P. 1
Pengertian Kurikulum Menurut Para Ahli

Pengertian Kurikulum Menurut Para Ahli

|Views: 400|Likes:
Published by Muhammad Jonni

More info:

Published by: Muhammad Jonni on Nov 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/28/2014

pdf

text

original

Pengertian Kurikulum Menurut Para Ahli

Pengertian Kurikulum Menurut Para Ahli Hilda Taba: Kurikulum adalah sebuah rancangan pembelajaran, yang disusun dengan

mempertimbangkan berbagai hal mengenai proses pembelajaran serta perkembangan individu Daniel Tanner & Laurel Tanner : Pengalaman pembelajaran yang terencana dan terarah, yang disusun melalui proses rekonstruksi pengetahuan dan pengalaman yang sistematis di bawah pengawasan lembaga pendidikan agar pembelajar dapat terus memiliki minat untuk belajar sebagai bagian dari kompetensi sosial pribadinya. Romine : Kurikulum mencakup semua temu permbelajaran, aktivitas dan pengalaman yang diikuti oleh anak didik dengan arahan dari sekolah baik di dalam maupun di luar kelas. Murray Print. : Kurikum didefinisikan sebagai semua ruang pembelajaran terencana yang diberikan kepada siswa oleh lembaga pendidikan dan pengalaman yang dinikmati oleh siswa saat kurikulum itu terapkan. Kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh dan dipelajari oleh siswa untuk memperoleh sejumlah pengetahuan.

Kurikulum adalah suatu program pendidikan yang disediakan untuk membelajarkan siswa. Dengan program itu, para siswa melakukan berbagai kegiatan belajar sehingga terjadi perubahan dan perkembangan tingkah laku siswa, sesuai dengan tujuan pendidikan dan pembelajaran. Dengan kata lain, sekolah menyediakan lingkungan bagi siswa yang memberikan kesempatan belajar. 1. Kurikulum : suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses berlajar mengajar di bawah bimbingan dan tanggunga jawab sekolah atau lembaga pendidikan beserta staf pengajarnya.

2. Kurikulum : adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi di bawah pengawasan sekolah, jadi selain kegiatan kulikuler yang formal juga kegiatan yang tak formal. 3. Kurikulum : niat dan harapan yang dituangkan dalam bentuk rencana atau program pendidikan untuk dilaksanakan oleh guru di sekolah. 4. Kurikulum adalah niat dan rencana, proses belajar mengajar adalah pelaksanaanya. Dalam proses tersebut ada dua subjek yang terlibat yakni guru dan siswa. Siswa adalah subjek yang dibina dan guru adalah dubjek yang membina. 5. Curriculum dalam bahasa Yunani kuno berasal dari kata Curir yang artinya pelari; dan Curere yang artinya tempat berpacu. Curriculum di artikan jarak yang harus di tempuh oleh pelari. Dari makna yang terkandung berdasarkan rumusan masalah tersebut kurikulum dalam pendidikan di artikan sebagai sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau disekesaikan anak didik untuk memperoleh ijasah. 6. Kurikulum adalah program belajar bagi siswa yang disusun secara sistematis dan logis, di berikan oleh sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan. Sebagai program belajar, kurikulum adalah niat, rencana atau harapan. 7. Kurikulum adalah hasil belajar yang diniati atau intended learning out comes 8. Kurikulum adalah program dan pengalaman belajar serta hasil-hasil belajar yang di harapkan yang diformulasikan melalui pengetahuan dan kegiatan yang tersusun secara sistematis, di berikan kepasa siswa di bawah tanggung jawab sekolah untuk membantu pertumbuhan atau perkembangan pribadi dan kompetensi social anak didik. 9. Kurikulum adalah rencana atau program belajar dan pengajaran adalah pelaksanaan atau operasionalisasi dari rencana atau program. 10. Kurukulum adalah alat atau saran untuk mencapai tujuan pendidikan melalui proses pengajaran. 11. Kurikulum adalah sesuatu yang diinginkan atau dicita-citakan untuk anak didik. Artinya, hasil belajar yang diinginkan yang diniati agar dimiliki anak. Judul :Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek Tahun : 2005 Pengarang : Prof. Dr. Nana Syaodih Sukmadinata Halaman : 4,5,6 12. (Ronald. C. Doll, 1974, Hal 22) The commonly accepted definition of the curriculum has changed from content of course of study and list of subject and courses to all the experience which are offered to learnes unders the auspises or direction of the school.

13. (Johnson, 1967, hal 130) Kurikulum….a structured series of itended learning out comes. 14. Kurikulum (curriculum) merupakan suatu rencana yang memberi pedoman atau pegangan dalam proses kegiatan belajar mengajar. 15. (Beauchamp, 1968, hal 6) A curriculum is a written document which may contain many ingredients, but basically it is the plant for education of pupils during their enrollment in given school. Beauchamp lebih memberikan tekanan behwa kurikulum adalah siatu rencana pendidikan atau pengajaran. 16. Caswel dan Chambell dalam buku mereka yang terkenal Curriculum Development (1935), kurikulum….to be composed of all experience children have a under the guidance of teacher. 17. Zais menjelaskan bahwa kurikulumbukan hanya merupakan rencana tertulis begi pengajaran, melainkan sesuatu yang fungsional yang beroperasi dalam kelas, yang memberi pedoman dan mengatur lingnkungan dan kegiatan yang berlangsung di dalam kelas. 18. Menurut Robert S. Zais (1976, hal 3), kurikulum sebagai bidang studi mencakup :1. The range of subject matters with which it is concerned (the substantive structure), and 2. The procedures of inkiuri and practice it follows (the syntactical structure). 19. Menurut George A. Beaucham (1976 hal 58-59), kurikulum sebagai bidang studi membentuk suatu teori yaitu teori kurikulum. Selain sebagai bidang studi kurikulum juga sebagai rencana pengajaran dan sebagai suatu sistem (sistem kurikulum) yang merupakan bagian dari sistem persekolahan. 20. UU RI No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidika Nasional Pasal 1 ayat 19 Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, tambahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Judul :Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi Pengarang : Dr. Wina Sanjaya, M. Pd. Tahun : 2005 Menurut pendapat sendiri

Untuk lebih jelasnya. dan umumnya membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapakan dan dikembangkan mengikuti perkembangan sosiaal budaya dan iptek Komponen kurikulum Kurikulum memiliki lima komponen utama. melalui berbagai ragam teknis penyelenggaraannya. Autonomy. pembelajaran. enable all citizens to participate in cultural and economic life by coverring them an equal basic education. keadaan sosial-politik kemampuan sumber daya dan keadaan lingkungannya masing-masing. tujuan pendidikan nasional dapat dilihat secara jelas dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistrm Pendidikan . Seperti yang disampaikan oleh Hummel (Uyoh Sadulloh. Survival . 3. (2) materi. A. sehingga terjadi perubahan dan perkembangan tingkah laku siswa khususnya.) Dalam perspektif pendidikan nasional. (4) organisasi kurikulum dan (5) evaluasi. gives individuals and groups the maximum awarenes. yang disesuaikan dengan falsafah negara. and ability so that they can manage their personal and collective life to the greatest possible extent.Kurikulum merupakan seperangkat perncanaan dan program pembelajaran serta proses belajar mengajar yang ditempuh siswa dan tenaga kependidikan dalam berbagai hal termasuk didalamnya proses rekontruksi pengetahuan dan pengalaman yang sistematis yang di ikuti oleh anak didik yang diorganisir oleh lembaga pendidikan. (3) strategi. Kendati demikian. Kelima komponen tersebut memiliki keterkaitan yang erat dan tidak bisa dipisahkan. 1994) bahwa tujuan pendidikan secara universal akan menjangkau tiga jenis nilai utama yaitu: 1. hampir di setiap negara telah mewajibkan para warganya untuk mengikuti kegiatan pendidikan. permit every nation to transmit and enrich its cultural heritage over the generation but also guide education towards mutual understanding and towards what has become a worldwide realization of common destiny. dalam hal menentukan tujuan pendidikan pada dasarnya memiliki esensi yang sama. yaitu : (1) tujuan. di bawah ini akan diuraikan tentang masing-masing komponen tersebut. Tujuan Mengingat pentingnya pendidikan bagi manusia. 2. knowledge. Equity.

serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. kepribadian. kreatif. mandiri. bahwa : ” Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. 22 Tahun 2007 dikemukakan bahwa tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan berikut. Tujuan pembelajaran . Tujuan pendidikan institusional tersebut kemudian dijabarkan lagi ke dalam tujuan kurikuler. berakhlak mulia. kepribadian. akhlak mulia. 2. berilmu. cakap. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. sehat. Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan. Dalam Permendiknas No. kepribadian. akhlak mulia. Tujuan pendidikan nasional yang merupakan pendidikan pada tataran makroskopik. 1. sebagaimana diisyaratkan dalam Permendiknas No. selanjutnya dijabarkan ke dalam tujuan institusional yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai dari setiap jenis maupun jenjang sekolah atau satuan pendidikan tertentu. pengetahuan. Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. oleh karena itu perlu dioperasionalkan dan dijabarkan lebih lanjut dalam bentuk tujuan pembelajaran. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya. Berikut ini disampaikan beberapa contoh tujuan kurikuler yang berkaitan dengan pembelajaran ekonomi.. 23 Tahun 2007 tentang Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar : Tujuan-tujuan pendidikan mulai dari pendidikan nasional sampai dengan tujuan mata pelajaran masih bersifat abstrak dan konseptual. yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai dari setiap mata pelajaran yang dikembangkan di setiap sekolah atau satuan pendidikan.Nasional. akhlak mulia. 3. pengetahuan. pengetahuan.

Pada tingkat operasional ini. dalam bentuk: (a) ketepatan atau ketelitian respons. dan (c) memberikan pengkhususan tentang sumber-sumber yang dapat digunakan peserta didik dan orangorang yang dapat diajak bekerja sama. Merujuk pada pemikiran Bloom. Lebih jauh lagi. Menggambarkan apa yang diharapkan dapat dilakukan oleh peserta didik. eksistensialisme) sebagai pijakan utamanya maka tujuan kurikulum lebih banyak diarahkan pada pencapaian penguasaan materi dan cenderung menekankan pada upaya pengembangan aspek intelektual atau aspek kognitif. panjangnya dan frekuensi respons. Terlepas dari rangkaian tujuan di atas bahwa perumusan tujuan kurikulum sangat terkait erat dengan filsafat yang melandasinya. Dengan kata lain. Keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran pada tingkat operasional ini akan menentukan terhadap keberhasilan tujuan pendidikan pada tingkat berikutnya. 3. Nana Syaodih Sukmadinata (1997) memberikan gambaran spesifikasi dari tujuan yang ingin dicapai pada tujuan pembelajaran. yang hendak dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran dari setiap mata pelajaran.merupakan tujuan pendidikan yang lebih operasional. Menggambarkan kondisi-kondisi atau lingkungan yang menunjang perilaku peserta didik berupa : (a) kondisi atau lingkungan fisik. dan (b) kondisi atau lingkungan psikologis. dengan : (a) menggunakan kata-kata kerja yang menunjukkan perilaku yang dapat diamati. (b) kecepatan. maka perubahan perilaku tersebut meliputi perubahan dalam aspek kognitif. afektif dan psikomotor. Upaya pencapaian tujuan pembelajaran ini memiliki arti yang sangat penting. yakni : 1. Menunjukkan perilaku yang diharapkan dilakukan oleh peserta didik. tujuan pendidikan tingkat operasional ini lebih menggambarkan perubahan perilaku spesifik apa yang hendak dicapai peserta didik melalui proses pembelajaran. tujuan pendidikan dirumuskan lebih bersifat spesifik dan lebih menggambarkan tentang “what will the student be able to do as result of the teaching that he was unable to do before” (Rowntree dalam Nana Syaodih Sukmadinata. 1997). . 2. (b) menunjukkan stimulus yang membangkitkan perilaku peserta didik. essensialisme. Jika kurikulum yang dikembangkan menggunakan dasar filsafat klasik (perenialisme.. dengan mengutip dari beberapa ahli.

Apabila kurikulum yang dikembangkan menggunakan filsafat progresivisme sebagai pijakan utamanya. sehingga dalam menentukan tujuan pendidikan lebih diusahakan secara bereimbang. essensialisme. Konsep. Seperti telah dikemukakan di atas bahwa pengembangan kurikulum yang didasari filsafat klasik (perenialisme. merupakan definisi singkat dari sekelompok fakta atau gejala. maka tujuan pendidikan lebih diarahkan pada pencapaian kompetensi. materi pembelajaran disusun secara logis dan sistematis. eksistensialisme) penguasaan materi pembelajaran menjadi hal yang utama. . Pengembangan kurikulum dengan menggunakan filsafat rekonsktruktivisme sebagai dasar utamanya. teori pendidikan atau model kurikulum tertentu secara konsisten dan konsekuen. Dalam hal ini. 2. maka tujuan pendidikan lebih diarahkan pada proses pengembangan dan aktualisasi diri peserta didik dan lebih berorientasi pada upaya pengembangan aspek afektif. Dalam implementasinnya bahwa untuk mengembangkan pendidikan dengan tantangan yang sangat kompleks boleh dikatakan hampir tidak mungkin untuk merumuskan tujuan-tujuan kurikulum dengan hanya berpegang pada satu filsafat. definisi atau preposisi yang saling berhubungan. suatu abstraksi yang dibentuk oleh organisasi dari kekhususankekhususan. Sementara kurikulum yang dikembangkan dengan menggunakan dasar filosofi teknologi pendidikan dan teori pendidikan teknologis. B. maka tujuan pendidikan banyak diarahkan pada upaya pemecahan masalah sosial yang krusial dan kemampuan bekerja sama. yang menyajikan pendapat sistematik tentang gejala dengan menspesifikasi hubungan – hubungan antara variabel-variabel dengan maksud menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut. Oleh karena itu untuk mengakomodir tantangan dan kebutuhan pendidikan yang sangat kompleks sering digunakan model eklektik. . Teori. dalam bentuk : 1. seperangkat konstruk atau konsep. Materi Pembelajaran Dalam menentukan materi pembelajaran atau bahan ajar tidak lepas dari filsafat dan teori pendidikan dikembangkan. dengan mengambil hal-hal yang terbaik dan memungkinkan dari seluruh aliran filsafat yang ada.

sejumlah informasi khusus dalam materi yang dianggap penting. Namun dalam implementasinya sangat sulit untuk menentukan materi . Prinsip. terdiri dari terminologi. Istilah. kata-kata perbendaharaan yang baru dan khusus yang diperkenalkan dalam materi. Preposisi. materi pembelajaran harus diambil dari dunia peserta didik dan oleh peserta didik itu sendiri. materi pembelajaran dikemas sedemikian rupa dalam bentuk tema-tema dan topik-topik yang diangkat dari masalah-masalah sosial yang krusial. 7. misalnya tentang ekonomi. 4. orang dan tempat serta kejadian. pola skema yang ada dalam materi yang mengembangkan hubungan antara beberapa konsep. Materi pembelajaran yang didasarkan pada filsafat progresivisme lebih memperhatikan tentang kebutuhan. yaitu seri langkah-langkah yang berurutan dalam materi pelajaran yang harus dilakukan peserta didik. 6. Generalisasi.3. Materi pembelajaran yang berlandaskan pada teknologi pendidikan banyak diambil dari disiplin ilmu. kesimpulan umum berdasarkan hal-hal yang khusus. yaitu hal atau tindakan atau proses yang bertujuan untuk memperjelas suatu uraian atau pendapat. Prosedur. 5. Materi pembelajaran atau kompetensi yang lebih luas dirinci menjadi bagian-bagian atau sub-sub kompetensi yang lebih kecil dan obyektif. Fakta. Definisi:yaitu penjelasan tentang makna atau pengertian tentang suatu hal/kata dalam garis besarnya. tampak bahwa dilihat dari filsafat yang melandasi pengembangam kurikulum terdapat perbedaan dalam menentukan materi pembelajaran. yaitu cara yang digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran dalam upaya mencapai tujuan kurikulum. pendapat atau pembuktian dalam penelitian. 9. Dengan melihat pemaparan di atas. Contoh/ilustrasi. tetapi telah diramu sedemikian rupa dan diambil hal-hal yang esensialnya saja untuk mendukung penguasaan suatu kompetensi. Oleh karena itu.. Materi pembelajaran yang didasarkan pada filsafat konstruktivisme. minat. 10. bersumber dari analisis. dan kehidupan peserta didik. sosial bahkan tentang alam. 8. yaitu ide utama.

Terlepas dari filsafat yang mendasari pengembangan materi. Sahih (valid). dalam arti materi yang dituangkan dalam pembelajaran benar-benar telah teruji kebenaran dan kesahihannya. Sedangkan manfaat non akademis dapat mengembangkan kecakapan hidup dan sikap yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. 2. Menarik minat. susunan materi pembelajaran yang mengandung urutan waktu. Layak dipelajari. susunan materi pembelajaran yang mengandung hubungan sebab-akibat.. 3. . materi yang dipilih dapat memberikan manfaat akademis maupun non akademis. materi memungkinkan untuk dipelajari. Dalam prakteknya untuk menentukan materi pembelajaran perlu memperhatikan hal-hal berikut :. baik dari aspek tingkat kesulitannya (tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit) maupun aspek kelayakannya terhadap pemanfaatan materi dan kondisi setempat. pendidik memiliki wewenang penuh untuk menentukan materi pembelajaran. Manfaat akademis yaitu memberikan dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan yang akan dikembangkan lebih lanjut pada jenjang pendidikan lebih lanjut. maka dalam prakteknya cenderung digunakan secara eklektik dan fleksibel. Kebermaknaan. 2. materi yang dipilih hendaknya menarik minat dan dapat memotivasi peserta didik untuk mempelajari lebih lanjut. juga materi yang diberikan merupakan materi yang aktual. dan memberikan kontribusi untuk pemahaman ke depan. 4. materi yang dipilih benar-benar diperlukan peserta didik. Nana Syaodih Sukamadinata (1997) mengetengahkan tentang sekuens susunan materi pembelajaran. sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang hendak dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran. menumbuhkan rasa ingin tahu sehingga memunculkan dorongan untuk mengembangkan sendiri kemampuan mereka. 5. Mengapa dan sejauh mana materi tersebut penting untuk dipelajari. Di samping itu. tidak ketinggalan zaman. yaitu : 1. Sekuens kronologis. Tingkat kepentingan. Sekuens kausal.pembelajaran yang beranjak hanya dari satu filsafat tertentu. Berkenaan dengan penentuan materi pembelajaran dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. 1..

4. 6. kemudian dicari suatu hierarki urutan materi pembelajaran untuk mencapai tujuan atau kompetensi tersebut. diperdalam dan diperluas dengan bahan yang lebih kompleks. susunan materi pembelajaran yang dipusatkan pada topik atau bahan tertentu yang populer dan sederhana. (c) pengumpulan data. Sekuens rangkaian ke belakang. Strategi pembelajaran Telah disampaikan di atas bahwa dilihat dari filsafat dan teori pendidikan yang melandasi pengembangan kurikulum terdapat perbedaan dalam menentukan tujuan dan materi pembelajaran. 5. dan peserta didik diminta untuk membuat interprestasi hasilnya (e). (d) pengujian hipotesis. dari fungsi ke struktur. hal ini tentunya memiliki konsekuensi pula terhadap penentuan strategi pembelajaran yang hendak dikembangkan. guru memulai dengan langkah (a) sampai (d). Pada kasempatan lain guru menyajikan data tentang masalah lain dari langkah (a) sampai (c) dan peserta didik diminta untuk mengadakan pengetesan hipotesis (d) dan seterusnya. 7. susunan materi pembelajaran yang mengandung struktur materi. Hierarki tersebut menggambarkan urutan perilaku apa yang mula-mula harus dikuasai peserta didik. dari yang sederhana menuju kepada yang kompleks. dari masalah bagaimana ke masalah mengapa. meliputi 5 langkah sebagai berikut : (a) pembatasan masalah. Sedangkan sekuens psikologis sebaliknya dari keseluruhan menuju bagian-bagian. dan (e) interpretasi hasil tes. Contoh pemecahan masalah yang bersifat ilmiah. Sekuens logis dan psikologis.–sebagaimana . dan dari yang kompleks menuju yang sederhana. berturut-berturut sampai dengan perilaku terakhir. Sekuens struktural. sekuensi logis merupakan susunan materi pembelajaran dimulai dari bagian menuju pada keseluruhan. Apabila yang menjadi tujuan dalam pembelajaran adalah penguasaan informasi-intelektual. Sekuens berdasarkan hierarki belajar. dalam sekuens ini mengajar dimulai dengan langkah akhir dan mundur kebelakang. Sekuens spiral . 8. (b) penyusunan hipotesis.3. dari benda ke teori. kemudian dikembangkan. C. Dalam mengajarnya. prosedur pembelajaran dimulai menganalisis tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Menurut sekuens logis materi pembelajaran disusun dari nyata ke abstrak.

obeservasi. guru berusaha menciptakan dan menyediakan lingkungan belajar yang kondusif bagi peserta didiknya. Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik mendapat dukungan dari kalangan rekonstruktivisme yang menekankan pentingnya proses pembelajaran melalui dinamika kelompok. seperti : pembelajaran moduler. sekaligus menentukan bagaimana cara-cara yang paling sesuai untuk memperoleh materi dan mencapai tujuan belajarnya. Sedangkan peserta didik hanya dianggap sebagai obyek yang secara pasif menerima sejumlah informasi dari guru. Menurut kalangan progresivisme. Pembelajaran cenderung bersifat kontekstual. guru tidak banyak melakukan intervensi. Selain itu. simulasi atau role playing. dan memanfaatkan proses dinamika kelompok (kooperatif). langsung. tetapi dalam pembelajaran teknologis masih dimungkinkan bagi peserta didik untuk belajar secara individual. Sebagai fasilitator.yang banyak dikembangkan oleh kalangan pendukung filsafat klasik dalam rangka pewarisan budaya ataupun keabadian. Strategi pembelajaran yang berorientasi pada guru tersebut mendapat reaksi dari kalangan progresivisme. Dalam pembelajaran . motivator dan guider. guru berupaya untuk mendorong dan menstimulasi peserta didiknya agar dapat melakukan perbuatan belajar. maka strategi pembelajaran yang dikembangkan akan lebih berpusat kepada guru. Sedangkan sebagai guider. Guru merupakan tokoh sentral di dalam proses pembelajaran dan dipandang sebagai pusat informasi dan pengetahuan. Metode dan teknik pembelajaran yang digunakan pada umumnya bersifat penyajian (ekspositorik) secara massal. dan sejenisnya. Peserta didik secara aktif menentukan materi dan tujuan belajarnya sesuai dengan minat dan kebutuhannya. seperti ceramah atau seminar. yang seharusnya aktif dalam suatu proses pembelajaran adalah peserta didik itu sendiri. pembelajaran cenderung lebih bersifat tekstual. Selanjutnya. dengan munculnya pembelajaran berbasis teknologi yang menekankan pentingnya penguasaan kompetensi membawa implikasi tersendiri dalam penentuan strategi pembelajaran. metode dan teknik pembelajaran yang digunakan tidak lagi dalam bentuk penyajian dari guru tetapi lebih bersifat individual. guru melakukan pembimbingan dengan berusaha mengenal para peserta didiknya secara personal. Meski masih bersifat penguasaan materi atau kompetensi seperti dalam pendekatan klasik. Dalam hal ini. Peran guru hanya sebagai fasilitator. Sebagai motivator. diskusi.

semua materi diberikan sama 2. kebutuhan. D. Organisasi Kurikulum Beragamnya pandangan yang mendasari pengembangan kurikulum memunculkan terjadinya keragaman dalam mengorgansiasikan kurikulum. Setidaknya terdapat enam ragam pengorganisasian kurikulum. Prosedur yang ditempuh adalah menyampaikan pokok-pokok yang saling berkorelasi guna memudahkan peserta didik memahami pelajaran tertentu. dan kemampuan peserta didik. Mata pelajaran terpisah (isolated subject). seperti melalui internet atau media elektronik lainnya. yaitu: 1. korelasi diadakan sebagai upaya untuk mengurangi kelemahan-kelemahan sebagai akibat pemisahan mata pelajaran.teknologis dimungkinkan peserta didik untuk belajar tanpa tatap muka langsung dengan guru. yang diajarkan sendiri-sendiri tanpa ada hubungan dengan mata pelajaran lainnya. ternyata banyak kemungkinan untuk menentukan strategi pembelajaran dan setiap strategi pembelajaran memiliki kelemahan dan keunggulannya tersendiri. kreatif dan menyenangkan. dengan efektivitas yang tinggi. Salah satu mata pelajaran . Oleh karena itu. 3. dalam prakteknya seorang guru seyogyanya dapat mengembangkan strategi pembelajaran secara variatif. yang merupakan akronim dari Pembelajaran Aktif. Peran guru dalam pembelajaran teknologis lebih cenderung sebagai director of learning. kurikulum terdiri dari sejumlah mata pelajaran yang terpisah-pisah. Kreatif. yang berupaya mengarahkan dan mengatur peserta didik untuk melakukan perbuatan-perbuatan belajar sesuai dengan apa yang telah didesain sebelumnya. yaitu organisasi kurikulum yang berupa pengumpulan beberapa mata pelajaran yang sejenis serta memiliki ciri-ciri yang sama dan dikorelasikan (difungsikan) dalam satu bidang pengajaran. Masing-masing diberikan pada waktu tertentu dan tidak mempertimbangkan minat. belakangan ini mulai muncul konsep pembelajaran dengan isitilah PAKEM. Efektif dan Menyenangkan. menggunakan berbagai strategi yang memungkinkan siswa untuk dapat melaksanakan proses belajarnya secara aktif. Bidang studi (broad field). Terkait dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Berdasarkan uraian di atas. Mata pelajaran berkorelasi.

E.dapat dijadikan “core subject”. Program yang berpusat pada anak (child centered). yaitu suatu program yang mencari keseimbangan antara organisasi kurikulum yang terpusat pada mata pelajaran dan peserta didik. (4) kelompok mata pelajaran estetika. olahraga dan kesehatan Kelompok-kelompok mata pelajaran tersebut selanjutnya dijabarkan lagi ke dalam sejumlah mata pelajaran tertentu. 6. evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa tingkat ketercapaian tujuan-tujuan pendidikan yang ingin diwujudkan melalui kurikulum yang bersangkutan. Mata pelajaran-mata pelajaran yang menjadi pisau analisisnya diberikan secara terintegrasi. bukan pada mata pelajaran. 5. dan (5) kelompok mata pelajaran jasmani. dan mata pelajaran lainnya diberikan melalui kegiatan-kegiatan belajar dalam upaya memecahkan masalahnya. yaitu program kurikulum yang menitikberatkan pada kegiatan-kegiatan peserta didik. 4. Dalam pengertian terbatas. dan mata pelajaran lainnya dikorelasikan dengan core tersebut. Indikator . yaitu suatu program yang berupa unit-unit masalah. (2) kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian. (3) kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. yang disesuaikan dengan jenjang dan jenis sekolah. dimana masalah-masalah diambil dari suatu mata pelajaran tertentu. Inti Masalah (core program). evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa kinerja kurikulum secara keseluruhan ditinjau dari berbagai kriteria. Sebagaimana dikemukakan oleh Wright bahwa : “curriculum evaluation may be defined as the estimation of growth and progress of students toward objectives or values of the curriculum” Sedangkan dalam pengertian yang lebih luas. yang terbagi ke dalam lima kelompok mata pelajaran. yaitu : (1) kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia. Berkenaan dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Ecletic Program. Evaluasi Kurikulum Evaluasi merupakan salah satu komponen kurikulum. untuk memenuhi kebutuhan lokal disediakan mata pelajaran muatan lokal serta untuk kepentingan penyaluran bakat dan minat peserta didik disediakan kegiatan pengembangan diri. Di samping itu. tampaknya lebih cenderung menggunakan pengorganisasian yang bersifat eklektik.

kinerja yang dievaluasi tidak hanya terbatas pada efektivitas saja. Sementara itu. Hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh para pemegang kebijakan pendidikan dan para pengembang kurikulum dalam memilih dan menetapkan kebijakan pengembangan sistem pendidikan dan pengembangan model kurikulum yang digunakan. diagnostics worth and validity and integration. catatan anekdot dan sebagainya Evaluasi kurikulum memegang peranan penting. “ objective. comprehensiveness. it’s scope. namun juga relevansi. kepala sekolah dan para pelaksana pendidikan lainnya dalam memahami dan membantu . Hasil – hasil evaluasi kurikulum juga dapat digunakan oleh guru-guru. kelaikan (feasibility) program. Apakah evaluasi tersebut ditujukan untuk mengevaluasi keseluruhan sistem kurikulum atau komponen-komponen tertentu saja dalam sistem kurikulum tersebut. questionnare. baik untuk penentuan kebijakan pendidikan pada umumnya maupun untuk pengambilan keputusan dalam kurikulum itu sendiri. tes diagnostik dan lain-lain. the equipment and materials and so on. bergantung pada dimensi-dimensi yang menjadi fokus evaluasi. the relative importance of various subject. tes prestasi belajar. dikemukakan syarat-syarat evaluasi kurikulum yaitu “acknowledge presence of value and valuing. continuity. instrumen untuk mengevaluasi dimensi kualitatif dapat digunakan. Agar hasil evaluasi kurikulum tetap bermakna diperlukan persyaratan-persyaratan tertentu. interview. Hilda Taba menjelaskan hal-hal yang dievaluasi dalam kurikulum. inventori. the quality of personnel in charger of it.” Evaluasi kurikulum juga bervariasi. seperti tes standar. yaitu meliputi . Instrumen yang digunakan untuk mengevaluasi diemensi kuantitaif berbeda dengan dimensi kualitatif.” Pada bagian lain. efisiensi. Sedangkan. the capacity of students. the degree to which objectives are implemented. Salah satu komponen kurikulum penting yang perlu dievaluasi adalah berkenaan dengan proses dan hasil belajar siswa. orientation to goals. Instrumen yang digunakan untuk mengevaluasi dimensi kuantitatif. Dengan mengutip pemikian Doll. dikatakan bahwa luas atau tidaknya suatu program evaluasi kurikulum sebenarnya ditentukan oleh tujuan diadakannya evaluasi kurikulum. Salah satu dimensi yang sering mendapat sorotan adalah dimensi kuantitas dan kualitas.

selama dan sesudah program pendidikan dikembangkan. untuk akhirnya sampai pada deskripsi dan judgment mengenai kekuatan dan kelemahan program yang dievaluasi. sarana dan pra sarana. staf pengajar. Model ini kembangkan oleh Stufflebeam (1972) menggolongkan program pendidikan atas empat dimensi. dan materi pembelajaran yang dikembangkan. Input. Input. penglolaan program. tujuan program dan peralatan yang digunakan. media pendidikan yang digunakan dan sebagainya. . cara penilaian serta fasilitas pendidikan lainnya. seperti : kebijakan departemen atau unit kerja yang bersangkutan. yaitu situasi atau latar belakang yang mempengaruhi jenis-jenis tujuan dan strategi pendidikan yang akan dikembangkan dalam program yang bersangkutan. bahan. seperti : dokumen kurikulum. (disarikan dari Nana Syaodih Sukmadinata. Di samping itu. masalah ketenagaan yang dihadapi dalam unit kerja yang bersangkutan. yaitu : Context. peralatan. seperti : karakteristik peserta didik dan lingkungan. yaitu : (1) pendekatan penelitian (analisis komparatif). 2. Process dan Product) yang bertitik tolak pada pandangan bahwa keberhasilan progran pendidikan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Process dan Product. 3. sasaran yang ingin dicapai oleh unit kerja dalam kurun waktu tertentu. memilih metode dan alat-alat bantu pelajaran. pelaksanaan evaluasi yang dilakukan oleh para pengajar. diantaranya adalah Model CIPP (Context. Penjelasan singkat dari keempat dimensi tersebut adalah. (2) pendekatan obyektif. Process. dan sebagainya. Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakan tiga pendekatan dalam evaluasi kurikulum. dan lain-lain. terdapat beberapa model evaluasi kurikulum. Menurut model ini keempat dimensi program tersebut perlu dievaluasi sebelum. prosedur dan mekanisme pelaksanaan program itu sendiri. fasilitas yang disiapkan untuk keperluan pendidikan. 1997) Selanjutnya. Context.perkembangan peserta didik. dan (3) pendekatan campuran multivariasi. sebagai berikut : 1. Evaluasi model ini bermaksud membandingkan kinerja (performance) dari berbagai dimensi program dengan sejumlah kriteria tertentu. meliputi : pelaksanaan proses belajar mengajar. memilih bahan pelajaran. Input. pelaksanaan nyata dari program pendidikan tersebut.

4. keseluruhan hasil yang dicapai oleh program pendidikan. : Kurikum didefinisikan sebagai semua ruang pembelajaran terencana yang diberikan kepada siswa oleh lembaga pendidikan dan pengalaman yang dinikmati oleh siswa saat kurikulum itu terapkan. Kurikulum adalah suatu program pendidikan yang disediakan untuk membelajarkan siswa. Product. Romine : Kurikulum mencakup semua temu permbelajaran. sesuai dengan tujuan pendidikan dan pembelajaran. yang disusun dengan mempertimbangkan berbagai hal mengenai proses pembelajaran serta perkembangan individu Daniel Tanner & Laurel Tanner : Pengalaman pembelajaran yang terencana dan terarah. aktivitas dan pengalaman yang diikuti oleh anak didik dengan arahan dari sekolah baik di dalam maupun di luar kelas. Dengan program itu. Kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh dan dipelajari oleh siswa untuk memperoleh sejumlah pengetahuan. Murray Print. sekolah menyediakan lingkungan bagi siswa yang memberikan kesempatan belajar. para siswa melakukan berbagai kegiatan belajar sehingga terjadi perubahan dan perkembangan tingkah laku siswa. Dengan kata lain. Pengertian Kurikulum Menurut Para Ahli Pengertian Kurikulum Menurut Para Ahli Hilda Taba: Kurikulum adalah sebuah rancangan pembelajaran. yang disusun melalui proses rekonstruksi pengetahuan dan pengalaman yang sistematis di bawah pengawasan lembaga pendidikan agar pembelajar dapat terus memiliki minat untuk belajar sebagai bagian dari kompetensi sosial pribadinya. mencakup : jangka pendek dan jangka lebih panjang. .

rencana atau harapan. di berikan oleh sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan. 2. Dalam proses tersebut ada dua subjek yang terlibat yakni guru dan siswa. Siswa adalah subjek yang dibina dan guru adalah dubjek yang membina.1. hasil belajar yang diinginkan yang diniati agar dimiliki anak. Artinya. Kurikulum adalah hasil belajar yang diniati atau intended learning out comes 8. 7. Kurikulum adalah program belajar bagi siswa yang disusun secara sistematis dan logis. Kurikulum : adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi di bawah pengawasan sekolah. 3. 11. 6. Kurikulum adalah sesuatu yang diinginkan atau dicita-citakan untuk anak didik. Dr. Curriculum dalam bahasa Yunani kuno berasal dari kata Curir yang artinya pelari. 4.5. Kurikulum adalah rencana atau program belajar dan pengajaran adalah pelaksanaan atau operasionalisasi dari rencana atau program. 9. dan Curere yang artinya tempat berpacu. Curriculum di artikan jarak yang harus di tempuh oleh pelari. 10. Judul :Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek Tahun : 2005 Pengarang : Prof. Nana Syaodih Sukmadinata Halaman : 4. Kurikulum adalah niat dan rencana. Kurikulum : suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses berlajar mengajar di bawah bimbingan dan tanggunga jawab sekolah atau lembaga pendidikan beserta staf pengajarnya. di berikan kepasa siswa di bawah tanggung jawab sekolah untuk membantu pertumbuhan atau perkembangan pribadi dan kompetensi social anak didik. Kurikulum adalah program dan pengalaman belajar serta hasil-hasil belajar yang di harapkan yang diformulasikan melalui pengetahuan dan kegiatan yang tersusun secara sistematis. proses belajar mengajar adalah pelaksanaanya. 5. Dari makna yang terkandung berdasarkan rumusan masalah tersebut kurikulum dalam pendidikan di artikan sebagai sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau disekesaikan anak didik untuk memperoleh ijasah.6 . Sebagai program belajar. kurikulum adalah niat. jadi selain kegiatan kulikuler yang formal juga kegiatan yang tak formal. Kurikulum : niat dan harapan yang dituangkan dalam bentuk rencana atau program pendidikan untuk dilaksanakan oleh guru di sekolah. Kurukulum adalah alat atau saran untuk mencapai tujuan pendidikan melalui proses pengajaran.

Menurut Robert S. Kurikulum (curriculum) merupakan suatu rencana yang memberi pedoman atau pegangan dalam proses kegiatan belajar mengajar. UU RI No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidika Nasional Pasal 1 ayat 19 Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan. 1974. Wina Sanjaya. Pd. (Johnson. 15. but basically it is the plant for education of pupils during their enrollment in given school. 16. Menurut George A. isi. Judul :Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi Pengarang : Dr. Zais (1976. (Beauchamp. hal 130) Kurikulum…. Selain sebagai bidang studi kurikulum juga sebagai rencana pengajaran dan sebagai suatu sistem (sistem kurikulum) yang merupakan bagian dari sistem persekolahan. Doll. 14. 13. kurikulum…. . and 2. Beaucham (1976 hal 58-59). Beauchamp lebih memberikan tekanan behwa kurikulum adalah siatu rencana pendidikan atau pengajaran.12. hal 6) A curriculum is a written document which may contain many ingredients. M. 1967. tambahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. yang memberi pedoman dan mengatur lingnkungan dan kegiatan yang berlangsung di dalam kelas. 1968. 18. kurikulum sebagai bidang studi mencakup :1. Caswel dan Chambell dalam buku mereka yang terkenal Curriculum Development (1935). C. 17. Hal 22) The commonly accepted definition of the curriculum has changed from content of course of study and list of subject and courses to all the experience which are offered to learnes unders the auspises or direction of the school. melainkan sesuatu yang fungsional yang beroperasi dalam kelas.a structured series of itended learning out comes.to be composed of all experience children have a under the guidance of teacher. 20. kurikulum sebagai bidang studi membentuk suatu teori yaitu teori kurikulum. (Ronald. The procedures of inkiuri and practice it follows (the syntactical structure). Zais menjelaskan bahwa kurikulumbukan hanya merupakan rencana tertulis begi pengajaran. 19. The range of subject matters with which it is concerned (the substantive structure). hal 3).

Survival .Tahun : 2005 Menurut pendapat sendiri Kurikulum merupakan seperangkat perncanaan dan program pembelajaran serta proses belajar mengajar yang ditempuh siswa dan tenaga kependidikan dalam berbagai hal termasuk didalamnya proses rekontruksi pengetahuan dan pengalaman yang sistematis yang di ikuti oleh anak didik yang diorganisir oleh lembaga pendidikan. sehingga terjadi perubahan dan perkembangan tingkah laku siswa khususnya. (4) organisasi kurikulum dan (5) evaluasi. Tujuan Mengingat pentingnya pendidikan bagi manusia. yang disesuaikan dengan falsafah negara. Autonomy. dan umumnya membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah ditetapakan dan dikembangkan mengikuti perkembangan sosiaal budaya dan iptek Komponen kurikulum Kurikulum memiliki lima komponen utama. permit every nation to transmit and enrich its cultural heritage over the generation but also guide education towards mutual understanding and towards what has become a worldwide realization of common destiny. dalam hal menentukan tujuan pendidikan pada dasarnya memiliki esensi yang sama. 1994) bahwa tujuan pendidikan secara universal akan menjangkau tiga jenis nilai utama yaitu: 1. hampir di setiap negara telah mewajibkan para warganya untuk mengikuti kegiatan pendidikan. (2) materi. 2. A. (3) strategi. Kelima komponen tersebut memiliki keterkaitan yang erat dan tidak bisa dipisahkan. gives individuals and groups the maximum awarenes. yaitu : (1) tujuan. melalui berbagai ragam teknis penyelenggaraannya. Equity. Kendati demikian. enable all citizens to participate in cultural and economic life by coverring them an equal basic education. pembelajaran.) . keadaan sosial-politik kemampuan sumber daya dan keadaan lingkungannya masing-masing. Untuk lebih jelasnya. and ability so that they can manage their personal and collective life to the greatest possible extent. knowledge. 3. di bawah ini akan diuraikan tentang masing-masing komponen tersebut. Seperti yang disampaikan oleh Hummel (Uyoh Sadulloh.

Tujuan pendidikan nasional yang merupakan pendidikan pada tataran makroskopik. bahwa : ” Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. kreatif. Berikut ini disampaikan beberapa contoh tujuan kurikuler yang berkaitan dengan pembelajaran ekonomi. akhlak mulia. Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. pengetahuan. akhlak mulia. yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai dari setiap mata pelajaran yang dikembangkan di setiap sekolah atau satuan pendidikan. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya. Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan kecerdasan. pengetahuan. Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan. kepribadian. selanjutnya dijabarkan ke dalam tujuan institusional yaitu tujuan pendidikan yang ingin dicapai dari setiap jenis maupun jenjang sekolah atau satuan pendidikan tertentu.Dalam perspektif pendidikan nasional.. akhlak mulia. sehat. 2. pengetahuan. tujuan pendidikan nasional dapat dilihat secara jelas dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistrm Pendidikan Nasional. 1. Dalam Permendiknas No. Tujuan pendidikan institusional tersebut kemudian dijabarkan lagi ke dalam tujuan kurikuler. oleh karena itu perlu dioperasionalkan . kepribadian. berakhlak mulia. cakap. 23 Tahun 2007 tentang Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar : Tujuan-tujuan pendidikan mulai dari pendidikan nasional sampai dengan tujuan mata pelajaran masih bersifat abstrak dan konseptual. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. kepribadian. berilmu. mandiri. 22 Tahun 2007 dikemukakan bahwa tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan berikut. serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. 3. sebagaimana diisyaratkan dalam Permendiknas No.

yang hendak dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran dari setiap mata pelajaran. 2.. dan (b) kondisi atau lingkungan psikologis.dan dijabarkan lebih lanjut dalam bentuk tujuan pembelajaran. dengan : (a) menggunakan kata-kata kerja yang menunjukkan perilaku yang dapat diamati. 3. 1997). Pada tingkat operasional ini. tujuan pendidikan dirumuskan lebih bersifat spesifik dan lebih menggambarkan tentang “what will the student be able to do as result of the teaching that he was unable to do before” (Rowntree dalam Nana Syaodih Sukmadinata. (b) menunjukkan stimulus yang membangkitkan perilaku peserta didik. Tujuan pembelajaran merupakan tujuan pendidikan yang lebih operasional. maka perubahan perilaku tersebut meliputi perubahan dalam aspek kognitif. yakni : 1. Jika kurikulum yang dikembangkan menggunakan dasar filsafat klasik (perenialisme. Menunjukkan perilaku yang diharapkan dilakukan oleh peserta didik. panjangnya dan frekuensi respons. Menggambarkan kondisi-kondisi atau lingkungan yang menunjang perilaku peserta didik berupa : (a) kondisi atau lingkungan fisik. Terlepas dari rangkaian tujuan di atas bahwa perumusan tujuan kurikulum sangat terkait erat dengan filsafat yang melandasinya. tujuan pendidikan tingkat operasional ini lebih menggambarkan perubahan perilaku spesifik apa yang hendak dicapai peserta didik melalui proses pembelajaran. dalam bentuk: (a) ketepatan atau ketelitian respons. afektif dan psikomotor. Upaya pencapaian tujuan pembelajaran ini memiliki arti yang sangat penting. Dengan kata lain. dan (c) memberikan pengkhususan tentang sumber-sumber yang dapat digunakan peserta didik dan orangorang yang dapat diajak bekerja sama. essensialisme. Lebih jauh lagi. Menggambarkan apa yang diharapkan dapat dilakukan oleh peserta didik. eksistensialisme) sebagai pijakan utamanya maka tujuan kurikulum lebih banyak diarahkan pada . Keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran pada tingkat operasional ini akan menentukan terhadap keberhasilan tujuan pendidikan pada tingkat berikutnya. Merujuk pada pemikiran Bloom. Nana Syaodih Sukmadinata (1997) memberikan gambaran spesifikasi dari tujuan yang ingin dicapai pada tujuan pembelajaran. dengan mengutip dari beberapa ahli. (b) kecepatan.

teori pendidikan atau model kurikulum tertentu secara konsisten dan konsekuen. Apabila kurikulum yang dikembangkan menggunakan filsafat progresivisme sebagai pijakan utamanya. yang menyajikan pendapat sistematik tentang gejala dengan menspesifikasi hubungan – hubungan antara variabel-variabel dengan maksud menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut. dengan mengambil hal-hal yang terbaik dan memungkinkan dari seluruh aliran filsafat yang ada. sehingga dalam menentukan tujuan pendidikan lebih diusahakan secara bereimbang. . essensialisme. maka tujuan pendidikan lebih diarahkan pada proses pengembangan dan aktualisasi diri peserta didik dan lebih berorientasi pada upaya pengembangan aspek afektif. Sementara kurikulum yang dikembangkan dengan menggunakan dasar filosofi teknologi pendidikan dan teori pendidikan teknologis. Materi Pembelajaran Dalam menentukan materi pembelajaran atau bahan ajar tidak lepas dari filsafat dan teori pendidikan dikembangkan. seperangkat konstruk atau konsep. Oleh karena itu untuk mengakomodir tantangan dan kebutuhan pendidikan yang sangat kompleks sering digunakan model eklektik. definisi atau preposisi yang saling berhubungan. Dalam hal ini. . maka tujuan pendidikan lebih diarahkan pada pencapaian kompetensi. maka tujuan pendidikan banyak diarahkan pada upaya pemecahan masalah sosial yang krusial dan kemampuan bekerja sama. dalam bentuk : 1. Dalam implementasinnya bahwa untuk mengembangkan pendidikan dengan tantangan yang sangat kompleks boleh dikatakan hampir tidak mungkin untuk merumuskan tujuan-tujuan kurikulum dengan hanya berpegang pada satu filsafat. Seperti telah dikemukakan di atas bahwa pengembangan kurikulum yang didasari filsafat klasik (perenialisme.pencapaian penguasaan materi dan cenderung menekankan pada upaya pengembangan aspek intelektual atau aspek kognitif. Pengembangan kurikulum dengan menggunakan filsafat rekonsktruktivisme sebagai dasar utamanya. Teori. eksistensialisme) penguasaan materi pembelajaran menjadi hal yang utama. materi pembelajaran disusun secara logis dan sistematis. B.

suatu abstraksi yang dibentuk oleh organisasi dari kekhususankekhususan. 6. orang dan tempat serta kejadian. Preposisi. Istilah. 7.2. 9. sejumlah informasi khusus dalam materi yang dianggap penting. materi pembelajaran harus diambil dari dunia peserta didik dan oleh peserta didik itu sendiri. Konsep. pendapat atau pembuktian dalam penelitian. yaitu ide utama. Contoh/ilustrasi. yaitu cara yang digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran dalam upaya mencapai tujuan kurikulum. Materi pembelajaran atau kompetensi yang lebih luas dirinci menjadi bagian-bagian atau sub-sub kompetensi yang lebih kecil dan obyektif. kata-kata perbendaharaan yang baru dan khusus yang diperkenalkan dalam materi. 5. 4. Prosedur. 8. Generalisasi. sosial bahkan tentang alam. Materi pembelajaran yang berlandaskan pada teknologi pendidikan banyak diambil dari disiplin ilmu. Materi pembelajaran yang didasarkan pada filsafat progresivisme lebih memperhatikan tentang kebutuhan. tampak bahwa dilihat dari filsafat yang melandasi pengembangam kurikulum terdapat perbedaan dalam menentukan materi . Fakta. bersumber dari analisis. Materi pembelajaran yang didasarkan pada filsafat konstruktivisme. Dengan melihat pemaparan di atas. Definisi:yaitu penjelasan tentang makna atau pengertian tentang suatu hal/kata dalam garis besarnya. dan kehidupan peserta didik. kesimpulan umum berdasarkan hal-hal yang khusus. tetapi telah diramu sedemikian rupa dan diambil hal-hal yang esensialnya saja untuk mendukung penguasaan suatu kompetensi. pola skema yang ada dalam materi yang mengembangkan hubungan antara beberapa konsep. merupakan definisi singkat dari sekelompok fakta atau gejala. yaitu seri langkah-langkah yang berurutan dalam materi pelajaran yang harus dilakukan peserta didik. minat. materi pembelajaran dikemas sedemikian rupa dalam bentuk tema-tema dan topik-topik yang diangkat dari masalah-masalah sosial yang krusial. misalnya tentang ekonomi. Prinsip. terdiri dari terminologi. Oleh karena itu. 3. 10. yaitu hal atau tindakan atau proses yang bertujuan untuk memperjelas suatu uraian atau pendapat.

pembelajaran. Terlepas dari filsafat yang mendasari pengembangan materi. pendidik memiliki wewenang penuh untuk menentukan materi pembelajaran. materi yang dipilih hendaknya menarik minat dan dapat memotivasi peserta didik untuk mempelajari lebih lanjut. 2. Berkenaan dengan penentuan materi pembelajaran dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Kebermaknaan. Tingkat kepentingan. materi memungkinkan untuk dipelajari. sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang hendak dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran. Manfaat akademis yaitu memberikan dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan yang akan dikembangkan lebih lanjut pada jenjang pendidikan lebih lanjut. 1. tidak ketinggalan zaman. Sekuens kronologis.. susunan materi pembelajaran yang mengandung urutan waktu.. Sahih (valid). menumbuhkan rasa ingin tahu sehingga memunculkan dorongan untuk mengembangkan sendiri kemampuan mereka. 5. Nana Syaodih Sukamadinata (1997) mengetengahkan tentang sekuens susunan materi pembelajaran. . 4. Sedangkan manfaat non akademis dapat mengembangkan kecakapan hidup dan sikap yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Menarik minat. materi yang dipilih dapat memberikan manfaat akademis maupun non akademis. yaitu : 1. dan memberikan kontribusi untuk pemahaman ke depan. Mengapa dan sejauh mana materi tersebut penting untuk dipelajari. Namun dalam implementasinya sangat sulit untuk menentukan materi pembelajaran yang beranjak hanya dari satu filsafat tertentu. baik dari aspek tingkat kesulitannya (tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit) maupun aspek kelayakannya terhadap pemanfaatan materi dan kondisi setempat. Layak dipelajari. juga materi yang diberikan merupakan materi yang aktual. 3. Dalam prakteknya untuk menentukan materi pembelajaran perlu memperhatikan hal-hal berikut :. Di samping itu. dalam arti materi yang dituangkan dalam pembelajaran benar-benar telah teruji kebenaran dan kesahihannya. materi yang dipilih benar-benar diperlukan peserta didik.. maka dalam prakteknya cenderung digunakan secara eklektik dan fleksibel.

meliputi 5 langkah sebagai berikut : (a) pembatasan masalah. (b) penyusunan hipotesis. Hierarki tersebut menggambarkan urutan perilaku apa yang mula-mula harus dikuasai peserta didik. 7. dari masalah bagaimana ke masalah mengapa. dari fungsi ke struktur. prosedur pembelajaran dimulai menganalisis tujuan-tujuan yang ingin dicapai. susunan materi pembelajaran yang mengandung hubungan sebab-akibat. guru memulai dengan langkah (a) sampai (d). kemudian dikembangkan. susunan materi pembelajaran yang dipusatkan pada topik atau bahan tertentu yang populer dan sederhana. Sekuens berdasarkan hierarki belajar. 6. sekuensi logis merupakan susunan materi pembelajaran dimulai dari bagian menuju pada keseluruhan. Sekuens kausal. Menurut sekuens logis materi pembelajaran disusun dari nyata ke abstrak. dan dari yang kompleks menuju yang sederhana. dari benda ke teori. (c) pengumpulan data. Sekuens logis dan psikologis. berturut-berturut sampai dengan perilaku terakhir. dan (e) interpretasi hasil tes. 4. 3. dalam sekuens ini mengajar dimulai dengan langkah akhir dan mundur kebelakang. Dalam mengajarnya. dari yang sederhana menuju kepada yang kompleks. diperdalam dan diperluas dengan bahan yang lebih kompleks. C. Sekuens struktural. Sekuens spiral . susunan materi pembelajaran yang mengandung struktur materi. Strategi pembelajaran Telah disampaikan di atas bahwa dilihat dari filsafat dan teori pendidikan yang melandasi pengembangan kurikulum terdapat perbedaan dalam menentukan tujuan dan materi pembelajaran. kemudian dicari suatu hierarki urutan materi pembelajaran untuk mencapai tujuan atau kompetensi tersebut. Sekuens rangkaian ke belakang. Contoh pemecahan masalah yang bersifat ilmiah. 5. hal ini tentunya memiliki konsekuensi pula terhadap . Pada kasempatan lain guru menyajikan data tentang masalah lain dari langkah (a) sampai (c) dan peserta didik diminta untuk mengadakan pengetesan hipotesis (d) dan seterusnya. (d) pengujian hipotesis. dan peserta didik diminta untuk membuat interprestasi hasilnya (e). 8.2. Sedangkan sekuens psikologis sebaliknya dari keseluruhan menuju bagian-bagian.

Dalam hal ini. Peran guru hanya sebagai fasilitator. Guru merupakan tokoh sentral di dalam proses pembelajaran dan dipandang sebagai pusat informasi dan pengetahuan. Metode dan teknik pembelajaran yang digunakan pada umumnya bersifat penyajian (ekspositorik) secara massal. obeservasi. Sebagai fasilitator. Sebagai motivator. motivator dan guider. Menurut kalangan progresivisme. langsung. pembelajaran cenderung lebih bersifat tekstual. diskusi. Peserta didik secara aktif menentukan materi dan tujuan belajarnya sesuai dengan minat dan kebutuhannya. yang seharusnya aktif dalam suatu proses pembelajaran adalah peserta didik itu sendiri. Strategi pembelajaran yang berorientasi pada guru tersebut mendapat reaksi dari kalangan progresivisme. sekaligus menentukan bagaimana cara-cara yang paling sesuai untuk memperoleh materi dan mencapai tujuan belajarnya. simulasi atau role playing. guru tidak banyak melakukan intervensi. dan sejenisnya. dan memanfaatkan proses dinamika kelompok (kooperatif).penentuan strategi pembelajaran yang hendak dikembangkan. Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik mendapat dukungan dari kalangan rekonstruktivisme yang menekankan pentingnya proses pembelajaran melalui dinamika kelompok. metode dan teknik pembelajaran yang digunakan tidak lagi dalam bentuk penyajian dari guru tetapi lebih bersifat individual. Selanjutnya. Sedangkan peserta didik hanya dianggap sebagai obyek yang secara pasif menerima sejumlah informasi dari guru. Apabila yang menjadi tujuan dalam pembelajaran adalah penguasaan informasi-intelektual. Selain itu. maka strategi pembelajaran yang dikembangkan akan lebih berpusat kepada guru. Pembelajaran cenderung bersifat kontekstual. seperti ceramah atau seminar.–sebagaimana yang banyak dikembangkan oleh kalangan pendukung filsafat klasik dalam rangka pewarisan budaya ataupun keabadian. Sedangkan sebagai guider. guru berusaha menciptakan dan menyediakan lingkungan belajar yang kondusif bagi peserta didiknya. dengan munculnya pembelajaran berbasis teknologi yang menekankan pentingnya penguasaan kompetensi membawa implikasi tersendiri dalam penentuan strategi pembelajaran. guru melakukan pembimbingan dengan berusaha mengenal para peserta didiknya secara personal. seperti : pembelajaran moduler. Meski masih bersifat penguasaan materi atau kompetensi . guru berupaya untuk mendorong dan menstimulasi peserta didiknya agar dapat melakukan perbuatan belajar.

kreatif dan menyenangkan. Terkait dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Oleh karena itu. yang berupaya mengarahkan dan mengatur peserta didik untuk melakukan perbuatan-perbuatan belajar sesuai dengan apa yang telah didesain sebelumnya. Dalam pembelajaran teknologis dimungkinkan peserta didik untuk belajar tanpa tatap muka langsung dengan guru. Masing-masing diberikan pada waktu tertentu dan tidak mempertimbangkan minat. Prosedur yang ditempuh adalah menyampaikan pokok-pokok yang saling berkorelasi guna memudahkan peserta didik memahami pelajaran tertentu. dengan efektivitas yang tinggi. Setidaknya terdapat enam ragam pengorganisasian kurikulum. . tetapi dalam pembelajaran teknologis masih dimungkinkan bagi peserta didik untuk belajar secara individual. yang merupakan akronim dari Pembelajaran Aktif. ternyata banyak kemungkinan untuk menentukan strategi pembelajaran dan setiap strategi pembelajaran memiliki kelemahan dan keunggulannya tersendiri. yaitu: 1. D. Berdasarkan uraian di atas. Peran guru dalam pembelajaran teknologis lebih cenderung sebagai director of learning.seperti dalam pendekatan klasik. dalam prakteknya seorang guru seyogyanya dapat mengembangkan strategi pembelajaran secara variatif. kurikulum terdiri dari sejumlah mata pelajaran yang terpisah-pisah. Kreatif. dan kemampuan peserta didik. kebutuhan. belakangan ini mulai muncul konsep pembelajaran dengan isitilah PAKEM. seperti melalui internet atau media elektronik lainnya. Mata pelajaran terpisah (isolated subject). Efektif dan Menyenangkan. korelasi diadakan sebagai upaya untuk mengurangi kelemahan-kelemahan sebagai akibat pemisahan mata pelajaran. menggunakan berbagai strategi yang memungkinkan siswa untuk dapat melaksanakan proses belajarnya secara aktif. Organisasi Kurikulum Beragamnya pandangan yang mendasari pengembangan kurikulum memunculkan terjadinya keragaman dalam mengorgansiasikan kurikulum. yang diajarkan sendiri-sendiri tanpa ada hubungan dengan mata pelajaran lainnya. Mata pelajaran berkorelasi. semua materi diberikan sama 2.

Di samping itu. (2) kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian. Berkenaan dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. 6. Inti Masalah (core program). Sebagaimana dikemukakan oleh Wright bahwa : “curriculum evaluation may be defined as the . dan mata pelajaran lainnya diberikan melalui kegiatan-kegiatan belajar dalam upaya memecahkan masalahnya. yaitu : (1) kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia. dan mata pelajaran lainnya dikorelasikan dengan core tersebut. bukan pada mata pelajaran. Ecletic Program. untuk memenuhi kebutuhan lokal disediakan mata pelajaran muatan lokal serta untuk kepentingan penyaluran bakat dan minat peserta didik disediakan kegiatan pengembangan diri. yaitu suatu program yang mencari keseimbangan antara organisasi kurikulum yang terpusat pada mata pelajaran dan peserta didik. yang terbagi ke dalam lima kelompok mata pelajaran. E. (4) kelompok mata pelajaran estetika. yaitu program kurikulum yang menitikberatkan pada kegiatan-kegiatan peserta didik. Bidang studi (broad field). tampaknya lebih cenderung menggunakan pengorganisasian yang bersifat eklektik. Salah satu mata pelajaran dapat dijadikan “core subject”. Program yang berpusat pada anak (child centered). Mata pelajaran-mata pelajaran yang menjadi pisau analisisnya diberikan secara terintegrasi.3. dimana masalah-masalah diambil dari suatu mata pelajaran tertentu. yaitu organisasi kurikulum yang berupa pengumpulan beberapa mata pelajaran yang sejenis serta memiliki ciri-ciri yang sama dan dikorelasikan (difungsikan) dalam satu bidang pengajaran. (3) kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. 4. Evaluasi Kurikulum Evaluasi merupakan salah satu komponen kurikulum. yaitu suatu program yang berupa unit-unit masalah. evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa tingkat ketercapaian tujuan-tujuan pendidikan yang ingin diwujudkan melalui kurikulum yang bersangkutan. dan (5) kelompok mata pelajaran jasmani. Dalam pengertian terbatas. yang disesuaikan dengan jenjang dan jenis sekolah. olahraga dan kesehatan Kelompok-kelompok mata pelajaran tersebut selanjutnya dijabarkan lagi ke dalam sejumlah mata pelajaran tertentu. 5.

the quality of personnel in charger of it. diagnostics worth and validity and integration. dikemukakan syarat-syarat evaluasi kurikulum yaitu “acknowledge presence of value and valuing. baik untuk penentuan kebijakan pendidikan pada umumnya maupun untuk pengambilan keputusan dalam kurikulum itu sendiri.” Evaluasi kurikulum juga bervariasi. Dengan mengutip pemikian Doll. Instrumen yang digunakan untuk mengevaluasi diemensi kuantitaif berbeda dengan dimensi kualitatif. yaitu meliputi . “ objective. kelaikan (feasibility) program. continuity. orientation to goals. the capacity of students. Apakah evaluasi tersebut ditujukan untuk mengevaluasi keseluruhan sistem kurikulum atau komponen-komponen tertentu saja dalam sistem kurikulum tersebut. Sementara itu. tes diagnostik dan lain-lain. the relative importance of various subject. questionnare. dikatakan bahwa luas atau tidaknya suatu program evaluasi kurikulum sebenarnya ditentukan oleh tujuan diadakannya evaluasi kurikulum. inventori. it’s scope. Hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh para pemegang kebijakan pendidikan dan para pengembang kurikulum dalam memilih dan menetapkan kebijakan .estimation of growth and progress of students toward objectives or values of the curriculum” Sedangkan dalam pengertian yang lebih luas. catatan anekdot dan sebagainya Evaluasi kurikulum memegang peranan penting. interview. Sedangkan. seperti tes standar. Salah satu dimensi yang sering mendapat sorotan adalah dimensi kuantitas dan kualitas. the equipment and materials and so on. instrumen untuk mengevaluasi dimensi kualitatif dapat digunakan. bergantung pada dimensi-dimensi yang menjadi fokus evaluasi. evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa kinerja kurikulum secara keseluruhan ditinjau dari berbagai kriteria. Salah satu komponen kurikulum penting yang perlu dievaluasi adalah berkenaan dengan proses dan hasil belajar siswa. comprehensiveness. Instrumen yang digunakan untuk mengevaluasi dimensi kuantitatif. namun juga relevansi. tes prestasi belajar.” Pada bagian lain. Agar hasil evaluasi kurikulum tetap bermakna diperlukan persyaratan-persyaratan tertentu. Indikator kinerja yang dievaluasi tidak hanya terbatas pada efektivitas saja. efisiensi. the degree to which objectives are implemented. Hilda Taba menjelaskan hal-hal yang dievaluasi dalam kurikulum.

media pendidikan yang digunakan dan sebagainya. tujuan program dan peralatan yang digunakan. seperti : karakteristik peserta didik dan lingkungan. seperti : kebijakan departemen atau unit kerja yang bersangkutan. memilih bahan pelajaran. Input. yaitu : Context. memilih metode dan alat-alat bantu pelajaran. dan sebagainya. dan (3) pendekatan campuran multivariasi. Evaluasi model ini bermaksud membandingkan kinerja (performance) dari berbagai dimensi program dengan sejumlah kriteria tertentu. Model ini kembangkan oleh Stufflebeam (1972) menggolongkan program pendidikan atas empat dimensi. prosedur dan mekanisme pelaksanaan program itu sendiri. peralatan. diantaranya adalah Model CIPP (Context. Input. seperti : dokumen kurikulum. untuk akhirnya sampai pada deskripsi dan judgment mengenai kekuatan dan kelemahan program yang dievaluasi. Process dan Product) yang bertitik tolak pada pandangan bahwa keberhasilan progran pendidikan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Di samping itu. sarana dan pra sarana. Context. masalah ketenagaan yang dihadapi dalam unit kerja yang bersangkutan. Input. terdapat beberapa model evaluasi kurikulum. bahan. yaitu situasi atau latar belakang yang mempengaruhi jenis-jenis tujuan dan strategi pendidikan yang akan dikembangkan dalam program yang bersangkutan. Menurut model ini keempat dimensi program tersebut perlu dievaluasi sebelum. dan materi pembelajaran yang dikembangkan. Hasil – hasil evaluasi kurikulum juga dapat digunakan oleh guru-guru.pengembangan sistem pendidikan dan pengembangan model kurikulum yang digunakan. 2. Process dan Product. 1997) Selanjutnya. Penjelasan singkat dari keempat dimensi tersebut adalah. (disarikan dari Nana Syaodih Sukmadinata. staf pengajar. (2) pendekatan obyektif. cara penilaian serta fasilitas pendidikan lainnya. fasilitas yang disiapkan untuk keperluan pendidikan. selama dan sesudah program pendidikan dikembangkan. . yaitu : (1) pendekatan penelitian (analisis komparatif). kepala sekolah dan para pelaksana pendidikan lainnya dalam memahami dan membantu perkembangan peserta didik. sasaran yang ingin dicapai oleh unit kerja dalam kurun waktu tertentu. sebagai berikut : 1. Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakan tiga pendekatan dalam evaluasi kurikulum.

keseluruhan hasil yang dicapai oleh program pendidikan. Pelayanan Profesional Kurikulum Berbasis Kompetensi. Pelayanan Profesional Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Puskur Balitbang. 2003. Sumber Bacaan : Depdiknas. pelaksanaan nyata dari program pendidikan tersebut. Jakarta: Puskur Balitbang. Jakarta: Puskur Balitbang. 4. ________. Sumber Bacaan : Depdiknas. Pelayanan Profesional Kurikulum Berbasis Kompetensi. Model Pelatihan dan Pengembangan Silabus. Pelayanan Profesional Kurikulum Berbasis Kompetensi. 2003. Kegiatan Belajar Mengajar yang Efektif. Jakarta: Puskur Balitbang ________. Product. pelaksanaan evaluasi yang dilakukan oleh para pengajar. Jakarta: Puskur Balitbang. 2003. Standar Kompetensi Bahan Kajian. 2003. Standar Kompetensi Bahan Kajian. Jakarta: Puskur Balitbang Depdiknas. 2003. mencakup : jangka pendek dan jangka lebih panjang. 2003. Jakarta: Puskur Balitbang. Kegiatan Belajar Mengajar yang Efektif. penglolaan program. 2003. Pelayanan Profesional Kurikulum Berbasis Kompetensi. Pelayanan Profesional Kurikulum Berbasis Kompetensi. 2003 Kurikulum Berbasis Kompetensi. ________. . dan lain-lain. Pelayanan Profesional Kurikulum Berbasis Kompetensi. Model Pelatihan dan Pengembangan Silabus. meliputi : pelaksanaan proses belajar mengajar. Kurikulum Berbasis Kompetensi.3. ________. Jakarta: Puskur Balitbang. Pelayanan Profesional Kurikulum Berbasis Kompetensi. Process. ________.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->