POSISI TNI DALAM SISTEM POLITIK NASIONAL Jum`at, 6 Oktober 2006 00:00:00 - Oleh : puspen - Dibaca : 1316 Home » Opini

» POSISI TNI DALAM SISTEM POLITIK NASIONAL Kita perlu merenungkan lagi posisi TNI dalam sistem politik nasional di Indonesi a dalam rangka mendorong proses demokratisasi yang sedang berlangsung. Apalagi setelah buku BJ Habibie, Detik-detik yang Menentukan, diluncurkan di Jak arta, muncul polemik soal kemungkinan ada upaya kudeta pada tahun 1998. Apa betu l ada upaya kudeta, belum ada kepastian. Namun, peluang kudeta seperti di Thaila nd dan Filipina sebetulnya bisa dicegah melalui mekanisme pengaturan institusi k etentaraan. Politik praktis Pertama, pengorganisasian TNI. Kedudukan TNI dalam sistem politik haruslah ditem patkan di luar birokrasi pemerintahan. Ia berada langsung di bawah presiden seba gai kepala negara sekaligus Panglima Tertinggi TNI. Dengan demikian, TNI bisa be bas atau tidak terlibat dalam persoalan kebijakan politik pemerintah yang terkad ang berhadapan dengan aspirasi rakyat. Dengan memisahkan TNI secara struktural d ari urusan politik seperti ini, sistem ketentaraan menjamin tidak ada prajurit a tau pimpinan TNI pada level mana pun terlibat dalam politik praktis, mulai dari memberikan komentar atas ketidaksetujuan terhadap kebijakan pemerintah sampai pa da pengerahan mesin perang untuk menakut-nakuti pemerintah. Agar TNI benar-benar netral dan bebas dari intervensi politik dan segala urusan politik praktis yang salah satu ujungnya adalah rebutan jabatan, pengangkatan pe jabat di bawah kepala staf angkatan (bintang tiga) menjadi otoritas penuh TNI. A rtinya, keterlibatan presiden tak lebih hanyalah pengesahan legalitas administra si kenegaraan dalam kedudukan presiden sebagai kepala negara, sedangkan kepala s taf angkatan ditetapkan dan diangkat oleh presiden dengan nominasi sejumlah bint ang tiga yang diajukan pimpinan TNI setelah melalui proses sidang Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi (Wanjakti). Selain itu, dalam pengorganisasian Markas Besar TNI yang dipimpin seorang kepala staf gabungan, mesti menjadi kewenangan presiden untuk memilih satu dari tiga k epala staf yang ada. Dalam hal pengurusan administrasi, kepala staf gabungan ber ada di atas para kepala staf angkatan. Dalam situasi perang atau darurat militer Kepala Staf Gabungan TNI otomatis bera lih menjadi Panglima TNI yang peralihannya dinyatakan oleh presiden. Yang berhak untuk mengeluarkan perintah dalam penggunaan kekuatan TNI, walaupun untuk jumla h satu orang prajurit dan dengan amunisi satu butir peluru sekalipun, mutlak han ya berada di tangan presiden selaku kepala negara dan sekaligus sebagai Panglima Tertinggi TNI. Soal anggaran dan ancaman Kedua, soal urusan administrasi. Dalam urusan administrasi di luar urusan perang , khususnya dalam hal anggaran belanja, hal itu ditangani Departemen Pertahanan. Menteri Pertahanan kemudian memperjuangkan anggaran TNI ke DPR. TNI bukanlah le mbaga sipil karena itu ia jangan dilibatkan pada pekerjaan yang bersifat bottomup dengan adu argumentasi dan perdebatan termasuk dengan anggota DPR. Sistem har us menjamin agar habitat militer yang demikian itu tidak menjadi rusak. Pada prinsipnya, untuk membangun tentara yang kuat dibutuhkan biaya yang besar k arena pada hakikatnya militer adalah cost center. Di sanalah tanggung jawab poli tisi sipil untuk mencukupi bujet TNI. Tidaklah benar kalau proses memperoleh buj et TNI menempuh jalur lobi balik layar. TNI juga jangan diseret masuk ke dalam w ilayah politik, karena itu ia harus dijaga agar lembaga politik mana pun tidak m

engintervensinya termasuk dalam proses perekrutan pimpinan TNI. Ketiga, soal ancaman. Tentara turun tangan dalam urusan perang menghadapi musuh dari luar. Bisa urusan internal kalau negara sedang "tidak normal" dalam hal kea manan. Soal keamanan dalam negeri, lembaga intelijen, polisi, dan lembaga sipil yang terkait yang perlu diberdayakan. Kalau toh itu gagal, TNI hanya bisa dibena rkan pada saat keadaan sudah tidak normal. Masalah seperti Aceh (sebelum Nota Ke sepahaman Helsinki) dan Papua sesungguhnya murni masalah politik, maka seharusny a diselesaikan dengan cara politik, bukan dengan mengerahkan tentara. Selain mendorong proses demokratisasi, model pengaturan tentara seperti itu juga mencegah peluang tentara menguasai politik, entah melalui kudeta yang sebetulny a bukan tradisi militer kita ataupun melalui proses politik formal. ================================================= Supremasi Sipil dan Profesionalisme TNI Oleh: Edy Prasetyono PADA tanggal 30 September 2004 Dewan Perwakilan Rakyat telah menyetujui Rancanga n Undang-Undang TNI untuk disahkan menjadi Undang-Undang tentang TNI. Meski baru beberapa bulan dibahas DPR, UU TNI sebenarnya lahir melalui proses panjang seja k pertengahan kedua tahun 2002. Dalam proses yang panjang itu, RUU TNI mengundan g beberapa kontroversi. Beberapa waktu lalu kontroversi berkisar pada adanya Pasal 19 RUU TNI yang perna h disebut oleh seseorang sebagai pasal kudeta karena memberi wewenang kepada pan glima untuk menggunakan kekuatan TNI dalam keadaan memaksa. Dalam perjalanannya selama proses pembahasan, RUU TNI masih dicurigai memberi pe luang peran pembinaan teritorial, yang dikhawatirkan akan mengarah pada keterlib atan TNI dalam politik melalui jaringan struktur teritorial TNI. BAGAIMANA dengan UU TNI yang baru saja disetujui DPR? Apakah UU TNI itu telah me njawab berbagai kekhawatiran itu? Penilaian terhadap UU TNI harus bertitik tolak dari dua prinsip. Pertama, UU TNI harus membangun supremasi sipil dan kontrol otoritas politik yan g demokratis atas institusi TNI. Ini penting untuk menegaskan kewenangan pemerin tah dalam membuat kebijakan pertahanan dan pengerahan, penggunaan, dan pelibatan TNI dengan persetujuan DPR. Sementara itu TNI hanya memegang aspek operasional dan pembinaan kekuatan. Kontrol atas TNI oleh pemerintah juga dilakukan melalui mekanisme anggaran yang dibuat bersama DPR. Dalam UU TNI, supremasi sipil tercermin dari aneka ketentuan mengenai jati diri TNI pada Pasal 2 terutama Ayat (d) tentang TNI sebagai tentara profesional yang tunduk pada kebijakan politik negara dan prinsip-prinsip demokrasi. Pasal 3 tent ang kedudukan TNI juga menegaskan ketertundukan TNI pada presiden dan Departemen Pertahanan yang memegang kewenangan koordinasi dalam pembuatan kebijakan dan st rategi pertahanan serta dukungan administrasi bagi TNI. Pasal 5 memperkuat Pasal 2 dan Pasal 3 dengan menyatakan TNI adalah alat negara di bidang pertahanan yan g dalam menjalankan tugasnya berdasarkan kebijakan dan keputusan politik negara. Karena itu, TNI tidak bisa bergerak independen. TNI hanya bisa dikerahkan oleh s uatu keputusan politik pemerintah (presiden) dengan persetujuan DPR, seperti dit egaskan Pasal 17. Dalam keadaan memaksa, presiden dapat langsung mengerahkan kek uatan TNI. Ini dengan ketentuan, dalam waktu 2 x 24 jam, presiden harus melapork an kepada DPR. Jika DPR tidak menyetujui pengerahan itu, presiden harus menghent

ikannya (Pasal 18). Sementara itu tanggung jawab operasional kekuatan TNI ada di pundak panglima yang harus bertanggung jawab kepada presiden (Pasal 19 Ayat 2). Memang masih ada kekhawatiran terhadap tugas TNI di luar operasi perang seperti diatur Pasal 7 Ayat (2), termasuk tugas memberdayakan wilayah pertahanan yang di rinci dalam tugas masing-masing angkatan pada Pasal 8, 9, dan 10. Ada yang menaf sirkan tugas-tugas ini mencakup pembinaan teritorial yang dilakukan struktur ter itorial TNI. Namun, harus diperhatikan, tugas-tugas selain perang hanya bisa dil akukan atas dasar kebijakan dan keputusan politik negara (Pasal 7 Ayat 3). Keput usan politik dan kebijakan negara mendasari pengembangan postur TNI untuk mengat asi ancaman militer dan ancaman bersenjata. Postur meliputi kekuatan, kemampuan, dan gelar kekuatan TNI. Di sini, struktur t eritorial tidak lain adalah bentuk gelar yang harus berdasarkan kebijakan pertah anan negara (Pasal 11). Ketentuan ini menegaskan kewenangan untuk mempertahankan , mengembangkan, atau mengubah struktur teritorial tidak di tangan TNI, tetapi d i tangan pemerintah. Pengembangan postur TNI, sesuai penjelasan Pasal 11, harus memerhatikan wilayah rawan keamanan, daerah perbatasan, rawan konflik dan pulau terpencil sesuai kond isi geografis dan strategi pertahanan. Dengan demikian, secara legal, politis, d an strategis, UU TNI berhasil menciptakan supremasi otoritas politik yang demokr atis atas institusi TNI. Tetapi, tampak UU TNI masih belum menyelesaikan hubungan antara TNI sebagai orga nisasi dengan Departemen Pertahanan dan presiden. Pasal 3 menyatakan, TNI di baw ah presiden dalam pengerahan dan penggunaan kekuatan dan di bawah koordinasi Dep artemen Pertahanan dalam hal kebijakan dan strategi pertahanan serta dukungan ad ministrasi. Ketentuan itu secara implisit mengakui, TNI adalah suatu entitas yang terpisah d ari Departemen Pertahanan. TNI masih bukan bagian integral Departemen Pertahanan . Akan lebih baik jika TNI dalam Departemen Pertahanan. Harusnya hal ini diatur langsung dalam batang tubuh UU TNI, tidak dalam penjelasan. Pengaturan dalam pen jelasan tampaknya merupakan hasil kompromi di DPR setelah perdebatan panjang dan alot. UKURAN kedua, UU TNI harus mampu menciptakan tentara profesional. Profesionalism e diukur dari kompetensi, akuntabilitas, dan kesejahteraan. Kompetensi TNI adala h untuk mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan bang sa dari ancaman militer dan bersenjata. Untuk menjalankan tugas ini TNI berfungs i sebagai penangkal, penindak, dan pemulih (Pasal 6). Untuk menjalankan fungsi i tu, fungsi pembinaan melekat pada tiap angkatan. Dengan logika ini, sewajarnya kepala staf angkatan tidak mempunyai garis komando operasi. Karena itu, mereka dinamakan kepala staf yang berfungsi staffing, yang berbeda dari commanding. Garis komando operasi ada di tangan panglima. Namun, d alam praktik jarang sekali, panglima atau kepala staf angkatan, bahkan pangdam, menjadi panglima komando operasi di lapangan. Karena itu, perlu dipikirkan bagai mana reorganisasi TNI, termasuk mabes-mabesnya, jika nanti TNI ada dalam Departe men Pertahanan yang harus menegaskan garis staffing dan commanding secara jelas. Kompetensi juga lahir melalui pendidikan, promosi, dan pembinaan mental baik mel alui sumpah prajurit, sumpah perwira, maupun kode etik. UU TNI sudah mengatur se mua. Juga patut disambut positif, untuk mengembangkan profesionalisme prajurit, UU TNI melarang prajurit terlibat kegiatan partai politik, politik praktis, bisn is, dan untuk dipilih menjadi anggota legislatif (Pasal 39). Bahkan, kegiatan bi snis TNI akan diambil alih pemerintah dalam waktu lima tahun ke depan. Bisnis TN I telah menjadi sorotan publik. Tidak hanya kegiatan bisnis yang menghasilkan ua ng akan membuat TNI independen terhadap otoritas politik, tetapi juga karena keg

undang-undang ini tidak banyak artinya jika tidak dilaksanakan. Artinya. TNI bisa menduduki jabatan-jabatan pemerintah departeme n ataupun nondepartemen (Pasal 47). Ke depan. dalam hal ini bisa Presiden atau Perdan a Menteri atau Raja. ada kekhawatiran. ================================================================== KEDUDUKAN LEMBAGA NEGARA DI INDONESIA PASCA AMANDEMEN UUD NEGARA TAHUN 1945 A. dalam hal ini bisa disebut parlemen a tau dengan nama lain seperti Dewan Perwakilan Rakyat. Akuntabilitas ketiga adalah akuntabilitas hukum. Akuntabilitas operasional ini juga mencakup ketertundukan pada prinsip hak asasi manusia. prajurit bersangkutan secara implis it tak akan menduduki pimpinan. Selain itu mereka harus tunduk kepada ketentuan administrasi dan sesuai kebutuhan organisasi departemen dan lembaga pemerintah n ondepartemen.iatan bisnis bisa merusak hubungan komando dan merusak social capital di tubuh T NI. Sedangkan ta nggung jawab pembinaan TNI untuk menyiapkan TNI ada di tangan masing-masing kepa la staf. Meskipun demikian. UU TNI merupakan terobosan besar dalam reformasi sektor keamanan. Pendahuluan Berbicara mengenai lembaga negara berarti berbicara mengenai alat kelengkapan ya ng ada dalam sebuah negara. Untuk itu diperlukan pemberdayaan Departemen Pertahanan dan Menteri Pertahanan y ang memahami masalah pertahanan. negara harus menyediakan seluruh kebutuhan anggaran TNI. Ini adalah kekhawatiran yang wajar karena pe ngalaman di zaman Orde Baru. Beberapa prins ip dasar supremasi sipil yang demokratis atas institusi militer telah diletakkan . Karena itu. Tetapi. terutama pengelolaan pertahanan (defence manage ment) dan hubungan sipil-militer dalam negara demokratis. Akuntabilitas operasional ada di pundak panglima dalam hal penggunaan kekuatan T NI. dalam kenyataanya. Kegagalan pelaksanaan tugas TNI adalah tanggung jawab panglima. misalnya. hukum internasional dan kebiasaan internasional dalam melaksa nakan tugas operasi militer. dibantu oleh menteri-menteri yang biasanya memili ki suatu depertemen tertentu. dan kekuasaan yudikatif se perti Mahkamah Agung atau supreme court. masalah ini harus diterjemahkan dalam hub ungan pertanggungjawaban komando (command responsibility) dan aturan pelibatan ( rules of engagement) yang jelas. PANGLIMA juga dituntut mempertanggungjawabkan anggaran TNI kepada Departemen Per tahanan. Meski demikian. yaitu ketertundukan pr ajurit TNI kepada kekuasaan peradilan umum dalam pelanggaran hukum pidana umum. Hal ini menjadi tanggungan pemerintah (Departemen Pertahanan) seperti diatur dalam Pasal 51 dan 52. Setiap alat kelengkapan negara tersebut bisa memiliki organ-organ lain untuk membantu melaksanakan fungsinya. harus digarisbawahi. Kekuasaan eksekutif. posisi prajur it dalam jabatan-jabatan itu harus atas dasar permintaan pimpinan departemen ata u lembaga pemerintah nondepartemen. Namun. tipe-tipe le mbaga yang diadopsi setiap negara berbeda-beda sesuai dengan perkembangan sejara h politik kenegaraan dan juga sesuai dengan kebutuhan masyarakat dalam negara ya . Depart emen Pertahanan dan DPR harus bekerja lebih keras guna menyiapkan beberapa kebij akan lain dan instrumen pelaksanaannya. upaya membangun TNI yang profesional dan yang melepa skan sebagian hak-hak politik sebagai warga negara mensyaratkan pemenuhan keseja hteraan prajurit. Alat kelengkapan negara berdasarkan teori klasik huk um negara meliputi. Pasal 47 Ayat (3) dan (4) menyatakan. Ini berarti penempatan prajurit di luar instansi pemerintah adalah tanggung jawa b dan keputusan politik pemerintah dalam bentuk peraturan pemerintah atau peratu ran perundang-undangan. kekuasaan eksekutif. ketentuan selanjutnya mengenai hal ini juga harus diperhatikan. Namun. kekuasaan legislatif.

secara konsep. Pendek kata.lpmpsulsel. golongan kepentingan (interest group). Oleh k arena itu. baga imana kedaulatan rakyat sebagai dasar kekuasaan tertinggi negara itu dibagi-bagi dan dilaksanakan oleh lembaga. Menurut Kelsen. organ negara i tu identik dengan individu yang menjalankan fungsi atau jabatan tertentu dalam k onteks kegiatan bernegara. Demikian pula hakim yang mengadili dan menghukum penjahat dan terpid ana yang menjalankan hukuman tersebut di lembaga pemasyarakatan. asalkan fungsi-fungsinya itu bersifat menciptakan norma (normcreating) dan/atau bersifat menjalankan norma (norm applying).net/v2/index. Siapa saja yang menjalankan suatu fungsi yang ditentukan oleh suatu tata hukum (legal orde r) adalah suatu organ. Jadi. Di samping pengertian luas itu.lpmpsulsel. tujuan diadakan lembaga-lembaga negara atau alat kelengkapan negara adalah selain untuk menjalankan fungsi negara. be they of a norm creating or of a norm applying character. golon gan penekan (pressure group). hubungan antar dua komponen struktur ketatanegaraan tersebut ditentuk an dalam UUD. kita dap at mendekatinya dari pandangan Hans Kelsen mengenai the concept of the State Org an dalam bukunya General Theory of Law and State.php?option=com_content&view=article &id=130:pasca-amandemen&catid=42:widyaiswara&Itemid=203 (Political Sovereignty) dengan supra struktur politik (Governmental Political Sp here) sebagai pemegang atau pelaku kedaulatan rakyat menurut hukum (Legal Sovere ignty). organ negara itu tidak selalu berbentuk organik. Lembaga negara dalam ko nteks negara dapat diketahui melalui sistem dan mekanisme penyelenggaraan pemeri ntahan yang berlaku sebagaimana yang dianut dalam UUD NRI 1945. Kedudukan Lembaga Negera di Indonesia Pasca Amandemen UUD 1945 1. juga untu k menjalankan fungsi pemerintahan secara aktual.kebijakan penyelenggara negara. adalah juga mer upakan organ negara. Di samping organ yang berbentuk organik. Lembaga-lembaga negara harus membentuk suatu kesatuan proses yang satu sama lain saling berhubungan dalam rangka penyelengaraan fungsi negara atau istilah yang digunakan Prof. are all ultimate ly aimed at the execution of a legal sanction. Kedudukan lembaga negara d apat dilihat dari konteks negara dan konteks masyarakat. dan tokoh politik (political figure) dalam mempengaruhi dan mengarahkan k ebijakan. Hans Kelsen menguraikan bahwa “W hoever fulfills a function determined by the legal order is an organ.lembaga negara. “These functio ns.ng bersangkutan. Pengertian Lembaga Negara http://www. Artinya. Sri Soemantri adalah actual governmental process. hubungan antara infra struktur politik (Soci o Political Sphere) selaku pemilik kedaulatan http://www. Secara konseptual. lembaga-lembaga tersebut harus bekerja dan memiliki relas i sedemikian rupa sehingga membentuk suatu kesatuan untuk merealisasikan secara praktis fungsi negara dan ideologis mewujudkan tujuan negara jangka panjang. lebih luas lagi. Masalah yang akan kami angkat dalam makalah ini adalah sebagai berikut: (1) Baga imanakah kedudukan Lembaga Negara di Indonesia pasca amandemen UUD 1945?.net/v2/index. Hans Kelsen juga menguraikan adanya pengertian o . parlemen yang menetapkan undang-undang dan warga negara yang mem ilih para wakilnya melalui pemilihan umum sama-sama merupakan organ negara dalam arti luas. alat komunikasi politik (media political communica tion).php?option=com_content&view=article &id=130:pasca-amandemen&catid=42:widyaiswara&Itemid=203 Untuk memahami pengertian lembaga atau organ negara secara lebih dalam. terdapat hubungan yang saling menentukan dan saling mempengaruhi. setiap jabatan yang ditentukan oleh hukum da pat pula disebut organ. dalam konteks ma syarakat dapat dilihat dari kerja Infra Struktur Politik masyarakat yang meliput i partai politik (political party). (2) Ba gaimanakah hubungan antar Lembaga Negara di Indonesia Pasaca Amandemen UUD 1945? B. terutama supra struktur politik telah ditentukan satu sistem. dalam pengertian yang luas ini. Inilah yang disebut sebagai jabatan publik atau jabat an umum (public offices) dan pejabat publik atau pejabat umum (public officials) . Untuk memahami kedudukan dan hubungan lembaga negara terlebih dahulu harus memah ami konteks sejarah dan suasana politik yang terjadi. meskipun dalam praktiknya tipe lembaga-lembaga negara yang diadopsi setiap negara bisa b erbeda. Dalam negara hukum yang demokratik.

dimulai dari Pasal 4 ayat (1) dalam pengaturan mengenai Kekuasaan Pemerintahan Negara yang berisi 17 pasal. Pasal 4 ayat (2) UUD 1945 itu menegaskan. 2. 2. Demikian pula jika lem baga dimaksud dibentuk dan diberi kekuasaan berdasarkan Peraturan Daerah. ada pula yang dibentuk dan mendapatkan kekuasaannya dari UU. “Dalam melakukan kewajibann ya. Majelis permusyawaratan Rakyat (MPR) diatur dalam Bab III UUD 1945 yang juga diberi judul “Majelis permusyawaratan Rakyat?. Individu dikatakan organ negara hanya apabila ia secara pribadi memiliki keduduk an hukum yang tertentu (. yaitu pengertian organ dalam arti materiil. 5. “Presiden membentuk suatu dewan pertimbanga n yang bertugas http://www. lembaga pe merintahan non-departemen. karena dapat saja terjadi k onflik atau sengketa kewenangan konstitusional di antara sesama mereka. ada dua unsur pokok yang sa ling berkaitan. organ -organ yang dimaksud. (2). Lembaga-Lembaga Negara Menurut UUD 1945 Jika dikaitkan dengan hal tersebut di atas. Organ adalah bentuk atau wadahnya. kontrak.he personally has a specific legal position). Ada yang dibentuk berdasark an atau karena diberi kekuasaan oleh UUD. yaitu bersama-sama dengan Menteri Dalam Negeri dan Menteri Perta hanan sebagai pelaksana tugas kepresidenan apabila terdapat kekosongan dalam wak tu yang bersamaan dalam jabatan Presiden dan Wakil Presiden.php?option=com_content&view=article &id=130:pasca-amandemen&catid=42:widyaiswara&Itemid=203 Lembaga negara terkadang disebut dengan istilah lembaga pemerintahan. Menteri Dalam Negeri sebagai triumpirat bersama-sama dengan Menteri Luar Nege ri dan Menteri Pertahanan menurut Pasal 8 ayat (3) UUD 1945. yaitu Pasal 2 yang terdiri atas tiga ayat. 4.php?option=com_content&view=article &id=130:pasca-amandemen&catid=42:widyaiswara&Itemid=203 1. 3. 6. Presiden dibantu oleh satu orang Wakil Presiden. Lembaga negara yang diatur dan dibentuk oleh UUD merupakan organ konstitusi.net/v2/index. Menteri Pertahanan yang bersama-sama dengan Menteri Luar Negeri dan Menteri D alam Negeri ditentukan sebagai menteri triumpirat menurut Pasal 8 ayat (3) UUD 1 945. sedangkan functie adalah gerakan wadah itu sesuai maksud pembentukann ya. seda ngkan functie adalah isinya.net/v2/index. 8. atau ant ara mereka dengan menteri lain atau lembaga negara lainnya. sed angkan yang dibentuk berdasarkan UU merupakan organ UU. tentu lebih rendah lagi tingkatannya. y aitu pada Pasal 17 ayat(1). Jerma n: vorm) .rgan negara dalam arti yang sempit. atau lembaga negara saja. 7. Hirarki atau ranking kedudukannya tentu saja tergantung pada dera jat pengaturannya menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ada pula lembaga atau organ yang disebu t bahwa baik namanya maupun fungsi atau kewenangannya akan diatur dengan peratur an yang lebih rendah. Dalam naskah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Suatu t ransaksi hukum perdata. Ketiganya perlu disebut secara sendiri-sendiri. terdapat tidak kurang dari 34 organ yang disebut keberadaannya dalam UU D 1945. adalah merupakan tindakan atau perbua tan yang menciptakan hukum seperti halnya suatu putusan pengadilan.php?option=com_content&view=article . Dalam setiap pembicaraan mengenai organisasi negara. Ke-34 organ atau lembaga tersebut adalah: http://www. http://www. maka dapat dikemukakan bahwa dalam U UD 1945. ada yang disebut secara eksplisit namanya. misalnya. yaitu organ dan functie.lpmpsulsel. sementara yang hanya dib entuk karena keputusan presiden tentunya lebih rendah lagi tingkatan dan derajat perlakuan hukum terhadap pejabat yang duduk di dalamnya. dan bahkan ada pula yang hanya dibentuk berdasarkan Keput usan Presiden. organ adalah status bentuknya (Inggris: form. dan (3). Wakil Presiden yang keberadaannya juga diatur dalam Pasal 4 yaitu pada ayat ( 2) UUD 1945. Presiden yang diatur keberadaannya dalam Bab III UUD 1945. Menteri dan Kementerian Negara yang diatur tersendiri dalam Bab V UUD 1945. Dewan Pertimbangan Presiden yang diatur dalam Pasal 16 Bab III tentang Kekuas aan Pemerintahan Negara yang berbunyi. Pasal 3 yang juga terdiri atas tiga ayat.lpmpsulsel.. Menteri Luar Negeri sebagai menteri triumpirat yang dimaksud oleh Pasal 8 aya t (3) UUD 1945. Bab III ini berisi dua pasal.lpmpsulsel.net/v2/index. dan ada pula ya ng disebutkan eksplisit hanya fungsinya..

(6) dan ayat (7) UUD 1945. 18. Pasal 24 dan Pasal 24C UUD 1945. Seperti halnya dengan Komisi Pemilihan Umu m. Duta seperti diatur dalam Pasal 13 ayat (1) dan (2). 20. Komisi Yudisial yang juga diatur dalam Bab IX. Tetapi. Pasal 24 dan Pas al 24A UUD 1945. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten seperti yang diatur dalam Pasal 18 ayat (3) UUD 1945. 11. 14. 23. (6) dan ayat (7) UUD 1945. melainkan oleh Undang-Undang. . Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi. nama bank sentral sekarang adalah Bank Indonesia. yaitu “Negara memiliki sua tu bank sentral yang susunan. Pemerintahan Daerah Kabupaten sebagaimana dimaksud oleh Pasal 18 ayat (2). Mahkamah Agung (MA) yang keberadaannya diatur dalam Bab IX. Komisi Penyelenggaran Pemilu yang diatur dalam Pasal 22E ayat (5) UUD 1945 y ang menentukan bahwa pemilihan umum harus diselenggarakan oleh suatu komisi yang bersifat nasional. diatur dengan undang-undang. nama Bank Indonesia bukan nama yang ditentukan oleh UUD 1945. dan Pasal 23G (2 ayat). 22. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang diatur tersendiri dalam Bab VIIIA dengan judul “Badan Pemeriksa Keuangan dan terdiri atas 3 pasal. 15. Pasal 24B UUD 1945 sebagai au xiliary organ terhadap Mahkamah Agung yang diatur dalam Pasal 24 dan Pasal 24A U UD 1945. satuan pemerintahan daerah yang bersifat kh usus atau istimewa ini diatur tersendiri oleh UUD 1945. 19. (6) dan ayat (7) UUD 1945. Karena keduduk annya yang khusus dan diistimewakan. dan mandiri. kedudukan. (5). Bupati Kepala Pemerintah Daerah Kabupaten seperti yang diatur dalam Pasal 18 ayat (4) UUD 1945. 9. tetap. 16. (5). melainkan oleh undang-undang berdasarkan ken yataan yang diwarisi dari sejarah di masa lalu. status Pemerin tahan Daerah Istimewa Yogyakarta. Nama “Komisi Pemilihan Umum bukanlah nama yang ditentukan oleh UUD 1945. Pasal 23F (2 ayat). Bank sentral yang disebut eksplisit oleh Pasal 230. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota seperti yang diatur oleh Pasal 18 ayat ( 3) UUD 1945. (3). Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang diatur dalam Bab VII UUD 1945 yang berisi Pasal 19 sampai dengan Pasal 22B. 21. 28. pemerintahan daerah yang http://www. UUD 1945 belum menentukan nama bank sentral yang dimaksud. Gubemur Kepala Pemerintah Daerah seperti yang diatur dalam Pasal 18 ayat (4) UUD 1945. 13. (3 ). O leh karena itu. Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang diatur dalam Bab VIIA yang terdiri atas P asal 22C dan Pasal 220.net/v2/index. 26. ( 5). Walikota Kepala Pemerintah Daerah Kota seperti yang diatur dalam Pasal 18 ay at (4) UUD 1945. Konsul seperti yang diatur dalam Pasal13 ayat (1). Memang benar. dan independ ensinya diatur dengan undang-undang?. Pemerintahan Daerah Otonomi Khusus Nanggroe Ac eh Darussalam dan Papua.php?option=com_content&view=article &id=130:pasca-amandemen&catid=42:widyaiswara&Itemid=203 demikian ini perlu disebut secara tersendiri sebagai lembaga atau organ yang keb eradaannya diakui dan dihormati oleh negara. Pemerintahan Daerah Provinsi sebagaimana dimaksud oleh Pasal 18 ayat (2). 24. kewenangan. 17. Keten tuan mengenai kekhususan atau keistimewaannya itu diatur dengan undang-undang. 10. tanggungjawab. Pemerintahan Daerah Kota sebagaimana dimaksud oleh Pasal 18 ayat (2). ( 3). 25. yang selanjutnya diatur dal am undang-undang. Satuan Pemerintahan Daerah yang bersifat khusus atau istimewa seperti dimaks ud oleh Pasal 18B ayat (1) UUD 1945. seperti yang diatur dalam Pasal 18 ayat 3 UUD 1945. serta Pemerintahan Daerah Khusus Ibukota Jakarta. 27. 12.lpmpsulsel. Mahkamah Konstitusi (MK) yang juga diatur kebera-daannya dalam Bab IX. Misalnya.&id=130:pasca-amandemen&catid=42:widyaiswara&Itemid=203 memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden. yaitu Pasal 23E (3 ayat ).

selain Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi.net/v2/index.net/v2/index. Ke duanya mempunyai derajat kepentingan (importance) yang sama.lpmpsulsel. seperti halnya Kej aksaan Agung. tetapi tidak mendapat kesepakatan.net/v2/index. Arti nya. Untuk meli ndungi dan mempromosikan hak-hak asasi manusia itu. Lembaga-lembaga ini. haruslah memiliki http://www. Karena itu. Angkatan Laut (TNI AL) diatur dalam Pasal 10 UUD 1945. Lembaga-lembaga dimaksud misalnya adalah Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnasham). dan sebagainya. masih ada badan-badan lainnya yang jumlahnya lebih dari satu yang mempunyai fungsi yang berkaitan dengan kekuasaan kehakiman. penyidikan.php?option=com_content&view=article &id=130:pasca-amandemen&catid=42:widyaiswara&Itemid=203 perangkat kelembagaan kepolisian negara dan kejaksaan sebagai lembaga-lembaga pe . meskipun tidak secara eksplisit disebut dalam UUD 1945. apa yang ditentukan dalam Pasal 24 ayat (3) UUD 1945 tersebut dapat pula membuka pintu bagi lembaga-lembaga negara lain yang fu ngsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman yang tidak secara eksplisit disebut dalam UUD 1945. sehingga pengaturannya dalam UUD 1945 ditiadakan.http://www. dalam UUD 19 45. Materi perlindungan konstitusional hak asas i manusia merupakan materi utama setiap konstitusi tertulis di dunia.php?option=com_content&view=article &id=130:pasca-amandemen&catid=42:widyaiswara&Itemid=203 29. tetapi sam a-sama memiliki constitutional importance dalam sistem konstitusional berdasarka n UUD 1945. Artinya.1 Jika diuraikan lebih rinci lagi. Badan-badan lain yang dimaksud itu antara lain adalah Kejaksaan Agun g yang semula dalam rancangan Perubahan UUD 1945 tercantum sebagai salah satu le mbaga yang diusulkan diatur dalam Bab tentang Kekuasaan Kehakiman. karena yang disebut dalam Pasal 24 ayat (3) tersebut di atas adalah badan -badan. 34.lpmpsulsel. Pasal 24 ayat (3) UUD 1945 menentukan. 31. 33. berarti jumlahnya lebih dari satu. Namun. yaitu yang menjalankan fungsi http://www. serta Komisi Yudisial dan kepoli sian negara yang sudah diatur dalam UUD 1945. Setiap yang mengaku menganut prinsip demokrasi konstit usional atau negara hukum yang demokratis. sedangkan Kejaksaan Agung sama sekali tidak disebut. Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI) yang juga diatur dalam Bab XII Pasal 30 UUD 1945.lpmpsulsel. tidak ditentukan sendiri dalam UUD. yaitu dal am Bab XII tentang Pertahanan dan Keamanan Negara. 30. Kedua-duanya sama-sama penting atau memiliki constitutio nal importance yang sama. 32. Keberadaan Komnas Hak Asasi Manusia. meskipun pengaturan dan pembentukannya hanya didasarkan atas undangundang. Hal tidak disebutnya Kejaks aan Agung yang dibandingkan dengan disebutnya Kepolisian dalam UUD 1945. Komisi Pemberantasan Tind ak Pidana Korupsi (KPK). Namun. “Badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakima n diatur dalam undang-undang. pada Pasal 30 UUD 1945. tidak d apat dijadikan alasan untuk menilai bahwa kepolisian negara itu lebih penting da ripada Kejaksaan Agung. Artinya. keberadaan lembaga negara bernama Komnas Hak Asasi Manusia itu sendiri sang at penting bagi negara demokrasi konstitusional. yang ditentukan kewenangannya hanya kepolisian negara yaitu dalam Pasal 30. masi h ada lagi lembaga lain yang fungsinya juga berkaitan dengan kekuasaan kehakiman . dan/atau penuntutan. selain Kejaksaan Agung. tetapi keberadaannya sebagai lembaga negara mempunyai apa yang diseb ut sebagai constitutional importance yang sama dengan lembaga-lembaga negara lai nnya yang disebutkan eksplisit dalam UUD 1945 Sama halnya dengan keberadaan Kejaksaan Agung dan kepolisian negara dalam setiap sistem negara demokrasi konstitusional ataupun negara hukum yang demokratis.php?option=com_content&view=article &id=130:pasca-amandemen&catid=42:widyaiswara&Itemid=203 penyelidikan. dengan sengaja negara memben tuk satu komisi yang bernama Komnasham (Komisi Nasional Hak Asasi Manusia). “Badan-badan lain yang fun gsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman diatur dalam undang-undang. Badan-badan lain yang fungsinya terkait dengan kehakiman seperti kejaksaan d iatur dalam undang-undang sebagaimana dimaksud oleh Pasal 24 ayat (3) UUD 1945 y ang berbunyi. Angkatan Darat (TNI AD) diatur dalam Pasal 10 UUD 1945. Angkatan Udara (TNI AU) diatur dalam Pasal 10 UUD 1945. Tentara Nasional Indonesia (TNI) diatur tersendiri dalam UUD 1945.

dapat ditafsirkan bahwa nama resmi organ penye lenggara pemilihan umum dimaksud akan ditentukan oleh undang-undang. (3) Dewan Perwakilan Dae rah (DPD).lpmpsulsel. Organ lapis kedua ini dapat disejajarkan dengan posisi lembaga-lembaga negara yang di bentuk berdasarkan undang-undang. dan lain-lain sebagainya. sedangkan organ lapis ketiga merupakan lembaga daerah. “Negara memiliki suatu bank sentral yang susunan.net/v2/index. (2) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). adalah Komnas HAM. Komisi Pemilihan Umum hanya dis ebutkan kewenangan pokoknya. maka hal itu adalah ur usan pembentuk undang-undang yang akan menentukannya dalam undang-undang. (4) Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). 3. Dengan demikian derajat protokoler kelompok organ konstitusi pada lapis kedua te rsebut di atas jelas berbeda dari kelompok organ konstitusi lapis pertama. Undang-unda ng dapat saja memberi nama kepada lembaga ini bukan Komisi Pemilihan Umum. seperti Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOM NAS HAM). kedudukannya meskipun tidak lebih tinggi. yaitu “Bank Indonesia. (5) Mahkamah Agung (MA). ada yang bersifat utama atau primer . adalah Komisi Yudisial. Keberadaannya disebutkan secara eksplisit dalam undangundang. karena p erkataan komisi pemilihan umum tidak disebut dengan huruf besar. dan Komisi Yudisial. organ-organ konstitusi pad a lapis pertama dapat disebut sebagai lembaga tinggi negara. (6) Bank sentral. Organ lapis kedua dise but sebagai lembaga negara saja. Namun. nama dan kewenangan bank sentral juga tidak tercantum eksplisit dala m UUD 1945. yang secara tegas ditentukan nama dan kewenangannya dalam UUD 1945 adalah Menteri Negara. Pembedaan Lembaga Negara Dari Segi Fungsi dan Hierarki Dari segi fungsinya. kewenangan. “Ketentuan lebih lanjut tentang pemilihan umum diatur dengan undang-undang. tetap i misalnya Komisi Pemilihan Nasional atau nama lainnya. Misalnya Komisi Hukum Nasional dan Komisi Ombudsman Nasional dib . (6) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Ada yang mendapatkan kewena ngannya dari UUD. Organ lapis kedua dapat disebut lembaga negara saja. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).php?option=com_content&view=article &id=130:pasca-amandemen&catid=42:widyaiswara&Itemid=203 Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Kedudukan kedua jenis lembaga negara tersebut dapat dise bandingkan satu sama lain. (4) Komisi Yudisial. Lembaga-lembaga negara sebagai organ konstitusi lapis k edua itu adalah: (1) Menteri Negara. menurut Pasal 23D tersebut. Tentar a Nasional Indonesia. tetapi jauh lebih kuat. kedudukan. Memang benar sekarang tidak ada lagi sebutan lembaga tinggi dan lembaga tertinggi negara. tanggung jawab. http://www. (5) Mahkamah Konstitusi (MK ). Yang mendapatkan kewenangan dari UUD.lpmpsulsel. Karena itu. dan mandiri. Hanya saja.php?option=com_content&view=article &id=130:pasca-amandemen&catid=42:widyaiswara&Itemid=203 Keenam lembaga atau organ negara tersebut di atas. Tentara Nasional ln donesia. akan dia tur dengan UU. Selain itu. Bahwa bank sentral itu diberi nama seperti ya ng sudah dikenal seperti selama ini. untuk memudahkan pengertian. Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) . http://www.negak hukum yang efektif. Sedan gkan ayat (6)-nya berbunyi. Ketentuan Pasal 23D UUD 1945 hanya menyatakan. misalnya. Komisi Penyiaran Ind onesia. Sedangkan dari segi hirarkinya. sehingga tidak dapat ditiadakan atau dibubarkan hanya karena kebijakan p embentukan undangundang. sedangkan lembaga yang sumber kewen angannya adalah undang-undang. Kelompok ketiga adalah organ konstitusi yang termasuk kategori lembaga negara ya ng sumber kewenangannya berasal dari regulator atau pembentuk peraturan di bawah undang-undang. tidak secara tegas disebut. yaitu: (1) Presiden dan Wakil Presiden. ke-34 lembaga tersebut. Akan tetapi. Demiki an pula dengan kewenangan bank sentral itu. (2) Tentara Nasional lndonesia. Ketentuan Pasal 22E ayat (5) UUD 1945 berbunyi. dan sebagainya. dan ada pula yang mendapatkan kewenangannya dari undang-undang . Konsil Kedokteran Indonesia. tetap. (5) Komisi pemilihan umum. (3) Kepolis ian Negara. Kepolisian Negara. nama lembaganya apa. Organ l apis pertama dapat disebut sebagai lembaga tinggi negara. “Pemilihan umum diselenggarakan ol eh suatu komisi pemilihan umum yang bersifat nasional. ke-34 lembaga itu dapat dibedakan ke dalam tiga lapis.net/v2/index. yaitu sebagai lembaga penyelenggara pemilihan umum (pemilu). Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). dan independen sinya diatur dengan undang-undang. misalnya. dan Kepolisian Negara. dan ada pula yang bersifat sekunder atau penunjang (auxiliary).

maka tentu presiden berwenang un tuk itu. Dalam cabang kekuasaan eksekutif atau pemerintahan negara ada presiden dan wakil presiden yang merupakan satu kesatuan institusi kepresidenan. Majelis permusyawaratan Rakyat (MPR). tidak dapat tidak. Akan tetapi . yaitu Mahkamah Konstitusi.entuk berdasarkan Keputusan Presiden belaka. (8) Walikota. yaitu Mahkamah Konstitusi. Tetapi. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Untuk memahami perbedaan di antara keduanya. kekuasaan legislatif dan fungsi pengawasan. di cabang kekuasaan judisial.lpmpsulsel. (7) Pemerintahan Daerah Kota. lembaga-lembaga negara tersebut dapat dibedakan dalam tiga ranah (domain) (i). D alam ketentuan tersebut diatur adanya beberapa organ jabatan yang dapat disebut sebagai organ daerah atau lembaga daerah yang merupakan lembaga negara yang terd apat di daerah. (5) Bupa ti. keberadaannya secara hukum hanya didasarkan atas kebijakan presiden (presidential policy) atau beleid pres iden. Artinya. sedangkan Kepolisian Negara ditentukan dalam Pasal 30 UUD 1945. (4) Pemerintahan Daerah Kabupaten. DPR. lembaga daerah dalam pengertian di atas dapat dikata kan berjumlah sepuluh organ atau lembaga. Artinya.php?option=com_content&view=article &id=130:pasca-amandemen&catid=42:widyaiswara&Itemid=203 kedudukannya daripada Kejaksaan Agung. (6) DPRD Kabupaten. fungsinya tetap bersifat penunjang (auxiliary) terhadap fungsi kehakiman yang terdapat pada Mahkamah Konstitusi dan Mahkamah Agung. Bentuk satuan pemerint ahan daerah yang bersifat khusus atau istimewa itu. Lembaga-lembaga daerah diatur dalam Bab VI UUD 1945 tentang Pemerintah Daerah. Dengan demikian. (3) DPRD provinsi. Jika presiden hendak membubarkannya lagi. (ii i). Dalam setiap negara hukum yang demokratis . Yang menjalankan fungs i kehakiman hanya dua. dan lain sebagainya. pencantuman ketentuan tentang kewenangan Kepolisian itu dalam UUD 1945 tidak d apat dijadikan alasan untuk menyatakan bahwa Kepolisian lebih tinggi http://www. Dalam Pasal 18B ayat (1) dan ayat (2) UUD 1945. pencantuman ketentuan mengenai kepolisian negara itu dalam UUD 1945. lembaga kepolisian dan kejaksaan sama-sama memiliki constitutional importance yang serupa sebagai lembaga penegak hukum. ya itu (i). dan karena itu kedudukannya bersifat independen dan tidak t unduk kepada pengaruh keduanya. Kom isi ini bersifat independen dan berada di luar kekuasaan Mahkamah Konstitusi ata upun Mahkamah Agung. dikenal adanya tiga lembaga. ada yang dapat dikategorikan sebagai organ utama atau primer(primary constitutional organs). dan (9) DPRD Kota. sehingga eksistensinya sangat kuat secara konstitusional. (2) Gubemur. Dewan Perwakilan Daerah (DPD). keberadaannya sepenuhnya tergantung kepada beleid presiden. tidak berarti ia mempunyai kedudukan yang sederajat dengan Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. dan Mahkamah Agung. kekuasaan kehakiman atau fungsi yudisial. Mahkamah Agung. juga tidak dapat ditafsirkan seak an menjadikan lembaga kepolisian negara itu menjadi lembaga konstitusional yang sederajat kedudukannya dengan lembaga-lembaga tinggi negara lainnya. Sebagai perbandingan. Akan tetapi. dibentuk lembaga tersendiri yang bemama Komisi Yudisial. Mahkamah Konstitusi. Di antara lembaga-lembaga negara yang disebutkan dalam UUD 1945. Mahkamah Agung. keberadaan unit atau satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau istimewa itu har us pula dipahami sebagai bagian dari pengertian lembaga daerah dalam arti yang l ebih luas. terdapat empat organ atau lembaga. (ii). seperti pre siden. Badan Pemeriksa Keuangan (BP K).net/v2/index. DPD. dan Komisi Yudisial. (ii). Sementara itu. Lembaga-lembaga daerah itu adalah: (1) Pemerintahan Daerah Provi nsi. Di pihak lain. Artin ya. (iii). da n ada pula yang merupakan organ pendukung atau penunjang (auxiliary state organs ). dan (iv). kekuasaan eksekutif atau pelaksan a. da lam rangka pengawasan terhadap kinerja hakim dan sebagai lembaga pengusul pengan gkatan hakim agung. Oleh sebab itu. Meskipun Komisi Yudisial ditentukan kekuasaannya dalam UUD 1945 . Kejaksaan Agung tidak ditentukan kewenangannya dalam UUD 1 945. hal disebut atau tidaknya atau ditentukan tidaknya kekuasaan sesuatu lembaga dalam undang-undang dasar tidak serta merta menentukan hirarki kedudukan lembag . Sedangkan dalam f ungsi pengawasan dan kekuasaan legislatif. dinyatakan diakui dan dihorm ati keberadaannya secara tegas oleh undang-undang dasar. disebut pula adanya satuan-satua n pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau istimewa.

Hal ini tidak saja karena adanya perubahan terhadap butir-butir ketentuan yang mengatur tentang kelembagaan negara. Meskipun posisinya bersifat independen terhadap MA.a negara yang bersangkutan dalam struktur ketatanegaraan Republik Indonesia berd asarkan UUD 1945. MK (Mahkamah Konstitusi). UUD 1945 menjadi dasar . Hubungan antar Lembaga Negara di Indonesia Pasca Amandemen UUD 1945 1. C. Komisi P engawas Persaingan Usaha (KPPU). meskipun kewenangan TNI dan POLRI ditentukan tegas dalam UUD 1945. MA (Mahka mah Agung). Oleh karena itu. Salah satu perubahan mendasar dalam UUD 1945 adalah perubahan Pasal 1 ayat (2) y ang berbunyi “Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-U ndang Dasar. dan (vii). lembaga (tinggi) n egara yang dapat dikatakan bersifat pokok atau utama adalah (i). tetapi dari segi fungsinya lembaga-lembaga tersebu t bersifat auxiliary atau memang berada dalam satu ranah cabang kekuasaan. POLRI. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). tetapi KY tetap tidak dipandang sederajat sebagai lemba ga tinggi negara. tetapi juga karena perubaha n paradigma hukum dan ketatanegaraan. Misal nya. MPR tidak lagi menjadi lembaga tertinggi negara di atas lembaga-lembaga t inggi negara. Berdasarkan ketentuan Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 tersebut. Namun. (vi). seperti hubungan antara KY dengan MA. Karena. (iii). Kejaksaan Agung dan Bank Indone sia sebagai bank sentral juga tidak ditentukan kewenangannya dalam UUD. Ketentuan ini membawa implikasi bahwa kedaulatan rakyat tidak lagi dilakukan sepenuhnya oleh MPR. MPR. dan judiciary. sumber normatif kewenangan lembaga-lembaga tersebut tidak otomatis menentu kan status hukumnya dalam hirarkis susunan antara lembaga negara. Komisi Pember antasan Tindak Pidana Korupsi (KPK). Demikian juga Komisi Pengawas Kejaksaan dan Komisi Kepolisian tetap tidak dapat disederajatkan secara struktural dengan organisasi POLRI dan Kejaksaan Agung. S istem Presidentil. (v). kewenangan TNI dan POLRI juga ditentukan dalam Pasal 30 UUD 1945. MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat). dari segi keutamaan kedudukan dan fungsinya. serta Pemisahan Kekuasaan dan Check and Balances. executive. MK. tetapi dilakukan menurut ketentuan Undang-Undang Dasar. tidak dengan begitu. Oleh sebab itu. TNI dan POLRI tetap tidak dapat disejajarkan strukturnya dengan presiden dan wak il presiden. Kedudukan protokolemya tetap berbeda dengan MA. maka kriteria yang d ipakai tidak hanya bahwa kewenangan KY itu seperti halnya kewenangan MA dan MK d itentukan dalam UUD 1945. untuk menentukan apakah KY sederajat dengan MA dan MK. yaitu legislature. meskipun kewenangannya dan ketentuan mengenai kelembagaannya tidak diatur dalam UUD 1945. meskipun sama-sama ditentukan kewenangannya dalam UUD 1945 seperti Presiden/ Wapres. Presiden. Prinsip-Prinsip Hubungan Antar Lembaga Negara Perubahan UUD 1945 yang bersifat mendasar tentu mengakibatkan pada perubahan kel embagaan negara. DPR. (ii). Demikian pula. dapat dikatakan bahwa lembaga-lembaga negara seperti Komisi Yud isial (KY). Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Dengan demikian. maka faktor fungsi keutama an atau fungsi penunjang menjadi penentu yang pokok. dan MA. DPR (Dewan Perwakilan Rakyat). TNI. (iv). seyogyanya tata urutan protokoler ketujuh lembaga negara tersebut dapat disusun berdasarka n sifat-sifat keutamaan fungsi dan kedudukannya masing-masing sebagaimana diurai kan tersebut. meskipun komisikomisi pengawas itu bersifat independen dan atas dasar itu kedudukannya secara f ungsional dipandang sederajat. Yang dapat disebut sebagai lembaga tinggi negara yang utama tetaplah lembaga-lembaga tinggi negara yang mencerminkan cabang-caban g kekuasaan utama negara. Lembaga tersebut di atas dapat disebut sebagai lembaga tinggi negara. Sedangkan lembaga-lembaga negara ya ng lainnya bersifat menunjang atau auxiliary belaka. Oleh sebab itu. kedudukan struktural TNI dan POL RI dapat disejajarkan dengan tujuh lembaga negara yang sudah diuraikan di atas. dan sebagainya. dan lain-la in. Beberapa prinsip-prinsip mendasar yang men entukan hubungan antar lembaga negara diantaranya adalah Supremasi Konstitusi. Dewan Pertimbangan Presiden. DPD (Dewan Perwakilan Daerah). BPK (Badan Pemeriksa Keuangan). Dengan demikian. Tetapi kedudukan Kejaksaan Agung dan Bank Indonesia tidak dapat dikatakan lebih rendah daripada TNI dan POLRI. Menteri Negara. melainka n hanya ditentukan oleh undang-undang. tetapi kedudukann ya tidak dapat dikatakan berada di bawah POLRI dan TNI hanya karena kewenangan k edua lembaga terakhir ini diatur dalam UUD 1945.

lpmpsulsel. Presiden tidak hanya memegang kekuasaan pemerintaha n tertinggi (eksekutif) tetapi juga memegang kekuasaan membentuk undang-undang a tau kekuasaan legislatif bersama-sama dengan DPR sebagai co-legislator-nya. Selain itu juga ditegaskan Presiden tidak dapat membubarkan DPR sebagaimana diatur dalam Pasal 7C UUD 1945. sistem pemerintahan yang dianut tidak sepenuh nya sistem presidentil. memberikan mandat. Namun jika dilihat dar i keberadaan MPR yang memilih. 6A. sebagaimana telah dibahas sebelumnya. serta adanya masa jabatan Presiden yang ditentuk an (fix term) memang menunjukkan ciri sistem presidentil.php?option=com_content&view=article &id=130:pasca-amandemen&catid=42:widyaiswara&Itemid=203 Konsekuensinya. dalam hal ini terutama antara DPR dan Presiden. Salah satu kesepakatan dalam Sidang Tahunan MPR Tahun 1999 terkait Perubahan UUD 1945 adalah “sepakat untuk mempertahankan sistem presidensiil (dalam pengertian s ekaligus menyempumakan agar betul-betul memenuhi ciri-ciri umum sistem presidens iil). Presiden adalah mandataris MPR dan sebagai konsekuensinya Presiden bertanggung jawab kepada MPR dan MPR dapat memberhentikan Presiden. setelah Perubahan UUD 1945 tidak dikenal lagi konsepsi lembaga t ertinggi dan lembaga tinggi negara. Proses usulan pemberhentian Presiden dan atau Wakil Presiden tidak lagi sepenuhn ya diserahkan kepada mekanisme politik. Perubahan mendasar pertama adalah perubahan kedudukan MP R yang mengakibatkan kedudukan MPR tidak lagi merupakan lembaga tertinggi negara . t . Jika dilihat hubungan antara DPR sebagai parlemen dengan Presiden yang sejajar (neben).php?option=com_content&view=article &id=130:pasca-amandemen&catid=42:widyaiswara&Itemid=203 dan tidak dapat dengan mudah diberhentikan kecuali karena melakukan tindakan pel anggaran hukum. Penyempurnaan dilakukan dengan perubahan-perubahan ketentuan UUD 1945 terk ait sistem kelembagaan. 7A.hukum tertinggi pelaksanaan kedaulatan rakyat.net/v2/index. maka proses hukum melalui Mahkam ah Konstitusi harus dilalui. http://www. Ha l ini dilakukan dengan pengaturan mekanisme pemilihan Presiden dan Wakil Preside n yang dilakukan secara langsung oleh rakyat dan mekanisme pemberhentian dalam m asa jabatan sebagaimana diatur dalam Pasal 6. Karena Presiden dan Wakil Presiden dipilih secara langsung oleh rakyat. masalah kekuasaan kehakiman (yudikatif) dalam UUD 1945 sebelum perubahan dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan lain-lain badan kehakiman menurut undan g-undang. d iganti dengan hak mengusulkan rancangan undang-undang dan diserahkan kepada DPR sebagaimana diatur dalam Pasal 20 ayat (1) UUD 1945. kekuasaan Presiden membuat Undan g-Undang sebagaimana diatur dalam Pasal 5 ayat (1) UUD 1945 sebelum Perubahan. Di sisi yang lain. tetapi sejajar dan saling berhubungan berdasarkan kewenangan masing-masing berdasarkan UUD 1945. maka berdasarkan hasil peru bahan Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 kedaulatan tetap berada di tangan rakyat dan pel aksanaannya langsung didistribusikan secara fungsional (distributed functionally ) kepada organ-organ konstitusional. dan dapat memberhentikan Presi den. tetapi dengan mengingat dasar usulan pem berhentiannya adalah masalah pelanggaran hukum. Jika berdasarkan ketentuan Pasal 1 ayat (2) UU D 1945 sebelum perubahan kedaulatan dilakukan sepenuhnya oleh MPR dan kemudian d idistribusikan kepada lembaga-lembaga tinggi negara.net/v2/index. Seda ngkan. maka memiliki l egitimasi kuat http://www. Hal ini berarti kedaulatan rakya t dilakukan oleh seluruh organ konstitusional dengan masing-masing fungsi dan ke wenangannya berdasarkan UUD 1945. maka sistem tersebut memiliki ciri-ciri sistem parlementer. 2. Pemisahan Kekuasaan dan Check and Balances Sebelum perubahan UUD 1945. 7. Lembaga-Iembaga negara yang merupakan organ konstitusional kedudukannya tidak lagi seluruhnya hierarkis di bawah MPR. dan 8 UUD 1945. Sebelum adanya Perubahan UUD 1945.lpmpsulsel. sistem kelembagaan yang dianut bukan pemisahan kekua saan (separation of power) tetapi sering disebut dengan istilah pembagian kekuas aan (distribution of power). Dengan adanya perubahan kekuasaan pembentukan undang-undang yang semula dimiliki oleh Presiden menjadi dimiliki oleh DPR berdasarkan hasil Perubahan UUD 1945. Perubahan selanjutnya untuk menyempurnak an sistem presidentil adalah menyeimbangkan legitimasi dan kedudukan antara lemb aga eksekutif dan legislatif.

maka yang disebut sebagai lembag a legislatif (utama) adalah DPR. PENUTUP Dilihat dari segi fungsinya Lembaga-lembaga Negara ada yang bersifat utama/prime r (primary constitutional organs). Pengawasan tidak hanya dilakukan setelah suatu kegiatan dila ksanakan. Gubernur. Presiden dalam menjalankan kekuasaan pemerintahannya mendapatkan p engawasan dari DPR. Bahkan kedudukan DPR dalam hal ini cukup kuat karena memiliki fungsi ang garan secara khusus selain fungsi legislasi dan fungsi pengawasan sebagaimana di atur pada Pasal 20A UUD 1945. Hubungan antara kekuasaan eksekutif yang dilakukan oleh Presiden. Namun demikian kekuasaan DPR juga terbatas. Pemerintahan Daerah Kabupaten. dan kekuasaa n yudikatif yang dilakukan oleh MA dan MK merupakan perwujudan sistem checks and balances. DPRD Provinsi. namun dalam pelaksanaannya membutuhkan kerja sama dengan co-legislator. dan bersifat penunjang/sekunder (auxiliary st ate organs). Dari segi hirarkinya lembaga negara itu dibedakan kedalam 3 (tiga) lapis yaitu Organ lapis pertama disebut sebagai lembaga tinggi negara. tetapi juga pada saat dibuat perencanaan pembangunan dan alokasi angga rannya. sehingga tidak dapat ditiadakan atau dibubarkan hanya karena kebijakan pembentukan Undang-Undang. Bup ati. dimana dalam lapis ini ad a lembaga yang sumber kewenangannya dari UUD.lpmpsulsel. Sistem checks and balances dimaksudkan untuk mengimbangi pembagian ke kuasaan yang dilakukan agar tidak terjadi penyalahgunaan kekuasaan oleh lembaga pemegang kekuasaan tertentu atau terjadi kebuntuan dalam hubungan antar lembaga. .php?option=com_content&view=article &id=130:pasca-amandemen&catid=42:widyaiswara&Itemid=203 C. Di sisi lain. Oleh karena itu. hanya saja kedudukannya walaupun tidak lebih tinggi tetapi jauh lebih kuat.net/v2/index. Walikota. Sedang kan kekuasaan kehakiman dilakukan http://www. Keberadaan nya disebutkan secara eksplisit dalam UUD. Usulan DPR tersebut harus melalui forum hukum di MK sebelum dapa t diajukan ke MPR. yaitu Presiden dan DPD (untuk ranca ngan undang-undang tertentu). Adapun yang disebut sebagai organ-organ konstitusi pada lapis pertama atau dapat disebut sebagai lem baga tinggi negara.Walaupun dasar/sumber kewenangannya berbeda kedud ukan kedua jenis lembaga negara ini dapat di sebandingkan satu sama lain.erutama Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 ayat (1). DPRD Kota. Kelompok Kedua organ institusi yang sumber kewe nangannya adalah Undang-Undang. Kelompok Pertama yakni organ konstitusi ya ng mendapat kewenangan dari UUD. ada pula sumber kewenangannya dari Undang-Undang dan sumber kewenangannya yang bersumber dari regulator atau pembe ntuk peraturan dibawah Undang-Undang. DPRD Kabupaten. Bahkan suatu ketentuan undang-undang yang telah me ndapatkan persetujuan bersama DPR dan Presiden serta telah disahkan dan diundang kan pun dapat dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat oleh MK jika di nyatakan bertentangan dengan UUD 1945.net/v2/index. Organ lapis ketiga merupakan lembaga daerah yaitu merupakan lembaga negara yang ada di daerah yang ketentuannya telah diatur oleh UUD 1945 yaitu : Pemerin tah Daerah Provinsi. Pemerintahan Daerah Kota. fungsi dan kewenangannya dibentuk berdasarkan UUD 1945. walaupun ditentuka n kekuasaan membuat undang-undang dimiliki oleh DPR.lpmpsulsel. Sedangkan Kelompok Ketiga yakni organ konstitusi yang termasuk kategori Lembaga Negara yang sumber kewenangannya berasal dari regulator atau pembentuk peraturan di bawah Undang-Un dang. kekuasaan legi slatif oleh DPR (dan dalam hal tertentu DPD sebagai co-legislator). sedangkan lembaga eksekutif adalah Presiden. Wa laupun dalam proses pembuatan suatu undang-undang dibutuhkan persetujuan Preside n. dalam pelaksanaan suatu kekuasaan selalu ada peran lembaga lai n. http://www. dimana na ma.php?option=com_content&view=article &id=130:pasca-amandemen&catid=42:widyaiswara&Itemid=203 oleh Mahkamah Agung (dan badan-badan peradilan di bawahnya) dan Mahkamah Konstit usi berdasarkan Pasal 24 ayat (2) UUD 1945. Organ lapis kedua disebut sebagai lembaga negara saja. bukan sebagai legislator utama. DPR ti dak dapat menjatuhkan Presiden dan atau Wakil Presiden kecuali karena alasan pel anggaran hukum. namun fungsi Presiden dalam hal ini adalah sebagai co-legislator sama seperti DPD untuk materi undang-undang tertentu. Dalam pelaksanaan kekuasaan pembuatan undang-undang misalnya.

tetapi dari sudut isinya UUD 1945 pasca Perubahan Keempat tahun 2002 sekarang ini sudah dapat dikatakan merupakan Konstitusi baru sama sekali dengan nama resmi “Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.Perubahan UUD 1945 yang bersifat mendasar mengakibatkan pada perubahan kelembaga an negara. Fakultas Hukum Unversitas Indonesia. Makalah Disampaikan Pada: SEMINAR PEMBANGUNAN HUKUM NASIONAL VIII TEMA PENEGAKAN HUKUM DALAM ERA PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN Diselenggarakan Oleh BADAN PEMBINAAN HUKUM NASIONAL DEPARTEMEN KEHAKIMAN DAN HAK ASASI MANUSIA RI Denpasar. dapat dikatakan bahwa meskipun namanya tetap merupakan UUD 1945. Jimly Asshiddiqie. Perubahan-perubahan itu juga mempengaruhi struktur dan mekanisme structural organ-organ negara Republik Indonesia yang tidak dapat lagi dijelaskan menurut cara berpikir lama. Jika naskah asli UUD 1945 berisi 71 butir ketentuan. Oleh sebab itu. serta Pemisahan Kekuasaan dan Check and Bala nces.JIMLY ASSHIDDIQIE. =================================================================== STRUKTUR KETATANEGARAAN INDONESIA SETELAH PERUBAHAN KEEMPAT UUD TAHUN 1945 Oleh : PROF. (2) Seharusnya lembaga-lembaga ne gara yang mempunyai peranan yang sangat penting tidak hanya diatur secara ekspli sit saja dalam UUD. maka disarankan sebgai berikut: (1) Sebaiknya tata urutan protokoler ketujuh lembaga negara utama dapat disusun berdasarkan sifat-sifat ke utamaan fungsi dan kedudukannya masing-masing. Sistem Presidentil. SH2 PENGANTAR Undang-Undang dasar 1945 telah mengalami perubahan-perubahan mendasar sejak dari Perubahan Pertama pada tahun 1999 sampai ke Perubahan Keempat pada tahun 2002. 14-18 Juli 2003 1 STRUKTUR KETATANEGARAAN INDONESIA SETELAH PERUBAHAN KEEMPAT UUD TAHUN 19451 Oleh: Prof. kini jumlah materi muatan UUD 1945 seluruhnya mencakup 199 butir ketentuan.php?option=com_content&view=article &id=130:pasca-amandemen&catid=42:widyaiswara&Itemid=203 mendasar yang menentukan hubungan antar lembaga negara diantaranya adalah Suprem asi Konstitusi. Dengan demikian. dan (d) pengeuatan cita persatuan dan keragaman dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. sehingga mencakup lebih dari 3 kali lipat jumlah materi muatan asli UUD 1945. Sehubungan dengan itu penting disadai bahwa sistem ketatanegaraan Indonesia setelah Perubahan Keempat UUD 1945 itu telah mengalami perubahan-perubahan yang sangat mendasar. Beberapa prinsip-prinsip http://www. Perubahan-perubahan ituj juga meliputi materi yang sangat banyak. 2003 2 Guru Besar Hukum Tata Negara. Ketua Asosi asi Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara Indonesia 2 nomokrasi secara sekaligus dan saling melengkapi secara komplamenter.net/v2/index. .lpmpsulsel. Empat diantaranya adalah (a) penegasan dianutnya citademokrasi dan 1 Disampaikan dalam symposium Nasional yang dilakukan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional. (b) pemisahan kekuasaan dan prinsip “checks and balances’ (c) pemurnian sistem pemerintah presidential.DR.Dr. Banyak pokok-pokok pikiran baru yang diadopsikan ke dalam kerangka UUD 1945 itu. Departemen Kehakiman dan HAM. maka setelah empat kali mengalami perubahan. SH.

CITA DEMOKRASI DAN NOMOKRASI Negara Indonesia menganut paham kedaulatan rakyat atau democratie (democracy). Sudah seharusnya lembaga perwakilan rakyat dan lembaga perwakilan daerah diberdayakan fungsinya dan pelembagaannya. Yaitu melalui Majelis Permusyawaratan Rakyat. Dalam paham Negara Hukum yang demikian itu. yaitu melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. negara Indonesia juga disebut sebagai Negara Hukum (Rechtstaat). Di dalamnya terkandung pengertian adanya pengakuan terhadap prinsip supremasi hukum dan konstitusi. Penyaluran kedaulatan rakyat secara langsung (direct democracy) dilakukan melalui pemilihan umum untuk memlih anggota lembaga perwakilan dan memilih Presiden dan Wakil presiden. Kekuasaan bahkan diidealkan diselenggarakan bersama-sama dengan rakyat. dianutnya prinsip pemisahan dan pembatasan kekuasaan menurut sistem konstitusional yang diatur dalam Undang-Undang Dasar. dan untuk rakyat. Bersamaan dengan itu. hak atas kebebasan berorganisasi dan berserikat serta hakhak asasi lainnya yang dijamin dalam Undang-Undang Dasar. kedaulatan rakyat itu diwujudkan dalam tiga cabang kekuasaan yang tercermin dalam Majelis Permusyawaratan Rakyat yang terdiri dari Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah. adanya persamaan dalam hukum dan pemerintah (equality before the law). adanya prinsip peradilan yang bebas dan tidak memihak yang menjamin persamaan setiap warga negara dalam hukum. Disamping itu. pelaksanaannya kedaulatan rakyat itu disalurkan dan diselenggarakan menurut prosedur konstitusional yang ditetapkan dalam hukum dan konstitusi (constitutional democracy). Dalam kerangka `the rule of Law’ itu. bukan Negara Kekuasaan (Machtstaat). serta menjamin keadilan bagi 4 setiap orang termasuk terhadap penyalahgunaan wewenang oleh pihak yang berkuasa. kedaulatan rakyat dapat pula disalurkan setipa waktu melalui pelaksanaan hak dan kebebasan berpendapat. serta dalam menajlankan fungsi pengawasan (fungsi kontrol) terhadap jalannya pemerintahan. prinsip kedaulatan rakyat (democratie) dan kedaulatan hukum (nomocratie) hendaklah diselenggarakan secara beriringan sebagai dua sisi dari mata uang yang sama. Karena itu. oleh rakyat. UndangUndang Dasar negara kita menganut pengertian bahwa Negara Republik Indonesia itu adalah Negara Hukum yang demokrasi (democratische rechtstaat) dan sekaligus adalah Negara Demokrasi yang berdasarkan atau hukum (constitutional democracy) yang tidak terpisahkan satu sama lain. Namun. dan kekuasaan Kehakiman yang terdiri atas Mahkamah Konstitusidan Mahkamah Agung. Di daerah-daerah propinsi dan kabupaten/kota. hak atas kebebasan informasi. presiden dan wakil presiden . pelembagaan kedaulatan rakyat itu juga disalurkan melalui sistem perwakilan. Secara langsung. and not of Man’. sehingga dapat memperkuat sistem demokrasi yang berdasar atas hukum (demokrasi Konstitusional) dan prinsip negara hukum yang demokratis tersebut di atas. prinsip kedaulatan rakyat yang bersifat langsung itu hendaklah dilakukan melalui saluran-saluran yang sah sesuai dengan prosedur demokrasi (procedural democracy). Kekuasaan yang sesungguhnya adalah berasal dari rakyat. kebebasan pers. pelembagaan kedaulatan rakyat itu disalurkan melalui sistem perwakilan. adanya jaminan-jaminan hak asasi manusia dalam Undang-Undang dasar. Pemilik kekuasaan tertinggi dalam negara adalah rakyat. Kedaulatan rakyat (democratie) Indonesia itu diselenggarakan secara langsung dan melalui sistem perwakilan. hak atas kebebasan pers. Dalam menetukan kebijakan pokok pemerintahan dan mengatur ketentuanketentuan hukum berupa Undang-Undang dasar dan Undang-Undang (fungsi 3 Legislatif). Untuk itu. diyakini adanya pengakuan bahwa hukum itu mempunyai kedudukan tertinggi (supremacy of law). dan berlakunya asas legalitas . Dalam sistem konstitusional Undang-Undang Dasar. Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah. pada hakikatnya hukum itu sendirilah yang menjadi penentu segalanya sesuai dengan prinsip nomokrasi (nomcrasy) dan doktrin `the Rule of Law.

disamping lembaga legislatif dibentuk pula Badan Pemeriksa Keuangan. ketentuan mengenai prinsip kedaulatan rakyat terdapat dalam pembukaan dan juga pada pasal 1 ayat (2). konstitusi itulah yang pada hakikatnya merupakan Kepala Negara Republik Indonesia yang bersifat simbolik (symbolic head of state). Dalam alinea ini. prinsip kedaulatan rakyat tersebut ditentukan dibagikan secara horizontal dengan cara memisahkannya (separation of power) menjadi kekuasaan-kekuasaan yang dinisbatkan sebagai fungsi lembaga-lembaga negara yang sederajat dan saling mengendalikan satu sama lain berdasarkan prinsip `checks and balaces’. ditafsirkan dan ditegakkan dengan tangan besi berdasarkan kekuasaan belaka (Machtstaat). sebelum ini. Akan tetapi. Prinsip Negara Hukum tidak boleh ditegakkan dengan mengabaikan prinsip-prinsip demokrasi yang diatur dalam Undang-Undang Dasar. Karena itu. Untuk mengatasi kekuarangan itulah maka dalam perubahan ketiga UUD 1945. PEMISAHAN KEKUASAAN DAN PRINSIP `CHECKS AND BALANCES’ Prinsip kedaulatan yang berasal dari rakyat tersebut di atas selama ini hanya diwujudkan dalam Majelis Permusyawaratan Rakyat yang merupakan penjelmaan seluruh rakyat. Untuk memberikan nasehat dan saran kepada Presiden dan Wakil Presiden. Cabang kekuasaan eksekutif berada ditangan Presiden dan Wakil Presiden. yang menyatakan: `Negara Indonesia adalah Negara Hukum’. ide negara hukum (rechtstaat atau the rule of law) itu diadopsikan secara tegas ke dalam rumusan pasal UUD. kekuasaan rakyat itu dibagi-bagikan secara vertikal ke dala m lembaga-lembaga tinggi negara yang berada dibawahnya. harus pula ada jaminan bahwa hukum itu sendiri dibangun dan ditegakkan menurut prinsip-prinsip demokrasi. . Rumusan 5 eksplisit bahwa Indonesia adalah negara hukum baru terdapat dalam Konstitusi Republik Indonesia Serikat tahun 1949 dan Undang-Undang Dasar Sementara Tahun 1950. Untuk melengkapi pelaksanaan tugas-tugas pengawasan. rumusan naskah asli UUD 1945 tidak mencantumkan ketentuan mengenai negara hukum ini. Ketentuan mengenai cita-cita negara hukum ini secara tegas dirumuskan dalam pasal 1 ayat (3) UUD 1945. Dari Majelis inilah. dengan keberadaan Mahkamah Konstitusisebagai penyangga atau `the guardian of the Indonesian constitution’. dan yang diakui sebagai lembaga tertinggi negara dengan kekuasaan yang tidak terbatas.dalam segala bentuknya dalam kenyataan praktek (due process of law). cita-cita kerakyatan dirumuskan secara jelas sebagai “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”. dalam Undan-Undang dasar hasil perubahan. Namun demikian. yaitu pasal 1 ayat (3) tersebut diatas. semangat kerakyatan itu ditegaskan dalam ketentuan yang menegaskan bahwa “kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar”. Cita-cita kedaulatan tergambar dalam pembukaan UUD 1945. prinsip yang dianut disebut sebagai prinsip pembagian kekuasaan (distribution of power). Karena prinsip supremasi hukum dan kedaulatan hukum itu sendiri pada pokoknya berasal dari kedaulatan rakyat. Puncak kekuasaan hukum itu diletakkan pada konstitusi yang pada hakikatnya merupakan dokumen kesepakatan tentang sistem kenegaraan tertinggi. prinsip negara hukum hendaklah dibangun dan dikembangkan menurut prinsip-prinsip demokrasi atau kedaulatan rakyat (democratische rechtsstaat). terutama dalam rumusan alinea IV tentang dasar negara yang kemudian dikenal dengan sebutan Pancasila. 6 Cabang kekuasaan legislatif tetap berada di Majelis Permusyawaratan Rakyat. Sementara itu. Hukum tidak boleh dibuat. tetapi majelis ini terdiri dari dua lembaga perwakilan yang sederajat dengan lembaga negara lainnya. ditetapkan. Sedangkan cabang kekuasaan kehakiman dipegang oleh Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. Oleh sebab itu. dibentuk pula Dewan Pertimbangan Agung. kecuali hanya dalam penjelasan UUD 1945 yang menggunakan istilah `rechtsstaat'. Sedangkan dalam rumusan pasal 1 ayat (2). dalam sistem presidensil yang dikembangkan. Bahkan. pelaku sepenuhnya kedaulatan rakyat.

SISTEM PEMERINTAHAN PRESIDENTIL Negara Indonesia merupakan negara yang berpenduduk terbesar keempat di dunia. sehingga tidak dapat dihindari keharusan berkembangnya sistem multi-partai dalam sistem demokrasi yang hendak dibangun. 7 Pasal-pasal yang dapat dianggap mencerminkan perubahan tersebut antara lain adalah perubahan ketentuan pasal 5. berkembang keinginan agar sistem pemerintahan yang dibangun 8 adalah sistem Parlementer ataupun setidak-tidaknya varian dari sistem pemerintahan parlementer. . dan yudikatif itu sama-sama sederajat dan saling mengontrol satu sama lain sesuai dengan prinsip `Check and balances’. ada pula ketentuan mengenai kewenangan MPR yang tidak lagi dijadikan tempat kemana presiden harus bertanggungjawab atau menyampaikan pertanggung-jawaban jabatannya. Jika kelemahan sistem presidentil yang diterapkan dibawah Undang-Undang Dasar 1945 yang cenderung sangat “executive heavy” sudah dapat diatasi melalui pembaharuan mekanisme ketatanegaraan yang diwujudkan dalam Undang-Undang Dasar ini. dibatasi dan bahkan dikontrol dengan sesebaik-baiknya. maka ekses-ekses atau efek samping dalam prakek penyelenggaraan sistem pemerintahan Presidentil seperti selama ini terjadi tidak perlu dikhawatirkan la gi. terutama ayat (1) juncto pasal 20 ayat (1) sampai dengan ayat (5) yang secara jelas menentukan bahwa fungsi legislatif ada pada Dewan Perwakilan Rakyat. eksekutif. Maksudnya ialah agar seluruh aspirasi rakyat benar-benar dapat dijelmakan ke dalam Majelis Perusyawaratan Rakyat yang terdiri dari dua pintu. Selain itu. Wilayahnya pun sangat luas. Ketiga ketentuan itu memastikan tafsir berkenaan dengan terjadinya pergeseran MPR dari kedudukannya sebagai lembaga tertinggi menjadi lembaga yang sederajat dengan Presiden berdasarkan pemisahan kekuasaan dan prinsip `check and balances’.000-an pulau besar dan kecil. maka kekuasaan negara dapat diatur. Disamping itu. realitas kompleksitas keragaman kehidupan bangsa Indonesia seperti tersebut diatas. etnisitas. anutan agama. Dengan adanya prinsip `Check and balances’ ini. Oleh karena itu. justru membutuhkan sistem pemerintahan yang kuat dan stabil. maupun dari segi-segi lainnya. terlepas dari kenyataan bahwa sistem parlementer pernah gagal dipraktekkan dalam sejarah Indonesia modern di masa lalu. terdiri atas lebih dari 17. ketentuan mengenai Mahkamah Konstitusi yang diberi kewenangan untuk melakukan pengujian atas Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar seperti ditentukan dalam pasal 24 ayat (1) juga mencerminkan dianutnya asas pemisahan kekuasaan dan prinsip `check and balances’ antara cabang kekuasaan legislatif dan yudikatif. yaitu Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Kompleksitas dan keragaman itu sangat menentukan peta konfigurasi kekuatan-kekuatan politik dalam masyarakat. sedangkan Presiden adalah kepala eksekutif.Majelis Permusyawaratan Rakyat tetap merupakan rumah penjelmaan seluruh rakyat yang strukturnya dikembangkan dalam dua kamar. dan karena itu membuatnya kurang populer di mata masyarakat. dan sebagian terbesar terpencil dari kehidupan ramai. sehingga penyalahgunaan kekuasaan oleh aparat penyelenggara negara ataupun pribadi-pribadi yang kebetulan sedang menduduki jabatan dalam lembaga-lembaga negara yang bersangkutan dapat dicegah dan ditanggulangi dengan sebaik-baiknya. Namun. baik dari suku bangsa. Ketiga cabang kekuasaan legislatif. Kedudukan Majelis Pemusyawaratan Rakyat yang terdiri dari dua lembaga perwakilan itu itu adalah sederajad dengan Presiden dan Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. prinsip perwakilan daerah dalam Dewan Perwakilan Rakyat Daerah harus dibedakan hakikatnya dari prinsip perwakilan rakyat dalam Dewan Perwakilan Rakyat. Komposisi penduduknya sangat beragam. Agar peta konfigurasi kekuatan-kekuatan politik dalam masyarakat tersebut dapat disalurkan dengan sebaik-baiknya menurut prosedur demokrasi (procedural democracy).

Sistem ini juga dapat dipraktekkan dengan tetap menerapkan sistem multi-partai yang dapat mengakomodasikan peta konfigurasi kekuatan politik dalam masyarakat yang dilengkapi pangaturan konstitusional untuk mengurangi dampak negatif atau kelemahan bawaan dari sistem presidentil tersebut. terlebih dulu harus dibuktikan secara hukum melalui proses peradilan di Mahkamah Konstitusi. Untuk menjamin hal itu. Presiden dan/atau Wakil Presiden dapat dituntut pertanggungjawaban oleh Dewan Perwakilan Rakyat untuk disidangkan dalam Majelis Permusyawaratan Rakyat. Jika tuduhan bersalah itu dapat dibuktikan secara hukum oleh Mahkamah Konstitusi. yaitu: (1) Presiden dan Wakil Presiden merupakan satu institusi penyelenggara kekuasaan eksekutif negara yang tertinggi di bawah Undang-Undang Dasar. tuntutan pemberhentian Presidendan/atau Wakil Presiden yang didasarkan atas tuduhan pelanggaran atau kesalahan. maka pengangkatan dan pemberhentian Gubernur dan Wakil Gubernur Bank Indonesia. bukan dan tidak bertanggungjawab kepada parlemen. Di samping itu. para Menteri itulah yang pada hakikatnya merupakan para pemimpin pemerintahan dalam bidang masing-masing. Dalam sistem ini. Dalam menjalankan pemerintahan negara. MPR bersidang dan secara resmi mengambil putusan pemberhentian. dan Panglima Tentara Nasional Indonesia hanya dapat dilakukan oleh Presiden setelah mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat. barulah atas dasar itu.Keuntungan sistem presidentil justru lebih menjamin stabilitas pemerintahan. Karena itu. dan Tentara Nasional Indonesia sebagai aparatur pertahanan negara. Kedudukannya tidak tergantung kepada parlemen. kekuasaan dan tanggungjawab politik berada ditangan Presiden (concentration of power and responsibility upon the President). (5) Untuk membatasi kekuasaan Presiden yang kedudukannya dalam sistem presidentil sangat kuat sesuai dengan kebutuhan untuk menjamin stabilitas peerintahan. Namun. Jaksa Agung. terdapat lima prinsip penting. Lembaga-lembaga eksekutif yang dimaksud adalah Bank Indonesia sebagai bank sentral. Meskipun keempat lembaga tersebut berada dalam ranah eksekutif. Kepolisian Negara dan Kejaksaan Agung sebagai aparatur penegakan hukum. tetapi dalam menjalankan tugas utamanya tidak boleh dipengaruhi oleh kepentingan politik pribadi Presiden. Dalam hal demikian. Dalam sistem ini tidak dikenal dan tidak perlu dibedakan adanya kepala negara dan kepala pemerintahan. (3) Presiden dan / atau Wakil Presiden dapat dimintakan pertanggungjawabannya secara hukum apabila Presiden dan/atau Wakil Presiden melakukan pelanggaran hukum konstitusi. yaitu sidang gabungan antara Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah. (2) Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh rakyat secara langsung dan karena itu secara politik tidak bertanggungjawab kepada Majelis 9 Permusyawaratan Rakyat atau lembaga parlemen. melainkan bertanggungjawab langsung kepada rakyat yang memilihnya. (4) Para Menteri adalah pembantu Presiden. beberapa badan atau lembaga negara dalam lingkungan cabang kekuasaan eksekutif ditentukan pula independensinya dalam 10 menjalankan tugas utamanya. Kepala Kepolisian Negara. Menteri diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dan karena bertanggung-jawab kepada Presiden. ditentukan pula bahwa masa jabatan Presiden lima tahunan tidak boleh dijabat oleh orang yang sama lebih dari dua masa jabatan. kedudukannya sangat penting dalam menjalankan roda pemerintahan. Pemberhentian para pejabat tinggi pemerintahan tersebut tanpa didahului dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat hanya dapat dilakukan oleh Presiden apabila yang bersangkutan terbukti bersalah dan karena itu dihukum berdasarkan vonis pengadilan yang bersifat tetap karena melakukan tindak pidana menurut . Keduanya adalah Presiden dan Wakil Presiden. Disamping itu. sebelum diberhentikan.

dan budaya yang diwarisi oleh bangsa Indonesia dalam sejarah mengharuskan bangsa Indonesia bersatu dengan seerat-eratnya dalam keragaman. Bentuk negara kita adalah Negara Kesatuan (Unitary State). bukan “Persatuan dan Kesatuan Indonesia” apalagi “Kesatuan Indonesia”. . Negara persatuan mengakui keberadaan masyarakat warga negara karena kewargaanya (civility). yang membuat seseorang atau segolongan orang berbeda dari orang atau golongan lain dalam masyarakat. Namun kewenangan (authority) pemerintah pusat ditentukan batas-batasnya dalam Undang-Undang Dasar atau Undang-Undang ditentukan sebagai kewenangan yang dimiliki oleh pemerintah daerah. Indonesia adalah negara yang berbentuk Negara Kesatuan (unitry state). Istilah negara persatuan cenderung dipahami sebagai konsepsi atau cita negara (staatsidee) yang bersifat totaliter ataupun otoritarian yang mengabaikan pluralisme dan menafikkan otonomi individu rakyat yang dijamin hak-hak dan kewajiban asasinya dalam Undang Undang Dasar. Oleh karena itu. terlepas dari ciri-ciri khusus yang dimiliki seseorang atau segolongan orang ata s dasar kesukuan dan keagamaan dan lain-lain. Kehidupan orang per orang ataupun golongan-golongan dalam masyarakat diakui sebagai individu dan kolektivitas warga negara. dan Republik adalah konsepsi mengenai bentuk pemerintahan yang dipilih dalam kerangka UUD 1945. Dengan demikian. Negara Kesatuan adalah konsepsi tentang bentuk negara. Keragaman suku bangsa. Keragaman merupakan kekayaan yang harus dipersatukan (united). yaitu “Persatuan Indonesia”. Karena itu. CITA PERSATUAN DAN KERAGAMAN DALAM NKRI Prinsip persatuan dibutuhkan karena kenyataan bahwa bangsa Indonesia sangat majemuk. Hubungan-hubungan kekuasaan antara pemerintah pusat dan pemerintah Daerah Propinsi serta pemerintah Daerah Kabupaten dan Kota. istilah persatuan itu harus dikembalikan kepada 12 bunyi rumusan sila ketiga Pancasila. tidak diatur berdasarkan asas dekonsentrasi. Bandingkan antara rumusan Pancasila dalam Pembukaan UUD 1945 dan rumusan pasal 1 ayat (1) yang menyatakan: “Negara Indonesia ialah negara kesatuan yang berbentuk Republik”. otonomi individu diakui kepentingannya secara seimbang dengan kepentingan kolektivitas rakyat. Kekuasaan asal berada di pemerintah pusat.tata cara yang diatur dengan Undang-Undang. sedangkan kesatuan adalah istilah bentuk negara yang bersifat teknis. sedangkan persatuan Indonesia adalah prinsip dasar bernegara yang harus dibangun atas dasar persatuan (unity). prinsip persatuan Indonesia tidak boleh diindentikkan dengan atau dikacaukan atau dikaitkan dengan istilah kesatuan yang berkenaan dengan persoalan bentuk bangsa. melainkan hanya didasarkan atas asas otonomi atau desentralisasi dan tugas perbantuan (medebewin). negara persatuan itu mempersatukan seluruh bangsa Indonesia dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia karena prinsip kewargaan yang bersamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan. Namun. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah merupakan `negara persatuan' dalam arti sebagai negara yang warga negaranya erat bersatu. bukan kesatuan (uniformity). konsepsi negara persatuan itu sering disalah-pahami seakan-akan bersifat `integralistik'. agama. untuk tidak menimbulkan salah pengertian. yang mempersatukan rakyat secara totaliter bersama-sama dengan pemimpinnya seperti konsepsi Hitler yang didasarkan atas pandangan Hegel tentang negara Jerman. Prinsip persatuan juga tidak boleh dipersempit maknamya ataupun diindentikkan dengan pengertian pelembagaan bentuk Negara Kesatuan yang merupakan bangunan negara 11 yang dibangun atas motto `Bhineka±Tunggal±Ika' (Unity in Diversity). tetapi tidak boleh disatukan atau diseragamkan (uniformed). Dalam negara persatuan itu. Persatuan adalah istilah filsafat dan prinsip bernegara. yang mengatasi segala paham perseorangan ataupun golongan yang menjamin segala warga negara bersamaan kedudukannya di hadapan hukum dan pemerintahan dengan tanpa kecuali.

Disamping itu. Sebagai perbandingan. Memang. ditegaskan pula adanya pengakuan atas pluralisme di berbagai daerah. misalnya menegaskan: “Hubungan kewenangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah propinsi. Otonomi dan kebebasan rakyat dihadapan jajaran pemerintah pusat dan daerah juga makin tumbuh dan berkembang sesuai prinsip demokrasi. Karena itu. pasal 18B ayat (1) menyatakan: “Negara mengakui dan menghormati satuansatuan pemerintah daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan Undang-Undang”. baik anggota Senat maupun anggota DPR Amerika Serikat itu sama-sama merupakan anggota Kongres . DPR. Dalam hubungan antara pusat dan daerah atau daerah propinsi dengan kabupaten/kota dimungkinkan adanya pola hubungan yang bersifat khusus seperti propinsi Papua.Disamping itu. meskipun susunan pemerintahan bersifat desentralistis. kabupaten dan kota atau antara propinsi dan kabupaten dan kota diatur dengan Undang-Undang dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah. Akan halnya nanti dengan anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Daerah. . dan pemeritah daerah propinsi 14 memiliki kewenangan koordinasi antar daearah kabupaten/kota sebagaimana mestinya. anggota senat bisa disebut Senator sedangkan anggota Dewan Perwakilan Rakyat atau `House of Representatives’ biasa disebut `Congressman'. Untuk itu. dalam rumusan pasal 18. susunan Negara Kesatuan dengan pengaturan yang bersifat khusus atau otonomi khusus dikembangkan sebagaimana mestinya dengan memperhatikan perbedaan tingkat kemampuan antar daerah diseluruh Indonesia. DAN DPD 1. pelaksanaan otonomi daerah dalam kerangka Negara Kesatuan yang memungkinkan adanya pengaturan khusus berupa daerah otonomi khusus itu hendaklah dilaksanakan secara sistematis dan bertahap. dan kamar kedua disebut Dewan Perwakilan Daerah. Pengaturan demikian dimaksud untuk menjamin agar seluruh bangsa Indonesia benar-benar bersatu dengan keragaman dalam bingkai Negara Kesatuan. tetapi pemerintah pusat tetap memiliki kewenangan koordinasi antar daerah propinsi. Pemerintah pusat bertanggungjawab menyukseskan pelaksanaan otonomi daerah yang dilakukan secara bertahap itu. Majelis Permusyawaratan Rakyat kita dirancang untuk diubah menjadi nama `genus' dari lembaga perwakilan rakyat atau parlemen Indonesia yang terdiri atas dua kamar dewan. Dengan ketentuan-ketentuan konstitusional demikian. Pasal 18B ayat (2) menegaskan: “Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan 13 perkembangan masyarakat dan prinsip negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam Undang-Undang”. Demikian pula dalam konstitusi Kerajaan Belanda dikatakan bahwa kekuasaan legislatif berada di `Staten Generaal’ yang terdiri atas “Eerste Kamer en Tweede Kamer”. tetapi secara sendiri-sendiri mereka juga dapat dibedakan antara anggota DPR atau anggota DPD. sesungguhnya. Majelis Permusyawaratan Rakyat Semula. pada hakikatnya mereka adalah anggota MPR. prinsip yang sama dapat kita temukan dalam konstitusi Amerika Serikat yang mementukan bahwa semua kekuasaan legislatif ada di Kongres yang terdiri atas `The House of Representatives and Senate’. Daerah-daerah juga tidak perlu memaksakan diri untuk secepat mungkin menerapkan kebijakan otonomi daerah yang seluas-luasnya dengan meninggalkan sama sekali atau mengabaikan prinsip-prinsip penyelenggaraan pemerintah daerah berdasarkan asas dekonsentrasi. Pasal 18A ayat (1). Kamar pertama disebut Dewan Perwakilan Rakyat. Prinsip keadilan antar pusat dan propinsi dan daerah kabupaten/kota juga makin terjamin. FORMAT BARU PARLEMEN TIGA KAMAR: MPR. daerah-daerah yang belum atau tidak dapat melaksanakannya. pasal 18A dan pasal 18B (seluruhnya sebanyak 11 ayat). perlu diberi kesempatan mempersiapkan diri. Akan tetapi. berarti Negara Kesatuan Republik Indonesia diselenggarakan dengan pengaturan antar daerah yang tidak seragam antara satu sama lain.

(c) memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden. tetapi juga langsung kepada rakyat. Dengan demikian. Majelis Permusyawaratan Rakyat yang dulu dikenal . Kedua. Pertama. diadopsinya prinsip pemilihan Presiden dan Wakil Presiden dalam satu paket secara langsung oleh rakyat dalam ketentuan pasal 6A ayat (1) perubahan ketiga UUD 1945 yang sekaligus dimaksud untuk memperkuat dan mempertegas anutan sistem pemerintahan presidential dalam UUD 1945. (e) memberhentikan Presiden dan/ atau Wakil Presiden. Dalam perubahan-perubahan tersebut ditegaskan bahwa kekuasaan membentuk Undang-Undang berada di tangan DPR. Ketiga. melainkan sistem tiga kamar (trikameralisme). dilakukan oleh MPR yang terdiri atas dua kamar dewan. Sebelum diadakannya perubahan UUD. (c) memilih Presiden dan Wakil Presiden. keberadaan MPR yang selama ini disebut sebagai lembaga tertinggi negara itu memang telah mengalami perubahan yang sangat mendasar. serta 16 (d) menetapkan Presiden dan/atau Wakil Presiden pengganti sampai terpilihnya Presiden dan/atau Wakil Presiden sebagaimana mestinya. anggota MPR hanya terdiri atas anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang mencerminkan prinsip perwakilan politik (political representation) dan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang mencerminkan prinsip perwakilan daerah (regional representatif). fungsi MPR juga mengalami perubahan mendasar (perubahan fungsional). MPR memiliki 6 (enam) kewenangan yaitu: (a) menetapkan Undang-Undang Dasar & mengubah Undang-Undang Dasar. Oleh karena itu. (b) melantik Presiden dan Wakil Presiden. (b) menetapkan Garis-Garis Besar Haluan Negara. susunan keanggotaan MPR berubah secara struktural karena dihapuskannya keberadaan Utusan Golongan yang mencerminkan prinsip perwakilan fungsional (functional representation) dari unsur keanggotaan MPR. meskipun Presiden sebagai kepala pemerintahan eksekutif tetap diakui haknya untuk mengajukan sesuatu rancangan Undang-Undang. dapat dikatakan bahwa dalam hubungannya dengan pengorganisasian kedaulatan rakyat. diadopsi prinsip pemisahan kekuasaan (separation of power) secara tegas antara fungsi legistatif dan eksekutif dalam perubahan pasal 5 ayat (1) juncto pasal 20 ayat (1) dalam perubahan pertama UUD 1945 yang dipertegas lagi dengan tambahan pasal 20 ayat (5) perubahan kedua UUD 1945. perubahanperub anan mendasar dalam kerangka struktur parlemen Indonesia itu memang telah terjadi mengenai hal-hal sebagai berikut. Dengan perubahan ini berarti UUD 1945 tidak lagi menganut sistem MPR berdasarkan prinsip `Supremasi parlemen’ dan sistem pembagian kekuasaan (distribution of power) oleh lembaga tertinggi MPR ke lembaga-lembaga negara di bawahnya. setelah diadakannya perubahan UUD 1945. bersamaan dengan perubahan yang bersifat struktural tersebut. Majelis ini tidak lagi berfungsi sebagai `supreme body’ yang memiliki kewenangan tertinggi dan tanpa kontrol. (d) meminta dan menilai pertanggungjawaban Presiden. Keempat. kewenangan MPR berubah menjadi: (a) menetapkan Undang-Undang Dasar dan/atau Perubahan UUD. kedaulatan yang ada ditangan rakyat itu. maka konsep dan sistem pertanggungjawaban Presiden tidak lagi dilakukan kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat. akan tetapi keberadaannya 15 tetap ada sehingga sistem yang kita anut tidak dapat disebut sistem bikameral ataupun satu kamar. Dengan sistem pemilihan langsung oleh rakyat itu. setelah perubahan Keempat UUD 1945. Sekarang. dan karena itu kewenangannyapun mengalami perubahan-perubahan mendasar. sepanjang menyangkut fungsi legislatif. Namun demikian. sedangkan dalam bidang eksekutif dilakukan oleh Presiden dan Wakil Presiden sebagai satu paket kepemimpinan eksekutif yang dipilih langsung oleh rakyat.Keanggotaan dalam masing-masing kamar parlemen Belanda ini tidaklah mengurangi pengertian bahwa pada hakikatnya mereka juga anggota `Staten Generaal'.

meskipun didunia hanya dikenal adanya struktur parlemen unicameral dan bicameral. Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Keberadaan Dewan Perwakilan Daerah menurut ketentuan UUD 1945 pasca perubahan juga banyak dikritik orang. Akan tetapi. Namun.sebagai lembaga tertinggi negara. selambatlambatnya dalam waktu 60 hari. dalam pengaturan UUD 1945 pasca perubahan Keempat. Dengan kata lain. salah satu ciri bikameralisme yang dikenal di dunia ialah apabila kedua-dua kamar yang dimaksud sama-sama menjalankan fungsi legislatif sebagaimana seharusnya. maka sifat bikameralismenya disebut `strong becameralism’. serta dengan Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi. UUD 1945 memperkenalkan sistem ketiga. (d) dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan UU tertentu (ayat 3). karena kedudukannya hanya memberikan pertimbangan kepada DPR. Sedangkan ayat (3) nya menyatakan bahwa dalam hal terjadinya kekosongan presiden dan wakil presiden secara bersamaan. Akan tetapi. Lembaga ini semula didesain 18 sebagai kamar kedua parlemen Indonesia di masa depan. usul. anggota DPD dari tiap propinsi jumlahnya sama dan seluruh anggota DPD tidak lebih dari sepertiga jumlah anggota DPR (ayat 2). seperti dikemukakan diatas. Banyak kritik dan ketidakpuasan mengenai pengaturan UUD 1945 mengenai hal ini. dengan adanya kewenangan yang demikian itu maka dapat dipahami bahwa MPR itu adalah lembaga yang berdiri sendiri disamping DPR dan DPD. sehingga DPD ini lebih tepat disebut sebagai Dewan Pertimbangan DPR. Karena itu. DPD hanya memberikan masukan. MPR bersidang untuk memilih presiden dan wapres dari dua pasangan calon presiden yang diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan calon Presiden dan Wapresnya meraih suara (pen: `yang') terbanyak pertama dan kedua dalam pemilu sebelumnya. lembaga MPR pada pokoknya menurut ketentuan UUD 1945 pasca perubahan Keempat tetap berdiri sendiri di samping DPR dan DPD. sedangkan yang memutuskan adalah DPR. yaitu parlemen trikameral atau trikameralisme. (b) ikut membahas rancangan UU tertentu (ayat 2). Menurut ketentuan pasal 2 ayat (1). MPR terdiri atas anggota DPR dan anggota DPD. bukan DPD. (c) memberikan pertimbangan kepada DPR atas rancangan UU APBN dan rancangan UU tertentu (ayat 2). sedangkan yang berhak memutuskan adalah DPR. menurut ketentuan pasal 22D (a) dapat mengajukan rancangan UU tertentu kepada DPR (ayat 1). Ironisnya. dimasa depan berubah menjadi nama dari lembaga perwakilan rakyat Indonesia yang terdiri atas Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah yang secara bersama-sama 17 kedudukannya sederajat dengan Presiden dan Wakil Presiden. Pasal 8 ayat (2) menyatakan dalam hal terjadinya kekosongan wakil presiden. Anggota DPD dipilih dari setiap propinsi melalui pemilu (pasal 22c ayat 1). maka selambat-lambatnya 30 hari setelah itu. bukan saja bahwa struktur yang dianut tidak dapat disebut sebagai `strong becameralism’ yang kedudukan keduanya tidak sama kuatnya. Menurut ketentuan pasal 3 ayat (3). Padahal. 2. ataupun saran. jika diperhatikan DPD sama sekali tidak mempunyai kekuasaan apapun dibidang ini. MPR bersidang untuk memilih wakil presiden dari dua calon yang diusulkan oleh Presiden. Jika ditentukan bahwa dari setiap . tetapi dalam kenyataannya memang demikianlah ketentuannya dalam UUD 1945 pasca Perubahan Keempat. DPD hanya memberikan masukan pertimbangan. mekanisnme pengisian jabatan keanggotaan DPD ini lebih berat bila dibandingkan dengan mekanisme pengisian keanggotaan DPR. Selama ini dipahami bahwa jika kedudukan kedua kamar itu di bidang legislatif sama kuat. Dengan demikian. tetapi bahkan juga tidak dapat disebut sebagai `soft becameralism’ sekalipun. keberadaan DPD di samping DPR tidak dapat disebut sebagai bikameralisme dalam arti yang lazim. tetapi jika kedua tidak sama kuat. DPD. MPR juga berwenang untuk mengubah dan menetapkan UUD sebagaimana dimaksud oleh pasal 3 ayat (1) dan pasal 37 UUD 1945. pasal 7A dan 7B. maka disebut `soft becameralism’.

sedangkan peserta pemilu untuk DPR adalah partai politik. bukan Presiden dan apalagi DPD. rancangan Undang-Undang tersebut sah menjadi Undang-Undang dan wajib diundangkan”. Rancangan UndangUndang itu tidak boleh diajukan lagi dalam persidangan DPR masa itu”. kewenangannya sangat terbatas. Dewan Perwakilan Rakyat Berdasarkan ketentuan UUD 1945 pasca Perubahanan Keempat. Ketiga. asalkan para anggota DPD dapat terbuka. Karena pusat kewenangan untuk memutuskan atas nama rakyat dan untuk kepentingan dan aspirasi rakyat ada di DPR. maka Institusi DPR sebagai satu kesatuan akan berhadapan dengan Presiden sebagai satu kesatuan institusi yang dapat menolak usul inisiatif DPR itu seluruhnya ataupun sebagian materinya. Dalam hal rancangan Undang-Undang berasal dari inisiatif DPR. Kemudian dinyatakan pula” Presiden mengesahkan rancangan Undang-Undang yang telah mendapat disetujui bersama untuk menjadi Undang-Undang” (ayat 4).5 juta pemilih. sedangkan untuk menjadi anggota DPR cukup dibutuhkan sekitar 550 ribu suara pemilih. para anggota DPD dapat bermain ditengah gelombang aspirasi rakyat secara lebih terbuka dan memihak kepada rakyat didaerah-daerah. Presiden adalah lembaga yang mengesahkan rancangan Undang-Undang yang telah mendapat persetujuan bersama dalam rapat paripurna DPR resmi menjadi Undang-Undang. ditengah kritik dan kekecewaan atas pengaturan yang sangat mengecil arti lembaga perwakilan daerah ini. Kedua. Justru karena kewenangannya yang terbatas itu menyebabkan DPD dapat terhindar dari sasaran kritik dari masyarakat madani (civil society). di Jawa Timur. dapat terjadi tokoh perorangan yang akan tampil sebagai calon anggota DPD menghadapi kesulitan luar biasa dalam menggalang dukungan bagi dirinya. Selanjutnya dinyatakan: “setiap rancangan Undang-Undang dibahas oleh DPR dan Presiden untuk mendapat persetujuan bersama. Tentu ada juga argumen sebaliknya yang cenderung lebih optimis. banyak orang yang pesimis dengan pola pengaturan DPD yang demikian. Oleh karena itu. satu kursi anggota DPD membutuhkan dukungan suara sekitar 5. bagi para politisi muda. Karena itu. Disamping itu. setiap rancangan Undang-Undang dibahas bersama untuk mendapat persetujuan bersama antara DPR dan Presiden dalam persidangan DPR. setelah berhasil. rancangan Undang-Undang yang telah resmi SAH menjadi Undang-Undang wajib diundangkan sebagaimana mestinya. lembaga legislasi atau legislator adalah DPR. Dari ketentuan pasal 20 itu dapat dipahami bahwa: Pertama. masih tersisa optimisme yang cukup menjanjikan untuk penataan sistem politik nasional ke depan. sedangkan calon anggota DPR cukup memanfaatkan struktur partai politiknya sebagai mesin penghimpun dukungan suara dalam pemilihan umum. Hal ini jelas terlihat dalam rumusan pasal 20 ayat (1) yang baru yang menyatakan: “Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk Undang-Undang”. fungsi legislatif berpusat di tangan Dewan Perwakilan Rakyat. sudah sulit-sulit untuk mejadi anggota perwakilan ditingkat pusat. 20 3. Misalnya saja. maka seseorang yang ingin menduduki kursi DPD harus bersaing di tingkat propinsi untuk memperebutkan 4 kursi. peserta pemilu menjadi anggota DPD adalah perorangan. Dalam hal demikian maka rancangan Undang-Undang yang diajukan oleh DPR itu tidak dapat lagi diajukan dalam persidangan DPR masa itu. Karena itu. Posisi Presiden dan DPR dalam hal ini dapat dikatakan saling 21 berimbang. Artinya. Di satu pihak. Dengan demikian. Dengan perkataan lain. maka DPR-lah yang akan menjadi pusat hujatan dan kemarahan apabila aspirasi rakyat tidak sungguh-sungguh disalurkan. Keempat. dan “dalam hal rancangan Undang-Undang yang telah disetujui bersama tersebut tidak disahkan oleh Presiden dalam waktu 30 hari semenjak rancangan Undang-Undang tersebut disetujui. DPD dapat menjadi wadah baru untuk aktualisasi diri dan forum pelatihan kepemimpinan politik yang efektif untuk masa depan. dalam proses pembahasan materi rancangan .19 propinsi jumlahnya 4 orang.

Selanjutnya. karena DPR-lah yang memutuskan. setelah suatu rancangan Undang-Undang mendapat persetujuan bersama yang ditandai oleh pengesahannya dalam rapat paripurna DPR. Jika rancangan itu ditolak seluruhnya oleh DPR. tetapi belum mengikat umum karena belum disahkan oleh Presiden serta diundangkan sebagaimana mestinya. Dalam forum pengambilan putusan oleh DPR dapat terjadi bahwa sesuatu materi ataupun seluruh materi rancangan Undang-Undang yang bersangkutan diputuskan dengan pemungutan suara dapat rapat paripurna DPR. Karena. Dalam hal ini. RUU akan berubah menjadi resmi mengikat umum semata-mata karena (a) faktor pengesahan oleh Presiden dengan cara menandatangani naskah Undang-Undang itu. bukan Presiden. yaitu pengesahan materiel oleh DPR dan pengesahan formil oleh Presiden sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (4) UUD 1945. atas perintah Presiden. pembahasannya pun dilakukan secara bersama-sama untuk mendapatkan persetujuan bersama. Kelima. Tindakan pengesahan materiel itu dilakukan melalui pengembilan putusan akhir oleh DPR atas suatu rancangan Undang-Undang dalam persidangan atau rapat paripurna DPR. Di satu pihak. selintas memang dapat dikatakan mengandung kontradiksi tersendiri. dapat dibedakan adanya dua instansi pengesahan suatu rancangan Undang-Undang. Dalam hal demikian. dan (b) faktor tenggang waktu 30 hari sejak pengambilan keputusan atas rancangan Undang-Undang tersebut dalam rapat paripurna DPR. 23 Soal Persetujuan Bersama: Berkenaan dengan unsur `persetujuan bersama’ yang seharusnya tercermin dalam keputusan akhir yang diambil dalam rapat paripurna DPR. Undang-Undang yang bersangkutan diundangkan dengan cara menempatkannya dalam registrasi Lembaran Negara dengan memberikan nomer registrasi dan pembuatan salinan oleh Sekretaris Negara. Presiden tidak dapat lagi memanfaatkan dukungan partai politiknya sendiri yang ada di DPR untuk mendukung kebijakan Pemerintah mengenai materi rancangan Undang-Undang yang sedang dibahas. maka rancangan Undang-Undang itu juga tidak dapat lagi diajukan dalam persidangan DPR masa yang bersangkutan. Karena itu. Presiden/pemerintah tidak mempunyai `voting rights’ sama sekali. dan secara a contrario. posisi Presiden/pemerintah lemah karena harus berhadapan dengan DPR sebagai satu kesatuan institusi. 22 Keenam. proses pembentukan Undang-Undang telah selesai (final) dengan telah diambilnya putusan dalam rapat paripurna DPR yang mengesahkan rancangan Undang-Undang yang telah dibahas bersama. secara materiel. putusan akhir DPR tersebut sudah mengandung pengertian `persetujuan bersama' tersebut.Undang-Undang. adanya ketentuan pasal 20 ayat (5) yang . Dalam hal ini. maka rancangan Undang-Undang yang bersangkutan secara substantif atau secara material telah menjadi Undang-Undang. dipihak lain. Akan tetapi. Jika sebagian materi rancangan Undang-Undang itu. Presiden/Pemerintah mempunyai posisi yang kuat karena dapat mem-`veto' dengan cara menolak untuk memberikan persetujuan atas sesuatu materi ataupun keseluruhan materi Undang-Undang yang bersangkutan. dan penerbitan Lembaran Negara yang bersangkutan sebagaimana mestinya. maka seperti terhadap rancangan Undang-Undang inisiatif DPR. tidak mendapat DPR berarti materi yang bersangkutan harus dikeluarkan dari rancangan Undang-Undang yang bersangkutan. dalam hal rancangan Undang-Undang itu datang dari Presiden. Maka dapat dikatakan bahwa dalam hal ini DPR mempunyai kedudukan yang lebih kuat daripada Presiden/Pemerintah. juga tidak dapat diajukan lagi untuk diatur dengan atau dalam Undang-Undang lain dalam persidangan DPR masa itu. sedangkan tindakan pengesahan formil dilakukan oleh Presiden dengan cara membubuhkan tandatangan pada bagian akhir naskah Undang-Undang. Dengan demikian. yang berhak menolak seluruhnya ataupun sebagiannya adalah DPR sebagai institusi. Tetapi. RUU yang telah mendapat persetujuan dalam rapat paripurna DPR itu secara materiel tidak dapat diubah meskipun Presiden tidak menyetujui isinya.

Kedua. 24 Penandatanganan Undang-Undang : Berkenaan dengan penandatangan naskah Undang-Undang oleh Presiden seperti dimaksud oleh pasal 20 ayat (5) UUD 1945. “Presiden Republik Indonesia”. timbul dua penafsiran berkenaan dengan ini. rancangan Undang-Undang tersebut tidak berubah statusnya menjadi Undang-Undang. Kasus dimana suatu rancangan Undang-Undang telah disetujui bersama dalam rapat paripurna DPR. haruslah dipahami sebagai kewajiban administratif Presiden untuk membubuhkan tandatangan. maka ukuran yang pasti adalah tanggal. Karena itu. format Undang-Undang yang berkepala surat dan bersubyek. pengertian yang lebih tepat untuk dikembangkan sehubungan dengan soal penandatanganan Undang-Undang adalah bahwa Presiden wajib mengesahkan rancangan Undang-Undang yang telah disetujui bersama untuk menjadi Undang-Undang sebagaimana dimaksud dalam pasal 20 ayat (4). Artinya. Timbul kesan bahwa Sekretariat Negara yang mengesahkan rancangan Undang-Undang itu menjadi Undang-Undang. format naskah Undang-Undang tetap dipertahankan agar berkepala surat “Presiden Republik Indonsia”. apabila rancangan Undang-Undang tersebut telah disahkan oleh Presiden dengan tandatanganya. jika rancangan Undang-Undang itu tidak disahkan oleh Presiden. Atas dasar keabsahan UndangUndang dengan prosedur kedua inilah maka Sekretaris Negara merasa berkewajiban menurut ketentuan pasal 20 ayat (5) dan sekaligus berhak untuk mengumandangkan Undang-Undang tersebut sebagaimana mestinya. Pada akhir anak kalimat pasal 20 ayat (5) dinyatakan. ataupun karena telah dilampaui tenggat 30 hari seperti dimaksud dalam pasal 20 ayat (5) tersebut. maka rancangan Undang-Undang itu sudah dengan sendirinya sah menjadi UndangUndang. maka posisi Presiden dapat menolak atau menerima sebagian atau keseluruhan. bisa saja karena pertimbangan bahwa materi Undang-Undang yang bersangkutan bertentangan dengan UndangUndang Dasar. Akibatnya. Presiden merasa tidak perlu lagi menandatangani naskah Undang-Undang itu sebagaimana seharusnya. Karena itu. yaitu setelah 30 hari sejak mendapat persetujuan bersama dalam rapat paripurna DPR. sehingga kedudukan Presiden lebih kuat.menyatakan “Dalam Rancangan Undang-Undang yang telah disetujui bersama tersebut tidak disahkan oleh Presiden…. tanpa disahkan oleh Presiden. kualitas rapat paripurna DPR untuk pengambilan keputusan akhir terhadap rancangan Undang-Undang tersebut dapat dibedakan antara rancangan Undang-Undang yang berasal dari DPR atau berasal dari Presiden/Pemerintah. bukan “Dewan Perwakilan . tetapi Presiden tidak puas dan karena itu menolak untuk mengesahkannya dapat terjadi jika rancangan Undang-Undang tersebut datangnya dari pemerintah sebagaimana diuraikan di atas. Karena itu. baik karena telah disahkan oleh Presiden dengan cara membubuhkan tandatangannya.” Menunjukkan bahwa ada kemungkinan suatu rancangan Undang-Undang yang secara materiel telah disahkan oleh DPR tersebut tidak disahkan secara formil oleh Presiden. maka atas dasar itu Sekretariat Negara melaksanakan kewajiban untuk mengundangkannya sebagaimana mestinya. Karena itu pasal 20 ayat (4) menegaskan bahwa “Presiden mengesahkan rancangan Undang-Undang yang telah disetujui bersama untuk menjadi Undang-Undang”. Rancangan UndangUndang tersebut baru berubah statusnya menjadi Undang-Undang setelah oleh Presiden disahkan sebagaimana mestinya. tetapi subyek yang menandatanganinya adalah 25 Sekretariat Negara yang mempunyai kedudukan sebagai pembantu Presiden. sehingga timbul pula pertanyaan apa alas hak bagi seorang pembantu untuk atas nama Presiden mengesahkan Undang-Undang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (4)? Oleh karena itu. jika rancangan Undang-Undang datang dari inisiatif DPR. Jika rancangan Undang-Undang datang dari Presiden. Tetapi. Pertama.”…rancangan Undang-Undang tersebut itu menjadi UndangUndang. maka pengambilan keputusan akhir dalam rapat paripurna DPR adalah mutlak pengambilan keputusan oleh DPR dimana Presiden tidak mempunyai `voting rights' sama sekali. Karena itu. Alasan Presiden menolak mengesahkannya.

dapat saja dipahami bahwa rancangan Undang-Undang yang telah disahkan secara materiel oleh DPR tersebut meskipun belum disahkan oleh Presiden selama masih tenggat 30 hari. status rancangan UndangUndang tersebut adalah rancangan Undang-Undang (RUU). maka kop suratnya masih tetap dapat dipertahankan dengan subyek “Presiden Republik Indonesia”. Seharusnya karena pasal 20 ayat (1) menyatakan bahwa “DPR memegang kekuasaan membentuk Undang-Undang”. BADAN PEMERIKSA KEUANGAN . Atas dasar pengesahan oleh Presiden itulah maka Undang-Undang tersebut diundangkan sebagaiman mestinya. berada di antara keduanya. secara materiel rancangan Undang-Undang yang bersangkutan sudah dapat dianggap final. statusnya tidak lagi sama dengan RUU ketika masih dalam pembahasan di DPR atau apalagi dengan RUU ketika belum dibahas di DPR. Dengan demikian. menurut pendapat saya. Maka kop surat UndangUndangpun diubah menjadi “Dewan Perwakilan Rakyat”. tetapi setelah disahkan oleh Presiden RUU tersebut berubah statusnya menjadi UU. sejak diambilnya keputusan akhir dalam rapat paripurna DPR. Dari Rancangan Undang-Undang menjadi Undang-Undang Seperti dikemukakan diatas. rancangan Undang-Undang yang telah disahkan 27 secara materiel oleh DPR tersebut akan berlaku dengan sendirinya menjadi Undang-Undang. bahkan oleh Presiden sekalipun. Pentingnya pembedaan ini karena adanya ketentuan mengenai tenggang waktu 30 hari yang ditentukan dalam pasal 20 ayat (5). Karena itu. karena pasal 20 ayat (4) menyatakan Presidenlah yang mengesahkan rancangan Undang-Undang menjadi Undang-Undang . Akan tetapi. Statusnya tidak dapat lagi disamakan dengan RUU pada tahap sebelumnya tetapi belum dapat dikatakan menjadi UU yang mengikat untuk umum karena belum disahkan sebagaimana mestinya. meskipun belum disahkan secara resmi atau secara formil oleh Presiden. rancangan Undang-Undang dimaksud. meskipun kadang-kadang masih disebut sebagai RUU. menurut Undang-Undang menurut tahap-tahap pembuatannya. Sedangkan statusnya sebelum disahkan oleh Presiden tetapi telah disahkan secara materiel oleh DPR. Sampai pada tahap pambahasan di DPR. untuk memberi arti pada tenggat 30 hari itu bagi Presiden. DPD ataupun kelompok anggota minoritas di DPR. Oleh sebab itu. tidak dapat diubah lagi. Lalu apakah arti angka 30 hari itu bagi Presiden? Jika tidak berbuat apa-apa. Oleh karena itu. maka meskipun ia tidak menyetujui isinya. status naskah rancangan Undang-Undang yang telah disetujui bersama dalam forum DPR itu sebenarnya telah disahkan secara materiel oleh DPR. Jika tenggat 30 hari itu terlampaui maka RUU yang sudah mempunyai status sebagai Undang-Undang secara materiel itu berubah status dengan sendirinya menjadi Undang-Undang yang berlaku secara materiel dan formil sekaligus. Sekretariat Negara sebagai pembantu Presiden menjalankan kewajiban yang ditentukan dalam pasal 20 ayat (5) untuk mengundangkan Undang-Undang tersebut sebagaimana seharusnya. pada hakikatnya sudah menajdi Undang-Undang secara materiel. Akan tetapi. akibatnya. meskipun dalam hubungannya dengan rancangan Undang-Undang yang berasal dari pemerintah sifatnya sangat relatif. rancangan Undang-Undang yang bersangkutan dianggap telah 26 mendapat persetujuan bersama. Setelah itu. dan atas dasar perintah dari Presiden pula.Rakyat”. ketentuan pasal 20 ayat (4) tersebut diatas harus dipahami sebagai kewajiban bagi Presiden untuk mengesahkan rancangan UndangUndang tersebut menjadi Undang-Undang. Dengan perkataan lain. Secara materiel ia sudah menjadi UU tetapi secara formil belum. sudah dapat ditafsirkan bahwa Mahkamah Konstitusi berdasarkan ketentuan pasal 24C ayat (1) dapat melakukan pengujian atas “Undang-Undang”3 yang sudah disahkan secara materiel oleh DPR tetapi belum disahkan secara formil oleh Presiden itu sebagaimana mestinya. Pihak-pihak yang dapat diberi hal untuk menjadi pemohon dalam kasus pengujian Undang-Undang menurut prosedur “control a priore” atau “judicial preview”4 ini adalah Presiden.

yaitu menyangkut perubahan bentuk organisasinya secara struktural dan menyangkut perluasan jangkauan tugas pemeriksaannya secara fungsional. negara kita masih memiliki Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang juga berkaitan dengan fungsi pengawasan. setidak-tidaknya ada dua perkembangan baru yang terjadi dengan Badan Pemeriksa Keuangan. 28 Keuangan itu harus dilaporkan atau disampaikan kepada DPR untuk ditindak lanjuti sebagaimana mestinya. yaitu pada pasal 23 ayat (5) yang menyatakan: “untuk memeriksa tanggungjawab tentang keuangan negara diadakan suatu Badan Pemeriksa Keuangan yang peraturannya ditetapkan dengan Undang-Undang. Namun. atau sekurang kurangnya berhimpitan dengan fungsi pengawasan yang dijalankan oleh Dewan Perwakilan Rakyat. Pasal 23F menetukan bahwa “(1) anggota badan pemeriksa keuangan dipilih oleh DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD. khususnya berkenaan dengan pengelolaan keuangan Negara. Karena itu. hal ini diatur dalam bab baru tersendiri. Pasal 23 G menentukan: “(1) badan pemeriksa keuangan berkedudukan di ibukota negara dan memiliki perwakilan di setiap propinsi (2) ketentuan lebih lanjut mengenai badan pemeriksa keuangan diatur dengan Undang-Undang”. dan dua ayat sehingga seluruhnya berjumlah tujuh ayat atau 7 butir ketentuan. Pasal 23E menentukan bahwa “(1) Untuk memeriksa pengelolaan dan tanggungjawab tentang keuangan negara diadakan satu badan pemeriksa keuangan yang bebas dan mandiri. tetap i juga sejak UU itu masih sebagai rancangan sudah dapat diuji oleh Mahkamah Konstitusi. (2) Hasil pemeriksaan keuangan negara diserahkan kepada DPR.Selain lembaga-lembaga negara diatas. karena itu. (3) Hasil pemeriksaan tersebut ditindak lanjuti oleh lembaga perwakilan dan/atau badan sesuai dengan Undang-Undang”. 4 Sistem ini sebagai sistem yang dikenal dipraktekkan oleh Counseil Constitution nel Perancis yang melakukan `Preview' yang bersifat preventif. ketentuan mengenai BPK itu hanya diatur sepintas lalu dalam pasal 23 UUD 1945. Dapat dikatakan bahwa dengan adanya perubahan ketiga UUD 1945. Tetapi. Hasil pemeriksaan itu diberitahukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat”. dan diresmikan oleh Presiden. 29 Dari ketentuan-ketentuan tersebut diatas. Oleh karena itu. dan pasal 23G. dewasa ini banyak negara ya ng menggabungkan sistem `preview' atau `control a priore’ ini dengan system `norm control a postereore’. Pasal ini berada dalam Bab VIII tentang hal keuangan. Karena itu. sehingga yang diuji bukan saja peraturan yang sudah menjadi UU. kita dapat saja menutupi kelemahan pasal-pasal UUD1945 untuk mengembangkan system yang lebih utuh dengan menggabungkan tradisi `kontrol a priore’ dan `kontrol a postereore’ itu sekaligus. DPD. Sebelumnya. pasal 23F. istilah yang dipakai disini adalah “pengujian atas undang-undang” denga n huruf kecil. Semula. dua ayat. laporan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Badan Pemeriksa 3 Kebetulan. kedudukan kelembagaan Badan Pemeriksa Keuangan ini sesungguhnya berada dalam ranah kekuasaan legislatif. yaitu mencak up pengertian formil pengertian formil dan material seperti telah dikemukakan di at as. Isinyapun lebih lengkap yaitu masing-masing berisi tiga ayat. organisasi BPK hanya memiliki kantor perwakilan di beberapa propinsi saja . dapat saja dipahami `undang-undang' dalam arti luas. (2) Pimpinan badan pemeriksa keuangan dipilih dari dan oleh anggota”. keberadaan badan pemeriksa ini mengalami perubahan yang sangat mendasar. yaitu Bab VIIA Badan Pemeriksa Keuangan yang terdiri atas pasal 23E. sekarang berdasarkan perubahan ketiga UUD 1945 yang disahkan pada tahun 2001. dan DPRD sesuai kewenangannya. dalam rangka penataan sistem hukum kita ke depan.

Prinsip kemerdekaan hakim ini selain diatur dalam Undang-Undang pokok kekuasaan kehakiman. Karena itu. kekuasaan kehakiman negara kita mendapat tambahan satu jenis mahkamah lain yang berada di luar mahkamah agung. dibandingkan dengan Badan Pemeriksaan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) bentuk pemerintahan orde baru. dan pasal 23G UUD1945 telah menentukannya secara baru. terutama 31 pemerintah. Disini tegas dikatakan hanya satu badan yang bebas dan mandiri. sesuai dengan prinsip `independent of judiciary’ diakui bersifat mendiri dalam arti tidak boleh diintervensi atau dipengeruhi oleh cabang-cabang kekuasaan lainnya. Ada tiga perluasan yang dapat dicatat disini. BUMN. Sebutannya adalah Mahkamah Konstitusi (constitutional . BPK tidak mempunyai hubungan dengan DPRD dan pengertian keuangan negara yang menjadi obyek pemeriksaan hanya terbatas pada pengertian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) saja. BPKP dengan sendirinya harus dilikuidasi dan digantikan fungsinya oleh BPK yang menurut ketentuan pasal 23G ayat (1) “…. yaitu dari sebelum hanya terbatas pada lembaga negara dan/atau pemerintahan yang merupakan subyek hukum tatanegara dan/atau subkyek hukum administrasi negara meluas sehingga mencakup pula organ-organ yang merupakan subyek hukum perdata seperti perusahaan daerah. sekaligus merupakan lembaga `external auditor’. perluasan 30 dari pemeriksaan atas pelaksanaan APBN menjadi pemeriksaan atas pelasanaan APBN dan APBD serta pengelolaan keuangan dan kekayaan negara dalam arti luas. badan ini juga dapat memeriksa keuangan negara yang terdapat di dalam saham perusahaan daerah (BUMD) ataupun BUMN. karena ketentuan baru dalam pasal 23E. Dari segi jangkauan fungsi pemeriksaan tugas BPK sekarang menjadi makin luas. struktur organisasi BPK jauh lebih kecil. pasal 23F. juga tercantum dalam penjelasan pasal 24 UUD 1945 yang menegaskan bahwa kekuasaan kehakiman tidak boleh dipengaruhi oleh cabang-cabang kekuasaan lain. Karena pelaksanaan APBN itu terdapat juga didaerah-daerah. Kedua. BPKP mempunyai struktur organisasi yang menjangkau ke seluruh daerah propinsi dan kabupaten/kota di seluruh Indonesia. diadakan satu badan pemeriksa keuangan yang bebas dan mandiri”. ataupun perusahaan swasta di mana didalamnya terdapat kekayaan negara. Namun. setelah perubahan ketiga UUD 1945 disahkan. maka diperlukan ada kantor perwakilan BPK di daerah-daerah tertentu. Lembaga baru tersebut mempunyai kedudukan yang setingkat atau sederajad dengan Mahkamah Agung. Untuk menghadapi dualisme pemeriksaan oleh BPK dan BPKP itulah maka pasal 23E ayat (1) menegaskan bahwa “untuk memeriksa pengelolaan dan tanggungjawab tetang keuangan negara. Lembaga Mahkamah Agung tersebut. karena ketiganya bertentangan dengan pengertian asli UUD 1945 mengenai soal ini. Akan tetapi.berkedudukan di Ibukota negara dan memiliki perwakilan di setiap Propinsi”. kekuasaan kehakiman atau fungsi yudikatif (judicial) hanya terdiri atas badan-badan pengadilan yang berpuncak pada mahkamah agung. tetapi terhadap instansi pemerintahan yang diperiksa. maka mau tidak mau kita harus mencatat sebagai perkembangan baru dalam sistem hukum administrasi keuangan negara kita di masa mendatang. Ketiga.karena kedudukan kelembagaannya memang hanya terkait dengan fungsi pengewasan oleh DPR RI terhadap kinerja pemerintahan di tingkat pusat saja. BPKP itu disatu segi merupakan lembaga “internal auditor” atas kegiatan pemerintahan dan pembangunan. meskipun organ terakhir ini mutlak sebagai penyimpangan. FORMAT BARU KEKUASAAN KEHAKIMAN: MK dan MA Sebelum adanya Perubahan UUD. perluasan dalam arti hasil pemeriksaan yang dilakukan tidak saja dilaporkan kepada DPR di tingkat pusat tetapi juga kepada DPD dan DPRD kabupaten/kota sesuai dengan tingkatan kewenangan masingmasing. Menurut ketentuan UU tentang keuangan negara yang berusaha menjabarkan lebih lanjut ketentuan UUD 1945 tentang Badan Pemeriksa Keuangan ini. Kerana itu. perluasan juga terjadi terhadap lembaga atau badan-badan hukum yang manjadi obyek pemeriksaan oleh BPK. Pertama.

Perbedaan ini sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari kenyataan bahwa memang sejak sebelumnya Mahkamah Agung berwenang menguji peraturan Perundang-undangan di bawah Undang-Undang.”. menguji peraturan Perundang-undangan di bawah Undang-Undang terhadap Undang-Undang …. dan memenuhi persyaratan kenegarawanan. 33 22/1999. Bahkan ketentuan demikian ditegaskan pula dalam ketetapan MPR No. negarawan yang menguasai konstitusi dan ketatanegaraan. 3 orang yang ditentukan oleh Mahkamah Agung. Sedangkan dalam pasal 24A ayat (1) UUD 1945 dinyatakan “Mahkamah Agung berwenang mengadili pada tingkat kasasi. Mahkamah Konstitusi berdasarkan ketentuan pasal 24C ayat (1) ditentukan berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar. Salah satunya adalah dalam soal pembagian tugas di bidang pengujian peraturan (judicial review) atas peraturan perUndang-Undangan. ketika disepakati diadopsinya ide pembentukan Mahkamah Konstitusi dalam perubahan ketiga UUD 1945 pada tahun 2001. dan keabsahan UU No. (c) mengambil putusan atas pendapat Dewan Perwakilan Rakyat bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden telah melakukan pelanggaran hukum ataupun mengalami perubahan sehingga secara hukum tidak memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden menjadi terbukti dan karena itu dapat dijadikan alasan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat untuk memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden dari jabatannya. Misalnya. Ketua dan Wakil Ketua 32 Mahkamah Konstitusi dipilih dari dan oleh anggotanya sendiri yang berasal dari 3 orang yang dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat. dan 3 orang ditentukan oleh Presiden. dapat saja terjadi Mahkamah Agung memutuskan bahwa PP No. serta tidak merangkap sebagai pejabat negara. Mahkamah Konstitusi beranggotakan 9 orang yang memiliki integritas. maka ketentuan lama berkenaan dengan kewenangan Mahkamah Agung itu dituangkan dalam rumusan ketentuan pasal 24A perubahan ketiga UUD 1945 tersebut. Ada beberapa kritik yang biasa diajukan orang berkenaan dengan pembagian tugas antara Mahkamah Konstitusi ini dengan Mahkamah Agung. setelah Austria pada tahun 1920. Lagipula. memang ada juga negara lain yang dijadikan salah sumber inspirasi juga oleh anggota . Italia pada tahun 1947 dan Jerman pad tahun 1948.court) yang dewasa ini makin banyak negara yang membentuknya di luar kerangka Mahkamah Agung (supreme court). Dalam perubahan ke tiga Undang-Undang Dasar. serta latar belakang pengetahuan yang mendalam mengenai masalah-masalah ketatanegaraan. 22/1999 di satu pihak. karena dapat menimbulkan perbedaan atau putusan yang saling bertentangan antara Mahkamah Konstitusi dengan Mahkamah Agung. III/MPR/2000. dipersyaratkan harus memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela. 22/1999 itu bertentangan dengan UUD 1945. 110/2000 tersebut bertentangan dengan UU No. sementara pada saat yang sama Mahkamah Konstitusi memutuskan UU No. Seseorang yang berminat untuk menjadi hakim konstitusi. yaitu: (a) melakukan pengujian atas konstitusionalitas Undang-Undang. 22/1999 dibandingkan dengan pasal 18 UUD 1945 dipihak lain. adil. 110/2000 dibandingkan dengan UU No. dan (e) memutuskan perkara berkenaan dengan pembubaran partai politik. (d) memutuskan perkara perselisihan mengenai hasil-hasil pemilihan umum. Dengan komposisi dan kualitas anggotanya yang demikian. Mahkamah Konstitusi ditentukan memiliki lima kewenangan. Karena itu. (b) mengambil putusan atau sengketa kewenangan antar lembaga negara yang ditentukan menurut Undang-Undang Dasar. Dapat dikatakan Indonesia merupakan negara ke-78 yang mengadopsi gagasan pembentukan Mahkamah Konstitusiyang berdiri sendiri ini. Diharapkan bahwa Mahkamah Konstitusi itu kelak akan benar-benar bersifat netral dan independen serta terhindar dari kemungkinan memihak kepada salah satu dari ketiga lembaga negara tersebut. Pembagian demikian sama sekali tidak ideal. Yang paling sering saya jadikan contoh hipotesis adalah berkenaan dengan keabsahan materiel PP No.

Dari ketentuan mengenai Komisi Yudisial ini dapat dipahami bahwa jabatan hakim dalam konsepsi UUD 1945 dewasa ini adalah jabatan kehormatan yang perlu dijaga dan ditegakkan kehormatannya oleh suatu lembaga yang juga bersifat mandiri. badan-badan peradilan dalam keempat lingkungan peradilan tersebut semuanya berada di bawah Mahkamah Agung. keadilan bagi warga negara dapat diwujudkan secara integral di bawah fungsi Mahkamah Agung. lingkungan peradilan tata usaha negara. (3) Anggota Komisi Yudisial diangkat dan diberhentikn oleh Presiden dengan persetujuan DPR. (4) Susunan. keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari kekuasaan kehakiman. karena kedudukannya . harus dibedakan antara organ Mahkamah dan badan-badan peradilan dengan hakim sebagai pejabat hukum dan penegak keadilan. (2) Anggota Komisi Yudisial harus 35 mempunyai pengetahuan dan pengalaman di bidang hukum serta memiliki integritas dan kepribadian yang tidak tercela. dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi”. “kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya 34 dalam lingkungan peradilan umum. Dewasa ini. yaitu komisi Yudisial. akan tetapi. dalam asal 24 ayat (2).panitia ad hoc I Badan Pekerja MPR ketika merumuskan ketentuan mengenai Mahkamah Konstitusi ini. maka sulit diharapkan akan efektif menjalankan fungsi pengawasan atas kehormatan hakim agung itu sendiri. jika majelis semacam ini dibentuk di lingkungan interna l Mahkamah Agung. yaitu Mahkamah Konstitusi Korea Selatan. lingkungan peradilan militer. yaitu setiap individu hakim dalam menjalankan tugas utamanya sebagai hakim bersifat bebas dan merdeka tidak bertanggungjawab kepada atasannya. tidak ada hubungan vertical atasan dan bawahan. banyak negara terutama negara-negara yang sudah maju mengembangkan lembaga komisi Yudisial (judicial commisions) semacam ini dalam lingkungan peradilan dan lembaga-lembaga penegak hukum lainnya maupun di lingkungan organ-organ pemerintahan pada umumnya. Hal ini jelas berbeda dari pengetian yang timbul dari doktrin kebebasan atau kemerdekaan hakim. dibedakan antara badan peradilan dari lingkungan. Dalam konstitusi Korea Selatan. Hubungan antar satu hakim dengan hakim yang lain bersifat horizontal. organisasinya terdapat struktur vertical atas bawah. Dalam pasal 24B ditegaskan: (1) Komisi Yudisial bersifat mandiri yang berwenang mengusulkan pengangkatan Hakim Agung dan mempunyai kewenangan lain dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan. kewenangan `judicial review’ (constutitional review) atas Undang-Undang memang diberikan kepada Mahkamah Konstitusi. sedangkan peradilan atas sistem hukum dan peraturan Perundang-undangan di letakkan di bawah pengawasan Mahkamah Konstitusi. dan Pengadilan Negeri adalah organisasi bawahan Pengadilan Tinggi. Pengadilan tinggi adalah organisasi bawah Mahkamah Agung. kedudukan dan keanggotaan Komisi Yudisial diatur dengan Undang-Undang. menurut pendapat saya biarlah untuk semenatara waktu pembagian demikian diterima dan dipraktekkan dulu pada tahap-tahap awal pertumbuhan lembaga Mahkamah Konstitusi ini di Indonesia. Meskipun lembaga baru ini tidak menjalankan kekuasaan kehakiman. peradilan. memang harus dipikirkan kemungkinan mengintegrasikan seluruh sistem pengujian peraturan di bawah kewenangan Mahkamah Konstitusi. serta perilaku hakim. Namun. keleluhuran martabat. Pembentukan lembaga baru ini dapat dikatakan merupakan pengembangan lebih lanjut ide pembentukan Majelis Kehormatan Hakim Agung yang sudah berkembang selama ini. karena itu. Oleh sebab itu. Dengan demikian. Komisi Yudisial Selain kedua badan kekuasaan kehakiman tersebut ada lagi satu lembaga baru yang kewenangannya ditentukan dalam UUD. tetapi keberadaannya diatur dalam UUD 1945 Bab IX tentang Kekuasaan Kehakiman. yaitu Komisi Yudisial. Terlepas dari kelemahan ini. lingkungan peradilan agama. tetapi kewenangan `judicial review’ atas peraturan dibawah Undang-Undang diberikan kepada Mahkamah Agung. untuk jangka panjang. Namun. Mengenai Mahkamah Agung.

tidak lagi perlu dipersoalkan mengenai pembedaan atau apalagi pemisahan antara fungsi kepala negara dan kepala pemerintahan. Presiden dan Wakil Presiden cukup disebut sebagai Presiden dan Wakil Presiden saja dengan seperangkat hak dan . dapat dikatakan bahwa secara simbolik. kedudukan Komisi Yudisial itu dapat pula diharapkan bersifat mandiri dan independen sehingga dapat diharapkan menjalankan tugasnya secara lebih efektif. karena bercampur baur dengan elemen-elemen sistem parlementer. jika lembaga ini dibentuk di dalam struktur Mahkamah Agung. yang dinamakan Kepala Negara dalam sistem pemerintahan Presidentil itu adalah konstitusi. terutama dikaitkan dengan pengalaman ketatanegaraan ketika Presiden Abdurrahman Wahid diberhentikan dari jabatannya. Dengan demikian tidak perlu lagi ada pembedaan antara sekretariat negara dan sekretariat kabinet ataupun keputusan Presiden sebagai kepala negara dan keputusan Presiden sebagai kepala pemerintahan. kepala negara dari negara konstitusional Indonesia adalah Undang-Undang Dasar.yang tidak independen terhadap subyek yang akan diawasi. dimata para ahli cenderung disebut `quasi presidentil’ atau sistem campuran dalam konotasi negatif. Sedangkan sistem pemerintahan Presidentil cukup memiliki Presiden dan Wakil Presiden saja tanpa mempersoalkan kapan ia berfungsi sebagai kepala negara dan kapan sebagai kepala pemerintahan. pada pokoknya. dengan kemungkinan pemberian kewenangan kepadanya untuk memberhentikan Presiden dari jabatanya. Pembedaan dan pemisahan antara kedua fungsi itu hanya relevan dalam sistem pemerintahan parlementer yang 37 memang mempunyai dua jabatan terpisah. khususnya dengan diadopsinya sistem pemilihan Presiden langsung. dan dilakukannya perubahan struktural maupun fungsional terhadap kelembagaan Majelis Permusyawaratan Rakyat. Dalam sistem Presidentil yang murni. sistem pemerintahan yang dianut. Di samping itu. misalnya tidak diakitkan dengan komisi Yudisial. Bahkan. dalam konteks pengertian Negara Hukum. KEKUASAAN PEMERINTAHAN NEGARA 1. sifatnya tidak 36 murni. Akan tetapi. Kenyataan inilah yang menimbulkan kekisruhan. maka anutan sistem pemerintahan kita menjadi makin tegas menjadi sistem pemerintahan Presidentil. Kerana itu. sedangkan Presiden dan Wakil Presiden beserta semua lembaga negara atau subyek hukum tatanegara lainnya harusnyalah tunduk kepada konstitusi sebagai `the symbolic head of state’ itu. Jawaban atas kekisruhan itu adalah munculnya keinginan yang kuat agar anutan sistem pemerintahan Republik Indonesia yang bersifat Presidentil dipertegas dalam kerangka perubahan Undang-Undang Dasar 1945. prinsip “the rule of law”. Republik Indonesia berdasarkan sistem Presidentil hanya memiliki Presiden dan Wakil Presiden dengan tugas dan kewenangannya masing-masing. yaitu kepala negara dan kepala pemerintahan. sedangkan pengusulan pengangkatan hakim lainnya. seperti hakim konstitusi. Khusus terhadap Mahkamah Agung tugas Komisi Yudisial itu dikaitkan dengan fungsi pengusulan pengangkatan Hakim Agung. dalam perkembangan praktek ketatanegaraan Indonesia selama ini memang selalu dirasakan adanya kelemahan-kelemahan dalam praktek penyelenggaraan sistem pemerintahan Indonsia berdasarkan UUD 1945. dengan empat perubahan pertama UUD 1945. maka subyek yang diawasinya dapat diperluas ke semua hakim. Kepala Pemerintahan Eksekutif: Presiden Dan Wakil Presiden Pemerintahan Republik Indonesia berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945 sering dikatakan menganut sistem presidential. Selain alasan yang bersifat kasuitis itu. karena dianggap banyak mengandung distorsi apabila dikaitkan dengan sistem demokrasi yang mempersyaratkan adanya mekanisme hubungan `checks and balances’ yang lebih efektif di antara lembaga-lembaga negara yang ada. Disamping itu. Percampuran itu antara lain tercermin dalam konsep pertanggung-jawaban Presiden kepada MPR yang termasuk ke dalam pengertian lembaga parlemen. meskipun bukan karena alasan hukum. termasuk hakim konstitusi dan hakim di seluruh Indonesia. Dengan perkataan lain.

betapapun juga.kewajibannya masing-masing atau tugas dan kewenangannya masing-masing. tetapi pengangkatan dan pemeberhentian para anggota komisi itu ditentukan dengan pemilihan oleh Kongres. ada pula komisi yang dibentuk hanya dengan Keputusan Presiden. Di bidang administrasi dan pelaporan transaksi keuangan dibentuk pula lembaga baru yang bernama Pusat dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) yang 39 juga ditentukan bersifat independen. Kedudukan lembaga-lembaga ini di Amerika Serikat. Yang dapat dijadikan contoh dalam hal ini. dan bahkan semi yudikatif. Federal Communication Commision (FCC). dan lain sebagainya. dan sekaligus dalam kerangka pengembangan sistem hukum nasional yang lebih menjamin keadilan dan demokrasi di masa yang akan datang. yaitu Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang juga bersifat independen. misalnya. Tidak ada keperluasn untuk membedakan kapan ia bertindak sebagai kepala negara dan kapan ia berperan sebagai kepala pemerintahan seperti kebiasaan dalam sistem pemerintahan parlementer. INSTRUKTUR KEMASYARAKATAN Selain struktur kelembagaan negara dan pemerintahan sebagaimana diuraikan di atas. Oleh karena itu. misalnya. Komisi Pemberantasan Korupsi. bentuk keorganisasian banyak negara modern dewasa ini juga mengalami perkembangan-perkembangan yang sangat pesat. yaitu semi legislatif dan regulatif. semi-administratif. adalah Federal Trade Commission (FTC). organisasi Kepolisian dan Kejaksaan Agung. Independensi lembaga-lembaga ini diperlukan untuk kepentingan menjamin pembatasan kekuasaan dan demokratisasi yang lebih efektif. meskipun secara administratif tetap berada di lingkungan pemerintahan eksekutif. Komisi Pemilihan Umum (KPU). Dari keempatnya. khususnya berkenaan dengan inovasi-inovasi baru yang tidak terelakkan. Di Amerika Serikat. Pada tingkat kedua. Karena itu. perlu didudukkan pengaturannya dalam kerangka sistem ketatanegaraan Indonesia Modern. Lembaga-lembaga seperti ini tercatat lebih dari 30-an jumlahnya dan pada umumnya jalur pertanggungjawabannya secara fungsional dikaitkan dengan Kongres Amerika Serikat. dalam sistem kenegaraan yang dapat kita sebut `constitutional democratic republic’. 38 1. Bahkan. jika nanti. Pada tingkatan pertama. Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara (KPKPN). Komisi Ombudsman. serta Bank Sentral harus dikembangkan secara independen. Undang-Undang tentang Penyiaran jadi disahkan. Komisi Hukum Nasional (KHN). juga muncul perkembangan berkenaan dengan lembaga-lembaga khusus seperti Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM). Komisi Persaingan Usaha Pemberantasan Korupsi (KPPU). Badan dan Lembaga Eksekutif Yang Bersifat INDEPENDEN Selain lembaga-lembaga negara seperti tersebut di atas. Ada tiga agenda “institutional reform” yang penting dalam soal . Sedangkan Kejaksaan Agung sampai sekarang belum ditingkatkan kedudukannya menjadi yang independen. muncul kesadaran yang makin kuat bahwa badan-badan negara tertentu seperti organisasi Tentara. Perkembanganperkembangan baru itu juga terjadi di Indonesia di tengah keterbukaan yang muncul bersamaan dengan gelombang demokratisasi di era reformasi empat tahun terakhir. yang sekarang ini telah menikmati kedudukan yang independen adalah organisasi Tentara Nasional Indonesia (TNI). kedudukan KONSTITUSI bersifat sangat sentral. Selain itu. akan ada pula komisi baru lagi. Komisi-komisi atau lembaga-lembaga semacam ini selalu diidealkan bersifat independen dan seringkali memiliki fungsi-fungsi yang bersifat campursa ri. dalam kaitan itu muncul pula istilah `independent and self regulatory bodies’ yang juga berkembang di banyak negara. infra struktur kemasyarakatan juga mengalami perubahan besar-besaran. keberadaan lembagalembaga seperti ini di Indonesia dewasa ini. Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR). dan sebagainya. Kepolisian Negara (POLRI) dan Bank Indonesia sebagai bank sentral. Konstitusi pada dasarnya merupakan KEPALA NEGARA yang sesungguhnya.

UU tentang Organisasi Kemasyarakatan yang dibentuk di masa Orde Baru sebagai instrumen untuk mengendalikan dan membatasi kebebasan orang untuk berserikat dan berorganisasi dan dipaksa untuk berasas tunggal. maka dengan sendirinya. Beberapa kemungkinan yang dapat diterapkan ialah (a) penerapan sistem pemilihan umum yang menjamin rakyat dapat menentukan pilihannya secara langsung dengan memilih `orang' (bukan memilih tanda gambar partai) seperti yang terdapat dalam sistem yang dikenal dengan `sistem distrik’. UU keormasan dan juga UU partai politik sekarang cenderung melarang adanya afiliasi antara organisasi kemasyarakatan dengan partai politik. bertentangan dengan kebutuhan untuk mengendalikan jumlah partai politik. Sistem ini dengan sendirinya akan mendorong terjadinya kerjasama. tetapi hal itu menyebabkan partai politik menghadapi kesulitan untuk akrab dengan rakyat. (c) setiap partai politik harus didorong untuk mentradisikan penyelenggaraan aktivitas rutin ke dalam. maupun kegiatankegiatan yang bersifat pendidikan politik dan pemberdayaan anggota. Apabila jumlah partai politik tidak dibatasi. 2. dan karena itu sebaiknya dihentikan. maka jumlah yang terlalu banyak akan menurunkan citra partai itu sendiri secara keseluruhan di mata rakyat. Reformasi Organisasi Kemasyarakatan Penataan infra struktur sistem politik nasional selain terkait dengan sistem kepartaian. reformasi kelembagaan badan hukum (legal body). pada masa pemilihan umum berikutnya. yaitu. sudah tidak dapat lagi dipertahankan. juga berkenaan dengan sistem keorganisasian masyarakat. Untuk mengatur dan mengarahkan agar kecenderungan dan nafsu orang untuk mendirikan partai politik menjadi rasional. ataupun 5 persen. disiplin internal partai perlu ditingkatkan. (a) sistem hukum dan etika internal perlu dibudayakan dengan memperkuat infra struktur Dewan Kehormatan yang dapat menjaga agar Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta kode etika partai politik ditegakkan dengan sebaik-baiknya. partai politik harus mengembangkan 42 . sehingga berkembang menjadi sistem politik yang biasa dikenal dengan `multi-party system’. sehingga dalam jangka panjang dapat mendorong penyederhanaan jumlah partai secara alamiah. (c) kebijakan 41 memberi bantuan kepada partai politik yang dapat memancing dan mendorong minat orang mendirikan partai dengan harapan dapat memperoleh dana bantuan dari pemerintah. Jika legitimasi lembaga kepartaian buruk di mata rakyat dan tidak percaya. kepercayaan dan apresiasi publik terhadap ide demokrasi dapat mengalami kemerosotan yang pada gilirannya dapat menjadi lahan subur bagi munculnya otoriterisme ataupun totallitarianisme baru di masa depan. demi demokrasi itu sendiri. (b) perlunya mekanisme yang menjamin agar anggota partai politik yang melanggar disiplin partai dapat ditindak oleh pemimpinan partai yang bersangkutan yang dapat berakibat pada pemberhentian status yang bersangkutan sebagai anggota parlemen (DPR). reformasi keormasan. Dengan adanya pembatasan 2 persen. Reformasi Sistem Kepartaian Di masa reformasi. jumlah partai mestilah dibatasi. Padahal. niscaya citra demokrasi di mata rakyat juga menjadi rusak. (b) penetuan adanya `electoral tresshold' berdasarkan hasil perolehan dukungan suara dari pemilihan umum sebelumnya. Akibatnya. Akan tetapi pembatasannya haruslah bersifat obyektif dan alamiah. perlu diadakan pembatasan jumlah partai politik. keran politik terbuka lebar. 3 persen. 40 1. Meskipun motivasi pelarangan ini nampak baik. akan banyak partai politik yang membubarkan diri dengan sendirnya. untuk dekat dengan rakyat. yaitu reformasi kepartaian. semua orang diakui berhak mendirikan partai politik. Karena itu. Disamping itu. Sesuai dengan jaminan konstitusional mengenai prinsip kebebasan. sehingga segala pembatas terhadap prinsip kebebasan berserikat ditiadakan. untuk memperkuat derajat pelembagaan partai politik. ’koalisi’ atau bahkan `merger' antar partai politik.ini. baik kegiatan penguatan kelembagaan dan kultur demokrasi internal.

`rule of the game’ dan kultur demokrasi perlu dibudayakan di dalam lingkungan organisasi kemasyarakatan. maka pers demikian bukanlah pers yang mencerahkan dan membebaskan. serta infra struktur kode etik organisasi perlu ditegakkan dengan sebaik-baiknya. infra struktur konstitusi organisasi berupa Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. partai politik sebaiknya diizinkan mengembangkan organisasi afiliasi. Pembudayaan Demokrasi Lebih dari semua tersebut diatas. diperlukan reformasi di sektor pendidikan yang dapat mencerahkan dan membebaskan warga masyarakat kita dari berbagai belenggu pemikiran mereka. tetap i dilarang mendapatkan bantuan dari dana APBN. putusan yang akan dibahas disini hanya putusan legislatiflegi slatif saja. yaitu yang berupa peraturan perUndang-Undangan. 44 Dalam arti sempit. tetapi banyak ormas yang secara terselubung merupakan organ partai politik dan mendapat bantuan besar dari dana pemerintah (APBN). Akan tetapi.aneka kegiatan sosial dan sebagainya. menghakimi. Disinilah kita menganggap penting lembagalemba ga pendidikan pada umumnya serta media massa. Selain itu. Karena itu. Karena itu. (ii) putusan administratif berupa penetapan atau keputusan (beschikkings). Bentuk dan Nomenklatur Hukum Dalam arti luas. baik cetak maupun elektronik. dan pada saat yang sama kita juga memerlukan pers yang mencerahkan. disamping memperbarui sistem hukum kepartaian. Untuk itu. Untuk itu. dan memasung kreativitas pembacanya sendiri. Jika pers bebas. sama seperti kultur yang perlu dikembangkan dilingkungan partai politik. Untuk itu. Penyebutan istilah atau nomenklatur yang biasa digunakan berkenaan dengan bentuk-bentuk peraturan yang berisi aturan (regels) sebagai produk . dan budaya hukum. Disini pembahasan kita persempit pada pengertian perangkat putusan hukum yang dalam arti luas meliputi (i) putusan legislatif-legislatif berupa peraturan (regels). akuntabel. Pemerintah sebaiknya ditentukan dilarang memberikan bantuan kepada organ-organ ormas yang berafiliasi kepada partai. yang berperan penting untuk memperluas kesadaran koginitif maupun perilaku budaya yang demokratis di kalangan masyarakat luas. Di orde baru. 43 3. SISTEM HUKUM DAN SISTEM ETIKA 1. sistem hukum mencakup keseluruhan elemen pengertian hukum yang meliputi perangkat putusan hukum. Karena itu. dan menjamin egilitarianisme. Kebebasan pers bukanlah untuk dirinya sendiri. tetapi bebas yang bersifat mendikte. prinsip `rule of law’. kelembagaan hukum. mekanisme Dewan Kehormatan internal organisasi kemasyarakatan hendaknya dapat dikembangkan menjadi mekanisme yang mentradisi di setiap lingkungan organisasi kemasyarakatan di tanah air kita. terbuka. pada akhirnya harus kita sadari bahwa sistem domokrasi membutuhkan basis budaya yang rasional jujur. Mengapa partai harus dilarang mempunyai sayap kegiatan panti asuhan. pendidikan politik dan komunikasi politik yang mendorong pembudayaan kehidupan demokrasi menjadi sangat mutlak dibutuhkan. misalnya keberadaan organ sayap kegiatan sosial dan kemanusiaan seperti itu justru dapat mendorong partai politik berhubungan akrab dengan konstituennya masing-masing. dan (iii) putusan judikatif atau vonis pengadilan. partai tidak perlu dilarang mengembangkan sayap ormasnya masing-masing asalkan transparan. sebaiknya pemerintah segera mengambil inisiatif untuk memperbarui pula sistem hukum organisasi kemasyarakatan di tanah air. Hal ini tidak boleh terjadi lagi di masa depan. kita memerlukan pers yang bebas untuk mengotrol kemapan. Artinya. meskipun resminya dilarang. Demikian pula pers bebas dan kebebasan pers haruslah menghasilkan proses pembebasan bagi masyarakat pembacanya. Sudah tentu organisasi kemasyarakat non-partisan perlu diperkuat dan mendapat perhatian yang diprioritaskan oleh pemerintah.

seperti Keputusan Presiden. melainkan hanya berupa penetapan administratif (beschikking). maka hal itu 45 dapat disebut dengan Keputusan juga. tetapi isinya bersifat mengatur. ada istilah peraturan perundang-undangan. Peraturan Bank Indonesia (PBI) harus dibedakan dari Keputusan Gubernur Bank Indonesia. segala produk yang bersifat mengatur kepentingan umum dituangkan dalam bentuk putusan normatif yang disebut Peraturan (regels). dalaam pasal 4 ayat (2) TAP MPR itu . Sedangkan produk hukum yang tidak bersifat mengatur. Begitu pula Bank Indonesia mengeluarkan Surat Edaran tetapi isinya bersifat mengatur. Sekretariat Jendral MPR-RI. Padahal. disusun berurutan sebagai berikut5 (1) Undang-Undang Dasar 1945 (2) Ketetapan MPR (3) Undang-Undang 5 Republik Indonesia. dan Keputusan Ketua Mahkamah Agung haruslah dibedakan dengan tegas satu sama lain. Keputusan Ketua Komisi Pemilihan Umum. baik menyangkut isinya yang besifat mengatur ataupun yang tidak mengatur ataupun yang tidak mengatur sama sekali. Misalnya.kegiatan pengaturan. bentuk-bentuk peraturan yang dijadikan pedoman dalam pembuatan aturan hukum di bawahnya. misalnya Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat. Demikian pula peraturan Mahkamah Agung. melainkan hanya bersifat administratif. Kalaupun lembaga-lembaga seperti legislatif ataupun lembaga judikatif hendak mengeluarkan produk yang bersifat administratif. Peraturan-peraturan itu. Pernah juga terjadi. dapat dikemukakan contoh mengenai formulasi pasal 2 TAP MPR No. sedangkan Keputusan Ketua Mahkamah Agung adalah penetapan yang bersifat administratif yang berkenaan dengan masalah administratif internal organisasi Mahkamah Agung. hal 41 46 (4) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (5) Peraturan Pemerintah (6) Keputusan Presiden (7) Peraturan Daerah Berdasarkan hirarki di atas. ada pula Keputusan Presiden yang bersifat mengatur. sebagainya. Putusan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia. Putusan Mahkamah Agung adalah vonis kasasi. ada istilah peraturan perundangan. secara keseluruhan mulai dari yang tertinggi sampai yang terendah. sebaiknya disebut dengan istilah Keputusan. dan penetapan. Keputusan Ketua Mahkamah Agung. peraturan Mahkamah Agung adalah produk “regeling”. Keputusan Bupati/Walikota dan lain-lain. diusulkan agar dimasa depan. Keputusan Gubernur. Keputusan Gubernur Bank Indonesia. disebut Peraturan Perundang-undangan Republik Indonesia. Demikian pula MPR menggunakan istilah Ketetapan MPR untuk putusan yang mengikat keluar. dapat dikatakan kurang mengikuti standar yang baku. Keputusan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat. padahal istilah yang dipakai Keputusan Presiden. keputusan. Istilah ketetapan MPR dipakai. dan keputusan MPR unttuk putusan yang hanya mengikat ke dalam. Keputusan Menteri. selama ini. Mahkamah Agung mengeluarkan Surat Edaran. Putusan Mahkamah Agung. ketetapan. Dalam TAP MPR itu. Untuk menerbitkan penggunaan istilah-istilah itu. 2000. III/ MPR/ 2000 tentang bentuk dan hirarki peraturan perundang-undangan yang disahkan dalam Sidang Tahunan MPR tahun 2000 yang lalu. dan sebagainya Namun bentuk-bentuk produk Keputusan seperti tersebut haruslah dibedakan dengan tegas dari produk yang berisi pengaturan seperti peraturan Menteri harus dibedakan dari Keputusan Menteri. Peraturan Komisi Pemilihan Umum dibedakan dari Keputusan Ketua Komisi Pemilihan Umum. seperti Ketetapan MPR tentang Pengangkatan Presiden. Disamping ada keputusan presiden yang bersifat administratif. Jakarta. Keputusan Menteri. sifat isinya sama sekali tidak mengatur. Untuk memperlihatkan betapa pentingnya dan perlunya kita mengadakan penataan kembali atas penggunaan nomenklatur-nomenklatur hukum teersebut.

Badan Pemeriksa Keuangan.menentukan: “Peraturan atau Keputusan Mahkamah Agung. Penggunaanya sebagai subyek kalimat yang terkait dengan kata-kata selanjutnya tergantung kepada kenyataan prakteknya dilapangan. badan. tent u dapat timbul masalah. jika ketentuan pasal 4 ayat (2) TAP MPR tersebut diatas diartikan demikian. “peraturan” atau “keputusan” misalnya. 43 47 kasasi Mahkamah Agung. dikatakan bahwa “Keputusan Mahkamah Agung tidak boleh bertentangan dengan peraturan Pemerintah ataupun dengan Keputusan Presiden”. Pada level Presiden terdapat dua bentuk peraturan. dibawahnya adalah Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. Pembedaan ini 48 sebaiknya secara konsisten dipakai untuk membedakan peraturan dari keputusan administratif. menteri tidak selalu menggunakan istilah peraturan. tidak boleh bertentangan dengan ketentuan yang termuat dalam tata urut peraturan perundang-undangan ini. Karena itu. Akan tetapi. Oleh karena itu. segala peraturan yang ditetapkan oleh Mahkamah Agung. dan karena itu tidak dapat ditafsirkan mengandung kedua norma itu secara parallel pula. III/MPR/2000 tersebut tidaklah bersifat paralel. “putusan”. Beberapa badan atau lembaga seperti misalnya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia juga biasa menggunakan istilah Keputusan Ketua LIPI saja untuk produk hukum yang berisi aturan (regels). istilah Keputusan Mahkamah Agung itu selama ini mempunyai konotasi pengertian yang terkait dengan putusan atau vonis 6 Ibid. lembaga atau komisi yang setingkat yang dibentuk oleh pemerintah. mulai dari tingkatan tertinggi sampai yang paling rendah. “aturan” dan “peratuan”. tidak boleh bertentangan dengan ketentuan yang termuat dalam tata urutan perundang-undangan tersebut: Kedua. nonmeklatur apakah yang dipakai oleh organ atau lembaga yang menetapkannya. penggunaan kata “keputusan atau peraturan” dalam ketentuan pasal 4 ayat (2) Ketetapan No. lembaga atau komisi yang setingkat yang dibentuk oleh pemerintah. Mahkamah Agung dewasa ini biasa menggunakan istilah “Peraturan Mahkamah Agung” (PERMA) untuk menyebut peraturan yang ditetapkannya dalam rangka melaksanakan undang-undang. Untuk mengatasi kekisruhan dan kemungkinan salah pengertian berkenaan dengan hal itu. segala keputusan yang ditetapkan oleh badan-badan atau lembagalembaga tersebut tidak boleh bertentangan dengan ketentuan yang termuat dalam tata urutan peraturan perundang-undangan tersebut. maka ketentuan pasal 4 ayat (2) tersebut tidaklah bersifat parallel. sebaiknya digunakan nomenklatur atau istilah “perturan” yang berasal dari kata “atur”. hal. demikian apabila kita memahami perbedaan antara arti peraturan (regels) dari keputusan (beschikkings). Bank Indonesia juga menggunakan istilah yang sama. Untuk produk yang bersifat mengatur (regeling) yang berisi aturan hukum (regels). penggunaan istilah atau nomenklatur hukum ini seyogyanya ditertibkan. maka didalamnya dapat dikatakan mengandung dua norma sekaligus. “memutuskan”. maka dimasa depan. Bank Indonesia. Peraturan yang tertinggi adalah Undang-Undang Dasar. Sedangkan penetapan-penetapan yang bersifat administratif dapat terus disebut dengan kata “keputusan” yang berasal dari kata “putus”. Sebagian besar kementerian atau Departemen Pemerintah biasa menggunakan istilah Keputusan untuk Dokumen yang berisi aturan hukum yang diberlakukan umum. yaitu Peraturan Pemerintah dan Peraturan Presiden yang sebaiknya dibedakan dari Keputusan Presiden. misalnya.6 Apabila rumusan pasal 4 ayat (2) ini dibaca secara harfiah. Bank Indonesia. Adalah malapetaka yang luar biasa. Demikian pula dengan di tingkat propinsi harus dibedakan antara Peraturan . Badan Pemeriksa Keuangan. perkataan “Peraturan atau Keputuan” dalam ketentuan pasal 4 ayat (2) tersebut seyogyanya tidak dipahami bersifat parallel. Padahal. “pemutusan” dan “keputusan” yang bersifat administratif atau dalam bahasa Belanda disebut “beschikking”. yaitu Peraturan Bank Indonesia. Jika kedua norma tersebut dipahami bersifat parallel. Menteri. Namun.. badan. yaitu: Pertama. Menteri. “mengatur”.

Namun demikian. b) Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang (PERPU) serta peraturan lain yang setingkat dengan UndangUndang. tergantung kepada sejauhmana Undang-Undang mendelegasikan kewenangan semacam itu secara tegas. Selanjutnya. 2 Struktur atau Herarki Peraturan PerUndang-Undangan Tata urut peraturan Perundang-undangan dimasa depan. masih dapat 50 dipersoalkan bahwa apabila lembaga-lembaga dimaksud ditentukan memiliki status sebagai lembaga independen. tentu saja. karena peraturan umum tidak boleh melanggar prinsip hirarki norma sesuai dengan tata urutan peraturan Perundang-undangan yang ditentukan: . Disamping itu. Peraturan Gubernur dari keputusan Gubernur. yaitu Ketetapan-Ketetapan MPR dan MPRS yang bersifat mengatur (regels) c) Peraturan Pemerintah dan Peraturan Presiden d) Peraturan Menteri atau Pejabat setingkat Menteri e) Peraturan Daerah Propinsi f) Peraturan Gubernur g) Peraturan Daerah Kabupaten/kota h) Peraturan Bupati/Walikota 2 Peraturan perUndang-Undang yang bersifat khusus: 49 a) Peraturan Lembaga Negara (Lembaga Tinggi Negara) setingkat Presiden: (i) Peraturan Dewan Perwakilan Rakyat (ii) Peraturan Dewan Perwakilan Daerah (iii) Peraturan Mahkamah Agung (iv) Peraturan Mahkamah Konstitusi (v) Peraturan Komisi Yudisial (vi) Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan b) Peraturan Lembaga Pemerintahan yang bersifat khusus (independent) (i) Peraturan Bank Indonesia (ii) Peraturan Kejaksaan Agung (iii) Peraturan Tentara Nasional Indonesia (iv) Peraturan Kepolisian Republik Indonesia c) Peraturan Lembaga-Lembaga Khusus yang bersifat independent: (i) Peraturan Komisi Pemilihan Umum (ii) Peraturan Pemberantasan Korupsi (iii) Peraturan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (iv) Peraturan Komisi Penyaran Indonesia (v) Peraturan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (vi) Peraturan komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (vii) Dan sebagainya Kewenangan regulatif yang dimiliki oleh lembaga-lembaga khusus tersebut di atas. meskipun UU tidak secara tegas memberikan kewenangan semacam itu.Daerah. sejauh menyangkut kebutuhan regulasi yang bersifat internal. diusulkan dibedakan antara peraturan umum dan peraturan yang bersifat khusus. maka sudah dengan sendirinya pengaturan yang bersifat internal itu dapat dilakukan oleh badan yang bersangkutan. sedangkan keputusan yang berisi norma yang bersifat konkrit dan individuil hanya dapat dijadikan obyek peradilan tata usaha negara. serta Peraturan Daerah dan Peraturan Bupati/Walikota dari Keputusan Bupati/Walikota. diatas diadakan pembedaan yang tegas antara peraturan dengan keputusan pembedaan antara peraturan Perundang-undangan dan keputusan administratif sangat penting karena peraturan Perundang-undangan yang berisi norma-norma yang bersifat abstrak dan umum dapat menjadi obyek “judicial review”. pembedaan antara peraturan umum dan peraturan khusus juga penting. yaitu sebagai berikut: 1 Peraturan Perundang-undangan yang bersifat umum: a) Undang-Undang Dasar dan Perubahan Undang-Undang Dasar.

sedangkan peraturan yang bersifat khusus tunduk kepada prinsip “lex spesialis derogat lex generalis”. Oleh sebab itu. Akan tetapi. Keduanya tidak saling berhubungan satu sama lain dan karena itu tidak dapat dinilai berdasarkan ketentuan tata urut peratura n PerUndang-Undangan. Di bawahnya ada Undang-Undang dan peraturan yang sederajat dengan UndangUndang. tidak perlu . Ketetapan-ketetapan MPR/MPRS tersebut sebaiknya ditinjau atau di review oleh Mahkamah Konsitusi atau sebelum Mahkamah Konstitusi terbentuk ditinjau atau direview oleh Mahkamah Agung melalui mekanisme “Judicial review” atas Konstitusionalitas Ketetapan MPR/MPRS. pencabutan Ketetapan MPR hanya dapat dilakukan dengan Ketetapan MPR Pula. Karena itu. Pertama. perlu dipertimbangkan adanya cara kedua dan ketiga untuk mencabut danmenghapuskan keberadaan ketetapan MPR sama sekali dari susunan dan bentuk hirarki peraturan Perundang-undangan Republik Indonesia. karena perubahan ketatanegaraan setelah perubahan keempat UUD 1945. tetapi baik peraturan pemerintah (PP) maupun peraturan Bank Indonesia (PBI) dapat sama-sama ditetapkan untuk atau dalam rangka melaksanakan Undang-Undang. karena ketetapan MPR/MPRS itu sejak tahun 1960 sudah berjumlah cukup banyak. Kedua. Ketiga. jika penijauan itu dilakukan. meskipun peraturan Bank Indonesia tidak berada dalam derajat yang sama dengan peraturan pemerintah. Perbedaan antara materi Peraturan Bank Indonesia dengan materi Peraturan Pemerintah ataupun materi Peraturan Presiden (KEPPRES) tidak dapat dijadikan alasan oleh hakim untuk melakukan pengujian materi (judicial review secara materiel) atas peraturan Bank Indonesia (PBI) tersebut terhadap PP. yaitu bahwa norma hukum yang bersifat khusus dapat mengabaikan norma hukum yang bersifat umum. Lagipula. Bentuk peraturan yang paling tinggi adalah Undang-Undang Dasar dan Perubahan Undang-Undang Dasar. maka keberadaan Ketetapan MPR/MPRS yang masih ada dan masih berlaku selama ini. Sedangkan ketetapan MPR/MPRS yang selama ini dan juga dalam TAP III /MPR/2000 tersebut ditempatkan di atas Undang-Undaang tetapi dibawah Undang-Undang Dasar. 51 Dari tata urutan peraturan umum tersebut di atas. Kelemahan cara ini adalah bahwa peninjauan tersebut sebaiknya tidak dilakukan serentak untuk seluruh Ketetapan MPR/MPRS. Perpu ditempatkan secara keliru pada tata urut ke-4 di bawah Undang-Undang yaitu berfungsi sebagai Undang-Undang darurat (emergency law) seperti istilah yang dipergunakan dalam konstitusi RIS 1949 ataupun UUDS 1950. kita tetap menghadapi persoalan dengan status hukum 52 Ketetapan MPR terakhir yang mencabut Ketetapan-ketetapan MPR/MPRS yang ada itu. Pencabutan seluruh Ketetapan MPR/MPRS yang ada secara serentak dalam waktu yang bersamaan. Melalui kedua prosedur ini. Dimasa depan MPR tidak lagi berwenang mengeluarkan produk peraturan selain UUD dan Perubahan Undang-Undang Dasar. yaitu Peraturan Pemerintah pengganti Undang-Undang (PERPU) dan ketetapan MPR/MPRS. untuk masa mendatang tidak dapat dipertahankan lagi. III/MPR/2000. Di bawah UUD hanya ada UU dan peraturan-peraturan yang lebih rendah. Misalnya. maka tidak mudah untuk meniadakannya begitu saja. ketetapanketetapan MPR/MPRS tersebut dicabut oleh MPR sendiri melalui mekanisme peninjauan kembali atau “legislatif review” dengan menilainya berdasarkan ukuran ketentuan UUD. Dalam rumusan pasal 2 TAP No. dapat menyebabkan terjadinya kekosongan hukum yang menimbulkan ketidakpastian hukum. jelas sekali perbedaannya dari keputusan administratif. ketetapan-ketetapan MPR/S tersebut dicabut oleh DPR bersama Presiden dengan menetapkan Undang-Undang yang mencabutnya atau mengaturnya ketentuan yang berbeda dari apa yang diatur dalam ketetapan-ketetapan MPR/MPRS tersebut. meskipun kedudukannya memang nampak lebih tinggi daripada PBI. Ada tiga cara untuk membatalkan berlakunya Ketetapan-Ketetapan MPR/MPRS yang sudah ada dan sampai sekarang masih banyak berlaku mengikat tersebut.

dipersoalkan, karena tokh pada waktunya akan menghilang dengan sendirinya secara alamiah tanpa harus ditinjau satu persatu dan dicabut secara khusus. Sesuai dengan perkembangan kebutuhan, pengeturannya dapat diperbaiki melalui Undang-Undang, dan pelaksanaannya dalam praktek, apabila dinilai menyimpang atau bertentangan dengan UUD, maka ketetapan MPR/S tersebut dapat diajukan pembatalannya kepada Mahkamah Konstitusi yang melakukan Pengujian sebagaimana mestinya. Namun demikian, cara kedua dan ketiga ini hanya dapat dilakukan apabila apa penegasan hanya berstatus hukum Ketetapan MPR/S tersebut selanjutnya adalah setingkat dengan UndangUndang. Dengan demikian, Ketetapan MPR/S termasuk ke dalam kategori peraturan yang dapat dijadikan objek “judivial review” oleh Mahkamah Konstitusi, atau menjadi peraturan yang atas inisiatif Presiden ataupun DPR dapat diubah sebagaimana mestinya dengan Undang-Undang. Untuk itu, 53 sebaiknya status hukum Ketetapan MPR/S tersebut dicantumkan tegas dalam Aturan Peralihan Undang-Undang Dasar7. Selanjutnya dibawah Undang-Undang, terdapat Peraturan Pemerintah yang ditetapkan dalam rangka menjalankan atau dalam rangka melaksanakan perintah Undang-Undang. Jika pembentukan Undang-Undang biasa disebut sebagai kegiatan legislatif pembuatan Peraturan Pemerintah ini dapat disebut sebagai kegiatan regulatif (pengaturan). Kewenangan regulatif ini berada ditangan Presiden8 dan bersumber dari kewenangan yang lebih tinggi, yaitu kewenangan legislatif yang berada di tangan Dewan Perwakilan Rakyat9. Dibawah peraturan Pemerintah, terdapat Peraturan Presiden yang selama ini biasa disebut Keputusan Presiden (KEPPRES). Namun, untuk menerbitkan penggunaan istilah, saya mengusulkan nomenklatur Keputusan Presiden itu dibatasi hanya untuk penetapan yang bersifat administratif saja (beschikking). Sehingga jelas bedanya. Keputusan Presiden dapaat dijadikan objek peradilan tata Usaha Negara, sedangkan Peraturan Presiden dapat dijadikan objek “judicial review” oleh Mahkamah Agung. Dengan demikian, tidak perlu lagi adanya pengertian mengenai Keputusan Presiden yang bersifat mengatur (regeling). Peraturan Presiden juga dapat dibedakan dari Peraturan Pemerintah. Peraturan pemerintah ditetapkan untuk menjalankan Undang-Undang, sedangkan Peraturan Presiden ditetapkan dalam rangka kewenangan Presiden untuk menetukan `policy rules’ atau `beleid regels’ sesuai dengan prinsip `frijsermessen' yang pada pokoknya memberikan ruang gerak kepada pemerintah eksekutif untuk mengatur dan menetukan sendiri prosedur-prosedur untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan yang dibuatnya sendiri. 7 Jimly Asshiddiqie, Konsolidasi Naskah UUD 1945 Setelah Perubahan Keempat, Pusa t Studi Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Unversitas Indonesia, Jakarta, 2002, lihat foto copy No. 136, hal. 63-64 8 Pasal 5 ayat (2) UUD 1945 Menentukan: Presiden Menetapkan Peraturan Pemerintah Untuk Menjalankan Undang-Undang Sebagaimana Mestinya. 9 Pasal 20 ayat (1) UUD 1945 menentukan: Dewan Perwakilan Rakyat Memegang Kekuas aan Membentuk Undang-Undang 54 Prinsip-prinsip pengeturan tersebut di atas terdapat pula di lingkungan pemerintah daerah. Di daerah juga perlu dibedakan antara produk legislatif berupa Peraturan Daerah dari produk regulatif berupa Peraturan Gubernur, Peraturan Bupati, dan Peraturan Walikota, Peraturan Gubernur, Peraturan Bupati, Peraturan Walikota juga harus dibedakan dari Keputusan Gubernur, Keputusan Bupati dan Keputusan Walikota. Disamping itu, ada pula beberapa organ atau lembaga yang bersifat indepeden yang juga diberikan kewenangan regulatif, yaitu seperti Mahkamah Agung, Badan Pemeriksa Keuangan, Bank Indonesia, Komisi Pemilihan Umum, Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara, dan sebagainya. Sejauh menyangkut kewenangan

regulatif, lembaga-lembaga independen ini dapat menetapkan sendiri peraturan internal yang bersifat khusus dalam rangka menjalankan Undang-Undang. Tidak perlu dipersoalkan apakah tingkatannya sederajat dengan peraturan Pemerintah atau tidak, karena sifatnya khusus dan tunduk kepada Prinsip `lex specialis derogat lex generalis’. Dengan demikian, lembaga-lembaga atau organ-organ tersebut dapat menjalankan tugasnya secara independen tanpa harus tunduk kepada pengaturan regulatif oleh pemerintah berupa Peraturan Pemerintah ataupun Peraturan Presiden. Namun demikian, disamping berwenang mengeluarkan peraturan, lembaga-lembaga atau organ-organ independen juga berwenang menetapkan keputusan yang bersifat administratif dan disebut Keputusan Ketua BPK, Keputusan Gubernur Bank Indonesia, Keputusan Ketua KPU, dan seterusnya. Bentuk-bentuk keputusan demikian itu bersifat administratif sebagai produk `beschikking' yang tetap harus tunduk kepada peraturan yang berlaku dan mengikat bagi para pejabat yang bersangkutan. Terhadap semua jenis produk hukum tersebut, baik berupa peraturan (regels) maupun berupa keputusan (beschkiking) dapat dilakukan perlawanan atau gugatan hukum apabila hal itu dinilai bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum dan keadilan. Yang pertama 55 dapat dilawan dengan gugatan atau permohonan “judicial review”, sedangkan yang kedua dapat dilawan dengan mengajukan gugatan melalui pengadilan tata usaha negara. Dengan demikian jelas perbedaan antara mana yang produk legislatif dan yang mana yang merupakan produk regulatif sebagai produk pengaturan dan dapat disebut sebagai peraturan, dan yang mana pula yang merupakan produk penetapan administratif berupa keputusan yang bersifat `beschikking'. Seperti dikemukakan di atas, yang berbentuk peraturan dapat dijadikan objek `judicial review’10, sedangkan yang berbentuk keputusan dijadikan objek peradilan tata usaha. 3. `The Rule of Law and The Rule of Ethics’ Salah satu ciri dari `good governance” adalah prinsip ` the rule of law’ yang harus digandengkan pula sekaligus dengan prinsip `the living ethics’. Sebagai sarjana hukum saya biasa membanggakan peranan hukum dalam mengatasi semua persoalan dalam kehidupan. Akan tetapi, perlu disadari bahwa hukum (buatan manusia) bukanlah segala-galanya. Disamping norma hukum, kita masih memerlukan norma etika-moral dan bahkan norma agama untuk keperluan mengatur, mengendalikan, dan mendorong dinamika kehidupan bersama umat manusia. 10 Sesuai dengan ketentuan pasal 24C ayat (1) jo Pasala 24A ayat (1), Mahkamah K onstitusi berwenang menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar, sedangkan Mahkamah Agung menguji Peraturan Perundang-undangan di bawah Undang-Undang Pasal 24C ayat (1) menyatakan: “ Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan ter akhir yang putusannya bersifat final untuk menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undan g Dasar, Memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan o leh Undang-Undang Dasar, memutuskan pembubaran partai politik, dan memutuskan perselisihan tentang hasil pemilihan umum, sedangkan pasal 24A ayat (1) menyatak an: “Mahkamah Agung berwenang mengadili pada tingkat kasasi, menguji peraturan perunda ngundangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang, dan mempunyai wewenang lainnya yang diberikan oleh Undang-Undang”, lihat juga footnote ke- 96 Jimly Asshi ddiqie, Konsolidasi Naskah UUD 1945 Setelah Perubahan Keempat, Op.Cit, hal. 40-41 56 Mengenai prinsip `the rule of law’, dapat diketakan bahwa sebagai ide ia telah diadopsikan di Indonesia sejak sebelum kemerdekaan, inilah yang disebut

oleh `the founding fathers and mother’ dengan prinsip “rechtsstaat” menurut istilah Jerman. Pada awalnya didirikan, yaitu Republik Indonesia. Kurang lebih sama dengan prinsip `good governance’, belum dikaitkan dengan prinsip-prinsip yang juga harus diterapkan di lingkungan organisasi-organisasi non negara sekarang. Prinsip `rule of law’ itu juga perlu diterapkan di lingkungan yang lebih luas dari hanya organisasi negara. Dimanapun juga, yang harus dianggap sebagai `pemimpin' yang utama bukanlah orang, tetapi sistem aturan atau norma, yaitu `the rule of law and not of man’. Seperti diketahui, sejak sebelum Indonesia Merdeka diproklamasikan, perdebatan tentang bentuk dan bangunan cita-cita kenegaraan yang hendak dibangun di kalangan `the founding fathers’ pada tahun 1945 sudah menempatkan cita-cita kenegaraan Indonesia sebagai satu Negara Hukum (rechtsstaat). Meskipun perkataan rechtsstaat itu sendiri kemudian tidak dicantumkan secara resmi dlam pasal UUD 1945, tetapi dalam rangka penyusunan UUD 1945, konsepsi negara hukum itu jelas mewarnai perdebatan di antara para anggota BPUPKI. Bahkan, istilah rechtsstat itu kemudian di cantumkan dalam penjelasan tentang Undang-Undang Dasar 1945 yang disusun kemudian. Mungkin kenyataan tidak tercantumnya perkataan Negara Hukum itu dalam pasal-pasal UUD 1945 dapat dikatakan sebagai kealpaan tersendiri. Akan tetapi, sebagai gagasan, konsep Negara Hukum itu. Akan tetapi sebagai gagasan, konsep Negara Hukum itu bukanlah sesuatu yang asing di antara pendiri republik ini. Keakraban para pendiri Republik Indonesia dengan konsepsi Negara Hukum itu tercermin kemudian dalam rumusan Konstitusi RIS pada tahun 1949, dan demikian pula dalam rumusan UUDS pada tahun 1950. Keduanya mencantumkan dengan tegas perkataan Indonesia sebagai Negara Hukum itu 57 dalam pasal-pasalnya. Sekarang, dalam rangka perubahan UUD 1945, ketentuan mengenai hal itu juga sudah diadopsikan, yaitu dalam rumusan pasal 1 ayat (3) hasil perubahan Ketiga UUD 1945, yaitu: “Negara Indonesia adalah Negara Hukum”. Dalam perkataan bahasa Jerman, konsepsi negara hukum itu disebut “Rechtsstaat” yang dalam bahasa Inggrisnya disebut “the rule of law”. Seperti kemudian berkembang menjadi jargon, konsepssi negara hukum ini disebut pula dengan istilah “the rule of law, and not of man” dalam arti bahwa suatu kepemimpinan dalam pemerintahan yang sebenarnya adalah terdapat pada hukum, bukan pada orangnya. Artinya pemimpin suatu negara itu sendiri pada hakikatnya adalah hukum, bukan pribadi orang. Hukum disini dilihat sebagai satu kesatuan sistem aturan yang berpuncak pada konstitusi. Karena itu, sesuai dengan prinsip supremasi hukum dan supremasi konstitusi, pemimpin kita sebenarnya dalam setiap negara hukum adalah konstitusi (constitution), bukan pribadi Presiden ataupun pribadi Raja. Sekarang, kita harus menerapkan prinsip demikian dalam seluruh kegiatan bermasyarakat dan berbangsa dalam berorganisasi. Sebagai warga negara kita diatur dan terikat pada “code of law”, yaitu kode hukum negara: tetapi pada saat yang sama sebagai warga atau anggota organisasi, perilaku berorganisasi kita diikat oleh Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, atau Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga yang berlaku di lingkungan organisasi kita itu. Peraturan-peraturan yang bersifat internal keorganisasian itu juga mempunyai sifat hukum yang mengikat, dan karena sifatnya dapat pula kita sebut sebagai `code of conduct’, atau lebih tepatnya dapat pula disebut `code of organizational conduct’. Dengan demikian, kita mengenal adanya `code of law’ dan `code of conduct’ yang harus ditaati oleh setiap orang yang berorganisasi. Norma-norma aturan itulah yang harus ditempatkan pada tempatnya yang tertinggi dalam apa yang kita sebut dengan prinsip `the rule of law’ tersebut diatas. 58 Namun demikian, penting disadari bahwa hukum yang merupakan buatan manusia bukanlah segala-galanya. Selain hukum, kita memerlukan norma etika. Keduanya harus berjalan seiring dan sejalan secara fungsional dalam upaya membangun peri kehidupan yang menerapkan prinsip `good governance’, baik

Strate gi Pemberantasan Korupsi Nasional. Sebelum segala sesuatu bersangkutan dengan hukum. diharuskan memeriksakan dulu kekayaan pribadinya pada kantor urusan etika ini sebelum berkas-berkasnya diajukan kepada Kongres . di lingkungan Mahkamah Agung Amerika Serikat terdapat pula “Committe on Codes of Conduct”. termasuk surat kaleng sekalipun yang berkenaan dengan laporan tentang perilaku menyimpang 11 United Nation. tidak ada satu surat pengaduan-pun. 12 Desember 199611. Kantor inilah yang menangani segala urusan yang berkenaan dengan berbagai konflik kepentingn yang terjadi di kalangan pejabat dan pegawai negeri federal. jika etika tegak dan berfungsi baik maka mudah diharapkan bahwa hukum juga dapat ditegakkan sebagaimana mestinya. Dengan demikian. . Di negara-negara maju seperti Amerika serikat-pun soal ini sudah dianggap lumrah dalam kehidupan sehari-hari. yang tidak diperiksa secara sungguh-sungguh oleh komisi ini. Ide pokoknya adalah disamping membangun sistem hukum dan menegakkan hukum. juga ada “The Committe on Standarts of Official Conduct” yang bertugas menegakkan aturan-aturan etika yang berlaku yang tercantum dalam “Ethics Manual for Members. Di Kongres Amerika Serikat. di DPR (House of Representative). Pentingnya etika publik dan satuan perilaku di kalangan pejabat publik ini juga terus diperbincangkan serius dan disepakati dalam berbagai forum dunia. Semua jabatan-jabatan publik yang pejabatnya ditetapkan dengan Keputusan Presiden Amerika Serikat tetapi proses pengangkatannya harus melalui konfirmasi ataupun persetujuan Kongres . sehingga diharapkan beban sistem hukum tidak terlalu berat. termasuk Plenary Meeting ke-82 PBB. maka di Amerika Serikat dibentuk `US Office of Special Council” yang menanganinya sehingga tidak terjadi konflik kepentingan antara statusnya sebagai pegawai negeri dan statusnya sebagai anggota partai politik. Boleh dikatakan. dilingkungan pemerintahan eksekutif. 1997. Officers. A/Res/51/59. Di Senat. Fifty First S ession Agenda Item 101 Resolution Adopted By The General Assembly (On The Report Of The Third Committee (A/51/610)51/59.162 12 Pada bulan Oktober 2001. saya sendiri pernah berkunjung dan menjadi `Visiting S cholar’ selama beberapa hari di Sekretariat Komisi Etika Senat AS ini dan sangat terkesa n dengan kewibawaan komisi ini di mata para senator Amerika Serikat 59 dan/atau perbuatan tercela atau yang dianggap bertentangan dengan kode etika para senator. Sementara itu. and employees of the United States House of Representatives”.dalam lapisan pemerintahan dan kenegaraan (supra struktur ) maupun dalam lapisan kemasyarakatan (infra struktur ). General Assembly. 28 January. Seperti di senat. sistem etika sudah lebih dulu menanganinya. tidak semua persoalan harus ditangani oleh dan secara hukum. Semua itu sangat membantu proses pembudayaan etika dalam peri kehidupan bernegara dan dalam penyelenggaraan negara secara keseluruhan. paa pejabat dan pegawai di lingkungan pemerintahan federal dikendalikan oleh `The Office of Goverment Ethics’ yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang tentang `Ethics in Goverment” pada tahun 197813. baik di lingkungan `senate' maupun ` House of Representative’ (DPR) dibentuk satu `Standing Komisi’ yang tersendiri. Kebijakan-kebijakan yang berkenaan dengan norma etika dan aturan perilaku di kalangan hakim dan pegawai lembaga pengadilan dikembangkan melalui “judicial Conference Committe on Codes of Conduct”yang tersendiri. Disamping itu. Edisi Maret 1999. kita juga harus membangun dan menegakkan sistem etika dalam kehidupan beroraganisasi warga masyarakat dan warga negara kita. juga terdapat Komisi Etika (Commttee on Ethics)yang terdir i atas lima orang komisioner (Senator) yang bekerja profesional12. Jakarta. Khusus berkenaan dengan pegawai negeri yang terlibat dalam kegiatan partai politik seperti juga terjadi di beberapa negara seperti Jerman. Hal. Lihat Badan Pengawas Keuangan Dan Pembangunan.

Di lingkungan masyarakat madani dewasa ini berkembang pesat peranan kalangan organisdasi non-pemerintah (non govermental Organization)15 yang 14 OECD Improving Ethical Conduct in the public Service. Misalnya. dan (c) LSPM sebagai lembaga swadaya pengembangan masyarakat. Padahal mereka itu. di Indonesia dewasa ini. `code of organization conduct’ dan `code of the state’s law’ yang efektif dan berkeadilan. seharusnya dibedak an antara pengertian (a) LSM sebagai lembaga yang sungguh-sungguh merupakan lembaga swadaya masyarakat. 61 juga berkaitan dengan kepentingan umum. . November 1997. 23 April 1998. meskipun Ia sendiri tidak bersifat swadaya. tidak hanya berkenaan dengan sektor negara. H al ini dapat dilihat dalam dokumen “Ethics in the Public sector: challenges and opportunities f or OECD Countries (Ethics Check-list Draft). yaitu sektor negara (state) dan sektor masyarakat (Civil Society) yang berkenaan dengan kepentingan umum (publik). Di lingkungan negara-negara maju OECD. sayangnya. tidaklah bersifat swadaya. dokumen `Improving Ethical Conduct in Publik Service” telah diadopsikan secara resmi pada tahun 1998 yang isinya merekomendasikan pentingnya memberlakukan sistem kode etika di seluruh sektor publik dan mengusulkan cara-cara untuk meningkatkan kualitas kode etika diseluruh sektor publik14 . Padahal. yaitu lembaga yang memang bersifat swadaya untuk misi mengembangkan masyarakat (community develomen t). juga telah disepakati untuk memberlakukan sistem kode etika ini di sektor publik. seperti misalnya Nahdatul Ulama ataupun Muhammadiyah. yang dimaksudkan dengan sektor publik disini.13 `Ethics In Government’ Act 1978 60 Berfungsionalnya sistem etika itu dalam kehidupan nyata menjadi basis yang kuat bagi tegak dan berfungsinya sistem hukum berdasarkan prinsip `the rule of law’. aktivitas organisasi-organisasi seperti ini juga berkaitan dengan kepentingan umum dan karena itu perilaku warganya perlu diatur dan dikendalikan dengan Instrumen `code of ethics’. Le mbagalembaga seperti inilah yang biasa disebut dengan salah kaprah sebagai LSM dan Ornop. dan ba nyak lagi lembaga-lembaga atau organisasi-organisasi yang memang hidup mandiri. Harus dicatat pula pengertian kita yang ada selama ini seakan-akan kepentingan umum (public) itu identik dengan kepentingan negara (state) sekarang terbukti tidak lagi tepat. (b) L PSM sebagai Lembaga Pengembangan Swadaya masyarakat yaitu yang tugasnya mengembangkan swadaya masyarakat. pengertian organisasi non pem erintah (ornop) ini cenderung direduksikan dan dimonopolikan makna hanya oleh segelilint ir organisasi yang biasa disebut LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) atau menyebut dir inya ORNOP (Organisasi Non Pemerintah) dalam arti sempit. Tentu saja. tetapi hidup dan kegiatannya terg antung kepada donor yang sudah tentu mempunyai agenda dan kepentingannya yang tersendir i. Tim OECD juga telah melakukan pengkajian mendalam mengenai berbagai aspek berkenaan dengan system kode etika di sektor publik ini. tetapi juga berkenaan dengan sektor publik pda umumnya. Hal ini dapat dilihat d alam dokumen “Ethics in the Public sector”: challenges and opportunities for sector public ini. 15 Hanya saja. sebelum dokumen ini diadosikan. Kepentingan umum tidak selalu tercermin dalam apa yang akan kita mengerti sebagai kepentingan negara.

Karena itu. dan lain-lain sebagainya. MA dan jajarannya (hakim dan pegawai pengadilan). UU tentang Partai Politik. Kolusi dan Nepotisme. yang bersifat lebih umum. sebagai penjabaran operasional atas ketentuan yang diadopsikan dalam TAP MPR tentang Etika Kehidupan Berbangsa tersebut di atas. UU tentang Mahkamah Konstitusi. seperti MPR (DPR dan DPD). Namun. Nantinya kita berharap semua organ negara dan pemerintah. UU tentang Keormasan. 62 kode etika dan komisi etika itu juga harus diwajibkan. dalam 63 hubungan ini. Kedua.Dengan demikian semua bentuk organisasi publik di Indonesia. Ada dua pengaturan yang dapat diusulkan. Majelis Permusyawaratan Rakyat telah menetapkan dua ketetapan berkenaan dengan ini. UU tentang Badan Pemeriksa Keuangan. dan lain-lain sebagai diharuskan menyusun dan memberlakukan kode etika sendiri-sendiri dan membentuk komisi etika yang independen dilingkungan masing-masing. anggotanya dapat pula ditentukan hanya lima puluh persen berasal dari dalam. XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas Korupsi. yaitu Ketetapan MPR No. Jaksa. DPD. Semula materinya hanya dikhususkan untuk mengatur aparatur pemerintah dalam arti sempit (eksekutif). organisasi kemasyarakatan. pengaturan dalam tiap-tiap Undang-Undang baru ataupun amandemen terhadap Undang-Undang lama yang akan mengatur mengenai organ. ketentuan mengenai misalnya organisasi pesantren yang memang hidup mandiri dan misinyapun untuk tuj uan mengembangkan masyarakat (community develoment). Dewan Kehormatan itu dapat juga dibentuk secara ad hoc apabila timbul kasus./MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa. pengaturan mengenai sistem kode etika dan pemberlakuannya secara umum. maka diperlukan pula pengaturan organisasi yang menyeluruh. misalnya dalam UU tentang KetentuanKetentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman. Misalnya. sedangkan lima puluh persen lainnya dari kalangan luar yang dapat diharapkan lebih objektif. Saya kiranya. Tentara. tetapi dapat pula dilembagakan secara tetap. DPR. jika kita mengacu kepada Ketetapan MPR tetang Etika Kehidupan Berbangsa tersebut diatas. juga diperlukan satu Undang-Undang yang akan mengatur ketentuan-ketentuan pokok tentang etika dalam kehidupan berbangsa. baik tingkat supra struktur maupun infra struktur. yaitu : Pertama. Pemerintah ataupun Dewan Perwakilan Rakyat hendaklah segera memprakarsai tersusun dan terbentuknya Undang-Undang tentang Etika Kehidupan Berbangsa. DPRD. Kedua. yaitu Ketetapan MPR No. tetapi sekarang diperluas menjadi aparatur negara secara keseluruhan. dan lain-lain. Ditingkat infra struktur masyarakat juga demikian misalnya. para perancang Ketetapan MPR tentang Etika Kehidupan Berbangsa juga tidak membayangkan bentuk operasionalisasi etika . Kalau diperhatikan. sebaiknya segera disusun satu Undang-Undang yang lebih operasional. MK. perkumpulan (vereeniging). lembaga-lembaga atau organisasi-organisasi yang terkait. UU tentang Susunan Kedudukan MPR. yang khusus berkenaan dengan penyelenggaraan negara. Pegawai Negeri. baik di sektor negara (supra struktur negara) maupun di sektor masyarakat (infra struktur masyarakat madani atau `civil society’) saya usulkan agar diwajibkan dengan ketentuan Undang-Undang untuk menyusun Kode Etika masing-masing yang selanjutnya diberlakukan secara internal dan membentuk Dewan Kehormatan atau Komisi Etika atau Komisi Disiplin atau apapun nama yang bersifat independen untuk keperluan mengatur pemberlakuan dan menjalankan kode etika tersebut. dan organisasi-organisasi profesi. Yang penting dijamin adalah keanggotaannya harus dipilih sedemikian rupa sehingga terjamin independensinya. Polisi. Kantor Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara sendiri dewasa ini telah memprakarsai perancangan draft Undang-Undang tentang etika aparatur negara. lembaga. UU tentang Mahkamah Agung. Pertama. di lingkungan partai politik. baik dalam upaya membangun sistem etika di tingkat supra struktur maupun di tingkat infra struktur masyarakat. dan DPRD. Untuk melaksanakan kedua ketetapan itu. BPK.

S. .. Disana hanya ditentukan bahwa permasyarakatan etika itu tidak boleh dilakukan melalui pendekatan indoktrinasi seperti pengalaman kita dengan P4 dan BP7 di masa Orde Baru. memang diperlukan adanya satu Undang-Undang tersendiri tentang KetentuanKetentuan Pokok Pengembangan Etika Kehidupan Berbangsa dan Bernegara. Sebagai tindak lanjut perubahan-perubahan mendasar tersebut di atas.H Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara RI Buat halaman ini dalam f Pendahuluan Era reformasi yang dimulai pada tahun 1999. Jika etika positif ini dapat ditegakkan. Dengan begitu cita-cita kenegaraan kita tidak akan tinggal di atas kertas dan menyebabkannya hanya menjadi dunia wacana yang tidak mencerminkan kenyataan perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari. Ide-ide besar negara. Oleh karena itu. membawa perubahan-perubahan yang men dasar dalam sistem pemerintahan dan ketatanegaraan kita sebagaimana nampak pada perubahan yang hampir menyeluruh atas Undang Uundang Dasar 1945. Di samping itu. Karena itu. bentuk pemasyarakatan yang dibayangkan. Karena itu.yang ditentukan dalam ketetapan tersebut. dan pendidikan konvensional yang tidak ada bedanya dari pendekatan indoktrinasi yang dikritik sendiri oleh para anggota MPR. perubahan perilaku atau lebih mendasar lagi revolusi kelakuan menuju ke arah cita-cita akhlaq yang lebih mulia dari masa lalu. ada baiknya Kantor Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dapat mempertimbangkan untuk memperluas saja konsep rancangan Undang-Undang yang dewasa ini sedang mereka persiapkan untuk diajukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat. hukum tidak akan tegak tanpa dilandasi basis etika yang hidup secara fungsional. kode etika. Lebih dari persoalan institusi. tetapi melalui pendekatan Khutbah.H. Inilah yang akan menjembatani antara nilai ajaran agama yang sangat luhur dan ideal dalam masyarakat yang dikenal sangat agamais di Indonesia dengan realitas Pelembagaan sistem kenegaraan modern yang menuntut rasionalitas berdasarkan sistem `the rule of law’ yang diuraikan di atas. pada akhirnya adalah persoalan perilaku dan persoalan sikap mental. untuk mengubah cara berpikir dan melakukan “switch mental” sesuai dengan tuntutan perubahan. operasionalisasi. ceramah. Demikianlah beberapa pandangan saya mengenai perkembanganperkembangan yang telah terjadi dalam sistem politik dan ketatanegaraan di negara kita setelah Perubahan Keempat UUD 1945 yang disahkan pada tahun 2002 yang lalu. Karena itu. tetapi yang jauh lebih penting adalah kesediaan semua pihak untuk melakukan perubahan mental. perubahan-perubahan mendasar itu juga membutuhkan kesediaan semua pihak untuk menyesuaikan diri. 09 Februari 2007 Hamdan Zoelva. penting artinya bagi kita untuk mengadakan konsolidasi besar-besaran baik secara kelembagaan maupun dari segi-segi pengaturan pada tingkat yang lebih teknis dan operasional. akan tetapi. reformasi dan demokratisasi. Keseluruhan sistem etika itu dapat kita namakan sebagai `positif ethics’ dan berperan penting sebagai pendamping `positif law’ dalam arti sebagai perangkat norma aturan yang diberlakukan secara resmi dalam satu ruang dan waktu tertentu. UU inilah nantinya yang akan memayungi semua ketentuan tentang etika. etika kehidupan berbangsa yang diatur dan diamanatkan dalam Ketetapan MPR tersebut memerlukan pengaturan lebih operasional melalui pendekatan kelembagaan yang lebih efektif. M. dan komisi etika yang diatur dalam berbagai Undang-Undang lain yang terkait. ===================================================== aradigma Baru Ketatanegaraan Pasca Perubahan UUD 1945 ormat PDF Cetak halaman ini Jumat. penataan sistem aturan mutlak dilakukan. niscaya etika publik pa da umumnya dapat diharapkan tumbuh sebagai `living ethics’ atau sebagai etika 64 yang hidup dan berfungsi sebagaimana mestinya.

- UUD 1945. Karena i tu. - Tidak adanya prinsip check and balances dalam UUD 1945 antara lain menyerahkan kekuasaan tertinggi di tangan MPR yang sepenuhnya melaksanakan kedaulatan rakyat . UUD 1945 sebelum perubahan hanya terdiri dari 16 bab. Kalau kita membaca dengan cermat perubahan tersebut.DR. penghormatan atas hak-hak asasi manusia dan berba gai tuntutan perubahan lainnya. Karena waktu yang tidak memungkinkan. Perubahan Ketiga tahun 2001 dan Perubahan Keempat tahun 2002.Perubahan undang-undang dasar ini. Bagir Manan untuk mengkaji perubahan UUD 1945 dan telah melakukan serial diskusi yang cukup panjang dan menghasilkan berbagai pemikiran terhadap perubahan undang-undang dasar ini dalam sebuah buku. - mempertegas sistem pemerintahan presidensil. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa salah satu sumber permasalahan yang menimbulkan problem politik dalam penyelenggaraan pemerintahan negara selama ini adalah karena kelemahan Undang Undang Dasar 1945 antara lain: - UUD 1945 menyerahkan kekuasaan yang sangat besar kepada Presiden. perubahan pertama itu hanya terjadi terhadap beberapa pasal yang terkait dengan pembatasan kekuasa an Presiden dan penguatan DPR. Keempat perubahan ini. - perubahan dilakukan dengan cara adendum. perubahan UUD 1945 yang pertama pada sidang umum tahun 1999. pe negakan hukum yang lebih baik. seluruh fraksi di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada saat itu menyepakati lima prinsip yaitu: - tidak mengubah pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. - tetap mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. kalau kita kembali melihat sejak awal pemerintahan Presiden H abibie ide perubahan UUD 1945 telah dimulai dan bahkan pernah dibentuk sebuah pa nitia yang diketuai oleh Prof. telah membawa implikasi politik yang san gat luas dalam sistem ketatanegaraan Indoneisa. yang telah dilakukan selama 4 kal i ⠓ Perubahan Pertama tahun 1999. Hal ini terjadi karena didorong oleh tuntuta n perubahan-perubahan yang sangat kuat pada awal reformasi antara lain tuntutan atas kehidupan negara dan penyelenggaraan pemerintahan yang lebih demokratis. adalah pesan yang sangat jelas disampaikan oleh gerakan reformasi yang dimulai sejak tahun 1998. - penjelasan UUD 1945 ditiadakan serta hal-hal normatif dalam penjelasan dimasukk an ke dalam pasal-pasal. ketika perdebatan pada MPR mengenai perubahan undang-undang dasar ini sebagi an besar fraksi telah menyiapkan rancangan perubahan yang menyeluruh atas undang -undang dasar 1945 itu. 37 pasal dan 47 ayat dit . terlalu fleksibel menyerahkan penyelenggaraan negara pada semangat pa ra penyelenggara negara yang dalam pelaksanaannya banyak disalahgunakan. untuk menghi ndari disorientasi dalam perubahan-perubahan yang akan dilakukan. - Pengaturan mengenai hak asasi manusia yang minim. akan nampak bahwa empat kal i perubahan merupakan satu rangkaian perubahan yang dilakukan secara sistematis dalam rangka menjawab tantangan baru kehidupan politik Indonesia yang lebih demo kratis sesuai dengan perkembangan dan perubahan masyarakat. mencakup aspek yang sangat luas dan mendalam baik dari ju mlah pasal yang diubah dan ditambah maupun dari substansi perubahan yang terjadi . sebenarnya terjadi demikian cepat tanpa dimul ai oleh sebuah perencanaan panjang. Tuntutan perubahan s istem politik dan ketatanegaraan dalam bentuk perubahan Undang Undang Dasar 1945 . serta - Kurangnya pengaturan mengenai pemilu dan mekanisme demokrasi. menghasilkan perubahan penting terhadap 9 pasal ya ng terkait dengan penyeimbangan kedudukan Presiden dengan DPR. dan perubahan lainnya dicadangkan pada sidang tah unan berikutnya. Terhadap berbagai tuntutan tersebut para anggota MPR meresponsnya dengan memulai perubahan terhadap sesuatu yang mendasar yaitu perubahan Undang Undang Dasar 19 45. Perubahan Kedua tahun 2000.     Perubahan Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945). Karena begitu luasnya perdebatan awal ketika memulai perubahan ini. Oleh karena itu. Walaupun demikian. te rjadi dalam waktu yang sangat singkat yaitu hanya sekitar satu minggu perdebatan pada tingkat Panitia Ad Hoc.

kemudian diperkuat oleh Penjelasan UUD 1945. Substansi perubahan menyentuh hal-hal yang sanga t mendasar dalam sistem politik dan ketatanegaraan yang berimplikasi pada peruba han berbagai peraturan perundangan dan kehidupan politik Indonesia di masa depan . UU Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden dan Wakil Pre siden serta UU Susunan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Keanggotaan MPR Sebelum perubahan. Kewenangan MPR Kewenangan dan status MPR dalam UUD 1945 sebelum perubahan tercermin dalam pasal 1 ayat 2. sehingga lebih demokratis dan leb ih menunjukan representasi rakyat yang lebih jelas dalam lembaga perwakilan. dan dilakukan sepenu hnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyatâ ?. setelah perubahan yaitu perubahan susu nan keanggotaan serta perubahan kewenangan MPR. 73 pasal. Dal am struktur yang demikian MPR ditempatkan sebagai Lembaga Tertinggi Negara. 160 yang dipilih oleh DPRD dari 27 pr ovinsi (pada periode ini Utusan Daerah bergabung dalam satu fraksi tersendiri se dangkan utusan Golongan melebur dalam fraksi Partai Politik yang ada) dan 400 or ang yang dipilih dalam pemilu. maka dia akan menja di sangat lemah (seperti kasus Presiden Habibie dan Abdurrahman Wahid). . mengangkat Presiden dan Wakil Presiden (pasal 6 ayat 2). yang berimplikasi pada perubahan dalam tata hubungannya dengan lembaga-lembaga negara yang lainnya. keanggotaan MPR terdiri dari Anggota DPR ditambah dengan Utus an Daerah dan Utusan Golongan. keanggotaan MPR. Setelah 4 kali peruba han. yaitu sebagai pelaksana sepenuhnya kedaulatan ra kyat. Hal ini berimplikasi pada hubungan yang tidak seimbang antara lembaga-lembaga negara (tidak ada check and balances). Merujuk pada masa Orde Baru anggota MPR berjumlah 1000 orang yang terdiri dari 500 anggota DPR (400 orang yang dipilih melalui pe milu dan 100 dari ABRI yang diangkat). yaitu UU Partai Politik. dan sisanya adalah utusan golongan. Konfigurasi keanggotaan ini menunjukkan dominasi Presiden yang sangat kuat terhadap MPR. Ketentuan ini menunjukkan dengan jelas bahwa posisi MPR sangat dominan dalam str uktur ketatanegaraan Indonesia. Peru bahan ini membawa implikasi pada betapa minimnya pengaruh Presiden terhadap MPR. Dewan Per wakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Reduksi Kewenangan MPR (Memperkuat Demokratisasi) Terdapat dua perubahan mendasar pada MPR. Ketika MPR terbentuk seakan-akan kedaulatan rakyat itu diambil alih sepenu hnya oleh MPR dan MPR memegang supreme power dalam ketatanegaraan Indonesia.yang berjuml ah 340 orang. Setelah Perubahan UUD. yaitu sama dengan pengangkatan anggota Utusan Daerah yang dipilih oleh DPRD Provinsi dan Anggota DPR yang dipilih dalam Pemilu). Dalam kerangka inilah berbagai perundang-undangan baru bidang politik disusun. b. sejak kejatuhan Soeharto. Perubahan ini memperbaiki susunan anggota MPR. Siapa yang dapat mempengaruhi dan mendominasi M PR maka dialah yang paling berkuasa. Jika Presiden dapat menguasai atau mempenga ruhi MPR maka pasti dia sangat berkuasa (seperti yang terjadi pada masa Orde Bar u) dan siapa yang tidak mampu mendominasi dan menguasai MPR. Pada masa reformasi sekarang ini. Tidak ada lagi anggota MPR yang diangkat. 5 orang utusan daerah dari setiap propins i (yaitu 160 untuk 27 Provinsi). 171 ayat ditambah 3 pasal Aturan Peralih an dan 2 pasal Aturan Tambahan. diu bah lagi yaitu hanya terdiri dari 700 orang dimana jumlah yang diangkat oleh Pre siden hanya 69 orang anggota Utusan Golongan yang dipilih oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Dari susunan keanggotaan tersebut nampak sekali bahwa terdapat 440 orang anggota MPR yang diangkat Presiden. (dalam pengangkatan ini Presiden hanya mengesahkan secara administra tif sebagai Kepala Negara. yang berbunyi : â œKedaulatan adalah di tangan rakyat. UUD 1945 menjadi 20 bab. a. Lebih lanjut kewenangan MPR adalah menet apkan Undang Undang Dasar dan Garis-Garis Besar daripada Haluan Negara (diatur d alam pasal 3).ambah 4 pasal Aturan Peralihan dan 2 ayat Aturan Tambahan. anggota MPR hanya terdiri dari anggota DPR (sekarang berj umlah 550 orang) dan anggota DPD yang merupakan wakil dari daerah-daerah (sekara ng 4 orang setiap provinsi) yang dipilih secara langsung dalam pemilu oleh rakya t di daerah yang bersangkutan.

karena MPR tidak lagi menetapkan garis-garis be sar haluan negara untuk dilaksanakan oleh seluruh lembaga negara yang lainnya. Artinya hubungan yang seimbang antara  lembaga N egara yang masing-masing terkontrol oleh yang lainnya berdasarkan ketentuan UUD. melantik Pr esiden dan Wakil Presiden. diberikan kekuasaan untuk membentuk undang-undang (pasal 20 ayat (1)). lembaga-lembaga negara lainny a tidak lagi melapor kepada MPR. yaitu melanti k Presiden dan Wakil Presiden. Implikasi perubahan ini adalah direduks inya kewenangan MPR sebagai pelaksana kedaulatan rakyat sepenuhnya. yaitu : â œKedaulatan di tangan rakyat d an dijalankan menurut Undang-Undang Dasarâ ?. karena dia dipilih langsung juga oleh rakyat. Reposisi Dewan Perwakilan Rakyat Reposisi DPR. yang ada adalah Sidang MPR. Kewenangan MPR. Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi menjalankan kedaulatan rakyat dalam bidang yudikatif dan peradilan. sebagaim ana tercermin dalam perubahan pasal 1 ayat 2. akan tetapi kedudukannya dilihat pada fungsi dan kewenangannya yang diberikan oleh UUD. karena MPR adalah sumber kekuasaan negara. Secara kelembagaan posisi MPR sebenarnya adalah â œforumâ ? sidang gabungan antara anggota DPR dengan anggota DPD. telah merubah filosofi dasar sumber kewenangan MPR. maka kedudukannya menjadi sebuah lembaga negara tersend iri. Demikian pula terhadap lembaga-lembaga negara lainnya yang diatur dalam UUD ini. Bahkan rakyat juga melak sanakan kedaulatannya secara langsung dalam bentuk memilih Presiden dan Wakil Pr esidennya secara langsung. tidak ada lagi istilah Sidang Umum serta Sidang Tahunan MPR . karena MPR memiliki kewenangankewenangan yang mandiri. Semua lembaga negara tidak ada yang tin ggi dan tidak ada yang rendah. Kedudukan i ni berakibat pada hubungan yang tidak seimbang antara Presiden dengan DPR. Sedangkan DPR diposisikan sebagai lembaga negara yang memberikan persetujuan atas rancangan undang-undang itu. Presiden menjalankan kedaulatan rakyat. Karena itu. Sebelum perubahan. untuk menjalankan pemerintahan negara. dilakukan dengan maksud agar menempatkan DPR dalam posisinya sebag ai lembaga negara yang memiliki kewenangan di bidang legislatif. Karena itu DPR. kekuasaan membentuk undang-undang ini dimiliki oleh Presiden (pasal 5 ayat (1) sebelum perubahan). yang mendistribu sikan kekuasaannya pada lembaga-lembaga negara itu.Dalam kerangka pemikiran ini pula seluruh lembaga-lembaga Negara yang lain harus melapor kepada MPR. MPR hanya bersidang pada saat-saat dibutuhkan. mengubah dan menetapkan UUD. yaitu oleh lembaga-lembaga negara ya ng diatur secara jelas kewenangannya dalam UUD. Setelah perubahan UUD hubungan antara MPR dengan lembaga negara lainnya hanya te rlihat jelas dalam hubungannya dengan Presiden dan Wakil Presiden. menetapkan garis-garis besar daripada haluan negara serta memberhentikan Presid en karena pelanggaran garis-garis besar haluan negara. menjadi keda ulatan rakyat dilaksanakan menurut UUD ini. Dengan demikian MPR keh ilangan kewenangannya untuk mengangkat Presiden dan Wakil Presiden secara rutin. yaitu ket ika melantik Presiden dan atau Wakil Presiden. serta memilih Wakil Presiden dalam hal kekosongan jabatan W akil Presiden. memberhentikan Presiden dan atau Wakil Presiden d alam masa jabatannya menurut UUD serta memilih Wakil Presiden dalam hal kekosong an jabatan Wakil Presiden.  c. Hubungan MPR dengan Lembaga Negara Lainnya Dengan perubahan ini tidak lagi dikenal lembaga tertinggi dan lembaga tinggi neg ara dalam hubungan antar lembaga negara. Kerangka hubungan antar lembaga negara yang dibangun dalam perubahan UUD ini ada lah prinsip checks and balances. Walaupun demikian. diman a Presiden di samping memegang kekuasaan pemerintahan negara juga memegang kekua . memberhentikan Presiden. dipertegas yaitu hanya: mengubah dan menetapkan UUD. Perubahan UUD 1945. memberhentikan Presiden dan atau Wakil Presiden dalam masa jabatannya menurut UUD (pasal 3 UUD) memilih Wakil Presiden dalam hal terj adi kekosongan jabatan Wakil Presiden dalam masa jabatannya (pasal 8 ayat (2)) s erta memilih Presiden dan Wakil Presiden dalam hal Presiden dan Wakil Presiden s ecara bersamaan berhalangan tetap dalam masa jabatannya. Jadi. DPR dan DPD menjalankan kedaulatan rakyat dalam membentuk undang-un dang dan mengawasi Presiden.

khususnya yang terkait dengan kepentingan daera h. Pembentukan ini diharapkan akan lebih memperkuat integrasi nasional serta sem akin menguatnya perasaan kebersamaan sebagai sebuah bangsa yang terdiri dari dae rah-daerah. Presiden dapat mengabaikan rancangan undang-undang yang sudah disetuj ui oleh DPR bersama pemerintah di DPR. Akibatnya seperti pengalaman selama masa pemerintahan Orde Baru. usul dan pendapat serta hak imunitas (pasal 20A ayat (3)). DPD melakukan pengawasan atas pelaksanaan berbagai unda ng-undang yang ikut dibahas dan diberikan pertimbangan oleh DPD. Perbedaannya pada penekanan posisi anggota DPD seba gai wakil dan representasi dari daerah (provinsi). Ketiga hak ini. sebelumnya hanya diatur dalam undang-undang. Setiap ang gota DPR juga diberikan jaminan hak yang kuat dalam konstitusi yaitu hak mengaju kan pertanyaan. Apakah DPD memiliki votin g right atas RUU yang ikut dibahasnya itu?. . Namun kewenanga n pengawasan ini menjadi sangat terbatas. hubungan pusat dan daerah. karena anggota DPD adalah dari perseorangan bukan wakil partai po litik. Tidak ditegaskan dalam UUD ini. Perubahan UUD juga mempertegas fungsi pengawasan dari DPR.saan membentuk undang-undang. Sebuah Institusi Negara yang Baru a. Peneg asan ini dimaksudkan untuk memberikan kedudukan hukum yang lebih kuat bagi kewen angan DPR yang diatur dalam konstitusi. Perubahan penting lain mengenai DPR. memberikan pertimbangan kepada DPR atas RUU APBN. pengelolaan sumber daya alam dan sumbe r daya ekonomi lainnya serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat da n daerah. Kewenangan legislasi yang dimiliki oleh D PD adalah hanya dapat mengajukan kepada DPR dan ikut membahas rancangan undang-u ndang yang terkait dengan otonomi daerah. hak angket dan hak menyatakan pendapat (pasal 20A ayat (2)). kedudukan dan kewenangan ya ng sama dengan anggota DPR. pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah. tetapi diatur dalam undang-undang. maka voting right yang penuh hanya dimiliki oleh DPR. baik dalam perubahan UUD. Padahal DPR sebenarnya adalah representasi rakyat yang terpilih melalui pemilu. pendidikan dan agama. Hal ini memberikan keleluasaan kepada DPR dan Presiden untuk memilih sistem pemilu yang tepat sesuai keadaan dan kondisi masyarakat. Dengan demikian tidak ad a lagi anggota DPR yang diangkat seperti pada masa yang lalu yaitu dari ABRI/TNI -POLRI. Akan tetapi jika memperhatikan ketentuan pasal 20 UUD. adalah dal am rangka memberikan kesempatan kepada orang-orang daerah untuk ikut mengambil k ebijakan dalam tingkat nasional. memahami kepentingan dan hati nurani ra kyat. Sedangkan bagaimana sistem pemilu untuk memilih anggota DPR. karena hasil pengawasan itu hanya untu k disampaikan kepada DPR untuk bahan pertimbangan dan ditindaklanjuti. pemberhentian Presiden maupun pemilihan Wakil Pre siden. yaitu berupa hak inte rpelasi. Di samping itu DPD. Walaupun kedudukan DPD adalah sejajar dengan kedudukan DPR dalam struktur ketata negaraan kita. Persoalan yang paling mendasar bagi sebuah pemilu yang baik adalah sejauh mana output pemilu itu menghasilkan wakil -wakil yang benar-benar mewakili rakyat. tidak diatur dalam UUD. ketika bersidang dalam kedudukannya sebagai anggota MPR. Setiap anggota DPD selalu ber pikir tentang kepentingan daerahnya tanpa terhambat oleh garis dan kepentingan p artai politik. baik kewenangan bidang legislasi maupun bid ang pengawasan adalah sangat terbatas. Akan tetapi pada sisi lain anggota DPD ini memiliki. Dewan Perwakilan Daerah. Perubahan ini memberikan jaminan dan legitimasi yang kuat kepada DPR seb agai lembaga perwakilan rakyat. RUU yang berkaitan dengan pajak. dan rancangan undang-undang itu tidak dis ahkan. Kewenangan dan Posisi DPD Dalam Struktur     Ketatanegaraan DPD merupakan lembaga negara yang memiliki kedudukan yang sama dengan DPR sebaga i lembaga perwakilan rakyat. Hal ini mengakibatkan pada tidak seimbangnya kekua saan Presiden dengan DPR. Pembentukan DPD sebagai salah satu institusi negara yang baru. tetapi kewenangannya. adalah diperjelasnya mekanisme rekruitmen s eluruh anggota DPR yang dipilih melalui pemilihan umum. Dalam bidang pengawasan.

Anggota DPD dipilih secara langsung oleh rakya t dari setiap provinsi melalui pemilihan umum. Presiden hanya dapat diberhentikan dalam hal Presi den atau Wakil Presiden melakukan pelanggaran hukum yang berupa. a. menempatkan Pre siden di bawah MPR. Pertama. walaupun di hadapan MPR. Kenggotaan DPD UUD 1945 (setelah perubahan). Dalam proses ini tidak ada pembuktian yuridis oleh institusi pe radilan (yudikatif) untuk memberikan penilaian secara hukum atas kesalahan Presi den itu. Jika Presiden tidak datang memberikan perta nggungjawaban atau pertanggungjawabannya ditolak oleh MPR. Jadi sistem ini sebenarnya hampir sam a dengan sistem Parlementer yang menganut supremasi parlemen atas eksekutif. Penguatan Sistem Presidensil Penguatan sistem presidensil terlihat pada mekanisme pemilihan Presiden dan pros es pemberhentian Presiden. Jika pemilihan dan pengangkatan Presiden dan Wakil Pr esiden sebelum perubahan UUD dilakukan oleh MPR. hanya menentukan bahwa jumlah anggota DPD dari set iap provinsi adalah sama dan jumlah seluruh anggotanya tidak lebih dari sepertig a jumlah anggota DPR (pasal 22C ayat (2)). Penguatan Sistem Presidensil dan Reduksi Kewenangan Presiden Perubahan UUD ini juga. Mek anisme pemberhentian Presiden dalam sistem sebelumnya dilakukan dengan usulan Si dang Istimewa dari DPR. Penentuan jumlah anggot a DPD yang tidak lebih dari sepertiga jumlah anggota DPR. mereduksi beberapa kewenangan Presiden sebagaimana diatur dalam UUD 1945 sebelum perubahan. Presiden bisa diberhe ntikan oleh MPR. berjumlah 4 orang dari setiap provinsi. Konsekwensinya. yaitu melalui pengkajian dan penyelidikan yang dilak ukan oleh DPR yang menghasilkan pendapat berupa keputusan DPR yang mengusulkan p . maka setelah perubahan pemiliha n Presiden dan Wakil Presiden dilakukan secara langsung oleh rakyat melalui pemi lu. setalah DPR menyampaikan Memorandum Pertama dan Kedua ke pada Presiden.b. Kedua. pengkhianatan t erhadap negara. Dengan menetapkan jumlah wakil daerah yang sama dari setiap provinsi pada keangg otaan DPD. penyuapan. memperkuat posisi Presiden dalam struktur ketatanegaraan I ndonesia. Dalam sistem baru pasca perubahan UUD. MPR juga yang dapat mem berhentikan Presiden walaupun dengan alasan-alasan politis karena Presiden membu at kebijakan yang melanggar haluan Negara. Karena MPR yang mengangkat Presiden. Mekanisme Pemberhentian Presiden Dipersulit Berbeda dengan sistem presidensil yang dianut sebelum perubahan. Presiden tidak dapat diberhentikan hanya karena alasan-alasan politis. Tidak membedakan provinsi yang banyak atau sedi kit penduduknya maupun yang besar atau kecil wilayahnya.  Undang-undang Nomor 12 Tahun 2003. Dengan jumlah 32 provinsi pada saat in i maka jumlah anggota DPD seluruhnya hanya 128 orang sehingga tidak mencapai sep ertiga anggota DPD. telah mengatur dengan jelas bahwa anggota DPD . Karena dipilih langsung oleh rakyat. menunjukkan kesamaan status dari provinsi-provinsi itu sebagai bagian integral dari negara Indonesia. Demikian juga mekanisme pemberhentian Presiden harus menempuh mekani sme yang sulit dan panjang. Presiden mendapat legitimasi langsung d ari rakyat dan kedudukannya menjadi lebih kuat di hadapan lembaga negara yang la innya. menunjukkan dua hal yang berlawanan dalam mengatur lemba ga Presiden. tindak pidana berat lainnya serta perbuatan tercela dan tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan atau Wakil Presiden (pasal 7A). korupsi. adalah adanya jaminan bahwa Pres iden dan Wakil Presiden akan menduduki masa jabatannya dalam waktu tertentu (5 t ahun) dan tidak mudah diberhentikan hanya karena dianggap melakukan kebijakan po litik yang salah. Atas dasar usulan DPR itu MPR melaksanakan Sidang Istimewa untuk meminta pertanggungjawaban Presiden. mengandung makna bahwa DPD ini â ?walaupun kedudukan sama dengan DPR dalam struktur ketatanegaraanâ ? merupakan lembaga perwakilan yang bersifat komplementer yang mengakomodasi perwakilan daer ah-daerah dalam tingkat nasional. b.

maka usulan pemberhentian itu tidak dapat dilanjutk an.emberhentian Presiden dan atau Wakil Presiden kepada MPR. Hal ini nampak pada diberikannya kewenangan u ntuk melakukan hak uji (materil dan atau formil) atas undang-undang yang merupak an produk bersama DPR dengan Presiden. DPR harus terlebih dahulu meminta putusan kepada Mahkamah Konstitusi apakah secara yuridis pendapat DPR ini dibenarkan atau tidak. penghapusan kekuasan Presiden membentuk undang-undang (p asal 5). dapat mengajukan usulan promosi. c. Reduksi dan pembatasan kewe nangan ini nampak pada. membata si kewenangan Presiden dalam menggunakan haknya untuk memberikan Amnesti dan Abo lisi yang mengharuskan adanya pertimbangan DPR serta mengharuskan Presiden untuk meminta persetujuan DPR dalam menyatakan perang atau melakukan perjanjian inter nasional (pasal 11). kewenangan Presiden dikura ngi dan dibatasi oleh UUD agar tidak disalahgunakan. Komisi ini yang akan meni lai kinerja para hakim. Demikian pula dalam hal pembentukan dan pembubaran departem en pemerintah harus dengan persetujuan DPR (pasal 17 ayat (4)). Walaupun komisi in i merupakan bagian dari kekuasaan kehakiman. Memperkuat Kedudukan Kekuasaan Kehakiman (Yudikatif) Perubahan UUD ini mengintrodusir lembaga negara yang baru di bidang yudikatif ya itu Mahkamah Konstitusi yang kedudukannya berada di samping Mahkamah Agung. Atas pertimbangannya sendiri MPR dapat memberhentikan atau tidak memberhentikan Presiden berdasar jumlah dukungan suara anggota MPR. Undang-undang yang telah dikeluarkan oleh DPR dan Presiden dapat dinyatakan tidak berlaku baik sebahagian maupun keseluru hannya oleh lembaga yudikatif yaitu Mahkamah Konstitusi. Reduksi dan Pembatasan Kewenangan Presiden Untuk menjaga prinsip check and balances antar lembaga negara. Komisi Yudisial adalah sebuah komisi yang dibentuk dengan undang-undang yang memiliki kewenangan untuk mengaw asi dan menegakkan harkat dan kehormatan hakim serta melakukan rekruitmen awal c alon hakim agung yang akan diajukan kepada DPR untuk dipilih. Artinya segala tindakan dan produk lembaga-lembaga dan institusi negara harus dapat diuji apakah sesuai atau tidak sesuai dengan konsti tusi berdasarkan keputusan Mahkamah Konstitusi. akan tetapi merupakan sebuah lembag a pengawasan eksternal terhadap para hakim pengadilan. Logikanya. Keanggotan komisi ini akan dipilih oleh DPR dan diangkat oleh Pre siden. Pembatasan kekuasaan Presiden untuk mengangkat duta dan menerima duta n egara sahabat dengan mengharuskan adanya pertimbangan DPR (pasal 13). karena lebih dari duapertiga anggota MPR adalah anggota DPR. Prinsip Akuntabilitas pada Peradilan Dalam rangka menegakkan prinsip akuntabilitas lembaga peradilan. Sebelum proses pengaju an ke MPR. dalam perubahan UUD ini mengintrodusir lembaga negara yang baru yaitu Komisi Yudisial yang meru pakan bagian dari pelaksanaan kekuasaan kehakiman. a. . Prinsip Konstitusionalisme Kekuasaan kehakiman sebagai pilar negara hukum Indonesia mendapat jaminan yang l ebih kuat dalam perubahan UUD ini. demosi atau sanksi kepa da para hakim. Jika secara yuridi s usulan DPR tidak berdasar. b. membatasi kewenangan Presiden menggunakan haknya untuk memberikan Grasi dan Rehabilitasi y ang mengharuskan adanya pertimbangan Mahkamah Agung (pasal 14 ayat (1)). sehing ga tidak mungkin dapat dibatalkan kecuali dicabut sendiri oleh DPR bersama Presi den. serta membatasi k ewenangan Presiden yang telah diperkuat kedudukannya. Dengan perubahan ini mengantarkan negara ini kepada negara yang menganut pr insip konstitusinalisme. Sebaliknya kalau secara yuridis benar. tidak diserahkan kepada kekuasaan yudikatif. jika usulan pemberhentian tersebut telah mendapat dukungan kuat dari anggota DPR. Hak ini sebelum perubah an UUD. maka DPR melanjutkan usulan itu kepad a MPR untuk memutuskannya. yang akibatnya segala produ k undang-undang tidak mungkin dilakukan pengujian oleh lembaga peradilan. Pembentukan lembaga ini dirasakan pentingnya karena selama ini hakim tida k terjangkau oleh pengawasan yang bersifat eksternal. maka dapat dipastikan akan mendapat dukungan kuat dari MPR.

menggeser model kebijakan yang unitarisme dan sentralistis me njadi kebijakan desentralistis dan lebih menghormati pluralisme. Demikian juga dengan kebijakan-kebijaka n menyangkut daerah yang sangat sentralistis. UUD mengatur mengenai HAM ini dalam satu bab tersendiri yaitu bab XA. Pembatasan atas pelaksanaan HAM hanya dapat ditetapkan dengan undang-undang deng an maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan dan penghormatan atas hak dan keb ebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbang an moral. terutama pada masa Orde Baru tidak menunjukkan arti semboyan itu. adalah terhapusnya masyarakat hukum adat be rikut hak-hak adatnya di seluruh Indonesia serta penyeragaman sistem pemerintaha n sampai pada tingkat yang paling bawah. Akibatnya. melayani masyarakat ser ta menegakkan hukum.  Prinsip desentralisasi yang dianut dalam UUD ini. Mempertegas Arah Pembangunan Pendidikan dan Kebudayaan Nasional Perubahan ini juga menegaskan tugas dan tanggung jawab pemerintah dalam bidang p endidikan. Hal ini nampak pada kebijakan pemerintah yang selalu menunjukan kebijakan yang unitarian yaitu penyeragaman untuk seluruh wilayah Indonesia dan kebijakan yang sangat sentralistis. Ketentuan ini menegaskan bahwa usaha per tahanan dan keamanan negara dilaksanakan melalui sistem pertahanan keamanan raky at semesta oleh Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indone sia. nampak jelas pada pemberian as as otonomi dan asas tugas pembantuan kepada daerah untuk mengurus pemerintahanny a sendiri. Dalam rangka mencerdaskan kehidupan b angsa Pemerintah bertanggung jawab untuk mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang bertujuan untuk meningkatkan keimanan dan ketakw aan serta akhlak mulia. . ilmu pengetahuan dan kebudayaan nasional. sebagai kekuatan pendukung. Hal ini nampak pada perubahan pasal 18 UUD 1945. akan tetapi praktek selama ini. Jaminan peng aturan yang adil atas hubungan keuangan. melindungi dan memelihara keut uhan dan kedaulatan negara dan POLRI sebagai alat negara yang menjaga keamanan d an ketertiban masyarakat bertugas melindungi. Dalam perubahan ini dihormati dan diperhatikan adanya kekhususan dan keragaman dari berbagai daerah di Indonesia. daerah juga diberikan kewenangan untuk menetapka n peraturan-peraturan daerah dan peraturan-peraturan lain untuk melaksanakan asa s otonomi dan asas tugas pembantuan itu. Daerah tidak berdaya dan hanya men jalankan kebijakan-kebijakan yang terpusat. Pemerintah wajib membiayai pendidikan dasar bagi setiap warga negara. Rumusan mengenai HAM dalam UUD ini sangat lengkap yang mencakup seluruh aspek HAM yang diakui secara universal. mengayomi. Jaminan Hak Asasi Manusia dan Penegakan Hukum Untuk menjamin tegaknya Hak Asasi Manusia (HAM). pengakuan atas satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat kh usus dan istimewa (pasal 18B ayat (1)) serta pengakuan atas masyarakat hukum ada t beserta hak-hak adatnya yang masih hidup (pasal 18B ayat (2)). sebagai kekuatan utama. keamanan dan ketertiban umum dalam masyarakat demok ratis. dan rakyat. Perubahan UUD ini. dimana TNI sebagai alat negara yang bertugas mempertahankan. Mengakomodir Sistem Hankamrata Perubahan ini ini juga mencakup penyempurnaan dalam pengaturan mengenai pertahan an dan keamanan negara dengan mengokomodir sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta yang selama ini dianut dalam sistem pertahanan dan keamanan kita sebaga imana tertuang dalam pasal 39 ayat (2). sebagai sebuah pilar negara huk um. nilai-nilai agama. dengan 10 pasal serta 24 ayat. pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya antara pemerintah pusat dengan pemerintahan daerah (pasal 18A ayat (2)). Pada saat yang sama.Sentralisasi dan Unitarisme Menjadi Desentralisasi dan Pluralisme Walaupun semboyan Negara Republik Indonesia adalah â œBhinneka Tunggal Ikaâ ?.

diakomodir enam asas penting dalam pembangunan ekonomi yai tu: demokrasi ekonomi. pemerintah juga memiliki tanggung jawab untuk memajukan ilmu pen getahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban dan kesejahteraan umat manusia. g. yaitu : a. Prinsip check and balances dalam hubungan antar lembaga negara. prins ip berkelanjutan. prinsip kebersamaan. Peranan negara dalam memajukan pendidikan. Jaminan atas pluralisme. i. Dengan perubahan ini. perubahan kultur dari seluruh aparat negara serta perubahan berbagai peraturan perundang-undanga n yang tidak lagi sesuai dengan berbagai paradigma baru ini. Mengakomodir Demokrasi Ekonomi dan Pembangunan Berkelanjutan Perubahan ini juga menyempurnakan arah pembangunan dan sistem ekonomi nasional y ang semula hanya menekankan pada sistem perekonomian sebagai usaha bersama berda sar atas asas kekeluargaan. kemandirian serta dengan menjaga keseimbangan kem ajuan dan kesatuan ekonomi nasional (pasal 31 ayat (4)). e. serta menghormati dan memelihara bahasa daerah seba gai kekayaan budaya nasional.Untuk menjamin percepatan bagi kemajuan pendidikan dan pencerdasan kehidupan ban gsa. Sementara itu prinsip Ketuhanan yang Maha Esa sebagai dasar negara tetap diperta hankan di samping prinsip kemanusiaan. sep erti pembubaran Dewan Pertimbangan Agung (DPA). memajukan kebuda yaan nasional dengan menjamin kebebasan masyarakat untuk memelihara dan mengemba ngkan nilai-nilai budayanya. ilmu pengetahuan dan kebuadayaan na sional. berkela njutan. Penguatan sistem pemerintahan demokratis. c.    Di samping itu. Mengukuhkan prinsip kedaulatan rakyat. b. Pendekatan fungsional dan efisiensi dalam penataan lembaga-lembaga negara. berwawasan lingkungan. keadilan sosial serta pe rmusyawaratan yang tertuang dalam pembukaan tetap dipertahankan. Asas demokrasi ekonomi dan pembangunan berkelanjutan. serta j. Perubahan paradigma UUD ini harus membawa perubahan pola pikir. -====================================== Home Profil Kegiatan ANGGOTA DPD AKADEMISI AKTIFIS GALERI Berita . prinsip berwawasan lingkungan. Penguatan prinsip negara hukum dan penghormatan atas Hak Asasi Manusia. efisiensi berkeadilan. maka UUD menetapkan anggaran minimal yang harus disediakan untuk anggaran p endidikan yaitu 20% dari anggaran pendapatan dan belanja negara dan anggaran pen dapatan dan belanja daerah. prinsip kemandirian serta prins ip menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional. Kesimpulan Banyak sekali paradigma politik baru setelah perubahan UUD ini. Paling tidak ada sepuluh paradigma yang dapat dikemukakan dari perubahan UUD ini. f. negara kesatuan. menjadi sistem ekonomi yang diselenggarakan berdasar kan demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan. Desentralisasi pemerintahan. Menganut prinsip negara konstitusionalisme. d. h. prinsip efisiensi berkeadilan.

Pada era itu . 2012 Add Comments AKADEMISI KEAMANAN “NASIONAL” DALAM KEAMANAN Oleh : Irjen Pol. selain positif. P ermasalahan yang krusial dalam pembahasan konsep RUU terutama menyangkut dua isu pokok. Pemahaman tentang konsep keamanan. Hal serupa juga terjadi dalam forum-forum lain. juga tidak jarang merugikan pemba ngunan bangsa dalam negara hukun yang demokratis. memaparkan pemikirannya tentang RUU Kamnas dan saya memaparkan pemikiran Pokja Polri tentang “Kajian Konstitusional …”. pertama. Kerancuan timbul ketika menjadi terbiasa menyandingkan terma “keamanan” dengan “pertah anan”. tetapi bahkan kriminalitas dan penegakan hukum sehingga men inggalkan berbagai pengalaman. Isu-isu terkait. bahkan Keppres (no. Lagi pula. Mayjen TNI Dady …) yang difasilitas oleh Propatria (LSM Security Refo rm).. Dr. perbantuan TNI. Prof. intelijen dan rahasia negara. Tanggal …. Dalam forum tersebut. sep erti …. yaitu “keamanan yang nasio nal”. Pemisahan ABRI menjadi TNI dan Polri akhirnya menjadi keniscayaan sejarah (Inpre s no. Ini berarti bahwa kita akan berbicara tentang apa yang dimaksud dengan konse p keamanan. Sebagaimana kita maklumi bersama. saya tidak pernah membayangkan akan terjadi perbedaan konsepsi seperti de wasa ini. 1. setelah bertahun-tahun didiskusikan pada berbagai forum. seperti. Dirjen Strahan. apa yang terjadi pada tanggal … di PTIK. Di antara yang menggelitik saya adalah pernyataan Menhan bahwa “” Pernyataan tersebu t perlu diluruskan karena. dan forum rapat koordinasi pada kantor Menko Polhukam tanggal …. terutama sejak dan sebagai konsekuensi pemisahan TNI – P olri.Kontak Farouk Muhammad Membangun Arah Di Atas Amanah KEAMANAN “NASIONAL” DALAM KEAMANAN admin 21 March. Farouk Muhammad Akhir-akhir diskursus tentang masalah keamanan “nasional” menjadi hangat dibahas pad a berbagai media masa. Dari flo or lahir berbagai tanggapan. karena merasa bahwa hampir semua produk kebijakan telah diterbitkan. bukan kegiatan sosialisasi RUU Kamnas melainkan diskusi “Mencari Format ….: 02/1999) yang dikukuhkan dengan Tap MPR nomor VI/2000. selama sekitar 20 tahun (sejak UU nomor 20 tahun 1982 tentang Pertahanan Ke amanan Negara) kita menggunakan terma “pertahanan keamanan” sebagai satu pengertian tunggal. Untuk keperluan tersebut saya memilih topik “Keam anan Nasional Dalam Keamanan” dengan maksud untuk memberi penekanan bahwa “Kamnas” mer upakan bagian dari suatu konsep “keamanan” yang lebih luas.” yang dilaksana kan atas kesepakatan Kelompok Kerja (Pokja) Polri tentang masalah keamanan negar a di bawah pimpinan saya (Gubernur PTIK pada saat itu) dengan Pokja Dephan (Dirj en Strategi.. “keamanan dan ketertiban masyarakat” yang menjadi porsi Polri. yaitu ruang lingkup Kamnas dan Dewan Keamanan Nasional (DKN). Artikel in i membahas masalah yang pertama. UU nomor 20 bahkan menetapkan bahwa upaya pertahanan ditujukan terhadap ancaman yang bersumber dari luar negeri dan upaya keamanan terhadap ancaman dar i dalam negeri. Sebagai Sekretaris Tim Inti Pemisahan Polri dari ABRI pada saat itu (19992000). pertahanan dan keamanan negara. Dari situ berkembang konsep “keamanan dalam negeri” yang menjadi por si ABRi. apa yang dimaksud dengan nasional dan apa ruang lingkup keamanan nas ional.: 60/1982) mengatur tugas ABRI juga dal am penegakan hukum. dengan mengatakan “sosialisasi” (suatu konsep rancangan undang-undan g) berarti bahwa komponen-komponen lain (penerima sosialisasi) hanya merupakan o byek yang “harus” menerima apapun yang disusun oleh Dephan. timbul tenggelam di antara berita-berita media masa. menyimpang dari UU. kebijakan tersebut membuat peran ABRI yang begitu dominan bukan saja dalam penanganan masalah keamanan yan g bersifat nasional. peradila n umum bagi militer. Pemahaman secara l .

yaitu (1) economic security. Garrity. Kita tidak perlu alergi untuk mengatakan bahwa militer (TNI) juga me mpunyai peran dalam bidang keamanan. Pengertian-pengertian tersebut menekankan pada pemahaman yang khusus dalam arti obyeknya. penyakit dan penindasan. Kedua. Karena itu. maupun psikis. (2) food security. (4) environmental security. Fokus dari human security ini adalah manusia.agar tetap eks is. dan (7) political security. Kedua melahirkan pertanyaan untuk tu juan apakah upaya pertahanan dilakukan? Bukankah untuk menjamin keamanan negara? Lihat. 2002) sampai pengertian-pengertian khusus yang diberikan ole h pengamat (Edy Prasetyono. sehingga Ka mnas tidak mencakup seluruh aspek keamanan dalam suatu negara tetapi difokuskan pada ancaman terhadap negara dan tujuan vital nasional. misalnya misi militer Australia atau Inggris. atau hanya terbatas pada keamanan “national”. mulai dari keamanan negara sampai keamanan pu blik dan privat atau keamanan manusia. Istilah keamanan kemudian diadopsi dalam dunia kepolisian yang secara umum. dan lain-lain. Apakah Kamnas mencakup seg enap masalah keamanan secara luas. mulai dari pengertian umum dalam kamus (Peter Salim. istilah keamanan mempunyai pengertian yang beraneka ragam sehingga tidak mungkin berdiri sendiri. Upaya pertahanan itu sendiri justru ditujuk an menjamin keamanan. AS. Ditinjau dari tatara nnya.: VII yang kesemuanya d itetapkan oleh lembaga yang sama pada masa sidang yang sama. tetapi harus dikaitkan dengan sesu atu sehingga sangat tergantung pada kata yang mengikutinya. Keamanan atau security memiliki pengertian universal yang luas. terlindunginya keselamatan jiwa dan terjamin nya harta benda dari segala macam ancaman gangguan dan bahaya” (2004). di tempat kerja ataup un dalam masyarakat. Saya berpendapat bahwa pemahaman tersebut keliru. ruang lingkup konsep keamanan nasional (national security) seperti dikutip o leh Komisi Konstitusi(2004) dari Christopher Schoemaker hanya mencakup “the protec tion from external invasion. (3) P ublic security (and Order). Berdasarkan uraian di atas. semua lapisan masyarakat). an attitude primarily driven by the war”. yaitu keamanan negara sebagai suatu entitas. The Human Development Report tersebut di atas mengidentifik asi 7(tujuh) elemen yang merupakan human security. bukan negara.eterliyk atas Tap MPR inilah akhirnya yang acapkali dirujuki seolah-olah urusan keamanan semata-mata menjadi tanggung jawab Polri dan TNI dipandang tidak berwen ang. 2005. the term security has meant the effort to protect a popul ation and territory against organized force while advancing state interest throu gh competitive behavior”. dan (4) Human security. walaupun pada aw alnya. utuh. 2004). At its m ost fundamental level. pada pasca Perang Dunia II. berarti perlindungan dari gangguan me ndadak yang merugikan pola kehidupan sehari-hari di rumah. BKKBN. berdaulat dan selamat bersama segenap bangsanya. Contoh: Bappen as. Bahkan seme njak tahun 1994 dengan keluarnya The Human Development Report dari UNDP. Sementara itu. dikenal pula istilah “human security” yang berarti : pertama. (3) health security. hanya menyangkut pengertian yang “c losely tied to a state’s defense of sovereign interest by military means. Memahami konsep Keamanan Nasional Penggunaan terma “nasional” dalam konsep “keamanan nasional” mengundang perdebatan yang serius karena akan mencerminkan ruang lingkup konsep. mengandung pengertian “keadaan atau kondisi bebas dari gangguan fisik. Pertama. (5) personal security. seperti dikemukakan Patrick J. Dalam percakapan sehari-hari terma nasional memberi kesan yang berarti menyelur uh (pusat sampai daerah. Pemahaman y ang senada juga ditekankan berbagai literatur. bahwa tanggung jawa b Polri hanya berkenaan dengan masalah Kamtibmas—yang menurut hemat saya lebih tep at disebut keamanan umum (public security). (6) community security. jiks dikaitkan d engan amandemen (kedua) UUD 1945 Pasal 30 dan Tap MPR no. paling tidak kita bisa mengelompokkan konsep keamanan itu dalam 4(empat) k ategori yaitu : (1) International security. 2. semua daerah. Sejalan dengan perkembangan pemahaman tentang security. Kusnanto Anggoro. keamanan dari ancaman kronis kelaparan. (2) National (State) security. sepe rti diartikan Awaloedin Djamin. seperti dikutip Komisi Konstitusi (2004) dari Christopher Schoemaker menekan kan bahwa “national security” mengandung pengertian: “the protection of the United Sta . “National” dalam Bahasa Inggris berarti nas ional dalam pengertian negara atau bangsa.

rekan-rekan Pokja Depha n menghendaki konsep Kamnas dalam arti menyeluruh sedangkan kami dari Pokja Polr i menekankan “Kamnas” dalam arti (Pertahanan dan) Keamanan negara. artinya. Berdasarkan gambaran pengertian yang diuraikan di atas dapat dikemukakan bahwa k onsep keamanan nasional tidak lalu berarti keamanan secara nasional. saya telah menguraikan tentang persoalan pengertian keamanan nasional. dari ruang lingkupn ya kita bisa memperoleh gambaran apakah RUU Kamnas akan merupakan suatu konsep j itu yang bermanfaat bagi pengelolaan keamanan negara atau sebaliknya akan membua t sistem yang telah berjalan selama ini justru menjadi simpang siur. untuk maksud apa k ita menyusun RUU Kamnas. o r economic well-being”. Keamanan Negara.” Dengan demikian. Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) denga n mengutip Laksda TNI (Purn) Ir. misalnya keamanan (Kamtibmas) dan keamanan manusia (human security) . 3. kevakuman dan overlap di antar a piranti-piranti lunak yang mengatur hubungan ke dua instansi dan menekankan “ … ka lau overlap dan kevakuman itu karena absennya pengaturan di dalam piranti lunak. Bahkan bagi AS “national security” adalah keamanan ka wasan dunia yang mengancam negara AS. tidak memberikan persoalan di lapanga n. RUANG LINGKUP RUU KEAMANAN “NASIONAL” Isu keamanan “nasional” yang akhir-akhir ramai dibahas oleh berbagai media massa men gundang berbagai persoalan yang perlu disepakati. d alam rapat koordinasi di Kantor Menko Polhukam (… ) menekankan bahwa ketentuan pen yusunan RUU Kamnas seyogyanya dikaitkan dengan kebutuhan untuk mengatasi permasa lahan [lintas sektoral—penulis]. yaitu keamanan negara da n keamanan kehidupan dalam suatu negara. ketika menyaksikan penanda-tanganan MoU antara Panglima TNI dan Kapolri di atas kapal Nusanive tang gal 18 Juni 2006 melihat adanya perbedaan tafsir. maka permasalahannya adalah : apakah konsep keamanan negara mencakup keseluruhan masalah keamanan kehidupan d alam negara. Keamanan Umum dan Keamanan Manusia Sehubungan dengan beranekanya pengertian keamanan. bukan “st ate” yang berarti negara bagian. Budiman Djoko Said mengemukakan bahwa “pengertian keamanan nasional cenderung berorientasi kepada masalah pertahanan dan masalah hubungan luar negeri. yang bisa menc akup pengertian yang luas atau terbatas. Di satu pihak. sementara untuk keamanan dalam negeri mere ka mengembangkan “home land security”. dan (4) keamanan individu. Terlepas dari perdebatan tentang pengertian Kamnas. Jenderal Endriartono. maka kita harus isi sehingga lebih pasti. (2) keama nan negara. Artinya. AS menggunakan istilah “national” untuk pengertian negara federasi (USA). Presiden SBY. berarti negara (state ). RUU Kamnas Uraian yang disajikan di atas memberi gambaran tentang perdebatan kami dengan te man-teman Pokja Dephan bersama Propatria. mungkin pertimbangan yang re alistik bisa digunakan adalah dari kacamata praktik. political. konsisten dengan terma yang digunakan dalam Pasal 30 UUD 1945. maka yang lebih menarik untuk k ita pahami adalah tentang ruang lingkup RUU Kamnas. pertanyaan yang perlu kita jawab adalah: apakah penyusunan RUU Kamnas dimaksudkan hanya untuk sekadar mengembangkan suatu gagasan yang dijustif ikasi secara legal atau untuk mengatasi permasalahan yang timbul dalam pengelola an keamanan khususnya keamanan negara. Mari kita pedomani itu sebagai rujukan berpikir kita. Lebih dari itu. Seperti juga dikonfirmasi oleh Tim National Security Counc il Amerika Serikat yang dihadirkan oleh Dephan pada acara …. Keamanan na sional lebih mengandung pengertian keamanan suatu negara sebagai satu kesatuan ( entitas). Sejalan dengan uraian-uraian tersebut. bukan totalitas keseluruhan masalah keamanan. Pada artikel sebelumnya. (3) keamanan umum. Pokja Dephan menggagaskan Kamnas yang mencakup: (!) pertahanan negara. Tetapi jika kita tidak mencapai kata sepa kat tentang pengertian dan tujuan penyusunannya. Tidak kurang dari Panglima TNI.tes from major threats [penebalan oleh penulis] to our territorial.

Dibandingkan de ngan aktor keamanan umum yang notabene adalah penegak hukum. (5) hak-hak ekonomi. (2) hak-hak legal. Konstitusi RIS mengatur p ertahanan kebangsaan dan keamanan umum sebagaimana tercantum dalam Bagian VI. perlindungan terhadap diskriminasi yang berbasis ras. mencakup : hak hidup. Pengaturan untuk menjamin keamanan bidang lain selain keamanan negara dituangkan dalam masing-masing peraturan perundang-undangan yang terkait.. mencakup: aks es mendapatkan perlindungan hukum serta hak untuk mendapatkan proses hukum yang sah. Ancaman terhadap keamanan manusia hampir sebagian besa r justru bersumber dari aktor keamanan negara dan keamanan umum. sedangkan kelompok yang kedua disebut masyarakat (society /co mmunity) yang terikat dalam persetembatan sosial. terdiri atas: akses ke bahan pangan. Dari kutipan rumusan Bab XII pada setiap UUD tersebut di atas. meliputi: kebebasan berpikir berpendapat dan menjalank an ibadah agama / kepercayaan. tetapi tidak berarti bahwa yang dimaksu d dengan keamanan negara adalah totalitas dari segenap permasalahan keamanan yan g ada dalam suatu negara. kedudukan sama di mata hukum. meliputi: hak untuk bekerja. sed angkan keamanan umum menyangkut kepentingan eksistensi / kelangsungan hidup dan ketentraman individu / kelompok orang yang (pada umumnya) hidup dalam negara. UUD 1945 (Dekrit) kembali memberlakukan UUD 1945 (asli) . tetapi mengandung konse kuensi yang lebih mendalam karena pada gilirannya akan membuka peluang intervens i atas nama keamanan negara atas persoalan-persoalan kehidupan sehari-hari warga masyarakat dan individu. misalnya UU tentang Polri. hak rekreasi serta hak jami nan sosial. aktor keamanan nega ra mempunyai peluang yang lebih besar mengancam perlindungan atas hak-hak terseb ut. dan lain-lain. Keamanan negara adalah hanyalah salah satu bidang keamanan yaitu yang mencakup upaya untuk menjamin keamanan negara sebagai suatu entitas. seperti keamanan dan ketertiban umum sampai keamanan manusia (human securit y) yang menjadi hak setiap warga negara. UU DS 1950 mengatur pertahanan negara dan keamanan umum sebagaimana terdapat pada b agian VI. UUD 1945 (sebelu m diamandemen) tidak mengatur Keamanan Negara maupun Keamanan Umum. Negara wajib menjamin kebutuhan keamanan dalam segenap aspek kehidupan dalam neg ara. Selanjutnya keamanan negara dan keamanan umum juga memiliki domain yang berbeda dengan keamanan manusia yang bersifat individual / private. Rumusan yang digunakan adalah tentang pertahanan negara (Bab XII). jenis kelamin atau agama. UU tentang HAM. dan (6) hak-hak politik. Karena itu ancaman/gangguan te rhadap keamnan negara belum tentu merupakan ancaman/gangguan terhadap keamanan m anusia / kelompok / masyarakat. Keamanan manusia pad a dasarnya menyangkut perlindungan atas: (1) hak-hak dasar individu. Telah menjadi catatan sejarah bahwa kepentingan keamanan negara membuka pelu ang intervensi (baca: represi) atas persoalan kehidupan sehari-hari warga masyar akat dan individu. Keaman an negara menyangkut kepentingan eksistensi. yang mencakup: hak dipilih dan memilih dala m jabatan-jabatan politik serta hak untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan n egara. Ke lompok orang dalam domain pertama disebut rakyat (people) yang terikat dalam per timbangan politik. (4) hak-hak kebutuhan dasar. Keamanan Umum dalam UUD Untuk lebih memperjelas perbedaan konsep keamanan negara dan keamanan umum sebai knya kita menengok kembali rumusan ketentuan tentang Pertahanan dan Keamanan Neg ara dalam setiap UUD yang pernah berlaku bagi negara Indonesia. keutuhan dan kedaulatan negara. Sementara itu. Di sini perm asalahannya tidak hanya sekadar persoalan ruang lingkup. keamanan negara berada dalam domain yang berbeda dengan keamanan umum. (3) kebebasan sipil. Walau saling terkai t. Perbedaan prinsip keamanan manusia dengan keamanan negara dan keamanan umum terl etak pada sumber ancaman. etnik. jaminan dasar kesehatan dan terpenuhinya kebutuhan hidup minimu m. Konstitusi RIS da .

dari berbag ai pengalaman penanganan ancaman terhadap keamanan negara ancaman yang bersumber dari dalam negeri (internal) dapat dikategorikan sebagai berikut (1) pemberonta kan bersenjata. gangguan “keseha tan” suatu negara tidak selalu karena serangan “wabah” dari luar tubuhnya. Seperti halnya suatu organism. dan lain-lain. karena permasalahannya lebih pada upaya peneg akan dan kepastian hukum. sindikat penyelundupan yang masih disebut denga n crime. Dalam kontek ini SBY menegaskan: “Kalau ada kejahatan be rskala besar. seperti narkotika. yang merupakan domain human security. Isu keamanan negara jelas menyangkut ancaman yang bersumber dari luar negeri (ek sternal). (4) terorisme (internasional) dan (5) kejaha tan terhadap keamanan negara sebagaimana tercakup dalam Bab Kesatu buku II Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). dan Jaap de Wilde menekankan: “Ketiga pakar strategi ini memp eringatkan para pembuat kebijakan untuk tidak terburu-buru mengeskalasi suatu is u menjadi isu keamanan. Ole Waever. pencurian ikan (illegal fishing) penambangan liar (illeg al minning). Suatu isu hanya dapat dikategorikan sebagai isu keamanan jika isu tersebut menghadirkan ancaman nyata (existential threats) terhadap ked aulatan dan keutuhan teritorial negara. apalagi perkelahian suami istri. seyogyanya kita berhati-hati mengkategorikan jenis-jenis kejahatan tertentu sebagai ancaman terhadap keamanan negara. Sejalan dengan itu. tetapi juga bahkan karena serangan “virus” yang ada dalam dirinya. Pendekatan yang lebih rasional untuk membedakan kedua bentuk keamanan tersebut b ukan dilihat dari jenis kejahatan tetapi eskalasi gangguan. Berkenaan dengan hal yang dikemukakan di atas. narkoba. yaitu invasi militer. Sementara itu. kita akan melihat interkoneksi antara keamanan negara dan keam anan umum. Namun perlu segera digaris-bawahi “virus” tersebut juga diciptakan oleh negara itu sendir i yang terlalu jauh mencampuri urusan-urusan sosial dan individu. (3) konflik komunal yang anark is dan menimbulkan kerusuhan massa. penyelundupan. dus termasuk domain keamanan umum. seperti perkelahian antar pemuda. Tetapi keamanan negara juga tidak hanya berbicara tentang ancama n invasi militer dari luar negeri. Andi Widjajanto yang merujuk Barr y Buzan.n UUDS 1950 secara tegas membedakan mereka. Pengalaman kehancuran sejuml ah negara seperti Uni Soviet dan Yugoslavia membenarkan postulat tersebut. patut dipertanyakan kalau bentuk-bentuk kejahatan seperti pembajakan. SBY mengingatkan: “… agar kita berhati-hati dalam pengambilan keputusan berkenaan dengan wilayah yang kritikal . seperti yang kita alam i di masa lalu. agresi militer dan pelanggaran wilayah berbatasa n negara yang harus dihadapi dengan upaya pertahanan. maka fighting crime itu tugas polisi”. Juga tidak perlu mencakup pernyataan pendapat seseorang yang berbeda dengan P4 atau bahkan mengkritisi ke bijakan pemerintah. Selain itu. yaitu the use of military force”. Isu keamanan juga hanya akan ditangani o leh aktor militer jika ancaman yang muncul disertai dengan aksi kekerasan bersen jata dan telah ada kepastian bahwa negara telah mengeksplorasi semua kemungkinan penerapan strategi non-kekerasan”. Domain Keamanan Negara Berbicara tentang keamanan negara tentu tidak perlu berbicara tentang perkelahia n dua orang penduduk. Berbagai konflik ko munal yang melanda bangsa kita tidak jarang dipicu justru oleh kejahatan-kejahat an konvensional. Pemberontakan atau gerakan separatis bersenjata bahkan konflik komunal yang menimbulkan kerusu han yang anarkis dapat mengancam keamanan negara. . penebangan liar (illegal logging). keluar masuknya orang secara tidak resmi (illegal immigration). walau merupakan kejahatan lintas negara dikategorikan sebagai bentuk ancaman terhadap keamanan negara. sebagaimana terlihat dari judul bab: “Pertahanan Kebangsaan dan Keamanan Umum” (RIS) dan “Pertahanan Negara dan Keamanan U mum” (UUDS). (2) gerakan separatis bersenjata. Lebih dari bentuk-bentuk ancaman yang disebut di atas. sepert i yang juga direkornendasikan oleh Seminar Pembangunan Hukum Nasional VIQ di Den pasar tahun 2003. Dari sinilah.

VI Tahun 2000 tidak memisahkan fungsi pertahanan (TNI) dengan fungsi keamanan negara apalagi keamanan secara menyeluruh. Semestinya untuk memah ami TAP MPR No. 4. Dalam hal ini setiap undang-undang harus mengacu pada UUD 1945. melainkan keamanan da lam arti keamanan umum (Polri). keamanan negara merupakan porsi TNI dan Polri. Suatu isu hanya dapat dikategorikan sebagai isu keamanan jika isu tersebut menghadirkan a ncaman nyata (existential threats) terhadap kedaulatan dan keutuhan teritorial n egara. keamanaan negara menyangkut kepentingan politik kare na yang harus dilindungi adalah persetambatan politik yaitu negara. keamanan umum pors i Polri dan keamanan manusia porsi Komnas HAM. Dari s egi kepentingan/pendekatan. Ole Waever. VII Tahun 2000 yang dite tapkan secara bersamaan melalui Sidang Umum MPR Tahun 2000. TAP MPR No. Dengan demikian Konstitusi RIS dan UUDS 1950 secara tegas membedaka n pertahanan/kemanan negara dan keamanan umum. A. Pertimbangan lain yang membuat kita untuk harus berhati-hati dalam menyusun ruan g lingkup konsep Keamanan Nasional adalah seperti dikemukakan oleh Andi Widjajan to.4. far from being the provider of security a s in the conventional view. TAP MPR No. dalam konteks pemisahan TNI dan P olri. Andi Widjajanto (2003) dengan merujuk Barry Buzan.VI Tahun 2000 bertentangan de ngan TAP MPR No. Disadari bahwa dalam pengelolaan keamanan negara akan saling terkait dengan peng elolaan keamanan umum dan bahkan pengelolaan keamanan manusia.VII Tahun 2000 dan Pasal 30 UUD 1945. dan Jaap de W ilde menekankan : ”ketiga pakar strategi ini memperingatkan para pembuat kebijakan untuk tidak terburu-buru mengeskalasi suatu isu menjadi isu keamanan. Untuk lebih memperjelas perbedaan konsep keamanan negara dan keamanan umum sebai knya kita menengok kembali rumusan ketentuan tentang Pertahanan dan Keamanan Neg ara dalam setiap UUD yang pernah berlaku bagi negara Indonesia. Keamanan Negara VS Keamanan Umum Terdapat pendapat yang menyatakan bahwa TAP MPR No. Hanya saja disayangka n. yaitu the u se of military force” (Susilo B. maka akan diketemukan dua fungsi yang berbed a yaitu pertahanan urusan TNI dan keamanan urusan Polisi. 2004). Banyu Perwita (2006) mengu tip Amitav Acharya : “the state it self. sedangkan ke amanan umum menyangkut kepentingan persetambatan sosial yaitu masyarakat baik da lam satu negara maupun antar negara. SBY mengingatkan : “… agar kita berhati-hati dalam pengambilan keputusan berkenaan dengan wilayah yang kritikal. Yudhoyono. UUDS 1950 mengatur “Pertahanan Negara dan Keamanan Umum” sebagaimana terdapat pad a bagian VI. Untuk menyikapi kerancuan tersebut maka seyogyanya kita membangun kesepahaman de .A. UUD 1945 khususnya Bab XII Pasal 30 sama sekali tidak berbicara tenta ng “keamanan nasional” melainkan “Pertahanan dan Keamanan Negara”. Artinya. Sementara keamanan manusia menyangkut kepen tingan perlindungan hak-hak manusia (humaniora). sebagaimana telah dikaji oleh Komisi Konstitusi. Sudah barang tentu kesemuanya h arus diletakkan dalam konsep hukum. VI Tahun 2000. has in many ways been a primary source of insecurity…”. rumusan Pasal 30 (hasil aman demen) mengandung kerancuan karena (berbeda dengan rumusan aslinya yang hanya me ngatur masalah pertahanan negara) mencakup seolah-olah segenap masalah pertahana n dan keamanan bahkan penegakan hukum. Saran Sebagai aparatur pemerintah kita dituntut untuk secara konsekuen dan konsisten m enjunjung supremasi hukum. Dari segi aktor (utama). keamanan umum dan perlindungan Hak Asasi Manusia. Konstitusi RIS m engatur “Pertahanan Kebangsaan dan Keamanan Umum” sebagaimana terdapat pada bagian V I. Namun penyelengga raannya menyangkut kepentingan/pendekatan dan aktor (utama) yang berbeda. Sejalan dengan kutipan Andi Widjajanto. VI Tahun 2000 harus melihat TAP MPR No. Isu keamanan juga hanya akan ditangani oleh aktor militer jika ancaman ya ng muncul disertai dengan aksi kekerasan bersenjata dan telah ada kepastian bahw a negara telah mengeksplorasi semua kemungkinan penerapan strategi non kekerasan”. Jika kita merujuk semata-m ata pada TAP MPR No. VII Tahun 2000 dan pasal 30 ayat (4) UUD 1945 secara lebih spesifik merumuskan tugas/peran Polri dalam bidang “Keamanan dan Ketertiban Masyarakat” dalam rangka menjamin “Keamanan Dalam Negeri”. dan bagi pelanggar akan dihukum untuk menjam in keamanan Negara.

Makalah Pengantar Peluncuran Buku Mencari Forma t SisHanKamNeg “Problematika Keamanan Nasional: Sebuah Catatan Kecil”. Kusnanto. ProP atria. A New Structure for National Security Policy Planning (mengutip Geoffrey D. itu sebetulnya paduan dari TNI dan Kepolisi an. Stanley. Djamin. Kedua konsep keamanan tersebut mem iliki domain yang berbeda : keamanan umum menyangkut kepentingan masyarakat (pub lik) sedangkan keamanan negara menyangkut kepentingan negara sebagai suatu entit as (kesatuan yang utuh dari segenap komponen negara: pemerintah. 2006. Stephen Cambone) Komisi Konstitusi. Itu kalau kita bicara tentang domain dan wilayah tanggung jawab. B agaimana tanah air kita ini tetap aman dari agresi lawan. Ruang lingkup Keama nan Negara juga semestinya ditujukan untuk menghadapi segenap ancaman terhadap k eamanan negara. Dabelko. VI tahun 2000 yang secar a yuridis formal melandasi proses reformasi (pemisahan) TNI/Polri. Keamanan dengan K besar diterjemahkan dengan pertahanan eksternal. “Buku I : Usul Komisi Konstitusi tentang perubahan UUD Ne gara RI tahun 1945. DAFTAR PUSTAKA Anggoro. Makalah lepas “Kerancuan Istilah Pertahanan (Defence) dan Keamanan (Security) dalam kaitan tugas TNI dan Polri” Garrity. terorisme internasi onal dan gangguan yang serupa (upaya pemeliharaan keamanan dalan negeri). pemikiran SBY dalam bukunya “Menuju Perubahan Menegakkan C ivil Society” patut kita jadikan sebagai rujukan : “sebetulnya kalau kita mendefinis ikan keamanan dalam arti yang seluas-luasnya. mak a tugas keamanan sepenuhnya diemban oleh tentara (TNI)…. Kalau keamanan dalam negeri ini kita le takkan dalam konteks keamanan masyarakat dan terbebasnya rakyat dari kejahatan-k ejahatan. Dabelko. spionase. . Mengakhiri makalah ini. Manajemennya dapat dianalogkan dengan yang ada di Indonesia. ProPatria. Berdasarkan pemikiran tersebut di atas.ada yang disebut dengan i nternal security atau keamanan internal. rakyat dan wila yah). Dalam konteks ini. 2004.. Jakarta. Jakarta.ed. Anak Agung. dengan catatan lebi h banyak memfokuskan diri kepada masalah pertahanan yang dalam hal ini dimulai d ari konflik intensitas rendah/low intensity conflict dalam skala tinggi (sabotas e. Pertahanan Dan Keamanan Negara Pada Milenium Ke Tiga. Banyu Perwita. Tentu saja pemahaman tersebut harus ti dak secara kaku diartikan sebagai pemisahan urusan pertahanan dengan urusan sege nap masalah keamanan tetapi hanya menyangkut urusan pertahanan dengan urusan kea manan dalam pengertian keamanan umum. Demokrasi. sekaligus f ungsi dan tugas yang perlu diberikan kepada TNI dan Polri”. itu memang kepolisian diharapkan berdiri di depan.. Awaloedin. 2004. kerusuhan massal yang bersifat anarkis.ngan menengok ketentuan yang tertuang dalam Tap MPR No. Tetapi kalau keaman an negeri itu adalah menyangkut ancaman bersenjata di dalam negeri seperti pembe rontakan dan separatisme bersenjata. baik yang bersumber dari luar negeri dalam bentuk invasi militer (upaya pertahanan) maupun ancaman yang bersumber dari dalam negeri seperti pemb rontakan bersenjata. d alam Keamanan. Patrick J. 2004. dan merusak/destructive action) sampai dengan konflik int ensitas tinggi/high intensity conflict (separatisme sampai dengan invasi) tidak termasuk keamanan dan ketertiban masyarakat/kamtibmas dan ketertiban umum/tibum serta hubungan luar negeri”. itu memang menyangkut segi kehidup an apa saja dan melibatkan banyak pemeran dan pelaku untuk menegakkan keamanan i tu sendiri. dan Pemilu 2004. yang memisahk an fungsi pertahanan dan fungsi keamanan. subversi. maka seyogyanya RUU yang akan kita susun tidak disebut RUU Keamanan Nasional tetapi RUU Pertahanan dan Keamanan Negara a tau paling-paling kita bisa menyebutnya RUU Keamanan Negara. dan David D. 1998. Berbicara tentang keamanan umum (public se curity) tentu berbeda dengan keamanan negara.

. 2004. Counseling the Council. Peter & Yenny Salim. Kajian Konstitusional tentang Peranan Polri dalam Pen gelolaan Keamanan Negara. Edy. Yudhoyono. Pengg unaan Instrumen Keamanan. M odern English Press. CSIS Jakarta. Susilo Bambang. 2005. Schoemaker. Salim. Prasetyono. The NSC Staff. 2002. Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer.. Menuju Perubahan : Menegakkan Civil Society. Makalah lepas “Keamanan Nasional.Markas Besar Polri. 1991. Tataran Kewenangan. Christopher. Jakarta. 2005. dan Keamanan Manusia”. Ja karta. Relawan Bangsa.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful