu yang diinginkan. motif. Metode wawancara. 2000: 136). keadaan dan fasilitas pendidikan. (Sutrisno Hadi.fenomena-fenomena yang diselidiki. kegiatan proses belajar mengajar di SMP Negeri 4 Khusus. 1996:57). keadaan manajemen-manajemen mulai dari kurikulum. lingkungan sekolah. Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data-data secara langsung dan sistematis terhadap obyek yang diteliti untuk memperoleh data lengkap mengenai kondisi umum. serta . Menurut Suharsimi Arikunto (1996:57) wawancara adalah kegiatan memperhatikan sesuatu dengan menggunakan mata atau pengamatan yang meliputi kegiatan. 2. perasaan. kesiswaan. keuangan. serta motivasi. tenaga pendidik dan kependidikan. Wawancara digunakan untuk mengungkapkan data tentang: a). pemusatan perhatian terhadap suatu objek dan menggunakan seluruh panca indera (Suharsimi Arikunto. Observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh tentang pelaksanaan manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Khusus. sarana prasarana. dan lain sebagainya. Sedangkan menurut Mardalis. Humas dan manajemen layanan khusus serta dalam melaksanakan Manajemen Berbasis Sekolah. Metode wawancara atau interview adalah suatu metode yang dilakukan dengan jalan mengadakan komunikasi dengan sumber data melalui dialog (tanya jawab) secara lisan baik langsung maupun tidak langsung untuk menyelidiki pengalaman. kondisi belajar siswa. dalam arti yang luas observasi tidak hanya terbatas pada pengamatan yang dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung. Bagaimana implementasi manajemen berbasis sekolah bagi SMP Negeri 4 Khusus b).

peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi. yang artinya barang-barang tertulis. dokumen bukan hanya yang berwujud tulisan saja. data dari dokumen sekolah tentang sejarah berdirinya SMP Negeri 4 Khusus. . peraturan-peraturan. tetapi dapat berupa benda-benda peninggalan seperti prasasti dan simbol-simbol. Moleong. surat kabar. dokumen. Sedangkan menurut Lexy J. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak. buku. transkip. dan sebagainya. Dokumentasi ini digunakan untuk melengkapi dan menambah data yang diperoleh melalui wawancara dan observasi. responden yang diteliti. Metode Dokumentasi Dokumentasi. (Suharsimi Arikunto. catatan harian. wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Wawancara tampaknya merupakan alat pengumpul data (informasi) yang langsung tentang beberapa jenis data sosial. dari asal katanya dokumen. baik yang terpadu maupun manifes. daftar tenaga pendidik dan kependidikan dan lain sebagainya. Dalam pengertian yang lebih luas. majalah. legger. 1998: 149). 3.faktor-faktor apa yang mendukung dan menghambat dalam pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah di SMP Negeri 4 Khusus. notulen rapat. jumlah siswa. majalah. Metode ini penulis gunakan untuk meneliti benda-benda tertulis seperti buku raport. Sumber informasi yang dibuat dokumentasi adalah sumber informasi yang sangat penting dan dapat menggambarkan pelaksanaan manajemen berbasis sekolah seperti data keadaan siswa dan lain lain baik yang terdapat pada sekoloah sampel maupun dokumen dari Dinas Pendidikan Kabupaten Umum. agenda dan sebagainya. notulen rapat. Dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan.

setelah pengumpulan data selesai kemudian dilakukan reduksi data yaitu menggolongkan. mengarahkan. Teknik Analisa Data Adalah proses penyusunan. Sedangkan untuk menganalisa faktor pendukung dan penghambat maka digunakan metode analisis SWOT yaitu Strength (kekuatan). dan membuang yang tidak perlu dan pengorganisasian sehingga data terpilahpilah. opportunity (peluang). Penyajian data dan penarikan kesimpulan/ verifikasi (Miller&Huberman.G. Dalam menganalisa data. Ketiga. pengaturan dan pengolahan data agar dapat digunakan untuk membenarkan atau menyalahkan hipotesis (Sudjana. Kedua. yaitu pengumpulan data dan sekaligus reduksi data. penulis juga melakukan pencatatan data-data yang ada di SMP Negeri 4 Khusus . penulis menggunakan tekhnik analisis deskriptif kualitatif yang terdiri dari tiga kegiatan. 1991: 76). treath (ancaman). data yang telah direduksi akan disajikan dalam bentuk narasi. weaknes (kelemahan). Pertama. penarikan kesimpulan dari data yang telah disajikan pada tahap kedua yang didukung oleh tabel untuk mengetahui kecenderungan variabel yang diteliti lalu selanjutnya menarik kesimpulan. 1992: 16). Dalam proses pengambilan data di lapangan untuk menjaga kevalidan data yag diperoleh. penulis menggunakan instrumen pengumpulan data yang berupa pertanyaan kepada responden.

termasuk diantaranya wakil kepala sekolah dan berbagai urusan yang diberikan amanat untuk menjalankan tugas-tugas vital di sekolah serta 24 orang komite sekolah (masyarakat) yang merupakan perwakilan dari orang tua siswa. Pangkat/golongan responden Semakin tinggi tingkat kepangkatan/golongan merupakan faktor yang diasumsikan signifikan dengan kualitas dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai seorang guru Tabel 4. Identitas Responden Responden sebanyak 49 orang yang terdiri dari 1 orang kepala sekolah dan 24 orang guru kelas. Selanjutnya untuk memperoleh informasi yang akurat maka responden dipilih sengaja dari lokasi sampel Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Watampone Kabupaten Umum sebagai syarat memenuhi karakteristik sampel yang diteliti.1.BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Selanjutnya untuk memperoleh gambaran secara rinci. Karakteristik responden guru berdasarkan pangkat/golongan . akan diuraikan karakteristik responden sebagai berikut: a.

usia responden berusia 31-45 tahun sebanyak 7 orang atau sekitar 29.83 79. Jika responden guru dianalisis berdasarkan golongan seperti pada tabel yang disajikan di atas. Tingkat umur responden Tingkat umur responden dalam penelitian ini dimulai dengan batas usia 30 tahun sampai 55 tahun ke atas. hal ini diasumsikan keaktifan (enerjik) dalam pelaksanaan tugas-tugas guru. bahwa responden golongan 1V yang paling tinggi yaitu sebanyak 79.17 persen .33 . Penyebaran responden guru menurut kelompok umur Kelompok Umur < 30 tahun Frekuensi 2 (f) Persentase (%) 8. Untuk golongan IIIa-IIId sebanyak 20.17 100 Sumber: Data Primer.33 persen. Berdasarkan tabel 4. Tabel 4. b.2 dapat dilihat bahwa responden berusia 30 tahun ke bawah sebanyak 2 orang atau 8. dan untuk golongan IVaIVe sebanyak 79. 2012 Tabel 4.17 persen. Usia 46-55 tahun sebanyak 12 orang atau sekitar 50 persen dan hanya 3 orang responden atau 12.1 tersebut menunjukkan bahwa dari 24 responden guru yang dijadikan sampel dapat dibuat perincian sebagai berikut yaitu untuk golongan IIa-IId adalah 0 persen. hal ini menunjukkan bahwa terdapat potensi yang memadai dalam rangka pengembangan manajemen berbasis sekolah dapat terlaksana dengan baik.5 persen berusia 55 tahun ke atas.17 persen.2.83 persen atau sebanyak 5 orang guru.Pangkat/Golongan II/a – II/d III/a – III/d IV/a – IV/e Jumlah Frekuensi (f) 5 19 24 64 Persentase (%) 20.

Tingkat pendidikan Distribusi responden menurut tingkat pendidikan merupakan suatu faktor yang diasumsikan mempunyai pengaruh terhadap kualitas responden yang berprofesi sebagai guru.5 diasumsikan kurang enerjik.2 terlihat bahwa dari sebanyak 24 responden guru dan sampel yang diteliti sebanyak 21 orang atau sekitar 87. Tabel 4.33 100 Frekuensi (f) 0 Persentase (%) 0 .4 atau setara dengan sarjana.55 tahun > 55 tahun Jumlah 7 12 3 24 29.5 100 Sumber: Data Primer. Diploma I 2. Sarjana Strata 1 5. Penyebaran responden guru menurut tingkat Pendidikan Tingkat Pendidikan SPG Sederajat Diploma : 1. 2012 0 0 3 19 2 24 0 0 12. Diploma II 3.31-45 tahun 46.17 50 12. c. Sarjana Strata 2 Jumlah Sumber: Data Primer. Salah satu indikasi yang dilakukan oleh pemerintah dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan baik output maupun inputnya adalah memberikan kesempatan kepada seluruh tenaga pendidik untuk melanjutkan pendidikannya pada level D. 2012 Berdasarkan tabel 4.3.5 persen pada usia kurang dari 55 tahun masih sangat potensi dalam kedudukannya baik sebagai guru kelas maupun kedudukannya sebagai kepala sekolah dianggap cukup enerjik dan berpengalaman sedang sisanya yaitu sebanyak 3 orang karena berumur di atas 55 tahun atau sekitar 12.17 8. Diploma III 4.5 79.

5 persen.17 persen dan yang berpendidikan stara 2 yakni sebanyak 2 orang atau sekitar 8.3 penyebaran responden berdasarkan tingkat pendidikan terlihat bahwa kategori pendidikan setingkat SPG sebanyak 0 persen atau tidak ada guru yang berpendidikan SPG sederajat. Dengan membandingkan masing-masing tingkat pendidikan dalam tabel tersebut dimana tingginya tingkat pendidikan tinggi (Strata satu) menyusul tingkat pendidikan diploma dan strata 2 dapat dikatakan bahwa Keberadaan responden guru sangat signifikan dengan kualitas akademik dengan prospek pengembangan sekolah dalam rangka pengimplementasian MBS. Selanjutnya karakteristik responden masyarakat akan diuraikan secara rinci sebagai berikut: a. sedang dan tinggi terlihat bahwa tidak terdapat guru yang berkualifikasi pendidikan rendah dan hanya terdapat 3 orang guru yang berpendidikan D. Responden masyarakat berdasarkan tingkat pendidikan Responden masyarakat/orang tua siswa sebanyak 24 orang. Distribusi responden menurut tingkat pendidikan merupakan suatu faktor yang diasumsikan mempunyai pengaruh terhadap kualitas responden berpartisipasi terhadap pengembangan sekolah. Responden anggota komite sekolah maupun orang tua/wali murid yang dipilih sebagai lokasi sampel penelitian.17 persen dan 2 orang atau 8. Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa dari sebanyak 24 responden guru apabila dianalisis berdasarkan kategori pendidikan rendah. demikian halnya dengan pendidikan diploma dua sebanyak 0 persen.33 persen.Memperhatikan tabel 4. Responden masyarakat . disusul guru yang berpendidikan strata satu S1 tampak sangat mayoritas sebanyak 19 orang atau sekitar 79. diploma tiga terdapat 3 orang atau 12. 1. Responden Masyarakat Jumlah responden masyarakat/orang tua siswa sebanyak 24 orang.III atau sekitar 12.5 persen sedang sarjana strata satu 19 orang atau sekitar 79.33 persen dengan tingkat pendidikan strata dua.

2012 Tabel 4.33 37.17 persen.4 tentang penyebaran responden menurut tingkat pendidikan dapat dilihat bahwa tingkat pendidikan menyebar dari SLTP sebanyak 2 orang atau 8. Penyebaran responden menurut tingkat pendapatan Tingkat Pendapatan < 1 Juta 1 – 5 Juta < 5 Juta Frekuensi (f) 5 12 7 Persentase (%) 20. Responden masyarakat menurut tingkat pendapatan dapat dilihat pada tabel 4. 2012 Pada tabel 4.5.5.4. b. dominan responden berpendidikan sarjana. Responden masyarakat berdasarkan pendapatan Distribusi responden menurut tingkat pendapatan diasumsikan signifikan dengan tingkat partisipasi masyarakat terhadap pembangunan/pengembangan sekolah. SLTA 9 orang atau sekitar 37.menurut tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel 4. Penyebaran responden masyarakat menurut tingkat pendidikan Tingkat Pendidikan Tidak Tamat SD SD SLTP SLTA Sarjana Frekuensi (f) 2 9 13 Persentase (%) 8.17 Jumlah 24 100 Sumber: Data Primer.5: Tabel 4. menunjukkan bahwa sebagian besar responden berpendapatan 1-5 juta . Jika distribusi responden tersebut dianalisis dengan membandingkan masing-masing tingkat pendidikan yang ada.5 54. hal ini menunjukkan bahwa peran serta masyarakat potensial terlibat dalam setiap kegiatan sekolah.4 sebagai berikut: Tabel 4.17 Jumlah 24 100 Sumber: Data Primer.33 persen.5 persen sampai pada tingkat sarjana sebanyak 13 orang atau sekitar 54.83 50 29.

83 37. Penyebaran responden masyarakat menurut latar belakang pekerjaan Tingkat Pendidikan Pegawai Negeri Pensiunan Pegawai Negeri Wiraswasta Frekuensi (f) 14 2 8 Persentase (%) 41. hal tersebut jika dianalisis bahwa selama ini perhatian dunia usaha/wiraswasta yang menjadi sorotan masyarakat telah mengalami perubahan yang mendasar sebagai akibat dan perubahan subsistem .6 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki latar belakang pekerjaan sebagai pegawai negeri yaitu sebanyak 9 orang atau sekitar 41. Biasanya tingkat pekerjaan yang dimiliki oleh seseorang sangat mendukung dalam penetapan kebijakan pada sebuah institusi terlepas dari konsep politik maupun sosial. Dari Persentase ini jika dianalisis.5 persen sedang pensiunan pegawai negeri yang terlibat dalam komite sekolah hanya 4 orang atau sekitar 20. 2012 Dengan melihat tabel 4.17 persen dan jumlah sampel yang diteliti (sebanyak 24 orang).67. menyusul wiraswasta 8 orang atau sekitar 37. Adapun tabel penyebaran tingkat dan latar belakang pekerjaan dapat dijelaskan melalui tabel 4. Latar belakang pekerjaan responden masyarakat Latar belakang pekerjaan dapat diasumsikan signifikan dengan tingkat partisipasi masyarakat terhadap pengembangan sekolah.atau 50 persen.6.83 persen. 2.67 20.5 Jumlah 24 100 Sumber: Data Primer. Dan bila dibandingkan dengan yang berpendapatan rendah (kurang 1 juta) lebih banyak berpendapatan tinggi (di atas 5 juta) yaitu sebesar 29. maka tingkat pendapatan masyarakat potensial terhadap pengembangan sekolah menjadi lebih baik. kemudian kalangan wiraswasta juga memperlihatkan tingkat partisipasi yang cukup tinggi. Memperhatikan tabel tentang penyebaran responded menurut latar belakang pekerjaan bahwa pegawai negeri sipil yang dominan memperlihatkan tingkat partisipasi paling tinggi.6 di bawah ini: Tabel 4.

peserta didik. kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan di sekolahnya. Menciptakan iklim sekolah yang kondusif. Kepala Sekolah sebagai Pendidik (Edukator). Kinerja sekolah merupakan keterpaduan semua warga sekolah yang tidak terlepas dan pelaksanaan tugas kepala sekolah (Dirjen Dikdasmen 2000) Untuk kinerja kepala sekolah dipakai 7 (tujuh) komponen penilaian yaitu (1) kepala sekolah sebagai edukator (2) kepala sekolah sebagai manajer. (5) kepala sekolah sebagai leader. dan memberi teladan yang baik. dan (7) kepala sekolah sebagai motivator. memberikan nasehat kepada warga sekolah. C. Dalam melakukan fungsinya sebagai edukator. kepala sekolah bertugas untuk membimbing guru. tenaga kependidikan. (3) kepala. serta melaksanakan model pembelajaran yang menarik. memberikan dorongan kepada seluruh tenaga kependidikan. sekolah sebagai administrator. dengan upaya memotret keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah dan sekaligus menggambarkan kondisi obyektif profit sekolah secara utuh. Dirjen Dikdasmen tahun 2000. Sebagai edukator. Instrumen yang digunakan untuk mengukur kinerja kepala sekolah adalah instrumen yang sama dikeluarkan oleh departemen pendidikan nasional. Kinerja Kepala Sekolah dalam Pelaksanaan MBS pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum Secara khusus variabel kinerja kepala sekolah dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan quosioner sebagai pedoman wawancara untuk menganlisis aktivitas kinerjanya sebagai kepala sekolah serta melakukan pengamatan secara seksama mengenai kondisi riil berkaitan dengan implementasi manajemen berbasis sekolah. mengikuti perkembangan iptek.manajemen pendidikan yaitu manajemen berbasis sekolah. . (6) kepala sekolah sebagai innovator. (4) kepala sekolah sebagai supervisor.

membimbing siswa serta membimbing guru dalam peningkatan proses pembelajaran. Oleh karena itu kami berusaha bekerja semaksimal mungkin agar tugas utama kepesek tidak terbengkalai maka jam mengajar kepala sekolah kami tempatkan pada jam 1dan 2 setiap hari senin sampai jumat. sejalan dengan yang diinformasikan oleh Wakasek “ Drs Suradi” dan bapak Muh Amin sebagai urusan Kurikulum. Tugas utama saya adalah mengajar. Apa yang disampaikan oleh kepala SMPM 4 Watampone. atau pendidikan lanjutan. Upaya yang dapat dilakukan kepala sekolah dalam meningkatkan kinerjanya sebagai edukator. Sekalipun demikian saya akan menggantinya atau mencarikan waktu untuk tetap mengajar pada kelas yang saya ajar. moving class dan mengadakan program akselerasi bagi peserta didik yang cerdas di atas normal. khususnya dalam peningkatan kinerja tenaga kependidikan dan prestasi belajar peserta didik adalah sebagai berikut: a) mengikutsertakan guru-guru dalam penataran. Tugas diluar dan tamu yang datang terkadang menyebabkan kepala sekolah tidak masuk mengajar dikelas. sedangkan untuk pembimbingan guru diserahkan kepada tim yang saya bentuk untuk memantau kinerja guru” (14 Maret 2012).seperti team teaching. serta memanfaatkannya secara efektif dan efisien untuk kepentingan pembelajaran. “Kepala Sekolah itu adalah tugas tambahan yang dipercayakan pemerintah kepada saya untuk memimpin lembaga ini. c) menggunakan waktu belajar secara efektif di sekolah. dan sebagainya Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala SMPN 4 Watampone” Drs Mahmud MM” kegiatan pembelajaran di sekolahnya berjalan dengan tertib. bahkan beliau sebagai kepala sekolah mendapat tugas mengajar di kelas dengan jumlah jam wajib sebanyak 6 jam. dengan cara mendorong para guru untuk memulai dan mengakhiri pembelajaran sesuai waktu yang telah ditentukan. saya serahkan ke pembina kesiswaan. b) menggerakkan tim evaluasi hasil belajar peserta didik. meskipun saya menyadari kegiatan diluar yang berkaitan dengan kepentingan sekolah terkadang membuat saya tidak mengajar. tetapi tetap mencari waktu di sore hari untuk mengajar. dan itu fungsi utama saya sebagai seorang edukator atau tenaga pendidik. . Khusus untuk membimbing siswa.

b) Kepala SMP Negeri 4 Khusus telah melaksanakan fungsinya sebagai Educator (pendidik) sebagaimana yang diharapkan dalam MBS yaitu kepala sekolah tetap menjalankan aktivitas mengajar dalam kelas. kepala sekolah Membimbing guru dalam meningkatkan kinerja mereka terutama bagaimana menyusun RPP dan mengajar dengan memanfaatkan tekhnologikhususnya dalam hal kegiatan proses belajar mengajar dan b) membimbing siswa dengan memberikan materi pembelajaran sekaligus memotivasi siswa untuk berprestasi. kami membuat jadwal mengajar yang tetap memungkinkan kepala sekolah tetap mengajar dengan memberi jadwal jam 1-2 setiap hari Senin-Rabu. dengan jumlah jam wajib 6 jam pelajaran/minggu yang dilaksanakannya setiap hari Senin-Rabu dengan masuk pada jam pertama sampai jam kedua. Berdasarkan keterangan diatas. Hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa Kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Watampone: a) Masuk kelas mengajar. kepala sekolah sebagai seorang edukator telah bekerja sesuai standar yang berlaku. . Karena itu. meskipun beliau tetap menggantinya di sore hari. Dan menurut analisis penulis bahwa prilaku kepala SMPN 4 Watampone yang mengajar dalam kelas dan berusaha menggantinya jika berhalangan masuk adalah sebuah prilaku yang patut ditiru oleh kepala sekolah yang lain yang terkadang hanya namanya yang tercantum dalam jadwal/roster mengajar tetapi orang lain yang menjalankannya.“Kami memahami bahwa kepala sekolah memiliki kesibukan yang teramat padat sehingga tugas mengajarnya terkadang terabaikan. Adapun bentuk riil dan masing-masing tugas yang telah dilakukan Kepala Sekolah tersebut di atas adalah : a) Bersama dengan tim yang dibentuk dari urusan kurikulum dan pengajaran. agar aktivitas pembelajaran siswa tidak terganggu (15 Maret 2012”).

bahwa kepala sekolah tetap menempatkan orang-orang yang dianggap sangat profesional dalam hal-hal yang sangat urgensial untuk kemajuan sekolah. seperti dalam kegiatan ketatausahaan. Berdasarkan wawancara dengan ibu Rosmawati sebagai kepala tata usaha dan pak Herman sebagai wakasek kurikulum dan pengajaran. “Potensi guru disekolah kami termasuk pegawai dari segi jumlah sangatlah besar. Meskipun demikian. namun kepala sekolah sering memberikan tugas rangkap kepada seorang guru atau pegawai sehingga sumber daya yang seharusnya bisa dimaksimalkan perannya menjadi berkurang. banyak tenaga honorer yang terparkir yang tenaganya hanya kadang dipakai untuk mengurus atau mengerjakan hal yang sama. bahwa masih terdapat beberapa kelemahan yang dilakukan oleh kepala sekolah sebagai seorang manajer yang seharusnya kelemahan tersebut bisa diminimalisir bahkan ditiadakan. uraian tugas berdasarkan kemampuan personil serta uraian tugas organisasi. Hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Watampone sebagai seorang manajer telah melaksanakan fungsinya dengan baik . ditambahkan oleh ibu Rosmawati. Kepala Sekolah diharuskan mampu mensinkronkan antara berbagai program yang telah disusun dengan memanfaatkan sumber daya sekolah yang tersedia yang disesuaikan dengan arah dan kondisi sekolah.Kegiatan kepala sekolah masuk mengajar adalah selain sebagai tugas pokok juga memberi contoh kepada guru agar guru dapat melaksanakan tugasnya secara optimal dan siswa dapat termotivasi untuk belajar dengan baik. Sebagai seorang manajer. padahal masih banyak pekerjaan lain”(27 Maret 2012). administrasi sekolah. “Kepala sekolah sangat jeli melihat guru atau pegawai yang profesional untuk ditempatkan pada bidang atau urusan yang sangat strategis dalam rangka pengembangan sekolah dan sangat membantu meringankan pekerjaan kepala sekolah”(23 Maret 2012). karena semua urusan yang diangkat untuk mendampingi beliau dalam membantu menjalankan tugasnya adalah orang-orang pilihan. sehingga kelemahankelemahan yang terjadi dapat cepat diatasi.

Aktivitas administratif adalah semua kegiatan yang berkaitan dengan pencatatan. penyusunan RAPBS serta dan mempunyai mekanisme monitor dan evaluasi pelaksanaan program secara sistematika. mengelola administrasi sarana dan prasarana. dan mengelola administrasi keuangan. penyusunan dan dokumentasi program dan kegiatan sekolah. Berdasarkan uraian tersebut menunjukkan bahwa Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Watampone telah melaksanakan fungsi sebagai administrator. Sebagai administator. jangka menengah (4 tahun) dan jangka pendek baik akademik maupun non akademik. b) Memiliki susunan kepegawaian sekolah c) Memanfaatkan sumber daya manusia serta sarana-prasarana secara optimal. Adapun bentuk kegiatan riil dari masing-masing uraian tugas yang telah dilakukan kepala sekolah tersebut di atas adalah : 1. bentuk program . kepala sekolah juga dituntut untuk mengelola kurikulum. mengelola administrasi kearsipan. kepala sekolah bertanggung jawab atas kelancaran segala pekerjaan dan kegiatan administratif di sekolahnya.dengan catatan masih perlu melakukan koordinasi antar pegawai khususnya pegawai tata usaha. Secara spesifik. Adapun. Pembuatan Program : Program utama yang menjadi fokus antara lain adalah (1) Program kerja kepala sekolah adanya : a) Program jangka panjang (8 tahun). d) Mempunyai catatan kinerja sumber daya manusia yang ada disekolah serta peningkatan mutu. Kepala Sekolah sebagai Administrator Administrasi merupakan suatu proses yang menyeluruh dan terdiri dari bermacam kegiatan atau aktivitas di dalam pelaksanaannya.

kegiatan riil dari masing-masing uraian tugas yang telah dilakukan kepala sekolah sebagai seorang administrator di SMPN 4 Watampone tersebut di atas adalah : a. Memiliki dokumen yang berkaitan dengan laporan penggunaan dana bos, dokumen penyusunan RAPBS dan dokumen-dokumen lainnya yang berkaitan dengan pemanfaatan dana. b. inovasi yang mengikuti perkembangan dunia pendidikan dengan tujuan meningkatkan mutu pendidikan berdasarkan pengembangan kurikulum dilakukan untuk mewujudkan tujuan pendidikan Nasiona c. Administrasi kepala sekolah yang dapat memperlancar semua kegiatan kepala sekolah yang dilengkapi beberapa administrasi antara lain administrasi kesiswaan, keuangan, sarana dan prasarana dan administrasi persuratan yang bertujuan untuk mempermudah/ memperlancar segala sesuatu tugas kepala sekolah. Sejalan dengan fungsinya sebagai seorang administrator, Kepala SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum telah berusaha secara maksimal untuk mengadministrasikan berbagai hal yang berkaitan dengan kepentingan sekolah. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh penulis kepada kepala sekolah, beliau menyatakan: “Saya berusaha untuk mengarsipkan setiap laporan yang berkaitan dengan keuangan, kegiatan kesiswaan, persuratan, penyusunan dan dokumentasi program serta pengelolaan pemanfaatan sarana dan prasarana. Meskipun demikian karena banyaknya dokumen yang harus diarsipkan maka saya mempercayakan kepada kepala tata usaha untuk menghandel sebagian dari tugastugas saya selaku administrator, bahkan dokumen yang berkaitan dengan kegiatan kesiswaan juga banyak yang dipegang langsung oleh urusan kesiswaan( 27 Maret 2012).

Kepala Sekolah sebagai Supervisor. Supervisi juga dapat diartikan sebagai pembinaan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah agar mereka dapat meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan situasi belajar

mengajar dengan lebih baik sesuai dengan tujuan pendidikan. Kepala sekolah sebagai supervisior mempunyai peran dan tanggung jawab untuk membina, memantau, dan memperbaiki proses pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Supervisi kepala sekolah dapat dilakukan secara individual maupun kelompok. Di antara tugas-tugas kepala sekolah sebagai supervisor adalah: 1) Membantu stafnya menyusun program; 2) Membantu stafnya mempertinggi kecakapan dan keterampilan mengajar; dan 3) Mengadakan evaluasi secara kontinyu tentang kesanggupan stafnya dan tentang kemajuan program pendidikan pada umumnya. Keberhasilan peran kepala sekolah sebagai supervisor antara lain dapat ditunjukkan oleh: 1) meningkatnya kesadaran guru dan staf untuk meningkatkan kinerjanya; dan guru dan staf dalam melaksanakan tugasnya. Sesuai dengan wawancara yang dilakukan dengan kepala sekolah, Bapak Drs. Mahmud, MM, bahwa tugasnya sebagai seorang supervisor belumlah berlangsung dengan optimal, karena masih ada guru yang mengajar tidak sesuai dengan program yang telah disusunnya, disisi lain kemampuan mengajar yang diperlihatkan oleh guru yang disupervisi terlihat masih sangat rendah. “Saya menyadari bahwa kemampuan mengajar antara guru yang satu dengan yang lain tidaklah sama, tergantung kepada kemampuan setiap guru. Setiap 3 bulan sekali saya melakukan supervisi akademik dan supervisi manajerial untuk memantau aktivitas pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan selama hasil pemantauan masih ada guru yang belum membuat RPP padahal sudah disiapkan filenya oleh urusan kurikulum dan urusan pengajaran. Disis lain, aktivitas pembelajaran yang dilakukan belumlah mengaktifkan siswa sehingga pembelajaran yang sifatnya Joyfull Learning masih jauh dari harapan”(27 Maret 2012). Kepala Sekolah sebagai Leader Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah dapat mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah melalui program-program yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap. Untuk kepentingan tersebut, kepala sekolah harus mampu mempengaruhi dan menggerakkan sumber daya sekolah dalam kaitannya dengan 2) meningkatakan keterampilan

perencanaan dan evaluasi program sekolah, pengembangan kurikulum, pembelajaran yang berkarakter, pengelolaan ketenagaan, sarana dan sumber belajar, keuangan, pelayanan siswa, hubungan sekolah dengan masyarakat, penciptaan iklim sekolah, dan sebagainya. Kondisi ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh kepala sekolah”Drs. Mahmud, MM’’ bahwa: “Kedudukannya sebagai kepala sekolah sangat berkaitan erat dengan perencanaan dan evaluasi program , pengelolaan ketenagaan, pemanfaatan dana serta penciptaan iklim sekolah yang kondusif. Sebagai orang yang dipercayakan untuk memimpin SMPN 4 Watampone, terkadang sikap otoriter tetap dipakai agar sistem tetap berjalan karena jika terlalu lemah, bawahan bisa semakin menjadi-jadi, bahkan sebagai pimpinan saya harus berani mengambil resiko untuk kepentingan bersama. Perumusan visi dan misi demi sebuah pembaharuan harus menjadi prioritas utama demi terselenggarannya pendidikan yang bermartabat”(27 Maret 2012). Adapun bentuk kegiatan riil dari masing-masing kegiatan uraian dan tugas yang telah dilakukan kepala sekolah di atas dapat dijabarkan sebagai berikut: a) Mengenal bawahannya Kepala sekolah harus mengenal bawahan dari dekat diantaranya jenjang pendidikan, tingkat golongan, kepribadian dan wawasan yang dimiliki guru serta memberikan penghargaan bagi guru yang mengharumkan nama sekolah. b) Berani mengambil resiko Tidak semua kepala sekolah berani mengambil resiko atau bertanggung jawab dalam kehidupan di sekolah. Misalkan gurunya dipindahkan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, pengamperaan kekurangan gaji guru terlambat. Solusinya dikoordinasikan dengan semua bersama

personil sekolah dan komite sekolah. Bahkan kepala sekolah tidak segan

untuk turun kelapangan memperjuangkan bantuan bagi siswa yang tidak mampu. c) Memiliki Visi dan Misi Sekolah harus memiliki visi dan misi yang bertujuan untuk kesiapan kedepan demi terlaksananya pendidikan yang efektif dan efisien.

pelaksanaan pengembangan kegiatan pembelajaran dan hasil kerja guru penetapan dan Kenaikan kelas. ulangan tengah semester serta berbagai aktivitas kesiswaan kurang mendapat perhatian dari kepala sekolah. tetapi manakala menyangkut tentang pemanfaatan dana bos untuk kepentingan guru dan siswa. Pelaksanaan evaluasi dalam fungsinya sebagai leader bahwa semua tanggungjawabnya dilaksanakan sepenuhnya yaitu semua stafnya dinilai berdasarkan hasil yang sudah dicapai dengan pengajuan Kriteria yang didapat sebagai dasar tindak lanjut perbaikan (kalau perlu). administrasi. ulangan semester. e) Evaluasi. kepala sekolah terkesan bersikap otoriter. Apa yang disampaikan oleh sala seorang guru yang mengajar di sekolah tersebut adalah bentuk ketidakpuasan atas kinerja kepala sekolah sebagai seorang pemimpin yang terkesan . Sambil memberi contoh tentang kegiatan ulangan. Banyak kebijakan yang dibuat belum mencerminkan kepentingan guru padahal sumber pendanaan sangat menunjang untuk berbagai kegiatan yang dilakukan. Hasil tersebut di atas menunjukkan bahwa Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Watampone Kabupaten Umum dapat melaksanakan tugas/fungsinya sebagai leader/ pemimpin. Berdasarkan perannya sebagai seorang leader atau pemimpin terdapat perbedaan cara pandang antara beberapa orang guru dengan kinerja kepala sekolah sebagai seorang leader. baik ulangan harian. bahwa kepala sekolah banyak berjuang untuk siswa tidak mampu agar mendapatkan bantuan. daftar hadir guru (jam dan harian). kesemuanya hal tersebut di atas dilaksanakan secara demokratis. Jalani Salah seorang guru senior yang diwawancarai mengatakan bahwa: “Kinerja kepala sekolah sebagai seorang pemimpin dianggap belumlah memihak kepada kepentingan guru dan siswa.padahal telah banyak kritikan untuk memperbaiki kinerja beliau” (28 bapak kepala 2012). pembagian tugas guru.d) Gagasan Pembaharuan Kepala sekolah memikirkan akan perkembangan sekolahnya sehingga dapat membuat program-program sebagai pembaharuan yang ujung-ujungnya peningkatan mutu dan peningkatan kualitas sekolah. Memang kami akui. baik bantuan dari provinsi maupun bantuan dari pusat.

kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan lingkungan. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk mencegah bentuk kesewenangan yang mungkin akan bertambah.cenderung bersikap otoriter dan kebijakan yang dibuat belum mencerminkan keadilan untuk guru dan siswa. mengintegrasikan setiap kegiatan. seorang kepala sekolah haruslah bersikap transparan dan akuntabel untuk kepentingan semua pihak baik dalam internal sekolah maupun dengan pihak yang berada diluar sekolah. Bahkan berbagai kegiatan yang dilakukan lebih banyak melibatkan orang dekat ketimbang guru guru yang lain. memberikan teladan kepada seluruh . RAPBS yang dibuat terkadang hanyalah dokumen belaka yang tidak dijadikan acuan untuk melaksanakan setiap program yang telah dibuat. mencari gagasan baru.Kepala sekolah haruslah mampu menyeimbangkan antara kepentingan bawahan dengan kepentingan atasan”(27 Maret 2012). Kebijakan yang dibuat tidaklah mencerminkan kepentingan banyak guru. Kepala sekolah Sebagai Inovator. maka dewan guru harus berani mengemukakan kepada komite sekolah akan kondisi yang terjadi dan dengan demikian diharapkan komite dapat menjadi penyeimbang setiap keputusan yang diambil oleh pihak sekolah. menunjukkan bahwa peran kepala sekolah sebagai seorang leader atau pemimpin belumlah maksimal. kedekatan kepala sekolah dengan penentu kebijakan yang berada diatasnya telah membawa manfaat besar bagi kemajuan sekolah ditinjau dari segi bantuan untuk pembangunan infrastruktur tapi itu belumlah cukup. Kami akui. Apa yang disampaikan oleh Jalani juga dipertegas oleh salah seorang guru yang sering mengkritik kebijakan yang dibuat oleh kepala sekolah. Bahkan RAPS yang seharusnya dijadikan pedoman dalam pelaksanaan kegiatan atau program yang disusun tidak dijadikan acuan melainkan lebih mengarah kepada keinginan pribadi. Dalam rangka melakukan peran dan fungsinya sebagai inovator. Dalam MBS. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Andi Asrib Adnan: “Kepala sekolah belumlah bekerja maksimal untuk kepentingan guru dan siswa terutama dalam pemanfaatan dana. Dengan mengacu kepada pendapat dua orang guru.

Adanya ide-ide baru yang menjadi pedoman dalam melaksanakan tugas pembinaan tenaga guru.kabupaten maupun provinsi” (27 Maret 2012). Peran kepala sekolah sebagai innovator akan tercermin dari cara-cara ia melakukan pekerjaannya secara konstruktir. Tujuan utamanya adalah bagaimana menggali potensi anak untuk berprestasi baik ditingkat sekolah. Untuk membuktikan kebenaran dari apa yang disampaikan oleh kepala sekolah. Melaksanakan pembaharuan di bidang kegiatan ekstrakurikuler. Dalam wawancara yang dilakukan. Peneliti mewawancarai Yusnani. misalkan datang disekolah tepat waktu bahkan mendahului guru yang lain termasuk ketika pulang. Apa pengembangan. kepala sekolah memang terkenal sangat disiplin. saya upayakan sebagai orang terakhir yang kembali kerumah. adapun bentuk kegiatan riil dan tugas yang telah dilakukan kepala sekolah di atas. Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala Sekolah”Drs Mahmud MM” dinyatakan bahwa: “Semaksimal mungkin. Tujuan utamanya adalah untuk menanamkan keteladanan dan kedisiplinan. c. . rasional dan obyektif. kreatif. adalah : a. menggali sumber daya dari komite. disiplin. Mampu berprestasi di sekolah melalui kegiatan ekstrakurikuler. b. keteladanan. Mendatangkan guru model untuk mengajar pada satu kelas yang dilihat banyak guru adalah salah satu upaya yang saya lakukan untuk memotivasi guru agar lebih inovatif dalam mengajar. beliau menyatakan: “Berbicara tentang masalah kedisiplinan.tenaga kependidikan di sekolah dan mengembangkan model-model pembelajaran yang inovatif. serta adaptabel dan fleksibel. delegatif. Hasil wawancara tersebut di atas menunjukkan bahwa Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Watampone telah melaksanakan fungsinya sebagai innovator di sekolahnya. sebagai salah satu pembina kesiswaan yang dikenal memiliki tingkat kedisiplinan yang tinggi berdasarkan informasi dari beberapa guru yang dimintai informasi tentang siapa guru yang paling rajin dan disiplin dimana sebahagian besar menjawab Yusnani. saya harus menjadi teladan bagi guru yang lain. integratif.

Cuma kami berharap tindakan kepala sekolah hendaknya dibarengi dengan pemberian penghargaan bagi guru yang rajin dan berdedikasi tinggi untuk kemajuan sekolah. Menetapkan prinsip motivasi yang berupa penghargaan dan hukuman Setiap kali membicarakan motivasi. Meskipun demikian tetap ada beberapa orang guru yang sulit untuk datang tepat pada waktunya padahal jam mengajarnya jam 1. mereka ingin bergeser ke tingkat yang lebih tinggi (Hamzah b. penghargaan secara efektif dan penyediaan berbagai sumber belajar melalui pengembangan pusat sumber belajar. Motivasi ini dapat tumbuh melalui pengaturan lingkungan fisik. dorongan. Karena itu rasanya kami malu jika datang terlambat. c. disiplin.(4) . Kepala sekolah Sebagai Motivator Sebagai motivator. Abraham maslow mengemukakan lima tingkat kebutuhan yaitu (1) kebutuhan fisiologis.(3) kebutuhan akan cinta kasih atau kebutuhan sosial.(2) kebutuhan akan rasa aman. Kemampuan mengatur lingkungan kerja (non fisik) kepala sekolah menciptakan hubungan kerjasama sesame guru. pengaturan suasana kerja.yang kepala sekolah lakukan tidak lain untuk menunjukkan sikap keteladanan sebagai seorang pemimpin. UKS dan perpustakaan. hirarki kebutuhan maslow pasti disebut-sebut. Kami juga berharap sikap objektif dan keterbukaan kepala sekolah juga sampai pada tataran penggunaan dana” (28 Maret 2012). Uno. 2006:40). Adapun bentuk kegiatan riil dari masing-masing uraian tugas kepala sekolah di atas adalah : a. b. kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk memberikan motivasi kepada para tenaga kependidikan dalam melakukan berbagai tugas dan fungsinya. antara guru dan masyarakat (orang tua siswa) yang harmonis dan menciptakan rasa aman di lingkungan sekolah. dan mengatur halaman lingkungan sekolah yang sejuk nyaman dan teratur. Hierarki ini didasarkan pada anggapan bahwa pada waktu orang telah memuaskan satu tingkat kebutuhan tertentu. Kemampuan mengatur lingkungan kerja adalah seorang kepala sekolah mampu mengatur ruang kepala sekolah yang kondusif untuk bekerja ruang kelas yang kondusif untuk kegiatan belajar mengajar.

tingkat pembayaran insentif yang tepat bagi orang-orang yang menangani pekerjaanpekerjaan produksi menyebabkan peningkatan produktivitas dan lebih banyak upaya. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan.W. Pak Bachrun Djahidin dan guruguru lainnya terdapat kesamaan pandangan akan kinerja kepala sekolah dalam memberikan penghargaan kepada guru yang sudah bekerja memberikan yang terbaik kepada sekolah. uang merupakan pendorong semangat utama. Zulfadli. Dalam keadaan seperti itu. Berdasarkan hasil wawancara peneliiti dengan beberapa orang guru. kami . “Kepala Sekolah memang sudah bekerja untuk membangkitkan motivasi guru tetapi kami rasakan bentuk penghargaan yang diberikan kepada kami belumlah maksimal.Sukmawati.kebutuhan akan penghargaan dan (5) kebutuhan akan aktualisasi diri. Yang pasti. Seorang pemimpin pada sebuah institusi dalam memperhatikan kinerja pegawainya di dasari oleh berbagai pertimbangan. ibu Harlina. Pak Syamsuddin. Meskipun demikian masih terdapat kelompok-kelompok tertentu yang menganggap motivasi kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja guru dan pegawai belum maksimal terutama dalam bentuk pemberian penghargaan kepada guru-guru yang sudah bekerja maksimal dalam memajukan sekolah.Uno.2006:40) Namun perkembangannya memang berbeda kepada setiap orang dan setiap pekerjaan. Namun kewaspadaan perlu diterapkan untuk memastikan bahwa tidak terdapat perubahan mutu. ibu Hj A. diantaranya bapak Madeaming. Kepala SMP Negeri 4 Khusus sedikit banyaknya telah berhasil dalam meningkatkan kinerja guru terhadap kontribusi mereka untuk mengimplementasikan manajemen berbasis sekolah. F. Orang yang bekerja dengan pekerjaan tangan yang sulit. Pak A. Motivasi kerja guru merupakan hal yang sangat menunjang kinerja guru. Tampaknya pendekatan manajemen ilmiah Taylor sebagian benar. Taylor sebagai seorang tokoh manajemen ilmiah memusatkan perhatian pada sebuah pendekatan bahwa uang merupakan motivasi uatama bagi seseorang yang bekerja (Hamzah b. Kami jujur. biasanya tidak termotivasi oleh pekerjaan itu sendiri.

Mendorong partisipasi bawahan dalam melakukan tugas di sekolah dan bertanggung jawab atas segala kegiatan yang berlangsung di sekolah. baik berupa pujian maupun dalam bentuk material. 4. baik secara langsung maupun tidak langsung dengan selalu mengedepankan prinsip saling menghargai. Adapun bentuk motivasi yang telah diterapkan oleh Kepala SMP Negeri 4 Khusus kepada guru dan pegawai antara lain: 1.karena kami tahu. Kepala sekolah berperan aktif dalam membina dan mengembangkan tugas profesionalisme guru. sehingga guru mapun staf administrasi merasa dihargai. penghargaan yang sifatnya materiil kepada siswa maupun guru bisa diperbaiki dan transparansi pemanfaatan dana baik ke dewan guru maupun ke komite sekolah menjadi lebih terbuka dan akuntabel”(28-3-2012). 3. Dalam melaksanakan tugasnya kepala sekolah menjadikan staf dewan guru sebagai partner dalam melakukan tugas-tugas pembelajaran di sekolah. 2. dana BOS terbesar di Kabupaten Umum adalah SMPN 4 Watampone. Kedepan kami berharap. Bagi guru yang dianggap lalai dalam menjalankan tugasnya sebagai tenaga edukatif yang profesional diberikan teguran. Pembinaan diberikan secara menyeluruh kepada semua guru dengan tidak berpihak pada guru tertentu serta membantu memecahkan masalah yang dihadapi guru bila terdapat kesulitan dalam menyelesaikan tugasnya. Berdasarkan keadaan tersebut maka peran kepala sekolah dalam mengimplementasikan manajemen berbasis sekolah pada bidang motivator telah berjalan secara optimal walaupun untuk kedepannya bentuk penghargaan kepada guru harus lebih ditingkatkan. terutama kepada . Setiap masukan ditampung dengan demokratis. Pemberian penghargaan meskipun belum berjalan optimal tetap dilakukan oleh kepala sekolah. 5. Jika terjadi keberhasilan dan kegagalan bawahan maka itu juga merupakan kegagalan dari kepala sekolah. padahal menurut kami persoalan dana sama sekali bukanlah masalah prinsipil.bekerja dengan ikhlas tetapi kami rasanya berat untuk berbuat terbaik manakala sekolah lain yang jumlah dana BOSnya kecil tetapi bisa melakukan yang terbaik untuk siswa maupun gurugurunya.

guru dan staf tata usaha yang telah mencurahkan waktunya untuk kemajuan sekolah. memahami dan melaksanakan KTSP baik pada dokumen satu maupun pada dokumen dua.2)Apakah administrasi yang dimiliki oleh guru telah lengkap atau belum. Hal ini tercermin dari hasil wawancara dengan ibu A.Hajar sebagai berikut: “Baik dokumen satu maupun dokumen 2 sudah kami pahami dan sudah kami jabarkan dalam kegiatan pembelajaran. Kelengkapan Program Mengajar Adapun yang menjadi fokus penelitian yang dilakukan peneliti berkaitan dengan kelengkapan program mengajar adalah:1)Apakah guru-guru di SMPN 4 Watampone telah memiliki. silabus. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan kepada 24 responden. Dengan demikian Kepala sekolah mampu menerapkan/mengembangkan motivasi infernal dan eksternal bagi warga sekolah. program perbaikan dan pengayaan serta jurnal pembelajaran. termasuk siswa-siswa yang telah berjasa mengharumkan nama sekolah.Muliati dan Ibu A. sedangkan yang harus kami miliki adalah dokumen dua yang berisi semua kelengkapan untuk kepentingan kami sebagai guru dan itu dimiliki oleh semua guru karena kepala sekolah setiap awal semester melakukan pendataan kepada semua guru karena itu sangat berkaitan dengan penilaian kinerja”(28-32012). D. Apabila suasana seperti ini dilakukan kepala sekolah.memahami dan melaksanakan KTSP. seperti RPP. terlalu tebal dan memuat semua komponen mata pelajaran. Untuk dokumen satu tidak kami pegang karena itu menjadi dokumen sekolah. mengindikasikan bahwa tingkat kesadaran guru di SMPN 4 . hampir semuanya menjawab telah memiliki. maka penilaian guru tentang prilaku kepemimpinan kepala sekolah akan senatiasa mengarah pada iklim yang kondusif dan ini akan berdampak pada peningkatan kinerja guru. analisis ulangan harian. Dari jawaban yang diberikan. daftar hadir dan daftar nilai. Serta menerapkan prinsip penghargaan dan hukuman. Kinerja Guru dalam Pelaksanaan MBS pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Watampone (1).

Menurut Pak Amin: “Kendala terbesar yang dialami oleh guru-guru disini adalah lemahnya kemampuan untuk membuat jurnal pembelajaran. KTSP juga dibuat dalam bentuk program semester dan program tahunan dan terjabarkan dalam analisis materi pelajaran dan rencana pembelajaran artinya membuat analisis RPP. membuat program semester. KTSP khususnya pada dokumen 2 perlu dimiliki karena merupakan acuan untuk menyusun program pengajaran semester/tahunan. Salah satu kekurangan terbesar yang dimiliki oleh guru SMPN 4 Watampone menurut hasil wawancara dengan urusan kurikulum dan pengajaran. Wujud dan pelaksanaan dari KTSP menurut hasil wawancara dijelaskan bahwa. Hal ini perlu diperhatikan karena pembuatan jurnal pembelajaran sangat membantu guru untuk memahami setiap batasan materi yang diajarkannya dalam kelas. di samping kurikulum sebagai pedoman sekaligus acuan dalam pembuatan program pengajaran dan pembuatan tes. Kondisi ini harus terus dijaga oleh sekolah khususnya kepala SMPN 4 Watampone.Amin adalah kurangnya kemampuan guru untuk membuat jurnal pembelajaran yang berkaitan dengan tugasnya ketika mengajar dalam kelas. agar tidak keluar . apalagi jika pimpinan tersebut dianggap tidak bisa mengakomodir berbagai kepentingan yang ada di sekolah. KKM serta indikator pembelajaran. karena tanpa kontrol yang rutin khususnya kelengkapan administrasi maka semuanya akan menjadi kacau. Bapak M. Setiap proses pembelajaran perlu dipahami betul RPP yang telah dibuat. Hanya ada beberapa diantara guru yang melakukannya. membuat program tahunan.Watampone sangatlah besar dalam menjalankan tugasnya. Kemungkinan besar mereka tidak membuatnya karena menganggap hal baru dan kurang disosialisasikan serta tidak menjadi bahan evaluasi dari kepala sekolah maupun pengawas yang datang ketika melakukan supervisi akademik maupun manajerial”(29-3-2012). karena terkadang seseorang hanya akan menjadi telaten dalam menjalankan tugas karena tuntutan administratif dan ketaatan yang sesaat kepada pimpinan.

alat/media sumber usaha dan penelitian sehingga kurikulum yang ada betul-betul berbasis kompetensi.dari tujuan yang diharapkan dan wujud pelaksanaannya dituangkan dalam program pengajaran dan persiapan mengajar. analisis pengajaran. kumpulan soal. satuan pelajaran absensi. Bentuk lain dan administrasi yang sudah lengkap yaitu program pengajaran bimbingan penyuluhan persiapan mengajar. persiapan mengajar. bimbingan penyuluhan . buku satuan. Penyusunan KTSP juga merupakan sebagai pedoman. kumpulan nilai buku BP analisis soal. daftar nilai. Bentuk dan persiapan sebelum mengajar itu. menurut hasil wawancara dijelaskan bahwa . persiapan mengajar. kumpulan evaluasi. program pengajaran. disebutkan juga dalam wawancara yaitu program tahunan. Hasil wawancara lain menyebutkan KTSP perlu dimiliki karena merupakan acuan atau menyusun program pengajaran sebagai dasar atau pedoman untuk membuat perencanaan pengajaran. Wujud ataupun bentuk dan lingkupnya administrasi mengajar menurut hasil wawancara dijelaskan bahwa KTSP. daftar nilai dan konseling analisis termasuk jurnal pembelajaran harus dimiliki oleh setiap guru agar pemberian pelayanan yang maksimal kepada anak didik dapat tercapai disamping ada juga program analisis dan rencana perbaikan dan kegiatan pengayaan. analisis materi. Karena kalau mengajar tanpa RPP proses kegiatan belajar mengajar tidak berjalan lancer. GBPP. program semester. Untuk memperlancar hal tersebut maka pemerintah pusat telah menyusun standar kompetensi dan kompetensi dasar agar penyusunan RPP yang akan dibuat dalam proses pembelajaran dapat berjalan maksimal dengan langkah-langkah kegiatan menyiapkan materi metode. petunjuk atau acuan dalam penyusunan program pengajaran dan sekaligus untuk dipedomani dalam pembuatan Tujuan Pembelajaran Khusus yang sekarang dikenal dengan istilah indikator agar dapat memperlancar proses belajar mengajar. analisis materi alat peraga. alat evaluasi. rangkuman materi pelayaran.

Bentuk atau model dan buku daftar nilai siswa menurut hasil wawancara yaitu satu buku diisi sesuai mata pelajaran mencakup nilai ulangan harian. Ada juga persiapan mengajar harian dalam bentuk matriks. kelompok diberi pekerjaan/tugas bentuk bimbingan pribadi Ditambahkan pula oleh responden yang lain. pengamatan. kadang individu kelompok berpasangan dan klasikal diberikan dalam bentuk bimbingan kelompok dan . dibukukan setiap mata pelajaran hal yang sama juga dijelaskan oleh responden yang lain bahwa persiapannya dalam bentuk 1 (satu) kali pertemuan atau di sesuaikan dengan kondisi yang ada. pengamatan portofolio dan sumatif artinya buku itu merupakan satu buku didalamnya terdapat format dan di isi sesuai mata pelajaran tiap semester atau satu buku yang didalamnya terdapat format ulangan harian. kegiatan awal (motivasi. Meliputi inti (penjelasan materi) Tujuan Pembelajaran Khusus. portofolio dan pekerjaan rumah ada juga yang berupa ulangan harian (tertulis) pengamatan.persiapan mengajar dalam bentuk satu kali pertemuan. Ditambahkan lagi bahwa tiap-tiap mata pelajaran dengan bentuk tertulis dan setiap 1 (satu) kali pertemuan di ketahui dan di tanda tangani oleh kepala sekolah. Sumber yang lain menyebutkan bahwa bentuk persiapannya hanya berapa materi dan pola. daftar nilai harian tes hasil belajar hal yang sama juga dijelaskan oleh responden yang lain bahwa buku daftar nilai siswa itu adalah daftar nilai ulangan harian. apersepsi) kegiatan akhir (evaluasi/pegangan) disamping itu ada juga yang berdasarkan KTSP. ada pula yang berdasarkan silabus dibutuhkan permata pelajaran dengan bentuk tertulis. satu kali pertemuan ditanda tangani oleh kepala sekolah. nilai tugas dan portofolio. Bentuk program perbaikan dan pengayaan yang dilaksanakan menurut hasil wawancara dengan responden yaitu dengan bentuk tindakan individu. pekerjaan rumah atau tugas dan ulangan umum. dalam bentuk rencana pembelajaran.

“Ketika supervisi dilakukan. Hal ini terbukti banyak siswa yang terkesan tidak memperhatikan penjelasan guru. Meskipun demikian. Adapun yang menjadi fokus penelitian yang dilakukan peneliti berkaitan dengan kelengkapan penyajian materi pelajaran penguasaan kelas. kegiatan free test dan post test baik sebelum memulai pelajaran maupun setelah melakukan pembelajaran. Sementara itu bentuk penguasaan kelas yang dilakukan oleh guru menurut hasil wawancara yaitu dengan motivasi siswa agar perhatiannya pada pelajaran yang diberikan dan mengupayakan siswa untuk melibatkan diri dalam belajar. Diberikan buku latihan tanya jawab artinya program perbaikan di tujukan terhadap siswa yang mengalami kesulitan baik secara klasikal maupun individu. terdapat kesan guru yang mengajar banyak yang tidak menguasai kelas. Bentuk yang lain yang ditentukan ialah menerangkan dan memberi motivasi serta mengadakan tanya jawab. Dari hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan kepala sekolah. Guru terkesan mengajar seadanya tanpa memperhatikan keterampilan proses yang harus tercapai. c. Hal yang lain yang dilakukan yaitu diberikan penjelasan singkat. mulai dari awal sampai akhir pembelajaran masih ada guru yang tidak menguasai kelas. proses umpan balik dalam setiap pembelajaran. yang sering melakukan supervisi. Persentase dari guru yang bersikap seperti itu tidaklah besar. penggunaan model-model pembelajaran yang bervariatif serta pemanfaatn alat-alat peraga.perorangan. banyak mengobrol dan tidak melakukan proses umpan balik. Salah satu faktor yang menyebabkan proses pembelajaran tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan adalah sikap kepala sekolah yang terkesan agak enggan untuk melakukan koreksi mendalam kepada guru-guru yang hampir memasuki usia pensiun. . Sehingga tidak ada upayua maksimal dari guru yang bersangkutan untuk melakukan koreksi atas pebelajaran yang dilakukannya. kurang aktif. Drs Mahmud MM.2 Penyajian Materi Pelajaran. sementara Persentase dari guru yang mengajar dengan baik jauh lebih besar”(27-3-2012). biasanya hanya dilakukan oleh guru-guru yang mendekati usia pensiun.

Tanpa penguasaan kelas. Meskipun demikian siswa merasa sangat senang dengan cara baru yang dilakukan dalam belajar. keterlibatan kelas hendak diperhatikan dan memberikan motivasi berupa penguatan materi dengan jalan melaksanakan free test dan post test. Kegiatan ini dilakukan agar materi yang telah dipelajari siswa dapat tertanam dengan kuat. 17 orang diantaranya atau sekitar 70. yang penting adalah siswa mau dan terus fokus dalam mengikuti pelajaran.17 persen masih memakai pola lama yang bersifat teacher centered. agar optimal dalam pengajian materi sehingga tercipta pembelajaran PAIKEM demi melahirkan siswa-siswa yang cerdas dan kreatif serta memiliki keimanan karena mereka juga diwajibkan membaca doa atas surah-surah pendek agar mengenal agama mulai dari kecil sesuai dengan hadist bahwa tuntutlah ilmu dan lahir sampai liang lahat. Kondisi ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Bapak Munir.83 persen telah menggunakan model-model pembelajaran yang inovatif dan sangat menyenangkan bagi siswa sehingga siswa antusias dalam mengikuti pelajaran. dari 24 responden yang memberikan jawaban yang ditanyakan peneliti. belum lagi pengaturan tempat duduk dan meja. Kegiatan ini berfungsi untuk memberikan pemahaman materi secara kuat kepada siswa”(28-3-2012). kegiatan post test juga dijalankan. Terdapat 2 jawaban yang berbeda atas penggunaan model model pembelajaran di dalam kelas. dimana proses interaksi berjalan maksimal baik guru dengan . Bahwa: “Penguasaan kelas sangat diperlukan oleh guru untuk mempermudah penerimaan materi pelajaran. Kondisi ini jelas sangat diperlukan seorang guru untuk menguasai kelas. Berkaitan dengan penggunaan model-model pembelajaran. Untuk memancing respon siswa terhadap materi yang diajarkan maka kegiatan free test sudah menjadi rutinitas bagi guru-guru di SMPN 4 begitu pula dengan sebaliknya.Persoalan hasil menjadi standar kedua. karena pengaturan kelompok harus diatur sedemikian rupa. sedangkan 7 orang atau 29. maka tujuan pelajaran yang ingin dicapai menjadi lebih sulit.pembacaan doa memberikan kesempatan kepada siswa untuk ditiru oleh temannya. Ibu Dra Rahmatiah sebagai guru bahasa inggris yang mengajar dengan model pembelajaran yang inovatif berpendapat bahwa: “Waktu yang dipakai dengan penggunaan model pembelajaran yang inovatif terbilang lama.

M.Pd. siswa dengan guru. mengajar bahasa dengan mengajar IPA memiliki ruang pemahaman yang berbeda. serta pak Drs Suryadi. yang mana bahasa inggris. bagaimanapun metode dan model pembelajaran yang coba untuk dijalankan tetap sulit terlaksana. kondisi yang diharapkan terjadi dalam proses pembelajaran adalah kondisi Joyfull Learning atau pembelajaran yang menyenangkan.Usman Abdullah yang diwawancarai tentang penggunaan modelmodel pembelajaran. pada hakekatnya paham . kreatif. siswa dengan siswa. sedangkan IPA lebih menekankan kepada kemampuan anak dalam menguasai dan mengaplikasikan materi. Ilmu-ilmu pasti membutuhkan ketenangan dan keseriusan.Pd. diskusi. suasana hati guru yang mengajar. karakteristik mata pelajaran dan kemampuan untuk menjalankan model pembelajaran itu sendiri. Dalam kegiatan pembelajaran diharapkan guru yang mengajar dapat menerapkan pembelajaran yang aktif. efektif. tetapi lebih banyak karena kondisi psikologis siswa yang diajar”(29-3-2012). gembira dan berbobot atau yang biasa disingkat PAIKEM GEMBROT. ibu Hamansiah S. artinya interaksi ini terjadi agar antara guru dan siswa ada proses pembelajaran yang menyenangkan dan suasana kelas hidup. Sementara itu Bapak H. lebih menekankan kepada kemampuan anak memahami kosakata. Mungkin untuk kelas prestasi model pembelajaran yang inovatif dapat dijalankan. model pembelajaran inovatif menjadi sulit. Dalam MBS.Pd. penggunaan model pembelajaran sangat bergantung kepada kondisi psikologis siswa. Mereka rata-rata berpendapat bahwa: “Ada kelas yang diajar. punya pandangan lain tentang kegiatan pembelajaran yang dilakukannya. pemberian tugas. Bentuk dan interaksi tersebut dapat berbentuk tanya jawab. inovatif. tanya jawab ini biasanya guru dengan siswa. Berdasarkan jawaban yang diberikan oleh guru-guru SMPN 4 watampone. Secara umum dapat dianalisis bahwa guru-guru di SMPN 4 Watampone. Nurfaigah S. sehingga pembelajaran harus lebih didominasi oleh guru. baik bentuk tanya jawab maupun demonstrasi”(27-3-2012). tetapi bagi kelas reguler biasa. terlebih lagi jika materi itu harus dijabarkan dalam bentuk perhitungan. sehingga tidak terasa berjalannya waktu. menyenangkan. Menurutnya. Jadi persoalannya bukan kepada mampu atau tidak mampu.siswa maupun siswa dengan siswa. Pandangan yang sama juga disampaikan oleh guru matematika yang lainnya seperti ibu A.

karena kurangnya bahan/sumber dan kurangnya biaya. hanya memberikan gambar/perumpamaan. Tapi adakalanya.Pd. gambar-gambar pahlawan dan sebagainya jika materi yang diajarkan membutuhkan alat peraga seperti itu. kami tidak memakai alat peraga.dengan apa yang diinginkan oleh MBS untuk jalannya pembelajaran yang pada akhirnya akan menciptakan guru-guru yang kreatif dan diidolakan oleh siswa. kadang ya kadang tidak sebab sulitnya mencari alat peraga yang sesuai dengan materi. mengatakan bahwa: “Ada saat tertentu kami memakai alat peraga. kerajaankerajaan hindu-budha. guru yang mengajar bidang studi IPS. dan diupayakan mudah diperoleh dilingkungan sekolah siswa. Berkenaan dengan penggunaan alat-alat peraga yang dapat membantu pelaksanaan pembelajaran hampir semua responden menjawab telah menggunakan alat-alat peraga baik yang sudah tersedia maupun yang dibuat berdasarkan kreasi siswa. katanya sambil tertawa”(28-3-2012). S. Wujud dan penggunaan alat peraga yang menyatakan “ya” menurut hasil wawancara dijelaskan bahwa alat peraga yang sesuai dengan materi yang dibahas. pembuatan pupuk organik. apakah itu peta. Dan yang paling penting. sistem fermentasi. karena sulit untuk mendapatkan bahan dari materi yang diajarkan seperti batu-batuan yang keluar dari letusan gunung berapi. dan masih banyak lagi yang lainnya. . globe. cerdas Intelektual. Ibu Hj Baraiyyah. baling-baling kertas memanfaatkan energi angin.Pd dan ibu Arniyanti S. Bagaimana mungkin kami memakai alat peraga kalau di bone tidak ada gunung berapi dan bekas kerajaan-kerajaan yang bercorak hindu budha. Senada dengan hasil wawancara diatas yaitu ada materi yang tidak membutuhkan alat peraga seperti masalah pembelajaran pada mata pelajaran sejarah pada rumpun IPS terpadu seperti masuk dan berkembangnya agama hindu dan budha di Indonesia. pembelajaran itu dapat menciptakan manusia-manusia yang berkarakter. termasuk penggunaan buku paket dan buku penunjang yang lainnya. Sementara hasil wawancara lain yang kontra dengan hasil wawancara sebelumnya menyebutkan bahwa. chart. misalnya pemanfaatan sampah untuk daur ulang. Cerdas Spiritual dan Cerdas Emosional.

Sebagaimana yang disampaikan oleh kedua guru tersebut. juga mengurangi peluang mereka untuk saling menyontek.Ag: “Bentuk penilaian yang saya lakukan adalah menguji siswa dengan cara lisan. mereka berpendapat anak-anak menjadi lebih fokus dan sulit untuk saling menyontek. sebagaimana yang disampaikan oleh ibu Dra Pancawati dan Ibu Wardana S. Meskipun agak sulit mengontrol siswa yang belum lisan tetapi dapat mengurangi tingkat kecurangan.5 persen guru menjawab evaluasi yang dilakukannya dengan cara lisan. bukan hanya sekedar teori belaka. Berdasarkan hasil wawancara yang penulis lakukan. Bagi guru yang melaksanakan ujian secara lisan. transparan dan bertanggung jawab. Salah satu karakteristik MBS adalah bagaimana mengajarkan materi siswa dibawah ke pengalaman langsung supaya mereka dapat memaknai. Jika nilainya dianggap sudah memenuhi kriteria ketuntasan maka tidak perlu . Adapun yang menjadi fokus penelitian atas kinerja guru disini adalah:1) Apakah pelaksanaan evaluasi itu dilakukan secara tertulis atau lisan. sudah seharusnya pihak sekolah menyiapkan miniatur atau meminta kepada dinas pendidikan agar segala hal yang berkaitan dengan materi pelajaran sepanjang pengadaannya sulit diadakan di daerah dapat di sediakan langsung oleh pemerintah pusat. serta 4) apakah ada kegiatan perbaikan/remedial bagi siswa yang tidak tuntas dan program pengayaan bagi siswa yang dianggap sudah tuntas. menghayati dan merasakan apa yang dipelajari.3) Apakah hasil pekerjaan siswa setiap kali ulangan dikembalikan atau tidak.5 persen sedangkan 3 orang atau 12. bahwa mereka telah melaksanakan evaluasi baik dalam bentuk tulisan maupun dalam bentuk lisan. tetapi hampir semua responden lebih memilih menjawab mereka melaksanakan evaluasi dengan cara tertulis dengan jumlah guru yang melaksanakan ulangan tertulis sebanyak 21 orang atau sekitar 87. selain lebih mudah memasukkan nilainya siswa. Salah satu indikator dari penilaian kinerja guru dalam tataran MBS adalah bagaimana guru mampu menjalankan fungsinya sebagai evaluator.2) Apakah penilaian kepada siswa itu dilaksanakan secara obyektif. sebanyak 24 responden menjawab ya.

Alasan yang hampir sama juga dikemukakan oleh guru-guru yang tidak mengembalikan pekerjaan siswa yang lebih banyak karena alasan kebersihan. tetapi anakanak tidak punya kepedulian akan apa yang mereka hasilkan. Ibu Harlina S.Pd mengatakan: “Hal tersebut dilakukan. 9 responden atau 37. Rata-rata mereka beranggapan: “Sebelumnya setiap kali ulangan.Pd. . karena itulah saya malas mengembalikan pekerjaan siswa”(30-3-2012. lebih banyak dirobek atau dibuang secara sembarangan. dikarenakan setiap selesai pemeriksaan ulangan. dan Tuhan Yang Maha Esa. Setiap siswa ditanamkan kepercayaan untuk bersikap jujur dan tidak tergantung kepada siapapun. hanya menyebutkan nilainya. disamping itu apabila tidak dilaksanakan penilaian secara obyektif/ transparan dan bertanggung jawab kita tidak bisa membedakan mana murid pintar. Mengenai hasil pekerjaan siswa setelah ujian. berbeda dengan ujian lisan yang terkadang memakan waktu yang cukup lama”(29-3-2012). Selain tidak ribut. Pak Munir S.5 persen tidak mengembalikan tetapi hanya menyebutkan nilainya sedangkan 3 responden atau sekitar 12. Sedangkan ibu Kaerlinda Yusuf. sedang dan kurang sehingga hilanglah angka penilaian disamping itu.dilakukan pengulangan lisan tetapi jika belum maka akan diadakan perbaikan”(29-3-2012). pasti saya mengembalikan hasil pekerjaan siswa. sekaligus pengkoreksian manakala guru keliru dalam memberikan peniaian. masyarakat. sehingga dapat dipertanggung jawabkan baik terhadap orang tua. dan pengawasan yang ketat membuat anak sulit untuk berbuat curang. sebanyak 12 responden menjawab telah mengembalikan ujian kepada siswanya atau sekitar 50 persen. S. agar siswa diperlakukan sama tanpa dibeda-bedakan dan hasil yang didapat siswa harus di ketahui secara jelas agar menjadikan motivasi untuk berbuat lebih baik.Pd menyatakan: “evaluasi yang dilakukan dengan bentuk evaluasi tertulis pada setiap akhir pelajaran dilakukan untuk mengetahui sejauh mana siswa mampu menyerap materi yang diberikan. punya alasan lain mengapa setiap kali ujian hasil pekerjaan siswa tidak dikembalikan ujian kepada siswanya. pekerjaan siswa dikembalikan agar anak-anak dapat mengetahui sejauh mana kemampuannya dalam menyerap materi.Siswa juga merasa sangat senang jika hasilnya memuaskan begitupun sebaliknya”(30-3-2012).5 persen menjawab tidak karena tidak melaksanakan evaluasi tertulis. terlebih jika nilai mereka tidak tuntas. waktu yang diperlukan juga tidak banyak. Sedangkan guru yang melakukan evaluasi dalam bentuk tulisan mempunyai pandangan lain.

yang menangani urusan kurikulum dan pengajaran. “Setiap akhir semester ada laporan yang berkenaan dengan pelaksanaan remedial di sekolah kami. yang dibuktikan dengan adanya analisis ulangan harian yang didalamnya terdapat progran remedial dan pengayaan. menjaga terjadinya silang pendapat antara guru siswa dan orangtua. Dengan demikian semua responden sesungguhnya telah memeriksa pekerjaan siswa meskipun bentuk umpan baliknya berbeda. yang tujuannya untuk mengetahui berapa persen pencapaian target penguasaan kurikulum oleh guru yang bersangkutan sekaligus memantau perkembangan belajar siswa. Menurut Pak Amin.Indikasi ini menunjukkan bahwa guru memiliki tanggungjawab yang teramat besar dalam memantau hasil belajar peserta didik. semua responden menjawab telah melakukan perbaikan dan pengayaan. Hal tersebut juga dilakukan agar siswa dapat mengetahui sampai dimana kemampuan menyelesaikan soal. rata-rata guru di SMPN 4 Watampone telah melaksanakan kegiatan remedial dan pengayaan.Meskipun demikian ada 3 responden yang tidak mengembalikan hasil belajar peserta didik dengan alasan ujian yang mereka lakukan dalam bentuk lisan. Semua itu dilaporkan ke kepala sekolahdan komite agar ada umpan balik baik dari sekolah sendiri maupun dari masyarakat ”(30-3-2012). Tetapi itu tidak berarti siswa tidak tahu nilainya karena siswa pun tahu akan nilai hasil ujian lisannya setelah semua selesai lisan. Sebagaima Hal tersebut diatas maka program yang berkaitan dengan perbaikan dan pengayaan kepada siswa. Hal tersebut dilakukan karena siswa dapat puas dengan pekerjaannya dan dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan ketika menjawab soal-soal serta siswa yang terbelakang diberi tugas yang sejenis. selain harus disampaikan ke pihak sekolah juga harus di sampaikan ke orang tua siswa agar anak tersebut mendapat perhatian orang tua dalam hal turut membantu di . Mengenai tindak lanjut dari kegiatan perbaikan yang dilakukan apakah dalam bentuk remedial maupun pengayaan. Wawancara lain menyebutkan supaya ada umpan balik antara guru dengan murid guru dengan orang tua dan orang tua dengan anaknya.

Muh Palesangi MH. Ketika itu kami sepakat akan visi. siswa dan orang tua bahwa ada upaya bimbingan dan penyuluhan yang dilakukan. Partisipasi Dalam Perencanaan Sekolah Adapun yang menjadi fokus dalam penelitian yang menyangkut peran serta masyarakat dalam pelaksanaan MBS terutama yang berkaitan dengan partisipasi dalam perencanaan sekolah. meliputi:1) Apakah masyarakat dilibatkan dalam merumuskan Visi. Bapak Drs H. sebagian besar responden yang diwakili oleh pengurus komite sekolah menyebutkan bahwa mereka jarang dilibatkan dengan hal-hal yang dimaksud padahal seharusnya sekolah dalam hal ini kepala sekolah sebagai penentu kebijakan mengundang tokoh-tokoh masyarakat untuk dilibatkan aktif dalam perencanaan sekolah.sasaran dan tujuan yang akan dicapai oleh SMPN 4 watampone. Peran Serta Masyarakat dalam Pelaksanaan MBS pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum (1). Kami tidak tahu apakah Visi. agar ada umpan balik antar Kepala Sekolah.Sasaran maupun tujuan telah mengalami perubahan atau tidak. agar ada saling pengertian antara kepala sekolah maupun orang tua siswa sehingga prinsip saling mempercayai tetap terpelihara antar warga sekolah. Misi. “Kami memang pernah diundang ketika penyusunan RAPBS berapa tahun yang lalu bersama beberapa anggota komite sekolah lainnya.2) Apakah masyarakat memberikan usul.rumah dalam membimbing anaknya sendiri. E.misi. Sasaran dan Tujuan. Misi.A. tetapi setelah itu kami sangat jarang diundang untuk berpartisipasi dalam perencanaan sekolah. Hal ini didasarkan dari pendapat ketua Komite sekolah. saran dan pertimbangan terhadap rencana pengembangan sekolah. Misi .3) Apakah masyarakat diundang dalam rapat komite di sekolah dan 4) Apakah kebijakan sekolah sudah sesuai harapan masyarakat atau belum. sasaran dan Tujuan sekolah. Meskipun demikian kami tetap diundang oleh pihak sekolah manakala ada kegiatan yang bersifat ceremonial atau . Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa orang tua siswa yang menyangkut tentang peranan mereka dalam merumuskan Visi.

supaya dibenahi/diadakan tempat parkir kendaraan motor bagi guru/pegawai. banyak yang akan mereka usulkan. Selain membutuhkan biaya. kegiatan ekstrakurikuler ditingkatkan. ada juga masyarakat yang acuh tak acuh tidak memberikan usul. informan kunci yang menjadi sumber informasi dalam penelitian ini juga mengatakan jarang sekali dilibatkan. sasaran maupun tujuan sekolah. sarana dan prasarana olah raga. jangan terlalu banyak tugas/ pekerjaan rumah yang diberikan kepada anak setiap hari agar ada waktunya bermain. kegiatan olahraga di SMPN 4 Watampone tidak dilakukan di dalam sekolah melainkan diluar sekolah. saran dan pertimbangan kepada sekolah dengan alasan usul ataupun saran yang dimasukkan tidak direspon atau karena sekolah dianggap kurang perhatian terhadap rencana pengembangan sekolah. agar anak tidak ngobrol ditempat lain yang tidak bermanfaat.. Masyarakat jarang sekali dilibatkan dalam perumusan visi. kami juga berharap ada fasilitas internet di sekolah sehingga anak-anak tidak perlu keluar mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya manakala berkaitan dengan informasi yang sulit didapatkan dalam buku pelajaran”(3-4-2012). agar tugas/pekerjaan rumahnya cepat dikerjakan. Seandainya ada kesempatan ketika mereka dilibatkan dalam pengembangan sekolah. Sebagaimana yang disampaikan oleh Junaedi: “Kami sangat menginginkan agar sekolah bisa memiliki lapangan olahraga. sasaran dan tujuan yang ingin dicapai oleh sekolah Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan ketua komite sekolah yang menyebutkan bahwa mereka jarang dilibatkan dalam perumusan visi. Tapi.saran dan pertimbangan dalam pengembangan sekolah. Adapun usul. Begitupun ketika peneliti menanyakan tentang bagaimana peranan masyarakat dalam memberikan usul. diadakan ruang piket siswa bagian depan sekolah dan sebagainya.keagamaan”(2-4-2012). karena menurut anak kami. juga mengancam keselamatan anak-anak kami dari bahaya kendaraan. saran dan pertimbangan yang sering diberikan oleh masyarakat sesuai dengan hasil wawancara adalah melengkapi sarana dan prasarana pendidikan. misi. diupayakan anak memiliki buku cetak setiap mata pelajaran. misi. Kecuali untuk hal-hal tertentu mereka selalu diundang oleh pihak sekolah. tidak .

Selanjutnya mengacu kepada pertanyaan yang keempat tentang apakah kebijakan yang dibuat sadah sesuai dengan harapan masyarakat atau belum. memilih pengurus. program partisipasi komite terhadap program sekolah. Mardiana. kami percaya sepenuhnya akan kebijakan yang dibuat dan sudah pasti kami bisa menerima. termasuk diantaranya pemanfaatan dana BOS.. Partisipasi Dalam Perencanaan Program Sekolah . Penyusunan RAPBS. Rapat komite itu sendiri. dan kasmawati dan beberapa responden lainnya berpendapat bahwa: “Sekolah pasti sudah punya agenda dan kebijakan yang relevan dengan kemajuan anak-anak kami. menurut wawancara dengan responden isinya menyangkut berbagai kebijakan-kebijakan yang akan dilakukan oleh sekolah. bukan hal yang kami permasalahkan”(5-4-2012) (2). senang atau tidak. dari 24 responden sebagai perwakilan komite hampir semua pernah hadir dalam mengikuti rapat komite antara pengurus komite sekolah dengan pihak sekolah. Dari 24 responden dalam hal ini yang diwakili oleh informan kunci mengatakan kebijakan sekolah yang dibuat tentu didasari oleh pertimbangan pihak sekolah untuk kepentingan siswa dan warga sekolah. tapi ada juga masyarakat tidak terlibat didalamnya. Sejalan dengan hal tersebut. meminta bantuan untuk meningkatkan mutu pendidikan. ada juga masyarakat yang menyatakan kami selaku orang tua tidak perlu mencampuri urusan kebijakan yang dibuat sekolah karena kami percaya sekolah memiliki orang-orang yang dapat diandalkan untuk membuat kebijakan demi kemajuan sekolah yang artinya penyusunan RAPBS. rencana kerja.masuk menjadi pengurus komite sekolah. penyusunan berbagai program sekolah yang akan dibicarakan bersama pengurus komite melalui rapat pengurus komite sekolah dengan dewan guru. Persoalan puas atau tidak. ibu masradia. Sementara mengacu kepada pertanyaan mengenai kehadiran mereka dalam rapat yang pernah diadakan di sekolah.

masalah keamanan.Pd: “Kebanyakan masyarakat tidak ikut terlibat aktif dalam memberikan sumbangan pemikiran dan tenaga karena kurangnya informasi yang disampaikan pihak sekolah kepada mereka.Adapun yang menjadi fokus pengkajian dalam partisipasi masyarakat dalam perencanaan program sekolah meliputi (1) Sumbangan pemikiran dan tenaga (2) Pengawasan pelaksanaan kebijakan dan program sekolah. Ini semua disebabkan karena pendekatan yang dilakukan oleh ketua komite”(4-4-2012).5 persen sedangkan yang menyatakan “tidak” sebanyak 15 orang atau dengan Persentase 62.17 persen sedangkan yang menjawab “tidak” sebanyak 17 orang atau dengan Persentase sebesar 70. padahal orang tua siswa banyak yang sangat potensial untuk memberikan gagasan yang dapat meningkatkan mutu pendidikan.83persen. Menurut bapak A. pengadaan tempat parkir kendaraan motor bagi guru/karyawan. Meskipun demikian ketidakterlibatan masyarakat dalam memberikan sumbangsih pemikiran dan tenaga tidak mempengaruhi mereka untuk tetap berpartisipasi aktif. membantu menyusun proposal Life Skill. Sumbangan Pemikiran yang diberikan menurut hasil wawancara adalah kebersihan sekolah. Selanjutnya dari hasil wawancara yang dilakukan dengan responden tentang pengawasan pelaksanaan kebijakan dan program sekolah menunjukkan jumlah responden yang menjawab “ya” untuk ikut serta mengawasi pelaksanaan kebijakan dan program sekolah sebanyak 7 orang atau dengan Persentase 29. penataan sarana dan prasarana sekolah. Mallaloang SH” “Masyarakat banyak yang tidak berpartisipasi aktif dalam melakukan pengawasan terhadap .5persen. perbaikan lingkungan. tidak masuk pengurus komite sekolah tidak pernah dimintai untuk memberikan pemikiran oleh sekolah itu. dan pengadaan ruang piket siswa bagian depan sekolah. karena kurangnya komunikasi antara masyarakat dengan kepala sekolah. Sedangkan yang tidak memberikan pemikiran. Menurut bapak Drs Syahruddin M. menurut hasil wawancara. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan responden sebanyak 9 responden menyatakan “ya” dalam memberikan sumbangan pemikiran dan tenaga atau dengan Persentase 37.

dalam pelaksanaan manajemen berbasis sekolah unsur masyarakat dipandang sebagai unsur yang penting mendukung keberhasilan sekolah (Stakeholder) olehnya itu upaya keterlibatan masyarakat dalam organisasi sekolah telah dilembagakan dalam bentuk komite sekolah. Pelaksanaan manajemen berbasis sekolah dengan orientasi mewujudkan pendidikan yang bermutu tinggi. maka diperlukan sumber daya bermutu tinggi pula. Bahkan orangtua siswa sudah mempercayai peranan komite sebagai wakil dari orang tua di sekolah. karena program dan kebijakan tidak disampaikan secara tertulis kepada mereka”(5-4-2012). Ketidakaktifan masyarakat untuk melakukan pengawasan disebabkan karena faktor kesibukan. Berdasarkan temuan pada lokasi penelitian bahwa kualitas sumber daya pendidikan dimana kualitas guru dapat dilihat berdasarkan golongan berada pada kategori tinggi yaitu diatas 50 persen golongan tiga dan tingkat pendidikan mayoritas guru sudah berada pada jenjang pendidikan strata satu sementara upaya guru dan pihak sekolah terhadap peningkatan kualitas guru masih terus dilaksanakan.pelaksanaan kebijakan dan program sekolah karena lebih mempercayakan kepada pengurus komite yang dianggap dapat mewakili semua kepentingan mereka. leader. innovator dan motivator. Pelaksanaan manajemen berbasis sekolah sangat berkaitan dengan peningkatan kinerja kepala sekolah dimana kewenangan yang tinggi terhadap berbagai tugas dan fungsi kepala sekolah seperti: kepala sekolah sebagai educator. karena tidak menjadi pengurus komite. administrator. Pemberdayaan masyarakat terhadap organisasi sekolah baik dalam fungsinya sebagai pengawasan pengelolaan dan pengembangan sekolah juga partisipasi mereka secara material. berdasarkan hasil penelitian dapat berjalan lebih baik. Selanjutnya. supervisor. manajer. Kedua faktor tersebut yaitu tingkat pendidikan dan golongan signifikan dengan kematangan/pengalaman bagi profesi sebagai guru. tingkat pendapatan dan jenis . Berdasarkan temuan penelitian bahwa tingkat partisipasi masyarakat lebih banyak ditentukan oleh berbagai faktor-faktor seperti tingkat pendidikan.

Tingkat pendidikan berkaitan dengan kemampuan masyarakat berinteraksi dengan organisasi sekolah mengakibatkan pemahaman masyarakat yang berbeda-beda terhadap pengetahuan berlembaga (komite sekolah). hasil penelitian menunjukkan bahwa dan ketiga jenis pekerjaan yang dianalisis keterlibatan pensiunan dan profesi wiraswasta menduduki tingkat partisipasi yang lebih tinggi dibanding pegawai negeri sipil. Dan faktor latar pekerjaan berkaitan dengan waktu dan kesempatan yang berbeda-beda signifikan terhadap tingkat partisipasi masyarakat berperan aktif dalam komite sekolah. baik kehadiran pada pertemuan rutin maupun gagasan dan pemikiran terhadap pengembangan sekolah. menyangkut hal berkaitan dengan sumbangan material secara umum juga tidak menunjukkan perbedaan yang menjolok. pertama optimalisasi kinerja kepala sekolah yang memegang . Sedang tingkat pendapatan masyarakat yang berbeda tidak menunjukkan tingkat partisipasi masyarakat yang menjolok. bahwa keterbukaan pihak pengelola sekolah terhadap program-program yang direncanakan memberikan informasi kepada masyarakat baik sebagai orang tua murid maupun masyarakat sebagai bagian dari lingkungan sekolah memberikan kesempatan bagi pihak wiraswasta berperan serta dalam mendukung pengembangan sekolah. Menurut pengamatan peneliti bahwa tingkat pendidikan masyarakat signifikan dengan tingkat partisipasi mereka. Menurut keterangan dan salah seorang responden yang berprofesi sebagai wiraswasta. hal ini menunjukkan bahwa gagasan-gagasan pemikiran dalam rangka pengembangan sekolah terdapat kecenderungan diwarnai oleh mereka yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi.pekerjaan. Selanjutnya bahwa dalam pelaksanaan manajemen berbasis sekolah ketiga unsur disebutkan sebelumnya yaitu.

peranan penting terhadap keberhasilan sekolah, kedua kinerja guru dalam proses belajar mengajar yang berhubungan langsung dengan peserta didik sebagai sasaran pendidikan dan ketiga sumber daya masyarakat yang berhubungan dengan unsur pendukung (stakeholder) dalam upaya pengembangan sekolah. Untuk lebih jelasnya ketiga unsur tersebut akan dibahas secara rinci sebagai berikut: 1. Kinerja kepala sekolah Kinerja kepala sekolah sangat erat kaitannya dengan model manajemen yang diterapkan pengembangan modal manajemen berbasis sekolah yang relatif masih baru memperlihatkan hasil cukup memuaskan terhadap kinerja kepala sekolah. Peran Kepala Sekolah di mana sebelumnya harus mengikuti petunjuk dan instansi vertikal sampai pada masalah-masalah teknis kini telah mengalami perubahan-perubahan mendasar dengan reorientasi pada kemandirian sekolah di mana kewenangan disertai dengan tanggung jawab yang tinggi terhadap pengembangan sumber daya sekolah. Pada dasarnya Kepala Sekolah memiliki potensi yang cukup tinggi untuk berkreasi dan meningkatkan kinerja, namun banyak faktor yang menghambat mereka dalam mengembangkan berbagai potensinya secara optimal. Olehnya itu melalui manajemen berbasis sekolah para kepala sekolah dapat melaksanakan pembinaan secara kontinu dan berkesinambungan dengan program yang terarah dan sistematis terhadap para guru dan personil pendidikan lain di sekolah. Berkaitan dengan hal tersebut dalam rangka mengimplementasikan paradigma pendidikan baru, seperti Manajemen Berbasis Sekolah. Program pembinaan guru dan personil pendidikan tersebut yang lazim disebut supervisi pendidikan sebagai suatu rangkaian kegiatan

manajemen pendidikan di mana peran kepala sekolah sebagai supervisi pendidikan memperlihatkan hasil cukup memuaskan. Kompetensi Kepala Sekolah diperoleh melalui

pendidikan/latihan yang mengandung muatan akademik/ teoritik dan praktik sangat mendukung kinerja kepala sekolah yang bersifat rasional dalam pelaksanaan tugas-tugas pendidikan, dan kompetensi tersebut sudah merupakan persyaratan sebagai jabatan kepala sekolah. Kepala sekolah sebagai administrator pendidikan harus memenuhi fungsi dasar kepala sekolah, yakni program instruksional, kepegawaian kesiswaan, sumber-sumber fisik dan finansial serta menjalin hubungan kerjasama masyarakat yang dinilai berjalan cukup baik, walaupun dalam hubungan dengan fungsi tersebut kepala sekolah pada umumnya lebih menekankan aspek manajerial dan kepemimpinan. Pemahaman terhadap berbagai undang-undang pendidikan/ peraturan sekolah berdampak pada peran kepala sekolah sebagai administrator sekolah dalam pengembangan program, kurikulum atau pengajaran, administrasi kesiswaan, administrasi perlengkapan administrasi keuangan, administrasi kepegawaian dan hubungan sekolah dengan masyarakat dapat pula berjalan dengan baik. Dalam hal ini kepala sekolah menggunakan prinsip pengembangan dan pendayagunaan organisasi secara kooperatif dan aktivitas melibatkan keseluruhan personil dan sumber daya masyarakat sekitar. Selanjutnya, mengetahui bahwa sekolah sebagai suatu organisasi pendidikan formal merupakan wadah kerjasama sekelompok orang yang terdiri atas guru, staf, kepala sekolah dan siswa kepala sekolah sebagai pemimpin pemegang tugas kelembagaan dan pencapaian tujuan organisasi sekolah. inisiatif kepala sekolah dalam menyesuaikan sumber daya sekolah, pengorganisasian aktivitas-aktivitas kerja untuk mencapai sasaran-sasaran dilakukan melalui suatu tim kerja. Sedang kepala sekolah sebagai motivator lebih cenderung masih kurang profesional terhadap berbagai tugas-tugas di luar jam kerja guru dengan secara finansial, sebab bagaimanapun orang yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi selalu melihat hubungan antara usaha/kegiatan dengan hasil yang diperoleh. Kinerja

kepemimpinan kepala sekolah yang efektif dalam MBS dapat dilihat berdasarkan kriteria berikut: 1. Mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik, lancar, dan produktif. 2. Dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. 3. Mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan. 4. Berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain disekolah. 5. Bekerja dengan tim manajemen

2. Kinerja guru dalam pelaksanaan Proses Belajar Mengajar Kualitas sumber daya guru secara nyata dapat dilihat pada bagaimana proses pendidikan itu berlangsung dengan baik sehingga output pendidikan dapat secara maksimal dicapai. Dalam kaitannya dengan penelitian ini difokuskan pada pelaksanaan Proses Belajar Mengajar. Proses Belajar Mengajar merupakan input pendidikan yang menentukan output pendidikan yang berkualitas yang sangat berkaitan dengan unsur-unsur seperti kelengkapan program mengajar, penyajian materi pelajaran, evaluasi dan analisis hasil belajar siswa, serta program perbaikan/pengayaan. Dalam hubungannya dengan penelitian ini dilihat sebagai aspek utama dalam rangka pelaksanaan manajemen berbasis sekolah pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum. Pelaksanaan proses belajar mengajar berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa unsur-unsur seperti kelengkapan program mengajar, penyajian materi, evaluasi dan analisa,

Sedangkan unsur perbaikan dan pengayaan masih berada dalam kategori rendah. Dengan demikian. seperti perkembangan kejiwaan anak. Dengan otonomi guru yang lebih tinggi dalam proses belajar mengajar menciptakan iklim yang kondusif terhadap organisasi sekolah. Tingginya penilaian responden terhadap pelaksanaan proses belajar mengajar ditunjukkan oleh keterangan salah seorang guru bahwa selama ini perumusan materi pengajaran lebih banyak bersifat konseptual. dan rancangan tersebut memberikan kewenangan penuh kepada guru. . sekarang dituntut lebih aktif menemukan metodemetode yang sesuai. di mana bahwa hubungan antar sesama guru. Faktor lain yang sangat signifikan dimana proses belajar mengajar berlangsung dengan baik ditunjang dengan infrastruktur sekolah yang cukup memadai seperti ruang belajar. buku paket/buku penunjang. antar guru dengan pimpinan sekolah lebih banyak bersifat pelaporan dan koordinasi mengenai hasil yang dicapai.secara umum berada dalam kategori tinggi.Tingginya penilaian terhadap responden terhadap proses belajar mengajar berdasarkan hasil penelitian pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum selanjutnya akan dibahas pada bagian berikut: a. Demikian pula kelengkapan administrasi guru mengajar di kelas seperti absen. sehingga proses belajar mengajar guru yang sebelumnya bersifat subyektif terhadap murid. Kelengkapan program pengajaran Program pengajaran bagi guru dalam menggunakan silabus secara berkesinambungan mulai pada tahap penyusunan sampai pada tahap pelaksanaan pengajaran di kelas sehingga murid sebagai sasaran pengajaran menerima materi secara sistematis. buku keterampilan dan buku nilai harian yang setiap saat guru dapat menggunakan sebagai bahan evaluasi sementara dalam kelas untuk melihat dan memahami perkembangan kemampuan belajar peserta didik.

olehnya itu disamping guru menguasai materi pelajaran juga memiliki kemampuan dalam mentrasformasi materi baik dalam fungsinya berperan utama sebagai media maupun sebagai motivator dalam penyajian materi pelajaran di kelas. digunakan secara terpadu komperatif dalam penyajian mata pelajaran. Penyajian materi pelajaran merupakan unsur pokok dalam proses belajar mengajar di mana unsur berkaitan langsung guru berinteraksi dengan peserta didik dalam kelas. Penyajian materi pelajaran. Hal ini akan menunjang siswa belajar kreatif dan innovatif pada jenjang sekolah menengah pertama. Dalam strategi belajar dan pembelajaran guru mampu memahami dan mengelola kelas dalam pengertian bahwa penyajian materi pelajar tidak kaku atau fleksibel (infrovisasi) sehingga respon peserta didik berkesan menyenangkan menerima materi pelajaran. c. tanya jawab ceramah. b. Unsur evaluasi dan analisis hasil belajar siswa Berkaitan dengan evaluasi dan analisis hasil belajar terhadap kesinambungan dan berbagai kegiatan proses belajar mengajar dimana guru bersikap obyektif. Kegiatan evaluasi dilakukan secara berkala. teratur serta pembukuan hasilnya sampai pada tahap pelaporan hasil evaluasi murid setiap semester yang akan digunakan baik untuk kebutuhan internal sekolah sekaligus sebagai bahan laporan pendidikan.perpustakaan dan fasilitas-fasilitas ekstra kurikuler seperti alat-alat kesenian dan olahraga. demonstrasi (disertai alat peraga/alat bantu). d. Program perbaikan dan pengayaan Berdasarkan temuan penelitian bahwa program perbaikan dan pengayaan masih berada . transparan dan bertanggung jawab sehingga hasil belajar yang diperoleh murid merupakan data pokok yang dapat dijadikan rujukan untuk perbaikan dimasa akan datang. Guru diperkaya dengan penggunaan berbagai metode seperti diskusi.

transparansi terhadap proses pelaksanaan pendidikan. walaupun rancangan program perbaikan dan pengayaan dimiliki oleh setiap guru namun pada tingkat pelaksanaannya hanya sebagian kecil dilakukan oleh guru. sehingga guru cukup merasa puas dengan prestasi anak didik mereka. Menurut pengamatan peneliti bahwa kegiatan ini tidak sepenuhnya berjalan. Partisipasi masyarakat Partisipasi masyarakat yang dilembagakan dalam bentuk komite sekolah untuk menjamin akan adanya akuntabilitas. pada hal sasaran utama program perbaikan dan pengayaan adalah pendalaman materi pelajaran kepada murid secara keseluruhan. Berkaitan dengan perbaikan dan pengayaan menunjukkan bahwa masih ada sebagian guru beranggapan hanya ditujukan kepada murid yang kurang berprestasi. Berdasarkan hasil penelitian keempat unsur tersebut. Olehnya itu masyarakat sebagai stekhoulder sekolah dituntut keterlibatannya mulai pada tahap perencanaan program. 3. pelaksanaan program. Partisipasi masyarakat dalam perencanaan program sekolah . diakibatkan pada dua hal yaitu prestasi keseluruhan murid memperlihatkan hasil yang memuaskan. dan unsur yang lain yaitu peran serta masyarakat dalam monitoring dan evaluasi tergolong sangat rendah ketiga unsur tersebut akan dibahas pada bahagian berikut: a.dalam kategori rendah. Seorang guru memberikan keterangan dan hasil wawancara peneliti program perbaikan dan pengayaan tidak dapat dilaksanakan dengan baik dimana anggaran yang disediakan tidak cukup memadai padahal waktu yang digunakan untuk memberikan materi pengulangan cukup lama dan juga menggunakan biaya pembuatan materi. monitoring sampai pada tingkat evaluasi hasil yang dicapai. Dari program perbaikan dan pengayaan berkaitan dengan anggaran yang disediakan masih relatif rendah serta keterbatasan waktu oleh guru. yaitu peran serta masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan program sekolah berada dalam kategori sedang.

b. visi. Peran serta masyarakat mendukung material pembangunan sekolah yang disponsori melalui komite sekolah termasuk sumbangan secara sukarela cukup besar namun di dalam pembiayaan operasional sekolah/rutin siswa bagi . saran dan pendapat yang dominan mewarnai rapat-rapat antara komite dan pihak pengelolah sekolah sedang pada tingkat pengambilan keputusan masih sering terjadi salah pengertian. pemahaman masing-masing masyarakat yang duduk pada organisasi komite sekolah yang relatif masih baru ini. sasaran. Keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan program sekolah seperti pemberian sumbangan tenaga. Menurut pengamatan peneliti bahwa masyarakat belum dapat menempatkan diri sepenuhnya sebagai mitra yang diperlukan oleh pengelola sekolah sampai pada tahap perencanaan program sekolah. tujuan dan program sekolah dan pemberian informasi/data yang diperlukan sekolah.Keterlibatan peran serta masyarakat dalam perencanaan sekolah pada kegiatan yang bersifat akademik. Hanya jika hal itu bersifat usul. pengadaan sarana/prasarana sekolah dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan sekolah seperti pembangunan pagar dan pembangunan sarana lainnya berdasarkan hasil penelitian berada dalam kategori tinggi. Hal ini dapat dilihat pada konteks perumusan misi. Partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program sekolah. visi. sasaran. Hal ini ditunjukkan oleh rendahnya peran serta masyarakat pada kegiatankegiatan seperti perumusan misi. tujuan dan program sekolah dan pemberian informasi/data yang diperlukan sekolah belum menunjukkan peran serta masyarakat yang berarti. materi/uang. Menurut keterangan seorang kepala sekolah. belum ada persepsi yang sama dan tugas masing-masing masih cenderung tumpang tindih dan masyarakat lebih terkonsentrasi kepada masalah-masalah pengelolaan anggaran sekolah. masih terdapat anggapan bahwa masyarakat hanya berfungsi sebagai donatur dalam rangka pembangunan sekolah.

Seorang kepala sekolah memberikan keterangan berdasarkan hasil wawancara peneliti bahwa dukungan dana masyarakat diluar dan sumbangan komite (sumbangan sukarela) sangat bermanfaat membantu memperkuat pos-pos anggaran yang masih memerlukan dana tambahan secara terus menerus seperti pergantian dan penambahan alat peraga sekolah yang berkembang terus menerus sesuai dengan kebutuhan sekolah. namun pada tingkat pengawasan terhadap pelaksanaan dan pengadaannya peran serta masyarakat masih sangat minim. Berdasarkan hasil penelitian bahwa peran serta masyarakat dalam monitoring dan evaluasi pelaksanaan programprogram sekolah masih berada dalam kategori rendah.mereka yang kurang mampu dibiayai oleh Dana BOS (Dana bantuan Operasional) Sekolah. Pada kegiatan ekstrakurikuler seperti pekan olahraga dan kesenian dalam rangka perayaan hari ulang tahun kemerdekaan. Memantau perkembangan sekolah belum merupakan perhatian khusus bagi masyarakat baik yang bersifat non fisik seperti pengawasan proses yang belajar mengajar/perkembangan prestasi anak didik di sekolah maupun bersifat fisik seperti bantuan pembangunan dan peralatan sekolah. Partisipasi masyarakat dalam monitoring dan evaluasi sekolah Partisipasi masyarakat dalam monitoring dan evaluasi merupakan hal yang prinsipil dalam pelaksanaan pengawasan program sekolah sebagai hasil kebijakan yang telah diputuskan secara bersama baik bagi pihak pengelola sekolah maupun masyarakat secara khusus sebagai perwakilan masyarakat yang berada dalam komite sekolah (dewan sekolah). dukungan masyarakat tetap ada untuk dapat meringankan anggaran program sekolah lebih efektif membiayai yang lebih penting. c. Hal tersebut dikemukakan oleh seorang responden sebagai anggota dalam organisasi . Jikapun secara temuan penelitian sebelumnya bahwa tingkat partisipasi masyarakat cukup tinggi material dalam sumbangan pembangunan sekolah.

Sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan Pemerintah dan seluruh stake halder pendidikan perlu terus melakukan sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan di berbagai wilayah kerjanya. Hal tersebut lebih terfokus lagi setelah diamanatkan dalam Undang-undang Sisdiknas bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui peningkatan kualitas pendidikan kepada setiap jenis dan jenjang pendidikan Pemerintah. Faktor Pendukung Dalam buku Pedoman Manajemen Berbasis Sekolah dikaitkan bahwa keberhasilan pelaksanaan MBS sangat dipengaruhi oleh berbagai fakta. a. gerakan peningkatan kualitas pendidikan dan gotongroyong kekeluargaan.baik faktor internal maupun eksternal.komite sekolah: bahwa masyarakat memang mempunyai tingkat partisipasi yang tinggi secara material terhadap pembangunan sekolah tetapi sangat jarang masyarakat mempersoalkan bagaimana alokasi dana tersebut disalurkan. Gerakan Peningkatan Kualitas Pendidikan Yang Dicanangkan Pemerintah Upaya meningkatkan kualitas pendidikan terus menerus dilakukan. Beberapa faktor pendukung tersebut pada garis besarnya mencakup sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan. Tidak ada penguraian secara rinci sebagai bahan evaluasi organisasi dan komite sekolah walaupun laporan pertanggung jawaban setiap kegiatan tetap ada dan pihak pengelola sekolah dan tidak pernah mendapat tanggapan yang serius baik dan komite sekolah maupun anggota masyarakat yang hadir setiap pertemuan. potensi sumber daya manusia. baik secara konvensional maupun movatif. baik dalam pertemuan-pertemuan resmi maupun melalui orientasi dan workshop. b. A. Faktor Pendukung dan Penghambat Keberhasilan Implementasi MBS 1. organisasi formal dan internal. dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional telah mencanangkan . organisasi profesi serta dukungan dunia usaha dan dunia industri.

d. Musyawarah Kepala Sekolah (MKM). . f. KKM. pada tanggal 2 Mei 2002 c.. Kelompok Kerja Sekolah (KKM). Organisasi Profesi Organisasi profesi pendidikan sebagai wadah untuk membantu pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan seperti Pokjawas. Kondisi ini dapat ditumbuhkembangkan melalui jalinan kerjasama dan keeratan hubungan dengan msyarakat dan dunia kerja. dari Sabang sampai Merauke umumnya telah memiliki organisasi formal terutama yang berhubungan dengan profesi pendidikan seperti Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (Pokjamas). e. Setiap kepala Sekolah harus memiliki perhatian yang cukup tinggi terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Sekolah. Gotong Royong Dalam Kekeluargaan Gotongroyong dan kekeluagaan dapat menghasilkan dampak positif (synergistyc effect) dalam berbagai aktifitas. Kelompok Kerja guru (KKG). Gotongroyong dan kekeluargaan yang membudaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia masih dapat dikembangkan dalam mewujudkan Kepala Sekolah yang profesional. terutama yang berada di lingkungan Sekolah. dan Komite Sekolah. Organisasi Formal dan Optimal Pada sebagian besar lingkungan pendidikan Sekolah di berbagai wilayah Indonesia. Organisasi-organisasi tersebut sangat mendukung MBS untuk melakukan berbagai terobosan dalam peningkatan kualitas pendidikan diwilayah kerjanya. Dewan Pendidikan. Perhatian tersebut harus ditunjukan dalam keamanan dan kemampuan untuk mengembangkan diri dan Sekolahnya secara optimal. Potensi Kepala Sekolah. Kepala Sekolah memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan secara optimal.Gerakan Peningkatan Mutu Pendidikan . menuju terwujudnya visi pendidikan menjadi aksi nyata di Sekolah.

h. serta komitmen dan motivasi yang kuat untuk meningkatakan mutu Sekolah secara optimal. program yang mendukung implementasi.Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Harapan Terhadap Kualitas Pendidikan MBS sebagai paradigma baru manajemen pendidikan mempunyai harapan yang tinggi untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Input Manajemen Paradigma baru manajemen pendidikan perlu ditunjang oleh input manajemen yang memadai dalam menjalankan roda Sekolah dan mengelola Sekolah secara efektif. rencana yang rinci dan sistematis. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). . Input manajemen yang telah dimiliki seperti tugas yang jelas. Forum Peduli Guru (FPG). Harapan tinggi dari berbagai dimensi Sekolah merupakan faktor dominan yang menyebabkan Sekolah selalu dinamis untuk melakukan perbaikan secara berkelanjutan (continous quality improvement). dan telah menyentuh berbagai kecamatan. peserta didik juga termotivasi untuk secara sadar meningkatkan diri dalam mencapai prestasi sesuai bakat dan kemampuan yang dimiliki. Dalam pada itu. serta adanya sistem pengendalian mutu yang handal untuk meyakinkan bahwa tujuan yang telah dirumuskan dapat diwujudkan di Sekolah. Tenaga kependidikan memiliki komitmen dan harapan yang tinggi bahwa peserta didik dapat mencapai prestasi yang optimal meskipun dengan segala keterbatasan sumber daya pendidikan yang ada di Sekolah. ketentuan-ketentuan (aturan main) yang jelas dari warga Sekolah dalam bertindak. dan ISPI (Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia) sudah terbentuk hampir diseluruh Indonesia. Organisasi profesi tersebut sangant mendukung implementasi MBS dalam peningkatan kinerja dan prestasi belajar peserta didik menuju peningkatan kualitas pendidikan nasional g.

serta mampu menciptakan iklim organisasi di Sekolah yang mendukung terjadinya proses belajar mengajar. 2. Kemampuan dalam membiayai pendidikan. b. 2002. Dukungan pemerintah. harapan dan pelibatan diri dalam mendorong anak untuk terus belajar. . faktor ini sangat strategis dalam upaya menentukan mutu dan hasil kerja Sekolah. d. Faktor Penghambat Beberapa hambatan yang dihadapi pihak-pihak berkepentingan dalam penerapan Manajemen Berbasis sekolah (MBS) pada SMP Negeri 4 Khusus yang dapat dianalisis adalah sebagai berikut: 1. Profesionalisme. guru dan pengawas akan sulit dicapai MBS yang bermutu tinggi serta prestasi siswa yang tinggi pula.Pada buku pedoman implementasi manajemen berbasis Sekolah yang diterbitkan oleh Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Jakarta. factor luar yang akan turut menentukan keberhasilan MBS adalah keadaan tingkat pendidikan orangtua siswa dan masyarakat. MBS akan jika ditopang oleh kemampuan professional Kepala Sekolah dalam memimpin dan mengelola Sekolah secara tepat dan akurat. hal yang sangat menentukan tingkat keberhasilan penerapan MBS terutama bagi Sekolah yang kemampuan orang tua/masyarakatnya relatif belum siap memberikan perannya terhadap penyelenggaraan pendidikan. Tanpa profesionalisme kepala Sekolah. Tidak Berminat Untuk Terlibat. serta tingkat penghayatan. Kepemimpinan dan manajemen Sekolah yang baik. Alokasi dana pemerintah dan pemberian kewenangan dalam pengelolaan Sekolah menjadi penentu keberhasilan. bahwa faktor pendukung keberhasilan MBS terdiri dari a. c. Keadaan social ekonomi dan penghayatan masyarakat terhadap pendidikan.

Tidak semua guru akan berminat dalam proses penyusunan anggaran atau tidak ingin menyediakan waktunya untuk urusan itu. Pada saat inilah dewan sekolah mulai terjangkit “pikiran kelompok. Anggota dewan sekolah harus lebih banyak menggunakan waktunya dalam hal-hal yang menyangkut perencanaan dan anggaran. para anggota dewan sekolah kemungkinan besar akan semakin kohesif. Memerlukan Pelatihan. Di sisi lain. kohesivitas itu menyebabkan anggota terlalu kompromis hanya karena tidak merasa enak berlainan pendapat dengan anggota lainnya. 2. Di satu sisi hal ini berdampak positif karena mereka akan saling mendukung satu sama lain. Pihak-pihak yang berkepentingan kemungkinan besar sama sekali tidak atau belum berpengalaman menerapkan model yang rumit dan partisipatif ini. bukan pada halhal lain di luar itu. 3.Sebagian orang tidak menginginkan kerja tambahan selain pekerjaan yang sekarang mereka lakukan. Akibatnya kepala sekolah dan guru tidak memiliki banyak waktu lagi yang tersisa untuk memikirkan aspek-aspek lain dari pekerjaan mereka.” Ini berbahaya karena keputusan yang diambil kemungkinan besar tidak lagi realistis. Pikiran Kelompok. Pengambilan keputusan yang dilakukan secara partisipatif adakalanya menimbulkan frustrasi dan seringkali lebih lamban dibandingkan dengan cara-cara yang otokratis. 4. Mereka kemungkinan besar tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang hakikat MBS sebenarnya dan bagaimana . Mereka tidak berminat untuk ikut serta dalam kegiatan yang menurut mereka hanya menambah beban. Para anggota dewan sekolah harus dapat bekerja sama dan memusatkan perhatian pada tugas. Setelah beberapa saat bersama. Tidak Efisien.

Kebingungan Atas Peran dan Tanggung Jawab Baru. 6. pengambilan keputusan. Kesulitan Koordinasi. Penerapan MBS mengubah peran dan tanggung jawab pihakpihak yang berkepentingan. Perubahan yang mendadak kemungkinan besar akan menimbulkan kejutan dan kebingungan sehingga mereka ragu untuk memikul tanggung jawab pengambilan keputusan.cara kerjanya. Selain itu. kegiatan yang beragam akan berjalan sendiri ke tujuannya masing-masing yang kemungkinan besar sama sekali menjauh dari tujuan sekolah. dan sebagainya 5. semua yang terlibat harus memahami apa saja tanggung jawab pengambilan keputusan yang dapat dibagi. dan pada level mana dalam organisasi. komunikasi. mereka dapat memastikan bahwa setiap hambatan telah ditangani sebelum penerapan MBS. Tanpa itu. Apabila pihak-pihak yang berkepentingan telah dilibatkan sejak awal. Pengalaman penerapannya di tempat lain menunjukkan bahwa daerah yang paling berhasil menerapkan MBS telah memfokuskan harapan mereka pada dua maslahat: meningkatkan keterlibatan dalam pengambilan keputusan dan menghasilkan keputusan lebih baik. Berdasarkan faktor pendukung dan penghambat yang dikemukan diatas maka ada . oleh siapa. Pihak-pihak yang terlibat kemungkinan besar telah sangat terkondisi dengan iklim kerja yang selama ini mereka geluti. Setiap penerapan model yang rumit dan mencakup kegiatan yang beragam mengharuskan adanya koordinasi yang efektif dan efisien. Dua unsur penting adalah pelatihan yang cukup tentang MBS dan klarifikasi peran dan tanggung jawab serta hasil yang diharapkan kepada semua pihak yang berkepentingan. Anggota masyarakat sekolah harus menyadari bahwa adakalanya harapan yang dibebankan kepada sekolah terlalu tinggi.

atau poster tentang rencana kegiatan sekolah. Mengembangkan model program pemberdayaan sekolah. yang lebih banyak dipenuhi dengan pemberian informasi kepada sekolah. transparan. termasuk masyarakat dan orangtua siswa. Alangkah serasinya jika kepala sekolah dan ketua Komite Sekolah dapat tampil bersama dalam media tersebut. pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu melakukan kegiatan bersama dalam rangka monitoring dan evaluasi pelaksanaan MBS di sekolah. 3. Upaya untuk memperkuat peran kepala sekolah harus menjadi kebijakan yang mengiringi penerapan kebijakan MBS. Termasuk membiasakan sekolah untuk membuat laporan pertanggungjawaban kepada masyarakat. leaflet. Membangun budaya sekolah (school culture) yang demokratis. Model pemberdayaan sekolah berupa pendampingan atau fasilitasi dinilai lebih memberikan hasil yang lebih nyata dibandingkan dengan pola-pola lama berupa penataran MBS. dan akuntabel. Peningkatan kapasitas dan komitmen seluruh warga sekolah. Dengan kata lain. 2. termasuk pelaksanaan block grant yang diterima sekolah. Model memajangkan RAPBS di papan pengumuman sekolah yang dilakukan oleh Managing Basic Education (MBE) merupakan tahap awal yang sangat positif. Bukan hanya sekedar melakukan pelatihan MBS. . Juga membuat laporan secara insidental berupa booklet.beberapa Strategi yang dapat diterapkan diterapkan di SMP Negeri 4 Khusus untuk meningkatakan Mutu Pendidikan Melalui Penerapan MBS yaitu : 1.Pemerintah pusat lebih memainkan peran monitoring dan evaluasi.

visi dalam perencanaan dan mekanisme pengawasan dalam pelaksanaan pengelolaan sekolah. kemampuan akademik dan manajerial para pendidik sangat menunjang . administrator supervisor. dukungan dana yang besar yang dapat membiayai berbagai kegiatan baik ekstra maupun intra. Kinerja guru dilihat dari empat aspek yang dinilai yakni kelengkapan program mengajar guru. hal mana menunjukkan bahwa tingkat kreatifitas guru menyusun materi masih sangat terbatas. Kesimpulan Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum diperoleh gambaran sebagai berikut: 1. 4. inovator dan motivator berjalan maksimal.BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Partisipasi masyarakat terhadap pihak pengelola sekolah belum sepenuhnya menunjukkan kerjasama yang baik diakibatkan oleh rendahnya kemampuan akademik masyarakat berorganisasi (komite sekolah) sehingga memiliki keterbatasan berperan aktif dalam kegiatankegiatan yang bersifat akademik seperti. 3. 121 Negeri 4 Adapun faktor pendukung diterapkannya manajemen berbasis sekolah di SMP Watampone antara lain: adanya kerjasama antara kepala sekolah dengan semua pihak-pihak yang ada di sekolah. penyajian materi pelajaran evaluasi dan analisis hasil belajar murid serta program perbaikan dan pengayaan. Dari empat aspek tersebut secara khusus pada program perbaikan dan pengayaan masih terdapat kelemahan-kelemahan seperti penyusunan tes dan materi berulangulang pada masing-masing sekolah. perumusan misi. leader. manajer. 2. Kinerja kepala sekolah terhadap berbagai tugas dan fungsi kepala sekolah seperti kepala sekolah sebagai edukator.

masih ada guru yang bersifat acuh terhadap peningkatan kualitas pendidikan. serta banyaknya peserta didik dengan berbagai karakter menyulitkan untuk pelaksanaan MBS B. Saran 1. Lebih memberikan peluang lebih nyata kepada wakil masyarakat dalam komite sekolah untuk lebih optimal dalam melaksanakan tugas dan fungsinya baik secara teknis maupun secara konseptual sehingga pelaksanaan manajemen berbasis sekolah mencerminkan demokratisasi di bidang pendidikan. Pihak pengelola sekolah perlu melakukan transformasi akademik secara intens dengan masyarakat secara kelembagaan melalui organisasi komite sekolah sehingga pemahaman masyarakat terhadap tanggung jawab keberhasilan sekolah dapat berjalan maksimal. 4. analisis serta pengkajian data dan informasi perlu dilakukan secara terus menerus dan mendalam agar setiap unit kerja di sekolah dapat melaksanakan MBS yang efisien. . wilayah sekolah yang sempit tidak seimbang dengan jumlah siswa yang teramat banyak lebih dari 1000 siswa. 2. kemampuan manajemen tenaga administratif sangat membantu kegiatan ketatausahaan. secara total. Dalam upaya untuk meningkatkan kinerja guru agar menjadi lebih profesional sesuai perkembangan tuntutan pendidikan maka pelaksanaan manajemen berbasis sekolah yang lebih mengedepankan kemandirian pengelolaan sekolah maka pengembangan tugas dan tanggung jawab guru menjadi suatu kebutuhan mendesak dengan terus memberikan pendidikan dan latihan atau bentuk kegiatan lainnya dalam rangka pengembangan profesionalisme guru. Hendaknya dalam meningkatkan efisiensi MBS.dalam proses pembelajaran. sedang yang termasuk faktor penghambat manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Khusus antara lain: Transparansi dan akuntabilitas kepala sekolah belum bersifat terbuka terutama dalam pemanfaatan dana. 3.

5. Agar analisis pengimplementasian MBS menjadi lebih sempurna pada sekolah tingkat dasar, menengah dan lanjutan diharapkan kepada peneliti lain dapat melakukan pengkajian secara mendalam pada dimensi lain dalam MBS, sehingga pelaksanaan MBS tidak lagi menemui kendala di lapangan.

DAFTAR PUSTAKA Abdurrahman. 1987. Beberapa Pemikiran Tentang Otonomi Daerah. Jakarta : Media Sarana Press Abidin, Said Zainal. 2006. Kebijakan Publik. Jakarta. Suara Bebas Abustam, Idrus, Djaali dan Rahman Asfah, M. 1996. Pedoman Praktis Penelitian dan Penulisan Karya Tulis Ilmiah. Ujung Pandang Lembaga Penelitian IKP Ujung Pandang.

Arikunto, Suharsimi, 2002 Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta:Rineka Cipta, Cet ke-12. Bastian, Reza Aulia. 2002. Reformasi Pendidikan. Yogyakarta : Lappera Pustaka Utama. Berkepanjangan, ICW, 2004 Burhanuddin, 1998. Desentralisasi Manajemen Pendidikan. Malang : UNM Danuredjo. 1977. Otonomi Indonesia Ditinjau dalam Rangka Kedaulatan. Jakarta : Penerbit Laras Depdiknas, 2001 MPMBS, Konsep & Pelaksanaan, Jakarta: Dirjen Dikdasmen. Depdiknas. 2001. Peningkatan Mutu Pendidikan di Sekolah Dasar. Jakarta Depdiknas. Dunn, William N. 2003. Pengantar Analisis Kebijakan Publik. Jogjakarta. Gajah Mada University Press Fatah, Nanang, 2003 Konsep Management Berbasis Sekolah dan Dewan Sekolah, Bandung Pustaka Bani Quraisy. Fattah, Nanang, 2000, Ekonomi dan Pembiayaan Pendidikan, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya Fiske, Edward. B. 1998. Desentralisasi Pengajaran. (Terjemahan Ahli Bahasa Basillius Bengoteku). Jakarta: Grasindo. Hasbullah, 2006. Otonomi Pendidikan. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada Imron , Ali. 1995. Kebijakan Pendiikan Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara Jalal, Fasli, Supriadi dan Dedi. 2001. Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah. Yogyakarta : Adi Cita. Kalster, Wayang. 2000. Restrukturisasi Penyelenggaraan Pendidikan (Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Oktober No. 26) Jakarta : Badan penelitian dan Pengembangan Depdiknas. Koesoemahatmadja. 1979. Pengantar ke Arah Sistem Pemerintahan di Daerah di Indonesia. Bandung : Binacipta Lexy J. Moleong, 2002, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya. Mantja, W. 1990. Manajemen Pendidikan dan Supervisi Pengajaran. Malang: Wineka Media Mantja. W. dan Imron. AH. 1998. Manajemen Peserta Didik. Malang, Depdikbud

Mardalis, 1993, Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal, Jakarta: Bumi Aksara. Margono, S. 2000. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta Rineka Cipta Mohrman Susan Albert and Wohlstette Priccilla (1994). School-Based Management, Organizing for High Performance, San Fransisco: Jossey-Bass Publisher. Muhdi, Ali. 2007. Konfigurasi Politik Pendidikan Nasional. Yogyakarta. Pustaka Fahima. Mulyasa, E. 2004. Manajemen Berbasis Sekolah (Konsep, Strategi dan Implementasi) Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Mulyasa, E. 2011. Manajemen Berbasis Sekolah (Konsep, Strategi dan Implementasi) cetakan ketigabelas, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Nasution, S dan Thomas. M. 2001. Buku Penuntun Membuat Tesis, Skripsi Disertasi Makalah. Jakarta: Bumi Aksara. Nugroho, D. Riant. 2000. Otonomi Daerah, Desentralisasi Tanpa Revolusi. Jakarta : PT Elex Media Computindo Nurkholis, Manajemen Berbasis Sekolah, 2004 Teori dan Praktek Bandung: Rosda Pongtuluran, Aris. 1995. Kebijakan Organisasi dan Pengambilan Keputusan Manajerial. Jakarta. LPMP Rutmini dan Juyono. 1999. Manajemen Berbasis Sekolah, Konseptual danKemungkinan Strategi Pelaksanaan. Jakarta : Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas. Saleh, Syarif. 1963. Otonomi dan Daerah Otonom. Jakarta : Penerbit Endang Sidi Indra. Djati. 2000. Kebijakan Penyelenggaraan Otonomi Daerah Bidang Pendidikan. Bandung: PPS UPI. Slamet PH. (2005). Handout Kapita Selekta Desentralisasi Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama, Depdiknas RI. Slamet PH. (2005). Handout Kapita Selekta Desentralisasi Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama, Depdiknas RI Sujanto, Bedjo, Mensiasati Manajemen Berbasis Sekolah Di Era Krisis Yang Suparno, Paul. SJ. 2002. Reformasi Pendidikan (Sebuah Rekomendasi). Yogyakarta: Kanisius Suryono, Yoyon. 2000. Arah Kebijakan Otonomi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah. Yogyakarta. FIP UNY

Tisna. Tentang Sistem Pendidikan Nasional.2006. Jakarta . Uno.R. Rineka Cipta Thoha. 2002. Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta. Efektivitas Kebijakan Pendidikan. Umiarso dan Imam Gojali. Kepemimpinan Dalam Manajemen. Jakarta Sinar Grafika. School Based Management. Pola Pembaharuan Sistem Pendidikan Tenaga Kependidikan di Indonesia dan Pedoman Pelaksanaannya Jakarta Depdikbud. Jakarta: PT Bumi Aksara Wayong J. Yogyakarta Bigraf Publising. 1993 Metodologi Research Jilid I. Syafaruddin. 1989. Miftah. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Membenahi Pendidikan Nasional. Jakarta Sinar Grafika. Amidjaja. Hamzah. Analisis di Bidang Pendidikan. 1995. 22 Tahun 1999. B. Rineka Cipta.Jogjakarta. Asas dan Tujuan Pemerintahan Daerah. Jakarta: Rajawali Tilaar H.Sutrisno Hadi. Jakarta:Penerbit Djambatan Zamroni.A. Manajemen Mutu Sekolah di Era Otonomi Undang-Undang No. Pendidikan. 2000. (2008). 2010. . Undang-Undang No. D. 2008. Yogyakarta: Pascarsarjana Universitas Negeri Yogyakarta. 1979. Zamroni.A. Tentang Otonomi Daerah. 2 Tahun 1989. Paradigma Pendidikan Masa Depan.

JUDUL Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum iv .

Pertama. Dalam MBS. pengurus komite sekolah. atas inisiatif masyarakat. Kata kunci : implementasi. guru. dan menyenangkan (PAKEM) dan peran serta masyarakat (PSM). Hal tersebut lebih banyak disebabkan oleh rendahnya kemampuan masyarakat berorganisasi (komite sekolah) sehingga memiliki keterbatasan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan seperti. Fokus penelitian MBS di SMP Negeri 4 adalah untuk mengetahui implementasi MBS dari pihak manajemen sekolah dalam hal ini kenerja kepala sekolah. Sumber data utama adalah kata-kata dan tindakan dari kepala sekolah. Teknik dalam menggali data adalah melalui pengamatan. Tujuan progam MBS adalah peningkatan mutu pendidikan yang meliputi manajemen sekolah. termasuk faktor pendukung dan faktor penghambatnya. perumusan misi. Ketiga faktor itu antara lain bahwa kebijakan pendidikan kurang memperhatikan proses pendidikan. dan motivator dapat berjalan cukup baik. bahwa pelaksanaan manajemen berbasis sekolah dilihat dari kinerja kepala sekolah berbagai tugas dan fungsinya seperti sebagai manajer. Wakil kepala sekolah. bahwa kinerja guru dinilai melalui aspek-aspek seperti kelengkapan program mengajar. yakni berakar dari masyarakat. sekolah memiliki kewenangan yang lebih besar dalam pengelolaan sekolah. pemimpin. Kedua. Managemen Berbasis Sekolah. administrator. dan peran serta masyarakat terutama orang tua hanya terbatas pada dukungan dana. ada tiga faktor sebagai penyebab mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan secara merata. kinerja guru dan peran serta masyarakat dalam meningkatkan mutu pendidikan. kebijakan. evaluasi dan analisis hasil belajar murid serta program perbaikan dan pengayaan dan Ketiga. penyelenggaraan pendidikan secara sentralistik. wawancara. dikelola masyarakat dan untuk kepentingan masyarakat. dan dokumentasi. bahwa partisipasi masyarakat belum sepenuhnya menunjukkan kerjasama yang baik dengan pihak pengelola sekolah. . Penelitian ini ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran secara umum tentang implementasi manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Khusus. Penelitian ini digolongkan sebagai penelitian deskriftif kualitatif. visi dalam perencanaan dan pengawasan. Hasil penelitian dari tiga unsur pokok menunjukkan. innovator. Dari studi langsung di lapangan. penyajian materi pelajaran. Secara filosofis sekolah yang lebih memahami bagaimana situasi atau kondisi sekolah serta harapan apa yang akan dicapai.v ABSTRAK Manajemen berbasis sekolah merupakan usaha untuk menumbuhkan pendidikan dari bawah. serta tata usaha. supervisor. Dengan adanya manajemen berbasis sekolah ini memberikan kewenangan sekolah untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh lembaga yang bersangkutan. pembelajaran aktif kreatif efektif.

interviews. effective creative active learning. With a schoolbased management gives schools the authority to develop the potential of the institution concerned. and the role of the community especially the elderly is limited to financial support.ABSTRACT School based management is an effort to foster the education of. that the lack of attention to education policy education process. and documentation. administrators of the school committee and administration. school based management. and fun (Active Learning) and community (PSM). vice principals. teachers. vision in the planning and supervision. administrator. In philosophical schools better understand how the situation or condition of the school and what expectations will be achieved. vi . evaluation and analysis of student learning outcomes and program improvement and enrichment and Third. MBS program goal is to improve the quality of education. presentation of subject matter. policy. and can run pretty good motivator.Techniques in exploring the data is through observation. This study aims to gather information about the implementation of school based management at SMP Negeri 4 Khusus. It is more often caused by poor ability to organize the community (school committee) so it has limited participation in such activities. MBS research focus in at SMP Negeri 4 Khusus is to investigate the implementation of MBS from management in this kenerja school principal. innovator. the roots of the community. Keywords: implementation. teacher performance and community participation in improving the quality of education. including the factors supporting and inhibiting factors. including school management. education is centralized. Of studies in the field. managed for the benefit of the community and society. first. The results of three main elements indicate. there are three factors as the cause of the quality of education does not increase uniformly. leader. that public participation has not been fully demonstrated good cooperation with the school management. This study is classified as a descriptive qualitative research. The main data sources are the words and actions of principals. These three factors. supervisor. In MBS. the community initiative. among others. the school has greater authority in managing the school. Second. that the implementation of school-based management be seen from the performance of the principal tasks and functions such as a manager. the formulation of the mission. that assessed the performance of teachers through such aspects as completeness of the teaching program.

................................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN SAMPUL .................. Rumusan Masalah C............................................................................................................. Tujuan Penelitian D. DAFTAR TABEL .......... ABSTRAK ............................. A.............................................................................. HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................................... Kinerja Kepala Sekolah 48 49 34 35 21 F................... Manfaat Penelitian BAB II 8 8 8 10 10 i ii iii v vi vii ix x 1 1 TINJAUAN PUSTAKA .......................... Latar Belakang Masalah ...... PRAKATA ...................................................................... B............................................................................................. ABSTRACT ................ DAFTAR ISI ................................................... Kebijakan Publik Dalam Dimensi Akuntabilitas C.... Kinerja Guru Dalam Proses Belajar Mengajar G......................... DAFTAR GAMBAR ...................... Manajemen Pendidikan D.................................................................................. A.................................................................................................... Desentralisasi Pendidikan............... BAB I PENDAHULUAN ............................ B.............................. Manajemen Berbasis Sekolah E................. Partisipasi Masyarakat 51 .....................................

.. Variabel Penelitian D.. Responden Masyarakat 67 64 64 C..................................... Metode Pengumpulan Data ............ Kinerja Guru dalam Pelaksanaan MBS pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Watampone 86 E.................. Defenisi Operasional Variabel C. Teknik Analisis Data 62 60 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ............ Jenis dan Lokasi Penelitian ..... Kinerja Kepala Sekolah dalam Pelaksanaan MBS pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum 70 D....................................................... Identitas Responden .............. Faktor Pendukung dan Penghambat Implementasi MBS di SMP Negeri 4 Khusus ... Kerangka Pikir 52 vii BAB III METODE PENELITIAN 56 56 A................... A................................................................................. Kesimpulan .... BAB V 113 121 121 KESIMPULAN DAN SARAN-SARAN .......... G.......... ....................................... Populasi dan Sampel 58 58 59 56 F..................................................H. Instrumen Penelitian E............... Peran Serta Masyarakat dalam Pelaksanaan MBS pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum 98 F..... B....................... A..... B......

..........B........ Tabel 4............. Penyebaran responden masyarakat menurut latar belakang pekerjaan .... Penyebaran responden guru menurut tingkat Pendidikan....69 64 65 66 68 69 .2.... Penyebaran responden masyarakat menurut tingkat pendidikan....................... Tabel 4...... Penyebaran responden menurut tingkat pendapatan....4........ Tabel 4..5................... Penyebaran responden guru menurut kelompok umur..........6......... Tabel 4. Karakteristik responden guru berdasarkan pangkat/golongan....3.......... Tabel 4.............1......... Saran-saran 122 viii DAFTAR PUSTAKA 124 DAFTAR TABEL Tabel 4....

.................... 55 x ..ix DAFTAR GAMBAR Gambar 2................1 Sketsa Kerangka Pikir ............................