Draft 12 Desember 2004

BAB 30 PENGENDALIAN PERTUMBUHAN PENDUDUK, PEMBANGUNAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA KECIL BERKUALITAS
A. PERMASALAHAN
Pembangunan kependudukan dan keluarga kecil berkualitas merupakan bagian yang penting dalam pembangunan yang berkelanjutan, baik untuk mengendalikan kuantitas penduduk maupun untuk meningkatkan kualitas insani dan sumberdaya manusia. Pengendalian pertumbuhan penduduk juga merupakan faktor penting dalam peningkatan keluarga kecil yang berkualitas. Demikian pula, aspek penataan administrasi kependudukan merupakan hal yang penting dalam mendukung perencanaan pembangunan baik di tingkat nasional maupun daerah. Sedangkan, pemuda sebagai bagian dari penduduk merupakan aset pembangunan dan mempunyai kontribusi dalam pembangunan perekonomian bangsa. Dalam kaitan itu, menumbuhkan budaya olahraga yang lebih luas bagi seluruh lapisan masyarakat juga merupakan aspek penting dalam peningkatan kualitas penduduk Indonesia. Masih tingginya laju pertumbuhan dan jumlah kuantitas penduduk. Jumlah penduduk Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat meskipun laju pertumbuhannya semakin menurun. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk (SP) 1990 dan 2000, jumlah penduduk Indonesia 179,4 juta jiwa dan 206,3 juta jiwa, dengan laju pertumbuhan penduduk 1,49 persen per tahun pada periode 1990– 2000, lebih rendah dari laju pertumbuhan penduduk periode 19801990 (1,97 persen). Masalah yang dihadapi antara lain adalah masih tingginya pertambahan jumlah penduduk secara absolut. Meskipun telah terjadi penurunan fertilitas, namun secara absolut pertambahan penduduk Indonesia meningkat sekitar 3 sampai 4 juta jiwa per tahun. Hal ini disebabkan karena tambahan pasangan usia subur yang dihasilkan dari ledakan kelahiran atau momentum demografi yang terjadi pada tahun 1970-an. Apabila masalah kependudukan tersebut tidak ditangani dengan baik, dapat berakibat pada semakin beratnya upaya pemenuhan kebutuhan dasar penduduk. Masih tingginya tingkat kelahiran penduduk. Faktor utama yang mempengaruhi laju pertumbuhan penduduk adalah tingkat kelahiran. Berdasarkan Sensus Penduduk tahun 1971, angka Bagian IV.30 – 1

Hal ini disebabkan oleh pemahaman nilai-nilai adat. Masyarakat dan keluarga masih enggan untuk membicarakan masalah reproduksi secara terbuka dalam keluarga. Sementara itu. Pada tahun 1971. Median usia kawin pertama Bagian IV. angka prevalensi kurang dari 5 persen. Dalam hal ini keluarga miskin merupakan fokus utama dalam pelayanan KB termasuk penyediaan alat kontrasepsi. 57 persen tahun 1997.30 – 2 . orang tua maupun remaja sendiri belum memahami hak-hak dan kesehatan reproduksi remaja.6 anak per wanita usia reproduksi. budaya. 48 persen pada tahun 1987. Penurunan TFR antara lain sebagai akibat dari meningkatnya pemakaian alat kontrasepsi (prevalensi) pada pasangan usia subur. Pendidikan kesehatan reproduksi remaja melalui jalur sekolah nampaknya juga belum sepenuhnya berhasil.6 anak per wanita (Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia-SDKI. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran pasangan usia subur dan remaja akan hak-hak reproduksi.6 tahun. Meningkatnya angka prevalensi juga berakibat pada peningkatan pelayanan KB termasuk penyediaan alat kontrasepsi. Sebagian masyarakat. Pemahaman yang tidak benar tentang hak-hak dan kesehatan reproduksi ini menyebabkan banyaknya remaja yang berperilaku menyimpang tanpa menyadari akibatnya terhadap kesehatan reproduksi mereka.Draft 12 Desember 2004 kelahiran total (TFR) diperkirakan 5. meningkat menjadi 26 persen pada tahun 1980. dan saat ini telah turun lebih 50 persen menjadi 2. tidak memakai kontrasepsi (unmet need). Keterbatasan penyediaan alat kontrasepsi masih menjadi persoalan utama dalam pelayanan KB. sedangkan 8. Hak-hak dan kesehatan reproduksi termasuk keluarga berencana (KB) yang merupakan dasar terwujudnya keluarga kecil berkualitas belum dipahami oleh sebagian masyarakat dan keluarga. Dari data SDKI 2002-03 hanya 60. dan agama yang menganggap pembahasan kesehatan reproduksi sebagai hal yang tabu. dan tahun 2002 sebesar 60 persen (SDKI 200203). 200203).6 persen PUS yang sebenarnya tidak ingin anak atau menunda kehamilannya. Median usia kawin pertama di Indonesia adalah 18. Semua ini mengakibatkan banyaknya remaja yang kurang memahami atau mempunyai pandangan yang tidak tepat tentang masalah kesehatan reproduksi. pusat atau lembaga advokasi dan konseling hak-hak dan kesehatan reproduksi bagi remaja yang ada saat ini masih terbatas jangkauannya dan belum memuaskan mutunya. Tingginya angka kelahiran erat kaitannya dengan usia kawin pertama dengan pembentukan keluarga kecil yang berkualitas.3 persen pasangan usia subur (PUS) yang ingin ber-KB dapat terpenuhi permintaannya. Para anak dan remaja lebih merasa nyaman mendiskusikannya secara terbuka dengan sesama teman. Masih rendahnya usia kawin pertama penduduk.

Jumlah keluarga miskin pada tahun 2003 (Pendataan Keluarga BKKBN) 15. Keluarga miskin pada umumnya mempunyai anggota keluarga cukup banyak. Masih lemahnya institusi daerah dalam pelaksanaan program KB. sedangkan di daerah perkotaan adalah 20.8 juta keluarga.9 tahun. Tingginya angka kelahiran ini juga disebabkan karena sebagian kelompok masyarakat dan keluarga belum menerima dan menghayati norma keluarga kecil sebagai landasan untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas. kemiskinan akan semakin memperburuk keadaan sosial ekonomi keluarga miskin tersebut. bahwa kewenangan di bidang keluarga berencana diserahkan kepada pemerintah kabupaten/kota. aspirasi. Masih lemahnya ekonomi dan ketahanan keluarga.Draft 12 Desember 2004 di perdesaan lebih rendah yaitu 17. juga oleh keterbatasan pengetahuan mereka akan hak-hak dan kesehatan reproduksi serta kesetaraan dan keadilan gender. Hal ini sejalan dengan esensi Undangundang Nomor 22 Tahun 1999. Pada gilirannya. Salah satu masalah utama bagi kelangsungan program dan kelembagaan keluarga berencana adalah desentralisasi program KB. Demikian pula. Dengan adanya peraturan tersebut. partisipasi laki-laki dalam ber-KB masih sangat rendah yaitu sekitar 1. Kondisi lemahnya ekonomi keluarga mempengaruhi daya beli. kemampuan. tingkat partisipasi masyarakat terhadap pembinaan ketahanan keluarga yang utamanya pembinaan tumbuhkembang anak masih lemah.3 persen (SDKI 2002-03). Namun demikian. penyelenggaraan program KB dan kesehatan reproduksi masih belum mantap dalam memperhatikan aspek kesetaraan dan keadilan gender. Sesuai dengan Kepres No. Hal ini selain disebabkan oleh keterbatasan macam dan jenis alat kontrasepsi laki-laki. masalah yang dihadapi program KB adalah sejauh mana pemerintah kabupaten/kota menganggap bahwa program KB merupakan program yang strategis bagi pengendalian pertumbuhan penduduk. yang memberikan kewenangan kepada pemerintah kabupaten/kota untuk menentukan programprogram pembangunan yang diperlukan daerah sesuai dengan kebutuhan. Bagian IV. yang pada gilirannya akan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. Demikian pula. Rendahnya partisipasi laki-laki dalam ber-KB. Hal ini akan menghambat pembentukan keluarga kecil yang berkualitas. Kemiskinan menjadikan mereka relatif tidak memiliki akses dan pasif dalam berpartisipasi untuk meningkatkan kualitas dirinya.4 tahun. maupun sumberdaya yang tersedia.30 – 3 . Indonesia telah mulai melaksanakan pembangunan yang beorientasi pada kesetaraan dan keadilan gender dalam hal KB. 103/2001.

Dalam rangka menumbuhkan budaya olahraga untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia.9 persen. bank data sebagai data basis kependudukan belum tersedia. psikotropika. Rendahnya kualitas pemuda. narkotika. Angka partisipasi sekolah pemuda secara keseluruhan sebesar 15.30 – 4 . kesadaran masyarakat terhadap dokumen kependudukan dan tertib administrasinya-pun belum memadai. Demikian pula. Sampai saat ini belum tersusun suatu kebijakan dan strategi pengendalian kuantitas. 16 persen masih bersekolah. dan 3. Berdasarkan Susenas 2003. jika dilihat menurut jenjang pendidikan yang ditamatkan. belum serasinya kebijakan kepemudaan di tingkat nasional dan daerah.73 persen pemuda yang tamat SD. sekitar 2 persen jumlah pemuda tidak pernah sekolah. 88 tahun 2004 Tentang Pengelolaaan Informasi Administrasi Kependudukan belum tersedia.36 persen.83 persen. Pemuda adalah penduduk usia 15-35 tahun. dan perguruan tinggi. dan pembangunan yang berkelanjutan. dan maraknya masalah-masalah sosial di kalangan pemuda. 24. Penataan sistem penyelenggaraan administrasi kependudukan telah dimulai sejak tahun 1960-an. Bagian IV.36 persen di antaranya buta huruf. masing-masing sekitar 34.9 persen. zat adiktif (NAPZA).5 persen. seperti kriminalitas. Dari keseluruhan jumlah pemuda. SLTP. pemerintahan.4 persen. Selanjutnya. terdapat beberapa permasalahan. namun hingga saat ini belum terwujud. tingginya tingkat pengangguran terbuka pemuda yang mencapai sekitar 19. Rendahnya budaya olahraga di kalangan masyarakat dan prestasi olahraga Indonesia yang tertinggal. yaitu: belum terwujudnya peraturan perundang-undangan tentang keolahragaan. SMU. dan HIV. peningkatan kualitas. 26. pemuda yang tidak berpendidikan (tidak pernah sekolah dan tidak tamat SD) sekitar 10. Disisi lain peraturan perundang-undangan tentang administrasi kependudukan yang akan melengkapi Kepress No.Draft 12 Desember 2004 Belum serasinya kebijakan kependudukan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Belum tertatanya administrasi kependudukan dalam rangka membangun sistem pembangunan.3 juta penduduk pada tahun 2004 merupakan beban pembangunan bila tidak ditangani secara terpadu. sekitar 2.5 persen. Jumlah penduduk Indonesia yang telah diproyeksikan mencapai 216. premanisme. dan pengarahan mobilitas penduduk yang sesuai dengan pertumbuhan ekonomi wilayah.7 persen. Selanjutnya. rendahnya tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) pemuda yaitu sekitar 65. Sementara itu. Masalah lainnya adalah rendahnya minat membaca di kalangan pemuda yaitu sekitar 37. dan 82 persen sudah tidak bersekolah lagi.

usia perkawinan pertama menjadi 21 tahun. lemahnya koordinasi antarpembinaan olahraga pendidikan. Masalah lainnya adalah rendahnya angka partisipasi penduduk dalam berolahraga yang hanya sekitar 22. rendahnya rasio guru olahraga/penjaskes untuk jenjang SD yaitu hanya 0. Sasaran pertama adalah terkendalinya pertumbuhan penduduk dan meningkatnya keluarga kecil berkualitas yang ditandai dengan: (a) Menurunnya rata-rata laju pertumbuhan penduduk menjadi sekitar 1. SASARAN Berkaitan dengan pengendalian pertumbuhan penduduk. olahraga prestasi. (d) Meningkatnya jumlah Keluarga Pra-Sejahtera dan Keluarga Sejahtera-I yang aktif dalam usaha ekonomi produktif. dalam era desentralisasi dan otonomi daerah. maka dalam SEA GAMES XX tahun 1999 di Brunei Darussalam. Masalah lainnya adalah belum serasinya kebijakan olahraga di tingkat nasional dan daerah. pengendalian pertumbuhan dan kuantitas. baik di tingkat nasional maupun daerah.14 persen per tahun (2005-2010). hanya menduduki posisi ketiga. Indonesia selalu menduduki juara umum. presentase pasangan usia subur yang tidak terlayani (unmetneed) menjadi 7 persen. (b) Meningkatnya peserta KB laki-laki menjadi 4.5 persen.2 per perempuan (2005-2010). pengarahan mobilitas dan persebaran penduduk yang serasi dengan daya dukung alam dan daya tampung lingkungan.30 – 5 .6 persen. pemakaian alat kontrasepsi non-hormonal menjadi 25 persen. Jika pada SEA GAMES XIV tahun 1987 di Jakarta dan XV tahun 1989 di Kuala Lumpur. Bagian IV. serta menurunnya prestasi olahraga dalam event-event internasional.5 persen. (c) Meningkatnya partisipasi keluarga dalam pembinaan tumbuh-kembang anak.Draft 12 Desember 2004 dan kecenderungan makin menurunnya minat dan keinginan masyarakat untuk melakukan kegiatan olahraga. terbatasnya fasilitas olahraga. Sasaran kedua adalah: (a) Meningkatnya keserasian kebijakan kependudukan dalam rangka peningkatan kualitas. dan (b) Meningkatnya cakupan jumlah kabupaten dan kota dalam pelaksanaan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan. dan olahraga masyarakat. baik berupa prasarana maupun sarana olahraga. dan (e) Meningkatnya jumlah institusi masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan keluarga berencana dan kesehatan reproduksi. pembangunan kependudukan dan keluarga kecil berkualitas pada tahun 2004-2009. tingkat fertilitas total menjadi sekitar 2. disusun tiga sasaran pokok sebagai berikut. penataan peran pembinaan olahraga antarpemerintah pusat dan daerah belum tertata dengan baik. B.

serta peningkatan pemakaian alat dan obat kontrasepsi non-hormonal.Draft 12 Desember 2004 Sasaran ketiga adalah: (a) Meningkatnya keserasian berbagai kebijakan pemuda di tingkat nasional dan daerah. peningkatan kualitas penyediaan dan pemanfaatan alat dan obat kontrasepsi khususnya bagi keluarga miskin. (b) Meningkatnya kualitas dan partisipasi pemuda di berbagai bidang pembangunan. serta pemberian konseling tentang permasalahan remaja. 3. Kedua. informasi dan edukasi bagi pasangan usia subur tentang kesehatan reproduksi. Meningkatkan kualitas kesehatan reproduksi remaja dalam rangka menyiapkan kehidupan berkeluarga yang lebih baik. (d) Meningkatnya kesehatan jasmani masyarakat dan prestasi olahraga. C. Meningkatkan pemberdayaan dan ketahanan keluarga dalam kemampuan pengasuhan dan penumbuhkembangan anak. melindungi peserta keluarga berencana dari dampak penggunaan alat dan obat kontrasepsi. Memperkuat kelembagaan dan jaringan KB dalam meningkatkan kepedulian dan peran serta masyarakat dalam upaya pengendalian jumlah dan laju pertumbuhan penduduk dan pembudayaan keluarga kecil berkualitas. ARAH KEBIJAKAN Untuk mencapai ketiga sasaran tersebut. (c) Meningkatnya keserasian berbagai kebijakan olahraga di tingkat nasional dan daerah. disusun arah kebijakan pembangunan kependudukan dan keluarga kecil sebagai berikut. kebijakan pembangunan keluarga berencana diarahkan untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk serta meningkatkan keluarga kecil berkualitas dengan: 1. penguatan institusi masyarakat dan pemerintah yang memberikan layanan kesehatan reproduksi bagi remaja. 2. kebijakan pembangunan kependudukan diarahkan untuk menata pembangunan kependudukan melalui: Bagian IV. peningkatan komunikasi. dan (e) Tersedianya sarana dan prasarana olahraga bagi masyarakat sesuai dengan olahraga unggulan daerah. dan 4. Pertama. peningkatan pendapatan keluarga khususnya bagi keluarga Pra-Sejahtera dan Keluarga Sejahtera-I. peningkatan kualitas lingkungan keluarga. Mengendalikan tingkat kelahiran penduduk melalui upaya peningkatan kualitas dan aksesibilitas pelayanan KB terutama bagi keluarga miskin dan rentan serta daerah terpencil. serta pendewasaan usia perkawinan melalui upaya peningkatan pemahaman kesehatan reproduksi remaja.30 – 6 .

Bagian IV. Meningkatkan sarana dan prasarana olahraga yang sudah tersedia. D. penyebaran penyakit HIV/AIDS. bayi. Menata kebijakan administrasi kependudukan guna mendorong terakomodasinya hak-hak penduduk dan meningkatkan kualitas dokumen. Kegiatan pokok yang dilaksanakan antara lain meliputi: 1. KIE. Menata kebijakan persebaran dan mobilitas penduduk secara lebih seimbang sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Membina dan memasyarakatkan olahraga. Meningkatkan potensi pemuda dalam kepeloporan dan kepemimpinan dalam pembangunan. melalui peningkatan pertumbuhan ekonomi wilayah.30 – 7 . 2. 5. data. Menyeimbangkan penggunaan kontrasepsi hormonal dengan non hormonal. dan 8. Melindungi segenap generasi muda dari bahaya penyalahgunaan NAPZA. Ketiga. Meningkatkan peran serta pemuda dalam pembangunan sosial. 2. 7. minuman keras. Mengembangkan kebijakan dan manajemen olahraga. politik. Mewujudkan keserasian kebijakan pemuda di berbagai bidang pembangunan. peran serta masyarakat. antara lain melalui penyelenggaraan registrasi penduduk. 4. dan informasi penduduk.Draft 12 Desember 2004 1. 6.PROGRAM-PROGRAM PEMBANGUNAN 1. PROGRAM KELUARGA BERENCANA Tujuan program ini untuk memenuhi permintaan masyarakat akan pelayanan KB dan Kesehatan Reproduksi yang berkualitas. budaya dan agama. Mengembangkan kebijakan tentang pelayanan KB. ekonomi. kebijakan pembangunan pemuda dan olahraga diarahkan untuk meningkatkan partisipasi pemuda dalam pembangunan dan menumbuhkan budaya olahraga guna meningkatkan kualitas manusia Indonesia melalui: 1. dalam mendukung perencanaan dan pelaksanaan pembangunan berkelanjutan serta pelayanan publik. 3. 2. Memperluas kesempatan memperoleh pendidikan dan keterampilan. dan penyakit menular seksual di kalangan pemuda. termasuk didalamnya upaya-upaya menurunkan angka kematian ibu. dan anak dalam rangka membangun keluarga kecil berkualitas.

Menyelenggarakan advokasi. 2. Kegiatan pokok yang dilakukan antara lain meliputi: 1. Menyelenggarakan promosi kesehatan reproduksi remaja. kebutuhan dasar keluarga. serta 3. Memperkuat dukungan dan partisipasi masyarakat terhadap penyelenggaraan program kesehatan reproduksi remaja yang mandiri. 3. edukasi. pengetahuan. Mengembangkan kebijakan pelayanan kesehatan reproduksi remaja bagi remaja. dalam rangka membangun keluarga kecil yang berkualitas. dan konseling. akses terhadap sumber daya ekonomi. sikap dan perilaku positif remaja tentang kesehatan dan hak-hak reproduksi. informasi. komunikasi. Menyediakan alat/obat dengan memprioritaskan keluarga miskin serta kelompok rentan lainnya. Meningkatkan kualitas dan jangkauan pelayanan KB dan kesehatan reproduksi. termasuk advokasi. dan edukasi. PROGRAM KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA Tujuan program ini untuk meningkatkan pemahaman.30 – 8 . Mengembangkan kebijakan ketahanan dan pemberdayaan keluarga. dan remaja. 2. Menyelenggarakan promosi dan pemenuhan hak-hak dan kesehatan reproduksi termasuk advokasi. PROGRAM KETAHANAN DAN PEMBERDAYAAN KELUARGA Tujuan program ini untuk meningkatkan kesejahteraan dan membina ketahanan keluarga dengan memperhatikan kelompok usia penduduk berdasarkan siklus hidup. komunikasi. Kegiatan pokok yang dilakukan antara lain: 1. serta 5. keluarga. informasi. 4. 3. 4. dan peningkatan kualitas lingkungan keluarga. dan konseling bagi masyarakat. 2. KIE dan konseling bagi keluarga tentang pola asuh dan tumbuh kembang anak.Draft 12 Desember 2004 3. Mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan kewirausahaan melalui pelatihan teknis dan manajemen usaha terutama bagi keluarga miskin. yaitu mulai dari janin dalam kandungan sampai dengan lanjut usia. Mengembangkan cakupan dan kualitas kelompok usaha peningkatan pendapatan keluarga sejahtera (UPPKS) dan Bagian IV. guna meningkatkan derajat kesehatan reproduksinya dan mempersiapkan kehidupan berkeluarga dalam mendukung upaya peningkatan kualitas generasi mendatang.

5. PROGRAM PENATAAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN Tujuan program ini untuk menata administrasi kependudukan dalam upaya mendorong terakomodasinya hak-hak penduduk (untuk Bagian IV. dan mobilitas penduduk) di semua tingkat wilayah administrasi. Mengembangkan cakupan dan kualitas kelompok Bina Keluarga bagi keluarga dengan balita. serta ketahanan dan pemberdayaan keluarga. Meningkatkan pengkajian dan pengembangan serta pembinaan dan supervisi pelaksanaan program. PROGRAM PENGUATAN PELEMBAGAAN KELUARGA KECIL BERKUALITAS Tujuan program ini untuk membina kemandirian dan sekaligus meningkatkan cakupan dan mutu pelayanan KB dan kesehatan reproduksi. remaja. termasuk promosi kemandirian dalam ber KB. serta 5. sarana dan prasarana dalam era-desentralisasi untuk mendukung keterpaduan program. 2. serta 3. 2. Melakukan pengelolaan data dan informasi keluarga berbasis data mikro. PROGRAM KESERASIAN KEBIJAKAN KEPENDUDUKAN Tujuan program ini untuk menyeserasikan kebijakan kependudukan yang berkelanjutan di berbagai bidang pembangunan baik di tingkat nasional maupun di tingkat daerah. Mengembangkan kebijakan dan program pembangunan yang berwawasan kependudukan meliputi aspek kuantitas. Mengkaji dan menyempurnakan peraturan perundangundangan yang mengatur perkembangan dan dinamika kependudukan (kuantitas. Kegiatan pokok yang dilakukan antara lain meliputi: 1. dan mobilitas. dan lanjut usia. kualitas. terutama yang diselenggarakan oleh institusi masyarakat di daerah perkotaan dan perdesaan. 4. Mengintegrasikan faktor kependudukan ke dalam pembangunan sektoral dan daerah. serta 3. kualitas. Mengembangkan sistem pengelolaan dan informasi termasuk personil. Kegiatan pokok yang dilakukan antara lain meliputi: 1.Draft 12 Desember 2004 menyelenggarakan pendampingan/magang bagi para kader/anggota kelompok UPPKS. (2) Meningkatkan kemampuan tenaga lapangan dan kemandirian kelembagaan KB yang berbasis masyarakat. dalam rangka melembagakan keluarga kecil berkualitas.30 – 9 . 6.

Menata kelembagaan administrasi kependudukan yang berkelanjutan di daerah termasuk meningkatkan kualitas SDM. serta 4. Menyempurnakan peraturan perundang-undangan yang mendukung administrasi kependudukan. dan pengelolaan informasi kependudukan melalui program penerbitan NIK (Nomor Induk Kependudukan). Meningkatkan wawasan dan sikap mental pemuda dalam pembangunan. serta mendorong tertib pelayanan publik. Melaksanakan pengkajian kebijakan-kebijakan pembangunan di bidang pemuda. dan sumberdaya manusia yang mampu menghadapi berbagai tantangan dan memanfaatkan peluang untuk berperan serta dalam pembangunan. Bagian IV. 2. pencatatan sipil. PROGRAM PENGEMBANGAN DAN KESERASIAN KEBIJAKAN PEMUDA Tujuan program ini untuk mewujudkan keserasian berbagai kebijakan pembangunan bidang pemuda.30 – 10 . dan kewirausahaan pemuda. 8. tertib administrasi penduduk.Draft 12 Desember 2004 memperoleh hak dasar dalam perlindungan hukum dan rasa aman). Kegiatan pokok yang dilakukan antara lain meliputi: 1. di tingkat nasional dan daerah. Meningkatkan peran serta pemuda dalam kegiatan pembangunan secara lintas bidang dan sektoral. Menyempurnakan sistem pendaftaran penduduk. Meningkatkan pengetahuan. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam bidang administrasi informasi kependudukan. Melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan pembangunan pemuda. PROGRAM PEMBINAAN DAN PENINGKATAN PARTISIPASI PEMUDA Tujuan program ini untuk meningkatkan kualitas pemuda sebagai insan pelopor penggerak pembangunan. reformasi pelayanan registrasi penduduk dan peran serta masyarakat. 7. 2. dengan memperhatikan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan yang berkelanjutan. 3. keterampilan. serta 4. 2. Mengembangkan kemitraan pemerintah dengan masyarakat dalam pembangunan kepemudaan. Kegiatan pokok yang dilakukan antara lain meliputi: 1. Kegiatan pokok yang dilakukan antara lain meliputi: 1. 3. serta tersedianya data dan informasi penduduk yang akurat.

meningkatkan kegiatan olahraga termasuk olahraga masyarakat dan olahraga tradisional. Bagian IV. Kegiatan pokok yang dilakukan antara lain meliputi: 1. 2. Meningkatkan advokasi dan penyelamatan pemuda dari bahaya narkoba dan HIV/AIDS.30 – 11 . mendorong dan menggerakkan masyarakat agar lebih memahami dan menghayati langsung hakikat dan manfaat olahraga sebagai kebutuhan hidup. kesehatan jasmani. Melakukan pembinaan manajemen olahraga. PROGRAM PEMBINAAN DAN PEMASYARAKATAN OLAHRAGA Tujuan program ini untuk meningkatkan budaya olahraga. dan masyarakat. Melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan pembangunan olahraga.Draft 12 Desember 2004 3. Meningkatkan dukungan sarana dan prasarana pembangunan kepemudaan. dan teknisi olahraga. 10. 4. meningkatkan jumlah dan mutu pelatih. Meningkatkan pemanduan bakat dan pembibitan olahraga. mental dan rohani masyarakat dan anak didik mulai dari pendidikan dasar. Membina olahraga yang berkembang di masyarakat. Melakukan pemassalan olahraga bagi pelajar. mahasiswa. serta meningkatkan jumlah. serta mendukung upaya pencapaian prestasi olahraga yang setinggitingginya dalam kaitan dengan pembangunan sosial dan ekonomi untuk meningkatkan citra bangsa dan kebanggaan nasional. 2. peneliti. Meningkatkan prestasi olahraga. meningkatkan upaya pemanduan bakat dan pembibitan olahraga sejak dini usia. Melaksanakan penelitian dan/atau pengkajian kebijakankebijakan pembangunan olahraga. serta 5. Kegiatan pokok yang dilakukan antara lain meliputi 1. praktisi. PROGRAM PENGEMBANGAN KEBIJAKAN DAN MANAJEMEN OLAHRAGA Tujuan program ini untuk mengembangkan dan menyerasikan berbagai kebijakan pembangunan olahraga serta memperkuat kelembagaan olahraga di tingkat nasional dan daerah. Meningkatkan kreativitas dan inovasi pemuda sebagai wadah penyaluran minat dan bakat. 4. 9. 5. Membina olahraga untuk kelompok khusus. 3. menengah hingga tinggi. serta 3. efektivitas dan efisiensi pembiayaan olahraga.

Kegiatan pokok yang dilakukan antara lain meliputi: 1.30 – 12 . Melakukan penataran dan pendidikan jangka pendek dan panjang termasuk magang. serta pencapaian prestasi olahraga. 11. Mendukung pembangunan sarana dan prasarana olahraga di propinsi. dan 2. dan kabupaten/kota sesuai dengan cabang olahraga prioritas daerah. mengadakan.Draft 12 Desember 2004 6. Mengembangkan pengetahuan iptek olahraga dan meningkatkan keahlian yang strategis bagi pelatih. Bagian IV. Meningkatkan profesionalisme pelatih dan manajer olahraga. Meningkatkan partisipasi dunia usaha dan masyarakat untuk mendukung pendanaan dan pembinaan olahraga. dan 7. praktisi. dan membangun sarana dan prasarana olahraga untuk mendukung kegiatan pembinaan dan pengembangan olahraga. OLAHRAGA PROGRAM PENINGKATAN SARANA DAN PRASARANA Tujuan program ini untuk menyediakan. dan teknisi olahraga. peneliti.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.