P. 1
Negara Dan Konstitusi

Negara Dan Konstitusi

|Views: 306|Likes:
Published by Ginger Cline

More info:

Published by: Ginger Cline on Nov 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/15/2015

pdf

text

original

Pertanyaan

:

HAM dan Kebebasan Beragama di Indonesia
Apa saja dasar-dasar hukum yang menjamin kebebasan seseorang beragama dan melaksanakan ibadahnya? Apa yang dimaksud dengan SURAT KEPUTUSAN BERSAMA atau biasa disebut SKB? Sebenarnya siapakah yang berwenang menyimpulkan suatu ajaran agama/aliran agama itu sesat? Apakah ada dasar hukumnya? Adakah dasar hukum yang menegaskan bahwa agama di Indonesia hanya ada 6 (Islam, Khatolik, Kristen, Buddha, Hindu dan Khong Hu Chu? Terima Kasih atas tanggapan dan jawabannya.
OSCAR_KARUNIA    

Share:

Jawaban:
SHANTI RACHMADSYAH

Dasar hukum yang menjamin kebebasan beragama di Indonesia ada pada konstitusi kita, yaitu Pasal 28E ayat (1) Undang-Undang Dasar Tahun 1945 (“UUD 1945”): “Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.” Pasal 28E ayat (2) UUD 1945 juga menyatakan bahwa setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan. Selain itu dalam Pasal 28I ayat (1) UUD 1945 juga diakui bahwa hak untuk beragama merupakan hak asasi manusia. Selanjutnya Pasal 29 ayat (2) UUD 1945 juga menyatakan bahwa Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduknya untuk memeluk agama.

Akan tetapi, hak asasi tersebut bukannya tanpa pembatasan. Dalam Pasal 28J ayat (1) UUD 1945 diatur bahwa setiap orang wajib menghormati hak asasi orang lain. Pasal 28J ayat (2) UUD 1945 selanjutnya mengatur bahwa pelaksanaan hak tersebut wajib tunduk pada pembatasan-pembatasan dalam undang-undang. Jadi, hak asasi manusia tersebut dalam pelaksanaannya tetap patuh pada pembatasan-pembatasan yang diatur dalam undang-undang. Lukman Hakim Saifuddin dan Patrialis Akbar, selaku mantan anggota Panitia Ad Hoc I Badan Pekerja MPR, dalam persidangan di Mahkamah Konstitusi pernah menceritakan kronologis dimasukkannya 10 pasal baru yang mengatur tentang HAM dalam amandemen kedua UUD 1945, termasuk di antaranya pasal-pasal yang kami sebutkan di atas. Menurut keduanya, ketentuan-ketentuan soal HAM dari Pasal 28A sampai 28I UUD 1945 telah dibatasi atau “dikunci” oleh Pasal 28J UUD 1945. Pembatasan pelaksanaan HAM ini juga dibenarkan oleh Dr. Maria Farida Indrati, pakar ilmu perundang-undangan dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Maria yang juga hakim konstitusi menyatakan bahwa hak asasi manusia bisa dibatasi, sepanjang hal itu diatur dalam undang-undang. Pendapat Maria selengkapnya mengenai hal tersebut dapat Anda simak dalam artikel ini. Kami asumsikan Surat Keputusan Bersama (“SKB”) yang Anda maksud dalam pertanyaan adalah: SKB Menteri Agama, Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri No. 03 Tahun 2008, No. KEP-033/A/JA/6/2008 dan No. 199 Tahun 2008 tentang Peringatan dan Perintah Kepada Penganut, Anggota dan/atau Pengurus JAI dan Warga Masyarakat (“SKB Tiga Menteri”).

Dasar hukum penerbitan SKB Tiga Menteri tersebut antara lain: Pasal 28E, Pasal 281 ayat (1), Pasal 28J, dan Pasal 29 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Pasal 156 dan Pasal 156a; Undang-Undang Nomor 1/PnPs/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama jo. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1969 tentang Pernyataan Berbagai Penetapan Presiden dan Peraturan Presiden sebagai UndangUndang (“UU Penodaan Agama”)

Dalam pasal 2 ayat (1) UU Penodaan Agama dinyatakan, dalam hal ada yang melanggar larangan penyalahgunaan dan/atau penodaan agama, diberi perintah dan peringatan keras untuk menghentikan perbuatannya itu di dalam suatu keputusan bersama Menteri Agama, Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri. Contohnya adalah SKB “Perintah terhadap Penganut dan Pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia” yang diterbitkan tanggal 9 Juni 2008, seperti kami cantumkan di atas. Siapa yang menyimpulkan aliran tertentu itu sesat? Menurut pasal 2 ayat (2) UU Penodaan Agama, kewenangan menyatakan suatu organisasi/aliran kepercayaan yang melanggar larangan penyalahgunaan dan/atau penodaan agamasebagai organisasi/aliran terlarang ada pada Presiden, setelah mendapat pertimbangan dari Menteri Agama, Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri. Pada prakteknya, ada Badan Koordinasi Pengawasan Kepercayaan Masyarakat atau biasa disingkat Bakor Pakem. Sebenarnya yang dimaksud Bakor Pakem adalah Tim Koordinasi Pengawasan Kepercayaan yang dibentuk berdasar Keputusan Jaksa Agung RI No.: KEP004/J.A/01/1994 tanggal 15 Januari 1994 tentang Pembentukan Tim Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat (PAKEM). Tim Pakem ini bertugas mengawasi aliran-aliran kepercayaan yang tumbuh dan hidup di kalangan masyarakat. Tim Pakem ini kemudian akan menghasilkan suatu surat rekomendasi untuk Menteri Agama, Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri, tindakan apa yang harus diambil. Dalam kasus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (“JAI”), misalnya, Tim Pakem memberikan rekomendasi agar JAI diberi peringatan keras sekaligus perintah penghentian kegiatan. Adakah dasar hukum yang menegaskan bahwa agama di Indonesia hanya ada enam? Dalam Penjelasan pasal 1 UU Penodaan Agama dinyatakan bahwa agama-agama yang dipeluk oleh penduduk Indonesia ialah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Khong Hu Cu (Confusius). Tapi, hal demikian tidak berarti bahwa agama-agama lain dilarang di Indonesia. Penganut agama-agama di luar enam agama di atas mendapat jaminan penuh seperti yang diberikan oleh Pasal 29 ayat (2) UUD 1945 dan mereka dibiarkan keberadaanya, selama tidak melanggar peraturan perundang-undangan di Indonesia.

MAKALAH KEWIRAAN (NEGARA DAN KONSTITUSI)
Dalam Latahzan di 18/02/2011 pada 1:25 pm

KATA PENGANTAR Puji syukur penyusun panjatkan atas kehadirat Allah SWT, karena berkat kahadirat-Nyalah sehingga penyusun dapat menyelesaikan tugas makalah Kewiraan mengenaiNegara dan Konstitusi dengan baik dan tepat waktu. Dalam pembuatan makalah ini tentunya tidak mungkin dapat terselesaikan dengan sempurna tanpa bantuan berbagai pihak, oleh karena itu penyusun mengucapkan terima kasih yang terhingga kepada: 1. DRA. Wingkolatin, M.Si yang banyak memberikan masukan hingga terselesaikannya makalah ini dengan baik. 2. Rekan-rekan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan 2009 yang telah banyak membantu penyusun dalam mendapatkan bahan. 3. Kedua orang tua yang telah memberikan bantuan baik materi maupun doa sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Penyusun berharap kepada pembaca yang budiman untuk memberikan kritikan dan saran demi kesempurnaan makalah Kewiraan mengenai Negara dan Konstitusi ini. Akhirnya semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penyusun maupun pihak lain yang membacanya. Samarinda, 16 Februari 2010 Penyusun i DAFTAR ISI KATA PENGANTAR… …………………………………………………………….. DAFTAR ISI ………………………………………………………………………… BAB .I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang …………………………………………………………….. ……… 1 2. Rumusan Masalah ………… ……………………………….. ……… 2 3. Tujuan Penulisan …………………………………………………… 3 4. Manfaat Penulisan ………………………………………………….. 3 BAB.II PEMBAHASAN

i ii

1. Pengertian Negara …………………………………………………………………….. 4 2. Pengertian Konstitusi………………………………………………… 7 3. Hubungan Negara Dan Konstitusi ………………………………………………. 14 4. Pancasila Dan Konstitusi Di Indonesia……………………………… 14 5. Penyelesaian Kasus Ambalat Antara Pemerintah Indonesia Dan Malysia………………………………………………………………. 16 BAB. III PENUTUP 1. A. Kesimpulan…………………………………………………………… 31 2. B. Saran…………………………………………………………………… 33 DAFTAR PUSAKA…………………………………………………………………… 34 ii MAKALAH KEWIRAAN (NEGARA DAN KONSTITUSI)

DI SUSUN OLEH: Jumardi Lina Dwi Widiastuti Lesdianto Linda Suwarni Lazarus Lasah Mahesa Nur Iman R Mikhael Daniel Meidi Hendrawan (Pendidikan Kewarnegaraan Reguler) PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEWARNEGARAAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MULAWARMAN 2010 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

Reformasi menuntut dilakukannya amandemen atau mengubah UUD 1945 karena yang menjadi causa prima penyebab tragedi nasional mulai dari gagalnya suksesi kepemimpinan yang berlanjut kepada krisis sosial-politik, bobroknya managemen negara yang mereproduksi KKN, hancurnya nilai-nilai rasa keadilan rakyat dan tidak adanya kepastian hukum akibat telah dikooptasi kekuasaan adalah UUD Republik Indonesia 1945. Itu terjadi karena fundamen ketatanegaraan yang dibangun dalam UUD 1945 bukanlah bangunan yang demokratis yang secara jelas dan tegas diatur dalam pasal-pasal dan juga terlalu menyerahkan sepenuhnya jalannya proses pemerintahan kepada penyelenggara negara. Akibatnya dalam penerapannya kemudian bergantung pada penafsiran siapa yang berkuasalah yang lebih banyak untuk legitimasi dan kepentingan kekuasaannya. Dari dua kali kepemimpinan nasional rezim orde lama (1959 – 1966) dan orde baru (1966 – 1998) telah membuktikan hal itu, sehingga siapapun yang berkuasa dengan masih menggunakan UUD yang all size itu akan berperilaku sama dengan penguasa sebelumnya. Keberadaan UUD 1945 yang selama ini disakralkan, dan tidak boleh diubah kini telah mengalami beberapa perubahan. Tuntutan perubahan terhadap UUD 1945 itu pada hakekatnya merupakan tuntutan bagi adanya penataan ulang terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Atau dengan kata lain sebagai upaya memulai “kontrak sosial” baru antara warga negara dengan negara menuju apa yang dicita-citakan bersama yang dituangkan dalam sebuah peraturan dasar (konstitusi). Perubahan konstitusi ini menginginkan pula adanya perubahan sistem dan kondisi negara yang otoritarian menuju kearah sistem yang demokratis dengan relasi lembaga negara yang seimbang. Dengan demikian perubahan konstititusi menjadi suatu agenda yang tidak bisa diabaikan. Hal ini menjadi suatu keharusan dan amat menentukan bagi jalannya demokratisasi suatu bangsa. Realitas yang berkembang kemudian memang telah menunjukkan adanya komitmen bersama dalam setiap elemen masyarakat untuk mengamandemen UUD 1945. Bagaimana cara mewujudkan komitmen itu dan siapa yang berwenang melakukannya serta dalam situasi seperti apa perubahan itu terjadi, menjadikan suatu bagian yang menarik dan terpenting dari proses perubahan konstitusi itu. Karena dari sini akan dapat terlihat apakah hasil dicapai telah merepresentasikan kehendak warga masyarakat, dan apakah telah menentukan bagi pembentukan wajah Indonesia kedepan. Wajah Indonesia yang demokratis dan pluralistis, sesuai dengan nilai keadilan sosial, kesejahteraan rakyat dan kemanusiaan. Dengan melihat kembali dari hasil-hasil perubahan itu, kita akan dapat dinilai apakah rumusan-rumusan perubahan yang dihasilkan memang dapat dikatakan lebih baik dan sempurna. Dalam artian, sampai sejauh mana rumusan perubahan itu telah mencerminkan kehendak bersama. Perubahan yang menjadi kerangka dasar dan sangat berarti bagi

perubahan-perubahan selanjutnya. Sebab dapat dikatakan konstitusi menjadi monumen sukses atas keberhasilan sebuah perubahan. B. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, dapat dirumuskan masalahmasalah yang akan dibahas pada penulisan kali ini. Masalah yang dimaksud adalah sebagai berikut: a) b) c) d) e) f) Apakah pengertian negara itu? Apakah pengertian konstitusi itu? Mengetahui elemen-elemen yang membentuk suatu Negara! Bagaimanakah hubungan antara negara dan konstitusi? Bagaimana keberadaan Pancasila dan konstitusi di Indonesia? Penyelesaian kasus Ambalat antara Pemerintah Malysia dan Indonesia!

C. TUJUAN PENULISAN Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut: a) b) c) d) Untuk mengetahui pengertian dari negara. Untuk mengetahui pengertian dari konstitusi. Untuk mengetahui hubungan antara negara dan konstitusi. Untuk mengetahui keberadaan Pancasila dan konstitusi di Indonesia.

e) Untuk mengetahui Permasalahan Kasus Ambalat antara Pemerintah Indonesia dan Malaysia. D. MANFAAT PENULISAN Manfaat yang diperoleh dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut: a) b) c) Menambah pengetahuan kita tentang pengertian suatu negara. Menambah wawasan kita tentang pengertian konstitusi. Kita menjadi tahu bagaimana hubungan antara negara dan konstitusi.

d) Kita tahu keberadaan Pancasila dan konstitusi di negara kita. BAB II PEMBAHASAN A. PENGERTIAN NEGARA 1. George Gelinek Negara adalah organisasi kekuasaan dari kelompok manusia yang telah berkediaman dalam wilayah tertentu. 1. Kranenburg Negara adalah suatu organisasi yang timbul karena kehendak dari suatu golongan atau bangsa sendiri. 1. Roger F Soultau Negara adalah alat (agency) atau wewenang atau authority yang mengatur atau mengendalikan persoalan bersama atas nama nasyarakat 1. Carl Schmitt Negara adalah sebagai suatu ikatan dari manusia yang mengorganisasi dirinya dalam wilayah tertentu. Negara merupakan suatu organisasi di antara sekelompok atau beberapa kelompok manusia yang secara bersama-sama mendiami suatu wilayah (territorial) tertentu dengan mengakui adanaya suatu pemerintahan yang mengurus tata tertib dan keselamatan sekelompok atau beberapa kelompok manusia yang ada di wilayahnya. Organisasi negara dalam suatu wilayah bukanlah satu-satunya organisasi, ada organisasi-organisasi lain (keagamaan, kepartaian, kemasyarakatan dan organisasi lainnya yang masing-masing memiliki kepribadian yang lepas dari masalah kenegaraan). Secara umum negara dapat diartikan sebagai suatu organisasi utama yang ada di dalam suatu wilayah karena memiliki pemerintahan yang berwenang dan mampu untuk turut campur dalam banyak hal dalam bidang organisasiorganisasi lainnya. Terdapat beberapa elemen yang berperan dalam membentuk suatu negara. Elemen-elemen tersebut adalah: 1. Masyarakat Masyarakat merupakan unsur terpenring dalam tatanan suatu negara. Masyarakat atau rakyat merupakan suatu individu yang berkepentingan dalam suksesna suatu tatanan dalam pemerintahan. Pentingnya unsur rakyat dalam suatu negara tidak hanya diperlukan dalam ilmu kenegaraan (staatsleer) tetapi perlu juga perlu melahirkan apa yang disebut ilmu kemasyarakatan (sosiologi) suatu ilmu pengetahuan baru yang khusus menyelidiki,

mempelajari hidup kemasyarakatan. Sosiologi merupakan ilmu penolong bagi ilmu hukum tata negara. 1. Wilayah (teritorial) Suatu negara tidak dapat berdiri tanpa adanya suatu wilayah. Disamping pentingnya unsur wilayah dengan batas-batas yang jelas, penting pula keadaan khusus wilayah yang bersangkutan, artinya apakah layak suatu wilayah itu masuk suatu negara tertentu atau sebaliknya dipecah menjadi wilayah berbagai negara. Apabila mengeluarkan peraturan perundang-undangan pada prinsipnya hanya berlaku bagi orang-orang yang berada di wilayahnya sendiri. Orang akan segera sadar berada dalam suatu negara tertentu apabila melampaui batas-batas wilayahnya setelah berhadapan dengan aparat (imigrasi negara) untuk memenuhi berbagai kewajiban yang ditentukan. Paul Renan (Perancis) menyatakan satu-satunya ukuran bagi suatu masyarakat untuk menjadi suatu negara ialah keinginan bersatu (le desir de‟etre ansemble). Pada sisi lain Otto Bauer menyatakan, ukuran itu lebih diletakkan pada keadaan khusus dari wilayah suatu negara. 1. Pemerintahan Ciri khusus dari pemerintahan dalam negara adalah pemerintahan memiliki kekuasaan atas semua anggota masyarakat yang merupakan penduduk suatu negara dan berada dalam wilayah negara. Negara untuk dapat menjalankan pemerintahannya harus mempunyai kedulatan atau kekuasaan. Kedauatan adalah kekuasaan penuh untuk mengatur rakyat tanpa dicampuri/pengaruh dari bangsa asing/pemerintah negara lain. Kedaulatan Negara adalah Kekuasaan tertinggi berada pada negara, Kedaulatan negara ini diperoleh dari teori kedaulatan ketuhanan, kedaulatan rakyat, kedaulatan negara dan kedaulatan hukum. Negara pada pokoknya mempunyai tujuan : a.memperluas kekuasaan, b. menyelenggarakan ketertiban umum dan c.mencapai kesejahtreraan umum. Ada empat macam teori mengenai suatu kedaulatan, yaitu teori kedaulatan Tuhan, kedaulatan negara, kedaulatan hukum dan kedaulatan rakyat.

1. Teori kedaulatan Tuhan (Gods souvereiniteit) Teori kedaulatan Tuhan (Gods souvereiniteit) meyatakan atau menganggap kekuasaan pemerintah suatu negara diberikan oleh Tuhan. Misalnya kerajaan Belanda, Raja atau ratu secara resmi menamakan dirinya Raja atas kehendak Tuhan “bij de Gratie Gods”, atau Ethiopia (Raja Haile Selasi) dinamakan “Singa Penakluk dari suku Yuda yang terpilih Tuhan menjadi Raja di Ethiopia”. 1. Teori kedaulatan Negara (Staats souvereiniteit) Teori kedaulatan Negara (Staats souvereiniteit)menganggap sebagai suatu axioma yang tidak dapat dibantah, artinya dalam suatu wilayah negara, negaralah yang berdaulat. Inilah inti pokok dari semua kekuasaan yang ada dalam wilayah suatu negara. Otto Mayer (dalam buku Deutsches Verwaltungsrecht) menyatakan “kemauan negara adalah memiliki kekuasaan kekerasan menurut kehendak alam”. Sementara itu Jellinek dalam buku Algemeine Staatslehre menyatakan kedaulatan negara sebagai pokok pangkal kekuasaan yang tidak diperoleh dari siapapun. Pemerintah adalah “alat negara”. 1. Teori kedaulatan hukum (Rechts souvereiniteit) Teori kedaulatan hukum (Rechts souvereiniteit) menyatakan semua kekuasaan dalam negara berdasar atas hukum. Pelopor teori ini adalah H. Krabbe dalam buku Die Moderne Staats Idee. 1. Teori Kedaulatan Rakyat (Volks aouvereiniteit), Teori Kedaulatan Rakyat (Volks aouvereiniteit), semua kekuasaan dalam suatu negara didasarkan pada kekuasaan rakyat (bersama). J.J. Rousseau (Perancis) menyatakan apa yang dikenal dengan “kontrak sosial”, suatu perjanjian antara seluruh rakyat yang menyetujui Pemerintah mempunyai kekuasaan dalam suatu negara. Di dalam perkembangan sejarah ketatanegaraan, 3 unsur negara menjadi 4 bahkan 5 yaitu rakyat, wilayah, pemerintahan, UUD (Konstitusi) dan pengakuan Internasional (secara de facto maupun de jure). B. PENGERTIAN KONSTITUSI 1. Konstitusi dalam pengertian luas adalah keseluruhan dari ketentuan ketentuan dasar atau hukum dasar. 2. Konstitusi dalam pengertian sempit berarti piagam dasar atau undang undang dasar (Loi constitutionallle) ialah suatu dokumen lengkap mengenai peraturan dasar negara. 3. EC Wade

Konstitusi adalah naskah yang memaparkan rangka dan tugas pokok dari badan pemerintahan suatu negara dan menentukan pokok-pokok cara kerja badan tersebut. 1. Herman Heller Menamakan undang-undang dasar sebagai riwayat hidup suatu hubungan kekuasaan. 1. Lasalle Pengertian konstitusi adalah Kekuasaan antara kekuasaan yang terdapat dalam masyarakat (faktor kekuatan riil : presiden, TNI, Partai; buruh, tani dsb). Kata “Konstitusi” berarti “pembentukan”, berasal dari kata kerja yaitu “constituer” (Perancis) atau membentuk. Yang dibentuk adalah negara, dengan demikian konstitusi mengandung makna awal (permulaan) dari segala peraturan perundang-undangan tentang negara. Belanda menggunakan istilah “Grondwet” yaitu berarti suatu undang-undang yang menjadi dasar (grond) dari segala hukum. Indonesia menggunakan istilah Grondwet menjadi Undang-undang Dasar. Menurut Brian Thompson, secara sederhana pertanyaan: what is a constitution dapat dijawab bahwa “…a constitution is a document which contains the rules for the the operation of an organization” Organisasi dimaksud beragam bentuk dan kompleksitas strukturnya. Negara sebagai salah satu bentuk organisasi, pada umumnya selalu memiliki naskah yang disebut sebagai konstitusi atau Undang-Undang Dasar. Dahulu konstitusi digunakan sebagai penunjuk hukum penting biasanya dikeluarkan oleh kaisar atau raja dan digunakan secara luas dalam hukum kanon untuk menandakan keputusan subsitusi tertentu terutama dari Paus. Konstitusi pada umumnya bersifat kondifaksi yaitu sebuah dokumen yang berisian aturanaturan untuk menjalankan suatu organisasi pemerintahan negara, namun dalam pengertian ini, konstitusi harus diartikan dalam artian tidak semuanya berupa dokumen tertulis (formal). Namun menurut para ahli ilmu hukum maupun ilmu politik konstitusi harus diterjemahkan termasuk kesepakatan politik, negara, kekuasaan, pengambilan keputusan, kebijakan dan distibusi maupun alokasi Konstitusi bagi organisasi pemerintahan negara yang dimaksud terdapat beragam bentuk dan kompleksitas strukturnya, terdapat konstitusi politik atau hukum akan tetapi mengandung pula arti konstitusi ekonomi. Konstitusi memuat aturan-aturan pokok (fundamental) yang menopang berdirinya suatu negara. Terdapat dua jenis kontitusi, yaitu konstitusi tertulis (Written Constitution) dan konstitusi tidak tertulis (Unwritten Constitution). Ini diartikan seperti halnya “Hukum Tertulis” (geschreven Recht) yang termuat dalam undang-undang dan “Hukum Tidak

Tertulis” (ongeschreven recht) yang berdasar adat kebiasaan. Dalam karangan “Constitution of Nations”, Amos J. Peaslee menyatakan hampir semua negara di dunia mempunyai konstitusi tertulis, kecuali Inggris dan Kanada. Di beberapa negara terdapat dokumen yang menyerupai konstitusi, namun oleh negara tersebut tidak disebut sebagai konstitusi. Dalam buku yang berjudul The Law and The Constitution, Ivor Jenning menyebutkan di dalam dokumen konstitusi tertulis yang dianut oleh negara-negara tertentu mengatur tentang: 1. Adanya wewenang dan tata cara bekerja suatu lembaga kenegaraan. 2. Adanya ketentuan hak asasi yang dimiliki oleh warga negara yang diakui dan dilindungi oleh pemerintah. Tidak semua lembaga-lembaga pemerintahan dapat diatur dalam poin 1 dan tidak semua hakhak warga negara diatur dalam poin 2. Seperti halnya di negara Inggris. Dokumen-dokumen yang tertulis hanya mengatur beberapa lembaga negara dan beberapa hak asasi yang dimiliki oleh rakyat, satu dokumen dengan dokumen lainya tidak sama. Ada konstitusi yang materi muatannya sangat panjang dan sangat pendek. Konstitusi yang terpanjang adalah India dengan 394 pasal. Kemudian Amerika Latin seperti uruguay 332 pasal, Nicaragua 328 pasal, Cuba 286 pasal, Panama 271 pasal, Peru 236 pasal, Brazil dan Columbia 218 pasal, selanjutnya di Asia, Burma 234 pasal, di Eropa, belanda 210 pasal. Konstitusi terpendek adalah Spanyol dengan 36 pasal, Indonesia 37 pasal, Laos 44 pasal, Guatemala 45 pasal, Nepal 46 pasal, Ethiopia 55 pasal, Ceylon 91 pasal dan Finlandia 95 pasal. 1. 1. Tujuan Dari Konstitusi Pada umumnya hukum bertujuan untuk mengadakan tata tertib untuk keselamatan masyarakat yang penuh dengan konflik antara berbagai kepentingan yang ada di tengah masyarakat. Tujuan hukum tata negara pada dasarnya sama dan karena sumber utama dari hukum tata negara adalah konstitusi atau Undang-Undang Dasar, akan lebih jelas dapat dikemukakan tujuan konstitusi itu sendiri. Konstitusi juga memiliki tujuan yang hampir sama deengan hukum, namun tujuan dari konstitusi lebih terkait dengan: 1. Berbagai lembaga-lembaga kenegaraan dengan wewenang dan tugasnya masing-masing. 2. Hubungan antar lembaga Negara

3. Hubungan antar lembaga negara(pemerintah) dengan warga Negara (rakyat). 4. Adanya jaminan atas hak asasi manusia 5. Hal-hal lain yang sifatnya mendasar sesuai dengan tuntutan jaman. Semakin banyak pasal-pasal yang terdapat di dalam suatu konstitusi tidak menjamin bahwa konstitusi tersebut baik. Di dalam prakteknya, banyak negara yang memiliki lembagalembaga yang tidak tercantum di dalam konstitusi namun memiliki peranan yang tidak kalah penting dengan lembaga-lembaga yang terdapat di dalam konstitusi. Bahkan terdapat hakhak asasi manusia yang diatur diluar konstitusi mendapat perlindungan lebih baik dibandingkan dengan yang diatur di dalam konstitusi. Dengan demikian banyak negara yang memiliki aturan-aturan tertulis di luar konstitusi yang memiliki kekuatan yang sama denga pasal-pasal yang terdapat pada konstitusi. Konstitusi selalu terkait dengan paham konstitusionalisme. Walton H. Hamilton menyatakan “Constitutionalism is the name given to the trust which men repose in the power of words engrossed on parchment to keep a government in order. Untuk tujuan to keep a government in order itu diperlukan pengaturan yang sede-mikian rupa, sehingga dinamika kekuasaan dalam proses pemerintahan dapat dibatasi dan dikendalikan sebagaimana mestinya. Gagasan mengatur dan membatasi kekua-saan ini secara alamiah muncul karena adanya kebutuhan untuk merespons perkembangan peran relatif kekuasaan umum dalam kehidupan umat manusia. 1. 2. Klasifikasi Konstitusi Hampir semua negara memiliki kostitusi, namun antara negara satu dengan negara lainya tentu memiliki perbeadaan dan persamaan. Dengan demikian akan sampai pada klasifikasi dari konstitusi yang berlaku di semua negara. Para ahli hukum tata negara atau hukum konstitusi kemudian mengadakan klasifikasi berdasarkan cara pandang mereka sendiri, antara lain K.C. Wheare, C.F. Strong, James Bryce dan lain-lainnya. Dalam buku K.C. Wheare “Modern Constitution” (1975) mengklasifikasi konstitusi sebagai berikut: a) Konstitusi tertulis dan konstitusi tidak tertulis (written constitution and unwritten constitution) b) Konstitusi fleksibel dan konstitusi rigid (flexible and rigid constitution).

Konstitusi fleksibelitas merupakan konstitusi yang memiliki ciri-ciri pokok: 1. Sifat elastis, artinya dapat disesuaikan dengan mudah . 2. Dinyatakan dan dilakukan perubahan adalah mudah seperti mengubah c). Konstitusi derajat tinggi dan konstitusi derajat tidak derajat tinggi supreme constitution). undang-undang.

(Supremeand not

Konstitusi derajat tinggi, konstitusi yang mempunyai kedudukan tertinggi dalam negara (tingkatan peraturan perundang-undangan). Konstitusi tidak derajat tinggi adalah konstitusi yang tidak mempunyai kedudukan seperti yang pertama. d) Konstitusi Negara Serikat dan Negara Kesatuan (Federal and Unitary Constitution) Bentuk negara akan sangat menentukan konstitusi negara yang bersangkutan. Dalam suatu negara serikat terdapat pembagian kekuasaan antara pemerintah federal (Pusat) dengan negara-negara bagian. Hal itu diatur di dalam konstitusinya. Pembagian kekuasaan seperti itu tidak diatur dalam konstitusi negara kesatuan, karena pada dasarnya semua kekuasaan berada di tangan pemerintah pusat. e) Konstitusi Pemerintahan Presidensial dan pemerintahan.

Parlementer (President Executive and Parliamentary Executive Constitution). Dalam sistem pemerintahan presidensial (strong) terdapat ciri-ciri antara lain: 1. Presiden memiliki kekuasaan nominal sebagai kepala negara, tetapi juga memiliki kedudukan sebagai Kepala Pemerintahan. 2. Presiden dipilih langsung oleh rakyat atau dewan pemilih. 3. Presiden tidak termasuk pemegang kekuasaan legislatif dan tidak dapat memerintahkan pemilihan umum. Berlakunya suatu konstitusi sebagai hukum dasar yang mengikat didasarkan atas kekuasaan tertinggi atau prinsip kedaulatan yang dianut dalam suatu negara. Jika negara itu menganut paham kedaulatan rakyat, maka sumber legitimasi konstitusi itu adalah rakyat. Jika yang berlaku adalah paham kedaulatan raja, maka raja yang menentukan berlaku tidaknya suatu

konstitusi. Hal inilah yang disebut oleh para ahli sebagai constituent power yang merupakan kewenangan yang berada di luar dan sekaligus di atas sistem yang diaturnya. Karena itu, di lingkungan negara-negara demokrasi, rakyatlah yang dianggap menentukan berlakunya suatu konstitusi. Constituent power mendahului konstitusi, dan konstitusi mendahului organ pemerintahan yang diatur dan dibentuk berdasarkan konstitusi. Pengertian constituent power berkaitan pula dengan pengertian hirarki hukum (hierarchy of law). Konstitusi merupakan hukum yang lebih tinggi atau bahkan paling tinggi serta paling fundamental sifatnya, karena konstitusi itu sendiri merupakan sumber legitimasi atau landasan otorisasi bentuk-bentuk hukum atau peraturan-peraturan perundang-undangan lainnya. Sesuai dengan prinsip hukum yang berlaku universal, maka agar peraturan-peraturan yang tingkatannya berada di bawah Undang-Undang Dasar dapat berlaku dan diberlakukan, peraturan-peraturan itu tidak boleh bertentangan dengan hukum yang lebih tinggi tersebut. Dengan ciri-ciri konstitusi yang disebutkan oleh Wheare ” Konstitusi Pemerintahan Presidensial dan pemerintahan Parlementer (President Executive and Parliamentary Executive Constitution)”, oleh Sri Soemantri, Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 45) tidak termasuk kedalam golongan konstitusi Pemerintahan Presidensial maupun pemerintahan Parlementer . Hal ini dikarenakan di dalam tubuh UUD 45 mengndung ciri-ciri pemerintahan presidensial dan ciri-ciri pemerintahan parlementer. Oleh sebab itu menurut Sri Soemantri di Indonesia menganut sistem konstitusi campuran. 1. 3. Menilai konstitusi 1. Konstitusi bernilai normatif, berarti secara hukum dia-kui dan dilaksanakan secara murni dan konsekwen. 2. Konstitusi bernilai nominal, secara hukum konstitusi diakui kedudukannya sebagai konstitusi negara. 3. Konstitusi bernilai simpati, secara yuridis diakui dan tidak operasional. Konstitusi ini dikesampingkan oleh kebijakan lain. 4. Fungsi Konstitusi 1. menentukan pembatasan terhadap kekuasaan sebagai suatu fungsi konstitusionalisme; 2. memberikan legitimasi terhadap kekuasaan pemerintah; 3. sebagai instrumnen untuk mengalihkan kewenangan dari pemegang kekuasaan asal (baik rakyat dalam sistem demokrasi atau raja dalam sistem monarki) kepada organorgan kekuasaan negara; 5. Sifat Konstitusi 1. Formil dan materiil; Formil berarti tertulis. Materiil dilihat dari segi isinya berisikan halhal bersifat dasar pokok bagi rakyat dan negara. (sama dengan konstitusi dalam arti relatif).

2. Flexibel dan rigid, Kalau rigid berarti kaku suliot untuk mengadakan perubahan sebagaimana disebutkan oleh KC Wheare Menurut James Bryce, ciri flexibel : a. Elastis. b. Diumumkan dan diubah sama dengan undang-undang. 3. Tertulis dan tidak tertulis 6. Cara Perubahan Konstitusi 1. Oleh rakyat melalui referendum 2. Oleh sejumlah negara bagian 3. Dengan konvensi ketatanegaraan. 1. C. HUBUNGAN NEGARA DENGAN KONSTITUSI Berhubungan sangat erat, konstitusi lahir merupakan usaha untuk melaksanakan dasar negara. Dasar negara memuat norma-norma ideal, yang penjabarannya dirumuskan dalam pasal-pasal oleh UUD (Konstitusi) Merupakan satu kesatuan utuh, dimana dalam Pembukaan UUD 45 tercantum dasar negara Pancasila, melaksanakan konstitusi pada dasarnya juga melaksanakan dasar negara. D. PANCASILA DAN KONSTITUSI DI INDONESIA Seperti yang kita ketahui dalam kehidupan bangsa Indonesia, Pancasila merupakan filosofische grondslag dan common platforms atau kalimatun sawa. Pada masa lalu timbul suatu permasalahan yang mengakibatkan Pancasila sebagai alat yang digunakan untuk mengesahkan suatu kekuasaan dan mengakibatkan Pancasila cenderung menjadi idiologi tertutup. Hal ini dikarenakan adanya anggapan bahwa pancasila berada di atas dan diluar konstitusi. Pancasila disebut sebagai norma fundamental negara (Staatsfundamentalnorm) dengan menggunakan teori Hans Kelsen dan Hans Nawiasky. Teori Hans Kelsen yang mendapat banyak perhatian adalah hierarki norma hukum dan rantai validitas yang membentuk piramida hukum (stufentheorie). Salah seorang tokoh yang mengembangkan teori tersebut adalah murid Hans Kelsen, yaitu Hans Nawiasky. Teori Nawiaky disebut dengan theorie von stufenufbau der rechtsordnung. Susunan norma menurut teori tersebut adalah: 1. Norma fundamental negara (Staatsfundamentalnorm);

2. Aturan dasar negara (staatsgrundgesetz); 3. Undang-undang formal (formell gesetz); dan 4. Peraturan pelaksanaan dan peraturan otonom (verordnung en autonome satzung). Staatsfundamentalnorm adalah norma yang merupakan dasar bagi pembentukan konstitusi atau Undang-Undang Dasar (staatsverfassung) dari suatu negara. Posisi hukum dari suatu Staatsfundamentalnorm adalah sebagai syarat bagi berlakunya suatu konstitusi. Staatsfundamentalnorm ada terlebih dahulu dari konstitusi suatu negara. Berdasarkan teori Nawiaky tersebut, A. Hamid S. Attamimi memban-dingkannya dengan teori Kelsen dan menerapkannya pada struktur tata hukum di Indonesia. Attamimi menunjukkan struktur hierarki tata hukum Indonesia dengan menggunakan teori Nawiasky. Berdasarkan teori tersebut, struktur tata hukum Indonesia adalah: 1) Staatsfundamentalnorm: Pancasila (Pembukaan UUD 1945). 2) Staatsgrundgesetz: Batang Tubuh UUD 1945, Tap MPR, dan Konvensi Ketatanegaraan. 3) Formell gesetz: Undang-Undang. 4) Verordnung en Autonome Satzung: Secara hierarkis mulai dari Peraturan Pemerintah hingga Keputusan Bupati atau Walikota. Penempatan pancasila sebagai suatu Staatsfundamentalnorm di kemukakan pertama kali oleh Notonagoro. Posisi ini mengharuskan pembentukan hukum positif adalah untuk mencapai ide-ide dalam Pancasila, serta dapat digunakan untuk menguji hukum positif. Dengan ditetapkannya Pancasila sebagai Staatsfundamentalnorm maka pembentukan hukum, penerapan, dan pelaksanaanya tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai Pancasila. Dengan menempatkan pancasila sebagi Staatsfundamentalnorm, maka kedudukan pancasila berada di atas undang-undang dasar. Pancasila tidak termasuk dalam pengertian konstitusi, karena berada di atas konstitusi. Yang menjadi pertanyaan mendasar sekarang adalah, apakah pancasila merupakan staatsfundamentalnorm atau merupakan bagian dari konstitusi? Dalam pidatonya, Soekarno menyebutkan dasar negara sebagai Philosofische grondslag sebagai fondamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya yang diatasnya akan didirikan

bangunan negara Indonesia. Soekarno juga menyebutnya dengan istilah Weltanschauung atau pandangan hidup. Pancasila adalah lima dasar atau lima asas. Jika masalah dasar negara disebutkan oleh Soekarno sebagai Philosofische grondslag ataupun Weltanschauung, maka hasil dari persidangan-persidangan tersebut, yaitu Piagam Jakarta yang selanjutnya menjadi dan disebut dengan Pembukaan UUD 1945, yang merupakan Philosofische grondslag dan Weltanschauung bangsa Indonesia. Seluruh nilainilai dan prinsip-prinsip dalam Pembukaan UUD 1945 adalah dasar negara Indonesia, termasuk di dalamnya Pancasila. E. PENYELESAIAN KASUS AMBALAT ANTARA PEMERINTAH INDONESIA DAN MALAYSIA Hubungan dua bangsa serumpun Indonesia-Malaysia kini tengah mencapai titik paling kritis. Sejak Petronas, perusahaan minyak milik Malaysia, memberikan konsesi pengeboran minyak di lepas pantai Sulawesi yaitu di Blok Ambalat kepada Shell (perusahaan milik Inggris dan Belanda), hubungan kedua negara tetangga tersebut mengalami ketegangan yang mencemaskan. sudah beberapa kali kapal-kapal perang RI dan Malaysia berhadap-hadapan, nyaris baku tembak. Untung keduanya masih menahan diri. Seandainya salah satu pihak menembak, niscaya perang terbuka akan meletus. Jika sudah demikian, hubungan RIMalaysia pun akan makin tegang dan menyeret konflik yang lebih luas.Yang menjadi pertanyaan kita: kenapa Malaysia punya sikap senekat itu tanpa mengindahkan tatakrama hubungan antarnegara ASEAN? Pertanyaan itu agaknya tak mudah dijawab. Banyak hal yang menyebabkan kenapa negeri jiran itu tiba-tiba berambisi menduduki Ambalat. Salah satunya, karena di Blok Ambalat terkandung minyak dan gas bumi yang nilainya amat besar, mencapai miliaran dolar. Tapi ada alasan lain yang tampaknya menjadi pertimbangan dalam pendudukan Ambalat: Indonesia tengah mengalami krisis kepercayaan, korupsi, dan pengikisan dari dalam sehingga posisi Indonesia jika berkonflik dengan Malaysia niscaya kalah! Malaysia secara geografis dan populasi memang kecil, bukan tandingan Indonesia. Tapi dilihat secara militer khususnya jumlah peralatan militer canggih Malaysia unggul dibanding Indonesia. Malaysia punya uang, tak punya utang, dan sewaktu-waktu bisa membeli peralatan militer secara kontan. Jadi meski secara kuantitas dia kecil, tapi secara kualitas dia besar. Kasus Ambalat secara tiba-tiba menyadarkan kita dari mabuk eforia dan terlena oleh berbagai permasalahan dalam negeri yang belum menemukan solusinya (inward looking) bahwa selain itu kita juga perlu menaruh perhatian kita terhadap masalah yang datang dari luar (outward looking). Akibat dari keterlambatan kita dalam menghadapi sesuatu akan memuat kita gelagapan dan dengan setengah sadar menghadapinya. Seperti halnya apa yang sedang hangat dewasa ini kita hadapi yaitu munculnya klaim Malaysia terhadap Blok

Ambalat di Laut Sulawesi. Reaksi kita seperti orang yang dibangunkan dari tidur secara tibatiba –gelagapan, kita berobicara seperti setengah sadar dan dengan penuh emosional. Keluarlah kata-kata, ganyang Malaysia, serang Malaysia, hancurkan Malaysia, dan kata-kata keras lainnya. Dan secara tidak sadar pula tiba-tiba kita menyatakan bahwa kita membutuhkan TNI yang kuat agar TNI memberikan pukulan yang mematikan, agar TNI tidak ragu-ragu menghajar Malaysia, dan sebagainya.Demikian juga sebenarnya dalam menghadapi kasus Ambalat ini. Jelas bahwa kita wajib mempertahankan kedaulatan dan integritas tanah air kita, tidak sejengkal pun boleh jatuh ke tangan asing. Namun kebijaksanaan dan tindakan kita tetap harus rasional, proporsional, profesional, dan penuh kearifan. Sebelum menggunakan jalan kekerasan atau kekuatan militer (forcible means) sebagai jalan terakhir, sebaiknya tempuh dulu cara-cara damai atau diplomasi (peaceful means).Penyelesaian secara politis dengan mendahulukan perundingan melalui saluransaluran diplomatisakan lebih baik. Memang jalan ini memerlukan kesabaran dan waktu, namun hasilnya akan jauh lebih baik bagi semua pihak ketimbang melalui jalan perang. Meskipun peristiwanya sudah berlangsung tiga tahun yang lalu, namun kasus Ambalat nampaknya belum terselesaikan hingga sekarang. Sudah tiga tahun dilakukan negosiasi, namun belum terdengar kabar berita tentang hasilnya. Belajar dari kasus Sipadan – Ligitan yang juga dengan Malaysia, Indonesia tidak boleh terlena dengan janji serta upaya hukum dari Malaysia. Indonesia telah kalah telak pada persidangan Mahkamah Internasional di Den Haag serta kehilangan pulau Sipadan dan Ligitan. Strategi ulur waktu (buying time) untuk pengumpulan data maupun perolehan dukungan internasional oleh Malaysia seperti dilakukan dalam menggarap kasus Sipadan – Ligitan sungguh sangat jitu. Oleh karena itu seyogyanya Indonesia tidak menganggap enteng dalam kasus Ambalat ini. 1) Konsesi minyak oleh Malaysia di wilayah Indonesia Pada 16 Februari 2005 Pemerintah Indonesia telah memprotes pemberian konsesi minyak di Ambalat, Laut Sulawesi (wilayah Indonesia) kepada Shell, perusahaan minyak Belanda oleh Pemerintah Malaysia melalui perusahaan minyak nasionalnya, Petronas. Berita tersebut diklarifikasi oleh Departemen Luar Negeri RI (Deplu) melalui siaran pers tanggal 25 Februari 2005, yang kemudian menimbulkan reaksi keras dari berbagai lapisan masyarakat Indonesia. Suatu kejutan spontanitas kemudian terjadi di mana-mana. Tanpa menunggu komando, masyarakat di berbagai kota berdemonstrasi dan menghimpun sukarelawan untuk menghadapi Malaysia. Kemarahan tersebut dipicu oleh berbagai perasaan kecewa terhadap sikap Malaysia antara lain dalam masalah TKI dan terlepasnya pulau Sipadan – Ligitan dari kekuasaan RI bulan Desember 2002. 2) RI akan selesaikan dengan cara damai

Belajar dari pengalaman dan menyimak kejadian yang sebenarnya, makna konflik blok Ambalat bukankah sekedar persoalan benar-salah atau kalah-menang. Namun harus diselesaikan dengan jernih dan proporsional. Langkah Presiden SBY yang pada 8 Maret 2005 melakukan peninjauan langsung ke wilayah Ambalat yang disengketakan itu sangat tepat. Peninjauan tersebut juga melengkapi komunikasi Presiden SBY dengan Perdana Menteri Malaysia, Abdullah Badawi yang membuahkan kesamaan pendapat bahwa persengketaan di Ambalat harus dapat diatasi dengan cara damai. 3) Sebaiknya bagaimana pendirian Indonesia? Menghadapi Malaysia, Indonesia tidak boleh lengah sedetikpun atau mundur selangkahpun. Bersamaan dengan itu harus pula dapat dibuktikan bahwa Blok Ambalat dan Ambalat Timur adalah wilayah Indonesia. Sengketa di Ambalat tidak akan terlepas dari ekses perebutan pulau Sipadan – Ligitan. Agar tidak terulang nasib kekalahan Indonesia dalam kasus Sipadan – Ligitan, maka untuk menetapkan keabsahan status kawasan Ambalat tidak diperlukan dialog basa-basi. Secara substansial, posisi Indonesia sudah cukup kuat. Namun dalam praktik harus tetap pada tingkat kewaspadaan tinggi, mengingat fakta bahwa sejujurnya Indonesia telah “kecolongan” atas lepasnya pulau Sipadan – Ligitan sebagai akibat dari suatu “kelalaian”. Sehubungan dengan penegasan Presiden SBY bahwa konflik Ambalat diselesaikan melalui cara damai, kata kuncinya adalah bagaimana Indonesia berkemampuan dalam berdiplomasi. Faktor ini sangat penting manakala Indonesia tidak ingin mengulangi pengalaman pahit atas kekalahan dalam sengketa Sipada – Ligitan tersebut. 4) Indonesia negara kepulauan Perlu disadari bahwa melalui suatu perjuangan panjang Indonesia telah resmi menjadi salah satu dari sedikit negara kepulauan (archipelagic state) di dunia berdasarkan Konvensi Hukum Laut Internasional atau UNCLOS (The United Nations Convention on the Law of the Sea) tahun 1982. Sebagai perwujudannya, maka dibuat UU No.6/1996 tentang Perairan Indonesia untuk menggantikan UU Prp No.4/1960. Amanat dalam UNCLOS 1982 antara lain adalah keharusan Indonesia membuat peta garis batas, yang memuat kordinat garis dasar sebagai titik ditariknya garis pangkal kepulauan Indonesia. Namun dalam UU No.6/1996 tidak memuat peta garis batas Indonesia. Kewajiban ini tidak segera dilakukan oleh Indonesia, namun justru Malaysia yang berinisiatif membangun fasilitas dan kemudian mengklaim Sipadan – Ligitan sebagai bagian dari wilayahnya. Ini hanya mungkin bisa terjadi sebagai akibat dari “kelalaian” dan terbukti, sebagaimana dikatakan oleh Malaysia, kedua pulau tersebut tidak diurus oleh Indonesia. Apa yang dilakukan Malaysia dapat diterima dan bahkan memperkuat pertimbangan Mahkamah Internasional (International Court of Justice/ICJ) untuk menetapkan Malaysia sebagai negara yang berhak atas pulau Sipadan dan

Ligitan. Kabarnya Malaysia juga berusaha melakukan hal serupa terhadap Pulau Natuna, dengan cara membangun pulau tersebut sebagai daerah tujuan wisata. 5) Peta Malaysia tahun 1979 Taktik/strategi coba-coba yang membuat Malaysia berhasil dalam perebutan Sipadan – Ligitan sekali lagi sedang dilakukan untuk meraup Blok ND 6 (Y) dan ND 7 (Z) sebagai bagian wilayahnya. Malaysia hanya merubah sebutan tempat tersebut untuk membuat kesan beda dengan wilayah garapan Indonesia, yaitu Blok Ambalat dan Ambalat Timur. Manuver Malaysia tidak saja dengan memberikan konsesi minyak di blok tersebut kepada Shell, namun juga tindakan provokasi di batas perairan wilayah kedua negara sekaligus mengganggu pembangunan mercu suar di Karang Unarang milik Indonesia. “Keberanian” Malaysia dalam hal ini berbekal asumsi atas “rumus” yang dibuatnya sendiri dengan menarik garis pantai dari wilayah teritorial laut pulau Sipadan – Ligitan. Padahal berdasarkan UNCLOS Malaysia adalah bukan negara kepulauan dan tidak berhak menarik garis pangkal dari titik-titik terluar pulau-pulau terluar sebagaimana dimiliki negara kepulauan seperti Indonesia. Ulah Malaysia mengklaim Sipadan – Ligitan kemudian Blok Ambalat dan East Ambalat, semata-mata berdasarkan peta 1979 yang diterbitkan secara sepihak dan sudah diprotes oleh Indonesia serta beberapa negara Asia Tenggara lainnya. Adanya protes tersebut dan setelah diberlakukannya Konvensi Hukum Laut Internasional 1982, seharusnya Malaysia sudah tidak lagi menggunakan peta tersebut. Namun setelah berhasil merebut pulau Sipadan dan Ligitan maka Malaysia berani “mencoba” melangkah maju lagi. Target yang dituju adalah kepemilikan Blok ND 6 dan ND 7 yang kaya dengan kandungan minyak tersebut. Spekulasi Malaysia selanjutnya adalah mencari celah-celah agar Indonesia mau diajak berunding dan bilamana perlu hingga ke Mahkamah Internasional. Di Den Haag nanti, Malaysia punya “bargaining position” atas peran Shell, perusahaan minyak Belanda. Sebagai perusahaan transnasional, pasti dibalik Shell terdapat kekuatan lain yang cukup berbobot dan berpengaruh. Sedangkan Indonesia hanya sendirian dan tidak mempunyai “bargaining position” yang menjanjikan. 6) Tumpang tindih “lahan” penjualan Indonesia sebetulnya tidak harus bersusah payah menghadapi kasus Ambalat, seandainya sejak awal secara konsisten tetap mengawasi dan mengikuti perkembangan terhadap konsesi yang telah diberikan kepada beberapa perusahaan minyak asing di Blok Ambalat dan Ambalat Timur. Di kawasan tersebut sejak tahun 1967 Indonesia telah membuka peluang bisnis kepada perusahaan minyak seperti Total Indonesie PSC, British Petroleum, Hadson Bunyu BV, ENI Bukat Ltd. dan Unocal, yang selama ini tidak ada reaksi apapun dari

Malaysia. Jelasnya kegiatan Indonesia telah berlangsung jauh sebelum rekayasa Malaysia yang secara unilateral membuat peta tahun 1979. Ada semacam kejanggalan bahwa pada tahun 1967 Pertamina memberikan konsesi minyak kepada Shell, namun oleh Shell kemudian diberikan lagi kepada perusahaan minyak ENI (Italia). Petunjuk ini perlu untuk diketahui, mengingat ada nuansa kesamaan dengan pemberian konsesi minyak oleh Petronas kepada Shell yang sekarang sedang diributkan itu. Pada saat ini Blok Ambalat dikelola ENI sejak tahun 1999 dan East Ambalat oleh Unocal (AS) tahun 2004 (Desember). Timbul pertanyaan, mengapa sampai terjadi tumpang tindih bahwa Malaysia dapat “menjual” asset negara lain yang adalah sebagai pemilik yang sah? Lagipula yang menjadi obyek masih sedang aktif dikelola. Sekali lagi Indonesia telah “kecolongan” akibat “kelalaian” juga. 7) Memenangkan perundingan Dari catatan tersebut di atas, inti persoalan timbulnya konflik adalah akibat akal-akalan Malaysia yang bersikukuh dengan peta tahun 1979 dan berbuntut perolehan hak atas Sipadan – Ligitan. Malaysia juga tidak jujur dalam memaknai secara utuh Konvensi Hukum Laut Internasional 1982 yang juga telah ikut ditandatanganinya. Menanggapi protes Indonesia, Malaysia menjawab (25 Februari 2005) bahwa yang sedang disengketakan itu adalah perairan Malaysia. Meskipun menyatakan ingin menghindarkan konfrontasi dengan Indonesia, namun dalam berbagai kesempatan Menlu Malaysia, Syed Hamid Albar mengatakan bahwa Malaysia tidak akan berkompromi soal kepentingan teritorial dan kedaulatan. Posisi Malaysia cukup jelas, yaitu tidak konfrontasi dengan Indonesia namun mengajak berunding dan harus melindungi keutuhan teritorial. Sedangkan Indonesia berkewajiban untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tibalah saatnya sekarang kedua negara bertetangga dan serumpun ini saling berhadapan untuk mempertahankan kepentingan nasionalnya. Perhitungan Malaysia tentu merujuk pengalaman masa lalunya untuk kembali memenangkan perundingan dengan Indonesia. Mengantisipasi bilamana terjadi perundingan, diperkirakan akan terdapat tiga kemungkinan. Yaitu pertama, Indonesia tetap dapat mempertahankan haknya; kedua, Malaysia berhasil merebut Ambalat; atau ketiga, berunding dengan difasilitasi oleh pihak ketiga. Apabila gagal semuanya, bukan tidak mungkin bisa terjadi perang. Namun yang terakhir ini tentu sulit karena keduaanya terikat kepada kesepakatan Asean. Dalam hal mengundang pihak ketiga, dari pengalaman Sipadan – Ligitan kemungkinan Indonesia akan dirugikan. Pertemuan bilateral antara Menlu RI dan Menlu Malaysia pada Mei 2005 hasilnya belum banyak diketahui oleh publik.

Indonesia masih harus dapat memilih secara tepat beberapa alternatif apakah perundingan bilateral saja, melalui jasa High Counsel Asean, Tribunal UNCLOS atau ke Mahkamah Internasional (International Court of Justice). Pemerintah juga harus melengkapinya dengan berbagai peraturan yang memperkuat posisi Indonesia di arena perundingan nanti. Seperti dimaklumi, Peraturan Pemerintah (PP) No.38 Tahun 2002 tentang Daftar Kordinat Geografi Titik-titik Pangkal Kepulauan Indonesia juga disiapkan saat menghadapi persidangan kasus Sipadan-Ligitan di Mahkamah Internasional, namun kurang manfaat karena kalah berpacu dengan waktu. Sekarang PP tersebut harus segera diubah karena di dalamnya masih ada Sipadan dan Ligitan. 8) Belajar dari kasus Mengambil pelajaran dari proses perebutan Sipadan – Ligitan, maka dalam kasus Ambalat ini Indonesia harus lebih berhati-hati dan menjaga agar tidak terjebak. Dalam kasus Sipadan – Ligitan ternyata Mahkamah Internasional di Den Haag tidak mau melihat argumentasi hukum dan sejarah, namun lebih menekankan kepada keseriusan negara pihak dalam mengurus asset. Oleh karena itu dalam adu argumentasi nanti harus lebih diperkuat hingga dapat memerinci saat-saat paling mutakhir. Harus dikaji pula secara lebih mendalam sejauh mana peran dan keterlibatan Shell dalam kasus ini. Sebagai negara yang jauh lebih besar dibandingkan Malaysia, Indonesia harus bersikap tegas dan konsisten. Pada kasus Sipadan – Ligitan, awalnya Indonesia terkesan sangat percaya diri. Namun setelah persidangan berlangsung, belakangan diketahui bahwa tim perunding Indonesia ternyata kurang persiapan dan kurang kordinasi. Oleh karenanya untuk ke depan Indonesia harus lebih siap lagi. Tentunya tidak hanya yang substansial, namun juga yang non-substansial termasuk jiwa patriotisme harus juga dikedepankan. Tim perunding Indonesia harus mampu menandingi semangat kebangsaan Malaysia. Sebelum memperoleh penegasan sikap Indonesia yang jelas, Malaysia sudah menyatakan tekadnya untuk “mempertahankan” teritorial dan kedaulatan. Padahal yang dimaksud “teritorial dan kedaulatan” tersebut masih dalam status sengketa dan masuk wilayah Indonesia. Dengan kata lain Malaysia bermaksud merebut teritorial negara lain. Sikap tegas Malaysia tersebut dapat diartikan bahwa Malaysia sudah siap untuk “menantang” Indonesia. Tinggal sekarang yang perlu dipikirkan adalah strategi Indonesia untuk menghadapi tantangan tersebut. Akhirnya dari semua itu, kemampuan Indonesia dalam berdiplomasi akan diuji kembali. Pekerjaan rumah bagi Deplu untuk mengukir sejarah kebesaran bangsa Indonesia. 9) Pengakuan Peta Laut Bahwa Malaysia mengklaim Ambalat menggunakan peta (laut) yang diproduksi tahun 1979. Menutur Prescott (2004), peta tersebut memuat Batas Continental Shelf di mana klaim tersebut secara kesuluruhan melewati median line. Deviasi maksimum pada dua sekor sekitar

5 mil laut. Nampaknya dalam membuat klaim dasar laut iniMalaysia telah mengabaikan beberapa titik garis pangkal Indonesia yang sudah sah. Di luar pandangan tersebut di atas, perlu ditinjau secara detail bagaimana sesungguhnya sebuat peta laut bisa diakui dan sah untuk dijadikan dasar dalam mengklaim suatu wilayah. Tentang hal ini, Clive Schofield, mantan direktur International Boundary Research Unit (IBRU) berpendapat bahwa “peta laut tertentu harus dilaporkan dan diserahkan ke PBB, misalnya peta lautyang memuat jenis garis pangkal dan batas laut. Namun begitu suatu Negara yang megeluarkan peta laut tentu saja tidak bisa memaksa Negara lain kecuali memang disetujui.” Intinya, penggunaan peta laut tahun 1979 olehMalaysia harus didasarkan pada kaidah ilmiah dan hukum yang bisa diterima. Jika peta laut ini hanya memenuhi kepentingan dan keyakijan sepihak saja tanpa memperhatikan kedaulatan Negara tetangga, jelas hal ini tidak bisa dibenarkan. 10) Konfensi international Sayang sekali, sebagai salah satu sumber hukum yang bisa diacu, Konvensi 1891, nampaknya tidak akan membantu banyak dalam penyelesaian kasus ini. Seperti halnya Sipadan dan Ligitan, Konvensi ini kemungkinan besar tidak akan mengatur secara tegas kepemilikan Ambalat. Hal ini terjadi karena Konvensi 1891 hanya menyebutkan bahwa Inggris dan Belanda sepakat mengakui garis batas yang berlokasi di garis lintang 4° 10‟ ke arah timur memotong Pulau Sebatik tanpa lebih rinci menyebutkan kelanjutannya. Tentu saja ini meragukan karena Ambalat, seperti juga Sipadan dan Ligitan berada di sebelah timur titik akhir garis yang dimaksud. Jika garis tersebut, sederhananya, diperpanjang lurus ke timur, memang Ambalat, termasuk juga Sipadan dan Ligitan akan berada di pihak Indonesia. Namun demikian, menarik garis batas dengan cara ini, tanpa dasar hukum, tentu saja tidak bisa diterima begitu saja. Melihat kondisi di atas, diplomasi bilateral memang nampaknya jalan yang paling mungkin. Meskipun mengajukan kasus ini ke badan internasional seperti ICJ, adalah juga alternatif yang baik, langkah ini tidak dikomendasikan. Mengacu pada gagasan Prescott, ada tiga hal yang melandasi pandangan ini. Pertama, kasus-kasus semacam ini biasanya berlangsung lama (bisa 4-5 tahun). Artinya, ini akan menyita biaya yang sangat besar, sementara negosiasi antarnegara mungkin akan lebih produktif. Kedua, pengadilan kadang-kadang memberikan hasil yang mengejutkan. Keputusan the Gulf of Fonseca adalah contoh yang nyata. Ketiga, kadang-kadang argumen pengadialan dalam membuat keputusan terkesan kabur sehingga sulit dimengerti. 11) Penyelesaian Kasus Ambalat Melalui Elemen Negosiasi Ada beberapa pelajaran penting yang semestinya diambil oleh pemerintah Indonesia dalam menghadapi persoalan ini. Kejadian ini nampaknya semakin mempertegas pentingnya

penetapan batas Negara, dalam hal ini batas laut, tidak saja dengan Malaysia tetapi dengan seluruh Negara tetangga. Saat ini tercatat bahwa Indonesia memiliki batas laut yang belum tuntas dengan Malaysia, Filipina, Palau, India, Thailand, Timor Timur, Sigapura, Papua New Guinea, Australia, dan Vietnam. Bisa dipahami bahwa Indonesia saat ini menghadapi banyak persoalan berat, termasuk bencana alam yang menyita perhatian besar. Saat inilah kemampuan pemerintah benar-benar diuji untuk dapat tetap memberi perhatian kepada persoalan penting seperti ini di tengah goncangan bencana. Hal penting lain yang mendesak adalah melakukan inventarisasi pulau-pulau kecil di seluruh wilayah Indonesia termasuk melakukan pemberian nama (tiponim). Sesungguhnya hal ini sudah menjadi program pemerintah melalui Departemen Kelautan dan Perikanan sejak cukup lama, namun kiranya perlu diberikan energi yang lebih besar sehingga bisa dituntaskan secepatnya. Jika ini tidak dilakukan, Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau akan kehilangan satu per satu pulaunya karena diklaim oleh bangsa lain tanpa bisa berbuat banyak. Satu hal yang perlu dicatat adalah bahwa dasar sejarah saja tidak bisa dijadikan pegangan dalam menelusuri kepemilikan sebuah wilayah. Lepasnya Sipadan dan Ligitan adalah salah satu bukti nyata untuk hal ini. Diperlukan adanya bukti hukum yang menunjukkan bahwa Indonesia telah melakukan upaya sistematis untuk memelihara secara administrai daerah yang dipersoalkan. Hal ini, salah satunya, dilakukan dengan menarik pajak bagi penduduk setempat, dan mengeluarkan peraturan-peraturan lokal yang berkaitan dengan wilayah sengketa. Didirikannya resor-resor wisata oleh Malaysia di Sipadan dan Ligitan adalah salah satu kekuatan yang akhirnya mengantarkan Malaysia pada suatu kemenangan, disamping isu pengelolaan lingkungan. Apapun cara yang ditempuh, kedua belah pihak wajib saling menghormati dengan menempuh cara-cara damai dalam menyelesaikan konflik. Pemahaman yang baik dari segi ilmiah, teknis dan hukum yang baik oleh kedua pihak diharapkan akan mengurangi langkahlangkah provokatif yang tidak perlu. Pemahan seperti ini tentu saja tidak cukup bagi pemerintah saja, melainkan juga masyarakat luas untuk bisa memahami dan mendukung terwujudkannya penyelesaian yang adil dan terhormat Banyak pihak di negeri ini mengkhawatirkan tragedi lepasnya Sipadan-Ligitan terulang kembali di Ambalat dan sengketa perbatasan lainnya. Sumber utama kekhawatiran ini adalah terulangnya kekalahan di meja perundingan, kalah dalam bernegosiasi. Kekuatan negosiasi terletak pada fokusnya, yaitu yang bertumpu pada pencapaian kesepakatan yang saling menguntungkan. Negosiasi membuka jalan baru yang membawa harapan baru pula bagi semua pihak yang terlibat dengan cara yang unik, yaitu dengan motivasi. Jadi kekuatan inti negosiator ulung adalah kemampuannya untuk memotivasi pihak lain atau yang diajak berunding untuk menerima tujuan negosiasi. Atau dengan kata lain, kekuatan negosiasi terletak pada kemampuan si negosiator untuk memunculkankekuatan persuasi atau faktor

intellectual nonaggressiveness yang melekat dan menghindari crude power. Kenyataannya, tidak mudah untuk menciptakan suasana win-win yang menuju pada kesepakatan bersama. Berbagai faktor dapat mempengaruhi suasana negosiasi dan dapat menurunkan rasa percaya antar-pihak yang berunding. Apabila hal ini tidak diatasi, maka negosiasi yang sebenarnya merupakan sarana strategis dapat berbalik menjadi sarana destruktif yang akibatnya dapat berkepanjangan. Namun, menjadi negosiator yang baik memang tidak mudah.. Anak-anak adalah negosiator ulung karena mereka gigih (persistence), tidak mengenal kata „tidak‟, tidak tahu malu, dan cerdik dalam memanfaatkan kelemahan mereka menjadi kekuatan. Seorang Jendral yang tegas dan displin, barangkali harus menyerah terhadap rengekan anaknya. Dalam negosiasi, terdapat empat faktor yang mesti diperhatikan: pemanfaatan waktu, individualisme, pola komunikasi dan derajat kepentingan formalitas dan conformity bagi suatu pihak. Keempat faktor ini mempengaruhi pace dari proses negosiasi, mempengaruhi penerapan strategi negosiasi dan menciptakan kepekaan untuk membentuk hubungan yang harmonis, trust, dan keterkaitan emosi. Faktor-faktor ini juga membantu dalam mengidentifikasi pola pengambilan keputusan, dan memahami alur pikir pihak lawan runding. Unsur penting dalam negosiasi adalah power, informasi dan waktu. Power yang dimaksud tentu saja crude power, tetapi berbentuk kekuatan bersaing, kekuatan mengambil resiko, kekuatan komitmen, kekuatan keahlian, dan masih banyak lagi. Kelengkapan dan keakuratan informasi juga merupakan senjata yang ampuh dalam negosiasi. Jika kita tahu bahwa „lawan‟ kita tidak mempunyai alternatif, kita dapat menaikkan bargaining position kita. Dan „waktu‟ dapat dimanfaatkan untuk menaikkan posisi dalam negosiasi. Dengan inisiatif kita, dapat diterapkan teknik-teknik negosiasi untuk „membawa‟ situasi negosiasi masuk ke dalam skenario kita. Jika ternyata „lawan‟ memiliki inisiatif serupa, pemahaman teknik negosiasi dapat menjadi bekal untuk menghadapinya. Biasanya dalam negosiasi yang menyangkut persoalan yang bernilai tinggi, dilakukan secara kelompok. Di sini manajemen pelaku negosiasi memegang peranan yang sangat penting, terutama memasang „orang‟ dalam peran yang sesuai dengan skenario yang telah kita susun. Ketika Malaysia mengatakan bahwa masalah Ambalat cukup ditangani Menteri Luar Negeri, mirip sekali dengan manajemen pelaku negosiasi. Mirip dengan skenario “orang baik” –“orang jahat”. Menlu akan menjadi „orang jahat‟ yang memiliki banyak permintaan dan tidak banyak kompromi, sementara Badawi akan menjadi “orang baik” yang tenang dan tidak meledak-ledak. Dalam negosiasi bisnis, skenarionya “orang baik “ akan selalu meluluskan pemintaan kecil-kecil, tetapi sekali mengajukan permintaan akan meminta yang „besar‟ dan esensial, yang menyebabkan rasa rikuh untuk menolaknya Hal-hal yang harus di perjuangkan oleh seorang negosiator dalam kasus ambalat, di antaranya:

Pertama, seperti sengketa perbatasan lain di Asia Tenggara, kasus Ambalat merupakan warisan masa penjajahan. Peta-peta yang ditinggalkan colonial masters tidak pernah jelas dalam penarikan batas wilayah, namun terpaksa digunakan tiap negara di Asia Tenggara setelah negara-negara itu mendapat kemerdekaan. Negara-negara di Asia Tenggara perlu menyadari, konflik-konflik itu bukan diinsiprasikan atau didorong semangat aggresi atau keingginan untuk memperbesar wilayah, tetapi lebih disebabkan oleh beban-beban sejarah penjajahan (the question of historical legacy). Kedua, mengingat masa kolonial itu, hampir seluruh negara Asia Tenggara amat sensitif terhadap keutuhan dan kedaulatan wilayah. Sengketa wilayah yang berdampak kemungkinan pengurangan luas wilayah sering dipersepsikan sebagai signal adanya ancaman terhadap kedaulatan dan membangkitkan memori masa kolonial (the question of political sensitivity). Sensitivitas politik pada gilirannya mengakibatkan efektivitas instrumen hukum internasional menjadi amat terbatas guna menyelesaikan konflik maritim secara komprehensif di wilayah ini. Ketiga, Dilihat dari kacamata hukum laut internasional posisi Malaysia maupun Indonesia terhadap blok Ambalat? Dari sisi hukum, Malaysia adalah negara pantai biasa. Oleh karena itu dia hanya bisa memakai dua tipe, yaitu normal baseline dan straight baseline untuk semua wilayah laut. Kalau Indonesia kita sudah jelas bisa memakai garis pangkal kepulauan (archipelagic baseline). Itu bisa kita tetapkan mana pulau-pulau terluar kita. Karang Unarang adalah sebenarnya baseline yang mau kita pakai sebagai pengganti base line kita di Sipadan Ligitan. Kalau dilihat ke PP 38/2002, Sipadan dan Ligitan masih masuk dalam garis pangkal. Itu sebelum putusan. Namun sebagai negara yang baik dan menerima putusan, sekarang PP itu sedang dirubah dan kita sedang mengukur-ukur kembali dan Karang Unarang menjadi pilihan base line kita. Karang Unarang sendiri berada dalam 12 mil laut dari (pulau) Sebatik yang bagian Indonesia. Jadi kita berhak. Kita berhak sampai 100 mil laut. Kalau ada karang kita masih bisa klaim bahwa itu titik terluar kita. Karang Unarang sendiri bukan pulau, itu adalah elevasi pasang surut. Jadi kalau air laut pasang dia tidak terlihat, begitu pula sebaliknya. Namanya law tide elevation harus ada permanent structure, maka itu kita buat mercusuar sekarang ini. Sipadan Ligitan sendiri adalah pulau kecil yang jauh dari daratan utama Malaysia. Lagipula mereka kan bukan negara kepulauan, jadi mereka tidak bisa menuntut itu. Dari yurisprudensi hukum internasional, penetapan batas landas kontinen pulau-pulau kecil itu tidak ada. Jadi posisi tawar untuk Indonesia jelas lebih besar, bargaining position Indonesia sendiri untuk kasus Ambalat ini sangat besar. Seperti yang diaktakan oleh Prof Hasyim Djalal, ia ingin tahu dasar hukum apa yang dipakai oleh Malaysia dalam mengklaim blok Ambalat tersebut. Karena kalau anda lihat dan otak-atik UNCLOS, mereka tidak punya dasar hukum. Sipadan Ligitan sendiri bisa menjadi as an island, tapi kalau dalam perundingan batas landas kontinen itu tidak bisa dipaksakan. Dari segi hukum internasional posisi kita kuat. Keempat, adanya proyeksi, harga energi (minyak dan gas) akan tinggi di masa depan karena kebutuhan yang

kian besar, baik untuk industrialisasi maupun pertumbuhan penduduk dan tuntutan hidup masyarakat. Di sisi lain, ada dugaan, berdasarkan proyeksi geologi, sepertiga continental shelf dunia terletak di Asia Tenggara, karena itu mengandung potensi besar untuk eksploitasi energi di masa depan. Persoalan insentif ekonomi (the question of economic incentive) ini sedikit banyak mewarnai konflik-konflik batas kelautan di wilayah Asia Tenggara, seperti konflik di Laut China Selatan, termasuk Ambalat. Kelima, belum adanya tradisi melembaga untuk menyelesaikan konflik-konflik batas kelautan di Asia Tenggara secara regional. Sejauh ini, praktik yang ada melalui mekanisme bilateral lalu mengajukannya ke Mahkamah Internasional seperti kasus Sipadan dan Ligitan. Persoalan mekanisme regional ini (the question of regional conflict resolution) sebenarnya telah berupaya untuk dilembagakan oleh ASEAN melaui gagasan Treaty of Amity and Cooperation (TAC) dan ASEAN Security Community (ASC), namun tampaknya hingga kini belum digunakan maksimal. Malaysia dan Indonesia sebaiknya merujuk kedua dokumen resmi itu yang menekankan resolusi konflik secara damai. Kedua negara sebaiknya juga mempertimbangkan implikasi politik regional jika tidak menggunakannya. Adalah suatu ironi besar jika kedua negara mengabaikan dokumen ini sebagai prinsip normatif untuk penyelesaian konflik karena negara-negara ASEAN sebenarnya telah mengikat negara-negara Asia Timur, seperti China, Jepang, dan Korea Selatan, melalui penandatanganan TAC dan sepakat melembagakan dan mempromosikan ASC. Keenam, adanya potensi untuk meningkatkan ketegangan dalam hubungan bilateral dengan tujuan mengaburkan skala prioritas agenda domestik. Tradisi ini bukan sesuatu yang baru, tetapi dipraktikkan beberapa pemerintahan di negara-negara Asia Tenggara di masa lalu untuk mengurangi aneka tekanan dari dinamika politik domestik. Kemungkinan untuk pendayagunaan ini disebut sebagai persoalan politik pengambinghitaman (the question of scapegoat politics) perlu dicermati dan diwaspadai terutama karena bujukan untuk melakukan kebijakan semacam itu biasanya lebih kuat muncul dari pemerintahan baru. sebaiknya tidak terbujuk untuk melakukan hal ini. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan uraian pada pembahasan, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: 1. Negara merupakan suatu organisasi di antara sekelompok atau beberapa kelompok manusia yang secara bersama-sama mendiami suatu wilayah (territorial) tertentu dengan mengakui adanaya suatu pemerintahan yang mengurus tata tertib dan keselamatan sekelompok atau beberapa kelompok manusia yang ada di wilayahnya.

2. Konstitusi diartikan sebagai peraturan yang mengatur suatu negara, baik yang tertulis maupun tidak tertulis. Konstitusi memuat aturan-aturan pokok (fundamental) yang menopang berdirinya suatu negara. 3. Antara negara dan konstitusi mempunyai hubungan yang sangat erat. Karena melaksanakan konstitusi pada dasarnya juga melaksanakan dasar negara. 4. Pancasila merupakan filosofische grondslag dan common platforms atau kalimatun sawa. Pancasila sebagai alat yang digunakan untuk mengesahkan suatu kekuasaan dan mengakibatkan Pancasila cenderung menjadi idiologi tertutup, sehingga pancasila bukan sebagai konstitusi melainkan UUD 1945 yang menjadi konstitusi di Indonesia. Sengketa batas wilayah dan pemilikan Ambalat mendapat perhatian besar beberapa hari terakhir ini. Jika tidak segera ditangani, hubungan bilateral Indonesia-Malaysia yang mengandung banyak aspek (tidak sekadar berdimensi politik-keamanan) akan dapat memburuk. Malaysia mengklaim Ambalat menggunakan peta (laut) yang diproduksi tahun 1979. Menutur Prescott (2004), peta tersebut memuat Batas Continental Shelf di mana klaim tersebut secara kesuluruhan melewati median line. Deviasi maksimum pada dua sekor sekitar 5 mil laut. Nampaknya dalam membuat klaim dasar laut ini Malaysia telah mengabaikan beberapa titik garis pangkal Indonesia yang sudah sah. Di luar pandangan tersebut di atas, perlu ditinjau secara detail bagaimana sesungguhnya sebuat peta laut bisa diakui dan sah untuk dijadikan dasar dalam mengklaim suatu wilayah. Untuk menyelesaikan persoalan klaim yang tumpang tindih ini, harus dilihat kembali rangkaian proses negosiasi antara kedua negara berkaitan dengan penyelesaian perbatasan di Pulau Kalimantan yang sesungguhnya telah dimulai sejak tahun 1974 (menurut Departeman Luar Negeri). Diketahui secara luas bahwa Perbatasan Indonesia-Malaysia di Laut Sulawesi, di mana Ambalat berada, memang belum terselesaikan secara tuntas. Ketidaktuntasan ini sesungguhnya sudah berbuah kekalahan ketika Sipadan dan Ligitan dipersoalkan dan akhirnya dimenangkan oleh Malaysia. Jika memang belum pernah dicapai kesepakatan yang secara eksplisit berkaitan dengan Ambalat maka perlu dirujuk kembali Konvensi Batas Negara tahun 1891 yang ditandatangani oleh Belanda dan Inggris sebagai penguasa di daerah tersebut di masa kolinialisasi. Konvensi ini tentu saja menjadi salah satu acuan utama dalam penentuan perbatasan antara Indonesia dan Malaysia di Kalimantan. Perlu diteliti apakah Konvensi tersebut secara eksplisit memuat/mengatur kepemilikan Ambalat. Cara terbaik adalah jika para pembuat kebijakan, baik di Jakarta dan Kuala Lumpur maupun berbagai kelompok masyarakat di kedua negara, bersedia menggunakan kerangka pemikiran holistik untuk mengelola sengketa itu. Ada beberapa pelajaran penting yang semestinya diambil oleh pemerintah Indonesia dalam

menghadapi persoalan ini. Kejadian ini nampaknya semakin mempertegas pentingnya penetapan batas Negara, dalam hal ini batas laut, tidak saja dengan Malaysia tetapi dengan seluruh Negara tetangga. Saat ini tercatat bahwa Indonesia memiliki batas laut yang belum tuntas dengan Malaysia, Filipina, Palau, India, Thailand, Timor Timur, Sigapura, Papua New Guinea, Australia, dan Vietnam. Bisa dipahami bahwa Indonesia saat ini menghadapi banyak persoalan berat, termasuk bencana alam yang menyita perhatian besar. Saat inilah kemampuan pemerintah benar-benar diuji untuk dapat tetap memberi perhatian kepada persoalan penting seperti ini di tengah goncangan bencana. Hal penting lain yang mendesak adalah melakukan inventarisasi pulau-pulau kecil di seluruh wilayah Indonesia termasuk melakukan pemberian nama (tiponim). Sesungguhnya hal ini sudah menjadi program pemerintah melalui Departemen Kelautan dan Perikanan sejak cukup lama, namun kiranya perlu diberikan energi yang lebih besar sehingga bisa dituntaskan secepatnya. Jika ini tidak dilakukan, Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau akan kehilangan satu per satu pulaunya karena diklaim oleh bangsa lain tanpa bisa berbuat banyak. B. SARAN 1. Kepada para pembaca kami menyarankan agar lebih banyak membaca buku yang berkaitan dengan Negara atau Konstitusi agar lebih memahami kedua hal tersebut. 2. Apabila makalah ini terdapat kesalahan, mohon bantuannya guna kesempurnaan makalah ini. 3. Para pendidik, calon pendidik, dan pihak-pihak yang terkait hendaknya mulai memahami, menerapkan, dan mengembangkan sikap-sikap serta perilaku dalam dunia pendidikan melalui teladan baik dalam pikiran, ucapan, dan tindakan. DAFTAR PUSTAKA Besar Abdulkadir, 1995, dalam, Cita Negara Persatuan Indonesia, BP-7 Pusat, Jakarta. Izha Mahendra Yusril, 1999, Ideologi dan Negara, dalam Gazali, “Yusril Izha Mahendra Tokoh Intelektual Muda, Rajawali, Jakarta. Kaelan, 1983, Proses Perumusan Pancasila dan UUD 1945, Liberty, Yogyakarta. Nasution Mirza, 2004, NEGARA DAN KONSTITUSI. ( diakses lewat internet). Pandoyo Toto S., 1981, Ulasan Tentang Berapa Ketentuan Undang-Undang Dasar 1945, Liberty, Yogyakarta. Sulaiman Setiawati, Tanpa Tahun, Sejarah Indonesia, Balai Pendidikan Guru, Bandung. Toyibin Aziz, M., 1997, Pendidikan Pancasila, Rineka Cipta, Jakarta. Yamin Muhammad, 1982, Proklamasi dan Konstitusi Republik Indonesia, Ghalia Indonesia, Jakarta. http://www.wikipedia.com.

http://www.prince-mienu.blogspot.com.

Schapelle Corby Ratu Mariyuana, Berhasil Intervensi Dapat Grasi Dari SBY
REP | 24 May 2012 | 19:21 Dibaca: 471 Komentar: 1 2 dari 2 Kompasianer menilai aktual

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akhirnya menandatangani pemberian grasi kepada terpidana ratu mariyuana asal Australia, Schapelle Corby. Tidak tanggung-tanggung, Corby mendapat pengurangan hukuman lima tahun penjara dari 20 tahun menjadi 15 tahun penjara. (photo : ilustrasi Syaifud Adidharta)

Segala tindakan kejahatan dalam bentuk apapun memang seharusnya mendapatkan tempat hukum yang setimpal-timpalnya. Maka di dalam pemberian hukuman kepada pelaku kejahatan apapun juga seharusnya diberlakukan dengan keadilan hukum, bukan karena keadilan siapa yang kuat dan siapa yang banyak uang. Ini sangatlah berbahaya bagi perlakuan

hukum yang ada di negeri tercinta ini. Terutama bagi masyarakat kecil yang memilkik kasus hukum. Sudah tentu mereka akan langsung dijebloskan didalam hukum yang tidak berpihak akan keadilannya hukum. Namun kenyataannya demikian yang terjadi di negeri tercinta ini, Indonesia. Hukum adil untuk yang kuat, yang berkuasa dan yang banyak memiliki harta berlimpah serta pengaruh-pengaruh lainnya. Inilah bingkai hukum di Indonesia yang sesungguhnya, buktinya seperti peristiwa yang sedang bomingnya saat ini. Entah ada apa Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dia adalah presiden Republik Indonesia saat ini yang sedang berkuasa. SBY tanpa mau mempertimbangkan matang-matang atas segala tindakannya yang diberikan kepada Ratu Mariyuana, Schapelle Corby, asal negeri kangguru Autralia. Ada apakah semua ini ?. Schapelle Corby si ratu Mariyuana mendapat pengurangan hukuman lima tahun setelah Presiden SBY menandatangani pemberian grasi. Corby mendapat pengurangan hukuman lima tahun penjara dari 20 tahun menjadi 15 tahun penjara. Pemberian grasi itu diharapkan tidak memberi kesan Indonesia lemah terhadap Australia. Benarkah demikian ?. Schapelle Corby sejak mendapatkan grasi dari SBY yaitu pengurangan hukuman lima tahun penjara dari 20 tahun menjadi 15 tahun penjara atas kasusnya soal Narkoba,Schapelle Corby begitu gembiranya, apalagi setelah mendapatkan salinan keputusan grasi Presiden Yudhoyono pada hari Rabu, tanggal 23 Mei 2012 di LP Kerobokan, Badung-Bali. Padahal hampir seluruh rakyat Indonesia tahu bahwa Schapelle Corby, si ratu Mariyuana itu ditangkap aparat Bea dan Cukai di Bandara Ngurah Rai, Bali pada 8 Oktober 2004 lalu. Dan kasusnyapun dilimpahkan kepada PN (Pengadilan Negara) Denpasar Bali. Dalam persidangannya jelas bahwa kasus Schapelle Corby ini sangat berat, justru seharusnya dia mendapatkan hukuman mati, akan tetapi PN Denpasar menjatuhkan hukuman kepada dirinya selama 20 tahun didalam tahanan (penjara). Sejatinya jelas Schapelle Corby dihukum pidana 20 tahun penjara oleh majelis hakim di PN Denpasar pada 27 Mei 2005 karena kasus penyelundupan narkoba jenis Mariyuana itu. Atas putusan ini Schapelle Corby mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Denpasar pada 12 Oktober 2005 dan kemudian divonis 15 tahun kurungan penjara.

Tetapi pada tingkat kasasi di Mahkamah Agung (MA) 12 Januari 2006, Schapelle Corby kembali divonis 20 tahun penjara. Menyikapi hal ini, Corby melalui pengacaranya mengajukan grasi kepada Presiden SBY. Upaya Schapelle Corby akhirnya tidak sia-sia, diapun memperoleh pemotongan hukuman lima tahun penjara dari Presiden SBY beberapa hari lalu. Sejak awal perkara Schapelle Corby tersebut pada akhirnya saat ini banyak mendapat perhatian serius dari pemerintah Australia. Pemerintah Autralia pun mengacungkan jempol kepada keberania SBY yang telah berani dan tegas mengeluarkan keputusan atas pemberian grasi untuk si ratu Mariyuana tersebut, Schapelle Corby. Dan tidak tanggung-tanggung kepala negara Autralia langsung saya memberi like online ke jejaring sosial milik SBY, baik di halaman SBY di facebook maupun di twitter. Memang benar presiden di negara manapun memiliki hak prerogatif tentang grasi untuk para tahanan, baik tahanan politik maupun tahanan tindakan kriminalitas apapun. Begitu pula di Indoneia, hak prerogatif presiden di Indonesia memang sudah diatur dan disahkan oleh Undang-undang negara tentang perundangan, peraturan serta ketentuan pemberlakuan hukum kepada pelaku tindakan pelanggaran hukum.

Schapelle Leigh Corby, saat menerima remisi Natal tahun 2008. (photo : Muhammad Hasanudin - Kompas.com)

Sementara itu menurut Ketua MPR, Taufiq Kiemas, pemberian grasi terhadap Schapelle Corby oleh Presiden SBY dilihat sebagai keberhasilan diplomasi

pemerintah Australia untuk membebaskan warganya, dan sah-sah saja jika pemerintah melakukan langkah diplomatik tersebut. “Memang banyak kalangan tidak setuju. Kalau saya sih, pemerintah Australia berusaha membebaskan orang dia. Saya rasa kalau orang Australia berusaha begitu ya tidak salah juga,” ujar Taufiq usai Seminar Nasional Memperingati Hari Kebangkitan Nasional bertajuk „Merindukan Negarawan‟ di Hotel Gran Melia, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jaksel, pada hari Kamis 24 Mei 2012. Akan tetapi Taufiq Kiemas menegaskan, bahwa upaya diplomasi yang ditempuh pemerintah Australia bukan lah bentuk intervensi negara Kangguru tersebut terhadap kedaulatan hukum di Indonesia. Pemberian grasi tersebut, menurut suami dari Megawati Soekarnoputri ini, lebih sebagai hak prerogatif presiden SBY yang harus dihargai, dan juga sebagai upaya penghargaan negara atas HAM itu sendiri. Di lain tempat, Kemenkum HAM sebelumnya mengusulkan agar napi wanita tersebut diberi grasi dengan pengurangan hukuman 5 tahun penjara. Usulan ini diajukan karena pemerintah berharap ada perlakuan serupa terhadap tahanan Indonesia di Australia. Alasannya pemerintah adalah, adanya grasi selama lima tahun terhadap Schapelle Corby tentu berdasarkan alasan. Pemerintah memiliki sejumlah pertimbangan. Apa saja? Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi menjelaskan, pertimbangan pertama, grasi itu merupakan sistem hukum yang sah di Indonesia. Selain itu, Sudi meminta saran dari Mahkamah Agung (MA) dan menteri yang terkait usulan ini. “Tentu pertimbangan itu mengarah pada untuk dipenuhinya grasi,” ujar Sudi. Menurut dia, pemberian grasi bukan berarti memberikan toleransi kepada kasus narkoba di Indonesia. Sebab, sistem grasi ini sudah berlaku sejak lama dan berhak dikeluarkan oleh presiden. “Tidak, tidak (menoleransi kasus narkoba),” kata Sudi. Selain beberapa pertimbangan faktor utama yang menjadi penyebab pengurangan hukuman Schapelle Corby, adalah jenis narkoba yang dibawanya ke Indonesia. Sudi menilaiSchapelle Corby membawa ganja, bukan jenis narkoba lain seperti heroin dan ekstasi.

“Schapelle Corby ini bukan berkaitan dengan heroin atau yang lainnya yang memang berat tetapi dia betul ganja. Ganja pun tidak sampai pada puluhan kilo atau ratusan kilo seperti yang biasa ditangkap polisi jumlahnya ton-tonan. Jadi beberapa kilo ganja diganjar puluhan tahun, sementara di negara tertentu tidak terjadi kriminalisasi terhadap ganja,” terangnya. Inilah kilasan-kilasan yang terjadi soal perlakuan hukum terhadap Schapelle Corby di ratu Mariyuana yang mendapatkan grasi istimewa 5 tahun (pengurangan hukuman) dari presiden SBY. Dari kilasankilasan diatas tersebut tentunya berbeda pendapat yang dimiliki banyak orang yang pernah mengalami ketidak adilan dalam hukum yang didapatinya. Dengan demikian maka tidaklah salah bila ada sebagian banyak orang beranggapan bahwa Schapelle Corby mendapatkan perlakuan istimewah dari presiden SBY atas pengurangan hukumannya adalah tidak lepas adanya peran para pelaku Mafia Hukum dibelakang layar, dan tidak serta-merta atas keberhasilan diplomasi pemerintah Autralia itu sendiri. Pasalnya, perkembangan sosial dan budaya dalam penyelenggaraan negara dewasa ini tampak ada yang sangat memprihatinkan dalam konteks ideologi pada hukum. Betapa manusia-manusia yang mengklaim sebagai produk dari proses reformasi telah dengan lantang menafikan makna terdalam Pancasila. Apa yang tidak tepat dengan nilai-nilai dasar Pancasila yang siapapun secara sadar semestinya mengakui sebagai nilai-nilai keabadian. Nilai-nilai Pancasila dengan Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan dan Keadilan adalah agung dan menakjubkan. Sementara banyak pakar hukum dari belahan dunia Barat dan Timur telah mengkaji bahwaPancasila dengan kesimpulan yang senada betapa beruntungnya bangsa Indonesia yang telah mampu menggali dan berdiri di atas Pancasila. Kita semua tahu bahwa berdasarkan UUD 1945 adalah bahwa Indonesia merupakan Negara Hukum. Namun kini kita menyaksikan bahwa hukum di Republik Indonesia sedang menapaki kisahnya di era reformasi yang tidak berwibawa. Hukum disinyalir benar-benar ada dalam titik ketidakberdayaan melawan keangkuhan sosial dan dominasi politik. Salah satu fungsi hukum adalah alat penyelesaian sengketa atau konfli k, disamping fungsi yang lain sebagai alat pengendalian sosial dan alat rekayasa sosial. Pembicaraan tentang hukum

barulah dimulai jika terjadi suatu konflik antara dua pihak yang kemudian diselesaikan dengan bantuan pihak ketiga. Dalam hal ini munculnya hukum berkaitan dengan suatu bentuk penyelesaian konflik yang bersifat netral dan tidak memihak. Pelaksanaan hukum di Indonesia sering dilihat dalam kacamata yang berbeda oleh masyarakat. Hukum sebagai dewa penolong bagi mereka yang diuntungkan, dan hukum sebagai hantu bagi mereka yang dirugikan. Hukum yang seharusnya bersifat netral bagi setiap pencari keadilan atau bagi setiap pihak yang sedang mengalami konflik, seringkali bersifat diskriminatif , memihak kepada yang kuat dan berkuasa. Penegakan hukum merupakan masalah penting yang harus segera ditangani. Masalah hukum ini paling dirasakan oleh masyarakat dan membawa dampak yang sangat buruk bagi kehidupan bermasyarakat. Persepsi masyarakat yang buruk mengenai penegakan hukum, menggiring masyarakat pada pola kehidupan sosial yang tidak mempercayai hukum sebagai sarana penyelesaian konflik, dan cenderung menyelesaikan konflik dan permasalahan mereka di luar jalur. Cara ini membawa akibat buruk bagi masyarakat itu sendiri. Pemanfaatan penegakan hukum oleh sekelompok orang demi kepentingannya sendiri, selalu berakibat merugikan pihak yang tidak mempunyai kemampuan yang setara. Akibatnya rasa ketidakadilan dan ketidakpuasan tumbuh subur di masyarakat Indonesia. penegakan hukum yang konsisten harus terus diupayakan untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap hukum di Indonesia. Inilah yang tidak pernah menjadi hikmah untuk banyak orang para pelaku dan penggerak keadilan pemberlakuan hukum di Indonesia. Hukum hanya komoditi ekonomi untuk perut sendiri, kekuasaan, jabatan dan tahta, dan kekuatan semena-mena terhadap si lemah. Sampai kapan Hukum di Indonesia itu benar-benar bisa adil untuk rakyat negeri ini, dan sampai kapan hukum di Indonesia bisa di beli dan di intervensi oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab ?.

Melindungi Corby dan Melindungi Wong Cilik
Diterbitkan Mei 31, 2012 Artikel Pengamat Ditutup Kaitkata:Melindungi Corby dan Melindungi Wong Cilik, Mohamad Sobary

Oleh Mohamad Sobary

Saudara HenryYosodiningrat, ketua Gerakan Antinarkotika, berniat menggugat keputusan grasi Presiden terhadap kasus Corby. Sikapnya konsisten buat menegakkan hukum, dengan cara yang penuh wibawa, dan mandiri seperti ini wajib kita dukung. Sekali narkoba dipandang bahaya besar bagi bangsa, dia memang benar bahaya. Jika terhadap bahaya ini sikap Indonesia jelas dan tegas––menghukum berat tanpa pandang bulu siapa saja pelakunya,wujud sikap itu yang diharapkan tampil dalam pelaksanaan hukum kita.Saudara Henry memperlihatkan sikap seorang warga negara yang sangat peduli, gigih,dan konsisten berpegang pada prinsip hukum demi menjaga kewibawaan bangsa dan negara. Amir Syamsudin membela atasannya dengan menatakan grasi ini hak prerogatif Presiden. Kasus penjahat yang membahayakan bangsa juga mendapat perhatian istimewa macam ini? Ini bahkan dianggap bagian dari diplomasi? Menteri luar negeri dan semua kekuatan politik dan kebudayaan kita mandul, dan tak mampu melakukan diplomasi tanpa mengesankan ―jual-beli hukum‖ secara murah macam ini? Diplomasi tak berjalan tanpa mengesankan bahwa pemerintah kita minder, dan takut terhadap bangsa kulit putih? Kita merasa tak punya harga diri buat menegakkan hukum jika hal itu berhubungan dengan orang bule? Bagaimana kalau pelaku

itu orang China, bangsa kita sendiri? Sikap dan label buruk kita terhadap pengusaha keturunan China di negeri kita sudah kelewat jauh dari proporsi kemanusiaan. Tapi,mengapa Ical, ketua Golkar,menilai tindakan ini demi kemanusiaan? Mantap sekali. Kemanusiaan macam apa? Kemanusiaan yang penuh rasa minder, takut, dan tak punya nyali menghadapi bangsa kulit putih,seolah bangsa itu super, dan serbalebih dari kita? Lalu hukuman 20 tahun, dengan denda 100 juta itu, sudah adil menurut hukum dan sikap politik kita? Sekali lagi, bagaimana kalau orang China pelakunya? Hanya dihukum 20 tahun dan denda 100 juta juga? Ini juga sudah merupakan hukuman yang adil? Di negeri kita hukum yang mengatur, bukan membikin tenteram, tapi membikin resah.Apa yang berhubungan dengan hukum, selalu ada hubungan dengan sikap tidak adil. Bagi para tokoh gerakan hukum dan pemikir sosial,hal ini jelas merupakan isu yang menantang perlawanan kita. Lalu Mahfud. Dia membandingkan, narkoba lebih berbahaya dari korupsi dan terorisme? Menggelikan sekali.Tiga hal yang mematikan bangsa dibikin gradasi kuantitatif yang tak masuk akal.Korupsi sebagai ―an extra ordinary crime against humanity‖ dan terorisme yang ―legalized killing‖terhadap siapa saja, yang berarti juga ‖the enemy of humanity‖ seperti narkotika sebagai ―silent killer‖,yang tak pandang bulu, dan itu berarti ― k i l l i n g humanity‖. Ke n a p a dibikin kategori sosial seperti roti dibanding singkong? Ibas dengan bangga menyebut keputusan ini

berdampak positif terhadap penyelesaian kasus-kasus warga negara kita di luar negeri? Betapa simplistis politisi kita berpikir mengenai hukum dan kewibawaan bangsa.Amir menambahkan pembelaan pada yang salah terhadap bosnya dengan mengatakan grasi ini tak dimaksudkan untuk menoleransi tindakan terhadap kasus narkoba. Ini sikap ―loyalis‖ pada penguasa yang sudah berubah menjadi sikap ―royalis‖, dan karena itu perlu menyamakan apa yang ―dimaksud‖di hati dengan apa yang tampak di dalam masyarakat. Dimaksudkan untuk menolerir atau tidak, kalau kenyataan memperlihatkan sikap macam itu,yang dibaca orang jelas hanya yang tampak. Hati yang penuh kemuliaan, sikap yang serbadamai, dan komitmen luhur mencintai kemanusiaan, dalam kasus ini tak berarti apa-apa. Saat keputusan itu diambil, saya yakin tak seorang pun yang hadir di forum rapat, yang ingat akan kemanusiaan, kedamaian, dan keluhuran macam itu. Membela atasan itu baik.Tapi,mungkin akan baik kalau dilakukan dengan argumen yang agak masuk akal sedikit.Kalau tidak,yaitu tadi: para ―loyalis‖ telah berubah menjadi ―royalis‖. Maksudnya loyal pada nilai sudah berganti arah menjadi loyal pada Istana, sebagaimana hal itu terjadi dalam masa revolusi Prancis. Di sana ―royalis‖ itu sindiran lembut, tapi menusuk jantung. Loyalitas macam itu menjerumuskan atasan. Selebihnya perlu ada catatan kecil buat para aktivis antitembakau, antirokok. Tembakau atau rokoknya meracuni orang,dan bisa membikin lingkungan tak sehat.

Argumen ini bisa diterima meskipun sering berlebihan.Apa kata Saudara- Saudara terhadap kasus Corby dan semangat untuk segera melaksanakan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) terhadap Pengendalian Dampak Tembakau? Corby lebih mulia tingkah lakunya dibanding petani tembakau di seluruh Tanah Air? RPP hanya mengatur pabrik rokok, tapi sekaligus hendak membunuh petani tembakau. Para aktivis tak mengakui ini. Tapi, apakah Saudara-Saudara tak menyadari bahwa aturan pemerintah telah membunuh ratusan industri rumah tangga yang menghasilkan keretek? Mereka ―wafat dengan resah‖ karena ulah pemerintah. Cukai dinaikkan sampai ke titik di mana industri rumah tangga tak bakal mampu bertahan. Gerakan ini masih tetap dengan bangga bermaksud mengatur kehidupan bangsa, tanpa menyadari ada ironi getir di dalamnya.Industri rakyat sendiri, industri kecil, industri rumah tangga, dibunuh dengan kejam, atas nama perjuangan. Orangorang yang bicara tentang ratusan ribu orang mati tiap hari karena keretek, mengapa diam seribu bahasa terhadap bahaya narkoba, yang jauh lebih mengerikan dari bahaya apa pun? Para pemuda dan pemudi, generasi muda kita,ditambah jutaan orang dewasa yang kecanduan narkotika, yang terbunuh cepat maupun pelan, mengapa dibiarkan tanpa pembelaan? Moral cerita di balik protes Saudara-Saudara terhadap tembakau dan keretek,dengan begini, apa masih punya daya? Andaikan dengan tulus—dan sikap tulus itu berlangsung agak lama— sebagian dari Saudara-Saudara juga menyuarakan protes

terhadap kasus Corby, saya yakin bahwa saya akan menggelar karpet merah bagi nurani Saudara- Saudara. Kemudian Bapak Presiden yang Mulia serta bijaksana seperti Raja Sulaiman,mohon jangan tanda tangani RPP itu. Kemuliaanlah yang membuat Corby Bapak lindungi. Maka itu, mohon kiranya kemuliaan Bapak untuk melindungi industri rumah tangga tadi. Dengan begitu,berkat kemuliaan yang agung itu, Bapak telah melindungi wong cilik, yang juga bangsa kita sendiri. it (Sumber: Seputar Indonesia, 28 Mei 2012).

Inilah Alasan MA Soal Grasi Corby
Presiden yang lebih banyak memberikan pertimbangan atas terbitnya grasi Corby. ASH Dibaca: 2073 Tanggapan: 4     Share:

Demo penolakan granat soal grasi Corby. Foto: Sgp

Langkah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan grasi kepada terpidana narkotika yang dikenal sebagai kasus “Bali Nine”, Schapelle Leigh Corby hingga kini masih menimbulkan perdebatan. Tak sedikit pihak menilai bahwa pemberian grasi terhadap terpidana narkotika sebagai langkah yang tidak bijak dalam upaya pemberantasan narkotika. Alhasil, kebijakan itu menuai gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Jakarta (PTUN) yang diwakili Tim Kuasa Hukum Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat). Salah satunya, Yusril Ihza Mahendra. Spesifik, Granat mendaftarkan gugatan atas Keppres No. 22/G Tahun 2012 tentang Pemberian Grasi kepada Corby ke PTUN Jakarta, Kamis (7/6) kemarin. Selain itu, Granat menggugat Keppres No. 23/G Tahun 2012 tentang Pemberian Grasi kepada Peter Achim Franz Grobmaan (warga negara Jerman) yang diterbitkan bersamaaan dengan Keppres Grasi Corby, tepatnya tanggal 15 Mei 2012. Sebagaimana diketahui, sebelum memberikan grasi korting hukuman menjadi 15 tahun dari 20 tahun penjara, presiden terlebih dahulu meminta pertimbangan dari Mahkamah Agung (MA). Hal inidiatur dalam Pasal 14 ayat (1) UUD 1945 yang merumuskan “Presiden memberi grasi dan rehabilitasi dengan memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung.” Kepala Biro Hukum dan Humas MA Ridwan Mansyur mengakui bahwa sebelum presiden memberikan grasi kepada Corby, presiden telah meminta pendapat MA. Hal ini memang telah diatur dalam UU Grasi dan UUD 1945. Namun, apa yang disampaikan MA hanya sebatas pendapat yang sifatnya tidak mengikat. Selanjutnya, terserah presiden untuk memutuskan. “Tetapi, pendapat MA itu tidak mengikat, selanjutnya itu terserah presiden mau mengikuti atau tidak,” kata Ridwan saat dihubungihukumonline, Sabtu (09/6). Ia mengungkapkan alasan atau pendapat MA memberikan grasi kepada Corby demi alasan kemanusiaan. Karena itu, yang bersangkutan dikurangi hukumannya menjadi 15 tahun dari seharusnya 20 tahun. “Alasan kita sih singkat saja karena pendapat MA ini tidak mutlak harus diikuti presiden, tetapi memang pertimbangan kita harus ada yang waktu itu dilakukan oleh ketua kamar pidana khusus MA,” katanya. Pertimbangan lainnya, berdasarkan laporan dari Ditjen Pemasyarakatan Kemenkumham bahwa Corby sering sakit-sakitan selama berada dalam rumah tahanan (rutan). “Laporan dari Kemenkumham yang bersangkutan sering sakit-sakitan selama dalam rutan,” ungkapnya. Terkait pendapat MA soal grasi, tegas Ridwan, pendapat MA biasanya hanya singkatsingkat saja. Menurutnya, pertimbangan pemberian grasi yang lebih luas berada di tangan presiden. “Biasanya dalam hal pendapat pemberian grasi itu singkat saja, lebih banyak pertimbangan presiden yang digunakan,” tegasnya. Untuk diketahui, dengan diberikan grasi lima tahun kepada Corby lewat Keppres No. 22/G Tahun 2012 tanggal 15 Mei 2012, hukuman Corby berkurang dari 20 tahun penjara menjadi

15 tahun penjara. Corby menjadi terpidana di Lembaga Pemasyarakatan Kerobokan, Bali sejak tanggal 9 Oktober 2004. Warga negara Australia ini pernah mendapat remisi sejak tahun 2006 sampai 2011. Total remisi yang diperoleh Corby hingga tanggal 15 Mei 2012 adalah 25 bulan. Akan tetapi, tahun 2007 Corby tercatat tidak mendapat remisi karena melakukan pelanggaran membawa handphone. Dengan demikian, apabila menggunakan rumusan baku yakni dua per tiga menjalani masa hukuman, kemungkinan Corby akan mendapatkan pembebasan bersyarat (PB) pada tanggal 3 September 2012. Dengan catatan, memenuhi syarat administratif dan kualitatif yaitu tidak pernah melakukan pelanggaran, berkelakuan baik, menaati program pembinaan, dan sebagainya.
S

SBY Wajib Jelaskan Alasan Grasi Corby
ANT Dibaca: 415 Tanggapan: 0     Share:

Guru Besar Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI),Hikmahanto Juwana mengatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono perlu menjelaskan proses dikabulkannya grasi lima tahun kepada Schapelle Corby warga Australia yang terlibat kasus narkoba. "Pertemuan Pejabat Duta Besar Australia David Angel dengan Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso yang dilansir oleh salah satu media cetak nasional hari initerungkap bahwa Australia tidak turut campur tangan dalam pemberian grasi Corby," kata Hikmahanto di Jakarta, Sabtu (2/6). Tanpa diberikan grasi Corby pun para tahanan nelayan akan dipulangkan ke Indonesia,sehingga hal itu memunculkan kecurigaan lebih mendalam mengapa Presiden SBY sampai memberikan grasi kepada Corby, katanya. "Pernyataan Pejabat Dubes Australia seolah ingin membantah adanya kepentingan Australia atas pemberian grasi Corby dan karena itu tidak ada kepentingan besar dari Indonesia yang diluluskan oleh Australia," kata Hikmahanto. Ini dilakukan agar tidak ada kesan Pemerintah Australia memiliki "deal" atau "perjanjian khusus" dengan pemerintah Indonesia sebagaimana yang dijadikan argumentasi selama ini oleh Menteri dan Wakil Menteri Hukum dan HAM, katanya.

"Bahkan dari pernyataan pejabat Dubes tersebut seolah pemerintah Australia tidak mempermasalahkan seandainya Presiden SBY tidak memberi grasi kepada Corby," kata Hikmahanto. Sikap pemerintah Australia dapat dipahami karena Australia seperti Indonesia merupakan negara peserta Konvensi PBB 1988 terkait Larangan terhadap Perdagangan Narkotika yang menganggap perdagangan narkotika sebagai suatu kejahatan serius, katanya. "Oleh karena itu mereka memahami jika Corby tidak diberikan grasi.Ada pun yang diperjuangkan sejak awal oleh pemerintah Australia sebenarnya bukan grasi melainkan kemungkinan Corby menjalani sisa masa hukuman di Australia," kata Hikmahanto. Hikmahanto mengatakan bahwa yang menjadipertanyaan mengapa Presiden begitu "berbaik hati dan ramah " memberikan grasi kepada Corby. "Apa yang istimewa dari Corby sehingga Presiden harus membuat keputusan sulit untuk tidak konsisten dengan kebijakannya sendiri dalam memberantas narkoba," katanya. Di sinilah Presiden perlu memberi penjelasan secara terang benderang.Presiden harus berempati kepada rakyatnya sendiri agar rasa keadilan mereka tidakdiciderai dengan pemberian grasi kepada Corby tanpa dasar, kata Hikmahanto. "Oleh karena itu, Pemerintah seharusnya tidak perlu sungkan untuk memperbaiki keputusannya memberi grasi bila ternyata kebijakan tersebut salah," katanya. Pemerintah bisa memanfaatkan proses di Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN) dan berharap hakim akan membatalkan pemberian grasi. Dengan demikian Presiden tidak harus "kehilangan muka" mencabut kebijakannya sendiri, kata Hikmahanto.

Hakim MK Dukung Gugatan Grasi Corby
Karena Akil pernah ditolak Corby. ASH/RFQ Dibaca: 2012 Tanggapan: 0     Share:

Hakim Konstitusi M Akil Mochtar. dukung gugatan Grasi Corby. Foto: Sgp

Rencana Gerakan Nasional Antinarkoba dan Psikotropika (Granat) menggugat keputusan presiden tentang grasi terpidana kasus narkotika, Schapelle Corby mendapat dukungan dari Hakim Konstitusi M Akil Mochtar. Dia berpendapat keputusan presiden tentang grasi Corby memang bisa digugat. Pasalnya, menurut Akil, Corby sebenarnya tidak layak mendapat grasi. Sikap Akil ini didasarkan pada pengalamannya ketika masih menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi III DPR. Dituturkan Akil, dia pernah berkunjung ke lembaga pemasyarakatan (LP) Kerobokan, Bali. Di sela-sela kunjungan itu, rombongan Komisi III ingin bertemu Corby. Tetapi, Corby tidak mau ditemui. “Tanpa alasan yang jelas, Corby enggan bertemu kami (Komisi III, red) ketika itu,” ungkapnya. Sikap Corby itu dinilai tidak menghargai rombongan Komisi III. Akil membandingkan sikap Corby dengan tiga terpidana kasus terorisme yang masih bersedia ditemui, meskipun ditempatkan di ruangan isolasi khusus. Menurut pengamatan Akil, Corby juga terlihat acuh dengan tahanan lain. Dikatakan Akil, grasi seharusnya hanya layak diberikan kepada terpidana yang berkelakuan baik. “Corby itu tidak menghargai hukum Indonesia,” imbuhnya. Menurut Akil, grasi kepada Corby juga menunjukkan kesan bahwa Pemerintah Indonesia tidak konsisten dalam menangani kejahatan luar biasa (extraordinary crime) dan kejahatan lintas negara (transnational crime). Lebih lanjut, Akil mengkritik alasan pemerintah yang menyatakan grasi untuk Corby demi perlindungan WNI di luar negeri. Menurutnya, pemberian grasi tidak ada kaitannya dengan perlindungan WNI. “(perlindungan WNI) itu bisa diselesaikan dengan hubungan diplomatik tanpa harus diberikan grasi,” ujarnya.

Sementara itu, Kuasa hukum Granat, Yusril Ihza Mahendra mengatakan gugatan terhadap keputusan Presiden SBY yang memberikan grasi kepada Corby akan didaftarkan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta, Senin pekan depan, 4 Juni 2012. ”Saya Sebenarnya mau menyiapkan, mudah-mudahan hari Senin sudah bisa didaftarkan,” ujar mantan Menteri Kehakiman dan HAM itu kepada wartawan di Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Kamis (31/5). Dijelaskan Yusril, keputusan Presiden SBY bisa digugat ke PTUN karena kedudukan presiden pasca Amandemen UUD 1945 tidak lagi merangkap sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan. Berkat Amandemen UUD 1945, lanjut Yusril, kedudukan seorang presiden hanya sebagai kepala pemerintahan. “Kalau kedudukan presiden sebagai kepala negara kebijakannya tidak dapat digugat,” Kata Yusril yang juga bergelar Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Lain halnya, presiden dalam kedudukannya sebagai kepala pemerintahan, maka keputusannya dapat menjadi objek sengketa TUN. “Keputusan presiden itu dianggap sebagai keputusan pejabat tata usaha negara, bersifat individual, konkret, dan final,” Kata Yusril menjelaskan. Menurutnya, ini adalah pertama kalinya keputusan presiden tentang grasi digugat. Melalui gugatan ini, Granat berharap keputusan presiden terkait grasi Corby dapat dibatalkan. Terpisah, Ketua Granat Hendry Yosodiningrat mengatakan pihaknya masih menyusun berkas gugatan. Menurut dia, salah satu dalil yang akan dikemukakan dalam gugatan adalah pemberian grasi untuk Corby telah melanggar komitmen pemerintah dalam pengetatan pemberian remisi hukuman terhadap pelaku kejahatan luar biasa. Selain itu, grasi Corby juga bertentangan dengan sejumlah norma hukum nasional dan internasional. “Bahkan saya juga mengatakan bertentangan TAP MPR No. 4 Tahun 1999 tentang GBHN, memberantas terhadap kejahatan peredaran gelap narkotika dan psikotropika dan memberikan hukuman yang seberat-beratnya para pelaku produsen pelaku pengedar,” paparnya.

Beri Grasi Corby, SBY Lemah
Pemerintah Asutralia menekan Indonesia. ANT/INU Dibaca: 1837 Tanggapan: 0     Share:

Posisi Presiden SBY lemah, kabulkan grasi terpidana kasus narkoba Schapelle Corby dari Australia. Foto: Sgp

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak boleh terlihat lemah dimata publik Indonesia setelah mengabulkan grasi lima tahun kepada terpidana kasus narkoba Schapelle Corby dari Australia. "Ini mengingat publik Indonesia tahu bahwa Australia sudah menekan pemerintah Indonesia sejak lama untuk mengupayakan perlindungan bagi Corby," kata Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana di Jakarta, Rabu (23/5). Perlindungan Corby, terpidana kasus narkoba Bali-Nine ini merupakan agenda lokal Australia dimana publik disana menekan pemerintah Australia dan pada gilirannya pemerintah Australia menekan pemerintah Indonesia, kata Hikmahanto Juwana. "Tekanan dilakukan mulai dari permintaan untuk membuat perjanjian Transfer of Sentenced Person (Pemindahan Terpidana), hingga akhirnya dikabulkannya grasi," kata Hikmahanto. Publik Indonesia tentu tidak bisa terima bila tekanan tersebut berhasil, apalagi untuk kejahatan perdagangan narkoba yang dapat merusak generasi penerus bangsa, katanya. "Guna menghindari persepsi negatif dari publik Indonesia pemerintah SBY harus meminta agar Australia segera menyelesaikan sejumlah masalah hukum pihak Australia terhadap WNI," kata Hikmahanto. Salah satunya adalah para nelayan yang ditahan tanpa persidangan di Australia. Pemerintah SBY juga harus minta cara-cara Australia untuk melakukan ekstradisi terhadap WNI yang sedang berada di negara lain dan negara tersebut memiliki perjanjian ekstradisi dengan Australia. Misalnya kasusRadius Christanto, seorang WNI, yang sedang berada di Singapura untuk

memeriksa kesehatannya diminta oleh otoritas Australia untuk diekstradisi atas dugaan kasus yang terjadi pada tahun 1999 yang dikenal dengan Kasus Sucurency. "Pemerintah Singapura pun sudah melakukan penahanan. Padahal antara Indonesia dan Australia memiliki perjanjian ekstradisi, bahkan selama ini Radius berada di Indonesia," katanya. Hikmahanto mengatakan bila cara Australia untuk meminta negara lain mengekstradisi WNI berhasil maka bukannya tidak mungkin para mantan pejabat militer Indonesia yang dituduh di Australia melakukan kejahatan internasional ketika mereka berada di Singapura atau negara lain dimana Australia memiliki perjanjian. Sikap pemerintah Indonesia berbanding terbalik dengan pemerintah Australia. Hal ini ditunjukkan dengan sulitnya permintaan ekstradisi terpidana korupsi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) Adrian Kiki yang kini menetap di negara itu. Namun, ekstradisi Adrian Kiki terganjal karena dia menolak untuk dipulangkan. Alasannya, dia sudah menjadi warga negara Australia saat dirinya diadili secara in absentia di pengadilan Indonesia. Pemerintah Australia juga berpendapat Adrian Kiki tidak layak menjalani masa hukuman karena penjara di Indonesia dipenuhi penyakit. Andrian Kiki Iriawan dan Bambang Sutrisno, masing-masing adalah Direktur Utama dan Wakil Direktur PT Bank Surya, pada 2002 dihukum penjara seumur hidup oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Putusan itu tidak dihadiri oleh kedua terdakwa (in absentia). Keduanya dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana korupsi dalam penyimpangan dana BLBI sebesar Rp1,5 triliun. Majelis hakim dalam putusannya menyatakan, berdasarkan keterangan saksi-saksi dan fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan, terbukti Bambang Sutrisno bersama-sama Kiki mengucurkan dana BLBI kepada grup perusahaan yang ternyata 103 perusahaan itu fiktif sehingga mengakibatkan kerugian negara. Perbuatan kedua terdakwa itu, kata hakim, melanggar Pasal 1 ayat (1) sub a jo Pasal 28 jo Pasal 24 c UU No 3 Tahun 1971 jo Pasal 55 ayat (1) jo pasal 64 ayat 1 KUHP sebagaimana dakwaan primair jaksa penuntut umum Arnold Angkouw. Andrian Kiki Iriawan melarikan diri ke Australia dan Bambang Sutrisno ke Singapura.
Sh Grasi Corby:

SBY Berpotensi Langgar Sumpah Jabatan
Pengurus Partai Demokrat berpendapat tidak ada pelanggaran terhadap konstitusi maupun perundangundangan. RED/ANT Dibaca: 4257 Tanggapan: 0   Share:

 

Gara-gara Corby, SBY bisa langgar sumpah jabatan. Foto: Sgp

Keputusan Presiden SBY memberikan grasi kepada Schapelle Corby masih menuai pro dan kontra. Pakar hukum Internasional Prof Hikmahanto Juwana menyatakan Presiden SBY berpotensi melanggar sumpah jabatan, lantaran memberikan grasi untuk terpidana kasus narkotika. Hikmahanto mengingatkan bahwa Indonesia sudah meratifikasi United Nation Convention Against Illicit Traffic in Narcotic Drugs and Psychotopic Substances 1998, melalui UU No 7 Tahun 1997. Dalam Konvensi itu, Pasal 3 ayat (6), ditegaskan bahwa pemerintah harus memastikan pengenaan sanksi yang maksimum terhadap pelaku kejahatan narkotika. Lalu ayat berikutnya menyatakan pembebasan atau pembebasan bersyarat terpidana kasus kejahatan narkotika tetap harus mempertimbangkan bahwa kejahatan perdagangan narkoba merupakan kejahatan serius. Hikmahanto mempertanyakan apakah ketika memutuskan akan memberikan grasi kepada Corby, Presiden SBY telah memperhatikan UU No 7 Tahun 1997. Kalau sudah, apakah ada kepentingan yang lebih besar dari Indonesia kepada Australia sehingga pemberian grasi dianggap sepadan dengan kepentingan nasional. “Dua pertanyaan ini harus mendapat jawaban dari pemerintah,” tukasnya dalam siaran pers yang diperoleh hukumonline, Minggu (27/5). Menurut Hikmahanto, Presiden SBY berpotensi melanggar sumpah jabatan jika keputusan memberikan grasi kepada Corby ternyata mengabaikan UU No 7 Tahun 1997. Diatur dalam Konstitusi, bunyi sumpah presiden adalah sebagai berikut, "Demi Allah, saya bersumpah akan memenuhi kewajiban Presiden Republik Indonesia (Wakil Presiden Republik Indonesia) dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, memegang teguh Undang-Undang Dasar dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya dengan selurus-lurusnya serta berbakti kepada Nusa dan Bangsa”

Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini berharap Presiden SBY berkenan menjawab dua pertanyaan tersebut secara terbuka di media massa. Opsi lainnya, Presiden SBY menjawabnya ketika menanggapi gugatan tata usaha negara yang rencananya akan dilayangkan oleh GRANAT. Hikmahanto berpendapat gugatan GRANAT justru bisa menjadi „penyelamat‟ bagi Presiden SBY untuk untuk tidak melanggar sumpahnya. Menurutnya, pemerintah dapat menyerahkan pada putusan hakim apakah pemberian grasi Corby telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan rasa keadilan atau tidak. “Bila PTUN memutus pemberian grasi tidak sesuai dengan peraturan perudangundangan, utamanya UU No 7 Tahun1997 maka putusan ini bisa dijadikan dasar oleh Pemerintah kepada Pemerintah Australia bahwa pemberian grasi urung diberikan pada Corby,” ujar Hikmahanto. Fungsionaris DPP Partai Demokrat Iksan Modjo berpendapat tidak ada pelanggaran terhadap konstitusi maupun perundang-undangan atas kebijakan Presiden SBY memberi grasi kepada Corby. Ia mengemukakan bahwa berdasarkan konstitusi, Presiden mempunyai hak memberikan grasi, amnesti dan abolisi kepada para narapidana setelah semua proses hukum dan persyaratannya terpenuhi. "Terhadap Corby ini, semua proses hukum sudah dilakukan dan persyaratan untuk pemberian grasi juga sudah mendengarkan pertimbangan hukum Mahkamah Agung," ujarnya. Ditegaskannya bahwa setiap narapidana berhak mendapatkan grasi setelah berbagai persyaratan untuk pengajuannya sudah dipenuhi. Jadi, katanya, tidak ada konstitusi dan aturan perundang-undangan yang telah dilanggar presiden. Selain itu, grasi untuk Corby itu sebenarnya juga diberikan kepada dua narapidana asing lainnya, yakni narapidana asal Jerman dan Nigeria. Hal senada dikemukakan Ketua Divisi Komunikasi Publik DPP PD Andi Nurpati. Ia mengatakan bahwa kebijakan Presiden SBY terkait grasi Corby memang tidak populer, tetapi tidak ada aturan perundang-undangan yang telah dilanggar presiden. Karenanya, ia melanjutkan, tidak ada satu pihak pun yang bisa menyatakan bahwa Presiden tidak taat hukum karena segala sesuatunya telah dipertimbangkan berdasarkan ketentuan undang-undang dan konstitusi. "Pemberian grasi ini merupakan 100 persen hak Presiden yang dijamin oleh konstitusi," ujarnya. Dia juga mengatakan bahwa tidak ada kaitannya antara pemberian grasi ini dengan upaya memerangi peredaran narkoba di Indonesia. Menurut dia, sekalipun Corby tidak mendapatkan grasi, persoalan narkoba di Indonesia juga tidak akan selesai begitu saja. Jadi, ia menambahkan, semua pihak seharusnya melihat persoalan secara lebih mendasar. Menurut Iksan Mojo, pemberian grasi itu juga bisa dilihat sebagai gesture pemerintah untuk mempertimbangkan satu bentuk kebijakan timbal balik

yang sama dengan Australia. Sejak tahun 2005, kata dia, masalah Corby itu selalu menjadi kerikil hubungan bilateral antara RI dan Australia.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Reformasi menuntut dilakukannya amandemen atau mengubah UUD 1945 karena yang menjadicausa prima penyebab tragedi nasional mulai dari gagalnya suksesi kepemimpinan yang berlanjut kepada krisis sosial-politik, bobroknya managemen negara yang mereproduksi KKN, hancurnya nilai-nilai rasa keadilan rakyat dan tidak adanya kepastian hukum akibat telah dikooptasi kekuasaan adalah UUD Republik Indonesia 1945. Itu terjadi karena fundamen ketatanegaraan yang dibangun dalam UUD 1945 bukanlah bangunan yang demokratis yang secara jelas dan tegas diatur dalam pasal-pasal dan juga terlalu menyerahkan sepenuhnya jalannya proses pemerintahan kepada penyelenggara negara. Akibatnya dalam penerapannya kemudian bergantung pada penafsiran siapa yang berkuasalah yang lebih banyak untuk legitimasi dan kepentingan kekuasaannya. Dari dua kali kepemimpinan nasional rezim orde lama (1959 – 1966) dan orde baru (1966 – 1998) telah membuktikan hal itu, sehingga siapapun yang berkuasa dengan masih menggunakan UUD yang all size itu akan berperilaku sama dengan penguasa sebelumnya. Keberadaan UUD 1945 yang selama ini disakralkan, dan tidak boleh diubah kini telah mengalami beberapa perubahan. Tuntutan perubahan terhadap UUD 1945 itu pada hakekatnya merupakan tuntutan bagi adanya penataan ulang terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Atau dengan kata lain sebagai upaya memulai “kontrak sosial” baru antara warga negara dengan negara menuju apa yang dicita-citakan bersama yang dituangkan dalam sebuah peraturan dasar (konstitusi). Perubahan konstitusi ini menginginkan pula adanya perubahan sistem dan kondisi negara yang otoritarian menuju kearah sistem yang demokratis dengan relasi lembaga negara yang seimbang. Dengan demikian perubahan konstititusi menjadi suatu agenda yang tidak bisa diabaikan. Hal ini menjadi suatu keharusan dan amat menentukan bagi jalannya demokratisasi suatu bangsa. Realitas yang berkembang kemudian memang telah menunjukkan adanya komitmen bersama dalam setiap elemen masyarakat untuk mengamandemen UUD 1945. Bagaimana cara mewujudkan komitmen itu dan siapa yang berwenang melakukannya serta dalam situasi seperti

apa perubahan itu terjadi, menjadikan suatu bagian yang menarik dan terpenting dari proses perubahan konstitusi itu. Karena dari sini akan dapat terlihat apakah hasil dicapai telah merepresentasikan kehendak warga masyarakat, dan apakah telah menentukan bagi pembentukan wajah Indonesia kedepan. Wajah Indonesia yang demokratis dan pluralistis, sesuai dengan nilai keadilan sosial, kesejahteraan rakyat dan kemanusiaan. Dengan melihat kembali dari hasil-hasil perubahan itu, kita akan dapat dinilai apakah rumusanrumusan perubahan yang dihasilkan memang dapat dikatakan lebih baik dan sempurna. Dalam artian, sampai sejauh mana rumusan perubahan itu telah mencerminkan kehendak bersama. Perubahan yang menjadi kerangka dasar dan sangat berarti bagi perubahan-perubahan selanjutnya. Sebab dapat dikatakan konstitusi menjadi monumen sukses atas keberhasilan sebuah perubahan. 1.2 Pembatasan Masalah dan Identifikasi Masalah 1.2.1 Pembatasan Masalah Dalam sistem kenegaraan, masalah perundang – undangan merupakan hal yang sangat penting bagi jalannya sistem pemerintahan suatu negara, disebabkan berjalannya sistem pemerintahan tidak lepas dari rujukan yang mesti dilaksanakan dalam perundang – undangan negara. masalah kontroversi perubahan UUD 1945 yang masih menjadi perbincangan, merupakan bahan yang kami bahas dalam makalah ini. 1.2.2 Identifikasi masalah Dalam prosesnya, amandemen UUD 1945 menimbulkan perdebatan, penyusun mengidentifikasi beberapa masalah pokok sebagai berikut : 1. Sejarah ketatanegaraan Republik Indonesia sejak awal terbentuknya UUD 1945 sampai saat kini. 2. Permasalahan yang kencenderungan terjadi perdebatan sehingga timbulnya pra-kontra terhadap perumusan amandemen UUD 1945. 3. Beberapa pendapat terhadap amandemen UUD 1945. 1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan 1.3.1 Tujuan penulisan Adapun tujuan penulisan tugas makalah ini adalah : 1. Menganalisa sejauh mana proses perkembangan amandemen dan beberapa pendapat tentang amandemen UUD 1945.

2. menjabarkan beberapan pendapat pro-kontra terhadap amandemen UUD 1945. 1.3.2 Manfaat Penulisan Sedangkan manfaat yang diharapkan dapat diperoleh adalah sebagai berikut : 1. Meningkatkan pengetahuan tentang negara dan konstitusi negara Republik Indonesia 2. Lebih mengenal kembali Undang-undang dasar negara Republik Indonesia 3. Mengikuti proses perkembangan perundangan Republik Indonesia. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Sejarah ketatanegaraan Saat founding fathers menerima diberlakukannya UUD 1945 yang dicetuskan Prof Soepomo pada sidang PPKI 18 Agustus 1945 telah menyadari, UUD 1945 hanya bersifat sementara atau istilah Bung Karno "undang-undang dasar kilat". Mereka semua committed jika kelak keadaan mengizinkan, bangsa Indonesia akan melaksanakan pemilu untuk membuat UUD baru yang definit berasas kedaulatan rakyat. Sejarah ketatanegaraan kita yang menggunakan konstitusi UUD 1945 sebagai landasan struktural telah menghasilkan berbagai sistem pemerintahan yang berbeda-beda, bahkan pernah bertolak belakang secara konseptual. Dalam periode revolusi, hanya di masa kabinet Soekarno-Hatta yang pertama (Agustus 1945sampai keluar Maklumat X tanggal 16 Oktober 1945), berarti hanya dua bulan kita menerapkan UUD 1945 yang "asli" yang kekuasaan sepenuhnya di tangan Presiden. Maklumat Wakil Presiden No X mengubah secara mendasar sistem ketatanegaraan dari Presidensial ke Parlementer, meski tetap menggunakan UUD 1945 sebagai konstitusi. Pada 1949 bangsa Indonesia telah mengganti UUD 1945 dengan Konstitusi RIS dan tahun 1950 lagi-lagi diganti dengan UUD Sementara 1950, tetapi tetap menganut paham demokrasi konstitusional meski dengan sistem berlainan. Baru tahun 1955 pertama kali diselenggarakan pemilu dan dibentuk Majelis Konstituante untuk membuat UUD baru yang definitif. Sebelum tugasnya selesai, Konstituante dibubarkan melalui Dekrit Presiden Soekarno 5 Juli 1959. Bukan disebabkan Konstituante tak berhasil atau mengalami deadlock dalam menyusun UUD baru sebagaimana diajarkan dalam semua buku pelajaran sejarah versi pemerintah, tetapi karena ada kepentingan politik dari kalangan militer dan pendukung Soekarno.

Dengan diberlakukannya kembali UUD 1945 melalui Dekrit 5 Juli 1959, timbul kembali pemerintahan otoriter di bawah panji Demokrasi Terpimpin Soekarno dilanjutkan rezim otoriter Orde Baru Soeharto dengan panji Demokrasi Pancasila. Dalam masa pemerintahan transisi, baik di zaman Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati sebelum Pemilu 2004, kita menyaksikan betapa lemahnya UUD 1945 mengatur penyelenggaraan kekuasaan negara karena sifatnya yang multi-interpretasi. Pemegang kekuasaan negara bisa melakukan berbagai distorsi dan devisiasi nilai-nilai demokrasi dan sistem pemerintahan. kondisi dewasa ini dikhawatirkan kita menghadapi bahaya pengulangan sejarah, adanya sisa-sisa kalangan militer dan pendukung Soekarno yang menghendaki kembalinya "Demokrasi Terpimpin". Dulu mereka berhasil menjegal Majelis Konstituante dengan memakai "pedang" Dekrit 5 Juli 1959. Atau pendukung Soeharto yang menghendaki kembalinya "Demokrasi Pancasila" yang dengan landasan UUD 1945 yang "murni dan konsekuen" berhasil berkuasa selama 32 tahun. Tuntutan untuk kembali ke UUD 1945 jelas diwarnai nostalgia atau sindrom pada kekuasaan otoriter dan totaliter yang pernah dinikmati di masa lampau dan merasa "kehilangan" atau tak bisa eksis lagi untuk membangun kekuatan politik dalam konteks UUD 1945 hasil amandemen. 2.2 Pandangan Terhadap Amandemen UUD 1945 Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) sebagai badan/lembaga politik yang diposisikan “tertinggi” karena dianggap representasi dari kedaulatan rakyat adalah badan yang dianggap memiliki kewenangan melakukan perubahan UUD. Hal ini didasari pula pada ketetentuan pasal 37 UUD 1945 yang menyatakan bahwa “untuk melakukan perubahan UUD ditentukan dan disetujui sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang hadir”. Ditambah ketentuan lain yang terdapat dalam pasal 3 UUD 1945 bahwa tugas dari MPR adalah menetapkan UUD, disamping memilih dan menetapkan Presiden dan Wapres serta membuat GBHN. Sepanjang reformasi dalam sidang-sidangnya, MPR telah mengubah UUD 1945 sebanyak empat kali. Pada perubahan yang pertama, MPR mengubah 9 pasal UUD 1945 yang berkenaan dengan soal kewenangan eksekutif-legislatif serta pembatasan masa jabatan eksekutif (presiden). Sedangkan pada perubahan yang kedua, MPR tidak hanya mengubah tapi juga menambah muatan materi yang terkandung didalamnya. Perubahan dan penambahan itu menyangkut soal wilayah negara, warga negara dan penduduk, hak asasi manusia, kewenangan DPR,

Pemerintahan Daerah (otonomi daerah), Pertahanan dan Keamanan Negara, Bendera, Bahasa, Lambang Negara dan Lagu kebangsaan. Diakui bahwa dalam perubahan UUD 1945 itu ada beberapa kemajuan, terutama dengan dimuatnya soal hak asasi manusia. Sebagaimana hakikat dari konstitusionalisme yang mengharuskan adanya pengakuan dan jaminan terhadap HAM diatur dalam konstitusi. Selain itu dengan adanya pembatasan kewenangan dan masa jabatan bagi eksekutif (presiden), telah mengurangi dominasi dari pemerintahan yang eksekutif heavy. Dan sebagai perimbangannya diberikan kewenangan-kewenangan kepada DPR, sebagai upaya untuk memberdayakan legislatif terutama dalam fungsinya melakukan kontrol terhadap eksekutif. Perubahan ini berangkat dari pengalaman pemerintahan yang terjadi selama ini dengan sangat kuatnya eksekutif (presiden) dan lemahnya DPR, sehingga “tidak ada” kontrol sama sekali dari DPR terhadap kinerja pemerintahan. Pengalaman dengan pemerintahan yang didominasi eksekutif dan tiadanya kontrol terhadapnya telah berlangsung lebih dari 32 tahun dan itu menimbulkan akibat-akibat seperti yang dialami saat ini. Dengan penambahan kewenangan kepada DPR, terutama dalam soal fungsi legislasi dan pengawasannya dapat dikatakan telah terjadi pergeseran bandul politik ke arah legislatif. Namun pergeseran itu sendiri, masih belum menampakkan secara jelas sistem pemerintahan yang akan diterapkan. Mengingat hanya ada dua model pemerintahan yang dianut negara-negara demokrasi lainnya, antara sistem pemerintahan presidensiil atau parlementer. Indonesia dikategorikan menganut sistem percampuran (quasi) antara keduanya berdasarkan distribusi kekuasaan bukan atas dasar pemisahan kekuasaan. Sistem dengan pencampuran semacam nampaknya akan masih menyisakan persoalan-persoalan, jika dikaitkan dengan kejelasan masing-masing hak dan kewenangan lembaga-lembaga negara serta relasi (check and balances). Perubahan dan penambahan kewenangan kepada DPR itu nampaknya hanya memindah masalah baru dan memperpanjang krisis politik, karena tidak berangkat dari kerangka dasar disertai pemahaman yang jelas. Kesemuanya masih menggantung, apalagi perubahan itu juga tidak dilakukan secara bersamaan, masih menyisakan soal yudikatif (kekuasaan kehakiman yang mandiri) yang belum diubah yang selama ini juga tidak lepas dari dominasi eksekutif. Satu hal mendasar lagi adalah tentang keberadaan MPR yang dalam posisinya sebagai lembaga tertinggi negara membuat rancu sistem pemerintahan yang demokratis, karena perannya juga seperti lembaga legeslatif namun ia bukan lembaga legeslatif. MPR yang dimaknai sebagai

representasi kekuasan tertinggi rakyat dan dapat melakukan kontrol terhadap kekuasaan lainnya menjadi super body yang tidak dapat dikontrol. Meskipun telah ada pemikiran dan kehendak dari masyarakat untuk merekontruksi kembali posisi dan peran MPR terkait dengan keinginan pemilihan presiden secara langsung menjadi sistem bikameral atau meniadakannya sama sekali, hasil perubahan-perubahan UUD 1945 itu belum menyentuh persoalan-persoalan yang menyangkut MPR. Disamping mengubah dan menambah materi dalam UUD 1945, MPR juga telah memutuskan untuk tidak mengubah Pembukaan, Sistem Pemerintahan Presidensiil dan Konsep Negara Kesatuan. Keputusan untuk tidak mengubah ketiga hal tersebut secara politis memang terkesan telah menjadi kehendak mayoritas bangsa. Namun keputusan itu tidak berangkat dari kenyataan yang ada dan disertai pemahaman dan penerimaan publik yang rasional. MPR terlalu tergesagesa menutup ruang publik yang hendak mempertanyakan kembali esensi dari ketiganya dan publik dipaksa untuk menerima sesuatu yang diluar kehendak dan pada kenyataannya adalah berbeda. Ruang publik itu telah dipenjara secara politis oleh MPR. Dalam soal negara kesatuan misalnya, masyarakat telah menggugat konsep negara kesatuan dan ingin menggantikannya dengan negara federal untuk menghindar dari sentralisasi dan eksploitasi yang selama ini terjadi dalam negara kesatuan. Sedangkan penetapan sistem pemerintahan presidensiil, pada kenyataannya masih ada unsur-unsur pemerintahan parlementarian yang dianut dan diterapkan. Bahkan kalau mau jujur saat ini model pemerintahan yang diterapkan sudah condong jauh kearah parlementarian. Terhadap soal pembukaan, MPR tidak memberikan alasan yang tepat dan cukup rasional diterima publik. Alasan yang dikemukakan lebih menekankan pada penghargaan terhadap para pendiri bangsa yang telah merumuskan itu, kekhawatiran bubarnya negara kalau itu diubah dan adanya deologi negara pancasila dalam pembukaan. Sesungguhnya kekhawatiran bubarnya negara jika pembukaan diubah tidaklah beralasan, karena secara historis para founding fathers yang merumuskan pembukaan itu juga telah mengubahnya dalam pembukaan Konstitusi RIS 1949 dan UUDS 1950. Dan perubahan pembukaan itu ternyataa tidak menyebabkan bubarnya negara. Dengan “ditutupnya” ruang publik untuk dapat menerima ketiga hal tersebut secara obyektif dan rasional, dikhawatirkan akan tetap menimbulkan persoalan dikemudian hari. Ibaratnya seperti bom waktu yang setiap saat bisa meledak, tuntutan dan gugatan terhadap pembukaan, sistem presidensiil dan negara kesatuan bisa muncul sewaktu-waktu.

Dengan demikian secara umum dapat dikatakan bahwa hasil perubahan UUD 1945 tidak menunjukkan perubahan yang mendasar bagi bangunan negara Indonesia yang demokratis kedepan. Mengingat peran konstitusi sebagai sumber dari segala sumber hukum dan sebagai kerangka kerja demokrasi yang mengatur dan menentukan posisi serta hubungan lembaga presiden, legeslatif dan yudikatif, juga pemerintahan yang bersifat desentralistik, hasil perubahan-perubahan UUD 1945 belum memberikan jaminan soal itu. Lebih dari itu, hasil perubahan UUD 1945 belum menjadikan identitas nasional baru yang sesuai dengan kebutuhan, aspirasi dan semangat yang berkembang saat ini. 2.3 Catatan- CatatanTerhadap Hasil Perubahan Catatan-catatan ini ditujukan untuk dapat melihat secara komprehensif dan menelaah lebih jauh beberapa kekurangan-kelemahan dari hasil amandement UUD 1945. Guna memudahkan pemahaman, catatan dibawah ini dibuat sistematikanya berdasarkan tema/issue (bab perubahan) yang dilakukan, yakni sebagai berikut; 1. Hak Asasi Manusia (HAM) Dimuatnya materi soal hak asasi manusia dalam perubahan UUD 1945, merupakan satu langkah maju, karena sebelumnya dalam UUD 1945 dapat dikatakan “tidak ada” sama sekali materi atau bab tersendiri soal HAM. Dirumuskannya materi HAM dalam bab tersendiri diharapkan akan memberikan perlindungan dan jaminan bagi pelaksanaan HAM di Indonesia. Rumusan HAM ini dibuat di Sidang Tahunan MPR 2000 dalam Bab XA Pasal 28 Perubahan Ke-II UUD 1945 yang perumusannya terdiri dari 10 pasal (A – J). Beberapa persoalan-kelemahan yang terdapat dalam rumusan HAM ini adalah: § Rumusan-rumusan HAM ini, bila dijabarkan keseluruhan, secara substansial rumusan-rumusan yang dihasilkan tidak mengelaborasi secara rinci seluruh hak asasi manusia, sehingga terkesan bahwa Anggota MPR tidak dilandasi pemahaman yang mendalam tentang esensi HAM yang harus diatur dalam UUD. Hal ini terlihat pula dalam contoh hak yang diberikan untuk warga negara dalam pasal 28 D (3) “Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan “ hanya diatur dalam satu pasal. Padahal masih banyak lagi sesungguhnya hak-hak yang hakikatnya diberikan kepada warga negara sebagai konsekuensi kalau UUD adalah hukum dasar yang substansinya antara lain mengenai bagaimana hubungan antara negara dan warga negara. Apabila ditinjau dari tujuan negara sebagaimana diatur dalam Pembukaan UUD maka ada hak-hak yang secara khusus hanya dimiliki dan diberikan oleh negara hanya untuk

warganegara. Oleh karena itu, ketentuan hak asasi warga negara ini harus diatur serta dalam mengelaborasi ketentuan mengenai hak asasi manusia perlu kiranya dibedakan antara hak yang diberikan kepada setiap orang dengan hak yang diberikan kepada warga negara. § Penyusunan pasal-pasal HAM itu juga kurang sistematis dan tidak didasari pada pembidangan HAM dalam hak politik, hak sipil, hak ekonomi, hak sosial-budaya. Hal ini dapat dilihat, misalnya dipisahkannya hak bekerja dengan hak memilih pekerjaan, begitu pula hak pendidikan dipisahkan dengan hak memilih pendidikan dan pengajaran. Malah perumusannya disatukan atau dicampurbaur antara satu soal dengan soal lain. Bahkan dalam beberapa soal perumusannya disebut disebut dua kali yakni. Misalnya soal penyiksaan dalam pasal 28 G (2) dan 28 I (1), demikian pula soal hak beragama (pasal 28E ayat 1 dan pasal 28I ayat 1) dan hak hidup (pasal 28A dan pasal 28I ayat (1). § Rumusan – rumusan HAM itu juga tidak sesuai dengan Deklarasi Umum HAM atau International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR), masih rancu, menimbulkan ketidakjelasan dan persoalan/kontroversi baru, hal ini dapat dilihat dari rumusan-rumusan Rumusan pasal 28D (2) yang berbunyi “setiap orang berhak untuk bekerja…” rumusan semacam itu ada pemikiran berusaha untuk menghilangkan/ menyembunyikan tanggungjawab negara. Berbeda esensinya dengan rumusan yang berbunyi “setiap orang berhak atas pekerjaan…”, seperti yang tertuang dalam pasal 23 ayat 1 DUHAM. Demikian pula dalam rumusan pasal lainnya seperti berhak untuk mendapat pendidikan (pasal 28 C ayat 1) berhak untuk memperoleh informasi (pasal 28 F). Seharusnya adalah kewajiban negara untuk melindungi apa-apa yang telah diakui sebagai hak asasi seseorang bukan malah menyembunyikannya. § Pasal 28I (3) yang berbunyi “Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban”. Rumusan ini mengundang pertanyaan apa yang dimaksud dengan “dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban itu”? Penggunaan kata „tradisional‟ lebih mengarah kepada pengertian yang sempit, yang hanya berkaitan dengan identitas budaya tidak menerjemahkan secara lebih luas mencakup hak ekonomi, sosial, budaya dan politik. § Dalam perumusan pasal 28 I (1) dimasukkan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut (prinsip non retroaktif) yang lengkapnya berbunyi “hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak

diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun”. Adanya penegasan untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut karena belum ada aturan ketentuan sebelumnya atau dikenal dengan asas nonretroaktif telah mengadposi secara mentah Konvensi Hak Sipil dan Politik tanpa mengetahui prinsip dasarnya. Prinsip itu memang merupakan prinsip hukum pidana modern yang oleh sistem hukum internasional ditempatkan sebagai hak yang bersifat sekunder ketika berhadapan dengan asas keadilan dan adanya kejahatan HAM berat, sebagaimana dimaksud Konvensi Geneva 1949. Rumusan itu telah memutlakkan prinsip non retroaktif dan tidak membuka peluang bagi digunakannya prinsip-prinsip hukum internasional seperti yang tertuang dalam pasal 11(2) DUHAM dan pasal 15 (1-2) ICCPR (Konvensi Hak Sipil dan Politik). Berarti, rumusan itu tidak menyerap seluruh aspirasi dalam DUHAM dan ICCPR yang mengakui adanya kewenangan untuk mengadili para pelanggaran HAM masa lalu, yang dianggap sebagai kejahatan menurut hukum nasional maupun internasional. Meskipun ada klausul lain dalam pasal 28 J (2) yang menyatakan wajib tunduk pada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang, hal ini bisa berdampak serius mengingat bahwa penempatan pasal ini ada dalam konstitusi yang merupakan hukum tertinggi yang tidak mungkin dikalahkan peraturan perundangan dibawahnya. Oleh karena itu keberadaan pasal itu bukan untuk melindungi para pelanggar HAM melainkan untuk tempat persembunyian para pelaku pelanggaran HAM. Perumusan pasal ini juga dipandang sangat lemah, dan menjadi dilematis apabila diterapkan. Artinya, dengan memasukkan hak yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun dan oleh siapapun (non derogable) kedalam UUD, jika dikaitkan dengan ketentuan hak fakir miskin dan anak-anak terlantar sebagaimana pula dicantumkan dalam UUD akan berakibat pada masalah pelanggaran hak asasi manusia. Sementara di pihak lain, keterbatasan dana pemerintah yang selalu menjadi alasan untuk memelihara fakir miskin dan anak-anak terlantar dapat diterima masyarakat. Maka dari itu perlu dipertimbangkan secara serius apakah asas non derogable tetap akan dipertahankan dalam UUD atau dihilangkan, apalagi bila mengingat bahwa PBB sendiri hanya meletakkan non derogable rights dalam kovenan, yang statusnya sama dengan undangundang. Karena sepertinya kita mengikat tangan sendiri, suatu hal yang kurang disadari oleh para anggota MPR 2. System Pemerintahan

Yang akan dicermati soal sistem pemerintahan ini adalah rumusan perubahan yang berkenaan dengan pemberian kewenangan/kekuasaan kepada Legeslatif (DPR) dan pengurangan kewenangan presiden serta pembatasan masa jabatannya. § Terhadap pemberian kewenangan/kekuasaan kepada DPR dapat terlihat dalam rumusanrumusan perubahan pertama UUD 1945. Yakni dalam soal presiden mengangkat duta/konsul dan penerimaan/penempatan duta negara lain (pasal 13), presiden memberi amnesti dan abolisi (pasal 14 ayat 2), presiden membentuk departemen (pasal 17 ayat 4), harus dilakukan dengan memperhatikan pertimbangan DPR. Sedangkan dalam perubahan yang kedua kekuasaan DPR ini ditambah dengan memiliki hak interpelasi, hak angket dan hak menyatakan pendapat untuk menjalankan fungsinya (pasal 20A ayat 2). Perubahan-perubahan tersebut menunjukkan adanya upaya pemberdayaan dan meningkatkan peran DPR, yang secara tidak langsung pula menandakan pembatasan kewenangan presiden yang besar, termasuk dalam hal ini ketika presiden memberikan grasi dan rehabilitasi harus dengan pertimbangan MA (pasal 14 ayat 1) dan dalam memberikan gelar serta tanda jasa yang harus diatur dengan undang-undang (pasal 15). Perubahan-perubahan itu menjadikan lembaga DPR “setara” dengan presiden sebagai balance sekaligus kontrol terhadap peranan presiden. Namun konsekwensinya yang terjadi kemudian adalah terhambatnya proses-proses pemulihan yang harus dilakukan oleh presiden karena kesemuanya harus melalui mekanisme atau prosedur DPR. Sebagai contoh, hal ini dapat dilihat dari tertundanya pembebasan Sdr. Budiman Sujatmiko karena harus menunggu proses dari DPR dan pembubaran Departemen Sosial dan Penerangan yang menimbulkan konflik antara Presiden dan DPR. Hal ini menjadi dilematis, satu sisi pemberian kekuasaan itu membuat DPR menjadi “kuat” dan disisi lain membuat presiden menjadi “lemah” tidak berdaya. Kontruksi semacam ini nampaknya juga tidak menguntungkan juga bagi jalannya demokrasi. Perubahan dengan semangat “parlementarian” itu, telah menempatkan DPR pada posisi yang kurang proporsional karena tidak berangkat dari kebutuhan yang paling urgen yang sekarang dibutuhkan. Sama seperti halnya perubahan pada pasal 7 yang telah membatasi masa jabatan presiden dan wapres hanya untuk dua periode. Artinya, meskipun masa jabatan dan kekuasaan presiden tidak dibatasi seperti yang tertuang diatas, diyakini dalam masa transisi tidak akan terjadi lagi penyalahgunaan kekuasaan lagi oleh presiden. Kebebasan berekspresi, berorganisasi dan pers yang telah dijamin dapat menjadi kontrol yang efektif kepada kekuasaan presiden.

§ Perubahan lainnya yang terjadi adalah dalam soal pengajuan dan pengesahan undang-undang. Berdasarkan perubahan pertama pasal 5 UUD 1945, presiden berhak mengajukan rancangan undang-undang kepada DPR, sedangkan dalam perubahan pasal 20 (1) DPR memegang kekuasaan membentuk undang-undang. Kekuasaan ini tidak hanya DPR secara institusional namun juga secara personal anggota DPR mempunyai hak mengajukan usul rancangan undangundang (pasal 21). Perubahan ini menempatkan DPR pada posisi sebagai pemegang kekuasaan pembuat undang-undang yang sebelumnya dipegang oleh presiden. Namun ada ketentuan lainnya yg mengatur bahwa dalam pembahasan rancangan undang-undang dibahas oleh DPR bersama presiden untuk mendapat persetujuan bersama. (pasal 20 ayat 2). Dan dalam pasal 20 (5) disebutkan “Dalam hal rancangan UU yang telah disetujui bersama tersebut tidak disahkan oleh Presiden dalam waktu 30 hari semenjak RUU tersebut disetujui, RUU tersebut sah menjadi UU dan wajib diundangkan”. Dua ketentuan ini membikin rancu dan mengundang kontroversi karena menempatkan secara bersama kewenangan presiden dan DPR dapat mengesahkan undang-undang, disatu sisi. Disisi lainnya dari ketentuan ini menimbulkan adanya abuse of power terhadap kewenangan DPR untuk mengusulkan rancangan undangundang sekaligus untuk memaksa Presiden agar mensahkan RUU yang diajukan DPR tersebut. Karena dari usulan rancangan UU yang diajukan DPR kepada Presiden itu, pada akhirnya Presiden tidak mempunyai hak apakah akan menyetujui ataukah menolak RUU yang diusulkan DPR itu. Selain itu ketentuan ini juga menimbulkan kendala lain apakah memang ketentuan ini berlaku surut terhadap RUU yang belum disahkan Presiden sebelum adanya amandemen kedua UUD. Misalnya dalam kasus RUU Penanggulangan Keadaan Bahaya (RUU PKB) dan RUU Serikat Pekerja, yang hingga kini menggantung tidak jelas nasib penentuannya. Rupanya pula pengertian pemegang kekuasaan membentuk undang-undang ini tidak dicermati secara benar, karena dalam amandemen pasal 20 (4) menyatakan bahwa Presiden mengesahkan Rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama DPR dan Presiden untuk menjadi undang-undang. Dalam kekuasaan membuat undang-undang, ada 3 hal pokok yang terkandung, yaitu persetujuan yang dilakukan oleh DPR dan Presiden, pernyataan mengesahkan RUU untuk menjadi UU, dan kewenangan mengundang UU. Dalam hal ini, perihal pernyataan mengesahkan RUU oleh Presiden menimbulkan pertanyaan, dan itu termasuk bagian dari kekuasaan proses penerapan kekuasaan membentuk undang-undang. Seharusnya, jika mau konsisten prosedur itu menjadi kewenangan DPR sesuai dengan bunyi pasal 20 (1) Amandemen UUD 1945. Dengan

kata lain DPR lah yang harus mengesahkan RUU menjadi UU berdasarkan asas kedaulatan rakyat. § Perubahan-perubahan dalam konteks sistem pemerintahan itu nampaknya cenderung memberi penguatan – terutama fungsi kontrolnya -- kepada DPR dengan melakukan pemangkasan terhadap peran dan kewenanangan presiden. Perubahan itu ditambah lagi dengan adanya Ketetapan MPR No. VII/MPR/2000 yang mengaharuskan adanya persetujuan DPR jika Presiden mengangkat Panglima TNI dan Kapolri, yang sebelumnya merupakan hak prerogatif presiden sebagaimana diatur dalam pasal 10 UUD 1945. Rumusan –rumusan ini dapat dikatakan masih menggunakan sebagian sistem presidensiil dan sebagian sistem parlementer, yang amat rentan menimbulkan konflik antara Presiden dan DPR. § Terhadap perubahan yang menyatakan bahwa “presiden ialah warga negara Indonesia asli” (pasal 6) apa yang menjadi ukuran “asli” itu tidaklah jelas. Rumusan ini dapat menimbulkan penafsiran diskriminatif terhadap hak warga negara untuk menduduki jabatan di pemerintahan (presiden). § Terhadap penambahan pasal 9 yang menyatakan “jika MPR/DPR tidak dapat mengadakan sidang, Presiden dan Wapres bersumpah /berjanji dihadapan pimpinan MPR dengan disaksikan oleh pimpinan MA”. Rumusan ini nampaknya mengadopsi dari Ketetapan MPR No.VII/MPR/1973 yang dipakai sebagai landasan yuridis pengunduran diri Soeharto sebagai presiden. Rumusan semacam ini dapat menimbulkan penafsiran yang beragam, terutama bagi faktor kepentingan politis baik yang dilakukan untuk kepentingan presiden sendiri maupun fraksi-fraksi politik di MPR. Dikarenakan masih belum jelasnya apa yang dimaksud dengan tidak dapat mengadakan sidang, apa syarat-syaratnya atau dalam kondisi yang bagaimana MPR/DPR itu dikatakan tidak dapat mengadakan sidang. 3. Pemerintahan Daerah § Secara umum perumusan yang terkandung dalam pasal 18 ini tidak mensistematisir apa yang sesungguhnya harus diatur dalam UUD perihal otonomi daerah. Hampir semua obyek yang merupakan proporsi undang-undang diatur dalam pasal ini. Seperti soal, pembagian wilayah (ps 18 ayat 1), pemilihan kepala daerah dan DPRD (ps 18 ayat 3&4), sampai soal pengakuan terhadap masyarakat hukum adat (ps. 18B ayat 2). Kalaupun itu mau diatur dalam UUD, persoalan kemudian adalah bias apa yang hendak ditekankan karena harus diatur (atribusi) lagi dalam undang-undang, dan apa yang hendak dikonsepsikan dalam konstitusi ini perihal

pemerintahan daerah (otonomi daerah). Hal ini berkenaan dengan adanya beragam format pengaturan perundang-undangan tentang pemerintahan daerah/otonomi daerah, yakni di Amandemen Kedua UUD 1945, TAP MPR No. IV/MPR/2000 tentang Rekomendasi Kebijakan Dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah dan UU No. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah. § Penggunaan kata “dibagi” dalam perumusan “Negara kesatuan RI dibagi atas daerah provinsiprovinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota….” dapat menimbulkan kontradiksi. Karena pengertian “dibagi” ini tergantung dari interprestasi pemerintah pusat yang tidak didasari realitas dan aspirasi masing-masing daerah. Dan seharusnya digunakan kata terdiri yang lebih menunjukan prinsip independensi dan egalitarian dalam mewujudkan otonomi daerah. Dalam kasus lain, meskipun prinsip pemerintahan daerah dengan otonomi daerah itu merupakan hakikat dalam konteks negara kesatuan, namun disisi lain pada kenyataan adanya tuntutan untuk membebaskan daerah (merdeka) seperti Aceh dan Papua, serta kehendak untuk merubah bentuk negara kesatuan menjadi federalisme tidak bisa dinafikkan begitu saja. Sehingga penempatan konsep pemerintahan daerah ini dalam konstitusi masih manjadi kendala, karena bisa jadi itu bukan merupakan rumusan yang final berdasarkan kehendak politis seluruh rakyat Indonesia. § Konsepsi otonomi daerah dalam rumusan pasal 18 (5) yang berbunyi “ Pemerintah Daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya,…” berbeda maknanya dengan apa yang sebelumnya dirumuskan dalam UU No. 22 tahun 1999 yakni Otonomi yang luas, nyata dan bertanggungjawab. Dampak dari perbedaan ini disamping menimbulkan kotradiksi hukum, juga akan menimbulkan interpretasi yang beragam dalam pelaksanaannya. 4. Wilayah Negara Masalah wilayah negara dirumuskan dalam Bab IX A pasal 25 E yang menyatakan bahwa “Negara Kesatuan RI adalah sebuah negara kesatuan yang berciri Nusantara dengan wilayah dan hak-haknya ditetapkan dengan UU”. Disini ada ketidakjelasan apa yang dimaksud dengan “yang berciri Nusantara” itu? apa yang kemudian menjadi tolak ukurnya? Bagaimana penentuannya yang meskipun akan diatur kembali lewat UU, namun tetap seharusnya dari penentuan wilayah ini, dengan mengacu hukum internasional, untuk mencegah terulangnya kembali “ekspansi” dalam kasus Timur-Timor. 5. Warga Negara dan Penduduk Dalam pasal 27 (3) bab tentang warga negara disebutkan bahwa, setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara. Seharusnya hal mengenai pembelaan negara

ini cukup menjadi hak dan bukan menjadi kewajiban warga negara. Dengan kewajiban itu akan memudahkan siapapun yang mempunyai kewenangan (dalam hal ini alat negara yang bernama TNI) untuk melakukan mobilisasi secara paksa terhadap warga negara. Upaya ini amat rentan terhadap kemungkinan terjadinya konflik horizontal yang dapat menimbulkan kerusuhankekerasan dalam skala yang luas. 6. Pertahanan dan Keamanan Dalam pasal 35 ayat 1 amandemen II UUD 1945 disebutkan bahwa “Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan negara.” Dalam hal usaha pertahanan negara ini seharusnya bukan menjadi kewajiban tetapi menjadi hak dan kehormatan bagi warga negara. Bila hal ini menjadi suatu kewajiban bagi warga negara, maka terlihat adanya paksaan dari negara kepada warga negaranya untuk ikut serta dalam usaha pertahanan negara. Ketentuan pasal 35 amandemen II UUD 1945 (tentang Pertahanan dan Keamanan Negara) ini memperbaharui ketentuan dari pasal 30 UUD 1945 (tentang Pertahanan Negara). Dalam ketentuan pasal 35 Amandemen UUD 1945 ini dipisahkan antara kekuatan pertahanan dan keamanan negara yang semula berada dalam satu sistem (Sistem HANKAMARATA), dimana sistem Pertahanan dipegang oleh kekuatan TNI dan sistem keamanan yang dipegang oleh POLRI. Dari pemisahan kedua sistem ini, yang perlu dicermati kemudian adalah siapa yang berwenang untuk menengahi apabila suatu saat terjadi persinggungan antara kekuatan pertahanan dan keamanan. Dengan adanya ketentuan pasal 35 ini berarti pula harus pula diperhatikan ketentuan peraturan-peraturan dibawah UUD yang berkaitan dengan TNI dan POLRI, (misalnya RUU Kepolisian) agar antara peraturan satu dengan lainnya tidak saling bertentangan. Dari UUD 1945, masih ada ketentuan pasal yang menimbulkan kendala. Misalnya dari ketentuan pasal 7 UUD 1945 yang mensyaratkan bahwa Presiden memegang kekuasaan tertinggi atas AD, AL, dan AU. Dengan demikian kewenangan untuk mengangkat Panglima AD, AL, dan AU pun berada di tangan Presiden. Sehingga kedudukan Panglima TNI sejajar atau bahkan diatas kedudukan menteri, bila mengingat pula Ketetapan MPR No. VII/MPR/2000 bahwa untuk penentuan Panglima TNI/Kapolri harus melalui persetujuan DPR.. kebijakan itu amat bertentangan dengan kehendak tuntutan dicabutnya dwifungsi TNI dan penempatan kontrol militer dibawah sipil. Nampaknya masih ada upaya konsolidasi militer dan menarik-narik kembali militer kekancah politik. Jadi hanya tinggal dua negara didunia ini yang Panglima TNI berada tidak di bawah Menhankam, yaitu Indonesia dan Myanmar.

2.4 Pandangan Penolakan Terhadap Amandemen UUD 1945 Adanya pro dan kontra amandemen UUD 1945 dilihat dari perspektif konstitusionalisme adalah karena belum jelasnya konsep kenegaraan (staatsidee) yang kita anut, apakah paham kenegaraan integralistik atau demokrasi konstitusional. Secara umum perumusan amandemen UUD 1945 ada beberapa kelemahan mendasar, yaitu : Pertama, terkait dengan masalah konseptual. MPR tidak memiliki konsep atau desain ketatanegaraan yang jelas tentang arah dan tujuan yang hendak dicapai melalui serangkaian amandemen itu. Kedua, menyangkut masalah teknik yuridis, yakni lemahnya kemampuan legal drafting dalam merumuskan dan menyusun pasal-pasal, yang tampak dari segi sistematika yang rancu maupun bahasa hukum yang dipergunakan. Akibatnya, banyak pasal hasil amandemen yang tumpang tindih, kontradiktif, dan memungkinkan multitafsir. Namun, adanya kelemahan tersebut tidak berarti kita harus kembali kepada UUD 1945. Adapun beberapa alasan penolakan atas amandemen UUD 1945 yang telah dilakukan sebagai berikut Amandemen Undang-Undang Dasar 1945 dinilai belum transformatif. Konstitusi ini masih bersifat parsial, lebih terfokus pada aspek restriktif negara dan aspek protektif individu dalam hak asasi manusia aspek restriktif ini merupakan koreksi langsung terhadap, misalnya, tiadanya pembatasan masa jabatan presiden di masa Presiden Soeharto. Demikian pula peningkatan otonomi daerah yang membatasi kekuasaan pusat. Selain sifatnya restriktif, amandemen UUD 1945 juga memiliki aspek integratif yang tercermin dari pembentukan DPD, yang diharapkan dapat membantu penyampaian aspirasi daerah. Amandemen UUD 1945 memiliki pula aspek protektif dengan dicantumkannya 10 pasal (28A sampai 28J) tentang HAM, proteksi bahasa daerah, dan masyarakat adat. - dibuat Majelis Permusyawaratan Rakyat, bukan oleh komisi independen. - Amandemen UUD 1945 ini juga tak memiliki content draft yang utuh, penjelasan mengenai pasal-pasal yang diamandemen pun minim. Selain itu, partisipasi publik rendah. Publik tidak diberi peluang menilai perubahan yang dilakukan. - amandemen yang telah dilakukan masih meninggalkan tiga hal yang penting dilihat dari segi kedaulatan : o tiadanya kemampuan rakyat pemilih menarik kedaulatan mereka

o tidak dicantumkan supremasi otoritas sipil terhadap militer o tidak tercantumnya otonomi khusus Aceh dan Papua maupun Yogyakarta, sehingga peraturan di bawah konstitusi dapat mengurangi arti kekhususan otonomi. tampak amandemen belum bersifat membatasi (restriktif) kekuasaan legislatif terhadap pemilih, militer terhadap sipil, dan pemerintah pusat terhadap daerah otonomi khusus. - Hilangnya Kemampuan rakyat sebagai pemegang kedaulatan. "Salah satu contoh terjadinya perombakan itu pada pasal 1 ayat 2 UUD 45 yang berbunyi kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh MPR. Sekarang dirombak menjadi kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut UUD, perombakan itu membawa implikasi perubahan hukum yaitu hilangnya eksistensi konstitusional MPR dan tidak lagi penyelenggara negara yang tertinggi. Hal ini akan menimbulkan kontroversi. - kurangnya kemampuan rakyat sebagai pemegang kedaulatan melakukan koreksi atas pihak yang dititipi kedaulatan, yakni DPR.Rakyat pemilih tidak dapat melakukan impeachment pada wakil rakyat yang tidak menjalankan aspirasi mereka. Sebaliknya, pola pemecatan pejabat eksekutif dapat dilakukan oleh lembaga legislatif BAB III KESIMPULAN Melihat dengan adanya pembahasan yang telah diuraikan dalam bab sebelumnya. Maka penyusun dapat memberikan kesimpulan sebagai berikut : Permasalahan pokok yang mengakibatkan terjadinya perdebatan adalah perumusan amandemen UUD 1945 yang multitafsir., yakni lemahnya kemampuan legal drafting dalam merumuskan dan menyusun pasal-pasal, yang tampak dari segi sistematika yang rancu maupun bahasa hukum yang dipergunakan. Akibatnya, banyak pasal hasil amandemen yang tumpang tindih, kontradiktif, dan memungkinkan multitafsir Perbedaan perdapat yang terjadi pula terkait dengan masalah konseptual. MPR tidak memiliki konsep atau desain ketatanegaraan yang jelas tentang arah dan tujuan yang hendak dicapai melalui serangkaian amandemen itu. keempat amandemen yang telah dilakukan masih meninggalkan tiga hal yang penting dilihat dari segi kedaulatan. Pertama, tiadanya kemampuan rakyat pemilih menarik kedaulatan mereka. Kedua, tidak dicantumkan supremasi otoritas sipil terhadap militer. Ketiga, tidak tercantumnya

otonomi khusus Aceh dan Papua maupun Yogyakarta, sehingga peraturan di bawah konstitusi dapat mengurangi arti kekhususan otonomi. DAFTAR PUSTAKA http://www.pikiran-rakyat.com/ http://www.mpr.go.id/ Catatan terhadap hasil rumusan amandemen pertama dan kedua UUD 1944, KRHN,maret, 200

SELAMATKAN INDONESIA : NEGARA HUKUM Indonesia telah berusia 66 tahun, dan nanti pada 17 Agustus 2012 memasuki usianya yang ke-67 tahun, sejak Sekolah Dasar kita diajarkan untuk memupuk rasa nasionalisme dan persatuan, secara formal dari bangku sekolah hingga perguruang tinggi diajarkan mata pelajaran/kuliah Pendidikan Kewarganegaraan. Salah satu poin penting yang diajarkan pada mata pelajaran/kuliah tersebut adalah tentang Indonesia merupakan negara hukum atau Negara yang berasaskan hukum, ketentuannya pun secara tegas di tuang dalam konstitusi yang kita kenal dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia (UUD 1945), menjadi dasar bagi kita dalam bernegara alias aturan main yang utama dan dasar bagi segenap individu, instansi, pemerintah dan orang asing serta lembaga asing yang berada dalam wilayah hukum Republik Indonesia. Pada Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 yang berbunyi : Negara Indonesia adalah negara hukum. Negara Hukum memiliki arti bahwa kekuasaan negara atau roda pemerintahan harus dijalankan atas dasar hukum yang adil dan baik. Hukum menjadi landasan bertindak setiap pemerintah dan masyarakat. Prinsip pokok negara hukum menurut Jimly Asshiddiqie adalah sebagai berikut : 1. Supremasi Hukum (supremacy of law); 2. Persamaan dalam Hukum (equality before the law); 3. Asas legalitas ; 4. Pembatasan kekuasaan; 5. Organ-organ pendukung yang independen; 6. Peradilan yang bebas dan tidak memihak; 7. Peradilan Tata Usaha Negara; 8. Peradilan Tata Negara (constitutional court); 9. Perlindungan Hak Asasi Manusia; 10. Bersifat Demokratis; 11. Berfungsi sebagai Sarana Mewujudkan Tujuan Bernegara (welfare rechstaat); 12. Transparansi dan Kontrol Sosial. Namun, identitas Indonesia sebagai negara hukum telah pudar atau terkikis, saat sekarang ini, topik hukum sering menjadi perdebatan dalam diskusi kedai kopi sampai diskusi sepektakuler sekelas Indonesia Lawyers Club, wal hasil banyak masyarakat yang antipati dan merasa muak

serta ada senyelemen bahwa hukum dan penegakan hukum adalah panggung drama dengan aktor utama para pemangku jabatan legislatif, eksekutif , yudikatif dengan diproduseri oleh pengusaha. Dari proses lahirnya suatu aturan atau pada tahap legislasi, pelaksanaan, hingga penegakan hukum serat dengan kepentingan pihak-pihak tertentu. Prinsip Supremasi Hukum hanya sebatas kajian teoritik. Kekuasaan telah menjadi supremasi tertinggi. Penerapan hukum melenceng dari porosnya. Keadilan saat sekarang ini sangat susah memihak kepada masyarakat lemah pencari keadilan, seperti masyarakat kecil sering dikriminalisasi melalui pasal 378 jo 372 KUHP karena tidak mampu atau belum samggup untuk membayar hutang, masalah hutang-piutang berada pada ranah Perdata bukan Pidana, apa lagi dalam ikatan hubung bisnis, yang konyolnya lagi nominal hutangnya tidak melebihi Rp. 20jt, tetapi kenapa bisa dipidana dan mendekam ditahanan hingga habis masa penahanan 60 hari oleh Kepolisian, ditambah lagi lamanya menjadi tahanan kejaksaan dan pengadilan. Menggunakan oknum polisi atau TNI dalam meminta utang itu adalah hal yang biasa di negeri ini, tetapi mengkiminalisasi pengutang/debitur adalah bentuk pelanggaran HAM. Kasus-kasus pidana yang dilatar belakangi untuk mendapatkan sesuap nasi silih berganti, masih saja terjadi, memang betul hukum harus ditegakkan, tetapi apakah kasus pidana ringan yang dilakukan oleh orang yang belum makan dua tiga hari patut mendekam di penjara, dipidanakan, bukankah pada hukum itu ada kebijaksanaan. Kenapa apada koruptor ada kebijaksanaan yang luar biasa, bisa keluar masuk tahanan senaknya saja seperti Gayus Tambunan atau mendapat fasilatas VVIP (very very importen persone) seperti Artalita Suryani. Hal lain yang membuat kita miris adalah gejolak reformasi ternyata belum memberi dampak tegaknya wibawa lembaga yudikatif menjadi suatu lembaga yang bebas dari segal intervensi dan kepentingan. Dalam hal ini Mahkamah Agung (MA) dan lembaga-lembaga peradilan yang ada di bawahnya, seperti terlihat dalam keputusan-keputusan Mahkamah Agung (MA) berupa kasasi dan peninjauan kembali (PK) yang tidak dilaksanakan oleh pihak yang kalah dan lembaga peradilan pun tidak dapat berbuat apa-apa. Seperti kasus Penyerobotan Lahan Warga oleh TNI. Setelah 15 tahun bertarung di pengadilan, almarhum Soemardjo, warga Kelapa Gading menang melawan TNI Angkatan Laut (AL) dalam perebutan tanah seluas 20,5 ha di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Perlawanan warga yang memiliki lahan di RW 02, 03 dan 05 Kelapa Gading Barat ini sejak 1995. Mereka berturut-turut menang di semua tingkatan pengadilan yaitu di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara dalam putusan 11 Maret 1997, Pengadilan Tinggi (PT) DKI Jakarta

pada 9 April 1998, kasasi MA pada 17 Maret 1998 dan Peninjauan Kembali MA pada 14 Maret 2002. Alih-alih menaati putusan MA, TNI AL malah menyerobot tanah tersebut dengan membangun gedung serta menghalangi eksekusi pengadilan hingga saat ini. Kasus ini akhirnya terkatung- katung dan tidak ada kepastian hukum. Masih banyak lagi kasus-kasus lainnya seperti Kasus Susu Formula Berbakteri, Kasus Gereja Yasmin, Kepengurusan Kampus Trisakti dan masih banyak lagi. Semua ini memberikan kita sutu pertanyan, ada apa ? Putusan Pengadila Tertinggi di negeri ini begitu mudah diabaikan konon lagi pengadilan di bawahnya, antar lembaga/instansi pemerintah tidak saling menghargai dan mendukung untuk mewujudkan suatu negara yang berasaskan pada hukum dan UUD 1945 adalah hukum tertinggi yang menjadi tolak ukur. Kasus-kasus diatas merupakan fakta yang tak terbantahkan bahwa Negara Hukum Indonesia sedang keritis. Belum lagi prilaku para oknum penegak hukum (Polisi, Jaksa, Hakim dan Pengacara) yang dihiasi budaya korupsi dan rendahnya profesinalitas dalam bekerja, serta yang sangat menyakitkan hati rakyat, tidak berlakunya asas equality before the law (setiap orang berada dalam posisi yang sama di hadapan hukum) menjadi ciri negara hukum, yang harus di junjung tinggi dan ditegakkan. Lemahnya penegakan hukum ketika para pembesar dan orang berpengaruh dinegeri ini terjerat kasus hukum, seperti pada kasus BLBI, kasus dana talangan Bank Century, Skandal Wisma Atlet, Kasus Cek Pelawat, dan yang akan menyusul kasus Hambalang. Faktor Utama Kritisnya Negara Hukum Sesungguhnya banyak fator penyebab kritisnya Negara Hukum Indonesia. Krupsi merupakan faktor utama. Korupsi di Indonesia berkembang secara sistemik dan masif. Bagi banyak orang korupsi bukan lagi merupakan suatu pelanggaran hukum, melainkan sekedar suatu kebiasaan. Dampak dari korupsi ini pun tidak hanya merugikan negara dalam bentuk nominal yang besar, tetapi merusak tatanan kenegaraan kita. Lembaga-lembaga negara yang ada, dibentuk pada prinsipnya untuk kesejahteraan bangsa dan negara. Akibat korupsi yang meraja rela sendi negara hukum kian kritis. Begitu dahsyat akibat korupsi ini, hukum identik dengan padanan huruf yang melahirkan suatu aturan guna mengatur kehidupan bersama dan tidak bernilai ekonomi, kini menjadi padanan angka-angka yang bernilai ekonomi dan berdaya jual tinggi, misalkan dalam perumusan atau penggodokan suatu undang-undang, kesulitan bukan pada peyusunan draf RUU tetapi kesulitan

dalam menentuka nominal yang di dapat, jual beli pasal sudah menajdi rahasia umum. Seperti yang telah disampaikan, pada tataran supremasi hukum memiliki makna bahwa semua masalah diselesaikan dengan hukum, hukum sebagai pedoman tertinggi buka kekuasaan. Pada hakikatnya pemimpin tertinggi negara yang sesungguhnya bukanlah manusia, tetapi konstitusi yang mencerminkan hukum yang tertinggi. Sebagaimana Jimly Asshiddiqie berpendapat bahwa “ pengakuan normative mengenai supremasi hukum adalah pengakuan yang tercermin dalam perumusan hukum dan/atau konstitusi, sedangkan pengakuan empirik adalah pengakuan yang tercermin dalam perilaku sebagian terbesar masyarakatnya bahwa hukum itu memang „supreme‟”. Budaya korupsi telah menjadikan Kekuasaan sebagai supremasi tertinggi, hukum menjadi terbelakangi, hingga hilangnya rasa kemanusiaan. Kematian hati nurani, akibat paling parah dari budaya korupsi yang melibatkan berbagai pihak terkait, terjadi dengan sangat sistemik dan masifnya. Para pejabat/pemimpin bukan lagi memfokuskan diri kepada pengabdian diri kepada masyarakat, konon lagi untuk melindunginya. namun lebih kepada usaha menimbun harta untuk kesenangan dan kroni-kroninya. Pejabat publik bukan lagi melayani masyarakat, tetapi kebalikannya, minta dilayani masyarakat. Kita menyatakan sebagai sebagai suatu negara hukum, tepai tidak menjadikan hukum diats segalanya, roda pemerintahan berjalan berdasarkan kehendak penguasa, ada yang bermain cantik dan ada yang bermain brutal. Membangun Kesadaran Hukum Kolektif Negara Hukum Indonesia saat sekarang ini, ibarat seekor ikan yang sedang dalam proses pembusukan, baunya justru tidak tercuim diekor, tetapi dikepala. Memang ada segelitir kaum minoritas dari aparatur pemerintah dan penegak hukum yang jujur dan bersih, tetapi dewasa ini sangat susah dicari, ibarat seorang yang berada dikubangan lumpur, walau sebenarnya iya tidak bermain lumpur, karena kebetulan berada disana, sudah pasti ia akan bergumulan lumpur, baik karena jadi ikut bermain atau cuma terkena imbas orang-orang yang bermain lumpur tersebut. Tentunya orang-orang akan susah menilai dan membedakan antar yang satu dengan lainnya. J.E. Sahetapy dalam bukunya yang berjudul “Runtuhnya Etika Hukum” menuliskan : Presiden Pertama kita pernah berpendapat bahwa dengan sarjana hukum, revolusi tidak bisa digerakkan. Apakah ucapan bapak Proklamator itu benar atau tidak, biarlah para sejarawan yang menilai. Tetapi satu hal mulai tampak terhadap para sarjana hukum yakni mulai diragukan mutu wibawa, dan integritasnya, bahkan juga profesinya.

Pengandaiannya satu saja, yakni mutlak harus dibangun kesadaran hukum kolektif, baik kepada masyarakat/individu, pemerintah, pemangku jabatan, intitusi lainnya, para guru dan dosen, dan semua elem tanpa terkecuali. Kesadaran Hukum amat diperlukan untuk mewujudkan negara hukum sejati. Kesadaran hukum itu ada dua yaitu kesadaran hukum baik yaitu ketaatan hukum dan kesadran hukum buruk yaitu ketidak taatan hukum. Kesadaran hukum terbentuk dalam tindakan dan karenanya merupakan persoalan praktik, dengan kata lain kesadaran hukum sebagai perilaku dan bukan hukum sebagai aturan norma atau asas, kalo kesadaran hukum itu sebagai aturan, maka benar orang yang mengatakan norma/aturan di buat untuk dilanggar. Kesadaran hukum merupakan suatu perilaku, yang tumbuh dari kesadaran nilai-nilai yang ada dan terdapat dalam diri seorang manusia, sehingga ketika dia berbuat baik/berlaku positif itulah dia mentaati hukum atau sebaliknya berlaku negatif/buruk itulah dia melanggar hukum, maka dibutuhkan penanaman nilai-nilai kebaikan atau perilaku-perilaku baik, kemudia timbul pertanyaan siapa yang bertanggungjawab untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan tersebut? tentunya kita semua khususnya pemerintah. Selama ini baik secara langsung ataupun tidak dan disadari atau tidak disadari, kitalah pelaku penyemai nilai-nilai buruk tersebut, apakah kita sebagi pribadi ataupun sebagi institusi. Contoh kecil misalnya ketika saya mengendarai sepeda motor di perempatan jalan, pada saat itu tidak ada polantas mengawasi alias bertugas dan jalan agak sepi orang-orang didepan saya menerobos lampu merah, wal hasil terkadang saya pun ikut-ikutan menerobos lampu merah tersebut, tentunya kemungkinan para pengendara dibelakang saya akan mengikuti saya dan pengendara lainnya. Begitu juga sebaliknya ketika ada polantas yang mengawasi atau bertugas semua pengendara akan menaati aturan berkendaraan dengan baik, wal hasil jalan pun akan tertib dan lancar, karena bila melanggar akan ditindak oleh polantas tersebut. Masih banyak contoh kesadaran hukum yang lainnya, seperti budaya menyontek, prilaku PNS yang bolos, politik uang ketika pemilu, dan yang tidak kalah parahnya adalah adegium yang berlaku sekarang ini dalam birokrasi “ ada pulus mulus, tak ada pulus hangus ”. kok hangus ya! Mungkin karena menuggu suatu proses birokrasi yang lambat, sampai berganti kepala bagian pun mungkin belum selesai. Maka jangan heran kalau kondisi negara kita saat sekarang ini begini. Maka, sesungguhkah kita yang mengaku bertanah air dan tumpah darah satu yaitu Indonesia, rela membiarkan Negara Hukum kita tinggal semboyan dan hanya sebatas legal formal saja? Sungguhkah tidak ada upaya super kongkret untuk menyembuhkan penyakit super krinis ini?

Mohon dengan segala hormat, sinyelemen Negara Hukum yang sangat mengkhawatirkan dan kritis ini, benar-benar disikapi dan direfleksikan dalam-dalam! Ayo segera selamatkan Indonesia! Sumber Bacaan : - J.E. Sahetapy. 2009. Runtuhnya Etika Hukum. Kompas. Jakarta - Achmad Ali. 2009. Menguak Teori Hukum (Legal Teory) & Teori Peradilan (Jidicialprudance). Kencana. Jakarta. - Budi Winano. 2012. Kebijakan Publik “ teori, proses, dan studi kasus”. Buku Seru. Jakarta - http://wawan-junaidi.blogspot.com/2010/08/apa-itu-negara-hukum.html - http://boyyendratamin.blogspot.com/2011/07/mehamami-eksistensi-negara-hukum.html - Dll

JAKARTA, KOMPAS.com -- Hukum yang lemah menjadi pemicu utama timbulnya berbagai kasus kekerasan di Indonesia, termasuk oleh kelompok atau organisasi kemasyarakatan (ormas) tertentu. Karena itu, tak ada jalan lain untuk menanggulangi masalah ini kecuali dengan menegakkan hukum secara adil dan tegas. Hal itu disampaikan Dosen Pendidikan Kewarganegaraan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Didin Syafruddin, Senin (20/2/2012) di Jakarta. Sebagaimana diberitakan, masyarakat kian resah oleh berbagai aksi kekerasan oleh kepompok atau ormas, sebagian bahkan atas nama agama. Selain mengganggu ketertiban umum, kekerasan yang dibiarkan terus-menerus itu juga akan semakin melemahkan cita-cita mewujudkan Indonesia sebagai negara hukum. Didin mengingatkan, Negara Kesatuan Republik Indonesia dibentuk sebagai negara hukum berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Karena itu, seluruh kehidupan berbangsa dan bernegara diatur dengan patokan hukum sebagai panglima. Ketika terjadi masalah yang mengusik ketertiban umum, negara harus hadir dan menggunakan hukum untuk mengatasi masalah. Hanya saja, cita-cita itu masih belum terwujud. Pada satu sisi, kepolisian sebagai lembaga penjaga ketertiban dan keamanan di masyarakat belum berperan maksimal. Saat bersamaan, akibat kecewa dengan kinerja kepolisian, beberapa kelompok atau ormas memilih pendekatan kekerasan untuk menerapkan konsep moralnya.

Dalam situasi seperti ini, sebagian masyarakat mendesak pembubaran ormas yang dinilai punya rekam jejak berperilaku kekerasan. Namun demikian, menurut Didin, itu bukan jalan keluar terbaik. "Solusi yang benar adalah, bagaimana negara lewat kepolisian dan aparat penegak hukum meningkatkan kinerjanya dalam mewujudkan penegakan hukum yang tegas dan adil. Terapkan itu, termasuk dengan memproses hukum kasus-kasus kekerasan oleh ormas," katanya. Menurut Didin, aparat penegak hukum harus menegakkan hukum dan mendidik masyarakat agar sama-sama membangun NKRI berdasar Pancasila dan UUD 1945. "Tidak bisa sekelompok orang atau ormas memaksakan konsep moralnya kepada masyarakat lain," ujarnya. Editor : Nasru Alam Aziz

Kasus Pemberian Grasi kepada Corby: SBY Melanggar Hukum dan Konstitusi?
OPINI | 23 May 2012 | 17:24 Dibaca: 709 Komentar: 4 Nihil

Schapelle Corby adalah warga Negara Australia. Ia ditangkap membawa ganja seberat 4 Kg di Bandar udara Ngurah Rai, Bali, pada Oktober 2004. Karena perbuatannya itu, Pengadilan Negeri Denpasar mengganjar Corby 20 tahun penjara karena terbukti menyelundupkan ganja dari Australia. Corby kini mendekam di Lembaga Permasyarakatan Kerobokan Bali. Setelah menjalani masa hukuman kurang lebih 7 tahun, Pemerintah Indonesia memberikan Grasi atau pengampunan hukuman kepada Schapelle Corby sebanyak lima tahun penjara. Pengajuan Grasi oleh pihak pengacara Corby tersebut dilakukan karena yang bersangkutan dinyatakan mengalami gangguan jiwa oleh dua dokter berbeda. Namun demikian, alasan pemberian grasi oleh Presiden justru berbeda dengan apa yang disampaikan oleh pihak Corby. Menurut Staf khusus Presiden bidang Hubungan Internasional Teuku Faizasyah, pemberian grasi kepada terpidana kasus narkotika Schapelle L. Corby dilakukan dalam rangka hubungan diplomatik. Dalam kaitan ini, pemerintah berharap adanya asas respirokal dari pihak Australia. Dan pertimbangan lainnya adalah aspek kemanusiaan. Namun demikian, pemberian grasi kepada Corby tidak secara serta merta mendapatkan jaminan adanya balas jasa dari pemerintah Australia, terutama terhadap warga negara Indonesia yang tersangkut kasus hukum di negeri Kangguru itu.

Terkait dengan pemberian grasi tersebut, sejatinya dapat diduga bahwa sebenarnya pemberian grasi kepada terpidana narkotika Schapelle Corby di Bali dinilai tidak terlepas dari tekanan diplomasi dari pemerintah Australia. Tindakan itu menggambarkan, bagaimana pemerintah Australia begitu perhatian terhadap warga negaranya. Walaupun Corby jelas terlibat kasus Mariyuana dan merupakan jaringan Narkotika internasional. Tapi pemerintah Australia sama sekali tidak malu melindungi warganegara. Hal tersebut menunjukkan bahwa perlindungan pemerintah Australia kepada Corby tidak melihat latar belakang persoalan kasus hukumnya. Hal ini sungguh berbeda dengan pemerintah Indonesia yang selalu terlebih dahulu melihat persoalan kasusnya dan malah terkadang membiarkannya. Bentuk intervensi pihak asing (dalam hal ini Australia) menggambarkan bahwa Indonesia sama sekali lemah, bahkan tidak berdaulat secara hukum maupun politik. Apalagi jika dikaitkan dengan kebijakan pemerintah dalam hal penegakan hukum. Pemerintah padahal telah berkomitment bahwa perkara narkotika adalah termasuk sebagai salah satu perkara yang diketatkan untuk diberikan remisi. Dua perkara lainnya adalah soal teroris dan korupsi. Pemberian Grasi kepada Corby dalam konteks ini jelas menggambarkan bahwa Presiden telah melanggar komitmentnya sendiri terhadap masalah penegakan hukum. Bahkan diduga Presiden SBY telah melanggar hukum terkait pemberian Grasi atau pengampunan kepada Schapelle Leigh Corby. Secara Yuridis Pemberian Grasi oleh Presiden bertentangan dengan kebijakan pengetatan atau moratorium pemberian remisi kepada napi korupsi, narkotika, terorisme dan kejahatan transnasional sebagaimana diatur PP Nomor 28/2006. Pemberian Grasi ini juga dianggap sebagai bukan langkah yang bijaksana dari seorang presiden dalam hal pemberantasan narkotika di Indonesia. Bahkan dalam sejarah di Indonesia, pemberian grasi ini merupakan kali pertama seorang presiden memberikan grasi untuk narapidana narkotika. Jika alasannya faktor kemanusiaan, padahal selama lima tahun Corby telah mendapatkan sejumlah remisi dari pemerintah Indonesia karena dianggap berkelakuan baik selama berada dalam lembaga permasyarakatan. Dalam konteks pertimbangan masalah kemanusiaan itulah yang tidak tepat atau tidak sesuai sebagai salah satu dasar pemberian Grasi seperti yang dikemukakan oleh staf khusus Presiden. Diduga, kecaman publik terhadap pemberian grasi oleh Presiden SBY kepada narapidana narkotika internasional ini akan secara massif diopinikan oleh berbagai kalangan, termasuk

dalam hal ini sejumlah tokoh seperti ahli hukum tata negara prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra telah memberikan rilisnya kepada publik tentang dugaan pelanggaran hukum presiden SBY tersebut. Sementara politisi Senayan, dalam hal ini anggota komisi III, Ahmad Yani, juga sepakat bahwa pemberian Grasi tersebut perlu dipertanyakan. Karena proses pemberian grasi tentunya melalui mekanisme pertimbangan hukum Mahkamah Agung. Kuat dugaan, menurut Ahmad Yani, Presiden SBY tidak melakukan proses pertimbangan hukum tersebut kepada MA. Sebab jika ditelaah, pemberian Grasi jika diletakkan dalam pertimbangan hukum, sebenarnya sudah jelas terkait dengan konstruksi peraturan presiden tentang komitmentnya terhadap kasus-kasus hukum yang merusak harkat dan martabat bangsa, yakni, kasus tindak pidana terorisme, Korupsi dan Narkotika seperti yang tertuang dalam PP Nomor 28/2006. Persoalan ini juga akan meluas dan akan menjadi kompleks, mengingat kebijakan pemberian Grasi sudah terlanjur dikeluarkan oleh Presiden. sementara, kuat dugaan, resistensi publik terhadap kebijakan pemberian Grasi ini akan memberikan tekanan politik baru kepada Presiden SBY. Tekanan tersebut akan datang dari para praktisi dan pengamat hukum serta aktivis atau pegiat anti Narkoba. Dalam konteks ini opinion leader sudah dikemukakan oleh oleh pakar hukum tata negara Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra terkait ketidaksetujuannya terhadap pemberian grasi tersebut. Dan dari politisi Senayan, opinion leader sudah dikemukakan oleh komisi III melalui Ahmad Yani. Sementara disisi lain, pemerintah Australia akan terus melakukan diplomasi dan menekan presiden SBY untuk konsisten dengan sikapnya yang sudah memberikan grasi tersebut. Bagi dunia Internasional, pemberian grasi ini juga akan memberikan dampak negatif. Dampak negatif tersebut berupa opini publik bahwa pemberian grasi oleh Presiden kepada narapidana Internasional menunjukkan bahwa Indonesia sudah tidak lagi memiliki komitment untuk memerangi narkoba sebagai musuh bersama dunia. Artinya persoalan pemberian Grasi kepada narapidana narkoba internasional itu, justru akan kontra produktif terhadap citra presiden SBY serta malah akan mencemarkan kredibilitas Indonesia dimata dunia internasional. Jakarta Pemberian grasi kepada terpidana narkoba asal Australia, Schapelle Corby oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terus menuai kontroversi. Banyak pihak mempertanyakan grasi terhadap pembawa ganja seberat 4,2 kg itu apakah sudah memenuhi rasa keadilan masyarakat atau belum.

Berikut pendapat para ahli hukum atas grasi Corby dalam catatan detikcom, Rabu (31/5/2012):

1. Prof Mahfud MD Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta yang juga Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD mempertanyakan persoalan komitmen dan moral.

"Itu sah kewenangan presiden. Cuma persoalannya bukan konstitusi. Ada persoalan komitmen, moral keadilan dan sebagainya. Di luar sah tidak sah. Seumpamanya saya yang mengeluarkan (grasi), saya tidak akan mengeluarkan. Karena narkoba itu sungguh bahaya," kata Mahfud MD usai acara peluncuran buku "Negeri Mafia, Republik Koruptor' di Manggala Wanabakti, Jakarta, Jumat (25/5) lalu.

2. Prof Hikmahanto Juwana Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana dengan tegas menyatakan Presiden SBY yang memberikan grasi terhadap terpidana narkoba, Schapelle Corby, berpotensi melanggar sumpah presiden.

"Pemberian grasi kepada Corby berpotensi melanggar sumpah presiden untuk menjalankan undang-undang dan peraturan pelaksanaanya selurus-lurusnya," ujar Hikmahanto, Minggu (27/5) lalu.

3. Prof Soetandyo Wignyosoebroto Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair) Soetandyo Wignyosoebroto mempertanyakan apakah grasi terhadap Corby sebagai diberikan Presiden SBY sebagai kepala negara atau sebagai kepala pemerintahan.

Menurut penyabet penghargaan HAM Yap Thiam Hiem 2011 ini, presiden tidak boleh menggunakan alasan soft diplomacy dengan negara Australia. Sebab soft diplomacy merupakan kewenangan kepala pemerintahan.

"Kalau alasannya seperti itu, kan berbahaya. Soft diplomacy itu kan politik. Tidak boleh grasi

diberikan dengan alasan itu. Kalau benar seperti itu, Presiden SBY bermuka dua," tandas Soetandyo.

4. Prof Jimly Asshiddiqie Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Indonesia (UI) yang juga mantan Ketua MK, Jimly Asshiddiqie menyatakan grasi tidak lagi hak prerogratif presiden. Sebab hak tersebut warisan raja. Oleh karenanya dia meminta Presiden SBY menjelaskan ke publik.

"Tidak tepat lagi disebut hak prerogatif, itu zaman raja-raja. Hak prerogatif itu kan mutlak. Tidak cocok dipakai lagi istilah itu, sekarang check and balances. Mungkin kurang penjelasan pemerintah. Saya rasa pemerintah harus menjelaskan lagi," kata Jimly, Rabu (30/5) kemarin.

5. Prof Gayus Lumbuun Guru Besar Hukum Administrasi Negara (HAN) Universitas Krisna Dwipayana, Jakarta yang juga hakim agung, Gayus Lumbuun menyatakan grasi merupakan keputusan pejabat pemerintah yang bisa digugat ke pengadilan. Oleh karenanya untuk membenarkan kebenaran grasi tersebut bisa dibuktikan lewat pengadilan yang bersih.

"Diperlukan fair trial pada gugatan di PTUN walaupun pengadilan itu di bawah MA," kata Gayus dalam pesan pendek kepada detikcom, Rabu (30/5) kemarin.

6. Prof Yusril Ihza Mahendra Guru Besar Hukum Tata Negara UI yang juga mantan Menteri Kehakiman dan HAM, Yusril menyatakan langkah Presiden SBY memberikan grasi kepada Corby, memecahkan rekor sepanjang Indonesia merdeka. Sebab selama Indonesia berdiri, baru kali ini seorang presiden memberikan remisi kepada terpidana narkotika.

"Saya heran, mengapa Presiden Indonesia begitu lemah menghadapi permintaan Pemerintah Australia sehingga dengan mudahnya mengampuni napi narkotika yang dapat memberikan dampak buruk bagi harkat dan martabat bangsa," ujar mantan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) ini.

7. Dr Akil Mochtar Doktor hukum pidana yang juga hakim konstitusi, Akil Mochtar secara pribadi tidak sepakat dengan pemberian grasi kepada Corby. Kebijakan presiden dalam pemberian grasi tersebut juga dinilai bisa digugat.

"Menurut saya pribadi, Corby itu tidak layak mendapat grasi," ujar Akil usai mengikuti acara Kongres Pancasila di Kompleks DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Rabu (30/5) kemarin.

(asp/mok) SELASA, 29 MEI 2012 [Indonesia-Rising] Grasi Corby Berbuah Interpelasi - Grasi Corby, Preseden Buruk Hukum Indonesia - Grasi Corby Bukti Kebingungan dan Kelemahan RI

Grasi Corby Berbuah Interpelasi http://www.gatra.com/hukum/31-hukum/13207-grasi-corby-berbuah-interpelasi Tuesday, 29 May 2012 06:03 Seorang Corby mampu memanaskan dan mendinginkan hubungan dua negara. Padahal ia adalah seorang narapidana kasus narkotika, yang menjadi musuh masyarakat di setiap negara. Itulah sosok wanita asal Australia bernama lengkap Chapelle Leigh Corby. Ia dipenjara di Indonesia lantaran kedapatan membawa 4 kg ganja saat memasuki Pulau Bali beberapa tahun lalu. Tiba-tiba Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan grasi (pemotongan masa tahanan) hingga 5 tahun kepada Corby. Si Ratu Mariyuana berumur 34 tahun itu pun menjadi buah bibir di Indonesia dan Australia. Kontan saja, keputusan presiden itu menuai protes berbagai pihak. Pasalnya, kejahatan kasus narkoba termasuk dalam kategori kejahatan kelas kakap yang tak terampuni, lantaran bisa merusak moral generasi muda.

Ironisnya, baru saja Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia mengeluarkan moratorium remisi bagi napi dalam kasus korupsi dan narkoba. Karena itu, keputusan presiden yang memberikan grasi selama lima tahun kepada Corby dinilai kontraproduktif dengan kebijakan Menteri Hukham tentang pengetatan pemberian remisi dan pembebasan bersyarat, yang berlaku bagi terpidana kasus korupsi, terorisme dan narkoba. Tak pelak, urusan si Corby ini bergulir ke ramah politik. Tak pelak, urusan si Corby ini bergulir ke ramah politik. Sejumlah anggota parlemen berencana menggalang pengajuan hak konstitusionalnya dengan bertanya atas kebijakan presiden. Kebijakan pemerintahan SBY di bidang hukum ini akhirnya berujung pada proses pengajuan hak interpelasi oleh Anggota Dewan. Anggota Komisi Hukum DPR dari Fraksi Partai Hanura Sarifuddin Suding mengatakan, pihaknya telah melakukan mobilisasi dukungan lintas fraksi untuk mengajukan hak interpelasi. "Ini suatu hal yang mendasar tentang pemberian grasi dan ini catatan hitam. Jangan kemudian ada hak yang menghancurkan bangsa," ungkap Suding kepada wartawan di Jakarta, Senin (28/5/2012). Suding meminta secara langsung kepada Presiden SBY untuk menjelaskan pemberian grasi kepada Corby. Ia beralasan, grasi merupakan kewenangan presiden, bukan Menteri Hukum dan HAM. "Keputusan akhir ada di presiden," ujarnya. Sementara Wakil Ketua Komisi Hukum DPR Nasir Djamil mengatakan, pihaknya akan memanggil Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin terkait kebijakan Presiden SBY memberikan grasi kepada terpidana Corby asal Australia. Menurutnya, meski grasi merupakan hak konstitusional presiden, namun harus mendapat persetujuan dari Mahkamah Agung (MA). "Di sini ada ruang untuk mengajukan interpelasi," ujar Nasir. Persyaratan hak interpelasi kepada pemerintah sekurang-kurangnya diajukan oleh 25 anggota DPR terkait kebijakan pemerintah yang dianggap perlu dipertanyakan parlemen. Sejak era reformasi, parlemen kerap melakukan pengajuan hak interpelasi. Di era Presiden SBY ini sejumlah kebijakan berujung interpelasi DPR. Kini, giliran Corby, terpidana narkoba yang mendapat fasilitas grasi menjadi pemantik interpelasi. (HP)

Grasi Corby, Preseden Buruk Hukum Indonesia Tuesday, 29 May 2012 05:20

Jakarta - Gerakan Anti-Narkotika (Granat) menilai, langkah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan grasi kepada terpidana kasus narkotika asal negara Australia, Schapelle L Corby, akan menjadi preseden buruk pada penegakan hukum Indonesia di mata dunia. "Ini (pemberian grasi kepada Corby, Red.) akan menjadi preseden buruk terhadap hukum negeri ini," nilai Ketua Granat, Henry Yosodiningrat, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (24/5).

Selain menjadi preseden buruk, tegas Henry, kebijakan itu merupakan sikap ketidakonsistenan SBY dan sangat memalukan bangsa Indonesia, sehingga untuk menegakkan kembali kehormatan Indonesia di mata dunia, harus menuntut SBY agar membatalkannya.

Menurutnya, karena Corby diberikan grasi, mungkin besok atau lusa, sejumlah terpidana kasus narkotika dari berbagai negara yang tengah menjalani hukuman di Indonesia akan meminta hal yang sama kepada Presiden SBY.

"Mau dikasih seperti Corby. Kalau ga dikasih, lho ko Corby saja dapat, kenapa ga dikasih. Besok yang tindak pidana narkoba, Corby saja yang warga negara asing dikasih, ko saya tidak pak de, apa bedanya?" ucapnya mempertanyakan.

Dikatakan Henry, ia pernah bertanya kepada Menkumham, Denny Indrayana, mengapa Presiden SBY memberikan grasi kepada terpidana narkotika yang menjadi musuh besar selain korupsi dan pencucian uang.

"Denny bilang, karena sebetulnya pemerintah Australia sudah melakukan hal seperti ini duluan, yakni membebaskan tahanan anak-anak," kata Hendry, menirukan ucapan Denny.

Mendapat jawaban seperti itu, Hendy menegaskan, pertama, pembebasan anak-anak oleh pemerintah Australia, kasusnya berbeda dengan kasus yang dilakukan Corby. Pasalnya, menurut

hukum negara itu, memang anak-anak harus bebas.

"Kedua, atas desakan masyarakat Australia, nelayan-nelayan yang tertangkap diekstradisi saja dan diadili di negaranya karena merepotkan, mereka ga mau ngasih makan. Jadi berbeda dengan Corby, sodara-sodara kita yang ditahan di sana bukan pelaku tindak kejahatan seperti Corby, belum atau tidak ada putusan yang menyatakan mereka bersalah," bebernya.

Dituturkan Henry, sesuai pengakuan Denny, keputusan Presiden SBY memberikan grasi kepada Corby bukan karena atas tekanan pemerintah Australia. Meski demikian, ada pembicaraan antara pemerintah Indonesia dengan Australia, namun tidak secara spesifik membahas grasi Corby.

"Kalau begitu, SBY saja yang kegenitan, memberikan grasi ke Corby," pungkasnya. [IS] Grasi Corby Bukti Kebingungan dan Kelemahan RI Tuesday, 29 May 2012 05:15 Jakarta - Grasi berupa pemotongan lima tahun masa hukumban yang diberikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kepada terpidana kasus narkoba kelahiran Brisbane Australia, Schapelle Leigh Corby, 34 tahun, sangat membingungkan. "Harusnya, kan didahului dengan ikatan perjanjian saling menguntungkan atau untuk pertukaran kepentingan yang tepat antar kedua belah pihak, sehingga tidak menunjukkan kebingungan maupun kelemahan RI terhadap grasi tersebut," kata Ketua Dewan Direktur Lembaga Kajian Publik Sabang-Merauke Circle (SMC) Syahganda Nainggolan, di Jakarta, Kamis (24/5).

Karena tanpa diawali ikatan perjanjian, Syahganda menilai, keputusan orang nomor satu negeri ini menyimpan misteri latar belakang penerbitan keputusan tersebut.

"Dalam kesempatan Sidang Kabinet pada 2011, Menkopolhukam Joko Suyanto menyatakan, Presiden SBY tidak akan mengampuni para terpidana kasus terorisme, narkoba, dan korupsi, kecuali atas pertimbangan kemanusiaan dan khusus bagi yang berusia di atas 70 tahun. Nah, untuk Corby yang masih muda ini, alasan sebenarnya apa," ucap kandidat doktor ilmu kesejahteraan sosial Universitas Indonesia ini.

Terlebih, sejak tertangkap basah di Bandara Ngurah Rai, Bali, 8 Oktober 2004, Corby menyelundupkan 4,2 kilogram narkoba jenis ganja atau mariyuana. Saat penyidikan dan persidangan mantan pelajar kecantikan dan anak kandung Michael Corby itu, pernah terseret kasus peredaran ganja pada awal 1970-an yang tak pernah diakui, hingga akhirnya diganjar 20 tahun kurungan penjara.

"Karenanya, kasus grasi Corby ini terbilang aneh, sekaligus hanya mempertontonkan kebingungan RI di hadapan rakyatnya serta di mata negara lain yang bersikap keras dalam menghukum kejahatan narkoba," tegasnya.

Sikap melempem pemerintahan SBY dalam menangani kasus Corby, akan semakin memperparah ketidakberdayaan RI dalam memberantas kejahatan internasional di bidang narkotika dan sejenisnya.

"Itu karena kita selalu mudah membungkuk pada tekanan pihak tertentu, yang kemudian membuat sikap politik ataupun penegakan hukum jadi kacau-balau, serta sekadar dijadikan olokolokan berbagai pihak," pungkasnya. [IS]
KAMIS, 17 DESEMBER 2009

Ada Dugaan Pelanggaran Konstitusi dalam Kasus Bank Century
Pemberian imunitas melalui Perpu No 4 Tahun 2008 dipersoalkan. SAM Dibaca: 1351 Tanggapan: 1 Skandal bank Century ternyata tidak hanya menguapkan dugaan pelanggaran kebijakan dan tindak pidana korupsi. Dalam kasus yang beberapa bulan terakhir menyita perhatian publik ini, ternyata ada juga dua bentuk pelanggaran konstitusi. Hal tersebut diungkapkan Johan O Silalahi, Presiden Negarawan Center dalam sebuah diskusi di gedung DPR, Rabu (16/12). Menurut Johan, pelanggaran konstitusi pertama adalah ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perpu) No 4 Tahun 2008 tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan pada 15 Oktober 2008. Presiden dituding melanggar Konstitusi karena melalui Pasal 29 Perpu No 4 Tahun 2008 memberikan kekebalan hukum kepada Menteri keuangan, Gubernur Bank Indonesia dan/atau semua pihak yang menjalankan Perpu ini.

―Presiden tidak punya wewenang dan hak. Bagaimana Presiden bisa memberikan kekebalan hukum terhadap orang lain. Terhadap dirinya saja ia tidak bisa memberikan kekebalan hukum menurut Konstitusi,‖ tegasnya. Bentuk pelanggaran konstitusi lainnya adalah ketika Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan tidak puas terhadap hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Sikap Sri, menurut Johan, sama saja mengabaikan Konstitusi, khususnya Pasal 23E ayat (1) dan (3). Sri juga dinilai telah melecehkan tugas, tanggung jawab, wewenang dan kewibawaan BPK dengan tidak mematuhi hasil audit investigatifnya. ―Bagaimana mungkin seorang pembantu Presiden (Menteri) bisa tidak percaya terhadap hasil audit BPK yang kewenangan pembentukannya diatur dalam Konstitusi,‖ ujarnya. Johan juga mengaku heran ketika ketidakpuasan Sri Mulyani diikuti dengan permintaan agar BPKP melakukan audit. Langkah ini, lanjutnya, seharusnya dilakukan sebelum BPK menggelar audit. ―Wibawa dari BPK dipertaruhkan disini,‖ ujarnya. Pasal 23E ayat (1): Untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab tentang keuangan negara diadakan suatu Badan Pemeriksa Keuangan negara yang bebas dan mandiri ayat (3): Hasil pemeriksaan tersebut ditindaklanjuti oleh lembaga perwakilan dan/atau badan sesuai dengan undang-undang Equality before the law Pandangan Johan diamini Anggota Komisi III DPR Chairuman Harahap. Mantan Jaksa ini berpendapat prinsip equality before the law harus ditegakkan. ―Harus ada kesamaan,‖ tegasnya. Menurut Chairuman, penyelenggara negara saat ini memang cenderung mengambil jalan pintas untuk mewujudkan keinginannya. Salah satu jalan pintas itu adalah menerbitkan perpu. ―Perpu yang sebenarnya oleh UUD diberikan dengan batasan-batasannya. Harus ada kegentingan yang memaksa sehingga mengakibatkan penyelenggaraan negara tidak bisa dijalankan,‖ jelasnya. Penggunaan perpu, kata Chairuman, bisa berakibat fatal apabila ternyata dijadikan instrumen untuk meniadakan kekuasaan legislatif, Yudikatif, atau bahkan memberikan kekuasaan dan kekebalan hukum bagi diri presiden atau pihak lain. Chairuman mengatakan presiden seharusnya segera mencabut Perpu No 4 Tahun 2008, karena faktanya DPR telah menolaknya pada sidang paripurna 18 Desember 2008 lalu. ―Pencabutan perpu tersebut adalah formil tugas presiden, namun tidak berlakukanya perpu adalah pada saat ditolak. Jika Presiden tidak mengajukan RUU pengganti perpu tersebut, berarti ia tidak menjalankan kewajibannya menjalankan undang-undang selurus-lurusnya,‖ paparnya. Ke depan, menurut Chairuman, praktek kenegaraan seperti ini perlu diperbaiki agar tidak mengarah bentuk kediktatoran. ―Kita harus mencegah terjadinya kediktatoran dalam negara kita. Penyelenggara negara harus sesuai dengan Konstitusi. DPR akan mengawal dan mengingatkan pemerintah dalam hal ini,‖ tegasnya.

RABU, 19 SEPTEMBER 2012

Status Kasus Century Tunggu Ahli dan BPK
Dua ahli menolak memberikan pendapat. RFQ Dibaca: 33 Tanggapan: 0
   

Share:

Meskipun sejumlah anggota DPR terus melayangkan kritik, dan prosesnya sudah berjalan tiga tahun, status penanganan kasus Century di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) belum beranjak dari penyelidikan. KPK ingin benar-benar kasus itu dilihat dari sisi hukum, bukan kemauan politik anggota DPR. Saat memberikan penjelasan kepada anggota Tim Pengawas Kasus Century (Timwas) di Senayan, Rabu (19/9), Ketua KPK Abraham Samad mengatakan kasus Century masih tetap tahap penyelidikan. KPK belum bisa meningkatkan perkara ke penyidikan. Samad beralasan KPK masih menunggu keterangan ahli dan pandangan tertulis Badan Pemeriksa Keuangan. KPK telah mengirimkan surat permohonan pendapat dari belasan ahli, termasuk ahli hukum. Ternyata, tak semua ahli bersedia. Menurut Samad, dua orang ahli sudah tegas menolak memberikan pendapat. Hingga kini baru empat orang ahli yang bersedia memberikan keterangan ahli secara tertulis. Samad enggan membeberkan identitas namanama ahli dimaksud. Dari BPK, kata Samad, KPK tak hanya membutuhkan hadil audit Century. Komisi masih membutuhkan keterangan tambahan tertulis dari lembaga negara yang bertugas melakukan audit itu. BPK sudah berjanji memberikan keterangan tertulis beberapa hari ke depan Hambatan lain berupa pemeriksaan Siti Fajriyah. Mantan Deputi Pengawasan Bank Indonesia (BI) ini dianggap tahu banyak seputar kondisi Bank Century sebelum dana talangan dikucurkan. Fajriyah diketahui sedang sakit. Anggota Timwas Century, Trimedya Panjaitan, berpendapat jika BPK dan para ahli sudah menyampaikan keterangan tertulis, cukup alasan bagi KPK mengambil keputusan. Trimedya yakin kasus ini akan berlanjut ke penyidikan. Akbar Faisal, juga anggota Timwas, berpendapat pelanggaran dalam kasus Century sudah terang benderang, tinggal meminta tanggung jawab. Pihak Bank Indonesia disebut Akbar termasuk yang harus dimintai tanggung jawab. Bank sentral inilah yang menyatakan kasus Bank Century berdampak sistemik, meskipun pemerintah tidak mengatakan demikian.

“Yang harus bertanggungjawab adalah BI. Termasuk gubernur dan anggota dewan gubernur yang rapat-rapat. Harus ada yang bertanggungjawab dalam kasus ini,” katanya.
Share:

Grasi Corby Salah Satu Bentuk Diplomasi Hukum
Sabtu, 26 Mei 2012 | 05:16 WIB Dibaca: 6746 Komentar: 49

KOMPAS/HENDRA A SETYAWANMenteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM), Amir Syamsuddin

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin menegaskan bahwa pemberian grasi terhadap terpidana kasus narkoba asal Australia Schapelle Leigh Corby merupakan salah satu bentuk diplomasi di bidang hukum. "Seperti berulang kali saya katakan, kebijakan dan diplomasi yang sama sudah kita lakukan terhadap narapidana beberapa negara seperti Malaysia serta Arab Saudi, dan telah menghasilkan hal positif," kata Amir Syamsuddin di Jakarta, Jumat (25/5/2012).

Dengan diplomasi seperti ini, menurut dia, telah banyak sekali Warga Negara Indonesia (WNI) yang mendapat hukuman berat bahkan hukuman mati telah mendapat pengampunan. "Seperti perhatian langsung dari Dewan Raja-raja di Malaysia (untuk kasus-kasus TKI di Malaysia) dan Raja Arab Saudi secara khusus turun tangan (untuk kasus TKI di Arab Saudi)," ujar Amir. Sehingga, menurut dia, bukan sesuatu yang salah jika kebijakan serupa diterapkan terhadap Australia. Sehingga pengurangan hukuman selama lima tahun berupa grasi dapat dinikmati oleh seorang bernama Corby (Schapelle Leigh Corby). "Banyak WNI di penjara di Australia. Tapi paling tidak, mudah-mudahan pengalaman Indonesia (diplomasi bidang hukum) di negara lain juga berhasil di sana (di Australia)," ujar dia. Ia menyambut baik mulai adanya pejabat resmi Pemerintah Australia yang berbicara terkait grasi yang diberikan kepada Corby. "Alhamdulillah mereka (Pemerintah Australia) mulai berbicara (soal grasi Corby)". Untuk itu, Amir mengatakan jika memang ternyata kebijakan yang diambil memiliki manfaat besar dari apa yang sebelumnya diharapkan terhadap satu hal, sah-sah saja apabila pihak Indonesia melakukan pengecualian-pengecualian terhadap satu kebijakan.

Sumber :

ANT
Editor :

Hertanto Soebijoto

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Amir Syamsuddin mengatakan, pemberian grasi kepada terpidana kasus narkotika asal Australia, Schapelle Leigh Corby, merupakan suatu pengecualian di tengah kebijakan pengetatan remisi dan pembebasan bersyarat untuk pelaku tindak pidana luar biasa. Grasi Corby, menurut Amir, menjadi pengecualian karena hal tersebut dianggap memberikan manfaat yang besar bagi Indonesia. "Mana kala ada suatu manfaat besar

yang kita harapkan, saya kira sah-sah saja kita lakukan pengecualian-pengecualian," kata Amir di Jakarta, Jumat (26/5/2012). Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyetujui pemberian grasi kepada Corby dengan mengurangi masa tahanannya selama lima tahun penjara. Corby, model Australia diputus bersalah atas tuduhan kepemilikan 4,2 kilogram ganja dan divonis 20 tahun penjara di Pengadilan Negeri Denpasar, Bali, 27 Mei 2005. Pemberian grasi untuk Corby tersebut menjadi tidak konsisten mengingat pemerintah melalui Kementerian Hukum dan HAM mengeluarkan kebijakan pengetatan remisi dan pembebasan bersyarat untuk terpidana kejahatan luar biasa, seperti korupsi, narkotika, dan terorisme. Menurut Amir, grasi terhadap Corby merupakan kewenangan presiden. Grasi itu diberikan sebagai bentuk politik diplomasi yang dijalin pemerintah Indonesia dengan Australia. Amir pun mengklaim kalau pemerintah Australia merespon baik pemberian grasi untuk warga negaranya tersebut. "Alhamdulilah, dua-tiga hari ini kita mendengarkan pejabat-pejabat Australia itu sudah mau bicara, bahkan dia sudah mengatakan tanpa dibebaskannya pun si Corby ini, warga negara kita akan diperhatikan. Saya berasumsi bahwa reaksi sebagus itu tidak luput dari diplomasi yang kita jalankan itu," ujar Amir. Melalui grasi ini, menurut Amir, pemerintah berharap Australia akan membalasnya dengan membebaskan anak-anak nelayan Indonesia yang dihukum di sana karena menyelundupkan migran ilegal ke Australia. "Paling tidak, pengalaman negara-negara kita dan pengalaman kita di negara-negara lain juga bisa terulang keberhasilannya di Australia, itu saja," ucapnya. Berdasarkan pengalaman selama ini, menurut Amir, kebijakan diplomasi seperti pemberian keriganan hukuman kepada warga negara lain ini cenderung membuahkan hasil positif.
Editor :

Laksono Hari W

Grasi Corby, Catatan Hitam Pemerintahan SBY
Penulis : Hindra Liu | Jumat, 25 Mei 2012 | 16:32 WIB Dibaca: 5236

Komentar: 29

Robert Adhi Kusumaputra/KOMPAS

Setara Institute's chairman Hendardi

TERKAIT:      Grasi untuk Corby Tindakan Paling Ironis Pemerintah Indonesia Harus Bisa Bebaskan WNI di Australia Granat Akan Menggugat Grasi Corby Grasi Corby Tak Berpihak pada Pemberantasan Narkoba Grasi Corby, Diplomasi Perlindungan WNI

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Badan Pengurus Setara Institute Hendardi mengatakan, pemberian grasi selama 5 tahun terhadap terpidana kasus narkotika Schapelle Corby menambah catatan hitam pemerintahan Indonesia. Hendardi mengatakan, pemberian grasi terhadap terpidana asal Australia yang divonis 20 tahun penjara ini tidak transparan. "Kalau satu saja bandit marijuana mampu menjadi komoditas government to government untuk alasan yang tidak transparan, tidak heran jika koruptor merasa aman tenteram di negeri serba kompromi ini," kata Hendardi melalui pesan singkat, Jumat (25/5/2012). Hendardi mengatakan, pemberian grasi ini tak lepas dari upaya gigih pemerintah Australia untuk menyelamatkan warga negaranya yang terjerat kasus hukum di negara asing. Hal ini bertolak belakang dengan upaya pemerintah Indonesia melindungi WNI di luar negeri, terutama tenaga kerja Indonesia (TKI). Sebelumnya, anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan Ahmad Yani menilai, pemberian grasi bertentangan dengan kebijakan pemerintah yang mencanangkan moratorium pemberian remisi untuk pelaku kejahatan narkoba. Pemerintah pun dinilai kurang sensitif. Sementara itu, menurut pakar hukum Universitas Gadjah Mada, Fajrul Falaakh, pemberian grasi menunjukkan Presiden lebih mementingkan citra di luar negeri dan hubungan dengan

Australia ketimbang konsistensi penegakan hukum di dalam negeri. "Presiden juga tidak sensitif terhadap rasa keadilan di dalam negeri. Mengapa warga asing diberi grasi sebesar itu, sementara warga Indonesia tidak," katanya.
Editor :

Pepih Nugraha

Jakarta - Grasi berupa pemotongan lima tahun masa hukumban yang diberikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kepada terpidana kasus narkoba kelahiran Brisbane Australia, Schapelle Leigh Corby, 34 tahun, sangat membingungkan. “Harusnya, kan didahului dengan ikatan perjanjian saling menguntungkan atau untuk pertukaran kepentingan yang tepat antar kedua belah pihak, sehingga tidak menunjukkan kebingungan maupun kelemahan RI terhadap grasi tersebut,” kata Ketua Dewan Direktur Lembaga Kajian Publik SabangMerauke Circle (SMC) Syahganda Nainggolan, di Jakarta, Kamis (24/5). Karena tanpa diawali ikatan perjanjian, Syahganda menilai, keputusan orang nomor satu negeri ini menyimpan misteri latar belakang penerbitan keputusan tersebut. “Dalam kesempatan Sidang Kabinet pada 2011, Menkopolhukam Joko Suyanto menyatakan, Presiden SBY tidak akan mengampuni para terpidana kasus terorisme, narkoba, dan korupsi, kecuali atas pertimbangan kemanusiaan dan khusus bagi yang berusia di atas 70 tahun. Nah, untuk Corby yang masih muda ini, alasan sebenarnya apa,” ucap kandidat doktor ilmu kesejahteraan sosial Universitas Indonesia ini. Terlebih, sejak tertangkap basah di Bandara Ngurah Rai, Bali, 8 Oktober 2004, Corby menyelundupkan 4,2 kilogram narkoba jenis ganja atau mariyuana. Saat penyidikan dan persidangan mantan pelajar kecantikan dan anak kandung Michael Corby itu, pernah terseret kasus peredaran ganja pada awal 1970an yang tak pernah diakui, hingga akhirnya diganjar 20 tahun kurungan penjara. “Karenanya, kasus grasi Corby ini terbilang aneh, sekaligus hanya mempertontonkan kebingungan RI di hadapan rakyatnya serta di mata negara lain yang bersikap keras dalam menghukum kejahatan narkoba,” tegasnya. Sikap melempem pemerintahan SBY dalam menangani kasus Corby, akan semakin memperparah ketidakberdayaan RI dalam memberantas kejahatan internasional di bidang narkotika dan sejenisnya. “Itu karena kita selalu mudah membungkuk pada tekanan pihak tertentu, yang kemudian membuat sikap politik ataupun penegakan hukum jadi kacau-balau, serta sekadar dijadikan olok-olokan berbagai pihak,” pungkasnya. [IS]

JAKARTA _ Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan grasi lima tahun kepada terpidana 20 tahun kasus penyelundupan 4,2 kilogram mariyuana di Bali, Schapelle Leigh Corby. Lantas apa alasan orang nomor satu negeri ini memberikan keringanan hukuman? "Kalau kita lihat kembali ke Undang-Undang 1945 pasal 14 disebutkan Presiden memiliki kewenangan untuk berikan amnesti, grasi, abolisi. Dalam konteks hukum, Corby yang bersangkutan telah menyampaikan surat pribadi ke Presiden untuk meminta permohonan pengurangan hukuman," kata Juru Bicara Presiden, Julian Aldrin Pasha, Kamis (24/5/2012). Menurut Julian, hal ini lazim bagi orang yang sedang menjalani hukuman di lembaga pemasyarakatan. Artinya, ketika menerima surat Corby yang meminta keringanan hukuman, maka Presiden meminta pertimbangan Mahkamah Agung dan Menkum HAM dari perspektif hokum dan status yang bersangkutan. "Jadi semua itu berdasar pada konstitusi. Kalau ditanyakan mengapa Presiden memberikan grasi, itu merupakan hak prerogative," imbuh Julian. Julian mengaku tidak dapat menyampaikan satu per satu nama yang diberikan grasi oleh Presiden. Sebab, hal tersebut lazim dan bukan kali pertama Presiden memberikan grasi. "Dalam Undang-Undang, Presiden bisa memberikan grasi dan rehab. Jadi jelas Presiden mempertimbangkan masukan dari pihak lain. Jadi DPR itu memberikan amnesti dan abolisi. Bila untuk grasi dan abolisi tidak perlu meminta pertimbangan DPR," paparnya. Julian juga menegaskan, pemberian grasi kepada Corby tidak serta merta pemerintah toleran dalam tindak pidana narkoba. "Tolong dipisahkan kasus ini lebih pada bagaimana Presiden melihat dalam pandangan beliau yang lebih luas dan bijak dalam permohonan individu dalam hukuman. Ini permohonan penghampunan bukan pembebasan," tukasnya.

Terima Grasi Dari SBY, Corby Bisa Bebas 2017
Penulis : Muhammad Hasanudin | Jumat, 25 Mei 2012 | 19:50 WIB Dibaca: 4016

Komentar: 9

Muhammad HasanudinSchapelle Leigh Corby, saat menerima remisi Natal tahun 2008.

DENPASAR.KOMPAS.com- Ratu Mariyuana Australia Schapelle Leight Corby yang baru saja memperoleh grasi selama 5 tahun diperkirakan bebas pada Bulan September 2017. Namun jika dalam masa tahanan ke depan Corby selalu berkelakuan baik dan memperoleh remisi, maka wanita berusia 34 tahun ini bisa menghirup udara bebas lebih awal. "Pidana penjara yang dijatuhkan selama 20 tahun dengan grasi menjadi 15 tahun, maka munculah tanggal 20 September 2017. Itu ekspirasi terakhir sampai dengan hari ini setelah dikurangi masa hukuman, remisi, dan grasi," ujar Kalapas Kelas II A Kerobokan Denpasar, I Gusti Ngurah Wiratna saat konferensi pers di halaman Lapas Kerobokan, Jum'at (25/05/2012) malam. Corby yang ditahan sejak 9 Oktober 2004 usai tertangkap atas kasus kepemilikan 4,2 Kg ganja sampai hari ini telah menjalani masa hukuman 10 tahun 4 bulan 17 hari. Jika tanpa grasi Corby seharusnya bebas pada tanggal 20 September 2022. Setelah Presiden SBY mengabulkan dan menandatangani surat grasi Corby, maka Corby dapat dipastikan bebas lebih cepat.
Editor :

Pepih Nugraha

Kasus Grasi Corby Bukti RI Lemah
?

Syahganda Nainggolan - ist Oleh: Renny Sundayani nasional - Jumat, 25 Mei 2012 | 02:39 WIB

Share on facebookShare on twitterShare on emailShare on googleMore Sharing Services

INILAH.COM, Jakarta - Ketua Dewan Direktur Lembaga Kajian Publik SabangMerauke Circle (SMC) Syahganda Nainggolan, menegaskan motif pemberian grasi (pengampunan) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berdasarkan Keputusan Presiden No 22/2012, berupa pemotongan lima tahun masa tahanan kepada narapidana asal Brisbane, Australia, Schapelle Leigh Corby (34), dalam kasus narkoba tergolong membingungkan. Hal itu karena tidak disertai kejelasan alasan dalam hubungan bilateral kedua negara yang bersifat resiprokal alias timbal balik. “Harusnya, kan didahului dengan ikatan perjanjian saling menguntungkan atau untuk pertukaran kepentingan yang tepat antar kedua belah pihak, sehingga tidak menunjukkan kebingungan maupun kelemahan RI terhadap grasi tersebut,” kata Syahganda di Jakarta, Kamis (24/5/2012). Ia pun mengherankan sikap RI utamanya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang terkesan memendam misteri di balik adanya grasi untuk Corby, apakah terkait alasan yang

dapat dibenarkan ataukah semata-mata menyangkut tekanan kekuatan asing. “Dalam kesempatan Sidang Kabinet pada 2011 Menko Polhukam Djoko Suyanto menyatakan bahwa Presiden SBY tidak akan mengampuni para terpidana kasus terorisme, narkoba, dan korupsi, kecuali atas pertimbangan kemanusiaan dan khusus bagi yang berusia di atas 70 tahun. Nah, untuk Corby yang masih muda ini alasan sebenarnya apa,” tanya kandidat doktor ilmu kesejahteraan sosial Universitas Indonesia itu. Apalagi, lanjutnya, sejak tertangkap basah di Bandara Ngurah Rai, Bali pada 8 Oktober 2004, Corby kedapatan menyelundupkan 4,2 kilogram narkoba jenis ganja/mariyuana. Sepanjang penyelidikan dan di pengadilan, mantan pelajar kecantikan yang ayah kandungnya, Michael Corby, pernah terseret kasus peredaran ganja pada awal 1970-an itu, tak pernah mengakui perbuatannya hingga akhirnya diganjar 20 tahun penjara. “Karenanya, kasus grasi Corby ini terbilang aneh, sekaligus hanya mempertontonkan kebingungan RI di hadapan rakyatnya serta di mata negara lain yang bersikap keras dalam menghukum kejahatan narkoba,” tandasnya. Syahganda juga menambahkan, sikap pemerintahan SBY yang melempem dalam menangani kasus Corby, akan semakin memperparah ketidakberdayaan RI dalam memberantas kejahatan internasional di bidang narkotika dan sejenisnya. “Itu karena kita selalu mudah membungkuk pada tekanan pihak tertentu, yang kemudian membuat sikap politik ataupun penegakan hukum jadi kacau-balau serta sekadar dijadikan olok-olokan berbagai pihak,” ujarnya.[jat]

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->