POSISI TNI DALAM SISTEM POLITIK NASIONAL Jum`at, 6 Oktober 2006 00:00:00 - Oleh : puspen - Dibaca : 1316 Home » Opini

» POSISI TNI DALAM SISTEM POLITIK NASIONAL Kita perlu merenungkan lagi posisi TNI dalam sistem politik nasional di Indonesi a dalam rangka mendorong proses demokratisasi yang sedang berlangsung. Apalagi setelah buku BJ Habibie, Detik-detik yang Menentukan, diluncurkan di Jak arta, muncul polemik soal kemungkinan ada upaya kudeta pada tahun 1998. Apa betu l ada upaya kudeta, belum ada kepastian. Namun, peluang kudeta seperti di Thaila nd dan Filipina sebetulnya bisa dicegah melalui mekanisme pengaturan institusi k etentaraan. Politik praktis Pertama, pengorganisasian TNI. Kedudukan TNI dalam sistem politik haruslah ditem patkan di luar birokrasi pemerintahan. Ia berada langsung di bawah presiden seba gai kepala negara sekaligus Panglima Tertinggi TNI. Dengan demikian, TNI bisa be bas atau tidak terlibat dalam persoalan kebijakan politik pemerintah yang terkad ang berhadapan dengan aspirasi rakyat. Dengan memisahkan TNI secara struktural d ari urusan politik seperti ini, sistem ketentaraan menjamin tidak ada prajurit a tau pimpinan TNI pada level mana pun terlibat dalam politik praktis, mulai dari memberikan komentar atas ketidaksetujuan terhadap kebijakan pemerintah sampai pa da pengerahan mesin perang untuk menakut-nakuti pemerintah. Agar TNI benar-benar netral dan bebas dari intervensi politik dan segala urusan politik praktis yang salah satu ujungnya adalah rebutan jabatan, pengangkatan pe jabat di bawah kepala staf angkatan (bintang tiga) menjadi otoritas penuh TNI. A rtinya, keterlibatan presiden tak lebih hanyalah pengesahan legalitas administra si kenegaraan dalam kedudukan presiden sebagai kepala negara, sedangkan kepala s taf angkatan ditetapkan dan diangkat oleh presiden dengan nominasi sejumlah bint ang tiga yang diajukan pimpinan TNI setelah melalui proses sidang Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi (Wanjakti). Selain itu, dalam pengorganisasian Markas Besar TNI yang dipimpin seorang kepala staf gabungan, mesti menjadi kewenangan presiden untuk memilih satu dari tiga k epala staf yang ada. Dalam hal pengurusan administrasi, kepala staf gabungan ber ada di atas para kepala staf angkatan. Dalam situasi perang atau darurat militer Kepala Staf Gabungan TNI otomatis bera lih menjadi Panglima TNI yang peralihannya dinyatakan oleh presiden. Yang berhak untuk mengeluarkan perintah dalam penggunaan kekuatan TNI, walaupun untuk jumla h satu orang prajurit dan dengan amunisi satu butir peluru sekalipun, mutlak han ya berada di tangan presiden selaku kepala negara dan sekaligus sebagai Panglima Tertinggi TNI. Soal anggaran dan ancaman Kedua, soal urusan administrasi. Dalam urusan administrasi di luar urusan perang , khususnya dalam hal anggaran belanja, hal itu ditangani Departemen Pertahanan. Menteri Pertahanan kemudian memperjuangkan anggaran TNI ke DPR. TNI bukanlah le mbaga sipil karena itu ia jangan dilibatkan pada pekerjaan yang bersifat bottomup dengan adu argumentasi dan perdebatan termasuk dengan anggota DPR. Sistem har us menjamin agar habitat militer yang demikian itu tidak menjadi rusak. Pada prinsipnya, untuk membangun tentara yang kuat dibutuhkan biaya yang besar k arena pada hakikatnya militer adalah cost center. Di sanalah tanggung jawab poli tisi sipil untuk mencukupi bujet TNI. Tidaklah benar kalau proses memperoleh buj et TNI menempuh jalur lobi balik layar. TNI juga jangan diseret masuk ke dalam w ilayah politik, karena itu ia harus dijaga agar lembaga politik mana pun tidak m

engintervensinya termasuk dalam proses perekrutan pimpinan TNI. Ketiga, soal ancaman. Tentara turun tangan dalam urusan perang menghadapi musuh dari luar. Bisa urusan internal kalau negara sedang "tidak normal" dalam hal kea manan. Soal keamanan dalam negeri, lembaga intelijen, polisi, dan lembaga sipil yang terkait yang perlu diberdayakan. Kalau toh itu gagal, TNI hanya bisa dibena rkan pada saat keadaan sudah tidak normal. Masalah seperti Aceh (sebelum Nota Ke sepahaman Helsinki) dan Papua sesungguhnya murni masalah politik, maka seharusny a diselesaikan dengan cara politik, bukan dengan mengerahkan tentara. Selain mendorong proses demokratisasi, model pengaturan tentara seperti itu juga mencegah peluang tentara menguasai politik, entah melalui kudeta yang sebetulny a bukan tradisi militer kita ataupun melalui proses politik formal. ================================================= Supremasi Sipil dan Profesionalisme TNI Oleh: Edy Prasetyono PADA tanggal 30 September 2004 Dewan Perwakilan Rakyat telah menyetujui Rancanga n Undang-Undang TNI untuk disahkan menjadi Undang-Undang tentang TNI. Meski baru beberapa bulan dibahas DPR, UU TNI sebenarnya lahir melalui proses panjang seja k pertengahan kedua tahun 2002. Dalam proses yang panjang itu, RUU TNI mengundan g beberapa kontroversi. Beberapa waktu lalu kontroversi berkisar pada adanya Pasal 19 RUU TNI yang perna h disebut oleh seseorang sebagai pasal kudeta karena memberi wewenang kepada pan glima untuk menggunakan kekuatan TNI dalam keadaan memaksa. Dalam perjalanannya selama proses pembahasan, RUU TNI masih dicurigai memberi pe luang peran pembinaan teritorial, yang dikhawatirkan akan mengarah pada keterlib atan TNI dalam politik melalui jaringan struktur teritorial TNI. BAGAIMANA dengan UU TNI yang baru saja disetujui DPR? Apakah UU TNI itu telah me njawab berbagai kekhawatiran itu? Penilaian terhadap UU TNI harus bertitik tolak dari dua prinsip. Pertama, UU TNI harus membangun supremasi sipil dan kontrol otoritas politik yan g demokratis atas institusi TNI. Ini penting untuk menegaskan kewenangan pemerin tah dalam membuat kebijakan pertahanan dan pengerahan, penggunaan, dan pelibatan TNI dengan persetujuan DPR. Sementara itu TNI hanya memegang aspek operasional dan pembinaan kekuatan. Kontrol atas TNI oleh pemerintah juga dilakukan melalui mekanisme anggaran yang dibuat bersama DPR. Dalam UU TNI, supremasi sipil tercermin dari aneka ketentuan mengenai jati diri TNI pada Pasal 2 terutama Ayat (d) tentang TNI sebagai tentara profesional yang tunduk pada kebijakan politik negara dan prinsip-prinsip demokrasi. Pasal 3 tent ang kedudukan TNI juga menegaskan ketertundukan TNI pada presiden dan Departemen Pertahanan yang memegang kewenangan koordinasi dalam pembuatan kebijakan dan st rategi pertahanan serta dukungan administrasi bagi TNI. Pasal 5 memperkuat Pasal 2 dan Pasal 3 dengan menyatakan TNI adalah alat negara di bidang pertahanan yan g dalam menjalankan tugasnya berdasarkan kebijakan dan keputusan politik negara. Karena itu, TNI tidak bisa bergerak independen. TNI hanya bisa dikerahkan oleh s uatu keputusan politik pemerintah (presiden) dengan persetujuan DPR, seperti dit egaskan Pasal 17. Dalam keadaan memaksa, presiden dapat langsung mengerahkan kek uatan TNI. Ini dengan ketentuan, dalam waktu 2 x 24 jam, presiden harus melapork an kepada DPR. Jika DPR tidak menyetujui pengerahan itu, presiden harus menghent

ikannya (Pasal 18). Sementara itu tanggung jawab operasional kekuatan TNI ada di pundak panglima yang harus bertanggung jawab kepada presiden (Pasal 19 Ayat 2). Memang masih ada kekhawatiran terhadap tugas TNI di luar operasi perang seperti diatur Pasal 7 Ayat (2), termasuk tugas memberdayakan wilayah pertahanan yang di rinci dalam tugas masing-masing angkatan pada Pasal 8, 9, dan 10. Ada yang menaf sirkan tugas-tugas ini mencakup pembinaan teritorial yang dilakukan struktur ter itorial TNI. Namun, harus diperhatikan, tugas-tugas selain perang hanya bisa dil akukan atas dasar kebijakan dan keputusan politik negara (Pasal 7 Ayat 3). Keput usan politik dan kebijakan negara mendasari pengembangan postur TNI untuk mengat asi ancaman militer dan ancaman bersenjata. Postur meliputi kekuatan, kemampuan, dan gelar kekuatan TNI. Di sini, struktur t eritorial tidak lain adalah bentuk gelar yang harus berdasarkan kebijakan pertah anan negara (Pasal 11). Ketentuan ini menegaskan kewenangan untuk mempertahankan , mengembangkan, atau mengubah struktur teritorial tidak di tangan TNI, tetapi d i tangan pemerintah. Pengembangan postur TNI, sesuai penjelasan Pasal 11, harus memerhatikan wilayah rawan keamanan, daerah perbatasan, rawan konflik dan pulau terpencil sesuai kond isi geografis dan strategi pertahanan. Dengan demikian, secara legal, politis, d an strategis, UU TNI berhasil menciptakan supremasi otoritas politik yang demokr atis atas institusi TNI. Tetapi, tampak UU TNI masih belum menyelesaikan hubungan antara TNI sebagai orga nisasi dengan Departemen Pertahanan dan presiden. Pasal 3 menyatakan, TNI di baw ah presiden dalam pengerahan dan penggunaan kekuatan dan di bawah koordinasi Dep artemen Pertahanan dalam hal kebijakan dan strategi pertahanan serta dukungan ad ministrasi. Ketentuan itu secara implisit mengakui, TNI adalah suatu entitas yang terpisah d ari Departemen Pertahanan. TNI masih bukan bagian integral Departemen Pertahanan . Akan lebih baik jika TNI dalam Departemen Pertahanan. Harusnya hal ini diatur langsung dalam batang tubuh UU TNI, tidak dalam penjelasan. Pengaturan dalam pen jelasan tampaknya merupakan hasil kompromi di DPR setelah perdebatan panjang dan alot. UKURAN kedua, UU TNI harus mampu menciptakan tentara profesional. Profesionalism e diukur dari kompetensi, akuntabilitas, dan kesejahteraan. Kompetensi TNI adala h untuk mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan bang sa dari ancaman militer dan bersenjata. Untuk menjalankan tugas ini TNI berfungs i sebagai penangkal, penindak, dan pemulih (Pasal 6). Untuk menjalankan fungsi i tu, fungsi pembinaan melekat pada tiap angkatan. Dengan logika ini, sewajarnya kepala staf angkatan tidak mempunyai garis komando operasi. Karena itu, mereka dinamakan kepala staf yang berfungsi staffing, yang berbeda dari commanding. Garis komando operasi ada di tangan panglima. Namun, d alam praktik jarang sekali, panglima atau kepala staf angkatan, bahkan pangdam, menjadi panglima komando operasi di lapangan. Karena itu, perlu dipikirkan bagai mana reorganisasi TNI, termasuk mabes-mabesnya, jika nanti TNI ada dalam Departe men Pertahanan yang harus menegaskan garis staffing dan commanding secara jelas. Kompetensi juga lahir melalui pendidikan, promosi, dan pembinaan mental baik mel alui sumpah prajurit, sumpah perwira, maupun kode etik. UU TNI sudah mengatur se mua. Juga patut disambut positif, untuk mengembangkan profesionalisme prajurit, UU TNI melarang prajurit terlibat kegiatan partai politik, politik praktis, bisn is, dan untuk dipilih menjadi anggota legislatif (Pasal 39). Bahkan, kegiatan bi snis TNI akan diambil alih pemerintah dalam waktu lima tahun ke depan. Bisnis TN I telah menjadi sorotan publik. Tidak hanya kegiatan bisnis yang menghasilkan ua ng akan membuat TNI independen terhadap otoritas politik, tetapi juga karena keg

harus digarisbawahi. Akuntabilitas operasional ada di pundak panglima dalam hal penggunaan kekuatan T NI. dan kekuasaan yudikatif se perti Mahkamah Agung atau supreme court. ada kekhawatiran. kekuasaan legislatif. dalam hal ini bisa disebut parlemen a tau dengan nama lain seperti Dewan Perwakilan Rakyat. Meski demikian. terutama pengelolaan pertahanan (defence manage ment) dan hubungan sipil-militer dalam negara demokratis. TNI bisa menduduki jabatan-jabatan pemerintah departeme n ataupun nondepartemen (Pasal 47). Alat kelengkapan negara berdasarkan teori klasik huk um negara meliputi. Karena itu. upaya membangun TNI yang profesional dan yang melepa skan sebagian hak-hak politik sebagai warga negara mensyaratkan pemenuhan keseja hteraan prajurit. dalam hal ini bisa Presiden atau Perdan a Menteri atau Raja. Namun. Depart emen Pertahanan dan DPR harus bekerja lebih keras guna menyiapkan beberapa kebij akan lain dan instrumen pelaksanaannya. Untuk itu diperlukan pemberdayaan Departemen Pertahanan dan Menteri Pertahanan y ang memahami masalah pertahanan. Akuntabilitas ketiga adalah akuntabilitas hukum.iatan bisnis bisa merusak hubungan komando dan merusak social capital di tubuh T NI. Artinya. PANGLIMA juga dituntut mempertanggungjawabkan anggaran TNI kepada Departemen Per tahanan. Kekuasaan eksekutif. Hal ini menjadi tanggungan pemerintah (Departemen Pertahanan) seperti diatur dalam Pasal 51 dan 52. dibantu oleh menteri-menteri yang biasanya memili ki suatu depertemen tertentu. Namun. Akuntabilitas operasional ini juga mencakup ketertundukan pada prinsip hak asasi manusia. tipe-tipe le mbaga yang diadopsi setiap negara berbeda-beda sesuai dengan perkembangan sejara h politik kenegaraan dan juga sesuai dengan kebutuhan masyarakat dalam negara ya . negara harus menyediakan seluruh kebutuhan anggaran TNI. hukum internasional dan kebiasaan internasional dalam melaksa nakan tugas operasi militer. misalnya. dalam kenyataanya. Ke depan. ================================================================== KEDUDUKAN LEMBAGA NEGARA DI INDONESIA PASCA AMANDEMEN UUD NEGARA TAHUN 1945 A. posisi prajur it dalam jabatan-jabatan itu harus atas dasar permintaan pimpinan departemen ata u lembaga pemerintah nondepartemen. Meskipun demikian. undang-undang ini tidak banyak artinya jika tidak dilaksanakan. prajurit bersangkutan secara implis it tak akan menduduki pimpinan. UU TNI merupakan terobosan besar dalam reformasi sektor keamanan. Ini berarti penempatan prajurit di luar instansi pemerintah adalah tanggung jawa b dan keputusan politik pemerintah dalam bentuk peraturan pemerintah atau peratu ran perundang-undangan. Tetapi. Beberapa prins ip dasar supremasi sipil yang demokratis atas institusi militer telah diletakkan . Pendahuluan Berbicara mengenai lembaga negara berarti berbicara mengenai alat kelengkapan ya ng ada dalam sebuah negara. Pasal 47 Ayat (3) dan (4) menyatakan. ketentuan selanjutnya mengenai hal ini juga harus diperhatikan. Selain itu mereka harus tunduk kepada ketentuan administrasi dan sesuai kebutuhan organisasi departemen dan lembaga pemerintah n ondepartemen. Sedangkan ta nggung jawab pembinaan TNI untuk menyiapkan TNI ada di tangan masing-masing kepa la staf. masalah ini harus diterjemahkan dalam hub ungan pertanggungjawaban komando (command responsibility) dan aturan pelibatan ( rules of engagement) yang jelas. Setiap alat kelengkapan negara tersebut bisa memiliki organ-organ lain untuk membantu melaksanakan fungsinya. yaitu ketertundukan pr ajurit TNI kepada kekuasaan peradilan umum dalam pelanggaran hukum pidana umum. Ini adalah kekhawatiran yang wajar karena pe ngalaman di zaman Orde Baru. Kegagalan pelaksanaan tugas TNI adalah tanggung jawab panglima. kekuasaan eksekutif.

alat komunikasi politik (media political communica tion). Hans Kelsen menguraikan bahwa “W hoever fulfills a function determined by the legal order is an organ. Kedudukan lembaga negara d apat dilihat dari konteks negara dan konteks masyarakat. Jadi. “These functio ns.lpmpsulsel. Lembaga-lembaga negara harus membentuk suatu kesatuan proses yang satu sama lain saling berhubungan dalam rangka penyelengaraan fungsi negara atau istilah yang digunakan Prof. Masalah yang akan kami angkat dalam makalah ini adalah sebagai berikut: (1) Baga imanakah kedudukan Lembaga Negara di Indonesia pasca amandemen UUD 1945?. secara konsep. golongan kepentingan (interest group). Secara konseptual. dalam pengertian yang luas ini. Untuk memahami kedudukan dan hubungan lembaga negara terlebih dahulu harus memah ami konteks sejarah dan suasana politik yang terjadi. Di samping pengertian luas itu. organ negara itu tidak selalu berbentuk organik.ng bersangkutan. Artinya. (2) Ba gaimanakah hubungan antar Lembaga Negara di Indonesia Pasaca Amandemen UUD 1945? B. terutama supra struktur politik telah ditentukan satu sistem. kita dap at mendekatinya dari pandangan Hans Kelsen mengenai the concept of the State Org an dalam bukunya General Theory of Law and State. lebih luas lagi.net/v2/index.php?option=com_content&view=article &id=130:pasca-amandemen&catid=42:widyaiswara&Itemid=203 Untuk memahami pengertian lembaga atau organ negara secara lebih dalam. organ negara i tu identik dengan individu yang menjalankan fungsi atau jabatan tertentu dalam k onteks kegiatan bernegara. adalah juga mer upakan organ negara. be they of a norm creating or of a norm applying character. asalkan fungsi-fungsinya itu bersifat menciptakan norma (normcreating) dan/atau bersifat menjalankan norma (norm applying). meskipun dalam praktiknya tipe lembaga-lembaga negara yang diadopsi setiap negara bisa b erbeda. Demikian pula hakim yang mengadili dan menghukum penjahat dan terpid ana yang menjalankan hukuman tersebut di lembaga pemasyarakatan. Hans Kelsen juga menguraikan adanya pengertian o . baga imana kedaulatan rakyat sebagai dasar kekuasaan tertinggi negara itu dibagi-bagi dan dilaksanakan oleh lembaga.php?option=com_content&view=article &id=130:pasca-amandemen&catid=42:widyaiswara&Itemid=203 (Political Sovereignty) dengan supra struktur politik (Governmental Political Sp here) sebagai pemegang atau pelaku kedaulatan rakyat menurut hukum (Legal Sovere ignty). Siapa saja yang menjalankan suatu fungsi yang ditentukan oleh suatu tata hukum (legal orde r) adalah suatu organ. dan tokoh politik (political figure) dalam mempengaruhi dan mengarahkan k ebijakan. dalam konteks ma syarakat dapat dilihat dari kerja Infra Struktur Politik masyarakat yang meliput i partai politik (political party). Sri Soemantri adalah actual governmental process. Di samping organ yang berbentuk organik. Menurut Kelsen. juga untu k menjalankan fungsi pemerintahan secara aktual. golon gan penekan (pressure group). Pengertian Lembaga Negara http://www. Dalam negara hukum yang demokratik. terdapat hubungan yang saling menentukan dan saling mempengaruhi.lpmpsulsel.kebijakan penyelenggara negara. setiap jabatan yang ditentukan oleh hukum da pat pula disebut organ. Lembaga negara dalam ko nteks negara dapat diketahui melalui sistem dan mekanisme penyelenggaraan pemeri ntahan yang berlaku sebagaimana yang dianut dalam UUD NRI 1945. Kedudukan Lembaga Negera di Indonesia Pasca Amandemen UUD 1945 1. tujuan diadakan lembaga-lembaga negara atau alat kelengkapan negara adalah selain untuk menjalankan fungsi negara. hubungan antar dua komponen struktur ketatanegaraan tersebut ditentuk an dalam UUD. are all ultimate ly aimed at the execution of a legal sanction.lembaga negara. Inilah yang disebut sebagai jabatan publik atau jabat an umum (public offices) dan pejabat publik atau pejabat umum (public officials) . hubungan antara infra struktur politik (Soci o Political Sphere) selaku pemilik kedaulatan http://www. parlemen yang menetapkan undang-undang dan warga negara yang mem ilih para wakilnya melalui pemilihan umum sama-sama merupakan organ negara dalam arti luas. lembaga-lembaga tersebut harus bekerja dan memiliki relas i sedemikian rupa sehingga membentuk suatu kesatuan untuk merealisasikan secara praktis fungsi negara dan ideologis mewujudkan tujuan negara jangka panjang. Pendek kata.net/v2/index. Oleh k arena itu.

net/v2/index. organ -organ yang dimaksud. 3.net/v2/index. karena dapat saja terjadi k onflik atau sengketa kewenangan konstitusional di antara sesama mereka. terdapat tidak kurang dari 34 organ yang disebut keberadaannya dalam UU D 1945. Ada yang dibentuk berdasark an atau karena diberi kekuasaan oleh UUD. http://www. dan bahkan ada pula yang hanya dibentuk berdasarkan Keput usan Presiden. 2.php?option=com_content&view=article . 4. atau ant ara mereka dengan menteri lain atau lembaga negara lainnya. Menteri Pertahanan yang bersama-sama dengan Menteri Luar Negeri dan Menteri D alam Negeri ditentukan sebagai menteri triumpirat menurut Pasal 8 ayat (3) UUD 1 945.rgan negara dalam arti yang sempit. sedangkan functie adalah gerakan wadah itu sesuai maksud pembentukann ya. sed angkan yang dibentuk berdasarkan UU merupakan organ UU. ada pula yang dibentuk dan mendapatkan kekuasaannya dari UU. dan ada pula ya ng disebutkan eksplisit hanya fungsinya. atau lembaga negara saja. organ adalah status bentuknya (Inggris: form. yaitu organ dan functie. Menteri Dalam Negeri sebagai triumpirat bersama-sama dengan Menteri Luar Nege ri dan Menteri Pertahanan menurut Pasal 8 ayat (3) UUD 1945. tentu lebih rendah lagi tingkatannya. maka dapat dikemukakan bahwa dalam U UD 1945. 8. sementara yang hanya dib entuk karena keputusan presiden tentunya lebih rendah lagi tingkatan dan derajat perlakuan hukum terhadap pejabat yang duduk di dalamnya. Dalam naskah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 5. “Dalam melakukan kewajibann ya. Suatu t ransaksi hukum perdata. Wakil Presiden yang keberadaannya juga diatur dalam Pasal 4 yaitu pada ayat ( 2) UUD 1945. seda ngkan functie adalah isinya. Ke-34 organ atau lembaga tersebut adalah: http://www. 2. Dewan Pertimbangan Presiden yang diatur dalam Pasal 16 Bab III tentang Kekuas aan Pemerintahan Negara yang berbunyi. Lembaga-Lembaga Negara Menurut UUD 1945 Jika dikaitkan dengan hal tersebut di atas. y aitu pada Pasal 17 ayat(1). (2).. dimulai dari Pasal 4 ayat (1) dalam pengaturan mengenai Kekuasaan Pemerintahan Negara yang berisi 17 pasal. Ada pula lembaga atau organ yang disebu t bahwa baik namanya maupun fungsi atau kewenangannya akan diatur dengan peratur an yang lebih rendah. ada yang disebut secara eksplisit namanya. lembaga pe merintahan non-departemen. Presiden yang diatur keberadaannya dalam Bab III UUD 1945.net/v2/index. 6. Dalam setiap pembicaraan mengenai organisasi negara. Individu dikatakan organ negara hanya apabila ia secara pribadi memiliki keduduk an hukum yang tertentu (. yaitu Pasal 2 yang terdiri atas tiga ayat. kontrak.. misalnya. Ketiganya perlu disebut secara sendiri-sendiri. Majelis permusyawaratan Rakyat (MPR) diatur dalam Bab III UUD 1945 yang juga diberi judul “Majelis permusyawaratan Rakyat?. “Presiden membentuk suatu dewan pertimbanga n yang bertugas http://www. Organ adalah bentuk atau wadahnya.he personally has a specific legal position). Pasal 4 ayat (2) UUD 1945 itu menegaskan. adalah merupakan tindakan atau perbua tan yang menciptakan hukum seperti halnya suatu putusan pengadilan. ada dua unsur pokok yang sa ling berkaitan. Lembaga negara yang diatur dan dibentuk oleh UUD merupakan organ konstitusi. Menteri Luar Negeri sebagai menteri triumpirat yang dimaksud oleh Pasal 8 aya t (3) UUD 1945. Pasal 3 yang juga terdiri atas tiga ayat. Menteri dan Kementerian Negara yang diatur tersendiri dalam Bab V UUD 1945.lpmpsulsel. Jerma n: vorm) .php?option=com_content&view=article &id=130:pasca-amandemen&catid=42:widyaiswara&Itemid=203 1. dan (3).lpmpsulsel. 7. Hirarki atau ranking kedudukannya tentu saja tergantung pada dera jat pengaturannya menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bab III ini berisi dua pasal. yaitu bersama-sama dengan Menteri Dalam Negeri dan Menteri Perta hanan sebagai pelaksana tugas kepresidenan apabila terdapat kekosongan dalam wak tu yang bersamaan dalam jabatan Presiden dan Wakil Presiden. Presiden dibantu oleh satu orang Wakil Presiden.lpmpsulsel. Demikian pula jika lem baga dimaksud dibentuk dan diberi kekuasaan berdasarkan Peraturan Daerah.php?option=com_content&view=article &id=130:pasca-amandemen&catid=42:widyaiswara&Itemid=203 Lembaga negara terkadang disebut dengan istilah lembaga pemerintahan. yaitu pengertian organ dalam arti materiil.

18. . yang selanjutnya diatur dal am undang-undang. tetap. dan Pasal 23G (2 ayat). (6) dan ayat (7) UUD 1945. Bupati Kepala Pemerintah Daerah Kabupaten seperti yang diatur dalam Pasal 18 ayat (4) UUD 1945. ( 5). (6) dan ayat (7) UUD 1945. (3). 12. yaitu “Negara memiliki sua tu bank sentral yang susunan. Seperti halnya dengan Komisi Pemilihan Umu m. (5). 9.php?option=com_content&view=article &id=130:pasca-amandemen&catid=42:widyaiswara&Itemid=203 demikian ini perlu disebut secara tersendiri sebagai lembaga atau organ yang keb eradaannya diakui dan dihormati oleh negara. Duta seperti diatur dalam Pasal 13 ayat (1) dan (2).lpmpsulsel. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang diatur dalam Bab VII UUD 1945 yang berisi Pasal 19 sampai dengan Pasal 22B. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota seperti yang diatur oleh Pasal 18 ayat ( 3) UUD 1945. Pemerintahan Daerah Kabupaten sebagaimana dimaksud oleh Pasal 18 ayat (2).net/v2/index. (6) dan ayat (7) UUD 1945. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten seperti yang diatur dalam Pasal 18 ayat (3) UUD 1945. 21. Pemerintahan Daerah Kota sebagaimana dimaksud oleh Pasal 18 ayat (2). (5). 14. Pasal 24 dan Pas al 24A UUD 1945. ( 3). dan mandiri. 13. nama bank sentral sekarang adalah Bank Indonesia. 22. Satuan Pemerintahan Daerah yang bersifat khusus atau istimewa seperti dimaks ud oleh Pasal 18B ayat (1) UUD 1945. Pasal 24 dan Pasal 24C UUD 1945. UUD 1945 belum menentukan nama bank sentral yang dimaksud. 11. Komisi Yudisial yang juga diatur dalam Bab IX. Mahkamah Konstitusi (MK) yang juga diatur kebera-daannya dalam Bab IX. Memang benar. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang diatur tersendiri dalam Bab VIIIA dengan judul “Badan Pemeriksa Keuangan dan terdiri atas 3 pasal. 28. Nama “Komisi Pemilihan Umum bukanlah nama yang ditentukan oleh UUD 1945. kewenangan. 10. yaitu Pasal 23E (3 ayat ). seperti yang diatur dalam Pasal 18 ayat 3 UUD 1945. 24. Pasal 23F (2 ayat). 26. 20. Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang diatur dalam Bab VIIA yang terdiri atas P asal 22C dan Pasal 220. 25. status Pemerin tahan Daerah Istimewa Yogyakarta. Walikota Kepala Pemerintah Daerah Kota seperti yang diatur dalam Pasal 18 ay at (4) UUD 1945.&id=130:pasca-amandemen&catid=42:widyaiswara&Itemid=203 memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden. Pasal 24B UUD 1945 sebagai au xiliary organ terhadap Mahkamah Agung yang diatur dalam Pasal 24 dan Pasal 24A U UD 1945. 23. tanggungjawab. melainkan oleh undang-undang berdasarkan ken yataan yang diwarisi dari sejarah di masa lalu. Keten tuan mengenai kekhususan atau keistimewaannya itu diatur dengan undang-undang. dan independ ensinya diatur dengan undang-undang?. 17. Pemerintahan Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud oleh Pasal 18 ayat (2). (3 ). Konsul seperti yang diatur dalam Pasal13 ayat (1). pemerintahan daerah yang http://www. Gubemur Kepala Pemerintah Daerah seperti yang diatur dalam Pasal 18 ayat (4) UUD 1945. melainkan oleh Undang-Undang. kedudukan. Tetapi. Mahkamah Agung (MA) yang keberadaannya diatur dalam Bab IX. Bank sentral yang disebut eksplisit oleh Pasal 230. 27. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi. Komisi Penyelenggaran Pemilu yang diatur dalam Pasal 22E ayat (5) UUD 1945 y ang menentukan bahwa pemilihan umum harus diselenggarakan oleh suatu komisi yang bersifat nasional. Pemerintahan Daerah Otonomi Khusus Nanggroe Ac eh Darussalam dan Papua. serta Pemerintahan Daerah Khusus Ibukota Jakarta. diatur dengan undang-undang. O leh karena itu. 19. satuan pemerintahan daerah yang bersifat kh usus atau istimewa ini diatur tersendiri oleh UUD 1945. Misalnya. nama Bank Indonesia bukan nama yang ditentukan oleh UUD 1945. 16. 15. Karena keduduk annya yang khusus dan diistimewakan.

http://www. meskipun tidak secara eksplisit disebut dalam UUD 1945. serta Komisi Yudisial dan kepoli sian negara yang sudah diatur dalam UUD 1945. sedangkan Kejaksaan Agung sama sekali tidak disebut. Lembaga-lembaga ini. pada Pasal 30 UUD 1945. berarti jumlahnya lebih dari satu.net/v2/index. Namun. karena yang disebut dalam Pasal 24 ayat (3) tersebut di atas adalah badan -badan. Badan-badan lain yang fungsinya terkait dengan kehakiman seperti kejaksaan d iatur dalam undang-undang sebagaimana dimaksud oleh Pasal 24 ayat (3) UUD 1945 y ang berbunyi. Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI) yang juga diatur dalam Bab XII Pasal 30 UUD 1945. apa yang ditentukan dalam Pasal 24 ayat (3) UUD 1945 tersebut dapat pula membuka pintu bagi lembaga-lembaga negara lain yang fu ngsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman yang tidak secara eksplisit disebut dalam UUD 1945. Setiap yang mengaku menganut prinsip demokrasi konstit usional atau negara hukum yang demokratis. Angkatan Udara (TNI AU) diatur dalam Pasal 10 UUD 1945. tidak d apat dijadikan alasan untuk menilai bahwa kepolisian negara itu lebih penting da ripada Kejaksaan Agung. Artinya.lpmpsulsel. tidak ditentukan sendiri dalam UUD. dalam UUD 19 45. haruslah memiliki http://www. Materi perlindungan konstitusional hak asas i manusia merupakan materi utama setiap konstitusi tertulis di dunia. tetapi keberadaannya sebagai lembaga negara mempunyai apa yang diseb ut sebagai constitutional importance yang sama dengan lembaga-lembaga negara lai nnya yang disebutkan eksplisit dalam UUD 1945 Sama halnya dengan keberadaan Kejaksaan Agung dan kepolisian negara dalam setiap sistem negara demokrasi konstitusional ataupun negara hukum yang demokratis. dan/atau penuntutan. Artinya. Namun. Ke duanya mempunyai derajat kepentingan (importance) yang sama. yaitu yang menjalankan fungsi http://www. “Badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakima n diatur dalam undang-undang. Karena itu. Komisi Pemberantasan Tind ak Pidana Korupsi (KPK). sehingga pengaturannya dalam UUD 1945 ditiadakan.net/v2/index. dengan sengaja negara memben tuk satu komisi yang bernama Komnasham (Komisi Nasional Hak Asasi Manusia). Arti nya. Hal tidak disebutnya Kejaks aan Agung yang dibandingkan dengan disebutnya Kepolisian dalam UUD 1945. Keberadaan Komnas Hak Asasi Manusia. selain Kejaksaan Agung. Pasal 24 ayat (3) UUD 1945 menentukan. 33.php?option=com_content&view=article &id=130:pasca-amandemen&catid=42:widyaiswara&Itemid=203 penyelidikan. tetapi sam a-sama memiliki constitutional importance dalam sistem konstitusional berdasarka n UUD 1945. “Badan-badan lain yang fun gsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman diatur dalam undang-undang. 32.lpmpsulsel.1 Jika diuraikan lebih rinci lagi. Tentara Nasional Indonesia (TNI) diatur tersendiri dalam UUD 1945. masih ada badan-badan lainnya yang jumlahnya lebih dari satu yang mempunyai fungsi yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman. meskipun pengaturan dan pembentukannya hanya didasarkan atas undangundang. tetapi tidak mendapat kesepakatan.php?option=com_content&view=article &id=130:pasca-amandemen&catid=42:widyaiswara&Itemid=203 perangkat kelembagaan kepolisian negara dan kejaksaan sebagai lembaga-lembaga pe . yang ditentukan kewenangannya hanya kepolisian negara yaitu dalam Pasal 30. penyidikan. Badan-badan lain yang dimaksud itu antara lain adalah Kejaksaan Agun g yang semula dalam rancangan Perubahan UUD 1945 tercantum sebagai salah satu le mbaga yang diusulkan diatur dalam Bab tentang Kekuasaan Kehakiman. seperti halnya Kej aksaan Agung. keberadaan lembaga negara bernama Komnas Hak Asasi Manusia itu sendiri sang at penting bagi negara demokrasi konstitusional.php?option=com_content&view=article &id=130:pasca-amandemen&catid=42:widyaiswara&Itemid=203 29. masi h ada lagi lembaga lain yang fungsinya juga berkaitan dengan kekuasaan kehakiman . yaitu dal am Bab XII tentang Pertahanan dan Keamanan Negara. Lembaga-lembaga dimaksud misalnya adalah Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnasham). selain Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi.lpmpsulsel. dan sebagainya. Angkatan Darat (TNI AD) diatur dalam Pasal 10 UUD 1945.net/v2/index. Kedua-duanya sama-sama penting atau memiliki constitutio nal importance yang sama. 30. 31. Untuk meli ndungi dan mempromosikan hak-hak asasi manusia itu. 34. Angkatan Laut (TNI AL) diatur dalam Pasal 10 UUD 1945.

Pembedaan Lembaga Negara Dari Segi Fungsi dan Hierarki Dari segi fungsinya. misalnya. nama dan kewenangan bank sentral juga tidak tercantum eksplisit dala m UUD 1945. “Ketentuan lebih lanjut tentang pemilihan umum diatur dengan undang-undang. organ-organ konstitusi pad a lapis pertama dapat disebut sebagai lembaga tinggi negara. (5) Mahkamah Agung (MA). Sedan gkan ayat (6)-nya berbunyi. dan Komisi Yudisial. Ketentuan Pasal 22E ayat (5) UUD 1945 berbunyi. Tentar a Nasional Indonesia. ke-34 lembaga tersebut.php?option=com_content&view=article &id=130:pasca-amandemen&catid=42:widyaiswara&Itemid=203 Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). (3) Dewan Perwakilan Dae rah (DPD). “Negara memiliki suatu bank sentral yang susunan. Misalnya Komisi Hukum Nasional dan Komisi Ombudsman Nasional dib .negak hukum yang efektif. Organ lapis kedua ini dapat disejajarkan dengan posisi lembaga-lembaga negara yang di bentuk berdasarkan undang-undang.net/v2/index. adalah Komnas HAM. Organ lapis kedua dise but sebagai lembaga negara saja. seperti Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOM NAS HAM). karena p erkataan komisi pemilihan umum tidak disebut dengan huruf besar. dan independen sinya diatur dengan undang-undang. (2) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Hanya saja. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). sedangkan organ lapis ketiga merupakan lembaga daerah. ke-34 lembaga itu dapat dibedakan ke dalam tiga lapis. (4) Komisi Yudisial. dapat ditafsirkan bahwa nama resmi organ penye lenggara pemilihan umum dimaksud akan ditentukan oleh undang-undang. tetap. “Pemilihan umum diselenggarakan ol eh suatu komisi pemilihan umum yang bersifat nasional. Dengan demikian derajat protokoler kelompok organ konstitusi pada lapis kedua te rsebut di atas jelas berbeda dari kelompok organ konstitusi lapis pertama. Kelompok ketiga adalah organ konstitusi yang termasuk kategori lembaga negara ya ng sumber kewenangannya berasal dari regulator atau pembentuk peraturan di bawah undang-undang.php?option=com_content&view=article &id=130:pasca-amandemen&catid=42:widyaiswara&Itemid=203 Keenam lembaga atau organ negara tersebut di atas. (5) Mahkamah Konstitusi (MK ). Lembaga-lembaga negara sebagai organ konstitusi lapis k edua itu adalah: (1) Menteri Negara. adalah Komisi Yudisial. Kepolisian Negara. menurut Pasal 23D tersebut. kedudukan. kewenangan. yang secara tegas ditentukan nama dan kewenangannya dalam UUD 1945 adalah Menteri Negara. (6) Bank sentral. Karena itu.lpmpsulsel.lpmpsulsel. dan mandiri. (4) Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Organ lapis kedua dapat disebut lembaga negara saja. (5) Komisi pemilihan umum. akan dia tur dengan UU. 3. Demiki an pula dengan kewenangan bank sentral itu. Ketentuan Pasal 23D UUD 1945 hanya menyatakan. sedangkan lembaga yang sumber kewen angannya adalah undang-undang. Akan tetapi. dan sebagainya. Komisi Pemilihan Umum hanya dis ebutkan kewenangan pokoknya. Komisi Penyiaran Ind onesia. Memang benar sekarang tidak ada lagi sebutan lembaga tinggi dan lembaga tertinggi negara. Keberadaannya disebutkan secara eksplisit dalam undangundang. dan ada pula yang bersifat sekunder atau penunjang (auxiliary). Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Sedangkan dari segi hirarkinya. http://www. yaitu “Bank Indonesia. Bahwa bank sentral itu diberi nama seperti ya ng sudah dikenal seperti selama ini. dan Kepolisian Negara. nama lembaganya apa. tetapi jauh lebih kuat. (2) Tentara Nasional lndonesia. kedudukannya meskipun tidak lebih tinggi. Ada yang mendapatkan kewena ngannya dari UUD. dan lain-lain sebagainya. tidak secara tegas disebut. untuk memudahkan pengertian. Organ l apis pertama dapat disebut sebagai lembaga tinggi negara. misalnya. tetap i misalnya Komisi Pemilihan Nasional atau nama lainnya. yaitu: (1) Presiden dan Wakil Presiden. Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) . tanggung jawab. http://www. ada yang bersifat utama atau primer . dan ada pula yang mendapatkan kewenangannya dari undang-undang .net/v2/index. Kedudukan kedua jenis lembaga negara tersebut dapat dise bandingkan satu sama lain. Konsil Kedokteran Indonesia. (3) Kepolis ian Negara. Yang mendapatkan kewenangan dari UUD. yaitu sebagai lembaga penyelenggara pemilihan umum (pemilu). (6) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Selain itu. Namun. Undang-unda ng dapat saja memberi nama kepada lembaga ini bukan Komisi Pemilihan Umum. Tentara Nasional ln donesia. sehingga tidak dapat ditiadakan atau dibubarkan hanya karena kebijakan p embentukan undangundang. maka hal itu adalah ur usan pembentuk undang-undang yang akan menentukannya dalam undang-undang.

yaitu Mahkamah Konstitusi. ya itu (i). (ii i). Dewan Perwakilan Daerah (DPD). fungsinya tetap bersifat penunjang (auxiliary) terhadap fungsi kehakiman yang terdapat pada Mahkamah Konstitusi dan Mahkamah Agung. pencantuman ketentuan tentang kewenangan Kepolisian itu dalam UUD 1945 tidak d apat dijadikan alasan untuk menyatakan bahwa Kepolisian lebih tinggi http://www. hal disebut atau tidaknya atau ditentukan tidaknya kekuasaan sesuatu lembaga dalam undang-undang dasar tidak serta merta menentukan hirarki kedudukan lembag . dikenal adanya tiga lembaga. Artinya. Jika presiden hendak membubarkannya lagi. (6) DPRD Kabupaten. kekuasaan kehakiman atau fungsi yudisial. kekuasaan legislatif dan fungsi pengawasan. dan Komisi Yudisial. keberadaannya secara hukum hanya didasarkan atas kebijakan presiden (presidential policy) atau beleid pres iden. Kejaksaan Agung tidak ditentukan kewenangannya dalam UUD 1 945. DPR. (8) Walikota. lembaga-lembaga negara tersebut dapat dibedakan dalam tiga ranah (domain) (i). tidak dapat tidak. sehingga eksistensinya sangat kuat secara konstitusional. seperti pre siden. Sedangkan dalam f ungsi pengawasan dan kekuasaan legislatif. ada yang dapat dikategorikan sebagai organ utama atau primer(primary constitutional organs). Artinya. DPD. Lembaga-lembaga daerah itu adalah: (1) Pemerintahan Daerah Provi nsi. sedangkan Kepolisian Negara ditentukan dalam Pasal 30 UUD 1945. Di pihak lain. Lembaga-lembaga daerah diatur dalam Bab VI UUD 1945 tentang Pemerintah Daerah. keberadaannya sepenuhnya tergantung kepada beleid presiden.php?option=com_content&view=article &id=130:pasca-amandemen&catid=42:widyaiswara&Itemid=203 kedudukannya daripada Kejaksaan Agung. Tetapi. Mahkamah Agung. dibentuk lembaga tersendiri yang bemama Komisi Yudisial. dinyatakan diakui dan dihorm ati keberadaannya secara tegas oleh undang-undang dasar.entuk berdasarkan Keputusan Presiden belaka. tidak berarti ia mempunyai kedudukan yang sederajat dengan Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. terdapat empat organ atau lembaga. (iii). Oleh sebab itu. Dalam Pasal 18B ayat (1) dan ayat (2) UUD 1945. disebut pula adanya satuan-satua n pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau istimewa. Kom isi ini bersifat independen dan berada di luar kekuasaan Mahkamah Konstitusi ata upun Mahkamah Agung. maka tentu presiden berwenang un tuk itu. Dalam cabang kekuasaan eksekutif atau pemerintahan negara ada presiden dan wakil presiden yang merupakan satu kesatuan institusi kepresidenan. da lam rangka pengawasan terhadap kinerja hakim dan sebagai lembaga pengusul pengan gkatan hakim agung. (5) Bupa ti. dan karena itu kedudukannya bersifat independen dan tidak t unduk kepada pengaruh keduanya. Akan tetapi. Meskipun Komisi Yudisial ditentukan kekuasaannya dalam UUD 1945 . D alam ketentuan tersebut diatur adanya beberapa organ jabatan yang dapat disebut sebagai organ daerah atau lembaga daerah yang merupakan lembaga negara yang terd apat di daerah.lpmpsulsel. (ii). Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).net/v2/index. keberadaan unit atau satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau istimewa itu har us pula dipahami sebagai bagian dari pengertian lembaga daerah dalam arti yang l ebih luas. di cabang kekuasaan judisial. (ii). Bentuk satuan pemerint ahan daerah yang bersifat khusus atau istimewa itu. dan lain sebagainya. dan Mahkamah Agung. (4) Pemerintahan Daerah Kabupaten. Akan tetapi . lembaga kepolisian dan kejaksaan sama-sama memiliki constitutional importance yang serupa sebagai lembaga penegak hukum. dan (iv). (7) Pemerintahan Daerah Kota. Dalam setiap negara hukum yang demokratis . Sementara itu. (3) DPRD provinsi. Majelis permusyawaratan Rakyat (MPR). Badan Pemeriksa Keuangan (BP K). Mahkamah Agung. Dengan demikian. (2) Gubemur. da n ada pula yang merupakan organ pendukung atau penunjang (auxiliary state organs ). Untuk memahami perbedaan di antara keduanya. Di antara lembaga-lembaga negara yang disebutkan dalam UUD 1945. kekuasaan eksekutif atau pelaksan a. juga tidak dapat ditafsirkan seak an menjadikan lembaga kepolisian negara itu menjadi lembaga konstitusional yang sederajat kedudukannya dengan lembaga-lembaga tinggi negara lainnya. Mahkamah Konstitusi. lembaga daerah dalam pengertian di atas dapat dikata kan berjumlah sepuluh organ atau lembaga. pencantuman ketentuan mengenai kepolisian negara itu dalam UUD 1945. Sebagai perbandingan. Yang menjalankan fungs i kehakiman hanya dua. yaitu Mahkamah Konstitusi. dan (9) DPRD Kota. Artin ya.

executive. Ketentuan ini membawa implikasi bahwa kedaulatan rakyat tidak lagi dilakukan sepenuhnya oleh MPR. (vi). TNI. Oleh sebab itu. DPR (Dewan Perwakilan Rakyat). dan sebagainya. dan (vii). serta Pemisahan Kekuasaan dan Check and Balances. meskipun komisikomisi pengawas itu bersifat independen dan atas dasar itu kedudukannya secara f ungsional dipandang sederajat. (ii). Sedangkan lembaga-lembaga negara ya ng lainnya bersifat menunjang atau auxiliary belaka. Berdasarkan ketentuan Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 tersebut. Demikian pula. dan lain-la in. Oleh sebab itu. MA (Mahka mah Agung). dari segi keutamaan kedudukan dan fungsinya. Kedudukan protokolemya tetap berbeda dengan MA. tetapi juga karena perubaha n paradigma hukum dan ketatanegaraan. Kejaksaan Agung dan Bank Indone sia sebagai bank sentral juga tidak ditentukan kewenangannya dalam UUD. UUD 1945 menjadi dasar . tetapi dari segi fungsinya lembaga-lembaga tersebu t bersifat auxiliary atau memang berada dalam satu ranah cabang kekuasaan. maka faktor fungsi keutama an atau fungsi penunjang menjadi penentu yang pokok. MK (Mahkamah Konstitusi). C. Beberapa prinsip-prinsip mendasar yang men entukan hubungan antar lembaga negara diantaranya adalah Supremasi Konstitusi. BPK (Badan Pemeriksa Keuangan). DPR. Komisi P engawas Persaingan Usaha (KPPU). tetapi kedudukann ya tidak dapat dikatakan berada di bawah POLRI dan TNI hanya karena kewenangan k edua lembaga terakhir ini diatur dalam UUD 1945. Namun. untuk menentukan apakah KY sederajat dengan MA dan MK. Salah satu perubahan mendasar dalam UUD 1945 adalah perubahan Pasal 1 ayat (2) y ang berbunyi “Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-U ndang Dasar. meskipun kewenangannya dan ketentuan mengenai kelembagaannya tidak diatur dalam UUD 1945. Menteri Negara. S istem Presidentil. Oleh karena itu. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). maka kriteria yang d ipakai tidak hanya bahwa kewenangan KY itu seperti halnya kewenangan MA dan MK d itentukan dalam UUD 1945. Dengan demikian. yaitu legislature. (iii). (v). tetapi dilakukan menurut ketentuan Undang-Undang Dasar. TNI dan POLRI tetap tidak dapat disejajarkan strukturnya dengan presiden dan wak il presiden. Komisi Pember antasan Tindak Pidana Korupsi (KPK). Presiden. dan MA. Demikian juga Komisi Pengawas Kejaksaan dan Komisi Kepolisian tetap tidak dapat disederajatkan secara struktural dengan organisasi POLRI dan Kejaksaan Agung. dan judiciary. seperti hubungan antara KY dengan MA. tidak dengan begitu. MPR. MPR tidak lagi menjadi lembaga tertinggi negara di atas lembaga-lembaga t inggi negara. tetapi KY tetap tidak dipandang sederajat sebagai lemba ga tinggi negara. kewenangan TNI dan POLRI juga ditentukan dalam Pasal 30 UUD 1945. MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat). MK. kedudukan struktural TNI dan POL RI dapat disejajarkan dengan tujuh lembaga negara yang sudah diuraikan di atas. (iv). seyogyanya tata urutan protokoler ketujuh lembaga negara tersebut dapat disusun berdasarka n sifat-sifat keutamaan fungsi dan kedudukannya masing-masing sebagaimana diurai kan tersebut. Tetapi kedudukan Kejaksaan Agung dan Bank Indonesia tidak dapat dikatakan lebih rendah daripada TNI dan POLRI. meskipun kewenangan TNI dan POLRI ditentukan tegas dalam UUD 1945. POLRI. sumber normatif kewenangan lembaga-lembaga tersebut tidak otomatis menentu kan status hukumnya dalam hirarkis susunan antara lembaga negara. Hal ini tidak saja karena adanya perubahan terhadap butir-butir ketentuan yang mengatur tentang kelembagaan negara. Lembaga tersebut di atas dapat disebut sebagai lembaga tinggi negara. Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Misal nya. lembaga (tinggi) n egara yang dapat dikatakan bersifat pokok atau utama adalah (i). Hubungan antar Lembaga Negara di Indonesia Pasca Amandemen UUD 1945 1. Dengan demikian. Meskipun posisinya bersifat independen terhadap MA. DPD (Dewan Perwakilan Daerah). Yang dapat disebut sebagai lembaga tinggi negara yang utama tetaplah lembaga-lembaga tinggi negara yang mencerminkan cabang-caban g kekuasaan utama negara. meskipun sama-sama ditentukan kewenangannya dalam UUD 1945 seperti Presiden/ Wapres. Prinsip-Prinsip Hubungan Antar Lembaga Negara Perubahan UUD 1945 yang bersifat mendasar tentu mengakibatkan pada perubahan kel embagaan negara. dapat dikatakan bahwa lembaga-lembaga negara seperti Komisi Yud isial (KY).a negara yang bersangkutan dalam struktur ketatanegaraan Republik Indonesia berd asarkan UUD 1945. melainka n hanya ditentukan oleh undang-undang. Dewan Pertimbangan Presiden. Karena.

lpmpsulsel. setelah Perubahan UUD 1945 tidak dikenal lagi konsepsi lembaga t ertinggi dan lembaga tinggi negara. t .hukum tertinggi pelaksanaan kedaulatan rakyat. d iganti dengan hak mengusulkan rancangan undang-undang dan diserahkan kepada DPR sebagaimana diatur dalam Pasal 20 ayat (1) UUD 1945. Jika dilihat hubungan antara DPR sebagai parlemen dengan Presiden yang sejajar (neben).net/v2/index. Seda ngkan. serta adanya masa jabatan Presiden yang ditentuk an (fix term) memang menunjukkan ciri sistem presidentil. Namun jika dilihat dar i keberadaan MPR yang memilih. 2. 6A. memberikan mandat. maka sistem tersebut memiliki ciri-ciri sistem parlementer. dan 8 UUD 1945. maka berdasarkan hasil peru bahan Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 kedaulatan tetap berada di tangan rakyat dan pel aksanaannya langsung didistribusikan secara fungsional (distributed functionally ) kepada organ-organ konstitusional. Presiden adalah mandataris MPR dan sebagai konsekuensinya Presiden bertanggung jawab kepada MPR dan MPR dapat memberhentikan Presiden. http://www. tetapi dengan mengingat dasar usulan pem berhentiannya adalah masalah pelanggaran hukum. 7. kekuasaan Presiden membuat Undan g-Undang sebagaimana diatur dalam Pasal 5 ayat (1) UUD 1945 sebelum Perubahan. Jika berdasarkan ketentuan Pasal 1 ayat (2) UU D 1945 sebelum perubahan kedaulatan dilakukan sepenuhnya oleh MPR dan kemudian d idistribusikan kepada lembaga-lembaga tinggi negara. Perubahan mendasar pertama adalah perubahan kedudukan MP R yang mengakibatkan kedudukan MPR tidak lagi merupakan lembaga tertinggi negara . tetapi sejajar dan saling berhubungan berdasarkan kewenangan masing-masing berdasarkan UUD 1945. sebagaimana telah dibahas sebelumnya. Di sisi yang lain. dalam hal ini terutama antara DPR dan Presiden.php?option=com_content&view=article &id=130:pasca-amandemen&catid=42:widyaiswara&Itemid=203 Konsekuensinya.lpmpsulsel. sistem pemerintahan yang dianut tidak sepenuh nya sistem presidentil. Presiden tidak hanya memegang kekuasaan pemerintaha n tertinggi (eksekutif) tetapi juga memegang kekuasaan membentuk undang-undang a tau kekuasaan legislatif bersama-sama dengan DPR sebagai co-legislator-nya. Sebelum adanya Perubahan UUD 1945. Lembaga-Iembaga negara yang merupakan organ konstitusional kedudukannya tidak lagi seluruhnya hierarkis di bawah MPR. Hal ini berarti kedaulatan rakya t dilakukan oleh seluruh organ konstitusional dengan masing-masing fungsi dan ke wenangannya berdasarkan UUD 1945. Penyempurnaan dilakukan dengan perubahan-perubahan ketentuan UUD 1945 terk ait sistem kelembagaan. Proses usulan pemberhentian Presiden dan atau Wakil Presiden tidak lagi sepenuhn ya diserahkan kepada mekanisme politik. Dengan adanya perubahan kekuasaan pembentukan undang-undang yang semula dimiliki oleh Presiden menjadi dimiliki oleh DPR berdasarkan hasil Perubahan UUD 1945. masalah kekuasaan kehakiman (yudikatif) dalam UUD 1945 sebelum perubahan dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan lain-lain badan kehakiman menurut undan g-undang. maka proses hukum melalui Mahkam ah Konstitusi harus dilalui. dan dapat memberhentikan Presi den. 7A. Perubahan selanjutnya untuk menyempurnak an sistem presidentil adalah menyeimbangkan legitimasi dan kedudukan antara lemb aga eksekutif dan legislatif. Salah satu kesepakatan dalam Sidang Tahunan MPR Tahun 1999 terkait Perubahan UUD 1945 adalah “sepakat untuk mempertahankan sistem presidensiil (dalam pengertian s ekaligus menyempumakan agar betul-betul memenuhi ciri-ciri umum sistem presidens iil). Ha l ini dilakukan dengan pengaturan mekanisme pemilihan Presiden dan Wakil Preside n yang dilakukan secara langsung oleh rakyat dan mekanisme pemberhentian dalam m asa jabatan sebagaimana diatur dalam Pasal 6. maka memiliki l egitimasi kuat http://www. Selain itu juga ditegaskan Presiden tidak dapat membubarkan DPR sebagaimana diatur dalam Pasal 7C UUD 1945. Pemisahan Kekuasaan dan Check and Balances Sebelum perubahan UUD 1945. sistem kelembagaan yang dianut bukan pemisahan kekua saan (separation of power) tetapi sering disebut dengan istilah pembagian kekuas aan (distribution of power).net/v2/index. Karena Presiden dan Wakil Presiden dipilih secara langsung oleh rakyat.php?option=com_content&view=article &id=130:pasca-amandemen&catid=42:widyaiswara&Itemid=203 dan tidak dapat dengan mudah diberhentikan kecuali karena melakukan tindakan pel anggaran hukum.

dimana na ma. Presiden dalam menjalankan kekuasaan pemerintahannya mendapatkan p engawasan dari DPR. dimana dalam lapis ini ad a lembaga yang sumber kewenangannya dari UUD. DPRD Kota.net/v2/index. Hubungan antara kekuasaan eksekutif yang dilakukan oleh Presiden. Dalam pelaksanaan kekuasaan pembuatan undang-undang misalnya. Bahkan kedudukan DPR dalam hal ini cukup kuat karena memiliki fungsi ang garan secara khusus selain fungsi legislasi dan fungsi pengawasan sebagaimana di atur pada Pasal 20A UUD 1945.lpmpsulsel.php?option=com_content&view=article &id=130:pasca-amandemen&catid=42:widyaiswara&Itemid=203 oleh Mahkamah Agung (dan badan-badan peradilan di bawahnya) dan Mahkamah Konstit usi berdasarkan Pasal 24 ayat (2) UUD 1945. dan kekuasaa n yudikatif yang dilakukan oleh MA dan MK merupakan perwujudan sistem checks and balances. . Namun demikian kekuasaan DPR juga terbatas. Dari segi hirarkinya lembaga negara itu dibedakan kedalam 3 (tiga) lapis yaitu Organ lapis pertama disebut sebagai lembaga tinggi negara. Sistem checks and balances dimaksudkan untuk mengimbangi pembagian ke kuasaan yang dilakukan agar tidak terjadi penyalahgunaan kekuasaan oleh lembaga pemegang kekuasaan tertentu atau terjadi kebuntuan dalam hubungan antar lembaga. Kelompok Kedua organ institusi yang sumber kewe nangannya adalah Undang-Undang. fungsi dan kewenangannya dibentuk berdasarkan UUD 1945.lpmpsulsel. Keberadaan nya disebutkan secara eksplisit dalam UUD. Bahkan suatu ketentuan undang-undang yang telah me ndapatkan persetujuan bersama DPR dan Presiden serta telah disahkan dan diundang kan pun dapat dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat oleh MK jika di nyatakan bertentangan dengan UUD 1945. Pemerintahan Daerah Kota. http://www. Sedang kan kekuasaan kehakiman dilakukan http://www.Walaupun dasar/sumber kewenangannya berbeda kedud ukan kedua jenis lembaga negara ini dapat di sebandingkan satu sama lain. Bup ati. Kelompok Pertama yakni organ konstitusi ya ng mendapat kewenangan dari UUD. Wa laupun dalam proses pembuatan suatu undang-undang dibutuhkan persetujuan Preside n. Oleh karena itu. Di sisi lain.erutama Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 ayat (1). kekuasaan legi slatif oleh DPR (dan dalam hal tertentu DPD sebagai co-legislator). yaitu Presiden dan DPD (untuk ranca ngan undang-undang tertentu). Sedangkan Kelompok Ketiga yakni organ konstitusi yang termasuk kategori Lembaga Negara yang sumber kewenangannya berasal dari regulator atau pembentuk peraturan di bawah Undang-Un dang. Usulan DPR tersebut harus melalui forum hukum di MK sebelum dapa t diajukan ke MPR.net/v2/index. namun dalam pelaksanaannya membutuhkan kerja sama dengan co-legislator. DPRD Provinsi. sehingga tidak dapat ditiadakan atau dibubarkan hanya karena kebijakan pembentukan Undang-Undang. sedangkan lembaga eksekutif adalah Presiden. DPRD Kabupaten. Pemerintahan Daerah Kabupaten. bukan sebagai legislator utama. maka yang disebut sebagai lembag a legislatif (utama) adalah DPR. Pengawasan tidak hanya dilakukan setelah suatu kegiatan dila ksanakan. dan bersifat penunjang/sekunder (auxiliary st ate organs). walaupun ditentuka n kekuasaan membuat undang-undang dimiliki oleh DPR.php?option=com_content&view=article &id=130:pasca-amandemen&catid=42:widyaiswara&Itemid=203 C. tetapi juga pada saat dibuat perencanaan pembangunan dan alokasi angga rannya. PENUTUP Dilihat dari segi fungsinya Lembaga-lembaga Negara ada yang bersifat utama/prime r (primary constitutional organs). dalam pelaksanaan suatu kekuasaan selalu ada peran lembaga lai n. Gubernur. namun fungsi Presiden dalam hal ini adalah sebagai co-legislator sama seperti DPD untuk materi undang-undang tertentu. Organ lapis kedua disebut sebagai lembaga negara saja. Organ lapis ketiga merupakan lembaga daerah yaitu merupakan lembaga negara yang ada di daerah yang ketentuannya telah diatur oleh UUD 1945 yaitu : Pemerin tah Daerah Provinsi. Walikota. hanya saja kedudukannya walaupun tidak lebih tinggi tetapi jauh lebih kuat. ada pula sumber kewenangannya dari Undang-Undang dan sumber kewenangannya yang bersumber dari regulator atau pembe ntuk peraturan dibawah Undang-Undang. Adapun yang disebut sebagai organ-organ konstitusi pada lapis pertama atau dapat disebut sebagai lem baga tinggi negara. DPR ti dak dapat menjatuhkan Presiden dan atau Wakil Presiden kecuali karena alasan pel anggaran hukum.

Perubahan UUD 1945 yang bersifat mendasar mengakibatkan pada perubahan kelembaga an negara.net/v2/index. SH. Jimly Asshiddiqie. 14-18 Juli 2003 1 STRUKTUR KETATANEGARAAN INDONESIA SETELAH PERUBAHAN KEEMPAT UUD TAHUN 19451 Oleh: Prof. Perubahan-perubahan itu juga mempengaruhi struktur dan mekanisme structural organ-organ negara Republik Indonesia yang tidak dapat lagi dijelaskan menurut cara berpikir lama. 2003 2 Guru Besar Hukum Tata Negara. sehingga mencakup lebih dari 3 kali lipat jumlah materi muatan asli UUD 1945. serta Pemisahan Kekuasaan dan Check and Bala nces.php?option=com_content&view=article &id=130:pasca-amandemen&catid=42:widyaiswara&Itemid=203 mendasar yang menentukan hubungan antar lembaga negara diantaranya adalah Suprem asi Konstitusi. dapat dikatakan bahwa meskipun namanya tetap merupakan UUD 1945. Makalah Disampaikan Pada: SEMINAR PEMBANGUNAN HUKUM NASIONAL VIII TEMA PENEGAKAN HUKUM DALAM ERA PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN Diselenggarakan Oleh BADAN PEMBINAAN HUKUM NASIONAL DEPARTEMEN KEHAKIMAN DAN HAK ASASI MANUSIA RI Denpasar.JIMLY ASSHIDDIQIE. (2) Seharusnya lembaga-lembaga ne gara yang mempunyai peranan yang sangat penting tidak hanya diatur secara ekspli sit saja dalam UUD. maka disarankan sebgai berikut: (1) Sebaiknya tata urutan protokoler ketujuh lembaga negara utama dapat disusun berdasarkan sifat-sifat ke utamaan fungsi dan kedudukannya masing-masing. Perubahan-perubahan ituj juga meliputi materi yang sangat banyak. Empat diantaranya adalah (a) penegasan dianutnya citademokrasi dan 1 Disampaikan dalam symposium Nasional yang dilakukan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional. SH2 PENGANTAR Undang-Undang dasar 1945 telah mengalami perubahan-perubahan mendasar sejak dari Perubahan Pertama pada tahun 1999 sampai ke Perubahan Keempat pada tahun 2002. dan (d) pengeuatan cita persatuan dan keragaman dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ketua Asosi asi Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara Indonesia 2 nomokrasi secara sekaligus dan saling melengkapi secara komplamenter. Sistem Presidentil. tetapi dari sudut isinya UUD 1945 pasca Perubahan Keempat tahun 2002 sekarang ini sudah dapat dikatakan merupakan Konstitusi baru sama sekali dengan nama resmi “Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.Dr. Banyak pokok-pokok pikiran baru yang diadopsikan ke dalam kerangka UUD 1945 itu. Dengan demikian. Oleh sebab itu. maka setelah empat kali mengalami perubahan. Departemen Kehakiman dan HAM. Sehubungan dengan itu penting disadai bahwa sistem ketatanegaraan Indonesia setelah Perubahan Keempat UUD 1945 itu telah mengalami perubahan-perubahan yang sangat mendasar. =================================================================== STRUKTUR KETATANEGARAAN INDONESIA SETELAH PERUBAHAN KEEMPAT UUD TAHUN 1945 Oleh : PROF. Fakultas Hukum Unversitas Indonesia. .lpmpsulsel. (b) pemisahan kekuasaan dan prinsip “checks and balances’ (c) pemurnian sistem pemerintah presidential. Beberapa prinsip-prinsip http://www.DR. Jika naskah asli UUD 1945 berisi 71 butir ketentuan. kini jumlah materi muatan UUD 1945 seluruhnya mencakup 199 butir ketentuan.

Kedaulatan rakyat (democratie) Indonesia itu diselenggarakan secara langsung dan melalui sistem perwakilan. dan untuk rakyat. Yaitu melalui Majelis Permusyawaratan Rakyat. Bersamaan dengan itu. Karena itu. Dalam paham Negara Hukum yang demikian itu. adanya prinsip peradilan yang bebas dan tidak memihak yang menjamin persamaan setiap warga negara dalam hukum. Di daerah-daerah propinsi dan kabupaten/kota. prinsip kedaulatan rakyat yang bersifat langsung itu hendaklah dilakukan melalui saluran-saluran yang sah sesuai dengan prosedur demokrasi (procedural democracy). Pemilik kekuasaan tertinggi dalam negara adalah rakyat. adanya persamaan dalam hukum dan pemerintah (equality before the law). pada hakikatnya hukum itu sendirilah yang menjadi penentu segalanya sesuai dengan prinsip nomokrasi (nomcrasy) dan doktrin `the Rule of Law. Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah. hak atas kebebasan informasi. Sudah seharusnya lembaga perwakilan rakyat dan lembaga perwakilan daerah diberdayakan fungsinya dan pelembagaannya. Untuk itu. kedaulatan rakyat dapat pula disalurkan setipa waktu melalui pelaksanaan hak dan kebebasan berpendapat. hak atas kebebasan pers. Kekuasaan bahkan diidealkan diselenggarakan bersama-sama dengan rakyat. Namun. UndangUndang Dasar negara kita menganut pengertian bahwa Negara Republik Indonesia itu adalah Negara Hukum yang demokrasi (democratische rechtstaat) dan sekaligus adalah Negara Demokrasi yang berdasarkan atau hukum (constitutional democracy) yang tidak terpisahkan satu sama lain. oleh rakyat. bukan Negara Kekuasaan (Machtstaat). serta menjamin keadilan bagi 4 setiap orang termasuk terhadap penyalahgunaan wewenang oleh pihak yang berkuasa. kebebasan pers. pelaksanaannya kedaulatan rakyat itu disalurkan dan diselenggarakan menurut prosedur konstitusional yang ditetapkan dalam hukum dan konstitusi (constitutional democracy). pelembagaan kedaulatan rakyat itu juga disalurkan melalui sistem perwakilan. Kekuasaan yang sesungguhnya adalah berasal dari rakyat. and not of Man’. hak atas kebebasan berorganisasi dan berserikat serta hakhak asasi lainnya yang dijamin dalam Undang-Undang Dasar. pelembagaan kedaulatan rakyat itu disalurkan melalui sistem perwakilan. Di dalamnya terkandung pengertian adanya pengakuan terhadap prinsip supremasi hukum dan konstitusi. presiden dan wakil presiden . dianutnya prinsip pemisahan dan pembatasan kekuasaan menurut sistem konstitusional yang diatur dalam Undang-Undang Dasar. Penyaluran kedaulatan rakyat secara langsung (direct democracy) dilakukan melalui pemilihan umum untuk memlih anggota lembaga perwakilan dan memilih Presiden dan Wakil presiden. Secara langsung. Dalam menetukan kebijakan pokok pemerintahan dan mengatur ketentuanketentuan hukum berupa Undang-Undang dasar dan Undang-Undang (fungsi 3 Legislatif). kedaulatan rakyat itu diwujudkan dalam tiga cabang kekuasaan yang tercermin dalam Majelis Permusyawaratan Rakyat yang terdiri dari Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah. Disamping itu.CITA DEMOKRASI DAN NOMOKRASI Negara Indonesia menganut paham kedaulatan rakyat atau democratie (democracy). serta dalam menajlankan fungsi pengawasan (fungsi kontrol) terhadap jalannya pemerintahan. prinsip kedaulatan rakyat (democratie) dan kedaulatan hukum (nomocratie) hendaklah diselenggarakan secara beriringan sebagai dua sisi dari mata uang yang sama. negara Indonesia juga disebut sebagai Negara Hukum (Rechtstaat). adanya jaminan-jaminan hak asasi manusia dalam Undang-Undang dasar. dan berlakunya asas legalitas . Dalam sistem konstitusional Undang-Undang Dasar. sehingga dapat memperkuat sistem demokrasi yang berdasar atas hukum (demokrasi Konstitusional) dan prinsip negara hukum yang demokratis tersebut di atas. Dalam kerangka `the rule of Law’ itu. diyakini adanya pengakuan bahwa hukum itu mempunyai kedudukan tertinggi (supremacy of law). dan kekuasaan Kehakiman yang terdiri atas Mahkamah Konstitusidan Mahkamah Agung. yaitu melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

terutama dalam rumusan alinea IV tentang dasar negara yang kemudian dikenal dengan sebutan Pancasila. 6 Cabang kekuasaan legislatif tetap berada di Majelis Permusyawaratan Rakyat. rumusan naskah asli UUD 1945 tidak mencantumkan ketentuan mengenai negara hukum ini. Sedangkan cabang kekuasaan kehakiman dipegang oleh Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. dalam Undan-Undang dasar hasil perubahan. Hukum tidak boleh dibuat. Untuk mengatasi kekuarangan itulah maka dalam perubahan ketiga UUD 1945. Oleh sebab itu. Untuk melengkapi pelaksanaan tugas-tugas pengawasan. Cabang kekuasaan eksekutif berada ditangan Presiden dan Wakil Presiden. Dari Majelis inilah. kecuali hanya dalam penjelasan UUD 1945 yang menggunakan istilah `rechtsstaat'. Namun demikian. Sementara itu. pelaku sepenuhnya kedaulatan rakyat. Cita-cita kedaulatan tergambar dalam pembukaan UUD 1945. Akan tetapi. Karena itu. tetapi majelis ini terdiri dari dua lembaga perwakilan yang sederajat dengan lembaga negara lainnya. dalam sistem presidensil yang dikembangkan. dengan keberadaan Mahkamah Konstitusisebagai penyangga atau `the guardian of the Indonesian constitution’. ditetapkan. sebelum ini. ditafsirkan dan ditegakkan dengan tangan besi berdasarkan kekuasaan belaka (Machtstaat). cita-cita kerakyatan dirumuskan secara jelas sebagai “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”. prinsip kedaulatan rakyat tersebut ditentukan dibagikan secara horizontal dengan cara memisahkannya (separation of power) menjadi kekuasaan-kekuasaan yang dinisbatkan sebagai fungsi lembaga-lembaga negara yang sederajat dan saling mengendalikan satu sama lain berdasarkan prinsip `checks and balaces’. yaitu pasal 1 ayat (3) tersebut diatas. . dan yang diakui sebagai lembaga tertinggi negara dengan kekuasaan yang tidak terbatas. ide negara hukum (rechtstaat atau the rule of law) itu diadopsikan secara tegas ke dalam rumusan pasal UUD. Puncak kekuasaan hukum itu diletakkan pada konstitusi yang pada hakikatnya merupakan dokumen kesepakatan tentang sistem kenegaraan tertinggi. prinsip yang dianut disebut sebagai prinsip pembagian kekuasaan (distribution of power). Ketentuan mengenai cita-cita negara hukum ini secara tegas dirumuskan dalam pasal 1 ayat (3) UUD 1945. Dalam alinea ini. yang menyatakan: `Negara Indonesia adalah Negara Hukum’. kekuasaan rakyat itu dibagi-bagikan secara vertikal ke dala m lembaga-lembaga tinggi negara yang berada dibawahnya. konstitusi itulah yang pada hakikatnya merupakan Kepala Negara Republik Indonesia yang bersifat simbolik (symbolic head of state).dalam segala bentuknya dalam kenyataan praktek (due process of law). PEMISAHAN KEKUASAAN DAN PRINSIP `CHECKS AND BALANCES’ Prinsip kedaulatan yang berasal dari rakyat tersebut di atas selama ini hanya diwujudkan dalam Majelis Permusyawaratan Rakyat yang merupakan penjelmaan seluruh rakyat. prinsip negara hukum hendaklah dibangun dan dikembangkan menurut prinsip-prinsip demokrasi atau kedaulatan rakyat (democratische rechtsstaat). disamping lembaga legislatif dibentuk pula Badan Pemeriksa Keuangan. Karena prinsip supremasi hukum dan kedaulatan hukum itu sendiri pada pokoknya berasal dari kedaulatan rakyat. semangat kerakyatan itu ditegaskan dalam ketentuan yang menegaskan bahwa “kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar”. harus pula ada jaminan bahwa hukum itu sendiri dibangun dan ditegakkan menurut prinsip-prinsip demokrasi. Bahkan. Rumusan 5 eksplisit bahwa Indonesia adalah negara hukum baru terdapat dalam Konstitusi Republik Indonesia Serikat tahun 1949 dan Undang-Undang Dasar Sementara Tahun 1950. Prinsip Negara Hukum tidak boleh ditegakkan dengan mengabaikan prinsip-prinsip demokrasi yang diatur dalam Undang-Undang Dasar. Untuk memberikan nasehat dan saran kepada Presiden dan Wakil Presiden. ketentuan mengenai prinsip kedaulatan rakyat terdapat dalam pembukaan dan juga pada pasal 1 ayat (2). Sedangkan dalam rumusan pasal 1 ayat (2). dibentuk pula Dewan Pertimbangan Agung.

justru membutuhkan sistem pemerintahan yang kuat dan stabil. Komposisi penduduknya sangat beragam. sehingga penyalahgunaan kekuasaan oleh aparat penyelenggara negara ataupun pribadi-pribadi yang kebetulan sedang menduduki jabatan dalam lembaga-lembaga negara yang bersangkutan dapat dicegah dan ditanggulangi dengan sebaik-baiknya. terlepas dari kenyataan bahwa sistem parlementer pernah gagal dipraktekkan dalam sejarah Indonesia modern di masa lalu. Disamping itu. Ketiga ketentuan itu memastikan tafsir berkenaan dengan terjadinya pergeseran MPR dari kedudukannya sebagai lembaga tertinggi menjadi lembaga yang sederajat dengan Presiden berdasarkan pemisahan kekuasaan dan prinsip `check and balances’. . 7 Pasal-pasal yang dapat dianggap mencerminkan perubahan tersebut antara lain adalah perubahan ketentuan pasal 5. Namun. baik dari suku bangsa. sedangkan Presiden adalah kepala eksekutif. maka ekses-ekses atau efek samping dalam prakek penyelenggaraan sistem pemerintahan Presidentil seperti selama ini terjadi tidak perlu dikhawatirkan la gi. Jika kelemahan sistem presidentil yang diterapkan dibawah Undang-Undang Dasar 1945 yang cenderung sangat “executive heavy” sudah dapat diatasi melalui pembaharuan mekanisme ketatanegaraan yang diwujudkan dalam Undang-Undang Dasar ini. dan sebagian terbesar terpencil dari kehidupan ramai. ketentuan mengenai Mahkamah Konstitusi yang diberi kewenangan untuk melakukan pengujian atas Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar seperti ditentukan dalam pasal 24 ayat (1) juga mencerminkan dianutnya asas pemisahan kekuasaan dan prinsip `check and balances’ antara cabang kekuasaan legislatif dan yudikatif. Maksudnya ialah agar seluruh aspirasi rakyat benar-benar dapat dijelmakan ke dalam Majelis Perusyawaratan Rakyat yang terdiri dari dua pintu. Dengan adanya prinsip `Check and balances’ ini. maka kekuasaan negara dapat diatur. Ketiga cabang kekuasaan legislatif. terdiri atas lebih dari 17. Wilayahnya pun sangat luas. ada pula ketentuan mengenai kewenangan MPR yang tidak lagi dijadikan tempat kemana presiden harus bertanggungjawab atau menyampaikan pertanggung-jawaban jabatannya. SISTEM PEMERINTAHAN PRESIDENTIL Negara Indonesia merupakan negara yang berpenduduk terbesar keempat di dunia. realitas kompleksitas keragaman kehidupan bangsa Indonesia seperti tersebut diatas. dibatasi dan bahkan dikontrol dengan sesebaik-baiknya. Selain itu. Oleh karena itu. terutama ayat (1) juncto pasal 20 ayat (1) sampai dengan ayat (5) yang secara jelas menentukan bahwa fungsi legislatif ada pada Dewan Perwakilan Rakyat. Kompleksitas dan keragaman itu sangat menentukan peta konfigurasi kekuatan-kekuatan politik dalam masyarakat. Agar peta konfigurasi kekuatan-kekuatan politik dalam masyarakat tersebut dapat disalurkan dengan sebaik-baiknya menurut prosedur demokrasi (procedural democracy). eksekutif. sehingga tidak dapat dihindari keharusan berkembangnya sistem multi-partai dalam sistem demokrasi yang hendak dibangun. maupun dari segi-segi lainnya. etnisitas.000-an pulau besar dan kecil. dan karena itu membuatnya kurang populer di mata masyarakat. yaitu Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. anutan agama. dan yudikatif itu sama-sama sederajat dan saling mengontrol satu sama lain sesuai dengan prinsip `Check and balances’. Kedudukan Majelis Pemusyawaratan Rakyat yang terdiri dari dua lembaga perwakilan itu itu adalah sederajad dengan Presiden dan Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi.Majelis Permusyawaratan Rakyat tetap merupakan rumah penjelmaan seluruh rakyat yang strukturnya dikembangkan dalam dua kamar. berkembang keinginan agar sistem pemerintahan yang dibangun 8 adalah sistem Parlementer ataupun setidak-tidaknya varian dari sistem pemerintahan parlementer. prinsip perwakilan daerah dalam Dewan Perwakilan Rakyat Daerah harus dibedakan hakikatnya dari prinsip perwakilan rakyat dalam Dewan Perwakilan Rakyat.

maka pengangkatan dan pemberhentian Gubernur dan Wakil Gubernur Bank Indonesia. Jaksa Agung. (5) Untuk membatasi kekuasaan Presiden yang kedudukannya dalam sistem presidentil sangat kuat sesuai dengan kebutuhan untuk menjamin stabilitas peerintahan. dan Panglima Tentara Nasional Indonesia hanya dapat dilakukan oleh Presiden setelah mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat. beberapa badan atau lembaga negara dalam lingkungan cabang kekuasaan eksekutif ditentukan pula independensinya dalam 10 menjalankan tugas utamanya. kekuasaan dan tanggungjawab politik berada ditangan Presiden (concentration of power and responsibility upon the President). Karena itu. Presiden dan/atau Wakil Presiden dapat dituntut pertanggungjawaban oleh Dewan Perwakilan Rakyat untuk disidangkan dalam Majelis Permusyawaratan Rakyat. yaitu: (1) Presiden dan Wakil Presiden merupakan satu institusi penyelenggara kekuasaan eksekutif negara yang tertinggi di bawah Undang-Undang Dasar. Menteri diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dan karena bertanggung-jawab kepada Presiden. yaitu sidang gabungan antara Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah. bukan dan tidak bertanggungjawab kepada parlemen. Keduanya adalah Presiden dan Wakil Presiden. Kepolisian Negara dan Kejaksaan Agung sebagai aparatur penegakan hukum. Sistem ini juga dapat dipraktekkan dengan tetap menerapkan sistem multi-partai yang dapat mengakomodasikan peta konfigurasi kekuatan politik dalam masyarakat yang dilengkapi pangaturan konstitusional untuk mengurangi dampak negatif atau kelemahan bawaan dari sistem presidentil tersebut. Pemberhentian para pejabat tinggi pemerintahan tersebut tanpa didahului dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat hanya dapat dilakukan oleh Presiden apabila yang bersangkutan terbukti bersalah dan karena itu dihukum berdasarkan vonis pengadilan yang bersifat tetap karena melakukan tindak pidana menurut . Dalam menjalankan pemerintahan negara. Disamping itu. tetapi dalam menjalankan tugas utamanya tidak boleh dipengaruhi oleh kepentingan politik pribadi Presiden. (2) Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh rakyat secara langsung dan karena itu secara politik tidak bertanggungjawab kepada Majelis 9 Permusyawaratan Rakyat atau lembaga parlemen. Namun. Kepala Kepolisian Negara. para Menteri itulah yang pada hakikatnya merupakan para pemimpin pemerintahan dalam bidang masing-masing. Jika tuduhan bersalah itu dapat dibuktikan secara hukum oleh Mahkamah Konstitusi. barulah atas dasar itu. sebelum diberhentikan. Meskipun keempat lembaga tersebut berada dalam ranah eksekutif. (4) Para Menteri adalah pembantu Presiden. Dalam sistem ini tidak dikenal dan tidak perlu dibedakan adanya kepala negara dan kepala pemerintahan. melainkan bertanggungjawab langsung kepada rakyat yang memilihnya. Kedudukannya tidak tergantung kepada parlemen. Untuk menjamin hal itu.Keuntungan sistem presidentil justru lebih menjamin stabilitas pemerintahan. Lembaga-lembaga eksekutif yang dimaksud adalah Bank Indonesia sebagai bank sentral. MPR bersidang dan secara resmi mengambil putusan pemberhentian. terlebih dulu harus dibuktikan secara hukum melalui proses peradilan di Mahkamah Konstitusi. Dalam hal demikian. terdapat lima prinsip penting. Dalam sistem ini. Di samping itu. dan Tentara Nasional Indonesia sebagai aparatur pertahanan negara. (3) Presiden dan / atau Wakil Presiden dapat dimintakan pertanggungjawabannya secara hukum apabila Presiden dan/atau Wakil Presiden melakukan pelanggaran hukum konstitusi. tuntutan pemberhentian Presidendan/atau Wakil Presiden yang didasarkan atas tuduhan pelanggaran atau kesalahan. ditentukan pula bahwa masa jabatan Presiden lima tahunan tidak boleh dijabat oleh orang yang sama lebih dari dua masa jabatan. kedudukannya sangat penting dalam menjalankan roda pemerintahan.

prinsip persatuan Indonesia tidak boleh diindentikkan dengan atau dikacaukan atau dikaitkan dengan istilah kesatuan yang berkenaan dengan persoalan bentuk bangsa. Negara Kesatuan adalah konsepsi tentang bentuk negara. Persatuan adalah istilah filsafat dan prinsip bernegara. Negara persatuan mengakui keberadaan masyarakat warga negara karena kewargaanya (civility). istilah persatuan itu harus dikembalikan kepada 12 bunyi rumusan sila ketiga Pancasila. yang mengatasi segala paham perseorangan ataupun golongan yang menjamin segala warga negara bersamaan kedudukannya di hadapan hukum dan pemerintahan dengan tanpa kecuali. negara persatuan itu mempersatukan seluruh bangsa Indonesia dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia karena prinsip kewargaan yang bersamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan. Indonesia adalah negara yang berbentuk Negara Kesatuan (unitry state). untuk tidak menimbulkan salah pengertian. Karena itu. agama. Keragaman merupakan kekayaan yang harus dipersatukan (united). Dengan demikian. bukan kesatuan (uniformity). Oleh karena itu. otonomi individu diakui kepentingannya secara seimbang dengan kepentingan kolektivitas rakyat. Bentuk negara kita adalah Negara Kesatuan (Unitary State).tata cara yang diatur dengan Undang-Undang. Bandingkan antara rumusan Pancasila dalam Pembukaan UUD 1945 dan rumusan pasal 1 ayat (1) yang menyatakan: “Negara Indonesia ialah negara kesatuan yang berbentuk Republik”. melainkan hanya didasarkan atas asas otonomi atau desentralisasi dan tugas perbantuan (medebewin). Keragaman suku bangsa. Istilah negara persatuan cenderung dipahami sebagai konsepsi atau cita negara (staatsidee) yang bersifat totaliter ataupun otoritarian yang mengabaikan pluralisme dan menafikkan otonomi individu rakyat yang dijamin hak-hak dan kewajiban asasinya dalam Undang Undang Dasar. dan budaya yang diwarisi oleh bangsa Indonesia dalam sejarah mengharuskan bangsa Indonesia bersatu dengan seerat-eratnya dalam keragaman. tidak diatur berdasarkan asas dekonsentrasi. sedangkan kesatuan adalah istilah bentuk negara yang bersifat teknis. sedangkan persatuan Indonesia adalah prinsip dasar bernegara yang harus dibangun atas dasar persatuan (unity). Dalam negara persatuan itu. yaitu “Persatuan Indonesia”. Hubungan-hubungan kekuasaan antara pemerintah pusat dan pemerintah Daerah Propinsi serta pemerintah Daerah Kabupaten dan Kota. dan Republik adalah konsepsi mengenai bentuk pemerintahan yang dipilih dalam kerangka UUD 1945. yang mempersatukan rakyat secara totaliter bersama-sama dengan pemimpinnya seperti konsepsi Hitler yang didasarkan atas pandangan Hegel tentang negara Jerman. Namun. . bukan “Persatuan dan Kesatuan Indonesia” apalagi “Kesatuan Indonesia”. Namun kewenangan (authority) pemerintah pusat ditentukan batas-batasnya dalam Undang-Undang Dasar atau Undang-Undang ditentukan sebagai kewenangan yang dimiliki oleh pemerintah daerah. tetapi tidak boleh disatukan atau diseragamkan (uniformed). Prinsip persatuan juga tidak boleh dipersempit maknamya ataupun diindentikkan dengan pengertian pelembagaan bentuk Negara Kesatuan yang merupakan bangunan negara 11 yang dibangun atas motto `Bhineka±Tunggal±Ika' (Unity in Diversity). Kekuasaan asal berada di pemerintah pusat. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah merupakan `negara persatuan' dalam arti sebagai negara yang warga negaranya erat bersatu. yang membuat seseorang atau segolongan orang berbeda dari orang atau golongan lain dalam masyarakat. terlepas dari ciri-ciri khusus yang dimiliki seseorang atau segolongan orang ata s dasar kesukuan dan keagamaan dan lain-lain. CITA PERSATUAN DAN KERAGAMAN DALAM NKRI Prinsip persatuan dibutuhkan karena kenyataan bahwa bangsa Indonesia sangat majemuk. konsepsi negara persatuan itu sering disalah-pahami seakan-akan bersifat `integralistik'. Kehidupan orang per orang ataupun golongan-golongan dalam masyarakat diakui sebagai individu dan kolektivitas warga negara.

susunan Negara Kesatuan dengan pengaturan yang bersifat khusus atau otonomi khusus dikembangkan sebagaimana mestinya dengan memperhatikan perbedaan tingkat kemampuan antar daerah diseluruh Indonesia. Pasal 18B ayat (2) menegaskan: “Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan 13 perkembangan masyarakat dan prinsip negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam Undang-Undang”. pasal 18B ayat (1) menyatakan: “Negara mengakui dan menghormati satuansatuan pemerintah daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan Undang-Undang”. Karena itu. Pengaturan demikian dimaksud untuk menjamin agar seluruh bangsa Indonesia benar-benar bersatu dengan keragaman dalam bingkai Negara Kesatuan. DPR. anggota senat bisa disebut Senator sedangkan anggota Dewan Perwakilan Rakyat atau `House of Representatives’ biasa disebut `Congressman'. sesungguhnya. berarti Negara Kesatuan Republik Indonesia diselenggarakan dengan pengaturan antar daerah yang tidak seragam antara satu sama lain. Otonomi dan kebebasan rakyat dihadapan jajaran pemerintah pusat dan daerah juga makin tumbuh dan berkembang sesuai prinsip demokrasi. meskipun susunan pemerintahan bersifat desentralistis. Dengan ketentuan-ketentuan konstitusional demikian. dalam rumusan pasal 18. pelaksanaan otonomi daerah dalam kerangka Negara Kesatuan yang memungkinkan adanya pengaturan khusus berupa daerah otonomi khusus itu hendaklah dilaksanakan secara sistematis dan bertahap. Daerah-daerah juga tidak perlu memaksakan diri untuk secepat mungkin menerapkan kebijakan otonomi daerah yang seluas-luasnya dengan meninggalkan sama sekali atau mengabaikan prinsip-prinsip penyelenggaraan pemerintah daerah berdasarkan asas dekonsentrasi. dan kamar kedua disebut Dewan Perwakilan Daerah. baik anggota Senat maupun anggota DPR Amerika Serikat itu sama-sama merupakan anggota Kongres . tetapi secara sendiri-sendiri mereka juga dapat dibedakan antara anggota DPR atau anggota DPD. Disamping itu. Sebagai perbandingan. pasal 18A dan pasal 18B (seluruhnya sebanyak 11 ayat). Majelis Permusyawaratan Rakyat kita dirancang untuk diubah menjadi nama `genus' dari lembaga perwakilan rakyat atau parlemen Indonesia yang terdiri atas dua kamar dewan. Pemerintah pusat bertanggungjawab menyukseskan pelaksanaan otonomi daerah yang dilakukan secara bertahap itu. . Kamar pertama disebut Dewan Perwakilan Rakyat. daerah-daerah yang belum atau tidak dapat melaksanakannya. dan pemeritah daerah propinsi 14 memiliki kewenangan koordinasi antar daearah kabupaten/kota sebagaimana mestinya. Akan tetapi. Prinsip keadilan antar pusat dan propinsi dan daerah kabupaten/kota juga makin terjamin. kabupaten dan kota atau antara propinsi dan kabupaten dan kota diatur dengan Undang-Undang dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah.Disamping itu. misalnya menegaskan: “Hubungan kewenangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah propinsi. ditegaskan pula adanya pengakuan atas pluralisme di berbagai daerah. FORMAT BARU PARLEMEN TIGA KAMAR: MPR. Majelis Permusyawaratan Rakyat Semula. pada hakikatnya mereka adalah anggota MPR. prinsip yang sama dapat kita temukan dalam konstitusi Amerika Serikat yang mementukan bahwa semua kekuasaan legislatif ada di Kongres yang terdiri atas `The House of Representatives and Senate’. tetapi pemerintah pusat tetap memiliki kewenangan koordinasi antar daerah propinsi. perlu diberi kesempatan mempersiapkan diri. Untuk itu. Dalam hubungan antara pusat dan daerah atau daerah propinsi dengan kabupaten/kota dimungkinkan adanya pola hubungan yang bersifat khusus seperti propinsi Papua. Akan halnya nanti dengan anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Daerah. DAN DPD 1. Pasal 18A ayat (1). Demikian pula dalam konstitusi Kerajaan Belanda dikatakan bahwa kekuasaan legislatif berada di `Staten Generaal’ yang terdiri atas “Eerste Kamer en Tweede Kamer”. Memang.

(b) menetapkan Garis-Garis Besar Haluan Negara. Majelis ini tidak lagi berfungsi sebagai `supreme body’ yang memiliki kewenangan tertinggi dan tanpa kontrol. keberadaan MPR yang selama ini disebut sebagai lembaga tertinggi negara itu memang telah mengalami perubahan yang sangat mendasar. sedangkan dalam bidang eksekutif dilakukan oleh Presiden dan Wakil Presiden sebagai satu paket kepemimpinan eksekutif yang dipilih langsung oleh rakyat. akan tetapi keberadaannya 15 tetap ada sehingga sistem yang kita anut tidak dapat disebut sistem bikameral ataupun satu kamar. Keempat. Sekarang. Majelis Permusyawaratan Rakyat yang dulu dikenal . Sebelum diadakannya perubahan UUD. anggota MPR hanya terdiri atas anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang mencerminkan prinsip perwakilan politik (political representation) dan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang mencerminkan prinsip perwakilan daerah (regional representatif). (e) memberhentikan Presiden dan/ atau Wakil Presiden. serta 16 (d) menetapkan Presiden dan/atau Wakil Presiden pengganti sampai terpilihnya Presiden dan/atau Wakil Presiden sebagaimana mestinya. (d) meminta dan menilai pertanggungjawaban Presiden. Dengan sistem pemilihan langsung oleh rakyat itu. dilakukan oleh MPR yang terdiri atas dua kamar dewan. (c) memilih Presiden dan Wakil Presiden. setelah diadakannya perubahan UUD 1945. bersamaan dengan perubahan yang bersifat struktural tersebut. Dengan demikian.Keanggotaan dalam masing-masing kamar parlemen Belanda ini tidaklah mengurangi pengertian bahwa pada hakikatnya mereka juga anggota `Staten Generaal'. Pertama. MPR memiliki 6 (enam) kewenangan yaitu: (a) menetapkan Undang-Undang Dasar & mengubah Undang-Undang Dasar. setelah perubahan Keempat UUD 1945. meskipun Presiden sebagai kepala pemerintahan eksekutif tetap diakui haknya untuk mengajukan sesuatu rancangan Undang-Undang. Oleh karena itu. diadopsinya prinsip pemilihan Presiden dan Wakil Presiden dalam satu paket secara langsung oleh rakyat dalam ketentuan pasal 6A ayat (1) perubahan ketiga UUD 1945 yang sekaligus dimaksud untuk memperkuat dan mempertegas anutan sistem pemerintahan presidential dalam UUD 1945. Dalam perubahan-perubahan tersebut ditegaskan bahwa kekuasaan membentuk Undang-Undang berada di tangan DPR. Ketiga. perubahanperub anan mendasar dalam kerangka struktur parlemen Indonesia itu memang telah terjadi mengenai hal-hal sebagai berikut. tetapi juga langsung kepada rakyat. fungsi MPR juga mengalami perubahan mendasar (perubahan fungsional). (b) melantik Presiden dan Wakil Presiden. Kedua. dapat dikatakan bahwa dalam hubungannya dengan pengorganisasian kedaulatan rakyat. dan karena itu kewenangannyapun mengalami perubahan-perubahan mendasar. melainkan sistem tiga kamar (trikameralisme). kewenangan MPR berubah menjadi: (a) menetapkan Undang-Undang Dasar dan/atau Perubahan UUD. susunan keanggotaan MPR berubah secara struktural karena dihapuskannya keberadaan Utusan Golongan yang mencerminkan prinsip perwakilan fungsional (functional representation) dari unsur keanggotaan MPR. diadopsi prinsip pemisahan kekuasaan (separation of power) secara tegas antara fungsi legistatif dan eksekutif dalam perubahan pasal 5 ayat (1) juncto pasal 20 ayat (1) dalam perubahan pertama UUD 1945 yang dipertegas lagi dengan tambahan pasal 20 ayat (5) perubahan kedua UUD 1945. maka konsep dan sistem pertanggungjawaban Presiden tidak lagi dilakukan kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat. sepanjang menyangkut fungsi legislatif. kedaulatan yang ada ditangan rakyat itu. Namun demikian. Dengan perubahan ini berarti UUD 1945 tidak lagi menganut sistem MPR berdasarkan prinsip `Supremasi parlemen’ dan sistem pembagian kekuasaan (distribution of power) oleh lembaga tertinggi MPR ke lembaga-lembaga negara di bawahnya. (c) memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden.

meskipun didunia hanya dikenal adanya struktur parlemen unicameral dan bicameral. pasal 7A dan 7B. Anggota DPD dipilih dari setiap propinsi melalui pemilu (pasal 22c ayat 1). anggota DPD dari tiap propinsi jumlahnya sama dan seluruh anggota DPD tidak lebih dari sepertiga jumlah anggota DPR (ayat 2). menurut ketentuan pasal 22D (a) dapat mengajukan rancangan UU tertentu kepada DPR (ayat 1). mekanisnme pengisian jabatan keanggotaan DPD ini lebih berat bila dibandingkan dengan mekanisme pengisian keanggotaan DPR. Selama ini dipahami bahwa jika kedudukan kedua kamar itu di bidang legislatif sama kuat. MPR terdiri atas anggota DPR dan anggota DPD.sebagai lembaga tertinggi negara. Sedangkan ayat (3) nya menyatakan bahwa dalam hal terjadinya kekosongan presiden dan wakil presiden secara bersamaan. sehingga DPD ini lebih tepat disebut sebagai Dewan Pertimbangan DPR. DPD. Dengan demikian. Padahal. Ironisnya. salah satu ciri bikameralisme yang dikenal di dunia ialah apabila kedua-dua kamar yang dimaksud sama-sama menjalankan fungsi legislatif sebagaimana seharusnya. yaitu parlemen trikameral atau trikameralisme. ataupun saran. Dengan kata lain. (b) ikut membahas rancangan UU tertentu (ayat 2). dalam pengaturan UUD 1945 pasca perubahan Keempat. Namun. Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Keberadaan Dewan Perwakilan Daerah menurut ketentuan UUD 1945 pasca perubahan juga banyak dikritik orang. 2. MPR juga berwenang untuk mengubah dan menetapkan UUD sebagaimana dimaksud oleh pasal 3 ayat (1) dan pasal 37 UUD 1945. lembaga MPR pada pokoknya menurut ketentuan UUD 1945 pasca perubahan Keempat tetap berdiri sendiri di samping DPR dan DPD. tetapi dalam kenyataannya memang demikianlah ketentuannya dalam UUD 1945 pasca Perubahan Keempat. bukan saja bahwa struktur yang dianut tidak dapat disebut sebagai `strong becameralism’ yang kedudukan keduanya tidak sama kuatnya. tetapi jika kedua tidak sama kuat. maka disebut `soft becameralism’. seperti dikemukakan diatas. Menurut ketentuan pasal 2 ayat (1). usul. Banyak kritik dan ketidakpuasan mengenai pengaturan UUD 1945 mengenai hal ini. jika diperhatikan DPD sama sekali tidak mempunyai kekuasaan apapun dibidang ini. Akan tetapi. UUD 1945 memperkenalkan sistem ketiga. selambatlambatnya dalam waktu 60 hari. sedangkan yang memutuskan adalah DPR. tetapi bahkan juga tidak dapat disebut sebagai `soft becameralism’ sekalipun. serta dengan Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. karena kedudukannya hanya memberikan pertimbangan kepada DPR. Pasal 8 ayat (2) menyatakan dalam hal terjadinya kekosongan wakil presiden. keberadaan DPD di samping DPR tidak dapat disebut sebagai bikameralisme dalam arti yang lazim. (d) dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan UU tertentu (ayat 3). Karena itu. Akan tetapi. MPR bersidang untuk memilih presiden dan wapres dari dua pasangan calon presiden yang diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calon Presiden dan Wapresnya meraih suara (pen: `yang') terbanyak pertama dan kedua dalam pemilu sebelumnya. Lembaga ini semula didesain 18 sebagai kamar kedua parlemen Indonesia di masa depan. bukan DPD. Menurut ketentuan pasal 3 ayat (3). dengan adanya kewenangan yang demikian itu maka dapat dipahami bahwa MPR itu adalah lembaga yang berdiri sendiri disamping DPR dan DPD. (c) memberikan pertimbangan kepada DPR atas rancangan UU APBN dan rancangan UU tertentu (ayat 2). maka sifat bikameralismenya disebut `strong becameralism’. DPD hanya memberikan masukan pertimbangan. sedangkan yang berhak memutuskan adalah DPR. dimasa depan berubah menjadi nama dari lembaga perwakilan rakyat Indonesia yang terdiri atas Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah yang secara bersama-sama 17 kedudukannya sederajat dengan Presiden dan Wakil Presiden. Jika ditentukan bahwa dari setiap . MPR bersidang untuk memilih wakil presiden dari dua calon yang diusulkan oleh Presiden. DPD hanya memberikan masukan. maka selambat-lambatnya 30 hari setelah itu.

ditengah kritik dan kekecewaan atas pengaturan yang sangat mengecil arti lembaga perwakilan daerah ini. dalam proses pembahasan materi rancangan . Misalnya saja. Oleh karena itu. maka seseorang yang ingin menduduki kursi DPD harus bersaing di tingkat propinsi untuk memperebutkan 4 kursi. Presiden adalah lembaga yang mengesahkan rancangan Undang-Undang yang telah mendapat persetujuan bersama dalam rapat paripurna DPR resmi menjadi Undang-Undang. Kedua. Keempat. maka DPR-lah yang akan menjadi pusat hujatan dan kemarahan apabila aspirasi rakyat tidak sungguh-sungguh disalurkan.19 propinsi jumlahnya 4 orang. peserta pemilu menjadi anggota DPD adalah perorangan. Ketiga. Karena itu. 20 3. Posisi Presiden dan DPR dalam hal ini dapat dikatakan saling 21 berimbang. Disamping itu. banyak orang yang pesimis dengan pola pengaturan DPD yang demikian. Dewan Perwakilan Rakyat Berdasarkan ketentuan UUD 1945 pasca Perubahanan Keempat. satu kursi anggota DPD membutuhkan dukungan suara sekitar 5. setiap rancangan Undang-Undang dibahas bersama untuk mendapat persetujuan bersama antara DPR dan Presiden dalam persidangan DPR.5 juta pemilih. bukan Presiden dan apalagi DPD. Dengan demikian. Karena pusat kewenangan untuk memutuskan atas nama rakyat dan untuk kepentingan dan aspirasi rakyat ada di DPR. sedangkan calon anggota DPR cukup memanfaatkan struktur partai politiknya sebagai mesin penghimpun dukungan suara dalam pemilihan umum. Justru karena kewenangannya yang terbatas itu menyebabkan DPD dapat terhindar dari sasaran kritik dari masyarakat madani (civil society). asalkan para anggota DPD dapat terbuka. lembaga legislasi atau legislator adalah DPR. sedangkan peserta pemilu untuk DPR adalah partai politik. rancangan Undang-Undang yang telah resmi SAH menjadi Undang-Undang wajib diundangkan sebagaimana mestinya. Dari ketentuan pasal 20 itu dapat dipahami bahwa: Pertama. kewenangannya sangat terbatas. di Jawa Timur. rancangan Undang-Undang tersebut sah menjadi Undang-Undang dan wajib diundangkan”. bagi para politisi muda. sedangkan untuk menjadi anggota DPR cukup dibutuhkan sekitar 550 ribu suara pemilih. Kemudian dinyatakan pula” Presiden mengesahkan rancangan Undang-Undang yang telah mendapat disetujui bersama untuk menjadi Undang-Undang” (ayat 4). Dalam hal demikian maka rancangan Undang-Undang yang diajukan oleh DPR itu tidak dapat lagi diajukan dalam persidangan DPR masa itu. setelah berhasil. Hal ini jelas terlihat dalam rumusan pasal 20 ayat (1) yang baru yang menyatakan: “Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk Undang-Undang”. dapat terjadi tokoh perorangan yang akan tampil sebagai calon anggota DPD menghadapi kesulitan luar biasa dalam menggalang dukungan bagi dirinya. Artinya. Rancangan UndangUndang itu tidak boleh diajukan lagi dalam persidangan DPR masa itu”. DPD dapat menjadi wadah baru untuk aktualisasi diri dan forum pelatihan kepemimpinan politik yang efektif untuk masa depan. maka Institusi DPR sebagai satu kesatuan akan berhadapan dengan Presiden sebagai satu kesatuan institusi yang dapat menolak usul inisiatif DPR itu seluruhnya ataupun sebagian materinya. Selanjutnya dinyatakan: “setiap rancangan Undang-Undang dibahas oleh DPR dan Presiden untuk mendapat persetujuan bersama. masih tersisa optimisme yang cukup menjanjikan untuk penataan sistem politik nasional ke depan. dan “dalam hal rancangan Undang-Undang yang telah disetujui bersama tersebut tidak disahkan oleh Presiden dalam waktu 30 hari semenjak rancangan Undang-Undang tersebut disetujui. Tentu ada juga argumen sebaliknya yang cenderung lebih optimis. Karena itu. fungsi legislatif berpusat di tangan Dewan Perwakilan Rakyat. Dengan perkataan lain. Dalam hal rancangan Undang-Undang berasal dari inisiatif DPR. sudah sulit-sulit untuk mejadi anggota perwakilan ditingkat pusat. para anggota DPD dapat bermain ditengah gelombang aspirasi rakyat secara lebih terbuka dan memihak kepada rakyat didaerah-daerah. Di satu pihak.

Presiden tidak dapat lagi memanfaatkan dukungan partai politiknya sendiri yang ada di DPR untuk mendukung kebijakan Pemerintah mengenai materi rancangan Undang-Undang yang sedang dibahas. maka seperti terhadap rancangan Undang-Undang inisiatif DPR. pembahasannya pun dilakukan secara bersama-sama untuk mendapatkan persetujuan bersama. putusan akhir DPR tersebut sudah mengandung pengertian `persetujuan bersama' tersebut. Di satu pihak. posisi Presiden/pemerintah lemah karena harus berhadapan dengan DPR sebagai satu kesatuan institusi. yang berhak menolak seluruhnya ataupun sebagiannya adalah DPR sebagai institusi. tidak mendapat DPR berarti materi yang bersangkutan harus dikeluarkan dari rancangan Undang-Undang yang bersangkutan. proses pembentukan Undang-Undang telah selesai (final) dengan telah diambilnya putusan dalam rapat paripurna DPR yang mengesahkan rancangan Undang-Undang yang telah dibahas bersama. adanya ketentuan pasal 20 ayat (5) yang . maka rancangan Undang-Undang yang bersangkutan secara substantif atau secara material telah menjadi Undang-Undang. Dalam hal demikian. Kelima. Jika rancangan itu ditolak seluruhnya oleh DPR. Maka dapat dikatakan bahwa dalam hal ini DPR mempunyai kedudukan yang lebih kuat daripada Presiden/Pemerintah. Selanjutnya. dalam hal rancangan Undang-Undang itu datang dari Presiden. Dengan demikian. Tetapi. Dalam forum pengambilan putusan oleh DPR dapat terjadi bahwa sesuatu materi ataupun seluruh materi rancangan Undang-Undang yang bersangkutan diputuskan dengan pemungutan suara dapat rapat paripurna DPR. Karena. bukan Presiden. yaitu pengesahan materiel oleh DPR dan pengesahan formil oleh Presiden sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (4) UUD 1945. Jika sebagian materi rancangan Undang-Undang itu. Undang-Undang yang bersangkutan diundangkan dengan cara menempatkannya dalam registrasi Lembaran Negara dengan memberikan nomer registrasi dan pembuatan salinan oleh Sekretaris Negara. Dalam hal ini. dapat dibedakan adanya dua instansi pengesahan suatu rancangan Undang-Undang.Undang-Undang. tetapi belum mengikat umum karena belum disahkan oleh Presiden serta diundangkan sebagaimana mestinya. karena DPR-lah yang memutuskan. maka rancangan Undang-Undang itu juga tidak dapat lagi diajukan dalam persidangan DPR masa yang bersangkutan. 23 Soal Persetujuan Bersama: Berkenaan dengan unsur `persetujuan bersama’ yang seharusnya tercermin dalam keputusan akhir yang diambil dalam rapat paripurna DPR. dan (b) faktor tenggang waktu 30 hari sejak pengambilan keputusan atas rancangan Undang-Undang tersebut dalam rapat paripurna DPR. Presiden/Pemerintah mempunyai posisi yang kuat karena dapat mem-`veto' dengan cara menolak untuk memberikan persetujuan atas sesuatu materi ataupun keseluruhan materi Undang-Undang yang bersangkutan. 22 Keenam. Tindakan pengesahan materiel itu dilakukan melalui pengembilan putusan akhir oleh DPR atas suatu rancangan Undang-Undang dalam persidangan atau rapat paripurna DPR. Karena itu. setelah suatu rancangan Undang-Undang mendapat persetujuan bersama yang ditandai oleh pengesahannya dalam rapat paripurna DPR. dan penerbitan Lembaran Negara yang bersangkutan sebagaimana mestinya. RUU yang telah mendapat persetujuan dalam rapat paripurna DPR itu secara materiel tidak dapat diubah meskipun Presiden tidak menyetujui isinya. RUU akan berubah menjadi resmi mengikat umum semata-mata karena (a) faktor pengesahan oleh Presiden dengan cara menandatangani naskah Undang-Undang itu. juga tidak dapat diajukan lagi untuk diatur dengan atau dalam Undang-Undang lain dalam persidangan DPR masa itu. Akan tetapi. selintas memang dapat dikatakan mengandung kontradiksi tersendiri. Dalam hal ini. atas perintah Presiden. dan secara a contrario. Presiden/pemerintah tidak mempunyai `voting rights’ sama sekali. dipihak lain. secara materiel. sedangkan tindakan pengesahan formil dilakukan oleh Presiden dengan cara membubuhkan tandatangan pada bagian akhir naskah Undang-Undang.

Timbul kesan bahwa Sekretariat Negara yang mengesahkan rancangan Undang-Undang itu menjadi Undang-Undang. sehingga kedudukan Presiden lebih kuat. tanpa disahkan oleh Presiden. Atas dasar keabsahan UndangUndang dengan prosedur kedua inilah maka Sekretaris Negara merasa berkewajiban menurut ketentuan pasal 20 ayat (5) dan sekaligus berhak untuk mengumandangkan Undang-Undang tersebut sebagaimana mestinya. maka posisi Presiden dapat menolak atau menerima sebagian atau keseluruhan. rancangan Undang-Undang tersebut tidak berubah statusnya menjadi Undang-Undang. Pada akhir anak kalimat pasal 20 ayat (5) dinyatakan. maka rancangan Undang-Undang itu sudah dengan sendirinya sah menjadi UndangUndang. jika rancangan Undang-Undang itu tidak disahkan oleh Presiden. Karena itu pasal 20 ayat (4) menegaskan bahwa “Presiden mengesahkan rancangan Undang-Undang yang telah disetujui bersama untuk menjadi Undang-Undang”. Tetapi. Kedua. pengertian yang lebih tepat untuk dikembangkan sehubungan dengan soal penandatanganan Undang-Undang adalah bahwa Presiden wajib mengesahkan rancangan Undang-Undang yang telah disetujui bersama untuk menjadi Undang-Undang sebagaimana dimaksud dalam pasal 20 ayat (4). jika rancangan Undang-Undang datang dari inisiatif DPR. 24 Penandatanganan Undang-Undang : Berkenaan dengan penandatangan naskah Undang-Undang oleh Presiden seperti dimaksud oleh pasal 20 ayat (5) UUD 1945. Alasan Presiden menolak mengesahkannya. Pertama. “Presiden Republik Indonesia”. haruslah dipahami sebagai kewajiban administratif Presiden untuk membubuhkan tandatangan. Akibatnya. Karena itu. maka pengambilan keputusan akhir dalam rapat paripurna DPR adalah mutlak pengambilan keputusan oleh DPR dimana Presiden tidak mempunyai `voting rights' sama sekali. ataupun karena telah dilampaui tenggat 30 hari seperti dimaksud dalam pasal 20 ayat (5) tersebut. tetapi Presiden tidak puas dan karena itu menolak untuk mengesahkannya dapat terjadi jika rancangan Undang-Undang tersebut datangnya dari pemerintah sebagaimana diuraikan di atas. maka ukuran yang pasti adalah tanggal. Jika rancangan Undang-Undang datang dari Presiden. tetapi subyek yang menandatanganinya adalah 25 Sekretariat Negara yang mempunyai kedudukan sebagai pembantu Presiden. timbul dua penafsiran berkenaan dengan ini.”…rancangan Undang-Undang tersebut itu menjadi UndangUndang. Karena itu. format naskah Undang-Undang tetap dipertahankan agar berkepala surat “Presiden Republik Indonsia”. yaitu setelah 30 hari sejak mendapat persetujuan bersama dalam rapat paripurna DPR. Rancangan UndangUndang tersebut baru berubah statusnya menjadi Undang-Undang setelah oleh Presiden disahkan sebagaimana mestinya. kualitas rapat paripurna DPR untuk pengambilan keputusan akhir terhadap rancangan Undang-Undang tersebut dapat dibedakan antara rancangan Undang-Undang yang berasal dari DPR atau berasal dari Presiden/Pemerintah. maka atas dasar itu Sekretariat Negara melaksanakan kewajiban untuk mengundangkannya sebagaimana mestinya. apabila rancangan Undang-Undang tersebut telah disahkan oleh Presiden dengan tandatanganya. Karena itu. bukan “Dewan Perwakilan . Artinya. Karena itu. sehingga timbul pula pertanyaan apa alas hak bagi seorang pembantu untuk atas nama Presiden mengesahkan Undang-Undang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (4)? Oleh karena itu.menyatakan “Dalam Rancangan Undang-Undang yang telah disetujui bersama tersebut tidak disahkan oleh Presiden…. baik karena telah disahkan oleh Presiden dengan cara membubuhkan tandatangannya. Kasus dimana suatu rancangan Undang-Undang telah disetujui bersama dalam rapat paripurna DPR.” Menunjukkan bahwa ada kemungkinan suatu rancangan Undang-Undang yang secara materiel telah disahkan oleh DPR tersebut tidak disahkan secara formil oleh Presiden. Presiden merasa tidak perlu lagi menandatangani naskah Undang-Undang itu sebagaimana seharusnya. format Undang-Undang yang berkepala surat dan bersubyek. bisa saja karena pertimbangan bahwa materi Undang-Undang yang bersangkutan bertentangan dengan UndangUndang Dasar.

Statusnya tidak dapat lagi disamakan dengan RUU pada tahap sebelumnya tetapi belum dapat dikatakan menjadi UU yang mengikat untuk umum karena belum disahkan sebagaimana mestinya. berada di antara keduanya. maka kop suratnya masih tetap dapat dipertahankan dengan subyek “Presiden Republik Indonesia”. Dengan perkataan lain. Karena itu. Pihak-pihak yang dapat diberi hal untuk menjadi pemohon dalam kasus pengujian Undang-Undang menurut prosedur “control a priore” atau “judicial preview”4 ini adalah Presiden. tetapi setelah disahkan oleh Presiden RUU tersebut berubah statusnya menjadi UU. menurut Undang-Undang menurut tahap-tahap pembuatannya. sudah dapat ditafsirkan bahwa Mahkamah Konstitusi berdasarkan ketentuan pasal 24C ayat (1) dapat melakukan pengujian atas “Undang-Undang”3 yang sudah disahkan secara materiel oleh DPR tetapi belum disahkan secara formil oleh Presiden itu sebagaimana mestinya. Setelah itu. statusnya tidak lagi sama dengan RUU ketika masih dalam pembahasan di DPR atau apalagi dengan RUU ketika belum dibahas di DPR. Secara materiel ia sudah menjadi UU tetapi secara formil belum. Dengan demikian. ketentuan pasal 20 ayat (4) tersebut diatas harus dipahami sebagai kewajiban bagi Presiden untuk mengesahkan rancangan UndangUndang tersebut menjadi Undang-Undang. meskipun belum disahkan secara resmi atau secara formil oleh Presiden. sejak diambilnya keputusan akhir dalam rapat paripurna DPR. maka meskipun ia tidak menyetujui isinya. Seharusnya karena pasal 20 ayat (1) menyatakan bahwa “DPR memegang kekuasaan membentuk Undang-Undang”. secara materiel rancangan Undang-Undang yang bersangkutan sudah dapat dianggap final. status naskah rancangan Undang-Undang yang telah disetujui bersama dalam forum DPR itu sebenarnya telah disahkan secara materiel oleh DPR. Jika tenggat 30 hari itu terlampaui maka RUU yang sudah mempunyai status sebagai Undang-Undang secara materiel itu berubah status dengan sendirinya menjadi Undang-Undang yang berlaku secara materiel dan formil sekaligus. untuk memberi arti pada tenggat 30 hari itu bagi Presiden. DPD ataupun kelompok anggota minoritas di DPR. rancangan Undang-Undang yang telah disahkan 27 secara materiel oleh DPR tersebut akan berlaku dengan sendirinya menjadi Undang-Undang. Maka kop surat UndangUndangpun diubah menjadi “Dewan Perwakilan Rakyat”. akibatnya. bahkan oleh Presiden sekalipun. Pentingnya pembedaan ini karena adanya ketentuan mengenai tenggang waktu 30 hari yang ditentukan dalam pasal 20 ayat (5). tidak dapat diubah lagi.Rakyat”. status rancangan UndangUndang tersebut adalah rancangan Undang-Undang (RUU). rancangan Undang-Undang dimaksud. dan atas dasar perintah dari Presiden pula. Akan tetapi. Akan tetapi. BADAN PEMERIKSA KEUANGAN . Sekretariat Negara sebagai pembantu Presiden menjalankan kewajiban yang ditentukan dalam pasal 20 ayat (5) untuk mengundangkan Undang-Undang tersebut sebagaimana seharusnya. meskipun kadang-kadang masih disebut sebagai RUU. Sampai pada tahap pambahasan di DPR. Oleh sebab itu. dapat saja dipahami bahwa rancangan Undang-Undang yang telah disahkan secara materiel oleh DPR tersebut meskipun belum disahkan oleh Presiden selama masih tenggat 30 hari. Lalu apakah arti angka 30 hari itu bagi Presiden? Jika tidak berbuat apa-apa. karena pasal 20 ayat (4) menyatakan Presidenlah yang mengesahkan rancangan Undang-Undang menjadi Undang-Undang . meskipun dalam hubungannya dengan rancangan Undang-Undang yang berasal dari pemerintah sifatnya sangat relatif. rancangan Undang-Undang yang bersangkutan dianggap telah 26 mendapat persetujuan bersama. Dari Rancangan Undang-Undang menjadi Undang-Undang Seperti dikemukakan diatas. Sedangkan statusnya sebelum disahkan oleh Presiden tetapi telah disahkan secara materiel oleh DPR. menurut pendapat saya. pada hakikatnya sudah menajdi Undang-Undang secara materiel. Atas dasar pengesahan oleh Presiden itulah maka Undang-Undang tersebut diundangkan sebagaiman mestinya. Oleh karena itu.

hal ini diatur dalam bab baru tersendiri. yaitu mencak up pengertian formil pengertian formil dan material seperti telah dikemukakan di at as. istilah yang dipakai disini adalah “pengujian atas undang-undang” denga n huruf kecil. Oleh karena itu. 28 Keuangan itu harus dilaporkan atau disampaikan kepada DPR untuk ditindak lanjuti sebagaimana mestinya.Selain lembaga-lembaga negara diatas. laporan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Badan Pemeriksa 3 Kebetulan. negara kita masih memiliki Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang juga berkaitan dengan fungsi pengawasan. sekarang berdasarkan perubahan ketiga UUD 1945 yang disahkan pada tahun 2001. karena itu. Karena itu. dan pasal 23G. dan dua ayat sehingga seluruhnya berjumlah tujuh ayat atau 7 butir ketentuan. (2) Pimpinan badan pemeriksa keuangan dipilih dari dan oleh anggota”. khususnya berkenaan dengan pengelolaan keuangan Negara. dalam rangka penataan sistem hukum kita ke depan. yaitu menyangkut perubahan bentuk organisasinya secara struktural dan menyangkut perluasan jangkauan tugas pemeriksaannya secara fungsional. Pasal 23 G menentukan: “(1) badan pemeriksa keuangan berkedudukan di ibukota negara dan memiliki perwakilan di setiap propinsi (2) ketentuan lebih lanjut mengenai badan pemeriksa keuangan diatur dengan Undang-Undang”. Semula. dan DPRD sesuai kewenangannya. kita dapat saja menutupi kelemahan pasal-pasal UUD1945 untuk mengembangkan system yang lebih utuh dengan menggabungkan tradisi `kontrol a priore’ dan `kontrol a postereore’ itu sekaligus. 29 Dari ketentuan-ketentuan tersebut diatas. Namun. Pasal ini berada dalam Bab VIII tentang hal keuangan. 4 Sistem ini sebagai sistem yang dikenal dipraktekkan oleh Counseil Constitution nel Perancis yang melakukan `Preview' yang bersifat preventif. Sebelumnya. Pasal 23F menetukan bahwa “(1) anggota badan pemeriksa keuangan dipilih oleh DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD. keberadaan badan pemeriksa ini mengalami perubahan yang sangat mendasar. dapat saja dipahami `undang-undang' dalam arti luas. tetap i juga sejak UU itu masih sebagai rancangan sudah dapat diuji oleh Mahkamah Konstitusi. Pasal 23E menentukan bahwa “(1) Untuk memeriksa pengelolaan dan tanggungjawab tentang keuangan negara diadakan satu badan pemeriksa keuangan yang bebas dan mandiri. pasal 23F. setidak-tidaknya ada dua perkembangan baru yang terjadi dengan Badan Pemeriksa Keuangan. Karena itu. Dapat dikatakan bahwa dengan adanya perubahan ketiga UUD 1945. yaitu Bab VIIA Badan Pemeriksa Keuangan yang terdiri atas pasal 23E. kedudukan kelembagaan Badan Pemeriksa Keuangan ini sesungguhnya berada dalam ranah kekuasaan legislatif. DPD. atau sekurang kurangnya berhimpitan dengan fungsi pengawasan yang dijalankan oleh Dewan Perwakilan Rakyat. (3) Hasil pemeriksaan tersebut ditindak lanjuti oleh lembaga perwakilan dan/atau badan sesuai dengan Undang-Undang”. dan diresmikan oleh Presiden. (2) Hasil pemeriksaan keuangan negara diserahkan kepada DPR. organisasi BPK hanya memiliki kantor perwakilan di beberapa propinsi saja . dewasa ini banyak negara ya ng menggabungkan sistem `preview' atau `control a priore’ ini dengan system `norm control a postereore’. ketentuan mengenai BPK itu hanya diatur sepintas lalu dalam pasal 23 UUD 1945. Isinyapun lebih lengkap yaitu masing-masing berisi tiga ayat. Tetapi. yaitu pada pasal 23 ayat (5) yang menyatakan: “untuk memeriksa tanggungjawab tentang keuangan negara diadakan suatu Badan Pemeriksa Keuangan yang peraturannya ditetapkan dengan Undang-Undang. dua ayat. Hasil pemeriksaan itu diberitahukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat”. sehingga yang diuji bukan saja peraturan yang sudah menjadi UU.

karena kedudukan kelembagaannya memang hanya terkait dengan fungsi pengewasan oleh DPR RI terhadap kinerja pemerintahan di tingkat pusat saja. diadakan satu badan pemeriksa keuangan yang bebas dan mandiri”. maka mau tidak mau kita harus mencatat sebagai perkembangan baru dalam sistem hukum administrasi keuangan negara kita di masa mendatang. Prinsip kemerdekaan hakim ini selain diatur dalam Undang-Undang pokok kekuasaan kehakiman. karena ketiganya bertentangan dengan pengertian asli UUD 1945 mengenai soal ini. sesuai dengan prinsip `independent of judiciary’ diakui bersifat mendiri dalam arti tidak boleh diintervensi atau dipengeruhi oleh cabang-cabang kekuasaan lainnya. perluasan juga terjadi terhadap lembaga atau badan-badan hukum yang manjadi obyek pemeriksaan oleh BPK. ataupun perusahaan swasta di mana didalamnya terdapat kekayaan negara. Kedua. BPKP mempunyai struktur organisasi yang menjangkau ke seluruh daerah propinsi dan kabupaten/kota di seluruh Indonesia. pasal 23F. Disini tegas dikatakan hanya satu badan yang bebas dan mandiri. Karena pelaksanaan APBN itu terdapat juga didaerah-daerah. perluasan 30 dari pemeriksaan atas pelaksanaan APBN menjadi pemeriksaan atas pelasanaan APBN dan APBD serta pengelolaan keuangan dan kekayaan negara dalam arti luas. kekuasaan kehakiman negara kita mendapat tambahan satu jenis mahkamah lain yang berada di luar mahkamah agung. tetapi terhadap instansi pemerintahan yang diperiksa. karena ketentuan baru dalam pasal 23E. FORMAT BARU KEKUASAAN KEHAKIMAN: MK dan MA Sebelum adanya Perubahan UUD. badan ini juga dapat memeriksa keuangan negara yang terdapat di dalam saham perusahaan daerah (BUMD) ataupun BUMN. BPKP itu disatu segi merupakan lembaga “internal auditor” atas kegiatan pemerintahan dan pembangunan. struktur organisasi BPK jauh lebih kecil. Sebutannya adalah Mahkamah Konstitusi (constitutional . terutama 31 pemerintah. meskipun organ terakhir ini mutlak sebagai penyimpangan. Untuk menghadapi dualisme pemeriksaan oleh BPK dan BPKP itulah maka pasal 23E ayat (1) menegaskan bahwa “untuk memeriksa pengelolaan dan tanggungjawab tetang keuangan negara. Ketiga. juga tercantum dalam penjelasan pasal 24 UUD 1945 yang menegaskan bahwa kekuasaan kehakiman tidak boleh dipengaruhi oleh cabang-cabang kekuasaan lain. kekuasaan kehakiman atau fungsi yudikatif (judicial) hanya terdiri atas badan-badan pengadilan yang berpuncak pada mahkamah agung. Dari segi jangkauan fungsi pemeriksaan tugas BPK sekarang menjadi makin luas. BPKP dengan sendirinya harus dilikuidasi dan digantikan fungsinya oleh BPK yang menurut ketentuan pasal 23G ayat (1) “…. Akan tetapi. yaitu dari sebelum hanya terbatas pada lembaga negara dan/atau pemerintahan yang merupakan subyek hukum tatanegara dan/atau subkyek hukum administrasi negara meluas sehingga mencakup pula organ-organ yang merupakan subyek hukum perdata seperti perusahaan daerah. Kerana itu. Ada tiga perluasan yang dapat dicatat disini. BPK tidak mempunyai hubungan dengan DPRD dan pengertian keuangan negara yang menjadi obyek pemeriksaan hanya terbatas pada pengertian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) saja. sekaligus merupakan lembaga `external auditor’. dan pasal 23G UUD1945 telah menentukannya secara baru. perluasan dalam arti hasil pemeriksaan yang dilakukan tidak saja dilaporkan kepada DPR di tingkat pusat tetapi juga kepada DPD dan DPRD kabupaten/kota sesuai dengan tingkatan kewenangan masingmasing.berkedudukan di Ibukota negara dan memiliki perwakilan di setiap Propinsi”. setelah perubahan ketiga UUD 1945 disahkan. Lembaga Mahkamah Agung tersebut. Lembaga baru tersebut mempunyai kedudukan yang setingkat atau sederajad dengan Mahkamah Agung. maka diperlukan ada kantor perwakilan BPK di daerah-daerah tertentu. Menurut ketentuan UU tentang keuangan negara yang berusaha menjabarkan lebih lanjut ketentuan UUD 1945 tentang Badan Pemeriksa Keuangan ini. BUMN. dibandingkan dengan Badan Pemeriksaan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) bentuk pemerintahan orde baru. Pertama. Karena itu. Namun.

ketika disepakati diadopsinya ide pembentukan Mahkamah Konstitusi dalam perubahan ketiga UUD 1945 pada tahun 2001. 33 22/1999. Perbedaan ini sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari kenyataan bahwa memang sejak sebelumnya Mahkamah Agung berwenang menguji peraturan Perundang-undangan di bawah Undang-Undang. Yang paling sering saya jadikan contoh hipotesis adalah berkenaan dengan keabsahan materiel PP No. Seseorang yang berminat untuk menjadi hakim konstitusi. Lagipula. yaitu: (a) melakukan pengujian atas konstitusionalitas Undang-Undang.court) yang dewasa ini makin banyak negara yang membentuknya di luar kerangka Mahkamah Agung (supreme court). Mahkamah Konstitusi ditentukan memiliki lima kewenangan. Italia pada tahun 1947 dan Jerman pad tahun 1948. negarawan yang menguasai konstitusi dan ketatanegaraan. 22/1999 dibandingkan dengan pasal 18 UUD 1945 dipihak lain. 110/2000 dibandingkan dengan UU No. 3 orang yang ditentukan oleh Mahkamah Agung.”. 22/1999 itu bertentangan dengan UUD 1945. dan memenuhi persyaratan kenegarawanan. sementara pada saat yang sama Mahkamah Konstitusi memutuskan UU No. dan keabsahan UU No. Karena itu. Dalam perubahan ke tiga Undang-Undang Dasar. Bahkan ketentuan demikian ditegaskan pula dalam ketetapan MPR No. serta tidak merangkap sebagai pejabat negara. dipersyaratkan harus memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela. Mahkamah Konstitusi beranggotakan 9 orang yang memiliki integritas. adil. Dengan komposisi dan kualitas anggotanya yang demikian. maka ketentuan lama berkenaan dengan kewenangan Mahkamah Agung itu dituangkan dalam rumusan ketentuan pasal 24A perubahan ketiga UUD 1945 tersebut. Mahkamah Konstitusi berdasarkan ketentuan pasal 24C ayat (1) ditentukan berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar. Diharapkan bahwa Mahkamah Konstitusi itu kelak akan benar-benar bersifat netral dan independen serta terhindar dari kemungkinan memihak kepada salah satu dari ketiga lembaga negara tersebut. setelah Austria pada tahun 1920. (c) mengambil putusan atas pendapat Dewan Perwakilan Rakyat bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden telah melakukan pelanggaran hukum ataupun mengalami perubahan sehingga secara hukum tidak memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden menjadi terbukti dan karena itu dapat dijadikan alasan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat untuk memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden dari jabatannya. Dapat dikatakan Indonesia merupakan negara ke-78 yang mengadopsi gagasan pembentukan Mahkamah Konstitusiyang berdiri sendiri ini. dan (e) memutuskan perkara berkenaan dengan pembubaran partai politik. Sedangkan dalam pasal 24A ayat (1) UUD 1945 dinyatakan “Mahkamah Agung berwenang mengadili pada tingkat kasasi. karena dapat menimbulkan perbedaan atau putusan yang saling bertentangan antara Mahkamah Konstitusi dengan Mahkamah Agung. serta latar belakang pengetahuan yang mendalam mengenai masalah-masalah ketatanegaraan. (d) memutuskan perkara perselisihan mengenai hasil-hasil pemilihan umum. Misalnya. (b) mengambil putusan atau sengketa kewenangan antar lembaga negara yang ditentukan menurut Undang-Undang Dasar. Salah satunya adalah dalam soal pembagian tugas di bidang pengujian peraturan (judicial review) atas peraturan perUndang-Undangan. Pembagian demikian sama sekali tidak ideal. Ketua dan Wakil Ketua 32 Mahkamah Konstitusi dipilih dari dan oleh anggotanya sendiri yang berasal dari 3 orang yang dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat. dapat saja terjadi Mahkamah Agung memutuskan bahwa PP No. 22/1999 di satu pihak. menguji peraturan Perundang-undangan di bawah Undang-Undang terhadap Undang-Undang …. Ada beberapa kritik yang biasa diajukan orang berkenaan dengan pembagian tugas antara Mahkamah Konstitusi ini dengan Mahkamah Agung. 110/2000 tersebut bertentangan dengan UU No. memang ada juga negara lain yang dijadikan salah sumber inspirasi juga oleh anggota . III/MPR/2000. dan 3 orang ditentukan oleh Presiden.

peradilan. yaitu Mahkamah Konstitusi Korea Selatan. Dalam konstitusi Korea Selatan. tetapi kewenangan `judicial review’ atas peraturan dibawah Undang-Undang diberikan kepada Mahkamah Agung. Mengenai Mahkamah Agung. yaitu Komisi Yudisial. kedudukan dan keanggotaan Komisi Yudisial diatur dengan Undang-Undang. Dewasa ini. jika majelis semacam ini dibentuk di lingkungan interna l Mahkamah Agung.panitia ad hoc I Badan Pekerja MPR ketika merumuskan ketentuan mengenai Mahkamah Konstitusi ini. sedangkan peradilan atas sistem hukum dan peraturan Perundang-undangan di letakkan di bawah pengawasan Mahkamah Konstitusi. (4) Susunan. menurut pendapat saya biarlah untuk semenatara waktu pembagian demikian diterima dan dipraktekkan dulu pada tahap-tahap awal pertumbuhan lembaga Mahkamah Konstitusi ini di Indonesia. dan Pengadilan Negeri adalah organisasi bawahan Pengadilan Tinggi. Meskipun lembaga baru ini tidak menjalankan kekuasaan kehakiman. Dalam pasal 24B ditegaskan: (1) Komisi Yudisial bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan Hakim Agung dan mempunyai kewenangan lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. karena kedudukannya . organisasinya terdapat struktur vertical atas bawah. keadilan bagi warga negara dapat diwujudkan secara integral di bawah fungsi Mahkamah Agung. Hal ini jelas berbeda dari pengetian yang timbul dari doktrin kebebasan atau kemerdekaan hakim. tidak ada hubungan vertical atasan dan bawahan. Dari ketentuan mengenai Komisi Yudisial ini dapat dipahami bahwa jabatan hakim dalam konsepsi UUD 1945 dewasa ini adalah jabatan kehormatan yang perlu dijaga dan ditegakkan kehormatannya oleh suatu lembaga yang juga bersifat mandiri. Pengadilan tinggi adalah organisasi bawah Mahkamah Agung. yaitu setiap individu hakim dalam menjalankan tugas utamanya sebagai hakim bersifat bebas dan merdeka tidak bertanggungjawab kepada atasannya. lingkungan peradilan militer. (3) Anggota Komisi Yudisial diangkat dan diberhentikn oleh Presiden dengan persetujuan DPR. Dengan demikian. dibedakan antara badan peradilan dari lingkungan. harus dibedakan antara organ Mahkamah dan badan-badan peradilan dengan hakim sebagai pejabat hukum dan penegak keadilan. badan-badan peradilan dalam keempat lingkungan peradilan tersebut semuanya berada di bawah Mahkamah Agung. Namun. untuk jangka panjang. tetapi keberadaannya diatur dalam UUD 1945 Bab IX tentang Kekuasaan Kehakiman. serta perilaku hakim. lingkungan peradilan agama. karena itu. maka sulit diharapkan akan efektif menjalankan fungsi pengawasan atas kehormatan hakim agung itu sendiri. banyak negara terutama negara-negara yang sudah maju mengembangkan lembaga komisi Yudisial (judicial commisions) semacam ini dalam lingkungan peradilan dan lembaga-lembaga penegak hukum lainnya maupun di lingkungan organ-organ pemerintahan pada umumnya. keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari kekuasaan kehakiman. Pembentukan lembaga baru ini dapat dikatakan merupakan pengembangan lebih lanjut ide pembentukan Majelis Kehormatan Hakim Agung yang sudah berkembang selama ini. Komisi Yudisial Selain kedua badan kekuasaan kehakiman tersebut ada lagi satu lembaga baru yang kewenangannya ditentukan dalam UUD. akan tetapi. dalam asal 24 ayat (2). memang harus dipikirkan kemungkinan mengintegrasikan seluruh sistem pengujian peraturan di bawah kewenangan Mahkamah Konstitusi. kewenangan `judicial review’ (constutitional review) atas Undang-Undang memang diberikan kepada Mahkamah Konstitusi. Terlepas dari kelemahan ini. lingkungan peradilan tata usaha negara. keleluhuran martabat. Oleh sebab itu. (2) Anggota Komisi Yudisial harus 35 mempunyai pengetahuan dan pengalaman di bidang hukum serta memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela. Namun. “kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya 34 dalam lingkungan peradilan umum. yaitu komisi Yudisial. dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi”. Hubungan antar satu hakim dengan hakim yang lain bersifat horizontal.

yang tidak independen terhadap subyek yang akan diawasi. seperti hakim konstitusi. Percampuran itu antara lain tercermin dalam konsep pertanggung-jawaban Presiden kepada MPR yang termasuk ke dalam pengertian lembaga parlemen. misalnya tidak diakitkan dengan komisi Yudisial. maka subyek yang diawasinya dapat diperluas ke semua hakim. tidak lagi perlu dipersoalkan mengenai pembedaan atau apalagi pemisahan antara fungsi kepala negara dan kepala pemerintahan. Khusus terhadap Mahkamah Agung tugas Komisi Yudisial itu dikaitkan dengan fungsi pengusulan pengangkatan Hakim Agung. Pembedaan dan pemisahan antara kedua fungsi itu hanya relevan dalam sistem pemerintahan parlementer yang 37 memang mempunyai dua jabatan terpisah. sifatnya tidak 36 murni. Disamping itu. Di samping itu. dengan empat perubahan pertama UUD 1945. dapat dikatakan bahwa secara simbolik. pada pokoknya. kedudukan Komisi Yudisial itu dapat pula diharapkan bersifat mandiri dan independen sehingga dapat diharapkan menjalankan tugasnya secara lebih efektif. Kerana itu. karena bercampur baur dengan elemen-elemen sistem parlementer. sedangkan pengusulan pengangkatan hakim lainnya. karena dianggap banyak mengandung distorsi apabila dikaitkan dengan sistem demokrasi yang mempersyaratkan adanya mekanisme hubungan `checks and balances’ yang lebih efektif di antara lembaga-lembaga negara yang ada. Sedangkan sistem pemerintahan Presidentil cukup memiliki Presiden dan Wakil Presiden saja tanpa mempersoalkan kapan ia berfungsi sebagai kepala negara dan kapan sebagai kepala pemerintahan. sistem pemerintahan yang dianut. Selain alasan yang bersifat kasuitis itu. maka anutan sistem pemerintahan kita menjadi makin tegas menjadi sistem pemerintahan Presidentil. Jawaban atas kekisruhan itu adalah munculnya keinginan yang kuat agar anutan sistem pemerintahan Republik Indonesia yang bersifat Presidentil dipertegas dalam kerangka perubahan Undang-Undang Dasar 1945. yang dinamakan Kepala Negara dalam sistem pemerintahan Presidentil itu adalah konstitusi. khususnya dengan diadopsinya sistem pemilihan Presiden langsung. jika lembaga ini dibentuk di dalam struktur Mahkamah Agung. Presiden dan Wakil Presiden cukup disebut sebagai Presiden dan Wakil Presiden saja dengan seperangkat hak dan . terutama dikaitkan dengan pengalaman ketatanegaraan ketika Presiden Abdurrahman Wahid diberhentikan dari jabatannya. dengan kemungkinan pemberian kewenangan kepadanya untuk memberhentikan Presiden dari jabatanya. Dengan perkataan lain. Dalam sistem Presidentil yang murni. sedangkan Presiden dan Wakil Presiden beserta semua lembaga negara atau subyek hukum tatanegara lainnya harusnyalah tunduk kepada konstitusi sebagai `the symbolic head of state’ itu. Kenyataan inilah yang menimbulkan kekisruhan. yaitu kepala negara dan kepala pemerintahan. KEKUASAAN PEMERINTAHAN NEGARA 1. Dengan demikian tidak perlu lagi ada pembedaan antara sekretariat negara dan sekretariat kabinet ataupun keputusan Presiden sebagai kepala negara dan keputusan Presiden sebagai kepala pemerintahan. kepala negara dari negara konstitusional Indonesia adalah Undang-Undang Dasar. Kepala Pemerintahan Eksekutif: Presiden Dan Wakil Presiden Pemerintahan Republik Indonesia berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 sering dikatakan menganut sistem presidential. prinsip “the rule of law”. Republik Indonesia berdasarkan sistem Presidentil hanya memiliki Presiden dan Wakil Presiden dengan tugas dan kewenangannya masing-masing. dan dilakukannya perubahan struktural maupun fungsional terhadap kelembagaan Majelis Permusyawaratan Rakyat. Bahkan. dalam konteks pengertian Negara Hukum. dalam perkembangan praktek ketatanegaraan Indonesia selama ini memang selalu dirasakan adanya kelemahan-kelemahan dalam praktek penyelenggaraan sistem pemerintahan Indonsia berdasarkan UUD 1945. Akan tetapi. meskipun bukan karena alasan hukum. dimata para ahli cenderung disebut `quasi presidentil’ atau sistem campuran dalam konotasi negatif. termasuk hakim konstitusi dan hakim di seluruh Indonesia.

Federal Communication Commision (FCC). organisasi Kepolisian dan Kejaksaan Agung. Yang dapat dijadikan contoh dalam hal ini. INSTRUKTUR KEMASYARAKATAN Selain struktur kelembagaan negara dan pemerintahan sebagaimana diuraikan di atas. dan lain sebagainya. Pada tingkat kedua. dalam kaitan itu muncul pula istilah `independent and self regulatory bodies’ yang juga berkembang di banyak negara. kedudukan KONSTITUSI bersifat sangat sentral. semi-administratif. Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara (KPKPN). ada pula komisi yang dibentuk hanya dengan Keputusan Presiden. yaitu semi legislatif dan regulatif. Karena itu. Kepolisian Negara (POLRI) dan Bank Indonesia sebagai bank sentral.kewajibannya masing-masing atau tugas dan kewenangannya masing-masing. bentuk keorganisasian banyak negara modern dewasa ini juga mengalami perkembangan-perkembangan yang sangat pesat. Ada tiga agenda “institutional reform” yang penting dalam soal . Konstitusi pada dasarnya merupakan KEPALA NEGARA yang sesungguhnya. dan bahkan semi yudikatif. Selain itu. Pada tingkatan pertama. Dari keempatnya. serta Bank Sentral harus dikembangkan secara independen. meskipun secara administratif tetap berada di lingkungan pemerintahan eksekutif. misalnya. Di bidang administrasi dan pelaporan transaksi keuangan dibentuk pula lembaga baru yang bernama Pusat dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) yang 39 juga ditentukan bersifat independen. Perkembanganperkembangan baru itu juga terjadi di Indonesia di tengah keterbukaan yang muncul bersamaan dengan gelombang demokratisasi di era reformasi empat tahun terakhir. Komisi Pemilihan Umum (KPU). Independensi lembaga-lembaga ini diperlukan untuk kepentingan menjamin pembatasan kekuasaan dan demokratisasi yang lebih efektif. perlu didudukkan pengaturannya dalam kerangka sistem ketatanegaraan Indonesia Modern. Komisi-komisi atau lembaga-lembaga semacam ini selalu diidealkan bersifat independen dan seringkali memiliki fungsi-fungsi yang bersifat campursa ri. yang sekarang ini telah menikmati kedudukan yang independen adalah organisasi Tentara Nasional Indonesia (TNI). betapapun juga. Lembaga-lembaga seperti ini tercatat lebih dari 30-an jumlahnya dan pada umumnya jalur pertanggungjawabannya secara fungsional dikaitkan dengan Kongres Amerika Serikat. dan sebagainya. Di Amerika Serikat. juga muncul perkembangan berkenaan dengan lembaga-lembaga khusus seperti Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM). dan sekaligus dalam kerangka pengembangan sistem hukum nasional yang lebih menjamin keadilan dan demokrasi di masa yang akan datang. dalam sistem kenegaraan yang dapat kita sebut `constitutional democratic republic’. Tidak ada keperluasn untuk membedakan kapan ia bertindak sebagai kepala negara dan kapan ia berperan sebagai kepala pemerintahan seperti kebiasaan dalam sistem pemerintahan parlementer. khususnya berkenaan dengan inovasi-inovasi baru yang tidak terelakkan. Undang-Undang tentang Penyiaran jadi disahkan. Badan dan Lembaga Eksekutif Yang Bersifat INDEPENDEN Selain lembaga-lembaga negara seperti tersebut di atas. yaitu Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang juga bersifat independen. 38 1. Oleh karena itu. Kedudukan lembaga-lembaga ini di Amerika Serikat. adalah Federal Trade Commission (FTC). muncul kesadaran yang makin kuat bahwa badan-badan negara tertentu seperti organisasi Tentara. infra struktur kemasyarakatan juga mengalami perubahan besar-besaran. tetapi pengangkatan dan pemeberhentian para anggota komisi itu ditentukan dengan pemilihan oleh Kongres. misalnya. Bahkan. keberadaan lembagalembaga seperti ini di Indonesia dewasa ini. jika nanti. Komisi Pemberantasan Korupsi. Sedangkan Kejaksaan Agung sampai sekarang belum ditingkatkan kedudukannya menjadi yang independen. Komisi Ombudsman. Komisi Persaingan Usaha Pemberantasan Korupsi (KPPU). akan ada pula komisi baru lagi. Komisi Hukum Nasional (KHN). Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR).

2. perlu diadakan pembatasan jumlah partai politik. maupun kegiatankegiatan yang bersifat pendidikan politik dan pemberdayaan anggota. disiplin internal partai perlu ditingkatkan. (b) perlunya mekanisme yang menjamin agar anggota partai politik yang melanggar disiplin partai dapat ditindak oleh pemimpinan partai yang bersangkutan yang dapat berakibat pada pemberhentian status yang bersangkutan sebagai anggota parlemen (DPR). 3 persen. semua orang diakui berhak mendirikan partai politik. UU keormasan dan juga UU partai politik sekarang cenderung melarang adanya afiliasi antara organisasi kemasyarakatan dengan partai politik. untuk memperkuat derajat pelembagaan partai politik. Beberapa kemungkinan yang dapat diterapkan ialah (a) penerapan sistem pemilihan umum yang menjamin rakyat dapat menentukan pilihannya secara langsung dengan memilih `orang' (bukan memilih tanda gambar partai) seperti yang terdapat dalam sistem yang dikenal dengan `sistem distrik’. yaitu reformasi kepartaian. Padahal. yaitu. Dengan adanya pembatasan 2 persen. demi demokrasi itu sendiri. Sistem ini dengan sendirinya akan mendorong terjadinya kerjasama. Akibatnya. ataupun 5 persen. Untuk mengatur dan mengarahkan agar kecenderungan dan nafsu orang untuk mendirikan partai politik menjadi rasional. keran politik terbuka lebar. niscaya citra demokrasi di mata rakyat juga menjadi rusak. bertentangan dengan kebutuhan untuk mengendalikan jumlah partai politik. Disamping itu. jumlah partai mestilah dibatasi. sudah tidak dapat lagi dipertahankan. UU tentang Organisasi Kemasyarakatan yang dibentuk di masa Orde Baru sebagai instrumen untuk mengendalikan dan membatasi kebebasan orang untuk berserikat dan berorganisasi dan dipaksa untuk berasas tunggal. sehingga dalam jangka panjang dapat mendorong penyederhanaan jumlah partai secara alamiah. Akan tetapi pembatasannya haruslah bersifat obyektif dan alamiah. (c) kebijakan 41 memberi bantuan kepada partai politik yang dapat memancing dan mendorong minat orang mendirikan partai dengan harapan dapat memperoleh dana bantuan dari pemerintah. ’koalisi’ atau bahkan `merger' antar partai politik. maka dengan sendirinya. Sesuai dengan jaminan konstitusional mengenai prinsip kebebasan. (b) penetuan adanya `electoral tresshold' berdasarkan hasil perolehan dukungan suara dari pemilihan umum sebelumnya. akan banyak partai politik yang membubarkan diri dengan sendirnya. Karena itu. maka jumlah yang terlalu banyak akan menurunkan citra partai itu sendiri secara keseluruhan di mata rakyat. partai politik harus mengembangkan 42 . Apabila jumlah partai politik tidak dibatasi. untuk dekat dengan rakyat. Reformasi Sistem Kepartaian Di masa reformasi. (a) sistem hukum dan etika internal perlu dibudayakan dengan memperkuat infra struktur Dewan Kehormatan yang dapat menjaga agar Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta kode etika partai politik ditegakkan dengan sebaik-baiknya. reformasi kelembagaan badan hukum (legal body).ini. dan karena itu sebaiknya dihentikan. 40 1. (c) setiap partai politik harus didorong untuk mentradisikan penyelenggaraan aktivitas rutin ke dalam. tetapi hal itu menyebabkan partai politik menghadapi kesulitan untuk akrab dengan rakyat. kepercayaan dan apresiasi publik terhadap ide demokrasi dapat mengalami kemerosotan yang pada gilirannya dapat menjadi lahan subur bagi munculnya otoriterisme ataupun totallitarianisme baru di masa depan. sehingga segala pembatas terhadap prinsip kebebasan berserikat ditiadakan. Reformasi Organisasi Kemasyarakatan Penataan infra struktur sistem politik nasional selain terkait dengan sistem kepartaian. sehingga berkembang menjadi sistem politik yang biasa dikenal dengan `multi-party system’. juga berkenaan dengan sistem keorganisasian masyarakat. Meskipun motivasi pelarangan ini nampak baik. baik kegiatan penguatan kelembagaan dan kultur demokrasi internal. reformasi keormasan. Jika legitimasi lembaga kepartaian buruk di mata rakyat dan tidak percaya. pada masa pemilihan umum berikutnya.

putusan yang akan dibahas disini hanya putusan legislatiflegi slatif saja. partai politik sebaiknya diizinkan mengembangkan organisasi afiliasi. Jika pers bebas. kita memerlukan pers yang bebas untuk mengotrol kemapan. Hal ini tidak boleh terjadi lagi di masa depan. yang berperan penting untuk memperluas kesadaran koginitif maupun perilaku budaya yang demokratis di kalangan masyarakat luas. Untuk itu. 44 Dalam arti sempit. tetap i dilarang mendapatkan bantuan dari dana APBN. Di orde baru. dan (iii) putusan judikatif atau vonis pengadilan. Karena itu. sama seperti kultur yang perlu dikembangkan dilingkungan partai politik. SISTEM HUKUM DAN SISTEM ETIKA 1. maka pers demikian bukanlah pers yang mencerahkan dan membebaskan. Untuk itu. terbuka. sebaiknya pemerintah segera mengambil inisiatif untuk memperbarui pula sistem hukum organisasi kemasyarakatan di tanah air. pendidikan politik dan komunikasi politik yang mendorong pembudayaan kehidupan demokrasi menjadi sangat mutlak dibutuhkan. baik cetak maupun elektronik. Mengapa partai harus dilarang mempunyai sayap kegiatan panti asuhan. Untuk itu. Demikian pula pers bebas dan kebebasan pers haruslah menghasilkan proses pembebasan bagi masyarakat pembacanya. Karena itu.aneka kegiatan sosial dan sebagainya. serta infra struktur kode etik organisasi perlu ditegakkan dengan sebaik-baiknya. partai tidak perlu dilarang mengembangkan sayap ormasnya masing-masing asalkan transparan. Bentuk dan Nomenklatur Hukum Dalam arti luas. `rule of the game’ dan kultur demokrasi perlu dibudayakan di dalam lingkungan organisasi kemasyarakatan. Disinilah kita menganggap penting lembagalemba ga pendidikan pada umumnya serta media massa. sistem hukum mencakup keseluruhan elemen pengertian hukum yang meliputi perangkat putusan hukum. dan memasung kreativitas pembacanya sendiri. (ii) putusan administratif berupa penetapan atau keputusan (beschikkings). diperlukan reformasi di sektor pendidikan yang dapat mencerahkan dan membebaskan warga masyarakat kita dari berbagai belenggu pemikiran mereka. yaitu yang berupa peraturan perUndang-Undangan. Pembudayaan Demokrasi Lebih dari semua tersebut diatas. Sudah tentu organisasi kemasyarakat non-partisan perlu diperkuat dan mendapat perhatian yang diprioritaskan oleh pemerintah. dan pada saat yang sama kita juga memerlukan pers yang mencerahkan. infra struktur konstitusi organisasi berupa Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. dan menjamin egilitarianisme. Pemerintah sebaiknya ditentukan dilarang memberikan bantuan kepada organ-organ ormas yang berafiliasi kepada partai. Artinya. Akan tetapi. kelembagaan hukum. Selain itu. akuntabel. dan budaya hukum. tetapi banyak ormas yang secara terselubung merupakan organ partai politik dan mendapat bantuan besar dari dana pemerintah (APBN). prinsip `rule of law’. Kebebasan pers bukanlah untuk dirinya sendiri. menghakimi. disamping memperbarui sistem hukum kepartaian. meskipun resminya dilarang. misalnya keberadaan organ sayap kegiatan sosial dan kemanusiaan seperti itu justru dapat mendorong partai politik berhubungan akrab dengan konstituennya masing-masing. tetapi bebas yang bersifat mendikte. Penyebutan istilah atau nomenklatur yang biasa digunakan berkenaan dengan bentuk-bentuk peraturan yang berisi aturan (regels) sebagai produk . Karena itu. 43 3. Disini pembahasan kita persempit pada pengertian perangkat putusan hukum yang dalam arti luas meliputi (i) putusan legislatif-legislatif berupa peraturan (regels). pada akhirnya harus kita sadari bahwa sistem domokrasi membutuhkan basis budaya yang rasional jujur. mekanisme Dewan Kehormatan internal organisasi kemasyarakatan hendaknya dapat dikembangkan menjadi mekanisme yang mentradisi di setiap lingkungan organisasi kemasyarakatan di tanah air kita.

Keputusan Ketua Komisi Pemilihan Umum. tetapi isinya bersifat mengatur. Demikian pula MPR menggunakan istilah Ketetapan MPR untuk putusan yang mengikat keluar. Sekretariat Jendral MPR-RI. dapat dikemukakan contoh mengenai formulasi pasal 2 TAP MPR No. secara keseluruhan mulai dari yang tertinggi sampai yang terendah. Putusan Mahkamah Agung. Disamping ada keputusan presiden yang bersifat administratif. 2000. ada istilah peraturan perundangan. dan Keputusan Ketua Mahkamah Agung haruslah dibedakan dengan tegas satu sama lain. diusulkan agar dimasa depan. misalnya Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat. Keputusan Ketua Mahkamah Agung. sebagainya. disusun berurutan sebagai berikut5 (1) Undang-Undang Dasar 1945 (2) Ketetapan MPR (3) Undang-Undang 5 Republik Indonesia. Keputusan Gubernur. Peraturan Komisi Pemilihan Umum dibedakan dari Keputusan Ketua Komisi Pemilihan Umum. segala produk yang bersifat mengatur kepentingan umum dituangkan dalam bentuk putusan normatif yang disebut Peraturan (regels). Sedangkan produk hukum yang tidak bersifat mengatur. seperti Ketetapan MPR tentang Pengangkatan Presiden. Istilah ketetapan MPR dipakai. Pernah juga terjadi. III/ MPR/ 2000 tentang bentuk dan hirarki peraturan perundang-undangan yang disahkan dalam Sidang Tahunan MPR tahun 2000 yang lalu. Keputusan Menteri. Padahal. melainkan hanya bersifat administratif. dalaam pasal 4 ayat (2) TAP MPR itu . Begitu pula Bank Indonesia mengeluarkan Surat Edaran tetapi isinya bersifat mengatur. Demikian pula peraturan Mahkamah Agung. Mahkamah Agung mengeluarkan Surat Edaran. disebut Peraturan Perundang-undangan Republik Indonesia. dan sebagainya Namun bentuk-bentuk produk Keputusan seperti tersebut haruslah dibedakan dengan tegas dari produk yang berisi pengaturan seperti peraturan Menteri harus dibedakan dari Keputusan Menteri. ketetapan. Putusan Mahkamah Agung adalah vonis kasasi. Kalaupun lembaga-lembaga seperti legislatif ataupun lembaga judikatif hendak mengeluarkan produk yang bersifat administratif. dan keputusan MPR unttuk putusan yang hanya mengikat ke dalam. melainkan hanya berupa penetapan administratif (beschikking). baik menyangkut isinya yang besifat mengatur ataupun yang tidak mengatur ataupun yang tidak mengatur sama sekali. seperti Keputusan Presiden. sifat isinya sama sekali tidak mengatur. Putusan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia. Keputusan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat. ada istilah peraturan perundang-undangan. Keputusan Bupati/Walikota dan lain-lain. Untuk memperlihatkan betapa pentingnya dan perlunya kita mengadakan penataan kembali atas penggunaan nomenklatur-nomenklatur hukum teersebut. Misalnya. Peraturan Bank Indonesia (PBI) harus dibedakan dari Keputusan Gubernur Bank Indonesia. sedangkan Keputusan Ketua Mahkamah Agung adalah penetapan yang bersifat administratif yang berkenaan dengan masalah administratif internal organisasi Mahkamah Agung. Peraturan-peraturan itu. peraturan Mahkamah Agung adalah produk “regeling”. bentuk-bentuk peraturan yang dijadikan pedoman dalam pembuatan aturan hukum di bawahnya. dapat dikatakan kurang mengikuti standar yang baku. Jakarta. ada pula Keputusan Presiden yang bersifat mengatur. Dalam TAP MPR itu. dan penetapan. Keputusan Gubernur Bank Indonesia. Keputusan Menteri.kegiatan pengaturan. keputusan. hal 41 46 (4) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (5) Peraturan Pemerintah (6) Keputusan Presiden (7) Peraturan Daerah Berdasarkan hirarki di atas. Untuk menerbitkan penggunaan istilah-istilah itu. sebaiknya disebut dengan istilah Keputusan. selama ini. maka hal itu 45 dapat disebut dengan Keputusan juga. padahal istilah yang dipakai Keputusan Presiden.

maka ketentuan pasal 4 ayat (2) tersebut tidaklah bersifat parallel. Menteri. tidak boleh bertentangan dengan ketentuan yang termuat dalam tata urutan perundang-undangan tersebut: Kedua. Oleh karena itu. demikian apabila kita memahami perbedaan antara arti peraturan (regels) dari keputusan (beschikkings). 43 47 kasasi Mahkamah Agung. dibawahnya adalah Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. badan. maka didalamnya dapat dikatakan mengandung dua norma sekaligus. Peraturan yang tertinggi adalah Undang-Undang Dasar. “peraturan” atau “keputusan” misalnya. “mengatur”. tent u dapat timbul masalah. mulai dari tingkatan tertinggi sampai yang paling rendah. III/MPR/2000 tersebut tidaklah bersifat paralel. dan karena itu tidak dapat ditafsirkan mengandung kedua norma itu secara parallel pula. Pada level Presiden terdapat dua bentuk peraturan. sebaiknya digunakan nomenklatur atau istilah “perturan” yang berasal dari kata “atur”. yaitu Peraturan Pemerintah dan Peraturan Presiden yang sebaiknya dibedakan dari Keputusan Presiden. lembaga atau komisi yang setingkat yang dibentuk oleh pemerintah. Pembedaan ini 48 sebaiknya secara konsisten dipakai untuk membedakan peraturan dari keputusan administratif. Sebagian besar kementerian atau Departemen Pemerintah biasa menggunakan istilah Keputusan untuk Dokumen yang berisi aturan hukum yang diberlakukan umum.. Karena itu. Bank Indonesia juga menggunakan istilah yang sama. Mahkamah Agung dewasa ini biasa menggunakan istilah “Peraturan Mahkamah Agung” (PERMA) untuk menyebut peraturan yang ditetapkannya dalam rangka melaksanakan undang-undang.6 Apabila rumusan pasal 4 ayat (2) ini dibaca secara harfiah. maka dimasa depan. yaitu Peraturan Bank Indonesia. “memutuskan”. perkataan “Peraturan atau Keputuan” dalam ketentuan pasal 4 ayat (2) tersebut seyogyanya tidak dipahami bersifat parallel. yaitu: Pertama. Untuk produk yang bersifat mengatur (regeling) yang berisi aturan hukum (regels). Akan tetapi. tidak boleh bertentangan dengan ketentuan yang termuat dalam tata urut peraturan perundang-undangan ini. lembaga atau komisi yang setingkat yang dibentuk oleh pemerintah. Penggunaanya sebagai subyek kalimat yang terkait dengan kata-kata selanjutnya tergantung kepada kenyataan prakteknya dilapangan. jika ketentuan pasal 4 ayat (2) TAP MPR tersebut diatas diartikan demikian. Beberapa badan atau lembaga seperti misalnya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia juga biasa menggunakan istilah Keputusan Ketua LIPI saja untuk produk hukum yang berisi aturan (regels). hal. menteri tidak selalu menggunakan istilah peraturan. Padahal. penggunaan kata “keputusan atau peraturan” dalam ketentuan pasal 4 ayat (2) Ketetapan No. nonmeklatur apakah yang dipakai oleh organ atau lembaga yang menetapkannya. Badan Pemeriksa Keuangan. Jika kedua norma tersebut dipahami bersifat parallel. segala keputusan yang ditetapkan oleh badan-badan atau lembagalembaga tersebut tidak boleh bertentangan dengan ketentuan yang termuat dalam tata urutan peraturan perundang-undangan tersebut. segala peraturan yang ditetapkan oleh Mahkamah Agung. penggunaan istilah atau nomenklatur hukum ini seyogyanya ditertibkan. Bank Indonesia. Badan Pemeriksa Keuangan. misalnya. Demikian pula dengan di tingkat propinsi harus dibedakan antara Peraturan . Namun. dikatakan bahwa “Keputusan Mahkamah Agung tidak boleh bertentangan dengan peraturan Pemerintah ataupun dengan Keputusan Presiden”. Untuk mengatasi kekisruhan dan kemungkinan salah pengertian berkenaan dengan hal itu.menentukan: “Peraturan atau Keputusan Mahkamah Agung. badan. “pemutusan” dan “keputusan” yang bersifat administratif atau dalam bahasa Belanda disebut “beschikking”. Sedangkan penetapan-penetapan yang bersifat administratif dapat terus disebut dengan kata “keputusan” yang berasal dari kata “putus”. Adalah malapetaka yang luar biasa. Bank Indonesia. “putusan”. Menteri. istilah Keputusan Mahkamah Agung itu selama ini mempunyai konotasi pengertian yang terkait dengan putusan atau vonis 6 Ibid. “aturan” dan “peratuan”.

sejauh menyangkut kebutuhan regulasi yang bersifat internal. pembedaan antara peraturan umum dan peraturan khusus juga penting. Disamping itu. yaitu sebagai berikut: 1 Peraturan Perundang-undangan yang bersifat umum: a) Undang-Undang Dasar dan Perubahan Undang-Undang Dasar. diatas diadakan pembedaan yang tegas antara peraturan dengan keputusan pembedaan antara peraturan Perundang-undangan dan keputusan administratif sangat penting karena peraturan Perundang-undangan yang berisi norma-norma yang bersifat abstrak dan umum dapat menjadi obyek “judicial review”. masih dapat 50 dipersoalkan bahwa apabila lembaga-lembaga dimaksud ditentukan memiliki status sebagai lembaga independen. karena peraturan umum tidak boleh melanggar prinsip hirarki norma sesuai dengan tata urutan peraturan Perundang-undangan yang ditentukan: .Daerah. sedangkan keputusan yang berisi norma yang bersifat konkrit dan individuil hanya dapat dijadikan obyek peradilan tata usaha negara. diusulkan dibedakan antara peraturan umum dan peraturan yang bersifat khusus. meskipun UU tidak secara tegas memberikan kewenangan semacam itu. tergantung kepada sejauhmana Undang-Undang mendelegasikan kewenangan semacam itu secara tegas. Peraturan Gubernur dari keputusan Gubernur. tentu saja. Namun demikian. b) Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang (PERPU) serta peraturan lain yang setingkat dengan UndangUndang. Selanjutnya. yaitu Ketetapan-Ketetapan MPR dan MPRS yang bersifat mengatur (regels) c) Peraturan Pemerintah dan Peraturan Presiden d) Peraturan Menteri atau Pejabat setingkat Menteri e) Peraturan Daerah Propinsi f) Peraturan Gubernur g) Peraturan Daerah Kabupaten/kota h) Peraturan Bupati/Walikota 2 Peraturan perUndang-Undang yang bersifat khusus: 49 a) Peraturan Lembaga Negara (Lembaga Tinggi Negara) setingkat Presiden: (i) Peraturan Dewan Perwakilan Rakyat (ii) Peraturan Dewan Perwakilan Daerah (iii) Peraturan Mahkamah Agung (iv) Peraturan Mahkamah Konstitusi (v) Peraturan Komisi Yudisial (vi) Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan b) Peraturan Lembaga Pemerintahan yang bersifat khusus (independent) (i) Peraturan Bank Indonesia (ii) Peraturan Kejaksaan Agung (iii) Peraturan Tentara Nasional Indonesia (iv) Peraturan Kepolisian Republik Indonesia c) Peraturan Lembaga-Lembaga Khusus yang bersifat independent: (i) Peraturan Komisi Pemilihan Umum (ii) Peraturan Pemberantasan Korupsi (iii) Peraturan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (iv) Peraturan Komisi Penyaran Indonesia (v) Peraturan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (vi) Peraturan komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (vii) Dan sebagainya Kewenangan regulatif yang dimiliki oleh lembaga-lembaga khusus tersebut di atas. serta Peraturan Daerah dan Peraturan Bupati/Walikota dari Keputusan Bupati/Walikota. 2 Struktur atau Herarki Peraturan PerUndang-Undangan Tata urut peraturan Perundang-undangan dimasa depan. maka sudah dengan sendirinya pengaturan yang bersifat internal itu dapat dilakukan oleh badan yang bersangkutan.

Ada tiga cara untuk membatalkan berlakunya Ketetapan-Ketetapan MPR/MPRS yang sudah ada dan sampai sekarang masih banyak berlaku mengikat tersebut. pencabutan Ketetapan MPR hanya dapat dilakukan dengan Ketetapan MPR Pula. jika penijauan itu dilakukan. Di bawah UUD hanya ada UU dan peraturan-peraturan yang lebih rendah. Ketiga. perlu dipertimbangkan adanya cara kedua dan ketiga untuk mencabut danmenghapuskan keberadaan ketetapan MPR sama sekali dari susunan dan bentuk hirarki peraturan Perundang-undangan Republik Indonesia. Pertama. yaitu Peraturan Pemerintah pengganti Undang-Undang (PERPU) dan ketetapan MPR/MPRS. ketetapan-ketetapan MPR/S tersebut dicabut oleh DPR bersama Presiden dengan menetapkan Undang-Undang yang mencabutnya atau mengaturnya ketentuan yang berbeda dari apa yang diatur dalam ketetapan-ketetapan MPR/MPRS tersebut. tidak perlu . meskipun peraturan Bank Indonesia tidak berada dalam derajat yang sama dengan peraturan pemerintah. Kelemahan cara ini adalah bahwa peninjauan tersebut sebaiknya tidak dilakukan serentak untuk seluruh Ketetapan MPR/MPRS. yaitu bahwa norma hukum yang bersifat khusus dapat mengabaikan norma hukum yang bersifat umum. 51 Dari tata urutan peraturan umum tersebut di atas. III/MPR/2000. Ketetapan-ketetapan MPR/MPRS tersebut sebaiknya ditinjau atau di review oleh Mahkamah Konsitusi atau sebelum Mahkamah Konstitusi terbentuk ditinjau atau direview oleh Mahkamah Agung melalui mekanisme “Judicial review” atas Konstitusionalitas Ketetapan MPR/MPRS. maka tidak mudah untuk meniadakannya begitu saja. Lagipula. Misalnya. Di bawahnya ada Undang-Undang dan peraturan yang sederajat dengan UndangUndang. Perbedaan antara materi Peraturan Bank Indonesia dengan materi Peraturan Pemerintah ataupun materi Peraturan Presiden (KEPPRES) tidak dapat dijadikan alasan oleh hakim untuk melakukan pengujian materi (judicial review secara materiel) atas peraturan Bank Indonesia (PBI) tersebut terhadap PP. jelas sekali perbedaannya dari keputusan administratif. Perpu ditempatkan secara keliru pada tata urut ke-4 di bawah Undang-Undang yaitu berfungsi sebagai Undang-Undang darurat (emergency law) seperti istilah yang dipergunakan dalam konstitusi RIS 1949 ataupun UUDS 1950. meskipun kedudukannya memang nampak lebih tinggi daripada PBI. Karena itu. Kedua. Oleh sebab itu. Akan tetapi. Bentuk peraturan yang paling tinggi adalah Undang-Undang Dasar dan Perubahan Undang-Undang Dasar. Keduanya tidak saling berhubungan satu sama lain dan karena itu tidak dapat dinilai berdasarkan ketentuan tata urut peratura n PerUndang-Undangan. maka keberadaan Ketetapan MPR/MPRS yang masih ada dan masih berlaku selama ini. untuk masa mendatang tidak dapat dipertahankan lagi. kita tetap menghadapi persoalan dengan status hukum 52 Ketetapan MPR terakhir yang mencabut Ketetapan-ketetapan MPR/MPRS yang ada itu. tetapi baik peraturan pemerintah (PP) maupun peraturan Bank Indonesia (PBI) dapat sama-sama ditetapkan untuk atau dalam rangka melaksanakan Undang-Undang.sedangkan peraturan yang bersifat khusus tunduk kepada prinsip “lex spesialis derogat lex generalis”. Sedangkan ketetapan MPR/MPRS yang selama ini dan juga dalam TAP III /MPR/2000 tersebut ditempatkan di atas Undang-Undaang tetapi dibawah Undang-Undang Dasar. dapat menyebabkan terjadinya kekosongan hukum yang menimbulkan ketidakpastian hukum. Dalam rumusan pasal 2 TAP No. karena perubahan ketatanegaraan setelah perubahan keempat UUD 1945. karena ketetapan MPR/MPRS itu sejak tahun 1960 sudah berjumlah cukup banyak. Pencabutan seluruh Ketetapan MPR/MPRS yang ada secara serentak dalam waktu yang bersamaan. Melalui kedua prosedur ini. Dimasa depan MPR tidak lagi berwenang mengeluarkan produk peraturan selain UUD dan Perubahan Undang-Undang Dasar. ketetapanketetapan MPR/MPRS tersebut dicabut oleh MPR sendiri melalui mekanisme peninjauan kembali atau “legislatif review” dengan menilainya berdasarkan ukuran ketentuan UUD.

dipersoalkan, karena tokh pada waktunya akan menghilang dengan sendirinya secara alamiah tanpa harus ditinjau satu persatu dan dicabut secara khusus. Sesuai dengan perkembangan kebutuhan, pengeturannya dapat diperbaiki melalui Undang-Undang, dan pelaksanaannya dalam praktek, apabila dinilai menyimpang atau bertentangan dengan UUD, maka ketetapan MPR/S tersebut dapat diajukan pembatalannya kepada Mahkamah Konstitusi yang melakukan Pengujian sebagaimana mestinya. Namun demikian, cara kedua dan ketiga ini hanya dapat dilakukan apabila apa penegasan hanya berstatus hukum Ketetapan MPR/S tersebut selanjutnya adalah setingkat dengan UndangUndang. Dengan demikian, Ketetapan MPR/S termasuk ke dalam kategori peraturan yang dapat dijadikan objek “judivial review” oleh Mahkamah Konstitusi, atau menjadi peraturan yang atas inisiatif Presiden ataupun DPR dapat diubah sebagaimana mestinya dengan Undang-Undang. Untuk itu, 53 sebaiknya status hukum Ketetapan MPR/S tersebut dicantumkan tegas dalam Aturan Peralihan Undang-Undang Dasar7. Selanjutnya dibawah Undang-Undang, terdapat Peraturan Pemerintah yang ditetapkan dalam rangka menjalankan atau dalam rangka melaksanakan perintah Undang-Undang. Jika pembentukan Undang-Undang biasa disebut sebagai kegiatan legislatif pembuatan Peraturan Pemerintah ini dapat disebut sebagai kegiatan regulatif (pengaturan). Kewenangan regulatif ini berada ditangan Presiden8 dan bersumber dari kewenangan yang lebih tinggi, yaitu kewenangan legislatif yang berada di tangan Dewan Perwakilan Rakyat9. Dibawah peraturan Pemerintah, terdapat Peraturan Presiden yang selama ini biasa disebut Keputusan Presiden (KEPPRES). Namun, untuk menerbitkan penggunaan istilah, saya mengusulkan nomenklatur Keputusan Presiden itu dibatasi hanya untuk penetapan yang bersifat administratif saja (beschikking). Sehingga jelas bedanya. Keputusan Presiden dapaat dijadikan objek peradilan tata Usaha Negara, sedangkan Peraturan Presiden dapat dijadikan objek “judicial review” oleh Mahkamah Agung. Dengan demikian, tidak perlu lagi adanya pengertian mengenai Keputusan Presiden yang bersifat mengatur (regeling). Peraturan Presiden juga dapat dibedakan dari Peraturan Pemerintah. Peraturan pemerintah ditetapkan untuk menjalankan Undang-Undang, sedangkan Peraturan Presiden ditetapkan dalam rangka kewenangan Presiden untuk menetukan `policy rules’ atau `beleid regels’ sesuai dengan prinsip `frijsermessen' yang pada pokoknya memberikan ruang gerak kepada pemerintah eksekutif untuk mengatur dan menetukan sendiri prosedur-prosedur untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan yang dibuatnya sendiri. 7 Jimly Asshiddiqie, Konsolidasi Naskah UUD 1945 Setelah Perubahan Keempat, Pusa t Studi Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Unversitas Indonesia, Jakarta, 2002, lihat foto copy No. 136, hal. 63-64 8 Pasal 5 ayat (2) UUD 1945 Menentukan: Presiden Menetapkan Peraturan Pemerintah Untuk Menjalankan Undang-Undang Sebagaimana Mestinya. 9 Pasal 20 ayat (1) UUD 1945 menentukan: Dewan Perwakilan Rakyat Memegang Kekuas aan Membentuk Undang-Undang 54 Prinsip-prinsip pengeturan tersebut di atas terdapat pula di lingkungan pemerintah daerah. Di daerah juga perlu dibedakan antara produk legislatif berupa Peraturan Daerah dari produk regulatif berupa Peraturan Gubernur, Peraturan Bupati, dan Peraturan Walikota, Peraturan Gubernur, Peraturan Bupati, Peraturan Walikota juga harus dibedakan dari Keputusan Gubernur, Keputusan Bupati dan Keputusan Walikota. Disamping itu, ada pula beberapa organ atau lembaga yang bersifat indepeden yang juga diberikan kewenangan regulatif, yaitu seperti Mahkamah Agung, Badan Pemeriksa Keuangan, Bank Indonesia, Komisi Pemilihan Umum, Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara, dan sebagainya. Sejauh menyangkut kewenangan

regulatif, lembaga-lembaga independen ini dapat menetapkan sendiri peraturan internal yang bersifat khusus dalam rangka menjalankan Undang-Undang. Tidak perlu dipersoalkan apakah tingkatannya sederajat dengan peraturan Pemerintah atau tidak, karena sifatnya khusus dan tunduk kepada Prinsip `lex specialis derogat lex generalis’. Dengan demikian, lembaga-lembaga atau organ-organ tersebut dapat menjalankan tugasnya secara independen tanpa harus tunduk kepada pengaturan regulatif oleh pemerintah berupa Peraturan Pemerintah ataupun Peraturan Presiden. Namun demikian, disamping berwenang mengeluarkan peraturan, lembaga-lembaga atau organ-organ independen juga berwenang menetapkan keputusan yang bersifat administratif dan disebut Keputusan Ketua BPK, Keputusan Gubernur Bank Indonesia, Keputusan Ketua KPU, dan seterusnya. Bentuk-bentuk keputusan demikian itu bersifat administratif sebagai produk `beschikking' yang tetap harus tunduk kepada peraturan yang berlaku dan mengikat bagi para pejabat yang bersangkutan. Terhadap semua jenis produk hukum tersebut, baik berupa peraturan (regels) maupun berupa keputusan (beschkiking) dapat dilakukan perlawanan atau gugatan hukum apabila hal itu dinilai bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum dan keadilan. Yang pertama 55 dapat dilawan dengan gugatan atau permohonan “judicial review”, sedangkan yang kedua dapat dilawan dengan mengajukan gugatan melalui pengadilan tata usaha negara. Dengan demikian jelas perbedaan antara mana yang produk legislatif dan yang mana yang merupakan produk regulatif sebagai produk pengaturan dan dapat disebut sebagai peraturan, dan yang mana pula yang merupakan produk penetapan administratif berupa keputusan yang bersifat `beschikking'. Seperti dikemukakan di atas, yang berbentuk peraturan dapat dijadikan objek `judicial review’10, sedangkan yang berbentuk keputusan dijadikan objek peradilan tata usaha. 3. `The Rule of Law and The Rule of Ethics’ Salah satu ciri dari `good governance” adalah prinsip ` the rule of law’ yang harus digandengkan pula sekaligus dengan prinsip `the living ethics’. Sebagai sarjana hukum saya biasa membanggakan peranan hukum dalam mengatasi semua persoalan dalam kehidupan. Akan tetapi, perlu disadari bahwa hukum (buatan manusia) bukanlah segala-galanya. Disamping norma hukum, kita masih memerlukan norma etika-moral dan bahkan norma agama untuk keperluan mengatur, mengendalikan, dan mendorong dinamika kehidupan bersama umat manusia. 10 Sesuai dengan ketentuan pasal 24C ayat (1) jo Pasala 24A ayat (1), Mahkamah K onstitusi berwenang menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar, sedangkan Mahkamah Agung menguji Peraturan Perundang-undangan di bawah Undang-Undang Pasal 24C ayat (1) menyatakan: “ Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan ter akhir yang putusannya bersifat final untuk menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undan g Dasar, Memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan o leh Undang-Undang Dasar, memutuskan pembubaran partai politik, dan memutuskan perselisihan tentang hasil pemilihan umum, sedangkan pasal 24A ayat (1) menyatak an: “Mahkamah Agung berwenang mengadili pada tingkat kasasi, menguji peraturan perunda ngundangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang, dan mempunyai wewenang lainnya yang diberikan oleh Undang-Undang”, lihat juga footnote ke- 96 Jimly Asshi ddiqie, Konsolidasi Naskah UUD 1945 Setelah Perubahan Keempat, Op.Cit, hal. 40-41 56 Mengenai prinsip `the rule of law’, dapat diketakan bahwa sebagai ide ia telah diadopsikan di Indonesia sejak sebelum kemerdekaan, inilah yang disebut

oleh `the founding fathers and mother’ dengan prinsip “rechtsstaat” menurut istilah Jerman. Pada awalnya didirikan, yaitu Republik Indonesia. Kurang lebih sama dengan prinsip `good governance’, belum dikaitkan dengan prinsip-prinsip yang juga harus diterapkan di lingkungan organisasi-organisasi non negara sekarang. Prinsip `rule of law’ itu juga perlu diterapkan di lingkungan yang lebih luas dari hanya organisasi negara. Dimanapun juga, yang harus dianggap sebagai `pemimpin' yang utama bukanlah orang, tetapi sistem aturan atau norma, yaitu `the rule of law and not of man’. Seperti diketahui, sejak sebelum Indonesia Merdeka diproklamasikan, perdebatan tentang bentuk dan bangunan cita-cita kenegaraan yang hendak dibangun di kalangan `the founding fathers’ pada tahun 1945 sudah menempatkan cita-cita kenegaraan Indonesia sebagai satu Negara Hukum (rechtsstaat). Meskipun perkataan rechtsstaat itu sendiri kemudian tidak dicantumkan secara resmi dlam pasal UUD 1945, tetapi dalam rangka penyusunan UUD 1945, konsepsi negara hukum itu jelas mewarnai perdebatan di antara para anggota BPUPKI. Bahkan, istilah rechtsstat itu kemudian di cantumkan dalam penjelasan tentang Undang-Undang Dasar 1945 yang disusun kemudian. Mungkin kenyataan tidak tercantumnya perkataan Negara Hukum itu dalam pasal-pasal UUD 1945 dapat dikatakan sebagai kealpaan tersendiri. Akan tetapi, sebagai gagasan, konsep Negara Hukum itu. Akan tetapi sebagai gagasan, konsep Negara Hukum itu bukanlah sesuatu yang asing di antara pendiri republik ini. Keakraban para pendiri Republik Indonesia dengan konsepsi Negara Hukum itu tercermin kemudian dalam rumusan Konstitusi RIS pada tahun 1949, dan demikian pula dalam rumusan UUDS pada tahun 1950. Keduanya mencantumkan dengan tegas perkataan Indonesia sebagai Negara Hukum itu 57 dalam pasal-pasalnya. Sekarang, dalam rangka perubahan UUD 1945, ketentuan mengenai hal itu juga sudah diadopsikan, yaitu dalam rumusan pasal 1 ayat (3) hasil perubahan Ketiga UUD 1945, yaitu: “Negara Indonesia adalah Negara Hukum”. Dalam perkataan bahasa Jerman, konsepsi negara hukum itu disebut “Rechtsstaat” yang dalam bahasa Inggrisnya disebut “the rule of law”. Seperti kemudian berkembang menjadi jargon, konsepssi negara hukum ini disebut pula dengan istilah “the rule of law, and not of man” dalam arti bahwa suatu kepemimpinan dalam pemerintahan yang sebenarnya adalah terdapat pada hukum, bukan pada orangnya. Artinya pemimpin suatu negara itu sendiri pada hakikatnya adalah hukum, bukan pribadi orang. Hukum disini dilihat sebagai satu kesatuan sistem aturan yang berpuncak pada konstitusi. Karena itu, sesuai dengan prinsip supremasi hukum dan supremasi konstitusi, pemimpin kita sebenarnya dalam setiap negara hukum adalah konstitusi (constitution), bukan pribadi Presiden ataupun pribadi Raja. Sekarang, kita harus menerapkan prinsip demikian dalam seluruh kegiatan bermasyarakat dan berbangsa dalam berorganisasi. Sebagai warga negara kita diatur dan terikat pada “code of law”, yaitu kode hukum negara: tetapi pada saat yang sama sebagai warga atau anggota organisasi, perilaku berorganisasi kita diikat oleh Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, atau Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga yang berlaku di lingkungan organisasi kita itu. Peraturan-peraturan yang bersifat internal keorganisasian itu juga mempunyai sifat hukum yang mengikat, dan karena sifatnya dapat pula kita sebut sebagai `code of conduct’, atau lebih tepatnya dapat pula disebut `code of organizational conduct’. Dengan demikian, kita mengenal adanya `code of law’ dan `code of conduct’ yang harus ditaati oleh setiap orang yang berorganisasi. Norma-norma aturan itulah yang harus ditempatkan pada tempatnya yang tertinggi dalam apa yang kita sebut dengan prinsip `the rule of law’ tersebut diatas. 58 Namun demikian, penting disadari bahwa hukum yang merupakan buatan manusia bukanlah segala-galanya. Selain hukum, kita memerlukan norma etika. Keduanya harus berjalan seiring dan sejalan secara fungsional dalam upaya membangun peri kehidupan yang menerapkan prinsip `good governance’, baik

Hal. Khusus berkenaan dengan pegawai negeri yang terlibat dalam kegiatan partai politik seperti juga terjadi di beberapa negara seperti Jerman. Semua itu sangat membantu proses pembudayaan etika dalam peri kehidupan bernegara dan dalam penyelenggaraan negara secara keseluruhan. juga terdapat Komisi Etika (Commttee on Ethics)yang terdir i atas lima orang komisioner (Senator) yang bekerja profesional12. Di negara-negara maju seperti Amerika serikat-pun soal ini sudah dianggap lumrah dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian. di lingkungan Mahkamah Agung Amerika Serikat terdapat pula “Committe on Codes of Conduct”. termasuk Plenary Meeting ke-82 PBB. saya sendiri pernah berkunjung dan menjadi `Visiting S cholar’ selama beberapa hari di Sekretariat Komisi Etika Senat AS ini dan sangat terkesa n dengan kewibawaan komisi ini di mata para senator Amerika Serikat 59 dan/atau perbuatan tercela atau yang dianggap bertentangan dengan kode etika para senator. di DPR (House of Representative). 12 Desember 199611. Sebelum segala sesuatu bersangkutan dengan hukum. termasuk surat kaleng sekalipun yang berkenaan dengan laporan tentang perilaku menyimpang 11 United Nation. . Disamping itu. Kantor inilah yang menangani segala urusan yang berkenaan dengan berbagai konflik kepentingn yang terjadi di kalangan pejabat dan pegawai negeri federal. A/Res/51/59. jika etika tegak dan berfungsi baik maka mudah diharapkan bahwa hukum juga dapat ditegakkan sebagaimana mestinya. sistem etika sudah lebih dulu menanganinya. 1997. Strate gi Pemberantasan Korupsi Nasional. maka di Amerika Serikat dibentuk `US Office of Special Council” yang menanganinya sehingga tidak terjadi konflik kepentingan antara statusnya sebagai pegawai negeri dan statusnya sebagai anggota partai politik. and employees of the United States House of Representatives”. juga ada “The Committe on Standarts of Official Conduct” yang bertugas menegakkan aturan-aturan etika yang berlaku yang tercantum dalam “Ethics Manual for Members. Lihat Badan Pengawas Keuangan Dan Pembangunan. Kebijakan-kebijakan yang berkenaan dengan norma etika dan aturan perilaku di kalangan hakim dan pegawai lembaga pengadilan dikembangkan melalui “judicial Conference Committe on Codes of Conduct”yang tersendiri. paa pejabat dan pegawai di lingkungan pemerintahan federal dikendalikan oleh `The Office of Goverment Ethics’ yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang tentang `Ethics in Goverment” pada tahun 197813. dilingkungan pemerintahan eksekutif. Jakarta. kita juga harus membangun dan menegakkan sistem etika dalam kehidupan beroraganisasi warga masyarakat dan warga negara kita.162 12 Pada bulan Oktober 2001. baik di lingkungan `senate' maupun ` House of Representative’ (DPR) dibentuk satu `Standing Komisi’ yang tersendiri. Boleh dikatakan. Seperti di senat. Di Kongres Amerika Serikat. Semua jabatan-jabatan publik yang pejabatnya ditetapkan dengan Keputusan Presiden Amerika Serikat tetapi proses pengangkatannya harus melalui konfirmasi ataupun persetujuan Kongres . Fifty First S ession Agenda Item 101 Resolution Adopted By The General Assembly (On The Report Of The Third Committee (A/51/610)51/59. General Assembly. Ide pokoknya adalah disamping membangun sistem hukum dan menegakkan hukum. Edisi Maret 1999. diharuskan memeriksakan dulu kekayaan pribadinya pada kantor urusan etika ini sebelum berkas-berkasnya diajukan kepada Kongres . Di Senat.dalam lapisan pemerintahan dan kenegaraan (supra struktur ) maupun dalam lapisan kemasyarakatan (infra struktur ). sehingga diharapkan beban sistem hukum tidak terlalu berat. yang tidak diperiksa secara sungguh-sungguh oleh komisi ini. tidak ada satu surat pengaduan-pun. Pentingnya etika publik dan satuan perilaku di kalangan pejabat publik ini juga terus diperbincangkan serius dan disepakati dalam berbagai forum dunia. tidak semua persoalan harus ditangani oleh dan secara hukum. 28 January. Sementara itu. Officers.

Tim OECD juga telah melakukan pengkajian mendalam mengenai berbagai aspek berkenaan dengan system kode etika di sektor publik ini. Padahal. yaitu lembaga yang memang bersifat swadaya untuk misi mengembangkan masyarakat (community develomen t). seharusnya dibedak an antara pengertian (a) LSM sebagai lembaga yang sungguh-sungguh merupakan lembaga swadaya masyarakat. dan ba nyak lagi lembaga-lembaga atau organisasi-organisasi yang memang hidup mandiri. Tentu saja. sayangnya. Di lingkungan masyarakat madani dewasa ini berkembang pesat peranan kalangan organisdasi non-pemerintah (non govermental Organization)15 yang 14 OECD Improving Ethical Conduct in the public Service. Le mbagalembaga seperti inilah yang biasa disebut dengan salah kaprah sebagai LSM dan Ornop. pengertian organisasi non pem erintah (ornop) ini cenderung direduksikan dan dimonopolikan makna hanya oleh segelilint ir organisasi yang biasa disebut LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) atau menyebut dir inya ORNOP (Organisasi Non Pemerintah) dalam arti sempit. tidaklah bersifat swadaya. seperti misalnya Nahdatul Ulama ataupun Muhammadiyah. `code of organization conduct’ dan `code of the state’s law’ yang efektif dan berkeadilan. Kepentingan umum tidak selalu tercermin dalam apa yang akan kita mengerti sebagai kepentingan negara. meskipun Ia sendiri tidak bersifat swadaya. Padahal mereka itu. Hal ini dapat dilihat d alam dokumen “Ethics in the Public sector”: challenges and opportunities for sector public ini. tetapi juga berkenaan dengan sektor publik pda umumnya. Harus dicatat pula pengertian kita yang ada selama ini seakan-akan kepentingan umum (public) itu identik dengan kepentingan negara (state) sekarang terbukti tidak lagi tepat. tetapi hidup dan kegiatannya terg antung kepada donor yang sudah tentu mempunyai agenda dan kepentingannya yang tersendir i. sebelum dokumen ini diadosikan. yang dimaksudkan dengan sektor publik disini. tidak hanya berkenaan dengan sektor negara. H al ini dapat dilihat dalam dokumen “Ethics in the Public sector: challenges and opportunities f or OECD Countries (Ethics Check-list Draft). 23 April 1998. 61 juga berkaitan dengan kepentingan umum. Misalnya. . yaitu sektor negara (state) dan sektor masyarakat (Civil Society) yang berkenaan dengan kepentingan umum (publik).13 `Ethics In Government’ Act 1978 60 Berfungsionalnya sistem etika itu dalam kehidupan nyata menjadi basis yang kuat bagi tegak dan berfungsinya sistem hukum berdasarkan prinsip `the rule of law’. (b) L PSM sebagai Lembaga Pengembangan Swadaya masyarakat yaitu yang tugasnya mengembangkan swadaya masyarakat. di Indonesia dewasa ini. dokumen `Improving Ethical Conduct in Publik Service” telah diadopsikan secara resmi pada tahun 1998 yang isinya merekomendasikan pentingnya memberlakukan sistem kode etika di seluruh sektor publik dan mengusulkan cara-cara untuk meningkatkan kualitas kode etika diseluruh sektor publik14 . dan (c) LSPM sebagai lembaga swadaya pengembangan masyarakat. aktivitas organisasi-organisasi seperti ini juga berkaitan dengan kepentingan umum dan karena itu perilaku warganya perlu diatur dan dikendalikan dengan Instrumen `code of ethics’. 15 Hanya saja. November 1997. Di lingkungan negara-negara maju OECD. juga telah disepakati untuk memberlakukan sistem kode etika ini di sektor publik.

yaitu Ketetapan MPR No. Tentara. UU tentang Mahkamah Agung. yang bersifat lebih umum. juga diperlukan satu Undang-Undang yang akan mengatur ketentuan-ketentuan pokok tentang etika dalam kehidupan berbangsa. perkumpulan (vereeniging). yaitu Ketetapan MPR No. dan lain-lain sebagainya. baik di sektor negara (supra struktur negara) maupun di sektor masyarakat (infra struktur masyarakat madani atau `civil society’) saya usulkan agar diwajibkan dengan ketentuan Undang-Undang untuk menyusun Kode Etika masing-masing yang selanjutnya diberlakukan secara internal dan membentuk Dewan Kehormatan atau Komisi Etika atau Komisi Disiplin atau apapun nama yang bersifat independen untuk keperluan mengatur pemberlakuan dan menjalankan kode etika tersebut. organisasi kemasyarakatan. UU tentang Mahkamah Konstitusi. sedangkan lima puluh persen lainnya dari kalangan luar yang dapat diharapkan lebih objektif. Pertama. dan DPRD. Misalnya. jika kita mengacu kepada Ketetapan MPR tetang Etika Kehidupan Berbangsa tersebut diatas. Kalau diperhatikan. 62 kode etika dan komisi etika itu juga harus diwajibkan. maka diperlukan pula pengaturan organisasi yang menyeluruh. pengaturan mengenai sistem kode etika dan pemberlakuannya secara umum. BPK. dan lain-lain sebagai diharuskan menyusun dan memberlakukan kode etika sendiri-sendiri dan membentuk komisi etika yang independen dilingkungan masing-masing. dalam 63 hubungan ini. Karena itu. Polisi. lembaga. Kedua. lembaga-lembaga atau organisasi-organisasi yang terkait. UU tentang Badan Pemeriksa Keuangan. UU tentang Keormasan. UU tentang Susunan Kedudukan MPR. Saya kiranya. tetapi dapat pula dilembagakan secara tetap. para perancang Ketetapan MPR tentang Etika Kehidupan Berbangsa juga tidak membayangkan bentuk operasionalisasi etika . dan organisasi-organisasi profesi. Ditingkat infra struktur masyarakat juga demikian misalnya. Namun. Pemerintah ataupun Dewan Perwakilan Rakyat hendaklah segera memprakarsai tersusun dan terbentuknya Undang-Undang tentang Etika Kehidupan Berbangsa. DPRD. misalnya dalam UU tentang KetentuanKetentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman. UU tentang Partai Politik. Kantor Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara sendiri dewasa ini telah memprakarsai perancangan draft Undang-Undang tentang etika aparatur negara. Yang penting dijamin adalah keanggotaannya harus dipilih sedemikian rupa sehingga terjamin independensinya. DPR. sebaiknya segera disusun satu Undang-Undang yang lebih operasional. Dewan Kehormatan itu dapat juga dibentuk secara ad hoc apabila timbul kasus. yaitu : Pertama. Untuk melaksanakan kedua ketetapan itu. Jaksa. DPD. Majelis Permusyawaratan Rakyat telah menetapkan dua ketetapan berkenaan dengan ini. yang khusus berkenaan dengan penyelenggaraan negara. XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas Korupsi.Dengan demikian semua bentuk organisasi publik di Indonesia. Ada dua pengaturan yang dapat diusulkan. MK. sebagai penjabaran operasional atas ketentuan yang diadopsikan dalam TAP MPR tentang Etika Kehidupan Berbangsa tersebut di atas. dan lain-lain. baik tingkat supra struktur maupun infra struktur. pengaturan dalam tiap-tiap Undang-Undang baru ataupun amandemen terhadap Undang-Undang lama yang akan mengatur mengenai organ./MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa. ketentuan mengenai misalnya organisasi pesantren yang memang hidup mandiri dan misinyapun untuk tuj uan mengembangkan masyarakat (community develoment). tetapi sekarang diperluas menjadi aparatur negara secara keseluruhan. Kedua. Semula materinya hanya dikhususkan untuk mengatur aparatur pemerintah dalam arti sempit (eksekutif). baik dalam upaya membangun sistem etika di tingkat supra struktur maupun di tingkat infra struktur masyarakat. Nantinya kita berharap semua organ negara dan pemerintah. di lingkungan partai politik. MA dan jajarannya (hakim dan pegawai pengadilan). Pegawai Negeri. anggotanya dapat pula ditentukan hanya lima puluh persen berasal dari dalam. Kolusi dan Nepotisme. seperti MPR (DPR dan DPD).

dan pendidikan konvensional yang tidak ada bedanya dari pendekatan indoktrinasi yang dikritik sendiri oleh para anggota MPR. untuk mengubah cara berpikir dan melakukan “switch mental” sesuai dengan tuntutan perubahan. Oleh karena itu. Karena itu. Di samping itu. S. . perubahan perilaku atau lebih mendasar lagi revolusi kelakuan menuju ke arah cita-cita akhlaq yang lebih mulia dari masa lalu. perubahan-perubahan mendasar itu juga membutuhkan kesediaan semua pihak untuk menyesuaikan diri. M. bentuk pemasyarakatan yang dibayangkan. pada akhirnya adalah persoalan perilaku dan persoalan sikap mental.H Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara RI Buat halaman ini dalam f Pendahuluan Era reformasi yang dimulai pada tahun 1999. ceramah. memang diperlukan adanya satu Undang-Undang tersendiri tentang KetentuanKetentuan Pokok Pengembangan Etika Kehidupan Berbangsa dan Bernegara. hukum tidak akan tegak tanpa dilandasi basis etika yang hidup secara fungsional.yang ditentukan dalam ketetapan tersebut. UU inilah nantinya yang akan memayungi semua ketentuan tentang etika. kode etika. tetapi melalui pendekatan Khutbah. Lebih dari persoalan institusi. Sebagai tindak lanjut perubahan-perubahan mendasar tersebut di atas. akan tetapi. ===================================================== aradigma Baru Ketatanegaraan Pasca Perubahan UUD 1945 ormat PDF Cetak halaman ini Jumat.H. Inilah yang akan menjembatani antara nilai ajaran agama yang sangat luhur dan ideal dalam masyarakat yang dikenal sangat agamais di Indonesia dengan realitas Pelembagaan sistem kenegaraan modern yang menuntut rasionalitas berdasarkan sistem `the rule of law’ yang diuraikan di atas. niscaya etika publik pa da umumnya dapat diharapkan tumbuh sebagai `living ethics’ atau sebagai etika 64 yang hidup dan berfungsi sebagaimana mestinya. 09 Februari 2007 Hamdan Zoelva. Ide-ide besar negara. ada baiknya Kantor Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dapat mempertimbangkan untuk memperluas saja konsep rancangan Undang-Undang yang dewasa ini sedang mereka persiapkan untuk diajukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat. etika kehidupan berbangsa yang diatur dan diamanatkan dalam Ketetapan MPR tersebut memerlukan pengaturan lebih operasional melalui pendekatan kelembagaan yang lebih efektif. Karena itu. penataan sistem aturan mutlak dilakukan. Dengan begitu cita-cita kenegaraan kita tidak akan tinggal di atas kertas dan menyebabkannya hanya menjadi dunia wacana yang tidak mencerminkan kenyataan perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari. dan komisi etika yang diatur dalam berbagai Undang-Undang lain yang terkait. membawa perubahan-perubahan yang men dasar dalam sistem pemerintahan dan ketatanegaraan kita sebagaimana nampak pada perubahan yang hampir menyeluruh atas Undang Uundang Dasar 1945. Disana hanya ditentukan bahwa permasyarakatan etika itu tidak boleh dilakukan melalui pendekatan indoktrinasi seperti pengalaman kita dengan P4 dan BP7 di masa Orde Baru. Karena itu. Keseluruhan sistem etika itu dapat kita namakan sebagai `positif ethics’ dan berperan penting sebagai pendamping `positif law’ dalam arti sebagai perangkat norma aturan yang diberlakukan secara resmi dalam satu ruang dan waktu tertentu.. penting artinya bagi kita untuk mengadakan konsolidasi besar-besaran baik secara kelembagaan maupun dari segi-segi pengaturan pada tingkat yang lebih teknis dan operasional. Demikianlah beberapa pandangan saya mengenai perkembanganperkembangan yang telah terjadi dalam sistem politik dan ketatanegaraan di negara kita setelah Perubahan Keempat UUD 1945 yang disahkan pada tahun 2002 yang lalu. tetapi yang jauh lebih penting adalah kesediaan semua pihak untuk melakukan perubahan mental. Jika etika positif ini dapat ditegakkan. operasionalisasi. reformasi dan demokratisasi.

- tetap mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.     Perubahan Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945). serta - Kurangnya pengaturan mengenai pemilu dan mekanisme demokrasi. perubahan pertama itu hanya terjadi terhadap beberapa pasal yang terkait dengan pembatasan kekuasa an Presiden dan penguatan DPR. Keempat perubahan ini. menghasilkan perubahan penting terhadap 9 pasal ya ng terkait dengan penyeimbangan kedudukan Presiden dengan DPR. Bagir Manan untuk mengkaji perubahan UUD 1945 dan telah melakukan serial diskusi yang cukup panjang dan menghasilkan berbagai pemikiran terhadap perubahan undang-undang dasar ini dalam sebuah buku. Tuntutan perubahan s istem politik dan ketatanegaraan dalam bentuk perubahan Undang Undang Dasar 1945 . terlalu fleksibel menyerahkan penyelenggaraan negara pada semangat pa ra penyelenggara negara yang dalam pelaksanaannya banyak disalahgunakan. Kalau kita membaca dengan cermat perubahan tersebut. Karena begitu luasnya perdebatan awal ketika memulai perubahan ini. mencakup aspek yang sangat luas dan mendalam baik dari ju mlah pasal yang diubah dan ditambah maupun dari substansi perubahan yang terjadi . te rjadi dalam waktu yang sangat singkat yaitu hanya sekitar satu minggu perdebatan pada tingkat Panitia Ad Hoc. pe negakan hukum yang lebih baik. Perubahan Kedua tahun 2000. telah membawa implikasi politik yang san gat luas dalam sistem ketatanegaraan Indoneisa. untuk menghi ndari disorientasi dalam perubahan-perubahan yang akan dilakukan. sebenarnya terjadi demikian cepat tanpa dimul ai oleh sebuah perencanaan panjang. seluruh fraksi di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada saat itu menyepakati lima prinsip yaitu: - tidak mengubah pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. - Pengaturan mengenai hak asasi manusia yang minim. Karena waktu yang tidak memungkinkan. adalah pesan yang sangat jelas disampaikan oleh gerakan reformasi yang dimulai sejak tahun 1998. Perubahan Ketiga tahun 2001 dan Perubahan Keempat tahun 2002. dan perubahan lainnya dicadangkan pada sidang tah unan berikutnya. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa salah satu sumber permasalahan yang menimbulkan problem politik dalam penyelenggaraan pemerintahan negara selama ini adalah karena kelemahan Undang Undang Dasar 1945 antara lain: - UUD 1945 menyerahkan kekuasaan yang sangat besar kepada Presiden. perubahan UUD 1945 yang pertama pada sidang umum tahun 1999. penghormatan atas hak-hak asasi manusia dan berba gai tuntutan perubahan lainnya. akan nampak bahwa empat kal i perubahan merupakan satu rangkaian perubahan yang dilakukan secara sistematis dalam rangka menjawab tantangan baru kehidupan politik Indonesia yang lebih demo kratis sesuai dengan perkembangan dan perubahan masyarakat. Walaupun demikian. - perubahan dilakukan dengan cara adendum. Karena i tu. kalau kita kembali melihat sejak awal pemerintahan Presiden H abibie ide perubahan UUD 1945 telah dimulai dan bahkan pernah dibentuk sebuah pa nitia yang diketuai oleh Prof.DR. Terhadap berbagai tuntutan tersebut para anggota MPR meresponsnya dengan memulai perubahan terhadap sesuatu yang mendasar yaitu perubahan Undang Undang Dasar 19 45. 37 pasal dan 47 ayat dit . Oleh karena itu. yang telah dilakukan selama 4 kal i ⠓ Perubahan Pertama tahun 1999. - Tidak adanya prinsip check and balances dalam UUD 1945 antara lain menyerahkan kekuasaan tertinggi di tangan MPR yang sepenuhnya melaksanakan kedaulatan rakyat . UUD 1945 sebelum perubahan hanya terdiri dari 16 bab. ketika perdebatan pada MPR mengenai perubahan undang-undang dasar ini sebagi an besar fraksi telah menyiapkan rancangan perubahan yang menyeluruh atas undang -undang dasar 1945 itu. - penjelasan UUD 1945 ditiadakan serta hal-hal normatif dalam penjelasan dimasukk an ke dalam pasal-pasal.Perubahan undang-undang dasar ini. Hal ini terjadi karena didorong oleh tuntuta n perubahan-perubahan yang sangat kuat pada awal reformasi antara lain tuntutan atas kehidupan negara dan penyelenggaraan pemerintahan yang lebih demokratis. - UUD 1945. - mempertegas sistem pemerintahan presidensil.

yaitu UU Partai Politik. Ketentuan ini menunjukkan dengan jelas bahwa posisi MPR sangat dominan dalam str uktur ketatanegaraan Indonesia. dan sisanya adalah utusan golongan. Siapa yang dapat mempengaruhi dan mendominasi M PR maka dialah yang paling berkuasa. Ketika MPR terbentuk seakan-akan kedaulatan rakyat itu diambil alih sepenu hnya oleh MPR dan MPR memegang supreme power dalam ketatanegaraan Indonesia. (dalam pengangkatan ini Presiden hanya mengesahkan secara administra tif sebagai Kepala Negara. Dewan Per wakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Kewenangan MPR Kewenangan dan status MPR dalam UUD 1945 sebelum perubahan tercermin dalam pasal 1 ayat 2. mengangkat Presiden dan Wakil Presiden (pasal 6 ayat 2). yaitu sebagai pelaksana sepenuhnya kedaulatan ra kyat. b. yang berbunyi : â œKedaulatan adalah di tangan rakyat. Merujuk pada masa Orde Baru anggota MPR berjumlah 1000 orang yang terdiri dari 500 anggota DPR (400 orang yang dipilih melalui pe milu dan 100 dari ABRI yang diangkat). keanggotaan MPR. Peru bahan ini membawa implikasi pada betapa minimnya pengaruh Presiden terhadap MPR. Tidak ada lagi anggota MPR yang diangkat. setelah perubahan yaitu perubahan susu nan keanggotaan serta perubahan kewenangan MPR. sejak kejatuhan Soeharto. sehingga lebih demokratis dan leb ih menunjukan representasi rakyat yang lebih jelas dalam lembaga perwakilan. 73 pasal. Perubahan ini memperbaiki susunan anggota MPR. UUD 1945 menjadi 20 bab. UU Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden dan Wakil Pre siden serta UU Susunan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Dalam kerangka inilah berbagai perundang-undangan baru bidang politik disusun. Keanggotaan MPR Sebelum perubahan. . 171 ayat ditambah 3 pasal Aturan Peralih an dan 2 pasal Aturan Tambahan. diu bah lagi yaitu hanya terdiri dari 700 orang dimana jumlah yang diangkat oleh Pre siden hanya 69 orang anggota Utusan Golongan yang dipilih oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). 5 orang utusan daerah dari setiap propins i (yaitu 160 untuk 27 Provinsi). anggota MPR hanya terdiri dari anggota DPR (sekarang berj umlah 550 orang) dan anggota DPD yang merupakan wakil dari daerah-daerah (sekara ng 4 orang setiap provinsi) yang dipilih secara langsung dalam pemilu oleh rakya t di daerah yang bersangkutan. Setelah Perubahan UUD. dan dilakukan sepenu hnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyatâ ?. kemudian diperkuat oleh Penjelasan UUD 1945. yang berimplikasi pada perubahan dalam tata hubungannya dengan lembaga-lembaga negara yang lainnya. Dari susunan keanggotaan tersebut nampak sekali bahwa terdapat 440 orang anggota MPR yang diangkat Presiden. Pada masa reformasi sekarang ini. Lebih lanjut kewenangan MPR adalah menet apkan Undang Undang Dasar dan Garis-Garis Besar daripada Haluan Negara (diatur d alam pasal 3). Jika Presiden dapat menguasai atau mempenga ruhi MPR maka pasti dia sangat berkuasa (seperti yang terjadi pada masa Orde Bar u) dan siapa yang tidak mampu mendominasi dan menguasai MPR. Setelah 4 kali peruba han. yaitu sama dengan pengangkatan anggota Utusan Daerah yang dipilih oleh DPRD Provinsi dan Anggota DPR yang dipilih dalam Pemilu). 160 yang dipilih oleh DPRD dari 27 pr ovinsi (pada periode ini Utusan Daerah bergabung dalam satu fraksi tersendiri se dangkan utusan Golongan melebur dalam fraksi Partai Politik yang ada) dan 400 or ang yang dipilih dalam pemilu. Hal ini berimplikasi pada hubungan yang tidak seimbang antara lembaga-lembaga negara (tidak ada check and balances). keanggotaan MPR terdiri dari Anggota DPR ditambah dengan Utus an Daerah dan Utusan Golongan. Substansi perubahan menyentuh hal-hal yang sanga t mendasar dalam sistem politik dan ketatanegaraan yang berimplikasi pada peruba han berbagai peraturan perundangan dan kehidupan politik Indonesia di masa depan .yang berjuml ah 340 orang.ambah 4 pasal Aturan Peralihan dan 2 ayat Aturan Tambahan. Dal am struktur yang demikian MPR ditempatkan sebagai Lembaga Tertinggi Negara. Konfigurasi keanggotaan ini menunjukkan dominasi Presiden yang sangat kuat terhadap MPR. maka dia akan menja di sangat lemah (seperti kasus Presiden Habibie dan Abdurrahman Wahid). a. Reduksi Kewenangan MPR (Memperkuat Demokratisasi) Terdapat dua perubahan mendasar pada MPR.

telah merubah filosofi dasar sumber kewenangan MPR. diberikan kekuasaan untuk membentuk undang-undang (pasal 20 ayat (1)). Secara kelembagaan posisi MPR sebenarnya adalah â œforumâ ? sidang gabungan antara anggota DPR dengan anggota DPD. Walaupun demikian. Karena itu. Artinya hubungan yang seimbang antara  lembaga N egara yang masing-masing terkontrol oleh yang lainnya berdasarkan ketentuan UUD. Hubungan MPR dengan Lembaga Negara Lainnya Dengan perubahan ini tidak lagi dikenal lembaga tertinggi dan lembaga tinggi neg ara dalam hubungan antar lembaga negara. Reposisi Dewan Perwakilan Rakyat Reposisi DPR. karena MPR tidak lagi menetapkan garis-garis be sar haluan negara untuk dilaksanakan oleh seluruh lembaga negara yang lainnya. DPR dan DPD menjalankan kedaulatan rakyat dalam membentuk undang-un dang dan mengawasi Presiden. diman a Presiden di samping memegang kekuasaan pemerintahan negara juga memegang kekua . menjadi keda ulatan rakyat dilaksanakan menurut UUD ini. memberhentikan Presiden dan atau Wakil Presiden d alam masa jabatannya menurut UUD serta memilih Wakil Presiden dalam hal kekosong an jabatan Wakil Presiden. Sedangkan DPR diposisikan sebagai lembaga negara yang memberikan persetujuan atas rancangan undang-undang itu. untuk menjalankan pemerintahan negara. dipertegas yaitu hanya: mengubah dan menetapkan UUD. Setelah perubahan UUD hubungan antara MPR dengan lembaga negara lainnya hanya te rlihat jelas dalam hubungannya dengan Presiden dan Wakil Presiden. karena dia dipilih langsung juga oleh rakyat. Semua lembaga negara tidak ada yang tin ggi dan tidak ada yang rendah. Sebelum perubahan. Kerangka hubungan antar lembaga negara yang dibangun dalam perubahan UUD ini ada lah prinsip checks and balances. yaitu oleh lembaga-lembaga negara ya ng diatur secara jelas kewenangannya dalam UUD. Kedudukan i ni berakibat pada hubungan yang tidak seimbang antara Presiden dengan DPR. serta memilih Wakil Presiden dalam hal kekosongan jabatan W akil Presiden. Implikasi perubahan ini adalah direduks inya kewenangan MPR sebagai pelaksana kedaulatan rakyat sepenuhnya. karena MPR adalah sumber kekuasaan negara. akan tetapi kedudukannya dilihat pada fungsi dan kewenangannya yang diberikan oleh UUD. yaitu melanti k Presiden dan Wakil Presiden. dilakukan dengan maksud agar menempatkan DPR dalam posisinya sebag ai lembaga negara yang memiliki kewenangan di bidang legislatif. Bahkan rakyat juga melak sanakan kedaulatannya secara langsung dalam bentuk memilih Presiden dan Wakil Pr esidennya secara langsung. Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi menjalankan kedaulatan rakyat dalam bidang yudikatif dan peradilan. Presiden menjalankan kedaulatan rakyat. lembaga-lembaga negara lainny a tidak lagi melapor kepada MPR. Karena itu DPR.  c. yaitu : â œKedaulatan di tangan rakyat d an dijalankan menurut Undang-Undang Dasarâ ?. Dengan demikian MPR keh ilangan kewenangannya untuk mengangkat Presiden dan Wakil Presiden secara rutin. menetapkan garis-garis besar daripada haluan negara serta memberhentikan Presid en karena pelanggaran garis-garis besar haluan negara. maka kedudukannya menjadi sebuah lembaga negara tersend iri. Demikian pula terhadap lembaga-lembaga negara lainnya yang diatur dalam UUD ini.Dalam kerangka pemikiran ini pula seluruh lembaga-lembaga Negara yang lain harus melapor kepada MPR. yaitu ket ika melantik Presiden dan atau Wakil Presiden. memberhentikan Presiden dan atau Wakil Presiden dalam masa jabatannya menurut UUD (pasal 3 UUD) memilih Wakil Presiden dalam hal terj adi kekosongan jabatan Wakil Presiden dalam masa jabatannya (pasal 8 ayat (2)) s erta memilih Presiden dan Wakil Presiden dalam hal Presiden dan Wakil Presiden s ecara bersamaan berhalangan tetap dalam masa jabatannya. Perubahan UUD 1945. tidak ada lagi istilah Sidang Umum serta Sidang Tahunan MPR . memberhentikan Presiden. karena MPR memiliki kewenangankewenangan yang mandiri. Jadi. MPR hanya bersidang pada saat-saat dibutuhkan. melantik Pr esiden dan Wakil Presiden. mengubah dan menetapkan UUD. Kewenangan MPR. yang ada adalah Sidang MPR. kekuasaan membentuk undang-undang ini dimiliki oleh Presiden (pasal 5 ayat (1) sebelum perubahan). yang mendistribu sikan kekuasaannya pada lembaga-lembaga negara itu. sebagaim ana tercermin dalam perubahan pasal 1 ayat 2.

Hal ini memberikan keleluasaan kepada DPR dan Presiden untuk memilih sistem pemilu yang tepat sesuai keadaan dan kondisi masyarakat. maka voting right yang penuh hanya dimiliki oleh DPR. memberikan pertimbangan kepada DPR atas RUU APBN. Akibatnya seperti pengalaman selama masa pemerintahan Orde Baru. tetapi kewenangannya. sebelumnya hanya diatur dalam undang-undang. Akan tetapi pada sisi lain anggota DPD ini memiliki. Dewan Perwakilan Daerah. Perubahan UUD juga mempertegas fungsi pengawasan dari DPR. pendidikan dan agama. Pembentukan DPD sebagai salah satu institusi negara yang baru. khususnya yang terkait dengan kepentingan daera h. pengelolaan sumber daya alam dan sumbe r daya ekonomi lainnya serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat da n daerah. baik dalam perubahan UUD. Sebuah Institusi Negara yang Baru a. tetapi diatur dalam undang-undang. hubungan pusat dan daerah. RUU yang berkaitan dengan pajak. Kewenangan dan Posisi DPD Dalam Struktur     Ketatanegaraan DPD merupakan lembaga negara yang memiliki kedudukan yang sama dengan DPR sebaga i lembaga perwakilan rakyat. Dalam bidang pengawasan. Apakah DPD memiliki votin g right atas RUU yang ikut dibahasnya itu?. Ketiga hak ini. Peneg asan ini dimaksudkan untuk memberikan kedudukan hukum yang lebih kuat bagi kewen angan DPR yang diatur dalam konstitusi. Perubahan penting lain mengenai DPR. karena anggota DPD adalah dari perseorangan bukan wakil partai po litik. Setiap ang gota DPR juga diberikan jaminan hak yang kuat dalam konstitusi yaitu hak mengaju kan pertanyaan. DPD melakukan pengawasan atas pelaksanaan berbagai unda ng-undang yang ikut dibahas dan diberikan pertimbangan oleh DPD. yaitu berupa hak inte rpelasi. Namun kewenanga n pengawasan ini menjadi sangat terbatas. ketika bersidang dalam kedudukannya sebagai anggota MPR.saan membentuk undang-undang. karena hasil pengawasan itu hanya untu k disampaikan kepada DPR untuk bahan pertimbangan dan ditindaklanjuti. adalah dal am rangka memberikan kesempatan kepada orang-orang daerah untuk ikut mengambil k ebijakan dalam tingkat nasional. Persoalan yang paling mendasar bagi sebuah pemilu yang baik adalah sejauh mana output pemilu itu menghasilkan wakil -wakil yang benar-benar mewakili rakyat. baik kewenangan bidang legislasi maupun bid ang pengawasan adalah sangat terbatas. Pembentukan ini diharapkan akan lebih memperkuat integrasi nasional serta sem akin menguatnya perasaan kebersamaan sebagai sebuah bangsa yang terdiri dari dae rah-daerah. Perbedaannya pada penekanan posisi anggota DPD seba gai wakil dan representasi dari daerah (provinsi). Kewenangan legislasi yang dimiliki oleh D PD adalah hanya dapat mengajukan kepada DPR dan ikut membahas rancangan undang-u ndang yang terkait dengan otonomi daerah. tidak diatur dalam UUD. Akan tetapi jika memperhatikan ketentuan pasal 20 UUD. dan rancangan undang-undang itu tidak dis ahkan. Tidak ditegaskan dalam UUD ini. hak angket dan hak menyatakan pendapat (pasal 20A ayat (2)). kedudukan dan kewenangan ya ng sama dengan anggota DPR. Dengan demikian tidak ad a lagi anggota DPR yang diangkat seperti pada masa yang lalu yaitu dari ABRI/TNI -POLRI. Padahal DPR sebenarnya adalah representasi rakyat yang terpilih melalui pemilu. Walaupun kedudukan DPD adalah sejajar dengan kedudukan DPR dalam struktur ketata negaraan kita. Hal ini mengakibatkan pada tidak seimbangnya kekua saan Presiden dengan DPR. Di samping itu DPD. Perubahan ini memberikan jaminan dan legitimasi yang kuat kepada DPR seb agai lembaga perwakilan rakyat. Sedangkan bagaimana sistem pemilu untuk memilih anggota DPR. Presiden dapat mengabaikan rancangan undang-undang yang sudah disetuj ui oleh DPR bersama pemerintah di DPR. usul dan pendapat serta hak imunitas (pasal 20A ayat (3)). memahami kepentingan dan hati nurani ra kyat. pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah. pemberhentian Presiden maupun pemilihan Wakil Pre siden. adalah diperjelasnya mekanisme rekruitmen s eluruh anggota DPR yang dipilih melalui pemilihan umum. Setiap anggota DPD selalu ber pikir tentang kepentingan daerahnya tanpa terhambat oleh garis dan kepentingan p artai politik. .

telah mengatur dengan jelas bahwa anggota DPD . hanya menentukan bahwa jumlah anggota DPD dari set iap provinsi adalah sama dan jumlah seluruh anggotanya tidak lebih dari sepertig a jumlah anggota DPR (pasal 22C ayat (2)). mereduksi beberapa kewenangan Presiden sebagaimana diatur dalam UUD 1945 sebelum perubahan. Dengan jumlah 32 provinsi pada saat in i maka jumlah anggota DPD seluruhnya hanya 128 orang sehingga tidak mencapai sep ertiga anggota DPD. Karena dipilih langsung oleh rakyat. menempatkan Pre siden di bawah MPR. adalah adanya jaminan bahwa Pres iden dan Wakil Presiden akan menduduki masa jabatannya dalam waktu tertentu (5 t ahun) dan tidak mudah diberhentikan hanya karena dianggap melakukan kebijakan po litik yang salah. b. Tidak membedakan provinsi yang banyak atau sedi kit penduduknya maupun yang besar atau kecil wilayahnya. Penguatan Sistem Presidensil Penguatan sistem presidensil terlihat pada mekanisme pemilihan Presiden dan pros es pemberhentian Presiden. Jika Presiden tidak datang memberikan perta nggungjawaban atau pertanggungjawabannya ditolak oleh MPR. memperkuat posisi Presiden dalam struktur ketatanegaraan I ndonesia. Dengan menetapkan jumlah wakil daerah yang sama dari setiap provinsi pada keangg otaan DPD. Jadi sistem ini sebenarnya hampir sam a dengan sistem Parlementer yang menganut supremasi parlemen atas eksekutif. menunjukkan kesamaan status dari provinsi-provinsi itu sebagai bagian integral dari negara Indonesia. Dalam proses ini tidak ada pembuktian yuridis oleh institusi pe radilan (yudikatif) untuk memberikan penilaian secara hukum atas kesalahan Presi den itu. Presiden mendapat legitimasi langsung d ari rakyat dan kedudukannya menjadi lebih kuat di hadapan lembaga negara yang la innya. Mekanisme Pemberhentian Presiden Dipersulit Berbeda dengan sistem presidensil yang dianut sebelum perubahan. Jika pemilihan dan pengangkatan Presiden dan Wakil Pr esiden sebelum perubahan UUD dilakukan oleh MPR. Presiden tidak dapat diberhentikan hanya karena alasan-alasan politis. Penentuan jumlah anggot a DPD yang tidak lebih dari sepertiga jumlah anggota DPR. penyuapan. korupsi. Karena MPR yang mengangkat Presiden. menunjukkan dua hal yang berlawanan dalam mengatur lemba ga Presiden. yaitu melalui pengkajian dan penyelidikan yang dilak ukan oleh DPR yang menghasilkan pendapat berupa keputusan DPR yang mengusulkan p . Kedua. Presiden hanya dapat diberhentikan dalam hal Presi den atau Wakil Presiden melakukan pelanggaran hukum yang berupa. a. walaupun di hadapan MPR. Penguatan Sistem Presidensil dan Reduksi Kewenangan Presiden Perubahan UUD ini juga.b. Dalam sistem baru pasca perubahan UUD. setalah DPR menyampaikan Memorandum Pertama dan Kedua ke pada Presiden.  Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003. maka setelah perubahan pemiliha n Presiden dan Wakil Presiden dilakukan secara langsung oleh rakyat melalui pemi lu. Atas dasar usulan DPR itu MPR melaksanakan Sidang Istimewa untuk meminta pertanggungjawaban Presiden. Demikian juga mekanisme pemberhentian Presiden harus menempuh mekani sme yang sulit dan panjang. MPR juga yang dapat mem berhentikan Presiden walaupun dengan alasan-alasan politis karena Presiden membu at kebijakan yang melanggar haluan Negara. Anggota DPD dipilih secara langsung oleh rakya t dari setiap provinsi melalui pemilihan umum. tindak pidana berat lainnya serta perbuatan tercela dan tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan atau Wakil Presiden (pasal 7A). mengandung makna bahwa DPD ini â ?walaupun kedudukan sama dengan DPR dalam struktur ketatanegaraanâ ? merupakan lembaga perwakilan yang bersifat komplementer yang mengakomodasi perwakilan daer ah-daerah dalam tingkat nasional. Konsekwensinya. Pertama. berjumlah 4 orang dari setiap provinsi. pengkhianatan t erhadap negara. Kenggotaan DPD UUD 1945 (setelah perubahan). Presiden bisa diberhe ntikan oleh MPR. Mek anisme pemberhentian Presiden dalam sistem sebelumnya dilakukan dengan usulan Si dang Istimewa dari DPR.

 Prinsip Akuntabilitas pada Peradilan Dalam rangka menegakkan prinsip akuntabilitas lembaga peradilan. Dengan perubahan ini mengantarkan negara ini kepada negara yang menganut pr insip konstitusinalisme. Artinya segala tindakan dan produk lembaga-lembaga dan institusi negara harus dapat diuji apakah sesuai atau tidak sesuai dengan konsti tusi berdasarkan keputusan Mahkamah Konstitusi. demosi atau sanksi kepa da para hakim. maka dapat dipastikan akan mendapat dukungan kuat dari MPR. Memperkuat Kedudukan Kekuasaan Kehakiman (Yudikatif) Perubahan UUD ini mengintrodusir lembaga negara yang baru di bidang yudikatif ya itu Mahkamah Konstitusi yang kedudukannya berada di samping Mahkamah Agung. karena lebih dari duapertiga anggota MPR adalah anggota DPR. membatasi kewenangan Presiden menggunakan haknya untuk memberikan Grasi dan Rehabilitasi y ang mengharuskan adanya pertimbangan Mahkamah Agung (pasal 14 ayat (1)). tidak diserahkan kepada kekuasaan yudikatif. dapat mengajukan usulan promosi. Reduksi dan pembatasan kewe nangan ini nampak pada. Hal ini nampak pada diberikannya kewenangan u ntuk melakukan hak uji (materil dan atau formil) atas undang-undang yang merupak an produk bersama DPR dengan Presiden. Komisi ini yang akan meni lai kinerja para hakim. sehing ga tidak mungkin dapat dibatalkan kecuali dicabut sendiri oleh DPR bersama Presi den. dalam perubahan UUD ini mengintrodusir lembaga negara yang baru yaitu Komisi Yudisial yang meru pakan bagian dari pelaksanaan kekuasaan kehakiman. kewenangan Presiden dikura ngi dan dibatasi oleh UUD agar tidak disalahgunakan. Walaupun komisi in i merupakan bagian dari kekuasaan kehakiman. Keanggotan komisi ini akan dipilih oleh DPR dan diangkat oleh Pre siden. akan tetapi merupakan sebuah lembag a pengawasan eksternal terhadap para hakim pengadilan. Pembentukan lembaga ini dirasakan pentingnya karena selama ini hakim tida k terjangkau oleh pengawasan yang bersifat eksternal. maka DPR melanjutkan usulan itu kepad a MPR untuk memutuskannya. maka usulan pemberhentian itu tidak dapat dilanjutk an. Pembatasan kekuasaan Presiden untuk mengangkat duta dan menerima duta n egara sahabat dengan mengharuskan adanya pertimbangan DPR (pasal 13). jika usulan pemberhentian tersebut telah mendapat dukungan kuat dari anggota DPR. Demikian pula dalam hal pembentukan dan pembubaran departem en pemerintah harus dengan persetujuan DPR (pasal 17 ayat (4)). Jika secara yuridi s usulan DPR tidak berdasar. serta membatasi k ewenangan Presiden yang telah diperkuat kedudukannya. c. Sebelum proses pengaju an ke MPR. Prinsip Konstitusionalisme Kekuasaan kehakiman sebagai pilar negara hukum Indonesia mendapat jaminan yang l ebih kuat dalam perubahan UUD ini. Undang-undang yang telah dikeluarkan oleh DPR dan Presiden dapat dinyatakan tidak berlaku baik sebahagian maupun keseluru hannya oleh lembaga yudikatif yaitu Mahkamah Konstitusi. DPR harus terlebih dahulu meminta putusan kepada Mahkamah Konstitusi apakah secara yuridis pendapat DPR ini dibenarkan atau tidak. Reduksi dan Pembatasan Kewenangan Presiden Untuk menjaga prinsip check and balances antar lembaga negara. a.emberhentian Presiden dan atau Wakil Presiden kepada MPR. yang akibatnya segala produ k undang-undang tidak mungkin dilakukan pengujian oleh lembaga peradilan. penghapusan kekuasan Presiden membentuk undang-undang (p asal 5). Hak ini sebelum perubah an UUD. membata si kewenangan Presiden dalam menggunakan haknya untuk memberikan Amnesti dan Abo lisi yang mengharuskan adanya pertimbangan DPR serta mengharuskan Presiden untuk meminta persetujuan DPR dalam menyatakan perang atau melakukan perjanjian inter nasional (pasal 11). . Sebaliknya kalau secara yuridis benar. Komisi Yudisial adalah sebuah komisi yang dibentuk dengan undang-undang yang memiliki kewenangan untuk mengaw asi dan menegakkan harkat dan kehormatan hakim serta melakukan rekruitmen awal c alon hakim agung yang akan diajukan kepada DPR untuk dipilih. b. Atas pertimbangannya sendiri MPR dapat memberhentikan atau tidak memberhentikan Presiden berdasar jumlah dukungan suara anggota MPR. Logikanya.

Demikian juga dengan kebijakan-kebijaka n menyangkut daerah yang sangat sentralistis. Hal ini nampak pada kebijakan pemerintah yang selalu menunjukan kebijakan yang unitarian yaitu penyeragaman untuk seluruh wilayah Indonesia dan kebijakan yang sangat sentralistis. Rumusan mengenai HAM dalam UUD ini sangat lengkap yang mencakup seluruh aspek HAM yang diakui secara universal. Hal ini nampak pada perubahan pasal 18 UUD 1945.  Prinsip desentralisasi yang dianut dalam UUD ini. UUD mengatur mengenai HAM ini dalam satu bab tersendiri yaitu bab XA. mengayomi. Jaminan peng aturan yang adil atas hubungan keuangan. Jaminan Hak Asasi Manusia dan Penegakan Hukum Untuk menjamin tegaknya Hak Asasi Manusia (HAM). daerah juga diberikan kewenangan untuk menetapka n peraturan-peraturan daerah dan peraturan-peraturan lain untuk melaksanakan asa s otonomi dan asas tugas pembantuan itu. melayani masyarakat ser ta menegakkan hukum. Pemerintah wajib membiayai pendidikan dasar bagi setiap warga negara. Dalam rangka mencerdaskan kehidupan b angsa Pemerintah bertanggung jawab untuk mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang bertujuan untuk meningkatkan keimanan dan ketakw aan serta akhlak mulia. menggeser model kebijakan yang unitarisme dan sentralistis me njadi kebijakan desentralistis dan lebih menghormati pluralisme. sebagai kekuatan pendukung. sebagai kekuatan utama. adalah terhapusnya masyarakat hukum adat be rikut hak-hak adatnya di seluruh Indonesia serta penyeragaman sistem pemerintaha n sampai pada tingkat yang paling bawah. Daerah tidak berdaya dan hanya men jalankan kebijakan-kebijakan yang terpusat. akan tetapi praktek selama ini. keamanan dan ketertiban umum dalam masyarakat demok ratis. nampak jelas pada pemberian as as otonomi dan asas tugas pembantuan kepada daerah untuk mengurus pemerintahanny a sendiri. pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya antara pemerintah pusat dengan pemerintahan daerah (pasal 18A ayat (2)). dengan 10 pasal serta 24 ayat. nilai-nilai agama.Sentralisasi dan Unitarisme Menjadi Desentralisasi dan Pluralisme Walaupun semboyan Negara Republik Indonesia adalah â œBhinneka Tunggal Ikaâ ?. Mengakomodir Sistem Hankamrata Perubahan ini ini juga mencakup penyempurnaan dalam pengaturan mengenai pertahan an dan keamanan negara dengan mengokomodir sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta yang selama ini dianut dalam sistem pertahanan dan keamanan kita sebaga imana tertuang dalam pasal 39 ayat (2). melindungi dan memelihara keut uhan dan kedaulatan negara dan POLRI sebagai alat negara yang menjaga keamanan d an ketertiban masyarakat bertugas melindungi. terutama pada masa Orde Baru tidak menunjukkan arti semboyan itu. sebagai sebuah pilar negara huk um. Perubahan UUD ini. Pada saat yang sama. dan rakyat. Ketentuan ini menegaskan bahwa usaha per tahanan dan keamanan negara dilaksanakan melalui sistem pertahanan keamanan raky at semesta oleh Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indone sia. dimana TNI sebagai alat negara yang bertugas mempertahankan. ilmu pengetahuan dan kebudayaan nasional. Mempertegas Arah Pembangunan Pendidikan dan Kebudayaan Nasional Perubahan ini juga menegaskan tugas dan tanggung jawab pemerintah dalam bidang p endidikan. . Dalam perubahan ini dihormati dan diperhatikan adanya kekhususan dan keragaman dari berbagai daerah di Indonesia. Akibatnya. Pembatasan atas pelaksanaan HAM hanya dapat ditetapkan dengan undang-undang deng an maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan dan penghormatan atas hak dan keb ebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbang an moral. pengakuan atas satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat kh usus dan istimewa (pasal 18B ayat (1)) serta pengakuan atas masyarakat hukum ada t beserta hak-hak adatnya yang masih hidup (pasal 18B ayat (2)).

yaitu : a. e. b. Penguatan prinsip negara hukum dan penghormatan atas Hak Asasi Manusia. efisiensi berkeadilan. maka UUD menetapkan anggaran minimal yang harus disediakan untuk anggaran p endidikan yaitu 20% dari anggaran pendapatan dan belanja negara dan anggaran pen dapatan dan belanja daerah. d. pemerintah juga memiliki tanggung jawab untuk memajukan ilmu pen getahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban dan kesejahteraan umat manusia. Mengukuhkan prinsip kedaulatan rakyat. perubahan kultur dari seluruh aparat negara serta perubahan berbagai peraturan perundang-undanga n yang tidak lagi sesuai dengan berbagai paradigma baru ini. Desentralisasi pemerintahan. Perubahan paradigma UUD ini harus membawa perubahan pola pikir.Untuk menjamin percepatan bagi kemajuan pendidikan dan pencerdasan kehidupan ban gsa. Penguatan sistem pemerintahan demokratis. -====================================== Home Profil Kegiatan ANGGOTA DPD AKADEMISI AKTIFIS GALERI Berita . c. kemandirian serta dengan menjaga keseimbangan kem ajuan dan kesatuan ekonomi nasional (pasal 31 ayat (4)). Menganut prinsip negara konstitusionalisme. Dengan perubahan ini. h. ilmu pengetahuan dan kebuadayaan na sional. berwawasan lingkungan. f.    Di samping itu. sep erti pembubaran Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Sementara itu prinsip Ketuhanan yang Maha Esa sebagai dasar negara tetap diperta hankan di samping prinsip kemanusiaan. memajukan kebuda yaan nasional dengan menjamin kebebasan masyarakat untuk memelihara dan mengemba ngkan nilai-nilai budayanya. Mengakomodir Demokrasi Ekonomi dan Pembangunan Berkelanjutan Perubahan ini juga menyempurnakan arah pembangunan dan sistem ekonomi nasional y ang semula hanya menekankan pada sistem perekonomian sebagai usaha bersama berda sar atas asas kekeluargaan. Kesimpulan Banyak sekali paradigma politik baru setelah perubahan UUD ini. g. Pendekatan fungsional dan efisiensi dalam penataan lembaga-lembaga negara. diakomodir enam asas penting dalam pembangunan ekonomi yai tu: demokrasi ekonomi. prinsip efisiensi berkeadilan. prins ip berkelanjutan. Jaminan atas pluralisme. Peranan negara dalam memajukan pendidikan. prinsip kebersamaan. prinsip berwawasan lingkungan. serta menghormati dan memelihara bahasa daerah seba gai kekayaan budaya nasional. negara kesatuan. i. Prinsip check and balances dalam hubungan antar lembaga negara. berkela njutan. prinsip kemandirian serta prins ip menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional. menjadi sistem ekonomi yang diselenggarakan berdasar kan demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan. keadilan sosial serta pe rmusyawaratan yang tertuang dalam pembukaan tetap dipertahankan. Paling tidak ada sepuluh paradigma yang dapat dikemukakan dari perubahan UUD ini. serta j. Asas demokrasi ekonomi dan pembangunan berkelanjutan.

juga tidak jarang merugikan pemba ngunan bangsa dalam negara hukun yang demokratis. Farouk Muhammad Akhir-akhir diskursus tentang masalah keamanan “nasional” menjadi hangat dibahas pad a berbagai media masa. Pada era itu . selama sekitar 20 tahun (sejak UU nomor 20 tahun 1982 tentang Pertahanan Ke amanan Negara) kita menggunakan terma “pertahanan keamanan” sebagai satu pengertian tunggal.. “keamanan dan ketertiban masyarakat” yang menjadi porsi Polri. Dari situ berkembang konsep “keamanan dalam negeri” yang menjadi por si ABRi. pertama. Untuk keperluan tersebut saya memilih topik “Keam anan Nasional Dalam Keamanan” dengan maksud untuk memberi penekanan bahwa “Kamnas” mer upakan bagian dari suatu konsep “keamanan” yang lebih luas. apa yang dimaksud dengan nasional dan apa ruang lingkup keamanan nas ional.: 60/1982) mengatur tugas ABRI juga dal am penegakan hukum.Kontak Farouk Muhammad Membangun Arah Di Atas Amanah KEAMANAN “NASIONAL” DALAM KEAMANAN admin 21 March. Dr. karena merasa bahwa hampir semua produk kebijakan telah diterbitkan. Lagi pula. Dirjen Strahan. UU nomor 20 bahkan menetapkan bahwa upaya pertahanan ditujukan terhadap ancaman yang bersumber dari luar negeri dan upaya keamanan terhadap ancaman dar i dalam negeri. Mayjen TNI Dady …) yang difasilitas oleh Propatria (LSM Security Refo rm).: 02/1999) yang dikukuhkan dengan Tap MPR nomor VI/2000. Hal serupa juga terjadi dalam forum-forum lain. yaitu “keamanan yang nasio nal”. intelijen dan rahasia negara. P ermasalahan yang krusial dalam pembahasan konsep RUU terutama menyangkut dua isu pokok. Isu-isu terkait. Dari flo or lahir berbagai tanggapan. Pemahaman secara l . perbantuan TNI. selain positif. setelah bertahun-tahun didiskusikan pada berbagai forum. sep erti …. Sebagai Sekretaris Tim Inti Pemisahan Polri dari ABRI pada saat itu (19992000). Di antara yang menggelitik saya adalah pernyataan Menhan bahwa “” Pernyataan tersebu t perlu diluruskan karena. seperti. kebijakan tersebut membuat peran ABRI yang begitu dominan bukan saja dalam penanganan masalah keamanan yan g bersifat nasional. Tanggal …. Dalam forum tersebut. pertahanan dan keamanan negara. Sebagaimana kita maklumi bersama. Prof. 1. Artikel in i membahas masalah yang pertama.” yang dilaksana kan atas kesepakatan Kelompok Kerja (Pokja) Polri tentang masalah keamanan negar a di bawah pimpinan saya (Gubernur PTIK pada saat itu) dengan Pokja Dephan (Dirj en Strategi. memaparkan pemikirannya tentang RUU Kamnas dan saya memaparkan pemikiran Pokja Polri tentang “Kajian Konstitusional …”. peradila n umum bagi militer. yaitu ruang lingkup Kamnas dan Dewan Keamanan Nasional (DKN). 2012 Add Comments AKADEMISI KEAMANAN “NASIONAL” DALAM KEAMANAN Oleh : Irjen Pol. bahkan Keppres (no. terutama sejak dan sebagai konsekuensi pemisahan TNI – P olri.. timbul tenggelam di antara berita-berita media masa. tetapi bahkan kriminalitas dan penegakan hukum sehingga men inggalkan berbagai pengalaman. saya tidak pernah membayangkan akan terjadi perbedaan konsepsi seperti de wasa ini. Kerancuan timbul ketika menjadi terbiasa menyandingkan terma “keamanan” dengan “pertah anan”. menyimpang dari UU. dan forum rapat koordinasi pada kantor Menko Polhukam tanggal …. Pemahaman tentang konsep keamanan. bukan kegiatan sosialisasi RUU Kamnas melainkan diskusi “Mencari Format …. Pemisahan ABRI menjadi TNI dan Polri akhirnya menjadi keniscayaan sejarah (Inpre s no. Ini berarti bahwa kita akan berbicara tentang apa yang dimaksud dengan konse p keamanan. dengan mengatakan “sosialisasi” (suatu konsep rancangan undang-undan g) berarti bahwa komponen-komponen lain (penerima sosialisasi) hanya merupakan o byek yang “harus” menerima apapun yang disusun oleh Dephan. apa yang terjadi pada tanggal … di PTIK.

sehingga Ka mnas tidak mencakup seluruh aspek keamanan dalam suatu negara tetapi difokuskan pada ancaman terhadap negara dan tujuan vital nasional. berdaulat dan selamat bersama segenap bangsanya. Contoh: Bappen as. seperti dikemukakan Patrick J. Berdasarkan uraian di atas. Kita tidak perlu alergi untuk mengatakan bahwa militer (TNI) juga me mpunyai peran dalam bidang keamanan. Keamanan atau security memiliki pengertian universal yang luas. Karena itu. (2) food security. istilah keamanan mempunyai pengertian yang beraneka ragam sehingga tidak mungkin berdiri sendiri. 2. Ditinjau dari tatara nnya. pada pasca Perang Dunia II. (2) National (State) security. Bahkan seme njak tahun 1994 dengan keluarnya The Human Development Report dari UNDP. 2004). (6) community security. atau hanya terbatas pada keamanan “national”. (3) P ublic security (and Order). Fokus dari human security ini adalah manusia. bahwa tanggung jawa b Polri hanya berkenaan dengan masalah Kamtibmas—yang menurut hemat saya lebih tep at disebut keamanan umum (public security). Saya berpendapat bahwa pemahaman tersebut keliru. dan lain-lain. dan (4) Human security. paling tidak kita bisa mengelompokkan konsep keamanan itu dalam 4(empat) k ategori yaitu : (1) International security. dikenal pula istilah “human security” yang berarti : pertama.: VII yang kesemuanya d itetapkan oleh lembaga yang sama pada masa sidang yang sama. “National” dalam Bahasa Inggris berarti nas ional dalam pengertian negara atau bangsa. keamanan dari ancaman kronis kelaparan. 2005. mulai dari pengertian umum dalam kamus (Peter Salim. dan (7) political security. Sejalan dengan perkembangan pemahaman tentang security.agar tetap eks is. Kedua. walaupun pada aw alnya. jiks dikaitkan d engan amandemen (kedua) UUD 1945 Pasal 30 dan Tap MPR no. Garrity. Memahami konsep Keamanan Nasional Penggunaan terma “nasional” dalam konsep “keamanan nasional” mengundang perdebatan yang serius karena akan mencerminkan ruang lingkup konsep. utuh. Sementara itu. semua daerah. BKKBN. penyakit dan penindasan. Pertama. misalnya misi militer Australia atau Inggris. Apakah Kamnas mencakup seg enap masalah keamanan secara luas. tetapi harus dikaitkan dengan sesu atu sehingga sangat tergantung pada kata yang mengikutinya. seperti dikutip Komisi Konstitusi (2004) dari Christopher Schoemaker menekan kan bahwa “national security” mengandung pengertian: “the protection of the United Sta . yaitu (1) economic security. (3) health security. maupun psikis. Dalam percakapan sehari-hari terma nasional memberi kesan yang berarti menyelur uh (pusat sampai daerah. Istilah keamanan kemudian diadopsi dalam dunia kepolisian yang secara umum. The Human Development Report tersebut di atas mengidentifik asi 7(tujuh) elemen yang merupakan human security. bukan negara. (5) personal security. ruang lingkup konsep keamanan nasional (national security) seperti dikutip o leh Komisi Konstitusi(2004) dari Christopher Schoemaker hanya mencakup “the protec tion from external invasion. semua lapisan masyarakat). di tempat kerja ataup un dalam masyarakat. mulai dari keamanan negara sampai keamanan pu blik dan privat atau keamanan manusia. Kusnanto Anggoro. At its m ost fundamental level. terlindunginya keselamatan jiwa dan terjamin nya harta benda dari segala macam ancaman gangguan dan bahaya” (2004).eterliyk atas Tap MPR inilah akhirnya yang acapkali dirujuki seolah-olah urusan keamanan semata-mata menjadi tanggung jawab Polri dan TNI dipandang tidak berwen ang. (4) environmental security. Pengertian-pengertian tersebut menekankan pada pemahaman yang khusus dalam arti obyeknya. berarti perlindungan dari gangguan me ndadak yang merugikan pola kehidupan sehari-hari di rumah. Kedua melahirkan pertanyaan untuk tu juan apakah upaya pertahanan dilakukan? Bukankah untuk menjamin keamanan negara? Lihat. yaitu keamanan negara sebagai suatu entitas. the term security has meant the effort to protect a popul ation and territory against organized force while advancing state interest throu gh competitive behavior”. 2002) sampai pengertian-pengertian khusus yang diberikan ole h pengamat (Edy Prasetyono. Pemahaman y ang senada juga ditekankan berbagai literatur. sepe rti diartikan Awaloedin Djamin. AS. mengandung pengertian “keadaan atau kondisi bebas dari gangguan fisik. hanya menyangkut pengertian yang “c losely tied to a state’s defense of sovereign interest by military means. Upaya pertahanan itu sendiri justru ditujuk an menjamin keamanan. an attitude primarily driven by the war”.

ketika menyaksikan penanda-tanganan MoU antara Panglima TNI dan Kapolri di atas kapal Nusanive tang gal 18 Juni 2006 melihat adanya perbedaan tafsir. Keamanan Umum dan Keamanan Manusia Sehubungan dengan beranekanya pengertian keamanan. Keamanan na sional lebih mengandung pengertian keamanan suatu negara sebagai satu kesatuan ( entitas).” Dengan demikian. Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) denga n mengutip Laksda TNI (Purn) Ir. yang bisa menc akup pengertian yang luas atau terbatas. rekan-rekan Pokja Depha n menghendaki konsep Kamnas dalam arti menyeluruh sedangkan kami dari Pokja Polr i menekankan “Kamnas” dalam arti (Pertahanan dan) Keamanan negara. mungkin pertimbangan yang re alistik bisa digunakan adalah dari kacamata praktik. Lebih dari itu. maka kita harus isi sehingga lebih pasti. misalnya keamanan (Kamtibmas) dan keamanan manusia (human security) . maka permasalahannya adalah : apakah konsep keamanan negara mencakup keseluruhan masalah keamanan kehidupan d alam negara. (2) keama nan negara. konsisten dengan terma yang digunakan dalam Pasal 30 UUD 1945. Pokja Dephan menggagaskan Kamnas yang mencakup: (!) pertahanan negara. tidak memberikan persoalan di lapanga n.tes from major threats [penebalan oleh penulis] to our territorial. Jenderal Endriartono. dari ruang lingkupn ya kita bisa memperoleh gambaran apakah RUU Kamnas akan merupakan suatu konsep j itu yang bermanfaat bagi pengelolaan keamanan negara atau sebaliknya akan membua t sistem yang telah berjalan selama ini justru menjadi simpang siur. Mari kita pedomani itu sebagai rujukan berpikir kita. Keamanan Negara. Tidak kurang dari Panglima TNI. 3. bukan “st ate” yang berarti negara bagian. bukan totalitas keseluruhan masalah keamanan. dan (4) keamanan individu. RUANG LINGKUP RUU KEAMANAN “NASIONAL” Isu keamanan “nasional” yang akhir-akhir ramai dibahas oleh berbagai media massa men gundang berbagai persoalan yang perlu disepakati. sementara untuk keamanan dalam negeri mere ka mengembangkan “home land security”. Seperti juga dikonfirmasi oleh Tim National Security Counc il Amerika Serikat yang dihadirkan oleh Dephan pada acara …. o r economic well-being”. kevakuman dan overlap di antar a piranti-piranti lunak yang mengatur hubungan ke dua instansi dan menekankan “ … ka lau overlap dan kevakuman itu karena absennya pengaturan di dalam piranti lunak. saya telah menguraikan tentang persoalan pengertian keamanan nasional. Pada artikel sebelumnya. Berdasarkan gambaran pengertian yang diuraikan di atas dapat dikemukakan bahwa k onsep keamanan nasional tidak lalu berarti keamanan secara nasional. RUU Kamnas Uraian yang disajikan di atas memberi gambaran tentang perdebatan kami dengan te man-teman Pokja Dephan bersama Propatria. yaitu keamanan negara da n keamanan kehidupan dalam suatu negara. political. Budiman Djoko Said mengemukakan bahwa “pengertian keamanan nasional cenderung berorientasi kepada masalah pertahanan dan masalah hubungan luar negeri. Terlepas dari perdebatan tentang pengertian Kamnas. Artinya. Sejalan dengan uraian-uraian tersebut. d alam rapat koordinasi di Kantor Menko Polhukam (… ) menekankan bahwa ketentuan pen yusunan RUU Kamnas seyogyanya dikaitkan dengan kebutuhan untuk mengatasi permasa lahan [lintas sektoral—penulis]. berarti negara (state ). Bahkan bagi AS “national security” adalah keamanan ka wasan dunia yang mengancam negara AS. AS menggunakan istilah “national” untuk pengertian negara federasi (USA). pertanyaan yang perlu kita jawab adalah: apakah penyusunan RUU Kamnas dimaksudkan hanya untuk sekadar mengembangkan suatu gagasan yang dijustif ikasi secara legal atau untuk mengatasi permasalahan yang timbul dalam pengelola an keamanan khususnya keamanan negara. maka yang lebih menarik untuk k ita pahami adalah tentang ruang lingkup RUU Kamnas. Tetapi jika kita tidak mencapai kata sepa kat tentang pengertian dan tujuan penyusunannya. artinya. Presiden SBY. Di satu pihak. (3) keamanan umum. untuk maksud apa k ita menyusun RUU Kamnas.

. perlindungan terhadap diskriminasi yang berbasis ras. etnik. Negara wajib menjamin kebutuhan keamanan dalam segenap aspek kehidupan dalam neg ara. UU tentang HAM. Perbedaan prinsip keamanan manusia dengan keamanan negara dan keamanan umum terl etak pada sumber ancaman. Keamanan Umum dalam UUD Untuk lebih memperjelas perbedaan konsep keamanan negara dan keamanan umum sebai knya kita menengok kembali rumusan ketentuan tentang Pertahanan dan Keamanan Neg ara dalam setiap UUD yang pernah berlaku bagi negara Indonesia. aktor keamanan nega ra mempunyai peluang yang lebih besar mengancam perlindungan atas hak-hak terseb ut. Ke lompok orang dalam domain pertama disebut rakyat (people) yang terikat dalam per timbangan politik. jaminan dasar kesehatan dan terpenuhinya kebutuhan hidup minimu m. Konstitusi RIS mengatur p ertahanan kebangsaan dan keamanan umum sebagaimana tercantum dalam Bagian VI. tetapi mengandung konse kuensi yang lebih mendalam karena pada gilirannya akan membuka peluang intervens i atas nama keamanan negara atas persoalan-persoalan kehidupan sehari-hari warga masyarakat dan individu. Keamanan manusia pad a dasarnya menyangkut perlindungan atas: (1) hak-hak dasar individu. UUD 1945 (sebelu m diamandemen) tidak mengatur Keamanan Negara maupun Keamanan Umum. yang mencakup: hak dipilih dan memilih dala m jabatan-jabatan politik serta hak untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan n egara. Sementara itu. jenis kelamin atau agama. seperti keamanan dan ketertiban umum sampai keamanan manusia (human securit y) yang menjadi hak setiap warga negara. (2) hak-hak legal. Telah menjadi catatan sejarah bahwa kepentingan keamanan negara membuka pelu ang intervensi (baca: represi) atas persoalan kehidupan sehari-hari warga masyar akat dan individu. Selanjutnya keamanan negara dan keamanan umum juga memiliki domain yang berbeda dengan keamanan manusia yang bersifat individual / private. Konstitusi RIS da . (3) kebebasan sipil. Dari kutipan rumusan Bab XII pada setiap UUD tersebut di atas. Ancaman terhadap keamanan manusia hampir sebagian besa r justru bersumber dari aktor keamanan negara dan keamanan umum. Rumusan yang digunakan adalah tentang pertahanan negara (Bab XII). kedudukan sama di mata hukum. tetapi tidak berarti bahwa yang dimaksu d dengan keamanan negara adalah totalitas dari segenap permasalahan keamanan yan g ada dalam suatu negara. dan (6) hak-hak politik. Di sini perm asalahannya tidak hanya sekadar persoalan ruang lingkup. Karena itu ancaman/gangguan te rhadap keamnan negara belum tentu merupakan ancaman/gangguan terhadap keamanan m anusia / kelompok / masyarakat. keutuhan dan kedaulatan negara. (5) hak-hak ekonomi. Keaman an negara menyangkut kepentingan eksistensi. UUD 1945 (Dekrit) kembali memberlakukan UUD 1945 (asli) . mencakup: aks es mendapatkan perlindungan hukum serta hak untuk mendapatkan proses hukum yang sah. UU DS 1950 mengatur pertahanan negara dan keamanan umum sebagaimana terdapat pada b agian VI. misalnya UU tentang Polri. meliputi: kebebasan berpikir berpendapat dan menjalank an ibadah agama / kepercayaan. keamanan negara berada dalam domain yang berbeda dengan keamanan umum. meliputi: hak untuk bekerja. dan lain-lain. sedangkan kelompok yang kedua disebut masyarakat (society /co mmunity) yang terikat dalam persetembatan sosial. Dibandingkan de ngan aktor keamanan umum yang notabene adalah penegak hukum. terdiri atas: akses ke bahan pangan. Pengaturan untuk menjamin keamanan bidang lain selain keamanan negara dituangkan dalam masing-masing peraturan perundang-undangan yang terkait. (4) hak-hak kebutuhan dasar. Walau saling terkai t. mencakup : hak hidup. hak rekreasi serta hak jami nan sosial. sed angkan keamanan umum menyangkut kepentingan eksistensi / kelangsungan hidup dan ketentraman individu / kelompok orang yang (pada umumnya) hidup dalam negara. Keamanan negara adalah hanyalah salah satu bidang keamanan yaitu yang mencakup upaya untuk menjamin keamanan negara sebagai suatu entitas.

Isu keamanan juga hanya akan ditangani o leh aktor militer jika ancaman yang muncul disertai dengan aksi kekerasan bersen jata dan telah ada kepastian bahwa negara telah mengeksplorasi semua kemungkinan penerapan strategi non-kekerasan”. seperti perkelahian antar pemuda. Sementara itu. sindikat penyelundupan yang masih disebut denga n crime. penyelundupan. Pengalaman kehancuran sejuml ah negara seperti Uni Soviet dan Yugoslavia membenarkan postulat tersebut. keluar masuknya orang secara tidak resmi (illegal immigration). penebangan liar (illegal logging). seperti yang kita alam i di masa lalu. tetapi juga bahkan karena serangan “virus” yang ada dalam dirinya. karena permasalahannya lebih pada upaya peneg akan dan kepastian hukum. Andi Widjajanto yang merujuk Barr y Buzan. yaitu invasi militer. Dari sinilah. yaitu the use of military force”. dan lain-lain. sebagaimana terlihat dari judul bab: “Pertahanan Kebangsaan dan Keamanan Umum” (RIS) dan “Pertahanan Negara dan Keamanan U mum” (UUDS). Juga tidak perlu mencakup pernyataan pendapat seseorang yang berbeda dengan P4 atau bahkan mengkritisi ke bijakan pemerintah.n UUDS 1950 secara tegas membedakan mereka. Berkenaan dengan hal yang dikemukakan di atas. Selain itu. Ole Waever. Namun perlu segera digaris-bawahi “virus” tersebut juga diciptakan oleh negara itu sendir i yang terlalu jauh mencampuri urusan-urusan sosial dan individu. sepert i yang juga direkornendasikan oleh Seminar Pembangunan Hukum Nasional VIQ di Den pasar tahun 2003. Dalam kontek ini SBY menegaskan: “Kalau ada kejahatan be rskala besar. seyogyanya kita berhati-hati mengkategorikan jenis-jenis kejahatan tertentu sebagai ancaman terhadap keamanan negara. Lebih dari bentuk-bentuk ancaman yang disebut di atas. dan Jaap de Wilde menekankan: “Ketiga pakar strategi ini memp eringatkan para pembuat kebijakan untuk tidak terburu-buru mengeskalasi suatu is u menjadi isu keamanan. apalagi perkelahian suami istri. Sejalan dengan itu. (2) gerakan separatis bersenjata. . maka fighting crime itu tugas polisi”. Isu keamanan negara jelas menyangkut ancaman yang bersumber dari luar negeri (ek sternal). Seperti halnya suatu organism. Berbagai konflik ko munal yang melanda bangsa kita tidak jarang dipicu justru oleh kejahatan-kejahat an konvensional. SBY mengingatkan: “… agar kita berhati-hati dalam pengambilan keputusan berkenaan dengan wilayah yang kritikal . Tetapi keamanan negara juga tidak hanya berbicara tentang ancama n invasi militer dari luar negeri. Pemberontakan atau gerakan separatis bersenjata bahkan konflik komunal yang menimbulkan kerusu han yang anarkis dapat mengancam keamanan negara. Suatu isu hanya dapat dikategorikan sebagai isu keamanan jika isu tersebut menghadirkan ancaman nyata (existential threats) terhadap ked aulatan dan keutuhan teritorial negara. narkoba. (3) konflik komunal yang anark is dan menimbulkan kerusuhan massa. Pendekatan yang lebih rasional untuk membedakan kedua bentuk keamanan tersebut b ukan dilihat dari jenis kejahatan tetapi eskalasi gangguan. walau merupakan kejahatan lintas negara dikategorikan sebagai bentuk ancaman terhadap keamanan negara. (4) terorisme (internasional) dan (5) kejaha tan terhadap keamanan negara sebagaimana tercakup dalam Bab Kesatu buku II Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). seperti narkotika. yang merupakan domain human security. pencurian ikan (illegal fishing) penambangan liar (illeg al minning). kita akan melihat interkoneksi antara keamanan negara dan keam anan umum. gangguan “keseha tan” suatu negara tidak selalu karena serangan “wabah” dari luar tubuhnya. patut dipertanyakan kalau bentuk-bentuk kejahatan seperti pembajakan. Domain Keamanan Negara Berbicara tentang keamanan negara tentu tidak perlu berbicara tentang perkelahia n dua orang penduduk. dari berbag ai pengalaman penanganan ancaman terhadap keamanan negara ancaman yang bersumber dari dalam negeri (internal) dapat dikategorikan sebagai berikut (1) pemberonta kan bersenjata. agresi militer dan pelanggaran wilayah berbatasa n negara yang harus dihadapi dengan upaya pertahanan. dus termasuk domain keamanan umum.

Hanya saja disayangka n. Andi Widjajanto (2003) dengan merujuk Barry Buzan. TAP MPR No. Sejalan dengan kutipan Andi Widjajanto. dalam konteks pemisahan TNI dan P olri.A. Artinya. Untuk lebih memperjelas perbedaan konsep keamanan negara dan keamanan umum sebai knya kita menengok kembali rumusan ketentuan tentang Pertahanan dan Keamanan Neg ara dalam setiap UUD yang pernah berlaku bagi negara Indonesia. Keamanan Negara VS Keamanan Umum Terdapat pendapat yang menyatakan bahwa TAP MPR No.VII Tahun 2000 dan Pasal 30 UUD 1945. dan Jaap de W ilde menekankan : ”ketiga pakar strategi ini memperingatkan para pembuat kebijakan untuk tidak terburu-buru mengeskalasi suatu isu menjadi isu keamanan. Isu keamanan juga hanya akan ditangani oleh aktor militer jika ancaman ya ng muncul disertai dengan aksi kekerasan bersenjata dan telah ada kepastian bahw a negara telah mengeksplorasi semua kemungkinan penerapan strategi non kekerasan”. Dari s egi kepentingan/pendekatan. Banyu Perwita (2006) mengu tip Amitav Acharya : “the state it self. Dengan demikian Konstitusi RIS dan UUDS 1950 secara tegas membedaka n pertahanan/kemanan negara dan keamanan umum. rumusan Pasal 30 (hasil aman demen) mengandung kerancuan karena (berbeda dengan rumusan aslinya yang hanya me ngatur masalah pertahanan negara) mencakup seolah-olah segenap masalah pertahana n dan keamanan bahkan penegakan hukum. Namun penyelengga raannya menyangkut kepentingan/pendekatan dan aktor (utama) yang berbeda. Sudah barang tentu kesemuanya h arus diletakkan dalam konsep hukum. Semestinya untuk memah ami TAP MPR No. VII Tahun 2000 dan pasal 30 ayat (4) UUD 1945 secara lebih spesifik merumuskan tugas/peran Polri dalam bidang “Keamanan dan Ketertiban Masyarakat” dalam rangka menjamin “Keamanan Dalam Negeri”. A. Ole Waever. maka akan diketemukan dua fungsi yang berbed a yaitu pertahanan urusan TNI dan keamanan urusan Polisi. TAP MPR No. UUDS 1950 mengatur “Pertahanan Negara dan Keamanan Umum” sebagaimana terdapat pad a bagian VI. far from being the provider of security a s in the conventional view. yaitu the u se of military force” (Susilo B. melainkan keamanan da lam arti keamanan umum (Polri). keamanan negara merupakan porsi TNI dan Polri. Jika kita merujuk semata-m ata pada TAP MPR No. Dalam hal ini setiap undang-undang harus mengacu pada UUD 1945. VI Tahun 2000 harus melihat TAP MPR No. keamanan umum dan perlindungan Hak Asasi Manusia. keamanaan negara menyangkut kepentingan politik kare na yang harus dilindungi adalah persetambatan politik yaitu negara. VI Tahun 2000. Sementara keamanan manusia menyangkut kepen tingan perlindungan hak-hak manusia (humaniora). VII Tahun 2000 yang dite tapkan secara bersamaan melalui Sidang Umum MPR Tahun 2000. 4. dan bagi pelanggar akan dihukum untuk menjam in keamanan Negara. Suatu isu hanya dapat dikategorikan sebagai isu keamanan jika isu tersebut menghadirkan a ncaman nyata (existential threats) terhadap kedaulatan dan keutuhan teritorial n egara.4. Konstitusi RIS m engatur “Pertahanan Kebangsaan dan Keamanan Umum” sebagaimana terdapat pada bagian V I. SBY mengingatkan : “… agar kita berhati-hati dalam pengambilan keputusan berkenaan dengan wilayah yang kritikal. has in many ways been a primary source of insecurity…”. Untuk menyikapi kerancuan tersebut maka seyogyanya kita membangun kesepahaman de .VI Tahun 2000 bertentangan de ngan TAP MPR No. Yudhoyono. sebagaimana telah dikaji oleh Komisi Konstitusi. sedangkan ke amanan umum menyangkut kepentingan persetambatan sosial yaitu masyarakat baik da lam satu negara maupun antar negara. VI Tahun 2000 tidak memisahkan fungsi pertahanan (TNI) dengan fungsi keamanan negara apalagi keamanan secara menyeluruh. Pertimbangan lain yang membuat kita untuk harus berhati-hati dalam menyusun ruan g lingkup konsep Keamanan Nasional adalah seperti dikemukakan oleh Andi Widjajan to. UUD 1945 khususnya Bab XII Pasal 30 sama sekali tidak berbicara tenta ng “keamanan nasional” melainkan “Pertahanan dan Keamanan Negara”. keamanan umum pors i Polri dan keamanan manusia porsi Komnas HAM. Saran Sebagai aparatur pemerintah kita dituntut untuk secara konsekuen dan konsisten m enjunjung supremasi hukum. Dari segi aktor (utama). Disadari bahwa dalam pengelolaan keamanan negara akan saling terkait dengan peng elolaan keamanan umum dan bahkan pengelolaan keamanan manusia. 2004).

Manajemennya dapat dianalogkan dengan yang ada di Indonesia. Stanley. Anak Agung. 2006. Awaloedin. itu memang kepolisian diharapkan berdiri di depan. VI tahun 2000 yang secar a yuridis formal melandasi proses reformasi (pemisahan) TNI/Polri. dan merusak/destructive action) sampai dengan konflik int ensitas tinggi/high intensity conflict (separatisme sampai dengan invasi) tidak termasuk keamanan dan ketertiban masyarakat/kamtibmas dan ketertiban umum/tibum serta hubungan luar negeri”. DAFTAR PUSTAKA Anggoro. mak a tugas keamanan sepenuhnya diemban oleh tentara (TNI)…. itu memang menyangkut segi kehidup an apa saja dan melibatkan banyak pemeran dan pelaku untuk menegakkan keamanan i tu sendiri. Ruang lingkup Keama nan Negara juga semestinya ditujukan untuk menghadapi segenap ancaman terhadap k eamanan negara. Djamin. Demokrasi. Stephen Cambone) Komisi Konstitusi.. Banyu Perwita. Pertahanan Dan Keamanan Negara Pada Milenium Ke Tiga. itu sebetulnya paduan dari TNI dan Kepolisi an. Mengakhiri makalah ini. Kalau keamanan dalam negeri ini kita le takkan dalam konteks keamanan masyarakat dan terbebasnya rakyat dari kejahatan-k ejahatan. “Buku I : Usul Komisi Konstitusi tentang perubahan UUD Ne gara RI tahun 1945. Tentu saja pemahaman tersebut harus ti dak secara kaku diartikan sebagai pemisahan urusan pertahanan dengan urusan sege nap masalah keamanan tetapi hanya menyangkut urusan pertahanan dengan urusan kea manan dalam pengertian keamanan umum. . 2004.. Makalah Pengantar Peluncuran Buku Mencari Forma t SisHanKamNeg “Problematika Keamanan Nasional: Sebuah Catatan Kecil”. 2004. Dalam konteks ini. maka seyogyanya RUU yang akan kita susun tidak disebut RUU Keamanan Nasional tetapi RUU Pertahanan dan Keamanan Negara a tau paling-paling kita bisa menyebutnya RUU Keamanan Negara. B agaimana tanah air kita ini tetap aman dari agresi lawan. Jakarta. Makalah lepas “Kerancuan Istilah Pertahanan (Defence) dan Keamanan (Security) dalam kaitan tugas TNI dan Polri” Garrity. Dabelko. Patrick J. Berdasarkan pemikiran tersebut di atas. Kedua konsep keamanan tersebut mem iliki domain yang berbeda : keamanan umum menyangkut kepentingan masyarakat (pub lik) sedangkan keamanan negara menyangkut kepentingan negara sebagai suatu entit as (kesatuan yang utuh dari segenap komponen negara: pemerintah. dan Pemilu 2004. Jakarta. ProP atria. Kusnanto. Tetapi kalau keaman an negeri itu adalah menyangkut ancaman bersenjata di dalam negeri seperti pembe rontakan dan separatisme bersenjata. dan David D. spionase. pemikiran SBY dalam bukunya “Menuju Perubahan Menegakkan C ivil Society” patut kita jadikan sebagai rujukan : “sebetulnya kalau kita mendefinis ikan keamanan dalam arti yang seluas-luasnya. Dabelko. kerusuhan massal yang bersifat anarkis. baik yang bersumber dari luar negeri dalam bentuk invasi militer (upaya pertahanan) maupun ancaman yang bersumber dari dalam negeri seperti pemb rontakan bersenjata. sekaligus f ungsi dan tugas yang perlu diberikan kepada TNI dan Polri”. Keamanan dengan K besar diterjemahkan dengan pertahanan eksternal.ngan menengok ketentuan yang tertuang dalam Tap MPR No.ed. dengan catatan lebi h banyak memfokuskan diri kepada masalah pertahanan yang dalam hal ini dimulai d ari konflik intensitas rendah/low intensity conflict dalam skala tinggi (sabotas e. Berbicara tentang keamanan umum (public se curity) tentu berbeda dengan keamanan negara.ada yang disebut dengan i nternal security atau keamanan internal. d alam Keamanan. Itu kalau kita bicara tentang domain dan wilayah tanggung jawab. yang memisahk an fungsi pertahanan dan fungsi keamanan. ProPatria. A New Structure for National Security Policy Planning (mengutip Geoffrey D. rakyat dan wila yah). subversi. terorisme internasi onal dan gangguan yang serupa (upaya pemeliharaan keamanan dalan negeri). 1998. 2004.

Pengg unaan Instrumen Keamanan. Tataran Kewenangan. Christopher. Salim. Makalah lepas “Keamanan Nasional. Schoemaker. Edy. CSIS Jakarta. Counseling the Council. 2005. 2005.Markas Besar Polri. Prasetyono. . 1991. M odern English Press. dan Keamanan Manusia”. Relawan Bangsa.. Ja karta. 2002. Menuju Perubahan : Menegakkan Civil Society. 2004. Susilo Bambang. Kajian Konstitusional tentang Peranan Polri dalam Pen gelolaan Keamanan Negara. Jakarta. Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer. Peter & Yenny Salim. Yudhoyono. The NSC Staff.