BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah.

Perkembangan ilmu pengetahuan sangat ditentukan oleh perkembangan dunia pendidikan, di mana dunia pendidikan mempunyai peran yang sangat strategis dalam menentukan arah maju mundurnya kualitas pendidikan. Hal ini bisa dirasakan ketika sebuah lembaga pendidikan dalam menyelenggarakan pendidikan yang benar-benar bagus, maka dapat dilihat kualitasnya, berbeda dengan lembaga pendidikan yang melaksanakan pendidikan hanya dengan sekedarnya maka hasilnya pun biasa-biasa saja. Selanjutnya adanya Perubahan sistem pendidikan nasional, dari undang-undang No.2 Tahun 1989 menjadi undang-undang No. 20 Tahun 2003, merupakan upaya pembaharuan pendidikan kearah peningkatan mutu. Upaya peningkatan mutu beralih menjadi tangggung jawab sekolah dengan diberlakukannya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), sejalan dengan eraotonomi daerah. Banyak konsep pendidikan dalam UU Sisdiknas 2003 yang bernilai filosofis, yang dapat membangun ”Paradigma Baru” pendidikan Indonesia. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, telah semakin meningkatkan tuntunan kebutuhan sosial masyarakat. Pada akhirnya tuntunan tersebut bermuara kepada pendidikan, karena masyarakat meyakini bahwa pendidikan mampu menjawab dan mengantisipasi berbagai tantangan tersebut. Pendidikan merupakan salah satu upaya yang dapat. dilakukan oleh sekolah sebagai institusi tempat masyarakat berharap tentang kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang. Pendidikan perlu perubahan yang dapat dilakukan melalui perubahan dan peningkatan dalam pengelolaan atau manajemen pendidikan di sekolah.

Chapman (1990) dalam Fattah (2003 : 28) menjelaskan bahwa : “Manajemen berbasis sekolah (MBS) sebagai terjemahan dari School Base Management adalah suatu pendekatan politik yang bertujuan untuk meningkatkan, me-redisain pengelolaan sekolah, bertujuan untuk memberikan kekuasaan dan meningkatkan partisipasi sekolah dalam upaya perbaikan kinerjanya yang mencakup guru, siswa, orang tua siswa, dan masyarakat. Manajemen Berbasis Sekolah memodifikasi struktur pemerintahan dengan memindahkan otoritas dalam pengambilan keputusan pemerintahan dan manajemen ke setiap yang berkepentingan di tingkat lokal (local stakeholders)”. Dengan mengalihkan wewenang dalam keputusan dari pemerintah tingkat

Pusat/Kanwil/Kadis ke tingkat sekolah, diharapkan sekolah akan lebih mandiri dan mampu menentukan arah pengembangan yang sesuai dengan kondisi dan tuntunan lingkungan masyarakatnya. Pada pelaksanaannya disadari bahwa mengimplementasikan pemberian kewenangan kepada sekolah melalui pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) memerlukan proses dan waktu. Organisasi berwajah lokal dalam kegiatannya cenderung berdasarkan pada konsensus lewat dialog dan diskusi yang terbuka dan seimbang. Dalam kaitan ini, jabatan Kepala Sekolah yang selama ini ditunjuk oleh pemerintah perlu diganti dengan Kepala Sekolah yang dipilih oleh guru dan kelak apabila masa jabatan sudah habis Kepala Sekolah akan dievaluasi oleh guru pula. Sekolah dengan bentuk organisasi semacam itu akan memungkinkan sekolah sebagai suatu lembaga yang relatif otonom dari kekuatan politik. Kerja Kepala Sekolah beserta staf administrasi tim yang demokratis orang tua murid dilibatkan dalam pelaksanaan

pendidikan sebagai anggota bukan sebagai klien. Dari berbagai problem dan tantangan yang menyertainya, baik secara konseptual maupun secara operasional pelaksanaan model manajemen berbasis sekolah, maka urgensi penelitian ini dilaksanakan untuk mengkaji lebih mendalam pada tingkat aktualisasi realitanya yang lebih riil. Untuk itu, maka muncullah sistem baru yaitu sistem Manajemen Berbasis Sekolah. Konsep

Manajemen Berbasis sekolah (MBS) ini pertama kali muncul di Amerika Serikat. Latar belakangnya ketika itu masyarakat mempertanyakan tentang relevansi dan korelasi pendidikan yang diselenggarakan di sekolah dengan tuntutan kebutuhan masyarakat. Bertitik tolak dari kondisi tersebut, dipandang perlu membangun suatu sistem persekolahan yang mampu memberikan kemampuan dasar bagi peserta didik. Muncullah penataan sekolah melalui konsep MBS yang diartikan sebagai wujud dari reformasi pendidikan yang meredesain dan memodifikasi struktur pemerintah ke sekolah dengan pemberdayaan sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasional. (Sagala, 2004: 17). Sistem Manajemen Berbasis Sekolah merupakan suatu sistem yang menunutut agar sekolah dapat secara mandiri menggali, mengalokasikan, menentukan prioritas, mengendalikan dan mempertanggung jawabkan pemberdayaan sumber-sumber, baik kepada masyarakat maupun pemerintah (Mulyasa, 2006: 24). Pembelajaran berbasis kompetensi menekankan pembelajaran ke arah penciptaan dan peningkatan serangkaian kemampuan dan potensi siswa agar bisa mengantisipasi tantangan aneka kehidupannya. Sehingga orientasi pembelajaran yang selama ini lebih ditekankan pada aspek ”pengetahuan” dan target ”materi” yang cenderung verbalistis berubah menjadi lebih ditekankan pada aspek ”kompetensi” dan target ”keterampilan”. Tujuannya adalah untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Peningkatan mutu pembelajaran merupakan suatu proses sistematis yang dilakukan secara terus menerus dalam meningkatkan kualitas proses belajar mengajar dan faktor-faktor yang berkaitan dengan pembelajaran, dengan tujuan agar menjadi target sekolah dapat tercapai. Keberhasilan pendidikan dengan sistem MBS ini dapat diukur dari indikator-indikator yang meliputi: input, proses, output dan outcome. (Engkoswara, 1988: 54). Pertama, input yaitu diantaranya adalah kualitas guru haruslah profesional dalam pengembangan ide kreativitasnya

outcome meliputi jumlah lulusan ketingkat pendidikan berikutnya. sehingga keterampilan guru dalam mengelola pembelajaran sangat dibutuhkan. 4. 2. diantaranya adalah masyarakat dan dunia usaha. upaya pemberdayaan pembelajaran yang difokuskan siswa belajar menjadi sangat penting. 2002: 5). Pemberdayaan yang dimaksud tidak akan meninggalkan fungsi dan peran guru. (Bambang Rahardja. maksudnya semua kegiatan pendidikan tidak tergantung pada pusat (pemerintah). Ketiga. semakin baik dunia usaha yang dimiliki lulusan sekolah tersebut maka semakin baik juga pula mutu sekolah tersebut. pada umumnya pembelajaran ditekankan pada proses pengajaran oleh guru (teacher teaching) dibandingkan dengan proses pembelajaran oleh murid (student learning). Memiliki sifat kewiraswastaan sehingga manajemen sekolah akan lebih luwes dan inovatif. Selain itu. 3. output. 2002: 5). ada empat alasan perlunya sekolah menerapkan program sistem dalam . Engkoswara.sehingga dapat menunjang mutu pembelajaran. sistem pembelajaran MBS ini memiliki ciri-ciri lain diantaranya: 1. Hal ini menyebabkan proses belajar menjadi statis dan beku. 1999: 3). Hal ini pula yang menjadi tolok ukur peningkatan mutu pembelajaran di sekolah. Memiliki hak otonomi yang luas dalam mengembangkan kreativitas dalam memberdayakan dan mengoptimalisasi sumber-sumber daya yang ada. Selain empat ciri diatas. Kedua. Non birokrasi yaitu sedikit mengesampingkan syarat-syarat hukum dan teknis pendirian sekolah. Oleh karena itu untuk memperbaiki mutu pendidikan. Keempat. (Rahardja. Adapun untuk dunia usaha itu juga merupakan suatu bukti ada tidaknya peningkatan mutu pembelajaran di sekolah tersebut. karena sekolah yang baik merupakan suatu kebanggaan baik bagi pengelola (yayasan) ataupun bagi masyarakat sekitar (Fattah. proses pembelajaran. Tidak bersifat sentralistik. 1988: 54).

tidak terkecuali dengan SMP Negeri 4 Khusus yang juga telah menggunakan model manajemen berbasis sekolah. sehingga mereka akan berupaya seoptimal mungkin untuk melaksanakan dan mencapai target mutu pendidikan yang telah direncanakan. 2000: 3).sekolah negeri maupun swasta. 3. (Umaedi. Sekolah lebih mengetahui kebutuhan lembaganya khususnya input pendidikan yang akan dikembangkan dalam proses pendidikan sesuai dengan kebutuhan sekolah dan perkembangan anak didiknya. 4. Pada dasarnya model manajemen berbasis sekolah adalah model pengelolaan pendidikan yang mencoba diterapkan oleh sekolah. SMP Negeri 4 Khusus sebagai sebuah lembaga pendidikan yang telah berdiri cukup . Sekolah dapat mempertanggungjawabkan kinerja dan mutu pendidikan yang dihasilkan sekolah masing-masing kepada orangtua. masyarakat dan pemerintah daerah setempat atau bahkan pemerintah pusat. maka di ketahui bahwa SMP Negeri 4 Khusus adalah salah satu lembaga yang mencoba mempelopori dan menerapkan konsep MBS. Berdasarkan observasi awal Sebagai implementasi dari konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang demokratis berciri pada pemberian wewenang luas pada sekolah untuk mengatur pendidikan dan pengajaran sebagai aspirasi dari masyarakat kepada sekolah merupakan inti dari konsep MBS.Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yaitu: 1. Sekolah dapat melakukan persaingan sehat dengan sekolah lain untuk meningkatkan mutu pembelajaran dengan dukungan orangtua. masyarakat dan pemerintah. sehingga mereka dapat mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk memajukan lembaganya. 2. Sekolah sebagai lembaga pendidikan lebih mengetahui kelebihan dan kelemahan dirinya.

tenaga pengajar di sekolah tersebut telah menjalankan aktivitas mengajar dengan konsep PAIKEM.lama dikenal sebagai sebuah lembaga yang memiliki segudang prestasi yang sangat membanggakan baik di tingkat Kabupaten. Namun realitasnya bahwa belum sepenuhnya sekolah ini mampu melaksanakan school based management atau MBS yang diharapkan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. dan disentralisasi. 5. Tingkat kelulusan siswa pada setiap ujian nasional mengalami peningkatan. Provinsi bahkan sampai pada tingkat Nasional. Belum diketahui keterbukaan manajemen sekolah. partisipasi. Berdasarkan observasi awal. 2. 4. Karena orientasi kurikulum sekarang mengacu pada peningkatan kualitas manajemen yang berbasis sekolah. 6. mandiri. . Belum diketahui ketersediaan dan kesiapan input-input pendidikan yang mendukung keterlaksanaan program manajemen peningkatan berbasis sekolah diduga belum memadai. proses pengelolaan dan lain sebagainya. Belum ada penelitian terdahulu yang membahas tentang bagaimana implementasi manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Khusus. maka penekanan pengembangan yang semula berorientasi pada kuantitas berubah menjadi kualitas. Diduga besarnya jumlah siswa pada sekolah tersebut mengindikasikan bahwa minat. proses pendidikan. yaitu: 1. Sebagai sebuah lembaga pendidikan yang di bawah naungan pemerintah. Berdasarkan uraian sebagaimana tersebut di atas maka ada beberapa hal yang mendasari mengapa penelitian ini mengambil lokasi di SMP Negeri 4 Khusus. baik di segi dana maupun program belum sesuai dengan yang dikehendaki. 3. baik dalam bidang administrasi. dan apresiasi masyarakat terhadap sekolah ini sangatlah besar. maka policy yang dilakukan tentu saja didasarkan pada peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Faktor-faktor apa yang menghambat dan mendukung penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4 Khusus? C. B. 10. Diduga iklim kerjasama antara sesama komunitas sekolah. Untuk mengetahui Faktor-faktor yang menghambat dan mendukung penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4 Khusus. Diduga belum memadai upaya untuk memecahkan berbagai faktor-faktor penghambat dalam pengimplementasian manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Khusus. Manfaat teoritis sebagai bahan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya ilmu . 2. komunitas sekolah masyarakat belum terlaksana dengan baik. Bagaimana Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum? 2. dengan 8. D. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan.7. Diduga belum maskimal akuntabitas sekolah kepada stakeholders. Belum terdeteksi efektifitas partisipasi komite sekolah dan dewan pendidikan dalam penggalian dana sekolah. Untuk mengetahui Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan. dapat dikemukakan rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut: 1. maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Manfaat Penelitian 1. 9.

Sebagai bahan informasi bagi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan umumnya dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Sulawesi Selatan khususnya Kabupaten Umum dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Manfaat praktis adalah sebagai berikut: a. yayasan pendidikan) dalam penerapan manajemen berbasis sekolah. d. c. 2.Administrasi Negara. Memacu partisipasi aktif masyarakat dalam memajukan mutu pendidikan . b. Sumber pengetahuan aktual bagi pengelola sekolah (kepala sekolah. Sebagai bahan informasi kepada mereka yang berprofesi guru dalam menggali informasi penting tentang manajemen berbasis sekolah.

Berkaitan dengan aspirasi masyarakat. ditegaskan pula bahwa daerah dibentuk berdasarkan kehendak masyarakat setempat dengan mempersyaratkan kemampuan ekonomi. sistem pendidikan nasional dan manajemen pendidikan. 10 Selanjutnya Burhanuddin (1998 : 117) “Sistem Sentralisasi atau desentralisasi dalam penyelenggaraan atau manajemen pemerintahan memiliki implikasi langsung terhadap penyelenggaraan pendidikan.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah pada hakekatnya memberi kewenangan dan keleluasaan kepada pemerintah daerah untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. nyata dan bertanggung jawab. . Desentralisasi Pendidikan Berlakunya Undang-Undang No. luas daerah dan berbagai syarat lain yang memungkinkan daerah menyelenggarakan otonomi daerah (Pasal 5 ayat 1 dan Pasal 7 ayat 1 UU No. pengawasan. Dipertegas pula “Bahwa bidang pendidikan merupakan bidang yang termasuk dalam garapan kewenangan daerah otonom atau penyerahan (pendelegasian) pemerintah pusat yang dikenal dengan desentralisasi pendidikan”. potensi daerah. Bidangbidang yang terkait langsung dengan sistem tersebut adalah kebijaksanaan. 32 Tahun 2004). mutu dan sumber dana pendidikan”. Kewenangan diberikan kepada daerah kabupaten dan kota berdasarkan azas desentralisasi dalam wujud otonomi luas. jumlah penduduk.

termasuk pula dari pemerintah ke masyarakat. berkurangnya lapisan birokrasi . Pemberdayaan sekolah dengan memberikan otonomi lebih besar. di samping menunjukkan sikap tanggap. menyebutkan bahwa desentralisasi pendidikan dalam bentuk School Base community. seperti kewenangan merumuskan. Kalster (2000 : 11).Pendelegasian bisa berarti penyerahan wewenang dari pusat ke daerah. Penekanan tersebut berubah dari waktu ke waktu sesuai dengan permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah Misalnya krisis ekonomi yang tidak dapat dihindari dampaknya terhadap pendidikan. atau dari unit ke unit dibawahnya. Salah satu wujud desentralisasi yang dimaksud adalah terlaksananya proses otonomi dalam penyelenggaraan pendidikan. Kewenangan itu perlu diklarifikasikan. menetapkan. Hasil studinya menunjukkan bahwa terdapat potensi yang memungkinkan keberhasilan pelaksanaan desentralisasi pendidikan di Indonesia. relevansi. Kewenangan begitu luasnya. pemerintah akan terbantu dalam control maupun pembiayaan sehingga dapat lebih berkonsentrasi pada masyarakat kurang mampu yang semakin bertambah jumlahnya. melaksanakan sampai dengan melakukan evaluasi terhadap suatu kebijakan yang jangkauannya bersifat nasional. mutu dan pemerataan pendidikan. Di samping itu. Karena itu tidak seluruh kewenangan dapat didesentralisasikan. pemerintah terhadap tuntutan masyarakat juga dapat ditunjukkan sebagai sarana peningkatan efesiensi. Kondisi tersebut secara langsung mengakibatkan menurunnya mutu pendidikan dan terganggunya proses pemerataan. pemerataan dan mutu pendidikan serta memenuhi azas keadilan dan demokrasi. terutamanya berkurangnya penyediaan dana yang cukup untuk pendidikan dan menurunnya kemampuan sebagai orang tua untuk membiayai pendidikan anaknya. Dengan melibatkan masyarakat dalam pengelolaan sekolah. atau dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah. diyakini dapat meningkatkan efisiensi.

2010:47-48) Dengan demikian. Penerapan demokratisasi pendidikan dilakukan . penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat. pebisnis. ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam. Keempat. Pemberian otonomi ini menuntut pendekatan manajemen yang lebih kondusif di sekolah agar dapat mengakomodasi seluruh keinginan sekaligus memberdayakan berbagai komponen masyarakat secara efektif guna mendukung kemajuan dan sistem yang ada di sekolah. ada beberapa faktor yang mendorong penerapan desentralisasi. para legislator. tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan. meningkatkan pendayagunaan potensi daerah. pemerintah mencoba untuk menerapkan desentralisasi pendidikan sebagai solusi. Pertama. Kedua. keterlibatan kepala sekolah. serta terciptanya infrastruktur kedaerahan yang menunjang terselenggaranya sistem pendidikan yang relevan dengan tuntutan zaman. dan guru dalam pengambilan keputusan sekolah yang pada akhirnya mendorong mereka untuk menggunakan sumber daya yang ada seefesien mungkin untuk mencapai hasil yang optimal.dalam prinsip desentralisasi juga mendukung efesiensi tersebut. misi utama desentralisasi pendidikan adalah meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaran pendidikan. Selain hal tersebut diatas. (Umiarso dan Imam Gojali. tuntutan orang tua. anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi siswa bersekolah. Dengan landasan tersebut. seperti terserapnya konsep globalisasi. Ketiga. kelompok masyarakat. dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan. Pemberian otonomi yang luas kepada sekolah merupakan kepedulian pemerintah terhadap gejala-gejala yang muncul di masyarakat serta upaya peningkatan mutu pendidikan secara umum. humanisasi dan demokrasi dalam pendidikan. Kelima.

serta sumber-sumber pendanaan sekolah. pendelegasian wewenang. manajemen guru. Desentralisasi pendidikan yang efektif tidak hanya melibatkan proses pemberian kewenagan dan pendanaan yang lebih besar dari pusat ke daerah. serta mencerminkan . masyarakat. Kurikulum dikembangkan sesuai kebutuhan lingkungan. Selain itu. struktur dan perencanaan di tingkat sekolah. tercipta pula kearifan ekologi yang merupakan buah dari inovasi kurikulum berbasis lingkungan atau masyarakat. desentralisasi pendidikan mencakup tiga hal. yaitu manajemen berbasis sekolah. Ada ruang-ruang dalam pendidikan untuk membangun peserta didik agar lebih mengerti dan berbakti untuk kepentingan dan kesejahteraan bersama dengan landasan kearifan lingkungan. Restrukturisasi tersebut hendaknya mencakup hal-hal berikut: (a) Struktur organisasi pendidikan hendaknya terbuka dan dinamis.dengan mengikut sertakan unsur-unsur pemerintah setempat. Artinya. pengembangan kurikulum juga harus mampu mengembangkan kebudayaan daerah dalam rangka memajukan kebudayaan nasional. Pertanyaan terpenting tentang arah desentralisasi pendidikan adalah sampai seberapa jauh sekolah-sekolah akan diberi kewenangan yang lebih besar menentukan kebijakan-kebijakan tentang organisasi dan proses belajar mengajar. dan orang tua dalam hubungan kemitraan dan menumbuhkan dukungan positif bagi pendidikan. Pada tataran ini. tetapi juga meliputi pemberian kewenangan dan pendanaan yang lebih besar ke sekolah-sekolah. Dengan asas tersebut. Hal yang menarik adalah desentralisasi pendidikan akan berimplikasi pada tataran dunia baru pendidikan yang lebih humanis. Oleh karena itu dalam desentralisasi pendidikan ada sasaran utama progaram restrukturisasi sistem dan manajemen pendidikan di indonesia. dan inovasi pendidikan. sehingga mereka dapat merencanakan proses belajar megajar dan pengembangan sekolah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masingt-masing sekolah.

peserta didik aktif sesuai dengan tingkat kesulitan konsep-konsep dasar yang dipelajari. berprestasi. (b) Sarana pendidikan dan fasilitas pembelajaran dibakukan berdasarkan prinsif edukatif sehingga lembaga pendidikan merupakan tempat yang menyenangkan untuk belajar. (c) Tenaga pendidikan terutama tenaga pengajar harus melalui proses seleksi sejak memasuki LPTK disertai sistem tunjangan ikatan dinas dan wajib mengajar. tingkat kesejahteraan masyarakat. tidak terikat pada penyelesaian target kurikulum secara seragam persemester dan tujuan ajaran. berkreasi. serta kontribusi masyarakat terhadap pendidikan pada setiap sekolah. (i) Formula pembiayaan pendidikan atau unit cost dan subsidi pendidikan harus didasarkan pada bobot penyelenggaraan pendidikan yang memperhatikan jumlah peserta didik. (d) Struktur kurikulum pendidikan hendaknya mengacu pada penerapan sistem pembelajaran tuntas. (h) Pendidikan berbasis masyarakat. (f) Sistem penilaian hasil belajar secara berkelanjutan perlu diterapkan di setiap lembaga pendidikan sebagi konsekuensi dari pelaksanaan pembelajaran tuntas. . (g) Kegiatan supervisi dan akreditasi.desentralisasi dan pemberdayaan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. Supervisi serta pembinaan administrasi dan akademis dilakukan oleh unsur manajemen tingkat pusat dan provinsi bertujuan untuk pengendalian mutu. berolahraga. sedangkan akreditasi dilakukan untuk menjamin mutu pelayanan kelembagaan. kursus-kursus keterampilan dan pemagangan di tempat kerja dalam rangka pendidikan sistem ganda harus menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional. kesulitan komunikasi. serta menjalankan syariat agama. (e) Proses pembelajaran tuntas diterapkan dengan berbagai modus pendekatan pembelajaran. berkomunikasi. seperti pondok pesantren. tingkat partisipasi pendidikan.

Dengan pendekatan itu setiap siswa diharapkan akan mendapatkan pembekalan life skills yang berisi pemahaman yang luas dan mendalam tentang lingkungan dan kemampuannya agar akrab dan saling memberi manfaat.Berdasarkan hal tersebut di atas. Pemangkasan mekanisme sistem birokrasi yang berbelit-belit yang terpusat secara sentralistik telah banyak membuang biaya dan waktu sampai tiba pada tahap sasaran pendidikan yang sesungguhnya seperti perbaikan kualitas dan personil pendidikan sekolah dan peserta didik di daerah. dan (3) Dengan menggunakan paradigma belajar atau learning paradigma yang akan menjadikan pelajar-pelajar atau learner menjadi manusia yang diberdayakan. maka pergeseran sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kewenangan lebih banyak kepada daerah kabupaten dan kota pada dasarnya memiliki tujuan agar pendidikan dapat berjalan lebih efektif dan efisien. (4) Pemerintah juga mencanangkan pendidikan berpendekatan Broad Base Education System (BBE) yang memberi pembekalan kepada pelajar untuk siap bekerja membangun keluarga sejahtera. Maka Di era otonomi daerah kebijakan strategis yang diambil Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah adalah : (1) Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (School Based Management) yang memberi kewenangan pada sekolah untuk merencanakan sendiri upaya peningkatan mutu secara keseluruhan. Pada awal tahun 2001 digulirkan program MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). dan lingkungannya dapat memberikan topangan hidup yang mengantarkan manusia yang mencintainya menikmati kesejahteraan dunia akhirat. Lingkungan sekitarnya dapat memperoleh masukan baru dari insan yang mencintainya. Program ini diyakini akan memberdayakan masyarakat pemerhati pendidikan (stakeholders) dalam memberikan perhatian . sekolah sebagai community learning centre. (2) Pendidikan yang berbasis pada partisipasi komunitas (community based education) agar terjadi interaksi yang positif antara sekolah dengan masyarakat.

Tujuan program MBS di antaranya menuntut sekolah agar dapat meningkatkan kualitas penyelenggaraan dan layanan pendidikan (quality insurance) yang disusun secara bersama-sama dengan Komite sekolah. Sebetulnya. Salah satu di antaranya. mensyaratkan sekolah membentuk Komite Sekolah yang keanggotaannya bukan hanya orangtua siswa yang belajar di sekolah tersebut. siswa. termasuk pula untuk peningkatan kualitas kesejahteraan guru di sekolah itu. khususnya sekolah. Namun. Masyarakat dituntut perannya bukan hanya membantu pembiayaan operasional pendidikan di sekolah tersebut. yaitu Bantuan Operasional Sekolah (BOS). komite menghimpun dana masyarakat. peran komite di tingkatan pendidikan dasar (SD/MI dan SMP/MTs) yang sudah mulai bagus ini terhapus kembali oleh program berikutnya. terutama dalam menghimpun sumber-sumber pendanaan pendidikan. Tentu saja. tokoh masyarakat dan pemerintahan di sekitar sekolah. Dalam menerapkan konsep MBS. melainkan membantu pula mengawasi dan mengontrol kualitas pendidikan. sebagai salah satu bentuk tanggungjawab pemerintah pada pendidikan. Program ini sesungguhnya sangat baik. pada beberapa sekolah yang pemahaman anggota komite sekolah atau para . dan bahkan pengusaha. sehingga dapat membantu kepedulian masyarakat dalam membantu pembiayaan pendidikan. Dari hal di atas.sejak program MBS ini digulirkan. diharapkan dapat menetapkan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS). peran komite sekolah mulai tampak.dan kepeduliannya terhadap dunia pendidikan. Realisasi dari ini. Namun. wacana yang dikembangkan adalah “Sekolah Gratis” sehingga mengubur kepedulian masyarakat terhadap pendidikan yang sudah mulai terbangun dalam MBS. termasuk dari orangtua siswa untuk membantu operasional sekolah untuk menggapai kualitas pendidikan. baik sebagai dukungan terhadap penyediaan sarana dan prasarana pendidikan maupun untuk peningkatan kualitas pendidikan. namun mengikutsertakan pula guru.

Namun. sambil berharap datang sang penyelamat. pada SMTP dan SMTA sebagian kewenangan meluluskan hasil belajar siswa masih menjadi “proyek pemerintah pusat” dengan alasan sebagai pengendalian mutu lulusan. guru bertugas merencanakan. Berdasarkan kewenangan profesionalnya. Sampai saat ini hasil dari kebijakan tersebut belum tampak. ujian akhir masih menjadi kewenangan dinas pendidikan kabupaten/kota. evaluasi merupakan bagian dari tugas pengajaran seorang guru. Misalnya.pendidik masih kurang. Padahal. Demikian pula pada tingkat SD di kabupaten/kota. Dalam hal pengelolaan mikro pendidikan pun masih terdapat beberapa masalah. bahkan ambruk dibiarkan oleh komite sekolah. Kenyataan itu menunjukkan bahwa impelementasi MBS pada tataran mikro yang masih setengah hati diserahkan. melaksanakan. Maka. penyelenggaraan pendidikan di kelas memang seluruhnya harus menjadi kewenangan guru. maka penetapan akuntabilitas pendidikan melalui peran stakeholders pendidikan semakin menurun. Pengelolaan pendidikan pada satuan pendidikan tertentu (sekolah) menjadi kewenangan kepala sekolah. tidak heran jika banyak sekolah yang rusak. lapuk. Sehubungan dengan evaluasi kebijakan pendidikan Era Otonomi masih belum terformat secara jelas maka di lapangan masih timbul bermacam-macam metode dan cara dalam melaksanakan program peningkatan mutu pendidikan. berkaitan dengan kebijakan pendidikan dalam rangka peningkatan mutu berbasis sekolah dan . ditinjau dari hakikat pengajaran dan sejalan dengan desentralisasi pendidikan. Demikian pula. sehingga kewenangan itu jangan “direbut” oleh birokrasi pendidikan. namun berbagai improvisasi di daerah telah menunjukkan warna yang lebih baik. dan mengukur hasil pembelajaran. beberapa langkah program yang telah dijalankan di beberapa daerah. yaitu pemerintah. menganggap seperti halnya BP3. dengan dalih “ikutikutan” pemerintah pusat mengendalikan mutu pendidikan di daerah.

otonomi pendidikan mengarah pada menipisnya kewenangan pemerintah pusat dan membengkaknya kewenangan daerah otonom. b) Pada sisi otonomi daerah. atas bidang pemerintahan berlabel pendidikan yang harus disertai dengan tumbuhnya pemberdayaan dan partisipasi masyarakat. d) Kejelasan tempat bagi institusi-institusi pendidikan perlu diformulasikan agar otonomi pendidikan dapat berjalan pada relny. otonomi pendidikan berjalan atas dasar desentralisasi dan prinsip School Based Management pada tingkat pedidikan dasar dan menengah. (3) Telah diterapkan muatan lokal dan pelajaran ketrampilan di sekolah SLTP (4) Dihapuskannya sistem Rayonisasi dalam penerimaan murid baru (5) Pemberian insentif kepada guru-guru negeri (6) Bantuan dana operasional sekolah. Kebijakan otonomi pendidikan dalam konteks otonomi daerah sebagai berikut. penataan kelembagaan pada level dan tempat yang menjadi faktor kunci keberhasilan otonomi pendidikan.peningkatan mutu pendidikan berbasis masyarakat diimplementasikan sebagai berikut : (1) Telah berlakunya UAS dan UAN sebagai pengganti EBTA /EBTANAS (2) Telah dibentuknya Komite Sekolah sebagai pengganti BP3. serta bantuan peralatan praktik sekolah (7)Bantuan peningkatan SDM sebagai contoh pemberian beasiswa pada guru untuk mengikuti program Pascasarjana. e) Pada tingkat persekolahan. c) Terdapat potensi tarik menarik antara otonomi pendidikan dalam konteks otonomi daerah dalam menempatkan kepentingan ekonomik dan finansial sebagai kekuatan tarik menarik antara pemerintahan daerah otonom dan institusi pendidikan. f) Sudah selayaknya jika otonomi pendidikan harus bergandengan dengan kebijakan akuntabiliti terutama yang berkaitan dengan mekanisme . diantaranya: a) Secara general otonomi pendidikan menuju pada upaya meningkatkan mutu pendidikan sebagai jawaban atas “kekeliruan” kita selama lebih dari 20 tahun bergelut dengan persoalan-persoalan kuantitas.

swastanisasi. yaitu pengalihan kewenangan ke badan quasi pemerintah atau badan yang dikelola secara publik c) Devolusi. otonomi pendidikan tinggi haruslah menonjolkan keunggulan-keunggulannya. khususnya selama orde baru.2) Kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional lebih berorientasi kepada pencapaian target kurikulum. sejauh yang telah dilakukan nampaknya cenderung mengambil bentuk yang terakhir. b) Pendelegasian. berupa pendelegasian kewenangan ke badan usaha swasta atau perorangan. tidak terlepas dari kenyataan adanya kelemahan konseptual dan penyelenggaraan pendidikan nasional. kebijakan otonomi pendidikan tinggi dapat ditempatkan bukan pada kepentingan daerah sematasemata melainkan pada kenyataan bahwa pendidikan tinggi adalah aset nasional. kebijakan otonomi masih tetap berada dalam kerangka otonomi keilmuan. yang pada gilirannya mengabaikan keragaman sesuai dengan realita masyarakat Indonesia di berbagai daerah.Menguatnya aspirasi otonomi dan desentralisasi khususnya di bidang pendidikan. Sebagaimana diungkapkan Azyumardi Azra bahwa di antara masalah dan kelemahan yang sering diangkat dalam konteks ini adalah:1) Kebijakan pendidikan nasional yang sangat sentralistik dan serba seragam. Dalam kasus Indonesia. yakni pengalihan kewenangan ke pengaturan tingkat yang lebih rendah dalam jajaran birokrasi pusat. (Yoyon. apapun yang terkandung di dalamnya. h) Dalam konteks otonomi daerah. pada gilirannya mengabaikan proses pembelajaran yang efektif dan . 2000:6) Menurut Fransisca Kemmerer dalam Ali Muhdi 2007:149. yakni pengalihan ke unit pemerintahan daerah d) Swastanisasi. i) Secara makro. g)Pada level pendidikan tinggi.pendanaan atau pembiayaan pendidikan. ada empat bentuk desentralisasi pendidikan. yakni: a) Dekonsentrasi.

dan (7) Keputusan Direktur. Kebijakan harus memberi peluang diinterpretasikan sesuai kondisi spesifik yang ada. Proses pembelajaran sangat berorientasi pada ranah kognitif dengan pendekatan formalisme dan pada saat yang sama. Berbeda dengan Hukum (Law) dan Peraturan (Regulation). 1999). Kebijakan akan menjadi rujukan utama para anggota organisasi atau anggota masyarakat dalam berprilaku (Dunn. (3) Keppres. sedangkan kebijakan adalah aturan tertulis hasil keputusan formal organisasi. . Contoh kebijakan adalah : (1) Undang-Undang. dan apa yang tidak boleh”. Beberapa orang menyebut policy dalam sebutan kebijaksanaan. Abidin (2006:17) menjelaskan kebijakan adalah keputusan pemerintah yang bersifat umum dan berlaku untuk seluruh anggota masyarakat. (2) Peraturan Pemerintah. B. kebijakan lebih adaptif dan interpratatif. yang mengatur prilaku dengan tujuan untuk menciptakan tata nilai baru dalam masyarakat. Kebijakan Publik Dalam Dimensi Akuntabilitas. (4) Kepmen. 2008:75). meskipun kebijakan juga mengatur “apa yang boleh. Kebijakan juga diharapkan dapat bersifat umum tetapi tanpa menghilangkan ciri lokal yang spesifik.mampu menjangkau seluruh ranah dan potensi anak didik. kebijakan berkenaan dengan gagasan pengaturan organisasi dan merupakan pola formal yang sama-sama diterima pemerintah/lembaga sehingga dengan hal itu mereka berusaha mengejar tujuannya (Monahan dalam Syafaruddin. yaitu “Polis” yang artinya kota (city). cenderung mengabaikan ranah afektif dan psikomotorik.Kebijakan adalah aturan tertulis yang merupakan keputusan formal organisasi. yang bersifat mengikat.Masih banyak kesalahan pemahaman maupun kesalahan konsepsi tentang kebijakan. Kebijakan pada umumnya bersifat problem solving dan proaktif. (5) Perda. Istilah kebijaksanaan adalah kearifan yang dimiliki oleh seseorang. (6) Keputusan Bupati. Kebijakan (policy) secar etimologi (asal kata) diturunkan dari bahasa Yunani. Dalam hal ini. yang maknanya sangat berbeda dengan kebijakan.

Fasli Jalal dan Dedi Supariadi (2001) . Ketika ada perubahan kebijakan publik maka kebijakan pendidikan bisa berubah. Kebijakan pendidikan sangat erat hubungannya dengan kebijakan yang ada dalam lingkup kebijakan publik. Bahkan resonansinya semakin keras sekeras tuntutan akan reformasi dalam segala bidang.ganti menteri berganti kebijakan. Konsekuensinya kebijakan pendidikan di Indonesia tidak bisa berdiri sendiri. Ini membuktikan bahwa kecenderungan masyarakat pada masa kini berbeda dengan masa lalu. Bahkan pergantian menteri dapat pula mengganti kebijakan yang telah mapan pada jamannya. Masih ingat dibenak kita ada pelajaran PSPB yang secara prinsipil tidak jauh berbeda dengan IPS sejarah dan lucunya materi itu pun di pelajari di PMP (sekarang PKN/PPKN). Ketika kebijakan politik dalam dan luar negeri.Setiap kebijakan yang dicontohkan disini adalah bersifat mengikat dan wajib dilaksanakan oleh objek kebijakan. pertimbangan tersebut dijadikan sebagai dasar untuk mengopersikan pendidikan yang bersifat melembaga. Bukan hal yang aneh. meso. keagamaan dan lainlain. Contoh ini juga memberi pengetahuan pada kita bahwa ruang lingkup kebijakan dapat bersifat makro. Carter V Good (1959) memberikan pengertian kebijakan pendidikan (educational policy) sebagai suatu pertimbangan yang didasarkan atas system nilai dan beberapa penilaian atas factor-faktor yang bersifat situasional. Ali Imron dalam bukunya Analisis Kebijakan Pendidikan menjelaskan bahwa kebijakan pendidikan adalah salah satu kebijakan Negara. agar tujuan yang bersifat melembaga bisa tercapai. luar negeri. kebijakan pendidikan biasanya akan mengikuti alur kebijakan yang lebih luas. Pertimbangan tersebut merupakan perencanaan yang dijadikan sebagai pedoman untuk mengambil keputusan. politik. misalnya kebijakan ekonomi. Isu akuntabilitas akhir-akhir ini semakin gencar dibicarakan seturut dengan adanya tuntutan masyarakat akan pendidikan yang bermutu. dan mikro.

Susan Mohrman menyatakan. jika ia memiliki kemauan sekaligus kemampuan. Dalam teori perubahan. Caranya adalah mengembangkan model manajemen pendidikan yang akuntabel. Bagi lembaga-lembaga pendidikan hal ini mulai disadari dan disikapi dengan melakukan redesain sistem yang mampu menjawab tuntutan masyarakat. sarana penunjang yang mamadai. maka sekarang mereka tidak dengan mudah menerima apa yang diberikan oleh pendidikan." Empat sumber daya ini jika dikelola secara baik akan meningkatkan efektivitas manajemen sekolah. 2) pengetahuan. Model manajemen ini menuntut keterlibatan yang tinggi dari stakeholders sekolah. .menyatakan: Bila di masa lalu masyarakat cenderung menerima apa pun yang diberikan oleh pendidikan. Sebab tidak saja dibutuhkan kemauan tetapi juga kemampuan untuk melaksanakannya. "Untuk mendukung pencapaian MBS telah muncul manajemen berpartisipasi tinggi yang membutuhkan empat sumber daya penting: 1) informasi. Masyarakat yang notabene membayar pendidikan merasa berhak untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik bagi dirinya dan anak-anaknya. Empat hal penting yang dikemukakan di atas membutuhkan proses dan waktu yang tidak singkat. Fasli Jalal dan Dedi Supriadi (2001) menyatakan: Upaya untuk mencapai akuntabilitas institusi memerlukan kurikulum yang relevan yang memperhitungkan kebutuhan masyarakat. orang dapat berubah. komitmen yang kuat untuk mencapai keunggulan. 3) keterampilan. 4) penghargaan dan sanksi. kemampuan manajemen yang tinggi. Akuntabilitas pendidikan juga mensyaratkan adanya manajemen yang tinggi. dan perangkat aturan yang jelas dan dilaksanakan secara konsisten oleh institusi pendidikan yang bersangkutan. Di Indonesia telah lahir Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang bertumpu pada sekolah dan masyarakat. Dan efektifitas manajemen sekolah akan ditunjukkan dengan output yang berkualitas.

Menurut Fasli Jalal dan Dedi Supriadi (2001:88): Tiga aspek yang dapat memberi jaminan mutu suatu lembaga pendidikan. Akuntabilitas tidak datang dengan sendiri setelah lembaga-lembaga pendidikan melaksanakan usaha-usahanya. Agar penyelenggara sekolah tidak sewenang-wenang dalam menyelenggarakan sekolah. yaitu kompetensi. mengelola. akuntabilitas suatu lembaga juga bergantung kepada kemampuan suatu lembaga pendidikan mempertanggungjawabkan pengelolaan keuangan kepada publik. Jadi. akreditasi dan akuntabilitas. dan mengontrol sekolah. sementara yang kedua sebagai akuntabilitas keuangan. maka sekolah harus . Di samping itu. Penulis mengelompokkan akuntabiltas yang pertama sebagai akuntabilitas kinerja. yang meliputi kewenangan mengatur dan mengurus sekolah. memimpin. Manajemen Berbasis Sekolah yang diterapkan di Indonesia juga mensyaratkan kemampuan akuntabilitas sekolah kepada publik. Ada tiga hal yang memiliki kaitan. dalam hal ini akuntabel tidaknya suatu lembaga pendidikan bergantung kepada mutu outputnya. Lulusan pendidikan yang dianggap telah memenuhi semua persyaratan dan memiliki kompetensi yang dituntut berhak mendapat sertifikat. selalu berusaha menjaga dan menjamin mutuya sehingga dihargai oleh masyarakat adalah lembaga pendidikan yang akuntable. yaitu kompetensi. Lembaga pendidikan beserta perangkat-perangkatnya yang dinilai mampu menjamin produk yang bermutu disebut sebagai lembaga terakreditasi (accredited). Institusi pendidikan yang akuntabel adalah institusi pendidikan yang mampu menjaga mutu keluarannya sehingga dapat diterima oleh masyarakat. dan akuntabilitas. akreditasi.Akuntabilitas yang tinggi hanya dapat dicapai dengan pengelolaan sumber daya sekolah secara efektif dan efisien. Menurut Slamet (2005:6): MBS harus dipahami sebagai model pemberian kewenangan yang lebih besar kepada sekolah. mengambil keputusan. Lembaga pendidikan yang terakreditasi dan dinilai mampu untuk menghasilkan lulusan bermutu.

"Akuntabilitas adalah kewajiban untuk memberikan pertanggung jawaban atau untuk menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan penyelenggara organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau kewajiban untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban. 2000). Semakin kecil partisipasi stakeholders dalam penyelenggaraan manajemen sekolah." (Gipps and Golstein. Sementara Zamroni (2008:12) mendefinsikan akuntabilias dikaitkan dengan partisipasi. maka akan semakin rendah pula akuntabilitas sekolah. 1983 dalam Rita Headington.bertanggung jawab terhadap apa yang dikerjakan. Untuk itu sekolah berkewajiban mempertanggungjawabkan kepada publik tentang apa yang dikerjakan sebagai konsekuensi dari mandat yang diberikan oleh publik. Bagaimana sekolah mampu mempertanggungjawabkan kewenangan yang diberikan kepada publik. Di Indonesia akuntabilitas dalam penyelenggaraan pendidikan. Sekolah-sekolah sebagai basis penerapan manajemen pendidikan dituntut harus mampu mewujudkan akuntabilitas bagi publik. Pada tahun 1976 Prime Minister Callaghan mengusulkan bahwa pendidikan sudah seharusnya lebih akuntabel kepada masyarakat dan kecenderungan umum bahwa isu-isu pendidikan seharusnya terbuka telah membuka ruang bagi untuk menanggapinya. sekalipun itu bersifat non-profesional. Fasli Jalal dan Dedi Supriadi (2001:88) menyatakan di Indonesia banyak instituasi pendidikan yang lemah dan tidak sedikit institusi pendidikan yang tidak akuntabel.Jadi. Ketika terjadi perubahan mendasar dalam sistem pendidikan. juga masih menempuh jalan panjang. Itu berarti akuntabilitas publik menyangkut hak publik untuk memperoleh pertanggungjawaban penyelenggara sekolah.kalau disimpulkan . isu akuntabilitas sepertinya memperoleh nafas baru. tentu menjadi tantangan tanggung jawab sekolah. Kalau begitu apa sebenarnya akuntabilitas itu? Menurut Slamet (2005:5). Ini berarti akuntabilitas hanya dapat terjadi jika ada partisipasi dari stakeholders sekolah.

akuntabilitas adalah kemampuan sekolah mempertanggungjawabkan kepada publik segala sesuatu mengenai kinerja yang diperoleh sebagai hasil partisipasi dari stakeholders. Di Indonesia. kalau Rita Headington memberi tekanan akuntabiltas pada aspek pembelajaran yang dimotori oleh guru. Apa yang dikatakan oleh David Marsh merupakan sebuah peringatan keras akan bahaya kekacauan dalam penerapan MBS. tidak saja bagi publik tetapi pertama-tama harus dimulai bagi warga sekolah itu sendiri. "Teacher have a moral and legal responsibility to provide appropriate educational experiences for pupils and to report to parents and other professionals. Kepercayaan publik yang tinggi akan sekolah dapat mendorong partisipasi yang lebih tinggi pula terdapat pengelolaan manajemen sekolah. Pendapat Headington memberi tekanan pada akuntabilitas kinerja pembelajaran. maka sebenarnya ini adalah bagian hakiki dalam penerapan MBS yang tidak boleh diabaikan oleh sekolah. Secara moral maupun secara formal (aturan) guru memiliki tanggung jawab bagi siswa maupun orang tua siswa untuk mewujudkan proses pembelajaran yang baik. dan keuangan menuntut tanggung jawab dari sekolah untuk mewujudkannya. Sebagaimana dikatakan Rita Headington (2000:83)." Headington menekankan akuntabilitas dari guru. terjadi kekacauan dalam memahami MBS. yaitu moral. Tujuan akuntabilitas adalah agar terciptanya kepercayaan publik terhadap sekolah. juga di Negara-negara yang telah menerapkan MBS. bahwa seringkali aspek pembelajaran dipahami terpisah dengan MBS." Ketiga dimensi yang terkandung dalam akuntabilitas. Jadi. Bahwa MBS tidak dipahami sebagai sebuah inovasi yang terpisah dari pembelajaran. Slamet (2005:6) menyatakan: Tujuan utama akuntabilitas adalah untuk . legal and financial dimensions and operates at all levels of the education system. Sekolah akan dianggap sebagai agen bahkan sumber perubahan masyarakat. Rita Headington berpendapat bahwa "Accountability has moral. hukum.

maka pengelolan manajemen sekolah semakin dekat dengan masyarakat yang adalah pemberi mandat pendidikan. b. Dengan pelimpahan kewenangan tersebut.1. dan nepotisme. Dengan prinsip ini mereka terus memacu produktifitas profesionalnya sehingga . Rumusan tujuan akuntabilitas di atas hendak menegaskan bahwa. Penyelenggara sekolah harus memahami bahwa mereka harus mempertanggung jawabkan hasil kerja kepada publik. tetapi merupakan faktor pendorong munculnya kepercayaan dan partisipasi yang lebih tinggi lagi. Oleh karena manajemen sekolah semakin dekat dengan masyarakat. Pelaksanaan prinsip akuntabilitas dalam rangka MBS tiada lain agar para pengelola sekolah atau pihak-pihak yang diberi kewenangan mengelola urusan pendidikan itu senantiasa terkontrol dan tidak memiliki peluang melakukan penyimpangan untuk melakukan korupsi. boleh dikatakan bahwa akuntabilitas baru sebagai titik awal menuju keberlangsungan manajemen sekolah yang berkinerja tinggi. Penerapan prinsip akuntabilitas dalam penyelenggaraan manejemen sekolah mendapat relevansi ketika pemerintah menerapkan otonomi pendidikan yang ditandai dengan pemberian kewenangan kepada sekolah untuk melaksanakan manajemen sesuai dengan kekhasan dan kebolehan sekolah. Selain itu. akuntabilitas bukanlah akhir dari sistem penyelenggaran manajemen sekolah. Bahkan.mendorong terciptanya akuntabilitas kinerja sekolah sebagai salah satu syarat untuk terciptanya sekolah yang baik dan terpercaya. kolusi. Pelaksanaan Akuntabilitas dalam MBS. maka penerapan akuntabilitas dalam pengelolaan merupakan hal yang tidak dapat ditunda-tunda. tujuan akuntabilitas adalah menilai kinerja sekolah dan kepuasaan publik terhadap pelayanan pendidikan yang diselenggarakan oleh sekolah. untuk mengikutsertakan publik dalam pengawasan pelayanan pendidikan dan untuk mempertanggungjawabkan komitmen pelayanan pendidikan kepada publik.

Akuntabilitas keuangan dapat diukur dari semakin kecilnya penyimpangan dalam pengelolaan keuangan sekolah. yakni akuntabilitas vertikal dan akuntabilitas horisontal. "Teacher are. Pengelola sekolah harus mampu mempertanggungjawabkan seluruh komponen pengelolaan MBS kepada masyarakat. Komponen pertama yang harus melaksanakan akuntabilitas adalah guru.berperan besar dalam memenuhi berbagai aspek kepentingan masyarakat. Selain itu dalam hal keteladan. karena inti dari seluruh pelaksanaan manajemen sekolah adalah proses belajar mengajar. Sebaliknya pengelola yang melakukan praktek korupsi tidak akan . dan mengevaluasi siswa. Akuntabilitas dalam pengajaran dilihat dari tanggung jawab guru dalam hal membuat persiapan. They are responsible for providing work which is interesting and challenging. Mengapa. accountable to their pupils. first and foremost. Akuntabilitas tidak saja menyangkut proses pembelajaran. Dan pihak pertama di mana guru harus bertanggung jawab adalah siswa. seperti disiplin. Sekolah dan orang tua siswa. besar kecilnya penerimaan. tetapi juga menyangkut pengelolaan keuangan. Baik sumber-sumber penerimaan. Sebagaimana dikatakan oleh Headington (2004:88) bahwa. Akuntabilitas vertikal menyangkut hubungan antara pengelola sekolah dengan masyarakat. kejujuran. maintaining pupils' involvement and helping them make progress in their learning. hubungan dengan siswa menjadi penting untuk diperhatikan. maupun peruntukkannya dapat dipertanggungjawabkan oleh pengelola. dan antara kepala sekolah dengan guru. Akuntabilitas menyangkut dua dimensi. Antar kepala sekolah dengan komite. Antara sekolah dan instansi di atasnya (Dinas pendidikan). Sedangkan akuntabilitas horisontal menyangkut hubungan antara sesama warga sekolah. dan kualitas output. melaksanakan pengajaran. Guru harus dapat melaksanakan ini dalam tugasnya sebagai pengajar. Pengelola keuangan yang bertanggung jawab akan mendapat kepercayaan dari warga sekolah dan masyarakat.

Keduanya memiliki ciri yang berbeda. Menurutnya Terdapat dua tipe akuntabilitas. korupsi dalam dunia pendidikan telah menjamah. ini disebabkan oleh karena titik tolak kedunya berbeda. mulai dari Departemen Pendidikan. Faktor-Faktor Penghambat Akuntabilitas dalam MBS. Akuntabilitas eksternal didasarkan manajemen hirarkis. Dinas Pendidikan. dan jauh dari praktek korupsi. moral individu yang baik dan didukung oleh sistem yang baik akan menjamin pengelolaan keuangan yang bersih. tidak saja dari segi intelektual tetapi juga moral. Fakta menyangkut praktek korupsi dalam dunia pendidikan bukan hal baru. Kebebasan yang muncul secara baru (neoliberalisme) ikut mempengaruhi ketahanan moral orang dalam melaksanakan akuntabilitas. mempertanggungjawabkan kualitas outputnya terhadap publik. b. seorang pakar kebijakan pendidikan dalam Marks Olssen. Oleh karena itu dalam rangka penerapan MBS ini. dkk (2004). Codd (1999). sedangkan akuntabilitas internal . karena berbanding terbalik dengan apa yang seharusnya diajarkan lembaga pendidikan kepada anak bangsa. pengelolaan keuangan sekolah harus jauh dari praktik korupsi. Jadi. Akuntabilitas mutu juga semakin memiliki arti. mencerminkan sekolah yang memiliki tingkat efektivitas output tinggi. Kenyataan ini sangat ironis. akan meningkatkan efisiens eksternal.dipercaya. Temuan Indonesian Corruption Watch (ICW) awal tahun 2008 bahwa. ketika Sekolah sekolah yang mampu mampu mempertanggungjawabkan outputnya terhadap publik. hingga di sekolahsekolah. Dan sekolah yang memiliki tingkat efektivitas outputnya tinggi. Akuntabilitas tidak saja menyangkut sistem tetapi juga menyangkut moral individu. Informasi ini merupakan "tamparan" keras bagi dunia pendidikan. akuntabilitas dipengaruhi oleh kecenderungan manusia yang mengutamakan kebebasan.2. kolusi dan nepotisme. menyatakan bahwa dalam perspektif global. masing-masing akuntabilitas eksternal dan akuntabilitas internal.

dan kecakapan. maka hal-hal yang diperlihatkanpun berbeda. pada akuntabilitas eksternal terdapat kontrol yang hirarkis. Sedangkan jenis akuntabilitas internal peran moral tinggi sehingga pertimbangannya matang dan memiliki kebebasan untuk bertindak. Akuntabilitas eksternal memperlihatkan proses formal dalam pelaporan dan perekaman untuk manajamen hirarkhis. Dari segi pelaksanaan tugas. Kalau akuntabilitas eksternal pengaruh faktor luar sangat besar. di sisi lain faktor dalam sangat lemah.didasarkan pada tanggung jawab profesional. sedangkan pada akuntabilitas internal justru sebaliknya memiliki kepercayaan yang tinggi. Dalam sebuah ilustrasi perusahaan. rasa memiliki. dengan melekat sebuah konsep agen moral. Kekuatannya terletak pada motivasi dan komitmen individu untuk melaksanakan akuntabilitas organisasi. Selanjutnya dari segi tanggung jawab. ketimbang etika kebiasan. loyalitas. sedangkan akuntabilitas internal menekankan pada komitmen. Dikatakan sebagai pranata sosial karena di tempat tersebut teradapat orang-orang dari berbagai latar belakang sosial yang membentuk suatu kesatuan dengan nilai-nilai dan budaya tertentu. Nilai-nilai dan budaya tersebut potensial untuk mendukung penyelenggaraan manajemen sekolah yang akuntabel. Akuntabilitas dan Faktor nilai-budaya Sekolah sebagai tempat penyelenggaran manajemen yang akuntabel merupakan suatu pranata sosial. Kedua jenis akuntabilitas di atas memiliki pendasaran yang sangat berbeda. sedangkan dalam akuntabilitas internal akuntabel banyak konstituen. Misalnya. dan etika struktur. Sebaliknya pada akuntabilitas internal faktor dari dalam diri lebih kuat ketimbang faktor luar. Stephen Robins . tetapi juga sebaliknya bisa menjadi penghambat. Oleh karena pendasaran kedua jenis akuntabilitas ini berbeda. akuntabilitas eksternal memiliki kepercayaan yang rendah. sedangkan pada akuntabilitas internal tanggung jawab professional didelegasikan. pada akuntabilitas eksternal terikat pada kontrak. Dalam akuntabilitas eksternal kurang mengutamakan peran moral.

Kalau ditelisik lebih jauh faktor orang sendiri sebenarnya tidak berdiri sendiri. oleh karena itu perlu ada upaya nyata sekolah untuk mewujudkannya. melainkan merupakan produk dari masyarakat dengan budaya tertentu. persepsi dan nilai-nilai yang dianutnya mempengaruhi kemampuannya akuntabilitas. Dalam konteks ini. keberagaman tenaga kerja mempunyai implikasi penting pada praktik manajemen.Upaya-Upaya Peningkatan Akuntabilitas dalam MBS. pada saat yang sama. oleh karena latar belakang tadi. . tidak melakukan diskriminasi. faktor yang mempengaruhi akuntabilitas terletak pada dua hal.3. Ada nilai-nilai yang dapat mendukung nilai-nilai organisasi. Sedangkan faktor orang menyangkut motivasi. Para manejer harus mengubah filosofi mereka dari memperlakukan setiap orang dengan cara yang sama menjadi mengenali perbedaan dan menyikapi mereka yang berbeda dengan caracara yang menjamin kesetiaan karyawan dan peningkatan produktifitas sementara. Bagaimanapun juga pengelolaan MBS mensyaratkan akuntabilitas yang tinggi. tetapi ada juga yang sebaliknya. Apa yang dikemukakan Robins berangkat dari asumsi akan perbedaan nilai dan budaya dari setiap anggota organisasi.(2001:14) menyatakan: Workforce diversity has important implication for management practice. dibutuhkan peran pemimpin untuk dapat mengelolanya. Artinya. tradisi organisasi. Jadi. apakah anggota organisasi dapat mendukungnya? Menjadi tantangan. at the same time not discriminating. Manager will need to shift their philosophy from treating every one alike to recognizing differences and responding to those differences in ways that will ensure employe retention and greater productivity while. Akuntabel merupakan nilai yang hendak ditegakan organisasi. Menurut Slamet (2005:6) ada delapan hal yang harus dikerjakan oleh sekolah untuk peningkatan akuntabilitas: Pertama. Sistem menyangkut aturan-aturan. b. yakni faktor sistem dan faktor orang.

Ketujuh. semuanya bertumpu pada kemampuan dan kemauan sekolah untuk mewujudkannya. Meningkatnya kepercayaan dan kepuasan publik terhadap sekolah. Alih-alih sekolah mengetahui sumber dayanya. Keempat. sekolah perlu menyusun pedoman tingkah laku dan sistem pemantauan kinerja penyelenggara sekolah dan sistem pengawasan dengan sanksi yang jelas dan tegas. sehingga dapat digerakan untuk mewujudkan dan meningkatkan akuntabilitas. Sekolah dapat melibatkan stakeholders untuk menyusun dan memperbaharui sistem yang dianggap tidak dapat menjamin terwujudnya akuntabilitas di sekolah. memperbaharui rencana kinerja yang baru sebagai kesepakatan komitmen baru. kelompok profesi. Ketiga. dapat dilihat pada beberapa hal. Kedelapan upaya di atas. Tumbuhnya kesadaran publik tentang hak untuk menilai terhadap penyelenggaraanpendidikan di sekolah . orang tua siswa. melakukan pengukuran pencapaian kinerja pelayanan pendidikan dan menyampaikan hasilnya kepada publik/stakeholders diakhir tahun. sebagaimana dinyatakan oleh Slamet (2005:7): Beberapa indikator keberhasilan akuntabilitas adalah: 1. dan pemerintah dapat dilibatkan untuk melaksanakannya.sekolah harus menyusun aturan main tentang sistem akuntabilitas termasuk mekanisme pertanggungjawaban. menyediakan informasi kegiatan sekolah kepada publik yang akan memperoleh pelayanan pendidikan. Dengan begitu stakeholders sejak awal tahu dan merasa memiliki akan sistem yang ada. memberikan tanggapan terhadap pertanyaan dan pengaduan publik. Komite sekolah. Untuk mengukur berhasil tidaknya akuntabilitas dalam manajemen berbasis sekolah. 2. Kedua. menyusun indikator yang jelas tentang pengukuran kinerja sekolah dan disampaikan kepada stakeholders. Kelima. sekolah menyusun rencana pengembangan sekolah dan menyampaikan kepada publik/stakeholders di awal setiap tahun anggaran. Kedelapan. Keenam.

hubungan sekolah dan masyarakat dan layanan-layanan khusus. Ketiga. Pertama. Meningkatnya kesesuaian kegiatan-kegiatan sekolah dengan nilai dan norma yang berkembang di masyarakat. 2002 : 131) mengemukakan empat gagasan dasar yang sangat sentral bagi keefektifan manajemen persekolahan. tetapi sekolah akan mengalami peningkatan dalam banyak hal sehingga kepercayaan masyarakat akan kinerja sekolah menjadi lebih tinggi dan dengan sendirinya partsipasi bertambah. sarana dan prasarana. ketenagaan. Hasil penelitian Balitbangdikbud (1991:47) menunjukkan bahwa manajemen sekolah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan. keuangan. baik tujuan jangka pendek. Kedua. yang merupakan gagasan kunci adalah semua hubungan antara pelanggan dan pemasok ditengahi oleh proses. orang yang paling melakukan perbaikan . Tidak saja publik merasa puas. Manajemen Pendidikan Manajemen pendidikan merupakan alternatif strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Manajemen pendidikan dapat juga diartikan sebagai segala sesuatu berkenan dengan pengelolaan proses pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.3. adalah bahwa lembaga pendidikan merupakan mata rantai yang menghubungkan pelanggan (customer client) dan pemasok (supplier). mengemukakan bahwa : “Manajemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses kerjasama yang sistemik dan komprehensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. yaitu manajemen pengajaran. Selanjutnya Gaffar (1989 : 59). Mugatroyd dan Morgan (dalam Mantja. Ketiga indikator di atas dapat dipakai oleh sekolah untuk mengukur apakah akuntabilitas manajemen sekolah telah mencapai hasil sebagaiamana yang dikehendaki. peserta didik. Substansi manajemen pendidikan lebih memusatkan diri pada substansi yang berkaitan dengan proses pendidikan. menengah maupun tujuan jangka panjang. C.

bahwa untuk menjamin terdapatnya dukungan perbaikan performansi kualitas terhadap sekolah dipersyaratkan kepemimpinan yang bervisi. menawarkan partisipasi langsung kelompokkelompok yang terkait.. Manajemen Berbasis Sekolah 1. Istilah ini pertama kali muncul di Amerika Serikat ketika masyarakat mulai mempertanyakan relevansi pendidikan dengan tuntutan dan perkembangan masyarakat setempat. Otonomi dalam manajemen merupakan potensi bagi sekolah untuk meningkatkan kinerja para staff. dan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pendidikan.School Based Management. Pengertian Manajemen berbasis Sekolah menurut beberapa ahli: Menurut E.MBS merupakan salah satu wujud dari reformasi pendidikan yang menawarkan kepada sekolah untuk menyediakan pendidikan yang lebih baik dan memadai bagi para peserta didik. Mulyasa (2004:24) : . Konsep MBS (Manajemen Berbasis Sekolah) Istilah Manajemen berbasis Sekolah merupakan terjemahan dari . D. Menurut Bedjo sudjanto (2005:37) MBS merupakan model manajemen pendidikan yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah. Manajemen berbasis Sekolah mengubah sistem pengambilan keputusan dengan memindahkan otoritas dalam pengambilan keputusan dan manajemen ke setiap yang berkepentingan di tingkat lokal Local Stakeholder. yang mendukung dan meningkatkan kinerja terhadap mereka yang dekat (familiar) dengan klien. siswa. orang tua siswa dan masyarakat. Keempat. Disamping itu. Menurut Nanang Fatah (2006:32) MBS merupakan pendekatan politik yang bertujuan untuk mendesain ulang pengelolaan sekolah dengan memberikan kekuasaan kepada kepala sekolah dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam upaya perbaikan kinerja sekolah yang mencakup guru.adalah mereka yang dekat dengan pelanggan dalam proses tersebut. MBS juga mendorong . komite sekolah.

keuangan. 11MBS menyediakan kepala sekolah. Menurut Mulyasa (2004 : 118). guru. pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat serta manajemen layanan khususnya lembaga pendidikan”. personil. kesiswaan. sedikitnya terdapat tujuh komponen sekolah yang harus dikelola dengan baik dalam rangka pelaksanaan MBS. tenaga kependidikan. Karakteristik MBS MBS memiliki karakter yang perlu dipahami oleh sekolah yang akan menerapkannya. sarana.pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan langsung semua warga sekolah yang dilayani dengan tetap selaras pada kebijakan nasional pendidikan. Manajemen berbasis sekolah sebagaimana dikemukakan oleh para ahli adalah sebuah model pengelolaan sekolah yang mengarah pada kemandirian lembaga pendidikan sekolah dan terintegratif dengan tuntutan perkembangan masyarakat. pertama sekolah menjamin adanya kultur sekolah yang kondusif dan demokratis menanggapi respon masyarakat secara terbuka sebagai wujud pertanggungjawaban public. yaitu “Kurikulum dan program pengajaran. MBS merupakan sebuah strategi untuk memajukan pendidikan dengan mentransfer keputusan penting memberikan otoritas dari negara dan pemerintah daerah kepada individu pelaksana di sekolah. serta kurikulum. Hal yang penting dalam implementasi/pelaksanaan manajemen berbasis sekolah adalah manajemen terhadap komponenkomponen sekolah itu sendiri. Jadi. Olehnya itu. karakteristik tersebut merupakan ciri khas yang dimiliki sehingga membedakan dari sesuatu yang lain. siswa. jika model ini dikembangkan dua syarat pokok yang harus dipenuhi oleh setiap pendidikan sekolah. MBS memiliki karakteristik sebagai berikut: . 2. dan orang tua kontrol yang sangat besar dalam proses pendidikan dengan memberi mereka tanggung jawab untuk memutuskan anggaran. dan prasarana pendidikan.

dinamis dan profesional Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dapat dilihat pula melalui pendidikan sistem. (e) Sekolah memiliki budaya mutu. (d) Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif. prestasi olahraga. (b) sumber daya yang tersedia dan siap. (c) staf yang kompeten dan berdedikasi tinggi. (f) Sekolah memiliki team work yang kompak. dan sasaran mutu yang jelas. Rasionalog. (b) Kepemimpinan sekolah yang kuat. Adanya otonomi yang luas kepada sekolah b. (c) Lingkungan sekolah yang aman dan tertib. Pada umumnya output dapat di klasifikasikan menjadi dua yaitu output berupa prestasi akademik yang berupa NEM.a. kesenian dari para peserta didik dan sebagainya. . toleransi. Kepemimpinan sekolah yang demokratis dan profesional d. Kreatif. kedisiplinan. (a) memiliki kebijakan. Induktif. kejujuran. (d) Output yang diharapkan Output Sekolah adalah Prestasi sekolah yang dihasilkan melalui proses pembelajarn dan manajemen di sekolah. harga diri. Dan output non akademik. Proses Dalam proses terdapat karakter yaitu. Nalar. lomba karya ilmiah remaja. cerdas. Adanya partisipasi masyarakat dan orang tua siswa yang tinggi c. Adanya team work yang tinggi. Input Pendidikan Dalam input pendidikan ini meliputi. Deduktif dan Ilmiah.(e) fokus pada pelanggan. kerjasama yang baik. 2. Hal ini didasari oleh pengertian bahwa sekolah merupakan sebuah sistem sehingga penguraian karakteristik MBS berdasarkan berdasarkan pada input. berupa keingintahuan yang tinggi. (a) PBM yang memiliki tingkat efektifitas yang tinggi. proses dan output 1. cara-cara berfikir ( Kritis. dan dinamis. tujuan. (d) memiliki harapan prestasi yang tinggi.

Pengelolaan Proses Belajar Mengajar. 5. 4. Pengelolaan ketenagaan mulai dari analisis kebutuhan perencanaan. karakteristik guru dan kondisi nyata sumber daya yang tersedia di sekolah. hubungan kerja hingga evaluasi kinerja tenaga kerja sekolah dapat dilakukan oleh sekolah kecuali guru pegawai negeri yang sampai saat ini masih ditangani oleh birokrasi di atasnya. Pengelolaan keuangan Pengelolaan keuangan. terutama pengalokasian atau penggunaan uang sudah sepantasnya . penghargaan dan sanksi.Karakteristik MBS bisa diketahui juga antara lain dari bagaimana sekolah dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah. Menurut Depdiknas fungsi yang dapat didesentralisasikan ke sekolah adalah sebagai berikut: 1. Sekolah juga di beri kebebasan untuk mengembangkan kurikulum muatan lokal. 2. Pengelolaan ketenagaan. metode.dan pengelolaan sumber daya administrasi. Sekolah di beri kebebasan untuk memilih strategi. Sekolah dapat mengembangkan. proses belajar mengajar. dan teknik pembelajaran dan pengajaran yang efektif sesuai dengan karakteristik mata pelajaran. pengelolaan sumber daya manusia. karakteristik siswa. Sekolah juga diberi kewenangan untuk melakukan evaluasi khususnya evaluasi internal atau evaluasi diri. Perencanaan dan evaluasi program sekolah Sekolah di beri kewenangan untuk melakukan perencanaan sesuai dengan kebutuhannya. namun tidak boleh mengurangi isi kurikulum yang berlaku secara nasional yang dikembangkan oleh pemerintah pusat. pengembangan. rekrutmen. 3. Pengelolaan Kurikulum.

maupun yang tersurat dan tersirat dalam kebijakan pemerintah dan UU sisdiknas NO. Yang diperlukan adalah peningkatan intensitas dan ekstensitasnya. tentang Pendidikan Berbasis Masyarakat pasal 55 ayat 1:Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat pada pendidikan formal dan non formal sesuai dengan kekhasan . sehingga sumber keuangan tidak sematamata bergantung pada pemerintah. terutama dukungan moral dan finansial yang dari dulu telah didesentralisasikan. 6. mutu. serta hal lain yang dapat menumbuh k Sementara itu baik berdasarkan kajian pelaksanaan dinegara-negara lain. dan dukungan dari masyarakat. kelenturan pengelolaan sekolah. penempatan untuk melanjutkan sekolah atau untuk memasuki dunia kerja hingga pengurusan alumni dari dulu telah didesentralisasikan. pengembangan. Peningkatan mutu diperoleh melalui partisipasi orang tua. partisipasi masyarakat. pembimbingan. Hubungan sekolah dan masyarakat Esensi hubungan sekolah dan masyarakat adalah untuk meningkatkan. Peningkatan efisiensi diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumber daya yang ada.dilakukan oleh sekolah. Yang diperlukan adalah peningkatan intensitas dan ekstensitasnya. kepemilikan. 7. Pelayanan siswa Pelayanan siswa mulai dari penerimaan siswa baru. 20 Tahun 2003. 3.dan pemerataan pendidikan. kepedulian. pembinaan. Tujuan Manajemen berbasis Sekolah Tujuan utama Manajemen Berbasis Sekolah adalah meningkatkan efisiensi. peningkatan profesionalisme guru. adanya hadiah dan hukuman sebagai kontrol. Sekolah juga harus di beri kebebasan untuk untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang mendatangkan penghasilan. dan penyederhanaan birokrasi.

efektifitas dan efisiensi. artinya hasil pendidikan yang bermutu sekaligus yang relevan dengan berbagai kebutuhan dan konteksnya. Mutu dan relevansi ada yang memandangnya sebagai satu kesatuan substansi. Bagi yang memisahkan keduanya. keadilan.agama. Keadilan ini begitu penting. serta akuntabilitas. dan secara keseluruhan sekolah harus mencapai standar kompetensi minimal bagi setiap anak yang diluluskan. maka MBS memberi keleluasaan kepada setiap sekolah untuk menangani setiap anak dengan latar belakang social ekonomi dan psikologis yang beragam untuk memperoleh kesempatan dan layanan yang memungkinkan semua anak dan masing-masing anak berkembang secara optimal. 3) MBS bertujuan meningkatkan efektifitas MBS bertujuan meningkatkan efektifitas dan . termasuk juga ranah pendidikan yang tidak diujikan. Berkaitan dengan pasal tersebut setidaknya ada empat aspek yaitu: kualitas (mutu) dan relevansi. sehingga para ahli sekolah efektif menyingkat tujuan sekolah efektif hanya mutu dan keadilan atau . tetapi setiap sekolah harus melayani setiap anak (bukan hanya yang pandai). Dengan asumsi bahwa setiap anak berpotensi untuk belajar. sedangkan relevansi lebih merujuk pada manfaat dari apa yang diperoleh siswa melalui pendidikan dalam berbagai lingkup/tuntutan kehidupan (dampak). 1) MBS bertujuan mencapai mutu quality dan relevansi pendidikan yang setinggi-tingginya. 2) MBS bertujuan menjamin keadilan bagi setiap anak untuk memperoleh layanan pendidikan yang bermutu disekolah yang bersangkutan. lingkungan sosial. seperti nilai ujian atau prestasi lainnya. dengan tolok ukur penilaian pada hasil output dan outcome bukan pada metodologi atau prosesnya. dan budaya untuk kepentingan masyarakat. maka mutu lebih merujuk pada dicapainya tujuan spesifik oleh siswa (lulusan).quality and equity. Sungguhpun antara sekolah harus saling memacu prestasi.

Dengan menerapkan MBS diharapkan setiap sekolah. 4. yaitu dimilikinya otonomi dalam .tanpa pertanggung jawaban hasil pelaksanaan program.efisiensi. sehingga semua input tepat guna dan tepat sasaran. dapat menerapkan metode yang tepat (yang dikuasai). efisiensi berhubungan dengan nilai uang yang dikeluarkan atau harga (cost) untuk memenuhi semua input (proses dan semua input yang digunakan dalam proses) dibandingkan atau dihubungkan dengan hasilnya (hasil belajar siswa). Sebaliknya untuk mencapai hasil yang baik. atau dinilai hasilnya. Selama ini pertanggung jawaban sekolah lebih pada masalah administratif keuangan dan bersifat vertical sesuai jalur birokrasi. dan input lain yang tepat pula (sesuai lingkungan dan konteks social budaya). 4. Efektif-tidaknya suatu sekolah diketahui lebih pasti setelah ada hasil. Pertanggung jawaban yang bersifat teknis edukatif terbatas pada pelaksanaan program sesuai petunjuk dan pedoman dari pusat (pusat dalam arti nasional. diupayakan menerapkan indikator-indikator atau cirri-ciri sekolah efektif. sekolah harus memiliki otonomi terhadap empat hal. sesuai kondisi masing-masing. prosedur. efektif untuk meningkatkan mutu pendidikan. Efektifitas berhubungan dengan proses. maupun pusatpusat irokrasi di bawahnya). Atau dengan kata lain. MBS bertujuan meningkatkan akuntabilitas sekolah dan komitmen semua stake holders. Sementara itu. Akuntabilitas adalah pertanggung jawaban atas semua yang dikerjakan sesuai wewenang dan tanggung jawab yang diperolehnya. sehingga menghasilkan hasil belajar siswa seperti yang diharapkan (sesuai tujuan). dan ketepat-gunaan semua input yang dipaki dalam proses pendidikan disekolah. Langkah-langkah MBS Secara umum dapat disimpulkan bahwa implementasi MBS akan behasil melalui strategistrategi berikut ini: Pertama.

Keempat. sampai batas-batas nyata perlu dijelaskan secara nyata. Sekolah harus lebih banyak mengajaklingkungan dalam mengelola sekolah karena bagaimanapun sekolah adalah bagian dari masyarakat luas. Konsumen yang harus dilayani kepala sekolah adalah murid dan orang tuanya.kekuasaan dan kewenangan. Bagaimanapun kepala sekolah adalah pimpinan yang memiliki kekuatan untuk itu. motivator. adanya guidlines dari departemen pendidikan terkait sehingga mampu . pengangkatan kepala sekolah harus didasarkan atas kemampuan manajerial dan kepemimpinan dan bukan lagi didasarkan atas jenjang kepangkatan. masyarakat dan para guru. akses informasi ke segala bagian dan pemberian penghargaan kepada setiap pihak yang berhasil. Keenam. fasilitator. adanya peran serta masyarakat secara aktif. Kelima. kepala sekolah harus menjadi sumber inspirasi atas pembangunan dan pengembangan sekolah secara umum. Siapa kebagian peran apa dan melakukan apa. pengembangan pengetahuan dan keterampilan secara berkesinambungan. dalam hal pembiayaan. Kepala sekolah jangan selalu menengok ke atas sehingga hanya menyenangkan pimpinannya namun mengorbankan masyarakat pendidikan yang utama. adanya proses pengambilan keputusan yang demokratis dalam kehidupan dewan sekolah yang aktif. Kepala sekolah dalam MBS berperan sebagai designer. Dalam pengambilan keputusan kepala sekolah harus mengembangkan iklim demokratis dan memperhatikan aspirasi dari bawah. semua pihak harus memahami peran dan tanggung jawabnya secara bersungguh sungguh. Kedua. prosespengambian keputusan terhadap kurikulum. Oleh karena itu. Ketiga. Untuk bisa memahami peran dan tanggung jawabnya masing-masing harus ada sosialisasi terhadap konsep MBS itu sendiri.

5) Evaluasi. misi. Masing-masing langkah dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Evaluasi diri self assessment Evaluasi diri sebagai langkah awal bagi sekolah yang ingin. evaluasi atas pelaksanaan dilapangan dan dilakukan perbaikan-perbaikan. dan tujuan. implementasi diawali dengan sosialsasi dari konsep MBS. 3)Perencanaan. Bagi sekolah yang sudah beroperasi ( sudah ada / jalan) paling tidak ada 6 (enam) langkah. identifikasi peran masing-masing pembangunan kelembagaan capacity building mengadakan pelatihan pelatihan terhadap peran barunya. Artinya. implementasi pada proses pembelajaran. Pelaporan. Perlu dikemukakan lagi bahwa MBS tidak bisa langsung meningkatkan kinerja belajar siswa namun berpotensi untuk itu. dan 6) . Kedelapan. Kesembilan. tidak perlu lagi petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis dalam pelaksanaan MBS. yang diperlukan adalah rambu-rambu yang membimbing. Akuntabilitas sebagai bentuk pertanggung jawaban sekolah terhadap semua stakeholder. sekolah harus memiliki transparansi dan akuntabilitas yang minimal diwujudkan dalam laporan pertanggung jawabannya setiap tahunnya. demokratis. Penerapan MBS harus diarahkan untuk pencapaian kinerja sekolah dan lebih khusus lagi adalah meningkatkan pencapaian belajar siswa. usaha MBS harus lebih terfokus pada pencapaian prestasi belajar siswa. Ketujuh.mendorong proses pendidikan di sekolah secara efisien dan efektif. atau akan melaksanakan 1) evaluasi diri self assessment. Oleh karena itu. yaitu : Perumusan visi. 2) 4) Pelaksanaan. Untuk itu sekolah harus dijalankan secara transparan. Guidelines itu jangan sampai berupa peraturan-peraturan yang mengekang dan membelenggu sekolah. dan terbuka terhadap segala bidang yang dijalankan dan kepada setiap pihak terkait.

c) Merumuskan titik tolak point of departure bagi sekolah/madrasah yang ingin atau akan mengembangkan diri terutama dalam hal mutu. dan seluruh staf. dan diikuti juga anggota komite sekolah. sejauh tidak bertentangan dengan . Misi.manajemen mutu berbasis sekolah. kemajuan yang telah dicapai. guru.Kegiatan ini dimulai dengan curah pendapat brainstorming yang diikuti oleh kepala sekolah. perumusan visi dan misi serta tujuan merupakan langkah awal/pertama yang harus dilakukan yang menjelaskan kemana arah pendidikan yang ingin dituju oleh para pendiri/ penyelenggara pendidikan. Titik awal ini penting karena sekolah yang sudah berjalan untuk memperbaiki mutu. untuk membangkitkan kesadaran / keprihatinan akan penting dan perlunya pendidikan yang bermutu. dan tujuan Bagi sekolah yang baru berdiri atau baru didirikan. melainkan dari kondisi yang dimiliki. maupun masalah-masalah yang dihadapi ataupun kelemahan yang dialami. Dalam kasus sekolah/madrasah negeri kepala sekolah bersama guru mewakili pemerintah kab/kota sebagai pendiri dan bersama wakil masyarakat setempat ataupun orang tua siswa harus merumuskan kemana sekolah kemasa depan akan dibawa. b) Refleksi/Mawas diri. sehingga timbul komitmen bersama untuk meningkatkan mutu sense of quality. 2) Perumusan Visi. Prakarsa dan pimpinan rapat adalah kepala sekolah. memancing minat acara rapat dapat dimulai dengan pertanyaan seperti: Perlukah kita meningkatkan mutu? seperti apakah kondisi sekolah / madrasah kita dalam hal mutu pada saat ini? Mengapa sekolah kita tidak/belum bermutu? Kegiatan ini bertujuan: a) Mengetahui kondisi sekolah saat ini dalam segala aspeknya (seluruh komponen sekolah). mereka tidak berangkat dari nol.

Tujuan merupakan tahapan antara. prosedurnya serta metode . Dengan kata lain. kemanusiaan. keluhuran budi pekerti. keadilan. Tujuan-tujuan antara ini sebagai tujuan jangka menengah kalau tiba saatnya berakhir (tahun yang ditetapkan ) akan disusul dengan tujuan berikutnya. 23 tahun 2003 tentang Sisdiknas. ataupun kualitas pendidikan sebagaimana telah didefinisikan sebelumnya. dipenggal-penggal menjadi tujuan tahunan yang biasa disebut target/sasaran. Keadaan yang diinginkan tersebut hendaklah ada kaitannya dengan idealisme dan mutu pendidikan.tujuan pendidikan nasional seperti tercantum dalam UU No. dalam formulasi yang jelas baik secara kualitatif maupun kuantitatif. atau tonggak tonggak penting antara titik berangkat (kondisi awal) dan titik tiba tujuan akhir yang rumusannya tertuang dalam dalam bentuk visi-misi. Tujuan (jangka menengah). Tujuan-tujuan jangka pendek (1 tahun) inilah yang rincian persiapannya dalam bentuk perencanaan. Kondisi yang diharapkan/diinginkan dan diimpikan dalam jangka panjang itu. termasuk anggaran yang diperlukan untuk membiayai kegiatan yang direncanakan. merupakan jabaran dan visi atau merupakan komponen-komponen pokok yang harus direalisasikan untuk mencapai visi yang telah ditetapkan. 3) Perencanaan Perencanaan pada tingkat sekolah adalah kegiatan yang ditujukan untuk menjawab: apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannnya untuk mewujudkan tujuan (tujuan-tujuan) yang telah ditetapkan / disepakati pada sekolah yang bersangkutan. Idealisme disini dapat berkaitan dengan kebangsaan. misi merupakan tugas-tugas pokok yang harus dilakukan untuk mewujudkan visi. kalau dirumuskan secara singkat dan menyeluruh disebut visi. sedangkan visi dan misi (relatif/pada umumnya) masih tetap. Dengan kata lain perencanaan adalah kegiatan menetapkan lebih dulu tentang apa-apa yang harus dilakukan. Sedangkan misi.

partisipasi masyarakat dan kinerja kepala sekolah. Dikatakan teliti karena ia harus menjelaskan apa yang akan dilakukan. 4) Pelaksanaan Apabila kita bertitik tolak dari fungsi-fungsi manajemen yang umumnya kita kenal sebagai fungsi perencanaan. Tahap pelaksanaan. dalam bentuk tertulis. Khususnya mengenai pelaksanaan belajar mengajar. bagaimana. Didalam pelaksanaan tentu masih ada kegiatan perencanaan-perencanaan yang lebih mikro (kecil) baik yang terkait dengan penggalan waktu (bulanan. Pelaksanaan juga dapat diartikan sebagai suatu proses kegiatan merealisasikan apa-apa yang telah direncanakan. maka langkah pertama sampai dengan ketiga dapat digabungkan fungsi perencanaan yang secara keseluruhan (untuk sekolah) sudah dibahas. Selanjutnya Sidi. bahkan mingguan). sebab sekalipun . atau kegiatan lainnya. misalnya menghadapi lomba bidang studi.pelaksanaannya untuk mencapai suatu tujuan organisasi atau satuan organisasi. dapat berjalan sebagaimana mestinya (efektif dan efisien).semesteran. pengarahan/penggerakkan atau pemimpinan dan kontrol/pengawasan serta evaluasi. Perencanaan oleh sekolah merupakan persiapan yang teliti tentang apa-apa yang akan dilakukan dan skenario melaksanakannya untuk mencapai tujuan yang dihar apkan. dalam hal ini pada dasarnya menjawab bagaimana semua fungsi manajemen sebagai suatu proses untuk mencapai tujuan lembaga yang telah ditetapkan melalui kerjasama dengan orang lain dan dengan sumber daya yang ada. kapan dan berapa perkiraan satuan-satuan biayanya. atau yang terkait erat dengan kegiatan khusus. serta hasil seperti apa yang diharapkan. seberapa besar lingkup cakupan kuantitatif dan kualitatif yang akan dikerjakan. sangat menekankan pada optimalisasi pelaksanaan proses belajar mengajar. mengemukakan bahwa kemandirian sekolah yang ditegaskan dalam manajemen berbasis sekolah. guru-guru memegang peranan yang sangat menentukan. pengorganisasian.

relevan. Kinerja kepala sekolah itu harus tampak dalam memainkan perannya secara professional. Sehubungan tugas kepala sekolah sebagai administrator. (5) sekolah dan masyarakat (IKIP Malang. (4) keuangan.. Kinerja Kepala Sekolah Kepala sekolah sebagai organisator memiliki peran yang sangat penting menentukan jalannya organisasi sekolah. sehingga kepala sekolah dituntut mampu menumbuhkembangkan kreativitas kerja guru dan staf sekolah. (5) mengelolah sarana dan fasilitas sekolah. Peran kepala sekolah sebagai administrator pendidik bertolak dari hakikat administrasi pendidikan. Sekolah memerlukan suatu organisasi kerja yang baik. E. (3) perlengkapan. yakni mendayagunakan berbagai sumber (manusia sarana dan prasarana serta berbagai media pendidikan lainnya) secara optimal.sarana dan prasarana pendidikan lengkap dan mempunyai sumber dana yang cukup memadai. (2) kesiswaan. efektif dan efisien guna menunjang pencapaian pendidikan. tetapi kalau sumber daya manusianya yaitu para guru-gurunya tidak melaksanakan tugasnya dengan baik dalam proses belajar mengajar. Secara kongkret pelaksanaan tugas dan fungsi administrator dalam administrasi pendidikan mencakup lingkup substansi administrasi pendidikan (sekolah) (1) kurikulum atau pengajaran. kepegawaian dan (6) hubungan dengan itu tugasmenyarankan bahwa: “Beberapa kompetensi dasar yang perlu dikuasai oleh Kepala Sekolah yakni (1) memahami kurikulum sekolah. (3) mengadakan hubungan dengan masyarakat di sekitarnya untuk keefektifan pelaksanaan pengajaran di sekolah khususnya para orang tua murid. (2) membantu melaksanakan kegiatan belajar mengajar dalam kelas. Olehnya itu. maka tidak dapat diharapkan mutu output pendidikan akan meningkat. (4) mampu menciptakan hubungan baik guru dengan murid di sekolahnya. (Burton dalam Mantja 2002) . 1995). dan (6) mampu melaksanakan program kerja pengajaran”. kinerja kepala sekolah seharusnya mencerminkan lebih baik daripada guru dan staf lainnya.

manusiawi. dan konseptual. Keterampilan teknis yang ditunjuk kerjakan oleh administrator sekolah Budgeting. Sehubungan dengan hal tersebut di atas. Kinerja Guru Dalam Proses Belajar Mengajar Bangsa dan negara akan dapat memasuki era globalisasi dengan tegar apabila memiliki sistem pendidikan yang berkualitas. guru adalah kreator proses belajar mengajar. Kualitas pendidikan. Untuk itu . kepala sekolah harus memiliki kompetensi yang mengacu pada perbuatan dan kinerja yang bersifat rasional dan memenuhi spesifikasi tertentu di dalam pelaksanaan tugas-tugas tertentu termasuk tugas kepala sekolah sebagai administrator. terutama ditentukan oleh proses belajar mengajar yang berlangsung dalam ruang kelas. schedule. sekolah supervisor secara substansial merupakan tugas-tugas pokok kepala sekolah yang menurut kinerja kepala sekolah secara profesional. dan berbagai tanggung jawab administrasi yang sejenisnya. Keterampilan manusiawi (insani) mengacu kepada keterampilan yang diperlukan dalam keberhasilan kerja dengan orang per orang atau dalam latar kelompok. Dalam usaha meningkatkan kualitas pendidikan disadari suatu kebenaran fundamental. manajer. guru memegang peranan yang penting. Dalam proses belajar mengajar. Pada dasarnya peningkatan kualitas diri seseorang harus menjadi tanggung jawab diri pribadi. staffing. F. Sedangkan keterampilan konseptual adalah kemampuan yang diperlukan oleh administrator untuk melihat gambaran keseluruhan dan hubungan-hubungannya diantara dan di dalam bagianbagian yang berlainan. yakni bahwa kunci keberhasilan menciptakan dan mempersiapkan guru-guru yang profesional yang memiliki kekuatan dan tanggung jawab baru untuk merencanakan pendidikan masa depan. pimpinan.Kompetensi yang diperlukan administrator menekankan perlunya kompetensi dasar yang harus dikuasai yaitu: teknis. Oleh karenanya usaha peningkatan kualitas guru terletak pada diri guru sendiri.

dan objektif. masyarakat dan pemerintah. saran dan bimbingan G. Aktivitas yang dimaksud tidak bersifat searah melainkan bersifat multi arah. penilaian. Wadah/kelembagaan. c. Selanjutnya. Standar profesional guru. b. asuh dan asih untuk meningkatkan kualitas diri masing-masing khususnya dan mencapai kualitas sekolah serta pendidikan pada umumnya. d. Bentuk kegiatan kelompok yang dibentuk merupakan wadah kegiatan dimana antara anggota sejawat biasa saling asah. artinya aktivitas yang dilaksanakan bersifat komprehensif dan total mencakup presentasi. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. kewajiban dan kesempatan yang sama dalam setiap kegiatan tanpa memandang jenjang kepangkatan jabatan dan gelar akademik yang disandangnya. Maka setiap anggota kelompok memiliki hak. Partisipasi Masyarakat Dalam Undang-Undang No. Sebagaimana konsep asah. harmonis. untuk pengembangan kesejawatan adalah kelompok yang organ yang bersifat non-struktural dan lebih bersifat formal. peran serta masyarakat dalam pelaksanaan manajemen berbasis sekolah yang diharapkan dari masyarakat. antara lain : merupakan . asuh dan asih. kritik. kegiatan kelompok dilaksanakan secara rutin dan berkesinambungan. Dengan demikian untuk pembinaan dan peningkatan profesional guru perlu dikembangkan kegiatan profesional kesejawatan yang baik. observasi. Mekanisme.diperlukan adanya kesadaran pada diri guru untuk senantiasa dan secara terus menerus meningkatkan pengetahuan dan kemampuan yang diperlukan guna peningkatan kualitas kerja sebagai pengajar professional. bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga. Secara sistematis pengembangan kejawatan memerlukan : a. tanggapan. pada dasarnya kelompok yang diuraikan di atas merupakan wadah aktivitas profesional untuk meningkatkan kemampuan profesional guru.

Dikatakan demikian. Tenaga yaitu sebagai sumber atau tenaga sukarela untuk membantu mensukseskan wajib belajar dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Masyarakat dunia usaha juga diharapkan untuk memberikan pemikiran dan sumbangan dalam perumusan kebijakan pendidikan. Salah satu kebijakan pemerintah menyangkut pembiayaan pendidikan dalam rangka peningkatan mutu pada semua jenjang pendidikan (dasar. memberikan beasiswa. Kelompok masyarakat mampu perlu didorong untuk memberi sumbangan yang lebih besar dalam membiayai pendidikan. karena keduanya memiliki kepentingan. bagi masyarakat tidak mampu disediakan bantuan. menanggulangi anak putus sekolah. yaitu memberikan masukan berupa pendapat pemikiran dalam rangka menjaring anak-anak usia sekolah. dan masyarakat dan dunia usaha. 3. lembaga pendidikan. antara lain dengan mengembangkan mekanisme kerjasama saling menguntungkan bagi peserta didik. Sekolah merupakan lembaga yang tidak dapat dipisahkan masyarakat lingkungannya. menjadi sponsor dalam suatu kegiatan sekolah. Sementara itu. tenaga fasilitas praktik dan penelitian. menjadi . Dana.1. Sekolah merupakan lembaga formal yang diserahi mandat untuk mendidik. menengah dan tinggi) yakni. untuk membantu pendanaan operasional sekolah. dan sebagainya. orang tua asuh. melatih dan membimbing generasi muda bagi peranannya di masa depan sementara masyarakat merupakan pengguna jasa pendidikan itu. Pemikiran. 2. dunia usaha didorong untuk memberi bantuan beasiswa. dan meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. baik langsung ataupun tidak langsung demi pemusatan dan keadilan pendidikan. sebaliknya masyarakat pun tidak dapat dipisahkan dari sekolah. peningkatan peran serta masyarakat dunia usaha dalam penyelenggaraan pendidikan ditingkatkan. serta memperbaiki sarana dan prasarana baik secara individu maupun secara kelompok.

kalangan dunia usaha. ditata dan diberdayakan agar sekolah dapat menghasilkan produk atau hasil secara optimal. Implikasi pelaksanaan manajemen berbasis sekolah adalah perlunya dukungan dan peran aktif kepala sekolah. memiliki sistem yang kompleks dan dinamis. oleh karena itu sekolah dipandang sebagai suatu organisasi yang membutuhkan pengelolaan. merupakan wadah tempat proses pendidikan dilakukan. merupakan suatu upaya peningkatan pengelolaan dan pemberdayaan sekolah sebagai lembaga pendidikan. Kerangka Pikir Sekolah dipandang sebagai suatu organisasi yang didesain untuk dapat berkontribusi terhadap upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia serta peningkatan derajat sosial masyarakat bangsa. guru dan masyarakat sebagai pihak yang terkait dengan proses belajar mengajar . merupakan sistem yang memiliki berbagai perangkat dan unsur yang saling berkaitan yang memerlukan pemberdayaan. diatur. Dengan kata lain. sekolah sebagai lembaga tempat penyelenggaraan pendidikan. Pelaksanaan manajemen berbasis sekolah secara efektif dan efisien. melainkan berada dalam satu tatanan sistem yang rumit dan saling berkaitan. Dalam kegiatannya. sekolah adalah tempat yang bukan hanya sekedar tempat berkumpul guru dan murid. 4. tokoh masyarakat dan organisasi pemerhati pendidikan dengan upayaupayanya yang dapat dilakukan mulai pada tahap perumusan kebijaksanaan implementasi kebijaksanaan secara operasional serta evaluasi dan pengawasan dan pelaksanaan dan pengelolaan pendidikan sekolah. sekolah sebagai institusi pendidikan perlu dikelola. Partisipasi masyarakat luas seperti. Sekolah sebagai institusi/lembaga pendidikan.Partisipasi masyarakat merupakan wujud pemberdayaan masyarakat sebagai daya dukung sekolah dalam rangka pengelolaan sekolah secara efektif dan efisien agar seoptimal mungkin sasaran dan tujuan pendidikan sekolah dapat tercapai.

oleh karena itu guru perlu siap dengan segala kewajiban baik manajemen maupun persiapan isi materi pengajaran. Disamping itu kepala sekolah juga harus melakukan tukar pikiran sumbang saran. kreativitas dan daya cipta guru untuk pelaksanaan MBS perlu . Guru adalah teladan dan panutan langsung para peserta didik dikelas. Dalam mengimplementasikan manajemen berbasis sekolah. keteladanan dan hubungan manusiawi sebagai modal perwujudan iklim kerja yang kondusif. perencanaan dan pandangan yang luas tentang sekolah dan pendidikan. jadwal pelajaran. Kepala sekolah dituntut untuk melakukan tugas dan fungsinya sebagai manajer sekolah dalam meningkatkan proses belajar mengajar. dengan melakukan supervisi kelas. semangat belajar. akan meningkat.di sekolah. disiplin kerja. Guru juga harus mampu mengorganisasikan kelas dengan baik. membina dan memberikan saran-saran positif kepada guru. study banding antara sekolah untuk menyerap kiat-kiat kepemimpinan dari kepala sekolah yang lain. Guru kelas sebagai pelaksana proses belajar mengajar di kelas harus dapat berkreasi dalam meningkatkan manajemen kelas. Suasana kelas yang menyenangkan dan penuh disiplin sangat diperlukan untuk mendorong semangat belajar peserta didik. penempatan alat dan Iain-Iain harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. kepala sekolah sebagai pucuk pimpinan perlu memiliki pengetahuan kepemimpinan. Guru memegang peranan penting dalam proses belajar mengajar sebab sekalipun sarana dan prasarana pendidikan lengkap dan mempunyai sumber dana yang cukup memadai. maka tidak dapat diharapkan kualitas pendidikan para murid. Wibawa kepala sekolah harus ditumbuhkembangkan dengan meningkatkan sikap kepedulian. tetapi kalau sumber daya manusia yaitu para guru tidak melaksanakan tugas dengan baik dalam proses belajar mengajar. pembagian tugas peserta didik.

Program Pengajaran dan Perbaikan 1. sebagai Educator 2. Kepsek sebagai Pemimpin 6. memberikan masukan berupa pendapat dan pemikiran dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Partisipasi masyarakat secara material dalam pendanaan operasional sekolah seperti pemberian beasiswa. Kepsek sebagai Supervisor 5. Penyajian Materi Pelajaran 3. Kelengkapan Program Mengajar 2. Kepsek. Kepsek sebagai Inovator . Untuk memperoleh gambaran yang. menjadi sponsor dalam suatu kegiatan sekolah serta bantuan moril yang diharapkan seperti orang tua asuh bagi anak-anak usia sekolah yang kurang mampu. Kepsek. Kepsek. jelas tentang arah penelitian ini secara skematis digambarkan kerangka pikir ini seperti dapat dilihat pada Gambar 1 Dinas Pendidikan Kabupaten Bone SMP Negeri 4 Watampone Manajemen Berbasis Sekolah Kinerja Guru Kinerja Kepala Sekolah Partisipasi Masyarakat 1. yakni kepala sekolah. dapat diharapkan kualitas pendidikan peserta didik (murid) akan meningkat sehingga mampu mengikuti perkembangan dan tuntutan untuk tahap pendidikan selanjutnya. Evaluasi dan Analisis Hasil Belajar 4. Jika ketiga unsur tersebut terlibat secara aktif dan kreatif dalam proses belajar mengajar di sekolah. guru dan masyarakat.terus menerus perlu didorong dan dikembangkan. Dengan demikian pelaksanaan manajemen berbasis sekolah mensyaratkan dukungan dan partisipasi aktif paling tidak dari tiga pihak terkait dengan proses belajar mengajar di sekolah. sebagai Administrasi 4. sebagai Manajer 3.

Kepsek sebagai Motivator 1. Partisipasi dalam Monitoring Gambar 2. Partisipasi dalam Perencanaan Program Sekolah 3. Sketsa Kerangka Pikir BAB III .7. Partisipasi dalam Perencanaan Sekolah 2.1.

Defenisi Operasional Variabel 56 Dalam penelitian ini terdapat beberapa variabel yang akan diteliti dan dianalisis yang diduga berkaitan dengan pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah. (3) partisipasi masyarakat serta (4) faktor pendukung serta faktor penghambat pelaksanaan manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Khusus. sedangkan subjeknya adalah kepala sekolah. Jenis dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menjelaskan analisis implementasi pelaksanaan manajemen berbasis Sekolah dalam proses belajar mengajar pada tingkat Sekolah Menengah Pertama. sarana dan prasarana serta infrastruktur sekolah yang cukup memadai. Variabel tersebut didefinisikan sebagai berikut: 1. kinerja guru dan partisipasi masyarakat terhadap proses belajar mengajar. Penelitian ini dilaksanakan pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum dengan pertimbangan bahwa Sekolah Menengah Pertama telah memiliki kewenangan dan tanggung jawab pada tahap awal pelaksanaan manajemen berbasis sekolahdalam berbagai bidang untuk mencapai tujuan pendidikan sehingga memungkinkan pelaksanaan manajemen berbasis sekolah dengan baik karena berbagi faktor-faktor pendukung yang dimiliki seperti. Objek yang diteliti adalah kinerja kepala sekolah.METODE PENELITIAN A. sumber daya guru (lebih banyak menggunakan guru inti). guru dan masyarakat. Manajemen berbasis sekolah adalah bentuk pengelolaan sekolah berdasarkan sumber daya . yakni (1) kinerja kepala sekolah. (2) kinerja guru dalam proses belajar mengajar. B.

3. setiap pertanyaan akan diberi skor menunjukkan kinerja kepala sekolah. pencapaian sasaran dan tujuan pendidikan. (2) penyajian materi (3) evaluasi hasil proses belajar mengajar. (6) motivator. Indikator variabel ini adalah : (1) partisipasi masyarakat dalam program perencanaan sekolah.yang dimiliki sekolah secara efektif dan efisien dalam rangka. Variabel ini diukur dengan mengajukan serangkaian pertanyaan kepada guru sekolah. Kinerja guru adalah kemampuan guru dalam melaksanakan kegiatan proses belajar mengajar di kelas. 5. dan (4) program perbaikan dan pengayaan prosesbelajar mengajar. diberi skor dan jumlah skor menunjukkan kinerja guru. Kinerja kepala sekolah yaitu. setiap pertanyaan akar. setiap pertanyaan akan diberikan skor dan jumlah skor akan menunjukkan tinggi rendahnya partisipasi masyarakat. Indikator variabel ini adalah pelaksanaan tugas dan fungsi sebagai kepala sekolah yang meliputi tugas dan fungsi kepala sekolah sebagai: (1) manajer. (2) pelaksanaan program sekolah menggunakan dan (3) evaluasi dan monitoring program sekolah. Variabel ini diukur dengan mengajukan serangkaian pertanyaan masyarakat. Indikator variabel ini adalah pelaksanaan tugas dan fungsi guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar meliputi : (1) kelengkapan program belajar mengajar. kemampuan melaksanakan tugas dan fungsi jabatan sekolah. (3) (4) pemimpin. yakni anggota komite sekolah sebagai perwakilan orang tua siswa di sekolah. Faktor pendukung dan faktor penghambat adalah segala sesuatu yang dapat mendukung dan . 2. supervisor (2) administrator. Variabel ini diukur dengan mengajukan serangkaian pertanyaan kepada guru sekolah. 4. Partisipasi masyarakat adalah keterlibatan masyarakat secara sukarela dalam kegiatan pengelolaan dan pengembangan sekolah. (5) innovator.

Variabel Penelitian Berdasarkan variabel yang diteliti dan dianalisis.menghambat implementasi pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah di SMP Negeri 4 Khusus dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah tersebut C. Instrumen Penelitian Pengukuran variabel dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan instrumen berupa daftar pertanyaan yang meliputi: (1) instrumen kinerja kepala sekolah. baik yang berstatus sebagai pegawai tetap maupun yang berstatus sebagai honorer. Faktor pendukung dan penghambat dalam pengimplementasian manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Khusus akan dijabarkan secara mendalam dalam penelitian ini. Ketiga instrumen tersebut dikembangkan berdasarkan indikator masing-masing variabel. Pemilihan sampel dilakukan secara bertujuan (purposive) dengan hanya memilih . (3) instrumen partisipasi masyarakat. (2) instrumen kinerja guru. maka dilakukan tehnik sampling. sebagaimana dapat dilihat pada Lampiran I. Mengingat jumlah populasi yang relatif besar. Manajemen Berbasis Sekolah. Pada variabel manajemen berbasis sekolah akan diteliti tentang bagaimana kinerja kepala sekolah dengan berbagai sub variabelnya. D. Populasi penelitian ini adalah seluruh komponen yang terdapat pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum yang terlibat langsung dengan aktivitas pembelajaran berjumlah 66 guru. E. kinerja guru dengan sub variabelnya dan kinerja partisipasi masyarakat dengan sub variabelnya. Populasi dan Sampel. 2. pelaksanaan penelitian dapat dijabarkan sebagai berikut: 1.

24 anggota komite yang mewakili orang tua wali atau seluruhnya 49 Dengan perincian sebagai berikut: a.sebahagian orang sebagai sampel. Selanjutnya responder dipilih secara purposive dan dijadikan sampel yang dianggap memahami permasalahan penelitian. F. Sumber data penelitian ini terdiri dari kepala sekolah. Wakil kepala sekolah. b. Guru-guru. Metode observasi Metode observasi dapat diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan sistematik . yaitu untuk memperoleh keterangan tentang upaya-upaya yang dilakukan dalam mengimplementasikan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4 Khusus c. Metode Pengumpulan Data 1. Alasan Pemilihan sampel ini karena orang-orang tersebut dianggap mempunyai kesiapan dalam memberikan informasi yang diperlukan selama penelitian. Responden diambil dari kepala sekolah. Orang tua siswa dalam hal ini yang diwakili Komite sekolah. Kepala sekolah. Wakasek kurikulum dan pengajaran dan Wakasek Kesiswaan e. yaitu untuk memperoleh keterangan sejauh mana perannya sebagai wakil dari orang tua siswa dan patner sekolah dalam pengimplementasian Manajemen Berbasis Sekolah di SMP Negeri 4 Khusus. anggota komite sekolah sebagai perwakilan orang tua/wali yang masing-masing terdapat pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum. Kapala Tata Usaha f. 24 guru. yaitu untuk memperoleh keterangan mengenai usaha-usahanya dalam mengimplementasikan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4 Khusus. yaitu untuk memperoleh keterangan sebagai pelaksana langsung dalam implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di SMP Negeri 4 Khusus. guru. d.

Sedangkan menurut Mardalis. kegiatan proses belajar mengajar di SMP Negeri 4 Khusus. Metode wawancara. serta . keadaan dan fasilitas pendidikan. Bagaimana implementasi manajemen berbasis sekolah bagi SMP Negeri 4 Khusus b). 1996:57). keadaan manajemen-manajemen mulai dari kurikulum. perasaan. tenaga pendidik dan kependidikan.fenomena-fenomena yang diselidiki. kondisi belajar siswa. keuangan. (Sutrisno Hadi. motif. 2. dalam arti yang luas observasi tidak hanya terbatas pada pengamatan yang dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung. Humas dan manajemen layanan khusus serta dalam melaksanakan Manajemen Berbasis Sekolah. Observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh tentang pelaksanaan manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Khusus. observasi atau pengamatan merupakan hasil perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya sesuatu rangsangan tertentu yang diinginkan. Wawancara digunakan untuk mengungkapkan data tentang: a). Metode wawancara atau interview adalah suatu metode yang dilakukan dengan jalan mengadakan komunikasi dengan sumber data melalui dialog (tanya jawab) secara lisan baik langsung maupun tidak langsung untuk menyelidiki pengalaman. serta motivasi. lingkungan sekolah. sarana prasarana. Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data-data secara langsung dan sistematis terhadap obyek yang diteliti untuk memperoleh data lengkap mengenai kondisi umum. dan lain sebagainya. Menurut Suharsimi Arikunto (1996:57) wawancara adalah kegiatan memperhatikan sesuatu dengan menggunakan mata atau pengamatan yang meliputi kegiatan. 2000: 136). kesiswaan. pemusatan perhatian terhadap suatu objek dan menggunakan seluruh panca indera (Suharsimi Arikunto. atau suatu studi yang disengaja dan sistematis tentang keadaan/fenomena sosial dan gejala-gejala psikis dengan jalan mengamati dan mencatat Observasi atau pengamatan secara langsung.

buku. baik yang terpadu maupun manifes. responden yang diteliti. tetapi dapat berupa benda-benda peninggalan seperti prasasti dan simbol-simbol. yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.faktor-faktor apa yang mendukung dan menghambat dalam pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah di SMP Negeri 4 Khusus. daftar tenaga pendidik dan kependidikan dan lain sebagainya. transkip. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak. Sedangkan menurut Lexy J. dokumen bukan hanya yang berwujud tulisan saja. Moleong. . peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku. Dalam pengertian yang lebih luas. wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Metode ini penulis gunakan untuk meneliti benda-benda tertulis seperti buku raport. Dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan. majalah. dan sebagainya. catatan harian. notulen rapat. peraturan-peraturan. surat kabar. dari asal katanya dokumen. dokumen. 1998: 149). jumlah siswa. Wawancara tampaknya merupakan alat pengumpul data (informasi) yang langsung tentang beberapa jenis data sosial. Sumber informasi yang dibuat dokumentasi adalah sumber informasi yang sangat penting dan dapat menggambarkan pelaksanaan manajemen berbasis sekolah seperti data keadaan siswa dan lain lain baik yang terdapat pada sekoloah sampel maupun dokumen dari Dinas Pendidikan Kabupaten Umum. legger. data dari dokumen sekolah tentang sejarah berdirinya SMP Negeri 4 Khusus. yang artinya barang-barang tertulis. notulen rapat. majalah. Metode Dokumentasi Dokumentasi. Dokumentasi ini digunakan untuk melengkapi dan menambah data yang diperoleh melalui wawancara dan observasi. (Suharsimi Arikunto. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi. 3. agenda dan sebagainya.

mengarahkan. data yang telah direduksi akan disajikan dalam bentuk narasi. Sedangkan untuk menganalisa faktor pendukung dan penghambat maka digunakan metode analisis SWOT yaitu Strength (kekuatan). dan membuang yang tidak perlu dan pengorganisasian sehingga data terpilahpilah. yaitu pengumpulan data dan sekaligus reduksi data. Penyajian data dan penarikan kesimpulan/ verifikasi (Miller&Huberman. treath (ancaman). Teknik Analisa Data Adalah proses penyusunan. penulis juga melakukan pencatatan data-data yang ada di SMP Negeri 4 Khusus .G. opportunity (peluang). Dalam proses pengambilan data di lapangan untuk menjaga kevalidan data yag diperoleh. weaknes (kelemahan). Pertama. pengaturan dan pengolahan data agar dapat digunakan untuk membenarkan atau menyalahkan hipotesis (Sudjana. setelah pengumpulan data selesai kemudian dilakukan reduksi data yaitu menggolongkan. Ketiga. penulis menggunakan tekhnik analisis deskriptif kualitatif yang terdiri dari tiga kegiatan. penarikan kesimpulan dari data yang telah disajikan pada tahap kedua yang didukung oleh tabel untuk mengetahui kecenderungan variabel yang diteliti lalu selanjutnya menarik kesimpulan. 1992: 16). Kedua. Dalam menganalisa data. 1991: 76). penulis menggunakan instrumen pengumpulan data yang berupa pertanyaan kepada responden.

Selanjutnya untuk memperoleh informasi yang akurat maka responden dipilih sengaja dari lokasi sampel Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Watampone Kabupaten Umum sebagai syarat memenuhi karakteristik sampel yang diteliti. Selanjutnya untuk memperoleh gambaran secara rinci. Identitas Responden Responden sebanyak 49 orang yang terdiri dari 1 orang kepala sekolah dan 24 orang guru kelas. Pangkat/golongan responden Semakin tinggi tingkat kepangkatan/golongan merupakan faktor yang diasumsikan signifikan dengan kualitas dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai seorang guru Tabel 4.BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. akan diuraikan karakteristik responden sebagai berikut: a. Karakteristik responden guru berdasarkan pangkat/golongan .1. termasuk diantaranya wakil kepala sekolah dan berbagai urusan yang diberikan amanat untuk menjalankan tugas-tugas vital di sekolah serta 24 orang komite sekolah (masyarakat) yang merupakan perwakilan dari orang tua siswa.

33 .17 persen. hal ini diasumsikan keaktifan (enerjik) dalam pelaksanaan tugas-tugas guru. Tabel 4. Berdasarkan tabel 4. Penyebaran responden guru menurut kelompok umur Kelompok Umur < 30 tahun Frekuensi 2 (f) Persentase (%) 8. Usia 46-55 tahun sebanyak 12 orang atau sekitar 50 persen dan hanya 3 orang responden atau 12.17 persen. 2012 Tabel 4. b. Jika responden guru dianalisis berdasarkan golongan seperti pada tabel yang disajikan di atas. dan untuk golongan IVaIVe sebanyak 79.17 100 Sumber: Data Primer. usia responden berusia 31-45 tahun sebanyak 7 orang atau sekitar 29. bahwa responden golongan 1V yang paling tinggi yaitu sebanyak 79.Pangkat/Golongan II/a – II/d III/a – III/d IV/a – IV/e Jumlah Frekuensi (f) 5 19 24 64 Persentase (%) 20.17 persen . Untuk golongan IIIa-IIId sebanyak 20.5 persen berusia 55 tahun ke atas.33 persen.1 tersebut menunjukkan bahwa dari 24 responden guru yang dijadikan sampel dapat dibuat perincian sebagai berikut yaitu untuk golongan IIa-IId adalah 0 persen. Tingkat umur responden Tingkat umur responden dalam penelitian ini dimulai dengan batas usia 30 tahun sampai 55 tahun ke atas.83 79. hal ini menunjukkan bahwa terdapat potensi yang memadai dalam rangka pengembangan manajemen berbasis sekolah dapat terlaksana dengan baik.83 persen atau sebanyak 5 orang guru.2 dapat dilihat bahwa responden berusia 30 tahun ke bawah sebanyak 2 orang atau 8.2.

5 persen pada usia kurang dari 55 tahun masih sangat potensi dalam kedudukannya baik sebagai guru kelas maupun kedudukannya sebagai kepala sekolah dianggap cukup enerjik dan berpengalaman sedang sisanya yaitu sebanyak 3 orang karena berumur di atas 55 tahun atau sekitar 12.2 terlihat bahwa dari sebanyak 24 responden guru dan sampel yang diteliti sebanyak 21 orang atau sekitar 87. Tingkat pendidikan Distribusi responden menurut tingkat pendidikan merupakan suatu faktor yang diasumsikan mempunyai pengaruh terhadap kualitas responden yang berprofesi sebagai guru. Salah satu indikasi yang dilakukan oleh pemerintah dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan baik output maupun inputnya adalah memberikan kesempatan kepada seluruh tenaga pendidik untuk melanjutkan pendidikannya pada level D.5 diasumsikan kurang enerjik.17 50 12. Tabel 4.3.55 tahun > 55 tahun Jumlah 7 12 3 24 29.17 8. Penyebaran responden guru menurut tingkat Pendidikan Tingkat Pendidikan SPG Sederajat Diploma : 1. 2012 Berdasarkan tabel 4.5 100 Sumber: Data Primer.4 atau setara dengan sarjana.5 79. c.31-45 tahun 46. Sarjana Strata 1 5.33 100 Frekuensi (f) 0 Persentase (%) 0 . 2012 0 0 3 19 2 24 0 0 12. Sarjana Strata 2 Jumlah Sumber: Data Primer. Diploma I 2. Diploma III 4. Diploma II 3.

Selanjutnya karakteristik responden masyarakat akan diuraikan secara rinci sebagai berikut: a. demikian halnya dengan pendidikan diploma dua sebanyak 0 persen.17 persen dan 2 orang atau 8. disusul guru yang berpendidikan strata satu S1 tampak sangat mayoritas sebanyak 19 orang atau sekitar 79.5 persen sedang sarjana strata satu 19 orang atau sekitar 79.17 persen dan yang berpendidikan stara 2 yakni sebanyak 2 orang atau sekitar 8.Memperhatikan tabel 4. Dengan membandingkan masing-masing tingkat pendidikan dalam tabel tersebut dimana tingginya tingkat pendidikan tinggi (Strata satu) menyusul tingkat pendidikan diploma dan strata 2 dapat dikatakan bahwa Keberadaan responden guru sangat signifikan dengan kualitas akademik dengan prospek pengembangan sekolah dalam rangka pengimplementasian MBS.3 penyebaran responden berdasarkan tingkat pendidikan terlihat bahwa kategori pendidikan setingkat SPG sebanyak 0 persen atau tidak ada guru yang berpendidikan SPG sederajat. sedang dan tinggi terlihat bahwa tidak terdapat guru yang berkualifikasi pendidikan rendah dan hanya terdapat 3 orang guru yang berpendidikan D. Responden anggota komite sekolah maupun orang tua/wali murid yang dipilih sebagai lokasi sampel penelitian. Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa dari sebanyak 24 responden guru apabila dianalisis berdasarkan kategori pendidikan rendah.33 persen dengan tingkat pendidikan strata dua.5 persen.III atau sekitar 12. Responden masyarakat berdasarkan tingkat pendidikan Responden masyarakat/orang tua siswa sebanyak 24 orang. 1.33 persen. diploma tiga terdapat 3 orang atau 12. Distribusi responden menurut tingkat pendidikan merupakan suatu faktor yang diasumsikan mempunyai pengaruh terhadap kualitas responden berpartisipasi terhadap pengembangan sekolah. Responden Masyarakat Jumlah responden masyarakat/orang tua siswa sebanyak 24 orang. Responden masyarakat .

Responden masyarakat menurut tingkat pendapatan dapat dilihat pada tabel 4. SLTA 9 orang atau sekitar 37.5. Penyebaran responden masyarakat menurut tingkat pendidikan Tingkat Pendidikan Tidak Tamat SD SD SLTP SLTA Sarjana Frekuensi (f) 2 9 13 Persentase (%) 8.5 54.83 50 29.5.17 Jumlah 24 100 Sumber: Data Primer. Jika distribusi responden tersebut dianalisis dengan membandingkan masing-masing tingkat pendidikan yang ada.33 persen.menurut tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel 4.5: Tabel 4.4 sebagai berikut: Tabel 4. dominan responden berpendidikan sarjana. Responden masyarakat berdasarkan pendapatan Distribusi responden menurut tingkat pendapatan diasumsikan signifikan dengan tingkat partisipasi masyarakat terhadap pembangunan/pengembangan sekolah. Penyebaran responden menurut tingkat pendapatan Tingkat Pendapatan < 1 Juta 1 – 5 Juta < 5 Juta Frekuensi (f) 5 12 7 Persentase (%) 20.5 persen sampai pada tingkat sarjana sebanyak 13 orang atau sekitar 54. menunjukkan bahwa sebagian besar responden berpendapatan 1-5 juta .33 37.17 persen. 2012 Pada tabel 4. hal ini menunjukkan bahwa peran serta masyarakat potensial terlibat dalam setiap kegiatan sekolah. b.17 Jumlah 24 100 Sumber: Data Primer.4 tentang penyebaran responden menurut tingkat pendidikan dapat dilihat bahwa tingkat pendidikan menyebar dari SLTP sebanyak 2 orang atau 8.4. 2012 Tabel 4.

Biasanya tingkat pekerjaan yang dimiliki oleh seseorang sangat mendukung dalam penetapan kebijakan pada sebuah institusi terlepas dari konsep politik maupun sosial. Dari Persentase ini jika dianalisis.6. Dan bila dibandingkan dengan yang berpendapatan rendah (kurang 1 juta) lebih banyak berpendapatan tinggi (di atas 5 juta) yaitu sebesar 29. Latar belakang pekerjaan responden masyarakat Latar belakang pekerjaan dapat diasumsikan signifikan dengan tingkat partisipasi masyarakat terhadap pengembangan sekolah. 2012 Dengan melihat tabel 4. menyusul wiraswasta 8 orang atau sekitar 37.67 20.5 persen sedang pensiunan pegawai negeri yang terlibat dalam komite sekolah hanya 4 orang atau sekitar 20.6 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki latar belakang pekerjaan sebagai pegawai negeri yaitu sebanyak 9 orang atau sekitar 41.17 persen dan jumlah sampel yang diteliti (sebanyak 24 orang).67. maka tingkat pendapatan masyarakat potensial terhadap pengembangan sekolah menjadi lebih baik.83 persen.atau 50 persen. Memperhatikan tabel tentang penyebaran responded menurut latar belakang pekerjaan bahwa pegawai negeri sipil yang dominan memperlihatkan tingkat partisipasi paling tinggi. kemudian kalangan wiraswasta juga memperlihatkan tingkat partisipasi yang cukup tinggi. Penyebaran responden masyarakat menurut latar belakang pekerjaan Tingkat Pendidikan Pegawai Negeri Pensiunan Pegawai Negeri Wiraswasta Frekuensi (f) 14 2 8 Persentase (%) 41.5 Jumlah 24 100 Sumber: Data Primer.83 37.6 di bawah ini: Tabel 4. Adapun tabel penyebaran tingkat dan latar belakang pekerjaan dapat dijelaskan melalui tabel 4. 2. hal tersebut jika dianalisis bahwa selama ini perhatian dunia usaha/wiraswasta yang menjadi sorotan masyarakat telah mengalami perubahan yang mendasar sebagai akibat dan perubahan subsistem .

peserta didik. Kinerja sekolah merupakan keterpaduan semua warga sekolah yang tidak terlepas dan pelaksanaan tugas kepala sekolah (Dirjen Dikdasmen 2000) Untuk kinerja kepala sekolah dipakai 7 (tujuh) komponen penilaian yaitu (1) kepala sekolah sebagai edukator (2) kepala sekolah sebagai manajer. (4) kepala sekolah sebagai supervisor. (6) kepala sekolah sebagai innovator. kepala sekolah bertugas untuk membimbing guru. dan (7) kepala sekolah sebagai motivator. Instrumen yang digunakan untuk mengukur kinerja kepala sekolah adalah instrumen yang sama dikeluarkan oleh departemen pendidikan nasional. kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan di sekolahnya. tenaga kependidikan. dan memberi teladan yang baik. Dirjen Dikdasmen tahun 2000. C. memberikan dorongan kepada seluruh tenaga kependidikan. serta melaksanakan model pembelajaran yang menarik. mengikuti perkembangan iptek.manajemen pendidikan yaitu manajemen berbasis sekolah. dengan upaya memotret keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah dan sekaligus menggambarkan kondisi obyektif profit sekolah secara utuh. . Menciptakan iklim sekolah yang kondusif. (5) kepala sekolah sebagai leader. Kinerja Kepala Sekolah dalam Pelaksanaan MBS pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum Secara khusus variabel kinerja kepala sekolah dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan quosioner sebagai pedoman wawancara untuk menganlisis aktivitas kinerjanya sebagai kepala sekolah serta melakukan pengamatan secara seksama mengenai kondisi riil berkaitan dengan implementasi manajemen berbasis sekolah. Kepala Sekolah sebagai Pendidik (Edukator). memberikan nasehat kepada warga sekolah. Dalam melakukan fungsinya sebagai edukator. (3) kepala. Sebagai edukator. sekolah sebagai administrator.

meskipun saya menyadari kegiatan diluar yang berkaitan dengan kepentingan sekolah terkadang membuat saya tidak mengajar. . atau pendidikan lanjutan. moving class dan mengadakan program akselerasi bagi peserta didik yang cerdas di atas normal. bahkan beliau sebagai kepala sekolah mendapat tugas mengajar di kelas dengan jumlah jam wajib sebanyak 6 jam. dan sebagainya Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala SMPN 4 Watampone” Drs Mahmud MM” kegiatan pembelajaran di sekolahnya berjalan dengan tertib. Tugas diluar dan tamu yang datang terkadang menyebabkan kepala sekolah tidak masuk mengajar dikelas. sejalan dengan yang diinformasikan oleh Wakasek “ Drs Suradi” dan bapak Muh Amin sebagai urusan Kurikulum. serta memanfaatkannya secara efektif dan efisien untuk kepentingan pembelajaran. khususnya dalam peningkatan kinerja tenaga kependidikan dan prestasi belajar peserta didik adalah sebagai berikut: a) mengikutsertakan guru-guru dalam penataran. membimbing siswa serta membimbing guru dalam peningkatan proses pembelajaran. Khusus untuk membimbing siswa. dan itu fungsi utama saya sebagai seorang edukator atau tenaga pendidik. tetapi tetap mencari waktu di sore hari untuk mengajar. sedangkan untuk pembimbingan guru diserahkan kepada tim yang saya bentuk untuk memantau kinerja guru” (14 Maret 2012). Tugas utama saya adalah mengajar. Upaya yang dapat dilakukan kepala sekolah dalam meningkatkan kinerjanya sebagai edukator. Oleh karena itu kami berusaha bekerja semaksimal mungkin agar tugas utama kepesek tidak terbengkalai maka jam mengajar kepala sekolah kami tempatkan pada jam 1dan 2 setiap hari senin sampai jumat. Sekalipun demikian saya akan menggantinya atau mencarikan waktu untuk tetap mengajar pada kelas yang saya ajar. saya serahkan ke pembina kesiswaan. dengan cara mendorong para guru untuk memulai dan mengakhiri pembelajaran sesuai waktu yang telah ditentukan. c) menggunakan waktu belajar secara efektif di sekolah.seperti team teaching. “Kepala Sekolah itu adalah tugas tambahan yang dipercayakan pemerintah kepada saya untuk memimpin lembaga ini. Apa yang disampaikan oleh kepala SMPM 4 Watampone. b) menggerakkan tim evaluasi hasil belajar peserta didik.

b) Kepala SMP Negeri 4 Khusus telah melaksanakan fungsinya sebagai Educator (pendidik) sebagaimana yang diharapkan dalam MBS yaitu kepala sekolah tetap menjalankan aktivitas mengajar dalam kelas. Karena itu. kepala sekolah sebagai seorang edukator telah bekerja sesuai standar yang berlaku. . meskipun beliau tetap menggantinya di sore hari. Berdasarkan keterangan diatas. agar aktivitas pembelajaran siswa tidak terganggu (15 Maret 2012”). dengan jumlah jam wajib 6 jam pelajaran/minggu yang dilaksanakannya setiap hari Senin-Rabu dengan masuk pada jam pertama sampai jam kedua. kepala sekolah Membimbing guru dalam meningkatkan kinerja mereka terutama bagaimana menyusun RPP dan mengajar dengan memanfaatkan tekhnologikhususnya dalam hal kegiatan proses belajar mengajar dan b) membimbing siswa dengan memberikan materi pembelajaran sekaligus memotivasi siswa untuk berprestasi. Dan menurut analisis penulis bahwa prilaku kepala SMPN 4 Watampone yang mengajar dalam kelas dan berusaha menggantinya jika berhalangan masuk adalah sebuah prilaku yang patut ditiru oleh kepala sekolah yang lain yang terkadang hanya namanya yang tercantum dalam jadwal/roster mengajar tetapi orang lain yang menjalankannya.“Kami memahami bahwa kepala sekolah memiliki kesibukan yang teramat padat sehingga tugas mengajarnya terkadang terabaikan. kami membuat jadwal mengajar yang tetap memungkinkan kepala sekolah tetap mengajar dengan memberi jadwal jam 1-2 setiap hari Senin-Rabu. Adapun bentuk riil dan masing-masing tugas yang telah dilakukan Kepala Sekolah tersebut di atas adalah : a) Bersama dengan tim yang dibentuk dari urusan kurikulum dan pengajaran. Hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa Kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Watampone: a) Masuk kelas mengajar.

uraian tugas berdasarkan kemampuan personil serta uraian tugas organisasi. banyak tenaga honorer yang terparkir yang tenaganya hanya kadang dipakai untuk mengurus atau mengerjakan hal yang sama. padahal masih banyak pekerjaan lain”(27 Maret 2012). “Potensi guru disekolah kami termasuk pegawai dari segi jumlah sangatlah besar. sehingga kelemahankelemahan yang terjadi dapat cepat diatasi. karena semua urusan yang diangkat untuk mendampingi beliau dalam membantu menjalankan tugasnya adalah orang-orang pilihan. Meskipun demikian. seperti dalam kegiatan ketatausahaan. bahwa masih terdapat beberapa kelemahan yang dilakukan oleh kepala sekolah sebagai seorang manajer yang seharusnya kelemahan tersebut bisa diminimalisir bahkan ditiadakan. Berdasarkan wawancara dengan ibu Rosmawati sebagai kepala tata usaha dan pak Herman sebagai wakasek kurikulum dan pengajaran. Sebagai seorang manajer.Kegiatan kepala sekolah masuk mengajar adalah selain sebagai tugas pokok juga memberi contoh kepada guru agar guru dapat melaksanakan tugasnya secara optimal dan siswa dapat termotivasi untuk belajar dengan baik. Kepala Sekolah diharuskan mampu mensinkronkan antara berbagai program yang telah disusun dengan memanfaatkan sumber daya sekolah yang tersedia yang disesuaikan dengan arah dan kondisi sekolah. Hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Watampone sebagai seorang manajer telah melaksanakan fungsinya dengan baik . “Kepala sekolah sangat jeli melihat guru atau pegawai yang profesional untuk ditempatkan pada bidang atau urusan yang sangat strategis dalam rangka pengembangan sekolah dan sangat membantu meringankan pekerjaan kepala sekolah”(23 Maret 2012). ditambahkan oleh ibu Rosmawati. namun kepala sekolah sering memberikan tugas rangkap kepada seorang guru atau pegawai sehingga sumber daya yang seharusnya bisa dimaksimalkan perannya menjadi berkurang. administrasi sekolah. bahwa kepala sekolah tetap menempatkan orang-orang yang dianggap sangat profesional dalam hal-hal yang sangat urgensial untuk kemajuan sekolah.

kepala sekolah bertanggung jawab atas kelancaran segala pekerjaan dan kegiatan administratif di sekolahnya. mengelola administrasi sarana dan prasarana. mengelola administrasi kearsipan. kepala sekolah juga dituntut untuk mengelola kurikulum. dan mengelola administrasi keuangan. d) Mempunyai catatan kinerja sumber daya manusia yang ada disekolah serta peningkatan mutu. Kepala Sekolah sebagai Administrator Administrasi merupakan suatu proses yang menyeluruh dan terdiri dari bermacam kegiatan atau aktivitas di dalam pelaksanaannya. Adapun bentuk kegiatan riil dari masing-masing uraian tugas yang telah dilakukan kepala sekolah tersebut di atas adalah : 1. Berdasarkan uraian tersebut menunjukkan bahwa Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Watampone telah melaksanakan fungsi sebagai administrator. penyusunan RAPBS serta dan mempunyai mekanisme monitor dan evaluasi pelaksanaan program secara sistematika. b) Memiliki susunan kepegawaian sekolah c) Memanfaatkan sumber daya manusia serta sarana-prasarana secara optimal. jangka menengah (4 tahun) dan jangka pendek baik akademik maupun non akademik. Pembuatan Program : Program utama yang menjadi fokus antara lain adalah (1) Program kerja kepala sekolah adanya : a) Program jangka panjang (8 tahun).dengan catatan masih perlu melakukan koordinasi antar pegawai khususnya pegawai tata usaha. Adapun. Sebagai administator. bentuk program . penyusunan dan dokumentasi program dan kegiatan sekolah. Aktivitas administratif adalah semua kegiatan yang berkaitan dengan pencatatan. Secara spesifik.

kegiatan riil dari masing-masing uraian tugas yang telah dilakukan kepala sekolah sebagai seorang administrator di SMPN 4 Watampone tersebut di atas adalah : a. Memiliki dokumen yang berkaitan dengan laporan penggunaan dana bos, dokumen penyusunan RAPBS dan dokumen-dokumen lainnya yang berkaitan dengan pemanfaatan dana. b. inovasi yang mengikuti perkembangan dunia pendidikan dengan tujuan meningkatkan mutu pendidikan berdasarkan pengembangan kurikulum dilakukan untuk mewujudkan tujuan pendidikan Nasiona c. Administrasi kepala sekolah yang dapat memperlancar semua kegiatan kepala sekolah yang dilengkapi beberapa administrasi antara lain administrasi kesiswaan, keuangan, sarana dan prasarana dan administrasi persuratan yang bertujuan untuk mempermudah/ memperlancar segala sesuatu tugas kepala sekolah. Sejalan dengan fungsinya sebagai seorang administrator, Kepala SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum telah berusaha secara maksimal untuk mengadministrasikan berbagai hal yang berkaitan dengan kepentingan sekolah. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh penulis kepada kepala sekolah, beliau menyatakan: “Saya berusaha untuk mengarsipkan setiap laporan yang berkaitan dengan keuangan, kegiatan kesiswaan, persuratan, penyusunan dan dokumentasi program serta pengelolaan pemanfaatan sarana dan prasarana. Meskipun demikian karena banyaknya dokumen yang harus diarsipkan maka saya mempercayakan kepada kepala tata usaha untuk menghandel sebagian dari tugastugas saya selaku administrator, bahkan dokumen yang berkaitan dengan kegiatan kesiswaan juga banyak yang dipegang langsung oleh urusan kesiswaan( 27 Maret 2012).

Kepala Sekolah sebagai Supervisor. Supervisi juga dapat diartikan sebagai pembinaan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah agar mereka dapat meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan situasi belajar

mengajar dengan lebih baik sesuai dengan tujuan pendidikan. Kepala sekolah sebagai supervisior mempunyai peran dan tanggung jawab untuk membina, memantau, dan memperbaiki proses pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Supervisi kepala sekolah dapat dilakukan secara individual maupun kelompok. Di antara tugas-tugas kepala sekolah sebagai supervisor adalah: 1) Membantu stafnya menyusun program; 2) Membantu stafnya mempertinggi kecakapan dan keterampilan mengajar; dan 3) Mengadakan evaluasi secara kontinyu tentang kesanggupan stafnya dan tentang kemajuan program pendidikan pada umumnya. Keberhasilan peran kepala sekolah sebagai supervisor antara lain dapat ditunjukkan oleh: 1) meningkatnya kesadaran guru dan staf untuk meningkatkan kinerjanya; dan guru dan staf dalam melaksanakan tugasnya. Sesuai dengan wawancara yang dilakukan dengan kepala sekolah, Bapak Drs. Mahmud, MM, bahwa tugasnya sebagai seorang supervisor belumlah berlangsung dengan optimal, karena masih ada guru yang mengajar tidak sesuai dengan program yang telah disusunnya, disisi lain kemampuan mengajar yang diperlihatkan oleh guru yang disupervisi terlihat masih sangat rendah. “Saya menyadari bahwa kemampuan mengajar antara guru yang satu dengan yang lain tidaklah sama, tergantung kepada kemampuan setiap guru. Setiap 3 bulan sekali saya melakukan supervisi akademik dan supervisi manajerial untuk memantau aktivitas pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan selama hasil pemantauan masih ada guru yang belum membuat RPP padahal sudah disiapkan filenya oleh urusan kurikulum dan urusan pengajaran. Disis lain, aktivitas pembelajaran yang dilakukan belumlah mengaktifkan siswa sehingga pembelajaran yang sifatnya Joyfull Learning masih jauh dari harapan”(27 Maret 2012). Kepala Sekolah sebagai Leader Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah dapat mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah melalui program-program yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap. Untuk kepentingan tersebut, kepala sekolah harus mampu mempengaruhi dan menggerakkan sumber daya sekolah dalam kaitannya dengan 2) meningkatakan keterampilan

perencanaan dan evaluasi program sekolah, pengembangan kurikulum, pembelajaran yang berkarakter, pengelolaan ketenagaan, sarana dan sumber belajar, keuangan, pelayanan siswa, hubungan sekolah dengan masyarakat, penciptaan iklim sekolah, dan sebagainya. Kondisi ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh kepala sekolah”Drs. Mahmud, MM’’ bahwa: “Kedudukannya sebagai kepala sekolah sangat berkaitan erat dengan perencanaan dan evaluasi program , pengelolaan ketenagaan, pemanfaatan dana serta penciptaan iklim sekolah yang kondusif. Sebagai orang yang dipercayakan untuk memimpin SMPN 4 Watampone, terkadang sikap otoriter tetap dipakai agar sistem tetap berjalan karena jika terlalu lemah, bawahan bisa semakin menjadi-jadi, bahkan sebagai pimpinan saya harus berani mengambil resiko untuk kepentingan bersama. Perumusan visi dan misi demi sebuah pembaharuan harus menjadi prioritas utama demi terselenggarannya pendidikan yang bermartabat”(27 Maret 2012). Adapun bentuk kegiatan riil dari masing-masing kegiatan uraian dan tugas yang telah dilakukan kepala sekolah di atas dapat dijabarkan sebagai berikut: a) Mengenal bawahannya Kepala sekolah harus mengenal bawahan dari dekat diantaranya jenjang pendidikan, tingkat golongan, kepribadian dan wawasan yang dimiliki guru serta memberikan penghargaan bagi guru yang mengharumkan nama sekolah. b) Berani mengambil resiko Tidak semua kepala sekolah berani mengambil resiko atau bertanggung jawab dalam kehidupan di sekolah. Misalkan gurunya dipindahkan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, pengamperaan kekurangan gaji guru terlambat. Solusinya dikoordinasikan dengan semua bersama

personil sekolah dan komite sekolah. Bahkan kepala sekolah tidak segan

untuk turun kelapangan memperjuangkan bantuan bagi siswa yang tidak mampu. c) Memiliki Visi dan Misi Sekolah harus memiliki visi dan misi yang bertujuan untuk kesiapan kedepan demi terlaksananya pendidikan yang efektif dan efisien.

ulangan semester. Banyak kebijakan yang dibuat belum mencerminkan kepentingan guru padahal sumber pendanaan sangat menunjang untuk berbagai kegiatan yang dilakukan. Hasil tersebut di atas menunjukkan bahwa Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Watampone Kabupaten Umum dapat melaksanakan tugas/fungsinya sebagai leader/ pemimpin. ulangan tengah semester serta berbagai aktivitas kesiswaan kurang mendapat perhatian dari kepala sekolah. Pelaksanaan evaluasi dalam fungsinya sebagai leader bahwa semua tanggungjawabnya dilaksanakan sepenuhnya yaitu semua stafnya dinilai berdasarkan hasil yang sudah dicapai dengan pengajuan Kriteria yang didapat sebagai dasar tindak lanjut perbaikan (kalau perlu). Memang kami akui. kesemuanya hal tersebut di atas dilaksanakan secara demokratis.d) Gagasan Pembaharuan Kepala sekolah memikirkan akan perkembangan sekolahnya sehingga dapat membuat program-program sebagai pembaharuan yang ujung-ujungnya peningkatan mutu dan peningkatan kualitas sekolah. kepala sekolah terkesan bersikap otoriter. Berdasarkan perannya sebagai seorang leader atau pemimpin terdapat perbedaan cara pandang antara beberapa orang guru dengan kinerja kepala sekolah sebagai seorang leader. Apa yang disampaikan oleh sala seorang guru yang mengajar di sekolah tersebut adalah bentuk ketidakpuasan atas kinerja kepala sekolah sebagai seorang pemimpin yang terkesan . Sambil memberi contoh tentang kegiatan ulangan. bahwa kepala sekolah banyak berjuang untuk siswa tidak mampu agar mendapatkan bantuan.padahal telah banyak kritikan untuk memperbaiki kinerja beliau” (28 bapak kepala 2012). pembagian tugas guru. baik bantuan dari provinsi maupun bantuan dari pusat. daftar hadir guru (jam dan harian). pelaksanaan pengembangan kegiatan pembelajaran dan hasil kerja guru penetapan dan Kenaikan kelas. Jalani Salah seorang guru senior yang diwawancarai mengatakan bahwa: “Kinerja kepala sekolah sebagai seorang pemimpin dianggap belumlah memihak kepada kepentingan guru dan siswa. administrasi. e) Evaluasi. baik ulangan harian. tetapi manakala menyangkut tentang pemanfaatan dana bos untuk kepentingan guru dan siswa.

Dengan mengacu kepada pendapat dua orang guru. Kami akui. mencari gagasan baru. Apa yang disampaikan oleh Jalani juga dipertegas oleh salah seorang guru yang sering mengkritik kebijakan yang dibuat oleh kepala sekolah. RAPBS yang dibuat terkadang hanyalah dokumen belaka yang tidak dijadikan acuan untuk melaksanakan setiap program yang telah dibuat. Dalam MBS. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Andi Asrib Adnan: “Kepala sekolah belumlah bekerja maksimal untuk kepentingan guru dan siswa terutama dalam pemanfaatan dana. seorang kepala sekolah haruslah bersikap transparan dan akuntabel untuk kepentingan semua pihak baik dalam internal sekolah maupun dengan pihak yang berada diluar sekolah. Dalam rangka melakukan peran dan fungsinya sebagai inovator.cenderung bersikap otoriter dan kebijakan yang dibuat belum mencerminkan keadilan untuk guru dan siswa. Kebijakan yang dibuat tidaklah mencerminkan kepentingan banyak guru. mengintegrasikan setiap kegiatan. kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan lingkungan. kedekatan kepala sekolah dengan penentu kebijakan yang berada diatasnya telah membawa manfaat besar bagi kemajuan sekolah ditinjau dari segi bantuan untuk pembangunan infrastruktur tapi itu belumlah cukup.Kepala sekolah haruslah mampu menyeimbangkan antara kepentingan bawahan dengan kepentingan atasan”(27 Maret 2012). Kepala sekolah Sebagai Inovator. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk mencegah bentuk kesewenangan yang mungkin akan bertambah. memberikan teladan kepada seluruh . maka dewan guru harus berani mengemukakan kepada komite sekolah akan kondisi yang terjadi dan dengan demikian diharapkan komite dapat menjadi penyeimbang setiap keputusan yang diambil oleh pihak sekolah. menunjukkan bahwa peran kepala sekolah sebagai seorang leader atau pemimpin belumlah maksimal. Bahkan RAPS yang seharusnya dijadikan pedoman dalam pelaksanaan kegiatan atau program yang disusun tidak dijadikan acuan melainkan lebih mengarah kepada keinginan pribadi. Bahkan berbagai kegiatan yang dilakukan lebih banyak melibatkan orang dekat ketimbang guru guru yang lain.

kreatif. beliau menyatakan: “Berbicara tentang masalah kedisiplinan. adapun bentuk kegiatan riil dan tugas yang telah dilakukan kepala sekolah di atas. Tujuan utamanya adalah bagaimana menggali potensi anak untuk berprestasi baik ditingkat sekolah. c. Mampu berprestasi di sekolah melalui kegiatan ekstrakurikuler. Peneliti mewawancarai Yusnani. integratif. Adanya ide-ide baru yang menjadi pedoman dalam melaksanakan tugas pembinaan tenaga guru. Dalam wawancara yang dilakukan. Melaksanakan pembaharuan di bidang kegiatan ekstrakurikuler. saya harus menjadi teladan bagi guru yang lain.tenaga kependidikan di sekolah dan mengembangkan model-model pembelajaran yang inovatif. Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala Sekolah”Drs Mahmud MM” dinyatakan bahwa: “Semaksimal mungkin. serta adaptabel dan fleksibel. sebagai salah satu pembina kesiswaan yang dikenal memiliki tingkat kedisiplinan yang tinggi berdasarkan informasi dari beberapa guru yang dimintai informasi tentang siapa guru yang paling rajin dan disiplin dimana sebahagian besar menjawab Yusnani. Apa pengembangan. Mendatangkan guru model untuk mengajar pada satu kelas yang dilihat banyak guru adalah salah satu upaya yang saya lakukan untuk memotivasi guru agar lebih inovatif dalam mengajar. kepala sekolah memang terkenal sangat disiplin. Peran kepala sekolah sebagai innovator akan tercermin dari cara-cara ia melakukan pekerjaannya secara konstruktir. b. Untuk membuktikan kebenaran dari apa yang disampaikan oleh kepala sekolah. . Tujuan utamanya adalah untuk menanamkan keteladanan dan kedisiplinan. misalkan datang disekolah tepat waktu bahkan mendahului guru yang lain termasuk ketika pulang. disiplin. adalah : a. Hasil wawancara tersebut di atas menunjukkan bahwa Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Watampone telah melaksanakan fungsinya sebagai innovator di sekolahnya.kabupaten maupun provinsi” (27 Maret 2012). delegatif. rasional dan obyektif. saya upayakan sebagai orang terakhir yang kembali kerumah. keteladanan. menggali sumber daya dari komite.

dorongan. Kemampuan mengatur lingkungan kerja adalah seorang kepala sekolah mampu mengatur ruang kepala sekolah yang kondusif untuk bekerja ruang kelas yang kondusif untuk kegiatan belajar mengajar. Meskipun demikian tetap ada beberapa orang guru yang sulit untuk datang tepat pada waktunya padahal jam mengajarnya jam 1. dan mengatur halaman lingkungan sekolah yang sejuk nyaman dan teratur. pengaturan suasana kerja. Kepala sekolah Sebagai Motivator Sebagai motivator. Kami juga berharap sikap objektif dan keterbukaan kepala sekolah juga sampai pada tataran penggunaan dana” (28 Maret 2012). b. Motivasi ini dapat tumbuh melalui pengaturan lingkungan fisik. Kemampuan mengatur lingkungan kerja (non fisik) kepala sekolah menciptakan hubungan kerjasama sesame guru. Adapun bentuk kegiatan riil dari masing-masing uraian tugas kepala sekolah di atas adalah : a. Uno. Abraham maslow mengemukakan lima tingkat kebutuhan yaitu (1) kebutuhan fisiologis. Menetapkan prinsip motivasi yang berupa penghargaan dan hukuman Setiap kali membicarakan motivasi. Cuma kami berharap tindakan kepala sekolah hendaknya dibarengi dengan pemberian penghargaan bagi guru yang rajin dan berdedikasi tinggi untuk kemajuan sekolah. penghargaan secara efektif dan penyediaan berbagai sumber belajar melalui pengembangan pusat sumber belajar. 2006:40). antara guru dan masyarakat (orang tua siswa) yang harmonis dan menciptakan rasa aman di lingkungan sekolah. UKS dan perpustakaan.(2) kebutuhan akan rasa aman. hirarki kebutuhan maslow pasti disebut-sebut. Hierarki ini didasarkan pada anggapan bahwa pada waktu orang telah memuaskan satu tingkat kebutuhan tertentu. Karena itu rasanya kami malu jika datang terlambat. c. mereka ingin bergeser ke tingkat yang lebih tinggi (Hamzah b.(3) kebutuhan akan cinta kasih atau kebutuhan sosial. disiplin.(4) .yang kepala sekolah lakukan tidak lain untuk menunjukkan sikap keteladanan sebagai seorang pemimpin. kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk memberikan motivasi kepada para tenaga kependidikan dalam melakukan berbagai tugas dan fungsinya.

Kepala SMP Negeri 4 Khusus sedikit banyaknya telah berhasil dalam meningkatkan kinerja guru terhadap kontribusi mereka untuk mengimplementasikan manajemen berbasis sekolah. “Kepala Sekolah memang sudah bekerja untuk membangkitkan motivasi guru tetapi kami rasakan bentuk penghargaan yang diberikan kepada kami belumlah maksimal. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan. Berdasarkan hasil wawancara peneliiti dengan beberapa orang guru. ibu Hj A. Dalam keadaan seperti itu. Pak A. Motivasi kerja guru merupakan hal yang sangat menunjang kinerja guru. Namun kewaspadaan perlu diterapkan untuk memastikan bahwa tidak terdapat perubahan mutu.2006:40) Namun perkembangannya memang berbeda kepada setiap orang dan setiap pekerjaan. Tampaknya pendekatan manajemen ilmiah Taylor sebagian benar. Taylor sebagai seorang tokoh manajemen ilmiah memusatkan perhatian pada sebuah pendekatan bahwa uang merupakan motivasi uatama bagi seseorang yang bekerja (Hamzah b.W.Uno. diantaranya bapak Madeaming. uang merupakan pendorong semangat utama. Kami jujur. Yang pasti. Orang yang bekerja dengan pekerjaan tangan yang sulit. biasanya tidak termotivasi oleh pekerjaan itu sendiri. F. Pak Bachrun Djahidin dan guruguru lainnya terdapat kesamaan pandangan akan kinerja kepala sekolah dalam memberikan penghargaan kepada guru yang sudah bekerja memberikan yang terbaik kepada sekolah. Seorang pemimpin pada sebuah institusi dalam memperhatikan kinerja pegawainya di dasari oleh berbagai pertimbangan. ibu Harlina.kebutuhan akan penghargaan dan (5) kebutuhan akan aktualisasi diri. tingkat pembayaran insentif yang tepat bagi orang-orang yang menangani pekerjaanpekerjaan produksi menyebabkan peningkatan produktivitas dan lebih banyak upaya. Meskipun demikian masih terdapat kelompok-kelompok tertentu yang menganggap motivasi kepala sekolah dalam meningkatkan kinerja guru dan pegawai belum maksimal terutama dalam bentuk pemberian penghargaan kepada guru-guru yang sudah bekerja maksimal dalam memajukan sekolah. Pak Syamsuddin.Sukmawati. Zulfadli. kami .

Setiap masukan ditampung dengan demokratis. Bagi guru yang dianggap lalai dalam menjalankan tugasnya sebagai tenaga edukatif yang profesional diberikan teguran. Mendorong partisipasi bawahan dalam melakukan tugas di sekolah dan bertanggung jawab atas segala kegiatan yang berlangsung di sekolah. Kedepan kami berharap. Pembinaan diberikan secara menyeluruh kepada semua guru dengan tidak berpihak pada guru tertentu serta membantu memecahkan masalah yang dihadapi guru bila terdapat kesulitan dalam menyelesaikan tugasnya. Kepala sekolah berperan aktif dalam membina dan mengembangkan tugas profesionalisme guru. Dalam melaksanakan tugasnya kepala sekolah menjadikan staf dewan guru sebagai partner dalam melakukan tugas-tugas pembelajaran di sekolah. baik berupa pujian maupun dalam bentuk material. 3. padahal menurut kami persoalan dana sama sekali bukanlah masalah prinsipil. sehingga guru mapun staf administrasi merasa dihargai. 2. penghargaan yang sifatnya materiil kepada siswa maupun guru bisa diperbaiki dan transparansi pemanfaatan dana baik ke dewan guru maupun ke komite sekolah menjadi lebih terbuka dan akuntabel”(28-3-2012). Adapun bentuk motivasi yang telah diterapkan oleh Kepala SMP Negeri 4 Khusus kepada guru dan pegawai antara lain: 1. Pemberian penghargaan meskipun belum berjalan optimal tetap dilakukan oleh kepala sekolah. baik secara langsung maupun tidak langsung dengan selalu mengedepankan prinsip saling menghargai. Berdasarkan keadaan tersebut maka peran kepala sekolah dalam mengimplementasikan manajemen berbasis sekolah pada bidang motivator telah berjalan secara optimal walaupun untuk kedepannya bentuk penghargaan kepada guru harus lebih ditingkatkan. terutama kepada . 4. 5. dana BOS terbesar di Kabupaten Umum adalah SMPN 4 Watampone.bekerja dengan ikhlas tetapi kami rasanya berat untuk berbuat terbaik manakala sekolah lain yang jumlah dana BOSnya kecil tetapi bisa melakukan yang terbaik untuk siswa maupun gurugurunya.karena kami tahu. Jika terjadi keberhasilan dan kegagalan bawahan maka itu juga merupakan kegagalan dari kepala sekolah.

maka penilaian guru tentang prilaku kepemimpinan kepala sekolah akan senatiasa mengarah pada iklim yang kondusif dan ini akan berdampak pada peningkatan kinerja guru. terlalu tebal dan memuat semua komponen mata pelajaran. Kelengkapan Program Mengajar Adapun yang menjadi fokus penelitian yang dilakukan peneliti berkaitan dengan kelengkapan program mengajar adalah:1)Apakah guru-guru di SMPN 4 Watampone telah memiliki. daftar hadir dan daftar nilai. Hal ini tercermin dari hasil wawancara dengan ibu A.guru dan staf tata usaha yang telah mencurahkan waktunya untuk kemajuan sekolah. Untuk dokumen satu tidak kami pegang karena itu menjadi dokumen sekolah. Apabila suasana seperti ini dilakukan kepala sekolah.memahami dan melaksanakan KTSP. seperti RPP.2)Apakah administrasi yang dimiliki oleh guru telah lengkap atau belum. Serta menerapkan prinsip penghargaan dan hukuman. hampir semuanya menjawab telah memiliki. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan kepada 24 responden.Muliati dan Ibu A. program perbaikan dan pengayaan serta jurnal pembelajaran. analisis ulangan harian. memahami dan melaksanakan KTSP baik pada dokumen satu maupun pada dokumen dua. D.Hajar sebagai berikut: “Baik dokumen satu maupun dokumen 2 sudah kami pahami dan sudah kami jabarkan dalam kegiatan pembelajaran. termasuk siswa-siswa yang telah berjasa mengharumkan nama sekolah. mengindikasikan bahwa tingkat kesadaran guru di SMPN 4 . sedangkan yang harus kami miliki adalah dokumen dua yang berisi semua kelengkapan untuk kepentingan kami sebagai guru dan itu dimiliki oleh semua guru karena kepala sekolah setiap awal semester melakukan pendataan kepada semua guru karena itu sangat berkaitan dengan penilaian kinerja”(28-32012). Dari jawaban yang diberikan. silabus. Kinerja Guru dalam Pelaksanaan MBS pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Watampone (1). Dengan demikian Kepala sekolah mampu menerapkan/mengembangkan motivasi infernal dan eksternal bagi warga sekolah.

Wujud dan pelaksanaan dari KTSP menurut hasil wawancara dijelaskan bahwa. karena tanpa kontrol yang rutin khususnya kelengkapan administrasi maka semuanya akan menjadi kacau. membuat program semester. karena terkadang seseorang hanya akan menjadi telaten dalam menjalankan tugas karena tuntutan administratif dan ketaatan yang sesaat kepada pimpinan. membuat program tahunan. apalagi jika pimpinan tersebut dianggap tidak bisa mengakomodir berbagai kepentingan yang ada di sekolah. Menurut Pak Amin: “Kendala terbesar yang dialami oleh guru-guru disini adalah lemahnya kemampuan untuk membuat jurnal pembelajaran. Setiap proses pembelajaran perlu dipahami betul RPP yang telah dibuat. KTSP juga dibuat dalam bentuk program semester dan program tahunan dan terjabarkan dalam analisis materi pelajaran dan rencana pembelajaran artinya membuat analisis RPP.Amin adalah kurangnya kemampuan guru untuk membuat jurnal pembelajaran yang berkaitan dengan tugasnya ketika mengajar dalam kelas. Hanya ada beberapa diantara guru yang melakukannya. Salah satu kekurangan terbesar yang dimiliki oleh guru SMPN 4 Watampone menurut hasil wawancara dengan urusan kurikulum dan pengajaran. Kondisi ini harus terus dijaga oleh sekolah khususnya kepala SMPN 4 Watampone.Watampone sangatlah besar dalam menjalankan tugasnya. Kemungkinan besar mereka tidak membuatnya karena menganggap hal baru dan kurang disosialisasikan serta tidak menjadi bahan evaluasi dari kepala sekolah maupun pengawas yang datang ketika melakukan supervisi akademik maupun manajerial”(29-3-2012). KTSP khususnya pada dokumen 2 perlu dimiliki karena merupakan acuan untuk menyusun program pengajaran semester/tahunan. Hal ini perlu diperhatikan karena pembuatan jurnal pembelajaran sangat membantu guru untuk memahami setiap batasan materi yang diajarkannya dalam kelas. Bapak M. di samping kurikulum sebagai pedoman sekaligus acuan dalam pembuatan program pengajaran dan pembuatan tes. KKM serta indikator pembelajaran. agar tidak keluar .

disebutkan juga dalam wawancara yaitu program tahunan. kumpulan evaluasi. persiapan mengajar. persiapan mengajar. analisis pengajaran. kumpulan nilai buku BP analisis soal. Bentuk lain dan administrasi yang sudah lengkap yaitu program pengajaran bimbingan penyuluhan persiapan mengajar.dari tujuan yang diharapkan dan wujud pelaksanaannya dituangkan dalam program pengajaran dan persiapan mengajar. buku satuan. Karena kalau mengajar tanpa RPP proses kegiatan belajar mengajar tidak berjalan lancer. Hasil wawancara lain menyebutkan KTSP perlu dimiliki karena merupakan acuan atau menyusun program pengajaran sebagai dasar atau pedoman untuk membuat perencanaan pengajaran. petunjuk atau acuan dalam penyusunan program pengajaran dan sekaligus untuk dipedomani dalam pembuatan Tujuan Pembelajaran Khusus yang sekarang dikenal dengan istilah indikator agar dapat memperlancar proses belajar mengajar. alat evaluasi. analisis materi alat peraga. alat/media sumber usaha dan penelitian sehingga kurikulum yang ada betul-betul berbasis kompetensi. menurut hasil wawancara dijelaskan bahwa . bimbingan penyuluhan . Wujud ataupun bentuk dan lingkupnya administrasi mengajar menurut hasil wawancara dijelaskan bahwa KTSP. analisis materi. rangkuman materi pelayaran. satuan pelajaran absensi. GBPP. Bentuk dan persiapan sebelum mengajar itu. daftar nilai. daftar nilai dan konseling analisis termasuk jurnal pembelajaran harus dimiliki oleh setiap guru agar pemberian pelayanan yang maksimal kepada anak didik dapat tercapai disamping ada juga program analisis dan rencana perbaikan dan kegiatan pengayaan. Untuk memperlancar hal tersebut maka pemerintah pusat telah menyusun standar kompetensi dan kompetensi dasar agar penyusunan RPP yang akan dibuat dalam proses pembelajaran dapat berjalan maksimal dengan langkah-langkah kegiatan menyiapkan materi metode. Penyusunan KTSP juga merupakan sebagai pedoman. program pengajaran. kumpulan soal. program semester.

Meliputi inti (penjelasan materi) Tujuan Pembelajaran Khusus. Sumber yang lain menyebutkan bahwa bentuk persiapannya hanya berapa materi dan pola. Ada juga persiapan mengajar harian dalam bentuk matriks. pengamatan. portofolio dan pekerjaan rumah ada juga yang berupa ulangan harian (tertulis) pengamatan. ada pula yang berdasarkan silabus dibutuhkan permata pelajaran dengan bentuk tertulis. Bentuk atau model dan buku daftar nilai siswa menurut hasil wawancara yaitu satu buku diisi sesuai mata pelajaran mencakup nilai ulangan harian. daftar nilai harian tes hasil belajar hal yang sama juga dijelaskan oleh responden yang lain bahwa buku daftar nilai siswa itu adalah daftar nilai ulangan harian. dibukukan setiap mata pelajaran hal yang sama juga dijelaskan oleh responden yang lain bahwa persiapannya dalam bentuk 1 (satu) kali pertemuan atau di sesuaikan dengan kondisi yang ada. pekerjaan rumah atau tugas dan ulangan umum. Ditambahkan lagi bahwa tiap-tiap mata pelajaran dengan bentuk tertulis dan setiap 1 (satu) kali pertemuan di ketahui dan di tanda tangani oleh kepala sekolah.persiapan mengajar dalam bentuk satu kali pertemuan. kegiatan awal (motivasi. kadang individu kelompok berpasangan dan klasikal diberikan dalam bentuk bimbingan kelompok dan . dalam bentuk rencana pembelajaran. kelompok diberi pekerjaan/tugas bentuk bimbingan pribadi Ditambahkan pula oleh responden yang lain. nilai tugas dan portofolio. Bentuk program perbaikan dan pengayaan yang dilaksanakan menurut hasil wawancara dengan responden yaitu dengan bentuk tindakan individu. apersepsi) kegiatan akhir (evaluasi/pegangan) disamping itu ada juga yang berdasarkan KTSP. pengamatan portofolio dan sumatif artinya buku itu merupakan satu buku didalamnya terdapat format dan di isi sesuai mata pelajaran tiap semester atau satu buku yang didalamnya terdapat format ulangan harian. satu kali pertemuan ditanda tangani oleh kepala sekolah.

mulai dari awal sampai akhir pembelajaran masih ada guru yang tidak menguasai kelas. “Ketika supervisi dilakukan. c. . Salah satu faktor yang menyebabkan proses pembelajaran tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan adalah sikap kepala sekolah yang terkesan agak enggan untuk melakukan koreksi mendalam kepada guru-guru yang hampir memasuki usia pensiun. Sementara itu bentuk penguasaan kelas yang dilakukan oleh guru menurut hasil wawancara yaitu dengan motivasi siswa agar perhatiannya pada pelajaran yang diberikan dan mengupayakan siswa untuk melibatkan diri dalam belajar. Diberikan buku latihan tanya jawab artinya program perbaikan di tujukan terhadap siswa yang mengalami kesulitan baik secara klasikal maupun individu. Dari hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan kepala sekolah. Drs Mahmud MM. yang sering melakukan supervisi. Meskipun demikian. Guru terkesan mengajar seadanya tanpa memperhatikan keterampilan proses yang harus tercapai. Adapun yang menjadi fokus penelitian yang dilakukan peneliti berkaitan dengan kelengkapan penyajian materi pelajaran penguasaan kelas. biasanya hanya dilakukan oleh guru-guru yang mendekati usia pensiun.perorangan. banyak mengobrol dan tidak melakukan proses umpan balik. sementara Persentase dari guru yang mengajar dengan baik jauh lebih besar”(27-3-2012). Bentuk yang lain yang ditentukan ialah menerangkan dan memberi motivasi serta mengadakan tanya jawab. proses umpan balik dalam setiap pembelajaran. penggunaan model-model pembelajaran yang bervariatif serta pemanfaatn alat-alat peraga. Hal ini terbukti banyak siswa yang terkesan tidak memperhatikan penjelasan guru. Hal yang lain yang dilakukan yaitu diberikan penjelasan singkat. terdapat kesan guru yang mengajar banyak yang tidak menguasai kelas. kurang aktif. kegiatan free test dan post test baik sebelum memulai pelajaran maupun setelah melakukan pembelajaran. Persentase dari guru yang bersikap seperti itu tidaklah besar. Sehingga tidak ada upayua maksimal dari guru yang bersangkutan untuk melakukan koreksi atas pebelajaran yang dilakukannya.2 Penyajian Materi Pelajaran.

Ibu Dra Rahmatiah sebagai guru bahasa inggris yang mengajar dengan model pembelajaran yang inovatif berpendapat bahwa: “Waktu yang dipakai dengan penggunaan model pembelajaran yang inovatif terbilang lama. sedangkan 7 orang atau 29. Untuk memancing respon siswa terhadap materi yang diajarkan maka kegiatan free test sudah menjadi rutinitas bagi guru-guru di SMPN 4 begitu pula dengan sebaliknya. Tanpa penguasaan kelas. Bahwa: “Penguasaan kelas sangat diperlukan oleh guru untuk mempermudah penerimaan materi pelajaran. belum lagi pengaturan tempat duduk dan meja. Kegiatan ini dilakukan agar materi yang telah dipelajari siswa dapat tertanam dengan kuat. Meskipun demikian siswa merasa sangat senang dengan cara baru yang dilakukan dalam belajar. dimana proses interaksi berjalan maksimal baik guru dengan . Kegiatan ini berfungsi untuk memberikan pemahaman materi secara kuat kepada siswa”(28-3-2012). yang penting adalah siswa mau dan terus fokus dalam mengikuti pelajaran.17 persen masih memakai pola lama yang bersifat teacher centered. maka tujuan pelajaran yang ingin dicapai menjadi lebih sulit. keterlibatan kelas hendak diperhatikan dan memberikan motivasi berupa penguatan materi dengan jalan melaksanakan free test dan post test. Kondisi ini jelas sangat diperlukan seorang guru untuk menguasai kelas. Terdapat 2 jawaban yang berbeda atas penggunaan model model pembelajaran di dalam kelas. 17 orang diantaranya atau sekitar 70. agar optimal dalam pengajian materi sehingga tercipta pembelajaran PAIKEM demi melahirkan siswa-siswa yang cerdas dan kreatif serta memiliki keimanan karena mereka juga diwajibkan membaca doa atas surah-surah pendek agar mengenal agama mulai dari kecil sesuai dengan hadist bahwa tuntutlah ilmu dan lahir sampai liang lahat. kegiatan post test juga dijalankan.83 persen telah menggunakan model-model pembelajaran yang inovatif dan sangat menyenangkan bagi siswa sehingga siswa antusias dalam mengikuti pelajaran.pembacaan doa memberikan kesempatan kepada siswa untuk ditiru oleh temannya.Persoalan hasil menjadi standar kedua. karena pengaturan kelompok harus diatur sedemikian rupa. dari 24 responden yang memberikan jawaban yang ditanyakan peneliti. Kondisi ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Bapak Munir. Berkaitan dengan penggunaan model-model pembelajaran.

mengajar bahasa dengan mengajar IPA memiliki ruang pemahaman yang berbeda. M. ibu Hamansiah S. pemberian tugas. inovatif. baik bentuk tanya jawab maupun demonstrasi”(27-3-2012). Pandangan yang sama juga disampaikan oleh guru matematika yang lainnya seperti ibu A. Secara umum dapat dianalisis bahwa guru-guru di SMPN 4 Watampone. efektif. diskusi. kreatif. Berdasarkan jawaban yang diberikan oleh guru-guru SMPN 4 watampone. model pembelajaran inovatif menjadi sulit. tetapi bagi kelas reguler biasa.Usman Abdullah yang diwawancarai tentang penggunaan modelmodel pembelajaran.Pd. gembira dan berbobot atau yang biasa disingkat PAIKEM GEMBROT. sehingga tidak terasa berjalannya waktu. pada hakekatnya paham . menyenangkan. serta pak Drs Suryadi. Mungkin untuk kelas prestasi model pembelajaran yang inovatif dapat dijalankan. penggunaan model pembelajaran sangat bergantung kepada kondisi psikologis siswa.Pd. Mereka rata-rata berpendapat bahwa: “Ada kelas yang diajar. Menurutnya. Dalam MBS. terlebih lagi jika materi itu harus dijabarkan dalam bentuk perhitungan. bagaimanapun metode dan model pembelajaran yang coba untuk dijalankan tetap sulit terlaksana. Jadi persoalannya bukan kepada mampu atau tidak mampu. tanya jawab ini biasanya guru dengan siswa. Bentuk dan interaksi tersebut dapat berbentuk tanya jawab. siswa dengan siswa. karakteristik mata pelajaran dan kemampuan untuk menjalankan model pembelajaran itu sendiri. sedangkan IPA lebih menekankan kepada kemampuan anak dalam menguasai dan mengaplikasikan materi. yang mana bahasa inggris. tetapi lebih banyak karena kondisi psikologis siswa yang diajar”(29-3-2012). Dalam kegiatan pembelajaran diharapkan guru yang mengajar dapat menerapkan pembelajaran yang aktif. siswa dengan guru. punya pandangan lain tentang kegiatan pembelajaran yang dilakukannya. Ilmu-ilmu pasti membutuhkan ketenangan dan keseriusan. Sementara itu Bapak H. lebih menekankan kepada kemampuan anak memahami kosakata. suasana hati guru yang mengajar. sehingga pembelajaran harus lebih didominasi oleh guru.siswa maupun siswa dengan siswa. artinya interaksi ini terjadi agar antara guru dan siswa ada proses pembelajaran yang menyenangkan dan suasana kelas hidup. Nurfaigah S. kondisi yang diharapkan terjadi dalam proses pembelajaran adalah kondisi Joyfull Learning atau pembelajaran yang menyenangkan.Pd.

dan diupayakan mudah diperoleh dilingkungan sekolah siswa. hanya memberikan gambar/perumpamaan. Ibu Hj Baraiyyah. termasuk penggunaan buku paket dan buku penunjang yang lainnya. guru yang mengajar bidang studi IPS. gambar-gambar pahlawan dan sebagainya jika materi yang diajarkan membutuhkan alat peraga seperti itu. Dan yang paling penting. kerajaankerajaan hindu-budha.Pd.dengan apa yang diinginkan oleh MBS untuk jalannya pembelajaran yang pada akhirnya akan menciptakan guru-guru yang kreatif dan diidolakan oleh siswa. Wujud dan penggunaan alat peraga yang menyatakan “ya” menurut hasil wawancara dijelaskan bahwa alat peraga yang sesuai dengan materi yang dibahas. S. Tapi adakalanya. Senada dengan hasil wawancara diatas yaitu ada materi yang tidak membutuhkan alat peraga seperti masalah pembelajaran pada mata pelajaran sejarah pada rumpun IPS terpadu seperti masuk dan berkembangnya agama hindu dan budha di Indonesia. sistem fermentasi. Berkenaan dengan penggunaan alat-alat peraga yang dapat membantu pelaksanaan pembelajaran hampir semua responden menjawab telah menggunakan alat-alat peraga baik yang sudah tersedia maupun yang dibuat berdasarkan kreasi siswa. kadang ya kadang tidak sebab sulitnya mencari alat peraga yang sesuai dengan materi. Cerdas Spiritual dan Cerdas Emosional. dan masih banyak lagi yang lainnya. cerdas Intelektual. karena sulit untuk mendapatkan bahan dari materi yang diajarkan seperti batu-batuan yang keluar dari letusan gunung berapi. karena kurangnya bahan/sumber dan kurangnya biaya. katanya sambil tertawa”(28-3-2012).Pd dan ibu Arniyanti S. globe. baling-baling kertas memanfaatkan energi angin. Sementara hasil wawancara lain yang kontra dengan hasil wawancara sebelumnya menyebutkan bahwa. kami tidak memakai alat peraga. apakah itu peta. pembelajaran itu dapat menciptakan manusia-manusia yang berkarakter. mengatakan bahwa: “Ada saat tertentu kami memakai alat peraga. . pembuatan pupuk organik. chart. Bagaimana mungkin kami memakai alat peraga kalau di bone tidak ada gunung berapi dan bekas kerajaan-kerajaan yang bercorak hindu budha. misalnya pemanfaatan sampah untuk daur ulang.

3) Apakah hasil pekerjaan siswa setiap kali ulangan dikembalikan atau tidak. mereka berpendapat anak-anak menjadi lebih fokus dan sulit untuk saling menyontek. bahwa mereka telah melaksanakan evaluasi baik dalam bentuk tulisan maupun dalam bentuk lisan. sudah seharusnya pihak sekolah menyiapkan miniatur atau meminta kepada dinas pendidikan agar segala hal yang berkaitan dengan materi pelajaran sepanjang pengadaannya sulit diadakan di daerah dapat di sediakan langsung oleh pemerintah pusat. Jika nilainya dianggap sudah memenuhi kriteria ketuntasan maka tidak perlu .5 persen sedangkan 3 orang atau 12. Meskipun agak sulit mengontrol siswa yang belum lisan tetapi dapat mengurangi tingkat kecurangan. selain lebih mudah memasukkan nilainya siswa. juga mengurangi peluang mereka untuk saling menyontek. tetapi hampir semua responden lebih memilih menjawab mereka melaksanakan evaluasi dengan cara tertulis dengan jumlah guru yang melaksanakan ulangan tertulis sebanyak 21 orang atau sekitar 87. Salah satu karakteristik MBS adalah bagaimana mengajarkan materi siswa dibawah ke pengalaman langsung supaya mereka dapat memaknai. sebanyak 24 responden menjawab ya. Berdasarkan hasil wawancara yang penulis lakukan.Sebagaimana yang disampaikan oleh kedua guru tersebut. sebagaimana yang disampaikan oleh ibu Dra Pancawati dan Ibu Wardana S.Ag: “Bentuk penilaian yang saya lakukan adalah menguji siswa dengan cara lisan. menghayati dan merasakan apa yang dipelajari. Bagi guru yang melaksanakan ujian secara lisan.5 persen guru menjawab evaluasi yang dilakukannya dengan cara lisan. Adapun yang menjadi fokus penelitian atas kinerja guru disini adalah:1) Apakah pelaksanaan evaluasi itu dilakukan secara tertulis atau lisan. bukan hanya sekedar teori belaka. serta 4) apakah ada kegiatan perbaikan/remedial bagi siswa yang tidak tuntas dan program pengayaan bagi siswa yang dianggap sudah tuntas.2) Apakah penilaian kepada siswa itu dilaksanakan secara obyektif. transparan dan bertanggung jawab. Salah satu indikator dari penilaian kinerja guru dalam tataran MBS adalah bagaimana guru mampu menjalankan fungsinya sebagai evaluator.

disamping itu apabila tidak dilaksanakan penilaian secara obyektif/ transparan dan bertanggung jawab kita tidak bisa membedakan mana murid pintar. dan pengawasan yang ketat membuat anak sulit untuk berbuat curang.Pd menyatakan: “evaluasi yang dilakukan dengan bentuk evaluasi tertulis pada setiap akhir pelajaran dilakukan untuk mengetahui sejauh mana siswa mampu menyerap materi yang diberikan. 9 responden atau 37. Alasan yang hampir sama juga dikemukakan oleh guru-guru yang tidak mengembalikan pekerjaan siswa yang lebih banyak karena alasan kebersihan. Sedangkan ibu Kaerlinda Yusuf.5 persen tidak mengembalikan tetapi hanya menyebutkan nilainya sedangkan 3 responden atau sekitar 12. Pak Munir S.Siswa juga merasa sangat senang jika hasilnya memuaskan begitupun sebaliknya”(30-3-2012). terlebih jika nilai mereka tidak tuntas. Setiap siswa ditanamkan kepercayaan untuk bersikap jujur dan tidak tergantung kepada siapapun. dikarenakan setiap selesai pemeriksaan ulangan. waktu yang diperlukan juga tidak banyak. sedang dan kurang sehingga hilanglah angka penilaian disamping itu. Sedangkan guru yang melakukan evaluasi dalam bentuk tulisan mempunyai pandangan lain. S. sehingga dapat dipertanggung jawabkan baik terhadap orang tua. dan Tuhan Yang Maha Esa. Rata-rata mereka beranggapan: “Sebelumnya setiap kali ulangan. masyarakat. pekerjaan siswa dikembalikan agar anak-anak dapat mengetahui sejauh mana kemampuannya dalam menyerap materi. Ibu Harlina S.dilakukan pengulangan lisan tetapi jika belum maka akan diadakan perbaikan”(29-3-2012). karena itulah saya malas mengembalikan pekerjaan siswa”(30-3-2012. punya alasan lain mengapa setiap kali ujian hasil pekerjaan siswa tidak dikembalikan ujian kepada siswanya.Pd. sebanyak 12 responden menjawab telah mengembalikan ujian kepada siswanya atau sekitar 50 persen.5 persen menjawab tidak karena tidak melaksanakan evaluasi tertulis. sekaligus pengkoreksian manakala guru keliru dalam memberikan peniaian. . lebih banyak dirobek atau dibuang secara sembarangan. hanya menyebutkan nilainya. tetapi anakanak tidak punya kepedulian akan apa yang mereka hasilkan. berbeda dengan ujian lisan yang terkadang memakan waktu yang cukup lama”(29-3-2012). agar siswa diperlakukan sama tanpa dibeda-bedakan dan hasil yang didapat siswa harus di ketahui secara jelas agar menjadikan motivasi untuk berbuat lebih baik. pasti saya mengembalikan hasil pekerjaan siswa. Selain tidak ribut.Pd mengatakan: “Hal tersebut dilakukan. Mengenai hasil pekerjaan siswa setelah ujian.

selain harus disampaikan ke pihak sekolah juga harus di sampaikan ke orang tua siswa agar anak tersebut mendapat perhatian orang tua dalam hal turut membantu di . Hal tersebut juga dilakukan agar siswa dapat mengetahui sampai dimana kemampuan menyelesaikan soal. Wawancara lain menyebutkan supaya ada umpan balik antara guru dengan murid guru dengan orang tua dan orang tua dengan anaknya. Tetapi itu tidak berarti siswa tidak tahu nilainya karena siswa pun tahu akan nilai hasil ujian lisannya setelah semua selesai lisan. Semua itu dilaporkan ke kepala sekolahdan komite agar ada umpan balik baik dari sekolah sendiri maupun dari masyarakat ”(30-3-2012). Hal tersebut dilakukan karena siswa dapat puas dengan pekerjaannya dan dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan ketika menjawab soal-soal serta siswa yang terbelakang diberi tugas yang sejenis. menjaga terjadinya silang pendapat antara guru siswa dan orangtua. Mengenai tindak lanjut dari kegiatan perbaikan yang dilakukan apakah dalam bentuk remedial maupun pengayaan. Dengan demikian semua responden sesungguhnya telah memeriksa pekerjaan siswa meskipun bentuk umpan baliknya berbeda. Menurut Pak Amin.Indikasi ini menunjukkan bahwa guru memiliki tanggungjawab yang teramat besar dalam memantau hasil belajar peserta didik. yang dibuktikan dengan adanya analisis ulangan harian yang didalamnya terdapat progran remedial dan pengayaan. rata-rata guru di SMPN 4 Watampone telah melaksanakan kegiatan remedial dan pengayaan. “Setiap akhir semester ada laporan yang berkenaan dengan pelaksanaan remedial di sekolah kami. yang tujuannya untuk mengetahui berapa persen pencapaian target penguasaan kurikulum oleh guru yang bersangkutan sekaligus memantau perkembangan belajar siswa. semua responden menjawab telah melakukan perbaikan dan pengayaan.Meskipun demikian ada 3 responden yang tidak mengembalikan hasil belajar peserta didik dengan alasan ujian yang mereka lakukan dalam bentuk lisan. yang menangani urusan kurikulum dan pengajaran. Sebagaima Hal tersebut diatas maka program yang berkaitan dengan perbaikan dan pengayaan kepada siswa.

sasaran dan Tujuan sekolah. sebagian besar responden yang diwakili oleh pengurus komite sekolah menyebutkan bahwa mereka jarang dilibatkan dengan hal-hal yang dimaksud padahal seharusnya sekolah dalam hal ini kepala sekolah sebagai penentu kebijakan mengundang tokoh-tokoh masyarakat untuk dilibatkan aktif dalam perencanaan sekolah. Muh Palesangi MH. Sasaran dan Tujuan. siswa dan orang tua bahwa ada upaya bimbingan dan penyuluhan yang dilakukan.sasaran dan tujuan yang akan dicapai oleh SMPN 4 watampone. Bapak Drs H. Misi. Partisipasi Dalam Perencanaan Sekolah Adapun yang menjadi fokus dalam penelitian yang menyangkut peran serta masyarakat dalam pelaksanaan MBS terutama yang berkaitan dengan partisipasi dalam perencanaan sekolah. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa orang tua siswa yang menyangkut tentang peranan mereka dalam merumuskan Visi. meliputi:1) Apakah masyarakat dilibatkan dalam merumuskan Visi. agar ada umpan balik antar Kepala Sekolah. Meskipun demikian kami tetap diundang oleh pihak sekolah manakala ada kegiatan yang bersifat ceremonial atau . Hal ini didasarkan dari pendapat ketua Komite sekolah.2) Apakah masyarakat memberikan usul. “Kami memang pernah diundang ketika penyusunan RAPBS berapa tahun yang lalu bersama beberapa anggota komite sekolah lainnya.rumah dalam membimbing anaknya sendiri. agar ada saling pengertian antara kepala sekolah maupun orang tua siswa sehingga prinsip saling mempercayai tetap terpelihara antar warga sekolah. Peran Serta Masyarakat dalam Pelaksanaan MBS pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum (1). Misi.misi. Ketika itu kami sepakat akan visi.A.Sasaran maupun tujuan telah mengalami perubahan atau tidak.3) Apakah masyarakat diundang dalam rapat komite di sekolah dan 4) Apakah kebijakan sekolah sudah sesuai harapan masyarakat atau belum. saran dan pertimbangan terhadap rencana pengembangan sekolah. Kami tidak tahu apakah Visi. E. tetapi setelah itu kami sangat jarang diundang untuk berpartisipasi dalam perencanaan sekolah. Misi .

supaya dibenahi/diadakan tempat parkir kendaraan motor bagi guru/pegawai. sarana dan prasarana olah raga. Masyarakat jarang sekali dilibatkan dalam perumusan visi. Begitupun ketika peneliti menanyakan tentang bagaimana peranan masyarakat dalam memberikan usul. kegiatan olahraga di SMPN 4 Watampone tidak dilakukan di dalam sekolah melainkan diluar sekolah. kami juga berharap ada fasilitas internet di sekolah sehingga anak-anak tidak perlu keluar mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya manakala berkaitan dengan informasi yang sulit didapatkan dalam buku pelajaran”(3-4-2012). misi. ada juga masyarakat yang acuh tak acuh tidak memberikan usul. Tapi. kegiatan ekstrakurikuler ditingkatkan. Kecuali untuk hal-hal tertentu mereka selalu diundang oleh pihak sekolah. diupayakan anak memiliki buku cetak setiap mata pelajaran. saran dan pertimbangan yang sering diberikan oleh masyarakat sesuai dengan hasil wawancara adalah melengkapi sarana dan prasarana pendidikan. agar tugas/pekerjaan rumahnya cepat dikerjakan. jangan terlalu banyak tugas/ pekerjaan rumah yang diberikan kepada anak setiap hari agar ada waktunya bermain. banyak yang akan mereka usulkan. diadakan ruang piket siswa bagian depan sekolah dan sebagainya. informan kunci yang menjadi sumber informasi dalam penelitian ini juga mengatakan jarang sekali dilibatkan. Selain membutuhkan biaya. saran dan pertimbangan kepada sekolah dengan alasan usul ataupun saran yang dimasukkan tidak direspon atau karena sekolah dianggap kurang perhatian terhadap rencana pengembangan sekolah. tidak . Seandainya ada kesempatan ketika mereka dilibatkan dalam pengembangan sekolah.. karena menurut anak kami.keagamaan”(2-4-2012). juga mengancam keselamatan anak-anak kami dari bahaya kendaraan.saran dan pertimbangan dalam pengembangan sekolah. sasaran maupun tujuan sekolah. Sebagaimana yang disampaikan oleh Junaedi: “Kami sangat menginginkan agar sekolah bisa memiliki lapangan olahraga. misi. sasaran dan tujuan yang ingin dicapai oleh sekolah Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan ketua komite sekolah yang menyebutkan bahwa mereka jarang dilibatkan dalam perumusan visi. Adapun usul. agar anak tidak ngobrol ditempat lain yang tidak bermanfaat.

penyusunan berbagai program sekolah yang akan dibicarakan bersama pengurus komite melalui rapat pengurus komite sekolah dengan dewan guru. menurut wawancara dengan responden isinya menyangkut berbagai kebijakan-kebijakan yang akan dilakukan oleh sekolah. Mardiana. Sejalan dengan hal tersebut. rencana kerja. meminta bantuan untuk meningkatkan mutu pendidikan. kami percaya sepenuhnya akan kebijakan yang dibuat dan sudah pasti kami bisa menerima. dari 24 responden sebagai perwakilan komite hampir semua pernah hadir dalam mengikuti rapat komite antara pengurus komite sekolah dengan pihak sekolah. Selanjutnya mengacu kepada pertanyaan yang keempat tentang apakah kebijakan yang dibuat sadah sesuai dengan harapan masyarakat atau belum. Rapat komite itu sendiri. termasuk diantaranya pemanfaatan dana BOS. Sementara mengacu kepada pertanyaan mengenai kehadiran mereka dalam rapat yang pernah diadakan di sekolah. ada juga masyarakat yang menyatakan kami selaku orang tua tidak perlu mencampuri urusan kebijakan yang dibuat sekolah karena kami percaya sekolah memiliki orang-orang yang dapat diandalkan untuk membuat kebijakan demi kemajuan sekolah yang artinya penyusunan RAPBS. tapi ada juga masyarakat tidak terlibat didalamnya. ibu masradia. memilih pengurus. bukan hal yang kami permasalahkan”(5-4-2012) (2). Penyusunan RAPBS. Partisipasi Dalam Perencanaan Program Sekolah . dan kasmawati dan beberapa responden lainnya berpendapat bahwa: “Sekolah pasti sudah punya agenda dan kebijakan yang relevan dengan kemajuan anak-anak kami. Dari 24 responden dalam hal ini yang diwakili oleh informan kunci mengatakan kebijakan sekolah yang dibuat tentu didasari oleh pertimbangan pihak sekolah untuk kepentingan siswa dan warga sekolah. Persoalan puas atau tidak. program partisipasi komite terhadap program sekolah. senang atau tidak..masuk menjadi pengurus komite sekolah.

83persen. Meskipun demikian ketidakterlibatan masyarakat dalam memberikan sumbangsih pemikiran dan tenaga tidak mempengaruhi mereka untuk tetap berpartisipasi aktif. membantu menyusun proposal Life Skill. pengadaan tempat parkir kendaraan motor bagi guru/karyawan.Adapun yang menjadi fokus pengkajian dalam partisipasi masyarakat dalam perencanaan program sekolah meliputi (1) Sumbangan pemikiran dan tenaga (2) Pengawasan pelaksanaan kebijakan dan program sekolah.Pd: “Kebanyakan masyarakat tidak ikut terlibat aktif dalam memberikan sumbangan pemikiran dan tenaga karena kurangnya informasi yang disampaikan pihak sekolah kepada mereka. tidak masuk pengurus komite sekolah tidak pernah dimintai untuk memberikan pemikiran oleh sekolah itu. dan pengadaan ruang piket siswa bagian depan sekolah. Sedangkan yang tidak memberikan pemikiran. perbaikan lingkungan.17 persen sedangkan yang menjawab “tidak” sebanyak 17 orang atau dengan Persentase sebesar 70. karena kurangnya komunikasi antara masyarakat dengan kepala sekolah. Menurut bapak A. Selanjutnya dari hasil wawancara yang dilakukan dengan responden tentang pengawasan pelaksanaan kebijakan dan program sekolah menunjukkan jumlah responden yang menjawab “ya” untuk ikut serta mengawasi pelaksanaan kebijakan dan program sekolah sebanyak 7 orang atau dengan Persentase 29. menurut hasil wawancara.5 persen sedangkan yang menyatakan “tidak” sebanyak 15 orang atau dengan Persentase 62. Sumbangan Pemikiran yang diberikan menurut hasil wawancara adalah kebersihan sekolah. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan responden sebanyak 9 responden menyatakan “ya” dalam memberikan sumbangan pemikiran dan tenaga atau dengan Persentase 37. masalah keamanan. Menurut bapak Drs Syahruddin M. padahal orang tua siswa banyak yang sangat potensial untuk memberikan gagasan yang dapat meningkatkan mutu pendidikan.5persen. penataan sarana dan prasarana sekolah. Mallaloang SH” “Masyarakat banyak yang tidak berpartisipasi aktif dalam melakukan pengawasan terhadap . Ini semua disebabkan karena pendekatan yang dilakukan oleh ketua komite”(4-4-2012).

supervisor. Pelaksanaan manajemen berbasis sekolah dengan orientasi mewujudkan pendidikan yang bermutu tinggi. maka diperlukan sumber daya bermutu tinggi pula. karena program dan kebijakan tidak disampaikan secara tertulis kepada mereka”(5-4-2012). manajer. karena tidak menjadi pengurus komite. Kedua faktor tersebut yaitu tingkat pendidikan dan golongan signifikan dengan kematangan/pengalaman bagi profesi sebagai guru. dalam pelaksanaan manajemen berbasis sekolah unsur masyarakat dipandang sebagai unsur yang penting mendukung keberhasilan sekolah (Stakeholder) olehnya itu upaya keterlibatan masyarakat dalam organisasi sekolah telah dilembagakan dalam bentuk komite sekolah.pelaksanaan kebijakan dan program sekolah karena lebih mempercayakan kepada pengurus komite yang dianggap dapat mewakili semua kepentingan mereka. Berdasarkan temuan pada lokasi penelitian bahwa kualitas sumber daya pendidikan dimana kualitas guru dapat dilihat berdasarkan golongan berada pada kategori tinggi yaitu diatas 50 persen golongan tiga dan tingkat pendidikan mayoritas guru sudah berada pada jenjang pendidikan strata satu sementara upaya guru dan pihak sekolah terhadap peningkatan kualitas guru masih terus dilaksanakan. Pelaksanaan manajemen berbasis sekolah sangat berkaitan dengan peningkatan kinerja kepala sekolah dimana kewenangan yang tinggi terhadap berbagai tugas dan fungsi kepala sekolah seperti: kepala sekolah sebagai educator. Bahkan orangtua siswa sudah mempercayai peranan komite sebagai wakil dari orang tua di sekolah. Ketidakaktifan masyarakat untuk melakukan pengawasan disebabkan karena faktor kesibukan. administrator. leader. Berdasarkan temuan penelitian bahwa tingkat partisipasi masyarakat lebih banyak ditentukan oleh berbagai faktor-faktor seperti tingkat pendidikan. tingkat pendapatan dan jenis . innovator dan motivator. Pemberdayaan masyarakat terhadap organisasi sekolah baik dalam fungsinya sebagai pengawasan pengelolaan dan pengembangan sekolah juga partisipasi mereka secara material. berdasarkan hasil penelitian dapat berjalan lebih baik. Selanjutnya.

hasil penelitian menunjukkan bahwa dan ketiga jenis pekerjaan yang dianalisis keterlibatan pensiunan dan profesi wiraswasta menduduki tingkat partisipasi yang lebih tinggi dibanding pegawai negeri sipil. pertama optimalisasi kinerja kepala sekolah yang memegang . hal ini menunjukkan bahwa gagasan-gagasan pemikiran dalam rangka pengembangan sekolah terdapat kecenderungan diwarnai oleh mereka yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Selanjutnya bahwa dalam pelaksanaan manajemen berbasis sekolah ketiga unsur disebutkan sebelumnya yaitu. bahwa keterbukaan pihak pengelola sekolah terhadap program-program yang direncanakan memberikan informasi kepada masyarakat baik sebagai orang tua murid maupun masyarakat sebagai bagian dari lingkungan sekolah memberikan kesempatan bagi pihak wiraswasta berperan serta dalam mendukung pengembangan sekolah. Tingkat pendidikan berkaitan dengan kemampuan masyarakat berinteraksi dengan organisasi sekolah mengakibatkan pemahaman masyarakat yang berbeda-beda terhadap pengetahuan berlembaga (komite sekolah). menyangkut hal berkaitan dengan sumbangan material secara umum juga tidak menunjukkan perbedaan yang menjolok. Menurut pengamatan peneliti bahwa tingkat pendidikan masyarakat signifikan dengan tingkat partisipasi mereka. Dan faktor latar pekerjaan berkaitan dengan waktu dan kesempatan yang berbeda-beda signifikan terhadap tingkat partisipasi masyarakat berperan aktif dalam komite sekolah. baik kehadiran pada pertemuan rutin maupun gagasan dan pemikiran terhadap pengembangan sekolah.pekerjaan. Menurut keterangan dan salah seorang responden yang berprofesi sebagai wiraswasta. Sedang tingkat pendapatan masyarakat yang berbeda tidak menunjukkan tingkat partisipasi masyarakat yang menjolok.

peranan penting terhadap keberhasilan sekolah, kedua kinerja guru dalam proses belajar mengajar yang berhubungan langsung dengan peserta didik sebagai sasaran pendidikan dan ketiga sumber daya masyarakat yang berhubungan dengan unsur pendukung (stakeholder) dalam upaya pengembangan sekolah. Untuk lebih jelasnya ketiga unsur tersebut akan dibahas secara rinci sebagai berikut: 1. Kinerja kepala sekolah Kinerja kepala sekolah sangat erat kaitannya dengan model manajemen yang diterapkan pengembangan modal manajemen berbasis sekolah yang relatif masih baru memperlihatkan hasil cukup memuaskan terhadap kinerja kepala sekolah. Peran Kepala Sekolah di mana sebelumnya harus mengikuti petunjuk dan instansi vertikal sampai pada masalah-masalah teknis kini telah mengalami perubahan-perubahan mendasar dengan reorientasi pada kemandirian sekolah di mana kewenangan disertai dengan tanggung jawab yang tinggi terhadap pengembangan sumber daya sekolah. Pada dasarnya Kepala Sekolah memiliki potensi yang cukup tinggi untuk berkreasi dan meningkatkan kinerja, namun banyak faktor yang menghambat mereka dalam mengembangkan berbagai potensinya secara optimal. Olehnya itu melalui manajemen berbasis sekolah para kepala sekolah dapat melaksanakan pembinaan secara kontinu dan berkesinambungan dengan program yang terarah dan sistematis terhadap para guru dan personil pendidikan lain di sekolah. Berkaitan dengan hal tersebut dalam rangka mengimplementasikan paradigma pendidikan baru, seperti Manajemen Berbasis Sekolah. Program pembinaan guru dan personil pendidikan tersebut yang lazim disebut supervisi pendidikan sebagai suatu rangkaian kegiatan

manajemen pendidikan di mana peran kepala sekolah sebagai supervisi pendidikan memperlihatkan hasil cukup memuaskan. Kompetensi Kepala Sekolah diperoleh melalui

pendidikan/latihan yang mengandung muatan akademik/ teoritik dan praktik sangat mendukung kinerja kepala sekolah yang bersifat rasional dalam pelaksanaan tugas-tugas pendidikan, dan kompetensi tersebut sudah merupakan persyaratan sebagai jabatan kepala sekolah. Kepala sekolah sebagai administrator pendidikan harus memenuhi fungsi dasar kepala sekolah, yakni program instruksional, kepegawaian kesiswaan, sumber-sumber fisik dan finansial serta menjalin hubungan kerjasama masyarakat yang dinilai berjalan cukup baik, walaupun dalam hubungan dengan fungsi tersebut kepala sekolah pada umumnya lebih menekankan aspek manajerial dan kepemimpinan. Pemahaman terhadap berbagai undang-undang pendidikan/ peraturan sekolah berdampak pada peran kepala sekolah sebagai administrator sekolah dalam pengembangan program, kurikulum atau pengajaran, administrasi kesiswaan, administrasi perlengkapan administrasi keuangan, administrasi kepegawaian dan hubungan sekolah dengan masyarakat dapat pula berjalan dengan baik. Dalam hal ini kepala sekolah menggunakan prinsip pengembangan dan pendayagunaan organisasi secara kooperatif dan aktivitas melibatkan keseluruhan personil dan sumber daya masyarakat sekitar. Selanjutnya, mengetahui bahwa sekolah sebagai suatu organisasi pendidikan formal merupakan wadah kerjasama sekelompok orang yang terdiri atas guru, staf, kepala sekolah dan siswa kepala sekolah sebagai pemimpin pemegang tugas kelembagaan dan pencapaian tujuan organisasi sekolah. inisiatif kepala sekolah dalam menyesuaikan sumber daya sekolah, pengorganisasian aktivitas-aktivitas kerja untuk mencapai sasaran-sasaran dilakukan melalui suatu tim kerja. Sedang kepala sekolah sebagai motivator lebih cenderung masih kurang profesional terhadap berbagai tugas-tugas di luar jam kerja guru dengan secara finansial, sebab bagaimanapun orang yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi selalu melihat hubungan antara usaha/kegiatan dengan hasil yang diperoleh. Kinerja

kepemimpinan kepala sekolah yang efektif dalam MBS dapat dilihat berdasarkan kriteria berikut: 1. Mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik, lancar, dan produktif. 2. Dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. 3. Mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan. 4. Berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain disekolah. 5. Bekerja dengan tim manajemen

2. Kinerja guru dalam pelaksanaan Proses Belajar Mengajar Kualitas sumber daya guru secara nyata dapat dilihat pada bagaimana proses pendidikan itu berlangsung dengan baik sehingga output pendidikan dapat secara maksimal dicapai. Dalam kaitannya dengan penelitian ini difokuskan pada pelaksanaan Proses Belajar Mengajar. Proses Belajar Mengajar merupakan input pendidikan yang menentukan output pendidikan yang berkualitas yang sangat berkaitan dengan unsur-unsur seperti kelengkapan program mengajar, penyajian materi pelajaran, evaluasi dan analisis hasil belajar siswa, serta program perbaikan/pengayaan. Dalam hubungannya dengan penelitian ini dilihat sebagai aspek utama dalam rangka pelaksanaan manajemen berbasis sekolah pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum. Pelaksanaan proses belajar mengajar berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa unsur-unsur seperti kelengkapan program mengajar, penyajian materi, evaluasi dan analisa,

antar guru dengan pimpinan sekolah lebih banyak bersifat pelaporan dan koordinasi mengenai hasil yang dicapai.Tingginya penilaian terhadap responden terhadap proses belajar mengajar berdasarkan hasil penelitian pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum selanjutnya akan dibahas pada bagian berikut: a. Demikian pula kelengkapan administrasi guru mengajar di kelas seperti absen. Dengan otonomi guru yang lebih tinggi dalam proses belajar mengajar menciptakan iklim yang kondusif terhadap organisasi sekolah. Sedangkan unsur perbaikan dan pengayaan masih berada dalam kategori rendah. buku keterampilan dan buku nilai harian yang setiap saat guru dapat menggunakan sebagai bahan evaluasi sementara dalam kelas untuk melihat dan memahami perkembangan kemampuan belajar peserta didik. dan rancangan tersebut memberikan kewenangan penuh kepada guru. Tingginya penilaian responden terhadap pelaksanaan proses belajar mengajar ditunjukkan oleh keterangan salah seorang guru bahwa selama ini perumusan materi pengajaran lebih banyak bersifat konseptual. . di mana bahwa hubungan antar sesama guru.secara umum berada dalam kategori tinggi. Dengan demikian. Kelengkapan program pengajaran Program pengajaran bagi guru dalam menggunakan silabus secara berkesinambungan mulai pada tahap penyusunan sampai pada tahap pelaksanaan pengajaran di kelas sehingga murid sebagai sasaran pengajaran menerima materi secara sistematis. Faktor lain yang sangat signifikan dimana proses belajar mengajar berlangsung dengan baik ditunjang dengan infrastruktur sekolah yang cukup memadai seperti ruang belajar. seperti perkembangan kejiwaan anak. sekarang dituntut lebih aktif menemukan metodemetode yang sesuai. buku paket/buku penunjang. sehingga proses belajar mengajar guru yang sebelumnya bersifat subyektif terhadap murid.

Hal ini akan menunjang siswa belajar kreatif dan innovatif pada jenjang sekolah menengah pertama. digunakan secara terpadu komperatif dalam penyajian mata pelajaran. b.perpustakaan dan fasilitas-fasilitas ekstra kurikuler seperti alat-alat kesenian dan olahraga. olehnya itu disamping guru menguasai materi pelajaran juga memiliki kemampuan dalam mentrasformasi materi baik dalam fungsinya berperan utama sebagai media maupun sebagai motivator dalam penyajian materi pelajaran di kelas. Guru diperkaya dengan penggunaan berbagai metode seperti diskusi. Dalam strategi belajar dan pembelajaran guru mampu memahami dan mengelola kelas dalam pengertian bahwa penyajian materi pelajar tidak kaku atau fleksibel (infrovisasi) sehingga respon peserta didik berkesan menyenangkan menerima materi pelajaran. Penyajian materi pelajaran merupakan unsur pokok dalam proses belajar mengajar di mana unsur berkaitan langsung guru berinteraksi dengan peserta didik dalam kelas. demonstrasi (disertai alat peraga/alat bantu). c. teratur serta pembukuan hasilnya sampai pada tahap pelaporan hasil evaluasi murid setiap semester yang akan digunakan baik untuk kebutuhan internal sekolah sekaligus sebagai bahan laporan pendidikan. Penyajian materi pelajaran. Program perbaikan dan pengayaan Berdasarkan temuan penelitian bahwa program perbaikan dan pengayaan masih berada . d. transparan dan bertanggung jawab sehingga hasil belajar yang diperoleh murid merupakan data pokok yang dapat dijadikan rujukan untuk perbaikan dimasa akan datang. Unsur evaluasi dan analisis hasil belajar siswa Berkaitan dengan evaluasi dan analisis hasil belajar terhadap kesinambungan dan berbagai kegiatan proses belajar mengajar dimana guru bersikap obyektif. Kegiatan evaluasi dilakukan secara berkala. tanya jawab ceramah.

dan unsur yang lain yaitu peran serta masyarakat dalam monitoring dan evaluasi tergolong sangat rendah ketiga unsur tersebut akan dibahas pada bahagian berikut: a. walaupun rancangan program perbaikan dan pengayaan dimiliki oleh setiap guru namun pada tingkat pelaksanaannya hanya sebagian kecil dilakukan oleh guru. transparansi terhadap proses pelaksanaan pendidikan. Berdasarkan hasil penelitian keempat unsur tersebut. Partisipasi masyarakat dalam perencanaan program sekolah . pada hal sasaran utama program perbaikan dan pengayaan adalah pendalaman materi pelajaran kepada murid secara keseluruhan. Dari program perbaikan dan pengayaan berkaitan dengan anggaran yang disediakan masih relatif rendah serta keterbatasan waktu oleh guru. yaitu peran serta masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan program sekolah berada dalam kategori sedang. Seorang guru memberikan keterangan dan hasil wawancara peneliti program perbaikan dan pengayaan tidak dapat dilaksanakan dengan baik dimana anggaran yang disediakan tidak cukup memadai padahal waktu yang digunakan untuk memberikan materi pengulangan cukup lama dan juga menggunakan biaya pembuatan materi. Partisipasi masyarakat Partisipasi masyarakat yang dilembagakan dalam bentuk komite sekolah untuk menjamin akan adanya akuntabilitas. monitoring sampai pada tingkat evaluasi hasil yang dicapai. Olehnya itu masyarakat sebagai stekhoulder sekolah dituntut keterlibatannya mulai pada tahap perencanaan program.dalam kategori rendah. sehingga guru cukup merasa puas dengan prestasi anak didik mereka. pelaksanaan program. Berkaitan dengan perbaikan dan pengayaan menunjukkan bahwa masih ada sebagian guru beranggapan hanya ditujukan kepada murid yang kurang berprestasi. 3. Menurut pengamatan peneliti bahwa kegiatan ini tidak sepenuhnya berjalan. diakibatkan pada dua hal yaitu prestasi keseluruhan murid memperlihatkan hasil yang memuaskan.

Hal ini ditunjukkan oleh rendahnya peran serta masyarakat pada kegiatankegiatan seperti perumusan misi. materi/uang. saran dan pendapat yang dominan mewarnai rapat-rapat antara komite dan pihak pengelolah sekolah sedang pada tingkat pengambilan keputusan masih sering terjadi salah pengertian. visi. Menurut keterangan seorang kepala sekolah. Hal ini dapat dilihat pada konteks perumusan misi. Partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program sekolah. sasaran. pengadaan sarana/prasarana sekolah dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan sekolah seperti pembangunan pagar dan pembangunan sarana lainnya berdasarkan hasil penelitian berada dalam kategori tinggi.Keterlibatan peran serta masyarakat dalam perencanaan sekolah pada kegiatan yang bersifat akademik. Hanya jika hal itu bersifat usul. belum ada persepsi yang sama dan tugas masing-masing masih cenderung tumpang tindih dan masyarakat lebih terkonsentrasi kepada masalah-masalah pengelolaan anggaran sekolah. sasaran. Menurut pengamatan peneliti bahwa masyarakat belum dapat menempatkan diri sepenuhnya sebagai mitra yang diperlukan oleh pengelola sekolah sampai pada tahap perencanaan program sekolah. visi. Keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan program sekolah seperti pemberian sumbangan tenaga. tujuan dan program sekolah dan pemberian informasi/data yang diperlukan sekolah. tujuan dan program sekolah dan pemberian informasi/data yang diperlukan sekolah belum menunjukkan peran serta masyarakat yang berarti. b. masih terdapat anggapan bahwa masyarakat hanya berfungsi sebagai donatur dalam rangka pembangunan sekolah. pemahaman masing-masing masyarakat yang duduk pada organisasi komite sekolah yang relatif masih baru ini. Peran serta masyarakat mendukung material pembangunan sekolah yang disponsori melalui komite sekolah termasuk sumbangan secara sukarela cukup besar namun di dalam pembiayaan operasional sekolah/rutin siswa bagi .

c. Hal tersebut dikemukakan oleh seorang responden sebagai anggota dalam organisasi . Partisipasi masyarakat dalam monitoring dan evaluasi sekolah Partisipasi masyarakat dalam monitoring dan evaluasi merupakan hal yang prinsipil dalam pelaksanaan pengawasan program sekolah sebagai hasil kebijakan yang telah diputuskan secara bersama baik bagi pihak pengelola sekolah maupun masyarakat secara khusus sebagai perwakilan masyarakat yang berada dalam komite sekolah (dewan sekolah).mereka yang kurang mampu dibiayai oleh Dana BOS (Dana bantuan Operasional) Sekolah. Memantau perkembangan sekolah belum merupakan perhatian khusus bagi masyarakat baik yang bersifat non fisik seperti pengawasan proses yang belajar mengajar/perkembangan prestasi anak didik di sekolah maupun bersifat fisik seperti bantuan pembangunan dan peralatan sekolah. Seorang kepala sekolah memberikan keterangan berdasarkan hasil wawancara peneliti bahwa dukungan dana masyarakat diluar dan sumbangan komite (sumbangan sukarela) sangat bermanfaat membantu memperkuat pos-pos anggaran yang masih memerlukan dana tambahan secara terus menerus seperti pergantian dan penambahan alat peraga sekolah yang berkembang terus menerus sesuai dengan kebutuhan sekolah. Pada kegiatan ekstrakurikuler seperti pekan olahraga dan kesenian dalam rangka perayaan hari ulang tahun kemerdekaan. dukungan masyarakat tetap ada untuk dapat meringankan anggaran program sekolah lebih efektif membiayai yang lebih penting. Berdasarkan hasil penelitian bahwa peran serta masyarakat dalam monitoring dan evaluasi pelaksanaan programprogram sekolah masih berada dalam kategori rendah. Jikapun secara temuan penelitian sebelumnya bahwa tingkat partisipasi masyarakat cukup tinggi material dalam sumbangan pembangunan sekolah. namun pada tingkat pengawasan terhadap pelaksanaan dan pengadaannya peran serta masyarakat masih sangat minim.

b. Gerakan Peningkatan Kualitas Pendidikan Yang Dicanangkan Pemerintah Upaya meningkatkan kualitas pendidikan terus menerus dilakukan. dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional telah mencanangkan .komite sekolah: bahwa masyarakat memang mempunyai tingkat partisipasi yang tinggi secara material terhadap pembangunan sekolah tetapi sangat jarang masyarakat mempersoalkan bagaimana alokasi dana tersebut disalurkan. organisasi formal dan internal. Tidak ada penguraian secara rinci sebagai bahan evaluasi organisasi dan komite sekolah walaupun laporan pertanggung jawaban setiap kegiatan tetap ada dan pihak pengelola sekolah dan tidak pernah mendapat tanggapan yang serius baik dan komite sekolah maupun anggota masyarakat yang hadir setiap pertemuan. Beberapa faktor pendukung tersebut pada garis besarnya mencakup sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan. a. Faktor Pendukung dan Penghambat Keberhasilan Implementasi MBS 1.baik faktor internal maupun eksternal. Faktor Pendukung Dalam buku Pedoman Manajemen Berbasis Sekolah dikaitkan bahwa keberhasilan pelaksanaan MBS sangat dipengaruhi oleh berbagai fakta. baik dalam pertemuan-pertemuan resmi maupun melalui orientasi dan workshop. A. organisasi profesi serta dukungan dunia usaha dan dunia industri. baik secara konvensional maupun movatif. Sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan Pemerintah dan seluruh stake halder pendidikan perlu terus melakukan sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan di berbagai wilayah kerjanya. potensi sumber daya manusia. Hal tersebut lebih terfokus lagi setelah diamanatkan dalam Undang-undang Sisdiknas bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui peningkatan kualitas pendidikan kepada setiap jenis dan jenjang pendidikan Pemerintah. gerakan peningkatan kualitas pendidikan dan gotongroyong kekeluargaan.

Musyawarah Kepala Sekolah (MKM). Gotong Royong Dalam Kekeluargaan Gotongroyong dan kekeluagaan dapat menghasilkan dampak positif (synergistyc effect) dalam berbagai aktifitas. Dewan Pendidikan. menuju terwujudnya visi pendidikan menjadi aksi nyata di Sekolah. Kelompok Kerja Sekolah (KKM). e.Gerakan Peningkatan Mutu Pendidikan . Kelompok Kerja guru (KKG). dari Sabang sampai Merauke umumnya telah memiliki organisasi formal terutama yang berhubungan dengan profesi pendidikan seperti Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (Pokjamas). Organisasi Formal dan Optimal Pada sebagian besar lingkungan pendidikan Sekolah di berbagai wilayah Indonesia. pada tanggal 2 Mei 2002 c. d. Kondisi ini dapat ditumbuhkembangkan melalui jalinan kerjasama dan keeratan hubungan dengan msyarakat dan dunia kerja. Gotongroyong dan kekeluargaan yang membudaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia masih dapat dikembangkan dalam mewujudkan Kepala Sekolah yang profesional. . Perhatian tersebut harus ditunjukan dalam keamanan dan kemampuan untuk mengembangkan diri dan Sekolahnya secara optimal. f. Setiap kepala Sekolah harus memiliki perhatian yang cukup tinggi terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Sekolah.. Organisasi Profesi Organisasi profesi pendidikan sebagai wadah untuk membantu pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan seperti Pokjawas. Organisasi-organisasi tersebut sangat mendukung MBS untuk melakukan berbagai terobosan dalam peningkatan kualitas pendidikan diwilayah kerjanya. dan Komite Sekolah. terutama yang berada di lingkungan Sekolah. Potensi Kepala Sekolah. KKM. Kepala Sekolah memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan secara optimal.

program yang mendukung implementasi. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Organisasi profesi tersebut sangant mendukung implementasi MBS dalam peningkatan kinerja dan prestasi belajar peserta didik menuju peningkatan kualitas pendidikan nasional g. Dalam pada itu. peserta didik juga termotivasi untuk secara sadar meningkatkan diri dalam mencapai prestasi sesuai bakat dan kemampuan yang dimiliki.Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Harapan Terhadap Kualitas Pendidikan MBS sebagai paradigma baru manajemen pendidikan mempunyai harapan yang tinggi untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Input manajemen yang telah dimiliki seperti tugas yang jelas. rencana yang rinci dan sistematis. Tenaga kependidikan memiliki komitmen dan harapan yang tinggi bahwa peserta didik dapat mencapai prestasi yang optimal meskipun dengan segala keterbatasan sumber daya pendidikan yang ada di Sekolah. serta adanya sistem pengendalian mutu yang handal untuk meyakinkan bahwa tujuan yang telah dirumuskan dapat diwujudkan di Sekolah. serta komitmen dan motivasi yang kuat untuk meningkatakan mutu Sekolah secara optimal. dan ISPI (Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia) sudah terbentuk hampir diseluruh Indonesia. h. . Harapan tinggi dari berbagai dimensi Sekolah merupakan faktor dominan yang menyebabkan Sekolah selalu dinamis untuk melakukan perbaikan secara berkelanjutan (continous quality improvement). Input Manajemen Paradigma baru manajemen pendidikan perlu ditunjang oleh input manajemen yang memadai dalam menjalankan roda Sekolah dan mengelola Sekolah secara efektif. dan telah menyentuh berbagai kecamatan. ketentuan-ketentuan (aturan main) yang jelas dari warga Sekolah dalam bertindak. Forum Peduli Guru (FPG).

guru dan pengawas akan sulit dicapai MBS yang bermutu tinggi serta prestasi siswa yang tinggi pula. serta mampu menciptakan iklim organisasi di Sekolah yang mendukung terjadinya proses belajar mengajar. Kemampuan dalam membiayai pendidikan. 2002. d. hal yang sangat menentukan tingkat keberhasilan penerapan MBS terutama bagi Sekolah yang kemampuan orang tua/masyarakatnya relatif belum siap memberikan perannya terhadap penyelenggaraan pendidikan. Dukungan pemerintah. faktor ini sangat strategis dalam upaya menentukan mutu dan hasil kerja Sekolah. b. Faktor Penghambat Beberapa hambatan yang dihadapi pihak-pihak berkepentingan dalam penerapan Manajemen Berbasis sekolah (MBS) pada SMP Negeri 4 Khusus yang dapat dianalisis adalah sebagai berikut: 1. Keadaan social ekonomi dan penghayatan masyarakat terhadap pendidikan. factor luar yang akan turut menentukan keberhasilan MBS adalah keadaan tingkat pendidikan orangtua siswa dan masyarakat. Kepemimpinan dan manajemen Sekolah yang baik.Pada buku pedoman implementasi manajemen berbasis Sekolah yang diterbitkan oleh Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Jakarta. Alokasi dana pemerintah dan pemberian kewenangan dalam pengelolaan Sekolah menjadi penentu keberhasilan. c. MBS akan jika ditopang oleh kemampuan professional Kepala Sekolah dalam memimpin dan mengelola Sekolah secara tepat dan akurat. 2. harapan dan pelibatan diri dalam mendorong anak untuk terus belajar. Tanpa profesionalisme kepala Sekolah. Tidak Berminat Untuk Terlibat. bahwa faktor pendukung keberhasilan MBS terdiri dari a. serta tingkat penghayatan. Profesionalisme. .

Di satu sisi hal ini berdampak positif karena mereka akan saling mendukung satu sama lain. 4. 3. para anggota dewan sekolah kemungkinan besar akan semakin kohesif. Di sisi lain. Pengambilan keputusan yang dilakukan secara partisipatif adakalanya menimbulkan frustrasi dan seringkali lebih lamban dibandingkan dengan cara-cara yang otokratis.” Ini berbahaya karena keputusan yang diambil kemungkinan besar tidak lagi realistis. Memerlukan Pelatihan. Anggota dewan sekolah harus lebih banyak menggunakan waktunya dalam hal-hal yang menyangkut perencanaan dan anggaran. Akibatnya kepala sekolah dan guru tidak memiliki banyak waktu lagi yang tersisa untuk memikirkan aspek-aspek lain dari pekerjaan mereka. Setelah beberapa saat bersama. Para anggota dewan sekolah harus dapat bekerja sama dan memusatkan perhatian pada tugas. kohesivitas itu menyebabkan anggota terlalu kompromis hanya karena tidak merasa enak berlainan pendapat dengan anggota lainnya. Mereka tidak berminat untuk ikut serta dalam kegiatan yang menurut mereka hanya menambah beban. Pikiran Kelompok. Tidak semua guru akan berminat dalam proses penyusunan anggaran atau tidak ingin menyediakan waktunya untuk urusan itu.Sebagian orang tidak menginginkan kerja tambahan selain pekerjaan yang sekarang mereka lakukan. Tidak Efisien. Pihak-pihak yang berkepentingan kemungkinan besar sama sekali tidak atau belum berpengalaman menerapkan model yang rumit dan partisipatif ini. Mereka kemungkinan besar tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang hakikat MBS sebenarnya dan bagaimana . 2. bukan pada halhal lain di luar itu. Pada saat inilah dewan sekolah mulai terjangkit “pikiran kelompok.

kegiatan yang beragam akan berjalan sendiri ke tujuannya masing-masing yang kemungkinan besar sama sekali menjauh dari tujuan sekolah. oleh siapa. Penerapan MBS mengubah peran dan tanggung jawab pihakpihak yang berkepentingan. mereka dapat memastikan bahwa setiap hambatan telah ditangani sebelum penerapan MBS. Anggota masyarakat sekolah harus menyadari bahwa adakalanya harapan yang dibebankan kepada sekolah terlalu tinggi. Perubahan yang mendadak kemungkinan besar akan menimbulkan kejutan dan kebingungan sehingga mereka ragu untuk memikul tanggung jawab pengambilan keputusan. pengambilan keputusan. Kesulitan Koordinasi. dan sebagainya 5. Pengalaman penerapannya di tempat lain menunjukkan bahwa daerah yang paling berhasil menerapkan MBS telah memfokuskan harapan mereka pada dua maslahat: meningkatkan keterlibatan dalam pengambilan keputusan dan menghasilkan keputusan lebih baik. dan pada level mana dalam organisasi. semua yang terlibat harus memahami apa saja tanggung jawab pengambilan keputusan yang dapat dibagi. 6.Kebingungan Atas Peran dan Tanggung Jawab Baru. Dua unsur penting adalah pelatihan yang cukup tentang MBS dan klarifikasi peran dan tanggung jawab serta hasil yang diharapkan kepada semua pihak yang berkepentingan.cara kerjanya. Tanpa itu. Selain itu. Setiap penerapan model yang rumit dan mencakup kegiatan yang beragam mengharuskan adanya koordinasi yang efektif dan efisien. komunikasi. Pihak-pihak yang terlibat kemungkinan besar telah sangat terkondisi dengan iklim kerja yang selama ini mereka geluti. Berdasarkan faktor pendukung dan penghambat yang dikemukan diatas maka ada . Apabila pihak-pihak yang berkepentingan telah dilibatkan sejak awal.

Model pemberdayaan sekolah berupa pendampingan atau fasilitasi dinilai lebih memberikan hasil yang lebih nyata dibandingkan dengan pola-pola lama berupa penataran MBS. Mengembangkan model program pemberdayaan sekolah. Juga membuat laporan secara insidental berupa booklet. termasuk pelaksanaan block grant yang diterima sekolah. transparan. Termasuk membiasakan sekolah untuk membuat laporan pertanggungjawaban kepada masyarakat. 2. pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu melakukan kegiatan bersama dalam rangka monitoring dan evaluasi pelaksanaan MBS di sekolah. Dengan kata lain. Bukan hanya sekedar melakukan pelatihan MBS. termasuk masyarakat dan orangtua siswa. 3. dan akuntabel. Model memajangkan RAPBS di papan pengumuman sekolah yang dilakukan oleh Managing Basic Education (MBE) merupakan tahap awal yang sangat positif. Peningkatan kapasitas dan komitmen seluruh warga sekolah.Pemerintah pusat lebih memainkan peran monitoring dan evaluasi. yang lebih banyak dipenuhi dengan pemberian informasi kepada sekolah. . leaflet. Alangkah serasinya jika kepala sekolah dan ketua Komite Sekolah dapat tampil bersama dalam media tersebut.beberapa Strategi yang dapat diterapkan diterapkan di SMP Negeri 4 Khusus untuk meningkatakan Mutu Pendidikan Melalui Penerapan MBS yaitu : 1. Membangun budaya sekolah (school culture) yang demokratis. atau poster tentang rencana kegiatan sekolah. Upaya untuk memperkuat peran kepala sekolah harus menjadi kebijakan yang mengiringi penerapan kebijakan MBS.

Partisipasi masyarakat terhadap pihak pengelola sekolah belum sepenuhnya menunjukkan kerjasama yang baik diakibatkan oleh rendahnya kemampuan akademik masyarakat berorganisasi (komite sekolah) sehingga memiliki keterbatasan berperan aktif dalam kegiatankegiatan yang bersifat akademik seperti. Kesimpulan Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum diperoleh gambaran sebagai berikut: 1. administrator supervisor. visi dalam perencanaan dan mekanisme pengawasan dalam pelaksanaan pengelolaan sekolah. Kinerja guru dilihat dari empat aspek yang dinilai yakni kelengkapan program mengajar guru. leader. kemampuan akademik dan manajerial para pendidik sangat menunjang . hal mana menunjukkan bahwa tingkat kreatifitas guru menyusun materi masih sangat terbatas. perumusan misi. 2.BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Dari empat aspek tersebut secara khusus pada program perbaikan dan pengayaan masih terdapat kelemahan-kelemahan seperti penyusunan tes dan materi berulangulang pada masing-masing sekolah. 4. dukungan dana yang besar yang dapat membiayai berbagai kegiatan baik ekstra maupun intra. 121 Negeri 4 Adapun faktor pendukung diterapkannya manajemen berbasis sekolah di SMP Watampone antara lain: adanya kerjasama antara kepala sekolah dengan semua pihak-pihak yang ada di sekolah. manajer. inovator dan motivator berjalan maksimal. 3. penyajian materi pelajaran evaluasi dan analisis hasil belajar murid serta program perbaikan dan pengayaan. Kinerja kepala sekolah terhadap berbagai tugas dan fungsi kepala sekolah seperti kepala sekolah sebagai edukator.

Saran 1. secara total. Lebih memberikan peluang lebih nyata kepada wakil masyarakat dalam komite sekolah untuk lebih optimal dalam melaksanakan tugas dan fungsinya baik secara teknis maupun secara konseptual sehingga pelaksanaan manajemen berbasis sekolah mencerminkan demokratisasi di bidang pendidikan. analisis serta pengkajian data dan informasi perlu dilakukan secara terus menerus dan mendalam agar setiap unit kerja di sekolah dapat melaksanakan MBS yang efisien. serta banyaknya peserta didik dengan berbagai karakter menyulitkan untuk pelaksanaan MBS B. kemampuan manajemen tenaga administratif sangat membantu kegiatan ketatausahaan. Dalam upaya untuk meningkatkan kinerja guru agar menjadi lebih profesional sesuai perkembangan tuntutan pendidikan maka pelaksanaan manajemen berbasis sekolah yang lebih mengedepankan kemandirian pengelolaan sekolah maka pengembangan tugas dan tanggung jawab guru menjadi suatu kebutuhan mendesak dengan terus memberikan pendidikan dan latihan atau bentuk kegiatan lainnya dalam rangka pengembangan profesionalisme guru. . masih ada guru yang bersifat acuh terhadap peningkatan kualitas pendidikan. 4. sedang yang termasuk faktor penghambat manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Khusus antara lain: Transparansi dan akuntabilitas kepala sekolah belum bersifat terbuka terutama dalam pemanfaatan dana.dalam proses pembelajaran. Hendaknya dalam meningkatkan efisiensi MBS. Pihak pengelola sekolah perlu melakukan transformasi akademik secara intens dengan masyarakat secara kelembagaan melalui organisasi komite sekolah sehingga pemahaman masyarakat terhadap tanggung jawab keberhasilan sekolah dapat berjalan maksimal. 3. wilayah sekolah yang sempit tidak seimbang dengan jumlah siswa yang teramat banyak lebih dari 1000 siswa. 2.

5. Agar analisis pengimplementasian MBS menjadi lebih sempurna pada sekolah tingkat dasar, menengah dan lanjutan diharapkan kepada peneliti lain dapat melakukan pengkajian secara mendalam pada dimensi lain dalam MBS, sehingga pelaksanaan MBS tidak lagi menemui kendala di lapangan.

DAFTAR PUSTAKA Abdurrahman. 1987. Beberapa Pemikiran Tentang Otonomi Daerah. Jakarta : Media Sarana Press Abidin, Said Zainal. 2006. Kebijakan Publik. Jakarta. Suara Bebas Abustam, Idrus, Djaali dan Rahman Asfah, M. 1996. Pedoman Praktis Penelitian dan Penulisan Karya Tulis Ilmiah. Ujung Pandang Lembaga Penelitian IKP Ujung Pandang.

Arikunto, Suharsimi, 2002 Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta:Rineka Cipta, Cet ke-12. Bastian, Reza Aulia. 2002. Reformasi Pendidikan. Yogyakarta : Lappera Pustaka Utama. Berkepanjangan, ICW, 2004 Burhanuddin, 1998. Desentralisasi Manajemen Pendidikan. Malang : UNM Danuredjo. 1977. Otonomi Indonesia Ditinjau dalam Rangka Kedaulatan. Jakarta : Penerbit Laras Depdiknas, 2001 MPMBS, Konsep & Pelaksanaan, Jakarta: Dirjen Dikdasmen. Depdiknas. 2001. Peningkatan Mutu Pendidikan di Sekolah Dasar. Jakarta Depdiknas. Dunn, William N. 2003. Pengantar Analisis Kebijakan Publik. Jogjakarta. Gajah Mada University Press Fatah, Nanang, 2003 Konsep Management Berbasis Sekolah dan Dewan Sekolah, Bandung Pustaka Bani Quraisy. Fattah, Nanang, 2000, Ekonomi dan Pembiayaan Pendidikan, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya Fiske, Edward. B. 1998. Desentralisasi Pengajaran. (Terjemahan Ahli Bahasa Basillius Bengoteku). Jakarta: Grasindo. Hasbullah, 2006. Otonomi Pendidikan. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada Imron , Ali. 1995. Kebijakan Pendiikan Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara Jalal, Fasli, Supriadi dan Dedi. 2001. Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah. Yogyakarta : Adi Cita. Kalster, Wayang. 2000. Restrukturisasi Penyelenggaraan Pendidikan (Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Oktober No. 26) Jakarta : Badan penelitian dan Pengembangan Depdiknas. Koesoemahatmadja. 1979. Pengantar ke Arah Sistem Pemerintahan di Daerah di Indonesia. Bandung : Binacipta Lexy J. Moleong, 2002, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya. Mantja, W. 1990. Manajemen Pendidikan dan Supervisi Pengajaran. Malang: Wineka Media Mantja. W. dan Imron. AH. 1998. Manajemen Peserta Didik. Malang, Depdikbud

Mardalis, 1993, Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal, Jakarta: Bumi Aksara. Margono, S. 2000. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta Rineka Cipta Mohrman Susan Albert and Wohlstette Priccilla (1994). School-Based Management, Organizing for High Performance, San Fransisco: Jossey-Bass Publisher. Muhdi, Ali. 2007. Konfigurasi Politik Pendidikan Nasional. Yogyakarta. Pustaka Fahima. Mulyasa, E. 2004. Manajemen Berbasis Sekolah (Konsep, Strategi dan Implementasi) Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Mulyasa, E. 2011. Manajemen Berbasis Sekolah (Konsep, Strategi dan Implementasi) cetakan ketigabelas, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Nasution, S dan Thomas. M. 2001. Buku Penuntun Membuat Tesis, Skripsi Disertasi Makalah. Jakarta: Bumi Aksara. Nugroho, D. Riant. 2000. Otonomi Daerah, Desentralisasi Tanpa Revolusi. Jakarta : PT Elex Media Computindo Nurkholis, Manajemen Berbasis Sekolah, 2004 Teori dan Praktek Bandung: Rosda Pongtuluran, Aris. 1995. Kebijakan Organisasi dan Pengambilan Keputusan Manajerial. Jakarta. LPMP Rutmini dan Juyono. 1999. Manajemen Berbasis Sekolah, Konseptual danKemungkinan Strategi Pelaksanaan. Jakarta : Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas. Saleh, Syarif. 1963. Otonomi dan Daerah Otonom. Jakarta : Penerbit Endang Sidi Indra. Djati. 2000. Kebijakan Penyelenggaraan Otonomi Daerah Bidang Pendidikan. Bandung: PPS UPI. Slamet PH. (2005). Handout Kapita Selekta Desentralisasi Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama, Depdiknas RI. Slamet PH. (2005). Handout Kapita Selekta Desentralisasi Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama, Depdiknas RI Sujanto, Bedjo, Mensiasati Manajemen Berbasis Sekolah Di Era Krisis Yang Suparno, Paul. SJ. 2002. Reformasi Pendidikan (Sebuah Rekomendasi). Yogyakarta: Kanisius Suryono, Yoyon. 2000. Arah Kebijakan Otonomi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah. Yogyakarta. FIP UNY

Zamroni. Uno. Hamzah. 1979. Umiarso dan Imam Gojali. Manajemen Mutu Sekolah di Era Otonomi Undang-Undang No. Undang-Undang No. Kepemimpinan Dalam Manajemen.2006. . Yogyakarta Bigraf Publising. 1989. Pendidikan. 1995. Rineka Cipta Thoha. 2 Tahun 1989. 2002. 2010. Amidjaja. 2000. Jakarta . Efektivitas Kebijakan Pendidikan.A. Jakarta: PT Bumi Aksara Wayong J. 1993 Metodologi Research Jilid I. D. 2008. Tentang Sistem Pendidikan Nasional. B. Jakarta. Rineka Cipta. Tisna.R. Paradigma Pendidikan Masa Depan. 22 Tahun 1999. Pola Pembaharuan Sistem Pendidikan Tenaga Kependidikan di Indonesia dan Pedoman Pelaksanaannya Jakarta Depdikbud.A. Syafaruddin. Tentang Otonomi Daerah.Jogjakarta. Asas dan Tujuan Pemerintahan Daerah. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta: Rajawali Tilaar H. Yogyakarta: Pascarsarjana Universitas Negeri Yogyakarta. Jakarta:Penerbit Djambatan Zamroni. (2008).Sutrisno Hadi. Membenahi Pendidikan Nasional. Jakarta Sinar Grafika. School Based Management. Analisis di Bidang Pendidikan. Miftah. Jakarta Sinar Grafika.

JUDUL Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum iv .

Hasil penelitian dari tiga unsur pokok menunjukkan. Sumber data utama adalah kata-kata dan tindakan dari kepala sekolah. Penelitian ini ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran secara umum tentang implementasi manajemen berbasis sekolah di SMP Negeri 4 Khusus. Kedua. pemimpin. wawancara. Kata kunci : implementasi. yakni berakar dari masyarakat. administrator. dan motivator dapat berjalan cukup baik. dan menyenangkan (PAKEM) dan peran serta masyarakat (PSM). bahwa pelaksanaan manajemen berbasis sekolah dilihat dari kinerja kepala sekolah berbagai tugas dan fungsinya seperti sebagai manajer. Pertama. supervisor. Dari studi langsung di lapangan. Fokus penelitian MBS di SMP Negeri 4 adalah untuk mengetahui implementasi MBS dari pihak manajemen sekolah dalam hal ini kenerja kepala sekolah. bahwa partisipasi masyarakat belum sepenuhnya menunjukkan kerjasama yang baik dengan pihak pengelola sekolah. penyajian materi pelajaran. evaluasi dan analisis hasil belajar murid serta program perbaikan dan pengayaan dan Ketiga. Tujuan progam MBS adalah peningkatan mutu pendidikan yang meliputi manajemen sekolah. kinerja guru dan peran serta masyarakat dalam meningkatkan mutu pendidikan. visi dalam perencanaan dan pengawasan. Wakil kepala sekolah. termasuk faktor pendukung dan faktor penghambatnya. bahwa kinerja guru dinilai melalui aspek-aspek seperti kelengkapan program mengajar. atas inisiatif masyarakat. penyelenggaraan pendidikan secara sentralistik. dan peran serta masyarakat terutama orang tua hanya terbatas pada dukungan dana. kebijakan. . innovator. Hal tersebut lebih banyak disebabkan oleh rendahnya kemampuan masyarakat berorganisasi (komite sekolah) sehingga memiliki keterbatasan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan seperti. Penelitian ini digolongkan sebagai penelitian deskriftif kualitatif. guru. Dengan adanya manajemen berbasis sekolah ini memberikan kewenangan sekolah untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh lembaga yang bersangkutan. sekolah memiliki kewenangan yang lebih besar dalam pengelolaan sekolah. dan dokumentasi.v ABSTRAK Manajemen berbasis sekolah merupakan usaha untuk menumbuhkan pendidikan dari bawah. Teknik dalam menggali data adalah melalui pengamatan. pengurus komite sekolah. serta tata usaha. pembelajaran aktif kreatif efektif. Secara filosofis sekolah yang lebih memahami bagaimana situasi atau kondisi sekolah serta harapan apa yang akan dicapai. Ketiga faktor itu antara lain bahwa kebijakan pendidikan kurang memperhatikan proses pendidikan. Managemen Berbasis Sekolah. perumusan misi. Dalam MBS. ada tiga faktor sebagai penyebab mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan secara merata. dikelola masyarakat dan untuk kepentingan masyarakat.

innovator. In philosophical schools better understand how the situation or condition of the school and what expectations will be achieved. In MBS. and fun (Active Learning) and community (PSM). These three factors. among others. policy. teachers. that public participation has not been fully demonstrated good cooperation with the school management. and the role of the community especially the elderly is limited to financial support. administrator. that the implementation of school-based management be seen from the performance of the principal tasks and functions such as a manager. the formulation of the mission. evaluation and analysis of student learning outcomes and program improvement and enrichment and Third. the school has greater authority in managing the school. and can run pretty good motivator. vice principals. vision in the planning and supervision. This study aims to gather information about the implementation of school based management at SMP Negeri 4 Khusus. The results of three main elements indicate. interviews. that assessed the performance of teachers through such aspects as completeness of the teaching program. With a schoolbased management gives schools the authority to develop the potential of the institution concerned. It is more often caused by poor ability to organize the community (school committee) so it has limited participation in such activities.ABSTRACT School based management is an effort to foster the education of. including school management.Techniques in exploring the data is through observation. that the lack of attention to education policy education process. Second. teacher performance and community participation in improving the quality of education. Of studies in the field. The main data sources are the words and actions of principals. This study is classified as a descriptive qualitative research. there are three factors as the cause of the quality of education does not increase uniformly. including the factors supporting and inhibiting factors. school based management. first. effective creative active learning. administrators of the school committee and administration. and documentation. MBS research focus in at SMP Negeri 4 Khusus is to investigate the implementation of MBS from management in this kenerja school principal. managed for the benefit of the community and society. leader. the community initiative. supervisor. Keywords: implementation. MBS program goal is to improve the quality of education. presentation of subject matter. education is centralized. vi . the roots of the community.

..................................................................... Manfaat Penelitian BAB II 8 8 8 10 10 i ii iii v vi vii ix x 1 1 TINJAUAN PUSTAKA .. B............................. Manajemen Berbasis Sekolah E............................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN SAMPUL ............................................. Manajemen Pendidikan D................ Kebijakan Publik Dalam Dimensi Akuntabilitas C.................................. A................................................. A....... Kinerja Kepala Sekolah 48 49 34 35 21 F.......................................................................................................................... HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................... Latar Belakang Masalah ..................................... DAFTAR ISI ........................... Partisipasi Masyarakat 51 ............................................... ABSTRACT .................................................................................................................................... DAFTAR GAMBAR ....................... PRAKATA .................... BAB I PENDAHULUAN ........................................ ABSTRAK ............ Desentralisasi Pendidikan. Rumusan Masalah C................................. Tujuan Penelitian D............................................................................... DAFTAR TABEL ..................................... B........................... Kinerja Guru Dalam Proses Belajar Mengajar G..............

.................... A.............................................. A.............. Kinerja Kepala Sekolah dalam Pelaksanaan MBS pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum 70 D................. B.................. Kinerja Guru dalam Pelaksanaan MBS pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Watampone 86 E...... Variabel Penelitian D........... Responden Masyarakat 67 64 64 C........................ Peran Serta Masyarakat dalam Pelaksanaan MBS pada SMP Negeri 4 Khusus Kabupaten Umum 98 F.. Populasi dan Sampel 58 58 59 56 F......... Teknik Analisis Data 62 60 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ...................... Faktor Pendukung dan Penghambat Implementasi MBS di SMP Negeri 4 Khusus ......................... ..................................... Metode Pengumpulan Data .............. Kerangka Pikir 52 vii BAB III METODE PENELITIAN 56 56 A.................. Defenisi Operasional Variabel C....... Jenis dan Lokasi Penelitian .......... Instrumen Penelitian E.......... Kesimpulan ...........................H.... B........................................................... G.... Identitas Responden .......... BAB V 113 121 121 KESIMPULAN DAN SARAN-SARAN ...............

.......... Saran-saran 122 viii DAFTAR PUSTAKA 124 DAFTAR TABEL Tabel 4......... Karakteristik responden guru berdasarkan pangkat/golongan......... Penyebaran responden masyarakat menurut tingkat pendidikan.. Penyebaran responden menurut tingkat pendapatan.................. Tabel 4.. Penyebaran responden masyarakat menurut latar belakang pekerjaan .2............. Tabel 4......1..6.5...... Tabel 4.................69 64 65 66 68 69 ...... Tabel 4.....................4........3.............B.. Tabel 4... Penyebaran responden guru menurut tingkat Pendidikan... Penyebaran responden guru menurut kelompok umur..............

...ix DAFTAR GAMBAR Gambar 2.............................. 55 x ...............1 Sketsa Kerangka Pikir ..................

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful