P. 1
FILSAFAT PENDIDIKAN

FILSAFAT PENDIDIKAN

|Views: 217|Likes:
Published by Damianus Soewardin

oleh ; DAMIANUS SUWARADIN

oleh ; DAMIANUS SUWARADIN

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Damianus Soewardin on Nov 29, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/19/2015

pdf

text

original

FILSAFAT PENDIDIKAN

DISUSUN OLEH :
DAMIANUS SUWARDIN (A1G011094)

DOSEN PEMBIMBING : Dra.WURJINEM. Msi

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS BENGKULU 2012

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur Penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan hidayahnya, penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini, tepat pada waktunya yang telah ditentukan. Dalam penyusunan makalah ini dilengkapi dengan teori-teori tentang “FILSAFAT PENDIDIKAN” secara singkat dan jelas. Adapun Saya menyusun makalah masih banyak kekurangan dan kesalahan, maka dari itu Penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya untuk membangun untuk perbaikan penyusunan makalah di masa yang akan datang. Demikian tugas makalah ini saya susun, semoga bermanfaat bagi pembaca yang budiman dan pada umumnya semua mahasiswa yang mempelajari tentang belajar FILSAFAT PENDIDIKAN dan dapat membantu dalam proses pembelajaran di mana pun berada. Bengkulu, februari

Penulis

ii

.

DAFTAR ISI
Halaman

HALAMAN JUDUL ..................................................................................................................... i KATA PENGANTAR .................................................................................................................... ii DAFTAR ISI................................................................................................................................. iii

BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................................................................. 1.1 1.2 1.3 1.4 Latar Belakang Masalah................................................................................................... Perumusan Masalah........................................................................................................ Tujuan.............................................................................................................................. Manfaat............................................................................................................................ 1 2 3 4

BAB 11 PEMBAHASAN MASALAH ............................................................................................. 11.1Aliran Filsafat Pendidikan Ditinjau Dari Ontologi,Epistemologi,Dan Aksiologi .................................................................... ............................

11.2 Hubungan Antara Filsafat ,Manusia,Dan Pendidikan 11.3. Filsafat Pendidikan Pancasila

................................................................................

BAB 111 PENUTUP ................................................................................................................... 111.1 Kesimpulan ................................................................................................................. 111.2 Saran .............................................................................................................................

Bab 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang masalah Pendidikan merupakan bagian penting dari kehidupan yang sekaligus membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Hewan juga “belajar” tetapi lebih ditentukan oleh instinknya, sedangkan manusia belajar berarti merupakan rangkaian kegiatan menuju pendewasaan guna menuju kehidupan yang lebih berarti. Anak-anak menerima pendidikan dari orang tuanya dan manakala anak-anak ini sudah dewasa dan berkeluarga mereka akan mendidik anak-anaknya, begitu j uga di sekolah dan perguruan tinggi, para siswa dan mahasiswa diajar oleh guru dan dosen. Filsafat Pendidikan Merupakan terapan dari filsafat umum, maka selama membahas filsafat pendidikan akan berangkat darifilsafat.Filsafat pendidikan pada dasarnya menggunakan cara kerja filsafat dan akan menggunakan hasil-hasildari filsafat, yaitu berupa hasil pemikiran manusia tentang realitas, pengetahuan, dan nilai.Dalam filsafat terdapat berbagai mazhab/aliran-aliran, seperti materialisme, idealisme, realisme, pragmatisme, dan lain-lain. Karena filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat, sedangkanfilsafat beraneka ragam alirannya, maka dalam filsafat pendidikan pun kita akan temukan berbagaialiran, sekurang-kurnagnya sebanyak aliran filsafat itu sendiri.Brubacher (1950) mengelompokkan filsafat pendidikan pada dua kelompok besar, yaitua. Filsafat pendidikan “progresif”Didukung oleh filsafat pragmatisme dari John Dewey, dan romantik naturalisme dari Roousseau b. Filsafat pendidikan “ Konservatif”.Didasari oleh filsafat idealisme, realisme humanisme (humanisme rasional), dan supernaturalisme ataurealisme religius., Filsafat Terlahirnya Pancasila sebagaimana tercatat dalam sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia, merupakan sublimasi dan kristalisasi dari pandangan hidup (way of life) dan nilai-nilai budaya luhur bangsa yang mempersatukan keanekaragaman bangsa kita menjadi bangsa yang satu, Indonesia. Berbeda dengan Jerman, Inggris, Perancis, serta negara-negara Eropa Barat lainnya, yang menjadi suatu negara bangsa (nation state) karena kesamaan bahasa. Atau negara-negara lainnya, yang menjadi satu bangsa karena kesamaan wilayah daratan. Latar belakang historis dan kondisi sosiologis, antropologis dan geografis Indonesia yang unik dan spesifik seperti, bahasa, etnik, atau suku bangsa, ras dan kepulauan menjadi komponen pembentuk bangsa yang paling fundamental dan sangat berpengaruh terhadap realitas kebangsaan Indonesia saat ini.t tersebut melahirkan filsafat pendidikan esensialisme, perenialisme,dan sebagainya. 1.2. Perumusan masalah

Dari latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah : Bagaimanakah Aliran filsafat pendidikan modern ditinjau dari ontologi,epistemologi,dan aksiologi.Hubungan antara filsafat,manusia,dan penddikan,dan filsafat pendidikan. 1.3. Tujuan Adapun tujuan pembuatan makalah ini yaitu Mahasiswa dapat mengetahui aliran-aliran filsafikat pendidikan ditinjau dari Otologi,Epistemologi,dan Aksiologi.Hubungan antara filsaftat,manusia, dan pendidikan.,dan mengetahi dasar pendidikan pancasila 1.4. Manfaat Dengan mempelajari filsat kita dapat memproleh pengetahuan sehingga nanatinya dapat diterapkan dalam dnia pendidikan dan masyarakat.

BAB II PEMBAHASAN

II.1

ALIRAN FILSAFAT MODERN DITINJAU DARI ONTOLOGI,EPISTEMOLOGI,DAN AKSIOLOGI

A. Pengertian ontologi, Epistemologi, Dan Aksiologi
Ontologi Adalah Hakijat yang menyelidiki alam nyata dan bagaimana kenyataan yang sebenarnya,Ontolgi berarti ilmu pendidikan yang membahas tentang hakikat subtansi dan pola organisasi ilmu pendidikan.Ontologi menyelidiki hakikat dari segala sesuatu dari alam nayata yang sangat terbatas panca indra kita.Bagaimana ralita yanga ada ini,apakah matri saja ,wujud sesuatu ini bersifat tetp,kekal tanpa perubahan, apakah realita berbentuk satu unsuri(monoisme), dua unsur(dualisme)ataukah terdiri dari unsu-yang banyak(pluralisme) Epistemologi adalah ilmu pendidikan yang membahas tentang hakikat objek formal dan material ilmmu pendidikan.Epistemologi yaitu pengetahuan yang berusaha menjawab pertanyaan –pertanyaan seperti apakah pengetahuan,cara manusia memproleh dan menangkap pengtahuan dan jenis-jenis pengetahuan. Aksiologi menyangkut nilai-nilai yang brupa pertanyaan apakah yang baik atau bagus itu.Aksiologi merupakan suatu pendidikan yang menguji dan mengintegrasikan semua nilai tersebut dalam kehidupan manusia,untuk selajutnya nilai-nilai tersebut ditanamkan dalam kepribadian anak.

B.

Aliran –aliran Filsafat Pendidikan modern
Dalam filsafat pendidikan modern dikenal beberapa aliran yaitu antara lain :

1. Aliran Progresivisme
Aliran progresivisme mengakui dan berusaha mengembangkan asas progesivisme dalam sebuah realita kehidupan, agar manusia bisa survive menghadapi semua tantangan hidup. Dinamakan instrumentalisme, karena aliran ini beranggapan bahwa kemampuan intelegensi manusia sebagai alat untuk hidup, untuk kesejahteraan dan untuk mengembangkan kepribadiaan manusia. Dinamakan eksperimentalisme, karena aliran ini menyadari dan mempraktikkan asas eksperimen untuk menguji kebenaran suatu teori. Dan dinamakan environmentalisme, Karena aliran ini menganggap lingkungan hidup itu memengaruhi pembinaan kepribadiaan (Muhammad Noor Syam, 1987: 228-229) Adapun tokoh-tokoh aliran progresivisme ini, antara lain, adalah William James, John Dewey, Hans Vaihinger, Ferdinant Schiller, dan Georges Santayana.Aliran progesivisme telah memberikan sumbangan yang besar di dunia pendidikan saat ini. Aliran ini telah meletakkan dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada anak didik. Anak didik diberikan kebaikan baik secara fisik maupun cara berpikir, guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh

oranglain (Ali, 1990: 146). Oleh karena itu, filsafat progesivisme tidak menyetujui pendidikan yang otoriter. John Dewey memandang bahwa pendidikan sebagai proses dan sosialisasi (Suwarno, 1992: 62-63). Maksudnya sebagai proses pertumbuhan anak didik dapat mengambil kejadiankejadian dari pengalaman lingkungan sekitarnya. Maka dari itu, dinding pemisah antara sekolah dan masyarakat perlu dihapuskan, sebab belajar yang baik tidak cukup di sekolah saja. Dengan demikian, sekolah yang ideal adalah sekolah yang isi pendidikannya berintegrasi dengan lingkungan sekitar. Karena sekolah adalah bagian dari masyarakat. Dan untuk itu, sekolah harus dapat mengupyakan pelestarian karakteristik atau kekhasan lingkungan sekolah sekitar atau daerah di mana sekolah itu berada. Untuk dapat melestarikan usaha ini, sekolah harus menyajikan program pendidikan yang dapat memberikan wawasan kepada anak didik tentang apa yang menjadi karakteristik atau kekhususan daerah itu. Untuk itulah, fisafat progesivisme menghendaki sis pendidikan dengan bentuk belajar “sekolah sambil berbuat” atau learning by doing (Zuhairini, 1991: 24). Dengan kata lain akal dan kecerdasan anak didik harus dikembangkan dengan baik. Perlu diketahui pula bahwa sekolah tidak hanya berfungsi sebagai pemindahan pengetahuan (transfer of knowledge), melainkan juga berfungsi sebagai pemindahan nilai-nilai (transfer of value), sehingga anak menjadi terampildan berintelektual baik secara fisik maupun psikis. Untuk itulah sekat antara sekolah dengan masyarakat harus dihilangkan. Dalam pandangan ontologis menurut aliran progressivisme, kenyataan alam smesta merupakan
kenyataan hidup manusia.pengalaman adalah kunci pengertian manusia terhadap segala sesuatu.Pengalaman tentang penderitaan,kesedihan,kegembiraan,keindahan, dan lain-lain adalah relitas manusia sampai mati.pengalaman adalah suatu sumber evolusi, yang berarti perkembangan,maju setapak demi setapak mulai yang dari mudah-mudah menerobos pada yang sulitsulit(proses perkembangan lama).Pengalaman adalah perjuangan,sebab hidup adalah tindakan dan perubahan perubahan. Sementara secara etimologis,pengetahuan adalah informasi,fakta,hukum prinsip,proses,kebiasaan yang terakumulasi dalam pribadi sebagai hasil proses interaksi dan pengalaman.pengetahuan manusia tidak hanya diperboleh secara langsung melalui pengalaman dan kontak denagan segala realita dalam lingkungan hidupnya,tapi juga melalui catatan-catatan ( buku-buku,kepustakaan).pengetahuan adlah hasil aktivitas tertentu,semakin sering kita menghadapi tuntutan lingkungan dan makin banyak pengalamn kita dalam praktik,semakin besar persiapan kita menghadapi tuntutan masa depan. Dan secara aksiologi, menurut aliran ini,nilai timbul karena manusia mempunyai bahasa, dan dari sinilah adanya pergaulan.masyarakat menjadi wadah timbulnya nilai-nilai.Bahasa adalah sarana ekspresi yang berasal dari dorongan ,kehendak,persaan dan kecerdasan dari individu-individu.Nilai benar atau salah,baik atau buruk,dapat dikatakan ada bila menunjukan kecocokan dengan hasil pengujian yang dialami manusia dalam pergaulan manusia. a. Asas belajar Aliran ini mempunyai konsep bahwa anak didik mempunyai akal dan kecerdasan. Akal dan kecerdasan merupakan potensi kelebihan manusia dibanding makhluk lain.dengan potensi yang bersifat kreatif dan dinamis tersebut,anak didik mempunyai bekal untuk menghadai dan memecahkan

problema-problemanya.dengan potensi tersebut ank didik berkembang dan menjadi individu yang aktif ,kreatif dan dinamis dalam menghadapi lingkunganya. John Dwey memandang bahwa pendidikan sebagai proses dan sosialisasi ,maksudnya sebagai proses pertumbuhan anak didik dapat memgambil kejadian-kejadian dari pengalaman linkungan sekitarnya.Maka dari itu dindig pemisahan antara sekolah dan masyarakat perlu di hapuskan, sebab belajar yang baik tidak cakup di sekolah saja.Dengan demikian sekolah yang ideal adalah sekolah yang isi pendidikanya berintegrasi dengan lingkungan sekitar,karna sekolah adalah bagian dari masyarakat. John locke,mengemukakan bahwa sekolah hendaknya ditujukan untuk kepentingan pendidikan anak. Sekolah dan pengajaran hendaknya disesuaikan dengan kepentingan anak.Senanda dengan itu Jean Jacques Rouseu menyatakan bahwa anak harus dididik sesuai dengan alamnya,dan jangan dipandang dari sudut orang dewasa,karena anak adalah anak yang dengan dunianya sendiri yaitu berlainan sekali dengan alam orang dewasa. Berangkat dari pendapat-pendapat beberapa tokoh diatas,maka sekolah sebagai wiyata mandala(lingkungan pendidikan ) merupakan wadah pembinaan dan pendidikan anak-anak didik dalam rangka menumbuhkembangkan segenap potensi baik itu bakat,minat dan kemampuankemampuan lain agar berkembang ke arah maksimal. b. Pandangan kurikulum Progresivime Selain kemajuan,lingkungan dan pengalaman mendapatkan perhatian yang cukup dari progressivisme.Untuk itu, filsafat progressivisme menunjukan denagan konsep dasarnya sejenis kurikulum yang program pengajaranya dapat memengaruhi anak belajar secara edukatif , baik dilingkungan sekolah maupun diluar. Menurut iskandar Wiryokusumo dan Usman Mulyadi,sekolah yang baik itu adalah sekolah yang dapat memberijaminan para siswanya selama belajar.Maksudnya,sekolah harus mampu membantu dan menolong siswa nya untuk tumbuh dan berkembang serta memberi keleluasaan tempat para siswa dalam mengembangkan bakat dan minatnya melalui bimbingan guru dan tanggung jawab kepala sekolah.Kurikulum dikatakan baik apabila bersifat flekibel dan eksperimental serta memiliki keuntungan untuk diperiksa setiap saat. Kurikulum dipusatkan pada pengalaman (kurikulum eksperimental) yang didasarkan atas kehidupan manusia dalam berrinteraksi lingungan yang kompleks.Untuk itu,ia memerlukan kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan demi melestarikan hidpnya. c. Pandangan progressivisme tentang budaya. Kebudayaan sebagai hasil manusia, sepanjang sejarah dikenal sebagai milik manusia yang tidak kaku.ia selalu berkembang dan berubah .Filsafat progrssivisme menganggap bahwa pemdidikan telah mampu mengubah dan membina manusia untuk menyusaikan diri dengan perubahan-perubahan kultural dan tantangan zaman,sekaligus menolong manusia menghadapi transisi zaman tardisional untuk memasuki zaman modern.

2. Aliran Esensialisme Aliran esensialisme merupakan aliran pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Esensialisme muncul pada zaman Renaisance dengan cirri-cirinya yang berbeda dengan progesivisme. Dasar pijakan aliran ini lebih fleksibel dan terbuka untuk perubahan, toleran, dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. Esensiliasme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama, yang meberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas (Zuhairini, 1991: 21). Idealisme, sebagai filsafat hidup, memulai tinjauannya mengenai pribadi individu dengan menitikberatkan pada aku. Menurut idealisme, pada tarap permulaan seseorang belajar memahami akunya sendiri, kemudian ke luar untuk memahami dunia objektif. Dari mikrokosmos menuju ke makrokosmos. Menurut Immanuel Kant, segala pengetahuan yang dicapai manusia melalui indera memerlukan unsure apriori, yang tidak didahului oleh pengalaman lebih dahulu. Bila orang berhadapan dengan benda-benda, bukan berarti semua itu sudah mempunayi bentuk, ruang, dan ikatan waktu. Bentuk, ruang , dan waktu sudah ada pada budi manusia sebelum ada pengalaman atu pengamatan. Jadi, apriori yang terarah buikanlah budi pada benda, tetapi benda-benda itu yang terarah pada budi. Budi membentuk dan mengatur dalam ruang dan waktu. Dengan mengambil landasan pikir tersebut, belajar dapat didefinisikan sebagai substansi spiritual yang membina dan menciptakan diri sendiri (Poedjawijatna, 1983: 120-121). Roose L. finney, seorang ahli sosiologi dan filosof , menerangkan tentang hakikat social dari hidup mental. Dikatakan bahwa mental adalah keadaan ruhani yang pasif, hal ini berarti bahwa manusia pada umumnya menerima apa saja Yng telah ditentukan dan diatur oleh alam social. Jadi, belajar adalah menerima dan mengenal secara sungguh-sungguh nilai-nilai social angkatan baru yang timbul untuk ditambah, dikurangi dan diteruskan pada angkatan berikutnya. a. Pandangan ontologi esensialisme Sifat yang menonjol dari ontologi essensialisme adalah suatu konsep bahwa dunia ini dikuasai oleh tata nilai yang tiada cela, yang mengatur isinya dengan tiada cela pula.Tujuan umum aliran ini adalah membentuk pribadi bahagia didunia dan akhirat.isi pendidikanya mencakup ilmu pengetahuan,kesenian dan hal yang mampu menggerrakan kehendak manusia.kurikulum sekolah bagi essensialisme semacam miniatur dunia yang bisa dijadikan sebagai ukuran kenyataan,kebenaran dan keagungan.Dalam sejarah perkembanganya,kurikulu essensialismemenerapkan berbagai pola idealisme dan realisme. Realisme yang mendukung essensialisme disebut realisme objektif,yang mempunyai pandangan yang sistemmatis mengenai alam dan tempat manusia didalamnya.Idealisme lah objektif mempunayai pandangan kosmis yang lebih optimis ketimbang realisme objektif.pandangan-pandanganya bersifat menyeluruh, meliputi segala sesuatu.dengan landasan pikiran bahwa totalitas dalam alam semesta ini pada haikikatnya adalah jiwa atau spirit,bahwa segala sesuatu yang ada ini adalah nyata.

b. Pandangan epistemologi Esensialisme

Teori kepribadian manusia sebagai refleksi tuhan adalah jalan untuk mengerti epistemologi essensialisme.Sebab, jika manusia mampu menyadari bahwa realita sebagai mikrokosmos dan makrokosmos, maka manusia pasti mengetahui dalam tingkatan atau kualitas apa rasionya mampu memikirkan kesemestianya. c. Pandangan Aksiologi Essensialisme Bagi aliran ini, nilai-nilai berasal dan bergantung pada pandangan- pandangan idealisme dan realisme.Dengan kata lain essensialisme terbina oleh kedua syarat tersebut. d. Pandangan essensialisme mengenai belajar Idiealisme sebagai filsafah hidup, memulai tinjauanya mengenai pribadi individu dengan menitikberatkan pada aku.Menuru idealisme, pada taraf permulaan seseorang bejar mengenai akunya sendiri,kemudian keluar untuk memahamimdunia objektif, dari makromos menuju ke makromos.

3. Aliran Perenialisme
Perenialisme memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan sekarang. Perenialisme memberikan sumbangan yang berpengaruh baik teori maupun praktik bagi kebudayaan dan pendidikan zaman sekarang (Muhammad Noor Syam, 1986: 154). Dari pendapat ini diketahui bahwa perenialisme merupakan hasil pemikiran yang memberikan kemungkinan bagi sseorang untukk bersikap tegas dan lurus. Karena itulah, perenialisme berpendapat bahwa mencari dan menemukan arah arsah tujuan yang jelas merupakan tugas yang utama dari filsafat, khususnya filsafat pendidikan. Menurut perenialisme, ilmu pengetahuan merupakan filsafat yang tertinggi, karena dengan ilmu pengetahuanlah seseorang dapat berpikir secara induktif. Jadi, dengan berpikir maka kebenaran itu akan dapat dihasilkan. Penguasaan pengetahuan mengenai prinsip-prinsip pertama adalah modal bagi seseorang untuk mengembangkan pikiran dan kecerdasan. Dengan pengetahuan, bahan penerangan yang cukup, orang akan mampu mengenal dan memahami factor-faktor dan problema yang perlu diselesaikan dan berusaha mengadakan penyelesaian masalahnya. Diharapkan anak didik mampu mengenal dan mengembangkan karya-karya yang menjadi landasan pengembangan disiplin mental. Karya-karya ini merupakan buah pikiran besar pada masa lampau. Berbagai buah pikiran mereka yang oleh zaman telah dicatat menonjol seperti bahasa, sastra, sejarah, filsafat, politik, ekonomi, matematika, ilmu pengetahuan alam, dan lain-lainnya, yang telah banyak memberikan sumbangan kepadaperkembangan zaman dulu. Tugas utama pendidiakn adalah mempersiapkan anak didik kea rah kematangan. Matang dalam arti hiodup akalnya. Jadi, akl inilah yang perlu mendapat tuntunan kea rah kematangan tersebut. Sekolah rendah memberikan pendidikan dan pengetahuan serba dasar. Dengan pengetahuan yang tradisional seperti membaca, menulis, dan berhitung, anak didik memperoleh dasar penting bagi pengetahuan-pengetahuan yang lain. Sekolah, sebagai tempat utama dalam pendidikan, mempesiapkan anak didik ke arah kematangan akal dengan memberikan pengetahuan. Sedangkan tugas utama guru adalah memberikan pendidikan dan pengajaran (pengetahuan) kepada anak didik. Dengan kata lain,

keberhasilan anak dalam nidang akalnya sangat tergantung kepada guru, dalam arti orang yang telah mendidik dan mengajarkan.
a. Ontologi Perenialsime: Perenialisme dalam bidang ontologi berasas pada teleologi yakni memandang bahwa realita sebagai subtansi selalu cenderung bergerak atau berkembang dari potensialitas menuju aktualitas (teleologi). Bila dihubungkan dengan manusia, maka manusia itu setiap waktu adalah potensialitas yang sedang berubah menjadi aktualitas. Di samping asas teleologi, juga asas supernatural bahwa tujuan akhir bersifat supernatural, bahkan ia adalah Tuhan sendiri. Manusia tak mungkin menyadari asas teleologis itu tanpa iman dan dogma. Segala yang ada di alam ini terdiri dari materi dan bentuk atau badan dan jiwa yang disebut dengan substansi, bila dihubungan dengan manusia maka manusia itu adalah potensialitas yang di dalam hidupnya tidak jarang dikuasai oleh sifat eksistensi keduniaan, tidak jarang pula dimilikinya akal, perasaan dan kemauannya semua ini dapat diatasi. Maka dengan suasana ini manusia dapat bergerak untuk menuju tujuan (teleologis) dalam hal ini untuk mendekatkan diri pada supernatural (Tuhan) yang merupakan pencipta manusia itu dan merupakan tujuan akhir. b. Epistemologi Perenialisme: Dalam bidang epistemologi, perenialisme berpendapat bahwa segala sesuatu yang dapat diketahui dan merupakan kenyataan adalah apa yang terlindung pada kepercayaan. Kebenaran adalah sesuatu yang menunjukkan kesesuaian antara pikir dengan benda-benda. Benda-benda yang dimaksudkan ialah halhal yang adanya bersendikan atas prinsip-prinsip keabadian. Menurut perenialisme, filsafat yang tertinggi adalah ilmu metafisika. Sebab science sebagai ilmu pengetahuan menggunakan metode induktif yang bersifat analisis empiris kebenarannya terbatas, relativ atau kebenaran probabiliti. Tetapi filsafat dengan metode deduktif bersifat anological analysis, kebenaran yang dihasilkannya bersifat self evidence universal, hakiki dan berjalan dengan hukum-hukum berpikir sendiri yang berpangkal pada hukum pertama, bahwa kesimpulannya bersifat mutlak asasi. c. Aksiologi Perenialisme: Dalam bidang aksiologi, perenialisme memandang masalah nilai berdasarkan prinsip-prisinsip supernatural, yakni menerima universal yang abadi. Khususnya dalam tingkah laku manusia, maka manusia sebagai subjek telah memiliki potensi-potensi kebaikan sesuai dengan kodratnya, di samping itu ada pula kecenderungan-kecenderungan dan dorongan-dorongan kearah yang tidak baik. Tindakan manusia yang baik adalah persesuaian dengan sifat rasional (pikiran) manusia. Kebaikan yang teringgi ialah mendekatkan diri pada Tuhan sesudah tingkatan ini baru kehidupan berpikir rasional.

4. Aliran Rekonstruksionisme
Kata Rekonstruksionisme bersal dari bahasa Inggris reconstruct, yang berarti menyusun kembali. Dalam konteks filsafat pendidikan, rekonstruksionisme merupakan suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Aliran rekonstruksionisme pada prinsipnya sepaham dengan aliran perenialisme, yaitu berawal dari krisis kebudayaan modern. Menurut Muhammad Noor Syam (1985: 340), kedua aliran tersebut memandang bahwa keadaan sekarang merupakan zaman yang mempumyai kebudayaan yang terganggu oleh kehancuran, kebingungan, dan kesimpangsiuran.

Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia. Karenanya, pembinaan kembali daya intelektual dan spiritual yang sehat melalui pendidikan yang tepat akan membina kembali manusia dengan nilai dan norma yang benar pula demi generasi yang akan datang, sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia. Di samping itu, aliran ini memiliki persepsi bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur dan diperintah oleh rakyat secara demokratis, bukan dunia yang dikuasai oleh golongan tertentu. Cita-cita demokrasi yang sesungguhnya tidak hanya teori, tetapi mesti diwujudkan menjadi kenyataan, sehingga mampu meningkatkan kualitas kesehatan, kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan warna kulit,, keturunan, nasionalisme, agama (kepercayaan) dan masyarakat bersangkutan. a. Pandangan Ontologi Dengan ontologi,dapat diterangkan bagaimana hakikat dari segala sesuatu.Aliran rekonsstruksionisme memandang realita itu brsifat universal.Realita itu ada dimana-mana dan sama disetiap tempat. b. Pandangan epistemologis Aliran ini lebih merujuk pada pendapat aliaran pragmatisme dan pereniaalisme.Menurut aliran ini untuk memahami realita memerlukan suatu asas tahu.Maksudnya, kita tidak mungkin memahami realita ini tanpa melalui proses pengalaman dan hubungan dengan realita terlebih dahulu melalui penemuan pengetahuan c. Pandangan Aksiologi Dalam proses interaksi sesama manusia, diperlukan nilai-nilai.Begitu juga dalam hubungan manusia dengan alam semesta, prosesnya tidak mungkin dilakukan dengan sikap netral.Dalam hal ini, manusia sadar ataupun tidak sadar telah melakukan proses penilaian, yang merupakan kecendrungan manusia. Tetapi , secara umum ruang lingkup pengertian nilai itu tidak terbatas.

II.2 HUBUNGAN ANTARA FILSAFAT,MANUSIA,DAN PENDIDIKAN
A. Teori Kebenaran Menurut Pandangan Filsafat Dalam Bidang Ontologi,Epistemologi,Dan Aksiologi Ada beberapa teori kebenaranmenurut pandangan filsafat dalam bidang ontologi,epistemologi,dan aksiologi. 1. Ontologi Ontologi sering diidentik dengan metafisika,yang juga disebut sebagai proto-filsafat atau filsafat yang pertama, atau fiksafat ketuhanan yang bahasanya adalah hakikat sesuatu,keesaan,pesekutuan,sebab dan akibat,relita,prima atau tuhan dengan segala sifatnya, malaykat,relasi, atau segala sesuatu yang ada dibumi dengan tenaga-tenaga yang dilangit,wahyu,akhirat,dosa,neraka,pahala,dan suraga.Ontologi adalah teori dari cabang filsafat yang membahas realitas.Realitas adalah kenyataan yang selanjutnya menjurus pada sesuatu kebenaran. Menurut Bramel,interprestasi tentang sesuatu realita itu dapat bervariasi.Mengenai bentuk meja misalnya,pasti berbeda-beda pendapat.tapi ditanyakan bahanya,pastilah meja itu subtansinya adalah kualitas materi.Dalam pendidikan,pandangan ontologi secara praktis akan

menjadi masalah yang utama.sebab anak bergaul dengan lingkungannya dan mempunyai dorongan yang kuat untuk mengrti sesuatu. 2. Epistemologi Istilah epistemologi pertama kali dipakai oleh L.F Ferier pada abad ke 19 di institut of metaphisics (1854).dalam ensikopledia of philosophy,epistemologi didefinisikan cabang filsafat yang yang bersangkutan dengan sifat dasar dari ruang lingkup pengetahuan peraanggapan dan dasar-dasarnya serta realitas umum dari tuntutan pengetahuan sebenarnya. Epistemologi adalah study tentang pengetahuan, bagaimana kita mengetahi benda-benda.Ada beberapa contoh pertanyaan yang menggunakan kata” tahu” dan mengandung pengertian yang berbeda-beda,baik sumbernya maupun validitasnya. a. tentu saja ia sakit, karena saya melihatnya. b. percayalah,saya tahu apa yang dibicarakan.

3.Aksiologi Akhlak adalah suatu bidang yang menyelidiki nilai-nilai(value). Menuru Bramlet ada tiga bagian yang membedakan didalam aksiologi.pertama, moral condut,tindakan moral.bidang ini melahirkan disiplin khusus yaitu etika. Kedua, esthetik expression,ekspresi keindahan yang melahirkan estetika. Ketga, socio- political life, kehidupan sosial,poliik.bidan ini melahirkan ilmu filsafat sosio-politik. Nilai dan implikasi aksiologi dalam pendidikan ialah pendidikan menguji dan mengintegrasikan semua nilai tersebut didalam kehidupan manusia dan membinanya di dalam kepribadian anak. B. Pandangan Filsafat Tentang Hakikat Manusia Ilmu yang mempelajari tentang hakekat mansia disebut Antropologi Filsafat. Hakikat berarti adanya berbicara menganai apa manusia itu, ada empat aliran yang dikemukakan yaitu: Aliran serba zat, aliran serba ruh, aliran dualisme, aliran eksistensialisme.
Aliran Serba Zat

Aliran serba zat ini mengatakan yang sungguh-sungguh ada, itu hanyalah zat materi, alam ini adalah zat atau materi dan manusia adalah unsur dari alam, maka dari itu manusia adalah zat atau materi.
Aliran Serba Roh

Aliran ini berpendapat bahwa segala hakikat sesuatu yang ada didunia ini ialah ruh, juga hakekat manusia adalah ruh, adapun zat itu adalah manifestasi dari pada ruh di atas dunia ini. Fiche mengemukakan bahwa segala sesuatu yang lain (selain ruh) yang rupanya ada dan hidup hanyalah suatu jenis perumpamaan, peubahan atau penjelmaan dari ruh (Gazalba, 1992: 288). Dasar pikiran aliran ini ialah bahwa ruh itu lebih berharga, lebih tinggi nilainya

daripada meteri. Hal ini mereka buktikan dalam kehidupan sehari-hari, yang mana betapapun kita mencintai seseorang jika ruhnya pisah dengan badannya, maka materi/jasadnya tidak ada artinya. Dengan demikian aliran ini menganggap ruh itu ialah hakikat, sedangkan badan ialah penjelmaan atau bayangan.
Aliran Dualisme

Aliran ini menggangap bahwa manusia itu pada hakekatnya terdiri dari dua subtansi, yaitu jasmani dan rohani. Keduanya subtansi ini masing-masing merupakan unsur asal, yang adanya tidak tergantung satu sama lain. Jadi badan tidak bersal dari ruh dan tidak bersal dari badan. Perwujudannya manusia tidak serba dua, jasad dan ruh. Antara badan dan ruh terjadi sebab akibat yang mana keduanya saling mempengaruhi.
Aliran Eksistensialisme

Aliran filsafatr modern berpikir tentang hakikat manusia merupakan eksistensi atau perwujudan sesungguhnya dari manusia. Jadi intinya hakikat manusia itu, yaitu apa yang menguasai manusia secara menyeluruh. Di sini manusia dipandang tidak dari sudut serba zat atau serba ruh atau dualisme dari dua aliran itu, tetapi memandangnya dari segi eksistensi itu sendiri didunia ini. Filsafat berpandangan bahwa hakikat manusia ialah manusia itu merupakan berkaitan antara badan dan ruh. Islam secara tegas mengatakan bahwa badan dan ruh adalah subtansi alam, sedangkan alam adalah makhluk dan keduanya diciptakan oleh Allah, dijelaskan bahwa proses perkembangan dan pertumbuhan manusia menurut hukum alam material. Pendirian Islam bahwa manusia terdiri dari subtansi, yaitu meteri dari ilmu dan ruh yang berasal dari Tuhan, maka hakikat pada manusia adalah ruh sedangkan jasadnya hanyalah alat yang dipergunakan oleh ruh saja, tanpa kedua subtansi tersebut tidak dapat dikatakan manusia.

C. SISTEM NILAI DALAM KEHIDUPAN MANUSIA

Sistem merupakan suatu himpunan gagasan atau prinsip –prinsip yang saling bertautan, yang bergabung menjadi suatu keseluruhan.Terkait dengan itu, nilai yang merupakan suatu norma tertentu mengatur ketertiban kehidupan sosial. Karena manusia sebagai makhluk budaya dan makhluk sosial,selalu membutuhkan bantuan orang lain dalam memenuhi kebutuhan sehar-hari. 1. Penertian nilai Secara umum cakupan pengertian nilai itu tak terbatas.Makudnya,segala sesuatu yang ada dalam raya ini bernilai,yang didalam filsafat pendidikan dikenal dengan istilah aksiologi.Dalam ensiklopedia Britanica disebutkan bahwa nilai itu merupakan suatu penerapan atau suatu kualitas suatu objek yang menyangkut suatu jenis apresiasi. Dari beberapa pendapat diatas nilai merupakan hasil dari kreativitas manusia dalam rangka melakukan kegiatan soaial, baik itu berupa cinta,simpati,dan lain-lain.

2. Bentuk dan tingkatan nilai Sesuatu dianggap bernilai jika pribadi itu merasa sesuatu itu bernnilai.Dengan demikian , lepas dari perbedaan nilai objektif maupun subjektif,tujuan adanya nilai adalah menuju kebaikan dan keluhuran manusia. Adapun tingkatan nilai menurut perkembangan nilai, menurut Aguste Comte, itu berbagi menjadi tiga,yaitu tingkat teologis adalah tingkat pertama,silanjutnya tingkat metafisik dan sebagai dan sebagai tingkat yang paling atas adalah apabila manusia telah menguasai pengetahuan eksatayang berarti manusia itu telah mencapai tingkat positif. 3. Nilai-nilai dan tujuan pendidikan Tujuan pendidikan baik itu pada isisnya ataupun rumusanya,tidak akan mingkin dapat kita terapkan tanpa pengertian dan pengetahuan yang tetap tentang nilai-nilai.Untuk menetapkan tujuan pendidikan dasar,harus melalui beberapa pendekatan seperti: (1). Pendekatan melalui analisis historis lembaga-lembaga sosial. (2) Pendekatan melalui analisis ilmiah tentang relita kehidupan aktual, (3) Penekatan melalui nilai-nilai filsafat yang normatif. Sedangkan menurut Aristoteles ,tujuan pendidikan hendaknya sesuai dengan tujuan didirikanya suatu negara.Dengan demikan,dapat diambil suatu pengertian bahwa nilai pendidikan bisa dilihat dari tujuan pendidikan yang ada.

4. Etika Jabatan Fungsi dan tanggung jawab mendidik dalam masyarakat merupakan kewajiban setiap warga masyarakat.Setiap warga masyarakt sadar akan nilai dan peranaan pendidikan bagi generasi muda,khususnya anak-anak dalam lingkungan keluarga sendiri.Secara kodrati,apappun namanya,tiap orang tua merasa berkepentingan dan berharap supaya anak-anaknya menjadi mausia yang mampu berdiri sendiri,Oleh karena itu kewajiban mendidik itu merupakan panggilan sebagai moral setiap manusia.

D. Pandngan Filsafat Tentang Pendidikan Ajaran filsafat mempunyai status tinggi dalam kebudayaan manusia yakni sebagai ideologi bangsa dan negara  selanjutnya menjadi eksistensi suatu bangsa  untuk menjaga eksistensi maka diwariskanlah nilai-nilai itu pada generasi selanjutnya  cara transfer nilai yang efektif adalah melalui pendidikan  untuk menjamin kebenaran dan efektifnya proses pendidikan maka dibutuhkan landasan filosofis dan ilmiah sebagai asas normatif dan pedoman pelaksanaan pembinaan  berhasil atau tidaknya pendidikan berpengaruh besar terhadap prestasi suatu bangsa bahkan pada tingkat sosio-budaya mereka.

Kedudukan Filsafat Pendidikan  ada 2 : (1) Landasan Ilmiah; bagi pelaksanaan pendidikan yang terus berkembang secara dinamis, (2) Landasan Filosofis; menjiwai seluruh kebijaksanaan dalam pelaksanaan pendidikan, dapat menjawab persoalan pendidikan. Contoh dalam aplikasi di kehidupan nyata yang bersumber dari ajaran filsafat: kehidupan sosial, politik, ekonomi, pendidikan dan kebudayaanPandangan filsafat tentang pendidikanAjaran filsafat mempunyai status tinggi dalam kebudayaan manusia yakni sebagai ideologi bangsa dan negara  selanjutnya menjadi eksistensi suatu bangsa  untuk menjaga eksistensi maka diwariskanlah nilai-nilai itu pada generasi selanjutnya  cara transfer nilai yang efektif adalah melalui pendidikan  untuk menjamin kebenaran dan efektifnya proses pendidikan maka dibutuhkan landasan filosofis dan ilmiah sebagai asas normatif dan pedoman pelaksanaan pembinaan  berhasil atau tidaknya pendidikan berpengaruh besar terhadap prestasi suatu bangsa bahkan pada tingkat sosio-budaya mereka. Kedudukan Filsafat Pendidikan  ada 2 : (1) Landasan Ilmiah; bagi pelaksanaan pendidikan yang terus berkembang secara dinamis, (2) Landasan Filosofis; menjiwai seluruh kebijaksanaan dalam pelaksanaan pendidikan, dapat menjawab persoalan pendidikan. Contoh dalam aplikasi di kehidupan nyata yang bersumber dari ajaran filsafat: kehidupan sosial, politik, ekonomi, pendidikan dan kebudayaan Alasan Filsafat Pendidikan Pancasila merupakan tuntutan nasional  karena Filsafat pendidikan Pancasila merupakan sub sistem dari sistem negara pancasila  dalam pembukaan UUD 1945 “cita dan karsa bangsa kita, tujuan nasional dan hasrat luhur rakyat Indonesia” merupakan perwujudan nilai dan jiwa pancasila dapat melestarikan kebudayaan, martabat dan kepribadian bangsa dan negara  dapat dikatakan bahwa Filsafat Pendidikan Pancasila merupakan aspek Rohaniah atau spiritual Sisdiknas (Jalaludin&Abdullah Idi,2011:170) tercermin dalam tujuan pendidikan nasional yang termuat dalam UU No. 20 Tahun 2003.

III.3 FILSAFAT PENDIDIKAN PANCASILA

A. PANCASILA SEBAGAI FALSAFAH HIDUP BANGSA
Terlahirnya Pancasila sebagaimana tercatat dalam sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia, merupakan sublimasi dan kristalisasi dari pandangan hidup (way of life) dan nilainilai budaya luhur bangsa yang mempersatukan keanekaragaman bangsa kita menjadi bangsa yang satu, Indonesia. Berbeda dengan Jerman, Inggris, Perancis, serta negara-negara Eropa Barat lainnya, yang menjadi suatu negara bangsa (nation state) karena kesamaan bahasa. Atau negara-negara lainnya, yang menjadi satu bangsa karena kesamaan wilayah daratan. Latar belakang historis dan kondisi sosiologis, antropologis dan geografis Indonesia yang unik dan spesifik seperti, bahasa, etnik, atau suku bangsa, ras dan kepulauan menjadi komponen pembentuk bangsa yang paling fundamental dan sangat berpengaruh terhadap realitas kebangsaan Indonesia saat ini. Dengan demikian, Pancasila sebagai dasar falsafah Negara Indonesia harus diketahui dan dipahami oleh seluruh bangsa Indonesia agar menghormati, menghargai, menjaga, dan menjalankan nilai-nilai serta norma-norma positif yang terkandung dalam sila-sila pancasila hingga menjadi bangsa yang kuat dalam menghadapi kisruh dalam berbagai aspek sosial, ekonomi, politik baik nasional maupun internasional seperti yang sedang kita alami belakangan ini. Secara etimologis istilah “filsafat” atau bahasa Inggrisnya disebut “philosophi” berasal dari bahasa Yunani “philien” (cinta) dan “sophos” (hikmah/kearifan) atau bisa juga diartikan “cinta kebijaksanaan”. Makna menurut beberapa tokoh filsafat yaitu : • Socrates: peninjauan dalam diri yang bersifat reflektif atau berupa perenungan terhadap azas-azas dari kehidupan adil dan bahagia. • Plato: filsuf adalah pencinta pandangan tentang kebenaran (vision of truth). Dalam pencarian dan menangkap pengetahuan mengenai ide yang abadi dan tak berubah. Wawasan filsafat terdiri dari beberapa aspek, yaitu Aspek Ontologi (eksistensi), Epistemologi (Metode/cara), dan Aksikologi (nilai dan estetika). Aliran filsafat juga terbagi atas beberapa sifat yaitu Materialisme (kebendaan), Idealisme / Spiritualisme (ide dan spirit), Realisme (Realitas). Pancasila adalah dasar Filsafat Negara Republik Indonesia yang secara resmi disahkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 dan tercantum dalam UUD 1945, dundangkan dalam Berita Negara Republik Indonesia tahun II No. 7 bersama dengan UUD 1945. Perkataan Pancasila mula-mula terdapat dalam Kitab Tripitaka milik ajaran moral agama Budha yang kemudian ajaran tersebut diadaptasi oleh orang Jawa. Secara etimologis kata Pancasila berasal dari bahasa Sansakerta yaitu “Panca” (lima) dan “Syila” (Dasar/Sendi). Istilah Pancasila pertama kali digunakan sebagai nama dari 5 unsur dasar negara oleh Ir. Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945. Secara ringkas Filsafat Pancasila dapat didefinisikan sebagai refleksi kritis dan rasional Pancasila sebagai dasar negara dan kenyataan budaya bangsa, dengan tujuan untuk mendapatkan pokok-pokok pengertiannya secara mendasar dan menyeluruh. Warganegara Indonesia merupakan sekumpulan orang yang hidup dan tinggal di negara Indonesia Oleh karena itu sebaiknya warga negara Indonesia harus lebih meyakini atau

mempercayai, menghormati, menghargai menjaga, memahami dan melaksanakan segala hal yang telah dilakukan oleh para pahlawan khususnya dalam pemahaman bahwa falsafah Pancasila adalah sebagai dasar falsafah negara Indonesia. Sehingga kekacauan yang sekarang terjadi ini dapat diatasi dan lebih memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa dan negara Indonesia ini.

B. Pancasila Sebagai Filsafat Pendidikan Nasional Sistem pendidikan yang dialami bangsa Indonesia sekarang merupakan hasil perkembangan pendidikan yang tumbuh dalam sejarah pengalaman bangsa dimas lalu.Pendidikan tidak berdiri sendiri, tapi selalu dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan politik,sosial,ekonomi dan kebudayaan. Dalam kehidupan suatu bangsa, pendidikan mempunyai peranan penting yaitu untuk menjamin perkembangan dan kelangsungan hidup bangsa tersebut.Karna itu, pendidkan diusahakan dan diselenggarakan oleh pemerintah sebagai satu sistem pengajaran nasional, sebagaimana yang tercntum dalm UUD 1945 Pasal 31 Ayat 2. Menurut Arioteles, tujuan pendidikan sama dengan tujuan didirikanya suatu negara.Begitu juga dengan Indonesia, yang berdasarkan pancasila dan UUD 1945 ingin menciptakan manusia pancasila. Pendidikan selain sebagai sarana transfer ilmu pengetahuan,sosial budaya,juga merupakan sarana untuk mewariskan ideologi bangsa kepada generasi selanjutnya yang hanya dapat dilakukan melalui pendidikan. Pendidikan suatu bangsa secara otomatis akan mengikuti ideologi bangsa yang dianut.Karenanya, sistem pendidikan nasional Indonesia dijiwai,didasari dan mencerminkan identitas pancasila.Sementara cita dan karsa bangsa kita ,tujuan hasrat luhur bangsa Indonesia tersimpul dalam pembukaan UUD 1945 sebagai perwujdan jiwa dan nilai pancasila.Cita dan karsa itu dilambangkan dalam sistem pendidikan nasional yang bertumpu dan dijiwai ole satu keyakinan,dan pandangan hidup pancasilalah sedangkan filsafat pendidikan pancasila adalah subsistem sistem negara Indonesia. Dengan demikian,jelaslah tidak mungkin sistem pendidikan nasional dijiwai dan didasri oleh sistem filsafat pendidikan yang lain selain pancasila.Hal ini tercermin dalam tujuan pendidikan nasional yang termuat dalam UU No.2 Tahun 1989 dan UU No.20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yakni : pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya,yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur,memiliki pengetahuan,ketrampilan,kesehatan jasmani,kepribadian yang mantap dan mandiri serta bertanggung jawab kemasyarakatan. C. Hubungan Pancasila dengan Sistem Pendidikan Ditinjau dari Filsafat Pendidikan Pancasila adalah dasar Filsafat Negara Republik Indonesia yang secara resmi disahkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 dan tercantum dalam UUD 1945, dundangkan dalam Berita Negara Republik Indonesia tahun II No. 7 bersama dengan UUD 1945. Perkataan Pancasila mula-mula terdapat dalam Kitab Tripitaka milik ajaran moral agama Budha yang kemudian ajaran tersebut diadaptasi oleh orang Jawa. Secara etimologis kata

Pancasila berasal dari bahasa Sansakerta yaitu “Panca” (lima) dan “Syila” (Dasar/Sendi). Istilah Pancasila pertama kali digunakan sebagai nama dari 5 unsur dasar negara oleh Ir. Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945. Secara ringkas Filsafat Pancasila dapat didefinisikan sebagai refleksi kritis dan rasional Pancasila sebagai dasar negara dan kenyataan budaya bangsa, dengan tujuan untuk mendapatkan pokok-pokok pengertiannya secara mendasar dan menyeluruh. Pendidikan merupakan bagian penting dari kehidupan yang sekaligus membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Hewan juga “belajar” tetapi lebih ditentukan oleh instinknya, sedangkan manusia belajar berarti merupakan rangkaian kegiatan menuju pendewasaan guna menuju kehidupan yang lebih berarti. Anak-anak menerima pendidikan dari orang tuanya dan manakala anak-anak ini sudah dewasa dan berkeluarga mereka akan mendidik anak-anaknya, begitu j uga di sekolah dan perguruan tinggi, para siswa dan mahasiswa diajar oleh guru dan dosen. Pandangan klasik tentang pendidikan, pada umumnya dikatakan sebagai pranata yang dapat menjalankan tiga fungi sekaligus. Pertama, mempersiapkan generasi muda untuk memegang peranan-peranan tertentu pada masa mendatang. Kedua, mentransfer pengetahuan, sesuai dengan peranan yang diharapkan. Ketiga, mentransfer nilai-nilai dalam rangka memelihara keutuhan dan kesatuan masyarakat sebagai prasyarat bagi kelangsungan hidup masyarakat dan peradaban. Butir kedua dan ketiga tersebut memberikan pengerian bahwa pandidikan bukan hanya transfer of knowledge tetapi juga transfer of value. Dengan demikian pendidikan dapat menjadi helper bagi umat manusia. Filsafat ialah hasil pemikiran dan perenungan secara mendalam tentang sesuatu sampai ke akar-akarnya. Sesuatu dapat berarti terbatas dan dapat pula berarti tidak terbatas. filsafat membahas segala sesuatu yang ada di alam ini yang sering dikatakan filsafat umum. sementara itu filsafat yang terbatas ialah filsafat ilmu, filsafat pendidikan, filsafat seni, filsafat agama, dan sebagainya. filsafat pendidikan adalah berfikir mengakar/menuju akar atau intisari pendidikan. Terdapat cukup alasan yang baik untuk belajar filsafat, khususnya apabila ada pertanyaan-pertanyaan rasional yang tidak dapat atau seyogyanya tidak dijawab oleh ilmu atau cabang ilmu-ilmu. Misalnya: apakah yang dimaksud dengan pengetahuan dan/atau ilmu? Dapatkah kita bergerak ke kiri dan kanan di dalam ruang tetapi tidak terikat oleh waktu? Masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah sekitar pendidikan dan ilmu pendidikan. Kiranya kegiatan pendidikan bukanlah sekedar gejala sosial yang bersifat rasional semata mengingat kita mengharapkan pendidikan yang terbaik untuk bangsa Indonesia, lebih-lebih untuk anak-anak kita masing-masing; ilmu pendidikan secara umum tidak begitu maju ketimbang ilmu-ilmu sosial dan biologi tetapi tidak berarti bahwa ilmu pendidikan itu sekedar ilmu atau suatu studi terapan berdasarkan hasil-hasil yang dicapai oleh ilmu-ilmu sosial dan atau ilmu perilaku Bila kita hubungkan fungsi pancasila dengan hiduan sistem pendidikan ditinjau dari filsafat pendidikan ,maka dapat dijabarkan bahwa pancasila adalah pandangan hidup bangsa yang menjiwai sila-silanya dalam kehidupan sehari-hari.dan untuk menerapkan sila-sila pancasila,diperlukan pemikiran yang sungguh-sungguh mengenai bagaimana nilai-nilai pancasila itu dapat dilaksanakan.Dalam hal ini,tentunya pendidikanlah yang berperan utama.Sebagai contoh,dalam pancsila Terdapat sila Ketuhanan Yang Maha Esa.dalam pelaksanaan pendidikan,tentunya sila pertama ini akan diberikan kepada siswa sebagai pelajaran pokok yang mesti diamalkan.Karena itu, di sekolah-sekolah diberikan pelajaran Pendidikan Moral Pancasila(PMP),yang salah satu butir sila pertamanya adalah percaya dan takwa kepada tuhan yang maha esa sesuai agama masing-masing.(Disini filsafat berfungsi

untuk mempertanyakan siapa Allah dan bagaimana ia menjadikan alam semesta dan sebagainya). Sehingga bila kita lihat dalam kelas,nilai yang tampak diantara siswa adalah saling menghormati walaupun mereka berlainan agama.Olehkarena itulah,sejak sekolah dasar sampai perguruan tinggi,pelajaran pancasila masih diberikan,tak lain agar nilai-nilai pancasila benar-benar diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

D. Filsafat Pendidikan pancasila dalam Tinjauan Ontologi,Epistemologi,danAksiologi

Isi Pancasila : 1. 2. 3. 4. Ketuhanan Yang maha Esa Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab Persatuan Indonesia Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/ Perwakilan 5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia Keterangan : Sila Pancasila Ontologi Pancasila dari dapat dilihat Studi Lapangan/Kajian/Tinjauan Filsafat Epistemologi tentang Aksiologi nilai-nilai

pengetahan Menyelidiki

penghayatan

dan (adanya) benda-benda

yang (value). Dari sikap manusia

pengalaman sehari-hari

kehidupan menyelidiki sumber, syarat, sehari-hari. Dapat dibedakan proses terjadinya ilmu menjadi 2:nilai materiil dan

pengetahuan, batas validitas nilai spiritual. Nilai pancasila dan hakikat ilmu : ketuhanan, kemanusiaan, kerakyatan, da

pengetahuan supaya hidup persatuan, lebih sejahtera  ex:bangsa keadilan. Indonesia telah menemukan Pancasila I Diharapkan

bertaqwa Ilmu / pengetahuan didapat Nilai ketuhanan atau religius.

kepada Tuhan Yang Maha dari rasio atau akal pikir yang Ex: memeluk suatu agama Esa  sesuai dengan datang dari Tuhan tujuan nasional: sebagai pandangan hidup di dunia dan akherat.

menjadikan manusia yang beriman dan bertaqwa

kepada Allah SWTex: pelajaran bernilai menghormati pemeluk agama II Setiap manusia Manusia mempunyai potensi Nilai yang kemanusiaan, nilai dapat keadilan  dalam kehidupan membeda-bedakan ras dan PKn yang

Pancasila, antar

mempunyai harkat dan (kepribadian) martabat yang

sama, dikembangkan sehingga dapat tidak

dalam pendidikan tidak hidup sejahtera dalam suatu keturunan, membedakan usia, agama ruang dan waktu dan tingkat sosial budaya Ex: guru tidak boleh memonoli dalam menuntut ilmu  kebenaran, terpenuhi dengan ilmu kedudukan.

kebutuhan diharap tidak ada kekerasan

spiritual maupun materiil berjiwa pancasila III Tidak membatasi Proses terbentuknya Nilai persatuan  untuk

golongan dalam belajar pengetahuan merupakan hasil mengisi kemerdekaan. UUD 1945 Pasal 31 ayat kerja 1 sama dan dengan saling semakin

lingkungannya

berkesinambungan,

baik kerjasama maka akan kualitas pengetahuan juga

semakin baik. IV Kehidupan Manusia diciptakan oleh Allah Nilai kerakyatan dan nilai untuk bumi memimpin ini di tanggung jawab. Ex: adanya royong dalam

berdemokrasikekuasaan SWT ada di tangan muka

untuk gotong

rakyatmemutuskan mufakat musyawarah.ex:

memakmurkan umat manusia musyawarah dan tanggung jawab dalam pelaksanaan

dengan dengan bijaksana. bebas

mufakat.

mengeluarkan pendapat V Keadilan dalam Ilmu pengetahuan sebagai Nilai keadilan, yaitu dalam

memenuhi kebutuhan di perbendaharaan dan prestasi melaksanakan kewajiban dan bidang materiil dan individu serta karya budaya penerimaan hak. manusia merupakan

spiritual yang berdasarkan umat

atas kekeluargaan.ex:tidak

asas martabat manusia Sisdiknas:tujuan iptek dan

kepribadian dalam mengejar imtaq.ex:

membeda-bedakan siswa

menghargai hasil karya orang lain.

BAB III PENUTUP

III.1. Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Filsafat membahas sesuatu dari segala aspeknya yang mendalam sampai ke akar-akarnya, sedang kebenaran ilmu itu bersifat relative, karena kebenaran ilmu hanya ditinjau dari segi yang diamati dan hanya sebagian kecil saja. 2. Pendidikan Penghayatan dan Pengamalan Pancasila ( P4 ) atau Eka Prasetya Panca Karsa adalah sebagai petunjuk operasional pengamalan pancasila dalam kehidupan sehari-hari termasuk di dalamnya adalah bidang pendidikan. 3. Untuk mengembangkan ilmu Pendidikan yang bercorak Indonesia secara valid, terlebih dahulu dibutuhkan pemikiran dan perenungan itu adalah filsafat yang khusus membahas pendidikan yang tepat diterpkan dibumi Indonesia 4.Filsafat Pancasila adalah hasil berpikir/pemikiran yang sedalam-dalamnya dari bangsa Indonesia yang dianggap, dipercaya dan diyakini sebagai sesuatu (kenyataan, norma-norma, nilai-nilai) yang paling benar, paling adil, paling bijaksana, paling baik dan paling sesuai bagi bangsa Indonesia. 5. Fungsi utama filsafat Pancasila bagi bangsa dan negara Indonesia yaitu: a) Filasafat Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia b) Filsafat Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia c) Filsafat Pancasila sebagai jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia 6. Bukti Falsafah Pancasila sebagai dasar falsafah negara Indonesia terbukti secara historis melalui dokumen-dokumen bersejarah dan di dalam perundang-undangan negara Indonesia

III.2 Saran
a. Makalah ini merupakan resume dari berbagai sumber, untuk lebih mendalami isi makalah kiranya dapat merujuk pada sumber aslinya yang tercantum dalam daftar pustaka. b. Kritik dan saran yang membangun tentunya sangat diharapkan untuk kesempurnaan makalah ini. c. Penulis menyarankan kepada pembaca agar ikut peduli dalam mengetahui sejauh mana pembaca mempelajari tentang filsafat pendidikan d. Semoga dengan karya tulis ini para pembaca dapat menambah cakrawala ilmu pengetahuan

III.3 Daftar pustaka

Jalaludin dan Idi, A.2011.Filsafat Pendidikan. Jakarta:Raja Grafindo Persada. http/blogspot,Aliran filsafat pendidikan.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->