BAB I PENDAHULUAN Mandibula merupakan bagian tulang yang paling rentan mengalami fraktur pada trauma facialis.

Hal ini dapat disebabkan karena posisinya yang menonjol dan merupakana sasaran pukulan dan benturan. Trauma pada umumnya diderita pada lakilaki dibandingkan perempuan pada usia 20-30 tahun. Diluar negeri kebanyakan kejadian trauma facialis meningkat pada musim panas.(1) Mandibula tersusun dari dua bagian keping yaitu keping luar yang tebal dan keping dalam yang dipisahkan oleh tulang medulla trabekularis. Dari keseluruhan struktur mandibula, bagian yang terlemah adalah daerah sub kondilar, angulus mandibula dan region mentalis. Fraktur subkondilar banyak dijumpai pada anak-anak sedangkan fraktur angulus sering dijumpai pada remaja dan dewasa muda.(1,2) Pada prinsipnya ada dua cara penatalaksanaan fraktur mandibula, yaitu cara tertutup atau disebut juga perawatan konservatif dan cara terbuka yang ditempuh dengan cara pembedahan. Pada teknik tertutup imobilisasi dan reduksi fraktur dicapai dengan penempatan peralatan fiksasi maksilomandibular. Pada prosedur terbuka bagian yang mengalami fraktur di buka dengan pembedahan dan segmen fraktur direduksi serta difiksasi secara langsung dengan menggunakan kawat/plat yang disebut dengan wire atau plate osteosynthesis. Kedua teknik ini tidak selalu dilakukan tersendiri tetapi kadang-kadang diaplikasikan bersama atau disebut dengan prosedur kombinasi. Pada penatalaksanaan fraktur mandibula selalu diperhatikan prinsipprinsip dental dan ortopedik sehingga daerah yang mengalami fraktur akan kembali / mendekati posisi anatomis sebenarnya dan fungsi mastikasi yang baik. (3,4)

1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Anatomi Mandibula merupakan tulang yang besar dan paling kuat pada daerah muka. Dibentuk oleh dua bagian simetris yang mengadakan fusi dalam tahun pertama kehidupan. Tulang ini terdiri dari korpus, yaitu suatu lengkungan tapal kuda dan sepasang ramus yang pipih dan lebar yang mengarah keatas pada bagian belakang dari korpus. Pada ujung dari masing-masing ramus didapatkan dua buah penonjolan disebut prosesus kondiloideus dan prosesus koronoideus. Prosessus kondiloideus terdiri dari kaput dan kolum. Permukaan luar dari korpus mandibula pada garis median, didapatkan tonjolan tulang halus yang disebut simfisis mentum yang merupakan tempat pertemuan embriologis dari dua buah tulang. Bagian korpus mandibula membentuk tonjolan disebut prosesus alveolaris yang mempunyai 16 buah lubang untuk tempat gigi. Bagian bawah korpus mandibula mempunyai tepi yang lengkung dan halus. Pada pertengahan korpus mandibula kurang lebih 1 nchi dari simfisis didapatkan foramen mentalis yang dilalui oleh vasa dan nervus mentalis. Permukaan dalam dari korpus mandibula cekung dan didapatkan linea milohiodea yang merupakan origo m. Milohioid. Angulus mandibula adalah pertemuan antara tepi belakang ramus mandibula dan tepi bawah korpus mandibula. Angulus mandibula terletak subkutan dan mudah diraba pada 2-3 jari dibawah lobulus aurikularis. (5) Secara keseluruhan tulang mandibula ini berbentuk tapal kuda melebar di belakang, memipih dan meninggi pada bagian ramus kanan dan kiri sehingga membentuk pilar, ramus membentuk sudut 1200 terhadap korpus pada orang dewasa. Pada yang lebih muda sudutnya lebih besar dan ramusnya nampak lebih divergens. Dari aspek fungsinya, merupakan gabungan tulang berbentuk L bekerja untuk mengunyah dengan dominasi (terkuat) m. Temporalis yang berinsersi disisi medial pada ujung prosesus koronoideus dan m. Masseter yang berinsersi pada sisi lateral angulus dan ramus mandibula. M. Pterigodeus medial berinsersi pada sisi medial bawah dari ramus dan angulus mandibula. M masseter bersama m temporalis merupakan kekuatan untuk menggerakkan mandibula dalam proses menutup mulut. M pterigoideus lateral berinsersi pada bagian depan kapsul sendi temporo-mandibular, 2

diskus artikularis berperan untuk membuka mandibula. Fungsi m pterigoid sangat penting dalam proses penyembuhan pada fraktur intrakapsuler. Pada potongan melintang tulang mandibula dewasa level molar II berbentuk seperti ”U” dengan komposisi korteks dalam dan korteks luar yang cukup kuat. Ditengahnya ditancapi oleh akar-akar geligi yang terbungkus oleh tulang kanselus yang membentuk sistem haversian (osteons) diantara dua korteks tersebut ditengahnya terdapat kanal mandibularis yang dilewati oleh syaraf dan pembuluh darah yang masuk dari foramen mandibularis dan keluar kedepan melalui foramen mentalis. Lebar kanalis mandibula tersebut sekitar 3 mm ( terbesar) dan ketebalan korteks sisi bukal yang tertipis sekitar 2.7mm sedang pada potongan level gigi kaninus kanalnya berdiameter sekitar 1mm dengan ketebalan korteks sekitar 2.53mm. Posisis jalur kanalis mandibula ini perlu diingat dan dihindari saat melakukan instrumentasi waktu reposisi dan memasang fiksasi interna pada fraktur mandibula. (6)

Gb. 2.1 anatomi tulang mandibula (7) Mandibula mendapat nutrisi dari arteri alveolaris inferior yang merupakan cabang pertama dari arteri maxillaris yang masuk melalui foramen mandibula bersama vena dan nervus alveolaris inferior berjalan dalam kanalis alveolaris. Arteri alveolaris inferior memberi nutrisi ke gigi-gigi bawah serta gusi sekitarnya kemudian di foramen mentalis keluar sebagai a. Mentalis. Sebelum keluar dari foramen mentalis bercabang menuju incisivus dan berjalan sebelah anterior ke depan didalam tulang. Arteri mentalis beranastomosis dengan arteri facialis, arteri submentalis dan arteri labii inferior. Arteri submentalis dan arteri labii inferior merupakan cabang dari arteri facialis. Arteri mentalis memberi nutrisi ke dagu. Aliran darah balik dari mandibula 3

kecelakaan kerja. tumor jinak atau ganas rahang. (6) Fraktur Mandibula Fraktur didefinisikan sebagai deformitas linear atau terjadinya diskontinuitas tulang yang disebabkan oleh rudapaksa. molar ±15 kg. osteogenesis imperfecta. Akibat adanya proses patologis tersebut. osteomyelitis. luka tembak. Pterigoideus medialis. Daerah korpus mandibula terutama terdiri dari tulang kortikal yang padat dengan sedikit substansi spongiosa sebagai tempat lewatnya pembuluh darah dan pembuluh limfe. kecelakaan lalulintas. yaitu otot masseter. pterigoideus lateralis dan medialis. (9) Pada waktu membuka mulut. maka yang berkontraksi adalah m. tetapi pada beberapa tempat dijumpai adanya bagian yang lemah. Daerah yang tipis pada mandibula adalah 4 . sehingga dalam melakukan penanganan fraktur mandibula harus benar-benar diperhatikan biomekanik yang terjadi. sedang kekuatan menggigit daerah incisivus ±10kg. (11) Mandibula merupakan tulang yang kuat. osteomalacia. Fraktur dapat terjadi akibat trauma atau karena proses patologis. Kekuatan dinamis dari otot pengunyah orang dewasa pada gigi seri ± 40kg. Pterigoideus lateralis bagian inferior. geraham ±90kg. fraktur dapat terjadi secara spontan seperti waktu bicara.melalui vena alveolaris inferior ke vena facialis posterior. Otot digastricus bukan termasuk otot pengunyah tetapi mempunyai peranan yang penting dalam fungsi mandibula. jatuh ataupun trauma saat pencabutan gigi. makan atau mengunyah. disusul m pterigoideus lateralis bagian superior ( yang berinsersi pada kapsul sendi) saat mulut membuka lebih lebar. atrofi tulang secara menyeluruh atau osteoporosis nekrosis atau metabolic bone disease. Temporalis dan masseter dan diperkuat lagi oleh m. Sedangkan otot yang berperan untuk menutup mulut adalah m. (8) Biomekanik Mandibula Mandibula memiliki mobilitas dan gaya yang sangat banyak. Fraktur akibat trauma dapat terjadi akibat perkelahian. Fraktur patologis dapat terjadi karena kekuatan tulang berkurang akibat adanya kista. temporalis. Vena facialis anterior dan vena facialis posterior bergabung menjadi vena fascialis communis yang mengalirkan darah ke vena jugularis interna. Gerakan mandibula dipengaruhi oleh empat pasang otot yang disebut otot-otot pengunyah. Daerah dagu mengalirkan darah ke vena submentalis. yang selanjutnya mengalirkan darah ke vena facialis anterior.

2 fr mandibula multiple (10) gb 2. Garis fraktur subkondilar umumnya dibawah leher prosesus kondiloideus akibat perkelahian dan berbentuk hampir vertikal. Pada fraktur mendibula. Garis fraktur dimulai pada regio alveolar kaninus dan insisivus berjalan oblique ke arah midline. arah dan kekuatan 5 . kolum kondilus mandibula terutama bila trauma dari depan langsung mengenai dagu maka gayanya akan diteruskan kearah belakang. garis fraktur yang terjadi berbentuk oblique.4 fr corpus mandibula (10) Garis fraktur pada mandibula biasa terjadi pada area lemah dari mandibula tergantung mekanisme trauma yang terjadi. oleh karena itu maka reduksi dan fiksasi pada fraktur mendibula harus menggunakan splinting untuk melawan tarikan dari otot-otot mastikasi.angulus dan sub condylus sehingga bagian ini termasuk bagian yang lemah dari mandibula.5 pembagian fraktur berdasar ada tidaknya gigi (9) Gb. seringkali garis fraktur berbentuk oblique. fragmen yang fraktur mengalami displaced akibat tarikan otot-otot mastikasi. Beberapa faktor yang mempengaruhi displacement fraktur mandibula antara lain . Pada fraktur corpus mandibula garis fraktur tidak selalu paralel dengan sumbu gigi. 2. 2. Pada regio angulus garis fraktur umumnya dibawah atau dibelakang regio mlaor III kearah angulus mandibula. Namun pada kecelakaan lalu lintas garis fraktur terjadi dekat dengan kaput kondilus.3 fr angulus mandibula(10) Gb. angulus mandibula tempat gigi molar III terutama yang erupsinya sedikit. Selain itu titik lemah juga didapatkan pada foramen mentale. Gb2.

processus coronoideus (1. Berdasar tipe fraktur dibagi menjadi fraktur greenstick (incomplete). (12. Fraktur tunggal . Beberapa macam klasifikasi fraktur mandibula dapat digolongkan berdasar sebagai berikut : Insidens fraktur mandibula sesuai dengan lokasi anatomisnya. Demikian juga pada prosesus koronoideus yang terfiksasi oleh m masseter.trauma. Pada daerah ramus mandibula jarang terjadi fraktur. fraktur yang terjadi jauh dari lokasi trauma.3%). fraktur yang terjadi pada dua tempat atau lebih. 13) 6 . Fraktur atrophic . Fraktur komunitif . Fraktur multiple . Disebut favourable apabila arah fragmen memudahkan untuk mereduksi tulang waktu reposisi sedangkan unfavourable bila garis fraktur menyulitkan untuk reposisi. fraktur yang terjadi akibat proses metastase ke tulang. korpus mandibula (16%). karena daerah ini terfiksasi oleh m masseter pada bagian lateral. arah lepasnya otot dan luasnya kerusakan jaringan lunak. arah dan sudut garis fraktur. terdapat adanya fragmen yang kecil bisa berupa fraktur simple atau compound.11. Berdasar beratnya derajat fraktur. Fraktur compound atau open yaitu fraktur berhubungan dengan dunia luar yang melibatkan kulit. Kriteria favourable dan unfavourable berdasarkan arah satu garis fraktur terhadap gaya otot yang bekerja pada fragmen tersebut. fraktur yang biasanya didapatkan pada anak-anak karena periosteum tebal. kelas II : gigi hanya ada pada satu bagian dari garis fraktur. simfisis mandibula (22%). alveolus (3. yang juga dibagi menjadi favourable dan unfavourable. fraktur hanya pada satu tempat saja. mukosa atau membran periodontal. (10. umumnya bilateral. kelas III : tidak ada gigi pada kedua fragmen. kelas 1 : gigi ada pada kedua bagian garis fraktur. ramus (1. dan medial oleh m pterigoideus medialis.12) Berdasar ada tidaknya gigi pada kiri dan kanan garis fraktur .1%). atau gigi hilang saat terjadi trauma. impacted fraktur . Indirect fractur . Vertikal. dibagi menjadi fraktur simple/closed yaitu tanpa adanya hubungan dengan dunia luar dan tidak ada diskontinuitas dari jaringan sekitar fraktur. ada atau tidaknya gigi pada fragmen.7%). Selain itu terdapat juga fraktur patologis .1%). mungkin gigi sebelumnya memang sudah tidak ada (edentolous). adalah fraktur spontan yang terjadi pada tulang yang atrofi seperti pada rahang yang tak bergigi. prosesus condiloideus (29. fraktur dengan salah satu fragmen fraktur di dalam fragmen fraktur yang lain. angulus mandibula (24%). Berdasar arah fraktur dan kemudahan untuk direposisi dibedakan : horisontal yang dibagi menjadi favourable dan unfavourable.

2. berdasarkan arsitektur tulang.14.7 tension line pada mandibula(6) dengan penggunaan plat dan tension bar system yang secara individual berbeda tergantung dari lokasi dan tipe frakturnya.15. sedangkan tension trajectory dengan menggunakan arch bar yang berfungsi sebagai tension band. Tujuan dari semua terapi fraktur ialah mengembalikan bentuk dan fungsi seperti semula. Aksis tranversal imajiner yang terletak kira-kira sepanjang kanalis mandibula memisahkan prosesus alveolaris yang merupakan daerah tegangan atau disebut dengan tension area dari daerah basal mandibula yang merupakan daerah kompresi atau disebut dengan compression area.Biomekanik Fraktur Mandibula Konsep biomekanik pada perawatan fraktur mandibula perlu dipahami sebab keadaan statik dan dinamik dapat mempengarui proses penyembuhan fraktur. Hal ini dapat ditempuh Gb 2. prinsip perawatan dilakukan dengan mempertimbangkan kekuatan-kekuatan pada kedua sisi dari aksis imajiner tersebut.16) 7 . bentuk dan perlekatan ototnya mandibula dapat digambarkan sebagai sebuah struktur yang mengubah tekanan yang diterimanya menjadi suatu bentuk daya tensi dan kompresi. Rahang bawah memiliki bentuk anatomis yang unik. (3. Hal tersebut dapat dicapai dengan melakukan imobilisasi menggunakan fiksasi internal dan eksternal . Pada waktu mandibula mengalami fraktur. Tension band berfungsi untuk mengurangi kekuatan yang membengkokkan yang terjadi di bagian alveolar atau kekuatan menahan yang menjauhi plat.6 tension site (+) dan compression site (-) pada mandibula(6) gb. Kekuatan kompresi dihasilkan sepanjang daerah basal mandibula sedangkan kekuatan tensi terdapat pada sepanjang daerah alveolar. sehingga kedua kekuatan tegangan yang berlawanan tersebut harus dinetralisir untuk mendapatkan reduksi fungsional yang stabil. Plat sudah cukup stabil untuk menetralkan shear dan torsional stress. pressure trajectory yang menghasilkan kekuatan kompresi pada mandibula kemudain terjadi distorsi misalnya di rahang yang fraktur dapat diperbaiki dengan pemasangan plat osteosintesis. Secara umum.

11 tehnik lag screw untuk memperoleh efek kompresi dan stabilisasi(6) 8 .Gb 2. hal ini disebabkan karena banyaknya muskulus dasar mulut yang melekat pada bagian ini sehingga apabila terjadi fraktur pada bagian ini maka dapat timbul rotasi. Stabilisasi fragmen tulang yang fraktur di regio ini digunakan dua miniplate dengan jarak antar plat kurang lebih 5mm untuk menetralkan kekuatan rotasi pada daerah symphisis tersebut.(17) Selain menggunakan dua miniplate dapat juga digunakan SNT plate untuk fraktur di regio symphisis. Gb 2.8 momentum gaya pada mandibula (6) Kekuatan torsional pada mandibula terdapat pada bagian symphisis mandibula.9 arah gaya pada mandibula dan hubungannya dg angulasi fraktur (13) Gb 2.

. dari inspeksi dilihat ada tidaknya deformitas. 2. pemeriksaan penderita dengan kecurigaan fraktur mandibula harus mengikuti kaidah ATLS. circulation dan disability. dilanjutkan dengan dengan pemeriksaan lanjutan secondary survey yaitu pemeriksaan menyeluruh dari ujung rambut sampai kepala. Dilihat juga ada/tidaknya gigi yang hilang atau fraktur. Pada kasus trauma. Untuk memeriksa apakah ada fraktur mandibula dengan palpasi dilakukan evaluasi false movement dengan kedua ibujari di intraoral.Gb 2. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan fisik . anamnesa . apabila merupakan kasus trauma harus diketahui mengenai mekanisme traumanya (mode of injury). Setelah dilakukan primary survey dan kondisi penderita stabil. penyakit sebelumnya. menilai ada tidaknya nyeri. 1. luka terbuka dan evaluasi susunan / konfigurasi gigi saat menutup dan membuka mulut. Pada penderita trauma dengan fraktur mandibula harus diperhatikan adanya kemungkinan obstruksi jalan nafas yang bisa diakibatkan karena fraktur mandibula itu sendiri ataupun akibat perdarahan intraoral yang menyebabkan aspirasi darah dan clot. meliputi ada tidaknya alergi. medikamentosa. Bila ada pergerakan yang tidak sinkron antara kanan dan kiri maka false movement +. deformitas atau dislokasi. breathing. 9 . apalagi dijumpai perdarahan disela gusi. last meal dan events/enviroment sehubungan dengan injurinya. menilai ada/tidaknya maloklusi.10 penempatan kawat pada tension line utk melaan gaya regangan otot pengunyah (6) Diagnosis Fraktur Mandibula Didalam penegakan diagnosis fraktur mandibula meliputi anamnesa. korpus mandibula kanan dan kiri dipegang kemudian digerakkan keatas dan kebawah secara berlawanan sambil diperhatikan disela gigi dan gusi yang dicurigai ada frakturnya. dimana terdiri dari pemeriksaan awal (primar survey) yang meliputi pemeriksan airway. Pada palpasi dievaluasi daerah TMJ dengan jari pada daerah TMJ dan penderita disuruh buka-tutup mulut.

pada fraktur mandibula dapat dilakukan pemeriksaan penunjang foto Rontgen untuk mengetahui pola fraktur yang terjadi.12 pemeriksaan fraktur mandibula (6) 3. Gambar yang dihasilkan seminimal mungkin mengalami distorsi. uncorticated . Setiap pemeriksaan radiologis diharapkan menghasilkan kualitas gambar yang meliputi area yang dicermati yaitu daerah patologis berikut daerah normal sekitarnya. hal ini bisa dicapai dengan proyeksi yang dekat (film dan sumber x-ray sedekat mungkin dengan obyek) dan densitas serta kontras gambar foto optimal (diatur dari mA dan kVp serta waktu penyinaran dan proses pencuciannya).Gb 2. (6) Dari gambaran radiologis adanya fraktur mandibula dapat dilihat sebagai berikut : a. pemeriksaan penunjang .garis fraktur kebanyakan horizontal 10 . tulang alveolar .gambaran garis radiolusen pada alveolus.

step defect .biasanya terdapat fraktur pada caput condylus lateral c. condylus mandibula .gambaran tersebut diatas bisa kurang jelas bila garis x-ray tidak sejajar garis fraktur . tampak berupa gambaran garis radioopaque .. 2.ligamen periodontal yang melebar .13 gambaran radiologis fr mandibula dan alveolaris (18) Beberapa tehnik Roentgen dapat digunakan untuk melihat adanya fraktur mandibula antara lain .letak segmen gigi yang tidak pada tempatnya .deviasi mandibula pada sisi yang fraktur (18) Gb.terlihat celah radiolusen bila arah sinar x-ray sejajar garis fraktur .bisa didapatkan gambaran fraktur akar gigi b.caput condylus biasanya ”shared off” .step defect .overlap dari garis trabecular.foto skull AP/Lateral 11 . corpus mandibula . .

bisa dilakukan pada penderita trismus. MRI 12 .Temporomandibular Joint . zigoma dan mandibula . foto ini dibuat untuk pencitraan mandibula bagian ramus dan korpus. . dibuat untuk melihat proyeksi tulang maksila. Keuntungan panoramic adalah . dilakukan untuk melihat adanya fraktur neck condilus mandibula terutama yang displaced ke medial dan bias juga melihat dinding lateral maksila . Pemeriksaan ini membirak banyak informasi mengenai cidera di bagian dalam. cakupan anatomis yang luas. Biasanya dibuat kedua sendi kanan dan kiri untuk perbandingan. Kerugiannya tidak bisa menunjukkan gambaran anatomis yang jelas daerah periapikal sebagaimana yang dihasilkan foto intra oral . disebut juga pantomografi atau rotational radiography dibuat untuk mengetahui kondisi mandibula mulai dari kondilus kanan sampai kondilus kiri beserta posisi geliginya termasuk oklusi terhadap gigi maksila. dibuat sisi kanan atau sisi kiri sesuai kebutuhan. dilakukan untuk melihat TMJ pada saat buka mulut lebar. Centre yang telah maju dalam penggunaan modalitas ini telah menggunakan CT Scan terutama untuk fraktur maksilofasial yang sangat kompleks..reverse Towne’s view . .orbitocondylar view . menunjukkan kondisi struktur dan kontur dari kaput kondilus tampak dari depan CT Scan Pemeriksaan ini pada kasus emergency masih belum merupakan pemeriksaan standart. Pada pembuatan foto TMJ yang standard biasanya di lakukan proyeksi lateral buka mulut (Parma) dan proyeksi lateral tutup mulut biasa (Schuller).Panoramic . pemeriksaan cukup nyaman.foto Eisler . dosis radiasi rendah.. Dibuat film didepan mulut pada alat yang rotasi dari pipi kanan ke pipi kiri. sinar-x juga berlawanan arah rotasi dari arah tengkuk sehingga tercapai proyeksi dari kondulus kanan sampai kondilus kiri. trismus kadang sedikit maloklusi. pada penderita trauma langsung daerah dagu sering didapatkan kondisi pada dagu baik akan tetapi terjadi fraktur pada daerah kondilus mandibula sehingga penderita mengeluh nyeri pada daerah TMJ bila membuka mulut.Towne’s view .

Reposisi terbuka (open reduction) . Evaluasi klinis secara keseluruhan dengan teliti. Pemeriksaan ini terutama untuk melihat kerusakan pada jaringan lunak. free flap ataupun granulasi persecundum bila luka tersebut tidak terlalu besar c. tindakan operasi untuk melakukan koreksi defromitas-maloklusi yang terjadi pada patah tulang rahang bawah dengan melakukan fiksasi dengan interosseus wiring serta imobilisasi dengan menggunakan interdental wiring atau dengan mini plat+skrup. closed reduction dengan menggunakan protese mandibula “gunning splint” dan sebaiknya dikombinasikan dengan kawat circum mandibula. Penanganan fraktur mandibula secara umum dibagi menjadi 2 metode yaitu reposisi tertutup dan terbuka. mengembalikan oklusi merupakan tujuan dari perawatan fraktur mandibula. (6) Penatalaksanaan Fraktur Mandibula Prinsip dasar umum dalam perawatan fraktur mandibula ialah sebagai berikut. lokasi.Pemeriksaan MRI untuk fraktur maksilofasial tidak pernah dilakukan di RSUD dr Soetomo.circumzygomaticum 13 . pemeriksaan klinis fraktur dilakukan secara benar. fraktur mandibula lebih baik dilakukan perawatan terlebih dahulu dengan prinsip dari dalam keluar. edentulous mandibula . monitor pemberian nutrisi pasca operasi. jumlah dan derajat keparahan fraktur mandibula serta usia dan kesehatan pasien maupun metode yang akan digunakan untuk reduksi dan imobilisasi. dari bawah keatas. Penggunaan antibiotik untuk kasus compound fractures. kerusakan gigi dievaluasi dan dirawat bersamaan dengan perawatan fraktur mandibula. selama periosteum masih intak masih dapat diharapkan kesembuhan tulang b. (19) Indikasi untuk closed reduction antara lain . penanganan konservatif dengan melukan reposisi tanpa operasi langsung pada garis fraktur dan melakukan imobilisasi dengan interdental wiring atau eksternal pin fixation. fraktur dengan kerusakan soft tissue yang cukup berat. dimana rekonstruksi soft tissue dapat digunakan rotation flap. Reposisi tertutup (closed reduction) patah tulang rahang bawah . fraktur komunitif. Waktu penggunaan fiksasi intermaksiler dapat bervariasi tergantung tipe. a. Apabila terjadi fraktur mulitple di wajah.

terdiri dari formasi loop kawat kecil yang mengelilingi arkus dentis bagian atas dan bawah. Keuntungan penggunaan arch bar ialah mudah didapat. Fraktur condylus . keuntungan tehnik ini bahan mudah didapat dan sedikit menimbulkan kerusakan jaringan periodontal serta rahang dapat dibuka dengan hanya mengangkat ikatan intermaksilaris. a. Kawat tersebut dilingkarkan pada leher gigi. Kerugiannya ialah menyebabkan keradangan pada 14 . Fiksasi ini dipertahankan 3-4 minggu pada fraktur daerah condylus dan 4-6 minggu pada daerah lain dari mandibula Beberapa tehnik fiksasi intermaksilaris . Fraktur pada anak-anak . didapatkan fragmen dentoalveolar pada salah satu ujung rahang yang perlu direduksi sesuai dengan lengkungan rahang sebelum dipasang fiksasi intermaksilaris. untuk mencegah tergelincir ke anterior dan posterior b. karena open reduction dapat menyebabkan kerusakan gigi yang sedang tumbuh. dan menggunakan karet sebagai traksi yang menghubungkannya d. merupakan tehnik yang mudah dan efektif tetapi mempunyai kekurangan yaitu mulut tidak dapat dibuka untuk melihat daerah fraktur tanpa mengangkat kawat.d. sedangkan dewasa setiap 2 minggu. mobilisasi rahang bawah diperlukan untuk menghindari ankylosis dari TMJ. tehnik continous loop (stout wiring) . tehnik eyelet (ivy loop) . tehnik gilmer . mudah adaptasi dan aplikasinya. biaya murah. maka digunakan kawat yang halus dan diletakkan pada bagian paling inferior dari mandibula. kemudian diputar searah jarum jam sampai tegang. Kemudian kedua kawat atas dan bawah digabungkan dan diputar dengan hubungan vertika maupun silang. Dilakukan pada gigi atas dan bawah sampai oklusi baik. Kerugiannya kawat mudah putus waktu digunakan untuk fiksasi intermaksiler c. Apabila diperlukan open reduction dengan fiksasi internal. Tehnik yang digunakan pada terapi fraktur mandibula secara closed reduction adalah fiksasi intermaksiler. Pada anak. tehnik erich arch bar . Closed reduction dilakukan dengan splint acrylic dan kawat circum-mandibular dan circumzygomaticum bila memungkinkan e. moblisasi ini harus dilakukan tiap minggu. disertai fraktur maksila. indikasi pemasangan arch bar antara lain gigi kurang/ tidak cukup untuk pemasangan cara lain.

displaced unfavourable fracture melalui angulus b. displaced unfavourable fracture dari corpus atau parasymphysis. Gb 2. memerlukan pembiusan umum dengan intubasi nasotrakeal. gangguan jiwa dan gangguan fungsi paru (20) Tehnik operasi open reduction . 2. fraktur midface disertai displaced fraktur condylus bilateral. usahakan fiksasi pipa nasotrakeal ke dahi. dengan menggunakan kawat yang kuat untuk tempat karet dipasang mengelilingi bagian leher gigi. Salah satu condylus harus di buka untuk menghasilkan dimensi vertical yang akurat dari wajah e.15 archbar Indikasi untuk reposisi terbuka (open reduction) : a. tidak dapat digunakan pada penderita dengan edentulous luas. tulang mandibula harus difiksasi terlebih dahulu sehingga menghasilkan patokan yang stabil dan akurat untuk rekonstruksi d. e.14 eyelet gb . Tehnik kazanjia . Posisi penderita telentang.ginggiva dan jaringan periodontal. merupakan jenis operasi bersih kontaminasi. penderita epilepsy. Bila dikerjakan dengan reposisi tertutup. kepala hiperekstensi denga 15 . malunions  diperlukan osteotomie Kontraindikasi penggunaan MMF . multiple fraktur tulang wajah . Tehnik ini untuk gigi yang hanya sendiri atau insufisiensi pada bagian dari pemasangan arch bar. fraktur jenis ini cenderung untuk terbuka pada batas inferior sehingg mengakibatkan maloklusi c.

bor tulang mandibula pada 2 tempat. 16 . Dengan alat kerok atau knabel dilakukan pembersian dari kedua ujung fragmen tulang. Periosteum mandibula diinsisi.16 tempat sayatan approach ekstraoral (6) Bila digunakan wire. Panjang sayatan sesuai kebutuhan atau pendekatan ekstraoral . Lakukan reposisi dengan memperhatikan oklusi gigi yang baik. Benang ligasi stomp distal diklem dan dielevasi ke cranial dengan demikian r. meja operasi diatur head up 20-25 derajat. Pada bagian profundanya dibuat flap ke atas sampai pada periosteum mandibula. Desinfeksi dengan batas atas garis rambut pada dahi. submandibular 2 cm di kaudal dan sejajar dari margo inferior mandibula dengan titik tengahnya adalah garis fraktur dan panjang sayatan sekitar 6 cm. marginalis mandibula nervus facialis. bebaskan ligasi pada dua tempat dan potong diantaranya. marginalis mandibula akan selamat oleh karena ia berjalan melintang tegak lurus superficial terhadap vasa maksilaris eksterna. bawah pada klavikula. insisi diperdalam sampai memotong muskulus platisma. Identifikasi r. Adapun insisi yang dilakukan bisa dua cara yaitu pendekatan intraoral sedikit diatas bucoginggival fold pada mukosa bawah bibir. Cari arteri dan vena maksilaris eksterna pada level insisi. pada penggunaan plat mini linier pada fraktur mandibula bagian mentum diantara dua foramen mentales maka digunakan 2 buah plat masing-masingminimal 4 lobang sehingga didapatkan hasil fiksasi dan antirotasi. Gb 2. ikatan tranversal dan figure of “8”. 1 cm dari garis fraktur dan 1 cm dari margo mandibula. selanjutnya dengan rasparatorium periosteum dibebaskan dari tulang.9mm. Kemudian digunakan snaar wire stainless steel diameter 0.meletakkan bantal dibawah pundak penderita.lateral tragus ke bawah menyusur tepi anterior m. trapesius kanan kiri. sambil perdarahan dirawat.

Posisi plat jangan terlalu tinggi karena sekrup akan menembus saraf/akar gigi.19 penempatan lga screw pada daerah yang diarsir (6) Gb 2. angka komplikasi lebih rendah dan waktu operasi yang lebih singkat.18 tehnik wiring figure of 8 untuk thd garis fraktur (6) menjamin stabilitas vertical (6) Tolak ukur keberhasilan operasi pemasangan plat mini maupun IOID wiring pada mandibula adalah oklusi yang baik. Permukaan tulang bersih dari jaringan ikat dan jaringan lunak sehingga plat betul-betul menempel pada tulang mandibula. Untuk penggunaan bor. stabil dan arah obeng juga sesuai dengan arah bor sebelumnya.Pemasangan sekrup dimulai dari satu sisi terlebih dahulu kemudian menyebrang menyilang pada sisi plat satunya 6 Gb 2. Jangan tergesa melakukan fiksasi sebelum yakin oklusinya sudah sempurna.20 cara pemasangan miniplate yang benar (6) Gb 2.Gb 2.21 penempatan plat menurut teori champy Keuntungan dari reposisi tertutup adalah lebih efisien. Tehnik ini dapat dikerjakan di tingkat 17 . Gunakan mata bor diameter 1.5mm dengan kecepatan rendah menembus 1 korteks dikukur kedalamannya kemudian dipasang sekrup yang panjangnya sesuai dengan tebal satu korteks. tidak trismus. sebaiknya arah matabor tangensial.17 penempatan wire tegak lurus Gb 2.

plat paling baik diletakkan pada permukaan yang paling luas dan setinggi mungkin di daerah linea oblique eksterna. lag screws dan noncompression stabilization plates pada bagian inferior. kompresi pada fragmen fraktur dan imobilisasi yang rigid serta perbaikan kekuatan self kompresi fisiologis. distraksi dari kontak tulang menghambat reduksi dan vaskular dari sisi fraktur dan 18 . archbar sudah cukup berfungsi menetralkan kekuatan tension. Adanya gigi molar 3 menyebabkan fraktur mudah terjadi. mobilisasi lebih dini dan reaproksimasi fragmen tulang yang lebih baik. diantara kedua foramen mentalis. Penempatan plat didaerah sepanjang tension trajectory ternyata juga menghasilkan suatu fiksasi yang paling stabil bila ditinjau dari prinsip biomekaniknya. Dalam menangani fraktur mandibula umumnya digunakan lebih dari satu modalitas sebab terdapat banyak variasi biomekanik dan problem klinis untuk mencapai mobilitas fiksasi di regio fraktur.21) Pada angulus mandibula. Kerugiannya adalah biaya lebih mahal dan diperlukan ruang operasi dan pembiusan untuk tindakannya. (19. Pada regio anterior. Kerugiannya meliputi fiksasi yang lama. Keuntungan dari ORIF antara lain . Ada 5 metode yang umum digunakan yaitu dengan biocortical transfacial compression plates pada bagian inferior dengan atau tanpa tension band plate. Angulus merupakan bagian yang sulit dicapai lewat intraoral karena adanya otot-otot pengunyah dan otot-otot daerah suprahyoid. gangguan nutrisi karena adanya MMF. Pada daerah di belakang foramen mentalis sampai mendekati daerah angulus cukup digunakan satu plat yang dipasang tepat dibawah akar gigi dan diatas nervus alveolaris inferior.22) Fraktur pada daerah angulus mandibula merupakan problem khusus pada perawatan dengan menggunakan rigid internal fixation. disamping plat subapikal perlu juga ditambahkan plat lain di dekat batas bawah mandibula untuk menetralkan kekuatan rotasi pada daerah simfisis tersebut. (19.poliklinis. resiko ankilosis TMJ dan problem airway. Pada bagian mandibula yang bergigi. paired miniplates. Hasil yang didapatkan dari pemakaian monocortical osteosynthesis adalah tercapainya netralisasi kekuatan tensi dan kompresi serta rotasi pada garis fraktur sehingga diperoleh reduksi anatomis yang fisiologis. sedangkan pada daerah angulus dan ramus mandibula fungis tersebut baru bisa didapatkan dengan menggunakan plat yang kecil. Batas inferior dari angulus sangat tipis dan tidak mungkin dilakukan suatu kompresi. monocortical transoral miniplates pada bagian superior.

Dalam tatalaksana fraktur mandibula perlu dipahami biomekanik mandibula sehingga dapat diperkirakan letak fiksasi yang benar dan didapatkan hasil yang memuaskan.(6) BAB III KESIMPULAN Tujuan dari perawatan fraktur mandibula utamanya adalah untuk mengembalikan fungsi mengunyah dan bicara. dan penyakit metabolik lainnya. Terjadi malunion dan delayed healing. lesi r marginalis mandibulae n.23) Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi akibat fraktur mandibula antara lain adanya infeksi. nutrisi yang buruk. Aplikasi vacuum drain dapat membantu untuk mencegah timbulnya infeksi yang dapat terjadi oleh karena genangan darah yang berlebihan ke daerah pembedahan. delayed union dan malunion yang dapat terjadi bila digunakan terapi lain. 19 . streptococcus dan bacterioides. biasanya disebabkan oleh infeksi. Penggunaan rigid internal fixation untuk mencegah hilangnya kontrol segmen proksimal. dengan kuman patogen yang umum adalah staphylococcus.dapat menjadi sumber infeksi.19. (17. Hal ini dapat dicapai dengan pemilihan modalitas yang tepat. serta perawatan pasca operasi dan rehabilitasi. Fistel orokutan bisa terjadi pada kelanjutan infeksi terutama pada penderita dengan gizi yang kurang sehingga penyembuhan luka kurang baik dan terjadi dehisensi luka. Parasthesia dari nervus alveolaris inferior. fasialis bisa terjadi akibat sayatan terlalu tinggi. reduksi yang inadekuat. tehnik operasi yang benar terutama dalam pencapaian oklusi mandibula.

1996. Kai Tu H. Sugiharto Setyo. 3. 242-6. 12:39-41. Maxillofacial trauma.. 1st Ed. from www. 249-50 4. Lea & Febiger. Pederson GW. Hardjowasito Widanto.Retrieved : Feb 8. Penanganan Fraktur Mandibula pada Anak dengan pemasangan Arch-Bar. 20 . 2006. 1985.43:585-9 5.edu/oto/ 2. Jakarta.bcm. Matorin A Philip. EGC 1998.236. 2007. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Tenhulzen D.DAFTAR PUSTAKA 1. 1988. Alling III CC. Philadelpia. Majalah Kedokteran Unibraw. Osbon DB.224-36. J Oral Maxillofac Surg. Treatment of Traumatic Mandibular Fractures. Compression osteosynthesis of mandibular fractures : A retrospective study.

. Clinically Oriented Anatomy. Spateholz W. et all. at http://www. 2007 at www. 58-63. Philadelpia. vol 1.6. J Oral Maxillofac Surg. 98. Keith L Moore. Philadelpia.77:971 18.utmb. WB Saunders Co. sheltema & holkema N. 3rd . Prater E Michael. Rev Stomatol Chir Maxillofac. 1982. Functional anatomy and Biomechanics of the masticatory system.htm 14. Issue IV.V Amsterdam. 1992.50:586 23. WB Saunders Co. Retrieved Jan 2007. Germany. Richmond Institute. 1953 . Quintessence Publishing. Fonseca RJ. Changing trend with mandibular fractures : a review of 1067 cases.doc 21. 1975. Divisi Ilmu Bedah Kepala & Leher SMF/Lab Ilmu Bedah RSDS/FK Unair Surabaya. 20006:25-26. St Louis 1993 13-21 12.50:555 21 . Okeson Jeffrey P. J Oral Maxillofac Surg. 15. 1992. Trauma Maksilofasial Diagnosis dan Penatalaksanaannya. Experiences with rigid fixation of mandibular fractures and immediate function.19. Localisation des syntheses en function des contraintes mandibulaires.125-6 17.125-6. J Oral Maxillofac Surg. Wijayahadi R Yoga.100.. Kruger E. WB Saunders. 8. 1992. Dorland’s Illustrated medical dictionary. Archer WH. WB Saunders Co. 16.edu/otoref/grnds/Mandibular-fx961127/Mandibular-fx-961127.2005 19. 1976. 1976:342-356. New Concepts in Maxillofacial Traumatology. 1996:143-148 9. Kushner M George. 1991: 359-414. Walker RV..18. Yaremuck M. Synthesis mandibulaires.. In management of temporomandibular disorder and occlusion. Boston. Alpert B. Plastic Surgery. Oral and Maxillofacial trauma. Barrera E Jose. Mandibular Body Fractures. vol 1.. 1990:917-990 10. Oral and maxillofacial traumatology.. William-Wilkins. Joseph Mc Carthy MD. Handatlas und lehrbuch der anatomie des menschen. Sept 2006. Bailey J Byron. Anderson T. Okeson JP. vol2. Berlin.. 89-95. Batuello G Stephen...1045-88 11. Nov 27 1996 . 500-1.52:757-61 22. Mandibular Fractures.125-132 7. 71-71. Assael LA. Schilli W. Vol V . Philadelpia. Plate and screw fixation. Panoramic Radiology in Maxillofacial Trauma. Mosby. Treatment of mandibular angle fractures.. Lodde JP. Oral and Maxillofacial Surgery. Olson R. Champy M. Pena-Velasco G. Panoramic Imaging News.. Chicago. 1988 13. Spiessl B. retrieved : Feb 28. Murtedjo Urip. Springer-Verlag. Rigid fixation of the craniomaxillofacial skeleton. Fridrich K. ButterworthHeinemen.emedicine/Ent/Topic415.. 27th ed. 1994. 239. 242-51 20. Farman G Allan. Surabaya.

121-122 Ellis Edward.. 3rd ed. Anatomy for Dental Students. Anand Kapil. Oxford University Press. Treatmend Considerations for Comminuted Mandibular Fractures. 2003 22 . Hongkong.1997. J Oral Maxillofac Surg 61:861-870. Moore WJ.Johnson DR. Muniz Oscar...

New York State Dental Journal. pg 42 Referat FRAKTUR MANDIBULA 23 .Greenberg M Alex. Management of facial fractures. mar 1998. Vol 64 Iss 3.

Yoga Wijayahadi SpB KL Program Studi Ilmu Bedah FK Unair / RSUD dr Soetomo Surabaya 2007 24 .Barmadisatrio Pembimbing : dr.

25 .

26 .

27 .

Infection 1. (D) Vertically favorable. Common pathogens were staph. See B. Delayed healing and malunion. Recommendations include extraction of teeth which are significantly mobile. VI. et. strep and bacteroides. 4. Inadequate reduction.) occur in approximately 2% VII. use prophylactic antibiotics. of which 50% were associated with fractured or carious teeth. al. 3. Controversies with Fractures of the Mandibular Angle A. James. Socioeconomic condition greatly affects outcome B.Caption: Picture 2. Forces acting on the mandible and demonstration of the relationship between muscle pulls and fracture angulation.. An 8 year prospective study at Parkland Hospital which ended in 1994 compared various methods and their complications Type Nonrigid AO Recon Plate DCP (x2) Number 99 52 30(65) % Complication 17 8 13 (32) 28 . have root exposure. 12% became infected. (A) Horizontally unfavorable. Of the 177 fractures requiring ORIF. Second most common cause is non-compliance. metabolic and nutritional deficiency can play a role. Nerve paresthesias (inferior alveolar n. (C) Vertically unfavorable. James’ study showed delayed union in 3% and nonunion in 1% D. (B) Horizontally favorable. Complications of Mandibular Fractures A. C. Most common cause is infection. in a largely prospective study of 422 fractures found an infection rate of 7%. See A. 1. 2. or interfere with reduction. Also.

the body. The mandible is divided into the alveolar tooth-bearing process.Non compression plate 81 3 The mandible is composed of a thick outer plate of bone and a compact inner plate of cortical bone separated by trabeculated medullary bone. the ramus. the angle or gonion. The inferior alveolar nerve enters at the mandibular foramen and exits at the mental foramen at the interspace between the first and second premolars. 29 . the coronoid. There are 32 adult teeth which are numbered according to the ADA universal classification system. lower left third molar #17. the symphysis. and the condylar processes. the upper left #16. lower right third molar is #32. The upper right third molar is #1.

The mandible is reportedly the most commonly fractured bone in facial trauma. 30 . The injury is found predominantly in males in the 20 to 30 year old age group and occurs with highest frequency in the summer months.