P. 1
Katalog Pameran BQMI di Batam

Katalog Pameran BQMI di Batam

|Views: 183|Likes:
Published by aliakbarkaligrafi
Mushaf-mushaf Al-Qur'an di Kepulauan Riau.
Mushaf-mushaf Al-Qur'an di Kepulauan Riau.

More info:

Published by: aliakbarkaligrafi on Nov 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/26/2015

pdf

text

original

Khazanah Manuskrip Al-Qur'an di Kepulauan Riau

Pameran dalam rangka Perkemahan Pramuka Santri Nusantara Batam, 2-8 Juli 2012

Bayt Al-Quran

& Museum Istiqlal

Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI
Join our group and page: Bayt Al-Qur'an & Museum Istiqlal Follow us on Twitter: @bqmi

Gedung Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta 13560 Telp./Faks: (021) 8416468, 87798807 Website: www.lajnah.kemenag.go.id Email: lpmajkt@kemenag.go.id

Khazanah Manuskrip Al-Qur’an di Kepulauan Riau

Khazanah Manuskrip Al-Qur’an di Kepulauan Riau

Katalog ini diterbitkan oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI dalam rangka pameran pada Perkemahan Pramuka Santri Nusantara Batam, 2-8 Juli 2012 Pengarah: Drs. H. Muhammad Shohib, MA Penanggung Jawab: Drs. H. Yasin Rahmat Ansori Koordinator: Drs. H. Suja’i, MM Editor: Ali Akbar Riset: Ahmad Yunani, Abdul Hakim, Adimas Bayumurti, Ida Fitriani Tim Pameran: Bubun Budiman, Nurudin, Aris Munandar Desain & Layout: Syaifuddin

Kata Pengantar
Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an
Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an, berdasarkan Peraturan Menteri Agama RI Nomor 3 Tahun 2007, ditetapkan sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) di lingkungan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI. Lembaga ini memiliki tiga ranah tugas yang terwujud dalam 3 bidang, yaitu Bidang Pentashihan Mushaf Al-Qur'an, Bidang Pengkajian Al-Qur'an, serta Bidang Bayt Al-Qur'an dan Dokumentasi. Bidang Pentashihan Mushaf Al-Qur'an bertugas melaksanakan pentashihan mushaf, terjemahan dan tafsir Al-Qur'an, baik dalam bentuk cetak, elektronik maupun digital, serta melaksanakan pembinaan dan pengawasan hasil pentashihan dan peredaran mushaf di masyarakat. Naskah mushaf yang sudah melewati proses pentashihan akan memperoleh tanda tashih. Bidang Pengkajian Al-Qur'an bertugas melaksanakan pengembangan, pengkajian, penerbitan mushaf, terjemah dan tafsir Al-Qur'an, serta melakukan sosialisasi dan pelaporan hasil pengkajian Al-Qur'an. Di antara produk yang telah dihasilkan di antaranya penyempurnaan Al-Qur'an dan Tafsirnya, Tafir Tematik, Tafsir Ilmi, serta beberapa judul buku lain. Adapun Bidang Bayt Al-Qur'an dan Dokumentasi bertugas melaksanakan pemeliharaan dan pengelolaan Bayt Al-Qur'an & Museum Istiqlal, melaksanakan pengumpulan dan pemeliharaan benda budaya Islam, menyelenggarakan pameran, serta pelayanan kepustakaan. Perkemahan Pramuka Santri Nusantara yang diselenggarakan di Batam, 2-8 Juli 2012 merupakan peristiwa penting terkait dengan Al-Qur'an. Oleh karena itu Lajnah merasa perlu berpartisipasi dalam bentuk pameran khusus, berjudul “Khazanah Manuskrip Al-Quran di Kepulauan Riau”. Dari penyelenggaraan pameran ini diharapkan masyarakat mengetahui tahaptahap perkembangan penyalinan mushaf Al-Qur'an – khususnya di Indonesia – sejak tulisan tangan, cetakan awal (early printing), cetakan offset, hingga era digital. Saya menyampaikan terima kasih yang setulusnya kepada Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI yang senantiasa memberikan arahan untuk suksesnya program kegiatan Lajnah, termasuk kegiatan pameran ini. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada segenap anggota tim pameran yang telah mempersiapkan katalog dan menyelenggarakan pameran ini.

Jakarta, Juli 2012 Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an,

Drs. H. Muhammad Shohib, MA NIP 19540709 198603 1 002

Daftar Isi
Kata Pengantar — 3 Khazanah Manuskrip Al-Quran di Kepulauan Riau — 7 Khazanah Mushaf Kuno di Indonesia — 13 Mushaf Al-Qur'an di Indonesia sejak Abad ke-19 hingga Pertengahan Abad ke-20 — 21 Dari Mushaf “Bombay” ke Mushaf “Kontemporer”: Perkembangan Pencetakan Mushaf Al-Qur'an sejak 1950-an hingga Kini — 27 Katalog — 33

Khazanah
Manuskrip Al-Qur'an di Kepulauan Riau

ulisan singkat ini menyajikan sejumlah koleksi manuskrip Al-Qur'an di Kepulauan Riau, khususnya di Pulau Penyengat dan Pulau Lingga. Sementara ini yang tercatat baru mushaf yang berasal dari kedua pulau tersebut, meskipun tidak tertutup kemungkinan adanya naskah mushaf di pulau-pulau lainnya. Tulisan ini bukanlah kajian mushaf Riau secara historis, namun hanya merupakan inventarisasi yang memaparkan sejumlah koleksi secara deskriptif, sebagai perkenalan awal terhadap khazanah mushaf di wilayah kepulauan ini. Kajian lebih lanjut mengenai mushaf-mushaf ini mudahmudahan dapat segera dilakukan. Pada masa lalu, di wilayah ini pernah berdiri kerajaan besar yang mempunyai pengaruh kuat, baik secara politik maupun budaya. Naskahnaskah yang kini tersimpan di Masjid Raya Sultan Riau dan Pusat Maklumat Kebudayaan Melayu – keduanya di Pulau Penyengat – maupun naskahnaskah yang ada di tangan masyarakat setempat, baik berupa naskah keagamaan maupun sastra, membuktikan dengan jelas kebesaran tanah ratusan pulau ini pada masa lalu. Namun, disayangkan, banyak di antara naskah penting itu kini dalam kondisi rusak, karena dimakan usia.

T

Mushaf 1 Mushaf ini merupakan manuskrip yang bersejarah, dan sangat penting, koleksi Masjid Raya Sultan Riau, Pulau Penyengat. Naskah ini ditulis di Kedah (Malaysia sebelah utara), selesai pada 25 Ramadan 1166 H (26 Juli 1753). Penyalinnya adalah Ali bin Abdullah bin Abdurrahman, seorang keturunan Bugis dari Wajo, yang menyelesaikan mushaf tersebut pada masa Sultan Muhammad Jiwa, seorang sultan yang alim dan warak, memerintah negeri Kedah pada 1710-1778. Mushaf ini diduga dibawa ke Pulau Penyengat oleh Raja Haji Fisabilillah (1727-1784) sekembalinya dari penyerbuan ke negeri Kedah pada 1770. Kondisi mushaf ini dari tahun ke tahun semakin rusak, dan saat ini hampir-hampir tidak bisa dibuka lagi, karena kertas mushaf 'termakan' tinta yang mengandung semacam zat besi (iron gall). Halaman kolofon, misalnya, yang pada tahun 2007 masih terbaca, meskipun kertas sudah pecah-pecah, tahun 2011 lalu sebagian besar sudah rontok dan tidak bisa terbaca lengkap lagi. Mushaf ini merupakan satu “keluarga” dengan empat mushaf lain, yaitu (1) koleksi Perpustakaan Nasional RI Jakarta nomor A.49,

Khazanah Manuskrip Al-Qur'an di Kepulauan Riau

7

dengan tarikh Sya'ban 1143 H (Februari/Maret 1731); (2) Mushaf Sultan Ternate, bertarikh 9 Zulhijah 1185 (14 Maret 1772); (3) satu buah mushaf lain di Museum Babullah istana Ternate, tanpa kolofon; dan (4) sebuah mushaf koleksi The Aga Khan Trust di Jenewa, Swiss, bertarikh 25 Ramadan 1219 H (28 Desember 1804). Kelima mushaf ini memiliki kesamaan dalam berbagai hal, terutama gaya tulisan dan iluminasinya, di samping kesamaan dalam teks-teks tambahan berupa catatan qiraat yang lengkap, salinan ulumul-Qur'an di awal dan akhir mushaf, serta perhitungan jumlah huruf dalam Al-Qur'an. Iluminasi mushaf-mushaf tersebut mempunyai akar yang sama, yaitu apa yang disebut sebagai “gaya Sulawesi Selatan”.

Mushaf 1. Halaman kolofon di akhir mushaf. Manuskrip Mushaf koleksi Masjid Raya Sultan Riau, Pulau Penyengat.

Kolofon di halaman akhir mushaf selengkapnya berbunyi: Wa kāna al-farāgh min tahsīli hāzā almushaf al-karīm nahāra al-Jum'at min Ramadhān fī waqti al-'asri madat khamsa wa 'isyrūna yauman min syahri Ramadhān almubārak fī Bandar Kedah qaryah Padang Saujana fi zamāni Maulānā Paduka Sri as-Sultān

al-A'zam wa al-Khāqan wa al-A'dal al-Afkham Muhammad Jiwa Zain al-'Ādilīn Mu'azzam Syah sanat 1166 alf wa mi'at wa sitt wa sittūn min alhijrat an-nabawiyyah 'alā sāhibihā afdal assalāti wa azka at-taslīm bi-khatt al-faqīr alkhaqīr ad-da'īf al-mu'tarif bi az-zanbi wa attaqsīr ar-rājī ilā 'afwi rabbihi al-karīm Alī bin Abdullāh bin Abdurrahmān al-Jāwī al-Būqisī alWājūwī asy-Syāfi'ī mazhaban at-Tempe baladan wa maulidan wa watanan wa an-Naqsyabandi ... ... Maulānā as-Sultān 'Alā'uddīn bin al-marhūm ... ghafara Allāhu lahum wa li-wālidaihim wa lijamī'il-muslimīn wal-muslimāt wal-mu'minīn [wa al-mu'minīn] wal-mu'mināt al-ahyā'i minhum wal-amwāt. Artinya: Selesai menyalin mushaf yang mulia ini siang Jumat, Ramadhan pada waktu asar, 25 bulan Ramadhan yang penuh berkah di Kota Kedah desa Padang Saujana [Sejana] pada zaman Maulana Paduka Sri Sultan Yang Agung, Pemimpin Yang Adil Yang Besar Muhammad Jiwa Zain al-'Adilin Mu'azzam Syah tahun 1166 seribu seratus enam puluh enam Hijrah Nabi pemilik salawat yang utama dan salam yang suci, dengan tulisan yang fakir yang hina yang lemah yang mengakui dosanya dan kekurangannya yang mengharapkan ampunan Tuhannya Yang Mulia, Ali bin Abdullah bin Abdurrahman al-Jawi alBuqisi al-Wajuwi, Syafi'i mazhabnya, Tempe daerahnya dan kelahirannya serta negerinya, Naqsyabandi ... ... Maulana Sultan 'Ala'uddin bin al-marhum ... semoga Allah mengampuni mereka dan orang tua mereka serta semua kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mu'minat yang masih hidup dan yang telah wafat. Mushaf 2 Mushaf indah ini berukuran 40 x 25 cm, tebal 7 cm. Kertas Eropa, dengan cap kertas semacam perisai dan cap tandingan berupa huruf IV (atau VI?). Kondisi mushaf masih cukup baik, lengkap 30 juz. Setiap halaman terdiri atas

8

Khazanah Manuskrip Al-Qur'an di Kepulauan Riau

15 baris, dengan model “ayat pojok”. Sebagaimana tercantum di halaman awal manuskrip, mushaf ini mengalami penjilidan ulang di Singapura pada tahun 1956. Kemungkinan, pada saat penjilidan ulang ini, pinggiran halaman mushaf dipotong, sehingga sebagian iluminasi yang indah di bagian dalam mushaf terpotong. Iluminasi naskah bermotif floral yang mewah, dan bersepuh emas, terdapat di awal dan tengah mushaf. Di samping itu terdapat tiga 'iluminasi kepala' di bagian atas halaman, yaitu di awal juz ke-4, awal juz ke-30, dan akhir mushaf. Gaya iluminasi mushaf ini dapat digolongkan ke dalam gaya “Pantai Timur” Semenanjung Melayu, yang memang terkenal mewah, indah, teliti, dan sering bersepuh emas. Menurut catatan di kotak mushaf, Al-Qur'an ini selesai disalin pada tahun 1867 oleh Abdurrahman Stambul, seorang penduduk Pulau Penyengat yang dikirim oleh Kerajaan Lingga ke Mesir untuk memperdalam ilmu agama dan khat. Mushaf ini berada di dalam Masjid Raya Sultan Riau, Pulau Penyengat, ditempatkan di dalam kaca khusus, di atas rehal lama yang diukir cantik. Mushaf 3 Mushaf ini, berkode 123, disimpan di lemari kitab di Masjid Raya Sultan Riau, Pulau Penyengat. Saat ini kondisi mushaf sangat rapuh, rusak 'dimakan' tinta di hampir semua halaman. Bagian depan dan belakang mushaf telah hancur. Kertas Eropa yang digunakan mushaf ini rusak, kehitaman, khususnya di bagian teks ayat. Model teks yang digunakan adalah 'ayat pojok' dan setiap halaman terdiri atas 15 baris tulisan. Iluminasi terdapat di setiap awal juz, berupa hiasan bersepuh emas di bagian atas halaman. Melihat motif hiasannya, iluminasi mushaf ini dapat dimasukkan ke dalam gaya “Pantai Timur” Semenanjung Melayu.

Mushaf 4 Mushaf ini berkode 124, disimpan di dalam lemari kitab di Masjid Raya Sultan Riau, Pulau Penyengat. Kondisi mushaf telah rusak, kehitaman, khususnya di bagian bawah, diduga karena terkena air. Mushaf dengan kertas Eropa ini tipis, terdiri atas beberapa jilid. Baris-baris

Mushaf 2. Iluminasi tengah mushaf, awal Surah al-Isra'. Koleksi Masjid Raya Sultan Riau, Pulau Penyengat.

Mushaf 3. Koleksi Masjid Raya Sultan Riau, Pulau Penyengat

Khazanah Manuskrip Al-Qur'an di Kepulauan Riau

9

teks ayat ditulis jarang, dan antarbaris digunakan untuk terjemahan dalam bahasa Melayu dengan pola tulisan menggantung. Mushaf ini merupakan salah satu jilid dari satu set mushaf Al-Qur'an terjemahan. Salah satu jilid lainnya, yang semula tergabung dalam satu set yang sama, disimpan di Pusat Maklumat Kebudayaan Melayu, tidak jauh dari Masjid Sultan. Melihat gaya iluminasi yang terdapat di awal Surah as-Safat/37, juga huruf 'ain untuk tanda rukuk, juga model penulisan setiap kepala surah, memperlihatkan dengan jelas bahwa mushaf ini dapat digolongkan ke dalam “gaya Sulawesi Selatan”.
Mushaf 5. Koleksi Pusat Maklumat Kebudayaan Melayu, Pulau Penyengat.

Mushaf 6 Manuskrip ini merupakan salah satu dari dua koleksi mushaf yang terdapat di Pusat Maklumat Kebudayaan Melayu, Pulau Penyengat. Mushaf ini merupakan “Al-Qur'an ayat pojok”, setiap halaman terdiri atas 15 baris tulisan. Kertas Eropa, diperkirakan dari pertengahan abad ke-19. Kondisi mushaf cukup baik, meskipun bagian awal dan akhir mushaf

Mushaf 4. Koleksi Masjid Raya Sultan Riau, Pulau Penyengat.

Mushaf 5 Manuskrip ini merupakan koleksi Pusat Maklumat Kebudayaan Melayu, yang terletak sekitar 200 meter dari Masjid Raya Sultan Riau di Pulau Penyengat. Naskah ini merupakan salah satu dari sebuah set terjemahan Al-Qur'an dalam bahasa Melayu yang terdiri atas beberapa jilid. Terjemahan ditulis dengan model menggantung di sela-sela baris ayat. Kondisi naskah dengan kertas Eropa ini agak rusak, terutama di bagian bawah, karena lembab.

Mushaf 6. Koleksi Pusat Maklumat Kebudayaan Melayu, Pulau Penyengat.

10

Khazanah Manuskrip Al-Qur'an di Kepulauan Riau

tidak lengkap lagi. Sebagaimana umumnya mushaf dalam “gaya Pantai Timur”, setiap awal juz dimulai dari halaman di sebelah kanan, dan ditandai dengan medalioan bertulishan “al-juz'”. Mushaf 7 Manuskrip Al-Qur'an ini kondisinya cukup bagus, duhulu milik masyarakat, dan kini menjadi koleksi Museum Linggam Cahaya di Daik, Pulau Lingga, dengan cara hibah. Iluminasi mushaf ini sangat indah, dapat dikategorikan ke dalam rumpun yang sering disebut sebagai “gaya Pantai Timur” Semenanjung Melayu. Salah satu ciri yang menonjol dalam gaya ini adalah bentuk kaligrafi floralnya. Kepala-kepala surah dalam halaman beriluminasi ditulis dalam gaya floral yang sangat unik, merupakan gaya tulisan yang khas Nusantara. Naskah ini merupakan “mushaf ayat pojok”, setiap halaman terdiri atas 15 baris tulisan.

Museum Linggam Cahaya di Daik, Pulau Lingga. Kondisi mushaf telah rusak, khususnya bagian teks ayat, karena penggunaan tinta impor yang mengandung semacam zat besi (iron gall). Kerusakan pada bagian teks mushaf sangat parah, kehitaman, dan hampi-hampir tidak bisa dibuka lagi. Dilihat dari pola iluminasinya, yang digarap dengan teliti dan sangat indah, bersepuh emas, seperti kebanyakan mushaf dari Riau lainnya, mushaf ini dapat digolongkan ke dalam “gaya Pantai Timur” Semenanjung Melayu. Mushaf 9 Di samping mushaf-mushaf manuskrip di atas, terdapat pula mushaf cetak dalam jumlah cukup banyak, khususnya yang disimpan di lemari Masjid Raya Sultan Riau, Pulau Penyengat. Di antaranya adalah mushaf cetakan Bombay, India, akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20. Mushaf cetakan seperti itu dahulu beredar cukup luas di Nusantara, dari Palembang, Demak, madura, Lombok, Bima, hingga Filipina Selatan. Ali Akbar aliakbarkaligrafi@yahoo.com

Mushaf 8. Koleksi Museum Linggam Cahaya, Daik, Pulau Lingga.

Mushaf 7. Koleksi Museum Linggam Cahaya, Daik, Pulau Lingga.

Mushaf 8 Mushaf ini semula merupakan koleksi Masjid Sultan Lingga. Karena kurang terawat, atas usul Aswandi, sejarawan lokal Riau, sekarang dipindahkan dan menjadi koleksi

Khazanah Manuskrip Al-Qur'an di Kepulauan Riau

11

hati membagi foto dua mushaf dari Lingga; dan kepada Fairus Azian Ismail dan Mohd Zahamri Nizar (Shah Alam, Malaysia) yang berbagi informasi mengenai Kota Padang Sejana dan sejarah Kedah melalui facebook. Semua foto dibuat oleh Ali Akbar, kecuali foto mushaf 7 dan 8 oleh Aswandi Syahri, Tanjungpinang, Kepulauan Riau.

Daftar Pustaka Akbar, Ali. 2010. “Mushaf Sultan Ternate Tertua di Nusantara?: Menelaah Kembali Kolofon”, Jurnal Lektur Keagamaan, Vol.8, No.2, h. 283-296 Gallop, Annabel Teh. 2005. ”The Spirit of Langkasuka? Illuminated Manuscripts from the East Coast of the Malay Peninsula”. London, Indonesia and the Malay World, 33 (96): 113-182 Gallop, Annabel Teh. 2010. “The Bone Qur'an from South Sulawesi”, dalam Treasures of the Aga Khan Museum: Arts of the Book and Calligraphy, ed. Margaret S. Grases and Benoit Junod, Istanbul: Aga Khan Trust for Culture and Sakip Sabanci University & Museum, pp.162-173

Mushaf 9. Mushaf cetakan India, akhir abad ke-19, atau awal abad ke-20.

Ucapan Terima Kasih dan Catatan Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada beberapa pihak yang membantu saya sehingga tulisan singkat ini dapat terwujud. Pertama kepada Seasrep Foundation yang memberi kesempatan kepada saya pada tahun 2008-2009 untuk mengunjungi sejumlah provinsi di Indonesia untuk melakukan penelitian kaligrafi dan Qur'an Nusantara; kepada Annabel Teh Gallop yang membagi foto mushaf Pulau Penyengat tahun 2007; Jan van der Putten atas persahabatan yang hangat di

Penyengat tahun 2008; Aswandi Syahri yang berbaik

12

Khazanah Manuskrip Al-Qur'an di Kepulauan Riau

Khazanah
Mushaf Kuno di Indonesia
hazanah mushaf Al-Qur ’an kuno Indonesia – atau dengan kata lain “Nusantara”, dengan pengertian geografis dan budaya yang lebih luas – cukup banyak, baik dalam koleksi di Indonesia sendiri maupun luar negeri. Dapat diperkirakan bahwa mushaf merupakan naskah yang paling banyak disalin oleh masyarakata kita, sejak zaman dahulu. Di samping itu, dibanding jenis naskahnaskah yang lain, mushaf Al-Qur’an memperoleh perhatian istimewa karena banyak dihias dengan beragam corak hiasan. Tulisan ini hanya mencakup mushafmushaf Al-Qur’an yang kuno saja, terutama berupa tulisan tangan (manuskrip) dan cetakan awal (early printing) dalam bentuk litografi. Perkembangan penyalinan mushaf dalam bentuk cetakan modern, sesuai dengan perkembangan teknologi cetak yang sangat pesat, akan diuraikan dalam tulisan yang terpisah. Menelusuri Mushaf dalam Berbagai Katalog dan Lembaga Beberapa katalog telah menyebutkan mengenai keberadaan naskah Al-Qur’an. Henri Chambert-Loir dan Oman Fathurahman dalam Khazanah Naskah: Panduan Koleksi Naskahnaskah Indonesia Sedunia (Jakarta: École française d’Extrême-Orient dan Yayasan Obor

K

Indonesia, 1999), dalam bagian naskah-naskah berbahasa Arab, mencatat adanya sejumlah lembaga yang menyimpan Al-Qur’an, yaitu di antaranya Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal, Jakarta [saat ini menyimpan 23 naskah]; Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Jakarta, 9 naskah; Museum Negeri Provinsi Jawa Barat “Sri Baduga”, Bandung, 1 naskah [pada tahun 2003 tercatat ada 2 naskah]; milik perorangan di Purworejo, Jawa Tengah, paling tidak 2 naskah; Mesjid Jami Soasiu (Tidore) 3 naskah, di Ternate 6 naskah, antara lain sebuah naskah di Masjid

Mushaf kuno abad ke-19, koleksi Museum Negeri Sonobudoyo, Yogyakarta.

Khazanah Mushaf Kuno di Indonesia

13

Sultan Ternate ditulis pada tahun 1641; di Mesjid Pulau Penyengat 3 naskah; dan Museum Negeri Provinsi Sumatra Barat “Adityawarman” 3 naskah [pada tahun 2008 terdapat 13 naskah]. Di Jakarta, Toko Buku Walisongo/Yayasan Masagung, Jakarta, memajang 5 naskah (tahun 2008). Naskah-naskah tersebut ditawarkan dengan harga jual Rp 25 juta (seperti yang tertera di lemari pajang). Pada tahun 1995 yayasan ini mengoleksi sekitar 25 naskah, dan dipamerkan pada Festival Istiqlal II pada 1995. Sementara, “Museum Al-Qur’an” di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an, Jakarta Selatan, saat ini menyimpan 12 naskah. Museum Purna Bhakti Pertiwi di kompleks Taman Mini Indonesia Indah

Mushaf asal Bone, Sulawesi Selatan, 1804, koleksi Museum Aga Khan, Jenewa, Swiss. (Foto: Annabel Teh Gallop).

mengoleksi dua buah mushaf. Salah satunya beriluminasi sangat indah, berasal dari Surakarta, dan diperkirakan berasal dari tradisi yang sama dengan sebuah mushaf yang terdapat di Kraton Yogyakarta. Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jilid 1: Museum Sonobudoyo mencatat bahwa museum ini menyimpan 6 naskah. Mushafmushaf tersebut dibuat pada pertengahan abad ke-19, dan dua di antaranya ditulis tahun 18851895. Sementara dalam jilid 2 katalog induk tersebut, Kraton Yogyakarta tercatat menyimpan

4 naskah. Satu di antaranya ditulis pada tanggal 3 Oktober 1798 sampai dengan 12 Februari 1799. Naskah tersebut beriluminasi sangat indah. Sejumlah naskah Al-Qur’an juga dicatat dalam Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jilid 5A: Jawa Barat, Koleksi Lima Lembaga (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan École française d’Extrême-Orient, 1999), yaitu: Museum Pangeran Geusan Ulun, Sumedang, 7 naskah; EFEO Bandung, 4 naskah, di samping 7 naskah lain berisi petikan Al-Qur’an dan juz Amma. Di Eropa, kecuali Belanda, naskah Al-Qur’an tidak terlalu banyak. Hal ini sebagai akibat dari kajian mereka yang selalu terfokus pada bahasa dan sastra, sejak abad ke-17 maupun sesudahnya. Para peminat naskah juga lebih banyak mengumpulkan naskah-naskah sastra dan sejarah. Tidak ada Al-Qur’an Nusantara dalam naskah-naskah Raffles, Mackenzie dan Farquhar pada awal abad ke-19, demikian pula dalam naskah-naskah Wilkinson, Winstedt dan Maxwell pada awal abad ke-20. Di seluruh Inggris, sebelum tahun 1995 hanya terdapat 4 buah mushaf Nusantara. British Library hanya menyimpan dua buah Al-Qur’an dari Asia Tenggara, yang diperoleh John Crawfurd selama kekuasaan administratif Inggris di Jawa (18111815).1 Baru sejak tahun 1996 British Library memperoleh sekitar 7 buah mushaf lagi, dua di antaranya dari Aceh. Selain mushaf-mushaf tersebut, Gallop menemukan sebuah mushaf paling tua di Inggris, dari naskah-naskah William Marsden. Satu buah mushaf lainnya adalah koleksi Royal Asiatic Society (Arabic No. 4). Di Belanda, keadaannya agak berbeda. Menurut katalog Voorhoeve, di Belanda tercatat ada 32 mushaf lengkap, di samping terdapat 41 jilid terpisah bagian-bagian teks Al-Qur’an, dan sekitar 20 naskah lain yang memuat bagianbagian tertentu dari teks Al-Qur’an.2 Sedangkan di Prancis, menurut katalog Deroche, terdapat lima buah mushaf tersimpan di Bibliotheque Nationale. Di Jerman, setidak-

14

Khazanah Mushaf Kuno di Indonesia

tidaknya terdapat satu buah mushaf dari Jawa, 3 tersimpan di Staatsbibliothek zu Berlin. Adapun di Australia, beberapa mushaf dilaporkan terdapat di sebagian universitas dan 4 perpustakaan negara. Di samping jumlah yang terbatas itu, seorang kolektor di Adelaide memiliki sekitar 50 naskah keagamaan dari Madura yang ia beli di Bali. Dari naskah-naskah tersebut, 25 di antaranya mushaf, 3 buah dengan bahan kertas kulit kayu, satu buah berasal dari India, dan 3 buah lainnya merupakan naskah cetakan India, yang selesai dicetak pada Zulhijah 1283 H (1867 M). Di Malaysia, perhatian terhadap naskah cukup besar, terutama sejak sekitar dua atau tiga dasawarsa belakangan ini, dengan pendirian Pusat Manuskrip Melayu di Perpustakaan Negara Malaysia pada tahun 1985, dan dalam waktu yang sama, pendirian Islamic Arts Museum Malaysia (IAMM). Koleksi naskahnya diperoleh terutama melalui pembelian, sebagian di antaranya dari Indonesia. Pusat Manuskrip Melayu menyimpan 40 mushaf, sementara IAMM sekurang-kurangnya 20 mushaf (belum ada catatan yang pasti, namun sangat mungkin jauh lebih banyak daripada angka itu), kebanyakan dengan ciri mushaf Patani dan Terengganu. Lembaga yang juga menyimpan mushaf adalah Museum Al-Qur’an di Melaka. Museum yang masih terbilang baru ini pada tahun 2008 memajang 13 mushaf, sebagian di antaranya merupakan milik pribadi yang dititipkan di museum ini. Museum Seni Asia yang merupakan bagian dari Universiti Malaya, Kuala Lumpur, mengoleksi dua buah mushaf, dengan ciri Aceh dan Patani. Sedangkan Museum Negeri Terengganu mengoleksi 10 mushaf, sebagian beriluminasi sangat indah, bersepuh emas, dimungkinkan berasal dari Kesultanan Terengganu. Namun sebagian dari koleksi mushaf itu tidak lengkap 30 juz. Sedikit ke arah utara, Museum Negeri Kelantan menyimpan sebuah mushaf dari kertas

dluwang, dan melihat ciri fisiknya sangat mungkin berasal dari Jawa. Kandis Resource Centre, di desa pinggir pantai Kelantan, milik perajin ternama Almarhum Nik Rasyiddin, menyimpan 3 buah mushaf berciri Patani. Sementara, di bagian timur Malaysia, Museum Seni Islam Sarawak di Kuching mengoleksi 5 buah mushaf. Sangat mungkin kini koleksinya telah bertambah, karena pada tahun 2008 museum ini tengah bernegosiasi dengan sebuah toko di Jakarta yang menjual mushaf kuno. Di Malaysia, mushaf Al-Qur’an tidak hanya dikoleksi oleh lembaga pemerintah dan swasta, namun juga berada di tangan pribadi. Seorang kolektor naskah yang rajin keluar-masuk kampung memburu naskah, berasal dari Negeri Sembilan, mengoleksi paling kurang 14 mushaf, sebagian di antaranya berciri Aceh. Sementara itu, di Brunei Darussalam, Balai Pameran Islam Hassanal Bolkiah, tidak begitu jauh dari Bandar Seni Begawan, mengoleksi sejumlah mushaf Nusantara. Lembaga ini pada tahun 2008 menyimpan seluruhnya 231 naskah keagamaan dari berbagai negeri Islam, 135 di antaranya mushaf. Dari jumlah koleksi mushaf tersebut, berdasarkan ciri fisiknya dapat diidentifikasi 15 di antaranya merupakan mushaf Nusantara – sebagian dengan kertas dluwang, yang sangat mungkin berasal dari Jawa. Meskipun demikian, di kawasan Asia Tenggara, dewasa ini Indonesia tetaplah merupakan “gudang” naskah mushaf yang paling banyak, yang dimiliki baik oleh pribadi, museum, perpustakaan, masjid, maupun pesantren. Inventarisasi dan penelitian mengenai mushaf yang dilakukan oleh Puslitbang L e k t u r Ke a ga -

Sekelompok anak sedang belajar mengaji, dalam sebuah gambar dari tahun 1849. (Sumber: Malay Manuscripts: An Introduction, Kuala Lumpur: IAMM, 2008, hlm. 16.

Khazanah Mushaf Kuno di Indonesia

15

maan di berbagai daerah, pada tahun 2003 hingga 2005 membuktikan hal tersebut. Dari penelusuran keberadaan mushaf AlQur’an seperti digambarkan di atas, disertai dengan data lainnya, dapat diringkaskan bahwa dalam berbagai koleksi di Indonesia sekurangkurangnya terdapat 455 naskah, dan dalam koleksi berbagai lembaga di luar negeri sekurang-kurangnya terdapat 203 naskah. Semuanya berjumlah 658 naskah mushaf. Tentu saja angka ini bersifat sementara, dan akan bergerak terus sesuai dengan perolehan baru. Masih banyak koleksi mushaf yang belum tercakup dalam daftar di atas. Mengaji dan Menyalin Mushaf Al-Qur’an pada Masa Lampau Penyalinan Al-Qur ’an di Nusantara diperkirakan telah ada sejak sekitar akhir abad ke-13, ketika Pasai, di ujung timur laut Sumatra, menjadi kerajaan pesisir pertama di Nusantara yang memeluk Islam secara resmi melalui pengislaman sang raja.5 Meskipun demikian, mushaf tertua yang diketahui sampai saat ini berasal dari akhir abad ke-16, tepatnya bertitimangsa Jumadilawal 993 H (1585), dari 6 koleksi William Marsden. Naskah mushaf tua lainnya ditemukan di Belanda, yang diperoleh di Johor pada tahun 1606, dengan kolofon berbahasa Jawa.7 Penyalinan mushaf secara tradisional berlangsung sampai akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20 yang berlangsung di berbagai kota atau wilayah penting masyarakat Islam masa lalu, seperti Aceh, Padang, Palembang, Banten, Cirebon, Yogyakarta, Solo, Madura, Lombok, Banjarmasin, Samarinda, Makas-

Mengaji pada abad ke-19 atau awal abad ke-20. (Foto: KITLV)

sar, dan Ternate. Warisan penting masa lampau tersebut kini tersimpan di berbagai perpustakaan, museum, pesantren, ahli waris, dan kolektor, dalam jumlah yang cukup banyak. Pe nya l i n a n m u s h a f b e r m u l a d a r i pengajaran baca-tulis huruf Arab, yang dilakukan di sekolah tradisional atau keluarga. Di Sulawesi Selatan, seperti ditulis oleh Anthony Reid,8 menyangkut sistem pengajaran baca tulis AlQur’an, anak-anak Makassar menghabiskan satu jam di pagi dan malam hari dengan ulama, yang mengajari mereka “bagaimana menilai, menerangkan Al-Qur ’an, membaca dan menulis” dalam huruf Arab. Lebih lanjut, Islam di sini memperkenalkan huruf Arab untuk tujuantujuan agama dan lain-lain, tanpa mematikan sistem huruf lama mereka (ka-ga-nga). Untuk hal yang terakhir ini juga berlaku di Jawa. Sedangkan di Aceh, sekitar tahun 1600, telah terdapat banyak sekolah tempat anak-anak lelaki belajar membaca Al-Qur’an dalam bahasa Arab.9 Sekolah agama seperti itu juga dilaporkan terdapat di Banten, Mindanau, dan Ternate, tempat kalangan bangsawan dan pedagang besar belajar membaca dan menulis huruf Arab. Sebuah survei pendidikan yang diadakan pemerintah kolonial pada tahun 1831 menghasilkan kesimpulan bahwa di Jawa – diperkirakan tidak banyak peru-bahan sejak tahun 1819 – pendidi-kanIslam yang paling dasar adalah mem-baca Al-Qur’an, dan kadangkadang diikuti dengan mempelajari buku-buku keagamaan lainnya. Di Tegal, sekitar 1000 santri belajar membaca Al-Qur’an dan doa-doa. Di Pekalongan terdapat 9 pesantren yang menyelenggarakan pen-didikan keagamaan, dan di Jepara terdapat 90 pesantren. Di Kedu terdapat 5 pesantren, demikian pula terdapat di 10 Bagelen dan Banyumas. Pengetahuan dan kemampuan baca-tulis AlQur’an dengan demikian merupakan hal yang fundamental, dan setiap anak dituntut untuk menamatkan Al-Qur’an (khatam). Setiap muslim seharusnya memiliki Al-Qur’an, dan oleh karena

16

Khazanah Mushaf Kuno di Indonesia

itu penyalinan mushaf merupakan keniscayaan. Kalaulah tidak lengkap 30 juz, surah-surah tertentu yang dibaca pada kesempatan khusus 11 perlu dimiliki, seperti Surah Yasin. Melihat pentingnya kedudukan Al-Qur ’an dalam komunitas masa lalu tersebut, bukan tidak masuk akal jika dikatakan bahwa tradisi naskahnaskah keagamaan dimulai dengan penyalinan mushaf. Seiring dengan perkembangan komunitas muslim di berbagai wilayah Nusantara, salinan mushaf diperlukan semakin banyak, dan hal itu mendorong penyalinan mushaf, baik dilakukan oleh sekolah agama, kerajaan, atau penyalin naskah. Pada awal abad ke-19 Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi memperoleh uang dari jasa menyalin mushaf. Penyalinan mushaf pun tidak hanya dilakukan oleh para penyalin profesional. Mangkunegara I (1726-1796) dilaporkan pernah menyalin mushaf12 — anak sepupunya yang naik tahta menjadi PB IV pernah meminta dan menerima salah satu salinan ini. Selain itu Mangkunegara juga menyalin Kitab Turutan, biasanya berupa AlQur’an Juz ke-30. Keterlibatan raja dan kerajaan dalam penyalinan mushaf di Nusantara diperkirakan kuat juga melalui skriptorium kerajaan. Enam naskah Al-Qur’an dari Kesultanan Banten koleksi Perpustakaan Nasional RI (di samping puluhan naskah keagamaan lainnya) merupakan contoh yang jelas. Keenam Al-Qur’an tersebut memiliki ciri khas tertentu, sehingga dapat diperkirakan berasal dari tradisi naskah yang sama. Kualitas naskah-naskah ini cukup bagus, kebanyakan berukuran besar, dan sebagian berjilid-jilid. Sebagian besar mushaf ini memiliki catatan qira’at (ilmu tentang variasi baca Al-Qur’an) yang lengkap – memperlihatkan bahwa tradisi ilmu AlQur’an di Kesultanan Banten telah berkembang dengan baik. Empat Al-Qur’an koleksi Sultan Ternate, dan dua buah lainnya di Masjid Sultan, juga memiliki kualitas yang bagus, dengan catatan ilmu qiraat yang lengkap di bagian luar teks

Al-Qur’annya. Catatan qiraat ini juga terdapat dalam mushaf-mushaf dari Sulawesi Selatan, salah satunya dari kerajaan Goa. Menyangkut catatan ilmu qiraat ini, sesuatu yang perlu diselidiki lebih jauh, mengapa dalam Al-Qur’an dari kerajaan Terengganu, Patani, Aceh – yang sebagian berkualitas istimewa – tidak memuat catatan qiraat? Al-Qur’an dari Jawa, Padang, Maluku, juga jarang yang memuat qiraat itu. Penyalinan mushaf juga dilakukan oleh para ulama Nusantara yang bermukim di Mekah. Sebuah Al-Qur’an di Dayah Tanoh Abe ditulis oleh Abdul Wahab, di Mekah pada tahun 1209 H (1794). Demikian pula sebuah Al-Qur’an dari Wajo, Sulawesi Selatan, ditulis di Mekah, oleh penulis bernama Abdul-Hayy. Para penyalin Nusantara pada umumnya menyalin mushaf dan naskah lain terutama untuk keperluan pengajaran dan pembacaan sehari-hari. Dalam hal itu, tentu yang dibutuhkan adalah naskah yang sederhana dan mudah dibaca. Adapun naskah-naskah yang indah dan monumental, pada umumnya dibuat di keraton – sebagian barangkali dengan tujuan memperkuat wibawa. Gaya kaligrafi yang digunakan adalah Naskhi, atau ‘Naskhî’ menjelang Fârisî untuk tulisan Jawi yang biasanya bersifat resmi, misalnya surat kerajaan. Sejarah Islam menunjukkan bahwa para penyokong seni Islam, termasuk yang terpenting mushaf, adalah para raja atau elite penguasa. Keterlibatan para raja dan khalifah dalam penyalinan mushaf telah menjadi tradisi kerajaan-kerajaan Islam, dan mereka selalu menjadi pelindung yang paling penting. Di Indonesia demikian pula, para sultan atau bangsawan menjadi pemrakarsa penyalinan mushaf, seperti di Palembang, Surakarta, Yogyakarta, dan lain-lain. Penyalinan Al-Qur’an yang disponsori oleh kerajaan pada umumnya indah, baik dari segi kaligrafi maupun iluminasinya. Iluminasinya sering berlatarkan emas, dengan penggarapan

Khazanah Mushaf Kuno di Indonesia

17

detail yang baik, mementingkan segi keindahan mushaf. Sementara, mushaf yang dibuat oleh masyarakat Islam pada umumnya, termasuk kalangan pesantren, bersifat sederhana, atau amat sederhana, karena ketelitian penggarapan dan fungsinya berbeda. Mushaf bagi kalangan ini adalah untuk dibaca atau untuk keperluan pengajaran. Oleh karena itu, baik kertas, iluminasi maupun kaligrafinya jauh lebih sederhana. Hal tersebut terlihat jelas misalnya pada 12 naskah mushaf berkode AW (Abdurrahman Wahid) koleksi Perpustakaan Nasional RI yang berasal dari khazanah pesantren. Penutup Demikian beberapa hal menyangkut khazanah mushaf Al-Qur’an Nusantara dalam berbagai koleksi. Kajian terhadap perkembangan tradisi penyalinan mushaf, khususnya di Indonesia, tampaknya masih kurang mendapat perhatian dari para peminat kajian naskah. Di pihak lain, kajian terhadap rasm, ulumul Qur’an, sistem tanda baca, tajwid, ragam qiraat, ataupun aspek lainnya dalam mushaf-mushaf kuno itu juga masih menunggu untuk diteliti lebih jauh.[] Ali Akbar Catatan
Annabel Teh Gallop, “Is there a Penang Style of Malay Manuscript Illumination?: Some Preliminary Comments on the Art of the Malay Book, with Special Reference to Manuscripts in the Muzium Negeri Pulau Pinang” [Kertas kerja disampaikan pada The Penang Story International Conference, Penang, 1821 April 2002]; Gallop, “An Acehnese Style of Manuscript Illumination”, Archipel 68, catatan kaki no. 2; lihat pula Gallop, “Seni Hias Manuskrip Melayu”, dalam Warisan Manuskrip Melayu (Kuala Lumpur: Perpustakaan Negara Malaysia, 2002), h. 237. 2 Voorhoeve, P. 1980. Handlist of Arabic Manuscript in the Library of the University of Leiden
1

and other Coolections in the Netherlands. (2nd Enlarged Ed.) The Hague: Leiden University Press. 3 Informasi e-mail Annabel Teh Gallop, 2-6-2005 4 Informasi James Bennett, kurator seni Asia di Art Gallery of South Australia, Adelaide. 5 Annabel Teh Gallop, “Seni Mushaf di Asia Tenggara” (terj. Ali Akbar), Lektur, Vol. 2, No. 2, 2004, Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan, h. 123 6 Dalam penelitiannya mengenai mushaf koleksi berbagai lembaga di Inggris, Gallop memeriksa naskah-naskah koleksi William Marsden¯pernah bekerja di Bengkulu pada akhir abad ke-18¯yang sekarang disimpan di perpustakaan School of Oriental and African Studies (SOAS), University of London, di antaranya sebuah mushaf nomor MS 12716 berkolofon bahasa Arab, Jumadilawal 993 (1585). Berdasarkan kertas, bentuk buku dan kaligrafinya, Gallop berkesimpulan bahwa naskah tersebut dari Indonesia, mungkin dari Sumatra. (Informasi e-mail, 7-9-2004). 7 Mushaf ini telah dikaji oleh Peter G. Riddell dengan judul “Rotterdam MS 96 D 16: The Oldest Known Surviving Qur’an from The Malay World”, dimuat dalam Indonesia and the Malay World, Vol. 30, No. 86, 2002. 8 Anthony Reid, Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid 1, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1992, h. 257. 9 Ibid., h. 263, dengan merujuk ke beberapa sumber. 10 MC Ricklefs, Polarising Javanese Sosiety: Islamic and Other Visions c. 1830-1930, Singapore: NUS Press, 2007, h. 51. 11 A.H. Johns, “In the Language of the Divine: the Contribution of Arabic”, dalam Kumar and McGlynn, Illumination, Jakarta: Lontar, 1995, h.40 12 Ann Kumar, Prajurit Perempuan Jawa, Jakarta: Komunitas Bambu, 2008, h. 19

18

Khazanah Mushaf Kuno di Indonesia

Daftar Pustaka
Akbar, Ali. 2004. “Menggali Khazanah Kaligrafi Nusantara: Telaah Ragam Gaya Tulisan dalam Mushaf Kuno”. Lektur, 2 (1): 57-72. ———. 2006. “Beberapa Aspek Mushaf Kuno Indonesia”. Dialog No. 61, Th. XXIX: 78-93. Ambary, Hasan Muarif. 1998. Menemukan Peradaban. Jakarta: Logos. al-A‘zamî, M.M. 2005. Sejarah Teks Al-Qur’an dari Wahyu sampai Kompilasi: Kajian Perbandingan dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Jakarta: Gema Insani. Bafadal, Fadhal AR dan Rosehan Anwar. 2005. Mushaf-mushaf Kuno di Indonesia. Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan. Behrend, T.E. 1996. “Textual Gateways: The Javanese Manuscript Tradition” dalam Ann Kumar and John H. McGlynn. 1996. Illuminations: The Writing Traditions of Indonesia. Jakarta: Lontar Foundation - New York and Tokyo: Weatherhill, Inc. ———. 1998. Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jilid 4: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia - Ecole française d’Extrême-Orient. Berg, L.W.C. van den, and R. Friederich. 1873. Codicum Arabicorum in Bibliotheca Societatis Artium et Scientiarum quae Bataviae floret asservatorum catalogum. Batavia: Bruining et Wijt; Hagae Comitis: M. Nijhoff. Chambert-Loir, Henri dan Oman Fathurrahman. 1999. Khazanah Naskah. Jakarta: Ecole française d’Extrême-Orient dan Yayasan Obor Indonesia. Derman, M. Ugur. 1998. Letters in Gold: Ottoman Calligraphy from the Sakip Sabanci Collection, Istanbul. New York: The Metropolitan Museum of Art. Gallop, Annabel Teh. 2002. “Seni Hias Manuskrip Melayu,” dalam Warisan Manuskrip Melayu. Kuala Lumpur: Perpustakaan Negara Malaysia. ———. 2004. “An Acehnese Style of Manuscript Illumination.” Archipel, 68: 193-240. ———. 2004. “Seni Mushaf di Asia Tenggara” (terj. Ali Akbar). Lektur, 2 (2). ———. 2004. “Beautifying Jawi: Between Calligraphy and Palaeography.” [Makalah dalam Second International Conference on Malay Civilization:

Malay Images, Universiti Pendidikan Sultan Idris, Legend Hotel, Kuala Lumpur, 26-28 Februari 2004]. ———. 2005. “The Spirit of Langkasuka? Illuminated Manuscripts from the East Coast of the Malay Peninsula.” Indonesia and The Malay World, Vol. 33, No. 96. Gallop, Annabel Teh, and Ali Akbar. 2006. “The Art of the Qur ’an in Banten: Calligraphy and Illumination.” Archipel 72. Gallop, Annabel Teh, and Bernard Arps. 1991. Golden Letters: Writing Traditions of Indonesia. Jakarta: Yayasan Lontar. James, David. 1988. Qur’ans of the Mamluks. London: Alexandria Press. Lings, Martin, and Yasin Hamid Safadi. 1976. The Qur’an. London: World of Islam Festival Trust. Porter, Venetia, and Heba Nayel Barakat. 2004. Mightier than the Sword. Arabic Script: Beauty and Meaning. Islamic Art Museum Malaysia. Ronkel, Ph.S. van. 1913. Supplement to the catalogue of the Arabic manuscripts preserved in the Museum of the Batavia Society of Arts and Sciences. Batavia: Albrecht. Safadi, Yasin Hamid. 1978. Islamic Calligraphy. London: Thames and Hudson. Voorhoeve, P. 1980. Handlist of Arabic Manuscript in the Library of the University of Leiden and other Coolections in the Netherlands. (2 Enlarged Ed.) The Hague: Leiden University Press. Zain, Dzulhaimi Md. et al. 2007. Ragam Hias al-Qur’an di Alam Melayu. Kuala Lumpur: Utusan Publication.
nd

Khazanah Mushaf Kuno di Indonesia

19

Mushaf Al-Qur’an
di Indonesia sejak Abad ke-19 hingga Pertengahan Abad ke-20
erkembangan Islam di Nusantara yang demikian pesat telah melahirkan banyak ulama besar yang memiliki kemampuan tinggi dalam menulis kitab, antara lain Syeikh Nuruddin ar-Raniri, Syeikh Abdurra’uf Singkil, Syamsuddin Sumatrani, Hamzah Fansuri (Aceh), Syeikh Abdussamad al-Falimbani (Palembang), Syekh Nawawi (Banten), Syekh Muhammad Arsyad (Banjar), dan Syekh Yusuf (Makassar). Mereka inilah yang telah menyusun berbagai macam kitab dan buku-buku pengajaran Islam dalam berbagai bidang kajian, dari tafsir, akidah, syari’ah, akhlak, hingga tasawuf. Selain kitab, suatu hal yang tidak kalah pentingnya dalam khazanah Islam Nusantara adalah tradisi penulisan mushaf Al-Qur’an. Penyalinan Al-Qur’an di Nusantara diperkirakan telah dimulai sejak akhir abad ke-13, ketika Pasai secara resmi merupakan kerajaan Islam. Meskipun demikian, mushaf tertua yang diketahui sampai saat ini berasal dari akhir abad ke-16, tepatnya Jumadilawal 993 H (1585), dari koleksi William Marsden. Berdasarkan naskah Mushaf al-Qur’an tersebut, diperkirakan bahwa akhir abad ke-16 merupakan awal pertumbuhan penulisan Mushaf al-Qur’an di Indonesia. Naskah mushaf tua lainnya berasal dari Johor, tahun 1606, dengan kolofon berbahasa Jawa, yang saat ini dalam koleksi Belanda.

P

Penyalinan Al-Qur’an secara manual terus berlangsung sampai akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20 yang berlangsung di berbagai kota dan pusat kebudayaan Islam masa lalu, seperti Aceh, Padang, Palembang, Banten, Cirebon, Yogyakarta, Surakarta, Madura, Lombok, Pontianak, Banjarmasin, Samarinda, Makasar, Ambon, Ternate, dan wilayah lainnya. Sebagian warisan masa lalu tersebut, kini tersimpan di berbagai perpustakaan, museum, pesantren, ahli waris, dan kolektor, baik di dalam maupun di luar negeri. Berhentinya penyalinan mushaf Al-Qur’an secara manual tidak berarti tidak ada lagi proses produksi. Justru saat itulah mulai muncul teknik penyalinan yang lebih modern dan masif. Mushaf Al-Qur’an Cetakan Palembang, 1848 Di dunia Islam, salah satu wilayah yang lebih awal mengenal teknologi pencetakan AlQur’an adalah Mesir. Pada tahun 1798, percetakan di Mesir telah dimulai, yang diperkenalkan oleh Napoleon (1769-1821). Pada waktu itu mushaf Al-Qur’an dicetak per juz (mujaza’). Namun tidak ada satu pun mushaf cetakan masa itu yang tersisa hingga kini. Karena teknik cetak merupakan hal baru pada zaman itu, terjadi kontroversi terkait pencetakan AlQur’an. Ada beberapa ulama berpandangan

Mushaf Al-Qur’an di Indonesia

21

Surah al-Fatihah dan awal Surah alBaqarah pada Mushaf Al-Qur’an cetak batu dari Palembang, 1848. Perhatikan tanda waqaf dan nomor ayat serta tulisan basmalah. (Foto: Hakim Syukri).

bahwa percetakan merupakan bid’ah. Menggunakan huruf-huruf logam atau menggunakan tekanan yang berat dalam mencetak nama Allah merupakan hal yang dicela (makruh). Hal lainnya, dikatakan bahwa salah satu elemen percetakan adalah kulit anjing. Namun kontroversi tersebut tidak berlangsung lama, karena kebutuhan akan salinan mushaf semakin besar. Perkembangan teknologi cetak juga merambah Nusantara pada awal abad ke-19. Pada saat yang sama, penyalinan mushaf AlQur’an secara manual berangsur-angsur mulai ditinggalkan. Teknik cetak, baik cetak tipografi (menggunakan satuan huruf dari logam) maupun litografi (cetak batu) memudahkan untuk penggandaan mushaf, meskipun masih tetap terbatas. Sebuah mushaf cetak batu yang masih ada hingga sekarang adalah mushaf milik keluarga Abdul Azim yang dicetak pada 20 Agustus 1848 di Palembang oleh Haji Muhammad Azhari. Sejauh yang dike-tahui hingga kini, inilah mushaf cetakan litografi tertua di Asia Tenggara. Berdasarkan kolofonnya, mushaf ini dicetak menggunakan alat cetak batu “Paris Lithographique” yang

dibeli oleh Azhari di Singapura. Bertindak sebagai operator cetak adalah Ibrahim bin Husain, murid Abdullah bin Abdul Qadir Munsyi. Mushaf ini ditulis oleh Haji Muhammad Azhari bin Kemas Haji Abdullah. Dengan mesin ini, dalam sehari bisa menyelesaikan 2 mushaf 3 juz. Sehingga selama 50 hari merampungkan 105 mushaf. Mushaf cetak batu lainnya yang beredar di Indonesia adalah cetakan Singapura. Pada saat itu (abad ke-19) Singapura menjadi salah satu pusat aktivitas keagamaan di Asia Tenggara, dan salah satu kegiatannya adalah penyebaran bukubuku keagamaan. Beberapa ciri mushaf cetakan Palembang ini antara lain belum memiliki nomor ayat, menggunakan sistem ayat pojok, basmalah tidak termasuk bagian ayat, menggunakan rasm imla’i, terdiri dari 15 baris setiap halaman, terdapat kata alihan pada bagian bawah halaman, dan belum ada tanda wakaf (pemberhentian bacaan). Al-Qur’an Cetakan Akhir Abad ke-19 hingga Pertengahan Abad ke-20 Sebaran mushaf pada awal abad ke-20 sangat terkait dengan buku-buku keagamaan. Menurut Schrieke, pada tahun 1921 ada sekitar 10 buku dan beberapa majalah yang dicetak di Sumatra Barat (di percetakan Belanda), di Padang, Fort de Cock (Bukittinggi), dan Padang Panjang. Pada tahun 1920-an dan 1930-an terdapat lebih dari sepuluh penerbit/percetakan muslim yang beroperasi di berbagai kota di Sumatra Barat. Pada awal abad ke-20 bisa dikatakan daya beli orang Indonesia untuk buku-buku keagamaan masih rendah, dan satu-satunya kitab yang paling mengun-tungkan secara ekonomi bagi penerbit hanyalah Al-Qur’an. Sebelum perang kemerdekaan hanya ada beberapa penjual buku, tetapi tidak ada pernerbit kitab dalam arti yang sebenarnya di Indonesia. Penjual buku agama (termasuk mushaf Al-

22

Mushaf Al-Qur’an di Indonesia

Qur’an) yang besar adalah penerbit Sulaiman Mar’i Singapura, Maktabah al-Misriyyah Abdullah bin Afif Cirebon, dan penerbit Salim bin Sa’d Nabhan Surabaya (ketiganya adalah keturunan Arab), AB Siti Syamsiyyah Surakarta menerbitkan Al-Qur’an dan terjemahannya dalam aksara Jawa, Matba’ah al-Islamiyah Bukittinggi, dan sebuah penerbit di Batavia yang menerbitkan Al-Qur’an dan terjemahannya dalam bahasa Belanda. Penerbit-penerbit tersebut merangkap menjadi penerbit mushaf Al-Qur’an. Langkah mereka kemudian diikuti oleh Penerbit alMa’arif Bandung, yang didirikan pada akhir tahun 1948 oleh Muhammad bin ‘Umar Bahartha, yang sebelumnya pernah menjadi pegawai Abdullah bin ‘Afif Cirebon. Sementara, untuk mengukuhkan usahanya di bidang penerbitan mushaf, Penerbit Sulaiman Mar’i yang semula berada di Singapura pindah ke Surabaya dan berganti menjadi Bungkul Indah. Periode ini adalah era pencetakan AlQur’an secara massal, menggunakan teknologi cetak modern. Selain mushaf yang dicetak di Indonesia, pada saat itu banyak beredar pula mushaf yang berasal dari Turki, Mesir, dan India (Bombay). Beberapa percetakan terkenal pada saat itu antara lain Mustafa al-Babi al-Halabi, Matba’ah al-Muhammadiyah, Matba’ah alMisriyah, dan lain-lain. Sejumlah penerbit tersebut sudah mencetak mushaf Al-Qur’an sejak akhir abad ke-19. Beberapa ciri mushaf cetakan modern ini antara lain memiliki jumlah 15 baris setiap halaman, sudah mencantumkan nomor ayat (cetakan Bukittinggi), basmalah dalam Surah alFatihah tidak termasuk ayat, terdapat tanda tashih (cetakan Bombay, Bukittinggi, dan Afif), dan memiliki banyak tanda wakaf. Sedangkan jenis qiraat yang digunakan adalah riwayat Hafs dari Asim, sebagian dengan keterangan qiraat di bagian pinggir halaman. Mushaf-mushaf Al-Qur’an pada akhir abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20, meskipun

dicetak dengan teknologi yang relatif modern, tetapi gaya tulisannya dapat dikatakan masih sederhana. Bahkan model tulisannya pada umumnya diambil dari Al-Qur’an cetakan Bombay, dan sebagian Turki, yang telah beredar di Indonesia sejak akhir abad ke-19. Kini, penyalinan (produksi) mushaf AlQur’an semakin semarak, baik dari segi jumlah

Al-Qur’an dan terjemahannya dengan aksara Jawa. Diterbitkan oleh Ab Sitti Syamsiyah, Surakarta, 1935.

Surah al-Fatihah dan awal Surah al-Baqarah pada mushaf terbitan Matba’ah al-Islamiyah, Bukittinggi, tahun 1935. Perhatikan tanda waqaf dan nomor ayat. (Foto: Hakim Syukri).

Mushaf Al-Qur’an di Indonesia

23

penerbit, variasi mushaf, maupun jenis tulisannya. Hal itu sejalan dengan selera dan kesadaran masyarakat akan pentingnya mushaf Al-Qur’an. Bahkan media yang digunakan juga sangat bervariasi, seperti telepon genggam, compact disc, papan elektrik, dan lain-lain. Wallahu a’lam.[] Abdul Hakim Syukrie Lampiran 1. Kolofon Mushaf Al-Qur ’an cetakan Bukittinggi, 1933. Qad tammat hazihil mushaf al-karîm bi‘aunillâhi al-‘Karîm, muwâfiqan bi-rasm al-khatt al-Imâm Khalîfah Rasûlullâh sallallâhu ‘alaihi wa sallam Sayyidinâ Usmân bin ‘Affân radiyallâhu ta’âla ‘anhu. Wa kâna itmâmu tab‘ihi fî syahri Rabî‘il Akhir sanat 1352 H fî al-Matba‘ah al-Islâmiyyah biBûkittinggî. Artinya: Telah selesai (pencetakan) Mushaf al-Karim ini dengan pertolongan Allah Yang Mahaagung berdasarkan pada rasm khat Imam, pengganti Rasulullah saw, Sayyidina Usmân bin ‘Affân r.a. Selesai pencetakannya pada bulan Rabi’ul Akhir tahun 1352 H di Percetakan al-Islamiyah, Buktittinggi. 2. Tanda tashih pada mushaf Al-Qur’an cetakan Matba’ah al-Islamiyyah, Bukittinggi, 1933. Bismillâhirahmânirahîm Alhamdulillâhi al-lazi anzala al-kitâba ‘alâ ‘abdihi qur’ânan ‘arabiyyan gaira zî ‘iwajin la‘allahum yattaqûn. Wa takaffala bihifzihi min

mushaf Al-Qur’an cetakan Matba’ah al-Islamiyyah, Bukittinggi, 1933. (Foto: Hakim Syukri).

Mushaf Al-Qur’an cetakan Bukittinggi, tahun 1933. (Foto: Hakim Syukri).

at-tagyîr wa at-tahrîf fa-qâla: innâ nahnu nazzalnâ az-zikra wa innâ lahû lahâfizûn” wa tahqîqan li wa‘dihi qad khassa fî kulli ‘asrin a`immatun li hifzi kitâbihi min al-musfaini alakhyâr. Wa radda ‘âdiayata al-mu’ânidîn fî jami‘il aqtâr. Wa sallallâhu wa sallama ‘alâ sayyidinâ muhammadin wa ‘alâ âlihî wa ashâbihi wat-tâbi‘în wa man wallâhum bilmuhâfazati ‘alâ kitâbihi al-mubîn. Amma ba’du, fa-qad tasafahna haza almushaf asy-Syarif, wa tala’nâ mâ fihi fara’ainahu khaliyan min at-taghyir wa at-tahrif muqabilan bil-masahif al-mu’tamad al-musahih. Muwafiqan bi-rasmi al-khatt al-Imam ZunNurain wa al-Burhan Sayyiduna Usman bin Affan radliyallahu anhu. Wa qad iltazama tab’uhu hadrati syahmi al-fadhil sahibu al-Matba’ah alIslamiyyah HMS Sulaiman Bukittinggi Sumatra al-Wusta. Syukran lillahi mas’ahu wabaraka lahu fi mahyahu wa zalika al-matba’ah al-mazkur.

24 Mushaf Al-Qur’an di Indonesia

Katabahu biqalam al-Haj Abdul-Latif asySyakuur Ra‘is Mahkamah Syar‘iyah bi-Bukittinggi (Asy-Syaikh Sulaiman Ar-Rasuli, al-Hajj Abd alMalik) Artinya “Segala puji bagi Allah swt yang telah menurunkan Al-Quran dalam bahasa Arab yang tanpa kesalahan agar mereka bertakwa. Allah swt juga akan menjaganya seperti firman-Nya, “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan azZikra dan sungguh Kami-lah yang akan menjaganya.” Sebagai bentuk pembuktiannya, setiap masa selalu ada segolongan umat yang menghafalnya. Salawat dan salam kepada sayyidina Muhammad saw, para sahabat, tabi’in dan siapa saja yang menjaga kitab-Nya. Amma ba’du, kami telah mentashih mushaf ini, dan menelaah apa yang ada di dalamnya. Kami tidak menemukan tagyîr dan ta¥rîf. Sudah sesuai dengan mushaf-mushaf yang mu’tamad. Sesuai dengan rasm khat Imam Dzu Nuraini Sayyidina Usman bin Affan r.a. dan telah sah untuk dicetak oleh Percetakan Matba’ah alIslamiyah HMS Sulaiman, Buittinggi, Sumatra Tengah. Syukur ke hadirat Allah swt, semoga keberkahan selalu terlimpah kepada percetakan ini. Ditulis oleh Haji Abdul Latif Syakur. Ketua Mahkamah Syari’ah Bukittinggi, Syeikh Sulaiman ar-Rasuli, al-Hajj Abd al-Malik. 3. Tanda tashih berbahasa Jawa pada Mushaf Al-Qur’an cetakan Abdullah bin Afif Cirebon tahun 1352 H/1933 M. Nuwun pendonga selamat fid-dunya walakhirat. Ngaturi sumeruh yen kawulo sampun mutala’ah bi-tashih punika al-Qur’an bit-tajwid lan pundi-pundi ingkang lepat sampun kawula tashihaken kelayan kadar makrifate, li-annalinsân mahallun-nisyân. Kawula murih al-ajr was-sawâb minallâhi subhânahu wa ta’âla. Amîn.

Al-Hajj Muhammad Usman Al-Hajj Ahmad al-Badawi Kaliwungu, 20 Jumadil Awwal 1352 H. Artinya: “Mohon doa agar selamat dunia akhirat. Saya memberitahukan bahwa saya telah menelaah dan mentashih Al-Qur’an ini dengan teliti, dan kesalahan-kesalahan telah saya tashih semampu saya sebagai seorang manusia. Sesungguhnya manusia tempat kelupaan. Saya (hanya) mengharap pahala dan ganjaran dari Allah swt. Amin. Al-Hajj Mu-hammad Usman Al-Hajj Ahmad al-Badawi Kaliwungu, 10 September 1933

Mushaf Al-Qur’an cetakan Abdullah bin Afif Cirebon tahun 1352 H/1933 M. (Foto: Hakim Syukri).

Mushaf Al-Qur’an di Indonesia

25

Daftar Bacaan Bruinessen, Martin van, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat, Tradisi-tradisi Islam di Indonesia. Bandung: Mizan, Cet. II, 1995. Faizin, Hamam, Sejarah Pencetakan Al-Qur’an (tidak terbit). Puslitbang Lektur Keagamaan, Mushaf-mushaf Kuno di Indonesia, Jakarta: Puslitbang Lektur Keagamaan Departemen Agama, 2005. Surjomihardjo, Abdurahman, Sejarah Pers di Indonesia, Jakarta: Kompas, 2002. Sweeney, Amin, Karya Lengkap Abdullah bin Abdulkadir Munsyi: Jilid III, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2008. Tjandrasasmita, Uka, Arkeologi Islam Nusantara, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2009.

26 Mushaf Al-Qur’an di Indonesia

Dari Mushaf “Bombay” ke Mushaf “Kontemporer”
Perkembangan Pencetakan Mushaf Al-Qur’an Sejak 1950-an Hingga Kini

ushaf cetak yang beredar di Asia Tenggara sejak pertengahan abad ke1 9 h i n g ga a wa l a b a d ke - 2 0 kebanyakan adalah cetakan Bombay (atau Mumbai), India. Kota di pantai barat India ini, terutama sejak pertengahan abad ke-19 merupakan pusat percetakan buku-buku keagamaan yang diedarkan secara luas ke kawasan Asia Tenggara. Luasnya peredaran itu dapat dilihat dari peninggalan mushaf India yang terdapat di beberapa daerah, yaitu Palembang, Demak, Madura, Bima, Malaysia, hingga Filipina Selatan. Dengan demikian tidak mengherankan jika tradisi cetak mushaf di kawasan ini dimulai dengan mereproduksi mushaf yang sebelumnya telah dicetak di India itu. Jenis mushaf lainnya yang juga beredar di kawasan Asia Tenggara adalah cetakan Turki dan Mesir, dengan jumlah yang lebih sedikit, karena kebanyakan hanya dibawa oleh jamaah haji yang pergi ke tanah suci. Penerbit Sulaiman Mar’i yang berpusat di Singapura dan Penang, selama bertahun-tahun sejak sekitar tahun 1930-an ketika memulai usahanya, hanya mereproduksi mushaf cetakan Bombay. Itu terlihat dari ciri hurufnya yang tebal. Sebenarnya ada beberapa gaya tulisan mushaf India yang digunakan untuk menulis Al-Qur’an – meskipun kesemuanya ada kemiripan – namun

M

mushaf yang paling banyak dicetak adalah mushaf dengan gaya tulisan dan harakat tebal, yang kemudian sering disebut sebagai “AlQur’an Bombay”. Beberapa jenis mushaf berhuruf tebal itu selama puluhan tahun digunakan oleh masyarakat Asia Tenggara, terutama hingga tahun 1970-an. Sebagian penerbit juga masih mencetak mushaf jenis ini hingga sekarang – di samping mencetak mushaf dengan jenis huruf yang lain – karena semakin banyak pilihan jenis huruf yang bisa digunakan para penerbit. Para penerbit biasanya menggunakan teks mushaf India itu sebagai teks pokok, sementara untuk teks tambahan di bagian depan dan belakang mushaf bervariasi, bergantung pada pilihan penerbit. Teks tambahan berupa keutamaan membaca Al-Qur’an, makharij al-huruf, tajwid, doa khatam Al-Qur’an, daftar surah dan juz, dan lain-lain, biasanya ditulis oleh para khattat Indonesia. Jenis mushaf asing lain yang dicetak di Indonesia selama puluhan tahun adalah mushaf dari Turki. Turki memiliki tradisi kaligrafi yang sangat indah, terkenal sejak awal abad ke-16. Tradisi kaligrafi itu tercermin nyata dalam mushaf yang ditulis oleh para ahli kaligrafi Kesultanan Turki Usmani. Berbeda dengan mushaf dari India yang menggunakan rasm

Dari Mushaf “Bombay” ke Mushaf “Kontemporer”

27

usmani, mushaf dari Turki selalu ditulis dengan rasm imla’i dan menggunakan model ayat pojok (setiap halaman selesai dengan akhir ayat). Mushaf jenis ini biasanya digunakan para hafiz untuk menghafal Al-Qur’an, karena lebih memudahkan mereka dalam pembagian tahaptahap hafalan. Satu-satunya penerbit yang secara tekun mencetak mushaf ini adalah Penerbit Menara Kudus. Pentashihan dan Lahirnya Mushaf Standar Indonesia Terkait dengan upaya memelihara kemurnian, kesucian, dan kemuliaan Al-Qur’an, lembaga yang secara resmi mempunyai tugas memeriksa kesahihan suatu mushaf, yaitu Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an (sejak 2007 bernama Lajnah Pentashihan Mushaf AlQur’an). Lajnah secara kelembagaan dibentuk pada 1 Oktober 1959 berdasarkan Peraturan Menteri Muda Agama No. 11 Tahun 1959. Keberadaan Lajnah untuk melaksanakan tugas pentashihan mushaf diperkuat lagi dengan Keputusan Menteri Agama No. 1 Tahun 1982 yang menyatakan bahwa tugas-tugas Lajnah, yaitu (1) meneliti dan menjaga kemurnian m u s h a f A l - Q u r ’a n , re ka m a n , b a ca a n , terjemahan, dan tafsir Al-Qur’an secara preventif dan represif; (2) mempelajari dan meneliti kebenaran mushaf Al-Qur’an bagi orang biasa (awas) dan bagi tunanetra (Al-Qur’an Braille), rekaman bacaan Al-Qur’an dalam kaset, piringan hitam, dan penemuan elektronik lainnya yang beredar di Indonesia; dan (3) menyetop pengedaran mushaf yang belum ditashih oleh Lajnah. Untuk memperlancar tugas pentashihan yang dilakukan oleh Lajnah, terbit Surat Keputusan Menteri Agama Nomor 25 Tahun 1984 tentang Penetapan Mushaf Standar. Mushaf Standar merupakan acuan

Mushaf Al-Qur'an Standar Usmani ditetapkan oleh Menteri Agama RI melalui KMA. No 25 Tahun 1984.

bagi para anggota Lajnah untuk menjalankan tugasnya. Ada tiga jenis Mushaf Standar yang secara resmi menjadi pedoman kerja bagi Lajnah – dan dengan demikian secara resmi dapat diterbitkan dan diedarkan di Indonesia. Pertama, Mushaf Al-Qur’an Rasm Usmani. Penetapan mushaf ini berdasarkan mushaf cetakan Bombay, karena model tanda baca dan hurufnya telah dikenal luas oleh umat Islam di Indonesia sejak puluhan tahun – bahkan mungkin hampir satu abad. Kedua, Mushaf AlQur’an “Bahriyah” yang cenderung memiliki rasm ilma’i. Mushaf ini modelnya diambil dari mushaf cetakan Turki yang kaligrafinya sangat indah. Jenis mushaf ini juga telah digunakan secara luas oleh umat Islam di Indonesia, khususnya di kalangan para penghafal Al-Qur’an, dengan ciri setiap halaman diakhiri dengan akhir ayat. Ketiga, Mushaf Al-Qur’an Braille, yaitu mushaf bagi para tunanetra. Mushaf ini menggunakan huruf Braille Arab sebagaimana diputuskan oleh Konferensi Internasional Unesco Tahun 1951, yaitu al-Kitabah alArabiyyah an-Nafirah. Dalam penulisannya, jenis mushaf ini menggunakan prinsip-prinsip rasm usmani dalam batas-batas tertentu yang bisa dilakukan. Untuk kepentingan umat Islam di Indonesia, Mushaf Al-Qur’an Rasm Usmani dan Mushaf Al-Qur’an “Bahriyah” kemudian ditulis oleh putra Indonesia. Mushaf dengan rasm usmani ditulis oleh khattat Ustaz Muhammad Syadali Sa’ad, dan mushaf “Bahriyah” ditulis oleh Ustaz Abdur-Razaq Muhili, tahun 1984-1989. Mushaf dengan rasm usmani telah mengalami penulisan ulang oleh Ustaz Baiquni Yasin dan timnya, pada tahun 1999-2001. Sedangkan mushaf Bralille diterbitkan dan diproduksi, di antaranya oleh Koperasi Karyawan Abiyoso, Bandung. Perkembangan Penerbitan Mushaf Generasi pertama pencetak mushaf AlQur’an di Indonesia adalah Abdullah bin Afif

28

Dari Mushaf “Bombay” ke Mushaf “Kontemporer”

Cirebon yang telah memulai usahanya sejak tahun 1930-an – bersamaan dengan Sulaiman Mar’i yang berpusat di Singapura dan Penang – serta Salim bin Sa’ad Nabhan Surabaya. Usaha bidang ini kemudian disusul oleh Penerbit AlMa’arif Bandung yang didirikan oleh Muhammad bin Umar Bahartha pada tahun 1948. Mereka tidak hanya mencetak Al-Qur’an, namun juga buku-buku keagamaan lain yang banyak dipakai umat Islam. Pada tahun 1950-an penerbit mushaf di antaranya adalah Sinar Kebudayaan Islam dan Bir & Company. Penerbit Sinar Kebudayaan Islam menerbitkan mushaf pada tahun 1951. Bir & Co mencetak sebuah mushaf dengan tanda tashih dari Jam’iyyah al-Qurra’ wal-Huffaz (perkumpulan para pembaca dan penghafal AlQur’an) tertanggal 18 April 1956. Pada tahun 1960-an Penerbit Toha Putra Semarang memulai kegiatan yang sama, lalu disusul Penerbit Menara Kudus. Penerbit lainnya pada sekitar periode ini adalah Tintamas, Sinar Kebudayaan Islam, dan beberapa penerbit kecil lainnya. Sampai dengan dekade 1970-an dan 1980an sejumlah penerbit di atas masih merupakan “pemain utama” dalam produksi mushaf di Indonesia. Pada periode tersebut muncul sejumlah penerbit mushaf baru, di antaranya, Firma Sumatra, CV Diponegoro, CV Sinar Baru, CV Lubuk Agung, CV Angkasa, CV Al-Hikmah (Bandung); CV Wicaksana, CV Al-Alwah (Semarang); CV Bina Ilmu (Surabaya); CV Intermasa (Jakarta), serta beberapa penerbit kecil lainnya. Jenis mushaf yang dicetak, hingga dekade tersebut, adalah mushaf asal Bombay yang berkarakter tebal, dengan tambahan “muatan lokal” berupa tajwid, keutamaan membaca Al-Qur’an, daftar surah, dan lain-lain, dalam tulisan Jawi (huruf Arab-Melayu). Teks tambahan tersebut terdapat di bagian awal atau akhir mushaf yang ditulis oleh ahli kaligrafi tempatan, sehingga perbedaan kaligrafinya terlihat sangat kontras. Pada dekade 1990-an muncul sejumlah

penerbit mushaf yang baru, yaitu PT Al-Amin, PT Inamen Jaya, PT Mutiara, PT Sugih Jaya Lestari, PT Tehazet, CV Doa Ibu, CV Pustaka Amani, PT Zikrul Hakim (Jakarta); CV Jumanatul Ali, CV Sugih Jaya Mukti, CV Sriwijaya, Yayasan Pustaka Fitri (Bandung); CV Asy-Syifa, CV Aneka Ilmu, CV Hilal, PT Tanjung Mas Inti CV Istana Karya Mulya, CV Kumudasmoro, PT Salam Setia Budi (Semarang); CV Karya Abadi Tama, CV Duta Ilmu, CV Al-Hidayah, CV Delta Adiguna, CV Aisyiyah, UD Mekar, CV Terbit Terang, dan CV Ramsa Putra (Surabaya). Pada dekade 2000-an beberapa penerbit mushaf baru di antaranya, Penerbit Serambi, PT Pena Pundi Aksara, CV Maghfiroh, PT Lautan Lestari, PT Cicero, PT Gema Insani Press, CV Cahaya Qur’an, CV Darus Sunnah, CV Pustaka AlKautsar (Jakarta); PT Syamil (sekarang Sygma Eksamedia Arkanleema), Penerbit Mizan,CV Fajar Utama Madani, CV Mi’raj Hasanah Ilmu, CV Jabal Raudhatul Jannah, CV Salamadani (Bandung); CV Karya Putra, PT Masscom Graphy (Semarang); PT Tiga Serangkai, Komari Publishing, CV Era Adicitra (Surakarta); CV Sahara, CV Barokah Putra, CV Kartika Indah,dan CV Assalam (Surabaya). Terakhir, mengawali dekade 2010, penerbit baru yang muncul, yaitu Penerbit Kalim, PT Lentera Abadi, CV Bayan Qur’an, Pustaka Jaya Ilmu, Cahaya Intan, PT Juara Persada, Wahyu Media, CV Cahaya Robbani Press, PT Let’s Go (Jakarta); CV Fokus Merdia, CV Nawa Utama (Bandung); Penerbit Djaja Diva, Pinus Book Publisher (Yogyakarta); CV Karya Semesta (Salatiga); Penerbit Duta Surya, dan CV Imam (Surabaya). Sejak dekade 2000-an, beberapa penerbit yang semula hanya menerbitkan buku keagamaan – dan mereka telah sukses di bidangnya – mulai tertarik untuk menerbitkan mushaf. Penerbit buku keagamaan yang kemudian tertarik menerbitkan mushaf, yaitu Mizan, Syamil, Serambi, Gema Insani Press, dan Pustaka Al-Kautsar. Bahkan sebagian lain semula

Dari Mushaf “Bombay” ke Mushaf “Kontemporer”

29

merupakan penerbit buku umum yang telah sukses, yaitu Tiga Serangkai, Cicero, dan Masscom Graphy (penerbit koran Suara Merdeka, Semarang). Selepas krisis ekonomi Indonesia tahun 1998, dan sejalan dengan selera masyarakat yang semakin tinggi dalam hal desain buku, mengikuti kompetisi pasar mushaf memang semakin diminati para penerbit. Besarnya “kue” pasar mushaf secara kasar dapat dilihat dengan semakin meningkatnya kesadaran keagamaan umat yang tercermin dari ramainya majelismajelis taklim dan majelis zikir yang dihadiri berbagai lapisan umat Islam. Mushaf Generasi Baru Para penerbit mushaf dekade 1980-an, setelah terbitnya Mushaf Standar, hingga awal dekade 2000-an, pada umumnya masih meneruskan tradisi lama dalam produksi mushaf. Mereka kebanyakan hanya mencetak AlQur’an Bombay (yang telah distandarkan), Mushaf Standar yang telah ditulis ulang oleh kaligrafer Indonesia, atau Al-Qur’an “Bahriyah” model sudut. Sampai sejauh itu tidak ada inovasi yang berarti baik dalam tampilan maupun komposisi isi mushaf. Dalam hal desain kulit, misalnya, pada umumnya hanya menampilkan desain simetris dalam bentuk dekorasi persegi yang berisi ragam hias floral, dengan tulisan “Qur’an Majid” atau “ a l - Q u r ’a n a l - K a r i m ” berbentuk bulat di dalam medalion yang terletak di posisi tengah. Warna yang digunakan pun adalah warnawarna dasar seperti merah, hijau, biru, coklat, kuning, dan emas.

Mushaf Al-Qur’an al-Karim Edisi Doa. Cover mushaf ini menampilkan desain mushaf generasi baru.

Era baru dalam produksi mushaf muncul sejak awal dekade 2000-an, ketika teknologi komputer semakin maju, dan dimanfaatkan dengan baik oleh para penerbit. Perubahan itu, pertama, dalam hal kaligrafi teks mushaf. Sejak awal dekade itu, hingga sekarang, para penerbit pada umumnya memodifikasi kaligrafi Mushaf Madinah yang ditulis oleh khattat Usman Taha. Mushaf Madinah dicetak oleh Mujamma’ alMalik Fahd li-Tiba’at al-Mushaf asy-Syarif yang bermarkas di Madinah. Tulisan karya kaligrafer asal Syria itu memang terkenal cantik, dengan keindahan anatomi huruf yang hampir tanpa cela. Ejaan teks Al-Qur’an Mushaf Madinah yang tidak sama dengan Mushaf Standar disesuaikan oleh para penerbit dengan program komputer tertentu. Memang membutuhkan waktu yang lama dan ketekunan yang ekstra untuk menyesuaikan ejaan dan tanda baca satu per satu. Namun keindahan hurufnya sangat diminati masyarakat, sehingga mushaf dengan huruf yang tipis itu ditunggu masyarakat. Penerbit mushaf pertama yang memodifikasi kaligrafi Usman Taha, jika tidak salah, adalah Penerbit Diponegoro dari Bandung. Setelah itu, selama bertahun-tahun hingga sekarang, banyak sekali penerbit yang memodifikasi kaligrafi tersebut. Bahkan, para penerbit pendatang baru, hampir semuanya menggunakan kaligrafi model itu. Terkait dengan teks Al-Qur’an, sebagian penerbit juga berkreasi dengan memberi warna khusus, tidak hanya kata “Allah” atau “rabb”, tetapi pengeblokan ayat-ayat tertentu. Misalnya, ayat-ayat yang berisi doa, ayat sajdah, dan ayat-ayat tentang perempuan. Penerbit Syamil Bandung mengeblok ayat-ayat khusus tentang perempuan dengan warna ungu, sementara penerbit lainnya memberi warna merah. Pewarnaan pada teks Al-Qur’an juga dilakukan terkait dengan tajwid. Dengan maksud menuntun para pembaca Al-Qur’an yang masih awam ilmu tajwid, sebagian penerbit memberi

30

Dari Mushaf “Bombay” ke Mushaf “Kontemporer”

warna tertentu terkait hukum bacaan dalam ilmu tajwid. Pewarnaan itu dimaksudkan sebagai kode, agar pembaca senantiasa ingat hukum bacaan tertentu dengan melihat kode warna itu. Teknik pewarnaannya ada yang menggunakan blok, arsir, atau warna hurufnya sendiri. Perubahan lainnya adalah dalam tampilan kulit (cover) mushaf. Para penerbit mushaf era baru tampaknya tidak mau terikat dengan “konvensi” desain kulit mushaf yang selama ini seakan-akan hanya berbentuk persegi. Para penerbit mengeksplorasi bentuk-bentuk baru, ragam hias dan komposisi baru, sehingga kadang-kadang mengesankan suatu mushaf dengan desain yang agak aneh. Warna yang digunakan pun tidak kaku lagi, dengan menggunakan warna-warna cerah, dan disempurnakan dengan lapisan plastik dan vernis yang semakin menambah mewah. Sebagian mushaf juga menggunakan warna tertentu, disesuaikan dengan sasaran pasar yang dituju. Kulit sebuah mushaf dengan sasaran pasar perempuan diberi warna ungu, dan ditulis “For Woman”. Bahan kulit mushaf yang digunakan para penerbit juga sangat diperhitungkan. Sebuah mushaf yang ditujukan untuk mahar pernikahan (maskawin) – demikian sebuah penerbit mengiklankan mushafnya – cover-nya akan dibuat dengan sangat mewah. Tema back to nature pun dimanfaatkan penerbit mushaf. Penerbit Diponegoro Bandung berkreasi cukup unik, dengan menempelkan jenis biji-bijian atau buah tertentu di cover mushaf produksinya. Perubahan pada tampilan Al-Qur’an tampak lebih “seru” lagi pada Al-Qur’an yang disertai terjemahan. Barangkali, dengan asumsi bahwa Al-Qur’an dan terjemahannya itu adalah “setengah buku”, maka tampilan jenis Al-Qur’an ini lebih banyak ragamnya, dan agak “bebas”. Para penerbit tampak tidak ragu-ragu untuk menawarkan kelebihan produknya dibanding produk dari penerbit lainnya. Mereka berlombalomba mengasah kreativitas, baik dalam hal

cover, isi, maupun kelengkapan teks tambahannya. Para pembaca seolah-olah semakin dimanjakan dengan berbagai tawaran manis yang diajukan penerbit. Kelengkapan teks tambahan dalam Al-Qur’an dan terjemahannya sangat bervariasi. Misalnya, daftar isi, pedoman transliterasi ArabLatin, petunjuk penggunaan, uraian makhraj huruf, tajwid, waqaf, ayat-ayat sajdah, daftar surah dan juz, indeks isi, doa ma’surat, transliterasi latin, terjemahan per kata (lafziyah), dan lain-lain. Bahkan ada penerbit yang mencantumkan Surat Pendaftaran Ciptaan dari pemerintah sebagai perlindungan hukum atas ciptaannya. Sebagian penerbit juga melengkapi Al-Qur’an dan terjemahannya dengan asbabun nuzul, tafsir ringkas, hadis keutamaan surah tertentu, dan lainlain. Untuk menarik minat anak-anak, beberapa p en erb it j u ga memb u at Al- Qu r ’an d an terjemahannya dengan ilustrasi dan warna yang khas anak-anak, misalnya bentuk balon, bintang, atau lengkungan-lengkungan semacam pelangi. Penerbit Mizan Bandung bahkan membuat I Love My Qur ’an, sebuah edisi Al-Qur ’an dan terjemahannya dengan ilustrasi yang unik dan lengkap untuk anak-anak. Sejumlah penerbit juga tidak “rikuh” untuk memberi ilustrasi khas anakanak pada Juz Amma (juz ke-30). Melihat kayanya kreativitas yang dilakukan para penerbit mushaf baru di Indonesia, barangkali tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Indonesia adalah negara yang paling kreatif dalam m e n e r b i t k a n m u s h a f A l - Q u r ’a n d a n terjemahannya. Dan semua usaha kreatif itu adalah untuk pembaca, agar senantiasa tertarik untuk terus-menerus membaca dan mengkaji AlQur’an.[Ali Akbar]

Sebuah iklan yang ‘genit’ di cover mushaf, berbunyi: “Baca Al-Qur’an jadi mudah dan asyik dengan Qur’an Tajwid. Wow… indahnya Qur’an warna-warni. Hanya dengan menguasai 8 warna Anda tidak perlu menghafalkan 24 hukum tajwid.” AlQur’an berkode warna tajwid belakangan menjadi trend baru, tetapi pernyataan “Anda tidak perlu menghafalkan 24 hukum tajwid” terasa ‘kebablasan’.

Dari Mushaf “Bombay” ke Mushaf “Kontemporer”

31

Katalog

Catatan: Semua mushaf yang dipamerkan dan dimuat dalam katalog ini adalah koleksi Bayt Al-Qur’an & Museum Istiqlal.

Mushaf La Lino Bima, abad ke-19 Mushaf ini adalah wakaf Hj. Siti Maryam Rakhmat Shalahuddin, puteri Sultan Muhammad Shalahuddin. Naskah ini memiliki kaligrafi dan iluminasi yang sangat indah. Berdasarkan iluminasinya, mushaf ini diperkirakan berasal dari Terengganu, Malaysia. Ditulis di atas kertas Eropa. Ukuran 35 x 22 cm.

Naskah Tafsir Al-Qur’an Yogyakarta, 1716/1717 Nakah ini berisi tafsir Al-Qur’an, mulai Surah alFatihah sampai dengan Surah al-Isra’. Ditulis oleh Muhammad Bashir, tebal 259 halaman.

Terjemahan Al-Qur’an Bahasa Jawa Madura, abad ke-19 Naskah ini berasal dari Sumenep, Madura, berisi terjemahan Al-Qur’an antarbaris dalam bahasa Jawa. Naskah ditulis di atas kertas kulit kayu (dluwang).

34

Katalog

Mushaf Al-Qur’an (Tulisan Tangan) Surakarta, abad ke-19, 31,5 x 22 cm. Bahan kertas dluwang (kulit kayu).Iluminasi terdapat di awal mushaf. Di akhir mushaf memuat doa khatam Al-Qur’an. Setiap halaman 15 baris teks, 385 halaman.

Mushaf Al-Qur’an (Tulisan Tangan) Cirebon, abad ke-19, 42 x 27 cm. Bahan kertas Eropa.Dihiasi iluminasi bercorak khas kain batik Cirebon pada bagian awal, tengah dan akhir mushaf. Setiap halaman memuat 15 baris teks.

Mushaf Al-Qur’an Cetak Singapura, akhir abad ke-19, 33 x 21 cm. Bahan kertas Eropa. Dicetak dengan teknologi cetak batu (litografi). Tulisan gaya Naskhi, khas mushaf cetakan Singapura. Setiap halaman memuat 15 baris teks. Iluminasi terdapat di bagian awal, tengah, dan akhir mushaf.

Katalog

35

Mushaf Al-Qur’an Cetakan Turki Istanbul, 1894, 18 x 26 cm. Ditulis oleh al-Hafiz Usman, kaligrafer terkenal Turki, selesai pada 1881. Mushaf ini menjadi dasar penulisan Mushaf Al-Qur’an Standar “Bahriyah” yang biasanya digunakan oleh para hafiz Al-Qur’an.

Mushaf Al-Qur’an Cetakan Abdullah bin Afif Cirebon, 1933. Dicetak di percetakan milik Abdullah bin Afif, Cirebon, dan ditashih oleh H Ahmad Badawi, Kaliwungu, Kendal, pada 1933. Mushaf ini merupakan reproduksi cetakan Bombay, India, dan merupakan generasi awal cetakan mushaf Al-Qur’an di Indonesia.

Terjemahan Al-Qur’an “Nur Anjawen” Surakarta, huruf Jawa, 1935. Disusun oleh Muhammad Amin bin Abdul Muslim, pengasuh Madrasah Mamba’ul Ulum, Surakarta. Diterbitkan oleh toko buku Ab. Sitti Syamsiah, Surakarta, Jawa Tengah.

36

Katalog

Mushaf Al-Qur’an Cetak Bukittinggi, 1933. Dicetak oleh Percetakan Al-Islamiyah milik Haji HMS Sulaiman, Bukittinggi, Sumatra Barat, selesai pada bulan Rabiul Akhir 1352 H (Juli/Agustus 1933 M). Mushaf ini merupakan reproduksi cetakan Bombay, India, dan merupakan generasi awal cetakan mushaf AlQur’an di Indonesia.

Mushaf Al-Qur’an Cetak Jakarta, 1956. Dicetak oleh Percetakan Bir & Company, Jakarta. Mushaf jenis ini merupakan reproduksi mushaf cetakan Bombay, India.

Mushaf Al-Qur’an Cetak Surabaya, 1960. Dicetak oleh Percetakan Salim bin Sa’ad bin Nabhan, Surabaya. Naskah awal berasal dari mushaf cetakan Bombay, India.

Katalog

37

Terjemahan Al-Qur’an Bahasa Mandar Cetakan Mujamma’, Saudi Arabia, 2004. Mushad Al-Qur’ab terjemahan bahasa Mandar, Sulawesi Barat. Diterbitkan oleh percetakan AlQur’an Mujamma’ Al-Malik Fahd, Saudi Arabia.

Tafsir Al-Qur’an Suci Basa Jawi Bandung, 1984. Tafsir atau terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Jawa ini ditulis oleh Prof KHR Muhammad Adnan, dosen di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Diterbitkan oleh PT Al-Ma’arif, Bandung.

Terjemahan Al-Qur’an Bahasa Mandar Cetakan Mujamma’, Saudi Arabia, 2004. Mushad Al-Qur’ab terjemahan bahasa Mandar, Sulawesi Barat. Diterbitkan oleh percetakan Al-Qur’an Mujamma’ Al-Malik Fahd, Saudi Arabia.

38

Katalog

Terjemahan Al-Qur’an Bahasa Aceh Banda Aceh, 1994 Diterjemahkan dalam bentuk sajak oleh Tengku Haji Mahjuddin Jusuf. Penerjemahan asli ditulis dengan huruf Arab Melayu Pase (Jawi). Diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Islam (P3KI), Banda Aceh.

Al-Qur’an dengan Tajwid Blok Warna Jakarta, 2008. Al-Qur’an yang dilengkapi dengan transliterasi dan terjemahannya ini dilengkapi dengan blok warna yang menunjukkan hukum suatu bacaan menurut ilmu tajwid. Diterbitkan oleh Lautan Lestari, Jakarta, dan beberapa penerbit lain.

Al-Mudarris, Al-Qur’an Readboy Al-Mudarris merupakan metode baru dalam mempelajari Al-Qur’an melalui sentuhan dan pengucapan. Dengan menunjuk ayat Al-Qur’an yang dikehendaki, alat ini akan memperdengarkan bacaan Al-Qur’an yang dilantunkan oleh Syekh Sa’ad al-Ghamidi.

Katalog

39

Al-Qur’an dan Terjemahannya Departemen Agama Surabaya, 2004. Te r j e m a h a n A l - Q u r ’a n i n i m e r u p a ka n terjemahan resmi Departemen Agama (sekarang Kementerian Agama) RI. Diterbitkan oleh UD. Mekar, Surabaya, dan banyak penerbit lain.

Terjemahan Al-Qur’an Per Kata Bandung, 2007. Terjemahan per kata (lafziyah) untuk belajar menerjemahkan Al-Qur’an. Diterbitkan oleh Syamil Cipta Media, Bandung. Tuntunan terjemahan Al-Qur’an seperti ini cukup digemari masyarakat, dan beberapa penerbit lain juga menerbitkan terjemahan sejenis.

Mushaf Al-Qur’an Standar Braille Indonesia 2009. Penulisan mushaf untuk tunanetra ini menggunakan huruf Braille Arab. Mushaf ini telah ditetapkan sebagai Mushaf Al-Qur’an Standar Braille Indonesia pada tahun 1984, dengan SK Menteri Agama RI No.25/1984.

40

Katalog

Mushaf Istiqlal Jakarta, 1995. Dihiasi iluminasi 46 ragam hias dari Aceh sampai Papua. Dirancang oleh Mahmud Buchari, AD Pirous, dan Ahmad Noe’man. Dikerjakan selama 4 tahun, pada 1991-1995.

Mushaf Sundawi Bandung, 1997. Dihiasi ragam hias khas Jawa Barat yang diambil dari motif-motif pada batik, ukiran, gerabah, dan lain-lain. Terdapat 17 desain biasa dan 3 desain khusus untuk halaman awal, tengah, dan akhir Al-Qur’an.

Mushaf At-Tin Jakarta, 1999. Mushaf beriluminasi indah ini dibuat untuk mengenang Almarhumah Hj. Fatimah Siti Hartinah Soeharto (Ibu Tien Soeharto). Didesain oleh Mahmud Buchari, Mohammad Djaelani, dan Achmad Haldani D, dan kaligrafi Al-Qur’an ditulis oleh para penulis kaligrafi Indonesia terkemuka.

Katalog

41

Mushaf Jakarta Jakarta, 2000 Dihiasi iluminasi ragam hias DKI Jakarta. Penerbitan mushaf ini diprakarsai oleh H. Sutiyoso, Gubernur DKI Jakarta pada waktu itu.

Mushaf Banten 2010 Dihiasi dengan iluminasi yang berasal dari khazanah budaya provinsi Banten. Kaligrafi teks Al-Qur’annya ditulis oleh para ahli kaligrafi dari Banten yang dikoordinasi oleh khattat Dr Ahmad Tholabi Kharlie. Pembuatan mushaf ini diprakarsai oleh Pemerintah Provinsi Banten.

Mushaf Al-Qur’an Standar Jakarta, 2010 Mushaf ini merupakan Mushaf Al-Qur’an Standar Kementerian Agama RI, yang ditulis ulang oleh Ustaz Baiquni Yasin dan tim, pada tahun 1999-2001.

42

Katalog

Tafsir Al-Qur’an Tematik Jakarta, 2008, 2009, 2010. Tafsir maudu’i (tematis) yang disusun berdasarkan tema-tema aktual di tengah masyarakat, dan diharapkan dapat memberi jawaban atas berbagai problematika umat. Ditulis oleh para ahli tafsir Indonesia dewasa ini.

Serial Tafsir Ilmi Jakarta, 2010, 2011 Tafsir Ilmi menjelaskan maksud firman Allah yang mengandung isyarat-isyarat ilmiah. Pada tahun 2010 dan 2011 telah terbit Penciptaan Jagat Raya;Penciptaan Bumi; Penciptaan Manusia; Tumbuhan; Air; dan Kiamat.

Al-Qur’an dan Tafsirnya Kementerian Agama RI Jakarta, 2009. Terdiri atas 11 jilid, termasuk 1 jilid khusus M u ka d d i m a h . M e r u p a ka n e d i s i ya n g disempurnakan dari Al-Qur’an dan Tafsirnya Kementerian Agama yang sudah dirintis sejak tahun 1975. Penyempurnaan yang dimulai pada tahun 2003 ini mencakup aspek bahasa, substansi, kandungan makna, munasabah, asbabun nuzul, transliterasi, kajian ayat-ayat kauniyah, indeks, dan kosakata.

Katalog

43

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->